I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Transkripsi

1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran kimia di sekolah, umumnya masih berorientasi kepada materi yang tercantum pada kurikulum. Bagi para siswa, belajar kimia hanya untuk keperluan menghadapi ulangan dan terlepas dari permasalahan-permasalahan dalam kesehariannya. Pada kenyataannya pelajaran kimia sangat erat hubungannya dalam kehidupan sehari-hari, begitupula pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. Sebagai contoh, apabila tanpa disengaja tubuh kita menyentuh kabel beraliran arus listrik yang terkelupas maka tubuh kita akan tersetrum. Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam tubuh kita terdapat ion-ion yang dapat menghantarkan listrik. Contoh lainnya adalah pada saat memakan buah apel setelah itu apel tersebut diletakkan beberapa saat maka apel yang sudah dimakan akan berubah warna menjadi coklat kemerahan. Hal ini dikarenakan apel tersebut bereaksi dengan oksigen di udara. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran kimia di SMA Perintis 2 Bandar Lampung, diperoleh informasi bahwa Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan di SMA tersebut yaitu 100% siswa telah mencapai nilai 60. Nilai rata-rata penguasaan konsep siswa kelas X 4 pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks tahun pelajaran yaitu 55,39. Siswa yang mendapat nilai 60 hanya mencapai 47,36%. Rendahnya nilai rata-rata itu menunjukkan bahwa konsep yang diberikan masih belum dapat dikuasai dan dipahami oleh siswa dengan baik. Aktivitas siswa yang dominan dalam pembelajaran adalah mendengar dan mencatat materi, serta latihan soal yang dijelaskan dan dituliskan oleh guru di papan tulis, siswa tidak dilibatkan dalam menemukan konsep sehingga pembelajaran menjadi monoton dan siswa kurang termotivasi untuk belajar. Aktivitas yang

2 2 relevan dalam pembelajaran (on task) seperti mengemukakan pendapat, bertanya pada guru, menjawab pertanyaan dari guru dan saling berbagi informasi dengan teman belum terlihat, bahkan beberapa siswa melakukan aktivitas lain yang tidak relevan (off task) seperti mengantuk, keluar masuk kelas dan mengobrol dengan teman. Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai siswa kelas X semester genap adalah mampu mengidentifikasi sifat larutan non elektrolit dan elektrolit berdasarkan data hasil percobaan dan menjelaskan perkembangan reaksi reduksioksidasi dan hubungannya dengan tata nama senyawa serta penerapannya. Pengalaman belajar yang relevan agar siswa memiliki kompetensi dasar tersebut adalah apabila dalam pembelajaran siswa melakukan percobaan atau dengan menuliskan kembali data hasil percobaan dan menganalisa hasil percobaan yang telah dilakukan agar dapat menemukan konsep. Melalui kegiatan tersebut siswa melihat fakta-fakta berdasarkan percobaan kemudian membuat kesimpulan. Salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas on task siswa dalam pembelajaran diperlukan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dalam membangun konsep adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran melalui kelompok-kelompok kecil, tiap kelompok terdiri dari empat sampai lima siswa. Pengelompokan dilakukan secara heterogen, dengan memperhatikan perbedaan kemampuan akademis dan jenis kelamin. Dalam pembelajaran kooperatif siswa dibimbing untuk dapat menemukan konsep secara mandiri melalui media pembelajaran yang telah disediakan oleh guru yaitu Lembar Kerja Siswa (LKS). Salah satu teknik dalam pembelajaran kooperatif adalah teknik NHT. Teknik NHT mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Teknik ini memungkinkan semua siswa terlibat dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran untuk mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Selain itu pada teknik ini, terdapat tahap dimana semua siswa diminta pertanggung jawaban atas hasil pembelajaran yang telah dilakukan,

3 3 sehingga siswa lebih siap untuk belajar dan bersungguh-sungguh mengikuti pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut, dilakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul Penerapan Pembelajaran Kooperatif Teknik NHT Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Penguasaan Konsep Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit serta Reaksi Redoks (PTK Pada Siswa Kelas X 4 SMA Perintis 2 Bandar Lampung). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam meningkatkan persentase setiap jenis aktivitas on task siswa dari siklus ke siklus pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks? 2. Bagaimana pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam meningkatkan persentase rata-rata penguasaan konsep larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks siswa dari siklus ke siklus? 3. Bagaimana pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam meningkatkan persentase ketuntasan belajar siswa setiap siklus pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: 1. Pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam meningkatkan persentase setiap jenis aktivitas on task siswa dari siklus ke siklus pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. 2. Pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam meningkatkan persentase rata-rata penguasaan konsep larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks siswa dari siklus ke siklus.

4 4 3. Pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam meningkatkan persentase ketuntasan belajar siswa setiap siklus pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. D. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi siswa Menumbuhkan motivasi belajar agar lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga lebih mudah memahami konsep pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. 2. Bagi guru Memberikan pengalaman langsung model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran kimia pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. 3. Bagi sekolah Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran kimia di sekolah. E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah 1. Model pembelajaran kooperatif teknik NHT dalam penelitiaan ini adalah salah satu model pembelajaran yang terdiri dari 4 fase pembelajaran, yaitu penomoran, pemberian pertanyaan, berpikir bersama, dan pemberian jawaban. 2. LKS (Lembar Kerja Siswa) dalam penelitian ini adalah media pembelajaran yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang disusun secara terstruktur sehingga membantu siswa menemukan konsep pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. 3. Aktivitas yang diamati dalam penelitian ini adalah aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran (on task) yaitu

5 5 a. Aktif dalam diskusi kelompok Observasi ini dilakukan pada saat siswa memberikan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan memberikan pendapatnya ketika diskusi kelompok. b. Aktif dalam bertanya kepada guru Observasi ini dilakukan pada saat seorang siswa mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran dimulai hingga akhir proses pembelajaran. c. Aktif dalam memberikan pendapat Observasi ini dilakukan pada saat siswa memberikan ide atau gagasannya terhadap sebuah permasalahan ketika diskusi kelas atau pada saat guru memberikan pertanyaan dan meminta siswa untuk memberikan tanggapan. d. Aktif dalam menjawab pertanyaan dari guru Observasi ini dilakukan pada saat siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru pada saat proses pembelajaran dimulai hingga akhir proses pembelajaran. 4. Penguasaan konsep merupakan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan mengaplikasikan materi larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks yang dimiliki siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran yang ditunjukkan oleh nilai tes formatif pada setiap akhir siklus. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada strategi pembelajaran yang digunakan sehingga siswa dituntut bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menolong satu sama lainnya dalam memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan lainnya dengan tujuan mencapai prestasi belajar yang tinggi (Lie, 2003).

6 6 B. Pembelajaran Kooperatif Teknik NHT Dalam penerapannya pembelajaran kooperatif memiliki beberapa teknik pembelajaran, salah satunya adalah teknik NHT (Numbered Head Together). Teknik ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (Lie, 2003). Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan menimbang jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan kerjasama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Teknik ini melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran untuk mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. C. Aktivitas Belajar Keberhasilan belajar tidak akan tercapai begitu saja tanpa diimbangi dengan aktivitas belajar. Aktivitas belajar merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan individu untuk mencapai perubahan tingkah laku. Sardiman (1994) mengungkapkan: Dalam belajar diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin berlabgsung dengan baik. Aktivitas dalam proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar. D. Penguasaan Konsep Penguasaan konsep akan mempengaruhi ketercapaian hasil belajar siswa. Suatu proses dikatakan berhasil apabila hasil belajar yang didapatkan meningkat atau mengalami perubahan positif setelah siswa melakukan aktivitas belajar, pendapat ini didukung oleh Djamarah (2000) yang mengatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Proses belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pembelajaran yang digunakan guru

7 7 dalam kelas dan kondisi ruangan kelas. Dalam belajar ditutut juga adanya suatu aktivitas yang harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan materi. Penguasaan terhadap suatu konsep tidak mungkin baik jika siswa tidak melakukan belajar karena siswa tidak akan tahu banyak tentang materi pelajaran. III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X 4 SMA Perintis 2 Bandar Lampung semester genap tahun pelajaran , dengan jumlah siswa 38 orang, yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Kelas ini dijadikan sebagai subyek penelitian karena nilai rata-rata penguasaan konsep siswa kelas X 4 pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks tahun pelajaran yaitu 55,39. Siswa yang mendapatkan nilai 60 hanya mencapai 47,36%. Nilai ini masih di bawah KKM yang ditetapkan sekolah untuk mata pelajaran kimia yaitu 100% siswa mencapai nilai 60. B. Data Penelitian 1. Data kualitatif Data kualitatif berupa data aktivitas on task siswa dan data kinerja guru selama proses pembelajaran. 2. Data kuantitatif Data ini berupa data penguasaan konsep siswa pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. C. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

8 8 1. Teknik observasi Observasi yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah observasi langsung terhadap aktivitas siswa dan kinerja guru selama kegiataan belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan lembar aktivitas siswa dan lembar kinerja guru yang dibantu oleh dua orang observer dan guru mitra. 2. Teknik tes Teknik tes digunakan untuk memperoleh data penguasaan konsep siswa pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks. Tes dilakukan pada setiap akhir siklus. Jenis tes yang digunakan berupa tes pilihan jamak. D. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap akhir siklus diadakan tes formatif dan masing-masing siklus dibandingkan hasilnya dengan melihat persentase aktivitas dan nilai rata-rata penguasaan konsep. Pelaksanaan penelitian ini menggunakan prosedur sebagai berikut : 1. Orientasi lapangan dan kajian teori 2. Perencanaan 3. Pelaksanaan tindakan 4. Observasi 5. Refleksi E. Indikator Kinerja Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah 1. Adanya persentase peningkatan tiap jenis aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus sebesar 5%. 2. Adanya persentase peningkatan penguasaan konsep larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks siswa dari siklus ke siklus sebesar 5%. 3. Tercapainya persentase ketuntasan belajar siswa dari siklus ke siklus sebesar 5%.

9 9 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Perintis 2 Bandar Lampung pada kelas X 4 dengan jumlah siswa 38 orang mulai tanggal 17 Februari 2010 sampai 4 Maret Data hasil penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data aktivitas on task siswa dan data kinerja guru selama pembelajaran kooperatif teknik NHT yang diungkap melalui lembar observasi aktivitas siswa dan lembar observasi kinerja guru yang diamati oleh dua observer dan guru mitra. Data kuantitatif adalah data hasil tes penguasaan konsep siswa pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit serta Reaksi Redoks. 1. Data kualitatif Data kualitatif berupa data aktivitas on task siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan pembelajaran kooperatif teknik NHT. Aktivitas on task tersebut yaitu menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, aktif dalam diskusi, dan memberikan pendapat Data aktivitas on task siswa Data aktivitas on task siswa diperoleh melalui observasi langsung menggunakan lembar observasi aktivitas on task siswa selama pembelajaran yang dilakukkan oleh dua orang observer. Data aktivitas tersebut disajikan pada Gambar 2 dan

10 Rata-rata persentase setiap jenis aktivitas on task 10 data selengkapnya ada pada Lampiran 12 (Halaman166). 80% 75,99% 70% 60% 50% 57,89% 49,99% 40% 30% 20% 34,20% 35,52% 27,63% 21,05% 18,41% 14,47% 22,37% 14,46% 35,52% Siklus I Siklus II Siklus III 10% 0% Jenis aktivitas on task Keterangan: (1) menjawab pertanyaan, (2) mengajukan pertanyaan, (3) aktif dalam diskusi, (4) memberikan pendapat. Gambar 2. Grafik peningkatan persentase tiap jenis aktivitas on task siswa pada tiap siklus. 2. Data kuantitatif Data kuantitatif berupa data penguasaan konsep dan data ketuntasan belajar siswa pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi redoks pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3. a. Data penguasaan konsep Data penguasaan konsep siswa pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit serta Reaksi Redoks yang diperoleh dari hasil tes formatif yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Data penguasaan konsep siswa disajikan pada Gambar 3, data selengkapnya ada pada Lampiran 12 (Halaman 166).

11 Persentase ketuntasan belajar siswa Persentase rata-rata penguasaan konsep siswa Nilai rata-rata penguasaan konsep siswa ,18 61,00 63,81 Siklus I Siklus II Siklus III 11 Gambar 3. Grafik rata-rata penguasaan konsep siswa pada tiap siklus. Data peningkatan persentase penguasaan konsep siswa disajikan pada Gambar 4, data selengkapnya ada pada Lampiran 12 (Halaman 166). 40% 30% 20% 10% 4,47% 19,38% 0% Siklus I Siklus II Gambar 4. Grafik peningkatan nilai rata-rata penguasaan konsep siswa pada tiap siklus. b. Data ketuntasan belajar siswa Data siswa yang telah mencapai kriteria ketuntasan belajar minimum disajikan pada Gambar 5, data selengkapnya ada pada Lampiran 12 (Halaman 166). 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 94,73% 86,84% 76,31% Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 5. Grafik persentase siswa yang mencapai KKM pada tiap siklus.

12 Persentase ketuntasan belajar siswa 12 Data peningkatan persentase siswa yang telai mencapai kriteria ketuntasan minimum disajikan pada Gambar 6, data selengkapnya ada pada Lampiran 12 (Halaman 166). 20% 10% 10,53% 7,88% 0% Siklus I Siklus II Gambar 6. Grafik peningkatan persentase siswa yang mencapai KKM pada tiap siklus. B. Pembahasan Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Pada pra pelaksanaan guru mengelompokkan siswa menjadi 8 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa. Pengelompokan dilakukan secara heterogen berdasarkan kemampuan akademik dan jenis kelamin. Pengelompokan ini berdasarkan data hasil ujian semester ganjil mata pelajaran kimia Tahun Pelajaran Setelah pembagian kelompok, guru menjelaskan kepada siswa mengenai pembelajaran kooperatif teknik NHT yang akan dilaksanakan. 1. Siklus I Siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan, selama 3 jam pelajaran, pertemuan 1 dilaksanakan selam 2 jam pelajaran dan pertemuan 2 dilaksanakan selama 1 jam pelajaran. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2010, pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2010, sedangkan tes formatif I dilaksanakan di luar jam pelajaran. Indikator yang ingin dicapai adalah mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan non elektrolit melalui percobaan, mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan non elektrolit berdasarkan sifat daya hantarnya, mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit

13 13 kuat dan elektrolit lemah melalui tabel hasil pengamatan berdasarkan kekuatan daya hantarnya, mengelompokkan larutan elektrolit ke dalam larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah berdasarkan kekuatan daya hantarnya, menjelaskan penyebab kemampuan larutan elektrolit menghantarkan arus listrik, dan menjelaskankan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar. Pada setiap pembelajaran dalam siklus I, dilakukan observasi untuk mengetahui aktivitas on task siswa. Persentase tiap jenis aktivitas on task siswa siklus I ditunjukkan pada Gambar 2 dan data selengkapnya pada Lampiran 12 (Halaman 166). Aktif dalam diskusi kelompok hanya sebesar 49,99%, data ini menunjukkan bahwa banyak siswa kurang aktif dalam melakukan diskusi di dalam kelompoknya masing-masing Aktivitas bertanya kepada guru dan memberikan pendapat sebesar 14,47%, rendahnya aktivitas siswa dalam bertanya kepada guru dikarenakan guru kurang dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan keberadaan guru yang lebih sering di depan kelas mengakibatkan siswa merasa belum mempunyai keberanian untuk bertanya kepada guru. Aktivitas memberikan pendapat sebesar 14,46%. Sama halnya dengan aktivitas bertanya kepada guru, penyebab rendahnya aktivitas siswa dalam memberikan pendapat adalah guru kurang dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan pendapatnya, sehingga siswa merasa tidak diperhatikan dan akhirnya malas untuk memberikan pendapatnya. Aktivitas siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru sebesar 18,41%. Rendahnya aktivitas ini dikarenakan guru kurang memberikan contoh-contoh konkrit sehingga siswa tidak tertarik dengan apa yang akan dipelajari. Selain itu, siswa tidak mengisi LKS, sehingga pada saat guru mengajukan pertanyaan siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Rendahnya semua jenis aktivitas on task pada siklus I mengakibatkan banyak siswa yang kurang mengerti dengan apa yang sedang mereka pelajari. Hal

14 14 tersebut berdampak pada nilai penguasaan konsep larutan elektrolit dan non elektrolit yang diperoleh dari tes formatif siklus I dengan hasil yang kurang memuaskan. Nilai rata-rata penguasaan konsep larutan elektrolit dan non elektrolit pada siklus 1 adalah 60,92. Siswa yang memperoleh nilai 60 sebanyak 29 orang (76,31%) dan ada 9 orang (23,68%) yang belum memperoleh nilai 60 sehingga hasil belajar siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar yang ditetapkan oleh SMA Perintis 2 Bandar Lampung untuk pelajaran kimia yaitu sebesar 60 dan suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila di kelas tersebut terdapat 100% siswa yang telah mencapai 60. Diakhir siklus I dilakukan perhitungan untuk memberikan penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok ini diperoleh berdasarkan nilai kelompok yang disesuaikan dari skor perkembangan individu dalam kelompok tersebut. Penghargaan kelompok diumumkan di papan pengumuman dan di depan kelas. Penghargaan seperti ini dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dan tekun dalam belajar. Pada siklus ini 8 kelompok mendapat penghargaan tim bagus, data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 10 (Halaman 152). 2. Refleksi I Pada tahap refleksi didapatkan fakta bahwa masih rendahnya hasil belajar siswa pada siklus I disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 1. Siswa belum aktif dalam pembelajaran sehingga aktivitas on task siswa selama pembelajaran masih rendah. 2. Kinerja guru dalam mengajar masih banyak kekurangan antara lain guru kurang membimbing siswa dalam diskusi serta guru lebih banyak berada di depan kelas, guru kurang dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, guru kurang dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan pendapat, dan guru kurang memberikan contoh-contoh konkrit sehingga siswa tidak tertarik dengan apa yang akan dipelajari.

15 15 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka perencanaan pada siklus II yaitu melakukan perbaikan-perbaikan antara lain: 1. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaaan yang dapat membuat siswa ingin berpendapat. 2. Guru lebih membimbing siswa ketika praktikum dan diskusi. 3. Guru lebih banyak memberikan contoh-contoh konkrit yang relevan dengan materi pembelajaran. 3. Siklus II Siklus II terdiri dari 2 kali pertemuan, selama 3 jam pelajaran, pertemuan 1 dilaksanakan selam 2 jam pelajaran dan pertemuan 2 dilaksanakan selama 1 jam pelajaran. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2010, pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2010, sedangkan tes formatif II dilaksanakan di luar jam pelajaran. Sub materi yang disampaikan adalah konsep oksidasi dan reduksi, dan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa atau ion. Indikator yang ingin dicapai dalam siklus II ini yaitu membuktikan terjadinya reaksi reduksi dan oksidasi ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen, menjelaskan konsep reaksi reduksi oksidasi ditinjau dari pelepasan dan penerimaan elektron, dan menjelaskan konsep reaksi reduksi oksidasi ditinjau dari peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi. Pada siklus II semua jenis aktivitas on task mengalami peningkatan yang datanya disajikan dalam Gambar 2 dan data selengkapnya pada Lampiran 12 (Halaman 166). Menjawab pertanyaan sebesar 27,63 %, mengajukan pertanyaan sebesar 21,05 %, aktif dalam diskusi sebesar 57,89%, dan memberikan pendapat sebesar 22,37%. Hal ini dikarenakan guru telah melakukan koreksi dan perbaikanperbaikan bersama guru mitra dalam refleksi. Peningkatan semua jenis aktivitas on task pada siklus II, juga berdampak pada hasil tes formatif siklus II yang datanya disajikan dalam Gambar 3 dan data selengkapnya pada Lampiran 12 (Halaman 166).

16 16 Berdasarkan hasil tes, dibandingkan dengan siklus I, pada siklus II rata-rata nilai penguasaan konsep reaksi reduksi oksidasi siswa mengalami peningkatan sebesar 4,74% yaitu dari 60,92 menjadi 63,81 dengan jumlah siswa yang memperoleh nilai 60 sebanyak 33 orang (86,84%). Dengan meningkatnya nilai aktivitas ternyata membuat nilai penguasaan konsep siswa juga meningkat Sama halnya dengan siklus I, diakhir siklus II guru memberikan penghargaan kepada siswa yang datanya disajikan pada Lampiran 10 (Halaman 152). Pada siklus ini ada 8 kelompok yang mendapat penghargaan tim bagus. Secara umum pembelajaran kooperatif teknik NHT ini dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa dan aktivitas on task siswa. 4. Refleksi II Pada siklus II, masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran yaitu siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan rata-rata masih yang berkemampuan tinggi dan sedang. Perbaikan-perbaikan tindakan yang akan dilakukan untuk siklus III yaitu : 1. Guru lebih aktif dalam membimbing siswa dan lebih sering mendekati siswa yang ribut supaya aktif melakukan diskusi. 2. Guru telah meningkatkan kinerjanya dalam membimbing siswa berdiskusi untuk menjawab pertanyaan yang ada pada LKS, serta sudah adanya kerjasama antar anggota kelompok seperti adanya siswa yang saling memberitahu atau mengajarkan teman satu kelompoknya yang tidak mengerti mengenai materi yang sedang dipelajari. 5. Siklus III Siklus III terdiri dari 2 kali pertemuan, selama 3 jam pelajaran, pertemuan 1 dilaksanakan selam 2 jam pelajaran dan pertemuan 2 dilaksanakan selama 1 jam pelajaran. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Maret, pertemuan

17 17 kedua dilaksanakan pada tanggal 4 Maret, sedangkan tes formatif III dilaksanakan di luar jam pelajaran. Sub materi yang disampaikan adalah oksidator dan reduktor, reaksi autoredoks, dan tata nama menurut IUPAC. Indikator yang ingin dicapai dalam siklus III ini yaitu menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks, menjelaskan reaksi autoredoks, dan menentukan penamaan senyawa biner (senyawa ion) yang terbentuk dari tabel kation dan anion serta memberi namanya dalam diskusi kelompok. Pada siklus III semua jenis aktivitas on task mengalami peningkatan yang datanya disajikan dalam Gambar 2 dan data selengkapnya pada Lampiran 12 (Halaman 166). Menjawab pertanyaan sebesar 34,20%, mengajukan pertanyaan sebesar 35,52 %, aktif dalam diskusi sebesar 74,99%, dan memberikan pendapat sebesar 35,52%. Peningkatan aktivitas siswa yang sesuai dengan pembelajaran (on task) karena pada saat berdiskusi siswa terlihat sudah mulai memperhatikan temannya yang lain yang sedang mengemukakan pendapat, berbagi informasi pada saat mereka sedang berdiskusi sehingga siswa sudah bersungguh-sungguh dalam diskusi, siswa juga sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Berdasarkan hasil tes, rata-rata nilai penguasaan konsep reaksi reduksi oksidasi siswa pada siklus III mengalami peningkatan sebesar 19,38 % yaitu dari 63,81 menjadi 76,18 dengan jumlah siswa yang memperoleh nilai 60 sebanyak 36 orang (94,72 %). Meningkatnya penguasaan siswa juga disebabkan karena pada siklus ini aktivitas on task siswa meningkat, dan menurunnya aktivitas off task siswa Pada siklus III ada 6 kelompok yang mendapat penghargaan tim sangat bagus dan 2 kelompok tim bagus, data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 10 (Halaman 152). Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus III hampir seluruh siswa yang mengalami peningkatan nilai, dilihat dari selisih nilai tes pada siklus II dengan nilai tes pada siklus III, sehingga banyak siswa yang memberikan sumbangan poin dengan jumlah yang besar. Dengan adanya penghargaan ini, maka kelompokkelompok belajar akan termotivasi untuk menjadi kelompok yang terbaik.

18 18 Adanya peningkatan penguasaan konsep siswa dari siklus I ke siklus II dan ke siklus III menunjukkan hampir tercapainya indikator kinerja peningkatan penguasaan konsep siswa. Dan dengan persentase siswa yang tuntas belajar sebesar 94,73% menunjukkan tercapainya indikator kinerja ketuntasan belajar siswa. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Peningkatan aktivitas on task memungkinkan siswa belajar dengan lebih baik dan hasilnya penguasaan konsepnya akan baik pula. 6. Refleksi III Indikator kinerja yang ditetapkan yaitu terjadinya peningkatan persentase penguasaan konsep dari sklus ke siklus, dan telah tercapai dari siklus I ke II dan dari siklus II ke III. Meskipun demikian masih ada beberapa kekurangan pada siklus III ini, yaitu terdapat 2 orang siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan, dapat dilihat dari aktivitas pembelajaran yaitu menjawab pertanyaan masih rendah. Untuk memperbaikinya maka perlu dilakukan pendekatan secara khusus kepada 2 orang siswa yang belum tuntas itu, seperti guru lebih banyak bertanya kepada mereka, lebih mengarahkan mereka saat diskusi, dan memberikan kesempatan untuk menanggapi agar siswa termotivasi untuk melakukan aktivitas, sehingga siswa akan memperoleh nilai hasil belajar yang lebih baik dan ketuntasan bisa tercapai. A. Simpulan V. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif teknik NHT dapat meningkatkan: 1. Persentase aktivitas on task dari siklus I ke siklus II yaitu menjawab pertanyaan sebesar 9,22%, mengajukan pertanyaan sebesar 6,58%, aktif dalam

19 19 diskusi sebesar 7,91%, dan memberikan pendapat sebesar 14,46%. Dan peningkatan yang terjadi dari siklus II ke siklus III yaitu menjawab pertanyaan sebesar 14,48%, mengajukan pertanyaan sebesar 14,47%, aktif dalam diskusi sebesar 17,10%, dan memberikan pendapat sebesar 10,53% sehingga indikator kinerja tercapai. 2. Penguasaan konsep kimia siswa, yaitu dari siklus I ke siklus II sebesar 4,74% dan dari siklus II ke siklus III sebesar 19,38% sehingga indikator kinerja tercapai. 3. Persentase ketuntasan belajar siswa hingga mencapai 94,73%, dan diperoleh pada siklus ke III sehingga indikator kinerja tercapai B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran kooperatif teknik NHT belum mencapai ketuntasan belajar yaitu 100% siswa telah mencapai nilai 60. Oleh karena itu disarankan : 1. Memperbaiki media LKS pada skripsi ini, dalam hal penambahan jumlah soal evaluasi yang diberikan sehingga siswa akan lebih terlatih dalam mengerjakan bentuk soal latihan, dan memotivasi siswa agar lebih berani untuk bertanya. 2. Memberikan perhatian yang lebih pada siswa tertentu, sehingga tidak terdapat lagi siswa yang melakukan aktivitas selain menyimak materi pembelajaran. 3. Lebih teliti dalam mengalokasikan waktu yang tersedia serta lebih sering membimbing siswa dalam kelompok agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan optimal sehingga dapat meningkatkan aktivitas on task dan penguasaan konsep siswa.

III. METODE PENELITIAN. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 5 SMA Perintis 2 Bandar

III. METODE PENELITIAN. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 5 SMA Perintis 2 Bandar III. METODE PENELITIAN A. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 5 SMA Perintis 2 Bandar Lampung, semester genap Tahun Pelajaran 2009-2010, yang berjumlah 40 orang terdiri dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Di SMK 2 Mei Bandar Lampung, mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata

I. PENDAHULUAN. Di SMK 2 Mei Bandar Lampung, mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di SMK 2 Mei Bandar Lampung, mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata pelajaran pada progam adaptif yang berfungsi membentuk peserta didik sebagai individu yang memiliki

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Setting penelitian ini adalah di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung dengan jumlah

III. METODE PENELITIAN. Setting penelitian ini adalah di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung dengan jumlah 29 III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Setting penelitian ini adalah di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung dengan jumlah siswa kelas X3 SMA Al-Kautsar Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2010/2011 adalah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan mata pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan

I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan mata pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kimia merupakan mata pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam pembelajaran tidak sekedar untuk memenuhi tuntutan belajar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi kimia SMA Budaya Bandar

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi kimia SMA Budaya Bandar I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi kimia SMA Budaya Bandar Lampung, diperoleh bahwa nilai rata-rata penguasaan konsep pada materi pokok ikatan kimia tata nama

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 1 semester ganjil SMA N 10

III. METODE PENELITIAN. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 1 semester ganjil SMA N 10 III. METODE PENELITIAN A. Subjek dan Tempat Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 1 semester ganjil SMA N 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010-2011 dengan jumlah siswa 33 orang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hasil wawancara dengan guru bidang studi kimia kelas XI SMA YP Unila Bandar

I. PENDAHULUAN. Hasil wawancara dengan guru bidang studi kimia kelas XI SMA YP Unila Bandar I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil wawancara dengan guru bidang studi kimia kelas XI SMA YP Unila Bandar Lampung mengenai hasil belajar kimia siswa pada materi pokok laju reaksi tahun pelajaran 2008-2009

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. di jalan Soekarno-Hatta No. 1 Tanjung Senang. Subyek dalam penelitian ini adalah

III. METODE PENELITIAN. di jalan Soekarno-Hatta No. 1 Tanjung Senang. Subyek dalam penelitian ini adalah III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Gajah Mada Bandar Lampung yang beralamat di jalan Soekarno-Hatta No. 1 Tanjung Senang. Subyek dalam penelitian ini adalah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada strategi pembelajaran yang digunakan sehingga siswa dituntut bekerjasama dalam kelompok-kelompok

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di SMA Negeri 3 Bandar Lampung, diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata tes formatif materi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia kelas XI IPA 2 SMA

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia kelas XI IPA 2 SMA I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia kelas XI IPA 2 SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung nilai penguasaan konsep pada materi pokok asam basa pada tahun pelajaran

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Budaya

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Budaya 17 III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Budaya yang beralamatkan di jalan Pendidikan No 32 Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung semester

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X2 SMA Negeri 15 Bandar

METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X2 SMA Negeri 15 Bandar III. METODE PENELITIAN A. Subyek dan Tempat Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X2 SMA Negeri 15 Bandar Lampung, Tahun Pelajaran 2009-2010 yang berjumlah 28 siswa terdiri dari 11

Lebih terperinci

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 15 Bandar lampung pada kelas X 2

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 15 Bandar lampung pada kelas X 2 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 15 Bandar lampung pada kelas X 2 dengan jumlah siswa 28 orang mulai tanggal 29 April 2010 sampai 17 Mei

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA3 SMA Perintis I Bandar Lampung

III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA3 SMA Perintis I Bandar Lampung III. METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA3 SMA Perintis I Bandar Lampung dengan jumlah siswa 39 orang, terdiri dari 13 orang siswa laki-laki dan 26 orang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses aktualisasi peserta didik melalui berbagai

I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses aktualisasi peserta didik melalui berbagai I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan proses aktualisasi peserta didik melalui berbagai pengalaman belajar. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan pokok dalam seluruh proses pendidikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan

I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen. Ilmu kimia merupakan produk pengetahuan yang berupa fakta, teori, prinsip, hukum, temuan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu Standar Kompetensi (SK) pada bidang studi kimia kelas XI IPA

I. PENDAHULUAN. Salah satu Standar Kompetensi (SK) pada bidang studi kimia kelas XI IPA 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu Standar Kompetensi (SK) pada bidang studi kimia kelas XI IPA semester genap yaitu memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Lampung pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. Kelas yang dijadikan

III. METODE PENELITIAN. Lampung pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. Kelas yang dijadikan III. METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIIIB SMP Pelita Bangsa yang terletak di Jalan Pangeran Emir M. Noer no. 33 Palapa, Tanjung Karang, Bandar Lampung

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri

III. METODE PENELITIAN. Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri III. METODE PEELITIA A. Setting Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA egeri 10 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri dari 10 orang siswa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Way Kandis, Jalan Bunga Sedap Malam Raya Kecamatan Tanjung. Senang Kota Bandar Lampung.

BAB III METODE PENELITIAN. Way Kandis, Jalan Bunga Sedap Malam Raya Kecamatan Tanjung. Senang Kota Bandar Lampung. 30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Setting Penelitian 3.1.1. Tempat Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Perumnas Way Kandis, Jalan Bunga Sedap Malam Raya Kecamatan Tanjung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru kimia kelas X 1 SMA Tri

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru kimia kelas X 1 SMA Tri I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru kimia kelas X 1 SMA Tri Sukses Natar, diperoleh informasi bahwa rata-rata nilai penguasaan konsep siswa pada materi

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN STRATEGI PROBLEM POSING

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN STRATEGI PROBLEM POSING MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN STRATEGI PROBLEM POSING PADA MATERI POKOK IKATAN KIMIA DI KELAS X SMAN 3 LAMONGAN Meiliyah Ulfa, Muchlis

Lebih terperinci

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode NHT (Numbered Head Together) Pada Pokok Bahasan Gaya Kelas V SDN 6 Tambun

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode NHT (Numbered Head Together) Pada Pokok Bahasan Gaya Kelas V SDN 6 Tambun Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Metode NHT (Numbered Head Together) Pada Pokok Bahasan Gaya Kelas V SDN 6 Tambun Hildayanti Anwar Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas

Lebih terperinci

Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi Volume 1 No. 1 April 2017

Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi Volume 1 No. 1 April 2017 1 MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS X-5 SMA NEGERI 1 KUSAMBI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATERI POKOK LITOSFER DAN PEDOSFER Sardila 1, Ramli

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas untuk berpikir

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas untuk berpikir 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dibangun melalui pengembangan keterampilan-keterampilan proses sains seperti

I. PENDAHULUAN. dibangun melalui pengembangan keterampilan-keterampilan proses sains seperti I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan cabang dari IPA yang mempelajari struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi. Ilmu kimia dibangun

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBANTUAN VCD DALAM MEMPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA KELAS IX-1 SMPN 1 PATUMBAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBANTUAN VCD DALAM MEMPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA KELAS IX-1 SMPN 1 PATUMBAK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBANTUAN VCD DALAM MEMPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA KELAS IX-1 SMPN 1 PATUMBAK DIANA MANURUNG Guru SMPN 1 Patumbak Email : [email protected]

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 44 orang terdiri dari 22 siswa lakilaki

III. METODE PENELITIAN. Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 44 orang terdiri dari 22 siswa lakilaki III. METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 6 SMA Al-Kautsar Bandar Lampung Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 44 orang terdiri dari 22 siswa lakilaki dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan baik dan benar (Kunandar, 2011: 41). Adlan (2011: 4) menjelaskan

BAB III METODE PENELITIAN. dengan baik dan benar (Kunandar, 2011: 41). Adlan (2011: 4) menjelaskan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan (Classroom Action Research). Penelitian Tindakan Kelas atau PTK (Classroom Action

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Pelaksanaan Siklus 1 Dalam Siklus 1 terdapat 3 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut: a. Perencanaan (Planning) Pada siklus

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS IV SD NEGERI 3 TONDO Oleh: Suhardi, Marungkil Pasaribu, Siti

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil dan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi efektivitas adalah sesuatu yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil

Lebih terperinci

Frekuensi Persentase Rata-rata Selang

Frekuensi Persentase Rata-rata Selang BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan Hasil penelitian tindakan kelas selama dua siklus terbagi dalam beberapa tahap, diantaranya adalah : (i) Kondisi awal sebelum pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelajaran kimia merupakan salah satu bidang mata pelajaran IPA yang mempelajari tentang fenomena yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan pembelajaran kimia

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMA... Mata Pelajaran : Kimia Kelas / Semester : X / 2 Alokasi Waktu : 13 Jam Pelajaran Standar Kompetensi: 3. Memahami sifat-sifat larutan non-elektrolit

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari struktur,

I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari struktur, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Dalam pembelajaran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Menurut Hasbullah (2009:2). Kegiatan pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di

I. PENDAHULUAN. Menurut Hasbullah (2009:2). Kegiatan pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau kehidupan yang lebih tinggi lagi.

Lebih terperinci

Peningkatan Hasil Belajar, Pembelajaran Kooperatif, Team Assisted Individualization

Peningkatan Hasil Belajar, Pembelajaran Kooperatif, Team Assisted Individualization Abstrak. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Berdasarkan pengamatan hasil belajar kelas I SD Negeri 4 Boloh pada awal semester 2 Tahun pelajaran 2011 / 2012, banyak siswa yang kurang aktif,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Kondisi Awal Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas III SD Kayuapu, semester I, yang berjumlah 27 siswa. Berdasarkan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMAN 13 Bandar

III. METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMAN 13 Bandar III. METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMAN 13 Bandar Lampung, semester ganjil Tahun Pelajaran 2010-2011, yang berjumlah 32 orang. B. Data Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN Langgenharjo 02 Kecamatan Juwana Kabupaten Pati pada semester I (gasal) tahun pelajaran 2013/2014.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah satu penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Sehubungan dengan pengertian

II. TINJAUAN PUSTAKA. belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Sehubungan dengan pengertian II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di SMA Budaya Bandar Lampung diketahui bahwa rata-rata nilai test formatif siswa pada materi pokok

Lebih terperinci

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT), Motivasi, Hasil Belajar.

