Jom FTEKNIK Volume 5 No. 1 April 2018
|
|
|
- Liana Tanuwidjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS INDEKS KEKERINGAN LAHAN GAMBUT MENGGUNAKAN DATA HUJAN TRMM DI KABUPATEN SIAK Ade Mustika Martin (), Sigit Sutikno (2), Siswanto (2) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau ) Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau 2) Kampus Bina Widya Jl. HR. Soebrantas Km. 2,5 Simpang Baru Pekanbaru, Kode Pos [email protected] ABSTRACT A drought occurs when there is a lack of precipitation over an extended period of time, usually a season or more, resulting in a water shortage. BNPB, National Disaster Mitigation Regency has issued a drought disaster risk index map in Riau province which has a moderate and high level of drought risk. Siak regency is one that is experiencing the risk of drought in riau province. Therefore, drought index analysis using rainfall data from TRMM satellite (Tropical Rainfall Measuring Mission) was analyzed using Standardized Precipitation Index () method. Drought deployment and hotspot calculations in maps in GIS (Geographic Information System). A half month period on grid 5 with a value of (-4.589) and a month on grid 4 with value (-3,863) in February 24 is the most severe dry category classification. The association of fires affected by the meteorological drought index affected the a half month period due to the presence of more fires. However, not only the meteorological drought index affects fires, but can be caused by soil types, land cover and over land conversion. Keywords: drought, drought index,, TRMM, GIS A. PENDAHULUAN Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya kejadian ini muncul bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi), transpirasi, ataupun penggunaan lain oleh manusia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengeluarkan peta indeks resiko bencana kekeringan (drought disaster risk index map) di Riau. Peta tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah di Riau memiliki tingkat resiko kekeringan yang sedang dan tinggi (Fitriani, Harisuseno, Andawayanti, & Andawayanti). Kekeringan dapat dikategorikan menjadi 4 jenis kekeringan yaitu kekeringan meteorologis, kekeringan hidrologis, kekeringan pertanian, dan kekeringan sosial ekonomi. Banyak faktor yang mempengaruhi terhadap terjadinya kekeringan, baik itu dari faktor lokal, regional maupun global. Pada penelitian ini yang di kaji adalah kekeringan meteorologis. Menurut Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (27), kekeringan meteorologis merupakan kekeringan yang berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim, akibatnya kelembaban tanah dan jumlah air yang tersimpan lebih rendah di bandingkan dengan kondisi normal. Kondisi kekeringan bisa menjadi parah apabila tinggi curah hujan yang terjadi berkurang ditambah dengan frekuensinya yang semakin jarang (Mujtahiddin, 24). Menekan ancaman kekeringan perlu dilakukan pemahaman terhadap karakteristik iklim di suatu lokasi dengan baik. Pemahaman karakteristik iklim tersebut dapat dimulai dengan analisis sifat fisik yang mewakili kondisi iklim dan kekeringan yang menyebabkan wilayah tersebut sulit mendapatkan air serta
2 terjadi kesulitan pemadaman kebakaran hutan gambut pada musim kemarau tiba akibat pemanasan global. Penyebab lainnya kebakaran lahan disebabkan oleh manusia yang menggunakan api dalam upaya pembukaan hutan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan, dan pertanian. Dengan adanya kejadian kekeringan namun dengan waktu awal kekeringan yang tidak tetap di Kabupaten Siak, maka perlu dilakukan analisis indeks kekeringan untuk mengetahui tingkat dan durasi kekeringannya sehingga bisa dijadikan sebagai peringatan awal akan adanya kekeringan yang lebih jauh agar dampak dari kekeringan dapat dikurangi. Standardized Precipitation Index () adalah salah satu cara dalam menganalisis indeks kekeringan pada suatu daerah, dan kemudian di petakan dengan Geographic Information System (GIS) untuk mengetahui penyebaran dari bencana kekeringan yang terjadi. Untuk mendapatkan data curah hujan maka pada penelitian ini menggunakan data hujan dari satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Data hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) memiliki data yang cakupan wilayahnya lebih luas daripada data stasiun hujan di lapangan sehingga data yang digunakan lebih akurat. B. TINJAUAN PUSTAKA. Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan (slow-onset disaster), berdampak sangat luas dan bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain). Kekeringan merupakan fenomena alam yang tidak dapat dielakkan dan merupakan variasi normal dari cuaca yang perlu dipahami. Pengertian kekeringan dapat diklasifikasikan lebih spesifik sebagai berikut: a. Kekeringan Meteorologis Kekeringan ini berkaitan dengan tingkat curah hujan yang terjadi berada dibawah kondisi normalnya pada suatu musim. Perhitungan tingkat kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama terjadinya kondisi kekeringan. b. Kekeringan Hidrologi Merupakan Kekurangan pasokan air permukaaan atau air tanah dalam bentuk air di danau dan waduk, aliran sungai, dan muka air tanahkekeringan ini terjadi berhubung dengan berkurangnya pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan hidrologis diukur dari ketinggian muka air sungai, waduk, danau, dan air tanah. Ada jarak waktu antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya ketinggian muka air sungai, danau dan air tanah, sehingga kekeringan hidrologis bukan merupakan gejala awal terjadinya kekeringan c. Kekeringan Pertanian Kekeringan pertanian berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas tanah) sehingga tak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu. Kekeringan ini terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis. d. Kekeringan Sosial Ekonomi Kekeringan Sosial Ekonomi berhubungan dengan berkurangnya pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal sebagai akibat dari terjadinya kekeringan meteorologis, pertanian dan hidrologis. 2. Lahan Gambut Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik. Bahan organik penyusun tanah gambut ini terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang telah mati yang sudah lapuk. Berkaitan dengan hal tersebut maka lahan gambut banyak dijumpai di daerah dataran banjir, rawa belakang (back swamp), danau dangkal atau daerah cekungan yang drainasenya buruk. Proses tersebut memperlihatkan bahwa tanggul sungai, rawa belakang dan kubah gambut berinteraksi secara dinamis membentuk ekosistem gambut, dimana lingkungan biofisik, unsur kimia dan 2
3 organisme saling mempengaruhi membentuk keseimbangan. Dari aspek hidrologi, ekosistem gambut ini secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan hidrologi yang utuh. Adanya gangguan pada salah satu subsistem, misalnya perubahan penggunaan lahan pada daerah kubah, akan memberikan dampak pada subsistem lainnya, diantaranya adalah berubahnya fluktuasi debit air musiman, meningkatnya debit puncak, serta meningkatnya intensitas banjir dan kekeringan. 3. Kebakaran Lahan Kebakaran pada lahan gambut merupakan fenomena yang selalu terjadi setiap tahun di Indonesia. Secara umum kebakaran lahan gambut terjadi secara periodik yaitu pada akhir musim kemarau atau menjelang datangnya musim hujan. Kebakaran lahan gambut menimbulkan kerusakan fisik secara langsung pada gambut. Hal ini dapat meningkatkan peluang terjadinya bencana alam banjir pada musim hujan dan penurunan kesuburan lahan gambut itu sendiri serta kekeringan saat musim kemarau. Kebakaran yang terjadi pada lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena menjalar di bawah permukaan. Bara yang nampaknya sudah padam masih dapat merayap di bawah permukaan dan dapat menimbulkan kebakaran baru di tempat lain. Bara yang terdapat pada lahan gambut biasanya hanya padam apabila turun hujan lebat, oleh sebab itu kebakaran pada lahan gambut harus dicegah. Seluruh kebakaran hutan gambut di Sumatera dan di daerah gambut lainnya di Indonesia, umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia (Nicolas dan Bowen, 999). Kejadian kebakaran tersebut didukung oleh kondisi iklim berupa kemarau panjang yang mengakibatkan keringnya tanah gambut, karena pada kondisi normal tanah gambut selalu basah dan tergenang air. 4. Metode Analisa Kekeringan Menurut Muliawan et al, (22), kekeringan meteorologis merupakan indikasi awal dalam terjadinya kekeringan, sehingga perlu dilakukan analisa untuk mengetahui tingkat kekeringan yang terjadi. Adapun macam-macam analisa indeks kekeringan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:. Percent of Normal 2. Reclamation Drought Indeks (RDI) 3. Crop Moisture Index (CMI) 4. Standardized Precipitation Index () 5. Palmer Drought Severity Index 6. Theory of Run 5. Metode Standardized Precipitation Index () Standardized Precipitation Index () adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang. Metode Standardized Precipitation Index () merupakan metode yang dikembangkan oleh McKee pada tahun 993. Kriteria nilai indeks kekeringan metode diklasifikasikan dalam tabel seperti berikut: Tabel Klasifikasi kekeringan Klasifikasi 2, basah,5,99 Basah,,49 Agak basah,99 (-,99) Normal -, (-,49) Agak kering -,5 (-,99) (-2,) kering Sumber: McKee, 993 Perhitungan nilai berdasarkan jumlah sebaran gamma didefinisikan sebagai fungsi frekuensi atau atau fungsi probabilitas kepadatan sebagai berikut: G (x) = g (x) dx = x β α T (α) tα e x x β dx () 3
4 dimana: α >, adalah parameter bentuk β >, adalah parameter X >, Jumlah curah hujan Perhitungan meliputi pencocokan fungsi kepadatan probabilitas gamma terhadap distribusi frekuensi dari jumlah curah hujan untuk setiap stasiun. Persamaan untuk mengoptimalisasi estimasi nilai α dan β sebagai berikut: α = x 2 /S 2 (2) Dimana: β = x / α (3) s = (χ χ2 ) n (4) n = Jumlah data pengamatan curah hujan Parameter yang dihasilkan dipergunakan untuk menemukan probabilitas komulatif dari kejadian curah hujan yang diamati untuk setiap bulan dan skala waktu dari tiap stasiun. Probabilitas Komulatif ini dihitung dengan: x x x β (5) G (x) g (x) dx β α T (α) tα e dx. Karena fungsi gamma tidak terdefinisiuntuk x =, maka nilai G(x) menjadi: H (x) = q + ( q) G(x) (6) Dimana: q = Jumlah kejadian hujan = (m) / jumlah data (n) Jika m merupakan jumlah nol dari seluruh data curah hujan, maka q dapat di estimasi dengan m/n. Probabilitas komulatif H(x) tersebut kemudian ditransformasi masikan ke dalam standar normal random variable Z dengan nilai rata-rata dan variasi, nilai yang diproleh Z tersebut merupakan nilai. standar normal random variable Z atau tersebut lebih mudah dengan perhitungan menggunakan aproksimasi dengan persamaan sebagai berikut : Perhitungan Z atau untuk < H(x),5 Z = = ( C + C t + C 2 t 2 + d + d 2 t 2 + d 3 t 3) t = ln (H (x)) 2.. Perhitungan Z atau untuk, 5 < H(x), Z= Z = (t C +C t+ C 2 t 2 + d + d 2 t 2 + d 3 t 3) t = ln (H (x)) 2 Dengan: C = 2,5557 C =,82853 C 2 =,328 d =, d 2 =,89269 d 3 =,38 (7) (8) (9) () 6. Mitigasi Bencana Menurut UU No 24 Tahun 27, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Sedangkan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Salah satu bentuk bencana yang terjadi adalah kebakaran. Kebakaran umumnya terjadi akibat kelalaian dari aktivitas manusia, dan dapat merambat menyebabkan kebakaran besar. Kejadian 4
5 kebakaran juga diasosiasikan dengan tata guna lahan dan pengelolaan lahan, sehingga upaya pengendalian kebakaran harus dihubungkan dengan penyebab utama. Selain memperkuat upaya pemadaman dengan menyediakan peralatan dan organisasi, penting untuk mencegah konversi hutan dan perubahan penggunaan lahan. Selain itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran (Wibowo, 29). 7. Data Hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) merupakan hasil kerjasama dua badan antariksa nasional, yaitu Amerika Serikat (NASA: National Aeronautics and Space Administration) dan Jepang (NASDA: National Space Development of Japan; sekarang berubah menjadi JAXA: (Japan Aerospace Exploration Agency). TRMM dirancang khusus untuk mengukur curah hujan di daerah tropis dan subtropis, serta memberikan informasi tentang ketinggian atmosfer dimana pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan hujan sedang berlangsung. Sebagai satelit yang mengorbit bumi, TRMM memberikan laporan bulanan curah hujan total yang jatuh di suatu daerah. Ada dua misi yang dimiliki oleh satelit TRMM yakni:.untuk mengukur curah hujan dari antariksa, baik itu distribusi horisontalnya maupun profil vertikalnya dan 2. Untuk mengukur curah hujan sepanjang wilayah tropis dimana merupakan wilayah yang hujannya paling banyak. Data hujan yang dihasilkan oleh TRMM memiliki tipe dan bentuk yang cukup beragam yang dimulai dari level sampai level 3. Level merupakan data yang masih dalam bentuk raw dan telah dikalibrasi dan dikoreksi geometrik, Level 2 merupakan data yang telah memiliki gambaran paramater geofisik hujan pada resolusi spasial yang sama akan tetapi masih dalam kondisi asli keadaan hujan saat satelit tersebut melewati daerah yang direkam, sedangkan level 3 merupakan data yang telah memiliki nilai-nilai hujan, khususnya kondisi hujan bulanan yang merupakan penggabungan dari kondisi hujan dari level 2. Untuk mendapatkan data hujan dalam bentuk mili meter (mm) sebaiknya menggunakan level 3, dengan resolusi spasial.25 x.25 dan resolusi temporal setiap 3 jam (M. Djazim, 24). 8. Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografis, atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan Geographic Information System, adalah suatu satuan/unit komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara untuk memasukan, menyimpan,memperbaiki, memperbaharui, mengelola,memanipulasi,mengintegrasika n, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasiberbasis geografis. C. METODE PENELITIAN. Lokasi Penelitian Kabupaten Siak merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau dengan luas 8.556,9 km2. Ibu Kota Kabupaten Siak adalah Siak Sri Indrapura. Secara geografis Kabupaten Siak terletak pada titik koordinat Lintang Selatan dan Bujur Timur. Secara administratif batas wilayah Kabupaten Siak adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara: Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti b. Sebelah Selatan: Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelalawan dan Kota Pekanbaru c. Sebelah Timur: Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Pelalawan dan Kepulauan Meranti d. Sebelah Barat: Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru (Anonim, 24). 5
6 Gambar. Peta wilayah Kabupaten Siak Sumber: Peta Administrasi Kabupaten Siak 2. Studi literatur Studi Literatur dari penelitian ini adalah mencari informasi mengenai penelitian, lalu mencari teori yang berkaitan dengan analisis curah hujan lahan gambut menggunakan data hujan TRMM di Kabupaten Siak seperti kekeringan, kebakaran lahan gambut, indeks kekeringan, metode, mitigasi rencana dan juga sistem informasi geografis. Studi literatur ini bisa dicari di buku-buku, jurnaljurnal, penelitian yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang dibahas dapat menunjang jalannya penelitian. 3. Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data curah hujan yang di dapat dari data hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Data curah hujan dari TRMM di gunakan untuk menganalisis indeks kekeringan di Kabupaten Siak dengan metode Standardized Precipitation Index (). Data titik api ( hotspot ) selama delapan tahun dari tahun 29 sampai dengan tahun 26 di Kabupaten Siak yang kemudian data tersebut di analisis dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) sehingga di dapatkan titik api di daerah tersebut. 4. Data Curah Hujan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) Data curah hujan yang di gunakan pada penelitian ini, di dapatkan dari data satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) versi JAXA. Menganalisis data satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) ini menggunakan perangkat lunak FileZilla. FileZilla atau juga dikenal dengan sebutan FileZilla Client, adalah salah satu software FTP gratis, open source, crossplatform yaitu sebuah perangkat lunak berbasis open source yang biasa digunakan untuk melakukan transfer data dari dan ke akun web hosting. 5. Analisis data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) Menganalisis data hujan dari data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) menggunakan aplikasi command prompt. Sebelum menggunakan aplikasi command prompt, terlebih dahulu menyiapan script TRMM JAXA dan script untuk wilayah Kabupaten Siak. Tahapan selanjutnya adalah merunning data curah hujan yang di dapat kedalam bentuk angka dalam setiap jamnya. 6. Pemetaan Kabupaten Siak Pemetaan Kabupaten Siak di dapatkan dari Peta Rupa Bumi Indonesia di Kabupaten Siak dengan kode 45. Tahapan digitasi tidak dilakukan karena peta Kabupaten Siak sudah tersedia. Langkah selanjutnya pembagian grid Kabupaten siak mempunyai ukuran,4,4. Pemetaan Kabupaten Siak di perangkat lunak ArcMap dengan memilih menu ArcToolbox > Data Management Tools > Feature Class > Create Fishnet, kemudian di dapatkan pembagian grid. 7. Data Titik Api (Hotspot) Hotspot merupakan suatu area yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya yang dapat deteksi oleh satelit. Pada penelitian ini data hotspot di dapat dari dari 6
7 Jan-9 Apr-9 Jul-9 Oct-9 Jan- Apr- Jul- Oct- Jan- Apr- Jul- Oct- Jan-2 Apr-2 Jul-2 Oct-2 Jan-3 Apr-3 Jul-3 Oct-3 Jan-4 Apr-4 Jul-4 Oct-4 Jan-5 Apr-5 Jul-5 Oct-5 Jan-6 Apr-6 Jul-6 Oct-6 Jan-9 Apr-9 Jul-9 Oct-9 Jan- Apr- Jul- Oct- Jan- Apr- Jul- Oct- Jan-2 Apr-2 Jul-2 Oct-2 Jan-3 Apr-3 Jul-3 Oct-3 Jan-4 Apr-4 Jul-4 Oct-4 Jan-5 Apr-5 Jul-5 Oct-5 Jan-6 Apr-6 Jul-6 Oct-6 Data hotspots/titik panas yang sudah ada, akan dibagi setiap grid dengan menggunakan perangkat lunak ArcMap. Jumlah titik panas kemudian dihitung menurut periode waktu 5 harian dan bulanan. D. HASIL DAN PEMBAHASAN. Menghitung Indeks Kekeringan Tahun Menggunakan Metode Standardized Precipitation Index () adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam suatu periode waktu yang panjang. (Standardized Prespitation Indeks) dihitung menggunakan metode probabilitas distribusi gamma. Mendapatkan indeks kekeringan dengan menggunakan data curah hujan 5 harian dan bulanan pada tahun Analisis indeks kekeringan metode dengan hotspot Berikut grafik hasil perhitungan indeks kekeringan metode periode 5 harian dan bulanan. Hotspot Basah Basah Agak Basah Normal Agak Hotspot Gambar 2. dan Hotspot pada grid 4 Kabupaten Siak 5 harian Hotspot Basah Basah Agak Basah Normal Agak Hotspot Gambar 3. dan Hotspot pada grid 4 Kabupaten Siak bulanan Berdasarkan Gambar 2 dan 3 menunjukkan bahwa nilai dan Hotspot grid 4 periode 5 harian dan bulanan di Kabupaten Siak dimana perhitungan indeks kekeringan pada tahun memiliki klasifikasi indeks kekeringan kategori basah sampai sangat kering. Tahun 23 kondisi agak kering dan kering memiliki titik api yang menandakan adanya potensi kebakaran pada periode 5 harian bulan Juni sampai Agustus sehingga, menunjukkan bahwa kejadian kebakaran di deteksi dari kategori agak kering, kering dan sangat kering. Pada tahun 24 di bulan Februari sampai bulan Maret periode 5 harian dan bulanan memiliki jumlah titik api terbanyak dibandingkan bulan dan tahun sebelumnya serta klasifikasi indeks 7
8 kekeringannya kategori sangat kering. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah titik api dipengaruhi oleh kekeringan meteorologis. Namun jumlah titik api tidak hanya dipengaruhi oleh kekeringan meterologis saja akan tetapi di pengaruhi oleh hal lain. Ini di tunjukkan dari klasifikasi indeks kekeringan kategori basah dan normal yang memiliki titik api. Selain Indeks kekeringan meteorologis jenis tanah menjadi salah satu penyebab potensi kebakaran terjadi di kabupaten siak. Diketahui bahwa sebagian besar wilayah siak merupakan lahan gambut dengan luas sekitar Ha. Alih fungsi lahan gambut yang berlebihan juga mempengaruhi terjadinya potensi kebakaran di kabupaten siak terutama pada musim kemarau. Wilayah tutupan lahan memiliki potensi kebakaran yang lebih banyak di banding wilayah lain karena merupakan wilayah perhutanan sehingga mempengaruhi jumlah titik apinya. Berikut tabel 2 dan 3 berikut ini: Tabel 2. Indeks kekeringan dan hotspot 5 harian di Kabupaten Siak Grid Bulan Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Tingkat Agak Agak Titik Api Tabel 2. Indeks kekeringan dan hotspot 5 harian di Kabupaten Siak (Lanjutan) Grid Bulan 6 Feb Tingkat Titik Api 29 Feb Feb Feb Feb Feb Feb Tabel 2. Indeks kekeringan dan hotspot bulanan di Kabupaten Siak Grid Bulan Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Feb Tingkat Titik Api Pemetaan Sebaran Indeks Kekeringan Peta indeks kekeringan tahun 24 menunjukkan bahwa curah hujan mempengaruhi nilai indeks kekeringan dimana semakin besar curah hujan semakin besar nilai. Indeks kekeringan di Kabupaten Siak memiliki klasifikasi yang sebagian berbeda pada setiap bulannya. Indeks kekeringan yang memiliki klasifikasi normal dengan perhitungan metode lebih dominan. Pemetaan menunjukkan bahwa pada tahun 24 di bulan Januari, Juni, Juli, Oktober, November memiliki indeks kekeringan kategori normal di setiap gridnya. Bulan Februari memiliki indeks kekeringan kategori 8
9 sangat kering di setiap gridnya yang merupakan kekeringan terparah tahun 24. Bulan Maret, Mei, September memiliki indeks kekeringan kategori normal dan agak kering. Pada bulan April memiliki indeks kekeringan kategori basah, agak basah serta normal. Pada bulan Agustus dan Desember memiliki indeks kekeringan kategori agak basah dan normal yang dapat dilihat pada gambar 4 sebagai berikut. banyak. Potensi kekeringan meteorologis yang terjadi memungkinkan terjadinya kebakaran dan juga tidak. Hal ini dikarenakan potensi kejadian kebakaran tidak hanya dipengaruhi oleh kekeringan meteorologis tetapi bisa disebabkan oleh hal lain seperti tutupan lahan, jenis tanah dan alih fungsi lahan yang berlebihan. F. DAFTAR PUSTAKA Afdeni, S. (27). Ananlisis Indeks Kekeringan Meteorologis dan Hubungannya dengan Sebaran Kejadian Kebakaran Lahan Gambut di Pulau Bengkalis. Pekanbaru: Fakultas Teknik Universitas Riau. Keterangan: Basah Agak Basah Normal Agak Gambar 4 Indeks kekeringan tahun 24 di Kabupaten Siak E. KESIMPULAN Berdasarkan analisis indeks kekeringan dengan metode di Kabupaten Siak tahun periode 5 harian dan bulanan memiliki klasifikasi kekeringan kategori basah sampai sangat kering untuk 9 grid. Klasifikasi indeks kekeringan dengan kategori sangat kering terparah untuk periode 5 harian dan bulanan terjadi pada bulan Februari tahun 24. Diketahui pada tahun tersebut terjadi kebakaran hutan di provinsi Riau salah satunya di wilayah Kabupaten Siak. Pada klasifikasi indeks kekeringan kategori agak kering dan kering sudah dapat di deteksi adanya potensi kebakaran karena memiliki titik api. Hubungan kejadian kebakaran yang dipengaruhi oleh indeks kekeringan meteorologis berpengaruh pada periode 5 harian karena memiliki kejadian kebakaran yang lebih Anonim. (24). Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Djazim, M. Syaifullah. (24). Validasi Data TRMM Terhadap Data Curah Hujan Aktual di Tiga Das di Indonesia. Jakarta: UPT Hujan Buatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Febri, H. (27). Ananlisis Kekeringan untuk Mitigasi Bencana Kebakaran Lahan Gambut Menggunakan Data Satelit Berbasis Sistem Informasi Geografis. Pekanbaru: Fakultas Teknik Universitas Riau. Fitriani, L., Harisuseno, D., Andawayanti, & Andawayanti, U. Penerapan Metode Theory Run untuk Perhitungan Kekeringan pada DAS Rokan Provinsi Riau. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. McKee, T., Doesken, N., &Kleist, J. (993). The relationship of drought frequency and duration to time scales. Procedings of the 8 th Conference on Mujtahiddin, M. I. (24). AnalisisKekeringan Kabupaten 9
10 Indramayu. Bandung: Stasiun Geofisika Bandung. Muliawan, H., Harisuseno, D., & Suhartanto, E. Ananlisa Indeks Kekeringan dengan Menggunakan Metode Standarized Prescipitation Index () dan Sebaran Kekeringan dengan Geographic Information System (GIS) pada DAS Ngrowo. Jurusan Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. NASDA. (2). TRMM Data Users Handbook. Earth Observation Center, National Space Development Agency of Japan. Nasional, L. P. (26). Panduan Teknis (V.) Informasi Titik Panas (Hotspot) Kebakaran Hutan atau Lahan. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN. Nicolas, M.V.J. dan M.R. Bowen. (999). A Field-Level Approach to Coastal Peat and Coal-Seam Fires in South Sumatra Province, Indonesia. Forest Fire Prevention and Control Project, European Union dan Dephutbun. Palembang Perdana, M. A. (27). Evaluasi Peningkatan Curah Hujan untuk Mitigasi Bencana Kebakaran Lahan Gambut dengan Teknologi Modifikasi Cuaca di Provinsi Riau. Pekanbaru: Fakultas Teknik Universitas Riau. Suciarti. Sistem Informasi Tingkat Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan dengan Menggunakan Weather Indekx (FWI) dan SIG Arcview. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Undang-Undang Republik Indonesia tentang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 27. (27). Indonesia: Presiden Republik Indonesia. Wanisakdiah, S. (27). Analisis Indeks Kekeringan Lahan Gambut Pulau Tebing Tinggi Provinsi Riau Menggunakan Data Satelit Tropical Rainfall Mission (TRMM). Pekanbaru: Fakultas Teknik Universitas Riau. Wibowo, A. (29). Peran Lahan Gambut dalam Perubahan Iklim Global. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.
INDEKS KEKERINGAN PROVINSI RIAU MENGGUNAKAN TEORI RUN BERBASIS DATA SATELIT
INDEKS KEKERINGAN PROVINSI RIAU MENGGUNAKAN TEORI RUN BERBASIS DATA SATELIT Barcha Yolandha Sharie (1), Manyuk Fauzi (2), Rinaldi (2) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau 1)
ANALISIS INDEKS KEKERINGAN METEOROLOGIS LAHAN GAMBUT DI PULAU BENGKALIS
ANALISIS INDEKS KEKERINGAN METEOROLOGIS LAHAN GAMBUT DI PULAU BENGKALIS Sinta Afdeni ), Sigit Sutikno 2), Yohanna Lilis Handayani 2) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau )
ANALISA INDEKS KEKERINGAN DENGAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI)
ANALISA INDEKS KEKERINGAN DENGAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN SEBARAN KEKERINGAN DENGAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) PADA DAS NGROWO Hadi Muliawan 1, Donny Harisuseno 2, Ery
ANALISIS INDEKS KEKERINGAN MENGGUNAKAN TEORI RUN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI PALAMBAYAN. ABSTRACT
ANALISIS INDEKS KEKERINGAN MENGGUNAKAN TEORI RUN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI PALAMBAYAN Wiliya 1, Manyuk Fauzi 2, Sigit Sutikno 2 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau 2) Dosen
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
16 5.1 Hasil 5.1.1 Pola curah hujan di Riau BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Data curah hujan bulanan dari tahun 2000 sampai dengan 2009 menunjukkan bahwa curah hujan di Riau menunjukkan pola yang sama dengan
ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN SUKOHARJO MENGGUNAKAN METODE SPI (STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX)
ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN SUKOHARJO MENGGUNAKAN METODE SPI (STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX) Rahmanita Lestari, Nurul Hidayah, dan Ambar Asmoro Fakultas Geografi UMS E-mail: [email protected]
IDENTIFIKASI PERUBAHAN DISTRIBUSI CURAH HUJAN DI INDONESIA AKIBAT DARI PENGARUH PERUBAHAN IKLIM GLOBAL
IDENTIFIKASI PERUBAHAN DISTRIBUSI CURAH HUJAN DI INDONESIA AKIBAT DARI PENGARUH PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Krismianto Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Jl.
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan penggunaan lahan akhir-akhir ini semakin mengalami peningkatan. Kecenderungan peningkatan penggunaan lahan dalam sektor permukiman dan industri mengakibatkan
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan gambut merupakan salah satu tipe ekosistem yang memiliki kemampuan menyimpan lebih dari 30 persen karbon terestrial, memainkan peran penting dalam siklus hidrologi serta
KARAKTERISTIK HUJAN JAM-JAMAN BERDASARKAN DATA SATELIT TRMM JAXA KABUPATEN PELALAWAN
KARAKTERISTIK HUJAN JAM-JAMAN BERDASARKAN DATA SATELIT TRMM JAXA KABUPATEN PELALAWAN Gina Khusnul Khotimah ), Yohanna Lilis Handayani ), Manyuk Fauzi ) ) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
ANALISA SEBARAN KEKERINGAN DENGAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) PADA SUB DAS NGASINAN HILIR JURNAL ILMIAH
ANALISA SEBARAN KEKERINGAN DENGAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) PADA SUB DAS NGASINAN HILIR JURNAL ILMIAH TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN DAN PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Diajukan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebakaran hutan (wildfire/forest fire) merupakan kondisi dimana keadaan api menjadi tidak terkontrol dalam vegetasi yang mudah terbakar di daerah pedesaan atau daerah
BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
22 BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1 Luas dan Lokasi Wilayah Merang Peat Dome Forest (MPDF) memiliki luas sekitar 150.000 ha yang terletak dalam kawasan Hutan Produksi (HP) Lalan di Kecamatan
PERBANDINGAN METODE DECILES INDEX
PERBANDINGAN METODE DECILES INDEX (DI) DAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) UNTUK MENENTUKAN INDEKS KEKERINGAN PADA SUB DAS SLAHUNG KABUPATEN PONOROGO Nadia Nurita Mautiadewi 1, Ery Suhartanto
USULAN PENELITIAN MANDIRI TAHUN ANGGARAN 2015
1 USULAN PENELITIAN MANDIRI TAHUN ANGGARAN 2015 INTENSITAS KEKERINGAN DI WILAYAH KABUPATEN BENGKULU UTARA Oleh : Drs. Nofirman, MT FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS Prof. Dr. HAZAIRIN,
HASIL DAN PEMBAHASAN
7 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum dan Distribusi Titik Panas (hotspot)provinsi Jambi Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0 o 45-2 o 45 LS dan 101 o 104 o 55 BT, terletak di tengah Pulau Sumatera
ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN METODE THEORY OF RUN PADA SUB DAS NGROWO JURNAL
ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN METODE THEORY OF RUN PADA SUB DAS NGROWO JURNAL Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Disusun oleh : ADYANSAH PRATAMA NIM. 0910640020-64
PENGARUH FENOMENA GLOBAL DIPOLE MODE POSITIF DAN EL NINO TERHADAP KEKERINGAN DI PROVINSI BALI
PENGARUH FENOMENA GLOBAL DIPOLE MODE POSITIF DAN EL NINO TERHADAP KEKERINGAN DI PROVINSI BALI Maulani Septiadi 1, Munawar Ali 2 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Tangerang Selatan
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada koordinat antara sekitar 0 42'30" - 1 28'0" LU dan 102 12'0" - 103 10'0" BT, dan terletak
BENTUK DISTRIBUSI HUJAN JAM JAMAN KABUPATEN KAMPAR BERDASARKAN DATA SATELIT
BENTUK DISTRIBUSI HUJAN JAM JAMAN KABUPATEN KAMPAR BERDASARKAN DATA SATELIT Thessalonika (1), Yohanna Lilis Handayani (2) Manyuk Fauzi (2) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Sebaran Hotspot Tahunan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi kebakaran hutan dan lahan yang tinggi di Provinsi Riau dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: penggunaan api, iklim, dan perubahan tata guna
PENDAHULUAN. wilayah Sumatera dan Kalimantan. Puncak jumlah hotspot dan kebakaran hutan
PENDAHULUAN Latar Belakang Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Puncak jumlah hotspot dan kebakaran hutan dan lahan pada periode 5 tahun
PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Curah hujan merupakan salah satu parameter atmosfer yang sulit untuk diprediksi karena mempunyai keragaman tinggi baik secara ruang maupun waktu. Demikian halnya dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi kekeringan setiap tahunnya. Bencana kekeringan semakin sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia dengan pola dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kebakaran Hutan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Definisi dan Tipe Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran hutan adalah sebuah kejadian terbakarnya bahan bakar di hutan oleh api dan terjadi secara luas tidak
REKOMENDASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WADUK/ DANAU PLTA DI INDONESIA MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA
REKOMENDASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WADUK/ DANAU PLTA DI INDONESIA MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA Budi Harsoyo 1), Ardila Yananto 1), Ibnu Athoillah 1), Ari Nugroho 1) 1 UPT Hujan Buatan
KEKERINGAN TAHUN 2014: NORMAL ATAUKAH EKSTRIM?
KEKERINGAN TAHUN 2014: NORMAL ATAUKAH EKSTRIM? * Parwati Sofan, Nur Febrianti, M. Rokhis Khomarudin Kejadian kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah pada pertengahan bulan September
I. PENDAHULUAN. bagi kehidupan manusia. Disamping itu hutan juga memiliki fungsi hidrologi sebagai
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan merupakan aset kekayaan yang bukan saja penting bagi bangsa Indonesia, namun juga bagi sebagian penduduk dunia. Keragaman hayati yang tinggi terdapat pada hutan
ANALISIS POLA DAN INTENSITAS CURAH HUJAN BERDASAKAN DATA OBSERVASI DAN SATELIT TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSIONS (TRMM) 3B42 V7 DI MAKASSAR
JURNAL SAINS DAN PENDIDIKAN FISIKA (JSPF) Jilid Nomor, April 205 ISSN 858-330X ANALISIS POLA DAN INTENSITAS CURAH HUJAN BERDASAKAN DATA OBSERVASI DAN SATELIT TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSIONS (TRMM)
Tahun Penelitian 2005
Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Tahun Penelitian 25 Adanya peningkatan intensitas perubahan alih fungsi lahan akan berpengaruh negatif terhadap kondisi hidrologis
BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala alamiah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala alamiah yang terdapat di permukaan bumi, meliputi gejala-gejala yang terdapat pada lapisan air, tanah,
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan posisi geografis diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Samudera Hindia dan Samudera
Studi Akurasi Citra Landsat 8 dan Citra MODIS untuk Pemetaan Area Terbakar (Studi Kasus: Provinsi Riau)
A758 Studi Akurasi Citra Landsat 8 dan Citra MODIS untuk Pemetaan Area Terbakar (Studi Kasus: Provinsi Riau) Agita Setya Herwanda, Bangun Muljo Sukojo Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan
BAB I PENDAHULUAN. hortikultura,dan 12,77 juta rumah tangga dalam perkebunan. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan Negara agraris yang amat subur sehingga tidak dapat dipungkiri lagi sebagian besar penduduknya bergerak dalam sektor agraris. Data dalam Badan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Topografi Bali Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km dengan jarak sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis,
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,
KAJIAN KEKERINGAN METEOROLOGIS MENGGUNAKAN STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DI PROVINSI JAWA TENGAH
KAJIAN KEKERINGAN METEOROLOGIS MENGGUNAKAN STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DI PROVINSI JAWA TENGAH Oleh: Habibah Nurrohmah, Emilya Nurjani Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan, Fakultas Geografi
JURNAL TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN DAN PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR
PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) UNTUK ANALISA KEKERINGAN DI DAS NGASINAN KABUPATEN TRENGGALEK JURNAL TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN DAN PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Ditujukan
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman padi merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kelangsungan masyarakat Indonesia. Peningkatan produksi tanaman pangan perlu dilakukan untuk mencapai
PENERAPAN METODE THEORY RUN UNTUK PERHITUNGAN KEKERINGAN PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU
PENERAPAN METODE THEORY RUN UNTUK PERHITUNGAN KEKERINGAN PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU Lia Fitriani 1, Donny Harisuseno 2, Ussy Andawayanti 2 1 Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas
I PENDAHULUAN II TINJAUAN PUSTAKA
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Curah hujan merupakan unsur meteorologi yang mempunyai variasi tinggi dalam skala ruang dan waktu sehingga paling sulit untuk diprediksi. Akan tetapi, informasi curah
ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI BONAI KABUPATEN ROKAN HULU MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIDROGRAF SATUAN NAKAYASU. S.H Hasibuan. Abstrak
Analisa Debit Banjir Sungai Bonai Kabupaten Rokan Hulu ANALISA DEBIT BANJIR SUNGAI BONAI KABUPATEN ROKAN HULU MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIDROGRAF SATUAN NAKAYASU S.H Hasibuan Abstrak Tujuan utama dari penelitian
INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono
INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN Rommy Andhika Laksono Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamis dan sulit dikendalikan. iklim dan cuaca sangat sulit dimodifikasi atau dikendalikan
PERHITUNGAN INDEKS KEKERINGAN MENGGUNAKAN TEORI RUN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) INDRAGIRI
PERHITUNGAN INDEKS KEKERINGAN MENGGUNAKAN TEORI RUN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) INDRAGIRI Novreta Ersyidarfia, Manyuk Fauzi, Bambang Sujatmoko Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau
PENENTUAN DISTRIBUSI TIPE AWAN DI PROVINSI RIAU MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MTSAT IR1
PENENTUAN DISTRIBUSI TIPE AWAN DI PROVINSI RIAU MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MTSAT IR1 Saraswati Dewi Intisari Penentuan distribusi tipe awan berdasarkan diagram temperatur kecerahan (TBB) perbedaan TBB dilakukan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG TATA CARA INVENTARISASI DAN PENETAPAN FUNGSI EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
EKSTRAKSI MORFOMETRI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI WILAYAH KOTA PEKANBARUUNTUK ANALISIS HIDROGRAF SATUAN SINTETIK
EKSTRAKSI MORFOMETRI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI WILAYAH KOTA PEKANBARUUNTUK ANALISIS HIDROGRAF SATUAN SINTETIK Fatiha Nadia 1), Manyuk Fauzi 2), dan Ari Sandhyavitri 2) 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil,
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan klasifikasi iklim global, wilayah kepulauan Indonesia sebagian besar tergolong dalam zona iklim tropika basah dan sisanya masuk zona iklim pegunungan. Variasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan
II. TINJAUAN PUSTAKA. panas serta biasanya menghabiskan bahan bakar hutan seperti serasah, tumbuhan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebakaran Hutan Kebakaran hutan secara umum merupakan kejadian alam dari proses reaksi secara cepat dari oksigen dengan karbohidrat (bahan bakar hutan) ditandai dengan panas serta
PENYUSUNAN SOFTWARE APLIKASI SPASIAL UNTUK MENENTUKAN TINGKAT KEKERINGAN METEOROLOGI DI INDONESIA
PENYUSUNAN SOFTWARE APLIKASI SPASIAL UNTUK MENENTUKAN TINGKAT KEKERINGAN METEOROLOGI DI INDONESIA Adi Witono, Lely Q.A, Hendra Sumpena Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN [email protected],
Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana alam tampak semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alam maupun manusia itu sendiri. Kerugian langsung berupa korban jiwa, harta
EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 / Jks KL, E-mail
ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH MENGGUNAKAN QUANTUM GIS
ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH MENGGUNAKAN QUANTUM GIS Cesario Barreto 1, Iriene Surya Rajagukguk 2, Sri Yulianto 3 Mahasiswa Magister Sistem Informasi, Universitas Kristen
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13
BAB I PENDAHULUAN. penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005),
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kegiatan penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005), konsekuensi keruangan
ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN INDEKS DESIL PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU Rizqina Dyah Awaliata 1, Ussy Andawayanti 2, Rahmah Dara Lufira 2
ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN INDEKS DESIL PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU Rizqina Dyah Awaliata 1, Ussy Andawayanti 2, Rahmah Dara Lufira 2 1 Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas
Gambar 1.1 Siklus Hidrologi (Kurkura, 2011)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang mutlak bagi setiap makhluk hidup di permukaan bumi. Seiring dengan pertambahan penduduk kebutuhan air pun meningkat. Namun, sekarang
Luas Luas. Luas (Ha) (Ha) Luas. (Ha) (Ha) Kalimantan Barat
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hutan Hujan Tropis Hujan hujan tropis adalah daerah yang ditandai oleh tumbuh-tumbuhan subur dan rimbun serta curah hujan dan suhu yang tinggi sepanjang tahun. Hutan hujan tropis
Daftar Isi. Daftar Isi Daftar Gambar Bab 1. Pendahuluan... 5
Daftar Isi Daftar Isi... 2 Daftar Gambar... 4 Bab 1. Pendahuluan... 5 Bab 2. Metode Prediksi Iklim, Pola Tanam dan... 6 2.1 Pemodelan Prediksi Iklim... 6 2.2 Pengembangan Peta Prediksi Curah Hujan... 8
TINJAUAN PUSTAKA. non hutan atau sebaliknya. Hasilnya, istilah kebakaran hutan dan lahan menjadi. istilah yang melekat di Indonesia (Syaufina, 2008).
3 TINJAUAN PUSTAKA Kebakaran hutan didefenisikan sebagai suatu kejadian dimana api melalap bahan bakar bervegetasi, yang terjadi didalam kawasan hutan yang menjalar secara bebas dan tidak terkendali di
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN Latar Belakang Kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bencana hidro-meteorologi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang
ANALISIS INDEKS KEKERINGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANG ANAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI)
ANALISIS INDEKS KEKERINGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANG ANAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) Nurhasanah 1), Manyuk Fauzi 2), Trimaijon 2) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil,
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kondisi iklim di bumi tidak pernah statis, tapi berbeda-beda dan berfluktuasi dalam jangka waktu yang lama. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yang
TIM PENYUSUN. : Dr. Widada Sulistya DEA Dra. Nurhayati, M.Sc. : Triyogo Amberkahi, ST
TIM PENYUSUN Pengarah Penanggung Jawab Ketua Sekretaris Anggota : Dr. Widada Sulistya DEA Dra. Nurhayati, M.Sc : Ir. Budi Roespandi : Triyogo Amberkahi, ST : Yanuar Henry Pribadi, MSi : 1. Darman Mardanis,
BAB I PENDAHULUAN. Banjir merupakan aliran air di permukaan tanah ( surface run-off) yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir merupakan aliran air di permukaan tanah ( surface run-off) yang relatif tinggi dan tidak dapat ditampung oleh saluran drainase atau sungai, sehingga melimpah
TINJAUAN PUSTAKA. Neraca Air
TINJAUAN PUSTAKA Neraca Air Neraca air adalah model hubungan kuantitatif antara jumlah air yang tersedia di atas dan di dalam tanah dengan jumlah curah hujan yang jatuh pada luasan dan kurun waktu tertentu.
JURNAL TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN DAN PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR
PERBANDINGAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN THORNTHWAITE MATHER DALAM MENENTUKAN INDEKS KEKERINGAN PADA DAS RONDONINGU KABUPATEN PROBOLINGGO JURNAL TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI PEMANFAATAN
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Hampir pada setiap musim penghujan di berbagai provinsi di Indonesia terjadi banjir yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang selalu mengalami banjir
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,
BAB I PENDAHULUAN. yang masuk ke sebuah kawasan tertentu yang sangat lebih tinggi dari pada biasa,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir merupakan sebuah fenomena yang dapat dijelaskan sebagai volume air yang masuk ke sebuah kawasan tertentu yang sangat lebih tinggi dari pada biasa, termasuk genangan
Peranan Curah Hujan dan Aliran Dasar Terhadap Kejadian Banjir Jakarta
Peranan Curah Hujan dan Aliran Dasar Terhadap Kejadian Banjir Jakarta Sharah Puji 1, Atika Lubis 2 dan Edi Riawan 3. 1 Mahasiswa Meteorologi 211, 2 Pembimbing 1 Dosen Meteorologi, 3 Pembimbing 2 Dosen
MODEL SPASIAL TINGKAT KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (Studi Kasus di Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah) SAMSURI
MODEL SPASIAL TINGKAT KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (Studi Kasus di Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah) SAMSURI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 PERNYATAAN Dengan ini saya
BAB I PENDAHULUAN. secara topografik dibatasi oleh igir-igir pegunungan yang menampung dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh igir-igir pegunungan yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan merupakan suatu tempat yang luas yang didalamnya terdapat berbagai macam makhluk hidup yang tinggal disana. Hutan juga merupakan suatu ekosistem yang memiliki
ANALISA DAERAH POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMANTAN MENGGUNAKAN CITRA AVHRR/NOAA-16
ANALISA DAERAH POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMANTAN MENGGUNAKAN CITRA AVHRR/NOAA-16 Any Zubaidah 1, Suwarsono 1, dan Rina Purwaningsih 1 1 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan. Secara geografis letak Indonesia terletak pada 06 04' 30"LU - 11 00' 36"LS, yang dikelilingi oleh lautan, sehingga
Oleh : PUSPITAHATI,STP,MP Dosen Fakultas Pertanian UNSRI (2002 s/d sekarang) Mahasiswa S3 PascaSarjana UNSRI (2013 s/d...)
Oleh : PUSPITAHATI,STP,MP Dosen Fakultas Pertanian UNSRI (2002 s/d sekarang) Mahasiswa S3 PascaSarjana UNSRI (2013 s/d...) Disampaikan pada PELATIHAN PENGELOLAAN DAS (25 November 2013) KERJASAMA : FORUM
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 2 (2013), Hal ISSN :
Analisis Tingkat Kekeringan Menggunakan Parameter Cuaca di Kota Pontianak dan Sekitarnya Susi Susanti 1), Andi Ihwan 1), M. Ishak Jumarangi 1) 1Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas Tanjungpura, Pontianak
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
23 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Hasil olahan citra Modis Level 1 yang merupakan data harian dengan tingkat resolusi spasial yang lebih baik yaitu 1 km dapat menggambarkan
meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan deras, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana merupakan peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia, baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana sosial
BAB I PENDAHULUAN.. Latar Belakang Menurut undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENANGANAN KAWASAN BENCANA ALAM DI PANTAI SELATAN JAWA TENGAH
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENANGANAN KAWASAN BENCANA ALAM DI PANTAI SELATAN JAWA TENGAH Totok Gunawan dkk Balitbang Prov. Jateng bekerjasama dengan Fakultas Gegrafi UGM Jl. Imam Bonjol 190 Semarang RINGKASAN
Analisis Karakteristik Intensitas Curah Hujan di Kota Bengkulu
Analisis Karakteristik Intensitas Curah Hujan di Kota Bengkulu Arif Ismul Hadi, Suwarsono dan Herliana Abstrak: Penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran siklus bulanan dan tahunan curah hujan maksimum
KAJIAN TEMPORAL KEKERINGAN MENGGUNAKAN PERHITUNGAN KEETCH BYRAM DRYNESS INDEX (KBDI) DI WILAYAH BANJARBARU, BANJARMASIN DAN KOTABARU PERIODE
KAJIAN TEMPORAL KEKERINGAN MENGGUNAKAN PERHITUNGAN KEETCH BYRAM DRYNESS INDEX (KBDI) DI WILAYAH BANJARBARU, BANJARMASIN DAN KOTABARU PERIODE 2005 2013 Herin Hutri Istyarini 1), Sri Cahyo Wahyono 1), Ninis
Pengertian Sistem Informasi Geografis
Pengertian Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk
PEMBUATAN PETA TINGKAT KERAWANAN BANJIR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI TINGKAT KERUGIAN AKIBAT BENCANA BANJIR 1 Oleh : Rahardyan Nugroho Adi 2
PEMBUATAN PETA TINGKAT KERAWANAN BANJIR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI TINGKAT KERUGIAN AKIBAT BENCANA BANJIR 1 Oleh : Rahardyan Nugroho Adi 2 Balai Penelitian Kehutanan Solo. Jl. A. Yani PO Box 295
II. IKLIM & METEOROLOGI. Novrianti.,MT_Rekayasa Hidrologi
II. IKLIM & METEOROLOGI 1 Novrianti.,MT_Rekayasa Hidrologi 1. CUACA & IKLIM Hidrologi suatu wilayah pertama bergantung pada iklimnya (kedudukan geografi / letak ruangannya) dan kedua pada rupabumi atau
BAB I PENDAHULUAN. karena curah hujan yang tinggi, intensitas, atau kerusakan akibat penggunaan lahan yang salah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Banjir merupakan salah satu peristiwa alam yang seringkali terjadi. Banjir dapat terjadi karena curah hujan yang tinggi, intensitas, atau kerusakan akibat penggunaan
PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK ANALISIS POTENSI BANJIR. Indah Prasasti*, Parwati*, M. Rokhis Khomarudin* Pusfatja, LAPAN
PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK ANALISIS POTENSI BANJIR Indah Prasasti*, Parwati*, M. Rokhis Khomarudin* Pusfatja, LAPAN Datangnya musim penghujan tidak hanya menjadikan berkah bagi sebagian orang,
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 10 SUMBERDAYA LAHAN Sumberdaya Lahan Lahan dapat didefinisikan sebagai suatu ruang di permukaan bumi yang secara alamiah dibatasi oleh sifat-sifat fisik serta bentuk
KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP
Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2016 i KATA PENGANTAR Penyajian prakiraan musim kemarau 2016 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diterbitkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat disamping publikasi
SKRIPSI PEMODELAN SPASIAL UNTUK IDENTIFIKASI BANJIR GENANGAN DI WILAYAH KOTA SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN METODE RASIONAL (RATIONAL RUNOFF METHOD)
SKRIPSI PEMODELAN SPASIAL UNTUK IDENTIFIKASI BANJIR GENANGAN DI WILAYAH KOTA SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN METODE RASIONAL (RATIONAL RUNOFF METHOD) Penelitian Untuk Skripsi S-1 Program Studi Geografi Diajukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebakaran hutan dan Lahan 2.1.1 Pengertian dan Proses Terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran hutan oleh Brown dan Davis (1973) dalam Syaufina (2008) didefinisikan
Seminar Nasional Penginderaan Jauh ke-4 Tahun Miranti Indri Hastuti *), Annisa Nazmi Azzahra
Pemanfaatan Data Satelit Himawari-8 untuk dengan Metode Autoestimator di Kalianget, Madura Utilization of Himawari-8 Satellite Data for Rainfall Estimation with Autoestimator Method in Kalianget, Madura
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebakaran hutan merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia (Stolle et al, 1999) yang menjadi perhatian lokal dan global (Herawati dan Santoso, 2011). Kebakaran
II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kekeringan Kekeringan (drought) secara umum bisa didefinisikan sebagai kurangnya persediaan air atau kelembaban yang bersifat sementara secara signifikan di bawah normal atau volume
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak tahun 1980-an para peneliti meteorologi meyakini bahwa akan terjadi beberapa penyimpangan iklim global, baik secara spasial maupun temporal. Kenaikan temperatur
