Pengukuran Status Gizi pada Lanjut Usia

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SKRINING DAN PENILAIAN NUTRISI

BAB I PENDAHULUAN. proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000). Menurut Soenarjo (2000), Nutrisi

BAB I PENDAHULUAN. makronutrien maupun mikronutrien yang dibutuhkan tubuh dan bila tidak

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

KOMPOSISI TUBUH LANSIA I. PENDAHULUAN II.

SCREENING AND ASSESSMENT OF NUTRITIONAL STATUS ON ELDERLY IN PAMPANG, MAKASSAR

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupannya, karena di dalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh

PENGEMBANGAN INSTRUMEN SKRINING GIZI DI RUMAH SAKIT. Dr. Susetyowati DCN,M.Kes Universitas Gadjah Mada 2014

BAB I PENDAHULUAN. beranekaragam. Disaat masalah gizi kurang belum seluruhnya dapat diatasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malnutrisi semakin diketahui sebagai faktor. prosnosis penting yang dapat mempengaruhi keluaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

Hubungan Antara Index Masa Tubuh (Imt) Dan Kadar Hemoglobin Dengan Proses Penyembuhan Luka Post Operasi Laparatomi

Buku 2 : RKPM PENILAIAN STATUS GIZI

IDENTIFIKASI STATUS NUTRISI DAN RESIKO MALNUTRISI PADA LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA MINAULA KOTA KENDARI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap

BAB I PENDAHULUAN. dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat. lampau, bahkan jauh sebelum masa itu (Budiyanto, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. Malnutrisi merupakan salah satu permasalahan yang banyak dialami

Esti Nurwanti, S.Gz., Dietisien., MPH

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Malaria merupakan penyakit kronik yang mengancam keselamatan jiwa yang

BAB I KONSEP DASAR. menderita deferensiasi murni. Anak yang dengan defisiensi protein. dan Nelson membuat sinonim Malnutrisi Energi Protein dengan

BAB I PENDAHULUAN. inap di rumah sakit. Pada penelitian Kusumayanti dkk (2004) di tiga Rumah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Tingginya prevalensi malnutrisi pada pasien di rumah sakit masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Ginjal adalah organ vital yang berperan penting dalam mempertahankan

Status Gizi. Keadaan Gizi TINDAK LANJUT HASIL PENDIDIKAN KESEHATAN. Malnutrisi. Kurang Energi Protein (KEP) 1/18/2010 OBSERVASI/PEMANTAUAN STATUS GIZI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB Ι PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada setiap

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Salah satu efek samping

BAB I PENDAHULUAN. Usia remaja merupakan usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lentera Vol. 14 No.2 Maret

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Schizophrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat. normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.

BAB I PENDAHULUAN. akibat kanker setiap tahunnya antara lain disebabkan oleh kanker paru, hati, perut,

energi yang dibutuhkan dan yang dilepaskan dari makanan harus seimbang Satuan energi :kilokalori yaitu sejumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan besarnya jumlah penderita kehilangan darah akibat

METODE PENELITIAN. Populasi penelitian = 51 orang. 21 orang keluar. Kriteria inklusi. 30 orang responden. Gambar 2 Cara penarikan contoh

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan tindakan pembedahan. Beberapa penelitian di negara-negara industri

kekurangan energi kronik (pada remaja puteri)

BAB I PENDAHULUAN. commit to user

OLEH : KELOMPOK 5 WASLIFOUR GLORYA DAELI

HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN KADAR FERRITIN PADA ANAK USIA 6 SAMPAI 24 BULAN DI PUSKESMAS KRATONAN SURAKARTA

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan. Mencapai derajat sarjana S-1. Diajukan Oleh : NURHIDAYAH J FAKULTAS KEDOKTERAN

Siti Zulaekah dan Dyah Widowati Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Nursing Care: Malnutrisi

BAB I PENDAHULUAN. Albumin merupakan protein terbanyak dalam plasma, sekitar 60% dari total

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutritute dalam bentuk. variabel tertentu ( Istiany, 2013).

PANDUAN SKRINING GIZI RS. BAPTIS BATU TAHUN 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam lima tahun pertama kehidupannya (Hadi, 2005).

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN. setelah pembedahan tergantung pada jenis pembedahan dan jenis. dilupakan, padahal pasien memerlukan penambahan kalori akibat

HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN PROTEIN DENGAN KADAR UREUM DAN KREATININ DARAH PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. panjang badan 50 cm (Pudjiadi, 2003). Menurut Depkes RI (2005), menyatakan salah satu faktor baik sebelum dan saat hamil yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas (Darmojo,

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

BAB I PENDAHULUAN. TB Paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh. Mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman aerob yang mudah mati dan

CRITICAL ILLNESS. Dr. Syafri Guricci, M.Sc

BAB 1 PENDAHULUAN. antara konsumsi, penyerapan zat gizi, dan penggunaannya di dalam tubuh yang

BAB I. antara asupan (intake dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan. pengaruh interaksi penyakit (infeksi). Hasil Riset Kesehatan Dasar pada

BAB II TINJUAN PUSTAKA. Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme, karena itu kebutuhan

HUBUNGAN SKOR MINI NUTRITIONAL ASSESSMENT (MNA) DENGAN ALBUMIN SERUM PASIEN USIA LANJUT DI BANGSAL GERIATRI RUMAH SAKIT DR KARIADI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. sebagai generasi penerus bangsa yang potensi dan kualitasnya masih perlu

MENGENAL PARAMETER PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA ANAK Oleh: dr. Kartika Ratna Pertiwi, M. Biomed. Sc

BAB I PENDAHULUAN. mengkonsumsi suplemen secara teratur 2. Sementara itu, lebih dari setengah

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (ADA) 2005 adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. mortalitasnya yang masih tinggi. Diare adalah penyakit yang ditandai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kasus anemia merupakan salah satu masalah gizi yang masih sering

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan bagian dari sindroma metabolik. Kondisi ini dapat menjadi faktor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan gagalnya pertumbuhan,

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Kemajuan

BAB 1 PENDAHULUAN. suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau. meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular

BAB I PENDAHULUAN. Kekurangan zat gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, menurunnya produktifitas kerja dan

PERBEDAAN PENGGUNAAN INDEKS MEMBERIKAN PREVALENSI STATUS GIZI YG. BERBEDA.

BAB I PENDAHULUAN. makanan secara mekanis yang terjadi di rongga mulut dengan tujuan akhir proses ini

BAB I PENDAHULUAN. berbagai negara, dan masih menjadi masalah kesehatan utama di. dibandingkan dengan laki-laki muda karena wanita sering mengalami

BAB I PENDAHULUAN. tidak adanya insulin menjadikan glukosa tertahan di dalam darah dan

3. plasebo, durasi 6 bln KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

PENATALAKSANAAN DIIT PADA HIV/AIDS. Susilowati, SKM, MKM.

BAB 4. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. secara menahun dan sifatnya irreversibel, ditandai dengan kadar ureum dan

Transkripsi:

Pengukuran Status Gizi pada Lanjut Usia Menilai status gizi pada lansia memerlukan metode pengukuran yang sesuai dengan perubahan yang terjadi pada struktur tubuh, komposisi tubuh serta penurunan fungsi organ-organ tubuh. Metode yang bisa dilakukan pada pengukuran status gizi pada lansia adalah dengan menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA). Pada pengukuran dengan menggunakan MNA ini, pengukuran antropometri menjadi poin yang diukur. Selain dengan menggunakan MNA, pemeriksaan klinis, dan biokimia juga dapat dilakukan untuk pengukuran status gizi. Gibson (1999). 1. Mini Nutritional Assessment (MNA) Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan salah satu alat ukur yang digunakan untuk menskrining status gizi pada lansia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah seorang lansia mempunyai resiko mengalami malnutrisi akibat penyakit yang diderita dan atau perawatan di rumah sakit. MNA ini banyak digunakan karena sangat sederhana dan mudah dalam pelaksanaannya. Darmojo (2010) dalam penelitian yang dilakukan pada 200 pasien preoperasi gastrointestinal menunjukkan bahwa MNA dapat dilakukan oleh klinisi terlatih, mempunyai reprodusibilitas tinggi dan dapat menskrining pasien yang mempunyai resiiko malnutrisi. Pada tahun 2006 Guigoz melaporkan bahwa MNA telah digunakan di 36 studi untuk menilai status gizi orang dewasa dirawat di rumah sakit 8.596 di seluruh dunia; ini, 50% sampai 80% diklasifikasikan sebagai berisiko kekurangan gizi atau malnutrisi. Hal ini dikemukakan oleh DiMaria-Ghalili, Rose Ann PhD, RN (2009) dalam The American Journal For Nursing (AJN). MNA saat ini digunakan untuk menilai status gizi orang lanjut usia di klinik, panti jompo, dan rumah sakit. 1

