CANTRANG: MASALAH DAN SOLUSINYA
|
|
|
- Liani Tan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 CANTRANG: MASALAH DAN SOLUSINYA Lukman Hakim 1 Nurhasanah 2 1 Institut Pertanian Bogor; 2 Universitas Terbuka [email protected] ABSTRACT Cantrang is a fishing gear that is now banned because it can cause a variety of problems, but these types of fishing gear are still many operated by fishermen. There are various things that cause this fishing gear is still used by fishermen to catch fish. This paper aims to describe: 1) the reason cantrang still used by fishermen, 2) the problems due to the use of cantrang, 3) solution in anticipation of problems due to the use of cantrang. This paper is the result of a literature review and field observations on the use of cantrang in Tegal conducted in Based on a literature review and observation show that: 1) the reason cantrang is still used by fishermen cause cantrang has high productivity in number of catches and diversity, short time in operation, small investment and one ship could carry 2 or 3 cantrang as backup, 2) problems caused by the use of cantrang is causing fish resources is not sustainable as a result of the low selectivity and can damage the environment, 3) solution in anticipation of problems due to the use of cantrang is giving legal sanction firmly on cantrang users who damage the environment or catching zone setting. Keywords: Cantrang, fishing, fishing gear. ABSTRAK Cantrang kini dilarang penggunaannya karena dapat menimbulkan berbagai masalah, namun alat tangkap ini hingga kini masih banyak dioperasikan oleh nelayan. Ada berbagai hal yang menyebabkan alat tangkap ini masih digunakan oleh nelayan dalam menangkap ikan. Tulisan ini bertujuan untuk menjabarkan: 1) alasan cantrang masih digunakan oleh nelayan, 2) masalah yang timbul akibat penggunaan alat tangkap cantrang, dan 3) solusi dalam mengantisipasi masalah akibat penggunaan alat tangkap cantrang. Tulisan ini merupakan hasil kajian literatur maupun hasil pengamatan lapang terhadap penggunaan alat tangkap cantrang di PPP Tegalsari yang dilakukan pada tahun Berdasarkan hasil kajian literatur dan hasil observasi menunjukkan bahwa: 1) alasan alat tangkap cantrang masih digunakan oleh nelayan karena alat tangkap ini memiliki produktivitas yang tinggi baik dalam jumlah hasil tangkapan maupun diversitasnya, waktu pengoperasiannya singkat, investasi kecil dan 1 kapal bisa membawa 2 atau 3 alat tangkap ini sebagai cadangan, 2) masalah yang ditimbulkan akibat penggunaan alat tangkap cantrang adalah dapat mengancam kelestarian sumber daya ikan akibat selektifitas yang rendah dan dapat merusak lingkungan, 3) solusi dalam mengantisipasi masalah akibat penggunaan alat tangkap cantrang adalah pemberian sangsi hukum tegas pada pengguna cantrang yang merusak lingkungan atau pengaturan zona penangkapan. Kata Kunci: Alat tangkap ikan, cantrang, penangkapan ikan. PENDAHULUAN Selama ini kegiatan penangkapan ikan masih diyakini dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar dibanding kegiatan budidaya atau pengolahan. Hal ini karena kegiatan penangkapan ikan dapat dilakukan dengan effort yang lebih rendah, namun hasil produksi (hasil tangkapan) dapat diperoleh dalam waktu lebih singkat dibanding kegiatan budidaya atau pengolahan. Keberhasilan dari suatu kegiatan penangkapan ikan dapat diukur dari hasil tangkapannya. Salah satu faktor penentu dari keberhasilan kegiatan penangkapan ikan adalah kelimpahan sumberdaya hayati dari wilayah operasi dan kemampuan alat tangkap dalam menangkap ikan. Salah satu alat tangkap yang banyak diminati nelayan skala kecil karena lebih mendatangkan keuntungan akibat hasil tangkapannya relatif lebih banyak dibanding 216
2 alat tangkap lainnya adalah cantrang. Alat tangkap ini kini menjadi fenomenal karena meskipun penggunaannya dilarang pemerintah, namun kenyataan di lapangan masih banyak nelayan skala kecil atau sedang menggunakan cantrang. Agar nelayan cantrang tetap dapat mencari nafkah dari hasil menangkap ikan dengan tetap menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan, maka perlu dilakukan suatu kajian yang mendalam tentang potensi cantrang dalam memberikan keuntungan sekaligus mengkaji potensinya dalam merusak ekosistem perairan di tempat sumberdaya ikan berada. CANTRANG SEBAGAI ALAT PENANGKAP IKAN Cantrang merupakan alat tangkap menyerupai kantong besar yang semakin mengerucut yang dioperasikan di dasar perairan dengan target catch ikan demersal. Ikan jenis ini memiliki nilai ekonomis tinggi (Aji et al., 2013). Cantrang merupakan hasil modifikasi dari alat tangkap jenis trawl. Upaya modifikasi ini dilakukan nelayan sebagai akibat reaksi terhadap pemberlakuan Keppres No.39 tahun 1980 tentang Penghapusan Alat Tangkap Trawl di Seluruh Perairan Indonesia. Kenyataannya, hingga saat ini, meskipun cantrang sudah dilarang penggunaannya, namun kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan cantrang masih banyak digunakan nelayan terutama oleh nelayan skala kecil karena penggunaan cantrang dianggap dapat memberikan keuntungan yang besar karena alat tangkap ini memiliki produktivitas yang tinggi dengan lama melaut yang relatif singkat. Selain itu, pada kegiatan penangkapan ikan, alat tangkap ini dapat dibawa 2 atau 3 sekaligus sebagai cadangan. Hasil penelitian Sutanto (2005) mendapatkan bahwa lama melaut dari kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang rata-rata 74,40 jam relatif lebih singkat dibanding gillnet dengan lama melaut rata-rata 104,60 jam. Cantrang banyak dioperasikan nelayan di Pantai Utara Jawa menggunakan perahu layar atau perahu motor kecil sampai sedang. Keaktifannya hampir sama dengan trawl. Halhal yang terkait dengan bagian-bagian dari cantrang, syarat dalam penggunaan cantrang, hasil tangkapan cantrang dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan cantrang sebagai berikut. BAGIAN-BAGIAN DARI ALAT TANGKAP CANTRANG Cantrang merupakan alat tangkap yang dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang yang dikaitkan pada ujung sayap, memiliki bagian utama yang terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring, tali penarik (warp), pelampung dan pemberat. Kantong pada cantrang merupakan bagian dari jaring sebagai tempat pengumpulan hasil tangkapan. Badan cantrang terletak antara sayap dan kantong, berfungsi untuk menampung berbagai jenis ikan dasar dan udang sebelum masuk kantong. Sayap cantrang merupakan perpanjangan badan sampai tali salambar, berfungsi untuk menghadang dan mengarahkan ikan agar masuk ke dalam kantong. Mulut cantrang terdiri dari bibir atas dan bibir bawah. Pada bagian mulut ini terdapat pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah (Subani dan Barus, 1989). Jaring cantrang umumnya dibuat berdasarkan ukuran kapal dan daerah operasi penangkapan ikan. Upaya untuk mendapatkan jaring yang sesuai dengan keinginan dilakukan nelayan dengan cara melakukan try and error guna menyesuaikan bentuk dan konstruksi cantrang. Akibatnya, di setiap daerah cenderung memiliki bentuk dan konstruksi cantrang yang berbeda. Hingga kini, pada beberapa daerah, kemungkinan masih terjadi modifikasi yang berasal dari alat tangkap trawl atau sejenisnya menjadi alat tangkap cantrang. Hal ini karena trawl sudah jelas dilarang dan sudah ada aturannya, sedangkan cantrang relatif sedikit lebih ramah lingkungan dibanding trawl (Sasmita et al., 2012). Hal ini dapat diakibatkan ada perbedaan dalam cara pengoperasiannya. Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan cantrang dilakukan dengan cara jaring ditebar ke perairan, kemudian setelah 217
3 waktu yang telah ditentukan, cantrang ditarik dalam keadaan kapal tetap diam atau berjalan lambat. Sedangkan untuk alat tangkap jenis trawl, setelah jaring ditebar, beberapa saat kemudian jaring ditarik dalam kondisi kapal berjalan cepat. SYARAT DALAM PENGGUNAAN CANTRANG Penggunaan alat tangkap cantrang dengan cara ditarik ditengarai dapat menyapu sumber daya perikanan dan merusak lingkungan perairan tempat cantrang dioperasikan. Namun demikian, penggunaan cantrang dapat saja tidak terlalu merusak lingkungan apabila dioperasikan di wilayah yang tepat. Menurut Ayodya (1975), cantrang dapat digunakan dengan persyaratan tertentu, diantaranya: 1) Jika dasar laut terdiri dari pasir atau lumpur, tidak berbatu karang, tidak terdapat bendabenda yang akan tersangkut pada saat jaring ditarik, misalnya kapal yang tenggelam atau bekas-bekas tiang. 2) Dasar perairan mendatar, tidak terdapat perbedaan kedalaman yang mencolok. 3) Perairan memiliki daya produktivitas yang besar dengan resources yang melimpah. Apabila cantrang dioperasikan di wilayah dengan ketentuan tersebut dengan pengaturan waktu pengoperasian, maka dampak negatif yang diakibatkannya dapat sedikit ditekan dan bahkan harapannya lingkungan mempunyai waktu untuk dapat pulih kembali seperti sediakala. HASIL TANGKAPAN CANTRANG Target catch dari penggunaan alat tangkap cantrang berupa ikan dasar (demersal), namun ada ikan jenis lainnya yang ikut tertangkap. Hasil penelitian Subani dan Barus (1989) mendapatkan hasil tangkapan cantrang terdiri dari: ikan petek, biji nangka, gulamah, kerapu, pari, cucut, gurita, bloso dan macammacam udang. Pada kegiatan penangkapan lainnya didapatkan hasil tangkapan cantrang yang dilakukan nelayan di TPI Tegalsari pada bulan april 2014 sebagai berikut. Tabel 1. Hasil tangkapan cantrang di TPI Tegalsari No. Jenis Ikan Volume Volume No. Jenis Ikan (kg) (kg) 1. Swangi/Mata Goyangan 797, Ikan Kambing/Etong 64, Swangi/Coklatan 734, Buntel 62, Kuniran 641, Selok/Gatep/Kwee 61, Kurisi/Abangan 476, Selar/Gontor 52, Kapasan 343, Ekor Kuning 46, Pari 251, Kakap 15, Cumi 211, Balong 15, Beloso 124, Smadar/Bronang 14, Campur 109, Ikan Sebelah/Pihi 11, Manyung 102, Rejung 6, Kacangan/Cendro 77, Bawal Peperek 70, Tanjan Tiga Waja 64,558 Sumber: TPI Tegalsari Tahun 2014 (Ibrahim, 2015) 218
4 CARA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP CANTRANG Ada tiga tahapan dalam pengoperasian alat tangkap cantrang, yakni: tahap persiapan, tahap setting dan tahap hauling. Tahap persiapan digunakan untuk meneliti bagianbagian dari alat tangkap, mengikat tali salambar dengan sayap jaring dan menentukan daerah pengoperasian. Tahap setting merupakan tahap saat alat tangkap cantrang ditebar ke dalam perairan, sedangkan tahap hauling merupakan tahapan saat alat tangkap cantrang ditarik sambil kapal tetap diam atau berjalan lambat. Berdasarkan hasil penelitian Wardhani et al. (2012), pengoperasian alat tangkap cantrang oleh nelayan di Kendal dilakukan dengan cara: 1) pada tahap setting diletakkan alat-alat berikut, yakni bendera tanda pelampung, tali salambar yang diletakkan di sisi kanan kapal dan jaring yang diturunkan dengan arah gerakan kapal membentuk lingkaran dan kemudian kedua tali salambar disatukan, 2) pada tahap towing dilakukan dengan menarik tali salambar dengan menggunakan gardan, dan 3) pada tahap hauling dilakukan penarikan alat tangkap setelah seluruh tali salambar dan pelampung terlihat di permukaan air. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL TANGKAPAN CANTRANG Hasil tangkapan merupakan tujuan utama dari suatu kegiatan penangkapan ikan dan nelayan sebagai pelaku dari kegiatan tersebut menginginkan kegiatan penangkapan yang dilakukannya menadapatkan ikan target secara maksimal. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi jumlah hasil tangkapan yang dilakukan menggunakan alat tangkap cantrang, diantaranya: 1. Kecepatan dalam menarik jaring pada waktu operasi penangkapan. 2. Arus karena dapat mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan umumnya akan bergerak melawan arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan. 3. Arah angin karena akan mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan. 4. Panjang jaring karena akan menambah luas sapuan pada saat pengoperasian, sehingga dapat mempengaruhi jumlah ikan yang akan diperoleh. 5. Tali salambar berpengaruh pada saat towing. Semakin panjang tali salambar yang digunakan maka proses towing akan semakin lama. Jika proses towing lebih cepat dari renang ikan, maka dapat mempengaruhi hasil tangkapan. 6. Konsumsi BBM karena akan mempengaruhi daya jelajah kapal ke fishing ground. Semakin banyak persediaan BBM yang dibawa, maka kegiatan penangkapan ikan dapat menjangkau lokasi fishing gound yang lebih jauh dan belum dimanfaatkan oleh nelayan lainnya, sehingga akan diperoleh banyak hasil tangkapan. 7. Penentuan lokasi untuk tebar jaring. Diutamakan tebar jaring dilakukan pada lokasi fishing ground yang kaya akan sumberdaya perikanan. 8. Jumlah setting dan jumlah towing. Makin banyak jumlah setting dan jumlah towing, maka akan makin banyak hasil tangkapan ikan yang diperoleh. Selain hal tersebut di atas, menurut Sinaga et al. (2014), mesin gardan juga dapat berpengaruh pada hasil tangkapan. Hal ini karena gardan sebagai alat bantu untuk menarik tali salambar. Jika gardan berfungsi dengan baik, maka kegiatan penangkapan akan berjalan dengan baik pula. Hasil penelitian Aji et al. (2013) menunjukkan bahwa ada dua faktor produksi dari kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap cantrang yang tidak berpengaruh pada hasil tangkapan ikan, yaitu: 1. GT kapal. Besar kecil GT kapal tidak berpengaruh secara nyata. Hal ini karena pada saat proses penangkapan ikan, kapal dalam posisi diam atau berjalan lambat 219
5 sehingga tidak berpengaruh dalam operasi penangkapan. Dengan demikian, kapal dengan GT lebih kecil juga bisa memperoleh hasil tangkapan lebih banyak dari kapal dengan GT Besar. 2. Jumlah nelayan. Meskipun nelayan merupakan komponen utama dalam kegiatan penangkapan ikan, akan tetapi ternyata sedikit atau banyak jumlah Anak Buah Kapal (ABK) tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan karena pada saat proses setting dan towing mesin gardan yang banyak bekerja. Gambar berikut ini adalah salah satu contoh dari operasi penangkapan ikan yang menggunakan alat tangkap cantrang. Gambar 1. Nelayan yang sedang menarik alat Gambar 2. Kegiatan penangkapan ikan tangkap ikan cantrang dengan cantrang (Anonim, 2015) (Thufail, 2016) PERMASALAHAN AKIBAT PENGGUNAAN CANTRANG Hingga kini alat tangkap cantrang masih merupakan alat tangkap yang dianggap nelayan skala kecil atau sedang paling efektif dan ekonomis untuk menangkap berbagai jenis komoditi ikan dan udang. Padahal akibat penggunaan alat tangkap ini dapat menimbulkan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1) Dapat memicu konflik antara nelayan cantrang dengan nelayan skala kecil lainnya yang tidak menggunakan alat tangkap cantrang sebagai akibat terjadi kompetisi daerah penangkapan. Hal ini karena penangkapan dengan cantrang akan merugikan nelayan skala kecil baik langsung maupun tidak langsung karena sumberdaya perikanan tersapu bersih sebagai akibat alat tangkap tersebut kurang selektif. Hasil Survey pada Nelayan Jaring-Nusantara di Takalar pada bulan November 2013 menunjukkan nelayan skala kecil yang menggunakan pancing rawai dasar tidak bisa menangkap ikan selama 3 hari sampai 1 minggu jika suatu lokasi sudah disapu oleh tarikan cantrang. Jika cantrang terus menerus beroperasi pada suatu lokasi, maka nelayan skala kecil lainnya tidak bisa menangkap ikan. Hal ini dapat memicu terjadi konflik wilayah penangkapan serta menurunnya sumberdaya ikan di wilayah tersebut dan sekitarnya. Menurut data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyebutkan bahwa di tahun 2011 jumlah alat tangkap trawl dan cantrang sudah mencapai unit (Habibi, 2015). Bila jumlah alat tangkap tersebut makin bertambah dengan cara pengoperasian yang tidak tepat, maka konflik kepentingan antar nelayan akan makin besar. 2) Dapat menimbulkan kerusakan pada sumberdaya perikanan akibat sapuan saat jaring cantrang ditarik (Pramono, 2006). 3) Berdampak negatif terhadap lingkungan perairan karena alat tangkap ini memiliki selektivitas yang rendah sehingga mendapatkan hasil tangkapan sampingan yang jumlahnya 220
6 kadangkala lebih besar dibandingkan hasil tangkapan yang ditargetkan. Menurut Habibi (2015), dari suatu kegiatan penangkapan dengan menggunakan cantrang, hasil tangkapan berupa ikan target hanya sekitar 18-40% yang bernilai ekonomis dan dapat dikonsumsi. Sisanya sekitar 60-82% adalah hasil tangkapan sampingan (bycatch) yang tidak dapat dimanfaatkan (discard). Dengan demikian, sebagian besar hasil tangkapan tersebut dibuang ke laut dalam keadaan mati. Hall (1999 dalam Khaerudin, 2006) mengemukakan bahwa hasil tangkapan sampingan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: a) Spesies yang kebetulan tertangkap (incidental catch) yang merupakan hasil tangkapan yang bukan merupakan spesies target dari operasi penangkapan. Incidental catch ini ada yang dimanfaatkan oleh nelayan dan ada yang dibuang, tergantung dari nilai ekonomi ikan tersebut. b) Spesies yang dikembalikan ke laut (discarded catch), yaitu bagian dari hasil tangkapan sampingan yang dikembalikan ke laut karena pertimbangan ekonomi atau pun karena spesies yang tertangkap tersebut adalah spesies yang dilindungi oleh hukum. Keberadaan hasil tangkapan sampingan yang cukup banyak dari suatu kegiatan penangkapan ikan menjadi isu dunia yang berkaitan dengan biodiversitas. Hal ini karena hasil tangkapan sampingan telah menjadi komponen yang terintegrasi dalam sistem perikanan tangkap (Alverson & Hughes, 1996). Aji et al. (2013) dari hasil penelitiannya juga mendapatkan bahwa hasil tangkapan cantrang di wilayah Bulu juga mendapatkan hasil tangkapan sampingan. Prosentase komposisi ikan target utama dan ikan hasil sampingan tersebut seperti pada Gambar 3. Gambar 3. Prosentase komposisi hasil tangkapan cantrang (Aji et al., 2013) Jumlah hasil tangkapan sampingan ini dapat memicu terjadi kerusakan lingkungan, apabila hasil sampingan tersebut dibuang ke laut. Hal ini akibat proses pembusukan ikan hasil sampingan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengurangi nilai estetika. Belum lagi akibat gas amonia dan gas lainnya yang dapat timbul akibat proses pembusukan tersebut yang dapat meracuni ikan hidup yang ada di perairan. Ikan hasil sampingan ini, sebenarnya juga menjadi makanan bagi ikan-ikan lainnya yang lebih besar. Jika ikan hasil sampingan ini ikut tertangkap, hal ini dapat mengganggu ekosistem yang ada di lingkungan perairan yang pada akhirnya mengganggu tumbuh kembang ikan yang ditargetkan nelayan cantrang. 3) Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunaan alat tangkap cantrang dengan cara mengeruk dasar perairan dapat merusak habitat. 4) Penggunaan alat tangkap cantrang dengan mata jaring yang kecil dapat menyebabkan tertangkapnya berbagai jenis biota yang masih anakan atau belum matang gonad. 5) Dominansi hasil tangkapan sampingan menjadikan pemborosan sumberdaya. Sejalan dengan hal tersebut di atas, Habibi (2015) menjelaskan bahwa ketidakselektifan dari alat tangkap cantrang ini menyebabkan cantrang menangkap semua ukuran ikan, udang, kepiting, serta biota lainnya. Hal ini akan menimbulkan dampak: 1) Biota-biota yang belum matang gonad dan memijah yang ikut tertangkap tidak dapat 221
7 berkembang biak menghasilkan individu baru. Kondisi ini menyebabkan deplesi stok atau pengurangan stok sumber daya ikan yang selanjutnya dapat menyebabkan hasil tangkapan akan semakin berkurang. 2) Biota yang dibuang akan mengacaukan data perikanan karena tidak tercatat sebagai hasil produksi perikanan. Analisis stok sumber daya perikanan pun menjadi kurang akurat sehingga menyebabkan kebijakan pengelolaan sumber daya perikanan menjadi tidak sesuai. 3) Pengoperasian cantrang yang mengeruk dasar perairan dalam dan pesisir tanpa terkecuali terumbu karang dapat merusak lokasi pemijahan biota laut. Meskipun cantrang menghindari terumbu karang, tetapi kelompok-kelompok kecil karang hidup yang berada di dasar perairan akan ikut tersapu. Hal ini akan mengganggu dan merusak produktivitas dan habitat biota pada dasar perairan. Habitat ini penting untuk dijaga karena terdiri dari ekosistem terumbu karang, lamun, dan substrat pasir atau lumpur. 4) Aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan cantrang yang padat pada suatu lokasi tertentu dapat mendegradasi sumberdaya ikan di perairan tersebut akibat aktivitas penangkapan dari berbagai daerah berpindah-pindah tempat. Fishing ground (lokasi penangkapan) nelayan akan ikut berpindah dan menjauh. Hal ini akan berdampak pula pada biaya operasional penangkapan yang semakin tinggi. Beberapa penelitian mengenai stok sumber daya perikanan yang dilakukan di Indonesia bagian barat dan tengah, menunjukkan telah terjadi penurunan stok ikan demersal dan kerusakan habitat akibat kegiatan penangkapan yang merusak. Dampak kerusakan ini telah merugikan bangsa Indonesia, dan hanya menguntungkan sebagian kecil pengusaha dan nelayan cantrang (Yusuf, 2015). Dampak kerusakan sumber daya perikanan yang diakibatkan oleh penggunaan alat tangkap yang kurang ramah lingkungan akan menyebabkan kerugian sebagian besar nelayan skala kecil di Indonesia. Sebagai upaya untuk mencegah dan mengantisipasi hal tersebut, maka pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl untuk menghindari terjadi ketegangan-ketegangan sosial serta kerugian ekonomi dan ekologi. Hal ini berarti juga melarang penggunaan cantrang karena sebagai produk modifikasi dari alat tangkap trawl. Penegakan aturan yang selama ini masih lemah harus dibayar mahal oleh pemerintah sekarang, karena banyak dampak buruk akibat penggunaan cantrang yang harus diperbaiki. Menurut Yusuf (2015), kerugian pengguna cantrang, sama sekali tidak seimbang dengan kerugian yang telah dialami oleh bangsa Indonesia selama ini. Kelestarian sumber daya perikanan dan pemanfaatan berkelanjutan untuk kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia yang seharusnya menjadi pertimbangan pertama dan utama. SOLUSI DALAM PENGGUNAAN CANTRANG Cantrang adalah sejenis pukat yang biasanya digunakan untuk menangkap udang dan ikan demersal. Menurut beberapa penelitian, cantrang diindikasikan sebagai alat tangkap ikan yang kurang ramah lingkungan karena hampir mirip dengan trawl yang dilarang oleh pemerintah karena menangkap ikan berukuran kecil maupun ikan yang sedang matang gonad. Sebenarnya selama ini telah terjadi dilema terkait dengan penggunaan alat tangkap cantrang. Di satu pihak, menguntungkan nelayan, namun di lain pihak dapat merusak lingkungan dan menimbulkan konflik antar nelayan. Menurut Yusuf (2015), apabila dibuat kebijakan yang membuat penggunaan alat tangkap cantrang dilarang dalam kegiatan penangkapan ikan, maka kebijakan pelarangan ini sama saja dengan mematikan mata pencaharian nelayan cantrang. Belum lagi pihak 222
8 lain yang juga terkena imbasnya, yakni: 1) para bakul karena mereka tidak akan lagi mendapatkan ikan dari nelayan cantrang, 2) para pengusaha penyedia bahan dan alat karena tidak ada lagi permintaan bahan/alat yang dibutuhkan untuk pengoperasian cantrang akibat cantrang tidak beroperasi lagi, dan 3) pengusaha tepung ikan atau pakan ikan karena tidak ada lagi suplai bahan mentah. Meskipun dilarang, namun hingga kini cantrang banyak dipilih dan digunakan nelayan skala kecil dan sedang untuk menangkap ikan demersal, karena dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya, cantrang memiliki kesamaan dengan jaring trawl. Selain itu, cantrang juga mudah dibuat dan relatif tidak memakan biaya tinggi, baik dalam pembuatan maupun perawatannya. Kondisi ini harus segera diantisipasi oleh pemerintah yaitu dengan membuat kebijakan yang dapat mengakomodasikan semua kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah pesisir dan laut secara baik dan benar dengan berazaskan pada kelestarian sumberdaya dan keberlanjutan kegiatan perikanan. Hal ini untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan demersal dan ikan-ikan lainnya. Namun demikian, apabila cantrang ingin tetap dapat digunakan, maka harus dilakukan pengaturan melalui: 1) Penerapan penggunaan alat tangkap cantrang pada daerah-daerah khusus yang diduga tidak akan terlalu merusak lingkungan. Menurut Subani dan Barus (1989 dalam Wardhani et al., 2012 ), apabila kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan cantrang dilakukan pada wilayah yang tidak jauh dari pantai, maka sebaiknya dilakukan pada: a) Wilayah dengan bentuk dasar perairan berlumpur atau lumpur berpasir dengan permukaan dasar rata. b) Arus laut cukup kecil (< 3 knot). c) Cuaca terang tidak ada angin kencang. 2) Mata jaring dibuat agar menjadi lebih selektif lagi. 3) Pengelolaan sektor perikanan harus dibangun berbasis ekosistem dengan memperkuat tata kelola perikanan yang efektif. 4) Dibutuhkan pendekatan yang strategis dan implementatif kepada seluruh pemangku kepentingan. 5) Pengembangan kapasitas nelayan agar produk perikanan yang dihasilkan memiliki daya saing dan nilai tambah (Habibi, 2015). 6) Penyuluhan kepada nelayan cantrang yang memberikan pengetahuan tentang untung dan rugi penggunaan alat tangkap tersebut dalam kegiatan penangkapan ikan. 7) Penegakkan hukum yang tegas bagi pengguna cantrang yang tidak mengindahkan kaidah pengoperasian yang tepat hingga merusak lingkungan dan dapat menyebabkan ketidakberlanjutan ketersediaan sumberdaya perikanan. KESIMPULAN Alat tangkap cantrang merupakan modifikasi dari alat tangkap jenis trawl. Alat tangkap cantrang diminati nelayan skala kecil dan sedang karena memberikan keuntungan besar. Hingga kini cantrang masih digunakan nelayan skala kecil dan menengah, meskipun sudah dilarang oleh pemerintah akibat pengoperasiannya seringkali menimbulkan kerusakan lingkungan, penurunan sumberdaya perikanan dan berpotensi membulkan konflik antar nelayan. Penangkapan menggunakan cantrang dapat dilakukan dengan syarat: 1) Dioperasikan pada wilayah yang khusus, yakni: pada daerah yang datar dengan arus laut kecil, dan cuaca terang, 2) mata jaring dibuat selektif, dan 3) pengoperasian tidak dilakukan secara intensif untuk memberikan kesempatan lingkungan perairan dapat pulih kembali. Agar sumberdaya perikanan tetap terjaga, maka perlu dilakukan upaya penyuluhan kepada nelayan cantrang tentang untung/rugi dari kegiatan penangkapan ikan yang dilakukannya, Pengelolaan sektor perikanan harus dibangun 223
9 berbasis ekosistem dengan memperkuat tata kelola perikanan yang efektif, dan penegakkan hukum yang tegas bagi pengguna cantrang yang merusak lingkungan. DAFTAR PUSTAKA Aji, I.N., B.A. Wibowo dan Asriyanto Analisis Faktor Produksi Hasil Tangkapan Alat Tangkap Cantrang di Pangkalan Pendaratan Ikan Bulu Kabupaten Tuban. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology. Vol. 2 (4): Alverson, D.L. dan S.E. Hughes Bycatch: From Emotion to Effective Natural Resource Management. Review in Fish Biology and Fisheries, 6: pp Anonim Kapal Besar Dilarang Pakai Alat Tangkap Cantrang Mulai September. Diakses pada tanggal 4 Nopember Ayodyoa Fishing Methods. Proyek Peningkatan / Pengembangan Perguruan Tinggi. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Habibi, A Alat Tangkap Trawl Ancam Keberlanjutan Sumberdaya Laut. pr_wwf_paparkan_kajian_dampak_bur uk_trawl_020215_final.pdf. Diakses pada tanggal 4 Nopember Ibrahim, M.J Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Diakses pada tanggal 6 Nopember Khaerudin, A Proporsi Hasil Tangkap Sampingan Jaring Arad (Mini Trawl) yang Berbasis di Pesisir Utara, Kota Cirebon. Skripsi. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Pramono. B Strategi Pengelolaan Perikanan Jaring Arad yang Berbasis di Kota Tegal. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Sasmita, S., S. Martasuganda dan A. Purbayanto Keragaan Desain Cantrang pada Kapal Ukuran < 30 Gt di Pantai Utara Jawa Tengah. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. II (2): Sinaga, R.N., D. Wijayanto dan Sardiyatmo Analisis Pengaruh Faktor Produksi terhadap Pendapatan dan Volume Produksi Nelayan Cantrang di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong Lamongan Jawa Timur. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology. Vol. 3 (2): Subani, W. dan H.R. Barus Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Sutanto, H.A Analisis Efisisensi Alat Tangkap Perikanan Gillnet dan Cantrang: Studi di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Tesis. Program Pascasarjana. Semarang. Universitas Diponegoro. Thufail, M.D Cantrang Tidak Bisa Dipisahkan dari Nelayan. 5/cantrang-tidak-bisa-dipisahkan-darinelayan/. Diakses pada tanggal 6 Nopember Yusuf, M Trawl dan Cantrang, Keuntungan yang Buntung. dan-cantrang-keuntungan-yang- Buntung. Diakses pada tanggal 4 Nopember Wardhani, R.K., Ismail dan A. Rosyid Analisis Usaha Alat Tangkap Cantrang (Boat Seine) di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang Kabupaten Kendal. Journal of 224
10 Fisheries Resources Utilization Management and Technology. Vol. 1 (1):
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaring Arad Jaring arad (mini trawl) adalah jaring yang berbentuk kerucut yang tertutup ke arah ujung kantong dan melebar ke arah depan dengan adanya sayap. Bagian-bagiannya
TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas
TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Pustaka Wilayah laut Indonesia kaya akan ikan, lagi pula sebagian besar merupakan dangkalan. Daerah dangkalan merupakan daerah yang kaya akan ikan sebab di daerah dangkalan sinar
PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN ALAT CANTRANG DI PERAIRAN TELUK JAKARTA
Tersedia online di: http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/btl e-mail:[email protected] BULETINTEKNIKLITKAYASA Volume 14 Nomor 1 Juni 2016 p-issn: 1693-7961 e-issn: 2541-2450 PENGAMATAN
ANALISIS FAKTOR PRODUKSI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN BULU KABUPATEN TUBAN
ANALISIS FAKTOR PRODUKSI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN BULU KABUPATEN TUBAN Analyze Production Factors of Catch by Denish Seine in Bulu fishing port Tuban Regency Ismail
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rajungan merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Berdasarkan data ekspor impor Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia (2007), rajungan menempati urutan ke
Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap
Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap Kabupaten Cilacap sebagai kabupaten terluas di Provinsi Jawa Tengah serta memiliki wilayah geografis berupa
Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Wilayah Sebaran Penangkapan Nelayan Labuan termasuk nelayan kecil yang masih melakukan penangkapan ikan khususnya ikan kuniran dengan cara tradisional dan sangat tergantung pada
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu isu penting perikanan saat ini adalah keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungannya. Upaya pemanfaatan spesies target diarahkan untuk tetap menjaga
5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL
5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5.1 Pendahuluan Pemanfaatan yang lestari adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan pada kondisi yang berimbang, yaitu tingkat pemanfaatannya
Jaring Angkat
a. Jermal Jermal ialah perangkap yang terbuat dari jaring berbentuk kantong dan dipasang semi permanen, menantang atau berlawanlan dengan arus pasang surut. Beberapa jenis ikan, seperti beronang biasanya
KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PUKAT UDANG: STUDI KASUS DI LAUT ARAFURA PROVINSI PAPUA AZMAR MARPAUNG
KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PUKAT UDANG: STUDI KASUS DI LAUT ARAFURA PROVINSI PAPUA AZMAR MARPAUNG SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN
1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil tangkapan sampingan (bycatch) menjadi masalah ketika bycatch yang dikembalikan ke laut (discarded) tidak semuanya dalam keadaan hidup atau berpeluang baik untuk
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di beberapa negara, telah mendorong meningkatnya permintaan komoditas perikanan dari waktu ke waktu. Meningkatnya
5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan
5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian menunjukan bahwa sumberdaya ikan di perairan Tanjung Kerawang cukup beragam baik jenis maupun ukuran ikan yang
4 KONDISI PERIKANAN DEMERSAL DI KOTA TEGAL. 4.1 Pendahuluan
4 KONDISI PERIKANAN DEMERSAL DI KOTA TEGAL 4.1 Pendahuluan Secara geografis Kota Tegal terletak pada posisi 06 0 50 LS sampai 06 0 53 LS dan 109 0 08 BT sampai 109 0 10 BT. Kota Tegal merupakan daerah
6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan
6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) oleh nelayan di Kabupaten Kupang tersebar diberbagai lokasi jalur penangkapan.
HASIL TANGKAPAN MINI TRAWL UDANG PADA BERBAGAI PANJANG WARP DAN LAMA TARIKAN
HASIL TANGKAPAN MINI TRAWL UDANG PADA BERBAGAI PANJANG WARP DAN LAMA TARIKAN ABSTRAK Andria Ansri Utama dan Wudianto Peneliti pada Pusat Riset Perikanan Tangkap, Ancol-Jakarta Teregistrasi I tanggal: 20
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) merupakan pelabuhan perikanan tipe B atau kelas II. Pelabuhan ini dirancang untuk melayani kapal perikanan yang
ANALISIS HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE WARING UNTUK PELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN TERI (Stolephorus devisi) DI PERAIRAN WONOKERTO, KABUPATEN PEKALONGAN
ANALISIS HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE WARING UNTUK PELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN TERI (Stolephorus devisi) DI PERAIRAN WONOKERTO, KABUPATEN PEKALONGAN Catch Analyses of Purse Seine Waring for Preservation
PENINGKATAN EFISIENSI PENANGKAPAN PADA MODIFIKASI ALAT TANGKAP BOAT SEINE YANG RAMAH LINGKUNGAN DI KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH
PENINGKATAN EFISIENSI PENANGKAPAN PADA MODIFIKASI ALAT TANGKAP BOAT SEINE YANG RAMAH LINGKUNGAN DI KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH The Efficiency Capture on Friendly Modification Boat Seine in Kendal District,
KERAGAAN DESAIN CANTRANG PADA KAPAL UKURAN < 30 GT DI PANTAI UTARA JAWA TENGAH
KERAGAAN DESAIN CANTRANG PADA KAPAL UKURAN < 30 GT DI PANTAI UTARA JAWA TENGAH (Technical Design of Danish Seine on North Java Waters) Suparman Sasmita 1), Sulaeman Martasuganda 2), Ari Purbayanto 2) 1)
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian penangkapan ikan dengan menggunakan jaring arad yang telah dilakukan di perairan pantai Cirebon, daerah Kecamatan Gebang, Jawa Barat
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karakteristik dan Klasifikasi Usaha Perikanan Tangkap
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karakteristik dan Klasifikasi Usaha Perikanan Tangkap Karakteristik merupakan satu hal yang sangat vital perannya bagi manusia, karena hanya dengan karakteristik kita dapat
KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R
KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R Oleh : Andreas Untung Diananto L 2D 099 399 JURUSAN PERENCANAAN
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN LAUT KABUPATEN KENDAL. Feasibility Study to Fisheries Bussiness in District of Kendal
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN LAUT KABUPATEN KENDAL Feasibility Study to Fisheries Bussiness in District of Kendal Ismail, Indradi 1, Dian Wijayanto 2, Taufik Yulianto 3 dan Suroto 4 Staf Pengajar
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Lokasi Penelitian Cirebon merupakan daerah yang terletak di tepi pantai utara Jawa Barat tepatnya diperbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasi penelitian
MENGAPA PRODUKSI KEPITING RAJUNGAN MENURUN DAN KEBIJAKAN APA YANG PERLU DILAKUKAN MENGANTISIPASINYA. Oleh. Wayan Kantun
MENGAPA PRODUKSI KEPITING RAJUNGAN MENURUN DAN KEBIJAKAN APA YANG PERLU DILAKUKAN MENGANTISIPASINYA. Oleh Wayan Kantun Penurunan produksi kepiting rajungan disebabkan oleh a. Produksi di alam yang sudah
Aspek Biologi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) Sebagai Landasan Pengelolaan Teknologi Penangkapan Ikan di Kabupaten Kendal
Aspek Biologi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) Sebagai Landasan Pengelolaan Teknologi Penangkapan Ikan di Kabupaten Kendal Nadia Adlina 1, *, Herry Boesono 2, Aristi Dian Purnama Fitri 2 1
9.1 Pola pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan demersal yang berkelanjutan di Kota Tegal
9 PEMBAHASAN UMUM Aktivitas perikanan tangkap cenderung mengikuti aturan pengembangan umum (common development pattern), yaitu seiring dengan ditemukannya sumberdaya perikanan, pada awalnya stok sumberdaya
BAB I PENDAHULUAN. negara ini terdiri dari lautan dengan total garis panjang pantainya terpanjang kedua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan/bahari. Dua pertiga luas wilayah negara ini terdiri dari lautan dengan total garis panjang pantainya terpanjang kedua didunia.
1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan wilayah yang memiliki ciri khas kehidupan pesisir dengan segenap potensi baharinya seperti terumbu karang tropis yang terdapat di
6 STATUS PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI WILAYAH PESISIR DAN LAUT CIREBON
6 STATUS PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI WILAYAH PESISIR DAN LAUT CIREBON Pada dasarnya pengelolaan perikanan tangkap bertujuan untuk mewujudkan usaha perikanan tangkap yang berkelanjutan. Untuk itu, laju
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI ALAT TANGKAP ARAD (GENUINE SMALL TRAWL) DAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL TRAWL) DI PPP TAWANG KENDAL
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI ALAT TANGKAP ARAD (GENUINE SMALL TRAWL) DAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL TRAWL) DI PPP TAWANG KENDAL The Technical and Economics Analysis of Genuine Small Trawl and Modified
ANALISIS HASIL TANGKAPAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL BOTTOM TRAWL) DI PERAIRAN PPP TAWANG KENDAL JAWA TENGAH
ANALISIS HASIL TANGKAPAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL BOTTOM TRAWL) DI PERAIRAN PPP TAWANG KENDAL JAWA TENGAH Analysis of Modified Small Bottom Trawl Catch in Fishery Port Beach (PPP) Tawang Kendal
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bahan industri. Salah satu sumberdaya tersebut adalah
ANALISIS FINANSIAL USAHA PENANGKAPAN ONE DAY FISHING DENGAN ALAT TANGKAP MULTIGEAR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAWANG KABUPATEN KENDAL
ANALISIS FINANSIAL USAHA PENANGKAPAN ONE DAY FISHING DENGAN ALAT TANGKAP MULTIGEAR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAWANG KABUPATEN KENDAL Financial Analysis of One Day Fishing Business Using Multigear
MAKALAH PENYULUHAN PERIKANAN PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN PELARANGAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI JUWANA, PATI
MAKALAH PENYULUHAN PERIKANAN PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN PELARANGAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI JUWANA, PATI Oleh : Patric Erico Rakandika Nugroho 26010112140040 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS
EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN
EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN Silka Tria Rezeki 1), Irwandy Syofyan 2), Isnaniah 2) Email : [email protected] 1) Mahasiswa
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Partisipatif Daerah Penangkapan Ikan kurisi dapat ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang dan jaring rampus. Kapal dengan alat tangkap cantrang memiliki
VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA
73 VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA Pengelolaan ekosistem wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kecamatan Kayoa saat ini baru merupakan isu-isu pengelolaan oleh pemerintah daerah, baik
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Indramayu Kabupaten Indramayu secara geografis berada pada 107 52'-108 36' BT dan 6 15'-6 40' LS. Berdasarkan topografinya sebagian besar merupakan
PENGARUH LAMA PENARIKAN PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP CANTRANG TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN BRONDONG.
PENGARUH LAMA PENARIKAN PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP CANTRANG TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN BRONDONG Suwarsih Staf Pengajar PS D3 Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan di laut sifatnya adalah open acces artinya siapa pun
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya perikanan di laut sifatnya adalah open acces artinya siapa pun memiliki hak yang sama untuk mengambil atau mengeksploitasi sumberdaya didalamnya. Nelayan menangkap
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alat Tangkap Cantrang SNI SNI
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alat Tangkap Cantrang Cantrang adalah alat tangkap berbentuk jaring yang apabila dilihat dari bentuknya menyerupai alat tangkap payang, tetapi ukuran di tiap bagiannya lebih kecil.
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan Pengembangan merupakan suatu istilah yang berarti suatu usaha perubahan dari suatu yang nilai kurang kepada sesuatu yang nilai baik. Menurut
ABSTRACT 1. PENDAHULUAN 2. METODOLOGI
Potensi Lestari Sumberdaya Ikan Demersal (Analisis Hasil Tangkapan Cantrang yang Didaratkan di TPI Wedung Demak) Rochmah Tri Cahyani 1,*, Sutrisno Anggoro 2 dan Bambang Yulianto 2 1 Mahasiswa Magister
V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI
V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI Perairan Selat Bali merupakan perairan yang menghubungkan Laut Flores dan Selat Madura di Utara dan Samudera Hindia di Selatan. Mulut selat sebelah Utara sangat sempit
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DOGOL DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) UJUNG BATU JEPARA
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DOGOL DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) UJUNG BATU JEPARA Finansial Feasibility Study of Danish Seine Fishing in Fish Landing Center Ujung Batu Melina
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) dan berdasarkan habitatnya di laut secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
II. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Saskia (1996), yang menganalisis
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Saskia (1996), yang menganalisis masalah Kemiskinan dan Ketimpangan pendapatan nelayan di Kelurahan Bagan Deli dan
1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah teritorial Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir dan laut kaya akan sumber daya alam. Sumber daya alam ini berpotensi untuk dimanfaatkan bagi
PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN
PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN Hadiah Witarani Puspa 1), T. Ersti Yulika Sari 2), Irwandy Syofyan 2) Email : [email protected]
Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan
Fishing Methods: Gillnetting By. Ledhyane Ika Harlyan Tujuan Instruksional Khusus (Semoga) Mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan macam-macam gillnet 2. Teknis tertangkapnya ikan dengan menggunakan gillnet 3.
ANALISIS PERBEDAAN KEDALAMAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN TERHADAP KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP CANTRANG
ANALISIS PERBEDAAN KEDALAMAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN TERHADAP KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP CANTRANG (Boat Seine) DI PERAIRAN REMBANG Fishing Area Depth Analysis of Differences to the Composition
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang kompleks, unik dan indah serta mempunyai fungsi biologi, ekologi dan ekonomi. Dari fungsi-fungsi tersebut,
SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan subsektor perikanan tangkap semakin penting dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS, kontribusi sektor perikanan dalam PDB kelompok pertanian tahun
PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA)
Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 3, No. 2, November 2012 Hal: 135-140 PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA) Tuna Lingline Fisheries Productivity in Benoa
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang dan asosiasi biota penghuninya secara biologi, sosial ekonomi, keilmuan dan keindahan, nilainya telah diakui secara luas (Smith 1978; Salm & Kenchington
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perikanan Tangkap di Cirebon Armada penangkapan ikan di kota Cirebon terdiri dari motor tempel dan kapal motor. Jumlah armada penangkapan ikan dikota Cirebon
Efektifitas Modifikasi Rumpon Cumi sebagai Media Penempelan Telur Cumi Bangka (Loligo chinensis)
EFEKTIFITAS MODIFIKASI RUMPON CUMI SEBAGAI MEDIA PENEMPELAN TELUR CUMI BANGKA (Loligo Effectiveness of Squid Modification As a Media of Attachment Squid Eggs Bangka Indra Ambalika Syari 1) 1) Staff Pengajar
Pengumunan terkait revisi Dosen Pengampu dan Materi DPI
Pengumunan terkait revisi Dosen Pengampu dan Materi DPI Dosen Pengampu: RIN, ASEP, DIAN, MUTA Revisi pada pertemuan ke 13-15 Sehubungan dgn MK Indraja yg dihapus. Terkait hal tersebut, silakan disesuaikan
SISTEM PENGELOLAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN (Fishing Ground System) DR. Mustaruddin
SISTEM PENGELOLAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN (Fishing Ground System) DR. Mustaruddin Fishing Ground /Daerah Penangkapan Ikan (DPI) adalah wilayah perairan, di mana alat tangkap dapat dioperasikan secara
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung sumber daya ikan yang sangat banyak dari segi keanekaragaman jenisnya dan sangat tinggi dari
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Selat Sunda secara geografis menghubungkan Laut Jawa serta Selat Karimata di bagian utara dengan Samudera Hindia di bagian selatan. Topografi perairan ini secara
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Berdasarkan data PBB pada tahun 2008, Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 95.181 km, serta
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengembangan usaha penangkapan 5.1.1 Penentuan Komoditas Ikan Unggulan Analisis pemusatan ini dilakukan dengan metode location quotient (LQ). Dengan analisis ini dapat ditentukan
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Analisis Komparasi
6 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Komparasi Kabupaten Klungkung, kecamatan Nusa Penida terdapat 16 desa yang mempunyai potensi baik sekali untuk dikembangkan, terutama nusa Lembongan dan Jungutbatu. Kabupaten
SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi
Gambar 6 Peta lokasi penelitian.
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan dimulai dengan penyusunan proposal dan penelusuran literatur mengenai objek penelitian cantrang di Pulau Jawa dari
Sistem = kesatuan interaksi diantara elemen terkait untuk mencapai suatu tujuan
SISTEM DPI SISTEM FISHING GROUNG /Sistem DPI DR. Ir. Mustaruddin Fishing Ground /Daerah Penangkapan Ikan (DPI) adalah wilayah perairan, di mana alat tangkap dapat dioperasikan secara sempurna untuk mengeksploitasi
Aspek Biologi Hiu Yang Didaratkan di PPN Brondong Jawa Timur
Aspek Biologi Hiu Yang Didaratkan di PPN Brondong Jawa Timur Eko Setyobudi 1, Suadi 1, Dwi Ariyogagautama 2, Faizal Rachman 1, Djumanto 1, Ranny Ramadhani Yuneni 2, Jhony Susiono 3, Galen Rahardian 3 1)
Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.)
Penangkapan Tuna dan... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.) PENANGKAPAN TUNA DAN CAKALANG DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR (HAND LINE) YANG BERBASIS DI PANGKALAN PENDARATAN
FISHING GROUNG /Sistem DPI
SISTEM FISHING GROUNG /Sistem DPI DR. Ir. Mustaruddin Fishing Ground /Daerah Penangkapan Ikan (DPI) adalah wilayah perairan, di mana alat tangkap dapat dioperasikan secara sempurna untuk mengeksploitasi
BULETIN PSP ISSN: X Volume XIX No. 1 Edisi April 2011 Hal
BULETIN PSP ISSN: 0251-286X Volume XIX No. 1 Edisi April 2011 Hal 97-104 KAJIAN TEKNIS PENGOPERASIAN CANTRANG DI PERAIRAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR (Technical Analysis on The Operation of
Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan
Fishing Methods: Gillnetting By. Ledhyane Ika Harlyan Tujuan Instruksional Khusus (Semoga) Mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan macam-macam gillnet 2. Teknis tertangkapnya ikan dengan menggunakan gillnet 3.
PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA
Pengaruh Lampu terhadap Hasil Tangkapan... Pemalang dan Sekitarnya (Nurdin, E.) PENGARUH JUMLAH LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN PEMALANG DAN SEKITARNYA Erfind Nurdin Peneliti
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari belasan ribu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari belasan ribu pulau. Kenyataan ini memungkinkan timbulnya struktur kehidupan perairan yang memunculkan
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu ( Traps
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu (Traps) Bubu merupakan alat penangkapan ikan yang pasif (pasif gear). Alat tangkap ini memanfaatkan tingkah laku ikan yang mencari tempat persembunyian maupun
ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN NELAYAN GILLNET KAPAL MOTOR DAN MOTOR TEMPEL DI PPP TEGALSARI, KOTA TEGAL
ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN NELAYAN GILLNET KAPAL MOTOR DAN MOTOR TEMPEL DI PPP TEGALSARI, KOTA TEGAL Revenue and The Revenue s Factors Effect Analysis of Gillnetters
4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
35 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kota Jakarta Utara 4.1.1 Letak geografis dan topografi Jakarta Utara Muara Angke berada di wilayah Jakarta Utara. Wilayah DKI Jakarta terbagi menjadi
4.2 Keadaan Umum Perikanan Tangkap Kabupaten Lamongan
23 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografi dan Topografi Kecamatan Brondong merupakan daerah yang terletak di tepi pantai utara Jawa Timur. Brondong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lamongan,
POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU, INDONESIA
Prosiding Seminar Antarabangsa Ke 8: Ekologi, Habitat Manusia dan Perubahan Persekitaran 2015 7 POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan tangkap memiliki peran penting dalam penyediaan pangan, kesempatan kerja, perdagangan dan kesejahteraan serta rekreasi bagi sebagian penduduk Indonesia (Noviyanti
4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN
4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN 4.1 Kondisi Alat Tangkap dan Armada Penangkapan Ikan merupakan komoditas penting bagi sebagian besar penduduk Asia, termasuk Indonesia karena alasan budaya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perikanan Tangkap Perikanan adalah semua usaha penangkapan budidaya ikan dan kegiatan pengelolaan hingga pemasaran hasilnya Mubiyarto (1994) dalam Zubair dan Yasin (2011). Sedangkan
4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN
26 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Lamongan merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Timur. Secara astronomis Kabupaten Lamongan terletak pada posisi 6 51 54 sampai dengan
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE 9 GT DAN 16 GT DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) MORODEMAK, DEMAK
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE 9 GT DAN 16 GT DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) MORODEMAK, DEMAK Mini Purse Seiner s Revenue Analysis Used 9 GT and 16 GT in Coastal Fishing
Status Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI 571) Laut Andaman dan Selat Malaka 1
Status Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI 571) Laut Andaman dan Selat Malaka 1 Oleh: Yudi Wahyudin 2 Abstrak Wilayah Pengelolaan Perikanan Repubik Indonesia (WPP RI)
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Kawasan pesisir merupakan ekosistem yang kompleks dan mempunyai nilai sumberdaya alam yang tinggi.
ELASTISITAS PRODUKSI PERIKANAN TANGKAP KOTA TEGAL PRODUCTION ELASTICITY OF TEGAL MARINE CATCHING FISHERIES
ELASTISITAS PRODUKSI PERIKANAN TANGKAP KOTA TEGAL PRODUCTION ELASTICITY OF TEGAL MARINE CATCHING FISHERIES Suharso 1), Azis Nur Bambang 2), Asriyanto 2) ABSTRAK Dari tahun 1999 2003 pelaksanaan program
STUDI KOMPARATIF USAHA ALAT TANGKAP BUBU KARANG
STUDI KOMPARATIF USAHA ALAT TANGKAP BUBU KARANG SISTEM KEPEMILIKAN SENDIRI DAN SISTEM BAGI HASIL DI KECAMATAN BINTAN TIMUR KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU Ilham Rhamadhan 1), Hendrik 2),Lamun
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
ANALISIS POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN KABUPATEN KENDAL Potency Analysis and Utilization Rate of Demersal Fish Resource in Kendal Regency Ferry Sandria 1 Aristi Dian
BAB I PENDAHULUAN. Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah Ar-Ruum ayat 41, bahwa Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi
BAB I PENDAHULUAN. Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah Ar-Ruum ayat 41, bahwa Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
MAKALAH ALAT TANGKAP DRIVE IN NETS
MAKALAH ALAT TANGKAP DRIVE IN NETS Disusun oleh: Gigih Aji Winata 26010211140081 Yuliana Khasanah 26010215120010 Selvia Marantika 26010215120030 Amalina Kirana Putri 26010215140058 Muhammad Yasin Fadlilah
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Perikanan adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau budidaya ikan atau binatang air lainnya serta
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia telah melakukan kegiatan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sejak jaman prasejarah. Sumberdaya perikanan terutama yang ada di laut merupakan
PENGARUH KEDALAMAN DAN SUHU MENGGUNAKAN FISH FINDER TERHADAP HASIL TANGKAPAN ARAD (SMALL BOTTOM TRAWL) DI PERAIRAN REMBANG
PENGARUH KEDALAMAN DAN SUHU MENGGUNAKAN FISH FINDER TERHADAP HASIL TANGKAPAN ARAD (SMALL BOTTOM TRAWL) DI PERAIRAN REMBANG Depth and Temperature Effect in the Fish Finder of Arad (Small Bottom Trawl) Catch
