Bab II. Tinjauan Pustaka

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab II. Tinjauan Pustaka"

Transkripsi

1 Bab II Tinjauan Pustaka Teknologi pemanas sangat diperlukan untuk berbagai proses produksi, teknologi pemanas mencakup prinsip-prinsip konveksi dan konduksi dalam ilmu heat transfer dan thermodinamika. Konduksi adalah perpindahan kalor melalui zat tanpa disertai partikel-partikel zat tersebut. Konveksi adalah transport energi dengan kerja gabungan dari konduksi panas, penyimpanan, energi dan gerakan mencampur. Proses terjadi pada permukaan padat (lebih panas atau dingin) terhadap cairan atau gas (lebih dingin atau panas). Jenis fire heater mudah kita jumpai dalam tipe dan model yang bervariasi. Pada fire heater, setidaknya terdiri dari penukar panas, yaitu shell and tube, yang bertujuan untuk pertukaran panas. Yang kedua adalah reaktor kimia, di mana bahan bakar dan udara mengalami reaksi eksotermik untuk menghasilkan panas yang diperlukan. Ditinjau dari proses pemanasan dengan sumber bahan bakar, teknologi fired heater digolongkan menjadi dua jenis, yaitu direct fired heater dan indirect fired heater. Aplikasi kedua alat pemanas ini adalah digunakan diberbagai industri seperti pabrik, perminyakan dan petrokimia. Akan tetapi jenis direct heater lebih dominan digunakan dalam industry perminyakan dan petrokimia. Sedangkan untuk indirect heater digunakan seperti pada pabrik makanan, pabrik plastik, pabrik karet, bahkan di negara-negara yang mempunyai iklim dingin juga digunakan oleh perusahaan air untuk memanaskan suhu air suplai, agar tetap pada suhu yang layak untuk dialirkan ke rumah-rumah warga pada cuaca dingin atau bersalju. 7

2 2.1. Pemanasan Api Langsung ( Direct Fired Heater) Pemanasan dengan api langsung (direct fired heater) adalah proses pemanasan dimana panas disebarkan atau ditransfer langsung kepada massa yang solid atau cair untuk tujuan perubahan fisika atau kimia. Kita mengenal pemanasan api langsung dalam industri pengolahan sebagai furnace. Furnace dalam peleburan atau pemanggangan. Furnace pembakaran terdapat dua tipe umum, fired heater dan converter. Furnace memproduksi panas sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar. Panas yang dihasilkan dari produk pembakaran ditransfer kepada material yang akan dipanaskan baik secara langsung maupun tidak langsung. Exhaust Stack Header Process Coil Flue Gas Chamber BURNER Gambar 2.1. Direct Fired Heater Type Conventional Pada gambar 2.1 adalah direct fired heater jenis conventional ( tradisional ). Alat ini terdiri dari shell heater, alat pembakar (burner), process coil, header pipe 8

3 pada bagian luar coil yang mana ini akan tersambung kepada main line pipe. Alat ini adalah jenis direct fired heater. Disebut demikian karena gas panas ( flue gas ) hasil pembakaran memanaskan ruangan kosong yang sengaja didesain sedemikian rupa sehingga lidah api tidak berdekatan ke process coil. Kemudian thermal mengalir ke atas ke pipa-pipa coil proses yang didalamnya dialiri oleh fluida proses dan sisa gas panas keluar melalui exhaust stack sebagai gas buang. Convection section Radiant section Gambar 2.2 Direct Fired Heater jenis radiant Gambar 2.2 adalah desain direct fire heater tipe radiant yang umumnya juga disebut furnace diatur dalam standard code API 560. Yang mana sebetulnya API 560 ini adalah spesifikasi direct fired heater yang ditulis untuk aplikasi pemanasan crude oil (minyak mentah). Dimana dalam heater API 560 terdapat process coil yang 9

4 berada dekat lidah api ( radiant section coil ), sedangkan di atas terdapat convection coil yang ditujukan untuk pemanfaatan panas dari gas pembakaran sebelum keluar ke cerobong asap dan dibuang ke atmosfer. Water vapour / steam coil Proses Fluid inlet coil Radiant Type Heater Distilation Coloumn Gambar 2.3 PID Direct Fired Radiant Heater Dalam gambar 2.3 terlihat fungsi dari radiant coil dan conventional coil yang terdapat dalam satu heater tersebut. Radiant coil dalam adalah untuk fluida yang akan dipanaskan pada suhu umumnya di atas 250 C ( 482 F ). Dan coil conventional adalah untuk water vapour, yakni air yang dipanaskan pada suhu di atas 100 C ( 212 F ) hingga menjadi superheated steam. Setelah dipanaskan dan 10

5 terjadi evaporasi, crude oil dan steam tersebut dialirkan masuk ke dalam distillation column secara bersamaan untuk proses separasi dari masing-masing kandungan dalam minyak mentah tersebut. Superheated steam tersebut mengikat beberapa jenis kandungan dalam minyak mentah agar menjadi terpisah masing-masing kandungan, yang paling ringan yakni gas, gas akan keluar pada nozzle paling atas, kemudian dibawahnya lagi ada Naptha, dst. Secara jelas bisa dilihat pada gambar 2.4 di bawah ini. Gambar 2.4 Distilation Column Crude Oil 11

6 Gambar 2.5 Direct fired heater crude oil Direct fired heater adalah dan secara esensial hanya digunakan pada process oil refinery dan prosess pada industry internally-heated process petrokimia. Pada design dan spesifikasi direct fired heater yang mengacu pada standar kode tertentu mempunyai keunggulan dalam segi keamanan alat pengontrol ( control panel ) dan juga tingkat keamanan pada pemilihan bahan dan metode fabrikasi yang diatur sesuai keamanan yang sudah teruji. Tingkat efisiensi pada design heater saat ini lebih mengutamakan tingkat efisiensi yang tinggi yang berakhir pada tujuan penghematan bahan bakar dan tentunya tujuan tingkat keamanan yang juga lebih baik. 2.2 Pemanas Api Tidak Langsung (Indirect Fired Heater) Pemanas api tidak langsung (indirect fired heater) adalah proses pemindahan thermal dengan memanfaatkan media pemindah panas ( heating media ) seperti air 12

7 atau minyak sintetis, untuk mentransfer panas ke fluida proses yang mengalir di dalam pipa yang melewati media pemanas tersebut. Atau juga bisa disebut indirect heater karena pemanasannya adalah pemanasan secara externally-heated. Alat yang termasuk dalam kategori indirect fired heater adalah Hot Oil System atau juga umum dikenal dengan sebutan Thermal Oil System dan tipe lain disebut Indirect Fired Water Bath Heater Hot Oil System / Thermal Oil Heater Hot Oil System/Thermal Oil System adalah alat pemanas yang digunakan untuk memanaskan minyak thermal, yaitu minyak sintetis yang umum sebagai heating media dipanaskan dan liquid phase media ini diedarkan ke satu atau lebih pengguna energy panas dalam suatu system tertutup ( close-loop system ). Dalam banyak industri kita mengenal alat yang disebut heat-exchanger. Minyak thermal yang sudah dipanaskan ke suhu tertentu sesuai kebutuhan dialirkan ke alat lain seperti heat exchanger tersebut untuk mentransfer panas ke fluida lain yang dialirkan dalam heat-exchanger disisi dinding yang lain. Selain penggunaan Thermal Oil Heater dengan heat-exchanger, juga umum untuk aplikasi pemanasan tangki penampung bahan kimia, aspal dan lain-lain dengan cara mengalirkan minyak thermal dengan suhu panas tersebut ke coil-pipe yang dibenamkan ( immersed ) ke dalam tangki penampungan atau penimbunan tersebut. Thermal oil heater sendiri secara desain hampir sama dengan jenis pemanas direct fired heater, hanya saja karena thermal oil heater adalah sebuah system tertutup ( close-loop system ) yang mana cairan minyak thermalnya digunakan secara sirkulasi terus menerus, maka alat ini dilengkapi dengan pompa skid dan tangki expansi. 13

8 Expansion Tank Heater Pump Skid Gambar 2.6 Hot Oil Heater dengan Expansion Tank dan Pump Skid Pada gambar 2.6 adalah sebuah heater lengkap dengan exhaust stack dan juga expansion tank dan pump skid. Karena hot oil heater adalah close-loop system yang mana media heat transfer dipanaskan secara berulang terus menerus setelah melalui perjalanan ke beberapa tempat sebagai penukar panas, maka cairan heat media akan melalui expansion tank terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali memasuki heater untuk dipanaskan. 14

9 Gambar 2.7 Expansion Tank dengan Pump Skid di bawahnya Thermal fluid yang dipanaskan memerlukan expansion tank untuk dua alasan. Pertama, expansion tank bertindak sebagai safe outlet untuk meningkatkan volume thermal fluid, karena terjadinya proses pemuaian akibat pemanasan. Kedua, expansion tank merupakan mekanisme untuk venting air, anti kondensasi dan degradasi oleh produk dan masuknya udara pada saat start-up dan operasi. Tangki expansi bertindak sebagai receiver untuk thermal fluid dari user (pengguna) dengan pompa sirkulasi dari bawah tangki untuk kemudian kembali ke heater. 15

10 Expansion tank tower Vertical heater Shell & Tube Heat Exchanger Gambar 2.8 Thermal Oil Heater dengan HE Gambar 2.8 adalah contoh aplikasi Thermal Oil Heater yang digunakan pada proyek offshore crude oil transportation. Crude oil yang disedot dari sumur mengalir melewati tangki dehydrator ( coalesce ) dan K.O drum ( separator ) untuk dikurangi kandungan air dan beberapa jenis material lainnya seperti garam. Lalu crude oil dialirkan ke dalam heat exchanger untuk menerima panas dan kemudian langsung dimasukkan ke dalam kapal tangker. Thermal oil ( yaitu berupa minyak sintetis ) yang dipanaskan dialirkan ke sisi shell heat exchanger dan crude oil yang akan 16

11 menerima panas mengalir pada sisi tube heat exchanger. Setelah mengalir melalui HE, thermal oil akan mengalir ke expansion tank dan kemudian masuk kembali ke heater. Jenis thermal oil yang umum digunakan adalah Terminol ( 66, 55 dll ) dan jenis lain seperti Glycol Indirect Fired Water Bath Heater Water Bath Heater adalah juga jenis indirect fired heater dengan perbedaan tipe pada proses pemanasan dengan menggunakan heating media untuk mentransfer panas yang umumnya adalah air (deminirelized water) atau cairan minyak sintetis atau campuran antara keduanya. Panas ditransfer melalui api firetube ( tabung api ) yang terendam dalam heating media di dalam shell (tangki) heater dan panas dari heating media ditransfer lagi kepada proses fluida yang mengalir di dalam pipa-pipa coil yang juga terendam ( immersed ) di dalam shell heater pada posisi dibagian atas. Porsi pada firetube yang terdapat lidah api disebut radiant section. Panas dari api ditransmisikan ke dinding firetube dengan radiasi. Indirect Fired Water Bath Heater terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing komponen didisain sesuai spesifikasi disain kriteria atau standar kode (standard code design) API 12 K yang mengatur mengenai disain aman (safety in design ) sebuah Indirect Fired Water Bath Heater. Yang mana spesifikasi ini ditulis sebetulnya untuk penggunaan burner berjenis natural draft. Dalam API 12 K diatur mengenai maksimal nilai heat density dan heat flux pada firetube (tabung api). Cross sectional area firetube dibatasi oleh nilai heat density maksimal pada BTU/hr/in2 dan heat flux maksimum BTU/hr/ft2. Jika nilai heat density lebih dari angka tersebut bisa mengakibatkan api yang tidak stabil karena kekurangan udara. Nilai ini ditentukan berdasarkan penggunaan alat pembakar (burner) jenis natural draft. Yaitu pembakaran yang suplai udaranya mengandalkan tekanan udara atmosfer. Spesifikasi dalam API 12 K mengenai penggunaan natural draft burner ini ditujukan untuk spesifikasi Indirect Fired Water Bath Heater yang dioperasikan di area yang jauh dari pemukiman dan keterbatasan pasokan listrik, sehingga tidak 17

12 memungkinkan untuk menggunakan combustion air blower untuk mensuplai udara pada pembakaran akan tetapi hanya menggunakan suplai udara dari atmosfer secara alami. Akan tetapi pada masa sekarang ini dimana hampir di setiap plant selalu ada ketersediaan pasokan listrik yang cukup sekalipun dengan portable generator listrik. Maka penggunaan forced draft burner selalu menjadi pilihan yang terbaik. Dengan menggunakan forced draft burner mempengaruhi tingkat keamanan yang lebih tinggi serta yang terpenting adalah efisiensi yang jauh lebih baik yang mempengaruhi efektivitas biaya pembelian alat maupun pada saat pengoperasian alat itu sendiri. Forced draft burner adalah suatu proses pembakaran dalam fire heater yang mana suplai udaranya diatur oleh combustion fan. Secara keseluruhan sistim antara water bath heater dengan menggunakan forced draft burner dan natural draft burner tidak berbeda, hanya perbedaan adalah pada adanya combustion fan pada FD burner dan pada ND burner tidak menggunakan combustion fan. Pada gambar 2.6 di bawah ini menjelaskan secara detail tipical PID (Proportional Integral Drawing atau Process Instrument Diagram) sebuah water bath heater. Pada gambar 2.6 di bawah ini menjelaskan secara detail tipical PID sebuah water bath heater. 18

13 2.9 Process Instrument Diagram sebuah IFWH Media cairan yang umum digunakan dalam Indirect Fired Water Bath Heater adalah air, Ethylene Glycol ( EG ), Triethylene Glycol (TEG) atau Polyethyline Glycol (PEG) dan Molten Salt, akan tetapi apapun jenis media pentransfer panas yang digunakan dalam system ini tetap disebut Water Bath Heater, walaupun ada beberapa yang tetap menyebutnya sebagai Glycol Bath Heater, Salt Bath Heater. TEG atau PEG adalah sejenis minyak sintetis atau senyawa organic yang umumnya digunakan sebagai anti freeze pada teknik automotive. Dan minyak sintetis jenis ini mempunyai boiling point diatas air biasa, yaitu pada C (387 F ). Melting point adalah C ( 8,78 F ), flashpoint 111 C ( 231,8 F ) dan autoignition pada suhu 410 C (770 F). Perbedaan antara penggunaan air dan minyak sintetis sebagai media pentransfer panas adalah sebagai berikut : Media air 100% digunakan apabila keperluan pemanasan tidak melebihi 100 C ( 212 F ), di mana air mempunyai titik didih pada suhu tersebut yaitu pada lokasi dengan ketinggian diatas permukaan laut dan udara bertekanan 1 atm. Contohnya sebuah process fluida gas berada pada suhu 10 C ( 50 F ) akan dipanaskan menjadi 22 C ( 71,6 F ). Maka dalam kalkulasi disain, yang melingkupi ukuran alat tersebut serta konstruksi pada coil (pipa fluida proses) dan firetube (tabung api) dan dihitung dari nilai maksimal flowrate serta maksimal tekanan pada process fluida menunjukkan hasil bahwa suhu air adalah minimal 88 C ( 190,4 F ). Pada suhu di bawah titik didih, penguapan air tidak akan berpengaruh pada penyusutan jumlah air. Jadi pengisian air atau make up water kemungkinan hanya perlu dilakukan satu tahun, sekali atau dalam arti tidak perlu melakukan pengisian kembali sampai tiba masa waktu dilakukan perawatan. Ada beberapa kasus yang tetap menggunakan media air sebagai pentransfer panas, sementara suhu air harus berada minimal diangka 140 C ( 284 F ). Maka digunakan sistim automatic refill pump. Sistim seperti ini bisa diterapkan, akan tetapi harus diimbangi dengan sistim injeksi cairan anti karat seperti polimer (basa) dan asam (pengontrol PH). Jadi jika suhu fluida bath diperlukan lebih tinggi, sebaiknya air tidak 19

14 digunakan karena tidak efektiv dalam hal pengoperasian (biaya dan tingkat kerepotan yang lebih tinggi). Sebaiknya menggunakan campuran antara air 50% dan glycol 50%. Sementara minyak sintetis semacam TEG/PEG/DEG digunakan apabila kebutuhan pemanasan pada fluida pemanas (bath fluid) melebihi 100 C (212 F ). Karena minyak sintetis ini mempunyai titik didih yang lebih tinggi dibanding air, yaitu di atas 197 C ( 386,6 F ). Penggunaannya bisa tergantung pada kebutuhan suhu, bisa 100% TEG atau pencampuran antara 40% air dan 60% Glycol, atau bahkan 100%. Glycol yang bersifat basa, juga sangat baik dalam hal pencegahan karat pada metal. Berbeda dengan penggunaan air yang memerlukan pencegah korosi, semacam anode serta bahan kimia asam dan basa. Indirect Fired Water Bath Heater digunakan dalam banyak pemrosesan, upstream industry migas, transportasi sales product Migas, petrokimia dan lain-lain. Penggunaan secara umum meliputi : Pemanasan gas alam sebelum tekanan berkurang akibat perjalanan aliran dengan tujuan untuk mencegah adanya pembekuan pada area down stream akibat ekspansi valve. Mencegah pembentukan hidrat pada aliran fluida sepanjang pemipaan. Hidrat adalah suatu Kristal yang terbentuk antara molekul-molekul air (H2O) dan molekul-molekul hidrokarbon (C1/C4) ringan dan juga molekul-molekul H2S dan CO2. Bentuk hidrat dapat berupa seperti jelly atau bubur sampai padat keras seperti es batu. Apabila hidrat terbentuk, maka akan menyebabkan kenaikan nilai pressure drop dalam pemipaan, bahkan jika hidrat terbentuk sangat banyak akan menyebabkan pipa menjadi buntu dan aliran gas akan macet. Apabila gas bumi yang mengandung uap air jenuh (saturated ) mengalami pendinginan, maka sebagian dari uap air tersebut akan mengembun dalam bentuk air bebas. Apabila proses pendinginan gas mencapai suhu pembentukan hidrat atau lebih rendah, maka molekul-molekul air tersebut akan bergabung dengan molekul-molekul hidrokarbon ringan dan 20

15 terbentuklah hidrat. Pada tahap awal ukuran hidrat kecil-kecil, sehingga akan terbawa dalam aliran gas. Akan tetapi kristal hidrat ini dapat tumbuh di tempat permukaan pipa yang tidak rata sehingga akan menghambat aliran gas dalam perpipaan bahkan dapat menyumbat pipa. Memanaskan aliran dari sumur gas sebelum memasuki tahap separasi. Memanaskan aliran proses untuk menjaga viskositas fluida agar tetap pada nilai minimal untuk mengurangi nilai kebutuhan horse power pada sistim pemompaan. Memanaskan kritikal stok gas yang perlu di control suhu secara ketat agar tidak terjadi perbedaan suhu yang fatal. Pemanasan bahan bakar gas untuk turbin untuk menjaga suhu bahan bakar tetap pada titik pengembunan yang diperlukan/ditentukan. Komponen dalam Indirect Fired Water Bath Heater adalah Komponen dalam Indirect Fired Water Bath Heater Komponen utama terdiri dari shell heater, process coil, firetube dan tentunya control panel Shell heater Bentuk shell water bath heater selalu silinder dan umumnya selalu horizontal. Dalam gambar diatas, shell heater adalah bagian yang berwarna silver yaitu aluminium cladding. Shell heater diberi insulasi luar dengan mineral wool dan lapisan terluar dengan menggunakan aluminium cladding tersebut. 21

16 Gambar 2.10 Indirect Fired Water Bath Heater Shell heater beroperasi pada tekanan atmosperik dan disain acuan sesuai API 12 K adalah kategori sebagai tangki umum. Standar kode dalam API 12 K mengatur mengenai rancangan shell heater adalah sbb : Material yang direkomendasikan oleh API 12 K untuk digunakan sebagai shell heater adalah standar ASTM ( American Society for Testing and Material ) dan API ( American Petroleum Institute ), antara lain ASTM A 36, ASTM A 283 Grade C, ASTM A 285 Grade C, ASTM A 515, ASTM A516. Kalau di Indonesia, umumnya disukai material A 516 yang sebetulnya material ini cukup mahal dengan pengaruh harga sekitar 5% dibanding dengan material A 36. Bahan A 516 adalah spesifikasi untuk bejana bertekanan (pressure vessel). Dalam proyek Subsea ORF PL West Java Muara Karang ditentukan material yang digunakan adalah SA-516-Gr.70. Ketebalan shell minimal adalah 3/16 inch ( 4.76 mm ). Ketebalan shell ini bisa ditingkatkan atau dibuat lebih tebal sesuai kemauan atau kenyamanan. Biasanya dengan pertimbangan safety operation, maka ketebalan shell akan ditentukan misalnya dengan ketebalan 9 mm. Pada umumnya shell water bath heater mempunyai ketebalan shell minimal 6 mm. Dengan ketebalan 6 mm secara teori 22

17 teknis dan juga secara praktek sudah mampu mengakomodir apabila adanya tekanan berlebih pada shell heater. Mengingat shell heater hanya beroperasi pada tekanan atmospher. Shell heater memang akan mengalami pemanasan dan tekanan bertambah menjadi sekitar dua atm akibat adanya pemanasan, akan tetapi ketebalan dinding shell heater minimal 4.6 mm seperti diatur dalam API 12 K adalah sudah mengacu kepada tekanan 3 bar ( 43,51 PSI ), ini berarti safety margin yang dipertimbangkan sudah sangat baik dan cukup. Tetapi beberapa kasus yang memberikan spesifikasi yang berlebihan dan mengacu standar disain shell kepada standar kode ASME ( American Society of Mechanical Engineering ) Sec VIII yang mengatur mengenai bejana bertekanan. Jadi jika acuan ASME Sec VIII yang digunakankan, maka standar umum ketebalan shell adalah minimal 8 mm sampai maksimal 9.4 mm. Pada proyek ORF PL Muara Karang, besar heater dibuat sesuai space area yang tersedia. Karena keterbatasan space, sementara disana diperlukan tiga (3) heater, maka heater dibuat dengan ukuran sesuai finger foot print, yaitu 9 m (L) x 3 m (W) x 4 meter(h), termasuk dengan heater frame skid ( rangka penopang ). Ukuran shell heater sendiri adalah pasti lebih kecil dari frame skid karena pada heater tidak hanya berupa sebuah tangki silinder saja akan tetapi ada ladder and platform dan juga control panel pada sisi heater dan pada frame skid terdapat cable tray untuk menempatkan kabel-kabel elektrikal dan instrumentasi yang terpasang pada bagian heater Process Tube / Process Coil dan Manifold/ Header Pipe Process Coil atau lazim hanya disebut coil saja adalah pipa yang akan dialiri fluida proses, yakni natural gas. Coil dalam Water Bath Heater adalah konfigurasi Upipe dengan beberapa passes (laluan) yang kemudian berujung pada pada pipa di bagian luar shell heater yang disebut header atau manifold. Header terdiri dari inlet dan outlet, dimana bagian-bagian ini tersambung dengan main-line pipe gas alam yang berasal dari tangki penimbunan atau dari kapal tangker. Dalam referensi penulisan tugas akhir ini adalah berupa proyek floating terminal transportasi natural 23

18 gas yang dikirim dengan kapal yang berada kurang lebih 15 km dari lokasi heater berada. Heater ini sendiri berada di Muara Karang tepat bersebelahan dengan PLN Pluit Muara Karang. Koneksi antara pipa gas alam dengan manifold heater adalah dengan flange connection. Header Pipe outlet Header pipe inlet Coil Gambar 2.11 Letak dan Konfigurasi Process Coil serta Pipa Header Coil menerima aliran Natural Gas proses dari pipa header dengan tekanan 645 Psig ( 44,5 barg ) dan flowrate 373,884 lb/hr (190 MMSCFD). Material pipa yang digunakan adalah API 5L X52 dan difabrikasi dengan acuan ASME B 31.3 yang mengatur mengenai pipa bertekanan. 24

19 Di dalam klausul API 12 K point 4.2 yang mengatur mengenai coil Water Bath Heater, disebutkan bahwa material coil adalah seamless pipe (pipa utuh / bukan rolled plate pipe) dan beberapa jenis material disebutkan, yaitu : API 5L grade B, ASTM A 53 grade B, ASTM A 106 grade B atau grade C. Dari jenis material yang ditentukan tersebut ( API atau ASTM) kemudian akan berpengaruh kepada standar kode untuk mendisain pipa tersebut (atau kebalikannya). Yakni, apabila menggunakan material API, maka coil difabrikasi sesuai aturan ASME B 31.3, dan apabila material yang dipilih adalah ASTM, maka disain dan fabrikasi menggunakan acuan ASME Sec VIII. Gambar 2.12 Diagram Aplikasi Pemipaan B31.3 Disain coil dengan acuan ASME B31.3 juga dibenarkan dalam API 12 K, karena tingkat keamanan disain yang diatur dalam proses fabrikasi juga terdapat dalam B Hal paling penting dalam kalkulasi disain coil adalah working pressure. Hal lain yang mendukung adalah flowrate dan suhu fluida proses. 25

20 Data sheet untuk ORL PL water bath heater adalah sbb: Flowrate : 190 MMSCFD ( lb/hr ) Pressure : 44.5 barg ( psig ) Inlet temperature : 10 C ( 50 F) OutletTemperature : 22 C ( 71.6 F ) Process Fluide : Natural Gas Heat Transfer Media : Water Fuel gas supply pressure : 12 barg ( 188,5 psig ) Fuel Gas Temperature : 18 C ( 64,4 F ) Gas Composition : : % : 5.3 % : 2.6 % : 0.51 % : 0.44 % : 0.02 % Header pipe ( 16 inch OD) ASME Sec VIII Header cap Coil Branch (cabang coil) ASME B31.3 Gambar 2.13 Process Coil Lokasi Process coil adalah pada inlet dan outlet header pipe, terbangun menjadi enam (6 ) tube, yang masing-masing tube mempunyai empat (4) passes, jadi dihitung total ada dua puluh empat (24) coil. Jika dalam API 12 K, seharusnya dihitung menjadi enam (6) single pass coil. Material process coil yang digunakan 26

21 dalam proyek ini adalah API 5L-X52 seamless pipe. Pada umumnya material process coil yang dipilih oleh pihak manufaktur adalah A-106 B dan difabrikasi dengan standar kode ASME Sec. VIII Div. 2. Konfigurasi coil terdapat pada gambar dibawah ini : Header Pipe 16 inch Coil 4 inch Gambar 2.14 b Coil side view (4 passes) Gambar 2.14 a Konfigurasi Coil Top view Expansion Tank Salah satu komponen penting dalam sistim thermal cairan yang memanfaatkan fasa cair termal adalah expansion tank. Sistim thermal semacam ini membutuhkan tangki expansi untuk dua alasan, yakni pertama, sebagai safe outlet, karena peningkatan volume pada cairan termal terjadi ekspansi termal. Yang kedua karena tangki expansi menyediakan mekanisme ventilasi cairan, incondensibles dan degradasi oleh produk serta kemungkinan kemasukan udara pada saat start up dan operasi. 27

22 Letak tangki expansi dalam water bath heater adalah seperti terlihat pada gambar Expansion tank Gambar 2.15 PID Indirect Firecd Water Bath Heater Material expansion tank bervariasi berupa material yang sama dengan shell heater dan bisa juga material yang berbeda. Akan tetapi material yang digunakan 28

23 tetap seputar material yang ada dalam daftar rekomendasi API 12 K. Disain expansion tank sama dengan design shell heater, yakni disain tangki umum Fire Tube (Tabung Api) Firetube terletak pada bagian yang terdekat dan tersambung dengan burner (alat pembakaran). Berada pada posisi paling bawah di dalam shell heater. Konfigurasi firetube terdiri dari satu U-tube atau lebih (gambar 2.16), dan reaksi termal dari pembakaran memanaskan seluruh area firetube dan panas pada dinding menghantarkan panas kepada media pemanas (heating fluid) secara konveksi alami. Material firetube adalah heavy-wall pipe (pipa berdinding kuat) yang umumnya adalah carbon steel A 106 atau A 53. Tipikal ukuran firetube adalah antara 6-30 inch ID ( 0,15 m 0,762 m ) dan panjang antara 5 30 ft ( 1,52 m 9,14 m ). Stack Fire tube Gambar 2.16 Firetube dengan konfigurasi 2 U-tube tampak dalam shell heater Porsi firetube yang terdapat lidah api disebut radiant section. Disini panas dari lidah api ditransmit ke dinding firetube oleh pemanasan radiasi. Lebih dari setengah 29

24 total jumlah panas yang ditransfer melalui firetube terjadi pada ujung lidah api. Jumlah yang pasti dari panas yang ditransfer tergantung pada rasio bahan bakar dan udara pembakaran, tipe bahan bakar, dan diameter firetube. Untuk transfer radiasi maksimal, lidah api seharusnya luminous ( bercahaya bersih ) dan nontubulent ( tidak ada turbulensi/gerak ). Porsi dari firetube yang tidak ada lidah api adalah bagian yang disebut area konveksi. Panas yang ditransfer ke dinding pipa firetube adalah secara konveksi yaitu melalui gas panas dari api ( flue gas ). Karena panas flue gas terdapat kandungan karbon dioksida dan uap air ( water vapour ), heat transfer koefisien menjadi sangat rendah, bahkan setelah dikombinasikan dengan efek radiasi masih jarang terjadi melebihi angka 2,5 3,0 Btu/hr/ft2- F. Efek dari excess-air ( kelebihan udara pembakaran ) pada area konvesi di firetube sangat complex, semakin tinggi jumlah kelebihan udara pembakaran maka semakin rendah suhu suhu flue-gas ini berarti juga menurunnya nilai LMTD ( Log Mean Different Temperature ). Sedangkan pada bagian radiasi di firetube, jika nilai excess-air rendah maka menaikkan nilai operasi. Convection section Radiant section Gambar 2.17 Radiant section dan Convection section pada firetube Panas / heat pada firetube surface mentransfer panas ke bath fluid / media penghantar panas dalam shell dan panas fluida bath terjadi heat-exchange ke 30

25 process coil yang didalamnya dialiri oleh fluida proses sebagai tujuan akhir dari transfer panas agar suhu outlet fluida proses tercapai. Firetube Heat density dalam cross section sebuah firetube diekspresikan dalam satuan BTU/hr/In2 sesuai area cross sectional. Sedangkan heat flux diexpresikan dalam satuan BTU/hr/ft2 sesuai area yang tereksposi. Di dalam spesifikasi API 12 K burner yang digunakan adalah tipe Natural Draft burner, yang mana suplai udara pembakaran adalah mengandalkan tekanan pada udara bebas. Ketentuan nilai rata-rata heat flux tidak boleh melebihi BTU/hr/ft2. Heat Flux adalah sebuah ukuran akan intensity aliran energy. Pada kasus fire heater, ini mengekspresikan sebagai energi yang dilepaskan oleh pembakaran bahan bakar dan harus ditransmisikan melalui area permukaan pada fire tube. Secara teori dan praktek terbukti bahwa heat flux yang rendah menghasilkan efisiensi thermal yang lebih tinggi pada firetube, walaupun ini seringkali terbukti bahwa heat flux yang tinggi dengan ukuran heater yang lebih kecil mempunyai efisiensi yang lebih baik secara keseluruhan terutama pada operation cost. Rumus umum hitungan heat flux pada firetube IFWBH sbb; Nilai rata-rata heat flux ( ) adalah : firetube rating BTU/hr ft2 of firetube surface Heat density adalah panas yang dikeluarkan melalui cross-sectional area pada firetube. Water Bath Heater yang mengacu pada spesifikasi API 12 K akan mempunyai nilai maksimal heat density BTU/hr/in2. Rumus hitungan nilai heat density sbb; Heat Density = firetube rating BTU/hr ( cross sectional area, in2 ) ( efficiency ) Burner atau alat pembakaran 31

26 Burner adalah alat yang digunakan untuk membakar bahan bakar (fuel) untuk dikonversikan dari energy kimia menjadi energy thermal. Pemahaman mengenai aplikasi burner adalah hal penting dalam hal memilih disain burner yang tepat. Ada banyak faktor yang harus diikutsertakan dalam mendisain atau memilih burner, beberapa diantaranya adalah bahan bakar yang digunakan (minyak, gas, solid fuel), heat transfer dan polusi emisi. Pada disain burner yang lampau yang paling menjadi pertimbangan adalah efisiensi dari pembakaran bahan bakar dan pentransferan energi ke heat load. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, ada pertimbangan lain yang juga sangat penting, yaitu yang berhubungan dengan environmental regulation yang mengatur mengenai polusi emisi yang tidak boleh melebihi tingkat tertentu. Jenis bahan bakar mempunyai dampak yang besar terhadap tingkatan polusi. Bahan bakar gas mengandung sedikit atau bahkan tidak mengandung sulfur, jadi nilai SOx ( Sulfur Oxides ) kecil atau tidak ada. Bahan bakar gas juga mampu terbakar dengan bersih, sehingga tingkat emisi NOx ( Nitrogen Oxides ) bisa menjadi sangat kecil. Sedangkan bahan bakar minyak seringkali mengandung sulfur yang tinggi, sehingga menciptakan SOx emisi yang tinggi. Selain itu bahan bakar minyak jenis heavy oil menghasilkan partikel emisi. Jadi disain pada burner adalah lebih banyak fokus kepada bagaimana memperkecil polusi emisi atau bahkan membuat burner yang tanpa emisi. Gambar 2.18 Burner Tampak Dalam Firetube 32

27 Dalam beberapa kasus, burner bisa menggunakan lebih dari satu jenis bahan bakar. Yaitu menggunakan bahan bakar gas dan bahan bakar minyak, sering disebut dual burner. Penggunaan dual burner biasanya berhubungan dengan ketersediaan bahan bakar yang pasokannya diprediksi tidak bisa tepat waktu. Maka pilihan dual burner digunakan untuk mengantisipasi pasokan jenis bahan bakar yang bisa mengimbangi stok supaya tidak membuat sistem harus shutdown. Dual burner biasanya beroperasi menggunakan salah satu jenis bahan bakar (bergantian sesuai stok) atau juga bisa menngunakan kedua jenis bahan bakar secara bersamaan (simultaneously). Penggunaan dua jenis bahan bakar secara sumultan biasanya pada sistem waste incinerator. Dalam gambar 2.18 di bawah ini terdapat contoh jenis dual burner. Gambar 2.19 Dual Burner Intinya banyak tipe burner diciptakan mengacu kepada kebutuhan pembakaran, berbagai variasi bahan bakar, oxidizer, combustion chamber geometries, regulasi environmental, dst. 33

28 Kandungan oksigen dalam udara atmosper adalah 21% dan sisa lainnya adalah N2 dan H2. Pembakaran dengan distribusi oksigen yang tidak akurat menimbulkan NOx emisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembakaran yang menggunakan metodhe OEC (Oxygen-Enhance Combustion). Pada pembakaran dengan menggunakan sistim OEC mempunyai keuntungan menurunkan nilai polusi emisi, meningkatkan produktivitas dan efisiensi termal. Di bawah ini adalah reaksi kimia antara methane dengan udara pada pembakaran stoikiometrik : Hasil reaksi kimia sangat berbeda apabila methane bertemu dengan murni, sebagai berikut : Sementara reaksi kimia pada methane dengan udara yang menggunakan sistim OEC (Oxigen-Enhance Combustion) adalah sebagai berikut: +2 + = Dari contoh di atas, diketahui bahwa 0 x 7.52 Nilai x pada nitrogen tergantung bagaimana suplai oksigen dalam udara yang dihasilkan oleh sistim OEC. Sistim OEC ini pada umumnya adalah dengan menggunakan combustion fan blower, yang umumnya disebut juga sebagai pembakaran jenis force draft. Pembakaran jenis ini tentunya berefek terhadap pengadaan peralatan pengatur udara dan tenaga listrik untuk motor fan. Dalam burner terdapat dua tipe draft burner, yaitu forced draft dan natural draft. Fungsi draft pada sebuah sistim pembakaran adalah mengarahkan hasil produk pembakaran, yaitu sebagai feed oksigen dan untuk mengarahkan gas buang 34

29 ke atmosfer. Draft diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni natural draft dan forced (mechanical ) draft. Forced-draft burner adalah oksidator yang disupplaikan ke burner dimaintain pada tekanan dan jumlah tertentu menggunakan blower atau fan udara pembakaran. Hampir seluruh industri yang menggunakan alat pembakaran saat ini menggunakan tipe forced draft burner. Draft Required to Establish Air Flow Flue as out Air in Gambar Tipe Natural Draft 35

30 Mechanical (Artificial)Draft : Forced Draft Hchimney pb = patm + pa = pfan Tatm gas *g *Hchimney Tgas B A Gambar 2.21 Tipe Force Draft Menggunakan forced draft burner mempengaruhi peningkatan konsumsi listrik untuk menjalankan motor dan blower fan. Akan tetapi jika dibandingkan dengan meningkatnya efisisensi pembakaran dan pengaruh terhadap polusi udara pembakaran, maka kenaikan pemakaian listrik ini menjadi lebih murah dan baik secara menyeluruh. Pada natural-draft burner, udara pembakaran disupplai atau disedot ke burner dengan sedotan yang dibuat melalui efek venturi dari semburan bahan bakar dan melalui buoyancy force di dalam furnace. Jadi suplai udara dihasilkan oleh sedotan alami yang diciptakan oleh negative draft yang diproduksi oleh combustor dan melalui motif dorongan daripada masuknya bahan bakar. 36

31 Gambar 2.22 Venturi Effect Natural Draft Pada burner dengan tipe natural-draft, pressure drop dan ketinggian combustor stack mempunyai pengaruh besar terhadap asupan atau hisapan udara yang memadai untuk burner. Burner jenis ini biasanya digunakan pada industri kimia dan industri petrokimia untuk jenis pemanas dengan fluida media pentransfer panas. Konsekuensi penggunaan natural-draft burner adalah bahwa lidah apinya lebih panjang daripada tipe forced-draft burner. Oleh karena itu heat-flux yang dihasilkan oleh natural-draft burner terdistribusi dengan jarak yang lebih jauh dan menghasilkan peak-temperature pada api yang lebih rendah. Natural draft sedikit lebih rumit pada aplikasi fire heater dan furnace untuk yang mempunyai convection section pada sekitar outlet flue gas. Convection section adalah bagian yang berada pada furnace yang tidak terkena panas radiasi api melainkan gas panas sebelum menuju exhaust stack, bagian ini didisain untuk extract energy produk pembakaran sebelum dibuang ke stack. Karena pada bagian convection ini umumnya terjadi pressure drop. 37

32 Gambar 2.23 Skematik Natural-Draft Burner Penggunaan natural draft burner mengakibatkan ukuran dan berat sebuah alat pembakaran menjadi lebih besar dan lebih berat. Ini karena diperlukannya ruang kantong udara yang lebih besar sesuai dengan hasil hitungan pada kebutuhan burner input agar supaya efek venturi pada semburan bahan bakar tercapai sesuai jumlah udara yang dibutuhkan dalam proses pembakaran. Draft biasanya adalah dikontrol oleh hand-operated damper pada chimney dan koneksi breeching pada chimney. 38

33 Gambar 2.24 Natural Draft Ada beberapa komponen penting dalam burner yang mempengaruhi disain sebuah burner, yaitu : Ignition system adalah komponen penting dalam burner yang berfungsi untuk memastikan keamanan dan reliabilitas operasi. Ignition system umumnya dibangun atau dilokasikan di dalam burner, tetapi pada kasus tertentu diletakkan terpisah dari burner. Ignition system bisa full otomatis atau manual dan ada beberapa jenis ignator. Pada kasus yang umum, sebuah pilot ignator digunakan untuk menyalakan api. Ignator ini bisa berupa jenis continues ignition atau interruptible ignition. Pilot ignition bisa berupa permanen atau yang bisa diganti, dan juga terdapat jenis pengapian yang menggunakan spark-ignator atau dengan external torch. Plenums adalah bagian yang membuat aliran gas yang datang menjadi seragam (homogeny) agar distribusinya merata pada bagian luar burner. Bagian ini penting untuk operasi burner yang baik pada semua range daripada operating 39

34 conditions, khususnya pada kondisi turndown. Aliran gas yang dimaksud adalah termasuk udara pembakaran, pra-pencampuran bahan bakar dan udara, atau prapencampuran udara dan bahan bakar secara terpisah. Jika plenum terlalu besar, maka bisa mengakibatkan aliran tidak terdistribusi secara merata disekitar burner nozzle outlet-nya. Jika plenum terlalu kecil, maka pressure drop pada plenum akan menjadi tinggi. Turndown adalah kondisi kontrol sistem dimana burner akan mati pada kondisi stand by mode, yakni burner akan on dan off dalam kurun waktu tertentu sesuai kondisi aliran proses fluida yang di bawah nilai rasio turn down, umumnya adalah 20:1. Heater dalam posisi stand-by mode akan tetap mengontrol suhu media penghatar panas pada suhu set point, tujuannya adalah jika proses fluida mengalir kembali maka transfer tersebut tetap berada pada suhu yang mampu mentransfer panas ke fluida proses dengan suhu outlet yang diinginkan. Burner tile, seringkali disebut sebagai block atau quarl. Bagian ini adalah yang membentuk lidah api (shape) dan bentuk dari lidah api inilah yang menjaga agar bagian internal agar tidak terlalu panas (overheating). Mayoritas burner tile terbuat dari semacam keramik yang mengandung alumina dan silica, tergantung kepada kebutuhan suhu. Burner tile juga berperan penting pada sistem ignition dan dinamika fluida pada proses pembakaran. Tile dari burner mempunyai semacam komponen bluff-body yang berfungsi untuk meningkatkan stabilitas api. Untuk lebih jelas mengenai bluff-body dapat dilihat pada gambar 2.32 Skematik bluff-body burner di bawah ini. 40

35 Gambar 2.24 Skematik Bluff-Body Burner Controls, berfungsi untuk mengontrol bagian lain yang ada pada burner. Pada natural-draft burner biasanya terdapat damper untuk mengontrol aliran udara. Alat kontrol yang lain yang terdapat pada burner misalnya adalah untuk pengaturan distribusi bahan bakar atau udara diseluruh burner. Misalnya jika burner adalah multiple fuel injector, maka diperlukan alat pengontrol untuk mengatur berapa jumlah bahan bakar yang akan masuk ke masing-masing fuel injector tersebut. Flame safety system adalah bagian yang termasuk sangat penting dalam safe operation sebuah system pembakaran. Biasanya terdiri dari flame scanner atau flame rod yang berfungsi untuk memastikan bahwa burner dan pilot igniter bekerja dengan baik. Flame scanner terhubung dengan system suplai bahan bakar, sehingga aliran bahan bakar akan dihentikan jika lidah api keluar dari jalur. Ini bertujuan untuk mencegah adanya kemungkinan ledakan atas kontak antara bahan bakar yang tidak dinyalakan ( unignited ) dengan permukaan panas pada combustor. Combustor ialah komponen atau lebih tepat disebut sebagai area atau ruangan dimana pembakaran itu terjadi ( pada burner ). 41

Bab I Pendahuluan Latar Belakang

Bab I Pendahuluan Latar Belakang Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sistem pemanas dengan prinsip perpindahan panas konveksi, konduksi dan radiasi adalah teknologi yang umum kita jumpai dalam kehidupan seharihari, baik alat pemanas

Lebih terperinci

Bab III. Analisa Perancangan Firetube dan Process Coil

Bab III. Analisa Perancangan Firetube dan Process Coil Bab III Perpindahan panas mencakup perpindahan energy karena perbedaan temperature diantara dua benda atau material. Disamping itu perpindahan panas juga meramalkan laju perpindahan panas pada kondisi

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES

BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES 34 BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES 3.1. Tangki Tangki Bahan Baku (T-01) Tangki Produk (T-02) Menyimpan kebutuhan Menyimpan Produk Isobutylene selama 30 hari. Methacrolein selama 15 hari. Spherical

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. panas. Karena panas yang diperlukan untuk membuat uap air ini didapat dari hasil

BAB II LANDASAN TEORI. panas. Karena panas yang diperlukan untuk membuat uap air ini didapat dari hasil BAB II LANDASAN TEORI II.1 Teori Dasar Ketel Uap Ketel uap adalah pesawat atau bejana yang disusun untuk mengubah air menjadi uap dengan jalan pemanasan, dimana energi kimia diubah menjadi energi panas.

Lebih terperinci

V. SPESIFIKASI ALAT. Pada lampiran C telah dilakukan perhitungan spesifikasi alat-alat proses pembuatan

V. SPESIFIKASI ALAT. Pada lampiran C telah dilakukan perhitungan spesifikasi alat-alat proses pembuatan V. SPESIFIKASI ALAT Pada lampiran C telah dilakukan perhitungan spesifikasi alat-alat proses pembuatan pabrik furfuril alkohol dari hidrogenasi furfural. Berikut tabel spesifikasi alat-alat yang digunakan.

Lebih terperinci

Pengoperasian pltu. Simple, Inspiring, Performing,

Pengoperasian pltu. Simple, Inspiring, Performing, Pengoperasian pltu PERSIAPAN COLD START PLTU 1. SISTEM AUXILIARY STEAM (UAP BANTU) FUNGSI : a. Menyuplai uap ke sistem bahan bakar minyak pada igniter untuk mengabutkan bahan bakar minyak (Atomizing sistem).

Lebih terperinci

MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR

MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR Yudi Efendi*, Utama PS**, Aman** *PT.Chevron Pacific Indonesia, Duri Riau **Jurusan Teknik Kimia FT UR [email protected]

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Pabrik Fosgen ini diproduksi dengan kapasitas 30.000 ton/tahun dari bahan baku karbon monoksida dan klorin yang akan beroperasi selama 24 jam perhari dalam

Lebih terperinci

Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG

Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG 1. SIKLUS PLTGU 1.1. Siklus PLTG Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG Proses yang terjadi pada PLTG adalah sebagai berikut : Pertama, turbin gas berfungsi

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir. Gambar 2.1 Schematic Dispenser Air Minum pada Umumnya

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir. Gambar 2.1 Schematic Dispenser Air Minum pada Umumnya BAB II DASAR TEORI 2.1 Hot and Cool Water Dispenser Hot and cool water dispenser merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengkondisikan temperatur air minum baik dingin maupun panas. Sumber airnya berasal

Lebih terperinci

PERENCANAAN KETEL UAP TEKANAN 6 ATM DENGAN BAHAN BAKAR KAYU UNTUK INDUSTRI SEDERHANA RUSNOTO

PERENCANAAN KETEL UAP TEKANAN 6 ATM DENGAN BAHAN BAKAR KAYU UNTUK INDUSTRI SEDERHANA RUSNOTO PERENCANAAN KETEL UAP TEKANAN 6 ATM DENGAN BAHAN BAKAR KAYU UNTUK INDUSTRI SEDERHANA RUSNOTO ABSTRAK Ketel uap/boiler adalah suatu pesawat yang mengubah air menjadi uap dengan jalan pemanasan dan uap tersebut

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Reaksi pembentukan C8H4O3 (phthalic anhydride) adalah reaksi heterogen fase gas dengan katalis padat, dimana terjadi reaksi oksidasi C8H10 (o-xylene) oleh

Lebih terperinci

1. Bagian Utama Boiler

1. Bagian Utama Boiler 1. Bagian Utama Boiler Boiler atau ketel uap terdiri dari berbagai komponen yang membentuk satu kesatuan sehingga dapat menjalankan operasinya, diantaranya: 1. Furnace Komponen ini merupakan tempat pembakaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dunia industri dewasa ini mengalami perkembangan pesat. akhirnya akan mengakibatkan bertambahnya persaingan khususnya

BAB I PENDAHULUAN. Dunia industri dewasa ini mengalami perkembangan pesat. akhirnya akan mengakibatkan bertambahnya persaingan khususnya BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Dunia industri dewasa ini mengalami perkembangan pesat. Perkembangan itu ditandai dengan berkembangnya ilmu dan teknologi yang akhirnya akan mengakibatkan

Lebih terperinci

TUGAS I MENGHITUNG KAPASITAS BOILER

TUGAS I MENGHITUNG KAPASITAS BOILER TUGAS I MENGHITUNG KAPASITAS BOILER Oleh : Mohammad Choirul Anam 4213 105 021 Jurusan Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember 2014 BOILER 1. Dasar Teori

Lebih terperinci

PENGOPERASIAN BOILER SEBAGAI PENYEDIA ENERGI PENGUAPAN PADA PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DALAM EVAPORATOR TAHUN 2012

PENGOPERASIAN BOILER SEBAGAI PENYEDIA ENERGI PENGUAPAN PADA PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DALAM EVAPORATOR TAHUN 2012 Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 202 ISSN 0852-2979 PENGOPERASIAN BOILER SEBAGAI PENYEDIA ENERGI PENGUAPAN PADA PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DALAM EVAPORATOR TAHUN 202 Heri Witono, Ahmad Nurjana

Lebih terperinci

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU Sistem pembangkit listrik tenaga uap (Steam Power Plant) memakai siklus Rankine. PLTU Suralaya menggunakan siklus tertutup (closed cycle) dengan dasar siklus rankine dengan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1 Uraian Proses 3.1.1 Persiapan Bahan Baku Proses pembuatan Acrylonitrile menggunakan bahan baku Ethylene Cyanohidrin dengan katalis alumina. Ethylene Cyanohidrin pada T-01

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1.1 Boiler. Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran tentang boiler secara umum serta fungsi komponen - komponen utama dan fungsi komponen - komponen pendukung bahan boiler.boiler

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Dispenser Air Minum Hot and Cool Dispenser air minum adalah suatu alat yang dibuat sebagai alat pengkondisi temperatur air minum baik air panas maupun air dingin. Temperatur air

Lebih terperinci

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA 3.1 Metode Pengujian 3.1.1 Pengujian Dual Fuel Proses pembakaran di dalam ruang silinder pada motor diesel menggunakan sistem injeksi langsung.

Lebih terperinci

Gambar 1 Open Kettle or Pan

Gambar 1 Open Kettle or Pan JENIS-JENIS EVAPORATOR 1. Open kettle or pan Prinsip kerja: Bentuk evaporator yang paling sederhana adalah bejana/ketel terbuka dimana larutan didihkan. Sebagai pemanas biasanya steam yang mengembun dalam

Lebih terperinci

LAPORAN KERJA PRAKTEK 1 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

LAPORAN KERJA PRAKTEK 1 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Alat penukar kalor (Heat Exchanger) merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menukarkan energi dalam bentuk panas antara fluida yang berbeda temperatur yang

Lebih terperinci

BAB III PROSES PEMBAKARAN

BAB III PROSES PEMBAKARAN 37 BAB III PROSES PEMBAKARAN Dalam pengoperasian boiler, prestasi yang diharapkan adalah efesiensi boiler tersebut yang dinyatakan dengan perbandingan antara kalor yang diterima air / uap air terhadap

Lebih terperinci

BAB IV PEMILIHAN SISTEM PEMANASAN AIR

BAB IV PEMILIHAN SISTEM PEMANASAN AIR 27 BAB IV PEMILIHAN SISTEM PEMANASAN AIR 4.1 Pemilihan Sistem Pemanasan Air Terdapat beberapa alternatif sistem pemanasan air yang dapat dilakukan, seperti yang telah dijelaskan dalam subbab 2.2.1 mengenai

Lebih terperinci

Prarancangan Pabrik Polistirena dengan Proses Polimerisasi Suspensi Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT

Prarancangan Pabrik Polistirena dengan Proses Polimerisasi Suspensi Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT BAB III SPESIFIKASI ALAT 1. Tangki Penyimpanan Spesifikasi Tangki Stirena Tangki Air Tangki Asam Klorida Kode T-01 T-02 T-03 Menyimpan Menyimpan air Menyimpan bahan baku stirena monomer proses untuk 15

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. uap dengan kapasitas dan tekanan tertentu dan terjadi pembakaran di

BAB I PENDAHULUAN. uap dengan kapasitas dan tekanan tertentu dan terjadi pembakaran di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Umum Ketel Uap Ketel uap adalah pesawat energi yang mengubah air menjadi uap dengan kapasitas dan tekanan tertentu dan terjadi pembakaran di dapur ketel uap. Komponen-komponen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Di dunia industri terutama dibidang petrokimia dan perminyakan banyak proses perubahan satu fluida ke fluida yang lain yang lain baik secara kimia maupun non kimia.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Dasar Steam merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari teknologi modern. Tanpa steam, maka industri makanan kita, tekstil, bahan kimia, bahan kedokteran,daya, pemanasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa industri dapat ditemukan aplikasi sains yakni merubah suatu

BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa industri dapat ditemukan aplikasi sains yakni merubah suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Dalam beberapa industri dapat ditemukan aplikasi sains yakni merubah suatu material dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya baik secara kimia maupun secara

Lebih terperinci

TUGAS PERANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES HALDOR TOPSOE KAPASITAS TON / TAHUN

TUGAS PERANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES HALDOR TOPSOE KAPASITAS TON / TAHUN XECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES HALDOR TOPSOE KAPASITAS 100.000 TON / TAHUN Oleh: Dewi Riana Sari 21030110151042 Anggun Pangesti P. P. 21030110151114

Lebih terperinci

Bab III CUT Pilot Plant

Bab III CUT Pilot Plant Bab III CUT Pilot Plant 3.1 Sistem CUT Pilot Plant Skema proses CUT Pilot Plant secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 3.1. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa sistem CUT dibagi menjadi beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam tugas akhir ini akan dilakukan perancangan bejana tekan vertikal dan simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle dengan studi kasus pada separator kluster 4 Fluid

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Heat Exchanger (HE) Heat Exchanger (HE) adalah alat penukar panas yang memfasilitasi pertukaran panas antara dua cairan pada temperatur yang berbeda

Lebih terperinci

3 KARAKTERISTIK LOKASI DAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PENELITIAN

3 KARAKTERISTIK LOKASI DAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PENELITIAN 44 3 KARAKTERISTIK LOKASI DAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Industri susu adalah perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang mempunyai usaha di bidang industri

Lebih terperinci

PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER

PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER 1 of 10 12/22/2013 8:36 AM PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER PERHITUNGAN EFISIENSI BOILER Efisiensi adalah suatu tingkatan kemampuan kerja dari suatu alat. Sedangkan efisiensi pada boiler adalah prestasi kerja

Lebih terperinci

ANALISA RANCANGAN PIPE SUPPORT PADA SISTEM PERPIPAAN DARI POMPA MENUJU PRESSURE VESSE DAN HEAT EXCHANGER DENGAN PENDEKATAN CAESARR II

ANALISA RANCANGAN PIPE SUPPORT PADA SISTEM PERPIPAAN DARI POMPA MENUJU PRESSURE VESSE DAN HEAT EXCHANGER DENGAN PENDEKATAN CAESARR II ANALISA RANCANGAN PIPE SUPPORT PADA SISTEM PERPIPAAN DARI POMPA MENUJU PRESSURE VESSE DAN HEAT EXCHANGER DENGAN PENDEKATAN CAESARR II Asvin B. Saputra 2710 100 105 Dosen Pembimbing: Budi Agung Kurniawan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gas alam adalah bahan bakar fosil bentuk gas yang sebagian besar terdiri dari metana (CH4). Pada umumnya tempat penghasil gas alam berlokasi jauh dari daerah dimana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENDAHULUAN Pembakaran adalah suatu proses reaksi kimia yang melibatkan fuel, panas dan oksigen. Proses industri di pengilangan minyak bumi, pengolahan gas, petrokimia, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perpindahan Panas Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau material.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpindahan Panas Panas atau kalor merupakan salah satu bentuk energi. Panas dapat berpindah dari suatu zat ke zat lain. Panas dapat berpndah melalui tiga cara yaitu : 2.1.1

Lebih terperinci

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES

BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES 3.1. Furnace : F : Tempat terjadinya reaksi cracking ethylene dichloride menjadi vinyl chloride dan HCl : Two chamber Fire box : 1 buah Kondisi Operasi - Suhu ( o C)

Lebih terperinci

Gbr. 2.1 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)

Gbr. 2.1 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian HRSG HRSG (Heat Recovery Steam Generator) adalah ketel uap atau boiler yang memanfaatkan energi panas sisa gas buang satu unit turbin gas untuk memanaskan air dan

Lebih terperinci

atm dengan menggunakan steam dengan suhu K sebagai pemanas.

atm dengan menggunakan steam dengan suhu K sebagai pemanas. Pra (Rancangan PabrikjEthanoldan Ethylene danflir ' BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1 Uraian Proses 3.1.1 Langkah proses Pada proses pembuatan etanol dari etilen yang merupakan proses hidrasi etilen fase

Lebih terperinci

TUGAS PRA PERANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI DISTILAT ASAM LEMAK MINYAK SAWIT (DALMS) DENGAN PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 100.

TUGAS PRA PERANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI DISTILAT ASAM LEMAK MINYAK SAWIT (DALMS) DENGAN PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 100. EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PRA PERANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI DISTILAT ASAM LEMAK MINYAK SAWIT (DALMS) DENGAN PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 100.000 TON/TAHUN Oleh: RUBEN

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Larutan benzene sebanyak 1.257,019 kg/jam pada kondisi 30 o C, 1 atm dari tangki penyimpan (T-01) dipompakan untuk dicampur dengan arus recycle dari menara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyusunan tugas akhir ini terinspirasi berawal dari terjadinya kerusakan

BAB I PENDAHULUAN. Penyusunan tugas akhir ini terinspirasi berawal dari terjadinya kerusakan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyusunan tugas akhir ini terinspirasi berawal dari terjadinya kerusakan pada mesin boiler satu burner dengan dua bahan bakar natural gas dan solar bekapasitas

Lebih terperinci

PROSES PRODUKSI ASAM SULFAT

PROSES PRODUKSI ASAM SULFAT PRODU KSI A SAM SU LFAT BAB III PROSES PROSES PRODUKSI ASAM SULFAT 3.1 Flow Chart Proses Produksi Untuk mempermudah pembahasan dan urutan dalam menguraikan proses produksi, penulis merangkum dalam bentuk

Lebih terperinci

PRARANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS TON / TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS TON / TAHUN EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA PRARANCANGAN PABRIK FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS 70.000 TON / TAHUN JESSICA DIMA F. M. Oleh: RISA DEVINA MANAO L2C008066 L2C008095 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kebutuhan akan gas bumi di Indonesia adalah sangat penting mengingat hasil pengolahan gas bumi digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, industri maupun transportasi.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perpindahan Panas Perpindahan kalor adalah ilmu yang mempelajari berpindahnya suatu energi (berupa kalor) dari suatu sistem ke sistem lain karena adanya perbedaan temperatur.

Lebih terperinci

BAB III VACUUM DISTILLATION UNIT (VDU)

BAB III VACUUM DISTILLATION UNIT (VDU) BAB III VACUUM DISTILLATION UNIT (VDU) I. Pendahuluan Pada awalnya kilang hanya terdiri dari suatu Crude Distillation Unit (CDU) yang beroperasi dengan prinsip dasar pemisahan berdasarkan titik didih komponen

Lebih terperinci

ANALISA PERFORMANSI BOILER DENGAN TYPE DG693/ PADA PLTU PANGKALAN SUSU LAPORAN TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI TEKNIK KONVERSI ENERGI MEKANIK

ANALISA PERFORMANSI BOILER DENGAN TYPE DG693/ PADA PLTU PANGKALAN SUSU LAPORAN TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI TEKNIK KONVERSI ENERGI MEKANIK ANALISA PERFORMANSI BOILER DENGAN TYPE DG693/13.43-22 PADA PLTU PANGKALAN SUSU LAPORAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III PROGRAM

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Proses pembuatan natrium nitrat dengan menggunakan bahan baku natrium klorida dan asam nitrat telah peroleh dari dengan cara studi pustaka dan melalui pertimbangan

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES digilib.uns.ac.id BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES 3.1. Spesifikasi Alat Utama 3.1.1 Mixer (NH 4 ) 2 SO 4 Kode : (M-01) : Tempat mencampurkan Ammonium Sulfate dengan air : Silinder vertical dengan head

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori Apabila meninjau mesin apa saja, pada umumnya adalah suatu pesawat yang dapat mengubah bentuk energi tertentu menjadi kerja mekanik. Misalnya mesin listrik,

Lebih terperinci

BAB 3 STUDI KASUS 3.1 DEFINISI BOILER

BAB 3 STUDI KASUS 3.1 DEFINISI BOILER BAB 3 STUDI KASUS 3.1 DEFINISI BOILER Boiler atau ketel uap adalah suatu perangkat mesin yang berfungsi untuk merubah fasa air menjadi uap. Proses perubahan air menjadi uap terjadi dengan memanaskan air

Lebih terperinci

Kondisi Abnormal pada Proses Produksi Migas

Kondisi Abnormal pada Proses Produksi Migas Di dalam proses produksi migas (minyak dan gas), ada beberapa kejadiaan merugikan yang tidak diinginkan yang bisa mengancam keselamatan. Jika tidak ditangani dengan baik, kejadian tersebut bisa mengarah

Lebih terperinci

PT. BANGKITGIAT USAHA MANDIRI

PT. BANGKITGIAT USAHA MANDIRI NO. ISK/PKS-PRS/08 Status Dokumen No. Distribusi DISAHKAN Pada tanggal 15 Februari 2013 Dimpos Giarto Valentino Tampubolon Direktur Utama Dilarang memperbanyak dokumen ini tanpa izin Wakil Manajemen /Pengendali

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENGUJIAN

BAB 3 METODOLOGI PENGUJIAN BAB 3 METODOLOGI PENGUJIAN Setiap melakukan penelitian dan pengujian harus melalui beberapa tahapan-tahapan yang ditujukan agar hasil penelitian dan pengujian tersebut sesuai dengan standar yang ada. Caranya

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES Alat proses pabrik isopropil alkohol terdiri dari tangki penyimpanan produk, reaktor, separator, menara distilasi, serta beberapa alat pendukung seperti kompresor, heat

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT

BAB III SPESIFIKASI ALAT digilib.uns.ac.id 47 BAB III PROSES 3.1. Alat Utama Tabel 3.1 Spesifikasi Reaktor Kode R-01 Mereaksikan asam oleat dan n-butanol menjadi n-butil Oleat dengan katalis asam sulfat Reaktor alir tangki berpengaduk

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT

BAB III SPESIFIKASI ALAT BAB III SPESIFIKASI ALAT III.1. Spesifikasi Alat Utama III.1.1 Reaktor : R-01 : Fixed Bed Multitube : Mereaksikan methanol menjadi dimethyl ether dengan proses dehidrasi Bahan konstruksi : Carbon steel

Lebih terperinci

PRARANCANGAN PABRIK UREA FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS TON / TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK UREA FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS TON / TAHUN EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA PRARANCANGAN PABRIK UREA FORMALDEHID PROSES FORMOX KAPASITAS 44.000 TON / TAHUN MURTIHASTUTI Oleh: SHINTA NOOR RAHAYU L2C008084 L2C008104 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB II STUDI LITERATUR

BAB II STUDI LITERATUR BAB II STUDI LITERATUR 2.1 Kebutuhan Air Tawar Siklus PLTU membutuhkan air tawar sebagai bahan baku. Hal ini dikarenakan peralatan PLTU sangat rentan terhadap karat. Akan tetapi, semakin besar kapasitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1.

BAB I PENDAHULUAN I.1. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penggunaan energi surya dalam berbagai bidang telah lama dikembangkan di dunia. Berbagai teknologi terkait pemanfaatan energi surya mulai diterapkan pada berbagai

Lebih terperinci

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N. MAKALAH SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N. Kelas : XI. OTOMOTIF Tahun Ajaran : 2013/2014 SMK Negeri 5 Balikpapan Pendahuluan Kerja

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA PRARANCANGAN PABRIK ETIL ASETAT PROSES ESTERIFIKASI DENGAN KATALIS H 2 SO 4 KAPASITAS 18.000 TON/TAHUN Oleh : EKO AGUS PRASETYO 21030110151124 DIANA CATUR

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Siklus Air dan Uap Siklus air dan uap di PLTU 3 Jawa Timur Tanjung Awar Awar sebagai tinjauan pustaka awal dan pembahasan awal yang nantinya akan merujuk ke unit kondensor. Siklus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perpindahan Panas/Kalor Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau material.

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PRAPERANCANGAN PABRIK KIMIA PRAPERANCANGAN PABRIK ETILEN GLIKOL DENGAN KAPASITAS TON/TAHUN. Oleh :

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PRAPERANCANGAN PABRIK KIMIA PRAPERANCANGAN PABRIK ETILEN GLIKOL DENGAN KAPASITAS TON/TAHUN. Oleh : EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PRAPERANCANGAN PABRIK KIMIA PRAPERANCANGAN PABRIK ETILEN GLIKOL DENGAN KAPASITAS 80.000 TON/TAHUN Oleh : JD Ryan Christy S Louis Adi Wiguno L2C008065 L2C008070 JURUSAN TEKNIK KIMIA

Lebih terperinci

RINGKASAN BAKING AND ROASTING

RINGKASAN BAKING AND ROASTING RINGKASAN BAKING AND ROASTING Bab I. Pendahuluan Baking dan Roasting pada pokoknya merupakan unit operasi yang sama: keduanya menggunakan udara yang dipanaskan untuk mengubah eating quality dari bahan

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA

EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK MELAMIN PROSES BASF KAPASITAS 60.000 TON/TAHUN OLEH : DEVI OKTAVIA NIM : L2C 008 029 HANIFAH RAHIM NIM : L2C 008 053 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES III.. Spesifikasi Alat Utama Alat-alat utama di pabrik ini meliputi mixer, static mixer, reaktor, separator tiga fase, dan menara destilasi. Spesifikasi yang ditunjukkan

Lebih terperinci

Tujuan Pembelajaran. Saat kuselesaikan bab ini, kuingin dapat melakukan hal-hal berikut.

Tujuan Pembelajaran. Saat kuselesaikan bab ini, kuingin dapat melakukan hal-hal berikut. Tujuan Pembelajaran Saat kuselesaikan bab ini, kuingin dapat melakukan hal-hal berikut. Mengenal contoh-contoh dari tujuh (7) obyektif pengendalian pada proses-proses kimia Menghitung indikator dari variabilitas

Lebih terperinci

Prarancangan Pabrik Polipropilen Proses El Paso Fase Liquid Bulk Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES. Kode T-01 A/B T-05

Prarancangan Pabrik Polipropilen Proses El Paso Fase Liquid Bulk Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES. Kode T-01 A/B T-05 51 BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES 3.1 Tangki Penyimpanan Tabel 3.1 Spesifikasi Tangki T-01 A/B T-05 Menyimpan bahan Menyimpan propilen baku propilen selama purging selama 6 hari tiga hari Spherical

Lebih terperinci

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS Pratama Akbar 4206 100 001 Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS PT. Indonesia Power sebagai salah satu pembangkit listrik di Indonesia Rencana untuk membangun PLTD Tenaga Power Plant: MAN 3 x 18.900

Lebih terperinci

BAB III TUGAS KHUSUS

BAB III TUGAS KHUSUS BAB III TUGAS KHUSUS 3.1 Judul Menghitung Efisiensi Heat Exchanger E-108 A Crude Distiller III di Unit CD & GP PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju Palembang. 3.2 Latar Belakang Heat Exchanger E-108 A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahan bakar fosil merupakan salah satu sumber energi yang membutuhkan proses hingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satu bahan bakar fosil yaitu minyak.

Lebih terperinci

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai STEAM TURBINE POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai PENDAHULUAN Asal kata turbin: turbinis (bahasa Latin) : vortex, whirling Claude Burdin, 1828, dalam kompetisi teknik tentang sumber daya air

Lebih terperinci

COOLING WATER SYSTEM

COOLING WATER SYSTEM 2.8. Pengertian Cooling Water System pada Gas Turbine merupakan suatu sistem pendinginan tertutup yang digunakan untuk pendinginan lube oil dan udara pendingin generator. Cooling Water System menggunakan

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PLTGU UBP TANJUNG PRIOK

BAB III SISTEM PLTGU UBP TANJUNG PRIOK BAB III SISTEM PLTGU UBP TANJUNG PRIOK 3.1 Konfigurasi PLTGU UBP Tanjung Priok Secara sederhana BLOK PLTGU UBP Tanjung Priok dapat digambarkan sebagai berikut: deaerator LP Header Low pressure HP header

Lebih terperinci

PERENCANAAN KETEL UAP PIPA AIR SEBAGAI PENGGERAK TURBIN DENGAN KAPASITAS UAP HASIL. 40 TON/JAM, TEKANAN KERJA 17 ATM DAN SUHU UAP 350 o C

PERENCANAAN KETEL UAP PIPA AIR SEBAGAI PENGGERAK TURBIN DENGAN KAPASITAS UAP HASIL. 40 TON/JAM, TEKANAN KERJA 17 ATM DAN SUHU UAP 350 o C NASKAH PUBLIKASI PERENCANAAN KETEL UAP PIPA AIR SEBAGAI PENGGERAK TURBIN DENGAN KAPASITAS UAP HASIL 40 TON/JAM, TEKANAN KERJA 17 ATM DAN SUHU UAP 350 o C Makalah Seminar Tugas Akhir ini disusun sebagai

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Minyak bumi adalah suatu senyawa hydrocarbon yang terdiri dari karbon (83-87%),

BAB I. PENDAHULUAN. Minyak bumi adalah suatu senyawa hydrocarbon yang terdiri dari karbon (83-87%), BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Minyak bumi adalah suatu senyawa hydrocarbon yang terdiri dari karbon (83-87%), Hydrogen (11-14%), Nitrogen (0.2 0.5%), Sulfur (0-6%), dan Oksigen (0-5%).

Lebih terperinci

PERANCANGAN HEAT EXCHANGER

PERANCANGAN HEAT EXCHANGER One Shell Pass and One Tube Pass PERANCANGAN HEAT EXCHANGER Abdul Wahid Surhim Pengertian HE adalah alat yang berfungsi sebagai alat penukar panas (kalor) Dilihat dari fungsinya dapat dinamakan : Pemanas

Lebih terperinci

ANALISIS PERUBAHAN TEKANAN VAKUM KONDENSOR TERHADAP KINERJA KONDENSOR DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT 1

ANALISIS PERUBAHAN TEKANAN VAKUM KONDENSOR TERHADAP KINERJA KONDENSOR DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT 1 EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol No. 2 Mei 214; 65-71 ANALISIS PERUBAHAN TEKANAN VAKUM KONDENSOR TERHADAP KINERJA KONDENSOR DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT 1 Anggun Sukarno 1) Bono 2), Budhi Prasetyo 2) 1)

Lebih terperinci

TUGAS PERANCANGAN PABRIK METHANOL DARI GAS ALAM DENGAN PROSES LURGI KAPASITAS TON PER TAHUN

TUGAS PERANCANGAN PABRIK METHANOL DARI GAS ALAM DENGAN PROSES LURGI KAPASITAS TON PER TAHUN EXECUTIVE SUMMARY TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK METHANOL DARI GAS ALAM DENGAN PROSES LURGI KAPASITAS 230000 TON PER TAHUN Oleh: ISNANI SA DIYAH L2C 008 064 MUHAMAD ZAINUDIN L2C

Lebih terperinci

KONVERSI ENERGI PANAS BUMI HASBULLAH, MT

KONVERSI ENERGI PANAS BUMI HASBULLAH, MT KONVERSI ENERGI PANAS BUMI HASBULLAH, MT TEKNIK ELEKTRO FPTK UPI, 2009 POTENSI ENERGI PANAS BUMI Indonesia dilewati 20% panjang dari sabuk api "ring of fire 50.000 MW potensi panas bumi dunia, 27.000 MW

Lebih terperinci

2.10 Caesar II. 5.10Pipe Strees Analysis

2.10 Caesar II. 5.10Pipe Strees Analysis 2.8 Pipe Support Karena pipa dipengaruhi oleh ekspansi termal. Mendukung dalam sebuah langkah sistem perpipaan termal dalam arah yang berbeda. Pipe support oleh dua jenis support-kaku (rigid support) dan

Lebih terperinci

I. Pendahuluan. A. Latar Belakang. B. Rumusan Masalah. C. Tujuan

I. Pendahuluan. A. Latar Belakang. B. Rumusan Masalah. C. Tujuan I. Pendahuluan A. Latar Belakang Dalam dunia industri terdapat bermacam-macam alat ataupun proses kimiawi yang terjadi. Dan begitu pula pada hasil produk yang keluar yang berada di sela-sela kebutuhan

Lebih terperinci

Prarancangan Pabrik Metil Salisilat dari Metanol dan Asam Salisilat Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT. Kode T-01 T-02 T-03

Prarancangan Pabrik Metil Salisilat dari Metanol dan Asam Salisilat Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT. Kode T-01 T-02 T-03 BAB III SPESIFIKASI ALAT 1. Tangki Penyimpanan Spesifikasi Tangki Metanol Tangki Asam Tangki Metil Sulfat Salisilat Kode T-01 T-02 T-03 Menyimpan Menyimpan asam Menyimpan metil metanol untuk 15 sulfat

Lebih terperinci

PENCEGAHAN KERAK DAN KOROSI PADA AIR ISIAN KETEL UAP. Rusnoto. Abstrak

PENCEGAHAN KERAK DAN KOROSI PADA AIR ISIAN KETEL UAP. Rusnoto. Abstrak PENCEGAHAN KERAK DAN KOROSI PADA AIR ISIAN KETEL UAP Rusnoto Abstrak Ketel uap adalah suatu pesawat yang fungsinya mengubah air menjadi uap dengan proses pemanasan melalui pembakaran bahan bakar di dalam

Lebih terperinci

Tugas khusus Adi Kunchoro

Tugas khusus Adi Kunchoro Tugas khusus Adi Kunchoro 03111003045 EJEKTOR A. Fungsi Ejektor Ejektor merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan udara atau gas gas yang tidak dapat dikondensasikan di tempat-tempat vakum. Ejektor

Lebih terperinci

BAB II PESAWAT PENGUBAH PANAS (HEAT EXCHANGER )

BAB II PESAWAT PENGUBAH PANAS (HEAT EXCHANGER ) BAB II PESAWAT PENGUBAH PANAS (HEAT EXCHANGER ) Pesawat pengubah panas adalah pesawat pesawat yang bekerja atas dasar perpindahan panas dan satu zatke zat yang lain. A. Dapat digolongkan menurut : 1. Pendinginan

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan Latar Belakang

Bab I Pendahuluan Latar Belakang Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Pada dasarnya Boiler adalah suatu wadah yang berfungsi sebagai pemanas air, panas pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Steam pada tekanan

Lebih terperinci

Efisiensi PLTU batubara

Efisiensi PLTU batubara Efisiensi PLTU batubara Ariesma Julianto 105100200111051 Vagga Satria Rizky 105100207111003 Sumber energi di Indonesia ditandai dengan keterbatasan cadangan minyak bumi, cadangan gas alam yang mencukupi

Lebih terperinci

PLANT 2 - GAS DEHYDRATION AND MERCURY REMOVAL

PLANT 2 - GAS DEHYDRATION AND MERCURY REMOVAL PROSES PENGOLAHAN GAS ALAM CAIR (Liquifed Natural Gas) Gas alam cair atau LNG adalah gas alam (metana terutama, CH4) yang telah diubah sementara untuk bentuk cair untuk kemudahan penyimpanan atau transportasi.

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES 47 BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES 3.1. Alat Utama Tabel 3.1 Spesifikasi Reaktor Kode R-01 Mereaksikan asam oleat dan n-butanol menjadi n-butil Oleat dengan katalis asam sulfat Reaktor alir tangki berpengaduk

Lebih terperinci

TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA

TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA PRA-RANCANGAN PABRIK ASAM ASETAT KAPASITAS 70.000 TON/TH Oleh : BAMBANG AGUNG PURWOKO 21030110151043 WIDA RAHMAWATI 21030110151072 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci