BAB 1 PENDAHULUAN BAB 2

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 1 PENDAHULUAN BAB 2"

Transkripsi

1 BAB 1 PENDAHULUAN Tulang nasal, orbitozigomatikus, frontal, temporal, maksila dan mandibula merupakan tulang-tulang pembentuk wajah, sehingga apabila terjadi fraktur pada daerah tersebut dapat mengakibatkan suatu kelainan pada bentuk wajah yang menyebabkan wajah tersebut tidak terlihat estetis serta terjadinya gangguan pada proses pengunyahan makanan dan gangguan fonetik. Fraktur-fraktur rahang bawah telah ada disebutkan dalam tulisan-tulisan Mesir kuno. Hipokrates menyarankan penggunaan perban dan wiring (kawat) untuk perawatan fraktur mandibula. Pada salah satu artikel yang dipublikasikan selama Perang Sipil, Gunning menuliskan penggunaan splint gigi yang melekat pada peralatan luar di tahun 1981, Gilmer pertama kali menyebutkan penggunaan potongan batang (bars) pada kedua lengkung, yang diikat pada gigi dan satu sama lain dengan pengikat kawat yang halus. Plating (peletakan logam pada permukaan) tulang mandibular pertama kali dilakukan oleh Schede, yang disebutkan telah menggunakan sebuah lempeng baja yang disekrup masuk kedalam rahang pada akhir tahun 1980an. Pada tahun 1934, Vorschutz menemukan fiksasi eksternal dengan menggunakan sekrup-sekrup tulang transdermal dan plaster. Biphase Morris merupakan perbaikan dari tehnik tersebut. Sejarah alat-alat fiksasi internal terus berlanjut, dengan sebuah teori baru dan berbagai alat sesuai yang ditemukan setiap beberapa tahun. BAB 2 1

2 PEMBAHASAN Primary Survey Primary survey merupakan suatu penilaian dan prioritas terapi berdasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital, dan mekanisme trauma. Proses ini merupakan tahap awal penanganan trauma dan usaha untuk mengenali keadaaan yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan ketentuan mengikuti urutan yang diawali oleh A (Airway) yaitu menjaga airway dengan kontrol servikal, kemudian B (Breathing) yaitu menjaga pernapasan dengan ventilasi, C (Circulation) yaitu dengan kontrol perdarahan, D (Dissability) yaitu dengan menilai status neurologis pasien, dan E (Exposure/environmental control) dilakukan dengan membuka pakaian penderita, tetapi cegah hipotermi. a. Airway Pada airway yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas yang meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur maksila/mandibula, dan fraktur laring/trakea. b. Breathing Breathing yaitu menjaga pernafasan dengan ventilasi. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru-paru, dinding dan diafragma. Dada penderita harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru-paru. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara/darah dalam rongga pleura. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi c. Circulation Circulation yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk mengontrol perdarahan. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, sampai dapat dipastikan bahwa pasien tidak mengalami hipovolemia. Ada tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan hemodinamik ini, yakni tingkat kesadaran, warna kulit dan nadi. Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang, yang akan mengakibatkan penurunan kesadaran. Namun, perlu diingat bahwa penderita yang sadar juga belum 2

3 tentu normo-volemik. Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemik. Wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemik. Pemeriksaan nadi dilakukan pada pembuluh nadi yang besar seperti arteri femoralis atau arteri karotis kiri dan kanan untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Nadi yang tidak cepat, kuat dan teratur biasanya merupakan tanda normo-volemik, sedangkan nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemik, biasanya terjadi pada penderita trauma d. Disability dissability yaitu dengan menilai status neurologis pasien. Menjelang akhir dari tahap primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Glasgow Coma Scale (GCS) yaitu sistem skoring sederhana untuk menaksir tingkat kesadaran (table 2.1). Exposure (kontrol lingkungan) dilakukan dengan cara membuka semua pakaian penderita, biasanya dengan cara digunting, yang bertujuan untuk memeriksa dan mengevaluasi penderita. Setelah pakaian pasien dibuka, pasien diselimuti agar tidak terjadi hipotermi pada pasien. Secondary Survey Secondary survey dilakukan setelah primary surivey selesai, resusitasi telah dilakukan dan airway, breathing, circulation penderita telah membaik. Secondary survey adalah pemeriksaan dari kepala sampai kaki dan anamnesis, termasuk re-evaluasi tanda vital. Anamnesis meliputi riwayat AMPLE. AMPLE yaitu Allergy, Medication, Past Illness (penyakit penyerta)/kehamilan, Last Meal dan Event/environment (lingkungan) yang berhubungan dengan kejadian perlukaan. Anamnesis allergy meliputi riwayat alergi yang dimiliki pasien. Medication meliputi riwayat obat yang sedang dikonsumsi saat ini. Past illness merupakan riwayat penyakit yang sedang diderita dan kehamilan. Anamnesa last meal meliputi riwayat makanan yang terakhir di konsumsi. Event/environtment yaitu anamnesa mengenai lingkungan yang berhubungan dengan kejadian perlukaan. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan kepala, pemeriksaan rongga mulut dan maksilofasial, pemeriksaan vertebra servikalis, pemeriksaan torak, pemeriksaan abdomen, 3

4 pemeriksaaan perineum/rektum/vagina, pemeriksaan muskuloskeletal dan pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan kepala meliputi seluruh kulit kepala dan kepala harus diperiksa akan adanya luka, kontusio, dan fraktur. Pemeriksaan rongga mulut meliputi pemeriksaan jaringan lunak, saraf, tulang dan gigi geligi. Sedangkan pemeriksaan maksilofasial hanya dilakukan pada jaringan lunak, saraf dan tulang saja. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan dilakukan setelah penanganan airway, breathing dan circulation. Pada tahap ini, pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan jaringan lunak, pemeriksaan neurologi, pemeriksaan skeletal, pemeriksaan dental, dan pemeriksaan radiograf. Pemeriksaan jaringan lunak rongga mulut meliputi pemeriksaan lidah, faringeal, duktus Stenson s dan duktus Wharton s, laserasi anteroposterior pada palatum keras yang berkaitan dengan fraktur paramedian pada palatum, fraktur vertikal pada alveolar gingival berkaitan dengan fraktur lengkung alveolar. Pemeriksaan lain yang dilakukan dalam rongga mulut adalah pemeriksaan neurologi. Pemeriksaan neurologi ini perlu dilakukan karena biasanya cedera pada nervus alveolaris inferior dapat menyebabkan anestesi pada sisi yang terkena trauma. Cedera pada nervus lingualis dapat menyebabkan anestesi atau parastesi pada 2/3 anterior lidah dan perubahan pengecapan. Pemeriksaan ekstraoral dilakukan untuk memeriksa keadaan nervus fasialis, nervus infraorbital, nervus olfaktorius, nervus okulomotorius, dan nervus abdusen. Pada pemeriksaan nervus fasialis, jika pasien sadar instruksikan pasien untuk menggunakan otot ekspresi wajah, jika pasien tidak sadar digunakan nerve stimulator. Pada kasus fraktur kompleks zigomatikus-maksilaris atau Le Fort II, nervus infraorbital sering rusak. Cedera pada nervus olfaktorius biasanya diakibatkan oleh fraktur midface yang melibatkan cribriform plate pada etmoid. Cedera pada nervus okulomotorius ditandai dengan adanya dilatasi pupil. Cedera pada nervus optikus biasanya diakibatkan oleh fraktur disekitar foramen optik yang merupakan akibat kompresi tulang, disfungsi dari muskulus rektus lateralis menandakan adanya cedera pada nervus abdusen. Pemeriksaan skeletal dilakukan setelah pemeriksaan terhadap jaringan lunak dan pemeriksaan neurologi. Le Fort I dapat didiagnosis dengan manipulasi buccal fold menggunakan jempol dan jari telunjuk. Palpasi pada sutura frontonasal membantu diagnosis area fraktur, yang mengindikasikan fraktur maksila Le Fort II atau Le Fort III. Fraktur 4

