BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL (KEPUTUSASAAN )

Kepekaan Reaksi berduka Supresi emosi Penundaan Putus asa

BAB II TINJAUAN TEORI. dengan orang lain (Keliat, 2011).Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

BAB II TINJAUAN TEORI. (DepKes, 2000 dalam Direja, 2011). Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku

BAB I PENDAHULUAN. mental dan sosial yang lengkap dan bukan hanya bebas dari penyakit atau. mengendalikan stres yang terjadi sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan jiwa pada manusia. Menurut World Health Organisation (WHO),

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini membahas aspek yang terkait dengan penelitian ini yaitu : 1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas

BAB 1 PENDAHULUAN. stressor, produktif dan mampu memberikan konstribusi terhadap masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan ini sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan jiwa seseorang. yang berarti akan meningkatkan jumlah pasien gangguan jiwa.

BAB II TINJAUAN TEORI

ASUHAN KEPERAWATAN KEHILANGAN DAN BERDUKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun. komunitas, dalam berhubungan dengan lingkungan manusia harus

Koping individu tidak efektif

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI DI RSJD. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. Oleh : AGUNG NUGROHO

BAB I PENDAHULUAN. Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur

BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998).

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Kesehatan jiwa menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 18. secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL KEPUTUSASAAN DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DI UNIT RAWAT INAP RS JIWA

BAB I PENDAHULUAN. penyimpangan dari fungsi psikologis seperti pembicaraan yang kacau, delusi,

BAB I PENDAHULUAN. siklus kehidupan dengan respon psikososial yang maladaptif yang disebabkan

BAB II KONSEP DASAR. tanda-tanda positif penyakit tersebut, misalnya waham, halusinasi, dan

ABSTRAK. Kata Kunci: Manajemen halusinasi, kemampuan mengontrol halusinasi, puskesmas gangguan jiwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Operasi adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan,

BAB II TUNJAUAN TEORI. orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993)

BAB II TINJAUAN TEORI. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif

BAB I PENDAHULUAN. maupun Negara berkembang dengan cara membuat sistem layanan kesehatan

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS (CMHN)

BAB I PENDAHULUAN. Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir adalah gangguan pada

BAB I PENDAHULUAN. Menuju era globalisasi manusia disambut untuk memenuhi kebutuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan.

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gangguan fungsi mental berupa frustasi, defisit perawatan diri, menarik diri

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi berkepanjangan juga merupakan salah satu pemicu yang. memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. sisiokultural. Dalam konsep stress-adaptasi penyebab perilaku maladaptif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB II TINJAUAN TEORETIS

BAB 1 PENDAHULUAN. kelompok atau masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh terpenuhinya kebutuhan dasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latarbelakang Latarbelakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN. berat sebesar 4,6 permil, artinya ada empat sampai lima penduduk dari 1000

BAB I PENDAHULUAN. keadaan tanpa penyakit atau kelemahan (Riyadi & Purwanto, 2009). Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. menyesuaikan diri yang mengakibatkan orang menjadi tidak memiliki. suatu kesanggupan (Sunaryo, 2007).Menurut data Badan Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Pengalaman positif maupun negatif tidak dapat dilepaskan dalam. kehidupan seseorang. Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI DI RUANG ARIMBI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. Oleh

PROSES TERJADINYA MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ISOLASI SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang menggambarkan

BAB I PENDAHULUAN. TBC, AIDS, leukemia, dan sebagainya (Fitria, 2010). ketakutan, ansietas, kesedihan yang menyeluruh (Potter & Perry, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. (Djarwanto, 1990)

BAB II TINJAUAN TEORI

BERDUKA DAN KEHILANGAN. Niken Andalasari

BAB 1 PENDAHULUAN. Gangguan jiwa (Mental Disorder) merupakan salah satu dari empat

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial, dimana untuk mempertahankan kehidupannya

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENATALAKSANAAN REGIMENT TERAPEUTIK INEFEKTIF

KEBUTUHAN HARGA DIRI DAN KONSEP DIRI NIKEN ANDALASARI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasakan sebagai ancaman (Nurjannah dkk, 2004). keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, kedalam

Penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya, kematian tidak dapat dihindari dalam waktu yang bervariasi. (Stuard & Sundeen, 1995).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Prevalensi penderita skizofrenia pada populasi umum berkisar 1%-1,3% (Sadock

BAB I PENDAHULUAN. dan kestabilan emosional. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan. pekerjaan, & lingkungan masyarakat (Videbeck, 2008).

2.1.2Faktor Penyebab Harga Diri Rendah 1. Faktor Predisposisi a). Perkembangan individu yang meliputi : 1). Adanya penolakan dari orang tua.

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan jiwa ditemukan disemua lapisan masyarakat, dari mulai

BAB I PENDAHULUAN. yang meliputi bidang ekonomi, teknologi, politik dan budaya serta bidang-bidang lain

BAB II TINJAUAN KONSEP

BAB I PENDAHULUAN. (WHO, 2005). Kesehatan terdiri dari kesehatan jasmani (fisik) dan

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan motivasi

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH DI RUANG GATHOTKOCO RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG.

BAB I PENDAHULUAN. dapat meningkatkan jumlah penderita gangguan jiwa (Nurdwiyanti,2008),

Pengertian Kehilangan adalah perubahan dari sesuatu yang ada menjadi tidak ada atau situasi yang diharapkan terjadi tidak tercapai. Kehilangan dapat d


BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

BAB I PENDAHULUAN. melainkan mengandung berbagai karakteristik yang positif yang. mencerminkan kedewasaan kepribadiannya. Menurut data WHO pada tahun

BAB II TINJAUAN TEORI. menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam

BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. utuh sebagai manusia. Melalui pendekatan proses keperawatan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang menghadapi

BAB I PENDAHULUAN. Masa dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja menuju masa

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Klien dalam perspektif keperawatan merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah kesehatan dan membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya dalam kondisi optimal. Sebagai seorang manusia, klien memiliki beberapa peran dan fungsi seperti sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Berdasarkan hakikat tersebut, maka keperawatan memandang manusia sebagai mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis, sosiologis, psikologis dan spiritual. Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada salah satu diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidaksejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kebutuhan spiritual sama pentingnya dengan kebutuhan lainnya pada saat seseorang sakit, spiritual dapat menimbulkan perasaan nyaman dan aman ketika klien sakit tersebut berserah diri kepada keadaannya. Tetapi berserah diri ini berbeda dengan putus asa. Dimana keputusasaan adalah suatu kondisi dimana biasanya klien mengalami penyakit terminal dan ia sudah tidak mengharapkan dan mengusahakan kesembuhannya. Maka dari itu kami akan membahas mengenai asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami keputusasaan sehingga semangat hidupnya kembali bangkit dan ia kembali berusaha untuk hidup dan sembuh.

1.2 Rumusan Masalah 1 Apa itu keputusasaan? 2 Apa saja hal-hal penting mengenai keputusasaan? 3 Bagaimana faktor penyebab pada keputusasaan? 4 Bagaimana tanda dan gejala pada keputusasaan? 5 Bagaimana akibat keputusasaan? 6 Bagaimana pencegahan keputusasaan? 7 Bagaimana penatalaksaan medis pada keputusasaan? 8 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien yang mengalami keputusasaan sehingga semangat untuk hidupnya meningkat? 1.3 Tujuan Mahasiswa dapat memahami konsep klien dengan keputusasaan dan perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami keputusasaan sehingga mahasiswa kelak dapat memberikan asuhan keperawatan spiritual pada klien yang mengalami keputusasaan dan meningkatkan/membangkitkan semangat hidupnya.

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Definisi Keputusasaan adalah keadaan subjektif di mana seorang individu terlihat memiliki keterbatasan atau tidak ada alternatif atau pilihan pilihan pribadi yang tersedia dan tidak mampu menggerakkan energi atas nama sendiri (Rosernberg dan Smith, 2010). Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah karena merasa tidak mampu, seolaholah koping yang biasa bermanfaat sudah tidak berguna lagi. Harga diri rendah, apatis dan tidak mampu mengembangkan koping baru serta yang tidak ada yang akan membantu (Riyadi dan Purwanto, 2009). Putus asa merupakan tanda dari individu yang mengalami putus harapan yang akan menyebabkan seseorang bunuh diri jika sudah dalam keadaan berat (Riyadi dan Purwanto, P.127, 2009). Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwa kehidupannya terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain mustahil ). Seseorang yang tidak memiliki harapan tidak melihat adanya kemungkinan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak menemukan solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau siapapun tidak akan bisa membantunya. Keputusasaan berkaitan dengan kehilangan harapan, ketidakmampuan, keraguan.duka cita, apati, kesedihan, depresi, dan bunuh diri. ( Cotton dan Range, 1996 ) Menurut (Pharris, Resnick,dan ABlum, 1997),mengemukakan bahwa keputusasaan merupakan kondisi yang dapat menguras energi.

Keputusasaan merupakan status emosional yang berkepanjangan dan bersifat subyektif yang muncul saat individu tidak melihat adanya alternatif lain atau pilihan pribadi untuk mengatasi masalah yang muncul atau untuk mencapai apa yang diiginkan serta tidak dapat mengerahkan energinya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Semangat adalah roh kehidupan yg menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati, seluruh kehidupan batin manusia, isi dan maksud yg tersirat didalamnya ( KBBI) 2.2 Faktor Penyebab A. Rentang Respon (Beck, dkk., dalam Riyadi dan Purwanto, 2009) 1. Respon Adaptif (Harapan) a. Yakin b. Percaya c. Inspirasi d. Tetap hati 2. Respon Maladaptif (Putus Harapan) a. Tidak berdaya b. Putus asa c. Apatis d. Gagal dalam kehidupan e. Ragu ragu f. Sedih g. Depresi h. Bunuh diri B. Proses terjadinya masalah Faktor yang terkait : 1. Pengabaian 2. Kondisi fisiologis yang memburuk 3. Kehilangan kepercayaan pada kekuatan spiritual 4. Kehilangan kepercayaan pada nilai nilai transenden 5. Stres jangka panjang 6. Pembatasan kegiatan berkepanjangan menciptakan isolasi (Rosernberg dan Smith, 2010). Beberapa faktor penyebab orang mengalami keputusasaan yaitu : 1. Faktor kehilangan 2. Kegagalan yang terus menerus 3. Faktor Lingkungan 4. Orang terdekat ( keluarga )

5. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa) 6. Adanya tekanan hidup 7. Kurangnya iman 2.3 Tanda dan gejala A. Mayor Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam, berlebihan, dan berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan sebagai hal yang mustahil isyarat verbal tentang kesedihan. 1. Fisiologis : a. Respon Terhadap Stimulus Melambat b. Tidak Ada Energi c. Tidur Bertambah 2. Emosional : a. Individu Yang Putus Asa Sering Sekali Kesulitan Mengungkapkan Perasaannya Tapi Dapat Merasakan b. Tidak Mampu Memperoleh Nasib Baik, Keberuntungan Dan Pertolongan Tuhan c. Tidak Memiliki Makna Atau Tujuan Dalam Hidup d. Hampa Dan Letih e. Perasaan Kehilangan Dan Tidak Memiliki Apa-Apa f. Tidak Berdaya,Tidak Mampu Dan Terperangkap. 3. Individu memperlihatkan : a. Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan b. Penurunan verbalisasi c. Penurunan afek d. Kurangnya ambisi,inisiatif,serta minat. e. Ketidakmampuan mencapai sesuatu f. Hubungan interpersonal yang terganggu g. Proses pikir yang lambat h. Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya sendiri. 4. Kognitif : a. Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan b. Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang dihadapi saat ini

c. Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir d. Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali ) e. Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap f. Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang ditetapkan g. Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat keputusan h. Tidak dapat mengenali sumber harapan i. Adanya pikiran untuk membunuh diri. B. Minor ( mungkin ada ) 1. Fisiologis a. Anoreksia b. BB menurun 2. Emosional a. Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain b. Merasa berada diujung tanduk c. Tegang d. Muak ( merasa ia tidak bisa) e. Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani f. Rapuh 3. Individu memperlihatkan a. Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari pembicara b. Penurunan motivasi c. Keluh kesah d. Kemunduran e. Sikap pasrah f. Depresi 4. Kognitif a. Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu, masa sekarang, masa datang b. Bingung c. Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif d. Distorsi proses pikir dan asosiasi e. Penilaian yang tidak logis

