PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA SURABAYA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. disingkat UUD RI Tahun 1945, adalah hukum dasar tertulis (basic law)

SMP. 1. Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara 2. Susunan ketatanegaraan suatu negara 3. Pembagian & pembatasan tugas ketatanegaraan

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern sekarang ini, hampir semua negara mengklaim menjadi

BAB I PENDAHULUAN. adanya pemerintah yang berdaulat dan terakhir yang juga merupakan unsur untuk

Tugas dan Fungsi MPR Serta Hubungan Antar Lembaga Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan

DEMOKRASI PANCASILA. Buku Pegangan: PANCASILA dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi Oleh: H. Subandi Al Marsudi, SH., MH. Oleh: MAHIFAL, SH., MH.

BAB II KEDUDUKAN PRESIDEN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA. Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Indonesia, bentuk republik telah

Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selanjutnya

I. PENDAHULUAN. praktik ketatanegaraan Indonesia. Setiap gagasan akan perubahan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. kehakiman diatur sangat terbatas dalam UUD Buku dalam pasal-pasal yang

I. PENDAHULUAN. Perubahan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD tahun 1945) tidak hanya

POLITIK DAN STRATEGI (SISTEM KONSTITUSI)

MENGGAPAI KEDAULATAN RAKYAT YANG MENYEJAHTERAKAN RAKYAT 1

e. Senat diharuskan ada, sedangkan DPR akan terdiri dari gabungan DPR RIS dan Badan Pekerja KNIP;

EKSEKUTIF, LEGISLATIF, DAN YUDIKATIF

BAB I PENDAHULUAN. The Constitution is made for men, and not men for the Constitution. (Soekarno, dalam pidato tanggal 17 Agustus 1959)

BAB I PENDAHULUAN. kita memiliki tiga macam dokumen Undang-undang Dasar (konstitusi) yaitu: 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MPR Pasca Perubahan UUD NRI Tahun 1945 (Kedudukan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan)

TINJAUAN YURIDIS PEMBERHENTIAN PRESIDEN SEBELUM DAN SESUDAH PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 SKRIPSI

Presiden dan Wakil Presiden dalam Sistem Hukum Ketatanegaraan Indonesia. Herlambang P. Wiratraman 2017

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lembaga Kepresidenan dalam Sistem Presidensial

KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI DAN WEWENANG DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Mahkamah Konstitusi yang selanjutnya disebut MK adalah lembaga tinggi negara dalam

BAB II PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA YANG DITUANGKAN DALAM UNJUK RASA (DEMONSTRASI) SEBAGAI HAK DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT

NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI

1. Menjelaskaan kekuasaan dalam pelaksanaan konsitusi.

PENDAHULUAN. kendatipun disebut sebagai karya agung yang tidak dapat terhindar dari

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

KEWENANGAN MPR UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4

Otonomi Daerah sebagai prinsip berarti menghormati kehidupan regional menurut riwayat, adat dan sifat-sifat sendiri-sendiri, dalam kadar negara kesatu

HAK MENYATAKAN PENDAPAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DALAM MEKANISME PEMBERHENTIAN PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas), artinya segala sesuatu yang

KEWEWENANGAN PRESIDEN DALAM BIDANG KEHAKIMAN SETELAH AMANDEMEN UUD 1945

IMPLIKASI AMANDEMEN UUD 1945 TERHADAP SISTEM HUKUM NASIONAL

PERGESERAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT BERDASARKAN UUD NRI 1945 TESIS

keberadaan MK pd awalnya adalah untuk menjalankan judicial review itu sendiri dapat dipahami sebagai and balances antar cabang kekuasaan negara

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. sesuai yang diamanatkan pada Pasal 1 ayat (1) UUD RI 1945.

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-2 Dinamika Penerapan Demokrasi

Demokrasi di Indonesia

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MAKALAH DEMOKRASI PANCASILA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Konstitusi merupakan segala ketentuan dan aturan dasar mengenai

KONSTITUSI DAN RULE OF LAW

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang). 1 Karena

Kewenangan MPR Dalam Pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden

BAB I PENDAHULUAN. Menjamurnya lembaga negara, termasuk keberadaan komisi negara

BAB I PENDAHULUAN. adanya amandemen besar menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis, transparan,

BAB II MAHKAMAH KONSTITUSI SEBAGAI BAGIAN DARI KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA. A. Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman Sebelum Perubahan UUD 1945

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dengan adanya pemilihan umum yang telah diselenggarakan pada

Ulangan Akhir Semester (UAS) Semester 1 Tahun Pelajaran

Soal LCC 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara :)

BAB I Pendahuluan. A. Latar belakang Masalah

SKRIPSI COMBINATION PRESIDENTIAL SYSTEM WITH MULTYPARTY SYSTEM ON GOVERMENT UNDER CONSTITUTION OF REPUBLIC INDONESIA Oleh:

Negara dan Konstitusi

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan reformasi yang digalakkan oleh mahasiswa dan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011:

MENGANALISIS SISTEM PEMERINTAHAN DI BERBAGAI NEGARA

KONSTITUSI DAN RULE OF LAW

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SEJARAH PERKEMBANGAN UUD

KEWARGANEGARAAN KONSTITUSI, KONSTITUSIONALISME DAN RULE OF LAW. Modul ke: 05Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan

Kata Kunci : Pengawasan DPRD, dan Harmonisasi Hubungan Kepala Daerah serta DPRD.

DIAZ RATNA DEWY EA32

Dua unsur utama, yaitu: 1. Pembukaan (Preamble) ; pada dasarnya memuat latar belakang pembentukan negara merdeka, tujuan negara, dan dasar negara..

Cita hukum Pancasila harus mencerminkan tujuan menegara dan seperangkat nilai dasar yang tercantum baik dalam Pembukaan maupun batang tubuh UUD 1945.

Mengenal Mahkamah Agung Lebih Dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang

PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

PENUTUP. partai politik, sedangkan Dewan Perwakilan Daerah dipandang sebagai

PENERAPAN KONSEP TRIAS POLITICA DI INDONESIA BERDASARKAN PERSPEKTIF UUD 1945 PASCA AMANDEMEN

PENGATURAN RECALL DALAM PRESPEKTIF NEGARA HUKUM DEMOKRATIS BERDASAR UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Konstitusi dan Rule of Law

NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Universitas Indo Global Mandiri Palembang

BAB I PENDAHULUAN. tinggi negara yang lain secara distributif (distribution of power atau

ASAS HUKUM TATA NEGARA. Riana Susmayanti, SH.MH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam beberapa bagian, tetapi tidak dipisahkan. Hal ini membawa konsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. struktur organisasi negara, termasuk bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi lembaga

4 Ibid, hlm 3 5 Ibid, hlm 5

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SKRIPSI KEDUDUKAN DAN WEWENANG MAHKAMAH KONSTITUSI DAN MAHKAMAH AGUNG MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

MPR sebelum amandemen :

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**)

NILAI DAN NORMA KONSTITUSIONAL UUD NRI UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia. Apa isinya?

BAB V PENUTUP. Dari hasil penelitian dan pembahasan mengenai peran kamar kedua dalam

Badan Eksekutif, Legeslatif, Yudikatif

BAB I PENDAHULUAN. pelaku sepenuhnya dari kedaulatan rakyat Indonesia, Presiden sebagai kepala

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e )

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 2 TAHUN 1985 (2/1985) Tanggal: 7 JANUARI 1985 (JAKARTA)

I.PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Tahun 1945) menyatakan

TUGAS AKHIR DEMOKRASI PANCASILA MENURUT UUD 1945

Transkripsi:

TINJAUAN TEORI PEMBAGIAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN DALAM PRAKTEK HUKUM TATA NEGARA DI INDONESIA SKRIPSI OLEH : YUDA PERMADI KUSUMA DINATA PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA SURABAYA 2013

TINJAUAN TEORI PEMBAGIAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN DALAM PRAKTEK HUKUM TATA NEGARA DI INDONESIA NAMA : YUDA PERMADI KUSUMA DINATA NPM : 29120012 JURUSAN FAKULTAS : ILMU HUKUM : HUKUM DI SETUJUI dan DI TERIMA OLEH: PEMBIMBING Dr. Wahyu Kurniawan., S.H., LLM NIDN : 0708017602 2

Perihal : Tugas Akhir Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : YUDA PERMADI KUSUMA DINATA N.P.M : 29120012 Judul Tugas Akhir : TINJAUAN TEORI PEMBAGIAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN DALAM PRAKTEK HUKUM TATA NEGARA DI INDONESIA. Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil penulisan saya sendiri dan di dalamnya tidak terdapat tindakan meniru, menyalin, dan menjiplak karya ilmiah yang telah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di suatu Perguruan Tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum atau tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka. Apabila, saya telah terbukti melakukan tindakan atau perbuatan tersebut, maka saya bersedia untuk menerima sanksi yang telah diatur dalam perundangundangan dan ketentuan yang telah ditetapkan dan berlaku di Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya. Surabaya, 2 Agustus 2013 Penulis (YUDA PERMADI KUSUMA DINATA) 3

SKEMA PENULISAN SKRIPSI BAB I adalah menggambarkan konsep pemerintahan dalam sistem ketatanegaraan sebagian negara di dunia yang didasarkan pada teori para ahli hukum dan ahli filsafat dengan melihat aspek sejarah dan teori terbentuknya sistem pemerintahan dalam praktek ketatanegaraan di Indonesia. Dengan, melihat hierarki pemegang kekuasaan tertinggi secara horizontal dan melihat sistem pemerintahan secara vertikal melalui sistem pembagian kekuasaan dan pemisahan kekuasaan yang diterapkan oleh negara Indonesia sebelum perubahan dan sesudah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. BAB II adalah menjelaskan tentang konsep teori organisasi pembagian kekuasaan lembaga negara dengan memahami teori-teori para ahli hukum di dunia dan di Indonesia dalam praktek ketatanegaraan di suatu negara, khususnya dalam praktek kekuasaan pemerintahan dan ketatanegaraan Indonesia. Di samping konsep mengenai teori organisasi pembagian kekuasaan dalam praktek ketatanegaraan di Indonesia, di Bab II ini, juga menjelaskan tentang teori atau konsep organisasi pemisahan kekuasaan dalam praktek ketataegaraan di Indonesia. Menjelaskan keterkaitan prinsip checks and balances pembagian kekuasaan pemerintahan dalam praktek ketatanegaraan yang berdasarkan UUD 1945 sebelum perubahan, serta menjelaskan keterkaitan prinsip check and balances dalam konsep teori pemisahan kekuasaan praktek ketatanegaraan sebelum perubahan UUD 1945, di Bab III juga menjelaskan keterkaitan keterkaitan prinsip check and balances pemisahan kekuasaan dalam praktek ketatanegaraan di Indonesia sesudah perubahan UUD 1945. 4

BAB III adalah menjelaskan dari hasil penerapan kekuasaan lembaga negara dengan prinsip checks and balances untuk mengontrol antara pembagian kekuasaan dan pemisahan kekuasaan lembaga negara di Indonesia. Setelah perubahan UUD 1945, dengan setelah adanya perubahan UUD 1945 lembaga pemerintahan di Indonesia sebagian ada yang di hapus dan sebagian pula ada penambahan lembaga pemerintahan negara di Indonesia dengan mengacu pada konsep pembagian kekuasaan dan pemisahaan kekuasaan lembaga negara baik secara horizontal maupun pembagian dan pemisahan lembaga negara secara vertical sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman yang ada di masyarakat Indonesia. BAB IV adalah menjelaskan tentang penutup dari penulisan skripsi yang berisi tentang kesimpulan dari isi penulisan skripsi dan memuat tentang saran dari pembaca mengenai penulisan skripsi tersebut yang di tulis oleh penulis 5

SESUNGGUHNYA. (QS: ALAM NASYRAH 6) SESUDAH KESULITAN ITU ADA KEMUDAHAN Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al- Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu [98], dan bersyukurlah kepada-ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.(AL- BAQARAH 152-152). SEANDAINYA BUMI BISA KU JUNJUNG, LAGIT BISA KU ANGKAT, DAN WAKTUPUN BISA BERPUTAR KEMBALI, SEMUANYA AKAN KU LAKUKAN DAN KU KORBANKAN SERTA KUPERSEMBAHKAN UNTUK SANG PEMBAWA RIDHO DI DUNIA TIDAK AKAN KU SIA-SIAKAN LAGI. CURAHAN AIR MATA YANG ENGKAU TETESKAN DI WAKTU MALAM DAN SUBUH DALAM SUJUD DAN MUNAJADMU. AKU TIDAK MAMPU MEMBALAS KEIKHLASAN DAN KERIDHOANMU DALAM SETIAP WAKTU.. DARI GORESAN TINTA INI AKAN KU PERSEMBAHKAN TERBAIK UNTUKMU BAPAK, IBU KU SEMOGA ENGKAU BAHAGIA, BANGGA, DAN BISA TERSENYUM MANIS,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 6

MOTTO TIME IS KNOWLEDGE KEJUJURAN DAN KEDiSiPLiNAN ADALAH LANGKAH AWAL MENUJU KEBERHASiLAN. GUNAKANLAH WAKTUMU SEBAiK MUNGKiN, SEBAB WAKTU TiDAK AKAN KEMBALi LAGi INGAT PENYESALAN DATANG Di KEMUDiAN HARi. BERSiKAPLAH SEPERTi HALNYA SETANGKAi PADi, SEMAKiN BERiSi PADi itu AKAN SEMAKiN MERUNDUK KE BAWAH. 7

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan memanjatkan rasa syukur kepada ALLAH S.W.T, karena hanya berkat limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah-nya semata. Sehingga, penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul: TINJAUAN TEORI PEMBAGIAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN DALAM PRAKTEK HUKUM TATA NEGARA DI INDONESIA untuk memenuhi salah satu syarat Ujian Tugas Akhir Sarjana Strata-1 Di Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya. Skripsi ini, tidak akan penulis selesaikan tanpa adanya bantuan dan dorongan dari semua pihak yang penuh keikhlasan serta ketulusan baik moril maupun spiritual, waktu, tenaga, dan pikiran. Oleh karena itu, penulis mempersembahkan sebagai kado dan mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat: 1. Kedua orang tua Bapak Mata i dan Ibu Li a serta kakak, adik-adik ku semuanya telah memberikan semangat penuh baik moril maupun spiritual yang tak terhingga nilainya. 2. Bapak Budi Endarto., S.H., M.Hum. Selaku Rektor Universitas Wijaya Putra Surabaya. i i

3. Bapak Dr. H. Taufiqurrahman., S.H., M.Hum. Selaku Wakil Rektor Universitas Wijaya Putra Surabaya dan selaku Dosen Pembina PLKH. 4. Bapak Dr. Wahyu Kurniawan., S.H., L.LM. Selaku Dosen Pembimbing Skripsi penulis. 5. Ibu Tri Wahyu Andayani., S.H., C.N., M.H. Selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya. 6. Bapak Andy Usmina Wijaya., S.H., M.H. Selaku Kepala Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya. 7. Bapak H. Arief Syahrul Alam., S.H., M.Hum. Selaku Sekretaris Rektor dan Dosen Pendamping KKM. 8. Bapak H. Mulus Sugiarto., S.Sos., M.Si. Selaku Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Wijaya Putra Surabaya. 9. Bapak/Ibu Dosen Penguji skripsi penulis. 10. Para Bapak/Ibu Dosen Universitas Wijaya Putra Surabaya. 11. Para Staf dan Karyawan Universitas Wijaya Putra Surabaya. 12. Luluk Nur Hakiki (Sang Kekasih) makasih sayang sudah banyak membantu mencarikan buku dan memberikan motivasi penuh I LOVE YOU, I MISS YOU. 13. Kakak Atik Puspita Rini yang sudah memberikan do a dan semangatnya. 14. Adik-adik ku Sudrajat Suryo Kusumo, Abdul Ghofur Hardiyanto Prabowo, dan Si Kecil manis Kartika Hardiyanti Pratiwi (icha). ii ii

15. Sobat ku I Komang Satria, makasih banyak sobat sudah korbanin waktu, tenaga, dan pikiran buat membantuku. 16. Sobat Simon Hendro Tharob, makasih dulur saudaraku dari Ambon. 17. Sobat Bagus Wahyudi Agung Prabowo (Kecap), makasih bos sudah kasih semangatnya. 18. Sobat Johannes Hutapea makasih bang sudah memotivasi aku HORAS,,,,,!!!!!!. 19. Sobat Nocky Leon Agusta sebagai sahabat dekat penulis yang selalu membuat suasana menjadi semangat. 20. Temen-temen dan Keluarga Besar Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya. 21. Temen-temen aktifis UKM dan ORMAWA Universitas Wijaya Putra Surabaya. 22. Temen-temen Fakultas Ekonomi, Fakultas FISIP, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, Fakultas Sastra dan Bahasa. 23. Temen-temen TIM PLKH 2013. 24. Semua pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini tidak dapat penulis sebutkan secara rinci, karena keterbatasan waktu dan pikiran penulis thanks you all the best. Semoga segala amal perbuatan dan amal ibadah yang diberikan kepada penulis. Senantiasa mendapatkan berkah, pahala dan kebaikan yang berlipat ganda dari ALLAH SWT. Amiiiiiiiiiiiinnnnn,,,,,,,,,!!!!!!!!. iii iii

Penulis menyadari sepenuhnya dalam penyusunan skripsi ini dalam rangka memenuhi Ujian Tugas Akhir. Jauh dari kesempurnaan masih memiliki banyak kekurangan baik dari segi materi maupun dari segi penyusunannya. Mengingat keterbatasan wawasan dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan penulis sangat mengharapkan saran, kritik, tanggapan, serta masukan untuk penyempurnaan penulisan skripsi. Dengan demikian, skripsi ini diharapkan akan memberikan nilai tambah dan manfaat yang besar bagi semua pihak untuk menambah Khasanah, wawasan, dan pengetahuan luas di dunia pendidikan Indonesia dimasa depan. Surabaya, 2 Agustus 2013 Terima kasih Penulis iv iv

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... v BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH... 1 1.2 RUMUSAN MASALAH... 7 1.3 PENJELASAN JUDUL... 7 1.4 ALASAN PEMILIHAN JUDUL... 8 1.5 TUJUAN PENELITIAN... 9 1.6 MANFAAT PENELITIAN... 9 1.7 METODE PENELITIAN... 10 1.8 SISTEMATIKA PERTANGGUNGJAWABAN... 13 BAB II KETERKAITAN CHECKS AND BALANCES DENGAN PEMBAGIAN KEKUASAAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN BERDASARKAN UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN DAN SESUDAH AMANDEMEN... 15 2.1. CHECKS AND BALANCES PEMBAGIAN KEKUASAAN BERDASARKAN UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN... 15 2.2. CHEK AND BALANCE PEMISAHAN KEKUASAAN BERDASARKAN UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN... 33 2.3. CHEK AND BALANCE PEMISAHAN KEKUASAAN BERDASARKAN UUD 1945 SESUDAH AMANDEMEN... 42 BAB III PENERAPAN CHECK AND BALANCE LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA... 60 3.1. CHECK AND BALANCE SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGONTROL PEMBAGIAN KEKUASAAN ANTAR LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA... 60 3.1.1. KEWENANGAN DAERAH... 74 3.1.2. LEMBAGA EKSEKUTIF DI DAERAH... 78 3.1.3. LEMBAGA LEGISLATIF DI DAERAH... 81 3.2. CHECK AND BALANCE SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGONTROL PEMISAHAN KEKUASAAN ANTAR LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA... 83 v v

3.2.1. LEMBAGA LEGISLATIF... 83 3.2.2. LEMBAGA EKSEKUTIF... 95 3.2.3. LEMBAGA YUDIKATIF... 98 BAB IV PENUTUP... 111 4.1. KESIMPULAN... 111 4.2. SARAN... 112 DAFTAR PUSTAKA... 114 vi vi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam praktek ketatanegaraan sebelum amandemen konstitusi pemusatannya. Kekuasaan hanya lembaga tertinggi negara. Sehingga, sistem pemerintahan yang dilakukan telah cenderung menjadi bersifat absolut, monarki dan otoriter. Hal ini bisa di lihat misalnya seperti dalam bentuk pemerintahan yang menerapkan sistem monarki di negara-negara yang berbentuk kerajaan. Sementara, Negara Republik Indonesia menganut sistem demokrasi yang kekuasaan pemerintahannya dipegang oleh seorang Presiden dan dibantu oleh Menteri. Dalam hal ini, berbagai bentuk-bentuk pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara didunia baik yang berbentuk absolut, otoriter, monarki maupun demokratis tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya masingmasing. Hal ini terlihat dan didukung oleh sejarah peradaban dan budaya sistem pemerintahan masing-masing negara yang bersangkutan. Contohnya saja negara yang sistem kekuasaan itu di warnai dengan paham Teokrasi yang menggunakan prinsip kedaulatan Tuhan. 1

Maka, kekuasaan Raja semakin absolut dan tak terbantahkan sebagaimana yang telah tergoreskan dalam sejarah peradaban negara yaitu Mesir, Yunani, Romawi Kuno, China, India, hingga peradaban Eropa. Untuk menghindari kekuasaan terpusat perlu adanya pembagian kekuasaan dan/atau pemisahan kekuasaan lembaga negara. Sehingga, terjadi kontrol dan keseimbangan diantara lembaga pemegang kekuasaan. Konsep dasar pembagian dan/atau pemisahan kekuasaan di suatu negara tidak boleh dilimpahkan pada satu struktur kekuasan politik, melainkan harus terpisah di lembaga-lembaga negara yang berbeda. Sejak merdeka lebih dari enam puluh tahun yang lalu, Indonesia telah mengalami berbagai gejolak tahapan sejarah atau peristiwa penting dalam perkembangan bidang ketatanegaraan. Pergolakan masyarakat itu, mewarnai perjalanan sejarah perkembangan hukum ketatanegaraan berbagai gejolak peristiwa yang terjadi penghambat terbentuknya persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia. Sehingga, mengalami peralihan pemegang kekuasaan pemerintah. 1 Negara Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi. Ciri dari negara demokrasi menurut Montesquieu dalam teori trias politica adalah adanya pemisahan kekuasaan negara (separation of power) menjadi : a. Kekuasaan Legislatif atau kekuasan pembuat peraturan perundangundangan yang dipegang oleh Parlemen. 1 Hingga tahun 2007, Indonesia telah mengalami lima kali pergantian Presiden. Soekarno, yang menjadi presiden republik indonesia (RI) pertama pada tahun 1945, di gantikan oleh Soeharto pada tahun 1967. Selanjutnya berturut-turut; Soeharto di gantikan B.J. Habibie tahun 1998; B.J. Habibie di gantikan Abdurrahman Wahid tahun 1999; Abdurrahman Wahid di gantikan Megawati Soekarno Putri tahun 2001; Megawati Soekarno Putri di gantikan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004 sampai sekarang. 2

b. Kekuasaan Eksekutif atau kekuasaan melaksankan peraturan perundang-undangan yang dipegang oleh Raja / Kepala Negara. c. Kekuasaan Yudikatif atau kekuasaan mengawasi pelaksanaan perundang-undangan yang dipegang oleh Hakim. Maksud utama dari teori trias politica Montesquieu tersebut adalah agar tidak terjadi suatu keadaan di mana semua kekuasaan negara berpusat pada satu badan atau lembaga negara saja melainkan terpisah antara lembaga negara yang satu dengan lembaga negara yang lainnya. Dengan kata lain untuk mencegah agar tidak terjadi di mana satu lembaga yang telah memegang satu kekuasaan pemerintahan memegang kekuasaan pemerintahan lainnya. Montesquieu berpendapat bahwa tidak menolak apabila lembaga negara yang satu mengawasi lembaga negara yang lain dalam rangka melaksanakan tugas dan kewenangannya masing masing. Karena, tujuan utama dari ajaran teori trias politica Montesquieu adalah meniadakan sistem absolutisme. 2 Berdasarkan teori trias politica, sistem kepartaian yang diterapkan dalam suatu negara harus selaras dengan sistem pemerintahan yang dianut dinegara tersebut. Keterkaitan dan hubungannya yang erat antara sistem kepartaian dengan sistem ketatanegaraan, negara Indonesia sesuai amanah yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) yang asli ( original) dan amandemennya mempunyai tujuan yang mulia untuk terciptanya persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia serta 2 Soehino, Hukum Tata Negara Pemerintahan Negara, Ctk. Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1993, hal: 46. 3

masyarakat adil, makmur, aman dan sejahtera. Upaya penataan sistem politik yang demokratis dengan terwujudnya sistem pemerintahan dengan baik dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Negara Indonesia. Penataan sistem pemerintahan yang demokratis sebagai koreksi pendapatnya Plato bahwa negara yang ideal ialah yang diselenggarakan atau penyelenggaraan negaranya ialah para ahli pikir atau para filsafat dan negara itu di sebut Politea maka dengan mengamati pengalaman penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan (hukum) yang baik yang disebut dengan istilah Nomoi 3. Dengan terwujudnya sistem pemerintahan yang baik itu sendiri merupakan salah satu cermin jati diri bangsa dan merupakan salah satu aspek yang menentukan penyelenggaraan negara. Sistem demokratis itu sendiri pada hakekatnya adalah tidak menjamin suatu negara tersebut dapat mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkan untuk mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan, masyarakat yang adil dan makmur keseimbangan pelaksanaan pemerintahan disetiap negara. Sistem pemerintahan menunjukkan pada pembagian kekuasaan negara dan hubungan antara lembaga negara, khususnya antara eksekutif dan legislatif sistem pemerintahan yang dianut Indonesia adalah sistem pemerintahan presidensiil dimana seorang Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dibantu dengan para kabinet-kabinetnya atau para menteri dalam rangka menjalankan dan membantu tugas seorang Presiden. Hal ini, terdapat dan diatur dalam UUD 1945 asli ( original) dan amandemennya. Sistem Pemerintahan Presidensiil telah dianut oleh Indonesia sejak masa 3 C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Hukum Tata Negara Republik Indonesia, Ctk. Kedua, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal: 2. 4

Orde Lama sampai masa reformasi pada saat ini. Namun, dalam perjalanannya sistem pemerintahan presidensiil di Indonesia dapat dibagi kedalam dua periode, yaitu periode sebelum amandemen UUD 1945 dan periode sesudah amandemen UUD 1945. Pada periode sebelum amandemen UUD 1945, sistem pemerintahan presidensiil yang terdapat dan diatur dalam UUD 1945 sebelum amandemen serta di dalam mempraktekkannya dianggap tidak sesuai dengan inti ajaran sistem pemerintahan presidensiil yang sesungguhnya. Karena, UUD 1945 sebelum amandemen memuat prinsip-prinsip sistem pemerintahan presidensiil dan prinsip-prinsip sistem pemerintahan parlementer secara bersamaan. Dengan adanya dua sistem pemerintahan yang berbeda dalam UUD 1945 sebelum amandemen, dimana UUD 1945 merupakan dasar dari sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia peristiwa yang dialami tersebut, menunjukkan terjadinya dualisme sistem pemerintahan dalam UUD 1945 sebelum amandemen. Padahal jika ditinjau dari teori sistem, dalam UUD 1945 tidak boleh ada dualisme karena, konstitusi merupakan satu kesatuan yang tersusun secara sistematis, tidak boleh ada pertentangan antara lembaga negara yang satu dengan bagian lembaga negara yang lain, atau antara bagian-bagian lembaga secara keseluruhannya. 4 Seiring berkembangnya ide-ide mengenai kenegaraan, konsep trias politica dirasakan tidak lagi relevan mengingat tidak mungkinnya mempertahankan eksklusivitas setiap lembaga dalam menjalankan fungsinya masing-masing secara terpisah. Kenyataan menunjukkan bahwa hubungan 4 Bintan R. Saragih & M. Kusnardi, Susunan Pembagian Kekuasaan Menurut Sistem UUD 1945, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1990, hal: 2. 5

antar lembaga negara itu pada prakteknya harus saling bersentuhan. Kedudukan ketiga lembaga tersebut pun sederajat dan saling mengendalikan satu sama lain sesuai dengan prinsip checks and balances. 5 UUD 1945 yang asli ( original) dan amandemennya dikenal sebagai konstitusi yang tidak menganut paham pemisahan kekuasaan dalam arti formil (formal separation of power), melainkan hanya menganut prinsip pembagian kekuasaan (distribution of power) atau pemisahan kekuasaan secara materiil (material separation of power). Dalam hubungan itu, UUD 1945 yang asli (original) menganut sistem supremasi parlemen, yaitu sistem kedaulatan rakyat yang terjelma dalam lembaga tertinggi negara yang bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam kerangka pemikiran demikian kedaulatan rakyat yang terjelma di lembaga tertinggi MPR dibagi-bagikan ke lembaga negara di bawahnya. Dalam proses pembagian itu, terutama antara fungsi eksekutif dan legislatif, tidak terpisah pemisahan yang tegas, dan karena itu tidak terdapat hubungan checks and balances antara satu dengan yang lain. 6 5 Jimly Asshiddiqie (b), Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, (Jakarta: Sekretaris Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006), hal. v. 6 Lokakarya Program Legislasi Nasional yang diselenggarakan oleh Komisi Hukum Nasional, bekerjasama dengan Universitas Taruma Negara, Jakarta, 29 Juli, 2002. 6

1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan dari penjelasan latar belakang di atas maka, penulis mengambil pokok rumusan masalah yaitu sebagai berikut : 1. Apakah checks and balances berkaitan dengan pembagian dan pemisahan kekuasaan berdasarkan UUD 1945 sebelum perubahan dan sesudah perubahan? 2. Bagaimana penerapan checks and balances antar lembaga negara di Indonesia pada sistem pembagian dan pemisahan? 1.3 PENJELASAN JUDUL Untuk menghindari salah pengertian atau multitafsir dalam penelitian ini maka, diperlukan adanya suatu penjelasan istilah proposal skripsi ini berjudul: TINJAUAN TEORITIS PEMBAGIAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN DALAM PRAKTEK HUKUM TATA NEGARA DI INDONESIA 1. Tinjauan adalah cara, sudut pandang dari penyelesaian suatu permasalahan. 7 2. Teoritis adalah Asas dan Hukum umum yang menjadi dasar suatu pendapat, cara dan aturan yang melakukan sesuatu. 8 3. Pembagian adalah proses menceraikan menjadi beberapa bagian atau memecahkan (sesuatu) lalu memberikannya kepada pihak lain. 9 4. Pemisahan adalah suatu proses pembatasan kekuasaan sehingga tidak terjadi pemusatan suatu kekuasaan. 10 7 Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press. 8 Ibid. 9 Ibid. 7

5. Kekuasaan adalah wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dsb) sesuatu. 11 6. Tata negara adalah ilmu yang menyelidiki dan mempelajari negara-negara tertentu, yaitu bagaimana pemerintah negara itu disusun dan diselenggarakan mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. 12 1.4 ALASAN PEMILIHAN JUDUL Untuk mengetahui lebih jauh konsep dasar yang diterapkan oleh filosof dari perancis yaitu Baron De Montesquieu mengenai trias politica dengan penerapan prespektif Hukum Tata Negara Indonesia dengan istilah pembagian dan pemisahan kekuasaan yang lebih efektif digunakan serta penerapan dalam pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia. Karena, ada perbedaan istilah yang digunakan antara konsep dasar dari Montesquieu dengan prespektif Hukum Tata Negara Indonesia dari dasar pengambilan judul mengenai pemisahan dan pembagian kekuasaan dalam prespektif Hukum Tata Negara Indonesia perlu adanya suatu pemahaman yang lebih jauh agar tidak mengalami multi tafsir. 10 Jimly Asshiddiqie, Ibid. 11 Ibid. 12 Budiyanto, Dasar-Dasar Ilmu Tata Negara, Erlangga, Jakarta, 2003. Hal. 8

1.5 TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan dari Rumusan Masalah tersebut di atas, maka dapat diambil tujuan dari penilitian adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui dan memahami lebih jauh keterkaitan prinsip check and balance pembagian dan pemisahan lembaga negara dalam ketatanegaraan di Indonesia berdasarkan UUD 1945 yang asli (original) dan amandemennya. 2. Untuk mengetahui penerapan prinsip check and balance pembagian dan pemisahan lembaga negara berdasarkan UUD 1945 asli ( original) dan amandemennya dalam Hukum Tata Negara di Indonesia. 1.6 MANFAAT PENELITIAN Penulis berharap bahwa kegiatan penelitian dalam penulisan hukum ini akan bermanfaat bagi penulis dan orang lain yang membacanya. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan hukum ini antara lain : a. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum pada umumnya dan Hukum Tata Negara pada khususnya. 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan literatur dalam dunia kepustakan tentang pemisahan dan pembagian kekuasaan yang diterapkan Montesquieu dengan Undang-Undang Dasar 1945 serta implikasi mengenai lembaga-lembaga tinggi negara dan pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia. 9

2. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan terhadap penelitianpenelitian sejenis untuk tahap selanjutnya. b. Manfaat Praktis 1. Sebagai wahana penulis mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir ilmiah sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang di peroleh di bangku perkuliahan. 2. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti. 1.7 METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian dari penulisan ini adalah menggunakan yuridis normatif yang mengacu pada UUD 1945. 2. Pendekatan Penelitian Pedekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach) yang mengacu pada UUD 1945 beserta amandemennya yaitu pedekatan yang melihat dari doktrindoktrin atau pandangan-pandangan dari para filosof-filosof terdahulu dengan para ahli hukum Tata Negara khususnya pada saat ini yang dilandaskan pada UUD 1945 beserta amandemennya. 3. Langkah Penelitian 1. Obyek Penelitian Sejarah terbentuknya konsep trias politica yang dicetuskan oleh Montesquieu dengan pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia. 10

2. Sumber Bahan Hukum Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah berupa bahan hukum, yang di peroleh dengan cara studi kepustakaan, meliputi : a) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mempunyai kekuatan yang mengikat secara yuridis seperti Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen dan sesudah amandemen. b) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer, seperti rancangan perundang-undangan, literatur, jurnal, hasil penelitian, buku-buku, teks-teks tentang hukum. c) Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensiklopedi. 3. Metode Pengumpulan Bahan Hukum Penyusunan penelitian ini menggunakan cara untuk mendapatkan bahan-bahan hukum yang diperlukan sesuai dengan pokok pembahasan. Bahan hukum yang dikumpulkan sebagai sumber penelitian adalah: - UUD 1945 original beserta Amandemennya. Adalah sebagai sumber hukum primer yaitu sebagai dasar landasan yang mempunyai kekuatan hukum mengikat secara yuridis dengan dasar UUD 1945 yang asli ( original) dan 11

amandemennya inilah sebagai dasar acuan penulis dalam pembuatan penelitian hukum. - Buku dan artikel yang berkaitan dengan sistem ketatanegaraan khususnya tentang pembagian dan pemisahan kekuasaan adalah sebagai sumber hukum sekunder yaitu menjelaskan dan memaparkan secara rinci mengenai bahan hukum primer yang diperoleh melalui sumber buku,literatur, hasil penelitian hukum, risalah rapat yang ada kaitannya dengan penulisan penelitian hukum ini. - Kamus Adalah sebagai sember hukum tersier, yaitu memberikan penjelasan pengertian terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Dari ketiga bahan hukum primer, sekunder, dan tersier ini diperoleh dengan menggunakan penelitian kepustakaan, yaitu penelitian terhadap bahan-bahan yang harus penulis kumpulkan untuk keperluan penelitian ini. Setelah bahan-bahan tersebut berhasil dikumpulkan dilanjutkan dengan wilayah-wilayah yang menjadi pembahasannya. Adapun penelitian ini dilakukan terhadap buku-buku, artikel, risalah-risalah, majalah-majalah, surat kabar-surat kabar serta peraturan perundangundangan yang mempunyai keterkaitan dengan penulisan ini. 12

4. Metode Analisis Menganalisis hubungan dan keterkaitan serta penerapan prinsip checks and balances pada sistem ketatanegaraan mengenai pembagian dan pemisahan kekuasaan lembaga tinggi negara berdasarkan teori para ahli hukum dengan berbagai bentuk penafsiran terhadap UUD 1945 asli ( original) dan amandemennya. Metode analisis tersebut menggunakan cara deduktif, dimana pembahasan diuraikan lebih lanjut dengan menggambarkan wilayah yang bersifat umum menjadi wilayah penelitian yang bersifat khusus. 1.8 SISTEMATIKA PERTANGGUNGJAWABAN Dalam pembuatan proposal Penulisan Hukum (skripsi) ini digunakan sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I adalah pendahuluan yang mencakup latar belakang permasalahan yang akan ditulis, rumusan masalah, penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika pertanggung jawaban. BAB II adalah tinjauan pustaka yang meliputi tinjauan tentang prinsip checks and balances secara umum yang digunakan berdasarkan UUD 1945 beserta amandemennya dan juga tinjauan terhadap keterkaitan pembagian kekuasaan dan pemisahan kekuasaan berdasarkan prinsip checks and balances dalam praktek Hukum Tata Negara di Indonesia. Dalam bab ini juga dijelaskan mengenai kerangka pemikiran, sehingga sangat membantu penulis dalam menjawab permasalahan mengenai penerapan konsep trias politica yang sebenarnya sesuai dengan 13

peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Indonesia dan prosedur pembagian kekuasaan, tugas, dan fungsi dari masing-masing lembaga tinggi negara secara jelas dan juga akibat yang ditimbulkan dari pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia yang diterapkan oleh konstitusi. BAB III adalah menjelaskan dari hasil penelitian dan pembahasan yaitu yang menjelaskan tentang penerapan pembagian dan pemisahan kekuasaan sesuai konsep trias politica yang sebenarnya didasarkan pada prinsip checks and balances dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam Hukum Ketatanegaraan Indonesia dan pada Undang-Undang Dasar 1945 sebelum dan sesudah amandemen. BAB IV adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang dilakukan penulis. 14

115 BAB II KETERKAITAN CHECKS AND BALANCES DENGAN PEMBAGIAN KEKUASAAN DAN PEMISAHAN KEKUASAAN BERDASARKAN UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN DAN SESUDAH AMANDEMEN 2.1. CHECKS AND BALANCES PEMBAGIAN KEKUASAAN BERDASARKAN UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN Aristoteles dalam membicarakan bentuk-bentuk pemerintahan yang ada dan yang seharusnya berlaku, seperti dikemukakan dalam bukunya C.F Strong yang berjudul Modern Political Constitution, beranggapan bahwa demokrasi itu termasuk salah satu bentuk pemerosotan. Landasan dari teori Aristoteles adalah bahwa bentuk-bentuk pemerintahan itu harus berlandaskan pada 2 alternatif yaitu Good and Bad. Demikianlah, menurut Aristoteles, demokrasi itu bentuk pemerintahan yang kemudian mengalami pemerosotan. Bahkan kemudian, demokrasi itu disebut dengan istilah Mobocracy, the rule of the mob, yaitu suatu pemerintahan yang dilakukan oleh massa. Dengan demikian terjadilah anarcy (tanpa adaya pemerintahan) (C.F Strong dalam bukunya Modern Political Constitution). 13 Hal ini ada hubungannya dengan teori cyclus dari Polybos yang mengatakan bahwa mula-mula pemerintahan itu berbentuk monarcy. Tetapi, kemudian karena manusia itu tidak sama sifatnya, maka apabila keturunan Raja yang memerintah itu kemudian menggantikannya dan memerintah 13 Sri Soemantri, Tentang Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989, hal: 1-2. 15

dengan sewenang-wenang maka timbullah suatu tirany, yaitu dimana Raja itu hanya memperhatikan kepentingan-kepetingannya sendiri. Kemudian diantara kaum-kaum bangsawan timbul perasaan tidak puas dan menggulingkan raja tersebut sehingga, terjadilah aristocracy karena manusia tidak mempuyai sifat-sifat yang sama serta tidak abadi, timbullah olygrachy, yaitu pemerintahan oleh sekelompok orang untuk kepentingan mereka sendiri. Tetapi, kemudian pemerintah yang demikian ini akan ditentang oleh rakyat sehingga timbullah democracy dan seterusnya. Seorang sarjana Prancis yang bernama Maurice Duverger di dalam bukunya Les Regimes Politicues, mengatakan sebagai berikut: Kalau menurut arti kata seperti yang diartikan oleh umum, maka demokrasi yang sungguh-sungguh tidaklah pernah ada dan tidak mugkin ada. Adalah pertentangan dengan kodrat alam bahwa golongan yang berjumlah besar memerintah, sedangkan yang sedikit jumlahnya harus diperintah. Apa yang dikemukakan oleh Maurice Duverger itu sebenarnya adalah demokrasi formal atau demokrasi menurut bentuknya. Karena itu, apabila demokrasi dapat diartikan dari segi bentuknya, tentunya ada pula pengertian demokrasi yang dilihat dari segi isinya atau materinya. Jadi, dengan demikian mengenai demokrasi ini mempuyai 2 pengertian. Dan tentang adanya 2 macam pengertian mengenai demokrasi ini dikemukakan juga oleh beberapa sarjana yaitu antar lain, 14 Robert K. Carr : (American democracy in theory and practice). A further difficulty about divining democracy is that the term is used to describe both an ideology and an actual governmental mechanism. 14 Ibid. hal:3. 16

People refer to the former when they talk about democratic way of life, and the latter when they talk about democratic in action. In other words, democracy is both theory and practice. Bonger: (Problemen der Democratie) Menggunakan 2 istilah yaitu : Demokrasi Materiil (materiele democratie) dan demokrasi Formil (formele democratie). William Goodman: (The two party system in the United States) Menyebutnya sebagai Philosophy and Representative in form. Perbedaan yang fundamental adalah demokrasi dalam arti isinya (materiil) sedangkan dalam arti yang kedua (formil), maka pada asasnya tidak terdapat perbedaan-perbedaan, yang ada hanyalah bermacam-macam variasi. Richard Butwell dalam bukunya yang berjudul Southeast Asia Today and Tomorrow, mengatakan bahwa demokrasi itu pada perkembangannya kemudian mempunyai bermacam-macam predikat seperti social democraty, liberal democraty, people democraty, guided democraty dan sebagainya. Sehubungan dengan hal itu, dapat dikelompokkan demokrasi itu menjadi 2 golongan besar yaitu: 15 1. Demokrasi yang didasarkan kepada kemajuan di bidang sosial dan ekonomi dan; 2. Demokrasi yang didasarkan kepada kemerdekaan dan persamaan. Tetapi, dapat pula demokrasi itu didasarkan kepada kemajuan di bidang sosial ekonomi dan kemerdekaan serta persamaan bersama-sama. 15 Ibid. hal: 4. 17

Ditinjau dari segi isinya, demokrasi sebagai salah satu alam pikiran, menuntut terwujudnya kemerdekaan dan keadilan bagi setiap orang dalam kehidupannya bermasyarakat atau bernegara. Oleh karena, itu Prof. Usep Ranawidjaja dalam memberikan pembahasannya terhadap prasaran Prof. Ismail Suni tentang mekanisme demokrasi Pancasila dalam Seminar Hukum Nasional kedua pada bulan Desember 1968 di Semarang, dikemukakan adanya 4 unsur penting yaitu : 1) Keyakinan bahwa keadaan masyarakat senantiasa berubah-ubah dan bergerak menuju ke arah yang lebih maju. 2) Keyakinan bahwa perubahan masyarakat itu terjadi karena dorongan dari perbuatan manusia dan oleh karenanya manusia dapat dan harus berbuat untuk membentuk keadaan yang lebih maju. 3) Keyakinan bahwa didalam kehidupan bermasyarakat/bernegara harus ada toleransi, konsesi dan saling beri memberi. Berhubung dengan hal itu, harus ada kesediaan untuk memberikan kepercayaan (mandat) kepada pihak lain untuk menjalankan kekuasaan/kepemimpinan dalam jangka waktu tertetu. 4) Keyakinan akan kebenaran akal sehat, yaitu bahwa pada akhirnya akal sehatlah yang akan mencapai kemenangan di atas akal yang tidak sehat. Atas dasar adanya 4 unsur di atas, maka demokrasi pancasila mengandung di dalamnya, bermacam-macam kosekuensi, yaitu perlunya diusahakan dan dipeliharanya beberapa macam keseimbangan yaitu: 1) Keseimbangan di antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. 18

(Pasal 26 UUDS 1950, meyatakan: Ayat 1: Setiap orang berhak mempunyai milik, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Ayat 2: Hak milik itu adalah suatu fungsi sosial). 2) Keseimbangan di antara dimensi hidup fisik dan dimensi hidup kerohanian yang permanen pada manusia. (Manusia itu tidak hanya mengutamakan kebutuhan-kebutuhan sandang dan pangan saja (kebutuhan fisik), tetapi perlu juga adanya pemenuhan seperti pendidikan dan sebagainya). 3) Keseimbangan antara nilai-nilai integratif (agama, politik, moral dan sebagainya) dan nilai-nilai desintegratif (ilmu pengetahuan, ekonomi, estetika, dan sebagainya). (Nilai agama mempunyai arti mempersatukan manusia-manusia yang menganut keyakinan. Demikian juga politik/ideologi mempersatukan manusia di dalam suatu kelompok. Sedangkan nilai ekonomi, ilmu pengetahuan adalah nilai-nilai yang memisahkan, seperti juga halnya nilai-nilai estetika karena pandangan seseorang mengenai apa yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang tidak indah, tidaklah mungkin dapat dipersatukan). 4) Keseimbangan antara tujuan dan cara untuk mencapai tujuan. (Tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan, dan tentunya diperlukan adanya keseimbangan dengan cara-cara untuk mencapainya). 19

5) Keseimbangan antara kemerdekaan dan keadilan, yakni kemerdekaan yang menjamin keadilan dan keadilan yang menjamin kemerdekaan. (Jadi yang dipentingkan bukanlah hanya kemerdekaan saja, sebab merdeka itu harus ada batasnya, karena apabila tanpa ada batas kemerdekaan itu dapat melanggar keadilan; Jadi perlu adanya keseimbangan antara kemerdekaan dan keadilan). berikut: 16 Dengan demikian demokrasi pancasila itu dapat kita rumuskan sebagai Demokrasi pancasila adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung semangat Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan keadilan sosial. Pelaksanaan demokrasi pancasila harus kita hubungkan pula dengan prakteknya, baik dalam periode 1945 s/d 1949, 1959 s/d 1965 maupun dalam periode 1965 sampai masa sekarang. Dalam pada itu demokrasi yang berlaku di Indonesia yang kemudian kita kenal dengan demokrasi Pancasila itu tidaklah mungkin dilaksanakan dengan hanya satu cara saja. Dengan perkataan lain, apa yang dirumuskan dan ditentukan dalam batang tubuh UUD 1945 bukanlah satu-satunya perwujudan/implementasi dari demokrasi Pancasila. Artinya ialah bahwa demokrasi Pancasila dapat dilaksanakan dengan cara lain dari apa yang ditentukan di dalam UUD 1945. Di dalam sejarah ketatanegaraan, kita telah mengetahui berlakunya 3 UUD, yaitu di samping UUD 1945, juga pernah berlaku Konstitusi RIS (1949) dan UUDS (1950).Yang jelas ialah baik UUD 16 Ibid. hal:6. 20

1945, Konstitusi RIS maupun UUDS tersebut adalah merupakan perwujudan dari pokok-pokok pikiran yang termuat di dalam mukadimah/pembukaannya, sedangkan di dalam setiap mukadimah pada (ketiga UUD) tersebut, jelas dianut demokrasi Pancasila. Dengan demikian jelaslah bahwa demokrasi Pancasila itu dapat diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk serta sistem. Dan karena itu UUD 1945 tidaklah berarti tidak mungkin dapat diubah. Perubahan tersebut bergantung kepada perkembangan serta kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri. Itulah sebabnya mengapa di dalam UUD 1945 dicantumkan pasal 37 tentang perubahan UUD. Atas dasar adanya kemungkinan perubahan terhadap UUD 1945, tidaklah dapat dimengerti adanya slogan yang berbunyi laksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kalau UUD itu secara murni dan konsekuen harus dilaksanakan maka kaidah-kaidah yang ada di dalamnya akan menjadi beku. Slogan yang disebutkan di atas sebenarnya merupakan reaksi terhadap pengalamanpengalaman pada masa lalu, dimana UUD 1945 seringkali tidak ditaati mala diselewengkan. Atau dengan perkataan lain, slogan tersebut sebenarnya lebih ditujukan kepada lembaga-lembaga legislatif dan terutama lembaga eksekutif, supaya dalam mejalankan kekuasaan dan wewenangnya selalu berpegang kepada UUD 1945 yang berlaku sebagai bagian dari hukum positif di Indonesia. Seperti telah diketahui, badan pelaksana UUD 1945 yang terpenting adalah kedua lembaga tersebut. Dalam hubungan ini, terutama sekali adalah karena lembaga eksekutif mempunyai kedudukan dan arti yang menonjol, 21

malahan karena masalah kenegaraan itu bersifat kompleks, luas dan berlikuliku dan karena lembaga legislatif itu pada umumnya terdiri dari amatir-amatir, maka terdapatlah pergeseran kekuasaan dari legislatif ke eksekutif. Tetapi walaupun di atas dikatakan, bahwa lembaga eksekutif itu mempunyai kedudukan dan arti yang menonjol, hal ini tidaklah berarti bahwa pihak eksekutif dapat bertidak semau-maunya dengan lebih menitik beratkan kepada tujuan negara dan mengabaikan atau melupakan cara untuk mencapai tujuan itu. Dan oleh karena itu, untuk mencegah adanya penyalahgunaan kekuasaan, maka berdasarkan asas-asas demokrasi, haruslah diperhatikan prinsip-prinsip: 1) Keharusan adanya pembatasan kekuasaan seperti yang tercantum di dalam UUD yaitu: a) Jangka waktu kekuasaan itu dilakukan. b) Perincian kekuasaan yag diberikan kepada tiap-tiap Lembaga Negara. 2) The lelection of public officers in a meaningful way by the people. a) The operations of government by the public officers so selected in a manner that shows responsibility to the wishes of the people. (Robert K. Carr cs.: American democracy in theory and prastice). Dalam persoalan ini, maka DPR harus dapat menyesuaikan putusanputusannya sesuai dengan kemauan masyarakat atau social engineering (istilah Rouscou Pound). Demokrasi formal sebagaimana terdapat dalam demokrasi Pancasila diwujudkan di dalam UUD 1945. Bahwa UUD 1945 itu mengatur demokrasi dalam arti representative in form, dari bunyi pasal 1 ayat 2 UUD 1945 yang 22

menyatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh MPR. 17 MPR memiliki wewenang menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan Garis-Garis Besar dari Pada Haluan Negara (G BHN), serta memilih Presiden dan Wakil Presiden berkedudukan di bawah MPR serta bertanggung jawab kepada MPR. 18 Di dalam penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen dinyatakan bahwa DPR harus memberikan persetujuan kepada setiap rancangan Undang-Undang dari pemerintah. MPR terdiri atas anggota-anggota DPR, ditambah utusan daerah-daerah dan golongan-golongan. Oleh karena itu juga di kenal adanya lembaga perwakilan, yaitu DPR. Sedangkan, utusan daerahdaerah dan golongan-golongan bukan merupakan lembaga tersendiri, melainkan merupakan komponen keanggotaan MPR di samping, anggota DPR. Walaupun DPR merupakan lembaga perwakilan, namun kekuasaan membentuk Undang-Undang ada pada Presiden.DPR berperan memberikan persetujuan terhadap rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden. 19 Seiring berkembangnya ide-ide mengenai kenegaraan, konsep trias politica dirasakan tidak lagi relevan mengingat tidak mungkinnya mempertahankan eksklusivitas setiap lembaga dalam menjalankan fungsinya masing-masing secara terpisah. Kenyataan menunjukkan bahwa hubungan 17 Ibid. hal: 7-12. 18 Sistem Pemerintahan Negara berdasarkan penjelasan UUD 1945 Sebelum Amandemen. 19 Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 sebelum amandemen. 23

antar lembaga negara itu pada prakteknya harus saling bersentuhan. Kedudukan ketiga lembaga tersebut pun sederajat dan saling mengendalikan satu sama lain sesuai dengan prinsip checks and balances. 20 UUD 1945 yang asli ( original) dan perubahannya dikenal sebagai konstitusi yang tidak menganut paham pemisahan kekuasaan dalam arti formil (formal separation of power), melainkan hanya menganut prinsip pembagian kekuasaan (distribution of power) atau pemisahan kekuasaan secara materiil (material separation of power). Dalam hubungan itu, UUD 1945 yang asli (original) menganut sistem supremasi parlemen, yaitu sistem kedaulatan rakyat yang terjelma dalam lembaga tertinggi negara yang bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Di samping itu, adanya pembagian atas demokrasi formal dan material, pembagian atas direct dan indirect democracy (demokrasi langsung dan tidak langsung). Berdasarkan Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 maka, demokrasi yang dianut oleh UUD 1945 (sebelum amandemen) adalah indirect democracy. Hal ini, berarti bahwa demokrasi formal yang dilaksanakan di Indonesia adalah demokrasi melalui perwakilan atau demokrasi perwakilan atau juga disebut demokrasi parlementer. Ditinjau dari kata-kata permusyawaratan/perwakilan demokrasi Pancasila akan dilaksanakan melaui permusyawaratan. Suatu pemerintahan yang berdasarkan atas sistem perwakilan dinamakan Representative government. 20 Jimly Asshiddiqie (b), Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, (Jakarta: Sekretaris Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006), hal. v. 24

Yang dimaksud Representatif Government menurut International Commission of jurist dalam konperensinya di Bangkok pada Tahun 1965 mengemukakan definisi sebagai berikut: Representatif governmentis a government deriving its power and authority from the people wich power and authority are exercised through reprentative freely chosen and responsible to them. Seperti dalam Pasal 24 dan 25 UUD 1945 sebelum perubahan, kekuasaan Kehakiman atau kekuasaan Pengadilan dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan Kehakiman menurut UU. Kemudian dalam penjelasan terhadap kedua pasal tersebut, bahwa kekuasaan kehakiman itu adalah merupakan kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah. Sebelum membicarakan mengenai pengajuan rancangan Undang- Undang (usul inisiatif), terlebih dahulu akan dibahas tentang proses penetapan suatu Undang-Undang tentang proses penetapan suatu Undang- Undang menurut Undag-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), baik dalam priode keempat maupun dalam periode-periode sebelumnya. Periode pertama berlaku antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949, yang terbagi atas dua sub-periode, yaitu sebelum keluarnya Maklumat Pemerintah 14 Nopember 1945 dan sesudahnya Periode kedua berlaku antara 27 Desember 1949 sampai dengan 17 Agustus 1950, periode ketiga antara 17 Agustus 1950 sampai dengan 5 Juli 1959, dan periode keempat berlaku antara 5 Juli 1959 sampai periode orde baru. Seperti telah dikemukakan diatas, periode ini terbagi atas dua subperiode. Baik dalam sub-periode pertama maupun dalam sub-periode kedua 25

berlaku Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Pasal 5 ayat (1) Undan g- Undang 1945 kekuasaan membentuk Undang-Undang dipegang oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Berlainan dengan teori Trias Politica Montesquieu, yang mengatakan, bahwa kekuasaan perundang-undangan dipegang oleh lembaga Legislatif sepenuhnya, maka menurut kekuasan ini dilakukan oleh dua Jabatan atau dua Lembaga Negara/Alat-alat Perlengkapan Negara, yaitu Presiden bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan kata lain Undang-Undang produk Legislatif kedua Lembaga Negara. Undang-Undang sebagai suatu bentuk peraturan tertentu atau dalam arti formal tidak mungkin ditetapkan oleh hanya satu Lembaga Negara saja, baik presiden sendiri maupun Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh karena, pada waktu itu Lembaga-Lembaga Negara seperti Majelis Permusyawaratan rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum dapat dibentuk, maka menurut Pasal IV Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 segala kekuasannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional. Adapun bunyi selengkapnya Pasal IV diatas ialah: Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar Ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional. Menurut ketentuan Pasal IV aturan Peralihan, Presiden menjalankan kekuasaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), sedang dalam menjalankan kekuasan tersebut mendapat bantuan sebuah Komite Nasional. 26

Dengan demikian, khusus mengenai penetapan Undang-Undang hanya dijalankan oleh Presiden, yang dalam menjalankan kekuasaannya dibantu oleh sebuah Komite Nasional. Dalam periode kedua telah berlaku Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS). Ber lakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS), ini sebagai akibat perundingan dan persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag pada akhir tahun 1949 antara delegasi Republik Indonesia, delegasi Panitia Permusyawaratan Urusan Federal (Bijeenkomst voor Federal Overleg) dan delegasi Kerajaan Belanda. Adapun sistem pemerintahan yang dianut oleh Konstitusi Republik Indonesia Serikat ialah sistem pemerintahan parlementer pola Inggris. Hal ini dapat dilihat dari pasal 118 Konstitusi yang berbunyi: Ayat (1) Presiden tidak dapat diganggu gugat. Ayat (2) Menteri-Menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan Pemerintah, baik bersama-sama untuk seluruhnya, maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri dalam hal itu. Dalam Pasal 127 Konstitusi yang mengatakan: Kekuasaan perundang-undangan federal, sesuai dengan ketentuanketentuan bagian ini, dilakukan oleh: a. Pemerintah, bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, sekedar hal itu mengenai peraturan-peraturan tentang hal-hal yang khusus mengenai satu, beberapa, atau semua daerah bagian atau bagian-bagiannya, ataupun yang 27

khusus mengenai perhubungan antara Republik Indonesia Serikat dan daerah-daerah yang tersebut dalam Pasal 2 Konstitusi; b. Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dalam seluruh lapangan pengaturan selebihnya. Dari ketentuan diatas dapat dilihat adanya dua macam Undang-Undang Federal, yaitu Undang-Undang Federal yang ditetapkan oleh Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat saja. Adapun, yang dimaksud dengan Pemerintahan menurut Konstitusi dikatakan dalam Pasal 68 yang terdiri atas dua ayat. Ayat (1) Presiden da n Menteri-menteri bersama-sama merupakan Pemerintah. Ayat (2) dimana -mana dalam Konstitusi ini disebut Pemerintah, maka yang dimaksud ialah Presiden dengan seorang atau beberapa atau para menteri, yakni menurut tanggung jawab khusus atau tanggung jawab umum mereka itu. Dengan demikian, suatu Undang-Undang Federal ditetapkan oleh Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, apabila hal itu mengenai pengaturan masalah: 1. Satu daerah bagian; 2. Beberapa daerah bagian; 3. Semua daerah bagian, atau 4. Bagian-bagiannya; 5. Perhubungan antara Republik Indonesia Serikat dan daerah-daerah yang tersebut dalam Pasal 2 Konstitusi. 28

Hal yang tidak merupakan pengaturan kelima masalah pengaturan pembagian kekuasaan atau selebihnya dari yang telah disebutkan ditetapkan oleh Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Oleh karena, Menteri mempunyai tanggung jawab, maka setiap Undang- Undang Federal harus ada tanda tangan serta atau contra seign Menterimenteri yang bersangkutan. Dalam periode sebelumnya telah berlaku konstitusi Republik Indonesia Serikat. Akan tetapi, bentuk negara serikat sebagaimana terlihat dalam konstitusinya tidak belaku lama. Melalui Pasal 190 Konstitusi kemudian dilakukan perubahan-perubahan terhadap Konstitusi itu dengan jalan mengubah bagian-bagian yang merupakan unsur-unsur negara serikat menjadi kesatuan sesuai dengan keinginan serta cita-cita semula. Hal ini dilakukan melalui Undang-Undang Federal No.7/1950 (Lembaran Negara No.56/1950). Berlainan dengan dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat, Undang- Undang Dasar Sementara 1950, yang termasuk dalam Pasal I Undang- Undang Federal No.7/1950 hanya mengenal adanya satu macam Undang- Undang. Hal ini, dapat dilihat dari bunyi Pasal 89 Undang-Undang Dasar Sementara. Adapun Pasal tersebut berbunyi; Kecuali apa yang ditentukan dalam Pasal 140 maka kekuasaan perundang-undangan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian dalam Pasal ini, dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Jadi, berdasarkan ketentuan tersebut Undang-Undang itu merupakan produk legislatif Pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat. 29