Kontribusi Tafsir Oleh: Muslimin KONTRIBUSI TAFSIR MAUDHU I DALAM MEMAHAMI AL-QURAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. bahkan kata hikmah ini menjadi sebuah judul salah satu tabloid terbitan ibukota

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR:

mengorbankan nyawa seminimal mungkin.2

BAB I PENDAHULUAN. Al-Qur an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah

BAB I PENDAHULUAN. dalam al-qur an dan al-sunah ke dalam diri manusia. Proses tersebut tidak

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan / (Library Research) mencatat serta mengolah bahan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Allah Swt. menciptakan makhluk-nya tidak hanya wujudnya saja, tetapi

STUDI KOMPARASI KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR AN SISWA KELAS VIII ANTARA YANG BERASAL DARI MI DAN YANG BERASAL DARI SD DI MTs YAKTI TEGALREJO MAGELANG

BAB IV ANALISIS KETENTUAN KHI PASAL 153 AYAT (5) TENTANG IDDAH BAGI PEREMPUAN YANG BERHENTI HAID KETIKA MENJALANI MASA IDDAH KARENA MENYUSUI

BAB I PENDAHULUAN. dapat menghadapi segala tantangan yang akan timbul, lebih-lebih dalam

BAB III METODE PENELITIAN. Istilah profil dalam penelitian ini mengacu pada Longman Dictionary of

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG


BAB I PENDAHULUAN. samawi lain yang datang sebelumnya. Allah Swt. mewahyukan al-quran kepada

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Membahas Kitab Tafsir

BAB I PENDAHULUAN. dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar dapat. mengerti dan untuk dapat memecahkan suatu masalah.

BAB IV ANALISIS TERHADAP TAFSIR TAFSIR FIDZILAL ALQURAN DAN TAFSIR AL-AZHAR TENTANG SAUDARA SEPERSUSUAN

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan keterampilan yang berguna dalam menjalani hidup.

KALAM INSYA THALABI DALAM AL-QUR AN SURAT YUNUS (STUDI ANALISIS BALAGHAH) ARTIKEL. Oleh: DAHLIANI RETNO INDAH PURWANTI NIM: I1A213002

BAB III METODOLOGI TAFSIR

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan segala potensi dan bakat yang terpendam dapat ditumbuhkembangkan,

Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril (ruh al-amin). Al-Qur an. menata kehidupan di dunia dan di akhirat. Dalam memperkenalkan dirinyaal-

BAB IV T}ANT}A>WI> JAWHARI> hitung dan dikenal sebagai seorang sufi. Ia pengikut madzhab ahl sunnah wa aljama ah

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 1. dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa

BAB I PENDAHULUAN. diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan diri murid secara optimal. Pendidikan adalah proses merubah. pengajaran dan pelatihan (Suryani, 2012: 8).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN. 1. Syaikh Abu Bakar Jabir al-jazairi merupakan salah satu ulama yang

BAB I PENDAHULUAN. sehingga dapat dirasakan rahmat dan berkah dari kehadiran al-qur an itu. 1

BAB I PENDAHULUAN. diyakini oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu

AL QUR AN SEBAGAI PEDOMAN BAGI MANUSIA

BAB III PENAFSIRAN AYAT 33 SURAT MARYAM

BAB 1 PENDAHULUAN. dipahami, dimengerti, dan merasakan segala sesuatu yang ia alami. 1

BAB I PENDAHULUAN. ciptaannya yakni manusia. Manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik bentuk

BAB IV KUALITAS MUFASIR DAN PENAFSIRAN TABARRUJ. DALAM SURAT al-ahzab AYAT 33

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan primer manusia sebagai makhluk sosial bahkan pada situasi tertentu,

Islam adalah satu-satunya agama yang haq dan diridhoi Alloh SWT yang. disampaikan melalui nabi Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia agar

BAB I PENDAHULUAN. politik, sosial, dan lain sebagainya. Permasalahan-permasalahanan tersebut kerap

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Video kajian materi ini dapat dilihat di

TAFSIR SURAT AL-ZALZALAH (Studi Perbandingan Antara Tafsir Thanthowi dengan Tafsir Thabathaba i)

Adalah Sebagian Dari IMAN حفظو هللا Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-sidawi

BAB I PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah konsep

TETANGGA Makna dan Batasannya حفظه هللا Syaikh 'Ali Hasan 'Ali 'Abdul Hamid al-halabi al-atsari

ETOS KERJA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF AL QUR AN SURAT AT- TAUBAH AYAT 105

Akal Yang Menerima Al-Qur an, dan Akal adalah Hakim Yang Adil

BAB I PENDAHULUAN. sebagai upaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. 1

BAB I PENDAHULUAN. mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Pendidikan adalah usaha sadar

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengamalkan dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. 1

BAB I PENDAHULUAN. Kontemporer), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, hal. 7.

PENDIDIKAN AQIDAH TERHADAP ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR AN SURAT AL-BAQARAH 133

PENDAPAT IMAM ASY-SYÂFI'I TENTANG PEMBERLAKUAN HUKUM RAJAM BAGI PEZINA KAFIR DZIMMY

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan dan keserasian antara aspek-aspek material dan spiritual. Untuk

Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati

BAB IV ANALISIS. Muqsam bih pada huruf wawu yang pertama pada surah al-ti>n ayat 1-3:

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah agama yang dipeluk mayoritas masyarakat Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. agama. Sistem ekonomi Islam merupakan suatu sistem ekonomi yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Membaca adalah pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dialakukan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:

BAB I LATAR BELAKANG PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. guna meraih bekal-bekal keilmuan untuk keberlangsungan hidupnya. Islam

Sunnah menurut bahasa berarti: Sunnah menurut istilah: Ahli Hadis: Ahli Fiqh:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Definisi Operasional. membudayakan manusia. Melalui pendidikan segala potensi sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. haliniberdasarkanpendapat yang telahdikemukakanolehsahabat Umar bin Khattab. Dan padakesempatanlainseorangpenyairpernahberkata:

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP KLAIM ASURANSI DALAM AKAD WAKALAH BIL UJRAH

BAB V PENUTUP. 1. Metode yang dipergunakan dan yang dipilih dari penafsiran al-ṭabari dan al-

BAB I PENDAHULUAN. menghayati kandungan isinya. Buta aksara membaca al-qur an ini

SUMPAH PALSU Sebab Masuk Neraka

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 285

BAB I PENDAHULUAN. Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa al-quran karena

Hadits Palsu Tentang Keutamaan Mencium Kening Ibu

TAFSIR SURAT AL- ASHR

BAB I PENDAHULUAN. pada masa Rasululah, hingga masa sekarang. memahami dan dapat mengamalkan isi dari Al Quran. Sebagaimana yang

POLA HUBUNGAN GURU-MURID DALAM SURAT AL-KAHFI AYAT 65 SAMPAI 70 DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. mutawtir, yang ditulis di mushaf, dan membacanya adalah ibadah. 2

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh pendidikan formal informal dan non-formal. Penerapan

Tips dalam Memahami Ilmu

Oleh: Shahmuzir bin Nordzahir

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB I PENDAHULUAN. (al-qattan, 1973: 11). Di dalam al-qur an Allah menjelaskan beberapa ketentuan

UNTUK KALANGAN SENDIRI

BAB I PENDAHULUAN. dalam bahasa Indonesia disebut dengan z}alim. Akan tetapi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Matematika juga berkembang di bidang ilmu yang lain, seperti Kimia, Fisika, saat ini dengan penerapan konsep matematika tersebut.

KONSEP MENUTUP AURAT DALAM AL-QUR AN SURAT AL-NŪR AYAT DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Qasim bin Muhammad. Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Publication: 1435 H_2014 M. Oleh: Ustadz Abu Minhal, Lc

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI SAWAH BERJANGKA WAKTU DI DESA SUKOMALO KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan agama Islam bertugas mempertahankan, menanamkan, dan

Post

Tafsir janggal adalah tafsir yang tidak sejalan dengan tafsir pada umumnya. 3 Kedua tafsir ini tidak diterima oleh umumnya ulama, hanya orang-orang

SULIT 1223/2 BAHAGIAN PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN PENDIDIKAN MALAYSIA PENDIDIKAN ISLAM SET 2 KERTAS 2 SATU JAM EMPAT PULUH MINIT

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi.

BAB I PENDAHULUAN. mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. penutup para Nabi dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan

PENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DALAM AL-QUR AN SURAT AL-MUZZAMMIL AYAT 1-8 (Kajian Tafsir Tahlili)

BAB I PENDAHULUAN. Al-Baqarah, Ayat 151, Al-Qur an Terjemah Kudus, Menara Kudus, 2006, Hal 23

BAB III METODE PENELITIAN. perspektif Al-Qur an ini termasuk penelitian kepustakaan (library research).

BAB I PENDAHULUAN. Al-Qur an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi

BAB I PENDAHULUAN. namun mendidik anak sejak dalam kandungan sampai lahir hingga anak tersebut

Transkripsi:

KONTRIBUSI TAFSIR MAUDHU I DALAM MEMAHAMI AL-QURAN Oleh: Muslimin musliminmpdi3@gmail.com Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri Abstrak Secara singkat tafsir maudhu i atau tafsir tematik dapat diformulasikan sebagai suatu tafsir yang berusaha mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang timbul seputar al- Quran tentang kejadian-kejadian baru dengan jalan menghimpunkan ayat-ayat yang berkaitan dengannya. Kemudian dianalisis melalui ilmu-ilmu bantu yang relevan dengan masalah-masalah yang dibahas, sehingga dapat melahirkan konsep-konsep baru yang akurat dari al-quran tentang masalah yang dibahas. Metode yang relatif baru dan dianggap aktual dalam penafsiran al-quran berangkat dari satu kesatuan yang logis dan saling berkaitan antara satu sama lainnya. Jadi tidak ada satupun kontradiksi ayatayat al-quran, hal ini semakin jelas sebagaimana yang ditegaskan pula di dalam al-quran itu sendiri. Asumsi dasar ini berkaitan dengan prinsip yang sangat masyhur di kalangan mufassir, yaitu bahwa sebagian ayat al-quran dapat ditafsirkan dengan ayat yang lain. Sedangkan analisis tentang kelebihan dan kekurangan tafsir maudhu i adalah sebagai berikut: kelebihan tafsir maudhu i adalah dapat menjawab tantangan zaman, lebih praktis, sistematis, dinamis dan mudah dipahami secara utuh. Sedangkan kelemahan dari tafsir maudhu i biasanya adalah memenggal ayat al-quran dari rangkaiannya dan membatasi pemahamannya disesuaikan dengan pokok bahasannya. Kata Kunci: Kontribusi, Tafsir Maudhu i, Memahami al- Quran. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019 75

Pendahuluan Al-Qur an adalah pedoman untuk umat manusia, petunjuk dan syari at Allah untuk ahli bumi. Al-Qur an adalah Kalamullah, petunjuk langsung dari Allah dan syari at agama yang lengkap. Ia berisi ajaran-ajaran yang dibutuhkan oleh semua manusia baik urusan agama, dunia dan urusan akhiratnya. 1 Al-Qur an sebagai sebuah petunjuk tentunya harus dibaca, dipahami dan diamalkan. Dalam rangka untuk dapat memahami al-qur an tentunya diperlukan suatu cara atau kajian tafsir yang sesuai, sehingga kita dapat memahami makna-makna dari ayat-ayat al-qur an yang jelas dan gamblang dilalahnya sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Al-Qur an diturunkan untuk menjelaskan ketentuanketentuan dan syari at yang universal sesuai dengan konteks peristiwa dan kejadian dua puluh tahun lebih. Tetapi ajaran atau syari at tersebut ada sebagian yang belum dapat dilaksanakan sebelum arti, maksud dan inti persoalannya betul-betul dimengerti dan dipahami oleh umat manusia. Oleh karenanya, maka para sahabat Nabi dan tabi in beserta para ulama salaf terus mempelajari al-qur an. Mereka menerangkan semua maksud ayat yang bersifat global, kemudian menjelaskan artinya yang samar-samar dan menafsirkan ayat tersebut yang dirasa sangat sulit dipahami, sehingga tidak ada lagi keraguan dan kesulitan bagi para sahabat, tabi in dan para ulama salaf. 2 Dalam perkembangannya, kita mengenal beberapa metode tafsir antara lain tafsir tahlily, tafsir ijmaly, tafsir muqarran dan 1 Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuny, Ath-Thibyan fi Ulum Al- Qur an, terj. Muhammad Qodiron Nur, Ihtisar Ulumul Qur an Praktis (Jakarta: Pustaka Amani, 1988), h.87 2 Abd. Al-Hayyi al-farmawi, Al-Bidayah fi al-tafsir al-maudhu iy, terj. Suryan A. Jamrah, Metode Tafsir al-mawdhu iy (Jakarta PT. RajaGrafindo Persada, 1994), h.2 76 Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019

tafsir maudhu i. Tentang metode tafsir maudhu i akan kita bahas lebih lanjut. Pembahasan Definisi Tafsir Maudhu i Secara etimologis, tafsir berarti keterangan dan penjelasan yang berlanjut mengenai isi kitab suci. 3 Sebagaimana firman Allah : ف س ير ا ح س ن ت أ ا ج ئن ك ب ٱل ح ق و ل إ ل ث أت ون ك ب م و ل ا ي Terjemahnya : Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. 4 Kata fassara (فسر) berarti bayyana (بين) dan wadhaha Adapun tafsir menurut arti istilah berarti ilmu untuk.(وضح) memahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menjelaskan maknanya, serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya. 5 Sedangkan tafsir maudhu i secara istilah adalah menghimpun ayat-ayat al-quran yang mempunyai maksud yang sama dalam arti sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasar kronologi serta sebab turunnya ayatayat tersebut. Kemudian penafsir mulai memberikan keterangan dan penjelasan serta mengambil kesimpulan. Secara khusus penafsir melakukan studi tafsirnya dengan metode maudhu i di mana ia meneliti ayat-ayat tersebut dari seluruh seginya dan 3 J. S. Badudu, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994), h. 1396. 4 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur an Al-Karim dan terjemahan (Semarang: Thaha Putra, 1996), h. 289. 5 Imam Badarrudin Muhammad bin Abdullah Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum Al-Qur an (Beirut: Dar Kitab Al- Alamiyah, t.t.), h. 13. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019 77

melakukan analisis berdasarkan ilmu yang benar yang digunakan oleh pembahas untuk menjelaskan pokok permasalahan, sehingga ia dapat memahami permasalahan tersebut dengaan mudah dan betul-betul menguasainya, sehingga memungkinkan baginya untuk memahami maksud yang terdalam dan dapat menolak segala kritik. 6 Sejarah Tafsir Maudhu i Pertumbuhan atau perkembangan, metode tafsir ini telah ada semenjak zaman Nabi Muhammad. Hal ini terbukti dari adanya sebuah riwayat tentang penafsiran kata ظلم oleh Nabi الشرك dengan makna الذين امنوا ولم يلبسوا ايمنهم بظلم : ayat pada pada ayat ان الشرك لظلم عظيم Di mana Nabi Muhammad SAW. menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para sahabat untuk mengumpulkan beberapa ayat mutasyabihat akan mempermudah untuk mengetahui pokok bahasan dan akan menghilangkan keraguan. Penafsiran ayat dengan ayat tersebut menjadi pendahuluan bagi munculnya metode tafsir maudhu i. 7 Pada perkembangan selanjutnya, banyak kita temui benih tafsir maudhu i yang bertebaran di dalam kiatb tafsir, hanya saja masih dalam bentuk yang sederhana sehingga belum dapat dikatakan sebagai metode yang berdiri sendiri karena masih dalam bentuk yang sangat ringkas. Dari hal di atas, kita dapat ketahui bahwa metode tafsir maudhu i sudah ada sejak dahulu dengan bentuknya yang mulamula, belum dimaksudkan sebagai metode yang memiliki karakter metodologis yang berdiri sendiri. Walaupun demikian paling tidak menunjukkan kepada kita bahwa metode tafsir ini bukanlah hal baru dalam sejarah studi al-qur an, yang baru bukan metodenya tetapi perhatian para ulama terhadap 6 Lihat Ali Khali, al-muzakkarat al Khathiyyah, Muhammad Hijazi, al-wahdah al Mawdhu iyyah, h. 25. 7 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 38. 78 Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019

penggunaan metode tersebut, suatu metode yang dapat memberikan informasi tentang berbagi ilmu, berbeda dengan metode tafsir lainnya dan betul-betul sebagai metode tersendiri otonom. 8 Varian dan Cara Kerja Tafsir Maudhu i Di dalam menggali hukum-hukum yang terdapat dalam ayat al-qur an, kajian tafsir maudhu i mempunyai dua bentuk: Pertama, pembahasan mengenai satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara beberapa masalah yang dikandungnya, sehingga surat ini tampak utuh dan sempurna, sebagai contoh adalah surat Saba. Kedua, mengumpulkan beberapa ayat dari banyak surat yang serupa yang sama-sama membicarakan masalah tertentu. Kemudian ayat-ayat itu dirangkai sedemikan rupa pada satu tema pokok bahasan dan selanjutnya ditafsirkan secara maudhu i. Cara yang demikian ini disebut tafsir maudhu i. 9 Dalam menggunakan metode tafsir maudhu i terdapat cara-cara tersendiri atau tahapan-tahapan yang dapat dilakukan anatara lain: 1. Mencari dan menetapkan masalah-masalah yang ada dalam al-qur an yang menjadi pokok bahasan 2. Mencari dan mengumpulkan ayat-ayat makiyah dan madaniyah. 3. Mengumpulkan ayat-ayat secara teratur menurut kronologi masa turunnya, serta latar belakang turunnya ayat atau asbab al-nuzul. 4. Menganalisis beberapa ayat secara tematik dengan mengumpulkan ayat-ayat al-qur an yang mempunyai pengertian hampir sama, mengompromikan ayat yang am 8 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 38-40. 9 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 35-36. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019 79

dan khas antara yang muthlak dan yang muqoyyad mensinkronkan ayat-ayat yang lahirnya tampak kontradiktif, menjelaskan ayat nasikh dan mansukh sehingga semua ayat tersebut bertemu pada suatu muara tanpa perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna-makna yang sebenarnya tidak tepat. 10 Perbedaan antara Metode Tafsir Maudhu i dan Metode Lain Sebelum lebih jauh membahas perbedaan antara metode tafsir maudhu i dengan beberapa metode tafsir yang lainnya, ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pengertian dari beberapa metode tafsir tersebut. Pertama, metode tafsir al-tahlily, adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-quran dari seluruh aspek-aspeknya, dalam tafsirnya penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang tersusun di dalam mushaf. 11 Kedua, metode tafsir muqorrin, yaitu metode tafsir yang menampilkan penafsiran ayat-ayat al-quran yang ditulis oleh sejumlah penafsir di mana seorang mufassir menghimpun sejumlah ayat-ayat al-quran kemudian mengkaji dan meneliti penafsiran sejumlah penafsir mengenai ayat tersebut melalui kitab-kitab tafsir mereka, apakah mereka penafsir dari generasi salaf ataupun khalaf. 12 Berikut penjelasan mengenahi perbedaan metode tafsir mawdhu i dengan metode tafsir tahlily 1. Perbedaan tafsir mawdhu i dan tafsir tahlily a. Dalam metode tafsir tahlily penafsir sering tepaku pada teks ayat al-quran dengan apa adanya. Adapun metode tafsir mawdhu i tidak seperti itu. 80 10 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 45-46. 11 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 12. 12 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 30. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019

b. Dalam metode tahlily, mufasir dapat mengemukakan uraian tentang macam-macam masalah yang ditemukan pada setiap ayat dan surat sedang dalam metode maudhu i seorang mufasir mengonsentrasikan pembahasannya hanya pada pokok bahsan. Dengan cara ini satu masalah akan dibahas secara tuntas tanpa melibatkan masalah yang lain. c. Dalam metode maudhu i permasalahan dalam al-quran mudah ditelusuri, dengan pembahasan yang mungkin dapat mengungkap petunjuk al-quran secara baik, sedangkan melalui metode tahlily seseorang mungkin merasa sulit untuk memahami hal yang sedemikian. 13 2. Perbedaan tafsir maudhu i dengan tafsir muqorrin a. Metode tafsir mawdhu i berkonsentrasi pada satu pokok bahasan sedang metode muqorrin berusaha menggabungkan satu ayat al-quran dengan yang lainnya yang sudah dibahas oleh mufassir terdahulu. b. Dalam tafsir maudhu i agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan harus mengumpulkan banyak ayat atau sedikit ayat yang ada hubungannya dengan pokok bahasan yang dikaji serta berusaha membahas topik tersebut berdasarkan kemampuan para mufassir dari ayat-ayat tersebut. Sedangkan metode muqorrin agar dapat sampai pada tujuan harus meneliti terlebih dahulu sejumlah ayat-ayat tertentu kemudian menganalisis hasil temuan para penafsir dan juga harus membandingkan dari berbagai arah. 14 13 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 49. 14 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 7. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019 81

Urgensi dan Keutamaan Tafsir Maudhu i Untuk mengenal betapa pentingnya keberadaan corak dan metode tafsir maudhu I ada beebrapa faedah dan keistimewaan metode maudhu i yang dimaksud, yaitu : 1. Dengan menghimpun beberapa ayat para mufassir akan menemukan adanya keserasian dan korelasi antara ayat satu dengan ayat yang lain. 2. Dengan mengumpulkan beberapa ayat atau sebagian ayat penafsir akan dapat menemukan hasil yang relatif sempurna terhadap pokok masalah yang dibahas. 3. Corak kajian tafsir maudhu i ini sesuai dengan semangat zaman modern yang menuntut kita berupaya melahirkan suatu hukum yang bersifat universal untuk masyarakat Islam yang bersumber al-quran yang mudah dipahami dan diterapkan. 15 Adapun keutamaan metode tafsir maudhu i adalah kesimpulan yang dihasilkan oleh metode tafsir maudhu i mudah dipahami. 16 Sedangkan kelemahan metode tafsir maudhu i adalah seorang penafsir harus memfokuskan diri pada satu pokok bahasan. 17 Penutup Dari pembahasan di atas, kita telah dapat mengenal sedikit tentang penafsiran al-qur an dengan metode maudhu i, yang mana metode ini ada klaim muncul baru-baru ini saja. Akan tetapi metode tersebut kalau dilihat dari kaca sejarah sudah ada semenjak zaman Nabi masih hidup. Pada perkembangan selanjutnya metode ini diperlukan untuk muncul kembali pada era sekarang adalah karena h.117 82 15 Abdul Hayyi Al-Farmawi, h. 51-54 16 Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur an (Jakarta : Mizan, 1994), 17 Shihab, Membumikan Al-Qur an, h. 120. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019

hilangnya orang-orang yang hafal al-quran dan memiliki kedalaman ilmu keislaman di kalangan putra-putri Islam dan sulitnya bagi orang-orang asing (non-arab), muslim maupun non-islam untuk memahami al-quran langsung melalui bahasanya. Dan pada perkembangan berikutnya ternyata sampai sekarang kajian melalui metode tafsir maudhu i ini dirasa cocok dan banyak digunakan oleh para mufassir di zaman modern ini yang mana mereka dituntut untuk mengetengahkan hukumhukum yang universal yang mudah dipahami oleh masyarakat Islam. Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019 83

DAFTAR PUSTAKA Badudu, J. S. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994. Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur an Al-Karim dan terjemahan. Semarang: Thaha Putra, 1996. Farmawi, Abd. Al-Hayyi al-. Al-Bidayah fi al-tafsir al- Maudhu iy, terj. Suryan A. Jamrah, Metode Tafsir al- Mawdhu iy. Jakarta PT. RajaGrafindo Persada, 1994. Shihab, Quraisy. Membumikan Al-Qur an. Jakarta: Mizan, 1994. Shobuny, Syaikh Muhammad Ali Ash-. Ath-Thibyan fi Ulum Al-Qur an, terj. Muhammad Qodiron Nur, Ihtisar Ulumul Qur an Praktis. Jakarta: Pustaka Amani, 1988. Zarkasyi, Imam Badarrudin Muhammad bin Abdullah Al-. Al- Burhan fi Ulum Al-Qur an. Beirut: Dar Kitab Al- Alamiyah, t.t. 84 Volume 30 Nomor 1 Januari-Juni 2019