Bunga Rampai Usia Emas e-issn: Vol. 3 No. 1 Juni 2017 p-issn:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. diberikan sejak dini dengan layak. Oleh karena itu, anak memerlukan program

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas sehingga mampu memajukan dan mengembangkan bangsa atau negara,

BAB I PENDAHULUAN. gerakan menjadi ujaran. Anak usia dini biasanya telah mampu. mengembangkan keterampilan berbicara melalui percakapan yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI ANAK MELALUI METODE BERCAKAP CAKAP PADA KELOMPOK B DI RA NURUL HIKMAH RINGINHARJO SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. Anak usia dini sebagai pribadi unik yang memiliki masa-masa emas dalam

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai perencanaan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan

JURNAL HUBUNGAN PENERAPAN METODE BERCERITA DENGAN KEMAMPUAN MENGUNGKAPKAN BAHASA PADA ANAK USIA DINI. Oleh DWI MARLIAWITA ( )

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENCERITAKAN KEMBALI ISI CERITA MELALUI TEKNIK FADING PADA ANAK TK PELITA KECAMATAN SUWAWA KABUPATEN BONE BOLANGO

PENINGKATAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK MELALUI BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK-KANAK SYUKRILLAH AGAM. Azwinar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

BAB I PENDAHULUAN. mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya, serta memungkinkan

PENGARUH METODE BERCERITA TERHADAP KEMAMPUAN ANAK BERBAHASA LISAN DI KELOMPOK A1 TK KEMALA BHAYANGKARI 01 PALU

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan alat menyatakan pikiran dan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan media berkomunikasi dengan orang lain. Tercakup semua

BAB I PENDAHULUAN. sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada

EFEKTIVITAS MEDIA KINCIR KATA TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK HARAPAN DHARMAWANITA PAINAN KABUPATEN PESISIR SELATAN

OPTIMALISASI KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI MEDIA GAMBAR DI TK KARTIKA 1-18 AMPLAS. Yenni Nurdin 1) dan Umar Darwis 2) UMN Al Washliyah

BAB I PENDAHULUAN. pentingnya kemampuan bahasa bagi kehidupan manusia, tidak terkecuali bagi

PENERAPAN METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR SERI TERHADAP CAPAIAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK

PENGARUH MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU GIZI PADA SISWA KELAS X SMK NEGERI 8 MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pembinaan yang ditujukan kepada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa usia Taman Kanak-kanak (TK) atau masa usia dini merupakan masa

BAB I PENDAHULUAN. strategis dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia indonesia seutuhnya.

BAB I PENDAHULUAN. ada dijalur pendidikan formal. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0486/UI/1992 tentang Taman Kanak-

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh kembang anak pada usia dini akan berpengaruh secara nyata pada

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan bentuk pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Taman Kanak-Kanak adalah pendidikan anak usia dini jalur formal

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan kognitif saja tetapi juga tidak mengesampingkan kemampuan

ARTIKEL ILMIAH KEMAMPUAN SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 2 KUALA TUNGKAL TAHUN AJARAN 2013/2014 BERCERITA DENGAN ALAT PERAGA SKRIPSI OLEH SONIA PRYANKA

BAB I PENDAHULUAN. tentang Sistem Pendidikan Nasional). Masa kanak-kanak adalah masa Golden

BAB II LANDASAN TEORI. terampil dan cekatan. Kata mampu mendapat imbuhan ke-an menjadi

PENINGKATAN KEMAMPUAN MATEMATIKA ANAK USIA DINI MELALUI PERMAINAN JAM PINTAR DI TAMAN KANAK - KANAK PEMBINA KEC. BARANGIN SAWAHLUNTO

PENGARUH METODE BERCERITA TERHADAP KEMAMPUAN MENYIMAK ANAK KELOMPOK B

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL ANAK MELALUI PERMAINAN KARTU GAMBAR DI TAMAN KANAK-KANAK NEGERI PEMBINA AGAM

BAB I PENDAHULUAN. penting karena Pendidikan Anak Usia Dini merupakan fondasi dasar. Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya

PERANAN METODE BERCERITA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANAK BERBAHASA LISAN DI KELOMPOK B1 TK TUNAS BANGSA DESA SIDERA KABUPATEN SIGI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. seorang guru mengharapkan anak didiknya berkembang secara optimal. ngembangan antara lain: kemampuan nilai moral agama, kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan kemampuan untuk berbuat dan belajar pada masa-masa berikutnya. Rentangan

Pengaruh Media Menara Angka Terhadap Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan Kelompok A

BAB I PENDAHULUAN. sendiri, orang lain, dan lingkungan anak dalam dunia bermain.

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Berbicara Pengertian Kemampuan Berbicara

METODE PENGENALAN BAHASA UNTUK ANAK USIA DINI*

KEGIATAN BERNYANYI BERPENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK TK KELOMPOK B

HALAMAN PERSETUJUAN ARTIKEL. : Peningkatan Bahasa Anak Usia Dini Melalui Cerita Bergambar di Taman Kanak-kanak Islam Qurrata A yun Batusangkar

PENGARUH METODE BERMAIN PERAN TERHADAP KECAKAPAN SOSIAL ANAK USIA 5-6 TAHUN DI PAUD ISLAM MAKARIMA KARTASURA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

ARTIKEL SKRIPSI OLEH: SITI MUALIQOH SATTA NPM : P

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membaca dan keterampilan menulis. Anak-akan dituntut untuk dapat berbicara,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Anak Usia Dini mendasari jenjang pendidikan selanjutnya.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya adalah Taman Kanak-Kanak (TK). Undang-undang tentang. sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 Ayat (3) menyebutkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. sejak lama, yaitu sejak awal kemerdekaan Indonesia, dengan berdirinya Taman Siswa

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK MELALUI MEDIA KARTU KATA PADA ANAK KELOMPOK B TK TELADAN PPI SRAGEN TAHUN AJARAN 2014 / 2015

UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK MELALUI ALAT PERMAINAN EDUKATIF DARI KARDUS BEKAS DI TK GESI I, SRAGEN SKRIPSI

e-journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

MODEL PEMBELAJARAN SAINS DI TAMAN KANAK-KANAK DENGAN BERMAIN SAMBIL BELAJAR

BAB I PENDAHULUAN. apabila ingin memenuhi kebutuhan anak dan memenuhi perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah proses pembinaan tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. Anak usia dini tumbuh dan berkembang lebih pesat dan fundamental pada awalawal

ARTIKEL ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Guru Anak Usia Dini SITI MAEMUNAH A53B090208

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Program Studi PG PAUD

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA DINI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL BERBASIS ANDROID

HUBUNGAN MODEL KOMUNIKASI INTERAKSIONIS ANTARA ORANGTUA DAN ANAK TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK TK B PAUD SAYMARA KARTASURA TAHUN AJARAN 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Permasalahan Anak Usia Taman Kanak-Kanak Oleh: Nur Hayati, S.Pd PGTK FIP UNY

PENGARUH MEDIA GELAS ANGKA 1-10 TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF MENGENAL LAMBANG BILANGAN KELOMPOK A

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), saat ini sedang mendapat perhatian

BAB I PENDAHULUAN. menguasai tingkat yang lebih tinggi dari berbagai aspek. Pada usia ini mengalami

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang tepat bagi anak sejak masa usia dini. aspek perkembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual mengalami

BAB I PENDAHULUAN. dan Kebudayaan No. 0486/U/1992 tentang Taman Kanak-kanak adalah

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang lain. Usia dini merupakan awal dari pertumbuhan dan

BAB I PENDAHULUAN. juga masa awal kanak-kanak yang memiliki berbagai karakter atau ciri-ciri.

PENGARUH SENI MENGGAMBAR TERHADAP KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK KELOMPOK B DI TK PERTIWI 1 KEYONGAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Anak usia 4 sampai 5 tahun memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roslinawati Nur Hamidah, 2013

BAB I PENDAHULUAN. dan pengembangan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai usia enam

PENGARUH DONGENG TERHADAP KEMAMPUAN EMPATI ANAK KELOMPOK B

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dalam Kerangka Besar. Pembangunan PAUD menyatakan :

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN BERNYANYI TERHADAP KEMAMPUAN MEMBILANG ANAK

TAHUN. Disusun Oleh: HEPI KAWURI A FAKULTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan kegiatan universal dalam kegiatan manusia.

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah produk budaya manusia yang berfungsi sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. mengkomunikasikan ide-ide dan keyakinannya. atau perkembangan, yang salah satunya melalui pendidikan di Taman Kanak-

BAB I PENDAHULUAN. memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Sisdiknas, bab I pasal I butir 4).

PENGARUH METODE BERMAIN PERAN TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK KELOMPOK B (Penelitian di TK Bakti I Karanganayar Tahun Pelajaran 2013/2014)

BAB I PENDAHULUAN. Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Maslah

PENINGKATAN KEMAMPUAN MATEMATIKA ANAK MELALUI MEDIA PERMAINAN MEMANCING ANGKA DI TAMAN KANAK-KANAK FATHIMAH BUKAREH AGAM. Puji Hartini.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Masa anak usia dini disebut juga masa awal kanak-kanak yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kehidupan anak tidak dapat dipisahkan dari tumbuh-kembang. Tumbuhkembang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan lebih lanjut. (Pasal 1 ayat 14 menurut UU No. 20 Tahun 2003)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak usia dini merupakan manusia yang memiliki karakteristik yang

PENTINGNYA PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA ANAK USIA DINI MELALUI METODE BERCAKAP-CAKAP

BAB I PENDAHULUAN. proses perkembangan dengan pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. 0-6 tahun yang masih memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Anak

Transkripsi:

Pengaruh Kegiatan Bercerita Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia 5-6tahun Dengan Menggunakan Media Gambar Di R.A Nuraisyah Medan Tahun Ajaran 2016/2017. * Syaza Amirah dan ** Kamtini *Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru PAUD FIP **Dosen Jurusan Pendidikan Guru PAUD FIP E-mail : Syazaamirah@gmail.com Abstrak. Masalah dalam penelitian ini adalah jarangnya guru menggunakan media gambar pada kegiatan bercerita untuk mengembangkan bahasa anak, sebagian anak perkembangan bahasanya belum berkembang dengan baik, sebagian anak kurang mampu mengulang cerita yang disampaikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh kegiatan bercerita terhadap perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun dengan menggunakan media gambar lepas di R.A Nuraisyah Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa R.A Nuraisyah Medan yang berusia 5-6 tahun berjumlah 40 orang anak, terdiri dari 2 kelas yakni kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas berjumlah 20 orang dan kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung berjumlah 20 orang Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling yaitu dengan memilih sampel secara acak, karena populasi memiliki karakteristik yang sama, dilihat dari segi usia yaitu masing masing memiliki usia 5-6 tahun, selain dilihat dari usia juga dilihat dari perkembangan anak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrument penelitian non tes yaitu observasi terstuktur tentang perkembangan bahasa anak dengan melihat ciri ciri pada prilaku anak.instrument penelitian ini menggunakan panduan observasi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dengan uji-t dengan taraf nyata α= 0,05 Berdasarkan hasil analisis data diatas diperoleh nilai rata-rata pada kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas (14,85) dengan nilai tertinggi 16 dan nilai terendah 13. Sedangkan nilai rata-rata di kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung (9,85) dengan nilai tertinggi 13 dan nilai terendah 8. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa anak pada kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas lebih baik dari pada kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung. Dari hasil uji hipotesis diperoleh bahwa t hitung >t tabel, yaitu (5,376 > 1,701) pada taraf α= 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan penggunaan media gambar lepas terhadap perkembangan bahasa anak melalui kegiatan bercerita. Kata kunci: Bercerita, Perkembangan Bahasa, Media Gambar 62

1. Latar Belakang Pendidikan sangat penting bagi setiap orang khususnya bagi anak usia dini. Anak usia dini adalah penerus bangsa yang seharusnya pendidikan tersebut diberikan sejak dini dengan layak. Oleh karena itu, anak memerlukan program pendidikan yang mampu membuka kapasitas tersembunyi tersebut melalui pembelajaran bermakna seawal mungkin. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini tertulis pada Pasal 28 Ayat 1 yang berbunyi Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (The Golden Age) yang merupakan masa anak mulai peka atau sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual.masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespons stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, moral, sosio-emosional, agama dan bahasa. Bercerita juga merupakan seni bercakap-cakap secara lisan.untuk bertukar cerita tentang pengalamannya, pencerita dan pendengar bertatap muka. Dengan kata lain bercerita dapat dideskripsikan secara umum sebagai kegiatan yang memberikan informasi kepada anak baik secara lisan, tulisan, maupun akting tentang nilai maupun tradisi budaya yang telah dipercaya melalui penggunaan alat peraga maupun tidak untuk mengembangkan kemampuan bahasa serta pemahaman tentang pengetahuan dunia melalui pengalaman yang didapatkan. Barnawi (2014: 22) mengatakan kegiatan mengajar anak usia dini oleh masyarakat masih dianggap sebagai pengajaran yang mudah sehingga banyak guru PAUD yang kurang maksimal dalam memberikan pendidikan bagi anak usia dini. Mereka belum mengetahui perkembangan anak, pembelajaran bagi anak usia dini, dan stimulasinya sehingga sasaran pendidikan anak dirasakan kurang efektif dan mengena. Karena kegiatan bercerita sangat penting bagi anak usia dini maka guru harus mampu menyampaikan cerita itu kepada anak dengan baik sehingga cerita itu bermakna. Ungkapan diatas sesuai dengan pendapat Musfiroh (2005: 25) yang mengatakan bahwa kegiatan bercerita sangat penting artinya bagi anak usia dini, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan guru dalam mentransmisikan nilai-nilai luhur kehidupan dalam bentuk cerita. Kemampuan gurulah sebenarnya yang menjadi tolok ukur kebermaknaan cerita. Tanpa guru cerita tidak akan memberikan makna apa-apa bagi anak, oleh sebab itu untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu, tentulah dibutuhkan guru yang bermutu pula. Sebaliknya, bila kualitas guru rendah, kualitas anak didik pun akan rendah. Dengan demikian jika guru menyampaikan cerita tidak bermakna dan tidak dapat dipahami anak, maka anak tidak dapat mengulangi cerita yang telah disampaikan oleh guru. Peran media begitu penting dalam membantu proses pembelajaran, hal ini sesuai dengan penjelasan Mursid (2015: 41), media dalam proses pembelajaran dapat 63

mempertinggi hasil belajar siswa. Berbagai penelitian yang dilakukan terhadap penggunaan media dalam pembelajaran sampai pada kesimpulan, bahwa proses dan hasil belajar pada siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pembelajaran tanpa media dan pembelajaran menggunakan media. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran. Media yang digunakan diharapkan dapat dijadikan visualisasi atau gambaran sesungguhnya dari peristiwa nyata yang dialami anak sehingga media mampu membuat perubahan tingkah laku serta pola pikir anak.media gambar termasuk salah satu jenis media grafis.sebagaimana media lainnya, media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber kepenerima pesan. Sadiman, Dkk (2011: 29) mengungkapkan Media gambar termasuk salah satu media grafis.sebagaimana media lainnya, media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber kepenerima pesan.saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan selama 1 minggu di R.A. NURAISYAH kelompok B, Sebagian anak perkembangan bahasanya belum berkembang dengan baik, sebagian anak belum mampu mengulangi cerita yang disampaikan guru kepadanya karena kurangnya pemahaman anak tentang cerita,kenyataan ini disebabkan guru jarang menggunakan media gambar dalam kegiatan bercerita untuk mengembangkan bahasa anak. 2. Kajian Pustaka Pada masa sekolah anak menyadari bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang penting untuk menyampaikan maksud, keinginan, dan kebutuhannya kepada orang lain. Demikian pula anak menyadari bahwa melalui komunikasi ia akan mengerti orang lain. Selain itu, berbicara sebagai salah satu bentuk bahasa merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat dalam kelompoknya.kosakata bertambah banyak dan sudah dapat menguasai hampir semua jenis struktur kalimat.isi pembicaraan sudah bersifat sosial dan tidak egosentris lagi. Peningkatan kemampuan anak untuk menganalisis kata-kata, menolong anak memahami kata-kata yang tidak berkaitan langsung dengan pengalamanpengalaman pribadi mereka.ini memungkinkan anak menambah kata-kata yang lebih abstrak ke dalam perbendaharaan katanya.kemampuan analisis anak memungkinkan mereka dapat membedakan antara kata-kata yang mirip.pada akhir masa ini, umumnya anak dapat menerapkan banyak aturan tata bahasa secara tepat. Dalam membahas fungsi bahasa bagi anak usia dini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Hal ini, terutama ditujukan pada fungsi secara langsung pada anak itu sendiri. Ada beberapa sumber yang telah mencoba memberikan penjabaran dari fungsi bahasa bagi anak usia dini, diantaranya menurut Depdiknas, yaitu: 1) Sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan. 2) sebagai alat untuk 64

mengembangkan kemampuan intelektual anak.3) Sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak. 4) Sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain. Sementara itu menurut Gardner (dalam Susanto, 2012: 81) fungsi bahasa bagi anak usia dini ialah sebagai alat mengembangkan kemampuan intelektual dan kemampuan dasar anak. Secara khusus bahwa fungsi bagi anak taman kanakkanak adalah untuk mengembangkan ekspresi- perasaan, imajinasi, dan pikiran. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi bahasa bagi anak usia dini selain merupakan alat komunikasi juga dapat mengembangkan berbagai macam kemampuan diantaranya kemampuan intelektual dan kemampuan dasar anak. Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan alat berkomunikasi secara lisan, tertulis maupun menggunakan tanda-tanda isyarat. Seperti yang diungkapkan oleh Skinner (dalam Soetjiningsih, 2012: 204) mengatakan bahwa perkembangan bahasa adalah perubahan bahasa anak dari anak mulai belajar berbicara sampai anak cenderung mengulang kata atau tertarik untuk mencoba kata lain yang direspon oleh orang disekelilingnya. Jadi menurut pendapat diatas perkembangan bahasa adalah perubahan bahasa pada anak dalam berbicara dengan diberikannya respon positif maka anak akan cenderung mengulang kata tersebut atau tertarik untuk mencoba kata lain. Bercerita merupakan salah satu cara untuk mengembangkan pola berpikir dan penanaman nilai-nilai budaya dan moral. Sasaran kegiatan bercerita adalah perkembangan bahasa pada anak yaitu: meningkatkan kosakata, belajar menghubungkan kata dengan tindakan, mengingat urutan idea atau kejadian, mengembangkan minat baca serta menumbuhkan kepercayaan diri anak. Kegiatan bercerita memiliki sejumlah aspek yang diperlukan dalam perkembangan kejiwaan anak-anak, seperti membantu perkembangan imajinasi anak, mendorong anak untuk mencintai bahasa, memberi wadah bagi anak-anak untuk belajar berbagai emosi dan perasaan, seperti sedih, gembira, simpati, marah, senang, cemas, serta emosi yang lain. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan bahasa anak adalah dengan melakukan kegiatan bercerita.kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan berbagai macam alat peraga/media, seperti media boneka jari, mediabuku cerita bergambar, media papan plannel, media gambar lepas dan lain sebagainya.semua alat peraga/media membutuhkan keterampilan tersendiri yang memungkinkan penggunaan alat peraga/media itu berfungsi secara optimal.berikut ini akan dijelaskan satu-persatu. Pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa media papan plannel itu dapat membantu guru memperkenalkan kata baru kepada anak dalam kegiatan bercerita serta dapat menggiring imajinasi anak.walaupun begitu penggiringan imajinasi justru menghambat kebebasan anak dalam berimajinasi karena anak di tuntun untuk mengikuti jalan cerita yang telah ditentukan oleh guru. Menurut Madyawati (2016: 201) media gambar lepas adalah media berupa gambar-gambar tanpa disertai dengan suara.media gambar lepas biasanya 65

digunakan untuk kegiatan pada semua aspek keterampilan berbicara. Fungsi media gambar lepas dalam berbagai proses kegiatan keterampilan berbahasa yaitu untuk mengembangkan imajinasi anak, serta menampilkan peristiwa yang tidak dapat dihadirkan serta mengembangkan kreativitas anak. Kesimpulannya, media gambar lepas yaitu media tanpa suara dan bersifat abstrak oleh sebab itu guru harus dapat menjelaskannya dengan lebih baik lagi, agar dapat di pahami anak dan meningkatkan imajinasi dan mengembangkan kreativitas anak. Musfiroh mengemukakan (2005: 145) Bercerita dengan media gambar lepas membutuhkan penguasaan cerita yang baik. Guru dituntut bukan saja hafal cerita tapi juga memiliki kemampuan mensinkronkan gambar dan cerita, serta keterampilan mengkomunikasikan gambar kepada pendengar. Media ini umunya lebih menarik daripada papan planel yang dibuat guru, karena dicetak dalam tata gambar dan tata warna yang baik. Paparan diatas dapat disimpulkan bahwa bercerita dengan media gambar lepas membutuhkan hafalan yang kuat serta kemampuan yang tinggi untuk dapat mensinkronkan antara gambar dan cerita, agar cerita dapat dipahami anak dengan baik. Dalam penelitian ini penulis menggunakan media gambar lepas agar dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak.media gambar lepas biasanya digunakan untuk kegiatan pada semua aspek keterampilan berbicara. Khadijah Nasution (2013), mengembangkan kemampuan bahasa anak melalui metode cerita bergambar dikelompok B Paud Lestari Pekan Labuhan Tahun Ajaran 2012-2013, menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II, hal ini terlihat dari rata-rata peningkatan pencapaian perkembangan bahasa pada setiap indikator dalam hal ini menjawab pertannyaan yang lebih kompleks, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap dan melanjutkan sebagian cerita/ dongeng yang telah diperdengarkan. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa penerapan metode cerita bergambar untuk meningkatkan perkembangan kemampuan bahasa pada Anak Usia Dini Kelompok B Paud Lestari Pecan Labuhan dapat dikatakan berhasil. Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting untuk menyampaikan maksud, keinginan, dan kebutuhannya kepada orang lain. Demikian pula anak menyadari bahwa melalui komunikasi ia akan mengerti orang lain. Ada tiga fungsi utama bahasa pada anak yaitu (1) meniru ucapan orang dewasa; (2) membayangkan situasi (terutama dialog); (3) mengatur permainan. Perkembangan bahasa adalah perubahan bahasa anak dari anak mulai belajar berbicara sampai anak cenderung mengulang kata atau tertarik untuk mencoba kata lain yang direspon oleh orang disekelilingnya. Jadi menurut pendapat diatas perkembangan bahasa adalah perubahan bahasa pada anak dalam berbicara dengan diberikannya respon positif maka anak akan cenderung mengulang kata tersebut atau tertarik untuk mencoba kata lain. Bercerita merupakan salah satu cara untuk mengembangkan pola berpikir dan 66

