E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

dokumen-dokumen yang mirip
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL ANGKA MELALUI BERMAIN PANCING ANGKA BAGI ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBUAT RAK DARI KARDUS PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBUAT SAPU LIDI MELALUI METODE LATIHAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS D.V

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN BINA DIRI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE UNTUK ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS II SEMESTER 2 DI SLB

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBUAT PEYEK RINUAK MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MEMBACA SISWA KELAS IV MELALUI MODEL COMPLETE SENTENCE DI SDN 46 KOTO PANJANG PADANG

Oleh Neli Yanti ABSTRACK

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PERMULAAN MELALUI METODE PEER TUTORIAL (TUTOR SEBAYA) ANAK TUNARUNGU KELAS DASAR II DI SLB WIYATA DHARMA 1 SLEMAN

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENERAPAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES PADA PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS VI SDN PURO PAKUALAMAN ARTIKEL SKRIPSI

BAB I. A. Latar Belakang Masalah

STUDI TENTANG KETERAMPILAN BELAJAR PENYETELAN KARBURATOR BAGI SISWA TUNA RUNGU

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA SD KELAS III

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS V DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION

ABSTRAK PENERAPAN STRATEGI TEAM BUILDING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA KOSEP EKOSISTEM DI SMPN 2 BATANG SUL-SEL

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

MOTIVASI BELAJAR SISWA MENGHIAS ALAS MEJA DENGAN SULAMAN FANTASI MELALUI DEMONSTRASI, LATIHAN, KERJA KELOMPOK DI SMPN I KEC.PAYAKUMBUH EVIE LINDA

Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Penyebab Benda Bergerak Di Kelas II SD No.

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Panjang Selatan Kecamatan Panjang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dwi Agies Yuliani, 2013

Penggunaan Modul Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Kelancaran proses pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia kearah

MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI MEDIA MANIK-MANIK BAGI ANAK TUNANETRA KELAS D-4 SLB TUNANETRA PAYAKUMBUH

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI DI KELAS VI SD NEGERI 30 SUNGAI NANAM KABUPATEN SOLOK

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

Oleh: Ari Herliyanto, Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

Peningkatan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Dengan Menggunakan Metode Inkuiri. Zaiyasni PGSD FIP UNP Padang

,, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas BungHatta

III. METODE PENELITIAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI. Agustina Dwi Respati Wahyu Adi Muhtar

Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. XII, No. 1, Tahun 2014 Septi Wuri Handayani 12-20

Oleh: Eni Musrifah SLB Setya Darma Surakarta ABSTRAK

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MEMBUAT GAUN BAYI DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DI SMK NEGERI 4 YOGYAKARTA

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS IV PADA PEMBELAJARAN IPS MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE SCRIPT

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Suyadi (2011: 22-23), PTK adalah

ARTIKEL PENELITIAN PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS IV PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL MODELLING THE WAY

Keywords: Directed-Reading-Thinking-Activity (DRTA), images, reading comprehension

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Pesawahan kecamatan Teluk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGARANG MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V SLB B KARNNAMANOHARA YOGYAKARTA

Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. XII, No. 1, Tahun 2014 Shinta Agustina Siregar & Sukanti 1-13

PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA MEMAHAMI ISI CERITA MELALUI METODE DISKUSI SISWA KELAS IV SDN NO. 2 TIBO KEC. SINDUE TOMBUSABORA

Pendahuluan. Keywords: Mastery Learning, Student Activities, Result Of Learning

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action

Penerapan Keterampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sains (Sifat Benda) di Kelas IV SDN 2 Karamat

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MENGGUNAKAN METODE EKSPERIMEN DI SEKOLAH DASAR

BAB III METODE PENELITIAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI KELAS V SDN 09 GUNUNG TULEH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI 003 KOTO PERAMBAHAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE EXAMPLES NON EXAMPLES SISWA KELAS II B

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MATERI GEOGRAFI POLITIK MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL DAN SMALL GROUP DISCUSSION DI KELAS A/B STKIP PGRI PADANG

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE KUMON

Prakoso et al., Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar IPA Biologi...ister

PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn DENGAN STRATEGI CROSSWORD PUZZLE DI KELAS V SDN 04 KAYU MANANG SURIAN KABUPATEN SOLOK

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI MODEL CIRCUIT LEARNING DI KELAS V SD KANISIUS JOMEGATAN BANTUL ARTIKEL JURNAL

Penerapan Metode Diskusi untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Kelas V SD Negeri 111 Pekanbaru

ABSTRACT. Key Words: Learning achievement, Small group discussion/buzz group strategies

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI ALAT PERAGA BLOK PECAHAN SISWA KELAS V

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPAKAIAN MELALUI METODE DRILL PADA ANAK CEREBRAL PALSY DI SEKOLAH LUAR BIASA DAYA ANANDA ARTIKEL JURNAL

Transkripsi:

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENJAHIT ROK MELALUI TEKNIK BANTUAN GARIS BAGI ANAK TUNARUNGU (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VIII SMP-LB Panti) Oleh : Esrawati Abstract: This research aim to to 1) knowing execution process in uplift skill to sew frock pass aid technique mark with lines and 2) please prove that line aid technique can uplift skill to sew frock at dumb student class of VIII SMP-LB Panti. This Research is lifted by using method Classroom Action Research with berkolaborasi with coleage. Data collected to observation technique and of tes, laterthen analysed qualitative and is quantitative. Result of research indicate that 1) execution process in uplift skill to sew frock with line aid technique with two cycle. Activity by following cycle path namely: planning, execution, and observation of refleksi 2) Result of study sew with aid technique mark with lines: ability sew moment child of asesmen namely: TN is ( 37,5%), FT and of RN only ( 25%). After given by study at cycle of I ability sew diametrically of TN and of FT (100%) and RN ( 87,5%). Cycle of II, result of the obtained ability of TN also (100%), FT (92,1%) and RN (89,5%). Thereby can be concluded that line aid technique can improve ability sew frock dumb student class of VIII SMPLB Panti. Kata kunci: Menjahit rok; teknik bantuan garis; anak tunarungu. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan seseorang, karena melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan kecerdasan, keterampilan mengembangkan potensi diri serta mampu menghadapi segala tantangan dan hambatan di masa depan. Hal ini tidak terkecuali untuk anak berkebutuhan khusus. Salah satu bagian dari anak berkebutuhan khusus adalah anak tunarungu. Menurut Dwidyono Sumarto (1988:27) istilah tunarungu diambil dari kata Tuna dan Rungu. Tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Secara umum pengertian anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan fungsi pendengaran yang mengakibatkan terhambatnya komunikasi. Atau anak yang mengalami gangguan pendengan baik sedang, ringan maupun berat Anak tunarungu dapat diartikan suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap rangsangan melalui indera pendengaran. Menurut Hallahan dan Khauffman (dalam Somad 1996: 26), bahwa :Tunarungu adalah suatu istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar, yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar dan yang ringan sampai yang berat, digolongkan kedalam bagian tuli dan kurang dengar. Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 90

Mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan anak tunarungu ini perlu bimbingan agar dapat hidup mandiri di masyarakat. Pendidikan yang diarahkan pada keterampilan untuk kemandirian hidup anak kelak adalah pendidikan vokasional atau kecakapan hidup (life skill). Pendidikan kecakapan hidup ini berupa suatu keterampilan. Hal ini sesuai yang diungkapkan dalam Kurikulum Pendidikan Luar Biasa diketahui bahwa pembelajaran untuk anak tunarungu disamping bidang akademik juga diarahkan pada keterampilan atau kecakapan hidup. Salah satu keterampilan dalam kurikulum keterampilan tingkat SMPLB adalah menjahit. Keterampilan menjahit merupakan salah satu jenis keterampilan yang dapat diberikan kepada anak dalam pembelajaran keterampilan menjahit. Kurniasih (2003:3) menyatakan bahwa: pembelajaran keterampilan pada penyandang cacat di arahkan untuk memfungsikan kembali dan mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial penyandang cacat agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar sesuai dengan bakat, kemampuan, pendidikan dan pengalaman. Di samping itu menjahit dikemukakan Riny (2010:1) bahwa merupakan proses dalam menyatukan bagian-bagian kain yang telah digunting berdasarkan pola. Sedangkan Fatiyah (2011:2) mengemukakan bahwa Menjahit adalah pekerjaan yang menyambung kain, bulu, kulit binatang, dan bahan bahan lain yang bisa dilewati jarum jahit dan benang. Melalui pembelajaran keterampilan menjahit diharapkan anak dapat menjahit pakaian yang dapat sebagai salah satu usaha untuk kehidupan ekonominya kelak. Dalam pembelajaran keterampilan menjahit ini, dibutuhkan suatu modal baik koordinasi mata-tangan dan kecerdasan dan modal itu dimiliki oleh anak tunarungu. Karena anak ini tidak mengalami masalah dengan kecerdasan dan koordinasi mata dan tangannya. Berdasarkan pengamatan penulis di SMP-LB Panti terhadap kemampuan menjahit ketiga orang anak (Tn, Ft dan Rn) diketahui bahwa: secara umum ketiga orang anak ini sudah bisa mempersiapkan mesin jahit untuk siap dioperasikan misalnya: memasang tali mesin, memasang sekoci, memasang jarum, memasang benang dan memutar mesin jahit. Namun dalam pelaksanaan menjahitnya ditemui masalah antara lain: Tn dalam menjahit sering memutuskan benang sehingga mulai lagi dari awal, terkadang benang menumpuk di satu tempat, jahitan anak tidak lurus dimana terkadang terlalu banyak memakai badan kain. Belum bisa menjahit lengkung, bila menjahit pola yang melengkung anak berhenti namun untuk melengkungkannya jahitan anak menjadi siku (tidak lengkung) dan belum bisa Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 91

menjahit yang bisa dimanfaatkan seperti rok. Sedangkan untuk Ft dan Rn dari hasil pengamatan terhadap anak ditemui bahwa: permasalahan yang sama bahwa kedua anak ini belum bisa menjahit pakaian dengan benar dan rapi. Ft dalam menjahit tidak tenang dan mengayuh pedal sering terlalu kencang sehingga tidak seirama dengan alur jahitan, hasil jahitan tidak sama: ada bergumpal dan ada yang jarang-jarang, menjahit lurus, lengkung juga belum bisa. Sedang pada Rn tidak jauh beda masalahnya dari kedua temannya di atas, Rn menjahit tidak lurus dan belum rapi, menjahit sering tidak tenang dan hasil jahitan longgar dan tidak padat di kain. Berdasarkan ketiga masalah anak di atas dapat disimpulkan bahwa anak belum bisa menjahit dengan benar dan rapi. Usaha yang penulis lakukan selama ini dalam membelajarkan keterampilan menjahit adalah menggunakan teknik langsung yaitu anak langsung mempraktekkan sesuai instruksi guru. Metode dalam penyampaian materi pelajaran melalui metode ceramah, demonstrasi, latihan dan penugasan. Namun, hasilnya belum maksimal. Mengatasi permasalahan tersebut di atas, peneliti mencoba berdiskusi dengan teman sejawat ingin mencoba mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan teknik bantuan garis. Secara profesional peneliti berkeinginan untuk melakukan suatu tindakan dalam meningkatkan program pengajaran keterampilan khususnya dalam keterampilan menjahit. Teknik bantuan garis merupakan cara yang digunakan dalam menjahit dengan membuat garis sebagai pedoman menjahit. Pratiwi Djati (2011:5) mengemukakan garis adalah Sejumlah tanda-tanda (simbol) dipakai pada pola untuk memberi instruksi sewaktu menggunting kain dan menjahit. Dengan memakai tanda-tanda pada pola, pembuat pola juga dapat menyampaikan instruksi yang akan dijahit. Teknik bantuan garis belum pernah dilaksanakan karena pada teknik ini anak dipandu menjahit dengan bantuan garis yang telah dibuat sebelumnya. Sehingga dengan demikian, dalam menjahit anak dipandu mengikuti garis-garis tadi akhirnya anak dapat menjahit dengan lurus. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang penerapan teknik bantuan garis untuk meningkatkan keterampilan menjahit rok pada anak tunarungu kelas VIII di SMP-LB Panti. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimanakah meningkatkan keterampilan menjahit rok melalui teknik bantuan garis pada anak tunarungu kelas VIII SMP-LB Panti?. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui proses pelaksanaan dalam meningkatkan keterampilan menjahit rok melalui teknik bantuan garis pada anak tunarungu kelas VIII SMP-LB Panti. 2) Untuk membuktikan Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 92

