BAB I Pendahuluan Gambar 1:

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I Pendahuluan Gambar 1:"

Transkripsi

1 BAB I Pendahuluan Wilayah teritorial laut Indonesia yang berada di bagian selatan dari Laut Cina Selatan, dikenal sebagai wilayah Cekungan Laut Natuna terdiri dari dua area cekungan, Cekungan Natuna Barat dan Timur yang dipisahkan oleh Natuna Ridge, merupakan tinggian dari Sunda Platform. Cekungan Natuna Barat merupakan perluasan sebelah timur dari Cekungan Malaya. Terdapat di antara Semenanjung Malaya dan Pulau Kalimantan, dekat dengan Pulau Anambas sebelah selatan dan Pulau Natuna sebelah timur. Cekungan ini memanjang dengan arah baratdaya timurlaut, dan meluas melewati garis median sampai wilayah air Malaysia. Cekungan ini menduduki area kurang lebih sekitar km 2. Cekungan Natuna Barat merupakan cekungan sedimen yang terletak di sisi barat Pulau Kalimantan. Cekungan ini merupakan bagian dari lempeng Eurasia, bagian dari Sundaland. Cekungan ini mempunyai dasar berupa kerak benua. Gambar 1: Peta lokasi Cekungan Natuna Barat. 2

2 BAB II Perkembangan Struktur Geologi Regional 2.1 Pendahuluan Model tektonik lempeng untuk Asia Tenggara telah dikemukakan oleh beberapa penulis (di antaranya Hall, 1995; Rangin et al 1990; Daly et al 1991; Daines, 1985; Parker & Gealey 1983; Tapponier et al 1982). Kebanyakan penulis ini mengemukakan teorinya berdasarkan data geologi dan paleomagnetik, kebanyakan dari model tersebut masih belum lengkap. 2.2 Tektonik Lempeng Pada Kenozoik Lokasi dari Indonesia pada pertemuan antara Lempeng Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia telah menghasilkan beberapa komplek interaksi antara subduction, extension, collision dan extrusion tectonics. Tambahan pergerakan dari Lempeng Filipina dan Carolina di bagian barat dan beberapa micro plates, mengakibatkan rekontruksi menjadi semakin sulit. Oleh karena itu diskusi ini hanya akan tertuju pada ringkasan dari event utama yang mempengaruhi perkembangan tektonik dari Cekungan Natuna Barat. Pembahasan dari perkembangan tektonik lempeng menitikberatkan pada publikasi terbaru oleh Hall et al (1995 & 1996) dan membagi sejarahnya dari Eosen Awal sampai sekarang dengan interval waktu sampai 10 Ma. 2.3 Akhir Eosen Awal (50 Ma) Terutama untuk Indonesia 50 Ma didominasi oleh subduksi busur magma ke selatan sepanjang Trans-Himalayan dan ke timur Lempeng Pasifik. Posisi relatif dan gerakan lempeng India, Australia,dan Eurasia dibatasi dengan pergerakan cepat Lempeng India ke utara, tetapi belum kolisi dengan busur kepulauan sepanjang bagian selatan batas Lempeng 3

3 Eurasia. Bukti awal kolisi India dan Eurasia dibuktikan dengan obduksi ofiolit Kapur di sisi barat Lempeng India, yang terlipat dan tidak selaras di atas batuan karbonat Eosen Tengah. Peristiwa ini mengakibatkan docking antara Lempeng India dengan Lempeng Eurasia bersamaan dengan spreading yang mengakibatkan Lempeng India berputar berlawanan arah jarum jam. Area dalam cekungan Natuna Barat adalah bagian yang stabil dari Sunda Platform dan mungkin mencakup laut dangkal. Gambar 2 : Struktur geologi pada akhir Eosen Awal 2.4 Eosen Akhir (40 Ma) Pada Miosen Akhir, tepi cekungan antara India dan Eurasia telah tertutup dan kolisi benua-benua dimulai sepanjang batas Lempeng IndiaEurasia. Bagian barat dari zona kolisi bergerak ke timur seperti Lempeng India, diawali dari blok Indocina bergerak ke tenggara kemungkinan 4

4 membentuk sesar-sesar dekstral yang melewati Natuna Barat, Malay, dan Cekungan Thailand. Gambar 3 : Struktur geologi pada 40 Ma. 2.5 Oligosen Tengah (30 Ma) Kelanjutan ekstrusi blok Indochina akibat peningkatan pemendekan zona kolisi Himalaya, menghasilkan peningkatan aktivitas transtensional sepanjang Thailand, Malaya, dan Cekungan Natuna Barat. Kekuatan transtensional di Cekungan Natuna Barat menghasikan graben-graben. Pada bagian selatan dan barat daya Cekungan Natuna Barat, Sumatra, Jawa yang pernah mengalami kompresional pada akhir Oligosen Awal yang menghasilkan inversi cekungan. Ini adalah hasil dari zona subduksi ke selatan yang menghasilkan penutup tepi cekungan dan kolisi busur subsekuen. Inversi ini juga membuktikan banyak cekungan-cekungan pada Natuna Barat dan Malaya oleh ketidakselarasan yang tersebar luas 5

5 pada 31 Ma dan juga bersamaan dengan akhir rifting utama Cekungan Natuna Barat dan pemekaran lantai samudera di Laut Cina Selatan. Gambar 4 : Struktur geologi pada Oligosen Tengah 2.6 Miosen Awal (20 Ma) Proses ekstrusi Indocina berlanjut menghasilkan ekstensi sepanjang Cekungan Natuna Barat dan Malay. Sekitar 23 Ma tanda pertama inversi Cekungan Natuna Barat adalah angular unconformity yang jelas akibat rotasi, di antaranya Proto South China (searah jarum jam) dan Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimantan (tidak searah jarum jam), hasil kompresi pada bagian timur barat daya dan zona transtensional Indocina dengan bagian barat Kalimantan dan ekstensional Teluk Thailand menyebabkan kolisi antara lempeng Australia, Filipina, dan busur Halmahera. 6

6 Gambar 5 : Struktur geologi pada miosen Awal. 2.7 Miosen Akhir (10 Ma) Pada Miosen Akhir, rotasi Kalimantan sudah lengkap, proses spreading berhenti di Laut Cina Selatan, ekstensi dan spreading dimulai di Laut Andaman. Inversi di cekungan busur belakang Sumatra dimulai sebagai oblique subduction dan pergerakan subsequent dextral stike-slip. 7

7 Gambar 6 : Struktur geologi pada Miosen Akhir. BAB III 8

8 Sejarah Pembentukan Cekungan Natuna Barat 3.1 Pendahuluan Sekitar juta tahun yang lalu terjadi kolisi antara Lempeng India dengan Lempeng Eurasia (Tapponier, 1986; Dewey, 1988; Peltzer & Tapponnier, 1988; Harrison, 1992; Le Pichon, 1992 dan Hall, 2002) yang menghasilkan pemekaran di Eurasia melalui sejumlah sesar strike-slip utama (Gambar 2). Sesar ini yang menyebabkan transtensional dan berhubungan dengan terbukanya cekungan-cekungan pada Sundaland selama Tersier (Peltzer & Tapponnier, 1988). Gambar 7 : Peta lokasi Cekungan Natuna Barat pada Sundaland dan batas-batas tektonik lempeng ditunjukkan oleh zona subduksi dan sesar utama di Asia Tengara (di sisi kiri). Peta tektonik regional (di sisi kanan) yang menunjukkan sejumlah pergerakan lateral akibat sesar utama yang terbentuk akibat collision dengan India pada jt tahun yang lalu (modifikasi dari Peltzer & Tapponnier, 1988). Seluruh evolusi yang terjadi pada cekungan natuna selama tersier terus berlanjut hingga saat ini. Cekungan Natuna Barat menunjukkan 9

9 tanda aktivitas tektonik yang berkelanjutan dari awal terjadinya dan semua aktivitas setelahnya. Dimulai dengan pemekaran dan setelah terjadi pembalikan itu secara tektonik. Perubahan dari gaya ekstensional menjadi gaya kompresional terjadi dalam waktu yang relatif singkat, akibat adanya pengaturan ulang lempeng secara global. McClay & Bonora (1998) mengenalkan dua arah utama sesar secara regional: trend Timurlaut-Baratdaya dan Baratlaut-Tenggara, yang secara aktif menyebabkan deformasi berkelanjutan. Arah sesar yang pertama umumnya terdapat pada setengah cekungan sisi tenggara, sementara yang satu lagi umumnya diamati pada setengah Cekungan Natuna Barat sisi baratlaut. Sesar ini, utamanya planar-domino style, menyebabkan half-grabens seperti saat cekungan mulai meluas pada Eosen akhir. Tektonik inversi yang terjadi pada regional cekungan merupakan penyebab terjadinya antiklin tumbuh yang terbalik, dengan karakteristik sayapdepan yang hampir datar dan sayapbelakang dengan sudut yang kecil. Geometri bentuk baji umum terdapat pada endapan synextensional dan syn-inversion (Cooper dan Williams, 1989). 3.2 Tektonik Natuna Barat Perkembangan tektonik Natuna Barat dapat dibagi dalam empat perbedaan fase: 1) Crustal extensional, 2) Post-rift quescence period, 3) Syn-inversion, dan 4) Post-inversion Crustal Extensional Crustal extensional dan rifting di Cekungan Natuna Barat berlangsung selama Eosen Bawah sampai Oligosen dalam reaksi kolisi dari subkontinen India dengan Eurasia. Faktor pertama trend rifting adalah transtensional di graben baratlaut dan timurlaut, yang 10

10 diisi oleh endapan lacustrine yang terjadi secara lateral karena proses ekstrusi Indocina dan rotasi dari zona subduksi Sumatra sebagai akibat dari lekukan Lempeng India dan Asia. Faktor kedua adalah adanya rift trend yang dominan di tenggara dan baratdaya Post-rift Quiescence Period Dari Oligosen Tengah sampai Miosen Awal, cekungan Natuna Barat memasuki masa pasif. Pada saat itu terjadi pengendapan beberapa formasi Syn-Inversion Bukti pertama dari inversi di cekungan Natuna Barat terjadi pada 23 Ma dalam bentuk ketidakselarasan di barat Fomasi. Inversi kedua kira-kira 22 Ma dan bukti dimulainya fase graben utama. Reaktivasi dan pembalikan dari patahan sebelumnya mengontrol formasi. Inversi dimulai dengan patahan graben besar dan disusul dengan grabengraben yang lebih kecil. Dasar geometri struktur right-lateral shear regime Post-Inversion Inversi dan pergerakan sesar hampir berhenti pada Miosen Tengah dan cekungan regional mengalami fase subsiden tenang selama formasi muda mengalami deposisi. BAB IV Stratigrafi Cekungan Natuna Barat 11

11 4.1 Pendahuluan Sedimen Tersier Cekungan Natuna Barat dapat digolongkan utamanya berdasarkan pada penamaan lithostratigrafi yang mengacu pada Klasifikasi AGIP (1973). Bagaimanapun, klasifikasi urutan stratigrafi diterapkan baru-baru ini dalam usaha mencari jebakan-jebakan stratigrafi. Ketidakselarasan utama sebagai batas urutan di Cekungan Natuna Barat sangat berkaitan dengan sejarah tektonik cekungan, yaitu syn-rift, postrift, syn-inversion dan post iinversion. Sedimen Tersier Cekungan Natuna Barat, seperti juga dalam Cekungan Malay dan Sub Cekungan Penyu sama-sama diendapkan pada basement granitik dan metamorfik Pra-Tersier. Tersier Awal (Oligosen Awal Miosen Tengah) banyak disusun oleh sedimen non-marine, mulai dari lakustrin, fluvialo-deltaic dengan transgresi laut minor pada Miosen Awal. Kondisi laut hanya dimulai selama Miosen Akhir yang masih berlanjut sampai saat ini. Diagram kolom stratigrafi (Gambar 8) menggambarkan variasi fasies regional. 4.2 Urutan Syn-Rift Formasi Belut (Eosen Tengah Oligosen Awal) Formasi Belut merupakan unit pengendapan syn-rift yang mengisi half graben Natuna Barat. Formasi Belut menyisakan ketidakselarasan pada basemen granitik dan metamorfik Pra-Tersier dan ditutupi oleh Formasi Gabus Bawah. Ketebalan Formasi Belut ini berkisar antara kaki. Dan mungkin mencapai hingga kaki pada pusatnya. Kehadiran half-graben extensional dan rift valley mengontrol pola-pola penyebaran dan pengendapan dari Formasi Belut. Litologi pada Formasi Belut mengandung perlapisan klastik berwarna merah, subordinat vulkanik dan kemungkinan lempung lacustrin pada titik 12

12 pertengahan half-graben. Perlapisan pada formasi ini berwarna cokelat kemerah-merahan, hal ini terjadi karena adanya paleo-oksidasi yang sebagian besar menyusun batupasir arkosik dan konglomerat dengan metamorf lithoklastik yang berangsur berubah menjadi warna abu-abu terang, cokelat, merah dan batulempung ungu dan batulanau. Batuan vulkaniknya terdiri dari konglomerat dengan fragmen lithik vulkanik, batupasir vulkaniklastik, vulkanik debris flow, dan beberapa tuff vulkanik dalam bentuk batulempung yang berwarna kuning muda. Data sumur menunjukkan bahwa batupasir menyusun sekitar % seluruh bagian dan kebanyakan telah terkompaksi dan tersementasi dengan baik, sehingga menunjukkan pula bahwa sejarah terbentuknya pada lingkungan burial dalam Serpih Keras/Sambas (Oligosen Awal Tengah) Satuan serpih ini menyebabkan keselarasan pada Belut s Red Bed dan pada sebagian luas menyamping sejajar dengan Formasi Gabus Bawah. Interval ini merupakan serpih lacustrin airtawar mayor yang paling tua dalam Cekungan Natuna Barat. Tidak seperti halnya pada serpih Gajah dan Barat, satuan Keras/Sambas dikontrol oleh pengendapan serpih muda topografi lembah, karenanya penyebarannya tidak meluas secara regional. Akibatnya, akumulasi yang paling tebal terdapat di cekungan paleo deep. Serpih ini hanya dapat ditembus di struktur pengangkatan yang tinggi, karena posisi deep secara noramal seperti Anoa AR dan graben Raja Gajah. Sumur Raja Gajah 1 menembus hingga ketebalan kaki dari Keras Serpih. Umumnya satuan serpih ini memiliki ketebalan dari 200 kaki sampai 2500 kaki. Secara litologi, satuan ini massif, dapat dibelah dan sangat karbonatan. Plant debris adalah yang umum hadir, terbukti dengan Keras Serpih yang menjadi sumber minyak secara kondisi thermal. 13

13 Gambar 8 : Kolom stratigrafi menurut Pupilli. 14

14 Gambar 9. Kolom Stratigrafi Cekungan Natuna Barat

15 4.3 Urutan Post Rift Formasi Gabus Bawah (Oligosen Awal Tengah) Penyebaran Formasi Gabus Bawah menyebar luas secara regional, kecuali pada bagian yang paling bawah. Pengendapannya tidak dikontrol oleh topografi basemen. Satuan ini mewakili transisi sejarah cekungan dari tektonik syn rift sampai sedimentasi post rift. Formasi Gabus Bawah merupakan endapan syn rift, yang umumnya berkembang dengan baik dalam graben mayor Paleogen pada cekungan, seperti graben-graben Anoa, Raja Gajah, dan Anambus/Bawal. Formasi Gabus Bawah merupakan sikuen pengendapan yang terus berlanjut, dengan bidang batas ketidakselarasan pada bagian atas dan bagian bawahnya. Formasi ini terdiri dari serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir yang tipis dan tebal, yang diendapkan di alluvial flood plain atas hingga daerah muka pantai, sedangkan pada tubuh batupasir yang paling tipis diendapkan pada fasies lakustrin. Batupasir tersebut memilki butiran dari yang sangat halus sampai sedang. Struktur sedimen internal yang ada pada formasi ini adalah paralel laminasi, cross bedding, dan ripple laminasi dengan bioturbasi. Sekitar 48 %, batupasir ini menyusun formasi iini. Ketebalan dari batupasir ini sekitar 350 kaki, dan sekitar kurang dari 15 kaki disusun oleh batupasir channel pada lingkungan distal. Satuan serpihan terdiri dari batulempung lanauan masif yang mengandung mineral pyrit, dan plant debris Serpih Gajah/ Gabus (Oligosen Tengah) Serpih Gajah/ Gabus ini memilki ketebalan maksimum yang dapat diamati sekitar 750 kaki di daerah Anoa. Pada titik tengahnya, yang berada di sebelah selatan Anoa, data seismik menunjukkan bahwa ketebalannya sekitar kaki. Formasi ini memiliki warna merah cokelat, walaupun semakin kearah pusat cekungan warnanya

16 berangsur menjadi warna abu-abu, yang menunjukkan adanya perubahan tingkat oksidasi. Pada struktur pengangkatan yang tinggi, Formasi Serpih Gajah ini menunjukkan rekahan-rekahan kecil yang sangat keras dalam matriksnya, karena terhentinya proses lithostatic selama pengangkatan berlangsung. Rekahan-rekahan tersebut menyebabkan masalah pada saat pengeboran karena tidak bisa mengurangi beban pada saat pengeboran. Satuan serpih ini sebagai penanda yang memisahkan Formasi Gabus Bawah dari Formasi Gabus Atas yang lebih muda Formasi Gabus Atas (Oligosen Akhir Miosen Awal) Formasi ini merupakan sikuen sedimen post-rift yang paling muda. Penyebarannya meluas melalui cekungan, dengan bagian yang paling tebal berada pada pusat graben Paleogen. Sikuen ini mengandung batupasir sisipan batuserpih. Dalam area graben Paleogen, khususnya di Anoa, graben-graben Gajah dan Anambas menutupi Formasi Keras/ Gajah yang mengandung serpih tebal. Serpih ini mendominasi sikuen. Jauh dari graben Paleogen, sikuen yang tidak selaras menutupi basemen pra-tersier. Serpih masif dari Formasi Barat menutupi Formasi Gabus Atas. Formasi ini merupakan target utama eksplorasi di Cekungan Natuna Barat. Formasi Gabus Atas memiliki pola pengendapan yang hampir seragam, dan hadir menyeluruh pada cekungan sebelum proses inversi mendahuluinya. Formasi ini menebal dari arah utara dan selatan kearah pusat cekungan. Bukti dari inti pengeboran, menunjukkan pengujian biostratigrafi dan wireline log mengindikasikan bahwa bagian yang paling bawah dari Formasi Gabus Atas ini diendapkan di bawah kondisi lingkungan terrestrial, fluvial, dan lacustrin. Secara llithologi, formasi ini terdiri dari batupasir dan sisipan batuserpih, yang menyerupai pada bagian dasar dari Formasi Gabus Bawah. Batupasir diendapkan sebagai fluvial channel. Channel-channel tersebut terlihat seperti bentuk meander

17 kompleks pada alluvial plain yang berasosiasi dengan tanggul sungai dan celah di dalam gletser (sungai salju). Batulempung lanauan diendapkan pada alluvial flood plain, danau dan rawa airtawar. Bagian atas dari formasi ini kebanyakan diendapkan di terrestrial, deltaik, dan lingkungan laut dangkal. Batupasir berbutir mengasar ke atas ini terlihat seperti endapan muka pantai yang berasosiasi dengan kompleks lagoon atau delta. Dimana pun, apabila berasosiasinya dengan batulanau dan batu lempung, maka diinterpretasikan sebagai lumpur laut dangkal yang diendapkan dengan berbagai cara pada lingkungan laut. Semua batupasir pada formasi ini mengandung butiran kuarsa dari yang halus sampai sedang, dan kebanyakan masif, akan tetapi secara lokal terdapat struktur sedimen paralel laminasi, ripple cross laminasi dan cross bedding. Plant debris, pyrite dan siderite pada umumnya banyak ditemukan. Mineral klorit pun juga hadir dan kadang dibingungkan dengan glaukonit Formasi Arang Bawah. Satuan serpihan terdiri atas batulempung lanauan berwarna abu-abu hingga cokelat tua, graded bedding batulanau dan serpih hitam. Plant debris dan batuan-batuan karbonatan juga ada pada formasi ini. Lapisan batubara tipis dan fragmen-fragmen pohon telah dideskripsikan dari inti sumur. 4.4 Syn - Inversi Formasi Serpih Barat (Oligosen Akhir Miosen Awal) Formasi ini sebagian besar berwarna abu-abu dan cokelat muda kemerah-merahan, terdiri dari batulempung lanauan dan serpih, serta diendapkan pada lingkungan danau. Pada umumnya, batuserpih ini mengandung lignite dan plant debris yang karbonatan. Glaukonit dan batupasir halus ada pada beberapa lokasi. Struktur sedimen graded bedding, bioturbasi dan paralel laminasi terdapat pada beberapa inti sumur di area Belida dan Udang. Dan menyebar luas di semua

18 cekungan yang memilki ketebalan sekitar kaki di area sekitar AK-1X dan umumnya menebal kearah barat didalam Cekungan Malay. Pada umumnya, bagian timur Cekungan Natuna Barat, Formasi Barat hilang oleh tidak adanya pengendapan atau oleh erosi. Kearah timur menuju Busur Natuna, formasi ini menjadi fasies garis pantai yang lebih pasiran. Seluruh akumulasi hidrokarbon Gabus Atas memiliki Serpih Barat sebagai penutup atas. Dalam area Gajah-Lembu-Gajah Putri, Batupasir Intra Barat membagi dua bagian Formasi Serpih Barat. Hal ini berprospek tinggi karena pasir tersebut merupakan paket regresif dari Formasi Serpih Barat dimana sumber-sumber sedimen berasal dari arah timur laut dan mungkin juga di dalam Central Graben. Ketebalan maksimum batupasir ini yang pernah dicatat adalah 108 kaki (Lembu-1). Batupasir Formasi Intra Barat memiliki tubuh batuan yang berkembang dengan baik. Kemungkinan batupasir ini diendapkan pada bagian bawah delta flood plain. Ketebalan Formasi Serpih Barat dan variasi fasies merekam proses-proses awal terjadinya pengangkatan, perkembangan jebakan, dan proses preservasi reservoir di seluruh bagian cekungan. Periode perkembangan struktur ini menandakan asal mulanya terjadinya perlipatan kompresi Sunda dalam titik pusat half graben Formasi Arang (Miosen Awal Tengah) Formasi ini diendapkan sebagai bagian dari laut dan fluvial deltaik batupasir dan batulempung, yang menunjukkan penebalan cepat dari arah barat ke dalam Cekungan Malay. Lapisan batubara juga meningkat dari arah barat dan mungkin menghasilkan gas dan perubahan kondensasi reservoir Formasi Arang di daerah Malaysia. Bagaimanapun, lapisan tipis batubara pada formasi ini di Cekungan Natuna Barat umumnya belum matang yang membuatnya terlihat tidak seperti sumber-sumber hidrokarbon.

19 4.4.3 Formasi Arang Bawah Formasi Arang Bawah ini menunjukkan permulaan terjadinya laut yang dianggap sebagai fosil laut yang paling tua. Lingkungan laut diduga mengalami transgresi dari timur laut hingga busur Natuna. Batupasir formasi ini diendapkan dibawah mulut bar, tidal channel dan garis pantai bar yang menandai asal mulanya laut. Bagian yang mengalami agradasi alami yang berkombinasi dengan batupasir hingga batulempung memberikan satuan yang rupanya berlanjut secara lateral, umumnya ditemukan pada endapan laut. Geometri batupasir mengubah endapan lacustrin menjadi rangkaian garis pantai secara drastis. Batupasir menyebar luas dan terlihat lebih banyak mengandung kuarsa dengan fragmen-fragmen lithic daripada batupasir Gabus yang lebih tua. Batupasir mudah dikenali dalam pemotongan oleh kehadiran menerangkan perluasan mineral-mineral bahwa hanya bioturbasi yang glaukonit. satuan inilah menghancurkan Studi yang iinti sumur menunjukkan perlapisan dan permeabilitas asalnya. Fenomena tersebut dilaporkan juga dalam artikel yang dipublikasikan oleh Esso Malaysia. Batupasir ini merupakan reservoir yang terbaik dalam akumulasi hidrokarbon Formasi Arang Tengah Formasi ini dikarakteristikkan oleh kehadiran lapisan batubara yang memiliki jenis lingkungan pengendapan laut sampai shelf. Lapisanlapisan batubara tersebut berwarna hitam dan brittle dengan ketebalan rata-rata sekitar 3 kaki. Walaupun, batubara merupakan sumber hidrokarbon yang baik, tetapi batubara pada Formasi Arang Tengah ini umumnya belum matang untuk perkembangan minyak. Akan tetapi, matang secara termal lebih jauh di bagian barat Cekungan Malay.

20 4.5 Post Inversi Formasi Muda Formasi yang berumur dari Miosen Atas sampai Recent ini merupakan sikuen pengendapan termuda yang hadir di Cekungan Natuna Barat. Formasi ini menyebabkan ketidakselarasan pada sikuen Formasi Arang dan menutupi formasi-formasi yang lebih tua lainnya di beberapa tempat. Batas paling bawah dari sikuen Formasi Muda ini, pada umumnya, ditandai oleh sebuah angular unconformity dan batas pada bagian atasnya adalah dasar laut. Ketidakselarasan tersebut sangat terlihat pada rekaman seismik dan terjadi pada 12 juta tahun yang lalu dan ditunjukkan oleh penghilangan Discoaster Neohamata. Paraconformity kedua terlihat pada analisis nanofosil di 5.3 MYA. Hal tersebut dikenal sebagai Intra Muda Unconformity yang ditandai oleh menghilangnya Discoaster pseudoumbilica. Beberapa quinquieramus atau data menunjukkan seismik Reticulofenestra bahwa ketidakselarasan ini sulit untuk dipisahkan. Bagaimanapun juga, tidaklah mungkin untuk mengidentifikasi erosi ini secara lithologi. Lithologi Formasi Muda ini adalah llempung laut yang berwarna abuabu sampai hijau yang diendapkan sejak Miosen Akhir sampai saat ini dengan ketebalan yang berkisar dari 900 kaki sampai lebih dari 3000 kaki. Formasi yang termuda di Cekungan Natuna Barat ini relatif tidak terdistribusi secara meluas. Data seismik yang melewati cekungan ini relatif menunjukkan llapisan-lapisan horizontal dengan kemiringan sudut yang kecil pada bagian cekungan. Beberapa channel sub-laut terlihat dengan jelas pada rekaman seismik. Patahan memotong bagian bawah dari Formasi Muda ini sebagai perluasan dari patahan yang lebih tua secara aslinya. Terlepas dari kemungkinan pembentukan tudung secara regional, sikuen Muda ini, merupakan bahasan yang tidak menarik perhatian dalam eksplorasi minyak dan gas.

21 Gambar 10 : Hubungan antara fluktuasi eustatic sea level, tektonik, dan litostratigrafi.

22 BAB V KESIMPULAN Secara umum pembentukan cekungan natuna bagian barat dikontrol oleh empat periode tektonika, yaitu : 1) Crustal extensional, 2) Post-rift sequcence period, 3) Syn-inversion, dan 4) Post-inversion. Keempat periode tektonik tersebut membentuk struktur geologi yang didominasi oleh sesar-sesar utama berarah Timurlaut-Baratdaya dan Baratlaut-Tenggara dengan style planar-domino yang menghasilkan bentuk half graben. Periode tektonik yang terjadi di cekungan Natuna bagian barat dapat diketahui berdasarkan urutan stratigrafi yang didasarkan atas penamaan lithostratigrafinya, stratigrafi cekungan Natuna bagian barat yaitu 1) Formasi Belut, 2) Serpih Keras/Sambas, 3) Formasi Gabus Bawah, 4) Serpih Gajah/ Gabus, 5) Formasi Gabus Atas, 6) Formasi Serpih Barat, 7) Formasi Arang, 8) Formasi Arang Bawah, 9) Formasi Arang Tengah, dan 10) Formasi Muda. Formasi di atas menjadi petunjuk adanya periode tektonik yang terjadi pada cekungan natuna bagian barat.

23 DAFTAR PUSTAKA Petroleum Geology Of Indonesian Basins; Principles, Methods, and Aplication. Pertamina BPPK, Jakarta. Dajczgewand, Diego. Tectonic Evolution And Structural Styles Of Deformation Of Southern Kakap Block, West Natuna Basin, Indonesia. Hall, Robert Cenozoic Plate Tectonic Reconstructions of SE Asia dalam Petroleum Geology of South East Asia. Fraser, A. J., Matthews, S. J., and Murphy, R. W. (eds). Geological Society of London Special Publication, London.

24 ABSTRAK Cekungan Laut Natuna terdiri dari dua area cekungan, yakni Cekungan Natuna Barat dan Cekungan Natuna Timur. Kedua cekungan tersebut dipisahkan oleh Natuna Ridge, yang merupakan suatu tinggian dari Sundaland. Cekungan Natuna Barat menutupi area kurang lebih sekitar km2, memanjang dari arah barat daya hingga timur laut, dan melewati garis batas teritorial perairan Malaysia. Cekungan ini terletak antara Semenanjung Malaya dan Pulau Kalimantan, yang dekat dengan Pulau Anambas sebelah selatan dan Pulau Natuna sebelah timur. Selain itu, dibatasi pula oleh lempeng Indo Australia ke arah selatan dan barat, lempeng Eurasia ke arah utara, dan ke arah timur oleh lempeng-lempeng mikro bagian timur kepulauan Indonesia. Sejarah pengendapan Cekungan Natuna Barat dapat dibagi menjadi empat tahap utama, antara lain : syn-rift, post-rift, syn-inversion dan post-inversion. Kata kunci : cekungan, natuna barat, struktur, stratigrafi

BAB II TATANAN GEOLOGI

BAB II TATANAN GEOLOGI BAB II TATANAN GEOLOGI 2.1 Geologi Regional Cekungan Natuna Barat berada pada kerak kontinen yang tersusun oleh batuan beku dan metamorf yang berumur Kapur Awal Kapur Akhir. Cekungan ini dibatasi oleh

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah Cekungan Sumatera Tengah secara fisiografis terletak di antara Cekungan Sumatera Utara dan Cekungan Sumatera Selatan yang dibatasi

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BAB II GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH II.1 Kerangka Tektonik dan Geologi Regional Terdapat 2 pola struktur utama di Cekungan Sumatera Tengah, yaitu pola-pola tua berumur Paleogen yang cenderung berarah

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL Cekungan Jawa Barat Utara merupakan cekungan sedimen Tersier yang terletak tepat di bagian barat laut Pulau Jawa (Gambar 2.1). Cekungan ini memiliki penyebaran dari wilayah daratan

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 GEOLOGI REGIONAL Cekungan Jawa Barat Utara yang terletak di sebelah baratlaut Pulau Jawa secara geografis merupakan salah satu Cekungan Busur Belakang (Back-Arc Basin) yang

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB II GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 2.1 Geologi Regional 2.1.1 Fisiografi Regional Menurut Heidrick dan Aulia (1993) Cekungan Sumatra Tengah terletak di antara Cekungan Sumatra Utara dan Cekungan Sumatra

Lebih terperinci

Bab II Tektonostrigrafi II.1 Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan

Bab II Tektonostrigrafi II.1 Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan Bab II Tektonostrigrafi II.1 Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan Cekungan Busur Belakang Sumatera terbentuk pada fase pertama tektonik regangan pada masa awal Tersier. Sedimentasi awal

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL II.1 Fisiografi Cekungan Kutai Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang menutupi daerah seluas ±60.000 km 2 dan mengandung endapan berumur Tersier dengan ketebalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. eksplorasi hidrokarbon, salah satunya dengan mengevaluasi sumur sumur migas

BAB I PENDAHULUAN. eksplorasi hidrokarbon, salah satunya dengan mengevaluasi sumur sumur migas BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian Dalam mencari cadangan minyak dan gas bumi, diperlukan adanya kegiatan eksplorasi hidrokarbon, salah satunya dengan mengevaluasi sumur sumur migas yang sudah

Lebih terperinci

BAB II STRATIGRAFI REGIONAL

BAB II STRATIGRAFI REGIONAL BAB II STRATIGRAFI REGIONAL 2.1 FISIOGRAFI JAWA TIMUR BAGIAN UTARA Cekungan Jawa Timur bagian utara secara fisiografi terletak di antara pantai Laut Jawa dan sederetan gunung api yang berarah barat-timur

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL Cekungan Sunda dan Asri adalah salah satu cekungan sedimen yang terletak dibagian barat laut Jawa, timur laut Selat Sunda, dan barat laut Cekungan Jawa Barat Utara (Todd dan Pulunggono,

Lebih terperinci

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATRA TENGAH

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATRA TENGAH BAB 2 GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATRA TENGAH Cekungan Sumatra Tengah merupakan salah satu cekungan besar di Pulau Sumatra. Cekungan ini merupakan cekungan busur belakang yang berkembang di sepanjang

Lebih terperinci

Bab II Geologi Regional

Bab II Geologi Regional BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Geologi Regional Kalimantan Kalimantan merupakan daerah yang memiliki tektonik yang kompleks. Hal tersebut dikarenakan adanya interaksi konvergen antara 3 lempeng utama, yakni

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geologi Regional Stuktur DNF terletak kurang lebih 160 kilometer di sebelah barat kota Palembang. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai

Lebih terperinci

Tabel hasil pengukuran geometri bidang sesar, ketebalan cekungan dan strain pada Sub-cekungan Kiri.

Tabel hasil pengukuran geometri bidang sesar, ketebalan cekungan dan strain pada Sub-cekungan Kiri. Dari hasil perhitungan strain terdapat sedikit perbedaan antara penampang yang dipengaruhi oleh sesar ramp-flat-ramp dan penampang yang hanya dipengaruhi oleh sesar normal listrik. Tabel IV.2 memperlihatkan

Lebih terperinci

BAB 5 REKONSTRUKSI DAN ANALISIS STRUKTUR

BAB 5 REKONSTRUKSI DAN ANALISIS STRUKTUR BAB 5 REKONSTRUKSI DAN ANALISIS STRUKTUR Terdapat tiga domain struktur utama yang diinterpretasi berdasarkan data seismik di daerah penelitian, yaitu zona sesar anjakan dan lipatan di daerah utara Seram

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geomorfologi Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga dengan Cekungan Tarakan yang merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN. Posisi C ekungan Sumatera Selatan yang merupakan lokasi penelitian

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN. Posisi C ekungan Sumatera Selatan yang merupakan lokasi penelitian BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN 2.1 Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan Posisi C ekungan Sumatera Selatan yang merupakan lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia. Pulau ini terdiri dari daerah dataran dan daerah pegunungan. Sebagian besar daerah pegunungan berada

Lebih terperinci

Bab II Geologi Regional II.1 Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah

Bab II Geologi Regional II.1 Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah Bab II Geologi Regional II.1 Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah Cekungan Sumatera Tengah merupakan cekungan busur belakang (back arc basin) yang berkembang di sepanjang pantai barat dan selatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA : GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA : GEOLOGI REGIONAL BAB II TINJAUAN PUSTAKA : GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Fisiografi Cekungan Kutai pada bagian utara dibatasi oleh tinggian Mangkalihat dengan arah barat laut tenggara, di bagian barat dibatasi

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Gambaran Umum Daerah penelitian secara regional terletak di Cekungan Sumatra Selatan. Cekungan ini dibatasi Paparan Sunda di sebelah timur laut, Tinggian Lampung di sebelah

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Jawa Barat Pada dasarnya Van Bemmelen (1949) membagi fisiografi Jawa Barat menjadi empat bagian (Gambar 2.1) berdasarkan sifat morfologi dan tektoniknya, yaitu: a.

Lebih terperinci

BAB II GOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB II GOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN BAB II GOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN 2.1 Kerangka Tektonik Sub-cekungan Jatibarang merupakan bagian dari Cekungan Jawa Barat Utara. Konfigurasi batuan dasar saat ini di daerah penelitian, yang menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat ekonomis yang ada di Indonesia. Luas cekungan tersebut mencapai

BAB I PENDAHULUAN. sangat ekonomis yang ada di Indonesia. Luas cekungan tersebut mencapai BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Penelitian Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan penting dan bernilai sangat ekonomis yang ada di Indonesia. Luas cekungan tersebut mencapai 60.000 km 2 dan

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN TARAKAN

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN TARAKAN BAB II GEOLOGI CEKUNGAN TARAKAN 2.1 Tinjauan Umum Daerah penelitian secara regional terletak pada Cekungan Tarakan. Cekungan Tarakan merupakan cekungan sedimentasi berumur Tersier yang terletak di bagian

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Kerangka Tektonik Indonesia dianggap sebagai hasil pertemuan tiga lempeng, yaitu Lempeng Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, dan Lempeng Indo-Australia

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 TINJAUAN UMUM

BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 TINJAUAN UMUM BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 TINJAUAN UMUM Cekungan Asri merupakan bagian dari daerah operasi China National Offshore Oil Company (CNOOC) blok South East Sumatera (SES). Blok Sumatera Tenggara terletak pada

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL Daerah penelitian ini telah banyak dikaji oleh peneliti-peneliti pendahulu, baik meneliti secara regional maupun skala lokal. Berikut ini adalah adalah ringkasan tinjauan literatur

Lebih terperinci

Interpretasi Stratigrafi daerah Seram. Tabel 4.1. Korelasi sumur daerah Seram

Interpretasi Stratigrafi daerah Seram. Tabel 4.1. Korelasi sumur daerah Seram BAB 4 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 4.1. Interpretasi Stratigrafi 4.1.1. Interpretasi Stratigrafi daerah Seram Daerah Seram termasuk pada bagian selatan Kepala Burung yang dibatasi oleh MOKA di bagian utara,

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL 4 BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Struktur Regional Struktur PRB terletak kurang lebih 57 km arah baratlaut dari Pangkalan Berandan dan termasuk dalam wilayah administrasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Jawa Barat Fisiografi Jawa Barat (Gambar 2.1), berdasarkan sifat morfologi dan tektoniknya dibagi menjadi empat bagian (Van Bemmelen, 1949 op. cit. Martodjojo, 1984),

Lebih terperinci

Geologi dan Potensi Sumberdaya Batubara, Daerah Dambung Raya, Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan

Geologi dan Potensi Sumberdaya Batubara, Daerah Dambung Raya, Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan Gambar 3.8 Korelasi Stratigrafi Satuan Batupasir terhadap Lingkungan Delta 3.2.3 Satuan Batulempung-Batupasir Persebaran (dominasi sungai) Satuan ini menempati 20% dari luas daerah penelitian dan berada

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA UTARA

BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA UTARA BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA UTARA 2.1. Kerangka Geologi Regional Cekungan Sumatera Utara sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.1 di bawah ini, terletak di ujung utara Pulau Sumatera, bentuknya

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL 9 II.1 Fisiografi dan Morfologi Regional BAB II GEOLOGI REGIONAL Area Penelitian Gambar 2-1 Pembagian zona fisiografi P. Sumatera (disederhanakan dari Van Bemmelen,1949) Pulau Sumatera merupakan salah

Lebih terperinci

Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur Umur Analisis mikropaleontologi dilakukan pada contoh batuan pada lokasi NA805 dan NA 803. Hasil analisis mikroplaeontologi tersebut menunjukkan bahwa pada contoh batuan tersebut tidak ditemukan adanya

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Fisiografi Regional Van Bemmelen (1949) membagi Pulau Sumatera menjadi 6 zona fisiografi, yaitu: 1. Zona Jajaran Barisan 2. Zona Semangko 3. Pegunugan Tigapuluh 4. Kepulauan

Lebih terperinci

memiliki hal ini bagian

memiliki hal ini bagian BAB III TATANANN GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Cekungan Kutai Cekungan Kutai merupakan cekungan dengan luas 165.000 km 2 dan memiliki ketebalan sedimen antara 12.000 14..000 meter hal ini menyebabakan

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI UMUM

BAB III GEOLOGI UMUM BAB III GEOLOGI UMUM 3.1 Geologi Regional Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan yang berbentuk asimetris, dibatasi oleh sesar dan singkapan batuan Pra-Tersier yang mengalami pengangkatan di bagian

Lebih terperinci

BAB IV Kajian Sedimentasi dan Lingkungan Pengendapan

BAB IV Kajian Sedimentasi dan Lingkungan Pengendapan BAB IV KAJIAN SEDIMENTASI DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN 4.1 Pendahuluan Kajian sedimentasi dilakukan melalui analisis urutan vertikal terhadap singkapan batuan pada lokasi yang dianggap mewakili. Analisis

Lebih terperinci

Salah satu reservoir utama di beberapa lapangan minyak dan gas di. Cekungan Sumatra Selatan berasal dari batuan metamorf, metasedimen, atau beku

Salah satu reservoir utama di beberapa lapangan minyak dan gas di. Cekungan Sumatra Selatan berasal dari batuan metamorf, metasedimen, atau beku 1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu reservoir utama di beberapa lapangan minyak dan gas di Cekungan Sumatra Selatan berasal dari batuan metamorf, metasedimen, atau beku berumur Paleozoic-Mesozoic

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Secara fisiografis, van Bemmelen (1949) membagi Jawa Barat menjadi 4 bagian yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan Jawa

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH

BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA TENGAH Objek penelitian penulis terletak di Sumatera Tengah, yang secara fisiografis terletak di antara Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Sumatera Tengah terbentuk

Lebih terperinci

STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN

STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Oleh : Edlin Shia Tjandra (07211033) Fanny Kartika (07211038) Theodora Epyphania (07211115) TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cekungan penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia setelah

BAB I PENDAHULUAN. cekungan penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia setelah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut Pertamina BPPKA (1996), Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia setelah Cekungan

Lebih terperinci

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL BAB 2 GEOLOGI REGIONAL 2.1 Struktur Regional Terdapat 4 pola struktur yang dominan terdapat di Pulau Jawa (Martodjojo, 1984) (gambar 2.1), yaitu : Pola Meratus, yang berarah Timurlaut-Baratdaya. Pola Meratus

Lebih terperinci

BAB IV MODEL EVOLUSI STRUKTUR ILIRAN-KLUANG

BAB IV MODEL EVOLUSI STRUKTUR ILIRAN-KLUANG BAB IV MODEL EVOLUSI STRUKTUR ILIRAN-KLUANG IV.1. Analisis Geometri Struktur Iliran-Kluang Berdasarkan arahnya, sesar yang ada didaerah sepanjang struktur Iliran- Kluang dapat dibedakan atas tiga kelompok,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Untuk memenuhi permintaan akan energi yang terus meningkat, maka

BAB I PENDAHULUAN. Untuk memenuhi permintaan akan energi yang terus meningkat, maka BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Untuk memenuhi permintaan akan energi yang terus meningkat, maka perusahaan penyedia energi melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi yang berasal dari

Lebih terperinci

Kerangka Geologi Daerah Penelitian

Kerangka Geologi Daerah Penelitian Bab II Kerangka Geologi Daerah Penelitian II.1 Geologi Regional Daerah Penelitian Lapangan Batang terletak di Sumatera Tengah. Sumatra Tengah dibatasi oleh paparan sunda di sebelah timur, disebelah Barat

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Geografis Pulau Buton yang terdapat di kawasan timur Indonesia terletak di batas bagian barat Laut Banda, Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara geografis, Pulau Buton terletak

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL 1 BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di daerah Subang, Jawa Barat, untuk peta lokasi daerah penelitiannya dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 Peta Lokasi

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA TENGAH

BAB II GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BAB II GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA TENGAH II.1. Pendahuluan Indonesia merupakan hasil dari evolusi dan interaksi dari gerak Lempeng Eurasia, Lempeng Samudera Pasifk, dan Lempeng Indo-Australia (Gambar

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Pendahuluan Pulau Kalimantan berada di tenggara dari lempeng Eurasia besar. Di sebelah utara berbatasan dengan lempeng semudra Laut Cina Selatan, di timur dibatasi oleh sabuk

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi dan Geomorfologi Regional Secara fisiografis, daerah Jawa Barat dibagi menjadi 6 zona yang berarah timur-barat ( van Bemmelen, 1949 ). Zona tersebut dari arah utara

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAN LAPANGAN TANGO

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAN LAPANGAN TANGO BAB II GEOLOGI REGIONAL DAN LAPANGAN TANGO II.1 GEOLOGI CEKUNGAN KUTAI Cekungan Kutai adalah salah satu cekungan di Kalimantan Timur, Indonesia. Cekungan ini memiliki area sekitar 60.000km 2 dan berisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Batasan Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Batasan Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tahap eksplorasi di Cekungan Sumatra Tengah sudah mencapai tahap mature field, dengan segala sumber daya alam hidrokarbon yang ada akan diekstraksi. Salah satu formasi

Lebih terperinci

Daerah penelitian adalah area Cekungan Makasar di bagian laut dalam Selat Makassar, diantara Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat.

Daerah penelitian adalah area Cekungan Makasar di bagian laut dalam Selat Makassar, diantara Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat. BAB I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Daerah penelitian adalah area Cekungan Makasar di bagian laut dalam Selat Makassar, diantara Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat. Gambar 1.1 Lokasi daerah penelitian

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Secara umum wilayah utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah, sedangkan kawasan selatan merupakan bukit-bukit dengan sedikit pantai serta dataran tinggi.

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Geologi Cekungan Sumatera Tengah II.1.1 Stratigrafi Stratigrafi Cekungan Sumatera Tengah terdiri dari satuan-satuan stratigrafi dari tua ke muda yaitu : Batuan dasar atau basement

Lebih terperinci

berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.

berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. (a) (c) (b) (d) Foto 3.10 Kenampakan makroskopis berbagai macam litologi pada Satuan

Lebih terperinci

III.3 Interpretasi Perkembangan Cekungan Berdasarkan Peta Isokron Seperti telah disebutkan pada sub bab sebelumnya bahwa peta isokron digunakan untuk

III.3 Interpretasi Perkembangan Cekungan Berdasarkan Peta Isokron Seperti telah disebutkan pada sub bab sebelumnya bahwa peta isokron digunakan untuk III.3 Interpretasi Perkembangan Cekungan Berdasarkan Peta Isokron Seperti telah disebutkan pada sub bab sebelumnya bahwa peta isokron digunakan untuk menafsirkan perkembangan cekungan. Perlu diingat bahwa

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II KERANGKA GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB II KERANGKA GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 2.1 Geologi Regional 2.1.1 Fisiografi Regional Cekungan Sumatera Tengah berada di tepian Mikrokontinen Sunda yang merupakan bagian dari Lempeng Eurasia dan merupakan

Lebih terperinci

Bab II Geologi Regional. II.1. Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah. II.1.1. Struktur Geologi dan Tektonik Cekungan Sumatera Tengah

Bab II Geologi Regional. II.1. Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah. II.1.1. Struktur Geologi dan Tektonik Cekungan Sumatera Tengah Bab II Geologi Regional II.1. Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah II.1.1. Struktur Geologi dan Tektonik Cekungan Sumatera Tengah Lapangan minyak RantauBais secara regional berada pada sebuah cekungan

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis dan struktural daerah Jawa Barat dapat di bagi menjadi 4 zona, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung

Lebih terperinci

Gambar Gambaran struktur pada SFZ berarah barat-timur di utara-baratlaut Kepala Burung. Sesar mendatar tersebut berkembang sebagai sesar

Gambar Gambaran struktur pada SFZ berarah barat-timur di utara-baratlaut Kepala Burung. Sesar mendatar tersebut berkembang sebagai sesar Gambar 5.21. Gambaran struktur pada SFZ berarah barat-timur di utara-baratlaut Kepala Burung. Sesar mendatar tersebut berkembang sebagai sesar mendatar dengan mekanisme horsetail, dengan struktur sesar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang berada di belakang busur dan terbukti menghasilkan minyak dan gas bumi. Cekungan Sumatera

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis dan struktural daerah Jawa Barat dapat di bagi menjadi 4 zona, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi empat bagian besar (van Bemmelen, 1949): Dataran Pantai Jakarta (Coastal Plain of Batavia), Zona Bogor (Bogor Zone),

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Secara umum Jawa Barat dibagi menjadi 3 wilayah, yaitu wilayah utara, tengah, dan selatan. Wilayah selatan merupakan dataran tinggi dan pantai, wilayah tengah merupakan

Lebih terperinci

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL BAB 2 GEOLOGI REGIONAL 2.1 Letak Geografis Daerah Penelitian Daerah penelitian, yaitu daerah Cekungan Sunda, secara umum terletak di Laut Jawa dan berada di sebelah Timur Pulau Sumatera bagian Selatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan belakan busur yang dibatasi oleh Paparan Sunda di sebelah timur laut, ketinggian Lampung

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Fisiografi Cekungan Kutai (gambar 2.1) di bagian utara dibatasi oleh tinggian Mangkalihat dengan arah baratlaut - tenggara, di bagian barat dibatasi oleh tinggian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cekungan Arafura yang terletak di wilayah perairan Arafura-Irian Jaya merupakan cekungan intra-kratonik benua Australia dan salah satu cekungan dengan paket pengendapan

Lebih terperinci

I.2 Latar Belakang, Tujuan dan Daerah Penelitian

I.2 Latar Belakang, Tujuan dan Daerah Penelitian Bab I Pendahuluan I.1 Topik Kajian Topik yang dikaji yaitu evolusi struktur daerah Betara untuk melakukan evaluasi struktur yang telah terjadi dengan mengunakan restorasi palinspatik untuk mengetahui mekanismenya

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 FISIOGRAFI Menurut van Bemmelen (1949), fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi enam zona, yaitu Zona Dataran Aluvial Utara Jawa Barat, Zona Antiklinorium Bogor, Zona Gunungapi

Lebih terperinci

BAB II TATANAN GEOLOGI REGIONAL

BAB II TATANAN GEOLOGI REGIONAL BAB II TATANAN GEOLOGI REGIONAL Pulau Sumatra yang secara fisiografi berarah baratlaut merupakan perpanjangan ke selatan dari Lempeng Benua Eurasia, tepatnya berada pada batas barat dari Sundaland. Posisi

Lebih terperinci

BAB 2 GEOLOGI DERAH PENELITIAN

BAB 2 GEOLOGI DERAH PENELITIAN BAB 2 GEOLOGI DERAH PENELITIAN 2.1 Geologi Regional 2.1.1 Fisiografis Regional Cekungan Sumatra Tengah Secara fisiografis (Gambar 2.1.), Cekungan Sumatra Tengah berada diantara Cekungan Sumatra Utara dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan XVII adalah lapangan penghasil migas yang terletak di Blok

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan XVII adalah lapangan penghasil migas yang terletak di Blok BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Lapangan XVII adalah lapangan penghasil migas yang terletak di Blok Sanga-sanga, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Cekungan Kutai merupakan cekungan penghasil

Lebih terperinci

II.1.2 Evolusi Tektonik.. 8

II.1.2 Evolusi Tektonik.. 8 DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN ii PERNYATAAN.. iii KATA PENGANTAR.. iv SARI... v ABSTRACT.. vi DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR x BAB I PENDAHULUAN... 1 I.1 Latar Belakang... 1 I.2 Lokasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan. Secara regional ada beberapa Formasi yang menyusun Cekungan Sumatera

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan. Secara regional ada beberapa Formasi yang menyusun Cekungan Sumatera 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan Secara regional ada beberapa Formasi yang menyusun Cekungan Sumatera Selatan diantaranya: 1. Komplek Batuan Pra -Tersier Komplek

Lebih terperinci

4.2 Pembuatan Kolom Stratigrafi Pembuatan kolom stratigrafi (Lampiran F) dilakukan berdasarkan atas

4.2 Pembuatan Kolom Stratigrafi Pembuatan kolom stratigrafi (Lampiran F) dilakukan berdasarkan atas BAB IV ANALISIS SEDIMENTASI 4.1 Pendahuluan Kajian sedimentasi dilakukan melalui analisis perkembangan urutan vertikal lapisan batuan berdasarkan data singkapan batuan pada lokasi yang dianggap mewakili.

Lebih terperinci

Bab III Geologi Daerah Penelitian

Bab III Geologi Daerah Penelitian Bab III Geologi Daerah Penelitian Foto 3.4 Satuan Geomorfologi Perbukitan Blok Patahan dilihat dari Desa Mappu ke arah utara. Foto 3.5 Lembah Salu Malekko yang memperlihatkan bentuk V; foto menghadap ke

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Bemmelen (1949), lokasi penelitian masuk dalam fisiografi

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Bemmelen (1949), lokasi penelitian masuk dalam fisiografi 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lokasi Penelitian Menurut Van Bemmelen (1949), lokasi penelitian masuk dalam fisiografi Rembang yang ditunjukan oleh Gambar 2. Gambar 2. Lokasi penelitian masuk dalam Fisiografi

Lebih terperinci

Gambar 1. Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Arpandi dan Padmosukismo, 1975)

Gambar 1. Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Arpandi dan Padmosukismo, 1975) STRATIGRAFI CEKUNGAN JAWA BARAT BAGIAN UTARA Sedimentasi Cekungan Jawa Barat Utara mempunyai kisaran umur dari kala Eosen Tengah sampai Kuarter. Deposit tertua adalah pada Eosen Tengah, yaitu pada Formasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Cekungan Kutai merupakan cekungan Tersier terbesar dan terdalam di Indonesia bagian barat, dengan luas area 60.000 km 2 dan ketebalan penampang mencapai 14 km. Cekungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belakang di Indonesia yang terbukti mampu menghasilkan hidrokarbon (minyak

BAB I PENDAHULUAN. belakang di Indonesia yang terbukti mampu menghasilkan hidrokarbon (minyak BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Cekungan Jawa Timur bagian Utara merupakan salah satu cekungan busur belakang di Indonesia yang terbukti mampu menghasilkan hidrokarbon (minyak dan gas). Salah satu

Lebih terperinci

Bab V Evolusi Teluk Cenderawasih

Bab V Evolusi Teluk Cenderawasih 62 Bab V Evolusi Teluk Cenderawasih V.1 Restorasi Penampang Rekontruksi penampang seimbang dilakukan untuk merekonstruksi pembentukan suatu deformasi struktur. Prosesnya meliputi menghilangkan bidang-bidang

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL II.2 Fisiografi Regional Secara fisiografis, daerah Jawa Barat dibagi menjadi 4 zona (Gambar 2.1), pembagian zona tersebut berdasarkan sifat-sifat morfologi dan tektoniknya (van

Lebih terperinci

BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI Tektonostratigrafi Formasi Talang Akar (Oligosen-Miosen Awal)

BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI Tektonostratigrafi Formasi Talang Akar (Oligosen-Miosen Awal) BAB IV TEKTONOSTRATIGRAFI DAN POLA SEDIMENTASI 4.1 Tektonostratigrafi 4.1.1 Tektonostratigrafi Formasi Talang Akar (Oligosen-Miosen Awal) Berdasarkan penampang seismik yang sudah didatarkan pada horizon

Lebih terperinci

BAB III TATANAN GEOLOGI REGIONAL

BAB III TATANAN GEOLOGI REGIONAL BAB III TATANAN GEOLOGI REGIONAL 3.1 Fisiografi Jawa Barat Van Bemmelen (1949) membagi zona fisiografi Jawa Barat menjadi empat bagian (Gambar 3.1). Pembagian zona yang didasarkan pada aspek-aspek fisiografi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lapangan YTS adalah lapangn minyak yang terletak di Cekungan Sumatra

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lapangan YTS adalah lapangn minyak yang terletak di Cekungan Sumatra BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Lapangan YTS Lapangan YTS adalah lapangn minyak yang terletak di Cekungan Sumatra Selatan dan dikelola oleh PT. Medco E & P sebagai lapangan terbesar penghasil

Lebih terperinci

STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN LAPANGAN X, NORTH X, NORTH Y, Y, DAN Z, CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS DATA SEISMIK KARYA TULIS ILMIAH

STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN LAPANGAN X, NORTH X, NORTH Y, Y, DAN Z, CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS DATA SEISMIK KARYA TULIS ILMIAH STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN LAPANGAN X, NORTH X, NORTH Y, Y, DAN Z, CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS DATA SEISMIK KARYA TULIS ILMIAH Oleh : Ade Nurmasita 270110100013 UNIVERSITAS PADJADJARAN

Lebih terperinci

Foto 3.5 Singkapan BR-8 pada Satuan Batupasir Kuarsa Foto diambil kearah N E. Eko Mujiono

Foto 3.5 Singkapan BR-8 pada Satuan Batupasir Kuarsa Foto diambil kearah N E. Eko Mujiono Batulempung, hadir sebagai sisipan dalam batupasir, berwarna abu-abu, bersifat non karbonatan dan secara gradasi batulempung ini berubah menjadi batuserpih karbonan-coally shale. Batubara, berwarna hitam,

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Geomorfologi Kondisi geomorfologi pada suatu daerah merupakan cerminan proses alam yang dipengaruhi serta dibentuk oleh proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya memiliki status plug and abandon, satu sumur menunggu

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya memiliki status plug and abandon, satu sumur menunggu BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak dan gas bumi yang cukup besar, baik dari jumlah minyak dan gas yang telah diproduksi maupun dari perkiraan perhitungan

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Secara fisiografi, Pulau Jawa berada dalam busur kepulauan yang berkaitan dengan kegiatan subduksi Lempeng Indo-Australia dibawah Lempeng Eurasia dan terjadinya jalur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cekungan Salawati yang terletak di kepala burung dari Pulau Irian Jaya,

BAB I PENDAHULUAN. Cekungan Salawati yang terletak di kepala burung dari Pulau Irian Jaya, BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Cekungan Salawati yang terletak di kepala burung dari Pulau Irian Jaya, merupakan cekungan foreland asimetris yang memiliki arah timur barat dan berlokasi pada batas

Lebih terperinci

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN 2.1. Geologi Regional. Pulau Tarakan, secara geografis terletak sekitar 240 km arah Utara Timur Laut dari Balikpapan. Secara geologis pulau ini terletak di bagian

Lebih terperinci

II. GEOLOGI REGIONAL

II. GEOLOGI REGIONAL 5 II. GEOLOGI REGIONAL A. Struktur Regional dan Tektonik Cekungan Jawa Timur Lapangan KHARIZMA berada di lepas pantai bagian selatan pulau Madura. Lapangan ini termasuk ke dalam Cekungan Jawa Timur. Gambar

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang 1 Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Tatanan tektonik daerah Kepala Burung, Papua memegang peranan penting dalam eksplorasi hidrokarbon di Indonesia Timur. Eksplorasi tersebut berkembang sejak ditemukannya

Lebih terperinci