Mini Nutritional Asessment (MNA) didesain dan telah dibuktikan bagus sebagai alat kajian tunggal dan cepat untuk menilai status gizi pada lansia. MNA ini merupakan kuesioner dalam bahasa Indonesia dan sudah diuji validasnya untuk menskrining status gizi lansia. Banyak penelitian-penelitian yang telah dilakukan menggunakan MNA sebagai alat ukur untuk menilai status gizi lansia. Diantaranya Agustiana (2007) melakukan penelitian hubungan Mini Nutritional Asessment (MNA) dengan albumin serum pasien usia lanjut dimana hasilnya menunjukkan melalui skor MNA diketahui risiko malnutrisi (MNA skor 17-23,5) 84,6% dan sebesar 46,2% mengalami malnutrisi berat jika dilihat dari albumin <2,8 mg/dl. Skor MNA ini dapat menggambarkan kadar albumin serum. Penelitian lain Wulandari (2010) mengenai resiko malnutrisi berdasarkan Mini Nutritional Asessment (MNA) terkait dengan kadar hemoglobin pasien lansia yang menunjukkan hasil bahwa resiko malnutrisi berdasarkan MNA memiliki keterkaitan dengan kadar Hb. Hardini (2005) hubungan status gizi (Mini Nutritional Assessment) dengan outcome hasil perawatan penderita di divisi geriatri Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang dimana hasilnya menunjukkan 50% lansia yang dirawat di RS jumlah asupan dan konsumsi protein kurang serta kehilangan nafsu makan dan mengalami stress/penyakit akut. Asupan makanan yang secara kuantitatif rendah mendukung temuan malnutrisi dan risiko malnutrisi yang diukur dengan skor MNA. Darmojo (2010) dalam studinya mengemukakan bahwa Mini Nutritional Assessment (MNA) ini meliputi wawancara dan pengamatan mengenai berat badan dan perubahan berat badan 6 bulan atau 2 minggu terakhir, ada tidaknya gangguan gastrointestinal, ada tidaknya ggangguan fungsional, status metabolik dari penyakit,ada tidaknya muscle wasting dan edema.,kuesioner MNA terdiri atas 18 pertanyaan yang terbagi dalam empat komponen: penilaian antropometri, penilaian 2

asupan makanan, penilaian secara umum mengenai gaya hidup dan penilaian secara subjektif. Skor MNA bersifat reliabel dan dapat diandalkan untuk mendeteksi risiko terjadinya malnutrisi yang kemudian dihubungkan ke dalam penilaian kualitas hidup dari lansia (Agustiana, 2007). Kesimpulan pemeriksaan Mini Nutritional Assesment (MNA) adalah menggolongkan pasien atau lansia dalam keadaan status gizi baik, beresiko malnutrisi ataukah malnutrisi berat. MNA mempunyai dua bagian besar yaitu screening dan assessment, dimana penjumlahan semua skor akan menentukan seorang lansia pada status gizi baik, beresiko malnutrisi, atau beresiko underweight (Darmojo, 2010). Dalam pengukuran MNA ini, pengukuran antropometri menjadi salah satu yang diukur untuk menilai status gizi lansia. Pengukuran Antropometri Antropometri berasal dari bahasa Yuani yiaitu antropos (tubuh) dan metros (ukuran), jadi antropometri diartikan sebagai ukuran tubuh. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri ini sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (Depkes, 2007). Supariasa (2001) mengemukakan beberapa keunggulan antropometri gizi sebagai berikut : a. Prosedurnya sederhana, aman, dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar 3

b. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih c. Alatnya murah, mudah dibawa, dan tahan lama d. Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan e. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau f. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk. g. Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu. h. Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi. Khusus pada penilaian status gizi lansia berdasarkan Mini Nutritional Assessment, yang diukur dengan menggunakan metode antropometri adalah sebagai berikut : a. Berat Badan Berat badan merupakan gambaran massa jaringan termasuk cairan tubuh. Pengukuran berat badan ini paling sering digunakan untuk berbagai kelompok usia karena pengukuran berat badan ini juga dapat digunakan sebagai indikator status gizi pada saat skrining gizi dilakukan. Hal ini disebabkan karena berat badan sangat sensitive terhadap berbagai perubahan komposisi tubuh, sehingga penurunan atau kenaikan berat badan ini berkaitan erat dengan komposisi tubuh (Jus at, 1995). Arisman (2004) mengemukakan beberapa pertimbangan mengapa berat badan paling sering digunakan sebagai indikator penialian status gizi, diantaranya : 4

1) Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan. 2) Memberikan gambaran status gizi sekarang 3) Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas di Indonesia sehingga tidak merupakan hal baru yang memerlukan penjelasan secara meluas. 4) Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur. b. Tinggi Badan Tinggi badan merupakan hasil pertumbuhan kumulatif sejak lahir sehingga parameter ini dapat memberikan gambaran mengenai riwayat status gizi masa lalu. Tinggi badan ini diukur dengan menggunakan alat ukur dengan menggunakan alat pengukuran seperti microtoise dengan ketepatan 1 cm tetapi bisa juga dengan alat pengukuran non elastik ataupun metal. hal ini dikemukan oleh Humlea dalam Natipulu (2002). c. Indeks Massa Tubuh (IMT) Indeks Massa Tubuh (IMT) atau biasa dikenal dengan Body Mass Index merupakan alat ukur yang sering digunakan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan berat badan seseorang. Laporan FAO/WHO/UNU dalam Arisman (2004) menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Maa Index (BMI). Di Indonesia istilah ini diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). Dimana IMT ini merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. 5

rumus : Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat diketuhi nilainya dengan menggunakan IMT = Berat badan (kg) Tinggi badan (m) 2 Klasifikasi IMT untuk Indonesia merujuk kepada ketentuan WHO tahun 1985 dimana klasifikasi ini dimodifikasi berdasarkan pengalaman klinis serta hasil penelitian di Negara berkembang yang kemudian diklasifikasikan ke dalam Mini Nutritional Assessment, klasifikasinya merupakan sebagai berikut : Tabel 1 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Kategori IMT Kurang Normal Lebih < 18,5 18,5 25,0 < 25,0 Sumber : Depkes dalam Nurrachmah (2001) d. Lingkar Lengan Atas (LLA) Selain beberapa hal yang diukur di atas untuk mengidentifikasi status gizi pada seseorang, Lingkar Lengan Atas (LLA) juga digunakan untuk menetapkan dan mengidentifikasi status gizi. Bistrian dzn Blackburn (dalam Murray, 1986, Clinical Method in antropometri : Dinamic of Nutrition support Assessment Implementation) yang kemudian dikutip oleh Indriaty (2010) dalam bukunya mengenai Antropometri. 6

Klasifikasi nilai Lingkar Lengan Atas (LLA) sebagai berikut : 1) LLA < 21 = buruk 2) LLA 21 sampai 22 = sedang 3) LLA > 22 = baik/normal e. Lingkar Betis Lingkar betis ini merupakan salah satu bagian yang diukur pada penilaian antropometri khusu untuk melihat gambaran status gizi pada lansia. 2. Pemeriksaan Klinis Pada pemeriksaan ini terdapat dua jenis kategori untuk mengetahui status gizi pada lansia, diantaranya adalah : a. Pemeriksaan fisik Berbagai kelaianan akibat kurang gizi dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik antara lain kehilangan lemak subkutan, ulkus dekubitus karena kekuurangan protein dan enrgi, edema akibat kekurangan protein, penyembuhan luka yang lambat karena defisiensi seng dan vitamin C. Manifestasi klinis lain yang sering dijumpai pada lansia adalah gangguan keseimbangan cairan, khususnya dehidrasi. Dehidrasi pada lansia dapat berupa peningkatan suhu tubuh, penurunan volume urin, penurunan tekanan darah, mual, muntah, dan gagal ginjal akut (Darmojo, 2010). b. Pemeriksaan Fungsional Menurut Darmojo (2010) gangguan fungsi pada kemampuan untuk menyiapkan makanan dan makan secara mandiri dapat menganggu asupan makan seorang lansia. Seorang lansia yang dapat bergerak bebas di dalam rumah akan banyak menyiapkan makanan sesuai dengan yang diinginkannya, sedangkan lansia yang menderita stroke, misalnya, tidak dapat bergerak bebas untuk menyiapkan 7

makanan sesuai seleranya sehingga hanya bergantung kepada orang lain untuk makan. Fungsi kognitif dan psikologis juga menentukan status gizi lansia. Sebagian besar kehiilangan berat badan pada lansia disebabkan karena depresi. 3. Biokimia Pemeriksaan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Selain itu,kadar protein dan kolesterol juga bisa dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui status gizi pada lansia. Pengukuran simpanan protein tubuh seperti albumin, trransferin dan total iron binding (TIBC) sering dipakai untuk mengukur status gizi lansia. Sementara serum kolesterol yang rendah pada lansia juga merupakan indikator status gizi yang kurang pada lansia (Darmojo, 2010). a. Hemoglobin dan Hematokrit Protein yang kaya akan protein disebut juga dengan hemoglobin. Hemoglobin ini memiliki afinitas atau daya gabung terhadap oksigen dan oksigen tersebut membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Pengukuran hemoglobin (Hb) dan kematokrit (Ht) merupakan pengukuran yang mengindikasikan defisiensi sebagai bahan nutrisi. Kadar hemoglobin dapat mencerminkan status protein pada malnutrisi berat. Pada pengukuran hematokrit menggunakan satuan persen (%) dan untuk hemoglobin menggunakan satuan gram/dl. b. Transferin Nilai serum transferin adalah parameter lain yang digunakan dalam mengkaji status protein visceral. Serum transferin ini dihitung dengan 8

menggunakan kapasitas total iron binding capacity (TIBC), dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Blackburn dalam Arisman, 2004) Transferin serum = ( 8 x TIBC ) - 43 c. Serum Albumin Indikator yang tak kalah pentingnya dalam menilai status nutrisi dan sintesa protein adalah nilai dari serum albumin. Kadar albumin rendah sering terjadi pada keadaan infeksi, injuri, atau penyakit yang mempengaruhi kerja dari hepar, ginjal, dan saluran pencernaan. d. Keseimbangan Nitrogen Pemeriksaan keseimbangan nitrogen digunakan untuk menentukan kadar pemecahan protein di dalam tubuh. Dalam keadaan normal, tubuh memperoleh nitrogen melalui makanan dan kemudian dikeluarkan melalui urin. Seseorang beresiko mengalami malnutrisi protein terjadi jika nilai keseimbangan nitrogen yang negatif terjadi secara terus menerus. Dikatakan keseimbangan nitrogen dalam tubuh negative jika katabolisme protein melebihi pemasukan protein melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari (Nurachmah, 2001) 9

DAFTAR PUSTAKA Agustina, L (2007). Hubungan skor mini nutritional assessment (mna) dengan albumin serum pasien usia lanjut di bangsal geriatri rumah sakit dr kariadi semarang, diakses pada tanggal 7 September 2011, <http://eprints.undip.ac.id/26103/>. Arisman. (2004). Gizi dalam daur kegidupan. Editor, Palupi Widyastuti. EGC : Jakarta. Darmojo, B. (2010). Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan lanjut usia). FK UI : Jakarta. Departemen Kesehatan. (2007). Riset kesehatan dasar (pedoman pengukuran antropometri), diakses pada tanggal 1 September 2011,, <http://www.litbang.depkes.go.id>. DiMaria-Ghalili, Rose Ann PhD, RN. (2009). How to try this the mini nutritional assessment, diakses pada tanggal 6 September 2011, <http://journals.lww.com/ajnonline> Gibson, R.S. (1999). Principle nutritional assessment. Oxford University Press : New York. Hardini, RA Sri (2005) Hubungan status gizi (mini nutritional assessment) dengan outcome hasil perawatan penderita di divisi geriatri rumah sakit dokter kariadi Semarang, diakses pada tanggal 7 September 2011, <http://eprints.undip.ac.id/15033/>. Jus at, I. (1995). Teknik pengukuran antropometri pada pasien dewasa, dalam Pelatihan coordinator tenaga gizi RI : Jakarta. Natipulu, H (2002). Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lanjut usia (lansia), diakses pada tanggal 6 September 2011, <http://eprints.lib.ui.ac.id/6767/>. Nurachmah, E. (2001). Nutrisi dalam keperawatan. Sagung seto : Jakarta. Supariasa, ID. (2001). Penilaian status gizi. EGC : Jakarta. Wulandari, R. (2010) Risiko Malnutrisi Berdasarkan Mini Nutritional Assessment Terkait dengan Kadar Hemoglobin Pasien Lansia, diakses pada tanggal 7 September 2011, < http://eprints.undip.ac.id/24891/>. Wulandari, WD. (2004). Penentuan validitas WHOQOL-100 dalam menilai kualitas hidup hidup pasien rawat jalan di RSCM (versi Indonesia), diakses pada tanggal 3 September 2011, <http://lontar.ui.ac.id/opac> 10