5 subcondilar bilateral dikarakteristikkan dengan terbatasnya membuka mulut, anterior open bite, dan nyeri periaurikular. Pada anak-anak, perdarahan pada external auditory canal mengindikasikan adanya fraktur kondil yang dapat mengakibatkan ankilosis dan terbatasnya pertumbuhan. Evaluasi oklusi pasien dengan bimanual palpasi bermanfaat dalam mendeteksi fraktur korpus mandibula, simpisis, dan angulus mandibula. Dalam pemeriksaan gigi yang harus dievaluasi adalah fraktur yang terjadi pada gigi geligi. Pasien diperiksa agar dapat diketahui fraktur yang terjadi pada gigi termasuk fraktur horizontal atau vertikal. Mobilitas gigi dan perdarahan krevis gingival juga diperiksa dengan melihat apakah disebabkan oleh fraktur atau karena penyakit periodontal, serta gigi yang hilang. Hal ini sangat berguna untuk menegakkan diagnosis dan rencana perawatan. Pemeriksaan vertebra servikalis meliputi pemeriksaan leher melalui inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pemeriksaan torak dilakukan melalui inspeksi, palpasi, disusul dengan foto torak. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage), dan USG (Ultrasonography) abdomen. Pada peritoneum, rektum dan vagina diperiksa adanya kontusio, hematoma, laserasi dan perdarahan uretra. Pemeriksaan neurologis meliputi kesadaran umum, ukuran dan reaksi pupil, pemeriksaan motorik dan sensorik. Klasifikasi fraktur Fraktur Maksila 1. Fraktur Le Fort I Fraktur Le Fort I dapat terjadi sebagai suatu kesatuan tunggal atau bergabung dengan fraktur fraktur Le Fort II dan III. 5

6 Pada Fraktur Le Fort I, garis frakturnya dalam jenis fraktur transverses rahang atas melalui lubang piriform di atas alveolar ridge, di atas lantai sinus maksilaris, dan meluas ke posterior yang melibatkan pterygoid plate. Fraktur ini memungkinkan maksila dan palatum durum bergerak secara terpisah dari bagian atas wajah sebagai sebuah blok yang terpisah tunggal. Fraktur Le Fort I ini sering disebut sebagai fraktur transmaksilari. 2. Fraktur Le Fort II Fraktur Le Fort II lebih jarang terjadi, dan mungkin secara klinis mirip dengan fraktur hidung. Bila fraktur horizontal biasanya berkaitan dengan tipisnya dinding sinus, fraktur piramidal melibatkan sutura-sutura. Sutura zigomatimaksilaris dan nasofrontalis merupakan sutura yang sering terkena. Seperti pada fraktur Le Fort I, bergeraknya lengkung rahang atas, bias merupakan suatu keluhan atau ditemukan saat pemeriksaan. Derajat gerakan sering tidak lebih besar dibanding fraktur Le Fort I, seperti juga gangguan oklusinya tidak separah pada Le Fort I. 3. Fraktur Le Fort III Fraktur craniofacial disjunction, merupakan cedera yang parah. Bagian tengah wajah benar-benar terpisah dari tempat perlekatannya yakni basis kranii. Fraktur ini biasanya disertai dengan cedera kranioserebral, yang mana bagian yang terkena trauma dan besarnya tekanan dari trauma yang bisa mengakibatkan pemisahan tersebut, cukup kuat untuk mengakibatkan trauma intrakranial. Gambar 6. Fraktur Le Fort I, Le Fort II, Le Fort III ( ) ( 20 September 2010 ). 6

7 Fraktur Komplek Nasal Tulang hidung sendiri kemungkinan dapat mengalami fraktur, tetapi yang lebih umum adalah bahwa fraktur fraktur itu meluas dan melibatkan proses frontal maksila serta bagian bawah dinding medial orbital. Fraktur daerah hidung biasanya menyangkut septum hidung. Kadang kadang tulang rawan septum hampir tertarik ke luar dari alurnya pada vomer dan plat tegak lurus serta plat kribriform etmoid mungkin juga terkena fraktur. Gambar 1. Fraktur Kompleks Nasal terdiri dari sebuah pertemuan beberapa tulang: (1) tulang frontal, (2) tulang hidung, (3) tulang rahang atas, (4) tulang lakrimal, (5) tulang ethmoid, dan (6) tulang sphenoid ( ) ( 20 September 2010 ). Perpindahan tempat fragmen fragmen tergantung pada arah gaya fraktur. Gaya yang dikenakan sebelah lateral hidung akan mengakibatkan tulang hidung dan bagian-bagian yang ada hubungannya dengan proses frontal maksila berpindah tempat ke satu sisi. 4 Dalam penelitian retrospektif Sunarto Reksoprawiro tahun , insidensi fraktur komplek nasal sebesar 12,66%. Fraktur Komplek Zigoma Tulang zigomatik sangat erat hubungannya dengan tulang maksila, tulang dahi serta tulang temporal, dan karena tulang tulang tersebut biasanya terlibat bila tulang zigomatik 7

8 mengalami fraktur, maka lebih tepat bila injuri semacam ini disebut fraktur kompleks zigomatik Tulang zigomatik biasanya mengalami fraktur didaerah zigoma beserta suturanya, yakni sutura zigomatikofrontal, sutura zigomakotemporal, dan sutura zigomatikomaksilar. Suatu benturan atau pukulan pada daerah inferolateral orbita atau pada tonjolan tulang pipi merupakan etiologi umum. Arkus zigomatik dapat mengalami fraktur tanpa terjadinya perpindahan tempat dari tulang zigomatik. Gambar 2. Pandangan frontal dari fraktur zigomatik kompleks ( (20 September 2010). Gambar 3. Pandangan submentoverteks dari fraktur zigomatik kompleks (20 September 2010). Meskipun fraktur kompleks zigomatik sering disebut fraktur tripod, namun fraktur kompleks zigomatik merupakan empat fraktur yang berlainan. Keempat bagian fraktur ini adalah arkus zigomatik, tepi orbita, penopang frontozigomatik, dan penopang zigomatikorahang atas. Arkus zigomatikus bisa merupakan fraktur yang terpisah dari fraktur zigoma kompleks. Fraktur ini terjadi karena depresi atau takikan pada arkus, yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan film submentoverteks dan secara klinis berupa gangguan kosmetik pada kasus yang tidak dirawat, atau mendapat perawatan yang kurang baik.14 Insidensi fraktur komplek zigoma sendiri berbeda pada beberapa penelitian. Pada penelitian Hamad Ebrahim Al Ahmed dan kawan-kawan insidensi fraktur komplek zigoma sebesar 7,4%. 8 Sedangkan hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa insidensi fraktur komplek zigoma sebesar 42% dan 7,9%. 8

9 Fraktur mandibula fraktur alveolar Dapat terjadi dengan atau tampa tampa hubungan dengan cedera pada gigi. Titik dapat menutup rahang Krepitasi pada palpasi Posterior open bite dapat terjadi pada fraktur prosesus alveolar anterior fraktur parasymphisyisis dan symphysis sering berhubungan dengan fraktur dari suatu atau kedua condyle, pada fraktur parasymphysis terjadi posterior open bite atau unilateral open bite pada fratur midline syhimphisis terjadi posterior cros bite pada fraktur symphisi teraba crepitasi pada saat palpasi tidak dapat menutup rahang karna prematur kontak gigi dagu retruded terjadi karna fraktur bilateral parasymphysisi fraktur angulus mandibula fraktur angulus bilateral terlihat anterior open bite pada fraktur angulus unilateral terlihat lepsilateral open bite oclusi rethrogenathi, bagian lateral wajah terlihat rata tidak dapat menutup rahang karna prematur Kontak dari gigi bengkak pada bagian external angulus terjadi step pada molar terahir pada daerah fraktur dapat/mungkin terjadi anastesia atau parastesia pada bibir bawah nyeri pada saat mengerakkan mandibula, trismus fraktur condyle fraktur condyle bilateral menyebabkan anterior open bite dan prematur contak pada posterior oklusi prognati fraktur corpus mandibula bengkak echymosis pada dasar mulut tidak dapat/sulit menebus atau menutup rahang eripitasi pada palpasi 9

10 fraktur coronoid nyeri, terbatasnya gerak mandibula protusif mandibula susah untuk di diagnosa secara klisis tingkat kesadaran glasgow coma scale penilayan yang sistematik dari ketidak sadaran pasien dengan mengunakan glasgow coma memberikan derajat dari coma dengan skala angka. Penilayan dari tingkat kesadaran sangat penting untuk informasi prognosis, pada traumatik coma. Glasgow Coma Scale Table 2.1 Glasgow Coma Scale Glasgow Coma Scale Skor Membuka mata (E) Spontan Dengan perintah Dengan rangsang nyeri Tidak ada reaksi Respon motorik terbaik (M) Mengikuti perintah Melokalisasi nyeri Menghindar nyeri Fleksi abnormal Ekstensi abnormal Tidak ada gerakan Respon verbal terbaik (V) Orientasi baik dan sesuai Disorientasi tempat dan waktu Bicara kacau Mengerang

11 Tidak ada suara 1 Coma Score = E + M + V Minimum Maksimum 3 15 Intermaxillary fixation,technic closed reduction,technic open reduction Closed Technique (Teknik Tertutup) / Closed Reduction Pada teknik ini, penyembuhan tulang terjadi melalui pembentukan kalus. Saat segmen fraktur tidak banyak, dapat digunakan alat untuk mengambil segmen tersebut, biasanya disebut alat reduksi eksterna. Contohnya adalah Rowe s disimpaction forceps yang digunakan untuk memperbaiki letak segmen fraktur maksila agar menyatu dan Walsham s forceps dapat digunakan pada fraktur nasal. Alat-alat tersebut diperlihatkan pada gambar 2.12 dan Ketika terjadi trismus pada otot-otot yang dapat menghambat reduksi fragmen fraktur, maka dapat digunakan traksi intraoral atau ekstraoral. Traksi intraoral terdiri dari fiksasi arch bar prefabricated untuk lengkung maksila dan mandibula dan traksi elastis yang digunakan pada bagian tertentu untuk mendapatkan oklusi yang normal. Traksi ekstraoral dilakukan dengan menggunakan anchorage pada tengkorak untuk traksi. Proses ini sangat lambat dan pasien diminta untuk membuka dan menutup mulut untuk menfasilitasi traksi elastis. Ketika oklusi telah sesuai, elastis digantikan dengan intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF). Intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF) merupakan imobilisasi rahang dengan aplikasi wire pada posisi tertutup yang terdiri dari wires, arch bars, dan splints. Adapun keuntungan dari intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF) adalah relatif sederhana, harganya murah, pemasangannya memerlukan waktu yang singkat, skill operator yang dibutuhkan tidak banyak, dapat menjembatani kerusakan kecil pada tulang yang memungkinkan terjadinya penyembuhan dengan pembentukan kalus. Kekurangan dari intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF) adalah kebersihan mulut, tidak memungkinkan pencapaian stabilitas absolute, 11

12 tidak dapat dilakukan pada pasien yang tidak kooperatif, dapat menyebabkan atrofi otot rahang dan hilangnya kekuatan menggigit karena tidak difungsikan, sendi temporomandibular dapat terpengaruh. Intermaxillary fixation terlihat pada gambar Indikasi dari pemasangan intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF) dilakukan pada fraktur sederhana, pada pasien yang tidak mampu untuk metode yang lebih moderen karena masalah harga, dan pada saat pasien tidak mampu menjalani prosedur yang membutuhkan banyak waktu yang melibatkan anestesi umum. Kontraindikasi dari pemasangan intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF) adalah pada pasien yang menderita asma yang parah, penyakit paru obstruksi kronik, kelainan gastrointestinal, masalah psikiatrik atau neurological, dan seizures (kejang). Seizures merupakan penyakit yang dapat kambuh secara tiba-tiba, seperti epilepsi. Ada dua teknik dalam pemasangan intermaxillary fixation yaitu dengan dental wiring dan dengan arch bar. Dental wiring digunakan saat pasien memiliki gigi yang masih lengkap. Wire yang digunakan berukuran 0,45 mm jenis soft stainless wire. Dental wiring dapat dilakukan dengan cara direct interdental, eyelet, continous atau multiple loop wiring dan Risdon s wiring. Arch bar dapat digunakan pada pasien yang memiliki gigi lengkap maupun yang telah kehilangan gigi dimana jumlah gigi yang tersisa tidak memungkinkan untuk menggunakan interdental eyelet. Macam-macam arch bar yaitu arch bar Erich, German silver, Jelenko. Open Technique/ORIF (Open Reduction Internal Fixation) Open technique pada penanganan fraktur terdiri dari dua tahap. Tahap pertama yaitu reduksi terbuka (open reduction) dan tahap kedua yaitu fiksasi internal/fiksasi langsung (internal fixation/direct fixation). Reduksi terbuka merupakan suatu intervensi bedah untuk mereduksi segmen fraktur. Penyembuhannya melalui penyembuhan primer, dimana selama penyembuhan tidak terjadi pembentukan kalus. Fiksasi internal/fiksasi langsung sendiri terdiri dari dua macam yaitu alat intraoral dan alat ekstraoral. Alat intraoral berupa plate dan screw (gambar 2.15) serta transosseous wiring. Alat ekstraoral adalah fiksasi pin eksternal. Indikasi dari fiksasi internal/fiksasi langsung adalah untuk memindahkan segmen fraktur yang tidak stabil, ketika intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation 12

13 (IMF/MMF) dikontraindikasikan dan tidak memungkinkan, pada kasus fraktur dengan kerusakan tulang, pada kasus fraktur multiple dan comminuted, demi kenyamanan pasien yang sebenarnya masih dapat menggunakan intermaxillary fixation atau maxillomandibular fixation (IMF/MMF). Pasien yang tidak dapat menjalani prosedur yang melibatkan anestesi umum, pasien yang menolak prosedur kompleks, serta adanya infeksi di lokasi fraktur merupakan kontraindikasi dari fiksasi internal/fiksasi langsung. Keuntungan dari fiksasi internal/fiksasi langsung adalah pemeliharaan kebersihan mulut baik, atropi otot minimal karena otot pengunyahan tetap difungsikan, nutrisi baik dan tidak kehilangan berat badan, dapat digunakan oleh pasien yang mengalami gangguan jalur nafas, pencapaian stabilitas fragmen tulang lebih baik karena penyatuan fragmen dilihat secara langsung. Kekurangan dari fiksasi internal/fiksasi langsung adalah perawatan dilakukan di bawah anestesi umum, mahalnya plate dan screw, ketrampilan operator harus tinggi, frekuensi maloklusi dan cedera saraf tinggi, kerusakan tulang kecil tidak dapat dijembatani karena penyembuhan pada teknik ini tidak terjadi pembentukan kalus, serta membutuhkan operasi kedua untuk memindahkan plate dan srew. Komplikasi Penyembuhan Fraktur Setelah perawatan dan selama penyembuhan fraktur, dapat terjadi berbagai komplikasi, seperti delayed union, non union, infeksi, malunion, ankilosis, cedera saraf, dan kebocoran cerebrospinal fluid. 1. Delayed Union dan Non Union Insidensi komplikasi ini sekitar 3% dari seluruh kasus fraktur. Delayed union merupakan kondisi sementara yang mana adanya reduksi dan immobilisasi saat penyatuan tulang. Hal ini dapat terjadi karena faktor lokal seperti infeksi dan faktor-faktor umum seperti osteoporosis dan kekurangan nutrisi. Adapun non union merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan kegagalan penyatuan tulang di antara segmen yang terus-menerus tanpa bukti penyembuhan tulang kecuali jika perawatan bedah dilakukan untuk memperbaiki fraktur. Komplikasi fraktur non union dikarakteristikkan dengan nyeri dan mobilisasi abnormal yang mengikuti perawatan. Penyebab utama non union adalah ketidakcukupan reduksi dan immobilisasi, infeksi pada area fraktur, penurunan vaskularisasi, dan faktor 13

14 sistemik. Secara umum, penyebab delayed union dan non union adalah metabolik dan kekurangan nutrisi, penggunaan intermaxillary fixation yang tidak baik, kualitas tulang yang buruk, lemahnya pembuluh darah lokal atau kombinasi faktor-faktor tersebut. 2. Infeksi Dalam beberapa penelitian, infeksi dapat terjadi pada lebih dari 50% pasien, terutama yang tidak menggunkaan antibiotik. Terjadinya komplikasi ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor sistemik dan faktor lokal. Faktor sistemik seperti pasien pengguna alkohol (alcoholism), pasien immunocompromise dan pasien yang menggunakan antibiotik yang tidak cukup atau tidak sempurna. Faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk dan adanya gigi yang fraktur pada garis fraktur. 3. Malunion Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh, namun dalam keadaan yang tidak seharusnya. Jika hal ini terjadi pada lengkung gigi, maka akan terjadi maloklusi yang dapat mengakibatkan asimetris wajah, enoftalmos dan okular distopia. Enoftalmos adalah suatu keadaan terdorongnya bola mata ke dalam rongga orbita. Hal ini dapat dirawat dengan ortodontik atau osteotomi setelah penyatuan tulang selesai. 4. Ankilosis Ankilosis merupakan suatu keadaan mobilitas dan konsolidasi sebuah sendi yang disebabkan oleh penyakit, cedera atau tindakan bedah. Ini merupakan salah satu komplikasi yang jarang terjadi pada fraktur mandibula. Biasanya lebih sering terjadi pada anak-anak, berhubungan dengan fraktur intrakapsular dan imobilisasi dari mandibula. 5. Cedera Saraf Saraf yang paling sering cedera adalah nervus alveolaris inferior dan cabangnya. Tanda yang terjadi yaitu mati rasa atau perubahan sensori lainnya pada bibir bawah atau dagu. 14

15 Cedera pada cabang nervus fasialis biasanya disebabkan oleh trauma pada kondil mandibula, ramus mandibula, angulus mandibula dan laserasi (sobekan) di sepanjang daerah ini. Namun, cedera pada saraf ini jarang terjadi. Fungsi sensorik dan motorik dari saraf-saraf ini dapat kembali normal seiring waktu. 6. Kebocoran Cairan Serebrospinal (CSS) Cairan serebrospinal (CSS) mengisi ventrikel dan ruang subarachnoid. CSS berfungsi sebagai salah satu proteksi untuk melindungi jaringan otak terhadap trauma atau gangguan dari luar. CSS dibentuk di pleksus koroideus dan di sepanjang dinding ventrikel. Pada manusia, volume CSS adalah sekitar 150 ml dan kecepatan produksi CSS adalah sekitar 550 ml/hari. Kebocoran CSS dapat terjadi setelah perawatan fraktur midface yaitu fraktur nasoetmoidal, Le fort II dan Le Fort III, namun kebocoran CSS ini jarang terjadi. Penyembuhan Fraktur 1. Penyembuhan Tulang Primer Penyembuhan tulang primer terbagi dalam dua tipe, yaitu gap healing dan contact healing. Ketika terjadi celah kecil antara segmen tulang, dalam beberapa hari setelah fraktur gap healing dimulai. Pembuluh darah dari periosteum, endosteum dan sistem havers masuk ke dalam celah, untuk menjembatani prekursor osteoblastik mesenkimal. Deposit tulang terjadi secara langsung pada permukaan fragmen fraktur tanpa resorpsi dan pembentukan kartilago intermediet. Jika celah kurang dari 0,3 mm maka secara langsung akan terbentuk lamellar bone. Namun, jika celah yang terbentuk sebesar 0,3 mm sampai 1,0 mm maka akan terbentuk woven bone yang nantinya akan berubah menjadi lamellar bone. Pembentukan lamellar bone terjadi selama 6 minggu. Ciri khas woven bone adalah memiliki serat kolagen yang tidak beraturan, dan sifat mekanik yang lemah. Sedangkan ciri khas lamellar bone adalah memiliki serat kolagen yang beraturan serta sifat mekanik yang kuat. Tipe penyembuhan tulang primer yang kedua adalah contact healing. Pada contact healing, lamellar bone akan langsung terbentuk sepanjang garis fraktur karena terdapat kontak antara ujung fragmen tulang yang mengalami fraktur. Osteoklas akan memotong tiap ujung fragmen fraktur, kemudian osteoblas akan mendeposisi tulang yang baru. Tulang yang dihasilkan menyediakan suatu jalur pertumbuhan pembuluh darah. Kecepatan pembentukan 15

16 tulang sekitar 1-2 μm/hari. Matriks tulang yang baru terbentuk tersebut menyelimuti osteosit dan pembuluh darah sehingga membentuk sistem havers. Adapun perbedaan antara gap healing dan contact healing adalah pada gap healing dengan jarak yang kecil, sel-sel akan membentuk lamellar bone secara tegak lurus pada sumbu tulang. Sedangkan pada contact healing, lamellar bone akan terbentuk di sepanjang garis fraktur yaitu sejajar dengan sumbu tulang. 2. Secondary Bone Healing Penyembuhan spontan tanpa intervensi bedah dan setelah fiksasi semirigid. Dalam proses penyembuhan sekunder terdapat 4 fase yaitu fase inisial (fase awal), fase cartilaginous callus (pembentukan soft callus), fase bony callus (pembentukan hard callus), dan fase remodeling. 3. Fase Awal Gangguan pada pembuluh darah mengurangi suplai darah yang dapat mengakibatkan kematian komponen seluler pada daerah fraktur sehingga terjadi nekrosis pada ujung fragmen fraktur. Jika tulang yang nekrosis asepsis maka dapat menyebabkan oedema dan inflamasi yang kemudian akibat adanya inflamasi ini dikeluarkan sejumlah vasoaktif angiogenik pirogen yang dapat menyebabkan vasodilatasi. Perdarahan akibat dilatasi, kerusakan pembuluh darah pada endosteum, periosteum, dan sistem heversian dapat menyebabkan terbentuknya hematoma. Hematoma merupakan medium pertumbuhan jaringan fibrosis dan vaskuler. 4. Pembentukan Soft Callus Pembentukan kalus terjadi secara eksternal dan internal. Secara eksternal, nodul-nodul kartilago dipisahkan oleh septa fibrosa, dimana pembuluh darah septa ini meningkat dengan 16

17 cepat. Diawali dengan terjadinya kalsifikasi kartilago dengan cara menjerat kondroblas dan mengubahnya menjadi kondrosit. Kemudian osteoblas meningkat jumlahnya dan osteoklas mulai muncul. Pada waktu yang bersamaan, kalus interna terbentuk di antara ujung tulang. Area ini memiliki suplai darah yang lebih baik, sehingga daerah nekrosis berkurang. Ketika tulang mulai sembuh setelah fraktur, pembentukan kalus disekitar tempat fraktur bertujuan untuk menstabilkan area yang terlibat, meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang selama proses penyembuhan. 5. Pembentukan Hard Callus Selama proses mineralisasi, ujung-ujung tulang secara berangsur-angsur diselimuti oleh massa kalus yang berisi woven bone yang terus meningkat. Semakin banyak mineral yang telah dideposisi, semakin keras pula kalus yang terbentuk. Stabilitas fragmen fraktur meningkat dan penyatuan klinis terjadi. Penyatuan klinis adalah suatu keadaan dimana bagian fraktur tidak nyeri lagi dan secara radiograf telah terlihat banyangan radioopak, namun banyangan garis patah tulang masih terlihat. Meskipun demikian, proses penyembuhan belum selesai karena bagian ini masih lemah dibandingkan tulang yang normal. Kekuatan yang sama dengan tulang normal akan dicapai setelah proses remodeling berlangsung. 6. Fase Remodeling Pada fase ini, woven bone mengalami remodeling menjadi lempeng-lempeng tulang yang dikenal dengan lamellar bone. Proses ini berjalan lambat. Kemudian, faktor BMP (Bone Morphogenetic Protein) dilepaskan sehingga membantu membawa dan mengatur proses remodeling. BMP juga berperan sebagai mitogenik dan TGF (Transforming Growth Factor) yang berfungsi untuk memacu diferensiasi sel mesenkim dalam pembentukan tulang. Faktor BMP (Bone Morphogenetic Protein) merupakan sekelompok protein yang dapat menginduksi pertumbuhan tulang dan tulang rawan serta perbaikan pada tulang. Terdapat beberapa jenis BMP, salah satunya adalah BMP-1 yang merupakan metaloprotease. Metaloprotease dikenal juga dengan nama metaloproteinase, metalopepsidase, metalokarboksipepsidase. Metaloprotease merupakan salah satu jenis enzim golongan 17

18 hidrolase yang mampu memotong ikatan peptida dengan bantuan ion logam bivalen sebagai aktivatornya. Faktor BMP yang lain diberi nomor mulai dari BMP-2. BMP-2 hingga BMP-7 merupakan anggota TGF-β (Transforming Growth Factor beta). TGF-β (Transforming Growth Factor beta) berperan dalam menstimulasi pertumbuhan pembuluh darah dan bersama faktor osteoinduksi menstimulasi pembentukan tulang. DAFTAR PUSTKA 1. Balajhi SM. Teks Book of Oral and Maxillofacial Surgery. Delhi India: Elsevier, Hal: , American Collage of Surgeon Committee on Trauma. Advance Trauma Life Support for Doctors (ATLS). 7 th Ed. Student Course Manual. United State of America Hal: Peterson LJ, Edward E, James RH, Myron RT. Oral and Maxillofacial Surgery. 3 nd ed. Phyladelphia: Mosby, Hal: 560, The Free Dictionary by Farlex. Fracture. Access on: (diunduh tanggal 21 November 2010) 5. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC Hal: Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Hal: Anonymous. Basic bone biology. International Osteoporosis Foundation Access on: (diunduh tanggal 20 Desember 2010) 8. Lukman K. Penyembuhan patah tulang ditinjau dari sudut ilmu biologi molekuler. 4:1 (1997): Anonymous. Definition of bone morphogenetic protein. MedicineNet.com Access on: (diunduh tanggal 20 Desember 2010) 10. Acces on: (diunduh tanggal 20 Desember 2010) 18

TRAUMA MUKA DAN DEPT. THT FK USU / RSHAM

TRAUMA MUKA DAN DEPT. THT FK USU / RSHAM TRAUMA MUKA DAN HIDUNG DEPT. THT FK USU / RSHAM PENDAHULUAN Hidung sering fraktur Fraktur tulang rawan septum sering tidak diketahui / diagnosis hematom septum Pemeriksaan dapat dilakukan dengan palpasi

Lebih terperinci

BAB 2 ANATOMI SEPERTIGA TENGAH WAJAH. berhubungan antara tulang yang satu dengan tulang yang lainnya. 7

BAB 2 ANATOMI SEPERTIGA TENGAH WAJAH. berhubungan antara tulang yang satu dengan tulang yang lainnya. 7 BAB 2 ANATOMI SEPERTIGA TENGAH WAJAH Sepertiga tengah wajah dibentuk oleh sepuluh tulang, dimana tulang ini saling berhubungan antara tulang yang satu dengan tulang yang lainnya. 7 2.1 Tulang-tulang yang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Foramen Mentale Foramen mentale adalah suatu saluran terbuka pada korpus mandibula. Melalui foramen mentale dapat keluar pembuluh darah dan saraf, yaitu arteri, vena

Lebih terperinci

BAB II KLAS III MANDIBULA. Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas

BAB II KLAS III MANDIBULA. Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas BAB II KLAS III MANDIBULA 2.1 Defenisi Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas dan gigi-gigi pada rahang bawah bertemu, pada waktu rahang atas dan rahang

Lebih terperinci

Proses Penyembuhan Fraktur (Regenerasi Tulang)

Proses Penyembuhan Fraktur (Regenerasi Tulang) Proses Penyembuhan Fraktur (Regenerasi Tulang) Proses penyembuhan suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh untuk memperbaiki kerusakan kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan dari

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Foramen Mentale Foramen mentale adalah suatu saluran terbuka pada korpus mandibula. Foramen ini dilalui saraf mental, arteri dan vena. Nervus mentalis adalah cabang terkecil

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma /ruda paksa atau tenaga fisik yang ditentukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Saluran Pernafasan Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berhubungan. Pada bagian anterior saluran pernafasan terdapat

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN RADIOGRAFI KALSIFIKASI ARTERI KAROTID. Tindakan membaca foto roentgen haruslah didasari dengan kemampuan

BAB 3 GAMBARAN RADIOGRAFI KALSIFIKASI ARTERI KAROTID. Tindakan membaca foto roentgen haruslah didasari dengan kemampuan BAB 3 GAMBARAN RADIOGRAFI KALSIFIKASI ARTERI KAROTID Tindakan membaca foto roentgen haruslah didasari dengan kemampuan seorang dokter gigi untuk mengenali anatomi normal rongga mulut, sehingga jika ditemukan

Lebih terperinci

BAB 2 KANINUS IMPAKSI. individu gigi permanen dapat gagal erupsi dan menjadi impaksi di dalam alveolus.

BAB 2 KANINUS IMPAKSI. individu gigi permanen dapat gagal erupsi dan menjadi impaksi di dalam alveolus. BAB 2 KANINUS IMPAKSI Gigi permanen umumnya erupsi ke dalam lengkungnya, tetapi pada beberapa individu gigi permanen dapat gagal erupsi dan menjadi impaksi di dalam alveolus. Salah satunya yaitu gigi kaninus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Proses Penyembuhan Fraktur Proses penyembuhan suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh untuk memperbaiki kerusakan kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan

Lebih terperinci

BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA. Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat

BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA. Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat melakukan gerakan meluncur dan rotasi pada saat mandibula berfungsi. Sendi ini dibentuk oleh kondilus mandibula

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada tinjauan pustaka akan diuraikan mengenai suku Batak, foramen mentalis, radiografi panoramik, kerangka teori dan kerangka konsep. 2.1 Suku Batak Penduduk Indonesia termasuk

Lebih terperinci

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita Saat menemukan penderita ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya, baik itu untuk mengatasi situasi maupun untuk mengatasi korbannya. Langkah langkah penilaian pada penderita

Lebih terperinci

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

Gambar 1. Anatomi Palatum 12 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Palatum 2.1.1 Anatomi Palatum Palatum adalah sebuah dinding atau pembatas yang membatasi antara rongga mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga mulut. Palatum

Lebih terperinci

BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi

BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi BAB 2 MALOKLUSI KLAS III 2.1 Pengertian Angle pertama kali mempublikasikan klasifikasi maloklusi berdasarkan hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi apabila tonjol

Lebih terperinci

Gambar klasifikasi Le Fort secara sistematis

Gambar klasifikasi Le Fort secara sistematis Fraktur Le Fort terjadi pada 10-20% dari fraktur wajah. Fraktur ini terjadi karena terpajan kekuatan yang cukup. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama, penyebab lain yang mungkin yaitu

Lebih terperinci

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior Protrusi anterior maksila adalah posisi, dimana gigi-gigi anterior rahang atas lebih ke depan daripada gigi-gigi anterior

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri Definisi simetri adalah persamaan salah satu sisi dari suatu objek baik dalam segi bentuk, ukuran, dan sebagainya dengan sisi yang berada di belakang median plate.

Lebih terperinci

PANDUAN SKILL LAB BLOK MEDICAL EMERGENCY DISLOKASI TMJ DAN AVULSI JURUSAN KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

PANDUAN SKILL LAB BLOK MEDICAL EMERGENCY DISLOKASI TMJ DAN AVULSI JURUSAN KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN PANDUAN SKILL LAB BLOK MEDICAL EMERGENCY DISLOKASI TMJ DAN AVULSI JURUSAN KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Purwokerto, 2012 1 Blok M e d i c a

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Radiografi Kedokteran Gigi Radiografi adalah alat yang digunakan dalam menegakkan diagnosis dan rencana pengobatan penyakit baik penyakit umum maupun penyakit mulut

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Proses kesembuhan fraktur dimulai segera setelah tulang mengalami kerusakan, apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis dan biologis

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebiasaan Buruk Kebiasaan adalah suatu tindakan berulang yang dilakukan secara otomatis atau spontan. Perilaku ini umumnya terjadi pada masa kanak-kanak dan sebagian besar selesai

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesimetrisan Diagnosis dalam ilmu ortodonti, sama seperti disiplin ilmu kedokteran gigi dan kesehatan lainnya memerlukan pengumpulan informasi dan data yang adekuat mengenai

Lebih terperinci

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) Artikel ini merupakan sebuah pengetahuan praktis yang dilengkapi dengan gambar-gambar sehingga memudahkan anda dalam memberikan pertolongan untuk

Lebih terperinci

Patofisiologi Tulang yang mengalami fraktur biasanya diikuti kerusakan jaringan di sekitarnya, seperti di ligamen, otot tendon, persarafan dan pembulu

Patofisiologi Tulang yang mengalami fraktur biasanya diikuti kerusakan jaringan di sekitarnya, seperti di ligamen, otot tendon, persarafan dan pembulu Fraktur Femur Fraktur Femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang atau osteoporosis.

Lebih terperinci

Penanganan definitif fraktur komplek zigoma bilateral disertai fraktur basis kranii fossa anterior (Laporan Kasus)

Penanganan definitif fraktur komplek zigoma bilateral disertai fraktur basis kranii fossa anterior (Laporan Kasus) Penanganan definitif fraktur komplek zigoma bilateral disertai fraktur basis kranii fossa anterior (Laporan Kasus) 1 Abul Fauzi, 2 Abel Tasman, 3 Arifin MZ 1 Residen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Fakultas

Lebih terperinci

CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR

CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR 1. Crossbite anterior Crossbite anterior disebut juga gigitan silang, merupakan kelainan posisi gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi

Lebih terperinci

PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA

PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA 2015 BAB I DEFINISI Skrining merupakan pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang memiliki keadaan fatologis yang tidak terdiagnosis

Lebih terperinci

BAB 2 TUMOR GANAS PADA 2/3 WAJAH. Tumor ganas yang sering terjadi pada wajah terdiri atas dua jenis yaitu: basal

BAB 2 TUMOR GANAS PADA 2/3 WAJAH. Tumor ganas yang sering terjadi pada wajah terdiri atas dua jenis yaitu: basal BAB 2 TUMOR GANAS PADA 2/3 WAJAH Tumor ganas yang sering terjadi pada wajah terdiri atas dua jenis yaitu: basal sel karsinoma dan skuamous sel karsinoma. Tumor ganas yang sering terjadi pada bagian bibir,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Antropologi Suku Batak Suku Batak merupakan bagian dari ras Proto-Melayu yang menempati pulau Sumatera. Sifat paling dominan dari suku ini adalah kebiasaan hidup dalam splendid

Lebih terperinci

FRAKTUR DENTOALVEOLAR DAN PENANGANANNYA. Pedro Bernado

FRAKTUR DENTOALVEOLAR DAN PENANGANANNYA. Pedro Bernado FRAKTUR DENTOALVEOLAR DAN PENANGANANNYA Pedro Bernado PENDAHULUAN ETIOLOGI KLASIFIKASI DIAGNOSIS PERAWATAN WIRING: essig dan eyelet/ivy ETIOLOGI Trauma dentoalveolar semua usia terbanyak usia: 8-12 tahun

Lebih terperinci

Fraktur Mandibula. Oleh : Uswatun Hasanah Radinal. Pembimbing : dr. Irzal. Supervisor : dr. John Pieter. Jr, Sp.B(K) Onk

Fraktur Mandibula. Oleh : Uswatun Hasanah Radinal. Pembimbing : dr. Irzal. Supervisor : dr. John Pieter. Jr, Sp.B(K) Onk Fraktur Mandibula Oleh : Uswatun Hasanah Radinal Pembimbing : dr. Irzal Supervisor : dr. John Pieter. Jr, Sp.B(K) Onk Identitas Pasien Nama Umur JK : Nn. K : 18 tahun : Perempuan Alamat : Kukku Enrekang

Lebih terperinci

BAB 2 TRAUMA MAKSILOFASIAL. Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan

BAB 2 TRAUMA MAKSILOFASIAL. Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan BAB 2 TRAUMA MAKSILOFASIAL 2.1 Defenisi Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya. 2 Trauma pada jaringan maksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan

Lebih terperinci

III. RENCANA PERAWATAN

III. RENCANA PERAWATAN III. RENCANA PERAWATAN a. PENDAHULUAN Diagnosis ortodonsi dianggap lengkap bila daftar problem pasien diketahui dan antara problem patologi dan perkembangan dipisahkan. Tujuan rencana perawatan adalah

Lebih terperinci

Seorang laki-laki umur 30 tahun dibawa ke UGD RSAL. Kesadaran menurun, tekanan darah 70/50, denyut nadi 132 kali/menit kurang kuat, repirasi rate 32

Seorang laki-laki umur 30 tahun dibawa ke UGD RSAL. Kesadaran menurun, tekanan darah 70/50, denyut nadi 132 kali/menit kurang kuat, repirasi rate 32 KELOMPOK 9 Seorang laki-laki umur 30 tahun dibawa ke UGD RSAL. Kesadaran menurun, tekanan darah 70/50, denyut nadi 132 kali/menit kurang kuat, repirasi rate 32 kali/menit suara ngorok dan seperti ada cairan

Lebih terperinci

BAB 2 PERSIAPAN REKONSTRUKSI MANDIBULA. mandibula berguna dalam proses pembicaraan, mastikasi, penelanan dan juga

BAB 2 PERSIAPAN REKONSTRUKSI MANDIBULA. mandibula berguna dalam proses pembicaraan, mastikasi, penelanan dan juga BAB 2 PERSIAPAN REKONSTRUKSI MANDIBULA Rekonstruksi mandibula masih merupakan tantangan yang kompleks. Tulang mandibula berguna dalam proses pembicaraan, mastikasi, penelanan dan juga dukungan jalan pernafasan.

Lebih terperinci

TRAUMA KEPALA. Doni Aprialdi C Lusi Sandra H C Cynthia Dyliza C

TRAUMA KEPALA. Doni Aprialdi C Lusi Sandra H C Cynthia Dyliza C TRAUMA KEPALA Doni Aprialdi C11050165 Lusi Sandra H C11050171 Cynthia Dyliza C11050173 PENDAHULUAN Insidensi trauma kepala di USA sekitar 180-220 kasus/100.000 populasi (600.000/tahunnya) 10 % dari kasus-kasus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik

BAB I PENDAHULUAN. hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Maloklusi secara umum dapat diartikan sebagai deviasi yang cukup besar dari hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik maupun secara

Lebih terperinci

Insidens Dislokasi sendi panggul umumnya ditemukan pada umur di bawah usia 5 tahun. Lebih banyak pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Insidens Dislokasi sendi panggul umumnya ditemukan pada umur di bawah usia 5 tahun. Lebih banyak pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Dislokasi Sendi Panggul Dislokasi sendi panggul banyak ditemukan di Indonesia akibat trauma dan sering dialami oleh anak-anak. Di Negara Eropa, Amerika dan Jepang, jenis dislokasi sendi panggul yang sering

Lebih terperinci

Primary Survey a) General Impressions b) Pengkajian Airway

Primary Survey a) General Impressions b) Pengkajian Airway Primary Survey Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian dan manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma parah yang mengancam kehidupan. Tujuan dari Primary survey adalah

Lebih terperinci

Fraktura Os Radius Ulna

Fraktura Os Radius Ulna Fraktura Os Radius Ulna Pendahuluan Fraktura adalah patah atau ruptur kontinuitas struktur dari tulang atau cartilago dengan atau tanpa disertai dislokasio fragmen. Fraktur os radius dan fraktus os ulna

Lebih terperinci

Diagnosis Penyakit Pulpa dan Kelainan Periapikal

Diagnosis Penyakit Pulpa dan Kelainan Periapikal Diagnosis Penyakit Pulpa dan Kelainan Periapikal Penyakit pulpa dan periapikal Kondisi normal Sebuah gigi yang normal bersifat (a) asimptomatik dan menunjukkan (b) respon ringan sampai moderat yang bersifat

Lebih terperinci

FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA

FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA Fraktur tibia umumnya dikaitkan dengan fraktur tulang fibula, karena gaya ditransmisikan sepanjang membran interoseus fibula. Kulit dan jaringan subkutan sangat tipis pada bagian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI PENDAHULUAN Hemotoraks adalah kondisi adanya darah di dalam rongga pleura. Asal darah tersebut dapat dari dinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh darah besar. Normalnya, rongga pleura hanya

Lebih terperinci

FACIAL GUN SHOT WOUND IN CONFLICT AREA

FACIAL GUN SHOT WOUND IN CONFLICT AREA FACIAL GUN SHOT WOUND IN CONFLICT AREA PENDAHULUAN Penyebab tersering trauma wajah pada daerah konflik biasanya adalah luka tembak selain ledakan bom, yang ditandai dengan adanya penetrasi peluru pada

Lebih terperinci

CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang

CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang CROSSBITE ANTERIOR 1. Crossbite anterior Crossbite anterior disebut juga gigitan silang, merupakan kelainan posisi gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang bawah. Istilah

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN NY. S DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI IGD RS HAJI JAKARTA

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN NY. S DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI IGD RS HAJI JAKARTA ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN NY. S DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI IGD RS HAJI JAKARTA A. PENGKAJIAN 1. IDENTITAS No. Rekam Medis : 55-13-XX Diagnosa Medis : Congestive Heart Failure

Lebih terperinci

SINUSISTIS MAKSILARIS EC HEMATOSINUS EC FRAKTUR LE FORT I. Lukluk Purbaningrum FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta RSUD Salatiga

SINUSISTIS MAKSILARIS EC HEMATOSINUS EC FRAKTUR LE FORT I. Lukluk Purbaningrum FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta RSUD Salatiga SINUSISTIS MAKSILARIS EC HEMATOSINUS EC FRAKTUR LE FORT I Lukluk Purbaningrum 20070310087 FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta RSUD Salatiga IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. R Umur : 53 tahun Alamat : Jl.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau permukaan rawan sendi. Karena tulang dikelilingi oleh struktur jaringan

BAB I PENDAHULUAN. atau permukaan rawan sendi. Karena tulang dikelilingi oleh struktur jaringan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, lempeng epiphyseal atau permukaan rawan sendi. Karena tulang dikelilingi oleh struktur jaringan lunak, tekanan fisik yang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Rahang Tumbuh-kembang adalah suatu proses keseimbangan dinamik antara bentuk dan fungsi. Prinsip dasar tumbuh-kembang antara lain berkesinambungan,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kanalis Mandibularis Kanalis mandibularis adalah saluran yang memanjang dari foramen mandibularis yang terletak pada permukaan medial ramus. Kanalis ini dialiri oleh inferior

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. muka sekitar 40%. Lokasi hidung di tengah dan kedudukan di bagian anterior

BAB 1 PENDAHULUAN. muka sekitar 40%. Lokasi hidung di tengah dan kedudukan di bagian anterior BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fraktur os nasal merupakan fraktur paling sering ditemui pada trauma muka sekitar 40%. Lokasi hidung di tengah dan kedudukan di bagian anterior wajah merupakan faktor

Lebih terperinci

Bantuan Hidup Dasar. (Basic Life Support)

Bantuan Hidup Dasar. (Basic Life Support) Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) Sistem utama tubuh manusia Sistem Pernapasan Sistem Peredaran Darah Mati Mati klinis Pada saat pemeriksaan penderita tidak menemukan adanya fungsi sistem perdarahan

Lebih terperinci

PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)

PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK) Nama Mahasiswa : Tanggal Pemeriksaan : PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Aspek yang dinilai Membina sambung rasa, bersikap

Lebih terperinci

BAB I KONSEP DASAR. berhubungan dengan asetabulum menbentuk kepala sendi yang disebut kaput

BAB I KONSEP DASAR. berhubungan dengan asetabulum menbentuk kepala sendi yang disebut kaput BAB I KONSEP DASAR A. Pengertian Sistem muskuloskeletal adalah suatu sistem yang terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligamen, tendon, fascia, bursae, dan persendian (Depkes, 1995: 3). Fraktur adalah

Lebih terperinci

BAB II ANATOMI. Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata,

BAB II ANATOMI. Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata, BAB II ANATOMI Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata, sebaiknya terlebih dahulu dipahami tentang anatomi mata dan anatomi operasinya. Dibawah ini akan dijelaskan

Lebih terperinci

LAPORAN KASUS BEDAH PLASTIK

LAPORAN KASUS BEDAH PLASTIK LAPORAN KASUS BEDAH PLASTIK SEORANG LAKI-LAKI 17 TAHUN DENGAN FRAKTUR SEGMENTAL MANDIBULA DEXTRA TERTUTUP NON KOMPLIKATA Pembimbing dr. Benny Issakh, Sp.B, SpB.Onk Disusun Oleh Hj Mutiara DPR 22010111200152

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Maloklusi Klas I Angle Pada tahun 1899, Angle mengklasifikasikan maloklusi berdasarkan relasi molar satu permanen rahang bawah terhadap rahang atas karena menurut Angle, yang

Lebih terperinci

OSTEOSARCOMA PADA RAHANG

OSTEOSARCOMA PADA RAHANG OSTEOSARCOMA PADA RAHANG SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran gigi Oleh : AFRINA ARIA NINGSIH NIM : 040600056 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radiografi Sefalometri Ditemukannya sinar X di tahun 1985 oleh Roentgen merupakan suatu revolusi di bidang kedokteran gigi yang merupakan awal mula dari ditemukannya radiografi

Lebih terperinci

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan HEAD INJURY Pendahuluan Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan peralatan keselamatan sabuk pengaman, airbag, penggunaan helm batas kadar alkohol dalam

Lebih terperinci

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Perawatan pendahuluan 4.2 Perawatan utama Rahang atas

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Perawatan pendahuluan 4.2 Perawatan utama Rahang atas BAB 4 PEMBAHASAN Penderita kehilangan gigi 17, 16, 14, 24, 26, 27 pada rahang atas dan 37, 36, 46, 47 pada rahang bawah. Penderita ini mengalami banyak kehilangan gigi pada daerah posterior sehingga penderita

Lebih terperinci

PANDUANTRIASE RUMAH SAKIT

PANDUANTRIASE RUMAH SAKIT PANDUANTRIASE RUMAH SAKIT BAB I PENDAHULUAN... Definisi Triase adalah cara pemilahan penderita untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatanya dan masalah yang terjadi pada

Lebih terperinci

Thompson-Epstein Classification of Posterior Hip Dislocation. Type I Simple dislocation with or without an insignificant posterior wall fragment

Thompson-Epstein Classification of Posterior Hip Dislocation. Type I Simple dislocation with or without an insignificant posterior wall fragment Dislokasi Hips Posterior Mekanisme trauma Caput femur dipaksa keluar ke belakang acetabulum melalui suatu trauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi panggul dalam posisi fleksi atau semifleksi.

Lebih terperinci

HUBUNGAN RAHANG PADA PEMBUATAN GIGI- TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN

HUBUNGAN RAHANG PADA PEMBUATAN GIGI- TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN 1 HUBUNGAN RAHANG PADA PEMBUATAN GIGI- TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN Hubungan rahang disebut juga dengan relasi vertikal/dimensi vertikal. Pengertian relasi vertikal : Jarak vertikal rahang atas dan rahang bawah

Lebih terperinci

Definisi Bell s palsy

Definisi Bell s palsy Definisi Bell s palsy Bell s palsy adalah penyakit yang menyerang syaraf otak yg ketujuh (nervus fasialis) sehingga penderita tidak dapat mengontrol otot-otot wajah di sisi yg terkena. Penderita yang terkena

Lebih terperinci

BAB 2 IMPLAN. Dental implan telah mengubah struktur prostetik di abad ke-21 dan telah

BAB 2 IMPLAN. Dental implan telah mengubah struktur prostetik di abad ke-21 dan telah 12 mengalami defisiensi, terutama pada bagian posterior maksila. Sinus Lifting juga merupakan prosedur pembedahan yang relatif aman dan memiliki prevalensi komplikasi yang cukup rendah serta relatif mudah

Lebih terperinci

BAB I KONSEP DASAR. Frakur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves,

BAB I KONSEP DASAR. Frakur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves, BAB I KONSEP DASAR A. Pengertian Frakur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Doenges, 2000:761). Frakur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves, 2001:248). Frakur adalah terputusnya

Lebih terperinci

Penetapan Gigit pada Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap

Penetapan Gigit pada Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Tugas Paper Penetapan Gigit pada Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Aditya Hayu 020610151 Departemen Prostodonsia Universitas Airlangga - Surabaya 2011 1 I. Sebelum melakukan penetapan gigit hendaknya perlu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Trauma maksilofasial terjadi sekitar 6% dari seluruh trauma. Penyebab trauma

BAB I PENDAHULUAN. Trauma maksilofasial terjadi sekitar 6% dari seluruh trauma. Penyebab trauma BAB I PENDAHULUAN Trauma maksilofasial terjadi sekitar 6% dari seluruh trauma. Penyebab trauma maksilofasial bervariasi, seperti kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. gigi geligi dan struktur yang menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. gigi geligi dan struktur yang menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gigi tiruan lengkap adalah protesa gigi lepasan yang menggantikan seluruh gigi geligi dan struktur yang menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas dan rahang bawah

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA STATUS GLASSGOW COMA SCALE DENGAN ANGKA LEUKOSIT PADA PASIEN TRAUMA KEPALA YANG DIRAWAT INAP DI RSUD Dr MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA STATUS GLASSGOW COMA SCALE DENGAN ANGKA LEUKOSIT PADA PASIEN TRAUMA KEPALA YANG DIRAWAT INAP DI RSUD Dr MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA STATUS GLASSGOW COMA SCALE DENGAN ANGKA LEUKOSIT PADA PASIEN TRAUMA KEPALA YANG DIRAWAT INAP DI RSUD Dr MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Oleh: ADE SOFIYAN J500050044 Kepada : FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB 2 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA. 2. Ligamen Sendi Temporomandibula. 3. Suplai Darah pada Sendi Temporomandibula

BAB 2 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA. 2. Ligamen Sendi Temporomandibula. 3. Suplai Darah pada Sendi Temporomandibula BAB 2 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA Sendi adalah hubungan antara dua tulang. Sendi temporomandibula merupakan artikulasi antara tulang temporal dan mandibula, dimana sendi TMJ didukung oleh 3 : 1. Prosesus

