Unnes Physics Education Journal
|
|
|
- Liana Sugiarto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UPEJ 4 (1) (2015) Unnes Physics Education Journal ANALISIS BUKU AJAR FISIKA SMA KELAS XII DI KABUPATEN PATI BERDASARKAN MUATAN LITERASI SAINS N. Maturradiyah, A. Rusilowati Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang,Indonesia, Info Artikel SejarahArtikel: DiterimaJanuari 2015 Disetujui Januari2015 Dipublikasikan Maret2015 Keywords: Textbook, Category Science Literacy, Science Literacy Abstrak Literasi sains merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk meningkatkan penguasaan literasi sains sangat diperlukan. Salah satu faktor penting untuk meningkatkan pembelajaran sains adalah buku ajar khususnya fisika. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang tingkat muatan literasi sains buku ajar Fisika SMA kelas XII dalam kategori sains sebagai batang tubuh pengetahuan, cara menyelidiki, cara berfikir, dan interaksi sains, teknologi, dan masyarakat. Hasil penelitian dari keseluruhan buku ajar yang dianalisis, secara umum menyajikan ruang lingkup kategori literasi sains sebagai batang tubuh pengetahuan sebesar 70,94%; sains sebagai cara untuk menyelidiki sebesar 7,08%; sains sebagai cara berfikir sebesar 19,08%; dan interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat sebesar 2,90%. Data tersebut menggambarkan bahwa buku ajar fisika yang digunakan dalam proses pembelajaran umumnya menekankan pada pengetahuan sains. Abstract Scientific literacy is the ability to use knowledge, to identify questions and conclusions based on the evidence in order to understand and make decisions with regard to nature. Therefore, efforts to improve the mastery of scientific literacy is indispensable. One important factor to improve science learning is textbooks particularly on physics. This research aimed to obtain information about the charge level of scientific literacy textbook high school physics class XII in the category of science as a body of knowledge, how to investigate, how to think, and the interaction of science, technology, and society. The research of the overall textbooks analyzed, the scope of the present general scientific literacy category as body of knowledge by 70.94%, science as a way to investigate at 7.08%, science as a way of thinking by 19.08%, and the interaction between science, technology and society at 2.90%. The data illustrate that physics textbooks used in the learning process generally emphasizes on scientific knowledge. 2015UniversitasNegeri Semarang Alamatkorespondensi: Gedung D7 Lantai 2 Kampus UNNES,Semarang, [email protected] ISSN
2 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan. Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lebih tinggi guna menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Oleh sebab itu, agar diperoleh sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan siap bersaing dalam menghadapi tantangan global, perlu adanya peningkatan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidikan (Rusilowati, 2013). Indonesia merupakan salah satu partisipan Programme for International Student Assesment (PISA) di luar negara industri maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). PISA (Programme for International Student Assesment) merupakan salah satu program kerjasama yang dibentuk oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) pada tahun Penelitian tentang Assessment kemampuan dasar hidup prestasi membaca, matematika, dan sains anak indonesia usia 15 tahun pada level intenasional yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam bidang sains khususnya literasi sains masih sangat lemah. PISA tahun 2006, siswa Indonesia pada kemampuan sains memperoleh peringkat ke-50 dari 57 negara (OECD, 2007). Pada PISA 2006, tingkat literasi sains anak Indonesia masih berada pada tingkatan rendah. Rendahnya tingkat literasi sains anak Indonesia dalam PISA berkaitan erat dengan adanya kesenjangan yang besar antara kurikulum dan pembelajaran IPA yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia dengan tuntutan PISA (Firman, 2007). Banyak sekali faktor yang diduga menyebabkan rendahnya literasi sains anak-anak Indonesia yang berkaitan dengan proses pendidikan salah satunya adalah buku ajar. Buku ajar pelajaran memiliki peranan penting dalam pembelajaran sains (Chiappetta et al., 1991). Buku ajar digunakan oleh guru untuk menyampaikan informasi kepada siswa. Oleh karena itu, analisis terhadap kondisi buku ajar ini sangat penting untuk dilakukan, terutama analisis yang berhubungan dengan literasi sains. Buku ajar yang dianalisis adalah buku fisika, buku ini merupakan bagian dari pendidikan sains dan salah satu mata pelajaran di sekolah. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana tingkat muatan literasi sains buku ajar fisika yang digunakan di SMA kelas XII di Kabupaten Pati dalam masing-masing kategori literasi sains? Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang tingkat muatan literasi sains buku ajar Fisika dalam dalam masing-masing kategori literasi sains. Buku ajar adalah buku pelajaran dalam bidang studi tertentu yang merupakan buku standar, yang disusun oleh para pakar dalam bidang tersebut dengan maksud-maksud dan tujuan instruksional, yang dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang sesuatu program pengajaran (Tarigan & Tarigan, 2009). Buku ajar ini dianalisis sesuai dengan muatan literasi sains. Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia (OECD, 2003). Komponen literasi sains yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi sains sebagai batang tubuh pengetahuan (a body of knowledge), sains sebagai cara untuk menyelidiki (way of investigating), sains sebagai cara berpikir (way of thinking), sains sebagai interaksi sains, teknologi dan masyarakat (Interaction of science, technology, and society) (Chiappetta et al., 1991). METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan bertujuan untuk menggambarkan ruang lingkup literasi sains pada buku ajar fisika SMA kelas XII yang dianalisis. Populasi pada penelitian ini adalah semua materi pada tiga buku ajar Fisika SMA kelas XII yang paling banyak digunakan di Kabupaten Pati yang dianalisis. Sampel dalam penelitian ini adalah beberapa halaman pada buku ajar Fisika SMA kelas XII yang digunakan di Kabupaten Pati yang dianalisis. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi berupa check list yang berisi indikator literasi sains dengan format ya dan tidak. Langkah awal penelitian ini adalah melakukan survey buku ajar yang digunakan di Kabupaten Pati. Selanjutnya memilih tiga buku ajar yang telah lulus Pusat Perbukuan dengan penerbit yang berbeda seta paling banyak digunakan di Kabupaten Pati. Buku ajar yang dianalisis ini disebut buku A, B, dan C. 17
3 Pengambilan sampel buku ajar dilakukan dengan cara multistage sampling yang terdiri atas dua tahap yaitu tahap pemilihan bab dan tahap pemilihan halaman. Pemilihan bab diambil 20% dari jumlah bab yang ada pada setiap buku ajar yang terpilih dan diambil secara acak. Untuk pemilihan halaman diambil 20% dari jumlah halaman pada bab yang dianalisis, sampel ini diambil secara purposive sampling yaitu memilih halaman sesuai dengan indikator kategori literasi sains yang mewakili bab itu. Pada tahap pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis per paragraf materi dari setiap halaman yang dianalisis dan mencocokkannya dengan instrumen lembar indikator literasi sains pada setiap buku. Selanjutnya pengambilan data dilakukan oleh dua pengamat. Menurut Arikunto (2010), untuk menentukan toleransi perbedaan hasil pengamatan, digunakan teknik pengetesan reliabilitas pengamatan menggunakan rumus koefisien kesepakatan. Koefisien kesepakatan (KK) dapat menunjukkan tingkat kesepakatan antara pengamat dalam menganalisis materi pelajaran pada ketiga buku ajar fisika berdasarkan literasi sains. Semakin tinggi tingkat koefisien kesepakatan (KK) maka reliabilitas suatu data hasil analisis semakin bagus. Hasil koefisien kesepakatan direkap dalam tabel rekapitulasi dengan kategori sebagai berikut < 0,40: sangat buruk; 0,40 0,75: bagus; dan > 0,75: sangat bagus (Chiapetta et al., 1991). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian koefisien kesepakatan pengamat I dan II pada masingmasing buku menunjukkan hasil yang sangat bagus. Tingkat kesepakatan buku A, B, dan C berturut-turut 0,96; 0,93; dan 1. Hal tersebut sesuai dengan tingkat kesepakatan pada Chiapetta et al. (1991) dengan nilai >0,75 menunjukkan kesepakatan yang sangat bagus. Hasil rekapitulasi koefisien kesepakatan pengamat masing-masing buku, disajikan pada tabel berikut ini. Tabel 1. Rekapitulasi Koefisien Kesepakatan Koefisien Kesepakatan No. Buku KK (Kasar) Kategori 1. Buku A 0,96 Sangat bagus 2. Buku B 0,93 Sangat bagus 3. Buku C 1 Sangat bagus Dengan kategori sebagai berikut: <0,40: sangat buruk; 0,40-0,75: bagus; >0,75: sangat bagus (Chiapetta et al., 1991). Hasil persentase kemunculan kategori literasi sains untuk setiap buku disajikan dalam Tabel 2 sebagai berikut. Tabel 2. Persentase Kemunculan Kategori Literasi Sains Untuk Setiap Buku No. Kategori Literasi Sains Buku A Buku B Buku C Rata-rata 1. Sains sebagai batang tubuh pengetahuan 75,67 66,67 70,49 70,94 2. Sains sebagai cara untuk menyelidiki 7,21 7,47 6,56 7,08 3. Sains sebagai cara berpikir 17,12 21,26 18,85 19,08 4. Interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat 0 4,60 4,10 2,90 Jumlah Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa kategori literasi sains pada setiap buku menunjukkan persentase yang berbeda. Persentase rata-rata kemunculan indikator literasi sains buku A, B, dan C yang paling banyak muncul yaitu kategori sains sebagai batang tubuh pengetahuan sebesar 70,94%. Kategori sains sebagai cara untuk menyelidiki adalah 7,08%. Kategori sains sebagai cara berpikir adalah 19,08%. Untuk kategori sains sebagai interaksi antara sains, teknologi, dan masyarakat sebesar 2,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa materi pada semua buku lebih menekankan kategori pengetahuan sains seperti fakta, konsep, prinsip, hukum, hipotesis, teori, model, dan meminta siswa untuk mengingat pengetahuan atau informasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Chiappetta et al. (1993), bahwa buku pelajaran sains kehidupan dan kimia di sekolah menengah lebih fokus pada kumpulan pengetahuan sains yang memberikan materi pelajaran dengan banyak menyajikan definisi dan mendeskripsikan proses kehidupan. Berdasarkan hasil penelitian buku pelajaran fisika, pemberian materi lebih mementingkan kategori pengetahuan saja. Siswa hanya pandai menghafal saja, tetapi kurang terampil dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya, hal ini mungkin terkait 18
4 dengan kecenderungan menggunakan hafalan sebagai wahana untuk menguasai ilmu pengetahuan, bukan kemampuan berpikir Adisendjaja (2009). Seharusnya siswa harus bisa melakukan penyelidikan terhadap halhal baru, bukan hanya menghafal ilmu pengetahuan saja. Rutherford & Ahlgen, sebagaimana dikutip oleh Lumpe & Beck (1996), mengemukakan bahwa siswa harus memahami sifat penyelidikan sains, termasuk proses-proses sains ketika melakukan aktivitas-aktivitas langsung yang berlevel kognitif tinggi. Keterampilan proses yang telah berhasil dikembangkan, pada akhirnya akan membantu siswa dalam membentuk sikap ilmiah serta proses berpikirnya. Dengan demikian menurut Lumpe & Beck (1996), menyatakan bahwa buku ajar tidak hanya memuat konten kimia saja tetapi juga dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk menyelidiki sendiri, memahami peranan penting dari kimia, dan menggambarkan cara yang dilakukan oleh ilmuwan dalam mengembangkan pemahaman pelajaran tertentu. Rendahnya kategori literasi sains sebagai cara berpikir pada penelitian di atas disebabkan karena buku sains yang diteliti tidak menekankan bagaimana seorang ilmuwan melakukan eksperimen, menunjukkan perkembangan sains, hubungan sebab akibat, mendiskusikan fakta dan bukti, serta menyajikan metode ilmuah dan pemecahan masalah (Chieppetta et al., 1991). Untuk menyajikan sains sebagai cara berpikir dalam buku ajar, Pusat Perbukuan Nasional (2003), menyatakan bahwa sains pada dasarnya mencari hubungan kausal antara gejala-gejala alam yang diamati, oleh karena itu proses pembelajaran sains seharusnya mengembangkan kemampuan bernalar dan berpikir sistematis selain kemampuan deklaratif yang selama ini dikembangkan. Namun pada kenyataannya, penyajian buku yang dianalisis belum sepenuhnya merujuk pada indikator literasi sains, walaupun semua buku yang dianalisis sudah menyajikan kategori literasi sains sebagai cara berpikir, tetapi proposinya masih jauh dibawah kategori pengetahuan sains. Padahal untuk mencapai tujuan pendidikan sains harus ada buku ajar sains terutama buku ajar fisika yang mengandung empat kategori literasi sains yang seimbang. Buku ajar yang dapat menunjang pembelajaran, yang tidak hanya menekankan pengetahuan sains saja, tetapi harus mencakup kategori literasi sains secara seimbang. Seperti yang dikemukakan oleh Leonard (1993), bahwa pelajaran sains sebaiknya lebih menekankan kepada aktivitas siswa, mengurangi kegiatan mengingat pengetahuan berupa fakta-fakta, lebih menekankan keterampilan proses sains untuk mendapatkan konsep, siswa belajar aktif dan sebagian besar waktu siswa dihabiskan di laboratorium atau kerja lapangan. SIMPULAN Analisis terhadap tiga buku ajar Fisika SMA kelas XII di Kabupaten Pati sesuai dengan muatan literasi sains yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tingkat muatan literasi sains tiga buku ajar fisika yang digunakan pada kategori sains sebagai batang tubuh pengetahuan sebesar 70,94%; sains sebagai cara untuk menyelidiki sebesar 7,08%; sains sebagai cara untuk berpikir sebesar 19,08%; dan sains sebagai interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat sebesar 2,90%. Secara keseluruhan buku pelajaran yang dianalisis sudah memuat kategori literasi sains, namun ada satu buku yang belum memuat kategori interaksi antara sains, teknologi serta masyarakat, dan perbandingan antara kategori belum seimbang. Buku yang dianalisis tersebut banyak mengandung pengetahuan, sedangkan aktivitas berfikir, menyelidiki dan interaksi antara sains, teknologi serta masyarakat sangat sedikit. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran untuk peneliti lain diharapkan telah memahami indikator-indikator literasi sains sehingga tidak kesulitan saat menganalisis buku ajar sains. Bagi penulis buku pelajaran sains, seharusnya dalam menulis buku ajar sains mengacu pada empat kategori literasi sains dengan proporsi yang seimbang. Bagi guru dan siswa sebaiknya dapat memilih buku ajar fisika yang telah mengacu pada kategori literasi sains yang seimbang. Bagi penerbit buku sebaiknya menerbitkan buku IPA yang sudah mengacu pada kategori muatan literasi sains yang seimbang,. Bagi dinas pendidikan sebaiknya lebih teliti dalam menyeleksi buku pelajaran IPA yang mengacu dengan peraturan kementerian pendidikan Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Adisendjaja, Y. H Analisis Buku Ajar Biologi SMA Kelas X di Kota Bandung Berdasarkan Literasi Sains. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI. Bandung: Tidak diterbitkan. Arikunto, S Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi V. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Chiappetta, E. L., D. A. Fillman, & G. H. Sethna A Method to Quantify Major Themes of 19
5 Scientific Literacy in Science Textbooks. Journal of research in science teaching, 28(8): Chiappetta, E. L., D. A. Fillman, & G. H. Sethna Do Middle School Life Science Textbooks Provide a Balance of Scientific Literacy Themes?. Journal of research in science teaching, 30(2): Firman, H Laporan Analisis Litersi Sains Berdasarkan Hasil PISA Nasional Tahun Jakarta : Pusat Penelitian Pendidikan Balitbang Depdiknas. Leonard, W. H. & J. E. Penick What s Important in selecting a Biology Textbooks?. Journal of The American Biology Teacher, 55(1): Lumpe, A. T. & J. Beck A Profile of High School Biology Textbooks Using Scientific Literacy Recommendations. Journal of The American Biology Teacher, 58 (3): OECD PISA 2003 Assessment Framework Mathematics, Reading, Science and Problem Solving Knowledge and Skills. Paris: OECD. OECD PISA Science competencies for tomorrow s world. Volume I : analysis. Paris: OECD. Pusat Perbukuan Depdiknas Standar Penilaian Buku Pelajaran Sains. Jakarta: Depdiknas. Rusilowati, A Peningkatan Literasi Sains Siswa Melalui Pengembangan Instrumen Penilaian. Pidato Pengukuhan Profesor Unnes Semarang. Tarigan, H. G. & D. Tarigan Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung : Angkasa. 20
ANALISIS BUKU AJAR IPA YANG DIGUNAKAN DI SEMARANG BERDASARKAN MUATAN LITERASI SAINS
ANALISIS BUKU AJAR IPA YANG DIGUNAKAN DI SEMARANG BERDASARKAN MUATAN LITERASI SAINS Ani Rusilowati Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang email: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. sering dimunculkan dengan istilah literasi sains (scientific literacy). Literasi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salah satu faktor yang berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman sekarang adalah kemampuan yang berhubungan dengan penguasaan sains. Kemampuan
ANALISIS BUKU AJAR BIOLOGI SMA KELAS X DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN LITERASI SAINS
ANALISIS BUKU AJAR BIOLOGI SMA KELAS X DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN LITERASI SAINS Yusuf Hilmi Adisendjaja JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA ABSTRAK Analisis buku ajar Biologi
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 4 (2) (2015) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TERPADU BERBASIS LITERASI SAINS BERTEMA GEJALA ALAM A. D. Safitri,A. Rusilowati,
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 4 (3) (2015) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TERPADU BERBASIS LITERASI SAINS BERTEMA PERPINDAHAN KALOR DALAM KEHIDUPAN Dyah
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DITINJAU DARI ASPEK-ASPEK LITERASI SAINS
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DITINJAU DARI ASPEK-ASPEK LITERASI SAINS Suciati 1, Resty 2, Ita.W 3, Itang 4, Eskatur Nanang 5, Meikha 6, Prima 7, Reny 8 Program Studi Magister
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Buku teks merupakan salah satu variabel penting dalam keberhasilan pembelajaran. Buku teks memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, kurikulum dan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan variabel-variabel yang ditinjau, penelitian dibedakan atas
30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Berdasarkan variabel-variabel yang ditinjau, penelitian dibedakan atas penelitian deskriptif dan penelitian eksperimen (Arikunto, 2006).
ANALISIS BUKU AJAR BIOLOGI SMA KELAS X DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN LITERASI SAINS
ANALISIS BUKU AJAR BIOLOGI SMA KELAS X DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN LITERASI SAINS Yusuf Hilmi Adisendjaja JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA ABSTRAK Analisis buku ajar Biologi
BAB I PENDAHULUAN. dasarnya pendidikan sains merupakan salah satu komponen dasar dari sistem
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan merupakan salah satu komponen terpenting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu bidang pendidikan banyak mendapatkan perhatian
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Literasi Sains Materi Suhu dan Kalor
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Literasi Sains Materi Suhu dan Kalor A. D. Paramita 1,A. Rusilowati 2, dan Sugianto 3 Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang
BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah seperti tidak dapat melanjutkan studi, tidak dapat menyelesaikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Mutu pendidikan yang baik dicerminkan oleh lulusan yang memiliki kompetensi yang baik. Mutu pendidikan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah seperti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Henita Septiyani Pertiwi, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada saat penulis melakukan studi pendahuluan pencapaian literasi kepada satu kelas yang berjumlah 40 siswa di salah satu SMP Negeri di Kota Bandung, penulis
Unnes Journal of Biology Education
Unnes.J.Biol.Educ. 1 (2) (2012) Unnes Journal of Biology Education http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujbe ANALISIS REPRESENTASI SALINGTEMAS BUKU AJAR BIOLOGI KELAS XI SMA NEGERI SEKOTA SEMARANG
BAB I PENDAHULUAN. kompetensi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sukmadinata (2004: 29-30) bahwa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kecakapan hidup atau life skills mengacu pada beragam kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan yang penuh kesuksesan dan kebahagiaan, seperti kemampuan
BAB I PENDAHULUAN. agar teori dapat diterapkan pada permasalahan yang nyata (kognitif), melatih
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Praktikum merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar. Praktikum menjadi sarana pengenalan bahan dan peralatan yang semula dianggap abstrak menjadi
Analisis Buku Ajar Fisika Kelas X MIA Semester II Berdasarkan Literasi Sains di SMA Negeri Se-Kabupaten Purworejo Tahun Pelajaran 2014/2015
Analisis Buku Ajar Fisika Kelas X MIA Semester II Berdasarkan Literasi Sains di SMA Negeri Se-Kabupaten Purworejo Tahun Pelajaran 2014/2015 Siti Kholipah, Nur Ngazizah, Sriyono Program Studi Pendidikan
ANALISIS BUKU BIOLOGI KELAS X BERDASARKAN MUATAN LITERASI SAINS Analysis of Biology Textbooks for 10 th Grade Based On Content of Scientific Literacy
ANALISIS BUKU BIOLOGI KELAS X BERDASARKAN MUATAN LITERASI SAINS Analysis of Biology Textbooks for 10 th Grade Based On Content of Scientific Literacy Ranti An Nisaa, Diana Rochintaniawati, Any Fitriani
2015 PENERAPAN MOD EL INKUIRI ABD UKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP D AN LITERASI SAINS SISWA SMA PAD A MATERI HUKUM NEWTON
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran sains yang dipelajari siswa di sekolah. Melalui pembelajaran fisika di sekolah, siswa belajar berbagai konsep
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Siti Nurhasanah, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan berubahnya kondisi masyarakat dari masa ke masa, idealnya pendidikan mampu melihat jauh ke depan dan memikirkan hal-hal yang akan dihadapi siswa di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan. Pendidikan yang tertata dengan baik dapat menciptakan generasi yang berkualitas, cerdas, adaptif,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan (Knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/ keterampilan (Skills development), sikap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penilaian 2.1.1 Pengertian Penilaian Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu (Sudjana, 2006). Menurut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan penting terutama dalam kehidupan manusia karena ilmu pengetahuan ini telah memberikan kontribusi yang
2014 PENGEMBANGAN BUKU AJAR KIMIA SUB TOPIK PROTEIN MENGGUNAKAN KONTEKS TELUR UNTUK MEMBANGUN LITERASI SAINS SISWA SMA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pentingnya sains dalam kehidupan manusia membuat kemampuan melek (literate) sains menjadi sesuatu yang sangat penting. Literasi sains merupakan tujuan yang ingin dicapai
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 4 (1) (2015) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS PRAKTIKUM TERHADAP PENGEMBANGAN SIKAP ILMIAH SISWA KELAS XI IPA SMA ISLAM
Joyful Learning Journal
JLJ 2 (3) (2013) Joyful Learning Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jlj PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA MELALUI PENDEKATAN SETS PADA KELAS V Isti Nur Hayanah Sri Hartati, Desi Wulandari
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sains dan teknologi adalah suatu keniscayaan. Fisika adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika adalah pondasi penting dalam pengembangan sains dan teknologi. Tanpa adanya pondasi fisika yang kuat, keruntuhan akan perkembangan sains dan teknologi
BAB I PENDAHULUAN. 1 Evy Yosita, Zulkardi, Darmawijoyo, Pengembangan Soal Matematika Model PISA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir
BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan keterampilan sepanjang hayat (Rustaman, 2006: 1). Sistem
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan suatu negara dalam mengikuti berbagai pentas dunia antara lain ditentukan oleh kemampuan negara tersebut dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewi Murni Setiawati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sains bukan hanya kumpulan pengetahuan saja. Cain dan Evans (1990, dalam Rustaman dkk. 2003) menyatakan bahwa sains mengandung empat hal, yaitu: konten/produk, proses/metode,
BAB I PENDAHULUAN. Untuk mengajarkan sains, guru harus memahami tentang sains. pengetahuan dan suatu proses. Batang tubuh adalah produk dari pemecahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Untuk mengajarkan sains, guru harus memahami tentang sains. Menurut Trowbridge et.al (1973) : Sains adalah batang tubuh dari pengetahuan dan suatu proses. Batang
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran sains di Indonesia dewasa ini kurang berhasil meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran sains di Indonesia dewasa ini kurang berhasil meningkatkan kemampuan literasi sains siswa, uraian tersebut berdasarkan pada informasi diagnostik
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25 ANALISIS PERBANDINGAN LEVEL KOGNITIF DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM STANDAR ISI (SI), SOAL UJIAN NASIONAL (UN), SOAL (TRENDS IN INTERNATIONAL
ANALISIS BUKU AJAR SAINS BERDASARKAN LITERASI ILMIAH SEBAGAI DASAR UNTUK MEMILIH BUKU AJAR SAINS (BIOLOGI)
ANALISIS BUKU AJAR SAINS BERDASARKAN LITERASI ILMIAH SEBAGAI DASAR UNTUK MEMILIH BUKU AJAR SAINS (BIOLOGI) Oleh: Yusuf Hilmi Adisendjaja 1) dan Oom Romlah2) Diseminarkan pada tgl 25-26 Mei 2007 pada Seminar
MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA MODEL PISA LEVEL 4. Kamaliyah, Zulkardi, Darmawijoyo
JPM IAIN Antasari Vol. 1 No. 1 Juli Desember 2013, pp. 1-8 MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA MODEL PISA LEVEL 4 Kamaliyah, Zulkardi, Darmawijoyo Abstrak PISA (Program International for Student Assessment)
ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIK MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA
Prabawati, M. N. p-issn: 2086-4280; e-issn: 2527-8827 ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIK MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA THE ANALYSIS OF MATHEMATICS PROSPECTIVE TEACHERS MATHEMATICAL LITERACY SKILL
I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus diarahkan
BAB I PENDAHULUAN. siswa Indonesia mampu hidup menapak di buminya sendiri.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya terorganisir yang memiliki makna bahwa pendidikan dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan daya dan tujuan yang jelas, memiliki
I. PENDAHULUAN. proses aktualisasi siswa melalui berbagai pengalaman belajar yang mereka dapatkan.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana yang penting dalam menciptakan dan membentuk generasi yang bermutu. Dalam pengertian lain pendidikan dapat diartikan sebagai proses aktualisasi
BAB I PENDAHULUAN. Skor Maksimal Internasional
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutu pendidikan dalam standar global merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pendidikan di negara kita. Indonesia telah mengikuti beberapa studi internasional,
Analisis Buku Biologi SMA Kelas X Materi Kingdom Animalia Berdasarkan Literasi Sains Se-Kabupaten Deli Serdang
Analisis Buku Biologi SMA Kelas X Materi Kingdom Animalia Berdasarkan Literasi Sains Se-Kabupaten Deli Serdang Fitriana Siregar 1*, Hasruddin 2, Ely Djulia 2 1 Guru di SMK Taman Siswa cabang Lubuk Pakam,
BAB I PENDAHULUAN. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini menjadi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan di masa depan. Untuk itu, pendidikan Ilmu Pengetahuan
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 4 (2) (2015) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENGEMBANGAN LKS BERBASIS REACT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA KELAS VII SMP T. R.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN LABORATORIUM TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA PESERTA DIDIK SMPN 3 PALAKKA KABUPATEN BONE
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN LABORATORIUM TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA PESERTA DIDIK SMPN 3 PALAKKA KABUPATEN BONE THE EFFECTIVENESS OF THE LABORATORY UTILIZATION TOWARD MOTIVATION AND LEARNING OUTCOMES
HUBUNGAN LITERASI SAINS DAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA PADA KONSEP ASAM BASA. Abstract
Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA HUBUNGAN LITERASI SAINS DAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA PADA KONSEP ASAM BASA (Diterima 30 September 2015; direvisi 15 Oktober 2015; disetujui 12 November 2015) R. Ahmad
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kualitas pendidikan di Indonesia masih banyak yang harus diperbaiki. Hal ini bisa diketahui berdasarkan beberapa temuan dari lembaga non-profit internasional yang memperlihatkan
Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No. 299 Bandung
Pengaruh Integrasi Proses Reasearching Reasoning Reflecting (3R) pada Model Problem Basel Learning (PBL) terhadap Domain Literasi Saintifik Siswa SMA Kelas X A.I. Irvani 1*, A. Suhandi 2, L. Hasanah 2
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kimia merupakan bagian dari rumpun sains, karena itu pembelajaran kimia juga merupakan bagian dari pembelajaran sains. Pembelajaran sains diharapkan dapat
ANALISIS BUKU SISWA MATA PELAJARAN IPA KELAS VIII SMP/MTs BERDASARKAN KATEGORI LITERASI SAINS
JURNAL INOVASI DAN PEMBELAJARAN FISIKA ISSN: 55 709 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya Jl. Palembang Prabumulih KM Indralaya Kab. Ogan Ilir Prov. Sumatera Selatan Indonesia 066
Economic Education Analysis Journal
EEAJ 3 (3) (2014) Economic Education Analysis Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eeaj PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP VALUTA ASING SERTA HASIL
Joyful Learning Journal
JLJ 3 (1) (2014) Joyful Learning Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jlj Penerapan Model Student Facilitator And Explaining Berbantuan Media Visual untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ika Citra Wulandari, 2015
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang banyak digunakan dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan pada hampir semua mata pelajaran yang
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 3 (3) (2014) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN POE (PREDICT-OBSERVE-EXPLAIN) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 2 (1) (2013) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENERAPAN MODELLING METHODS OF PHYSIC INSTRUCTION UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING SISWA SMP
Kimia merupakan salah satu rumpun sains, dimana ilmu kimia pada. berdasarkan teori (deduktif). Menurut Permendiknas (2006b: 459) ada dua hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kimia merupakan salah satu rumpun sains, dimana ilmu kimia pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan
ANALYSIS OF HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) STUDENT IN PROBLEM SOLVING OF PHYSICS SCIENCE NATIONAL EXAMINATON
1 ANALYSIS OF HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) STUDENT IN PROBLEM SOLVING OF PHYSICS SCIENCE NATIONAL EXAMINATON Uulia Iffa, Fakhruddin, Yennita Email: [email protected], HP: 085228848626, [email protected],
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi aspek yang paling berpengaruh dalam upaya membentuk generasi bangsa yang siap menghadapi masalah-masalah di era globalisasi. Namun, kualitas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh halaman materi pada buku teks pelajaran IPA SD kelas V yang digunakan di sekolah. Buku teks pelajaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan seseorang akan memiliki pengetahuan yang lebih baik serta dapat bertingkah
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 5 (2) (2016) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PROSES PEMBELAJARAN MODEL PAIR CHECKS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP Hesti Rizqi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Buku adalah komponen penting dalam proses pembelajaran. Buku teks atau buku ajar merupakan bahan pengajaran yang paling banyak digunakan diantara semua bahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa depan bangsa sangat tergantung pada kondisi pendidikan karena pendidikan merupakan investasi masa depan bangsa dimana anak bangsa dididik agar bisa meneruskan
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 4 (1) (2015) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej IMPLEMENTASI MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) BERBASIS PROBLEM POSING (PP) PADA PEMBELAJARAN FLUIDA DINAMIS U.
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 2 (2) (2013) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej ANALISIS BUKU PELAJARAN FISIKA SMA KELAS XI YANG DIGUNAKAN DI SALATIGA Hartono, Ihdina I.M. dan H.Susanto
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah pendidikan di Indonesia adalah siswa Indonesia belum dapat bersaing dengan siswa negara lain. Padahal tuntutan persaingan dalam bidang pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Di sekolah dasar, Ilmu Pengetahuan Alam atau sains merupakan salah satu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di sekolah dasar, Ilmu Pengetahuan Alam atau sains merupakan salah satu pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional selain matematika dan bahasa Indonesia.
Unnes Physics Education Journal
UPEJ 3 (3) (2014) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENGGUNAAN MEDIA SIMULASI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA PADA SISWA LINTAS MINAT
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam bentuk perubahan tingkah laku dan kemampuan berkreasi yang relatif permanen atau menetap karena
Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Bilingual dengan Pendekatan Kontekstual pada Materi Sistem Reproduksi Manusia
Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Bilingual dengan Pendekatan Kontekstual pada Materi Sistem Reproduksi Manusia Developing Bilingual Student Work Sheet with Contextual Approach on Human Reproductive
PERANCANGAN PEMBELAJARAN LITERASI SAINS BERBASIS INKUIRI PADA KEGIATAN LABORATORIUM
Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA PERANCANGAN PEMBELAJARAN LITERASI SAINS BERBASIS INKUIRI PADA KEGIATAN LABORATORIUM (Diterima 30 September 2015; direvisi 16 Oktober 2015; disetujui 12 November 2015)
Banina Firdaus et al., Analisis Soal dalam Buku Matematika Kelas VII Kurikulum
42 Analisis Soal Dalam Buku Matematika Kelas VII Kurikulum 2013 Berdasarkan Mathematical Literacy Assessment Taxonomy (Analysis of Test Items in Math Book for VII th Grade 2013 Curriculum Based on Mathematical
DESKRIPSI LITERASI SAINS AWAL MAHASISWA PENDIDIKAN IPA PADA KONSEP IPA
JOURNAL PEDAGOGIA ISSN 2089-3833 Volume. 4, No. 2, Agustus 2015 DESKRIPSI LITERASI SAINS AWAL MAHASISWA PENDIDIKAN IPA PADA KONSEP IPA Noly Shofiyah Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Literasi sains merupakan salah satu ranah studi Programme for Internasional Student Assessment (PISA). Pada periode-periode awal penyelenggaraan, literasi sains belum
BAB I PENDAHULUAN. dalam pengembangan kurikulum matematika pada dasarnya digunakan. sebagai tolok ukur dalam upaya pengembangan aspek pengetahuan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika yang disusun dalam pengembangan kurikulum matematika pada dasarnya digunakan sebagai tolok ukur dalam upaya
I. PENDAHULUAN. membantu proses pembangunan di semua aspek kehidupan bangsa salah satunya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sangat membantu proses pembangunan di semua aspek kehidupan bangsa salah satunya yaitu aspek pendidikan.
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN AJAR BROSUR TERHADAP AKTIVITAS DAN PENGUASAAN MATERI OLEH SISWA. (Artikel) Oleh: Ely Fitri Astuti
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN AJAR BROSUR TERHADAP AKTIVITAS DAN PENGUASAAN MATERI OLEH SISWA (Artikel) Oleh: Ely Fitri Astuti FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014
2015 KONSTRUKSI DESAIN PEMBELAJARAN IKATAN KIMIA MENGGUNAKAN KONTEKS KERAMIK UNTUK MENCAPAI LITERASI SAINS SISWA SMA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Organisasi dunia OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) mengembangkan suatu program yang disebut PISA (Programme for International Student Assessment).
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES LITERASI SAINTIFIK UNTUK SISWA KELAS XI MIA SMA/MA
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES LITERASI SAINTIFIK UNTUK SISWA KELAS XI MIA SMA/MA Sunarno Prayogo* dan Hadi Suwono Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang No. 5 Malang 65145 *Email:
BAB I PENDAHULUAN. teknologi (Depdiknas, 2006). Pendidikan IPA memiliki potensi yang besar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai bagian dari pendidikan pada umumnya berperan penting untuk menyiapkan peserta didik yang mampu berpikir kritis,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, dimana meningkatnya kualitas pendidikan bergantung dari kualitas dan standar dari kurikulum
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keterampilan berbahasa (language skills) meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut antara lainnya saling
