MENGENAL DSS-RIBASIM DECISION SUPPORT SYSTEM RIVER BASIN SIMULATION MODEL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MENGENAL DSS-RIBASIM DECISION SUPPORT SYSTEM RIVER BASIN SIMULATION MODEL"

Transkripsi

1 MENGENAL DSS-RIBASIM DECISION SUPPORT SYSTEM RIVER BASIN SIMULATION MODEL 2011 Waluyo Hatmoko Peneliti Utama di Balai Hidrologi dan Tata Air Radhika Calon Peneliti di Balai Hidrologi dan Tata Air Puslitbang Sumber Daya Air, Badan Litbang Pekerjaan Umum

2 Daftar Isi 1 Pendahuluan Latar belakang Model Simulasi Wilayah Sungai Skematisasi Sistem Tata Air Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air DSS-Ribasim Sejarah Perkembangan DSS-Ribasim Komponen Model Aplikasi Ribasim di Indonesia Menggunakan DSS-Ribasim Memilih atau membuka DAS baru Membuka atau membuat kasus (case) baru Netter View: cara melihat Jaringan dan Peta Netter Option: merubah tampilan peta dan jaringan Merubah Tampilan Label dari Node dan Link Merubah Tampilan Node dan Link Merubah Tampilan Peta Netter Edit: Mengedit jaringan dengan netter Edit Network: mengedit jaringan Edit Model Data: memasukkan dan mengedit data Keluar dari Netter Generate and Edit Source List: urutan sumber air Memilih skenario hidrologi Specify Simulation Control Data: memilih waktu simulasi Fixed Model Data: mengedit data yang tidak berubah Water Demand Computation River Basin Simulation Specify Extra Post Processing Data Post Processing of Simulation Analysis of Basin Simulation: analisis hasil simulasi

3 Link result on map: hasil simulasi dalam peta jaringan Demand Node Graphics Tables

4 Daftar Gambar Gambar 1.1 Simulasi Wilayah Sungai Gambar 1.2 Tahun hidrologi dan tahun kebutuhan Gambar 1.3 Simulasi Alternatif Pengembangan Gambar 3.1 Layar Select Basin untuk memilih atau membuat basin Gambar 3.2 Layar membuka kasus (case) Gambar 3.3 Netter View: berbagai cara untuk melihat Gambar 3.4 Netter Option: merubah tampilan peta dan jaringan Gambar 3.5 Setting untuk Node Gambar 3.6 Setting untuk Link Gambar 3.7 Setting detil node dan link Gambar 3.8 Mengubah tampilan peta Gambar 3.9 Jendela Netter untuk mengedit jaringan tata air Gambar 3.10 Jenis Node Gambar 3.11 Memilih tindakan terhadap Node dan Link Gambar 3.12 Mengedit data Gambar 3.13 Mengedit data irigasi Gambar 3.14 Mengedit kebutuhan air irigasi Gambar 3.15 Case Management Tool Gambar 3.16 Memilih skenario hidrologi Gambar 3.17 Memilih waktu simulasi Gambar 3.18 Fixed model data Gambar 3.19 Pilihan Pasca Proses Gambar 3.20 Memilih waktu simulasi pasca proses Gambar 3.21 Pilihan output Gambar 3.22 Tampilan aliran dalam warna Gambar 3.23 Memilih tampilan aliran (warna atau lebar ) Gambar 3.24 Mengatur Legenda Gambar 3.25 Tampilan aliran dalam bentuk ketebalan link Gambar 3.26 Memilih Statistik Aliran: rerata, min, max Gambar 3.27 Memilih data yang akan digambar

5 Gambar 3.28 Hasil grafik Gambar 3.29 Berbagai tabel yang dihasilkan Gambar 3.30 Tabel Ringkasan Hasil

6 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perencanaan pengembangan wilayah sungai merupakan suatu proses perencanaan secara spasial dan temporal yang sangat kompleks, dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi dalam meningkatkan produksi pangan; penyediaan air baku untuk rumah-tangga, perkotaan dan industri, energi, lingkungan, kesehatan, dan lainnya. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya perekonomian dan industri, maka semakin meningkat pula kebutuhan akan air untuk berbagai keperluan (terutama untuk domestik, perkotaan dan industri, irigasi, listrik, wisata dan lingkungan). Di lain pihak ketersediaan air jumlahnya tetap sehingga sudah mulai terasa adanya conflict of interest dalam hal pemakaian air. Situasi ini jika dibiarkan berlarut-larut akan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional pada umumnya. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan pengelolaan distribusi air pada tingkat wilayah sungai atau bahkan antar wilayah sungai, secara komprehensif dan terpadu. Mengingat kompleksnya sistem alokasi air ini, maka diperlukan bantuan dari suatu model komputer untuk alokasi air, yang tidak hanya digunakan pada tahap perencanaan, akan tetapi juga secara operasional untuk membantu para pengelola air sebagai suatu decision support system (sistem pendukung pengambilan keputusan). 1.2 Model Simulasi Wilayah Sungai Pemodelan simulasi alokasi air di tingkat wilayah sungai akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali muncul dalam pengembangan sumberdaya air, antara lain sebagai berikut: a) Evaluasi alternatif dan potensi pengembangan sumberdaya air. - Untuk suatu Daerah Pengaliran Sungai (DPS) dengan ketersediaan airnya yang berfluktuasi, sampai sejauh mana dapat dikembangkan jaringan irigasi dan pemasokan air baku tanpa menimbulkan kekurangan air atau merugikan pemakai air lainnya? - Apakah akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interests) antara para pemakai air (irigasi, listrik tenaga air, air baku, dan lainnya) di masa mendatang? Bilamana dan dimana? - Berapa potensi listrik tenaga air? Berapa debit andalan (reliable flow) dengan atau tanpa waduk? b) Pengkajian upaya-upaya pembangunan infrastruktur pengairan dan upaya-upaya pengelolaan air. - Seberapa efektif upaya pembangunan waduk terhadap pemenuhan kebutuhan air irigasi dan tambak? - Berapa ukuran waduk yang diperlukan, dan bagaimana pola pengoperasian yang optimal? Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 1-1

7 Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas, maka suatu model simulasi wilayah sungai harus dapat melakukan perhitungan simulasi dengan baik, dan mudah dioperasikan. Artinya model harus mampu menirukan karakteristik penting dari wilayah sungai, terutama ketersediaan air, kebutuhan air, pengoperasian sistem tata air, dan kemungkinan alternatif pengembangan; disamping memberikan kemudahan pemasukan data dan keluaran informasi secara efisien, dalam format yang mudah disajikan, dan dampak alternatif pengembangan (dalam bentuk peta dan grafik) yang mudah dievaluasi dengan cepat. Dalam simulasi wilayah sungai terdapat dua hal penting, yaitu kondisi sistem tata air yang dinyatakan dalam Skematisasi Sistem Tata Air; dan Alternatif Pengembangan Sumberdaya Air yang direncanakan Skematisasi Sistem Tata Air Untuk dapat mensimulasikan satuan wilayah sungai sebagai suatu sistem tata air, maka disusun skematisasi sistem tata air yang dapat menggambarkan sistem tata air secara hidrologis, lengkap dengan bangunan-bangunan air dan sarana pembawanya. Skematisasi sistem tata air terdiri atas simpul-simpul yang menyatakan sumber air, kebutuhan air dan infrastruktur; dan cabang-cabang yang menyatakan sungai, saluran, terowongan atau pipa. Simpul-simpul tersebut terdiri atas tiga jenis, yaitu simpul biasa, simpul aktivitas, dan simpul kendali sebagai berikut: 1) Simpul biasa merupakan unsur dalam tata air yang tidak mengatur aliran air. Simpul-simpul ini dapat berupa Simpul Aliran (inflow node); Simpul Akhir (terminal node); Simpul Pertemuan (confluence node); Simpul Listrik Mikrohidro (run-of-river node); Simpul Semu (dummy node); dan Simpul Drainase Sub- Wilayah Sungai (district drainage node); 2) Simpul aktivitas yang merupakan simpul kebutuhan air, dan dapat berupa: Simpul Air Bersih (public water supply node); Simpul Aliran Rendah (low flow node); Simpul Irigasi (irrigation node); Simpul Tambak (fishpond node); Simpul Penyadapan Air untuk Sub-Wilayah Sungai (district extraction node); dan Simpul Kehilangan Air (loss flow). 3) Simpul kendali merupakan infrastruktur pengairan yang dapat digunakan untuk mengendalikan sistem tata air, dapat berupa: waduk dan bendung. Untuk dapat menggambarkan skematisasi dengan baik, maka biasa dilakukan deliniasi Satuan Wilayah Sungai (SWS) atas beberapa sub-sws, atau water district. Masing-masing sub-sws ini mempunyai karakteristik tertentu yang secara umum dapat digolongkan atas tiga bagian, yaitu sub-sws di hulu, tengah dan pantai. Sub- SWS di bagian hulu, merupakan daerah tangkapan air. Pada kawasan ini perlu diberikan perlindungan konservasi lahan, penampungan air dan pengendalian anakanak sungai. Pemodelan pada kawasan yang menjadi simpul inflow ini menyangkut kalibrasi hubungan hujan-limpasan. Pada sub-sws di bagian tengah lebih kompleks, sebab merupakan daerah produksi dan pemanfaatan; dicirikan dengan adanya pertanian, kebutuhan air baku, dan sebagainya. Sub-SWS di daerah hilir merupakan daerah pemanfaatan dan juga pembuangan; dapat berupa daerah irigasi Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 1-2

8 teknis, tambak, dan perkotaan dengan permasalahan alokasi air, pengendalian muara pantai, dan intrusi air laut Alternatif Pengembangan Sumber Daya Air Setiap alternatif pengembangan sumberdaya air pada umumnya terdiri atas gabungan beberapa upaya (proyek). Upaya-upaya tersebut dapat berupa Upaya Teknis / Infrastruktur seperti pembangunan waduk dan pengembangan irigasi; Upaya Operasional, misalnya peningkatan operasi waduk; serta Upaya Hukum dan Kelembagaan. Selain itu upaya-upaya dapat pula dikelompokkan atas Upaya yang terarah pada Pasok (supply oriented); dan Upaya yang terarah pada Kebutuhan (demand oriented). Untuk dapat mengevaluasi hasil alternatif pengembangan, maka paling tidak harus dilakukan dua buah simulasi yaitu: a) Simulasi Pertama, untuk kondisi tanpa upaya, yang dinamakan dengan Kasus Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kasus Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kasus Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatifalternatif). b) Simulasi Kedua dan seterusnya, dengan berbagai alternatif pengembangan. Perbedaan hasil dari kedua buah simulasi tersebut merupakan dampak dari alternatif pengembangan yang dikaji. Perbedaan ini misalnya dapat berupa: debit air, pasokan air terhadap suatu kebutuhan air, produksi hasil pertanian, perikanan, dan produksi energi listrik. Kasus-kasus simulasi tersebut diatas disimulasikan menurut skenario yang digunakan. Skenario adalah parameter sistem yang tidak dapat diubah oleh proyek dan bersifat probabilistik, misalnya skenario laju pertumbuhan penduduk, skenario tingkat suku-bunga, dan skenario kondisi hidrologi. Setelah dilakukan perkiraan biaya konstruksi, pembebasan lahan, operasi, dan pemeliharaan, maka dapat dilakukan analisis ekonomi teknik, dan analisis multi kriteria untuk menyajikan hasil kajian alternatif pengembangan kepada para pengambil keputusan. Model alokasi pembagian air yang telah umum digunakan pada beberapa Wilayah Sungai di Indonesia, antara lain adalah model WRMM (Water Resources Management Model) dari Kanada; model ad-hoc yang berdasarkan Lotus-123 atau Microsoft-Excel; dan DSS-Ribasim. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 1-3

9 1 demand level hydrologic input: series representing the characteristics of water availability River basin system Output: performance of the basin e.g. shortage pattern, energy output, m3/s m3/s Time measures which influence/change the basin system Time Gambar 1.1 Simulasi Wilayah Sungai Gambar 1.2 Tahun hidrologi dan tahun kebutuhan Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 1-4

10 Gambar 1.3 Simulasi Alternatif Pengembangan Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 1-5

11 2 DSS-RIBASIM DSS- Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air, maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis (misalnya sebagai sarana negosiasi operasi beberapa waduk, atau pemberian ijin pengambilan air industri). Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun Model yang konsep dasarnya diilhami oleh model MITSIM dari Amerika Serikat) ini telah digunakan pada lebih dari 20 negara di dunia. 2.1 Sejarah Perkembangan DSS-Ribasim Bermula dari versi komputer mainframe, seiring dengan berkembangnya Personal Computer (PC), Ribasim dikembangkan pada PC sejak tahun Program ini semula dibuat dengan bahasa Fortran dari Digital Research, kemudian beralih pada RM-Fortran, dan akhirnya Microsoft-Fortran versi 5.1. Secara konsep, penyempurnaan yang cukup berarti terjadi pada kurun waktu di Proyek BTA-155 di Indonesia, dimana pemikiran para konterpart dalam negeri turut berkontribusi secara signifikan. Sejak Ribasim diperkenalkan pada tahun 1985 sampai dengan 1996, perlu diakui bahwa model ini masih sulit dioperasikan atau belum user-friendly. Hal ini mendorong para peneliti Puslitbang Pengairan untuk menambah beberapa program modul pembantu dari Ribasim, antara lain Program PISDA (Penyajian Informasi Sumber Daya Air) untuk penyusunan, penyuntingan dan penyajian skematisasi sistem tata air (Hatmoko, 1993). Pada tahun 1997 mulai diperkenalkan DSS-Ribasim versi 6 yang sudah nyaman dioperasikan dan bekerja dibawah sistem operasi Windows 95. Komponen simulasi wilayah sungai tetap dalam bahasa Fortran, akan tetapi user-interface dilengkapi dengan Visual Basic pada Windows Komponen Model Model DSS-Ribasim versi 6 ini terdiri atas beberapa komponen, yang dikendalikan oleh sebuah interface yang menunjukkan lokasi geografis. Adapun komponenkomponen model antara lain adalah sebagai berikut: a) DSS Shell: merupakan program pembuka yang memadukan program-program lainnya. b) Netter: adalah editor jaringan skematisasi sistem tata air yang dapat digunakan secara interaktif dalam menyusun jaringan dan pemasukan data. Penyajian hasil simulasi pada setiap simpul dan ruas sungai juga ditampilkan dalam bentuk peta skematisasi ini. Skematisasi ini dilatar belakangi oleh lapisan (layer) peta situasi wilayah yang dapat memuat lapisan kontur, kota-kota kecamatan, jaringan infrastruktur dan lainnya. c) Case Management Tool: Memberi petunjuk dalam melaksanakan proses simulasi, sehingga masing-masing kasus simulasi dapat dikelola secara rapih. d) Agwat: adalah model perhitungan kebutuhan air irigasi. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 2-1

12 e) Fishwat: adalah model kebutuhan air perikanan. f) Simproc: adalah model simulasi wilayah sungai untuk alokasi air. g) Wadis: adalah model distrik air (water district) h) Delwaq: adalah model simulasi kualitas air dari Delft Hydraulics i) ODS2XLS: merupakan sistem penyajian hasil simulasi secara grafis yang luwes dan dilengkapi dengan fasilitas ekspor ke Microsoft-Excel. 2.3 Aplikasi Ribasim di Indonesia Beberapa aplikasi DSS-Ribasim di Indonesia antara lain adalah pada Proyek BTA- 155 ( ); Pengisian Waduk Cirata (1987); Pengembangan Sumberdaya Air di Wilayah Sungai Bengawan Solo ( ); Jabotabek Water Resources Management Study ( ); Penggelontoran Sungai-sungai dan Saluran di DKI Jakarta (1993); Pengembangan Sumberdaya Air di Wilayah Sungai Citanduy ( ); Studi Neraca Air di SWS Jeneberang ( ); Optimasi Pembangkit Tenaga Air di DPS Cisangkuy ( ); dan Basin Water Resources Planning (sejak tahun 1994 sampai saat ini). Proyek BTA-155 ( ) Model Ribasim pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1985, yaitu dengan adanya proyek BTA-155 (Cisadane-Cimanuk Integrated Water Resources Development Project), suatu proyek kerjasama antara Belanda (Delft Hydraulics) dengan Indonesia (Bina Program Pengairan dan Puslitbang Pengairan). Proyek ini memiliki dua buah tujuan, yaitu: membentuk suatu unit operasional di Departemen Pekerjaan Umum yang mampu melaksanakan studi-studi pengembangan sumberdaya air secara terpadu; dan melaksanakan pengembangan sumberdaya air terpadu di Jawa Barat bagian Utara (Puslitbang Pengairan dan Delft Hydraulics, 1989). Model Ribasim yang digunakan adalah versi pertama, yang disempurnakan seiring dengan berjalannya proyek. Penyempurnaan yang melibatkan para peneliti dari Puslitbang Pengairan tersebut meliputi konsep water-district, penambahan fasilitas analisis (antara lain analisis frekuensi), dan transfer data (ke program lain dan file ASCII). Pengisian Waduk Cirata (1987) Pada saat pengisian waduk Cirata di Sungai Citarum, yang berada di hilir waduk Saguling dan di hulu waduk Jatiluhur, memerlukan keputusan yang tepat mengenai berapa dan bilamana air dari waduk Saguling yang dialirkan ke Cirata dapat dialirkan ke Jatiluhur. Dalam studi singkat (selama 3 minggu) ini, model Ribasim telah digunakan untuk membantu memberikan prakiraan duga muka air pada ketiga buah waduk tersebut untuk berbagai alternatif cara pengisian waduk Cirata dan berbagai skenario kondisi hidrologi (Puslitbang Pengairan dan Delft Hydraulics, 1987). Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 2-2

13 Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo ( ) Pada studi ini telah dilakukan analisis pengembangan sumberdaya air dengan bantuan model Ribasim versi 2 (Puslitbang Pengairan, 1992). Pada saat itu dirasakan kurang luwesnya model Ribasim dalam hal penyusunan skematisasi sistem tata air yang masih harus menggunakan file ASCII. Para peneliti di Puslitbang Pengairan telah berhasil membuat program PISDA (Penyajian Informasi Sumber Daya Air) yang memungkinkan penyuntingan skematisasi Ribasim dan penampilan hasil simulasi (Hatmoko, 1994). Neraca air di SWS Jeneberang ( ) Simulasi Neraca Air SWS Jeneberang dimaksudkan untuk menampilkan neraca air dengan kebutuhan saat ini (1995) sebagai bahan masukan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai Jeneberang. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ketersediaan air rata-rata diseluruh daerah studi Satuan Wilayah Sungai (SWS) Jeneberang sebesar 119,69 m 3 /detik yang setara dengan 3,77 milyar meter kubik pertahun, mampu memasok air untuk kebutuhan total irigasi seluas ha dengan debit rata-rata 23,44 m 3 /detik dari kebutuhan sekitar 26,2 m 3 /detik atau mampu memenuhi sekitar 90% dari kebutuhan, sementara kebutuhan air minum dan industri sebesar 2 m 3 /detik hampir semuanya terpenuhi. Seperti halnya yang kerap terjadi pada SWS lainnya, hasil simulasi juga mengindikasikan terjadinya kekurangan air pada musim kering, sementara pada musim hujan air sangat berlimpah. Untuk itu diusulkan rencana pembangunan beberapa waduk. Peningkatan Energi Listrik di DPS Cisangkuy Untuk meningkatkan produksi energi listrik di DPS Cisangkuy yang terletak di bagian hulu SWS Citarum, Bandung Selatan, tanpa mengabaikan kebutuhan air untuk pasok air baku PDAM Bandung, dan irigasi, maka telah dilakukan simulasi Ribasim terhadap lima buah alternatif pengembangan, yaitu: Kondisi Saat Ini (kasus 0); Optimasi Saat Ini (kasus 1); Alih Aliran dari DPS Cibutarua (kasus 2); Kasus 2 ditambah dengan pembangunan Dam Santosa (kasus 3); dan kasus 4 berupa kasus 3 ditambah dengan PLTA Santosa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa alternatif kasus-2 yaitu Alih Aliran dari DPS Cibutarua (kasus 2) merupakan yang terbaik karena akan memenuhi kebutuhan air bersih liter/detik dan menghasilkan energi sekitar 222 GWh pertahun, semua pasok irigasi terpenuhi dan debit yang masuk ke sistem Citarum akan lebih besar dari kondisi saat ini, dengan biaya yang diperlukan hanya untuk membangun terowongan, pengoperasian dan pemeliharaan. Basin Water Resources Planning (sejak tahun 1996) Pada proyek Basin Water Resources Planning (BWRP) dalam kerangka Java Irrigation Improvement and Water Resources Management Project (JIWMP) yang lokasinya adalah SWS Ciujung-Ciliman, SWS Citarum, dan SWS Jratunseluna, digunakan DSS-Ribasim versi 6.1 (tanpa water district); dan versi 6.2 (dengan water district). Latar belakang skematisasi Ribasim adalah berupa layer (lapisan) Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 2-3

14 dari Sistem Informasi Geografi, dan pada layer paling atas adalah skematisasi sistem tata air, dimana dapat dilakukan penyuntingan (misalnya dengan menambah waduk, bendung atau pengambilan air), atau menyajikan informasi debit aliran, muka air waduk, dan lainnya. Versi yang beredar pada saat ini adalah versi 6.31 yang serupa dengan versi 6.2 dengan penyempurnaan bendung yang dapat membagi air lebih dari dua pengambilan; juga confluence yang dapat menerima lebih dari dua anak sungai. Penyusunan Rancangan Pola dan Rencana Berdasarkan Undang-undang no 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, setiap wilayah sungai harus memiliki Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air. Sejak tahun 2005, DSS-Ribasim telah digunakan dalam berbagai studi penyusunan rancangan pola dan rencana pengelolaan wilayah sungai, antara lain di WS Indragiri, WS Bengawan Solo, WS Brantas, WS Cimanuk-Cisanggarung, WS Musi, dan lainnya. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 2-4

15 3 MENGGUNAKAN DSS-RIBASIM Menggunakan Ribasim secara umum dapat dibagi atas beberapa tahap sebagai berikut: 1) Memilih atau membuat DAS (basin) baru 2) Membuka atau membuat kasus (case) baru 3) Memasuki Netter 4) Simulasi a. Mengedit jaringan sistem tata air(edit network) b. Mengedit data untuk memasukkan data (edit data) 5) Analisis hasil 6) Menyimpan case 7) Selesai Dalam banyak hal, yang kita kerjakan pada umumnya adalah pada langkah nomor 3, yaitu membuat atau modifikasi jaringan tata air, dan memasukkan datanya. Hal ini berkaitan erat dengan program Netter. Langkah 2, 3, 4, 5 dan 6 berada dalam suatu program yang bernama Case Management Tool (CMT) yang memudahkan kita untuk mengelola kasus-kasus simulasi, yang jumlahnya bisa mencapai puluhan kasus. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-1

16 3.1 Memilih atau membuka DAS baru Setelah kita masuk ke dalam Ribasim dengan mengklik ikon Ribasim atau melalui menu, maka akan nampak layar Select Basin sebagai berikut:. Gambar 3.1 Layar Select Basin untuk memilih atau membuat basin Pada layar Select Basin, kita dapat memilih DAS yang sudah ada untuk kita kerjakan lebih lanjut, atau menambahkan (add) DAS baru, menghapus (delete) atau mengganti nama (rename) DAS yang sudah ada. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-2

17 3.2 Membuka atau membuat kasus (case) baru Setelah kita memilih DAS, maka akan muncul layar Case Management Tool (CMT). Langkah berikutnya adalah kita membuka kasus dengan menu: Case Open Atau membuat kasus baru, dengan menu: Case New Gambar 3.2 Layar membuka kasus (case) Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-3

18 3.3 Netter View: cara melihat Jaringan dan Peta Menu View pada Netter dimaksudkan untuk mengubah pandangan terhadap jaringan dan peta. Disini terdapat beberapa perintah sebagai berikut: - Zoom in: memperbesar gambar - Zoom out: memperkecil gambar - Center window: membuat ditengah titik yang ditunjuk - Move: memindahkan / menggeser gambar - Show full Network: menampilkan keseluruhan network - Show full Map: menampilkan seluruh peta Gambar 3.3 Netter View: berbagai cara untuk melihat Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-4

19 3.4 Netter Option: merubah tampilan peta dan jaringan Menu Options pada Netter dimaksudkan untuk mengubah tampilan terhadap jaringan dan peta. Disini terdapat beberapa perintah sebagai berikut: - Options: merubah tampilan label dari node, link dan data - Network Options: merubah tampilan network (node dan link) - Map Options: merubah tampilan peta - Legend Options: merubah tampilan legenda Gambar 3.4 Netter Option: merubah tampilan peta dan jaringan Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-5

20 3.4.1 Merubah Tampilan Label dari Node dan Link Tampilan label atau keterangan dari node dapat diubah tampilannya, yaitu dapat diberi label ID, nama, jenisnya, maupun tidak diberi label sama sekali (none). Option Option Gambar 3.5 Setting untuk Node Penampilan label atau keterangan link dapat pula diubah, yaitu menampilkan ID, nama, jenis, data atau tidak menampilkan apapun (none). Gambar 3.6 Setting untuk Link Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-6

21 3.4.2 Merubah Tampilan Node dan Link Tampilan node dan link dapat diubah, misalnya node confluence tidak ditampilkan labelnya atau juga bentuknya; atau link dibuat sangat tebal supaya lebih jelas. Options Network Options Gambar 3.7 Setting detil node dan link Merubah Tampilan Peta Tampilan peta dapat diubah dengan perintah: Option Map Gambar 3.8 Mengubah tampilan peta Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-7

22 3.5 Netter Edit: Mengedit jaringan dengan netter Hal yang paling penting dari Netter adalah: - Edit Network: mengedit jaringan - Model Data: memasukkan data Gambar 3.9 Jendela Netter untuk mengedit jaringan tata air Edit Network: mengedit jaringan Dalam melakukan edit network, ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu: - Memilih jenis node dan link yang akan diedit, misalnya simpul irigasi atau bendungan; dan - Memilih tindakan terhadap network, misalnya menambah, menghapus. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-8

23 Memilih jenis node dan Link Gambar 3.10 Jenis Node dan Link Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-9

24 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-10

25 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-11

26 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-12

27 Memilih tindakan terhadap node dan link Gambar 3.11 Memilih tindakan terhadap Node dan Link Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-13

28 3.5.2 Edit Model Data: memasukkan dan mengedit data Jika jaringan sudah ada, maka data dapat dimasukkan melalui menu: Edit Model Data Dan selanjutnya pilih node yang akan diedit, dan data dapat dimasukkan atau diedit. Gambar 3.12 Mengedit data Gambar 3.13 Mengedit data irigasi Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-14

29 Gambar 3.14 Mengedit kebutuhan air irigasi Keluar dari Netter Setelah melakukan edit terhadap network dan map, maka sebelum keluar dari netter, pastikan telah menyimpan network dan peta, dengan cara: Dan File Save Network File Save Map Selanjutnya bisa keluar dengan: File Exit Maka komputer akan kembali ke CMT setelah melakukan pemeriksaan terhadap network yang baru di edit. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-15

30 3.6 Generate and Edit Source List: urutan sumber air Langkah berikutnya setelah Edit Network adalah Generate and Edit Sources List yang cukup di klik, dan pilih Generate New Source Priority List 3.7 Memilih skenario hidrologi Memilih skenario hidrologi dapat dilakukan jika data hidrologi dalam bentuk timeseries sudah disiapkan dalam folder hidrologi, dalam bentuk berbagai skenario. Gambar 3.15 Case Management Tool Gambar 3.16 Memilih skenario hidrologi Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-16

31 3.8 Specify Simulation Control Data: memilih waktu simulasi Memilih waktu simulasi hanya dapat dilakukan jika skenario hidrologi telah dikerjakan. Tentunya waktu simulasi hanya dapat dipilih sesuai dalam jangkauan data hidrologi yang tersedia. Gambar 3.17 Memilih waktu simulasi 3.9 Fixed Model Data: mengedit data yang tidak berubah Yang terpenting dalam Fixed Model Data adalah mengenai Simulation Time step Data, yaitu di set pada bulanan atau tengah-bulanan. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-17

32 Gambar 3.18 Fixed model data 3.10 Water Demand Computation Water demand computation cukup di klik saja, dan CMT akan menghitung semua kebutuhan air River Basin Simulation River Basin Simulation cukup di klik saja, dan CMT akan menjalankan simulasi sesuai dengan waktu simulasi yang telah ditetapkan. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-18

33 3.12 Specify Extra Post Processing Data Pilihan ini cukup diklik saja. Jika waktu simulasi yang ingin ditampilkan ingin diubah, maka dapat diubah disini. Gambar 3.19 Pilihan Pasca Proses Gambar 3.20 Memilih waktu simulasi pasca proses 3.13 Post Processing of Simulation Pilihan ini cukup di klik saja, dan CMT akan menyiapkan semua output yang dihasilkan. Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-19

34 3.14 Analysis of Basin Simulation: analisis hasil simulasi Analisis hasil simulasi menampilkan berbagai pilihan output untuk dianalisis lebih lanjut. Gambar 3.21 Pilihan output Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-20

35 Link result on map: hasil simulasi dalam peta jaringan Hasil simulasi dapat ditampilkan dalam peta jaringan sehingga jelas kondisi debit aliran pada setiap link. Gambar 3.22 Tampilan aliran dalam warna Gambar 3.23 Memilih tampilan aliran (warna atau lebar ) Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-21

36 Gambar 3.24 Mengatur Legenda Gambar 3.25 Tampilan aliran dalam bentuk ketebalan link Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-22

37 Gambar 3.26 Memilih Statistik Aliran: rerata, min, max Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-23

38 Demand Node Graphics Gambar 3.27 Memilih data yang akan digambar Gambar 3.28 Hasil grafik Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-24

39 Tables Gambar 3.29 Berbagai tabel yang dihasilkan Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-25

40 Gambar 3.30 Tabel Ringkasan Hasil Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-26

41 Latihan 1 LATIHAN Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-27

42 Latihan 2 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-28

43 Jawaban 1 dan 2 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-29

44 Latihan 3 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-30

45 Jawaban 3 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-31

46 Latihan 4 Latihan 5 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-32

47 Latihan 6 Latihan 7 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-33

48 Latihan 8 Latihan 9 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-34

49 Latihan 10 Latihan 11 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-35

50 Latihan 12 Waluyo Hatmoko, Radhika: Mengenal DSS-RIBASIM 3-36

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Bila suatu saat Waduk Jatiluhur mengalami kekeringan dan tidak lagi mampu memberikan pasokan air sebagaimana biasanya, maka dampaknya tidak saja pada wilayah pantai utara (Pantura)

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya yang tidak terkendali tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali

Lebih terperinci

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Dalam melaksanakan kegiatannya, manusia selalu membutuhkan air bahkan untuk beberapa kegiatan air merupakan sumber utama.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1. Laporan Tugas Akhir Kinerja Pengoperasian Waduk Sempor Jawa Tengah dan Perbaikan Jaringan Irigasinya

BAB I PENDAHULUAN I-1. Laporan Tugas Akhir Kinerja Pengoperasian Waduk Sempor Jawa Tengah dan Perbaikan Jaringan Irigasinya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waduk adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk melestarikan sumberdaya air dengan cara menyimpan air disaat kelebihan yang biasanya terjadi disaat musim penghujan

Lebih terperinci

Pemodelan Penyebaran Polutan di DPS Waduk Sutami Dan Penyusunan Sistem Informasi Monitoring Kualitas Air (SIMKUA) Pendahuluan

Pemodelan Penyebaran Polutan di DPS Waduk Sutami Dan Penyusunan Sistem Informasi Monitoring Kualitas Air (SIMKUA) Pendahuluan Pendahuluan 1.1 Umum Sungai Brantas adalah sungai utama yang airnya mengalir melewati sebagian kota-kota besar di Jawa Timur seperti Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, dan Surabaya. Sungai

Lebih terperinci

Bab III Studi Kasus. Daerah Aliran Sungai Citarum

Bab III Studi Kasus. Daerah Aliran Sungai Citarum Bab III Studi Kasus III.1 Daerah Aliran Sungai Citarum Sungai Citarum dengan panjang sungai 78,21 km, merupakan sungai terpanjang di Propinsi Jawa Barat, dan merupakan salah satu yang terpanjang di Pulau

Lebih terperinci

BAB VI. POLA KECENDERUNGAN DAN WATAK DEBIT SUNGAI

BAB VI. POLA KECENDERUNGAN DAN WATAK DEBIT SUNGAI BAB VI. POLA KECENDERUNGAN DAN WATAK DEBIT SUNGAI Metode Mann-Kendall merupakan salah satu model statistik yang banyak digunakan dalam analisis perhitungan pola kecenderungan (trend) dari parameter alam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejalan dengan hujan yang tidak merata sepanjang tahun menyebabkan persediaan air yang berlebihan dimusim penghujan dan kekurangan dimusim kemarau. Hal ini menimbulkan

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 23 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini memanfaatkan data sekunder yang tersedia pada Perum Jasa Tirta II Jatiluhur dan BPDAS Citarum-Ciliwung untuk data seri dari tahun 2002 s/d

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mojokerto, Gresik dan Kodya Surabaya, Propinsi Jawa Timur. DAS Lamong

BAB I PENDAHULUAN. Mojokerto, Gresik dan Kodya Surabaya, Propinsi Jawa Timur. DAS Lamong BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cakupan batas DAS Lamong berada di wilayah Kabupaten Lamongan, Mojokerto, Gresik dan Kodya Surabaya, Propinsi Jawa Timur. DAS Lamong yang membentang dari Lamongan sampai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di Jawa dengan wilayah tangkapan seluas ribu kilometer persegi. Curah

I. PENDAHULUAN. di Jawa dengan wilayah tangkapan seluas ribu kilometer persegi. Curah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) Citarum merupakan salah satu DAS terbesar di Jawa dengan wilayah tangkapan seluas 11.44 ribu kilometer persegi. Curah hujan tahunan 3 ribu

Lebih terperinci

PERENCANAAN BENDUNGAN PAMUTIH KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN BAB I PENDAHULUAN

PERENCANAAN BENDUNGAN PAMUTIH KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. TINJAUAN UMUM Air merupakan salah satu unsur utama untuk kelangsungan hidup manusia, disamping itu air juga mempunyai arti penting dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Spesifikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk aplikasi ini dibagi menjadi dua, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). 4.1.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air (SDA) bertujuan mewujudkan kemanfaatan sumberdaya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar

Lebih terperinci

Menu ini dapat dipilih menggunakan mouse dengan mengklik kiri mouse. berdasarkan pada pencarian Region, Vendor dan Alarm Highlight.

Menu ini dapat dipilih menggunakan mouse dengan mengklik kiri mouse. berdasarkan pada pencarian Region, Vendor dan Alarm Highlight. 291 2. Menu Search Menu ini dapat dipilih menggunakan mouse dengan mengklik kiri mouse. Menu Search terdiri dari fungsi-fungsi pencarian alarm jaringan radio (BTS) berdasarkan pada pencarian Region, Vendor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) merupakan sistem yang kompleks dan terdiri dari komponen utama seperti vegetasi (hutan), tanah, air, manusia dan biota lainnya. Hutan sebagai

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN POTENSI SUMBERDAYA AIR PERMUKAAN

PENGEMBANGAN POTENSI SUMBERDAYA AIR PERMUKAAN BAB II PENGEMBANGAN POTENSI SUMBERDAYA AIR PERMUKAAN Mahasiswa mampu menjabarkan pengembangan DAS dan pengembangan potensi sumberdaya air permukaan secara menyeluruh terkait dalam perencanaan dalam teknik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daya alam yang sangat besar terutama potensi sumber daya air. Pelaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. daya alam yang sangat besar terutama potensi sumber daya air. Pelaksanaan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Provinsi Lampung memiliki kedudukan yang strategis dalam pembangunan nasional. Di samping letaknya yang strategis karena merupakan pintu gerbang selatan Sumatera,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada umumnya tujuan dari dibangunnya suatu waduk atau bendungan adalah untuk melestarikan sumberdaya air dengan cara menyimpan air disaat kelebihan yang biasanya terjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat. Daerah Irigasi Jatiluhur dibangun oleh Pemerintah Republik

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat. Daerah Irigasi Jatiluhur dibangun oleh Pemerintah Republik 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Irigasi Jatiluhur terletak di Daerah Aliran Sungai Citarum Provinsi Jawa Barat. Daerah Irigasi Jatiluhur dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air permukaan (water surface) sangat potensial untuk kepentingan kehidupan. Potensi sumber daya air sangat tergantung/berhubungan erat dengan kebutuhan, misalnya untuk

Lebih terperinci

Gambar 3. 1 Wilayah Sungai Cimanuk (Sumber : Laporan Akhir Supervisi Bendungan Jatigede)

Gambar 3. 1 Wilayah Sungai Cimanuk (Sumber : Laporan Akhir Supervisi Bendungan Jatigede) 45 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini direncanakan di wilayah anak anak sungai Cimanuk, yang akan dianalisis potensi sedimentasi yang terjadi dan selanjutnya dipilih

Lebih terperinci

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 189 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari uraian pada Bab V, memperhatikan tujuan penelitian, kerangka permasalahan, dan batasan-batasan yang dikemukakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan dilakukan pembahasan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, dan keaslian penelitian. 1.1. Latar Belakang Pemerintahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wilayah sistem polder Pluit yang pernah mengalami banjir pada tahun 2002.

BAB I PENDAHULUAN. wilayah sistem polder Pluit yang pernah mengalami banjir pada tahun 2002. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kompartemen Museum Bank Indonesia merupakan kawasan yang masuk dalam wilayah sistem polder Pluit yang pernah mengalami banjir pada tahun 2002. Berdasarkan data dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Kita tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Kita tidak dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat air bagi kehidupan kita antara

Lebih terperinci

7. PERUBAHAN PRODUKSI

7. PERUBAHAN PRODUKSI 7. PERUBAHAN PRODUKSI 7.1. Latar Belakang Faktor utama yang mempengaruhi produksi energi listrik PLTA dan air minum PDAM adalah ketersedian sumberdaya air baik dalam kuantitas maupun kualitas. Kuantitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung yang meliputi area tangkapan (catchment area) seluas 142,11 Km2 atau 14.211 Ha (Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengelolaan DAS di Indonesia telah dimulai sejak tahun 70-an yang diimplementasikan dalam bentuk proyek reboisasi - penghijauan dan rehabilitasi hutan - lahan kritis. Proyek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN BAB I 1.1. Latar Belakang Pembukaan lahan untuk perumahan dan pemukiman pada daerah aliran sungai (DAS) akhir-akhir ini sangat banyak terjadi khususnya pada kota-kota besar, dengan jumlah dan pertumbuhan

Lebih terperinci

PRAKTIKUM-2 PENGENALAN ARCVIEW

PRAKTIKUM-2 PENGENALAN ARCVIEW PRAKTIKUM-2 PENGENALAN ARCVIEW Tujuan: - Mahasiswa dapat mengenal software Arcview beserta menu-menu yang terdapat di dalamnya - Mahasiswa dapat mengoperasikan software Arcview Pendahuluan Software ArcView

Lebih terperinci

4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN

4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN 4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN 4.1. Latar Belakang Sebagaimana diuraikan terdahulu (Bab 1), DAS merupakan suatu ekosistem yang salah satu komponen penyusunannya adalah vegetasi terutama berupa hutan dan perkebunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Seiring dengan kemajuan zaman serta bertambahnya jumlah penduduk dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Seiring dengan kemajuan zaman serta bertambahnya jumlah penduduk dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan zaman serta bertambahnya jumlah penduduk dengan pesat maka permintaan akan barang dan jasa yang berasal dari sumber daya air akan meningkat.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1.1 Lokasi Geografis Penelitian ini dilaksanakan di waduk Bili-Bili, Kecamatan Bili-bili, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Waduk ini dibangun

Lebih terperinci

Modul 1: Pengantar Pengelolaan Sumber Daya Air

Modul 1: Pengantar Pengelolaan Sumber Daya Air vii B Tinjauan Mata Kuliah uku ajar pengelolaan sumber daya air ini ditujukan untuk menjadi bahan ajar kuliah di tingkat sarjana (S1). Dalam buku ini akan dijelaskan beberapa pokok materi yang berhubungan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Neraca Air Ilmu Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari sirkulasi air. Dalam proses sirkulasi air, penjelasan mengenai hubungan antara aliran ke dalam (inflow) dan aliran keluar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah maupun masyarakat mengandung pengertian yang mendalam, bukan hanya berarti penambahan pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waduk Saguling merupakan waduk yang di terletak di Kabupaten Bandung Barat pada ketinggian 643 m diatas permukaan laut. Saguling sendiri dibangun pada agustus 1981

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di muara Sungai Cikapundung yang merupakan salah satu anak sungai yang berada di hulu Sungai Citarum. Wilayah ini terletak di Desa Dayeuhkolot,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan kegiatan memperbaiki, memelihara, dan melindungi keadaan DAS, agar dapat menghasilkan barang dan jasa khususnya, baik

Lebih terperinci

Listrik Mikro Hidro Berdasarkan Potensi Debit Andalan Sungai

Listrik Mikro Hidro Berdasarkan Potensi Debit Andalan Sungai Listrik Mikro Hidro Berdasarkan Potensi Debit Andalan Sungai Sardi Salim Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo [email protected] Abstrak Pembangkit listrik mikrohidro adalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yaitu di Bendungan Jatigede yang dibangun pada Sungai Cimanuk sekitar 25 km di hulu Bendung Rentang di Dusun Jatigede Desa Cieunjing, Kec.

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM 1.2 LATAR BELAKANG

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM 1.2 LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM PT. INDONESIA POWER adalah perusahaan pembangkit listrik terbesar di Indonesia yang merupakan salah satu anak perusahaan listrik milik PT. PLN (Persero). Perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah populasi penduduk pada suatu daerah akan. memenuhi ketersediaan kebutuhan penduduk. Keterbatasan lahan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah populasi penduduk pada suatu daerah akan. memenuhi ketersediaan kebutuhan penduduk. Keterbatasan lahan dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya jumlah populasi penduduk pada suatu daerah akan berpengaruh pada pemanfaatan sumberdaya lahan dalam jumlah besar untuk memenuhi ketersediaan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1)

BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1) A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Cisangkuy merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum hulu yang terletak di Kabupaten Bandung, Sub DAS ini

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Tinjauan Umum

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Tinjauan Umum BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Umum Semua makhluk hidup di dunia ini pasti membutuhkan air untuk hidup baik hewan, tumbuhan dan manusia. Begitu besar peran air dalam kehidupan membuat air termasuk kebutuhan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI III.1 LETAK DAN KONDISI WADUK CIRATA Waduk Cirata merupakan salah satu waduk dari kaskade tiga waduk DAS Citarum. Waduk Cirata terletak diantara dua waduk lainnya, yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup termasuk manusia. Keberadaan air baik kualitas maupun kuantitas akan berpengaruh pada kehidupan manusia. Sistem penyediaan

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1.PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bekasi, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat yang terletak di sebelah timur Jakarta. Batas administratif Kota bekasi yaitu: sebelah barat adalah Jakarta, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB III METODA ANALISIS

BAB III METODA ANALISIS BAB III METODA ANALISIS 3.1 Metodologi Penelitian Sungai Cirarab yang terletak di Kabupaten Tangerang memiliki panjang sungai sepanjang 20,9 kilometer. Sungai ini merupakan sungai tunggal (tidak mempunyai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hidrologi Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupun di bawah permukaan bumi, tentang sifat fisik,

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan hidup yang sangat mendasar bagi makhluk hidup, namun hingga kini belum semua masyarakat mampu menikmatinya secara maksimal.

Lebih terperinci

1. MENGENAL VISUAL BASIC

1. MENGENAL VISUAL BASIC 1. MENGENAL VISUAL BASIC 1.1 Mengenal Visual Basic 6.0 Bahasa Basic pada dasarnya adalah bahasa yang mudah dimengerti sehingga pemrograman di dalam bahasa Basic dapat dengan mudah dilakukan meskipun oleh

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI DAN LAJU EROSI SEBAGAI FUNGSI PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN

EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI DAN LAJU EROSI SEBAGAI FUNGSI PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI DAN LAJU EROSI SEBAGAI FUNGSI PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DESEMBER, 2014 KATA PENGANTAR Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 21/PRT/M/2010

Lebih terperinci

Silabus (PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR)

Silabus (PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR) ISO 91:28/IWA 2 4dari 8 PROGRAM STUDI SIPIL (S1) 1. Pengantar Pengembangan sumberdaya air (SDA) 2. Survey dan investigation 3. Daerah Pengaliran Sungai (DPS) a. Komponen infrastruktur SDA; b. Tujuan SDA

Lebih terperinci

Bab I Pengenalan ArcGIS Desktop

Bab I Pengenalan ArcGIS Desktop Bab I Pengenalan ArcGIS Desktop Bab ini akan membahas tentang: - Pengenalan ArcGIS Desktop - Pembuatan project pada ArcMap - Penambahan layer pada ArcMap 1.1 Sekilas tentang ArcGIS Desktop ArcGIS Desktop

Lebih terperinci

DEFt. W t. 2. Nilai maksimum deficit ratio DEF. max. 3. Nilai maksimum deficit. v = max. 3 t BAB III METODOLOGI

DEFt. W t. 2. Nilai maksimum deficit ratio DEF. max. 3. Nilai maksimum deficit. v = max. 3 t BAB III METODOLOGI v n t= 1 = 1 n t= 1 DEFt Di W t 2. Nilai maksimum deficit ratio v 2 = max DEFt Dt 3. Nilai maksimum deficit v = max { } DEF 3 t BAB III METODOLOGI 24 Tahapan Penelitian Pola pengoperasian yang digunakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa Latin Computare yang berarti

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa Latin Computare yang berarti BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer mempunyai arti yang luas dan berbeda untuk orang yang berbeda. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa Latin Computare yang berarti

Lebih terperinci

Gambar 2.1. Diagram Alir Studi

Gambar 2.1. Diagram Alir Studi 2.1. Alur Studi Alur studi kegiatan Kajian Tingkat Kerentanan Penyediaan Air Bersih Tirta Albantani Kabupaten Serang, Provinsi Banten terlihat dalam Gambar 2.1. Gambar 2.1. Diagram Alir Studi II - 1 2.2.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 616 TAHUN : 2003 SERI : C PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 7 TAHUN 2003 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG Menimbang :

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Informasi Manajemen 2.1.1 Pengertian Sistem Informasi Manajemen Sistem Informasi Manajemen sendiri merupakan sistem manusia/mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi

Lebih terperinci

BAB II. Ringkasan Modul:

BAB II. Ringkasan Modul: BAB II PENGENALAN ArcMAP Ringkasan Modul: Membuka Data Spasial atau Peta yang Telah Ada dengan ArcMap Melihat Data Atribut Sebuah Layer Menggunakan Map Tips Penyusunan Layer Mengaktifkan dan Menonaktifkan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. 4.1 Spesifikasi Perangkat Keras dan Pera ngkat Lunak. program aplikasi dengan baik adalah sebagai berikut:

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. 4.1 Spesifikasi Perangkat Keras dan Pera ngkat Lunak. program aplikasi dengan baik adalah sebagai berikut: BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Spesifikasi Perangkat Keras dan Pera ngkat Lunak 4.1.1 Spesifikasi Perangkat Keras Spesifikasi minimum hardware yang digunakan untuk menjalankan program aplikasi dengan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. a. Spesifikasi perangkat keras minimum: 3. Harddisk dengan kapasitas 4, 3 GB

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. a. Spesifikasi perangkat keras minimum: 3. Harddisk dengan kapasitas 4, 3 GB BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1. Implementasi 4.1.1. Perangkat Keras (Hardware) Perangkat keras yang dibutuhkan untuk mengoperasikan program SIG ini adalah: a. Spesifikasi perangkat keras minimum:

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR (PSDA) Dosen : Fani Yayuk Supomo, ST., MT ATA 2011/2012

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR (PSDA) Dosen : Fani Yayuk Supomo, ST., MT ATA 2011/2012 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR (PSDA) Dosen : Fani Yayuk Supomo, ST., MT ATA 2011/2012 1. PENGERTIAN Waduk dibangun dengan membendung ( Impounding ) sebagian dari aliran permukaan (run-off) pada daerah pengaliran

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI Rumusan Masalah

BAB III METODOLOGI Rumusan Masalah BAB III METODOLOGI 3.1. Rumusan Masalah Rumusan Masalah merupakan peninjauan pada pokok permasalahan untuk menemukan sejauh mana pembahasan permasalahan tersebut dilakukan. Berdasarkan hasil analisa terhadap

Lebih terperinci

5.1 Pelajaran: Menggunakan Map Composer

5.1 Pelajaran: Menggunakan Map Composer BAB 5 Modul: Membuat Peta Pada modul ini, Anda akan mempelajari bagaimana menggunakan Map Composer QGIS untuk menghasilkan peta yang berkualitas lengkap dengan semua komponen peta yang diperlukan. 5.1

Lebih terperinci

TEKNOLOGI HUJAN BUATAN DALAM SISTEM PENGELOLAAN WADUK IR. JUANDA, DAS CITARUM. JAWA BARAT

TEKNOLOGI HUJAN BUATAN DALAM SISTEM PENGELOLAAN WADUK IR. JUANDA, DAS CITARUM. JAWA BARAT TEKNOLOGI HUJAN BUATAN DALAM SISTEM PENGELOLAAN WADUK IR. JUANDA, DAS CITARUM. JAWA BARAT Oleh : Sri Lestari *) Abstrak Dengan adanya kemajuan bidang industri dan bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 BAB I PENGANTAR... 2 1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK)... 2 1.2 Penjelasan Materi Pelatihan... 2 1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini... 3

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk Daerah Irigasi Banjaran meliputi Kecamatan Purwokerto Barat, Kecamatan Purwokerto Selatan,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Hampir pada setiap musim penghujan di berbagai provinsi di Indonesia terjadi banjir yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang selalu mengalami banjir

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Simulasi 2.1.1 Pengertian Simulasi Simulasi merupakan salah satu cara untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi di dunia nyata (real world). Banyak metode yang dibangun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kesatuan aspek fisik, sosial dan ekosistem yang di dalamnya mengandung berbagai permasalahan yang komplek, seperti degradasi

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pengembangan sumber daya air merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang berbagai sektor pembangunan seperti pertanian, industri, penyediaan sumber energi disamping

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun

PENDAHULUAN. Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun 1621, 1654 dan 1918, kemudian pada tahun 1976, 1997, 2002 dan 2007. Banjir di Jakarta yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berdasarkan penelitian dari Nippon Koei (2007), Bendungan Serbaguna

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berdasarkan penelitian dari Nippon Koei (2007), Bendungan Serbaguna BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan penelitian dari Nippon Koei (2007), Bendungan Serbaguna Wonogiri merupakan satu - satunya bendungan besar di sungai utama Bengawan Solo yang merupakan sungai

Lebih terperinci

SIMULASI ALOKASI AIR DALAM RANGKA PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR KOTA PELABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI TESIS. Oleh RIKA DIRGANTARI NIM :

SIMULASI ALOKASI AIR DALAM RANGKA PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR KOTA PELABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI TESIS. Oleh RIKA DIRGANTARI NIM : SIMULASI ALOKASI AIR DALAM RANGKA PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR KOTA PELABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci : DAS Tukad Petanu, Neraca air, AWLR, Daerah Irigasi, Surplus

ABSTRAK. Kata Kunci : DAS Tukad Petanu, Neraca air, AWLR, Daerah Irigasi, Surplus ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Petanu merupakan salah satu DAS yang berada di Provinsi Bali. DAS Tukad Petanu alirannya melintasi 2 kabupaten, yakni: Kabupaten Bangli dan Kabupaten Gianyar. Hulu

Lebih terperinci

Membuat Grafik dengan Microsoft Excel

Membuat Grafik dengan Microsoft Excel Pelajaran 7 Membuat Grafik dengan Microsoft Excel Tabel dan grafik merupakan dua bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengolah data. Dengan adanya grafik menunjukkan bahwa data yang disajikan lebih

Lebih terperinci

Drought Management Untuk Meminimalisasi Risiko Kekeringan

Drought Management Untuk Meminimalisasi Risiko Kekeringan Drought Management Untuk Meminimalisasi Risiko Kekeringan Oleh : Gatot Irianto Fakta menunjukkan bahhwa kemarau yang terjadi terus meningkat besarannya (magnitude), baik intensitas, periode ulang dan lamanya.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dengan curah hujan berkisar antara 700 s.d. 7.000 m setahun, atau rata-rata 2.800 m pertahun, termasuk salah satu jumlah yang tertinggi di dunia. Dengan

Lebih terperinci

MENUJU KETERSEDIAAN AIR YANG BERKELANJUTAN DI DAS CIKAPUNDUNG HULU : SUATU PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS

MENUJU KETERSEDIAAN AIR YANG BERKELANJUTAN DI DAS CIKAPUNDUNG HULU : SUATU PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS MENUJU KETERSEDIAAN AIR YANG BERKELANJUTAN DI DAS CIKAPUNDUNG HULU : SUATU PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi di dunia. Hal ini juga terjadi di Indonesia, dimana banjir sudah menjadi bencana rutin yang terjadi setiap

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... I HALAMAN PERSETUJUAN... II HALAMAN PERSEMBAHAN... III PERNYATAAN... IV KATA PENGANTAR... V DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... I HALAMAN PERSETUJUAN... II HALAMAN PERSEMBAHAN... III PERNYATAAN... IV KATA PENGANTAR... V DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... I HALAMAN PERSETUJUAN... II HALAMAN PERSEMBAHAN... III PERNYATAAN... IV KATA PENGANTAR... V DAFTAR ISI... VII DAFTAR GAMBAR... X DAFTAR TABEL... XIV DAFTAR LAMPIRAN... XVI DAFTAR

Lebih terperinci

Kebutuhan Informasi Perencanaan Sumberdaya Air dan Keandalan Ketersediaan Air yang Berkelanjutan di Kawasan Perdesaan

Kebutuhan Informasi Perencanaan Sumberdaya Air dan Keandalan Ketersediaan Air yang Berkelanjutan di Kawasan Perdesaan Kebutuhan Informasi Perencanaan Sumberdaya Air dan Keandalan Ketersediaan Air yang Berkelanjutan di Kawasan Perdesaan M. Yanuar J. Purwanto a dan Sutoyo b Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas

Lebih terperinci

LAPORAN PERJALANAN EKSKURSI WADUK CIRATA DAN JATILUHUR

LAPORAN PERJALANAN EKSKURSI WADUK CIRATA DAN JATILUHUR LAPORAN PERJALANAN EKSKURSI WADUK CIRATA DAN JATILUHUR Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perancangan Infrastruktur Keairan Dosen Pengampu: Dr. Ing. Ir. Dwita Sutjiningsih, Dipl. HE Evi Anggraheni,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira.

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan air (dependable flow) suatu Daerah Pengaliran Sungai (DPS) relatif konstan, sebaliknya kebutuhan air bagi kepentingan manusia semakin meningkat, sehingga

Lebih terperinci

PANDUAN DASAR WATERCAD VERSI 5

PANDUAN DASAR WATERCAD VERSI 5 PANDUAN DASAR WATERCAD VERSI 5 WaterCAD.ico DISUSUN Oleh : GIGIH YULI ASMARA, ST. MALANG, 24 APRIL 2009 KATA PENGANTAR Assalamu alaikum Wr. Wb. Puji syukur senantiasa kami haturkan kehadirat Allah SWT,

Lebih terperinci

INDONESIA WATER LEARNING WEEK WATER SECURITY FOR INDONESIA WATER ENERGY ENERGY FOOD NEXUS INSTITUTIONAL ASPECTS OF WRM

INDONESIA WATER LEARNING WEEK WATER SECURITY FOR INDONESIA WATER ENERGY ENERGY FOOD NEXUS INSTITUTIONAL ASPECTS OF WRM INDONESIA WATER LEARNING WEEK WATER SECURITY FOR INDONESIA WATER ENERGY ENERGY FOOD NEXUS INSTITUTIONAL ASPECTS OF WRM MASALAH KELEMBAGAAN Tingkat DAS Tingkat Pusat Dewan SDA Nasional Presiden Kem. PU

Lebih terperinci

dilakukan pemeriksaan (validasi) data profil sungai yang tersedia. Untuk mengetahui

dilakukan pemeriksaan (validasi) data profil sungai yang tersedia. Untuk mengetahui 55 4.2 Validasi Data Profil Sungai Sebelum dilakukan pengujian model sistem polder Pluit pada program, maka harus dilakukan pemeriksaan (validasi) data profil sungai yang tersedia. Untuk mengetahui validasi

Lebih terperinci

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR - 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR I. UMUM Air merupakan karunia Tuhan sebagai salah satu sumberdaya

Lebih terperinci

Proses Pembuatan Waduk

Proses Pembuatan Waduk BENDUNGAN 1.UMUM Sebuah bendungan berfungsi sebagai penangkap air dan menyimpannya dimusimhujan waktu air sungai mengalir dalam jumlah besar dan yang melebihi kebutuhan baik untuk keperluan irigasi, air

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Penjualan Pada saat perusahaan menjual barang dagangnya, maka diperoleh pendapatan. Jumlah yang dibebankan kepada pembeli untuk barang dagang yang diserahkan merupakan

Lebih terperinci

Bab IV Analisis Data

Bab IV Analisis Data Bab IV Analisis Data IV.1. Neraca Air Hasil perhitungan neraca air dengan debit andalan Q 8 menghasilkan tidak terpenuhi kebutuhan air irigasi, yaitu hanya 1. ha pada musim tanam I (Nopember-Februari)

Lebih terperinci

Sungai dan Daerah Aliran Sungai

Sungai dan Daerah Aliran Sungai Sungai dan Daerah Aliran Sungai Sungai Suatu alur yang panjang di atas permukaan bumi tempat mengalirnya air yang berasal dari hujan disebut alur sungai Perpaduan antara alur sungai dan aliran air di dalamnya

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan I - 1

Bab 1 Pendahuluan I - 1 Bab 1 Pendahuluan I - 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Air merupakan kebutuhan hidup yang sangat mendasar bagi makhluk hidup, namun hingga kini belum semua masyarakat mampu menikmatinya secara maksimal.

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG PESERTA JADWAL DAN LOKASI PELAKSANAAN. Lampiran Surat Nomor : Tanggal :

LATAR BELAKANG PESERTA JADWAL DAN LOKASI PELAKSANAAN. Lampiran Surat Nomor : Tanggal : Lampiran Surat Nomor : Tanggal : LATAR BELAKANG Sehubungan dengan pelaksanaan studi Master Plan Program NCICD (National Capital Integrated Coastal Development), salah satu aspek penting yang perlu dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air dan sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang

BAB I PENDAHULUAN. Air dan sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air dan sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dijaga kelestarian dan pemanfaatannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai Pasal

Lebih terperinci