DIREKTUR JENDERAL PAJAK
|
|
|
- Hartanti Chandra
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-25/PJ/2017 TENTANG PELAKSANAAN PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN DAN TATA CARA PELAPORAN UTANG SWASTA LUAR NEGERI DIREKTUR JENDERAL PAJAK Menimbang dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (3) dan Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.010/2015 tentang Penentuan Besarnya Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Keperluan Penghitungan Pajak Penghasilan, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Pelaksanaan Penentuan Besarnya Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Keperluan Penghitungan Pajak Penghasilan dan Tata Cara Pelaporan Utang Swasta Luar Negeri; Mengingat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/ PMK.010 /2015 tentang Penentuan Besarnya Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Keperluan Penghitungan Pajak Penghasilan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1351); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PELAKSANAAN PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN DAN TATA CARA PELAPORAN UTANG SWASTA LUAR NEGERI. Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini, yang dimaksud dengan: 1. Undang-undang PPh adalah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008.
2 -2-2. Perbandingan Antara Utang dan Modal adalah perbandingan antara utang dan modal perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.010/ Hubungan Istimewa adalah hubungan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-undang PPh. 4. Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha adalah prinsip kewajaran dan kelaziman usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3) Undang-undang PPh. Pasal 2 (1) Untuk keperluan penghitungan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia yang modalnya terbagi atas saham-saham, besarnya biaya pinjaman yang ditanggung Wajib Pajak yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak dihitung berdasarkan Perbandingan Antara Utang dan Modal. (2) Biaya pinjaman yang ditanggung Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. bunga pinjaman; b. diskonto dan premium yang terkait dengan pinjaman; c. biaya tambahan yang terjadi yang terkait dengan perolehan pinjaman (arrangement of borrowings); d. beban keuangan dalam sewa pembiayaan; e. biaya imbalan karena jaminan pengembalian utang; dan f. selisih kurs yang berasal dari penyesuaian terhadap biaya pinjaman sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, dalam hal biaya pinjaman tersebut dalam mata uang asing. (3) Perbandingan Antara Utang dan Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling tinggi sebesar empat dibanding satu (4:1). (4) Dalam hal besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal Wajib Pajak melebihi besarnya perbandingan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), biaya pinjaman yang dapat
3 -3- diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak adalah sebesar biaya pinjaman sesuai dengan Perbandingan Antara Utang dan Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Besarnya biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak sesuai dengan Perbandingan Antara Utang dan Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (4) juga wajib memperhatikan ketentuan Pasal 6 dan Pasal 9 Undang-undang PPh. (6) Dalam hal Wajib Pajak mempunyai utang kepada pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa, maka besarnya biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak, selain harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) juga harus memenuhi tingkat biaya pinjaman sesuai Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha. (7) Biaya pinjaman yang tidak memenuhi ketentuan sebagai dimaksud pada ayat (6), dianggap sebagai dividen bagi pihak yang menerima atau memperolehnya dan dikenakan pajak pada saat biaya pinjaman tersebut dibayarkan atau jatuh tempo pembayarannya. Pasal 3 (1) Biaya pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) yang tidak dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak meliputi: a. selisih antara biaya pinjaman yang ditangggung oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dengan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4); b. selisih antara biaya pinjaman atas utang kepada pihak yang memiliki Hubungan Istimewa yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dengan biaya pinjaman yang memenuhi Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (6);
4 -4- c. biaya pinjaman atas utang yang digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak; dan d. biaya pinjaman atas utang yang digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang dikenai pajak bersifat final. (2) Dalam hal biaya pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikapitalisasi sebagai harga perolehan harta, penyusutan atas bagian harta yang merupakan kapitalisasi biaya pinjaman dimaksud tidak dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Pasal 4 Contoh penentuan Perbandingan Antara Utang dan Modal, penghitungan besarnya biaya pinjaman yang dapat dikurangkan, dan penghitungan besarnya biaya pinjaman yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 adalah sesuai contoh sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf A yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 5 (1) Utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tidak termasuk: a. utang yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya; atau b. utang yang digunakan untuk mendapatkan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak atau yang dikenai pajak yang bersifat final. (2) Nilai utang dalam rangka penghitungan besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal dihitung berdasarkan saldo rata-rata utang pada satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. (3) Saldo rata-rata utang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dihitung berdasarkan rata-rata saldo utang tiap akhir bulan pada
5 -5- satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak menurut pembukuan yang diselenggarakan oleh Wajib Pajak. (4) Dalam hal rata-rata saldo utang tiap akhir bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat diketahui berdasarkan pembukuan yang diselenggarakan oleh Wajib Pajak, rata-rata saldo utang tersebut dihitung menurut dokumen yang dapat menunjukkan posisi utang pada tiap akhir bulan. Pasal 6 (1) Nilai modal dalam rangka penghitungan besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal dihitung berdasarkan saldo rata-rata modal pada satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. (2) Saldo rata-rata modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan rata-rata saldo modal tiap akhir bulan pada satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak menurut pembukuan yang diselenggarakan oleh Wajib Pajak. (3) Dalam hal rata-rata saldo modal tiap akhir bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat diketahui berdasarkan pembukuan yang diselenggarakan oleh Wajib Pajak, rata-rata saldo modal tersebut dihitung menurut dokumen yang dapat menunjukkan posisi modal pada tiap akhir bulan. (4) Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. ekuitas yang dicatat pada neraca perusahaan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia; dan b. pinjaman tanpa bunga dari pihak yang memiliki Hubungan Istimewa. Pasal 7 (1) Wajib Pajak Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia yang modalnya terbagi atas saham-saham yang memiliki utang dan mengurangkan biaya pinjaman dalam penghitungan penghasilan kena pajak wajib menyampaikan laporan penghitungan besarnya Perbandingan Antara Utang dan
6 -6- Modal sebagai lampiran SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan. (2) Dalam hal Wajib Pajak Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki utang swasta luar negeri, Wajib Pajak juga wajib menyampaikan laporan utang swasta luar negeri sebagai lampiran SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan. (3) Utang swasta luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak termasuk utang dagang yang tidak dibebani bunga. (4) Format laporan penghitungan besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) serta petunjuk pengisiannya adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini. (5) Format laporan utang swasta luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) serta petunjuk pengisiannya adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf C yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini. (6) Dalam hal Wajib Pajak tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau tidak menggunakan format laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan yang disampaikan dinyatakan tidak lengkap sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. (7) Dalam hal Wajib Pajak tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak menggunakan format laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan yang disampaikan dinyatakan tidak lengkap sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan biaya pinjaman yang terutang dari utang swasta luar negeri tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak. Pasal 8 (1) Kewajiban penerapan ketentuan besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2016.
