BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
|
|
|
- Sri Tedjo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAMPIRAN II KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM NOMOR: TAHUN 2016 T E N T A N G PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER PADA MADRASAH TSANAWIYAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sistem pengelolaan pembelajaran di Indonesia di semua satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, pada umumnya menggunakan sistem paket. Sistem ini mengharuskan semua peserta didik menempuh sistem pembelajaran yang sama dalam menyelesaikan program belajarnya. Sistem ini kurang aspiratif ketika menghadapi kenyataan bahwa peserta didik pada dasarnya majemuk baik dari kemampuan bakat, minat dan kecepatan belajarnya. Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa akan terhambat untuk menyelesaikan program studinya karena harus menunggu temannya yang lain, pun sebaliknya peserta didik yang lemah akan terpaksa untuk mengikuti pola belajar peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih. Fenomena kemajemukan peserta didik ini seharusnya terlayani dengan baik, Undangundang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 12 ayat 1 poin (b) menyatakan Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Selanjutnya pada poin (f) menyatakan bahwa Peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. Maka dari itu, sesuai dengan Undang-undang tersebut dan untuk memenuhi pelayanan pendidikan yang efektif dan adil kepada peserta didik sesuai dengan ketentuan di atas, dapat ditempuh dengan menyelenggarakan Sistem Kredit Semester (SKS) sebagaimana yang diatur lebih lanjut pada Permendikbud Nomor 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Sistem Kredit Semester ini diselenggarakan melalui pengorganisasian pembelajaran bervariasi dan pengelolaan waktu belajar yang fleksibel. Pengorganisasian pembelajaran bervariasi dilakukan melalui penyediaan unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran yang dapat diikuti oleh peserta didik. Pengelolaan waktu belajar yang fleksibel dilakukan melalui pengambilan beban belajar untuk unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran oleh peserta didik sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 1
2 Akhirnya diharapkan sistem ini dapat memberi layanan yang efektif, efisien dan maksimal terhadap kemajemukan peserta didik agar potensinya bisa terekplorasi dengan baik dan maksimal. B. LANDASAN Sistem kredit semester pada pendidikan Madrasah Tsanawiyah ini berlandaskan pada kebijakan-kebijakan sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); 2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4769); 5. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 6. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 592) sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 21 Tahun 2014 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1114); 7. Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 2
3 Instansi Vertikal Kementerian Agama (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 851); 8. Peraturan Menteri Agama Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1382); sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Agama No. 60 th.2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah. 9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013; 10. Keputusan Menteri Agama Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah; 11. Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab; 12. Keputusan Menteri Agama Nomor 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah; 13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 157 tahun 2014 tentang Kurikulum Pendidikan Khusus; 14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah; 15. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik, Penyelenggaraan Ujian Nasional, Dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan Pada SMP/MTs Atau Yang Sederajat Dan SMA/MA/SMK atau Yang Sederajat. 16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Dan Satuan Pendidikan Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah; 17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Menengah; 18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah; 19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah; 20. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan; 21. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013; Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 3
4 C. TUJUAN Petunjuk Teknis Penyelenggaraan SKS Madrasah Tsanawiyah ini bertujuan untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat umum mengenai SKS sebagai berikut: 1. Menjelaskan konsep, prinsip dan tujuan Sistem Kredit Semester (SKS) yang berlaku bagi di satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah. 2. Menjelaskan penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) di Madrasah Tsanawiyah. 3. Menjelaskan strategi implementasi Sistem Kredit Semester (SKS) di Madrasah Tsanawiyah. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 4
5 BAB II KONSEP, PRINSIP DAN TUJUAN A. KONSEP Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Dalam merumuskan konsep Sistem Kredit Semester ini, mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Di dalamnya mengandung pengertian-pengertian sebagai berikut: 1. Sistem Kredit Semester selanjutnya disebut SKS adalah: bentuk penyelenggaraan pendidikan yang peserta didiknya menentukan jumlah beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar. 2. Indeks Prestasi selanjutnya disebut IP adalah nilai akhir capaian pembelajaran peserta didik pada akhir semester yang mencakup nilai kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan B. PRINSIP Dalam melaksanakan SKS berprinsip kepada: 1. Fleksibilitas; penyelenggaraan SKS harus fleksibel dalam pilihan mata pelajaran dan waktu penyelesaian masa belajar yang memungkinkan peserta didik menentukan dan mengatur strategi belajar secara mandiri. 2. Keunggulan; penyelenggaraan SKS memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan belajar dan mencapai tingkat kemampuan optimal sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar. 3. Maju Berkelanjutan; penyelenggaraan SKS yang memungkinkan peserta didik dapat langsung mengikuti muatan, mata pelajaran atau program lebih lanjut tanpa terkendala oleh peserta didik lain. 4. Keadilan; penyelenggaraan SKS memungkinkan peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperoleh perlakuan sesuai dengan kapasitas belajar yang dimiliki dan prestasi belajar yang dicapainya secara perseorangan. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 5
6 C. TUJUAN 1. Mengelola bentuk pembelajaran yang berdiferensiasi bagi masing-masing kelompok peserta didik yang berbeda kecepatan belajarnya; 2. Memberikan layanan kepada peserta didik untuk menyelesaikan dan menjalani proses pendidikannya sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, terutama bagi peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata (Above average ability). 3. Sebagai bentuk pembelajaran yang berdiferensiasi bagi peserta didik secara individu maupun kelompok yang berbeda kecepatan belajarnya untuk memaksimalkan potensinya agar terlayani dengan baik dan tidak mengalami underachievement. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 6
7 BAB III PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER A. PERSYARATAN PENYELENGGARA SKS Satuan pendidikan yang dapat menyelenggarakan SKS berpedoman pada ketentuan sebagai berikut: 1. Satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah yang terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/ Madrasah (BAN-S/M). 2. Penerapan SKS oleh satuan pendidikan tersebut dilakukan secara bertahap mulai kelas VII pada satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah. B. BEBAN BELAJAR Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran. Adapun ketentuan pengaturan beban belajar dalam SKS adalah sebagai berikut: 1. Komponen Beban Belajar Beban belajar SKS terdiri dari beberapa komponen, yaitu: a) Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan guru. b) Kegiatan/penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh guru untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh guru. c) Kegiatan mandiri adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaiannya diatur oleh peserta didik atas dasar kesepakatan dengan guru. Adapun beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri, maksimal 50% untuk SMP/MTs, dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Kegiatan tatap muka dalam beban belajar setiap satu jam pelajaran dilaksanakan selama 40 menit jam pelajaran (JP) dan Kegiatan tatap muka dalam beban belajar bagi peserta didik yang memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata yang ditunjukkan dengan IP>3,55 (dalam skala nilai 1-4) atau >89 (dalam skala nilai 1-100), durasi setiap satu jam pelajaran dapat dilaksanakan selama 30 menit sesuai dengan Permendikbud nomor 158 tahun 2014 pasal 9. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 7
8 2. Jumlah Beban Belajar Penyelenggaraan SKS agar berjalan efektif dan efisien maka harus ditentukan suatu batas minimal dan maksimal beban belajar yaitu sebagai berikut: a) Peserta didik MTs yang menerapkan Kurikulum 2013 menempuh minimal 276 JP. b) Setiap peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar dapat menyelesaikan program belajar paling cepat 4 (empat) semester dan paling lambat 8 (delapan) semester. 3. Kriteria Pengambilan Beban Belajar Pengambilan beban belajar menggunakan kriteria: a) Prestasi yang dicapai pada satuan pendidikan sebelumnya untuk pengambilan beban belajar pada semester 1; atau b) IP yang diperoleh pada semester sebelumnya untuk pengambilan beban belajar pada semester berikutnya. c) Pengambilan beban belajar oleh peserta didik didampingi oleh Pembimbing Akademik; d) Satuan pendidikan dapat mengatur sebaran mata pelajaran secara tuntas dengan pola kontinu/homogen dan diskontinu/on and off. Pola kontinu/homogen yaitu setiap mata pelajaran selalu muncul tiap semester, sedangkan pola diskontinu/on and off yaitu setiap mata pelajaran tidak harus muncul tiap semester; e) Peserta didik dengan kecepatan belajar dan prestasi tinggi dapat mengambil beban belajar lebih banyak dibanding dengan lainnya. Layanan pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk individu dan/atau kelompok: Layanan individu diberikan kepada peserta individu yang meminta tambahan beban belajar dan mata pelajaran di luar jam pelajaran kelas atau rombongan belajar (rombel) sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik; Layanan kelompok dapat dilakukan dengan membuat kelompok/kelas/ rombongan belajar tertentu dengan kecepatan dan prestasi/kemampuan yang hampir sama. Pengelompokan dalam kelas/rombel khusus secara bervariasi dapat dilakukan sejak awal masuk madrasah berdasarkan data yang diperoleh pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan mempertimbangkan nilai rapor, nilai tes masuk, dan dapat diperkuat dengan memperhatikan hasil psikotes. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 8
9 C. INDEKS PRESTASI (IP) Indeks Prestasi merupakan suatu alat ukur prestasi di bidang akademik/pendidikan semacam rerata terboboti. Pengambilan beban belajar dalam SKS memperhatikan Indeks Prestasi yang dicapai oleh peserta didik setiap semesternya dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Pengambilan beban belajar untuk semester 1 (satu) berdasarkan prestasi yang dicapai pada satuan pendidikan sebelumnya (sebagaimana termaktub di dalam Kriteria Pengambilan Beban Belajar) dengan memperhatikan salah satu atau beberapa aspek dokumen berikut ini: nilai rapor, nilai Ujian Nasional, nilai Ujian Akhir Sekolah/Madrasah, prestasi olimpiade/kompetisi, dan nilai tes masuk. Aspek tersebut dapat diperkuat dengan memperhatikan hasil psikotes; 2. Pada semester berikutnya besaran beban belajar peserta didik berdasarkan IP pada semester sebelumnya, dengan memperhatikan ketentuan dalam Permendikbud no.158 tahun 2014, Permendikbud no.53 tahun 2015, dan karakteristik mata pelajaran di madrasah, adalah sebagai berikut : a. IP < 67 dapat mengambil beban belajar paling banyak 50 jam pelajaran; b. IP dapat mengambil beban belajar paling banyak 58 jam pelajaran; c. IP dapat mengambil beban belajar paling banyak 66 jam pelajaran; dan d. IP > 91 dapat mengambil beban belajar paling banyak 74 jam pelajaran. 3. Penentuan Indeks Prestasi (IP) di MTs adalah rata-rata dari gabungan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yang masing-masing dihitung dengan rumus sebagai berikut: IP = N x JP Jumlah JP Keterangan: IP : Indeks Prestasi ΣN : Jumlah mata pelajaran JP : Jam Pelajaran Jumlah JP : jumlah JP dalam satu semester. D. PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU Calon peserta didik baru Madrasah Tsanawiyah yang menyelenggarakan SKS dapat diterima dengan dasar seleksi sesuai ketentuan pada pedoman PPDB yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama sebagai berikut: 1. Surat Keterangan Lulus dari SD/SDLB/MI/MILB/Program Paket A/Pendidikan Pesantren Salafiyah Ula/sederajat; Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 9
10 2. Laporan Hasil Belajar/Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik; 3. Usia calon peserta didik baru; 4. Prestasi di bidang akademik, bakat olah raga atau bakat seni; dan prestasi lain yang diakui madrasah/sekolah. Madrasah dapat melakukan tes bakat skolastik atau tes potensi akademik dan atau non akademik. Tes potensi akademik dan atau non akademik meliputi: 1. Tes Potensi Akademik (Tes tertulis antara lain mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia,IPA, IPS dan Agama atau sesuai dengan kebutuhan madrasah) 2. Tes Non Akademik meliputi : a. Wawancara dengan calon peserta didik dan orang tua/wali peserta didik b. Tes Bakat dan Kemampuan (jika diperlukan) c. Praktek Ibadah d. Tes Baca Tulis Al-Qur an (BTQ) Seleksi calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) MTs yang berasal dari satuan pendidikan asing dilakukan berdasarkan: 1. Surat rekomendasi Direktur Jenderal Pendidikan Islam, sesuai dengan kewenangannya; 2. Aspek jarak tempat tinggal ke madrasah; 3. Usia calon peserta didik baru; 4. Prestasi di bidang akademik; 5. Bakat olah raga atau bakat seni; dan 6. Prestasi lain yang diakui madrasah. Adapun layanan kelompok pada SKS bagi peserta didik yang memiliki potensi kemampuan/kecepatan belajar lebih atau memiliki potensi kecerdasan istimewa, dapat melakukan program percepatan, dibentuk sejak awal masuk madrasah, dengan dasar seleksi sebagaimana tersebut di atas ditambah ketentuan dari Permendikbud nomor 157 tahun 2014 tentang Kurikulum Pendidikan Khusus pasal 15 poin 4 yaitu: 1. Peserta didik memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa diukur dengan tes psikologi; dan/atau 2. Peserta didik memiliki prestasi akademik tinggi dan/atau bakat istimewa di bidang seni dan/atau olahraga. Peserta didik yang memiliki potensi kemampuan/kecepatan belajar lebih atau memiliki potensi kecerdasan istimewa tersebut, disarankan memiliki kemampuan intelektual umum dengan kategori superior (skala IQ 130). Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 10
11 E. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN SKS DI MADRASAH Madrasah merupakan entitas sekolah yang bercirikan Agama Islam, maka dalam proses dan materi pembelajarannya harus melakukan diferensiasi demi menciptakan kekhasan madrasah yang berkarakter unggul dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Pembelajaran di madrasah disarankan melakukan diferensiasi baik dari segi materi ajar maupun proses pembelajaran, apalagi pada layanan kelompok/kelas-kelas yang peserta didiknya mempunyai potensi kemampuan/kecepatan belajar. Adapun diferensiasi dapat dilakukan dengan salah satu atau berbagai cara berikut: 1. Diferensiasi Materi Ajar Materi ajar dapat dideferensiasi melalui salah satu dari beberapa cara berikut: a) Integration (perpaduan): Mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan afeksi peserta didik, melalui: Integrasi agama dalam konten materi pembelajaran Integrasi agama dalam soal evaluasi pembelajaran dengan memasukkan soal-soal berbasis afeksi dalam evaluasi pembelajaran. Integrasi agama dalam perilaku dalam hubungan antar peserta didik maupun guru. b) Enrichment (pengayaan): independent study, guest speaker, mentors, exchange program,dll. c) Acceleration ( percepatan): multilevel enrollment, compaction (pemadatan), dll. d) Escalation (penanjakan): Menemukan materi esensial dan menambah level materi sesuai dengan karakter keunggulan. e) Deepening (Pendalaman): Pendalaman materi untuk mempertajam kemampuan penguasaan setiap materi yang ada dalam rangka menghadapi Ujian Tengah Semester maupun Ujian Akhir Semester hingga Ujian Nasional. 2. Diferensiasi Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar dapat dideferensiasi dengan model dan metode: a) Grouping (pengelompokan): cluster grouping, special school, seminars, dll. b) Menggunakan pendekatan saintifik dengan karakteristik sebagai berikut: berpusat pada peserta didik. melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip. melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelektual, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. mengembangkan karakter peserta didik. a) Menggunakan model-model pembelajaran yang beriontasi pada peserta didik (student Centered) Misalnya : discovery learning, problem solving, dll. b) Menggunakan metode presentasi dalam pembelajaran sebagai hasil kerja individu Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 11
12 maupun kelompok pada materi tertentu yang memungkinkan, agar peserta didik sebagai subjek belajar bagi teman sebayanya. F. PENILAIAN Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Ketentuan mengenai penilaian diuraikan sebagai berikut: 1. Berpedoman kepada Permendikbud Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, serta Permendikbud nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan atau peraturan/produk hukum lain yang mengatur penilaian pendidikan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama; 2. Penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah meliputi aspek: sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Permendikbud no. 23 th pasal 3). Untuk aspek pengetahuan dan keterampilan dengan skala (Permendikbud no. 23 th pasal 12). 3. Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pendidik sesuai Permendikbud no. 23 th pasal 9 adalah sebagai berikut: a. Perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus; b. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik penilaian lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali kelas, pembimbing akademik, atau guru kelas; c. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai; d. Penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai; e. Peserta didik yang belum mencapai KKM satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran remedi; dan f. Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi. 4. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) sekurang-kurangnya 60. Satuan pendidikan dapat menetapkan KKM lebih dari 60 sesuai dengan memperhatikan kemampuan awal siswa, kerumitan kompetensi, dan keadaan sumber daya pendidikan di satuan pendidikan tersebut (Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Pertama Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, 2015: 49). Pencapaian minimal untuk kompetensi sikap Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 12
13 adalah Baik, sedangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) bagi peserta didik yang mempunyai potensi kemampuan/kecepatan belajar atau potensi kecerdasan istimewa dapat ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan Permendikbud 158 tahun 2014; 5. Peserta didik yang belum mencapai KKM setelah mengikuti pembelajaran remedi wajib dituntaskan melalui semester pendek setelah memasuki semester berikutnya. 6. Format Rapor sebagaimana terlampir. G. PROGRAM REMEDIAL Pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan pada KD tertentu, menggunakan berbagai metode yang diakhiri dengan penilaian untuk mengukur kembali tingkat ketuntasan belajar peserta didik. Prinsip pembelajaran remedial adalah adaptif, interaktif, fleksibilitas dalam metode, pembelajaran dan penilaian, pemberian umpan balik sesegera mungkin, pelayanan sepanjang waktu. Setidaknya program remedial dilakukan dengan: 1. Diagnosis kesulitan belajar peserta didik: a. Kesulitan ringan (kurang perhatian saat mengikuti pelajaran), b. Kesulitan sedang (gangguan belajar dari luar peserta didik, misalnya : faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan pergaulan), c. Kesulitan berat (ketunaan pada diri peserta didik misalnya tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa). Teknik untuk mendiagnosis kesulitan belajar: (a) Tes Prasyarat, (b) Tes Diagnosis, (c) Wawancara, (d) Observasi. 2. Pelaksanaan remedial: a. Pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda, b. Belajar mandiri atau pemberian bimbingan secara khusus, c. Pemberian tugas/latihan, d. Belajar kelompok dengan bimbingan alumni atau tutor sebaya, dan lain-lain, yang semuanya diakhiri dengan ulangan. 3. Tes ulang: Tes ini diberikan kepada peserta didik yang telah mengikuti program pembelajaran remedial agar dapat diketahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan dalam penguasaan kompetensi yang telah ditetapkan. H. SEMESTER PENDEK (SP) Semester pendek, sebagai upaya perbaikan nilai peserta didik yang belum mencapai KKM. Program semester pendek hanya diberikan kepada peserta didik yang belum lulus pada mata pelajaran semester sebelumnya walaupun telah melakukan remedial dengan nilai kurang Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 13
14 dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Mekanisme semester pendek: a. Peserta didik dapat memanfaatkan semester pendek hanya untuk mengulang mata pelajaran yang belum tuntas. Bagi yang sudah tuntas (mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh madrasah) tidak diperbolehkan untuk mengikuti semester pendek. b. Nilai maksimum dari peserta semester pendek adalah nilai minimum KKM; c. Peserta semester pendek mendaftarkan diri pada Penyelenggara Program SKS atau Bagian Administrasi Akademik dan Kesiswaaan (BAAS) melalui guru pendamping akademik; d. Guru mata pelajaran wajib memberikan layanan semester pendek jika terdapat peserta didik yang mendaftar peserta semester pendek; e. Jumlah pertemuan adalah 6 jam tatap muka tiap 2 JP mata pelajaran dan dapat ditambah sesuai kebutuhan; f. Biaya semester pendek dibebankan kepada orang tua/wali yang besarnya diatur oleh madrasah melalui rapat dewan guru dan komite. I. MASA TRANSISI PADA KELAS LANJUT Apabila peserta didik menyelesaikan waktu studi lebih cepat dari seharusnya dan terdapat masa kosong, maka masa transisi tersebut terdapat beberapa pilihan yang bisa dilakukan penyelenggara SKS untuk mengisinya dengan antara lain: 1. Pengayaan materi, sebagai upaya meningkatkan pengetahuan peserta didik sebagai bentuk jaminan mutu program layanan peserta didik cerdas istimewa; a. Program pengayaan hanya diberikan kepada peserta didik yang sudah lulus pada setiap mata pelajaran semester sebelumnya; b. Peserta Pengayaan materi mendaftarkan diri kepada Penyelenggara Program SKS atau Bagian Administrasi Akademik dan Kesiswaan (BAAS) melalui guru pendamping akademik; c. Guru mata pelajaran wajib memberikan layanan pengayaan jika terdapat peserta didik yang mendaftar peserta pengayaan materi; d. Jumlah pertemuan diatur sesuai kebutuhan. 2. Pengembangan keahlian Pengembangan Keahlian ditujukan untuk menyiapkan peserta didik bermasyarakat dengan ketentuan: a. Program Pengembangan keahlian hanya diberikan kepada peserta didik yang sudah lulus pada setiap mata pelajaran semester sebelumnya; b. Peserta pengembangan keahlian mendaftarkan diri Penyelenggara Program SKS atau BAAS melalui guru pendamping akademik; c. Pembina pengembangan keahlian wajib memberikan layanan jika terdapat peserta Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 14
15 didik yang mendaftar peserta pengembangan keahlian; d. Jumlah pertemuan diatur sesuai kebutuhan. 3. Dril soal Ujian Akhir Madrasah dan Ujian Nasional. a. Adalah pelaksanaan pembelajaran sebagai upaya mempersiapkan peserta didik menghadapi ujian nasional dan ujian akhir madrasah; b. Program dril hanya diberikan kepada peserta didik yang telah menuntaskan seluruh beban belajar; c. Pembina mata pelajaran wajib memberikan layanan kepada seluruh peserta didik yang memenuhi kriteria; d. Jumlah pertemuan diatur sesuai kebutuhan; 4. Pengembangan prestasi (pembinaan olimpiade) a. Program pengembangan prestasi (pembinaan olimpiade) diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan khusus untuk berprestasi; b. Peserta pengembangan olimpiade dapat mendaftarkan diri kepada Penyelenggara Program SKS atau BAAS melalui guru pendamping akademik; J. MUTASI PESERTA DIDIK Madrasah memfasilitasi mutasi peserta didik antar madrasah/sekolah penyelenggara SKS dengan madrasah/sekolah lain yang masih menggunakan sistem paket. Mutasi dilaksanakan melalui mekanisme dan prosedur: 1. Madrasah memfasilitasi penyetaraan langsung terhadap beban belajar (sks) yang telah ditempuh pada sekolah asal; 2. Penyetaraan dari madrasah/sekolah sistem paket dapat dilakukan melalui matrikulasi dan mempertimbangkan KI-KD mata pelajaran yang sudah ditempuh; 3. Madrasah memfasiltasi mutasi ke madrasah/sekolah sistem paket sesuai dengan bentuk Laporan Hasil Belajar / Laporan Capaian Kompetensi sekolah/madrasah tujuan; K. KELULUSAN 1. Kelulusan Peserta Didik dari satuan pendidikan yang menyelenggarakan SKS pada dasarnya dapat dilakukan pada setiap akhir semester dan atau disesuaikan dengan ketentuan pemerintah. 2. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan di MTs setelah: a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b. Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan c. Lulus Ujian Nasional dan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN), (Permendikbud Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik pasal 2). Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 15
16 BAB IV STRATEGI IMPLEMENTASI SKS A. MEKANISME PERSIAPAN Penyelenggaraan SKS dilakukan secara bertahap dengan strategi phasing in/out dimulai tahun pertama, dimana penerapan SKS dimulai kelas VII, sedangkan kelas VIII dan IX masih menggunakan Sistem Paket. Pada tahun kedua, terdapat dua angkatan yang menerapkan SKS, dan pada tahun ketiga seluruh angkatan menerapkan SKS. Tabel 1: Tahapan Penyelenggaraan SKS PERIODE TAHAPAN PENERAPAN SKS KELAS VII KELAS VIII KELAS IX Tahun Pertama Sistem Kredit Semester Sistem Paket Sistem Paket Tahun Kedua Sistem Kredit Semester Sistem Kredit Semester Sistem Paket Tahun Ketiga dst Sistem Kredit Semester Sistem Kredit Semester Sistem Kredit Semester Pada tahap awal penyelenggaraan SKS, satuan pendidikan: 1. Melakukan sosialisasi, koordinasi, dan konsolidasi kepada guru, staf TU, dan komite; 2. Menyusun KTSP yang memuat struktur kurikulum dengan Sistem Paket dan SKS yang disahkan oleh Kementerian Agama; 3. Menyusun perangkat pembelajaran (Silabus dan RPP) SKS sesuai dengan unit-unit pembelajaran tiap mata pelajaran; 4. Merancang jadwal mata pelajaran dan jadwal konsultasi Pembimbing Akademik (PA) dan Konselor/BK. 5. SMP/MTs dan SMA/MA/SMAK yang menerapkan sistem SKS harus memiliki izin dari Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota atau Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan masingmasing (Permendikbud Nomor 5 Tahun 2015 pasal 3 poin 2). 6. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan orang tua. B. STRUKTUR KURIKULUM DAN ROADMAP/SEBARAN MATA PELAJARAN Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Struktur kurikulum memuat beban belajar dan sebaran mata pelajaran, peserta didik wajib menyelesaikan mata pelajaran yang tertuang dalam struktur kurikulum. Mata pelajaran dalam kurikulum 2013 dikelompokkan menjadi dua kelompok; Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 16
17 pusat sedangkan mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Beban belajar dalam struktur kurikulum dapat ditempuh secara bervariasi dengan mengikuti dua pola, yaitu: kontinu/homogen dan diskontinu/on and off. 1. Pola Kontinu/Homogen Pada pola pembelajaran kontinu setiap mata pelajaran selalu muncul di tiap semester. Dalam hal ini pemilihan beban belajar berlaku ketika peserta didik memilih tambahan jam pelajaran (beban belajar) pada beberapa atau semua mata pelajaran sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Penambahan jam pelajaran berimplikasi pada tambahan unit pembelajaran (konten) dan kegiatan yang diperlukan di luar jam pelajaran yang telah ada. Pada layanan kelompok pola kontinu, satuan pendidikan dapat menyusun variasi pembelajaran sesuai dengan kecepatan belajarnya. Struktur kurikulum disusun bervariasi, terdiri atas: 6 semester, 5 semester, dan 4 semester. MATA PELAJARAN Tabel 2: Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Kontinu JP 6 semester 5 semester 4 semester Kelompok A PAI a. AlQur'an Hadis b. Akidah Akhlak c. Fiqih d. SKI PPKn B. Indonesia B. Arab Matematika IPA IPS B. Inggris Kelompok B 1 Seni Budaya PJOK Prakarya Mulok: Alokasi Perpekan Pola Diskontinu/On-Off Pada pola pembelajaran diskontinu, setiap mata pelajaran tidak harus muncul di tiap Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 17
18 semester. Untuk mengakomodasi peserta didik yang cepat, maka jumlah serial mata pelajaran dianjurkan maksimum adalah 4 (empat) seri. Dengan serial mata pelajaran ini, satuan pendidikan menyusun peta jalan (road map) pembelajaran secara bervariasi. Penyusunan roadmap /sebaran mata pelajaran bertujuan untuk menyajikan pilihan on/off bagi peserta didik dan mengakomodasi beban mengajar 24 jam bagi guru. Penyusunan roadmap pembelajaran dilakukan dengan beberapa langkah sebagai berikut; a. Lakukan inventarisasi jumlah seluruh rombongan belajar kelas VII yang diterima melalui PPDB. b. Selanjutnya disusun peta jalan / sebaran mata pelajaran dalam tabel yang dilengkapi jam pelajaran untuk semester ganjil (1, 3, dan 5) dan semester genap (2, 4, dan 6). Dalam mengisi On/Off mata pelajaran perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut. (1) Prioritas rancangan adalah mata pelajaran yang diujikan pada UN. (2) Pengaturan dilakukan sedemikian rupa sehingga mata pelajaran on pada semester tertentu pada pilihan/kelas A dan B maka pada pilihan/kelas C dan D dirancang menjadi off dan sebaliknya. (3) Dalam praktiknya jumlah jam pelajaran semester ganjil dan genap tidak selalu sama, oleh karena itu peta jalan akan bersifat fleksibel penggunaannya. Tabel 3: Contoh Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Diskontinu 6 Semester MATA BEBAN JP / KELAS A,B (6 smt) KELAS C,D (6 smt) PELAJARAN SERI JML Kelompok A PAI a. AlQur'an Hadis b. Akidah 12 Akhlak c. Fiqih d. SKI PPKn B. Indonesia Bahasa Arab Matematika IPA IPS Bahasa Inggris Kelompok B 1 Seni Budaya PJOK Prakarya Mulok... Alokasi Per Pekan Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 18
19 Tabel 4: Contoh Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Diskontinu 5 Semester dan 4 Semester MATA BEBAN JP / SERI KELAS E (5 smt) KELAS F (4smt) PELAJARAN JML Kelompok A PAI a. AlQur'an 12 Hadis b. Akidah 12 Akhlak c. Fiqih d. SKI PPKn B. Indonesia Bahasa Arab Matematika IPA IPS Bahasa Inggris Kelompok B 1 Seni Budaya PJOK Prakarya Mulok... Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu C. PENYUSUNAN SERIAL MATA PELAJARAN DAN PEMETAAN KI-KD 1. Penyusunan Serial Mata Pelajaran Penyusunan serial mata pelajaran merupakan bagian penting dalam SKS dengan member nomor seri pada mata pelajaran yang tertuang pada struktur kurikulum dan beban belajar. Dengan penyusunan serial, maka nomenklatur mata pelajaran dilengkapi dengan nomor seri, seperti Matematika 1, Matematika 2, dan seterusnya. Pada kurikulum 2013, Penyusunan serial mengacu pada kompetensi dasar dari KI-3 (pengetahuan) dan KI-4 (keterampilan). Pada dua aspek ini (pengetahuan dan keterampilan) memiliki gradasi bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan fisik dan mental peserta didik. Penyusunan serial mata pelajaran mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut; a. Jumlah seri minimal 4 (empat) dan maksimal 6 (enam) untuk mengakomodasi kemungkinan peserta didik menyelesaikan pembelajaran lebih cepat; b. Susunan Kompetensi inti dan Pengurutan KD dari KI-3 dan KI-4 mengacu pada urutan KD sesuai Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 19
20 c. Beban belajar dinyatakan dalam setiap seri mata pelajaran, pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai urutan serial, artinya dimulai dari seri 1, seri 2, dst. Peserta didik yang mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris 2 disyaratkan telah mengikuti mata pelajaran bahasa Inggris 1 sebagai mata pelajaran prasyarat. 2. Pemetaan KI-KD Setelah melakukan penyusunan serial mata pelajaran, maka konsekuensinya adalah memetakan KI-KD yang semula tersusun atas tingkatan kelas VII, VIII, dan IX menjadi KI- KD yang tersusun berdasar serial mata pelajaran. Penyusunannya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu: tingkat perkembangan fisik dan mental peserta didik; hierarki kompetensi inti dan kompetensi dasar; relevansi dan kontinuitas materi pelajaran dan antar mata pelajaran dan kemudahan dalam keterpakaian. Berikut ini contoh ilustrasi pemetaan serial mata pelajaran berdasarkan hierarki kompetensi inti dan kompetensi dasar. Tabel 5: Pemetaan Serial Mata Pelajaran Berdasarkan Hierarki KI-KD dalam 6 semester Semester Pemetaan KI-KD Mata MATA Kode Pelajaran PELAJARAN Kelompok A Pendidikan Agama Islam AlQur'an Hadis 1 QH QH kelas 7 smt 1 AlQur'an Hadis 2 QH QH kelas 7 smt 2 AlQur'an Hadis 3 QH QH kelas 8 smt 1 AlQur'an Hadis 4 QH QH kelas 8 smt 2 AlQur'an Hadis 5 QH QH kelas 9 smt 1 AlQur'an Hadis 6 QH QH kelas 9 smt 2 Akidah Akhlak 1 AA AA kelas 7 smt 1 Akidah Akhlak 2 AA AA kelas 7 smt 2 Akidah Akhlak 3 AA AA kelas 8 smt 1 Akidah Akhlak 4 AA AA kelas 8 smt 2 Akidah Akhlak 5 AA AA kelas 9 smt 1 Akidah Akhlak 6 AA AA kelas 9 smt 2 Fiqih 1 FQ F kelas 7 smt 1 Fiqih 2 FQ F kelas 7 smt 2 Fiqih 3 FQ F kelas 8 smt 1 Fiqih 4 FQ F kelas 8 smt 2 Fiqih 5 FQ F kelas 9 smt 1 Fiqih 6 FQ F kelas 9 smt 2 SKI 1 SKI SKI kelas 7 smt 1 SKI 2 SKI SKI kelas 7 smt 2 SKI 3 SKI SKI kelas 8 smt 1 SKI 4 SKI SKI kelas 8 smt 2 SKI 5 SKI SKI kelas 9 smt 1 SKI 6 SKI SKI kelas 9 smt 2 Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 20
21 MATA PELAJARAN Kode Semester Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran 2 PPKn 1 PKn PKn kelas 7 smt 1 PPKn 2 PKn PKn kelas 7 smt 2 PPKn 3 PKn PKn kelas 8 smt 1 PPKn 4 PKn PKn kelas 8 smt 2 PPKn 5 PKn PKn kelas 9 smt 1 PPKn 6 PKn PKn kelas 9 smt 2 3 Bhs Indonesia 1 BI BI kelas 7 smt 1 Bhs Indonesia 2 BI BI kelas 7 smt 2 Bhs Indonesia 3 BI BI kelas 8 smt 1 Bhs Indonesia 4 BI BI kelas 8 smt 2 Bhs Indonesia 5 BI BI kelas 9 smt 1 Bhs Indonesia 6 BI BI kelas 9 smt 2 4 Bahasa Arab 1 BA BA kelas 7 smt 1 Bahasa Arab 2 BA BA kelas 7 smt 2 Bahasa Arab 3 BA BA kelas 8 smt 1 Bahasa Arab 4 BA BA kelas 8 smt 2 Bahasa Arab 5 BA BA kelas 9 smt 1 Bahasa Arab 6 BA BA kelas 9 smt 2 5 Matematika 1 MTK MTK kelas 7 smt 1 Matematika 2 MTK MTK kelas 7 smt 2 Matematika 3 MTK MTK kelas 8 smt 1 Matematika 4 MTK MTK kelas 8 smt 2 Matematika 5 MTK MTK kelas 9 smt 1 Matematika 6 MTK MTK kelas 9 smt 2 6 IPA 1 IPA IPA kelas 7 smt 1 IPA 2 IPA IPA kelas 7 smt 2 IPA 3 IPA IPA kelas 8 smt 1 IPA 4 IPA IPA kelas 8 smt 2 IPA 5 IPA IPA kelas 9 smt 1 IPA 6 IPA IPA kelas 9 smt 2 7 IPS 1 IPS IPS kelas 7 smt 1 IPS 2 IPS IPS kelas 7 smt 2 IPS 3 IPS IPS kelas 8 smt 1 IPS 4 IPS IPS kelas 8 smt 2 IPS 5 IPS IPS kelas 9 smt 1 IPS 6 IPS IPS kelas 9 smt 2 8 Bahasa Inggris 1 BIG BIG kelas 7 smt 1 Bahasa Inggris 2 BIG BIG kelas 7 smt 2 Bahasa Inggris 3 BIG BIG kelas 8 smt 1 Bahasa Inggris 4 BIG BIG kelas 8 smt 2 Bahasa Inggris 5 BIG BIG kelas 9 smt 1 Bahasa Inggris 6 BIG BIG kelas 9 smt 2 Kelompok B 1 Seni Budaya 1 SB SB kelas 7 smt 1 Seni Budaya 2 SB SB kelas 7 smt 2 Seni Budaya 3 SB SB kelas 8 smt 1 Seni Budaya 4 SB SB kelas 8 smt 2 Seni Budaya 5 SB SB kelas 9 smt 1 Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 21
22 MATA PELAJARAN Kode Semester Seni Budaya 6 SB SB kelas 9 smt 2 Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran 2 Penjas Orkes 1 PJOK PJOK kelas 7 smt 1 Penjas Orkes 2 PJOK PJOK kelas 7 smt 2 Penjas Orkes 3 PJOK PJOK kelas 8 smt 1 Penjas Orkes 4 PJOK PJOK kelas 8 smt 2 Penjas Orkes 5 PJOK PJOK kelas 9 smt 1 Penjas Orkes 6 PJOK PJOK kelas 9 smt 2 3 Prakarya 1 PR PR kelas 7 smt 1 Prakarya 2 PR PR kelas 7 smt 2 Prakarya 3 PR PR kelas 8 smt 1 Prakarya 4 PR PR kelas 8 smt 2 Prakarya 5 PR PR kelas 9 smt 1 Prakarya 6 PR PR kelas 9 smt 2 4 Mulok 1 MLK MLK kelas 7 smt 1 Mulok 2 MLK MLK kelas 7 smt 2 Mulok 3 MLK MLK kelas 8 smt 1 Mulok 4 MLK MLK kelas 8 smt 2 Mulok 5 MLK MLK kelas 9 smt 1 Mulok 6 MLK MLK kelas 9 smt 2 Tabel 6: Pemetaan Serial Mata Pelajaran Berdasarkan Hierarki KI-KD dalam 5 semester MATA PELAJARAN Kode Semester Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran Kelompok A Pendidikan 1 Agama Islam AlQur'an Hadis 1 QH QH kelas 7 smt 1 & sebagian smt 2 QH kelas 7 sebagian smt 2 & kelas 8 AlQur'an Hadis 2 QH smt 1 AlQur'an Hadis 3 QH QH kelas 8 smt 2 AlQur'an Hadis 4 QH QH kelas 9 smt 1 AlQur'an Hadis 5 QH QH kelas 9 smt 2 Akidah Akhlak 1 AA AA kelas 7 smt 1 & sebagian smt 2 AA kelas 7 sebagian smt 2 & kelas 8 Akidah Akhlak 2 AA smt 1 Akidah Akhlak 3 AA AA kelas 8 smt 2 Akidah Akhlak 4 AA AA kelas 9 smt 1 Akidah Akhlak 5 AA AA kelas 9 smt 2 Fiqih 1 FQ FQ kelas 7 smt 1 Fiqih 2 FQ FQ kelas 7 smt 2 Fiqih 3 FQ FQ kelas 8 smt 1 & sebagian smt 2 FQ kelas 8 sebagian smt 2 & kelas 9 Fiqih 4 FQ smt 1 Fiqih 5 FQ FQ kelas 9 smt 2 SKI 1 SKI SKI kelas 7 smt 1 SKI 2 SKI SKI kelas 7 smt 2 SKI 3 SKI SKI kelas 8 smt 1 & sebagian smt 2 SKI 4 SKI SKI kelas 8 sebagian smt 2 & kelas 9 Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 22
23 MATA PELAJARAN Kode Semester smt 1 SKI 5 SKI SKI kelas 9 smt 1 Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran 2 PPKn 1 PKn PKn kelas 7 smt 1 PPKn 2 PKn PKn kelas 7 smt 2 PPKn 3 PKn PKn kelas 8 smt 1 & sebagian smt 2 PKn 5.4 PKn kelas 8 sebagian smt 2 & PPKn 4 4 sebagian kls 9 smt 1 PPKn 5 PKn PKn kelas 9 sebagian smt 1 & smt 2 3 Bhs Indonesia 1 BI Dipetakan guru berdasarkan tema atau Bhs Indonesia 2 BI bab atau KI-KD Bhs Indonesia 3 BI Bhs Indonesia 4 BI Bhs Indonesia 5 BI Bahasa Arab 1 BA BA kelas 7 smt 1 & sebagian smt 2 BA 5.2 BA kelas 7 sebagian smt 2 & kelas 8 Bahasa Arab 2 4 smt 1 Bahasa Arab 3 BA BA kelas 8 smt 2 Bahasa Arab 4 BA BA kelas 9 smt 1 Bahasa Arab 5 BA BA kelas 9 smt 2 5 Matematika 1 MTK Dipetakan guru berdasarkan tema atau Matematika 2 MTK bab atau KI-KD Matematika 3 MTK Matematika 4 MTK Matematika 5 MTK IPA 1 IPA Dipetakan guru berdasarkan tema atau IPA 2 IPA bab atau KI-KD IPA 3 IPA IPA 4 IPA IPA 5 IPA IPS 1 IPS Dipetakan guru berdasarkan tema atau IPS 2 IPS bab atau KI-KD IPS 3 IPS IPS 4 IPS IPS 5 IPS Bahasa Inggris 1 BIG BIG kelas 7 smt 1 Bahasa Inggris 2 BIG BIG kelas 7 smt 2 Bahasa Inggris 3 BIG BIG kelas 8 smt 1 BIG 5.4 BIG kelas 8 smt 2 & sebagian kelas 9 Bahasa Inggris 4 6 smt 1 Bahasa Inggris 5 BIG BIG kelas 9 sebagian smt 1 & smt 2 Kelompok B 1 Seni Budaya 1 SB SB kelas 7 smt 1 & sebagian smt 2 SB kelas 7 sebagian smt 2 & kelas 8 SB Seni Budaya 2 smt1 Seni Budaya 3 SB SB kelas 8 smt 2 Seni Budaya 4 SB SB kelas 9 smt 1 Seni Budaya 5 SB SB kelas 9 smt 2 Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 23
24 MATA PELAJARAN Kode Semester Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran 2 Penjas Orkes 1 PJOK PJOK kelas 7 smt 1 Penjas Orkes 2 PJOK PJOK kelas 7 smt 2 Penjas Orkes 3 PJOK PJOK kelas 8 smt 1 sebagian smt 2 PJOK kelas 8 sebagian smt 2 & kelas PJOK Penjas Orkes 4 9 smt 1 Penjas Orkes 5 PJOK PJOK kelas 9 smt 2 3 Prakarya 1 PR PR kelas 7 smt 1 & sebagian smt 2 PR kelas 7 sebagian smt 2 & kelas 8 PR Prakarya 2 smt 1 Prakarya 3 PR PR kelas 8 smt 2 Prakarya 4 PR PR kelas 9 smt 1 Prakarya 5 PR PR kelas 9 smt 2 4 Mulok 1 MLK MLK kelas 7 smt 1 Mulok 2 MLK MLK kelas 7 smt 2 Mulok 3 MLK MLK kelas 8 smt 1 sebagian smt 2 MLK kelas 8 sebagian smt 2 & MLK Mulok 4 sebagian kelas 9 smt 1 MLK sebagian kelas 9 smt 1 & kelas 9 MLK Mulok 5 smt 2 Tabel 7: Pemetaan Serial Mata Pelajaran Berdasarkan Hierarki KI-KD dalam 4 semester 1 MATA PELAJARAN Kelompok A Pendidikan Agama Islam Kode AlQur'an Hadis 1 QH Semester AlQur'an Hadis 2 QH sda AlQur'an Hadis 3 QH sda AlQur'an Hadis 4 QH sda Akidah Akhlak 1 AA Sda Akidah Akhlak 2 AA Sda Akidah Akhlak 3 AA Sda Akidah Akhlak 4 AA Sda Fiqih 1 FQ Sda Fiqih 2 FQ Sda Fiqih 3 FQ Sda Fiqih 4 FQ Sda SKI 1 SKI sda SKI 2 SKI sda SKI 3 SKI sda SKI 4 SKI sda 2 PPKn 1 PKn sda PPKn 2 PKn sda PPKn 3 PKn sda Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran Dipetakan guru berdasarkan tema atau bab atau KI-KD Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 24
25 MATA PELAJARAN Kode Semester PPKn 4 PKn sda 3 Bhs Indonesia 1 BI sda Bhs Indonesia 2 BI sda Bhs Indonesia 3 BI sda Bhs Indonesia 4 BI sda 4 Bahasa Arab 1 BA sda Bahasa Arab 2 BA sda Bahasa Arab 3 BA sda Bahasa Arab 4 BA sda 5 Matematika 1 MTK sda Matematika 2 MTK sda Matematika 3 MTK sda Matematika 4 MTK sda 6 IPA 1 IPA sda IPA 2 IPA sda IPA 3 IPA sda IPA 4 IPA sda sda 7 IPS 1 IPS sda IPS 2 IPS sda IPS 3 IPS sda IPS 4 IPS sda 8 Bahasa Inggris 1 BIG sda Bahasa Inggris 2 BIG sda Bahasa Inggris 3 BIG sda Bahasa Inggris 4 BIG sda Kelompok B 1 Seni Budaya 1 SB sda Seni Budaya 2 SB sda Seni Budaya 3 SB sda Seni Budaya 4 SB sda 2 Penjas Orkes 1 PJOK sda Penjas Orkes 2 PJOK sda Penjas Orkes 3 PJOK sda Penjas Orkes 4 PJOK sda 3 Prakarya 1 PR sda Prakarya 2 PR Sda Prakarya 3 PR Sda Prakarya 4 PR Sda 4 Mulok 1 MLK sda Mulok 2 MLK sda Mulok 3 MLK sda Mulok 4 MLK Sda Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 25
26 D. PENETAPAN ROMBONGAN BELAJAR/KELAS Langkah penetapan rombongan belajar pada tahun pertama dilakukan pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB). MTs penyelenggara SKS perlu memfasilitasi pengisian data yang memuat riwayat hasil belajar dari nilai rapor, data prestasi waktu di SD/MI, dan data kemampuan lain seperti data tes masuk, data psikotes, dll. yang diperlukan untuk membuat klasifikasi kecepatan belajar peserta didik. Beberapa langkah kegiatan penetapan rombongan belajar antara lain adalah sebagai berikut: 1. Mengelompokan siswa dengan variasi kecepatan belajar 4 semester, 5 semester, dan 6 semester. Komposisi jumlah kelas/rombongan belajar umumnya lebih banyak pada kategori 6 semester. Sementara itu kategori 4 semester paling sedikit atau sulit diperoleh. Kriteria pengelompokan berdasarkan data nilai SD/MI dan/atau hasil seleksi PPDB. Contoh pilihan kriteria pengelompokan: a. Berdasarkan Nilai Akhir (NA: gabungan NS dan NUN) adalah sebagai berikut: Nilai (NA) > 89 kategori 4 semester Nilai (NA) 75 s.d 88 kategori 5 semester Nilai (NA) < 75 kategori 6 semester b. Berdasarkan rata-rata rapor SD/MI dan nilai tes masuk pada seleksi PPDB. Kriteria pengelompokan tersebut di atas dapat diperkuat dengan data psikotes. c. Kriteria (a) atau (b) dapat diperkuat dengan prestasi pendukung yang diperoleh selama pendidikan sebelumnya. 2. Pada pola diskontinu, hasil pengelompokan berdasarkan kecepatan belajar dilanjutkan pengelompokan berdasarkan pilihan road map/sebaran mata pelajaran. 3. Memberikan nama rombongan belajar dengan kelas A, B, C, dst. / nama lain sebagai kelas mayor (utama). Kelas utama ini dapat berkembang menjadi kelas minor mulai semester dua akibat adanya peluang menambah beban mata pelajaran pada saat pengisian KRS. 4. Menetapkan ruang kelas jika menggunakan sistem belajar kelas tetap. Pada sistem belajar kelas bergerak (moving clasroom) tidak memiliki ruang kelas tertentu. Sistem moving class merupakan sistem pendukung yang mendukung pelaksanaan SKS tetapi tidak mutlak untuk dilaksanakan. E. BIMBINGAN AKADEMIK DAN BIMBINGAN KONSELING Bimbingan akademik dan bimbingan konseling sangatlah penting dalam penerapan SKS, kedua hal tersebut dilakukan oleh Pembimbing Akademik (PA) dan Bimbingan Konseling (BK). PA dan BK melayani konsultasi peserta didik dalam rangka mendorong optimalisasi potensi dan prestasi belajar peserta didik di madrasah. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 26
27 1. Pembimbing Akademik (PA) PA adalah guru yang diberi tugas untuk membimbing perkembangan prestasi akademik peserta didik sampai akhir masa studinya dan dapat diganti sesuai dengan kebutuhan. PA membimbing peserta didik maksimal sebanyak 1 (satu) rombongan belajar, adapun tugasnya sebagai berikut: a. Membimbing siswa pada saat pengisian kartu rencana studi (KRS), pembagian rapor, dan melaksanakan konsultasi akademik; b. Memantau dan melakukan analisis data potensi, kebutuhan, minat, dan prestasi yang diperoleh dari Konselor/BK, serta memberikan rekomendasi konstruktif selama mengikuti pendidikan di sekolah agar potensi akademik peserta didik berkembang secara maksimal; c. Mengelola hasil observasi dan penilaian sikap spiritual dan sikap sosial berdasarkan hasil observasi dan penilaian dari guru mata pelajaran; d. Menjalin komunikasi dan kerjasama dengan orang tua, konselor/bk, dan guru mata pelajaran. 2. Konselor/BK Konselor/BK adalah pendidik profesional yang bertugas memberikan pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan formal. Konselor/BK memberikan bimbingan dan konsultasi pada peserta didik (konseli) agar mampu mengembangkan potensi dan mandiri dalam mengambil keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Dalam pelaksanaan SKS, konselor/bk membimbing siswa dengan jumlah minimal 150 orang selama masa studi dengan tugas sebagai berikut: a. Memantau, menghimpun dan mendokumentasi data, serta melakukan analisis potensi, kebutuhan, minat, dan prestasi peserta didik; b. Memantau, mendeteksi, dan memberikan rekomendasi konstruktif agar peserta didik mampu mencapai tugas perkembangannya melalui kegiatan pengembangan diri di sekolah termasuk peserta didik yang membutuhkan layanan khusus; c. Memberikan bimbingan siswa pada saat kegiatan layanan dan kosultasi kelompok sesuai jadwal layanan, serta layanan individu sesuai dengan kebutuhan peserta didik; dan d. Melaporkan hasil penilaian kegiatan pengembangan diri tiap semester; e. Menjalin komunikasi dan kerjasama dengan orang tua, PA, dan guru mata peajaran. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 27
28 F. PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN Tahapan persiapan yang perlu dilakukan penyesuian adalah perangkat pembelajaran, yaitu Silabus, Program Semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penyesuaian diperlukan karena paradigma tahunan yang biasanya dilakukan pada sistem paket harus disesuaikan dengan paradigma semesteran pada SKS. a. Silabus yang semula dirancang untuk kelas VII, VIII, dan IX perlu direkonstruksi sesuai dengan serial mata pelajaran. Rekonstruksi silabus dilakukan dengan cara memotong dan/atau menggabungkan kompetensi dan materi pokok sesuai dengan hasil pemetaan KI-KD yang disusun pada serial mata pelajaran, dengan merujuk pada lampiran Permendikbud No. 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 dan KMA No.165 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mapel PAI dan Bahasa Arab, atau peraturan lain yang berlaku. b. Program semester dirancang untuk satu semester dan dapat digunakan pada semester ganjil atau genap. Dengan demikian pada SKS tidak diperlukan program tahunan, karena acuan program pembelajaran adalah semesteran. c. Secara umum mekanisme, prosedur, dan teknik penyusunan RPP mengacu pada ketentuan Permendikbud No.22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah. Namun demikian, RPP perlu direvisi dan disesuaikan dengan alokasi waktu sesuai dengan program semester. Revisi yang diperlukan antara lain adalah: (1) Alokasi waktu pertemuan sesuai dengan road map / sebaran mata pelajaran; (2) Perlu dilengkapi dengan kegiatan penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri; G. PERSIAPAN SARANA PENDUKUNG Pelaksanaan SKS di Madrasah Tsanawiyah memerlukan sarana pendukung sebagai upaya memaksimalkan pencapaian peningkatan mutu layanan. Sarana pendukung yang sebaiknya disiapkan antara lain: a. Program aplikasi untuk sistem administrasi penilaian. Beberapa hal yang mendorong pentingnya program aplikasi ini antara lain: (1) Dalam kelas paralel terjadi perbedaan beban belajar dan mata pelajaran dalam tiap semester; (2) Membantu tugas PA dan BK dalam mengontrol dan membimbing pseserta didik melalui data yang tersimpan dalam program tersebut; (3) Memudahkan data penilaian untuk mencetak laporan akhir semester dan laporan kumulatif setiap akhir semester; Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 28
29 b. Bahan ajar mandiri yang dikembangkan sesuai dengan serial mata pelajaran termasuk yang tersedia dalam bentuk digital dan mudah diakses. Hal ini untuk mendorong kemandirian belajar peserta didik untuk mencapai keberhasilan belajarnya. c. Fasilitas dan waktu belajar yang fleksibel yang memberi layanan belajar lebih luas bagi peserta didik tertentu dengan kemampuan dan semangat belajar yang tinggi. H. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SKS Setelah melakukan persiapan di atas, selanjutnya sesuai dengan roadmap pembelajaran yang sudah disusun maka perlu dilakukan beberapa tahapan langkah sebagai berikut; 1. Penugasan Guru Mata Pelajaran Penugasan guru mata pelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: a. Memiliki kemampuan yang baik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Dengan demikian pada tahun ke dua, guru yang ditugaskan dapat menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah ada dengan perbaikan dan penyesuaian yang diperlukan. b. Memiliki persiapan yang baik sebagai pembimbing, pembina, dan pemberi motivasi kepada peserta didik. c. Memiliki budaya belajar yang baik untuk terus berkembang dan integritas terbaik dalam menjalankan tugas. Penugasan guru mata pelajaran pada tahap awal menjadi langkah strategis dan faktor yang kuat pengaruhnya pada keberhasilan pelaksanaan SKS. 2. Penyusunan Jadwal Mata Pelajaran Penyusunan Jadwal mata pelajaan yang memuat dua pola, yaitu pola kontinu/homogen dan pola diskontinu/ on-off harus berdasarkan pada road map / sebaran mata pelajaran. 3. Pelaksanaan Layanan Konsultasi PA dan BK Pembimbing Akademik dan BK memberikan layanan bimbingan sesuai dengan tugas dan fungsinya serta bekerjasama untuk melayani peserta didik sampai lulus. 4. Pelaksanaan UTS dan UAS UTS dan UAS dilaksanakan oleh guru mata pelajaran dalam jadwal semester guna melakukan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik. 5. Pelaksanaan Rapat Akhir Semester Rapat akhir semester merupakan kegiatan rutin untuk mengevaluasi hasil belajar dan pelaksanaan SKS. Kegiatan ini mirip seperti rapat akhir tahun bagi sekolah paket yang membahas keberhasilan dan hambatan selama satu tahun, termasuk masalah kenaikan Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 29
30 kelas. Madrasah penyelenggara SKS perlu melakukan rapat akhir semester yang membahas masalah kelulusan peserta didik pada tiap mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler dan tidak lagi membahas masalah kenaikan kelas. Beberapa masalah yang diagendakan dalam rapat akhir semester antara lain: a. Hasil belajar satu semester mencakup keberhasilan dan ketuntasan peserta didik dalam mata pelajaran; b. Rekapitulasi peserta didik yang akan dilayani melalui kegiatan semeser pendek; c. Mekanisme dan prosedur pengisian KRS sesuai dengan roadmap pembelajaran dan penyesuaian terhadap hasil pengisian KRS; d. Analisis hasil layanan PA dan BK selama satu semester; e. Pembagian tugas mengajar untuk semester yang akan datang; f. Perencanaan kegiatan semester pendek. 6. Penyusunan Laporan Capaian Kompetensi / Rapor Penyusunan Laporan Capaian Kompetensi dilakukan di akhir semester yang diharapkan memenuhi minimal dua kriteria, yaitu representatif (menggambarkan karakter penilaian autentik pada aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai kurikulum 2013) dan user frendly (kemudahan pengguna dalam memanfaatkannya). Oleh karena itu selain tersaji nilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara rinci dan terpisah dibolehkan untuk menyajikan nilai kesatuan kedua aspek tersebut dalam satu nilai indeks prestasi. 7. Pelaksanaan Kegiatan Semester Pendek Kegiatan semester pendek (SP) mulai dilaksanakan setelah pembagian rapor semester. Kegiatan semester pendek diberikan kepada peserta didik yang belum lulus untuk memperbaiki nilai mencapai batas minimal ketuntasan/kelulusan. Kegiatan semester pendek dapat dilaksanakan pada libur akhir semester, hari sabtu (bagi sekolah dengan 5 hari belajar), atau pada sore hari setelah jadwal pelajaran selesai. Kegiatan ini dikoordinasi oleh bagian kurikulum atau penyelenggara SKS dengan jadwal kegiatan serta guru-guru yang diberi tugas. I. EVALUASI DAN TINDAK LANJUT Evaluasi pelaksanaan SKS meliputi evaluasi kinerja satuan pendidikan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Evaluasi dilakukan oleh satuan pendidikan pada setiap akhir semester, meliputi: tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, dan hasil belajar peserta didik. Evaluasi terhadap kurikulum meliputi: Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 30
31 a. Struktur beban belajar dan struktur kurikulum setiap program, b. Serial mata pelajaran, c. Susunan KI dan KD sesuai dengan serial mata pelajaran, d. Peraturan akademik, e. Mekanisme pemilihan beban belajar, f. Menentukan pembimbing akademik, g. Melaksanakan penilaian hasil belajar untuk menentukan Indeks Prestasi. 2) Evaluasi terhadap pengelola dilakukan setahun sekali, mencakup: a. Tingkat relevansi pendidikan terhadap visi, misi, dan tujuan; b. Tingkat capaian Standar Nasional Pendidikan oleh satuan pendidikan; c. Tingkat efisiensi dan produktivitas satuan pendidikan; d. Tingkat daya saing satuan pendidikan pada tingkat daerah, nasional, regional, dan global. 3) Evaluasi Hasil a. Evaluasi hasil dilakukan melalui analisis hasil belajar peserta didik dalam bentuk hasil tiap mata pelajaran dan perubahan perilaku. Setiap mata pelajaran memiliki data hasil belajar pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Evaluasi dilakukan setiap semester hingga hasil akhir UAMBN dan UN. b. Evaluasi terhadap prilaku dilakukan melalui survei dan pengamatan pada aspek kemandirian, motivasi, dan kepuasan terhadap layanan pembelajaran dan penilaian. Hasil evaluasi menjadi data pendukung bagi penguatan mutu pendidikan melalui pelaksanaan SKS. Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 31
32 BAB V PENUTUP Sistem Kredit Semester yang disingkat SKS merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang peserta didiknya diberi kesempatan menentukan jumlah beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar. Pola penyelenggaraan SKS secara kontinu atau secara diskontinu merupakan variasi yang dapat dipilih madrasah dalam menyelenggaran sistem tersebut. Oleh karena itu, penyelenggaraan SKS di MTs bukan sesuatu yang niscaya, melainkan sesuatu yang bersifat inovatif dan membawa warna berbeda dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Petunjuk Teknis penyelenggaraan SKS yang disusun oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI diharapkan dapat memandu satuan pendidikan ataupun guru dalam menyelenggarakan SKS dengan lebih baik, walaupun dalam kenyataannya pelaksanaan SKS di setiap satuan pendidikan sangat bervariasi disesuaikan dengan kondisi di setiap satuan pendidikan. Direktur Jenderal ttd Kamaruddin Amin Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 32
33 Contoh Kartu Rencana Studi (KRS) KOP MADRASAH KARTU RENCANA STUDI (KRS) Nama : Semester : NIS/NISN : Tahun Pelajaran : Program/Jurusan : Guru Wali / PA : No Mata Pelajaran SKS Jumlah IP Semester : Sks Lalu : Sks kini : Guru Mata Pelajaran Ruang Kelas Siswa Guru Wali/ Pembimbing Akademik.., Mengesahkan Pengelola SKS/ Bag.Administrasi Akademik ( ) ( ) ( ) Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 33
34 Contoh Rapor dalam Bentuk Angka RAPOR PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK Satuan Pendidikan : Program : Reguler/Unggulan/PDCI Nama Siswa : Semester : NIS/NISN : Tahun Ajaran : A. Sikap Aspek Sikap Deskripsi Sikap Spiritual... Sosial... B. Pengetahuan dan Keterampilan Ketuntasan Belajar Minimal : No KODE MATA PELAJARAN JP PENGETAHUAN KETERAMPILAN (B) NIL PRED NIL PRED N B x N Kelompok A 1 Pendidikan Agama Islam QH1 a. Al-Qur'an Hadis 1 2 4,00 A 3,20 B+ 3,83 7,66 AA1 b. Akidah Akhlak 1 2 3,66 A- 3,66 A- 3,66 7,32 FK1 c. fikih 1 2 3,50 B+ 3,60 A- 3,55 7,10 SKI1 d. Sejarah Kebudayaan Islam 1 2 3,40 B+ 3,66 A- 3,53 7,06 2 PKn1 Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan 1 3 3,10 B 3,30 B+ 3,20 9,60 3 BIN1 Bahasa Indonesia 1 3 3,66 A- 3,66 A- 3,66 10,98 4 BAR1 Bahasa Arab 1 3 3,00 B 3,40 B+ 3,20 9,60 5 MAT1 Matematika 1 4 3,50 B+ 3,10 B 3,30 13,20 6 IPA1 Ilmu Pengetahuan Alam 1 4 3,50 B+ 3,66 A- 3,58 14,32 7 IPS1 Ilmu Pengetahuan Sosial 1 2 3,40 B+ 3,00 B 3,20 6,40 8 BIG1 Bahasa Inggris 1 4 3,50 B+ 3,50 B+ 3,50 14,00 Kelompok B 9 SB1 Seni Budaya 1 3 3,66 A- 3,50 B+ 3,58 10,74 10 PJOK1 Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 1 3 3,55 A- 3,66 A- 3,61 10,82 11 PK1 Prakarya 1 2 3,60 A- 3,50 B+ 3,55 7,10 JUMLAH ,44 IP Semester : 135,44 = 3.46 Ketidakhadiran 39 Sakit : hari IP Kumulatif : Izin : hari Maks sks Semester Depan: Tanpa Keterangan : hari No Kegiatan Ekstrakurikuler Nilai Keterangan 1 Pramuka A Sangat Memuaskan, menguasai masalah tali-temali, smaphore, dan baris-berbaris. 2 UKS B Memuaskan, aktif dalam setiap kegiatan UKS dan aktif sebagai Kader Kesehatan Remaja 3...., 20 Mengetahui, Orang Tua/Wali Pembimbing Akademik Kepala Madrasah, ( ) ( ) ( ) Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 34
35 Contoh Rapor dalam Bentuk Angka dan Deskripsi RAPOR PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK Satuan Pendidikan : Program : Reguler/Unggulan/PDCI Nama Siswa : Semester : NIS/NISN : Tahun Ajaran : A. SIKAP SPIRITUAL Sering Bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah SWT; Sering Berdoa sesudah dan sebelum kegiatan; Cukup Taat beribadah. SIKAP SOSIAL Sering Bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah SWT; Sering Berdoa sesudah dan sebelum kegiatan; Cukup Taat beribadah. B. PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN Ketuntasan Belajar Minimal : No KODE MATA PELAJARAN Kelompok A 1 Pendidikan Agama Islam QH1 a. Al-Qur'an Hadis 1 2 AA1 b. Akidah Akhlak 1 2 FK1 c. fikih 1 2 SKI1 2 PKn1 d. Sejarah Kebudayaan Islam 1 Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan 1 3 BIN1 Bahasa Indonesia BAR 1 Bahasa Arab MAT 1 Matematika IPA1 Ilmu Pengetahuan Alam IPS1 Ilmu Pengetahuan Sosial BIG1 Bahasa Inggris 1 4 Kelompok B 9 SB1 Seni Budaya PJO K1 Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 1 11 PK1 Prakarya 1 2 IP Semester : JUMLAH 39 N x JP IP = Jumlah JP JP PENGETAHUAN KETERAMPILAN DESKRIP (B) NIL PRED SI NIL PRED Sakit Ketidakhadiran DESKR IPSI : hari IP Kumulatif : Izin : hari Maks sks Semester Depan: Tanpa Keterangan : hari N B x N 135,4 4 Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 35
36 C. Ekstrakurikuler No Kegiatan Ekstrakurikuler Nilai Keterangan 1 Pramuka A Sangat Memuaskan, menguasai masalah tali-temali, smaphore, dan baris-berbaris. 2 UKS B Memuaskan, aktif dalam setiap kegiatan UKS dan aktif sebagai Kader Kesehatan Remaja 3.. D. Prestasi No Jenis Prestasi Keterangan 1 2 F. Catatan Wali Kelas G. Tanggapan Orang Tua Orang Tua/Wali ( ) Guru Wali / Pembimbing Akademik ( ).., 20 Mengetahui, Kepala Madrasah, ( ) Penyelaras Ide: Ahmad Zamroni,M.Pd,MA. (Pajarakan) Page 36
SISTEM KREDIT SEMESTER
PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK MADRASAH TSANAWIYAH DAN PROFIL MTs PENYELENGGARA ASOSIASI MTs PENYELENGGARA SKS JAWA TIMUR 2017 PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS) PENYELENGGARAAN SISTEM
Draft 2010 PANDUAN PELAKSANAAN SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA
Draft 2010 PANDUAN PELAKSANAAN SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA A. Landasan 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Than 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12, 35, 37, dan 38; 2. Peraturan Pemerintah
KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Model Penyelenggaraan SKS
KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di 1.270 SMA sasaran dan sejumlah SMA yang melaksanakan
PANDUAN PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH
PANDUAN PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH Badan Standar Nasional Pendidikan 2010 KATA PENGANTAR Segala
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE
PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan
BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang
BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
KURIKULUM SMA NEGERI 1 KARTASURA TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014 DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUKOHARJO SMA NEGERI 1 KARTASURA
KURIKULUM SMA NEGERI 1 KARTASURA TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014 Peraturan Akademik DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUKOHARJO SMA NEGERI 1 KARTASURA : Jl. Raya Solo Jogya Km 13, Pucangan, Kartasura, ( 0271 ) 780593
PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 3 BATAM TAHUN PELAJARAN 2018/2019
PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 3 BATAM TAHUN PELAJARAN 2018/2019 Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau SMA Negeri 3 Batam Jl. Hang Nadim, Kel. Belian, Kec. Batam Kota W eb : sm an tib a tam. co.id T
MATRIKULASI KURIKULUM 2013 DI SMP
MATRIKULASI KURIKULUM 2013 DI SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama 2014 1 Latar Belakang Pelaksanaan Kurikulum 2013
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN SKS MODEL KONTINYU PADA PROGRAM PERCEPATAN DAN PENGAYAAN SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2016/2017
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN SKS MODEL KONTINYU PADA PROGRAM PERCEPATAN DAN PENGAYAAN SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Dasar Hukum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun tentang STANDAR PENILAIAN DIREKTORAT PEMBINAAN SMA
Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun 2007 tentang STANDAR PENILAIAN DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PENILAIAN PENDIDIKAN Penilaian
MODEL PELAKSANAAN REMEDIAL & PENGAYAAN
MODEL PELAKSANAAN REMEDIAL & PENGAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA TAHUN 2015 Ketuntasan Belajar adalah tingkat minimal pencapaian
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa dalam
SURAT KEPUTUSAN KEPALA SMK NEGERI 1 BLITAR Nomor : 420 / 631.a / / 2017
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 BLITAR Jl. Kenari No. 30 Telp./Fax. (0342) 801947 e-mail : [email protected] BLITAR 66134 SURAT KEPUTUSAN KEPALA
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 21 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 21 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS PENYELENGGARA
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa
STANDAR PENILAIAN (Permen No. 20 Th. 2007)
STANDAR PENILAIAN (Permen No. 20 Th. 2007) STANDAR PENILAIAN Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun 2007 tentang DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN
ii KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga dunia pendidikan kita telah memiliki Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN A. Pengertian 1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.381, 2015 KEMENDIKBUD. Peserta Didik. Kelulusan. Ujian Nasional. Ujian Sekolah. Madrasah. SMP/MTs. SMA/MA/SMK. Sederajat. Kriteria. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN
KTSP DAN IMPLEMENTASINYA
KTSP DAN IMPLEMENTASINYA Disampaikan pada WORKSHOP KURIKULUM KTSP SMA MUHAMMADIYAH PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA Tanggal 4-5 Agustus 2006 Oleh : Drs. Marsigit MA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA KTSP DAN
Model Penyelenggaraan Peminatan Kurikulum 2013 di SMA KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii
KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 3 C. Ruang Lingkup... 3 BAB II JUDUL BAB II... 4 A. Pengertian Peminatan,
BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 58 TAHUN 2011 TENTANG
BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 58 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK PADA SATUAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA,
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 158 TAHUN 2014 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 158 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN SKS PROGRAM PERCEPATAN DAN PENGAYAAN SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2015/2016
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN SKS PROGRAM PERCEPATAN DAN PENGAYAAN SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Latar Belakang Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK, PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL,
Introduction. Nursyamsuddin
Oleh Nursyamsuddin Introduction Lahir di Purwakarta, 7 Oktober 1967 SD, SMP, SMA di Purwakarta S-1 Fisika di Jakarta S-2 Magister Manajemen dan Magister Pendidikan di Jakarta Berkeluarga; 2 orang putra
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007 STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN A. Pengertian 1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang
PEMBUKAAN PENGANTAR KEPALA SEKOLAH AGENDA MENJELANG UNBK UJIAN PRAKTEK, USBN, UNBK DAN SNMPTN
PEMBUKAAN PENGANTAR KEPALA SEKOLAH AGENDA MENJELANG UNBK UJIAN PRAKTEK, USBN, UNBK DAN SNMPTN AGENDA MENJELANG UNBK NO BULAN TANGGAL KETERANGAN 1 JANUARI 24-26 TRY OUT 2 2 FEBRUARI 1-3 TRY OUT 3 6-13 UJIAN
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN DENGAN SISTEM KREDIT SEMESTER DI MTS NEGERI SUMBER BUNGUR PAMEKASAN
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN DENGAN SISTEM KREDIT SEMESTER DI MTS NEGERI SUMBER BUNGUR PAMEKASAN Achmad Muhlis (Peserta Program Doktor Universitas Muhamadiyah Malang/Email: [email protected]) Abstrak:
1. STANDAR ISI. 1. Guru mengembangkan perangkat pembelajaran pada kompetensi sikap spiritual siswa sesuai dengan tingkat kompetensi.
1. STANDAR ISI 1. Guru mengembangkan perangkat pembelajaran pada kompetensi sikap spiritual siswa sesuai dengan tingkat kompetensi. E. 91%-100% guru mengembangkan perangkat pembelajaran sesuai tingkat
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Departemen Pendidikan Nasional Materi 2 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Sosialisasi KTSP LINGKUP SNP 1. Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal
Halimatus Sa diyah Universitas Negeri Malang
IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DENGAN SISTEM KREDIT SEMESETER DI SMA NEGERI 2 MALANG TAHUN AJARAN 2011/2012 Halimatus Sa diyah Universitas Negeri Malang Email:
IMPLIKASI UU DAN PP THD PENGEMBANGAN KURIKULUM PUSAT KURIKULUM - BALITBANG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL. Puskur Balitbang 1
IMPLIKASI UU DAN PP THD PENGEMBANGAN KURIKULUM PUSAT KURIKULUM - BALITBANG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 1 PENGERTIAN KURIKULUM (Pasal 1 UU No. 0 Tahun 00) Seperangkat rencana & pengaturan SNP Tujuan
- 1 - DRAF PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA. NOMOR xxx TAHUN 2015 TENTANG
- 1 - PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR xxx TAHUN 2015 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK, PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL, DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN
PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/VII/PB/2014 NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA
Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA
Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA 2015,Direktorat Pembinaan SMA i Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah
Kata Pengantar. Jakarta, Januari Tim Penyusun
Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib
PENGANTAR PENGEMBANGAN SILABUS
PENGANTAR PENGEMBANGAN SILABUS A. Pengertian Silabus Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH ATAU BENTUK LAIN YANG SEDERAJAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP. Oleh Dr. Jumadi
PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP Makalah disampaikan pada Pelatihan dan Pendampingan Implementasi KTSP di SD Wedomartani Oleh Dr. Jumadi A. Pendahuluan Menurut ketentuan dalam Peraturan
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK
DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1
PANDUAN PENYUSUNAN KTSP DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No.
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
2011, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Bersama antara Menteri Pend
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.351, 2011 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL. KEMENTERIAN AGAMA. Penerimaan Peserta Didik. Taman Kanak-Kanak. Sekolah/Madrasah. PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN
2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2013 PENDIDIKAN. Standar Nasional Pendidikan. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PEMERINTAH MELALUI UJIAN NASIONAL, DAN PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH SATUAN
PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG
SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011
No.1678, 2014 KEMENDIKBUD. Kelulusan. Peserta Didik. Satuan Pendidikan. Ujian Sekolah. Madrasah. Kesetaraan Ujian Nasional. Kriteria.
No.1678, 2014 KEMENDIKBUD. Kelulusan. Peserta Didik. Satuan Pendidikan. Ujian Sekolah. Madrasah. Kesetaraan Ujian Nasional. Kriteria. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 20 TAHUN 2013 TENTANG
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 20 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) PADA TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.1382, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN AGAMA. Pendidikan Madrasah Penyelenggaraan. Pendidikan Formal. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN
STANDAR PENILAIAN BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (BSNP)
STANDAR PENILAIAN BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (BSNP) PENGERTIAN PENILAIAN PRINSIP PENILAIAN TEKNIK & INSTRUMEN PENILAIAN MEKANISME & PROSEDUR PENILAIAN PENILAIAN OLEH PENDIDIK PENILAIAN OLEH SATUAN
RINTISAN SISTEM SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA. oleh: Tim Pengembang Kurikulum
RINTISAN SISTEM SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA oleh: Tim Pengembang Kurikulum SISTEM SKS (SATUAN KREDIT SEMESTER) MENGAPA? APA? BAGAIMANA? KAPAN? MENGAPA? Landasan Yuridis Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2011 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH DAN
Bahan Bacaan 2 Analisis dan Tindak Lanjut Penilaian
Bahan Bacaan 2 Analisis dan Tindak Lanjut Penilaian Penilaian hasil belajar oleh pendidik berfungsi untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU DAN PESERTA DIDIK PINDAHAN DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 13 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) /
BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) [email protected] 08128533491/0817804183 Tujuan Umum : Mewujudkan Visi dan Misi SMAN 48 Tujuan Khusus : Meningkatkan Pencapaian Kompetensi
SOSIALISASI DAN PELATIHAN KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 / 34
HALAMAN 1 / 34 1 2 3 4 5 Pengertian Landasan Prinsip Pengembangan Unit Waktu Pengembangan g Silabus 6 7 8 9 Komponen Silabus Mekanisme Pengembangan Silabus Langkah Pengembangan Silabus Contoh Model HALAMAN
PENGANTAR PENGEMBANGAN SILABUS
PENGANTAR PENGEMBANGAN SILABUS A. Pengertian Silabus Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi
BERITA NEGARA. No.19, 2011 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL. Ujian Sekolah. Ujian Nasional. SD.Ibtidaiyah. SD Luar Biasa.
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.19, 2011 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL. Ujian Sekolah. Ujian Nasional. SD.Ibtidaiyah. SD Luar Biasa. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR
2 Menetapkan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 3. Peraturan Pemerintah
No.954, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Kurikulum. Sekolah Menengah Pertama. Madrasah Tsanawiyah. Pencabutan. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 20 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 20 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) PADA TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN BAB I PENDAHULUAN
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN BAB I PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) di SMA
SAMBUTAN Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan KebuKurikulum 2013 dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara
PANDUAN LAYANAN KELAS INTERNASIONAL
PANDUAN LAYANAN KELAS INTERNASIONAL 1 A. Latar Belakang Tujuan pendidikan menengah umum adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
SELAMAT DATANG ORANG TUA / WALI SISWA KELAS IX SMP ISLAM TERPADU PAPB SEMARANG
ASSALAMU ALAIKUM SELAMAT DATANG ORANG TUA / WALI SISWA KELAS IX SMP ISLAM TERPADU PAPB SEMARANG SEMARANG, 25 PEBRUARI 2017 SOSIALISASI UJIAN NASIONAL, UJIAN SEKOLAH & UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL
Model Peminatan dan Lintas Minat
SAMBUTAN Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan KebuKurikulum 2013 dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara
PANDUAN PPDB. Website: atau 2018/2019
PANDUAN PPDB PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU Website: http://ppdb.man19jkt.sch.id/ atau http://man19jkt.sch.id/ 2018/2019 MAN 19 JAKARTA Jl. H. Muchtar Raya / H. Jaelani III Petukangan Utara, Jakarta Selatan
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa
HAYAT AL RAKHA
PROPOSAL PENELITIAN PENERAPAN SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DAN KELULUSAN PESERTA DIDIK HAYAT AL RAKHA 5215062168 JURUSAN TEKNIK
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH SATUAN PENDIDIKAN DAN PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PEMERINTAH DENGAN RAHMAT
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No. 957, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Tingkat Satuan Pendidikan. Dasar. Menengah. Kurikulum. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN
Muatan Lokal dalam Kurikulum /27/2017 Nafan 1
Muatan Lokal dalam Kurikulum 2013 9/27/2017 Nafan 1 Pendahuluan Muatan Lokal Isi Mengembangkan Muatan Lokal Pendahuluan Latar Belakang dan Landasan A. Latar Belakang Otonomi daerah, sentralisasi ke desentralisasi,
INFORNASI AKADEMIK SMA NEGERI 78 TAHUN PELAJARAN 2014/2015
A. Layanan Akademik SMA Negerri 78 Jakarta INFORNASI AKADEMIK SMA NEGERI 78 TAHUN PELAJARAN 0/05. Kelas Reguler a. Menggunakan Kurikulum 0. b. Proses Pembelajaran menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM,
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM NOMOR 481 TAHUN 2018 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU RAUDHATUL ATHFAL, MADRASAH IBTIDAIYAH, MADRASAH TSANAWIYAH, MADRASAH ALIYAH, DAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG
SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM 2013 SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH
BAB I PENDAHULUAN. Peraturan akademik ini disusun untuk meningkatkan kualitas layanan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Pare.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah wajib
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN. Achmad Samsudin, M.Pd. Jurdik Fisika FPMIPA UPI
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Achmad Samsudin, M.Pd. Jurdik Fisika FPMIPA UPI Latar Belakang Standar Nasional Pendidikan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Pasal 35, 36, 37, 42, 43, 59, 60,
STANDAR PENILAIAN BIMBINGAN AKREDITASI SMK Oleh : A L M A N
STANDAR PENILAIAN BIMBINGAN AKREDITASI SMK Oleh : A L M A N 2011 Bukti fisik nomor 165 : Guru menginformasikan rancangan dan kriteria penilaian yang ada dalam silabus mata pelajaran kepada siswa pada awal
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2017 TENTANG
Menimbang : a. BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU DAN PESERTA DIDIK PINDAHAN DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT
ainamulyana.blogspot.co.id ainamulyana.blogspot.co.id
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2015 TENTANG PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK DAN SATUAN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH
I. PENDAHULUAN. setiap jenis dan jenjang pendidikan. Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C DENGAN RAHMAT TUHAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1
PENYUSUNAN KTSP Sosialisasi KTSP 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi
2015, Direktorat Pembinaan SMA i
2015, Direktorat Pembinaan SMA i KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di 1.270 SMA
SERI MATERI PEMBEKALAN PENGAJARAN MIKRO 2015 PUSAT PENGEMBANGAN PPL & PKL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
SERI MATERI PEMBEKALAN PENGAJARAN MIKRO 2015 PUSAT PENGEMBANGAN PPL & PKL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Panduan Penyusunan KTSP jenjang Dikdasmen BSNP KURIKULUM 2013? (Berbasis Scientific Approach)
Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
PEMERINTAH KOTA SERANG DINAS PENDIDIKAN
SURAT KEPUTUSAN KEPALA NOMOR : 422 / 042 / SMPN 19 Tentang PERATURAN AKADEMIK A. PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN 1. Proses Pembelajaran dilaksanakan dalam tahun pelajaran. 2. Satu Tahun Pelajaran dibagi
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)
PEMBELAJARAN IPS DALAM KTSP
PEMBELAJARAN IPS DALAM KTSP Nana Supriatna Bahan matrikulasi pendidikan dasar-ips. 21-8-2007 PENYUSUNAN KTSP LANDASAN Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17. Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp , Fax Jakarta Barat 11150
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17 Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp.021-6392046, Fax.021-6492322 Jakarta Barat 11150 1 KETETAPAN RAKER SMAN 17 JAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 TENTANG