2.4 Akibat Keputusasaan Akibat yang dapat ditimbulkan dari terjadinya keputusasaan yaitu : 1. Stres 2. Depresi 3. Galau 4. Sakit 5. Pola hidup yang tidak teratur 6. Letih, Lesu, Lemah; disebabkan karena faktor psikis 7. Hilang kesempatan yang ada, karena ketika kesempatan itu datang ia sibuk dengan rasa putus asa yang ada. 8. Trauma; tidak lagi memiliki keberanian dan kemampuan untuk melakukan hal yang sama karena takut akan mengalami rasa putus asa untuk yang kedua kalinya. 9. Gila; akibat jangka panjang yang umumnya terjadi pada sebagian orang 10. Sakit; diawali dengan makan yang tidak teratur, tidur terlalu larut, beban pikiran yang berlebihan. 11. Kematian; beberapa mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dan tidak hanya karena sakit yang berkepanjangan namun juga karena faktor psikis yang berlebihan. 2.5 Pencegahan Di bawah ini ada beberapa cara mencegah timbulnya keputusasaanyaitu : 1. Berbaik sangkalah kepada ALLAH,Ingat bahwa setiap yang kita alami ada hikmahnya. Semua ini hanyalah sebuah cobaan dan bukti kecintaaan tuhan kepada kita. 2. Berpikir bahwa tidak ada kegagalan yang abadi, karena kita bisa mengubahnya dengan ber buat hal-hal baru. 3. Tetapkan tindakan kita dalam keadaan apapun kita tetap bisa memilih tindakan atau mengubah kebiasan lama dan mencari jalan untuk mengatasi masalah yg tengah kita hadapi.

4. Bersikap lebih fleksibel, kehidupan tidak selalu seperti yang di harapkan. Apabila kita dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru maka ketegangan kita kan berkurang. 5. Kembangkan tindakan yang kreatif Tanyakan pada diri sendiri "kesempatan apa bagi saya di sini? jalan mana yang terbuka bagi saya?" 6. Evaluasi setiap situasi. Pikirkan segala tindakan sebelum bertindak agar bisa di dapatkan pemecah masalah yang baik. 7. Lihat sisi positifnya. Kegagalan memang merupakan pengalaman yang menyakitkan. Tapi daripada memikirkan kerugian yang kita alami, lebih baik fokuskan pada apa yang telah kita pelajari. 8. Bertanggung jawab. Jangan salah kan orang lain jika gagal,tapi perhatikan baik-baik masalah nya dan cobalah memahaminya. Tanyakan pada diri sendiri bagaimana mengatasinya. 9. Pelihara selera humor dan tertawa memang tidak segera memecahkan masalah,tetapi akan membantu kita melihat masalah secara perspektif. Hal itu bagaikan cahaya dalam kegelapan. 10. Ingatlah bahwa kegagalan adalah guru yang paling berharga kita bisa belajar tentang bagaimana kita bisa gagal dan bagaimana kita mengatasi sebuah kegagalan. 2.6 Penatalaksaan medis 1. Psikofarmaka Terapi dengan obat-obatan sehingga dapat meminimalkan gangguan keputusasaan. 2. Psikoterapi Psikoterapi adalah terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan terapi psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah

baik. Psikoterapi ini bermacam-macam bentuknya antara lain psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa dan semangat juangnya. Psikoterapi Re-eduktif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu, psikoterapi rekonstruktif dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh seperti semula sebelum sakit, psikologi kognitif, dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai- nilai moral etika. Mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, dsbnya. Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri, psikoterapi keluarga dimaksudkan untuk memulihkan penderita dan keluarganya. 3. Terapi Psikososial Dengan terapi ini dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosialnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi beban keluarga. Penderita selama menjalani terapi psikososial ini hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmaka. 4. Terapi Psikoreligius Terapi keagamaan ternyata masih bermanfaat bagi penderita gangguan jiwa. Dari penelitian didapatkan kenyataan secara umum komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya di bidang klinik. Terapi keagamaan ini

berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa, mamanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, kajian kitab suci dsb. 5. Rehabilitasi Program rehabilitasi penting dilakukan sebagi persiapan penempatan kembali kekeluarga dan masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di suatu rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain; terapi kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik berupa olah raga, keterampilan, berbagai macam kursus, bercocok tanam, rekreasi, dsbnya. Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung antara 3-6 bulan. Secara berkala dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu evaluasi sebelum penderita mengikuti program rehabilitasi dan evaluasi pada saat si penderita akan dikembalikan ke keluarga dan ke masyarakat. BAB III PEMBAHASAN 3.1 Diagnosa Keperawatan Dx : Keputusasaan b.d keyakinan bahwa tidak ada yang peduli termasuk Tuhan