7 -7- (2) Kewajiban penyampaian laporan penghitungan besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal dan laporan utang swasta luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2) mulai berlaku sejak Tahun Pajak Pasal 9 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 November 2017 DIREKTUR JENDERAL PAJAK, ttd. KEN DWIJUGIASTEADI Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIS DIREKTORAT JENDERAL u.b KEPALA BAGIAN ORGANISASI DAN TATA LAKSANA, ODING RIFALDI NIP
8 -8- LAMPI RAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-25/PJ/2017 TENTANG PELAKSANAAN PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN DAN TATA CARA PELAPORAN UTANG SWASTA LUAR NEGERI A. CONTOH PENENTUAN PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL, PENGHITUNGAN BESARNYA BIAYA PINJAMAN YANG DAPAT DIKURANGKAN, DAN PENGHITUNGAN BESARNYA BIAYA PINJAMAN YANG TIDAK DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DALAM MENGHITUNG PENGHASILAN KENA PAJAK Contoh 1: PT XXX merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur. Berdasarkan Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi yang disampaikan oleh PT XXX, diketahui hal-hal sebagai berikut: 1. Liabilitas (dalam ribuan Rupiah): Liabilitas Posisi per 31 Desember Tahun 2016 Tahun 2015 a. Utang Dagang yang dibebani bunga tanpa dibebani bunga b. Pinjaman Tanpa Bunga dari XXX Ltd. (Pihak yang memiliki Hubungan Istimewa) c. Utang Jangka Pendek: utang kepada PT ABC (Pihak yang memiliki Hubungan Istimewa) d. Utang Jangka Panjang: utang kepada PT JKL utang kepada WWW Co., Ltd utang kepada XXX Corp (Pihak yang memiliki Hubungan Istimewa) 2. Ekuitas (dalam ribuan Rupiah): Ekuitas Posisi per 31 Desember Tahun 2016 Tahun 2015 a. Modal Saham b. Agio Saham c. Laba Ditahan Penghasilan bruto sebesar Rp ,00 (dua puluh milyar rupiah).
9 -9-4. Biaya pinjaman yang ditanggung sebesar Rp ,00 (tiga ratus delapan puluh enam juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) terdiri dari: a. biaya pinjaman kepada PT ABC sebesar Rp ,00 (sembilan puluh enam juta rupiah); b. biaya pinjaman kepada PT JKL sebesar Rp ,00 (dua puluh juta enam ratus enam puluh ribu rupiah); c. biaya pinjaman kepada WWW Co., Ltd. sebesar Rp ,00 (seratus juta lima ratus tujuh puluh lima ribu rupiah); d. biaya pinjaman kepada XXX Corp. sebesar Rp ,00 (seratus lima puluh delapan juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah); dan e. biaya pinjaman atas Utang Dagang (yang dibebani bunga) sebesar Rp ,00 (sepuluh juta tujuh ratus enam puluh lima ribu rupiah). Berdasarkan informasi yang tersedia, penghitungan Perbandingan Antara Utang dan Modal (Debt to Equity Ratio/ DER) PT XXX untuk tahun 2016 adalah sebagai berikut: Penghitungan saldo rata-rata utang: Saldo rata-rata utang dihitung berdasarkan rata-rata saldo utang tiap akhir bulan selama tahun pajak 2016 sebagai berikut: Saldo Akhir (dalam ribuan Rupiah) Utang Utang Utang Dagang Utang Utang ke ke (yang ke ke XXX Corp. Jumlah WWW dibebani PT ABC PT JKL Co., Ltd. bunga) Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-Rata Jumlah saldo rata-rata utang PT XXX tahun 2016 = Rp ,00 (enam milyar delapan puluh satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Penghitungan saldo rata-rata modal: Saldo rata-rata modal dihitung berdasarkan rata-rata saldo modal tiap akhir bulan selama tahun pajak 2016 sebagai berikut:
10 Modal Saham -10- Saldo Akhir (dalam ribuan Rupiah) Pinj aman Agio Laba Tanpa Saham Ditahan Bunga dan XXX Ltd. Jumlah Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-Rata Jumlah saldo rata-rata modal PT XXX tahun 2016 = Rp ,00 (tujuh ratus enam puluh juta rupiah). Berdasarkan jumlah saldo rata-rata utang dan jumlah saldo rata-rata modal PT XXX tahun 2016, maka besarnya DER PT XXX tahun 2016 adalah: Besar DER = Jumlah saldo rata-rata utang : Jumlah saldo rata-rata modal = Rp ,00 : Rp ,00 ;--; 8 : 1 atau (delapan dibanding satu) Selanjutnya, penghitungan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/ PMK.010/ 2015 adalah sebagai berikut: Besar DER paling tinggi yang diperkenankan = 4 : 1 (empat dibanding satu). Karena besar DER PT XXX melebihi dari 4:1, maka biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak = 4/8a x biaya pinjaman dari masing-masing utang, dengan penghitungan sebagai berikut:
