Laporan Akhir KATA PENGANTAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Laporan Akhir KATA PENGANTAR"

Transkripsi

1 KATA PENGANTAR Kabupaten Aceh Besar Provinsi NAD merupakan salah satu daerah yang terkena bencana tsunami dan gempa, bagian wilayah pesisir dan pantai merupakan bagian yang paling banyak mengalami kerusakan. Namun demikian, secara umum akibat bencana tersebut menimbulkan perubahan pada aspek tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar, sehingga perlu dilakukan penyusunan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabuapten Aceh Besar. Perubahan fisik dan lingkungan akibat bencana tsunami di Kabupaten Aceh Besar tersebut menyebabkan pula terjadinya perubahan terhadap faktor sosial dan kemasyarakatan. Dengan demikian dalam penyusunan RTRW Kabupaten ini perlu dilakukan pendekatan rencana tata ruang partisipatif. Kegiatan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Permukiman Utama ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan oleh SKS- BRR Tata Ruang, Lingkungan, Pemantauan dan Evaluasi Manfaat bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Aceh Besar dan PT. Virama Karya. Garis besar materi pekerjaan adalah finalisasi dari tujuan dan sasaran, rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang serta usulan-usulan program partisipatif sampai akhir tahun rencana yang belum dicapai pada tahap sebelumnya. Laporan Akhir (Rencana) ini merupakan kegiatan tahap IV (terakhir) dari seluruh rangkaian kegiatan dalam Penyusunan Penyelesaian RTRW Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Permukiman utama. Laporan Akhir ini berisikan tentang rencana: kebijakan internal dan eksternal/regional, ekonomi dan sektor unggulan, sumber daya alam, sumber daya buatan, sumber daya manusia, sistem permukiman, penggunaan lahan, administrasi mekanisme pembangunan dan kelembagaan. Dalam laporan ini dijelaskan tentang rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten Aceh Besar berikut dengan indikasi program prioritas pembangunan. Dengan selesainya Penyusunan Laporan Akhir ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu, sehingga laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Banda Aceh, Desember 2006 Tim Penyusun RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR i

2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... viii xi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengertian Rencana Tata Ruang Wilayah Azas Rencana Tata Ruang Wilayah Maksud Dan Tujuan Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar Maksud Tujuan Sasaran Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar Fungsi RTRW Kabupaten Aceh Besar Lingkup Kegiatan dan Lingkup Wilayah Lingkup Kegiatan Pekerjaan Lingkup Wilayah Keluaran Metodologi Metode Pendekatan Tahapan Pelaksanaan Penyusunan RTRW Kab. Aceh Besar Sistematika Pembahasan RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR ii

3 BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN PENATAAN RUANG 2.1 Kebijakan Pembangunan dan Penataan Ruang Program Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar Rencana Strategis Kabupaten Aceh Besar Kebijakan Penataan Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NAD Kebijakan Kapet Bandar Aceh Darussalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang Rencana Pokok Rehabilitasi & Rekonstuksi Untuk Kota Banda BAB III POTENSI DAN PERMASALAHAN WILAYAH PENGEMBANGAN KABUPATEN ACEH BESAR 3.1 Potensi Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar Posisi Kabupaten Aceh Besar Dalam Konteksi Regional Potensi Sumber Daya Alam Sumberdaya Mineral Sumberdaya Lahan Sumberdaya Air Sumberdaya Hutan Pariwisata Potensi Kelautan dan Pulau Pulau Kecil Potensi Ekonomi Wilayah Potensi Sumberdaya Manusia Potensi Sumberdaya Buatan Potensi Struktur Ruang Eksisting Permasalahan Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR iii

4 3.2.1 Permasalahan Pengembangan Kabupaten Aceh Besar Dalam Lingkup Provinsi NAD Permasalahan Pengembangan Kabupaten Aceh Besar Dalam Lingkup Internal Permasalahan Sumber Daya Alam Permasalahan Ekonomi Wilayah Permasalahan Sumberdaya Manusia Permasalahan Sumberdaya Buatan Permasalahan Struktur Ruang Potensi Masalah Wilayah Kecamatan BAB IV PERUMUSAN TUJUAN, KONSEPSI, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH 4.1 Tujuan Pemanfaatan Ruang Wilayah Konsep Dasar Pengembangan Konsep Dasar Pengembangan Fisik Konsep Dasar Pengembangan Ekonomi Konsep Dasar Pengembangan Tata Ruang Wilayah Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah Strategi Pengembangan Sektor Unggulan dan Sektor Strategis Strategi Pengembangan Struktur Ruang Wilayah Strategi Pemanfaatan Kawasan Lindung Dan Budidaya Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah Strategi Pengembangan Kawasan Prioritas Strategi Mitigasi Bencana Strategi Pengendalian BAB V RENCANA STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN LAHAN 5.1 Rencana Struktur Tata Ruang Dan Sistem Kota-kota RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR iv

5 5.1.1 Rencana Sistem Permukiman Rencana Sistem Kota Dan Hierarki Pusat Pelayanan Sistem Kota-kota Berdasarkan Jumlah Penduduk Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Rencana Penentuan Kawasan Lindung Kawasan Yang Memberikan Perlindungan pada Kawasan Bawahnya Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Setempat Dan Kawasan Bencana Kawasan Suaka Alam Kawasan Penyangga Kawasan Budidaya Kawasan Perdesaan Kawasan Perkotaan BAB VI RENCANA PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN WILAYAH 6.1 Pengelolaan Dan Pengendalian Kawasan Lindung Dan Budidaya Kewenangan Pengelolaan Program Pemanfaatan Pengawasan Penertiban Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Pengelolaan Dan Pengendalian Kawasan Perkotaan Dan Kawasan Perdesaan Kewenangan Pengelolaan Kawasan Perkotaan Dan Perdesaan Program Pemanfaatan Pengawasan Penertiban Mekanisme Pengendalian Pemanfaatan Ruang RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR v

6 6.3.1 Pengawasan Pelaporan Pemantauan Evaluasi Prosedur Penertiban Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Ketentuan Pemanfaatan Ruang Klasifikasi Penggunaan Lahan Klasifikasi Pemanfaatan Ruang Ketentuan Pemanfaatan Ruang Untuk Setiap Penggunaan Lahan BAB VII RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH 7.1 Prasarana Trasportasi Trasportasi Darat Transportasi Laut, Sungai, Dan Udara Pengembangan Prasarana Pengairan Irigasi Pengembangan Fasilitas Sosial Dan Ekonomi Pemerintahan Kesehatan Pendidikan Peribadatan Perdagangan Komunikasi Pengembangan Sistem Utilitas Air Bersih Listrik Telepon Limbah Dan Sampah Drainase BAB VIII RENCANA PENATAGUNAAN TANAH, AIR,UDARA, HUTAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR vi

7 8.1 Rencana Penatagunaan Tanah Rencana Penatagunaan Tanah Di Kawasan Lindung Rencana Penatagunaan Tanah Di Kawasan Budidaya Rencana Penatagunaan Air Rencana Penatagunaan Udara Rencana Penatagunaan Hutan BAB IX RENCANA SISTEM KEGIATAN PEMBANGUNAN 9.1 Rencana Sistem Kegiatan Pembangunan Indikasi Kawasan Prioritas Pembangunan Indikasi Program Pembangunan BAB X KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 10.1 Kesimpulan Rekomendasi Perbaikan Lahan Pertanian Pemupukan N, P, K Agroekosistem Kedelai Kipas Putih Penanaman Pisang Cavendish Penanaman Kelapa Sawit Hasil Hutan Non Kayu RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR vii

8 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Pengembangan Kawasan Andalan, Sektor Unggulan dan Pusat Permukiman di Provinsi NAD Tabel 2.2 Luas Kawasan Lindung & Kawasan Budidaya di Kab. Aceh Besar Tabel 3.1 Kesesuaian Lahan Untuk 3 Tipe Penggunaan Lahan Pertanian Tabel 3.2 Potensi Obyek Wisata Pantai, Wisata Alam, dan Wisata Sejarah di Kabupaten Aceh Besar Tabel 3.3 Potensi & Masalah Tiap2 Kecamatan di Kabupaten Aceh Besar Tabel 5.1 Identifikasi Sistem Kota-kota Berdasarkan Kelengkapan Fasilitas Kawasan Perkotaan Tabel 5.2 Interaksi Sistem Kota Wilayah Kabupaten Aceh Besar Tabel 5.3 Klasifikasi Sistem Kota Berdasarkan Penduduk Pendukung Tahun Tabel 5.4 Klasifikasi Kelerengan Tabel 5.5 Klasifikasi Jenis dan Kepekaan Tanah Tabel 5.6 Intensitas Hujan Harian Rata-rata Tabel 5.7 Cathment Area dan Debit Air Permukaan Kabupaten Aceh Besar Tabel 5.8 Matriks Dan Jenis Kriteria Kawasan Lindung Tabel 5.9 Rencana Penetapan Kawasan Lindung Tabel 5.10 Matriks Jenis dan Kriteria Kawasan Budidaya Tabel 5.11 Rencana Penetapan Kawasan Budidaya Tabel 5.12 Rencana Pemanfaatan Lahan Kabupaten Aceh Besar Tahun Tabel 6.1 Wewenang Pengelolaan Kawasan Lindung di Kabupaten Aceh Besar Tabel 6.2 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Budidaya di Kabupaten Aceh Besar Tabel 6.3 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan Tabel 6.4 Kegiatan Pelaporan Perubahan Pemanfaatan Ruang RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR viii

9 Tabel 6.5 Kegiatan Pemantauan Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Tabel 6.6 Kegiatan Evaluasi Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Tabel 6.7 Kegiatan Penertiban Pelanggaran Pemanfaatan Ruang (Sanksi Administratif) Tabel 6.8 Alternatif Bentuk Penertiban Tabel 6.9 Klasifikasi Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar Tabel 6.10 Pemanfaatan Ruang Kabupaten Aceh Besar Tabel 6.11 Deskripsi Indikator Pemanfaatan Ruang Tabel 6.12 Matriks Pemanfaatan Ruang Untuk Guna Lahan Tabel 7.1 Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Tahun Tabel 7.2 Arus Lalu-lintas Udara Bandara Sultan Iskandar Muda Tabel 7.3 Kapasitas Dan Jumlah Penumpang Pesawat Bandara Sultan Iskandar Muda Tahun Tabel 7.4 Kebutuhan Fasilitas Pemerintahan di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011, Dan Tahun Tabel 7.5 Kebutuhan Fasilitas Kesahatan di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011, Dan Tahun Tabel 7.6 Kebutuhan Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011, Dan Tahun Tabel 7.7 Kebutuhan Fasilitas Peribadatan di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011, Dan Tahun Tabel 7.8 Kebutuhan Fasilitas Perdagangan di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011, Dan Tahun Tabel 7.9 Kebutuhan Fasilitas Komunikasi di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011, Dan Tahun Tabel 7.10 Kebutuhan Air Bersih di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011 Dan Tahun Tabel 7.11 Kebutuhan Listrik di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011 dan Tahun Tabel 7.12 Kebutuhan Telepon di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011 dan Tahun Tabel 7.13 Rencana Timbulan Sampah di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011 dan Tahun Tabel 9.1 Indikasi Program Pembangunan Kabupaten Aceh Besar Dan RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR ix

10 Pemukiman Utama Tahun Tabel 10.1 Tingkat Salinitas (ECa) Lahan Sawah Terkena Tsunami Pada Beberapa Lokasi Di Kabupaten Aceh Besar Tabel 10.2 Rekomendasi Pemupukan N, P, K Pada Padi Sawah Di Kabupaten Aceh Besar Tabel 10.3 Kondisi Fisik Lahan Untuk Kelapa Sawit RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR x

11 DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Proses Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Nasional Gambar 2.2 Peta Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Nasional Gambar 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Pulau Sumatera Gambar 2.4 Rencana Struktur Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang Gambar 2.5 Peta Konsep Sistem Metropolitan Banda Aceh Gambar 2.6 Peta Struktur & Pola Pemanfaatan Ruang Metropolitan Banda Aceh 2 20 Gambar 3.1 Peta Kesesuaian Lahan utk 3 Tipe Penggunaan Lahan Pertanian Gambar 3.2 Peta Fungsi Hutan Kabupaten Aceh Besar Gambar 3.3 Peta Perwilayahan Komoditi di Kabupaten Aceh Besar Gambar 4.1 Perbandingan Nilai PDRB Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Dan Kabupaten Aceh Besar Gambar 4.2 Beberapa Contoh Antisipasi Bencana Tsunami Gambar 4.3 Contoh Pengembangan Fisik Bangunan Kawasan Pesisir Gambar 4.4 Contoh Escape Hill Gambar 4.5 Peta Mitigasi Bencana Gambar 5.1 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar Gambar 5.2 Peta Kesesuaian Kawasan Lindung Kabupaten Aceh Besar Gambar 5.3 Peta Rencana Penetapan Kawasan Lindung Kabupaten Aceh Besar 5 28 Gambar 5.4 Peta Kesesuaian Kawasan Penyangga Kabupaten Aceh Besar Gambar 5.5 Peta Penetapan Kawasan Penyangga Kabupaten Aceh Besar Gambar 5.6 Peta Kawasan Budidaya Kabupaten Aceh Besar Gambar 5.7 Peta Kesesuaian Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar Gambar 5.8 Peta Rencana Pola Pemanfaatan Lahan Kabupaten Aceh Besar Gambar 6.1 Proses Pengawasan Pemanfaatan Ruang Gambar 6.2 Proses Pelaporan Perubahan Pemanfaatan Ruang Gambar 7.1 Peta Rencana Pengembangan Transportasi Darat Kabupaten Aceh Besar Gambar 7.2 Rencana Pengembangan Transportasi Laut Dan Udara RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR xi

12 Kabupaten Aceh Besar Gambar 7.3 Sistem Besawah Berdasarkan Adat Wilayah Aceh Gambar 7.4 Peta Pengembangan Irigasi Kabupaten Aceh Besar Gambar 7.5 Peta Pengembangan Prasarana Air Bersih Kabupaten Aceh Besar Gambar 7.6 Peta Rencana Pengembangan Jaringan Listrik Gambar 7.7 Peta Rencana Pengembangan Persampahan Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR xii

13 Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 di Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara dan gempa bumi lanjutan pada tanggal 28 Maret 2005 terutama di Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara telah mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Wilayah yang terkena dampak bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami, sangat mendesak untuk segera ditangani, guna mengembalikan kondisi psikologis penduduk, kehidupan sosial ekonomi dan pemerintahan melalui usaha-usaha rehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam rangka percepatan proses penanganan bencana dan dampak luar biasa yang ditimbulkan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Perpu No. 2 Tahun 2005 untuk membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Propinsi NAD dan Kepulauan Nias Propinsi Sumatera Utara, serta mengeluarkan Perpres No. 30 Tahun 2005 tentang Rencana induk rehabilitasi dan Rekonstruksi wilayah dan Kehidupan Masyarakat Propinsi NAD dan Kepulauan Nias Propinsi Sumatera Utara sebagai acuan bagi proses percepatan tersebut. Rencana induk ini merupakan dasar perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan. Tujuan penataan ruang wilayah Aceh dan Nias pasca bencana tsunami dan gempa bumi adalah membangun kembali wilayah, kota, desa, kawasan, dan lingkungan permukiman yang rusak akibat bencana gempa dan tsunami sehingga masyarakat dapat segera melakukan aktivitasnya dalam kondisi yang lebih baik dan aman dari bencana. Hal. 1-1

14 Kebijakan dan strategi penataan ruang dan pertanahan, sebagaimana dijelaskan secara detail dalam Lampiran 2 dari Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi, memberikan gambaran konsep dan skenario penataan ruang, dan memberikan arahan pola serta struktur tata ruang wilayah Propinsi NAD dan Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi NAD dan di Kepulauan Nias. Arahan pola dan struktur tata ruang wilayah pada masing-masing wilayah Kabupaten dan kota yang telah disusun perlu ditindaklanjuti dengan penyiapan Rencana Umum Tata Ruang bagi kawasan permukiman utamanya. Salah satu kabupaten di wilayah NAD yang mengalami kerusakan akibat tsunami adalah Kabupaten Aceh Besar. Rencana pola dan struktur tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar meliputi seluruh wilayah kabupaten termasuk kawasan permukiman utama. Oleh karena itu, secara fungsional diperlukan penjabaran dari skenario dan arahan penataan ruang dari Rencana Induk menjadi sebuah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) Aceh Besar. Sebagaimana diamanatkan pada pasal 22 ayat 3 UU No. 24 Tahun 1992, RTRW Kabupaten/Kota menjadi pedoman untuk penyusunan rencana detail tata ruang di Kabupaten/Kota. Rencana Tata Ruang Kabupaten/Kota pada hakekatnya merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah, yang berisikan : (a) Penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya; (b) Pengelolaan kawasan Perkotaan, kawasan pedesaan, dan kawasan tertentu; (c) Sistem kegiatan pembangunan dan sistem perdesaan dan perkotaan; (d) Sistem prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, pengairan, dan prasarana pengelolaan lingkungan, dan (e) penatagunaan sumber daya alam lainnya, serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. RTRW Kabupaten/Kota menjadi pedoman untuk : (a) Perumusan kebijaksanaan pokok pemenfaatan ruang di wilayah kabupaten/kota; (b) Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah kabupaten/kota serta keserasian antar sektor; (c) Pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah atau masyarakat; (d) Penyusunan rencana rinci tata ruang di kabupaten/kota, dan (e) Pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. Hal. 1-2

15 1.2 PENGERTIAN TATA RUANG WILAYAH Pengertian-pengertian dasar yang digunakan dalam penataan ruang dan dijelaskan di bawah ini meliputi ruang, tata ruang, penataan ruang, rencana tata ruang, wilayah, kawasan llindung, kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. a. Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. b. Tata Ruang Tata ruang adalah wujud dari struktur dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan. c. Penataan Ruang Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian ruang. d. Rencana Tata Ruang Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. Adapun yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk lingkungan secara hirarkis dan saling berhubungan satu dengan lainnya, sedangkan yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah tata guna tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya dalam wujud penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya. e. Wilayah Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. f. Kawasan Kawasan adalah satuan ruang wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta memiliki ciri tertentu. g. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Hal. 1-3

16 h. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. i. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. j. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. k. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. 1.3 AZAS RENCANA TATA RUANG WILAYAH Azas penyusunan Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar berdasarkan azas : a. Keadilan Penataan ruang wilayah harus dapat menjamin keadilan untuk semua kepentingan masyarakat dan dunia usaha secara adil dengan berbasis pada masyarakat b. Terpadu Penantaan ruang wilayah merupakan suatu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang yang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh serta mencakup antara lain pertimbangan waktu, modal, optimasi daya dukung lingkungan dan kondisi geo-politik c. Berdayaguna dan Berhasil Guna Penataan ruang wilayah harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi yang ada dan fungsi ruang. d. Serasi, Selaras dan Seimbang Penataan ruang wilayah dapat menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan, dan kesimbangan sturktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah. Hal. 1-4

17 e. Berkelanjutan Penataan ruang wilayah menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumberdaya alam dengan memperhatikan kepentingan masa mendatang. f. Keterbukaan Setiap orang/pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. 1.4 MAKSUD & TUJUAN PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN ACEH BESAR Maksud Maksud pekerjaan penyusunan ini adalah membantu menyusun acuan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan program-program pembangunan sebagai wujud operasional dari Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi, sekaligus juga dengan mempromosikan perencanaan yang berorientasi pada tradisi pembelajaran sosial dan alih tehnologi Tujuan Tujuan dari pekerjaan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Permukiman Utama adalah : 1. Mewujudkan optimasi dan sinergi pemanfaatan ruang wilayah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan nasional. 2. Menciptakan keserasian dan keseimbangan antar wilayah, antar kawasan dan antar sektor pembangunan. 3. Menciptakan keterpaduan program-program pembangunan wilayah 4. Mendorong minat investasi masyarakat dan dunia usaha di wilayah Kab. Aceh Besar. 1.5 SASARAN PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN ACEH BESAR Sasaran yang hendak dicapai dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Tersusunnya RTRW Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Permukiman utama; Hal. 1-5

18 2. Terkendalinya pembangunan di wilayah Kabupaten Aceh Besar baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat; 3. Terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan budidaya; 4. Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program pembangunan di wilayah Kabupaten Aceh Besar; 5. Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha di wilayah Kabupaten Aceh Besar; 6. Terkoordinasinya pembangunan antar wilayah dan antar sektor pembangunan. 1.6 FUNGSI RTRW KABUPATEN ACEH BESAR Fungsi dari RTRW Kabupaten Aceh Besar adalah: Sebagai matra keruangan dari pembangunan daerah; Sebagai dasar kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Aceh Besar; Sebagai alat untuk mewujudkan keseimbangan perkembangan antar wilayah kabupaten dan antar kawasan serta keserasian antar sektor; Sebagai alat untuk mengalokasikan investasi yang dilakukan pemerintah, masyarakat dan swasta; Sebagai pedoman untuk penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan; Sebagai dasar pengendalian pemanfaatan ruang; Sebagai dasar pemberian izin lokasi pembangunan skala besar. 1.7 LINGKUP KEGIATAN DAN LINGKUP WILAYAH Lingkup Kegiatan Pekerjaan Lingkup Kegiatannya mencakup : 1. Melakukan survey dan kompilasi data pada Dinas, Badan dan Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Besar serta penjaringan aspirasi masyarakat. Pengumpulan data, dilakukan dengan survey primer (observasi lapangan, wawancara, penyebaran kuesioner) dan survey sekunder kepada seluruh instansi-instansi terkait. Hal. 1-6

19 2. Untuk peta-peta dengan ketelitian tinggi dilakukan survey lapangan (Ground survey dengan GPS) dan mengacu pada Peta Bakosurtanal yang dapat diperoleh pada Tim Geo-Spatial BRR. 3. Melakukan analisis terhadap berbagai data dan informasi yang sudah didapatkan. 4. Menyusun konsepsi dan strategi rencana dengan sudah memperhatikan arahan dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi. 5. Menyusun RTRW Kabupaten Aceh Besar 6. Menyusun Naskah Akademis dan Rancangan Qanun tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar. 7. Sosialisasi produk Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten pada tingkat Kabupaten dan Kecamatan Lingkup Wilayah Lingkup wilayah penyusunan Rencana Tata Ruang ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Aceh Besar. RTRW Kabupaten Aceh Besar dengan kedalaman substansi yang sesuai dengan ketelitian atau skala petanya, yakni 1 : berjangka waktu perencanaan 10 tahun. Unit analisis yang digunakan di dalam penyusunan RTRW Kabupaten ini adalah unit kecamatan sedangkan sistem jaringan prasarana digambarkan pada kedalaman sistem primer dan sekunder. 1.8 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini berpedoman kepada Keputusan Menteri Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang. Keluaran dari pekerjaan ini adalah : SATU SET BUKU LAPORAN RENCANA TATA RUANG DAN DRAFT QANUN yang berisi : A. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar yang berisi : 1. Tujuan pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. 2. Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang Hal. 1-7

20 Struktur pemanfaatan ruang meliputi hirarki pusat pelayanan wilayah seperti sistem pusat-pusat perkotaan dan perdesaan, pusat-pusat permukiman, hirarki sarana dan prasarana, sistem jaringan transportasi seperti sistem jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan kelas terminal. Pola pemanfaatan ruang memuat delineasi (batas-batas) kawasan kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan kawasan-kawasan lainnya di dalam kawasan budidaya dan delineasi kawasan lindung. 3. Rencana Pengelolaan Wilayah Kabupaten : Rencana pengelolaan kawasan lindung dan budidaya Rencana pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan, dan kawasan tertentu. Rencana sistem prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, pengairan, dan prasarana pengelolaan lingkungan. Rencana Penatagunaan tanah, air, udara, hutan, dan SDA lainnya. Rencana sistem kegiatan pembangunan Rencana pengembangan ekonomi/investasi wilayah kabupaten. B. Proceeding Penyelengaaraan Sosialisasi Penataan Ruang Kabupaten C. Rekaman/dokumentasi proses konsultansi publik/stakeholders (bisa berupa Proceeding penyelenggaraan sosialisasi penataan ruang kabupaten, proses FGD, dll.) D. Ringkasan/Executive Summary RTRW Kabupaten Aceh Besar E. Naskah Akademis dan Rancangan Qanun tentang Tata Ruang wilayah Kabupaten. Produk akhir dari penyusunan rencana tata ruang, terdiri dari : 1. Buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten 2. Buku Fakta dan Analisa (Laporan Antara). 3. Album Peta Hal. 1-8

21 1.9 METODOLOGI Metode Pendekatan Kabupaten Aceh Besar mempunyai wilayah daratan, pegunungan, peraian laut dan pulau pulau kecil, dimana wilayah sekitar pantai telah terkena bencana tsunami dan gempa yang mengalami kerusakan yang berat. Untuk itu, metode pendekatan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar mencakup pendekatan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, berorientasi pada lingkungan, penataan ruang yang partisipatif dan pendekatan pertumbuhan ekonomi. a. Berorientasi Pada Kesjahteraan Masyarakat Pengembangan wilayah ditujukan untuk memberikan hasil yang sebesar besarnya dan bermanfaaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pendekatan yang dilakukan dapat dikembangkan melalui : Pembangunan Aceh dan Kabupaten/Kota dilaksanakan secara berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran rakyat (UU Republik Indonesia No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, Pasal 143 Ayat 1) Pengaturan pemanfaatan ruang yang adil untuk masyarakat golongan atas, menengah dan kecil Adanya kemitraan kerja yang saling mendukung serta tetap memelihara kualitas ruang b. Penataan Ruang Yang Partisipatif Pelaksanaan penataan ruang yang partisipatif seperti yang diamanatkan dalam UU Republik Indonesia No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh adalah : Masyarakat berhak terlibat untuk memberikan masukan secara lisan maupun tertulis tentang penyusunan perencanaan pembangunan Aceh dan Kabupaten/Kota melalui penjaringan aspirasi dari bawah (Pasal 141 ayat 3). Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan maupun tertulis dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang Aceh dan Kabupaten/Kota (Pasal 142 ayat 5). Masyarakat berhak mendapatkan informasi tata ruang yang sudah ditetapkan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota (Pasal 143 ayat 4). Hal. 1-9

22 Masyarakat berhak untuk terlibat secara aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 148 ayat 2). c. Berorientasi pada lingkungan Penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dan pemanfaatan ruang Pengeloaan ditekankan pada upaya untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian wilayah tersebut. Pemanfaatan ruang menghindari konflik pemanfaatan sumberdaya yang dapat merusak lingkungan Pengembangan antar wilayah dan antar kawasan lain perlu diselaraskan dengan memperhatikan daya dukung sumberdaya yang ada, sehingga dapat mewujudkan keselarasan perkembangan antar wilayah dan antar kawasan. d. Pertumbuhan ekonomi Pemanfaatan ruang wilayah dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan ruang Kegiatan ekonomi pada kawasan yang akan dikembangkan bertujuan untuk memenuhi konsumsi masyarakat, tapi juga berorientasi pada pasar internasional Pemanfaatan ruang yang dilakukan diarahkan juga untuk memberikan nilai tambah terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Tahapan Pelaksanaan Penyusunan RTRW Kab. Aceh Besar Pada garis besarnya tahapan pelaksanaan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar dibagi dalam beberapa tahap kegiatan, yaitu : persiapan, pengumpulan data dan informasi, analisis, rumusan strategi serta rencana seperti terlihat pada Gambar 1.1 serta uraiannya sebagai berikut : a. Persiapan Kegiatan awal dalam pekerjaan ini adalah persiapan, dimana dalam persiapan ini dilakukan penyiapan isu awal permasalahan, penyusunan metodologi serta pembuatan rencana kerja. Penyiapan ini dituangkan dalam Laporan Pendahuluan dan didiskusikan terhadap pihak yang terkait. Hal. 1-10

23 b. Pengumpulan Data dan Informasi Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan melakukan survei primer dan survei sekunder. Survei primer dilakukan dengan observasi fisik, diskusi instansi terkait dan wawancara masyarakat. Adapun survei sekunder dilakukan dengan pencarian data instansional seperti data: Kebijakan pembangunan, sosial ekonomi, sumber daya alam, sumber daya buatan, sumber daya manusia, penggunaan lahan, pembiayaan pembangunan, kelembagaan dan lain lain. Data data yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder selanjutnya dilakukan seleksi data dan kompilasi data. c. Analisis Berdasarkan hasil data yang diperoleh serta hasil dari pekerjaan review/evaluasi RTRW Kab. Aceh Besar sebelumnya, maka selanjutnya dilakukan analisis meliputi analisis : kebijakan internal dan eksternal/regional, ekonomi dan sektor unggulan, sumber daya alam, sumberdaya buatan, sumberdaya manusia, sistem permukiman, analisis penggunaan lahan, pembiayaan pembangunan, kelembagaan serta analisis mitigasi bencana. d. Rumusan Strategi Hasil dari analisis kemudian dilakukan identifikasi potensi dan masalah yang selanjutnya dibuat rumusan startegi tata ruang Kabupaten Aceh Besar, meliputi strategi : kawasan lindung dan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan prioritas, sistem permukiman perdesaan dan perkotaan, pengembangan sarana dan prasarana wilayah, pengembangan kawasan prioritas, pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfaatan ruang serta strategi mitigasi bencana. e. Rencana Dari rumusan strategi yang dibuat, maka selanjutnya dibuat rencana meliputi rencana : zonasi dan mitigasi bencana, struktur dan pola pemanfaatan ruang, pengelolaan kawasan lindung dan budidaya, pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan kawasan prioritas, sistem prasarana wilayah, penatagunaan tanah, udara, hutan dan sumber alam lainnya serta rencana sistem kegiatan pembangunan. Hal. 1-11

24 Laporan Akhir Gambar 1.1 Proses Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar Hal 1-12

25 1.10 SISTEMATIKA PEMBAHASAN Sistematika pembahasan penyusunan buku Laporan Akhir Aceh Besar ini terbagi dalam beberapa bab yang diuraikan sebagai berikut : penyusunan RTRW Kabupaten BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang pekerjaan, maksud, tujuan dan sasaran, lingkup kegiatan dan wilayah, keluaran, metodologi dan sistematika pembahasan. BAB 2 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN PENATAAN RUANG Membahas tentang kebijakan-kebijakan pembangunan di Kabupaten Aceh Besar serta penataan ruang ditingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota antara lain: RTRW Nasional, RTRW Provinsi NAD, Kapet Bandar Aceh Darussalam serta Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk Banda Aceh. BAB 3 POTENSI DAN PERMASALAHAN WILAYAH PENGEMBANGAN KABUPATEN ACEH BESAR Menguraikan tentang potensi dan permasalahan pengembangan wilayah di Kabupaten Aceh Besar maupun ditiap-tiap kecamatan menyangkut perekonomian wilayah, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan (infrastruktur). BAB 4 PERUMUSAN TUJUAN, KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH Menjelaskan tujuan pemanfaatan ruang wilayah, kebijakan dasar pengembangan, strategi pengembangan tata ruang wilayah yang menyangkut : Strategi pengembangan ekonomi wilayah, sektor unggulan dan sektor stategis, pemanfaatan kawasan lindung dan budidaya, struktur tata ruang dan sistem permukiman, pengembangan prasarana wilayah, pengembangan kawasan prioritas serta strategi mitigasi bencana. Hal 1-13

26 BAB 5 RENCANA STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN LAHAN Membahas rencana struktur ruang yang menyangkut rencana sistem kota kota, rencana sistem pengembangan wilayah pelayanan. Selain itu membahas rencana pola pemanfaatan ruang yang menguraikan kawasan lindung dan kawasan budidaya. BAB 6 RENCANA PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN WILAYAH Menjelaskan pengelolaan dan pengendalian kawasan lindung dan budidaya, kawasan perdesaan dan perkotaan yang dijabarkan dalam pengembangan kelembagaan, program pemanfaatan, pengawasan dan penertiban. BAB 7 RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH Membahas prasarana transportasi, prasarana pengairan irigasi, prasarana sosial ekonomi, pengembangan sistem utilitas yang mencakup: air bersih, listrik dan energi, telepon dan telekomunikasi, drainase dan sistem limbah, persampahan. BAB 8 RENCANA PENATAGUNAAN TANAH, AIR, UDARA, DAN HUTAN Membahas tentang penguasaan dan pemanfaatan penatagunaan Tanah, Air, Udara, dan Hutan. BAB 9 RENCANA SISTEM KEGIATAN PEMBANGUNAN Membahas indikasi kawasan prioritas pembangunan serta indikasi program pembangunan di Kabupaten Aceh Besar. BAB 10 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Menguraikan tentang kesimpulan dan rekomendasi terutama yang menyangkut kajian yang tidak termaktub dalam subtansi RTRW Kabupaten Aceh Besar. Hal 1-14

27 Bab 2 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN PENATAAN RUANG 2.1 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Program Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar A. Visi dan Misi Pembangunan Daerah Visi pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar Tahun adalah Terwujudnya masyarakat Kabupaten Aceh Besar yang aman, sejahtera, dan sadar hukum melalui pemerintahan yang baik berlandaskan syariat islam, adat istiadat, yang berilmu pengetahuan dan teknologi Misi pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar diuraikan sebagai berikut : 1. Berupaya menjamin kondisi daerah yang aman, damai tertib dan diiringi kehidupan masyarakat yang tentram. 2. Mewujudkan kehidupan sosial budaya yang dinamis, kreatif dan berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi. 3. Pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi daerah, terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi, dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan berbasis pada sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. 4. Mewujudkan kesejahteraan rakyat yang ditandai oleh meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hal. 2-1

28 5. Mewujudkan sistem hukum yang menjamin tegaknya supermasi hukum dan penghargaan HAM berlandaskan keadilan dan kebenaran, dengan tetap menjunjung tinggi Pancasila sebagai azas negara 6. Perwujudan otonomi daerah dalam rangka pembangunan daerah dan pemerataan pertumbuhan 7. Menegakkan kedaulatan rakyat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara 8. Menjunjung tinggi Pancasila sebagai azas negara 9. Mewujudkan aparatur daerah yang profesional dalam menjalankan fungsi pelayanan masyarakat serta berdaya guna, produktif dan bebas dari KKN 10. Mengamalkan Agama Islam secara utuh dalam kehidupan masyarakat sehari hari yang harmonis, toleran, rukun dan damai antar sesama dan antar umat beragama 11. Menghidupkan kembali adat istiadat dan nilai nilai luhur dalam masyarakat sebagai pedoman hidup sehari hari 12. Melestarikan budaya Aceh Besar sebagai bagian dari budaya NAD untuk menjadi budaya nasional 13. Menggali dan mengembangkan adat dan budaya Aceh Besar dalam rangka memperkaya khasanah budaya bangsa 14. Perwujudan sistem dan iklim pendidikan di daerah yang bermutu guna membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, inovatif, cerdas, sehat, berdisiplin, bertanggung jawab, terampil serta mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi. B. Agenda Pembangunan Rumusan agenda pokok pembangunan sebagai berikut: 1. Membina sistem politik yang demokratis serta mewujudkan keamanan daerah 2. Menegakkan supermasi hukum dan mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih 3. Mengupayakan pemulihan ekonomi daerah 4. Mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membina ketahanan budaya 5. Meningkatkan kapasitas daerah dan masyarakat Rencana Starategis Kabupaten Aceh Besar Rencana Strategis Kabupaten Aceh Besar tahun diwujukan dalam program dan kegiatan pada masing masing Badan/Dinas/Kantor dilingkungan instansi Pemerintah Hal. 2-2

29 Kabupaten Aceh Besar. Program program yang berkaitan dengan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar antara lain : 1. Program Penataan Ruang Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Rencana Studi Kelayakan Keberadaan Kota Jantho 2. Program Pembangunan Ekonomi Program dan kegiatan pembangunan bidang industri dan perdagangan Program pembangunan pertanian rakyat terpadu (pertanian tanaman pangan dan holtikultura) Program pembangunan bidang perkebunan Program pembangunan bidang perikanan dan kelautan Program pembangunan bidang peternakan Program pembangunan bidang kehutanan Program pembangunan bidang pertambangan dan energi 3. Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Program pengembangan sumber daya air Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Program pembangunan jalan dan jembatan Program peningkatan/penggantian jalan dan jembatan Program penyehatan lingkungan dan permukiman 4. Program Pembangunan Perhubungan dan Pariwisata Program pembangunan bidang perhubungan Program pembangunan bidang kebudayaan dan pariwisata 5. Program Pembangunan Fasilitas Program pembangunan bidang kesehatan Program pembangunan bidang pendidikan Program pembangunan bidang peribadatan Program pembangunan bidang perdagangan Program pembangunan bidang telekomunikasi Hal. 2-3

30 2.2 KEBIJAKAN PENATAAN RUANG Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) Rencana Tata Ruang Nasional merupakan acuan bagi penataan ruang daerah tingkat bawahnya dan menjadi pedoman bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional tahun 2006 telah ditetapkan beberapa pusat pertumbuhan wilayah Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terbagi dalam empat kawasan andalan dengan sektor unggulan sebagai sektor penggerak pertumbuhan ekonomi (lihat Tabel 2.1). Kawasan andalan ini didukung oleh sumber daya alam yang tersedia serta sistem transportasi, baik darat, laut dan udara pada masing-masing kawasan tersebut. Guna mendukung program pengembangan kawasan andalan ini juga telah direncanakan jalur jalan nasional sepanjang Pulau Sumatera. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri adalah jalan pantai timur dimulai dari perbatasan Aceh - Sumatera Utara melalui Lhokseumawe sampai ke Banda Aceh. Kemudian jalur jalan Pantai Barat mulai dari perbatasan Aceh - Sumatera Utara melalui Tapaktuan - Meulaboh sampai ke Banda Aceh. Dan jalur jalan tengah provinsi mulai dari perbatasan Aceh - Sumatera Utara melalui Kutacane - Takengon sampai ke Banda Aceh (lihat Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Nasional). Dalam rencana pemanfaatan ruang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdapat kawasan hutan lindung, hutan konservasi (hutan suaka alam dan pelestarian alam) serta kawasan budidaya ( lihat Gambar 2.2). Kabupaten Aceh Besar Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), merupakan hinterland (daerah belakang) dari kawasan andalan Banda Aceh dan sekitarnya dengan sektor unggulan : pertanian, pariwisata dan industri. Sementara Bandar Udara Iskandar Muda yang terletak di Kabupaten Aceh Besar termasuk kategori pusat penyebaran tersier. Hal. 2-4

31 TABEL 2.1 PENGEMBANGAN KAWASAN ANDALAN, SEKTOR UNGGULAN DAN PUSAT PERMUKIMAN DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Pusat Permukiman Kawasan Andalan Sektor Unggulan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Wilayah Sungai Nasional Pelabuhan Bandar Udara Kw. Banda Aceh dsk Pertanian Pariwisata Industri - Banda Aceh - Sabang Industri Kw. Lhokseumawe dsk Kw. Pantai Barat Selatan Pertanian Pertambangan Perikanan Perkebunan Pertanian Perikanan Pertambangan Perkebunan Lhokseumawe - Meulaboh Pase Peusangan Jambo Aye Tamiyang Langsa Singkulat Tripa Singkil Sabang dan Lhokseumawe (Pelabuhan Internasional) Meulaboh, Malahayati (Pelabuhan Nasional) Sultan Iskandar Muda (Bandara Internasional/Pu sat penyebaran primer) Kw. Andalan Laut Lhokseumawe Perikanan Pertambangan Sumber: - Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Tahun Hasil Kesepakatan RTRWP NAD di Langsa, Tahun Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera Rencana Tata Ruang Pulau adalah hasil perencanaan tata ruang pada kawasan kawasan baik di ruang daratan, ruang lautan dan di ruang udara sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional di wilayah pulau. Tujuan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera ini adalah memberikan landasan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor guna mewujudkan struktur dan pola pemanfaatan ruang yang optimal. Struktur ruang wilayah sumatera sebagaimana dijelaskan dalam Rancangan Keputusan Presiden Republik Indonesia Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Hal. 2-5

32 Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Nasional Hal. 2-6

33 Gambar 2.2 Peta Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Nasional Hal. 2-7

34 Sumatera pada dasarnya dibentuk oleh pengembangan jaringan jalan lintas timur, pengembangan jaringan jalan lintas tengah, pengembangan jaringan jalan lintas barat dan pengembangan jaringan jalan pengumpan lintas barat timur. Disamping itu dibentuk oleh pusat pusat kegiatan seperti Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) serta terdapat pelabuhan internasional, pelabuhan nasional serta pelabuhan pengumpan regional (lihat Gambar 2.3) Arahan pola pemanfaatan ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Sumatera mencakup arahan pola pengelolaan kawasan lindung dan arahan pola pengelolaan kawasan budidaya. Yang termasuk kawasan lindung yaitu kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya seperti hutan lindung, untuk wilayah Sumatera seluas ha, sedangkan di wilayah Provinsi NAD seluas ha, kawasan perlindungan setempat (kawasan pantai, sungai, danau, waduk), kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya. Adapun kawasan budidaya mencakup kawasan andalan dan kawasan andalan laut. Keterkaitan Kabupaten Aceh Besar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Sumatera antara lain: a. Kabupaten Aceh Besar dilalui oleh jaringan jalan lintas timur, pengembangan jaringan jalan lintas tengah serta pengembangan jaringan jalan lintas barat. b. Pelabuhan Malahayati merupakan pelabuhan nasional dengan prioritas sedang c. Bandara Iskandar Muda sebagai pelabuhan udara pusat penyebaran sekunder dengan prioritas sedang (Dalam RTRWN sebagai pusat penyebaran tersier) Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah disusun pada tahun 1995 dan dan telah dilakukan penyempurnaan oleh Bappeda NAD tahun Selanjutnya pada tahun 2004 dilakukan peninjauan kembali, namun baru tahap Laporan Kemajuan, karena telah terjadi tsunami. Uraian mengenai materi dari masing-masing produk tersebut terutama yang berkaitan dengan Kabupaten Aceh Besar berikut ini. A. Rencana Sistem Kota Kota Dalam rencana sistem kota kota di Provinsi NAD berdasarkan buku penyempurnaan RTRWP NAD Tahun 2000, Kabupaten Aceh Besar dengan Ibukotanya Jantho termasuk kota orde IV pada tahun 2000, diharapkan pada tahun 2015 naik menjadi kota orde II dengan fungsi kota adalah Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Hal. 2-8

35 Gambar 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Pulau Sumatera Hal. 2-9

36 B. Rencana Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Alokasi luas kawasan lindung dan kawasan budidaya di Kabupaten Aceh Besar, berdasarkan RTRWP NAD tahun 1995 luas kawasan lindung ha, kawasan budidaya ha. Berdasarkan hasil penyempurnaan RTRWP NAD tahun 2000 luas kawasan lindung ha dan kawasan budidaya ha, lihat Tabel 2.2. No. Kawasan Tabel 2.2 Luas Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Di Kabupaten Aceh Besar RTRWP NAD 1995 Luas (Ha) Penyempurnaan RTRWP NAD 2000 Luas (Ha) Peninjauan Kembali RTRWP NAD 2004 (Buku Laporan Kemajuan) Luas (Ha) 1. Kawasan Lindung Kawasan Budidaya Sumber : - RTRWP NAD, Buku Penyempuranaan RTRWP NAD, 2000, Bappeda NAD - Peninjauan Kembali RTRWP NAD, 2004 (Buku Laporan Kemajuan) Adapun pokok pokok yang terkandung dalam Buku Laporan Kemajuan dari Peninjauan Kembali RTRW NAD, Tahun 2004 terutama yang terkait dengan Kabupaten Aceh Besar, antara lain : A. Potensi pengembangan di Kabupaten Aceh Besar adalah : Pertambangan dan penggalian Angkutan dan komunikasi B. Sektor Unggulan di Kabupaten Aceh Besar adalah : Pertanian tanaman pangan (ubi kayu) Tanaman hortikultura (tomat, ketimun, kangkung) Buah-buahan (mangga, nangka/cempedak, durian, sirsak, sukon, pepaya, pisang) Perkebunan (jambu mete, kemiri) Peternakan (ayam petelur) Perikanan Laut Hal. 2-10

37 C. Hirarki Pusat dan Tingkat Pelayanan Kabupaten Aceh Besar dengan Ibu Kotanya Jantho termasuk dalam hirarki IV D. Prasarana Transportasi Pelabuhan Malahayati di Kabuapaten Aceh Besar, termasuk pelabuhan utama sekunder, yang mengubungkan pelabuhan sekunder dari dan ke pelabuhan luar negeri atau menghubungkan antar pelabuhan utama sekunder tersier atau pelabuhan utama sekunder sekunder. Bandara Udara Iskandar Muda yang berada di Kabupaten Aceh Besar merupakan Bandara Udara Sekunder Kebijakan Kapet Bandar Aceh Darussalam Persetujuan prinsip atas perubahan area dan nama KAPET Sabang menjadi KAPET Bandar Aceh Darussalam ditetapkan berdasarkan ketetapan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Nomor S-271/M.EKON/10/2002 Tanggal 21 Oktober Selanjutnya penetapan wilayah kerja KAPET Sabang ke daratan Aceh dan pergantian nama Badan Pengelola (BP) KAPET Sabang menjadi BP KAPET Bandar Aceh Darussalam berdasarkan pada Keputusan Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 193/388/2002 Tanggal 25 Oktober Lingkup wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam adalah sebagai berikut: 1. Kota Banda Aceh, meliputi seluruh kecamatan dalam Kota Banda Aceh 2. Kabupaten Aceh Besar, meliputi: - Kecamatan Lhoknga - Kecamatan Darussalam - Kecamatan Kuta Baro - Kecamatan Peukan Bada - Kecamatan Seulimeum - Kecamatan Mesjid Raya 3. Kabupaten Pidie, meliputi: - Kecamatan Batee - Kecamatan Padang Tiji - Kecamatan Muara Tiga - Kecamatan Kota Sigli Hal. 2-11

38 Program perencanaan KAPET Bandar Aceh Darussalam yang terdapat pada wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah Pembangunan Kawasan Industri Terpadu Blang Ulam dan Kawasan Peternakan Terpadu Kuta Baro. A. Kawasan Industri Blang Ulam Dukungan yang sangat strategis dari Kawasan Industri Blang Ulam adalah : Terletak di kawasan Indonesia Bagian Barat dengan Pasar Asia Selatan, Jazirah Arab, Semenanjung Afrika. Berhadapan langsung dengan Free Trade dan Freeport Sabang sebagai outlet pasar. Didukung hinterland yang berpotensi SDA berpeluang pasar dunia. Kawasan industri ini direncanakan akan dibangun di Kecamatan Mesjid Raya tepatnya di Blang Ulam dengan luas areal 200 ha. Fasilitas penunjang Kawasan Industri Blang Ulam yaitu : 1. Jalur transportasi antar kota dan propinsi 2. Jauh dari permukiman penduduk 3. Pelabuhan Malahayati 4. Pelabuhan Sultan Iskandar Muda Ciri khas dari kawasan industri yang akan dikembangkan di KAPET Bandar Aceh Darussalam antara lain : Industri yang berbasis pertanian dan berorientasi ekspor ; Dapat menyerap tenaga kerja dengan menggunakan teknologi tepat guna ; Dapat tercipnya keharmonisan antara kepentingan industri dengan situasi dan kondisi daerah sekitar ; Industri yang berkelanjutan (sustainable industries). Saat ini BRR bekerjasama dengan mitra kerja tengah menyusun DED kawasan industri Blang Ulam. B. Kawasan Peternakan Terbaru Kuta Baro Kawasan Peternakan Terpadu berlokasi di Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar. Aspek ekonomi dan sosial dari pembangunan Kawasan Industri Peternakan di KAPET Bandar Aceh Darussalam diperkirakan akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan dan daerah hinterland secara keseluruhan, antara lain : Hal. 2-12

39 1. Terbukanya lapangan kerja bagi penduduk yang secara langsung ikut terlibat dalam kegiatan usaha ternak. Secara tidak langsung akan timbul pengaruh multiplier effect dari usaha ternak, seperti kegiatan pemasaran yang dapat menambah lapangan kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan meminimalkan tingkat pengangguran. 2. Meningkatkan kontribusi bagi pendapatan daerah melalui pajak penjualan dan dapat menambah devisa negara untuk jangka panjang bila adanya permintaan import ternak dari luar negeri sebagai salah satu produk non migas Aceh. 3. Dengan adanya bisnis ternak diharapkan akan terjadi alih teknologi di sekitar kawasan peternakan terpadu Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang disusun pada tahun 2003 yang membahas antara lain rencana struktur tata ruang, rencana pola pemanfaatan ruang maupun rencana transportasi. 1. Pembagian Klaster Pengembangan Kawasan Dalam pembagian klaster kawasan, terdiri dari : A. Kota Sabang, terdiri dari klaster : Kawasan perkotaan yang meliputi kawasan pusat Kota Sabang, kawasan pertahanan dan kawasan kota baru Kawasan Industri yang meliputi kawasan pelabuhan Balohan, kawasan industri Jaboi dan kawasan refinery dan bunker. Kawasan pariwisata yang meliputi kawasan wisata gapang, Lheu Angen, dan Land Mark Area untuk kawasan 0 km Indonesia Disamping ketiga klaster tersebut juga dibentuk klaster lain yang fungsinya mendukung aktivitas pada sektoral unggulan yang akan dikembangkan. Klaster tersebut ditujukan sebagai : - Kawasan pengembangan permukiman yang terletak di Kelurahan Paya - Kawasan pertanian dan perkebunan yang meliputi sebagian kelurahan Bateshoek dan Keunekal. Hal. 2-13

40 B. Kecamatan Pulo Aceh (termasuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar), hanya terdiri dari satu klaster yang ditujukan sebagai kawasan pengembangan ecowisata, industri perikanan dan pengembangan industri kecil. 2. Tata Jenjang (hirarki) Pusat Pusat Kawasan Tata jenjang (hirarki) pusat pusat kegiatan di kawasan Sabang adalah : Primer : Kawasan Perkotaan Sabang Sekunder : Kawasan industri dengan pusatnya di Balohan (Saat ini BRR bekerjasama dengan mitra kerja PT. Bina Citra Kreasi Ganesha sedang melakukan studi pengembangan tata ruang Kota Balohan) Tersier : Kawasan permukiman baru dengan pusatnya di Paya, Kawasan pengembangan pertanian dan perkebunan dengan pusatnya di Bateeshoek 3. Rencana Struktur Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang terbagi dalam dua sub-kawasan utama yaitu Sub Kawasan Kota dan Sub Kawasan Pulo Aceh. Dalam konteks ini, Kota Sabang berperan sebagai daerah depan yang berfungsi sebagai motor penggerak utama pengembangan wilayah yang diharapkan mampu memberi efek trickling down bagi wilayah sekitarnya. Sementara Pulo Aceh memiliki peran sebagai daerah belakang yang berperan sebagai pendukung serta menjadi daerah pengaruh utama yang menerima back wash dari daerah depan (core/main). Secara umum struktur tata ruang wilayah Sabang dapat dilihat Gambar Rencana Pemanfaatan Ruang Wilayah Dalam rencana pemanfaatan ruang wilayah Kawasan Sabang, Pulo Aceh (termasuk wilayah Kabupaten Aceh Besar), kawasan lindungnya meliputi lebih dari separuh dari luasannya, perlu dilakukan pengembangan dengan tetap memperhatikan fungsi lindungnya. Konsep yang dapat diterapkan untuk kawasan ini adalah pengembangan ecowisata berupa Taman Hutan Raya atau Taman Wisata Alam. Untuk kawasan budidaya Kecamatan Pulo Aceh dikembangkan untuk zona pertanian tanaman pangan, sayur sayuran dan buah buahan. Disamping itu, di kawasan Pulo Aceh dikembangkan dengan jenis kegiatan : Pengembangan industri/ pengolahan perikanan Pengembangan tambak super intensif Budidaya perikanan laut Hal. 2-14

41 Gambar 2.4 Rencana Struktur Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang Hal. 2-15

42 5. Rencana Transportasi Laut Pengembangan sistem laut diarahkan pada penyediaan jasa pelabuhan yang handal sehingga mampu memberikan pelayan yang optimal baik untuk pelayaran penumpang maupun barang sehingga dapat mendukung fungsi Sabang sebagai pelabuhan bebas. Pengembangannya diarahkan pada pembangunan dermaga untuk dapat menampung aktivitas perkapalan dengan baik sehingga mampu menangkap arus lalu lintas kapal yang berada pada jalur pelayaran internasional Rencana Pokok Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Untuk Kota Banda Aceh Dalam Rencana Pokok Rehabilitasi dan Rekonstruksi Untuk Kota Banda Aceh (JICA), 2006 diuraikan tentang kota metropolitan Banda Aceh dan sekitarnya meliputi wilayah Kota Banda Aceh, Sabang dan sebagian wilayah Kabupaten Aceh Besar. Keterkaitan Wilayah Kabupaten Aceh Besar dalam metropolis Banda Aceh diuraikan sebagai berikut : A. Konsep Sistem Kota Metropolitan Konsep sistem Kota Metropolitan Banda Aceh diwujudkan dalam pusat pusat hirarki dengan fungsi tertentu. Pusat pusat hirarki tersebut adalah : Hirarki 1 Kota yang termasuk hirarki 1 adalah pusat kota Banda Aceh dengan fungsi : - Pelayanan dan komersial skala kota dan regional - Kantor pemerintahan skala kota dan regional - Pusat bisnis skala kota dan regional - Fasilitas sosial dan umum skala kota dan regional - Pendidikan skala kota dan regional Hirarki 2 Kota yang termasuk hirarki 2 adalah : Kota satelit Sabang dengan fungsi : - Zona perdagangan bebas - Pengembangan pelabuhan Sabang - Pengembangan pariwisata - Komplek industri terpadu Sabang Hal. 2-16

43 Kota satelit Lambaro dengan fungsi : - Pengembangan terminal terpadu - Agropolitan (pusat kota pertanian) Kota satelit Lhoknga dengan fungsi : - Industri (skala besar) perusahaan semen - Pelabuhan (skala besar) perusahaan semen Kota satelit Krueng Raya dengan fungsi : - Pengembangan agro industri - Area industri - Pengembangan Pelabuhan Malahayati Hirarki 3 Pusat pertumbuhan Peukan Bada dengan fungsi : - Pariwisata alam - Produksi laut dan produk perikanan tambak Pusat pertumbuhan Cot Iri dengan fungsi : - Pengembangan area permukiman sekitar pinggiran Banda Aceh Pusat pertumbuhan Lambaro Angan dengan fungsi : - Pengembangan area permukiman sekitar Banda Aceh - Area spesial pertahanan dan keamanan - Area Pariwisata Pusat pertumbuhan Peukan Beliu dengan fungsi: - Produk pertanian Pusat pertumbuhan Lambada Lhok dengan fungsi : - Pengembangan pusat perikanan Pusat pertumbuhan Blang Bintang dengan fungsi : - Kota baru kota bandara (mandiri) Pusat pertumbuhan Montasik dengan fungsi : - Pusat pertanian Pusat pertumbuhan Peukan Ateuk dengan fungsi : - Pengembangan area permukiman sekitar Banda Aceh Pusat pertumbuhan Sibreh dengan fungsi : - Pusat pertanian. Selengkapnya Konsep sistem Kota Metropolitan Banda Aceh dapat dilihat Gambar 2.5 Hal. 2-17

44 B. Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Struktur Metropolitan Banda Aceh dibentuk oleh prasarana dan sarana transportasi seperti pelabuhan, badara udara, terminal multimedia serta pusat stasiun. Disamping itu dilengkapi dengan jaringan jalan beserta prioritasnya. Adapun pola pemanfaatan ruang metropolitan secara umum dibentuk oleh : area bangunan di pusat kota, area bangunan di kota satelit, hutan preservasi, hutan nasional, hutan eksplorasi, hutan konservasi dan area pengaruh kota satelit. Untuk lebih jelasnya struktur dan pola penggunaan lahan metropolitan Banda Aceh dapat dilihat Gambar 2.6 Hal. 2-18

45 Gambar 2.5 Peta Konsep Sistem Metopolitan Banda Aceh Hal. 2-19

46 Gambar 2.6 Peta Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Metropolitan Banda Aceh Hal. 2-20

47 Bab 3 POTENSI DAN PERMASALAHAN WILAYAH PENGEMBANGAN KABUPATEN ACEH BESAR Wilayah Kabupaten Aceh Besar mempunyai wilayah yang beraneka ragam, mulai dari wilayah perairan laut, wilayah dataran, wilayah perbukitan sampai wilayah pegunungan. Disamping itu, wilayah Kabupaten Aceh Besar berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sehingga perkembangan Kota Banda Aceh akan berdampak langsung pada Kabupaten Aceh Besar. Adanya wilayah yang beragam serta letak yang strategis ini tentunya mempunyai potensi dan masalah tersendiri, berikut ini akan diuraikan potensi dan masalah Kabupaten Aceh Besar yang menyangkut, perekonomian wilayah, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan (infrastruktur). 3.1 POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR Posisi Kabupaten Aceh Besar Dalam Konteks Regional Kabupaten Aceh Besar terletak pada posisi geografis 05 03' 7,2" ' 16,2" Lintang Utara dan 95 06' 10,8" ' 25,1" Bujur Timur. Letak geografis ini menunjukkan Kabupaten Aceh Besar berada pada posisi paling ujung utara di Pulau Sumatera. Secara administratif Kabupaten Aceh Besar berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sehingga kabupaten kabupaten lain yang ingin berinterkasi dengan Kota Banda Aceh ini harus melewati lebih dahulu Kabupaten Aceh Besar sebagai pintu gerbang utama menuju Ibu Kota Provinsi ini. Keberadaan Kabupaten Aceh Besar sebagai pintu gerbang utama ini telah ditunjang sarana transportasi yang cukup memadai seperti : Jalan Nasional Arteri Primer Banda Aceh Hal. 3-1

48 Medan serta Jalan Kolektor Primer Banda Aceh Meulaboh. Disamping itu, ditunjang pula prasarana transportasi Bandara Udara Iskandar Muda di Blang Bintang, Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya. Disisi lain sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh, menyebabkan Kabupaten Aceh Besar sebagai penyangga dari Kota Banda Aceh, yaitu penyangga dalam memenuhi kebutuhan perumahan, fasilitas kota, kegiatan perdagangan/jasa maupun kegiatan perindustrian. Dengan demikian dapat dikatakan perkembangan Kota Banda Aceh akan berimplikasi langsung terhadap perkembangan Kabupaten Aceh Besar secara menyeluruh. Sejalan dengan potensi letak dan posisi Kabupaten Aceh Besar yang demikian strategis, menjadikan Kabupaten Aceh Besar berpeluang tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada sebelumnya seperti yang diharapkan bersama Potensi Sumber Daya Alam Potensi Sumberdaya Mineral Sumber daya mineral yang ada di Kabupaten Aceh Besar ada 22 jenis yang tersebar hampir di semua kecamatan. Hingga saat ini jumlah perusahaan tambang galian C sebanyak 19 perusahaan dengan luas penambangan 301 Ha, sementara untuk jenis perusahaan tambang galian B sebanyak 3 perusahaan dengan luas penambangan 100 ha. Jenis sumber daya mineral yang ada di Kabupaten Aceh Besar beserta perkiraan jumlah potensinya diuraikan sebagai berikut : 1. Batu gamping Kapur diperkirakan potensi kandungannya ton 2. Marmer diperkirakan potensi kandungannya ton 3. Lempung serpih/kapur diperkirakan potensi kandungannya ton 4. Belerang diperkirakan potensi kandungannya ton 5. Tras diperkirakan potensi kandungannya ton 6. Serpintinit Berurat Magnesit diperkirakan potensi kandungannya ton 7. Diorit/Granodiorit diperkirakan potensi kandungannya ton 8. Batu setengah mulia diperkirakan potensi kandungannya ton 9. Diorit /Granodiorit diperkirakan potensi kandungannya ton 10. Andesit/Basalt diperkirakan potensi kandungannya ton 11. Sirtu (pasir dan batu) diperkiraan potensi kandungannya ton 12. Tuga Gampingan Diatome diperkirakan potensi kandungannya ton Hal. 3-2

49 13. Kalsit diperkirakan potensi kandungannya ,2 ton 14. Batu Gunung diperkirakan potensi kandungannya ton 15. Tanah urug diperkirakan potensi kandungannya ton 16. Diabas diperkirakan potensi kandungannya ton 17. Emas 18. Tembaga 19. Timah Hitam 20. Besi diperkirakan potensi kandungannya m³ 21. Panas Bumi 22. Batubara diperkirakan potensi kandungannya m³ Sumberdaya Lahan Kabupaten Aceh Besar mempunyai sumberdaya lahan yang cukup potensi untuk pengembangan pertanian maupun perkebunan. Hal ini dapat ditujukkan dengan kesesuaian lahan yang ada terdapat kesesuaian untuk pengembangan padi sawah, tanaman pangan lahan kering (TPLK) dan tanaman tahunan. Namun ada juga lahan yang tidak sesuai untuk pengembangan pertanian maupun perkebunan dan direkomendasikan untuk konservasi. Selengkapnya kesesuaian lahan di Kabupaten Aceh Besar diuraikan sebagai berikut: Lahan yang sesuai untuk pengembangan padi sawah seluas ,2 ha (10,80 %) Lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering (TPLK) seluas ,3 ha (4,61 %) Lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman tahunan seluas 107,645,2 ha (36,84 %) Lahan yang sesuai untuk konservasi seluas ,8 ha ( 47,75 %) Potensi kesesuaian lahan untuk 3 tipe penggunaan lahan pertanian (Soil Taxonomy USDA 1976/PPT Bogor 1983, disajikan pada Tabel 3.1 dan Gambar 3.1. Hal. 3-3

50 Tabel 3.1 Kesesuaian Lahan untuk 3 tipe penggunaan lahan Pertanian Hal. 3-4

51 Gambar 3.1 Peta Kesesuaian Lahan untuk 3 tipe penggunaan lahan Pertanian Hal. 3-5

52 Sumberdaya Air a. Air Permukaan Di Kabupaten Aceh Besar terdapat potensi sumber daya air permukaan (sungai) yang relatif cukup memadai. Sungai yang cukup besar potensi sumber airnya adalah Sungai Krueng Aceh dengan debit 30,86 m³/detik dengan luas DAS ha yang didalamnya terdapat anak anak sungai seperti Krueng Jrue, Krueng Indrapuri, Krueng Pangoh dan Krueng Seulimeum. Sungai Krueng Aceh dan Krueng Jrue digunakan untuk irigasi pertanian. Disamping itu, terdapat sungai sungai lain seperti Krueng Angan, Krueng Baro, Krueng Batee, Krueng Biheue, Krueng Geupu, Krueng Lambeso, Krueng Leangah, Krueng Pudeng, Krueng Raya, Krueng Teunom dan Krueng Utile b. Air Tanah Air tanah dangkal (sumur) di Kabupaten Aceh Besar umumnya dipakai untuk kebutuhan air bersih dengan kedalaman air secara umum bervariasi antara 3 m 25 m, tergantung lokasinya. c. Mata Air Di Kabupaten Aceh Besar terdapat 27 sumber mata air yang tersebar diberbagai wilayah, 4 diantaranya sumber air panas. Mata air tersebut umumnya mempunyai debit air antara liter/detik dan sebagian telah dimanfaatkan untuk sumber air bersih seperti mata air di Jantho, Mata Ie, Saree, Lhoknga dan Krueng Raya Sumberdaya Hutan Sumberdaya hutan di Kabupaten Aceh Besar meliputi kawasan budidaya kehutanan dan kawasan lindung. Kawasan bididaya kehutanan berupa hutan produksi seluas ha atau 54,64 % dari luas kawasan hutan, sementara kawasan lindung seluas ha (45,36 %) meliputi cagar alam seluas ha (8,88 %), Taman Hutan Raya seluas ha (3,22 %), hutan lindung seluas ha (32,55 %) serta kebun plasma nutfah seluas ha (0,69 %). Hal. 3-6

53 Gambar 3.2 Peta Fungsi Hutan Kabupaten Aceh Besar Hal. 3-7

54 Pariwisata Di Kabupaten Aceh Besar mempunyai beberapa obyek wisata yang potensial, baik itu wisata pantai, wisata alam maupun wisata sejarah. Selengkapnya obyek wisata tersebut lokasi dan luasannya dapat dilihat Tabel 3.2. Tabel 3.2 Potensi Obyek Wisata Pantai, Wisata Alam Dan Wisata Sejarah Di Kabupaten Aceh Besar No. Obyek Wisata Luas (Ha) Lokasi A Wisata Pantai 1 Pantai Ujung Batee 4 Kec. Mesjid Raya 2 Pantai Bunga Karang 5 Kec. Lhoknga 3 Pantai Ujung Karang 4 Kec. Mesjid Raya 4 Taman Tepi Laut 2 Kec. Lhoknga 5 Pantai Lamtadok 3 Kec. Pulo Aceh 6 Pantai Lhok Pasi Raya 2 Kec. Pulo Aceh 7 Pantai Nipah 1,5 Kec. Pulo Aceh 8 Pantai Lhok Reudep 1 Kec. Pulo Aceh 9 Pantai Cemara 5 Kec. Lhoknga B. Wisata Alam 1 Air terjun Bilui 5 Kec. Darul Kamal 2 Kolam Renang Mata Ie 4 Kec. Darul Imarah 3 Air Terjun Sihom 2 Kec. Lhoong 4 Sarah 8 Kec. Leupung 5 Irigasi Krueng Jrue 50 Kec. Indrapuri 6 Tahura Saree 55 Kec. Lembah Seulawah 7 Ie Seuum 5 Kec. Mesjid Raya C. Wisata Sejarah 1 Pustaka Kuno Tanoh Abee 1 Kec. Seulimeum 2 Makam T. Panglima Polem 2 Kec. Kuta Cot Glie 3 Makam Tgk. Chik Pante Kulu 1 Kec. Kuta Cot Glie 4 Masjid Indrapuri 2 Kec. Indrapuri 5 Makam Tgk. Chik Ditiro 2 Kec. Indrapuri 6 Makam Tgk. Chik Empe Awe 2 Kec. Montasik 7 Makam Sultan Mahmud Syah 1 Kec. Kuta Malaka Hal. 3-8

55 No. Obyek Wisata Luas (Ha) Lokasi 8 Makam Sultan Aalaidin Syah 0,25 Kec. Suka Makmur 9 Makam Maha Raja Lela 0,50 Kec. Ingin Jaya 10 Benteng Inong Balee 3 Kec. Mesjid Raya 11 Kuburan Laksamana Malahayati 0,50 Kec. Mesjid Raya 12 Benteng Iskandar Muda 0,25 Kec. Mesjid Raya 13 Benteng Indrapatra 0,25 Kec. Mesjid Raya 14 Tugu Pendaratan Jepang 0,25 Kec. Mesjid Raya 15 Rumah Cut Nyak Dhien 1 Kec. Peukan Bada Sumber : Profil Pembangunan Ekonomi Kab. Aceh Besar, Pemerintah Kabuapten Aceh Besar, Bappeda, Tahun Potensi Kelautan dan Pulau-Pulau Kecil A. Wilayah Perairan dan Pantai Panjang pantai wilayah Kabupaten Aceh Besar pasca tsunami berdasarkan perhitungan Arc Gis 9 pada Peta Dasar Bakosurtanal Kabupaten Aceh Besar (Geospasial-GIS Forum) adalah 283 km. Dengan demikian wilayah perairan Kabupaten Aceh Besar menurut ketetentuan dari Depertemen Kelautan diuraikan sebagai berikut : Wilayah Perairan/Teritorial ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil dari garis pantai) nusantara dengan luas perairan ha. Wilayah Perairan/Teritorial Provinsi NAD (12 mil dari garis pantai) dengan luas perairan ha. Wilayah Perairan/Teritorial Kabupaten Aceh Besar (4 mil dari garis pantai) dengan luas perairan ha. Sumber kekayaan kelautan di Kabupaten Aceh Besar yang dapat di manfaatkan antara lain: Perikanan tangkap Wilayah perairan Kabupaten Aceh Besar yang memiliki potensi perikanan tangkap adalah meliputi perairan Selat Malaka sampai Samudera Indonesia. Nelayan perikanan tangkap pada tahun 2004 sekitar orang dengan produksi yang dicapai sebesar ,8 ton. Jenis kapal yang digunakan nelayan terdiri dari kapal tak bermotor sebanyak 466 ukuran kecil, sedang dan besar, perahu motor tempel 492 buah, kapal motor 0-5 GT 22 buah Hal. 3-9

56 dan 5-10 GT sebanyak 51 buah. Jenis alat tangkap yang digunakan berupa pukat kantong, pukat cincin dan jaring angkat bagan. Jenis ikan tangkap berupa tongkol (Eulynnus Ssp.). cakaking (Kcilsu Wenus Pelam s), ikan terbang (Sardineki Fimbrkita), udang (Penecius Ssp.), cumi-cumi (Loliligo Ssp.) dan teri (Stolephorus Ssp.) Kegiatan perikanan tangkap ini telah dilakukan oleh para nelayan yang tersebar diberbagai wilayah pesisir pantai di Kecamatan Peukan Bada, Lhoknga, Leupung, Lhoong, Baitussalam, Mesjid Raya, Suelimeum dan Kecamatan Pulo Aceh. Budidaya Perikanan Laut Budidaya perikanan laut yang ada di Kabupaten Aceh Besar adalah budidaya ikan kerapu (Epinepkis Sp.) dengan menggunakan keramba jaring apung. Wilayah yang sesuai untuk budidaya perikanan laut terdapat di Teluk Krueng Raya, Teluk Lhok Seudu, Pulo Aceh dan Lhoong. Budidaya Rumput Laut Budidaya rumput laut merupakan komoditas yang cukup potensial untuk dikembangkan. Usaha budidaya rumput laut ini telah dikembangkan di Pulo Aceh dan Leupung dengan jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat adalah jenis Euchema Splnosum, E. Cotonii, Don Euchema Ecjle, E. Splnosum. Budidaya Air Payau Wilayah pantai Kabupaten Aceh Besar yang berpotensi untuk tambak dan telah produktif sebelum terjadi bencana tsunami seluas ha meliputi Kecamatan Mesjid Raya, Peukan Bada, Baitussalam, Lhoong dan Lhoknga, Pulo Aceh dan Leupung. Jenis ikan budidaya tambak terdiri dari udang windu, udang putih, udang api, udang rebon dan bandeng. Jumlah petani tambak keseluruhan sebanyak 673 jiwa. Fasilitas dan Infrastruktur Perikanan Laut Hampir semua kecamatan-kecamatan yang ada di wilayah pesisir merupakan sentra priduksi perikanan laut, fasilitas dan infrastruktur yang ada berupa Pusat Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Kegiatan PPI dan TPI terbesar terdapat di Krueng Raya (Kec. Mesjid Raya), Lambada Lhok (Baitussalam, Lhoknga dan Peukan Bada. Hal. 3-10

57 B. Wilayah Perairan dan Pulau Pulau Kecil Pada wilayah perairan Kabupaten Aceh Besar terdapat kawasan lindung laut berupa Taman Wisata Laut Lhoknga seluas ± 14,06 ha Pulau pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Aceh Besar yang berpotensi untuk kegiatan perikanan laut, diantaranya: Pulau yang berpenghuni (terdapat penduduk) adalah : Pulau Breuh (Kec. Pulo Aceh) Pulau Nasi (Kec. Pulo Aceh) Pulau Teunom (Kec. Pulo Aceh) Pulau Bunta (Kec. Peukan Bada) Dominasi kegiatan pulau-pulau kecil tersebut diatas adalah nelayan Pulau yang tidak berpenghuni (tidak ada penduduk) adalah : Pulau Sidom (Kec. Pulo aceh) Pulau Kepala/Pulau U (Kec. Pulo Aceh) Pulau Benggala (Kec. Pulo Aceh) Pulau Batee (Kec. Peukan Bada) Pulau Usam Lamlhok (Kec. Peukan Bada) Pulau Bruek (Kec. Peukan Bada) Pulau Burak (Kec. Lhoong) Pulau Kerling (Kec. Lhoong) Pulau Rusa (Kec. Lhoong) Kawasan pesisir, perairan dan pulau yang harus dilindungi selain taman laut adalah kawasan mangrove (bakau) di Kecamatan Seulimeum, Baitussalam, Mesjid Raya, Peukan Bada, Pulo Aceh, Lhoknga, Leupung dan Lhoong seluruhnya seluas 253 ha. Hal. 3-11

58 3.1.3 Potensi Ekonomi Wilayah Kegiatan perekonomian di Kabupaten Aceh Besar berdasarkan PDRB dalam perkembangannya telah mengalami peningkatan. sektor yang paling dominan adalah bidang pertanian, dibandingkan dengan sektor lainnya seperti perdagangan, jasa, industri dan pertambangan. Untuk lebih mengetahui potensi tentang perekonomian wilayah di Kabupaten Aceh Besar diuraikan sebagai berikut: b. Sektor Pertanian Jenis tanaman pangan yang telah mengalami pertumbuhan cepat di Kabupaten Aceh Besar adalah ubi jalar, ubi kayu, jagung dan kacang kedelai, sedangkan komoditi padi mengalami pertumbuhan lebih cepat di tingkat kecamatan dibandingkan ditingkat kabupaten. Komoditi hasil tanaman yang tumbuh dengan baik/cepat adalah kemiri, lada, aren, nilam dan tembakau. Hasil perkebunan karet, kopi, cengkeh dan pala tumbuh dan berkembang dengan cepat/baik. Tanaman sayuran yang tumbuh berkembang dengan baik adalah tomat, kacang panjang dan sawi. Buah buahan alpokat, rambutan, langsat, jeruk besar, jambu biji, nenas, nangka, salak, manggis, sirsak yang tumbuh dengan baik dan cepat. Peternakan kambing dan domba yang mengalami pertumbuhan cepat ditingkat kabupaten, selain itu sapi, kerbau ayam dan itik yang mempunyai pertumbuhan lambat di kecamatan dibandingkan pertumbuhannya ditingkat kabupaten. Perikanan tambak, perikanan laut dan budidaya laut mempunyai prospek yang baik. Selengkapnya komoditi pertanian dan sektor unggulan di Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat Gambar 3.3. c. Sektor Kehutanan Adanya hasil hutan kayu dan non kayu (nipah, getah, minyak atsiri, biji/buah, kulit kayu, madu tawon/lebah) serta adanya pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) Hutan dapat dimanfaatkan sebagai eco wisata alam dan hutan wisata Hal. 3-12

59 Gambar 3.3 Peta Komoditi dan Sektor Unggulan Hal. 3-13

60 d. Sektor Perdagangan dan jasa Terdapat jumlah perusahaan unit, terdiri dari perusahaan besar 80 unit, perusahaan menengah 699 unit dan perusahaan kecil unit. Mempunyai beberapa pasar yang berpotensi, yaitu Pasar Lambaro Di Kecamatan Ingin Jaya merupakan kawasan pasar induk, Pasar Keutapang di Kecamatan Darul Imarah dan Pasar Sibreh di Kecamatan Suka Makmur merupakan kawasan penunjang, Pasar Saree di Kecamatan Lembah Seulawah merupakan pasar wisata, sedangkan pasar yang ada di kecamatan kecamatan lain merupakan pasar tradisional. e. Sektor Perindustrian Berpotensi untuk pengembangan unit usaha industri formal dan non formal Teradapat kawasan kawasan industri menengah dan kecil, diantaranya : - Kawasan industri menengah di Blang Ulam Kecamatan Mesjid Raya - Kawasan industri kecil garam rakyat di Kecamatan Baitussalam dan Kecamatan Mesjid Raya. - Kawasan industri kecil batu bata di Kecamatan Baitussalam dan Darussalam f. Sektor Pertambanganan Ditinjau potensinya sektor pertambangan mempunyai prospek yang besar, walaupun produksinya belum cukup banyak Potensi Sumberdaya Manusia Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor dalam rangka mendorong keberhasilan dalam suatu usaha maupun kegiatan. Salah satu sumber daya manusia adalah kemampuan usaha, tenaga kerja serta ikatan kekerabatan. a. Kemampuan Usaha Sebagian penduduk di Kabupaten Aceh Besar mempunyai kemampuan/ketrampilan berusaha di luar sektor pertanian seperti pengolahan hasil pertanian, kerajinan Aceh, mebel, pandai besi, dan lain lain. b. Tenaga Kerja Penduduk usia kerja lebih dominan dibandingkan dengan penduduk non kerja Hal. 3-14

61 Tingkat pendidikan penduduk yang tinggal di perkotaan, khususnya penduduk yang tinggal dekat dengan Kota Banda Aceh umumnya mempunyai pendidikan yang memadai. c. Ikatan Kekerabatan Sebagian penduduk di Kabupaten Aceh Besar mempunyai ikatan rasa kekeluargaan. Sifat gotong royong dalam bekerja maupun dalam pembangunan masih terdapat pada sebagian penduduk di Kabupaten Aceh Besar Potensi Sumberdaya Buatan Sebagai penggerak utama dalam pengembangan wilayah, maka diperlukan sumber daya buatan (infrastruktur) penunjang yang memadai. Infrastruktur tersebut antara lain jaringan transportasi, jaringan irigasi serta jaringan utilitas lainnya. a. Transportasi Transportasi darat di Kabupaten Aceh Besar dilalui oleh jaringan jalan darat jalur lintas Sumatera yang menghubungkan jalur wilayah tengah dan pantai timur yaitu Jalan Nasional Banda Aceh - Medan (Arteri Primer) serta jalur pantai barat yaitu Jalan Nasional Banda Aceh Meulaboh (Kolektor Primer). Selain jalan tersebut terdapat pula jalan provinsi dan jalan kabupaten. Di Kabupaten Aceh Besar pernah terdapat jaringan rel kereta api yang menghubungkan Kota Banda Aceh Sigli Binjai (Sumatera Utara) selanjutnya dihubungkan ke Kota Medan, jaringan rel kereta api ini sewaktu waktu dapat diaktifkan kembali. Transportasi laut di Kabupaten Aceh Besar telah mempunyai Pelabuhan Nasional Malahayati di Krueng Raya berupa pelabuhan penumpang dan barang. Transportasi udara di Kabupaten Aceh Besar telah mempunyai Bandara Udara Iskandar Muda di Blang Bintang. b. Irigasi Terdapat saluran irigasi teknis untuk pengairan pertanian padi sawah yang melayani beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Besar, yaitu irigasi Krueng Aceh dengan wilayah pengairan seluas ha meliputi wilayah Kecamatan Seulimeum, Kuta Cot Glie, Indrapuri, Montasik, Ingin Jaya, Kuta Baro, Krueng Barona Jaya dan Kecamatan Darussalam. Terdapat juga irigasi Krueng Jrue dengan wilayah pengairan seluas ha meliputi wilayah Kecamatan Indrapuri, Kuta Malaka, Suka Makmur, Simpang Tiga, Hal. 3-15

62 Ingin Jaya, Darul Kamal dan Kecamatan Darul Imarah. Disamping itu, terdapat irigasi semi teknis dan irigasi tradisional yang tersebar di berbagai wilayah serta terdapat potensi irigasi pada Sungai Krueng Seulimeum yang dapat dikembangkan. Saat ini telah dibangun bendung dan Waduk Keuliling yang direncanakan akan mensuplai Daerah Irigasi yang telah ada. c. Air Bersih Terdapat jaringan air bersih yang masih aktif, yaitu terdapat di Lambaro (sumber air bersih dari Sungai Krueng Aceh), Darul Imarah (Sumber air bersih dari mata air Mata Ie), Jantho (sumber air bersih dari mata air Jantho). Juga terdapat jaringan air bersih yang tidak aktif lagi, yaitu di Saree, Krueng Raya dan Lhoknga d. Listrik Semua kecamatan telah terlayani jaringan listrik, namun akibat adanya bencana tsunami dan gempa telah terjadi kerusakan jaringan listrik terutama di Kecamatan Pulo Aceh. e. Telepon Beberapa kecamatan telah terlayani jaringan telepon kabel, yaitu Kecamatan Jantho, Suelimeum, Mesjid Raya, Darussalam, Kuta Baro, Krueng Barona jaya, Darul Imarah, Peukan Bada dan Lhoknga Potensi Struktur Ruang Eksisting Kabupaten Aceh Besar telah mempunyai pusat pusat kegiatan yang berada dipusat kota, pusat pusat tersebut telah ditunjang oleh prasarana dan sarana transportasi yang cukup memadai, diantara pusat pusat kota yang telah berkembang antara lain : Kota Lambaro yang telah berkembang sebagai kota perdagangan dan jasa Kota Jantho merupakan Ibukota Kabupaten Aceh Besar yang telah berkembang menjadi Kota Pemerintahan Kota Krueng Raya merupakan Kota Pelabuhan yang didukung oleh kegiatan industri sedang Kota Lhoknga merupakan kota yang telah didukung oleh kegiatan Industri besar (Semen Andalas). 3.2 PERMASALAHAN PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR Upaya untuk mengetahui permasalahan pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar secara menyeluruh tidak lepas kaitannya dengan permasalahan pengembangan wilayah secara makro dalam konteks Provinsi NAD dan secara mikro Kabupaten Aceh Besar itu sendiri. Hal. 3-16

63 3.2.1 Permasalahan Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar Dalam Lingkup NAD Sebagaimana telah dijelaskan bahwa Kabupaten Aceh Besar adalah merupakan pintu gerbang dari wilayah kabupaten lain yang ingin berhubungan dengan Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi NAD. Sehubungan dengan hal itu, maka timbul permasalahan permasalahan yang muncul yaitu terjadi penumpukan aliran kendaraan penumpang dan barang yang pada akhirnya menimbulkan kemacetan arus lalu lintas seperti yang terjadi di Kota Lambaro, kondisi seperti ini tidak diikuti dengan pelebaran jalan ruas Banda Aceh Medan, sehingga pada waktu waktu tertentu terjadi kepadatan kendaraan sepannjang ruas jalan ini. Kabupaten Aceh Besar berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh, sehingga segala perkembangan secara fisik di Kota Banda Aceh akan berimplikasi terhadap perkembangan di Kabupaten Aceh Besar. Sehubungan dengan itu, isu yang berkembang adalah belum ada kebijakan yang tetap, khususnya yang menyangkut integrasi antara Kota Banda Aceh dengan Kabupaten Aceh Besar maupun kabupaten kabupaten lain disekitarnya. Integrasi ini menyangkut sistem transportasi dalam skala Metropolitan Banda Aceh, sistem pusat pusat kota serta keterkaitan secara spasial pemanfaatan ruang. Saat ini sinergitas tata ruang dan kerja sama antar Kabupaten Aceh Besar dengan Kota Banda Aceh tengah diupayakan bersamaan dengan Penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Kota Banda Aceh. Di Kabupaten Aceh Besar terdapat Banda Udara Iskandar Muda dan Pelabuhan Malahayati yang melayani wilayah di Provinsi NAD untuk berhubungan secara regional terhadap wilayah lain. Dengan fungsi yang demikian, maka diperlukan prasarana dan sarana penunjang serta penyiapan kegiatan di wilayah hinterland untuk mendukung Bandara dan Pelabuhan tersebut. Isu lain adalah banjir kiriman dari Kabupaten Aceh Besar ke Kota Banda Aceh, yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Krueng Aceh dari Aceh Besar yang bermuara di Kota Banda. Hal. 3-17

64 3.2.2 Permasalahan Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar Dalam Lingkup Internal Permasalahan Sumberdaya Alam Permasalahan sumberdaya alam yang timbul menyangkut sumberdaya mineral, lahan, air, hutan dan pariwisata yang diuraikan berikut ini. a. Sumberdaya Mineral Penambangan bahan galian berupa batu maupun tanah urug pada kemiringan lahan yang curam menimbulkan bahaya longsor dan erosi seperti terjadi di Kecamatan Peukan Bada, Mesjid Raya dan Kecamatan Lhoknga. Penambangan batu kerikil dan pasir secara besar besaran pada Sungai Krueng Aceh menimbulkan air menjadi keruh, sehingga mempengaruhi kualitas air sungai sebagai sumber air bersih. b. Sumberdaya Lahan Terdapat lahan yang rawan terjadi erosi seperti di Kecamatan Mesjid Raya, Seulimeum, Jantho, Kuta Cot Glie, Leupung dan Lhoknga. Terdapat lahan yang rawan terhadap bahaya longsor seperti di Kecamatan Kuta Cot Glie, Jantho, Sukamakmur dan Kecamatan Simpang Tiga Terdapat kerusakan lahan dan lingkungan di sekitar pantai akibat bencana tsunami dan gempa, terdapat di Kecamatan : Pulo Aceh, Peukan Bada, Baitussalam, Lhoknga, Mesjid Raya, Leupung dan Kecamatan Lhoong. c. Sumberdaya Air Terjadi genangan/banjir pada musim hujan di wilayah dataran seperti di Kecamatan Peukan Bada, Darul Imarah, Darul Kamal, Ingin Jaya, Krueng Barona Jaya, Kuta Baro dan Indrapuri Terjadi genangan air di sekitar akibat bencana tsunami dan gempa terdapat di Kecamatan Peukan Bada, Baitussalam, Leupung, Lhoong dan Kec. Pulo Aceh Kualitas air tanah di wilayah pesisir pantai kurang baik terasa payau. d. Sumberdaya hutan Terjadinya kebakaran hutan terutama terjadi pada musim kemarau Terjadinya perladangan berpindah Terjadinya illegal logging Hal. 3-18

65 Terjadi kerusakan hutan bakau akibat tsunami dan gempa seperti terjadi pada Kecamatan Peukan Bada, Baitussalam dan Lhoong e. Pariwisata Wilayah pariwisata pantai telah terjadi keruskan akibat bencana tsunami dan gempa seperti terjadi di Kecamatan Lhoknga, Mesjid Raya dan Pulo Aceh. Wisata wisata alam yang potensial belum tertata dengan baik dan dilengkapi prasarana dan sarana pendukung. Kurangnya promosi terhadap obyek wisata yang mempunyai nilai sejarah f. Wilayah Pesisir, Perairan dan Pulau-Pulau kecil Perikanan Tangkap Pasca terjadinya tsunami 26 Desember 2004 telah menghancurkan semua fasilitas, sarana dan prasarana perikanan tangkap. Berkurangnya jumlah nelayan serta daerah penangkapan ikan yang terbatas juga jumlah unit penangkapan ikan yang beroperasi dilaut masih rendah, karena alat tangkap kapal belum seluruh wilayah merata, menyebabkan produksi perikanan tangkap berkurang. Banyak terumbu karang sebagai habitat ikan di laut yang telah hancur serta terjadi kerusakan hutan lingkungan. Selain itu terjadinya penangkapan ikan secara bebas tanpa batasan, sehingga mengganggu pengoperasian alat alat, baik alat tangkap maupun alat bantu seperti rumpon rumpon dan alat pancing. Penggunaan bahan peledak oleh nelayan untuk penangkapan berbagai macam jenis ikan karang cukup riskan. Selain itu penangkapan ikan hias dengan menggunakan racun juga dapat membahayakan masyarakat nelayan. Penjarahan ikan secara besar besaran yang dilakukan oleh nelayan asing dengan peralatan yang canggih (menggunakan sistem komputerisasi dan satelit GPS), menyebabkan berkurangnya produksi tangkap. Nelayan pesisir Kabupaten Besar secara umum merupakan nelayan kecil yang mengalami kesulitan memperoleh modal usaha dari lembaga lembaga yang seharusnya menyediakan pinjaman. Hal ini menyebabkan terhambatnya kelancaran operasi penangkapan ikan. Hal. 3-19

66 Hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh musim terutama musim barat dan saat perpindahan ikan pada musim tertentu juga mempengaruhi hasil tangkapan nelayan. Budidaya Perikanan laut Keterbatasan modal para nelayan untuk budidaya perikanan laut. Pengetahuan dan ketrampilan untuk budidaya perikanan laut masih kurang memadai. Kebiasaan dan kemudahan nelayan untuk penangkapan ikan langsung dilaut, menyebabkan budidaya perikanan laut kurang berkembang. Budidaya Rumput Laut Pengelolaan usaha rumput laut masih tergolong relatif rendah ditinjau dari sudut produksi maupun luas lahan garapan. Hal ini disebabkan pemanfaatan dan pemasaran rumput laut di Kabupaten Aceh Besar masih tergolong langka, karena belum ada permintaan dalam skala daerah. Budidaya Air Payau (Tambak) Berkurangnya luas hutan rawa dan mangrove akan menurunkan kualitas lingkungan yang dibutuhkan untuk memproduksi budidaya air payau (tambak). Terjadinya kerusakan dan timbulnya penyakit pasca tsunami serta besarnya modal dan resiko kegagalan, menyebabkan kegiatan budidaya air payau (tambak) kurang berkembang. Faktor keamanan yang menjadi pertimbangan dalam proses produksi di bidang budidaya perikanan tambak. Fasilitas dan Infrastruktur Perikanan laut Telah terjadi kerusakan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) serta Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pasca tsunami terdapat di Krueng Raya (Kec. Mesjid Raya), Lambada Lhok (Kec. Baitussalam), Peukan Bada dan Lhoknga. Wilayah Pulau-Pulau Kecil Terjadi kerusakan wilayah pesisir dan pantai pada pulau pulau kecil yang terdapat di Kecamatan Pulo Aceh, Peukan Bada dan Kecamatan Lhoong akibat bencana tsunami. Hal. 3-20

67 Fasilitas, sarana dan prasarana pendukung di pulau pulau kecil yang berpenghuni seperti di Pulau Breuh, Pulau Nasi, Pulau Teunom (Kec. Pulo Aceh) dan Pulau Bunta (Kec. Peukan Bada) kurang memadai akibat bencana tsunami. Kurang adanya perhatian khusus terhadap pulau pulau kecil luar seperti Pulau Benggala (Kec. Pulo Aceh) dan Pulau Rusa (Kec. Lhoong) Permasalahan Ekonomi Wilayah Permasalahan ekonomi yang muncul terjadi pada sektor pertanian, perdagangan dan jasa, Industri dan sektor pertambangan yang dijelaskan berikut ini. a. Sektor Pertanian Pertanian tanaman pangan - Terjadi kerusakan pertanian sawah seluas ha akibat bencana tsunami dan gempa yang terjadi di Kecamatan Peukan Bada, Lhoknga, Lhoong, Mesjid Raya, dan Pulo Aceh. - Prasarana irigasi tidak berfungsi secara optimal dan sebagian jaringan rusak - Banjir dimusim hujan dan kekeringan di musim kemarau pada sawah irigasi - Belum optimalnya produksi padi - Gangguan hama (babi, tikus, dll) yang merusak tanaman pertanian/perkebunan terutama di Kecamatan Lembah Seulawah, Jantho dan Kecamatan Seulimeum. Perkebunan - Keterbatasan lahan untuk perkebunan karena kendala status lahan, terjadi diseluruh wilayah Kab. Aceh Besar. - Terjadi kerusakan kebun akibat tsunami dan gempa seluas ha, terjadi di Kecamatan Lhoong, Lhoknga, Leupung, Mesjid Raya, Baitussalam, Peukan Bada, Pulo Aceh. - Kendala permodalan dan pembibitan untuk perkebunan, terutama untuk perkebunan rakyat. Perikanan - Terjadi kerusakan tambak ha akibat bencana tsunami dan gempa dan belum dapat dibudidayakan kembali akibat barbagai penyakit dan kerusakan Hal. 3-21

68 tanggul, terjadi di Kecamatan Peukan Bada, Baitussalam, Lhoong dan Mesjid Raya - Sarana sentra perikanan terjadi kerusakan berupa TPI dan PPI - Belum optimalnya pemanfaatan laut seperti rumput laut - Belum optimalnya pemanfaatan air tawar untuk perikanan. Peternakan - Kekurangan permodalan untuk pengembangan usaha ternak hulu dan hilir - Bantuan sarana dan prasarana pendukung ternak - Dukungan penyuluhan untuk usaha peternakan b. Sektor Perdagangan dan Jasa Kegiatan pasar (perdagangan) pada kecamatan kecamatan di sekitar wilayah pantai belum berfungsi kembali akibat tsunami dan gempa seperti terjadi di Kecamatan Mesjid Raya, Baitussalam, Peukan Bada, Lhoknga dan Kecamatan Lhoong Kegiatan pasar ditiap tiap kecamatan biasanya hanya ramai pada hari pasaran tertentu atau seminggu sekali, kecuali Pasar Lambaro yang ramai setiap hari. Rehabilitasi pasar yang rusak akibat kebakaran seperti terjadi di Pasar Sukamakmur dan Pasar Seulimeum Kendala permodalan untuk pengembangan usaha perdagangan dan jasa c. Sektor Industri kecil dan menengah Kendala permodalan, pemasaran serta ketrampilan/keahlian dalam usaha industri kecil. Kurangnya penyuluhan maupun pelatihan untuk pengembangan usaha industri kecil Terjadi kerusakan industri Besar Semen Andalas dan industri menengah di Krueng Raya akibat bencana tsunami dan gempa. d. Sektor pertambangan Pertambangan galain C di Sungai Krueng Aceh tidak terkendali dan dapat merusak lingkungan Belum tergalinya sumberdaya pertambangan Terbatasnya ketersediaan data yang akurat untuk potensi pertambangan Hal. 3-22

69 Permasalahan Sumberdaya Manusia Masalah masalah yang menyangkut sumberdaya manusia terkait dengan kemampuan usaha, tenaga kerja serta ikatan kekerabatan. a. Kemampuan Usaha Kurangnya bantuan pelatihan ketrampilan untuk kegiatan usaha di luar sektor pertanian. Hilangnya mata pencaharian sebagian penduduk yang terkena bencana tsunami dan gempa dan sebagian belum mendapat pekerjaan yang tetap. b. Tenaga Kerja Tenaga kerja yang siap pakai umumnya kurang dibekali pendidikan/ketrampilan yang memadai. c. Ikatan Kekerabatan Untuk penduduk yang tinggal di komplek permukiman perkotaan sebagian telah berkurang ikatan kekerabatannya Permasalahan Sumberdaya Buatan Permasalahan yang muncul terhadap sumberdaya buatan meliputi : permasalahan transportasi, irigasi, air bersih, listrik dan telepon. a. Transportasi Lebar jalan jalur tengah lintas sumatera Banda Aceh Medan yang melalui Kabupaten Aceh Besar masih kurang, karena sering terjadi kemacetan lalu lintas terutama disekitar Kota Lambaro. Sebagian Jalan Kolektor Primer pada jalur pantai barat Banda Aceh Meulaboh belum dilakukan pengaspalan, sehingga bila cuaca panas menyebabkan polusi udara. Jalan penghubung antar desa banyak mengalami kerusakan Jalan jalan sekitar pantai telah mengalami kerusakan akibat tsunami dan gempa seperti terjadi di Kecamatan Peukan Bada, Lhoknga, Baitussalam, Leupung (hilangnya ruas jalan dan jembatan Leupung Lhoong 5 km), Lhoong, Pulo Aceh dan Kecamatan Seulimeum. Jalur rel kereta api yang dulu pernah ada telah dibongkar. Pelabuhan Malahayati sebelum tsunami telah melayani angkutan penumpang orang, namun setelah tsunami tidak melayani angkutan penumpang lagi. Hal. 3-23

70 Terjadi kerusakan pelabuhan lokal akibat tsunami seperti pelabuhan Lampuyang dan Gugop di Kecamatan Pulo Aceh, Pelabuhan Ujung Pancu dan Lam Teungoh di Kec. Peukan Bada. Kurangnya kapasitas penerbangan di Bandara Udara Iskandar Muda, akibat animo penumpang yang cukup banyak. b. Irigasi Debit air saluran irigasi kurang terutama pada musim kemarau. Sebagian saluran irigasi yang ada telah mengalami kerusakan dan kebocoran. Banyak saluran irigasi tersier yang belum menjangkau areal persawahan. Irigasi semi teknis di Kecamatan Lhoknga dan Lhoong telah terjadi kerusakan akibat bencana tsunami dan gempa c. Air Bersih Jaringan air bersih belum menjangkau wilayah yang lebih luas Terjadi kebocoran kebocoran jaringan air bersih Jaringan air bersih yang telah ada sebagian tidak berfungsi lagi seperti jaringan air bersih di Lhoknga (rusak akibat tsunami dan gempa), Mesjid Raya dan di Saree d. Listrik Terjadi kerusakan jaringan listrik terutama di Kecamatan kecamatan yang terkena bencana tsunami dan gempa. e. Telepon Belum semua kecamatan dapat pelayanan jaringan telepon kabel. Jaringan telepon di kecamatan yang terkena bencana tsunami dan gempa belum berfungsi kembali seperti di Kecamatan Peukan Bada, Lhoknga dan Baitussalam Permasalahan Struktur Ruang Pusat pusat kota yang telah membentuk struktur ruang yang ada, terdapat permasalahan permasalahan, diantaranya : Kota Jantho sebagai kota pemerintahan saat ini belum terlayani angkutan umum yang optimal, sehingga belum dapat melayani kebutuhan administratif masyarakat Kabupaten Aceh Besar. Selain itu daya hubung Kota Jantho tidak merata untuk dijangkau dari ibukota-ibukota kecamatan yang secara langsung kegiatan kawasan perkotaan Kota Jantho kurang berkembang. Hal. 3-24

71 Umumnya orientasi pelayanan lebih cenderung ke pusat Kota Banda Aceh dibandingkan ke pusat pusat kota yang ada di Kabupaten Aceh Besar, sehingga pusat pusat kota tersebut terasa kurang berkembang, kecuali pusat Kota Lambaro. Pusat Kota Krueng Raya dan Kota Lhoknga terkena bencana tsunami dan gempa, sehingga perkembangannya agak lamban. 3.3 POTENSI DAN MASALAH WILAYAH KECAMATAN Upaya untuk memperoleh gambaran detail tentang potensi dan masalah ditingkat kecamatan secara spasial, maka diuraikan potensi dan masalah kecamatan kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Besar yang menyangkut : perekonomian, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan seperti yang tersaji pada Tabel 3.3. Hal. 3-25

72 TABEL 3.3 POTENSI DAN MASALAH PENGEMBANGAN KABUPATEN ACEH BESAR Hal. 3-26

73 Bab 4 PERUMUSAN TUJUAN, KONSEP DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH 4.1 TUJUAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH Tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Mewujudkan optimasi dan sinergi pemanfaatan ruang wilayah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan nasional. b. Menciptakan keserasian dan keseimbangan antar wilayah, antar kawasan dan antar sektor pembangunan. c. Menciptakan keterpaduan program-program pembangunan wilayah d. Mendorong minat investasi masyarakat dan dunia usaha di wilayah Kabupaten Aceh Besar. 4.2 KONSEP DASAR PENGEMBANGAN Sebagai langkah awal dalam pengembangan tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar, maka dibuat konsep dasar pengembangan yang meliputi konsep dasar pengembangan fisik, konsep dasar pengembangan ekonomi serta konsep pengembangan tata ruang Konsep Dasar Pengembangan Fisik Konsep pengembangan fisik di Kabupaten Aceh Besar didasarkan pada daya dukung fisik lahan, fungsi lahan dan penggunaan lahan. Selengkapnya konsep dasar pengembangan fisik tersebut diuraikan berikut ini. Hal. 4-1

74 a. Daya dukung fisik lahan Dalam rangka pengembangan fisik lahan, maka daya dukung fisik lahan perlu mendapatkan pertimbangan dan perhatian yang serius, terutama menyangkut topografi, kemiringan lereng, kesesuaian lahan, geologi dan geomorfologi serta sumber daya air. Untuk pengembangan kawasan budidaya pertanian maupun perkebunan, maka semua faktor pertimbangan tersebut dijadikan dasar utama dalam pengembangan. Sementara untuk pengembangan kawasan lindung, maka selain pertimbangan tersebut diatas juga pertimbangan lain seperti : kelestarian flora dan fauna, kelestarian alam, kelestarian budaya dan sejarah dan lain sebagainya. b. Fungsi lahan Fungsi lahan akan menentukan dalam pengembangan fisik lahan, karena lahan lahan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung berdasarkan peraturan yang sudah berlaku, maka akan sulit untuk menjadikan lahan tersebut untuk dijadikan kawasan budidaya. c. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan yang ada akan mendasari dalam pengembangan fisik, bila penggunaan lahan berupa sawah, maka pengembangan fisiknya akan cenderung berupa sawah. Demikian juga bila penggunaan lahan berupa permukiman, maka pengembangan fisiknnya mengarah pada permukiman Konsep Dasar Pengembangan Ekonomi Konsep dasar pengembangan ekonomi di Kabupaten Aceh Besar terkait dengan pengembangan KAPET Bandar Aceh Darussalam yang meliputi wilayah Kota Banda Aceh (seluruh kecamatan), Kabupaten Aceh Besar (Kec. Lhoknga, Darussalam, Kuta Baro, Peukan Bada, Seulimeum dan Kec. Mesjid Raya) serta Kab. Pidie (Kec. Batee, Padang Tiji, Muara Tiga dan Kota Sigli). Program perencanaan untuk wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah : Pengembangan kawasan industri terpadu Blang Ulam dan kawasan peternakan terpadu Kuta Baro. Disamping itu terkait pula dengan penetapan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, kawasan Sabang adalah wilayah yang meliputi : Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako, Pulau Rondo, Pulau Breuh, Pulau Nasi dan Pulau Teunom serta pulau pulau kecil disekitarnya. Pulau Breuh dan Pulau Nasi itu sendiri terdapat di Hal. 4-2

75 Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Sehingga kawasan Sabang meliputi juga sebagian wilayah di Kabupaten Aceh Besar. Dalam konteks wilayah, Kota Sabang, Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar terkait dalam satu kesatuan ekonomi, sehingga pengembangan ekonomi Kabupaten Aceh Besar terkait dengan kedua kota tersebut. Berdasarkan PDRB Sabang tahun 2004 berdasarkan harga berlaku sebesar Rp. 142,6 juta, sektor utama konstruksi dan bangunan (22,2 %), perdagangan restoran dan hotel (22,1 %) dan pertanian (19,6 %). PDRB Banda Aceh pada tahun 2004 berdasarkan harga berlaku sebesar Rp. 992,6 juta, sektor utama transportasi dan perhubungan (33,2 %), perdagangan restoran dan hotel (21 %), pertanian (16,7 %). Adapun PDRB Aceh Besar pada tahun 2004 berdasarkan harga berlaku sebesar Rp ,4 juta, sektor utama pertanian (48,00 %), (industri pengolahan (17,56 %), bangunan konstruksi (12,18 %), transportasi dan perhubungan (8,81 %) (lihat grafik pada Gambar 4.1) Berdasarkan perbandingan PDRB tersebut, ternyata Kab. Aceh Besar yang mempunyai nilai PDRB yang paling Besar terutama di sektor pertanian dan industri pengolahan. Dengan demikian berdasarkan sektor utama yang dominan dalam PDRB serta program program perencanaan dalam KAPET Bandar Aceh Darussalam dan potensi yang dilikinya, maka konsep pengembangan ekonomi di Kabupaten Aceh Besar diarahkan pada : a. Pengembangan pertanian yang mencakup pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. b. Pengembangan industri pengolahan yang berbasis pada agro industri Konsep Dasar Pengembangan Tata Ruang Wilayah Wilayah Kabupaten Aceh Besar merupakan wilayah yang bervariasi yang mempunyai wilayah pegunungan, daratan, pesisir pantai dan pulau pulau kecil. Untuk itu, konsep dasar pengembangan tata ruang wilayah Kabupaten Aceh tidak lepas kaitannya dengan bentuk bentuk wilayah tersebut. Dalam pengembangan struktur tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar didasarkan pada : Unsur unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan yang digambarkan secara hirarkis yang berhubungan satu dengan lainnya membentuk struktur ruang kabupaten. Hal. 4-3

76 Gambar 4.1 Perbandingan Nilai PDRB Kota Sabang, Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar PDRB Sabang 2004 harga berlaku Rp. 142,6 juta. Sektor Utama : Konstruksi dan Bangunan (22,2%), Perdagangan, Restoran & Hotel (22,1%), Pertanian (19,6%) PDRB Banda Aceh 2004 harga berlaku Rp. 992,6 juta. Sektor Utama : Transportasi & Perhubungan (33,2%), Perdagangan, Restoran & Hotel (21,8%), pertanian (16,7%) PDRB Aceh Besar 2004 harga berlaku Rp ,4 juta. Sektor Utama: Pertanian (48,00%), Industri Pengolahan (17,56%), Bangunan Knstruksi (12,18%) Transportasi & Perhubungan (8,81%) Banda Aceh Aceh Besar Sabang , , , , , , , , , ,00 - Jaringan jalan yang menghubungkan pusat pusat kegiatan dan pusat pusat pelayanan. Dalam pengembangan pemanfaatan ruang meliputi pengembangan pemanfaatan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Dasar dasar pengembangan pemanfaatan kawasan lindung adalah : Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Minum Bangunan/Konstruksi Perdagangan, hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan Jasa-jasa Hal. 4-4

77 Peraturan perundang undangan maupun ketetapan ketetapan yang ada yaitu UU No. 5 Tahun 1990 tentang Pokok Pokok Kehutanan, Kepres No. 32 Tahun 1990 Tentang Kawasan Lindung serta peta fungsi hutan SK Menhut No. 17/KPTS-II/2003 Tentang Kawasan Hutan dan Perairan NAD. Kendala kendal fisik seperti topografi dan kemiringan, rawan bencana (erosi, longsor, banjir). Adapun pengembangan pemanfaatan kawasan budidaya di Kabupaten Aceh Besar didasarkan pada: kesesuaian lahan, aksesibiltas lokasi dan orientasi pengembangan. a. Kesesuaian lahan Pemanfaatan kawasan budidaya didasarkan pada kesesuaian lahan untuk pengembangan pertanian lahan basah, pertanian lahan kering maupun tanaman tahunan/perkebunan. b. Aksesibilitas Aksesibilitas lokasi untuk kegiatan kegiatan tertentu seperti kegiatan permukiman, perdagangan dan perindustrian menjadi dasar untuk pengembangan kegiatan tersebut. c. Orientasi pelayanan Orientasi pelayanan wilayah Kabupaten Aceh Besar cenderung ke Kota Banda Aceh, baik itu pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan maupun pelayanan ekonomi dan jasa seperti pasar, pertokoaan dan perkantoran, sehingga banyak penduduk Kabupaten Aceh Besar yang tinggal dekat dengan Kota Banda Aceh. Untuk itu, pengembangan permukiman maupun perdagangan dan jasa di Kabupaten Aceh Besar lebih diarahkan pada wilayah wilayah yang dekat dengan Kota Banda Aceh seperti Kota Lambaro, Peukan Bada, Lampeneurut, Cot iri, Peukan Ateuk, Lambaro Angan dan Lambada Lhok. 4.3 STRATEGI PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH Sebagai tindak lanjut dari permasalahan pembangunan Kabupaten Aceh Besar dan keterkaitannya dengan masalah pemanfaatan ruang, maka dilakukan strategi pengembangan tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar yang dijabarkan berikut ini Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah Strategi yang dikembangkan dalam pengembangan ekonomi wilayah di Kabupaten Aceh Besar, antara lain: Hal. 4-5

78 a. Pengembangan kegiatan pertanian yang mempunyai nilai ekspor dengan menyerap tenaga kerja, strategi ini untuk percepatan laju pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. b. Pengembangan kegiatan pertanian yang menunjang sektor industri melalui upaya pengembangan kawasan budidaya pertanian komersial dan menghasilkan bahan baku bagi industri pengolahan produk pertanian. c. Pengembangan agro industri yang memberikan konstribusi dalam upaya penciptaan lapangan usaha dan lapangan kerja. d. Mempertahankan pertanian sawah sebagai lumbung pangan untuk kebutuhan di Kabupaten Aceh Besar maupun wilayah lain disekitarnya Startegi Pengembangan Sektor Unggulan dan Sektor Strategis Langkah praktis dalam pengembangan ekonomi diaplikasikan dalam pengembangan sektor unggulan dan sektor strategis. Untuk itu strategi pengembangan sektor unggulan dan sektor strategis adalah : 1. Mengembangkan sektor unggulan yang sesuai potensi wilayah masing masing seperti yang dijelaskan sebagai berikut : a. Pertanian tanaman pangan dan holtikultura Komoditas prioritas : - Padi di Kecamatan Indrapuri, Sukamakmur, Simpang Tiga, Montasik dan Kuta Malaka - Jagung di Kecamatan Seulimeum, Jantho, dan Kecamatan Lembah Selawah - Ubi kayu di Kecamatan Seulimeum dan Kuta Cot Glie - Ubi jalar di Kecamatan Lembah Seulawah - Kedelai di Kecamatan Darul Kamal - Kacang Hijau di Kecamatan Darul Imarah, Peukan Bada dan Pulo Aceh. - Durian di Kecamatan Lhoong - Sayur sayuran Mesjid raya, Darussalam, Baitussalam, Kuta Baro dan Ingin Jaya, Lhoong. Komoditas Penunjang : - Kacang tanah di Kecamatan Lhoong, Lhoknga, Leupung - Kedelai di Kecamatan Indrapuri, Sukamakmur, Simpang Tiga dan Kuta Malaka - Kacang Hijau di Kecamatan Montasik Hal. 4-6

79 - Rambutan di Kecamatan Indrapuri, Kuta Malaka, Seulimeum, Jantho, Lembah Seulawah, Kuta Cot Glie. - Langsat di Kecamatan Indrapuri, Kuta Malaka - Mangga di Kecamatan Mesjid Raya, Darussalam, Baitussalam, Kuta Baro, Ingin Jaya dan Kr Barona Jaya - Sayur sayuran (tomat) di Kecamatan Darul Imarah, darul Kamal dan Peukan Bada b. Perkebunan Komoditas prioritas untuk masa mendatang adalan sawit telah dikembangkan di Jantho, kakao, lada, cengkeh dan tanaman jarak. Komoditas penunjang yang telah ada adalah : kelapa dalam, kelapa hibrida, karet, kopi, pala, pinang dan jambu mente. c. Peternakan Peternakan prioritas adalah sapi yang dikembangkan di Kecamatan Lembah Seulawah, Seulimeum, Jantho, Kuta Glie, Kuta Malaka, Indrapuri, Suka Makmur, Ingin Jaya dan Krueng Barona Jaya. Peternakan penunjang adalah kambing/domba, ayam, itik yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Besar. d. Perikanan/kelautan Perikanan prioritas adalah perikanan tangkap dilaut yang terdapat di Kecamatan Pulo Aceh, Peukan Bada, Baitussalam, Mesjid Raya, Lhoknga, Leupung dan Lhoong. Disamping itu pengembangan kelautan seperti ikan keramba dilaut, rumput laut, dll. Perikanan penunjang adalah perikanan tambak di Kecamatan Baitussalam, Peukan Bada dan Lhoong serta perikanan kolam air tawar di Jantho dan Krueng Barona Jaya. 2. Mengembangkan sektor sektor strategis yang dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah serta penyerapan tenaga kerja, diantaranya: a. Industri Pengembangan industri besar Semen Andalas di Lhoknga, industri menengah di Krueng Raya serta industri kecil/rumahan yang tersebar dibeberapa kecamatan. b. Perdagangan Hal. 4-7

80 Pengembangan kegiatan pasar dan pertokoan seperti pasar induk di Lambaro, serta pasar lainnya: Pasar Saree, Seulimeum, Jantho, Kuta Cot Glie, Indrapuri, Montasik, Sibreh, Lhoknga, Baitussalam, Krueng Raya, Ketapang. c. Pertambangan Pengembangan potensi pertambangan yang belum digali secara optimal dengan melakukan studi studi kelayakan pertambangan. d. Pariwisata Pengembangan dan penataan pariwisata pantai di Kecamtan Lhoknga, Pulo Aceh dan Mesjid Raya, pariwisata alam di Kecamatan Darul Kamal, Darul Imarah, Lhoong, Leupung, Indrapuri, Lembah Selawah dan Mesjid Raya, dan pariwisata sejarah di Kecamatan Seulimeum, Kuta Cot Glie, Indrapuri, Montasik Kuta Malaka, Suka Makmur, Ingin Jaya, Mesjid Raya dan Peukan Bada Strategi Pengembangan Struktur Ruang Wilayah Startegi pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah : 1. Mengembangkan pusat pusat kota yang sudah ada dan sudah terbentuk menjadi pusat pelayanan diwilayah sekitarnya. 2. Mendorong kota kota agar lebih berkembang dan maju seperti Kota Jantho dengan melengkapi fasilitas kota, prasarana dan sarana transportasi antar kota serta meningkatkan daya tarik kota. 3. Menetapkan kota kota satelit sebagai pendukung dan penyangga Kota Banda Aceh pada poros jalan Banda Aceh Medan, poros jalan Banda Aceh Meulaboh serta poros jalan Banda Aceh Pelabuhan Malahayati. 4. Menetapkan fungsi fungsi kota sesuai dengan fungsi dan peranan kota serta daya dukung kota. 5. Menentukan struktur jaringan jalan sebagai pembentuk unsur kota. 6. Sebagai pendukung pembentukan struktur ruang, maka diperlukan penyempurnaan dan peningkatan pelayanan transportasi yang ada untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya pusat pusat kota. Hal. 4-8

81 4.3.4 Strategi Pemanfaatan Kawasan Lindung dan Budidaya Berdasarkan potensi dan permasalahan pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Besar, maka strategi pengembangan kawasan lindung dan budidaya adalah: 1. Strategi pemanfaatan kawasan lindung Strategi pemanfaatan kawasan lindung diarahkan pada : a. Mempertahankan fungsi dan luas kawasan lindung yang ada. b. Menyesuaikan batas batas kawasan lindung yang telah ditetapkan dalam peta fungsi hutan SK Menhut No. 17/KPTS-II/2003 Tentang Kawasan Hutan dan Perairan NAD. c. Mengembalikan wilayah wilayah yang telah berubah dari kawasan lindung kedalam fungsi lindung yang sebenarnya. d. Mengembangkan kawasan lindung minimal 30 % dari luas Kabupaten Aceh Besar. e. Menetapkan kawasan lindung sesuai dengan kriteria kriteria teknis yang telah ditentukan. f. Memanfaatkan kawasan budidaya yang dapat berfungsi lindung. g. Mengendalikan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan pada kawasan lindung h. Mengembalikan fungsi lindung pada kawasan sekitar pantai yang rusak akibat bencana tsunami dan gempa terutama pada kawasan kawasan hutan bakau (mangrove). 2. Strategi pemanfaatan kawasan budidaya Strategi pengembangan kawasan budidaya adalah : a. Menetapkan kawasan budidaya berdasarkan kesesuaian lahan, daya dukung lingkungan serta nilai ekonomis suatu lahan. b. Memanfaatkan ruang kawasan secara optimal sesuai dengan kemampuan lahan. c. Mengendalikan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan yang ditetapkan dalam RTRW. d. Mendorong kawasan kawasan budidaya yang sesuai dengan yang ditetapkan dalam RTRW e. Membatasi kawasan budidaya yang terdapat pada kawasan lindung. f. Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap kawasan budidaya yang terkena bencana tsunami dan gempa terutama untuk kegiatan permukiman, pertanian sawah, tambak dan kebun. Hal. 4-9

82 4.3.5 Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah Pengembangan prasarana wilayah di Kabupaten Aceh Besar meliputi prasarana transportasi dan prasarana irigasi. 1. Strategi pengembangan prasarana transportasi Strategi pengembangan transportasi jalan a. Meningkatkan jalan jalan alternatif yang menuju Kota Banda Aceh dengan pelebaran jalan untuk menghindari route jalan Banda Aceh Medan. b. Menghubungkan aksesibilitas antar kota dengan melakukan pembangunan dan peningkatan jalan terutama untuk menghubungkan jalan Jantho Lamno dan Jantho Keumala c. Akibat bencana tsunami dan gempa, maka jalan jalan yang rusak dilakukan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan terutama jalan Banda Aceh Meulaboh. d. Memperlancar hubungan antar kecamatan dan antar desa dengan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan yang rusak. e. Menghubungkan jalan jalan akses ke pertanian untuk memperlancar sarana produksi dan pemasaran dengan pembangunan maupun peningkatan jalan. f. Memudahkan transit untuk penumpang orang dengan pembangunan baru mapun peningkatan terminal yang ada. Strategi pengembangan transportasi laut a. Memperlancar arus bongkar muat Pelabuhan Malahayati dengan pengembangan kapasitas pelabuhan serta meningkatkan jalan yang menuju pelabuhan dengan pelebaran jalan. b. Mengaktifkan kembali angkutan penumpang orang dari Pelabuhan Malahayati menuju Medan. b. Mefungsikan kembali pelabuhan pelabuhan nelayan yang hancur akibat tsunami dengan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terutama untuk pelabuhan nelayan Lampuyang, Gugob, Ujung Pancu dan Lam Teungoh. Strategi pengembangan transportasi udara a. Meningkatkan arus penerbangan di Bandara Udara Iskandar Muda dengan pengembangan bandara melalui meningkatkan kapasitas landasan penerbangan. Hal. 4-10

83 b. Meningkatkan pelayanan penumpang dengan menambah route route perjalanan yang langsung ditempat tujuan. Strategi pengembangan Rel Kereta a. Mengaktifkan kembali rel kereta api yang sudah ada dengan pembangunan rel kereta dan stasiun stasiun yang telah ada. b. Mengidentifikasikan lahan milik kereta api dengan melakukan pendataan dan inventarisasi lahan. 2. Strategi pengembangan prasarana irigasi Strategi dalam pengembangan prasarana irigasi adalah : a. Meningkatkan kapasitas sumber air irigasi dengan pembangunan bendungan baru seperti bendung Keuliling serta bendung bendung lainnya yang berpotensi. b. Meningkatkan pelayanan irigasi dengan rehabilitasi saluran irigasi yang mengalami keruskan serta membangun saluran tersier untuk menjangkau wilayah pertanian sawah. 3. Strategi pengembangan fasilitas a. Meningkatkan pelayanan fasilitas pemerintahan dengan melakukan rehabilitasi maupun pembangunan baru terutama kecamatan pemekaran baru Blang Bintang. b. Meningkatkan pelayanan fasilitas pendidikan dengan penambahan sekolah baru dimasa mendatang terutama fasilitas TK, SD dan SLTP maupun rehabilitasi sekolah sekolah yang ada. c. Meningkatkan pelayanan fasilitas kesehatan dengan penyediaan fasilitas kesehatan terutama pada tempat tempat terpencil serta pengembangan rumah sakit umum dalam skala wilayah. d. Meningkatkan pelayanan fasilitas peribadatan dengan rehabilitasi tempat tempat ibadah seprti musholla, meunasah dan masjid serta penambahan fasilitas peribadatan bagi tempat yang masih membutuhkan. e. Meningkatkan fisilitas perdagangan dengan peningkatan prasarana dan sarana pasar serta rehabilitasi dan rekonstruksi pasar akibat tsunami maupun kebakaran. Hal. 4-11

84 4. Strategi pengembangan utilitas a. Meningkatkan pelayanan air bersih dengan pemanfaatan sumber sumber air bersih secara optimal seperti Sungai Krueng Aceh, mata air serta melakukan rehabilitasi maupun pembangunan jaringan air bersih. b. Meningkatan pelayanan listrik dengan melakukan penambahan daya listrik serta penambahan jaringan maupun rehabilitasi dan rekonstruksi jaringan listrik yang rusak akibat tsunami dan gempa c. Meningkatkan pelayanan telepon dengan pembangunan jaringan telepon ke setiap kecamatan serta melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi jaringan telepon yang rusak akibat tsunami dan gempa. d. Melakukan pengelolaan air limbah dengan pembuangan air limbah rumah tangga ketempat tempat pembuangan maupun sumur resapan serta pembuangan tinja manusia ketempat septic tank e. Melakukan pengelolaan sampah dengan penyediaan TPA dan TPS maupun armada armada pengangkut sampah Strategi Pengembangan Kawasan Prioritas Pengembangan kawasan prioritas di Kabupaten Aceh Besar dapat dikelompokkan dalam kawasan yang cepat berkembang, kawasan yang lambat berkembang namun mempunyai potensi hinterlad dan eksternalitas yang tinggi, kawasan pariwisata, cagar alam dan suaka margasatwa, kawasan lahan kritis dan rawan bencana serta kawasan yang perlu penanganan segera. Strategi pengembangan kawasan prioritas adalah : a. Kawasan yang cepat berkembang Strategi penanganan kawasan cepat berkembang adalah dengan pengembangan maupun penataan kawasan perkotaan satelit Banda Aceh seperti Kota Lambaro, Kota Lhoknga dan Kota Krueng Raya serta kota kota koridor pengembangan Banda Aceh seperti Kota Lambaro Angan, Blang Bintang, Lambada Lhok, Peukan Bada, Lampeneurut, Peukan Ateuk dan Cot Iri. b. Kawasan yang lambat berkembang tetapi mempunyai potensi hinterland dan eksternalitas yang tinggi. Strategi penanganan kawasan yang lambat berkembang tetapi mempunyai potensi hinterland dan eksternalitas yang tinggi adalah: Hal. 4-12

85 Mengembangkan fungsi Kota Jantho bukan hanya sebagai kota pemerintahan, namun fungsi kota lainnya seperti fungsi kota pendididikan yang mempunyai skala pelayanan kabupaten, provinsi maupun nasional serta fungsi pariwisata. Mengembangkan kawasan berdasarkan fungsi potensial kawasan seperti Kawasan lumbung padi (Indrapuri, Cot Glie, Montasik), kawasan transit dan persinggahan (Saree/Lembah Seulawah, Lhoong), kawasan andalan lahan kering (Lembah Seulawah), kawasan pulau dan kepulauan (Pulo Aceh), kawasan pertambangan logam dan mineral (Lembah Seulawah, Jantho, Cot Glie dan Pulo Aceh). c. Kawasan pariwisata, cagar alam dan suaka margasatwa Strategi penanganan kawasan ini adalah dengan mempertahankan dan mengembangkan ekstensinya sebagai kawasan pariwisata, cagar alam dan suaka marga satwa, kawasan ini meliputi: Taman Hutan Raya Cut Meurah Intan, Cagar Alam Jantho, wisata alam. d. Kawasan lahan kritis dan rawan bencana Strategi penanganan kawasan lahan kritis dan rawan bencana adalah memelihara fungsi lindungnya agar tidak terjadi kerusakan lingkungan e. Kawasan yang perlu penanganan segera Kawasan yang perlu penanganan segera adalah kawasan kawasan sekitar pantai yang terkena bencana tsunami dan gempa, strategi penanganannya adalah melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi dari semua sektor, meliputi : perumahan, infrastruktur, kegiatan ekonomi dan lingkungan sekitar pantai Strategi Mitigasi Bencana Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di wilayah Provinsi NAD pada tahun 2004 menjadi perhatian dunia. Selama ini dalam proses perencanaan tata ruang sebagaimana yang tertuang dalan UUPR No 24 tahun 1992, faktor bencana alam dan bencana lainnya tidak secara khusus dikejawantahkan secara detail, sebatas hanya identifikasi kawasan rawan bencana yang masuk dalam pembahasan kawasan tertentu tanpa adanya indikasi untuk antisipasi dan penyelamatan pada saat terjadinya bencana. Tsunami adalah serangkaian gelombang tinggi yang disebabkan oleh perpindahan sejumlah besar air laut secara tiba-tiba. Fenomena alam yang diakibatkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, atau pergeseran lempeng bumi di bawah permukaan air dapat mencapai Hal. 4-13

86 ketinggian sekitar 15,24 meter atau lebih yang dapat menghancurkan bangunan, komunitas pantai, dan sekitarnya. Prinsip-prinsip perencanaan dan perancangan bangunan yang dapat dilakukan untuk memperkecil resiko kerusakan akibat tsunami antara lain : 1. Menghindari daerah terpaan Hal ini dapat dilakukan dengan: Menempatkan bangunan dan infrastruktur di bagian tapak yang tinggi Menaikkan struktur di atas ketinggian terpaan tsunami Memperkuat podium (tempat berpijaknya bangunan). 2. Memperlambat arus air Teknik memperlambat arus air dapat dilakukan dengan membuat penahan yang dapat memperlambat dan mengurangi daya hancur gelombang seperti hutan buatan, saluran air, kontur tanah, dan jalur hijau. Untuk Kota Banda Aceh sampai Lhoknga telah dibangun tanggul air asin untuk menahan gelombang pasang 3. Membelokkan kekuatan air Teknik pembelokan kekuatan tsunami yaitu: - Menggunakan tembok-tembok bersudut dan saluran air - Menggunakan permukaan dengan lapisan yang memudahkan jalannya aliran air. 4. Menghambat terpaan air Terpaan kekuatan gelombang air dapat dihambat melalui: - Tembok - Terasering (penataan gundukan/tanah curam berbentuk anak tangga) - Jalur hijau - Struktur parkir dan konstruksi lain yang kokoh Hal. 4-14

87 Gambar 4.2 BEBERAPA CONTOH ANTISIPASI BENCANA TSUNAMI Strategi Memperlambat Strategi Menghindar Strategi Membelokan Strategi Menahan Keempat strategi dasar di atas dapat dipakai secara terpisah atau dikombinasikan dalam strategi yang lebih luas. Metodenya dapat dipakai secara pasif untuk membuat tsunami melewati wilayah tanpa menyebabkan kerusakan besar. Contoh Penerapan Bangunan di Tepi Pantai Untuk bangunan di kawasan tepi pantai sebaiknya dibuat bertingkat atau berbentuk bangunan panggung dengan struktur beton yang kuat, agar bisa dilalui oleh run-up tsunami. Bagian bawah selain dimanfaatkan untuk fungsi publik, juga berfungsi sebagai tempat lewatnya run-up tsunami. Hal. 4-15

88 Sketsa Tampak Bangunan di Tepi Pantai Pola Kawasan Permukiman dan Perumahan di Daerah Tepi Pantai Gambar 3.34 Sketsa Potongan Bangunan di Tepi Pantai Gambar 4. 3 CONTOH PENGEMBANGAN FISIK BANGUNAN KAWASAN PESISIR Bangunan Penyelamatan Bangunan penyelamatan ditujukan sebagai lokasi penyelamatan diri bagi masyarakat yang terkena bencana. Bangunan penyelamatan ini dapat berupa bukit penyelamatan (escape hill) dan gedung penyelamatan (escape building). Bangunan penyelamatan dapat dibangun dengan mengolah bukit yang sudah ada, atau membuat bukit dari sisa puing-puing, dan/atau bentuk bangunan (bila tanah tidak tersedia), atau berbentuk kawasan-kawasan penyelamatan (hutan kota, taman kota, lapangan sepak bola), dimana gempa bumi dan/atau gelombang tsunami tidak mampu menjangkaunya. Hal. 4-16

89 Pemilihan tipe bangunan penyelamatan yang sesuai sangat ditentukan oleh kondisi wilayah rawan bencana, misalnya bukit penyelamatan memerlukan lahan yang relatif lebih luas. Sebagai contoh, sebuah bukit penyelamatan dengan luas m 2, berbentuk bujur sangkar, tinggi puncak bukit 10 meter dan kemiringan pendakian 1:3 dari keempat sisi, memerlukan lahan seluas m 2. Sebaliknya sebuah gedung penyelamatan berlantai 4 (ekspansi vertikal) dengan asumsi sasaran evakuasi lantai III dan IV, maka memerlukan luas m 2 per lantai, dengan luas lahan minimum m 2 (asumsi luas lahan/tanah adalah tiga kali luas satu lantai gedung). Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa luas lahan untuk bukit penyelamatan melebihi tiga kali luas lahan untuk gedung penyelamatan. 1. Bukit Penyelamatan (Escape Hill) Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penentuan lokasi escape hill: a. Dapat dicapai masyarakat dalam waktu sependek mungkin misalnya 5, 10, 15, 20 menit (dengan radius pelayanan berturut-turut 500 m, m, m, m) oleh orang tua, perempuan dan anak-anak. b. Memiliki radius pelayanan terhadap kawasan permukiman di sekitarnya. c. Semakin jauh dari pantai, maka semakin rendah ketinggian bukit, tergantung pada kondisi topografi wilayah. d. Semakin jauh dari pantai, maka jarak waktu semakin besar. e. Kemiringan bukit mencapai 35 0 dengan ramp antara f. Antar-escape hill dapat dibangun sabuk pohon. g. Escape hill dapat disertai dengan hutan kota, taman kota, serta berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial, sehingga dapat berfungsi juga sebagai tempat wisata. h. Luas lahan yang dibutuhkan sekitar 1 m 2 per orang. 2. Gedung Penyelamatan (Escape Building) Gedung penyelamatan dapat berupa fasilitas peribadatan (masjid), fasilitas pendidikan (sekolah), gedung pertemuan, gedung perkantoran atau perbelanjaan, dan bangunan fisik lainnya yang tahan gempa dan tsunami (persyaratan khusus). Escape building harus memiliki aksesibilitas yang tinggi, sehingga tidak mustahil masih berada pada wilayah yang berpotensi untuk tersapu gelombang tsunami. Oleh Hal. 4-17

90 karena itu, rancangan dan konstruksi escape building memiliki kriteria-kriteria teknis seperti: a. Lokasi gedung penyelematan sebaiknya berada di luar wilayah terpaan tsunami. b. Konfigurasi bangunan (bentuk, ukuran, ketinggian, dan orientasinya), misalnya setiap struktur bangunan di bawah ketinggian 20 kaki pada garis permukaan laut dirancang untuk menahan terpaan air. c. Memperhatikan intensitas dan frekuensi ancaman bencana. d. Gedung penyelamatan harus dirancang sesuai dengan standar-standar rancangan struktural dan non-struktural. e. Memperhatikan bahan bangunan inti dan pendukungnya yang tahan tsunami. f. Kualitas peralatan dengan tingkat keandalan tertentu. g. Kualitas konstruksi harus diuji melalui tes uji teknik. Gedung penyelamatan menjadi alternatif yang paling tepat diterapkan pada daerah dengan kondisi lahan kosong yang sangat terbatas. Namun desain bangunan tersebut harus memiliki kekuatan struktural yang handal sebagai gedung super kuat (very strong buildings) yang tahan gempa, tsunami dan bencana alam lainnya. Konsekuensinya adalah biaya fisik yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan gedung biasa. Untuk target pembangunan jangka panjang, pembangunan gedung penyelamatan tidak tergolong mahal, karena gedung superkuat tersebut akan digunakan sampai beberapa generasi mendatang. Dalam proses rekonstruksi wilayah Aceh dan sekitarnya, bangunan publik seperti masjid, meunasah, sekolah, rumah sakit, gedung olah raga, pasar dan lain-lain di wilayah pasca bencana dapat difungsikan sebagai gedung super kuat untuk alternatif bangunan penyelamatan. Gedung/rumah milik masyarakat juga dapat dibangun sebagai gedung super kuat, sehingga penataan tata ruang pada suatu wilayah lebih fleksibel, termasuk memperluas jalur evakuasi. Strategi penyiapan dan pembangunan gedung penyelamatan (escape building) antara lain: a. Identifikasi terhadap Bangunan-Bangunan Spesifik sebagai Tempat Perlindungan Vertikal. Hal. 4-18

91 Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan kelayakan sebuah bangunan antara lain ukuran, jumlah lantai, akses, isi bangunan, dan pelayanan yang tersedia di dalamnya. Sebagai contoh, jika taksiran ketinggian gelombang tsunami tidak melebihi satu lantai (sekitar 10 kaki = 3,05 meter), maka rancangan lantai-terbuka/bangunan panggung dapat diterapkan agar gelombang dapat melintas dengan kerusakan minimal pada bangunan. b. Melakukan Persetujuan dan Menentukan Prosedur dengan Pemilik Bangunan. Pada umumnya, tempat perlindungan untuk evakuasi vertikal dapat disiapkan dalam bangunan-bangunan pribadi. Persetujuan yang tepat harus dinegosiasikan dengan para pemilik bangunan mengenai hal pemberitahuan, standar perawatan, kompensasi, lama penghunian, keamanan, dan pertanggungjawaban. c. Menerapkan Informasi yang Efektif dan Program-program Pendidikan. Keberadaan escape building sangat penting, sehingga informasi lokasi, cara pencapaian, serta prosedur-prosedur lainnya harus dapat disosialisasikan secara terstruktur. Masyarakat dapat menggunakan brosur, instruksi satu-lembar, uji coba sistem peringatan secara berkala, informasi media elektronik dan cetak, sinyal-sinyal, dan latihan-latihan respon keadaan darurat untuk terus menjaga pemahaman dan menanamkan perilaku respon yang efektif. d. Memelihara Program dalam Jangka Panjang. Peninjauan ulang tentang suatu program evakuasi yang terkait dengan escape building harus mengikutsertakan para pemilik bangunan dan pihak-pihak lain yang terkait dalam program. Simulasi berkala harus dilakukan sebagai latihan dan pelajaran yang berharga, bagi para penduduk yang menghuni wilayah-wilayah rentan gempa dan tsunami. Hal. 4-19

92 Laporan Akhir Gambar 3.35.b : Memasukan escape hill dan radius pelayanan terhadap pemukiman. Gambar 3.35.c : Zonasi radius, semakin jauh dari pantai, jarak waktu semakin besar. Gambar 3.35.d : Ketinggian escape hill, semakin jauh dari pantai, semakin rendah. Gambar 3.35.f : Formasi escape hill bisa bermacam-macam dan bisa dimanfaatkan untuk fasum dan fasos. Gambar 3.35.e : Model escape hill alami. Sumber: Lampiran 4 Peraturan Presiden RI No. 30 Tahun 2005 Gambar 4 4 CONTOH ESCAPE HILL 3. Jalan Penyelamatan (Escape Road) P E N Y E L E S AI A N R T R W K A B A C E H B E S AR & K A W A S A N P E R M U K I M A N U T A M A Hal. 4-20

93 Jalan penyelamatan dapat berupa jaringan jalan yang ada atau dengan membuat jalan khusus kearah yang lebih tinggi. Escape Road harus memiliki aksesibilitas yang tinggi kearah yang aman terpaan gelombang tsunami, mengingat tinggi gelombang tsunami yang terjadi pada kawasan pesisir mencapai 5 50 m pada radius 1 5 km. Oleh karena itu, penentuan jaringan jalan escape road harus memiliki kriteriakriteria teknis seperti: a. Jaringan jalan yang mempunyai banyak cabang-cabang/persimpangan ke arah yang lebih tinggi. b. Lebar badan jalan yang cukup untuk menampung 3 kendaraan secara sejajar. Jaringan jalan yang direkomendasikan sebagai escape road di Kabupaten Aceh Besar adalah, sbb : a. Kecamatan Mesjid Raya dan Seulimeum: Jalan arteri primer, dalan kolektor, persimpangan ruas Lampanan Saree, persimpangan ruas Krueng Raya Seulimeum (Lamkabeu) Blang Bintang b. Kecamatan Peukan Bada : Ruas jalan Emperum Sukarno Hatta (Banda Aceh) c. Kecamatan Lhoknga : Ruas Jalan Lhoknga-Mataie d. Kecamatan Lhoong : Ruas jalan Sihom (air terjun) e. Leupung : pembangunan jalan penyelaman di perbukitan f. Kecamatan Baitussalam dan Darussalam : Ruas jalan yeng menuju Blang Bintang Mengenai identifikasi kawasan penyelamatan terhadap bencana tsunami dapat dilihat pada Gambar Strategi Pengendalian Strategi pengendalian dalam pemanfaatan ruang dilakukan dengan pengembangan kelembagaan pengelolaan kawasan, program program pemanfaatan ruang serta pengawasan dalam bentuk pemantauan, pelaporan dan penertiban. Hal. 4-21

94 Gambar 4.5 PETA MITIGASI BENCANA Hal. 4-22

95 Bab 5 RENCANA STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN LAHAN Berdasarkan uraian dan ketetapan yang tertuang dalam Program Pembangunan Daerah (Propeda) Kabupaten Aceh Besar, dan prospek pengembangan wilayah yang ada dan stadia perkembangan wlayah, maka akan membentuk tiga sistem wilayah pengembangan, yang masing-masing mempunyai arah orientasi ke pusat pertumbuhan utama. Pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Besar menjadi tiga wilayah pengembangan, secara makro bertujuan untuk : 1. Membentuk keterkaitan (Lingkages) yang jelas antar pusat-pusat pertumbuhan yang membentuk suatu sistem wilayah yang terintegasi. 2. Mengarahkan orientasi alur pergerakan perekonomian baik untuk orientasi pemasaran maupun untuk pemenuhan kebutuhan pertumbuhan. 3. Memberikan acuan pada penyebaran pelayanan yang proposional dan terstruktur berdasarkan tingkat dan skala pelayanan. Tiga pusat pertumbuhan utama tersebut memiliki skala pelayanan dan keterkaitan dalam upaya pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Besar, penekanan utama pelaksanaan pembangunan hendaknya lebih diarahkan pada bagian wilayah yang terkena bencana tsunami, bagian wilayah yang cepat perkembangannya, dan bagian wilayah yang lambat perkembangannya serta terbelakang. Hal. 5-1

96 5.1 RENCANA STRUKTUR TATA RUANG DAN SISTEM KOTA-KOTA Rencana Sistem Permukiman Sistem permukiman wilayah Kabupaten Aceh Besar dilakukan berdasarkan kajian analisa wilayah regional, Pengembangan Sistem Kota Metropolitan Banda Ace dari studi JICA (Urgent Rehabilitation and Reconstruction Plan for Banda Aceh City), Program Pembangunan Daerah (Propeda) Kabupaten Aceh Besar tentang pengembangan fungsi kota serta kajian sistem perkotaan. Sistem permukiman pada dasarnya akan cenderung membentuk sistem kota-kota, maka dalam pengembangan sistem permukiman lebih difokuskan kepada pembentukan sistem kota-kota dengan tujuan : 1. Membentuk suatu sistem permukiman yang terintegrasi dan bersinergi dengan sistem struktur dan pola pemanfaatan ruang yang dituju. 2. Membentuk sistem dan pola permukiman kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan perkotaan sebagai acuan pada penyebaran pelayanan yang proporsional dan terstruktur berdasarkan tingkat skala pelayanan dan tatanan hirarkis yang ada, yakni mukim dan gampong Rencana Sistem Kota dan Hierarki Pusat Pelayanan Sistem kota-kota wilayah Kabupaten Aceh Besar tidak akan terlepas dari aspek perkembangan Kota Banda Aceh serta serta aspek pertumbuhan perkotaan berdasarkan potensi wilayah hinterlannya. Selain itu aspek tersebut, pembentukan sistem kota dan pusat pelayanan akan ditentukan oleh aspek : 1. Kelengkapan Fasilitas dan Populasi Pendukung Faktor kelengkapan fasilitas pelayanan dan infrastruktur suatu kawasan perkotaan dapat dijadikan acuan untuk penentuan hierarki pusat pelayanan. Kelengkapan fasilitas kawasan perkotaan ditentukan berdasarkan jumlah dan skala pelayanannya meliputi fasilitas pemerintahan, pelayanan umum dan sosial, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan infrastuktur kota lainnya yang dianggap sangat menentukan pelayanan perkotaan, regional, nasional bahkan internasional. Hasil analisa dituangkan seperti pada Tabel 5.1. : Hal. 5-2

97 NO KECAMATAN POPULASI (Jiwa) Kantor Kecam atan Koramil Polsek SLTA SLTP SD TK Kantor/Balai Desa P a s a r T ra d is io n a l/r P H / Pasar Ikan Jalan Lokal J a la n K o le k to r Puskesm as/puskesm as Pembantu Prktek Dokter/Bidan TABEL 5.1 (Ganti pake A3) IDENTIFIKASI SISTEM KOTA-KOTA BERDASARKAN KELENGKAPAN FASILITAS KAWASAN PERKOTAAN DI KABUPATEN ACEH BESAR Poliklinik/Balai Pengobatn Pertokoan W a rte l Bank Pangkalan PLN Ranring Jalan Arteri Kantor Pos Kursus/Keteram pilan Sub Terminal Perusahaan/Agen Besar/Industri Besar Instansi/Dinas Pem erintah Skala Kabupaten PDAM Pasar Grosir/Gegional/TPI ATM Pom Bensin W a rn e t Kantor Bupati Kodam Polres Kantor Telkom P u s a t R e ta il/s u p e rm a rk e t Perguruan Tinggi/Akadem i/internatio W a rp o s te l Term inal Tipe A/ Term inal Kargo Pelabuhan Term inal Tipe B Telepon Um um M oney Changer Rum ah Sakit Um um R S B e rs a lin 1 Kota Jantho 5, I 2 Darussalam 18, I 3 Ingin Jaya 24, I 4 Baitulssalam 9, II 5 Peukan Bada 8, II 6 Darul Imarah 35, II 7 Mesdjid Raya 11, II 8 Darul Kamal 6, III 9 Krueng Barona Jaya 12, III 10 Lhoknga 11, III 11 Seulimeum 20, III 12 Montasik 20, III 13 Indrapuri 18, III 14 Kuta Baro 22, III 15 Sukamakmur 12, IV 16 Kuta Cot Glie 10, IV 17 Pulo Aceh 4, IV 18 Kuta Malaka 5, IV 19 Simpang Tiga 5, IV 20 L h o o n g 7, IV 21 Leupung 1, IV 22 Lembah Seulawah 7, IV TOTAL 280, Sumber : Hasil Analisa 2006 Tingkat Pelayanan Jarak Ke Kota Banda Aceh ( km ) B o b o t F a s ilita s N ila i Ranking / Hierarki Hal. 5-3

98 Kota Jantho, Lambaro (Ingin Jaya) dan Lambaro Angan (Darussalam) termasuk dalam rangking I Kota Lambada Lhok (Baitussalam), Peukan Bada, Lampeuneurut (Darul Imarah) dan Krueng Raya (Mesjid Raya) termasuk dalam rangking II Kota Peukan Bilui (Darul Kamal), Cot Iri (Krueng Barona Jaya), Mon Ikeun (Lhoknga), Seulimeum, Montasik, Indrapuri dan Peukan Ateuk (Kota Baro) termasuk dalam rangking III Kota Lampakuk (Cot Glie), Sibreh (Sukamakmur), Lampuyang (Pulo Aceh), Leupung, Samahani (Kuta Malaka), Simpang Tiga, Lhoong dan Lamtamot (Lembah Seulawah) termasuk dalam rangking IV. 2. Interaksi Kota-Kota Faktor interaksi kota-kota sangat menentukan terhadap perkembangan suatu wilayah. Pola interaksi sistem Kota-kota di wilayah Kabupaten Aceh Besar dapat dibedakan berdasarkan 5 kelompok penggerak utama perkembangan wilayah, sebagai berikut : 1. Kota-kota terkait dengan Kota Banda Aceh Wilayah Kabupaten Aceh Besar sangat terkait erat dengan perkembangan Kota Banda Aceh, simpul kegiatan kegiatan seperti transportasi, perdagangan, pemerintahan dan jasa lainnya untuk wilayah Aceh Besar terpolar di Kota Banda Aceh. Kawasan perkotaan wilayah Aceh Besar yang sangat terkait dengan perkembangan Kota Banda Aceh adalah 3 kota kecamatan, yaitu : Lambaro (Kecamatan Ingin Jaya ) Krueng Raya (Mesjid Raya) Lhoknga (Mon Ikeun). Kelompok permukiman kawasan perkotaan tersebut diatas karena berfungsi sebagai penyangga perkembangan Kota Banda Aceh sehingga dapat dikatakan sebagai kota satelit bagi Kota Banda Aceh. 2. Permukiman kawasan perkotaan pusat pertumbuhan sistem Kota Metropolitan Banda Aceh Kelompok kawasan permukiman ini merupakan kawasan yang terimbas langsung oleh perkembangan Kota Banda Aceh yang berfungsi sebagai pusat-pusat pertumbuhan penduduk komuter dan koridor feri-feri Kota banda Aceh. Selain itu berfungsi juga sebagai sentra pemasaran produk hinterland seperti hasil pertanian, peternakan, Hal. 5-4

99 perikanan dan sebagainya. Permukiman kawasan perkotaan yang termasuk dalam kelompok permukiman ini terdiri 10 kota kecamatan : Lambada Lhok (Baitusalam) Lambaro Angan (Darussalam) Peukan Ateuk (Kuta Baro) Lampeneurut (Darul Imarah) Peukan Bilui (Darul Kamal) Cot Iri (Krueng Baronajaya) Blang Bintang (Blang Bintang) Montasik (Montasik) Sibreh (Simpang Tiga) Peukan Bada (Peukan Bada) 3. Permukiman kawasan perkotaan strategis Kawasan permukiman ini sebagai pendukung Kota Jantho yang berfungsi sebagai pusat administrasi. Kelompok permukiman ini cenderung membentuk permukiman pegawai pemerintahan sehingga untuk perkembangannya diperlukan diversifikasi kegiatan pada Kota Jantho sebagai orientasinya. 4. Permukiman kawasan perkotaan persinggahan/transit Kelompok kawasan permukiman sangat dipengaruhi oleh jalur transportasi sistem primer penghubung intraregional dan interregional. Perkembangannya sangat tergantung pada potensi lokal kawasan hinterlandnya serta faktor jarak titk lelah perjalanan perhubungan antar kota intraregional maupun interregional. Yang termasuk kelompok permukiman ini adalah : Lhoong (Lhoong) Lamtamot/Saree (Lembah Seulawah) Permukiman kawasan perkotaan yang berkembang di Kecamatan Lembah Seulawah pada kenyataannya terbentuk di Desa Saree tidak di Kota Kecamatan Lamtamot. Hal ini disebabkan Desa Saree merupakan titik yang paling ideal sebagai persinggahan karena memiliki potensi panorama alam dan fasilitas persinggahan yang lebih menarik dibandingkan Lamtamot. 5. Permukiman kawasan perkotaan pusat pertumbuhan hinterland Sekalipun kelompok kawasan permukiman tersebut berada pada jalur transportasi sistem primer penghubung intraregional dan interregional kecuali Pulo Aceh, namun bukan titik ideal untuk persinggahan. Sehingga dalam perkembangannya akan sangat Hal. 5-5

100 tergantung pada potensi lokal kawasan hinterlandnya, yang termasuk kelompok permukiman ini adalah : Lampakuk (Cot Glie) Seulimeum (Seulimeum) Indraputi (Indrapuri) Leupung (Leupung) Lampuyang (Pulo Aceh) Samahani (Kuta Malaka) Simpang Tiga (Simpang Tiga) 3. Orientasi Pergerakan Barang dan Jasa Identifikasi orientasi pergerakan barang dan jasa mencakup kegiatan koleksi dan distribusi. Kegiatan ini berkaitan erat dengan tingkat kemudahan pencapaian. Berdasarkan kondisi faktualnya orientasi pergerakan barang dan jasa sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Besar tertumpu ke Kota banda Aceh. Kota-kota yang berpotensi untuk menjadi orientasi pergerakan adalah Lambaro, Lambaro Angan, Krueng Raya, Seulimeum, Montasik, Indrapuri, Peukan Ateuk, Sibreh, Lamtamot/Saree, Peukan Bada dan Lampeuneurut, matriks interaksi sistem kota Kabupaten Aceh Besar disajikan pada Tabel Sistem Kota-Kota Berdasarkan Jumlah Penduduk. Klasifikasi kawasan perkotaan berdasarkan jumlah penduduk menurut ketentuan dari Ditjen Penataan Ruang, Depkimpraswil 2002 sebagai berikut. a) Kawasan Perkotaan Kecil, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar hingga jiwa (untuk luar Pulau Jawa ); b) Kawasan Perkotaan Sedang, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar hingga jiwa; c) Kawasan Perkotaan Besar, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari jiwa; d) Kawasan Perkotaan Metropolitan, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari jiwa. Hal. 5-6

101 TABEL 5.2 INTERAKSI SISTEM KOTA WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR NO KECAMATAN KAWASAN POPULASI PERKOTAAN 2006 (Jiw a) Kota Jantho Lambaro Angan Lambaro Lambada Lhok Peukan Bada Lampeuneurut Krueng Raya Peukan Bilui Cot Iri Mon Ikeun Seulimeum Montasik Indrapuri Peukan Ateuk Sibreh Lampakuk Lampuyang Samahani Simpang Tiga Lhoong Leupung Lamtamot/Saree Blang Bintang TOTAL 1 Kota Jantho Kota Jantho Darussalam Lambaro Angan Ingin Jaya Lambaro Baitulssalam Lambada Lhok Peukan Bada Peukan Bada Darul Imarah Lampeuneurut Mesdjid Raya Krueng Raya Darul Kamal Peukan Bilui Krueng Barona Jaya Cot Iri Lhoknga Mon Ikeun Seulimeum Seulimeum Montasik Montasik Indrapuri Indrapuri Kuta Baro Peukan Ateuk Sukamakmur Sibreh Kuta Cot Glie Lampakuk Pulo Aceh Lampuyang Kuta Malaka Samahani Simpang Tiga Simpang Tiga L h o o n g Lhoong Leupung Leupung Lembah Seulaw ah Lamtamot/Saree Blang Bintang *) Blang Bintang 33 TOTAL Sumber : Hasil Analisa 2006 Interaksi Kuat Interaksi Sedang Interaksi Rendah Tidak Ada Interaksi Keterangan : *) Kota Blang Bintang baru terbentuk sesuai dengan Qanun No. 3 Kab. Aceh Besar Berdasarkan kriteria tersebut diatas, maka penentuan klasifikasi perkotaan di wilayah Kabupaten Aceh Besar untuk masa mendatang sebagai berikut : Hal. 5-7

102 TABEL 5.3 KLASIFIKASI SISTEM KOTA BERDASARKAN PENDUDUK PENDUKUNG TAHUN 2016 NO KECAMATAN Kaw asan Perkotaan POPULASI 2016 (Jiw a) KLASIFIKASI KOTA RTRW Aceh Besar2006 KLASIFIKASI KOTA Metropolitan Banda Aceh JICA 2006 TREND POTENCY 1 Pulo Aceh* Lampuyang Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 2 Simpang Tiga Simpang Tiga Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 3 Kota Jantho Kota Jantho Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kabupaten 4 Darul Kamal Peukan Bilui Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Komuter 5 Leupung* Leupung Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 6 Kuta Malaka Samahani Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 7 Lhoong* Lhoong Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 8 Kuta Cot Glie Lampakuk Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 9 Lhoknga* Lhoknga Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Satelit 10 Lembah Seulaw ah Lamtamot/Saree Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Kecamatan 11 Sukamakmur Sibreh Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Pusat Pertumbuhan 12 Mesjid Raya* Krueng Raya Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Kota Satelit 13 Baitussalam* Lambada Lhok Desa Pertumbuhan Desa Pertumbuhan Pusat Pertumbuhan 14 Krueng Barona Jaya Cot Iri Kota Kecil Desa Pertumbuhan Komuter 15 Peukan Bada* Peukan Bada Kota Kecil Kota Kecil Komuter 16 Darussalam Lambaro Angan Kota Kecil Kota Kecil Komuter 17 Seulimeum Seulimeum Kota Kecil Kota Kecil Kota Kecil 18 Montasik Montasik Kota Kecil Kota Kecil Pusat Pertumbuhan 19 Indrapuri Indrapuri Kota Kecil Desa Pertumbuhan Komuter 20 Kuta Baro Peukan ateuk Kota Kecil Kota Kecil Komuter 21 Ingin Jaya Lambaro Kota Kecil Kota Kecil Kota Satelit 22 Darul Imarah Lampeuneurut Kota Kecil Kota Kecil Komuter 23 Blang Bintang Blang Bintang Kota Satelit Kota Kecil Kota Bandara TOTAL Sumber : Hasil Analisis 2006 Kota-kota di wilayah Aceh Besar yang tergolong Pusat Desa Pertumbuhan ditetapkan sebagai fungsi Kota Perdesaan. Kawasan perkotaan yang termasuk kategori kawasan perkotaan adalah Peukan Ateuk, Cot Iri, Seulimeum, Montasik, Peukan Ateuk, Lambaro, Lambada Lhok, Lambaro Angan, Peukan Bada, Lhoknga dan Lampeuneurut. Untuk jelasnya struktur sistem kota eksisting wilayah Kabupaten Aceh Besar dapat dilhat pada Gambar 5.1. Hal. 5-8

103 Gambar 5.1 Peta Struktur Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar Hal. 5-9

104 5.2 RENCANA POLA PEMANFAATAN RUANG Rencana pola pemanfaatan lahan dilakukan dengan cara kedalam 2 tipe penggunaan lahan secara umum, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Substansi kajian mancakup aspek kondisi eksisting sebelum dan setelah tsunami, perkembangan serta kesesuaian pemanfaatan lahan. Rencana pola pemanfaatan di atas ditentukan berdasarkan hasil analisa kesesuaian lahan untuk 3 tipe penggunaan lahan pertanian (tanaman pangan lahan basah, tanaman pangan lahan kering dan tanaman tahunan/perkebunan) juga mengacu kepada Keppres Nomor. 32 tahun 1990 serta SK Mentan Nomor : 837/Kpts/UM/II/1980 dan Nomor : 683/Kpts/UM/II/1980. Faktor pembatas yang digunakan dalam penilaian kesesuaian berdasarkan uraian diatas tersebut ditentukan oleh skor dari penjumlahan 3 faktor, yaitu : (1). Kemiringan Lahan, dikelompokan dalam 5 kelas (Tabel 5.4) : TABEL 5.4 KLASIFIKASI KELERENGAN Kelas Kemiringan (%) Klasifikasi Fisiografi Bobot I 0-8 Landai 20 II 9-15 Bergelombang 40 III Agak Curam 60 IV Curam 80 V > 45 Sangat Curam 100 Sumber : Kepmentani No. 837/Kpts/UM/II/1980 Hal. 5-10

105 (2). Jenis dan kepekaan tanah, dikelompokan dalam 5 kelas (Tabel 5.5) : TABEL 5.5 KLASIFIKASI JENIS DAN KEPEKAAN TANAH Kelas Jenis Tanah Tingkat Kepekaan Bobot I Aluvial, Gleisol, Plano-sol, Hidromorf kelabu, Laterit Air Tanah Tidak Peka 15 II Latosol Agak Peka 30 III Brown Forest Soil, Non Calcic Brown, Mediteran Agak Peka 45 IV Andosol, Laterik, Grumosol, Podsolik Peka 60 V Regosol, Litosol, Organosol, Rendzina Sangat Peka 75 Sumber : Kepmentani No. 837/Kpts/UM/II/1980 (3). Iklim dan curah hujan, faktor iklim dikelompokan dalam 5 kelas (Tabel 5.6) : TABEL.5.6 INTENSITAS HUJAN HARIAN RATA_RATA Kelas Intensitas Hujan Tingkat Kepekaan Bobot I < 13,6 mm/hari Tidak Peka 15 II 13,6-20,7 mm/hari Agak Peka 30 III 20,7 27,7 mm/hari Agak Peka 45 IV 27,7 34,8 mm/hari Peka 60 V > 34,8 mm/hari Sangat Peka 75 Sumber : Kepmentani No. 837/Kpts/UM/II/1980 Hal. 5-11

106 5.2.1 Rencana Penentuan Kawasan Lindung Mengacu pada Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung, wilayah Kabupaten Aceh Besar termasuk dalam kriteria kawasan lindung seluas Ha ( 43,7 % ) berbeda dengan yang telah ditetapkan dalam RTRW Provinsi NAD 2003 yaitu seluas ha. Kriteria ideal dari dari Departemen Kehutanan minimal 30 % dari luas suatu wilayah diarahkan untuk menjadi kawasan hutan, baik yang berfungsi sebagai hutan lindung maupun hutan produksi. Penetapan kawasan lindung untuk wilayah Aceh Besar selain mengacu kriteria diatas, juga mengacu pada Undang Undang No. 5 Tahun 1967, tentang Pokok Pokok Kehutanan mengenai Hutan Lindung, Hutan Produksi dan Hutan Suaka Alam, Undang Undang No 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dalam lingkup Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, penetapan kawasan Hutan Lindung dibedakan sesuai dengan fungsinya sebagai berikut : Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Pada Kawasan Bawahnya. Kawasan Hutan Lindung Hutan lindung yang mempunyai fungsi perlindungan untuk wilayah Kabupaten Aceh Besar meliputi 8 wilayah kecamatan yaitu Darul Imarah, Lhoong, Peukan Bada, Sukamakmur, Lhoknga, Leupung, Indrapuri dan Seulimeum. Areal yang dapat direkomendasikan untuk hutan lindung seluas Ha penggunaan lahan kawasan lindung saat ini seluas ha termasuk hutan lindung sementara dan hutan lindung di luar kawasan hutan. Klasifikasi hutan lindung diitetapkan dengan skor > 175 atau memenuhi salah satu dari beberapa persyaratan sebagai berikut : Lereng > 40 % Tanah sangat peka jenis Regosol, Litosol, Organosol dan Rendzina dengan lereng > 15 % Ketinggian > dpl, untuk Provinsi NAD disepakati > dpl. Digunakan untuk kepentingan khusus yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung (hutan lindung di luar kawasan hutan) Kawasan Resapan Air ( Cactment Area ) Sesuai dengan karakteristik unit analisis kawasan daerah yang direkomendasikan sebagai kawaan resapan air adalah wilayah yang mempunyai kemiringan > 40 % seluas ,9 Hal. 5-12

107 Ha. Fungsi kawasan tersebut adalah menampung air yang jatuh dan meresap kedalam tanah dan menahan tanah dari laju erosi Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Setempat Dan Kawasan Bencana. Sempadan Pantai, Sungai, Danau dan Sekitar Mata Air Penetapan kawasan lindung ini berupa sempadan pantai, sungai, danau dan sekitar mata air. Sempadan pantai ditetapkan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah darat. Panjang pantai di kawasan Kabupaten Aceh Besar pantai barat dan utara termasuk pantai di Pulo Aceh sekitar 283,02 Km. Maka kawasan sempadan pantai ditetapkan seluas 2.830,2 Ha. Sempadan sungai ditetapkan minimal 100 m pada kiri dan kanan sungai besar yaitu DAS Krueng Aceh dan pada Sub DAS (anak sungai) ditetapkan 50 m, terutama pada aliran sungai yang berada di kawasan permukiman berupa jalan inspeksi ditetapkan m, panjang Sungai Krueng Aceh sekitar 112,40 Km, dan telah ditetapkan sempadan 100 meter dari kiri dan kanan sungai, maka luas sempadannya 1.124,0 ha. Panjang sungai-sungai lainnya sekitar 84,78 Km maka diperlukan luas sempadan 131,76 ha. Total luas sempadan sungai adalah ha. Sempadan danau ditetapkan minimal m dari titik pasang tertinggi ke arah daratan. Di wilayah Kabupaten Aceh Besar tidak terdapat danau atau waduk karena bentuk topografi yang ada berupa topografi karst dan langsung pedataran. Sempadan mata air ditetapkan sekurang-kurangnya radius 200 m dari sumber air tersebut dikonservasi. Prioritas sumber mata air yang perlu dikonservasi adalah mata air yang mengalir sepanjang tahun. Di wilayah Kabupaten Aceh Besar terdapat sekitar 27 sumber mata air yang tersebar hampir diseluruh kecamatan kecuali Lhoknga dan Leupung, diantara sumber air tersebut terdapat 4 sumber air panas, masing-masing wilayah kecamatan mempunyai sumber mata air antara 1-3 titik, wilayah yang paling banyak sumber mata airnya sebagian besar di wilayah Kecamatan Seulimeum Alokasi untuk sempadan mata air kurang lebih sekitar 339,12 Ha. Hal. 5-13

108 Sumber mata air, daerah tangkapan air (catchment area) dan debit sungai untuk wilayah Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat pada Tabel 5.7 TABEL 5.7 CATHCHMENT AREA DAN DEBIT AIR PERMUKAAN KABUPATEN ACEH BESAR No. DAS Min Max 1 Krueng Aceh 1.584,0 6, ,0 2 Krueng Jreu 1.078,0 6, ,0 3 Krueng Tengku 143,0 0,572 4 Krueng Angen 103,0 0,412 5 Krueng Paya 75,0 0,300 6 Krueng Bihue 57,0 0,228 7 Krueng Kale 49,0 0,996 8 Krueng Leungah 46,0 0,184 9 Krueng Lampanah 43,0 0,172 Jumlah 3.178,0 14,9 326,0 Sumber : Dinas Sumber Daya Air 2005 Luas Catchment Area (Ha) Debit (m3/detik) Total luas Sempadan pantai, sungai dan sekitar mata air adalah ha. Kawasan Rawan Bencana. Kawasan rawan bencana di wilayah Kabupaten Aceh Besar sebagian besar berupa bencana aspek geologi yaitu gempa bumi, tanah longsor dan banjir, serta tsunami. Di wilayah Aceh Besar terdapat pusat gempa pada kedalam 33 km dengan kekuatan > 5 Skala Richter di Kecamatan Kuta Baro. Wilayah bahaya bencana alam yang terdapat di Kabupaten Aceh Besar dikelompokan sebagai berikut : o Wilayah bencana tanah longsor seluas ha berupa fisiografi pegunungan dengan lereng % sampai dengan > 40 % dan mempunyai sifat fisik batuan mudah lepas, kawasan ini meliputi wilayah Kecamatan Cot Glie bagian selatan, Kota Jantho dan Kuta Malaka. o Wilayah bencana erosi tanah terdapat pada wilayah pegunungan terjal dengan vegetasi jarang dan batu di permukaan seluas ,8 ha menyebar di Kecamatan Seulimeum, Mesjid Raya dan Lembah Suelawah. o Wilayah bencana banjir terdapat pada DAS Krueng Aceh bagian hilir seluas ,7 ha meliputi Kecamatan Ingin Jaya, Montasik, Darul Imarah dan Kuta Malaka. Hal. 5-14

109 o o Wilayah bencana gunung berapi berupa bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi seperti lahar panas, material batu, lahar dingin, abu dan sebagainya. Di wilayah Kabupaten Aceh Besar terdapat gunung baerapi aktif yaitu Gunung Seulawah, wilayah yang termasuk dalam kategori bahaya I, II dan III apabila terjadi letusan gunung seluas ha meliputi Kecamatan Seulimum, Mesjid Raya dan Lembah Seulawah. Wilayah bahaya tsunami meliputi kawasan pesisir radius 5 km dari garis pantai dengan ketinggian dibawah 50 meter dari permukaan laut seluas ha. Wilayah yang cukup luas bahaya tsunami adalah Kecamatan Peukan Bada, Baitusalam, Lhoknga, Pulo Aceh, Lhoong dan Leupung. Total luas wilayah yang termasuk rawan bencana sebesar ,8 ha atau 45 % dari luas wilayah kabupaten Kawasan Suaka Alam Berdasarkan Undang Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Pokok Pokok Kehutanan mengklasifikasikan kawasan suaka alam terdiri dari : Cagar Alam Merupakan kawasan yang mempunyai karakteristik alam (flora) dan budaya yang perlu dilestarikan. Cagar alam di wilayah Kabupaten Aceh Besar terdiri dari Cagar Alam Darat dan Cagar Alam Laut. Cagar alam darat meliputi Taman Hutan Raya (Tahura) Cut Meurah Intan di Lembah Seulawah (6.020 Ha), Pulo Aceh (3.879 Ha), Cagar Alam Jantho (8.000 Ha). Sedangkan yang termasuk cagar alam laut adalah Taman Laut Lhoknga ( Ha) serta kawasan Hutan Bakau ( mangrove ) di sepanjang pantai, pada wilayah pantai yang telah dibangun menjadi fasilitas transportasi laut (pelabuhan). Pengembangan wilayah tersebut diupayakan pada daerah yang telah terbangun dan tidak diperluas, karena akan mengganggu habitat mangrove dan kelestarian alam secara lebih luas, alokasi lahan untuk mangrove tersebut pada sempadan pantai yang telah ditetapkan di atas. Suaka Margasatwa Merupakan kawasan yang mempunyai karakteristik satwa langka, di wilayah Kabupaten Aceh Besar yang tergolong satwa langka adalah gajah. Kawasan yang direkomendasikan sebagai suaka margasatwa adalah Pusat Pelatihan Gajah (PLG) di Saree Kecamatan Lembah Seulawah seluas 2 ha. Hal. 5-15

110 Taman Suaka Alam Taman suaka alam adalah kawasan cagar alam dan suaka margasatwa yang dapat dikunjungi umtuk kegiatan pariwisata. Luas wilayah yang termasuk dalam Kawasan Suaka Alam ( cagar alam darat dan laut) diluar kawaan hutan lindung seluruhnya mencapai Ha. Total luas kawasan lindung wilayah Kabupaten Aceh Besar yang berupa daratan ha. Pemanfaatan lahan kawasan lindung yang mengalami kerusakan oleh bencana tsunami berupa hutan mangrove. Hal. 5-16

111 Bab 6 RENCANA PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN WILAYAH Pembahasan mengenai rencana pengelolaan dan pengendalian pembangunan wilayah Kabupaten Aceh Besar mencakup : pengelolaan dan pengendalian kawasan lindung dan kawasan budidaya serta pengelolaan dan pengendalian kawasan perdesaan, perkotaan. 6.1 PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN KAWASAN LINDUNG DAN BUDIDAYA Upaya untuk mewujudkan rencana struktur dan pemanfaatan ruang dilakukan pengeloaan dan pengendalian kawasan lindung dan kawasan budidaya. Pekerjaan yang dilakukan dalam pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya antara lain : 1. Pengembangan kelembagaan Pengembangan kelembagaan meliputi kewenangan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya kepada Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, Mukim, Desa, swasta, lembaga kemasyarakatan dan masyarakat. Kelembagaan yang bersumber dari kearifan lokal yang tertuang dalam UUPA, seperti unsur Mukim, Keuchik, Tuhapeut (kalangan cerdik pandai) juga terdapat seksi seksi operasional yang dapat berpartisipasi dalam pengelolaan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kelembagaan pengelolaan dan pengendalian kawasan lindung dan budidaya di Kabupaten Aceh Besar seharusnya dikelola oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD), namun demikian BKPRD tersebut di Kabupaten Aceh Besar belum terbentuk. Untuk itu, agar terkoordindasi dan terpadu dalam pengelolaan dan pengendalian kawasan lindung dan budidaya ini perlu dibentuk BKPRD. Hal. 6-1

112 BKPRD sebagai unsur pelaksana koordinasi penataan ruang yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati Aceh Besar meliputi : a. Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar b. Penyusunan Rencana Rinci/Detail Tata Ruang dan Rencana Tata Ruang Kawasan sebagai penjabaran lebih lanjut dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar c. Pengintegrasian dan pemaduserasian penyusunan Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar dengan Rencana Tata Ruang Provinsi maupun Rencana Tata Ruang Kabupaten/Kota yang berbatasan. d. Pemaduserasian Rencana Tata Ruang dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Tahunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, masyarakat dan dunia usaha. e. Optimalisasi penyelenggaraan penertiban, pengawasan (pemantauan, evaluasi dan pelaporan) dan perizinan pemanfaatan ruang. f. Perumusan kebijakan penyelenggaraan penataan ruang Kabupaten Aceh Besar g. Optimalisasi peran serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. h. Pengembangan dan penyediaan data informasi tata ruang. i. Penanganan masalah atau konflik pemanfaatan ruang Kabupaten Aceh Besar Tugas BKPRD adalah : a. Merumuskan dan mengkoordinasikan berbagai kebijakan penataan ruang dengan memperhatikan kebijakan penataan ruang nasional dan provinsi b. Melaksanakan kegiatan pengawasan yang meliputi pelaporan, evaluasi, dan pemantauan penyelenggaraan pemanfaatan ruang. c. Memberikan rekomendasi penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. d. Melaksanakan fasilitasi, supervisi dan koordinasi kepada dinas/instansi, masyarakat dan dunia usaha berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang. e. Mengembangkan data dan informasi penataan ruang untuk kepentingan penggunaan ruang dijajaran pemerintah, masyarakat dan swasta, f. Mensosialisasikan dan menyebarluaskan informasi penataan ruang. g. Memadukan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang kabupaten dengan Kabupaten/Kota yang berbatasan. Hal. 6-2

113 h. Mengkoordinasikan penanganan dan penyelesaian masalah yang timbul dalam penyelenggaraan penataan ruang dan memberikan pengarahan dan saran pemecahannya. i. Menjabarkan petunjuk Bupati berkenaan dengan pelaksanaan fungsi dan kewajiban koordinasi penyelenggaraan penataan ruang. j. Menyampaikan laporan penyelenggaraan tugas BKPRD Kabupaten secara berkala kepada Bupati. Susunan Keanggotaan Susunan keanggotaan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kabupaten Aceh Besar yang akan dibentuk disesuaikan dengan Keputusan Bupati Aceh Besar No. 37 Tahun 2006 tentang Pembentukan Tim Teknis Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) Aceh Besar dan Kawasan Permukiman Utama (RDTR) Kota Lambaro terdiri dari : a. Pengarah : Bupati Aceh Besar b. Ketua : Kepala Bapeda c. Wakil Ketua : Asisten Ekonomi dan Pembangunan d. Sekretaris : Kabid Perencanaan Pembangunan III e. Anggota : - Kepala Dinas Pertanian - Kepala Dinas Perkebunan - Kepala Dinas Kimpraswil - Kepala Dinas Kehutanan - Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan - Kepala Bagian Hukum - Kepala Kantor Pedalda - Kepala Kantor Pertanahan - Kabag Pembangunan Sesdakab - Kasubbid. Kimpraswil Bappeda - Kasubbid SDA dan SDL Bappeda - Kasubbid Kerjasama Pembangunan Selanjutnya BKPRD membentuk sekretariat, kelompok kerja perencanaan tata ruang serta kelompok kerja pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Hal. 6-3

114 2. Program pemanfaatan Program pemanfaatan meliputi garis besar program program pemanfaatan kawasan lindung dan kawasan budidaya untuk jangka panjang dan jangka menengah dan jangka pendek. Pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya melibatkan unsur kelembagaan seperti Keujruen Blang, Panglima Laoet, Panglima Uteun, Keujruen Seuneubok, Keujruen Bandar. 3. Pengawasan Pengawasan meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kesesuaian rencana untuk pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya yang dilakukan secara bersama sama oleh Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, Mukim, Desa masyarakat dengan melibatkan unsur kelembagaan lokal. d. Penertiban Penertiban meliputi tata cara dan prosedur penertiban terhadap pelanggaran pelanggaran pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten. Keberadaan mukim banyak berperan dalam mengkoordinir Gampong/Keuchik dalam pengelolaan kawasan lindung. Kelembagaan mukim untuk mengkoordinir Keuchik pada kawasan lindung daratan adalah Panglima Uteun, dan kawasan lindung di sekitar pantai adalah Panglima Laoet Kewenangan Pengelolaan A. Kewenangan Pengelolaan Kawasan Lindung Jenis kawasan lindung di Kabuapten Aceh Besar meliputi kawasan hutan lindung, taman hutan raya, kawasan resapan air, sempadan pantai, sungai, danau dan sekitar mata air, kawasan rawan bencana, cagar alam, suaka margasatwa dan taman suaka alam. Dalam pengelolaan kawasan lindung tersebut diperlukan konstribusi dari seluruh komponen pelaku pembangunan agar pemnafaatan lahan di kawasan lindung tidak bertentangan dengan fungsi lindung di kawasan tersebut. Diantara pelaku pembangunan dalam pengelolaan kawasan lindung mempunyai ruang lingkup sebagai berikut : Hal. 6-4

115 a. Pemerintah provinsi, melakukan koordinasi pengelolaan kawasan lindung yang terletak di perbatasan serta memberikan bantuan teknis dan anggaran kepada kabupaten agar upaya pengelolaan kawasan lindung dapat berjalan dengan optimal. b. Pemerintah kabupaten, melalui jajaran dinas, kantor dan badan Pemkab merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan program program pengelolaan kawasan lindung. Sebagai pelaksana program, jajaran dinas kantor dan badan sekaligus melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian, dan perizinan agar aktivitas yang dilakukan di kawasan berfungsi lindung selaras dengan fungsinya. c. Kecamatan, jajaran kecamatan difungsikan sebagai perpanjangan tangan dari dinas dan badan badan yang memiliki tugas sebagai pelaksana program pengelolaan kawasan lindung. d. Mukim, beserta jajarannya seperti Panglima Uteun dan Planglima Laoet mempunyai kewenangan mengkoordinir Gampong/Keuchik menjalankan peran pengawasan, pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan lindung. e. Desa/Gampong, karena kedekatannya dengan lokasi, aparat desa memiliki posisi yang paling strategis dalam menjalankan peran pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan lindung. Berbagai bentuk pemanfaatan ruang yang tidak selaras dengan fungsi lindung dapat dilaporkan kepada jajaran Pemkab untuk dilakukan penertiban. f. Swasta, karena posisinya yang umumnya berorientasi pada profit, seringkali sektor swasta memiliki kecenderungan kurang memperhatikan lindung suatu kawasan. Kecenderungan ini perlu ditekan melalui proses perizinan usaha yang berwawasan lingkungan, misalnya dengan persyaratan menyusun dan melaksanakan RPL dan RKL. g. Masyarakat, masyarakat sebagai pengguna ruang perlu mendapat sosialisasi tentang aktivitas-aktivitas yang bertentangan dengan fungsi lindung suatu kawasan. Sebaliknya masyarakat juga dapat berperan dalam pengendalian pemanfaatan ruang yang tidak selaras dengan fungsi lindung. Fungsi pengendalian masyarakat di wilayah Kabupaten Aceh Besar telah terbentuk secara adat yang telah diakomodir dalam UUPA sebagai lembaga formal, yaitu kelembagaan mukim beserta jajarannya. Wewenang pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Aceh Besar selengkapnya disajikan dalam Tabel 6.1. Hal. 6-5

116 Tabel 6.1 Wewenang Pengelolaan Kawasan Lindung di Kabupaten Aceh Besar No. Tingkat Kewenangan Keterangan 1 Provinsi Koordinasi pengelolaan kawasan Dilakukan oleh Dinas, lindung di perbatasan Badan dan lembaga Memeberikan bantuan teknis dan terkait di provinsi anggaran terutama Dinas Kehutanan dan Bapedalda 2 Kabupaten Membuat rencana program dan Dilakukan oleh dinas, anggaran pengelolaan kawasan badan dan lembaga lindung terkait di kabupaten Pengawasan, perizinan dan terutama : Bappeda, pengendalian Dinas Kehutanan, Dinas Kimpraswil 3 Kecamatan Pelaksana program Dilakukan ole seksi PMD 4 Mukim Pengawasan dan pengendalian dalam bentuk laporan 5 Desa/Gampong Pengawasan dan pengendalian dalam bentuk laporan 6 Masyarakat Berperan dalam pengendalian pemanfaatan kawasan lindung Sumber : Hasil Rencana, 2006 Dilakukan oleh Panglima Uteun dan Panglima Laoet. Dilakukan oleh staft dan jajarannya Mendapatkan penyuluhan dari dinas dan badan terkait B. Kewenangan Pengelolaan Kawasan Budidaya Jenis kawasan budidaya di Kabuapten Aceh Besar meliputi kawasan budidaya pertanian (pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan), kawasan budidaya kehutanan, kawasan Industri dan permukiman. Dalam pengelolaan kawasan budidaya tersebut diperlukan konstribusi dari seluruh komponen pelaku pembangunan yang diuraikan sebagai berikut : Kawasan Budidaya Pertanian (pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan) - Dinas Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan sebagai jajaran pelaksana pembangunan sektor pertanian pada pemerintahan kabupaten, memiliki kewenangan dalam memberikan perijinan investasi di bidang pertanian, memberikan penyuluhan dan sosialisasi serta memberikan percontohan intensifikasi produksi. Dalam upaya ekstensifikasi pertanian, Dinas Pertanian direkomendasikan berperan aktif dam menyusun dan menyebarluaskan sistem informasi kesesesuaian lahan untuk mendukung aktivitas pertanian, agar investor mengetahui potensi lahan pertanian yang ada di Kabupaten Aceh Besar. Hal. 6-6

117 - Mukim dibantu oleh Keujruen Blang dan Keujruen Seuneubok terlibat dalam pengelolaan kawasan budidaya pertanian. - Masyarakat dan swasta melakukan aktivitas budidaya dan investasi di bidang pertanian pada kawasan kawasan yang telah ditetapkan/direncanakan sebagai kawasan pertanian dalam RTRW Kabupaten Aceh Besar. Kawasan Budidaya Kehutanan - Dinas Kehutanan memiliki kewenangan dalam opresional produksi kehutanan pada hutan milik negara. Termasuk dalam kegiatan ini operasional ini adalah kegiatan penanaman, penebangan, pemasaran, pengendalian, pengawasan kegiatan didalam kawasan hutan negara. - Mukim dibantu oleh Panglima Uteun terlibat dalam pengelolaan kawasan budidaya kehutanan. - Masyarakat dan swasta, melakukan aktivitas budidaya di kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan hutan diluar hutan milik negara. Kawasan Perindustrian dan perdagangan - Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Kimpraswil, memiliki kewenangan dalam memberikan perijinan investasi di bidang perdagangan dan perindustrian, sehingga dapat dikendalikan peruntukan lahan untuk kegiatan tersebut sesuai dengan arahan RTRW Kabupaten Aceh Besar. Disamping itu, memberikan penyuluhan dan sosialisasi untuk pengembangan kegiatan perdagangan dan perindustrian. - Mukim dibantu oleh Keujruen Bandar terlibat dalam pengelolaan kawasan perindustrian dan perdagangan. - Swasta dan masyarakat, melakukan aktivitas budidaya di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan perindustrian dan perdagangan. Kawasan Permukiman - Dinas Kimpraswil, memiliki kewenangan dalam memberikan perijinan tentang pendirian rumah beserta aturan aturan bangunan yang telah ditetapkan, sehingga dapat dikendalikan peruntukan lahan sesuai dengan araghan RTRW kabupaten Aceh Besar. Hal. 6-7

118 - Masyarakat dan swasta, melakukan kegiatan perumahan di kawasan perumahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan permukiman. Kegiatan Pertambangan - Dinas pertambangan memiliki tugas dan kewenangan dalam melaksanakan program program pengembangan pertambangan serta penetapan aturan perijinan usaha pertambangan. - Tambang rakyat berupa galian C dikendalikan oleh Pawang Gunung. Selengkapnya kewenangan pengelolaan kawasan budidaya di Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat Tabel Program Pemanfaatan A. Program Pemanfaatan Kawasan Lindung Program program pemanfaatan pada kawasan lindung pada dasarnya dilaksanakan pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Program progam tersebut antara lain : Pengendalaian kawasan budidaya terutama bangunan pada kawasan lindung Mencegah kebakaran hutan dan melakukan pengawasan hutan Melakukan reboisasi dan penertiban banguan bangunan di sempadan pantai, sungai, waduk dan sekitas mata air. Penataan kawasan hutan wisata dan suaka margasatwa Penanaman caver crop dan tanaman penyangga tanah pada kawasan rawan bencana seperti erosi, longsor. B. Program Pemanfaatan Kawasan Budidaya Program program pemanfaatan pada kawasan budi daya antara lain : Kehutanan : budidaya tanaman hutan berumur pendek serta pengawasan dan pengendalian hutan produksi. Perkebunan : Identifikasi dan pengembangan untuk perkebunan sawit. Pertanian tanaman pangan lahan basah : Pembersihan dan rehabilitasi saluran irigasi yang terkena gempa. Hal. 6-8

119 Tabel 6.2 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Budidaya Di Kabupaten Aceh Besar No. Tingkat Kewenangan Keterangan 1. Provinsi Kegiatan operasional produksi kehutanan pada kawasan hutan 2. Kabupaten Memberikan perijinan investasi di bidang pertanian Memberikan penyuluhan, sosialisasi dan percontohan intensifikasi produksi Menyusun dan menyebarluaskan sistem informasi kesesuaian lahan dan potensi pertanian. Operasional kegiatan kehutanan termasuk penanaman, penebangan, pemasaran, pengendalian, pengawasan kawasan hutan Memberikan perijinan investasi di bidang perdagangan dan perindustrian, sehingga dapat dikendalikan peruntukan lahan untuk kegiatan tersebut sesuai dengan arahan yang telah ditetapkan Memberikan perijinan tentang pendirian rumah beserta aturan aturan bangunan yang telah ditetapkan, sehingga dapat dikendalikan peruntukan lahan sesuai dengan arahan RTRW Kabupaten Aceh Besar. Melaksanakan program program pengembangan pertambangan serta penetapan aturan perijinan usaha pertambangan. 3. Kecamatan Memberikan rekomendasi untuk izin izin kegiatan budidaya 4. Mukim Melakukan pengendalian dan pengawasan untuk kegiatan budidaya 5. Desa/Gampong Melakukan pengendalian dan pengawasan untuk kegiatan budidaya 6. Masyarakat Melakukan aktivitas budidaya diluar kawasan hutan milik negara Melakukan budidaya dan investasi di bidang pertanian Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan. Dinas Kehutanan Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Kimpraswil. Dinas Kimpraswil Dinas Pertambangan Camat Keujruen Blang, Keujruen Sueneubok, Panglima Uteun, Panglima Laoet, Keujruen Bandar. Keuchik dan Staff Petani, nelayan, pedagamg, usahawan, dll. Hal. 6-9

120 Pertanian tanaman pangan lahan kering : pemanfaatan lahan untuk tanaman pangan lahan kering. Peternakan : Rehabilitasi sarana penggemukan sapi Perikanan : Rehabiltasi sarana dan prasarana tambak Permukiman : Penataan kembali serta pengendalian dan penertiban Pengawasan Kegiatan pengawasan pemanfaatan ruang terdiri atas : a. Pemantauan, adalah usaha atau perbuatan mengamati, mengawasi dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. b. Pelaporan adalah kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang c. Evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. Kegiatan pengawasan terhadap rencana pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya dilakukan dengan pemantauan, pelaporan dan evaluasi seperti yang jelaskan diatas. Kegiatan pengawasan terhadap aktivitas yang berlangsung di kawasan lindung dan budidaya memerlukan kerjasama antara seluruh jajaran pelaku pembangunan, yaitu jajaran Dinas/Badan/lembaga Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, Desa, swasta, lembaga kemasyarakatan serta masyarakat. Aktivitas yang tidak sesuai dengan fungsi lindung harus dilaporkan kepada instansi yang berwewenang sehingga dapat dilakukan penertiban. Kegiatan pemantauan dilakukan terhadap penyimpangan/pelanggaran terhadap rencana tata ruang, secara khusus dilakukan terhadap instansi yang memberi izin serta instansi lain yang terkait. Pemantauan sangat diperlukan karena perkembangan yang terjadi dilapangan sangat dinamis, sehingga adanya perubahan yang mungkin berimplikasi dari skenario dari rencana yang sudah ditetapkan akan cepat diketahui dan dapat dibuat skenario baru sebagai langkah antisipasinya. Pemantauan rencana pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya dilakukan oleh Bappeda dan dilakukan sekurang kurangnya sekali dalam setahun. Lingkup kegiatan pemantauan ini selain mengawasi kemungkinan adanya penyimpangan dilapangan yang menyangkut pemanfaatan ruang yang sudah ditetapkan, juga meliputi up dating/pembaharuan berbagai data data dan informasi yang mendukung tata ruang. Hal. 6-10

121 Berbagai metode dan cara dalam upaya memudahkan sistem pemantaiuan antara lain dengan menyusun data base yang terintegrasi dengan sistem pemetaan (grafis) dan atisipatif terhadap adanya perubahan perubahan yang terjadi, sehingga proses perubahan sekecil apapun dapat segera diketahui oleh instansi yang berwenang untuk segera diambil langkah langkah penanganannya. Sebagai tindak lanjut untuk mengantisipasi perubahan perubahan yang terjadi, maka perlu pengendalian pemanfaatan ruang dalam bentuk perizinan, yaitu setiap pemanfaatan ruang terutama yang bersekala besar wajib mengajukan permohonan Surat Ijin Pemanfaatan Ruang (IPR). Permohonan dapat dilakukan oleh orang per orang, kelompok orang maupun badan hukum. Permohonan dilakukan dengan tata cara serta persyaratan yang akan diatur oleh instansi yang terkait. Sebaiknya perijinan perijinan pembangunan meliputi : a. Ijin Lokasi b. Ijin Pemanfaatan Ruang c. Site Plan (Rencana Tapak) d. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Penertiban Penertiban terhadap pemanfaatan ruang dilakukan berdasarkan laporan perkembangan pengawasan. Tindakan penertiban pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran/penyimpangan dalam pemanfaatan ruang yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Penertiban terhadap pemanfaatan ruang dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui aparat yang diberi wewenang dalam hal penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang termasuk aparat desa. Kegiatan penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan dengan cara pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Peran serta masyarakat dalam penataan ruang seperti yang diamanatkan dalam UU Republik Indonesia No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh adalah : Hal. 6-11

122 Masyarakat berhak terlibat untuk memberikan masukan secara lisan maupun tertulis tentang penyusunan perencanaan pembangunan Aceh dan Kabupaten/Kota melalui penjaringan aspirasi dari bawah (Pasal 141 ayat 3). Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan maupun tertulis dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang Aceh dan Kabupaten/Kota (Pasal 142 ayat 5). Masyarakat berhak mendapatkan informasi tata ruang yang sudah ditetapkan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota (Pasal 143 ayat 4). Masyarakat berhak untuk terlibat secara aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 148 ayat 2). Penjabaran lebih lanjut tentang peran serta masyarakat dalam penataan ruang seperti yang disebutkan dalam UU Pemerintahan Aceh tersebut, dapat diuraikan peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah, meliputi : a. Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan wilayah b. Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan c. Bantuan untuk merumuskan perencanaan tata ruang wilayah kabupaten d. Pemberian informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyusunan startegi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah kabupaten e. Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana tata ruang wilayah kabupaten Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah, meliputi : a. Pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang udangan, agama, adat atau kebiasaan yang berlaku. b. Memberikan masukan berupa pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan dan perdesaan c. Menyelenggarakan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. d. Konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara dan sumberdaya alam lainnya untuk tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. e. Perubahan atau konvensi pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRW kabupaten f. Pemberian masukan untuk penetapan lokasi pemanfaatan ruang, dan atau Hal. 6-12

123 g. Berpartisipasi untuk menjaga, memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan. Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang meliputi : a. Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang kabupaten termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah b. Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban kegiatan pemanfaatan ruang dan peningkatan kualitas pemanfaatan ruang Tata cara peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang dilaksanakan dengan pemberian saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan, keberatan, masukan terhadap informasi tentang arah pengembangan, potensi dan masalah yang dilakukan secara lisan atau tertulis. Tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang dilakukan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku yang pelaksanaannya di koordinasikan oleh Kepala Daerah. Tata cara peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Kepala Daerah dan pejabat yang berwenang. Dalam kegiatan penataan ruang wilayah, masyarakat wajib : a. Berperan serta dalam memelihara kualitas ruang b. Berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. c. Mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. 6.2 PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN KAWASAN PERKOTAAN DAN KAWASAN PERDESAAN Pengelolaan dan pengendalian kawasan perdesaan dan perkotaan akan dibahas mengenai kewenangan pengeloaan, program pemanfaatan, pengawasan dan penertiban Kewenangan Pengelolaan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan Kewenangan dalam pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan meliputi kewenangan Pemerintah Daerah, swasta, lembaga kemasyarakatan dan masyarakat. Selengkapnya Hal. 6-13

124 pembagian kewenangan pengelolaan kawasan perdesaan dan perkotaan dapat dilihat Tabel 6.3. Tabel 6.3 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan No. Instansi Kewenangan 1 Pemerintah Kabupaten Monitoring pelaksanaan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan Melakukan promosi tata ruang kawasan perkotaan dan perdesaan Melakukan penanganan dan penyelesaian masalah dalam penyelenggaraan pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan perdesaan Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan perdesaan Membuat perizinan kegiatan dalam kawasan perkotaan dan perdesaan 2 Pemerintah Kecamatan Melakukan pelaksanaan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan, meliputi pengawasan, penertiban serta pengendalian izin izin ditingkat kecamatan 3 Pemerintah Mukim Mengawasi pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan perdesaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan membuat pelaporan. 4 Pemerintah Gampong Melakukan pelaksana teknis dalam mengawasi pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan perdesaan dan membuat pelaporan. 5 Lembaga Masyarakat Melakukan pengawasan dan monitoring dalam penyelenggaraan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan 6 Swasta Melakukan pembangunan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku 7 Masyarakat Melakukan pengawasan dan kontrol dalam penyelenggaraan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan. Sumber : Hasil Rencana, Tahun Program Pemanfaatan Program program pemanfaatan dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan antara lain : a. Kawasan Perkotaan : Penyusunan rencana pengembangan kawasan perkotaan Penataan permukiman di kawasan permukiman Pengembangan Kota Jantho dengan penyediaan fasilitas pendidikan, pariwisata dan rekreasi serta peningkatan jaringan jalan regional Jantho Lamno. Penyiapan Kota Blang Bintang sebagai kota baru Hal. 6-14

125 Rehabilitasi sarana dan prasarana industri besar dan sedang b. Kawasan perdesaan Integrasi kawasan budidaya dalam kawasan perdesaan agar dapat mendukung kelangsungan sumber daya lahan dan sumberdaya air. Pengembangan kawasan perdesaan. Pengembangan pusat pusat desa pertumbuhan Pengawasan Kegiatan pengawasan pemanfaatan ruang untuk kawasan perkotaan dan perdesaan bertujuan untuk menjaga konsistensi kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam RTRW. Penyelenggaraan tersebut dapat berupa pelaporan (memberi informasi yang obyektif), pemantauan (usaha mengamati, mengawasi dan memerikasa perubahan kualitas ruang dan lingkungan yang bertentangan dengan RTRW) dan evaluasi (usaha menilai kemajuan kegiatan). Sebagai tindak lanjut daripada pengawasan dalam pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan yang mencakup pelaporan, pemantauan dan evaluasi melibatkan bebrapa komponen pelaku pembangunan, diantaranya : a. Pemerintah Kabupaten melalui dinas/badan/kantor yang terkair melakukan pemantauan, pelaporan dan evaluasi terutama yang menyangkut perubahan kualitas ruang di kawasan perkotaan serta pengendalian konversi pemanfaatan ruang di kawasan perdesaan yang memperhatikan keberlanjutan pemenuhan kebutuhan hidup seperti air dan pangan. b. Pemerintah Kecamatan merupakan pelaksana dalam pengawasan (pemantauan dan pelaporan) dalam penyelenggaraan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan. c. Desa/mukim/masyarakat, melakukan pengawasan dengan melakukan pemantauan dan pelaporan secara langsung terhadap perkembangan dan perubahan dalam kawasan perkotaan dan perdesaan Penertiban Pelanggaran dalam pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan pedesaan dapat dilakukan oleh suatu lembaga atau perorangan, agar pelanggaran tersebut tidak meluas/terulang kembali maka diperlukan penertiban bagi para pelaku. Adapun bentuk tindakan terhadap pelangggaran tersebut dapat berupa ; Hal. 6-15

126 1. Penertiban langsung, yaitu melalui mekanisme penegakan hukum yang diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti sangsi administrasi, pidana atau perdata. 2. Penertiban tidak langsung, yaitu dalam bentuk pengenaan sangsi disinsentif pemanfaatan ruang (melalui pengenaan distribusi secara progresif atau membatasi penyediaan prasarana/sarana dasar lingkungan. Sebelum dilakukan penertiban kepada pelaku pelanggaran pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan pemukiman diawali dengan memberikan teguran/ peringatan sebnyak 3 (tiga) kali selama 3 (tiga) bulan sejak dikeluarkannya peringatan yang pertama, bila sampai lebih dari tiga bulan maka pemerintah wajib memberikan sangsi baik (langsung maupun diinsentif). 6.3 MEKANISME PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Pengawasan Pengawasan merupakan upaya-upaya untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Obyek pengawasannya adalah perubahan pemanfaatan ruang (kegiatan pembangunan fisik) yang terjadi, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana beserta besaran-besaran perubahannya. Dalam pengawasan pemanfaatan ruang terdapat 3 komponen utama, yaitu : pelaporan, pemantauan dan evaluasi Pelaporan Pelaporan merupakan upaya memberikan informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Obyek pelaporan adalah perubahan pemanfaatan ruang dalam persil/kawasaan dan tata ruang wilayah blok peruntukan. Perubahan pemanfaatan ruang tingkat persil meliputi perubahan fungsi kegiatan dan perubahan teknis bangunan yang ada di dalam persil. Akumulasi perubahan persil merupakan perubahan blok peruntukan, sedangkan perubahan peruntukan merupakan Hal. 6-16

127 perubahan kawasan dan seterusnya menjadi perubahan wilayah yang lebih luas. Hasil dari proses pelaporan ini berupa tipologi penyimpangan pemanfaatan ruang, yaitu: a. Besaran penyimpangan (luasan, panjang, lebar). b. Bentuk dan jenis penyimpangan (fungsi, intensitas, atau teknis). c. Arah penyimpangan atau pergeseran pemanfaatan ruang Pemantauan Pemantaun merupakan upaya mengamati, mengawasi dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Perubahan kualitas tata ruang disebabkan oleh semua pelaku pembangunan (pemerintah, swasta dan masyarakat). Pengamatan lapangan dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh pemerintah daerah. Pemantauan dilakukan dengan cara pemeriksaaan yang melibatkan pelaku pelanggaran (dengan memeriksa lebih jauh dokumen perijinan yang dimilikinya). Tahapan pelaksanaan pemantauan adalah sebagai berikut; a. Penyidikan lapangan, dilakukan setelah tahap kegiatan pelaporan yang kemudian diperoleh indikasi penyimpangan pemanfaaatan ruang persil (baik lokasi maupun tipologi penyimpangannya). Kemudian dibentuk tim penyidik yang terdiri atas beberapa dinas terkait di daerah dan rencana kerja penyidikan penyimpangan pemanfaatan ruang ke lapangan. Penyidikan ini dilakukan untuk memperoleh klarifikasi bukti pelanggaran yang telah ada pada Tim Penyidik dengan yang ada pada penguasa lahan atau bangunan untuk dilihat dan diketahui penyebab pelanggaran. b. Pembahasan dan perumusan terbukti tidaknya secara teknis administrasif penyimpangan atau pelanggaran yang telah diindikasikan sebelumnya. Tahap berikutnya adalah mengklasifikasikan bentuk-bentuk pelanggaran, akibat pelanggaran dan penanggungjawab pelanggaran pemanfaatan ruang. c. Laporan dan pemberitahuan. Rumusan penyimpangan dan pelanggaran tersebut kemudian disusun laporan dan pemberitahuan kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Laporan hasil pemantauan diserahkan kepada kepala daerah untuk dievaluasi dan dibahas untuk merumuskan bentuk-bentuk penertiban. Laporan hasil pemantauan diserahkan kepada instansi terkait untuk mempersiapkan kegiatan evaluasi terhadap pelanggaran dan penyimpangan pemanfaatan ruang untuk mendukung penetapan penertiban yang perlu diambil. Hal. 6-17

128 Pemberitahuan hasil pemantauan kepada pelaku pelanggaran untuk mempersiapkan pertanggungjawaban pelanggaran pemanfaaatan ruang yang telah dilakukan. Gambar 6.1 Proses Pengawasan Pemanfaatan Ruang Hal. 6-18

129 Gambar 6.2 Proses Pelaporan Perubahan Pemanfaatan Ruang Hal. 6-19

130 Tabel 6.4 Kegiatan Pelaporan Perubahan Pemanfaatan Ruang Kegiatan Keluaran Pelaksana/Penanggung Jawab Pengumpulan data Informasi Instansi penerbit ijin dan dan informasi perubahan masyarakat (palapor) mengenai pemanfaatan perubahan ruang pemanfaatan lahan Pengkajian perubahan pemanfaatan ruang persil Perumusan tipologi penyimpangan pemanfaatan ruang persil. Rekapitulasi perubahan pemanfaatan ruang Pengkajian pola perubahan pemanfaatan ruang wilayah atau blok peruntukan Perumusan tipologi perubahan pemanfaatan ruang wilayah/blok peruntukan Indikasi penyimpangan pemanfaatan ruang Tipologi penyimpangan Akumulasi perubahan pemanfaatan ruang persil Indikasi perubahan pemanfaatan ruang Tipologi perubahan pemanfaatan ruang Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah) Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Perioda Pelaksanaan Minimum sekali dalam 3 bulan Minimum sekali dalam 3 bulan Minimum sekali dalam 3 bulan Minimum sekali dalam 3 bulan Minimum sekali dalam 6 bulan Minimum sekali dalam 6 bulan Keterangan Laporan dilakukan secara berkala oleh instansi terkait dan secara kontinyu oleh masyarakat sebagai kontrol sosial. Membandingkan antara perubahan pemanfaatan ruang dan rencana tata ruang. Menyangkut jenis, akibat penyimpangan serta penyebab dan penanggung jawab pelanggaran. Daerah kota/kabupaten Aceh Besar, akumulasi perubahan persil. Daerah propinsi, akumulasi perubahan daerah kota/kabupaten Aceh Besar Nasional, akumulasi perubahan dari propinsi. Untuk perubahan tata ruang nasional dapat dilakukan minimum 1 tahun sekali Untuk perubahan tata ruang nasional dapat dilakukan minimum 1 tahun sekali Hal. 6-20

131 Evaluasi Kegiatan evaluasi mencakup evaluasi pemanfaatan ruang, evaluasi pelanggaran pemanfaatan ruang dan bentuk pelanggaran. 1. Evaluasi pemanfaatan ruang dan pelanggaran Kegiatan evaluasi terdiri dari evaluasi terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang persil dan evaluasi terhadap penyimpangan pemanfaatan ruang wilayah, sedangkan pada tahapan penataan ruang, evaluasi dilakukan pada pelanggaran pemanfaatan ruang, lembaga penerbit ijin dan evaluasi terhadap rencana tata ruang. Oleh karena itu pada tahap evaluasi ini dilakukan kegiatan: a. Evaluasi terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang. b. Evaluasi terhadap lembaga pemberi ijin. c. Evaluasi terhadap rencana tata ruang. d. Klarifikasi apakah masyarakat melaksanakan pemanfaatan ruang (perubahan) mengikuti/mematuhi ijin yang telah diberikan oleh lembaga pemberi ijin pemanfaatan ruang. Apabila tidak memenuhi ijin yang telah diberikan, maka pelanggaran pemanfaatan ruang harus mempertanggung jawabkan pelanggarannya (dikenai sanksi jika terbukti bersalah). e. Apabila masyarakat melakukan pembangunan sesuai dengan ijin yang diberikan, maka kemungkinan berikutnya adalah evaluasi terhadap lembaga pemberi ijin. Apabila lembaga tersebut memberikan ijin tidak sesuai dengan rencana tata ruang, maka lembaga tersebut harus mempertanggung jawabkan pelanggarannya. f. Apabila kesalahan pemberi ijin tersebut disebabkan oleh kekurangan yang ada di dalam rencana tata ruang (kurang jelas/tidak jelas, kurang/tidak rinci, tidak diatur atau kesalahan lainnya), maka perlu adanya peninjauan terhadap rencana tata ruang. 2. Bentuk Pelanggaran Tindakan pelanggaran terjadi apabila terdapat tindakan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Bentuk-bentuk pelanggaran pemanfaatan ruang yang terjadi antara lain: a. Pelanggaran fungsi, dimana pemanfaatan tidak sesuai denngan fungsi ruang yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang. b. Pelanggaran blok peruntukan, dimana pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan arahan peruntukan ruang yang telah ditetapkan. Hal. 6-21

132 c. Pelanggaran persyaratan teknis, dimana pemanfaatan sesuai dengan fungsi dan peruntukan tetapi persyaratan teknis ruang bangunan tidak sesuai dengan ketentuan dalam rencana tata ruang dan peraturan bangunan setempat. d. Pelanggaran bentuk pemanfaatan, yaitu pemanfaatan fungsi, tetapi bentuk pemanfaatan tidak sesuai dengan arahan rencana tata ruang. 3. Jenis Pelanggaran Berdasarkan keberadaan rencana tata ruang Pelanggaran terjadi setelah ada rencana tata ruang, dalam arti kegiatan pembangunan dilaksanakan setelah rencana tata ruang mempunyai dasar hukum dan diundangkan. Pelanggaran terjadi sebelum ada rencana tata ruang, dimana kegiatan pembangunan dilaksanakan sebelum rencana tata ruang mempunyai dasar hukum dan diundangkan. Suatu contoh kasus dilapangan, yaitu terjadi alih fungsi penggunaan lahan dari sawah irigasi teknis menjadi bangunan pertokoaan/perumahan terutama di sekitar jalan jalan utama seperti di Jalan Banda Aceh - Medan. Mekanisme penertiban dan pengendalian kasus seperti ini dapat dilihat pada tabel 6.8 Berdasarkan skala/luasannya Penyimpangan Persil - Masyarakat pembangun sendiri karena ketidaktahuan (tidak sengaja), kebutuhan yang mendesak, atau keinginan tertentu, masyarakat membangun persilnya melanggar ketentuan ijin yang telah diterima. Suatu contoh masyarakat membangun rumah telah sesuai dengan fungsinya sebagai kawasan permukiman, namun luasan bangunannya tidak sesuai dengan luasan ijin yang diterima, mekanisme penertiban dan pengendalian kasus seperti ini dapat dilihat tabel Instansi pemberi ijin, dalam pemberian ijin pembangunan, instansi yang berwenang menerbitkan ijin harus mengacu pada rencana tata ruang yang telah ditetapkan dan disebabkan oleh berbagai hal, pemberi ijin menerbitkan ijin pembangunan tidak sesuai dengan pemanfaatan ruang yang direncanakan. Dalam kasus ini kegiatan pembangunan oleh masyarakat tidak dapat disalahkan dan diberikan sanksi yang merugikan masyarakat pembangun. - Pengaturan pemanfaatan ruang atau rencana tata ruangnya, karena ketidakjelasan aturan yang rinci dan tegas dari rencana tata ruang yang ada, Hal. 6-22

133 pemberi ijin tidak dapat memahami rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Kondisi ini dapat menyebabkan kesalahan dalam memberi ijin pembangunan. Penyimpangan Wilayah Penyimpangan wilayah dapat terjadi karena akumulasi penyimpangan persil atau kawasan yang lebih luas (kepemilikan tunggal/individu atau badan hukum tertentu) akan berakibat pada perubahan wilayah yang lebih luas (kepemilikan lahan jamak). Jenis penyimpangan ini meliputi penyimpangan pemanfaatan ruang maupun struktur ruang. Kasus penyimpangan wilayah ini terjadi pada lahan lahan yang lebih luas, misalnya kawasan kehutanan berubah fungsi menjadi kawasan budidaya pertanian/perkebunan. Tabel 6.5 Kegiatan Pemantauan Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Kegiatan Keluaran Pelaksanaan a. Penyusunan daftar penyimpangan/ pelanggaran pemanfaatan ruang persil b. Menyiapkan kerangka acuan pekerjaan pemantauan c. Pembentukan tim penyidik penyimpangan pemanfaatan ruang d. Memeriksa dan membuktikan pelanggaran persil e. Merumuskan temuan penyimpangan f. Membahas temuan penyimpangan dan Tabel tipologi penyimpangan pemanfaatan ruang. Peta sebaran penyimpangan Kerangka acuan pelaksanaan pekerjaan pemantauan Keputusaan Ketua /BKPRD tentang pembentukan Tim Kecil terdiri dari berbagai instansi terkait pelaksanaan pemantauan Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda, Lembaga yang Terkait/ BKPRD kabupaten Aceh Besar Perioda Pelaksanaan Minimum sekali dalam 6 bulan Jika terjadi pelanggaran Jika terjadi pelanggaran Bukti pelanggaran Tim Penyidik Jika terjadi pelanggaran Rumusan awal pelanggaran pemanfaatan ruang Rumusan final pelanggaran Tim Penyidik Bappeda/Lembaga yang Jika terjadi pelanggaran Jika terjadi pelanggaran Keterangan Daftar ini hanya untuk penyimpangan persil atau kawasan yang dikuasai oleh satu kepemilikan (individual ataupun badan hukum) Penyiapan kerangka acuan dengan memanfaatkan hasil rekapitulasi pelaporan perubahan pemanfaatan ruang. Tim pemantauan lapangan dapat dilakukan secara swakelola atau oleh konsultan. Pengumpulan bukti diperoleh dari lapangan penguasaan lahan, instansi pemberi ijin dan instansi terkait. Disajikan secara tipologi, besaran dan faktor penyebabnya. Temuan penyimpangan Hal. 6-23

134 Kegiatan Keluaran Pelaksanaan rekomendasi tindak lanjut dalam forum TKPR Daerah g. Laporan hasil pemantauan kepada Bupati pemanfaatan ruang dan rekomendasi penyelesaian masalah Surat Ketua Dinas Tata Ruang/BKPRD kepada Bupati tentang laporan hasil pemantauan. Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Perioda Pelaksanaan Jika terjadi pelanggaran Keterangan dibahas dalam forum BKPRD dengan mengundang pihakpihak terkait. Surat Ketua DPRD dilampirkan buku laporan hasil pemantauan. h. Pemberitahuan hasil pemantauan kepada instansi tingkat kota/kabupaten terkait dan camat i. Pemberitahuan laporan hasil pemantauan kepada pelanggar Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Surat Ketua Dinas Tata Ruang/BKPR kepada instansi terkait dan camat tentang laporan hasil pemantauan. Surat Ketua Dinas Tata Ruang/BKPRD kepada pelanggar. Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Bappeda/Lembaga yang Terkait/BKPRD Kabupaten Aceh Besar Jika terjadi pelanggaran Jika terjadi pelanggaran Surat Ketua DPRD berisikan penyampaian temuan penyimpangan RTRWK kota yang perlu diketahui oleh instansi terkait. Berisikan tipologi pelanggaran persil yang bersangkutan. Tabel 6.6 Kegiatan Evaluasi Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Kegiatan Keluaran Pelaksana Perioda Pelaksanaan Evaluasi temuan penyimpangan Rumusan tingkat Bappeda dan Minimum sekali penyimpangan RTRW instansi dalam 5 tahun Kabupaten terkait Evaluasi kinerja instansi pemberi perijinan Masukan/umpan balik untuk evaluasi RTRWN/RTRW Propinsi/kota/kabupaten. Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Rumusan tingkat penyimpangan mekanisme pemberian perijinan pemanfaatan ruang. Rumusan materi bagi evaluasi RTRW. Bappeda dan instansi terkait Bappeda dan instansi terkait Minimum sekali dalam 5 tahun Minimum sekali dalam 5 tahun Keterangan Prosedur Penertiban Pelanggaran Pemanfaatan Ruang Penertiban adalah upaya mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Sebelum dilakukan penertiban, perlu dilakukan pemeriksaan keberadaan rencana tata ruang dikaitkan dengan wakktu terjadinya pelanggaran. Penertiban dilakukan melalui Hal. 6-24

135 pemeriksanaan dan penyidikan atas semua pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai rencana tata ruang yang ditetapkan. Kegiatan penertiban dapat dilakukan secara langsung melalui penegakan hukum yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan penertiban tidak langsung melalui pengenaan disinsentif pemanfaatan ruang, melalui pengenaan retribusi secara progresif atau membatasi penyediaan sarana dan prasarana dasar lingkungannya. 1. Obyek Penertiban Pola penyimpangan pembangunan terhadap rencana yang telah ditetapkan yang meliputi penyimpangan fungsi, peruntukan dan ketentuan teknis lainnya. 2. Jenis Sanksi Sanksi administrasi, dapat berupa tindakan pembatalan ijin dan pencabutan hak. Sanksi ini dikenakan atas pelanggaran penataan ruang yang berakibat pada terhambatnya pelaksanaan program pemanfaatan ruang. Sanksi administratif merupakan sanksi yang dikenakan terlebih dahulu dibandingkan sanksi-sanksi lainnya. Dalam pemantauan pemanfaatan ruang (pelanggaran persil) kemungkinan yang melakukan pelanggaran adalah pemilik persil atau lembaga pemberi ijin (dalam hal ini diwakili oleh pejabat yang bertanggung jawab). Sanksi yang dikenakan adalah; Aparat pemerintah (teguran, pemecatan, denda, mutasi) Masyarakat (teguran, pencabutan ijin, penghentian pembangunan, pembongkaran) Sanksi diberi batas waktu pelaksanaan terutama untuk putusan yang membutuhkan waktu seperti pembongkaran atau pelaksanaan administrasi. Apabila sampai batas waktu yang telah ditentukan sudah terlampaui, sanksi administrasi belum dilaksanakan, maka pemerintah berhak mengajukan kasus ke lembaga peradilan. Sanksi Perdata, dapat berupa tindakan pengenaan denda atau pengenaan ganti rugi. Sanksi ini dikenakan atas pelanggaran penataan ruang yang berakibat terganggunya kepentingan seseorang, kelompok orang atau badan hukum. Sanksi perdata dapat berupa ganti rugi, pemulihan keadaan atau perintah dan pelarangan melakukan suatu perbuatan Sanksi pidana, dapat berupa tindakan penahanan atau kurungan. Sanksi ini dikenakan atas pelanggaran penataan ruang yang berakibat terganggunya kepentingan umum. Sanksi pidana dapat berupa kurungan, denda dan perampasan barang. Hal. 6-25

136 Tabel 6.7 Kegiatan Penertiban Pelanggaran Pemanfaatan Ruang (Sanksi Administratif) Kegiatan Keluaran Pelaksanaan Periode Pelaksanaan Rumusan awal Bappeda Sesuai langkah-langkah kabupaten kebutuhan penertiban Menyiapkan langkah-langkah penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang Membahas langkah penertiban dalam forum TKPR propinsi Melaporkan kepada Bupati tentang rencana tindakan penertiban. Pembentukan tim khusus pelaksana koordinasi tindakan penertiban Koordinasi tindakan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang Pengawasan pelaksanaan sanksi Pengajuan atau pengaduan ke lembaga peradilan Pengenaan sanksi Rumusan final langkah-langkah penertiban Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Surat Ketua TLPRD kota kepada Bupati. Keputusan Bupati tentang pembentukan tim khusus penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang. Pemberian sanksi adminitratif kepada aparat pemerintah atau sanksi administratif kepada masyarakat. Daftar pelanggar yang tidak melaksanakan sanksi. Berkas pengajuan ke pengadilan. Sanksi pidana dan atau sanksi perdata. Bappeda atau BKPRD kabupaten BKPRD kabupaten. Bupati. Tim khusus penertiban. Tim khusus penertiban/tim wibawapraja Tim khusus. Masyarakat atau badan hukum. Lembaga peradilan. Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Keterangan Berdasarkan hasil pemantauan (bagian dari tahap pengawasan pemanfaatan ruang) - Berisi rencana tindakan penertiban. Bupati membentk tim khusus untuk melakukan koordinasi tindakan penertiban yang melibatkan bagian penertiban, satpol pamong praja dan instansi terkait. Tim khusus dapat menugaskan anggotanya untuk melaksanakan tindakan penertiban sesuai dengan perundangundangan. Tim khusus dapat bekerja sama dengan Polisi, Kodim dll, untuk melaksanakan penertiban langsung. Apabila pelanggar tidak menjalankan sanksinya maka tim khusus wajib mengajukan ke pengadilan untuk diproses secara hukum. Pengajuan ke lembaga peradilan dapat dilakukan oleh masyarakat atau badan hukum tertentu apabila merasa dirugikan oleh pelanggar. Sanksi dikenakan apabila terbukti bersalah secara hukum oleh pengadilan. Hal. 6-26

137 Tabel 6.8 Alternatif Bentuk Penertiban Bentuk Pelanggaran Setelah RTR Diundangkan Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan fungsi ruang/penggunaan lahan yang telah ditetapkan dalam RTR. Pemanfaatan sesuai dengan fungsi ruang, tetapi luasan tidak sesuai dengan ketentuan dalam RTRW. Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi ruang, tetapi kondisi teknis pemanfaatan ruang (bangunan, proporsi pemanfaatan, dll) tidak sesuai dengan persyaratan teknis yang ditetapkan dalam RTR. Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi ruang, tetapi bentuk atau pola pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam RTR. Sebelum RTR Diundangkan Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan fungsi ruang. Contoh terjadi alih fungsi sawah irigasi teknis menjadi bangunan pertokoan, perumahan maupun bangunan lainnya yang terjadi di sekitar jalan jalan utama seperti di Jalan Banda Aceh Medan. Pemanfaatan sesuai dengan fungsi ruang, tetapi luasan menyimpang. Contoh pembangunan rumah yang sesuai dengan fungsinya, tetapi luasannnya tidak sesuai dengan izin yang diterima Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi ruang, tetapi persyaratan teknis menyimpang. Contoh bangunan bangunan yang tidak sesuai dengan aturan sempadan bangunan. Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi ruang, tetapi bentuk pemanfaatan ruang menyimpang. Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Alternatif Bentuk Penertiban Kegiatan/pembangunan dihentikan. Pencabutan ijin. Kegiatan/pembangunan dihentikan. Kegiatan dibatasi pada luasan yang ditetapkan. Denda. Kurungan. Kegiatan dihentikan. Memenuhi persyaratan teknis. Kegiatan dihentikan. Menyesuaikan bentuk pemanfaatan ruang. Denda. dan Kurungan. a. Pemulihan fungsi ruang secara bertahap, melalui; Pembatasan masa perijinan. Pemindahan/relokasi/resetllement. Penggantian yang layak. b. Pengendalian pemanfaatan ruang, melalui; Pembatasan luas areal pemanfaatan ruang. Pembatasan perluasan bangunan. Pembatasan jenis dan skala kegiatan. Penyesuaian persyaratan teknik. Penyesuaian bentuk pemanfaatan ruang. c. Pembinaan melalui penyuluhan. a. Pengendalian pemanfaatan ruang, melalui; Pembatasan luas areal pemanfaatan ruang. Pembatasan perluasan bangunan. Pembatasan jenis dan skala kegiatan. b. Pembinaan melalui penyuluhan. a. Pengendalian pemanfaatan ruang, melalui; Penyesuaian persyaratan teknis. Pembatasan perluasan bangunan. Pembatasan jenis dan skala kegiatan. b. Pembinaan melalui penyuluhan. a. Pengendalian pemanfaatan ruang, melalui; Penyesuaian bentuk pemanfaatan ruang. Pembatasan perluasan bangunan. Pembatasan jenis dan skala kegiatan. Penyesuaian persyaratan teknis. b. Pembinaan melalui penyuluhan. Hal. 6-27

138 6.4 KETENTUAN PEMANFAATAN RUANG Klasifikasi Penggunaan Lahan Klasifikasi penggunaan lahan di Kabupaten Aceh Besar dibagi berdasarkan Keppres no.32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. Klasifikasi tersebut dibagi menjadi dua klasifikasi besar, yaitu kawasan lindung, kawasan penyangga dan kawasan budidaya. Tabel 6.9 Klasifikasi Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar Hirarki 1 Hirarki 2 Hirarki 3 Hirarki 4 Kawasan LS-1 Sempadan Pantai/Sungai LS perlindungan setempat LS-2 Kawasan Rawan Bencana Kawasan yang memberikan Kawasan HL perlindungan Lindung kawasan bawahannya HL Kawasan Hutan Lindung Kawasan Penyangga Kawasan Budidaya CA Warna Kuning Warna Biru Warna Coklat Muda Warna Coklat Kawasan Suaka Alam Cagar Alam Hutan Raya Kawasan Hutan HP Hutan Produksi Kawasan Pertanian Kawasan Industri Kawasan Permukiman Kawasan Simbol Khusus Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 LK In PK1 PK2 Kawasan Pertanian Lahann Basah Kawasan Pertanian Lahann Kering Perikanan/Tambak Industri Pengolahan Kawasan Permukiman Perkotaan Kawasan Permukiman Perdesaan Transportasi BU PL Perumahan Perkotaan Perumahan Perdesaan Bandara Udara Pelabuhan Klasifikasi Pemanfaatan Ruang Pemanfaatan ruang dalam petunjuk opersional ini mengacu pada sistem kegiatan yang berkembang dalam sebuah penggunaan lahan. Pemanfaatan ruang adalah semua aktifitas dan atau fungsi yang mungkin terjadi dalam sebuah penggunaan lahan hirarki 3. Pemanfaatan ini didapatkan dari survei lapangan semua penggunaan yang ada di Kabupaten Aceh Besar. Untuk memudahkan klasifikasi, maka pemanfaatan ruang dibagi menjadi kategori dan sub kategori yang dapat dilihat pada tabel berikut. Hal. 6-28

139 Tabel 6.10 Pemanfaatan Ruang Kabupaten Aceh Besar Hunian Komersial Kategori Jasa Komersial Perkantoran Institusional Industri Pelayanan dan Jasa Kendaraan Bermotor Ruang terbuka Hijau Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Sub Kategori Rumah Tunggal Rumah Kopel, Rumah Deret Rumah Dinas Wisma Tamu (Guest House), sebagai aksesori Rumah Usaha sebagai aksesori Pasokan Bahan Bangunan dan Alat Pertukangan Alat-alat Rumah Tangga, Perabot, dan Perkakas Toko Makanan dan Minuman Barang Kelontong dan Kebutuhan Sehari-hari Pakaian dan Perlengkapannya Pasokan Pertanian Apotik dan toko obat Jasa Bangunan Jasa Pelayanan Bisnis Jasa Usaha Makanan dan Minuman Jasa Perawatan/Perbaikan/Reparasi Jasa Pengiriman Pesanan/Ekspedisi Jasa Personal Klinik dan Laboratorium Kesehatan Salon Bisnis dan Profesional Pemerintahan Praktisi Medis, Dokter Gigi, dan Ahli Kesehatan Tempat Ibadah TK, SD/MI, SLTP/MTs, SLTA/MA Sekolah Tinggi, Universitas Sekolah Kejuruan Rumah Sakit dan Fasilitas Perawatan Transmisi Induk, Relay, dan Distribusi Komunikasi Museum Lembaga Pelayanan Sosial Industri Ringan Industri Manufaktur Industri Riset dan Pengembangan Terminal/Pool Truck dan Transportasi Percetakan/Penerbitan Penimbunan Rongsokan Industri Pergudangan Industri Depo Bengkel Kendaraan Pribadi/Niaga Penjualan/ Persewaan Kendaraan Pribadi/Niaga Penjualan/Persewaan Peralatan dan Perlengkapan Kendaraan Penjualan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rekreasi Aktif (Taman Bermain, Theme Park, Kebon Binatang) Rekreasi Pasif (Taman) Pemakaman Danau/ Waduk Lapangan Olahraga Preservasi Sumber Daya Alam Penjualan Tamanan Hias dan Bunga di Ruang Terbuka Hal. 6-29

140 6.4.3 Ketentuan Pemanfaatan Ruang untuk Setiap Penggunaan Lahan Ketentuan pemanfaatan ruang untuk setiap penggunaan lahan menunjukkan boleh tidaknya sebuah sistem kegiatan dikembangkan dalam sebuah klasifikasi penggunaan lahan. Jika terdapat sebuah penggunaan yang belum tercantum dalam kategori maupun sub kategori pemanfaatan ruang, maka ijin untuk penggunaan tersebut ditentukan menggunakan ketentuan yang berlaku. Jika penggunaan tersebut diperbolehkan, maka penggunaan baru tersebut dapat ditambahkan pada kategori dan atau sub kategori melalui ketentuan yang berlaku. Boleh tidaknya pemanfaatan ruang untuk sebuah hirarki 4 peruntukan tanah ditunjukkan dengan 4 indikator, seperti yang ditunjukkan pada Tabel Tabel 6.11 Deskripsi Indikator Pemanfaatan Ruang Simbol Deskripsi Pemanfaatan diizinkan, karena sesuai dengan peruntukan tanahnya, yang berarti I tidak akan ada peninjauan atau pembahasan atau tindakan lain dari pemerintah kabupaten. Pemanfaatan diizinkan secara terbatas atau dibatasi. Pembatasan dapat dengan standar pembangunan minimum, pembatasan pengoperasian, atau peraturan T tambahan lainnya baik yang tercakup dalam ketentuan ini maupun ditentukan kemudian oleh pemerintah kabupaten. Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan bersyarat. Izin ini diperlukan untuk penggunaan-penggunaan yang memiliki potensi dampak penting pembangunan di B sekitarnya pada area yang luas. Izin penggunaan bersyarat ini berupa AMDAL, RKL, dan RPL. - Pemanfaatan yang tidak diizinkan Pemanfaatan Terbatas Jika sebuah pemanfaatan ruang memiliki tanda T atau merupakan pemanfaatan yang terbatas, berarti penggunaan tersebut mendapatkan ijin dengan diberlakukan pembatasanpembatasan, seperti: Hal. 6-30

141 Pembatasan pengoperasian. Baik dalam bentuk pembatasan waktu beroperasinya sebuah pemanfaatan ataupun pembatasan jangka waktu pemanfaatan ruang tersebut untuk kegiatan yang diusulkan. Pembatasan intensitas ruang. Baik KDB, KLB, KDH, jarak bebas, ataupun ketinggian bangunan. Pembatasan ini dilakukan oleh pemerintah kabupaten dengan menurunkan nilai maksimum atau meninggikan nilai minimum dari intensitas ruang. Pembatasan jumlah pemanfaatan. Jika pemanfaatan yang diusulkan telah ada, masih mampu melayani, dan belum memerlukan tambahan (contoh, dalam sebuah kawasan perumahan yang telah cukup jumlah masjidnya, tidak diperkenankan membangun masjid baru), maka pemanfaatan tersebut tidak boleh diijinkan, atau diijinkan dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Pengenaan aturan-aturan tambahan seperti disinsentif, keharusan menyediakan analisis dampak lalu-lintas, dan sebagainya. Pemanfaatan Bersyarat Jika sebuah pemanfaatan ruang memiliki tanda B atau merupakan pemanfaatan bersyarat, berarti untuk mendapatkan ijin, diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan ini diperlukan mengingat pemanfaatan tersebut memiliki dampak yang besar bagi lingkungan sekitarnya. Persyaratan ini antara lain: Penyusunan dokumen AMDAL, Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penyusunan Analisis Dampak Lalu-lintas (ANDALIN) Mengenakan biaya dampak pembangunan (development impact fee), dan atau aturan disinsentif lainya. Persyaratan ini dapat dikenakan secara bersamaan atau salah satunya saja. Penentuan persyaratan mana yang dikenakan ditentukan oleh pemerintah kabupaten dengan mempertimbangkan besarnya dampak bagi lingkungan sekitarnya. Ketentuan pemanfaatan ruang kawasan perkotaan terdiri dari ketentuan pemanfaatan ruang untuk guna lahan perumahan, perdagangan, jasa, fasilitas pelayanan kota, industri pergudangan, dan ruang terbuka hijau. Ketentuan pemanfaatan ruang untuk guna lahan perumahan dapat dilihat pada tabel berikut ini (ketentuan yang ditunjukkan melalui abjad I, T, B dan - dapat dilihat pada Tabel 6.11). Hal. 6-31

142 Tabel 6.12 Matriks Pemanfaatan Ruang untuk Guna Lahan Di Kabupaten Aceh Besar A B C D E F Pemanfaatan Ruang HL LS-1 LS-2 HP LB LK IN PM ID BU PL Hunian Rumah Tunggal T T T T T T T I T - - Rumah Kopel, Rumah Deret T T T I T - - Rumah Dinas T T T T T T T I T T T Wisma Tamu (Guest House), sebagai aksesori Rumah Usaha sebagai aksesori I Komersial Pasokan Bahan Bangunan dan Alat Pertukangan Alat-alat Rumah Tangga, Perabot, dan T Perkakas Toko Makanan dan Minuman T - T T Barang Kelontong dan Kebutuhan T Sehari-hari Pakaian dan Perlengkapannya Pasokan Pertanian T Apotik dan Toko Obat T Jasa Komersial Jasa Bangunan Jasa Pelayanan Bisnis Jasa Usaha Makanan dan Minuman T T Jasa Perawatan/Perbaikan/Reparasi I I Jasa Pengiriman Pesanan/Ekspedisi I I Jasa Personal Klinik dan Laboratorium Kesehatan I - I I Salon Perkantoran Bisnis dan Profesional T - - Pemerintahan Praktisi Medis, Dokter Gigi, dan Ahli T Kesehatan Institusi Tempat Ibadah T T T T T T T TK, SD/MI, SLTP/MTs, SLTA/MA T Sekolah Tinggi, Universitas Sekolah Kejuruan T Rumah Sakit dan Fasilitas Perawatan Transmisi Induk, Relay, dan Distribusi B B B B B B B B Komunikasi Museum Lembaga Pelayanan Sosial Industri Industri Ringan I - - Industri Manufaktur I - - Industri Riset dan Pengembangan I - - Terminal/Pool Truck dan Transportasi B B Percetakan/Penerbitan Penimbunan Rongsokan Industri Pergudangan I I I Industri Depo I I I G Pelayanan dan Jasa Kendaraan Bermotor Bengkel Kendaraan Pribadi/Niaga Penjualan/ Persewaan Kendaraan T T Pribadi/Niaga Hal. 6-32

143 H Pemanfaatan Ruang HL LS-1 LS-2 HP LB LK IN PM ID BU PL Penjualan/Persewaan Peralatan dan Perlengkapan Kendaraan Penjualan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor B - B B Ruang Terbuka Hijau Rekreasi Aktif (Taman Bermain, Theme Park, Kebon Binatang) Rekreasi Pasif (Taman) I I I I I I I I I I I Pemakaman B Danau/Waduk Lapangan Olahraga T T T T Preservasi Sumber Daya Alam I I I B B B B B B B B Penjualan Tanaman Hias dan Bunga di Ruang Terbuka T Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2006 Keterangan : I = Pemanfaatan diizinkan, karena sesuai dengan peruntukan tanahnya, yang berarti tidak akan ada peninjauan atau pembahasan atau tindakan lain dari pemerintah kabupaten. T = Pemanfaatan diizinkan secara terbatas atau dibatasi. Pembatasan dapat dengan standar pembangunan minimum, pembatasan pengoperasian, atau peraturan tambahan lainnya baik yang tercakup dalam ketentuan ini maupun ditentukan kemudian oleh pemerintah kabupaten. B = Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan bersyarat. Izin ini diperlukan untuk penggunaanpenggunaan yang memiliki potensi dampak penting pembangunan di sekitarnya pada area yang luas. Izin penggunaan bersyarat ini berupa AMDAL, RKL, dan RPL. - = Pemanfaatan yang tidak diizinkan HL = Hutan Lindung LS-1 = Lindung Setempat (sempadan pantai/sungai) LS-2 = Lindung Setempat (kawasan rawan bencana) HP = Hutan Produksi LB = Lahan Basah (sawah) LK = Lahan Kering (pangan, perkebunan) IN = Perikanan/Tambak PM = Permukiman ID = Industri (pengolahan) BU = Bandara Udara PL = Pelabuhan Hal. 6-33

144 Bab 7 RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH Rencana Pengembangan Prasarana Wilayah untuk menunjang berlangsungnya berbagai kegiatan yang menunjang bagi perkembangan wilayah diperlukan sejumlah sarana dan prasarana wilayah. Maka secara otomatis dalam upaya memacu laju pertumbuhan dan perkembangan wilayah, penyediaan terhadap sarana dan prasarana wilayah sangat diperlukan, yang berfungsi menselaraskan kebutuhan pembangunan dengan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dalam setiap tahapan pembangunan. 7.1 PRASARANA TRANSPORTASI Sebagaimana telah diuraikan pada sistem transportasi makro, dimana wilayah Kabupaten Aceh Besar terdapat 3 sistem jaringan jalan primer yaitu sistem primer utara, tengah dan selatan; pembangunan kembali jalan kereta api dengan rel standar; pengembangan perhubungan laut dengan simpul di Pelabuhan Malahayati; pusat penyebaran sekunder pelabuhan udara Sultan Iskandar muda di Blang Bintang Transportasi Darat Secara umum kondisi jaringan jalan di Kabupaten Aceh Besar pasca tsunami mengalami penurunan, hal ini terjadi antara lain karena menurunnya kemampuan pembiayaan setelah masa krisis ekonomi yang menyebabkan berkurangnya secara drastis biaya pemeliharaan jalan oleh pemerintah. Tingkat kerusakan jalan akibat pembebanan muatan lebih dan sistem penanganan yang belum memadai, berakibat pada hancurnya jalan sebelum umur teknis jalan tersebut tercapai. Bila kondisi ini tidak dapat ditanggulangi akan sangat berpengaruh Hal. 7-1

145 kepada tingginya biaya (ongkos) transportasi bagi masyarakat dan juga proses distribusi barang semakin bertambah. A. Jalan Raya Rencana pengembangan prasarana sistem jalan raya meliputi kondisi jaringan jalan, status dan fungsi jaringan, ketersediaan dan pengembangan jalan, status dan fungsi jalan, terminal dan ketersediaan angkutan umum. Jaringan Jalan Jaringan jalan di wilayah Kabupaten Aceh Besar mempunyai pola linier dan radial yang dikarenakan faktor topografi terjal. Jalan nasional/negara yang ada di wilayah Kabupaten Aceh Besar berupa jalan arteri sepanjang 88,52 km, kolektor I sepanjang 83,52 km, jalan kolektor II sepanjang 52,84 km dan jalan kolektor III sepanjang 33,44 km dengan kondisi umumnya cukup baik. Pada saat ini ruas badan jalan dari Kecamatan Lhoknga sampai Lhoong sebagian hilang akibat bencana tsunami, ruas jalan pengganti masih dalam tahap perkerasan belum mencapai tahap pengaspalan. Total panjang jalan kabupaten seluruhnya 924,5 km. Kondisi jaringan jalan yang baik sebesar 20,84%, sedang 28,58%, rusak 39,10% dan rusak berat 11,48 %. Sedangkan sudah beraspal 88,06%, kerikil 5,66% dan tanah 6,28 %. Dengan melihat kondisi dan ketersediaan jaringan jalan tersebut, maka wilayah yang mempunyai akses cukup tinggi meliputi Kecamatan Ingin Jaya, Montasik, Indrapuri, Peukan Bada, Lhoknga, Baitussalam, Darussalam dan Mesjid Raya. Secara umum prasarana transportasi jalan raya di wilayah Aceh Besar masih kurang mendukung kelancaran pelayanan perhubungan intra wilayah, yaitu masih tertumpu pada jalan nasional dengan simpul perhubungan dan pergantian roda transport tertumpu pada Kota Banda Aceh. Hal ini disebabkan oleh faktor topografi terjal, sehingga pengembangan ruas jalan kabupaten tidak dapat menjangkau hubungan antar wilayah kecamatan. Untuk mengurangi beban jalan nasional oleh pergerakan regional diperlukan peningkatan jalan kabupaten sebagai jalan alternatif penghubung antar kecamatan. Hal ini juga dimaksudkan agar hasil bumi dari bagian dalam kecamatan bisa disalurkan ke pusat-pusat Hal. 7-2

146 kecamatan lainnya, dan sekaligus untuk membuka daerah terisolir bagian dalam (hinterland) maka perlu dibuat jalan lokal primer. Usaha untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka rencana pengembangan fungsi jaringan jalan di Kabupaten Aceh Besar diarahkan : a) Pemulihan perhubungan jalan primer pantai barat Banda Aceh Meulaboh Tapaktuan Sidikalang (Sumut). Sebagai jaringan jalan penghubung orde I dengan orde I. b) Peningkatan jalan dan jembatan jalan Nasional, seperti Jantho arah Lamno km, Leupung Lhoong 5.6 km, Lampanah Leungoh arah Sigli 9.2 km. c) Peningkatan jalan dan jembatan jalan Propinsi, serperti : Jantho Cucum Indrapuri km, Blang Bintang - Ie Seum Krueng Raya km, Lam Apeng Meumen km, Lambada Lhok Montasik Sibreh 20.5 km, Sibreh Peukan Biluy 9.5 km, Ketapang Mata Ie Lhoknga 5.25 Km. d) Peningkatan jalan Kabupaten, seperti Indrapuri Lamkabeu km, Leungoh Pasar Saree 17.4 km, Krueng Kala Pudeng km. Secara jelasnya mengenai rencana jaringan jalan Kabupaten Aceh Besar sampai dengan tahun 2016 disajikan pada Tabel 7.1. Terminal Terminal yang ada di wilayah Kabupaten Aceh Besar tergolong dalam terminal tipe C antar kota dalam kabupaten sebanyak 2 buah yaitu di Kota Jantho dan Seulimeum, sedangkan yang lainnya berupa pangkalan. Terminal di Kota Jantho sampai saat ini tidak berfungsi yang dikarenakan arus kendaraan Kota Jantho sangat terbatas. Hal ini disebabkan perhubungan jalan menuju Kota Jantho dari Kota Banda Aceh hanya searah dan tidak meneruskan ke kota lainnya, sehingga fungsi Kota Jantho sebagai ibukota Kabupaten baru terbatas pada pelayanan administrasi dan pemerintahan, kegiatan lainnya belum berkembang. Diharapkan dengan adanya rencana sistem primer tengah dapat membuka perhubungan Kota Jantho ke kota-kota lainnya baik dalam lingkup kabupaten maupun antar kabupaten. Rencana Pengembangan prasarana Terminal diarahkan kepada : a) Pengembangan pembangunan sarana dan prasaran terminal Tipe A di Kota Lambaro, sebagai pusat koleksi dan distribusi transportasi intraregional (antar propinsi). b) Pembangunan terminal persinggahan di Pasar Saree sebagai titik jenuh perjalanan dan menopang pengembangan kawasan pariwisata di Saree. Hal. 7-3

147 c) Mengembalikan fungsi dan tujuan terminal Tipe C di Kota Jantho, atau pemindahan fungsi terminal Tipe C tersebut ketempat yang lebih strategis agar optimal fungsi terminal tersebut. d) Pengembangan sarana transportasi Terminal C di Krueng Raya sebagai terminal penggantian moda, bertujuan untuk kelancaran kegiatan pengganti moda transportasi darat laut dan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD). B. Jalan Kereta Api Mengacu pada RTR Pulau Sumatera yang direncanakan akan mengembangkan trasnsportasi kereta api sistem jaringan lintas utama Banda Aceh Lhokseumawe Langsa Besitang Medan, dimana lintas utama ini akan melintas Kabupaten Aceh Besar. Rencana pengembangan jaringan kereta api sangat dipandang perlu, mengingat aktivitas masyarakat sudah mulai menunjukan peningkatan. Selain itu jaringan kereta api ini dapat mengurangi intensitas jalan raya yang sudah cukup padat. Di masa mendatang keberadaan transportasi kereta api ini sangat diperlukan dan juga mempunyai prospek yang baik, mengingat intensitas mobilitas masyarakat sudah menunjukan adanya peningkatan. Dengan manajemen operasional yang seimbang antara kepentingan bisnis dan sosial diharapkan dapat mampu kembali membangun dan mengoperasionalkan kereta api. Keberadaan infrastruktur ini dapat juga menarik minat investor untuk mengembangkan usaha sumber-sumber daya di wilayah Provinsi NAD yang memang belum tergali secara optimal. Rencana Pengembangan prasarana jalan Kereta Api diarahkan : Pembangunan dan pengaktifkan kembali operasional jalan kereta api di wilayah Kabupaten Aceh Besar, dapat memanfatkan jalur yang pernah ada termasuk stasiun. Arahan fungsi stasiun yang akan dikembangkan : Stasiun kordinator lengkap dengan dipo di Kota Banda Aceh. Stasiun multimoda bisa di Lambaro (untuk jangka panjang setelah adanya Light Rail Transportation/LRT/KRL sebagaimana yang dikembangkan Metropolitan Banda Aceh). Stasiun koordinator biasa di Lamtamot (Lembah Seulawah). Stasiun langsir di Sibreh (Sukamakmur), Samahani (Kutamalaka), Seulimeum dan Lampakuk (Cot Glie). Hal. 7-4

148 No. Ruas Fungsi Status Kecepatan Kendaraan (Km/Jam) Rencana Lebar Badan Jalan (meter) Garis Sempadan Jalan (GSJ) (Meter) (m) 1 Banda Aceh - Medan Alteri Primer Jalan Nasional 7 > 60 > 8 > 22 Pelebaran jalan 2 Banda Aceh - Malahayati Alteri Primer Jalan Nasional 7 > 60 > 8 > 22 Pelebaran jalan 3 Lambaro - Blang Bintang Alteri Primer Jalan Nasional 5 > 60 > 8 > 22 Pemeliharaan 4 Banda Aceh - Meulaboh Kolektor Satu Jalan Nasional 5-7*) > 40 > 7 > 17 Pengaspalan (Leupung - Lhoong) 5 Seulimeun - Jantho - Batas Kolektor Satu Pidie Jalan Nasional 4 > 40 > 7 > 17 Pelebaran jalan (Jantho - Batas Pidi) 6 Jalan AM. Ibrahim (Jantho) Kolektor Satu Jalan Nasional 6 *) > 40 > 7 > 17 Pemeliharaan 7 Blang Bintang - Krueng Raya Kolektor Dua Jalan Nasional 3 > 30 > 7 >10 Pelebaran jalan 8 Krueng Raya - Batas Pidie Kolektor Dua Jalan Nasional 3 > 30 > 7 >10 Pembangunan (Lampanah, Leungah) 9 Batas Banda Aceh - Blang Bintang Kolektor Dua Jalan Nasional 3 > 30 > 7 >10 Pelebaaran dan perbaikan 10 Alue Glong - Kota Jantho Kolektor Dua Jalan Nasional 3 > 30 > 7 >10 Perbaikan 11 Batas Aceh Besar - Lamno Kolektor Dua Jalan Nasional 3 > 30 > 7 >10 Pembangunan 12 Jln. Soekarno Hatta (Bd. Aceh - Lambaro) Kolektor Primer Jalan Provinsi 6*) > 40 > 7 > 17 Pemeliharaan 13 Jalan Keutapang - Mata Ie Kolektor Sekunder Jalan Provinsi 3 > 20 > 7 > 7 Pelebaran 14 Sibreh - Batas Banda Aceh (Darul Iamrah) TABEL 7.1 RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN 2016 Lebar Badan Jalan Eksisting Lokal Primer Jalan Kabupaten 5 > 20 > 6 > 12 Pelebaran/perbaikan Perbaikan (Krueng Geulumpang - Seunelop) 15 Montasik - Peukan Ateuk Lokal Primer Jalan Kabupaten 5 > 20 > 6 > Lambaro - Cot Iri Lokal Primer Jalan Kabupaten 5 > 20 > 6 > 12 Perbaikan 17 Cot Iri - Lambaro Angan Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Pelebaran jalan 18 Lampadang - Lamteungoh - Lokal Primer Lampageu Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Pembangunan 19 Jl. Pasar indrapuri - Lamkabeu Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Perbaikan 20 Jl. Pasar Keumiree - Lampakuk Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Perbaikan 21 Seulimeum - Lamteuba Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Perbaikan 22 Lamtamot - Panca Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Perbaikan 23 Saree - Leungah Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Pembangunan Rencana Pengembangan Blang Mee - Geuntet - 24 Suribee - Psr. Lhoong Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 > 6 > 12 Perbaikan 25 Kots Jantho - Cucum - Peningkatan lebar jalan, Lokal Primer Jalan Kabupaten 3 > 20 5 > 12 Lamno Perkerasan/pengaspalan 26 Kots Jantho - Keumala - Tangse - Meulaboh (Aceh Barat) Kolektor Jalan Nasional 3 > 30 6 > 12 Pengerasan, Peningkatan Sumber : Hasil Rencana Keterangan : *) 2 jalur **) Ruas Leupung Lhoong ± 5 Km telah dibuat lebar 7 meter oleh Us Aid Hal. 7-5

149 GAMBAR 7.1 PETA RENCANA PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT KABUPATEN ACEH BESAR Hal. 7-6

150 7.1.2 Transportasi Laut, Air Sungai, Dan Udara A. Transportasi Laut Posisi geografis Kabupaten Aceh Besar yang terletak diujung pulau Sumatera mempunyai potensi yang sangat strategis untuk pengembangan transportasi laut. Kondisi sebelum tsunami, tepatnya data 2003 frekuensi kapal berangkat sebanyak 446 kali dan tiba 445 kali dengan jumlah penumpang orang, serta jumlah barang yang diangkut ton dan barang yang tiba berjumlah ton. Satu-satunya pelabuhan laut yang berada di Aceh Besar adalah pelabuhan Malahayati di kecamatan Mesjid Raya, pasca gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 kondisi pelabuhan tersebut mengalami kerusakan yang cukup serius, bila kondisi ini tidak segera ditangulangi akan sangat berpengaruh kepada proses bongkar muat barang dan akan mengganggu proses perekonomian. Salah satu permasalahan yang terjadi di pelabuhan adalah masih adanya biaya ekonomi tinggi dan kurangnya prasarana pelabuhan, sehingga akan menambah beban bagi pengguna jasa yang pada akhirnya menambah biaya bagi masyarakat. Hal ini berarti dibutuhkan tambahan fasilitas baru untuk menghindari ketidak lancaran arus penumpang dan barang. Pelabuhan lokal yang ada di wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah Lampuyang (Pulo Aceh) dan Ujong Pancu (Peukan Bada). Pelabuhan Lampuyang berfungsi sebagai pelabuhan penumpang dengan frekuensi kapal 1 hari sekali. Saat ini operasi pelabuhan Ujong Pancu belum berfungsi karena mengalami infrastruktur menuju pelabuhan tersebut kerusakan akibat tsunami. Sehubungan dengan rencana pengembangan wilayah yang ada serta rencana pengembangannya dimasa datang, maka rencana pengembangan transportasi laut perlu dilakukan upaya-upaya berikut : a) Peningkatan sarana dan prasarana untuk menunjang kelancaran transportasi, dengan pertimbangan dari pemanfaatan transportasi laut itu sendiri, misalnya untuk tujuan pengembangan komersial, lokasi dermaga, pertahanan keamanan, dan lain sebagainya. b) Pengembangan sistem penataan kota pelabuhan Malahayati yang saat ini telah dikembangkan kapasitasnya untuk pelayanan angkutan barang dan penumpang. c) Rekonstruksi dan perbaikan fasilitas pelabuhan ikan dan penyediaan jasa pelayanan yang hilang akibat tsunami di Pulo Aceh, Ini termasuk penyediaan fasilitas pengangkutan penumpang dari dan ke Banda Aceh dan antar pulau. Hal. 7-7

151 d) Pembangunan dan peningkatan intensitas pelayanan dermaga di Ujong Pancu di kecamatan Peukan Bada, dan pelabuhan Lampuyang di Pulau Breueh (Pulau Aceh) sebagai pelabuhan penyebrangan baik dari dan ke pulau Nasi dan maupun ke Sabang. e) Perlunya dilakukan upaya penggalian tempat berlabuhnya papal-kapal nelayan di pelabuhan Lam Teungoh dan Ujung Pancu di Kecamatan Peukan Bada, serta Pelabuhan nelayan di Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya, yang sangat berpengaruh pada bongkar muat barang, dan akan mudah masuknya papal-kapal besar, sehingga memberikan kontribusi pada perekonomian. C. Transportasi Udara Bandara Sultan Iskandar Muda merupakan satu-satunya bandara yang ada di Kabupaen Aceh Besar. Dari tahun ketahun jumlah pesawat yang datang dan berangkat terus bertambah, demikian juga penumpangnya. Jumlah barang yang dibongkar dan dimuat juga terus mengalami peningkatan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7.2, dan Tabel 7.3. TABEL 7.2 ARUS LALU LINTAS UDARA BANDARA SULTAN ISKANDAR MUDA 2004 NO BULAN PESAWAT PENUMPANG DATANG BERANGKAT DATANG BERANGKAT 1 Januari ,617 15,222 2 Februari ,076 10,187 3 Maret ,935 9,842 4 April ,400 9,441 5 Mei ,125 10,796 6 Juni ,001 11,439 7 Juli ,388 11,719 8 Agustus ,689 12,282 9 September ,593 12, Oktober ,221 10, November ,136 10, Desember ,312 19,473 Jumla h ,826 2, , , ,429 2, , , ,560 1,560 91,073 86,475 Sumber : Bandara Sultan Iskandar Muda 2004 Hal. 7-8

152 TAHUN TABEL 7.3 KAPASITAS DAN JUMLAH PENUMPANG PESAWAT BANDARA SULTAN ISKANDAR MUDA JUMLAH PENUMPANG KAPASITAS DIANGKUT ANGKUTAN ,604 40, % ,060 18, % ,856 58, % ,360 29, % ,356 42, % ,842 86, % , , % , , % Sumber : Bandara Sultan Iskandar Muda 2004 PERSENTASE Bandara Sultan Iskandar Muda berfungsi untuk kepentingan umum (komersial) disamping untuk kegiatan pertahanan/keamanan, dan juga sebagai pintu gerbang bagi Nanggroe Aceh Darussalam dari segi lintas udara, oleh karena itu peningkatan pelayanan dan peningkatan kapasitasnya menjadi prioritas utama. Berdasarkan kesepakatan pembahasan RTRW Provinsi NAD di Langsa, Bandara Sultan Iskandarmuda ditetapkan sebagai Pelabuhan Udara Penyebaran Primer (Bandara Internasional). 7.2 PENGEMBANGAN PRASARANA PENGAIRAN IRIGASI Berdasarkan hasil survey lapangan dan in-depth interview yang melibatkan stake holder camat, seksi pembangunan kecamatan, kepala mukim dan kepala desa, dapat diketahui bahwa pengaturan tata cara bersawah, pengairan, bibit dan bertanam dahulu pernah diatur oleh sistem yang dinamakan keuneunong. Sistem pengaturan sawah ini disesuaikan dengan keadaan dan kebiasaan musim, dimana masyarakat Aceh secara umum telah mempunyai penguasaan tentang waktu yang baik untuk bertanam dan penyediaan bibit. Hal. 7-9

153 Gambar 7.2 Rencana Pengembangan Transportasi Laut dan Udara Hal. 7-10

154 Tata cara pengaturan sistem keuneunong ini dilakukan masyarakat Aceh sejak belum adanya prasarana irigasi teknis berarti diberlakukan pada sawah tadah hujan. Setelah adanya prasarana dan sistem irigasi teknis serta jenis bibit-bibit unggul dan obat-obatan dari program pemerintah terjadi perubahan sistem keuneunong tersebut, namun yang memberi komando untuk bersawah adalah struktur adat seperti diilustrasikan pada gambar 7.3. Sistem pembagian air yang terilustrasikan bagan dibawah ini, diatur oleh Keujreun Blang yang mendapat perintah langsung dari imam mukim. Untuk wilayah yang beririgasi PSD-PU pengairan membuat suatu pola dan jadwal pemberian air dan tanam sesuai dengan ketentuan teknis irigasi yang kemudian dikoordinasikan dengan kecamatan selanjutnya diteruskan kepada iimam mukim dan sampai kepada Keujreun Blang. Di wilayah Kabupaten Aceh Besar terdapat 2 Daerah Irigasi (DI) dengan wilayah pengaliran cukup luas, yaitu : 1. DI Krueng Aceh dengan wilayah pengairan seluas ha meliputi wilayah Kecamatan Seulimeum, Montasik, Indrapuri, Ingin Jaya dan Kuta Baro. 2. DI Krueng Jreu dengan wilayah pengaliran seluas ha meliputi wilayah Kecamatan. Pada saat ini sedang dibangun Bendung dan Waduk Keuliling yang direncanakan akan mensuplesi DI. Krueng Aceh dan Krueng Jreu sebesar 401 ha dan untuk DI Krueng Jreu sebesar 809 ha. Total wilayah aliran DI Kr. Jreu dan Waduk Keuliling sebsesar ha Selain itu terdapat DI teknis, setengah teknis, sederhana dan irigasi desa (ID) yang bersumber dari bendung pada sungai-sungai kecil yang berpotensial sebagai debit andalan. Jumlah irigasi pedesaan terbanyak terdapat di Kecamatan Seulimeum dan Lhoong. Wilayah Kabupaten Aceh Besar surplus neraca air curah hujan pada musim penghujan tidak dapat menutupi defisit air pada musim kemarau. Selain itu terdapat jaringan irigasi baik pembawa maun pembuang kurang terpelihara sehingga banyak endapan, pendangkalan dan sampah serta sebagian mengalami rusak akibat bencana gempa bumi terutama di Kecamatan Indrapuri dan Montasik. Keadaan ini yang menyebabkan terjadinya banjir akibat saluran pembuang yang dangkal oleh endapan sehingga kurang berfungsi untuk menampung debit curah hujan seperti yang Hal. 7-11

155 terjadi Desa Lingom Kecamatan Indrapuri. Banjir pada persawahan yang berada di wilayah pesisir seperti Peukan Bada, Lhoknga dan Baitusalam lebih dominan selain disebabkan jaringan yang rusak adalah oleh pengaruh pasang air laut. GAMBAR 7.3 SISTEM BERSAWAH BERDASARKAN ADAT WILAYAH ACEH PSD-PU Pengairan Provinsi dan Kabupaten Camat Pembina Staf/Aparat Kecamatan Imam Mukim Keujreun Blang Pengurus Sawah Haria Peukan Pengurus Pasar Panglima Uteuen Pengurus Hutan Peutua Seuneubok Pengurus Ladang Panglima Laot Pengurus Laut Pengairan Tanam Panen Dalam rangka pengembangan prasarana pengairan irigasi perlu dilakukan upaya sebagai berikut : a) Rencana pengembangan dalam mengatasi Kekurangan air pada pengairan irigasi perlu diambil langkah, Perlu dikembangkan waduk lapangan (embung) atau waduk bendungan. Kawasan dengan bentuk topografi wilayah yang memungkinkan untuk dibuat waduk bendungan terdapat di Krueng Seulimeum dengan luas genangan diperkirakan ha. Potensi waduk ini dapat mensuplesi ke DI Krueng Aceh. Hal. 7-12

156 PSD-PU Provinsi NAD pada saat ini sedang membangun Waduk Bendungan Keuliling yang direncanakan dapat mensuplei kebutuhan pelayanan air irigasi DI Krueng Aceh seluas 401 ha dan untuk DI Keuliling ha. Rencana waduk ini diperkirakan dapat menampung volume air sebesar 17,32 x 10 6 (17,32 juta) m 3, mikrohidro 25 KW dan debit andalan sebesar 1,75 m 3 /detik. Perlu dibuat sistem jaringan interkoneksi baik pada DI teknis, setengah teknis, sederhana maupun irigasi desa di Kecamatan Montasik, Indrapuri, Seulimeum, Ingin Jaya, Lhoong. b). Rencana pengembangan dalam mengatasi kelebihan air (Banjir) pada pengairan irigasi perlu diambil langkah, Perlu dilakukan normalisasi saluran pembuang dan saluran primer. Pembersihan sampah pada pintu-pintu bangunan irigasi. Peningkatan efesiensi dan efektifitas penggunaan sumberdaya air pada kawasan irigasi yang telah ada saat ini. Untuk jelasnya mengenai rencana pengembangan prasarana irigasi dapat dilihat pada Gambar PENGEMBANGAN FASILITAS SOSIAL DAN EKONOMI Pengembangan fasilitas sosial dan ekonomi yang ada di Kabupaten Aceh Besar umumnya meliputi fasilitas pemerintahan, kesehatan, pendidikan, peribadatan, perdagangan dan komunikasi. Tingkat pelayanan, jumlah maupun proyeksi masing masing fasilitas diuraikan berikut ini Pemerintahan Jenis jenis fasilitas pemerintahan di kecamatan kecamatan di Kabupaten Aceh Besar berupa Kantor Kecamatan, Kantor Polisi, Kantor Koramil dan Kantor KUA. Kantor Kecamatan umumnya telah ada disetiap kecamatan, Namun untuk kecamatan kecamatan yang terkena tsunami umumnya kantor kecamatannya rusak berat dan baru dibangun kembali, sementara untuk kantor mukim dan kantor desa umumnya belum ada. Untuk fasilitas Kantor Polisi hampir setiap kecamatan ada, sedangkan kantor koramil ada sebagian yang melayani 2 kecamatan. Adapun untuk Kantor Urusan Agama (KUA), tidak semua kecamatan ada. Hal. 7-13

157 Mengenai rencana pengembangan fasilitas pemerintahan sampai tahun 2016 disajikan pada Tabel 7.4. GAMBAR 7.4 RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI Hal. 7-14

158 Sehubungan dengan fasilitas pemerintahan yang ada serta rencana pengembangannya dimasa datang, maka rencana pengembangan fasilitas pemerintahan diarahkan : a. Pembangunan semua kantor mukim disetiap kecamatan di Kabupaten Aceh Besar b. Pembangunan fasilitas pemerintahan pada kecamatan pemekaran, yaitu Kecamatan Blang Bintang c. Perluasan maupun pemeliharaan fasilitas fasilitas pemerintahan untuk meningkatkan pelayanan Kesehatan Fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Aceh Besar umumnya berupa polindes, puskesmas (umum, pembantu, keliling), serta rumah sakit umum. Untuk puskesmas umum yang ada, umumnya tingkat pelayanan sudah memadai (terdapat rumah rawat inap). Fasilitas kesehatan polindes pada tahun 2004 sejumlah 173 unit, direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 251 unit dan tahun 2016 berjumlah 270 unit. Puskesmas umum tahun 2004 berjumlah 16 dan direncanakan tahun 2011 berjumlah 21 unit dan tahun 2016 berjumlah 22 unit, sehingga di tahun 2011 perlu penambahan 5 unit lagi dari puskesmas umum yang ada. Puskesmas pembantu tahun 2004 berjumlah 40 unit dan direncanakan tahun 2011 berjumlah 62 unit dan tahun 2016 berjumlah 66 unit. Fasilitas puskesmas keliling merupakan alternatif untuk dapat menjangkau penduduk yang terpencil. Jumlah fasilitas puskesmas keliling tahun 2004 berjumlah 14 unit dan direncanakan tahun 2011 berjumlah 20 unit dan tahun 2016 berjumlah 22 unit. Adapun untuk faslitas rumah sakit umum ada di Jantho. Selengkapnya jenis, jumlah dan kebutuhan fasilitas kesehatan di Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat Tabel 7.5. Rencana pengembangan fasilitas kesehatan di Kabupaten Aceh Besar diarahkan pada : a. Penambahan fasilitas kesehatan untuk masa masa mendatang terutama untuk puskesmas pembantu b. Penyediaan tenaga medis dokter untuk tiap tiap puskesmas umum maupun puskesmas pembantu terutama untuk wilayah wilayah terpencil seperti di Kecamatan Pulo Aceh. c. Peningkatan kapasitas dan pelayanan rumah sakit umum di Jantho. Hal. 7-15

159 d. Rehabilitasi dan rekonstruksi untuk fasilitas kesehatan yang terkena bencana tsunami dan gempa Pendidikan Tingkat pelayanan pendidikan di Kabupaten Aceh Besar secara umum sudah memadai, namun untuk kecamatan kecamatan yang besar jumlah penduduknya perlu ditambah fasilitas pendidikannya terutama untuk fasilitas TK. Pada tahun 2004 jumlah fasilitas TK adalah 88 unit, direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 455 unit dan tahun 2016 berjumlah 521 unit, bila dibadingkan dengan jumlah fasilitas TK yang ada terasa jauh sekali, sehingga perlu penambahan banyak sekali. Fasilitas pendidikan SD/MI pada tahun 2004 berjumlah 243 unit direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 300 unit dan tahun 2016 berjumlah 328 unit (lihat Tabel 7.6). Faslitas pendidikan SLTP/MTs pada tahun 2004 berjumlah 70 unit direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 95 unit dan tahun 2016 berjumlah 106 unit. Untuk faslitas pendidikan SLTA/MA pada tahun 2004 berjumlah 37 unit direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 71 unit dan tahun 2016 berjumlah 80 unt. Adapun untuk faslitas pendidikan tinggi sudah terdapat 2 unit, untuk skala Kabupaten Aceh Besar sudah cukup memenuhi, namun untuk skala yang lebih besar dapat ditambahkan lagi. Rencana pengembangan pendidikan di Kab. Aceh Besar diarahkan : a. Penambahan fasilitas pendidikan TK, SD, SLTP dan SLTA pada masa akan datang untuk kecamatan kecamatan yang masih kekurangan fasilitas pendidikan. b. Peningkatan kualitas fasilitas pendidikan c. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan yang terkena bencana tsunami dan gempa. d. Penyediaan tenaga guru yang memadai disetiap sekolah yang ada. Hal. 7-16

160 TABEL 7.4 KEBUTUHAN FASILITAS PEMERINTAHAN DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2011 DAN 2016 No. Kecamatan Eksis ting Penduduk (Jiwa) Proyeksi Fasi litas Eksis ting (Unit) Kantor Camat Kantor Polisi Kantor Koramil Standar Standar Standar Penduduk Jiwa Proyeksi Fasilitas (Unit) Lahan 0.1 Ha Proyeksi Lahan (Ha) Fasi litas Eksis ting (Unit) Penduduk Jiwa Lhoong 6,941 7,848 8, Lhoknga 8,801 12,706 13, Leupung 678 4,763 7, Indrapuri 16,552 22,613 26, Kuta Cot Glie 10,674 12,244 13, Seulimeum 18,763 23,449 25, Kota Jantho 5,207 6,182 6, Lembah Seulawah 7,144 11,701 14, Mesjid Raya 10,138 15,345 18, Darussalam 17,160 21,682 24, Baitussalam 9,163 15,257 19, Kuta Baro 20,299 24,689 27, Montasik 16,066 19,540 22, Ingin Jaya 22,137 26,925 30, Krueng Barona Jaya 10,001 17,565 22, Sukamakmur 12,620 14,764 16, Kuta Malaka 4,970 6,345 7, Simpang Tiga 5,220 5,877 6, Darul Imarah 34,042 39,734 43, Darul Kamal 6,158 6,711 7, Peukan Bada 8,519 11,045 13, Pulo Aceh 4,260 4,667 5, Blang Bintang 7,890 9,595 10, Jumlah Sumber : - Hasil Rencana , , , Proyeksi Fasilitas (Unit) Lahan 0.05 Ha Proyeksi Lahan (Ha) Fasi litas Eksis ting (Unit) Penduduk 2000 Jiwa Proyeksi Fasilitas (Unit) Lahan 0.05 Ha Proyeksi Lahan (Ha) Fasi litas Eksis ting (Unit) Proyeksi Fasilitas (Unit) KUA Standar Penduduk Jiwa Lahan 0.03 Ha Proyeksi Lahan (Ha) Hal. 7-17

161 TABEL 7.5 KEBUTUHAN FASILITAS KESEHATAN DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2011 DAN 2016 Hal. 7-18

162 TABEL 7.6 KEBUTUHAN FASILITAS PENDIDIKAN DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2011 DAN 2016 Hal. 7-19

163 7.3.4 Peribadatan Fasilitas peribadatan di Kabupaten Aceh Besar terutama untuk agama islam cukup banyak berupa musholla, meunasah dan masjid. Jumlah musholla yang ada pada tahun 2004 adalah 404 unit dan bila dasarkan pada standar yang ada, maka direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 557 unit dan tahun 2016 berjumlah 615 unit. Untuk fasilitas meunasah pada tahun 2004 berjumlah 600 unit, direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 754 unit dan tahun 2016 berjumlah 821 unit. Adapun untuk masjid pada tahun 2004 berjumlah 143 unit, direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 169 unit dan tahun 2016 berjumlah 180 unit, dengan demikian untuk fasilitas masjid ini untuk tahun tahun mendatang penambahannya tidak terlalu banyak. (lihat Tabel 7.7). Rencana pengembangan peribadatan di Kab. Aceh Besar diarahkan : a. Penambahan fasilitas peribadatan seperti musholla, meunasah dan masjid untuk masa masa akan datang, terutama untuk kecamatan kecamatan yang masih kekurangan fasilitas peribadatan. b. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana peribadatan c. Rehabilitasi dan rekonstruksi untuk fasilitas peribadatan yang terkena bencana tsunami dan gempa Hal. 7-20

164 TABEL 7.7 KEBUTUHAN FASILITAS PERIBADATAN DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2011 DAN 2016 No. Kecamatan Eksis ting Penduduk (Jiwa) Proyeksi Fasi litas Eksis ting (Unit) Musholla Standar Penduduk 750 Lahan 0.25 Ha Jiwa Proyeksi Fasilitas (Unit) Proyeksi Lahan (Ha) Fasi litas Eksis ting (Unit) Meunasah Standar Penduduk 500 Lahan 0.30 Ha Jiwa Proyeksi Fasilitas (Unit) Proyeksi Lahan (Ha) Fasi litas Eksis ting (Unit) Masjid Standar Penduduk 2500 Lahan 0.50 Ha Jiwa Proyeksi Fasilitas (Unit) Proyeksi Lahan (Ha) Lhoong 6,941 7,848 8, Lhoknga 8,801 12,706 13, Leupung 678 4,763 7, Indrapuri 16,552 22,613 26, Kuta Cot Glie 10,674 12,244 13, Seulimeum 18,763 23,449 25, Kota Jantho 5,207 6,182 6, Lembah Seulawah 7,144 11,701 14, Mesjid Raya 10,138 15,345 18, Darussalam 17,160 21,682 24, Baitussalam 9,163 15,257 19, Kuta Baro 20,299 24,689 27, Montasik 16,066 19,540 22, Ingin Jaya 22,137 26,925 30, Krueng Barona Jaya 10,001 17,565 22, Sukamakmur 12,620 14,764 16, Kuta Malaka 4,970 6,345 7, Simpang Tiga 5,220 5,877 6, Darul Imarah 34,042 39,734 43, Darul Kamal 6,158 6,711 7, Peukan Bada 8,519 11,045 13, Pulo Aceh 4,260 4,667 5, Blang Bintang *** 7,890 9,595 10, Jumlah 263, , , Sumber : - Hasil Rencana 2006 Hal. 7-21

165 7.3.5 Perdagangan Pelayanan fasilitas perdagangan seperti toko/warung, pasar, swalayan dan bank yang ada di Kabupaten Aceh Besar secara umum sudah memenuhi, Untuk fasilitas toko/warung banyak dijumpai disetiap kecamatan, namun tidak tersedia data jumlah fasilitas tersebut, dengan standar yang ada direncanakan jumlah toko/warung pada tahun 2011 berjumlah 1707 unit dan tahun 2016 berjumlah 1956 unit. Fasilitas pasar sudah tersedia untuk setiap kecamatan, pada tahun 2004 berjumlah 53 unit dan untuk rencana tahun 2011 hanya bertambah 3 unit berjumlah 56 unit dan pada tahun 2016 menambah 3 unit lagi berjumlah 56 unit. Faslitas swalayan hanya terdapat di kecamatan tertentu saja, direncanakan jumlah swalayan pada tahun 2011 berjumlah 16 unit dan tahun 2016 berjumlah 18 unit. Sebagai fasilitas pendukung untuk kegiatan perdagangan ini adalah fasilitas Bank. Tidak semua kecamatan mempunyai fasilitas bank ini, dari data yang ada pada tahun 2004 berjumlah 13 unit, dan direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 22 unit dan tahun 2016 berjumlah 23 unit. Selengkapnya rencana fasilitas bank disajikan pada Tabel 7.8. Rencana pengembangan perdagangan di Kab. Aceh Besar diarahkan : a. Peningkatan pasar pasar minggguan menjadi pasar harian b. Peningkatan sarana dan prasarana pasar c. Rehabilitasi dan rekonstruksi pasar akibat kebakaran maupun bencana tsunami dan gempa bumi Komunikasi Fasilitas komunikasi di Kabupaten Aceh Besar yang ada berupa Kantor Pos, Kantor Telekom, Wartel dan Warnet. Pelayanan fasilitas komunikasi ini terutama jaringan telepon tidak seluruhnya menjangkau semua kecamatan di Kabupaten Aceh Besar, seperti Kecamatan Pulo Aceh. Fasilitas Kantor Pos di Kabupaten Aceh Besar direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 18 unit dan tahun 2016 masih berjumlah 18 unit, begitu juga untuk fasilitas Kontor Telekom direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 10 unit dan tahun 2016 berjumlah 10 unit (lihat Tabel 7.9). Fasilitas komunikasi lain adalah berupa wartel dan warnet, keberadaan fasilitas komunikasi ini dapat mengetahui informasi informasi yang lebih luas. Fasilitas wartel direncanakan pada Hal. 7-22

166 tahun 2011 berjumlah 78 unit dan tahun 2016 berjumlah 85 unit, sedangkan fasilitas Warnet direncanakan pada tahun 2011 berjumlah 16 unit dan tahun 2016 berjumlah 17 unit. Rencana pengembangan komunikasi di Kab. Aceh Besar diarahkan : a. Peningkatan pelayanan jaringan kabel telepon disetiap kecamatan b. Penyebaran fasilitas komunikasi telepon umum, wartel, warnet c. Rehabilitasi dan rekonstruksi jaringan telepon akibat bencana tsunami dan gempa bumi Pengembangan Sistem Utilitas Sebagai kebutuhan utama dalam keperluan sehari hari, maka diperlukan sarana utilitas untuk pelayanan yang bersifat umum, meliputi kebutuhan : Air bersih, listrik, telepon, limbah, persampahan dan drainase Air Bersih Penduduk dalam memenuhi kebutuhan air bersih di Kabupaten Aceh Besar umumnya menggunakan air tanah, sementara untuk wilayah perkotaan sebagian telah memanfaatkan pelayanan air bersih dari PDAM Tirta Mountala. Sistem dari PDAM ini adalah memanfaatkan air Sungai Krueng Aceh di Lambaro (<20 liter/detik), disamping itu memanfaatkan sumber mata air seperti Mata Ie ( liter/detik), sumber air di Jantho ( liter/detik), dan sumber mata air lainnya (lihat Gambar 4.5) Permasalahan air bersih ini khususnya untuk air minum terjadi pada wilayah wilayah di sekitar pantai seperti Kecamatan Peukan Bada, Baitussalam, Mesjid Raya, Lhoknga, Leupung Lhoong dan Pulo Aceh, sumber air tanahnya payau sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan air minum. Selain itu, untuk daerah daerah yang telah mendapatkan pelayanan air bersih dari PDAM, kadang-kadang alirannya berkurang bahkan tidak jalan sama sekali. Hal. 7-23

167 TABEL 7.8 KEBUTUHAN FASILITAS PERDAGANGAN DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2011 DAN 2016 No. Kecamatan Eksis ting Penduduk (Jiwa) Proyeksi Fasi litas Eksis ting (Unit) Toko/Warung Pasar Swalayan Bank Standar Standar Standar Standar Fasi Penduduk 200 Lahan 0.01 Ha litas Penduduk Fasi litas Penduduk Fasi litas Penduduk Lahan 1 Ha Jiwa Eksis Lahan 0.02 Ha Eksis Jiwa Jiwa Eksis Jiwa ting Proyeksi Proyeksi Lahan ting Proyeksi ting Proyeksi Proyeksi (Unit) Proyeksi Lahan Fasilitas (Unit) (Ha) (Unit) Fasilitas (Unit) Proyeksi Fasilitas (Unit) Lahan (Ha) (Ha) Fasilitas (Unit) Lahan 0,02 Ha Proyeksi Lahan (Ha) (Unit) Lhoong 6,941 7,848 8,020 Na Na Lhoknga 8,801 12,706 13,326 Na Na Leupung 678 4,763 7,208 Na Na Indrapuri 16,552 22,613 26,408 Na Na Kuta Cot Glie 10,674 12,244 13,285 Na Na Seulimeum 18,763 23,449 25,999 Na Na Kota Jantho 5,207 6,182 6,412 Na Na Lembah Seulawah 7,144 11,701 14,732 Na Na Mesjid Raya 10,138 15,345 18,563 Na Na Darussalam 17,160 21,682 24,683 Na Na Baitussalam 9,163 15,257 19,922 Na Na Kuta Baro 20,299 24,689 27,970 Na Na Montasik 16,066 19,540 22,136 Na Na Ingin Jaya 22,137 26,925 30,502 Na Na Krueng Barona Jaya 10,001 17,565 22,238 Na Na Sukamakmur 12,620 14,764 16,318 Na Na Kuta Malaka 4,970 6,345 7,297 Na Na Simpang Tiga 5,220 5,877 6,408 Na Na Darul Imarah 34,042 39,734 43,170 Na Na Darul Kamal 6,158 6,711 7,151 Na Na Peukan Bada 8,519 11,045 13,208 Na Na Pulo Aceh 4,260 4,667 5,142 Na Na Blang Bintang *** 7,890 9,595 10, Jumlah 263, , , ,707 1, Sumber : - Hasil Rencana 2006 Hal. 7-24

168 TABEL 7.9 KEBUTUHAN FASILITAS KOMUNIKASI DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2011 DAN 2016 No. Kecamatan Eksis ting Penduduk (Jiwa) Kantor Pos Kantor Telekom Wartel Warnet Standar Standar Standar Standar Fasi litas Penduduk Fasi litas Penduduk Fasi litas Penduduk Fasi litas Penduduk Eksis Lahan 0.1 Ha Jiwa Eksis Lahan 0.1 Ha Jiwa Eksis Lahan 0.01 Ha 5000 Jiwa Eksis Proyeksi Jiwa ting ting ting ting (Unit) (Unit) (Unit) (Unit) Proyeksi Proyeksi Lahan Fasilitas (Unit) (Ha) Proyeksi Fasilitas (Unit) Proyeksi Lahan (Ha) Proyeksi Proyeksi Lahan Fasilitas (Unit) (Ha) Proyeksi Fasilitas (Unit) Lahan 0.01 Ha Proyeksi Lahan (Ha) Lhoong 6,941 7,848 8, Na Lhoknga 8,801 12,706 13, Na Leupung 678 4,763 7, Na Indrapuri 16,552 22,613 26, Na Kuta Cot Glie 10,674 12,244 13, Na Seulimeum 18,763 23,449 25, Na Kota Jantho 5,207 6,182 6, Na Lembah Seulawah 7,144 11,701 14, Na Mesjid Raya 10,138 15,345 18, Na Darussalam 17,160 21,682 24, Na Baitussalam 9,163 15,257 19, Na Kuta Baro 20,299 24,689 27, Na Montasik 16,066 19,540 22, Na Ingin Jaya 22,137 26,925 30, Na Krueng Barona Jaya 10,001 17,565 22, Na Sukamakmur 12,620 14,764 16, Na Kuta Malaka 4,970 6,345 7, Na Simpang Tiga 5,220 5,877 6, Na Darul Imarah 34,042 39,734 43, Na Darul Kamal 6,158 6,711 7, Na Peukan Bada 8,519 11,045 13, Na Pulo Aceh 4,260 4,667 5, Na Blang Bintang *** 7,890 9,595 10, Jumlah 263, , , Sumber : - Hasil Rencana 2006 Hal. 7-25

169 Usaha untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka rencana pengembangan air bersih di Kabupaten Aceh Besar diarahkan : a. Melakukan optimalisasi Sungai Krueng Aceh sebagai sumber utama air bersih. b. Pemanfaatan sumber sumber mata air yang ada sebagai alternatif untuk kebutuhan air bersih c. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan air bersih dari PDAM d. Meningkatkan pelayanan penyediaan air bersih di wilayah sekitar pantai. Berdasarkan proyeksi penduduk serta standar air bersih untuk penduduk perkotaan 120 liter/orang/hari dan penduduk perdesaan 80 liter/orang/hari, maka rencana kebutuhan air bersih di Kabupaten Aceh Besar baik untuk kebutuhan domestik maupun non domestik (fasilitas sosial, perdagangan dan jasa, industri, dll) pada tahun 2011 sebesar ,84 m³/hari, sedangkan pada tahun 2016 sebesar ,96 m³/hari (lihat Tabel 7.10). Hal. 7-26

170 GAMBAR 7.5 LOKASI PRASARANA AIR BERSIH Hal. 7-27

171 TABEL 7.10 KEBUTUHAN AIR BERSIH DI KABUPATEN ACEH BESAR Proyeksi Penduduk (jiwa) No. Kecamatan Tahun 2011 Tahun 2016 Kebutuhan Air Bersih Domestik (M3/Hari) Tahun 2011 Tahun 2016 Kebutuhan Air Besih Non Domestik (M3/Hari) Jumlah Kebutuhan Air Besih Domestik & Non Domestik (M3/Hari) Perkot Perdes Jumlah Perkot Perdes Jumlah Perkot Perdes Jumlah Perkot Perdes Jumlah Tahun 2011 Tahun 2016 Tahun 2011 Tahun Lhoong 2,354 5,494 7,848 2,406 5,614 8, Lhoknga 4,447 8,259 12,706 4,664 8,662 13, , , , , Leupung 1,429 3,334 4,763 2,162 5,046 7, Indrapuri 6,558 16,055 22,613 7,658 18,750 26, , , , , , , Kuta Cot Glie 1,224 11,020 12,244 1,329 11,956 13, , , , , Seulimeum 4,690 18,759 23,449 5,200 20,799 25, , , , , , , Kota Jantho 4,946 1,236 6,182 5,130 1,282 6, Lembah Seulawah 2,574 9,127 11,701 3,241 11,491 14, , , , , Mesjid Raya 7,366 7,979 15,345 8,910 9,653 18, , , , , , Darussalam 8,239 13,443 21,682 9,380 15,303 24, , , , , , , , Baitussalam 12,968 2,289 15,257 16,934 2,988 19,922 1, , , , , , Kuta Baro 6,172 18,517 24,689 6,993 20,977 27, , , , , , , Montasik 3,908 15,632 19,540 4,427 17,709 22, , , , , , , Ingin Jaya 8,885 18,040 26,925 10,066 20,436 30,502 1, , , , , , , , Krueng Barona Jaya 5,270 12,296 17,566 6,671 15,567 22, , , , , , Sukamakmur 2,658 12,106 14,764 2,937 13,381 16, , , , , , Kuta Malaka 1,079 5,265 6,344 1,240 6,057 7, Simpang Tiga 646 5,231 5, ,703 6, Darul Imarah 22,648 17,086 39,734 24,607 18,563 43,170 2, , , , , , , , Darul Kamal 940 5,771 6,711 1,001 6,150 7, Peukan Bada 8,615 2,430 11,045 10,302 2,906 13,208 1, , , , , , Pulo Aceh 467 4,200 4, ,628 5, Blang Bintang 1,919 7,676 9,595 2,174 8,696 10, Jumlah 120, , , , , ,968 14, , , , , , , , Sumber : Hasil Rencana Tahun 2006 Keterangan : - Standar Kebutuhan Air Bersih : 150 Liter/Orang/Hari - Kebutuhan Domestik (penduduk/rumah tangga) - Kebutuhan Non Domestik (fasilitas pelayanan umum, perdagangan/jasa, dll.) Hal PENYELESAIAN RTRW KAB ACEH BESAR & KAWASAN PEMUKIMAN UTAMA

172 Untuk kebutuhan air bersih domestik sendiri direncanakan pada tahun 2011 sebesar ,84 m³/hari dan tahun 2016 sebesar ,48 m³/hari, sedangkan untuk kebutuhan air bersih non domestik pada tahun 2011 direncanakan sebesar 642,00 m³/hari dan tahun 2016 sebesar 736,48 m³/hari. Kebutuhan air bersih domestik untuk penduduk yang tinggal diperkotaan direncanakan pada tahun 2011 sebesar ,24 m³/hari dan tahun 2016 sebesar ,12 m³/hari, sementara penduduk yang tinggal diperdesaan, pada tahun 2011 sebesar ,60 m³/hari dan tahun 2016 sebesar ,36 m³/hari Listrik Hampir semua wilayah di Kabupaten Aceh Besar telah mendapat pelayanan listrik, namun untuk lokasi permukiman yang terpencil masih belum terlayani. Dari data tahun 2004 hanya 2 (dua) desa yang belum terlayani pelayanan listrik, yaitu satu desa di Kecamatan Peukan Bada dan satu desa di Kecamatan Pulo Aceh. Sumber listrik di Kabupaten Aceh Besar didapatkan dari pelayanan listrik tenaga disel (PLTD) serta direncanakan pelayanan listrik tenaga uap (PLTU) di Krueng Raya. Jaringan listrik utama di Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat Gambar 7.6 Permasalahan yang timbul dengan listrik ini adalah : Wilayah wilayah yang terkena bencana tsunami dan gempa telah mengalami kerusakan jaringan listrik, sehingga perlu pembangunan jaringan listrik kembali dan penyambungan baru ke rumah-rumah. Selain itu, listrik sering mengalami padam serta dayanya kadang kadang turun. Walaupun hampir semua wilayah di Kabupaten Aceh Besar sudah terlayani listrik, namun dengan perkembangan jumlah penduduk yang semakin bertambah, maka diperlukan peningkatan daya listrik. Kebutuhan daya listrik baik untuk domestik maupun non domestik di Kabupaten Aceh Besar direncanakan pada tahun 2011 sebesar KVA dan tahun 2016 sebesar KVA. Untuk Kebutuhan listrik domestik (rumah tangga), direncanakan tahun 2011 sebesar KVA dan tahun 2016 sebesar KVA, sedangkan untuk kebutuhan listrik non domestik (fasilitas sosial dan pelayanan umum, perdagangan dan jasa, industri, dll.) tahun 2011 sebesar KVA dan tahun 2016 sebesar KVA. Selengkapnya rencana kebutuhan listrik di Kabupaten Aceh Besar disajikan pada Tabel 7.11 Menyimak dari permasalahan dan kebutahan listrik di Kabupaten Aceh Besar, maka arahan rencana pengembangan listrik di Kabupaten Aceh Besar adalah : Hal. 7-29

173 a. Peningkatan kapasitas daya listrik agar terpenuhi pelayanan listrik yang sempurna b. Rehabilitasi dan rekonstruksi jaringan listrik untuk wilayah wilayah yang terkena bencana tsunami dan gempa Telepon Di Wilayah Kabupaten Aceh Besar berdasarkan data tahun 2004 belum semua kecamatan terjangkau fasilitas telepon, kecamatan yang belum terjangkau pelayanan telepon adalah Kecamatan Indrapuri, Kuta Cot Gile, Lembah Seulawah dan Kecamatan Pulo Aceh. Untuk waktu yang akan datang diharapkan kecamatan tersebut dapat pelayanan telepon. Dari data yang tersedia pelayanan telkom menunjukkan kecamatan yang dapat pelayanan telkom dengan jaringan kabel hanya beberapa kecamatan seperti Kecamatan Peukan Bada, Krueng Barona Jaya, Darul Imarah, Kuta Baro, Jantho, Lhoknga, Darussalam, Mesjid Raya, Lhoong dan Kecamatan Seulimeum selebihnya dengan menggunakan fleksi. Permasalahan yang muncul tentang telekomunikasi ini adalah : Belum semua kecamatan dapat pelayanan telkom jaringan kabel. Sebagian kecamatan kecamatan yang dapat fasilitas telkom masih berupa fleksi belum berupa jaringan kabel. Selanjutnya fasilitas telkom di kecamatan sekitar pantai yang terkena bencana tsunami dan gempa belum pulih kembali. Rencana pengembangan telepon di Kabupaten Aceh Besar diarahkan : a. Meningkatkan jangkauan pelayanan jaringan telepon ke setiap kecamatan. b. Merehabilitasi dan merekonstruksi jaringan telepon yang rusak akibat bencana tsunami dan gempa. Berdasarkan proyeksi kebutuhan sambungan telepon di kawasan perkotaan di Kabupaten Aceh Besar baik kebutuhan domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perdagangan dan jasa, industri, fasilitas umum dan pemerintahan, dll) pada tahun 2011 berjumlah sambungan telepon dan tahun 2016 berjumlah sambungan telepon. Sementara proyeksi sambungan telepon untuk kebutuhan domestik sendiri pada tahun 2011 berjumlah sambungan dan pada tahun 2016 berjumlah sambungan. Adapun untuk kebutuhan non domestik pada tahun 2011 berjumlah sambungan dan pada tahun 2016 berjumlah sambungan. Untuk kebutuhan telepon umum pada tahun 2011 berjumlah 133 unit dan tahun 2016 berjumlah 153 unit. Selengkapnya proyeksi kebutuhan telepon di kawasan perkotaan di Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat Tabel Hal. 7-30

174 GAMBAR 7.6 RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN LISTRIK Hal. 7-31

175 TABEL 7.11 Hal. 7-32

176 TABEL 7.12 Hal 7-33

177 Limbah dan Sampah A. Air Limbah Masyarakat di Kabupaten Aceh Besar umumnya membuang air limbah rumah tangga langsung keselokan atau drainase yang ada, sedangkan dalam membuang limbah tinja manusia biasanya ke cubluk atau septik tank. Pembuangan dengan septik tank biasanya masih bersifat sendiri/pribadi belum ada yang bersifat komunal (bersama). Dengan kondisi seperti ini, maka arahan rencana pengembangan air limbah di Kabupaten Aceh Besar adalah: Pembuangan air limbah rumah tangga dapat melalui selokan, drainase yang ada atau membuat sumur resapan. Pembuangan air tinja manusia dilakukan melalui septik tank dengan kolam resapan, dimana untuk permukiman yang belum tertata dapat menggunakan septik tank tunggal (pribadi/sendiri), sedangkan untuk permukiman yang sudah tertata dapat menggunakan septik tank komunal (bersama). Pembuangan limbah industri perlu disediakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai dengan limbah yang dihasilkan, sehingga limbah yang dibuang ke badan air (sungai) sudah memenuhi baku mutu badan penerima air, tidak mencemari badan air. B. Sampah Sistem pembuangan sampah di Kabupaten Aceh Besar untuk sampah rumah tangga umumnya dilakukan dengan sistem pembakaran atau penimbunan/pengurukan sampah pada tempat yang sudah digali. Sementara untuk pembuangan sampah dari bekas pasar dan pertokoan, untuk Kota Jantho telah dikelola oleh Kantor Kebersihan Kabupaten Aceh Besar, untuk Pasar Lambaro di kelola oleh Dinas Kebersihan Kota Banda Aceh, sedangkan untuk pasar pasar yang lain dikelola oleh masyarakat setempat. Permasalahan yang timbul sehubungan dengan sampah ini adalah : Pembuangan sampah rumah tangga belum sepenuhnya dikelola secara bersama, masih bersifat sendiri/pribadi. Bekas sampah dari pasar sebagian belum di kelola dengan baik, misalnya bekas sampah dari Pasar Saree, pembuangannya tidak dilakukan pada tempat semestinya, tetapi dibuang disekitar Jalan Banda Aceh Medan. Hal. 7-34

178 Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk pelayanan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar belum ditetapkan secara resmi. Dalam rangka mengantisipasi permasalahan sampah tersebut, maka arahan dalam rencana pengembangan persampahan adalah : Sampah rumah tangga terutama untuk wilayah perkotaan yang dekat dengan Kota Banda Aceh supaya dikelola secara bersama, yaitu sampah dikumpulkan di tong/bak sampah pada rumah masing-masing, kemudian diangkut dengan gerobak sampah menuju Tempat Pembuangan Sampah (TPS) atau Container, selanjutnya diangkut dengan truk sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah legal. Sampah bekas pasar supaya dikelola dengan baik, dengan proses hampir sama seperti yang telah diuraikan diatas. Untuk jangka panjang perlu dipikirkan program sistem pengelolaan sampah secara terpadu yang merupakan kombinasi dari sistem pengelolaan sampah dengan cara daur ulang, kompos, pembakaran (incenerator) dan sistem pembuangan/penimbunan sampah. Lokasi Tempat Pembuangan Sampah (TPA) untuk pelayanan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar diusulkan di Kecamatan Blang Bintang (lihat Gambar 7.7). Berdasarkan proyeksi jumlah penduduk serta standar timbulan sampah 2,25 liter/orang/hari, maka dapat direncanakan timbulan sampah di Kabupaten Aceh Besar. Timbulan sampah domestik (rumah tangga) dan non domestik (pasar, perkantoran, industri, dll) di Kabupaten Aceh Besar pada tahun 2011 berjumlah liter/hari dan tahun 2016 berjumlah liter/hari. Untuk timbulan sampah domestik sendiri direncanakan pada tahun 2011 berjumlah liter/hari dan tahun 2016 berjumlah liter/hari. Adapun untuk timbulan sampah non domestik direncanakan pada tahun 2011 berjumlah liter/hari dan tahun 2016 berjumlah 131. liter/hari (lihat Tabel 7.13) Hal. 7-35

179 GAMBAR 7.7 RENCANA LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH (TPA) Hal. 7-36

180 Tabel 7.13 Hal. 7-37

181 Drainase Sistem drainase di Kabupaten Aceh Besar secara umum adalah saluran drainase dari permukiman maupun dari pertanian sawah, dimana ujungnya bermuara pada Sungai Krueng Aceh yang berfungsi sebagai saluran drainase utama. Untuk wilayah wilayah di sekitar pantai saluran drainase langsung bermuara ke pantai. Permasalahan yang timbul dengan adanya drainase ini adalah : Drainase (saluran pembuang irigasi pertanian) pada musim hujan kelebihan air dan sering menimbulkan banjir dan genangan, hal ini terjadi dan menimpa pada kecamatan Darul Kamal dan dan Darul Imarah. Akibat drainase yang kurang lancar dan sempurna ditambah tumbuhnya bangunan bangunan baru di sekitar jalan utama Banda Aceh Medan, maka sering terjadi banjir dan genangan pada musim hujan di sekitar jalan ini. Terdapat desa desa yang mempunyai topografi dataran rendah dan tidak mempunyai drainase yang lancar menyebabkan terjadi banjir pada musim penghujan, hal ini seperti terjadi pada Desa Lingom Kecamatan Indrapuri yang terendam air ketika musim hujan tiba. Usaha untuk mencegah terjadinya banjir dan genangan pada musim hujan akibat drainase yang kurang lancar dan sempurna, maka berikut ini akan diuraikan arahan-arahan rencana pengembangan drainase sebagai berikut : Saluran drainase pembuang dari irigasi pertanian supaya lancar dan bersih dari kotoran kotoran sampah, selain itu saluran drainase pembuang ini harus sampai pada muara badan sungai maupun pantai sebagai penerima limpahan air terakhir. Supaya terdapat saluran drainase yang lancar dan sempurna terutama di sekitar jalan jalan utama. Wilayah wilayah yang sering terendam air ketika musim hujan tiba, supaya diperbaiki sistem drainasenya. Hal. 7-38

182 Bab 8 RENCANA PENATAGUNAAN TANAH, AIR, UDARA, HUTAN Rencana penatagunaan tanah, air, udara dan hutan merupakan pengaturan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, air, udara dan hutan. Uraian selengkapnya masing masing rencana penatagunaan tersebut dijelaskan berikut ini. 8.1 RENCANA PENATAGUNAAN TANAH Pada dasarnya penatagunaan tanah ini diselenggarakan terhadap bidang bidang tanah yang sudah ada haknya maupun tanah negara. Dalam penatagunaan tanah ini tetap mengakui hak hak atas tanah yang sudah ada. Pengaturan hak dan kewajiban dalam penguasaan tanah adalah : a. Pemegang hak atas tanah wajib menggunakan tanah dan dapat memanfaatkan tanah sesuai rencana tata ruang, serta memelihara tanah dan mencegah kerusakan tanah. b. Penguasaan tanah yang sudah ada haknya sebelum adanya penetapan rencana tata ruang tetap diakui haknya. c. Pengusaan tanah setelah penetapan rencana tata ruang dapat diberikan haknya apabila penggunaan dan pemanfaatan tanahnya sesuai dengan rencana tata ruang. d. Penguasaan tanah setelah penetapan rencana tata ruang tidak diberikan haknya apabila penggunaan dan pemanfaatan tanahnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Dalam hubungannya dengan pemanfaatan tanah, maka : a. Pemegang hak atas tanah yang secara sukarela melakukan penyesuaian pemanfaatan tanah dapat diberikan insentif. b. Pemegang hak atas tanah maupun pemakai tanah negara yang belum melaksanakan penyesuaian pemanfaatan tanahnya dapat dikenakan disentif. Hal. 8-1

183 Dalam pelaksanaan pengelolaan penatagunaan tanah adalah : pengelolaan penguasaan dan pemanfaatan tanah dapat dilakukan melalui penataan kembali, upaya kemitraan, penyerahan dan pelepasan hak atas tanah kepada negara atau pihak lain dengan penggantian sesuai dengan perundang undangan yang berlaku Rencana Penatagunaan tanah di Kawasan Lindung Pada dasarnya rencana penatagunaan tanah di kawasan lindung akan diuraikan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan pemanfaatannya. Ketentuan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung dan kawasan budidaya diuraikan sebagai berikut : a. Penguasaan tanah di kawasan lindung Penguasaan pada bidang bidang tanah yang belum dilekati hak atas tanah pada kawasan lindung tidak akan diberikan hak atas tanah. Penguasaan tanah pada kawasan yang ditetapkan berfungsi lindung yang dikuasai oleh masyarakat yang pemanfaatan tanahnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang tidak akan diberikan hak atas tanah c. Penggunaan tanah di dalam kawasan lindung harus sesuai fungsi lindung d. Pemanfaatan tanah dalam kawasan lindung Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung dan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta dapat mengganggu fungsi lindung harus dikembalikan ke fungsi lindung secara bertahap sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku Rencana Penatagunaan Tanah di Kawasan Budidaya Dalam rencana penatagunaan tanah di kawasan budidaya diuraian tentang ketententuan penguasaan dan pemanfaatan tanah di kawasan budidaya sebagai berikut: a. Ketentuan penguasaan tanah di kawasan budidaya adalah : Penguasaan tanah dalam kawasan budidaya harus sesuai dengan sifat pemberian hak, tujuan pemberian hak dan rencana tata ruang. Penggunanan tanah yang dikuasai oleh masyarakat yang penggunaan dan pemanfaatan tanahnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang disesuaikan melalui penyelenggaraan penatagunaan tanah. b. Ketentuan pemanfaatan tanah di kawasan budidaya adalah : Hal. 8-2

184 Pemanfaatan tanah yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tidak dapat ditingkatkan pemanfaatannya, harus disesuaikan dengan rencana tata ruang dan dilaksanakan melalui penyelenggaraan penatagunaan tanah. Pemanfaatan tanah di kawasan budidaya yang belum diatur dalam rencana rinci tata ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan kriteria dan standar pemanfaatan ruang. 8.2 RENCANA PENATAGUNAAN AIR Air merupakan kebutuhan vital untuk kelangsungan hidup sehari hari, untuk itu perlu adanya penatagunaan air. Ketentuan ketentuan tentang penatagunaan air adalah : a. Air baku permukaan dan air tanah serta sumber air tidak dapat dikuasai oleh perorangan atau badan usaha. b. Ketentuan ketentuan pemanfaatan air adalah : Masyarakat dan badan usaha dapat memanfaatkan air baku permukaan dan air tanah sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku Masyarakat dan badan usaha wajib memelihara kualitas air baku permukaan dan air tanah. Masyarakat dan badan usaha dilarang mencemari air baku dan badan air sungai dan danau/mata air diatas ambang batas yang ditetapkan dalam peraturan perundang undangan yang berlaku. 8.3 RENCANA PENATAGUNAAN UDARA Ruang udara merupakan ruang yang harus bebas dari polusi dan pencemaran. Untuk itu, perlu rencana penatagunaan udara yang menguraikan tentang ketentuan ketentuan sebagai berikut: a. Ruang udara tidak dapat dikuasai oleh perseorangan atau badan usaha b. Ketentuan pemanfaatan udara adalah : Masyarakat dan badan usaha wajib memelihara kualitas udara Masyarakat dan badan usaha dilarang mencemari udara diatas ambang batas yang ditetapkan dalam peraturan perundang undangan yang berlaku. Pemanfaatan ruang udara diatas tanah yang dikuasai masyarakat dan badan usaha harus seijin pemilik hak atas tanah yang bersangkutan. Hal. 8-3

185 8.4 RENCANA PENATAGUNAA HUTAN Rencana penatagunaan hutan dalam hal ini meliputi pengaturan pengendalian kegiatan kegiatan permukiman dan pertanian yang terletak di kawasan hutan, pengaturan hutan produksi, hutan konversi, hutan lindung serta pengaturan rehabilitasi dan reklamasi hutan. Selengkapnya pengaturan pengaturan tersebut diuraikan sebagai berikut: a. Kegiatan permukiman dan pertanian yang terletak di kawasan hutan : Pencegahan kegiatan ladang berpindah di kawasan hutan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dan terjadinya kebakaran. Penggunaan tanah yang dikuasai masyarakat untuk kegiatan permukiman dan pertanian di kawasan hutan disesuaikan melalui penyelenggaraan penatagunaan tanah. b. Hutan produksi Pemanfaatan hutan produksi dilakukan oleh pemegang HPH yang telah mempunyai izin resmi untuk eksploitasi hasil hutan. Pemegang HPH wajib melakukan reboisasi terhadap hutan yang telah dilakukan penebangan. c. Hutan Lindung Kawasan hutan lindung merupakan kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya, sehingga wajib dilindungi. Pengenaan sanksi terhadap perambah hutan lindung baik yang dilakukan oleh perorangan, badan hukum, oknum pemerintahan, para penegak hukum, dan para legislator tertentu. d. Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan Rehabilitasi dan reklamasi hutan bakau (mangrove) bagi kawasan kawasan disekitar pantai yang terkena bencana tsunami dan gempa. Hal. 8-4

186 Bab 9 RENCANA SISTEM KEGIATAN PEMBANGUNAN 9.1 RENCANA SISTEM KEGIATAN PEMBANGUNAN Indikasi Kawasan Prioritas Pembangunan Rencana kawasan yang diprioritaskan meliputi kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan pengembangannya atau penangannya serta memerlukan dukungan rencana rinci dan program sebagai upaya mewujudkan Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang. Untuk wilayah Kabupaten Aceh Besar kawasan-kawasan yang dianggap prioritas pembangunannya adalah : Kawasan yang terkena dampak langsung bencana tsunami dan gempa. Secara umum bencana tersebut telah meluluhlantakan lingkungan, penduduk dan infrastruktur kawasan pesisir radius sampai ± 5 km dari garis pantai. Pada kawasan ini perlu dilakukan penanganan segera. Sesuai dengan amanat Perpu No. 2 Tahun 2005 untuk membentuk Badan Rehabilitasi dan rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Propinsi NAD dan Kepulauan Nias Propinsi Sumatera Utara, serta mengeluarkan Perpres No. 30 Tahun 2005 tentang Rencana induk rehabilitasi dan Rekonstruksi wilayah dan Kehidupan Masyarakat Propinsi NAD dan Kepulauan Nias Propinsi Sumatera Utara sebagai acuan bagi proses percepatan tersebut. Wilayah Kabupaten Aceh Besar yang masuk pada kawasan tersebut meliputi : Kecamatan Mesjid Raya, Baitussalam, Darussalam, Seulimeum, Peukan Bada, Lhoknga, Leupung dan Lhoong. Kawasan tersebut merupakan kawasan yang harus ditangani segera berupa kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan, infrastruktur, lingkungan serta pemulihan kehidupan masyarakat yang terkena bencana dengan program kegiatan tahun Hal. 9-1

187 Kawasan yang memiliki nilai strategis terhadap pertumbuhan Kabupaten Aceh Besar Kawasan yang menentukan terhadap perkembangan suatu wilayah di wilayah Kabupaten Aceh Besar dapat dibedakan berdasarkan 5 kelompok penggerak utama perkembangan wilayah, sebagai berikut : 1. Kawasan perkotaan terkait dengan sistem Kota Metropolitan Banda Aceh Wilayah Kabupaten Aceh Besar sangat terkait erat dengan perkembangan Kota Banda Aceh, simpul kegiatan kegiatan seperti transportasi, perdagangan, pemerintahan dan jasa lainnya untuk wilayah Aceh Besar terpolar di Kota Banda Aceh. Jenis program yang diprioritaskan pada kawasan tersebut adalah : 2. Kawasan Pusat Pelayanan Administrasi dan Koordinasi Pembangunan Wilayah. Kawasan permukiman ini sebagai pendukung Kota Jantho yang berfungsi sebagai pusat administrasi. Kelompok permukiman ini cenderung membentuk permukiman pegawai pemerintahan sehingga untuk pengembangannya diperlukan diversifikasi kegiatan pada Kota Jantho sebagai orientasinya. 3. Permukiman kawasan perkotaan persinggahan/transit Kelompok kawasan permukiman sangat dipengaruhi oleh jalur transportasi sistem primer penghubung intraregional dan interregional. Perkembangannya sangat tergantung pada potensi lokal kawasan hinterlannya serta faktor jarak titk lelah perjalanan perhubungan antar kota intraregional maupun interregional. Yang termasuk kelompok permukiman ini adalah : Lhoong (Lhoong) Lamtamot/Saree (Lembah Seulawah) Permukiman kawasan perkotaan yang berkembang di Kecamatan Lembah Seulawah pada kenyataannya terbentuk di Desa Saree tidak di Kota Kecamatan Lamtamot. Hal ini disebabkan Desa Saree merupakan titik yang paling ideal sebagai persinggahan karena memiliki potensi panorama alam dan fasilitas persinggahan yang lebih menarik dibandingkan Lamtamot. 4. Pusat Koleksi dan Distribusi Pergerakan Kawasan sebagai pusat koleksi dan distribusi pergerakan orang, barang dan jasa yang diharapkan mempunyai kontribusi signifikan terhadap PAD : Pelabuhan Nasional Malahayati (Krueng Raya) Rencana Pengembangan Terminal Tipe A (Lambaro) Bandar Udara Sultan Iskandar Muda (Blang Bintang) direncanakan sebagai bandara internasional. Hal. 9-2

188 Lumbung Padi yang berpotensi menjadi Pusat Perberasan (Indrapuri, Montasik, Cot Glie, Simpang Tiga,) Perikanan Laut (Peukan Bada, Krueng Raya) Kawasan yang terbelakang dan relatif tertinggal pertumbuhan Kawasan yang memerlukan dukungan program untuk mendorong perkembangannya di wilayah Kabupaten Aceh Besar, sebagai berikut : Kawasan terpencil berupa pulau dan kepulauan kecil (Pulo Aceh). Dalam Kebijakan RTRW Kawasan Sabang, Pulo Aceh menjadi bagian dalam Badan Pengelolaan Kawasan Sabang yang diarahkan sebagai kawasan wisata. Dengan demikian Pulo Aceh dapat dikategorikan kepada Kawasan Tertentu yang pengelolaannya dibawah Pemerintah Pusat. Kawasan transit ke arah Meulaboh (Lhoong) yang memerlukan dukungan program untuk menggali potensialitas kawasannya. Kawasan Lindung Kawasan yang memberikan perlindungan daerah bawahannya, setempat, cagar alam dan cagar budaya di wilayah Kabupaten Aceh Besar, sebagai berikut : Cagar Alam Jantho Suaka Marga Satwa (Pusat Pelatihan Gajah) di Saree Taman Hutan Raya Cut Meurah Intan Hutan Lindung Kawasan Kritis/rawan bencana Kawasan kritis dan rawan terhadap bencana alam di luar bencana tsunami di wilayah Kabupaten Aceh Besar, sebagai berikut : Longsor dan erosi di sekitar Mesjid Raya Erosi di DAS Krueng Aceh terutama oleh adanya galian C. Hal. 9-3

189 9.1.2 Indikasi Program Pembangunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar dan Permukiman Utama 2006 merupakan acuan bagi penyusunan program pembangunan kabupaten. Oleh karena itu arahan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang perlu dilengkapi dengan indikasi program pembangunan dalam skala besar. Indikasi program yang disusun dalam program pembangunan tahunan diharapkan dapat mendorong perkembangan sektorsektor strategis untuk memberikan dampak positif terhadap Kabupaten Aceh Besar secara keseluruhan. Adapun langkah yang ditempuh dalam penyusunan indikasi program pembangunan Kabupaten Aceh Besar telah mempertimbangkan aspek : Mengintegrasikan usaha-usaha pengembangan dan pembangunan Mempertimbangkan aspirasi masyarakat serta potensi dan masalah yang terdapat di Kabupaten Aceh Besar. Konsisten dengan arahan tata ruang yang ditetapkan Selengkapnya indikasi program pembangunan Kabupaten Aceh Besar disajikan pada Tabel 9.1. Hal. 9-4

190 Bab 10 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 10.1 KESIMPULAN Secara umum substansi kajian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Aceh Besar dan Permukiman Utama 2006 telah tertuang dalam bab pembahasan Rencana Sistem Kegiatan Pembangunan. Namun perencanaan tata ruang pada kawasan yang terkena bencana sampai saat ini belum ada panduan dan pedoman teknis, beberapa hal yang dapat diambil sebagai kesimpulan yang tidak termuat dalam lingkup kajian penyusunan RTRW dan menjadi sangat penting terutama menyangkut aspek perbaikan lingkungan (environment improvement) diuraikan dibawah ini. Bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 tidak saja menyebabkan orang meninggal dan hilang, tetapi juga merusak lahan pertanian Kabupaten Aceh Besar. Menurut FAO (2005), kerusakan lahan pertanian (tanaman pangan dan Hortikultural) di Kabupaten Aceh Besar akibat tsunami ha lahan basah (sawah), dan ha lahan kering (tegalan). Kerusakan lahan pertanian sebagian besar diakibatkan oleh kegaraman (salinitas), dan kemungkinan juga masalah sodisitas (kadar Na tinggi), sedimentasi lumpur laut, sampah dan puing-puing bangunan, serta rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan. Salinitas atau kegaraman dalam konteks tanah adalah kadar garam terlarut di dalam tanah atau dalam ektrak tanah. Dengan demikian tanah tersebut adalah tanah salin. (tanah yang mengandung garam dalam jumlah tertentu, sehingga menurunkan produktifitasnya), atau Tanah Salin diindikasikan dengan nilai Daya Hantar Listrik (Electrical Conductivity/EC) pada ekstrak tanah jenuh lebih dari 4 mm/ho/cm pada 25 C, dan persentase Na tertukar kurang dari 15%, nilai ph biasanya 8,5. Hal. 10-1

191 Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian bekerjasama dengan ACIAR telah melakukan pengukuran salinitas lahan sawah terkena tsunami di Kabupaten Aceh Besar, yang diukur mulai sekitar tujuh bulan setelah tsunami, dan pada bulan Januari Hasil pengukuran salinitas disajikan pada table di bawah ini : Tabel 10.1 TINGKAT SALINITAS (ECa) LAHAN SAWAH TERKENA TSUNAMI PADA BEBERAPA LOKASI DI KABUPATEN ACEH BESAR Rata-rata ECa (ms/m) Tanah Sawah Di Kabupaten LOKASI Aceh Besar 29 Agustus Januari cm 150 cm 30 cm 150 cm Ds. Nusa, Kec. Lhok Nga Ds. Miruk Taman, Darussalam Ds. Suleue, Kec. Darussalam Ds.Lampeudaya, Baitussalam Ds. Lampineung, Banda Aceh Sumber : Buletin Info Teknologi BPTP NAD Edisi 2006 Hasil pengukuran salinitas berbeda pada tiap lokasi, dan menunjukan kecenderungan menurun pada waktu lima bulan, seperti; di Desa Suleue Kecamatan Darussalam, Desa Nusa Kecamatan Lhoknga. Penurunan ini terjadi akibat adanya pencucian garam-garam oleh air hujan, air irigasi baik secara vertikal maupun horizontal serta adanya drainase yang baik. Sedangkan pada lokasi lainnya cenderung naik, karena akumulasi garam-garam di dalam tanah lebih cepat dibandingkan proses pencucian karena drainase yang jelek dan atau tidak cukupnya air untuk melarutkan garam-garam yang terdapat didalam tanah. Masih relatif tingginya tingkat salinitas dibeberapa daerah di Kabupaten Aceh besar maka perlu diambil langkah rehabilitasi lahan di beberapa lokasi dan kerusakan infrastruktur irigasi serta drainase. Namun demikian pembangunan sektor pertanian perlu juga ditunjang dengan sistem agribisnis yang tangguh sehingga akan mampu meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi, sekaligus mampu meningkatkan taraf hidup, harkat dan martabat masyarakat Kabupaten Aceh Besar. Dampak dari salinitas lahan akibat bencana tsunami tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi umumnya, sehingga membuat efek salinitas yang kuat terhadap tanaman yang mengakibatkan : Hal. 10-2

192 Terhambatnya pertumbuhan batang atau tanaman menjadi kerdil, Daun-daun menjdi kecil atau lebih tipis dan lebih gelah dari normal, Ujung dan pinggir daun tampak seperti terbakar, Kekuningan, kering, dan mati, Aflatoksin lebih merata pada kacang tanah REKOMENDASI Sebagaimana diuraikan pada pembahasan kesimpulan, maka upaya untuk memperbaiki lingkungan pasca tsunami serta beberapa upaya pengembangan pertanian dan kehutanan diuraikan sebagai berikut : Lahan-lahan yang dipengaruhi garam biasanya diubah untuk menjadi produktif dengan pengolahan yang lebih baik atau dengan reklamasi (Chairunas, dalam Info Tehnologi). Reklamasi tanah salin adalah sebagai berikut : Perbaikan Lahan Pertanian a. Pencucian Garam Pencucian garam dapat dilakukan melalui : Pengerukan ; Pemindahan garam-garam yang terakumulasi pada permukaan tanah secara mekanik. Pengaliran ; Mencuci permukaan yang diakumulasi oleh garam dengan mengalirkan air diatas permukaan yang kadang-kadang digunakan untuk mengurangi salinitas tanah yang memiliki kerak garam. Pencucian ; Prosedur ini lebih efektif untuk pemindahan garam dari daerah perakaran, biasanya dibantu dengan pengumpulan air segar pada permukaan tanah, dan membiarkannya berinfiltrasi. b. Bahan Organik Bahan organik ini juga dapat membantu proses reklamasi, karena : Dekomposisi bahan organik menghasilkan CO 2 dan asam-asam organic Penurunan ph membebaskan kation-kation dengan melarutnya CaCO 3 dan mineralmineral lain yang menyebabkan peningkatan elektrikal konduktif. Penggantian Na-dd olrh Ca atau Mg menyebabkan menurunnya PNT. Hal. 10-3

193 c. Pemberian Amandemen Memberikan bahan gypsum ( Ca SO 4 ) dalam jumlah yang besar, umumnya diberikan pada tanah sodik, karena Na-dd pada tanah ini sangat tinggi. d. Pengolahan Tanah Perlakuan ini bersamaan dengan pencucian, sesaat setelah pengolahan tanah dilakukan pemasukan air bersih kedalam petak sawah, dan dibiarkan menggenang setinggi 5-10 cm selama 2-3 hari. Selanjutnya air petak sawah dikeluarkan (didrainase) dan dibuang kesaluran pembuang. e. Varietas Tanaman Bila salinitas tanah masih berpengaruh pada tanaman, maka sebaiknya dicari tanaman yang tahan terhadap salinitas yang tinggi, misalnya padi varietas Banyuasin yang diikuti dengan pemberian kapur sebanyak 500 kg/ha dan atau pupuk kandang sebanyak 2 ton/ha Pemupukan N, P, Dan K Saat ini rekomendasi pemupukan untuk tanaman padi sawah di Kabupaten Aceh Besar masih bersifat umum, yaitu kg/ha Urea, kg/ha SP-36 dan 100 kg/ha KCl (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. NAD, 2003), sehingga pemupukan belum rasional dan belum berimbang. Sebagian petani menggunakan pupuk tertentu dengan dosis berlebihan dan sebagian lagi menggunakan pupuk dengan dosis yang lebih rendah dari kebutuhan tanaman sehingga produksi padi tidak optimal yang diakibatkan tidak seimbangnya hara dalam tanah. Pemupukan berimbang adalah pupuk yang diberikan untuk mencapai ketersediaan unsur hara essensial yang seimbang dan optimum, dimaksud untuk : Meningkatkan produktifitas dan mutu hasil tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, meningkatkan kesuburan tanah, dan menghindari pencemaran lingkungan. Pada penanaman kacang tanah dan jagung di lahan sawah yang terkena tsunami. Hasil penelitian Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan BPTP NAD, agar tanah dapat dipulihkan, maka merekomendasikan yaitu: Pemberian pupuk organic/pupuk kandang sebelum penanaman dengan dosis 3-6 ton per-ha, dan pembuatan drainase sedalam 30 cm akan membantu proses pencucian garam melalui hujan atau air irigasi. Makin banyak air yang diterima oleh tanah maka makin cepat pencucian terjadi. Hal. 10-4

194 Berdasarkan penelitian di beberapa lokasi di Kabupaten Aceh Besar dan peta status hara yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), maka disusunlah anjuran rekomendasi pemupukan N, P, dan K spesifik lokasi pada tanaman padi sawah menurut kecamatan seperti pada Tabel di bawah ini : Tabel 10.2 REKOMENDASI PEMUPUKAN N, P, DAN K PADA PADI SAWAH DI KABUPATEN ACEH BESAR Rekomendasi Pupuk (Kg/ha) Tanpa Bahan Dengan 5 ton Dengan 2 ton Pupuk Kecamatan Organik Jerami/ha Kandang/ha Urea SP-36 KCl Urea SP-36 KCl Urea SP-36 KCl Lhoong Lhoknga Leupung Mesjid Raya Kota Baro Ingin Jaya Darul Imarah Peukan Bada Sumber; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NAD 2006 Agar pemupukan dapat efisien dan produksi optimal maka rekomendasi pemupukan harus didasarkan kepada kebutuhan hara tanaman dan cadangan hara yang ada di tanah. Kebutuhan hara tanaman sangat beragam dan dinamis yang ditentukan oleh faktor genetik dan tekhnologi Agroekosistem Kedelai Kipas putih Kedelai Kipas Putih adalah salah satu varietas unggul kedelai yang pernah menjadi varietas primadona pada tahun delapan puluhan yang berasal dari varietas lokal Aceh. Dengan SK Mentan No.619/Kpts/TP.240/11/92 pada tanggal 3 November 1992 varietas tersebut dilepas. Dalam kurun waktu sampai tahun 2005 varietas ini telah mengalami penurunan peroduktifitas yang disebabkan oleh pengaruh negatif lingkungan, kurangnya perhatian petani, dan penangkar benih kedelai tentang kemurnian varietas tersebut. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa varietas kipas putih cocok ditanam baik dilahan sawah atau dilahan kering. Pada agroekosistem lahan kering spesifik lokasi di kebun percobaan Tanaman Pangan Lampineung tahun 2002, ternyata produktifitas kipas putih Hal. 10-5

195 dapat mencapai 2,02 ton/ha, tetapi temuan dilapangan menunjukan bahwa produktifitas kedelai kipas putih telah menurun.(1,19 ton/ha pada tahun 2003). Sejalan dengan hal tersebut, maka untuk keberlangsungan tersedianya benih kipas putih untuk kebutuhan petani, mutlak diperlukan upaya pemurnian kembali oleh Lembaga pembenihan didaerah, sebagai calon Benih Sumber yang akan diperbanyak oleh para penangkar di daerah sentra produksi kedelai. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultural Kabupaten Aceh Besar melalui Unit Pelaksana Teknik Daerah Balai Penyuluhan Pertanian (UPTD-BPP) menetapkan komoditi prioritas tanaman kedelai pada daerah-daerah : Indrapuri, Sukamakmur, Simpang Tiga, dan Kuta Malaka, dengan memperhatikan interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan tumbuhnya,maka produksi kedelai pada agrosistem ini akan berhasil Penanaman Pisang Cavendish Pengembangan budidaya pisang Cavendish di Kabupaten Aceh Besar terutama di Saree Kecamatan Lembah Selawah seluas 1000 ha, Pemda Aceh telah menandatangani Memorondum of Understanding (MoU) dengan Synergy Farm Penang Malaysia pada tanggal 17 September 2005 di Kota Jantho. Synergy Farm dan Pemda Kabupaten Aceh Besar akan bekerjasama dalam bidang pemasaran dan promosi produk pertanian baik lokal maupun global. Selanjutnya dari pelaksanaan penanaman pisang Cavendish di Saree tersebut pelaksanaan pengelolaannya akan diberikan kepada: Penggarap, mantan Anggota Gam, Korban konflik, keluarga miskin, pengangguran, dan pengungsi, yang masing-masing akan mendapatkan 1 ha per-kk Penanaman Kelapa Sawit Pertumbuhan tanaman kelapa sawit tidak memerlukan tanah dengan sifat kimia yang istimewa, sebab kekurangan unsur hara dapat diatasi dengan pemupukan. Walaupun demikian, tanah yang mengandung unsur hara dalam jumlah yang cukup sangat baik untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Kelapa sawit dapat tumbuh pada ph tanah antara 4,0-6,5 dengan ph optimum 5-5,5, Tanah yang memiliki ph rendah dapat diperbaiki dengan pengapuran. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada tanah yang memiliki kandungan unsur hara yang tinggi, dengan unsur C/N mendekati 10, sedangkan daya tukar Mg dan K berada pada batas Hal. 10-6

196 normal, Faktor pengelolaan budi daya atau agronomis dan sifat genetic tanaman juga sangat menentukan produktivitas kelapa sawit. Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah pada tanaman kelapa sawit adalah tekstur, struktur, konsistensi, kemiringan tanah, permeabilitas, ketebalan lapisan tanah, dan kedalaman permukaan air tanah. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada tanah gembur, berdrainase baik, permeabilitas sedang, dan mempunyai solum yang tebal sekitar 80 cm tanpa lapisan cadas, tekstur tanah ringan dengan kandungan pasir 20-60%, debu 10-40%, dan liat 20-50%. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal (lihat Tabel). Tabel 10.3 Kondisi Fisik Lahan untuk Kelapa Sawit. Faktor pembatas Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV 1. Tinggi tempat (m dpl) Iklim; Curah hujan (mm/thn.) Defisit Air (mm/thn) Lama Penyinaran (jam/hr.) Kelembaban (%) Kecepatan Angin 3. Bentuk wilayah; Lereng (%) Rawa Penggenangan Drainase Pengaruh Pasang surut 4. Tanah ; Erosi Permukaan Ketebalan Solum (cm) Kand. Bhn.Organik (%) Tekstur Cadas dan Perakaran Kedalamam Air ph Tanah Sumber : BPTP NAD Lemah-sedang 0-15 Tidak ada Tidak ada Baik Tidak Ada Tidak ada Lempung,Liat Dalam Lemah-sedang Tidak ada Tidak ada Baik Tidak Ada Tidak ada Liat berpasir Dalam Lemah-sedang Tidak ada Tidak ada Baik Tidak Ada Tidak ada Pasir berlempung Dalam Lemah-sedang 36 Tidak ada Tidak ada Baik Tidak Ada Tidak ada 60 5 pasir Dalam Hasil Hutan Non Kayu. Prospek pemanfaatan hasil hutan masih sangat besar terutama di Kabupaten Aceh Besar. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu telah dikenal masyarakat Kabupaten Aceh Besar secara Hal. 10-7

197 turun-temurun, mulai untuk konsumsi sampi obat-obatan, mulai dari peralatan dapur sampai perabotan rumah tangga, dapat dihasilkan dari hasil hutan non kayu tersebut. Beberapa hasil hutan non-kayu yang dapat diinventarisir oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Besar antara lain : berbagai jenis rotan, berbagai jenis bambu, tanaman nipah, damar, minyak atsiri, sarang burung, madu, kulit kayu dan sebagainya. Rotan; merupakan kelompok jenis tumbuhan hutan dari suku palmae, dikenal 16 genus/marga rotan yang terdiri dari 516 jenis. Jenis yang dikenal di Kabupaten Aceh Besar antara lain dari keluarga Calamus, Daemonorop dan Ceratolobos. Rotan bagi Kabupaten Aceh Besar merupakan hasil hutan non kayu yang penting. Bambu; merupakan tumbuhan yang akan dapat memberikan sumbangan dalam penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan daerah serta perolehan devisa negara, karenanya pemanfaatan bambu sebagai bahan baku kerajinan tangan, perkakas rumah tangga, alat musik, sudah sejak lama dikenal masyarakat dan terbukanya industri yang menggunakan bahan baku bambu seperti kertas, pabrik chopstik/tusuk gigi semakin besar permintaan bahan baku dari bambu. Sampai saat ini data potensi hutan alam seluruh Kabupaten Aceh Besar balum banyak diketahui sehingga pemanfaatannya mengalami hambatan. Nipah; Tanaman Nipah termasuk dalam keluarga palmae dengan sebaran tempat tumbuh pada kawasan hutan payau dipengaruhi oleh kondisi pasang surut. Manfaat nipah beragam dan hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan antara lain : - Daunnya digunakan untuk atap, anyaman, pembuatan rokok dan penggunaan tradisional lainnya. - Buah digunakan sebagian bahan makanan dan manisan. - Nira digunakan untuk bahan pembuatan minuman, gula, alkohol, cuka dan lain-lain. Getah; Merupakan hasil hutan yang diperoleh dengan cara menyadap dari pohon, macam getah dapat dikelompokkan berdasarkan asal getah didapatkannya terdiri dari getah jelutung, getah karet hutan, dan getah pinus. Manfaat dari getah ini untuk bahan baku industri kimia, industri ban, industri parfum, dan lain-lain. Hal. 10-8

198 Damar; Merupakan hasil hutan yang diperoleh dengan cara menyuling dari batang kayu, menyuling daun atau ranting serta akar pohon diambil dari hutan, dapat dikelompokkan berdasarkan macamnya yaitu minyak kenanga, minyak sereh, minyak akar wangi, minyak lawang, minyak kayu putih, minyak keruing. Biji atau Buah; Merupakan hasil hutan yang didapat dari buah pohon yang terdapat dalam biji tengkawang, biji kemiri, biji kenari dan lain-lain. Dipergunakan untuk keperluan kosmetik parfum, kebutuhan bumbu masak dan lain-lain. Sarang Burung; Merupakan hasil buatan dari sarang burung walet yang tersarang di gua berbatu yang biasanya dekat dengan pantai. Proses sarang burung dibuat dari air liru burung walet putih dan walet hitam. Dipergunakan untuk proses obat-obatan, kosmetik dan campuran untuk pembuatan parfum. Kulit Kayu; Merupakan hasil hutan yang didapatkan dari kulit kayu untuk dipergunakan sebagai penyamak kulit binatang, bahan campuran obat-obatan dan lain-lain, terdiri dari berbagai jenis kulit kayu acacia, bakau, kalapari, gelam, kayo salaro, kayu lawang, dan kayu manis. Madu Tawon/Lebah; Merupakan hasil hutan yang didapatkan dari sarang tawon di hutan, madu ini berasal dari tumpukan/persediaan makanan bagi lebah pada musim pohon tidak berbunga. Memiliki berbagai macam manfaat untuk pengobatan seperti penyakit radang tenggorokan, ginjal, jantung, lever dan merangsang saraf yang lemah; selain diminum untuk bobat madu juga berguna sebagai mascara; menggurihkan rasa daging dengan cara mengoleskan madu pada daging sebelum direbus. Secara lebih jelasnya mengenai rekomendasi pengembangan produk pertanian, perkebunan dan kehutanan diuraikan sebagai berikut : 1) Untuk meningkatkan produktifitas lahan pertanian tanaman pangan maupun holtikultura yang kerusakan lahan diakibatkan bencana tsunami, bagian yang terpenting mutlak dilakukan adalah usaha menurunkan kadar garam dalam tanah, agar supaya tidak merusak tanaman yang diakibatkan oleh salinitas yang tinggi. Jika sumber-sumbernya tersedia dapat dilakukan dengan reklamasi tanah, atau Hal. 10-9

199 dengan cara membuat drainase sedalam 30 cm akan membantu proses pencucian garam melalui hujan atau air irigasi. 2) Agar penerapan intensifikasi pertanian berjalan dengan baik, maka penggunaan pupuk dan peptisida sesuai dengan rekomendasi yang telah diatur, serta penggunaan bibit/benih bermutu tinggi mutlak dilaksanakan. Namun demikian mengingat kemampuan petani dalam menyediakan modal sangat terbatas, maka untuk mendapatkan sarana produksi pertanian sesuai dengan yang diusulkan, sangat diharapkan bantuan dari pemerintah. 3) Dalam penggunaan pestisida, sebaiknya petani mendapat bimbingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dalam mencampur, menggunakan dosis, dan waktu yang tepat untuk pengendalian hama, penyakit, dan gulma, sehingga diperoleh hasil yang diharapkan 4) Agar penyerapan hara tanaman dan pertumbuhan tanaman optimal, maka disarankan pada saat pengolahan tanah diberi pupuk organik atau pupuk kandang sebelum penanaman dengan dosis 3-6 ton per-ha. Karena tanpa terlebih dahulu diberi perlakukan tersebut, pupuk anorganik seperti Urea, SP-36, dan KCl tidak akan terserap secara optimal oleh tanaman karena terikat oleh Alumunium (Al) dan Besi (Fe), dimana unsur Al dan Fe merupakan unsur utama penyebab tingginya kemasaman tanah. 5) Untuk meningkatkan produktivitas dan produksi suatu komoditi, maka perlunya usaha mengembangkan penangkar benih yang dapat dilakukan dengan program kegiatan mempermudah tersedianya benih sumber dari verietas unggul yang spesifik lokasi, dengan mengadakan kegiatan pengkajian uji adatif beberapa varietas padi, jagung, atau kedelai unggul baru pada suatu agroekosistem spesifik. Karena dengan tersedianya benih sumber yang unggul dan spesifik, maka petani dapat melakukan penangkaran baik secara pribadi maupun kelompok guna mencukupi kebutuhan benih unggul yang berkwalitas untuk suatu usaha tani di Kabupaten Aceh Besar. 6) Perlunya pengembalian kejayaan yang pernah diraih oleh kedelai varietas kipas putih, yang merupakan komoditas andalan di Propinsi NAD khususnya dan Kabupaten Aceh Besar Pada umumnya. Dengan cara mengembangkan benih murni dari kipas putih untuk mendapatkan benih dasar, selanjutnya pengembangan oleh Hal

200 penangkar untuk mendapatkan benih stock dan benih sebar guna memenuhi kebutuhan petani akan benih kedelai yang berkualitas. Rantai kegiatan ini diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak. 7) Program Penanaman Pisang Cavendish kiranya perlu diperluas, tidak hanya di Saree Kecamatan Lembah Selawah, tetapi perlunya penyebaran di kecamatankecamatan lainnya di Kabupaten Aceh Besar, dengan memperhitungkan kelayakan tanam. Kegiatan ini dengan hasil yang didapat, akan membantu dalam pemberantasan keluarga miskin, pengangguran, dan pengungsi yang kehilangan pekerjaan. 8) Merealisasikan kembali program pengembangan kelapa sawit yang mana pernah dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Besar pada tahun 2004 di Kecamatan Kota Jantho seluas 600 ha dari 1000 ha yang ditargetkan. Program ini dapat diperluas kesetiap kecamatan di Kabupaten Aceh Besar dengan memperhatikan tataguna tanah dan kesesuaian lahan. Sehingga di tahun-tahun mendatang kelapa sawit dapat menjadi komoditas andalan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Aceh Besar. Selain Kelapa sawit yang dapat dikembangkan menjadi komoditas andalan adalah ; kakao, lada, dan cengkeh. 9) Peningkatan pemanfaatan hasil hutan non kayu memberikan sumbangan dalam penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan daerah serta perolehan devisa negara, karena di Kabupaten Aceh Besar hasil hutan non kayu merupakan prospek yang sangat besar yang selama ini pemanfaatannya sudah dikenal masyarakat Kabupaten Aceh Besar secara turun temurun, mulai dari konsumsi sampai obat-obatan, mulai dari peralatan dapur sampai perabotan rumah tangga. Beberapa hasil hutan non kayu yang telah diinventarisir oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Besar antara lain: berbagai jenis rotan, berbagai jenis bambu, tanaman nipah, damar, minyak atsiri, sarang burung, madu, kulit kayu dan sebagainya. 10) Dalam pengembangan teknologi pertanian hendaknya selalu melibatkan masyarakat dengan melalui proses pendekatan partisipatif. Karena masyarakat akan merasa membutuhkan teknologi tersebut, dengan demikian manfaat teknologi terhadap kehidupan petani pengguna dapat dinikmati secara langsung. Jadi hanya teknologi yang dikembangkan bersama-sama masyarakat saja yang akan berlanjut, Hal

201 sebaliknya teknologi yang tidak melibatkan masyarakat sebagai pelaku, cepat atau lambat akan ditinggalkan. 11) Penanaman Bawang Merah varietas Tiron dapat meningkatkan produktifitas lahan pertanian, dan penyediaan lapangan pekerjaan, serta peningkatan pendapatan daerah di Kabupaten Aceh Besar. Untuk dapat tumbuh dan produksi maksimal, bawang merah tiron membutuhkan keadaan ekologi tumbuh yang baik dan verietas unggul, dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut : Bawang merah tiron cocok pada ketinggian m dpl. Pada musim hujan tiron sangat cocok ditanam pada lahan berpasir seperti tepi pantai. Tiron resisten penyakit bercak daun akibat serangan Alternaria sp. Lahan 1000 m2, tiron memerlukan 20 kg Urea, 15 kg KCl, 10 kg ZA, dan 15 kg TSP. 12) Mendukung program AVRDC dalam membantu pengembangan sayuran untuk korban tsunami yang bekerjasama dengan ACIAR Australia dan BPTP NAD, pada tahun Kabupaten Aceh Besar termasuk salah satu sasaran lokasinya. Jenis sayuran yang akan dikembangkan antara lain ; Tomat, timun, cabai merah, kol bunga, bawang merah dan terong. Kegiatan ini bertujuan adalah untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dan training dengan melatih cara-cara budidaya sayuran dan penelitian partisipasif bagi petani dalam upaya meningkatkan produksi sayuran. Suatu harapan yang ingin dicapai dari program pengembangan sayuran tersebut adalah dapat menambah pendapatan keluarga terutama para korban tsunami. 13) Untuk mendobrak perekonomian rakyat di Kabupaten Aceh Besar perlunya memikirkan pengembangan potensi laut dan perairan dalam hal pengembangan industri rumput laut. Sebenarnya pengolahan rumput laut di Kabupaten Aceh Besar sudah lama digeluti oleh masyarakat, namun pengolahan ini masih tergolong relatif rendah dari produksinya maupun luas lahan garapan. Hal ini disebabkan pemanfaatan dan pemasarannya masih tergolong langka. Daerah potensi usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Aceh Besar terdapat di Kecamatan Pulo Aceh dan Leupung. Hal

202 14) Untuk program pengembangan jaringan jalan kabupaten pada ruas jalan Kota Jantho Kemala Tangse - Meulaboh (aceh Barat) dan ruas jalan Nasional Kota Jantho-Cucum-Lamno (Aceh Jaya) sebaiknya harus disertai dengan studi AMDAL jalan. Mengingiat pada ruas jalan tersebut melintasi Cagar Alam Jantho pada ruas jalan Kota Jantho Keumala serta ruas Kota Jantho-Cucum-Lamno melintasi kawasan Hutan Lindung. Hal

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006 KATA PENGANTAR Untuk mencapai pembangunan yang lebih terarah dan terpadu guna meningkatkan pembangunan melalui pemanfaatan sumberdaya secara maksimal, efektif dan efisien perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB 2 KETENTUAN UMUM

BAB 2 KETENTUAN UMUM BAB 2 KETENTUAN UMUM 2.1 PENGERTIAN-PENGERTIAN Pengertian-pengertian dasar yang digunakan dalam penataan ruang dan dijelaskan di bawah ini meliputi ruang, tata ruang, penataan ruang, rencana tata ruang,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS KATA PENGANTAR Sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 11 ayat (2), mengamanatkan pemerintah daerah kabupaten berwenang dalam melaksanakan penataan ruang wilayah kabupaten

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 52 TAHUN 2001 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 52 TAHUN 2001 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 52 TAHUN 2001 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

20. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3445 Tahun 1991);

20. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3445 Tahun 1991); RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR : 1 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan

Lebih terperinci

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan.... DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Gambar Daftar Grafik i ii vii viii Bab I Pendahuluan. 1.1. Dasar Hukum..... 1.2. Profil Wilayah Kabupaten Sijunjung... 1.2.1 Kondisi Fisik

Lebih terperinci

Bab II. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi 2.1 TUJUAN PENATAAN RUANG Tinjauan Penataan Ruang Nasional

Bab II. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi 2.1 TUJUAN PENATAAN RUANG Tinjauan Penataan Ruang Nasional Bab II Tujuan, Kebijakan, dan Strategi 2.1 TUJUAN PENATAAN RUANG 2.1.1 Tinjauan Penataan Ruang Nasional Tujuan Umum Penataan Ruang; sesuai dengan amanah UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 tujuan penataan

Lebih terperinci

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP LAMPIRAN II PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN PROVINSI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

STRATEGI UMUM DAN STRATEGI IMPLEMENTASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG

STRATEGI UMUM DAN STRATEGI IMPLEMENTASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG STRATEGI UMUM DAN STRATEGI IMPLEMENTASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

Pangkalanbalai, Oktober 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuasin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal

Pangkalanbalai, Oktober 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuasin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuasin Tahun 2012 2032merupakan suatu rencana yang disusun sebagai arahan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Banyuasin untuk periode jangka panjang 20

Lebih terperinci

I. Permasalahan yang Dihadapi

I. Permasalahan yang Dihadapi BAB 34 REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI DI WILAYAH PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DAN KEPULAUAN NIAS PROVINSI SUMATRA UTARA, SERTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN PROVINSI JAWA TENGAH I. Permasalahan

Lebih terperinci

BAB 5 RTRW KABUPATEN

BAB 5 RTRW KABUPATEN BAB 5 RTRW KABUPATEN Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten terdiri dari: 1. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang; 2. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung dan Budidaya; 3. Rencana Pengelolaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI, KABUPATEN, DAN KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemanfaatan ruang wilayah nasional

Lebih terperinci

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Copyright (C) 2000 BPHN UU 7/2004, SUMBER DAYA AIR *14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN KATA PENGANTAR Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, mengamanatkan bahwa RTRW Kabupaten harus menyesuaikan dengan Undang-undang tersebut paling lambat 3 tahun setelah diberlakukan.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN 2002-2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN 2002-2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PENINJAUAN

Lebih terperinci

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran apa yang ingin dicapai Kota Surabaya pada akhir periode kepemimpinan walikota dan wakil walikota terpilih, yaitu: V.1

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ruang wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI 2.1. Tujuan Penataan Ruang Kota Bengkulu Tujuan penataan ruang wilayah kota dirumuskan berdasarkan: 1) visi dan misi pembangunan wilayah kota; 2) karakteristik wilayah kota;

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

L E M B A R A N D A E R A H

L E M B A R A N D A E R A H L E M B A R A N D A E R A H KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN TAHUN 2004 NOMOR 1 SERI E NO. SERI 1 P E R A T U R A N D A E R A H KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan,

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan, pencemaran, dan pemulihan kualitas lingkungan. Hal tersebut telah menuntut dikembangkannya berbagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB II KETENTUAN UMUM

BAB II KETENTUAN UMUM BAB II KETENTUAN UMUM 2.1. Pengertian Umum Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BENER MERIAH

PEMERINTAH KABUPATEN BENER MERIAH PEMERINTAH KABUPATEN BENER MERIAH QANUN KABUPATEN BENER MERIAH NOMOR : 13 TAHUN 2006 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH ( RTRW ) KABUPATEN BENER MERIAH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI BENER

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan

Lebih terperinci

Gambar 1. Kedudukan RD Pembangunan DPP, KSPP, KPPP dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan RIPPARNAS RIPPARPROV

Gambar 1. Kedudukan RD Pembangunan DPP, KSPP, KPPP dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan RIPPARNAS RIPPARPROV LAMPIRAN I PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN PROVINSI

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR : 1 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR : 1 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR : 1 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN 2012-2032 1. PENJELASAN UMUM Lahirnya Undang-Undang Penataan Ruang nomor

Lebih terperinci

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) IBUKOTA KECAMATAN TALANG KELAPA DAN SEKITARNYA

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) IBUKOTA KECAMATAN TALANG KELAPA DAN SEKITARNYA 1.1 LATAR BELAKANG Proses perkembangan suatu kota ataupun wilayah merupakan implikasi dari dinamika kegiatan sosial ekonomi penduduk setempat, serta adanya pengaruh dari luar (eksternal) dari daerah sekitar.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga Naskah Akademis untuk kegiatan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan dapat terselesaikan dengan baik

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1490, 2014 KEMENPERA. Perumahan. Kawasan Pemukiman. Daerah. Pembangunan. Pengembangan. Rencana. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 97 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA STRATEGIS WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL TAHUN

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 97 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA STRATEGIS WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL TAHUN GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 97 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA STRATEGIS WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL TAHUN 2011-2030 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan

Lebih terperinci

Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016

Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016 Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi Jambi, 31 Mei 2016 SUMBER PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA 1. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jambi pada Februari 2015 sebesar 4,66

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG:

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG: MATERI 1. Pengertian tata ruang 2. Latar belakang penataan ruang 3. Definisi dan Tujuan penataan ruang 4. Substansi UU PenataanRuang 5. Dasar Kebijakan penataan ruang 6. Hal hal pokok yang diatur dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN 5.1 Visi 2014-2018 adalah : Visi pembangunan Kabupaten Bondowoso tahun 2014-2018 TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN 2011 2031 I. UMUM Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas yang meliputi

Lebih terperinci

oleh para pelaku pembangunan dalam mengembangkan Kabupaten Pacitan.

oleh para pelaku pembangunan dalam mengembangkan Kabupaten Pacitan. 1.1 LATAR BELAKANG Kabupaten Pacitan merupakan bagian dari Koridor Tengah di Pantai Selatan Jawa yang wilayahnya membentang sepanjang pantai Selatan Pulau Jawa. Berdasarkan sistem ekonomi, geokultural

Lebih terperinci

P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU

P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU I. UMUM Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD 3.1.1 Permasalahan Infrastruktur Jalan dan Sumber Daya Air Beberapa permasalahan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN 2011 2031 UMUM Ruang wilayah Kabupaten Karawang dengan keanekaragaman

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undangundang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang perlu

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG Misi untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman dan berkualitas tinggi merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sumberdaya manusia yang

Lebih terperinci

FORMAT SURAT KEPUTUSAN MENTERI, KEPUTUSAN GUBERNUR, DAN KEPUTUSAN BUPATI/WALIKOTA TENTANG PENETAPAN PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI

FORMAT SURAT KEPUTUSAN MENTERI, KEPUTUSAN GUBERNUR, DAN KEPUTUSAN BUPATI/WALIKOTA TENTANG PENETAPAN PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG WILAYAH FORMAT SURAT KEPUTUSAN MENTERI,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SIAK SRI INDRAPURA KABUPATEN SIAK TAHUN 2002-2011 I. PENJELASAN UMUM Pertumbuhan penduduk menyebabkan

Lebih terperinci

2.1. TUJUAN PENATAAN RUANG WILAYAH KOTA BANDA ACEH

2.1. TUJUAN PENATAAN RUANG WILAYAH KOTA BANDA ACEH 2.1. TUJUAN PENATAAN RUANG WILAYAH KOTA BANDA ACEH Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Banda Aceh dirumuskan untuk mengatasi permasalahan tata ruang dan sekaligus memanfaatkan potensi yang dimiliki, serta

Lebih terperinci

Rencana Tata Ruang Wilayah kota yang mengatur Rencana Struktur dan

Rencana Tata Ruang Wilayah kota yang mengatur Rencana Struktur dan RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA BANJARMASIN 2013-2032 APA ITU RTRW...? Rencana Tata Ruang Wilayah kota yang mengatur Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah Kota DEFINISI : Ruang : wadah yg meliputi

Lebih terperinci

Ketentuan Umum Istilah dan Definisi

Ketentuan Umum Istilah dan Definisi Ketentuan Umum 2.1. Istilah dan Definisi Penyusunan RDTR menggunakan istilah dan definisi yang spesifik digunakan di dalam rencana tata ruang. Berikut adalah daftar istilah dan definisinya: 1) Ruang adalah

Lebih terperinci

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin 2.1 Tujuan Penataan Ruang Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun). Dengan mempertimbangkan visi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES Nomor : 21 Tahun : 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BREBES, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 VISI Dalam periode Tahun 2013-2018, Visi Pembangunan adalah Terwujudnya yang Sejahtera, Berkeadilan, Mandiri, Berwawasan Lingkungan dan Berakhlak Mulia. Sehingga

Lebih terperinci

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG Menggantikan UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman

Lebih terperinci

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG Menggantikan UU No. 24 Tahun 1992 gg Tentang Penataan Ruang 1 Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi, BAB VI. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 15 2002 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 4 TAHUN 2002 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN GARUT DENGAN MENGHARAP BERKAT DAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU

Lebih terperinci

Lokasi Sumber Dana Instansi Pelaksana. APBD Prov. APBD Kab.

Lokasi Sumber Dana Instansi Pelaksana. APBD Prov. APBD Kab. LAMPIRAN IV PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOALEMO NOMOR : 3 TAHUN 2012 TANGGAL : 11 SEPTEMBER 2012 TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BOALEMO TAHUN 2011-2031 I. RENCANA STRUKTUR RUANG No Rencana

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG 2.1 TUJUAN PENATAAN RUANG Rencana Tata Ruang Wilayah diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan pembangunan di berbagai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA KAWASAN INDUSTRI

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA KAWASAN INDUSTRI PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA KAWASAN INDUSTRI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN MAGELANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG Menimbang : a. bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TERMINAL BANDAR UDARA SULTAN ISKANDAR MUDA NANGGROE ACEH DARUSSALAM (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR RENZO PIANO)

PENGEMBANGAN TERMINAL BANDAR UDARA SULTAN ISKANDAR MUDA NANGGROE ACEH DARUSSALAM (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR RENZO PIANO) LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN TERMINAL BANDAR UDARA SULTAN ISKANDAR MUDA NANGGROE ACEH DARUSSALAM (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR RENZO PIANO) Diajukan untuk memenuhi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK 2012-2032 BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH

BAB 4 ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH BAB 4 ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH Perencanaan dan implementasi pelaksanaan rencana pembangunan kota tahun 2011-2015 akan dipengaruhi oleh lingkungan strategis yang diperkirakan akan terjadi dalam 5 (lima)

Lebih terperinci

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1 LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1 LAMPIRAN II CONTOH PETA RENCANA POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 2 LAMPIRAN III CONTOH PETA PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN L

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 12 TAHUN 2005 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG RENCANA UMUM TATA RUANG IBU KOTA KABUPATEN LEBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1996 TENTANG PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN, SERTA BENTUK DAN TATA CARA PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAPPEDA KAB. LAMONGAN

BAPPEDA KAB. LAMONGAN BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1 Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Untuk Masing masing Misi Arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Lamongan tahun

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menyelenggarakan otonomi,

Lebih terperinci

MATRIKS 2.2.B ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2011 PRAKIRAAN PENCAPAIAN TAHUN 2010 RENCANA TAHUN 2010

MATRIKS 2.2.B ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2011 PRAKIRAAN PENCAPAIAN TAHUN 2010 RENCANA TAHUN 2010 MATRIKS 2.2.B ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN BIDANG: WILAYAH DAN TATA RUANG (dalam miliar rupiah) PRIORITAS/ KEGIATAN PRIORITAS 2012 2013 2014 I PRIORITAS BIDANG PEMBANGUNAN DATA DAN INFORMASI SPASIAL A

Lebih terperinci

Rencana Struktur Tata Ruang Kawasan Perkotaan Metropolitan. Skala peta = 1: Jangka waktu perencanaan = 20 tahun

Rencana Struktur Tata Ruang Kawasan Perkotaan Metropolitan. Skala peta = 1: Jangka waktu perencanaan = 20 tahun Rencana Struktur Tata Ruang Kawasan Perkotaan Metropolitan Skala peta = 1: 100.000 Jangka waktu perencanaan = 20 tahun Fungsi : Menciptakan keserasian pembangunan kota inti dengan Kawasan Perkotaan sekitar

Lebih terperinci

BAB V VISI DAN MISI RPJMD KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN

BAB V VISI DAN MISI RPJMD KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN BAB V VISI DAN MISI Secara Nasional, isu strategis yang telah dirumuskan pada RPJM nasionaldalam sembilan agenda prioritas dan dikenal dengan Nawa Cita adalah sebagai berikut: 1. Menghadirkan kembali Negara

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SINGKAWANG TAHUN 2013-2032 I. UMUM Ruang yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara,

Lebih terperinci