BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 4 BAB II LANDASAN TEORI Untuk mengendalikan komponen yang terdapat dalam alat, maka akan dipakai Mikrokontroler AT89S51 sebagai inti pengendali dengan prinsip pengendali logika dan akan dilengkapi dengan beberapa komponen penunjang. Komponen penunjang tersebut diantaranya adalah Analog-Digital-Converter (ADC), TGS2620 sebagai alat pendeteksi alkohol, LCD Matriks dan catu daya. Adapun penjelasan dari masing masing komponen penunjang tersebut akan dipaparkan secara singkat sebagai berikut Alkohol Alkohol adalah zat penekan susunan saraf pusat meskipun dalam jumlah kecil mungkin mempunyai efek stimulasi ringan. Bahan psikoaktif yang terdapat dalam alkohol adalah etil alkohol yang di peroleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi umbian. Nama yang populer untuk alkohol adalah minuman keras (miras), kamput, tomi (topi miring), cap tikus, balo, dll. Minuman beralkohol memiliki kadar yang berbeda-beda, misalnya bir dan soda alkohol (1-7% alkohol), anggur (10-15% alkohol), dan minuman keras atau biasa disebut dengan spirit (35-55% alkohol). Konsentrasi alkohol dalam darah dicapai dalam menit setelah diminum. Di Indonesia penjualan minuman beralkohol dibatasi dan yang boleh membeli adalah mereka yang telah berumur 21 tahun. Beberapa etnik di Indoneisa menggunakan minuman beralkohol pada acara tertentu dalam jumlah sedikit. Mereka juga memproduksi minuman beralkohol dengan nama yang bermacam ragam misalnya cap tikus, ciu, dll. Saat ini alkohol dikonsumsi sangat luas di hampir semua kalangan, kecuali di negara-negara Muslim tentunya. Di Indonesia sendiri, alkohol sudah banyak dikonsumsi walaupun sudah diatur mengenai larangan minuman beralkohol dan larangan penjualan minuman beralkohol.

2 Keselamatan Berkendara Dalam hal fitur keselamatan kendaraan, istilah "aktif" dan "pasif" memiliki arti yang bertentangan dari yang sebenarnya. Istilah "aktif" biasa merujuk pada bagaimana cara mencegah timbulnya kecelakaan, dan istilah "pasif" merujuk pada kemampuan struktur kendaraan dalam melindungi penumpang di dalamnya ketika terjadi kecelakaan. Namun, kedua istilah tersebut juga menggambarkan keterlibatan fungsi perangkat atau sistem keselamatan pada kendaraan berpenumpang. Dengan pengertian tersebut, perangkat dan sistem keselamatan aktif adalah fitur-fitur yang harus diaktifkan terlebih dahulu oleh penumpang agar dapat berfungsi dan bekerja, seperti memasang sabuk pengaman. Sedangkan perangkat dan sistem keselamatan pasif, seperti air bag yang merupakan fitur keselamatan yang bekerja tanpa memerlukan adanya masukan atau tindakan dari penumpang. Keselamatan berkendara juga terkandung dari faktor manusia itu sendiri. Faktor yang mempengaruhi adalah bila pengemudi tersebut mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk. Lebih dari 20% pengemudi, pengendara dan pejalan kaki yang tewas mengandung 0,5% alkohol atau lebih dalam darah mereka. Alkohol mengurangi kemampuan anda mengemudi dengan cara menurunnya kemampuan anda dalam mengamati apa yang sedang terjadi, lambat dalam bereaksi pada situasi yang tak diduga, dan berkurangnya kemapuan dalam melakukan hal yang mudah sekalipun. Alkohol juga mempengaruhi penilaian anda dalam mengambil keputusan dan kemampuan anda untuk melakukan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan. Alkohol juga menimbulkan kepercayaan diri yang semu, itulah sebabnya anda akan kurang menyadari bahwa penilaian anda akan suatu hal menjadi lemah dan membuat anda mengambil keputusan dan tindakan yang tidak tepat dan membahayakan anda. Alkohol juga dapat membuat anda tenang, jadi jika anda mengemudi anda akan seperti mengantuk, hal yang cukup umum sebagai penyebab kecelakaan. Kerisauan tentang mabuk karena alkohol sewaktu mengendarai mobil ini sangat menonjol di negara barat. Amerika Serikat misalnya, sampai mengeluarkan undang-undang yang berkaitan dengan alkohol dan mengendarai kendaraan yang

3 6 dikenal dengan Drinking and Driving Laws. Dalam Undang-Undang No. 14, 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, secara tersurat tidak ada peraturan yang berkaitan dengan alkohol, namun dengan pasal 60 akan bisa menjerat pengemudi yang mabuk, karena pasal tersebut menyatakan: Barang siapa mengemudikan kendaraan bermotor di jalan dalam keadaan tidak mampu mengemudikan kendaraan dengan wajar sebagai mana dimaksud dalam psaal 23 ayat 1 huruf a, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3(tiga) bulan atau denda setinggitingginya Rp ,- (tiga juta rupiah) Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler AT89S51 adalah salah satu jenis mikrokontroler CMOS 8 bit keluaran ATMEL yang memiliki kemampuan yang tinggi dengan disipasi daya yang rendah. Dengan 4 Kbyte Flash PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory), yang merupakan memori berteknologi non volatile memory dengan daya tahan 1000 kali write/erase. Memori ini digunakan untuk menyimpan instruksi (perintah) berstandar MCS-51 code, sehingga memungkinkan mikrokontroler ini bekerja dalam modemode keping tunggal (Single Chip Operations) yang tidak memerlukan external memory untuk menyimpan source code tersebut Deskripsi Hardware AT89S51 memiliki spesifikasi umum sebagai berikut: Sebuah CPU (Central Processing Unit) 8 bit, dengan register A (akumulator) dan register B. RAM internal 128 byte (on chip) Empat register bank, masing-masing terdiri dari delapan register. Pengalamatan satu bit (Bit Addressable) sebanyak 16 byte. General purpose data register sebanyak 80 byte. Empat buah programmable port I/O atau terminal input-output, masing-masing terminal 8 bit : P0-P3.

4 7 Sebuah port serial dengan full duplex UART: TxD dan RxD. Dua buah timer/counter 16 bit: T0 dan T1. Program Counter (PC) dan Data Pointer (DPTR) 16 bit. Program Status Word (PSW) 8 bit. Osilator internal dan rangkaian pewaktu. Lima buah jalur interupsi (2 buah interupsi eksternal dan 3 buah interupsi internal) dan dua tingkat prioritas. Kecepatan maksimum pelaksanaan instruksi per siklus adalah 0,5 µs pada frekwensi clock 24 MHz. Internal Flash PEROM yang besarnya 4 Kbyte untuk memori program. Kemampuan melaksanakan operasi Aritmatika. Adapun diagram blok rangkaian integral mikrokontroler AT89S51 diperlihatkan pada Gambar 2.1 berikut ini. P0.0 - P0.7 P0.2 - P0.7 PORT 0 DRIVERS PORT 2 DRIVERS RAM ADRR REGISTER RAM PORT O LATCH PORT 2 LATCH FLASH B REGISTER ACC STACK POINTER PROGRAM ADDRESS REGISTER BUFFER TMP 2 TM 1 PC INCREMEN TER ALU INTERRUPT SERIAL PORT AND TIMER BLOCKS PROGRAM COUNTER P SEN ALE/PROGRAM EA/VPP RST TIMING AND CONTROL INSTRUCTION REGISTER PSW DPTR PORT 1 LATCH PORT 3 LATCH OSC PORT 1 DRIVERS PORT 3 DRIVERS P1.0 - P1.7 P3.0 - P3.7 Gambar 2.1 Diagram Blok Rangkaian Mikrokontroler AT89S51

5 Konfigurasi Pin P VCC P PO.0 (AD.0) P PO.1 (AD.1) P PO.2 (AD.2) P PO.3 (AD.3) P PO.4 (AD.4) P PO.5 (AD.5) P PO.6 (AD.6) RST 9 32 PO.7 (AD.7) (RxD) P EA/VPP (TxD) P ALE/PROG (INT0) P PSEN (INT1) P P2.7 (A15) (T0) P P2.6 (A14) (T1) P P2.5 (A13) (WR) P P2.4 (A12) (RD) P P2.3 (A11) XTAL P2.2 (A10) XTAL P2.1 (A9) GND P2.0 (A8) Gambar 2.2 Konfigurasi Pin Fungsi masing-masing pin adalah sebagai berikut : Pin 1 8 Pin ini adalah Port 1 yang merupakan I/O 8 bit dua arah yang mempunyai rangkaian resistor pull-up internal. Port ini juga digunakan sebagai saluran alamat pada saat pemrograman dan verifikasi. Pin 9 Merupakan reset (aktif high), pulsa transisi dari rendah ke tinggi untuk mereset mikrokontroler ini. Pin Pin ini adalah Port 3 yang merupakan I/O 8 bit dua arah dengan resistor pull-up internal yang memiliki fungsi pengganti seperti yang diperlihatkan pada Tabel 2.1.

6 9 Tabel 2.1 Fungsi Pengganti Port 3 Bit Nama Alamat Fungsi Pengganti P3.0 RxD B0H Untuk menerima data port serial P3.1 TxD B1H untuk mengirim data port serial P3.2 INT0 B2H interupsi eksternal 0 P3.3 INT1 B3H interupsi eksternal 1 P3.4 T0 B4H timer eksternal 0 P3.5 T1 B5H timer eksternal 1 P3.6 WR B6H sinyal write memori data eksternal P3.7 RD B7H sinyal read memori data eksternal Pin 18 Pin XTAL2, merupakan keluaran inverting penguat osilator. Sebuah osilator kristal atau sumber osilator luar dapat digunakan. Pin 19 Pin XTAL1, merupakan masukan inverting penguat osilator. Pin ini dipakai bila menggunakan osilator kristal. Pin 20 Merupakan ground, sumber tegangan yang diberi simbol GND. Pin Pin ini adalah Port 2 yang merupakan I/O 8 bit dua arah yang mempunyai rangkaian resistor pull-up internal. Pada saat eksekusi program/data eksternal, port 2 membentuk alamat tinggi (high order address). Pin 29 Program Store Enable (PSEN) merupakan sinyal pembacaan program memori eksternal dan bersifat low. Pada saat pembacaan program memori eksternal, PSEN diaktifkan dua kali setiap satu kali siklus mesin. Bila dilakukan pembacaan program memori internal, PSEN dapat di-ground-kan. Pin 30

7 10 Address Latch Enable (ALE)/PROG merupakan penahan alamat memori eksternal (pada port 1) selama mengakses ke memori eksternal. Pin ini juga sebagai pulsa/sinyal input pemrograman (PROG) selama proses pemograman. Pin 31 External Access Enable (EA)/V pp. Pin ini dihubungkan dengan V SS untuk mengakses kode program memori eksternal yang dilokasikan pada alamat 0000h-FFFFh. Pin ini juga berfungsi sebagai tegangan pemrograman (V pp = +12V) selama proses pemograman. Bila akan mengakses program memori internal, EA/V pp harus dihubungkan dengan V cc. Pin Adalah Port 0 yang merupakan I/O 8 bit dua arah. Port ini juga digunakan untuk membangkitkan alamat rendah/data yang dimultiplex pada saat melaksanakan eksekusi program/data memory eksternal. Pada keadaan ini, port 0 tidak mempunyai rangkaian pull-up internal. Port 0 juga digunakan untuk masukan data pada saat proses pengisian Flash PEROM, dan sebagai keluaran kode data pada saat proses pencocokan. Diperlukan resistor pull-up eksternal yang nilainya 10 K untuk verifikasi. Pin 40 Merupakan positif sumber tegangan yang diberi simbol V cc Register Mikrokontroler AT89S51 mempunyai beberapa register untuk kegunaan umum dan kegunaan khusus. a. Accumulator Acc adalah register dengan kemampuan 8 bit yang berfungsi untuk menampung operan sumber (source operand) dan menerima hasil dari instruksi aritmatika. Accumulator bisa menjadi sumber dan

8 11 tujuan dari operasi logika, juga untuk sejumlah khusus pemindahan data. Alamat accumulator pada internal RAM adalah 0E0h. b. Base Register (B) Register B (Base register) digunakan dalam operasi perkalian dan pembagian. Untuk instruksi-instruksi lainnya dapat juga diperlakukan sebagai register biasa. Alamat register B pada internal RAM adalah 0F0h. c. Program Status Word (PSW) Register PSW berisi informasi mengenai status program dan memuat beberapa status flag mengenai keadaan CPU sesudah instruksi dijalankan. Alamat register PSW pada internal RAM adalah 0D0h. Format dari register PSW adalah sebagai berikut: Bit CY AC FO RS1 RS0 OV - P Format Register PSW Keterangan: Simbol CY Fungsi (Carry Flag) di set atau di reset oleh perangkat keras atau perangkat lunak dan digunakan dalam operasi aritmatik atau logika tertentu, seperti operasi jump, rotate, dan instruksi boolean. AC (Auxiliary Carry Flag) di set atau di reset oleh perangkat keras bila dilakukan instruksi addition atau subtraction untuk menandai carry atau peminjaman lebih dari tiga bit. (Flag 0) di set, di reset, atau oleh perangkat lunak sebagai status flag yang F0 diatur oleh pemakai. Untuk memilih satu dari empat register bank.

9 12 RS1/RS OV (Over Flow Flag) di set atau di reset oleh perangkat keras selama instruksi aritmatika untuk menandai kondisi overflow. (Parity Flag) berfungsi sebagai penunjuk ganjil atau genap dari register P A. d. Stack Pointer Merupakan sebuah register dengan lebar 8 bit dan berfungsi untuk menyimpan alamat byte berikutnya dari program yang sedang di eksekusi bila terjadi suatu instruksi atau subrutin. Bila instruksi atau subrutin telah selesai dilaksanakan, maka program yang tertunda dapat dilakukan kembali sesuai dengan alamat yang tersimpan pada register stack pointer. Operasi stack dilakukan dengan instruksi PUSH dan POP, dan mekanisme penyimpan pada operasi stack menggunakan metode Last In First Out (LIFO). Sebelum operasi stack dilaksanakan, nilai dari SP bertambah satu. Pada saat reset atau power on SP di set pada 07h, sehingga byte pertama yang akan di simpan ke dalam stack setelah reset atau power on akan berada pada alamat 08h. Alamat SP pada internal RAM adalah 81h. Gambar 2.3 memperlihatkan secara umum mengenai operasi stack. SP=0A Store Data Address 0A Get Data SP=0A SP=09 Store Data Address 09 Get Data SP=09 SP=08 Store Data Address 08 Get Data SP=08 SP=07 storing Data on the Stack (Increment then store) Address 07 Internal RAM (get then decrement) SP=07 Getting Data From the stack Gambar 2.3 Mekanisme Operand Stack

10 13 e. Data Pointer (DPTR) Merupakan register dengan kegunaan khusus yang terdiri dari sepanjang register 8 bit yaitu byte bawah (DPL) dengan alamat 82h pada internal RAM, serta byte atas (DPH) dengan alamat 83h pada internal RAM. DPTR berfungsi untuk memegang alamat 16 bit kode program internal dan eksternal serta menyimpan alamat 16 bit eksternal data program. f. Program Counter (PC) Adalah sebuah register dengan kemampuan 16 bit, dan berfungsi untuk memegang alamat berikut dari instruksi program yang akan di eksekusi. PC akan bertambah satu secara otomatis setiap kali satu instruksi selesai dilaksanakan. PC merupakan register yang tidak mempunyai alamat pada internal RAM. Bila terjadi interupsi program disimpan ke stack, kemudian isi PC di ganti dengan alamat interupsi atau subrutin. Setelah interupsi atau subrutin selesai dilaksanakan, PC di isi kembali dengan nilai sebenarnya yang tersimpan dalam stack, sehingga instruksi program akan berlanjut persis pada bagian yang tertunda sebelumnya. g. Register Umum Mikrokontroler AT89S51 mempunyai empat buah bank register umum, masing-masing bank terdiri dari delapan register (R0-R7) dengan panjang 8 bit. Pemilihan bank dilakukan dengan memanipulasi bit RS1 dan RS0 pada register PSW. Register umum terletak pada alamat 00h sampai 1Fh pada internal RAM. h. Power Control Register (PCON) Register PCON berfungsi sebagai pengontrol mode kerja dari CPU. Register PCON ini tidak dapat dialamati per bit.

11 14 i. Register Timer Mode (TMOD) Register yang berfungsi sebagai pengontrol pemilih mode operasi untuk timer/counter. Sedangkan untuk mengontrol kerja timer/counter adalah register timer control (TCON) j. Serial Control Register (SCON) Register yang berfungsi untuk mengontrol kerja port serial. Port serial pada mikrokontroler AT89S51 bersifat full duplex, yang berarti dapat mengirim dan menerima data secara bersamaan. Register penerima dan pengirim pada port serial diakses pada SBUF (serial buffer) Unit Aritmatik Logika ALU (Arithmetic Logic Unit) berfungsi melaksankan operasi-operasi aritmatik maupun logika, seperti penjumlahan, pengurangan, operasi OR, operasi NAND dan sebagianya. Hasil operasi tersebut selanjutnya disimpan kembali ke dalam accumulator. Operasi yang terjadi pada ALU berhubungan erat dengan accumulator dan bit status pada register F/PSW Sumber Pencacah Pewaktuan Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroller AT89S51 dilengkapi dengan sumber detak / osilator internal (on chip oscilator) yang dapat digunakan sebagai sumber clock bagi AT89S51. Untuk menggunakan osilator internal diperlukan tambahan kristal atau resonator keramik antara pena XTAL1 dan XTAL2 dan sebuah kapasitor ke ground. Untuk kristalnya dapat digunakan frekuensi dari 3 sampai 24 MHz. Sedangkan untuk kapasitornya dapat bernilai 30 pf+10 pf. Bila menggunakan sumber clock eksternal maka XTAL 2 NC (No Connection) dan sumber dihubungkan dengan XTAL Interupsi Program yang sedang dijalankan oleh mikrokontroller AT89S51 dapat dihentikan untuk sementara dengan meminta interupsi. Apabila AT89S51

12 15 mendapat permintaan interupsi maka program counter (PC) akan diisi alamat dari vector interupsi, kemudian AT89S51 melaksanakan rutin pelayanan interupsi mulai dari alamat tersebut setelah selesai maka AT89S51 akan kembali ke pelaksanaan program utama yang ditinggalkan. Mikrokontroller AT89S51 menyediakan 6 sumber interupsi yaitu 2 buah interupsi eksternal (INT 0 dan INT 1), 3 buah interupsi timer (Timer 0, Timer 1, dan Timer 2), dan sebuah interupsi port serial. Selain itu ada juga sebuah non maskable interrupt yaitu reset yang tidak dapat dihalangi oleh perangkat lunak. Setiap sumber interupsi dapat diprogram secara individual (sendiri-sendiri) baik pengaktifannya maupun prioritasnya. Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan interupsi dikontrol oleh register IE (interrupt enable), sedangkan untuk tingkat prioritasnya diatur oleh register IP (interrupt priority) Kode Instruksi Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroller AT89S51 mempunyai 256 kode instruksi. Seluruh instruksi dapat dikelompokkan dalam 4 bagian yang meliputi instruksi 1 byte sampai 4 byte. Semua instruksi tersebut dapat dibagi menjadi lima kelompok menurut fungsinya, yaitu: Instruksi Pemindahan Data Instruksi Aritmatika Instruksi Logika dan Manipulasi Bit Instruksi Percabangan Instruksi Stack, I/O, dan Kontrol Instruksi Pemindahan Data Bagian instruksi ini hanya menyalin data suatu lokasi memori (sumber) ke lokasi tertentu (tujuan), tanpa terjadi perubahan isi data dari sumber. Selain lokasi memori, data juga dapat didahkan dari suatu register ke register lain, pemindahan (penyalinan) antar muka-register dan antar muka-memori.

13 Instruksi Aritmatika Instruksi ini melaksanakan operasi aritmatika yang meliputi penjumlahan, pengurangan, penambahan satu (increment), pengurangan satu (decrement), perkalian dan pembagian Instruksi Logika dan Manipulasi Bit Instruksi ini berhubungan dengan operasi-operasi logika pada accumulator dan manipulasi bit. Macam dari instruksi ini adalah AND, OR, XOR, perbandingan, pergeseran, dan komplemen data Instruksi Percabangan Instruksi ini mengubah urutan normal pelaksanaan suatu program. Dengan instruksi ini program yang sedang dilaksanakan akan mencabang ke suatu alamat terrtentu. Instruksi ini dibedakan atas percabangan bersyarat (misalnya CJNE) dan percabangan tanpa syarat (misalnya ACALL) Instruksi Stack, I/O dan Kontrol Instruksi ini mengatur penggunaan stack, membaca/menulis port I/O, serta pengontrolan-pengontrolan. 2.4 ADC (Analog-Digital-Converter) 0804 ADC atau Analog to Digital Converter adalah pengubah data analog dari berbagai instrumen untuk diubah ke digital agar memudahkan pengolahan elektronis selanjutnya, aplikasi berikutnya memperlihatkan beberapa hal menarik dengan menggunakan A/D. artinya bahwa satu ADC yang utama dapat digunakan tanpa batasan. Tiap-tiap aplikasi sirkut ini memiliki bagian-bagian yang digunakan untuk sebuah pemerosesan yang diinginkan. ADC 0804 adalah CMOS 8 bit yang berturut-turut mendekati perubahan A/D yang menggunakan sebuah tangga hitung yang berbeda, perubahanperubahan ini dimasudkan untuk membantu pengoperasianya. Ketelitian bus

14 17 dengan TRI-STATE yang secara langsung menggerakan bus data. Tampilan A/D ini seperti memori or I/O bagian untuk mikrokontroler. Masuknya Analog listrik yang berbeda menambah cara pembuangan yang biasa dan dapat memperbaiki keseimbangan dengan nilai Analog titik terendah listrik. Sebagai tambahan masuknya perintah input tegangan dapat diatur untuk beberapa analog tegangan yang lebih kecil sehingga membentuk ukuran 8 bit yang terpisah. Vin Vref x256 = Bit / Volt Gambar 2.4 ADC Sensor Alkohol TGS2620 Gambar 2.5 Sensor Alkohol TGS2820 Sensor alkohol adalah salah satu jenis sensor yang digunakan dalam rangkaian ini. Sensor alkohol yang digunakan adalah TGS Sensor alkohol

15 18 dengan tipe TGS 2620 berfungsi sebagai pendeteksi alkohol output yang dikeluarkan dari sensor berupa tegangan analog. Rangkaian sensor hanya berupa TGS 2620 pengubah besaran kadar alkohol ke besaran listrik 2.6 LCD (Liquid Crystal Displays) Matriks LCD (Liquid Crystal Display) matriks adalah salah satu jenis tampilan yang dapat digunakan untuk menampilkan karakter - karakter (angka, huruf dan simbol). Pada alat yang ditampilkan hanya angka dan huruf. Keistimewaan dari LCD matriks ini dibanding LCD lain dan seven segment adalah dapat digunakan untuk menampilkan karakter - karakter simbol seperti α, β, Σ, ±, {, } dan lain sebagainya. Hal ini karena pada LCD matriks digunakan dot matriks (titik - titik yang membentuk matriks) untuk menampilkan suatu karakter sehingga LCD matriks dapat ditampilkan lebih banyak bentuk karakter dibanding modul tampilan lainnya. Untuk menghubungkan dengan Mikrokontroler telah dipersiapkan kaki - kaki pada modul LCD matriks yang secara kompatibel dapat langsung dihubungkan dengan port - port mikrokontroler. Konfigurasi kaki - kaki pada LCD matriks ini diperlihatkan pada Tabel 2.2. Tabel 2.2 Konfigurasi Kaki LCD Matriks Input/Output Fungsi V SS - Ground dari modul kerangkaian V DD Input Catu daya luar +5 volt ke modul tampilan V O R S R / W E Input Input Input Input Tegangan kemudi LCD Tegangan pengatur kontras dan sudut penglihatan modul LCD Sinyal pemilih mode : 0 = Operasi kirim instruksi ke LCD 1 = Operasi kirim data ke LCD Kontrol arah data : 0 = Tulis kemodul LCD 1 = Baca dari modul LCD Operasi enable = Mengaktifkan fungsi baca atau tulis

16 19 DB0 DB3 DB4 DB7 Input / Output Input / Output 4 Bit MSB dari bus data dua arah. Jalur-jalur ini hanya digunakan pada mode transfer data 8 bit. 4 Bit MSB dari bus data dua arah. Jalur-jalur ini digunakan baik pada mode 4 bit maupun pada mode transfer data 8 bit. Tabel 2.3 Character Generator ROM Map (OA) Upper Lower 4 bit 4 bit LLLL LLLH LLHL LLHH LHLL LHLH LHHL LHHH HLLL HLLH HLHL HLHH HHLL HHLH HHHL HHHH LLLL CG RAM ( 1 ) LLLH ( 2 ) LLHL ( 3 ) LLHH ( 4 ) LHLL ( 5 ) LHLH ( 6 ) LHHL ( 7 ) LHHH ( 8 ) HLLL ( 1 ) HLLH ( 2 ) HLHL ( 3 ) HLHH ( 4 ) HHLL ( 5 ) HHLH ( 6 ) HHHL ( 7 ) HHHH ( 8 )

17 20 Tabel 2.4 Character Generator ROM Map (OB) Upper Lower 4 bit LLLL 4 bit CG LLLL RAM ( 1 ) LLHL LLHH LHLL LHLH LHHL LHHH HLLL HLLH HLHL HLHH HHLL HHLH HHHL HHHH LLLH ( 2 ) LLHL ( 3 ) LLHH ( 4 ) LHLL ( 5 ) LHLH ( 6 ) LHHL ( 7 ) LHHH ( 8 ) HLLL ( 1 ) HLLH ( 2 ) HLHL ( 3 ) HLHH ( 4 ) HHLL ( 5 ) HHLH ( 6 ) HHHL ( 7 ) HHHH ( 8 ) 2.7 Catu Daya Catu daya atau lebih dikenal sebagai power supply, adalah suatu rangkaian yang berfungsi sebagai sumber daya listrik yang digunakan oleh rangkaian-rangkaian selanjutnya. Rangkaian catu daya mengubah tegangan bolak-balik yang diterima dari jala-jala PLN, menjadi tegangan searah.

18 21 Suatu rangkaian catu daya yang baik terdiri dari tranformator (trafo), penyearah, filter, dan IC regulator. Secara diagram blok dapat dilihat pada Gambar 2.6 di bawah ini : Jalajala PLN 220 V Trafo Penyearah Filter IC Regulator V DC Gambar 2.6 Diagram Blok Catu Daya Transformator atau trafo di sini adalah berguna sebagai penurun tegangan bolak-balik dari jala-jala. Rangkaian penyearah dari dioda bertujuan untuk membuat tegangan bolak-balik menjadi tegangan positif dan negatif bergantian seperti fungsi sinusoida yang hanya memiliki tegangan positif atau negatif saja. Rangkaian penyearah dapat dibuat dengan cara setengah gelombang atau gelombang penuh. Penyearah setengah gelombang adalah penyearah dengan menggunakan sebuah dioda, cara kerjanya adalah dioda tersebut hanya melewatkan arus listrik pada salah satu fasanya saja, misalnya fasa positifnya saja, sedangkan pada fasa negatif tidak dilewatkan. Penyearah gelombang penuh di sini menggunakan empat buah dioda yang dikenal sebagai jembatan dioda. Hasil keluaran dari rangkaian penyearah adalah gelombang sinusoida yang sudah disearahkan, tetapi masih belum memenuhi syarat sebagai sumber tegangan yang diperlukan. Agar menjadi rata maka hasil keluaran tadi perlu dilewatkan pada filter yang terdiri dari rangkaian RC atau RL. Rangkaian ini biasa disebut peredam riak. IC Regulator adalah IC yang berfungsi sebagai pengatur tegangan yang membuat suatu tegangan masukan padanya menjadi tegangan keluaran yang besarnya tertentu sesuai dengan tipe IC tersebut. Dengan menggunakan IC regulator ini maka tegangan keluaran menjadi lebih stabil dan untuk lebih meratakannya lagi dari gelombang-gelombang riak yang tidak diinginkan akibat

19 22 tidak stabilnya penarikan arus dari rangkaian, biasanya ditambahkan kapasitor yang diparalelkan dengan keluaran IC regulator ini. Vout t Gambar 2.7 Bentuk Gelombang pada Rangkaian Filter Kapasitor 78XX adalah IC regulator yang dirancang sebagai regulator tegangan. Nilai tegangan outputnya ditentukan oleh angka pada XX-nya. Disini IC yang digunakan untuk regulator adalah 7805 yaitu IC untuk tegangan + 5Volt, 7812 IC untuk tegangan +12 Volt dan 7824 untuk tegangan +24 Volt. 2.8 Flowchart Perangkat lunak (software) yang dirancang pada dasarnya harus memperhatikan flowchart (diagram alir), karena hal ini merupakan dasar dalam pembuatan listing program. Untuk membuat flow chart dipergunakan simbol - simbol yang mempunyai arti tertentu. Di bawah ini dapat dilihat simbol-simbol flow chart yang digunakan beserta fungsi penggunaannya :

20 23 Terminator Menerangkan suatu awal atau akhir dari diagram alir Data Menerangkan masukan atau keluaran data. Decision Menerangkan adanya dua pilihan yang berbeda Process Menerangkan sebuah operasi atau eksekusi yang dilakukan.. Data Flow Menerangkan arah alur dari tiap-tiap proses. Connector Menerangkan sambungan alur proses.

MIKROKONTROLER AT89S52

MIKROKONTROLER AT89S52 MIKROKONTROLER AT89S52 Mikrokontroler adalah mikroprosessor yang dirancang khusus untuk aplikasi kontrol, dan dilengkapi dengan ROM, RAM dan fasilitas I/O pada satu chip. AT89S52 adalah salah satu anggota

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Ringkasan Pendahuluan Mikrokontroler Mikrokontroler = µp + Memori (RAM & ROM) + I/O Port + Programmable IC Mikrokontroler digunakan sebagai komponen pengendali

Lebih terperinci

I/O dan Struktur Memori

I/O dan Struktur Memori I/O dan Struktur Memori Mikrokontroler 89C51 adalah mikrokontroler dengan arsitektur MCS51 seperti 8031 dengan memori Flash PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory) DESKRIPSI PIN Nomor Pin Nama

Lebih terperinci

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55 ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55 A. Pendahuluan Mikrokontroler merupakan lompatan teknologi mikroprosesor dan mikrokomputer. Mikrokontroler diciptakan tidak semata-mata hanya memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051 1.1. Organisasi Memori Semua divais 8051 mempunyai ruang alamat yang terpisah untuk memori program dan memori data, seperti yang ditunjukkan pada gambar1.1. dan gambar 1.2. Pemisahan secara logika dari

Lebih terperinci

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut.

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut. Arsitektur mikrokontroler MCS-51 diotaki oleh CPU 8 bit yang terhubung melalui satu jalur bus dengan memori penyimpanan berupa RAM dan ROM serta jalur I/O berupa port bit I/O dan port serial. Selain itu

Lebih terperinci

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 I. FITUR AT89C1051 Kompatibel dengan produk MCS51 1k byte program flash ROM yang dapa diprogram ulang hingga 1000 kali Tegangan operasi 2.7 volt hingga

Lebih terperinci

Pendahuluan Mikrokontroler 8051

Pendahuluan Mikrokontroler 8051 Pendahuluan Mikrokontroler 8051 Pokok Bahasan: 1. Mikrokontroler 8051 Arsitektur (Architecture) Timers/Counters Interrupts Komunikasi Serial (Serial Communication) Tujuan Belajar: Setelah mempelajari dalam

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya 10 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Sensor TGS 2610 2.1.1 Gambaran umum Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya kebocoran gas. Sensor ini merupakan suatu semikonduktor oksida-logam,

Lebih terperinci

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL Pendahuluan Mikroprosessor 8051 (Struktur dan Organisasi Memori, SFR ) Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL A. Organisasi Memori Mikroprosesor 8051 Pada mikrokontroler keluarga MCS51

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Perangkat Keras Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu perangkat keras (hardware) yang dapat mengolah data, menghitung, mengingat dan mengambil pilihan.

Lebih terperinci

Mikrokontroler 89C51 Bagian II :

Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Mikrokontroler 89C51 merupakan mikrokomputer CMOS 8 bit dengan 4 Kbytes Flash Programmable Memory. Arsitektur 89C51 ditunjukkan pada gambar 2. Accumulator

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan 2.2 Sensor Clamp Putaran Mesin

BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan 2.2 Sensor Clamp Putaran Mesin 4 BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori mengenai perangkatperangkat pendukung baik perangkat keras dan perangkat lunak yang akan dipergunakan sebagai pengukuran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, banyak terjadi kecelakaan didunia pertransportasian. Salah satunya dalam industri perkeretaapian. Salah satu penyebab banyaknya kecelakaan adalah disebabkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market need) dan teknologi

Lebih terperinci

PERTEMUAN MEMORY DAN REGISTER MIKROKONTROLER

PERTEMUAN MEMORY DAN REGISTER MIKROKONTROLER PERTEMUAN MEMORY DAN REGISTER MIKROKONTROLER Memory Program Memory dan Data Memory Memory yang terdapat pada Mikrokontroler 89C51 dipisahkan menjadi 2 bagian yaitu program memory (memori program) dan data

Lebih terperinci

BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar

BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED 3.1. Rancang Bangun Perangkat Keras Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar 3.1. Sistem ini terdiri dari komputer, antarmuka

Lebih terperinci

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika TAKARIR AC (Alternating Current) Adalah sistem arus listrik. Sistem AC adalah cara bekerjanya arus bolakbalik. Dimana arus yang berskala dengan harga rata-rata selama satu periode atau satu masa kerjanya

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS 3.1. Pendahuluan Perangkat pengolah sinyal yang dikembangkan pada tugas sarjana ini dirancang dengan tiga kanal masukan. Pada perangkat pengolah sinyal

Lebih terperinci

TKC210 - Teknik Interface dan Peripheral. Eko Didik Widianto

TKC210 - Teknik Interface dan Peripheral. Eko Didik Widianto TKC210 - Teknik Interface dan Peripheral Eko Didik Sistem Komputer - Universitas Diponegoro Review Kuliah Pembahasan tentang: Referensi: mikrokontroler (AT89S51) mikrokontroler (ATMega32A) Sumber daya

Lebih terperinci

PERTEMUAN PERANGKAT KERAS MIKROKONTROLER

PERTEMUAN PERANGKAT KERAS MIKROKONTROLER PERTEMUAN PERANGKAT KERAS MIKROKONTROLER Pendahuluan Pada dasarnya mikrokontroler bukanlah ilmu pengetahuan yang baru, tetapi adalah hasil pengembang dalam teknologi elektronika. Jika dasar pengetahuan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 7 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 1 Konveyor Konveyor hanya bergerak ke satu arah saja, konveyor digerakkan dengan motor stepper 12V type. Sinyal keluaran dari motor stepper untuk menggerakkan konveyor dirangkaikan

Lebih terperinci

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika. Assembler Bahasa pemrograman mikrokontroler MCS-51

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika. Assembler Bahasa pemrograman mikrokontroler MCS-51 TAKARIR Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika Assembler Bahasa pemrograman mikrokontroler MCS-51 Assembly Listing Hasil dari proses assembly dalam rupa campuran dari

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu:

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu: BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Mikrokontroler AT89S52 Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu mikrokomputer CMOS 8 bit dengan daya rendah, kemampuan tinggi,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang digunakan dalam seluruh unit sistem ini. Agar pembahasan tidak melebar dan menyimpang dari topik utama laporan ini,

Lebih terperinci

BAB III TEORI PENUNJANG. Microcontroller adalah sebuah sistem fungsional dalam sebuah chip. Di

BAB III TEORI PENUNJANG. Microcontroller adalah sebuah sistem fungsional dalam sebuah chip. Di BAB III TEORI PENUNJANG 3.1. Microcontroller ATmega8 Microcontroller adalah sebuah sistem fungsional dalam sebuah chip. Di dalamnya terkandung sebuah inti proccesor, memori (sejumlah kecil RAM, memori

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sensor 2.1.1 Pengertian Umum Sensor Sebenarnya sensor secara umum didefinisikan sebagai alat yang mampu menangkap fenomena fisika atau kimia kemudian mengubahnya menjadi sinyal

Lebih terperinci

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 Mikrokontroler MCS-51 memiliki 2 jenis port input/output, yaitu port I/O parallel dan port I/O serial. Port I/O parallel sebanyak 4 buah dengan nama P0,P1,P2

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI MASALAH

BAB III DESKRIPSI MASALAH BAB III DESKRIPSI MASALAH 3.1 Perancangan Hardware Perancangan hardware ini meliputi keseluruhan perancangan, artinya dari masukan sampai keluaran dengan menghasilkan energi panas. Dibawah ini adalah diagram

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Uraian Umum Dalam perancangan alat akses pintu keluar masuk menggunakan pin berbasis mikrokontroler AT89S52 ini, penulis mempunyai pemikiran untuk membantu mengatasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perangkat Keras 2.1.1. Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler merupakan suatu komponen elektronika yang di dalamnya terdapat rangkaian mikroprosesor, memori (RAM atau ROM) dan

Lebih terperinci

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 Dwisnanto Putro, S.T., M.Eng. MIKROKONTROLER AVR Jenis Mikrokontroler AVR dan spesifikasinya Flash adalah suatu jenis Read Only Memory yang biasanya diisi dengan program

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi

BAB 2 LANDASAN TEORI. Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Inteligent Parking System Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi menjadi beberapa tempat. Dengan demikian kendaraan yang

Lebih terperinci

Tabel 1. Karakteristik IC TTL dan CMOS

Tabel 1. Karakteristik IC TTL dan CMOS BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. IC Digital TTL dan CMOS Berdasarkan teknologi pembuatannya, IC digital dibedakan menjadi dua jenis, yaitu TTL (Transistor-Transistor Logic) dan CMOS (Complementary Metal Oxide

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS ini dapat dibuat lebih efisien dan dikembangkan perakitannya pada suatu metode lain yang mempunyai system kerja yang sama. BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1. Mikrokontroler AT89S52 2.1.1. Gambaran Umum Mikrokontroler,

Lebih terperinci

Mikroprosesor Z80 Suryanto Sutikno

Mikroprosesor Z80 Suryanto Sutikno Mikroprosesor Z80 Suryanto Sutikno A. Pendahuluan Mikrokontroler merupakan lompatan teknologi mikroprosesor dan mikrokomputer. Mikrokontroler diciptakan tidak semata-mata hanya memenuhi kebutuhan kalangan

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only)

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only) 1. Operasi Serial Port mempunyai On Chip Serial Port yang dapat digunakan untuk komunikasi data serial secara Full Duplex sehingga Port Serial ini masih dapat menerima data pada saat proses pengiriman

Lebih terperinci

Arsitektur Mikrokontroler

Arsitektur Mikrokontroler BAGIAN 1 Arsitektur Mikrokontroler Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa dapat memahami arsitektur mikrokontroler

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Mikrokontroller AT89S51 Didalam pembuatan alat ini peran penting mikrokontroller sangat berpengaruh dalam menentukan hasil akhir /output dari fungsi alat ini, yang mana hasil akhir/ouput

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini menjelaskan tentang perancangan sistem alarm kebakaran menggunakan Arduino Uno dengan mikrokontroller ATmega 328. yang meliputi perancangan perangkat keras (hardware)

Lebih terperinci

AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler

AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler Lab Elektronika Industri Mikrokontroler 1 AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler I. Fitur AT89S52 Kompatibel dengan produk MCS51 Intel 8kByte Flah Memori dengan In-System Programmable (ISP)

Lebih terperinci

PETA MEMORI MIKROPROSESOR 8088

PETA MEMORI MIKROPROSESOR 8088 1. Bagan Dasar µp 8088 PETA MEMORI MIKROPROSESOR 8088 Gambar 1. Bagan Dasar µp 8088 Elemen didalam mikroprosesor adalah : CU (Control Unit) adalah manajer dari semua unit. CU mengatur keselarasan kerja

Lebih terperinci

REGISTER-REGISTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

REGISTER-REGISTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY REGISTER-REGISTER 8051 Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] 1. PC (Program Counter) PC dengan ukuran 16 bit menentukan lokasi berikutnya yang akan dieksekusi (dijalankan).

Lebih terperinci

BAB II. PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F Pengenalan Mikrokontroler

BAB II. PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F Pengenalan Mikrokontroler BAB II PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F005 2.1 Pengenalan Mikrokontroler Mikroprosesor adalah sebuah proses komputer pada sebuah IC (Intergrated Circuit) yang di dalamnya terdapat aritmatika,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer,

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1.Hardware 2.1.1 Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market need) dan teknologi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dibahas mengenai perancangan dan realisasi dari perangkat keras maupun perangkat lunak dari setiap modul yang dipakai pada skripsi ini. 3.1. Perancangan dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Mikrokontroller AT89C51 Meskipun termasuk tua, keluarga mikrokontroler MCS51 adalah mikrokontroler yang paling populer saat ini. Keluarga ini diawali oleh Intel yang mengenalkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan langkah-langkah yang akan digunakan dalam menyelesaikan perangkat keras (hardware) yang berupa komponen fisik penunjang seperti IC AT89S52 dan perangkat

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR DAN PENUNJANG. tersebut. Berikut ini penulis akan membahas tentang prinsip-prinsip dasar dari

BAB II TEORI DASAR DAN PENUNJANG. tersebut. Berikut ini penulis akan membahas tentang prinsip-prinsip dasar dari BAB II TEORI DASAR DAN PENUNJANG Dalam membuat dan menganalisa suatu alat, sebaiknya dikuasai teori-teori dasar yang menunjang / berhubungan dengan alat yang akan dibuat atau dianalisa tersebut. Berikut

Lebih terperinci

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor Sistem Minimum Mikrokontroler TTH2D3 Mikroprosesor MIKROKONTROLER AVR Mikrokontroler AVR merupakan salah satu jenis arsitektur mikrokontroler yang menjadi andalan Atmel. Arsitektur ini dirancang memiliki

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Bahasa Assembly MCS-51 Bahasa yang digunakan untuk memprogram IC mikrokontroler AT89S51 adalah bahasa assembly untuk MCS-51. angka 51 merupakan jumlah instruksi

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Pembuatan alat Traffic light dengan menggunakan mikrokontroler 89S51

BAB II TEORI DASAR. Pembuatan alat Traffic light dengan menggunakan mikrokontroler 89S51 BAB II TEORI DASAR Pembuatan alat Traffic light dengan menggunakan mikrokontroler 89S51 baik dengan perangkat-keras maupun dengan perangkat-lunak membutuhkan beberapa teori penunjang. Teori tersebut akan

Lebih terperinci

SISTEM KOMPUTER.

SISTEM KOMPUTER. SISTEM KOMPUTER Salahuddin, SST Email : [email protected] [email protected]@gmail Web Site : www.salahuddinali.com ELEMEN FUNGSIONAL UTAMA SISTEM KOMPUTER. INTERFACE EXTERNAL UNIT

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global.

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM 3.1 Perancangan Perangkat Keras 3.1.1 Blok Diagram Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. Gambar

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN PENGAMAN MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 DENGAN APLIKASI TELEPON SELULER SEBAGAI INDIKATOR ALARM

RANCANG BANGUN PENGAMAN MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 DENGAN APLIKASI TELEPON SELULER SEBAGAI INDIKATOR ALARM RANCANG BANGUN PENGAMAN MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 DENGAN APLIKASI TELEPON SELULER SEBAGAI INDIKATOR ALARM Bambang Tri Wahyo Utomo, S.Kom Pri Hadi Wijaya ABSTRAKSI Disini akan dibahas mengenai

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN

BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN BAB II KONSEP DASAR PERANCANGAN Pada bab ini akan dijelaskan konsep dasar sistem keamanan rumah nirkabel berbasis mikrokontroler menggunakan modul Xbee Pro. Konsep dasar sistem ini terdiri dari gambaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jantung dalam terminologi sederhana, merupakan sebuah pompa yang terbuat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jantung dalam terminologi sederhana, merupakan sebuah pompa yang terbuat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jantung Jantung dalam terminologi sederhana, merupakan sebuah pompa yang terbuat dari otot. Jantung merupakan salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia yang berperan dalam

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Karbon Monoksida (CO) Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, tidak mudah larut dalam air, tidak menyebabkan iritasi, beracun dan berbahaya

Lebih terperinci

Mikrokontroler AVR. Hendawan Soebhakti 2009

Mikrokontroler AVR. Hendawan Soebhakti 2009 Mikrokontroler AVR Hendawan Soebhakti 2009 Tujuan Mampu menjelaskan arsitektur mikrokontroler ATMega 8535 Mampu membuat rangkaian minimum sistem ATMega 8535 Mampu membuat rangkaian downloader ATMega 8535

Lebih terperinci

BAB III KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN

BAB III KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN BAB III KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN Pada bab ini akan dijelaskan langkah-langkah yang akan digunakan dalam menyelesaikan Alat Simulasi Pembangkit Sinyal Jantung, berupa perangkat keras (hardware) dan perangkat

Lebih terperinci

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535 Dwisnanto Putro, S.T., M.Eng. MIKROKONTROLER AVR Mikrokontroler AVR merupakan salah satu jenis arsitektur mikrokontroler yang menjadi andalan Atmel. Arsitektur ini dirancang

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Didalam merancang sistem yang akan dibuat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelumnya, pertama-tama mengetahui prinsip kerja secara umum dari sistem yang akan dibuat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adanya kebocoran gas. Sensor ini merupakan suatu semikonduktor oksida-logam,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adanya kebocoran gas. Sensor ini merupakan suatu semikonduktor oksida-logam, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sensor Gas LPG TGS2610 2.1.1 Gambaran Umum Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya kebocoran gas. Sensor ini merupakan suatu semikonduktor

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI 3.1 Perancangan Blok Diaram Metode untuk pelaksanaan Program dimulai dengan mempelajari sistem pendeteksi kebocoran gas pada rumah yang akan digunakan. Dari sini dikembangkan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini membahas perencanaan dan pembuatan dari alat yang akan dibuat yaitu Perencanaan dan Pembuatan Pengendali Suhu Ruangan Berdasarkan Jumlah Orang ini memiliki 4 tahapan

Lebih terperinci

KENDALI LENGAN ROBOT MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51

KENDALI LENGAN ROBOT MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51 KENDALI LENGAN ROBOT MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51 Eko Patra Teguh Wibowo Departemen Elektronika, Akademi Angkatan Udara Jalan Laksda Adi Sutjipto Yogyakarta [email protected] ABSTRACT A robot

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. peralatan input / output ( I / O ) pendukung di dalamnya. Suatu sistem mikroprosesor

BAB II TEORI DASAR. peralatan input / output ( I / O ) pendukung di dalamnya. Suatu sistem mikroprosesor BAB II TEORI DASAR 2. 1 Sistem Mikrokontroler AT89S52 Mikrokontroller adalah suatu perangkat keras yang memiliki memori dan peralatan input / output ( I / O ) pendukung di dalamnya. Suatu sistem mikroprosesor

Lebih terperinci

Memprogram Port sebagai Output dan Input Sederhana

Memprogram Port sebagai Output dan Input Sederhana BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram Port sebagai Input dan Output sederhana menggunakan bahasa pemrograman assembly Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami Konstruksi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi AT89S51 Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1 kristal serta catu daya 5 Volt. Kapasitor 10 mikro-farad dan resistor 10 Kilo Ohm

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER. Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi :

BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER. Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi : BAB III PERANCANGAN STAND ALONE RFID READER 3.1 Perancangan Sistem Dalam penelitian ini, perancangan sistem meliputi : a. perancangan perangkat keras (hardware) dengan membuat reader RFID yang stand alone

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Perancangan alat pada tugas akhir ini meliputi pemilihan komponen dan perhitungannya serta memilih rangkaian yang tepat dalam merancang dan membuat alat yang telah di rencanakan.

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT

BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT 3.1 Perancangan Alat 3.1.1 Blok Diagram Perancangan Alat Rancangan dan cara kerja alat secara blok diagram yaitu untuk mempermudah dalam menganalisa rangkaian secara

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER Yoyo Somantri dan Egi Jul Kurnia

MIKROKONTROLER Yoyo Somantri dan Egi Jul Kurnia MIKROKONTROLER Yoyo Somantri dan Egi Jul Kurnia Mikrokontroler Mikrokontroler adalah sistem komputer yang dikemas dalam sebuah IC. IC tersebut mengandung semua komponen pembentuk komputer seperti CPU,

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA BAB IV PENGUJIAN AN ANALISA ATA Pada bab ini akan dibahas tentang pengujian dan pengoperasian Sistem Pendeteksi Kebocoran Gas pada Rumah Berbasis Layanan Pesan Singkat yang telah selesai dirancang. Pengujian

Lebih terperinci

Sumber Clock, Reset dan Antarmuka RAM

Sumber Clock, Reset dan Antarmuka RAM ,, Antarmuka RAM TSK304 - Teknik Interface dan Peripheral Eko Didik Teknik Sistem Komputer - Universitas Diponegoro Review Kuliah, Pembahasan tentang antarmuka di mikrokontroler 8051 (AT89S51) Sumber clock

Lebih terperinci

PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51

PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51 PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51 PANDUAN DASAR MIKROKONTROLER KELUARGA MCS-51 Danny Christanto, S.T. Kris Pusporini, S.T., M.T. 2004, Innovative Electronics Hak Cipta dilindungi undang-undang

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Diagram Blok Rangkaian Secara Detail Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI 3.1 PERANCANGAN UMUM SISTEM Metode untuk pelaksanaan Program dimulai dengan mempelajari system pengukuran tangki air yang akan digunakan. Dari sini dikembangkan apa saja

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PERANGKAT KERAS 2.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Arsitektur AT89S51 sudah memiliki beberapa komponen yang pada masa lalu merupakan chip tersendiri, sub komponen tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Penelitian Terdahulu Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini akan dicantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu : Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Islam

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Pendahuluan Bab ini akan membahas pembuatan seluruh perangkat yang ada pada Tugas Akhir tersebut. Secara garis besar dibagi atas dua bagian perangkat yaitu: 1.

Lebih terperinci

OPERATION SYSTEM. Jenis - Jenis Register Berdasarkan Mikroprosesor 8086/8088

OPERATION SYSTEM. Jenis - Jenis Register Berdasarkan Mikroprosesor 8086/8088 OPERATION SYSTEM Nama : Dian Fahrizal Nim : 110170096 Unit : A3 Jenis - Jenis Register Berdasarkan Mikroprosesor 8086/8088 Mikroprosesor 8086/8088 memiliki 4 register yang masing-masingnya terdiri dari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PERANGKAT KERAS 2.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontoler dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market

Lebih terperinci

APLIKASI MIKROKONTROLER

APLIKASI MIKROKONTROLER 2 APLIKASI MIKROKONTROLER Percobaan IV & V Tujuan Percobaan 1. Mempelajari prinsip kerja dan bahasa tingkat rendah dari mikrokontroler. 2. Memahami proses yang dilakukan program terhadap mikrokontroler.

Lebih terperinci

ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809

ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809 ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809 ADC0809 ADC0809 adalah IC pengubah tegangan analog menjadi digital dengan masukan berupa 8 kanal input yang dapat dipilih. IC ADC0809 dapat melakukan proses konversi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi PLC menurut National Electrical Manufacturing Association (NEMA)

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi PLC menurut National Electrical Manufacturing Association (NEMA) BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Programmable Logic Controller (PLC) Definisi PLC menurut National Electrical Manufacturing Association (NEMA) adalah perangkat elektronik digital yang memakai programmable memory

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Mikrokontroler ATMega 8535 (sumber :Mikrokontroler Belajar AVR Mulai dari Nol)

Gambar 2.1 Mikrokontroler ATMega 8535 (sumber :Mikrokontroler Belajar AVR Mulai dari Nol) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikrokontroler Mikrokontroler merupakan keseluruhan sistem komputer yang dikemas menjadi sebuah chip di mana di dalamnya sudah terdapat Mikroprosesor, I/O Pendukung, Memori

Lebih terperinci

Replika Sistem Atap Otomatis Untuk Pelindung Benda Terhadap Hujan Berbasis Mikrokontroler AT89S52

Replika Sistem Atap Otomatis Untuk Pelindung Benda Terhadap Hujan Berbasis Mikrokontroler AT89S52 Replika Sistem Atap Otomatis Untuk Pelindung Benda Terhadap Hujan Berbasis Mikrokontroler AT89S52 MUHAMAD SULEMAN Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma [email protected]

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015,

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015, III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015, pembuatan alat dan pengambilan data dilaksanakan di Laboratorium

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT 1.1 Blok Diagram Sensor Kunci kontak Transmiter GSM Modem Recivier Handphone Switch Aktif Sistem pengamanan Mikrokontroler Relay Pemutus CDI LED indikator aktif Alarm Buzzer Gambar

Lebih terperinci

BAB III PROSES PERANCANGAN

BAB III PROSES PERANCANGAN BAB III PROSES PERANCANGAN 3.1 Tinjauan Umum Perancangan prototipe sistem pengontrolan level air ini mengacu pada sistem pengambilan dan penampungan air pada umumnya yang terdapat di perumahan. Tujuan

Lebih terperinci

BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT.

BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT. 1 BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT. A. Deskripsi Tugas 1. Jelaskan perbedaan mikroprosesor dan mikrokontroler. 2. Jelaskan mode-mode pengalamatan yang

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan. blok rangkaian tampak seperti gambar berikut :

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan. blok rangkaian tampak seperti gambar berikut : BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1. Diagram Blok Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan menggunakan PC, memiliki 6 blok utama, yaitu personal komputer (PC), Mikrokontroler AT89S51,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 PERANCANGAN PERANGKAT KERAS Setelah mempelajari teori yang menunjang dalam pembuatan alat, maka langkah berikutnya adalah membuat suatu rancangan dengan tujuan untuk mempermudah

Lebih terperinci

Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051

Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051 Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051 Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : Menjelaskan arsitektur mikrokontroler 8051 Arsitektur Mikrokontroller 8051 Materi:

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Konsep dasar mengendalikan lampu dan komponen komponen yang digunakan pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan perancangan sistem

Lebih terperinci

4. Osilator internal dan rangkaian pewaktu. 5. Dua buah timer/counter 16 bit 6. Lima buah jalur interupsi ( 2 buah interupsi eksternal dan 3 interupsi

4. Osilator internal dan rangkaian pewaktu. 5. Dua buah timer/counter 16 bit 6. Lima buah jalur interupsi ( 2 buah interupsi eksternal dan 3 interupsi PENGUKUR TINGGI BADAN DIGITAL DENGAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 ABSTRAKSI Rangkaian Pengukur Tinggi Badan Digital Dengan Sensor Ultrasonik Berbasis Mikrokontroler AT8951 ini, merupakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI PLC (Programable Logic Control) adalah kontroler yang dapat diprogram. PLC didesian sebagai alat kontrol dengan banyak jalur input dan output. Pengontrolan dengan menggunakan PLC

Lebih terperinci