Kampung Warsambin Lokasi Penelitian

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kampung Warsambin Lokasi Penelitian"

Transkripsi

1 Bab Empat Kampung Warsambin Lokasi Penelitian Pengantar Perjalanan 1 jam 40 menit adalah jarak tempuh yang harus dilalui ketika penulis berangkat dari Kota Waisai ke lokasi penelitian di Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit. Jarak tempuh itu jika penulis memacu kendaraan dengan kecepatan 60km/jam dan disaat cuaca cerah.tetapi jarak tempuh bisa menjadi lebih lama ketika perjalanan dilakukan dibawah guyuran hujan. Hal ini disebabkan kondisi jalan dari Waisai ke Warsambin bukanlah jalan aspal seperti di Kota Waisai. Kondisi jalan masih terbuat dari tumpukan sirtu (batu kerikil) sehingga ketika hujan beberapa kondisi jalan sangat licin dan berbahaya. Kondisi jalan sirtu ini pun tidak sampai di Kampung Warsambin, melainkan hanya seperempat perjalanan. Sisanya kondisi jalan adalah tumpukan tanah dan bebatuan besar yang cukup tajam namun tetap masih bisa dilewati baik kendaraan roda 4 dan roda 2. Namun ketika melihat pada saat awal pemekaran Kabupaten Raja Ampat, tidak ada akses dengan menggunakan kendaraan darat jika ingin ke Teluk Mayalibit. Satu-satunya cara jika ingin ke Teluk Mayalibit adalah melalui laut. Semenjak dilakukan mega proyek Trans- Waigeo, akses jalan mulai dibangun pada tahun 2009 untuk 53

2 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam menghubungkan Teluk Mayalibit dengan kota Waisai. Pembukaan akses Trans-Waigeo ini akhirnya secara langsung memberikan dampak kepada masyarakat di Teluk Mayalibit. Perubahan ini akan penulis sampaikan pada sub-bab selanjutnya. Yang menjadi pengalaman penulis dalam perjalanan ketika menuju ke lokasi penelitian adalah siapapun yang hendak melakukan perjalanan ini, harus mempersiapkan mental dan keberanian seperti yang penulis alami. Namun perjalanan yang cukup menegangkan tersebut rasanya lenyap seketika saat mata ini memandang sebuah pereng putih di Gunung Nok yang menjadi tanda bahwa penulis telah sampai di Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit. Gambar 4.1. Pemandangan Pintu Masuk Teluk Mayalibit (Sumber A.F. Binter) Panorama ciri khas perkampungan mulai terasa ketika memasuki Kampung ini. Karakter wilayah pesisir merupakan ciri khas yang tidak terlepas dari keberadaan kampung Warsambin. Rumah panggung yang dibangun dengan menancapkan kaki-kaki rumah di pinggiran pantai, katinting dan body 58 masyarakat ditambatkan di Katinting sebutan masyarakat lokal di Raja Ampat untuk perahu kecil.dan untuk menjalankannya menggunakan dayung oleh tenaga manusia. Sedangkan body sebutan masyarakat lokal di Raja Ampat untuk perahu yang berukuran lebih besar. Dan menggunakan mesin untuk menggerakkannya. Body pun terbagi dalam 2 jenis, yaitu yang terbuat dari kayu dan fiber. Kebanyakan yang dimiliki masyarakat adalah dari kayu, sedangkan yang terbuat dari fiber biasanya dimiliki oleh instansi pemerintahan yang bertugas di Kampung-Kampung pedalaman. Seperti Camat, Dokter/Mantri yang bertugas di Puskesmas.

3 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian pinggiran pantai, dan beberapa tambak ikan untuk penyimpanan sementara ikan hasil tangkapan masyarakat. Gambar 4.2. Kondisi Kampung Warsambin (Sumber A.F. Binter) Gambar 4.3. Body Fiber milik masyarakat yang sedang ditambatkan (Sumber A.F. Binter) Kampung Warsambin adalah ibu kota distrik Teluk Mayalibit dan kampung pertama yang akan kita temui ketika ingin berkunjung di Teluk Mayalibit. Sebagai ibu kota distrik, Warsambin cukup berkembang dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya yang berada di wilayah administratif distrik Teluk Mayalibit. Dalam perkembangannya terjadi perubahan-perubahan pada perilaku masyarakatnya. Bab ini akan mendeskripsikan tentang kampung Warsambin, mulai dari sejarah pembentukan kampung sampai kondisi Warsambin kekinian. 55

4 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam Sejarah Kampung Warsambin Agus, seorang bapak dengan perawakan berbadan kurus dan pendek adalah seorang tokoh masyarakat Teluk Mayalibit yang terkenal asal kampung Warsambin. Diusianya yang tak lagi muda, beliau masih tampak bersemangat dalam menjalani aktifitasnya. Bekerja sebagai nelayan dalam waktu tertentu sekaligus juga menjadi petani beliau menghidupi keluarganya. Ditengah aktifitas yang dilakukan beliau, penulis mendapatkan kesempatan untuk berbincangbincang tentang sejarah Kampung Warsambin. Sebagai saksi hidup, beliau dengan fasih dan lancar menceritakan bagaimana kampung Warsambin terbentuk. Perbincangan yang sangat hangat, dapat dirasakan ketika beliau memanggil penulis dengan sebutan anak. Terkadang tawa menghiasi setiap perbincangan kami, tentu tetap ditemani beberapa buah pinang, sirih dan kapur serta rokok sebagai makanan ringan menemani obrolan kami. Gambar 4.4. Penulis bersama salah satu narasumber (Sumber A.F. Binter) Pertanyaan pertama dari penulis tentang bagaimana awal mula Kampung Warsambin ini terbentuk, sepertinya membangunkan kembali memori Agus pada tahun 1970-an dimasa mudanya. Sa lahir tahun 1953 dan besar di Kampung lama Lensok begitu ujar Agus memulai menjawab pertanyaan penulis. Sa masih ingat sekitar tahun 70-an pemerintah pernah menyelenggarakan program yang disebut pembangunan Kampung Gaya Baru, dan waktu itu torang yang ada di kampung Lensok diminta pindah ke tempat yang 56

5 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian pemerintah dorang buat lanjut Agus. 59 Ketika menulis kembali isi wawancara ini, penulis kemudian mencoba untuk mencari informasi tentang program pemerintah seperti yang dimaksudkan oleh Agus dalam wawancara. Kemudian penulis menemukan dokumen ini disalah satu situs resmi milik Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Pusat 60 : P3KT yang mulai disiapkan sejak tahun 1970-an, terus diperluas pelaksanaannya ke seluruh wilayah Indonesia. Dimulai dengan P3KT generasi pertama, yaitu program perbaikan kampung (Urban I). Kemudian generasi kedua, berupa proyek pembangunan perkotaan gaya lama (Urban II, Bandung, Medan, Urban III, Urban IV dan Urban V). Disusul generasi ketiga, yaitu program pembangunan perkotaan untuk melancarkan P3KT secara nasional (tidak terbatas pada proyek dengan bantuan luar negeri, tetapi juga proyek APBN dan APBD). Lantas generasi keempat dengan proyek pembangunan perkotaan gaya baru (Surabaya, East Java Bali, Kalimantan, Sulawesi Irian Jaya, Bali tahap kedua, Sumatera dan Jawa Barat, Botabek, JUDP I,II dan III). Akhirnya, generasi kelima berupa program sektor pembangunan perkotaan yang ditandai dengan pinjaman Urban Sector Loan pada tahun Persiapan semua proyek P3KT melibatkan konsultan luar dan dalam negeri. Hal ini menjadi pendorong kuat bagi peran konsultan untuk membantu pemerintah dalam penataan ruang. P3KT (Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu) adalah sebuah program pemerintah pusat pada era pemerintahan orde baru tahun Program ini dibawah pengawasan dan pelaksana Kementerian Pekerjaan Umum yang bertujuan untuk menata kembali tata ruang kota di daerah-daerah guna memperpendek rentang kendali pemerintahan. Program ini dilakukan dengan cara memindahkan penduduk yang berada di pedalaman ke daerah yang lebih mudah di jangkau. Dan kampung Warsambin adalah satu kampung bentukan Wawancara dengan Agus, Sabtu, 17 Januari 2015, Pukul WIT. Sumber : 57

6 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam dari program tersebut yang saat itu dikenal dengan program Kampung Gaya Baru. Jika dilihat secara geografis memang perpindahan masyarakat dari Kampung lama yang bernama Lensok ke kampung Warsambin sangat beralasan. Gambar 4.5. Peta Pulau Waigeo Pada gambar peta di atas memang kampung Lensok sudah tidak tercantum di distrik Teluk Mayalibit. Letak kampung Lensok itu tepat berdampingan dengan kampung Kalitoko yang jaraknya memang lebih masuk ke dalam teluk. Sehingga memang sangat beralasan dalam program Kampung Gaya Baru masyarakat dari Lensok dipindahkan lebih dekat dengan pintu masuk Teluk Mayalibit. Tepat pada tahun 1973, torang dapa suruh pindah dari kampung Lensok ke kampung yang sekarang tong sebut Warsambin itu. Sa ingat persis dulu kepala kampung itu Bapa Lambert Metansan asli orang teluk suku Maya. Dia yang bawa torang semua pindah kesini. Tempo itu juga bukan torang sendiri dari Lensok saja, tapi ada juga masyarakat dari kampung Mumes yang datang juga ikut tinggal sama torang di Warsambin. Saat itu kepala kampung Mumes, bapa Lambert pu anak mantu, jadi pace bilang sudah kam datang juga tinggal deng katong disini saja. Cerita Agus Wawancara dengan Agus, Sabtu, 17 Januari 2015, Pukul WIT. 58

7 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian Dari cerita yang disampaikan Agus, itu berarti kampung Warsambin adalah kampung baru yang berisi penduduk dari 2 kampung yaitu kampung Lensok dan Mumes. Namun ada perbedaan dari 2 kampung asal ini. Masyarakat dari kampung Lensok seluruhnya pindah ke Warsambin, tetapi kampung Mumes tidak seluruh masyarakatnya pindah, ada yang memilih untuk menetap di Mumes. Kini kampung lama Lensok kini hanya berisi dusun sagu yang tidak terurusi dan tidak berpenghuni. Perpindahan masyarakat dari Lensok ke Warsambin ternyata juga berpengaruh pada mata pencaharian dan kondisi sosial masyarakat yang akan dijelaskan penulis pada sub-bab setelah ini. Gambaran Umum Distrik Teluk Mayalibit Geografi Teluk Mayalibit Distrik Teluk Mayalibit merupakan salah satu dari 24 distrik di Kabupaten Raja Ampat. Wilayah Teluk Mayalibit di bagian Selatan berbatasan dengan distrik Waigeo Selatan, di bagian Utara berbatasan dengan distrik Waigeo Utara, di bagian Barat berbatasan dengan distrik Tiplol Mayalibit dan di bagian Timur berbatasan dengan Waigeo Timur. Luas wilayah Teluk Mayalibit 917,05 Km². Kampung Kalitoko merupakan kampung terluas di distrik Teluk Mayalibit (51%), sedangkan kampung yang wilayahnya paling kecil adalah kampung Mumes (11%). Berdasarkan topografi wilayah semua kampung di distrik Teluk Mayalibit merupakan kampung pesisir atau berbatasan langsung dengan laut. Keadaan tinggi air laut dari daratan pada umumnya sekitar satu meter dari permukaan laut. Dimana letak kampung Warsambin yang paling tinggi yaitu sekitar 3 meter. Pada umumnya bentuk permukaan tanah kampung-kampung di distrik ini adalah dataran. Hanya kampung Warsambin yang sebagian kecil keadaan tanahnya adalah perbukitan yaitu 5% BPS Kabupaten Raja Ampat, Statistik Daerah Distrik Teluk Mayalibit 2014, Hal 1-2, Raja Ampat,

8 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam Pemerintahan Distrik Teluk Mayalibit adalah distrik pemekaran dari Waigeo Selatan. Pemekaran distrik ini berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2006 yang terdiri dari 10 Kampung. Sekarang distrik Teluk Mayalibit terdiri dari 4 Kampung, karena mengalami pemekaran distrik sesuai dengan Perda No. 2 Tahun Enam kampung yang mengalami pemekaran tersebut antara lain Arawai, Beo, Kabilol, Go, Waifoi dan Warimak menjadi distrik sendiri yaitu distrik Tiplol Mayalibit. Sedangkan distrik Teluk Mayalibit terdiri dari Warsambin, Lopintol, Kalitoko dan Mumes. Dan untuk melengkapi organisasi pemerintahan di tingkat kampung maka disediakan aparat pemerintah sekaligus juga pembagian wilayahnya. Di distrik Teluk Mayalibit setiap kampung dipimpin oleh kepala kampung yang membawahi Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Demi ketertiban dan keamanan kampung, juga disediakan hansip pada setiap kampung bersama dengan sarana pos keamanannya.tapi untuk pos keamanannya hanya terdapat di 2 kampung saja. Berikut data yang diperoleh dari statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik kabupaten Raja Ampat : Tabel 4.1 Jumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) di Distrik Teluk Mayalibit 63 Tahun 2013 Kampung Rukun Warga (RW) Rukun Tetangga (RT) Warsambin 2 4 Lopintol 2 4 Kalitoko 2 2 Mumes 1 2 Jumlah 7 12 Sumber : Kantor Kelurahan Sda, Hal 3, Raja Ampat 2014

9 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian Tabel 4.2 Jumlah Personil Hansip dan Pos Keamanan di Distrik Teluk Mayalibit 64 Tahun 2013 Kampung Hansip Pos Keamanan Warsambin 4 1 Lopintol 3 - Kalitoko 5 - Mumes 4 - Jumlah 16 1 Sumber : Kantor Kampung Dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai bagian dari pemerintahan, Kepala Kampung, RW, RT, maupun hansip lebih cenderung pada persoalan-persoalan administratif. Seperti halnya pembuatan KTP atau Kartu Keluarga. Sedangkan jika terjadi persoalan didalam kehidupan bermasyarakat lebih cenderung diselesaikan secara kekeluargaan ataupun memakai pendekatan adat. Dan selama melakukan penelitian lapangan, tidak ada gejolak yang terjadi dalam masyarakat. Penduduk dan Kondisi Sosial Masyarakat Ada hal yang memang menarik ketika penulis berkunjung ke beberapa kampung di distrik Teluk Mayalibit. Yang menarik adalah dari 3 kampung yaitu Warsambin, Lopintol dan Kalitoko lebih terlihat banyak penduduk laki-laki dibandingkan perempuan. Misalnya ketika penulis berada di Kalitoko akhir Agustus 2011, dalam amatan penulis yang terlihat beraktifitas di luar rumah kebanyakan penduduk laki-laki. Kebetulan ketika itu ada juga dilaksanakan pelepasan tim pendidik dari Kapal Kalabia yang hendak meninggalkan Kampung Kalitoko. Semua masyarakat terlibat dalam acara pelepasan itu dengan diiring suling tambur. Dan dalam amatan penulis dari lokasi acara tersebut berlangsung memang jumlah laki-laki lebih banyak dibanding jumlah perempuan. 64 Sda, Hal 3, Raja Ampat

10 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam Gambar 4.6. Tarian Yosim Pancar dengan iringan musik Suling Tambur di Kalitoko (Sumber A.F. Binter) Amatan penulis tersebut ternyata senada dengan data yang dipaparkan oleh BPS Kabupaten Raja Ampat tentang jumlah penduduk di distrik Teluk Mayalibit. Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Distrik Teluk Mayalibit 65 Kampung Laki-Laki Perempuan Jumlah Sex Rasio Warsambin Lopintol ,08 Kalitoko ,50 Mumes ,11 Jumlah ,48 Sumber : Pendataan Potensi Kampung 2013 Pada sub-bab sebelumnya penulis menyampaikan bahwa perpindahan masyarakat dari kampung Lensok dan Mumes ke kampung Warsambin dalam program Kampung Gaya Baru, ternyata memberikan perubahan besar pada kondisi sosial masyarakat. Perubahan ini semakin nampak terlebih ketika dibangun akses transportasi darat dari kota Waisai ke ibu kota distrik Teluk Mayalibit yaitu kampung Warsambin. 65 BPS Kabupaten Raja Ampat, Statistik Daerah Distrik Teluk Mayalibit 2014, Hal 4, 62 Raja Ampat, 2014

11 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian Sekarang mata pencaharian masyarakat itu nelayan. Padahal dulu tra ada yang nelayan, semua itu tokok sagu. Cari ikan itu hanya untuk makan setiap hari saja tapi tra jual. Karna waktu di kampung lama, Lensok, itu semua hanya hidup dari sagu saja. Dulu itu tong pu makanan pokok itu sagu yang nanti tong olah jadi papeda, sagu kering, sinole. Sisa dari tong pu hasil kebun itu yang tong pi bawa ke Sorong untuk jual akang di pasar. Tapi semenjak tong pindah ke Warsambin sini su jarang yang tokok sagu lagi, semua pi lobe ikan lema. terang bapa Agus. 66 Perubahan pertama yang terjadi dalam masyarakat adalah berubahnya mata pencaharian masyarakat yang sebelumnya mereka tokok sagu kini hampir semuanya menjadi nelayan. Alasan perubahan mata pencaharian masyarakat ini karena 2 hal: yang pertama, jarak dari kampung Warsambin ke kampung lama (Lensok) yang juga kebun sagu cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan menggunakan perahu. Yang kedua, oleh karena alasan ekonomi yaitu hasil dari penjualan ikan lebih banyak daripada hasil menjual sagu. Belakangan ini, alasan ekonomi adalah motif yang paling kuat mendukung perubahan mata pencaharian dari tokok sagu menjadi nelayan. Perubahan selanjutnya yang terjadi dan juga dirasakan masyarakat Kampung Warsambin adalah berubahnya konsumsi makanan pokok dari sagu ke beras. Perubahan ini mulai dirasakan semenjak program Kampung Gaya Baru dilaksanakan. Pada awalnya masyarakat mengkonsumsi sagu sebagai bahan makanan pokok yang kemudian diolah menjadi olahan makanan jadi seperti papeda, sagu kering, sinole. Namun ketika masyarakat dipindahkan, konsumsi makanan pokok sagu mulai menjadi berkurang dan beralih ke beras walau tidak serutin seperti sekarang ini. 66 Wawancara dengan Agus, Sabtu, 17 Januari 2015, Pukul WIT. 63

12 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam Sa dari kecil itu orang tua su kasih makan sagu. Torang ini, Sa deng anak-anak pu mama, tong besar cuma dengan makan sagu yang orang tua dong ambil di kebun. Dulu tu juga dirumah itu mo makan nasi itu sangat jarang sekali. Biasa torang makan nasi itu kalau misalnya ada acara-acara besar di kampung. Misalnya acara gereja ka, acara adat, atau pesta nikah. Jadi kadang tu liat beras dalam karung di rumah jarang sekali. Semua makan sagu yang dong bikin jadi macam-macam, ada papeda, sinole, dan sagu kering. Apalagi sekarang ini? Sekarang tong liat sagu yang jarang, setiap hari su makan nasi. Mo pi ke Waisai lebih gampang to, su ada jalan darat. Jadi kapan saja mo beli beras gampang. tukas Agus. 67 Dalam wawancara bersama Agus juga terungkap bahwa, perubahan yang terjadi pada masyarakat salah satu kontribusinya adalah ketika Raja Ampat terbuka dan mudah diakses. Hal ini tebukti dengan apa yang dialami oleh masyarakat di kampung Warsambin. Ketika kampung Warsambin mulai terhubung dengan Waisai (ibu kota kabupaten Raja Ampat), perubahan demi perubahan mulai terjadi. Akses transportasi darat tanpa disadari memberikan dampak bagi masyarakat Warsambin, terlebih ketika masyarakatnya belum siap untuk menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan ini bisa memberikan dampak positif dan negatif, tergantung kearah mana perubahan itu. Sebenarnya, jikalau mau diperhatikan lebih seksama masyarakat kampung Warsambin masih termasuk masyarakat tradisional yang sangat memegang teguh nilai-nilai budaya yang ada. Dialektika agama dan budaya sangat nampak dalam pengambilan keputusankeputusan dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Pemimpin adat dan pemimpin agama sangat memiliki peran yang penting dalam kehidupan masyarakat di kampung Warsambin. Nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat adalah hasil pikiran antara pemahaman budaya dan nilai-nilai agama. Dari nilai-nilai yang berkembang lewat pemahaman budaya menghasilkan perilaku budaya yang kita sebut dengan 67 Wawancara dengan Agus, Sabtu, 17 Januari 2015, Pukul WIT. 64

13 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian kearifan lokal. Selain itu pengetahuan lokal yang berkembang di masyarakat kampung Warsambin didapatkan dengan cara tradisional seperti membaca fenomena-fenomena alam. Seperti ketika ingin mengetahui apakah lautan berombak ataukah tidak? Masyarakat di Kampung Warsambin dapat mengetahuinya dengan melihat pohon bok (sejenis pohon pinang) yang tinggi dan biasanya ada di puncak dataran tinggi. Ketika daun dari pohon bok menghempas kencang itu pertanda di laut sedang berombak kencang. Sampai sekarang ini masyarakat masih hidup dengan kearifan lokal lainnya yang terwujud dalam produk budaya lokal. Salah satunya adalah budaya Sasi. Potensi Kampung Warsambin Sebagai ibu kota distrik Teluk Mayalibit tentu Kampung Warsambin memiliki potensi yang kuat untuk menopang pembangunan Raja Ampat. Untuk melihat potensi apa yang dimiliki oleh Kampung Warsambin penulis hanya bisa mendapatkannya lewat pengamatan dan pengalaman ketika berada di tempat penelitian. Penulis mendefenisikan potensi kampung adalah suatu daya dalam bentuk materiil dan moriil yang dapat menunjang pembangunan di kabupaten Raja Ampat dan lebih khususnya dapat mendatangkan kemakmuran serta kesejahteraan bagi kemashalatan masyarakat. Dalam amatan dan pengalaman penulis mendapatkan dua potensi yang dimiliki oleh Kampung Warsambin. Dua potensi tersebut adalah budaya lokal dan sumber daya alam. Berikut penulis akan mendeskripsikan potensi-potensi yang dimiliki Kampung Warsambin: a) Potensi Wisata Budaya Lokal Pengalaman dalam melakukan penelitian dan hidup bersama masyarakat Kampung Warsambin, membawa penulis pada sebuah pengalaman yang baru. Meninggalkan sejenak hiruk-pikuk perkotaan ternyata menjadi sebuah pengalaman pribadi yang luar biasa. Karakteristik masyarakat perkampungan melekat dan 65

14 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam 66 nampak pada perilaku masyarakat Warsambin. Memegang teguh nilai-nilai moral yang menjadi pranata kehidupan masyarakat merupakan sesuatu yang harus dimiliki sebagai masyarakat. Keteguhan terhadap nilai-nilai moral ini nampak dan terlihat jelas pada sudut pandang masyarakat untuk melihat relasi antara seorang manusia dengan leluhur, dengan alam, serta dengan sesama manusia. Dan juga sudut pandang dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Demikian pula yang terjadi dengan masyarakat di kampung Warsambin. Budaya tradisional sangat kental masih terasakan dalam kehidupan bermasyarakat di kampung Warsambin. Mulai dari bagaimana mereka berelasi antar sesama bahkan bagaimana mereka memperlakukan alam sebagai tempat mereka hidup. Yang pertama adalah bagaimana mereka memaknai sang pencipta kehidupan dan alam semesta. Sebelum mengetahui lebih jauh ke dalam, sebagai informasi bagi para pembaca, pemahaman yang ada pada masyarakat tidak lepas dari pengaruh masuknya salah satu agama besar di dunia yaitu Kristen Protestan. Datangnya para penginjil di kampung Warsambin, Teluk Mayalibit, ternyata memberikan kontribusi terhadap perkembangan peradaban dan budaya masyarakat Warsambin. Kontribusi yang paling besar dalam bagi masyarakat adalah ketika mereka diajarkan untuk lebih menghargai kehidupan dengan cara memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya untuk berbuat baik bagi sesama dan juga bertanggungjawab terhadap alam yang sudah diberikan Tuhan bagi mereka. Budaya yang adalah hasil cipta, rasa dan karsa, menjadi potensi yang besar dimiliki oleh masyarakat Kampung Warsambin. Budaya ini selain dilaksanakan untuk menjaga kestabilan akan kehidupan, juga agar manusia dapat hidup akur dengan alamnya. Selain itu budaya yang dibalut dengan cerita-cerita sejarah tempo dulu dan menyisakan jejak cerita berupa situs-situs khusus merupakan daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Misalnya sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang digunakan sebagai makam para leluhur.

15 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian Gambar 4.7. Makam Leluhur Di Teluk Mayalibit (Sumber A.F. Binter) Selain itu terdapat budaya lokal yang biasa disebut budaya Sasi. Budaya Sasi adalah pelarangan ambil hasil alam baik yang di darat dan di laut berdasarkan dengan kesepakatan bersama masyarakat atau keputusan pemilik hak lahan serta diberlakukan dalam waktu tertentu. Sasi dalam pelaksanaannya secara substansi sama dengan proses yang kita sebut dengan konservasi. Dimana ketika Sasi dilakukan, sama dengan memberikan kesempatan bagi makhluk hidup seperti tumbuhan dan ikan di laut untuk bertumbuh dan berkembang. Pelaksanaan Sasi di era sekarang ini menarik untuk diikuti terlebih ketika semua pemerintahan sedang berbicara tentang sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Inilah potensi budaya lokal yang kemudian nantinya bisa diangkat sebagai wisata budaya lokal dari kampung Warsambin. b) Potensi Sumber Daya Alam Seperti yang sudah dijelaskan diatas mengenai geografis kampung Warsambin memiliki karakteristik masyarakat pesisir pantai, tentu potensi sumber daya alamnya adalah laut. Ditambah lagi kampung Warsambin letaknya di pintu masuk Teluk Mayalibit tempat dimana pertemuan arus antara air dibeberapa aliran sungai yang terdapat di Teluk Mayalibit dan aliran air laut ketika pasang, mengakibatkan teluk dipenuhi oleh berbagai spesies ikan. Salah 67

16 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam satu spesies ikan yang paling banyak ditangkap nelayan dari kampung Warsambin adalah ikan Lema (Ikan Kembung). Dalam wawancara penulis bersama salah seorang pengepul ikan asal Makassar yang berdomisili di Waisai Daeng Agus 68, beliau mengungkapkan bahwa dalam semalam seorang nelayan bisa menangkap ikan Lema ekor. Dan dijual ke pengepul seharga Rp. 1000,-/ekor. Ini belum termasuk jenis ikan lain yang ditangkap oleh nelayan untuk dijual. Selain itu Kampung yang terletak di Teluk Mayalibit ini ternyata menyimpan puluhan spesies ikan langka dari ribuan spesies ikan yang hanya terdapat di perairan Teluk Mayalibit. Ribuan spesies ikan inilah yang menjadi potensi sumber daya alam laut yang bukan dilihat dari sisi ekonomis, melainkan juga ditinjau dari kekanekaragaman hayati. Daya tarik inilah yang mampu mendatangkan ilmuwan dari seluruh belahan dunia untuk meneliti dibidang perikanan. Hanya laut saja kah? Tentu tidak. Sekalipun sebagian besar warga Kampung Warsambin adalah nelayan. Tetapi ketika musim angin selatan mulai berhembus, kebanyakan warga beralih untuk berkebun. Mengapa demikian? Pada musim angin selatan bagi masyarakat di Raja Ampat, itu saat dimana perahu ditambatkan, karena gelombang di laut mencapai tinggi maksimum dan tidak disarankan untuk mencari ikan. Potensi yang terdapat di darat pun bisa menjadi lahan pencarian sementara ketika gelombang di laut sedang bergelora. Walaupun warga mengakui hasilnya tidak seberapa karena mereka lebih fokus pada hasil di laut yang secara hitung-hitungan ekonomi lebih menguntungkan. Itu berbicara lahan kebun olahan warga, tetapi ketika berbicara hasil hutan maka jelas Kampung Warsambin juga memiliki potensi hasil hutan yang tidak sedikit. Laut dan darat yang menyimpan potensi kekayaan sumber daya alam yang tidak sedikit. Dibutuhkan pemahaman yang baik dalam persoalan pemanfaatan sumber daya alam sehingga hasil sumber daya alam bisa menjadi berguna bagi kemasahalatan orang Wawancara dengan Daeng Agus, 24 Agustus 2011 Pukul WIT

17 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian banyak sekaligus juga adanya kesinambungan hasil sumber daya alamnya. Ancaman Eksploitasi dan Kerusakan Lingkungan di Kampung Warsambin Ketika melihat potensi sumber daya alam yang dimiliki Kampung Warsambin, bersamaan itu pula disadari ada begitu banyak ancaman terhadap potensi tersebut. Baik itu potensi sumber daya alam yang ada di laut dan di darat. Secara garis besar ketika melihat ancaman yang ada, penulis dapat menyimpulkan ancaman itu oleh karena faktor internal dan eksternal. Berikut penulis akan memaparkan beberapa ancaman serius selama penulis berada di lapangan. Penebangan Hutan dari Hutan Produksi kah? Ketika melakukan perjalanan dari ibu kota kabupaten Raja Ampat, Waisai sampai ke tempat penelitian di Kampung Warsambin, penulis menemukan banyak sekali tumpukantumpukan papan kayu (kayu olahan) di pinggiran jalan. Tidak hanya itu penulis juga melihat ada beberapa tumpukan kayu gelondongan yang dibiarkan dibahu jalan. Sejenak penulis memikirkan apakah semua kayu tebangan ini memiliki surat dan ijin resmi ataukah tidak? Sejenak penulis menunggu disekitar tumpukan kayu tersebut, berharap bertemu orang yang bisa ditanyakan perihal kayu-kayu tersebut. Namun setelah ditunggu lebih dari 1 jam, tak ada satupun orang yang nampak. Sesampainya Kampung Warsambin, penulis mampir sejenak di kantor distrik berharap mendapatkan informasi mengenai penebangan tersebut. Penulis bertemu dengan salah satu seorang pegawai yang belakangan diketahui adalah seorang Polisi Hutan yang ditempatkan bekerja di distrik Teluk Mayalibit. Setelah dikonfirmasi dengan PolHut tersebut, beliau juga tidak mengetahui bahwa ada beberapa tumpukan kayu gelondongan. Sebab ketika beliau patroli sehari sebelumnya beliau tidak menemukan seperti yang saya sampaikan. Sambil beliau berkata : Saya akan patroli ke 69

18 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam tempat yang ade bilang. Tapi kalau melihat lokasi yang ade bilang, sepertinya daerah itu tidak boleh ada penebangan, karena masih masuk dalam kawasan hutan lindung dan bukan hutan produksi. Nanti saya cek ade. Terlepas dari apakah kayu-kayu tersebut memiliki surat ataukah tidak, penebangan hutan tanpa sebuah perencanaan dan melakukan pemilahan manakah pohon yang sudah bisa ditebang atau pohon yang tidak boleh ditebang tetaplah menjadi sebuah ancaman yang serius bagi lingkungan. Memang harus dipahami Raja Ampat sedang memulai membangun dan membutuhkan sumber daya alam untuk pembangunan infrastruktur serta meningkatkan PAD. Tetapi bukan berarti itu harus mengabaikan ancaman terhadap kerusakan lingkungan. Terlebih ketika berhadapan dengan eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan keberlangsungan sumber daya alam itu sendiri. Ancaman yang hampir sama juga dapat dilihat ketika terjadi pembukaan lahan baru, baik untuk pembangunan fasilitas pemerintah, perumahan ataupun pembangunan tempat usaha. Apakah semuanya itu dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan analisis dampak lingkungan ataukah tidak? Rusaknya Terumbu Karang dan Ilegal Fishing Kalo dulu iyo, ada yang pake bom ikan deng akar bore untuk tangkap ikan. Sekarang su tra boleh lagi. Karna memang kalo deng bom lebih gampang, tong tra tunggu lama-lama. Tinggal ke laut, cari dimana karang banyak, sudah, lempar bom nanti ikan dong timbul semua ungkap Marthinus Waropen. 69 (Dahulu, ada yang menggunakan bom ikan dan akar boreuntuk tangkap ikan. Sekarang tidak boleh. Karena memang kalau dengan bom lebih mudah, kita tidak perlu menunggu lama. Pergi ke laut, lalu carilah dimana banyak karang, kemudian, 69 Wawancara dengan Marthinus Waropen, Kamis 1 September 2011, Pukul WIT.

19 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian bomnya dilempar nanti ikan yang mati akan muncul ke permukaan). Waropen menceritakan bagaimana perilaku nelayan lokal melakukan penangkapan ikan yang ternyata memberikan dampak kerusakan yang besar bagi habitat ikan. Sekalipun dilarang, ternyata fakta dilapangan masih saja ada oknum-oknum masyarakat yang melakukan praktek penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan. Terumbu karang adalah rumah bagi ikan untuk berkembang biak, penggunaan bom ikan tentu akan merusak semua ekosistem laut termasuk terumbu karang. Rusaknya terumbu karang akan jelas sangat mempengaruhi jumlah produksi ikan. Kuantitas ikan akan berkurang seiring dengan meningkatnya jumlah kerusakan terumbu karang. Oleh sebab itu kerusakan terumbu karang merupakan ancaman paling besar yang dirasakan belakangan ini.kekhawatiran ini hampir dirasakan diseluruh bagian kabupaten Raja Ampat termasuk kampung Warsambin di Teluk Mayalibit. Sepertinya sumber daya alam laut yang kaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dengan illegal fishing. Semakin kaya suatu wilayah perairan maka semakin rentan pula terjadinya illegal fishing. Siang itu, 25 Agustus 2011, langit cerah matahari menampakan kegagahannya dengan sinar dan teriknya. Perairan di Teluk Mayalibit sangat tenang, terlihat beberapa orang sedang sibuk di dermaga Pos Conservation International, Side Teluk Mayalibit. Ade, torang mo patroli dulu. Mo ikut ka trada? teriak seorang diantara mereka kepada penulis. Ok kaka sa mo ikut sahut penulis. Speedboat dinyalakan dan bergerak menuju arah dalam teluk. Seharusnya tong patroli besok, tapi tadi pagi masyarakat ada yang datang ke pos kasi tau sa kalo subuh tadi ada kapal kecil satu yang masuk ke dalam. Dong tra kenal itu sapa pu kapal. Jadi ini tong mo pi cek dulu ujar Dortheus Metansan salah satu petugas CI. Setelah menempuh perjalanan ± 20 menit dari Pos CI, terlihat sebuah kapal kecil bermesin dengan cabin tertutup oleh 71

20 BUDAYA SASI: Perlawanan Negara dan Masyarakat Terhadap Eksploitasi dan Kerusakan Sumber Daya Alam 72 terpal. Lalu seorang petugas CI pun berdiri dan menuju ke anjungan speedboat. Sambil menggunakan Binocular yang diarahkan ke kapal kecil tersebut, sepertinya ia sedang mengidentifikasi kapal tersebut dari kejauhan. Itu bukan masyarakat pung kapal. Itu kapal dari luar. Dong ada buang jangkar itu. Tong merapat ujar dia sambil kembali ke bangku dan mempersiapkan beberapa kertas, yang kemudian penulis ketahui sebagai form pencatatan laporan patroli. Speedboat patroli pun mulai merapat secara perlahan mendekati kapal kecil tersebut. Selamat siang sapa seorang petugas. Siang bapa sahut seorang diantara mereka. Terdapat 3 orang diatas kapal tersebut. Dari tampilan fisik mereka adalah nelayan yang berasal dari luar Raja Ampat. Bapa dong ada keperluan apa masuk ke Teluk? tanya petugas selidik. Kita cuma numpang mi bapa, abis diluar ombak besar jadi kita masuk sini jawab nelayan tersebut. Kalau mau numpang kenapa tidak di kampung saja lebih aman to? Kenapa harus masuk kedalam sini. Itu dong bawa apa dalam kabin itu? selidik petugas seperti melihat ada kejanggalan dari nelayan ini. Ini kita punya ikan hasil tangkap di luar (luar teluk) bapa, su dalam es bapa jawab nelayan itu tapi sambil terbata-bata. Kami petugas dari CI yang sedang patroli disini. Bapak memasuki zona No Take Zone, aturannya daerah sini tidak boleh ada nelayan yang masuk untuk mencari ikan. Kami akan periksa muatan bapak sambil menunjuk pada cabin yang tertutup terpal berwarna biru. Ah tidak ada apa-apa ji didalam mi bapa. Cuma ikan mi, yang kita tangkap di luar tadi bapa jawab nelayan dengan suara yang bergetar. Terlambat, karena beberapa petugas lainnya sudah melompat ke atas kapal tersebut dan langsung membuka cabin yang dimaksud. Di dalam kabin tersebut memang terdapat hasil tangkapan mereka. Namun sebagian besar hasil tangkapan tersebut

21 Kampung Warsambin Lokasi Penelitian adalah ikan yang hidup seperti baru ditangkap. Dan ditemukan beberapa alat pancing dan jaring yang masih basah. Para nelayan tersebut sudah tidak bisa mengelak lagi. Kamorang angka jangkar dan ikut torang ke pos jaga bentak petugas. Ancaman illegal fishing kini terpampang jelas di depan mata. Setiap hari semakin bertambah potensi kehilangan ikan dengan cara yang ilegal. Akankah kampung Warsambin dapat menghilangkan resiko atas ancaman eksploitasi dan ancaman kerusakan lingkungan? Pada bab selanjutnya penulis akan menyampaikan tentang kearifan lokal yang dimiliki masyarakat kampung Warsambin untuk melindungi dan memelihara sumber daya laut mereka. Kearifan lokal tersebut yang kemudian dikenal dengan Budaya Sasi yang sudah hadir dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu. 73

Data yang dikeluarkan oleh Kantor Distrik Teluk Mayalibit. Tanggal 6 Januari

Data yang dikeluarkan oleh Kantor Distrik Teluk Mayalibit. Tanggal 6 Januari Bab Satu Pendahuluan Latar Belakang Masalah Kampung Warsambin adalah salah satu kampung yang terletak di distrik Teluk Mayalibit, kabupaten Raja Ampat. Sebelum mengalami pemekaran distrik, Teluk Mayalibit

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. demikian ini daerah Kabupaten Lampung Selatan seperti halnya daerah-daerah

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. demikian ini daerah Kabupaten Lampung Selatan seperti halnya daerah-daerah 46 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Selatan 1. Keadaan Geografis Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105 sampai dengan 105 45 Bujur Timur dan 5 15 sampai

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Sibolga terletak di kawasan pantai Barat Sumatera Utara, yaitu di Teluk Tapian Nauli. Secara geografis, Kota Sibolga terletak di antara 01 0 42 01 0 46 LU dan

Lebih terperinci

Responden berasal dari segmen khalayak Siapa

Responden berasal dari segmen khalayak Siapa Ringkasan Wawancara Mendalam Khalayak Target di KKPD yang Diselenggarakan Tanggal wawancara Nama dan perkiraan usia responden 10 September 2012 (Kalitoko) 10 September 2012 (Kalitoko) 10 September 2012

Lebih terperinci

Ketika Budaya Sasi Menjaga Alam Tetap Lestari

Ketika Budaya Sasi Menjaga Alam Tetap Lestari Ketika Budaya Sasi Menjaga Alam Tetap Lestari Kuwati, M. Martosupono dan J.C. Mangimbulude Magister Biologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga Email: [email protected] Pendahuluan Kabupaten

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Desa Lebih terletak di Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali dengan luas wilayah 205 Ha. Desa Lebih termasuk daerah dataran rendah dengan ketinggian

Lebih terperinci

3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1 Deskripsi umum lokasi penelitian 3.1.1 Perairan Pantai Lovina Kawasan Lovina merupakan kawasan wisata pantai yang berada di Kabupaten Buleleng, Bali dengan daya tarik

Lebih terperinci

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Kelurahan Fatubesi merupakan salah satu dari 10 kelurahan yang

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan IV. Hasil dan Pembahasan A. Hasil Penelitian Pemanfaatan Sumberdaya alam oleh masyarakat lokal berdasarkan pengetahuan tradisional telah dikenal masyarakat Raja Ampat sejak dahulu. Budaya sasi yang berawal

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 33 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Kepulauan Seribu Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa Jakarta. Pulau Paling utara,

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SERASAN STATISTIK DAERAH KECAMATAN SERASAN ISSN : - Katalog BPS : 1101002.2103.060 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : 10 halaman Naskah : Seksi Neraca Wilayah dan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Pulau Pramuka secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu, Kotamadya Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam kehidupan manusia, mulai hal yang terkecil dalam

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam kehidupan manusia, mulai hal yang terkecil dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan Pembangunan Nasional adalah masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut harus dikembangkan dan dikelola sumberdaya yang tersedia. Indonesia

Lebih terperinci

DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI UMKM DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2016

DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI UMKM DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2016 PROPOSAL PEMBANGUNAN PASAR RAKYAT AIR TIBA II DISTRIK KAIMANA KABUPATEN KAIMANA MELALUI DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) SUB BIDANG SARANA PERDAGANGAN TAHUN ANGGARAN 2017 DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 24 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Wilayah dan Potensi Sumber daya Alam Desa Cikarawang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 2.27

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bermukim pun beragam. Besarnya jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. bermukim pun beragam. Besarnya jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semenjak abad ke-18, pertumbuhan penduduk di dunia meningkat dengan tajam. Lahan lahan dengan potensi untuk dipergunakan sebagai tempat bermukim pun beragam. Besarnya

Lebih terperinci

BAB IV PROFIL LOKASI PENELITIAN

BAB IV PROFIL LOKASI PENELITIAN BAB IV PROFIL LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Kelurahan Pluit merupakan salah satu wilayah kelurahan yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau-pulau kecil memiliki potensi pembangunan yang besar karena didukung oleh letaknya yang strategis dari aspek ekonomi, pertahanan dan keamanan serta adanya ekosistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedua di dunia setelah Kanada, sehingga 2/3 luas wilayah Indonesia merupakan. untuk menuju Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

BAB I PENDAHULUAN. kedua di dunia setelah Kanada, sehingga 2/3 luas wilayah Indonesia merupakan. untuk menuju Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.500 pulau dan memiliki garis panjang pantai terpanjang kedua di dunia

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis, Topografis dan Luas Wilayah Kabupaten Ciamis merupakan salah satu kota yang berada di selatan pulau Jawa Barat, yang jaraknya dari ibu kota Propinsi

Lebih terperinci

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN ALAK KECAMATAN ALAK KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN ALAK KECAMATAN ALAK KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN ALAK KECAMATAN ALAK KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR I. PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Sejak terbentuknya Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 20 Desember 1958

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan merupakan salah satu daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara geografis berada di pesisir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk. menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk. menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan pelampung di sisi atasnya dan pemberat

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mencapai pulau dengan panjang pantai sekitar km 2 dan luas

BAB I PENDAHULUAN. yang mencapai pulau dengan panjang pantai sekitar km 2 dan luas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulaunya yang mencapai 17.508 pulau dengan panjang pantai sekitar 81.000 km 2 dan luas laut mencapai 5,8

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN JUAL BELI IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN OLEH PEMILIK PERAHU DI DESA SEGORO TAMBAK KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO

BAB III PELAKSANAAN JUAL BELI IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN OLEH PEMILIK PERAHU DI DESA SEGORO TAMBAK KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO 38 BAB III PELAKSANAAN JUAL BELI IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN OLEH PEMILIK PERAHU DI DESA SEGORO TAMBAK KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO A. Kondisi umum masyarakat nelayan ( kondisi geografis ) 1. Keadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensial untuk pembangunan apabila dikelola dengan baik. Salah satu modal

BAB I PENDAHULUAN. potensial untuk pembangunan apabila dikelola dengan baik. Salah satu modal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau mencapai 17.508 dan garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan garis pantai yang panjang menyebabkan Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, karena Indonesia merupakan Negara kepulauan dengangaris pantai mencapai sepanjang 81.000 km. Selain

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Daerah Kecamatan Pulau Tiga merupakan salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Natuna yang secara geografis berada pada posisi 3 o 34 30 3 o 39

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 buah dan panjang garis pantai mencapai 104.000 km (Bakosurtanal,

Lebih terperinci

BAB VII DAMPAK PENETAPAN DPL TERHADAP KONDISI EKONOMI NELAYAN

BAB VII DAMPAK PENETAPAN DPL TERHADAP KONDISI EKONOMI NELAYAN 81 BAB VII DAMPAK PENETAPAN DPL TERHADAP KONDISI EKONOMI NELAYAN 7.1 Pola Produksi Nelayan 7.1.1 Armada dan Peralatan Tangkap Armada yang digunakan oleh masyarakat Kampung Saporkren untuk kegiatan penangkapan

Lebih terperinci

TINJAUAN PULO CANGKIR

TINJAUAN PULO CANGKIR BAB II TINJAUAN PULO CANGKIR II.1 GAMBARAN UMUM PROYEK Judul Proyek : Kawasan Rekreasi Kampung Pulo Cangkir dan Sekitarnya. Tema : Arsitektur Tradisional Sunda. Kecamatan : Kronjo. Kelurahan : Pulo Cangkir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau besar dan kecil, dengan panjang garis pantai mencapai hampir

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

PANDUAN PENCEGAHAN BENCANA ABRASI PANTAI

PANDUAN PENCEGAHAN BENCANA ABRASI PANTAI PANDUAN PENCEGAHAN BENCANA ABRASI PANTAI ( UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH ) JURUSAN PENDIDKAN GEOGRAFI SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013 OLEH: MUH. ISA RAMADHAN KATA PENGANTAR Puji

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 21 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu terletak di Kecamatan Palabuhanratu yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Sejarah Pulau Pahawang berawal dari datangnya Ki Nokoda tahun an yang

IV. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Sejarah Pulau Pahawang berawal dari datangnya Ki Nokoda tahun an yang 47 IV. GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Sejarah Desa Pahawang Sejarah Pulau Pahawang berawal dari datangnya Ki Nokoda tahun 1.700-an yang diikuti pula oleh datangnya Hawang yang merupakan keturunan Cina. Hawang

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. daerah transit kegiatan perekonomian antara Pulau Sumatera dan Jawa, B. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Barat

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. daerah transit kegiatan perekonomian antara Pulau Sumatera dan Jawa, B. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Barat IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kota Bandar Lampung 1. Keadaan umum Kota Bandar Lampung merupakan ibu kota Provinsi Lampung. Kota Bandar Lampung terletak di wilayah yang strategis karena

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015 PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT TAHUN 2015 PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN BAB II DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN 2.1 Lokasi dan Lingkungan Alam Penelitian ini dilakukan di Desa Janji Hutanapa, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hansundutan. Desa ini memiliki batas-batas administratif

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PULAU BURUNG. wilayah administratif Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau yang memiliki luas 531,22 km²

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PULAU BURUNG. wilayah administratif Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau yang memiliki luas 531,22 km² BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PULAU BURUNG 2.1 Letak Geografis Pulau Burung Pulau Burung merupakan salah satu kecamatan dari 17 kecamatan yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Indragiri Hilir,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. negara Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat

I. PENDAHULUAN. negara Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat 1 I. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas. Dengan luasnya wilayah perairan yang dimiliki oleh negara Indonesia

Lebih terperinci

Bab 1 Pemerintahan Desa

Bab 1 Pemerintahan Desa Bab 1 Pemerintahan Desa Pernahkah kalian mengamati orang mengurus Kartu Tanda Penduduk? Tentu orang tersebut terlebih dahulu pergi ke ketua RT setempat. Kemudian ke kantor kepala desa/kelurahan dan dilanjutkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kekayaan hayati tersebut bukan hanya

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kekayaan hayati tersebut bukan hanya I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, wilayah daratan Indonesia ( 1,9 juta km 2 ) tersebar pada sekitar 17.500 pulau yang disatukan oleh laut yang sangat luas sekitar

Lebih terperinci

BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS

BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS Langkah kami setelah mencari tahu dan segala informasi tentang Pulau Nias adalah survey langsung ke lokasi site untuk Tugas Akhir ini. Alangkah

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POTENSI GEOGRAFIS DESA

IDENTIFIKASI POTENSI GEOGRAFIS DESA 4 IDENTIFIKASI POTENSI GEOGRAFIS DESA Deskripsi Singkat Topik : Pokok Bahasan Waktu Tujuan : MENGENALI POTENSI GEOGRAFIS DESA : 1 (satu) kali tatap muka pelatihan selama 100 menit. : Membangun pemahaman

Lebih terperinci

DOKUMEN RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR (RPDP) DESA SOMBOKORO

DOKUMEN RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR (RPDP) DESA SOMBOKORO DOKUMEN RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR (RPDP) DESA SOMBOKORO 0-06 KABUPATEN TELUK WONDAMA 0 RPDP Sombokoro 0-06 Tabel. Program kegiatan perencanaan pembangunan Sombokoro 0-06 No Program Kegiatan Tujuan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu sumberdaya pesisir yang penting adalah ekosistem mangrove, yang mempunyai fungsi ekonomi dan ekologi. Hutan mangrove dengan hamparan rawanya dapat menyaring dan

Lebih terperinci

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran K-13 Kelas X Geografi MITIGASI BENCANA ALAM II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami banjir. 2. Memahami gelombang pasang.

Lebih terperinci

Nurlaili Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Nurlaili Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Permasalahan Sosial Budaya dalam Implementasi Peraturan tentang Perlindungan Spesies Hiu di Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat Nurlaili Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 41 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung 1. Keadaan Umum Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Republik Indonesia dengan areal daratan seluas 35.288 km2. Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. transportasi dan komunikasi yang sangat diandalkan dalam mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. transportasi dan komunikasi yang sangat diandalkan dalam mewujudkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelayaran antar pulau di Indonesia merupakan salah satu sarana transportasi dan komunikasi yang sangat diandalkan dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berwawasan

Lebih terperinci

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN NUNHILA KECAMATAN ALAK KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN NUNHILA KECAMATAN ALAK KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN NUNHILA KECAMATAN ALAK KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR I. PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Kelurahan Nunhila memiliki 4 wilayah RW dan 17 wilayah RT, dengan

Lebih terperinci

BAB 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BENGKALIS DAN PERKEMBANGAN PERIKANANNYA

BAB 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BENGKALIS DAN PERKEMBANGAN PERIKANANNYA BAB 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BENGKALIS DAN PERKEMBANGAN PERIKANANNYA A. Sejarah Singkat Kabupaten Bengkalis Secara historis wilayah Kabupaten Bengkalis sebelum Indonesia merdeka, sebagian besar berada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas

BAB I PENDAHULUAN. Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas di dunia sekitar 19% dari total hutan mangrove dunia, dan terluas se-asia Tenggara sekitar 49%

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan 24 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Desa Merak Belantung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan pelayanan mendasar bagi masyarakat kota. Sejalan dengan fungsi ini,

BAB I PENDAHULUAN. merupakan pelayanan mendasar bagi masyarakat kota. Sejalan dengan fungsi ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Prasarana kota berfungsi untuk mendistribusikan sumber daya perkotaan dan merupakan pelayanan mendasar bagi masyarakat kota. Sejalan dengan fungsi ini, kualitas dan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Dumai merupakan sebuah dusun kecil dipesisir timur propinsi Riau. Dumai merupakan

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Dumai merupakan sebuah dusun kecil dipesisir timur propinsi Riau. Dumai merupakan BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pemekaran Kota Dumai Dumai merupakan sebuah dusun kecil dipesisir timur propinsi Riau. Dumai merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Bengkalis. Diresmikan sebagai

Lebih terperinci

IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5 IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN.1. Kondisi Geografi dan Topografi Provinsi Papua Barat awalnya bernama Irian Jaya Barat, berdiri atas dasar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang pembentukan Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. istilah urbanisasi. Urbanisasi merupakan salah satu isu kependudukan yang

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. istilah urbanisasi. Urbanisasi merupakan salah satu isu kependudukan yang BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Salah satu permasalahan kependudukan yang muncul di Indonesia yaitu terkait dengan perpindahan penduduk atau migrasi. Ada banyak jenis migrasi, salah satunya perpindahan

Lebih terperinci

8 AKTIVITAS YANG DAPAT DITAWARKAN PPI JAYANTI PADA SUBSEKTOR WISATA BAHARI

8 AKTIVITAS YANG DAPAT DITAWARKAN PPI JAYANTI PADA SUBSEKTOR WISATA BAHARI 8 AKTIVITAS YANG DAPAT DITAWARKAN PPI JAYANTI PADA SUBSEKTOR WISATA BAHARI Aktivitas-aktivitas perikanan tangkap yang ada di PPI Jayanti dan sekitarnya yang dapat dijadikan sebagai aktivitas wisata bahari

Lebih terperinci

1. Pengantar A. Latar Belakang

1. Pengantar A. Latar Belakang 1. Pengantar A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki sekitar 17.500 pulau dengan panjang sekitar 81.000, sehingga Negara kita memiliki potensi sumber daya wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedua didunia. Wilayah pesisir Indonesia yang luas memiliki garis pantai

BAB I PENDAHULUAN. kedua didunia. Wilayah pesisir Indonesia yang luas memiliki garis pantai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan/bahari. Dua pertiga luas wilayah negara ini terdiri dari lautan dengan total garis panjang pantainya terpanjang kedua didunia.

Lebih terperinci

BAB II KEHIDUPAN MASYARAKAT DI DESA TANJUNG LEIDONG SEBELUM 1970

BAB II KEHIDUPAN MASYARAKAT DI DESA TANJUNG LEIDONG SEBELUM 1970 BAB II KEHIDUPAN MASYARAKAT DI DESA TANJUNG LEIDONG SEBELUM 1970 2.1 Letak Geografis Tanjung Leidong Tanjung Leidong terletak di Kecamatan Kualuh Leidong Kabupaten Labuhan Batu yang luasnya sekitar 34,032km2

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. keempat di dunia setelah Amerika Serikat (AS), Kanada dan Rusia dengan total

BAB I PENGANTAR. keempat di dunia setelah Amerika Serikat (AS), Kanada dan Rusia dengan total BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Amerika Serikat (AS), Kanada dan Rusia dengan total panjang keseluruhan 95.181

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 30 BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis 4.1.1 Konteks Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat terletak pada posisi di bawah garis khatulistiwa, antara 0 14 s dan 130 31 e. Dengan posisi

Lebih terperinci

Bab III Karakteristik Desa Dabung

Bab III Karakteristik Desa Dabung Bab III Karakteristik Desa Dabung III.1. Kondisi Fisik Wilayah III.1.1. Letak Wilayah Lokasi penelitian berada di Desa Dabung yang merupakan salah satu desa dari 18 desa yang terdapat di Kecamatan Kubu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atraksi-atraksi yang memikat sebagai tujuan kunjungan wisata. Terdapat

BAB I PENDAHULUAN. atraksi-atraksi yang memikat sebagai tujuan kunjungan wisata. Terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu daerah wisata, di samping akomodasi (hotel atau tempat menginap sementara lainnya) akan disebut daerah tujuan wisata apabila ia memiliki atraksi-atraksi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang sangat luas dan terdiri dari lima pulau besar dan belasan ribu pulau kecil. Letak antara satu pulau dengan pulau lainnya

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota 66 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Bandarlampung 1. Letak Geografis Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. dengan mengelola sumber daya perikanan. Sebagai suatu masyarakat yang tinggal

I PENDAHULUAN. dengan mengelola sumber daya perikanan. Sebagai suatu masyarakat yang tinggal I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat nelayan merupakan salah satu bagian mayarakat Indonesia yang hidup dengan mengelola sumber daya perikanan. Sebagai suatu masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Secara geografis, wilayah Kabupaten Karawang terletak antara 107

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 02 TAHUN 2015 TENTANG PENERTIBAN PEMELIHARAAN HEWAN TERNAK

WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 02 TAHUN 2015 TENTANG PENERTIBAN PEMELIHARAAN HEWAN TERNAK WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 02 TAHUN 2015 TENTANG PENERTIBAN PEMELIHARAAN HEWAN TERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BENGKULU, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Kota Serang 4.1.1 Letak geografis Kota Serang berada di wilayah Provinsi Banten yang secara geografis terletak antara 5º99-6º22 LS dan 106º07-106º25

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kekayaan sumberdaya alam wilayah kepesisiran dan pulau-pulau kecil di Indonesia sangat beragam. Kekayaan sumberdaya alam tersebut meliputi ekosistem hutan mangrove,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Samudera Hindia. Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari serangkaian

BAB I PENDAHULUAN. Samudera Hindia. Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari serangkaian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten kepulauan yang terletak memanjang dibagian paling barat pulau Sumatra dan dikelilingi oleh Samudera Hindia. Kepulauan

Lebih terperinci

KONTEN BUDAYA NUSANTARA Upacara Adat Rambu Solo - Toraja

KONTEN BUDAYA NUSANTARA Upacara Adat Rambu Solo - Toraja KONTEN BUDAYA NUSANTARA Upacara Adat Rambu Solo - Toraja Upacara pemakaman yang dilangsungkan saat matahari tergelincir ke barat. Jenazah dimakamkan di gua atau rongga di puncak tebing batu. Sebagai tanda

Lebih terperinci

METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI

METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI TEKANAN UDARA DAN ANGIN Dosen Mata Kuliah: Drs. Julismin, M.Pd Disusun Oleh: Oswald Reynhard Sitanggang NIM: 3113331025 JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak dulu hingga dewasa ini, Indonesia terkenal dengan julukan negara kepulauan. Negara dengan jumlah pulau lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dari Sabang sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya banyak yang dihuni oleh manusia, salah satunya adalah Pulau Maratua

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya banyak yang dihuni oleh manusia, salah satunya adalah Pulau Maratua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara maritim yang terdiri dari beberapa gugusan pulau mulai dari yang besar hingga pulau yang kecil. Diantara pulau kecil tersebut beberapa

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang V. KEADAAN UMUM WILAYAH 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang Wilayah Kelurahan Pulau Panggang terdiri dari 12 pulau dan memiliki kondisi perairan yang sesuai untuk usaha budidaya. Kondisi wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang berkawasan tropis yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah

IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Kota Bandar Lampung Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, politik,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Jarak dari Kecamatan Megamendung ke Desa Megamendung adalah 8 km,

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Jarak dari Kecamatan Megamendung ke Desa Megamendung adalah 8 km, V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Desa Megamendung Desa Megamendung merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis, Desa

Lebih terperinci

BAB II PROFIL DESA GUMINGSIR. Tulis yang sekarang menjadi Desa Surayudan Kabupaten Wonosobo.

BAB II PROFIL DESA GUMINGSIR. Tulis yang sekarang menjadi Desa Surayudan Kabupaten Wonosobo. 23 BAB II PROFIL DESA GUMINGSIR A. Sejarah Singkat Desa Gumingsir Berdasarkan catatan yang disusun oleh penilik kebudayaan kecamatan Pagentan kabupaten Banjarnegara (Karno, 1992:39) asal mula desa Gumingsir

Lebih terperinci

Kearifan Lokal, Usaha Konservasi SDA, Perlawanan Negara dan Masyarakat dalam Wujud Budaya Sasi

Kearifan Lokal, Usaha Konservasi SDA, Perlawanan Negara dan Masyarakat dalam Wujud Budaya Sasi Bab Enam Kearifan Lokal, Usaha Konservasi SDA, Perlawanan Negara dan Masyarakat dalam Wujud Budaya Pengantar Melindungi dan menjaga sumber daya alam sebagai modal dari pembangunan yang berkelanjutan adalah

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI UMUM PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI UMUM PENELITIAN BAB II DESKRIPSI UMUM PENELITIAN 2.1 Deskripsi Umum Wilayah 2.1.1 Sejarah Desa Lalang Menurut sejarah yang dapat dikutip dari cerita para orang tua sebagai putra daerah di Desa Lalang, bahwa Desa Lalang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Awal berdirinya pemerintahan Kecamatan Bumi Waras terbentuk berdasarkan

IV. GAMBARAN UMUM. Awal berdirinya pemerintahan Kecamatan Bumi Waras terbentuk berdasarkan 77 IV. GAMBARAN UMUM A. Keadaan Umum Kecamatan Bumi Waras 1. Keadaan Umum Awal berdirinya pemerintahan Kecamatan Bumi Waras terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2012,

Lebih terperinci

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA Katalog BPS : 1101002.6271012 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2014 ISSN : 2089-1725 No. Publikasi : 62710.1415 Katalog BPS : 1101002.6271012 Ukuran Buku

Lebih terperinci

ULANGAN KENAIKAN KELAS IPA KELAS 4. I. Berilah tanda silang (x) pada huruf A,B,C dan D pada jawaban yang benar!

ULANGAN KENAIKAN KELAS IPA KELAS 4. I. Berilah tanda silang (x) pada huruf A,B,C dan D pada jawaban yang benar! ULANGAN KENAIKAN KELAS IPA KELAS 4 I. Berilah tanda silang (x) pada huruf A,B,C dan D pada jawaban yang benar! 1. Perhatikan gambar di bawah ini! Gaya yang dilakukan pada lomba seperti pada gambar di atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Rencana Strategis Daerah Kab. TTU hal. 97

BAB I PENDAHULUAN. 1 Rencana Strategis Daerah Kab. TTU hal. 97 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sesuai dengan Rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam rangka pengembangan Kecamatan Insana Utara (Wini) sebagai Kota Satelit (program khusus)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di

BAB I PENDAHULUAN. karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hutan bakau / mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut (pesisir). Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB VII POLA ADAPTASI NELAYAN

BAB VII POLA ADAPTASI NELAYAN 89 BAB VII POLA ADAPTASI NELAYAN 7.1 Diversifikasi Pekerjaan Nelayan Karimunjawa telah menyadari terjadinya perubahan ekologis di kawasan Karimunjawa. Berbagai macam bentuk perubahan yang terjadi pada

Lebih terperinci

Perempuan dan Seekor Penyu dalam Senja

Perempuan dan Seekor Penyu dalam Senja Perempuan dan Seekor Penyu dalam Senja Perempuan itu berjalan di antara gerimis dan licinnya jalan kampung. Bagian bawah kainnya sudah basah terkena percikan. Ia menenteng sendalnya di tangan kirinya sementara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. multi dimensional baik fisik, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.

BAB I PENDAHULUAN. multi dimensional baik fisik, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kekayaan sumber daya alam Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh setiap daerah merupakan modal penting untuk meningkatkan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur. Wilayah

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur. Wilayah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara maritim, kurang lebih 70 persen wilayah Indonesia terdiri dari laut yang pantainya kaya akan berbagai jenis sumber daya hayati dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, dikawasan mangrove terjadi interaksi kompleks

Lebih terperinci