KETERAMPILAN INITIATING
|
|
|
- Liana Johan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KETERAMPILAN INITIATING I. Keterampilan Defining Goals 1. Pemberian Inisiasi: Memfasilitasi Tindakan Konseli Penginisiasian merupakan tahap kulminasi dari pemberian bantuan. Pemberian inisiasi menekankan pada memfasilitasi usaha konseli untuk bertindak dalam mencapai tujuannya. Dengan kata lain, tindakan konseli untuk mengubah atau memperoleh keberfungsian mereka. Tindakan ini didasarkan atas pemahaman mereka yang telah terpersonalisasi terhadap tujuan mereka. Hal ini difasilitasin oleh inisiatif dari konselor. Proses initiating (penginisiasian) mencakup penetapan tujuan, pengembangan program, perancangan jadwal serta reinforcement dan pengindividualisasian langkahlangkah. Penetapan tujuan menekankan pada pengoperasian suatu tujuan. Pengembangan program menekankan pada langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan. Perancangan jadwal menekankan pada ketepatan waktu untuk melangkah, sementara itu reinforcement menekankan pada pelengkapan peneguhan untuk melangkah. Pengindividualisasian menekankan pada memastikan bahwa langkah-langkah tersebut berhunbungan dengan bingkai referensi konseli. 2. Kondisi Inti dalam Pengambilan Tindakan Walaupun penginisiasian secara luas merupakan seri tentang kegiatan mekanis yang didasarkan atas tujuan yang terpersonalisasi, konselor terus menerus berfungsi secara diferensial terhadap kebutuhan-kebutuhan konseli. Konselor secara terus-menerus menekankan pada pemberian respon secara efektif. Setelah menjadi tambahan dalam mempersonalisasikan pemahaman terhadap tujuan, konselor kembali lagi pada tingkatan yang sesuai dalam responding. Begitu pula dengan konselor yang menekankan pada pengindividualisasian langkah-langkah dalam pencapaian tujuan. Dalam praktiknya, hal ini berarti bahwa konselor selalu melakukan pemeriksaan kembali terhadap konseli dalam pengembangan dan pelaksanaan program-program. Sebagai tambahan, konselor mengkomunikasikan penghargaan yang kondisional bagi konseli. Konselor memiliki gambaran yang jelas tentang kelebihan dan kekurangan konseli, serta meneguhkan mereka dengan tujuan untuk membantu mereka mengembangkan dan melaksanakan program-program secara efektif. Keseluruhan hal ini dikomunikasikan dalam perilaku yang sangat murni (genuine). Karena baik konselor maupum konseli saling 1
2 mengetahui dengan baik satu sama lain, maka mereka dapat berhubungan dengan bebas dan terbuka sesuka hati mereka. Akhirnya, ada suatu peningkatan yang ditekankan terhadap kekhususan dan kekonkritan dalam pengembangan dan pelaksanaan program. Tahap III Keterampilan Inti dalam Pemberian Bantuan Dimensi Konselor Empathy (Empati) Respect (penghormatan) Genuineness (keaslian) Tingkat Keterampilan yang Ditekankan Merespon secara sesuai (yang dapat dipertukarkan) Mengkomunikasikan penghargaan kondisional Menjadi genuine (asli, sungguh-sungguh) sepenuhnya Concreteness (kekonkritan) Menjadi spesifik sepenuhnya Proses yang dialami konseli Personalisasi Tujuan Bertindak (Acting) Penetapan Tujuan 3. Defining Goals (Menetapkan Tujuan-tujuan) Tugas yang paling kritis dalam penginisiasian adalah penetapan tujuan. Jika kita dapat menetapkan tujuan, dalam arti pengoperasian yang menyusun suatu tujuan, maka arah kita menjadi jelas. Kita dapat menjawab pertanyaan dasar tentang pengarahan : Bagaimana kita bisa mengetahui kapan kita meraih tujuan kita? Dalam menetapkan tujuan, kita akan menggunakan kata tanya dasar yang kita miliki dengan cara yang kreatif. Kita akan menentukan pengoperasian tujuan dalam arti yang sama dengan kata tanya 5WH seperti yang telah dipelajari sebelumnya: What, Who, Why, When, Where dan How. Sekarang kita kita menggambarkan 5WH tersebut dalam lingkup pengoperasian tujuan yang unsur-unsurnya terdiri atas: komponen, fungsi, proses, kondisi dan standar. Pengoperasian ini akan menentukan seluruh unsur yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan kita. 4. Unsur-unsur Pembentuk Defining Goals 2
3 Defining Goals terdiri dari: Defining Components, Defining Function, Difining Processes, Defining Conditions, Defining Standards, Operationalizing The Goal, dan Communicating The Operational Goal a. Defining Components Unsur pertama dari tujuan adalah komponen. Komponen menggambarkan siapa dan apa saja yang terlibat dalam suatu tujuan. Komponen adalah kata benda atau label yang kita lekatkan pada seseorang atau sesuatu. Kemudian, sebagai contoh, beberapa masalah konseli bisa saja melibatkan orang lain sebagai komponen yang penting. Dalam lingkup pembelajaran, komponen-komponen tersebut bisa saja mencakup unsur-unsur seperti materi pelajaran atau isi, begitu pula guru atau siswa. Dalam lingkup pekerjaan, komponen tersebut cenderung menekankan pada tugastugas, begitu pula atasan, bawahan dan rekan sejawat. Dalam menetapkan komponen-komponen tersebut, adalah penting untuk memasukkan seluruh orang dan benda yang terlibat. Terkadang, pihak ketiga, pengalaman tidak langsung ataupun tugas-tugas bisa saja menyertai proses pencapaian tujuan konseli. Pertanyaan dalam pikiran kita adalah: Apa yang terlibat (turut mempengaruhi pencapaian tujuan)? Siapa yang terlibat (turut mempengaruhi pencapaian tujuan)? b. Defining Function Unsur kedua dalam penetapan tujuan adalah fungsi. Fungsi menggambarkan apa yang dilakukan seseorang atau sesuatu. Fungsi adalah kata kerja yang menggambarkan suatu aktivitas. Sebagai contoh, masalah dalam kehidupan konseli bisa saja mencakup perwujudan keterampilan interpersonal seperti berhubungan dengan orang yang disayangi dalam persahabatan atau hubungan orangtua-anak. Dalam lingkup pembelajaran, fungsi dapat menekankan pada aktivitas belajar tertentu misalnya, menerima, memperoleh, mengaplikasikan dan mentransfer materi pelajaran. Dalam lingkup pekerjaan, fungsi menekankan pada aktivitas kerja tertentu seperti, memperluas, mempersempit, merencanakan, dan melaksanakan pengerjaan tugas-tugas. 3
4 Dalam menetapkan fungsi, adalah penting untuk memasukkan semua aktivitas yang terlibat. Dengan begitu, tidak ada aktivitas penting yang mungkin kita hilangkan dalam usaha kita untuk mencapai tujuan. Pertanyaan dalam pikiran kita adalah: Apa yang harus diselesaikan/dikerjakan sampai selesai? Siapa yang mengerjakannya? c. Defining Processes Unsur ketiga dalam penetapan tujuan adalah proses. Proses dideskripsikan sebagai alasan dan metode bagi komponen-komponen untuk mengerjakan fungsinya. Proses berupa kalimat keterangan yang memodifikasi fungsi atau aktivitas. Sebagai contoh, konseli bisa saja belajar untuk berhubungan secara efektif dengan cara mempelajari cara untuk merespon secara akurat menggunakan keterampilanketerampilan interpersonal. Dalam lingkup pembelajaran, konseli mungkin perlu untuk belajar-bagaimana-cara-belajar dengan tujuan untuk melakukan fungsinya secara efektif. Dalam lingkup pekerjaan, konseli mungkin perlu untuk mempelajari keterampilan pemecahan masalah (problem solving) atau pembuatan keputusan (decision making) dengan tujuan untuk bekerja secara produktif. Penting juga untuk menjadi inklusif dalam menetapkan prosesproses semacam ini, untuk mencegah hilangnya pengoperasian yang penting akan tujuan yang hendak dicapai. Pertanyaan dalam pikiran kita adalah: Bagaimana tujuan itu dapat tercapai dengan suatu tindakan? Mengapa tujuan itu harus dicapai dengan suatu tindakan? d. Defining Conditions Unsur keempat dalam penetapan tujuan adalah kondisi. Kondisi menggambarkan di mana dan kapan fungsi-fungsi terjadi. Kondisi juga merupakan kalimat keterangan yang mendeskripsikan fungsi. Sebagai contoh, fungsi interpersonal konseli bisa saja mengambil tempat di rumah pada saat makan bersama keluarga atau pada saat kencan di malam hari bersama kekasih. Begitu pula proses belajar konseli dapat mengambil tempat di ruangan kelas selama jam sekolah dan kegiatan bekerja dapat mengambil tempat di kantor atau ruang kerja individual 4
5 selama jam kerja karyawan. Adalah hal penting untuk mengkhususkan kondisi di mana fungsi terjadi, untuk memastikan kelengkapan performansi/ kinerja tindakan. Pertanyaan dalam pikiran kita adalah: Kapan fungsi/tindakan untuk mencapai tujuan itu dilaksanakan? Di mana fungsi/tindakan untuk mencapai tujuan itu dilaksanakan? e. Defining Standards Unsur kelima dan unsur terakhir dalam penetapan tujuan adalah standar. Standar menggambarkan sebaik apa fungsi ditampilkan. Standar juga merupakan frase keterangan yang mendeskripsikan fungsi-fungsi. Sebagai contoh, fungsi interpersonal konseli bisa saja mensyaratkan suatu perluasan dari dasar komunikasi sedikitnya enam buah respon yang sesuai. Keterampilan konseli dalam belajar mungkin akan mensyaratkan kemampuan untuk mengeksplorasi, memahami dan mengambil tindakan atas tiap keterampilan untuk dipelajari. Keterampilan konseli dalam bekerja mungkin mensyaratkan kemampuan untuk menangani masalah atau membuat keputusan secara terencana. Adalah hal penting untuk menjadi sangat spesifik dalam menentukan kriteria keefektifan. Jika tidak, konseli tidak akan tahu saat-saat dimana mereka telah mencapai tujuan yang mereka inginkan. Pertanyaan dalam pikiran kita adalah: Bagaimana sebaiknya tindakan untuk mencapai tujuan itu dilaksanakan? f. Operationalizing The Goal Jawaban untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, akan menetapkan pengoperasian terhadap tujuan yang ingin kita capai. Pengoperasian tersebut terdiri atas unsur-unsur yang perlu kita ketahui dan kita laksanakan demi pencapaian tujuan konseli. Di atas semua itu, unsur-unsur tersebut juga menetapkan standar keunggulan dalam pencapaian tujuan konseli. Sebagai contoh, kita dapat merangkumkan penjelasan tentang tujuan konseli untuk menangani masalah interpersonal dengan orangtua mereka, dengan cara sebagai berikut : Komponen orangtua konseli dan konseli sendiri Fungsi untuk berhubungan secara efektif Proses melalui pemberian respon secara akurat 5
6 Kondisi Standar di rumah selama jam makan dengan cara membuat suatu dasar komunikasi yang tepat (sedikitnya enam buah respon). Melalui pemberian deskripsi operasional ini, konseli akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuannya. Hal ini mendorong konseli untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program demi pencapaian tujuan mereka. g. Communicating The Operational Goal Sekarang kita harus mengkomunikasikan penjelasan kita tentang tujuan pada konseli dalam ketentuan operasional ini. Kita melakukan hal ini dengan cara menekankan pada ketentuan-ketentuan yang dapat diamati dan diukur. Ketentuan-ketentuan ini menekankan pada standar performansi. Biasanya hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan tujuan dalam hubungannya dengan lama waktu yang digunakan konseli dalam melakukan suatu perilaku. Dalam personalisasi tujuan kita menggunakan format sebagai berikut: Kau merasa karena kau tidak bisa dan kau ingin untuk seperti yang ditunjukkan oleh (definisi operasional tentang tujuan). Dengan kata lain, kita sedang menjawab pertanyaan, Bagaimana saya mampu untuk mengatakan kapan saya telah mencapai tujuan itu? kita akan berlatih untuk menetapkan tujuan dalam interaksi sehari-hari dan dengan bahasan tercatat seperti dalam studi kasus. Anda ingin mampu untuk mengambil tindakan dalam suatu kesempatan seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah waktu yang Anda gunakan untuk menetapkan dan meraih tujuanmu. 6
7 II. Keterampilan Developing Programs Penetapan Tujuan Pengembangan Program 1. Developing Programs Jelas tidak cukup jika kita hanya menetapkan tujuan saja. Untuk mencapai tujuan, kita perlu mengembangkan program. Program merupakan prosedur langkah-demi-langkah yang mempermudah pencapaian tujuan. Dalam pemberian penjelasan tentang tujuan, program diperoleh dari pengoperasian. Setiap langkah dalam program harus membawa pada penyelesaian operasi-operasi yang terlibat dalam suatu tujuan. Kebanyakan program tersusun/terurut oleh kemungkinan, artinya, setiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Karena itu, kita tentukan apa saja langkah yang harus kita lakukan sebagai persiapan langkah selanjutnya dan pada akhirnya, pengoperasian tujuan. Dalam konteks ini, program pengambilan tindakan terdiri atas, tujuan operasional, langkah pertama yang mendasar, dan langkah perantara pencapaian tujuan. Tujuan adalah yang diinginkan atau dibutuhkan oleh konseli untuk diraih. Langkah pertama merupakan langkah yang mendasar dimana konseli memulai untuk melangkah. Langkah perantara merupakan langkah-langkah yang secara langsung membawa pada pencapaian tujuan : semua langkah tersebut membawa konseli dari tempat ia berada ke tempat yang ia inginkan. GOAL First step Intermediary Steps 2. Unsur-unsur Pembentuk Developing Programs Developing Programs terdiri dari: Developing Initial Steps, Developing Intermediary Steps, dan Developing Sub-Steps. a. Developing Initial Steps (Mengembangkan Langkah-Langkah Awal) 7
8 Langkah pertama adalah langkah paling mendasar yang harus diambil konseli. Langkah tersebut harus menjadi bahan bangunan paling fundamental dalam suatu program. Dengan begitu kita dapat membangun langkah lainnya. Sebagai contoh, jika yang menjadi tujuan adalah berlari sejauh satu mil dalam delapan menit, maka langkah pertama yang ditempuh bisa saja berjalan mengelilingi blok (perumahan). Untuk sebagian orang langkah pertama untuk berlari sejauh satu mil mungkin saja mengambil langkah pertama dengan sungguh-sungguh dan menggunakan kekuatan fisik. Bagi konseli, yang menjadi langkah pertama dalam berhubungan dengan orangtuanya adalah dengan menghampiri mereka. Langakah pertama dalam belajar atau bekerja dapat berupa menghampiri tugas-tugas yang sedang ditangani. Dalam mengkomunikasikan langkah pertama kita dapat menggunakan format : Langkah pertamamu adalah. GOAL Relating Attending b. Developing Intermediary Steps Langkah perantara menjembatani jurang pemisah antara langkah pertama dengan tujuan. Langkah perantara kita yang pertama dapat diperkirakan berada pada setengah jalan antara langkah pertama dengan tujuan. Sebagai contoh, jika tujuannya adalah lari sejauh satu mil dalam delapan menit, langkah perantara pertama yang diambil bisa saja dengan berlari sejauh setengah mil atau lari sejauh satu mil dalam waktu 12 menit. Bagi konseli, langkah perantara yang pertama dalam berhubungan dengan orangtua mungkin saja dengan memperhatikan mereka. Begitu pula langkah perantara pertama dalam belajar bisa saja dengan memahami tujuan pembelajaran, sementara langkah perantara pertama dalam bekerja bisa berupa pengembangan persyaratan akan tugas. Dalam mengkomunikasikan langkah perantara pertama, kita dapat menggunakan format langsung yang sederhana seperti : 8
9 Langkah perantara mu adalah. GOAL Relating Listening Attending c. Developing Sub-Steps Kita berlanjut untuk mengisi program dengan mengembangkan sub-langkah. Kita mengembangkannya dengan cara menjadikan tiap langkah dalam program sebagai sub-tujuan dan mengembangkan langkah awal dan perantara untuk mencapai sub-tujuan. Kita terus melakukan hal ini sampai kita memiliki seluruh langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Jika kita meninggalkan satu langkah saja, konseli akan gagal dalam mencapai tujuannya. Jika kita berencana untuk berlari sejauh satu mil, kita harus mengembangkan sublangkah dalam hal jarak dan waktu. Sebagai contoh, berlarilah dari jarak ¼ mil, ke ½ mil, ke ¾ mil sampai dengan 1 mil dan pergunakan waktu dari 12 menit, ke 10 menit ke 9 menit sampai dengan 8 menit. Bagi konseli, sub-langkah tersebut dapat ditekankan pada keterampilan pengamatan dan pemberian respon. Kemudian keterampilan-keterampilan ini bisa saja dijadikan sebagai sub-langkah dan sub-tujuan yang dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan. Kita dapat mengembangkan sub-langkah berupa pengeksplorasian dan pengambilan tindakan dalam program belajar. Dan sub-langkah berupa perluasan option dan penyeleksian bagian yang terpilih dalam program kerja. Dalam mengkomunikasikan sub-langkah ini kita dapat menggunakan format sederhana : GOAL Relating Responding Listening 9
10 Observing Attending 10
11 11
12 III. Keterampilan Developing Schedules 1. Developing Schedules Proses inisiasi berlanjut seiring kita mengembangkan penjadwalan waktu (time schedule) untuk pencapaian langkah dan tujuan. Jadwal disajikan untuk memfokuskan program yang akan kita lakukan. Jadwal akan menutup jurang (gaps) yang mungkin ditinggalkan oleh jarak waktu yang terbuka. Penekanan utama dalam proses penjadwalan adalah pada pengembangan waktu mulai dan waktu selesai. Hal tersebut menjelaskan pada konseli dan konselor kapan suatu hal harus dilakukan atau diselesaikan. Waktu mulai dan waktu selesai juga dapat ditentukan bagi langkah-langkah individual yang akan diambil seperti hal nya pada keseluruhan program. Tidak ada program yang lengkap tanpa waktu dimulai dan waktu diselesaikannya program tersebut. 2. Unsur-unsur Pembentuk Developing Schedules: Developing Schedules terdiri dari 3 unsur, yaitu: Setting Completion Times, Setting Starting Times, dan Monitoring Timelines a. Setting Completion Times (Menyusun Waktu Penyelesaian) Langkah pertama yang diambil dalam pengembangan jadwal adalah menentapkan secara khusus waktu dan tanggal penyelesaian. Sebagi contoh, kita dapat menetapkan waktu penyelesaian selama enam bulan untuk mencapai tujuan kita berlari sejauh satu mil dalam waktu delapan menit. Dalam ilustrasi, konseli bisa saja bertujuan untuk menyelesaikan program-program yang bersangkutan selama lima bulan terakhir. Kita dapat menentukan waktu penyelesaian yang sama pada langkah-langkah atau tujuan yang akan diraih dalam berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan. Dalam mengkomunikasikan waktu penyelesaian kita dapat menggunakan format sederhana seperti : Kau bisa menyelesaikannya dalam/pada. b. Setting Starting Times (Menyusun Maktu Memulai) Langkah kedua dalam pengembangan jadwal adalah menetapkan waktu dan tanggal pemulaian secara spesifik. Sebagai contoh, kita dapat mulai dengan segera untuk berjalanjalan agar dapat mencapai tujuan kita yakni berlari sejauh satu mil dalam delapan menit. 12
13 Terhadap konseli, kita dapat menetapkan waktu untuk memulai program pengembangan keterampilan interpersonal. Kita dapat menetapkan waktu yang sama pada langkah-langkah atau tujuan yang akan diraih dalam berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan. Dalam mengkomunikasikan waktu pemulaian kita dapat menggunakan format sederhana seperti : Kau bisa memulainya pada. c. Monitoring Timelines Kita dapat menetapkan waktu pemulaian dan penyelesaian bagi tiap langkah sementara. Tujuan utama dari penetapan jadwal adalah untuk mengawasi ketepatan waktu atas kinerja konseli terhadap pengerjaan langkah-langkah dalam program. Sebagai contoh konseli bisa saja memutuskan bahwa ia akan menggguanakan waktu sebulan kemudian untuk belajar dan berlatih cara-cara untuk memberi perhatian. Selama seminggu pertama ia berkonsentrasi untuk mempersiapkan dirinya dalam hal penghampiran, minggu kedua ia gunakan untuk melatih keterampilan attending melalui cara berhadap-hadapan, minggu ketiga untuk mempelajari kterampilan attending dengan cara mencondongkan diri dan minggu keempat untuk melatih penciptaan kontak mata. Jadwal yang detail membuat konselor dan konseli dapat mengawasi pelaksanaan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan. Kau dapat memulainya saat dan menyelesaikannya pada. 13
14 D. Bahan dan Tahap (Sesi) Pelatihan Sepuluh sesi latihan untuk penguasaan konsep dasar/ materi dan keterampilan Developing Schedules: 1. Menganalisis kualitas personalizing dari skrip dialog konseling individual konselor yang kurang terampil. Analisislah kualitas personalizing dalam skrip dialog konseling individual berikut ini! Prolog: Snelling adalah wanita berusia 31 tahun yang menarik. Ia telah menikah selama dua belas tahun dan memiliki dua anak perempuan berusia dua belas dan sepuluh tahun. datang ke pusat intervensi krisis dengan kedua putrinya, membawa kopor besar. Ia mempunyai beberapa luka memar di tangannya dan satu di wajahnya, juga luka tetak yang masih baru di atas mata kirinya. Salah satu putrid, hidungnya mengeluarkan darah dan satu matanya memar. datang ke pusat intervensi krisis karena ia dan kedua anaknya meninggalkan rumah, hal tersebut disebabkan oleh kekerasan fisik dan emosional yang dilakukan suaminya. Ia ditempatkan di kasus pendobrakan perlindungan wanita dan kembali ke pusat intervensi tersebut untuk keesokan harinya untuk berbicara dengan seorang konselor. Konselor bagi adalah Meg Mitchell yang telah menangani konseling keluarga selama beberapa tahun. Berikut adalah kutipan percakapan di sesi pertama mereka. Anakanak tidak hadir saat itu. : Semua menjadi buruk karenanya aku membawa anak-anak dan meninggalkan rumah. Awalnya Faruk hanya berteriak. Kemudian ia mulai memukulku. Lalu iapun memukul anak-anak. Hal itu terjadi pada kami semakin sering dan sering (menangis) Aku tidak tahu apa yang dapat kulakukan untuk menghentikannya. Aku sudah coba, namun aku selalu melakukan kesalahan. Meg : Kau merasa bersalah karena Faruk mengatakan padamu bahwa kau membuatnya kesal. : Benar! Ia akan berteriak padaku dan anak-anak tentang sesuatu dan kemudian ia menjadi gila. Aku sangat ketakutan. Aku cemas sekali memikirkan apa yang akan ia lakukan jika menemukanku. Meg : Kau merasa takut karena ia mungkin akan tetap menyakitimu atau anak-anakmu. : Mungkin aku harusnya tidak pergi. Ia pasti merasa kesal 14
15 Meg Meg Meg Meg Meg Meg Meg Meg Meg : Kau merasa takut akan apa yang mungkin ia lakukan dan merasa bersalah karena kau meninggalkannya. : Aku tahu kedengarannya membingungkan. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tetap mencintainya! Aku hanya tidak tahu bagaimana membuat Faruk bahagia. : Kau merasa bersalah karena kau mencintai Faruk tapi tidak bisa membahagiakannya. Kau tidak tahu apakah yang kau lakukan itu suatu kesalahan. : Ya. Tapi di waktu yang bersamaan ia seharusnya tidak memukulku dan anakanak. Itu juga salah! : Kau marah pada Faruk karena kekerasan yang bia lakukan. : Aku tidak tahu siapa yang menjadi buta. Aku tahu aku bukanlah istri terbaik didunia. Ia juga bukan suami terbaik. Anak-anak bisa menjadi lebih berarti bagiku sewaktu-waktu. : Kau merasa kewalahan karena kau tidak mengetahui siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas apa. Semua yang kau tahu adalah bahwa setiap orang memiliki bagian dari tanggungjawab tersebut. : Benar. Masing-masing dari kita telah melakukan kesalahan. : kau menderita karena kau tahu anggota keluargamu telah saling menyakiti tapi kau tidak dapat memikirkan bagaimana cara untuk mengubah hal itu. : Hal itu berada diluar jangkauanku. Segala hal menjadi sangat membingungkan. : Kau merasa kecewa karena kau tidak dapat memikirkan bagaimana cara untuk membuat anggota keluargamu berhubungan satu sama lain seperti seharusnya. : Benar. :, apa yang kau inginkan adalah untuk membuat kau, Faruk dan kedua anakmu membangun hubungan keluarga yang baik yang akan membiarkan setiap orang untuk tumbuh. : Tepat, itu yang kuinginkan. Tapi bagaimana aku melakukannya? : Kau berkata bahwa kau tidak tahu bagaimana melakukannya. : Semuanya menjadi kacau. Aku tidak tahu darimana harus memulainya. : Baiklah, tidak banyak yang dapat kulakukan selain melibatkan Faruk dan kedua putrimu dalam terapi. : Faruk tidak akan pernah mau menemui konselor ia akan menolaknya. Ia pikir semua orang yang menemui konselor itu gila. Oh, maafkan aku. 15
16 Meg Meg Meg : Tidak apa-apa, tapi tanpa Faruk kami tidak akan mampu untuk menyelesaikan apapun. Kau harus memikirkan cara untuk membawanya kesini. : Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya datang kesini. Aku tidak tahu : Kau harus berusaha. : Baiklah, tapi bagaimana kalau ia menolak? : Tunggu saja dan lihat apakah kau dapat mengajaknya kesini. Oke? : Baiklah. Oke. 16
17 IV. Keterampilan Developing Reinforcement 1. Developing Reinforcement Langkah selanjutnya dalam inisiasi adalah Developing Reinforcement pengembangan peneguhan yang akan mendorong konseli untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan. Peneguhan merupakan hal sederhana yang menjadi persoalan bagi kita. Peneguhan menjadi sangat efektif saat diaplikasikan dengan sesegera mungkin terhadap pelaksanaan langkah-langkah yang akan kita ambil. Pelaksanaan langkah dalam pencapaian tujuan dan penanggulangan kekurangan diri sering kali berakibat terlalu jauh pada konseli. Banyak jenis peneguhan yang harus diperkenalkan pada konseli secepat mungkin. Lebih jelasnya, peneguhan-peneguhan ini harus datang dari bingkai referensi konseli. Masalah yang kita pikirkan tentang konseli harus benar-benar yang menjadi masalah menjadi mereka. Banyak program pemberian bantuan yang gagal karena ketidakmampuan program tersebut untuk memberikan peneguhan yang sesuai. Kita semua mengetahui cerita tentang orang yang berebut untuk mendapatkan perhatian, karena perhatian apapun-bahkkan yang negatif-dapat lebih meneghkan dibanding proses peneguhan dalam suatu program. Dalam konteks ini kita terus menekankan pemberian respon pada empati sebagai sumber dari seluruh pengetahuan tentang peneguhan yang kuat bagi konseli. Terkadang adalah lebih sesuai bagi konseli untuk bekerja dengan dukungan seseorang atau kelompok untuk mengawasi performansinya dan melaksanakan peneguhan. 2. Unsur-unsur Pembentuk Developing Reinforcement: Developing Reinforcement terdiri dari 3 unsur, yaitu: Reinforcing Positively, Reinforcement negatively, dan Observing Vigilantly. a. Reinforcing Positively (Meneguhkan secara Positif) Peneguhan positif atau reward (penghargaan/ganjaran yang baik) adalah jenis peneguhan konselor yang paling potensial. Orang cenderung dapat bekerja keras demi sesuatu yang benar-benar berarti baginya. Hal ini berarti konselor harus bekerja dengan tekun untuk mengembangkan peneguhan positif berdasarkan kerangka berpikir konseli. Kemudian helpe juga harus bekerja dengan tekun untuk menerima peneguhan tersebut. Sebagai contoh konseli bisa saja memutuskan dengan mudah bahwa ia akan pergi dengan teman-temannya pada jumat dan sabtu malam ketika ia dapat menyelesaikan setiap langkah dalam mencapai tujuannya (program inisiasi). Konselor dapat mengembangkan bentuk peneguhan yang serupa untuk berbagai program dalam seluruh aspek kehidupan, 17
18 pembelajaran, dan pekerjaan. Peneguhan akan bervariasi (berbeda-beda) seluas selera alami manusia itu sendiri. Jika kau dapat menyelesaikan tiap-tiap langkah dalam mencapai tujuan kau boleh. b. Reinforcing Negatively (Meneguhkan secara Negatif) Sedapat mungkin yang kita mampu, kita harus mencegah penggunaan peneguhan negatif. Kita menggunakannya peneguhan negatif dalam sesuatu yang bernuansa larangan dengan arti akan ada hukuman. Dalam konteks ini penerapan atas peneguhan negatif menstimulasi reaksi lainnya misalkan reaksi penolakan terhadap orang yang memberikan hukuman. Untuk mencegah kita brerhadapan dengan reaksi semacam ini, kita harus berusaha untuk menetapkan peneguhan negatif tersebut sebagai ketiadaan reward. Dalam kasus konseli ia menetapkan peneguhan negatifnya sendiri, yakni bengan memaksa dirinya untuk tinggal dirumah dan mengerjakan langkah yang belum terselesaikan selama week end. Peneguhan negatif yang serupa juga dapat dirancang dan diaplikasikan dalam program-program diberbagai aspek kehidupan, pembelajaran, dan pekerjaan. Seperti halnya reward, peneguhan negatif juga bermacam-macam dan untuk menggunakannya secara efektif kita harus menyesuaikan diri dengan baik terhadap orang yang bersangkutan. Jika kau tidak menyelesaikan. langkah-langkah dalam pencapaian tujuan, kau tidak boleh c. Observing Vigilantly (Mengamati dengan Seksama/Waspada) Jika masih belum jelas apakah sebuah langkah dalam pencapaian tujuan telah dilaksanakan dengan cara yang memuaskan, maka konselor harus mengamati klien dengan waspada. Konselor melakukan hal tersebut untuk menentukan apakah klien yang menjalankannya bergerak menjauhi atau medekati tujuan. Pada akhirnya, seluruh perilaku klien dapat berupa perilaku yang terarah pada tujuan (goal-directed) atau perilaku yang tidak terarah pada tujuan (non-goal directed). Secara terkait, konselor memposisikan diri menjadi konselor untuk meneguhkan konseli secara positif terhadap hal yang positif, yaitu perilaku konseli yang terarah pada tujuan, dan mencegah perilaku konseli yang tidak bertujuan dengan peneguhan negatif. Seperti halnya kita ingin meluruskan diri kita sendiri terhadap apa yang sehat bagi diri kita dan menentang apa yang tidak menyehatkan bagi kita. Kita mengkomunikasikan rasa hormat kita pada konseli sebagai manusia tetapi tidak pada perilaku nya yang tidak sehat. Kita dapat 18
19 menggunakan potensi kita untuk menjadi lebih teliti dalam memperhatikan implikasi dari perilaku konseli terhadap perilaku kita sendiri. Jika kau (tidak) mengatakan/merasakan/melakukan maka aku akan (tidak) mengatakan /merasakan/melakukan 19
20 C. Bahan dan Tahap (Sesi) Pelatihan adalah wanita berusia 31 tahun yang menarik. Ia telah menikah selama dua belas tahun dan memiliki dua anak perempuan berusia dua belas dan sepuluh tahun. datang ke pusat intervensi krisis dengan kedua putrinya, membawa kopor besar. Ia mempunyai beberapa luka memar di tangannya dan satu di wajahnya, juga luka retak yang masih baru di atas mata kirinya. Salah satu putrid, hidungnya mengeluarkan darah dan satu matanya memar. datang ke pusat intervensi krisis karena ia dan kedua anaknya meninggalkan rumah, hal tersebut disebabkan oleh kekerasan fisik dan emosional yang dilakukan suaminya. Ia ditempatkan di kasus perlindungan wanita dan kembali ke pusat intervensi tersebut untuk keesokan harinya untuk berbicara dengan seorang konselor. Konselor bagi adalah Pak Deniar yang telah menangani konseling keluarga selama beberapa tahun. Berikut adalah kutipan percakapan di sesi pertama mereka. Anakanak tidak hadir saat itu. : Semua menjadi buruk karenanya aku membawa anak-anak dan meninggalkan rumah. Awalnya Faruk hanya berteriak. Kemudian ia mulai memukulku. Lalu iapun memukul anak-anak. Hal itu terjadi pada kami semakin sering dan sering (menangis) Aku tidak tahu apa yang dapat kulakukan untuk menghentikannya. Aku sudah coba, namun aku selalu melakukan kesalahan. Deniar : Kau merasa bersalah karena Faruk mengatakan padamu bahwa kau membuatnya kesal. : Benar! Ia akan berteriak padaku dan anak-anak tentang sesuatu dan kemudian ia menjadi gila. Aku sangat ketakutan. Aku cemas sekali memikirkan apa yang akan ia lakukan jika menemukanku. D : Kau merasa takut karena ia mungkin akan tetap menyakitimu atau anak-anakmu. : Mungkin aku harusnya tidak pergi. Ia pasti merasa kesal D : Kau merasa takut akan apa yang mungkin ia lakukan dan merasa bersalah karena kau meninggalkannya. : Aku tahu kedengarannya membingungkan. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tetap mencintainya! Aku hanya tidak tahu bagaimana membuat Faruk bahagia. D : Kau merasa bersalah karena kau mencintai Faruk tapi tidak bisa membahagiakannya. Kau tidak tahu apakah yang kau lakukan itu suatu kesalahan. 20
21 D D D D D D D D D D : Ya. Tapi di waktu yang bersamaan ia seharusnya tidak memukulku dan anakanak. Itu juga salah! : Kau marah pada Faruk karena kekerasan yang bia lakukan. : Aku tidak tahu siapa yang menjadi buta. Aku tahu aku bukanlah istri terbaik didunia. Ia juga bukan suami terbaik. Anak-anak bisa menjadi lebih berarti bagiku sewaktu-waktu. : Kau merasa kewalahan karena kau tidak mengetahui siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas apa. Semua yang kau tahu adalah bahwa setiap orang memiliki bagian dari tanggungjawab tersebut. : Benar. Masing-masing dari kita telah melakukan kesalahan. : kau menderita karena kau tahu anggota keluargamu telah saling menyakiti tapi kau tidak dapat memikirkan bagaimana cara untuk mengubah hal itu. : Hal itu berada diluar jangkauanku. Segala hal menjadi sangat membingungkan. : Kau merasa kecewa karena kau tidak dapat memikirkan bagaimana cara untuk membuat anggota keluargamu berhubungan satu sama lain seperti seharusnya. : Benar. :, apa yang kau inginkan adalah untuk membuat kau, Faruk dan kedua anakmu membangun hubungan keluarga yang baik yang akan membiarkan setiap orang untuk tumbuh. : Tepat, itu yang kuinginkan. Tapi bagaimana aku melakukannya? : Kau berkata bahwa kau tidak tahu bagaimana melakukannya. : Semuanya menjadi kacau. Aku tidak tahu darimana harus memulainya. : Baiklah, tidak banyak yang dapat kulakukan selain melibatkan Faruk dan kedua putrimu dalam terapi. : Faruk tidak akan pernah mau menemui konselor ia akan menolaknya. Ia pikir semua orang yang menemui konselor itu gila. Oh, maafkan aku. : Tidak apa-apa, tapi tanpa Faruk kami tidak akan mampu untuk menyelesaikan apapun. Kau harus memikirkan cara untuk membawanya kesini. : Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya datang kesini. Aku tidak tahu : Kau harus berusaha. : Baiklah, tapi bagaimana kalau ia menolak? : Tunggu saja dan lihat apakah kau dapat mengajaknya kesini. Oke? 21
22 : Baiklah. Oke. 22
23 23
24 V. Keterampilan Indivualizing Steps 1. Individualizing Steps (Mengindividualisasikan Langkah-Langkah) Kebanyakan program terdiri atas langkah-langkah yang tersusun secaa kebetulan, dimana tiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Beberapa konseli tidak dapat melaksanakan langkah tersebut segera setelah mereka merancangnya. Langkahlangkah tersebut memerlukan pengindividualisasian program terhadap gaya belajar atau pemrosesan program masing-masing. Jenis individualisasi program, berupa rangkaian langkah-langkah dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang konkrit sampai yang abstrak, dari yang dekat sampai yang jauh. Seringkali langkah-langkah ini berbeda dengan langkah-langkah yang terangkai dalam suatu kesatuan. Sebenarnya, setiap langkah dari proses penginisiasian harus diindividualisasikan dengan cara menyamakannya kembali dengan konseli. Kita dapat membuat respon yang sesuai yang dapat memastikan bahwa kita berada dalam penyesuaian terhadap bingkai referensi konseli. Bahkan saat kita mengindividualisasikan langkah-langkah kita harus tetap menyesuaikan diri dengan baik, karena proses ini begitu tidak kentara. 2. Unsur-unsur Pembentuk Individualizing Steps: Individualizing Steps terdiri dari 3 unsur, yaitu: Sequencing Simple-To-Complex Steps, Sequencing Concrete-To-Abstract Steps, dan Sequencing Immediate-To-Remote Steps a. Sequencing Simple-To-Complex Steps Hal yang paling mendasar dalam rangkaian modalitas alternatif adalah metode sederhana ke kompleks (simple to complex). Ada beberapa konseli yang dapat bekerja lebih produktif terhadap langkah-langkah yang paling sederhana. Seringkali langkah-langkah ini berbeda dari apa yang dirangkaikan dalam suatu kesatuan. Dalam memgembangkan langkah yang sederhana, kita dapat mengatakan bahwa langkah pertama biasanya sangat sederhana sampai terlihat mustahil. Dengan begitu kita dapat memastikan bahwa konseli dapat melakukannya. Sebagai contoh, bersama konseli kita dapat memulai program keterampilan attending kita dengan cara bertatap muka dengan orang lain, langkah paling sederhana yang dapat sesegera mungkin dilakukan. Hal ini masih lebih mudah disbanding langkah dimana kita harus berhadapan dengan orang lain seperti yang diperintahkan dalam suatu kesatuan program. Kita dapat menggunakan waktu tertentu untuk 24
25 merefleksikan perbedaan individual yang bisa kita rancang menjadi rangkaian program dengan kesatuan atau dengan metode sederhana ke kompleks. Kau dapat melakukan langkah yang paling sederhana terlebih dahulu. b. Sequencing Concrete-To-Abstract Steps Rangkaian modalitas alternative lainnya adalah model konkrit ke abstrak. Ada beberapa konseli yang bekerja lebih produktif terhadap tugas-tugas yang paling konkrit. Dalam konteks ini, beberapa konseli dapat memutuskan untuk memulai program keterampilan interpersonal melalui langkah-langkah yang konkrit misalnya, pengembangan program yang akan datang kemudian dalam rangkaian program terpadu. Mari kita lihat ada berapa contoh perbedaan dalam rangkaian yang dapat kita kembangkan di berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan. Perbedaan-perbedaan ini akan membawa kita pada pengindividualisasian program. Anda dapat melakukan langkah yang paling konkrit terlebih dahulu. c.sequencing Immediate-To-Remote Steps Model individualisasi yang paling menarik dan juga yang terakhir adalah metode dari dekat ke jauh (immediate to remote). Beberapa konseli memilih langkah yang dapat dimulai dari pengalaman terdekat mereka. Sebagai contoh, dalam suatu program keterampilan interpersonal, beberapa konseli dapat memilih untuk memulainya dengan belajar untuk merespon masalah dalam kehidupan nyata meskipun hal tersebut merupakan langkah akhir dalam program yang terangkai dalam suatu kesatuan. Mari kita perluas pemikiran kita tentang alternative lain untuk merangkai modalitas. Merupakan hal yang penting bahwa kita melakukan pengindividualisasian modalitas dengan menyesuaikan diri dengan pengindividualisasian kita terhadap respon-respon. Anda dapat melakukan langkah yang paling dekat (yang dapat segera dilaksanakan) terlebih dulu. 25
26 26
A. Konsep Dasar/ Materi Pelatihan Personalizing Meaning (Makna) 1. Personalizing Memfasilitasi Pemahaman Helpee
A. Konsep Dasar/ Materi Pelatihan Personalizing Meaning (Makna) 1. Personalizing Memfasilitasi Pemahaman Helpee Merupakan langkah yang singkat saat seorang anak sadar akan unsur pengalaman manusia dalam
GURUKU CANTIK SEKALI GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PENGAJAR MENDIDIK DAN MENGAJAR PEMBELAJARAN BERBASIS OTAK SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF
GURUKU CANTIK SEKALI GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PENGAJAR KURIKULUM SEBAGAI MEDIA MENDIDIK DAN MENGAJAR PEMBELAJARAN BERBASIS OTAK SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PENGAJAR PENDIDIK
ANNE HAFINA Jurusan PPB FIP UPI (PROSES KONSELING) PROSES KONSELING
PROSES KONSELING KLIEN : INVOLVING EXPLORING UNDERSTANDING ACTING KONSELOR : ATTENDING RESPONDING PERSONALIZING INITIATING I A. ATTENDING a. PENGERTIAN : UPAYA KONSELOR AGAR KLIEN TERLIBAT b. LANGKAH-LANGKAH
KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN
KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN oleh Rosita E.K., M.Si Konsep dasar dari konseling adalah mengerti
KETERAMPILAN KONSELING INDIVIDUAL
KETERAMPILAN KONSELING INDIVIDUAL OLEH ANNE HAFINA A. JURUSAN PPB FIP UPI 14 June 2010 (Anne Hafina-PPB UPI) 1 COUNSELING SKILLS (CARKHUFF) CLIENT ACTIVITY (Aktivitas Konseli) INVOLVEMENT (PELIBATAN) EXPLORATION
DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA
DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA EMPIRIK, DIORGANISASIKAN KEDALAM SEBUAH STRUKTUR (KERJA) UNTUK MENJELASKAN, MEMPREDIKASI DAN MENGENDALIKAN PERILAKU ATAU
BAB III METODE PENELITIAN. konseling individual, serta teknik analisis data penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini disajikan paparan mengenai metode penelitian dengan pokok pembahasan mengenai pendekatan penelitian, definisi operasional variabel, prosedur dan langkah-langkah penelitian,
KETERAMPILAN KONSELING. Rosita E.K.
KETERAMPILAN KONSELING Rosita E.K. KETERAMPILAN ATTENDING Keterampilan attending terkait dengan penerimaan konselor melalui perhatian dan kesiapsiagaan penuh yang diberikan kepada konseli. Keterampilan
Pengaruh Perceraian Pada Anak SERI BACAAN ORANG TUA
35 SERI BACAAN ORANG TUA Pengaruh Perceraian Pada Anak Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional
BAB IV ANALISIS DATA. dan dokumentasi yang disajikan pada awal bab yang telah dipaparkan oleh
BAB IV ANALISIS DATA Setelah data diperoleh dari lapangan yang berupa wawancara, observasi dan dokumentasi yang disajikan pada awal bab yang telah dipaparkan oleh peneliti maka peneliti menganalisa dengan
Pelatihan Keterampilan Konseling dan Konseling Kelompok bagi Guru BK Kota Yogyakarta
Pelatihan Keterampilan Konseling dan Konseling Kelompok bagi Guru BK Kota Yogyakarta Oleh Sugiyanto 081326025221 Email/face book : [email protected] [email protected] Konseling adalah jantunghatinya
Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi
Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi 1. Menerima rasa sakit karena kehilangan 2. Ekspresi yang terbuka mengenai rasa kehilangan, kesedihan, permusuhan dan rasa bersalah 3. Memahami perasaan yang di alami berhubungan
BAB IV ANALISIS DATA
116 BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Proses Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dengan Teknik Permainan Dialog untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MI Ma arif NU Pucang Sidoarjo Dalam bahasan
Human Relations. Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to Learn)-Lanjutan. Ervan Ismail. S.Sos., M.Si. Modul ke: Fakultas FIKOM
Modul ke: Human Relations Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to Learn)-Lanjutan Fakultas FIKOM Ervan Ismail. S.Sos., M.Si. Program Studi Public Relations http://www.mercubuana.ac.id Isi
Membangun Ketrampilan Memfasilitasi
Membangun Ketrampilan Memfasilitasi Fasilitasi menjelaskan proses membawa satu kelompok melalui cara pembelajaran, atau berubah dengan cara yang mendorong semua anggota kelompok tersebut, untuk berpartisipasi.
MODUL PEDOMAN DAN MATERI KONSELING INDIVIDUAL PENANGGULANGAN NAFZA BAGI FASILITATOR DENGAN SASARAN ORANG TUA DAN REMAJA
MODUL PEDOMAN DAN MATERI KONSELING INDIVIDUAL PENANGGULANGAN NAFZA BAGI FASILITATOR DENGAN SASARAN ORANG TUA DAN REMAJA DISUSUN OLEH YUSI RIKSA YUSTIANA BADAN PENANGGULANGAN NAFZA, KENAKALAN REMAJA, ROSTITUSI
PETUNJUK PENELITIAN. Nama : Usia : Pendidikan terakhir :
103 Nama : Usia : Pendidikan terakhir : Di tengah-tengah kesibukan anda saat ini, perkenankanlah saya memohon kesediaan anda untuk meluangkan waktu sejenak menjadi responden penelitian guna mengisi skala
LAMPIRAN A. Skala Penelitian (A-1) Beck Depression Inventory (A-2) Skala Penerimaan Teman Sebaya (A-3) Skala Komunikasi Orangtua-Anak
LAMPIRAN A Skala Penelitian (A-1) Beck Depression Inventory (A-2) Skala Penerimaan Teman Sebaya (A-3) Skala Komunikasi Orangtua-Anak LAMPIRAN A Skala Penelitian (A-1) Beck Depression Inventory No : Usia
Angket 1 No Pernyataan SS S TS STS
Identitas Diri Subyek : Nama : Usia : Berat Badan : Isilah dengan memberi tanda [ ] pada pernyataan yang sesuai dengan jawaban anda. Beri Tanda [ ] bila : SS : Menunjukkan bahwa pernyataan tersebut Sangat
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kasus-kasus kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini menunjukkan adanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Perkembangan kasus-kasus kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini menunjukkan adanya kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat kita simak dari liputan
Penerapan Reinforcement Theory Pada Anak
Penerapan Reinforcement Theory Pada Anak Beragam problem terkait dengan motivasi berprestasi siswa di sekolah seringkali dihadapi guru. Ada siswa yang senantiasa menyelesaikan pekerjaan, namun jarang mengerjakan
BAB IV ANALISIS BIMBINGAN KONSELING ISLAM DENGAN TERAPI REALITAS DALAM MENANGANI KECEMASAN SEORANG AYAH
BAB IV ANALISIS BIMBINGAN KONSELING ISLAM DENGAN TERAPI REALITAS DALAM MENANGANI KECEMASAN SEORANG AYAH PADA PERKEMBANGAN ANAKNYA DI DESA SUKODONO PANCENG GRESIK Analisis data yang digunakan dalam penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Wardah Nisa, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bimbingan dan konseling diposisikan oleh negara sebagai profesi yang terintegrasikan sepenuhnya dalam bidang pendidikan, dengan menegaskannya dalam Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN. Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian setiap orang. Ketika menikah, tentunya orang berkeinginan untuk mempunyai sebuah keluarga yang
No Oedipus Complex Keterangan Dialog dalam novel Halaman Ya Tidak. Kemudian ayah itu, selalu tidak sabar, akan lompat dari kedua orang tua yang tidak
Judul : Oedipus Complex pada Paul didalam novel Sons and Lovers karangan D.H. Lawrence DATA REDUKSI Data Reduksi dibawah ini adalah untuk menyederhanakan penjelasan peneliti. No Oedipus Complex Keterangan
BAB V FAKTOR PEMICU KONFLIK PEKERJAAN-KELUARGA
BAB V FAKTOR PEMICU KONFLIK PEKERJAAN-KELUARGA 5.1 Pendahuluan Fenomena konflik pekerjaan keluarga atau work-family conflict ini juga semakin menarik untuk diteliti mengingat banyaknya dampak negatif yang
BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Fungsi utama Rumah Sakit yakni melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin majunya teknologi kedokteran,
KETERAMPILAN KONSELING BAGI GURU. 6/14/2010 Anne Hafina PPB UPI Bandung
KETERAMPILAN KONSELING BAGI GURU Konseling sekolah merupakan kekuatan baru dalam pendidikan, sumber kontroversi, sumber inspirasi, sumber pemahaman teoritis, dan sumber keterampilan praktis. Komponen Keterampilan
APOCRYPHA SUSANNA KING JAMES BIBLE Susanna
www.scriptural-truth.com APOCRYPHA SUSANNA KING JAMES BIBLE 1611 Sejarah Susanna [dalam Daniel] Susanna Temukan awal Daniel, karena tidak di bahasa Ibrani, bukan narasi Bel dan naga. {1:1} sana tinggal
Bagaimana Memotivasi Anak Belajar?
Image type unknown http://majalahmataair.co.id/upload_article_img/bagaimana memotivasi anak belajar.jpg Bagaimana Memotivasi Anak Belajar? Seberapa sering kita mendengar ucapan Aku benci matematika atau
Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi
MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 05 61033 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai Ketrampilan Dasar Konseling:
Victorious Living #3 - Hidup Berkemenangan #3 MAKING A CHANGE IN YOUR LIFE MENGUBAH HIDUP ANDA
Victorious Living #3 - Hidup Berkemenangan #3 MAKING A CHANGE IN YOUR LIFE MENGUBAH HIDUP ANDA PEMBUKAAN: Hari ini kita akan melanjutkan seri khotbah Victorious Living bagian 3, yaitu: Making a Change
RAHASIA MAN JADDA WAJADA DALAM PENDIDIKAN
RAHASIA MAN JADDA WAJADA DALAM PENDIDIKAN Oleh; M. Nur Ghufron "Barang siapa bersungguh-sungguh, maka dapatlah Ia" Anomim Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan
Pelajaran 12 HIDUP DI SINI DAN SEKARANG. Dasar yang Kokoh - Pilihan kedua. 23 Maret 2013
Pelajaran 12 HIDUP DI SINI DAN SEKARANG Dasar yang Kokoh - Pilihan kedua 23 Maret 2013 Dasar yang Kokoh (Apa kira-kira hubungan ilustrasi berikut dengan ayat-ayat Alkitab di pelajaran hari Rabu?) Sementara
SENI MEMBANTU ORANG OLEH NANDAN
KONSELING SENI MEMBANTU ORANG OLEH NANDANG BUDIMAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008 KONSEP KONSELING DEFINISI : HUBUNGAN YANG BERSIFAT MEMBANTU (HELPING RELATIONSHIP)
Transkrip Video Modul 2.2. Kursus Membaca Cepat Online
Transkrip Video Modul 2.2. Kursus Membaca Cepat Online http://www.membacacepat.com Modul 2 Bagian 2 Membaca Aktif dan Kritis Terima kasih Anda telah bergabung kembali bersama saya, Muhammad Noer dalam
Pelajaran untuk Murid STUDENT LESSON HIDUP DI SINI DAN SEKARANG Dasar yang Kokoh Pilihan kedua 21 Maret 2015
Pelajaran untuk Murid STUDENT LESSON HIDUP DI SINI DAN SEKARANG Dasar yang Kokoh Pilihan kedua 21 Maret 2015 HIDUP DI SINI DAN SEKARANG 21 MARET 2015 Dasar yang Kokoh (Apa kira-kira hubungan ilustrasi
BAB V PEMBAHASAN. anak menilai bahwa perilaku tantrum adalah suatu perilaku yang masih
BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Pada anak autis perilaku tantrum sering muncul sebagai problem penyerta kerena ketidakstabilan emosinya, banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa perilaku tantrum adalah
Karya Kreatif Tanah Air Beta. Karya ini diciptakan untuk menuturkan isi hati Mama Tatiana di dalam buku hariannya. Karya
Labiba 1 Salsabil Inas Labiba Rigen Pratitisari Bahasa Indonesia 1 Desember 2011 Karya Kreatif Tanah Air Beta Bagian I: Tujuan Penulisan Karya ini diciptakan untuk menuturkan isi hati Mama Tatiana di dalam
A. Komunikasi Massa Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media.
Bentuk Komunikasi A. Komunikasi Massa Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. 1. Karakteristik komunikasi massa
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan mengalami masa transisi peran sosial, individu dewasa awal akan menindaklanjuti hubungan dengan
AKU AKAN MATI HARI INI
AKU AKAN MATI HARI INI Cerpen Ardy Kresna Crenata AKU BELUM TAHU DENGAN CARA APA AKU AKAN MATI. Apakah mengiris nadi dengan pisau akan menyenangkan? Atau memukul-mukul tengkorak dengan batu akan jauh lebih
BAB VI DAMPAK DARI WORK FAMILY CONFLICT. bekerja. Dampak dari masalah work family conflict yang berasa dari faktor
BAB VI DAMPAK DARI WORK FAMILY CONFLICT 6.1 Pendahuluan Fenomena work-family conflict ini juga semakin menarik untuk diteliti mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, baik terhadap wanita dan
BAB IV ANALISIS DATA. penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah data diperoleh dari
BAB IV ANALISIS DATA Pada bab ke empat ini peneliti akan menguraikan analisis dari data penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah data diperoleh dari lapangan yang berupa observasi dan wawancara
EMOSI DAN SUASANA HATI
EMOSI DAN SUASANA HATI P E R I L A K U O R G A N I S A S I B A H A N 4 M.Kurniawan.DP AFEK, EMOSI DAN SUASANA HATI Afek adalah sebuah istilah yang mencakup beragam perasaan yang dialami seseorang. Emosi
ASUHAN KEPERAWATAN KEHILANGAN DAN BERDUKA
ASUHAN KEPERAWATAN KEHILANGAN DAN BERDUKA Sepanjang daur kehidupan tidak terlepas dari situasi yang dapat mempengaruhi respon emosi individu. Salah satu situasi yang mempengaruhi emosi individu adalah
yang paling tidak pernah luput dari kematian adalah cairan ini. Wanita itu meringis ngilu. Semua yang menimpanya kini sudah jelas bagian dari
PROLOG Queenstown Singapore, 1970 Apartemen setinggi ratusan kaki itu mustahil akan membuatnya mudah turun dan keluar. Dia ada di lantai paling atas. Bersama tiga nyawa yang telah hilang dengan beragam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN Pada bab satu dibahas mengenai latar belakang penelitian, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, asumsi penelitian, manfaat penelitian, dan struktur organisasi skripsi.
#### Selamat Mengerjakan ####
Apakah Anda Mahasiswa Fak. Psikolgi Unika? Ya / Bukan (Lingkari Salah Satu) Apakah Anda tinggal di rumah kos / kontrak? Ya / Tidak (Lingkari Salah Satu) Apakah saat ini Anda memiliki pacar? Ya / Tidak
PENGEMBANGAN PROGRAM PRAKTIK KONSELING INDIVIDUAL BERDASARKAN ANALISIS LATIHAN KETERAMPILAN KONSELING MAHASISWA 0leh : Anne Hafina
PENGEMBANGAN PROGRAM PRAKTIK KONSELING INDIVIDUAL BERDASARKAN ANALISIS LATIHAN KETERAMPILAN KONSELING MAHASISWA 0leh : Anne Hafina Kata Kunci : attending, responding, personalizing dan initiating. PENDAHULUAN
Kegiatan Sehari-hari
Bab 1 Kegiatan Sehari-hari Kegiatan Sehari-hari 1 Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini kamu diharapkan mampu: 1) membuat daftar kegiatan sehari-hari berdasarkan penjelasan guru; 2) menceritakan
BAHAGIA BELAJAR BAHAGIA MINAT MEMBANGUN KARAKTER BELAJAR ANAK GENERASI PEMBELAJAR MANDIRI SEPANJANG HAYAT TUJUAN HIDUP MANUSIA
BAHAGIA TUJUAN HIDUP MANUSIA BAHAGIA TUJUAN UTAMA PENDIDIKAN BELAJAR SALAH SATU KUNCI BAHAGIA MINAT MEMBANGUN KARAKTER BELAJAR ANAK GENERASI PEMBELAJAR MANDIRI SEPANJANG HAYAT Filosofi kata bimba Prosesnya
BAB XVIII. Kekerasan terhadap perempuan. Kisah Laura dan Luis. Mengapa laki-laki melakukan kekerasan pada perempuan? Jenis kekerasan pada perempuan
BAB XVIII Kekerasan terhadap perempuan Kisah Laura dan Luis Mengapa laki-laki melakukan kekerasan pada perempuan? Jenis kekerasan pada perempuan Tanda-tanda yang harus diwaspadai Siklus kekerasan pada
Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita
Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita 121 122 Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita 123 124 Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita 125 126
BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996). Mahasiswa yang dimaksud adalah individu yang berada
BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan bagi sumber daya wanita untuk berkarya. Khususnya di kota-kota besar dimana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era globalisasi yang serba kompetitif menuntut dunia usaha memberi lebih banyak ruang bagi sumber daya manusia untuk berkarya. Situasi dan kondisi demikian
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian Ketiga subjek merupakan pasangan yang menikah remaja. Subjek 1 menikah pada usia 19 tahun dan 18 tahun. Subjek 2 dan 3 menikah di usia 21 tahun dan
5. Pilihlah salah satu dari pilihan di bawah ini yang merupakan KELEMAHAN anda! (Jawablah dengan sejujur-jujurnya)
Nama : No HP : Alamat : Pendidikan Terakhir : 1. Pilihlah salah satu dari pilihan di bawah ini yang merupakan KELEMAHAN anda! (Jawablah dengan sejujur-jujurnya) Pemikiran dan perhatian ditujukan ke dalam,
Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga
Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga Suami Rosa biasa memukulinya. Ia memiliki dua anak dan mereka tidak berani berdiri di hadapan ayahnya karena mereka takut akan
BAB IV ANALISIS DATA. 1. Analisis tentang bentuk-bentuk Disharmoni Keluarga yang terjadi di. Desa Mojorejo Pungging Mojokerto
BAB IV ANALISIS DATA 1. Analisis tentang bentuk-bentuk Disharmoni Keluarga yang terjadi di Desa Mojorejo Pungging Mojokerto Dalam menganalisa pelaksanaan Bimbingan dan konseling Islam dengan konseling
CINTA TELAH PERGI. 1 Penyempurna
CINTA TELAH PERGI 1 Penyempurna Enam belas tahun yang lalu seorang ibu bernama Rosa melahirkan seorang bayi perempuan, bayi yang selama ini bu Rosa dan pak Adam (suami bu Rosa) idam-idamkan selama dua
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dukungan Keluarga 1. Pengertian Keluarga Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
PENANGANAN ANAK BERMASALAH DENGAN KASIH SAYANG
PENANGANAN ANAK BERMASALAH DENGAN KASIH SAYANG Kita sering mendengar kasus anak-anak yang memiliki masalah di sekolah dan di rumah,seperti suka mencuri, suka berkelahi, mengganggu orang lain, suka berbohong,
Modul intervensi merupakan tindak lanjut dari hasil assesment. Modul intervensi seyogyanya tailor made, rasional dan mampu laksana
MODUL KONSELING DAN TERAPI PERILAKU BAGI PELAKU KDRT PENGANTAR: Modul intervensi merupakan tindak lanjut dari hasil assesment Modul intervensi seyogyanya tailor made, rasional dan mampu laksana Modul intervensi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan yang lainnya pasti membutuhkan kerjasama. Ketergantungan manusia satu dengan yang lain merupakan
BAB III METODE PENELITIAN
55 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian didasarkan kepada pendekatan penelitian kualitatif didasari pertimbangan sebagai berikut : a. Penelitian secara spesifik fokus pada proses praktikum
Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita
Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita 133 134 Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita 135 136 Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita Pssst... Ada Bahaya di Sekitar Kita 137 138
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERCERAIAN ORANG TUA DENGAN OPTIMISME MASA DEPAN PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN. Skripsi
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERCERAIAN ORANG TUA DENGAN OPTIMISME MASA DEPAN PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Psikologi
BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.
Level 3 Pelajaran 5. PENGANIAYAAN Oleh Don Krow
Level 3 Pelajaran 5 PENGANIAYAAN Oleh Don Krow Di Matius 10:16-23, Yesus ingin mempersiapkan murid-muridnya untuk menghadapi oposisi (perlawanan); Dia ingin memberitahu mereka bahwa akan muncul perlawanan.
BAB VI HUBUNGAN PELANGGAN
BAB VI HUBUNGAN PELANGGAN Agar mendapat keuntungan, suatu perusahaan harus menciptakan hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan mereka. Untuk mencapai hal ini, pertama perusahaan harus mengidentifikasi
VERBATIM WAWANCARA KONSELING
VERBATIM WAWANCARA KONSELING Nama konselor Nama konseli Masalah : I Putu Edi Sutarjo : Prema : Tidak bisa berkonsentrasi belajar di kos Pendekatan yang digunakan : Client Centered Narasi : Prema (siswa
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Pada bab ini terdapat empat kesimpulan berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan. Kesimpulan pertama berkaitan dengan kenyataan yang dialami keluarga,
BAB I PENDAHULUAN. keduanya merupakan peran bagi pria, sementara bagi wanita akan menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan pekerjaan dan keluarga menjadi bagian yang akan dilalui oleh setiap individu dalam hidupnya. Memilih keduanya atau menjalani salah satu saja merupakan
Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu
Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa,
PROSES DAN TEKNIK-TEKNIK KONSELING
PROSES DAN TEKNIK-TEKNIK KONSELING Proses-proses konseling meliputi tahap awal, tahap pertengahan (tahap kerja), tahap akhir. Teknik-teknik konseling meliputi ragam teknik konseling, penguasaan teknik
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal
BAB I PENDAHULUAN. maupun informal. Keberhasilan pendidikan akan terjadi bila ada interaksi antara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peran guru sangat strategis pada kegiatan pendidikan formal, non formal maupun informal. Keberhasilan pendidikan akan terjadi bila ada interaksi antara pendidik dengan
Perencanaan Diringkas oleh: Puji Arya Yanti
Perencanaan Diringkas oleh: Puji Arya Yanti Untuk penyerahan tugas dan tanggung jawab yang efektif, Anda harus merencanakannya dengan tepat. Anda tidak boleh hanya meletakkan semuanya di nampan dan membaginya
Markus: Aku perhatikan dalam cerita Budi bahwa Budi bilang Yakub tidak bertanggung jawab. Tidak baik untuk menjelekkan orang begitu.
Persiapan untuk memakai dalam training DK Fotokopi bahan ini 2 kali. Cari 2 peserta (pria) yang rela memainkan mainan peran ini dalam pelatihan. Minta mereka untuk membaca bagian mereka sebelumnya, agar
MENULIS BERTUJUAN TERJEMAHAN RINGKAS. dari Buku Writing With a Purpose James M. McCrimmon Boston: Houghton Mifflin Company
MENULIS BERTUJUAN TERJEMAHAN RINGKAS dari Buku Writing With a Purpose James M. McCrimmon 1983. Boston: Houghton Mifflin Company oleh Dra. Nunuy Nurjanah, M.Pd. NIP 131932641 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH
TAHAP AKHIR SEBUAH KELOMPOK oleh: Dra.Ehan.M.Pd BAB I PENDAHULUAN
TAHAP AKHIR SEBUAH KELOMPOK oleh: Dra.Ehan.M.Pd BAB I PENDAHULUAN Kegiatan suatu kelompok tidak mungkin berlangsung terus menerus, selanjutnya kelompok akan mengakhiri pada kegiatan yang dianggap tepat.
Keterampilan Penting bagi Konselor
e-konsel edisi 370 (10-3-2015) Keterampilan Penting bagi Konselor e-konsel Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen e-konsel -- Keterampilan Penting bagi Konselor Edisi 370/Maret 2015 Salam
MODUL PEDOMAN DAN MATERI KONSELING INDIVIDUAL PENANGGULANGAN NAFZA BAGI FASILITATOR DENGAN SASARAN ORANG TUA DAN REMAJA
MODUL PEDOMAN DAN MATERI KONSELING INDIVIDUAL PENANGGULANGAN NAFZA BAGI FASILITATOR DENGAN SASARAN ORANG TUA DAN REMAJA DISUSUN OLEH YUSI RIKSA YUSTIANA BADAN PENANGGULANGAN NAFZA, KENAKALAN REMAJA, ROSTITUSI
BAB IV UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGANI STRES SEKOLAH
BAB IV UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGANI STRES SEKOLAH A. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Menangani Stres Sekolah Seperti telah diketahui bahwa stress adalah fenomena umum yang
BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu proses yang dapat diprediksi. Proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pencapaian pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui oleh manusia bersifat
BAB II TAHAP PERTENGAHAN KONSELING
BAB II TAHAP PERTENGAHAN KONSELING A. Keterampilan Konseling Kegiatan konseling tidak berjalan tanpa keterampilan. Untuk menguasai beragam keterampilan konseling diperlukan praktek yang terus menerus.
BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan antara individu
ayahku selalu mengajarkan bahwa kita harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Ambillah sendiri. Kau kenapa nak? Sepertinya ada masalah?
ayahku selalu mengajarkan bahwa kita harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Ambillah sendiri. Kau kenapa nak? Sepertinya ada masalah? Nanti keceritakan. Aku mengambil seiikat bunga tulip yang ada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa dimana seseorang memperoleh pasangan hidup, terutama bagi seorang perempuan. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) bahwa tugas masa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Respon Penerimaan Anak 1. Pengertian Respon atau umpan balik adalah reaksi komunikan sebagai dampak atau pengaruh dari pesan yang disampaikan, baik secara langsung maupun tidak
KUMPULAN KATA-KATA BIJAK
KUMPULAN KATA-KATA BIJAK Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus. Pikiran
KATA PENGANTAR KUESIONER. Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas
LAMPIRAN I KATA PENGANTAR KUESIONER Dengan hormat, Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, maka tugas yang harus dilaksanakan adalah mengadakan
Pencarian Bilangan Pecahan
Pencarian Bilangan Pecahan Ringkasan Unit Siswa ditugaskan sebuah profesi yang menggunakan pecahan bilangan dalam pekerjaannya. Mereka meneliti, meringkas, menarik kesimpulan, dan mempresentasikan penemuan
Bab 5 PENUTUP. 1. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kebencian Hd. a. Ayah Hd melakukan poligami. contoh yang baik bagi anaknya.
78 Bab 5 PENUTUP A. Kesimpulan 1. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kebencian Hd terhadap ayahnya adalah: a. Ayah Hd melakukan poligami. b. Ayahnya kurang perhatian dikala istrinya (ibu Hd
Revelation 11, Study No. 13 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 13, oleh Chris
Revelation 11, Study No. 13 in Indonesian Language Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 13, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di Pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu.
note THE POWER OF LESS AQUARIUS note D18 Learn More in Less Time AQUARIUS
Learn More in Less Time THE OWER OF LESS The Fine Art of Limiting Yourself to The Essential...In Business And In Life OLEH : LEO BABAUTA HYERION BOOKS 170 AGES ISBN-13 : 978-1401309701 Dengan begitu banyak
Aktivitas untuk Belajar tentang Doa
Aktivitas untuk Belajar tentang Doa MENIRU TELADAN ORANG DEWASA Anak membutuhkan banyak kesempatan untuk mendengar orang dewasa berdoa. Sikap orang dewasa yang tulus dan penuh hormat dalam berdoa amat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan diartikan sebagai suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita, yang bersama-sama menjalin hubungan sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk
