guru dan berperan aktif memotivasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "guru dan berperan aktif memotivasi"

Transkripsi

1 Jurnq miah Guru "COPE", No. 0/Tahun V/Pebruari 2004 PERANAN PERSATUAN GURU REPUBLK NDONESA (PGR) DALAM UPAYA PENNGKATAN PROFESONALSME GURU oeh: Tri Murwaningsih *) Abstrak Masaah tenaga pendidikan di ndonesia seama ini antara ain adaah rendahnya kuaitas dan profesionaisme guru, rendahnya kemandirian guru daam meaksonaknn profesinya yang berakibat rendahnya mutu pendidikan. Untuk meningkatkan profesionaisme guru peru diupayakan peningkatan kuaifikasi, kompetensi, wawasan keimuan, serta kesejahteraan guru. Profesi guru diegitimasi oeh masyarakat pengguna untuk itu guru dituntut menguasai didaktik dan metodik, serta menguasai substansi keimuan yang menjadi kompetensinya. Guru profesiona dituntut seau meningkatkan profes ionaisme, s erta kemampuan, pengetahuan dan rt:av'osan keimuannya secara berkeanjutan. P rofe s i guru hanrs merupakan profesi mandiri dan memiiki kornunitas profesiona yang seau berkembang. Peranan Persatuan Guru Repubik ndonesia (PGR), sebogai organisasi profesi guru, diharapkan ebih pro akt if d a am me mp e rj uangkan p e r ba i kan kesejahteraan, citra, serto meningkatkan profesionaisme guru. Organisasi profesi ini didambakan dapat menunjukkan citra sebagai motor penggerak dan wadah penampung s emua as piras i profes iona is me guru dan berperan aktif memotivasi peningkatan kuaitas guru. Kata kunci: profesi kependidikan, profesionaisme guru. Pendahuuan Guru merupakan faktor kunci daam keberhasian proses pembeajaran, oeh karenanya masaah tenaga pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kuaitas hasi proses beajar mengajar. Masaah kasik daam tenaga kependidikan di ndonesia seama ini adaah kekurangan tenaga guru, distribusi guru tidak merata, kuaitas guru pas-pasan, motivasi guru minimum, serta tingkat kesejahteraan guru yang masih rendah. Keadaan ini diperparah agi dengan keterbatasan keterampian dan kemandirian guru daam meaksanakan profesinya atau dengan kata ain rendahnya kuaitas dan profesionaisme guru. Kenyataan inijeas berdampak buruk pada keberhasian proses beajar mengajar di sckoah (Badarudin, 2002:37). Meihat kenyataan pada kebanyakan guru sekoah dasar (SD) dcwasa ini, motivasi dari para guru masih peru untuk terus didorong agar bersikap aspiratif dan *) Tri Murwaningsih adaah guru SDN Samirono, Depok Seman 9

2 --i Jurna miah Guru "COPE", No.0/Tahun V/Pebruari 2004 akomodatif daam menyikapi perkembangan imu pengetahuan, sains, dan teknoogi di masyarakat. Gejaa ain yang jeas terihat adaah kecenderungan kekurang-mandirian guru daam menjaankan profesinya sebagai tenaga pendidik. Profesionaisme serta kemandirian guru daam menjaankan profesinya peru ditumbuhkembangkan pada setiap kegiatan proses beajar mengajar di sekoah (Saim, 2003: 5). Kondisi sekarang sudah diketahui bersama bahwa kuaitas akademik institusi pendidikan di ndonesia, termasuk juga sekoah dasar, umumnya rendah (Saim, 2003: 5). Rendahnya kuaitas akademik tersebut saah satunya adaah sebagai akibat institusi sekoah kurang memiiki kewenangan apapun, kecuai hanya menjadi peaksana kebijakan pendidikan semata. Kuaitas guru yang rendah seau dituding menjadi penyebab utama rendahnya mutu pendidikan di sekoah-sekoah kita. Waaupun sekarang di SD sudah diberakukan program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekoah (MPMBS) namun daam kenyataan hasinya beum tampak jeas. Daam MPMBS sekoah memiiki kewenangan untuk menyiasati kurikuum yang beraku agar sesuai dengan kondisi sekoah, termasuk tuntutan masa depan akan pentingnya program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) bagi siswa. Daam MPMBS dikena ima prinsip dasar, yaitu kemandirian, transparansi, kerjasama, akuntabiitas dan sustainabiitas. Oeh karena itu, bia ima prinsip MPMBS dapat dikembangkan menjadi budaya kerja sekoah, akan terjadi pertumbuhan kecakapan hidup para siswa peserta didik (Najid,2003: 19' 20). Semangat dari MPMBS adaah kebebasan dan kreativitas yang akan sangat menentukan keberhasian sekoah daam usaha menghasikan pribadi berkuaitas serta sangat dibutuhkan saat ini untuk perbaikan kuaitas hidup generasi mendatang (Widayati, 2002: 83). Rendahnya kuaitas guru-guru SD juga menjadi kendaa utama daam kurang optimumnya hasi penerapan MPMBS di sekoah-sekoah (Saim, 2003: 5), sehingga berakibat beum tampaknya keberhasian program ini. Daam konteks otonomi sekoah, keberhasian pendidikan mensyaratkan terseenggarany a pfoses pembeaj aran berangsung secara efektif, aktif dan menyenangkan. Artinya, waktu peajaran yang ada mestinya harus dipergunakan sepenuhnya oeh guru dan murid daam meakukan proses beajar mengajar. Jika daam keas terdapat siswa yang ambat beajamya, guru dengan senang hati harus membimbing sampai murid tersebut dapat menguasai bahan ajar yangdiberikan. Kenyataan yang ada sekarang, banyak guru yang mengajar kurang baik, proses beajar mengajar berangsung kurang menarik dan cenderung membosankan (Suryono, 2042: 6). Jam efektif mengajar banyak digunakan oeh guru-guru untuk mengurusi ha-ha administratif, termasuk kegiatan keompok kerja guru dan kegiatan guru ainnya yang berangsung pada jam-jam efektif sekoah. Guru tidak efektif daam menggunakan waktu untuk proses kegiatan beajar mengajar, ebih banyak konsentrasi dan waktunya terbuang untuk mengerjakan pekerjaan ain sebagai persyaratan administratif, seperti penuisan satuan peajaran (SP) atau pekerjaan administratif ain. Guru mestinya punya perhatian dan waktu yang 0

3 Jurna miah Guru "COPE", No. OL/Tahun V/Pebruari 2004 cukup untuk meakukan pendampingan pembeajaran pada semua anak didik. Guru akan dapat meratakan pendampingan pada setiap peserta didik, sampai mereka sungguh-sungguh memahami materi peajaran sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Dengan demikian, ada tuntutan bagi guru untuk mengena, memperhatikan dan memahami benar kompetensi anak didik daam setiap kegiatan pembeajaran (Saim, 2003: 5). Kuaitas dan kuaifikasi guru yang umumnya rendah memang sudah ama dirasakan oeh banyak kaangan. Upaya dari Pemerintah untuk meningkatkan kuaifikasi guru merupakan angkah yang harus didukung, misanya untuk guru sekoah dasar didorong untuk ikut program penyetaraan Dipoma PGSD atau program penyetaraan ainnya. Kuaifikasi guru sekoah dasarminimum uusan D PGSD akan ebih menjamin tersedianya tenaga kependidikan yang ebih berkuaitas dan ebih mudah menyesuaikan dengan perkembangan imu pengetahuan, sains dan teknoogi. Program D tersebut memang tidak serta merta meningkatkan kuaitas guru, namun paing tidak merupakan dorongan motivasi kepada para guru untuk terus menerus meningkatkan profesionaisme dan menambah wawasan keimuan, kuaitas dan kuaifikasinya (Tiaar, 2002: 68). Kepada para guru peru diakukan pembinaan kompetensi dan profesionaisme, sehingga mereka menguasai kurikuum dan siabus, substansi mata peajaran, metode beajar, teknik evauasi, memiiki komitmen yang kuat daam mendidik, serta memiiki disipin daam arti yang uas. Guru harus memiiki komitmen yang kuat untuk seau meningkatkan kuaitas diri, mengupayakan perubahan dan perbaikan proses beajar mengajar secara terus menerus. Suryono (2002: 15) menyatakan bahwa peaksanaan kegiatan proses beajar mengajar tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang memadai. Sarana dan prasarana yang dimaksud termasuk buku ajar, majaah, fasiitas perpustakaan, aat peraga, aboratorium, aat bantu audio-visua, serta sarana penunjang pendidikan ain. Seanjutnya dinyatakan bahwa kenyataannya kebanyakan SD tidak memiiki sarana dan prasarana pendidikan memadai untuk kegiatan beajar mengajar yang idea. Tanpa sarana dan prasarana pendidikan yang ayak akan suit untuk mengembangkan kemandirian sekoah dan profesionaisme guru pada sekoah yang bersangkutan. Kurikuum berbasis materi, yang masih beraku sampai sekarang, umumnya membuat guru menjadi pasif, kurang mandiri dan kurang kreatif daam pengembangan kegiatan beajar mengajar. Kenyataan ini membuat kurangnya ikim kompetitif dari hasi pembeajaran sekoah dasar (Suryono, 2003: 7-8). Profesionaisme Guru dan Guru Profesiona Profesi adaah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahian (expertise) dari para anggotanya. Pekerjaan mendidik sebagai profesi didasarkan pada asumsi bahwa subyek pendidikan adaah manusia, pendidikan diakukan secara sadar dan bertujuan, diaksanakan berdasarkan teori-teori pendidikan, pendidikan merupa

4 i Jurna miah Guru "COPE", No. Lbhun W/Pebruari 2004 kan usaha mengembangkan Potensi manusia, inti pendidikan terjadi daam prosesnya, tujuan utama pendidikan menjadikan manusia sebagai manusia yang baik (Anonim, ). Seorang profesiona menjaankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi dan berdasarkan profesionaisme. Profesionaisme berarti menjadikan atau mengembangkan suatu bidang pekerjaan atau jabatan secara profesiona. Daam proses profesionaisasi yang dituju adaah produktivitas kerja tinggi dan kemandirian menjaankan profesinya (Tiaar, 2002:86-87). Pendidikan harus diakukan secara profesiona, sehingga konsekuensinya diperukan upaya sistematis daam rangka profesionaisasi tenaga kependidikan' Guru profesiona akan mampu menumbuhkan dan mengembangkan ide-idenya, sehingga dapat dipakai sebagai bahan pembeajaran pada siswanya agar proses beajar mengajar berjaan dengan baik' Guru profesiona akan bertindak kreatif, inovatif dan feksibe daam setiap proses pembeajaran, serta tidak hanya berpegang secara kaku pada kurikuum yang beraku. Guru profesiona bukan hanya tahu banyak, tetapi juga bisa banyak. Guru idea tentunya mempunyai tingkat kemandirian dan standar profesionaisme yang tinggi (Sukmadinata, 1992: 60-61). Guru yang mandiri diharapkan semakin dapat memikirkan apa yang paing baik untuk diakukan, demi kemajuan proses beajar mengajar dan pendidikan' Di samping itu, guru hendaknya mampu meihat situasi yang nyata di ingkungan, sekoah, keas dan anak didik; berani meaksanakan apa Yang dipikirkan, dituangkan daam bentuk proses pembeajaran; dapat mengevauasi apa yang teah diakukan daam proses pembeajaran; mempunyai konsep, kreatif dan berani berinisiatif daam meakukan proses pembeajaran dan memiiki strategi pembeajaran (Sukmadinata, 1992: 62). Guru yang aktif memikirkan, mengembangkan kurikuum bahan ajar, metode pendekatan yang digunakan agar ebih efektif membantu siswa berkembang. Guru kreatiftidak hanya puas dengan apa yang diperoeh, tetapi seau ingin mencari-cari bahan, sumber ain, sehingga bahan dapat dikembangkan dengan baik, mau menerima tantangan yang ada agar tidak ketinggaan jaman. Guru diharapkan juga menjadi seorang pemikir dan inteektua yang terus menerus mau beajar, mencari dan mengembangkan pengetahuannya maupun wawasan keimuannya. Guru yang kritis tidak hanya asa ikut-ikutan saja, tetapi meihat, meniai apakah aturan itu baik dan cocok untuk memajukan sekoahnya. Guru sebagai kaum inteektua harus bersikap kritis terhadap kurikuum dan berusaha untuk mengembangkannya (Tiaar, 2002: )' Untuk menumbuh-kembangkan kemandirian daam meaksanakan profesinya guru dituntut mempunyai kebebasan inteektua, bebas berpikir dan mengembangkan pikirannya. Guru harus pua memiiki visi ke depan jika ingin memajukan kebebasan berpikir pada siswanya' Di samping itu, guru peru keberanian untuk bertindak sendiri, tidak harus terpaku pada aturan main dan mampu mengembangkan kemampuan berrefeksi terhadap apa yang diakukan. Situasi yang seau berubah ituah yang diperukan keberanian untuk i i t2 1.

5 Jurna miah Guru "COPE", No. D/Tahun Y/Pebruari 2004 mengambi keputusan secara mandiri (Tiaar, 2002: ). Peningkatan Profesionaisme Guru Pengembangan tenaga guru di masa mendatang diarahkan untuk meningkatkan kuaifikasi, kompetensi dan profesionaisme. Peningkatan kesejahteraan guru peru terus menerus diupayakan, untuk ebih menjamin kuaifikasi dan profesionaisme guru. Peningkatan kesejahteraan guru peru diakukan agar dapat hidup ayak, bermartabat, serta meningkatkan kuaitas diri meaui membaca koran, membei buku, majaah, komputer, dan dapat meanjutkan jenjang studinya (Tiaar, 2002: 86). Dengan adanya Otonomi Daerah terjadi pua tuntutan atas otonomi di sektor pendidikan, berupa wacana baru pengadaan guru. Duu profesi guru diegitimasi oeh pengakuan pemerintah, kini harus diegitimasi oeh masyarakat pengguna (stake hoders). Guru merupakan profesi yang terbuka, harus diuji oeh masyarakat, dikritisi dengan standar perforrnans dengan took ukur yang jeas. Menjadi guru yang profesiona, tidak tergantung penguasaan didaktik dan metodik saja, namun mencakup substansi yang seau berubah. Guru merupakan miik masyarakat, keompok guru adaah komunitas yang bersifat dinamis dan terus berkembang. Guru profesiona seau meningkatkan kemampuannya, berkeanjutan sesuai dengan penguatan basis masyarakat oka. Profesi guru adaah profesi mandiri, tidak tergantung embaga pemegang kekuasaan negara, tetapi memiiki komunitas profesiona yang modern (Tiaaa 2002: 86). Di masa depan, guru adaah profesi mandiri. Keberadaan guru ditentukan oeh 4 eemen utama yang bersifat dinamis, yaitu embaga sekoah, embaga profesi, masyarakat dan pemerintah (Tiaar, 2002:86-87). Seanjutnya diuraikan, p ertama, proses desentraisasi pendidikan di tingkat daerah (oka) yang pada dasamya adaah proses pemberian otonomi kepada embaga sekoah. Pemberian otonomi ini merupakan upaya privatisasi yang menjadi acuan peningkatan kematangan embaga sekoah. Tingkat kematangan embaga sekoah akan menentukan kuaitas dan akumuasi guru yang terdapat di daamnya. Kedua, dibutuhkan adanya organisasi profesi guru yang memiiki kemampuan dan wibawa untuk memberikan egitimasi bagi profesi guru. Guru menjadi profesi terbuka, dapat dimasuki oeh berbagai disipin imu, tetapi profesi guru membutuhkan keembagaan yang dapat dipercaya untuk memberikan jaminan daam meningkatkan keahiannya. Guru peru memiiki kemampuan didaktik dan metodik, serta harus rnenguasai substansi imu pengetahuan yang menjadi tanggung jawab profesinya- Ketiga, masyarakat adaah penyumbang utama peningkatan kuaitas embaga sekoah dan juga penentu kebijakan pemiihan tenaga guru di embaga sekoah. Masyarakat merupakan pasar yang sangat menentukan adanya akumuasi penawaran tenaga guru dan kuaifikasi jumah guru yang dibutuhkan. Keempat, pemerintah pusat muai memberi wewenang daam upaya mengadakan guru kepada pemerintah daerah. Kondisi ini meneguhkan posisi masyarakat oka guna mengeoa kebutuhan daam rangka mencukupi t3

6 ' Jurna miah Guru "COPE", No. L/Tahun V/Pebruari 2004 kebutuhan guru di embaga sekoah (Tiaar, 2002:86-87). Sebagai pendidik, guru dituntut untuk bersikap kreatif dan inovatif terutama daam mengeoa keas, sehingga anak didik merasa nyaman daam beajar, namun ha itu biasanya kurang disadari oeh para guru. Kaau guru hanya datang untuk menyampaikan materi tanpa ada variasi atau strategi khusus daam pembeajaran, bisa dipastikan bahwa anak didik akan merasajenuh, bosan dan ujung-ujungnya bisa menjadikan mereka enggan beajar. Untuk antisipasi ha tersebut, guru diharapkan bisa menambah wawasan, imu pengetahuan dan teknoogi, antara ain dengan mengikuti penataran, peatihan, kursus, seminar dan kegiatan ainnya. Guru diharapkan pua aspiratif terhadap kemajuan teknoogi, utamanya teknoogi informasi, misanya penggunaan komputer dan internet untuk kegiatan beajar mengajar. Dengan seau mengikuti perkembangan teknoogi, diharapkan guru tidak mengaami "gagap teknoogi " dan ketinggaan jaman, karena para peserta didik akan semakin intensif menggunakan teknoogi informasi daam kehidupan sehari-harinya. Menurut Tiaar (2002: ) tugas seorang guru profesiona meiputi tiga bidang utama: ) daam bidang profesi, 2) daam bidang kemanusiaan, dan 3) daam bidang kemasyarakatan. Seanjutnya dijeaskan pua bahwa guru yang profesiona dapat mengadakan evauasi di daam proses beajar mengajar, membimbing peserta didik untuk mencapai tujuan program beajar mengajar. Seain itu, seorang guru profesiona merupakan seorang administrator, baik daam proses beajar mengajar maupun daam kemampuan manajeria daam ingkungan sekoah. Sebagai pendidik, seorang guru profesiona adaah seorang komunikator. Sebagai profesi yang terus berkembang, seorang guru profesiona hendaknya mampu mengadakan peneitian-peneitian yang berkaitan dengan peningkatan profesionaisme seorang pendidik (Tiaar, 2002:89-90). Peranan Kepaa Sekoah daam Peningkatan Profesionaisme Guru Daam upaya meningkatkan profesionaisme guru, peranan kepaa sekoah sangat penting, seperti yang dipaparkan oeh Suparno (2003: 4). Kepaa sekoah peru memberikan kebebasan kepada para guru untuk berinisiatif, berpikir, mengembangkan pembeajaran di bidang yang dikeoanya. Kepaa sekoah harus memberikan kebebasan kepada para guru untuk ikut berbicara, demi kemajuan proses beajar mengajar di sekoah. Lebih-ebih dengan adanya otonomi sekoah, peranan guru diharuskan mau menghadapi tantangan, bersaing dengan sekoah-sekoah ain dan nyata-nyata menjadi ujung tombak keberhasian pendidikan. Kerjasama antara sekoah dan masyarakat, termasuk Komite Sekoah, sangat dibutuhkan demi keberangsungan sekoah itu sendiri (Suparno, 20A3: 4). Guru peru diberi peuang untuk mengembangkan bahan, metode, evauasi, serta pembuatan soa untuk ujian sumatif bahkan sampai soa ujian akhir sekoah. Guru juga harus diberi kesempatan untuk ikut aktif daam aktivitas manajemen sekoah dan mengikuti perkembangan imu pengetahuan, sains dan teknoiogi. Bia kepaa sekoah bersikap apriori, maka t4

7 Jurna miah Guru "COPE", No. 0/Tahun Y/Pebruari 2004 pembaharuan dan reformasi pendidikan serta kemandirian guru tidak akan pemah tercapai. Kepaa sekoah diharapkan mengerti pendidikan secara menyeuruh, bersifat terbuka terhadap perubahan dan pembaharuan, terbuka terhadap semua ha, seau meuangkan waktu untuk menambah wawasan, memahami visi dan misi sekoah, meibatkan semua guru untuk memikirkan pengembangan dan kemajuan sekoah, membangun reasi yang baik dengan semua guru. Bia kepaa sekoah bersikap seperti tersebutdiatas, maka diharapkan akan ebih aspiratif, akomodatif dan menambah motivasi terhadap peningkatan profesionaisme dan kemandirian guru (Tiaar, 2002: e2-93). Peranan PGR daam Peningkatan Profesionaisme Guru Persatuan Guru Repubik ndonesia (PGR), merupakan organisasi profesi guru terbesar di ndonesia. Seperti organisasi profesi ainnya, PGR bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggotanya daam bidang profesinya, serta meindungi hak dan kewajiban guru sebagai anggota profesi. Organisasi profesi ini memang beum berhasi menunjukkan kemampuannya daam memperjuangkan nasib guru (Anonim, 2003: 0). Seanjutnya dikatakan bahwa organisasi profesi guru ini bahkan dimasa ampau pernah menjadi kendaraan poitik, yang justru menggunakan nasib guru untuk meraih cita-cita goongan poitik dominan tertentu. Peranan PGR di masa mendatang diharapkan ebih proaktif daam memperjuangkan nasib serta meningkatkan kuaitas dan profesionaisme guru. Organisasi profesi ini hendaknya mampu menunjukkan citra sebagai motor penggerak dan wadah yang menampung semua aspirasi profesionaisme guru secara mandiri (Anonim,2003: 0). Kuaitas pendidikan yang rendah, akan berdampak menghambat program pembangunan peningkatan sumber daya manusia. Kondisi ini peru mendapatkan perhatian dari pihak PGR guna menghasikan sistem pendidikan yang baik dan bermutu. Sebagai organisasi profesi guru, PGR harus dapat menciptakan terobosan-terobosan untuk keuar dari masaah rendahnya kuaitas dan profesionaisme guru. Citra PGR pada masyarakat kita adaah bahwa organisasi ini seakan-akan hanya berorientasi kepada guru sekoah dasar dan menengah saja, meskipun terdapat juga para dosen dan profesor perguruan tinggi yang menjadi anggota PGR. Sudah saatnya PGR merangkum seuruh kekuatan organisasi profesi guru muai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, agar dapat mempunyai daya tekan yang kuat untuk mewujudkan cita-cita pendikan nasiona, serta para guru mendapatkan penghargaan yang wajar dan setimpa dari masyarakat yang memiikinya (Tiaar, 2002: 104). Organisasi profesi guru PGR harus mampu menciptakan sistem pembinaan guru yang berkuaitas ewat peningkatan keterampian, pengetahuan dan wawasan tenaga pendidik. Organisasi ini diharapkan menjadi motor bagi ahirnya imu pendidikan yang otonom dan inovatif, sehingga membantu pengembangan profesiona profesi guru di era goba ini (Tiaar, 2002: 06). Dikatakan pua, ada beberapa ha yang peru diperhatikan oeh PGR daam 5

8 &trna miah Guru "COPE", No. 0Lahun V/Pebruari 2004 pembinaan profesionaisme guru, antara ain guru harus mempunyai jiwa kepemimpinan dan serius memperhatikan pendidikan; guru harus berkemampuan menentukan prioritas pekedaan yang diperukan; guru harus menghindari ketidak-jujuran yang tidak hanya terkait dengan materi, tetapi juga waktu jam kerja dan proses beajar mengajar (Tiaar, 2002: 106). Citra guru di ndonesia dewasa ini memang daam keadaan terpuruk. Keterpurukan profesi guru ini merupakan penghaang bagi kebangkitan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Terpuruknya profesi gum disebabkan oeh berbagai ha, antara ain teah terjadi anomai mengenai status profesi guru, karena kesaahan masyarakat sendiri yang meninggikan dan sekaigus mencampakkan profesi guru sebagai profesi terhormat di daam masyarakat. Seanjutnya, merosotnya profesi guru ebih dikarenakan embaga organisasi profesi guru, seperti PGR, emah sehingga tidak menopang perbaikan profesi guru, baik dari segi kuaitas pengabdiannya maupun di daam kuaitas penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru. Sebagai organisasi profesi, PGR peru mengambi angkah-angkah untuk meningkatkan apresiasi orang tua, masyarakat dan pemerintah terhadap profesi guru. Guru yang emah, guru yang kurang gizi jasmani dan rohani, akan menghasikan generasi penerus yang kurang gizi juga. Setaiknya, guru yang mendapat penghargaan serta kesejahteraan yang sepadan dengan pengabdiannya kepada masyarakat akan menjadi saah satu motor penggerak kemajuan masyarakat menuju ndonesia yang ebih baik (Tiaar, 2002:92-93, 106). Seaku seorang guru, penuis memberikan sumbang saran agar sebagai organisasi profesi guru PGR akan ebih proaktif daam memperjuangkan nasib serta meningkatkan kuaitas dan profesionaisme guru. Organisasi PGR peru diperuas, dihiangkan citra bahwa hanya miik guru sekoah dasar dan menengah saja, namun mencakup muai dari guru taman kanakkanak sampai perguruan tinggi. Dengan demikian, organisasi ini akan menjadi ebih kuat dan ebih mempunyai daya tekan yang dapat meobi DPR maupun ernbaga masyarakat ainnya, sehingga terbentuk opini umum betapa besarnya peranan pendidikan, meaui profesi guru, daam membangun masyarakat ndonesia baru. Adanya organisasi PGR yang kuat akan mempunyai kekuatan poitis serta kemampuan meindungi dengan memberikan sanksi terhadap anggotanya untuk mempertahankan dan mengembangkan standar profesi guru. Organisasiprofesi PGR juga diharapkan menjadi inisiator bagi ahirnya imu pengetahuan pendidikan yang otonom dan inovatif, sehingga membantu pengembangan profesiona profesi guru daam menghadapi era gobaisasi. Profesi guru merupakan pekerjaan inteejen yang berhak dihargai oeh masyarakat sebagai suatu profesi terhormat, serta mempunyai kewajiban dan memperoeh imbaan yang sesuai seperti profesi ainnya. Organisasi PGR di masa mendatang dituntut untuk ebih memperjuangkan hak dan kewajiban, meningkatkan kesejahteraan, serta meningkatkan citra profesiona dari para guru anggotanya. Organisasi profesi ini sangat diharapkan dapat menjadi dinamisator dan okomotif daam perbaikan profesionaisme ] { 6 L i te.,

9 Jurna miah Guru "COPE", No. 0/Tahun V/Pebruqri 2004 guru daam rangka perbaikan sistem pendidikan nasiona menuju pembangunan masyarakat ndonesia yang ebih baik di masa mendatang. Penutup Kuaitas dan profesionaisme guru daam meaksanakan profesinya umumnya masih rendah. Untuk meningkatkan kuaitas dan profesionaisme harus diupayakan peningkatan kuaifikasi, kompetensi, profesionaisasi, serta kesejahteraan guru. Guru yang profesiona seau meningkatkan kemampuannya, pengetahuan dan wawasannya secara berkeanjutan. Profesi guru merupakan profesi terhormat, mandiri dan memiiki komunitas profesiona yang dinamis. Peranan PGR, sebagai organisasi profesi guru, diharapkan ebih proaktif daam memperjuangkan nasib serta meningkatkan kuaitas dan profesionaisme guru. Organisasi profesi ini diharapkan menjadi sarana kekuatan untuk tujuan profesi guru dan perbaikan hidup anggotanya. Organisasi PGR ini juga dituntut untuk menunjukkan citra sebagai motor penggerak dan wadah yang menampung semua aspirasi profesionaisme guru. Diharapkan juga PGR dapat memfasiitasi dan memotivasi kepada para guru anggotanya untuk terus menerus meningkatkan profesionaisme dan menambah wawasan keimuan, kuaitas dan kuaifikasinya Daftar Pustaka Anonim. (1992). Meningkatkan profesionaisasi tenaga pendidikan khususnya memantapkan jabatan fungsiona guru. Jurna Pendidikan vo T: -53. Anonim. (2003). PGR harus bisa ciptakan sistem pembinaan bermutu. Skh Bernas 4 Maret 2003, hm: 10. Badarudin, A. (2002). Profesionaisme guru. Berkaa mu Pendidikan vo24: Najid, A. Poa Peaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup. Surabaya: Penerbit Surabaya nteectua Cub. Saim, A. (2003). Paradigma Guru: Dari PNS ke guru kontrak. Skh Kompas Maret 2003, hm: 5. Sukmadinata, N. S. (1992). Peningkatan mutu pendidikan guru. Jttrna Pend idikan vo 7 : Suparno, P. (2003). Kepaa sekoah dan reformasi pendidikan. Str,h Bernas 6 Maret 2003, hm: 4. Suryono, A. R. (2002). Mengena kurikuum bcrbasis kompetensi. Media Pendidikan vo 2: Tiaar, H. A. R. (2002). Membenahi Pendidikan Nasiona. Jakarta: Rincka Cipta. Widayati, S. (2002). Reformasi Pendidikan Dasar. Jakarta: Grasindo. 7/N 7

MANAJEMEN KINERJA. Pokok Bahasan: Proses Manajemen Kinerja

MANAJEMEN KINERJA. Pokok Bahasan: Proses Manajemen Kinerja MANAJEMEN KINERJA Pokok Bahasan: Proses Manajemen Kinerja Manajemen kinerja sebagai proses manajemen Preses manajemen kinerja menurut Wibowo (2007:19) mencakup suatu proses peaksanaan kinerja dan bagaimana

Lebih terperinci

Manajemen Kinerja Pokok Bahasan:

Manajemen Kinerja Pokok Bahasan: Manajemen Kinerja Pokok Bahasan: Manajemen Kinerja: Peatihan dan Penghargaan Sub Pokok Bahasan Pengertian Peatihan Proses pembeajaran dan pengembangan individu Jenis-jenis peatihan karyawan Manfaat peatihan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 26 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO,

Lebih terperinci

PENENTUAN CADANGAN PREMI MENGGUNAKAN METODE FACKLER PADA ASURANSI JIWA DWI GUNA

PENENTUAN CADANGAN PREMI MENGGUNAKAN METODE FACKLER PADA ASURANSI JIWA DWI GUNA Buetin Imiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Voume 02, No. 2 (203), ha 5 20. PENENTUAN CAANGAN PREMI MENGGUNAKAN METOE FACKLER PAA ASURANSI JIWA WI GUNA Indri Mashitah, Neva Satyahadewi, Muhasah Novitasari

Lebih terperinci

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS AIRLANGGA Kampus B Jaan Airangga 4 Surabaya 60286 Tep. 01-50642, 506584 Fax. 01-5026288 Website: http://www.fe.unair.ac.id E-mai: [email protected], [email protected] Nomor : 125/UN.4/PPd/Dept/Ak/201

Lebih terperinci

Nomor : 361/UN.3.1.4/PPd/ Maret 2015 Lampiran : 1 (satu) eksemplar : Penyebaran Informasi Beasiswa S2 STAR

Nomor : 361/UN.3.1.4/PPd/ Maret 2015 Lampiran : 1 (satu) eksemplar : Penyebaran Informasi Beasiswa S2 STAR UNIVERSITAS AIRLANGGA Kampus B Jaan Airangga 4 Surabaya 60286 Tep. 01-50642, 506584 Fax. 01-5026288 Website: http://www.fe.unair.ac.id E-mai: [email protected], [email protected] Nomor : 61/UN..1.4/PPd/2015

Lebih terperinci

PERHITUNGAN CADANGAN PADA ASURANSI JIWA BERJANGKA MENGGUNAKAN METODE FACKLER DENGAN PRINSIP PROSPEKTIF

PERHITUNGAN CADANGAN PADA ASURANSI JIWA BERJANGKA MENGGUNAKAN METODE FACKLER DENGAN PRINSIP PROSPEKTIF PERHITUNGAN ADANGAN PADA ASURANSI JIWA BERJANGKA MENGGUNAKAN METODE FAKLER DENGAN PRINSIP PROSPEKTIF Riaman, Kankan Parmikanti 2, Iin Irianingsih 3, Sudradjat Supian 4 Departemen Matematika, Fakutas MIPA,

Lebih terperinci

KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN AGRIBISNIS TERNAK RUMINANSIA. Kompetensi Guru Mata Pelajaran (KD) A B C D E

KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN AGRIBISNIS TERNAK RUMINANSIA. Kompetensi Guru Mata Pelajaran (KD) A B C D E KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN AGRIBISNIS TERNAK RUMINANSIA Kompeten Kompetensi Guru Mata Peajaran 1 Pedagogik Menguasai karakteristik Memahami karakteristik peserta peserta didik dari aspek fisik,

Lebih terperinci

PENERAPAN MANAJEMEN KINERJA DI PERUSAHAAN MANAJEMEN KINERJA PERTEMUAN KETIGA

PENERAPAN MANAJEMEN KINERJA DI PERUSAHAAN MANAJEMEN KINERJA PERTEMUAN KETIGA PENERAPAN MANAJEMEN KINERJA DI PERUSAHAAN MANAJEMEN KINERJA PERTEMUAN KETIGA PENERAPAN MANAJEMEN KINERJA Daam pertemuan pekan ini pokok bahasan kita adaah penerapan manajemen kinerja di perusahaan, dampaknya

Lebih terperinci

RANCANGAN ANIMASI INTERAKTIF PENGENALAN ALAT-ALAT TRANSPORTASI UNTUK SISWA TAMAN KANAK-KANAK ISLAM AL AZZAM CILEDUK TANGERANG

RANCANGAN ANIMASI INTERAKTIF PENGENALAN ALAT-ALAT TRANSPORTASI UNTUK SISWA TAMAN KANAK-KANAK ISLAM AL AZZAM CILEDUK TANGERANG SNIPTEK 2016 ISBN: 978-602-72850-3-3 RANCANGAN ANIMASI INTERAKTIF PENGENALAN ALAT-ALAT TRANSPORTASI UNTUK SISWA TAMAN KANAK-KANAK ISLAM AL AZZAM CILEDUK TANGERANG Indah Puspitorini AMIK BSI Bekasi J. Raya

Lebih terperinci

Problem Based Instruction sebagai alternatif Model Pembelajaran Fisika di SMA

Problem Based Instruction sebagai alternatif Model Pembelajaran Fisika di SMA Prayekti, Probem Based Instruction sebagai aternatif Mode Pembeajaran Fisika di SMA Probem Based Instruction sebagai aternatif Mode Pembeajaran Fisika di SMA Prayekti FKIP-Universitas Terbuka, emai: [email protected]

Lebih terperinci

BERITA ACARA PEMBERIAN PENJELASAN PEKERJAAN Nomor : 38 /ULP-POKJA KONSTRUKSI.II/2011

BERITA ACARA PEMBERIAN PENJELASAN PEKERJAAN Nomor : 38 /ULP-POKJA KONSTRUKSI.II/2011 PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT UNIT LAYANAN PENGADAAN Jaan Sutan Syahrir Nomor 02 No. Tep. (0532) 23759 Pangkaan Bun 74112 BERITA ACARA PEMBERIAN PENJELASAN PEKERJAAN Nomor : 38 /ULP-POKJA KONSTRUKSI.II/2011

Lebih terperinci

Manajemen Kinerja, Manajemen, 2 sks. Umpan Balik

Manajemen Kinerja, Manajemen, 2 sks. Umpan Balik Manajemen Kinerja, Manajemen, 2 sks Umpan Baik POKOK BAHASAN Umpan Baik Pengertian dan penerapan Umpan Baik 360 derajat Kriteria dan keberhasian Umpan Baik 360 derajat Keebihan dan keemahan Umpan Baik

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL PENGARUH ORIENTASI RUMAH TERHADAP SUHU DALAM RUANG PADA PERUMAHAN GAPURA SATELIT INDAH

SEMINAR NASIONAL PENGARUH ORIENTASI RUMAH TERHADAP SUHU DALAM RUANG PADA PERUMAHAN GAPURA SATELIT INDAH PENGARUH ORIENTASI RUMAH TERHADAP SUHU DALAM RUANG PADA PERUMAHAN GAPURA SATELIT INDAH Rusdianto 1, Syarifa Ajrinah 2, Arinda Wahyuni 3, Edward Syarif 4 1,2,3) Pascasarjana Arsitektur, Fatas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 71 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Basis Data Langkah pertama daam membangun apikasi adaah meakukan instaasi apikasi server yaitu menggunakan SQLite manager yang di insta pada browser Mozia Firefox.

Lebih terperinci

Sebuah catatan proses Participatory Rural Appraisal (PRA) di Dusun Cisarua, Desa Cipeuteuy, Sukabumi, Jawa Barat Juni 2003

Sebuah catatan proses Participatory Rural Appraisal (PRA) di Dusun Cisarua, Desa Cipeuteuy, Sukabumi, Jawa Barat Juni 2003 Sebuah catatan proses Participatory Rura Appraisa (PRA) di Dusun Cisarua, Desa Cipeuteuy, Sukabumi, Jawa Barat 14 23 Juni 2003 diterbitkan oeh: Yayasan Pedui Konservasi Aam Indonesia, 2005 Pengantar Cataan

Lebih terperinci

ANALISIS DANA TABARRU ASURANSI JIWA SYARIAH MENGGUNAKAN PERHITUNGAN COST OF INSURANCE

ANALISIS DANA TABARRU ASURANSI JIWA SYARIAH MENGGUNAKAN PERHITUNGAN COST OF INSURANCE Buetin Imiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Voume 05, No. (206), ha 53-60. ANALISIS DANA TABARRU ASURANSI JIWA SYARIAH MENGGUNAKAN PERHITUNGAN COST OF INSURANCE Amanah Fitria, Neva Satyahadewi,

Lebih terperinci

HANDOUT PERKULIAHAN. Kode Mata Kuliah : LB 461 Jumlah SKS : 2 Semester : Genap (6) Kelompok Mata Kuliah

HANDOUT PERKULIAHAN. Kode Mata Kuliah : LB 461 Jumlah SKS : 2 Semester : Genap (6) Kelompok Mata Kuliah HANDOUT PERKULIAHAN Nama Mata Kuiah : Orientasi dan Mobiitas Kode Mata Kuiah : LB 461 Jumah SKS : 2 Semester : Genap (6) Keompok Mata Kuiah : MKPS Status Mata Kuiah : Wajib bagi spesiaisasi A Prasyarat

Lebih terperinci

Manajemen Kinerja Pertemuan ke-lima. Pokok Bahasan: Penilaian Kinerja

Manajemen Kinerja Pertemuan ke-lima. Pokok Bahasan: Penilaian Kinerja Manajemen Kinerja Pertemuan ke-ima Pokok Bahasan: Peniaian Kinerja Manajemen Kinerja, 2 sks CHAPTER 5 PENILAIAN KINERJA 1 Pokok Bahasan: Pengertian peniaian kinerja Proses peniaian kinerja Faktor-faktor

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DI TINGKAT PERUSAHAAN

MENINGKATKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DI TINGKAT PERUSAHAAN MENINGKATKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DI TINGKAT PERUSAHAAN BUKU PEGANGAN BAGI PELATIH 1 Hak Cipta Kantor Perburuhan Internasiona 2002 Pertama terbit tahun 2002 Pubikasi Kantor Perburuhan Internasiona diindungi

Lebih terperinci

PEMODELAN TARIKAN PERJALANAN PADA RUMAH SAKIT DI KOTA PADANG

PEMODELAN TARIKAN PERJALANAN PADA RUMAH SAKIT DI KOTA PADANG No. Vo. Thn. XIV Apri 00 ISSN: 84-84 PEMODELAN TARIKAN PERJALANAN PADA RUMAH SAKIT DI KOTA PADANG Hendra Gunawan ),Titi Kurniati ),Dedi Arnadi ) )Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipi Universitas Andaas )Mahasiswa

Lebih terperinci

ANIMASI INTERAKTIF PEMBELAJARAN PENANGGULANGAN BANJIR UNTUK SISWA SD

ANIMASI INTERAKTIF PEMBELAJARAN PENANGGULANGAN BANJIR UNTUK SISWA SD Konferensi Nasiona Imu osia & Teknoogi (KNiT) Maret 016, pp. 56~6 ANIMAI INTERAKTIF PEMBELAJARAN PENANGGULANGAN BANJIR UNTUK IWA D 56 Desy Yekti A 1, Nani Purwati 1 AMIK BI Yogyakarta e-mai: [email protected],

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. utamanya adalah menentukan struktur yang mendasari keterkaitan (korelasi)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. utamanya adalah menentukan struktur yang mendasari keterkaitan (korelasi) BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Anaisis aktor Menurut Hair, et a. (995) anaisis faktor adaah sebuah nama umum yang diberikan kepada sebuah keas dari metode statistika mutivariat yang tujuan utamanya adaah menentukan

Lebih terperinci

Manajemen Operasional KEPUTUSAN PERENCANAAN STRATEGI

Manajemen Operasional KEPUTUSAN PERENCANAAN STRATEGI Manajemen Operasiona KEPUTUSAN PERENCANAAN STRATEGI Putri Irene Kanny [email protected] Sub Pokok bahasan pertemuan ke-2 Formuasi strategi Prioritas bersaing Peran operasi daam strategi

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA INSTANSI. [Type the document subtitle] LKjIP TAHUN DINAS PERTANIAN KABUPATEN JOMBANG

LAPORAN KINERJA INSTANSI. [Type the document subtitle] LKjIP TAHUN DINAS PERTANIAN KABUPATEN JOMBANG LAPORAN KINERJA INSTANSI [Type the document subtite] LKjIP TAHUN 2016 DINAS PERTANIAN KABUPATEN JOMBANG DINAS PERTANIAN KABUPATEN JOMBANG 201 6 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Aah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. yang negative atau mengancam (Towsent alih bahasa,daulima,1998). tidak dapat membuat hubungan tersebut (Carpenito,1995).

BAB II TINJAUAN TEORI. yang negative atau mengancam (Towsent alih bahasa,daulima,1998). tidak dapat membuat hubungan tersebut (Carpenito,1995). 1 6 BAB II TINJAUAN TEORI A Pengertian Isoasi sosia merupakan kondisi kesendirian yang diaami oeh individu dan diterima sebagai ketentuan orang ain sebagai suatu keadaan yang negative atau mengancam (Towsent

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Lokasi Museum Konperensi Asia Afrika Sumber :

Gambar 3.1 Lokasi Museum Konperensi Asia Afrika Sumber : BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Objek Peneitian Lokasi peneitian ini diaksanakan di Museum Konperensi Asia Afrika berokasi di Gedung Merdeka, jaan Asia Afrika No. 65 Bandung, Keurahan Braga,

Lebih terperinci

FOURIER Oktober 2014, Vol. 3, No. 2,

FOURIER Oktober 2014, Vol. 3, No. 2, FOURIER Oktober 2014, Vo. 3, No. 2, 98 116 PENYELESAIAN MATCHING GRAF DENGAN MENGGUNAKAN METODE HUNGARIAN DAN PENERAPANNYA PADA PENEMPATAN KARYAWAN DI SUATU PERUSAHAAN Auia Rahman 1, Muchammad Abrori 2,

Lebih terperinci

Selanjutnya rancangan perkuliahan setiap pertemuan adalah sebagai berikut: Jenis Tugas TR CBR CJR MR RI PJCT M K M K M K M K M K M K T P L

Selanjutnya rancangan perkuliahan setiap pertemuan adalah sebagai berikut: Jenis Tugas TR CBR CJR MR RI PJCT M K M K M K M K M K M K T P L Seanjutnya rancangan perkuiahan setiap pertemuan adaah sebagai berikut: Pert. Ke Aktivitas Perkuiahan Softski yang Diharapkan 1 Learning Contract - - - - - - - - - - - - Ketekunan Kedisipinan 1 Dosen membagikan

Lebih terperinci

Prosiding Matematika ISSN:

Prosiding Matematika ISSN: Prosiding Matematika ISS: 2460-6464 Mode Matematika Cadangan Premi Asuransi Kesehatan Perawatan Rumah Sakit Menggunakan Metode Prospektif Mathematica Modes of Cacuation of The Heath Insurance Premium Backup

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018 ISSN : 2527 5917, Vo.3 Impementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Mienia Indonesia daam Menuju SDGs 2030 KAJIAN DINAMIKA FLUIDA PADA ALIRAN AIR TERJUN TUJUH BIDADARI KABUPATEN JEMBER BERBASIS

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 42 BAB III METODE PENELITIAN 3. Teknik Peneitian Peneitian dengan metode perbandingan eksperimenta berisikan kegiatan yang direncanakan dan diaksanakan oeh peneiti, maka dapat diperoeh bukti-bukti yang

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL SISTEM DINAMIK TERHADAP KETERSEDIAN AIR BERSIH DI KABUPATEN KUTAI TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

PENGEMBANGAN MODEL SISTEM DINAMIK TERHADAP KETERSEDIAN AIR BERSIH DI KABUPATEN KUTAI TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TIMUR JIEM Vo.1 No. 2, Oktober 216 E-ISSN: 2541-39, ISSN Paper: 253-143 PENGEMBANGAN MODEL SISTEM DINAMIK TERHADAP KETERSEDIAN AIR BERSIH DI KABUPATEN KUTAI TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Dimas Primadian N,

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY DATABASE MODEL TAHANI

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY DATABASE MODEL TAHANI DINAMIKA INFORMATIKA Vo.6 No. 1, Maret 2014 ISSN 2085-3343 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY DATABASE MODEL TAHANI Teguh Khristianto, Bayu Surarso,

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BERPUSAT MAHASISWA

PEMBELAJARAN BERPUSAT MAHASISWA PEMBELAJARAN BERPUSAT MAHASISWA S Pusat Pengembangan Pendidikan UNIVERSITAS GADJAH MADA Yogyakarta C Hak Cipta Diindungi Undang-Undang Diarang memperbanyak, mencetak, dan menerbitkan sebagian isi atau

Lebih terperinci

Water Hammer Press Untuk Pengurangan Kadar Air Komoditas Onggok

Water Hammer Press Untuk Pengurangan Kadar Air Komoditas Onggok Water Hammer Press Untuk Pengurangan Kadar Air Komoditas Onggok A. Yudi Eka Risano 1, Indra Mamad Gandidi 2 1,2 Teknik Mesin Konversi Energi, Fakutas Teknik Universitas Lampung J. Prof. Soemantri Brojonegoro

Lebih terperinci

TABEL MORTALITAS. Ratna Novitasari, S.Si., M.Si. Jurusan Matematika Universitas Diponegoro

TABEL MORTALITAS. Ratna Novitasari, S.Si., M.Si. Jurusan Matematika Universitas Diponegoro TABEL MORTALITAS Ratna Novitasari, S.Si., M.Si. Jurusan Matematika Universitas Diponegoro TUJUAN Mahasiswa diharapkan mampu: 1. Memahami tabe mortaitas 2. Menjeaskan hubungan antara ajur-ajur tabe mortaitas

Lebih terperinci

Analisis beban pendingin cold storage PT. Sari Tuna Makmur Aertembaga Bitung, Sulawesi Utara

Analisis beban pendingin cold storage PT. Sari Tuna Makmur Aertembaga Bitung, Sulawesi Utara Jurna Imu dan Teknoogi Perikanan Tangkap 2(2): 9-93, Desember 2015 ISSN 2337-4306 Anaisis beban pendingin cod storage PT. Sari Tuna Makmur Aertembaga Bitung, Suawesi Utara Cooing oad anaysis of cod storage

Lebih terperinci

Manajemen Kinerja. Pokok Bahasan: Ruang Lingkup dan Dasar-dasar Manajemen Kinerja

Manajemen Kinerja. Pokok Bahasan: Ruang Lingkup dan Dasar-dasar Manajemen Kinerja Manajemen Kinerja Pokok Bahasan: Ruang Lingkup dan Dasar-dasar Manajemen Kinerja Manajemen Kinerja 2 sks TUESDAY, SEPTEMBER 20, 4EA05 G132 1 Kontrak Perkuiahan Ø Ø Ø Dosen Pengampu : Putri Irene Kanny

Lebih terperinci

Kata kunci: Fuzzy Adaptif, Air Fuel Ratio, duty cycle, sensor lambda.

Kata kunci: Fuzzy Adaptif, Air Fuel Ratio, duty cycle, sensor lambda. KONTROL AIR FUEL RATIO PADA SPARK IGNITION ENGINE SISTEM EFI SEKUENSIAL MENGGUNAKAN KONTROL FUZZY ADAPTIF DAPAT MENEKAN BEAYA OPERASIONAL KENDARAAN Abdu Hamid, Ari Santoso Jurusan Teknik Eektro-FTI ITS

Lebih terperinci

Guru memiliki beban dan tanggung jawab

Guru memiliki beban dan tanggung jawab TANTANGAN PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU DALAM RANGKA MEMBELAJARKAN MATEMATIKA DI ABAD KE-21 DAN MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK Abdur Rahman As ari Dosen pada Program Studi S2 dan S3 Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

SIGAP-REDD+: Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan dalam REDD+ Herlina Hartanto, Tomy S. Yulianto dan Taufiq Hidayat

SIGAP-REDD+: Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan dalam REDD+ Herlina Hartanto, Tomy S. Yulianto dan Taufiq Hidayat SIGAP-REDD+: Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan daam REDD+ Herina Hartanto, Tomy S. Yuianto dan Taufiq Hidayat KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN SIGAP-REDD+: Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan

Lebih terperinci

R DAFTAR ISI. Kata Pengantar...i. Daftar Isi... ii. A. Banjir, Penyebab dan Dampaknya B. Masalah Kesehatan C. Upaya Sebelum Banjir...

R DAFTAR ISI. Kata Pengantar...i. Daftar Isi... ii. A. Banjir, Penyebab dan Dampaknya B. Masalah Kesehatan C. Upaya Sebelum Banjir... P uji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena dengan perkenannya booket Penangguangan Masaah Kesehatan akibat Bencana Banjir bagi pengeoa tingkat Kabupaten/Kota ini dapat seesai pada waktunya.

Lebih terperinci

PENENTUAN CADANGAN PREMI UNTUK ASURANSI PENDIDIKAN

PENENTUAN CADANGAN PREMI UNTUK ASURANSI PENDIDIKAN E-Jurna atematika Vo. 4 (), Januari 05, pp. 4-9 ISS: 303-75 EETUA CAAGA REI UTUK ASURASI EIIKA ade utri Ariasih, Ketut Jayanegara, I yoman Widana 3, I utu Eka. Kencana 4 Jurusan atematika, Fakutas IA Universitas

Lebih terperinci

PENGATURAN FUNGSI PENYERAPAN DARI MODEL DIFUSI KADAR AIR PENYIMPANAN PADI DENGAN METODE BEDA HINGGA SKEMA IMPLISIT

PENGATURAN FUNGSI PENYERAPAN DARI MODEL DIFUSI KADAR AIR PENYIMPANAN PADI DENGAN METODE BEDA HINGGA SKEMA IMPLISIT JIMT Vo. 12 No. 1 Juni 2015 (Ha. 92 103) Jurna Imiah Matematika dan Terapan ISSN : 2450 766X PENGATURAN FUNGSI PENYERAPAN DARI MODEL DIFUSI KADAR AIR PENYIMPANAN PADI DENGAN METODE BEDA HINGGA SKEMA IMPLISIT

Lebih terperinci

Frekuensi Alami Rangka Batang Semi-Kaku dengan Efek Gaya Aksial Ruly Irawan 1,a*

Frekuensi Alami Rangka Batang Semi-Kaku dengan Efek Gaya Aksial Ruly Irawan 1,a* Frekuensi Aami Rangka Batang Semi-Kaku dengan Efek Gaya Aksia Ruy Irawan 1,a* 1 Program Studi Teknik Sipi,Fakutas Teknik, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa a [email protected] Abstrak Artike ini menyajikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia (SDM), yaitu generasi muda penerus bangsa yang mampu menjawab tantangan-tantangan

Lebih terperinci

Perancangan Job-Person Matching di Bagian Sediaan Non-Betalaktam Departemen Instalasi Produksi Lafiad

Perancangan Job-Person Matching di Bagian Sediaan Non-Betalaktam Departemen Instalasi Produksi Lafiad Jurna Teematika, vo. 9 no. 2, Institut Teknoogi Harapan Bangsa, Bandung ISSN: 1858-2516 Perancangan Job-Person Matching di Bagian Sediaan Non-Betaaktam Departemen Instaasi Produksi Lafiad Devi Puspitarini

Lebih terperinci

Jurnal Ilmiah Keperawatan STIKes Medika Cikarang

Jurnal Ilmiah Keperawatan STIKes Medika Cikarang FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERHASILAN TOILET TRAININGPADA BATASAN USIA - TAHUN DI DUSUN II DESA KARANG RAHAYU KECAMATAN KARANG BAHAGIA KABUPATEN BEKASI TAHUN 6 Apriina Sartika ABSTRAK Toiet

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

Lebih terperinci

T E K U K A N. Gambar 7.1. Pembebanan Normal Negatif

T E K U K A N. Gambar 7.1. Pembebanan Normal Negatif 1/5/016 T E K U K N 7.1. Terjadinya Tekukan Tekukan terjadi apabia batang tekan memiiki panjang tertentu yang yang jauh ebih besar dibandingkan dengan penampang intangnya. Perhatikan Gambar 7.1 di bawah,

Lebih terperinci

Sub Pokok bahasan pertemuan ke-3. Teori-teori Pembangunan dan. Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi. Pengantar Ekonomi Pembangunan 10/25/16

Sub Pokok bahasan pertemuan ke-3. Teori-teori Pembangunan dan. Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi. Pengantar Ekonomi Pembangunan 10/25/16 Pengantar Ekonomi Pembangunan Teori-teori Pembangunan dan Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi Putri Irene Kanny [email protected] 1 Sub Pokok bahasan pertemuan ke-3 Teori pembangunan ekonomi

Lebih terperinci

.BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI dan REKOMENDASI. kepala sekolah terhadap kemampuan professional guru. berpengaruh terhadap kemampuan professional guru.

.BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI dan REKOMENDASI. kepala sekolah terhadap kemampuan professional guru. berpengaruh terhadap kemampuan professional guru. .BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI dan REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hipotesis yang diajukan, maka hasil penelitian ini sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kepemimpinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah upaya yang dilakukan negara untuk mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan adalah untuk

Lebih terperinci

ANALISIS FOURIER. Kusnanto Mukti W./ M Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret. Abstrak

ANALISIS FOURIER. Kusnanto Mukti W./ M Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret. Abstrak ANALISIS FOURIER Kusnanto Mukti W./ M0209031 Jurusan Fisika Fakutas MIPA Universitas Sebeas Maret Abstrak Anaisis fourier adaah cara matematis untuk menentukan frekuensi dan ampitudo harmonik. Percobaan

Lebih terperinci

OPTIMALISASI JUMLAH BUS TRAYEK MANGKANG- PENGGARON DENGAN PENDEKATAN COMPROMISE PROGRAMMING

OPTIMALISASI JUMLAH BUS TRAYEK MANGKANG- PENGGARON DENGAN PENDEKATAN COMPROMISE PROGRAMMING OPTIMALISASI JUMLAH BUS TRAYEK MANGKANG- PENGGARON DENGAN PENDEKATAN COMPROMISE PROGRAMMING Diana Puspita Sari, Arfan Backtiar, Heny Puspasri Industria Engineering Department, Diponegoro University Emai

Lebih terperinci

KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Dalam dunia pendidikan, dua komponen yang tidak bisa dipisahkan agar dapat terjalin hubungan timbal balik yang baik, yakni pengajar yang dalam hal ini berperan guru/dosen dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 03 MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG

BAB IV ANALISIS UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 03 MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG BAB IV ANALISIS UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 03 MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG A. Analisis Kompenetensi Guru PAI di SD Negeri 03 Mojo Guru merupakan

Lebih terperinci

HUBUNGAN DISIPLIN KERJA DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA,Tbk. CABANG BOGOR

HUBUNGAN DISIPLIN KERJA DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA,Tbk. CABANG BOGOR HUBUNGAN DISIPLIN KERJA DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA,Tbk. CABANG BOGOR Nama : Saepudin ABSTRAK Saah satu masaah yang sering dihadapi perusahaan yaitu disipin kerja seperti banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan 1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan Indonesia jangka panjang yaitu Indonesia yang maju dan mandiri, adil dan demokratis, serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. inovasi yang berdampak pada meningkatnya kinerja sekolah. seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa

BAB I PENDAHULUAN. inovasi yang berdampak pada meningkatnya kinerja sekolah. seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Budaya sekolah yang kuat merupakan suatu kekuatan yang dapat menyatukan tujuan, menciptakan motivasi, komitmen dan loyalitas seluruh warga sekolah, serta memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara efektif dapat

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 37 BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Peneitian Peneitian ini menggunakan pendekatan manajemen pemasaran khususnya mengenai pengaruh service exceence terhadap kepuasan konsumen. Adapun yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era informasi dan globalisasi yang terjadi saat ini, menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era informasi dan globalisasi yang terjadi saat ini, menimbulkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era informasi dan globalisasi yang terjadi saat ini, menimbulkan tantangan bagi bangsa Indonesia. Tantangan tersebut bukan hanya dalam menghadapi dampak tranformasi

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Dalam bab ini membahas hasil penelitian Peran dan Fungsi Komite Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Terbanggi Besar

Lebih terperinci

KONTRIBUSI KAPASITAS VITAL PARU TERHADAP DAYA TAHAN KARDIORESPIRATORI

KONTRIBUSI KAPASITAS VITAL PARU TERHADAP DAYA TAHAN KARDIORESPIRATORI Jurna Endurance 2(3) October 2017 (258-262) KONTRIBUSI KAPASITAS VITAL PARU TERHADAP DAYA TAHAN KARDIORESPIRATORI Meiriani Armen Universitas Bung Hatta [email protected] Submitted :27-04-2017,

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN SASARAN KERJA PEGAWAI JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS

PEDOMAN PENYUSUNAN SASARAN KERJA PEGAWAI JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS PEDOMAN PENYUSUNAN SASARAN KERJA PEGAWAI JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 7 KATA PENGANTAR Kementerian Komunikasi

Lebih terperinci

(b) Tekuk Gambar 7.1. Pembebanan Normal Negatif

(b) Tekuk Gambar 7.1. Pembebanan Normal Negatif BB VII T E K U K N 7.1. Terjadinya Tekukan Tekukan terjadi apabia batang tekan memiiki panjang tertentu yang yang jauh ebih besar dibandingkan dengan penampang intangnya. Perhatikan Gambar 7.1 di bawah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan,

BAB I PENDAHULUAN. reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era reformasi yang sedang berjalan atau bahkan sudah memasuki pasca reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan, politik, moneter, pertahanan

Lebih terperinci

JURNAL EVALUASIPROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAANMASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DALAM PEMBANGUNAN KELURAHAN PAUDEAN KECAMATAN LEMBEH SELATAN KOTA BITUNG

JURNAL EVALUASIPROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAANMASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DALAM PEMBANGUNAN KELURAHAN PAUDEAN KECAMATAN LEMBEH SELATAN KOTA BITUNG JURNAL EVALUASIPROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAANMASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DALAM PEMBANGUNAN KELURAHAN PAUDEAN KECAMATAN LEMBEH SELATAN KOTA BITUNG YOHANIS MALIOGHA 110314064 Dosen Pembimbing : 1. Dr. Ir.

Lebih terperinci

PENENTUAN MOMEN INERSIA BENDA TEGAR DENGAN METODE BANDUL FISIS. Stepanus Sahala S. Prodi Pend. Fisika, Jurusan PMIPA FKIP Untan.

PENENTUAN MOMEN INERSIA BENDA TEGAR DENGAN METODE BANDUL FISIS. Stepanus Sahala S. Prodi Pend. Fisika, Jurusan PMIPA FKIP Untan. 36 PENENTUAN MOMEN INERSIA BENDA TEGAR DENGAN METODE BANDUL FISIS Stepanus Sahaa S. Prodi Pend. Fisika, Jurusan PMIPA FKIP Untan Abstract The aim of this research is the define rigid inert moment with

Lebih terperinci

EKSPRESI KREATIF. Pengantar Hak Cipta dan Hak Terkait untuk Usaha Kecil dan Menengah. Number: 4 WORLD INTELLECTUAL PROPERTY ORGANIZATION

EKSPRESI KREATIF. Pengantar Hak Cipta dan Hak Terkait untuk Usaha Kecil dan Menengah. Number: 4 WORLD INTELLECTUAL PROPERTY ORGANIZATION Inteectua Property for Business Series Number: 4 EKSPRESI KREATIF Pengantar Hak Cipta dan Hak Terkait untuk Usaha Keci dan Menengah. WORLD INTELLECTUAL PROPERTY ORGANIZATION Pubikasi-pubikasi yang tersedia

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpuan 7.1.1. Kondisi Pabik Daam Aspek K3 Saat Ini Aspek K3 di pabik saat ini masih banyak yang peu dibenahi. Kaena kondisi pabik saat ini banyak ha yang dapat menyebabkan

Lebih terperinci

PENGARUH MOTIVASI BERKUNJUNG TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG (Survei Pada Pengunjung Batu Night Spectacular)

PENGARUH MOTIVASI BERKUNJUNG TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG (Survei Pada Pengunjung Batu Night Spectacular) PENGARUH MOTIVASI BERKUNJUNG TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG (Survei Pada Pengunjung Batu Night Spectacular) Zainab Aminatul Ummah Sunarti Edriana Pangestuti Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KKG DI GUGUS SULTAN AGUNG DABIN 6 KARANGRAYUNG

PENGELOLAAN KKG DI GUGUS SULTAN AGUNG DABIN 6 KARANGRAYUNG PENGELOLAAN KKG DI GUGUS SULTAN AGUNG DABIN 6 KARANGRAYUNG RINGKASAN TESIS Diajukan kepada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

Jawaban Tugas 02 Program Pendidikan Fisika. [Setiya Utari]

Jawaban Tugas 02 Program Pendidikan Fisika. [Setiya Utari] Jawaban Tugas 0 Program Pendidikan Fisika [Setiya Utari] Program Pendidikan Fisika Tujuan Mata peajaran Fisik Membentuk sikap positif terhadap fisika Keteraturan aam semesta, Kebesaran TYME. Memupuk sikap

Lebih terperinci

Abstrak. di sekitar sehingga membuat manusia bertambah ilmu dan keimanan kepada Allah SWT.

Abstrak. di sekitar sehingga membuat manusia bertambah ilmu dan keimanan kepada Allah SWT. Vo.4 No. 1 Januari 2016 MOTVAS BELAJAR SANTR PADA PONDOK PESANTREN AL SHLAH SENDANGAGUNG PACRAN LAMONGAN JAWA TMUR (Studi Kasus di Pondok Pesantren A-shah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur) Rejono

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara efektif dapat

Lebih terperinci

2), ABSTRAK. Penelitian. Hasil. penelitian. proses. asuhan. kuliah. untuk. mata. baik), responden. ini. penelitiin. Hasil ABSTRACT

2), ABSTRAK. Penelitian. Hasil. penelitian. proses. asuhan. kuliah. untuk. mata. baik), responden. ini. penelitiin. Hasil ABSTRACT i @ METODE DRLLSTUD KASUS DALAM MENNGKATKAN HASL BELAJAR ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA (DRLL METHODE TO NCREASE RESULT OF STUDY N FAMLY VURSNG CARE) Agrin3-r), Reni Zufitri,,.u ), Herina3) Dosetr Keperawatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia maupun untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas, berbagai upaya dilakukan

Lebih terperinci

ALTERNATIVE ASSESMENT. (Penilaian Alternatif) LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ALTERNATIVE ASSESMENT. (Penilaian Alternatif) LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS AIRLANGGA ALTERNATIVE ASSESMENT (Peniaian Aternatif) LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 1 BENTUK UJIAN Tuis In cass Take home Achievement Aptitude Course-based Non course based

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan sebagian besar rakyatnya berkecimpung di dunia pendidikan. Maka dari. menurut Undang-undang Sisdiknas tahun 2003:

BAB I PENDAHULUAN. dan sebagian besar rakyatnya berkecimpung di dunia pendidikan. Maka dari. menurut Undang-undang Sisdiknas tahun 2003: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai fungsi yang penting bagi kehidupan manusia. Manusia dalam melaksanakan aktivitasnya membutuhkan pendidikan sebagai kebutuhan yang harus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dirasakan sangat penting, tidak hanya oleh pemerintah tapi juga oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dirasakan sangat penting, tidak hanya oleh pemerintah tapi juga oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aparatur pemerintah sebagai abdi negara dan abdi masyarakat mempunyai tugas pokok yang antara lain tercermin dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah diajarkan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah diajarkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah diajarkan sejak SMP. Artinya selama enam tahun bahasa Inggris sudah diajarkan di sekolah. Bahkan, saat

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA SSN 1410-8364 @ FAKULTAS LMU SOSAL DAN LMU POLTK UNVERSTAS SRWJAYA EupruxA Voume X, Nomor 1,2008 SELAYANG PANDANG TENTANG PE{YALURAN KARTU KOMPENSAS BBM DT KOTA PALEMBANG Lii Erina PE{YALURAN BERAS UNT'K

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) UNTUK KEGIATAN PERTAMBANGAN UMUM

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) UNTUK KEGIATAN PERTAMBANGAN UMUM Lampiran IV Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Minera Nomor 1453 K/29/MEM/2000 LAMPIRAN IV KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1453 K/29/MEM/2000 TANGGAL : 3 November 2000 PEDOMAN

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU

UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU Oleh : Lailatussaadah Dosen Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar-Raniry Email: [email protected] ABSTRAK Kinerja guru merupakan hasil, kemajuan dan prestasi kerja guru

Lebih terperinci

Analisis Pengaruh Semen Konduktif Sebagai Media Pembumian Elektroda Batang

Analisis Pengaruh Semen Konduktif Sebagai Media Pembumian Elektroda Batang Anaisis Pengaruh Semen Konduktif Sebagai Media Pembumian Eektroda Batang I M Yuistya Negara, Daniar Fahmi, D.A. Asfani, Bimo Prajanuarto, Arief M. Jurusan Teknik Eektro Institut Teknoogi Sepuuh Nopember

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern, dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa

Lebih terperinci

ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali)

ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali) ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali) TESIS Diajukan Kepada Program Pasca Sarjana Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut paham. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 1945)

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut paham. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 1945) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut paham demokrasi, sehinggga semua kewenangan adalah dimiliki oleh rakyat. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

Modul Praktikum Fisika Matematika: Mengukur Koefisien Gesekan pada Osilasi Teredam Bandul Matematika.

Modul Praktikum Fisika Matematika: Mengukur Koefisien Gesekan pada Osilasi Teredam Bandul Matematika. PROSIDING SKF 016 Modu Praktikum Fisika Matematika: Menukur Koefisien Gesekan pada Osiasi Teredam Bandu Matematika. Rizqa Sitorus 1,a), Triati Dewi Kencana Wunu,b dan Liik Hendrajaya 3,c) 1 Maister Penajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan tersebut menuntut setiap guru untuk terus berupaya melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan tersebut menuntut setiap guru untuk terus berupaya melakukan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan mengalami perubahan yang sangat cepat yang memberikan dampak sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas kepribadian serta kesadaran sebagai warga negara yang baik.

BAB I PENDAHULUAN. kualitas kepribadian serta kesadaran sebagai warga negara yang baik. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahan di bidang pendidikan yang dialami bangsa Indonesia pada saat ini adalah berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pembentukan watak

Lebih terperinci

Model Optimasi Penjadwalan Proses Slitting Material Roll dengan Multi Objective Programming

Model Optimasi Penjadwalan Proses Slitting Material Roll dengan Multi Objective Programming Mode Optimasi Penjadwaan Proses Sitting Materia Ro dengan Muti Objective Programming Dina Nataia Prayogo Jurusan Teknik Industri, Universitas Surabaya Jaan Raya Kairungkut, Surabaya, 60293 Te: (031) 2981392,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dipengaruhi oleh berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dipengaruhi oleh berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dipengaruhi oleh berbagai komponen pendukung di antaranya adalah komponen guru, peserta didik, sarana dan prasarana

Lebih terperinci