11 -11- Jenis Utang Saldo Biaya Rata-Rata. Pinjaman Utang (Dalam ribuan Rupiah) Biaya Pinjaman yang dapat Diperhitungkan dalam Menghitung Penghasilan Kena Pajakb Utang kepada PT ABC Utang kepada PT JKL Utang kepada WWW Co,. Ltd Utang kepada XXX Corp Utang Dagang (yang dibebani bunga) Total a 4/8 adalah angka koefisien yang diperoleh dari formula berikut: = DER paling tinggi yang diperkenankan : DER perusahaan = 4 : 1 (empat dibanding satu) : 8 :1 (delapan dibanding satu) = 4/8 b biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak diperoleh dari mengalikan angka koefisien (4/8) dengan masingmasing biaya pinjaman. Mengingat bahwa utang kepada PT ABC merupakan utang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa, maka biaya pinjaman terkait utang kepada PT ABC sebesar Rp ,00 (empat puluh delapan juta rupiah) dan kepada XXX Corp. sebesar Rp ,00 (tujuh puluh sembilan juta tiga ratus enam puluh ribu rupiah) yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak harus pula memenuhi prinsip kewajaran dan kelaziman usaha sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 18 ayat (3) Undang-undang PPh. Contoh penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha atas biaya pinjaman terkait utang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut: Apabila biaya pinjaman PT ABC sebesar Rp ,00 (sembilan puluh enam juta rupiah) merupakan bunga pinjaman dengan tingkat suku bunga 12% p.a. (dua belas persen per tahun) dan diketahui bahwa tingkat suku bunga pinjaman sebanding yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa adalah sebesar 9% p.a. (sembilan persen per tahun) sehingga bunga pinjaman yang wajar adalah sebesar Rp ,00 (tujuh puluh dua juta rupiah), maka penghitungan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak menjadi sebagai berikut:
12 -12- (Dalam ribuan Rupiah) Jenis Utang Saldo Rata-Rata Utang Biaya Pinjaman Biaya Pinjaman yang tidak dapat dikurangkan (melebihi DER 4:1) Biaya Pinjaman yang tidak dapat dikurangkan (melebihi tingkat suku bunga wajar) Biaya Pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak (1) (2) (3) (4) (5) (6) = (3) - (4) - (5) Utang ke PT ABC a b a ,00 X [1- (4/8)] X ( , ,00) b ( , ,00a) ,00 Atas biaya pinjaman sebesar Rp ,00 (dua belas juta rupiah) sehubungan dengan utang kepada PT ABC yang tidak memenuhi tingkat biaya pinjaman sesuai Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha juga tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak, dan dianggap sebagai dividen bagi PT ABC pada saat biaya pinjaman tersebut dibayarkan atau jatuh tempo pembayarannya. Contoh 2: 1. Berdasarkan data dari contoh 1, apabila dalam komponen penghasilan bruto PT XXX tahun 2016 termasuk penghasilan dari persewaan tanah dan bangunan sebesar Rp ,00 (lima milyar rupiah) yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan final dan biaya pinjamannya merupakan biaya bersama yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka penghitungan besarnya penghasilan kena pajak, maka biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak dihitung secara proporsional. Biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak adalah sebesar: = (Rp ,00/Rp ,00) x Rp ,00 = Rp ,00 atau seratus empat puluh lima juta dua puluh ribu rupiah. 2. Memperhatikan informasi pada Contoh 2 angka 1 di atas, dalam hal utang dan biaya pinjaman sehubungan dengan penghasilan dari persewaan tanah dan bangunan sebesar Rp ,00 (lima milyar rupiah) yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan final dapat dipisahkan dalam rangka penghitungan besarnya penghasilan kena pajak maka atas saldo ratarata utang dan biaya pinjaman tersebut tidak dimasukkan dalam penghitungan saldo rata-rata utang dan biaya pinjaman PT XXX. Misalnya, utang dan biaya pinjaman sehubungan dengan penghasilan dari persewaan tanah dan bangunan sebesar Rp ,00 (lima milyar rupiah) tersebut diidentifikasi bersumber dari utang jangka panjang kepada PT JKL maka atas saldo rata-rata utang PT JKL (Rp ,00) dan biaya
13 -13- pinjaman atas utang kepada PT JKL (Rp ,00) tidak dimasukkan dalam penghitungan saldo rata-rata utang dan biaya pinjaman PT XXX. Berdasarkan informasi tersebut, penghitungan Perbandingan Antara Utang dan Modal PT XXX menjadi sebagai berikut: Penghitungan saldo rata-rata utang: Saldo rata-rata utang dihitung berdasarkan rata-rata saldo utang tiap akhir bulan selama tahun pajak 2016 (tidak termasuk utang jangka panjang kepada PT JKL), dengan rincian sebagai berikut: Saldo Akhir (dalam ribuan Rupiah) Utan g U tang Utang Dagang Utang ke ke (yang dibebani ke W WW XXX Corp. bunga) PT ABC Co., Ltd. Jumlah Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-Rata Jumlah saldo rata-rata utang PT XXX tahun 2016 = Rp ,00 (lima milyar tiga ratus satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Penghitungan saldo rata-rata modal: Penghitungan saldo rata-rata modal PT XXX adalah sebagaimana dimaksud pada Contoh 1, yaitu jumlah saldo rata-rata modal PT XXX tahun 2016 = Rp ,00 (tujuh ratus enam puluh juta rupiah). Berdasarkan jumlah saldo rata-rata utang dan jumlah saldo rata-rata modal PT XXX tahun 2016, maka besarnya DER PT XXX tahun 2016 adalah: Besar DER = Jumlah saldo rata-rata utang : Jumlah saldo rata-rata modal = Rp ,00 : Rp ,00 -,1 7 : 1 atau (tujuh dibanding satu) Selanjutnya, penghitungan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/ PMK.010/2015 adalah sebagai berikut: Besar DER paling tinggi yang diperkenankan = 4 : 1 (empat dibanding satu).
14 - 14- Karena besar DER PT XXX melebihi dari 4:1, maka biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak = 4/7a x biaya pinjaman dari masing-masing utang, dengan penghitungan sebagai berikut: Jenis Utang Saldo Rata-Rata Utang Biaya Pinjaman (Dalam ribuan Rupiah) Biaya Pinjaman yang dapat Diperhitungkan dalam Menghitung Penghasilan Kena Paj akb Utang kepada PT ABC Utang kepada WWW Co,. Ltd Utang kepada XXX Corp Utang Dagang (yang dibebani bunga) Total a 4/7 adalah angka koefisien yang diperoleh dari formula berikut: = DER paling tinggi yang diperkenankan : DER perusahaan = 4 : 1 (empat dibanding satu) : 7 :1 (tujuh dibanding satu) = 4/7 b biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan diperoleh dari mengalikan angka koefisien (4/7) dengan masing-masing biaya pinjaman. Contoh 3: Berdasarkan data dari contoh 1, dana yang diperoleh dari utang kepada PT ABC digunakan untuk membeli saham di PT ZZZ dengan kepemilikan 60% (enam puluh persen) dan dividen yang diterima dari PT ZZZ bukan merupakan objek pajak. Biaya pinjaman (biaya bunga dan biaya terkait lainnya) yang dibayarkan kepada PT ABC adalah Rp ,00 (sembilan puluh enam juta rupiah). Lebih lanjut, diketahui pula bahwa atas pinjaman ke XXX Corp. tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Hal ini, antara lain dibuktikan dengan tidak adanya arus kas masuk yang menunjukkan diterimanya pinjaman dari XXX Corp. Biaya pinjaman (biaya bunga dan biaya terkait lainnya) yang dibayarkan kepada XXX Corp. adalah Rp ,00 (seratus lima puluh delapan juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah). Mengingat bahwa berdasarkan ketentuan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan, biaya pinjaman atas utang yang digunakan untuk membeli saham dan biaya pinjaman atas utang yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak, maka utang kepada PT ABC dan XXX Corp. tersebut hams terlebih dahulu dikeluarkan dari penghitungan DER. Penghitungan saldo rata-rata utang selain utang dari PT ABC dan XXX Corp. adalah sebagai berikut:
15 -15- Penghitungan saldo rata-rata utang: Saldo rata-rata utang dihitung berdasarkan rata-rata saldo utang tiap akhir bulan selama tahun pajak 2016 sebagai berikut: Saldo Akhir (dalam ribuan Rupiah) Utang Dagang Utang Utang (yang dibebani ke WWW Co., Jumlah ke PT JKL bunga) Ltd. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-Rata Jumlah saldo rata-rata utang PT XXX tahun 2016 = Rp ,00 (tiga milyar delapan ratus dua puluh juta rupiah). Penghitungan saldo rata-rata modal: Penghitungan saldo rata-rata modal PT XXX adalah sebagaimana dimaksud pada Contoh 1, yaitu jumlah saldo rata-rata modal PT XXX tahun 2016 = Rp ,00 (tujuh ratus enam puluh juta rupiah). Berdasarkan jumlah saldo rata-rata utang dan jumlah saldo rata-rata modal PT XXX tahun 2016, maka besarnya DER PT XXX tahun 2016 adalah: Besar DER = Rp ,00 : Rp ,00 5 : 1 atau (lima dibanding satu) Selanjutnya, penghitungan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/ PMK.010/2015 adalah sebagai berikut: Besar DER paling tinggi yang diperkenankan = 4 : 1 (empat dibanding satu). Karena besar DER PT XXX melebihi dari 4:1, maka biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak = 4/5a x biaya pinjaman dari masing-masing utang, dengan penghitungan sebagai berikut:
16 -16- Denis Utang Saldo Rata-Rata Utang Biaya Pinjaman (Dalam ribuan Rupiah) Biaya Pinjaman yang dapat Diperhitungkan dalam Menghitung Penghasilan Kena Pajakb Utang kepada PT JKL Utang kepada WWW Co,. Ltd Utang Dagang (yang dibebani bunga) Total a 4/5 adalah angka koefisien yang diperoleh dari formula berikut: = DER paling tinggi yang diperkenankan : DER perusahaan = 4 : 1 (empat dibanding satu) : 5 :1 (lima dibanding satu) = 4/5 b biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan diperoleh dari mengalikan angka koefisien (4/5) dengan biaya masing-masing pinjaman.
17 -17- B. FORMAT LAPORAN PENGHITUNGAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL LAM PIRAN SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN TAHUN PAJAK PENGHITUNGAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL NPWP NAMAWAJIB PAJAK I. PENGHITUNGAN RATA-RATA SALDO UTANG Pemberl Pinjaman Nama Hubungan ke-1 ke-2 ke-3 SALDO UTANG TIAP AKHIR BULAN (DALAM JUTAAN RUPIAH) ke-4 ke-6 ke-6 ke-7 ke-8 ke-9 ke-10 ke-11 ke-12 Rata-Rata Jumlah II. PENGHITUNGAN RATA-RATA SALDO MODAL SALDO MODAL TIAP AKHIR BULAN (DALAM JUTAAN RUPIAH) RINCIAN MODAL ke-1 ko-2 ke-3 ke-4 ke-6 ke-6 ke-7 ke-8 ke-9 ke-10 ke-11 ke-12 Rata-Rata Modal Saham Agio Saham Laba Ditahan Saldo Laba Pinjaman tanpa Bunga dari Jumlah III. PENGHITUNGAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL Penghitungan DER = Jumlah saldo rata-rata utang Jumlah saldo rata-rata modal IV. PENGHITUNGAN BIAYA PINJAMAN Pemborl Pinjaman Saldo Rata-rata Utang Blaya Pinjaman Blaya Pinjaman yang dapat Diperhitungkan dalam Menghltung Penghasilan Kena Pajak Maya PInJaman yang tidak dapat dlkurangkan (1) (2) (3) (4) (6) Total JIKA FOR1VIULIR INI TIDAK MENCUKUPI DAPAT DIBUAT SENDIRt SESUAI DENGAN FORMAT INI chin) (thn) WAJIB PAJAK/KUASA
18 -18- PETUNJUK PENGISIAN: Laporan penghitungan be sarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT PPh Wajib Pajak Badan). Tahun Pajak Diisi dengan angka tahun buku perusahaan pada kotak yang tersedia. Contoh: Tahun Pajak Bagian Identitas NPWP : Diisi sesuai dengan NPWP yang tercantum dalam kartu NPWP NAMA WAJIB PAJAK : Diisi sesuai dengan nama yang tercantum dalam kartu NPWP Bagian I - Penghitungan Rata-Rata Saldo Utang Kolom Pemberi Pinjaman Kolom Nama diisi dengan nama masing-masing pemberi pinjaman. Kolom Hubungan diberi keterangan "Afiliasi" dalam hal pemberi pinjaman adalah pihak yang memiliki Hubungan Istimewa dengan Wajib Pajak atau "Independen" dalam hal pemberi pinjaman adalah pihak independen. Kolom Saldo Utang Tiap Akhir Kolom ke-1 sampai dengan ke-12 diisi dengan saldo masing-masing utang tiap akhir bulan dalam satuan mata uang rupiah. Dalam hal menggunakan mata uang asing, maka diisi dengan nilai rupiah menggunakan kurs yang digunakan Wajib Pajak pada tiap akhir bulan. Kolom Rata-rata diisi dengan jumlah saldo utang tiap akhir bulan dibagi dengan banyaknya bulan, sebagai contoh apabila utang hanya meliputi ke-8 sampai dengan ke-12 maka pengisian kolom rata-rata adalah sebagai berikut: (Dalam iutaan rupiah) Ratake-1 ke-2 ke-3 ke-4 ke-5 ke-6 ke-7 ke-8 ke-9 ke-10 ke-11 ke-12 rata Bagian II - Penghitungan Rata-Rata Saldo Modal Kolom Rincian Modal Diisi dengan masing-masing jenis ekuitas yang dicatat pada neraca perusahaan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia dan pinjaman tanpa bunga dari pihak yang memiliki Hubungan Istimewa. Kolom Saldo Modal Tiap Akhir Kolom ke-1 sampai dengan ke-12 diisi dengan saldo modal tiap akhir bulan dalam satuan mata uang rupiah. Dalam hal menggunakan mata uang asing, maka diisi dengan nilai rupiah menggunakan kurs yang digunakan Wajib Pajak pada tiap akhir bulan. Kolom Rata-rata diisi dengan jumlah saldo modal tiap akhir bulan dibagi dengan banyaknya bulan, sebagai contoh apabila modal hanya meliputi ke-8 sampai dengan ke-12 maka pengisian kolom rata-rata adalah sebagai berikut: Dalam iutaan rupiah Ratake-1 ke-2 ke-3 ke-4 ke-5 ke-6 ke-7 ke-8 ke-9 ke-10 ke-11 ke-12 rata
19 -19- Bagian HI - Penghitungan Besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal Bagian ini diisi dengan membagi jumlah saldo rata-rata utang yang berasal dari Bagian I dengan jumlah saldo rata-rata modal yang berasal dari Bagian II. Sebagai contoh, apabila jumlah saldo rata-rata utang yang berasal dari Bagian I adalah Rp , (satu milyar enam ratus delapan puluh juta rupiah) dan jumlah saldo rata-rata modal yang berasal dari Bagian II adalah Rp ,00 (dua ratus delapan puluh juta rupiah), maka pengisian Bagian ini adalah sebagai berikut: Jumlah rata-rata saldo utang Penghitungan DER = 6 1 Jumlah rata-rata saldo modal Bagian IV - Penghitungan Biaya Pinjaman Pemberi Pinjaman - Kolom (1) Diisi dengan nama masing-masing pemberi pinjaman yang berasal dari Bagian I. Saldo Rata-Rata Utang - Kolom (2) Diisi dengan nilai saldo rata-rata utang untuk masing-masing pinjaman yang berasal dari Bagian I. Biaya Pinjaman - Kolom (3) Diisi dengan biaya yang ditanggung Wajib Pajak untuk masing-masing pinjaman. Biaya Pinjaman yang Dapat Diperhitungkan dalam Menghitung Penghasilan Kena Pajak - Kolom (4) Diisi dengan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak sesuai dengan Perbandingan Antara Utang dan Modal yang diperkenankan. Biaya Pinjaman yang tidak Dapat Dikurangkan - Kolom (5) Diisi dengan mengurangkan biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud pada kolom (4) dari biaya pinjaman sebagaimana dimaksud pada kolom (3). Bagian Tempat, Tanggal, dan Tanda Tangan Diisi dengan tempat dan tanggal pengisian SPT PPh Wajib Pajak Badan serta nama lengkap, NPWP dan tanda tangan pengurus perusahaan yang berwenang. Dalam hal SPT PPh Wajib Pajak Badan ditandatangani oleh Kuasa Wajib Pajak, diisi dengan nama lengkap, NPWP dan tanda tangan Kuasa Wajib Pajak.
20 -20- C. FORMAT LAPORAN UTANG SWASTA LUAR NEGERI LAMPIRAN SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN TAHUN PAJAK LAPORAN UTANG SWASTA LUAR NEGERI NPVVP NA MA WAJIB PAJAK NO NA!VIA PEMBERI PINJAIVLA N ALA MAT NEGA RA/ Y URISDIKS I KODE MATA UA NG KURS AKHIR TA HUN A VVA L TA HUN POKOK UTA NG (RP) Mutasi Inarrbahan Ingurangan AKHIR TA HUN JANGKA VVAKTU PINJA MAN TA NGGA L MULA I TA NGGA L JATUH TEMPO TINGKAT (%) BUNGA JUMLA H (RP) BIA PERN A TERKA FT P1NJA MAN SETA IN BUNGA ( RP) ( 1) (2) (3) (4) '(5) (6) (7) (8) (9) (10) ( 11 ) (12) (13) (14) (15) ( 16) I LI tuntuka N P1NJA MAN TOTAL ( Tg I ) (Bin) (Thn) JIKA FORM ULIR INI TIDAK MENCUKUPI DAPAT DIBUAT SENDIR1 SESUAI DENGAN FORMAT IM WAJIB PAJAK / KUA SA
21 -21- PETUNJUK PENGISIAN: Laporan utang swasta luar negeri dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT PPh Wajib Pajak Badan). Tahun Pajak Diisi dengan angka tahun buku perusahaan pada kotak yang tersedia. Contoh: Tahun Pajak Bagian Identitas NPWP NAMA WAJIB PAJAK : Diisi sesuai dengan NPWP yang tercantum dalam kartu NPWP : Diisi sesuai dengan nama yang tercantum dalam kartu NPWP Nomor - Kolom (1) Cukup Jelas. Nama Pemberi Pinjaman - Kolom (2) Diisi dengan nama masing-masing pemberi pinjaman. Alamat Pemberi Pinjaman - Kolom (3) Diisi dengan alamat lengkap masing-masing pemberi pinjaman. Negara/Yuridiksi Pemberi Pinjaman - Kolom (4) Diisi dengan nama negara atau yuridiksi tempat masing-masing pemberi pinjaman berdomisili. Kode Mata Uang - Kolom (5) Diisi dengan kode alfabet mata uang pinjaman sesuai dengan standar internasional, misaln a: Mata Uang Kode Alfabet Rupiah IDR Dolar Amerika Serikat USD Dolar Australia AUD Dolar Singapura SGD Euro EUR Pound Sterling GBP Yen JPY Kurs Akhir Tahun Mata Uang - Kolom (6) Diisi dengan kurs yang digunakan untuk mengkonversi pinjaman ke satuan mata uang rupiah pada akhir tahun. Dalam hal pinjaman dalam mata uang rupiah, kolom ini diisi dengan angka 1 (satu). Pokok Utang Awal Tahun - Kolom (7) Diisi dengan jumlah pokok utang pada awal tahun pembukuan dalam satuan mata uang rupiah. Dalam hal utang menggunakan mata uang asing, maka kolom ini diisi dengan nilai rupiah menggunakan kurs yang digunakan Wajib Pajak pada awal tahun. Mutasi Penambahan Pokok Utang - Kolom (8) Diisi dengan jumlah seluruh penambahan pokok utang selama satu tahun. Dalam hal penambahan pokok utang menggunakan mata uang asing, maka nilai penambahan tersebut dihitung dalam satuan mata uang rupiah dengan menggunakan kurs pada saat penambahan tersebut dilakukan.
22 -22- Mutasi Pengurangan Pokok Utang - Kolom (9) Diisi dengan jumlah seluruh pengurangan pokok utang selama satu tahun. Dalam hal pengurangan pokok utang menggunakan mata uang asing, maka nilai pengurangan tersebut dihitung dalam satuan mata uang rupiah dengan menggunakan kurs pada saat pengurangan tersebut dilakukan. Pokok Utang Akhir Tahun - Kolom (10) Diisi dengan jumlah pokok utang pada akhir tahun pembukuan dalam satuan mata uang rupiah. Dalam hal utang menggunakan mata uang asing, maka kolom ini diisi dengan nilai rupiah menggunakan kurs yang digunakan Wajib Pajak pada akhir tahun. Tanggal Mulai Jangka Waktu Pinjaman - Kolom (11) Diisi dengan tanggal, bulan dan tahun dimulainya jangka waktu pinjaman sesuai dengan perjanjian. Tanggal Jatuh Tempo Jangka Waktu Pinjaman - Kolom (12) Diisi dengan tanggal, bulan dan tahun berakhirnya jangka waktu pinjaman sesuai dengan perjanjian. Tingkat (%) Bunga - Kolom (13) Diisi dengan tingkat suku bunga pinjaman untuk satu tahun sesuai dengan perjanjian. Dalam hal tingkat suku bunga pinjaman bervariasi dari waktu ke waktu dalam satu tahun, maka kolom ini diisi dengan menggunakan tingkat suku bunga efektif. Jumlah (Rp) Bunga - Kolom (14) Diisi dengan jumlah biaya bunga masing-masing pinjaman untuk satu tahun dalam satuan mata uang rupiah. Dalam hal biaya bunga dihitung dalam mata uang asing, maka kolom ini diisi dengan nilai rupiah menggunakan kurs saat pembayaran atau jatuh tempo pembayaran biaya bunga tersebut. Biaya Terkait Perolehan Pinjaman Selain Bunga (Rp) - Kolom (15) Diisi dengan jumlah biaya-biaya terkait dengan masing-masing pinjaman selain bunga yang terjadi selama satu tahun dalam satuan mata uang rupiah. Dalam hal biaya pinjaman selain bunga dihitung dalam mata uang asing, maka kolom ini diisi dengan nilai rupiah menggunakan kurs saat pembayaran atau jatuh tempo pembayaran biaya tersebut. Peruntukan Pinjaman - Kolom (16) Diisi dengan penjelasan mengenai tujuan/peruntukan pinjaman yang dilakukan oleh Wajib Pajak. Bagian Tempat, Tanggal, dan Tanda Tangan Diisi dengan tempat dan tanggal pengisian SPT PPh Wajib Pajak Badan serta nama lengkap, NPWP dan tanda tangan pengurus perusahaan yang berwenang. Dalam hal SPT PPh Wajib Pajak Badan ditandatangani oleh Kuasa Wajib Pajak, diisi dengan nama lengkap, NPWP dan tanda tangan Kuasa Wajib Pajak.
-8- Posisi per 31 Desember Tahun 2016 Tahun 2015 a. Modal Saham b. Agio Saham c. Laba Ditahan
-8- LAMPI RAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-25/PJ/2017 TENTANG PELAKSANAAN PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN
DIREKTUR JENDERAL PAJAK
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-25/PJ/2017 TENTANG PELAKSANAAN PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL
dasar hukum Tata cara pelaporan utang swasta luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
per-25/pj/2017 PELAKSANAAN PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN DAN TATA CARA PELAPORAN UTANG SWASTA LUAR NEGERI dasar hukum
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Perhitungan Pajak Penghasilan. Utang dan Modal. Penentuan. Pencabutan.
No.1351, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Perhitungan Pajak Penghasilan. dan Modal. Penentuan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 169/PMK.010/2015 TENTANG PENENTUAN
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 29/PJ/2017 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN LAPORAN PER NEGARA DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 29/PJ/2017 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN LAPORAN PER NEGARA DIREKTUR JENDERAL PAJAK, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (2) Peraturan
Subdirektorat Perjanjian dan Kerjasama Perpajakan Internasional DIREKTORAT PERATURAN PERPAJAKAN II
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak PMK-169/PMK.010/2015 PENENTUAN BESARNYA PERBANDINGAN ANTARA UTANG DAN MODAL PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN (Debt-to-Equity
PAJAK ATAS BUNGA PINJAMAN
PERPAJAKAN II Modul ke: PAJAK ATAS BUNGA PINJAMAN Fakultas EKONOMI Program Studi S1 AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id DASAR PERLAKUAN SECARA FISKAL Bunga pinjaman adalah bunga yang menjadi beban sehubungan
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN BAGI PERMOHONAN YANG DIAJUKAN PADA TAHUN 2015 DAN TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT
A. PENENTUAN WAJIB PAJAK YANG WAJIB MENYELENGGARAKAN DAN MENYIMPAN DOKUMEN PENENTUAN HARGA TRANSFER
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 213/PMK.03/2016 TENTANG : JENIS DOKUMEN DAN/ATAU INFORMASI TAMBAHAN YANG WAJIB DISIMPAN OLEH WAJIB PAJAK YANG MELAKUKAN TRANSAKSI DENGAN PARA
2017, No tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tenta
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.202, 2017 KEUANGAN. PPH. Penghasilan. Diperlakukan. Dianggap. Harta Bersih. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6120) PERATURAN PEMERINTAH
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG BATASAN DAN TATA CARA PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI
CONTOH PENERAPAN DAN PENGHITUNGAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 144/PMK.011/2012 TENTANG : PEMBERIAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.131, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA EKONOMI. Pajak. Pengampunan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5899) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
Akuntansi Pajak Atas Liabilitas (Kewajiban)
Akuntansi Pajak Atas Liabilitas (Kewajiban) Klasifikasi kewajiban dan aspek perpajakannya Beban Bunga Pinjaman Pembebasan utang Akuntansi Pajak Atas Ekuitas Investasi jangka pendek dan jangka panjang Bentuk
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK
I. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 184/PMK.01/2017
I. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 184/PMK.01/2017 Pada tanggal 4 Desember 2017 telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 184/PMK.01/2017 tentang Persyaratan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 138 TAHUN 2000 (138/2000) TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2
I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN Dengan diundangkannya
BAB 2 TINJAUAN TEORETIS. administratif dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu
BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1. Definisi Aset Tetap Dalam SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 68), aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
1 Catatan Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan
Perusahaan dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak
CONTOH PENERAPAN DAN PENGHITUNGAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN
13 2012, No.888 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/PMK.011/2012 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU
Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Penghitungan Pajak Penghasilan sesuai PMK No. 169/PMK.010/2015
Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Penghitungan Pajak Penghasilan sesuai PMK No. 169/PMK.010/2015 Accounting Division PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Apa Dasar Hukumnya? KMK No.
SPT TAHUNAN PPH BADAN TERKAIT PENYAMPAIAN SURAT PERNYATAAN HARTA (SPH) UNTUK PENGAMPUNAN PAJAK
SPT TAHUNAN PPH BADAN TERKAIT PENYAMPAIAN SURAT PERNYATAAN HARTA (SPH) UNTUK PENGAMPUNAN PAJAK Aula KPP Madya Jakarta Utara Lt.3 Selasa, 14 Maret 2017 Pembukuan Undang-Undang KUP Pasal 28 ayat (7) Memori
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK Pengertian Pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) terjadi apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.161, 2010 KEUANGAN NEGARA. Pajak Penghasilan. Penghitungan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5183) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
-1- RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
-1- DRAFT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TANGGAL 1 JULI 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TANGGAL 1 JULI 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional Negara Kesatuan
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-17/PJ/2016 TENTANG
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-17/PJ/2016 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PERNYATAAN BAGI WAJIB PAJAK TERTENTU SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 190/PMK.05/2011 TENTANG SISTEM AKUNTANSI INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 190/PMK.05/2011 TENTANG SISTEM AKUNTANSI INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 190/PMK.05/2011 TENTANG SISTEM AKUNTANSI INVESTASI PEMERINTAH
1 of 13 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 190/PMK.05/2011 TENTANG SISTEM AKUNTANSI INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
1 of 6 18/12/ :00
1 of 6 18/12/2015 16:00 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 190/PMK.05/2011 TENTANG SISTEM AKUNTANSI INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik
Keputusan Dirjen Pajak KEP-537/PJ./2000 tgl 29 Desember 2000
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP - 537/PJ./2000 TENTANG PENGHITUNGAN BESARNYA ANGSURAN PAJAK DALAM TAHUN PAJAK BERJALAN DALAM HAL-HAL TERTENTU DIREKTUR JENDERAL PAJAK, Menimbang : bahwa sebagai
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 152 /PMK.07/2007 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 152 /PMK.07/2007 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DEFINITIF DANA BAGI HASIL PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PASAL 29 WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM NEGERI DAN PAJAK PENGHASILAN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MENIMBANG: a. bahwa pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia`yang
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2017 TENTANG PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2017 TENTANG PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN TERTENTU BERUPA HARTA BERSIH YANG DIPERLAKUKAN ATAU DIANGGAP SEBAGAI PENGHASILAN DENGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2017 TENTANG PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN TERTENTU BERUPA HARTA BERSIH YANG DIPERLAKUKAN ATAU DIANGGAP SEBAGAI PENGHASILAN DENGAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 /PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 243/PMK.03/2014 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN
SURAT SETORAN PAJAK PETUNJUK PENGISIAN SSP. 25 April STIE Widya Praja Tanah Grogot
STIE Widya Praja Tanah Grogot Tanggal Penerbitan 25 April 2016 Pertemuan SURAT SETORAN PAJAK Wajib Pajak dapat membayar pajak yang terutang dengan 2 (dua) cara, yaitu: 1. Dengan menggunakan Surat Setoran
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 131.1/PMK.07/2007 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 131.1/PMK.07/2007 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DEFINITIF DANA BAGI HASIL PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PASAL 29 WAJIB PAJAK ORANG
PER - 34/PJ/2010 BENTUK FORMULIR SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRI
PER - 34/PJ/2010 BENTUK FORMULIR SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRI Contributed by Administrator Tuesday, 27 July 2010 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
JUMLAH AKTIVA
NERACA 31 DESEMBER 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan bank 3 866.121.482 3.038.748.917 Piutang usaha - bersih Hubungan istimewa 2b, 2c, 4, 5, 8 2.635.991.416 328.548.410 Pihak ketiga - setelah dikurangi
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/PMK.03/2007
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/PMK.03/2007 TENTANG TATA CARA PELAPORAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA BAGI WAJIB PAJAK DENGAN KRITERIA TERTENTU YANG DAPAT MELAPORKAN BEBERAPA MASA PAJAK
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 127/PMK.07/2006 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 127/PMK.07/2006 TENTANG PENETAPAN ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PASAL 29 WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM NEGERI DAN PAJAK PENGHASILAN
bersama ini mengajukan penghapusan sanksi administrasi yang tercantum dalam Surat Tagihan Pajak (STP) :
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 29/PMK.03/2015 TENTANG : PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI BUNGA YANG TERBIT BERDASARKAN PASAL 19 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1994 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 533/KMK.04/2000 TENTANG
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 533/KMK.04/2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBUKUAN DALAM BAHASA ASING DAN MATA UANG SELAIN RUPIAH SERTA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN MENTERI
2017, No Peraturan Menteri Keuangan tentang Rincian Kurang Bayar Dana Bagi Hasil Menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang Dialokasikan dala
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1466, 2017 KEMENKEU. Dana Bagi Hasil. TA 2017. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/PMK.07/2017 TENTANG RINCIAN KURANG BAYAR DANA BAGI HASIL MENURUT
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 32/PJ/2010 TENTANG
Menimbang: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 32/PJ/2010 TENTANG PELAKSANAAN PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PENGUSAHA TERTENTU DIREKTUR JENDERAL PAJAK, bahwa
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP-104/BL/2006 TENTANG PRODUK UNIT
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1973, 2014 KEMENKEU. Pajak. Penyetoran. Pembayaran. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242 /PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN
CONTOH SURAT KETERANGAN MENGENAI RIWAYAT INVESTASI. Tanggal perpindahan
