Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
|
|
|
- Ari Cahyadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG TAHUN 2015 MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.5 Risty Khoirunisa, Bambang Darmo Yuwono, Arwan Putra Wijaya *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp.(024) , [email protected] ABSTRAK Beberapa tahun terakhir ini, Kota Semarang sering mengalami banjir rob, air laut yang masuk ke daratan disebabkan turunnya muka tanah atau yang biasa dikenal dengan land subsidence. Penurunan muka tanah bukan hanya menjadi masalah di Kota Semarang, tapi juga kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Struktur geologis dan aktifitas manusia seperti pembangunan gedung-gedung baru merupakan penyebab utama terjadinya penurunan. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah pengukuran GPS statik yang kemudian diolah secara radial dengan menggunakan perangkat lunak GAMIT (GPS Analysis of MIT) Nilai penurunan tanah didapat dengan membandingkan hasil tinggi ellipsoid pengukuran GPS sebelumnya di titik yang sama dengan hasil tinggi pada pengolahan. Kemudian dilakukan analisis spasial dengan penggunaan lahan, jenis tanah, dan kepadatan penduduk untuk mengetahui hubungannya dengan nilai penurunan muka tanah. Dari penelitan ini didapatkan rentang nilai penurunan tanah yang berkisar dari 0,83 s.d. 13,935 cm/tahun. Lokasi yang mengalami penurunan cukup tinggi berada di daerah Semarang Utara dan Semarang Timur. Dari hasil penelitian juga didapatkan adanya hubungan laju penurunan tanah dengan kepadatan penduduk, penggunaan lahan dan jenis tanahnya. Daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, lahannya sebagian besar digunakan untuk pemukiman dan bangunan, dan jenis tanah adalah alluvial mengalami penurunan tanah yang relatif lebih besar dibandingkan daerah yang lain. Kata Kunci : Analisis Spasial, GAMIT, GPS, Penurunan Muka Tanah, SIG ABSTRACT In the recent years, Semarang city experienced a lot of flooded sea water called rob. This phenomenon caused by land subsidence. This problem not only occurred in Semarang city, but also other big cities, such as Jakarta and Surabaya. Geological structures and human activities, such as new building construction and groundwater extraction on a large scale were the main cause of land subsidence. In this study, data collecting methods was GPS-static measurement that later processed using GAMIT (GPS Analysis of MIT) 10.5 Software. Value of land subsidence obtained by comparing the difference between height value on previous measurement and height value on present measurement. Next process was analyzed the result with landuse, soil type and population density to obtained their spatial correlation with land subsidence value using ArcGIS 10.1 software. The research obtained variation range of land subsidence value from 0,83 cm/year to 13,935 cm/year. The highest subsidence value was North and East Semarang Area. The research also obtained its correlation with population density, landuse and soil type. The area where population density value was high, landuse mostly used for habitation, and soil type was alluvial had higher value of land subsidence. Keywords : GAMIT, GIS, GPS, Land Subsidence, Spatial Analysist *) Penulis, Penanggung Jawab Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 341
2 I. Pendahuluan I.1 Latar Belakang Selama beberapa dekade terakhir ini, Kota Semarang sering mengalami banjir rob (air laut masuk ke daratan) yang mengakibatkan rusaknya jalan dan infrastruktur yang ada di Kota Semarang. Penyebab banjir rob yang utama adalah kenaikan muka air laut yang diakibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah penurunan muka tanah atau yang biasa disebut dengan land subsidence. Penurunan muka tanah bukan hanya menjadi masalah di Kota Semarang, tapi juga kotakota besar lainnya di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Fenomena ini juga menjadi masalah di negara yang lain seperti, China, Hongkong, dan Thailand. Penurunan muka tanah ini dapat disebabkan banyak faktor, diantaranya adalah pengambilan air tanah yang berlebihan, aktivitas tektonik maupun vulkanik, kondisi geologis, aktivitas penambangan, dan penurunan karena beban bangunan. Dari semua faktor diatas, penurunan akibat kondisi geologis dan aktifitas manusia dipercaya sebagai penyebab penurunan tanah yang dominan untuk kota-kota besar, seperti Kota Semarang ini. Tanah yang ada di Kota Semarang sendiri terbentuk dari endapan alluvial yang terdiri dari material berukuran lempung dan pasir. Lapisan pembentuk tersebut berumur muda yang memiliki derajat kompaksi rendah sehingga masih memungkinkan tahapan pemadatan dan berpengaruh dengan penurunan muka tanah. Jenis tanah ini dipercaya lebih muda mengalami konsolidasi (pemapatan) dibandingkan jenis tanah yang lain. Untuk mendapatkan data penurunan muka tanah dapat dilakukan dengan berbagai macam metode, diantaranya dengan pengukuran GPS, Waterpass (levelling) dengan microgravity (menggunakan gravimeter), Ps InSAR, DinSaR, dan sebagainya. Penulis sendiri menggunakan pengukuran GPS dengan membandingkan data tinggi ellipsoid dengan pengukuran GPS sebelumnya di titik yang sama untuk mendapatkan data penurunan muka tanah kota semarang tahun 2015 yang diolah dengan menggunakan perangkat lunak GAMIT (GPS Analysis of MIT). Metode GPS digunakan karena dapat memberikan nilai komponen beda tinggi ellipsoid dengan tingkat presisi sampai beberapa mm dan dapat dimanfaatkan secara kontinyu tanpa tergantung waktu dan cuaca. I.2 Perumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Berapa besaran nilai penurunan muka tanah yang terjadi di kota Semarang pada tahun 2015 menggunakan metode GPS? 2. Berapa laju penurunan muka tanah kota Semarang dalam periode tahun ? 3. Bagaimana hubungan antara penurunan muka tanah di Kota Semarang dengan kepadatan penduduk, jenis tanah dan penggunaan lahannya? I.3 Tujuan Penelitian Tujuan dilakukannya penelitian adalah sebagai berikut: 1. Mendapatkan besaran nilai penurunan muka tanah yang terjadi di kota semarang pada tahun 2015 menggunakan metode GPS. 2. Mendapatkan besar laju penurunan muka tanah kota Semarang dalam periode tahun Mengetahui hubungan antara penurunan muka tanah dengan kepadatan penduduk, jenis tanah dan penggunaan lahannya. I.4 Batasan Masalah Ruang lingkup atau batasan masalah dari pengerjaan tugas akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Data Pengamatan GPS geodetik di 7 titik penurunan Kota Semarang tahun 2013 dan Pengamatan GPS menggunakan metode statik selama kurang lebih 6-8 jam pengamatan. 3. Pengolahan Data GPS dengan metode radial menggunakan perangkat lunak GAMIT. 4. Hasil pengolahan dianalisis berdasarkan data kepadatan penduduk, jenis tanah dan tata guna lahan di Kota Semarang untuk mendapatkan nya dengan nilai penurunan. I.5 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian untuk penurunan muka tanah ini dilakukan di delapan titik pengamatan sekitar Kota Semarang pada tanggal dan April Lokasi titik pengamatan tersebar pada 7 titik pengamatan dengan pengikatan ke base lokal yaitu T447 di Kaliwuru, Jatingaleh, Semarang. Pengukuran menggunakan mode statik selama 6-8 jam sesuai dengan pengukuran minimal suvei geodinamika dan pengolahan menggunakan mode radial seperti tahuntahun sebelumnya. Lokasi sebaran pengamatan dapat dilihat pada gambar I.1. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 342
3 Gambar I.1. Sebaran titik pengamatan (google earth) II. Tinjauan Pustaka II.1 Penurunan Muka Tanah Penurunan muka tanah didefinisikan sebagai penurunan tanah relatif terhadap suatu bidang referensi tertentu yang dianggap stabil. Penurunan muka tanah dapat terjadi secara perlahan, atau juga terjadi secara mendadak. Dalam banyak kejadian penurunan muka tanah berkisar dalam beberapa sentimeter per tahun. Perubahan muka tanah yang bersifat mendadak biasanya diikuti dengan perubahan fisik yang nyata dan dapat diketahui secara langsung besar dan kecepatan penurunannya. Namun untuk penurunan muka tanah yang bersifat secara perlahan diketahui setelah kejadian yang berlangsung lama, besar penurunannya bisa ditentukan dengan mekanisme secara periodik. (Ardiansyah, 2012). Berbagai penyebab terjadinya penurunan tanah alami bisa digolongkan menjadi (Kurniawan, 2013) : 1. Penurunan muka tanah alami (natural subsidence) yang disebabkan oleh proses-proses geologi, seperti aktivitas vulkanik dan tektonik, siklus geologi, adanya rongga di bawah permukaan tanah dan sebagainya. 2. Penurunan muka tanah yang disebabkan pengambilan bahan cair yang ada di perut bumi seperti air dan minyak bumi. 3. Penurunan muka tanah yang diakibatkan oleh beban berat yang ada diatas bumi seperti struktur bangunan yang membuat lapisan tanah di bawahnya mengalami kompaksi/konsolidasi. Penurunan ini juga sering disebut settlement. 4. Penurunan muka tanah akibat pengambilan bahan padat dari dalam bumi (aktivitas penambangan) 5. Sedimentasi daerah cekungan (sedimentary basin). 6. Adanya rongga di bawah permukaan tanah sehingga atap rongga runtuh dan hasil runtuhan atap rongga membentuk lubang yang disebut sink hole. II.2 Survei GPS Untuk Pemantauan Penurunan Muka Tanah Penyelidikan deformasi/amblesan lahan biasanya dilakukan berulang pada kala yang berbeda. Pengukuran pada masing-masing kala tersebut kemudian dapat diratakan terpisah ataupun digabung. Dalam pengukuran beberapa kala, akan diperoleh pergeseran titik sehingga parameter-parameter dapat ditentukan (Widjajanti, 1997 dalam Kurniawan, 2013). Berdasarkan hasil pengukuran dua kala akan diperoleh perbedaan koordinat (posisi) dan tinggi sehingga dapat diketahui informasi land subsidence yang terjadi. Mengingat laju penurunan tanah yang umumnya relatif lambat maka studi pemantauan phenomena penurunan lebih efisien dilakukan secara episodik (periodik). Keuntungan dan keunggulan studi penurunan muka tanah mengunakan metode GPS adalah (Abidin, 2006) : 1. GPS memberikan nilai penurunan muka tanah dalam sistem koordinat referensi tunggal, sehingga dapat digunakan untuk memantau fenomena penurunan tanah di suatu wilayah yang relatif luas secara efektif dan efisien. 2. GPS dapat memberikan komponen beda tinggi ellipsoid dan tingkat presisi sampai beberapa mm, dengan konsistensi yang tinggi baik secara spasial maupun temporal. 3. GPS dapat dimanfaatkan tanpa tergantung waktu dan cuaca (fleksible). II.3 Perangkat Lunak GAMIT/GLOBK GAMIT adalah paket analisis GPS komprehensif yang dikembangkan di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan SIO ( Scripps Institution of Oceanography). Perangkat lunak ini digunakan untuk mengestimasi tiga-dimensi posisi relatif stasiun bumi dan orbit satelit. Perangkat lunak ini dirancang untuk berjalan di bawah sistem operasi UNIX mendukung XWindows. GLOBK (Global Kalman filter VLBI and GPS analysis program) adalah perangkat lunak pemfilter data dengan metode kalman filter, yang bertujuan untuk menggabungkan solusi dari pengolahan data primer dari geodesi satelit atau pengukuran terestris. Pengolahan diterima sebagai data (quasi observation) yang terkait dengan matrik kovarian untuk koordinat titik, parameter rotasi bumi parameter orbit, dan posisi titik yang dihasilkan dari analisis observasi. Data masukan berupa h-file dari hasil pengolahan GAMIT atau GIPSY atau Bernesse (Herring, 2010). III. Metodologi Penelitian III.1 Alat dan Bahan Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 343
4 Peralatan keras dan lunak yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini antara lain : 1. Laptop yang memiliki spesifikasi Processor Intel Core i Ghz, RAM 2.00 GB dan Sistem Operasi 64-bit. 2. Microsoft Office ArcGIS Topcon tools v PC-CDU 6. GAMIT Sistem operasi windows 8.1 pro dan linux ubuntu TEQC (Translation, Editing and Quality Check) 9. Empat buah set receiver GPS dual frequency 10. Empat buah Tripod 11. Empat buah meteran GPS Koordinat Titik dan Hasil Pengukuran Tahun 2013 Mulai Pengumpulan Data dan Studi Literatur Nilai Ketinggian (H) Tahun 2015 Uji Penurunan Titik (Uji-t) Data Mentah Pengamatan GPS tahun 2015 Uji kualitas dengan TEQC Pendownload-an Data Tambahan (Igs, Brdc, Rinex) Pengolahan dengan GAMIT/ GLOBK Ya Editing data pada table Koordinat Titik Cek RMS < 10 mm Tidak III.2 Data Penelitian Data yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian antara lain : 1. Data Pengukuran GPS dengan interval perekaman 10 detik dan lama waktu pengamatan 6-8 jam. 2. Data Koordinat titik pengamatan pada tahun Data Titik Ikat IGS. 4. Data navigasi satelit (.n). 5. Data precise ephemeris (.sp3). 6. Data Hatanaka file. 7. Data kependudukan Kota Semarang BPS tahun Citra Quickbird tahun Peta Jenis tanah dan kepadatan penduduk kota Semarang. III.3 Tahapan Penelitian Pada penelitian ini ada beberapa tahapan yang dilakukan, secara garis besar tahapan penelitian dijabarkan dalam diagram dibawah ini (Gambar III.1) : Analisa Penurunan Muka Tanah Kepadatan Penduduk Jenis Tanah Tata Guna Lahan Hasil Laporan Selesai Gambar III.1. Diagram alir penelitian III.4 Pengolahan Data dengan GAMIT/GLOBK Hal yang pertama dilakukan adalah membuat direktori sebelum pengolahan GAMIT, dengan membuat 4 folder yang berisi IGS, tables, rinex, dan brdc. Setelahnya dilakukan pengeditan control file, seperti : Sestbl, station.info, lfile, process.default, sittbl dan sites.default. Setelah tahapan persiapan, input data dan editing data selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan dengan GAMIT dengan memasukkan perintah menggunakan bahasa computer. Hasil dari pengolahan GAMIT masih berupa matriks varian-kovarian dari data pengolahan dan belum menunjukan nilai koordinat. Nilai matriks varian-kovarian tersebut berada pada h-file yang selanjutnya diolah dengan GLOBK. Metodologi dalam pengolahan data GPS dengan GAMIT dan GLOBK dapat dilihat pada gambar III.2 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 344
5 Data precise ephemeris (.sp3) Data Pengamatan GPS (.O) Proses awal sh_setup Editing data pada tables Data Navigasi satelit (.N) Automatic Batch Processing (sh_gamit) Konversi data h-file dari ASCII ke BIner Data stasiun tetap IGS (.O) Sittbl, sestbl, process.default, sites.default Data Hatanaka file IV.2 Hasil Pengolahan GAMIT Pengolahan dengan GAMIT menghasilkan berbagai macam file baru dari pengolahan. File hasil pengolahan dengan GAMIT yang digunakan untuk menentukan kualitas hasil pengukuran adalah Qfile. Qfile berisi nilai postfit dari hasil loosely constraint baik bias fixed maupun bias free. Pengecekan hasil proses menggunakan GAMIT dapat pula dilihat pada file summary. Hasil dari pengolahan GAMIT dapat dilihat pada tabel IV.2. Konversi data biner ke.gdl Tabel IV.2. Summary GAMIT titik pengamatan Ambiguitas fase Nilai nrms Titik fixed(%) Prefit Postfit WL-fixed NL-fixed Ediit data.gdl, globk_comd, glorg_comd Proses Globk N Hasil Koordinat dan Ketelitian CTRM K Gambar III.2. Diagram alir pengolahan dengan GAMIT/GLOBK IV. Hasil Pengolahan Data GPS IV.1 Cek kualitas Rinex Data observasi titik pengamatan penurunan muka tanah sebelum diolah perlu dilakukan pengecekan kualitas terlebih dahulu dengan menggunakan perangkat lunak TEQC. Hasil dapat dilihat di tabel IV.1. TITIK N259 CTRM K371 SP05 Tabel IV.1. hasil quality check titik pengamatan moving avarage IOD slips IOD/MP slip MP1 (m) MP2 (m) <10 >10 <10 >10 0, , , , , , , , KOP8 0, , PRPA 0, , SMK3 0, , Hasil pengecekan untuk data titik-titik pantau dapat dilihat di tabel 1. Nilai dari mp1 dan mp2 dapat dilihat bahwa ada beberapa titik pantau yang berada diluar standar, karena hasil perekaman juga tergantung dari obstruksi disekitar daerah titik pantau, namun dalam pengolahan selanjutnya masih dapat digunakan karena dalam perangkat lunak GAMIT terdapat parameter estimasi orbit satelit yang dapat digunakan untuk mengkoreksi data RINEX titik pengamatan. SP PRPA KOP SMK Dari tabel 2 terlihat nilai nrms tidak ada yang melebihi 0.5, hal itu menandakan pengolahan sudah cukup baik dan tidak mengandung cycle slips. Untuk solusi ambiguitas fase, Nilai pengolahan Wide lane (WL) yang baik berkisar antara % sehingga pengolahan data gamit sudah dapat dikatakan baik. Sedangkan nilai pengolahan Narrow Lane (NL) bervariasi menandakan adanya kesalahan pada ukuran dan konfigurasi jaringan, kualitas orbit, koordinat apriori, atau kondisi atmosfer. Hasil dari pengolahan GAMIT masih berupa matriks varian-kovarian dari data pengolahan dan belum menunjukan nilai koordinat. Nilai matriks varian-kovarian tersebut berada pada h-file yang selanjutnya diolah dengan GLOBK. IV.3 Hasil Pengolahan GLOBK Hasil pengolahan GLOBK berupa nilai koordinat dalam 3 sistem koordinat yaitu, geosentrik (X,Y,Z) toposentrik (N,E,U) dan geodetis (L,B, H) beserta standar deviasi yang tersimpan di file berekstensi glorg (*.org). Tabel IV.3 merupakan koordinat titik pengamatan dalam geodetis. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 345
6 Tabel IV.3. Nilai koordinat geodetis titik pengamatan Hasil lainnya yang diperoleh adalah nilai statistik chi-squared increment per degree of freedom Nilai statistik x 2 /f ini digunakan untuk menentukan konsistensi dari solusi GAMIT loosely constraint parameter yang digunakan terhadap GLOBK. Tabel IV.4 menunjukan nilai dari statistik x 2 /f untuk GLOBK pada penelitian ini. nilai x 2 /f Titik Lintang Bujur Tinggi (m) N CTRM K SP PRPA KOP SMK Tabel IV.4. Nilai x 2 /f dari pengolahan GLOBK TITIK N259 CTRM K371 SP05 PRPA KOP8 SMK3 igs igs igs igs igs igs igs Nilai x 2 /f yang kecil diawal menandakan nilai apriori dan constraint konsisten terhadap data yang diolah. Nilai chi-square diatas nilai 1 ditolak atau tidak dipakai (not used) untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti. Pengaturan atau setting maksimal nilai chisquare dilakukan di globk_comd (Kurniawan, 2013). IV.4 Analisis Penurunan Muka Tanah Kota Semarang Tahun 2015 Dari hasil penelitian didapatkan bahwa titik penurunan terkecil dalam rentang waktu berada pada titik K371 dengan nilai penurunan sebesar 1,66 cm. Titik yang berlokasi di Bandara Ahmad Yani ini memang penurunannya cenderung kecil dan stabil ila dilihat dari pengukuran-pengukuran sebelumnya. Sedangkan titik yang mengalami penurunan terbesar adalah titik CTRM dengan nilai penurunan sebesar 27,87 cm. Titik yang berada di jembatan Citarum, Semarang Timur ini memiliki penurunan yang relatif besar dari tahun ke tahun. Dari tinggi tahun 2015 dapat didapatkan laju penurunan dengan rentang tahun (2 tahun). Laju penurunan didapatkan melalui perhitungan pada rumus (1) (Kurniawan, 2013) : Laju Penurunan = (H 2 H 1 ) /(t 2 t 1 ).. (1) Keterangan H 2 = Elevasi prediksi pada tahun terrkini (2015) H 1 = Elevasi tahun awal (2013) t 2 = Tahun terkini (2015) t 1 = Tahun awal (2013) Hasil perhitungan laju penurunan dapat dilihat pada tabel IV.5. Tabel IV.5. Prediksi laju penurunan titik pengamatan per tahun ( ) Titik H(m) H (m) H (m) Laju PMT cm/tahun N CTRM K SP PRPA KOP SMK Dari tabel IV.5 didapatkan bahwa laju penurunan terkecil dalam waktu 2 tahuin ini berada pada titik K371 dengan laju penurunan sebesar 0.83 cm/tahun. Sedangkan titik yang mengalami laju penurunan terbesar adalah titik CTRM dengan Laju penurunan sebesar 13,935 cm/tahun. Grafik penurunan muka tanah semarang di tahun 2015 digambarkan pada Gambar IV.1, dimana titik tertinggi berada di CTRM dan titik terendah berada di K371. Gambar IV.1. Grafik Penurunan Muka Tanah Kota Semarang tahun 2015 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 346
7 Berikut ini hasil pengolahan penurunan muka tanah di Kota Semarang menggunakan berbagai media pengukuran dan pengolahan (levelling, GPS, dan DInSar) dari tahun-tahun sebelumnya sebagai pembanding. Hasil disajikan dalam tabel IV.6. Tabel IV.6. Hasil penelitian penurunan muka tanah di semarang beberapa tahun terakhir No Nama peneliti Teknik Tahun Laju PMT 1 Dept Geofisika, ITB 2 Kuen dan Mardohardono Microgravity cm/tahun PS InSaR cm/tahun 3 Sutomo Kahar Levelling cm/tahun 4 Hasanuddin Z. GPS Abidin, dkk cm/tahun 5 Eko Andik Saputro 6 Aldika Kurniawan DinSaR cm/tahun GPS cm/tahun 7 Risty Khoirunisa GPS cm/tahun Pembuatan peta persebaran penurunan muka tanah menggunakan interpolasi dengan metode IDW seperti dijelaskan di bab III. Hasil kontur dan interpolasi dapat dilihat pada gambar IV.2. Gambar IV.2. peta hasil kontur dan interpolasi raster Dari gambar dapat terlihat semakin ke utara dan timur kota semarang warna semakin gelap. Hal ini menandakan penurunan yang semakin tinggi. Penurunan yang paling tinggi berada di sekitar titik PRPA dan CTRM. IV.5 Uji Penurunan titik menggunakan t-tabel Dalam penelitian ini, perlu dilakukan pengecekan signifikasi secara statistik dari vektor pergeseran hasil estimasi GPS tersebut. Uji-t dikenal dengan uji parsial, yaitu untuk menguji bagaimana pengaruh masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikatnya. Uji ini dapat dilakukan dengan mambandingkan t-hitungan dengan t-tabel atau dengan melihat kolom signifikansi pada masing-masing t-hitungan (Amirrudin, 2014). Statistik yang digunakan untuk uji penurunan titik ditunjukkan oleh rumus (2): T = H / σ (dh)... (2) Penurunan dinyatakan signifikan atau hipotesa nol ditolak jika : T > t tabel...(3) H = penurunan titik pengamatan σ (dh) = standar deviasi T = besaran yang menunjukkan signifikasi penurunan Nilai t-tabel dihitung dengan menggunakan selang kepercayaan sebesar 95% (α = 5%), sehingga didapatkan nilai t sebesar 1,960. Jika t-hitungan lebih besar dari nilai t-tabel, ha itu menandakan parameter yang diuji mempunyai perbedaan yang signifikan. Akan tetapi apabila nilai t-hitungan lebih kecil dari t- tabel berarti parameter yang diuji tidak mempunyai perbedaan yang signifikan, sehingga bisa dikatakan titik cenderung tetap dan tidak mengalami pneurunan. Tabel IV.7 merupakan hasil hitungan nilai t-hitungan dan t tabel. Tabel IV.7. Uji Penurunan titik dari sesi pengamatan 2013 ke 2015 Titik H(m) 2013 H (m) 2015 dh (m) T hitungan t- tabel 95% N Ada CTRM Ada Ada/ tidak Penurunan K Tidak SP Ada PRPA Ada KOP Ada SMK Ada Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel IV.7 menunjukkan semua titik mengalami penurunan secara vertikal kecuali titik K371 yang berada di daerah Bandara Ahmad Yani, kecamatan Semarang Barat, kota semarang. Hal ini menandakan titik K371 tidak mengalami penurunan tanah yang signifikan. Sehingga bisa dikatakan nilai yang terjadi pada titik K371 merupakan nilai kesalahan saat pengukuran. IV.6 Hasil Analisis Spasial Analisis dilakukan untuk mendapatkan hubungan laju penurunan dengan factor penurunan seperti tata guna lahan, kepadatan penduduk dan jenis tanah. Dari hasil Buffer area di sekeliling titik pengukuran dengan radius yang sama, yaitu 500 meter Area luas Buffer yang dihasilkan ketujuh titik semua bernilai sama, yaitu m 2. Perbandingan Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 347
8 luas pemukiman dan bangunan dalam radius 500 meter hasil interpretasi citra dapat dilihat pada tabel IV.8. Titik Tabel IV.8. Perbandingan luas pemukiman dan bangunan dalam radius 500 meter Luas Area Buffer Luas Pemukiman/ bangunan (m 2 ) Coverage (%) Laju PMT (cm/tahun) PRPA K KOP N SP SMK CTRM Dari tabel dapat dilihat bahwa titik K371 di daerah Bandara Ahmad Yani, Semarang Barat memiliki cangkupan pemukiman dan bangunan yang paling rendah dengan diisi hanya 32,53%. Ini sesuai dengan tingkat penurunan muka tanahnya yang paling rendah, yaitu 0,835 cm/tahun. Daerah dengan luas bangunan dan pemukiman yang sedikit seperti di daerah pengamatan K371 memiliki penurunan yang kecil. Dan daerah dengan penurunan paling besar (CTRM) memiliki cangkupan luas bangunan yang cukup besar, yaitu 83,22% Namun, perlu diperhatikan untuk titik PRPA yang penurunannya cukup besar (12,385 cm/tahun) hanya memiliki cangkupan luas bangunan sekitar 70,05 %. Penurunan yang cukup besar di daerah ini lebih disebabkan faktor lain seperti daerah titik yang dekat dengan pantai. Namun dapat dilihat untuk cangkupan pemukiman dan bangunan yang besar seperti N259 tidak mempengaruhi penurunan tanahnya secara drastis. Berarti ada faktor lain yang harus dianalisis, seperti jenis tanah, penggunaan air, jumlah penduduk, dan lainnya. Jenis tanah alluvial (ditunjukkan dengan warna hijau) yang memang merupakan lempung tanah muda dan mudah mengalami konsolidasi sehingga mengakibatkan tanah semakin turun. Jenis tanah ini tersebar di daerah semarang yang mengarah ke pantai utara. Informasi jenis tanah pada masing- masing titik pengamatan dapat dilihat pada gambar IV.3. Daerah dengan tingkat penurunan tinggi yang diwakili oleh PRPA, CTRM dan KOP8 kesemuanya berjenis tanah alluvial sedangkan N259, SP05 dan SMK3 masih memiliki tanah mediteran (ditunjukkan dengan warna merah muda) yang tidak terlalu mudah berkonsolidasi. Walaupun K371 yang penurunannya kecil memiliki jenis tanah alluvial, tapi hal ini tidak berdampak banyak karena daerah pada titik pengukuran K371 memiliki sedikit pemukiman, dan masih banyak lahan kosong dan sawah. Sedangkan untuk analisis kepadatan penduduk digunakan data kependudukan tahun 2014 dari badan pusat statistika. Nilai kepadatan sendiri didapatkan dari jumlah penduduk dibagi dengan luas, lalu diklasifikasikan. Pengklasifikasian di dasarkan pada rentang data kepadatan penduduk dengan rentang terendah 4,2 dan tertinggi 287,08 jiwa/m 2. Kepadatan penduduk dibagi dalam 3 kelas, yaitu : 1. Jarang, rentang kelas 0 s.d > 70 jiwa/ha 2. Sedang, rentang kelas 70 s.d >140 jiwa/ Ha 3. Padat, rentang kelas <=140 jiwa/ Ha 4. Gambar IV.4. Peta kepadatan penduduk di sekitar titik pengamatan Dari gambar IV.4 terlihat titik yang memiliki kepadatan cukup besar memang memiliki tingkat penurunan yang lumayan, namun tidak untuk PRPA. PRPA walaupun jarang penduduknya namun memiliki penurunan yang cukup besar. Hal ini dapat saja terkait dengan letak PRPA yang dekat pantai dan berjenis tanah alluvial. Penulis juga mencoba menganalisis nilai kepadatan prediksi per titik dari jumlah rata-rata kelurahan yang ada di sekitar titik dalam radius 500 meter. Dari hasil penjumlahan nilai kepadatan penduduk pada kelurahan kelurahan yang ada di sekitar titik tersebut didapatkan nilai rata-rata prediksi kepadatan penduduk pada titik pengamatan yang disajikan pada pada tabel IV.9. Gambar IV.3.. Peta jenis tanah disekitar titik pengamatan Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 348
9 Tabel IV.9. Nilai rata-rata kepadatan penduduk di sekitar titik pengamatan Titik K371 PRPA KOP8 N259 SP05 SMK3 CTRM Kepadatan Penduduk (jiwa/ha) Laju PMT (cm/tahun) Daerah yang padat penduduk, jumlah penggunaan air tanahnya juga semakin bertambah. Pengambilan air tanah yang semakin banyak menyebabkan ruang kosong di bawah tanah yang mempermudah tanah mengalami penurunan. Ditambah lagi kondisi kota Semarang yang sudah banyak kehilangan daerah resapan air (ruang terbuka hijau) akibat banyaknya pembangunan membuat ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air tanah. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara laju penurunan muka tanah dengan penggunaan tanah (khususnya bangunan dan pemukiman), jenis tanah dan kepadatan penduduk yang dapat dilihat di bawah ini (tabel IV.10): Titik Tabel IV.10. Rekapitulasi analisis spasial laju penurunan muka tanah di Kota Semarang Laju PMT (cm/tahun) PRPA K KOP N SP SMK CTRM Landuse Bangunan (70.05%), Tambak Sawah Irigasi, Vegetasi, pemukiman dan Bangunan (Bandara terutama) (32.53%), Tanah Kosong Bangunan (90.39%), Vegetasi Bangunan (90.56%), Vegetasi Bangunan (85.64%), Vegetasi Bangunan (82.69%), Vegetasi Bangunan (83.22%), Tegalan Jenis tanah Alluvial Alluvial Alluvial Alluvial- Mediteran Alluvial- Mediteran Alluvial- Mediteran Alluvial Kepadatan Penduduk (jiwa/ha) Jarang (29.735) Jarang (52.095) Padat ( ) Sedang - Padat ( ) Sedang Padat (91.988) Sedang Padat ( ) Padat ( ) Semakin banyaknya penduduk suatu tempat, maka pembangunan juga akan bertambah pesat. Namun sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan tanah menahan bebas diatasnya. Belum lagi kekosongan ruang bawah tanah karena pengambilan air besar-besaran, seperti di daerah pinggiran (CTRM, PRPA) dimana kebanyakan masyarakatnya masih menggunakan air tanah. Hal ini dipercaya juga menjadi salah satu faktor penyebab penurunan muka tanah di kota semarang. Gambar IV.5 menunjukkan hasil analisis per titik pengamatan dimana PRPA menunjukkan nilai bangunan dan kepadatan penduduk yang tidak seimbang. Hal ini berarti bangunan-bangunan di sekitar titik PRPA lebih diperuntukkan untuk pabrik dan industri. Sedangkan untuk K371, KOP8, N259, SP05 dan SMK3 menunjukkan nilai yang berbanding lurus antara banyaknya bangunan dan kepadatan penduduk, dimana semakin banyak bangunan, semakin padat penduduknya. Gambar IV.5. Grafik hubungan bangunan dan kepadatan penduduk dengan laju penurunan Nilai korelasi dan signifikansi antara Laju penurunan muka tanah dengan kepadatan penduduk dan cangkupan bangunan menggunakan perangkat lunak SPSS dapat dilihat pada tabel 11 Tabel IV.11. Nilai koefisien Korelasi dan Signifikansi Laju PMT Kepadatan Coverage Laju PMT Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Kepadatan Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Coverage Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 349
10 V.I Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian adalah sebagai berikut : 1. Nilai penurunan muka tanah yang terjadi pada tahun 2015 dengan membandingkan data sesi pengukuran 2013 ke 2015 mendapatkan rentang nilai sebesar cm. 2. Nilai laju penurunan muka tanah di Kota Semarang pada tahun memiliki rentang cm/tahun dengan nilai terbesar ada pada titik CTRM ( cm/tahun), PRPA ( cm/tahun) dan KOP8 (8.5 cm/tahun dan nilai terkecil ada pada titik K371 (0.83 cm/tahun) dan N259 (1.225 cm/tahun). 3. Daerah dengan kepadatan penduduk tinggi dan banyak bangunan dan pemukiman seperti CTRM ( jiwa/m 2 ) dan KOP8 ( jiwa/m 2 ) memiliki penurunan yang lebih besar dibandingkan daerah lainnya. Daerah dengan jenis batuan tanah alluvial seperti PRPA, CTRM dan KOP8 mengalami laju penurunan yang relatif besar dibandingkan titik N259, SMK3 dan SP05 yang tanah pembentuknya terdiri dari batuan jenis alluvial dan mediteran. 4. Nilai korelasi laju penurunan muka tanah dengan cangkupan bangunan bernilai 0,198 sedangkan nilai korelasi laju penurunan muka tanah dengan kepadatan penduduk lebih kecil dibandingkan dengan cangkupan bangunan, hanya bernilai 0,044. Abidin, H.Z Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta : PT Pradnya Paramita. Amirrudin, A Pengamatan GPS Untuk Monitoring Deformasi Bendungan Jatibarang Menggunakan Software Gamit Skripsi. Semarang : Teknik Geodesi Universitas Diponegoro. Ardiansyah, F Analisis Akurasi Hasil Pengolahan Baseline GPS dengan Perangkat Lunak Komersial Untuk Studi Land subsidence. Skripsi. Semarang : Teknik Geodesi Universitas Diponegoro. Kurniawan, A Analisis Penurunan Muka Tanah Kota Semarang Menggunakan Perangkat Lunak GAMIT Kurun Waktu Skripsi. Semarang : Teknik Geodesi Universitas Diponegoro. Yuwono, B.D, dkk Analisis Geospasial Penyebab Penurunan Muka Tanah Di Kota Semarang. SNST Prosiding Vol. 4 No. 4 Hal Semarang : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim V.2 Saran Saran untuk penelitian selanjutnya diantaranya sebagai berikut: 1. Pengamatan dan penelitian penurunan muka tanah sebaiknya dilakukan secara kontinyu dan menggunakan kombinasi teknologi geodesi seperti InSAR, DinSAR, Pengukuran terestris dengan waterpass instrument (levelling), dan gravimetri untuk mendapatkan informasi penurunan yang lebih teliti. 2. Kerapatan dan jumlah titik sebaiknya diperbanyak khususnya didaerah dekat pantai (semarang utara, genuk, dsb). Hal ini untuk mempermudah analisis dan agar peta yang dihasilkan menghasilkan peta penurunan yang lebih detail dengan kontur yang lebih rapat. 3. Untuk penelitian selanjutnya lebih baik dilakukan analisis lebih mendalam dengan menggunakan metode pembobotan atau skoring. Daftar Pustaka Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, (ISSN : X) 350
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengecekan Kualitas Data Observasi Dengan TEQC Kualitas dari data observasi dapat ditunjukkan dengan melihat besar kecilnya nilai moving average dari multipath untuk
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2013
ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH DAERAH SEMARANG MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.04 KURUN WAKTU 2008-2013 Aldika Kurniawan 1), Bambang Darmo Yuwono 2), LM Sabri 3) 1) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
Ungaran Jembatan Penggaron (470 m) Semarang BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN III.1 PERSIAPAN III.1.1 Lokasi Penelitian Dalam penelitian kali ini dilakukan pengamatan di titik ikat pengamatan deformasi Jembatan
Analisa Pergeseran Titik Pengamatan GPS pada Gunung Merapi Periode Januari-Juli 2015
A389 Analisa Pergeseran Titik Pengamatan GPS pada Gunung Merapi Periode Januari-Juli 2015 Joko Purnomo, Ira Mutiara Anjasmara, dan Sulistiyani Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL
ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL Oleh : Syafril Ramadhon ABSTRAK Ketelitian data Global Positioning Systems (GPS) dapat
Jurnal Geodesi Undip Januari 2014
Verifikasi TDT Orde 2 BPN dengan Stasiun CORS BPN-RI Kabupaten Grobogan Rizna Trinayana, Bambang Darmo Yuwono, L. M. Sabri *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof
Jurnal Geodesi Undip Juli 2014
PENGAMATAN GPS UNTUK MONITORING DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.5 Ali Amirrudin Ahmad, Bambang Darmo Yuwono, M. Awaluddin *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik,
BAB IV PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengolahan Data Data GPS yang digunakan pada Tugas Akhir ini adalah hasil pengukuran secara kontinyu selama 2 bulan, yang dimulai sejak bulan Oktober 2006 sampai November 2006
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Pengecekan dengan TEQC Data pengamatan GPS terlebih dahulu dilakukan pengecekan untuk mengetahui kualitas data dari masing-masing titik pengamatan dengan menggunakan program
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semarang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang mengalami penurunan muka tanah yang cukup signifikan setiap tahunnya (Abidin, 2009). Hal ini disebabkan
Analisa Pengolahan Data Stasiun GPS CORS Gunung Merapi Menggunakan Perangkat Lunak Ilmiah GAMIT/GLOBK 10.6
A432 Analisa Pengolahan Data Stasiun GPS CORS Gunung Merapi Menggunakan Perangkat Lunak Ilmiah /GLOBK 10.6 Andri Arie Rahmad, Mokhamad Nur Cahyadi, Sulistiyani Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Jembatan adalah suatu struktur konstruksi yang memungkinkan rute transportasi melintasi sungai, danau, jalan raya, jalan kereta api dan lainlain.jembatan merupakan
Studi Penurunan Tanah Kota Surabaya Menggunakan Global Positioning System
Studi Penurunan Tanah Kota Surabaya Menggunakan Global Positioning System Akbar.K 1 *, M.Taufik 1 *, E.Y.Handoko 1 * Teknik Geomatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesi Email : [email protected]
PENGGUNAAN TITIK IKAT GPS REGIONAL DALAM PENDEFINISIAN STASIUN AKTIF GMU1 YANG DIIKATKAN PADA ITRF Sri Rezki Artini ABSTRAK
PENGGUNAAN TITIK IKAT GPS REGIONAL DALAM PENDEFINISIAN STASIUN AKTIF GMU1 YANG DIIKATKAN PADA ITRF 2008 Sri Rezki Artini Staf pengajar Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Politeknik Negeri Sriwijaya Jalan.
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS 4.1. Pengolahan Data Hasil Survey GPS Pengamatan penurunan muka tanah memerlukan tingkat ketelitian ketinggian yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan
Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech ASH111661
A369 Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech I Gede Brawiswa Putra, Mokhamad Nur Cahyadi Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
BAB I. PENDAHULUAN. Kota Semarang berada pada koordinat LS s.d LS dan
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Semarang berada pada koordinat 6 0 55 34 LS s.d. 7 0 07 04 LS dan 110 0 16 20 BT s.d. 110 0 30 29 BT memiliki wilayah pesisir di bagian utara dengan garis pantai
B A B IV HASIL DAN ANALISIS
B A B IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Output Sistem Setelah sistem ini dinyalakan, maka sistem ini akan terus menerus bekerja secara otomatis untuk mendapatkan hasil berupa karakteristik dari lapisan troposfer
Analisis Deformasi Gunung Merapi Berdasarkan Data Pengamatan GPS Februari- Juli 2015
A427 Analisis Deformasi Gunung Merapi Berdasarkan Data Pengamatan GPS Februari- Juli 2015 Yuandhika Galih Wismaya, Ira Mutiara Anjasmara, dan Sulistiyani Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil
Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (Sumatran GPS Array)
Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (n GPS Array) Bima Pramudya Khawiendratama 1), Ira Mutiara Anjasmara 2), dan Meiriska Yusfania 3) Jurusan Teknik Geomatika,
PEMANFAATAN TEKNOLOGI GPS UNTUK PEMANTAUAN PENURUNAN PADA JEMBATAN MERR II-C SURABAYA. Teguh Hariyanto 1, Achmad Frandik 1
PEMANFAATAN TEKNOLOGI GPS UNTUK PEMANTAUAN PENURUNAN PADA JEMBATAN MERR II-C SURABAYA GPS TECHNOLOGY FOR MONITORING SUBSIDENCE IN MERR II-C SURABAYA BRIDGE Teguh Hariyanto 1, Achmad Frandik 1 1 Jurusan
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2013
Analisis Ketelitian Pengukuran Baseline Panjang GNSS Dengan Menggunakan Perangkat Lunak Gamit 10.4 dan Topcon Tools V.7 Maulana Eras Rahadi 1) Moehammad Awaluddin, ST., MT 2) L. M Sabri, ST., MT 3) 1)
ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN PENGUKURAN GPS KINEMATIK
ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN PENGUKURAN GPS KINEMATIK Lysa Dora Ayu Nugraini, Eko Yuli Handoko, ST, MT Program Studi Teknik Geomatika, FTSP ITS-Sukolilo, Surabaya
Studi Penelitian Penurunan Tanah Kota Surabaya Menggunakan Global Positioning System
Studi Penelitian Penurunan Tanah Kota Surabaya Menggunakan Global Positioning System Akbar Kurniawan 3509 201 005 Program Studi Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
ANALISIS GEOMETRI JARING PADA PENGUKURAN GPS UNTUK PENGADAAN TITIK KONTROL ORDE-2 Fuad Hari Aditya, Bambang Darmo Yuwono, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jurnal Geodesi Undip April 2016
ANALISIS PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK RTKLIB Desvandri Gunawan, Bambang Darmo Yuwono, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto
Jurnal Geodesi Undip April 2016
PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.6 DAN TOPCON TOOLS V.8 PADA PENGUKURAN DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG TAHUN 2015 Yogi Wahyu Aji, Bambang Sudarsono, Fauzi Janu Amarrohman *) Program Studi
Evaluasi Penurunan Tanah Kawasan Lumpur Sidoarjo Berdasarkan Data Pengamatan GPS April, Mei, Juni, dan Oktober 2016
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-7 Evaluasi Penurunan Tanah Kawasan Lumpur Sidoarjo Berdasarkan Data Pengamatan GPS April, Mei, Juni, dan Oktober 2016 Kukuh Prakoso
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014
PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK TOPCON TOOLS v.8.2 Amri Perdana Ginting, Bambang Darmo Yuwono, Moehammad Awaluddin *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Unversitas
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau yang lebih dikenal dengan DKI Jakarta atau Jakarta Raya adalah ibu kota negara Indonesia. Jakarta yang terletak di bagian barat laut
Bab III Pelaksanaan Penelitian
Bab III Pelaksanaan Penelitian Tahapan penelitian secara garis besar terdiri dari persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan kesimpulan. Diagram alir pelaksanaan penelitian dapat dilihat
Jl. Raya Kaligawe Km. 4, Semarang Jawa Tengah 2
H.1 PENGARUH AMBLESAN TANAH (LAND SUBSIDENCE) TERHADAP PERUBAHAN LUAS GENANGAN AIR PADA DATARAN ALLUVIAL KOTA SEMARANG BAGIAN TIMUR (STUDI KASUS : KECAMATAN GENUK DAN KECAMATAN PEDURUNGAN) Rahmad Fuji
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1. Data Penelitian Tugas Akhir Data pengamatan yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah data penegamatan GPS yang dilakukan di Bendungan Jatibarang pada bulan
Kata kunci: Alluvial, Amblesan, Genangan, PLAXIS, GIS ISBN
PENGARUH AMBLESAN TANAH (LAND SUBSIDENCE) TERHADAP PERUBAHAN LUAS GENANGAN AIR PADA DATARAN ALLUVIAL KOTA SEMARANG (STUDI KASUS : KECAMATAN SEMARANG BARAT) Muhammad Bustomi Shila Huddin 1, Pratikso 2,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bendungan Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan
BAB III PENGAMATAN GPS EPISODIK DAN PENGOLAHAN DATA
BAB III PENGAMATAN GPS EPISODIK DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Pengamatan Data Salah satu cara dalam memahami gempa bumi Pangandaran 2006 adalah dengan mempelajari deformasi yang mengiringi terjadinya gempa bumi
PENGGUNAAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI UNTUK PEMBUATAN PETA DASAR SKALA 1:5.000 KECAMATAN NGADIROJO, KABUPATEN PACITAN
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-399 PENGGUNAAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI UNTUK PEMBUATAN PETA DASAR SKALA 1:5.000 KECAMATAN NGADIROJO, KABUPATEN PACITAN
Jurnal Geodesi Undip April 2016
ANALISIS KETELITIAN TITIK KONTROL HORIZONTAL PADA PENGUKURAN DEFORMASI JEMBATAN PENGGARON MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.6 Sanches Budhi Waluyo, Bambang Sudarsono, Bambang Darmo Yuwono *) Program
Jurnal Geodesi Undip Januari 2017
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2016 Rizki Fadillah, Bambang Darmo Yuwono, Bambang Sudarsono *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto,
ANALISA GEOSPASIAL PENYEBAB PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA SEMARANG
G.1 ANALISA GEOSPASIAL PENYEBAB PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA SEMARANG Bambang Darmo Yuwono 1, Hasanuddin Z.Abidin 2, Muhammad Hilmi 3 1 Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014
SURVEI PENDAHULUAN DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN PENGAMATAN GPS Ramdhan Thoriq S, Moehammad Awaluddin, Bambang Darmo Yuwono *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Unversitas Diponegoro Jl.
BAB II SISTEM SATELIT NAVIGASI GPS
BAB II SISTEM SATELIT NAVIGASI GPS Satelit navigasi merupakan sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Satelit dapat memberikan posisi suatu objek di muka bumi dengan akurat dan
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
PERHITUNGAN DEFORMASI GEMPA KEBUMEN 2014 DENGAN DATA CORS GNSS DI WILAYAH PANTAI SELATAN JAWA TENGAH Budi Prayitno, Moehammad Awaluddin, Bambang Sudarsono *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik
BAB 3 PEMANTAUAN PENURUNAN MUKA TANAH DENGAN METODE SURVEY GPS
BAB 3 PEMANTAUAN PENURUNAN MUKA TANAH DENGAN METODE SURVEY GPS Ada beberapa metode geodetik yang dapat digunakan untuk memantau penurunan tanah, diantaranya survey sipat datar (leveling), Interferometric
Jurnal Geodesi Undip AGUSTUS 2015
ANALISIS DAYA TAMPUNG FASILITAS PENDIDIKAN TERHADAP JUMLAH PENDUDUK USIA SEKOLAH BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Widya Prajna, Sutomo Kahar, Arwan Putra Wijaya *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas
Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi dari Hasil Survei GPS dan Sipat Datar
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi No. 2 Vol. 1 ISSN 2338-350X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi dari Hasil Survei GPS dan Sipat Datar
ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP
ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP Oleh : Syafril Ramadhon ABSTRAK Metode Real Time Point Precise Positioning (RT-PPP) merupakan teknologi
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan metode terestris dan ekstra-terestris. Penentuan posisi dengan metode terestris dilakukan dengan
PEMANFAATAN INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (InSAR) UNTUK PEMODELAN 3D (DSM, DEM, DAN DTM)
Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara Vol. 4 No. 4 Desember 2009 : 154-159 PEMANFAATAN INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (InSAR) UNTUK PEMODELAN 3D (DSM, DEM, DAN DTM) Susanto *), Atriyon Julzarika
Jurnal Geodesi Undip Januari 2014
Analisis Geospasial Persebaran TPS dan TPA di Kabupaten Batang Menggunakan Sistem Informasi Geografis Mufti Yudiya Marantika, Sawitri Subiyanto, Hani ah *) Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik,
PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS
PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS (Sigit Irfantono*, L. M. Sabri, ST., MT.**, M. Awaluddin, ST., MT.***) *Mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Diponegoro. **Dosen Pembimbing I Teknik Geodesi Universitas
ANALISA NILAI TEC PADA LAPISAN IONOSFER DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGAMATAN GPS DUA FREKUENSI PEMBIMBING EKO YULI HANDOKO, ST, MT
ANALISA NILAI TEC PADA LAPISAN IONOSFER DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGAMATAN GPS DUA FREKUENSI MOCHAMMAD RIZAL 3504 100 045 PEMBIMBING EKO YULI HANDOKO, ST, MT PENDAHULUAN Ionosfer adalah bagian dari lapisan
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar belakang. tatanan tektonik yang kompleks. Pada bagian barat Indonesia terdapat subduksi
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Indonesia terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar yakni lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki tatanan tektonik
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2013
PENENTUAN KOORDINAT DEFINITIF EPOCH 2013 STASIUN CORS GEODESI UNDIP DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.04 Edy Saputera Purba 1), Bambang Darmo Y., ST., MT 2), L.M. Sabri, ST., MT 3) 1) Mahasiswa
BAB 3 PENGOLAHAN DATA DAN HASIL. 3.1 Data yang Digunakan
BAB 3 PENGOLAHAN DATA DAN HASIL 3.1 Data yang Digunakan Data GPS yang digunakan dalam kajian kemampuan kinerja perangkat lunak pengolah data GPS ini (LGO 8.1), yaitu merupakan data GPS yang memiliki panjang
ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN METODE PENGUKURAN GPS KINEMATIK
ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN METODE PENGUKURAN GPS KINEMATIK Oleh : Lysa Dora Ayu Nugraini 3507 100 012 Dosen Pembimbing : Eko Yuli Handoko, ST, MT DEFORMASI Deformasi
Jurnal Geodesi Undip Juli 2014
Jurnal Geodesi Undip Juli 2014 ANALISIS KETELITIAN TITIK KONTROL HORIZONTAL PADA PENGUKURAN DEFORMASI JEMBATAN PENGGARON MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.5 *) Penulis Penanggung Jawab Ayu Nur Safi i, Bambang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sesar Cimandiri (gambar 1.1) merupakan sesar aktif yang berada di wilayah selatan Jawa Barat, tepatnya berada di Sukabumi selatan. Sesar Cimandiri memanjang dari Pelabuhan
Analisa Kecepatan Pergeseran di Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Menggunakan GPS- CORS Tahun
Analisa Kecepatan Pergeseran di Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Menggunakan GPS- CORS Tahun 2013-2015 Avrilina Luthfil Hadi 1), Ira Mutiara Anjasmara 2), dan Meiriska Yusfania 3) Jurusan Teknik Geomatika,
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015
SURVEI PENDAHULUAN DEFORMASI MUKA TANAH DENGAN PENGAMATAN GPS DI KABUPATEN DEMAK (Studi Kasus : pesisir pantai Kecamatan Sayung) Moh Kun Fariqul Haqqi, Bambang Darmo Yuwono, Moehammad Awaluddin *) Program
BAB IV PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGOLAHAN DATA IV.1 SOFTWARE BERNESE 5.0 Pengolahan data GPS High Rate dilakukan dengan menggunakan software ilmiah Bernese 5.0. Software Bernese dikembangkan oleh Astronomical Institute University
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1 Persiapan Penelitian Dalam bab ini akan menjelaskan mengenai tahapan-tahapan yang dilakukan dalam Tugas Akhir ini. Tahapan dimulai dengan pengumpulan data dan alat yang
Jurnal Geodesi Undip April 2013
ANALISIS DISTORSI PETA BIDANG TANAH PADA PEMBUATAN PETA PENDAFTARAN MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD Febrina Aji Ratnawati, Ir. Bambang Sudarsono, MS *, Ir. Sawitri Subiyanto M.Si ** Program Studi Teknik Geodesi
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN Pada BAB III ini akan dibahas mengenai pengukuran kombinasi metode GPS dan Total Station beserta data yang dihasilkan dari pengukuran GPS dan pengukuran Total Station pada
BAB II Studi Potensi Gempa Bumi dengan GPS
BAB II Studi Potensi Gempa Bumi dengan GPS 2.1 Definisi Gempa Bumi Gempa bumi didefinisikan sebagai getaran pada kerak bumi yang terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba. Gempa bumi, dalam hal
URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI. Oleh: Nanin Trianawati Sugito*)
URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI Oleh: Nanin Trianawati Sugito*) Abstrak Daerah (propinsi, kabupaten, dan kota) mempunyai wewenang yang relatif
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Juni, 2013) ISSN:
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Juni, 2013) ISSN: 2301-9271 1 Kajian Updating Peta Menggunakan Data Dasar Citra Satelit Worldview-2 dan Kota Surabaya Skala 1:5000 (Studi Kasus: dan Anyar) Cherie Bhekti
Analisis Ketelitian Geometric Citra Pleiades 1B untuk Pembuatan Peta Desa (Studi Kasus: Kelurahan Wonorejo, Surabaya)
Analisis Ketelitian Geometric Citra Pleiades 1B untuk Pembuatan Peta Desa (Studi Kasus: Kelurahan Wonorejo, Surabaya) Iva Nurwauziyah, Bangun Muljo Sukojo, Husnul Hidayat Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas
Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Mahasiswa : Cherie Bhekti Pribadi (3509100060) Dosen Pembimbing : Dr. Ing. Ir. Teguh Hariyanto, MSc Udiana Wahyu D, ST. MT Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi
Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016
SURVEI PEMANTAUAN DEFORMASI MUKA TANAH KAWASAN PESISIR MENGGUNAKAN METODE PENGUKURAN GPS DI KABUPATEN DEMAK TAHUN 2016 (Studi Kasus : Pesisir Kecamatan Sayung, Demak) Luthfi Eka Rahmawan, Bambang Darmo
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sebagai salah satu situs warisan budaya dunia, Candi Borobudur senantiasa dilakukan pengawasan serta pemantauan baik secara strukural candi, arkeologi batuan candi,
Aplikasi Penginderaan Jauh Untuk Monitoring Perubahan Ruang Terbuka Hijau (Studi Kasus : Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan)
Aplikasi Penginderaan Jauh Untuk Monitoring Perubahan Ruang Terbuka Hijau (Studi Kasus : Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan) Ardiawan Jati, Hepi Hapsari H, Udiana Wahyu D Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Berikut adalah metode penelitian yang diusulkan : Pengumpulan Data Peta Curah Hujan tahun Peta Hidrologi Peta Kemiringan Lereng Peta Penggunaan Lahan
BAB VII ANALISIS. Airborne LIDAR adalah survey untuk mendapatkan posisi tiga dimensi dari suatu titik
83 BAB VII ANALISIS 7.1 Analisis Komponen Airborne LIDAR Airborne LIDAR adalah survey untuk mendapatkan posisi tiga dimensi dari suatu titik dengan memanfaatkan sinar laser yang ditembakkan dari wahana
BAB III METODE PENGUKURAN
BAB III METODE PENGUKURAN 3.1 Deskripsi Tempat PLA Penulis melaksanakan PLA (Program Latihan Akademik) di PT. Zenit Perdana Karya, yang beralamat di Jl. Tubagus Ismail Dalam No.9 Bandung. Perusahaan ini
Pengamatan Pasang Surut Air Laut Sesaat Menggunakan GPS Metode Kinematik
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6 No. 2, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) G-178 Pengamatan Pasang Surut Air Laut Sesaat Menggunakan GPS Metode Kinematik Ahmad Fawaiz Safi, Danar Guruh Pratomo, dan Mokhamad
PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM
PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM UU no. 4 Tahun 2011 tentang INFORMASI GEOSPASIAL Istilah PETA --- Informasi Geospasial Data Geospasial :
PEMETAAN DAERAH YANG TERGENANG BANJIR PASANG AKIBAT KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI PESISIR KOTA TEGAL
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015, Halaman 179-184 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose PEMETAAN DAERAH YANG TERGENANG BANJIR PASANG AKIBAT KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Gempa bumi pada tahun 2006 yang terjadi di Yogyakarta mengindikasikan keberadaan Sesar Opak. Sesar Opak adalah sesar yang terletak di sekitar sebelah barat Sungai
Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG)
Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG) 24/09/2012 10:58 Sistem (komputer) yang mampu mengelola informasi spasial (keruangan), memiliki kemampuan memasukan (entry), menyimpan
3. METODOLOGI Waktu dan Lokasi Penelitian. Lokasi pengamatan konsentrasi klorofil-a dan sebaran suhu permukaan
20 3. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Lokasi pengamatan konsentrasi klorofil-a dan sebaran suhu permukaan laut yang diteliti adalah wilayah yang ditunjukkan pada Gambar 2 yang merupakan wilayah
BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI
BAB II 2.1. Tinjauan Umum Sungai Beringin merupakan salah satu sungai yang mengalir di wilayah Semarang Barat, mulai dari Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan dan bermuara di Kecamatan Tugu (mengalir
PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK
PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK Oleh : Syafril Ramadhon ABSTRAK Salah satu kegiatan eksplorasi seismic di darat adalah kegiatan topografi seismik. Kegiatan ini bertujuan
ANALISA PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN WILAYAH SURABAYA BARAT MENGGUNAKAN CITRA SATELIT QUICKBIRD TAHUN 2003 DAN 2009
ANALISA PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN WILAYAH SURABAYA BARAT MENGGUNAKAN CITRA SATELIT QUICKBIRD TAHUN 2003 DAN 2009 Prenita Septa Rianelly 1, Teguh Hariyanto 1, Inggit Lolita Sari 2 1 Program Studi Teknik
IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Desa Tugu Utara dan Kelurahan Cisarua,
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Desa Tugu Utara dan Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan
Pengaruh Penambahan Jumlah Titik Ikat Terhadap Peningkatan Ketelitian Posisi Titik pada Survei GPS
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No.2 Vol. 01 ISSN 2338-350x Oktober 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Pengaruh Penambahan Jumlah Titik Ikat Terhadap Peningkatan Ketelitian Posisi
PENENTUAN KOORDINAT STASIUN GNSS CORS GMU1 DENGAN KOMBINASI TITIK IKAT GPS GLOBAL DAN REGIONAL
PENENTUAN KOORDINAT STASIUN GNSS CORS GMU1 DENGAN KOMBINASI TITIK IKAT GPS GLOBAL DAN REGIONAL Sri Rezki Artini Staf pengajar Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Politeknik Negeri Sriwijaya, Jalan Srijaya Negara
Jurnal Geodesi Undip Januari 2017
KAJIAN PENENTUAN POSISI JARING KONTROL HORIZONTAL DARI SISTEM TETAP (DGN-95) KE SRGI (Studi Kasus : Sulawesi Barat) Amirul Hajri, Bambang Darmo Yuwono, Bandi Sasmito *) Program Studi Teknik Geodesi Fakultas
Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-Titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar
Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 2 Vol. 1 ISSN 2338-350X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017, Halaman Online di :
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017, Halaman 176 182 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose ANALISIS DATA PASANG SURUT SEBAGAI DASAR PENENTUAN DAERAH GENANGAN BANJIR PASANG
Jurnal Geodesi Undip Januari 2015
ANALISIS PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG Agatha Dimitri Vara Diba Kusumo, Sutomo Kahar, Sawitri Subiyanto *) Program Studi Teknik Geodesi
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Titik kontrol pada proses pembuatan peta selalu dibutuhkan sebagai acuan referensi, tujuannya agar seluruh objek yang dipetakan tersebut dapat direpresentasikan sesuai
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: ( Print) A-202
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-202 Studi Perbandingan Ketelitian Nilai Melalui Matahari dan Global Positioning System (GPS) Terhadap Titik BM Referensi (Studi
Bab III Pelaksanaan Penelitian. Penentuan daerah penelitian dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah :
14 Bab III Pelaksanaan Penelitian III.1 Persiapan III.1.1 Daerah Penelitian Penentuan daerah penelitian dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah : 1. Lokasi penelitian pada google
KL 4099 Tugas Akhir. Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari. Bab 1 PENDAHULUAN
Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari Bab 1 PENDAHULUAN Bab PENDAHULUAN Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari 1
Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS
Jurnal Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi No. 1 Vol. 1 ISSN 2338-350X Juni 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS RINA ROSTIKA
Estimasi Nilai Pergeseran Gempa Bumi Padang Tahun 2009 Menggunakan Data GPS SuGAr
C93 Estimasi Nilai Pergeseran Gempa Bumi Padang Tahun 2009 Menggunakan Data GPS SuGAr I Dewa Made Amertha Sanjiwani 1), Ira Mutiara Anjasmara 2), Meiriska Yusfania 3) Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas
Pengujian Ketelitian Hasil Pengamatan Pasang Surut dengan Sensor Ultrasonik (Studi Kasus: Desa Ujung Alang, Kampung Laut, Cilacap)
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) G-212 Pengujian Ketelitian Hasil Pengamatan Pasang Surut dengan Sensor Ultrasonik (Studi Kasus: Desa Ujung Alang, Kampung Laut,
Jurnal Geodesi Undip April 2016
ANALISIS PENGUASAAN PEMILIKAN PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH (P4T) BERBASIS BIDANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) (Studi Kasus : Kelurahan ) Benning Hafidah Kadina; Sawitri Subiyanto; Abdi
Jurnal Geodesi Undip Januari 2014
Analisis Distribusi Klorofil A Dengan Pengaruhnya Terhadap Hasil Perikanan Menggunakan Metode Penginderaan Jauh ( Studi Kasus Pesisir Pantai Pesawaran Lampung ) Henndry, Andri Suprayogi, Bambang Darmo
