BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
|
|
|
- Dewi Tedjo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN Pada Bab I dikemukakan latar belakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, manfaat penelitian, asumsi penelitian, metode, lokasi dan sampel penelitian. A. Latar Belakang Penelitian Peran orang tua sangat penting dalam memberikan bimbingan kepada remaja. Sebab, orang tua merupakan pendidik yang paling utama dalam kehidupan keluarga yang tugas dan tanggung jawab mulianya adalah mengasuh, membesarkan dan mendidik dengan berbagai halangan dan tantangan yang dilaluinya. Peran orang tua dalam mengasuh, membesarkan, dan mendidik remaja tidak lepas dari pola asuh yang dimiliki sebagai bentuk tanggung jawab orang tua dalam mendidik remaja agar memiliki kecakapan diri yang baik terutama kecakapan dalam mengatasi masalah (problem solving) yang dihadapi remaja. Akan tetapi, dalam hubungan dengan keluarga, para remaja sering menghadapi masalah yang berkaitan dengan (1) hubungan dengan orang tua (ibubapa), (2) hubungan dengan saudara, (3) penyesuaian norma dalam keluarga, maupun (4) konflik dengan tuntutan orang tua. Masalah tersebut dapat disebabkan adanya peran yang berbeda saat usia mereka masih kanak-kanak dengan usia remaja sehingga menghasilkan tuntutan yang berbeda. Sesuai dengan hal tersebut, Surya (2011:59) mengungkapkan bahwa masa remaja merupakan masa transisi dan kelanjutan dari masa anak-anak dalam menuju tingkat kematangan sebagai persiapan untuk mencapai kedewasaan. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak yang penuh ketergantungan ke masa dewasa yang penuh kemandirian. Surya (2011:61-62) mengemukakan bahwa remaja memiliki masalahmasalah yang sering dihadapi terutama berkenaan dengan masalah penyesuaian diri antara kekuatan dari dalam dirinya dengan pengaruh dan tantangan dari
2 2 lingkungan. Kegagalan dalam penyesuaian diri ini dapat menimbulkan berbagai gejala kelainan tingkah laku para remaja, dan dapat meluas menjadi kegagalan dalam perkembangan remaja secara keseluruhan. Singgih dalam Asrori dan Ali (2004:16-17) menguraikan sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja, salah satunya yaitu terjadinya pertentangan. Sebagai individu yang sedang mencari jati diri, remaja berada pada situasi psikologis antara ingin melepaskan diri dari orang tua dan perasaan masih belum mampu untuk mandiri. Oleh karena itu, tak jarang remaja yang mengalami kebingungan karena sering menghadapi masalah maupun pertentangan pendapat antara mereka dengan orang tua. Pertentangan yang sering terjadi itu menimbulkan keinginan remaja untuk melepaskan diri dari orang tua kemudian ditentangnya sendiri karena dalam diri remaja ada keinginan untuk memperoleh rasa aman. Selain terjadinya pertentangan, sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja yaitu adanya aktivitas berkelompok. Berbagai macam keinginan para remaja seringkali tidak dapat terpenuhi karena bermacam-macam kendala maupun larangan. Adapun kendala yang sering terjadi pada remaja adalah tidak tersedianya biaya. Sedangkan bermacam-macam larangan dari orang tua seringkali melemahkan atau bahkan mematahkan semangat para remaja. Kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Mereka melakukan suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat diatasi bersama-sama. Sementara di sisi lain, remaja sangat membutuhkan keteladanan, konsistensi, serta komunikasi yang tulus dan empatik dari orang dewasa, sebab seringkali remaja melakukan perbuatan-perbuatan menurut normanya sendiri karena terlalu banyak menyaksikan ketidakkonsistenan di masyarakat yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang tua. Maka, betapa pentingnya tanggung jawab orang tua dalam memberikan pola asuh kepada putra-putrinya terutama di usia remaja. Sebab, remaja yang kesulitan dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi dalam dirinya disertai kelalaian orang tua dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam memberikan
3 3 bimbingan kepada putra-putri mereka merupakan hal yang sangat berbahaya baik bagi diri remaja, orang tua, masyarakat, maupun bangsa. Pada akhirnya apabila anak remaja mereka dibiarkan tanpa ada pengawasan atau bimbingan dari orang tua terutama dalam menyikapi masalah yang dihadapinya maka dampak yang timbul ialah munculnya tekanan dalam diri seperti depresi, stress hingga dapat menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang atau salah suai sebagai bentuk peralihan mereka atas ketidakmampuan menyelesaikan masalah. Berbagai macam tindakan menyimpang tersebut dalam sebuah penelitian yang dilakukan sejak tahun 1992 oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) daerah Lampung dan hasil pemantauan Republika, antara lain munculnya korban kekerasan dalam keluarga, seks bebas, narkoba dengan beragam alasan dari mereka di antaranya tidak ada bimbingan orang tua sebanyak 54,36 persen dan pengaruh pergaulan/lingkungan 58,51 persen yang tidak hanya terdapat di kota-kota besar, melainkan terdapat pula di kota-kota kecil (Rehani, 2002: ). Kemudian, tindakan penyimpangan remaja juga dilakukan dengan bentuk tawuran. Hasil data dari Komnas Perlindungan Anak Tahun 2012 tercatat 147 remaja di Indonesia melakukan tawuran dan 81 remaja tewas dalam aksi tawuran. Adapun tanda-tanda remaja yang mengalami masalah serius, biasanya muncul perubahan atau penurunan suasana hati dan tingkat fungsinya di sekolah, di rumah, dan juga pada aktivitas lain yang dapat menunjukkan satu masalah atau lebih. Menurut Herrin (2002: 134) munculnya remaja ketika menghadapi masalah serius, maka sinyal peringatan awal terjadi pada gangguan makan, lalu menimbulkan peningkatan dan penurunan berat badan yang mencolok, ketertarikan tiba-tiba pada makanan, nutrisi, dan makanan tanpa lemak, mengabaikan waktu makan, hanya meminum minuman tanpa kalori, melakukan olah raga atau kegiatan atletik dengan intensitas tinggi, ketidaknyamanan ketika makan, keresahan pada penampilan fisik, penghargaan diri yang rendah, dan depresi.
4 4 Perilaku lain yang muncul pada remaja saat mereka depresi menurut Brody dalam Koplewicz (2002:7) adalah munculnya tanda-tanda klasik seperti keletihan, kebosanan, gangguan, ledakan kemarahan, ancaman kabur dari rumah, gejala fisik seperti sakit kepala atau sakit perut, kecemasan, dan keputusasaan. Sehingga pada akhirnya gejala yang timbul dan sulit dideteksi diantaranya penggunaan obat-obatan, karena remaja sering terlibat perilaku di luar rumah bersama teman, dan orang tua hanya bisa mendeteksi dampaknya saat mereka pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, munculnya perubahan pada makan dan tidur serta peningkatan keluhan fisik, hilangnya minat untuk bersekolah, membolos, terjadi penurunan nilai, kemarahan dan sensitif pada orang tua, penurunan tanggung jawab seperti mengerjakan pekerjaan rumah, dan peningkatan kesulitan bersama orang lain di sekolah. Selain itu, dalam pooling situs yang diadakan pada bulan Juli 2011 oleh melalui majalah Parenting Indonesia edisi Agustus 2011 menyebutkan bahwa pengaruh negatif dari teman dan lingkungan menjadi kekhawatiran para orang tua sebanyak 64 persen sementara sekitar 20 persen mereka khawatir putra-putri mereka menjadi korban kejahatan. Sebanyak 25 persen, mereka pun berharap lingkungan putra-putri mereka bebas dari pengaruh buruk. Kekhawatiran yang dihadapi orang tua merupakan salah satu bentuk kepedulian atas putra-putri mereka yang masih berpengaruh terhadap lingkungan luar rumah apabila terjadi problem atau konflik yang dihadapi putra-putrinya. Dalam sebuah penelitian kecil yang menunjukkan kurangnya peran orang tua dalam memberikan bimbingan kepada putra-putrinya dengan alasan (1) faktor kesibukan orang tua yang bekerja; (2) korban single parent atau broken home; (3) kekurangpedulian orang tua terhadap remaja mereka; (4) mempercayakan sepenuhnya remaja mereka kepada tugas dan tanggung jawab guru di sekolah atau di kelas; (5) gangguan psikologis; (6) pertengkaran antar anggota keluarga; (7) mental hygiene disorder; (8) sikap protektif orang tua terhadap remaja mereka; (9) depresi dan stress; dan (10) kasus bullying ternyata menjadi faktor risiko orang tua yang kesulitan terhadap remaja yang menghadapi masalah. Hal ini menurut Baumrind (1991:91) menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu membiarkan
5 5 (permisif) akan membuat remaja menjadi tidak berkomitmen, cenderung impulsif dan bisa memungkinkan terlibat penggunaan obat-obatan. Steinberg dalam Brooks (2011:643) juga menemukan bahwa sekitar 40 persen orang tua merasakan kesulitan dalam menghadapi anak mereka yang mengalami masalah, sebab pola asuh yang diterapkan terlalu permisif. Berbeda dengan 20 persen orang tua yang menikmati kebebasan lebih besar karena anak mereka mandiri dan mampu menyelesaikan masalah disebabkan perlakuan dari orangtua yang acceptance dan authoritative. Sedangkan 40 persen orang tua yang merespons perubahan anaknya tetapi tidak berpengaruh secara pribadi disebabkan pola perlakuan yang terlalu overprotective. Dari beberapa temuan tersebut, dapat diketahui bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecakapan remaja dalam mengatasi masalah yang dihadapi adalah keluarga terutama dalam hal pola asuh orang tua. Peran orang tua dalam menerapkan pola asuh pada remaja dapat dilakukan dengan melanjutkan komitmen mereka pada anak dengan memantau,mengawasi, dan menegakkan aturan, namun di saat yang sama mendukung dan menerima individualitas anak. Orang tua dapat juga berperan sebagai penasehat dan memberikan informasi mengenai topik yang penting bagi remaja, berbagi kewenangan dalam pembuatan keputusan dengan remaja sehingga remaja lebih dapat mengatur dirinya dalam konteks hubungan keluarga yang hangat dan mampu menyelesaikan kondisi permasalahannya dengan baik. Oleh karena itu, di dalam ranah keluarga terutama orang tua dapat senantiasa memberikan pola asuh yang sesuai untuk mengembangkan kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah, serta diperlukan pula situasi keluarga yang harmonis, yang dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan menghargai anak. Berdasarkan latar belakang penelitian ini, untuk melihat pola asuh orang tua terhadap kecakapan dalam menangani suatu masalah secara arif dan kreatif (creative problem solving skill) pada putra/putri remaja yang berperan sebagai siswa/siswi SMA, maka ditetapkan judul penelitian ini yaitu Profil Kecakapan Problem Solving Siswa Kelas X SMA Plus Muthahhari Bandung Tahun Ajaran.
6 6 B. Identifikasi Penelitian Berbagai macam tipe pola asuh seperti pola asuh otoriter, demokratis dan permisif dapat mempengaruhi tinggi dan rendahnya kecakapan problem solving remaja yang berperan sebagai siswa kelas X SMA Plus Muthahhari Bandung. Berdasarkan tinjauan dari teori Baumrind (1991:91) menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu membiarkan (permisif) akan membuat remaja menjadi tidak berkomitmen, cenderung impulsif dan bisa memungkinkan terlibat penggunaan obat-obatan sebagai dampak dari perlakuan mereka atas ketidakmampuan dalam mengatasi masalah. Sedangkan menurut Steinberg dalam Brooks (2011:643) orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis dengan aspek acceptance dan authoritative menikmati kebebasan lebih besar karena anak mereka mandiri dan mampu menyelesaikan masalah. Sedangkan pola asuh orang tua yang bersifat otoriter merespons perubahan anaknya tetapi tidak berpengaruh secara pribadi dalam arti kecakapan yang dimilki remaja tidak memiliki dampak yang dominan disebabkan pola perlakuan yang terlalu overprotective. C. Rumusan Penelitian Adapun pokok permasalahan yang diteliti dirumuskan sebagai berikut. 1. Bagaimana profil kecakapan problem solving siswa kelas X SMA Plus Muthahhari Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 berdasarkan pola asuh orang tua? 2. Seperti apa perbedaan kecakapan problem solving siswa kelas X SMA Plus Muthahhari Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 berdasarkan pola asuh orang tua? D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini secara khusus, untuk memperoleh data empirik mengenai: (1) profil kecakapan problem solving siswa kelas X SMA Plus
7 7 Muthahhari Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 berdasarkan pola asuh orang tua; (2) perbedaan kecakapan problem solving siswa kelas X SMA Plus Muthahhari Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 berdasarkan pola asuh orang tua. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi dimensi praktis dan dimensi teoretis. Pada kegunaan praktis, khususnya kepada guru dan orang tua diharapkan dapat memberikan bimbingan yang tepat terhadap remaja. Kegunaan teoretis, yaitu: (1) memberikan masukan bagi guru BK SMA Plus Muthahhari Bandung tentang perlunya layanan BK terhadap kecakapan problem solving siswa; (2) memberikan masukan kepada orang tua tentang pentingnya memahami dan menerapkan pola asuh yang tepat terhadap remaja agar mampu mengatasi masalah secara arif dan kreatif. F. Asumsi Penelitian Penelitian tentang kecakapan problem solving siswa berdasarkan pola asuh orang tua ini dilandasi asumsi-asumsi dari konsep-konsep dan teori-teori sebagai berikut. 1. Menurut Surya (2011:61-62), remaja memiliki masalah-masalah yang sering dihadapi terutama berkenaan dengan masalah penyesuaian diri antara kekuatan dari dalam dirinya dengan pengaruh dan tantangan dari lingkungan. Kegagalan dalam penyesuaian diri ini dapat menimbulkan berbagai gejala kelainan tingkah laku para remaja, dan dapat meluas menjadi kegagalan dalam perkembangan remaja secara keseluruhan. Oleh sebab itu, remaja diperlukan keterampilannya dalam memecahkan atau mengatasi masalah (problem solving). 2. Tanggung jawab orang tua sangat penting dalam memberikan bimbingannya melalui pola asuh kepada remaja. Orang tua yang tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam memberikan bimbingan kepada remaja merupakan hal yang sangat berbahaya baik bagi diri remaja, orang tua, masyarakat,
8 8 maupun bangsa terutama ketika mengalami masalah serius yang tidak mampu diatasi oleh dirinya sendiri. Pada akhirnya apabila anak remaja mereka dibiarkan tanpa ada pengawasan atau bimbingan dari keluarga akan menimbulkan tekanan dalam diri seperti depresi, stress hingga tindakan menyimpang atau salah suai sebagai bentuk peralihan mereka atas ketidakmampuan menyelesaikan masalah. G. Metode Penelitian Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif. Metode ini dipilih karena peneliti bemaksud untuk mendeskripsikan dan menganalisis data-data dari variabel yang diteliti secara empiris, obyektif, terukur, rasional, sistematis serta menggunakan analisis statistik (Sugiyono, 2012:13). Teknik-teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data dari penelitian ini adalah menggunakan skala pengukuran berupa skala semantic differensial dan skala guttman. Pengumpulan data dilakukan melalui 2 buah instrumen yakni instrumen mengenai persepsi pola asuh orang tua terhadap remaja dan instrumen kecakapan problem solving. H. Lokasi dan Sampel Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di SMA Plus Muthahhari Bandung. Subjek yang dipilih ialah remaja yang berperan sebagai siswa-siswi kelas X SMA Plus Muthahhari Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 yang berusia sekitar tahun. Sampel yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan kategori sampling jenuh (total sampling), yakni teknik penentuan sampel dilakukan dari anggota populasi yang digunakan sebagai sampel. Sampel yang diambil adalah sampel dari populasi kelas gabungan (kelas random) yang mengikuti kelas minat dalam bidang bahasa yang wajib diikuti oleh siswa-siswi di SMA Plus Muthahhari. Siswa-siswi tersebut diambil dari kelas minat bahasa jepang dan korea. Alasan peneliti mengambil sampel ini bahwa
9 9 populasi yang digunakan sudah sebagian besar dapat dianggap homogen dan benar-benar bersifat representatif, sehingga subjek sampel dilakukan sebanyak 25 siswa.
BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan
BAB II LANDASAN TEORI A. KEMANDIRIAN REMAJA 1. Definisi Kemandirian Remaja Kemandirian remaja adalah usaha remaja untuk dapat menjelaskan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya sendiri setelah
BAB I PENDAHULUAN. apabila individu dihadapkan pada suatu masalah. Individu akan menghadapi masalah yang lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap masalah yang muncul akan selalu memerlukan penyelesaian, baik penyelesaian dengan segera maupun tidak. Penyelesaian masalah merupakan sesuatu yang harus
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia sepanjang rentang kehidupannya memiliki tahap-tahap
1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Manusia sepanjang rentang kehidupannya memiliki tahap-tahap perkembangan yang harus dilewati. Perkembangan tersebut dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa ini sering disebut dengan masa pubertas. Istilah pubertas juga istilah dari adolescent yang
BAB I PENDAHULUAN. hidup dan kehidupan manusia, begitu pula dengan proses perkembangannya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia, begitu pula dengan proses perkembangannya. Bahkan keduanya saling
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional
BAB I PENDAHULUAN. banyak pilihan ketika akan memilih sekolah bagi anak-anaknya. Orangtua rela untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin berkembangnya dunia pendidikan, kini orangtua semakin memiliki banyak pilihan ketika akan memilih sekolah bagi anak-anaknya. Orangtua rela untuk mendaftarkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini dunia pendidikan sedang berkembang, banyak sekolah-sekolah yang berdiri dengan kegiatan-kegiatan yang menarik untuk mendukung proses belajar siswa mereka, namun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lina Nurlaelasari, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa dimana perasaan remaja lebih peka, sehingga menimbulkan jiwa yang sensitif dan peka terhadap diri dan lingkungannya. Remaja menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia tingkat kenakalan yang dilakukan remaja akhir-akhir ini sudah melebihi batas dan mulai meresahkan para orang tua.banyak remaja, yang masihduduk dibangku
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa kehidupan yang penting dalam rentang hidup manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional (Santrock,
BAB I PENDAHULUAN. dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah perilaku seksual pada remaja saat ini menjadi masalah yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih menganggap tabu untuk
PENDAHULUAN Latar Belakang Memasuki era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan tantangan, bangsa Indonesia dituntut untuk meningkatkan Sumber
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Memasuki era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan tantangan, bangsa Indonesia dituntut untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai modal penting untuk membangun
BAB I PENDAHULUAN. memiliki konsep diri dan perilaku asertif agar terhindar dari perilaku. menyimpang atau kenakalan remaja (Sarwono, 2007).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Siswa SMA berada pada usia remaja yaitu masa peralihan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis. Dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.
I. PENDAHULUAN. Anjarsari (2011: 19), mengatakan bahwa kenakalan adalah perbuatan anti. orang dewasa diklasifikasikan sebagai tindakan kejahatan.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah kenakalan remaja bukan merupakan permasalahan baru yang muncul kepermukaan, akan tetapi masalah ini sudah ada sejak lama. Banyak cara, mulai dari tindakan prefentif,
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA DI JAKARTA BAB 1 PENDAHULUAN
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA DI JAKARTA BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pola asuh merupakan interaksi yang diberikan oleh orang tua dalam berinteraksi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan mental remaja. Banyak remaja yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wellbeing merupakan kondisi saat individu bisa mengetahui dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, dan secara
BAB I PENDAHULUAN. sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 2013:6).
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang meliputi
BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan salah satu kelompok di dalam masyarakat. Kehidupan remaja sangat menarik untuk diperbincangkan. Remaja merupakan generasi penerus serta calon
BAB I PENDAHULUAN. Remaja atau Adolescene berasal dari bahasa latin, yaitu adolescere yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Remaja atau Adolescene berasal dari bahasa latin, yaitu adolescere yang berarti pertumbuhan menuju kedewasaan. Dalam kehidupan seseorang, masa remaja merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
BAB I PENDAHULUAN. memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya. pergolakan dalam dalam jiwanya untuk mencari jati diri.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Masa remaja
BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan suatu periode yang disebut sebagai masa strum and drang,
