HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Hadian Hardja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Struktur Organisasi dan Tata Kerja RSUD Dr. Moewardi RSUD Dr Moewardi sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, sebagaimana disebutkan di dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomer 8 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jawa Tengah mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan upaya penyembuhan, pemulihan, peningkatan, pencegahan, pelayanan rujukan, dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Penyelenggaraan tugas pokok yang dimaksud diatas, RSUD Dr. Moewardi mempunyai fungsi : 1. Perumusan kebijakan teknis di bidang pelayanan kesehatan 2. Pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah di bidang pelayanan kesehatan 3. Penyusunan rencana dan program, monitoring, evaluasi dan pelaporan di bidang pelayanan kesehatan 4. Pelayanan medis 5. Pelayanan penunjang medis dan non medis 6. Pelayanan keperawatan 7. Pelayanan rujukan 8. Pendidikan dan pelatihan 9. Penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat 10. Pengelolaan keuangan dan akuntansi 40
2 Pengelolaan urusan kepegawaian, hukum, hubungan masyarakat, organisasi dan tatalaksana, serta rumah tangga, perlengkapan dan umum. Organisasi RSUD Dr. Moewardi yang terdiri dari : 1. Direktur 2. Wakil Direktur Pelayanan, membawahi : a). Bidang Pelayanan Medis; b). Bidang Pelayanan Keperawatan; c). Bidang Pelayanan Penunjang. 3. Wakil Direktur Keuangan, membawahi : a). Bidang Anggaran dan Perbendaharaan b). Bidang Akuntansi dan Verifikasi c). Bidang Pengelolaan Pendapatan 4. Wakil Direktur Umum, membawahi : a). Bagian Perencanaan b). Bagian Sekertariat c). Bagian Organisasi dan Kepegawaian d). Bagian Pendidikan dan Penelitian 5. Kelompok Jabatan Fungsional Lebih jelasnya berikut ini bagan Struktur Organisasi RSUD Dr. Moewardi secara menyeluruh :
3 42 STRUKTUR ORGANISASI RSUD DR MOEWARDI TMT. 02 JANUARI 2013 DIREKTUR Drg. R. BASOEKI SOETARDJO, MMR NIP WAKIL DIREKTUR PELAYANAN DIRANGKAP WADIR UMUM SBG PLT - WAKIL DIREKTUR KEUANGAN Drs. SYAHRUDIN HAMZAH, SE, MM NIP WAKIL DIREKTUR UMUM Dr. NANA HOEMAR DEWI, M. Kes NIP BIDANG PELAYANAN MEDIK BIDANG PELAYANAN KEPERAWATAN BIDANG PELAYANAN PENUNJANG BIDANG ANGGARAN & PERBENDAHARAAN BIDANG AKUNTANSI & VERIFIKASI BIDANG PENGELOLAAN PENDAPATAN BAGIAN PERENCANAAN BAGIAN SEKRETARIAT BAGIAN ORGANISASI & KEPEGAWAIAN BAGIAN PENDIDIKAN & PENELITIAN Drg. IDA WITIASATI, M.Kes NIP SUKARDI SUGENG RAHMAD, SKP,MPH NIP ARI SUBAGIO, SE, MM NIP KATINO ATMOSUWARNO, SE, MM NIP BUDI IRIANTO, SE NIP Drs. HENDRAJANA, MM NIP Drs. WIDO NIP SLAMET GUNANTO, SKM, M.Kes NIP Drs. ROSYID SUKIONO, MM NIP Drs. BAMBANG SUGENG WIJONARKO, MM NIP SEKSI SUMBER DAYA PELAYANAN MEDIS Dr. ROH HARDJANTO NIP SEKSI SUMBER DAYA PELAYANAN KEPERAWATAN EKO HARYATI, Skep NIP SEKSI SUMBER DAYA PELAYANAN PENUNJANG TITIEK PRAPTINI, SKM,M.Kes NIP SEKSI PENYUSUNAN & EVALUASI ANGGARAN GINI RATMANTI, SKM, M.Kes NIP SEKSI AKUNTANSI KEU & MANAJEMEN ARIS SUSENO, SE, MM NIP SEKSI PENGEMBANGAN PENDAPATAN SUTASMO, SE NIP SUB BAGIAN BINA PROGRAM POERWANTO, SKM, MSi NIP SUB BAGIAN TATA USAHA SIGIT CATUR HARJANTO, SH NIP SUB BAGIAN ORG& ADMINISTRASI PEGAWAI MULYATI, SH,M.Kes NIP SUB BAGIAN PEDIDIKAN & PELATIHAN Drs MUKTIYO, MM NIP SEKSI MUTU PELAYANAN MEDIS Dr. HARSINI, Sp.P NIP SEKSI MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN SANTOSO SEKTI W, Skep, Ns NIP SEKSI MUTU PELAYANAN PENUNJANG WENI CHRISHARTOYO, SST NIP SEKSI PERBEND & PENT. PENGELUARAN PUJIATMO SUGENG, AKS, MM NIP SEKSI VERIFIKASI MUH. MANSUR, SE, MM NIP SEKSI PENATAUSAHAAN PENDAPATAN SRI WAHYUNI, Skep, MM NIP SUB BAGIAN MONITORING & EVALUASI Drs. DARSONO, Apt NIP SUB BAGIAN RUMAH TANGGA AGUS ISMU HARTANTO, S.SiT NIP SUB BAGIAN MUTASI PEGAWAI BUDI SARSITO, SKM NIP SUB BAGIAN PENELITIAN & PERPUSTAKAAN Drg. ARYOSENO NIP Sumber : Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jawa Tengah SUB BAGIAN PEMASARAN TUTIK NURANI, S.Kep NIP SUB BAGIAN HUKUM DAN HUMAS Dr. ELYSA NIP SUB BAGIAN PENGEMBANGAN PEGAWAI ASRI ASTHERIA, S.Sos NIP SUB BAGIAN KERJASAMA PENDIDIKAN Drs. ANGGITA PRATAMILANGSA, MM NIP Gambar 3. Struktur Organisasi
4 43 Upaya untuk menunjang pengelolaan, rumah sakit dibentuk komite medik yang ditetapkan dengan Surat Keputusan direktur sesuai dengan Peraturan Perundang- Undangan yang berlaku. Komite medik RSUD Dr. Moewardi dengan susunan organisasinya terdiri dari : a. Ketua; b. Wakil Ketua; c. Sekertaris; d. Sub komite Kredensial, bertugas menapis profesionalisme staf medis; e. Sub komite Mutu Profesi, bertugas mempertahankan kompetensi dan profesionalisme staf medis; f. Sub Komite Etik dan Disiplin Profesi, bertugas menjaga disiplin, etika dan perilaku profesi staf medis. Kaitannya dengan organisasi RSUD Dr. Moewardi tersebut diatas, memberi gambaran pentingnya hubungan Direktur dengan Komite Medik. Direktur menetapkan kebijakan, prosedur dan sumber daya yang di perlukan dalam menangani pengelolaan rumah sakit, sedangkan Komite Medik menangani masalah keprofesian dengan mengendalikan staf medis yang melakukan pelayanan medis di rumah sakit. Pengendalian tersebut dilakukan dengan mengatur secara rinci kewenangan melakukan pelayanan medis. Pengendalian ini dilakukan secara bersama oleh Direktur dan Komite Medik. Komite Medik melakukan kredensial meningkatkan mutu profesi dan menegakkan disiplin profesi serta merekomendasikan tindak lanjutnya kepada Direktur, sedangkan Direktur menindaklanjuti rekomendasi Komite Medik dengan mengerahkan semua sumber daya agar profesionalisme para staf medis dapat diterapkan di rumah sakit. Komite Medik memegang peran utama dalam menegakkan profesionalisme staf medik yang bekerja di rumah sakit sehingga dengan profesionalisme dapat meminimalisir terjadinya kesalahan bagi tenaga
5 44 medis dalam menjalankan tugasnya. Organisasi RSUD Dr Moewardi dalam melaksanakan tugasnya wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi secara vertikal dan horisontal baik dalam lingkungan masing-masing maupun antar satuan organisasi dalam lingkungan RSUD Dr. Moewardi Lebih jelasnya mengenai susunan organisasi Komite Medik dapat dilihat pada bagan sebagai berikut : STRUKTUR ORGANISASI KOMITE MEDIK NOMOR: 188.4/2540/2012 Sumber : Papan Monograf KETUA Prof Dr. SUROTO, dr., SpS(K) WAKIL KETUA DJOKO SUSIANTO, dr., SpM SEKRETARIS ANA RIMA, dr., SpP SUB KOMITE KREDENSIAL TRISULO W, dr., SpJP(K), FIHA, FAPSC, FasCC Dr. SUPRIYADI HARI R, dr., SpOG SUB KOMITE MUTU PROFESI SUBANDRIJO, dr., SpB, SpBTKV Dr. SUGIARTO, dr., SpPD SUB KOMITE ETIKA DAN DISIPLIN PROFESI Dr. SRI SULISTYOWATI, dr., SpOG(K) MARDIATMI, dr., SpKJ(K) Gambar 4. Struktur Organisasi Komite Medik
6 45 B. Pembahasan 1.Tanggung Jawab Hukum Keperdataan Atas Kelalaian Yang Dilakukan Seorang Dokter di RSUD Dr. Moewardi Pemahaman yang relatif minimal yang dimiliki seorang pasien atau masyarakat awam saat ini sulit untuk membedakan antara risiko medis dengan malpraktik. Masyarakat cenderung lebih melihat hasil pengobatan dan perawatan, namun hasil dari pengobatan dan perawatan tidak dapat diprediksi secara pasti. Hal ini didasarkan pada kesembuhan penyakit yang tidak semata berdasarkan pelayanan medis, namun juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, seperti kemungkinan adanya komplikasi, daya tahan tubuh yang tidak sama, dan kepatuhan dalam standar profesi yang telah berlaku. Praktiknya, seorang dokter maupun tenaga kesehatan hanya memberikan jaminan proses yang sebaik mungkin (inspanningverbintenis), tidak menjanjikan hasil (resultaatverbintenis) (Ns. Ta adi, 2013 : 54). Kurangnya pemahaman tersebut menjadikan pasien atau keluarga bahkan masyarakat lainnya menjadi semakin kritis untuk mengajukan gugatannya jika mereka mendapati bahwa ada yang kurang kaitannya dengan penyembuhan maupun pelayanan kesehatan yang diberikan kepadanya. Sampai saat ini belum ada jaminan bahwa suatu pelayanan medis yang diberikan oleh seorang dokter dapat memberikan kepuasan yang sempurna. Suatu saat tertentu pelayanan medis tersebut justru menimbulkan kerugian besar bagi pasien seperti misalnya cacat atau berakibat kematian pada si pasien, maka dari itu seorang pasien mempunyai hak untuk melakukan gugatan secara tertulis atas hal tersebut. Dasar dari pernyataan tersebut tertuang di dalam Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 66 ayat (1), yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada
7 46 ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Untuk lebih memahami tentang mekanisme gugatan adanya kemungkinan terjadinya kelalaian (malpraktik) dan klasifikasinya dapat dilihat dalam bagan berikut ini : Gugatan terjadinya Kelalaian Penilaian dengan Tolak ukur standar profesi Ada/ tidaknya Culpa Culpa Lata (Kesalahan berat) Culpa Levis (Kesalahan ringan) Jika tidak ada Kesalahan Sanksi dapat berupa : Pertanggung Jawaban 1. Perdata Berupa : Memenuhi 2. Administrasi 1. Pidana Standar Profesi 2. Administrasi 3. Perdata Bebas Gambar 5. Mekanisme Gugatan Membahas kaitannya dengan tanggung jawab hukum keperdataan yang ada di RSUD Dr. Moewardi tentunya kita perlu memahami terlebih dahulu tentang jenis tanggung gugat di dalam hukum perdata. Menurut Sofyan Dahlan dalam bukunya menyebutkan beberapa macam tanggung gugat seperti (Sofyan Dahlan, 1999 : 34) :
8 47 1. Contractual liability, yaitu tanggung gugat yang timbul akibat dilaksanakannya suatu kewajiban dari hubungan kontraktual. Dalam bidang pelayanan kesehatan, kewajiban yang harus dilaksanakan adalah kontrak upaya ( inspanning verbitenis), bukan kontrak hasil (resultaatverbitenis), sehingga helath care provider hanya bertanggung gugat atas upaya medis yang tidak memenuhi standar. 2. Liability in tort. Tanggung gugat ini tidak berdasarkan adanya contractual obligation, namun atas perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad). 3. Strict liability. Sering disebut tanggung gugat tanpa kesalahan (liability without fault) karena seseorang harus bertanggung jawab meskipun tidak melakukan kesalahan. Tanggung gugat seperti ini biasanya berlaku untuk product sold atau article of commerence. Di negara common law, produk darah sering dianggap sebagai product sold sehingga produsennya harus bertanggung gugat untuk setiap tranfusi yang menularkan virus hepatitis atau HIV. 4. Vicarious liability. Tanggung gugat yang timbul karena kesalahan yang dibuat oleh sub- ordinat. Dalam kaitannya dengan tanggung gugat jenis ini rumah sakit (sebagi employer) dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan (employee) yang bekerja dirumah sakit tersebut. Melihat keseluruhan tanggung gugat diatas RSUD Dr Moewardi dapat di klasifikasikan dalam tanggung gugat yang timbul karena kesalahan yang dibuat oleh sub- ordinat (Vicarious liability). Rumah sakit bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh tenaga kesehatannya. Pada dasarnya tanggung jawab keperdataan bertujuan untuk memperoleh ganti kerugian yang diderita oleh si penderita atau pasien. Ketika seorang pasien mengeluhkan hal yang menurutnya merugikan maka seorang pasien dapat mengajukan keluhan terhadap pihak yang
9 48 bersangkutan. Bentuk dari hubungan hukum antara seorang dokter dan pasien adalah suatu perikatan yang dapat lahir dari suatu perjanjian atau dari undang- undang. Pada perikatan akan terdapat suatu kata sepakat dari para pihak untuk melakukan perbuatan hukum tertentu di bidang jasa pelayanan kesehatan dan objeknya adalah pelayanan kesehatan. Pada perikatan ini seorang dokter dituntut untuk memberikan prestasi berupa pelayanan semaksimal mungkin. Ukuran yang dipakai untuk meminta tanggung jawab hukum seorang dokter adalah dengan melihat apabila sudah terjadi pelanggaran terhadap standar ukuran profesi dokter. Dasar atas tanggung jawab keperdataan tersebut dapat dilihat di dalam Pasal 1365 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kesalahan itu, mengganti kerugian tersebut seorang pasien dapat menggugat seorang dokter apabila dokter tersebut telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Hal ini dapat diajukan apabila sudah terdapat fakta yang berwujud suatu perbuatan melawan hukum yang jelas. Menurut pasal ini syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dikatakan melawan hukum adalah (Bahder Johan Nasution, 2005:66) : 1 Pasien harus mengalami kerugian 2 Ada kesalahan 3 Ada hubungan kausal antara kesalahan dengan kerugian 4 Perbuatan tersebut melawan hukum. Pertanggung jawaban secara keperdataan tidak hanya untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati- hatinya, dalam hal ini juga di pertegas bahwa tanggung jawab ini juga dikaitkan dengan kelalaian dan kurang hati- hatinya seorang dokter dalam menjalankan profesinya, sehingga dituntut untuk selalu tepat dalam memberikan suatu pelayanan
10 49 kesehatan kepada pasien. Pasal 1239 yang mengatur mengenai wanprestasi juga dapat menjadi dasar dari pertanggung jawaban keperdataan, karena wanprestasi di dalam pelayanan medis ditimbulkan dari tindakan seorang dokter berupa tindakan medis yang tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Pelayanan medis ini dapat berupa suatu tindakan kurang hati- hati atau akibat kelalaian dari seorang dokter yang bersangkutan sehingga menyalahi tujuan yang disepakati. Kaitannya dengan masalah pertanggung jawaban, perlu diperhatikan pula bahwa baik dokter maupun pasien memiliki hak dan kewajiban yang dalam hal pelayanan medis sangat diutamakan pelaksanaannya. Mengacu pada ketentuan Pasal 50 Undang- undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang secara jelas menyebutkan beberapa hak-hak dokter tersebut antara lain: 1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; 2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; 3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; 4. Menerima imbalan jasa. Selain adanya hak-hak yang dimiliki seorang dokter sebagai tenaga medis, perlu diketahui pula ada beberapa kewajiban yang melekat pada profesi seorang dokter, dimana kewajiban-kewajiban itu diatur dalam ketentuan Pasal 51 Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, antara lain: 1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
11 50 2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang memiliki keahlian atau kemampuan lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; 3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; 4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; 5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Dokter sebagai manusia biasa yang memiliki keahlian dan profesi membuktikan diri untuk memberikan pelayanan medis semaksimal mungkin yang secara moral dan disiplin membaktikan diri untuk perikemanusiaan akan selalu mengutamakan kewajiban diatas hak-hak atau kepentingan pribadinya. Aegroti salus lex suprema yang berarti keselamatan pasien adalah hukum tertinggi (yang utama), menjadi salah satu semboyan yang terpatri dalam jiwa seorang dokter. Kewajiban seorang dokter tidak hanya kewajiban umum tetapi meliputi juga kewajiban terhadap pasien yang terdapat pada Pasal 10 Kode Etik Kedokteran Indonesia yaitu setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien, dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut, kemudian pada Pasal 11 yaitu setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya, Pasal 12 yaitu setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia dan Pasal 13 yaitu setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
12 51 tugas perikemanusiaan kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. Kemudian kewajiban terhadap teman sejawat terdapat pada Pasal 14 dan 15 Kode Etik Kedokteran Indonesia yang menyebutkan bahwa setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan dan setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis dan kewajiban terhadap diri sendiri terdapat pada Pasal 16 dan 17 Kode Etik Kedokteran Indonesia yang menyebutkan bahwa setiap dokter harus memelihara kesehatannya supaya dapat bekerja dengan baik dan juga setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/ kesehatan. Tidak menutup kemungkinan jika seorang dokter dalam melakukan pekerjaannya gagal menyelamatkan pasien karena alasanalasan diluar kekuasaan seorang dokter. Akan ada pertanggung jawaban hukum keperdatan bagi rumah sakit dimana dokter tersebut bekerja jika memang benar kesalahan tersebut murni kelalaian yang telah dilakukan seorang dokter di RSUD Dr. Moewardi. Komite medik yang dibentuk oleh Direktur RSUD Dr. Moewardi sebagai organisasi non struktural mempunyai peran dalam upaya peningkatan keselamatan pasien. Menurut Prof. Dr. Suroto, dr., SpS(K) selaku ketua Komite Medik menyatakan bahwa tanggung jawab keperdataan bagi dokter yang bersangkutan atas kesalahan/ kelalaian yang dilakukan disikapi dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan, dalam hal ini komite medik lebih mengarah kepada pencegahan dan peningkatan profesi (Prof. DR. Suroto, dr, SpS(K), 16 Juli 2013 :10.15 WIB). Komite medik mempunyai perangkat organisasi seperti sub komite mutu profesi yang mempunyai tugas menjaga mutu profesi medis, sub komite etik dan disiplin profesi yang mempunyai tugas melindungi
13 52 pasien dari pelayanan staf medis yang tidak memenuhi syarat atau tidak layak serta memelihara dan meningkatkan mutu profesionalisme staf medis di rumah sakit. Permasalahan sengketa medis yang terjadi setelah adanya suatu dugaan atas kelalaian yang dilakukan oleh dokter di rumah sakit tentunya menjadi permasalahan yang cukup dominan terjadi di setiap rumah sakit, dalam hal serupa yang terjadi di RSUD Dr. Moewardi, menurut dr. Elysa selaku kepala sub bagian humas dan hukum RSUD Dr. Moewardi menyatakan bahwa prosedur penyelesaian yang akan dilakukan oleh rumah sakit yang pertama adalah pihak pasien/ keluarga membuat keluhan secara tertulis dari keluarga kemudian pihak rumah sakit akan melakukan mediasi terlebih dahulu dengan mengumpulkan semua pihakpihak yang terkait dengan sengketa tersebut yaitu dokter, perawat, pasien wadir pelayanan dan humas. Hal ini sejalan dengan ketentuan di dalam Pasal 29 Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi. Apabila bisa di selesaikan secara kekeluargaan maka sengketa tersebut dapat diselesaikan sampai tahap tersebut saja, namun apabila pihak pasien masih belum bisa menerima sampai adanya tuntutan maka tim sengketa medis yang akan menyelesaikan dengan melakukan rapat intern terhadap semua pihak yang terkait (dr. Elysa, 1 Juni 2013 : WIB). Penyelesaian kasus atas keluhan dari pasien yang merasa dirugikan memang sampai saat ini di RSUD Dr. Moewardi belum pernah sampai ke pengadilan. Rumah sakit akan lebih mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan dengan jalan mediasi walaupun rumah sakit akan tetap bertanggung jawab dengan jalan mengganti kerugian dalam hal ini merupakan pertanggung jawaban secara keperdataan.
14 53 Selain ganti kerugian berupa uang, di rumah sakit ini juga memberikan pertanggung jawabannya dengan cara membebaskan seluruh biaya perawatan yang telah diterima oleh pasien dengan harapan pasien dapat lebih terbantu dengan hal tersebut. Pertanggung jawaban berupa kerugian merupakan pertanggung jawaban secara hukum keperdataan karena kaitannya dengan pasal 1365 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata yang menyebutkan mengenai perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian terhadap orang lain mewajibkan orang tersebut untuk mengganti kerugian yang ditimbulkan. Seorang dokter yang tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan standar profesi kedokteran dan tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan dapat dikatakan telah melakukan kesalahan/ kelalaian, di RSUD Dr. Moewardi dikenal dengan sebutan SOP (Standart Operational Prosedure). Menurut dr. Roh hardjanto selaku kepala seksi sumber daya pelayanan medis menyatakan bahwa yang dimaksud SOP (Standart Operational Prosedure) adalah langkah baku untuk menyelesaikan proses kerja rutin yang berisi penjelasan atas standart profesi yang dibuat oleh Kolegium (dr. Roh Hardjanto, 1 Juni 2013 : 9.30 WIB. Salah satu prosedur tetap pelayanan profesi di rumah sakit ini adalah prosedur terhadap pelayanan operasi gawat darurat diluar jam kerja yang dilakukan oleh dokter spesialis anestesi atau residen anestesi yang pertama, dokter operator membuat konsulan / permintaan ke dokter spesialis anestesi, kemudian dokter yang bersangkutan yang telah memenuhi syarat melakukan pemeriksaan pre operatif (anamnesis dan pemeriksaan fisik), pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan, membuat kesimpulan diagnosis anestesi, membuat informed consent, memerintahkan perawat di unit gawat darurat untuk mempersiapkan segala keperluan pasien, 30 menit sebelum operasi pasien diantar ke kamar operasi, persiapan di kamar operasi meliputi persiapan mesin anestesi monitor, alat dan obat yang akan dipakai, alat dan obat
15 54 emergensi, terakir prosedur tindakan (anestesi umum, anestesi regional, maupun bentuk lain) diatur sesuai acuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kelalaian yang dilakukan oleh seorang dokter memang dapat digugat ganti rugi secara perdata dalam hal pasien menderita kerugian secara materiil. Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam Pasal 58 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya. Setiap orang yang merasa dirugikan dalam hal ini yang dirugikan adalah pasien, dapat menuntut ganti kerugian terhadap seorang dokter jika di dalam upaya pelayanan kesehatan yang di berikan mengakibatkan dirinya menderita cacat fisik maupun kerugian yang lain terkait dengan kesehatannya. Namun tuntutan ganti rugi tersebut juga perlu memperhatikan posisi gugatan yang diajukan, dengan melihat apa yang dilakukan seorang dokter terhadap pasien tersebut memang murni untuk menyelamatkan pasien tersebut atau melanggar aturan yang berlaku di dalam standar profesi kedokteran yang ada, hal ini dapat dilihat di Pasal 58 ayat (2) yang menyatakan Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. Perlu diketahui meskipun antara dokter dan pasien terikat dalam hubungan dengan dasar perjanjian, pasien mungkin sulit untuk menggugat seorang dokter dengan dasar wanprestasi, karena ukuran seorang dokter melakukan kesalahan tidak hanya dokter dapat memenuhi prestasi saja melainkan seorang dokter dalam melakukan pelayanan medis dapat memenuhi standar profesi kedokteran atau tidak, maka dari itu dasar
16 55 gugatan terhadap dokter dalam hal kelalaian yang dilakukannya dapat dibuktikan dengan Pasal yang mengatur mengenai perbuatan melawan hukum yaitu Pasal 1365 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata. Hubungan dokter dengan pasien dapat dihubungkan dengan pasal tersebut, dengan menetapkan unsur- unsur dari perbuatan melawan hukum salah satunya adalah dengan adanya perbuatan melanggar hukum dengan adanya kelalaian yang dilakukan oleh dokter itu sendiri kemudian perbuatan tersebut menimbulkan kerugian bagi pasien sehingga terdapat hubungan sebab dan akibat antara kelalaian yang dilakukan dokter tersebut dengan kerugian yang diderita pasien tersebut. Setiap orang yang mengatakan bahwa terdapat suatu perbuatan melawan hukum, tentunya pihaknya wajib untuk membuktikan jika telah terjadi suatu perbuatan melawan hukum tersebut dalam hal ini membuktikan kelalaian/ kesalahan dokter. Pasal 1865 Kitab Undangundang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri mau pun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan dengan hak atau peristiwa tersebut. Selain sub bagian humas dan hukum, bagian pelayanan medis di RSUD Dr. Moewardi tentunya juga memiliki peran dalam hal penyelesaian kasus gugatan yang diajukan oleh seorang pasien terhadap seorang dokter. Menurut dr. Roh Hardjanto selaku kepala seksi sumber daya pelayanan medis menyatakan bahwa hal yang pertama dilakukan dalam penyelesaian sengketa medis adalah dengan mengundang pihakpihak yang terkait terlebih dahulu. Kemudian statusnya akan dilihat, siapa yang melakukan dan semua yang terkait akan dikumpulkan kemudian dibicarakan bersama agar tidak menjadi masalah dengan kata lain di
17 56 mediasi kan terlebih dahulu, agar tidak timbul permasalahan lagi diluar (dr. Roh Harjanto, 1 Juni 2013 : 9.30 WIB). Permasalahan hukum atau kasus hukum yang terjadi pada rumah sakit ini pada dasarnya akan diusahakan melakukan penyelesaian dengan jalan melakukan mediasi, dengan begitu permasalahan yang terjadi tidak menjadi berlarut- larut dan diselesaikan secara baik- baik. Bentuk pertanggung jawaban keperdataan pada dasarnya akan terealisasi jika semua hal yang harus dipenuhi dapat tercapai, seperti pelayanan medis yang diberikan memang benar telah melanggar aturan dan standar profesi yang berlaku serta pembuktian bahwa dokter tersebut telah benar- benar melakukan kesalahan atau kelalaian yang menimbulkan kerugian terhadap pasien maupun keluarga. 2. Perlindungan hukum dokter atas kelalaian yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Dengan adanya perkembangan dunia kesehatan saat ini, masyarakat menjadi semakin sadar atas hak-haknya terkait dengan masalah pelayanan medis. Hal tersebut membuat masyarakat secara otomatis menuntut adanya transparansi pelayanan medis, terutama dalam kaitan hubungan dokter dengan pasien dan menyangkut keluhan yang dialami pasien serta pengobatan yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien. Hal yang sangat mendasar dalam pelayanan medis yang sering kali dipermasalahkan masyarakat, pasien adalah menyangkut mutu pelayanan, penerapan aturan yang berlaku, kedisiplinan waktu atas pelayanan yang diberikan keterbukaan/ transparansi yang sering diduga melakukan kelalaian medis. Ditinjau dari aspek legal rumah sakit dimana seorang dokter selaku pemberi pelayanan medis dalam melaksanakan profesinya tentunya harus mendapat perlindungan hukum demikian juga pasien selaku penerima pelayanan kesehatan mempunyai hak dan kewajiban
