1 BAB I TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Irwan Lesmono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Tinjauan Botani Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.). Biji bunga pukul empat ini diduga memiliki khasiat sebagai antijerawat Nama daerah Bunga pukul empat nama Indonesia kembang pagi sore, kembang pukul empat, bunga waktu kecil dengan nama latin Mirabilis jalapa L. Mempunyai beberapa sebutan berbeda dari berbagai daerah diantaranya. kederat, segerat (Jawa Timur), noja (Bali), pukul ampa, turaga (Minahasa), kupa oras (Ambon), cako rana (Ternate) (Depkes RI, 1986:43) Klasifikasi Gambar 1.1 Biji bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.) (Tim trubus, 2013:320). 4
2 5 Bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.) memiliki klasifikasi sebagai berikut: Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi Kelas Anak kelas Ordo Famili Genus : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Hamamelidae : Caryophyllales : Nyctaginaceae : Mirabilis Spesies : Mirabilis jalapa L. (Cronquist, 1981:251) Deskripsi tanaman Bunga pukul empat banyak ditanam orang sebagai tanaman hias di pekarangan atau sebagai pagar pembatas. Tanaman ini tumbuh di dataran rendah maupun di daerah perbukitan yang cukup mendapat sinar matahari. Tanaman bunga pukul empat ini berasal dari Amerika Selatan dan termasuk suku kampahkampahan (Dalimartha, 2006:47). 1) Tanaman Tanaman ini merupakan herba menahun, tinggi tanaman cm. Akar kuat, mengandung air, permukaan berwarna coklat gelap, bagian dalam berwarna putih. Batang tegak, bercabang banyak dan rapat. Batang atas berwarna hijau kemerahan.
3 6 2) Daun Daun tumbuh bertolak belakang, peduncle bagian bawah melewati setengah lembaran daun. Lembaran daun bagian atas tidak bertangkai. Lembaran daun tebal seperti kulit berbentuk ovate-bulat telur atau ovate triangul. Panjang 3-10 cm dengan lebar 3-5 cm. ujung runcong. Pinggiran daun merata. 3) Bunga Bunga banyak, setiap bunga memiliki satu epicalyx, daun kelopak tambahan berwarna hijau. Bunga biseksual (putik dan benangsari dalam satu bunga) dengan perianth-tenda bunga-sederhana. Warna bunga merah, merah muda, putih, dan kuning. 4) Buah Buah kurung (achenium) yaitu buah berbiji satu, tidak pecah, dinding buah tipis, berdampingan dengan kulit biji, tetapi tidak berlekatan. Bentuk hampir sperikal membulat dengan panjang 5 mm. Berwarna hitam ketika masak. Dibungkus seludang yang keras. 5) Biji Biji bulat berkerut, ketika muda biji berwarna hijau muda, setelah tua menjadi hitam. Biji dipecah berisi tepung berwarna putih yang dibalut oleh selaput berwarna kekuningan (Tim Trubus, 2013:319) Kandungan kimia Bunga pukul empat memiliki beberapa kandungan kimia, akar mengandung betaxanthins, trigonelline. Daun mengandung saponin, flavonoid, dan tannin
4 7 (Dalimartha, 2006:47). Biji mengandung zat tepung-lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4%), dan zat asam minyak (46,9%) (Hariana, 2013:164) Penggunaan di masyarakat 1) Mengobati bisul Layukan daun segar kembang pukul empat (2-3 lembar) di atas api, lalu oleskan minyak kelapa. Pada bisul, oleskan minyak kemiri. Letakkan daun yang telah layu di sekeliling bisul, lalu balut. Ganti tiga kali sehari. 2) Mengobati jerawat Pecahkan kulit luar biji kembang pukul empat. Isi biji yang berupa tepung berwarna putih dikumpulkan, lalu digiling sampai halus. Tambahkan air secukupnya, kemudian oles pada bagian muka yang berjerawat (Dalimartha, 2006:48). 1.2 Anatomi Kulit Kulit adalah organ vital yang berfungsi sebagai barrier protektif yang memberikan respons baik terhadap tantangan eksternal maupun internal dan berperan serta dalam pemeliharaan homeostasis (Anderson, 1996:41). Lapisan kulit pada dasarnya sama di semua bagian tubuh, kecuali di telapak tangan, telapak kaki, dan bibir. Tebalnya bervariasi dari 0,5 mm di kelopak mata sampai 4 mm di telapak kaki (Wibowo,2008:13) Fungsi kulit Fungsi kulit secara umum antara lain:
5 8 a. Kulit sebagai pengatur panas Kulit adalah organ utama yang berhubungan dengan pelepasan dari tubuh. Panas dilepaskan oleh kulit dengan berbagai cara: 1) Penguapan, jumlah keringat yang dibuat tergantung dari banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh dalam kulit. 2) Pemancaran, panas yang dilepas ke udara sekitarnya. 3) Konduksi, panas dialihkan ke benda yang disentuh, seperti pakaian. 4) Konveksi (pengaliran), karena mengalirnya udara yang telah panas, maka udara yang menyentuh permukaan tubuh diganti dengan udara yang lebih dingin (Pearce, 2011:295). b. Kulit sebagai indera peraba Rasa sentuhan yang disebabkan rangsangan pada ujung saraf di dalam kulit berbeda-beda menurut ujung saraf yang dirangsang. Perasaan panas, dingin, sakit, semua ini perasaan yang berlainan. Di dalam kulit terdapat tempat-tempat tertentu, yaitu tempat perabaan; beberapa sensitif (peka) terhadap dingin, beberapa terhadap panas, dan lain lagi terhadap sakit (Pearce, 2011:296). c. Kulit sebagai tempat penyimpanan Kulit dan jaringan dibawahnya bekerja sebagai tempat penyimpanan air, jaringan adipose di bawah kulit merupakan tempat penyimpanan lemak yang utama pada tubuh (Pearce, 2011:296).
6 9 d. Kulit sebagai lapisan pelindung Perlindungan dari masuknya benda-benda dari luar (benda asing atau serangan bakteri). Melindungi dari trauma yang terus-menerus. Mencegah keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh. Menyerap berbagai senyawa lipid vitamin A dan D yang larut lemak. Serta memproduksi melanin yang berguna untuk mencegah kerusakan kulit dari sinar UV (Budiyono, 2011:40). e. Kulit sebagai penjaga keseimbangan air Stratum korneum dapat menyerap air sehingga mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subkutan. Air mengalami evaporasi (respirasi tidak kasat mata) kurang lebih 600 ml/hari untuk orang dewasa (Budiyono, 2011:40) Struktur dan susunan kulit Gambar 1.2 Struktur Kulit (Budiyono, 2011:37). Kulit merupakan pembungkus elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan, baik itu cuaca, polusi, temperatur udara dan sinar matahari. Kulit terbagi menjadi tiga lapisan utama:
7 10 a. Epidermis Epidermis atau lapisan kulit paling luar akan bertambah tebal jika sering digunakan, misalnya ketika melakukan aktifitas sehari-hari. Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfungsi sebagai tempat pertukangan nutrisi yang essential atau penting dan terdapat kerutan yang disebut finger print/sidik jari. Epidermis dibagi menjadi empat lapisan, yaitu: 1) Lapisan Basal/Stratum Germinativum a) Terdiri atas sel-sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis. b) Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade. c) Sebagai lapisan terbawah dari epidermis. d) Terdapat melanosit yaitu sel dendrik yang membentuk melanin (melindungi kulit dari sinar matahari). 2) Lapisan Malpighi/Stratum Spinosum a) Merupakan lapisan epidermis yang paling tebal. b) Terdiri atas sel poligonal. c) Sel-sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri. 3) Lapisan Granular/Stratum Granulosum Terdiri atas butir-butir granul keratohialin yang basofilik. 4) Lapisan Tanduk/Stratum Korneum Terdiri atas lapis sel tanduk tanpa inti. Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barrier/pertahanan terluar kulit yang berfungsi sebagai:
8 11 a) Mengusir mikroorganisme patogen. b) Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh. c) Unsur utama yang memadatkan/mengeraskan rambut dan kuku. d) Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3-4 minggu. Dalam epidermis terdapat dua sel yaitu sel marker dan sel Langerhans (Budiyono, 2011:38). b. Dermis Dermis merupakan lapisan di bawah epidermis. Dermis terdiri atas jaringan ikat yang memiliki dua lapisan, yaitu: 1) Pars papilaris yang terdiri atas sel fibroblast yang memproduksi kolagen 2) Retikularis yang memiliki banyak pembuluh darah, tempat akar rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus (Budiyono, 2011:39). c. Jaringan subkutan Jaringan subkutan merupakan lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan lemak. Jaringan subkutan merupakan jaringan adipose, yaitu sebagai bantalan antara kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang. Sebagai jaringan mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas, bantalan terhadap trauma dan penumpukan energi (Budiyono, 2011:39) Kelenjar-kelenjar pada kulit Kelenjar-kelenjar pada kulit terdiri dari dua kelenjar yaitu : a. Kelenjar Keringat (sudoriferus) terbagi menjadi dua jenis berdasarkan struktur dan lokasinya.
9 12 1) Kelenjar keringat ekrin adalah kelenjar tubular simpel dan berpilin serta tidak berhubungan dengan folikel rambut. Kelenjar ini penyebarannya meluas ke seluruh tubuh, terutama pada telapak tangan, telapak kaki, dan dahi. Sekresi dari kelenjar ini (keringat) mengandung air dan membantu pendinginan evaporatif tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh. 2) Kelenjar keringat apokrin adalah kelenjar keringat terspesialisasi yang besar dan bercabang dengan penyebarannya yang terbatas. Kelenjar ini ditemukan pada aksila, areola payudara, dan regia anogenital (Sloane, 2003:88). b. Kelenjar sebasea mengeluarkan sebum yang biasanya dialirkan ke folikel rambut. Kelenjar sebasea, rambut, dan kelenjar keringat apokrin membentuk unit pilosebasea, tetapi hanya terbentuk pada rambut di area genitalia, bibir, puting susu, dan areola payudara. 1) Kelenjar sebasea adalah kelenjar holokrin (sel-sel sekretori menghilang selama sekresi sebum). 2) Sebum adalah campuran lemak, zat lilin, minyak dan pecahan-pecahan sel. Zat ini berfungsi sebagai emoliens atau pelembut kulit dan merupakan suatu barrier terhadap evaporasi. Zat ini juga memiliki aktivitas bakterisida. 3) Jerawat adalah gangguan pada kelenjar sebasea di wajah, leher, dan punggung yang terutama pada dekade kedua masa kehidupan. Kelenjar sebasea ini dapat terinfeksi sehinggga menyebabkan furunkel (bisul) (Sloane, 2003:88).
10 Jerawat Acne atau jerawat merupakan suatu proses peradangan kronik kelenjarkelenjar sebasea. Penyakit ini dapat bersifat minor dengan hanya komedo atau peradangan dengan pustul multiple atau kista. Keadaan ini sering dialami oleh mereka yang berusia remaja dan dewasa muda, dan akan menghilang dengan sendirinya pada usia sekitar tahun. Jerawat biasanya disebabkan oleh tingginya sekresi sebum. Androgen telah diketahui sebagai perangsang sekresi sebum, dan estrogen mengurangi produksi sebum. Tanpa androgen kelenjar sebasea akan tetap kecil (Price, 2005:1422). Obat-obatan juga dapat mencetuskan jerawat. Kortikosteroid oral kronik yang dipakai untuk mengobati penyakit lain (seperti lupus eritematosus sistemik atau transplantasi ginjal), dapat menimbulkan pustula di permukaan kulit wajah, dada, dan punggung. Obat-obatan lain yang diketahui dapat mempercepat atau memperberat jerawat adalah bromide, yodida, difenitoin, litium, dan hidrazid asam isonikotinat (Price, 2005:1423). Distribusi jerawat sejalan dengan daerah yang mengandung kelenjar sebasea, dan timbul pada wajah, leher, dada, punggung dan bahu. Lesi paling dini yang tampak pada kulit adalah komedo. Komedo putih atau komedo tertutup kemungkinan besar akan berkembang menjadi papula dan pustula. Komeda hitam atau komeda terbuka memiliki sumbatan berwarna gelap yang menutup saluran pilosebasea. Komeda ini menghalangi aliran sebum ke permukaan. Sebum, bakteri (propionibacterium acnes), dan asam-asam lemak diduga menyebabkan
11 14 perkembangan peradangan di sekeliling saluran pilosebasea dan kelenjar sebasea (Price, 2005:1423) Mekanisme terjadinya jerawat Jerawat dapat terjadi karena beberapa hal, diantaranya : a. Sekresi kelenjar sebaseus yang hiperaktif Pada kulit bagian dermis terdapat kelenjar sebaseus yang memproduksi lipida. Lipida yang dihasilkan disalurkan ke permukaan kulit lewat pembuluh sebaseus dan bermuara pada pori kulit. Kelenjar sebaseus yang hiperaktif menyebabkan produksi lipida berlebihan sehingga kadar lipid pada kulit tinggi, sehingga mengakibatkan kulit berminyak. Jika produksi lipida tidak diimbangi oleh pengeluaran yang sepadan maka akan terjadi penimbunan dan menyebabkan pori tersumbat. Sebum yang mampat akan memicu terjadinya inflamasi dan terbentuk jerawat. Pada wanita produksi lipida dari kelenjar sebaseus dipicu oleh hormon luteinizing yang meningkatkan saat menjelang menstruasi (Elsner, 2000:52). b. Hiperkeratosis pada infundibulum rambut Hiperkeratosis mudah terjadi pada infundibulum folikel rambut, yang menyebabkan sel tanduk menjadi tebal dan menyumbat folikel rambut, serta membentuk komedo. Jika folikel rambut pori tersumbat atau menyempit maka sebum tidak bisa keluar secara normal, akibatnya akan merangsang pertumbuhan bakteri jerawat yang menyebabkan peradangan. Selain itu, adanya pengaruh sinar UV dapat menyebabkan jerawat bertambah parah, karena adanya sinar matahari merangsang terjadinya keratinisasi. Jerawat juga bisa disebabkan oleh muka yang kotor yang mengakibatkan pori-pori tersumbat (Elsner, 2000:52).
12 15 c. Efek dari bakteri Kelebihan sekresi dan hiperkeratosis pada infundibulum rambut menyebabkan terakumulasinya sebum. Sebum ini yang mengandung banyak timbulnya bakteri jerawat. Enzim lipase yang dihasilkan dari bakteri tersebut menguraikan trigliserida pada sebum menjadi asam lemak bebas, yang menyebabkan inflamasi dan akhirnya terbentuk jerawat. Ketiga faktor di atas dapat menyebabkan jerawat secara terpisah, tetapi ketiganya juga dapat saling mempengaruhi untuk membentuk jerawat. Selain itu, masih ada faktor lain yang dapat menyebabkan jerawat bertambah buruk, antara lain faktor genetik, makanan, kerja berlebih, dan stress (Elsner, 2000:53) Propionibacterium acnes Bakteri Propionibacterium acnes termasuk ke dalam Kingdom bacteria, Phylum Actinobacteria, Family Propionibacteriaceae, Genus Propionibacterium dan Spesies Propionibacterium acnes. P. acnes tergolong ke dalam kelompok bakteri berbentuk batang atau benang gram positif yang tidak membentuk spora. Bakteri ini tergolong bakteri anaerob hingga aerotolerat. Pertumbuhan optimum pada suhu C. Koloni bakteri ini pada media agar berwarna kuning muda sampai merah muda dan memiliki bentuk yang khas (Bojar, 2004:22). Spesies Propionibacterium merupakan anggota flora normal kulit, rongga mulut, usus besar, konjungtiva, dan saluran telinga luar. Produk metabolitnya berupa asam propionat, menjadi asal dari nama genus ini. Pada pewarnaan Gram, spesies ini sangat pleomorfik, memperlihatkan ujung yang melengkung, berbentuk
13 16 gada atau runcing, berbentuk panjang dengan pewarnaan yang tidak rata seperti manik-manik, dan terkadang berbentuk kokoid dan sferis (Jawetz et. al., 2012:288). Propionibacterium acnes, sering dianggap sebagai patogen oportunis, menyebabkan penyakit acne vulgaris dan berhubungan dengan berbagai variasi kondisi inflamasi. Bakteri ini menyebabkan jerawat dengan menghasilkan lipase yang membebaskan asam lemak bebas dari lemak pada kulit. Asam lemak ini dapat menyebabkan inflamasi jaringan yang berperan dalam timbulnya jerawat. P. acnes sering menjadi penyebab infeksi luka pasca bedah terutama pembedahan yang melibatkan pemasangan alat, seperti infeksi pada sendi prostetik terutama di bahu, infeksi pada shunt sistem saraf pusat, osteomielitis, endokarditis, dan endoftalmitis. Karena merupakan bagian dari flora kulit normal, P. acnes terkadang mencemari kultur darah atau cairan serebrospinal yang diambil dengan penetrasi kulit. Maka kultur yang terkontaminasi penting (tetapi sering sulit) untuk dibedakan dengan yang benar-benar positif dan mengindikasikan infeksi (Jawetz et. al., 2012:288) Pengobatan jerawat Tujuan dari pengobatan jerawat adalah untuk mengurangi proses peradangan kelenjar pilosebasea sampai terjadi remisi spontan. Pengobatan jerawat meliputi penghentian pemakaian semua faktor yang dapat memperberat jerawat, seperti pemakaian make-up dan krim pelembab yang bahan dasarnya terbuat dari minyak. Pembatasan makanan biasanya tidak perlu atau tidak efektif (Price, 2005:1424). Beberapa pengobatan terhadap jerawat, yaitu: a. Pembersihan dan penggosokan wajah dengan sabun dapat melenyapkan minyak di permukaan kulit dan melepaskan beberapa komedo. Dianjurkan
14 17 dengan memakai sabun seperti Dial, Pernox, Fostex, Neutrogena dan Desquam-X Wash, dan benzoil peroksida (Losion Pembersih Brevoxyl). Agen ketolitik seperti benzoil peroksida dengan konsentrasi 3% sampai 10% bisa digunakan setiap hari. b. Antibiotik topikal yang digunakan untuk mengobati jerawat, papula, dan pustula seperfisial adalah klimdamisin dan eritromisin. Asam azelaik, bahan campuran seperti retinoid adaplene topikal, dan benzoil peroksida juga efektif sebagai obat akne topikal. Antibiotik topikal sering kali digunakan pada pagi hari dan benzoil peroksida atau campuran Retin-A digunakan sebelum tidur. c. Antibiotik sistemik tetap merupakan terapi utama untuk jerawat papular atau pustular profunda. Pasien biasanya diberi tetrasiklin, eritromisin atau minosiklin. Untuk jerawat pustular superfisial, dosis tetrasiklin berkisar antara mg per hari. Untuk jerawat papulo pustular profunda atau jerawat kistik diberikan mg tertrasiklin sehari (Price, 2005:1425). d. Pengobatan jerawat untuk pasien rawat jalan adalah bedah jerawat yang terdiri dari pengangkatan komedo dan membuka serta mengosongkan isi pustula. e. Dermabrasi digunakan untuk melicinkan kulit dari bekas-bekas jerawat. Tetapi, sebagai suatu prosedur yang membutuhkan operasi yang lama, tindakan ini hanya ditujukan untuk kasus-kasus yang jaringan parutnya sangat berat (Price, 2005:1426).
15 Krim Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60%, dimaksudkan untuk pemakaian luar (Depkes RI, 1978:312). Krim terdapat dua fase, yaitu krim tipe minyak dalam air (m/a) dan tipe air dalam minyak (a/m). Krim yang dapat dicuci dengan air (m/a) ditujukan untuk penggunaan kosmetik dan estetika. Krim juga dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vagina. Stabilitas krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh perubahan suhu dan komposisi, misalnya adanya penambahan salah satu fase secara berlebihan (Syamsuni, 2006:102). Suatu sediaan semi padat seperti krim mampu melekat pada permukaan kulit dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan dicuci atau dibersihkan. Basis minyak dalam air bila dioleskan pada kulit akan membentuk suatu lapisan semipermiabel setelah airnya menguap. Sedangkan krim berbasis air dalam minyak akan cenderung membentuk lapisan hidrofobik setelah airnya menguap dengan lambat dan memberikan efek mendinginkan. Bila suatu krim yang mengandung bahan-bahan obat digunakan secara topikal, maka bahan obat tersebut akan keluar dari basis berdifusi atau berpenetrasi kedalam jaringan kulit (Jeliinek, 1970:125) Formula sediaan krim A. Bahan dasar Sesuai dengan pengertian krim yang terdiri dari dua fasa yaitu minyak dan air, maka bahan dasar pembentuk krim merupakan campuran fasa minyak seperti hidrokarbon, lemak ester, asam lemak, dan minyak tumbuhan, sedangkan fase air
16 19 terdiri dari propilenglikol, trietanolamin, gliserin, dan air suling (Swarbrick and Boylan, 1995:221). B. Bahan tambahan Untuk memperoleh formula yang baik, perlu ditambahkan beberapa bahan tambahan. Bahan tambahan yang biasa digunakan dalam suatu sediaan krim adalah: 1) Zat pengemulsi Umumnya dibagi menjadi tiga golongan besar zat pengemulsi yaitu surfaktan, koloid hidrofilik, dan zat padat yang terbagi halus. Walaupun koloid hidrofilik dan zat padat yang terbagi halus dapat digunakan sebagai pengemulsi satusatunya, penggunaanya yang terbesar adalah dalam bentuk pengemulsi pembantu. Golongan pengemulsi tertentu dipilih terutama berdasarkan stabilitas shelf-life yang dikehendaki, tipe emulsi yang diinginkan dan biaya pengemulsi (Lachman, Lieberman, dan Kanig, 1986:1051). 2) Bahan pengawet Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Adanya pengawet sangat penting dalam emulsi minyak dalam air karena kontaminasi fase ekstrernal mudah terjadi. Karena jamur dan ragi lebih sering ditemukan daripada bakteri, lebih diperlukan yang bersifat fungistatik dan bakteriostatik. Bakteri ternyata dapat menguraikan bahan pengemulsi nonionik dan anionik, gliserin, dan sejumlah bahan penstabil alam seperti tragakan, dan gom guar. Pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil-, etil-, propil-, dan butil-paraben, asam benzoat, dan senyawa ammonium kuartener (Depkes RI, 1995:7).
17 20 3) Antioksidan Antioksidan ditambahkan pada sediaan semi padat jika akan terjadi kerusakan akibat okidasi. Sistem antioksidan ditentukan oleh komponen-komponen formulasi dan pemilihan antioksidan tergantung pada beberapa faktor seperti toksisitas, iritansi, potensi, tercampurkan, bau, perubahan warna, kelarutan, dan kestabilan. Seringkali dua antioksidan digunakan karena kombinasi tersebut sering memberikan efek sinergistik. Antioksidan biasa digunakan pada konsentrasi yang berkisar dari 0,001 sampai 0,1%. Beberapa zat antioksidan yang biasa digunakan adalah asam galat, propil galat, asam askorbat, askorbil palmitat, sulfit, tokoferol, hidroksitoluen terbutilasi, kidroksianisol terbutilasi, dan 4-hidroksimetil-2,6-di-ter-butilfenol (Lachman, Lieberman, dan Kanig, 1986:1068,1134). 4) Zat peningkat konsentrasi Zat ini digunakan untuk meningkatkan konsentrasi emulsi topikal (krim). Bahan peningkat viskositas atau bahan peningkat konsentrasi yang biasa digunakan antara lain setil alkohol, emulgid, stearil alkohol, trietanolamin stearat, dan golongan sorbitan, polisorbat, polietilonglikol, dan sabun (Swarbrick, 1995:1554). 5) Humektan Humektan digunakan dalam sediaan krim dengan tujuan menjaga kelembaban kulit dan mencegah penguapan air dari permukaan kulit. Contoh humektan antara lain gliserol, sorbitol (5%), dan propilen glikol (Swarbrick, 1995:1554).
Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015 ISSN
Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015 ISSN 2460-6472 Uji Aktivitas Antijerawat Tepung Biji Bunga Pukul Empat (Mirabilis Jalapa L.) terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes dan Formulasinya dalam Bentuk
Struktur Kulit (Cutaneous Membran) EPIDERMIS DERMIS SUBCUTANEOUS/Hypodermis
KULIT MANUSIA FUNGSI KULIT Membantu mengontrol temperatur tubuh Melindungi tubuh dari kuman Melindungi struktur dan organ vital dari perlukaan Terlibat dalam proses pembuangan sampah sisa metabolisme tubuh
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jerawat, atau dalam bahasa medisnya disebut akne, merupakan salah satu penyakit kulit yang banyak dijumpai secara global pada remaja dan dewasa muda (Yuindartanto,
BAB 1 PENDAHULUAN. Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit. keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, kista, dan pustula.
BAB I PENDAHULUAN. punggung bagian atas. Jerawat terjadi karena pori-pori kulit. terbuka dan tersumbat dengan minyak, sel-sel kulit mati, infeksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jerawat (Akne Vulgaris) merupakan penyakit kulit peradangan kronik folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papul,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Metode Baumann Metode Baumann adalah sebuah metode untuk menentukan tipe wajah berdasarkan kadar kandungan minyak pada wajah. Beberapa studi telah menunjukkan jika banyak pasien
Luka dan Proses Penyembuhannya
Luka dan Proses Penyembuhannya Anatomi Kulit Epidermis Dermis Subkutan 1 Epidermis Merupakan lapisan kulit terluar, tidak terdapat serabut saraf maupun pembuluh darah Berupa sel-sel berlapis gepeng yang
Perawatan Kulit Wajah Manual Pada Kulit Berjerawat (Acne)
Modul Hybrid Learning PPG Tata Rias Dalam Jabatan Perawatan Kulit Wajah Manual Pada Kulit Berjerawat (Acne) DISUSUN OLEH : Nurul Hidayah, M.Pd 1 A. PENDAHULUAN Modul ini akan menjelaskan suatu pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang sering ditemui di dalam masyarakat adalah acne vulgaris atau biasa disebut dengan jerawat. Jerawat adalah suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kulit yang sering terjadi dikalangan masyarakat adalah jerawat. Jerawat atau Acne vulgaris adalah suatu prosen peradangan kronik kelenjar polisebasea yang
BAB I PENDAHULUAN. pleomorfik, komedo, papul, pustul, dan nodul. (Zaenglein dkk, 2008).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne atau jerawat adalah kondisi yang paling umum dilakukan oleh dokter di seluruh dunia (Ghosh dkk, 2014). Penyakit akne ini merupakan penyakit peradangan pada unit
ANATOMI KULIT Gambar 1. Anatomi Kulit Posisi Melintang Gambar 2. Gambar Penampang Kulit
ANATOMI KULIT Gambar 1. Anatomi Kulit Posisi Melintang Gambar 2. Gambar Penampang Kulit FISIOLOGI KULIT Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh, serta bersambung dengan selaput lendir yang melapisi
BAB I PENDAHULUAN. Minyak canola (Brasicca napus L.) adalahminyak yang berasal dari biji
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak canola (Brasicca napus L.) adalahminyak yang berasal dari biji tumbuhan canola, yaitu tumbuhan asli Kanada Barat dengan bunga berwarna kuning. Popularitas dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bunga Rosella 1. Klasifikasi Dalam sistematika tumbuhan, kelopak bunga rosella diklasifikasikan sebagai berikut : Gambar 1. Kelopak bunga rosella Kingdom : Plantae Divisio :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L) Bawang putih (Allium sativum L) adalah tanaman yang berasal dari Asia Tengah, diantaranya Cina dan Jepang yang beriklim subtropik. Dari
Kode Bahan Nama Bahan Kegunaan Per wadah Per bets
I. Formula Asli R/ Krim Kosmetik II. Rancangan Formula Nama Produk : Jumlah Produk : 2 @ 40 g Tanggal Pembuatan : 16 Januari 2013 No. Reg : No. Bets : Komposisi : Tiap 40 g mengandung VCO 15% TEA 2% Asam
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIAlatihan soal 11.2
1. Berikut ini merupakan kandungan keringat, kecuali?? SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIAlatihan soal 11.2 Air NaCl Urea Glukosa Kulit merupakan salah satu alat ekskresi. Kulit mengeluarkan
BAB I PENDAHULUAN. (Uta, 2003). Jerawat terjadi ketika pori-pori kulit dipenuhi oleh minyak, sel kulit
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acne vulgaris (jerawat) merupakan suatu penyakit kulit yang paling umum terjadi pada remaja, dalam beberapa kasus jerawat dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang lengkuas (Alpinia galanga L.) memberikan hasil sebagai berikut : Tabel 2 :
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk daerah beriklim tropis yang merupakan tempat endemik penyebaran nyamuk. Dari penelitiannya Islamiyah et al., (2013) mengatakan bahwa penyebaran nyamuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang membuat hidup seseorang menjadi sejahtera dan ekonomis. Masyarakat harus berperan aktif dalam mengupayakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TUMBUHAN BERENUK 1. Klasifikasi tumbuhan berenuk: Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub
BAB I PENDAHULUAN. Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, kista, dan pustula.(tahir, 2010). Penyakit
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada tahap awal formulasi, dilakukan orientasi untuk mendapatkan formula krim yang baik. Orientasi diawali dengan mencari emulgator yang sesuai untuk membentuk krim air
BAB I PENDAHULUAN. Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastis, yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastis, yang menutupi permukaan tubuh. Fungsi kulit secara keseluruhan adalah antara lain kemampuannya sebagai penghadang
BAB II. Penuaan Dini pada Wanita Jepang
BAB II Penuaan Dini pada Wanita Jepang 2.1 Penuan Dini Banyak orang berfikir bahwa penuaan merupakan hal yang sangat biasa, bahkan bagi sebagian orang penuaan dianggap tidak terlalu penting untuk kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. Kosmetik memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia. Berdasarkan hasil penggalian arkeologi, diketahui bahwa kosmetik telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kosmetik memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia. Berdasarkan hasil penggalian arkeologi, diketahui bahwa kosmetik telah digunakan oleh manusia yang hidup
1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan
PANCA INDERA Pengelihatan 1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan (tembus cahaya) yang disebut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lobak mulai dikenal bangsa China sekitar tahun 500 SM. Lobak sering
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman Lobak Lobak mulai dikenal bangsa China sekitar tahun 500 SM. Lobak sering disebut dengan lobak cina/lobak oriental. Tanaman lobak memiliki akar tunggang dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kacang hijau (Phaseolus radiatusl.) merupakan salah satu komoditas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman Kacang Hijau 2.1.1 Tanaman kacang hijau Kacang hijau (Phaseolus radiatusl.) merupakan salah satu komoditas tanaman kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi oleh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Sebaran usia mahasiswi yang menggunakan kosmetik
Jumlah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Sebaran usia mahasiswi yang menggunakan kosmetik Penelitian ini melibatkan 85 responden mahasiswi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Responden tersebut
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah Allium shoenoprasum L. yang telah dinyatakan berdasarkan hasil determinasi di Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan
BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan gambaran klinis yang khas
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris merupakan suatu peradangan kronik dari folikel pilosebasea yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan gambaran klinis yang khas (Siregar, 2013). Gambaran
Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai yaitu berikut:
Histologi kulit Kulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian dalam tubuh dari lingkungan luar. Luas kulit pada orang dewasa sekitar 1.5 m 2 dan beratnya sekitar 15% dari berat badan secara
2. STRUKTUR RAMBUT. Gambar 1.2 Struktur Rambut Sumber web :
1. PENGERTIAN RAMBUT Rambut merupakan salah satu adneksa kulit yang terdapat pada seluruh tubuh kecuali telapak tangan, telapak kaki, kuku dan bibir. Jenis rambut pada manusia pada garis besarnya dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri penyebab infeksi piogenik pada kulit. Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus antara lain bisul, jerawat,
BAB I PENDAHULUAN. Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami
BAB I TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Tanaman sembung (Blumea balsamifera L.) Tumbuhan dan bahan alami lainnya sudah lama dimanfaatkan manusia sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit, menyembuhkan dan mencegah
ALAT ALAT INDERA, ALAT PERNAPASAN MANUSIA, DAN JARINGAN TUMBUHAN
ALAT ALAT INDERA, ALAT PERNAPASAN MANUSIA, DAN JARINGAN TUMBUHAN Kompetensi yang hendak dicapai: Siswa dapat memahami bagian tubuh manusia dan hewan, menjelaskan fungsinya, serta mampu mengidentifikasi
Jerawat biasanya muncul di wajah, leher, bahu, dada, punggung dan bahu, dan maaf ada juga di daerah pantat.
Written by DR. Santi Hoesodo Merah dan ranum! Kalau untuk buah-buahan sih ok saja. Tapi untuk keadaan berjerawat. Aduh...siapa juga yang mau. Penulis ingat semasa SMA kalau ada teman yang berjerawat besar
Paryono/Anatomi/Poltekkes Surakarta TUJUAN PEMBELAJARAN :
H. Paryono, S.Kep,Ns,M.Kes TUJUAN PEMBELAJARAN : Menyebutkan bagian-bagian kulit Menyebutkan jenis jaringan yang menyusun epidermis dan dermis Menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi warna kulit. Menguraikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang membuat hidup seseorang menjadi sejahtera dan ekonomis. Masyarakat harus berperan aktif dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kosmetik Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari Meksiko Selatan, Amerika Tengah, dan benua Amerika yang beriklim tropis.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Buah Jambu Biji Tanaman jambu biji bukan merupakan tanaman asli indonesia. Dari berbagai sumber pustaka menyebutkan bahwa tanaman jambu biji diduga berasal dari Meksiko
Menjelaskan struktur dan fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya dalam menjaga kesehatan diri
Kompetensi Dasar : Menjelaskan struktur dan fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya dalam menjaga kesehatan diri Indikator : 1. Menyebutkan organ-organ penyusun sistem ekskresi pada manusia.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Buah Labu Kuning Ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima, Cucurbita ficifolia, Cucurbita mixta, Cucurbita moschata, dan Cucurbita pipo L (Anonim,
Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan
PROSES PEMBUATAN TELUR ASIN SEBAGAI PELUANG USAHA Oleh : Andi Mulia, Staff Pengajar di UIN Alauddin Makassar Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. batang, benang sari kuning kehijauan, kelopak hijau, mahkota lonjong berwarna
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman Lobak Merah 2.1.1 Lobak merah Lobak merupakan herba semusim, tinggi lebih kurang 1 meter, batang lunak membentuk umbi. Daun tunggal, lonjong, tepi daun bergigi,
14 Cara Menghilangkan Komedo Secara Alami dan Terbukti Ampuh
14 Cara Menghilangkan Komedo Secara Alami dan Terbukti Ampuh Written by Rosalia in Beauty Tips Sebelum membahas lebih lanjut mengenai berbagai cara menghilangkan komedo, terlebih dahulu kita harus tahu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Buah Anggur Buah merupakan salah satu jenis makanan yang banyak mengandung vitamin serta mineral yang sangat dibutuhkan oleh manusia, buah anggur merah merupakan salah
Studi Biofarmasetik Sediaan melalui Kulit
Studi Biofarmasetik Sediaan melalui Kulit Dewa Ayu Swastini ANATOMI FISIOLOGI KULIT FUNGSI KULIT : Pembatas terhadap serangan fisika kimia Termostat suhu tubuh Pelindung dari serangan mikroorganisme dan
BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyakit kulit yang melibatkan unit pilosebasea ditandai. Indonesia, menurut catatan Kelompok Studi Dermatologi Kosmetika
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akne vulgaris atau yang oleh masyarakat umum disebut jerawat merupakan penyakit kulit yang melibatkan unit pilosebasea ditandai dengan adanya komedo terbuka
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jerawat adalah penyakit kulit yang biasa terjadi pada usia remaja. Penyakit ini terbatas pada folikel pilosebase dibagian kepala atau badan bagian atas karena kelenjar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus merupakan salah satu mikroorganisme yang hidup di kulit (Jawetz et al., 1991). Kulit merupakan organ tubuh manusia yang sangat rentan terhadap
Sediaan perawatan dan pembersih kulit adalah sediaan yang digunakan untuk maksud
CLEANSING CREAM Sediaan perawatan dan pembersih kulit adalah sediaan yang digunakan untuk maksud perawatan kulit agar kulit menjadi bersih dan sehat terlindung dari kekeringan~an sengatan cuaca, baik panas
BAB I PENDAHULUAN. vulgaris disertai dengan suatu variasi pleomorfik dari lesi, yang terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris merupakan suatu penyakit dari unit pilosebasea yang dapat sembuh sendiri, terutama dijumpai pada anak remaja. Kebanyakan kasus akne vulgaris disertai
BAB 1 PENDAHULUAN. didefenisikan sebagai masa kehidupan pertama ekstrauterin sampai dengan usia 28
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Neonatus bearti baru saja dilahirkan. Dalam dunia kedokteran, neonatus didefenisikan sebagai masa kehidupan pertama ekstrauterin sampai dengan usia 28 hari atau 4 minggu
Struktur Anatomi Dan Fungsi Kulit Manusia Anatomi Kulit.
Struktur Anatmi Dan Fungsi Kulit Manusia Anatmi Kulit. Kulit tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan kulit terluar biasa disebut lapisan ari atau epidermis, di bawah lapisan ari adalah lapisan jangat
Obat Luka Diabetes Pada Penanganan Komplikasi Diabetes
Obat Luka Diabetes Pada Penanganan Komplikasi Diabetes Obat Luka Diabetes Untuk Komplikasi Diabetes Pada Kulit Diabetes dapat mempengaruhi setiap bagian tubuh Anda, termasuk juga kulit. Sebenarnya, permasalahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Hasil Pengamatan pertumbuhan rambut pada kelinci Data Panjang rambut (mm) hari ke Perlakuan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Pengamatan Tabel 2. Hasil Pengamatan pertumbuhan rambut pada kelinci Data Panjang rambut (mm) hari ke Perlakuan 3 6 9 12 15 18 P1 1,2 1,6 1,9 2 2,3 2,6 P2 0,3 0,4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk berupa spiral pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman Pepaya 2.1.1 Pepaya (Carica papaya L.) Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
25 BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Ekstraksi simplisia segar buah duku dilakukan dengan cara dingin yaitu maserasi karena belum ada data tentang kestabilan komponen ekstrak buah duku terhadap panas.
BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. atas. Akne biasanya timbul pada awal usia remaja.
1 BAB I A. Latar Belakang Penelitian Akne merupakan penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan komedo, papul, pustul, nodul dan kista pada wajah, leher,
Sistem Eksresi> Kelas XI IPA 3 SMA Santa Maria Pekanbaru
Sistem Eksresi> Kelas XI IPA 3 SMA Santa Maria Pekanbaru O R G A N P E N Y U S U N S I S T E M E K S K R E S I K U L I T G I N J A L H A T I P A R U - P A R U kulit K ULIT K U L I T A D A L A H O R G A
HUBUNGAN LAMA PENGGUNAAN KRIM MALAM TERHADAP PENIPISAN KULIT WAJAH SKRIPSI
HUBUNGAN LAMA PENGGUNAAN KRIM MALAM TERHADAP PENIPISAN KULIT WAJAH SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi Disusun Oleh: YUSTINI MARIS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kayu Manis Gambar 1. Kulit Batang Kayu Manis (Dwijayanti, 2011) 1. Sistematika Tumbuhan Sistematika tumbuhan kayu manis menurut Soepomo, 1994 adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan dari formula Hair Tonic sari lidah buaya (Aloe vera L.) dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Evaluasi kestabilan dari formula Hair Tonic sari lidah buaya (Aloe vera L.) dengan berdasarkan variasi konsentrasi bahan peningkat viskositas memberikan
BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Akne vulgaris adalah suatu peradangan yang bersifat menahun pada unit pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan predileksi di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Kelapa termasuk jenis Palmae yang bersel satu (monokotil). Batang tanaman tumbuh lurus ke atas dan tidak bercabang. Adakalanya pohon kelapa dapat bercabang, namun hal
BAB I PENDAHULUAN. folikel rambut dan pori-pori kulit sehingga terjadi peradangan pada kulit.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jerawat merupakan kondisi abnormal kulit akibat gangguan berlebih produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan penyumbatan folikel rambut dan
11/10/2017. Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur MACAM TELUR
Telur Titis Sari Kusuma 1 MACAM TELUR 2 1 TELUR Nilai gizi telur sangat lengkap, sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, >> tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Luka bakar adalah bentuk kerusakan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar
Proses Menua Intrinsik Proses Menua Ekstrinsik
Perbedaan gel dan emulgel? Emulgel merupakan terdiri dari 2 fase yang dimana gabungan antara fase emulsi dan fase gel.sedangkan gel merupakan terdiri dari satu fase saja yaitu terdiri dari basis gel dan
BAB I PENDAHULUAN. kecil daripada jaringan kulit lainnya. Dengan demikian, sifat barrier stratum korneum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara anatomi, kulit terdiri dari banyak lapisan jaringan, tetapi pada umumnya kulit dibagi menjadi tiga lapis jaringan yaitu epidermis, dermis dan lapis lemak di
Kulit adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi seluruh tubuh manusia. Berat kulit diperkirakan sekitar 7 % dari berat tubuh total.
WIJUMA wt Kulit adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi seluruh tubuh manusia. Berat kulit diperkirakan sekitar 7 % dari berat tubuh total. Kulit memiliki fungsi yang sangat penting bagi tubuh, diantaranya:
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bakteri Staphylococcus aureus merupakan penyebab terbesar penyakit kulit dengan manifestasi klinik berupa abses pada kulit, nanah dan bisul. Infeksi pada kulit
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Jerawat Jerawat (acne) adalah penyakit peradangan kelenjar sebasea yang sering dijumpai dan berkaitan dengan folikel rambut (disebut unit polisebasea). Terdapat dua jenis acne
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jerawat adalah salah satu penyakit kulit yang paling umum, biasa terjadi selama masa remaja dan biasanya sembuh saat dewasa awal. Jerawat biasanya terjadi pada wajah,
BAB 3 PERCOBAAN. 3.3 Hewan Percobaan 3 ekor Kelinci albino galur New Zealand dengan usia ± 3 bulan, bobot minimal 2,5 kg, dan jenis kelamin jantan.
BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan Air suling, cangkang telur ayam broiler, minyak VCO, lanolin, cera flava, vitamin E asetat, natrium lauril sulfat, seto stearil alkohol, trietanolamin (TEA), asam stearat, propilenglikol,
ISOLASI RARE ACTINOMYCETES DARI PASIR PANTAI DEPOK DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA YANG BERPOTENSI ANTIBIOTIK TERHADAP Propionibacterium acne SKRIPSI
ISOLASI RARE ACTINOMYCETES DARI PASIR PANTAI DEPOK DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA YANG BERPOTENSI ANTIBIOTIK TERHADAP Propionibacterium acne SKRIPSI Oleh: SALIHAH NUR ISNAINI K 100 060 204 FAKULTAS FARMASI
KESEHATAN KULIT RAMBUT DAN KUKU
KESEHATAN KULIT RAMBUT DAN KUKU Oleh Erwin Setyo Kriswanto PENDIDIKAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Makalah ini Disusun Oleh Sri Hastuti (10604227400) Siti Khotijah
The Correlation between Cosmetics Usage to Acne Vulgaris in Female Student in FKIK Muhammadiyah University of Yogyakarta
The Correlation between Cosmetics Usage to Acne Vulgaris in Female Student in FKIK Muhammadiyah University of Yogyakarta Hubungan Lamanya Paparan Kosmetik dengan Timbulnya Acne Vulgaris pada Mahasiswi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Caisim (Brassica juncea L.) Caisim merupakan jenis sayuran yang digemari setelah bayam dan kangkung (Haryanto dkk, 2003). Tanaman caisim termasuk dalam famili Cruciferae
BAB I PENDAHULUAN. Penampilan bagi remaja dan dewasa muda merupakan salah satu faktor
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penampilan bagi remaja dan dewasa muda merupakan salah satu faktor penunjang, terutama wajah yang bersih tanpa akne merupakan modal penting dalam pergaulan dan karier.
Bila dulu scrubbing hanya dapat dilakukan sekali-sekali saja, namun, zaman sudah mulai berubah. Sehingga scrubbing dapat dilakukan kapan saja,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara alamiah regenerasi kulit berlangsung hingga 28 hari sekali. Dimana kulit mengalami pergantian kulit dengan yang baru setiap 28 hari. Proses regenerasi atau penggantian
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Hasil Evaluasi Sediaan a. Hasil pengamatan organoleptis Hasil pengamatan organoleptis menunjukkan krim berwarna putih dan berbau khas, gel tidak berwarna atau transparan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jerawat adalah penyakit peradangan menahun dengan gambaran klinis berupa komedo dan jaringan parut yang umumnya terjadi pada masa remaja (Anonim, 2001). Selama
BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah kesehatan. Hal ini cukup menguntungkan karena bahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan bahan alam yang berasal dari tumbuhan sebagai obat tradisional telah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk menangani berbagai masalah kesehatan.
SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA
A. GINJAL SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA Sebagian besar produk sisa metabolisme sel berasal dari perombakan protein, misalnya amonia dan urea. Kedua senyawa tersebut beracun bagi tubuh dan harus dikeluarkan
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat Tomat (Lycopersicum esculantum MILL.) berasal dari daerah tropis Meksiko hingga Peru. Semua varietas tomat di Eropa dan Asia pertama kali berasal dari Amerika Latin
I PENDAHULUAN. 2 bagian yaitu kulit luar (epidermis) dan kulit bagian dalam (dermis). Saat tubuh
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tubuh kita manusia sebagai sebuah sistem, terdiri dari berbagai bagian yang berbeda fungsi dan saling melengkapi. Selain berfungsi sebagai organ panca indra, jaringan kulit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh kita yang melindungi bagian dalam tubuh dari gangguan fisik maupun mekanik, gangguan panas atau dingin, dan gangguan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian. Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Durian 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian Menurut Rahmat Rukmana ( 1996 ) klasifikasi tanaman durian adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA AKNE VULGARIS 2.1 Definisi Akne Vulgaris Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gambaran
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Dilakukan identifikasi dan karakterisasi minyak kelapa murni menggunakan GC-MS oleh LIPI yang mengacu kepada syarat mutu minyak kelapa SNI 01-2902-1992. Tabel 4.1.
Sistem Ekskresi Manusia
Sistem Ekskresi Manusia Sistem ekskresi merupakan sistem dalam tubuh kita yang berfungsi mengeluarkan zatzat yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh dan zat yang keberadaannya dalam tubuh akan mengganggu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang ditunjukkan setelah pasien
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial adalah infeksi yang ditunjukkan setelah pasien menjalani proses perawatan lebih dari 48 jam, namun pasien tidak menunjukkan gejala sebelum
IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)
IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat) Abstrak Kulit buah langsat diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut yang berbeda
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman srikaya memiliki bentuk pohon yang tegak dan hidup tahunan.
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Srikaya (Annona squamosa L.). 2.1.1 Klasifikasi tanaman. Tanaman srikaya memiliki bentuk pohon yang tegak dan hidup tahunan. Klasifikasi tanaman buah srikaya (Radi,1997):
