BLUE PRINT UJI KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
STANDAR KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

BLUE PRINT UJI KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA

KOMPETENSI NERS BERBASIS. KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA Indonesian Qualification Framework

KOMPETENSI PERAWAT R. NETY RUSTIKAYANTI

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 2. PMK RI Nomor 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan.

TELAAH KOMPETENSI DIII KEPERAWATAN

STANDAR KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA

Pemetaan Kompetensi antara D3 dan Ners berbasis KKNI Grand Sahid Jakarta, 7-8 maret 2012

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

KOMPETENSI PERAWAT KLINIK MEDIKAL BEDAH

KOMITE NASIONAL UJI KOMPETENSI PERAWAT PPNI

INDONESIA NATIONAL NURSES ASSOCIATIONS COMPETENCIES FRAMEWORK

KEBIJAKAN ORGANISASI PROFESI DALAM MENGKAWAL KOMPETENSI PERAWAT MELALUI SDKI

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN (PROFESI NERS) SIKAP

NERS SPESIALIS, LEVEL BERAPA? PROGRAM STUDI KEPERAWATAN (NERS SPESIALIS) LEVEL 8 KKNI SIKAP

PENERAPAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL: Dewi Irawaty, MA, PhD

SEJ S A EJ R A AH A PROS PR E OS S E KEPER

I Made Kariasa, SKp.,MM.,Mkep.,Sp.KMB.,PG.Cert

Metodologi Asuhan Keperawatan

PADA TAHUN 2020 MENHHASILKAN PERAWAT PROFESIONAL, PENUH CINTA KASIH DAN MAMPU BERSAING SECARA NASIONAL.

TUTORIAL PERTAMA INFORMASI TERBARU UJIAN KOMPETENSI

Blueprint OSCE Pendidikan DIII Keperawatan dan Ners

2 Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang

KERANGKA ACUAN CLINICAL PREVILEGE KEPERAWATAN RS. TMC TASIKMALAYA I. PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Komunikasi dengan tenaga kesehatan lain. Lilik s

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 10 TAHUN 2016 TENTANG IZIN PRAKTIK PERAWAT

PANDUAN PENYULUHAN PADA PASIEN UPTD PUSKESMAS RAWANG BAB I PENDAHULUAN

Perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spriritual yang

IMPLEMENTAS I PERAWAT PRAKTEK MANDIRI. Ns. SIM SAYUTI, S.Kep NIRA : Beprofessional nurse Knowledge, skill, & attitude

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang

LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR RS (...) NOMOR :002/RSTAB/PER-DIR/VII/2017 TENTANG PANDUAN EVALUASI STAF MEDIS DOKTER BAB I DEFINISI

KONSEP DAN PERSPEKTIF KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH. Ns. Meilita Enggune, S.Kep.,M.Kep

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kabupaten yang melaksanakan upaya penyuluhan, penanganan kasus-kasus

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN (PERAWAT AHLI MADYA) SIKAP

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PANDUAN KREDENSIAL KEPERAWATAN RUMAH SAKIT ROYAL PROGRESS

23/10/2012. Kompetensi Perawat Indonesia. ICN Framework of Competencies

BAB 1 PENDAHULUAN. karakteristik tersendiri dan dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA

Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT GAWAT DARURAT

KERANGKA ACUAN KEGIATAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT ( PERKESMAS ) PUSKESMAS KESAMBEN TAHUN I. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. pengelola, pendidik, dan peneliti (Asmadi, 2008). Perawat sebagai pelaksana layanan keperawatan (care provider) harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Blueprint OSCE Keperawatan

maupun sebagai masyarakat profesional (Nursalam, 2013).

FILOSOFI, KONSEP HOLISTIK & PROSES KEPERAWATAN KEGAWATAN & KEKRITISAN Oleh: Sri Setiyarini, SKp.

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PELAYANAN TERAPI OKUPASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian. Universita Sumatera Utara

STANDAR PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH SARAF

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KERANGKA ACUAN KEGIATAN KUNJUNGAN RUMAH

STANDAR AKADEMIK STIKES RS BAPTIS KEDIRI. Standar 3 Kompetensi Lulusan

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. tingkat diploma. Pemikiran dasar jenjang pendidikan ini adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KURIKULUM KURSUS DAN PELATIHAN PEKARYA KESEHATAN JENJANG II berbasis

PRINSIP PENGEMBANGAN KARIR BIDAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2014 TENTANG KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG,

BAB 1 PENDAHULUAN. (Permenkes RI, 2011). Institusi yang kompleks memiliki arti bahwa rumah sakit

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

Materi Konsep Kebidanan

Peran Institusi Pendidikan dalam Pengembangan Kurikulum Homecare. Oleh : Ns. WITRI HASTUTI, M.Kep

PENGERTIAN DAN CONTOH PENERAPAN ASPEK LEGAL ETIK DALAM KEPERAWATAN ANESTESI. Disusun untuk Memenuhi Tugas Etika dan Aspek Legal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang

2017, No d. bahwa untuk belum adanya keseragaman terhadap penyelenggaraan rehabilitasi, maka perlu adanya pengaturan tentang standar pelayanan

Praktik Profesional, etik, legal dan peka budaya

BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT

POKJA KUALIFIKASI dan PENDIDIKAN STAFF (KPS)

PENDIDIKAN PROFESI NERS TAHAP PROFESI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN TEORISTIS

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kedudukan sosial. Teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam. dimasyarakat yang ditetapkan oleh budaya.

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 3 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG

KONSEP HUKUM DALAM KEPERAWATAN

PANDUAN ASUHAN KEPERAWATAN

Oleh : DODIET ADITYA SETYAWAN NIP Mata Kuliah. Program Studi Diploma IV Kebidanan Komunitas Jurusan Kebidanan Poltekkes Surakarta

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERENCANAAN PASIEN PULANG (DISCHARGE PLANNING) Mira Asmirajanti, SKp, MKep

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Profesi adalah kelompok disiplin individu yang mematuhi standar etika dan mampu

Tujuan Legeslasi: 1.Memperthankan kualitas pelayanan 2.Memberi kewenangan 3. Menjamin perlindungan hukum 4. Meningkatkan profesionalime

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 548/MENKES/PER/V/2007 TENTANG REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK OKUPASI TERAPIS

2 Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetuju

Transkripsi:

BLUE PRINT UJI KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA Tim Penyusun 1. I made Kariasa 2. Masfuri 3. Pramita Iriana 4. Yupi Supartini 5. Tuti Herawati 6. Khudazi Aulawi 7. I Ketut Suardana 8. Imam Subiyanto 9. Saifudin Zukhri Kontributor 1. PPNI 2. MTKI 3. AIPNI 4. AIPDIKI 5. Kolegium Ners 6. Kolegium Onkology 7. Kolegium Nefrology 8. Kolegium Kardiovaskuler 9. Kolegium Keperawatan Jiwa 10. Kolegium Keperawatan Anak 11. Kolegium Keperawatan Kritis 12. Kolegium Keperawatan Gerontik 13. Kolegium Keperawatan Keluarga 14. Kelegium Keperawatan Maternitas 15. Kolegium Keperawatan Komunitas 16. Kolegium Manejemen Keperawatan 17. Kolegium Keperawatan Medikal Bedah 1

DAFTAR ISI Halaman Judul... i Kata Pengantar... ii Daftar isi... Tim Penyusun BAB I Pendahuluan.. A. Latar Belakang... B. Tujuan Penyusunan Blue Print... C. Manfaat Penyusunan Blue Print... BAB II Perawat dan ruang lingkup praktik keperawatan A. Perawat. B. Praktek Keperawatan.. BAB III Kompetensi A. Kompetensi Perawat. B. Asumsi Dasar.. C. Kerangka Kompetensi Perawat.. BAB IV Tinjauan.. BAB V Uji kompetensi.. BAB VI Kesimpulan. Referensi Glossary Lampiran: 1. Kompetensi perawat vokasi dan ners, Summary chart Guidelines 2. Proporsi soal berdasarkan 7 tinjauan 2

KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas ridhonya akhirnya blue print ini dapat diselesaikan. Semoga blue print ini dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tenaga keperawatan di Indonesia. Kami menyadari bahwa Blue print ini jauh dari sempurna oleh karena itu kritik dan saran dari seluruh stakeholders sangat diharapkan demi pengembangan penyesuaian, dan perbaikan Blue print perawat ini selanjutnya. Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dalam sistem kesehatan di Indonesia. Efektifitas dan efisiensi pelayanan kesehatan akan dapat ditingkatkan melalui penyediaan perawat yang kompeten dan berdedikasi. Untuk meningkatkan standarisasi kompetensi perawat baru lulus (entry level practice) diperlukan uji kompetensi yang bersifat nasional. Uji kompetensi yang bersifat nasional, diharapkan dapat menjadi alat untuk memberi umpan balik pada mutu penyelenggaraan pendidikan keperawatan. Agar alat uji kompetensi tersebut sesuai dengan standar keperawatan diperlukan seperangkat rambu-rambu instrument pengembangan alat uji yang disebut Cetak Biru Uji atau Blue Print. Kompetensi Perawat Indonesia Blue print uji kompetensi perawat Indonesia dikembangkan oleh Komponen 2 HPEQ project melalui serangkaian kegiatan bersama stakeholders yang terdiri dari unsur pemerintah (Departemen Kesehatan, MTKI, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit), unsur pengguna lulusan (PERSI dan ARSADA), unsur organisasi profesi (PPNI), dan unsur asosiasi pendidikan keperawatan (AIPNI dan AIPDIKI). Pengambangan Blue print mengacu pada standar profesi perawat Indonesia yang telah ditetapkan, proses pembelajaran untuk mencapai kompotensi dan karakteristik peran perawat baru lulus (entry level practice) bagi lulusan Diploma III keperawatan dan lulusan Ners Blue print ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kerangka pengembangan soal dan metode uji kompetensi nasional bagi calon peserta ujian dan institusi pendidikan keperawatan. Di samping itu, blue print ini juga digunakan sebagai sumber informasi untuk mengembangkan peran yang tepat bagi perawat dan instrument penilaian kinerja yang harus bisa ditampilkan oleh perawat baru lulus di tatanan pelayanan kesehatan. Sebagai upaya untuk meningkatkan validitas uji kompetensi, diharapkan dapat dilakukan peninjauan blue print secara berkala sesuai dengan kompetensi yang diharapkan stakeholders terhadap perawat baru lulus dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Kesehatan dan keperawatan pada khususnya. Sebagai akhir kata, kami atas nama tim penyusun mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah membantu dalam proses pengembangan dan penyusunan blue print ini. Semoga jerih payah dan sumbang pikiran serta peran serta semua pihak mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang maha Kuasa. Kita sebagai perawat Indonesia harus berbangga dan bahagia karena telah dapat menghasilkan 3

tonggak baru yaitu menyelesaikan Blue print sebagai panduan dalam uji kompetensi nasional sehingga lulusan perawat Indonesia di masa depan semakin kompeten. Tim Penyusun 4

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Era globalisasi, kemajuan IPTEK kesehatan yang sangat pesat dan tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas menuntut mutu pelayanan kesehatan khususnya keperawatan semakin meningkat. Kondisi ini menguatkan upaya profesi keperawatan untuk menyiapkan tenaga perawat baik secara kuantitas maupun kualitas. Tenaga perawat bertugas memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang berkualitas, sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangannya dari berbagai level pendidikan. Pelayanan keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Sedangkan asuhan keperawatan adalah rangkaian kegiatan yang bersifat humanistik dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan dalam rangka membantu menyelesaikan masalah kesehatan/keperawatan baik aktual maupun potensial. Pelayanan dan asuhan keperawatan tersebut diatas diberikan oleh perawat yang memiliki kemampuan beradaptasi, bertindak cerdas, penuh tanggung jawab dan berdaya saing tinggi terhadap tuntutan perubahan yang ada. Kemampuan tersebut dapat dimiliki oleh perawat melalui pendidikan baik secara formal maupun non formal sebagai suatu upaya untuk mencapai dan menjaga kompetensinya tetap up to date. Kompetensi merupakan seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas tugas dibidang pekerjaan tertentu (Kepmendikbud No 045/U/2003). Standar kompetensi perawat Indonesia mengacu pada Standar Kompetensi Perawat Indonesia yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia, melalui Surat Keputusan Ketua Umum nomor 024/PP.PPNI/SK/K/XII/2009, tentang Standar Kompetensi Perawat Indonesia. 5

Untuk menjamin setiap perawat memiliki kompetensi yang dipersyaratkan sebelum melaksanakan praktik pelayanan keperawatan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1796 tahun 2011 tentang registrasi tenaga kesehatan. Dalam peraturan menteri tersebut dijelaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan termasuk perawat harus mengikuti uji kompetensi sebagai syarat untuk memperoleh surat tanda registrasi (STR). Uji kompetensi merupakan suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan standar profesi guna memberikan jaminan bahwa mereka mampu melaksanakan peran profesinya secara aman dan efektif di masyarakat. Untuk menjamin pelaksanaan uji kompetensi yang berkualitas, perlu dilakukan berbagai persiapan seperti pengembangan dan penetapan blue print. Blue print atau cetak biru adalah kerangka dasar yang merupakan pedoman yang digunakan untuk merancang pengembangan soal ujian yang dapat menjamin asuhan keperawatan yang diberikan aman dan efektif dan menggambarkan karakter utama perawat yang diharapkan pengguna. Blue print terdiri dari 7 (tujuh) tinjauan yaitu area kompetensi; domain; bidang keilmuan; proses keperawatan; upaya kesehatan; kebutuhan dasar manusia dan sistem tubuh. Masing masing tinjauan menggambarkan prosentase, kedalaman, jenis, kompleksitas dan karakteristiknya sesuai dengan kompetensi yang diharapkan pada perawat baru lulus (entry level for practice). Selain itu, blue print juga menggambarkan level kompetensi yang akan diukur untuk lulusan Ners sebagai perawat profesional dan Diploma III Keperawatan sebagai perawat vokasional. B. Tujuan Penyusunan Blue Print ini bertujuan untuk memberikan panduan dalam pengembangan materi uji yang benar secara proporsional dari pencapaian kompetensi, materi yang sesuai dan dengan instrumen yang tepat. Dengan pola pengembangan blue print ini akan menghasilkan butir soal yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. C. Manfaat penyusunan Blue print Manfaat dari penyusunan Blue print Uji Kompetensi perawat ini sebagai berikut : 6

1. Bagi calon peserta uji diharapkan dapat memberikan informasi terhadap area dan kedalaman materi yang dujikan; gambaran tentang metode uji yang akan digunakan dan acuan persiapan diri yang harus dilakukan. 2. Bagi lembaga pendidikan diharapkan dapat memberikan informasi dan acuan pengembangan program dan kurikulum pendidikan; acuan pengembangan mekanisme dan standar penilaian pengetahuan, ketrampilan dan sikap mahasiswa. 3. Bagi pengguna lulusan perawat diharapkan dapat menjadi acuan dalam penilaian unjuk kerja dan penetapan uraian tugas bagi perawat baru (fresh graduate) serta pengembangan program pelatihan spesifik sesuai kebutuhan institusi 4. Bagi pengelola ujian diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan dan penentuan proporsi soal; merumuskan paket-paket booklet atau set soal uji; standar pelaksanaan uji serta acuan penilaian batas lulus (standard setting) 7

BAB II. Perawat dan Ruang lingkup Praktik Keperawatan A. Perawat Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia, teregister dan diberi kewenangan untuk melaksanakan praktik keperawatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan (PPNI, 2009). Adapun kategori tenaga perawat di Indonesia sebagai berikut: 1.Perawat vokasional adalah seseorang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik dengan batasan tertentu dibawah supervisi langsung maupun tidak langsung oleh Perawat Profesional dengan sebutan Licensed Vocational Nurse (LVN). Pendidikan Vokasi adalah jenis pendidikan diploma sesuai jenjangnya untuk memiliki keahlian ilmu terapan keperawatan yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. 2.Perawat professional adalah tenaga professional yang mandiri, bekerja secara otonom dan berkolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan program pendidikan profesi keperawatan, terdiri dari ners generalis, ners spesialis dan ners konsultan. Jika telah lulus uji kompetensi yang dilakukan oleh badan regulatori yang bersifat otonom, selanjutnya disebut Registered Nurse (RN). Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. B. Praktik Keperawatan Perawat dalam melakukan praktik keperawatan berperan sebagai pelaksana keperawatan (provider), pengelola keperawatan dan atau kesehatan, pendidik dan peneliti. Dalam melaksanakan tugasnya dapat berfungsi secara mandiri dan bekerjasama (kolaborasi) dengan profesi lain. 8

Praktik keperawatan diberikan melalui asuhan keperawatan untuk klien baik individu, keluarga, kelompok, komunitas dan populasi dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks. Asuhan keperawatan dapat dilakukan melalui tindakan keperawatan mandiri dan atau kolaborasi dengan tim kesehatan lain. Praktik keperawatan dapat diberikan di sarana kesehatan dan praktik mandiri keperawatan. Tindakan mandiri keperawatan antara lain adalah tindakan keperawatan langsung (direct care), observasi keperawatan, terapi komplementer, pendidikan dan konseling kesehatan serta advokasi dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia sebagai upaya untuk memandirikan klien sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan program pemerintah. Tindakan kolaborasi keperawatan dengan tim kesehatan atau dengan sektor terkait lainnya adalah pengembangan dan pelaksanaan program kesehatan lintas sektoral untuk peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, perencanaan terhadap upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan klien bersama dengan tenaga profesi kesehatan lain. Praktik keperawatan diselenggarakan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang dinamis dan siklik meliputi pengkajian, perumusan masalah/diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada klien dengan berbagai kondisi, baik sehat maupun sakit serta lingkungan yang mempengaruhinya. Pengkajian keperawatan dilakukan secara komprehensif ditujukan untuk mengenali masalah kesehatan yang dihadapi klien dan penyebab timbulnya masalah tersebut. Dikenalinya masalah dan penyebabnya dengan tepat akan mendasari penyusunan rencana penanggulangannya agar efektif dan efisien. Rencana tindakan keperawatan dibuat berdasarkan kebutuhan klien. Pelaksanaan praktik keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disepakati bersama antara klien dan keluarganya dengan perawat. Pelaksanaan praktik keperawatan dilakukan oleh perawat/ners dengan tingkat kewenangan yang sesuai, serta harus berpedoman pada standar profesi yang meliputi; standar kompetensi, praktik, pendidikan dan etik. 9

Baik proses maupun hasil asuhan keperawatan harus selalu di evaluasi dan dimonitor secara terus menerus dan berkesinambungan, kemudian diadakan perbaikan dan modifikasi sesuai dengan hasil evaluasi dan monitoring serta tujuan yang telah ditetapkan bersama klien. Tujuan yang telah ditetapkan dapat berupa hilangnya gejala, menurunnya resiko, tercegahnya komplikasi, meningkatnya pengetahuan dan atau keterampilan kesehatan serta meninggalnya klien dengan damai dan bermartabat. Praktik keperawatan yang memenuhi kebutuhan dan harapan dapat diselenggarakan pada semua sarana/tatanan pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit umum maupun khusus, Puskesmas, praktik keperawatan di rumah (home care), praktik keperawatan berkelompok/bersama (nursing home, klinik bersama), dan praktik keperawatan perorangan, serta praktik keperawatan yang mobile/ambulatory. Praktik keperawatan diselenggarakan dengan memperhatikan keterjangkauan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan/asuhan keperawatan dalam konteks pelayanan kesehatan. Praktik keperawatan profesional mencakup kegiatan-kegiatan mulai dari yang sangat sederhana hingga kompleks. Praktik keperawatan dilakukan dengan mengutamakan kualitas namun tetap memperhatikan effektifitas dan efisiensi, agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu pelayanan keperawatan dilakukan oleh tim secara utuh meliputi perawat spesialis, profesi dan vokasi. Sedangkan untuk kegiatan sederhana dan tidak beresiko ( misalnya ; membersihkan tempat tidur dan memandikan pasen yang tidak berisiko, membantu Buang Air (BAB dan BAK) dilakukan oleh pembantu perawat yang berada dibawah pengawasan perawat vokasi. 10

BAB III KOMPETENSI A. Pengertian Kompetensi Kompetensi merupakan pernyataan komprehensif tentang kemampuan teruji yang akan diukur. Berikut ini beberapa pengertian Kompetensi dari berbagai references : PPNI (2009) mengartikan kompetensi merupakan kemampuan seseorang yang dapat diobservasi yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan standar kinerja performance yang ditetapkan. Kompetensi juga mempersyaratkan kemampuan pengambilan keputusan dan penampilan perawat dalam melakukan praktik keperawatan secara aman dan etis. A competency describe the integrate knowledge, skills, judgment and attributes required of a registered nurse to practice safely and ethically in a designated role and setting. (Attributes include, but are not limited to, attitudes, values and beliefs) (ICN, 2005). Kompetensi merupakan seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas tugas dibidang pekerjaan tertentu (Kepmendikbud No 045/U/2003). Kompetensi yang terdapat dalam blue-print ini adalah sebagian dari kompetensi perawat praktisi seperti yang telah ditetapkan PPNI. Kompetensi yang dimaksud dalam blue print ini mempunyai fungsi utama untuk menentukan domain isi dari uji kompetensi, tergambar pada skema dibawah ini. Lingkup kompetensi yang diujikan Kompetensi perawat berpengalaman Kompetensi lulusan perawat di Kompetensi diujikan 11

B. Langkah langkah pengembangan kompetensi sebagai berikut : 1. Pengembangan awal standar kompetensi 2. Telaah kompetensi nasional 3. Validasi kompetensi melalui survei 4. Menetapkan kompetensi yang akan diujikan C. Asumsi asumsi yang mendasari penyusunan kompetensi Penyusunan kompetensi dalam blue-print ini didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. Kompetensi menunjukkan kombinasi dari pengetahuan, ketrampilan, perilaku, sikap, kemampuan berfikir kritis dan pengambilan keputusan klinik keperawatan yang harus dimiliki oleh lulusan pendidikan keperawatan di Indonesia. 2. Dasar praktik keperawatan ditentukan oleh peraturan perundangan, lingkup praktik, standar praktik, kode etik, dan kompetensi lulusan baru Diploma III Keperawatan dan Ners. 3. Perawat praktisi bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas keputusan dan tindakannya. 4. Perawat praktisi memberikan, memfasilitasi dan meningkatkan keamanan berdasarkan pada kompetensi dan standar etik dalam asuhan keperawatan. 5. Perawat menunjukan sikap kepemimpinan selama memberikan asuhan keperawatan. 6. Perawat harus memperhatikan dan menghargai keberagaman klien. 7. Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada klien sepanjang rentang kehidupan, 8. Perawat harus menggunakan pendekatan yang logik dan sistematis dalam menerapkan proses keperawatan. 9. Program pendidikan mempersiapkan lulusan untuk bekerja di tatanan pelayanan yang luas (general). 10. Perawat melaksanakan praktik dengan cara berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, dan menghargai keunikan kompetensi masing-masing anggota tim kesehatan. 11. Perawat membela dan memfasilitasi perubahan yang menggambarkan praktik yang berbasis informasi. 12

12. Perawat harus mengetahui trend dan isu yang mempengaruhi klien dan tim kesehatan. 13. Perawat harus aktif berpartisipasi dalam upaya promosi, prevensi, dan melaksanakan manajemen risiko. 14. Perawat harus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya melalui pendidikan berkelanjutan. C. Kerangka Kompetensi Kerangka kompetensi disusun untuk mengidentifikasi dan mengorganisasi kompetensi yang akan di ukur. Kerangka Kompetensi Perawat Indonesia mengacu pada Standar Kompetensi Perawat Indonesia (PPNI, 2009) sebagai berikut: 1. Praktik professional, etis, legal dan peka budaya Perawat melaksanakan praktik secara aman, kompeten, etis dan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Kode etik keperawatan dijadikan sebagai pedoman dalam praktik. Perawat mempertahankan otonomi dan secara legal Perawat mempertahankan otonomi dan secara legal bertanggung jawab terhadap klien dan profesi. 2. Pemberian asuhan dan manajemen asuhan keperawatan Sebagai angggota tim tenaga kesehatan, perawat harus memiliki kemampuan melaksanakan pengkajian, perencanaan, implemnetasi dan evaluasi asuhan keperawatan. Perawat harus memiliki ketrampilan dalam melaksanakan tindakan keperawatan secara aman, efektif dan etis. Perawat harus mendukung dan menjadi advocate pasien untuk menentukan secara mandiri tindakan untuk meningkatkan kesehatannya. Perawat harus memilki kemampuan komunikasi terapeutik yang memadai dan mampu berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Perawat menerapkan kemampuan berfikir kritis untuk mengatasi masalah klinik. 13

3. Pengembangan professional Perawat secara terus menerus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan, baik secara formal maupun non formal. Perawat meningkatkan pengetahuannya melalui seminar, pelatihan, membaca dan memanfaatkan journal, pendidikan lanjut. 14

BAB IV TINJAUAN Tinjauan yang dikembangkan dalam blue print ini terdiri dari tujuh tinjauan meliputi: kompetensi, domain, bidang keilmuan, proses keperawatan, upaya kesehatan, kebutuhan dasar, dan sistem tubuh. 1. Kompetensi Kompetensi perawat dikelompokkan menjadi 3 sub tinjauan kompetensi yaitu: a. Praktik Professional, etis, legal dan peka budaya Pada sub kompetensi ini meliputi; bertanggung gugat terhadap praktik profesional; melaksanakan praktik keperawatan berdasarkan kode etik; dan melaksanakan praktik secara legal. b. Pemberian asuhan dan manajemen asuhan keperawatan. Pada sub tinjauan ini meliputi: menerapkan prinsip-prinsip pokok dalam pemberian dan manajemen asuhan keperawatan; melaksanakan upaya promosi kesehatan dalam pelayanan keperawatan; melakukan pengkajian keperawatan; menetapkan diagnosa/masalah keperawatan, menyusun rencana keperawatan; melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana; mengevaluasi asuhan tindakan keperawatan; menggunakan komunikasi terapeutik dan hubungan interpersonal dalam pemberian pelayanan; menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman; menggunakan hubungan interprofesional dalam pelayanan keperawatan/ pelayanan kesehatan; dan menggunakan delegasi dan supervisi dalam pelayanan asuhan keperawatan c. Pengembangan professional Pada sub tinjauan ini meliputi: melaksanakan peningkatan professional dalam praktik keperawatan; melaksanakan peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan asuhan keperawatan; dan mengikuti pendidikan berkelanjutan sebagai wujud tanggung jawab profesi 15

Tabel Prosentasi Kompetensi Kompetensi % Praktik professional, etis, legal dan peka budaya 15-25% Asuhan dan manajemen asuhan keperawatan 65-75% Pengembangan professional 5-15% 2. Domain/Aspek Penilaian Merupakan ranah yang mengukur tingkat pengetahuan peserta dari aspek cognitive (knowledge), skill (psychomotor) dan affective (attitude). Sub Tinjauan a. Cognitive (knowledge) meliputi pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual. Dalam uji kompetensi ini akan diujikan tingkat kognitif yang bervariasi dari pemahaman, aplikasi dan berfikir kritis. b. Pengetahun afektif (konatif) menggambarkan bagaimana cara seseorang bersikap yang melibatkan emosi dan kemampuan empati untuk mengapilkasikan nilai-nilai profesional dalam praktik keperawatan. c. Pengetahuan Prosedur (procedural knowledge) menggambarkan kemampuan dalam melakukan tindakan keperawatan. Tabel prosentasi domain Domain/Aspek Penilaian Ners (%) D3 (%) Kognitif 65-75% 40-50% Prosedural Knowledge 20-25% 45-55% Afektif knowledge 5-10% 5-10% 16

3. Keilmuan Merupakan bidang kajian dalam keperawatan mulai dari tingkat individu sampai pada tingkat masyarakat dalam seluruh siklus kehidupan, yang mencerminkan pemenuhan kebutuhan dasar pada tingkat sistem organ fungsional yang terdiri atas keperawatan medikal bedah, anak, maternitas, jiwa, komunitas, keluarga, gerontik, gawat darurat dan manajemen. Sub Tinjauan: a. Keperawatan Medikal Bedah adalah asuhan keperawatan pada klien dewasa yang sedang atau cenderung mengalami perubahan fisiologis atau struktur baik aktual atau risiko pada tatanan pelayanan kesehatan. b. Keperawatan Anak adalah asuhan keperawatan pada klien anak usia 28 hari sampai dengan 18 tahun yang sedang atau cenderung mengalami perubahan fisiologis atau struktur baik aktual atau risiko terutama kasus kongenital, tumbuh kembang, imunisasi, masalah gizi dan masalah MDGs 4 (upaya menurunkan angka kematian anak) pada tatanan pelayanan kesehatan. c. Keperawatan Maternitas adalah asuhan keperawatan pada ibu atau wanita pada masa reproduktif (wanita usia subur, pasangan usia subur, wanita pada masa kehamilan, persalinan, nifas, keluarganya dan bayinya sampai 28 hari) pada tatanan pelayanan kesehatan. d. Keperawatan Jiwa adalah asuhan keperawatan pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respons psiko-sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial baik pada tatanan pelayanan kesehatan atau masyarakat. e. Keperawatan Komunitas adalah asuhan keperawatan yang ditujukan untuk individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam konteks komunitas. f. Keperawatan Keluarga adalah asuhan keperawatan yang merupakan gabungan ketrampilan dari berbagai area keperawatan yang diberikan pada individu pada rentang sehat sakit dalam konteks keluarga. g. Keperawatan Gerontik adalah asuhan keperawatan individu pada klien lanjut usia (63 tahun ke atas) pada kondisi sehat atau sakit yang difokuskan pada upaya-upaya mengatasi masalah akibat proses penuaan. 17

h. Manajemen Keperawatan adalah pengelolaan pelayanan keperawatan dan asuhan keperawatan yang menerapkan pendekatan fungsi-fungsi manajemen. i. Keperawatan Gawat Darurat adalah asuhan keperawatan yang diberikan pada individu yang mengancam kehidupan, terjadi secara mendadak dan pada kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (bencana). Tabel Prosentasi Keilmuan Keilmuan % KMB 25-37% Maternitas 8-14% Anak 8-14% Jiwa 8-14% Keluarga 8-14% Gerontik 3-9% Manajemen 3-9% Gadar 3-9% Komunitas 3-9% 4. Proses Keperawatan Proses Keperawatan adalah metode ilmiah keperawatan yang sistematis dan terorganisir untuk menyelesaikan masalah individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Proses keperawatan meliputi pengkajian, perumusan masalah atau diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi. Sub Tinjauan a. Pengkajian Keperawatan Adalah aktifitas pengumpulan data tentang status kesehatan klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan. b. Diagnosis Keperawatan Adalah aktifitas menganalisis data pengkajian untuk merumuskan masalah atau diagnosa keperawatan. 18

c. Perencanaan Adalah aktifitas menentukan tujuan dan rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan klien. Karakteristik rencana tindakan berfokus pada apa tindakan yang akan dilakukan. d. Pelaksanaan Tindakan (implementasi) Adalah aktifitas mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan. Karakteristik implementasi berfokus pada bagaimana suatu tindakan dilakukan. e. Evaluasi Adalah aktifitas mengevaluasi perkembangan kesehatan klien terhadap tindakan dalam pencapaian tujuan, sesuai rencana yang telah ditetapkan dan merevisi data dasar dan perencanaan. Tabel Prosentasi Proses Keperawatan Proses keperawatan Ners (%) D3 (%) Pengkajian 20-30% 10-20% penentuan diagnosa 20-30% 5-10% perencanaan 15-25% 15-25% implementasi 15-25% 45-55% Evaluasi 5-15% 5-15% 5. Upaya Kesehatan upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan klien dalam bentuk peningkatan kesehatan(promotif), pencegahan (preventif), mengatasi gangguan pemenuhan kebutuhan klien (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). 19

Sub Tinjauan 1. Promotif Adalah upaya untuk meningkatkan status kesehatan klien yang dapat berupa kegiatan pemberian informasi, mengidentifikasi faktor resiko dan mengkaji status kesehatan, perubahan gaya hidup dan perilaku dan program pengendalian lingkungan. Atau upaya yang berorientasi pada klien yang belum berisiko secara spesifik. 2. Preventif Adalah suatu kegiatan atau tindakan yang hasil akhirnya berorientasi pada pencegahan timbulnya masalah kesehatan dan atau keperawatan. Misalnya: imunisasi, deteksi dini, penyuluhan terhadap risiko penyakit tertentu. 3. Kuratif Adalah suatu kegiatan untuk mengatasi gangguan pemenuhan kebutuhan klien melalui tindakan mandiri dan kolaborasi. 4. Rehabilitatif Adalah suatu kegiatan untuk mengembalikan fungsi fisiologis dan psikososial agar dapat berfungsi secara optimal baik dalam menjalankan peran individu, keluarga dan masyarakat. Tabel prosentasi upaya kesehatan Upaya kesehatan % Promotif 15-25% Preventif 15-25% Kuratif 35-45% Rehabilitatif 15-25% 20

6. Kebutuhan Dasar Tinjauan kebutuhan adalah kebutuhan dasar manusia yang meliputi oksigenasi, nutrisi, cairan elektrolit, aman nyaman, eliminasi, aktivitas dan istirahat, psikososial, komunikasi, belajar, seksualitas, nilai dan keyakinan. Tinjauan ini merupakan modifikasi kebutuhan dasar berdasarkan teori Henderson. Berdasarkan modifikasi tersebut maka tinjauan kebutuhan meliputi 11 bentuk kebutuhan. Hal ini didasari pada bidang garap perawat yang melihat kebutuhan berdasarkan respon klien terhadap masalah kesehatan. pemenuhan kebutuhan klien menggunakan pendekatan proses keperawatan. Sub Tinjauan a. Oksigenasi Lingkup oksigenasi meliputi pemenuhan kebutuhan oksigenasi untuk membantu klien yang mengalami gangguan pemenuhan oksigen akibat gangguan ventilasi, difusi, perfusi dan transportasi. b. Cairan dan elektrolit Lingkup cairan dan elektrolit meliputi pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit untuk membantu klien yang mengalami gangguan pengaturan dan pemenuhan kebutuhan cairan, elektrolit dan keseimbangan asam basa. c. Nutrisi Lingkup nutrisi meliputi pemenuhan kebutuhan nutrisi mulai dari asupan makanan, pencernaan, penyerapan dan metabolisme. d. Aman dan nyaman Lingkup gangguan aman dan nyaman meliputi infeksi, cedera fisik, perilaku kekerasan, ketidakamanan lingkungan, proses pertahanan tubuh (alergi), dan termoregulasi, nyeri, polusi, isolasi sosial. 21

e. Eliminasi Lingkup eliminasi (urin dan fekal) meliputi proses sekresi dan ekskresi sisa metabolisme tubuh. f. Aktivitas dan istirahat Lingkup aktifitas dan istirahat meliputi gangguan mobilisasi fisik, keterbatasan energi, tidur, istirahat dan relaksasi. g. Psikososial Lingkup gangguan psikososial meliputi gangguan perilaku, koping, emosional, peran dan hubungan, serta persepsi diri. h. Komunikasi Lingkup komunikasi meliputi penerapan teknik komunikasi dan gangguan penerimaan, interpretasi, serta ekspresi. i. Belajar Lingkup belajar meliputi pemahaman dan kemampuan mengaplikasikan informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan, mempertahankan serta memulihkan status kesehatan. j. Seksualitas Lingkup seksualitas meliputi identitas seksual, fungsi seksual dan reproduksi. k. Nilai dan keyakinan Lingkup nilai dan keyakinan meliputi spiritual, nilai, keyakinan, pola aktivitas ritual dan latar belakang budaya yang mempengaruhi kesehatan. 22

Tabel prosentasi kebutuhan dasar No Kebutuhan Dasar Prosentase 1 Oksigenasi 10-14% 2 Cairan dan elektrolit 10-14% 3 Nutrisi 10-14% 4 Aman dan nyaman 10-14% 5 Eliminasi 7-11% 6 Aktivitas dan istirahat 7-11% 7 Psikososial 7-11% 8 Komunikasi 7-11% 9 Belajar 3-7% 10 Seksual 3-7% 11 Nilai dan keyakinan 3-7% 7. Sistem tubuh Tinjauan sistem tubuh merupakan kajian terhadap system tubuh yang berperan dalam pengaturan kesehatan dan kebugaran tubuh. Sistem tubuh meliputi sistem : pernafasan, jantung pembuluh darah system limpatik, pencernaan hepatobilier, saraf dan perilaku, ginjal dan saluran kemih, endokrin dan metabolism, persepsi dan sensori, reproduksi, darah dan system kekebalan tubuh, musculoskeletal. Dan integument Sub Tinjauan a. Sistem pernafasan Lingkup sistem pernafasan meliputi organ organ sistem pernafasan. b. Sistem kardiovaskuler dan limfatik Sistem ini meliputi organ jantung, pembuluh darah dan limfatik. c. Sistem Pencernaan dan hepatobilier Sistem ini meliputi organ saluran pencernaan, hati, pankreas dan empedu. d. Sistem Saraf dan perilaku Sistem saraf meliputi susunan saraf pusat, susunan saraf tepi dan sistem saraf otonom yang berfungsi untuk koordinasi system tubuh, baik aktivitas fisik dan perilaku. Gangguan Perilaku dapat disebabkan oleh gangguan organik dan non-organik. 23

e. Sistem perkemihan Sistem ini meliputi organ ginjal dan saluran kemih. f. Sistem endokrin Sistem organ yang meliputi hipofisis, thyroid,parathyroid, pancreas, kelenjar adrenal. g. Reproduksi Sistem organ yang meliputi genetalia eksterna dan interna (wanita dan pria). h. Penginderaan Sistem organ yang meliputi Mata, lidah, telinga, hidung. i. Darah dan system kekebalan tubuh Sistem yang meliputi komponen darah dan organ-organ yang menghasilkan zat kekebalan tubuh. j. Muskuloskeletal Sistem organ yang meliputi otot, tulang dan sendi. k. Integument Sistem organ yang terdiri dari kulit, kelenjar kulit. l. Lain-lain: Hal-hal/kajian yang tidak termasuk dalam sistem tubuh seperti, manejemen, pelayanan kesehatan, tumbuh kembang. 24

Tabel prosentasi sistem tubuh Pernafasan Sistem tubuh % 8-12% Jantung Pembuluh darah dan sistem limfatik 8-12% Pencernaan dan hepatobilier 8-12% Saraf dan perilaku 12-16% Endokrin dan metabolisme 6-10% Muskulo skleletal 6-10% Ginjal dan saluran kemih 6-10% Reproduksi 8-12% Integumen 3-7% darah dan sistem kekebalan imun 3-7 % Penginderaan 2-4 % lain-lain 6-10% 25

BAB V Uji Kompetensi A. Pengertian Uji kompetensi merupakan suatu proses penapisan untuk menjamin perawat yang teregister memiliki kompetensi yang dipersyaratkan B. Tujuan Tujuan dilakukannya uji kompetensi terhadap lulusan baru secara nasional (entry level national examination) mencakup: 1. Menegakkan akuntabilitas professional perawat dalam menjalankan peran profesinya. 2. Menegakkan standar dan etik prosesi dalam praktek. 3. Cross check terhadap kompetensi lulusan suatu institusi pendidikan. 4. Melindungi kepercayaan masyarakat terhadap profesi perawat. C. Ketentuan dalaam pengambangan uji kompetensi 1. Metode ujian Metode ujian yang akan digunakan adalah paper based test dan computer based test. Penetapan metode yang digunakan akan dilakukan oleh penyelenggara pusat sesuai dengan kelayakan tempat ujian. Paper based test adalah metode ujian dimana soal-soal ujian dibukukan dalam bentuk booklet yang berisi, peraturan dan soal-soal. Lembar jawaban dibuat dan diberikan secara terpisah. Booklet memiliki seal pengaman, bila dibuka seal pengaman akan robek. Keutuhan seal pengamanan dianggap sebagai jaminan kerahasiaan soal. Pengerjaan soal ujian menggunakan pensil 2B dengan cara mengisi lingkaran sesuai dengan pilihan jawaban. Computer based test adalah metode ujian yang menggunakan komputer menggunakan jaringan ethernet dan soal-soal disiapkan dalam hard disk portable. Peserta akan diberikan log in account. Jawaban peserta akan tersimpan dalam hard disk yang kemudian akan di sealed dan diserahkan ke penyelenggara pusat. 26

2. Penetapan standar kelulusan Standar kelulusan ditetapkan bersama oleh tim yang dibentuk oleh kelompok aahli dalam bidang keperawatan dari unsur unsur MTKI, LPUK, PPNI,AIPNI dan AIPDIKI melalui diskusi dan analisis terhadap tingkat kesulitan soal dengan menggunakan metode yang telah disepakati sebelumnya. Metoda yang disepakati adalah modified angoff technic Pada metoda ini berbagai data terkait dengan metoda ini akan dipertimbangkan untuk menjamin bahwa peserta uji memenuhi standar secara valid dan fair. memperhatikan berbagai situasi dan data pada saat dilakukannya proses standard setting maka metoda compromise seperti OFSTEE dapat dipertimbangkan untuk digunakan, dengan tetap memperhatikan tingkat keamanan dan keefektifan dari pencapaian standar kompetensi untuk kemanan masyarakat.. 3.Jumlah dan Format Soal Jumlah soal yang digunakan dalam uji kompetensi adalah 180 soal dan disediakan waktu 3 jam untuk mengerjakan. Jenis soal yang digunakan adalah soal pilihan ganda (MCQ type A question/dengan 5 alternatif jawaban (a, b,c,d,e).) dengan memilih satu jawaban yang paling tepat (one best answer). Jumlah soal tersebut dipertimbangkan dapat mengukur kompetensi lulusan baru dengan akurat ( memenuhi reliabilitas soal ). soal yang di gunakan juga telah melalui proses uji validitas. c. Presentasi/Wujud Soal Setiap soal disajikan dalam bentuk vigneet (kasus) yang menggambarkan situasi klinik yang logis. Peserta uji dituntut memilki kemamapuan analisis untuk dapat menjawab soal tes. Satu vigneet untuk satu soal. d. Kesetaraan Set Soal Setiap set soal yang disusun harus memiliki bobot yang sama. Set manapun yang digunakan untuk ujian seseorang harus menunjukkan hasil yang sama/hampir sama. Untuk itu akan dilakukan uji statisktik yang menentukan kesetaraan soal. Uji kesetaraan dilakukan setelah disepakati adanya satu set yang standar. 27

e. Kaidah pembuatan soal Dalam penulisan soal, soal bukan soal ingatan tapi soal yang membutuhkan penalaran menengah hingga tinggi, sesuai dengan jenjang diploma. Soal ini lebih sulit dibuat karena harus dipahami dahulu konsepnya dan baru bisa dibuat soal. Beberapa ketentuan yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan soal dengan penalaran baik antara lain: a. Fokus pada pertanyaan. Misalnya, contoh indikator, jika disajikan data, peserta dapat menentukan masalah atau diagnosis keperawatan. b. Menganalisa argumentasi. Contoh indikator, misalnya: Jika diberikan sebuah situasi, peserta dapat memberikan alasan yang mendukung argumentasi yang disajikan. c. Menentukan kesimpulan. Jika diberikaan sebuah pernyataan, peserta dapat menyimpulkan yang benar tentang pernyataan. d. Menilai. Jika diberikan pernyataan masalah, peserta dapat memecahkan masalah yang disajikan dengan alasan yang benar. e. Mendefinisikan konsep atau asumsi. Jika diberikan sebuah argumentasi, peserta dapat menentukan pilihan teori atau asumsi yang tepat. f. Mendeskripsikan situasi klinis. Jika disajikan sebuah situasi, peserta dapat mendeskripsikan pernyataan atau data klinis yang dihilangkan dengan tepat. g. Menyelesaikan masalah secara terencana. Jika disajikan pernyataan, peserta dapat merencakan pemecahan masalah secara sistematis. h. Mengevalusi strategi. Jika diberikan sebua pernyataan masalah atau stategi, peserta dapat mengevaluasi strategi atau prosedur yang disajikan. 28

BAB VI PENUTUP Blue print atau cetak biru adalah kerangka dasar yang merupakan pedoman yang digunakan untuk merancang pengembangan soal uji kompetensi perawat. Blue print ini merupakan upaya untuk menjamin bahwa perawat yang telah lulus uji kompetensi akan memberikan asuhan keperawatan yang aman dan efektif. Dengan demikian, perawat yang memberikan pelayanan sesuai dan menggambarkan karakter utama perawat yang diharapkan pengguna. Disadari sepenuhnya bahwa praktik keperawatan akan mengalami perubahan dan perkembangan secara terus menurus seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi bidang kesehatan serta harapan masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan peninjauan blue prin secara berkala dan berkesinambungan. 29

Referensi Bulecheck, G.M. & Dochterman, J.M. (2005). Nursing Intervention Classification (NIC) 4 th ed. Mosby. Canada s Testing Company, Assessment Strategies Inc (2012)Canadian Practical Nurse Registration Examination Blueprint. Canada Herdman, T.H.(2012) (Ed.). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2012-2014. Oxford: Wiley-Blackwell. Nies, M.A. & McEwen, M. (2007). Community/ Public Health Nursing: Promoting the Health of Populations. 4 th ed., Saunders Elsevier, St Louis. Permenkes nomor 1796 tahun 2011 tentang registrasi tenaga kesehatan PPNI (2009) Standar Profesi Perawat Indonesia. Jakarta Undang-undang RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Wiliknson, J.M. (2005). Prenticehall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Interventions and NOC Outcomes. 8th ed. New jersey: Pearson Prentice Hall. Willis, M.C. (2008) Medical Terminology: A Programmed Learning Approach to the Language of Health Care, 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia. Wong, D.L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M.L. & Schwartz, P. (2001) Wongs Essentials of Pediatric Nursing, 6th ed. Mosby, St Louis. Penjelasan Istilah Klien: adalah individu, keluarg, kelompok dan masyarakat. Kolaborasi : Bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lain, dengan tetap mempertahankan otonomi. 30

Lampiran 1: Matrik Rentang Asuhan Keperawatan dan Kompetensi Ranah 1 : Praktik Professional, Legal dan Etis 1.1 Akuntabilitas No. Vokasi (D3) Profesi (Ners) 1 Menerima tanggung gugat terhadap keputusan dan tindakan professional sesuai dengan lingkup praktik, dan hukum/peraturan perundangan Menerima tanggung gugat terhadap keputusan, tindakan profesional, hasil asuhan dan kompetensi lanjutan sesuai dengan lingkup praktik, tanggung jawab yang lebih besar, dan hukum/peraturan perundangan 2 Menerapkan prinsip etik dalam keperawatan sesuai dengan Kode Etik Perawat Indonesia 3 Menerapkan sikap menghormati hak privasi dan martabat klien Menerapkan prinsip etik dalam keperawatan sesuai dengan Kode Etik Perawat Indonesia Menerapkan sikap menghormati hak privasi dan martabat klien 4 Menerapkan sikap menghormati hak klien untuk memilih dan menentukan sendiri asuhan keperawatan & kesehatan yang diberikan Menerapkan sikap menghormati hak klien untuk memperoleh informasi, memilih dan menentukan sendiri asuhan keperawatan & kesehatan yang diberikan 5 Menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi tertulis, verbal dan elektronik yang diperoleh dalam kapasitas sebagai seorang profesional 6 Melakukan praktik keperawatan profesional sesuai dengan peraturan perundangan Menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi tertulis, verbal dan elektronik yang diperoleh dalam kapasitas sebagai seorang profesional Melakukan praktik keperawatan profesional sesuai dengan peraturan perundangan 31

Ranah 2 : Pemberian Asuhan & Manajemen 2.1 Prinsip Pemberian Asuhan No. Vokasi Profesi 7 Menggunakan keterampilan penyelesaian masalah untuk memandu praktik Menerapkan keterampilan berpikir kritis dan pendekatan sistem untuk penyelesaian masalah serta pembuatan keputusan keperawatan dalam konteks pemberian asuhan keperawatan profesional 8 Berperan serta dalam promosi kesehatan bersama perawat profesional, profesional lain dan kelompok komunitas/ masyarakat dalam kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan gaya hidup dan lingkungan yang sehat Mengelola promosi kesehatan melalui kerjasama dengan sesama perawat, profesional lain serta kelompok masyarakat untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan gaya hidup dan lingkungan yang sehat 2.2.2 Pengkajian No. Vokasi Profesi 9 Melaksanakan pengumpulan data kesehatan sesuai aspek yang didelegasikan, kemudian mengkontribusikan data dan informasi tersebut untuk pengkajian yang dibuat oleh Perawat Teregistrasi 10 Mengidentifikasi masalah kesehatan yang umum, aktual dan potensial serta mencatat temuan yang meyimpang 11 Melaporkan dan menjaga keakuratan, mencatat temuan tepat waktu sesuai dengan standar profesi dan kebijakan organisasi 12 Membantu Perawat Teregistrasi dalam merencanakan asuhan klien berdasarkan Melakukan pengkajian melalui pengumpulkan data obyektif dan subyektif yang akurat dan relevan melalui pengkajian kesehatan dan keperawatan yang sistematik Mengorganisasikan, mensintesis, menganalisis, menerjemahkan data dari berbagai sumber untuk menegakkan diagnosis keperawatan dan menetapkan rencana asuhan Berbagi temuan dan mendokumentasikannya secara akurat dan tepat waktu sesuai dengan standar profesi dan kebijakan organisasi Merumuskan rencana asuhan yang komprehensif dengan hasil asuhan yang 32

hasil pengkajian 13 Menetapkan prioritas asuhan yang diberikan bersama perawat supervisor 14 Memberikan informasi yang akurat kepada klien tentang aspek rencana asuhan yang menjadi tanggung jawabnya 16 Berkoordinasi dengan Perawat Teregisterasi, mengkaji kembali dan merevisi rencana asuhan secara reguler 17 Menjaga kelangsungan rencana asuhan yang terkiri, akurat dan catatan terkait dibawah supervisi Perawat Teregistrasi teridentifikasi berdasarkan diagnosis keperawatan, hasil pengkajian keperawatan dan kesehatan, masukan dari anggota tim kesehatan lain, dan standar praktik keperawatan Menetapkan prioritas asuhan melalui kolaborasi dengan pemberi asuhan lain dan klien. Melibatkan klien apabila memungkinkan, dalam rencana asuhan untuk menjamin klien mendapatkan informasi akurat, dapat dimengerti, sebagai dasar persetujuan asuhan yang diberikan Mengkaji kembali dan merevisi rencana asuhan secara reguler, apabila memungkinkan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain dan klien Menjaga kelangsungan rencana asuhan yang terkini, akurat dan catatan terkait 2.2.4 Implementasi 18 Melaksanakan intervensi keperawatan yang direncanakan sesuai dengan standar praktik keperawatan dibawah pengawasan perawat teregistrasi 19 Mendokumentasikan intervensi dan respon klien secara akurat dan tepat waktu 20 Mengidentifikasi dan melaporkan situasi perubahan yang tidak diharapkan 21 Meminta bantuan cepat dan tepat dalam situasi gawat darurat/ bencana Menerapkan ketrampilan bantuan hidup dasar sampai bantuan tiba 22 Memonitor dan mendokumentasikan kemajuan hasil asuhan yang diharapkan secara akurat dan lengkap Melaksanakan serangkaian prosedur, treatment dan intervensi yang berada dalam lingkup praktik keperawatan bagi perawat teregistrasi dan sesuai standar praktik keperawatan Mendokumentasikan intervensi dan respon klien secara akurat dan tepat waktu Merespon situasi perubahan yang cepat atau yang tidak diharapkan secara cepat dan tepat Merespon situasi gawat darurat/ bencana secara cepat dan tepat, termasuk melakukan prosedur bantuan hidup jika diperlukan, dan prosedur gawat darurat/ bencana lainnya Memonitor dan mendokumentasikan kemajuan hasil asuhan yang diharapkan secara akurat dan lengkap 33

23 Memberikan kontribusi kepada tim dalam evaluasi kemajuan terhadap hasil/pencapaian yang ditargetkan 24 Memberikan kontribusi data evaluasi dan saran perbaikan terhadap rencana asuhan kepada perawat teregistrasi 25 Mengkomunikasikan secara jelas, konsisten dan akurat informasi baik verbal, tertulis maupun elektronik, sesuai tanggung jawab profesionalnya 26 Berinteraksi dengan cara menghargai dan menghormati budaya klien, keluarga, dan/atau pemberi pelayanan dari berbagai latar belakang budaya 27 Mengkomunikasikan dan berbagi informasi yang relevan, mencakup pandangan klien, keluarga dan/atau pemberi pelayanan dengan anggota tim kesehatan lain yang terlibat dalam pemberian pelayanan kesehatan. Mengevaluasi kemajuan hasil asuhan terhadap pencapaian yang ditargetkan, dengan melibatkan klien, keluarga dan/atau pemberi pelayanan, serta anggota tim kesehatan lain Menggunakan data evaluasi untuk memodifikasi rencana asuhan Mengkomunikasikan secara jelas, konsisten dan akurat informasi baik verbal, tertulis maupun elektronik, sesuai tanggung jawab profesionalnya Berinteraksi dengan cara menghargai dan menghormati budaya klien, keluarga, dan/atau pemberi pelayanan dari berbagai latar belakang budaya Mengkomunikasikan dan berbagi informasi yang relevan, mencakup pandangan klien, keluarga dan/atau pemberi pelayanan dengan anggota tim kesehatan lain yang terlibat dalam pemberian pelayanan kesehatan. 2.3 Kepemimpinan & Manajemen 28 Memberikan advokasi dan berkontribusi. untuk menciptakan lingkungan keja yang positif 29 Memahami kebutuhan pendekatan dan berbagai gaya kepemimpinan dalam situasi yang berbeda 30 Mengenali konflik dan menggunakan ketrampilan interpersonal serta mekanisme organisasi yang ada untuk mencapai solusi 31 Mendukung pemimpin dengan cara konsisten untuk meningkatkan rasa saling menghargai hormat dan percaya diri diantara anggota tim Memberikan advokasi dan berbertindak dalam rentang kendalinya untuk menciptakan lingkungan keja yang positif Menyesuaikan pendekatan dan gaya kepemimpinan dalam situasi yang berbeda Menghadapi konflik dengan cara yang bijaksana, menggunakan ketrampilan komunikasi yang efektif dan mekanisma yang ada untuk mencapai solusi Memberikan kontribusi untuk kepemimpinan tim dengan memperkuat tujuan sehingga dapat meningkatkan sikap saling menghargai dan percaya diri diantara anggota tim 32 Mengekpresikan pemikiran kepemimpinannya secara jelas dan mendukung harapan anggota tim lainnya 33 Memprioritaskan beban kerja dan Memprioritaskan beban kerja dan 34

mengelola waktu secara efektif 34 Memahami bagaimana kebijakan dan prosedur dikembangkan serta memberikan kontribusi untuk umpan balik komite review. mengelola waktu secara efektif Memberikan kontribusi pada hasil review dan modifikasi kebijakan dan prosedure organisasi terbaru. 35 Berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran berbasis unit 36 Memberikan umpan balik dan saran untuk perubahan di lingkungan praktiknya sendiri secara efektif 37 Memahami dan menghargai peran, pengetahuan dan ketrampilan anggota tim kesehatan yang berkaitan dengan tanggung jawabnya. Memberikan kontribusi terhadap pendidikan dan pengembangan profesional mahasiswa dan sejawat di tempat kerja Memberikan umpan balik, saran perubahan di lingkungan praktiknya sendiri atau organisasinya, secara effektif Memahami dan menghargai peran, pengetahuan dan ketrampilan anggota tim kesehatan yang berkaitan dengan tanggung jawabnya 38 Bekerjasama untuk mempertahankan kerja tim multi dispilin secara efektif. 39 Menggunakan pengetahuan tentang praktik kerja inter dan intra profesional yang efektif Berkolaborasi dengan professional kesehatan lain untuk meningkatkan pelayanan keperawatan dan kesehatan yang dapat dijangkau oleh klien Menggunakan pengetahuan tentang praktik kerja inter dan intra profesional yang efektif 40 Menyampaikan pandangan pasien/klien dan/atau pemberi pelayanan untuk membantu pembuatan keputusan oleh tim inter-profesional 41 Merujuk klien kepada Perawat Teregister untuk menjamin klien mendapatkan intervensi terbaik yang tersedia. 43 Menerima kegiatan yang didelegasikan sesuai dengan tingkat keahlian dan lingkup praktik legal Memaparkan dan mendukung pandangan klien, keluarga, dan/atau pemberi pelayanan selama pembuatan keputusan oleh tim inter profesional Merujuk untuk memastikan klien mendapatkan intervensi terbaik yang tersedia. Mendelegasikan kepada orang lain, kegiatan sesuai dengan kemampuan, tingkat persiapan, keahlian dan lingkup praktik legal 35

44 Memberikan umpan balik kepada orang yang mendelegasikan/ menugaskan kegiatan dan mengawasi kerjanya. 45. Mempertahankan akontabilitas terhadap hasil kegiatan yang didelegasikan Menerima kegiatan yang didelegasikan sesuai dengan tingkat keahliannya dan lingkup praktik legal Memonitor dan menggunakan serangkaian strategi pendukung termasuk precepting ketika pengawasan dan/atau monitoring asuhan didelegasikan Mempertahankan akontabilitas dan tanggung jawab saat mendelegasikan aspek asuhan kepada orang lain 46. Memberikan kontribusi terhadap pengembangan panduan dan kebijakan yang berkaitan dengan pendelegasian tanggung jawab klinik. 47 Mengidentifikasi dan melaporkan situasi yang dapat membahayakan keselamatan klien atau staf. Menggunakan alat pengkajian yang tepat untuk mengidentifikasi risiko actual dan potensial terhadap keselamatan dan melaporkan kepada pihak yang berwenang. 48 Mempertahankan lingkungan asuhan yang aman melalui tindakan tepat waktu, mengikuti peraturan nasional dan persyaratan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja, kebijakan dan prosedur. 49 Menyimpan bahan-bahan pengobatan dengan memperhatikan kemananan dan keselamatan. Mengambil tindakan segera dengan menggunakan strategi manajemen risiko peningkatan kualitas untuk menciptakan dan menjaga lingkungan asuhan yang aman dan memenuhi peraturan nasional, persyaratan keselamatan dan kesehatan tempat kerja, serta kebijakan dan prosedur. Menjamin keamanan dan ketepatan penyimpanan, pemberian dan pencatatan bahan-bahan pengobatan. 50 Memberikan dan mencatat obat dibawah pengawasan seorang Perawat Teregistrasi bila secara hukum diijinkan. Memberikan obat, mencatat, mengkaji efek samping dan mengukur dosis yang sesuai dengan resep yang ditetapkan. 36

51 Memenuhi prosedur pencegahan infeksi Memenuhi prosedur pencegahan infeksi dan mencegah terjadinya pelanggaran dalam praktik yang dilakukan para praktisi lain. 52 Mengetahui tindakan yang dilakukan pada saat dinyatakan terjadi bencana Mengetahui tanggung jawab dan prosedur yang harus diikuti pada saat dinyatakan terjadi bencana. Ranah 3 : Pengembangan Professional, Personal & Kualitas 3.1 Pengembangan Profesi 53 Mengetahui dan mengikuti standar profesi dan praktik terbaik yang diterapkan sebagai tanggung jawab profesi Meningkatkan deseminasi, penggunaan, monitoring dan penelaahan standar profesi serta pedoman praktik terbaik 54 Meningkatkan dan mempertahankan citra Meningkatkan dan mempertahankan citra keperawatan yang positif 55 Bertindak sebagai model peran yang efektif bagi mahasiswa keperawatan (enrolled nurse students) dan staf pendukung 56 Bertindak sebagai nara sumber baagi mahasiswa keperawatan (enrolled nurse students) dan staf pendukung keperawatan yang positif Bertindak sebagai model peran yang efektif bagi mahasiswa dan dalam tim pemberi asuhan Bertindak sebagai nara sumber bagi mahasiswa, anggota tim kesehatan lain dan masyarakat 57 Menghargai penelitian dalam memberikan kontribusi pada pengembangan keperawatan dan menggunakan hasil penelitian sebagai alat untuk meningkatkan standar asuhan 59 Mencermati lingkungan praktik dan literatur keperawatan untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) dan issu yang muncul 60 Ikut serta dalam kegiatan advokasi melalui organisasi profesi untuk mempengaruhi kebijakan pelayanan kesehatan dan sosial serta masuk ke dalam pelayanan Ikut serta dalam kegiatan advokasi melalui organisasi profesi untuk mempengaruhi kebijakan pelayanan kesehatan dan sosial serta masuk ke dalam pelayanan 3.2 Peningkatan Kualitas 61 Melaksanakan tugas sesuai arahan dan sesuai dengan kebijakan, ketentuan, tolok ukur kualitas dan juga sesuai dengan tingkat pelatihan yang diikutinya. 62 Berperan serta dalam peningkatan kualitas dan prosedur jaminan mutu Mengikuti pedoman praktik terbaik dan berdasarkan pembuktian (evidence-based ) dalam melakukan praktik keperawatan. Bepartisipasi dalam kegiatan peningkatan kualitas dan penjaminan mutu. 63 Melakukan kajian secara teratur tentang Melakukan kajian secara teratur tentang 37

praktik yang dilaksanakannya dengan cara refleksi dan peer review 64. Bertanggung jawab untuk belajar seumur hidup, pengembangan profesional dan mempertahankan kompetensi yang dimilikinya 65 Menyempatkan diri untuk belajar bersama orang lain untuk memberikan kontribusi terhadap asuhan kesehatan praktik yang dilaksanakannya dengan cara refleksi, telaah kritis, dan evaluasi serta peer review Bertanggung jawab untuk belajar seumur hidup, pengembangan profesional dan mempertahankan kompetensi yang dimilikinya Menyempatkan diri untuk belajar bersama orang lain untuk memberikan kontribusi terhadap asuhan kesehatan 38

Lampiran 2 : BLUEPRINT UJI KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 Area Kompetensi % Domain Ners (%) D3 (%) Keilmuan Proses keperawatan ners (%) D3 (%) Upaya % Kebutuhan % Sistem tubuh % Praktik professional, etis, legal dan 15-25% Kognitif 65-75% 40-50% KMB 25-37% Pengkajian promotif 20-30% 15-25% Oksigenasi 10-14% Pernafasan peka budaya 10-20% 8-12% Asuhan dan manajemen asuhan 65-75% Prosedural Knowledge 20-25% 45-55% Maternitas 8-14% penentuan diagnosa preventif 20-30% 15-25% Cairan dan elektrolit 10-14% Jantung Pembuluh darah d keperawatan 5-10% 8-12% Pengembangan professional 5-15% Afektif knowledge 5-10% 5-10% Anak 8-14% perencanaan 15-25% 15-25% kuratif 35-45% Nutrisi 10-14% Pencernaan dan hepatobili 8-12% Jiwa 8-14% implementasi 15-25% 45-55% rehabilitatif 15-25% Aman dan Nyaman 10-14% Saraf dan perilaku 12-16% Keluarga 8-14% Evaluasi 5-15% 5-15% Eliminasi 7-11% Endokrin dan metabolisme 6-10% Gerontik 3-9% Aktivitas dan istirahat 7-11% Muskulo skleletal 6-10% Manajemen 3-9% Psikososial 7-11% Ginjal dan saluran kemih 6-10% Gadar 3-9% komunikasi 7-11% Reproduksi 8-12% Komunitas 3-9% seksual 3-7% Integumen 3-7% nilai dan keyakinan 3-7% darah dan sistem kekebala 3-7 % belajar 3-7% Penginderaan 2-4 % 39