Jurnal Ekonomi Pembangunan
|
|
|
- Liani Johan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 3, No. 2 (2017) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Palopo Jurnal Ekonomi Pembangunan Analisis Efektifitas dan Efisiensi Retribusi Pedagang Kaki Lima di Kota Parepare Yadi Arodhiskara 1, Zulkarnain 2 1,2 Universitas Muhammadiyah Parepare INFO NASKAH Diserahkan 10 September 2017 Diterima 16 Oktober 2017 Diterima dalam revisi 30 November 2017 Diterima dan disetujui 4 Desember 2017 Kata Kunci: Efektifitas Efisiensi Pendapatan daerah Retribusi daerah Pedagang kaki lima Kode Klasifikasi JEL: O10 O12 ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektifitas dan efisiensi retribusi pedagang kaki lima di Kota Parepare. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan positivism yang menekankan pada kombinasi antara logika deduktif dan penggunaan alat-alat kuantitatif dalam menginterpretasikan suatu fenomena secara objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi penerimaan yang bersumber dari pedagang kaki lima setiap bulannya mencapai Rp atau setiap tahunnya Rp Jumlah pedagang kaki lima menunjukkan peningkatan yang signifikan menjadi 187 orang dengan tingkat efektifitas yang sangat tinggi yakni berada pada angka rata-rata 100% atau 158,53% capaian penerimaan retribusi pedagang kaki lima. Hal ini didukung dengan efisiensi yang baik dalam pengelolaan biaya pemerolehan yang hanya mencapai 2,04% dari penerimaan pedagang kaki lima. Peta potensi teridentifikasi pada 3 (tiga) zona yang merupakan wilayah sebaran pedagang kaki lima di Kota Parepare. 1. Pendahuluan Sistem pengelolaan keuangan pemerintahan di Indonesia untuk mendukung pembangunan pada awalnya menerapkan sistem sentralisasi namun setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 32 kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menjadi sistem pemerintahan Indonesia menjadi desentralisasi. Sistem ini telah memperluas wewenang pelaksanaan otonomi daerah dengan menyerahkan sepenuhnya segala urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah. Salah satu kewenangan yang diberikan pada daerah yaitu kewenangan dalam menggali dan mengolah pendapatan daerah. hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 yang menyatakan pendapatan daerah adalah Corresponding Author: 1 [email protected]; [email protected];
2 semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun tahun anggaran yang bersangkutan. Kemandirian keuangan yang dimiliki pemerintah daerah dapat meningkatkan kemampuan daerah untuk membiayai urusan rumah tangganya sendiri. Kemampuan tersebut berupa penggalian dan pemobilisasian sumber-sumber pendapatan daerah yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD) (Iskandar, 2013). Retribusi merupakan sumber penerimaan daerah yang cukup potensial di daerah, dalam rangka meningkatkan kemandirian daerah maka pelaksanaan dalam mengelolahnya perlu dikembangkan secara efektif dan efisien. Setiap daerah dapat berkreatifitas dalam peningkatan retribusi daerah untuk kesejahteraan masyarakat. Penerimaan daerah harus didukung oleh tingkat efektifitas. Halim (2008) menyatakan bahwa efektifitas adalah kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi ril daerah. Efektifitas terkait antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai (Mahmudi, 2015). Faktor lain yang menggambarkan penerimaan retribusi semakin baik adalah tingkat efisiensi suatu jenis penerimaan retribusi. Menurut Mahmudi (2015) efisiensi terkait dengan hubungan antara output berupa barang atau pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Sementara Halim (2008) menyatakan bahwa efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan eratnya keterkaitan antara efektifitas dan efisiensi dengan penerimaan retribusi daerah. Murniati dan Kasasih (2017) meneliti tentang kontribusi dan efektifitas penerimaan retribusi pelayanan pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Palembang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat efektifitas retribusi pasar dari tahun 2011 sampai dengan 2015 mengalami kenaikan dan penurunan antara periode tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Ramlan (2015) mengenai efektifitas dan potensi retribusi pedagang kaki lima terhadap Pendapatan Asli Daerah di kota Makassar periode , menunjukkan bahwa efektifitas retribusi pedagang kaki lima di Kota Makassar bersifat sangat efektif. Kota Parepare sebagai kota niaga dan jasa, perekonomiannya didukung berbagai sektor namun yang paling dominan sektor perdagangan sehingga banyak bertumpu pada UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) diantaranya pedagang kaki lima yang menjadi potensi Y. Arodhiskara & Zulkarnain 44
3 besar bagi penerimaan daerah. Tahun 2012 Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp67 miliar, tahun 2013 Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp84,9 miliar dan tahun 2014 Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp75,1 miliar. ( Kota Parepare sedang dalam tahap pembangunan dan dikenal sebagai kunjungan untuk wisata kuliner sekaligus menarik pengusaha dari luar daerah untuk membangun usaha kuliner di kota ini. Banyaknya pasar dan pedagang kaki lima menjadi potensi pembangunan yang menciptakan peluang terbukanya pekerjaan. Sehingga dari potensi pekerjaan itu bisa kembali dalam bentuk retribusi ke penerimaan daerah. 2. Metode Penelitian 2.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menganalisis efektifitas dan efesiensi penerimaan retribusi pedagang kaki lima di Kota Parepare. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif atau biasa disebut positivism, yaitu pendekatan yang menekankan pada kombinasi antara logika deduktif dan penggunaan alat-alat kuantitatif dalam menginterpretasikan suatu fenomena secara objektif (Efferin dkk., 2008:35). Pendekatan ini diharapakan dapat menjelaskan fenomena yang ada berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan. Penelitian ini dilakukan pada pemerintah daerah Kota Parepare khususnya Dinas Pendapatan Daerah kota Parepare; Dinas Koperasi; dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah kota Parepare. 2.2 Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah efektifitas dan efisiensi retribusi pedagang kaki lima, diukur dengan menggunakan rasio efektifitas dan efesiensi penerimaan retribusi daerah. 2.3 Metode Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis potensi, efektifitas dan efisiensi. a. Analisis Potensi Analisis perhitungan potensi mutlak diperlukan dalam analisis menetapkan target rasional. Dengan potensi yang ada, setelah dibandingkan penerimaan untuk masa yang akan datang, maka akan didapatkan besarnya potensi terpendam, sehingga akan dapat diperkirakan rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk menggali potensi yang tersebut untuk Y. Arodhiskara & Zulkarnain 45
4 menentukan berapa besarnya rencana penerimaan yang akan datang. Cara menghitung potensi retribusi pedagang kaki lima adalah sebagai berikut (Prakosa, 2005): Potensi Retribusi PKL = (Jumlah PKL) x (Tarif) x (Waktu/Hari). b. Analisis Efektifitas Rasio Efektifitas digunakan dalam mengukur tingkat efektivitas dari penerimaan retribusi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Parepare, dengan formulasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (Mahmudi, 2010): Realisasi Penerimaan Retribusi PKL Target Penerimaan Retribusi PKL X100% Nilai Efektifitas dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) Sangat Efektif : > 100% 2) Efektif : 100 % 3) Cukup Efektif : 90% - 99% 4) Kurang Efektif : 75% - 89% 5) Tidak Efektif : < 75% c. Analisis Efisiensi Rasio Efisiensi digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi dari penerimaan retribusi pedagang kaki lima,formulasi yang digunakan adalah Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (Mahmudi, 2010): Realisasi Pemerolehan Retribusi PKL X 100% Target Pemerolehan Retribusi PKL Nilai efisiensi dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) Sangat Efisien : < 10% 2) Efisien : 10%-20% 3) Cukup Efisien : 21%-30% 4) Kurang Efisien : 31%-40% 5) Tidak Efisien : > 41% Y. Arodhiskara & Zulkarnain 46
5 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Hasil Potensi Retribusi Pedagang Kaki Lima Berdasarkan hasil analisis potensi retribusi pedagang kaki lima (PKL) di Kota Parepare, diketahui bahwa jumlah potensi retribusi pedagang kaki lima sebesar Rp perbulan atau dalam setahunnya mencapai Rp Besaran potensi tersebut didasarkan atas temuan lapangan yang mengakumulasikan sebanyak 187 pedagang kaki lima secara ril membayar retribusi selama periode tahun Sesuai data yang didapatkan menunjukkan potensi retribusi pedagang kaki lima masih memiliki peluang kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jumlah Pedagang Kaki Lima Data lapangan yang diperoleh menunjukkan sebanyak 187 pedagang kaki lima yang tersebar pada 18 tempat atau lokasi di Kota Parepare. Lokasi PKL berjualan terbanyak berada di Pasar Senggol dengan 35 pedagang dan Jl. Bau Massepe sebanyak 33 pedagang sementara di Jl. A. Sinta hanya ada 1 orang pedagang kaki lima. Tingkat Efektivitas dan Efisiensi Retribusi Pedagang Kaki Lima Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat efektivitas penerimaan retribusi pedagang kaki lima selama 3 (tiga) tahun terakhir dari tahun 2012 sampai dengan 2014 rata-rata persentase efektifitasnya sebesar 158,53%, dimana pada tahun 2012 penerimaan retribusi pedagang kaki lima sebesar 162,94%, pada tahun 2013 penerimaan retribusi pedagang kaki lima sebesar 205,69%, pada tahun 2014 penerimaan retribusi pedagang kaki lima sebesar 106,96%. Hasil tersebut dapat diklasifikafikan tingkat efektifitasnya sangat efektif meskipun dalam periode tersebut terjadi fluktuasi penerimaan retribusi namun masih di atas 100%. Tingkat efisiensi retribusi pedagang kaki lima didasarkan atas hasil pengolahan data menunjukkan bahwa rata-rata tingkat efisiensi penerimaan retribusi pedagang kaki lima selama 3 (tiga) tahun dari tahun 2012 sampai dengan 2014 sebesar 2,04%. Pada tahun 2013 tingkat efisiensi retribusi pedagang kaki lima sebesar 1,69% mengalami tingkat yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya dan pada tahun 2014 tingkat efisiensi retribusi pedagang kaki lima mengalami sedikit perubahan menjadi 1,88%. Tingkat persentase mengalami Y. Arodhiskara & Zulkarnain 47
6 fluktuasi dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Hal ini tidak menyebabkan terjadinya perbedaan kategori tingkat efisiensi setiap tahunnya, dikarenakan masih berada pada kisaran tingkatan kategori sangat efisien. Peta Potensi Pedagang Kaki Lima Peta potensi pedagang kaki lima disusun berdasarkan sebaran pedagang kaki lima yang tersebar pada 4 (empat) kecamatan. Hasil identifikasi menunjukkan sebaran lokasi yang digunakan pedagang kaki lima tersebar pada 18 lokasi. Berdasarkan sebaran tersebut, disusun zona sebagai salah satu poin dalam perumusan baru tarif retribusi pedagang kaki lima selain tarif standar yang hanya mengenakan ukuran luas permeter tempat yang digunakan oleh para PKL di Kota Parepare. 3.2 Pembahasan Potensi Retribusi Pedagang Kaki Lima Data yang dimiliki oleh Dinas Pendapatan Daerah Kota Parepare menunjukkan target yang direncanakan sebesar Rp Setelah dianalisis menunjukkan masih tingginya potensi retribusi pedagang kaki lima. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah pedagang dari data sebelumnya yaitu sebanyak 187 PKL dengan potensi penerimaan perbulannya sebesar Rp atau dalam setahunnya mencapai Rp Potensi peningkatan memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk memperbesar target penerimaan retribusi yang berasal dari pada pedagang kaki lima. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramlan (2015), dimana dalam penelitiannya menunjukkan bahwa setiap tahunnya potensi retribusi pedagang kaki lima terus meningkat. Jumlah Pedagang Kaki Lima Data lapangan menunjukkan terjadi peningkatan jumlah pedagang kaki lima dari sebelumnya hanya 70 meningkat menjadi 187 PKL. Peningkatan jumlah pedagang kaki lima di tahun 2016 memberikan gambaran iklim usaha di Kota Parepare masih dapat dikembangkan lagi khususnya di sektor usaha kecil dan menengah. Sebaran pedagang kaki lima saat ini tidak hanya terpusat lagi di perkotaan tapi juga sudah tumbuh di pinggiran kota. Hal ini terlihat dengan adanya 24 pedagang kaki lima di Kecamatan Bacukiki dan 4 (empat) di Kecamatan Bacukiki Barat, dimana selama ini kedua kecamatan tersebut jauh dari pusat kota. Y. Arodhiskara & Zulkarnain 48
7 Perkembangan pedagang kaki lima tidak hanya akan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tapi juga akan mendorong tumbuhnya pusat ekonomi baru dan menciptakan lapangan kerja alternatif bagi masyarakat Kota Parepare. Tingkat Efektivitas dan Efisiensi Retribusi Pedagang Kaki Lima Tingkat efektivitas retribusi dalam kurun waktu 3 tahun menunjukkan ratarata penerimaan berdada di atas 100% atau 158,53% dan dikategorikan sangat efektif. Tingkat efektifitas yang sangat tinggi ini dapat memberikan keyakinan kepada Pemerintah Daerah Kota Parepare untuk meningkatkan target penerimaan retribusi dengan memperluas atau membuka ruang yang lebih banyak kepada pedagang kaki lima. Peningkatan target akan mendorong kreatifitas instansi terkait dalam memenuhi target atau di atas target tersebut. Jika pada periode retribusi PKL hanya ditargetkan rata-rata Rp ,67 pertahunnya, maka dengan potensi penerimaan yang mencapai Rp pertahunnya akan mudah bagi pemerintah daerah memenuhi target tersebut. Temuan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ramlan (2015) yang menunjukkan sangat efektifnya penerimaan retribusi yang bersumber dari PKL. Pada tingkat efisiensi menunjukkan bahwa dalam periode , efisiensi dari penerimaan retribusi sangat baik rata-rata berada pada kisaran 2,04%. Hal ini menunjukkan bahwa jenis retribusi pedagang kaki lima mampu menekan biaya pemerolehannya sangat rendah dengan kontribusi yang cukup tinggi. Kemampuan tersebut akan memberikan jaminan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD melalui penambahan petugas pungut atau peningkatan insentif agar para petugas dapat lebih memperluas daya jangkaunya dalam melakukan pemungutan retribusi. Peta Potensi Pedagang Kaki Lima Peta potensi pedagang kaki lima merupakan satu tawaran bagi pemerintah daerah untuk menambahkan item tersebut masuk dalam rumus penentuan tarif retribusi pedagang kaki lima. Peta ini didasarkan atas zona masing-masing yang memiliki tarif retribusi sendiri dengan indikator zona yang terdekat dengan pusat kota akan memiliki nilai pasar atau tarif yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Peta potensi terbagi atas 3 (tiga) zona yang ditawarkan, yaitu zona 1, 2, dan 3. Penentuan zona didasarkan pada sebaran pedagang kaki lima yang memiliki akses lebih cepat dengan pusat kota. Zona tidak membatasi pada wilayah Y. Arodhiskara & Zulkarnain 49
8 tertentu, tapi atas potensi kontribusi terbesar diberikan pada penerimaan pendapatan daerah. Gambar 1. Peta Zona Retribusi Pedagang Kaki Lima di Kota Parepare Penambahan item zona dalam penentuan tarif retribusi selain akan menambah kenaikan PAD juga akan memberikan keadilan bagi PKL yang lokasinya berjauhan dengan pusat kota, namun pengenaan tarif yang diberikan sama. 4. Simpulan dan Saran Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektifitas dan efisiensi retribusi pedagang kaki lima di Kota Parepare. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka beberapa kesimpulan dalam penelitian ini adalah: potensi penerimaan pedagang kaki lima sebesar Rp perbulan atau Rp pertahunnya; jumlah pedagang kaki lima sebanyak 187 orang di tahun 2016; tingkat efektifitas berada pada angka rata-rata 100% atau 158,53%; dan peta potensi menunjukkan 3 (tiga) zona yang merupakan wilayah sebaran pedagang kaki lima di Kota Parepare. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu menggunakan data belanja langsung dan tidak langsung setiap SKPD terkait dengan retribusi daerah. Penelitian selanjutnya diharapkan lebih mendalam dan fokus pada upaya pemerintah daerah memperoleh retribusi daerah tidak hanya pada satu wilayah saja agar hasilnya dapat digeneralisasi pada wilayah lainnya. Daftar Pustaka Efferin, S., S.H. Darmaji, dan Y. Tan Metode Penelitian Akuntansi: Mengungkap Fenomena dengan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Halim, A. dan M. Iqbal Pengelolaan Keuangan Daerah Seri Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Y. Arodhiskara & Zulkarnain 50
9 Halim, A Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Salemba Empat. Iskandar, N Analisis Penerimaan Retribusi Daerah dan Pajak Daerah Serta Kontribusinya Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Parepare. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Parepare. Mahmudi Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Mahmudi Manajemen Kinerja Sektor Publik. Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Mardiasmo Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi. Mardiasmo Perpajakan. Edisi Revisi 17. Yogyakarta: Andi. Masyarakat Sebagai Pelaku Ekonomi. Diakses tanggal 23 Februari Murniati, S. dan D. Kasasih Analisis Kontribusi dan Efektifitas Penerimaan Retribusi Pelayanan Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Palembang. Jurnal Kompetitif, 6 (1): Prakosa, K.B Pajak dan Retribusi Daerah. Yogyakarta: UII Press. Ramlan, M. N Analisis Efektivitas dan Potensi Retribusi Pedagang Kaki Lima Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kota Makassar Periode Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar. Realisasi APBD Tahun 2012 sampai tahun 2014 Kota Parepare. Diakses tanggal 2 Februari Republik Indonesia. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil. Y. Arodhiskara & Zulkarnain 51
ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO APBD
ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO APBD 2009-2011 NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada Fakultas
ANALISIS KONTRIBUSI PENERIMAAN PAJAK DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA PEMATANGSIANTAR. Calen (Politeknik Bisnis Indonesia) Abstrak
ANALISIS KONTRIBUSI PENERIMAAN PAJAK DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA PEMATANGSIANTAR Calen (Politeknik Bisnis Indonesia) Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Tingkat
ANALISIS RASIO KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO PERIODE
ANALISIS RASIO KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO PERIODE 2005-2009 Muhammad Amri 1), Sri Kustilah 2) 1) Alumnus Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Muhammadiyah Purworejo 2) Dosen
ANALISIS KEMANDIRIAN DAN EFEKTIVITAS KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BIREUEN. Haryani 1*)
ANALISIS KEMANDIRIAN DAN EFEKTIVITAS KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BIREUEN Haryani 1*) 1) Dosen FE Universitas Almuslim Bireuen *) [email protected] ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk menganalisis
BAB VI PENUTUP. 6.1 Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan dari. penelitian ini adalah:
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1. Analisis Kinerja Pendapatan. a Kinerja pendapatan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara
BAB VI PENUTUP. Berdasarkan hasil kesimpulan dapat disimpulkan bahwa : 2. Pengeluaran (belanja) Kabupaten Manggarai tahun anggaran 2010-
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil kesimpulan dapat disimpulkan bahwa : 1. Penggunaan Anggaran Belanja yang tercantum dalam APBD Kabupaten Manggarai tahun anggaran 20102014 termasuk kategori
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KLATEN DILIHAT DARI PENDAPATAN DAERAH PADA APBD
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KLATEN DILIHAT DARI PENDAPATAN DAERAH PADA APBD 2010-2012 NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
ANALISIS KINERJA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PADA DINAS PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA KABUPATEN TUBAN RANGKUMAN TUGAS AKHIR
ANALISIS KINERJA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PADA DINAS PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA KABUPATEN TUBAN RANGKUMAN TUGAS AKHIR Oleh: RISNA DWI RAHMAWATI NIM : 2013411048 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
BAB I PENDAHULUAN. Sistem pemerintahan Republik Indonesia mengatur asas desentralisasi,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sistem pemerintahan Republik Indonesia mengatur asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas pembantuan yang dilaksanakan secara bersama-sama. Untuk mewujudkan
CENDEKIA AKUNTANSI Vol. 1 No. 2 Mei 2013 ISSN
ANALISIS EFEKTIFITAS DAN KONTRIBUSI PENERIMAAN PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PADA DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI Imelda Kurniawan Jurusan Akuntansi
EFEKTIVITAS PAJAK HIBURAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kota Kediri)
EFEKTIVITAS PAJAK HIBURAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kota Kediri) Ayu Wulansari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Univ. Islam Kadiri ABSTRAK Pemerintah daerah
ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BANTUL
Analisis Rasio untuk Mengukur Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah 333 ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BANTUL Vidya Vitta Adhivinna Universitas PGRI Yogyakarta,
BAB I PENDAHULUAN. Konsekuensi dari pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi tersebut yakni
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan tata cara pemerintahan terwujud dalam bentuk pemberian otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Konsekuensi
JURNAL SKRIPSI EVALUASI POTENSI PENDAPATAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH DI KABUPATEN WONOGIRI
JURNAL SKRIPSI EVALUASI POTENSI PENDAPATAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH DI KABUPATEN WONOGIRI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan otonomi daerah yang dititikberatkan pada daerah. kabupaten dan kota dimulai dengan adanya penyerahan sejumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelaksanaan otonomi daerah yang dititikberatkan pada daerah kabupaten dan kota dimulai dengan adanya penyerahan sejumlah kewenangan (urusan) dari pemerintah
ANALISIS KONTRIBUSI RETRIBUSI JASA UMUM TERHADAP PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SAROLANGUN
ANALISIS KONTRIBUSI RETRIBUSI JASA UMUM TERHADAP PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SAROLANGUN Jaya Kusuma Edy 1), Wahyu Rohayati 2) 1) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi, 2)
BAB VI PENUTUP adalah pada tahun 2009 proporsi untuk belanja operasi sebesar
BAB VI PENUTUP 1.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian di atas dan pembahasan tentang analisis keserasian Belanja Daerah (studi APBD) kabupaten Kupang tahun 2009-2012 dapat di ambil kesimpulan : Tingkat
LAJU PERTUMBUHAN PAJAK RESTORAN, HOTEL DAN HIBURAN DALAM PAD KOTA KEDIRI
LAJU PERTUMBUHAN PAJAK RESTORAN, HOTEL DAN HIBURAN DALAM PAD KOTA KEDIRI Zulistiani Universitas Nusantara PGRI Kediri [email protected] Abstrak Kota Kediri mempunyai wilayah yang cukup strategis
EVALUASI RETRIBUSI PASAR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN BREBES PADA TAHUN NASKAH PUBLIKASI
EVALUASI RETRIBUSI PASAR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN BREBES PADA TAHUN 2009-2012 NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana Strata 1 (S1)
BAB VI PENUTUP. pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: (1) ratarata
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: (1) ratarata kemandirian keuangan
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dampak yang dialami oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Krisis multidimensi yang melanda Indonesia memberi dampak bagi upaya peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dampak yang dialami oleh masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam konteks pembangunan, bangsa Indonesia sejak lama telah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam konteks pembangunan, bangsa Indonesia sejak lama telah menerapkan suatu gerakan pembangunan yang dikenal dengan istilah Pembangunan Nasional. Pembangunan
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH PROVINSI PAPUA PERIODE Ary Anjani Denis 1 Mesak Iek 2
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH PROVINSI PAPUA PERIODE 2008-2013 Ary Anjani Denis 1 [email protected] Mesak Iek 2 [email protected] Robert M. W. S. T. Marbun 3 [email protected] Abstrak Penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Pada penelitian ini, penulis menganalisa laporan realisasi anggaran dan belanja daerah (LRA) Kabupaten Serang selama periode 2011-2016. Adapun
Jurnal MONEX Vol.6 No 1 Januari 2017
ANALISIS EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN Sunanto Email: [email protected] Dosen DIII Akuntansi
BAB I PENDAHULUAN. Karena pembangunan daerah merupakan salah satu indikator atau penunjang dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah merupakan bagian penting dari pembangunan nasional. Karena pembangunan daerah merupakan salah satu indikator atau penunjang dari terwujudnya
BAB III PENGELOLAAN RETRIBUSI PARKIR KOTA SURABAYA. A. Pengaruh Retribusi Terhadap Pendapatan Asli Daerah
BAB III PENGELOLAAN RETRIBUSI PARKIR KOTA SURABAYA A. Pengaruh Retribusi Terhadap Pendapatan Asli Daerah Otonomi daerah yang ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. baik dapat mewujudkan pertanggungjawaban yang semakin baik. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dikelola pemerintah semakin besar jumlahnya. Semakin besar
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pelaksanaan Otonomi Daerah membuat Pemerintah menggantungkan sumber
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelaksanaan Otonomi Daerah membuat Pemerintah menggantungkan sumber pembiayaan pemerintah daerah pada PAD. Hal ini diharapkan dan diupayakan dapat menjadi
Disusun oleh: B
ANALISISS EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PENERIMAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH (Studi Pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sukoharjo). NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi
: Shella Vida Aprilianty NPM : Fakultas /Jurusan : Ekonomi /Akuntansi Dosen Pembimbing : Dr. Masodah Wibisono SE.,MMSI
ANALISIS RASIO KEUANGAN DAERAH PEMERINTAH KOTA CIMAHI Nama : Shella Vida Aprilianty NPM : 26212976 Fakultas /Jurusan : Ekonomi /Akuntansi Dosen Pembimbing : Dr. Masodah Wibisono SE.,MMSI Latar Belakang
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH Devy Octaviana S Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang
EVALUASI PENERIMAAN PBB PASKA UU PDRD (UU NO 28 TAHUN 2009) ( Studi Kasus Diwilayah Kabupaten Sukoharjo ) NASKAH PUBLIKASI
EVALUASI PENERIMAAN PBB PASKA UU PDRD (UU NO 28 TAHUN 2009) ( Studi Kasus Diwilayah Kabupaten Sukoharjo ) NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh: DELLA KUSUMA PUTRI B200100275 PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Era reformasi memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era reformasi memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan pada pembangunan nasional. Pembangunan nasional tidak hanya mengalami pertumbuhan, tetapi juga mengalami
BAB I PENDAHULUAN. daerah, maka semakin besar pula diskreasi daerah untuk menggunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal adalah untuk meningkatkan kemandirian daerah dan mengurangi ketergantungan fiskal terhadap pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. baik pusat maupun daerah, untuk menciptakan sistem pengelolaan keuangan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di Indonesia, adanya desentralisasi pengelolaan pemerintah di daerah dan tuntutan masyarakat akan transparansi serta akuntabilitas memaksa pemerintah baik
BAB I PENDAHULUAN. kapabilitas dan efektivitas dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Otonomi daerah menuntut pemerintah daerah untuk meningkatkan kapabilitas dan efektivitas dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun pada kenyataannya, pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. dilimpahkan ke daerah. Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 5
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era otonomi daerah ditandai dengan diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999. Sistem pemerintahan yang semula sentralisasi berubah menjadi desentralisasi, artinya wewenang
ANALISIS KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH DI ERA OTONOMI PADA PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
733 ANALISIS KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH DI ERA OTONOMI PADA PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN I Gusti Ngurah Suryaadi Mahardika 1 Luh Gede Sri Artini 2 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud),
EVALUASI RETRIBUSI PASAR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI SURAKARTA
EVALUASI RETRIBUSI PASAR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada
BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah perusahaan tentunya mempunyai masalah dalam menyusun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sebuah perusahaan tentunya mempunyai masalah dalam menyusun laporan keuangan. Dengan adanya masalah tersebut maka harus diperlukan sebuah pengelolaan yang dapat
BAB I PENDAHULUAN. dilaksanakannya otonomi daerah. Otonomi daerah diberlakukan di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengelolaan pemerintah daerah di Indonesia memasuki babak baru dengan dilaksanakannya otonomi daerah. Otonomi daerah diberlakukan di Indonesia melalui Undang-Undang
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU. Afriyanto 1, Weni Astuti 2 ABSTRAK
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU Afriyanto 1, Weni Astuti 2 Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Pasir Pengaraian Jl. Tuanku tambusai Kumu Desa rambah Kecamatan
BAB 1 PENDAHULUAN. otonomi daerah. Otonomi membuka kesempatan bagi daerah untuk mengeluarkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otonomi daerah merupakan dampak reformasi yang harus dihadapi oleh setiap daerah di Indonesia, terutama kabupaten dan kota sebagai unit pelaksana otonomi daerah. Otonomi
BAB I PENDAHULUAN. pajak daerah, retribusi daerah, laba BUMD dan pendapatan lain-lain yang sah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber keuangan yang dimiliki oleh daerah. Pendapatan berasal dari berbagai komponen seperti pajak daerah, retribusi
ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) DI KABUPATEN SUMBAWA SKRIPSI
ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) DI KABUPATEN SUMBAWA SKRIPSI Untuk memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajad Sarjana Ekonomi Oleh : Nadyah Astary NIM :
ANALISIS PENERIMAAN RETRIBUSI PARKIR DALAM RANGKA MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus pada Pemerintah Kota Kediri)
ANALISIS PENERIMAAN RETRIBUSI PARKIR DALAM RANGKA MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus pada Pemerintah Kota Kediri) Sisca Yulia Murpratiwi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal bukan konsep baru di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal bukan konsep baru di Indonesia. Perjalanan reformasi manajemen keuangan daerah dapat dilihat dari aspek history yang dibagi
BAB 1 PENDAHULUAN. yang meliputi seluruh kehidupan manusia, bangsa dan negara, untuk. Pembangunan nasional bertujuan mewujudkan masyarakat adil makmur
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan merupakan rangkaian upaya yang berkesinambungan, yang meliputi seluruh kehidupan manusia, bangsa dan negara, untuk melaksanakan tugas mewujudkan
Daftar Referensi. Halim, Abdul Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. Edisi Revisi. Yogyakarta: (UPP) AMP YKPN.
Daftar Referensi Fitry, Kurniawaty. 2014. Dampak Pengalihan Pengelolaan PBB-P2 Terhadap Penerimaan PBB Kelurahan Cinta Raja Kecamatan Sail Kota Pekanbaru. Jurnal. Pekan Baru : Fakultas Ekonomi, Kampus
ANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DAN TREND PADA PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG TAHUN ANGGARAN
ANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DAN TREND PADA PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG TAHUN ANGGARAN 2004-2013 Anjar Nora Vurry, I Wayan Suwendra, Fridayana Yudiaatmaja Jurusan Manajemen Universitas Pendidikan
: Analisis Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dalam Upaya Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Badung Bali. : Tyasani Taras NIM :
Judul Nama : Analisis Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dalam Upaya Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Badung Bali. : Tyasani Taras NIM : 1306205188 Abstrak Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi ini menandakan pemerataan pembangunan di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan bertujuan untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Sejalan dengan perkembangan era globalisasi, nampaknya pembangunan yang merata pada
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI SEBELUM DAN SESUDAH DIBERLAKUKANNYA OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN BOYOLALI APBD
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI SEBELUM DAN SESUDAH DIBERLAKUKANNYA OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN BOYOLALI APBD 2001-2010 NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat
I. PENDAHULUAN. Dasar pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dimulai sejak Undang-Undang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dasar pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dimulai sejak Undang-Undang dasar 1945 yang mengamanatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas provinsi-provinsi
I. PENDAHULUAN. Di era Otonomi Daerah sasaran dan tujuan pembangunan salah satu diantaranya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di era Otonomi Daerah sasaran dan tujuan pembangunan salah satu diantaranya adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah, mengurangi kesenjangan antar
EFEKTIVITAS PAJAK RESTORAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PADA PEMERINTAH DAERAH KOTA KEDIRI
EFEKTIVITAS PAJAK RESTORAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PADA PEMERINTAH DAERAH KOTA KEDIRI Oleh: Muhammad Alfa Niam Dosen Akuntansi, Universitas Islam Kadiri,Kediri Email: [email protected]
Rasio Kemandirian Pendapatan Asli Daerah Rasio Kemandirian = x 100 Bantuan Pemerintah Pusat dan Pinjaman
ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN APBD DAN MENILAI KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN ANGGARAN 20112015 Oleh : Sulis Rimawati (14115005) PENDAHULUAN Salah satu
BAB I PENDAHULUAN. provinsi. Setiap provinsi terbagi dari beberapa Kabupaten maupun Kota.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Republik Indonesia adalah negara yang wilayahnya terbagi mejadi 33 provinsi. Setiap provinsi terbagi dari beberapa Kabupaten maupun Kota. Hubungan tentang
BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara terbesar, dimana sampai saat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara terbesar, dimana sampai saat ini potensi yang ada masih terus digali. Pajak digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan.
I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan otonomi daerah adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan otonomi daerah adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah, mengurangi kesenjangan antar daerah dan meningkatkan kualitas pelayanan
BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat untuk penyelenggaraan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia merupakan bentuk dari desentralisasi fiskal sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Otonomi
ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN
ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN 2011-2013 WIRMIE EKA PUTRA*) CORIYATI**) *) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi **) Alumni
ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PEMERINTAH KOTA KEDIRI TAHUN SKRIPSI
ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PEMERINTAH KOTA KEDIRI TAHUN 2009-2013 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) Pada
ANALYSIS OF EFFECTIVESS AND EFFICIENCY, OF THE HOTEL TAXES AND RETRIBUSI FOR CLEANING AS A SOURCE OF RECEIPT INCOME PAD KEDIRI CITY
JURNAL ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI, PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RETRIBUSI KEBERSIHAN SEBAGAI SUMBER PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA KEDIRI TAHUN 2013-2015 ANALYSIS OF EFFECTIVESS AND EFFICIENCY,
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
18 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah di Indonesia yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Derah dan Undang-Undang Nomor 33 tentang Perimbangan Keuangan
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN KONTRIBUSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB P2) TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN JEMBER
Jurnal STIE SEMARANG VOL 9 No. 1 Edisi Februari 2017 ( ISSN : 2085-5656) ANALISIS EFEKTIVITAS DAN KONTRIBUSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB P2) TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memperkenalkan kebijakan otonomi daerah. Keseriusan pemerintah Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desentralisasi telah menjadi topik yang popular di Indonesia terutama sejak pemerintah Indonesia memperkenalkan kebijakan otonomi daerah. Keseriusan pemerintah Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dengan meningkatkan pemerataan dan keadilan. Dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi daerah adalah salah satu indikator untuk mengevaluasi perkembangan/kemajuan pembangunan ekonomi di suatu daerah pada periode tertentu (Nuni
BAB I PENDAHULUAN. dalam mewujudkan pembangunan nasional tersebut. Pemerintah harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan nasional merupakan suatu rangkaian pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruhan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Pembangunan
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA TAHUN ANGGARAN
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA TAHUN ANGGARAN 2009-2011 NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
BAB I PENDAHULUAN. dampak yang negatif. Dampak ini dapat dilihat dari ketidakmerataan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerapan sistem sentralisasi yang dulu diterapkan oleh Pemerintah Pusat terhadap segala kewenangan Pemerintah Daerah telah banyak memberikan dampak yang negatif. Dampak
KONTRIBUSI PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH KOTA SAMARINDA
1 KONTRIBUSI PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH KOTA SAMARINDA Jonetta Triyanti. D, H.Eddy Soegiarto K, Imam Nazarudin Latif Fakultas
ANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MEMBIAYAI BELANJA DAERAH DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus DPPKAD Kota Gorontalo)
ANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MEMBIAYAI BELANJA DAERAH DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus DPPKAD Kota Gorontalo) MERI IMELDA YUSUF 921 409 130 PROGRAM STUDI SRATA 1 AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS
