Betti Surel :
|
|
|
- Widya Tedjo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENINGKATAN KINERJA GURU DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) INOVATIF MELALUI KERJA PRAKTEK DENGAN TEKNIK UMPAN BALIK DI SD NEGERI TEBING TINGGI Betti Surel : [email protected] ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kinerja guru SD Negeri Tebing Tinggi dalam menyusun RPP Inovatif. Peneliti/supervisor mengumpulkan masing-masing sebuah RPP yang telah dibuat guru. Kemudian dikaji dan dinilai, diberikan umpan balik berdasarkan 8 (delapan) komponen sesuai dengan format penilaian RPP dalam Panduan Penyusunan Perangkat Portofolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan, Direktorat Jnderal Pendidikan Tinggi (2007:36). Dari hasil-hasil yang dipaparkan, dapat dibuat simpulan bahwa hipotesis tindakan telah terbukti, Kegiatan Kerja Praktek dengan teknik Umpan Balik, terbukti dapat meningkatkan komitmen guru-guru SD Negeri Tebing Tinggi dalam menyusun RPP Inovatif. Indikator kinerja: Sekurang-kurangnya 85% guru menunjukkan komitmen yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala 1-5, tercapai pada akhir siklus III dengan pencapaian 94%. Kata Kunci : Strategi Praktek Kerja, RPP Inovatif, Teknik Umpan Balik PENDAHULUAN Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan idealnya harus mampu melakukan proses edukasi, sosialisasi, dan transformasi. Dengan kata lain, sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu berperan sebagai proses edukasi (proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar), proses sosialisasi (proses bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wadah proses transformasi (proses perubahan Guru SD Negeri Tebing Tinggi tingkah laku ke arah yang lebih baik/ lebih maju). Berlakunya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.18 tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan mewajibkan guru untuk memiliki Sertifikat Pendidik melalui ujian Sertifikasi. Salah satu kompetensi yang dituntut adalah kompetensi pedagogik, dari merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melaksanakan evaluasi dan analisis hasil evaluasi serta tindak lanjut. Dari puluhan guru yang berada di bawah binaan penulis tak seorangpun mampu menunjukkan dan menggunakan RPP sesuai dengan pedoman penilaian sertifikasi. Khusus di SD NEGERI tebing Tinggi mayoritas sudah 115
2 Betti: Peningkatan Kinerja Guru... mendapatkan tunjangan sertifikasi. Namun tak satupun mampu menunjukkan RPP yang sesuai dengan pedoman sertifikasi. Pembuatan RPP adalah sangat penting dilakukan oleh seorang guru, menurut Hamzah B. Uno (2006:4) : Perbaikan kualitas pembelajaran haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran. Perencanaan Pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab terjadinya hal itu antara lain : 1) Kurangnya tuntutan supervisor (Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah), karena masih memperkenankan penggunaan RPP buatan Instansi atau orang lain, dengan anggapan bahwa karya bersama dan dalam tingkat yang lebih tinggi pasti lebih baik. Walau dalam kenyataan tidak selalu sesuai dengan kondisi sekolah masingmasing. 2) Selama ini guru-guru sudah memiliki kenyamanan tersendiri, karena telah ada RPP buatan Tim Dinas Kota Tebing Tinggi. Walau RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) itu hanya ditunjukkan kepada pengawas sebagai bukti fisik. Namun, pelaksanaan di depan kelas berbeda dengan skenario yang tertulis dalam RPP tersebut. Untuk memenuhi tuntutan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007 yang mengubah paradigma proses pendidikan dari pengajaran menjadi pembelajaran dan mengubah strategi ekspositori menjadi diskoveri inkuiri, diperlukan model RPP baru yang selanjutnya dalam penelitian ini disebut RPP INOVATIF. Alasan khusus bahwa penelitian ini dilakukan di SD NEGERI Tebing Tinggi karena sekolah tersebut adalah sekolah binaan penulis. Lain dari pada itu profil guru di sekolah ini memiliki beberapa keterbatasan dalam standar pendidik, yaitu sebanyak 31% guru-guru disini adalah guru non PNS. Masalah-masalah dalam penelitian ini adalah : pokok 1. Apakah Kerja Praktek dengan Teknik Umpan Balik dapat meningkatkan komitmen guruguru SD NEGERI Tebing Tinggi menyusun RPP Inovatif? 2. Apakah Kerja Praktek dengan Teknik Umpan Balik dapat meningkatkan kemampuan guruguru SD NEGERI Tebing Tinggi menyusun RPP Inovatif? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Peningkatan komitmen guruguru SD NEGERI Tebing Tinggi menyusun RPP Inovatif dalam kegiatan Kerja Praktek dengan teknik Umpan Balik. 116
3 ESJ VOLUME 6, NO. 2, DESEMBER ) Peningkatan kemampuan guruguru SD NEGERI Tebing Tinggi menyusun RPP Inovatif dalam kegiatan Kerja Praktek dengan teknik Umpan Balik. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan model Stephen Kemmis. Penelitian dilaksanakan dalam enam bulan yaitu bulan Juli sampai dengan Desember Lokasi Penelitian adalah di SD NEGERI Tebing Tinggi. Subjek Penelitian adalah semua guru mata pelajaran di SD NEGERI Tebing Tinggi sebanyak 21 orang. Objek penelitian ini adalah kemauan dan kemampuan guru-guru membuat RPP Inovatif. Sebagai variabel bebas adalah strategi Kerja Praktek dengan teknik Umpan Balik, dan variabel terikat adalah komitmen dan kemampuan guru menyusun RPP Inovatif. Penelitian ini direncanakan dalam 3 (tiga) siklus. Perencanaan penelitian dibagi dalam langkahlangkah sebagai berikut : 1) Observasi dan Refleksi Awal Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan awal guru-guru menyusun RPP sebelum dilaksanakan tindakan. Peneliti/supervisor mengumpulkan masing-masing sebuah RPP yang telah dibuat guru. Kemudian dikaji dan dinilai, diberikan umpan balik berdasarkan 8 (delapan) komponen sesuai dengan format penilaian RPP dalam Panduan Penyusunan Perangkat Portofolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan, Direktorat Jnderal Pendidikan Tinggi (2007:36) yaitu : a) Kejelasan rumusan tujuan pembelajaran; b) Pemilihan materi ajar; c) Pengorganisasian materi ajar; d) Pemilihan sumber/media pembelajaran ; 2) Siklus I Siklus I ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu : a) Perencanaan, siklus pertama ini direncanakan terdiri dari : - Pembentukan kelompok : Kelompok Rumpun Mata Pelajaran (Bahasa, MIPA, IPS dan lainnya), serta jadwal pertemuan ; - Informasi : Tentang teknik perumusan langkah-langkah pembelajaran RPP Inovatif dengan pola konvensional, oleh supervisor (peneliti) ; - Diskusi : Diskusi terbimbing dalam rumpun mata pelajaran. Bahan diskusi adalah RPP pertama yang telah dinilai dan diberi umpan balik ; - Praktek : tugas terpantau (ditentukan batas waktunya) untuk merevisi RPP pertama, menjadi RPP yang lengkap sesuai format penilaian dalam sertifikasi ; 117
4 Betti: Peningkatan Kinerja Guru... b) Pelaksanaan tindakan, sesuai dengan jadwal dan rencana kegiatan yang telah ditentukan dalam perencanaan siklus I. c) Observasi, berlangsung selama kegiatan (dalam proses) untuk: - mengumpulkan data tentang komitmen guru dalam melaksanakan kegiatan, - melakukan penilaian kemampuan guru dalam melakukan revisi RPP, melalui koleksi dokumen. d) Refleksi, mengkaji hasil-hasil yang dicapai selama pelaksanaan tindakan, serta usaha dan rencana perbaikannya. 3) Siklus II Siklus kedua ini, akan dilaksanakan seandainya hasil-hasil pada siklus I belum mencapai indikator kinerja. Kegiatan direncanakan terdiri dari beberapa tahapan yaitu : a) Perencanaan, suklus kedua direncanakan terdiri dari : - Informasi : Tentang teknik perumusan langkah-langkah pembelajaran RPP dengan pola Inovatif (mengadopsi modelmodel pembelajaran Inovatif) oleh peneliti ; - Diskusi: terbimbing dalam rumpun mata pelajaran; - Praktek : terpantau (ditentukan batas waktunya) untuk merevisi RPP perbaikan menjadi sebuah RPP yang Inovatif ; - Presentasi : beberapa pertemuan lanjutan untuk memberikan kesempatan tiap-tiap guru mempresentasikan hasil kerjanya; b) Pelaksanaan tindakan, sesuai dengan jadwal dan rencana kegiatan yang telah ditentukan dalam perencanaan siklus II. c) Observasi, Sama seperti pelaksanaan pada siklus I, - Mengumpulkan data tentang komitmen guru dalam melaksanakan kegiatan merevisi RPP. - Melakukan penilaian kemampuan guru dalam menyusun RPP yang Inovatif melalui koleksi dokumen. d) Refleksi, mengkaji hasil-hasil yang dicapai selama pelaksanaan tindakan, serta usaha dan rencana perbaikannya jika masih dipandang perlu. 4) Siklus III Siklus III akan dilaksanakan seandainya hasil-hasil pada siklus II belum mencapai indikator kinerja, dengan bentuk kegiatan : a) Perencanaan, siklus ketiga adalah pemberian tugas dengan target (ditentukan jumlah) RPP yang harus diselesaikan. Guruguru secara mandiri dalam kelompok melaksanakan diskusi tak terbimbing. Diharapkan tiap guru menghasilkan 1 (satu) buah RPP Inovatif ; 118
5 ESJ VOLUME 6, NO. 2, DESEMBER 2016 b) Pelaksanaan tindakan, sesuai dengan jadwal dan rencana kegiatan yang telah ditentukan dalam perencanaan siklus III. c) Observasi, - Penilaian komitmen guru-guru melaksanakan kegiatan, - Penilaian kemampuan guru dalam menyusun RPP yang Inovatif melalui koleksi dokumen. d) Refleksi, mengkaji hasil-hasil yang dicapai selama pelaksanaan tindakan, dan melakukan analisis data untuk dapat menarik kesimpulan umum dari kegiatan siklus pertama, siklus kedua dan siklus ketiga. Dengan memperhatikan kondisi awal guru-guru di SD NEGERI Tebing Tinggi : 1. Dari 3 orang guru senior SD NEGERI Tebing Tinggi yang mengikuti uji sertifikasi, bahwa ketiganya belum memiliki kemampuan menyusun RPP sesuai pedoman yang berlaku. 2. Masih banyak guru (sekitar 90%) tidak mampu menyusun RPP atau tidak menggunakan RPP buatan sendiri dan mumnya RPP yang digunakan kurang Inovatif. Maka, indikator kinerja dalam penelitian ini : 1. Sekurang-kurangnya 85% guru menunjukkan komitmen yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala Sekurang-kurangnya 85% guru menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala 1-5. HASIL DAN PEMBAHASAN Kemampuan guru menyusun RPP sebelum tindakan dapat dinilai dari RPP awal yang dikumpulkan guru-guru. Rata-rata kemampuan seluruh guru (21 orang) adalah 1,52 dalam skala 1-5. Guru yang mampu meraih nilai 4,00-5,00 tidak ada (0%) berdasarkan pedoman penilaian RPP dalam Panduan Penyusunan Perangkat Portofolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional). Sesuai dengan Gleackman, komitmen mengandung komponen dorongan, usaha dan penyediaan waktu yang cukup banyak. Selanjutnya dalam penelitian ini komitmen dijabarkan menjadi : Dorongan (D1 = antusias, ingin tahu, tekun, dan D2 = konsentrasi, perhatian), Usaha (U1 = konfirmasi dan kontribusi, U2 = eksplorsi dan elaborasi, U3 = kooperatif dan kolaboratif, U4 = aktifitas dalam tugas/praktek/ presentasi), Penyediaan Waktu (W1 = hadir dalam setiap kegiatan, W2 = hadir/pulang tepat waktu, U3 = menyelesaikan tugas tepat waktu). 119
6 Betti: Peningkatan Kinerja Guru... Pada siklus I ada 2 orang guru pindah tugas, sehingga jumlah subjek menjadi 19 orang. Dari tabel terlihat guru-guru belum antusias dan dorongan belum kuat. Fakta itu terlihat dari lampiran 1d, yaitu : Dorongan : Usaha - D1 rata-rata 2,5 - U1 rata-rata 2,6 - U3 rata-rata 3,4 - D2 rata-rata 2,5 - U2 rata-rata 2,6 - U4 rata-rata 3,4 1. Nilai Rata-rata Komitmen dan Persentase dengan nilai 4,00 5,00 BHS 3,17 = 20% MIPA 3,77=33% IPS 3,1 9 = 25% TTL 3,36 = 26% 2. Nilai Rata-rata Kemampuan dan Persentase dengan nilai 4,00 5,00 BHS 2,46 = 20% MIPA 3,54=17% IPS 2,99 = 10% TTL 3,02 = 11% Keterangan : BHS = rumpun bahasa MIPA = rumpun Matematika dan IPA IPS = rumpun IPS TTL = total Pembahasan Komitmen guru-guru : 1. Dari hasil wawancara dengan guru-guru, diketahui alasan mengapa guru-guru kurang antusias dan dorongan kurang kuat. Alasannya karena RPP sesuai dengan format sertifikasi guru dianggap bukan hal baru dan guru tidak merasa mendapat sesuatu yang baru. 2. Komponen komitmen yang nilainya baik pada siklus I adalah komponen waktu, yaitu hadir setiap kegiatan, hadir/pulang tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu dengan nilai : W1 rata-rata 4,9 ; W2 rata-rata 4,6 dan W3 ratarata 3,9. Guru-guru yang dengan nilai komitmen 4,00-5,00 mencapai 26%. Kemampuan guru-guru : 1. Terjadi peningkatan nilai kemampuan dengan rata-rata nilai mencapai 3,02. Dari lampiran 6d, terlihat bahwa ada 2 orang guru (=11%) yang telah mampu mencapai nilai lebih dari 4, Dengan Pola Konvensional : pendekatan strategi metode teknik, guru mengalami kesulitan menentukan metode untuk mendukung strategi diskoveri inkuiri. Ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan adalah metoda-metoda konvensional yang selalu digunakan guru. 3. Dari hasil wawancara diketahui penyebabnya, karena guru-guru 120
7 ESJ VOLUME 6, NO. 2, DESEMBER 2016 belum paham dengan modelmodel pembelajaran Inovatif. Akibatnya guru-guru masih kesulitan mengubah strategi ekspositori manjadi diskoveri inkuiri. 4. Lain dari pada itu, seluruh RPP belum memunculkan Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri tak terstruktur, sehingga rata-rata untuk kelengkapan RPP baru mencapai 1,5. Refleksi : Dari hasil-hasil siklus I, tampak ada peningkatan baik komitmen maupun kemampuan namun indikator kinerja belum tercapai. Maka diputuskan melaksanakan perencanaan siklus II. Memperhatikan hasil-hasil wawancara dengan guru, maka dalam siklus II akan lebih dimantapkan model-model pembelajaran Inovatif. Komitmen dan Kemampuan Guru pada Siklus II 1. Nilai Rata-rata Komitmen dan Persentase dengan nilai 4,00 5,00 BHS 4,01= 75% MIPA4,13=83% IPS 3,69 = 63%% TL 3,89 = 68% 2. Nilai Rata-rata Kemampuan dan Persentase dengan nilai 4,00 5,00 BHS 4,20 = 100% MIPA 4,48=80% IPS 4,06 = 63% TTL 4,22 = 76% Keterangan : BHS = rumpun bahasa MIPA = rumpun MIPA IPS = rumpun IPS TTL = total Pada sikkus II ada 2 orang lagi guru pindah tugas, sehingga jumlah subjek menjadi 17 orang. Pembahasan Komitmen guru-guru Setelah disajikan model-model pembelajaran Inovatif (cooperatif learning, contextual teaching and learning, dll), komitmen guru pada komponen dorongan dan usaha menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi, mencapai nilai rata-rata lebih dari 3,6 (lihat lampiran 2d). Guru-guru yang memperoleh nilai 4,00-5,00 mencapai 68%. Dari hasil wawancara, bahwa guru-guru baru mengetahui bahwa begitu banyak model-model pembelajaran yang harus dipahami untuk berubah dari pendekatan ekspositori ke pendekatan diskoveri inkuiri. Menurut guru-guru, ada peningkatan rasa ingin tahu yang mendorong mereka terus belajar. Alasannya, bahwa penerapan modelmodel pembejaran sangat memudahkan guru membuat RPP Inovatif karena syntax tiap-tiap 121
8 Betti: Peningkatan Kinerja Guru... model pembelajaran sudah sangat jelas. Guru-guru sangat terbantu dalam upaya membuat strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre oriented) dengan pendekatan diskoveri inkuiri. Motivasi guru-guru mulai tumbuh, karena model-model pembelajaran andragogi dengan bentuk kerja praktek sangat disukai oleh guru-guru. Menurut guru, itu jauh berbeda dengan model-model sebelumnya yang mengandalkan bentuk-bentuk ekspos fakto/ceramah. Kemampuan guru-guru Terjadi peningkatan nilai kemampuan yang cukup tinggi dari Siklus I ke Siklus II. Pada lampiran 7d, terlihat rata-rata kemampuan guru meningkat menjadi 4,22 dan hanya 4 orang dari 17 orang guru yang nilainya masih kurang dari 4,00. Pada akhir siklus II, guru-guru yang memperoleh nilai 4,00 5,00 meningkat tajam mencapai 76%. Hal itu didukung oleh hasil-hasil wawancara dengan guru, bahwa guru-guru merasa sangat mudah menyusun RPP Inovatif karena telah memahami model-model pembelajaran dengan syntaxsyntaxnya. Dari hasil-hasil siklus II, tampak ada peningkatan yang tajam baik komitmen maupun kemampuan namun indikator kinerja belum tercapai. Maka diputuskan melaksanakan perencanaan siklus III. Memperhatikan hasil-hasil wawancara dengan guru, bahwa motivasi mulai meningkat dan guruguru merasakan telah menemukan pola dalam menyusun RPP Inovatif, maka kegiatan dilaksanakan secara mandiri, dengan waktu hanya 1 minggu. Kunci keberhasilan pada siklus II adalah penggunaan Pola Inovatif : Strategi Model Pembelajaran, untuk mendukung strategi diskoveri inkuiri. Komitmen dan Kemampuan Guru pada Siklus III 1. Nilai Rata-rata Komitmen dan Persentase dengan nilai 4,00 5,00 BHS 4,36= 100% MIPA 4,70= 100% IPS 4,05 = 88% TTL 4,31 = 94% 2. Nilai Rata-rata Kemampuan dan Persentase dengan nilai 4,00 5,00 BHS 4,29 = 100% MIPA 4,53 = 100% IPS 4,16 = 75% TTL 4,30 = 88% Keterangan : BHS = rumpun bahasa MIPA = rumpun MIPA IPS = rumpun IPS TTL = total Komitmen guru-guru Kegiatan pada siklus III adalah kegiatan mandiri. Bimbingan yang dilakukan adalah individual, 122
9 ESJ VOLUME 6, NO. 2, DESEMBER 2016 lebih banyak kepada guru-guru yang mengalami kesulitan. Pada siklus III peningkatan komitmen terus terjadi, bahkan guru-guru yang mencapai nilai 4,00-5,00 meningkat menjadi 94%. Jadi indikator kinerja: sebanyak 85% guru memperoleh nilai komitmen 4,00-5,00 tercapai pada siklus III dengan pencapaian 94%. Kemampuan guru-guru Peningkatan kemampuan juga terjadi walau tidak sebesar siklus II. Bahkan, ada 6 orang guru ( = 32 %) tidak mengalami peningkatan. Tetapi, sejak siklus II guru-guru tersebut telah mencapai nilai 4,00-5,00 pada skala 1-5. Guru-guru dengan nilai 4,00-5,00 mencapai 88%. Jadi indikator kinerja : sebanyak 85% guru memperoleh nilai kemampuan 4,00-5,00 tercapai pada siklus III dengan pencapaian 88%. SIMPULAN Dari hasil-hasil yang dipaparkan pada Bab IV, dapat dibuat simpulan bahwa hipotesis tindakan telah terbukti, Kegiatan Kerja Praktek dengan teknik Umpan Balik, terbukti dapat meningkatkan komitmen guru-guru SD NEGERI Tebing Tinggi dalam menyusun RPP Inovatif. Indikator kinerja : Sekurangkurangnya 85% guru menunjukkan komitmen yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai ratarata 4,00-5,00) dalam skala 1-5, tercapai pada akhir siklus III dengan pencapaian 94%. Atas hasil-hasil yang dicapai dalam penelitian ini, penulis rekomendasikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan upaya peningkatan mutu pendidik yaitu : a. Para Kepala Sekolah, untuk merevisi cara-cara peningkatan mutu pendidik, dari model ekspos fakto menjadi bentuk kerja praktek nyata secara berkelanjutan. Model-model ekspos fakto yang banyak dilakukan sebelumnya, terbukti tidak mampu memberdayakan guru-guru. b. Para Pengawas Pendidikan, bahwa peningkatan mutu pendidik bukan suatu hal yang sederhana. Perlu upaya berkelanjutan untuk melaksanakan supervisi, agar pola pembelajaran guru-guru tidak kembali lagi pada pola konvensional, karena pola tersebut tidak sesusai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.41 tahun DAFTAR RUJAKAN Badan Standar Nasional Pendidikan Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : BSNP. Bulletin Kent Mathematics Project (1990). Depdikbud Buku Pedoman 123
10 Perangkat Portofolio Betti: Peningkatan Kinerja Guru... Penyelenggaraan Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Jakarta : Depdikbud. Depdikbud Dengan Pemantapan Kerja Guru Kita Siapkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Untuk Menyongsong Pembangunan Jangka Panjang Tahap II. Jakarta : Depdikbud. Depdiknas Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Depdiknas. Depdiknas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta : Depdiknas. Depdiknas Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta : Depdiknas. Direktorat Dikmenum Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 200X. Perangkat Penilaian KTSP. Jakarta : Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 200X. Perangkat Pembelajaran KTSP. Jakarta : Depdiknas. Siagian, H. (2016). Peningkatan Hasil Belajar Tematik Mode Pembelajaran Contextual Teaching And Learning Siswa Kelas II SD Negeri Tebing Tinggi. ELEMENTARY SCHOOL JOURNAL PGSD FIP UNIMED, 5(1), Depdiknas Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.41 tahun 2007 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Depdiknas. Dirjen Pendidikan Tinggi Panduan Penyusunan Sertifikasi Guru Dalam Jabatan. Jakarta : Depdiknas. 124
D036 MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF MELALUI LESSON STUDY. Ahmadi 1 1,2,3
D036 MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF MELALUI LESSON STUDY Ahmadi 1 1,2,3 SMP Negeri Model Terpadu Bojonegoro Email: ABSTRAK Merujuk Peraturan Menteri Pendidikan
Nur Isnaini Taufik Pengawas SMA/SMK Dinas Pendidikan Kab. Ogan Komering Ulu Prov. Sumatera Selatan
PENGGUNAAN SUPERVISI INDIVIDUAL PENDEKATAN KOLABORATIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI SMA Nur Isnaini Taufik Pengawas SMA/SMK Dinas Pendidikan
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan Halaman 269
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan Halaman 269 MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU YANG TELAH DISERTIFIKASI DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MELALUI BIMBINGAN BERKELANJUTAN PADA SEKOLAH BINAAN DI SAMBAS
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION Adek Hanna Tri Hartati SD Negeri 200515 Padangsidimpuan, kota Padangsidimpuan Abstract:
SUPERVISI INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP. Ena Suprapti
Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas ISSN 2087-3557 SUPERVISI INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP SD Negeri Kaliwadas 01 Adiwerna
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap implementasi KTSP
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap implementasi KTSP mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Sirombu, yang berkaitan dengan perencanaan
DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 B. TUJUAN 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51
DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 B. TUJUAN 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 54 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA
DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 B. TUJUAN 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51
DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 B. TUJUAN 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 54 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA
Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa Melalui Model
Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Materi Konsentrasi Larutan dan Perhitungan Kimia Kelas X Teknik Gambar Bangunan A SMK Negeri 3 Palu Tahun Pelajaran
DAFTAR ISI. Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... BAB I PENDAHULUAN... 1
DAFTAR ISI Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... v vii xii xiii xiv xv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian... 1 1.2 Identifikasi
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE PADA MATERI AJAR MENJAGA KEUTUHAN NKRI. Tri Purwati
Dinamika: Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar & Menengah Vol. 7, No. 2, April 2017 ISSN 0854-2172 IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE PADA MATERI AJAR SD Negeri Purbasana
Noorhidayati, Zainuddin, dan Suyidno Prodi Pendidikan Fisika FKIP UNLAM Banjarmasin. Kata kunci: Hasil belajar, model pembelajaran ARIAS, konsep zat.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII-A SMP MUHAMMADIYAH 1 BANJARMASIN PADA MATERI AJAR KONSEP ZAT DENGAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, DAN SATISFACTION) Noorhidayati,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pelaksanaan program pendidikan tidak lepas dari adanya kurikulum. Pada saat ini kurikulum yang berlaku di Indonesia adalah KTSP namun sebagian sekolah
PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Ulfatun Rohmah 1, Suhartono 2, Ngatman 3 PGSD FKIP Universitas Negeri Sebelas Maret, Jalan Kepodang 67A Panjer Kebumen
Penerapan Metode Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran IPS di SDK Despot Petunasugi Kecamatan Bolano Lambunu
Penerapan Metode Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran IPS di SDK Despot Petunasugi Kecamatan Bolano Lambunu Maryati, Jamaludin, Nurvita Mahasiswa Program Guru Dalam
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol. 1, No 2, Juni Noorhidayati, Zainuddin, dan Suyidno Prodi Pendidikan Fisika FKIP UNLAM Banjarmasin
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII-A SMP MUHAMMADIYAH 1 BANJARMASIN PADA MATERI AJAR KONSEP ZAT DENGAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, DAN SATISFACTION) Noorhidayati,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 9 Metro Barat. Penelitian dilaksanakan di kelas IVA semester ganjil Tahun. pelaksanaan sampai dengan tahap penyimpulan.
1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan peneliti secara kolaboratif antara peneliti dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SDN 9
PENERAPAN STRATEGI ACTIVE LEARNING
PENERAPAN STRATEGI ACTIVE LEARNING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI KELAS X SMAN 7 KOTA TANGERANG SELATAN (Penelitian Tindakan Kelas di SMAN 7 Kota Tangerang
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN STRATEGI SIKLUS ACE PADA PEMBELAJARAN KIMIA Oleh I Wayan Soma 1
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN STRATEGI SIKLUS ACE PADA PEMBELAJARAN KIMIA Oleh I Wayan Soma 1 Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... A. Latar Belakang... B. Tujuan... C. Ruang Lingkup...
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii Bab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... B. Tujuan... C. Ruang Lingkup... 1 2 2 Bab II KONSEP DASAR DAN IMPLEMENTASI A. Konsep Dasar Pembelajaran... B. Implementasi
EFEKTIVITAS KEGIATAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG) AGAMA HINDU MELALUI TEKNIK UMPAN BALIK
EFEKTIVITAS KEGIATAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG) Oleh: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar e-mail: [email protected] Abstract The act No. 14 of 2005, article 1, paragraph 1 states
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. gambaran mengenai Implementasi Muatan Lokal Kurikulum Tingkat Satuan
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian deskripsi, analisis dan pembahasan telah di paparkan gambaran mengenai Implementasi Muatan Lokal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam Mewujudkan Pembelajaran
PENGUASAAN KONSEP DASAR IPA PADA MAHASISWA PGSD UNIMED MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES
PENGUASAAN KONSEP DASAR IPA PADA MAHASISWA PGSD UNIMED MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES Lala Jelita Ananda, Khairul Anwar Dosen Jurusan PPSD Prodi PGSD FIP UNIMED Surel : [email protected] Abstrak
INSTRUMEN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)
INSTRUMEN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN RESPONDEN: KEPALA SD PUSAT PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU
Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)
Belajar dan Pembelajaran
P e n g e m b a n g a n Pembelajaran Tatap Muka, Tugas Terstruktur, dan Tugas Mandiri Tidak Terstruktur Belajar dan Pembelajaran Proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan; Seperangkat
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Khususnya Materi Energi dan Perubahannya Melalui Pembelajaran Quantum Teaching di Kelas V SDN Inpres Matamaling
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Khususnya Materi Energi dan Perubahannya Melalui Pembelajaran Quantum Teaching di Kelas V SDN Inpres Matamaling Sri Winarti Durandt, Irwan Said, dan Ratman Mahasiswa Program
BAB II LANDASAN TEORI. A. Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika
BAB II LANDASAN TEORI A. Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika Pengertian pembelajaran sebagaimana tercantum dalam UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah suatu proses interaksi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 5 sebanyak 25 siswa, laki-laki sebnyak 13 anak dan perempuan sebanyak 12 anak. Jumlah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Guna meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Guna meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan, salah satunya yang saat ini sedang hangat dibicarakan
pembelajaran berbasis paikem
TUT WURI HANDAYANI pembelajaran berbasis paikem (CTL, Pembelajaran Terpadu, Pembelajaran Tematik) Materi Pelatihan Penguatan Penguatan Pengawas Sekolah DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN DIREKTORAT JENDERAL
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. denah dan peta lingkungan rumah dan sekolah, materi mata angin
28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Subjek Penelitian 1. Tempat Pelaksanaan Tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas mata pelajaran tematik dengan mata pelajaran mayor IPS semester I, kompetensi dasar
Oleh: Dwi Atmini NIP
PEMBINAAN TERSTRUKTUR GUNA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU MENYUSUN RUBRIK PENILAIAN BAGI GURU KELAS DI GUGUS PANTAI POPOH UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO Oleh: Dwi Atmini NIP. 19600517
PELATIHAN LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH DI SMA DARUL ISLAM GRESIK
PELATIHAN LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH DI SMA DARUL ISLAM GRESIK Oleh Achmad Lutfi 1), Mitarlis 1), Muchlis 1), Bertha Yonata 1), dan Dian Novita 1) Abstrak Mencermati karakteristik Lesson Study dan kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 memuat tentang pengertian pendidikan di negara kita Indonesia
PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMATIK MODE PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING SISWA KELAS II SD NEGERI TEBING TINGGI
PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMATIK MODE PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING SISWA KELAS II SD NEGERI 163086 TEBING TINGGI Helmina Siagian Surel: [email protected] ABSTRACT This aim of this
BAB I PENDAHULUAN. yang merupakan sub sistem pendidikan nasional yang memegang peranan
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sekolah Dasar merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang merupakan sub sistem pendidikan nasional yang memegang peranan penting dan sebagai fundamental bagi
Puspa Handaru Rachmadhani, Muhardjito, Dwi Haryoto Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang
Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X-MIA 1 SMA Negeri 1 Gondang Tulungagung Puspa Handaru Rachmadhani,
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERTUKAR PASANGAN PADA SISWA KELAS IX-2 SMP NEGERI 8 KOTA TEBING TINGGI
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERTUKAR PASANGAN PADA SISWA KELAS IX-2 SMP NEGERI 8 KOTA TEBING TINGGI Wasten Simamora Guru SMP Negeri 8 Tebing Tinggi Surel : [email protected]
