BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
|
|
|
- Hadi Budiono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia terletak pada pertemuan dua rangkaian pegunungan muda, yaitu rangkaian Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania. Hal tersebut menyebabkan di Indonesia terdapat banyak gunungapi aktif (Kusumadinata, 1979; Katili dan Siswowidjojo, 1994; Voight et al., 1998; Kelfoun et al., 2000; Younga et al., 2000; Prihadi, 2005). Katili dan Siswowidjojo (1994) menyatakan gunungapi (vulkan) adalah bentuk di muka bumi, berupa kerucut raksasa, kubah, atau bukit akibat penerobosan magma ke permukaan bumi. Gunungapi terjadi karena proses tumbukan menunjam yang aktif (Sudrajat, 1995). Salah satu gunungapi di Indonesia yang aktif adalah Gunungapi Merapi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gunungapi memiliki dua potensi bahaya, yaitu bahaya primer dan sekunder. Bahaya primer adalah bahaya yang ditimbulkan langsung oleh letusan disertai hamburan piroklastik, aliran lava, dan luncuran awan panas. Bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh aliran rombakan material lepas gunungapi bercampur air hujan yang disebut lahar. Lahar diartikan sebagai aliran campuran bahan rombakan gunungapi dengan air hujan. Bates dan Jackson (1987) mendefinisikan lahar sebagai aliran lumpur yang tersusun atas material gunungapi klastik, yang menuruni lereng gunungapi. Lahar terjadi mengikuti turunnya hujan lebat, alirannya melalui lembah-lembah dan daerah rendah. Lahar terjadi pada waktu letusan dengan tumpahnya danau kawah atau mencairnya salju di puncak gunungapi. Aliran lahar sangat berbahaya, mampu menyeret bermacam-macam ukuran batuan, merusak segala sesuatu baik batuan, bangunan, maupun kawasan yang dilewati (Sumintaredja, 2000). Gunungapi Merapi membawa dampak positif maupun negatif bagi penduduk (Hadi, 1992; Bambang, 2007; Wahid, 2008). Contoh dampak positif hasil aktivitas kegunungapian adalah ketersediaan bahan konstruksi, sedangkan 1
2 dampak negatif adalah kebencanaan primer dan sekunder. Hasil aktivitas gunungapi mampu mengancam setiap daerah dari wilayah sempit hingga luas. Kabupaten Magelang tahun 2010 terkena dampak aliran lahar. Wilayah paling parah terjadi di sepanjang Kali Putih. Aliran lahar Kali Putih beberapa kali telah memutuskan jalur transportasi utama Semarang dan Yogyakarta. Kali Putih secara administrasi melewati 3 kecamatan yaitu Kecamatan Srumbung, Kecamatan Salam, dan Kecamatan Ngluwar (lihat Gambar 1.1). Kondisi Kali Putih mempunyai variasi karakteristik fisik lahan yang mencakup morfometri, penutup lahan, lereng, dan batuan. Berdasarkan variasi kondisi fisik yang ada, diperoleh gambaran kovariasi spasial menurut kombinasi berbagai variabel fisik yang relevan. Kovariasi spasial merupakan ekspresi dari paradigma geomorfologi dalam ilmu geografi. Bambang (2007) menyatakan geomorfologi bukan sekadar sub-disiplin geografi, melainkan cara pandang atas fenomena bentang lahan yang digunakan untuk menjelaskan berbagai macam proses dan karakteristik komponen bentanglahan yang terbentuk. Paradigma proses-bentuk merupakan terminologi lain yang dapat digunakan sebagai ciri penelitian geografi (Wahyono, 2002) dan sesuai definisi geografi oleh Bintarto (1991, dalam Wahid, 2008) Kontroversi Lahar Kontroversi lahar sering terjadi, yaitu aliran lahar yang menimbulkan kejadian bencana dan sedimen lahar yang merupakan sumberdaya galian pasir dan batu (lahar membawa keuntungan). Gunungapi Merapi pada tahun 2006 memproduksi 5 juta m 3 dan tahun 2010 memproduksi 140 juta m 3 material piroklastik (lihat Gambar 1.2). Material erupsi Merapi yang masih menumpuk sebanyak 90 juta m 3 dan belum tertangani dengan baik Material sebanyak itu belum terambil dan masih belum tahu harus dikemanakan, belum ada tempat untuk material sebanyak itu, kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif di Yogyakarta, Selasa (1/11/2011) (BNPB, 2011). 2
3 Gambar 1.1. Peta Administrasi Daerah Penelitian 3
4 Gambar 1.2. Material lahar Kali Putih di Kecamatan Srumbung (Foto : Kumalawati, 2010) Ancaman bencana lahar terjadi pada musim hujan (Lavigne et al., 2000; Sutikno dkk., 2007; Salinas et al., 2007; Yuliadi, 2010). Bencana Gunungapi Merapi selalu berubah sewaktu-waktu dan perubahannya cepat, dibutuhkan pembaharuan pengelolaan daerah rawan bencana yang cepat (Lailiy, 2007; Lavigne et al., 2008). Daerah tempat tinggal yang dilalui aliran lahar mempunyai dampak positif dan negatif. Daerah yang mempunyai dampak positif dan negatif akibat aktivitas kegunungapian dapat dikatakan daerah tersebut mempunyai nilai kefaedahan wilayah (place utility) tinggi maupun rendah. Daerah penelitian mempunyai nilai kefaedahan wilayah (place utility) rendah pada waktu terjadi bencana lahar karena lahar dapat merusak apa saja yang dilalui termasuk permukiman. Sebaliknya daerah penelitian juga mempunyai nilai kefaedahan wilayah (place utility) tinggi setelah bencana lahar terjadi karena material lahar mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu, perlu perencanaan pengelolaan lahar supaya daerah terkena lahar menjadi bermanfaat (Lailiy, 2007). Lahar memiliki nilai ekonomi bersifat terukur (tangible) dan tidak terukur (intangible). Nilai ekonomi lahar bersifat terukur (tangible) digolongkan ke dalam manfaat kegunaan baik yang dikonsumsi maupun tidak, misalnya material lahar dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Nilai ekonomi lahar bersifat tidak terukur (intangible) berupa manfaat non-kegunaan, yaitu bersifat pemeliharaan ekosistem jangka panjang. Kenyataannya, selama ini masyarakat terlalu berpihak pada lahar sebagai sumber bencana sehingga mengabaikan pentingnya nilai 4
5 ekonomi material lahar (Joko 2002 dalam Harini, 2009). Peneliti ingin membuktikan apakah lahar memiliki nilai ekonomi tinggi secara finansial, yaitu dapat menghambat arus migrasi atau tidak. Peneliti juga akan mengkaji apakah bencana yang terjadi masih dalam batas toleransi, yaitu sesuai teori nilai kefaedahan wilayah atau tidak (Ayu, 2010). Permasalahan utama yang difokuskan, yaitu bagaimana membuat masyarakat paham bahwa lahar bukan hanya bencana, melainkan memiliki keuntungan atau manfaat. Daerah yang dilalui aliran lahar akan memiliki material lahar. Material lahar di suatu daerah dapat membawa keuntungan atau manfaat dan mendorong masyarakat tetap tinggal (menghambat arus migrasi) (Julia dan Saptana, 2005; Ayu, 2010). Teori arus migrasi: (1) stress-threshold model atau place utility model (Wolpert, 1965) dan (2) the human capital approach (Sjaastad, 1972). Ide dasar teori stress-threshold model atau place utility model menyatakan bahwa setiap individu adalah makhluk rasional yang mampu melakukan pilihan terbaik di antara alternatif yang ada. Ide dasar the human capital model adalah investasi dalam rangka peningkatan produktivitas. Niat untuk melakukan migrasi dalam model ini dipengaruhi oleh motivasi untuk mencari kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih baik. Dalam konteks ini, Todaro (1980) mengemukakan bahwa keputusan seseorang untuk melakukan migrasi merupakan respons dari harapan untuk memperoleh kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih baik Kontribusi Valuasi Finansial untuk Mengetahui Besarnya Dampak Kerusakan Lahar Penelitian valuasi finansial untuk mengetahui besarnya dampak kerusakan lahar belum banyak dilakukan. Peran valuasi finansial adalah dapat menghitung secara nyata akibat yang terjadi dan faktor-faktor utama dampak kerusakan lahar, biaya mengacu pada penerimaan dan pengeluaran yang mencerminkan harga pasar aktual yang benar-benar diterima atau dibayar. Valuasi finansial penting dalam kebijakan pembangunan, karena dapat dijadikan sebagai pertimbangan. Kerusakan lingkungan atau sumberdaya lingkungan merupakan masalah ekonomi, rusaknya lingkungan berarti hilangnya kemampuan menyediakan barang dan jasa (Maynard et al., 1979; Sukanta, 1993; Garrod et al., 1999; David 5
6 et al., 1990; Markandya et al., 2002). Dampak banjir lahar lebih terasa jika mengenai tempat tinggal ataupun tempat penduduk melakukan aktivitas (Takahashia et al., 2000; Itoh et al., 2000). Pertumbuhan penduduk cepat menyebabkan kebutuhan tempat tinggal meningkat. Faktor daya tarik mempengaruhi minat masyarakat tetap tinggal, misalnya tanah subur sehingga mudah diolah untuk lahan pertanian dan material lahar dapat dimanfaatkan untuk bangunan (Wolpert, 1965; Ayu, 2010). Berdasarkan peta lokasi desa terdampak banjir lahar Gunungapi Merapi di wilayah Provinsi Jawa Tengah, daerah sekitar aliran Kali Putih merupakan daerah bahaya sekunder gunungapi (BNPB, 2011) (lihat Gambar 1.3; Gambar 1.4). Gambar 1.3, dan Gambar 1.4 menjelaskan aliran lahar di Kali Putih yang mengenai permukiman di Desa Sirahan. Kali Putih termasuk daerah bahaya lahar. Lahar mengalir ke Kali Putih, dimana sepanjang aliran Kali Putih merupakan daerah padat penduduk (BPS, 2012). Lahar menimbulkan kerusakan dan korban, tetapi penduduk tetap memilih tinggal di sekitar gunungapi. Material kegunungapian yang terendapkan melalui proses banjir lahar memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat jangka panjang dapat menyuburkan lahar pertanian. Manfaat jangka pendek belum banyak dirasakan oleh masyarakat. Kali Putih dialiri lahar Lahar Kali Putih mengenai di Desa Sirahan permukiman warga di Desa Sirahan Gambar 1.3. Banjir Lahar di Kali Putih (Foto : Kumalawati, 2011) 6
7 Gambar 1.4. Peta Lokasi Desa Terdampak Banjir Lahar Gunungapi Merapi di Wilayah Propinsi Jawa Tengah Tahun 2011 (Sumber: BNPB, 2011) Pembangunan wilayah didasarkan pada pertimbangan finansial. Perhitungan keuntungan finansial menjadi dasar utama pengambilan kebijakan pembangunan. Pembangunan dilaksanakan di dalam ruang/wilayah yang mempunyai dinamika khusus, seperti wilayah rawan bencana lahar di Kali Putih. Dinamika wilayah secara fisik, sosial, dan finansial seringkali kurang diperhatikan dalam pengambilan kebijakan pembangunan. Kerugian finansial yang besar timbul ketika terjadi proses dinamika wilayah yang tidak dikehendaki. Selanjutnya, dilakukan kuantifikasi finansial dinamika wilayah rawan lahar sebagai dasar pengelolaan wilayah dengan memperhatikan aspek fisik, sosial, dan finansial. Permasalahan lahar merupakan contoh kasus menarik untuk ditelaah karena permasalahan wilayah cukup kompleks dari sisi finansial. Bertolak dari 7
8 permasalahan valuasi finansial, lahar sebagai dasar pengelolaan daerah rawan bencana sangat penting menentukan perencanaan yang akan dilakukan Rumusan Masalah Penelitian Potensi banjir lahar harus diidentifikasi dan diupayakan pengurangan risiko dari bencana yang ditimbulkan. Upaya penghindaran dan pengurangan risiko bencana dihadapkan pada permasalahan klasik. Permasalahan klasik yang dialami negara-negara berkembang adalah keterbatasan anggaran untuk melakukan manajemen risiko yang terintegrasi dengan baik. Optimalisasi manajemen risiko bencana dapat dilakukan dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Penelitian yang dibutuhkan untuk melibatkan masyarakat adalah penelitian mengenai persepsi dan perilaku individu masyarakat mengenai lahar, yaitu kesediaannya menerima WTA (Willingness to Accept). Penelitian dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi potensi dampak banjir lahar yang ada. Dampak banjir lahar menampakkan dua sisi yang kontradiktif baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif lahar yang dapat dimunculkan adalah menganggap lahar bukan bencana. Lahar menyebabkan daerah menjadi subur dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga mendorong masyarakat untuk tetap tinggal (menetap). Dampak negatif dari lahar yang biasanya muncul adalah lahar sebagai bencana. Lahar sebagai bencana pada akhirnya mengharuskan masyarakat pindah karena material lahar membahayakan. Masyarakat yang mendapatkan ancaman dan musibah berupa lahar, pada umumnya mereka berpandangan bahwa sakersanipun gusti, kaula nampi mawon (Sindhunata 1998 dalam Maarif dkk., 2012). Pandangan ini menunjukkan bahwa eksistensi bencana banjir lahar dari Gunungapi Merapi dan potensinya diterima dan dihayati dalam perspektif seimbang (dual dimensions). Hasil penelitian selanjutnya diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar untuk pengelolaan daerah rawan bencana lahar (lihat Gambar 1.5). 8
9 Lahar bencana Daerah rawan lahar (pindah) Material lahar membahayakan _ + Pengelolaan Daerah Rawan Bencana Lahar Lahar bukan bencana Daerah subur (menetap) Material lahar mempunyai nilai ekonomi tinggi Gambar 1.5. Diagram fishbone penelitian (Identifikasi Potensi Dampak Lahar) Menurut teori utilitas harapan, individu akan meminimalkan potensi kerugian yang akan diderita pada masa yang akan datang (Pindyck dan Rubinfield, 2001). Teori utilitas harapan (expected utility theory) adalah model ekonomi yang sering digunakan untuk menjelaskan pengambilan keputusan dalam kondisi risiko (Mogenstern, 1954 dalam Dixit, 1990). Berdasarkan teori utilitas harapan, individu-individu yang tinggal di wilayah berpotensi terjadi bencana akan berusaha memaksimalkan utilitasnya dengan melakukan mitigasi terhadap risiko bencana yang mengancam. Teori tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Ozdemir (2000), Ozdemir dan Kruse (2005), Fujimi dan Tatano (2006), dan Li dan Hsiu (2007). Penelitian yang tidak mendukung teori utilitas harapan antara lain penelitian Kunreuther (2006), Kleindorfer dan Kunreuther (1997), Schade et al., (2002), dan Miller et al., (2002) menyebutkan bahwa ada kecenderungan masyarakat memiliki perilaku untuk melakukan mitigasi sangat rendah. Masyarakat yang tinggal di wilayah yang berpotensi terjadi bencana tidak berusaha memaksimalkan utilitasnya dengan melakukan mitigasi terhadap risiko bencana yang mengancam. Masyarakat mengalami sindroma bencana alam (natural disaster syndrome), yaitu masyarakat tidak mau secara sukarela memprioritaskan pengurangan dampak bencana (Kunreuther, 2006). Perbedaan hasil penelitian utilitas harapan menarik untuk dikaji kembali khususnya di Kabupaten Magelang. Penelitian persepsi masyarakat terhadap lahar, cara menilai lahar dan perilaku mitigasi dan adaptasi dikombinasikan dengan tingkat kerawanan supaya kajian penelitian lebih 9
10 komprehensif. Penelitian dilakukan juga pada wilayah tidak rawan. Masyarakat yang tinggal di daerah kerawanan tinggi diharapkan memiliki WTA lebih tinggi daripada di daerah tidak rawan. Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan dan berhasil diidentifikasi, tidak ditemukan secara eksplisit mengenai perbedaan perilaku masyarakat di setiap tingkat kerawanan wilayah tempat tinggal (Suryanto, 2011; Ozdemir, 2000). Rumusan masalah pokok penelitian yang diajukan adalah bagaimana pengelolaan daerah rawan bencana lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi Berdasarkan permasalahan pokok dapat dirinci permasalahan penelitian, yaitu: 1) bagaimana menyusun dan menganalisis peta tingkat kerawanan lahar? 2) bagaimana persepsi masyarakat terhadap lahar menurut tingkat kerawanan berdasarkan variabel persepsi yang digunakan dalam penelitian? 3) bagaimana cara menilai potensi ekonomi lahar secara finansial? 4) bagaimana pengaruh antara variabel-variabel perilaku individu masyarakat mengenai lahar dengan WTA (Willingness to Accept)? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian yang ingin dicapai, yaitu merumuskan cara pengelolaan daerah rawan bencana lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 meliputi karakteristik kerawanan wilayah, variabel-variabel persepsi, variabel ekonomi, dan perilaku individu masyarakat mengenai lahar. Selain untuk mendapatkan pola pengaruh antar variabel-variabel, juga ingin menemukan bukti empiris tentang perilaku individu masyarakat mengenai lahar dengan WTA di Kabupaten Magelang apakah mengikuti teori utilitas harapan dan teori adaptasi manusia terhadap lingkungan. Tujuan khusus penelitian dibagi menjadi empat untuk memudahkan pelaksanaan penelitian, yaitu: 1) menyusun dan menganalisis peta tingkat kerawanan lahar, 2) mengetahui persepsi masyarakat terhadap lahar menurut tingkat kerawanan berdasarkan variabel persepsi, 3) melakukan valuasi finansial untuk mengetahui besarnya dampak kerusakan akibat lahar, 10
11 4) mengevaluasi pengaruh antara perilaku individu masyarakat mengenai lahar dengan WTA. Berdasarkan serangkaian tujuan khusus penelitian yang sudah dirumuskan, wujud nyata hasil penelitian berupa strategi dan/model pengelolaan daerah rawan bencana lahar Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi pengembangan teori utilitas harapan, khususnya dalam pengelolaan daerah rawan bencana. Pendekatan valuasi finansial dapat digunakan untuk mengukur kesediaan masyarakat melakukan mitigasi dan adaptasi. Potensi kerugian dapat diminimalkan jika diketahui persepsi masyarakat terhadap risiko. Secara khusus, manfaat dari penelitian ini antara lain: 1) Manfaat Keilmuan a) memberikan gambaran besarnya biaya ekonomi yang harus dikeluarkan akibat lahar b) memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu geografi terutama aspek metodologis pada kajian geografi regional, khususnya pengkajian perkembangan wilayah terkait dengan aspek fisik, sosial, dan finansial, c) sebagai sumber informasi bagi pengembangan penelitian sejenis. 2) Manfaat Pembangunan a) memberikan saran kepada pemerintah sebagai policy maker, lembaga swadaya, dan masyarakat tentang pentingnya pengelolaan lingkungan, khususnya penanganan lahar ditinjau dari sudut ekonomi, b) pemerintah daerah dan pusat dapat memformulasikan dan menyusun rencana strategis manajemen risiko bencana didukung hasil temuan. Sebagai contoh adalah penyusunan strategi manajemen risiko lebih efektif apabila sikap dan persepsi pelaku mitigasi dan adaptasi terhadap bencana diketahui, dan c) memberikan salah satu dasar arahan kebijakan, khususnya di daerah yang memiliki tingkat kerawanan lahar yang tinggi. 11
12 1.5. Keaslian Penelitian Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan perilaku individu atau persepsi masyarakat untuk mitigasi bencana telah dilakukan oleh Onculer (2002), Miller et al. (2002), Ozdemir dan Kruse (2005), dan Triani (2009). Metode analisis yang digunakan adalah pendekatan Contingent Valuation Method (CVM). Metode CVM digunakan untuk mengestimasi variabel-variabel persepsi risiko (pengalaman terkena dampak, tingkat kerentanan, besarnya dampak, tingkat pemahaman, derajat penolakan terhadap risiko), variabel demografi (usia, jumlah anak, tingkat pendidikan), dan variabel ekonomi (tingkat pendapatan) terhadap WTP mitigasi. Metode analisis yang digunakan untuk meneliti masalah kebencanaan tidak terbatas pada metode CVM. Metode yang digunakan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Rashed (2003), dan Dai et al. (2003) berbeda dengan pendekatan CVM. Metode yang digunakan lebih bersifat deskriptif dan informatif karena menggambarkan kondisi suatu daerah yang bahaya dan rawan bencana, metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografi (SIG) seperti penelitian yang dilakukan Hadi (1992), dan Lavigne (1999). Penelitian yang akan dilakukan tentang pengelolaan daerah rawan bencana lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 di Kali Putih Kabupaten Magelang. Strategi yang paling mungkin dilakukan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana adalah dengan mengurangi besarnya dampak dan keganasan bencana. Pemerintah dan masyarakat perlu dipersiapkan untuk menghindari atau merespon bencana dengan tepat dan efektif sehingga kerugian dapat dikurangi (Chinn, 2005). Masyarakat tidak lagi enggan mengungsi ketika terjadi bencana (Putranto, 1999; Widiyanto, 1999). Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan adalah digunakannya pendekatan CVM. Pendekatan CVM digunakan karena penelitian ini mengukur WTA masyarakat yang dihubungkan dengan perilaku individu masyarakat. CVM adalah salah satu metodologi berbasis survei untuk mengestimasi seberapa besar penilaian masyarakat terhadap barang, 12
13 jasa, dan kenyamanan (Ozdemir, 2000). Penelitian melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh Ozdemir (2000) dan Suryanto (2011) yaitu mengestimasi variabel-variabel perilaku individu masyarakat terhadap WTA, dan persepsi masyarakat. Analisis yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah analisis tingkat kerawanan, persepsi masyarakat terhadap lahar, valuasi finansial untuk mengetahui berapa besar dampak kerusakan akibat lahar, dan perilaku individu masyarakat mengenai lahar terhadap kesediaan menerima WTA. Perbedaan dengan penelitian Ozdemir (2000) adalah dimasukkannya variabel spasial yaitu variabel dummy yang digunakan untuk membandingkan variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku individu masyarakat di wilayah yang tergolong kerawanan tinggi, kerawanan sedang, kerawanan rendah dan tidak rawan bencana khususnya bencana lahar. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan adalah (lihat Tabel 1.1): 1) cara pandang material erupsi dari bencana ke materi bernilai ekonomi, 2) metode penelitian yang digunakan CVM (Contingent Valuation Method), 3) tema penelitian berbeda dengan tema penelitian sejenis karena berbeda tujuan yang ingin dicapai, 4) publikasi ilmiah terkait tingkat kerawanan lahar masih bersifat umum, belum menganalisis tentang pengelolaan daerah rawan bencana lahar secara spesifik, 5) berbagai paparan di media massa terkait dengan penelitian tersebut belum didukung oleh analisis data kuantitatif berdasar hasil penelitian ilmiah Batasan Istilah Beberapa istilah khusus banyak digunakan dalam penelitian ini. Istilah khusus digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena khas yang berkaitan dengan objek penelitian. Istilah khusus mempunyai arti atau makna khusus yang berbeda dengan pemahaman awam. Istilah khusus yang digunakan dalam penelitian khususnya dalam lingkup kebencanaan: Bahaya adalah suatu peristiwa fisik yang berpotensi merusak, fenomena atau aktivitas manusia yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa atau luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan 13
14 kemungkinan terjadinya dalam jangka waktu tertentu dan dalam daerah tertentu, dengan intensitas yang diberikan (Alkema D.dkk, 2009). Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa disebabkan oleh alam, manusia, dan/atau keduanya yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana, prasarana, dan utilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat (Sudibyakto, 2011). Elemen risiko adalah semua benda, orang, hewan, kegiatan, yang mungkin dipengaruhi oleh fenomena yang berbahaya, di daerah tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung termasuk: gedung, fasilitas, penduduk, ternak, kegiatan ekonomi, pelayanan publik, dan lingkungan (Westen dkk, 2009). Kerentanan sebagai karakteristik dan keadaan masyarakat, sistem atau aset yang membuatnya rentan terhadap efek yang merusak dari bahaya atau merupakan konsekuensi dari sebuah kondisi yang ditentukan oleh faktor atau proses fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan, yang meningkatkan kemungkinan masyarakat terkena ancaman (Westen dkk, 2009). Kerawanan didefinisikan sebagai probabilitas keruangan suatu wilayah mengalami bencana (Scheinerbauer dan Ehrlich, 2004 dalam Thywissen, 2006). Lahar hujan adalah lahar yang terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan (Sukatja, 2006). Persepsi Risiko adalah pendapat subjektif dari orang-orang tentang risiko, karakteristik, dan besarnya, termasuk beberapa faktor: pengetahuan objektif individu tentang risiko, dugaan individu tentang pengalamannya sendiri terhadap risiko serta kemampuannya untuk mengurangi atau mengatasi jika bencana yang merugikan terjadi. Rawan Bencana Alam adalah suatu daerah yang pernah terjadi bencana alam sehingga dapat digunakan untuk memprediksi kejadian yang akan datang meliputi ukuran kejadian, frekuensi, dan luas (Sutikno dkk., 2007). 14
15 Risiko Bencana Alam adalah suatu daerah yang mempunyai potensi terjadi bencana alam sehingga mempunyai kemungkinan timbulnya kerugian, baik yang berupa kerugian jiwa maupun harta benda (Bambang, 2007). Valuasi Ekonomi adalah proses penaksiran potensi ekonomi suatu daerah untuk tujuan tertentu ke dalam nilai rupiah, dalam penelitian ini penaksiran potensi ekonomi lahar dibatasi pada komponen-komponen yang bersifat tangible (David et al., 1990; Markandya et al., 2002). Valuasi Finansial adalah proses menghitung secara nyata akibat yang terjadi dan faktor-faktor utama dampak kerusakan lahar, biaya mengacu pada penerimaan dan pengeluaran yang mencerminkan harga pasar aktual yang benar-benar diterima atau dibayar. WTA (Willingness to Accept) adalah jumlah minimum pendapatan seseorang untuk bersedia menerima akibat penurunan suatu manfaat sumber daya alam dalam penelitian ini penurunan sumber daya alam akibat bencana lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 (Fauzi, 2006). 15
16 Tabel 1.1. Hasil Penelitian Terdahulu dan Hasil Penelitian yang Sekarang No. Nama dan Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil dan Kesimpulan 1. Hadi (1992) Mengetahui daerah-daerah rawan Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Mitigasi Banjir Lahar dan karena bahaya banjir lahar dan longsoran lava. Longsoran Lava pada Lereng Selatan Gunungapi Merapi 2. Putranto (1999) Kajian Ekologi Budaya Mengenai Interaksi Masyarakat Desa dengan Lingkungan di Daerah Bahaya Gunung Merapi (kasus Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem dan Dusun Palemsari, Umbulharjo, Cangkringan) 3. Lavigne (1999) Lahar Hazard Microzonation and Risk Assessment in Yogyakarta city, Indonesia 4. Widiyanto (1999) Kerusakan Bangunan Pengendali Sedimen Akibat Penambangan Pasir di Sub DAS Kali Putih, Lereng Barat Volkan Merapi Mengkaji mitos-mitos mengapa korban bencana Merapi enggan meninggalkan desanya untuk transmigrasi atau pindah lokasi. Memetakan daerah bahaya banjir lahar dingin secara detail dan menganalisis risiko yang ditimbulkan oleh banjir lahar terhadap infrastruktur bangunan di DAS Code Yogyakarta. Mengetahui faktor-faktor yang paling berpengaruh menyebabkan kerusakan bangunan pengendali sedimen. Analisis dilakukan dengan cara tumpang susun peta (overlay), kalkulasi peta, klasifikasi dengan menggunakan tabel 2-dimensi, dan classify tabel serta dengan menerapkan SQL (Simple Query Language) pada database. Data geologi dan penutup lahan dilakukan skoring, sedangkan lainnya dihitung nilai pikselnya. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung dan analisis data dengan analisis korelasi dan anova. Mengggunakan peta topografi dan asumsi debit puncak untuk analisis bahaya dan analisis kerentanan bangunan. Metode yang digunakan adalah dengan pengamatan langsung terhadap sebaran bangunan pengendali sedimen, sebaran lokasi penambangan, dan kondisi bangunan pengendali sedimen Hasil yang diperoleh yaitu, peta bahaya dikategorikan menjadi 5 kelas, yaitu: - Kelas I (tidak berbahaya) - Kelas II ( sedikit berbahaya) - Kelas III (cukup berbahaya) - Kelas IV (berbahaya) - Kelas V ( sangat berbahaya) Persentase pemukiman yang masuk kategori kelas bahaya: - Kelas I (90,03%) - Kelas IV (0,11%) - Kelas II (9,53%) - Kelas V (0,10%) - Kelas III (0,23%) Masyarakat di sekitar daerah bahaya Gunungapi Merapi telah melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan yang berbahaya. Pemetaan mikrozonasi bahaya banjir lahar dan risiko terhadap bahaya banjir lahar. Faktor manusia lebih besar pengaruhnya dibanding faktor alam yang menyebabkan kerusakan bangunan pengendali sedimen. 16