a. Tujuan umum : Klien mampu mampu mengekspresikan harapan positif tentang masa depan, mengekspresikan tujuan dan arti kehidupan b. Tujuan khusus: klien mampu 1) Membina hubungan saling percaya 2) Mengenal masalah keputusasaan 3) Berpartisipasi dalam aktivitas 4) Menggunakan keluarga sebagai sistem pendukung 3.2 Intervensi Keperawatan 1. Bina hubungan saling percaya 1) Ucapkan salam 2) Perkenalkan diri: sebutkan nama dan panggilan yang disukai 3) Tanyakan nama klien dan panggilan yang disukai 4) Jelaskan tujuan pertemuan 5) Dengarkan klien dengan penuh perhatian 6) Bantu klien penuhi kebutuhan dasarnya 2. Klien mengenal masalah keputusasaannya 1) Beri kesempatan bagi klien untuk mengungkapkan perasaan sedih/kesendirian/keputusasaannya 2) Tetapkan adanya perbedaan antara cara pandang klien terhadap kondisinya dengan cara pandang perawat terhadap kondisi klien 3) Bantu klien mengidentifikasi tinghkah laku yang mendukung putus asa: pembicaraan abnormal/negative, menghindari interaksi dengan kurnagnya partisipasi dalam aktivitas 4) Diskusikan dengan klien cara yang biasa dilakukan untuk atasi masalahnya, tanyakan manfaat dari cara yang digunakan 5) Dukung klien untuk menggunakan koping efektif yang selama ini digunakan oleh klien. 6) Beri alterbatif penyelesaian masalah atau solusi 7) Bantu klien identifikasi keuntungan dan kerugian dari tiap alternative 8) Identifikasi kemungkinan klien untuk bunuh diri (putus asa adalah factor risiko terbesar dalam ide untuk bunuh

diri): tanyakan tentang rencana, metode, dan cara bunuh diri. 3. Klien berpartisipasi dalam aktivitas 1) Identifikasi aspek positif dari dunia klien ( keluarga anda menelepon RS setiap hari untuk menanyakan keadaanmu ) 2) Dorong klien untuk berfikir yang menyenangkan dan melawan rasa putus asa 3) Dukung klien untuk mengungkapkan pengalaman yang mendukung pikiran dan perasaan positif 4) Berikan penghargaan yang sungguh-sungguh terhadap usaha klien dalam mencapai tujuan, memulai perawatan diri, dan berpartisipasi dalam aktifitas 4. Klien menggunakan keluarga sebagai sistem pendukung a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga: b. Ucapkan salam c. Perkenalkan diri: sebutkan nama dan panggilan yang disukai d. Tanyakan nama keluarga, panggilan yang diisukai dan hubungan dengan klien e. Jelaskan tujuan pertemuan f. Buat kontrak pertemuan 1) Identifikasi masalah yang dialami keluarga terkait kondisi putus asa klien 2) Diskusikan upaya yang telah dilakukan keluarga untuk membantu klien atasi masalah dan bagaimana hasilnya 3) Tanyakan harapan keluarga untuk membantu klien atasi masalahnya 4) Diskusikan dengan keluarga tentang keputusasaan: a. Arti, penyebab, tanda-tanda, akibat lanjut bila tidak diatasi b. Psikofarmaka yang diperoleh klien: manfaat, dosis, efek samping, akibat bila tidak patuh minum obat 3) Cara keluarga merawat klien c. Askes bantuan bila keluarga tidak dapat mengatasi kondisi klien (puskesmas, RS)

3.2 Evaluasi Keperawatan 1. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya 2. Mengutarakan Harapan Masa Depan Yang Positif 3. Mengekspresikan Keyakinan 4. Mengutarakan Kehendak Untuk Hidup 5. Mengutarakan Alasan Untuk Hidup 6. Mengutarakan Makna Hidup 7. Menyatakan Optimisme 8. Mengungkapkan Keyakinan Diri 9. Mengutarakan Kepercayaan Lain 10. Mengutarakan Kedamaian Batin 11. Mengutarakan Rasa Kontrol Diri 12. Pameran Semangat Hidup 13. Menetapkan Tujuan DAFTAR PUSTAKA Lidiawati. 2012. Asuhan Keperawatan Keputusasaan. URL : https://www.scribd.com/doc/92790926/keputusasaan#. Diakses pada tanggal 7 Mei 2015 jam 19.00 WIB. Riyadi S & Purwanto T, (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu.