BAB V ANALISIS SPASIAL



dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV INPUT DATA SPASIAL (PARAMETER LAHAN KRITIS)

Klik menu pulldown View GeoProcessing Wizard... kemudian setelah itu akan muncul kotak dialog GeoProcessing berikut dengan fungsi-fungsinya.

GeoProsessing merupakan fasilitas yang paling sering digunakan dalam mengolah data spasial. Melalui GeoProsessing kita dapat membuat data baru

PRAKTIKUM-4 GEOPROCESSING DI ARCVIEW

LAPORAN PRAKTIKUM SIG ACARA VII Buffer, Dissolve, Union, Intersect

GEOPROCESSING. Geoprocessing

Sistem Tampilan Data

Digitasi Peta. Practical Module Geographic Information System STMIK-STIKOM Balikpapan Firmansyah, S.Kom. Page 1

C. Prosedur Pelaksanaan

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL

SCREEN DIGITIZING. A. Digitasi Point (Titik)

Registrasi Image dengan ARC VIEW

Penyusunan PETA RISIKO

LAPORAN PRAKTIKUM SIG ACARA VIII SCORING

ANALISIS PERSEBARAN LAHAN KRITIS DI KOTA MANADO

Lampiran 1 Nilai koefisien muatan biomasa (fuel load) dan efisiensi pembakaran (burning effieciency) menurut Seiler and Crutzen (1980)

Masukkan CD Program ke CDROM Buka CD Program melalui My Computer Double click file installer EpiInfo343.exe

Sistem Informasi Geografi

3 MEMBUAT DATA SPASIAL

BAHAN AJAR ON THE JOB TRAINING

ARCVIEW GIS 3.3. Gambar 1. Tampilan awal Arcview 3.3

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sistem Informasi Geografis (SIG) Pengenalan Dasar ArcGIS 10.2 JURUSAN TEKNIK GEOMATIKA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

PENENTUAN LAHAN KRITIS DALAM UPAYA REHABILITASI KAWASAN HUTAN DI KABUPATEN ASAHAN

Input dan Mengolah Data Atribute

LAPORAN GEOGRAPHICAL INFORMATION SYSTEM (GIS) PEMBUATAN PETA ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN KABUPATEN AGAM METODE DIGITAL (PROGRAM ARC VIEW 3.

BAB 4 DIGITASI. Akan muncul jendela Create New Shapefile

M O D U L PENYUSUNAN PETA STATUS KERUSAKAN TANAH

Menggambar dengan ArcView. Oleh : Tantri Hidayati S, M.Kom

5 BEKERJA DENGAN FEATURES

Instruksi Kerja Laboratorium Pedologi dan Sistem Informasi Sumberdaya Lahan INSTRUKSI KERJA. PROGRAM ArcGIS 9.3

Pengenalan Hardware dan Software GIS. Spesifikasi Hardware ArcGIS

LAPORAN PRAKTIKUM SIG ACARA III DIGITASI GARIS ATAU LINE

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB XI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

MODUL PENGENALAN ArcView Untuk Dasar Analisis Sistem Informasi Geografi (SIG)

BAB 1 PEMBUATAN REPORT

9.6. Intersect Proses ini digunakan untuk menggabungkan dua buah data spasial. Perintah ini ada di toolbox Analysis Tools Overlay Intersect

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Perangkat keras yang digunakan untuk perancangan aplikasi Arc View adalah :

PERTEMUAN 12 PEMBUATAN PETA TEMATIK QUERY DATA. Oleh: Andri Oktriansyah

III. BAHAN DAN METODE

LAMPIRAN PROSEDUR ANALISA DENGAN ARCGIS

Gambar 4.47 Informasi Peta DampakMei Gambar 4.48 Informasi Peta Dampak Mei 2008 sampai Juni Gambar 4.49 Peta wilayah dampak

IX. DIGITASI ON SCREEN (Bagian I)

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

2.1.1 Macam-macam Data pada GIS

Bab VIII Geoprocessing

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TAMAN MINI INDONESIA INDAH DENGAN MENGGUNAKAN ARCVIEW

TUTORIAL ARCVIEW BAB 1. Amir Rachman Syarifudin

Modul Pelatihan Sistem Informasi Geografis Tingkat Lanjut I

Bab VI. Analisis Spatial dengan ArcGIS

BAB II METODE PENELITIAN

MENGOPERASIKAN PERANGKAT LUNAK BASIS DATA MICROSOFT ACCESS

Bab VIII Geoprocessing

Bab VIII Geoprocessing

LATIHAN 3 : QUERY DATABASE

Modul Pelatihan Penataan Ruang Berbasis DAS (Aplikasi GIS untuk analisis DAS) Oleh Adipandang Yudono SSi, MURP Universitas Brawijaya

Dengan demikian, SIG merupakan sistem komputer yang memiliki enam kemampuan berikut dalam mengangani data yang bereferensi geografis :

MODUL 2 REGISTER DAN DIGITASI PETA

BAB IV BASIS DATA SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH PENELITIAN

adalah jenis-jenis tombol-tombol (buttons) yang dipakai di dalam system ini : Gambar 4.63 : Tombol ruler

Modul ArcView. ArcView merupakan salah satu perangkat lunak Sistem Informasi

METODE PENELITIAN. deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu

INSTRUKSI KERJA. PROGRAM ArcView 3.2

METODOLOGI. dilakukan di DAS Asahan Kabupaen Asahan, propinsi Sumatera Utara. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI. Data spasial direpresentasikan di dalam basis data sebagai vektor atau raster.

MEMBUAT PETA KETINGGIAN WILAYAH DENGAN ARC GIS

SIFAT DAN FORMAT DATA TITIK GEOARKINDO 2016

Microsoft Access 2010

Microsoft Power Point

Latihan 2 : Displaying data

DATA DALAM SIG PERTEMUAN 6 SISWANTO DKK

Bab VI Digitasi. Tujuan pembelajaran dari bab ini adalah:

LAPORAN PRAKTIKUM SIG ACARA IV DIGITASI POLYGON

PRAKTIKUM-2 PENGENALAN ARCVIEW

Program Studi Agro teknologi, Fakultas Pertanian UMK Kampus UMK Gondang manis, Bae, Kudus 3,4

BAB VI. Ringkasan Modul. Mengedit Data Vektor Membuat Setting Snap Menambah Feature Linier Menambahkan Feature Titik Menggunakan Koordinat Absolut

Tujuan. Model Data pada SIG. Arna fariza. Mengerti sumber data dan model data spasial Mengerti perbedaan data Raster dan Vektor 4/7/2016

Cara Membuat Mail Merge di Word 2010

3. DIGITASI ON SCREEN. 1. Pastikan data raster yang akan didigitasi telah melalui proses Geo Referencing

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

Bab I Pengenalan ArcGIS Desktop

Pengantar Sistem Informasi Geografis O L E H : N UNUNG P U J I N U G R O HO

MODUL - 2 Tutorial ArcView GIS 3.3

Dekstop Mapping (Bagian 1)

Integrasi dan Perancangan Antarmuka B. Kebutuhan Fungsional Perangkat Sistem Lunak Pengembangan Aplikasi Pengujian Sistem HASIL DAN PEMBAHASAN

New Perspectives on Microsoft Office Access 2010

Bab IV. Pengenalan ArcGIS

Dekstop Mapping (Bagian 2)

PEMETAAN WILAYAH RAWAN BANJIR DI KOTA MANADO DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

BAB 6 MEMBUAT DAN MEMODIFIKASI LAPORAN (REPORT)

3. Pilih A new existing map, klik ceckbox Do not show this dialog again dan akhiri dengan klik Button OK. Maka layar ArcMap akan terbuka.

Pengenalan Peta & Data Spasial Bagi Perencana Wilayah dan Kota. Adipandang Yudono 13

MEMBUAT PETA POTENSI LONGSOR DAN RAWAN BANJIR BANDANG MENGGUNAKAN ArcGIS 10.0

LAMPIRAN Menggabungkan Citra dari Wikimapia dengan metode Panavue; Metode Panavue. 2. Kemudian pilih File, lalu New Project

BAB I DATABASE ACCESS. Pada tahap awal kita akan membuat sebuah database yang terdiri dari 3 tabel yaitu

Membuat Relasi pada Access 2007

Transkripsi:

BAB V ANALISIS SPASIAL Setelah data spasial parameter penentu lahan kritis disusun dengan cara ataupun prosedur seperti telah dijelaskan dalam bagian I, data tersebut selanjutnya dianalisis untuk memperoleh informasi mengenai lahan kritis. Analisis spasial dilakukan dengan menumpangsusunkan (overlay) beberapa data spasial (parameter penentu lahan kritis) untuk menghasilkan unit pemetaan baru yang akan digunakan sebagai unit analisis. Pada setiap unit analisis tersebut dilakukan analisis terhadap data atributnya yang tak lain adalah data tabular, sehingga analisisnya disebut juga analisis tabular. Hasil analisis tabular selanjutnya dikaitkan dengan data spasialnya untuk menghasilkan data spasial lahan kritis. Untuk analisa spasial, sistem proyeksi dan koordinat yang digunakan adalah Universal Transverse Mercator (UTM). Sistem koordinat dari UTM adalah meter sehingga memungkinan analisa yang membutuhkan informasi dimensi-dimensi linier seperti jarak dan luas. Sistem proyeksi tersebut lazim digunakan dalam pemetaan Topografi sehingga sesuai juga digunakan dalam pemetaan tematik seperti halnya pemetaan Lahan Kritis. Metode yang digunakan dalam analisis tabular adalah metode skoring. Setiap parameter penentu kekritisan lahan diberi skor tertentu seperti telah dijelaskan pada bagian I dari petunjuk teknis ini. Pada unit analisis hasil tumpangsusun data spasial, skor tersebut kemudian dijumlahkan. Hasil penjumlahan skor selanjutnya diklasifikasikan untuk menentukan tingkat kekritisan lahan. Klasifikasi tingkat kekritisan lahan berdasarkan jumlah skor parameter kekritisan lahan seperti ditunjukkan pada Tabel 5.1. 51

Tabel 5.1. Klasifikasi Tingkat Kekritisan Lahan Berdasarkan Total Skor Total Skor Pada: Kawasan Kawasan Tingkat Kekritisan Kawasan Hutan Budidaya Lindung di Luar Lahan Lindung Pertanian Kawasan Hutan 120-180 115-200 110-200 Sangat Kritis 181-270 201-275 201-275 Kritis 271-360 276-350 276-350 Agak Kritis 361-450 351-425 351-425 Potensial Kritis 451-500 426-500 426-500 Tidak Kritis Secara teknis, proses analisis spasial untuk penentuan lahan kritis dengan bantuan perangkat lunak SIG ArcView dapat dilakukan dengan bantuan ekstensi Geoprocessing. Tahapan atau langkah-langkah dalam analisis spasial akan diuraikan berikut ini dengan menggunakan contoh. Data spasial yang digunakan dalam contoh ini adalah data spasial dalam format ArcView Shapefile (*.shp), dengan nama file sebagai berikut: Vegetasi.shp (data spasial kondisi penutupan lahan) Lereng.shp (data spasial kelerengan) Erosi.shp (data spasial tingkat erosi) Manajemen.shp (data spasial kondisi pengelolaan) Batas wilayah pemetaan dari data spasial pada contoh yang digunakan adalah DAS / Sub DAS Lancar. Sungai Lancar adalah sungai yang bermuara di Waduk Wadaslintang. Meskipun sungai dan sistem sungai yang digunakan dalam contoh ini adalah riil namun data dan informasi untuk setiap kriteria/ parameter telah disesuaikan dengan maksud hanya sebagai contoh untuk mempermudah dalam menjelaskan tahapan teknis penyusunan data spasial lahan kritis. Secara garis besar tahapan dalam analisis spasial untuk penyusunan data spasial lahan kritis terdiri dari 4 tahap yaitu : 52

(A). Tumpang susun data spasial (B). Editing data atribut (C). Analisis tabular, dan (D). Presentasi grafis (spasial) hasil analisis. Uraian secara rinci ketiga tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 5.1. Tumpangsusun (Overlay) Data Spasial 1. Mengaktifkan ekstensi GeoProcessing Pada menu utama perangkat lunak ArcView pilih File kemudian pilih Extension. Klik pada GeoProcessing Gambar 5.1. Memilih Ekstensi GeoProcessing 53

2. Menampilkan data spasial (theme) yang akan diproses Gambar 5.2. Data Spasial Tutupan lahan dan Data Atributnya 3. Overlay tahap 1 (Vegetasi.shp dengan Lereng.shp) Dari menu utama view window, pilih View kemudian pilih GeoProcessing Wizard... Kemudian, pada kotak dialog GeoProcessing klik di depan pilihan Intersect two theme untuk memilih teknik overlay intersek Gambar 5.3. Kotak Dialog untuk Memilih Teknik Overlay Pilih Vegetasi.shp sebagai input theme dan Lereng.shp overlay theme. 54

Gambar 5.4. Kotak Dialog untuk Memilih Data Spasial (theme) Yang Akan Dioverlaykan Klik tombol untuk menyimpan dan memberi nama data hasil proses overlay. Beri nama Veg_Ler.shp kemudian klik OK Gambar 5.5. Kotak Dialog untuk Menyimpan Data Hasil Overlay Kembali pada kotak dialog GeoProcessing, klik tombol Finish Proses overlay dijalankan dan hasilnya ditampilkan pada View seperti tampak pada Gambar 5.6 55

Gambar 5.6. Hasil Overlay Tahap 1: Vegetasi.shp dengan Lereng.shp 4. Overlay tahap 2 (Veg_Ler.shp dengan Erosi.shp) Ulangi langkah A3 untuk mengoverlaykan Veg_Ler.shp (hasil overlay tahap 1) dengan Erosi.shp. Pilih Veg_Ler.shp sebagai input theme dan Erosi.shp sebagai overlay theme Gambar 5.7. Kotak Dialog untuk Memilih Data Spasial (theme) Yang Akan Dioverlaykan 56

Klik tombol untuk menyimpan dan memberi nama data hasil proses overlay tahap2. Beri nama Veg_Ler_Ers.shp kemudian klik OK Gambar 5.8. Hasil Overlay Tahap 2: Veg_Ler.shp dengan erosi.shp 5. Overlay tahap 3 (Veg_Ler_Ers.shp dengan Manajemen.shp) Ulangi langkah A4 untuk mengoverlaykan Veg_Ler_Ers.shp (hasil overlay tahap 2) dengan Manajemen.shp. Veg_Ler_Ers.shp sebagai input theme dan Manajamen.shp sebagai overlay theme. Hasil overlay diberi nama Veg_Ler_Ers_Mnj.shp 57

Gambar 5.9. Hasil Overlay Tahap 3: Veg_Ler_Ers.shp dengan Manajemen.shp 5.2. Editing data atribut Editing data atribut pada intinya adalah menambah kolom (field) baru pada atribut theme hasil overlay, menjumlahkan seluruh skor kriteria lahan kritis dan mengisikannya pada kolom baru yang telah dibuat. Field baru yang akan dibuat diberi nama Skor_Tot dan Klas_Kritis. Field Skor_Tot adalah field yang akan diisi dengan jumlah seluruh skor kriteria lahan kritis pada suatu unit analisis (poligon hasil overlay), sedangkan Klas_Kritis adalah field yang akan diisi dengan klasifikasi lahan kritis hasil analisis tabular 1. Membuka atribut data spasial hasil overlay akhir. Klik pada theme hasil overlay tahap3 (Veg_Ler_Ers_Mnj.shp) untuk mengkatifkannya 58

Gambar 5.10. Theme Veg_Ler_Ers_man.shp sebagai theme Aktiv Klik tombol untuk membuka data atribut theme tersebut Gambar 5.11. Atribut dari Theme Veg_Ler_Ers_man.shp 2. Memulai proses editing Dari menu pilih Table kemudian pilih Start Editing 3. Menambah field baru pada atribut theme Veg_Ler_Ers_Mnj.shp Dari menu pilih Edit kemudian pilih Add Field Pada dialog Field Definition isikan nama field dan karakteristiknya seperti terlihat pada Gambar 5.12 berikut Gambar 5.12. Kotak Dialog untuk Menambah Field Skor_Tot dan Klas_Kritis 59

Hasil penambahan field baru pada atribut theme Veg_Ler_Ers_Mnj.shp ditunjukkan pada Gambar 5.13 berikut ini: Gambar 5.13. Field Skor_Tot dan Klas_Kritis pada Atribut Theme 4. Menjumlah skor seluruh kriteria Pada atribut theme Veg_Ler_Ers_Mnj.shp (Gambar 5.13), aktifkan field Skor_Tot. Klik pada field header Skor_Tot sehingga berwarna abu-abu gelap Gambar 5.14. Mengaktivkan Field Skor_Tot Klik tombol (field calculator) Isikan formula penjumlahan pada kotak dialog Field Calculator seperti ditunjukkan pada Gambar 5.15 berikut ini, kemudian klik tombol OK. 60

Gambar 5.15. Kotak Dialog Field Calculator Field Skor_Tot akan terisi dengan nilai yang merupakan hasil penjumlahan dari skor parameter kekritisan lahan yaitu : Skor_veg (liputan lahan), Skor_ler (kelerengan), Skor_erosi (tingkat erosi) dan Skor_Mnj (kondisi pengelolaan), seperti ditunjukkan pada Gambar 5.16 berikut ini Gambar 5.16. Hasil Perhitungan Skor Parameter Kekritisan Lahan 5.3. Analisis Tabular Hasil editing data atribut khususnya hasil penjumlahan skor parameter kekritisan lahan, selanjutnya di analisis untuk mengklasifikasikan tingkat kekritisan lahan pada setiap unit analisis (poligon hasil overlay beberapa parameter kekritisan lahan). Klasifikasi 61

kekritisan lahan berdasarkan total skor dilakukan mengacu pada Tabel 5.1. Analisis tabular ini pada prinsipnya adalah analisis terhadap atribut dari theme hasil overlay tahap akhir (atribut dari theme Veg_Ler_Ers_Mnj.shp). 1. Menentukan lahan yang yang termasuk kategori Sangat Kritis Klik tombol (query buiderl) Isikan query di tempat yang tersedia pada kotak dialog berikut untuk memilih unit analisis (poligon) yang memiliki skor total kurang dari 180 Formula query yang digunakan adalah ([Skor_Tot] <=180), kemudian klik tombol New Set Gambar 5.17. Formula Query Builder untuk Memilih Skor Total <= 180 Dari hasil query ternyata tidak ada poligon yang memiliki skor total kurang dari atau sama dengan 180, berarti pada contoh ini tidak ada lahan yang termasuk kateori sangat kritis. 2. Menentukan lahan yang yang termasuk kategori Kritis Klik tombol (query buiderl) Isikan query di tempat yang tersedia pada kotak dialog berikut untuk memilih unit analisis (poligon) yang memiliki skor total antara 181 dan 270 62

Formula query yang digunakan adalah ([Skor_Tot] <=270) and ([Skor_Tot] >=181, kemudian klik tombol New Set Gambar 5.18. Formula Query Builder untuk Memilih Skor Total antara 181-270 Atribut dari poligon yang memenuhi formula query di atas akan diberi tanda dengan warna kunign seperti ditunjukkan pada gambar berikut Gambar 5.19. Poligon yang Memiliki Skor Total antara 181-270 Aktivkan field Klas_Kritis, kemudian klik tombol (field calculator), kemudian di tempat yang tersedia pada kotak dialog Field Calculator ketikkan Kritis 63

Langkah ini berarti mengklasifikasikan poligon yang mempunyai skor total antara 181 270 termasuk dalam kategori lahan yang Kritis, dan sekaligus memasukkan informasi tersebut pada field Klas_Kritis Gambar 5.20. Mengklasifikasikan Poligon Terpilih Sebagai Lahan Kritis 3. Menentukan lahan yang yang termasuk kategori Agak Kritis Klik tombol (query buiderl) Isikan query di tempat yang tersedia pada kotak dialog berikut untuk memilih unit analisis (poligon) yang memiliki skor total antara 271dan 360 Formula query yang digunakan adalah ([Skor_Tot] <=360) and ([Skor_Tot] >= 271, kemudian klik tombol New Set Gambar 5.21. Formula Query Builder untuk Memilih Skor Total antara 271-360 64

Atribut dari poligon yang memenuhi formula query di atas akan diberi tanda dengan warna kuning seperti ditunjukkan pada Gambar 5.22. berikut ini. Gambar 5.22. Poligon yang Memiliki Skor Total antara 271-360 Aktivkan field Klas_Kritis, kemudian klik tombol (field calculator), kemudian di tempat yang tersedia pada kotak dialog Field Calculator ketikkan Agak Kritis Gambar 5.23. Mengklasifikasikan Poligon Terpilih Sebagai Lahan Agak Kritis Langkah ini berarti mengklasifikasikan poligon yang mempunyai skor total antara 271 360 termasuk dalam kategori lahan yang Agak Kritis, dan sekaligus memasukkan informasi tersebut pada field Klas_Kritis 65

4. Menentukan lahan yang yang termasuk kategori potensial Kritis Klik tombol (query builder) Isikan query di tempat yang tersedia pada kotak dialog berikut untuk memilih unit analisis (poligon) yang memiliki skor total antara 361dan 450 Formula query yang digunakan adalah ([Skor_Tot] <=450) and ([Skor_Tot] >= 361, kemudian klik tombol New Set Gambar 5.24. Formula Query Builder untuk Memilih Skor Total antara 361-450 Atribut dari poligon yang memenuhi formula query di atas akan diberi tanda dengan warna kuning seperti ditunjukkan pada Gambar 5.25. 66

Gambar 5.25. Poligon yang Memiliki Skor Total antara 361-450 Aktivkan field Klas_Kritis, kemudian klik tombol (field calculator), kemudian di tempat yang tersedia pada kotak dialog Field Calculator ketikkan Potensial Kritis Gambar 5.26. Mengklasifikasikan Poligon Terpilih Sebagai Lahan Potensial Kritis Langkah ini berarti mengklasifikasikan poligon yang mempunyai skor total antara 361 450 termasuk dalam kategori lahan yang Potensial Kritis, dan sekaligus memasukkan informasi tersebut pada field Klas_Kritis 67

5. Menentukan lahan yang yang termasuk kategori Tidak Kritis Klik tombol (query builder) Isikan query di tempat yang tersedia pada kotak dialog berikut untuk memilih unit analisis (poligon) yang memiliki skor total antara 451dan 500 Formula query yang digunakan adalah ([Skor_Tot] <=500) and ([Skor_Tot] >= 451, kemudian klik tombol New Set Gambar 5.27. Formula Query Builder untuk Memilih Skor Total antara 451-500 Atribut dari poligon yang memenuhi formula query di atas akan diberi tanda dengan warna kuning seperti ditunjukkan pada Gambar 5.28 Gambar 2.28. Poligon yang Memiliki Skor Total antara 451-500 68

Aktivkan field Klas_Kritis, kemudian klik tombol (field calculator), kemudian di tempat yang tersedia pada kotak dialog Field Calculator ketikkan Tidak Kritis Gambar 5.29. Mengklasifikasikan Poligon Terpilih Sebagai Lahan Tidak Kritis Langkah ini berarti mengklasifikasikan poligon yang mempunyai skor total antara 451 500 termasuk dalam kategori lahan yang Potensial Kritis, dan sekaligus memasukkan informasi tersebut pada field Klas_Kritis 5.4. Presentasi Grafis (Spasial) Hasil Analisis. Berdasarkan hasil analisis tabular, theme hasil overlay tahap akhir (Veg_Ler_Ers_Mnj.shp) dapat ditampilkan dan diklasifikasikan berdasarkan field Klas_Kritis yang terdapat pada data atributnya, sehingga poligon-poligon dengan kelas kekritisan lahan yang sama akan ditampilkan dengan warna yang sama (Gambar 5.30). 69

Gambar 5.30. Theme Hasil Overlay Ditampilkan Berdasarkan Field Klas_Kritis Apabila diperhatikan tampilan theme yang ditunjukkan pada Gambar 5.30 di atas, poligon unit analisis yang merupakan hasil penggabungan beberapat unit pemetaan masih terlihat batas-batasnya meskipun menunjukkan informasi kekritisan lahan yang sama. Berkaitan dengan penyajian grafis suatu data spasial yang tetap memperhatikan kejelasan informasi serta unsur estetika, maka penyajian grafis hasil analisis seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas tidaklah memenuhi kedua unsur yang dimaksud. Untuk mengurangi ataupun menghilangkan tampilan grafis yang ruwet tanpa mengurangi kejelasan informasinya maka poligon-poligon dengan kelas kekritisan lahan yang sama perlu digabungkan dengan menggunakan teknik dissolve. Berikut akan diuraikan langkah-langkah untuk menggabungkan beberapa poligon dengan kategori yang sama menjadi satu poligon. 70

1. Dari menu utama view window, pilih View kemudian pilih GeoProcessing Wizard... Kemudian, pada kotak dialog GeoProcessing klik di depan pilihan Dissolve features based on an attribute untuk menggabungkan beberapa poligon berdasarkan kesamaan pada salah satu unsur dalam data atributnya. Klik tombol Next Gambar 5.31. Kotak Dialog untuk Menggabungkan Kenampakan Berdasarkan Kesamaan Atributnya 2. Pilih Veg_Ler_Ers_Mnj.shp sebagai theme yang akan di dissolve dan Klas_Kritis sebagai atribut yang digunakan untuk dasar penggabungan. Klik tombol untuk memberi nama dan menyimpan theme hasil proses dissolve. Simpan file hasil dissolve dengan nama Kritis.shp. Kemudian klik tombol Next Gambar 5.31. Kotak Dialog untuk Menggabungkan Kenampakan Berdasarkan Kesamaan Atributnya 71

Poligon-poligon yang mempunyai kelas kekritisan lahan yang sama akan digabungkan. Hasil proses dissolve disimpan sebagai theme dengan nama Kritis.shp dengan tampilan seperti pada Gambar 5.32. Gambar 5.32. Tampilan Theme Kritis.shp Hasil Proses Dissolve 72