17 No. Nama dan Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil dan Kesimpulan 5. Ozdemir (2000) Mengetahui Persepsi Risiko dan Nilai Regresi Persepsi Risiko dan Nilai Kenyamanan untuk Risiko Kenyamanan untuk Risiko Probabilitas Rendah serta dampak Probabilitas Rendah dan kerugiannya Berdampak Merugikan: Investigasi Teoritis dan Empiris 6. Miller, et al (2002) Membeli Keamanan terhadap Angin Tornado: Berapa Harganya? 7. Onculer (2002) Willingness to Pay pemilik rumah di Turki terhadap mitigasi gempabumi 8. Dai, et al (2003) Karakteristik hujan yang menyebabkan tanah longsor 9. Rashed (2003) Pengukuran pada masalah lingkungan khususnya kerawanan sosial terhadap bahaya gempa bumi, Integrasi Remote Sensing dan Pendekatan SIG 10. Ozdemir dan Kruse (2005) Hubungan antara Persepsi Risiko dan Willingness-to-Pay untuk Risiko dengan Probabilitas Rendah dan Berdampak Merugikan: Sebuah Metode Survei 11. Chinn (2005) Permintaan Asuransi Bencana: Studi Eksperimen Mengetahui harga keamanan terhadap angin tornado? Mengetahui Willingness to Pay pemilik rumah di Turki terhadap mitigasi gempabumi Mengetahui karakteristik hujan yang menyebabkan tanah longsor? Pengukuran pada masalah lingkungan khususnya kerawanan sosial terhadap bahaya gempa bumi Mengetahui hubungan antara Persepsi Risiko dan Willingness-to- Pay untuk Risiko dengan Probabilitas Rendah dan Berdampak Merugikan: Sebuah Metode Survei Regresi dan Korelasi Regresi Analisis SIG Integrasi Remote Sensing dan Pendekatan SIG Korelasi dan Regresi Maksimum WTP dipengaruhi oleh risiko dampak bencana (risk severity) WTP masyarakat rendah untuk mitigasi, korelasi antar variabel dan WTP rendah Dampak lebih meningkatkan WTP dibanding probabilitas, dan sikap tetangga mempengaruhi mitigasi. Menyediakan informasi mengenai karakteristik hujan dan mengapa longsor terjadi di daerah penelitian. Hasil penelitian berupa informasi sosial ekonomi tentang kehidupan masyarakat yang dapat digunakan untuk penyiapan risiko bencana dan mitigasi bencana alam. Dampak kerugian signifikan terhadap WTP, pengalaman, umur, jenis kelamin, dan pendidikan tidak signifikan terhadap WTP. Mengetahui asuransi bencana Regresi Mendukung teori prospek Kahneman dan Tversky 17
18 No. Nama dan Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil dan Kesimpulan 12. Triani (2009) Metode penelitian metode survei. Analisis Willingness to Accept Analisi penelitian menggunakan Masyarakat Terhadap Pembayaran metode WTA Jasa Lingkungan DAS Cidanau 13. Suryanto (2011) Pola Hubungan Karakteristik Wilayah, Persepsi Individu, dan Perilaku Mitigasi Gempabumi di Kabupaten Bantul DIY a. Mendeskripsikan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau, b. Mengkaji persepsi masyarakat terhadap program pembayaran jasa lingkungan yang telah berlangsung di DAS Cidanau, c. Mengkaji kesediaan atau ketidaksediaan masyarakat menerima kompensasi sesuai skenario yang ditawarkan di pasar hipotesis, d. Mengkaji besarnya dana kompensasi yang bersedia diterima masyarakat (WTA) serta faktor yang mempengaruhi nilai WTA. a. Menganalisis tingkat kerentanan dan tingkat kapasitas penduduk dalam menghadapi risiko bencana gempabumi, b. Mengevalusi hubungan persepsi individu mengenai bencana gempabumi dan perilaku individu untuk melakukan mitigasi bencana alam gempabumi, c. Memprediksi probabilitas tingkat kerawanan wilayah berdasar variabel-variabel persepsi, sosial, dan ekonomi. Analisis SIG, regresi berganda, dan regresi logistik, a. Mekanisme pembayaran jasa lingkungan DAS Cidanau melibatkan Forum Komunikasi DAS Cidanau, Desa Citaman, Desa Cikumbueun dan Desa Kadu Agung serta PT. KTI, b. Responden menilai kualitas lingkungan semakin baik setelah adanya upaya konservasi, c. Hanya dua responden dari 43 responden yang menyatakan tidak bersedia menerima pembayaran sesuai skenario, d. Nilai dugaan rataan WTA responden adalah Rp Jika jumlah pohon 500 per ha maka nilai pembayaran Rp per ha per tahun. Nilai total WTA responden Rp dan dipengaruhi oleh faktor nilai pendapatan dari pembayaran jasa lingkungan yang selama ini diterima, kepuasan terhadap nilai jasa lingkungan yang selama ini diterima, jumlah pohon, tingkat pendapatan rumah tangga, lama tinggal dan penilaian cara penetapan nilai pembayaran. a. Semua wilayah di Kabupaten Bantul adalah wilayah rawan gempabumi, wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi dan kepadatan pemukiman tinggi cenderung berada pada wilayah rawan atau sangat rawan. b. Hasil penelitian mendukung teori utilitas harapan. c. Hasil analisis regresi logistik untuk memprediksi wilayah sangat rawan dengan kurang rawan atau wilayah sangat rawan dengan rawan dapat diketahui empat variabel yang siginifikan dari delapan variabel yaitu variabel pendidikan, persepsi terhadap peran pemerintah pusat, persepsi terhadap peran pemerintah daerah, dan persepsi tingkat kepercayaan terhadap rumah tahan gempabumi. 18
19 No. Nama dan Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil dan Kesimpulan 14. Kumalawati (2014) Pengelolaan Daerah Rawan Bencana Lahar Pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 di Kaliputih Kabupaten Magelang a. Menyusun peta tingkat kerawanan lahar, b. Mengetahui persepsi masyarakat teradap lahar menurut tingkat kerawanan berdasarkan variabel persepsi, c. Melakukan valuasi finansial untuk mengetahui besarnya dampak kerusakan akibat lahar, d. Mengevaluasi pengaruh antara perilaku individu masyarakat mengenai lahar dengan WTA. Sumber: Berbagai Artikel Publikasi, Tahun Metode penelitian ini adalah metode survei. Teknik interpretasi citra penginderaan jauh untuk menganalisis data, baik data grafis maupun data atribut. Interpretasi citra dan peta dilakukan sebelum pelaksanaan survei lapangan. Pengamatan lapangan dilakukan pada setiap tingkat kerawanan. Pada tahap ini, juga dilakukan penetapan kelompok satuan penelitian guna melaksanakan FGD untuk menyikapi peta rawan yang dihasilkan. Selanjutnya, dilakukan valuasi finansial menggunakan CVM. a. Kawasan rawan lahar tinggi adalah daerah yang mendekati sumber bencana. Status kerawanan paling tinggi adalah Desa Sirahan Kecamatan Salam, sehingga diperlukan adanya pengelolaan daerah rawan bencana lahar. b. Responden menilai lahar dianggap sebagai bencana (bukan sebagai aset) pada saat bencana terjadi karena banyak menimbulkan kerusakan (persepsi sedang). Rekomendasi peningkatan persepsi masyarakat terhadap lahar berbasis pengetahuan lokal perlu dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. c. Besarnya dampak kerusakan akibat lahar bervariasi tiap daerah dan tiap tingkat kerawanan lahar. Semakin dekat dengan sumber bencana maka dampak kerusakan akibat lahar semakin tinggi. Rekomendasi pengurangan risiko bencana lahar berbasis pengetahuan lokal perlu dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana sehingga semakin waspada. d. Perilaku individu masyarakat mengenai lahar dengan WTA di daerah penelitian mempunyai korelasi rendah sampai sedang. Penanggulangan bencana apabila dimulai pada tahap pencegahan dan mitigasi diperkirakan biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit dibandingkan dimulai pada kondisi tanggap darurat. 19
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tahun 2000 sekitar 500 juta jiwa penduduk dunia bermukim pada jarak kurang dari 100 m dari gunungapi dan diperkirakan akan terus bertambah (Chester dkk., 2000). Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. sampai Maluku (Wimpy S. Tjetjep, 1996: iv). Berdasarkan letak. astronomis, Indonesia terletak di antara 6 LU - 11 LS dan 95 BT -
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai suatu negara kepulauan yang mempunyai banyak sekali gunungapi yang berderet sepanjang 7000 kilometer, mulai dari Sumatera, Jawa,
BAB I PENDAHULUAN. pada 6`LU- 11` LS dan antara 95` BT - 141` BT1. Sementara secara geografis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang secara astronomi berada pada 6`LU- 11` LS dan antara 95` BT - 141` BT1. Sementara secara geografis Indonesia terletak di antara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gunungapi Merapi merupakan jenis gunungapi tipe strato dengan ketinggian 2.980 mdpal. Gunungapi ini merupakan salah satu gunungapi yang masih aktif di Indonesia. Aktivitas
BAB I PENDAHULUAN. letusan dan leleran ( Eko Teguh Paripurno, 2008 ). Erupsi lelehan menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gunungapi Merapi merupakan gunung yang aktif, memiliki bentuk tipe stripe strato yang erupsinya telah mengalami perbedaan jenis erupsi, yaitu erupsi letusan dan leleran
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan letak astronomis, Indonesia terletak diantara 6 LU - 11 LS
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan memiliki kurang lebih 17.504 buah pulau, 9.634 pulau belum diberi nama dan 6.000 pulau tidak berpenghuni
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah longsor adalah suatu produk dari proses gangguan keseimbangan yang menyebabkan bergeraknya massa tanah dan batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi yang masih ada hingga sampai saat ini. Kerugian material yang ditimbulkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Erupsi Merapi yang terjadi pada bulan Oktober 2010 telah memberikan banyak pelajaran dan meninggalkan berbagai bentuk permasalahan baik sosial maupun ekonomi yang masih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang dilewati oleh dua jalur pegunungan muda dunia sekaligus, yakni pegunungan muda Sirkum Pasifik dan pegunungan
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Ringkasan Temuan Penahapan penanggulangan bencana erupsi Gunung Kelud terdapat lima tahap, yaitu tahap perencanaan penanggulangan bencana erupsi Gunung Kelud 2014, tahap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Indonesia terletak diantara 2 benua yaitu benua asia dan benua australia
BAB I PENDAHULUAN. Erupsi Gunung Merapi merupakan fenomena alam yang terjadi secara
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Erupsi Gunung Merapi merupakan fenomena alam yang terjadi secara periodik setiap tiga tahun, empat tahun atau lima tahun. Krisis Merapi yang berlangsung lebih dari
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Masyarakat Tangguh Bencana Berdasarkan PERKA BNPB Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, yang dimaksud dengan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember 2010 tercatat sebagai bencana terbesar selama periode 100 tahun terakhir siklus gunung berapi teraktif
BAB I PENDAHULUAN. atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2016), bencana tanah longsor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terhadap bencana tanah longsor. Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) dari BNPB atau Badan Nasional
BAB I PENGANTAR. menjadi dua yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer
BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki 129 gunungapi yang tersebar luas mulai dari Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Kepulauan Halmahera dan Sulawesi
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1046, 2014 KEMENPERA. Bencana Alam. Mitigasi. Perumahan. Pemukiman. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN
Kemampuan Tampungan Sungai Code Terhadap Material Lahar Dingin Pascaerupsi Gunungapi Merapi Tahun 2010
Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 3, Nomor 2, Juni 2011, Halaman 81 87 ISSN: 2085 1227 Kemampuan Tampungan Sungai Code Terhadap Material Lahar Dingin Pascaerupsi Gunungapi Merapi Tahun 2010
BAB I PENDAHULUAN. terbanyak di dunia dengan 400 gunung berapi, terdapat sekitar 192 buah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan gunung berapi terbanyak di dunia dengan 400 gunung berapi, terdapat sekitar 192 buah gunung berapi yang masih aktif
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Pengertian Bencana Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan bencana
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1. Peta Ancaman Bencana Gunung Api Di Indonesia (Sumber : BNPB dalam Website, 2011)
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Gunung Merapi secara geografis terletak pada posisi 7º 32.5 Lintang Selatan dan 110º 26.5 Bujur Timur, dan secara administrasi terletak pada 4 (empat) wilayah kabupaten
Rapid Assessment Terhadap Kerusakan Bangunan Akibat Erupsi Merapi Tahun 2010
Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 3, Nomor 2, Juni 2011, Halaman 115 124 ISSN: 2085 1227 Rapid Assessment Terhadap Kerusakan Bangunan Akibat Erupsi Merapi Tahun 2010 Any J., 1, 2 Widodo B.,
BAB I PENDAHULUAN. dalam lingkungan geodinamik yang sangat aktif, yaitu pada batas-batas pertemuan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara geologis Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di dalam lingkungan geodinamik yang sangat aktif, yaitu pada batas-batas pertemuan berbagai lempeng
I. PENDAHULUAN. dan berada di jalur cincin api (ring of fire). Indonesia berada di kawasan dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kawasan kepulauan Indonesia merupakan daerah pertemuan lempeng bumi dan berada di jalur cincin api (ring of fire). Indonesia berada di kawasan dengan curah hujan yang relatif
BAB I PENDAHULUAN. bencana. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semua daerah tidak pernah terhindar dari terjadinya suatu bencana. Bencana bisa terjadi kapan dan dimana saja pada waktu yang tidak diprediksi. Hal ini membuat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pasal 6 ayat (1), disebutkan bahwa Penataan Ruang di selenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang, Bendung Krapyak berada di Dusun Krapyak, Desa Seloboro, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada posisi 7 36 33 Lintang Selatan
BAB I PENDAHULUAN. Bencana lahar di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana lahar di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah telah menenggelamkan 19 kampung, memutus 11 jembatan, menghancurkan lima dam atau bendungan penahan banjir, serta lebih
PENGELOLAAN BENCANA LAHAR GUNUNG API MERAPI
PENGELOLAAN BENCANA LAHAR GUNUNG API MERAPI Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2 : 1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang
Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru)
Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru) Disusun oleh: Anita Megawati 3307 100 082 Dosen Pembimbing: Ir. Eddy S. Soedjono.,Dipl.SE.,MSc.,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan wilayah yang mempunyai keunikan dan keistimewaan yang khas di dunia. Dengan jumlah pulau lebih dari 17.000
Ringkasan Materi Seminar Mitigasi Bencana 2014
\ 1 A. TATANAN TEKTONIK INDONESIA MITIGASI BENCANA GEOLOGI Secara geologi, Indonesia diapit oleh dua lempeng aktif, yaitu lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik yang subduksinya dapat
BAB I PENDAHULUAN. lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Daerah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Daerah pertemuan antar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan lereng Gunungapi Merapi merupakan daerah yang dipenuhi oleh berbagai aktivitas manusia meskipun daerah ini rawan terhadap bencana. Wilayah permukiman, pertanian,
Gambar 1.1 Wilayah cilongok terkena longsor (Antaranews.com, 26 november 2016)
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pertumbuhan penduduk di Indonesia termasuk kedalam pertumbuhunan yang tinggi. Jumlah penduduk semakin tinggi menyebabkan Indonesia menjadi negara ke empat dengan jumlah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Definisi banjir ialah aliran air sungai yang tingginya melebih muka air normal, sehinga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di
BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulstiwa dan berada pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulstiwa dan berada pada koordinat 95 0 BT-141 0 BT dan 6 0 LU-11 0 LS dengan morfologi yang beragam dari
BAB I PENDAHULUAN. dari 30 gunung api aktif terdapat di Indonesia dengan lereng-lerengnya dipadati
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia adalah negara yang kaya akan gunung api dan merupakan salah satu negara yang terpenting dalam menghadapi masalah gunung api. Tidak kurang dari 30
BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.
BAB I BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki karakteristik bencana yang kompleks, karena terletak pada tiga lempengan aktif yaitu lempeng Euro-Asia di bagian utara, Indo-Australia di bagian
BAB I PENDAHULUAN. bencana alam agar terjamin keselamatan dan kenyamanannya. Beberapa bentuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana alam menimbulkan resiko atau bahaya terhadap kehidupan manusia, baik kerugian harta benda maupun korban jiwa. Hal ini mendorong masyarakat disekitar bencana
BAB I PENDAHULUAN. imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respon dari masyarakat, komunitas,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Parker (1992), bencana ialah sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula di dalamnya merupakan imbas dari
BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui garis astronomis 93⁰BT-141 0 BT dan 6 0 LU-11 0 LS. Dengan morfologi yang beragam dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dari konsep kesejahteraan subjektif yang mencakup aspek afektif dan kognitif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebahagiaan adalah hal yang sangat diinginkan oleh semua orang. Setiap orang memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai guna memenuhi kepuasan dalam kehidupannya. Kebahagiaan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara terus menerus, yang
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai letak sangat strategis, karena terletak di antara dua benua yaitu Asia dan Australia dan juga terletak
BAB I PENDAHULUAN. (Ring of fire) dan diapit oleh pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang dilintasi oleh jalur api (Ring of fire) dan diapit oleh pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan Australia. Letak wilayah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2.980 meter dari permukaan laut. Secara geografis terletak pada posisi 7 32 31 Lintang Selatan dan
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN Latar Belakang Kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bencana hidro-meteorologi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Bencana alam adalah salah satu fenomena yang dapat terjadi setiap saat, dimanapun dan kapanpun sehingga menimbulkan risiko atau bahaya terhadap kehidupan manusia, baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan. Secara geografis letak Indonesia terletak pada 06 04' 30"LU - 11 00' 36"LS, yang dikelilingi oleh lautan, sehingga
IDENTIFIKASI LOKASI RAWAN BENCANA BANJIR LAHAR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PABELAN, MAGELANG, JAWA TENGAH
IDENTIFIKASI LOKASI RAWAN BENCANA BANJIR LAHAR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PABELAN, MAGELANG, JAWA TENGAH Suprapto Dibyosaputro 1, Henky Nugraha 2, Ahmad Cahyadi 3 dan Danang Sri Hadmoko 4 1 Departemen Geografi
Jenis Bahaya Geologi
Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAK UCAPAN TERIMA KASIH
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAK i UCAPAN TERIMA KASIH ii DAFTAR ISI iii DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR TABEL viii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 2 1.3 Tujuan Penelitian 3 1.4 Manfaat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Selama periode telah terjadi 850
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Selama periode 2011-2015 telah terjadi 850 kejadian bencana tanah longsor di Indonesia (BNPB, 2015).
BAB I PENDAHULUAN. termasuk wilayah pacific ring of fire (deretan Gunung berapi Pasifik), juga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada zona rawan bencana. Posisi geografis kepulauan Indonesia yang sangat unik menyebabkan Indonesia termasuk
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL 7.1
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL 7.1 1. Serangkaian peristiwa yang menyebabkan gangguan yang mendatangkan kerugian harta benda sampai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Salah satu fase penting dalam penanggulangan bencana adalah fase respon atau fase tanggap darurat. Fase tanggap darurat membutuhkan suatu sistem yang terintegritas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beberapa pulau utama dan ribuan pulau kecil disekelilingnya. Dengan 17.508 pulau, Indonesia menjadi negara
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Indeks Rawan Bencana Indonesia Tahun Sumber: bnpb.go.id,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara geologis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di lingkungan geodinamik yang sangat aktif, yaitu pada batas-batas pertemuan berbagai lempeng tektonik
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat,
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat, dimanapun dan kapanpun, sehingga dapat menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana geologi yang sangat besar, fakta bahwa besarnya potensi bencana geologi di Indonesia dapat dilihat dari
BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan terjadinya
BAB I PENDAHULUAN. untuk dijadikan permukiman sehingga muncul larangan bermukim. Merapi terletak antara dua provinsi yakni Daerah Istimewa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat terelakkan. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin banyak kebutuhan lahan yang harus disiapkan untuk
BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Indonesia rawan akan bencana yang diakibatkan oleh aktivitas gunungapi. Salah satu gunungapi aktif yang ada di Indonesia yaitu Gunungapi Merapi dengan ketinggian 2968
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam, maupun faktor
III. KERANGKA PEMIKIRAN. Contingent Valuation Method (CVM), eksternalitas, biaya produksi dan metode
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis meliputi konsep ekonomi pencemaran, Contingent Valuation Method (CVM), eksternalitas, biaya produksi dan metode valuasi
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL BAB 7
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL BAB 7 1. Usaha mengurangi resiko bencana, baik pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi yang terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan berhadapan langsung dengan
Pemetaan Daerah Risiko Banjir Lahar Berbasis SIG Untuk Menunjang Kegiatan Mitigasi Bencana (Studi Kasus: Gunung Semeru, Kab.
C6 Pemetaan Daerah Risiko Banjir Lahar Berbasis SIG Untuk Menunjang Kegiatan Mitigasi Bencana (Studi Kasus: Gunung Semeru, Kab. Lumajang) Zahra Rahma Larasati, Teguh Hariyanto, Akbar Kurniawan Departemen
BAB 1 PENDAHULUAN. Peristiwa banjir lahar dingin biasanya mengancam daerah-daerah di. yang lalu Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peristiwa banjir lahar dingin biasanya mengancam daerah-daerah di sepanjang sungai yang dilalui material vulkanik hasil erupsi gunung berapi. Beberapa waktu yang lalu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Di Indonesia banyak sekali terdapat gunung berapi, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Gunung berapi teraktif di Indonesia sekarang ini adalah Gunung
BAB I PENDAHULUAN. tindakan dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Ilmu tentang bencana semakin berkembang dari tahun ke tahun seiring semakin banyaknya kejadian bencana. Berawal dengan kegiatan penanggulangan bencana mulai berkembang
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI Indonesia adalah negara
BAB I PENDAHULUAN. dengan lebih dari pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 13.466 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Wilayah Indonesia terbentang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian 3.1.1. Pendekatan Penelitian Substansi yang diteliti dari penelitian ini ialah pola persebaran permukiman yang terdapat di Kawasan Rawan III dan
BAPPEDA Kabupaten Probolinggo 1.1 LATAR BELAKANG
1.1 LATAR BELAKANG merupakan wilayah dengan karateristik geologi dan geografis yang cukup beragam mulai dari kawasan pantai hingga pegunungan/dataran tinggi. Adanya perbedaan karateristik ini menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN. merupakan bencana banjir dan longsor (Fadli, 2009). Indonesia yang berada di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Potensi longsor di Indonesia sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2008, tercatat
BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan adanya kondisi geologi Indonesia yang berupa bagian dari rangkaian
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Tanah longsor adalah salah satu bencana yang berpotensi menimbulkan korban jiwa masal. Ini merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Hal ini
besar dan daerahnya rutin terkena banjir setiap masuk hujan. Padahal kecamatan ini memiliki luas yang sempit.hal tersebut menjadikan kecamatan ini men
PEMETAAN BANJIR KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Farida Angriani 1), Rosalina Kumalawati 1) 1)Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Pendidikan IPS FKIP, UNLAM e-mail: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. Merapi ditingkatkan dari normal menjadi waspada, dan selanjutnya di tingkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Menurut Gema Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (2011:14), Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang paling aktif di dunia. Erupsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 Indonesia dilanda berbagai bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, amblesan tanah, erupsi gunung api, dan gempa bumi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu adalah letusan terbesar jika dibandingkan dengan erupsi terbesar Gunung Merapi yang pernah ada dalam sejarah yaitu tahun 1872.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki karakteristik wilayah pegunungan dan perbukitan, sehingga seringkali terjadi bencana. Tanah merupakan salah satu bencana alam yang paling sering
BAB I LATAR BELAKANG. negara yang paling rawan bencana alam di dunia (United Nations International Stategy
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia yang berada di salah satu belahan Asia ini ternyata merupakan negara yang paling rawan bencana alam di dunia (United Nations International Stategy
Contents BAB I... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pokok Permasalahan Lingkup Pembahasan Maksud Dan Tujuan...
Contents BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2 Pokok Permasalahan... 2 1.3 Lingkup Pembahasan... 3 1.4 Maksud Dan Tujuan... 3 1.5 Lokasi... 4 1.6 Sistematika Penulisan... 4 BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Longsorlahan merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau mineral campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng
Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan
Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Yogyakarta, 21 September 2012 BAPPEDA DIY Latar Belakang UU No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Seluruh
BAB I PENDAHULUAN. tanahdengan permeabilitas rendah, muka air tanah dangkal berkisar antara 1
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Gorontalo merupakan salah satu kota di Indonesia yang rawan terjadi banjir. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi berkisar antara 106 138mm/tahun,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008, Indonesia adalah negara yang memiliki potensi bencana sangat tinggi dan bervariasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009) Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Longsorlahan Longsorlahan adalah salah satu bentuk dari gerak masa tanah, batuan dan runtuhan batu/tanah yang terjadi seketika bergerak menuju lereng bawah yang dikendalikan