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 150/PMK.08/2016 TENTANG : PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 119/PMK.08/2016 TENTANG TATA CARA PENGALIHAN HARTA WAJIB
DAFTAR FORMULIR SPT MASA PPh PASAL 23 DAN/ATAU PASAL 26 DAN BUKTI PEMOTONGAN PPh PASAL 23 DAN/ATAU PASAL 26
LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-04/PJ/2017 TENTANG : BENTUK, ISI, TATA CARA PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PENGHASILAN PASAL 23 DAN/ATAU PASAL 26 SERTA
1 of 6 18/12/ :54
1 of 6 18/12/2015 15:54 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 163/PMK.06/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 128/PMK.06/2007 TENTANG
WALIKOTA PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG
SALINAN WALIKOTA PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH KOTA PASURUAN PADA PT. BANK PEMBANGUNAN DAERAH JAWA TIMUR, TBK., PT. BANK PERKREDITAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANGNOMOR 7 TAHUN 1991 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.576, 2014 KEMENKEU. Dana Tambahan. Penghasilan. Guru. PNSD. Pedoman. Alokasi. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK.07/2014 TENTANG PEDOMAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERA TURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/PMK.010/2016 TENT ANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 51/KMK.04/2001 TENTANG PEMOTONGAN
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 170 / PMK.07/ 2007 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 170 / PMK.07/ 2007 TENTANG PENETAPAN PERKIRAAN ALOKASI BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN BAGIAN PEMERINTAH PUSAT YANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :
No dan investasi Harta ke dalam wilayah NKRI, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pengampunan Pajak, dan bagi Wajib Pajak yang tidak mengik
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I No.6120 KEUANGAN. PPH. Penghasilan. Diperlakukan. Dianggap. Harta Bersih. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 202) PENJELASAN ATAS PERATURAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk lebih memberikan kemudahan dan
Catatan 31 Maret Maret 2010
NERACA KONSOLIDASI ASET Catatan 31 Maret 2011 31 Maret 2010 ASET LANCAR Kas dan setara kas 2f, 3 220.361.019.579 10.981.803.022 Piutang usaha - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu Pihak yang
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN SURAT EDARAN DREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-02/PJ/2015 TENTANG PENEGASAN ATAS PELAKSANAAN PASAL 31E AYAT (1) UNDANG- UNDANG NOMOR
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-26/PJ/2013 TENTANG
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-26/PJ/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-34/PJ/2010
Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor. 7 Pelayanan Penyelesaian Permohonan a. KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan
LAMPIRAN I SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : SE - 79/PJ/2010 TENTANG : STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) LAYANAN UNGGULAN BIDANG PERPAJAKAN DAFTAR 16 (ENAM BELAS) JENIS LAYANAN UNGGULAN BIDANG
30 Juni 31 Desember
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 30 Juni 31 Desember ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 73102500927 63710521871 Investasi 2072565000 1964636608 Piutang usaha - setelah
CONTOH SURAT KETERANGAN MENGENAI RIWAYAT INVESTASI. Nominal Harta yang dialihkan dalam Rupiah Jenis investasi yang dialihkan
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 151/PMK.08/2016 TENTANG : PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 122/PMK.08/2016 TENTANG TATA CARA PENGALIHAN HARTA WAJIB PAJAK
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.05/2015 TENTANG TINGKAT SUKU BUNGA DAN PENATAUSAHAAN PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.05/2015 TENTANG TINGKAT SUKU BUNGA DAN PENATAUSAHAAN PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT
No. 16/10/DSta Jakarta, 26 Mei 2014 SURAT EDARAN. Kepada: SEMUA DEBITUR DEVISA UTANG LUAR NEGERI DI INDONESIA
1 No. 16/10/DSta Jakarta, 26 Mei 2014 SURAT EDARAN Kepada: SEMUA DEBITUR DEVISA UTANG LUAR NEGERI DI INDONESIA Perihal : PENARIKAN DEVISA UTANG LUAR NEGERI Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 156 /PMK.07/2007 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 156 /PMK.07/2007 TENTANG PENETAPAN ALOKASI KURANG BAYAR DANA BAGI HASIL PAJAK TAHUN ANGGARAN 2005 DAN 2006 YANG DIALOKASIKAN DALAM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (
No. 1043, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Wajib Pajak Dalam Negeri. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107 /PMK.03/2017 TENTANG PENETAPAN SAAT DIPEROLEHNYA DIVIDEN DAN
Yth. Kepala Kantor Wilayah DJP... Dengan ini kami selaku pengurus/kuasa *) dari: Nama Wajib Pajak :... NPWP :... Alamat :...
LAMPIRAN I Nomor :.. Lampiran :.. Perihal : Permohonan Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakan yang Diajukan pada Tahun... oleh Wajib Pajak yang Telah Melakukan Penilaian Kembali Aktiva
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.06/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 128/PMK.
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.06/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 128/PMK.06/2007 TENTANG PENGURUSAN PIUTANG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa pembangunan nasional
UU 10/1994, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991
Copyright 2002 BPHN UU 10/1994, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991 *8679 Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU)
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.40/Menhut-II/2014
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.40/Menhut-II/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN SEWA BARANG MILIK NEGARA LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL TAHUN PAJAK 2 0 NPWP : NAMA WAJIB PAJAK : BULAN / TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (US$)
2 0 DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL 1B KELOMPOK / JENIS HARTA BULAN / TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (US$) NILAI SISA BUKU FISKAL AWAL TAHUN PENYUSUTAN / AMORTISASI KOMERSIAL METODE HARTA BERWUJUD
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.946, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Pembayaran PPh. Tata Cara Pemotongan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.011/2011 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN
PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26
PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26 DEFINISI Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah