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA/ SMK MUHAMMADIYAH KARTASURA DALAM MERUMUSKAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA/ SMK MUHAMMADIYAH KARTASURA DALAM MERUMUSKAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR Dini Restiyanti Pratiwi, Fitri Puji Rahmawati, Aimanun Salim, Klara Sukma Pujiati 1 PBI
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL Nomor 41 Tahun 2007 STANDAR PROSES
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL Nomor 41 Tahun 2007 STANDAR PROSES adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi
II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Membuka Dan Menutup Pelajaran Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan sikap mental
KURIKULUM NASIONAL PPG SM3T 2014 DAN IMPLEMENTASINYA DI PROGRAM PPG SM-3T UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014
KURIKULUM NASIONAL PPG SM3T 2014 DAN IMPLEMENTASINYA DI PROGRAM PPG SM-3T UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014 SOSIALISASI KURIKULUM NASIONAL PPG SM3T 2014 DAN PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PADA PROGRAM
Kata Kunci = kompetensi pedagogik, perencanaan pembelajaran, dan supervisi akademik
PENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU NON PNS DALAM PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI CABEAN 2 SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Al Munawar
12 Media Bina Ilmiah ISSN No
12 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENYUSUN RPP BERBASIS PAIKEM MELALUI WORKSHOP PADA SMP BINAAN KOTA MATARAM SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh
PERATURAN MENDIKNAS NOMOR 24 TAHUN 2006
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERATURAN MENDIKNAS NOMOR 24 TAHUN 2006 Tentang Pelaksanaan Permendiknas No. 22 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; dan Permendiknas No. 23 Tahun
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang dilaksanakan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Kunandar (2010 : 45) PTK dapat didefinisikan sebagai
10 Media Bina Ilmiah ISSN No
10 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENETAPKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) MELALUI WORKSHOP DI SD NEGERI 31 AMPENAN Oleh: Sri Banun Kepala SD Negeri 31 Ampenan
STANDAR PROSES. PERMENDIKNAS Nomor 41 Tahun 2007
STANDAR PROSES PERMENDIKNAS Nomor 41 Tahun 2007 berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. adalah
PELATIHAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU SD DI KECAMATAN BULELENG
Ni Ketut Rapi, Iwan Suswandi, I G. A. Nyoman Sri Wahyuni. (2017). Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru SD di Kecamatan Buleleng. International Journal of Community
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengalaman merupakan hal yang penting bagi generasi muda, bukan hanya sekedar diingat tetapi juga sebagai cara bagi anak-anak untuk berkenalan dengan nilai-nilai
PENERAPAN METODE INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III SD NEGERI TEBING TINGGI
PENERAPAN METODE INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III SD NEGERI 168 TEBING TINGGI Nursamsiah Surel: [email protected] ABSTRACT This study aims to improve the learning outcomes
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Pacet Kecamatan Reban Kabupaten
14 BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Pacet Kecamatan Reban Kabupaten Batang dengan subjek penelitian adalah siswa kelas
II. TINJAUAN PUSTAKA. sebagai ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus. Sedangkan
10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Profil Guru Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:1386), profil didefinisikan sebagai ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus. Sedangkan guru adalah
RINTISAN SISTEM SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA. oleh: Tim Pengembang Kurikulum
RINTISAN SISTEM SKS SMA NEGERI 78 JAKARTA oleh: Tim Pengembang Kurikulum SISTEM SKS (SATUAN KREDIT SEMESTER) MENGAPA? APA? BAGAIMANA? KAPAN? MENGAPA? Landasan Yuridis Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA Oleh: Muslim Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD Dhanu Brata Hermawan, Yulianti, Noer Hidayah PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Slamet
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS Sujianto SMP N 2 Kokap Kulonprogo, Indonesia Email: [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan
Keywords: CTL Models, science learning, learning result.
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS III SD NEGERI 1 KARANGKEMBANG Oleh: Siti Rohanah 1), Warsiti 2), Muh. Chamdani 3) FKIP, PGSD
BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN FIKIH KELAS VII DI MTS MIFTAHUL FALAH DAN PROBLEMATIKANYA SERTA SOLUSINYA
52 BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN FIKIH KELAS VII DI MTS MIFTAHUL FALAH DAN PROBLEMATIKANYA SERTA SOLUSINYA A. Analisis Implementasi KTSP Mata pelajaran Fikih 1. Analisis Kurikulum
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan deskripsi dan pembahasan data hasil penelitian tentang
171 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan deskripsi dan pembahasan data hasil penelitian tentang Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Baca Tulis al-qur an di Madrasah Tsanawiyah al-junaidiyah
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN Banioro, UPTD Dikpora Unit Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah pendidikan yang menjadi perhatian saat ini adalah sebagian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pendidikan yang menjadi perhatian saat ini adalah sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS PADA SISWA KELAS V SDN 1 PURWOGONDO TAHUN AJARAN 2013/2014
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS PADA SISWA KELAS V SDN 1 PURWOGONDO TAHUN AJARAN 2013/2014 Oleh: Novidha Ratna Lestary 1), Suripto 2), Suhartono 3) FKIP,
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GLOBALISASI DI KELAS IV SDN NO.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GLOBALISASI DI KELAS IV SDN NO. 1 BONEOGE Oleh: Hijrah, Dahlia Syuaib, Asep Mahfuds Abstrak Permasalahan
Penerapan Model Pembelajaran Paikem Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Di Kelas V SDN 3 Tompoh
Penerapan Model Pembelajaran Paikem Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Di Kelas V SDN 3 Tompoh Rahmawati, Mestawaty As. A, dan Lilies Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Mufarizuddin,M.Pd. 1 ABSTRAK. Keyword : Hasil belajar Matematika, Strategi Mathematical Investigation
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN STRATEGI MATHEMATICAL INVESTIGATION SISWA KELAS V SD SD NEGERI 032 SEI GARO KECAMATAN TAPUNG KABUPATEN KAMPAR Mufarizuddin,M.Pd. 1 1 STKIP Tuanku Tambusai, Bangkinang
DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 14 B. TUJUAN 14 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 14 D. UNSUR YANG TERLIBAT 14 E. REFERENSI 15 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 15
DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 14 B. TUJUAN 14 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 14 D. UNSUR YANG TERLIBAT 14 E. REFERENSI 15 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 15 G. URAIAN PROSEDUR KEGIATAN 18 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR
BAB III METODE PENELITIAN. di dalamnya, yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. Menurut
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Pemilihan metode penelitian dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya, yaitu
KEMAMPUAN GURU TERSERTIFIKASI DALAM PERANCANGAN DAN PENERAPAN PEMBELAJARAN (Studi Multisitus pada SMK Negeri Kota Palu)
KEMAMPUAN GURU TERSERTIFIKASI DALAM PERANCANGAN DAN PENERAPAN PEMBELAJARAN (Studi Multisitus pada SMK Negeri Kota Palu) Syafruddin Pascasarjana Universitas Negeri Malang Email: [email protected]
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUESTIONING TEKNIK CARD SORT KELAS V SD NEGERI TEBING TINGGI
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUESTIONING TEKNIK CARD SORT KELAS V SD NEGERI 168234 TEBING TINGGI Rosminem Wardiyaningsih Surel: [email protected] ABSTRAK Penelitian ini
Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si
ARTIKEL Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA
Oleh: Endang Mayawati SMP Negeri 1 Pogalan Kabupaten Trenggalek
46 JUPEDASMEN, Volume 1, Nomor 3, Desember 2015 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI IPS MATERI PELAKU EKONOMI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA MELALUI MODEL BELAJAR KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER
Negeri 2 Teupah Barat Kabupaten Simeulue Tahun Pelajaran 2014/2015. Oleh: PARIOTO, S.Pd 1 ABSTRAK
145 Upaya Meningkatkan Kualitas Guru Melalui Konsep Pembelajaran Learning Together Di Sma Negeri 2 Teupah Barat Kabupaten Simeulue Tahun Ajaran 2014/ /2015 Oleh: PARIOTO, S.Pd 1 ABSTRAK Pembelajaran learning
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING SISWA KELAS V SD NEGERI NO KW.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING SISWA KELAS V SD NEGERI NO 055999 KW. BINGAI Ramiah Surel: [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan
OPTIMALISASI PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS IX-A SMP NEGERI 11 MATARAM
OPTIMALISASI PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS IX-A SMP NEGERI 11 MATARAM ABSTRAK LINA YETTI BUDI ASIH Guru IPA SMP Negeri 11 Mataram
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Dengan Metode Demonstrasi di Kelas IV SDN 14 Ampana
Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No. 4 ISSN 2354-614X Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Dengan Metode Demonstrasi di Kelas IV SDN 14 Ampana Hadijah S. Pago, I Nengah Kundera,
PEMANTAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA GURU-GURU SMP LAB UNESA MELALUI LESSON STUDY
PEMANTAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA GURU-GURU SMP LAB UNESA MELALUI LESSON STUDY Oleh Masriyah, Kusrini, Endah B.R., dan Abadi *) Abstrak Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini mengangkat tema mengenai
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan 7 muatan KTSP Melaksanakan
SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 MOJOAGUNG KECAMATAN KARANGRAYUNG KABUPATEN GROBOGAN TAHUN AJARAN 2012/2013 PUBLIKASI ILMIAH
PENERAPAN METODE LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 MOJOAGUNG KECAMATAN KARANGRAYUNG KABUPATEN GROBOGAN TAHUN AJARAN 2012/2013 PUBLIKASI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara, dengan majunya pendidikan suatu negara dapat dijadikan tolok ukur bahwa negara
Pengembangan Model PembelajaranTatap Muka, Penugasan Terstruktur dan Tugas Mandiri Tidak Terstruktur BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Undang-Undang (UU) Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 4 ayat (1) menyatakan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS PAIKEM PADA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI DIFERENSIAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPA3 SMAN I PALOPO
Prosiding Seminar Nasional Volume 2, Nomor 1 ISSN 2443-119 PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS PAIKEM PADA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI DIFERENSIAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPA3 SMAN
PENINGKATAN MOTIFASI DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PLUS
14 PENINGKATAN MOTIFASI DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PLUS Nur Hasanah Ridlwan 1 1 Pengajar di SMP Negeri 1 Sidayu Email: [email protected] Abstract Tujuan
Variasi : Majalah Ilmiah Universitas Almuslim, Volume 9, Nomor 3, September 2017 ISSN :
9-14 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KELAS V DALAM PEMBELAJARAN BERPUSAT KOOPERATIF MELALUI SUPERVISI KLINIS DI SD NEGERI 13 LANGSA TAHUN PELAJARAN 2015-2016 Jasimah Sekolah Dasar Negeri 13 Langsa Diterima
I. PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA DENGAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL)
33 PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA DENGAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL) Sizillia Noranda Mayangsari Universitas Wisnuwardhana Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK Project based learning