bahwa teknik bantuan garis dapat meningkatkan keterampilan menjahit rok pada anak tunarungu kelas VIII SMP-LB Panti. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang berkolaborasi dengan teman sejawat. Variabel penelitian ini terdiri atas dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dari penelitian ini adalah teknik bantuan garis dan variabel terikat penelitian ini adalah keterampilan menjahit rok. Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa tingkat SMP-LB tunarungu ringan di SMP-LB Panti yang terdiri dari tiga orang siswa dengan inisial Tn dan Ft yang berusia 17 tahun, dan Rn usianya 16 tahun serta satu orang teman sejawat, yaitu guru yang sama mengajar di SMP-LB Panti. Penelitian tindakan kelas merupakan proses kegiatan yang dilakukan di kelas. Pada siklus (satu) siklus, yang terdiri dari tahap perencanaan (plan), tindakan (action) dan refleksi atau perenungan. Berlanjut tidaknya ke siklus II tergantung dari hasil refleksi siklus I. Data dikumpulkan melalui observasi dan tes perbuatan. Adapun kriteria penilaiannya ada tiga tingkatan sebagai berikut: No Kategori Bobot 1 BS = bias 2 Anak bisa menjahit sesuai dengan langkah-langkah dalam menjahit dengan tepat, rapi dan mandiri 2 Bisa Dengan Bantuan (BSB) 1 yakni Anak bisa menjahit sesuai dengan langkah-langkah dalam menjahit dengan tepat, rapi dan mandiri bila diberikan bantuan 4 Tidak bisa (TB) yakni apabila anak tidak melakukan perintah. 0 Keterangan: Tepat = jika anak mampu menjahit rok sesuai dengan bentuk yang dibuat Rapi = jika yang dijahit anak selesai dengan rapi Mandiri = jika anak mampu menjahit tanpa bimbingan Untuk memperoleh persentase kemampuan anak digunakan rumus: Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 93

Skor diperolehan (setelah dibobot) % = x 100 Skor maksimal Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif menurut Milles dan Huberman (1992:18) yakni analisis data dimulai dengan menelaah data mereduksi data, penyajian data dan terakhir penyimpulan atau verifikasi sedangkan analisis kuantitatif dengan menggunakan rumus persentase. HASIL PENELITIAN 1. Pelaksanaan Siklus I Siklus I dilakukan mulai tanggal 18 Mei sampai tanggal 26 dengan lima kali pertemuan. 1) Perencanaan I melakukan: menyusun rancangan pembelajaran (RPP), format observasi, format penilaian, merancang pengelolaan kelas dan memotivasi siswaa. 2) Tindakan dilakukan sebanyak lima kali pertemuan, setiap pertemuan dengan langkan kegiatan awal; inti dan kegiatan akhir. Setiap pertemuan dilakukan tes. 3) Observasi I: a) Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I berlangsung telah sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Bila anak tidak bisa, maka diberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan anak. b) Segi anak, sudah ada peningkatan tapi belum sempurna. 4) Refleksi data, anak sudah bisa menjahit lurus, maka untuk menjahit rok maka dilanjutkan ke siklus II. 2. Pelaksanaan Siklus II Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka dilakukan siklus II yang dilakukan mulai tanggal 31 Mei 21 Juni dengan 10 pertemuan untuk pembelajaran menjahit rok dengan teknik bantuan garis. 1) Perencanaan II melakukan: menyusun rancangan pembelajaran (RPP), format observasi, format penilaian, merancang pengelolaan kelas dan memotivasi siswa. 2) Tindakan dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan, setiap pertemuan dengan langkan kegiatan awal; inti dan kegiatan akhir. Setiap pertemuan dilakukan tes. 3) Observasi II: a) Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran telah sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Bila anak tidak bisa, maka diberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan anak. b) Segi anak, anak sudah bisa menjahit rok sesuai dengan Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 94

kemampuan masing-masing. 4) Refleksi data, anak sudah bisa menjahit rok sesuai kemampuannya maka penelitian dihentikan. 3. Analisis Data Hasil Penelitian Hasil penelitian terhadap kemampuan anak dalam menjahit diantaranya: hasil asesmen kemampuan anak dalam menjahit lurus dapat digambarkan sebagai berikut: Persentase kemampuan anak dalam menjahit rok 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 TN 37.5 25 25 FT RN Grafik 1. Kemampuan anak dalam menjahit lurus (hasil asesmen) Berdasarkan grafik di atas hasil keterampilan awal anak tunarungu dalam menjahit lurus adalah TN (37,5%), FT dan RN kemampuannya masing-masing baru (25%). Hasil tes menunjukkan bahwa pada umumnya baik, TN, FT dan RN masih belum bisa dalam melakukan kegiatan menjahit terutama menjahit lurus. Sedangkan hasil siklus I kemampuan anak dalam menjahit lurus digambarkan sebagai berikut: Persentase kemampuan anak dalam menjahit llurus 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 100 100 87.5 75 75 62.5 50 37.5 37.5 1 2 3 4 5 Pertemuan TN FT RN Grafik 2. Kemampuan anak dalam menjahit lurus (hasil siklus I) Dari garfik di atas TN dan FT pada akhir pertemuan V siklus I ini memperoleh kemampuan paling tinggi yaitu (100%), sedangkan sebelum diberikan tindakan Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 95

kemampuannya hanya (37,5%). Begitu juga dengan RN kemampuannya dalam menjahit lurus di akhir siklus I adalah (87,5), anak sebenarnya sudah bisa menjahit tapi terkadang tidak mengikuti garis sehingga jahitan anak kurang lurus. Sedangkan hasil tes keterampilan menjahit rok melalui teknik bantuan garis pada siklus II dapat digambarkan sebagai berikut: Persentase kemampuan menjahit rok 120.0 100.0 80.0 60.0 40.0 20.0 0.0 100.0 92.1 89.5 21.1 15.8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertemuan TN FT RN Graafik 2. Kemampuan anak dalam menjahit rok (hasil siklus II) Berdasarkan garfik di atas diketahui bahwa kemampuan anak dalam menjahit rok siklus II yaitu menerapkan teknik bantuan garis semakin meningkat. TN pada akhir pertemuan X siklus II ini memperoleh kemampuan paling tinggi yaitu (100%), sedangkan awal pertemuan hanya (21,1%). Begitu juga untuk FT kemampuan terakhirnya dalam menjahit rok adalah (92,1%) dan RN adalah (89,5%). PEMBAHASAN Membelajarkan anak tunarungu terhadap suatu keterampilan merupakan suatu hal yang tepat. Karena, meskipun anak mengalami keterbatasan dari segi akademik, namun keadaan fisik anak yang normal masih bisa dimanfaatkan untuk melakukan keterampilanketerampilan yang kelak dapat bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Di samping itu anak tunarungu ini karena kurang mendapat pengaruh pendengaran dari luar, maka ia termasuk anak yang teliti dalam melakukan suatu pekerjaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 dalam Kurniasih (2003:3) menyatakan bahwa: pembelajaran keterampilan pada penyandang cacat diarahkan untuk memfungsikan kembali dan mengembangkan Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 96

kemampuan fisik, mental dan sosial penyandang cacat agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar sesuai dengan bakat, kemampuan, pendidikan dan pengalaman. Proses pelaksanaan tindakan didasarkan pada alur penelitian yang telah ditetapkan yakni: dari permasalahan, perencanaan, tindakan, pengamatan, analisis data dan refleksi. Dalam tindakan dilakukan kegiatan pembelajaran yang dimulai dari kegiatan awal, inti dan kegiatan akhir. Pembelajaran dengan tenik bantuan garis ini dilakukan dalam II siklus. Pada siklus I anak diberikan dasar dari penjahit yakni menjahit lurus. Setelah lima kali pertemuan, ternyata pada siklus I ini anak sudah mampu menjahit lurus dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, berdasarkan hasil diskusi dengan kolaborator, dilanjutkan pada siklus II dengan tujuan untuk melanjutkan kegiatan dengan menjahit rok. Dalam kegiatan inti pembelajaran dilakukan berdasarkan langkah-langkah menjahit adalah: 1) Memperkenalkan peralatan dan bahan yang digunakan dalam menjahit rok, 2) Memperagakan bagian-bagian rok yang sudah digunting, 3) Membuat garis pada pinggir pola yang sudah digunting, 4) Mengobras, 5) Mempertemukan bahan (dengan menjahit) untuk rok bagian belakang sebelah kiri dengan sebelah kanan sampai batas rosleting, 6) Menjahit rosleting dari atas ke batas jahitan, 7) Menjahit rosleting dari bawah ke batas pinggang, 8) Membuat kopnat rok bagian belakang sebelah kiri, 9) Membuat kopnat rok bagian belakang sebelah kanan, 10) Membuat kopnat rok bagian depan sebelah kiri, 11) Membuat kopnat rok bagian depan sebelah kanan, 12) Mempertemukan dan menjahitkan rok bagian depan sebelah kiri dengan rok belakang sebelah kiri, 13) Mempertemukan dan menjahitkan rok bagian depan sebelah kanan dengan rok belakang sebelah kanan, 14) Memasang ban (kain keras) ke pinggang rok, 15) Mendempetkan (menjahitkan) pinggang rok ke rok 16) Mensum rok, 17) Memasang hak rok sebelah kanan, 18) Memasangkan hak rok sebelah kiri dan 19) merapikan jahitan. Berdasarkan langkah-langkah tersebut anak dilatih setahap demi setahap sampai akhirnya anak dilatih menjahit rok agar terampil dan mampu menjahit rok dengan baik dan benar. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (1991:52) bahwa dengan latihan anak akan belajar secara sengguh-sungguh, dimana anak diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk mengulang-ulang kegiatan yang sama, karena apabila anak tersebut tidak mengerti pada satu langkah maka akan diajarkan lagi dan dilakukan secara berulang-ulang sampai mengerti. Ini dilakukan dengan harapan mereka mampu melakukan kegiatan-kegiatan lain dalam kehidupan sehari-hari anak secara mandiri nantinya. Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 97