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT), Motivasi, Hasil Belajar. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA SISWA KELAS VII A SMP N 3 SENTOLO Estiningsih Universitas PGRI Yogyakarta

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA SISWA KELAS XI SMK N 1 KASIHAN TAHUN AJARAN 2014/2015 Efin Nur Widiastuti

Lebih terperinci

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR 1 Afta Rahmat Zayn, 2 Sunyoto, dan 3 Tri Murti Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE STAD PADA MATERI AJAR PENGGUNAAN ATURAN SINUS, COSINUS, DAN RUMUS LUAS SEGITIGA. Tino Santigiarti

PENERAPAN METODE STAD PADA MATERI AJAR PENGGUNAAN ATURAN SINUS, COSINUS, DAN RUMUS LUAS SEGITIGA. Tino Santigiarti Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Vol. 17, No. 2, April 2016 ISSN 2087-3557 PENERAPAN METODE STAD PADA MATERI AJAR PENGGUNAAN ATURAN SINUS, COSINUS, DAN RUMUS LUAS SEGITIGA SMA Negeri 1 Ulujami

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) Abstrak

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) Abstrak UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) Triyatno 1, John Sabari 2 1 Mahasiswa Program Pascasarjana PIPS Universitas PGRI Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Tanjungsari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 semester genap SMA N 7

III. METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 semester genap SMA N 7 III. METODE PENELITIAN A. Subjek dan Tempat Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 semester genap SMA N 7 Bandar Lampung, Tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 32 orang yang terdiri

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 24 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting 3.1.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Surabaya yang terletak di jalan Danau Towuti Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung.

Lebih terperinci

JIME, Vol. 2. No. 2 ISSN Oktober 2016

JIME, Vol. 2. No. 2 ISSN Oktober 2016 Meningkatkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Di Kelas VII SMPN 4 Mataram Semester Genap Tahun Pelajaran 2009/2010 Sulasmi, S.Pd Guru

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Dalam sub bab ini akan membahas tentang deskripsi kondisi awal, analisis data, analisis deskriptif komparatif, hubungan antara variabel, hasil

Lebih terperinci

Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Diskripsi Siklus 1 1) Perencanaan Tindakan Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perencanaan tindakan didasarkan pada hasil studi pendahuluan yang bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha yang mempunyai tujuan, yang dengan. didik (Sardiman, 2008: 12). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha yang mempunyai tujuan, yang dengan. didik (Sardiman, 2008: 12). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha yang mempunyai tujuan, yang dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju ke kedewasaan anak didik (Sardiman, 2008: 12). Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Suhardjono dan Suharsimi menyatakan bahwa PTK adalah penelitian tindakan (action research)

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian A. Setting Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Suwawa Kabupaten Bone Bolango pada pelajaran matematika

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mendorong terjadinya belajar. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuantujuan

I. PENDAHULUAN. mendorong terjadinya belajar. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuantujuan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi yang mempengaruhi siswa dalam mendorong terjadinya belajar. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuantujuan yang diharapkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 19 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilaksanakan di SD Negeri 5 Pringsewu Barat Kabupaten Pringsewu, dengan waktu penelitian mulai bulan Maret sampai dengan bulan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kimia SMA Al-Kautsar

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kimia SMA Al-Kautsar I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kimia SMA Al-Kautsar Bandar Lampung, diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata penguasaan konsep pada materi hukum-hukum

Lebih terperinci

DITA PUTRI MAHARANI Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Ponorogo ABSTRAK

DITA PUTRI MAHARANI Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Ponorogo   ABSTRAK UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DENGAN PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER PADA SISWA KELAS VII SEMESTER 2 SMP ISLAM THORIQUL HUDA TAHUN AJARAN 2013/2014 DITA PUTRI MAHARANI

Lebih terperinci

Eka Pratiwi Tenriawaru*, Nurhayati B, Andi Faridah Arsal. Program Studi Biologi, Fakultas MIPA Universitas Cokroaminoto Palopo ABSTRAK

Eka Pratiwi Tenriawaru*, Nurhayati B, Andi Faridah Arsal. Program Studi Biologi, Fakultas MIPA Universitas Cokroaminoto Palopo ABSTRAK Jurnal Dinamika, September 2011, halaman 74-90 ISSN 2087-7889 Vol. 02. No. 2 Peningkatan Motivasi, Aktivitas, dan Hasil Belajar Biologi Siswa melalui Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIIIC SMPN 3 PALOPO

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIIIC SMPN 3 PALOPO Pedagogy Volume 1 Nomor 1 ISSN 2502-3802 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIIIC SMPN 3 PALOPO Titik Pitriani Muslimin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan Kondisi awal hasil observasi penelitian diketahui bahwa hasil belajar matematika siswa kelas enam SD Negeri Simpar masih rendah. Hal tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelajaran fisika merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menurut beberapa siswa dinilai sebagai mata pelajaran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan guru kimia SMA Surya

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan guru kimia SMA Surya 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan guru kimia SMA Surya Dharma 2 Bandar Lampung diketahui bahwa rata-rata nilai tes formatif mata pelajaran kimia

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra Siklus Sebelum melaksanakan proses penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan kegiatan observasi dengan tujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci