Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011



dokumen-dokumen yang mirip
PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH

Kondisi Perekonomian Indonesia

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SEMESTER I 2009

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 31 AGUSTUS 2009

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007

BAB I PENDAHULUAN. Peran perbankan dalam masa pembangunan saat ini sangatlah penting dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas

Realisasi Asumsi Dasar Ekonomi Makro APBNP 2015

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2008 pendapatan per kapita Indonesia sudah meliwati US$ 2.000,

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan di berbagai bidang perekonomian. Pembangunan ekonomi secara

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan cerminan

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,

ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan fenomena shock ini adalah sangat menarik berbicara tentang

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. orang. Manfaat bagi kegiatan setiap orang yakni, dapat mengakomodasi

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembukaan Undang-Undang Dasar Pembangunan Nasional difasilitasi oleh

PENDAHULUAN. menyediakan sarana dan prasarana,baik fisik maupun non fisik. Namun dalam

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

SURVEI PERSEPSI PASAR

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

BAB I PENDAHULUAN. motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2008 SEBESAR 5,02 PERSEN

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN APRIL 2002

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

I. PENDAHULUAN. nasional sangatlah diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan

BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai

Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau

BI Rate KMK KK KI. Tahun BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan sektor properti dan real estat yang ditandai dengan kenaikan

I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia.

ASUMSI NILAI TUKAR, INFLASI DAN SUKU BUNGA SBI/SPN APBN 2012

SURVEI PERSEPSI PASAR

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional (Wikipedia, 2014). Pertumbuhan

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014

IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3

BAB I PENDAHULUAN. Meskipun pertumbuhan ekonomi setelah krisis ekonomi yang melanda

Prediksi Tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan 6,3%

LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001

BAB I PENDAHULUAN. konsisten, perekonomian dibangun atas dasar prinsip lebih besar pasak dari pada

IV. FLUKTUASI MAKROEKONOMI INDONESIA

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. lebih terbuka (openness). Perekonomian terbuka dalam arti dimana terdapat

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan

1. Tinjauan Umum

BAB II PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 2003

BERITA RESMI STATISTIK

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2008

IV. KINERJA MONETER DAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kinerja Moneter dan Perekonomian Indonesia

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2004

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

UMKM & Prospek Ekonomi 2006

Pelemahan Rupiah: Haruskah Kita Panik? Mohammad Indra Maulana (Alumni FEB UGM)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan

I. PENDAHULUAN. atau nilai tukar (Miskhin, 2007:435). Bagi negara berkembang dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN II-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk. meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Keberhasilan atau tidaknya pembangunan ekonomi di suatu negara

I. PENDAHULUAN. menghimpun dana dari pihak yang berkelebihan dana dan menyalurkannya

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

Transkripsi:

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Asumsi makro dalam RAPBN 2011 : target pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, laju inflasi 5,3 persen, suku bunga sertifikat Bank (SBI) rata-rata 6,5 persen, nilai tukar Rp 9.300 per dollar Amerika Serikat (AS), harga minyak 80 dollar AS per barrel, dan lifting minyak sebesar 970.000 barel per hari. Pertumbuhan Ekonomi Secara historis trend pertumbuhan memang mengalami peningkatan sepanjang 2007 2010 (semester 1-2). Pertumbuhan tersebut, masih mengandalkan proporsi pengeluaran konsumsi rumah tangga. Data A.1 Produk Domestik Bruto berdasarkan Harga Berlaku, 2007 - Semester I 2010 (dalam trilyun) 6000 5000 4000 3000 2000 1000 3950,9 4951,4 5613,4 3068,6 0 2007 2008 2009 Smt I 2010 PDB 1 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Data A.2 Produk Domestik Bruto Triwulanan berdasarkan Harga Berlaku, 2007-2010 (dalam milyar rupiah) 1,800,000 1,600,000 1,400,000 1,200,000 1,000,000 800,000 600,000 400,000 200,000 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II PRODUK DOMESTIK BRUTO Sumber: BPS 2 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Data A.3 Produk Domestik Bruto Triwulanan berdasarkan Harga Berlaku, 2007-2010 (dalam milyar rupiah) 1,800,000.0 1,600,000.0 1,400,000.0 1,200,000.0 Selisih Export - import 1,000,000.0 Diskrepansi Statistik Perubahan Inventori 800,000.0 600,000.0 400,000.0 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Investasi) Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 200,000.0 0.0-200,000.0 I II III IV I II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009 2010 Sumber: BPS 3 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Data A.4 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga triwulanan berdasarkan harga berlaku, 2007-2010 (dalam milyar Rupiah) 1,000,000.0 900,000.0 800,000.0 700,000.0 600,000.0 500,000.0 400,000.0 300,000.0 200,000.0 100,000.0 0.0 I II III IV I II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009 2010 Makanan Bukan Makanan Sumber: BPS Pendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang 2007 2010 (semester 1-2) di dominasi konsumsi swasta yang mencapai +/- 65 persen. Pola Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Makanan dan Bukan Makanan relatif seimbang. Pada 2011 pemerintah akan meningkatkan pembentukan modal tetap domestik bruto, dengan peningkatan pendanaan proyek-proyek infrastruktur. Langkah ini cukup beralasan karena sementara ini pertumbuhan PMTDB didominasi oleh pembentukan modal dalam bentuk bangunan/konstruksi. 4 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Data A.5 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto triwulanan berdasarkan harga berlaku, 2007-2010 (dalam milyar Rupiah) 600,000 500,000 Bangunan Mesin dan Perlengkapan Alat Angkutan Lainnya 400,000 300,000 200,000 100,000 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: BPS Fakta keterbatasan kinerja pemerintah yang secara historis sangat lemah dalam mengelola dan memanfaatkan APBN sebagai stimulus ekonomi. Pola konsumsi yang tidak cukup baik dari pengeluaran Konsumsi Pemerintah, tidak sinkron dengan peningkatan jumlah absolut dari tahun ke tahun. Komponen Belanja Pegawai dan Penyusutan barang penerintah masih saja cenderung mengalami peningkatan pada triwulan II dan III. Sementara pada komponen Belanja Barang, trendnya meningkat meskipun pola perubahannya cenderung berfluktuasi. Lonjakan belanja barang umumnya terjadi pada triwulan ke IV dan turun drastis ketika memasuki triwulan I tahun berikutnya. 5 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Data A.6 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah triwulanan berdasarkan harga berlaku, 2007-2010 (dalam milyar Rupiah) 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 Belanja Barang Belanja Pegawai + Penyusutan (NTB) 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009 2010 Sumber: BPS 6 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Selain harus mampu mempertahankan pola konsumsi swasta, untuk sustainable pertumbuhan, pemerintah juga dituntut dapat lebih mendorong sektor ekspor, walau sementara sektor ekspor hanya menyumbang 1,1 persen. Data A.7 Ekspor dan Impor triwulanan berdasarkan harga berlaku, 2007-2010 (dalam milyar Rupiah) 450,000 400,000 350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0-50,000 I II III IV I II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009 2010 Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Surplus(Defisit) Sumber: BPS Secara umum, sepanjang 2007-2010 mengalami surplus dalam perdagangan internasional dengan selisih tipis antara ekspor terhadap impor. Pada triwulan ketiga tahun 2008, kinerja ekspor - impor tercatat mengalami penurunan akibat krisis keuangan global. Secara umum sepanjang 2008 2009, mampu mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi positif di tengah pengaruh krisis keuangan global yang melanda negara 7 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

di regional ASEAN. Hal ini disebabkan dominannya konsumsi domestik sebagai mesin pertumbuhan dan rendahnya ketergantungan terhadap perdagangan internasional. Namun ketika krisis mereda dan perekonomian regional kembali bergairah, angka pertumbuhan PDB pada triwulan pertama 2010 meskipun masih stabil - tercatat paling rendah diantara negara-negara ASEAN lainnya yang pertumbuhannya mengalami lonjakan yang relatif signifikan. Pertumbuhan ekonomi regional yang positif ini dapat mendorong permintaan akan produk dan meningkatkan peran ekspor dan impor. Data A.8 Perbandingan Pertumbuhan (%) PDB triwulanan Negara-negara ASEAN, 2008 (Q.II) 2010 (Q.I) 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0-5.0-10.0-15.0 II III IV I II III IV I 2008 2009 2010 Sumber: ASEAN 8 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Investasi Pada tahun 2009 total nilai realisasi PMDN adalah Rp. 37.799,8 miliar (meningkat 85,63 persen dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp. 20.363,4 miliar) dan nilai PMA adalah US$ 10.815,2 juta (mengalami penurunan sebesar 27,28 persen). Pada triwulan pertama 2010 realisasi investasi PMDN mencapai Rp. 6.690,7 miliar dan PMA mencapai US$ 3.770,2 juta. Realisasi investasi dari PMDN dan PMA mencukupi sekitar 26,8 persen dari total kebutuhan investasi nominal yang diperkirakan sebesar Rp. 2.243,8 triliun. Sumber investasi lainnya berasal dari kredit perbankan sebesar 17,4 persen, pasar modal 16,7 persen, belanja modal Pemerintah 12,4 persen, dan sumber-sumber investasi lainnya. Pada tahun 2011, laju investasi diperkirakan hanya tumbuh sebesar 10,0 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan perkiraan realisasinya pada tahun 2010 yang sebesar 8,0 persen. Data A.9 40,000.0 30,000.0 20,000.0 10,000.0 - Realisasi Investasi PMDN (Rp. Miliar) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 9 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Data A.10 16,000.0 14,000.0 12,000.0 10,000.0 8,000.0 6,000.0 4,000.0 2,000.0 - Realisasi Investasi PMA (US$ Juta) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Suku Bunga Asumsi suku bunga tidak akan mendorong perekonomian. Ini terutama terkait suku bunga yang masih tinggi. Sebab, Untuk mendorong sektor riil, dibutuhkan bunga yang rendah. Dengan kebijakan sekarang dan tahun seperti halnya di tahun 2011, suku bunga acuan akan tetap tinggi. Ini menjadi tantangan bagi peningkatan sektor riil. Beberapa kalangan menilai, Bank (BI) bisa saja menurunkan suku bunga acuan. Hanya saja itu tidak dilakukan, karena BI ingin menjaga nilai tukar rupiah berada di kisaran 9.000 per dollar AS. Alasannya, BI takut eksportir kita kehilangan daya saing, bila rupiah terus menguat. ( Imam Sugema - Indef, Kompas, 31 Agustus 2010 ). Nilai Tukar Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar sejak awal Januari 2007 sampai awal September 2008 relatif stabil. Sejak Oktober 2008 nilai tukar tersebut menurun secara signifikan dan mencapai puncaknya pada November 2008 hingga menyentuh nilai Rp12.400 per US Dollar. Namun sejak awal 2009 hingga awal 2010, kurs semakin stabil. 10 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Kurs Tengah BI (US Dollar) 14.000 12.000 12.400 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 0 15. Mar 07 28. Jun 07 05. Okt 07 01. Feb 08 16. Mei 08 27. Aug 08 11. Des 08 Rupiah 31. Mar 09 13. Jul 09 27. Okt 09 09. Feb 10 24. Mei 10 01. Sep 10 Inflasi Inflasi sejak Januari 2007 sampai akhir Juli 2010 berfluktuasi, dimana inflasi paling tinggi terjadi pada tahun 2008 hingga mencapai 11,06 persen. Pada tahun 2009 inflasi menurun secara signifikan pada angka 2,78 persen dan kemudian sampai akhir Juli 2010 naik kembali pada 3,98 persen. 11 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Di dalam RAPBN tahun 2011 diperkirakan inflasi sebesar 5,3 persen, dimana angka tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan perkiraan inflasi tahun 2010. Perkiraan inflasi ini didasarkan pada pertimbangan peningkatan kegiatan ekonomi diperkirakan dapat terus diimbangi oleh meningkatnya kapasitas produksi seiring dengan membaiknya investasi. Dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan dan penawaran, serta semakin baiknya infrastruktur dan lancarnya distribusi bahan kebutuhan pokok masyarakat, laju inflasi diharapkan dapat dikendalikan. Produksi Minyak Data-data trend produksi minyak : No Tahun Target Lifting Minyak (juta barel/hari) Realisasi Lifting minyak (juta barel/hari) 1 2005 0,999 2 2006 1,000 0,959 3 2007 0,950 0,899 4 2008 0,927 0,931 5 2009 0,960 0,944 6 2010 0,965 7 2011 0,970 Sumber: APBN-P dan Data Pokok APBN 2005-2011 12 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI

Trend Lifting Minyak, 2005-2011 (barel) 1020000 1000000 980000 999000 970000 960000 940000 920000 959000 931000 944000 965000 900000 880000 899000 860000 840000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Sumber : Data Pokok APBN 2005-2011 13 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI