2.1 Gangguan Pendengaran
|
|
|
- Vera Wibowo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gangguan Pendengaran Klasifikasi Gangguan Pendengaran Gangguan pendengaran dapat dibedakan dari ketulian. Gangguan pendengaran (hearing loss) adalah berkurangnya kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya, pada salah satu atau kedua telinga, baik derajat ringan atau lebih berat dengan ambang pendengaran lebih dari 25dB pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000Hz. 14 Adapun batas ambang dengar kategori normal untuk manusia adalah pada intensitas db. Di sisi lain, ketulian (deafness) berarti kehilangan mutlak kemampuan mendengar dari salah satu atau kedua telinga. Terdapat tiga jenis gangguan pendengaran yaitu, gangguan pendengaran konduktif, gangguan pendengaran sensorineural, dan campuran keduanya. Gangguan pendengaran dapat dikategorikan berdasarkan bagian sistem pendengaran yang mengalami kerusakan. 2 WHO menyatakan pada tahun 2013 diperkirakan ada 360 juta orang di dunia atau sebesar 5,3% mengalami gangguan pendengaran. Sebanyak 328 juta (91%) adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak. 1 Di Indonesia, menurut survei Kesehatan Indera Pendengaran tahun terdapat 16,8% penderita gangguan pendengaran dan 0,4% penderita ketulian. 7
2 Diagnosis Peningkatan Ambang Pendengaran Diagnosis peningkatan ambang pendengaran menggunakan audiometer nada murni. Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal atau tidak. Derajat ketulian dapat dihitung dengan menggunakan Index Fletcher. Index Fletcher adalah rata-rata ambang pendengaran pada frekuensi 500 Hz, 1000 Hz, dan 2000 Hz. 15 Rumus Index Fletcher : Ambang Dengar (AD) : AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz 3 Menurut kepustakaan terbaru 1 frekuensi 4000 Hz berperan penting untuk pendengaran, sehingga perlu turut diperhitungkan, sehingga derajat ketulian dihitung dengan menambahkan ambang dengar 4000Hz dengan ketiga ambang diatas, kemudian dibagi Ambang Dengar (AD) : AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz + AD 4000 Hz 4 Dalam menentukan derajat gangguan pendengaran, yang dihitung hanya ambang dengar hantaran udaranya (Air Conduction/AC) saja.
3 9 Tabel 2. Klasifikasi derajat gangguan pendengaran menurut International Standard Organization (ISO) 15 Derajat Peningkatan Ambang Pendengaran Pendengaran Normal Ringan Sedang Sedang Berat Berat Sangat Berat ISO -10 db - 25 db 26 db - 40 db 41 db - 55 db 56 db - 70 db 71 db - 90 db Lebih 90 db 2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Gangguan Pendengaran Usia Terdapat berbagai penelitian mengenai faktor- faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pendengaran. Salah satu faktornya yaitu usia. Sebanyak 1 dari 3 orang di United States yang berusia tahun mengalami gangguan pendengaran, dan sebanyak 1 dari 2 orang yang berusia diatas 75 tahun mengalami kesulitan untuk mendengar. Semakin bertambah usia seseorang maka akan semakin rentan mengalami gangguan pendengaran. 16 Hal ini disebabkan karena sel rambut, pada telinga dalam yang membantu mengubah suara menjadi impuls listrik untuk dialirkan ke pusat pendengaran, mengalami kerusakan atau mati. Sel rambut tersebut tidak dapat mengalami regenerasi, sehingga gangguan pendengaran yang disebabkan karena kerusakan sel rambut bersifat permanen. 17
4 Hipertensi Prevalensi hipertensi di Indonesia pada penduduk berumur 18 tahun ke atas pada tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, dan berdasarkan pengukuran tekanan darah sebesar 25,8%. Prevalensi tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan pengukuran tekanan darah yaitu sebesar 30,9%. Sedangkan prevalensi terendah berdasarkan pengukuran tekanan darah terdapat pada Provinsi Papua, yaitu sebesar 16,8%. 18 Prevalensi berdasarkan jenis kelamin, lakilaki secara bermakna berisiko hipertensi 1,25 kali daripada perempuan. 19 Semua sel hidup pada tubuh manusia membutuhkan suplai oksigen dan energi yang cukup untuk mempertahankan fungsinya. Suplai tersebut sangat tergantung pada integritas fungsi dan struktur jantung dan pembuluh darah. Hipertensi adalah penyakit vaskular yang paling sering terjadi, penyakit ini menyebabkan perubahan struktural pada jantung dan pembuluh darah. Peningkatan tekanan pada sistem vaskular dapat menyebabkan perdarahan pada telinga dalam yang mendapat suplai darah dari arteri cereberalis anterior inferior dan mengakibatkan kurangnya suplai makanan dan oksigen ke telinga tengah. Hal ini akan menyebabkan gangguan pendengaran Merokok Kandungan rokok yaitu nikotin mempunyai sifat ototoksik dan menyempitkan pembuluh darah sehingga mengurangi pasokan darah ke organ tubuh. Selain itu, karbonmonoksida akan membentuk karboksi-
5 11 hemoglobin, yang akan mengurangi ketersediaan oksigen tingkat sel. Pengaruh bahan-bahan kimia dalam rokok tersebut akan menimbulkan kerusakan pada organ koklea. Sudah dilakukan beberapa penelitian tentang hubungan antara merokok dengan gangguan pendengaran pada orang dewasa. Weiss dalam penelitiannya menyatakan bahwa orang yang merokok 1 bungkus perhari memiliki pendengaran yang berkurang pda frekuensi 250 sampei 1000 Hz dibandingkan dengan orang yang tidak merokok atau perokok ringan. Siegelaub et al melaporkan dalam penelitiannya yang mencakup sebanyak orang pria dan wanita di California, pria perokok tanpa riwayat paparan suara memiliki pendengaran yang berkurang pada frekuensi 4000Hz dibandingkan dengan pria yang tidak merokok. Namun tidak terlihat perbedaan signifikan pada wanita. 21, Gangguan Pendengaran Akibat Bising Paparan terhadap suara yang berlebihan akhir-akhir ini merupakan salah satu penyebab utama gangguan pendengaran. Diperkirakan bahwa 500 juta orang di dunia berisiko untuk mengalami gangguan pendengaran akibat bising (Noise Induced Hearing Loss/NIHL). Orang-orang yang berisiko mengalami NIHL misalnya, orang-orang yang bekerja sebagai musisi, pemadam kebakaran, petani, pekerja bangunan, dan lain-lain. 23,24 NIHL adalah gangguan pendengaran sensorineural yang berawal dari frekuensi tinggi (3000 sampai 6000 Hz) dan menjadi semakin buruk sebagai akibat dari paparan terhadap suara yang berlebihan dalam waktu
6 12 yang lama. Paparan suara yang keras dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan stereosilia pada sel rambut di telinga tengan dan menyebabkan peningkatan ambang pendengaran permanen. 24, Obat Ototoksik Sebuah obat dianggap ototoksik jika memiliki potensi untuk menyebabkan reaksi beracun untuk struktur telinga bagian dalam, termasuk koklea, vestibulum, kanalis semisirkularis dan otolit, sehingga menyebabkan sensorineural gangguan pendengaran. Tabel 3. Contoh Obat Ototoksik 26 Golongan Obat Ototoksik Aminoglycosides Platinum-based chemotherapy Loop diuretics Other antibiotics Antimalarials Salicylates Phosphodiesterase type 5 inhibitors Contoh Streptomycin, amikacin, tobramycin, gentamycin, kanamycin, capreomycin Cisplatin, carboplatin, oxaliplatin Furosemide, torasemide, bumetanide, piratenide Erythromycin, vancomycin Quinine Aspirin Sildenafil, tadalafil, vardenafil Aminoglikosida menghasilkan radikal bebas dalam telinga bagian dalam dengan mengaktifkan sintetase oksida nitrat dan karena itu meningkatkan konsentrasi oksida nitrat. 27 Radikal oksigen kemudian bereaksi dengan oksida nitrat untuk membentuk peroxynitrite destruktif radikal, yang dapat langsung merangsang sel apoptosis mitokondria. Hal ini menyebabkan kerusakan permanen ke sel-sel rambut luar koklea,
7 13 mengakibatkan gangguan pendengaran permanen. 28 Mekanisme platinum ototoxicity dimediasi oleh produksi radikal bebas dan kematian sel. 26 Platinum merupakan senyawa yang merusak stria vaskularis (epitel kolumnar dengan kapiler yang mengeluarkan endolymph di skala media) dan menyebabkan sel rambut luar mengalami kematian sel dimulai pada pergantian basal dari koklea. Radikal bebas yang dihasilkan oleh NADPH oksidase dalam sel-sel rambut bagian dalam karena paparan cisplatin. 26 Radikal bebas yang dihasilkan oleh mekanisme ini kemudian menyebabkan apoptosis mitokondria dan menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Efek ototoksik dari diuretik loop dikaitkan dengan stria vaskularis, yang dipengaruhi oleh perubahan gradien ion antara perilimfe dan endolimfe. 26 Hal ini akan menyebabkan edema epitel. Gangguan pendengaran biasanya tergantung dosis dan mengikuti bolus intravena. Hal ini dapat membaik dengan sendirirnya, tapi pada neonatus dilaporkan terjadi gangguan pendengaran ireversibel. Asam salisilat akan cepat memasuki rumah siput dan meningkatkan cairan perilimfe. 26 Peningkatan ini menyebabkan tinnitus dan gangguan pendengaran reversibel. Mekanisme ini multifaktorial tetapi lebih menyebabkan gangguan metabolik daripada perubahan morfologi koklea. Hubungan antara phosphodiesterase 5 inhibitor dan gangguan pendengaran ireversibel diduga terkait dengan efeknya pada jaringan hidung menyebabkan blokade tuba eustachius, berkaitan dengan tingkat
8 14 puncak plasma Infeksi Telinga infeksi telinga yang paling sering menyebabkan gangguan pendengaran adalah otitis media. Otitis media adalah radang telinga tengah. 30 Ketika infeksi mendadak terjadi, kondisi ini disebut otitis media akut. Otitis media akut terjadi ketika dingin, alergi, dan adanya bakteri atau virus menyebabkan akumulasi pus dan mukus di belakang membran timpani dan menyumbat tuba eustachius. Hal ini dapat menyebabkan nyeri telinga dan demam. 31 Pus dapat berada di telinga tengah sampai beberapa minggu, hal ini disebut dengan otitis media dengan efusi. Hal ini terjadi pada proses penyembuhan dari infeksi telinga. Pus ini dapat berada di telinga sampai beberapa bulan. Jika tidak diterapi maka dapat terjadi infeksi kronik yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran ireversibel. Kebanyakan orang dengan infeksi telinga tengah atau akumulasi pus memiliki gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran rata-rata di telinga dengan akumulasi pus adalah tidak dapat mendengar suara pada ambang dengar 24 db. 31 Akumulasi pus yang dibiarkan terus menerus dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga ambang dengar 45 db. Seseorang dicurigai mengalami gangguan pendengaran jika tidak dapat memahami kata-kata tertentu dan berbicara lebih keras dari biasanya.
9 Gizi Buruk Tingginya prevalensi gizi buruk pada bayi usia 0-3 bulan dalam populasi umum terkait dengan terjadinya tingginya kurang gizi pada ibu dan anak-anak telah dilaporkan dalam penelitian ini. Tingginya prevalensi anak pendek di kelompok usia ini mungkin akan didukung oleh pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat. Sementara lebih dari setengah (55%) dari bayi dengan Congenital and early onset of sensorineural hearing loss (CESHL) yang gizi buruk pada setidaknya satu pengukuran pertumbuhan dan perkembangan. 32 Penelitian Olusanya 32 juga menunjukkan bahwa bayi yang mengalami gizi buruk baik yang disebabkan karena pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat, masalah kesehatan ibu termasuk status gizi ibu yang buruk saat hamil, ataupun infeksi pada bayi adalah faktor risiko terjadinya CESHL. Dengan demikian, gizi buruk berpengaruh terhadap gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak seperti CESHL. Secara spesifik dikatakan dalam penelitian Emmett bahwa wanita hamil yang keurangan vitamin A dapat menyebabkan ganggguan pendengaran pda janin. 33 Vitamin A dalam bentuk metabolit aktif retinoic acid ( RA ), dianggap sebagai faktor penting dalam diferensiasi organ dan telah terbukti sangat diperlukan untuk perkembangan telinga bagian dalam. Pengaruh RA pada pengembangan otak belakang dan sistem vestibular menunjukkan pentingnya vitamin A di dalam pembentukan telinga. 33
10 Diabetes Melitus Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik yang dikarakterisasikan dengan hiperglikemia karena terjadi kelainan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan, disfungsi, dan kegagalan pada beberapa organ, seperti mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Gejala-gejala awal DM adalah hiperglikemia, polidipsi, poliuria, polifagia, dan gangguan pengelihatan. Terjadinya gangguan pertumbuhan dan kerentanan terhadap suatu infeksi tertentu juga sering terjadi pada hiperglikemia. 4 Indonesia berada pada urutan keempat penderita Diabetes Melitus terbanyak dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk, dimana peringkat WHO memprediksi akan terjadi peningkatan jumlah penderita DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun International Diabetes Foundation (IDF) pada tahun 2009 memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7 juta pada tahun 2009 menjadi 12 juta pada tahun Dari laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan penderita Diabetes Melitus sebanyak 2-3 kali pada tahun Prevalensi DM tipe 2 hampir 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes, umumnya berusia diatas 45 tahun. Data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003 memperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebanyak 13,3
11 17 juta jiwa. Prevalensi DM sebesar 14,7% pada daerah urban dan 7,2%, pada daerah rural, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat sejumlah 8,2 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 19,4 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%) maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. 7 Komplikasi DM jangka panjang adalah retinopati dengan potensi kebutaan, nefropati dengan potensi gagal ginjal, neuropati perifer dengan potensi amputasi, dan neuropati otonom yang menyebabkan gejala-gejala gastrointestinal, genitourin, cardiovaskular, dan disfungsi seksual. Hipertensi dan abnormalitas metabolisme lipoprotein biasanya juga terjadi pada penderita DM. 4,34 Diabetes Melitus dikategorikan menjadi dua berdasarkan etiopatogenesisnya yaitu, DM Tipe 1 dan DM tipe 2. DM Tipe 1, sel beta pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin karena penyakit autoimun. Autoimun adalah keadaan dimana sistem imun tubuh membuat antibodi untuk menyerang dan menghancurkan sel beta pankreas. DM tipe 1 biasanya terjadi sejak masa anak-anak sehingga disebut juga juvenile diabetes. Penyakit ini adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan namun dapat dikontrol dengan baik. Pasien yang berisiko tinggi menderita DM Tipe 1 dapat diidentifikasi dengan melakukan pemeriksaan serologi
12 18 dimana akan ditemukan proses patologi pada pankreas dan dengan pemeriksaan biomarker genetik. 4,5 DM tipe 2 adalah keadaan dimana tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang telah dihasilkan oleh sel beta pankreas atau disebut juga terjadi resistensi terhadap insulin, biasanya terjadi pada usia dewasa atau pada anak-anak yang obesitas Hubungan Diabetes Melitus dengan Gangguan Pendengaran Secara anatomi organ telinga merupakan organ yang kaya pembuluh darah dan saraf, sehingga kerusakan pada pembuluh darah dan saraf telinga akan sangat berpengaruh terhadap pendengaran. Hubungan DM terhadap kurang pendengaran dikelompokkan menjadi angiopati, neuropati dan kombinasi keduanya. 8,35 Angiopati, pada arteriole dan pembuluh kapiler, terjadi karena rendahnya metabolisme glukosa pada penderita DM yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. Hal tersebut menyebabkan membran basalis pada pembuluh darah kapiler mengalami penebalan akibat akumulasi glikoprotein lalu terjadilah mikroangiopati. Mikroangiopati dapat terjadi pada pembuluh darah koklearis di telinga dalam menyebabkan sel kekurangan nutrisi dan terjadi degenerasi. Angiopati juga menyebabkan degenerasi dan atrofi N. VIII dan sel rambut, hal tersebut disebut efek neuropati. 10,36
13 Kerangka Teori Obat Ototoksik Diabetes Melitus Infeksi Telinga Glukosa darah tinggi Jenis Kelamin Hipertensi Angiopati Usia Neuropati Paparan Suara Merokok Gangguan pendengaran Gizi Buruk Gambar 1. Kerangka Teori
14 Kerangka Konsep Lamanya Menderita Diabetes Melitus Ambang Pendengaran - - Hipertensi Jenis Kelamin Gambar 2. Kerangka Konsep 2.7 Hipotesis Terdapat Hubungan antara lama menderita Diabetes Melitus terhadap terjadinya peningkatan ambang pendengaran seseorang.
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis, disebut juga penyakit gula merupakan salah satu dari beberapa penyakit kronis yang ada di dunia (Soegondo, 2008). DM ditandai
BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia meninggal akibat diabetes mellitus. Selanjutnya pada tahun 2003
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada tahun 2000, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa dari statistik kematian didunia, 57 juta kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN. produksi glukosa (1). Terdapat dua kategori utama DM yaitu DM. tipe 1 (DMT1) dan DM tipe 2 (DMT2). DMT1 dulunya disebut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat berkurangnya sekresi insulin, berkurangnya penggunaan glukosa,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dewasa ini, diabetes melitus merupakan permasalahan yang harus diperhatikan karena jumlahnya yang terus bertambah. Di Indonesia, jumlah penduduk dengan diabetes melitus
BAB I PENDAHULUAN. secara efektif. Diabetes Melitus diklasifikasikan menjadi DM tipe 1 yang terjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat tidak terbentuknya insulin oleh sel-β pankreas atau
BAB I. Pendahuluan. diamputasi, penyakit jantung dan stroke (Kemenkes, 2013). sampai 21,3 juta orang di tahun 2030 (Diabetes Care, 2004).
BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Penyakit Tidak Menular (PTM) sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional, nasional dan lokal. Salah satu PTM yang menyita banyak perhatian
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik kronik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit Non- Communicable Disease (penyakit tidak menular) yang paling sering terjadi di dunia. DM merupakan penyakit
BAB I PENDAHULUAN. lansia, menyebabkan gangguan pendengaran. Jenis ketulian yang terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perubahan patologik pada organ auditorik akibat proses degenerasi pada lansia, menyebabkan gangguan pendengaran. Jenis ketulian yang terjadi pada kelompok
BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik. dari metabolisme karbohidrat dimana glukosa overproduksi dan kurang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik dari metabolisme karbohidrat dimana glukosa overproduksi dan kurang dimanfaatkan sehingga menyebabkan hiperglikemia,
PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN HIPERTENSI ANTARA PRIA DAN WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS BERUSIA 45 TAHUN SKRIPSI
PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN HIPERTENSI ANTARA PRIA DAN WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS BERUSIA 45 TAHUN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan insulin yang telah diproduksi secara efektif. Insulin merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronik yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolik yang prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Diabetes melitus didefinisikan sebagai
II. TINJAUAN PUSTAKA. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti tertutupi kabut, lensa mata
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katarak Asal kata katarak dari bahasa Yunani cataracta yang berarti air terjun. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti tertutupi kabut, lensa mata yang biasanya bening
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya
BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran/polusi lingkungan. Perubahan tersebut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengaruh globalisasi disegala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat serta situasi lingkungannya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat sekresi insulin yang tidak adekuat, kerja
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI.... iv ABSTRAK v ABSTRACT. vi RINGKASAN.. vii SUMMARY. ix
BAB I PENDAHULUAN. Pola penyakit yang diderita masyarakat telah bergeser ke arah. penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pola penyakit yang diderita masyarakat telah bergeser ke arah penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, serta kanker dan Diabetes Melitus
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis. yang telah menjadi masalah global dengan jumlah
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang telah menjadi masalah global dengan jumlah penderita lebih dari 240 juta jiwa di dunia. Indonesia merupakan negara
BAB 1 PENDAHULUAN. orang yang memiliki kebiasaan merokok. Walaupun masalah. tahun ke tahun. World Health Organization (WHO) memprediksi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita jumpai banyak orang yang memiliki kebiasaan merokok. Walaupun masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh merokok
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diabetes melitus ditandai oleh adanya hiperglikemia kronik
Definisi Diabetes Melitus
Definisi Diabetes Melitus Diabetes Melitus berasal dari kata diabetes yang berarti kencing dan melitus dalam bahasa latin yang berarti madu atau mel (Hartono, 1995). Penyakit ini merupakan penyakit menahun
BAB I PENDAHULUAN. tipe 2. Diabetes tipe 1, dulu disebut insulin dependent atau juvenile/childhoodonset
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) atau disebut diabetes saja merupakan penyakit gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat
BAB 1 PENDAHULUAN. American Heart Association, 2014; Stroke forum, 2015). Secara global, 15 juta
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di dunia setelah penyakit jantung koroner dan kanker baik di negara maju maupun negara berkembang. Satu dari 10 kematian disebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN. yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004). Diabetes Mellitus merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di negara-negara industri, bising merupakan masalah utama kesehatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di negara-negara industri, bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Diperkirakan sekitar sembilan juta pekerja di Amerika mengalami penurunan pendengaran
BAB 1 PENDAHULUAN. akibat PTM mengalami peningkatan dari 42% menjadi 60%. 1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tidak Menular (PTM) sudah menjadi penyebab kematian yang lebih umum bila dibandingkan dengan penyakit akibat infeksi di negara sedang berkembang. Oleh karena
BAB I PENDAHULUAN. insulin yang tidak efektif. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidak mampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan insulin yang tidak efektif.
BAB I PENDAHULUAN. insulin, atau kedua-duanya. Diagnosis DM umumnya dikaitkan dengan adanya gejala
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin,
ABSTRAK. Hubungan Penurunan Pendengaran Sensorineural dengan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dan Tidak Terkontrol di RSUP Sanglah
ABSTRAK Hubungan Penurunan Pendengaran Sensorineural dengan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dan Tidak Terkontrol di RSUP Sanglah Dini Nur Muharromah Yuniati Diabetes melitus (DM) merupakan suatu
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini gaya hidup modern dengan menu makanan dan cara hidup yang kurang sehat semakin menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga meyebabkan terjadinya
BAB 6 PEMBAHASAN. disebabkan proses degenerasi akibat bertambahnya usia. Faktor-faktor risiko
BAB 6 PEMBAHASAN Presbikusis merupakan penyakit kurang pendengaran sensorineral yang disebabkan proses degenerasi akibat bertambahnya usia. Faktor-faktor risiko selain usia diduga dapat mempengaruhi terjadinya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Telah diketahui bahwa gangguan pendengaran (hearing impairment) atau ketulian (deafness) mempunyai dampak yang merugikan bagi penderita, keluarga, masyarakat maupun
Diabetes Mellitus Type II
Diabetes Mellitus Type II Etiologi Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh menjadi resisten terhadap insulin atau ketika pankreas berhenti memproduksi insulin yang cukup. Persis mengapa hal ini terjadi tidak
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia karena gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.
BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan arteri koroner. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah menjadi faktor
BAB I PENDAHULUAN. menggunakan insulin yang diproduksi dengan efektif ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes adalah suatu penyakit kronis yang terjadi akibat kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau keadaan dimana tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi
BAB I PENDAHULUAN UKDW. masyarakat. Menurut hasil laporan dari International Diabetes Federation (IDF),
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Diabetes Mellitus (DM) merupakan permasalahan yang besar di masyarakat. Menurut hasil laporan dari International Diabetes Federation (IDF), Negara Asia
BAB 2 DATA DAN ANALISA
BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Data mengenai jumlah serta tingkat penderita diabetes di Indonesia didapat dari beberapa website berita dan pengetahuan di media internet : - www.nationalgeographic.co.id
glukosa darah melebihi 500 mg/dl, disertai : (b) Banyak kencing waktu 2 4 minggu)
14 (polidipsia), banyak kencing (poliuria). Atau di singkat 3P dalam fase ini biasanya penderita menujukan berat badan yang terus naik, bertambah gemuk karena pada fase ini jumlah insulin masih mencukupi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan ada tiga bentuk diabetes mellitus, yaitu diabetes mellitus tipe 1 atau disebut IDDM (Insulin Dependent
BAB 1 PENDAHULUAN Hiperglikemia adalah istilah teknis untuk glukosa darah yang tinggi. Glukosa darah tinggi terjadi ketika tubuh memiliki insulin yang terlalu sedikit atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan
BAB 1 : PENDAHULUAN. pergeseran pola penyakit. Faktor infeksi yang lebih dominan sebagai penyebab
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi mengakibatkan terjadinya pergeseran pola penyakit. Faktor infeksi yang lebih dominan sebagai penyebab timbulnya penyakit
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis gangguan metabolisme yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi nilai normal (hiperglikemia), sebagai akibat dari
BAB I PENDAHULUAN. yang serius dan merupakan penyebab yang penting dari angka kesakitan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus dan komplikasinya telah menjadi masalah masyarakat yang serius dan merupakan penyebab yang penting dari angka kesakitan, kematian, dan kecacatan di
Diabetes Mellitus (DM) Oleh Dr. Sri Utami, B.R. MS
Diabetes Mellitus (DM) Oleh Dr. Sri Utami, B.R. MS Penyakit DM Kelainan kronik mengenai metabolisme karbohidrat, lemak dan protein Gambaran khas DM: Gangguan atau kekurangan respon sekresi insulin, merupakan
Di seluruh dunia dan Amerika, dihasilkan per kapita peningkatan konsumsi fruktosa bersamaan dengan kenaikan dramatis dalam prevalensi obesitas.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini studi tentang hubungan antara makanan dan kesehatan memerlukan metode yang mampu memperkirakan asupan makanan biasa. Pada penelitian terdahulu, berbagai upaya
BAB I PENDAHULUAN. insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
I. PENDAHULUAN. masalah utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut American. Diabetes Association (ADA) 2010, diabetes melitus merupakan suatu
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut American Diabetes Association (ADA) 2010,
BAB 1 PENDAHULUAN. ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia, yang ditandai
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia, yang ditandai dengan berbagai
BAB I PENDAHULUAN. hiperglikemi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan metabolisme
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan kerusakan metabolisme dengan ciri hiperglikemi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan metabolisme karbohidrat, lemak serta protein yang
BAB I PENDAHULUAN UKDW. insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. DM merupakan penyakit degeneratif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik kronik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
BAB I PENDAHULUAN. terutama di masyarakat kota-kota besar di Indonesia menjadi penyebab
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan gaya hidup dan sosial ekonomi akibat urbanisasi dan modernisasi terutama di masyarakat kota-kota besar di Indonesia menjadi penyebab meningkatnya prevalensi
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang banyak dialami oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang banyak dialami oleh orang di seluruh dunia. DM didefinisikan sebagai kumpulan penyakit metabolik kronis
BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM). Diabetic foot adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan
BAB I PENDAHULUAN. syaraf) (Smeltzer & Bare, 2002). Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Hiperglikemia jangka panjang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Teori 2.1.1. Definisi Diabetes Melitus DM merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (kadar glukosa yang berlebih dalam darah) seperti pada yang
BAB 1 PENDAHULUAN. adalah penyebab utama dari penurunan pendengaran. Sekitar 15 persen dari orang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendengaran berperan penting dalam komunikasi, perkembangan bahasa dan belajar. Penurunan pendengaran dalam derajat yang ringanpun dapat mempunyai efek negatif
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
BAB I PENDAHULUAN. DM yaitu DM tipe-1 dan DM tipe-2. Diabetes tipe-1 terutama disebabkan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ulkus diabetikum (UD) adalah luka terbuka pada permukaan kulit yang disebabkan oleh adanya komplikasi kronik berupa mikroangiopati dan makroangiopati akibat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah kumpulan gejala penyakit degeneratif kronis yang disebabkan karena kelainan metabolisme karbohidrat akibat kekurangan hormon Insulin baik
BAB I PENDAHULUAN. untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, dan pankreas dapat menghentikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
BAB I PENDAHULUAN. bahwa, penderita diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2013 yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2013) menunjukkan bahwa, penderita diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2013 yang terdiagnosis dokter mencapai 1,5%
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin. Kadar glukosa yang tinggi dalam tubuh tidak seluruhnya dapat
BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adanya mikroorganisme yang normal pada konjungtiva manusia telah diketahui keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan populasi mikroorganisme
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mesin memiliki kebisingan dengan suara berkekuatan tinggi. Dampak negatif yang ditimbulkannya adalah kebisingan yang berbahaya bagi karyawan. Kondisi ini dapat mengakibatkan
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah. Diabetes melitus tipe 2 adalah sindrom metabolik. yang memiliki ciri hiperglikemia, ditambah dengan 3
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Diabetes melitus tipe 2 adalah sindrom metabolik yang memiliki ciri hiperglikemia, ditambah dengan 3 patofisiologi dasar : sekresi insulin yang terganggu, resistensi
BAB 1 PENDAHULUAN. kelainan pada sekresi insulin, kerja insulin atau bahkan keduanya. Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang memiliki karakteristik berupa hiperglikemia yang terjadi karena adanya suatu kelainan
PENGARUH SENAM KAKI DIABETIK TERHADAP NYERI KAKI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DELANGGU
1 PENGARUH SENAM KAKI DIABETIK TERHADAP NYERI KAKI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DELANGGU SKRIPSI Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Meraih Derajat Sarjana Keperawatan Disusun
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang telah merambah ke seluruh lapisan dunia. Prevalensi penyakit ini meningkat setiap tahunnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan
BAB I PENDAHULUAN. pendengaran terganggu, aktivitas manusia akan terhambat pula. Accident
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Produktivitas manusia sangat ditunjang oleh fungsi pendengaran. Apabila pendengaran terganggu, aktivitas manusia akan terhambat pula. Accident Compensation
BAB 1 PENDAHULUAN. organ, khususnya mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah (America
BAB 1 PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Penyakit Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah yang terus menerus dan bervariasi, penyakit metabolik yang dicirikan
BAB I PENDAHULUAN. hidup yaitu penyakit Diabetes Melitus. Diabetes Melitus (DM) merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi dunia sekarang ini banyak ditemukan penyakit yang disebabkan karena pola hidup dibandingkan dengan penyakit infeksi.
HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN TERJADINYA PENINGKATAN AMBANG PENDENGARAN
HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN TERJADINYA PENINGKATAN AMBANG PENDENGARAN Diva Natasya Krismanita 1, Zulfikar Naftali 2, Rakhma Yanti Hellmi 3 1 Mahasiswa Program Pendidikan S-1 Kedokteran
I. PENDAHULUAN. Senam Aerobik merupakan aktifitas fisik yang mudah dilakukan dengan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Senam Aerobik merupakan aktifitas fisik yang mudah dilakukan dengan biaya yang cukup terjangkau. Senam Aerobik itu sendiri menghabiskan waktu kurang lebih satu jam yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hemoglobin pada manusia terdiri dari HbA 1, HbA 2, HbF( fetus)
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. HbA 1c (hemoglobin terglikasi /glikohemoglobin/hemoglobin terglikosilasi/ Hb glikat/ghb) 2.1.1Biokimiawi dan metabolisme Hemoglobin pada manusia terdiri dari HbA 1, HbA 2,
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Visi Indonesia sehat yang diharapkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia memiliki visi menciptakan masyarakat yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah sindroma yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. DM, secara klinik dikarakterisasi oleh gejala intoleransi
BAB V PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan pada 60 pasien geriatri di Poliklinik Geriatri dan
60 BAB V PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada 60 pasien geriatri di Poliklinik Geriatri dan Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher (THT-KL) RSUD dr. Moewardi Surakarta untuk dilakukan
2003). Hiperglikemia juga menyebabkan leukosit penderita diabetes mellitus tidak normal sehingga fungsi khemotaksis di lokasi radang terganggu.
BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh adanya
BAB 1 PENDAHULUAN. terjadi di seluruh dunia oleh World Health Organization (WHO) dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) telah dikategorikan sebagai penyakit yang terjadi di seluruh dunia oleh World Health Organization (WHO) dengan jumlah pasien yang terus meningkat
BAB I PENDAHULUAN. ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal serta gangguan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Millitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
I. PENDAHULUAN. usia harapan hidup. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, berarti semakin
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu indikator utama tingkat kesehatan masyarakat adalah meningkatnya usia harapan hidup. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, berarti semakin banyak penduduk
BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan penurunan relatif insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009). Sedangkan menurut Chang, Daly,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kelainan sindrom metabolik dengan karakteristik dimana seseorang mengalami hiperglikemik kronis akibat kelainan sekresi insulin,
BAB 1 PENDAHULUAN. atau oleh tidak efektifnya insulin yang dihasilkan. Hal ini menyebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan karena keturunan dan/atau disebabkan karena kekurangan produksi insulin oleh pankreas, atau oleh tidak efektifnya
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya Diabetes type 2: apa artinya? Diabetes tipe 2 menyerang orang dari segala usia, dan dengan gejala-gejala awal tidak diketahui. Bahkan, sekitar satu dari tiga orang dengan
BAB I. PENDAHULUAN. ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini, stem sel telah menjadi topik utama pembicaraan banyak ilmuwan, ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang menyusunnya
BAB I PENDAHULUAN. transparansinya. Katarak merupakan penyebab terbanyak gangguan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Katarak adalah keadaan dimana lensa menjadi keruh atau kehilangan transparansinya. Katarak merupakan penyebab terbanyak gangguan penglihatan, yang bisa menyebabkan
