Keamanan Sumber Radioaktif

dokumen-dokumen yang mirip
2 Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir tentang Keamanan Sumber Radioaktif; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (L

: PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

pelaksanaan program proteksi dan keselamatan sumber radioaktif yang berada di Batakan base PT. Halliburton Indonesia Balikpapan-Kalimantan Timur dapat

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

Widyanuklida, Vol. 14 No. 1, November 2014: ISSN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

2015, No Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang

FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION UNTUK KEGIATAN : IMPOR ZAT RADIOAKTIF UNTUK KEPERLUAN SELAIN MEDIK

Sihana

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DAN KEAMANAN DALAM PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR

FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION UNTUK KEGIATAN : EKSPOR ZAT RADIOAKTIF

FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION UNTUK KEGIATAN : WELL LOGGING

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM KEGIATAN IMPOR, EKSPOR, DAN PENGALIHAN BARANG KONSUMEN

UPAYA PENCEGAHAN TERJADINYA ILLICIT TRAFFICKING PADA SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION UNTUK KEGIATAN PENGGUNAAN DALAM RADIOGRAFI INDUSTRI

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM PENGGUNAAN ZAT RADIOAKTIF UNTUK WELL LOGGING

HUKUM KETENAGANUKLIRAN; Tinjauan dari Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja, oleh Eri Hiswara Hak Cipta 2014 pada penulis

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KETENTUAN SISTEM PROTEKSI FISIK INSTALASI DAN BAHAN NUKLIR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

Ruang Lingkup Perizinan Instalasi dan Bahan Nuklir meliputi:

DIREKTORAT PERIZINAN FASILITAS RADIASI DAN ZAT RADIOAKTIF BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

OLEH : Dra. Suyati INSPEKSI FASILITAS RADIASI DAN INSPEKSI FASILITAS RADIASI DAN ZAT RADIOAKTIF ZAT RADIOAKTIF

2 Sebagai pelaksanaan amanat Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran telah diberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2002 te

FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION UNTUK KEGIATAN PENGGUNAAN DALAM RADIOGRAFI INDUSTRI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KETENTUAN SISTEM PROTEKSI FISIK INSTALASI NUKLIR DAN BAHAN NUKLIR DI INDONESIA

FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION UNTUK KEGIATAN GAUGING INDUSTRI

2015, No Tenaga Nuklir tentang Penatalaksanaan Tanggap Darurat Badan Pengawas Tenaga Nuklir; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 te

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN KESELAMATAN OPERASI REAKTOR NONDAYA

2013, No Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

2017, No Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI DALAM PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

TATA CARA DAN ETIKA INSPEKSI. Oleh : SUYATI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAPETEN. Petugas Tertentu. Bekerja. Instalasi. Sumber Radiasi Pengion. Bekerja. Surat Izin. Pencabutan.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

REVIU PERATURAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF DI INDONESIA

KEBIJAKAN PENGAWASAN TERHADAP LIMBAH RADIOAKTIF

2011, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir ini, yang dimaksud dengan: 1. Reaktor nondaya adalah r

M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2012 TENTANG KESELAMATAN DAN KEAMANAN INSTALASI NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBAR PENGESAHAN. No. Dok : Tanggal : Revisi : Halaman 1 dari 24

2012, No Instalasi Nuklir, Reaktor Nuklir, dan Bahan Nuklir adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Keten

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2012 TENTANG KESELAMATAN DAN KEAMANAN INSTALASI NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG KESIAPSIAGAAN DAN PENANGGULANGAN KEDARURATAN NUKLIR

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION

BATAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL,

TINJAUAN PROGRAM PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI DALAM FRZR

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF

STATUS KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DI INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

: Panduan Penyusunan Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi Dalam Kegiatan Well Logging LEMBAR PENGESAHAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERIZINAN INSTALASI NUKLIR DAN PEMANFAATAN BAHAN NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG PERIZINAN REAKTOR NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

EVALUASI KESIAPSIAGAAN NUKLIR DI INSTALASI RADIOMETALURGI BERDASARKAN PERKA BAPETEN NOMOR 1 TAHUN 2010

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PERIZINAN INSTALASI NUKLIR NONREAKTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

3. PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG DESAIN SISTEM CATU DAYA DARURAT UNTUK REAKTOR DAYA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2012 TENTANG KESELAMATAN DAN KEAMANAN INSTALASI NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG PERIZINAN REAKTOR NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Suhaedi Muhammad 1, Rr.Djarwanti Rahayu Pipin Sudjarwo 2 ABSTRAK ABSTRACT

