LAPORAN PERJALANAN DINAS NOMOR : ST. 602 /BPSPL/T /IX/2016

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN PERJALANAN DINAS NOMOR : ST. 602 /BPSPL/T /IX/2016"

Transkripsi

1 LAPORAN PERJALANAN DINAS NOMOR : ST. 602 /BPSPL/T /IX/2016 Kepada : Kepala BPSPL Padang Perihal laporan perjalanan dinas : Dalam Rangka Pembinaan Pendataan Penyu di Pantai Barat Kabupaten Tapanuli Tengah Tanggal perjalanan dinas : September 2016 Lampiran : 1 (satu) berkas MAK : ISI LAPORAN SINGKAT: Pembinaan Pendataan Penyu di Tapanuli Tengah dilaksanakan dengan pertemuan di ruang aula SMPN III Sorkam Barat dan dilanjutkan dengan praktek di salah satu bagian pantai Binasi, Sorkam. Sebagaimana agenda pertemuan diadakan pada hari Rabu, tanggal 21 September 2016, dimulai pukul WIB, dengan pembukaan dan pemberian kata sambutan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Tapanuli Tengah, dalam hal ini diwakili oleh bapak Edward Bangun, S.Pi. Dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan dari Lurah Desa Binasi, Bapak Sulaiman Pasaribu. Pertemuan dilanjutkan dengan penyampaian materi dengan tema Kebijakan Terkait Perlindungan dan Pelestarian Penyu oleh Kepala Bidang Konservasi Sumberdaya Alam Wilayah III, Padang Sidempuan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Bapak Gunawan Alza. Pertemuan dilakukan secara panel, dilanjutkan dengan penyampaian materi dengan tema Pengelolaan Kawasan Pelestarian Penyu yang Berwawasan Ekowisata oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Tapanuli Tengah, Bapak Rapson Okardo Purba. Dilanjutkan dengan sesi diskusi. Sesi selanjutkan pemaparan materi dengan tema Teknis Penanganan dan Monitoring Penyu (disertai praktek) oleh bapak Akhmad Faisal Batubara dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang Satker Medan. Dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab sekaligus praktek di ruangan. Dari hasil diskusi disepakati dan disimpulkan bahwa : 1) Pemanfaatan penyu bukan untuk konsumsi melainkan pariwisata, 2) Target biota dilindungi kabupaten Tapanuli Tengah diantaranya penyu, kima, lola dan teripang, 3) Tahapan tehnik penanganan penyu yang naik ke pantai, antara lain, tehnik melakukan pengukuran penyu (panjang keseluruhan penyu, panjang karapas, dan lebar karapas penyu itu sendiri), tehnik pemantauan penyu yang naik untuk bertelur, tehnik pengambilan telur (jika penetasan semi alami), tehnik pemberian tanda pada sarang telur, tehnik pencatatan data telur, tehnik pembuatan sarang telur, dan tehnik pemberian informasi kepada masyarakat (wisatawan/jika bersifat edukasi atau ekowisata). Notulensi dan dokumentasi kegiatan sebagaimana terlampir. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek langsung mekanisme penanganan dan monitoring penyu di pantai Binasi, Sorkam. Demikian Laporan Perjalanan Dinas ini kami sampaikan dengan penuh tanggung jawab.

2 Mengetahui, Kepala Balai, Padang, 23 - September Yang Melaporkan, Muhammad Yusuf, S.Hut., M.Si NIP (Dina Arya Purnama, S.Si) NIP (Akhmad Faisal Batubara, S.St.Pi)

3 Lampiran I. Notulensi Kegiatan Pembinaan Pendataan Penyu di Pantai Barat Kabupaten Tapanuli Tengah Bertempat : Aula SMP N III - Sorkam Barat Hari/Tanggal : Rabu, 21 September 2016 NO PEMATERI/PENANYA MATERI/PERTANYAAN/JAWABAN Pembukaan 1. Pembukaan dan penyampaian kata sambutan disampaikan oleh Bapak Edward Bangun, S.Pi mewakili Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Tapanuli Tengah yang berhalangan hadir. Materi Pemaparan 1. Pak Gunawan Alza (narasumber dari BKSDA Sumatera Utara Wilayah III Padangsidimpuan) - Pemda kabupaten Tapanuli Tengah mendukung upaya konservasi di pantai Binasi Desa Sorkam Barat. - Telah adanya SK Pencadangan KKLD Tapanuli Tengah, yang diantaranya termasuk Pulau Mursala. - Kelompok konservasi pantai pasar Sorkam Binasi terbentuk tahun 2012 dan mulai aktif membantu penetasan telur penyu dan pelepasan tukik sejak awal tahun Pendanaan kelompok masih secara swadaya anggota. Kelompok sudah memiliki SK Kepala Desa (tembusan ke Camat) tahun Pemda Tapanuli Tengah juga merencanakan akan adanya kelompok konservasi lainnya, seperti dari Desa Labuan Angin, dan daerah lainnya. Kelompok tersebut akan dibuatkan SK dari DKP Tapteng dan didaftarkan ke Kemenkumham. - Regulasi tentang perlindungan jenis penyu, diantaranya : a. UU 5/1990 tentang konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya, b. UU 32/2004 tentang pemerintah daerah, c. UU 27/2007 Jo UU 1/2014 tentang pengelolaan wilayah pesisir, d. UU 45/2009 tentang perikanan, e. PP 60/2007 tentang konservasi sumberdaya ikan f. PP 7/99 dimana dilampiran dinyatakan penyu dilindungi, g. PP 8/99 dimana terdapat pernyataan sanksi hukum pelanggaran. - Pemanfaatan penyu bukan untuk konsumsi melainkan pariwisata. - Perlindungan penyu dengan regulasi internasional, diantaranya : CITES. Peraturan perdagangan. Penyu termasuk dalam kategori Appendiks I (sangat langka). Penyu juga masuk dalam daftar merah IUCN. - Penyu merupakan sumberdaya alam (SDA) hewani. Penyu dapat hidup baik di darat maupun air. Penyu merupakan satwa liar yang hidup di habitat alami. - Sanksi ada di PP 77/1999 dimana dikatakan bila adanya penyimpanan, perburuan dan penangkapan satwa dilindungi. - Status konservasi penyu terdapat pada PP 7/99 yang menyatakan dengan tegas bahwa penyu dilindungi. - Terdapat 7 jenis penyu di dunia dan semua jenis dilindungi. Dimana, 6 diantaranya ada di Indonesia. Ke-7 jenis penyu, diantaranya : penyu Hijau, penyu Lekang, penyu Belimbing, penyu Pipih, penyu Tempayan, penyu Sisik dan penyu Lekang Kempii (tidak ada di Indonesia). - Ada beberapa teknik monitoring penyu, yang akan disampaikan lebih lanjut oleh narasumber BPSPL Padang. - Ancaman penyu didapat sejak telur hingga dewasa sehingga

4 NO PEMATERI/PENANYA MATERI/PERTANYAAN/JAWABAN diperlukan adanya roadmap perlindungan penyu. 2. Pak Rapson Okardo Purba (narasumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Tapanuli Tengah) 3. Akhmad Faisal Batubara (narasumber dari BPSPL Padang) - Regulasi/kebijakan perlindungan penyu, rehabilitasi penyu. Penyu termasuk dalam biota yang wajib dilindungi. Lembaga dunia, diantaranya Ocean Development Bank (ODP) fokus dalam perlindungan jenis penyu. - KKLD kabupaten Tapanuli Tengah, mencakup zona inti di Hili Badalu, perumahan Nduru, di pulau Mursala. - Berdasarkan karakteristik KKLD (pulau Mursala). Penyu berasosiasi dengan lokasi padang lamun (nama lokal : Jariamun). Penyu dapat dijumpai di sekitar pulau mursala dan pulau kecil disekitarnya, yaitu pulau Putri, Hili Badalu. Lokasi tersebut telah dibangun pondok informasi KKLD yang dibangun berdasarkan APBD Tapanuli Tengah. - Pemerintah daerah Tapteng akan merancang perda-perda tentang pengelolaan penyu. Diharapkan diikuti hingga dikeluarkannya Perdes agar lebih kuat. - Sampai saat ini telah ada perda Tapteng 2007 mengenai pengelolaan terumbu karang. Perda pertama yang muncul mengenai pengelolaan terumbu karang awalnya hanya dilakukan oleh pemda Tapteng dan Natuna. Perda tersebut menggambarkan tata cara perlindungan terumbu karang. - Target biota dilindungi kabupaten Tapanuli Tengah diantaranya penyu, kima, lola dan teripang. - Saran untuk pengembangan pantai Binasi Sorkam adalah dengan diadakannya kegiatan berbasis ekowisata, daya tarik wisata, kehidupan penyu di pantai Binasi. Dapat dilakukan bersamaan bila ada budaya desa, atau jenis pertunjukan khas desa Sorkam. Konservasi juga dapat diawali dari bentuk kearifan lokal. - Konservasi juga dapat dilakukan melalui pengawasan berbasis wisata, pembangunan penangkaran penyu, studi pembelajaran konservasi penyu, dilanjutkan dengan pembuatan perda, peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dari Dinas KP Tapteng. - Konservasi perlu berdasarkan keinginan konservasi secara mandiri dari dalam kelompok masyarakat, sebagai pioneer, tanpa menyalahkan pihak manapun maupun menunggu bantuan pihak lain. - Konservasi juga dapat dilakukan dengan melibatkan peran serta atau kerjasama dengan lembaga asing, seperti WWF dan CI. Seperti halnya pengembangan kelompok konservasi penyu di Bali, dengan adanya volunteer dari luar dan dalam negeri untuk perlindungan penyu. Volunteer akan diberikan Sertifikat sebagai bentuk apresiasi. Dengan ini menumbuhkan rasa peduli dan konservasi penyu. - Penyu adalah reptil yang hidup di laut dan memiliki kemampuan berpindah dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara. - Dari 7 (tujuh) jenis penyu di dunia, tercatat 6 (enam) jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan

5 NO PEMATERI/PENANYA MATERI/PERTANYAAN/JAWABAN (Caretta caretta). - Penyu memiliki sifat pengembara, dan hidup bebas, oleh sebab itu selain melindunginya dari predator, kita juga tidak disarankan untuk melakukan pembesaran anakannya (Tukik) karena dapat merubah sifat aslinya sendiri. - Penyu dewasa memiliki sifat makan herbivora, sedangkan pada saat kecil (tukik) bersifat karnivora. - Dalam proses hidup, penyu menghabiskan waktunya di laut, termasuk proses reproduksi. Usia penyu pertama kali melakukan perkawinan umumnya di usia 18 tahun ke atas. - Pada fase peneluran, umumnya penyu melakukan peneluran sebanyak 4 5 kali. - Jarak / interval peneluran penyu itu sendiri 7 sampai 14 hari. - Pada proses peneluran, penyu pertama kali melihat / menuju daratan peneluran dengan melihat kondisi aman di daratan / pantai yang akan penyu singgahi. Jika pantai tersebut aman dari makhluk hidup (predator), cahaya yang bergerak, maka penyu akan meneruskan berenang ke arah pantai. Namun jika aspek keamanan itu tidak terjamin maka penyu akan mencari pantai peneluran di tempat yang lain (tidak jauh dari pantai peneluran yang pertama). - Proses penyu naik ke daratan untuk melakukan peneluran, membuat sarang tubuh, membuat sarang telur, menjatuhkan telur, hingga menutup sarang dan kembali ke laut membutuhkan waktu normal 2 sampai 3 jam. - Tumbuhan pantai / vegetasi pantai sangat erat kaitannya terhadap keamanan penyu naik untuk melakukan peneluran, karena jika vegetasinya masih rapat maka dapat menahan cahaya atau sinar yang bergerak yang mungkin saja berasal dari pemukiman warga/masyarakat dengan segala aktifitas yang dilakukannya. - Pembersihan pantai merupakan kebiasaan yang sangat disarankan untuk menjaga kelestarian pantai peneluran, sehingga jika penyu naik untuk melakukan peneluran tidak menemukan hambatan berupa sampah maupun kayu yang mungkin saja terbawa ombak dari lautan. - Dalam melakukan tehnik pendataan, masyarakat/stakeholder harus terlebih dahulu mengetahui tata cara atau pedoman yang dijadikan pedoman dalam melakukan kegiatan yang dimaksud, sehingga mampu menangani penyu mulai dari naik ke pantai hingga kembali lagi ke laut. - Ada beberapa tahapan tehnik penanganan penyu yang naik ke pantai, antara lain, tehnik melakukan pengukuran penyu (panjang keseluruhan penyu, panjang karapas, dan lebar karapas penyu itu sendiri), tehnik pemantauan penyu yang naik untuk bertelur, tehnik pengambilan telur (jika penetasan semi alami), tehnik pemberian tanda pada sarang telur, tehnik pencatatan data telur, tehnik pembuatan sarang telur, dan tehnik pemberian informasi kepada masyarakat (wisatawan/jika bersifat edukasi atau ekowisata). - Pemindahan telur disarankan sebelum mencapai 2 jam setelah penyu melakukan peneluran. - Jika pantai peneluran dianggap aman dari berbagai predator, disarankan untuk tidak memindahkan telur dari sarang alami

6 NO PEMATERI/PENANYA MATERI/PERTANYAAN/JAWABAN Diskusi 1. Sulaiman Pasaribu (Lurah Desa Binasi) (yang dibuat penyu). - Dalam proses penetasan, diketahui ada 3 jenis penetasan, seperti : penetasan alami (tidak ada campur tangan manusia), penetasan semi alami (adanya campur tangan manusia) seperti pemindahan telur dari sarang alami ke tempat yang dianggap aman dan membuat sarang telur kembali. Kemudian yang terakhir, ada juga penetasan telur secara buatan, artinya semua proses setelah telur dikeluarkan dari tubuh penyu, suhu, dan kondisi yang biasa nya dialami telur penyu tersebut dibuat oleh manusia. - Kedalaman, suhu, dan air sangat menentukan tingkat penetasan telur penyu. - Dalam menilai keberhasilan penetasan, kita harus dapat melakukan penelusuran penanganan yang baik, sehingga kita tidak bisa menitik beratkan dari satu aspek dalam melihat persentasi penetasan yang diharapkan. - Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan memelihara spesies penyu sangat diharapkan sehingga kehidupan penyu tetap lestari dan bukan hanya kenangan di masa yang akan datang. - Penyu merupakan indikator dari suatu perairan yang harus tetap dijaga, sehingga siklus hidup ekosistem di laut tetap stabil dan sehat. - Usul ke DKP Tapteng agar dapat segera mematok batas sempadan pantai. Berdasarkan PP 51/2016 tentang sempadan pantai. Hal ini terkait masalah kepemilikan tanah, dimana biasanya pemilik tanah mengklaim tanah hingga ke laut, tidak ada sempadan pantai. - Konservasi butuh pembinaan dan dana dukungan dari berbagai pihak. - Konservasi membutuhkan pelatihan peningkatan SDM nelayan untuk peningkatan ekonomi nelayan, seperti halnya pelatihan budidaya teripang, budidaya kerang mutiara. - Sebagai wadah informasi di Desa Binasi dapat dibentuk KIM, Kelompok Informasi Masyarakat. - Desa mendukung keberadaan kelompok konservasi pantai pasar Sorkam Binasi yang terbentuk tahun 2012 dan sejak awal tahun 2014mulai aktif membantu penetasan telur penyu dan pelepasan tukik. Desa sudah mengeluarkan SK Perdes Tahun Diharapkan adanya dukungan pemda untuk pembangunan pos penjagaan. 2. Pak Sanbudi - Kelompok Konservasi Sorkam melakukan pembelajaran penetasan telur penyu hingga pelepasan tukik dilakukan secara otodidak. Awalnya pak Budi ingin membentuk kelompok konservasi dan disampaikan ke pak Edo (Edward Bangun) dari DKP Tapanuli Tengah. Pak Edo mendukung sebagaimana awal pembentukan dilakukan oleh DKP Tapteng pada tahun Kelompok Konservasi selama ini menampung bila ada oknum masyarakatt yang menjual telur, dan menetaskan hingga melepaskan tukik. Penanganan yang belum sesuai prosedur, sehingga tukik yang menetas jauh dari harapan. Banyak telur yang rusak. - Kegiatan Kelompok Konservasi dilakukan rutin, terutama di saat

7 NO PEMATERI/PENANYA MATERI/PERTANYAAN/JAWABAN penyu banyak dijumpai naik ke daratan untuk bertelur, diantara bulan 11 sampai dengan bulan 4 tahun berikutnya. Saat terlihat penyu naik ke daratan barulah anggota kelompok melakukan pemantauan. - Kendala saat ini, adanya ditemukan oknum nelayan yang menggunakan Potassium untuk menangkap ikan, ada pula dijumpai pemanah ikan. Bila ada laporan dari masyarakat, anggota kelompok akan terjun ke lokasi untuk melakukan pemantauan. 3. Pak Rapson - Kegiatan pemantauan dan pengawasan pelanggarran perikanan sebaiknya dapat dilakukan pula dengan berkoordinasi dengan pos Lanal yang ada di Binasi dan kecamatan Barus. Baik berupa pengawasan rutin dan patroli. Intansi yang fokus ke pengawasan diantaranya PSDKP dan Lanal sehingga respon pelaporan warga dapat lebih cepat dan tepat sasaran. - Mengenai pola hidup masyarakat yang terbiasa mengkonsumsi telur dan daging penyu, harus terus dilakukan sosialisasi dan pendekatan. Untuk mengubah perilaku masyarakat sangat susah, perlu rutin dilakukan kampanye wisata, duta wisata, artis wisata untuk mengenalkan konservasi penyu di Sorkam agar pendapatan masyarakat terkait telur dan daging penyu dapat teralihkan dengan potensi wisata yang sejalan dengan tujuan konservasi. Bisa diawali dengan menyebarkan selebaran tentang keberadaan konservasi penyu di Sorkam, dan seterusnya. Perlu ditutup lapo tuak di barus. 4. Dina Arya - Sebagai masukan, di Bali sudah berkembang wisata konservasi penyu. - Berawal dari dukungan WWF pada bapak I Made Kanta dan timnya yang berkeinginan melestarikan pantai dan penyu di lahan yang gersang dan ditinggalkan, hingga terbentuknya TCEC (Turtle Conservation and Education Center) di Serangan, Bali. - TCEC berawal dari tanpa keuntungan dan gaji pegawai. Staf disana awalnya hanya kerja sukarela dan ikhlas (relawan). Dukungan WWWF untuk konsumsi anggota selama 2 tahun, pemda Bali juga memberikan dana terbatas hingga TCEC mengembangkan diri dan mempromosikan kegiatannya melalui web dan internet, terutama karena dengan keberadaan di Bali yang sering dikunjungi wisatawan internasional, sehingga perlahan TCEC mulai dikenal dunia. Bahkan mayoritas turis yang berkunjung adalah turis asing. - Saat ini TCEC telah memperoleh dana dari donasi pengunjung yang mayoritas berasal dari luar negeri. - Sekarang, TCEC sudah memiliki beberapa kandang peneluran dan fasilitas yang bagus. TCEC juga memberikan kesempatan bagi siapapun yang ingin menjadi relawan (volunteer) yang berasal dari masyarakat setempat dan beberapa relawan asing yang nantinya akan diberikan semacam sertifikat yang berlaku internasional. - TCEC juga telah memiliki nomor call center bila ada kejadian penyu bertelur dan masyarakat setempat tidak mampu memberi keamanan perlindungan sarang alami telur penyu sehingga penyu harus dibawa TCEC ke kandang peneluran. - Untuk niat konservasi harus diawali dengan niat tulus, niat bukan untuk mencari keuntungan. Bila sudah jalan, keuntungan akan

8 NO PEMATERI/PENANYA MATERI/PERTANYAAN/JAWABAN datang dengan sendirinya. Kelompok Konservasi Sorkam bisa memanfaatkan jaringan media sosial, facebook, twitter, dan lainlain agar respon wisatawan setidaknya turis nasional lebih cepat. Tapanuli Tengah juga didukung dengank eberadaan CI (Conservation Internasional) yang berlokasi di Tapanuli Selatan. 5. Pak Gunawan - BKSDA menangani peredaran dan perdagangan penyu. - Saat bertemu dengan masyarakat/ oknum nelayan/ pelaku yang masih mengkonsumsi telur dan daging penyu, sebaiknya terus lakukan sosialisasi, berikan peringatan akan sanksi dan hukuman, dan studi kasus daerah lain yang penegakan hukumnya sudah berjalan. Jangan langsung dihukum atau disidangkan. - Untuk studi kasus yang pernah ditangani BBKSDA di Aceh Selatan, penyu belimbing pernah ditetaskan di sekitar taman nasional gunung leuser. 6. Pak Ihsan - Bagaimana teknik pengamatan penyu dengan urutan yang benar. 7. Pak Akhmad Faisal - Praktek langsung menggunakan bahan dan perangkat yang ada.

9 Lampiran II. Dokumentasi Alat dan Bahan Gambar. Alat dan Bahan yang digunakan Praktek Monitoring Penyu Gambar. Penyu Buatan (dari gabus disatukan dengan kawat dan dicat) Gambar. Kawat/Jaring untuk Pagar Pelindung Kandang Telur

10 Dokumentasi Kegiatan Gambar. Narasumber. Dari DKP Tapteng, BPSPL Padang dan BBKSDA (Dari Kiri Kanan : Rapson, Faisal, Edward, Gunawan, Sulaiman) Gambar. Peserta yang hadir sejumlah 20 Orang terdiri dari Pelaku Konservasi Penyu dari Beberapa Desa di Kabupaten Tapanuli Tengah Gambar. Diskusi dan Praktek Pengukuran Penyu di Ruangan

11 Gambar. Persiapan Praktek Penanganan dan Monitoring Penyu Gambar. Praktek Penanganan dan Monitoring Telur dan Sarang Penyu Gambar. Praktek Penanganan dan Monitoring Penyu

12 Gambar. Praktek Penanganan dan Monitoring Penyu Gambar. Serah Terima Bantuan Gambar. Serah Terima Bantuan

13

I. PENDAHULUAN. Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia.

I. PENDAHULUAN. Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman purba (145-208 juta tahun yang lalu) atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistemnya. Pasal 21 Ayat (2). Republik Indonesia. 1

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistemnya. Pasal 21 Ayat (2). Republik Indonesia. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki kekayaan laut yang sangat berlimpah. Banyak diantara keanekaragaman hayati

Lebih terperinci

Mengembalikan Teluk Penyu sebagai Icon Wisata Cilacap

Mengembalikan Teluk Penyu sebagai Icon Wisata Cilacap Mengembalikan Teluk Penyu sebagai Icon Wisata Cilacap Tri Nurani Mahasiswa S1 Program Studi Biologi Universitas Jenderal Soedirman e-mail: [email protected] Abstrak Indonesia merupakan negara yang mempunyai

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KEBERHASILAN PENETASAN TELUR PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata) DI PENANGKARAN PENYU PANTAI TONGACI DAN UPT PENANGKARAN PENYU GUNTUNG

PERBANDINGAN KEBERHASILAN PENETASAN TELUR PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata) DI PENANGKARAN PENYU PANTAI TONGACI DAN UPT PENANGKARAN PENYU GUNTUNG 77 PERBANDINGAN KEBERHASILAN PENETASAN TELUR PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata) DI PENANGKARAN PENYU PANTAI TONGACI DAN UPT PENANGKARAN PENYU GUNTUNG Comparison of Eggs Hatching Success Eretmochelys

Lebih terperinci

Pelestarian Habitat Penyu Dari Ancaman Kepunahan Di Turtle Conservation And Education Center (TCEC), Bali

Pelestarian Habitat Penyu Dari Ancaman Kepunahan Di Turtle Conservation And Education Center (TCEC), Bali ISSN 0853-7291 Pelestarian Habitat Penyu Dari Ancaman Kepunahan Di Turtle Conservation And Education Center (TCEC), Bali Raden Ario, Edi Wibowo, Ibnu Pratikto, Surya Fajar Departement Ilmu Kelautan, Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 101111111111105 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki sumberdaya alam hayati laut yang potensial seperti sumberdaya terumbu karang. Berdasarkan

Lebih terperinci

Penangkaran Penyu di Desa Perancak Kab. Jembrana BAB I PENDAHULUAN

Penangkaran Penyu di Desa Perancak Kab. Jembrana BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali merupakan daerah kepulauan yang sebagian besar terdapat pesisir pantai. Kondisi tersebut menjadikan pulau Bali sebagai tempat yang cocok untuk kehidupan penyu

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. dapat digunakan ialah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif merupakan

BAB III METODE PERANCANGAN. dapat digunakan ialah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif merupakan BAB III METODE PERANCANGAN Untuk mengembangkan ide rancangan dalam proses perancangan, dibutuhkan sebuah metode yang memudahkan perancang. Salah satu metode yang dapat digunakan ialah metode deskriptif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di bumi ini terdapat berbagai macam kehidupan satwa, seperti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di bumi ini terdapat berbagai macam kehidupan satwa, seperti BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di bumi ini terdapat berbagai macam kehidupan satwa, seperti kehidupan satwa terdapat di lautan. Terdapat berbagai macam mekanisme kehidupan untuk bertahan hidup di

Lebih terperinci

PEMETAAN KAWASAN HABITAT PENYU DI KABUPATEN BINTAN

PEMETAAN KAWASAN HABITAT PENYU DI KABUPATEN BINTAN PEMETAAN KAWASAN HABITAT PENYU DI KABUPATEN BINTAN Oleh : Dony Apdillah, Soeharmoko, dan Arief Pratomo ABSTRAK Tujuan penelitian ini memetakan kawasan habitat penyu meliputi ; lokasi tempat bertelur dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sepanjang khatulistiwa dan km dari utara ke selatan. Luas negara Indonesia

I. PENDAHULUAN. sepanjang khatulistiwa dan km dari utara ke selatan. Luas negara Indonesia 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, sekitar 17.508 buah pulau yang membentang sepanjang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang

Lebih terperinci

HAI NAMAKU PENYU Fakta Tentang Penyu Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145-208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Penyu termasuk kelas reptilia yang

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN DAFTAR ISI xi Halaman HALAMAN SAMPUL... i HALAMAN PENGESAHAN...i BERITA ACARA... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...v ABSTRAK...

Lebih terperinci

KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) KABUPATEN WAKATOBI MILAWATI ODE, S.KEL

KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) KABUPATEN WAKATOBI MILAWATI ODE, S.KEL KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) KABUPATEN WAKATOBI MILAWATI ODE, S.KEL KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA Coral Triangle Wilayah Sasaran = Pulau Wangiwangi,

Lebih terperinci

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Sebagian besar perairan laut Indonesia (> 51.000 km2) berada pada segitiga terumbu

Lebih terperinci

VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA

VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA 73 VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA Pengelolaan ekosistem wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kecamatan Kayoa saat ini baru merupakan isu-isu pengelolaan oleh pemerintah daerah, baik

Lebih terperinci

vi panduan penyusunan rencana pengelolaan kawasan konservasi laut daerah DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Tahapan Umum Penetapan KKLD 9 Gambar 2. Usulan Kelembagaan KKLD di Tingkat Kabupaten/Kota 33 DAFTAR LAMPIRAN

Lebih terperinci

Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015

Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015 Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015 Papua terdiri dari Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua dengan luas total 42,22 juta ha merupakan provinsi terluas dengan jumlah penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyu hijau merupakan reptil yang hidup dilaut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh disepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara.

Lebih terperinci

LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BIDANG KEGIATAN:

LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BIDANG KEGIATAN: LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA GERAKAN MASYARAKAT CINTA PENYU (MCP) : UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN TAMAN WISATA ALAM AIR HITAM TERHADAP KONSERVASI PENYU DI

Lebih terperinci

Ir. Agus Dermawan, MSi -DIREKTUR KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT-

Ir. Agus Dermawan, MSi -DIREKTUR KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT- Ir. Agus Dermawan, MSi -DIREKTUR KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT- Direktorat Konservasi dan Taman Nasional laut Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pelangi Depok, Pantai Samas, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Baru Pandansimo

BAB I PENDAHULUAN. Pelangi Depok, Pantai Samas, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Baru Pandansimo 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pesisir Bantul telah menjadi habitat pendaratan penyu, diantaranya Pantai Pelangi Depok, Pantai Samas, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Baru Pandansimo yang

Lebih terperinci

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR 5.1. Visi dan Misi Pengelolaan Kawasan Konservasi Mengacu pada kecenderungan perubahan global dan kebijakan pembangunan daerah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh. Keberadaannya telah lama terancam, baik dari alam maupun kegiatan manusia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan iklim (Dudley, 2008). International Union for Conservation of Nature

BAB I PENDAHULUAN. perubahan iklim (Dudley, 2008). International Union for Conservation of Nature BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan konservasi mempunyai peran yang sangat besar terhadap perlindungan keanekaragaman hayati. Kawasan konservasi juga merupakan pilar dari hampir semua strategi

Lebih terperinci

STUDI HABITAT PENElURAN PENYU SISIK (Eretmoche/ys imbricata l) DI PULAU PETElORAN TIMUR DAN BARAT TAMAN NASIONAl KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

STUDI HABITAT PENElURAN PENYU SISIK (Eretmoche/ys imbricata l) DI PULAU PETElORAN TIMUR DAN BARAT TAMAN NASIONAl KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA ----------------~------------------------------------------.--------.----- Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia (1993),1(1): 33-37 STUDI HABITAT PENElURAN PENYU SISIK (Eretmoche/ys imbricata

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. negara Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat

I. PENDAHULUAN. negara Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat 1 I. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas. Dengan luasnya wilayah perairan yang dimiliki oleh negara Indonesia

Lebih terperinci

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013 Geografi K e l a s XI PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan

Lebih terperinci

Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka. Burung Jalak Bali

Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka. Burung Jalak Bali Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka Burung Jalak Bali Burung Jalak Bali Curik Bali atau yang lebih dikenal dengan nama Jalak Bali, merupakan salah satu spesies burung cantik endemis Indonesia. Burung

Lebih terperinci

VII PRIORITAS STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA TN KARIMUNJAWA

VII PRIORITAS STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA TN KARIMUNJAWA VII PRIORITAS STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA TN KARIMUNJAWA 7.1 Kerangka Umum Analytical Network Process (ANP) Prioritas strategi pengembangan TN Karimunjawa ditetapkan berdasarkan pilihan atas variabel-variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove yang cukup besar. Dari sekitar 15.900 juta ha hutan mangrove yang terdapat di dunia, sekitar

Lebih terperinci

RENCANA AKSI PENGELOLAAN TNP LAUT SAWU DAN TWP GILI MATRA

RENCANA AKSI PENGELOLAAN TNP LAUT SAWU DAN TWP GILI MATRA RENCANA AKSI PENGELOLAAN TNP LAUT SAWU DAN TWP GILI MATRA Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) KUPANG Jl. Yos Sudarso, Jurusan Bolok, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Provinsi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia. Dari enam jenis penyu, lima jenis diantaranya yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu hijau

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT POTENSI SUMBER DAYA HAYATI KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA 17.480

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/KEPMEN-KP/2014 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/KEPMEN-KP/2014 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/KEPMEN-KP/2014 TENTANG KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NUSA PENIDA KABUPATEN KLUNGKUNG DI PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Fauna merupakan bagian dari keanekaragaman hayati di Indonesia,

Lebih terperinci

Oleh: Ir. Agus Dermawan, M.Si. Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

Oleh: Ir. Agus Dermawan, M.Si. Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Oleh: Ir. Agus Dermawan, M.Si. Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan DIREKTORAT KONSERVASI KAWASAN DAN JENIS IKAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KEMENTERIAN KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. di Kabupaten Bangka melalui pendekatan sustainable placemaking, maka

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. di Kabupaten Bangka melalui pendekatan sustainable placemaking, maka BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI V. 1. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempegaruhi pengembangan produk wisata bahari dan konservasi penyu di Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa serta dikelilingi oleh ratusan pulau-pulau kecil yang disebut Gili (dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan menurut fungsi pokoknya dibagi menjadi tiga yaitu hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi (Dephut, 2009). Hutan konservasi sendiri didefinisikan kawasan

Lebih terperinci

WISATA ALAM BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN PENYU DI PANTAI TEMAJUK KAWASAN PERBATASAN KALIMANTAN BARAT

WISATA ALAM BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN PENYU DI PANTAI TEMAJUK KAWASAN PERBATASAN KALIMANTAN BARAT Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 2 No. 3, Desember 2015: 254-262 ISSN : 2355-6226 E-ISSN : 2477-0299 WISATA ALAM BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN PENYU DI PANTAI TEMAJUK KAWASAN

Lebih terperinci

by: Dwi Pitriani 1), Muhammad Fauzi 2), Eni Sumiarsih 2) Abstract

by: Dwi Pitriani 1), Muhammad Fauzi 2), Eni Sumiarsih 2) Abstract The effects of nest cover types on incubation period and hatching rate of Olive Ridley turtle Lepidochelys olivacea in the Turtle Conservation Unit, Pariaman by: Dwi Pitriani 1), Muhammad Fauzi 2), Eni

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan pulau-pulau kecil yang walaupun cukup potensial namun notabene memiliki banyak keterbatasan, sudah mulai dilirik untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kondisi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik dan Biologi Pantai 4.1.1 Lebar dan Kemiringan Pantai Pantai Pangumbahan Sukabumi yang memiliki panjang pantai sepanjang ±2,3 km dan di Pantai Sindangkerta

