BAB II. LANDASAN TEORI
|
|
|
- Teguh Agusalim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II. LANDASAN TEORI 2.1. Framework Framework adalah sebuah cetak biru (blueprint) yang menjelaskan bagaimana elemen TI dan manajemen informasi bekerjasama sebagai satu kesatuan. Framework TOGAF membagi empat bagian dalam pengembangan arsitektur. Pengembangan sistem dimulai dari mendefinisikan arsitektur bisnis yang ada dalam organisasi, mendefinisikan arsitektur data yang akan digunakan, mendefinisikan arsitektur aplikasi yang akan dibangun serta mendefinisikan arsitektur teknologi (Minoli, 2008). Arsitektur merupakan satu praktek manajemen untuk memaksimalkan kontribusi dari sumber daya perusahaan, investasi TI, dan aktivitas pembangunan sistem untuk mencapai tujuan kinerjanya. Untuk mencapai misi organisasi melalui kinerja optimal dari proses bisnis dengan efisiensi lingkungan TI maka penerapan Framework harus dimasukkan kedalam roadmap dari perusahaan. Arsitektur sistem terintegrasi TI menyediakan konteks strategis bagi evolusi sistem TI dalam menanggapi kebutuhan yang terus berubah dilingkungan bisnis. Arsitektur harus sejalan dengan TI dan bisnis. Hal ini memungkinkan unit bisnis untuk berinovasi mencapai keunggulan kompetitif, secara bersamaan, mendorong sinergi di seluruh unit bisnis perusahaan.keuntungan dari arsitektur perusahaan yang baik adalah: a. Operasi TI lebih efisien. b. Investasi yang menguntungkan. 5
2 6 c. Mengurangi risiko dalam hal penyimpangan terhadap aturan. d. Lebih cepat, sederhana, dan operasi bisnis lebih efisien. Berikut perbandingan dari keempat framework yang umum dan baik digunakan pada organisasi enterprise, berikut adalah beberapa framework tersebut : Zachman Framework Merupakan framework Enterprise Architecture, dimana framework tersebut memberikan sebuah cara formal dan sangat terstruktur untuk melihat dan mendefinisikan sebuah enterprise. Framework tersebut berisikan matrik klasifikasi 2 dimensional berdasarkan pada interseksi dari 6 pertanyaan komunikasi ( What, Where, When, Why, Who, dan How ). Seperti Tabel dibawah ini : Gambar 2. 1 Framework Zachman (Session, 2013)
3 7 Framework Zachman merupakan skema untuk mengorganisir artifak arsitektur ( dengan kata lain, desain dokumen, spesifikasi, dan model ) dimana dibagi menjadi target arfifak ( contoh, pemilik bisnis dan pembangunan ) dan beberapa isu ( contoh, data dan fungsionalitas ) TOGAF (The Open Group Architecture Framework) Merupakan sebuah framework untuk arsitektur enterprise dimana menyediakan pendekatan secara komprehensif untuk mendesain, merencanakan, mengimplementasi dan melakukan kontrol dengan otoritas pada sebuah informasi arsitektur enterprise. TOGAF dikembangkan oleh The Open Group s Architecture Framework pada tahun Awalnya TOGAF digunakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat namun pada perkembangannya TOGAF banyak digunakan pada berbagai bidang seperti perbankan, industri manufaktur dan juga pendidikan. TOGAF ini digunakan untuk mengembangkan Enterprise Architecture, dimana terdapat metode dan tools yang detail untuk mengimplementasikannya, hal inilah yang membedakan dengan Framework EA (Enterprise Architecture) lain misalnya Framework Zachman. Salah satu kelebihan menggunakan Framework TOGAF ini adalah karena sifatnya yang fleksibel dan bersifat open source.togaf memberikan metode yang detail bagaimana membangun dan mengelola serta mengimplementasikan arsitektur enterprise dan sistem informasi yang disebut dengan Architecture Development Method (ADM)(Harrison, 2009). ADM merupakan metode generik yang berisikan sekumpulan aktivitas yang digunakan dalam memodelkan pengembangan arsitektur enterprise. Metode ini juga dibisa digunakan sebagai panduan atau alat untuk merencanakan,
4 8 merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan arsitektur sistem informasi untuk organisasi (Yunis & Surendro, 2009). TOGAF ADM juga merupakan metode yang fleksibel yang dapat mengantisipasi berbagai macam teknik pemodelan yang digunakan dalam perancangan, karena metode ini bisa disesuaikan dengan perubahan dan kebutuhan selama perancangan dilakukan. TOGAF ADM juga menyatakan visi dan prinsip yang jelas tentang bagaimana melakukan pengembangan arsitektur enterprise, prinsip tersebut digunakan sebagai ukuran dalam menilai keberhasilan dari pengembangan arsitektur enterprise oleh organisasi (Harrison, 2009).prinsipprinisip tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Prinsip Enterprise Pengembangan arsitekturyang dilakukan diharapkan mendukung seluruh bagian organisasi, termasuk unit-unit organisasi yang membutuhkan. b. Prinsip Teknologi Informasi (TI) Lebih mengarahkan konsistensi penggunaan TI pada seluruh bagian organisasi, termasuk unit- unit organisasi yang akan menggunakan. c. Prinsip Arsitektur Merancang arsitektur sistem berdasarkan kebutuhan proses bisnis dan bagaimana mengimplementasikannya. Langkah awal yang perlu diperhatikan pada saat mengimplementasikan TOGAF ADM adalah mendefinisikan persiapan-persiapan yaitu dengan cara mengidentifikasi konteks arsitektur yang akan dikembangkan, kedua adalah mendefenisikan strategi dari arsitektur dan menetapkan bagian- bagian arsitektur yang akan dirancang, yaitu mulai dari arsitektur bisnis, arsitektur sistem
5 9 informasi, arsitektur teknologi, serta menetapkan kemampuan dari arsitektur yang akan dirancang dan dikembangkan The Open Group Architecture Framework (TOGAF) Berikut gambaran tahapan tentang TOGAF ADM. Gambar 2.1 Fase Architecture Devopment Method (Harrison, 2009:89) Togaf adalah pendekatan secara holistic untuk mendesain, dimana biasanya dimodelkan dengan 4 tingkat yaitu : bisnis, aplikasi, data dan teknologi. Hal tersebut memberikan kelayakan secara menyeluruh sebagai model awal yang dipergunakan sebagai informasi arsitek, yang dapat dibangun nantinya. Merupakan modularisasi, standarisasi dan telah tersedia, perbaikan teknologi dan produk. Tahapan dari TOGAF ADM secara ringkas bisa dijelaskan sebagai berikut:
6 10 a. Architecture Vision Menciptakan keseragaman pandangan mengenai pentingnya arsitektur enterprise untuk mencapai tujuan organisasi yang dirumuskan dalam bentuk strategi serta menentukan lingkup dari arsitektur yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mendapatkan arsitektur yang ideal. b. Business Architecture Mendefinisikan kondisi awal arsitektur bisnis, menentukan model bisnis atau aktivitas bisnis yang diinginkan berdasarkan skenario bisnis. Pada tahap ini tools dan metode umum untuk pemodelan seperti: BPMN (Business Processing Modelling Notation), IDEF (Integration Definition Function) dan UML (Unified Modeling Language) bisa digunakan untuk membangun model yang diperlukan. c. Information System Architecture Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitekur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses dan layanan. Pada arsitektur aplikasi lebih menekan pada bagaimana kebutuhan aplikasi direncanakan dengan menggunakan Application Portfolio Catalog, serta menitik beratkan pada model aplikasi yang akan dirancang. Teknik yang bisa digunakan meliputi: Application Communication Diagram, Application and User Location Diagram dan lainnya. d. Technology Architecture Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan
7 11 jenis kandidat teknologi yang diperlukan dengan menggunakan Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif- alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi.teknik yang digunakan meliputi Environment and Location Diagram, Network Computing Diagram, dan lainnya. e. Opportunities and Solution Pada tahapan ini lebih menekan pada manfaat yang diperoleh dari arsitektur enterprise yang meliputi arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi, sehingga menjadi dasar bagi stakeholder untuk memilih dan menentukan arsitektur yang akan diimplementasikan. Untuk memodelkan tahapan ini dalam rancangan bisa menggunakan teknik Project Context Diagram dan Benefit Diagram. f. Migration Planning Pada tahapan ini akan dilakukan penilaian dalam menentukan rencana migrasi dari suatu sistem informasi. Biasanya pada tahapan ini untuk pemodelannya menggunakaan matrik penilaian dan keputusan terhadap kebutuhan utama dan pendukung dalam organisasi terhadap impelemtasi sistem informasi g. Implementation Governance Menyusun rekomendasi untuk pelaksanaan tatakelola implementasi yang sudah dilakukan, tatakelola yang dilakukan meliputi tatakelola organisasi, tatakelola teknologi informasi, dan tatakelola arsitektur. Pemetaaan dari tahapan ini bisa juga dipadukan dengan framework yang digunakan untuk tatakelola seperti COBITS dari IT Governance Institute (ITGI) (Harrison, 2009)
8 12 fase ini mencakup pengawasan terhadap implementasi arsitektur. Tujuan dari fase ini adalah : Untuk merumuskan rekomendasi dari tiap-tiap proyek implementasi Membangun kontrak arsitektur untuk memerintah proses deployment dan implementasi secara keseluruhan Melaksanakan fungsi pengawasan secara tepat selagi sistem sedang diimplementasikan dan dideploy Menjamin kecocokan dengan arsitektur yang didefinisikan oleh proyek implementasi dan proyek lainnya. h. Arcitecture Change Management Menetapkan rencana manajemen arsitektur dari sistem yang baru dengan cara melakukan pengawasan terhadap perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan organisasi, baik internal maupun eksternal serta menentukan apakah akan dilakukan siklus pengembangan arsitektur enterprise berikutnya. TOGAF secara umum memiliki struktur dankomponen sebagai berikut : a. Architecture Development Method (ADM) Merupakan bagian utama dari TOGAF yang memberikan gambaran rinci bagaimana menentukan sebuah Architecture secara spesifik berdasarkan kebutuhan bisnisnya. b. Foundation Architecture (Enterprise Continuum) Foundation Architecture merupakan sebuah Framework-within-a- Framework dimana didalamnya tersedia gambaran hubungan untuk pengumpulan arsitektur yang relevan, juga menyediakan bantuan petunjuk pada saat terjadinya perpindahan abstraksi level yang berbeda. Foundation
9 13 Architecture dapat dikumpulkan melalui ADM.Terdapat tiga bagian pada foundation architecture yaitu Technical Reference Model, Standard Information dan Building Block Information Base c. Resource Base Pada bagian ini terdapat informasi mengenai guidelines, templates, checklists, latar belakang informasi dan detil material pendukung yang membantu arsitek didalam penggunaan ADM Federan Enterprise Architecture (FEA) Merupakan sebuah Arsitektur Enterprise dari Federal Government. FEA menyedikan methodology umum untuk akusisi informasi teknologi, penggunaan dan disposisi dari Federal Government. Berikut gambar Federal Enterprise Architecture (FEA). Gambar 2. 2 Fase Architecture Development Method (Harrison, 2009:89)
10 14 Enterprise architecture( EA ) merupakan praktek manajemen untuk mengalihkan sumber daya untuk dapat memperbaiki performa bisnis dan membantu agensi pemerintah secara lebih baik di dalam menjalankan misi utama. EA mendeskripsikan tingkat yang ada dan tingkat masa depan untuk agensi, dan memperlihatkan rencana untuk mentransisikan dari tingkat sekarang pada tingkat masa depan. Federal Enterprise Architecture merupakan sebuah pekerjaan yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan Organisasi Gartner Merupakan sebuah riset informasi teknologi dan perusahaan yang menyediakan teknologi yang berhubungan dengan kapasitas pencarian fakta terselubung. Riset yang diberikan oleh Gartner bertarget pada CIO dan pemimpin IT senior pada industri dimana menyertakan agen pemerintah, high-technology dan telecom enterprise, professional service firm dan technology inventor. Pelanggan Gartner menyertakan korporasi besar, agensi pemerintah, perusahaan teknologi dan komunitas investasi. Perusahaan Gartner berisikan riset, program eksekutif, konsultasi dan acara, memberikan informasi riset, praktek terbaik dan trend. Terdapat 12 Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi methodology yang biasa dipergunakan oleh organisasi, beberapa penilaian perlu diketahui bahwa penilaian untuk perbandingan tidak selalu cocok, penilaian ini merupakan penilaian pada salah satu jurnal Microsoft. Penilaian dilakukan dengan skala likert 1. Sangat Buruk 2. Tidak Memadai
11 15 3. Baik 4. Sangat Baik Berikut tabel Perbandingan 4 Framework Enterprise Architecture Tabel 2. 1 Perbandingan 4 Framework (Sessions, 2007) Berikut Penjelasan dari tabel tersebut diatas : a. Taxomony completeness, kriteria seberapa baik pengklasifikasian dalam Framework. b. Process Completeness, seberapa jelas langkah dan panduan yang dalam implementasinya. c. Reference model guidance, seberapa bermanfaat dalam perancangan reference models. d. Practice guidance, seberapa berperan dalam praktek sehari-hari di perusahaan. e. Maturity Model, seberapa efektif dan mature di perusahaan. f. Business focus, seberapa besar peranan Framework untuk mengurangi biaya
12 16 atau meningkatkan pendapatan. g. Governance Guides, seberapa membantu sebuah Framework dapat menciptakan tata kelola (governance) yang efektif. h. Partitioning guidance, seberapa baik dalam memandu perancangan autonomous partitions dari perusahaan, khususnya untuk menangani kompleksitas yang dihadapi. i. Prescriptive catalog, seberapa baik untuk membuat katalog dari architectural Asset yang dapat di reuse di masa yang akan datang. j. Vendor neutrality, menekankan bahwa perusahaan harus terbebas dari tingkat ketergantungan atau intervensi dengan vendor. k. Information availability, menekankan kualitas dan kemudahaan untuk memperoleh informasi. l. Time to value refers, kreteria ini mengacu waktu yang diperlukan untuk implementasi bagi perusahaan. Setelah diketahui kreteria pengukuran maka selanjutnya dilakukan rating sesuai dengan hasil penelitian. EA Framework yang akan diukur terdiri dari empat yaitu Zachman, TOGAF, FEA, dan Gartner. Rekomendasi untuk membangun sebuah framework untuk Integrated system architecture adalah TOGAF karena Framework TOGAF mengidentifikasikan jenis informasi yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan arsitektur, mengorganisasikan jenis informasi dalam struktur logis, dan mendeskripsikan hubungan antara jenis informasi tersebut (Sucipto, 2013).
13 Smart City Smart City adalah topik perbincangan yang sangat sering dibahas baik di seminar, workshop maupun media elektronik, berikut definisi Smart City dari beberapa pakar atau peneliti tentang Smart City Defenisi Smart City Smart City didefinisikan juga sebagai kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial,dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi, dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat (Caragliu, Bo, & Nijkmp, 2009). Smart City merupakan hasil dari pengembangan pengetahuan yang intensif dan strategi kreatif dalam peningkatan kualitas sosialekonomi, ekologi, daya kompetitif kota. Kemunculan Smart City merupakan hasil dari gabungan modal sumber daya manusia (contohnya angkatan kerja terdidik), modal infrastruktur (contohnya fasilitas komunikasi yang berteknologi tinggi), modal sosial (contohnya jaringan komunitas yang terbuka) dan modal entrepreuneurial (contohnya aktifitas bisnis kreatif). Pemerintahan yang kuat dan dapat dipercaya disertai dengan orang-orang yang kreatif dan berpikiran terbuka akan meningkatkan produktifitas lokal dan mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu kota. (Caragliu, Bo, & Nijkmp, 2009).
14 18 Smart City (Kota Pintar) adalah sebuah pendekatan yang luas, terintegrasi dalam meningkatkan efisiensi pengoperasian sebuah kota, meningkatkan kualitas hidup penduduknya, dan menumbuhkan ekonomi daerahnya. Cohen lebih jauh mendefinisikan Smart City dengan pembobotan aspek lingkungan menjadi: Smart City menggunakan ICT secara pintar dan efisien dalam menggunakan berbagai sumber daya, menghasilkan penghematan biaya dan energi, meningkatkan pelayanan dan kualitas hidup, serta mengurangi jejak lingkungan, semuanya mendukung ke dalam inovasi dan ekonomi ramah lingkungan. (Cohen, 2014). Kota cerdas atau smart city, pada umumnya didasarkan pada 3 hal, pertama faktor manusia, kota dengan manusia-manusia yang kreatif dalam pekerjaan, jejaring pengetahuan, lingkungan yang bebas dari kriminal. Kedua faktor teknologi, kota yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi. Terakhir faktor kelembagaan, masyarakat kota (pemerintah,kalangan bisnis dan penduduk) yang memahami teknologi informasi dan membuat keputusan berdasarkan pada teknologi informasi (Ahmad Nurman dalam Manajemen Perkotaan). Pada intinya konsep smart city adalah bagaimana cara menghubungkan infrastruktur fisik, infrastruktur sosial dan infrastruktur ekonomi dengan menggunakan teknologi ICT, yang dapat mengintergrasikan semua elemen dalam aspek tersebut dan membuat kota yang lebih efisien dan layak huni (Muliarto, 2015).
15 Indikator Smart City Berdasarkan Indikator Smart City oleh (Hendro Muliarto.: 2015, bahwa indikator Smart City berbasis pada smart people yang merupakan landasan atau dasar untuk sebuah kota yang cerdas, kota yang cerdas haruslah memiliki modal berupa sumber daya manusia yang cerdas, dan ditopang oleh kebijakan dan infrastruktur dari mobility, governance, economy dan environment yang juga cerdas sehingga menghasilkan kualitas hidup yang cerdas seperti yang diinginkan.seperti tampak pada indikator smart city pada gambar 2.1 di bawah : Gambar 2. 3 Indicator of Smart City( Boyd Cohen )
16 20 Gambar 2.4 Indikator Smart City (Hendro Muliarto: 2015) Smart City Memiliki 6 karakteristik yang harus dimiliki sebuah kota untuk menjadi smart city yaitu : 1. Smart Economy, Sebuah kota dapat dikatakan smart city apabila kota tersebut dapat menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Produktivitas yang tinggi dan semangat berinovasi yang tinggi untuk mewujudkan smart city. 2. Smart Mobility, Smart city selalu berkaitan dengan kemajuan teknologi. Salah satu kriteria smart city adalah adanya ketersediaan infrastruktur ICT dan sistem transportasi yang aman serta inovatif. 3. Smart Environmen, Smart city tidak hanya mengutamakan kemajuan teknologi. Sebuah kota yang pintar adalah kota yang dapat menyelaraskan kemajuan teknologi tanpa merusak lingkungan. Salah satu ciri dari smart city adalah tingkat polusi yang rendah.
17 21 4. Smart People, Smart city tidak hanya dapat diwujudkan secara fisik saja. Namun, masyarakat yang tinggal di dalam kota tersebut harus mendukung konsep ini. Untuk mewujudkan konsep ini, masyarakat dituntut untuk ikut berpartisipasi dalam kepentingan publik, menjaga pluralitas etnik maupun sosial, serta memiliki pemikiran yang open minded. 5. Smart Living, Kesehatan dan pendidikan menjadi salah satu faktor majunya sebuah kota. Oleh karena itu, ketersediaan fasilitas kesehatan dan pendidikan menjadi salah satu syarat untuk mewujudkan smart city. 6. Smart Governance, Pemerintahan juga memegang peranan penting untuk mewujudkan konsep smart city. Transparansi dan keterbukaan menjadi kunci pemerintahan yang mengusung smart city. Selain itu, akses pelayanan publik juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya dan tidak menyulitkan masyarakat.
18 Smart Village Smart Village terdiri dari unsur desa yang dipadukan dengan pemanfaatan teknologi yang tepat guna menunjang pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sumber daya manusia tanpa merusak sumber daya lingkungan di sekitarnya. Menurut worldbank.org salah satu hal yang menjadi prioritas di Indonesia adalah masalah pertanian, yaitu bagaimana sektor pertanian mendukung pertumbuhan ICT. Inisiatif untuk mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di daerah rural membuka kesempatan bagi penyaluran informasi ke komunitas pedesaan, memperbaiki hubungan antar penelitian dan penyuluhan, serta mendukung pengembangan daerah pedesaan. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman-pengalaman di negara lain. Contohnya, India telah melalui proses pengembangan inisiatif informasi dan komunikasi di daerah pedesaan beberapa tahun terakhir. Berbagai macam model, didukung baik oleh sektor umum maupun swasta, telah diuji-coba dengan sukses. Misalnya adalah satu model dari ITC, perusahaan swasta besar, yaitu e-choupal initiative, adalah intervensi informasi teknologi terbesar yang dimiliki suatu perusahaan di daerah pedesaan India. Dengan menyampaikan informasi secara langsung dan pengetahuan yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam membuat keputusan, e-choupal membantu menyelaraskan antara hasil pertanian dan kebutuhan pasar, serta menuju tercapainya perbaikan kualitas, produktifitas, dan meningkatkan pendeteksian harga. Dimulai tahun 2000, e-choupal sekarang ini telah mencakup 6 negara bagian, desa, dan melibatkan 2,5 juta petani. Di dalam 10 tahun kedepan, ITC memperkirakan akan dapat mencapai 15 negara
19 23 bagian dengan lebih dari desa (1/6 dari total desa-desa di India) dan membantu 10 juta petani. Tantangan yang dihadapi dalam mengembangan ICT di India sama dengan di Indonesia - jaringan yang buruk, infrastruktur rural yang lemah dan kapasitas sumber daya manusia yang rendah. Akan tetapi, inisiatif ICT di daerah pedesaan telah melambung di India dalam kurun waktu 5-8 tahun terakhir ini. Kios di daerah pedesaan berfungsi sebagai pusat komunikasi, pusat pelatihan virtual, pusat bantuan untuk pengusaha di daerah pedesaan, tempat perdagangan, pusat layanan finansial dan asuransi, dan lain-lain. Proyek-proyek ini memberikan pengaruh penting untuk kawula muda, wanita dan anak-anak secara tidak langsung. Dengan adanya desentralisasi dan lingkungan politik serta institutional yang baru di Indonesia, kemungkinan pengembangan ICT di Indonesia untuk mendukung pembangunan daerah pedesaan sangatlah besar. Sebuah Smart Village adalah gabungan dari semua layanan disampaikan secara efektif kepada warga dan kebutuan bisnis didukung dengan cara yang efisien. Layanan ini bisa menjadi lokasi tertentu tergantung pada demografi desa dan pekerjaan warga (N.Viswanadham, 2011) Smart village adalah Sebuah desa pintar memiliki investasi yang dilakukan pada manusia dan sosial selain modal fisik, fokus utama sebagai pendorong pertumbuhan adalah peran ICT infrastruktur, modal manusia atau pendidikan, sosial dan modal relasional dan faktor lingkungan. Kinerja desa tergantung pada infrastruktur fisik, dan ketersediaan kualitas pengetahuan, komunikasi & sosial infrastruktur (modal intelektual dan modal sosial) (N.Viswanadham, 2011). Dari Viswanadham
20 24 memberikan gambaran tentang ekosistem dari sebuah smart village seperti pada gambar 2.5 di bawah. Gambar 2. 4 Smart Village Ecosystem N.Viswanadham (2014) Berdasarkan gambar 2.5 diatas menunjukkan bahwa ekosistem smart village terdiri dari beberapa unsur utama yakni, Institutions, Resources, Services, Service Delivery Technologies & Mechanisms. Dengan ekosistem itu melahirkan sebuah ekosistem yang bisa di terapkan di sebuah desa, seperti pada gambar 2.6 berikut.
21 25 Gambar 2. 5 Smart Village Pochampally Ecosystem, Viswanadham (2014) Pada gambar 2.6 diatas memperlihatkan bagaimana ekosistem smart village di terapkan di sebuah distrik dengan nama Pochampally di India, di distrik ini memiliki potensi untuk memproduksi kain sare, khas india. Untuk menjadikannya sebagai sebuah smart village maka harus mengembangkan inovasi dan kreatifitas untuk memudahkan dalam pemasaran ataupun dalam hal pengelolaan dan kebijakan produksi, sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakarat setempat. Salah satu yang menjadi perhatian seperti pada bagian Service Delivery Technologies, dimana pada bagian ini untuk meningkatkan pemasaran dapat mempergunakan e-shopping, e-kiosk, warehouse dan bus transportation, dimana semua saling terkait sehingga dapat mengurangi biaya dan meningkatkan produksi serta memberikan pelayanan yang cepat.
22 26 Sedangkan Menurut (Smart Villages Initiative e4sv.org) SmartVillage adalah adanya akses ke layanan energi berkelanjutan yang bertindak sebagai katalis untuk pengembangan yang memungkinkan penyediaan pendidikan yang baik dan kesehatan, akses air bersih, sanitasi dan gizi, pertumbuhan usaha produktif untuk meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan keamanan, dan kesetaraan gender Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya yang pertama : disusun oleh Roni Yunis, Kridanto Surendro, tahun 2009 dengan judul Perancangan Model Enterprise Architecture (EA) dengan Togaf Architecture Development Method Dalam penelitian ini dilakukan perancangan arsitektur enterprise yang di buat berdasarkan pada tahapan perancangan informasi strategis dan integrasi system dan memakai metode Togaf ADM. Perancangan arsitektur enterprise ini memberikan hasil berupa Blueprint atau cetak biru teknologi informasi yang terdiri dari fungsi aplikasi dan relasi, interaksi model dan proses model sebagai pedoman untuk perancangan teknologi informasi. Disamping itu penelitian ini juga memberikan hasil berupa roadmap perencanaan arsitektur enterprise untuk mencapai visi dan misi organisasi khususnya pada perguruan tinggi. (Yunis & Surendro, 2009). Penelitian ke 2 disusun oleh : Erwin Budi Setiawan dan Fakultas Sains, Institute Teknologi Telkom, Yogyakarta, 20 Juni 2009 yang berjudul Pemilihan EA Framework. Dalam penelitian ini membahas tentang melakukan pemilihan EA Framework berdasarkan 3 acuan yaitu: A.Tujuan dari EA dengan melihat bagaimana definisi arsitektur dan pemahamannya, proses arsitektur yang
23 27 telah di tentukan sehingga mudah untuk di ikuti, dukungan terhadap evolusi arsitektur. ( B ) input untuk aktivitas EA seperti pendorong bisnis dan input teknologi. ( C ) output dari aktivitas EA seperti model bisnis dan desain transisional untuk evolusi dan perubahan. Dan hasil akhir dari penelitian ini adalah memilih Togaf ADM sebagai metode yang cocok dan jelas dalam permasalahan EA Framework. (Setiawan, 2009). Penelitian Selanjutnya oleh : Samsun Hidayat, Suhono Harso Supangkat, Anton Sunarwibowo dengan Judul : Penyusunan Arsitektur Enterprise untuk Smart City, Studi Kasus Bandung Smart City.dengan kesimpulan bahwa diperlukan Arsitektur Enterprise untuk mewujudkan konsep smart city di kota bandung dengan menggunakan Framework Togaf ADM digunakan sebagai acuan dalam membuat keputusan dalam manajemen informasi dan dukungan TIK. Prinsip tersebut akan dijadikan panduan untuk menentukan kriteria evaluasi yang relevan dengan program-program yang akan dilaksanakan, sehingga solusi atas program-program yang akan dilaksanakan tersebut sesuai dengan enterprise Architecture. (Hidayat, Supangkat, & Sunarwibowo, 2013). Penelitian selanjutnya oleh : Muliarto tentang Konsep Smart City, Smart Mobility dengan hasil pembahasan Smart City adalah kota yang secara antisipatif mampu mengelola sumber daya secara inovatif dan berdaya saing, dengan dukungan teknologi dalam rangka mewujudkan kota yang nyaman dan berkelanjutan. Dengan defenisi operasional kota yang responsif, inovatif dan kompetitif. Smart Mobility adalah sebuah kota dengan sistem pergerakan yang memungkinkan pencapaian tujuan dengan pergerakan yang sesedikit mungkin (less mobility), hambatan serendah mungkin (move freely), dan waktu tempuh
24 28 sesingkat mungkin (less travel time). Dengan kriteria yang responsif, inovatif dan kompetitif berdasarkan konsep smart city Kota Bandung.Responsif berarti sistem mobilitas yang mampu memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan pergerakan penggunanya secara aktual Inovatif berarti sistem mobilitas yang memungkinkan pergerakan dengan efektif dan efisien Kompetitif berarti sistem mobilitas yang memberikan banyak pilihan perjalanan. (Muliarto, 2015). Penelitian selanjutnya oleh : N. Viswanadham tentang Smart Villages and Smart Cities : A service science perspective dimana dalam presentasenya menggunakan STERM Framework untuk mendesain konsep smart village, yaitu Sains, Teknologi, Engineering, Regulasi dan Policy, Manajemen untuk berkontribusi inovasi dalam layanan dan menentukan persaingan di segala bidang (N.Viswanadham, 2011). Penelitian selanjutnya oleh N.Viswandham tentang Design of Smart Village dimana menjelaskan tentang studi kasus Pochampally sebuah Distrik di India yang terdiri dari 80 Desa dimana sangat membutuhkan konsep smart village, dengan Smart Village Ekosistem, integrasi antara Institusi, Sumber daya, Service Chain, Layanan Transfer Teknologi dan Mekanismenya. Pochampally sebagai model pariwisata, melindungi warisan dan keterampilan tenun sarees pochampally dengan melatih orang di desa-desa lain dan mendorong lebih banyak inovasi daripada menyimpannya di dalam rumah, mereka harus mengikuti kemajuan dalam desain dan tenun otomatisasi dan teknik yang ramah lingkungan (N.Viswandham, 2014). Berikut Tabel Penelitian Terdahulu mengenai Enterprise Architecture yang berkaitan dengan Smart City dan Smart Village:
25 29 Tabel 2. 2 Penelitian Terdahulu NO Penelitian (Tahun) 1. Roni Yunis, Kridanto Surendro (2009) 2. Erwin Budi Setiawan (2009) Judul Hasi Penelitian Kriteria Perancangan Model Enterprise Architecture (EA) dengan Togaf Architecture Development Method Pemilihan EA Framework Blueprint atau cetak Menggunakan biru teknologi Framework informasi yang terdiri Togaf ADM dari fungsi aplikasi dan relasi, interaksi model dan proses model sebagai pedoman untuk perancangan teknologi informasi. Disamping itu penelitian ini juga memberikan hasil berupa roadmap perencanaan arsitektur enterprise untuk mencapai visi dan misi organisasi khususnya pada perguruan tinggi Pemilihan EA Framework berdasarkan 3 acuan yaitu: A.Tujuan dari EA, B. input untuk aktivitas EA, C. output aktivitas EA. Memilih Togaf ADM sebagai metode yang cocok dan jelas dalam permasalahan EA Framework 3. Samsun Penyusunan bahwa diperlukan Menggunakan Hidayat, Arsitektur Arsitektur Enterprise Framework Suhono Harso Enterprise untuk mewujudkan Togaf ADM
26 30 Supangkat, untuk Smart konsep smart city di dalam Anton City, studi kota bandung dengan perancangan Sunarwibowo kasus menggunakan Konsep Smart (2013) Bandung Framework Togaf City Bandung Smart City ADM digunakan sebagai acuan dalam membuat keputusan dalam manajemen informasi dan dukungan TIK 4. N. Smart Dalam presentasenya Menggunakan Viswanadham Villages and menggunakan STERM (2011) Smart Cities STERM Framework Framework, : A service untuk mendesain yaitu Sains, science konsep smart village, Teknologi, perspective yaitu Sains, Engineering, Teknologi, Regulasi & Engineering, Regulasi Policy, dan Policy, Manajemen Manajemen untuk untuk berkontribusi inovasi mendesain dalam layanan dan konsep smart menentukan village persaingan di segala bidang 5. N.Viswandham Design of Menjelaskan tentang Menggunakan (2014) Smart studi kasus Konsep Smart Village Pochampally sebuah Village Distrik di India yang Ekosistem, terdiri dari 80 Desa integrasi antara dimana sangat Institusi, membutuhkan konsep Sumber daya, smart village, Service Chain,.Pochampally sebagai Layanan model Transfer
27 31 pariwisata,melindungi Teknologi dan warisan dan Mekanismenya. keterampilan tenun sarees pochampally dengan melatih orang di desa-desa lain dan mendorong lebih banyak inovasi 6. Muliarto Konsep Kota yang secara Mengikuti (2015) Smart City; antisipatif mampu Kosep Smart Smart mengelola sumber city yaitu Mobility daya Responsif, secara inovatif dan Inovatif dan berdaya saing, dengan Kompetitif dukungan teknologi dalam rangka mewujudkan kota yang nyaman dan berkelanjutan. Berdasarkan Tabel diatas maka peneliti menggunakan Framework Togaf dengan fokus pada Desain Smart Village, dimana sebagai Pembanding Peneliti memilih Penelitian yang dilakukan oleh (N.Viswandham, 2014) dengan Judul Design of Smart Village, dengan Perbedaan konsep yang di gunakan seperti tabel berikut :
28 32 Tabel 2. 3 Perbandingan dengan Penelitian Sebelumnya. Peneliti N.Viswand ham (2014) Penelitian yang dilakukan saat ini (2015) Judul Penelitian Design of Smart Village Desain Framework untuk Smart Villages di Indonesia Manfaat Penelitian Karakteristik Hasil Penelitian Dengan Penduduk Menggunakan sekitar 800 juta yang Konsep Smart tinggal di Desa, maka Village sangat membutuhkan Ekosistem, desain dan membangun integrasi antara smart village untuk Institusi, Sumber menyediakan layanan, daya, Service pekerjaan dan Chain, Layanan terkoneksi dengan baik ke seluruh dunia Transfer Teknologi dan Dengan Terbitnya Menggunakan Undang-Undang Desa Konsep yang Memberikan Framework Anggaran sekitar 104,6 Triliun untuk Togaf Pendekatan dan Desa di Indonesia, Konsep Smart maka Desain Smart City dalam Menjelaskan tentang studi kasus Pochampally sebuah Distrik di India yang terdiri dari 80 Desa dimana sangat membutuhkan konsep smart village,.pochampally sebagai model Mekanismenya. pariwisata,melindungi warisan dan keterampilan tenun sarees pochampally dengan melatih orang di desa-desa lain dan mendorong lebih banyak inovasi Hasil yang diharapkan adalah dengan Desain Framework Smart Village ini bisa di gunakan di seluruh Desa di Indonesia untuk Transparansi, Village sangat Mendesain Pengawasan, dibutuhkan dalam Framework Penggunaan Anggaran pengawasan dan Smart Village dan integrasi sistem Transparansi informasi yang dapat penggunaan anggaran Membantu Kinerja untuk kepentingan Pemerintah dan
29 33 pembangunan Desa dan Pelayanan maksimal kepada maksyarakat, termasuk pembangunan infrastruktur IT Melindungi Pejabat Desa Terkait dari Ancaman Hukum terhadap Penyalahgunaan Anggaran.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, teknologi informasi merupakan salah satu teknologi yang sedang berkembang dengan pesat. Dengan kemajuan teknologi informasi, pengaksesan terhadap data atau
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM (STUDI KASUS : RSUD Dr.SOEGIRI LAMONGAN)
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODE TOGAF ADM (STUDI KASUS : RSUD Dr.SOEGIRI LAMONGAN) Yeni Kustiyahningsih Fakultas Teknik, Jurusan Manajemen Informatika, Universitas Trunojoyo Email
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan sistem informasi saat ini telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Hal ini mengakibatkan timbulnya persaingan yang semakin ketat pada sektor bisnis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka Pada penelitian sebelumnya yang berjudul Pengembangan Model Arsitektur Enterprise Untuk Perguruan Tinggi dilakukan pengembangan model arsitektur enterprise untuk
Arsitektur Sistem Informasi. Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom.
Arsitektur Sistem Informasi Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom. Arsitektur Teknologi Informasi Arsitektur teknologi informasi adalah seluruh aspek meliputi piranti keras, piranti lunak, perangkat jaringan dan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI II.1 Enterprise Architecture Enterprise Architecture dapat didefinisikan sebagai sebuah blueprint yang menjelaskan bagaimana semua elemen TI dan manajemen bekerja bersama dalam satu
Bab 3 Metodologi Penelitian
36 Bab 3 Metodologi Penelitian 3.1. Tahapan Penelitian Tahapan penelitian yang dilakukan mengacu pada kerangka The Open Group Architecture Framework (TOGAF) yang merupakan kerangka kerja arsitektur di
RANCANGAN MODEL ARSITEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI SISTEM PERBANKAN DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA TOGAF
RANCANGAN MODEL ARSITEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI SISTEM PERBANKAN DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA TOGAF Ibrahim 1, Lela Nurpulaela 2 1,2 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Singaperbangsa Karawang
Arsitektur Enterprise
Arsitektur Enterprise Kualitas Informasi Usefull Completness Correctness Security Up to date Sistem Informasi Enterprise Enterprise membutuhkan perencanaan Sistem Informasi yang bersifat menyeluruh dan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendidikan Tinggi di Indonesia terdiri atas 81 perguruan tinggi negeri (PTN) dan tercatat lebih kurang 2.236 perguruan tinggi swasta (PTS) (HELTS, 2004: 24). Berdasarkan
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.2. Enterprise Arsitektur Arsitektur enterprise adalah sebuah pendekatan yang didirikan berdasarkan model dan manajemen holistik TI sebagai kerangka kerja untuk menunjukan penciptaan
Enterprise Architecture. Muhammad Bagir, S.E., M.T.I
Enterprise Architecture Muhammad Bagir, S.E., M.T.I Enterprise Architecture Sebuah blueprint yang menjelaskan bagaimana semua elemen TI dan manajemen bekerja bersama dalam satu kesatuan dan memberikan
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Institusi pendidikan tinggi di Indonesia dituntut untuk selalu melakukan peningkatan mutu atau perbaikan secara berkesinambungan / continuous improvement (Sudirman,1997)
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.1.1 E-Commerce PT. XYZ Pemanfaatan teknologi informasi di era ini, telah menjadi trend bagi setiap organisasi atau perusahaan untuk memperoleh efisiensi dan efektifitas
METODOLOGI PENELITIAN
III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Penelitian Dalam mengembangkan blueprint Sistem Informasi penerapan SNP di Sekolah Menengah Atas, keseluruhan proses yang dilalui harus melalui beberapa tahapan.
yang sudah ada (Mardiana & Araki 2013).
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Strategi Sistem Informasi/Teknologi Informasi Strategi merupaka definisi dari kumpulan tindakan yang saling terintegrasi yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan dan kekuatan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Persaingan yang semakin kompetitif dalam dunia pendidikan terutama bagi Akademi yang dikelola oleh masyarakat (Swasta), menuntut pihak pengelola untuk mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN I.1
I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi sudah semakin pesat, sehingga memudahkan pekerjaan yang ada pada suatu organisasi serta kemudahan mengakses informasi yang di butuhkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perguruan tinggi adalah sebuah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan profesional dan akademik dalam lingkup beberapa disiplin ilmu pengetahuan. Tujuan dari perguruan
BAB I PENDAHULUAN. Tabel I.1 Nama Direktorat PT.XYZ
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang PT. XYZ merupakan sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki kompetensi di bidang jasa. Tujuan didirikannya adalah untuk membantu konsumen dalam menangani
BAB I PENDAHULUAN. bersaing ditengah persaingan bisnis yang semakin ketat (Luftman, 2004).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penerapan sistem informasi/teknologi informasi (SI/TI) dalam suatu organisasi telah menjadi isu yang sangat penting, karena SI/TI dapat membantu organisasi meraih
Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah
Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Peran dari sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) dalam menjalankan kegiatan bisnis suatu organisasi di era informasi saat ini sangat dibutuhkan.
MODEL PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF (Studi Kasus STKIP Kie Raha)
MODEL PERENCANAAN STRATEGIS SI/TI PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF (Studi Kasus STKIP Kie Raha) Imam Hizbullah 1, Eko Nugroho 2, Paulus Insap Santosa 3 1,2,3 Departemen Teknik Elektro dan Teknologi
Enterprise Architecture Planning
Enterprise Architecture Planning Other Framework TKB5354 Perancangan Arsitektur Enterprise Chalifa Chazar www.script.id [email protected] Kerangka kerja zahman adalah pendekatan klasifikasi artifak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini tidak terlepas dari penelitian sebelumnya. Hasil penelitian terdahulu memiliki manfaat bagi berbagai pihak yang ingin mengembangkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun hasil-hasil
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Kerangka Penelitian Proses penelitian untuk menerapkan Standar Nasional Pendidikan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Parigi dapat dilihat melalui kerangka penelitian pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan Framework Enterprise Architecture pada perguruan tinggi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Tinjauan pustaka dalam thesis ini tidak terlepas dari penelitian yang menggunakan Framework Enterprise Architecture pada perguruan tinggi. Perkembangan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Terdapat beberapa penelitian menggunakan metode The Open Group Architecture Framework (TOGAF) terkait perancangan Enterprise Architecture, yaitu: Penelitian
Integrasi Zachman Framework dan TOGAF ADM (Architecture Development Method)
INFORMATION SYSTEM FOR EDUCATORS AND PROFESSIONALS Vol.1, No. 2, Juni 2016, 157-166 E-ISSN: 2548-3587 157 Integrasi Zachman Framework dan TOGAF ADM (Architecture Development Method) Rully Pramudita 1,*,Nadya
DAFTAR SINGKATAN EA TOGAF ADM RACI GM BI. xiv
DAFTAR SINGKATAN Singkatan TI PLN DJB APD BUMN EA TOGAF ADM RKAP RUPTL PRK RACI GM BI Nama Teknologi Informasi PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Distribusi Jawa Barat Area Pengatur Distribusi Badan
BAB I PENDAHULUAN. organisasi untuk mengembangkan sebuah arsitektur enterprise yang mampu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sebuah organisasi perlu melakukan pengembangan bisnis dan sistem informasi melalui pemanfaatan arsitektur enterprise. Salah
ABSTRAK. Kata Kunci: Proses Bisnis, Sistem Informasi, TOGAF Framework,. i Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PT Pos Indonesia merupakan salah satu perusahaan jasa yang menjadi tulang punggung pemerintah Indonesia dalam bisnis layanan pengiriman dokumen dan barang. Dengan misi sosial untuk memenuhi kebutuhan
PENGEMBANGAN MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PERGURUAN TINGGI
Yunis, Pengembangan Model Arsitektur Enterprise untuk Perguruan Tinggi PENGEMBANGAN MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PERGURUAN TINGGI Roni Yunis 1 Kridanto Surendro 2 Erwin S. Panjaitan 3 1,3 Jurusan
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Definisi Enterprise Architecture (EA) Sebelum membahas EA, harus terlebih dahulu diketahui pengertian atau definisi tentang enterprise dan arsitektur. Definisi enterprise dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Teknologi Informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Teknologi Informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini semakin berperan dalam pengambilan keputusan oleh individu, perusahaan maupun instansi pemerintah.
Bab 3. Metode Penelitian
12 Bab 3 Metode Penelitian 3.1. Tahapan Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Semakin berkembangnya Teknologi Informasi (TI) berbasis komputer memudahkan perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya terutama dalam mengelola informasi. TI
BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM
BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM 4.1 Analisa Studi Kasus Penerapan sistem informasi dalam fungsi bisnis pada setiap organisasi dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan bahwa untuk menerapkan sistem
PERENCANAAN PENINGKATAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN ACMM DAN TOGAF PADA POLITEKNIK XYZ
ISSN : 2302-3805 PERENCANAAN PENINGKATAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN ACMM DAN TOGAF PADA POLITEKNIK XYZ Agus Hermanto 1), Fridy Mandita 2), Supangat 3) 1), 2, 3) Teknik Informatika Universitas
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Pada awalnya PT. Pos Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pengiriman surat dan paket. Namun, Pada saat ini PT. Pos Indonesia telah
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi (TI) pada saat ini berkembang dengan cepat dan mempengaruhi kegiatan usaha manusia dibidang bisnis. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi
PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya)
PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya) Agus Hermanto [9112205310] Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Hari Ginardi, M.Kom PROGRAM
BAB I PENDAHULUAN. dalam perencanaan strategis di institusi perguruan tinggi. Perencanaan strategis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan strategis sistem informasi dan teknologi informasi adalah suatu kegiatan yang terus menerus dan sistematis dengan tujuan yang akan dicapai dalam perencanaan
Gambar I.1 Jumlah Penduduk Muslim di Dunia
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis di Indonesia telah mengalami kemajuan yang pesat. Terdapat berbagai jenis bisnis yang sedang berkembang di Indonesia, seperti bisnis di bidang makanan,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peran sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) sangatlah penting untuk mengatur jalannya proses bisnis yang ada dalam sebuah organisasi agar lebih efektif dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Pada era golbalisasi saat ini persaingan bisnis yang semakin ketat diantara perguruan tinggi di Indonesia mendorong perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan maksimal
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peran dari sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) dalam menjalankan kegiatan bisnis suatu organisasi di era informasi saat ini sangatlah dibutuhkan. Dimana
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian Sistem Memahami sistem, terlebih dahulu harus memahami hakikat definisi dari sistem itu sendiri. Menilik pemaparan dari Jogiyanto (2005:34),
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sedemikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang bagi proses akses, pengelolaan, dan
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data Pada penyusunan penelitian ini, teknik pengumpulan data adalah faktor yang terpenting yang harus dipenuhi untuk di analisis lebih lanjut. Pengumpulan
Bab 2. Tinjauan Pustaka
6 Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang perencanaan strategi TI/SI sudah sering dikembangkan salah satunya penelitian yang berjudul Perencanaan Strategis Sistem Dan Teknologi
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat saat ini semakin berperan dalam pengambilan keputusan oleh individu, perusahaan maupun instansi pemerintah.
BAB III LANDASAN TEORI. mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategis dari suatu
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Menurut Robert A. Leitch, Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN LAYANAN PADA BAGIAN ADMINISTRASI AKADEMIK STIKOM SURABAYA
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE UNTUK PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN LAYANAN PADA BAGIAN ADMINISTRASI AKADEMIK STIKOM SURABAYA Yoppy Mirza Maulana 1) dan Febriliyan Samopa ) 1) Program Studi Magister
Enterprise Architecture. Muhammad Bagir, S.E., M.T.I
Enterprise Architecture Muhammad Bagir, S.E., M.T.I 1 2 Outline Materi Kriteria Framework EA Perbandingan EA Framework Elemen Dasar Dokumentasi EA Pendekatan Lengkap EA 3 Kriteria Framework EA Untuk memilih
Bab 2 Tinjauan Pustaka
15 Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai perancangan infrastruktur teknologi informasi (TI) sudah pernah dilakukan sebelumnya, yaitu dengan judul Arsitektur Sistem Informasi
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Teknologi Informasi (TI) merupakan faktor yang sangat strategis tidak hanya berperan membantu mempercepat, mempermudah, dan meningkatkan akurasi proses-proses akademik dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai respon dari perkembangan teknologi serta tuntutan masyarakat terhadap peningkatkan pelayanan, transparasi dan efektifitas, pemerintah mulai melakukan perubahan
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang ABSTRAK Arsitektur enterprise merupakan suatu upaya memandang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat memiliki andil penting dalam proses bisnis sebuah perusahaan. Teknologi informasi dapat meringankan pekerjaan manusia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka Pemanfaatan enterprise Architecture planning (EAP) untuk perencanaan system informasi melibatkan pemahaman dan kejelasan beberapa definisi
PERANCANGAN MODEL ENTERPRISE ARCHITECTURE DENGAN TOGAF ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD
PERANCANGAN MODEL ENTERPRISE ARCHITECTURE DENGAN TOGAF ARCHITECTURE DEVELOPMENT METHOD Roni Yunis 1, Kridanto Surendro 2 1 Jurusan Sistem Informasi, STMIK Mikroskil; Jl. Thamrin No. 140 Medan 20212 Telp.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga pemerintah, secara umum, memiliki beberapa proyek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuke-government pada masing-masing unit organisasi dengan kondisi
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #9 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #9 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan dasar, prinsip, struktur dan poin kunci framework TOGAF sebagai pendekatan arsitektur enterprise
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berkaca pada pesatnya laju perkembangan teknologi yang modern, proses bisnis jual beli akan lebih efektif jika menggunakan sistem informasi yang memadai. Sistem akan membuat proses
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi telah mengubah manusia dalam menyelesaikan semua pekerjaan dan segala aspek kehidupan manusia. Dimana teknologi informasi dan komunikasi yang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan kegiatan analisa proses bisnis dan pemodelan arsitektur bisnis, informasi, data, aplikasi, dan teknologi yang sudah dilakukan pada bagian sebelumnya,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem informasi dan teknologi informasi mendorong perubahan pada organisasi kearah yang lebih kompetitif. Pemanfaatan sistem informasi dan teknologi informasi telah
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian Dasar Enterprise Arsitektur 3.1.1. Enterprise Architecture Enterprise Architecture atau dikenal dengan arsitektur enterprise adalah deskripsi yang didalamnya termasuk
Perencanaan Strategis Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Berbasis Enterprise Architecture Menggunakan The Open Group Architecture Framework
Perencanaan Strategis Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Berbasis Enterprise Architecture Menggunakan The Open Group Architecture Framework (Studi Kasus: SMA Theresiana Salatiga) Artikel Ilmiah Peneliti:
Arsitektur Bisnis Biro Administrasi Kemahasiswaan (AK) Pada Perancangan Arsitektur Enterprise Universitas Sebelas Maret Menggunakan Framework TOGAF
Arsitektur Bisnis Biro Administrasi Kemahasiswaan (AK) Pada Perancangan Arsitektur Enterprise Universitas Sebelas Maret Menggunakan Framework TOGAF Rini Anggrainingsih 1, Gilang Romadhon Aprianto 2, Sari
Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University
PERANCANGAN DAN ANALISIS ENTERPRISE ARCHITECTURE YAYASAN KESEHATAN (YAKES) TELKOM PADA DOMAIN ARSITEKTUR TEKNOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF ADM 1 Irma Angraeini, 2 Mochamad Teguh Kurniawan, 3
PERANCANGAN DAN ANALISIS ENTERPRISE ARCHITECTURE PT. XYZ PADA DOMAIN ARSITEKTUR BISNIS DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF ADM
PERANCANGAN DAN ANALISIS ENTERPRISE ARCHITECTURE PT. XYZ PADA DOMAIN ARSITEKTUR BISNIS DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF ADM 1 Ratih Cintya Lestari, 2 Mochamad Teguh Kurniawan 3 Rahmat Mulyana 1,2,3 Program
MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA
SALINAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG TATA KELOLA TEKNOLOGI
ANALISA & PERANCANGAN SISTEM
ANALISA & PERANCANGAN SISTEM Pengembangan Sistem Informasi Mulyadi, S.Kom, M.S.I Proses dalam Pengembangan Sistem Proses pengembangan sistem - serangkaian kegiatan, metode, praktik, dan alat-alat terotomatisasi
Bab I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
Bab I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam menghadapi persaingan di era informasi ini, suatu organisasi membutuhkan informasi yang mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan itu
III METODOLOGI PENELITIAN
39 III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Permasalahan Dukungan SIMPEG yang berkualitas bagi Badan Litbang Pertanian merupakan suatu keharusan agar mampu menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi stakeholder.
PERANCANGAN ARSITEKTUR BISNIS PERGURUAN TINGGI DENGAN TOGAF (STUDI KASUS : POLITEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA)
PERANCANGAN ARSITEKTUR BISNIS PERGURUAN TINGGI DENGAN TOGAF (STUDI KASUS : POLITEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA) Febrian Berthanio 1, Benyamin L. Sinaga 2, Irya Wisnubadhra 3 Magister Teknik Informatika Universitas
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sejarah Organisasi. Didirikan pada tahun 1987, PT Sigma Cipta Caraka
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Sejarah Organisasi Didirikan pada tahun 1987, PT Sigma Cipta Caraka (Telkomsigma) adalah perusahaan yang menyediakan end-to-end ICT Solutions. Memperkerjakan
PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE PADA BIDANG PERENCANAAN DAN BIDANG KEUANGAN DI PT. PLN DISTRIBUSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF ADM
ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.3, No.2 Agustus 2016 Page 3403 PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE PADA BIDANG PERENCANAAN DAN BIDANG KEUANGAN DI PT. PLN DISTRIBUSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN
Enterprise Architecture Planning Untuk Proses Pengelolaan Manajemen Aset Dengan Zachman Framework
Enterprise Architecture Planning Untuk Proses Pengelolaan Manajemen Aset Dengan Zachman Framework Titus Kristanto Teknik Informatika Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya E-mail: [email protected]
Kata kunci: Enterprise Architetcure, TOGAF ADM, pemerintahan, pengendalian dan evaluasi pembangunan
ANALISIS DAN PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE FUNGSI BISNIS PENGENDALIAN DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PADA BADAN PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) PROVINSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN FRAMEWORK TOGAF
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Porter s Value Chain Diagram yang digunakan pada fase Business Architecture.
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Persiapan Penelitian 4.1.1. Alat Penelitian Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari alat bantu analisis dan alat bantu deskripsi. Alat bantu analisis
LAMPIRAN 1. KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT TELKOM DOMAIN BISNIS
LAMPIRAN. KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT TELKOM DOMAIN BISNIS Kuesioner ini dibuat untuk mengevaluasi nilai dan Risiko dalam investasi teknologi informasi (TI) yang diterapkan di PT TELKOM. Petunjuk:
PEMBANGUNAN MODEL ELECTRONIC GOVERNMENT PEMERINTAHAN DESA MENUJU SMART DESA
PEMBANGUNAN MODEL ELECTRONIC GOVERNMENT PEMERINTAHAN DESA MENUJU SMART DESA Ahmad Akbar 1, Dana Indra Sensuse 2 1 Magister Teknik Informatika, Universitas AMIKOM Yogyakarta 2 Fakultas Ilmu Komputer, Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan konsep
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah Indonesia periode tahun 2014-2019, mengesahkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 dengan konsep membangun Indonesia dari pinggir.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sistem adalah suatu kumpulan elemen dalam mewujudkan target untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan keterkaitan antar elemen yang saling terhubung, (Sutedjo,
Perancangan Arsitektur Teknologi Informasi Rumah Sakit dengan TOGAF (The Open Group Architecture Framework) (Studi Kasus : RSMB)
Jurnal Sarjana Institut Teknologi Bandung bidang Teknik Elektro dan Informatika Volume 1, Number 1, April 2012 Perancangan Arsitektur Teknologi Informasi Rumah Sakit dengan TOGAF (The Open Group Architecture
ABSTRAK. Kata Kunci: Enterprise Architecture, Teknologi Informasi, TOGAF. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Peran teknologi informasi saat ini merupakan faktor yang sangat penting bagi suatu organisasi karena teknologi infromasi merupakan salah satu bagian strategi dari suatu organisasi untuk mencapai
PERANCANGAN ARSITEKTUR BISNIS PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA BERBASIS ORGANIZATIONAL LEARNING DENGAN PENDEKATAN TOGAF ADM
PERANCANGAN ARSITEKTUR BISNIS PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA BERBASIS ORGANIZATIONAL LEARNING DENGAN PENDEKATAN TOGAF ADM Heriyono Lalu Program Studi Teknik Industri, Fakultas
MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE INSTITUSI PENGUJIAN DAN KALIBRASI ALAT KESEHATAN
Santoso dan Affandi Model Arsitektur Enterprise Institusi Pengujian... pissn: 2087-8893 MODEL ARSITEKTUR ENTERPRISE INSTITUSI PENGUJIAN DAN KALIBRASI ALAT KESEHATAN Jatmoko B. Santoso 1) dan Achmad Affandi
BAB III Landasan Teori
BAB III Landasan Teori 3.1 Sistem Informasi Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial
Bab III Analisa dan Kerangka Usulan
Bab III Analisa dan Kerangka Usulan III.1 Perencanaan Strategis dalam Pengembangan CIF III.1.1 Kendala Pengembangan CIF Pembangunan dan pengembangan CIF tentunya melibatkan banyak sekali aspek dan kepentingan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Disadari maupun tidak, arus informasi dan data secara terus-menerus telah memberikan perspektif baru dalam dunia bisnis. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan
MENGEMBANGKAN STRATEGI SI/TI Titien S. Sukamto
MENGEMBANGKAN STRATEGI SI/TI Titien S. Sukamto Pengembangan Strategi SI/TI Mengembangkan sebuah strategi SI/TI berarti berpikir secara strategis dan merencanakan manajemen yang efektif untuk jangka waktu