Lebih terperinci

KEHILANGAN TULANG DAN POLA PERUSAKAN TULANG Kehilangan tulang dan cacat tulang yang diakibatkan penyakit periodontal membahayakan bagi gigi, bahkan

KEHILANGAN TULANG DAN POLA PERUSAKAN TULANG Kehilangan tulang dan cacat tulang yang diakibatkan penyakit periodontal membahayakan bagi gigi, bahkan KEHILANGAN TULANG DAN POLA PERUSAKAN TULANG Kehilangan tulang dan cacat tulang yang diakibatkan penyakit periodontal membahayakan bagi gigi, bahkan bisa menyebabkan hilangnya gigi. Faktor-faktor yang memelihara

Lebih terperinci

BAB 3 DIAGNOSA DAN PERAWATAN BINDER SYNDROME. Sindrom binder merupakan salah satu sindrom yang melibatkan pertengahan

BAB 3 DIAGNOSA DAN PERAWATAN BINDER SYNDROME. Sindrom binder merupakan salah satu sindrom yang melibatkan pertengahan BAB 3 DIAGNOSA DAN PERAWATAN BINDER SYNDROME Sindrom binder merupakan salah satu sindrom yang melibatkan pertengahan wajah. 16 Sindrom binder dapat juga disertai oleh malformasi lainnya. Penelitian Olow-Nordenram

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Informed consent 2.1.1 Definisi Informed consent Informed consent adalah suatu persetujuan mengenai akan dilakukannya tindakan kedokteran oleh dokter terhadap pasiennya. Persetujuan

Lebih terperinci

ALGORITMA PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA RINGAN

ALGORITMA PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA RINGAN PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA ALGORITMA PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA RINGAN Definisi : penderita sadar dan berorientasi (GCS 14-15) Riwayat : Nama, umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan Mekanisme cedera

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. industrilisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. industrilisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan Negara berkembang dan menuju industrilisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat terutama dalam bidang penggunaan

Lebih terperinci

PANDUAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR

PANDUAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR PANDUAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menemukan seseorang yang mengalami kecelakaan atau seseorang yang terbaring di suatu tempat tanpa bernafas spontan? Apakah Anda

Lebih terperinci

Grafik 1. Distribusi TDI berdasarkan gigi permanen yang terlibat 8

Grafik 1. Distribusi TDI berdasarkan gigi permanen yang terlibat 8 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Distribusi Trauma Gigi Trauma gigi atau yang dikenal dengan Traumatic Dental Injury (TDI) adalah kerusakan yang mengenai jaringan keras dan atau periodontal karena

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Analisa Profil Jaringan Lunak Wajah Analisa profil jaringan lunak wajah yang tepat akan mendukung diagnosa secara keseluruhan pada analisa radiografi sefalometri lateral. Penegakkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembangunan bangsa Indonesia yang tertuang dalam

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembangunan bangsa Indonesia yang tertuang dalam BAB I PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan umum, dan untuk mencapai tujuan tersebut bangsa Indonesia

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Prevalensi dan Etiologi Trauma gigi sulung anterior merupakan suatu kerusakan pada struktur gigi anak yang dapat mempengaruhi emosional anak dan orang tuanya. Jika anak mengalami

Lebih terperinci

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya fraktur.

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya fraktur. Definisi fraktur Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri Asimetri merupakan komposisi yang sering dikaitkan dalam dunia seni dan kecantikan, tetapi lain halnya dalam keindahan estetika wajah. Estetika wajah dapat diperoleh

Lebih terperinci

Gambar 1. Contoh rontgent bagian kepala, lateral radiograph anjing umur 12 tahun.

Gambar 1. Contoh rontgent bagian kepala, lateral radiograph anjing umur 12 tahun. Definisi fraktur maxilari dan mandibulari adalah kerusakan pada tulang maxilla dan mandibula yang seringkali terjadi akibat adanya trauma, periodontitis maupun neoplasia. Periodontitis adalah reaksi peradangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Maloklusi a. Definisi Oklusi merupakan hubungan gigi rahang atas dan rahang bawah saat berkontak fungsional selama aktivitas mandibula (Newman, 1998). Oklusi

Lebih terperinci

LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN

LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN HUBUNGN PENGETAHUAN TENTANG TRAUMA KEPALA DENGAN PERAN PERAWAT (PELAKSANA) DALAM PENANGANAN PASIEN TRAUMA KEPALA DI UNIT GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT QADR TANGERANG

Lebih terperinci

GAMBARAN KLINIS DAN PERAWATAN ANOMALI ORTODONTI PADA PENDERITA SINDROMA CROUZON SKRIPSI

GAMBARAN KLINIS DAN PERAWATAN ANOMALI ORTODONTI PADA PENDERITA SINDROMA CROUZON SKRIPSI GAMBARAN KLINIS DAN PERAWATAN ANOMALI ORTODONTI PADA PENDERITA SINDROMA CROUZON SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh : ALI AKBAR

Lebih terperinci

BAB 2 PENGERTIAN, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA OSTEOSARKOMA. Osteosarkoma adalah suatu lesi ganas pada sel mesenkim yang mempunyai

BAB 2 PENGERTIAN, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA OSTEOSARKOMA. Osteosarkoma adalah suatu lesi ganas pada sel mesenkim yang mempunyai BAB 2 PENGERTIAN, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA OSTEOSARKOMA 2.1 Definisi dan Etiologi Osteosarkoma 2.1.1 Definisi Osteosarkoma adalah suatu lesi ganas pada sel mesenkim yang mempunyai kemampuan untuk membentuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan tangan terentang. Sebagian besar fraktur tersebut ditangani dalam unit

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan tangan terentang. Sebagian besar fraktur tersebut ditangani dalam unit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fraktur ekstremitas atas cukup sering terjadi, biasanya disebabkan karena jatuh dengan tangan terentang. Sebagian besar fraktur tersebut ditangani dalam unit rawat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pencabutan Gigi Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan

Lebih terperinci

TEKNIK DAN TRIK PENCABUTAN GIGI DENGAN PENYULIT

TEKNIK DAN TRIK PENCABUTAN GIGI DENGAN PENYULIT TEKNIK DAN TRIK PENCABUTAN GIGI DENGAN PENYULIT Dipresentasikan pada Prosiding Temu Ilmiah Bandung Dentistry 6 Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Kota Bandung Oleh : Lucky Riawan, drg., Sp BM

Lebih terperinci

BAB II KEADAAN JARINGAN GIGI SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK. endodontik. Pengetahuan tentang anatomi gigi sangat diperlukan untuk mencapai

BAB II KEADAAN JARINGAN GIGI SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK. endodontik. Pengetahuan tentang anatomi gigi sangat diperlukan untuk mencapai BAB II KEADAAN JARINGAN GIGI SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK Dokter gigi saat merawat endodontik membutuhkan pengetahuan tentang anatomi dari gigi yang akan dirawat dan kondisi jaringan gigi setelah perawatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gigi, mulut, kesehatan umum, fungsi pengunyahan, dan estetik wajah.1 Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. gigi, mulut, kesehatan umum, fungsi pengunyahan, dan estetik wajah.1 Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perawatan ortodontik merupakan suatu faktor penting dalam pemeliharaan gigi, mulut, kesehatan umum, fungsi pengunyahan, dan estetik wajah.1 Tujuan umum perawatan ortodontik

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mandibula Mandibula adalah tulang wajah yang terbesar dan terkuat yang berbentuk seperti tapal kuda. Mandibula juga merupakan satu-satunya tulang tengkorak yang dapat bergerak.

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG A. DEFINISI CKR (Cedera Kepala Ringan) merupakan cedera yang dapat mengakibatkan kerusakan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca

Lebih terperinci

BAB 2 ANKILOSIS SENDI TEMPOROMANDIBULA. fibrous atau tulang antara kepala kondilar dengan fosa glenoidalis yang dapat

BAB 2 ANKILOSIS SENDI TEMPOROMANDIBULA. fibrous atau tulang antara kepala kondilar dengan fosa glenoidalis yang dapat BAB 2 ANKILOSIS SENDI TEMPOROMANDIBULA 2.1 Defenisi Ankilosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti kekakuan pada sendi akibat proses dari suatu penyakit. Ankilosis dapat didefenisikan sebagai penyatuan

Lebih terperinci