penanaman nilai-nilai budaya dan moral. Sasaran kegiatan bercerita adalah perkembangan bahasa pada anak, yaitu meningkatkan kosakata, belajar menghubungkan kata dengan tindakan, mengingat urutan ide atau kejadian, mengembangkan minat baca serta menumbuhkan kepercayaan diri anak. Media merupakan salah satu alat penyampai materi kepada anak.dalam hal ini, media tidak hanya dipahami sebagai alat peraga, tetapi juga sebagai pembawa informasi atau pesan pengajaran kepada peserta didik. Dengan adanya media, pembelajaran akan lebih menarik, interaktif dan menyenangkan sehingga secara tidak langsung kualitas pembelajaranpun dapat ditingkatkan kearah yang lebih baik. Media gambar lepas adalah media berupa gambar-gambar tanpa disertai dengan suara.media gambar lepas biasanya digunakan untuk kegiatan pada semua aspek keterampilan berbicara. Fungsi media gambar lepas dalam berbagai proses kegiatan keterampilan berbahasa yaitu untuk mengembangkan imajinasi anak, membantu meningkatkan penguasaan anak terhadap hal-hal yang abstrak atau peristiwa yang tidak dapat dihadirkan serta mengembangkan kreativitas anak. 3. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen.dalam model ini terdapat kelompok yang menggunakan media gambar lepas pada saat kegiatan bercerita dan kelompok yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung, kemudian kedua kelompok ini dipilih secara random. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa R.A Nur Aisyah Medan yang berusia 5-6 tahun, jumlah anak 40 orang terdiri dari 2 kelas yakni kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas dan kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling yaitu dengan memilih sampel secara acak, karena populasi memiliki karakteristik yang sama, dilihat dari segi usia yaitu masing masing memiliki usia 5-6 tahun, selain dilihat dari usia juga dilihat dari perkembangan anak. Sampel yang akan diambil oleh peneliti berupa sampel unit, karena sampel dari penelitian ini adalah seluruh anak yang berada di kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas dan di kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung, jumlah anak di kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas adalah 20orang dan jumlah anak di kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung adalah 20 orang. Dengan cara memberikan kertas pada masing-masing kelas yaitu di kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas bertuliskan X dan yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung bertuliskan Y, lalu dimasukkan kedalam gelas atau wadah dan di dikocok kemudian diambil secara acak. setelah dilakukan pengundian, terambil kelas bercerita dengan menggunakan media gambar lepas atau X dan kelas bercerita secara langsung atau Y. 67

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain eksperimen, dimana melalui suatu eksperimen penulis meneliti pengaruh variabel tertentu terhadap suatu kelompok dalam kondisi yang dikontrol. Pada kasus ini diambil dua kelas dengan perlakuan yang berbeda yaitu kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas dan dikelas kedua yang dilakukandengan kegiatan bercerita secara langsung. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrument penelitian non tes yaitu observasi terstuktur tentang perkembangan anak dalam perkembangan bahasadengan meliat ciri-ciri pada prilaku anak.instrument penelitian ini menggunakan panduan observasi. Observasi ini menggunakan pedoman observasi yang berisi sebuah daftar jenis kegiatan atau prilaku yang mungkin timbul dan akan diamati.pengembangan instrument dilakukan melalui kisi-kisi perkembangan bahasa. Penataan data dilakukan dengan memuat nama observer. Tugas observer memberi tanda checklist ( ) pada skor yang didapat melalui pedoman observasi yang dibuat.dari observasi yang dilakukan maka diperoleh data tentang perkembangan bahasa anak pada saat kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas dankegiatan bercerita secara langsung. 4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1) Hasil Penelitian Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis diperoleh nilai t hitung dengan jumlah 5,376 dibandingkan dengan nilai t tabel = 1,701 sehingga dapat dinyatakan bahwa t hitung > t tabel (5,376 >1,701), dengan demikian bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Kelas yang diberikan perlakuan berupa kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas dan kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung, dijelaskan bahwa perkembangan bahasa anak yakni sama berdasarkan tingkat usia yaitu masing-masing berusia 5-6tahun. Perlakuan berbeda yang diberikan kepada kelas dengan menggunakan media gambar lepas pada masa penelitian menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan nilai rata-ratanya bila dibandingkan dengan kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung.kelas yang menggunakan media gambar lepas memiliki nilai rata-rata 3,713 sedangkan kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung bernilai 2,463. Berdasarkan kedua data sampel yang diperoleh antara kelas yang menggunakan media gambar lepas dengan kelas yang bercerita secara langsung diperoleh selisih 1,25 sehigga dapat dinyatakan bahwa data dari kelas yang menggunakan media gambar lepas dan kelas yang bercerita secara langsung terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini disebabkan media gambar lepas yang cantik dapat menarik perhatian anak sehingga anak mau mengikuti pelajaran yang disajikan guru kepadanya sehingga anak dapat mengekspresikan imajinasinya, mengungkapkan suatu peristiwa yang pernah dialaminya dan juga dapat mengembangkan 68

keterampilan berbahasa anak, hal ini sesuai dengan pendapat Madyawati (2016: 201) yang mengatakan bahwa media gambar lepas adalah media berupa gambargambar tanpa disertai dengan suara. Media gambar lepas biasanya digunakan untuk kegiatan pada semua aspek keterampilan berbicara. Fungsi media gambar lepas dalam berbagai proses kegiatan keterampilan berbahasa yaitu untuk mengembangkan imajinasi anak, serta menampilkan peristiwa yang tidak dapat dihadirkan serta mengembangkan kreativitas anak. Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa media gambar lepas merupakan media tanpa suara dan bersifat abstrak oleh sebab itu guru harus dapat menjelaskannya dengan lebih baik lagi, agar dapat di pahami anak dan meningkatkan imajinasi dan mengembangkan kreativitas anak dan oleh karena itu kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun. 5. Kesimpulan A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan yaitu: 1. Dari hasil penelitian adanya pengaruh yang signifikan penggunaan media gambar lepas terhadap perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun melalui kegiatan bercerita di R.A Nuraisyah. 2. Berdasarkan hasil penelitian, perkembangan bahasa anak dikelas yang menggunakan media gambar lepas pada saat kegiatan bercerita lebih berkembang dari pada di kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung. Hal ini sesuai dengan analisis data diperoleh nilai rata-rata kelas yang menggunakan media gambar lepas pada saat kegiatan bercerita (14,85) dengan nilai tertinggi 16 dan nilai terendah 13, perkembangan bahasa anak berada pada kategori baik sekali berjumlah 20 anak (100%). Sedangkan nilai rata-rata di kelas bercerita secara langsung (9,85) dengan nilai tertinggi 13 dan nilai terendah 8, perkembangan bahasa anak berada pada kategori baik sebanyak 16 anak (80%) dan kategori cukup baik sebanyak 4 anak (20%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa anak pada kelas yang melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar lepas lebih baik dari pada kelas yang melakukan kegiatan bercerita secara langsung. Dari hasil uji hipotesis diperoleh bahwa t hitung >t tabel, yaitu (5,376 > 1,701) pada taraf α= 0,05. B. SARAN Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Bagi guru PAUD diharapkan dapat membuat media gambar yang menarik dan menggunakannya dengan baik dalam kegiatan bercerita untuk mengembangkan bahasa anak. 2. Bagi kepala sekolah agar dapat memberikan sarana dan prasarana yang lengkap dalam pembuatan media gambar agar dapat digunakan guru dalam melakukan kegiatan bercerita. Bagi peneliti selanjutnya sebagai bahan masukan dalam melakukan penelitian dan menjadi referensi dalam penelitian selanjutnya. 69

6. Daftar Pustaka Barnawi, Dkk. 2014.Format PAUD. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Bahri, Bachtiar S. 2005. Pengembangan Kegiatan Bercerita Di Taman Kanak-Kanak, Tehnik Dan Prosedurnya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Dhieni, Nurbiani. 2006. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka Fadillah, Muhammad. 2012. Desain Pembelajaran PAUD.Jogjakarta : Ar- Ruzz Media Hasnida. 2015. Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini. Jakarta: Luxima Metro Media Mursid. 2015. Belajar Dan Pembelajaran PAUD. Bandung : Remaja Rosdakarya. Musfiroh, Tadkiroatun. 2005. Bercerita Untuk Anak UsiaDini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Madyawati, Lilis. 2016. Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta: Kharisma Putra Utama Rahayu, Yofita Aprianti. 2013. Menumbuhkan Kepercayaan Diri MelaluiKegiatan Bercerita. Jakarta : Indeks Rahmawati, Yeni. 2012. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak UsiaTaman Kanak-Kanak. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Sadiman, Arief Dkk. 2011.Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan DanPemanfaatan. Jakarta: Rajawali Soetjiningsih, Hari Christiana. 2012. Perkembangan Anak Sejak PembuahanSampaiDengan Kanak-Kanak Akhir.Jakarta: Prenada Media Group Soejanto, Selamet. 2006. Konsep Dasar Pendidikan Anak UsiaDini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Sudjana, 2005.Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sugiono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta Susanto, Ahmad. 2012. Perkembangan Anak UsiaDini. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Ulfah, Maulidya. 2013. Konsep Dasar PAUD. Bandung: Remaja Rosdakarya 70