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan menjahit pada anak tunarungu melalui teknik bantuan garis semakin meningkat. Hal ini terlihat dari hasil tes menjahit rok berdasarkan langkah-langkah yang telah ditetapkan diperoleh TN telah terampil menjahit rok, karena dari hasil tes TN telah memperoleh 100% semua langkah dapat dilakukan secara mandiri. Sedangkan FT dalam menjahit rok adalah (92,1%) dan RN adalah (89,5%). Berdasarkan hasil tersebut jelas bahwa melalui teknik bantuan garis dapat meningkatkan keterampilan menjahit rok anak tunarungu kelas VIII SMP-LB Panti. Hal ini membuktikan bahwa teknik bantuan garis dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menjahit rok. Hal ini terbukti dari hasil asesmen kemampuan menjahit rok anak: TN adalah (37,5%) sedangkan setelah siklus II menjadi (100%) berarti mengalami peningkatan (62,5%). Untuk FT, sebelum diberi tindakan kemampuannya menjahit rok adalah (25%) dan setelah siklus II menjadi (92,1%), berarti mengalami peningkatan (67,1%). Sedangkan RN sebelum diberikan tindakan kemampuannya (25%) dan setelah siklus II menjadi (89,5%), berarti peningkatannya (64,5%). Dengan demikian, peningkatan yang paling tinggi adalah pada FT. Berdasarkan data di atas, jelas bahwa teknik bantuan garis dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menjahit rok dengan baik dan rapi. Menurut Pratiwi Djati (2011:5) garis adalah Sejumlah tanda-tanda (simbol) dipakai pada pola untuk memberi instruksi sewaktu menggunting kain dan menjahit. Dengan demikian, teknik bantuan garis ini digunakan sebagai pemandu arah (tempat) dalam menjahit. Dengan teknik ini, ternyata anak mampu menjahit lurus dengan baik dan menjahit rok dengan baik sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pembelajaran dengan teknik bantuan garis dilakukan agar lebih memudahkan dalam menjahit dan hasil jahitan menjadi rapi. PENUTUP Kesimpulan Proses pelaksanaan tindakan didasarkan pada alur penelitian yang telah ditetapkan yakni: dari permasalahan, perencanaan, tindakan, pengamatan, analisis data dan refleksi. Dalam penelitian ini dilakukan dua siklus. Siklus I bertujuan agar anak mampu menjahit lurus dengan baik dan rapi, sedangkan apda siklus II diharapkan anak mampu menjahit rok dengan baik dan rapi. Dalam tindakan dilakukan kegiatan pembelajaran yang dimulai dari kegiatan awal, inti dan kegiatan akhir. Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 98

Kegiatan ini pembelajaran dilakukan berdasarkan 19 langkah proses dalam menjahit rok. Selama proses pelaksanaan tindakan peneliti awalnya memperagakan sambil menjelaskan kemudian anak berlatih sambil dibimbing. Anak dibimbing sambil terus memperagakan yang berulang-ulang. Hal ini bertujuan agar setiap langkah yang diberikan dapat dikuasai anak. Pelaksanaan kegiatan ini selalu diakhiri dengan penilaian hasil kerja anak dan hasilnya dimasukkan dalam format penilaian yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dan hasil tes setelah diberikan tindakan, serta hasil diskusi dengan kolaborator terlihat adanya peningkatan keterampilan menjahit rok. Ternyata hasil anak dalam menjahit lurus sebelum diberikan tindakan kemampuan TN adalah (37,5%) sedangkan FT dan RN baru (25%). Siklus I setelah diberikan pembelajaran dengan teknik bantuan garis kemampuan menjahit lurus TN dan FT adalah (100%) dan RN adalah (87,5%). Siklus II dibelajarkan menjahit rok tetap dengan teknik bantuan garis, hasil yang diperoleh adalah kemampuan TN juga (100%), FT adalah (92,1%) dan RN adalah (89,5%). Namun peningkatannya ini sesuai dengan tingkat kemampuan anak masingmasing. Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disarankan sebagai berikut: 1) Guru hendaknya lebih memperhatikan karakteristik anak dan membantu kesulitan atau hambatan anak dalam belajar dengan mencari teknik yang tepat agar anak dapat belajar secara maksimal. Untuk keterampilan khususnya menjahit rok dapat digunakan teknik bantuan garis. 2) Bagi orang tua di rumah atau keluarga hendaknya membantu anak agar memberikan latihan-latihan keterampilan supaya dikuasai anak dan berguna bagi anak kelak. 3) Bagi calon peneliti yang ingin melakukan penelitian, sehubungan dengan teknik bantuan garis, dapat jadi pedoman untuk keterampilan lainnya. DAFTAR PUSTAKA Ana Arisanti. (2010). Pola Dasar dan Pecah Rok. Jakarta: Depdiknas Fatiyah. (2011). Menjahit. Online: http://fatiyaahbudiriyanto.blogspot.com /2011 /04/rppmenjahit.html. Diakses: 22 Februari 2012. Kurniasih (2003). Panduan Pelaksanaan Keterampilan Kehidupan Sehari-hari. Jakarta: Dep.Sosial RI. Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 99

Kurnila Sari (2010)http://www.scribd.com/doc/46536439/CARA-MENJAHIT-ROK Lilyana. (2009). Garis. Online:http://www.abangadek-adv.com/index. php?option =com_content&view=article&id=67&itemid=90. Diakses 12 April 2012. Miles, Mattew B & Huberman, A. Michael. (1982). Analisa Data Kualitatif. Terjemahan oleh: Tjeyjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI-Press. Mohd. Amin (1995). Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud Neni Kasmeri. (1999). tentang Pelaksanaan Pengajaran Keterampilan Dasar Menjahit bagi Anak Tunagrahita Sedang Kelas Dasar IV di SLB Perwari Padang. Skripsi. PLB FIP UNP Padang. Tidak Diterbitkan. Permanarian Permanarian. 1996. Ortopedagogic Anak Tunarungu. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Guru.. Pratiwi, Djati (2001). Pola Dasar dan Pecah Pola Busana. Jakarta: Kanisius. ISBN 9-7967- 2537-1 Rice Silvia Siska. (2004). Upaya Meningkatkan Keterampilan Membuat Pola Dasar melalui Metoda Latihan pada Anak Tunarungu (Classroom Action Research pada Anak tunarungu kelas I SMPLB di SLB Negeri 2 Padang). Skripsi. PLB FIP UNP Padang. Tidak Diterbitkan. Riny. (2010). Pengertian Menjahit. Online: http://kemejamurah.wordpress.com/ category/pengertian-menjahit/. Diakses 12 April 2012. Rochiati Wiriaatmadja (2006). Metode Penelitian Tndakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Suharsimi Arikunto. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Sutjihati Soemantri (2005). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Aditama Soemarji. (1991). Pendidikan Keterampilan. Jakarta : Depdikbud. Syamsul Arifin. (1980). Pendidikan Keterampilan. Jakarta : Depdikbud. Tarmansyah. 1996. Gangguan Komunikasi. Jakarta: Depdikbud. ---------------. 1992. Latihan Bina Bicara. Jakarta : Sub Direktorat Pembinaan 3PG, SGPLB, Direktorat Pendidikan Guru Dan Tenaga Teknis. W.J.S. Poerwadarminta. (1986). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Zainal Aqib (2006). Penelitian Tingkat Kelas. Bandung: Y Rama Widya. Esrawati Jurusan PLB FIP UNP 100