BAB I PENDAHULUAN. dapat di lihat dalam Pasal 1 ayat 2 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992

dokumen-dokumen yang mirip
JURNAL HUKUM KEWAJIBAN BANK UNTUK LAPOR PERPAJAKAN ATAS DATA NASABAH BANK YANG MENGGUNAKAN JASA KARTU KREDIT DITINJAU DARI PRINSIP KERAHASIAAN BANK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan pesatnya kemajuan ekonomi dan bisnis di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ekonomi dunia dewasa ini menimbulkan banyak masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan Asuransi, Perusahaan Keuangan, Pasar Modal, Holding. bank adalah lembaga perbankan itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan nasional yang dilaksanakan selama ini merupakan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

BAB I PENDAHULUAN. melayani masyarakat yang ingin menabungkan uangnya di bank, sedangkan

BAB I PENDAHULUAN. pasar modal, modal venture, leasing, factoring dan lain lain. 1 Lembaga

Lex et Societatis, Vol. V/No. 6/Ags/2017

JURNAL HUKUM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TAX AMNESTY TERHADAP LEMBAGA PERBANKAN DALAM MELAKSANAKAN PRINSIP KEHATI-HATIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. zaman dan kebutuhan modal bagi setiap masyarakat untuk memajukan dan

BAB I PENDAHULUAN. digunakan oleh konsumen untuk ditukarkan dengan barang dan jasa yang

BAB I PENDAHULUAN an di Amerika Serikat, pada saat itu system ini dikenal dengan nama charge-it

BAB I PENDAHULUAN. lembaga perbankan sudah dikenal di Indonesia sejak VOC mendirikan Bank

BAB I PENDAHULUAN. bersifat terbuka, perdagangan sangat vital bagi upaya untuk meningkatkan

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

BAB I PENDAHULUAN. akan berkaitan dengan istri atau suami maupun anak-anak yang masih memiliki

BAB I PENDAHULUAN. hukum membutuhkan modal untuk memulai usahanya. Modal yang diperlukan

Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 51. Grafindo Persada, 2004), hal. 18. Tahun TLN No. 3790, Pasal 1 angka 2.

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa sekarang bank merupakan barang yang sudah tidak asing lagi

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian bank menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992

BAB I PENDAHULUAN. Bank menurut pengertian umum dapat diartikan sebagai tempat untuk

PELAKSANAAN PERJANJIAN PENERBITAN KARTU KREDIT DI PT BNI (PERSERO) SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan bernegara bagi bangsa Indonesia terdapat dalam Pembukaan Undang-

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ekonomi nasional dewasa ini menunjukkan arah

BAB I PENDAHULUAN. dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan atau yang sering disamakan dengan cita-cita bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. badan hukum yang mengalami kasus pailit, begitu juga lembaga perbankan.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERIAN DAN PENGHIMPUNAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. sebaliknya, perkembangan suatu bank mengalami krisis dapat diartikan. Sementara itu dalam bentuk memberikan pelayanan kepada

BAB I PENDAHULUAN. terkait, baik pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun

BAB I PENDAHULUAN. yang jabatannya atau profesinya disebut dengan nama officium nobile

BAB III METODE PENELITIAN. Yogyakarta telah melaksankan ketentuan-ketentuan aturan hukum jaminan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembiayaan murabahan..., Claudia, FH UI, 2010.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini, perkembangan ekonomi berkembang sangat pesat.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan masyarakat adil,

UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. perseorangan, badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara,

BAB I PENDAHULUAN. menunculkan bidang-bidang yang terus berkembang di berbagai aspek

BAB I PENDAHULUAN. - Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat. cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan mempunyai peranan penting dalam menjalankan. Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan diatur bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesejahteraan umum merupakan salah satu dari tujuan Negara Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Nomor 4 Tahun 1996 angka (1). Universitas Indonesia. Perlindungan hukum..., Sendy Putri Maharani, FH UI, 2010.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

- 1 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. di berbagai bidang, antara lain dalam kegiatan masyarakat khususnya di bidang

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu

3 Lihat UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa. Keuangan (Bab VI). 4 Lihat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk di dalamnya perkembangan aktivitas ekonomi. Masyarakat Indonesia

BAB III KLAUSULA BAKU PADA PERJANJIAN KREDIT BANK. A. Klausula baku yang memberatkan nasabah pada perjanjian kredit

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan nasional merupakan upaya mewujudkan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan era globalisasi yang semakin pesat berpengaruh

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. pengaturan mengenai perekonomian untuk dapat dimanfaatkan bagi

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. berbasiskan internet yaitu pelaksanaan lelang melalui internet.

BAB I PENDAHULUAN. dengan pelaku usaha yang bergerak di keuangan. Usaha keuangan dilaksanakan oleh perusahaan yang bergerak di bidang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Balakang. Salah satu sarana yang mempunyai peran strategis didalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan suatu negara sangat ditentukan oleh tingkat perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perorangan saja, akan tetapi juga bisa terdapat pada instansi-instansi swasta dan

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 143 /PMK.010/2009 TENTANG PRINSIP MENGENAL NASABAH LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 /KMK.06/2003 TENTANG PENERAPAN PRINSIP MENGENAL NASABAH BAGI LEMBAGA KEUANGAN NON BANK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 menjadi langkah baru bagi

BAB I PENDAHULUAN. efisien. Hal ini ditandai dengan semakin terintegrasinya pasar keuangan dunia yang menuntut

STIE DEWANTARA Manajemen Kartu Plastik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perekonomian tanah air terus tumbuh, dan transaksi perdagangan baik

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak mampu untuk hidup secara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masuknya informasi dari luar negeri melalui media massa dan

BAB I PENDAHULUAN. pokok masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini perbankan di Indonesia diatur dalam UU Nomor 10 tahun 1998

BAB I PENDAHULUAN. makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, kesinambungan dan. peningkatan pelaksanaan pembangunan nasional yang berasaskan

Lex Administratum, Vol. IV/No. 1/Jan/2016

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah normatif, yang dilakukan dengan cara meneliti bahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. telah berusia 17 tahun atau yang sudah menikah. Kartu ini berfungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. provisi, ataupun pendapatan lainnya. Besarnya kredit yang disalurkan akan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KLAUSULA BAKU DALAM PERJANJIAN KARTU KREDIT BANK MANDIRI, CITIBANK DAN STANDARD CHARTERED BANK

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

BAB I PENDAHULUAN. jenis dan variasi dari masing-masing jenis barang dan atau jasa yang akan

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak.

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia perjudian masih menjadi

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

ekonomi Kelas X BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK KTSP & K-13 A. Pengertian Bank Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Undang Undang Dasar Tahun 1945 yang berbunyi: diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya.

BAB I PENDAHULUAN. dipandang sebagai extra ordinary crime karena merupakan tindak pidana yang

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat ditarik. kesimpulan, yaitu :

PROSEDUR KREDIT PEMILIKAN MOBIL DI BANK ANDA CABANG BONGKARAN SURABAYA RANGKUMAN TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau

ERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 125/PMK.010/2015 TENTANG

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Perkembangan ekonomi saat ini merupakan hal yang paling penting dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengingat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 ayat (4), yang pada intinya mengatur bahwa dalam pelaksanaan perekonomian nasional, keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional harus terjaga, maka atas dasar tersebut dibentuklah Lembaga lembaga yang memberikan jaminan pada dana masyarakat antara lain Lembaga Keuangan Yang Bukan Bank Dan Lembaga Keuangan Yang Berbentuk Bank. Lembaga Keuangan Bukan Bank terdiri dari Lembaga Pembiayaan, Lembaga Asuransi, dan Pasar Modal. Pengertian bank dapat di lihat dalam Pasal 1 ayat 2 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang mengatakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 1 Pengertian bank tersebut dapat disimpulkan bahwa Lembaga Keuangan yang Berbentuk Bank yang mempunyai 1 Th.Anita Christiani, S.H., M.Hum, 2014, Hukum Perbankan, Cetakan Ke 5, Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogykarta, hlm.19.

2 fungsi sebagai lembaga perantara atau di sebut juga sebagai lembaga intermediary dapat di kaji bahwa bank membantu pihak yang kesulitan dana untuk memperoleh modal karena pihak yang kesulitan dana tersebut akan sangat sulit untuk bertemu dengan pihak yang kelebihan dana. 2 Lembaga Keuangan Yang Berbentuk Bank terdapat hubungan antara nasabah dengan bank yang dapat di bagi menjadi hubungan kontraktual dengan hubungan non kontraktual. 3 Hubungan kontraktual adalah hubungan antara bank dengan nasabah yang dituangkan dalam bentuk tertulis sedangkan hubungan non kontraktual adalah hubungan antara nasabah dengan bank yang tidak tertuang dalam bentuk tertulis. Hubungan non kontraktual tersebut terdapat 3 hubungan antara lain hubungan kepercayaan, hubungan kehati-hatian serta hubungan kerahasiaan. 4 Hubungan kerahasiaan yang dilandasi oleh prinsip kerahasiaan ini merupakan hal sangat penting dalam lembaga perbankan, yang dikarenakan prinsip kerahasiaan ini merupakan jiwa dari lembaga perbankan. Prinsip kerahasiaan ini lembaga perbankan diwajibkan untuk merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan data nasabah bank. Kerahasiaan bank ini sangatlah diperlukan oleh lembaga perbankan untuk menumbuhkan kepercayaan nasabah terhadap lembaga perbankan sebagai lembaga penyimpan dana dan juga sebagai lembaga perantara. Kepercayaan terhadap lembaga perbankan sangatlah penting 2 Th.Anita Christiani, S.H., M.Hum, 2014, Hukum Perbankan, Cetakan Ke 5, Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogykarta, hlm.23. 3 Ibid hlm.24. 4 Ibid hlm.25.

3 karena tanpa adanya kepercayaan dari pihak masyarakat terhadap lembaga perbankan maka dapat dikatakan suatu bank tidak akan dapat beroperasi 5 sehingga stabilitas sistem keuangan goyah apabila bank tidak menganut prinsip kerahasiaan, rush yang terjadi multiplier efeknya dapat menular ke industri bank yang lain, bahkan pada sistem perekonomian negara. 6 Mengingat pentingnya prinsip kerahasiaan ini pada lembaga perbankan maka pembentuk Undang Undang menuangkan prinsip kerahasiaan ini secara khusus dalam Pasal 40 sampai dengan Pasal 45 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata Cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan tertulis di dalam lampiran bahwa bank atau Lembaga Penyelenggara Kartu Kredit untuk melaporkan segala data transaksi nasabah kartu kredit yang paling sedikit memuat antara lain nama bank, Nomor Rekening kartu kredit, ID merchant, nama merchant, nama pemilik kartu, alamat pemilik kartu, Nomor paspor pemilik kartu, Nomor Pokok Wajib Pajak pemilik kartu, bulan tagihan, tanggal transaksi, rincian transaksi, nilai transaksi, dan pagu kredit. 5 Ibid hlm.25. 6 Djoni S.Gazali,S.H.,M.Hum, Rachmadi Usman, S.H.,M.Hum, 2016, Hukum Perbankan, cetakan ke- 3, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 31.

4 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998 bahwa selain alasan alasan yang dikecualikan sebagaimana yang di sebutkan dalam Pasal 41, Pasal 41A, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 44A, maka data nasabah tidak dapat di bocorkan kepada pihak diluar bank. Untuk kepentingan perpajakan maka dibuatkan suatu peraturan yang mengatur mengenai kewajiban lapor perpajakan yaitu dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata Cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan yang di dalam peraturan Menteri Keuangan ini bank juga dimasukkan ke dalam daftar instansi atau lembaga yang diwajibkan untuk melaporkan segala data nasabah yang menggunakan jasa kartu kredit bank, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 tersebut terdapat 23 bank atau lembaga penerbit kartu kredit wajib melaporkan data transaksi nasabah kartu kredit dan segala hal terkait data nasabah kartu kredit. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata Cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan tersebut telah mengalami beberapa kali berubahan dan perubahan terakhir Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 yang di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2016 tersebut berdasarkan atas Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2012 tentang Pemberian dan Penghimpunan Data dan Informasi yang berkaitan dengan Perpajakan dan

5 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2012 tentang Pemberian dan Penghimpunan Data dan Informasi tersebut berdasarkan Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Dasar Tahun 1945 yang berisi ketentuan bahwa Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang Undang sebagaimana mestinya. Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 Tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata Cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan menyebabkan perekonomian Negara Republik Indonesia menjadi turun. Hal ini disebabkan oleh adanya penolakan dari masyarakat sebagai nasabah bank yang menggunakan jasa kartu kredit tersebut berupa penurunan transaksi dengan menggunakan jasa kartu kredit dan penutupan kartu kredit yang dilakukan oleh nasabah bank. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bank Indonesia, penurunan tingkat transaksi melalui kartu kredit yang dilakukan oleh nasabah bank 3.59 persen, sedangkan penutupan kartu kredit oleh nasabah bank melonjak hingga tiga kali lipat. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penolakan masyarakat tersebut adalah kurangnya sosialisasi kewajiban lapor untuk kepentingan pajak atas kartu kredit kepada masyarakat sehingga penolakan yang dilakukan tersebut merupakan bentuk kekhawatiran atas keamanan data nasabah bank yang menggunakan jasa kartu kredit.

6 B. Rumusan Masalah berikut : Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai 1. Apakah kewajiban bank untuk melaporkan data nasabah bank pengguna kartu kredit dalam kewajiban lapor perpajakan melanggar prinsip kerahasiaan bank? 2. Bagaimanakah implementasi ketentuan wajib lapor data pengguna kartu kredit untuk kepentingan perpajakan terhadap kepercayaan masyarakat pada lembaga perbankan? C. Tujuan Penelitian Sesuai rumusan masalah yang telah dirumuskan maka tujuan dari penelitian hukum ini adalah : 1. Untuk mengetahui ruang lingkup prinsip kerahasiaan bank dalam kewajiban bank untuk melaporkan data pengguna kartu kredit terkait kewajiban lapor perpajakan. 2. Untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan ketentuan dalam kewajiban lapor pajak atas kartu kredit sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 Tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata Cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang

7 Berkaitan Dengan Perpajakan dalam kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. D. Manfaat Penelitian berikut: Dalam hal ini manfaat penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai 1. Manfaat teoritis : Penelitian ini bermanfaat untuk perkembangan hukum di Indonesia, khususnya tentang Kewajiban Bank Untuk Lapor Perpajakan Atas Data Nasabah Bank Yang Menggunakan Jasa Kartu Kredit Ditinjau Dari Prinsip Kerahasiaan Bank dan menambah wawasan pengetahuan pada khususnya serta memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan hukum lebih lanjut terhadap ilmu hukum. 2. Manfaat praktis : a. Bagi Penulis Hasil penelitian ini untuk menambah wawasan pengetahuan masalah hukum khususnya tentang pelaksanaan prinsip kerahasiaan bank dalam lembaga perbankan serta ruang lingkup prinsip kerahasiaan bank dalam lembaga perbankan.

8 b. Bagi Pemerintah Adanya penelitian ini diharapkan dapat lebih memberikan perlindungan kepada nasabah bank melalui peraturan peraturan di lembaga perbankan. c. Bagi Lembaga Perbankan Adanya penelitian ini diharapkan dapat lebih menjaga eksistensi lembaga perbankan sebagai lembaga penyimpan dana serta penyalur dana. d. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan menambah wawasan di dalam bidang perbankan. E. Keaslian Penelitian Penelitian dengan judul Kewajiban Untuk Lapor Perpajakan Atas Data Nasabah Bank Yang Menggunakan Jasa Kartu Kredit Ditinjau Dari Prinsip Kerahasiaan Bank yang membahas secara khusus tentang kewajiban lapor perpajakan terhadap data tranksasi kartu kredit yang dilakukan oleh nasabah bank ditinjau dari prinsip kerahasiaan bank hingga saat ini masih belum ada, sehingga penulisan hukum ini bukan plagiasi dari skripsi yang ada. Ada beberapa skripsi dengan tema yang senada yaitu :

9 1. Valdio A. Iroth, NPM : 120711285, Fakultas : Hukum, Univesitas Sam Ratulagi, Tahun 2012. Menulis dengan skripsi Penerapan Ketentuan Pajak Pada Transaksi Kartu Kredit Yang Di Keluarkan Oleh Bank Pemerintah. Rumusan Masalahnya adalah bagaimanakah penerapan ketentuan pajak pada transaksi kartu kredit dan bagaimana proses penerbitan kartu kredit oleh pihak bank pemerintah. Hasil penelitian berupa penetapan presentase minimum pembayaran oleh pemegang kartu, dilakukan oleh Bank pelaksana berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia. Penerbit kartu kredit berkewajiban untuk memberikan informasi secara tertulis kepada pemegang kartu, paling kurang meliputi : Komponen dalam perhitungan bunga, Komponen dalam perhitungan denda, dan jenis dan besarnya biaya administrasi yang dikenakan. Serta hasil penelitiannya juga berupa kegiatan bank penerbit kartu kredit dalam pemberian kartu kredit termasuk: memeriksa data nasabah untuk mengetahui nasabah yang potensial untuk diberikan Pre Approval. Menyetujui atau menolak penawaran kartu kredit dan menetapkan Credit Limits. Memberikan otoritasi penerbitan kartu kredit dan setiap rekening. Memelihara bekas kredit yang perlu untuk setiap pemilik kartu kredit. 2. Patrik Elsafan Toreh, NPM: 100711085, Universitas Sam Ratulagi, Menulis dengan skripsi Perlindungan Hukum Nasabah Terhadap Penggunaan Kartu Kredit Ditinjau dari Hukum Perlindungan Konsumen. Rumusan Masalahnya adalah apa sajakah faktor faktor penyebab kendala terhadap perlindungan nasabah terhadap penggunaan kartu kredit dan bagaimana perlindungan

10 hukum kepada nasabah terhadap penggunaan kartu kredit ditinjau dari hukum perlindungan konsumen. Hasil penelitiaan berupa faktor faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan perlindungan hukum terhadap nasabah kartu kredit antara lain meliputi: dilihat dari sisi pelaku usaha, dimana pihak bank tidak bertanggung jawab untuk memperoleh tanda bukti penerimaan dari penerima uang dan juga tidak menutup adanya kesalahan dari pihak bank dalam proses administrasi. Di lihat dari sisi nasabah selaku konsumen, dimana nasabah kurang memperhatikan informasi yang jelas dan lengkap mengenai suatu produk perbankan dan juga sikap nasabah yang kurang teliti terlihat pada saat nasabah mengisi formulir. Di lihat dari sisi lain, yaitu penggunaan teknologi dalam perbankan, kurang berperannya pihak pihak yang terkait dengan perlindungan terhadap nasabah kartu kredit maupun dari sisi peraturan perundang-undangan itu sendiri. Di lihat dari sisi perundang-undangan, dimana belum ada peraturan khusus mengenai transaksi Electronic Funds Transfer khususnya kartu kredit di Indonesia untuk dijadian acuan atau dasar. Hasil penelitian yang diperoleh dari penulis juga berupa perlindungan hukum terhadap nasabah dalam penggunaan jasa kartu kredit belum berjalan semestinya, meskipun pihak bank telah memberikan perlindungan hukum dalam tiga tahap yaitu: Tahap pra transaksi, adalah tahap sebelum adanya transaksi dimana pihak bank telah melakukan penawaran dan pengenalan produk khususnya yaitu kartu kredit. Pihak bank berusaha memberikan informasi yang jelas kepada calon nasabah.

11 Hal ini sesuai dan diatur dalam UUPK Pasal 4 huruf c mengenai hak konsumen dan Pasal 7 huruf c mengenai kewajiban pelaku usaha dalam memberikan informasi. Tahap Transaksi, adalah tahap dimana telah terjadi adanya kesepakatan pihak bank dengan nasabah melalui ditanda tanganinya aplikasi atau formulir yang sudah dibuat sepihak oleh pihak bank, sehingga menimbulkan hubungan hukum diantara kedua belah pihak. Tahap setelah transaksi, adalah tahap penyelesaian sengketa antara nasabah dengan pihak bank. 3. Mikael Haryo Priyohito, NPM: 080509891, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menulis dengan skripsi Perlindungan Hukum Privacy Data Nasabah Dalam Penyelenggaraan Internet Banking. Rumusan Masalahnya adalah bagaimana perlindungan hukum Privacy Data nasabah terkait dengan kerahasiaan bank dan prinsip mengenal nasabah dalam penyelenggaraan internet banking serta bagaimana penyelesaian sengketa apabila terjadi pembongkaran Privacy Data nasabah dalam penyelenggaraan Internet Banking. Hasil Penelitiannya berupa Perlindungan hukum privacy data nasabah terkait dengan kerahasiaan bank dan prinsip mengenal nasabah dalam penyelenggaraan internet banking merupakan dua hal yang berbeda dalam hal penerapannya. Penerapan prinsip mengenal nasabah bukan merupakan suatu tindakan yang mengesampingkan perlindungan atas data nasabah yang terkait dengan prinsip kerahasiaan bank. Kerahasiaan bank ditujukan bagi perlindungan terhadap keterangan mengenai nasabah/data

12 nasabah, sedangkan prinsip mengenal nasabah ditujukan untuk melindungi bank dalam rangka melakukan hubungan dengan nasabahnya agar bank terhindar atau tidak disalahgunakan sebagai sarana dan tempat menyembunyikan asal-usul uang/harta kekayaan yang diperoleh dari hasil tindak pidana seperti pencucian uang atau dari praktek praktek kejahatan yang dilarang oleh Undang Undang. Hasil penelitian yang didapat oleh penulis juga berupa hubungan antara nasabah dengan pihak bank apabila terjadi sengketa, pihak bank wajib menyelesaikan urusan tersebut dengan penyelesaian pengaduan nasabah, apabila hal tersebut dirasa tidak memuaskan nasabah, penyelesaian sengketa tersebut dilakukan dengan cara mediasi. Ketiga skripsi tersebut berbeda dengan penelitian oleh penulis. Jika Valdio A. Iroth memfokuskan tentang penentuan ketentuan pajak tentang transaksi kartu kredit serta cara penerbitan kartu kredit yang dilakukan oleh Bank, Patrik Elsafan Toreh memfokuskan tentang kendala dalam melaksanakan perlindungan bagi nasabah pengguna kartu kredit dan perlindungan bagi nasabah kartu kredit yang dilihat dari perlindungan konsumen, dan Mikael Haryo Priyohito memfokuskan tentang perlindungan hukum privacy data nasabah terkait dengan kerahasiaan bank dan prinsip mengenal nasabah dalam penyelenggaraan internet banking dan cara menyelesaikan sengketa apabila terjadi pembongkaran privacy data nasabah dalam penyelenggaraan internet banking tersebut. Penulis menekankan pada kewajiban bank dalam melaporkan data nasabah bank yang menggunakan jasa kartu kredit

13 untuk kepentingan perpajakan kepada Direktur Jenderal Pajak menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 ditinjau dari prinsip kerahasiaan bank dan Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 1998. F.Batasan Konsep Dalam tulisan ini, adapun batasan konsep terhadap permasalahan yang dibahas yaitu : 1. Prinsip kerahasiaan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan nasabah mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. 2. Data nasabah yang menggunakan jasa kartu kredit yaitu terkait dengan data dan informasi nasabah bank yang merupakan pengguna kartu kredit. 3. Kewajiban lapor perpajakan adalah kewajiban instansi, lembaga maupun asosiasi untuk melaporkan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan. G. Metode Penelitian 1. Jenis penelitian Jenis penelitian hukum yang dilakukan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang berfokus pada norma hukum positif berupa peraturan perundang-undangan. 7 7 Prof.Dr. Soerjono Soekanto,S.H.,M.A., Sri Mamudji,S.H.,M.L.L, 2014, Penelitian Hukum Normatif, Cetakan Ke-16, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, hlm.13.

14 2. Sumber data Data yang digunakan dalam penelitian normatif berupa data sekunder yang terdiri dari: a. Bahan hukum primer yang terdiri atas peraturan perundang-undangan yang tata urutannya sesuai dengan tata cara pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8 Dalam hal ini peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan arti penting prinsip kerahasiaan dalam dunia perbankan, kewajiban lapor perpajakan, dan kewajiban bank untuk melaporkan data nasabah yang menggunakan jasa kartu kredit untuk kepentingan perpajakan, yaitu: 1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3473, Seketariat Negara, Jakarta). 3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790, Seketariat Negara, Jakarta). 8 Peter Mahmud Marzuki, 2014, Penelitian Hukum, Cetakan ke-9, Kencana, Jakarta, hlm. 182.

15 4) Undang Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357, Seketariat Negara, Jakarta). 5) Undang Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843, Seketariat Negara, Jakarta). 6) Undang Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262, Seketariat Negara, Jakarta). 7) Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang - Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4740, Seketariat Negara, Jakarta). 8) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2012 tentangpemberian Dan Penghimpunan Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012

16 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5289, Seketariat Negara, Jakarta). 9) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata Cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 30). 10) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2016 tentang perubahan kelima atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2013 tentang Rincian Jenis Data Dan Informasi Serta Tata cara Penyampaian Data Dan Informasi Yang Berkaitan Dengan Perpajakan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 442). 11) Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3998, Seketariat Negara, Jakarta). b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yaitu: 1) Buku teks, jurnal ilmiah, surat kabar (koran), dan berita internet,

17 2) Fakta hukum, doktrin, asas-asas hukum, serta pendapat hukum. 9 3) Wawancara dengan narasumber yang berkaitan dengan permasalahan penulisan penulis. c. Bahan hukum tertier yaitu bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan- bahan hukum primer dan sekunder, yaitu: 1) Kamus Besar Bahasa Indonesia 2) Ensiklopedia 3) Kamus Istilah Perbankan Indonesia 3. Metode Pengumpulan Data a. Untuk mengumpulkan data sekunder dalam penulisan, dengan menggunakan cara: 1) Studi kepustakaan, yaitu dengan mempelajari data sekunder yang meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. 2) Wawancara, yaitu cara pengumpulan data dengan mengajukan secara langsung beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan penulisan penulis kepada narasumber. 4. Metode analisis data Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan dan wawancara dengan narasumber dianalisa dengan menggunakan metode diskripsi kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan dan wawancara disusun secara sistematis, setelah itu diseleksi berdasarkan permasalahan yang 9 Ibid. hlm. 195.

18 dilihat dengan ketentuan yang berlaku, kemudian disimpulkan sehingga diperoleh jawaban permasalahan. Penulis menggunakan metode berpikir deduktif dalam menarik kesimpulan, yaitu cara berpikir yang dimulai dari suatu pengetahuan yang bersifat umum kemudian diarahkan kepada suatu pengetahuan yang bersifat khusus. H. Sistematika Skripsi Sistematika skripsi terdiri dari tiga bab, yaitu : 1. Bab I : PENDAHULUAN Bab ini berisi mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, batasan konsep, metode penelitian dan sistematika skripsi. 2. Bab II : PEMBAHASAN Bab ini terdiri dari 3 sub-bab, pada sub-bab pertama yang merupakan variabel/konsep pertama, penulis membahas mengenai mengenai ruang lingkup prinsip kerahasiaan bank dan kewajiban lapor perpajakan. Sub-bab kedua yang merupakan variable/konsep kedua, penulis membahas mengenai kewajiban bank untuk melaporkan data nasabah bank pengguna kartu kredit dalam kewajiban lapor perpajakan berkaitan dengan pelanggaran prinsip kerahasiaan bank. Sub-bab ketiga merupakan variable/konsep ketiga membahas mengenai implementasi kewajiban lapor pajak atas data nasabah yang menggunakan jasa kartu kredit dalam lembaga perbankan.

19 3. Bab III : PENUTUP Bab ini penulis akan menulis mengenai kesimpulan serta saran yang menyangkut pembahasan dan penelitian yang telah dilakukan.