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Remaja merupakan suatu periode yang disebut sebagai masa strum and drang, yaitu suatu periode yang berada dalam dua situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara dan
PERILAKU ANTISOSIAL REMAJA DI SMA SWASTA RAKSANA MEDAN
PERILAKU ANTISOSIAL REMAJA DI SMA SWASTA RAKSANA MEDAN Dewi S Simanullang* Wardiyah Daulay** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan **Dosen Departemen Jiwa dan Komunitas Fakultas Keperawatan, Universitas Sumatera
HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DENGAN PERILAKU KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS VII SMPN 2 PAGERWOJO TULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015
HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DENGAN PERILAKU KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS VII SMPN 2 PAGERWOJO TULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Proses pencarian jati
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Proses pencarian jati diri ini diperlukan kemandirian, yang merupakan tugas perkembangan yang harus dicapai
PROFIL PENYESUAIAN DIRI REMAJA YANG PUTUS SEKOLAH DENGAN TEMAN SEBAYA DI KAMPUNG KAYU GADANG KECAMATAN SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN JURNAL
PROFIL PENYESUAIAN DIRI REMAJA YANG PUTUS SEKOLAH DENGAN TEMAN SEBAYA DI KAMPUNG KAYU GADANG KECAMATAN SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN JURNAL Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
BAB I PENDAHULUAN. Remaja mengalami peralihan dari masa anak-anak dan menuju masa dewasa. Dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Remaja mengalami peralihan dari masa anak-anak dan menuju masa dewasa. Dalam proses peralihan tersebut, masa remaja ditandai dengan berbagai perubahan dalam
BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja adalah individu yang unik. Remaja bukan lagi anak-anak, namun
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah individu yang unik. Remaja bukan lagi anak-anak, namun belum dapat dikategorikan dewasa. Masa remaja merupaka masa transisi dari masa kanak-kanak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana
Materi kuliah e-learning HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN ANAK REMAJA oleh : Dr. Triana Noor Edwina DS, M.Si Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu
Materi kuliah e-learning HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN ANAK REMAJA oleh : Dr. Triana Noor Edwina DS, M.Si Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta Selamat membaca, mempelajari dan memahami
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Pola Asuh Orangtua a. Pengertian Dalam Kamus Bahasa Indonesia pola memiliki arti cara kerja, sistem dan model, dan asuh memiliki arti menjaga atau merawat dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan yang dialami oleh setiap individu, sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa
BAB I PENDAHULUAN. proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa peralihan, yang bukan hanya dalam arti psikologis, tetapi juga fisiknya. Peralihan dari anak ke dewasa ini meliputi semua aspek perkembangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Intany Pamella, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Hurlock (2004: 206) menyatakan bahwa Secara psikologis masa remaja adalah
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN KEMANDIRIAN DENGAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH PADA REMAJA SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN KEMANDIRIAN DENGAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH PADA REMAJA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Oleh: LINA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu gangguan perkembangan yang mengakibatkan ketidakmampuan mengatur perilaku, khususnya untuk mengantisipasi
BAB I PENDAHULUAN. emosi yang bervariatif dari waktu ke waktu, khususnya pada masa remaja yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupan, seseorang tidak pernah lepas dari kehidupan emosi yang bervariatif dari waktu ke waktu, khususnya pada masa remaja yang dikatakan
BAB I PENDAHULUAN. kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Remaja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi dimana pada masa itu remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sedang mencari jati diri, emosi labil serta butuh pengarahan,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ahli psikologi. Karena permasalahan remaja merupakan masalah yang harus di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada saat sekarang ini permasalahan remaja adalah masalah yang banyak di bicarakan oleh para ahli, seperti para ahli sosiologi, kriminologi, dan khususnya
BAB I PENDAHULUAN. asing bisa masuk ke negara Indonesia dengan bebas dan menempati sector-sektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Memasuki era globalisasi ini membawa Indonesia dalam tantangan yang berat, khususnya dalam sektor tenaga kerja. Sebab pada era globalisasi ini tenaga kerja asing bisa
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa perpindahan dari anak-anak ke remaja
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Masa remaja merupakan masa perpindahan dari anak-anak ke remaja dengan perubahan yang mengacu pada perkembangan kognitif, biologis, dan sosioemosional (Santrock, 2012).
I. PENDAHULUAN. transisi, dimana terjadi perubahan-perubahan yang sangat menonjol dialami. fisik dan psikis. Sofyan S.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa dimana terjadinya gejolak yang sangat meningkat yang biasa dialami oleh setiap orang. Masa ini dikenal pula sebagai masa transisi, dimana
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran
BAB I PENDAHULUAN. menyenangkan. Apalagi pada masa-masa sekolah menengah atas. Banyak alasan. sosial yang bersifat sementara (Santrock, 1996).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Banyak orang mengatakan masa-masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan. Apalagi pada masa-masa sekolah menengah atas. Banyak alasan pembahasan mengenai masa
2016 HUBUNGAN SENSE OF HUMOR DENGAN STRES REMAJA SERTA IMPLIKASINYA BAGI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Stres merupakan fenomena umum yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa tuntutan dan tekanan yang
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan emosi menurut Chaplin dalam suatu Kamus Psikologi. organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan emosi menurut Chaplin dalam suatu Kamus Psikologi mendefinisikan perkembangan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup
BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun Dalam Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam konteks kenegaraan, penyelenggaraan pendidikan diatur dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 2004. Dalam Undang-Undang tersebut, pendidikan diartikan
BAB I PENDAHULUAN. perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena
BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. (Djarwanto, 1990)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Skripsi bertujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswa yang mampu menulis skripsi dianggap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya dalam rentang kehidupannya setiap individu akan melalui tahapan perkembangan mulai dari masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, dan
BAB 1 PENDAHULUAN. perilaku agresi, terutama di kota-kota besar khususnya Jakarta. Fenomena agresi
BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Hampir setiap hari banyak ditemukan pemberitaan-pemberitaan mengenai perilaku agresi, terutama di kota-kota besar khususnya Jakarta. Fenomena agresi tersebut merupakan
BAB I PENDAHULUAN. dan pengurus pondok pesantren tersebut. Pesantren memiliki tradisi kuat. pendahulunya dari generasi ke generasi.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja adalah masa yang penuh dengan kekalutan emosi, instropeksi yang berlebihan, kisah yang besar, dan sensitivitas yang tinggi. Masa remaja adalah masa pemberontakan
I. PENDAHULUAN. istilah remaja atau adolenscence, berasal dari bahasa latin adolescere yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam perkembangan manusia, masa remaja merupakan salah satu tahapan perkembangan dimana seorang individu mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan berlangsung terus-menerus sepanjang kehidupan. Hal demikian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara luas dapat diinterpretasikan sejak manusia dilahirkan dan berlangsung terus-menerus sepanjang kehidupan. Hal demikian menjadikannya sebuah
BAB I PENDAHULUAN. kanak-kanak menuju masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (2007) adalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja adalah mereka yang mengalami masa transisi (peralihan) dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (2007) adalah 12-24 tahun.
I. PENDAHULUAN. lalu lintas, dan lain sebagainya (Soekanto, 2007: 101). undang-undang yang berlaku secara sah, sedangkan pelaksananya adalah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Setiap individu mengalami perubahan melalui serangkaian tahap perkembangan. Pelajar dalam hal ini masuk dalam tahap perkembangan remaja.
KONSEP DIRI SISWA YANG BERASAL DARI KELUARGA BROKEN HOME
JURNAL KONSEP DIRI SISWA YANG BERASAL DARI KELUARGA BROKEN HOME ( STUDI KASUS SISWA KELAS VII DI UPTD SMP NEGERI 1 MOJO KEDIRI TAHUN PELAJARAN 2016/2017 ) THE CONCEPT OF SELF STUDENTS WHO COME FROM A BROKEN
kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang dicintai, konflik keluarga,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini stres menjadi problematika yang cukup menggejala di kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang
BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain manusia mempunyai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial setiap manusia mempunyai dorongan untuk berhubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain manusia mempunyai dorongan untuk bersosialisasi.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berbicara tentang siswa sangat menarik karena siswa berada dalam kategori
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbicara tentang siswa sangat menarik karena siswa berada dalam kategori usia remaja yang tidak pernah lepas dari sorotan masyarakat baik dari sikap, tingkah laku,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Terselenggaranya pendidikan yang efektif
BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah yang sering terjadi pada masa remaja yaitu kasus pengeroyokan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah yang sering terjadi pada masa remaja yaitu kasus pengeroyokan ataupun kasus tawuran dan keributan antara pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada akhirnya
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perceraian merupakan kata yang umum dan tidak asing lagi di telinga masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi trend, karena untuk menemukan informasi
BAB I PENDAHULUAN. keagamaan. Bahkan hubungan seksual yang sewajarnya dilakukan oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zaman yang bertambah modern ini nilai-nilai yang bersifat baik atau nilai moral menjadi semakin berkurang didalam kehidupan bermasyarakat. Pergaulan yang salah dan terlalu
Definisi keluarga broken home menurut Gerungan (2009:199) adalah:
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi seorang anak, keluarga merupakan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenalnya. Pada pendidikan keluarga seorang anak tumbuh dan berkembang. Sumaatmadja
GAMBARAN POLA ASUH ORANGTUA PADA ANAK PENYANDANG EPILEPSI USIA BALITA DI POLIKLINIK ANAK RSUP.PERJAN DR. HASAN SADIKIN BANDUNG.
GAMBARAN POLA ASUH ORANGTUA PADA ANAK PENYANDANG EPILEPSI USIA BALITA DI POLIKLINIK ANAK RSUP.PERJAN DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Dyna Apriany ABSTRAK Usia balita merupakan masa-masa kritis sehingga diperlukan
BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan terbesar yang dihadapi siswa adalah masalah yang berkaitan dengan prestasi, baik akademis maupun non akademis. Hasil diskusi kelompok terarah yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab pertama, akan terdapat pemaparan mengenai latar belakang permasalahan dan fenomena yang terkait. Berikutnya, rumusan masalah dalam bentuk petanyaan dan tujuan dilakukannya penelitian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Ketika seorang anak masuk dalam lingkungan sekolah, maka anak berperan sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tita Andriani, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan kemandirian merupakan masalah penting sepanjang rentang kehidupan manusia. Perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan
BAB I PENDAHULUAN. yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada usia ini individu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan periode transisi dalam rentang kehidupan manusia yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada usia ini individu mengalami perubahan
BAB I PENDAHULUAN. Pengasuhan anak, dilakukan orang tua dengan menggunakan pola asuh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengasuhan anak, dilakukan orang tua dengan menggunakan pola asuh tertentu. Penggunaan pola asuh ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan terhadap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberi pelajaran (http://www.sekolahdasar.net). Sekolah adalah
BAB I PENDAHULUAN. Selanjutnya dijelaskan bahwa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanakkanak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Remaja adalah seseorang yang berada pada rentang usia 12-21 tahun dengan pembagian menjadi tiga masa, yaitu masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja tengah
BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, persoalan-persoalan dalam kehidupan ini akan selalu. pula menurut Siswanto (2007; 47), kurangnya kedewasaan dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia hidup selalu dipenuhi oleh kebutuhan dan keinginan. Seringkali kebutuhan dan keinginan tersebut tidak dapat terpenuhi dengan segera. Selain itu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan kelompok yang sangat berpotensi untuk bertindak agresif. Remaja yang sedang berada dalam masa transisi yang banyak menimbulkan konflik, frustasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bagi sebagian besar orang, masa remaja adalah masa yang paling berkesan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi sebagian besar orang, masa remaja adalah masa yang paling berkesan dan menyenangkan. Pengalaman baru yang unik serta menarik banyak sekali dilalui pada masa ini.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang sangat luar biasa, karena anak akan menjadi generasi penerus dalam keluarga.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memiliki anak yang sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri yang telah menikah. Anak merupakan berkah yang sangat
HUBUNGAN ANTARA TIPE POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN PERILAKU REMAJA AKHIR. Dr. Poeti Joefiani, M.Si
HUBUNGAN ANTARA TIPE POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN PERILAKU REMAJA AKHIR DYAH NURUL HAPSARI Dr. Poeti Joefiani, M.Si Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Pada dasarnya setiap individu memerlukan
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara berpikir remaja mengarah pada tercapainya integrasi dalam hubungan sosial (Piaget dalam Hurlock, 1980).
I. PENDAHULUAN. berkembang melalui masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga. Hubungan sosial pada tingkat perkembangan remaja sangat tinggi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Masalah 1. Latar Belakang Pada hakekatnya manusia merupakan mahkluk sosial, sehingga tidak mungkin manusia mampu menjalani kehidupan sendiri tanpa melakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Kelekatan Orangtua Tunggal Dengan Konsep Diri Remaja Di Kota Bandung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Idealnya, di dalam sebuah keluarga yang lengkap haruslah ada ayah, ibu dan juga anak. Namun, pada kenyataannya, saat ini banyak sekali orang tua yang menjadi orangtua
BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini masalah kenakalan remaja semakin dirasa meresahkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akhir-akhir ini masalah kenakalan remaja semakin dirasa meresahkan masyarakat, tak hanya masyarakat di perkotaan, masyarakat didesapun mulai merasa resah dengan perilaku
PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SUMBER GEMPOL TULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015
PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SUMBER GEMPOL TULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna
BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DENGAN KENAKALAN REMAJA (JUVENILE DELINQUENCY) PADASISWA DI SMA NEGERI 2 BABELAN
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DENGAN KENAKALAN REMAJA (JUVENILE DELINQUENCY) PADASISWA DI SMA NEGERI 2 BABELAN Rahmat Hidayat, Erik Saut H Hutahaean, Diah Himawati Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara
BAB IV UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGANI STRES SEKOLAH
BAB IV UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGANI STRES SEKOLAH A. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Menangani Stres Sekolah Seperti telah diketahui bahwa stress adalah fenomena umum yang