18 57 sehingga diharapkan dapat tercipta hubungan yang harmonis dalam pelayanan kesehatan agar hubungan antara dokter dengan pasien dan juga rumah sakit merupakan hubungan yang sangat kompleks dan terus berkembang sesuai dengan perubahan di dalam kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi dibidang kedokteran. Hubungan antara seorang dokter dan pasien sering kali terdapat beberapa permasalahan dengan adanya dugaan terjadinya kelalaian medis yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap pasien, hal tersebut dapat juga disebabkan karena kurangnya pemahaman atau persepsi yang tidak sama atas hak dan kewajiban baik pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Permasalahan hukum yang timbul tersebut dapat diakibatkan kesalahan atau kelalaian seorang dokter yang bekerja di rumah sakit atau diakibatkan kesalahan dalam menerapkan kebijaksanaan atas peraturan dan juga diakibatkan kekurangan pengetahuan seorang dokter tentang hukum kesehatan atau peraturan Perundang- Undangan dibidang kesehatan. Seorang dokter tentunya di dalam melaksanakan tugasnya perlu bersikap hati- hati untuk mengambil suatu tindakan medis dengan menerapkan beberapa etika atau aturan yang berlaku di dalam bidang kedokteran maupun kesehatan, jika seorang dokter terbukti melanggar atauran yang berlaku dalam hal ini SOP (Standar Operational Prosedure) maka tidak menutup kemungkinan dokter tersebut dapat digugat oleh pasien yang merasa dirugikan. Dugaan kelalaian yang menyebabkan kerugian terhadap pasien maupun keluarga pasien di RSUD Dr. Moewardi diantaranya adalah terkait dengan tindakan pembedahan terapi pemberian obat atau suntikan serta kurang cermat dalam menetapkan diagnosa dan lain- lain. Sehubungan dengan hal tersebut seorang dokter memerlukan suatu perlindungan hukum baik secara preventif maupun represif. Hal yang menjadi dasar adanya perlindungan hukum bagi seorang dokter adalah
19 58 dengan mengacu pada Pasal 50 Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran yang menyebutkan bahwa seorang dokter mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. Rumah sakit harus dapat memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi seluruh dokter yang memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit melalui pembentukan berbagai perangkat aturan di rumah sakit meliputi, peraturan internal rumah sakit (hospital by laws), standar prosedur operasional dan berbagai pedoman pelayanan kesehatan serta melalui penyediaan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang medikolegal. Hal lain yang perlu mendapat perhatian bersama oleh seluruh pihak di rumah sakit adalah menyangkut pelaksanaan etika profesi dan etika rumah sakit sehingga penyelenggaraan Pelayanan secara beretika akan sangat mempermudah seluruh pihak dalam menegakkan aturan-aturan hukum. Dasar atas ketentuan yang menyebutkan bahwa rumah sakit mempunyai kewajiban untuk memberi perlindungan hukum terhadap seorang dokter tertuang di dalam Pasal 29 ayat (1) Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit yang menyebutkan bahwa rumah sakit mempunyai kewajiban melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas. Menurut dr. Elyza selaku Kepala Sub bagian Humas dan Hukum menyatakan bahwa di dalam upaya perlindungan hukum yang diberikan rumah sakit terhadap dokter yang ada di RSUD Dr. Moewardi, rumah sakit memberi perlindungan seperti (dr. Elyza, 1 Juni 2013: WIB) : 1. Intern kebijakan pelayanan 2. Standar Pelayanan 3. Asuransi Tanggung Gugat Profesi Dokter
20 59 4. SOP (Standar Operational Prosedure) dengan adanya hal ini diharapkan RSUD Dr. Moewardi dapat terlindung dari komplain pasien. Kita ketahui, terdapat dua bentuk perlindungan hukum meliputi, perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum represif. Perlindungan hukum preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya sengketa sedangkan perlindungan hukum represif merupakan suatu bentuk perlindungan hukum yang timbul untuk menyelesaikan apabila terjadi suatu sengeketa. Perlindungan Hukum yang diberikan rumah sakit terhadap para dokter yang bekerja di RSUD Dr. Moewardi secara preventif, dalam bentuk upaya dalam peningkatan kualitas pelayanan diantaranya dengan penyelenggaraan ceramah ilmiah, diskusi, simposium, lokakarya dan sebagainya yang diikuti oleh seluruh dokter yang bekerja di RSUD Dr. Moewardi, yang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta keahlian seorang dokter dalam menjalankan profesinya, sehingga dengan adanya program tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko terjadinya kelalaian atau kesalahan di dalam menjalankan profesinya. Peningkatan kualitas bagi setiap dokter yang bekerja dirumah sakit ini tidak terlepas dari peran komite medik dalam rangka mewujudkan seorang dokter yang memiliki profesionalisme yang tinggi. Menurut Prof. Dr. Suroto, dr., SpS(K) selaku Ketua Komite Medik menyatakan bahwa program konkrit yang telah dilaksanakan RSUD Dr. Moewardi dalam rangka pengembangan profesionalisme yaitu dalam bentuk memberikan pendidikan tambahan, melakukan audit medik, melakukan kerjasama dengan komite lain seperti komite mutu dan komite keselamatan pasien (Dr. Suroto, dr., SpS(K), 6 Juli 2013: WIB). Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas setiap dokter yang bekerja di RSUD Dr. Moewardi.
21 60 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi dokter dapat dilihat sebagai upaya perlindungan hukum secara preventif dalam perspektif bahwa peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi seorang dokter akan dapat meminimalisir terjadinya kesalahan/ kelalaian dokter dalam menjalankan profesinya. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan, pemahaman dan kesadaran hukum masyarakat serta tuntutan pelayanan yang prima terhadap dokter yang bekerja di rumah sakit, maka profesi dokter pada saat ini dianggap rawan terhadap dugaan kelalaian yang berujung dengan gugatan hukum. Menyikapi hal tersebut maka profesi dokter perlu melakukan antisipasi dan penanganan risiko ( Risk Management), salah satu cara penanganan risiko adalah dengan cara mengalihkan risiko tersebut (Risk Transfer) yang tak terduga kepada pihak ketiga dalam hal ini pihak asuransi khususnya yang berkaitan dengan tuntutan ganti rugi material. Terkait dengan hal tersebut RSUD Dr. Moewardi berusaha mengalihkan risiko yang terkait dengan tuntutan ganti rugi kepada lembaga asuransi yang dalam hal ini disebut asuransi tanggung gugat profesi. Adanya kontrak antara RSUD Dr. Moewardi dengan PT. Asuransi Bumiputera Muda 1967 yang menyebutkan bahwa ruang lingkup pertanggungan menurut Rian Estiningsih selaku account officer liability PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967, adalah (Ryan Estiningsih, 3 Juni 2013: WIB) : 1. Pertanggungan asuransi proteksi dokter, khususnya aspek medikolegal yang ditanggung oleh pihak pertama kepada anggota pihak kedua dalam hal ini pihak pertama adalah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 dan pihak kedua adalah RSUD Dr. Moewardi. 2. Lingkup pertanggungan yang diberikan oleh pihak pertama kepada pihak kedua, mencangkup kerugian akibat menjalankan profesi medis yang secara hukum bertanggung jawab membayar
22 61 ganti rugi dari kerugian yang timbul dari cedera badan yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi di daerah lingkup hukum jaminan selama masa berlakunya polis yang berbentuk ganti rugi pasien dan biaya pengacara. 3. Objek yang dijamin dalam perjanjian asuransi ini adalah dokter yang bekerja di bawah naungan RSUD Dr. Moewardi yang diikutkan dalam program Asuransi Proteksi Profesi Dokter. 4. Sebagai kompensasi dari adanya pertanggungan tersebut, maka pihak kedua berkewajiban untuk membayar biaya yang disebut premi kepada pihak pertama. 5. Pertanggungan asuransi proteksi profesi dokter hanya berlaku di RSUD Dr. Moewardi/ dokter yang mempunyai surat ijin praktek (SIP) di RSUD Dr. Moewardi. Hal ini bisa di pandang sebagai upaya perlindungan hukum secara represif sehingga bisa memberikan rasa aman bagi profesi dokter dalam menjalankan tugasnya di RSUD Dr. Moewardi. Hal ini juga diakui oleh Prof. DR. Suroto, dr, SpS(K) selaku Ketua Komite Medik RSUD Dr. Moewardi, bahwa asuransi tanggung gugat profesi dokter ini dapat memberikan rasa tenang bagi dokter dalam menjalankan tugasnya (Prof. DR. Suroto, dr, SpS(K), 16 Juli 2013 :10.15 WIB) Selama kurun waktu 3 tahun kerjasama antara RSUD Dr. Moewardi dengan PT. Asuransi Bumiputera Muda 1967, terkait dengan pertanggungan risiko yang telah terealisasi dalam bentuk pembayaran klaim oleh pihak penanggung kepada pihak tertanggung mempunyai karakteristik bahwa profesi yang termasuk klasifikasi A (spesialis kebidanan dan kandungan dan spesialis anesthesi) dan klasifikasi B (spesialis bedah, mata dan THT) yang paling banyak realisasi klaimnya. Hal ini sesuai dengan format klasifikasi yang telah disusun oleh PT. Asuransi Bumiputera Muda 1967 bahwa klasifikasi A nilai preminya
23 62 adalah yang paling besar kemudian diikuti oleh klasifikasi B, C dan D dengan nilai premi dibawahnya secara berurutan, sedangkan nilai atau besaran premi berbanding lurus dengan besarnya risiko yang bisa diperkirakan Berikut daftar klasifikasi dokter dalam kaitannya dengan risiko profesi ganti rugi kepada pasien : 1. Dokter dengan klasifikasi A merupakan dokter spesialis khusus ber risiko tinggi meliputi kebidanan dan penyakit kandungan (SpOG). 2. Dokter dengan klasifikasi B merupakan dokter spesialis bedah dan/atau intervensi meliputi bedah umum (SpB), bedah urologi (SpU), bedah ortopedi (SpBO) atau SpOT (ortopedi dan traumatologi), bedah plastik (SpBP), bedah onkologi (SpB), bedah digestif (SpBD), bedah saraf (SpBS), bedah anak (SpBA), bedah thoraks (SpBT) didalamnya terdapat bedah jantung, mata (SpM), THT (SpTHT), gigi (Drg). Klasifikasi B ini dengan tingkat risiko dibawah klasifikasi A. 3. Dokter dengan klasifikasi C merupakan dokter spesialis bukan bedah dan atau intervensi meliputi penyakit dalam (SpPD), kesehatan anak (SpA), jantung dan pembuluh darah (SpJP), paru (SpP), Radiologi (SpRad), kulit dan kelamin (SpKK), saraf/ neurologi (SpS), psikiatri/ kesehatan jiwa (SpKJ), rehabilitasi medik (SpRM), patologi anatomik (SpPA), patologi klinik (SpPK), gizi klinik (SpGK), kedokteran olah raga (SpOR), kedokteran penerbangan (SpKP), kedokteran kelautan (SpKL), gigi (Drg) dokter gigi biasa dan dokter gigi tanpa bedah. Klasifikasi C ini dengan tingkat risiko dibawah klasifikasi B. 4. Dokter dengan klasifikasi D merupakan dokter umum dan dokter berpraktek umum meliputi farmakologi klinik ( SpFK), mikrobiologi klinik (SpMK), parasitologi klinik (SpPar), dokter okupasi (SpOK), andrologi (SpAnd), Forensik (SpF), dokter umum, residen. Klasifikasi D ini dengan tingkat risiko dibawah klasifikasi C.
24 63 Terkait dengan nilai klaim dibanding nilai premi yang dibayarkan dari tahun ke tahun terdapat penurunan nilai klaim dan nilainya jauh di bawah nilai premi yang dibayar oleh RSUD Dr. Moewardi dan bahkan untuk pertanggungan tahun ini selama kurun waktu 8 bulan dari satu tahun periode asuransi belum ada klaim sama sekali. Asuransi ini menjadi salah satu perlindungan hukum bagi dokter yang bekerja di RSUD Dr. Moewardi karena asuransi ini memiliki tujuan memberikan proteksi diri terhadap seorang dokter atas profesi yang akan berdampak pada ketenangan bekerja yang membuahkan kinerja pelayanan kesehatan kepada masyarakat semaksimal mungkin. Asuransi tanggung gugat profesi dokter dalam hal ini memberikan perlindungan berupa : 1. Bantuan hukum dan medikolegal kepada dokter yang menerima tuntutan dalam menjalani proses penyelesaian pada dugaan adanya kelalaian, dokter dibantu/ didampingi dalam melakukan proses pembelaan hukum. 2. Advokasi oleh tim Medikolegal yang handal sewaktu terjadi klaim, tim tersebut handal dalam bidang kedokteran maupun bidang hukum. 3. Melakukan upaya- upaya peningkatan kesadaran hukum, etik dan safe practice bagi tertanggung melalui penyuluhan medikolegal. 4. Biaya ganti rugi dapat dicairkan pada masa pra peradilan (atas persetujuan dokter dan tim medikolegal setelah melakukan analisis strategik medikolegal). 5. Menjamin juga tindakan yang dilakukan oleh asisten dokter (perawat, bidan), tindakan tersebut dibawah petunjuk dan kontrol pengawasan dokter. Terkait dengan beberapa hal tersebut maka asuransi tanggung gugat profesi dokter yang diikuti oleh RSUD Dr. Moewardi tersebut dapat dikatakan sebagai wujud perlindungan rumah sakit terhadap dokter yang
25 64 bekerja di RSUD Dr. Moewardi. Asuransi tanggung gugat profesi dokter dapat dikategorikan sebagai perlindungan hukum secara preventif karena sifat asuransi ini memberikan perlindungan atau proteksi diri seorang dokter sebelum adanya dugaan kelalaian dengan melakukan upaya- upaya peningkatan kesadaran hukum, etik dan safe practice bagi dokter melalui penyuluhan medikolegal berupa clinic risk management untuk pencegahan klaim serta teknik menghadapi tuntutan dan klaim yang benar. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya suatu komplain atau dugaan adanya kelalaian yang dilakukan seorang dokter karena kesadaran hukum, etik dan safe practice telah dicapai dengan baik. Asuransi ini juga dapat disebut sebagai perlindungan secara represif karena perlindungan hukum yang diberikan asuransi ini berupa proteksi diri seorang dokter setelah adanya komplain dan adanya dugaan kelalaian yang dilakukan seorang dokter. Bentuk dari perlindungan hukum yang diberikan berupa memberikan bantuan hukum bagi dokter dengan membayar ganti kerugian yang diajukan oleh pasien yang telah dirugikan dan juga advokasi oleh tim medikolegal sewaktu terjadi klaim. Asuransi tanggung gugat profesi dokter ini mengutamakan cara penyelesaian kasusnya dengan cara non ligitasi atau diluar pengadilan. Hal ini bertujuan untuk menjaga privasi dan reputasi seorang dokter dan publikasi media dan permasalahan menjadi tidak berbelit karena kesepakatan damai tercapai walaupun dengan adanya beberapa persyaratan yang harus dipenuhi misalnya dengan ganti kerugian berupa klaim. Menurut Ryan Estiningsih selaku account officer liability yang bertanggung jawab terhadap produk asuransi ini menyebutkan bahwa prosedur penanganan klaim asuransi tersebut adalah (Rian Estiningsih, S.Si, 3 Juni 2013: WIB):
26 65 1. Ketika timbul klaim (berupa tuntutan dari pasien/ keluarga pasien/ adanya surat pengacara pasien) dokter peserta asuransi segera melaporkan secara tertulis kepada kantor cabang Bumida dengan melengkapi berkas- berkas yang dipersyaratkan. 2. Kantor cabang Bumida setelah menerima laporan klaim dokter/ peserta asuransi, dalam waktu maksimal 2 kali 24 jam harus menyerahkan tembusan laporan klaim dan berkas kelengkapan dokumen kepada kantor pusat Bumida, agar kantor pusat Bumida segera menunjuk ABH and Associates pusat untuk melakukan pendampingan klaim. 3. Proses otorisasi klaim oleh kantor pusat Bumida dapat dilakukan setelah menerima laporan analisis medikolegal final oleh ABH and Associates Pusat. 4. Dokumen kelengkapan lain yang harus dilengkapi oleh cabang setelah keluar otorisasi dan dilakukan penandatanganan kesepakatan damai antara pihak dokter peserta asuransi dengan pihak pasien/ keluarga pasien adalah : a) Surat kesepakatan damai antara dokter peserta asuransi dengan pihak pasien/ keluarga pasien. b) Kwitansi pembayaran dokter dengan pasien.
27 66 Lebih jelasnya alur penanganan klaim asuransi tanggung gugat profesi dokter dapat digambarkan sebagai berikut : Tuntutan Klaim (Pasien/ Keluarga Pasien) Klaim Dokter (Peserta Asuransi) Kelengkapan Dokumen : 1 Surat tuntutan pasien/ surat dari pengacara pasien. 2 Fotokopi Polis Asuransi. 3 Fotokopi Surat Ijin Praktek dan Surat Tanda Registrasi. 4 Rekam Medis kasus. 5 Laporan kronologis kejadian medis. Otorisasi Klaim Kantor Cabang Bumida (Seksi Teknik/ Klaim) Kantor Pusat Bumida (Bag. Aneka/ Klaim) Laporan Klaim+ Copy Kelengkapan dokumen Konsolidasi Analisis Medikolegal Final ABH and Associates Lokal ABH and Associates Pusat Analisis Medikolegal Gambar 6. Alur penanganan klaim Sumber : Surat Internal Divisi Teknik Bumida Dibalik keseluruhan manfaat yang diberikan oleh asuransi ini, apabila dilihat kembali tentunya untuk menuju suatu perlindungan hukum yang lebih baik asuransi ini perlu untuk dikaji kembali. Terkait dengan
28 67 perbandingan klaim dengan premi yang dibayar yang tidak sebanding. Seperti halnya menurut Mulyati, S.H, M.Kes selaku kepala sub bagian organisasi dan administrasi pegawai yang menyatakan bahwa asuransi tanggung gugat perlu ditinjau kembali. Jika harus diadakan, cukup untuk dokter- dokter yang beresiko saja. Asuransi tanggung gugat profesi dokter sekarang diikuti oleh seluruh dokter yang bekerja di RSUD Dr. Moewardi dengan jumlah tenaga medis mecapai 221 orang dengan spesialisasinya masing- masing (Mulyati, S.H, M.Kes, 8 Juli 2013 : WIB). Pada dasarnya perlindungan hukum ini tidak dimaksudkan sematamata untuk membela yang salah, akan tetapi lebih diarahkan kepada, jika terjadi kesalahan agar yang bersangkutan dikenakan sanksi sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Meskipun terjadi kesalahan, untuk kemudian dapat diperhitungkan faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan sebagai faktor obyektif dalam menjatuhkan sanksi serta agar hak hak yang bersangkutan tetap dapat dihormati semua pihak.
Hospital by laws. Dr.Laura Kristina
Hospital by laws Dr.Laura Kristina Definisi Hospital : Rumah sakit By laws : peraturan Institusi Seperangkat peraturan yang dibuat oleh RS (secara sepihak) dan hanya berlaku di rumah sakit yang bersangkutan,dapat
BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI
BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,
Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi:
Hak dan Kewajiban Pasien Menurut Undang-Undang Menurut Declaration of Lisbon (1981) : The Rights of the Patient disebutkan beberapa hak pasien, diantaranya hak memilih dokter, hak dirawat dokter yang bebas,
LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2006 NOMOR 3 SERI D
LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2006 NOMOR 3 SERI D PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG DENGAN RAHMAT
PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG
PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG,
BUPATI PURWOREJO TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PURWOREJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 103 TAHUN 2013 103 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PURWOREJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA
LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (Berita Resmi Kota Yogyakarta) Nomor : 30 Tahun 2001 Seri D ---------------------------------------------------------------- PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (PERDA KOTA
vii DAFTAR WAWANCARA
vii DAFTAR WAWANCARA 1. Apa upaya hukum yang dapat dilakukan pasien apabila hak-haknya dilanggar? Pasien dapat mengajukan gugatan kepada rumah sakit dan/atau pelaku usaha, baik kepada lembaga peradilan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO Menimbang : Mengingat : 1.
3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992;
PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 42 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA Menimbang : a.
GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 22 TAHUN 1994 TENTANG
GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 22 TAHUN 1994 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOEDONO PROPINSI DAERAH
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT
WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 01 TAHUN 2006 TENTANG
WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 01 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BATAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATAM,
Hubungan Kemitraan Antara Pasien dan Dokter. Indah Suksmaningsih Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
Hubungan Kemitraan Antara Pasien dan Dokter Indah Suksmaningsih Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Pelayanan Kesehatan Memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau merupakan hak dasar
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II INDRAMAYU NOMOR : 21 TAHUN : 1999 SERI : D.4.
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II INDRAMAYU NOMOR : 21 TAHUN : 1999 SERI : D.4. PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II INDRAMAYU NOMOR : 6 TAHUN 1996 T E N T A N G ORGANISASI DAN TATA KERJA
WALIKOTA PROBOLINGGO
WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. MOHAMAD SALEH KOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO, Menimbang
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk
BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 52 NOMOR 52 TAHUN 2008
BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 52 PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN
BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG
BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2007 NOMOR 16 SERI D PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 16 TAHUN 2007 T E N T A N G PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN
BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 93 Tahun 2016 Seri E Nomor 45 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 93 TAHUN 2016 TENTANG
BERITA DAERAH KOTA BOGOR Nomor 93 Tahun 2016 Seri E Nomor 45 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 93 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PRAKTIK DOKTER MANDIRI Diundangkan dalam Berita Daerah Kota Bogor Nomor
GUBERNUR SUMATERA BARAT
GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 52 TAHUN 2016 TENTANG PENGATURAN INTERNAL (HOSPITAL BY LAWS) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOLOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 66 TAHUN : 2004 SERI : D NOMOR : 25
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 66 TAHUN : 2004 SERI : D NOMOR : 25 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 54 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENGELOLAAN RUMAH
BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO
BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR : 30. p TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PURWOREJO BUPATI PURWOREJO, Menimbang : bahwa
BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG
BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI, DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2002 NOMOR 31 SERI D
BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2002 NOMOR 31 SERI D PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 12 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 86 TAHUN 2001 SERI D.83 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 86 TAHUN 2001 SERI D.83 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA TEKNIS DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 A TAHUN 2001 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 48 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. DORIS SYLVANUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR
PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANJUNG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk
PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMO 3 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMO 3 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT DAERAH PANEMBAHAN SENOPATI KABUPATEN BANTUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II KUTAI NOMOR 21 TAHUN 1996 TENTANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II KUTAI NOMOR 21 TAHUN 1996 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM A.M. PARIKESIT TENGGARONG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPALA
LEMBARAN DAERAH TINGKAT II YOGYAKARTA (Berita Resmi Daerah Tingkat II Yogyakarta)
LEMBARAN DAERAH TINGKAT II YOGYAKARTA (Berita Resmi Daerah Tingkat II Yogyakarta) Nomor : 6 Tahun 1996 Seri D ================================================================= PERATURAN DAERAH KOTAMADYA
BAB III TINJAUAN TEORITIS
BAB III TINJAUAN TEORITIS A. Tinjauan Umum Tentang Jaminan Sosial 1. Hukum Kesehatan Kesehatan merupakan hak asasi manusia, artinya, setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses pelayanan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 4 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 4 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JAYAPURA, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR 26 TAHUN 2013
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR 26 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan
PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 34 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN LANDAK
PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 34 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK, Menimbang
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2012 NOMOR 7 SERI D NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 7 TAHUN 2012 TENTANG
1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2012 NOMOR 7 SERI D NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 7 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN
PROFIL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN JAKARTA
PROFIL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN JAKARTA 1. SEJARAH RSUD TARAKAN JAKARTA Pada mulanya tahun 1953, rsud tarakan hanya berbentuk balai pengobatan. Kemudian pada tahun 1956, beralih menjadi puskesmas
BUPATI LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DAIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG NOMOR 14 TAHUN 1999 SERI D NO. 11
LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG NOMOR 14 TAHUN 1999 SERI D NO. 11 PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG Menimbang NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA
BUPATI ACEH TIMUR PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI ACEH TIMUR PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SULTAN ALAIDIN SYAH PEUREULAK ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA
BUPATI TANAH BUMBU PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG
BUPATI TANAH BUMBU PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. H. ANDI ABDURRAHMAN NOOR KABUPATEN TANAH BUMBU DENGAN
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 79 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI RUMAH SAKIT PARU RESPIRA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI JENEPONTO. Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34 Jeneponto Telp. (0419) Kode Pos 92311
1 BUPATI JENEPONTO Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34 Jeneponto Telp. (0419) 21022 Kode Pos 92311 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR : 12 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR
-1- BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 67 TAHUN 2011 TENTANG
-1- BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 67 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RSUD DI KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,
BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 61 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS
BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 61 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS, Menimbang
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,
SALINAN NOMOR 18/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II CIREBON
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II CIREBON NOMOR 6 TAHUN 1997 SERI D. 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II C I R E B O N NOMOR 06 TAHUN 1996 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT
S A L I N A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO,
06 JANUARI 2015 BERITA DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR 11 S A L I N A N PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 11 TAHUN 2015 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALUYO JATI KRAKSAAN
BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,
BUPATI MOJOKERTO PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROF. DR. SOEKANDAR KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN
KEPUTUSAN DIREKTUR RS. PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA Nomor : 2347a/PW/Sekr/VIII/2014 TENTANG
KEPUTUSAN DIREKTUR RS. PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA Nomor : 2347a/PW/Sekr/VIII/2014 TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN KEDOKTERAN DI RS. PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA DIREKTUR RS. PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,
BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN SUSUNAN ORGANISASI TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA RUMAH SAKIT DAERAH KABUPATEN KLATEN DENGAN RAHMAT TUHAN
- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,
- 1 - PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RA. BASOENI KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT. Nomor 3 Tahun 2006 Seri D Nomor 13 Tahun 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 3 TAHUN 2006
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT Nomor 3 Tahun 2006 Seri D Nomor 13 Tahun 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN RUMAH SAKIT DAN STRUKTUR ORGANISASI RUMAH
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG. ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. DORIS SYLVANUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,
W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 64 TAHUN 2008 TENTANG
W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 64 TAHUN 2008 TENTANG FUNGSI, RINCIAN TUGAS DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang
PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU
PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALINAU NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MALINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALINAU,
PEDOMAN KOMITE PENUNJANG MEDIS RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK BINA SEHAT MANDIRI
1. PENDAHULUAN PEDOMAN KOMITE PENUNJANG MEDIS RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK BINA SEHAT MANDIRI Latar Belakang Rumah Sakit sebagai satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :
NOMOR : 3 TAHUN : 2001 SERI : D NOMOR : 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH UTARA NOMOR 3 TAHUN 1997 T E N T A N G
NOMOR : 3 TAHUN : 2001 SERI : D NOMOR : 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH UTARA NOMOR 3 TAHUN 1997 T E N T A N G SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM CUT MEUTIA LHOKSEUMAWE
BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 65 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SITUBONDO
BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 65 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SITUBONDO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SITUBONDO, Menimbang
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR,
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG. ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. DORIS SYLVANUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,
-1- PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN
-1- PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH
SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (HOSPITAL BYLAWS) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYEN KABUPATEN PATI DENGAN RAHMAT TUHAN
g.pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan pelayanan medik, keperawatan dan keteknisan medik
Contoh Organisasi Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Struktur Organisasi ( lampiran 1) Rumah sakit umum pusat nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo/RSCM) merupakan Unit
PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 10 TAHUN 2000 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANDUNG
LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2000 TAHUN : 2000 NOMOR : 15 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 10 TAHUN 2000 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANDUNG DENGAN
PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI. PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.
PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOEROTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGAWI, Menimbang
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR
BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 78 TAHUN 2014 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. ISKAK TULUNGAGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI SAMBOJA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA BUPATI KUTAI KARTANEGARA,
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 23 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SUKAMARA
BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SUKAMARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA Menimbang
BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG
BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN KELAS III PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANDAN ARANG KABUPATEN BOYOLALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2011
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOM0R : 2 TAHUN : 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEUWILIANG KELAS C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG
WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN S U M E D A N G NOMOR 21 TAHUN 1999 SERI D.16 PERATURAN DAERAH KABUPATEN S U M E D A N G NOMOR 6 TAHUN 1999
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN S U M E D A N G NOMOR 21 TAHUN 1999 SERI D.16 PERATURAN DAERAH KABUPATEN S U M E D A N G NOMOR 6 TAHUN 1999 T E N T A N G ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN
NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT
=========================================================== PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT WALIKOTA TANGERANG, Menimbang
BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BAGAS WARAS KABUPATEN KLATEN
BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BAGAS WARAS KABUPATEN KLATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN, Menimbang
WALIKOTA TANGERANG SELATAN
SALINAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM KOTA TANGERANG SELATAN Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN
WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BATAM
WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BATAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATAM, Menimbang : a. bahwa
BUPATI MAJENE PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI MAJENE PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN MAJENE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 114 TAHUN 2008 TENTANG
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 114 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS DIREKTUR, WAKIL DIREKTUR, BIDANG, BAGIAN SEKSI DAN SUB BAGIAN Dl RUMAH SAKIT UMUM HAJI SURABAYA PROVINSI JAWA
PEDOMAN PENGORGANISASIAN KOMITE TENAGA KESEHATAN LAIN RS. BUDI KEMULIAAN BATAM
PEDOMAN PENGORGANISASIAN KOMITE TENAGA KESEHATAN LAIN RS. BUDI KEMULIAAN BATAM JL. BUDI KEMULIAAN NO. 1 SERAYA - BATAM BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah Sakit sebagai satu sarana kesehatan yang
-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 140 TAHUN 2016 TENTANG
-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 140 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM dr. ZAINOEL ABIDIN DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA
PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL.
PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL. SURAT KEPUTUSAN No. : Tentang PANDUAN HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN DIREKTUR RS Menimbang : a. Bahwa untuk mengimplementasikan hak pasien dan keluarga di
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH
SALINAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2015 T E N T A N G TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS RUMAH SAKIT JIWA KALAWA ATEI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 86 TAHUN 2015 TENTANG