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 14 TAHUN 2006

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 14 TAHUN 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 14 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH DAN PENATAAN FUNGSI PULAU BIAWAK, GOSONG DAN PULAU CANDIKIAN Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedangkan kegiatan koleksi dan penangkaran satwa liar di daerah diatur dalam PP

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedangkan kegiatan koleksi dan penangkaran satwa liar di daerah diatur dalam PP I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki banyak potensi objek wisata yang tersebar di seluruh pulau yang ada. Salah satu objek wisata yang berpotensi dikembangkan adalah kawasan konservasi hutan

Lebih terperinci

OLEH : DIREKTUR KONSERVASI KAWASAN DAN JENIS IKAN DITJEN KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN JAKARTA, SEPTEMBER

OLEH : DIREKTUR KONSERVASI KAWASAN DAN JENIS IKAN DITJEN KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN JAKARTA, SEPTEMBER OLEH : DIREKTUR KONSERVASI KAWASAN DAN JENIS IKAN DITJEN KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN JAKARTA, SEPTEMBER 2010 Mandat Pengelolaan dan Konservasi SDI Dasar Hukum

Lebih terperinci

Berikut obyek wisata yang bisa kita nikmati:

Berikut obyek wisata yang bisa kita nikmati: Daya tarik wisata alam Ujung Genteng memang membuat banyak orang penasaran karena keragaman objek wisatanya yang bisa kita nikmati dalam sekali perjalanan, mulai dari pantai berpasir putih, melihat penyu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daya alam non hayati/abiotik. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati

BAB I PENDAHULUAN. daya alam non hayati/abiotik. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam merupakan karunia dari Allah SWT yang harus dikelola dengan bijaksana, sebab sumber daya alam memiliki keterbatasan penggunaannya. Sumberdaya alam

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/KEPMEN-KP/2014 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI SUAKA ALAM PERAIRAN KEPULAUAN WAIGEO SEBELAH BARAT DAN LAUT SEKITARNYA DI PROVINSI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015 PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT TAHUN 2015 PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi di dunia. Keanekaragaman hayati terbesar yang dimiliki Indonesia di antaranya adalah

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan 29 BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Berpikir Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan ekosistem laut. Mangrove diketahui mempunyai fungsi ganda

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbentang antara

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbentang antara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbentang antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan tersebar dari pulau Sumatera sampai ke ujung timur

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG LARANGAN PENGAMBILAN KARANG LAUT DI WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkenal dengan kekayaan keindahan alam yang beraneka ragam yang tersebar di berbagai kepulauan yang ada di Indonesia dan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Natuna memiliki potensi sumberdaya perairan yang cukup tinggi karena memiliki berbagai ekosistem laut dangkal yang merupakan tempat hidup dan memijah ikan-ikan

Lebih terperinci

No : Hari/tanggal /jam : Nama instansi : Alamat Instansi : Nama responden yang diwawancarai Jabatan

No : Hari/tanggal /jam : Nama instansi : Alamat Instansi : Nama responden yang diwawancarai Jabatan LAMPIRAN 55 Lampiran 1. Kuisioner pengelola dan instansi terkait Kuisioner untuk pengelola dan Instansi terkait Pantai Pangumbahan No : Hari/tanggal /jam : Nama instansi : Alamat Instansi : Nama responden

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, dikawasan mangrove terjadi interaksi kompleks

Lebih terperinci

VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove

VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN 8.1. Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove Pendekatan AHP adalah suatu proses yang dititikberatkan pada pertimbangan terhadap faktor-faktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Burung dalam ilmu biologi adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang memiliki bulu dan sayap. Jenis-jenis burung begitu bervariasi, mulai dari

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAMPINGAN RZWP3K PROVINSI RIAU 2018

LAPORAN PENDAMPINGAN RZWP3K PROVINSI RIAU 2018 LAPORAN PENDAMPINGAN RZWP3K PROVINSI RIAU 2018 Rapat Penyelerasan, Penyerasian dan Penyeimbangan antara RZWP3K Provinsi Riau dengan RTRW Provinsi Riau dan Penyepakatan Peta Rencana Alokasi Ruang RZWP3K

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. beragam dari gunung hingga pantai, hutan sampai sabana, dan lainnya,

BAB I. PENDAHULUAN. beragam dari gunung hingga pantai, hutan sampai sabana, dan lainnya, BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang beragam. Wilayahnya yang berada di khatuistiwa membuat Indonesia memiliki iklim tropis, sehingga

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari daratan dan lautan seluas ± 5,8 juta Km 2 dan sekitar 70 %

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari daratan dan lautan seluas ± 5,8 juta Km 2 dan sekitar 70 % PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari daratan dan lautan seluas ± 5,8 juta Km 2 dan sekitar 70 % wilayahnya merupakan perairan laut dengan garis pantai sepanjang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai II. TINJAUAN PUSTAKA A. Mangrove Mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. II/1999 seluas ha yang meliputi ,30 ha kawasan perairan dan

BAB I PENDAHULUAN. II/1999 seluas ha yang meliputi ,30 ha kawasan perairan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) terletak di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah merupakan Kawasan Pelestarian Alam yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: masyarakat, keamanan yang baik, pertumbuhan ekonomi yang stabil,

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: masyarakat, keamanan yang baik, pertumbuhan ekonomi yang stabil, BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Faktor ekternal yang berupa peluang dan ancaman yang dapat digunakan berdasarkan penelitian ini yaitu:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang

BAB I PENDAHULUAN. Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan lingkungan. Kegiatan wisata alam itu sendiri dapat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut Menurut UU No. 26 tahun 2007, ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas 49 307,19 km 2 memiliki potensi sumberdaya hayati laut yang tinggi. Luas laut 29 159,04 Km 2, sedangkan luas daratan meliputi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan atau negara maritim terbesar di dunia. Berdasarkan publikasi yang ada mempunyai 17.504 pulau dengan garis pantai sepanjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan terletak di daerah beriklim tropis. Laut tropis memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semua makhluk baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Dari ketiga

BAB I PENDAHULUAN. semua makhluk baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Dari ketiga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bumi dan segala isinya yang di ciptakan oleh Allah SWT merupakan suatu karunia yang sangat besar. Bumi diciptakan sangat sempurna diperuntukan untuk semua makhluk baik

Lebih terperinci

Penetasan Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea Eschscholtz,1829) pada Lokasi Berbeda di Kawasan Konservasi Penyu Kota Pariaman

Penetasan Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea Eschscholtz,1829) pada Lokasi Berbeda di Kawasan Konservasi Penyu Kota Pariaman Penetasan Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea Eschscholtz,1829) pada Lokasi Berbeda di Kawasan Konservasi Penyu Kota Pariaman Eggs Hatching of Olive Ridley Turtles (Lepidochelys olivacea Eschscholtz,1829)

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara ekologis ekosistem padang lamun di perairan pesisir dapat berperan sebagai daerah perlindungan ikan-ikan ekonomis penting seperti ikan baronang dan penyu, menyediakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk. menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk. menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan pelampung di sisi atasnya dan pemberat

Lebih terperinci

Pedoman Teknis Penyiapan Kelembagaan Kawasan Konservasi Perairan di Daerah. Satker Direktorat Konservasi dan Taman Nasional laut 2008

Pedoman Teknis Penyiapan Kelembagaan Kawasan Konservasi Perairan di Daerah. Satker Direktorat Konservasi dan Taman Nasional laut 2008 1 Pedoman Teknis Penyiapan Kelembagaan Kawasan Konservasi Perairan di Daerah Satker Direktorat Konservasi dan Taman Nasional laut 2008 2 3 Pedoman Teknis Penyiapan Kelembagaan Kawasan Konservasi Perairan

Lebih terperinci

C. Model-model Konseptual

C. Model-model Konseptual C. Model-model Konseptual Semua kampanye Pride Rare dimulai dengan membangun suatu model konseptual, yang merupakan alat untuk menggambarkan secara visual situasi di lokasi proyek. Pada bagian intinya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesisir merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Menurut Suprihayono (2007) wilayah pesisir merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan laut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Taman Nasional menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

DATA PERENCANAAN DESA KELURAHAN MAWALI KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG

DATA PERENCANAAN DESA KELURAHAN MAWALI KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG DATA PERENCANAAN DESA KELURAHAN MAWALI KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG 1. PENGELOLAAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT (DPL) 1. Menjaga dan memperbaiki kualitas ekosistem terumbu karang dan habitat yang berhubungan

Lebih terperinci

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA Tito Latif Indra, SSi, MSi Departemen Geografi FMIPA UI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Timur. Wilayah Kepulauan Derawan secara geografis terletak di 00 51`00-0l

BAB I PENDAHULUAN. Timur. Wilayah Kepulauan Derawan secara geografis terletak di 00 51`00-0l 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Derawan terletak di perairan Kabupaten Berau yang merupakan salah satu dari 13 kabupaten yang terdapat di Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah Kepulauan Derawan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hukum adalah qonditio sine quanon, syarat mutlak bagi masyarakat. 1

BAB 1 PENDAHULUAN. hukum adalah qonditio sine quanon, syarat mutlak bagi masyarakat. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hubungan antara hukum dan masyarakat sangatlah erat, karena hukum senantiasa dipengaruhi oleh proses interaksi sosial, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG LARANGAN PENGAMBILAN KARANG LAUT DI WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau besar dan kecil, dengan panjang garis pantai mencapai hampir

Lebih terperinci

FUNGSI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM SECARA BIJAK* Oleh : IMRAN SL TOBING**

FUNGSI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM SECARA BIJAK* Oleh : IMRAN SL TOBING** FUNGSI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM SECARA BIJAK* Pendahuluan Oleh : IMRAN SL TOBING** Ujung Kulon merupakan kebanggaan kita; tidak hanya kebanggaan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas

BAB I PENDAHULUAN. Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas di dunia sekitar 19% dari total hutan mangrove dunia, dan terluas se-asia Tenggara sekitar 49%

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh bangsa Indonesia dan tersebar di seluruh penjuru tanah air merupakan modal

BAB I PENDAHULUAN. oleh bangsa Indonesia dan tersebar di seluruh penjuru tanah air merupakan modal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Potensi sumber daya alam hutan serta perairannya berupa flora, fauna dan ekosistem termasuk di dalamnya gejala alam dengan keindahan alam yang dimiliki oleh bangsa

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Sibolga terletak di kawasan pantai Barat Sumatera Utara, yaitu di Teluk Tapian Nauli. Secara geografis, Kota Sibolga terletak di antara 01 0 42 01 0 46 LU dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PERMEN-KP/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERAN SERTA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /KEPMEN-KP/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /KEPMEN-KP/2017 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /KEPMEN-KP/2017 TENTANG TAMAN NASIONAL PERAIRAN NATUNA KABUPATEN NATUNA DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Perdagangan satwa liar mungkin terdengar asing bagi kita. Kita mungkin

PENDAHULUAN. Perdagangan satwa liar mungkin terdengar asing bagi kita. Kita mungkin PENDAHULUAN Latar Belakang Perdagangan satwa liar mungkin terdengar asing bagi kita. Kita mungkin telah turut menyumbang pada perdagangan ilegal satwa liar dengan tanpa sadar turut membeli barang-barang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, karena Indonesia merupakan Negara kepulauan dengangaris pantai mencapai sepanjang 81.000 km. Selain

Lebih terperinci