Terta Ganda (0911899)



dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAKANAN PADA BAYI LIMA TAHUN (BALITA) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN PENILAIAN PRESTASI KARYAWAN TERBAIK. Surmayanti, S.Kom, M.Kom

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN KREDIT SEPEDA MOTOR UNTUK KONSUMEN PT.FIF CABANG MEDAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHI PROCESS (AHP)

JURNAL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMBERIAN KREDIT PADA KSP MITRA RAKYAT BERSAMA NGANJUK DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SISWA DALAM MENGIKUTI LOMBA LKS DI SMK NEGERI 3 SEMARANG DENGAN METODE ANALITHICAL HIERARCHI PROCESS

Volume : II, Nomor : 1, Pebruari 2014 Informasi dan Teknologi Ilmiah (INTI) ISSN : X

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 1 NO. 1 MARET 2010

Rici Efrianda ( )

Desi Reskika Sari ( )

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

BAB 2 LANDASAN TEORI

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

PEMILIHAN OBJEK WISATA DI SUMATERA UTARA DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN GURU YANG BERHAK MENERIMA SERTIFIKASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN PINJAMAN TERHADAP NASABAH DENGAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) STUDI KASUS: PT. BPR LAKSANA GUNA PERCUT

ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014

Sistem Pendukung Keputusan Penasehat Akademik (PA) untuk Mengurangi Angka Drop Out (DO) di STMIK Bina Sarana Global

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SISWA BERPRESTASI MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS)

ABSTRAK. Kata kunci : SPK, metode AHP, penentuan lokasi.

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN KELAYAKAN PEMBERIAN KREDIT MENGGUNAKAN METODE AHP PADA BANK DANAMON CABANG SEGIRI SAMARINDA

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENYELEKSIAN CALON SISWA BARU DENGAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) PADA SMA NEGERI 1 SINGKIL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Pendukung Keputusan

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN KARYAWAN BARU MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS : PT. BTN)

IMPLEMENTASI SISTEM REKOMENDASIAN PENERIMAAN BEASISWA DENGAN MENGGUNAKAN FMADM

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN GURU BERPRESTASI BERDASARKAN KINERJA (STUDI KASUS : SMK Ma arif 1 Kalirejo)

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

METODE FUZZY SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DALAM MENENTUKAN KUALITAS KULIT ULAR UNTUK KERAJINAN TANGAN (STUDI KASUS : CV. ASIA EXOTICA MEDAN)

APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENEMPATAN BIDAN DI DESA MENGGUNAKAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

Rudi Hartoyo ( )

Implementasi Metode AHP dalam Perancangan Sistem Penunjang Keputusan Penentuan Kuota Pembimbing Mahasiswa. Irfan Dwi Jaya

BAB II LANDASAN TEORI

Penelitian Bidang Komputer Sains dan Pendidikan Informatika V2.i1( )

BAB 2 LANDASAN TEORI Sistem Pendukung Keputusan Pengertian Keputusan. Universitas Sumatera Utara

IMPLEMENTASI KOMBINASI METODE AHP DAN SAW DALAM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN KREDIT PERUMAHAN RAKYAT ABSTRAK

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN BONUS KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE AHP SKRIPSI

PEMILIHAN RANGE PLAFOND PEMBIAYAAN TERBAIK BMT DENGAN METODE AHP. Dwi Yuniarto, S.Sos., M.Kom. Program Studi Teknik Informatika STMIK Sumedang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Sistem, Keputusan dan Sistem Pendukung Keputusan

SISTEM INFORMASI PENDUKUNG KEPUTUSAN PADA SELEKSI PENERIMAAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMILIHAN TYPE SEPEDA MOTOR YAMAHA

Aplikasi Metode Analitical Hierarchy Proces (AHP) Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Oleh Abulwafa Muhammad, S.Kom, M.

Pemanfaatan Analytical Hierarchy Process(AHP) sebagai Model Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerimaan Karyawan

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BEASISWA PERGURUAN TINNGI NEGERI SINAR MAS DENGAN METODE TOPSIS (STUDI KASUS: SMK NEGERI 1 GALANG)

APLIKASI AHP UNTUK PENILAIAN KINERJA DOSEN

Sistem Penunjang Keputusan Penerimaan Dosen dengan Metode Analytic Hierarchy Process

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN. evaluasi terhadap Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan STMIK Terbaik Di

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

APLIKASI ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PEMILIHAN SOFTWARE MANAJEMEN PROYEK

IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT. Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA

ANALISIS KRITERIA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BEASISWA BELAJAR BAGI GURU MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JUSTIN) Vol. 1, No. 1, (2016) Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JUSTIN) Vol. 2, No.

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN SELEKSI PENERIMA BEASISWA PADA SMA 1 BOJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas

PENERAPAN AHP SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN RUMAH BERSALIN CONTOH KASUS KOTA PANGKALPINANG

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

MODEL PENUNJANG KEPUTUSAN PENYELEKSIAN PEMBERIAN BEASISWA BIDIKMISI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENEMPATAN POSISI IDEAL PEMAIN DALAM STRATEGI FORMASI SEPAK BOLA

Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah

PENERAPAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN LAPTOP

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BEASISWA DIKLAT DENGAN FUZZY MADM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN KELULUSAN UJIAN SARINGAN MASUK JALUR PMDK BERDASARKAN NILAI RATA-RATA MATEMATIKA DAN BAHASA INGGRIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kata Kunci : Fuzzy MADM, SAW, kriteria, beasiswa.

MADM-TOOL : APLIKASI UJI SENSITIVITAS UNTUK MODEL MADM MENGGUNAKAN METODE SAW DAN TOPSIS.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN METODE AHP PADA SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN KELAYAKAN PEMBERIAN KREDIT

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN EVALUASI KINERJA DOSEN MENGGUNAKAN METODE AHP DAN TOPSIS. (Studi Kasus : Program Studi Sistem Informasi) Yusmanita

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BANTUAN SEMBAKO MENGGUNAKAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process) Nanang Frediyanto

INTRO Metode AHP dikembangkan oleh Saaty dan dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek dimana data dan informasi statistik dari masal

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN JENIS RAMBUT MANUSIA DENGAN MENERAPKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. negara, atau instansi. Sedangkan transportasi adalah pengangkutan atau

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN KREDIT PADA KOPKAR KARYA BHAKTI NUSANTARA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIERARCHY PROCESS )

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN KREDIT MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: Yogyakarta, 20 Juni 2009

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI BERDASARKAN KINERJA MENGGUNAKAN METODE ANALITYC HIERARCY PROCESS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi

IMPLEMENTASI SPK UNTUK SELEKSI CALON GURU DI SMK BINA MARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal TIMES, Vol. IV No 2 : 24-30, 2015 ISSN : Harold Situmorang

TELEMATIKA, Vol. 06, No. 02, JANUARI, 2010, Pp ISSN X TEKNIK PERMODELAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCES (AHP) SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN JURUSAN SISWA SMA PGRI 2 PRINGSEWU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROSES (AHP)

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PENERIMAAN BEASISWA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (STUDI KASUS PENERIMAAN BEASISWA DI SMP N 5 PRINGSEWU)

PENGEMBANGAN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PENENTUAN PEMBERIAN BEASISWA TINGKAT SEKOLAH

Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Ketua Osis Dengan Metode AHP SMK PGRI 23 Jakarta

Transkripsi:

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN PENERIMA BANTUAN SOSIAL TAHUNAN DARI PERUSAHAAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Studi Kasus : Grand Palladium Medan) Terta Ganda (0911899) Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika STMIK Budidarma Medan Jl. Sisingamangaraja No. 338 Simpang Limun Medan http://stmik-budidarma.ac.id // Email : tertaganda_bd@gmail.com ABSTRAK Panitia Bantuan Sosial Grand Palladium Medan menentukan Penerima Bantuan sosial berdasarkan beberapa faktor penilaian. faktor penilaian tersebut terdiri dari penilaian Umum, Skill, kedisplinan dan kondisi ekonomi. Demi efektifitas panitia bantuan sosial dalam penilaian maka pengambilan keputusan yang tepat sangat diperlukan. Oleh karena itu, dibuatlah perangkat yang dapat mengambil sebuah keputusan untuk menentukan kriteria yang pantas dalam menerima bantua sosial tersebut. Perangkat lunak ini dibangun dengan basis sistem pendukung keputusan yang memiliki kemampuan untuk menentukan penerima bantuan sosial dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process ( AHP). Metode AHP pembuat keputusan dapat menentukan alternatif keputusan dalam penerapan perangkat lunak, sehingga ini. Proses AHP ini membandingkan karyawan satu dengan yang lain dan memberikan output nilai intenitas prioritas berupa hasil kriteria penerima bantuan sosial terhadap karyawan Grand Palladium Medan. Hasil proses AHP dari perangkat lunak ini berupa terpilihnya penerima bantuan sosial, simulasi perhitungan dan laporan penilaian. Hasil proses ini di rekomedasikan sebagai karyawan yang menerima bantuan sosial berdasarkan proses kriterria. Kata kunci : Sistem Pendukung Keputusan, Penilaian Kriteria Karyawan. Metode AHP 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengambilan keputusan dari suatu masalah, baik itu masalah yang sederhana maupun yang kompleks, diperlukan informasi-informasi yang menyeluruh dan akurat, kemampuan menganalisa dan mengolah informasi serta metode penyelesaian yang tepat, hal diatas penting untuk mendukung pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan baik dan tepat. Berdasarkan informasi yang ada akan bisa menentukan sikap dan pengambilan keputusan yang tepat terhadap suatu permasalahan yang dihadapi, jika diolah oleh suatu sistem atau informasi tersebut dapat berguna dengan baik. Sistem yang mengolah informasi biasanya sistem pendukung keputusan, sehingga sistem tersebut dapat mengolah informasi untuk mendukung keputusan dengan menawarkan alternatif-alternatif yang baik. Dalam perkembangan teknologi informasi saat ini, penulis ingin membantu panitia sosial Grand Palladium dalam penyeleksian penerimaan bantuan sosial melalui aksi sosial tahunannya. Memerlukan suatu perubahan sistem dari sistem yang lama yang sebagian masih menggunakan atau masih bersifat manual ke sistem yang baru. Mengingat banyaknya karyawan yang akan menerima bantuan sosial yang akan diseleksi dalam kalangan karyawan yang jumlahnya mencapai ratusan orang sehingga bagian penyeleksi sangat merasa kesulitan dalam mengadakan penyeleksian calon penerima bantuan, karena banyaknya karyawan yang ingin mendapatkan bantuan sehingga menyulitkan pihak penyeleksi dalam melakukan penyeleksian guna mendapatkan karyawan yang benar-benar memerlukan bantuan tersebut. Bantuan sosial yang asal dananya diambil dari sumbangan dana swadaya tenan (penyewa). Menurut Suparman, Pusat Pengembangan Energi Nuklir No ISSN :1410-9816, Penerapan Sistem Pendukung Keputusan yang fleksibel pada suatu organisasi dapat membantu perkerjaan manusia yang disesuaikan dengan kepentingan masing masing organisasi. Penerapan Sistem Pendukung Keputusan dapat dilakukan hampir pada semua fungsi bisnis di organisasi, dari mulai fungsi perencanaan produksi maupun keuangan, fungsi pelayanan konsumen, penjualan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Pada fungsi pengelolaan sumber daya manusia, Sistem Pendukung Keputusan dapat dimanfaatkan untuk membantu proses manajemen sumber daya manusia (SDM) agar lebih mudah dan efektif. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode AHP atau Analytical Hierarchy Process.AHP adalah prosedur yang berbasis matematis yang sangat baik dan sesuai untuk kondisi evaluasi atribut-atribut kualitatif. Atributatribut tersebut secara matematik dikuantitatif dalam satu set perbandingan berpasangan. Kelebihan AHP dibandingkan dengan yang lainnya karena adanya struktur yang berhirarki, 100

sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai kepada sub-sub kriteria yang paling mendetail. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimana membantu Grand Palladium dalam mengambil keputusan untuk menentukan siapa yang layak menerima bantuan berdasarkan urutan nilai priotas keseluruhan? 2. Bagaimana menerapkan metode AHP untuk proses penentuan penerima bantuan sosial pada Grand Palladium Medan? 3. Bagaimana merancang aplikasi seleksi penentuan penerima bantuan pada Grand Palladium Medan dengan menggunakan Bahasa Pemrograman Visual Studio 2008? 1.3 Batasan Masalah Adapun batasan-batasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian diperoleh dari Grand Palladium Medan. 2. Sistem Pendukung Keputusan ini hanya sebagai alat bantu bagi pihak Grand palladium dalam menentukan siapa yang layak menerima bantuan atau tidak, berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh pihak Grand Palladium. Namun keputusan akhir tetap berada di pihak Grand Palladium. 3. Metode yang digunakan dalam perancangan sistem ini adalah Analytical Hierarchy Process (AHP). 4. Output dari SPK ini adalah urutan prioritas global karyawan yang layak menerima bantuan mulai dari yang tertinggi sampai terendah. 5. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Visual studio 2008 dan Data base yang digunakan adalah Microsoft access 2007. 1.4 Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian Tujuan dari penulisan Skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Membantu pihak Grand Palladium dalam menentukan siapa karyawan yang layak menerima bantuan atau tidak, dengan sistem yang terkomputerisasi sehingga proses pengambilan keputusan ini dapat lebih efisien, hemat waktu dan sumber daya manusia (SDM). 2. Menerapkan metode AHP untuk proses seleksi penentuan penerima bantuan pada Grand Palladium Medan. 3. Merancang suatu perangkat lunak dengan mengunakan bahasa pemorgraman visual studio 2008. 1.4.2 Manfaat Penelitian Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah untuk membantu pihak Grand Palladium dalam mengambil keputusan untuk menentukan siapa yang layak menerima bantuan dengan melihat nilai prioritas dari masing-masing karyawan yang dibandingkan. 2. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Sistem Definisi sistem menurut (Jogiyanto, H.M, 2005:1) terdapat dua kelompok yaitu: 1. Berdasarkan Penekanan Prosedur Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedurprosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu. 2. Berdasarkan Penekanan Komponen Sistem adalah suatu seri dari beberapa komponen-komponen yang saling berhubungan,bekerja sama didalam suatu kerangka kerja tahapan yang terpadu untukmenyelesaikan, mencapai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan definisi di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sistem merupakan suatu bentuk jaringan kerja yang terorganisir atau terhubung satu dengan lainnya yang dapat mempermudah perusahaan dalam melaksanakan suatu fungsi untuk mencapai tujuan. 2.2. Pengertian Sistem Pendukung Keputusan Sistem pendukung keputusan menurut (Efrain Turban,2005:19) adalah sistem berbasis komputer interaktif, yang membantu para pengambil keputusan untuk menggunakan data dan berbagai model untuk memecahkan masalah tidak terstruktur.menggunakan kombinasi dari model, teknik analisis, dan pengambilan informasi, sistem seperti membantu mengembangkan dan mengevaluasi alternatif yang sesuai. Menurut (Kusrini,2007:7) sistem pendukung keputusan adalah sistem informasi yang membantu untuk mengidentifikasi kesempatan pengambilan keputusan atau menyediakan informasi untuk membantu pengambilan keputusan. Pada dasarnya sistem pendukung keputusan hampir sama dengan sistem informasi manajemen karena menggunakan basis data sebagai sumber data. DSS bermula dari SIM karena menekankan pada fungsi mendukung pembuat keputusan diseluruh tahap-tahapnya, meskipun keputusan aktual tetap wewenang eksklusif pembuat keputusan. Sistem pendukung keputusan lebih lebih ditujukan untuk mendukung manajemen dalam melakukan pekerjaan yang bersifat analitis dalam situasi yang kurang terstruktur dan dengan kriteria yang kurang jelas. DSS tidak dimaksudkan untuk mengotomatisasikan keputusan, tetapi menyuguhkan perangkat interaktif yang memungkinkan pengambilan keputusan untuk 101

melakukan berbagai analisa untuk melakukan analisa menggunakan model-model yang tersedia. 2.3. Definisi Bantuan sosial Bantuan sosial adalah pemberian bantuan berupa uang/barang dari Pemerintah atau perusahaan kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Bantuan sosial dapat diberikan dalam bentuk uang atau barang kepada anggota/kelompok masyarakat. Pemberian bantuan sosial disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan dilakukan secara selektif serta setelah memprioritaskan pemenuhan belanja urusan wajib yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang- Undangan. Pemberian bantuan sosial ditujukan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas dan manfaat untuk masyarakat. Bantuan sosial kepada anggota/kelompok masyarakat sebagaimana dimaksud meliputi : 1. Individu, keluarga dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat dari krisis sosial, ekonomi, politik, bencana atau fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum, dan 2. Lembaga non pemerintahan bidang pendidikan, keagamaan, dan bidang lain yang berperan untuk melindungi individu, kelompok, dan/masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Bantuan sosial bersifat bantuan yang tidak mengikat dan tidak wajib serta harus digunakan sesuai dengan proposal yang telah disetujui. Bantuan sosial bersifat sementara dan tidak terus menerus, kecuali dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan. Bantuan sosial sebagaimana dimaksud diartikan bahwa pemberian bantuan sosial tiak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun anggaran. Bantuan sosial dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan sebagaimana dimaksud diartikan bahwa belanja bantuan sosial dapat diberikan untuk mempertahankan taraf kesejahteraan sosial dan atau mengembangkan kemandirian serta untuk menjaga kinerja sosial yang telah tercapai agar tidak menurun kembali. Dalam penelitian ini, kriteria-kriteria yang menjadi dasar pihak Grand Palladium dalam mengambil keputusan penerima bantuan Sosial ada 4 macam, yakni sebagai berikut: 1. Umum Maksud dari kriteria tersebut meliputi orientasi pada pelayanan pelanggan atau pihak penyewa, Kepatuhan terhadap peraturan perusahaan, penampilan kerja, 2. Kedisplinan Maksud dari kriteria tersebut meliputi kehadiran, displin kerja, motivasi kerja. 3. Skill Maksud dari kriteria tersebut meliputi ketelitian dan ketepatan kerja, ketahanan dalam situasi kerja 4. Kondisi Ekonomi Kondisi ekonomi merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam mempertimbangkan seseorang layak atau tidak menerima bantuan di Grand Palladium. Beberapa hal yang dapat dijadikan kondisi ekonomi adalah jumlah tanggungan lebih dari 2 orang, status tempat tinggal masih kontrak, 2.4. Fuzzy Multi-Atribut Decision Making (FUZZY MADM) FMADM adalah suatu metode yang digunakanuntuk mencari alternatif optimal dari sejumlahalternatif dengan kriteria tertentu. Inti dari FMADM adalah menentukan nilai bobot untuksetiap atribut, kemudian dilanjutkan dengan proses perangkingan yang akan menyeleksi alternatif yang sudah diberikan. (Kusumadewi,dkk, 2006). Algoritma FMADM adalah: 1) Memberikannilai setiap alternatif (Ai) pada setiap kriteria(cj) yang sudah ditentukan, dimana nilaitersebut diperoleh berdasarkan nilai crisp;i=1,2,...m dan j=1,2,...n., 2) Memberikan nilaibobot (W) yang juga didapatkan berdasarkannilai crisp, 3) Melakukan normalisasi matriksdengan cara menghitung nilai rating kinerjaternormalisasi (rij) dari alternatif Ai pada atributcj berdasarkan persamaan yang disesuaikandengan jenis atribut (atribut keuntungan =MAKSIMUM atau atribut biaya = MINIMUM).Apabila berupa atribut keuntungan maka nilaicrisp (Xij) dari setiap kolom atribut dibagidengan nilai crisp MAX (MAX Xij) dari tiapkolom, sedangkan untuk atribut biaya, nilaicrisp MIN (MIN Xij) dari tiap kolom atributdibagi dengan nilai crisp (Xij) setiap kolom, dan4) Melakukan proses perangkingan dengan caramengalikan matriks ternormalisasi (R) dengannilai bobot (W). 2.4.1. Konsep Dasar Multi-Atribut Decision Making (MADM) Pada dasarnya, proses MADM dilakukan melalui 3 tahap, yaitu penyusunan komponenkomponen situasi, analisis, dan sintesis informasi (Rudholpi, 2000). Pada tahap penyusunan komponen, komponen situasi akan dibentuk table taksiran yang berisi identifikasi alternative dan spesisifikasi tujuan, kriteria dan atribut. Salah satu cara untuk menspesifikasikan tujuan situasi Oᵢi=1,,t adalah dengan cara mendaftar konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dari alternative yang telah teridentifikasi Aᵢ i=1,,n. Selain itu juga disusun atribut-atribut yang akan digunakan Oᵢ k=1,,m Tahap analisis dilakukan melalui 2 langkah. Pertama, mendatangkan taksiran dari besaran yang potensial, kemungkinan, dan ketidakpastian yang berhubungan dengan dampak-dampak yang mungkin pada setiap alternative. Kedua, meliputi pemilihan dari preferensi pengambilan keputusan untuk setiap nilai, dan ketidakpedulian terhadap resiko yang timbul. Pada langkah pertama, beberapa metode 102

menggunakan fungsi distribusi pᵢ (x) yang menyatakan probabilitas kumpulan atribut aᵢ terhadap setiap alternative Aᵢ. Konsekuensi juga dapat ditentukan secara langsung dari agregasi sederhana yang dilakukan pada informasi terbaik yang tersedia. Demikian pula, ada beberapa cara untuk menentukan preferensi pengambilan keputusan pada setiap konsekuen yang dapat dilakukan pada langkah kedua. Metode yang paling sederhana adalah untuk menurunkan bobot atribut dan kriteria adalah kriteria adalah dengan fungsi utilitas atau penjumlahan terbobot. 2.4.2 Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Pada dasarnya, proses pengambilan keputusan adalah memilih suatu alternatif. AHP umumnya digunakan dengan tujuan untuk menyusun prioritas dari berbagai alternatif pilihan yang ada dan pilihan-pilihan tersebut bersifat kompleks atau multikriteria (Bourgeois, 2005). Penentuan prioritas inilah yang merupakan bagian penting dari penggunaan metode AHP (Mulyono, 1996). Selanjutnya Mulyono (1996), menjelaskan bahwa pada dasarnya metode AHP merupakan suatu teori umum tentang suatu konsep pengukuran. Metode ini digunakan untuk menemukan suatu skala rasio baik dari Universitas Sumatera Utaraperbandingan pasangan yang bersifat diskrit maupun kontinu. Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari ukuran aktual atau dari suatu skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dan prefensi relatif. Peralatan utama AHP adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia akan prioritas antara satu elemen dengan elemen yang lainnya. Keberadaan hirarki memungkinkan dipecahnya masalah kompleks atau tidak terstruktur dalam sub-sub masalah, lalu menyusunnya menjadi suatu bentuk hirarki. Metode AHP yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty dapat memecahkan masalah kompleks, dimana kriteria yang diambil cukup banyak, struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian persepsi pembuat keputusan serta ketidakpastian tersedianya data statistik yang akurat. Adakalanya timbul masalah keputusan yang sulit untuk diukur secara kuantitatif dan perlu diputuskan secepatnya dan sering disertai dengan variasi yang beragam dan rumit sehingga data tersebut tidak mungkin dapat dicatat secara numerik karena data kualitatif saja yang dapat diukur yaitu berdasarkan pada persepsi, preferensi, pengalaman, dan intuisi. Beberapa kelebihan penggunaan metode AHP adalah sebagai berikut: (Suryadi dan Ramdhani, 1998). 1. Struktur yang berbentuk hirarki sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipillih sampai pada subkriteria yang paling dalam. 2. Memperhatikan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan. 3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan keluaran analisis sensitivitas pembuat keputusan. Selain itu metode AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multiobjektif dan multikriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Jadi metode AHP merupakan suatu bentuk pemodelan pembuatan keputusan yang sangat komprehensif. 3. ANALISA DAN PERANCANGAN 3.1 Analisa Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian -bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatankesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya. 3.2 Analisis Masalah Pengalaman yang muncul pada saat diadakannya penyeleksian penerimaan bantuan sosial pada grand palladium medan yang dilakukan pada periode sebelumnya memberikan pelajaran berguna untuk memperbaiki keadaan pelaksanaan penerimaan bantuan sosial selanjutnya dengan pelayanan lebih baik lagi. Kritik dan saran yang diterima manajemen sumber daya manusia dari proses penyeleksian penerimaan bantuan sosial dapat dijadikan bahan analisa masalah untuk dijadikan bahan referensi pemecahan masalah yang terjadi. Masalah yang timbul dapat dikategorikan kedalam masalah sarana penunjang dan kesalahan manusia (human error). Masalah sarana penunjang menjadi prioritas utama dalam perbaikan mutu proses seleksi penerimaan bantuan sosial diperiode selanjutnya. Masalah yang dihadapi adalah pada proses penyeleksian bahwa tim penyeleksi hanya berpatokan kepada hal tententu sebagai bahan acuan dalam penyeleksian penerimaan bantuan sosial. Faktor kesalahan manusia terjadi berhubungan dengan sarana penunjang yang disediakan. Kesalahan manusia terjadi karena beberapa faktor, antara lain : 1. Kurang telitinya tim penyeleksi dalam proses penyeleksian penerimaan bantuan sosial yang berdampak pada kurang tepatnya oknum karyawan yang menerima. 2. Beban kerja yang dihadapi oleh manajemen sumber daya manusia karena jumlah SDM (Sumber Daya Manusia) banyak yang harus diseleksi dan harus berkonsentrasi pada pekerjaan lain yang menjadi rutinitas sehari-hari. 3.3 Kriteria Penilaian 103

Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari Grand Palladium Medan. Variabel penelitian yang digunakan berjumlah 4 variabel in Kerja dan 1 variabel out Kerja. Variabel tersebut adalah sebagai berikut : C1 = Umum C2 = Skill C3 = Kondisi Ekonomi C4 = Kedisiplinan 3.4 Model Perancangan Di dalam merancang suatu perangkat lunak ini diperlukan tahapan-tahapan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan hal pertama yang harus diketahui adalah bagaimana langkah pembuatan Sistem Pendukung KePutusan (SPK) dengan menerapkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) menggunakan bahasa pemrograman Visual Studio 2008, sehingga dapat memudahkan pemakai sistem pendukung keputusan penyeleksian penerima bantuan sosial tersebut dalam menganalisa dan mengambil Keputusan yang cepat dan tepat dari hasil yang telah diolah. Pembangunan sistem pendukung keputusan penyeleksian Penerima bantuan sosial ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: 1. Perancangan Subsistem Manajemen Basis Model 2. Rancangan Proses 3. Perancangan Subsistem Antar muka Pengguna 4.4.1 Perancangan Subsistem Manajemen Basis Model Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode AHP sebagai berikut : 1. Mendefinisikan masalah dan menetukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Penyusunan hierarki adalah dengan menetapkan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada level terbatas. 2. Hitung Consistency Index (CI), dengan rumus : CI = (λ maks-n)/n Dimana n = banyaknya elemen 3. Hitung Rasio Konsistensi/ Consistency Ratio (CR) dengan rumus : CR = CI/IR dimana : CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index IR = Indeks Random Consistency 4. Memeriksa Konsistensi Hirarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Namun jika rasio konsistensi (CI/CR) kurang atau sama dengan 0,1, maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar. Daftar Index Random Consistention (IR) bisa dilihat dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1 Daftar Indeks Random Konsistensi Ukuran Matrik Nilai IR 1-2 0.00 3 0.58 4 0.90 5 1.12 6 1.24 7 1.32 8 1.41 9 1.45 10 1.49 11 1.51 12 1.48 13 1.56 14 1.57 15 1.59 4. ALGORITMA DAN IMPLEMENTASI Algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap dari awal hingga akhir. Masalah tersebut dapat berupa apa saja, dengan catatan untuk setiap masalah, ada kriteria kondisi awal yang harus dipenuhi sebelum menjalankan algoritma. Adapun algoritma metode Simple Additive Weigthingadalah: 4.1. AlgoritmaMetode AHP Berikut ini akan dijelaskan algoritma dalam pseudocode sistem pendukung keputusan untuk menentukan penerima bantuan sosial : Input : id identitas K1 Umum nilai bobot Kriteria Umum K2 Skill nilai bobot Kriteria Skill K3 Kondisi Ekonomi nilai bobot Kondisi Ekonomi K4 Kedisiplinan nilai bobot Kriteria Kedisiplinan Output : Perangkingan ( Nama Calon, Nilai Bobot) Proses : { Matriks Perbandingan Kriteria } For i=1 to 4 K1 ( Ki / Ki ), ( Ki / K2), ( Ki / K3), ( Ki / K4) K2 ( Ki / K1 ), ( Ki / Ki), ( Ki / K3), ( Ki / K4) 104

K3 ( Ki / K1 ), ( Ki / K2), ( Ki / Ki), ( Ki / K4) K4 ( Ki / K1 ), ( Ki / K2), ( Ki / K3), ( Ki / Ki) EndFor { Penentuan Bobot Keseluruhan } For i=1 to 4 Bobot Pemilih ( i ) Total Jumlah Kriteria / Jumlah Elemen Kriteria EndFor { Membuat Nilai Matriks konsistensi } Rasio Konsistensi indeks konsistensi / Nilai Ukuran Matriks { Tahap Perangkingan } Nama Calon Calon Penerima Bantuan Nilai Bobot Bobot Calon * bobot Prioritas 4.2. Implementasi Implementasi merupakan suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Dalam implementasi sistem pendukung keputusan kelayakan pemberian kredit pada nasabah ini mencakup spesifikasi kebutuhan hardware dan software serta tampilan output. a. Form Login Berikut ini merupakan tampilan dari perancangan form login yang harus diisi untuk masuk kedalam sistem. Perkalian matriks kriteria berpasangan. Gambar 3 Form Matriks kriteria berpasangan d. Form Input Data input data, yaitu untuk menginputkan data calon penerima bantuan yang akan dirangkingkan. Gambar 4 Form Menu Utama Admin Gambar 1 Form Login e. Form Matriks Perbandingan Berpasangan matriks kriteria berpasangan. b. Form Menu Utama Berikut ini merupakan tampilan dari perancangan form Menu utama Sistem. Gambar 5 Form Matriks Perbandingan Berpasangan Gambar 2 Form Menu Utama f. Form Matriks Kriteria Berikut ini merupakan tampilan dari perancangan form data kriteria untuk mendapatkan nilai subkriteria dari masing-masing kriteria. c. Form Input Matriks Berpasangan 105

Gambar 6 Form Matriks Kriteria g. Form Proses SPK Proses SPK, pada form ini terjadinya proses perangkingan dan akan diketahui siapa calon yang paling atas. diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan. Adapun saran saran tersebut adalah: 1. Mengingat untuk mempercepat dan mempermudah dalam memperoleh informasi keputusan dari proses seleksi, maka sebaiknya menggunakan aplikasi program komputer terutama dalam proses penentuan seorang peserta tersebut dapat diterima sebagai peserta atau tidak dan pembuatan laporan yang akurat dan cepat. 2. Adanya penggantian sistem yang lama ke sistem yang baru dan diperlukan waktu untuk penyesuaian dalam melaksanakan perubahan yang terjadi pada sistem yang lama. Pergantian sistem dilakukan secara bertahap. 3. Dengan pemakaian aplikasi Visual Basic 6.0 pada sistem pendukung keputusan untuk peserta penerima bantuan, sebaiknya di dukung oleh perangkat yang memadai. Hal ini diperlukan supaya sistem dapat bekerja dengan lancar tanpa terjadi hal-hal yang tidak di inginkan dalam menjalankan aplikasi tersebut. Daftar Pustaka Gambar 7. Form Proses SPK 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian bab bab terdahulu dan hasil penelitian penulis di lapangan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan : 1. Pengolahan data untuk seleksi penerima bantuan yang sedang berjalan belum memanfaatkan sistem komputer dan keputusan diambil secara manual hanya berdasarkan pertimbangan pengambil keputusan. 2. Metode yang digunakan pada sistem pendukung keputusan ini pada dasarnya adalah metode yang mengakumulasikan keputusan atas dasar pemenuhan berbagai kriteria tertentu. Kriteria penilaian dibuat kuantitatif untuk memudahkan perhitungan. 3. Sistem pendukung keputusan untuk seleksi peserta penerima bantuan ini diharapkan dapat mendukung proses seleksi yang lebih berkualitas, transparan, cepat serta tersedianya basis data sumber daya manusia bagi peserta penerima bantuan. 1. Kusrini, Strategi Perancangan Sistem Informasi, Penerbit Andi, Yogyakarta, Edisi 1, 2007 2. Hanif Al Fatta, Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi, Peneribit Stmik Amikom, Yogyakarta, Edisi 2, 2009 3. Kusrini, Sistem Pendukung Keputusan Dan Aplikasinya, Penerbit Andi, Yogyakarta, Edisi 2, 2007 4. Jogiyanto Hartono, Analisa Perencangan Sistem Informasi, Penerbit Andi, Yogyakarta, Edisi 2, 2006 5. Budi Susanto, Pemodelan Sistem Perangkat Lunak, Penerbit Andi, Yogyakarta, Edisi 1, 2004 6. Andi, Pintar Visual Studio 2008, Penerbit Andi Publisher, Yogyakarta, Edisi 1, 2008 7. Ir. Harianto Kristanto, Konsep & Perancangan Database, Penerbit Andi, Yogyakarta, Edisi 3, 1998 5.2 Saran Setelah dilakukan pengembangan terhadap sistem yang sedang berjalan menjadi sistem baru dan setelah melihat hasil dari penelitian yang dilakukan, maka penulis mengemukakan beberapa saran yang 106