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERIZINAN INSTALASI NUKLIR DAN PEMANFAATAN BAHAN NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG PERIZINAN REAKTOR NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KESELAMATAN DAN KEAMANAN INSTALASI NUKLIR

Transkripsi:

Keamanan Sumber Radioaktif Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi PUSDIKLAT BATAN

Latar Balakang Pengelolaan sumber radioaktif dengan tidak memperhatikan masalah keamanan dapat menyebabkan kecelakaan Maraknya kecelakaan radiasi Contoh kasus kecelakaan radiasi yang terkait dengan peralatan radioterapi jenis telegamma Cs-137 di Goiania, Brazil pada tahun 1987.

Latar Balakang Peristiwa 11 September 2001 yang sangat tragis di Amerika Serikat menginspirasi dan memicu negara maju maupun International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk memperhatikan aspek keamanan. IAEA menerbitkan Code of Conduct on the Safety and Security of Radioactive Source (2004)

Tujuan Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti materi ini peserta mampu menjelaskan aspek legal dan teknis keamanan sumber radioaktif Tujuan Instruksional Khusus : Setelahmengikuti materi ini peserta mampu : Menjelaskan persyaratan administratif Menjelaskan persyaratan teknis Menjelaskan tindakan pengamanan tambahan Menjelaskan pelaporan Menjelaskan program keamanan sumber radioaktif

Pokok Bahasan Dasar Hukum dan Acuan Ketentuan Umum Kategori dan Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif untuk Impor dan Ekspor Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif Selama Penggunaan, Pengangkutan dan Penimpanan

Dasar Hukum dan Acuan Dasar Hukum : UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran PP No. 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif Perka Kepala BAPETEN No. 7 Tahun 2007 tentang Keamanan Sumber Radioaktif

Dasar Hukum dan Acuan Acuan : IAEA Tecdoc 1344 on Categorization of Radioactive Source, 2001 IAEA Tecdoc 1355 on Security Group of Radioactive Source, 2003 IAEA Guidance of Export-Import of Radioactive Source, 2004 Code of Conduct (Australia) Model Regulation (Amerika)

Dasar Hukum dan Acuan (lanjutan ) UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Ps 16) Setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfataan tenaga nuklir wajib memperhatikan : Keselamatan pekerja dan anggota masyarakat Keamanan pekerja dan anggota masyarakat Ketentraman pekerja dan anggota masyarakat Kesehatan pekerja dan anggota masyarakat Perlindungan terhadap lingkungan hidup

Dasar Hukum dan Acuan (lanjutan ) PP No. 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif : KETENTUAN UMUM Pengertian BAB V. Ps 60 76 kewajiban menerapkan keamanan sumber radioaktif Kategori Kewajiban importir, eksportir, pelaksanaan impor dan ekspor Tanggungjawab pemegang izin Organsasi Keamanan Sumber Radioaktif Inventarisasi dan Rekaman Keadaan darurat

Dasar Hukum dan Acuan (lanjutan ) Perka Kepala BAPETEN No. 7 Tahun 2007 tentang Keamanan Sumber Radioaktif Sistematika pembentukan Perka BAPETEN tentang Keamanan Sumber Radioaktif hampir sama dengan sistematika Perka BAPETEN tentang Keselamatan Radiasi, meliputi persyaratan administratif dan teknis. Persyaratan keamanan impor dan ekspor sama dengan persyaratan keselamatan kecuali untuk sumber radioaktif kategori 1 dan 2 ada persyaratan tambahan. Konsep persyaratan keamanan selama penggunaan, penyimpanan dan pengangkutan yang diatur dalam Perka Keamanan, pokok pikirannya diperoleh dari persyaratan keselamatan.

Dasar Hukum dan Acuan (lanjutan ) Sistematika Perka Kepala BAPETEN No. 7 Tahun 2007 tentang Keamanan Sumber Radioaktif 1. Ketentuan Umum 2. Kategori dan Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif 3. Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif untuk Impor dan Ekspor 4. Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif selama Penggunaan, Pengangkutan, dan Penyimpanan 5. Penutup Lampiran I. Kategorisasi Sumber Radioaktif Lampiran II. Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif Berdasarkan Kategori Lampiran III. Program Keamanan Sumber Radioaktif

Ketentuan Umum Pengertian Keamanan Sumber Radioaktif : Tindakan yang dilakukan untuk mencegah akses tidak sah Perusakan kehilangan pencurian dan/atau pemindahan tidak sah sumber radioaktif (sumber terbungkus) Persyaratan secara menyeluruh akan diberlakukan 3 tahun sejak PP No.33 Tahun 2007

Kategori dan Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif Kategori Sumber Radioaktif : : (Lampiran I ) Activity _ Ratio = A = aktivitas sumber radioaktif (TBq) D = aktivitas spesifik suatu radionuklida (TBq) yang dapat menyebabkan efek deterministik yang fatal untuk skenario konservatif Cs-137: 0,1 Ir-192 : 0,08 Am-241 : 0,06 Co-60 : 0,03 A D

Kategori dan Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif (lanjutan ) Kategori Sumber Radioaktif : : (Lampiran I ) A/D Kategori A/D 1000 1 1000 > A/D 10 2 0,1 > A/D 1 3 1 > A/D 0,01 4 A/D < 0,01 5

Kategori dan Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif (lanjutan ) Kelompok Keamanan Sumber Radioaktif : : Kelompok Kategori Keterangan A 1 Ekstrim berbahaya B 2, 3 Sangat berbahaya C 4 berbahaya D 5 Tidak berbahaya

Kelompok Keamanan, kategori dan Jenis Pemanfaatan Sumber Radioaktif

Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif Ada 2 (dua) persyaratan yang ditetapkan, meliputi: 1. Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif untuk: Impor dan Ekspor : kategori 1 dan 2 2. Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif selama: Penggunaan, Pengangkutan, dan Penyimpanan (kelompok keamanan A, B dan C)

Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif untuk Impor dan Ekspor Importir (sumber radioaktif kategori 1 dan 2) menyerahkan fotokopi ke BAPETEN : - dokumen izin eksportir sumber radioaktif dari badan pengawas negara pengekspor - persetujuan ekspor dari badan pengawas negara pengekspor (paling lambat 7 hari sebelum pengiriman)

Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif untuk Impor dan Ekspor(Lanjutan ) Eksportir (sumber radioaktif kategori 1 dan 2) harus menyampaikan fotokopi ke BAPETEN: dokumen izin importir sumber radioaktif dari badan pengawas negara pengimpor dalam hal pelaksanaan ekspor kategori 1, eksportir harus memperoleh persetujuan tertulis dari badan pengawas negara pengimpor pemberitahuan secara tertulis kepada badan pengawas negara pengimpor paling lambat 7 hari sebelum pengiriman ( tanggal ekspor; kendaraan angkutan ; penerima; nama dan aktivitas sumber radioaktif; tingkat aktivitas kumpulan; dan jumlah dan nomor seri sumber radioaktif) pemberitahuan secara tertulis kepada Kepala BAPETEN paling lambat 7 hari sebelum pengiriman.

Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif selama Penggunaan, Pengangkutan, dan Penyimpanan. 1. Persyaratan administratif; 2. persyaratan manajemen; 3. persyaratan teknis; 4. pelaporan.

Persyaratan Administratif Penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan Sumber Radioaktif wajib memiliki izin Pemanfaatan Tenaga Nuklir dari BAPETEN. Izin ini harus diajukan secara tertulis kepada Kepala BAPETEN dengan dilengkapi: a. dokumen persyaratan keselamatan radiasi untuk Penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan, dokumen ini diatur dalam Peraturan Kepala BAPETEN tersendiri; b. dokumen persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif untuk Penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan, dokumen ini meliputi: program Keamanan Sumber Radioaktif; dan/atau (Kelompok Keamanan A, B dan C) laporan verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif ( Kelompok Keamanan A dan B)

Persyaratan Manajemen Persyaratan manajemen meliputi: 1. Organisasi Keamanan Sumber Radioaktif 2. Program Keamanan Sumber Radioaktif dan/atau laporan verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif 3. Pemeriksaan Latar Belakang 4. Sistem keamanan informasi 5. Inventarisasi dan rekaman hasil Inventarisasi.

Persyaratan Manajemen 1. Organisasi Keamanan Sumber Radioaktif Pemegang Izin Petugas Keamanan Sumber Radioaktif. Organisasi disesuaikan dengan : kelompok keamanan Sumber Radioaktif; Jumlah Sumber Radioaktif; Potensi ancaman terhadap Sumber Radioaktif.

Persyaratan Manajemen 1. Organisasi Keamanan Sumber Radioaktif Tanggungjawab Pemegang Izin : mencegah pengambilalihan, pencurian, kehilangan, sabotase, dan/atau pengalihan Sumber Radioaktif oleh orang yang tidak berwenang dalam Penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan Sumber Radioaktif; menyelenggarakan Pelatihan Keamanan Sumber Radioaktif; dan menunjuk dan mengangkat Petugas Keamanan Sumber Radioaktif (PKSR) : Telah mengikuti Pelatihan Keamanan Sumber Radioaktif Dapat dirangkap oleh PPR atau Kepala Satuan Pengamanan Fasilitas

Persyaratan Manajemen 1. Organisasi Keamanan Sumber Radioaktif Petugas Keamanan Sumber Radioaktif bertanggung jawab untuk: a. memberikan saran kepada Pemegang Izin mengenai aspek administratif dan teknik Keamanan Sumber Radioaktif; b. membantu Pemegang Izin mengembangkan program Keamanan Sumber Radioaktif dan/atau laporan verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif; c. membantu Pemegang Izin untuk memastikan terpenuhinya persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif sesuai dengan program Kemanan Sumber Radioaktif; d. meningkatkan keamanan di fasilitas dan Sumber Radioaktif jika terjadi peningkatan ancaman terhadap keamanan;

Persyaratan Manajemen 1. Organisasi Keamanan Sumber Radioaktif (Lanjutan ) e. memberi pelatihan tentang Keamanan Sumber Radioaktif di internal fasilitas kepada personil lain yang bukan PKSR dan orang lain yang memiliki akses terhadap Sumber Radioaktif; f. melaksanakan Inventarisasi berkala: Setiap hari untuk kelompok keamanan A; Setiap minggu untuk kelompok keamanan B; Setiap 6 (enam) bulan sekali untuk kelompok keamanan C g. melaporkan kepada Pemegang Izin setiap terjadi kerusakan fasilitas dan peralatan keamanan untuk diperbaiki atau diganti; dan setiap peristiwa yang terkait dengan potensi gangguan atau ancaman terhadap keamanan, dan situasi darurat.

2. Program Keamanan Sumber Radioaktif dan/atau Laporan Verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif a. organisasi Keamanan Sumber Radioaktif; b. deskripsi Sumber Radioaktif, fasilitas, dan lingkungan sekitarnya; c. prosedur operasional selama Penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan; d. pelatihan; e. Inventarisasi dan rekaman hasil Inventarisasi; f. rencana tanggap darurat; g. laporan verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif; dan/atau h. pelaporan.

2. Program Keamanan Sumber Radioaktif dan/atau Laporan Verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif Program Keamanan Sumber Radioaktif selalu dikembangkan dan dimutakhirkan Apabila terjadi situasi ancaman yang meningkat, Pemegang Izin harus meninjau ulang program Keamanan Sumber Radioaktif dan melaksanakan tindakan pengamanan, yang meliputi: a. pengembalian Sumber Radioaktif ke tempat penyimpanan yang aman jika Sumber Radioaktif tidak dioperasikan; b. penugasan PKSR untuk mengaktifkan kamera dan alarm; c. memutakhirkan prosedur keamanan.

2. Program Keamanan Sumber Radioaktif dan/atau Laporan Verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif Laporan verifikasi keamanan Sumber Radioaktif a. identifikasi Sumber Radioaktif dan karakteristiknya, yang meliputi tipe, sifat, penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan; b. penentuan tingkat ancaman yang ada di dalam dan di sekitar fasilitas berdasarkan ancaman dasar desain yang ditetapkan oleh BAPETEN; c. analisis terhadap akibat penguasaan secara tidak sah; d. penentuan ancaman dasar desain untuk Sumber Radioaktif tertentu; e. analisis terhadap kelemahan Sumber Radioaktif; f. kajian terhadap dampak dan kelemahan berbasis risiko; g. tindakan pengamanan yang diperlukan untuk mengurangi risiko.

3. Pemeriksaan Latar Belakang Pemeriksaan latar belakang dilakukan oleh Pemegang Izin untuk : a. menilai kejujuran; dan b. menetapkan kewenangan memasuki fasilitas Penggunaan dan penyimpanan Sumber Radioaktif atau akses ke Sumber Radioaktif pada saat pengangkutan.

3. Pemeriksaan Latar Belakang Bekerja dengan Sumber Radioaktif Orang lain yg memiliki akses ke sumber radioaktif Penggunaan dan Penyimpanan - PKSR -Operator / Pekerja Radiasi (KTP, KK, AK) -Petugas kebersihan -Petugas Keamanan ( KTP ) Pengangkutan -PKSR (KTP, KK, AK, SKB, Keterangan Kerja ) -Pengemudi - Petugas pemuatan dan pembongkaran ( KTP )

4. Sistem keamanan informasi Sistem keamanan informasi Sumber Radioaktif ditetapkan oleh Pemegang Izin. Berlaku untuk kelompok keamanan A, B dan C Penetapan sistem keamanan informasi Sumber Radioaktif disesuaikan dengan: a. jumlah Sumber Radioaktif; dan b. potensi ancaman terhadap Sumber Radioaktif.

4. Sistem keamanan informasi Sistem keamanan informasi Sumber Radioaktif harus menjamin informasi yang dapat membahayakan Keamanan Sumber Radioaktif tetap dijaga dan dikendalikan. lokasi Sumber Radioaktif pada saat tidak dioperasikan; dan program Keamanan Sumber Radioaktif dan/atau laporan verifikasi Keamanan Sumber Radioaktif.

5. Inventarisasi dan Rekaman hasil Inventarisasi Inventarisasi dilakukan setiap tahun baik untuk kelompok keamanan A, B, dan C. Rekaman hasil Inventarisasi meliputi: a. lokasi fasilitas Penggunaan atau penyimpanan Sumber Radioaktif; b. nama Sumber Radioaktif; c. aktivitas Sumber Radioaktif dan tanggalnya; d. nomor seri Sumber Radioaktif; e. bentuk fisik Sumber Radioaktif; f. tujuan Penggunaan dan penyimpanan Sumber Radioaktif; g. tanda terima, pemindahan atau pembuangan Sumber Radioaktif; dan h. riwayat Penggunaan Sumber Radioaktif dan perpindahan Sumber Radioaktif dari atau ke tempat penyimpanan. Pemeliharaan Rekaman : - inventarisasi rutin; - terjadi perubahan data rekaman; dan - Sumber Radioaktif dialihkan

Persyaratan Teknis Persyaratan teknis meliputi: 1. Fasilitas Sumber Radioaktif; 2. Peralatan Keamanan Sumber Radioaktif; 3. Kendali Kunci; 4. Prosedur Operasi.

Persyaratan Teknis : Fasilitas Sumber Radioaktif a. Fasilitas Tertutup Fasilitas ini meliputi Sumber Radioaktif kelompok keamanan A, B, dan C. Fasilitas Tertutup untuk Penggunaan dan penyimpanan Sumber Radioaktif harus memenuhi persyaratan : a. dinding, plafon dan atap mempunyai kekuatan dan ketebalan yang cukup sesuai dengan standar yang berlaku; b. ruangan dibuat tanpa jendela, jika sebelumnya menggunakan ruangan yang memiliki jendela, jendela tersebut ditutup atau dilengkapi dengan teralis; c. pagar yang kuat; dan d. pintu dibuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah diterobos, dan dilengkapi dengan : 1. kunci ganda untuk kelompok keamanan A; atau 2. gembok untuk kelompok keamanan B dan C.

Persyaratan Teknis : Fasilitas Sumber Radioaktif b. Fasilitas Terbuka. Berlaku untuk Sumber Radioaktif kelompok keamanan B dan C. Fasilitas terbuka harus memenuhi persyaratan : 1. tersimpan di dalam kontener Sumber Radioaktif yang kunci; 2. kontener Sumber Radioaktif diletakkan dengan aman di dalam kendaraan atau diletakkan di dalam bunker; 3. kendaraan diawasi secara terus-menerus oleh petugas operator atau dikunci; dan 4. dilengkapi dengan alarm di lapangan atau di home base.

Persyaratan Teknis : Peralatan Keamanan Sumber Radioaktif Pemegang Izin harus menyediakan peralatan keamanan Sumber Radioaktif selama Penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan Sumber Radioaktif baik untuk kelompok keamanan A, B, dan C. Peralatan keamanan Sumber Radioaktif selama pengangkutan untuk kelompok keamanan A, B dan C : a. telepon selular; b. balok untuk fiksasi; c. rantai dan gembok; dan d. senter besar.

Peralatan Keamanan Sumber Radioaktif Selama Penggunaan dan Penyimpanan Peralatan Keamanan Detektor gerak Sensor inframerah Kelompok Keamanan A B C HT Telepon Alarm dan sirene Balance Magnetic Switch Kunci elektronik Kunci Senter Ganda, kendali Gembok, kendali gembok

Persyaratan Teknis : Prosedur Operasi Pemegang Izin harus membuat dan mengesahkan prosedur operasi untuk penggunaan, pengangkutan, dan penyimpanan Sumber Radioaktif kelompok keamanan A, B, dan C.

Persyaratan Teknis : Prosedur Operasi Prosedur Operasional Personil yg memasuki fasilitas seminimal mungkin Hanya personil yg berwenang yg dapat masuk ke fasilitas Orang yg tidak berwenang dapat masuk dengan pengawalan PKSR Kelompok Keamanan A B C Identitas personil yg masuk ke fasilitas diverifikasi dan dicatat Respon cepat untuk akses dan akuisisi tidak sah

Persyaratan Teknis : Prosedur Operasi Prosedur Operasi untuk pengangkutan Sumber Radioaktif kelompok keamanan A, B, dan C harus meliputi: a. selama pengangkutan darat, sungai, danau, dan penyeberangan didampingi oleh PKSR; b. setiap kendaraan pengangkut melalui darat harus dilengkapi dengan peralatan keamanan: kunci bagasi untuk menyimpan Sumber Radioaktif; kunci kemudi; c. bungkusan Sumber Radioaktif harus diikat dan dikunci dengan kuat agar bungkusan tidak terlepas dari kendaraan;

Persyaratan Teknis : Prosedur Operasi c. melapor pada BAPETEN dan Kepolisian terdekat secepat mungkin jika terjadi keadaan darurat atau peristiwa yang menimbulkan akibat yang signifikan terhadap Keamanan Sumber Radioaktif; d. menyampaikan rute perjalanan dan rute perjalanan alternatif jika terjadi kedaruratan kepada BAPETEN; dan e. menyerahkan dan mendapatkan persetujuan atas rencana keamanan dan tanggap darurat selama pengangkutan Sumber Radioaktif.

Persyaratan Teknis : Prosedur Operasi Pengangkutan Sumber Radioaktif kelompok keamanan A melalui darat, sungai, dan danau, harus menyediakan kawalan polisi. Selama transit harus menjaga kendaraan tetap tertutup, aman, dan diparkir di area yang aman atau di garasi yang terkunci. (Sumber Radioaktif kelompok keamanan A, B, dan C)

Pelaporan Pemegang Izin harus membuat laporan untuk Sumber Radioaktif kelompok keamanan A, B, dan C. Laporan dibuat meliputi situasi: a. normal; b. darurat.

Pelaporan Laporan mengenai situasi normal meliputi hal sebagai berikut: a. terjadinya perubahan Inventarisasi Sumber Radioaktif; b. masuknya orang yang tidak berwenang ke fasilitas Penggunaan atau penyimpanan Sumber Radioaktif; atau c. adanya kegagalan fungsi sistem keamanan, dan tindakan perbaikan yang dilakukan. Laporan disampaikan ke BAPETEN paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal kejadian.

Pelaporan Laporan mengenai situasi darurat meliputi hal sebagai berikut: a. hilangnya Sumber Radioaktif; b. pencurian atau sabotase terhadap Sumber Radioaktif yang sedang terjadi atau adanya indikasi kuat akan terjadi pencurian atau sabotase; atau c. adanya indikasi peningkatan ancaman yang mempunyai dampak signifikan terhadap Keamanan Sumber Radioaktif atau fasilitas. Laporan harus disampaikan ke BAPETEN melalui telepon paling lambat 1 (satu) jam terhitung sejak diketahuinya situasi darurat. Laporan secara tertulis paling lambat 3 (tiga) hari terhitung sejak terjadinya situasi darurat. Laporan paling sedikit berisi tentang: a. penyebab situasi darurat; b. kronologi; dan c. dampak yang ditimbulkan.

Lampiran II Program Keamanan Sumber Radioaktif Bab dalam Program Keamanan Selama Penggunaan dan Pengangkutan Kelompok Keamanan A B C Pendahuluan Organisasi Keamanan Sumber Radioaktif Deskripsi Sumber Radioaktif Prosedur Operasioal Pelatihan Inventarisasi dan Rekaman Rencana Tanggap Darurat Laporan Verifikasi Pelaporan