TIKA ANDI ARSI K
|
|
|
- Sudirman Darmadi
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UJI POTENSIASI EFEK HIPNOTIK NATRIUM TIOPENTAL OLEH EKSTRAK TOLUENA HERBA TAPAK DARA (Catharanthus roseus [L.] G. Don) PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR SWISS WEBSTAR SKRIPSI Oleh : TIKA ANDI ARSI K FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2008 i
2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang mempunyai keragaman tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Masyarakat Indonesia mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah kesehatan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obat sintetik. Pengetahuan tentang tanaman obat merupakan warisan budaya berdasarkan pengalaman turun-temurun. Berbagai macam penyakit dan keluhan ringan maupun berat dapat diobati dengan memanfaatkan ramuan dari tumbuhtumbuhan tertentu yang mudah didapat di sekitar pekarangan rumah dan mudah dibuat oleh siapa saja dalam keadaan mendesak sekalipun dengan hasil yang cukup memuaskan. Kelebihan dari pengobatan dengan menggunakan ramuan tumbuhan secara tradisional tersebut ialah minimalnya efek samping yang ditimbulkan seperti yang sering terjadi pada pengobatan kimiawi (Thomas, 1989). Pemakaian obat tradisional harus dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi persyaratan ilmiah sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui nilai efektivitas dan keamanannya. Hal ini dimaksudkan agar pengobatan tradisional dapat dipergunakan dalam sistem pelayanan kesehatan xv 1
3 2 formal dan sesuai kaidah pelayanan kesehatan formal, yaitu secara medis harus dapat dipertanggungjawabkan (Santoso, 1992). Masalah tidur kadang membuat kehidupan terasa lebih menekan atau menyebabkan seseorang menjadi kurang produktif. Tidur bukan berarti time out belaka dari rutinitas kesibukan; tidur amat penting bagi kesehatan, fungsi emosional, mental, dan kesehatan. Dewasa ini, peneliti telah menemukan bahwa orang yang menderita insomnia atau sulit tidur lebih sering menderita masalah psikiatris dibandingkan orang normal (Anonim, 2004). Keluhan sukar tidur (insomnia) sering diutarakan pasien berupa sulit untuk tertidur, sering terbangun, hanya mampu tidur sebentar atau tidur tidak nyenyak (Anonima, 2000). Salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional adalah tapak dara (Catharanthus roseus [L.] G. Don). Dari akar, batang, daun hingga bunga tapak dara mengandung unsur-unsur kimia yang bermanfaat dalam pengobatan (Thomas, 1989). Herba tapak dara mengandung alkaloid diantaranya vincaleukoblastine, leurocristine, leurosine, vincadioline, leurosidine, catharanthine. Sedangkan akarnya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid dan tannin (Dalimartha, 1999). Menurut Wijayakusuma (2000) tapak dara berkhasiat sebagai penenang (sedatif-hipnotik). Untuk mengetahui data ilmiah khasiat tapak dara sebagai sedatif-hipnotik dilakukan skrining farmakologi terhadap kandungan senyawa aktif. Senyawa aktif disari dengan berbagai pelarut dari nonpolar (misalnya heksana dan toluena), semi polar (misalnya etil asetat dan aseton) dan polar (misalnya air). xvi
4 3 Berdasarkan hasil penelitian Suliawan (2008) menunjukkan bahwa infusa herba tapak dara mampu mempotensiasi efek hipnotik natrium tiopental. Dalam infusa tersebut yang tersari adalah senyawa yang bersifat polar. Sedangkan pada penelitian Santoso (2008) menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat herba tapak dara juga mampu mempotensiasi efek hipnotik natrium tiopental. Potensiasi efek hipnotik ekstrak etil asetat herba tapak dara lebih tinggi daripada infusa herba tapak dara. Senyawa aktif yang tersari dalam etil asetat bersifat semipolar. Hal ini mendorong peneliti untuk menguji aktivitas ekstrak toluena herba tapak dara dalam mempotensiasi efek hipnotik natrium tiopental. Dengan penyari toluena ini diharapkan senyawa aktif yang tersari adalah senyawa nonpolar. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan apakah ekstrak toluena herba tapak dara mampu mempotensiasi efek hipnotik natrium tiopental 59,15 mg/kg BB pada mencit putih jantan galur Swiss Webstar? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan ekstrak toluena herba tapak dara dalam mempotensiasi efek hipnotik natrium tiopental 59,15 mg/kg BB pada mencit putih jantan galur Swiss Webstar. xvii
5 4 D. Tinjauan Pustaka 1. Herba Tapak Dara (Catharanthus roseus [L.] G.Don) a. Sistematika Tanaman Tanaman tapak dara mempunyai sistematika sebagai berikut : Divisio Sub division Class Ordo Familia Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Apocynales : Apocynaceae : Catharanthus : Catharanthus roseus [L.] G. Don (Backer dan Van Den Brink, 1965) b. Nama Daerah Sumatera : rutu-rutu, rumput jalang Jawa : kembang sari cina, kembang serdadu, kembang tembaga, paku rane, tapak doro, cakar ayam, tai lantuan Bali Maluku : tapak lima : usia (Dalimartha, 1999) c. Morfologi Tanaman Tapak dara berupa terna atau semak, menahun, tumbuh tegak, tinggi mencapai 120 cm, banyak bercabang. Batang bulat, bagian pangkal berkayu, berambut halus, warnanya merah tengguli. Daun tunggal, agak tebal, bertangkai xviii
6 5 pendek, berhadapan bersilang. Helai daun elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, kedua permukaan daun mengkilap, daun berambut halus (Dalimartha, 1999). Bunga tunggal, keluar dari ujung tangkai dan ketiak daun dengan lima helai mahkota bunga, bentuknya seperti terompet, berwarna putih, ungu, merah muda atau putih dengan warna merah ditengahnya, tabung mahkota bunga sepanjang mm (Wijayakusuma, 2000). Buahnya buah bumbung berbulu, menggantung, berisi banyak biji berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji, stek batang, atau akar (Dalimartha, 1999). d. Kandungan Kimia Herba tapak dara mengandung alkaloid diantaranya vinkaleukoblastin (vinblastin = VLB), leurokristin (vinkristin = VCR), leurosin (VLR), vinkadiolin, leurosidin, dan katarantin (Dalimartha, 1999), indole alkaloid alstonine (3,4,5,6,16,17-hexadehydro-16-(methoxycarbonyl)-19 alpha-methyl-20 alphaoxyhoimbanium) (Elisabetsky and Campos, 2006). Sedangkan pada akar tapak dara mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin (Dalimartha, 1999). Kulit akarnya mengandung 2 % resin fenolik dan 3 % d-kamfor, daunnya menghasilkan resin (oleoresin) dan sejumlah kecil minyak menguap aldehid, seskuiterpen dan senyawa-senyawa sulfur, furfural, loknenol, dan lokneralol, glikosida adenosin, roseosida, deoksilogunin, loganin, tanin, karoten, sterol, asam virsolat, dan derivat flavon (Duke, 1987). e. Efek Farmakologi Tapak dara dapat berkhasiat sebagai antineoplastik, diuretik, hipotensif, sedatif, homeostatis, serta menghilangkan panas dan racun (Dalimartha, 1999). xix
7 6 Tapak dara juga berkhasiat sebagai purgativum, obat indigesti, dispepsia, dan agen antipsikotik (Elisabetsky and Campos, 2006). 2. Insomnia Kebanyakan orang dewasa sehat membutuhkan rata-rata tujuh jam waktu tidur di malam hari. Tidur tidak hanya menghilangkan keletihan. Tidur merupakan keadaan istirahat dari fungsi yang disadari meskipun fungsi yang tidak disadari yang sangat penting tetap berlangsung. Keadaan tidak aktif ini penting untuk mengurangi tenaga yang dibutuhkan otak dan untuk memberikan cukup istirahat pada otak bagian depan (Anonim b, 2000). Tidur dapat memulihkan badan, memulihkan kestabilan, membantu berfikir lebih baik, mengisi otak secara elektrik dan memulihkan bahan-bahan kimia otak pada tingkat yang cukup (Anonim, 2004). Tidak jarang orang mengeluhkan kendala-kendala seperti kesulitan tidur, tidur tidak tenang, kesulitan menahan tidur, seringnya terbangun di pertengahan malam dan terbangun lebih awal. Secara garis besar, insomnia disebabkan oleh stress atau kecemasan, depresi, kelainan-kelainan kronis, efek samping pengobatan, pola makan yang buruk, kurang berolahraga, atau karena perubahan lingkungan sekitar. Insomnia dapat disembuhkan tergantung dari gejala yang dialami. Cara yang paling umum adalah penyembuhan menggunakan obat-obatan, dengan dimulai dosis efektif serendah mungkin, digunakan dalam jangka pendek, atau pemakaian dosis yang bertahap jika digunakan dalam jangka panjang, serta diimbangi dengan pendekatan perilaku atau praktik tidur yang baik (Anonim, 2004). xx
8 7 3. Hipnotik Hipnotika atau obat-obat tidur (bahasa Yunani: hypnos = tidur) adalah zatzat yang diberikan pada malam hari dalam dosis terapi, dapat mempertinggi keinginan faal dan normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur (Tjay dan Rahardja, 2002). Hipnotik adalah obat-obat yang bekerja mendepresi susunan saraf pusat (SSP) sehingga menyebabkan tidur, menambah keinginan tidur atau mempermudah tidur (Anonim, 1994). Hipnotik efektif dalam mempercepat waktu menidurkan, memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi bangun, serta memperbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Akan tetapi mempersingkat periode tidur REM (Rapid Eye Movement) (Tjay dan Rahardja, 2002). Selama satu malam pada umumnya siklus tidur dapat dibedakan menjadi dua stadia yaitu : a Tidur-tenang yang disebut pula tidur non-rem atau Slow Wave Sleep atas dasar registrasi aktivitas listrik otak (EEG = elektro-encefalogram). Ciricirinya ialah denyutan jantung, tekanan darah dan pernafasan yang teratur, serta relaksasi otot tanpa gerakan-gerakan otot muka atau mata. SWS ini lebih kurang satu jam lamanya. Stadium ini disusul dengan stadium b. b Tidur-paradoksal atau tidur REM (Rapid Eye Movement) dengan aktivitas EEG yang mirip keadaan sadar dan aktif serta berciri gerakan-gerakan mata cepat, jantung, tekanan darah dan pernafasan turun-naik, aliran darah ke otak bertambah dan otot-otot sangat mengendor. Selama tidur REM yang semula xxi
9 8 berlangsung menit terjadi banyak impian, maka disebut pula tidur mimpi. ( Tjay dan Rahardja, 2002) Tiap malam kedua fase silih berganti kira-kira empat sampai lima kali. Hipnotik harus mengantarkan kepada kondisi yang sedapat mungkin mendekati tidur alami sehingga diperlukan zat-zat yang bekerja singkat terhadap gangguan untuk tertidur dan tertidur kembali maupun zat-zat yang bekerja lebih lama (maksimum 8 jam) terhadap gangguan untuk terus tidur (Schunack dkk., 1990). Obat tidur yang ideal harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. Menimbulkan suatu keadaan yang sama dengan tidur fisiologik b. Jika suatu kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain dari sistem saraf pusat (atau fungsi-fungsi organ lainnya) kecil c. Tidak tertimbun d. Pada pagi berikutnya tidak menyebabkan kerja ikutan yang negatif e. Tidak kehilangan khasiatnya pada pemakaian yang lebih lama (Mutschler, 1986) Secara kimiawi hipnotika dapat digolongkan menjadi lima, yaitu golongan barbiturat (fenobarbital, butobarbital, siklobarbital, heksobarbital, dan lain-lain); benzodiazepin (temazepam, nitrazepam, flunitrazepam, dan tiozepam); alkoholalkohol dan aldehid-aldehid, kloralhidrat dan turunannya (triklofos dan dikloralfenazon), paraldehida; bromida (kalium, natrium, dan amoniumbromida) dan turunan ureida (ureida karbomal dan bromisoval); serta obat-obat lainnya xxii
10 9 seperti senyawa-senyawa piperidindion (glutetimid, termasuk juga talidomida) dan metaqualon (Tjay dan Raharja, 2002). 4. Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dipisahkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia hewani ialah simplisia yang berupa bagian utuh bagian hewan atau zat-zat yang berguna, yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahan pelikan (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (Anonim, 1995). 5. Ekstraksi Ekstraksi atau penyarian merupakan peristiwa perpindahan masa zat aktif yang semula berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari. Pada umumnya penyari akan bertambah baik bila permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan semakin luas (Anonim, 1986). Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan (Anonim, 1995). xxiii
11 10 Metode dasar dari ekstraksi obat adalah maserasi ( proses M ) dan perkolasi ( proses P ). Biasanya metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat. Sifat dari bahan mentah obat merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi (Ansel, 1989). Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah maserasi. Istilah maceration berasal dari bahasa Latin macerare, yang artinya merendam. Maserasi merupakan proses paling tepat dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam menstruum sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut (Ansel, 1989). Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Anonim, 1986). Dalam proses maserasi, obat yang akan diekstraksi biasanya ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar, bersama menstruum yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat, dan isinya dikocok berulang-ulang lamanya biasanya berkisar dari 2-14 hari. Pengocokan memungkinkan pelarut segar xxiv
12 11 mengalir berulang-ulang masuk ke seluruh permukaan dari obat yang sudah halus. Cara lain untuk pengocokan yang berulang-ulang ini dengan menempatkan obat dalam kantung kain yang berpori yang diikat dan digantungkan pada bagian atas menstruum. Ekstrak dipisahkan dari ampasnya dengan memeras kantung obat dan membilasnya dengan penambahan menstruum baru, hasil pencucian merupakan tambahan ekstrak (Ansel, 1989). Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur C dalam waktu selama 3 hari sampai bahan-bahan yang larut, melarut. Lamanya waktu maserasi berbeda-beda tergantung pada sifat atau ciri campuran obat dan menstruum. Lamanya harus cukup supaya dapat memasuki semua rongga dari struktur obat dan melarutkan semua zat yang mudah larut (Ansel, 1989). Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Anonim, 1986). Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol atau pelarut lain (Anonim, 1986). Dalam penelitian ini cairan penyari yang digunakan adalah toluena. Toluena (methylbenzene; phenylmethane; tolueno; toluol; toluole) merupakan cairan jernih yang mempunyai sifat mudah menguap, mudah terbakar, tidak berwarna dan berbau (Sweetman, 2005). Toluena praktis tidak larut dalam air, namun dapat bercampur dengan etanol mutlak (Anonim,1979). Toluena banyak digunakan sebagai pelarut dalam industri farmasi karena merupakan xxv
13 12 pelarut yang murni, tidak bersifat toksik dan kurang karsinogenik (Fessenden dan Fessenden, 1986). 6. Natrium Tiopental Natrium tiopental adalah obat turunan senyawa barbiturat. Dalam dosis yang lebih rendah mereka digunakan sebagai sedatif. Ultra-short acting barbital ini efeknya baik tetapi sangat singkat. Mulai kerjanya cepat, begitu pula pemulihannya, tetapi efek analgetik dan relaksasi ototnya tidak cukup kuat. Oleh karena itu, hanya digunakan untuk induksi dan narkose singkat (Tjay dan Rahardja, 2002). Natrium tiopental mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 102,0% C 11 H 7 N 2 NaO 2 S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya berupa serbuk hablur, putih sampai hampir putih kekuningan atau kuning kehijauan pucat, higroskopik, berbau tidak enak. Larutan bereaksi basa terhadap lakmus, terurai jika dibiarkan, jika dididihkan terbentuk endapan. Larut dalam air, dalam etanol, tidak larut dalam benzena, dalam eter mutlak, dan dalam heksana (Anonim, 1995). Struktur natrium tiopental dapat dilihat pada Gambar 1. H O N SNa C 2 H 5 N H 3 C(H 2 C) 2 HC CH 3 O Gambar 1. Struktur Kimia Natrium Tiopental (Natrium 5-etil-5-(1metilbutil)-2- tiobarbiturat) (Anonim, 1979) Efek utama dari natrium tiopental adalah depresi susunan saraf pusat (SSP). Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hipnosis, berbagai xxvi
14 13 tingkat anestesia, koma, sampai dengan kematian. Efek antiansietas natrium tiopental berhubungan tingkat sedasi yang dihasilkan. Fase tidur REM (Rapid Eye Movement) dipersingkat, sedikit menyebabkan sikap masa bodoh terhadap rangsangan luar. Natrium tiopental tidak dapat mengurangi nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran. Pemberian dosis yang hampir menyebabkan tidur dapat meningkatkan 20% ambang nyeri, sedangkan ambang lainnya (raba, vibrasi dan sebagainya) tidak dipengaruhi (Wiria dan Handoko, 1995). Natrium tiopental secara oral diabsorbsi cepat dan sempurna. Bentuk garam natrium lebih cepat diabsorbsi dari bentuk asamnya bergantung pada zat serta formula sediaan dan dihambat oleh adanya makanan di dalam lambung. Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat lewat plasenta, ikatan dengan protein plasma sesuai dengan kelarutannya dalam lemak, yang terbesar terikat hingga lebih dari 65 % (Wiria dan Handoko, 1995). 7. Diazepam Diazepam merupakan obat turunan golongan benzodiazepin. Golongan benzodiazepin lebih aman meskipun masih memiliki sifat golongan alkohol tinggi. Turunan derivat yang baru, memiliki khasiat depresi pada SSP yang cukup lebar sesuai dengan besarnya dosis, dari sedasi ringan, menghilangkan ketergantungan jiwa, sedasi, hipnosis, anestesi, pelemas otot hingga mengatasi status konvulsi (Djamhuri, 1990). Semua obat benzodiazepin memungkinkan fungsi tubuh sehari-hari menjadi normal dan tidak menyebabkan ketagihan yang tinggi seperti barbiturat (Nogrady, 1992). Keuntungan utama benzodiazepin adalah keamanan yang relatif. xxvii
15 14 Kematian yang disebabkan oleh lewat-dosis benzodiazepin jarang terjadi. Benzodiazepin tidak menyebabkan induksi enzim yang berarti pada manusia, dan karena itu kecenderungan untuk berantaraksi dengan obat lain dibandingkan barbiturat (Foye, 1995). Obat benzodiazepin yang paling banyak digunakan adalah diazepam. Diazepam mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 101,0 % C 16 H 13 ClN 2 O dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Diazepam merupakan serbuk hablur; putih atau hampir putih; tidak berbau atau hampir tidak berbau; mula-mula tidak mempunyai rasa, kemudian pahit (Anonim, 1979). Zat ini bersifat anksiolitik, penenang, serta pengendur otot dan juga sebagai suatu psikostimulan (Nogrady, 1992). Diazepam bekerja mempersiapkan untuk tidur (hipnogen) dari hipnotik, mempunyai pengaruh yang kecil pada berbagai fase tidur dan pada dosis tinggipun tidak mengakibatkan narkosis (Mutschler, 1986). Diazepam tidak mengakibatkan pembiusan total, meskipun pada penggunaan jangka panjang dapat pula terjadi kebiasaan dan ketergantungan fisik dan psikis (Tjay dan Rahardja, 2002). Struktur kimia diazepam dapat dilihat pada Gambar 2. CH3 N O C l N Gambar 2. Struktur Kimia Diazepam (7-klor-1,3-dihidroksi-1-metil-5-fenil-2H-1,4- benzoldiazepin-2-on) (Anonim, 1979) xxviii
16 15 Cara kerja obat golongan benzodiazepin dimulai dari pengikatan GABA (asam gama aminobutirat) ke reseptornya pada membran sel yang akan membuka saluran klorida, meningkat efek konduksi klorida. Aliran ion klorida yang masuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah, menurunkan potensi postsinaptik dari ambang letup dan meniadakan pembentukan kerja potensial. Benzodiazepin terikat pada sisi spesifik dan berafinitas tinggi dari membran sel yang terpisah tetapi dekat reseptor GABA. Reseptor benzodiazepin hanya terdapat pada SSP dan lokasinya sejajar dengan neurin GABA untuk neurotransmiter yang bersangkutan, sehingga saluran klorida yang berdekatan lebih sering terbuka. Keadaan tersebut akan memacu hiperpolarisasi dan menghambat letupan neuron. Efek klinis benzodiazepin tergantung pada afinitas ikatan obat masing-masing pada kompleks saluran ion, yaitu kompleks GABA reseptor dan klorida (Mycek, 2001). E. Keterangan Empiris Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data ilmiah tentang potensiasi efek hipnotik natrium tiopental 59, 15 mg/kg BB oleh ekstrak toluena herba tapak dara pada mencit putih jantan galur Swiss Webstar. xxix
UJI POTENSIASI EFEK HIPNOTIK NATRIUM TIOPENTAL OLEH EKSTRAK ETANOL 70% HERBA TAPAK DARA
UJI POTENSIASI EFEK HIPNOTIK NATRIUM TIOPENTAL OLEH EKSTRAK ETANOL 70% HERBA TAPAK DARA (Catharanthus roseus [L.] G. Don) PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR SWISS WEBSTAR SKRIPSI Oleh : IRYANI VAOLINASARI
UJI POTENSIASI EFEK HIPNOTIK NATRIUM TIOPENTAL OLEH EKSTRAK ETIL ASETAT HERBA TAPAK DARA
UJI POTENSIASI EFEK HIPNOTIK NATRIUM TIOPENTAL OLEH EKSTRAK ETIL ASETAT HERBA TAPAK DARA (Catharanthus roseus [L] G. Don) PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR SWISS WEBSTAR SKRIPSI Oleh : BAMBANG SANTOSO K 100.050.122
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Biji Orok-orok Tanaman orok-orok merupakan tanaman semak tegak, tinggi 0,6-2,5 m. Ujung batang berambut pendek. Daun penumpu bentuk paku, rontok. Tangkai daun berukuran 4-8 cm.
IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)
IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat) Abstrak Kulit buah langsat diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut yang berbeda
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keluhan sukar tidur (insomnia) sering diutarakan berupa penyakit sulit
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluhan sukar tidur (insomnia) sering diutarakan berupa penyakit sulit tertidur, sering terbangun hanya mampu tidur sebentar atau tidak nyenyak. Penyebabnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan untuk menjaga proses homeostasis tubuh, baik fisiologis maupun psikologis. Kebutuhan fisiologis
BAB I PENDAHULUAN. Patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) adalah salah satu jenis tanaman
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) adalah salah satu jenis tanaman herbal yang biasanya dijadikan sebagai menjadi tanaman hias. Tanaman patah tulang selain tanaman
ADE SEPTI ANGGRAENI K
UJI POTENSIASI EFEK HIPNOTIK NATRIUM TIOPENTAL OLEH EKSTRAK ETANOL 70% DAUN UMYUNG (Gynura aurantiaca DC) PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR SWISS WEBSTER SKRIPSI Oleh: ADE SEPTI ANGGRAENI K.100.040.125 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. maupun orang muda, serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Keluhan sukar tidur (insomnia) sering diutarakan pasien berupa sulit untuk tertidur, sering terbangun, hanya mampu tidur sebentar atau tidur tidak nyenyak. Penyebabnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masalah-masalah tidur seperti insomnia kadang membuat kehidupan seharihari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah-masalah tidur seperti insomnia kadang membuat kehidupan seharihari terasa lebih menekan atau menyebabkan seseorang menjadi kurang produktif. Kehilangan waktu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semakin berkembangnya zaman, pekerjaan semakin sibuk dan berat. Kadang beberapa aktivitas dari pekerjaan memberikan resiko seperti rematik dan nyeri. Nyeri adalah mekanisme
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian dan pengembangan tumbuhan obat saat ini berkembang pesat. Oleh karena bahannya yang mudah diperoleh dan diolah sehingga obat tradisional lebih banyak digunakan.
BAB I TINJAUAN PUSTAKA
BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Tinjauan Botani Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman lenglengan. Lenglengan dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis dan subtropis. Bagian tanaman yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan obat tradisional sudah dikenal sejak zaman dahulu, akan tetapi pengetahuan masyarakat akan khasiat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan obat tradisional sudah dikenal sejak zaman dahulu, akan tetapi pengetahuan masyarakat akan khasiat dan kegunaan tanaman obat hanya berdasarkan pengalaman
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Berenuk (Crescentia cujete L). a. Sistematika Tumbuhan Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionata Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta
BAB I. A. Latar Belakang Masalah. organisme untuk menghindarkan pengaruh-pengaruh yang merugikan tubuh
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan akan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindarkan pengaruh-pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang kaya akan sumber daya alamnya, sehingga menjadi negara yang sangat potensial dalam bahan baku obat, karena
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA AMAMI IDENTIFIKASI DIAZEPAM METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA AMAMI IDENTIFIKASI DIAZEPAM METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS 1. WAKTU DAN TEMPAT Praktikum dilakukan pada hari selasa, 15 November 2016 pada pukul 18:00-21:00 WIB, bertempat di Laboratorium
ANSIOLITIK/SEDATIVE - HIPNOTIKA
ANSIOLITIK/SEDATIVE - HIPNOTIKA Disusun Oleh : Nama Mahasiswa : Linus Seta Adi Nugraha Nomor Mahasiswa : 09.0064 Tgl. Praktikum : 9 Mei 2011 Hari Praktikum : Senin Dosen Pembimbing : Margareta Retno Priamsari,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Manfaat berbagai macam tanaman sebagai obat sudah dikenal luas di negara berkembang maupun negara maju. 70-80% masyarakat Asia dan Afrika masih menggunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus communis (sukun) yang diperoleh dari Garut, Jawa Barat serta
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI EKTRAKSI Ekstraksi tanaman obat merupakan suatu proses pemisahan bahan obat dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan
BAB I TINJAUAN PUSTAKA
BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Obat Tradisional Menurut peraturan menteri kesehatan nomor 007 tahun 2012 obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
benua Amerika yang beriklim tropis pada ketinggian m di atas permukaan laut (Faridah, 2007). Tanaman berduri ini termasuk dalam klasifikasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman masih merupakan sumber utama dalam penemuan obat baru, sementara alam Indonesia menyediakan sumber alamiah yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam menemukan
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etil asetat. Etil asetat merupakan pelarut semi polar yang volatil (mudah
BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenika) atau campuran dari bahanbahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat tradisional merupakan bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenika) atau campuran dari bahanbahan tersebut yang secara
BAB IV PROSEDUR KERJA
BAB IV PROSEDUR KERJA 4.1. Penyiapan Bahan Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun alpukat dan biji alpukat (Persea americana Mill). Determinasi dilakukan di Herbarium Bandung Sekolah
BAB I PENDAHULUAN. Keseimbangan dalam fisiologi sangat penting bagi semua mekanisme
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keseimbangan dalam fisiologi sangat penting bagi semua mekanisme tubuh, termasuk dalam mekanisme keseimbangan kadar glukosa darah yang berperan penting dalam aktifitas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber bahan obat dari alam yang secara turun temurun telah digunakan sebagai ramuan obat tradisional. Pengobatan
BAB I PEMBUATAN SEDIAAN HERBAL
BAB I PEMBUATAN SEDIAAN HERBAL A. Informasi Umum Sediaan Herbal Dalam buku ini yang dimaksud dengan Sediaan Herbal adalah sediaan obat tradisional yang dibuat dengan cara sederhana seperti infus, dekok
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman herbal merupakan minuman yang berasal dari bahan alami yang bermanfaat bagi tubuh. Minuman herbal biasanya dibuat dari rempah-rempah atau bagian dari tanaman,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang kaya akan tumbuhan. Sekitar 30.000 jenis tumbuhan diperkirakan terdapat di dalam hutan tropis Indonesia. Dari jumlah tersebut, 9.600 jenis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan kekayaan alamnya. Tanahnya yang subur dan iklimnya yang tropis memungkinkan berbagai jenis tumbuhan dapat dibudidayakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, atau campuran bahan bahan tersebut yang secara tradisional telah
BAB I PENDAHULUAN. mellitus meluas pada suatu kumpulan aspek gejala yang timbul pada seseorang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Diabetes adalah penyakit tertua didunia. Diabetes berhubungan dengan metabolisme kadar glukosa dalam darah. Secara medis, pengertian diabetes mellitus
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan penelitian dengan menggunakan bahan alam yang digunakan sebagai salah satu cara untuk menanggulangi berbagai macam penyakit semakin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tumbuhan Tumbuhan tapak dara berasal dari Amerika tengah, umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tapak darah bisa hidup di tempat terbuka atau terlindung pada bermacam-macam
Tim Pengajar Praktek Farmakologi, 2011, Penuntun Praktikum Farmakologi, Poltekkes KemenkesMakassar
Tim Pengajar Praktek Farmakologi, 2011, Penuntun Praktikum Farmakologi, Poltekkes KemenkesMakassar Rahardja, K.,dan,Tjay, T.H., 2007, Obat-obat Penting dan Khasiatnya, PT. Elex Media Kompetindo, Jakarta
BAB I PENDAHULUAN. untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan dengan cara memisahkan
BAB I PENDAHULUAN. konsumsi minuman ini. Secara nasional, prevalensi penduduk laki-laki yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman beralkohol telah banyak dikenal oleh masyarakat di dunia, salah satunya Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup tinggi angka konsumsi minuman
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Ekstrak memberikan rendemen sebesar 27,13% (Tabel 3).
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Nilai Rendemen Ekstrak Ekstrak memberikan rendemen sebesar 27,13% (Tabel 3). 2. Deskripsi Organoleptik Ekstrak Ekstrak berbentuk kental, berasa pahit, berwarna hitam
Metoda-Metoda Ekstraksi
METODE EKSTRAKSI Pendahuluan Ekstraksi proses pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang berbeda dari komponen-komponen
pudica L.) pada bagian herba yaitu insomnia (susah tidur), radang mata akut, radang lambung, radang usus, batu saluran kencing, panas tinggi pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia sangat bergantung dengan alam untuk memenuhi kebutuhannya dari dulu sampai sekarang ini. Kebutuhan paling utama yang berasal dari alam merupakan kebutuhan makanan.
Penyakit diabetes mellitus digolongkan menjadi dua yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II, yang mana pada dasarnya diabetes tipe I disebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia (Sukandar et al., 2009). Diabetes menurut WHO (1999) adalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mempunyai hasil alam yang berlimpah dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kepentingan. Salah satu dari hasil alam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas motorik atau pergerakan yang normal sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari (Miller, 2011). Gerak adalah suatu proses
BABf PENDAHULUAN Latar Belakang
BABf PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tidur merupakan fungsi fisiologis yang menarik, karena kebanyakan orang menghabiskan sepertiga dari waktu hidupnya untuk tidur. Namun demikian ditulis bahwa Rata-rata
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tidur bagi manusia adalah hal yang sangat penting, karena tidur
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidur bagi manusia adalah hal yang sangat penting, karena tidur mengendalikan irama kehidupan sehari-hari. Jika seseorang kurang tidur atau mengalami gangguan dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alam merupakan sumber bahan baku obat selama ribuan tahun yang mengandung banyak senyawa berkhasiat. Berbagai tanaman obat sudah dimanfaatkan oleh kalangan masyarakat
3 METODE PENELITIAN. Gambar 3 Garis besar jalannya penelitian
3 METODE PENELITIAN 3. 1 Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium Protozoologi, Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya.diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara subtropis yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk di dalamnya adalah tanaman yang banyak digunakan untuk pengobatan. Masyarakat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Ekstrak air akar kucing yang didapat mempunyai spesifikasi sebagai
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Penetapan Parameter Nonspesifik Ekstrak Ekstrak air akar kucing yang didapat mempunyai spesifikasi sebagai berikut : warna coklat kehitaman, berbau spesifik dan
BAB I PENDAHULUAN. Asam urat merupakan senyawa kimia hasil akhir dari metabolisme nucleic
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asam urat merupakan senyawa kimia hasil akhir dari metabolisme nucleic acid atau metabolisme purin dalam tubuh. Berdasarkan penelitian bahwa 90% dari asam urat merupakan
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kadar Air Ekstraksi dan Rendemen Hasil Ekstraksi
24 Rancangan ini digunakan pada penentuan nilai KHTM. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dan taraf α 0.05, dan menggunakan uji Tukey sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Indonesia memiliki sekitar 25.000-30.000
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengumpulan Tanaman Pada penelitian ini digunakan Persea americana Mill yang diperoleh dari perkebunan Manoko, Lembang, sebanyak 800 gram daun alpukat dan 800 gram biji alpukat.
BAB I PENDAHULUAN. nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering. memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan diagnosis, pasien
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian. Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Durian 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian Menurut Rahmat Rukmana ( 1996 ) klasifikasi tanaman durian adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi
Indonesia merupakan negara berkembang yang kaya akan tumbuhtumbuhan. Banyak sekali tanaman yang berkhasiat sebagai bahan obat telah digunakan secara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara berkembang dan tidak dapat dipungkiri bahwa banyak masalah kesehatan yang sering terjadi salah satunya adalah diare. Angka kesakitan
I. PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5)
I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Tumbuhan labu dideterminasi untuk mengetahui kebenaran identitas botani dari tumbuhan yang digunakan. Hasil determinasi menyatakan bahwa tanaman yang diteliti adalah Cucubita
BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi saat ini telah menjadi masalah kesehatan yang serius di dunia. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat
MATERIA MEDIKA INDONESIA
MATERIA MEDIKA INDONESIA MEMUAT: PERSYARATAN RESMI DAN FOTO BERWARNA SIMPLISIA YANG BANYAK DIPAKAI DALAM PERUSAHAAN OBAT TRADISIONAL. MONOGRAFI 1. SIMPLISIA YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL, MENCAKUP:
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keragaman hayati.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keragaman hayati. Letak Indonesia yang dilewati oleh garis katulistiwa berpengaruh langsung terhadap kekayaan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Muhammadiyah Semarang di Jalan Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di laboratorium kimia program studi
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, manusia cenderung untuk
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, manusia cenderung untuk bekerja lebih keras, menguras tenaga dan fikiran tanpa memperhatikan kemampuan tubuhnya
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Abad 20 merupakan era dimana teknologi berkembang sangat pesat yang disebut pula sebagai era digital. Kemajuan teknologi membuat perubahan besar bagi peradaban
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat Tomat (Lycopersicum esculantum MILL.) berasal dari daerah tropis Meksiko hingga Peru. Semua varietas tomat di Eropa dan Asia pertama kali berasal dari Amerika Latin
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang lengkuas (Alpinia galanga L.) memberikan hasil sebagai berikut : Tabel 2 :
SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Mencapai Derajat Sarjana S-1. Diajukan Oleh : DHYNA MUTIARASARI PAWESTRI J
UJI EFEK ANTIINFLAMASI INFUSA BUAH SEMU JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) TERHADAP EDEMA PADA TELAPAK KAKI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI KARAGENIN SKRIPSI Diajukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin. Kadar glukosa yang tinggi dalam tubuh tidak seluruhnya dapat
Pengaruh Uji Efek Tonikum Ekstrak Etanol Rimpang Temu Giring ( ) Terhadap Mencit
Pengaruh Uji Efek Tonikum Ekstrak Etanol Rimpang Temu Giring ( ) Terhadap Mencit Wiwik Rosi Wiyanti 1 2 Prodi Farmasi Poltekkes Bhakti Mulia [email protected] : tested on mice. Analysis of the results
BAB I PENDAHULUAN. Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun. temurun oleh masyarakat. Penggunaan obat tradisional dalam upaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun temurun oleh masyarakat. Penggunaan obat tradisional dalam upaya mempertahankan kesehatan masyarakat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang diperoleh dari perkebunan murbei di Kampung Cibeureum, Cisurupan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Manggis dan Syarat Tumbuh Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah berupa pohon yang banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis di kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini didukung
I. PENDAHULUAN. Kesehatan atau kondisi prima adalah modal yang penting dalam menjalani
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan atau kondisi prima adalah modal yang penting dalam menjalani berbagai aktivitas untuk memenuhi segala kebutuhan manusia guna memperoleh kehidupan yang lebih
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pepaya Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko dan Amerika Selatan, kemudian menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia sekitar
hepatotoksisitas bila digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama atau tidak sesuai aturan, misalnya asetosal dan paracetamol
BAB 1 PENDAHULUAN Demam merupakan suatu gejala adanya gangguan kesehatan, terjadi kelainan pada sistem pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh meningkat melebihi batas normal. Peningkatan suhu tubuh
BAB I PENDAHULUAN. mengidap penyakit ini, baik kaya, miskin, muda, ataupun tua (Hembing, 2004).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyak orang yang masih menganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang timbul karena faktor keturunan. Padahal diabetes merupakan penyakit
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas pergerakan yang normal sangat diperlukan dalam menunjang kegiatan sehari-hari. Pergerakan yang dilakukan, baik secara volunter maupun involunter dipengaruhi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel dan Lokasi Penelitian Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil determinasi tumbuhan dilampirkan pada Lampiran 1) yang diperoleh dari perkebunan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan tanaman yang berkhasiat sebagai obat untuk penanggulangan berbagai masalah kesehatan telah dikenal bangsa Indonesia sejak lama. Pemanfaatan tanaman
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia, sebagai sumber energi vital manusia agar dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari dengan baik. Kandungan dalam makanan yang
KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL
KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA : Kecicang PENCIPTA : Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn., M.Sn PAMERAN International Exhibition International Studio for Arts & Culture FSRD ALVA Indonesia of
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Candida albicans 1. Klasifikasi Berdasarkan toksonomi menurut Dumilah (1992) adalah sebagai berikut : Divisio Classis Ordo Familia Sub Familia Genus Spesies : Eumycotina : Deuteromycetes
statistik menunjukkan bahwa 58% penyakit diabetes dan 21% penyakit jantung yang kronik terjadi pada individu dengan BMI di atas 21 (World Heart
BAB 1 PENDAHULUAN Obesitas berasal dari bahasa Latin yaitu obesus yang berarti gemuk. Obesitas atau yang lebih dikenal dengan kegemukan adalah kondisi dimana terjadi peningkatan berat badan melebihi batas
SEDATIVE EFFECT OF TAPAK DARA LEAVES EXTRACT Catharanthus roseus (l.) G. Don ON MICE. Jatmiko Susilo, Oni Yulianta Wilisa, Ariadi ABSTRACT
SEDATIVE EFFECT OF TAPAK DARA LEAVES EXTRACT Catharanthus roseus (l.) G. Don ON MICE Jatmiko Susilo, Oni Yulianta Wilisa, Ariadi ABSTRACT Catharanthus roseus (L.) G. Don leaves was used by society as a
BAB I PENDAHULUAN. pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bunga Rosella 1. Klasifikasi Dalam sistematika tumbuhan, kelopak bunga rosella diklasifikasikan sebagai berikut : Gambar 1. Kelopak bunga rosella Kingdom : Plantae Divisio :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan mangrove Rhizophora stylosa 2.1.1 Klasifikasi Rhizophora stylosa Menurut Cronquist (1981), taksonomi tumbuhan mangrove Rhizophora stylosa sebagai berikut : Kingdom
TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat
TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Dephut, 1998): Kingdom : Plantae Divisio : Spematophyta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri merupakan gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering terjadi. Nyeri timbul jika terdapat rangsang mekanik, termal, kimia, atau listrik yang melampaui
I. PENDAHULUAN. endemik di Indonesia (Indriani dan Suminarsih, 1997). Tumbuhan-tumbuhan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayatinya dan menduduki peringkat lima besar di dunia dalam hal keanekaragaman tumbuhan, dengan 38.000 spesies
KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR. NIKEN ANDALASARI
KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR. NIKEN ANDALASARI KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR Niken Andalasari 1 Kebutuhan Istirahat dan tidur Istirahat sangat luas jika diartikan meliputi kondisi santai, tenang, rileks,
II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau Kacang-kacangan (leguminosa), sudah dikenal dan dimanfaatkan secara luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan
