BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Liani Sudjarwadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Persaingan tidak sempurna yang terjadi pada Alfamart dan ritel tradisional tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatannya dari ritel-ritel tradisional. Dan ini akan membawa dampak yang luar biasa terhadap masa depan toko-toko kecil. Untuk melihat dari dampak didirikannya Alfamart tersebut, dapat dilihat melalui pembahasan berikut ini. Tabel 4.1 Produk Umum Yang Dibeli Konsumen Toko menjadi Sampel yang Perlengkapan mandi Produk Snack Rokok Sembako Total Toko Radius 100 m Toko Radius 300 m Toko Radius 500 m Sumber: Data Primer 2014 diolah 1
2 Produk Umum Yang Dibeli 20% 13% Perlengkapan mandi Snack 33% 34% Rokok Sembako Gambar 1. Produk Umum Yang Dibeli Konsumen Berdasarkan hasil perhitungan, mengenai jenis produk yang banyak dibeli konsumen di warung atau toko kelontong di sekitar Alfamart adalah snack yaitu sebesar 34%. Snack berupa makanan kecil atau permen sejenisnya. Kemudian diikuti rokok sebesar 33%, baik berupa rokok eceran maupun dalam kemasan. 20% nya adalah sembako, yang terdiri dari beras, minyak, gula, garam dan lain-lain. Dan produk yang terendah adalah perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo dan pasta gigi sebesar 13%. 2
3 Tabel 4.2 Pengaruh Alfamart tehadap Kelangsungan Usaha Ritel Tradisional Toko yang Pengaruh terhadap kelangsungan usaha Total menjadi Sampel Berpengaruh Tidak Berpengaruh Toko Radius 100 m Toko Radius 300 m Toko Radius 500 m Sumber: Data Primer 2014 diolah Gambar 2. Pengaruh Alfamart Terhadap Kelangsungan Usaha Ritel Tradisional Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui besarnya pengaruh Alfamart 3
4 atau dampaknya bagi kelangsungan pedagang tradisional sebesar 53%. Dari tabel di atas, bisa kita lihat pula, pedagang yang lebih dekat (100m) merasa kehadiran Alfamart membawa dampak secara langsung terhadap kelangsungan usahanya. Kemudian pedagang yang berjarak 100 m sampai 300 m, sebagian menyatakan berpengaruh terhadap kelangsungan usahanya dan sebagian lagi menyatakan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan usaha. Dan pedagang yang berada dalam radius 500 m, 1 pedagang menyatakan berpengaruh dan 4 pedagang menyatakan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan usahanya. Untuk lebih rincinya lagi, maka kita lihat terhadap jumlah pembelinya. Gambar 3. Rata-rata Jumlah Pembeli Sebelum Adanya Alfamart 4
5 Gambar 4. Rata-rata Jumlah Pembeli Sesudah Adanya Alfamart Diagram di atas menunjukkan dampak yang dialami oleh ritel tradisional dalam hal jumlah pembeli. Sebelum Alfamart berdiri, pedagang yang mempunyai jumlah pembeli di atas 20 orang sebanyak 60% dari total sampel. Namun setelah Alfamart berdiri, pedagang yang mempunyai jumlah pembeli di atas 20 orang menurun menjadi 40% dari total sampel. Penurunan jumlah pembeli tersebut, menjadi orang setiap harinya. Hal ini terlihat dari diagram, di mana jumlah pembeli orang yang semula 40% meningkat menjadi 73%. Kemudian sebelum adanya Alfamart, tidak ada pedagang yang mempunyai jumlah pembeli di bawah 10 orang, namun setelah adanya Alfamart sebanyak 7% pedagang mempunyai jumlah pembeli di bawah 10 orang. Hal ini menunjukkan dampak adanya Alfamart sangat dirasakan oleh pedagang-pedagang tradisional. 5
6 Pelanggan Baru Setelah Adanya Alfamart 60% 40% Masih ada Berkurang Gambar 5. Adanya Pelanggan Baru Setelah Adanya Alfamart Konsumen merupakan penentu omset penjualan, yang artinya banyak atau sedikitnya konsumen akan mempengaruhi besar penghasilan yang diterima oleh setiap pedagang. Konsumen yang ada harusnya semakin bertambah dari ke hari dan jangan sampai lari atau berkurang. Tetapi menurut diagram di atas, konsumen baru yang datang ke warung tradisional tersebut semakin berkurang. 60% pedangan menyatakakan pelanggan baru mereka menjadi berkurang, akibat didirikannya Alfamart. Pelanggan baru yang datang ke toko tersebut menjadi berkurang karena lebih memilih berbelanja di Alfamart sekitar. 6
7 Keragaman Barang Setelah Adanya Alfamart 27% Masih tetap Lebih lengkap 73% Gambar 6. Keragaman Barang Setelah Adanya Alfamart Semakin banyaknya Alfamart di sekitar daerah mereka, memunculkan niat pedagang untuk lebih membenahi usahanya. Dengan menurunnya jumlah pembeli, berkurangnya pelanggan baru membuat pedagang ritel menambah jenis atau varian produk di toko mereka. Hal ini dilakukan agar konsumen bisa tetap berbelanja di toko mereka. 73% pedagang mengaku menambah lagi keragaman barang dagangannya setelah adanya Alfamart, namun 27% pedagang mengaku jenis produk yang ditawarkan masih sama. 7
8 Tabel 4.3 Besarnya Omset Penjualan/ hari Sebelum adanya Alfamart Toko yang menjadi Sampel Omset Penjualan (Rp) < riburibu 500 ribu > 500 ribu Total Toko Radius 100 m Toko Radius 300 m Toko Radius 500 m Sumber: Data Primer 2014 diolah Gambar 7. Besarnya Omset Penjualan Per Hari Sebelum Adanya Alfamart 8
9 Data di atas menunjukkan data omset penjualan, sebelum adanya Alfamart. Bahwa toko atau ritel yang mempunyai penghasilan kurang dari 300 ribu adalah 27% dari total sampel penelitian. 33% pedagang berpenghasilan 300 ribu sampai dengan 500 ribu dan sebanyak 40% pedagang berpenghasilan lebih dari 500 ribu. Tabel 4.4 Besarnya Omset Penjualan/ hari Setelah adanya Alfamart Toko yang menjadi Sampel Omset Penjualan (Rp) 300 ribu- < 300 ribu 500 ribu > 500 ribu Total Toko Radius 100 m 5 5 Toko Radius 300 m Toko Radius 500 m Sumber: Data Primer 2014 diolah 9
10 Gambar 8. Besarnya Omset Penjualan Per Hari Setelah Adanya Alfamart Gambar 9. Besarnya Omset Penjualan Per Hari Setelah Adanya Alfamart Data di atas menunjukkan data omset penjualan, setelah adanya Alfamart. Bahwa 10
11 toko atau ritel yang mempunyai penghasilan kurang dari 300 ribu adalah 60% dari total sampel penelitian. 0% atau tidak ada pedagang yang berpenghasilan 300 ribu sampai dengan 500 ribu dan sebanyak 40% pedagang berpenghasilan lebih dari 500 ribu. Tabel 4.5 Selisih Omset Penjualan Sebelum dan Sesudah Adanya Alfamart Omset Penjualan (Rp) Keterangan < 300 ribu 300 ribu- 500 ribu > 500 ribu Total Sebelum adanya Alfamart Sesudah adanya Alfamart Sumber: Data Primer 2014 diolah Kenaikan ( Penurunan ) Omset Penjualan Setelah Adanya Alfamart 0% < 300 ribu 45% 300 ribu-500 ribu 55% < 500 ribu Gambar 10. Kenaikan (Penurunan) Omset Penjualan Setelah Adanya Alfamart Berdasarkan perhitungan di atas, terlihat perbandingan omset penjualan sebelum 11
12 dan sesudah adanya Alfamart. Sebelum adanya Alfamart, pedagang yang mempunyai penghasilan kurang dari 300 ribu adalah 4 orang. Namun setelah adanya Alfamart jumlah pedagang tersebut bertambah menjadi 9 orang. Sedangkan pedagang yang berpenghasilan antara 300 ribu sampai dengan 500 ribu, sebelum ada Alfamart berjumlah 5 orang. Setelah adanya Alfamart, tidak ada lagi pedagang yang memiliki omset sebesar 300 ribu- 500 ribu. Pedagang ini mengalami penurunan omset menjadi di bawah 300 ribu. Pedagang-pedagang yang berpenghasilan 300 ribu-500 ribu sebulan, setelah adanya Alfamart bergeser ke kelompok penghasilan di bawah 300 ribu. Kemudian pedagang yang berpenghasilan di atas 500 ribu memiliki omset yang relatif stabil atau tetap, baik sebelum atau setelah adanya Alfamart. Menurut data yang diperoleh mengenai omset penjualan, mayoritas pemilik warung atau toko kelontong yang berada di radius 100m sampai dengan 300 m menyatakan mengalami penurunan omzet penjualan sebesar 20 sampai dengan 30% dari omset penjualan sebelumnya. Dari 15 toko sebanyak 50% lebih para pedagang mengalami penurunan omset dikarenakan telah berdirinya Alfamart di sekitar mereka. Hal ini menunjukkan cukup tingginya persaingan usaha sejenis di lokasi tersebut. Beberapa penyebab menurunnya jumlah pelanggan menurut pendapat pengusaha adalah meningkatnya jumlah usaha minimarket sehingga menyebabkan pelanggan berpindah. Di lain pihak pemilik warung atau toko kelontong yang berada di radius 500 m dari Alfamart menyatakan omzet penjualan mereka masih stabil. Pemilik 12
13 menyatakan jumlah pelanggan mereka tidak terpengaruh oleh semakin banyaknya Alfamart yang didirikan di Kecamatan Pati tersebut. Tabel 4.6 Upaya Peningkatan Omset Penjualan yang Dilakukan Ritel Tradisional Upaya peningkatan omset penjualan 100 m m 500 m Total Prosentase Mengutamakan pelanggan 13% 0% 7% 3 20% Memberikan promo menarik 7% 7% 0% 2 13% Menjaga kualitas barang 7% 7% 0% 2 13% Servis dan kenyamanan tempat. 7% 0% 0% 1 7% Harga yang tidak terlalu mahal 0% 20% 7% 4 27% Tidak ada upaya 0% 0% 13% 2 13% Sistem hutang piutang 0% 0% 7% 1 7% Total 33% 33% 33% ,00% Sumber: Data Primer 2014 diolah 13
14 Dari tabel di atas, kita bisa melihat upaya-upaya yang dilakukan oleh pedagang baik yang berada di jarak 100 m, 300 m dan 500 m untuk meningkatkan omset penjualannya. 27% pedagang meningkatkan penjualan dengan cara menawarkan harga yang tidak terlalu mahal (20% pedagang yang berjarak 300m dan 7% bagi pedagang yang berjarak 500m), 20% pedagang berusaha mengutamakan pelayanan konsumen (13% pedagang yang berjarak 100m dan 7% bagi pedagang yang berjarak 500m). 13% pedagang cenderung memberikan promo menarik (6.5% pedagang yang berjarak 100m dan 6.5% bagi pedagang yang berjarak 300m), serta 13% lainnya menjaga kualitas barang (6.5% pedagang yang berjarak 100m dan 6.5% bagi pedagang yang berjarak 300m). 7% pedagang yang berjarak 100m lebih kepada memberi servis dan kenyamanan tempat berbelanja. 7% pedagang yang berjarak 500m lain memberikan sistem hutang piutang. Kemudian sisanya mengaku tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan omset penjualan Dampak positif setelah adanya Alfamart di sekitar ritel tradisonal Selain dampak negatif yang di rasakan oleh pedagang, dampak positif yang dirasakan pedagang adalah keuntungan yang di ambil biasa lebih tinggi. Hal ini bias kita lihat sebagai berikut: 14
15 Tabel 4.7 Keuntungan Satu Jenis Produk Toko yang menjadi Sampel Keuntungan satu jenis produk (Rp) < > 1000 Total Toko Radius 100 m Toko Radius 300 m Toko Radius 500 m Sumber: Data Primer 2014 diolah Keuntungan untuk satu jenis produk 27% < % % > 1000 Gambar 11. Keuntungan Satu Jenis Produk Menurut data yang diperoleh, pemilik warung atau toko kelontong mengambil keuntungan satu jenis produk sebesar Rp 500 yaitu sebanyak 27% dari total responden. 27% responden mengambil keuntungan Rp 1000 untuk satu jenis produk. Kemudian 46% responden mengaku mengambil keuntungan lebih dari Rp Para pedagang mengakui bahwa mereka tidak mengambil keuntungan yang banyak untuk satu jenis produk. Hal ini merupakan upaya dan strategi mereka 15
16 untuk menjaga loyalitas pelanggan agar tidak berpindah ke pesaingnya. Menurut Yenli, dengan adanya ritel modern menyebabkan minat beli konsumen terhadap ritel tradisional mulai menurun. Perubahan tersebut memang bisa kita lihat seperti di atas. Menurunnya omset penjualan, menurunnya jumlah pembeli dll Menurut Yenli, hal ini dilihat dari keuntungan yang dimiliki ritel modern yaitu barang-barang yang dijual lebih lengkap dan berkualitas, memiiki tempat yang nyaman dan strategis sehingga konsumen lebih tertarik untuk berbelanja pada ritel modern. Sedangkan pada ritel tradisional hanya menyediakan bahan kebutuhan pokok sehingga bahan yang tersedia terbatas dan tidak lengkap. Hal ini menyebabkan konsumen tidak puas dan kecewa apabila barang yang dicari tidak tersedia pada ritel tradisional. Dengan demikian konsumen lebih memilih untuk berbelanja di ritel modern. Kita bisa melihat bahwa produk-produk yang umum dijual di ritel tradisonal di atas mempunyai barang cukup lengkap. Rata-rata pedagang tersebut menjual produk harian, perlengkapan masak, serta sembako. Kemudian mereka juga bisa menjual secara eceran maupun dalam jumlah yang banyak. Hal ini merupakan implikasi teori, yaitu kenyataan yang tidak sesuai dengan teori Yenli, karena pada umumnya konsumen lebih memilih tempat yang dekat serta barang yang mempunyai harga yang relatif murah 16
17 Tabel 4.8 Strategi Yang Dilakukan Ritel Tradisional Untuk Menghadapi Keberadaan Ritel Modern Sering menyediakan produk baru 100 m m 500 m Total Prosentase Ya 13% 13% 7% 6 40% Tidak 13% 7% 7% 4 27% Kadang-kadang 7% 13% 20% 5 33% Total 33% 33% 33% % Sumber: Data Primer 2014 diolah Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Produk bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan. Jadi ada tuntutan bagi pedagang untuk selalu menyediakan suatu produk baru terhadap konsumen. Menurut data di atas, kita bisa melihat apakah pedagang-pedagang yang dijadikan sampel selalu menyediakan produk baru secara cepat atau tidak. 40% pedagang mengaku selalu menyediakan produk apabila produk tersebut ada di pasar (13% pedagang yang berjarak 100m, 13% pedagang yang berjarak 300m dan 7% pedagang yang berjarak 500m). Kemudian 33% pedagang tersebut kadang-kadang menyediakan suatu produk baru di tempat dagangannya. (7% pedagang yang 17
18 berjarak 100m, 13% pedagang yang berjarak 300m dan 20% pedagang yang berjarak 500m). Dan 27% pedagang tidak sering menyediakan produk baru di tempat ia berjualan. (13% pedagang yang berjarak 100m, 7% pedagang yang berjarak 300m dan 7% pedagang yang berjarak 500m) Gambar 12. Upaya Peningkatan Pembeli Dari diagram di atas tampak strategi-strategi yang dilakukan oleh ritel tradisional untuk menghadapi keberadaan ritel modern. 34% pedagang lebih memfokuskan kepada penawaran harga yang lebih rendah dibandingkan ritel modern. Agar pembeli lebih memilih membeli di tempatnya daripada di ritel modern. 20% pedagang membenahi tempat dagangannya, seperti penataan produk, layout barang yang lebih rapi dll. 20% lainnya menyatakan meningkatkan kualitas barang, seperti menambah jumlah produk dagangannya, menyediakan barang yang tidak dijual di ritel modern. 13% pedagang menyatakan lebih mengutamkan pelayanan konsumen, dalam hal keramahan, memberikan pelayanan sebaik mungkin. 18
19 Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Malikin di atas, bahwa upaya untuk menghadapi persaingan usaha dimana memanfaatkan kelemahan pesaing sebagai peluang untuk memenangkan persaingan pasar. Sebab dengan menawarkan apa yang tidak dimiliki pesaing, pembeli tetap mempertahankan untuk berbelanja di toko tersebut. Beberapa sampel yang mempunyai omset stabil, rata-rata menjual produk yang sebagian tidak dijual di Alfamart, produk tersebut misalnya sembako. Pembeli akan tetap berbelanja di warung tradisonal tersebut, karena produk tersebut tidak dijual atau disediakan oleh Alfamart. Begitu pula dengan harga, dari sampel yang ada presentase paling tinggi untuk memenangkan persaingan adalah menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan ritel modern. Hal ini akan mendorong konsumen untuk berbelanja di warung tersebut, karena harga yang ditawarkan lebih rendah. Terlebih lagi jika konsumen tersebut membeli dalam jumlah yang banyak serta rutin. Alternatif ini bisa dipilih konsumen karena harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Misalnya mie instan yang dijual secara eceran dengan harga Rp per buah, apabila dibeli berjumlah 3 buah, maka penjual akan memberikan potongan harga. Mie instan yang seharusnya Rp ), menjadi Rp Potongan harga sebesar 5% ini merupakan langkah dari penjual untuk menarik konsumen agar membeli di warungnya dibandingkan di toko modern. Kemudian menurut Malikin, untuk memenuhi harapan konsumen cara yang digunakan adalah memberikan pelayanan yang lebih memuaskan daripada yang dilakukan oleh pesaing. Rata-rata pedagang tradisional tersebut menyatakan melayani konsumen sebaik mungkin untuk startegi dalam memenangkan 19
20 persaingan usaha. Hal ini bisa dilakukan misalnya dalam hal keramahan. Jadi pelayanan konsumen yang baik merupakan salah satu cara dalam memenangkan persaingan usaha. Menurut Malikin beberapa upaya yang bisa dilakukan pedagang untuk memenangkan persaingan usaha, sama dengan hal yang dilakukan oleh pedagang ritel tradisional tersebut. 20
Bisnis Warung Kelontong Modal Kecil
Bisnis Warung Kelontong Modal Kecil Mungkin benar bila modal uang merupakan salah satu hal yang dibutuhkan dalam memulai usaha. Namun memiliki modal uang yang terbatas, bukan menjadi satu alasan bagi Anda
BAB I PENDAHULUAN. pembelian dan mengkonsumsi. Untuk memenuhi ketiga aktivitas tersebut, terjangkau terutama bagi masyarakat berpenghasilan sedang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Aktivitas konsumen terdiri dari tiga kegiatan, yaitu: berbelanja, melakukan pembelian dan mengkonsumsi. Untuk memenuhi ketiga aktivitas tersebut, konsumen
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Ritel Tradisional Menurut Ahyani, Andriawan, Ari (2010) menyatakan bahwa toko tradisional (toko kecil) adalah sebuah toko yang menjual barang-barang kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini tentunya membuat jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semenjak krisis ekonomi tahun 1997 perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di sektor formal yang menutup usahanya
BAB I PENDAHULUAN. dahulu keinginan dan kebutuhan, konsumen pada saat ini dan yang akan datang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada Perkembangan bisnis di era Abad ke-21 telah berkembang sangat pesat dan mengalami metamorfosis yang berkesinambungan. Dimana salah satu contoh perubahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis ritel dewasa ini semakin meningkat. Peningkatan persaingan bisnis ritel dipicu oleh semakin menjamurnya bisnis ritel modern yang sekarang banyak
BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat dipungkiri. Selama ini masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari saling ketergantungan antar makhluk hidup untuk selalu berkembang dan bertahan hidup.
BAB I PENDAHULUAN. lingkungan. Sedangkan ritel modern adalah sebaliknya, menawarkan tempat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Ritel adalah salah satu jenis usaha jasa yang berkembang di Indonesia. Ritel berfokus pada penjualan barang sehari-hari. Hal ini sesuai dengan kecenderungan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Warung Tradisional Jenis usaha yang dilakukan oleh pedagang kecil di kota Salatiga beraneka ragam. Dari hasil observasi ditemukan bermacam usaha
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Usaha atau bisnis ritel di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Usaha atau bisnis ritel di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat beberapa tahun terakhir ini, dengan berbagai format serta jenisnya. Di tengah kondisi perekonomian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Bab ini memaparkan metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Pada bab ini akan diuraikan prosedur dan langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1-1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk, khususnya di kota Bandung, maka kebutuhan sehari-hari, seperti peralatan mandi, sembako, dan lain-lain, juga
BAB I PENDAHUALAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak
1 BAB I PENDAHUALAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang pesat dalam bidang usaha. Sejalan dengan itu banyak bermunculan perusahaan
BAB II MINIMARKET DAN WARUNG KELONTONG
BAB II MINIMARKET DAN WARUNG KELONTONG 2.1 Minimarket 2.1.1 Pengertian Minimarket Gambar 2.1 Ruangan di dalam Minimarket (http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/07/11) Minimarket adalah semacam toko
BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan pasar modern di Indonesia saat ini menunjukkan angka yang
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pertumbuhan pasar modern di Indonesia saat ini menunjukkan angka yang cukup fantastis. Berbagai jenis pasar modern seperti supermarket, hypermarket maupun mall-mall
BAB I PENDAHULUAN. Bisnis ritel di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bisnis ritel di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Berdasarkan informasi dari www.sentananews.com (2015) Abdullah Mansuri selaku ketua umum Ikatan Pedagang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Bisnis waralaba telah berkembang dengan pesat pada saat ini. Hal tersebut memberikan pengaruh besar bagi perekonomian negara dan terlebih lagi dengan semakin
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan bisnis ritel di Indonesia pada saat ini semakin cepat salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan bisnis ritel di Indonesia pada saat ini semakin cepat salah satunya disebabkan oleh kebutuhan masyarakat yang jumlahnya terus meningkat. Salah
BAB 1 PENDAHULUAN. hal itu, Ghanimata (2012) mengatakan para pemasar harus menerapkan. ujung tombak keberhasilan pemasaran.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisai telah menuntut adanya perubahan dalam segala bidang. Salah satunya adalah bidang pemasaran. Semakin tingginya tingkat persaingan di dunia bisnis dan kondisi
Judul : Analisis Pendapatan Usaha Warung Tradisional Dengan Munculnya Minimarket Di Kota Denpasar Nama : Ida Ayu Sima Ratika Dewi NIM :
Judul : Analisis Pendapatan Usaha Warung Tradisional Dengan Munculnya Minimarket Di Kota Denpasar Nama : Ida Ayu Sima Ratika Dewi NIM : 1215151034 ABSTRAK Akibat dari munculnya minimarket yang kian lama
I. PENDAHULUAN. Lapangan Usaha * 2011** Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor yang berperan penting sebagai penggerak dalam pembangunan ekonomi nasional (Hartati, 2006). Tabel 1 menunjukkan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. Amir (2011) kepuasan konsumen didefinisikan sejauh mana manfaat sebuah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada era bisnis saat ini persaingan dalam dunia bisnis semakin ketat, untuk memenangkan persaingan ini pelaku bisnis dituntut untuk mampu memaksimalkan
BAB I PENDAHULUAN. peritel tetap agresif melakukan ekspansi yang memperbaiki distribusi dan juga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan industri modern ritel dewasa ini semakin pesat, baik pemain lokal maupun asing semakin agresif bermain dalam pasar yang empuk tersebut. Prospek
BAB I PENDAHULUAN. Carrefour, Hero, Superindo, Hypermart, dan lainnya. Dengan adanya berbagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan bisnis saat ini, membuat persaingan bisnis ritel menjadi semakin ketat. Menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), bisnis ritel atau
BAB I PENDAHULUAN UKDW. ritel modern seperti minimarket daripada pasar tradisional. strategis serta promosi yang menarik minat beli.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang semakin modern saat ini membuat kebutuhan dan keinginan manusia semakin bermacam - macam. Era yang modern ini memberikan dampak kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. menjadi bisnis modern maupun munculnya bisnis ritel modern yang baru seperti
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Sekarang ini perkembangan bisnis ritel semakin diminati oleh masyarakat, hal ini ditandai semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang membenahi diri menjadi bisnis
BAB I PENDAHULUAN. terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan yang cukup besar. Hingga saat ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan bisnis ritel di indonesia khususnya swalayan menunjukkan angka yang cukup signifikan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap pemenuhan kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. Secara umum bidang usaha ritel atau pengecer modern di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara umum bidang usaha ritel atau pengecer modern di Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari jumlah dan variasi ritel modern yang
BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Keberadaan perusahaan ritel yang bermunculan di dalam negeri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bisnis Ritel di Indonesia makin hari dirasakan semakin ramai dan persaingan bisnisnya menunjukan perkembangan yang cukup pesat, namun tidak menjadi halangan
BAB I PENDAHULUAN UKDW. menjadi pasar yang sangat berpotensial bagi perusahaan-perusahaan untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, maka Indonesia dapat menjadi pasar yang sangat berpotensial bagi perusahaan-perusahaan untuk memasarkan produk-produk
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. beberapa temuan untuk dijadikan kesimpulan. Kesimpulan berdasrkan pada hasil
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil pengolahan data di bab IV, penelitian menghasilkan beberapa temuan untuk dijadikan kesimpulan. Kesimpulan berdasrkan pada hasil temuan dari analisis
I. PENDAHULUAN. banyak sumber daya dengan meningkatkan efesiensi penggunaan sumber daya
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan adalah usaha untuk meningkatkan manfaat yang dapat kita peroleh dari sumber daya. Kenaikan manfaat itu dapat dicapai dengan menggunakan lebih banyak sumber
BAB I PENDAHULUAN. Perdagangan bisnis retail (perdagangan eceran) di Indonesia pada akhirakhir
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan bisnis retail (perdagangan eceran) di Indonesia pada akhirakhir ini semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan semakin banyak investor yang melakukan investasi
BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia saat ini banyak bisnis baru bermunculan, hal ini dapat dilihat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di Indonesia saat ini banyak bisnis baru bermunculan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya toko yang menjual kebutuhan konsumen salah satunya bisnis ritel.
BAB I PENDAHULUAN. dibedakan menjadi dua bagian yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Kebutuhan manusia akan terus berkembang dan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer
BAB I PENDAHULUAN. yang bergerak dibidang perdagangan eceran (retail) yang berbentuk toko,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan dibidang ekonomi selama ini telah banyak membawa perkembangan yang pesat dalam bidang usaha. Dengan banyaknya perkembangan di bidang usaha banyak bermunculan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat seiring
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat seiring dengan peningkatan peradapan manusia menyebabkan persaingan semakin katat. Dengan adanya
VI ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN PRIMA FRESH MART
VI ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN PRIMA FRESH MART 6.1. Karakteristik Umum Responden Konsumen yang berbelanja di Prima Fresh Mart (PFM) memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik dari segi sosial maupun
BAB I PENDAHULUAN. penjual. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasar merupakan tempat berlangsungnya transaksi antara pembeli dan penjual. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan
PENDAHULUAN. peranan penting dalam rangkaian pemasaran dan merupakan penghubung atau
PENDAHULUAN Latar Belakang Bisnis eceran merupakan bagian dari saluran distribusi yang memegang peranan penting dalam rangkaian pemasaran dan merupakan penghubung atau perantara antara konsumen dam produsen.
BAB 1 PENDAHULUAN. dibidang perdagangan eceran yang berbentuk toko, minimarket, departement
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Untuk meraih dan merebut hati para pelanggan merupakan tantangan bagi setiap pelaku bisnis di tengah situasi persaingan yang semakin ketat dewasa ini. Sejalan
BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini dampak kehadiran pasar modern terhadap keberadaan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akhir-akhir ini dampak kehadiran pasar modern terhadap keberadaan pasar tradisional menjadi topik yang menyulut perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Liberalisasi
BAB I PENDAHULUAN. mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk. Kelangsungan usaha eceran sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Usaha retail (eceran) tumbuh pesat, jumlah dan lokasi usahanya cenderung mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk. Kelangsungan usaha eceran sangat dipengaruhi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Kotler (2005:157), Pasar merupakan kumpulan seluruh pembeli dan potensial atas tawaran pasar tertentu. Ukuran pasar tergantung pada jumlah pembeli yang
BAB I PENDAHULUAN. bermunculan perusahaan dagang yang bergerak pada bidang perdagangan barang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang pesat dalam dunia bisnis. Sejalan dengan hal tersebut banyak bermunculan
BAB I PENDAHULUAN. permintaan barang kehidupan sehari-hari. akan kenyamanan berbelanja, kepraktisan dan penghematan waktu.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis retail dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satunya dengan semakin banyaknya swalayan yang bermunculan baik di kota
BAB V PENUTUP. Penelitian yang diadakan pada dua tempat ritel baru yang akan diteliti,
BAB V PENUTUP 5.1. KESIMPULAN Penelitian yang diadakan pada dua tempat ritel baru yang akan diteliti, yaitu Carrefour Srondol dan Hypermart Paragon melibatkan 30 orang responden perempuan pekerja yang
BAB I PENDAHULUAN UKDW. banyak bermunculan perusahaan dagang yang bergerak dibidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan di bidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang pesat dalam bidang usaha. Sejalan dengan itu banyak bermunculan perusahaan
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
129 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap kepercayaan, pengaruh harga terhadap kepercayaan, pengaruh kualitas
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Beberapa Jenis Barang di Usaha Dagang Berutu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha Dagang Berutu yang bertempat di Jln. Kemiri No.05 Sidikalang, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara merupakan toko perniagaan yang melayani penjualan sembako,
BAB I PENDAHULUAN. mereka memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang ada dan berusaha untuk
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang pesat dalam bidang usaha. Sejalan dengan hal tersebut banyak bermunculan
BAB I PENDAHULUAN. membuat sebagian besar rakyat Indonesia terjun ke bisnis ritel. Bisnis ritel
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri ritel merupakan industri yang strategis bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Karakteristik industri ritel yang tidak begitu rumit membuat sebagian besar
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Kemajuan perekonomian mempengaruhi kehidupan masyarakat. Peningkatan status sosial dan ekonomi masyarakat berakibat pada perubahan perilaku dan gaya hidup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan zaman yang diiringi dengan pertumbuhan ekonomi adalah salah satunya mengakibatkan perubahan pada gaya hidup masyarakat. Perubahan gaya hidup disebabkan
PENGARUH TATA LETAK PRODUK DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA MINIMARKET ALFAMART A. YANI WONOGIRI TAHUN 2009/2010
0 PENGARUH TATA LETAK PRODUK DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA MINIMARKET ALFAMART A. YANI WONOGIRI TAHUN 2009/2010 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh
BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenahi diri menjadi bisnis ritel
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bisnis ritel eceran saat ini mengalami perkembangan cukup pesat, ditandai dengan semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenahi diri menjadi
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Setelah dilakukan pengolahan dan analisis pada penelitian Tugas akhir ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Faktor Faktor Apa Saja yang Dipentingkan
satu yang bisa disebut sukses adalah Hero Supermarket. Dengan jumlah cabang
2 Dari beberapa Supermarket besar yang dimiliki oleh pengusaha lokal, salah satu yang bisa disebut sukses adalah Hero Supermarket. Dengan jumlah cabang tersebar di berbagai kota di Indonesia, Hero Supermarket
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Kemajuan zaman seperti saat ini, ditandai dengan semakin berkembangnya perekonomian masyarakat dan penemuan teknologi yang semakin canggih di berbagai
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan industri ritel di Indonesia kini semakin semarak dengan kehadiran peritel modern yang telah memberi warna tersendiri bagi warna tersendiri bagi
BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari banyaknya ragam bisnis restoran yang mulai bermunculan yang tersebar di Jawa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertumbuhan bisnis kuliner semakin berkembang dari waktu ke waktu, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ragam bisnis restoran yang mulai bermunculan yang tersebar
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang maju dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang maju dan berkembang pesat khususnya di kota-kota besar, telah terjadi perubahan di berbagai sektor, termasuk di bidang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan data yang telah diperoleh dalam penelitian ini dengan cara survey pada konsumen dengan memberikan kuesioner dan setelah diolah mengenai pengaruh brand
BAB I PENDAHULUAN. Termasuk dalam bidang ritel yang saat ini tumbuh dan berkembang pesat seiring
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Persaingan dunia usaha di Indonesia semakin ketat, setiap perusahaan bersaing untuk menarik pelanggan dan mempertahankan eksistensinya di pasar. Termasuk
BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan dari profit orientied kepada satisfied oriented agar mampu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan di bidang perekonomian selama ini telah banyak membawa dampak positif dalam bidang usaha dimana perusahaan-perusahaan mengalami perkembangan pesat
MOTIVASI KONSUMEN MEMBELI PADA TOKO RITEL MODERN
MOTIVASI KONSUMEN MEMBELI PADA TOKO RITEL MODERN PM. Budi Haryono Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Krida Wacana Abstract: The consumer market is a market where the buyer is an individual who purchased
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bisnis ritel atau eceran mengalami perkembangan cukup pesat, ditandai dengan semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenah diri menjadi bisnis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan bisnis ritel di Indonesia dewasa ini sedang berkembang amat pesat. Munculnya ritel ritel di Indonesia makin menyemarakkan bisnis ini. Kebutuhan dan keinginan
BAB I PENDAHULUAN. ritel yang telah mengglobalisasi pada operasi-operasi ritel. Pengertian ritel secara
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu cara atau bentuk bisnis yang saat ini sedang berkembang pesat adalah dengan mendirikan ritel. Sejak dekade yang lalu, terdapat perubahan pada bisnis ritel
Bab 5. Jual Beli. Peta Konsep. Kata Kunci. Jual Beli Penjual Pembeli. Jual Beli. Pasar. Meliputi. Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah
Bab 5 Jual Beli Peta Konsep Jual Beli Membahas tentang Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Sekolah Meliputi Meliputi Toko Pasar Warung Supermarket
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Memiliki pelanggan yang loyal adalah tujuan akhir dari semua bisnis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memiliki pelanggan yang loyal adalah tujuan akhir dari semua bisnis yang ada, tetapi kebanyakan perusahaan tidak menyadarinya. Demi tercapainya tujuan tersebut
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pemain ritel yang cukup banyak di Indonesia membuat persaingan di industri ini menjadi sangat ketat. Potensi pasar yang sangat besar dan sifat konsumtif masyarakat Indonesia
BAB IV STRATEGI ADAPTASI PEDAGANG KECIL DI PASAR KOGA KELURAHAN SIDODADI KECAMATAN KEDATON BANDAR LAMPUNG
BAB IV STRATEGI ADAPTASI PEDAGANG KECIL DI PASAR KOGA KELURAHAN SIDODADI KECAMATAN KEDATON BANDAR LAMPUNG Pedagang kecil Pasar Koga adalah salah satu usaha dalam perdagangan, pedagang kecil adalah orang
BAB I PENDAHULUAN. Pada saat kita berbelanja di supermarket, hypermarket maupun minimarket,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada saat kita berbelanja di supermarket, hypermarket maupun minimarket, kerap menjumpai produk-produk yang berlabelkan nama Peritel. Ini yang disebut dengan
BAB I PENDAHULUAN. membuat para pelaku bisnis harus mampu bersaing. Persaingan yang terjadi tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan dan persaingan dalam bisnis yang semakin lama semakin ketat membuat para pelaku bisnis harus mampu bersaing. Persaingan yang terjadi tidak hanya
BAB I PENDAHULUAN. adanya pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Seiring dengan majunya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia usaha di Indonesia saat ini sedang berkembang pesat dengan adanya pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Seiring dengan majunya pertumbuhan ekonomi Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. memberikan keuntungan dan menghidupi banyak orang. Pada saat krisis UKDW
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bisnis ritel, merupakan bisnis yang menjanjikan karena dapat memberikan keuntungan dan menghidupi banyak orang. Pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia di akhir
BAB I LATAR BELAKANG. Pada bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Pendahuluan Pada bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan, tujuan, dan manfaat penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini. 1.2 Latar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Loyalitas pelanggan merupakan bagian penting bagi suatu perusahaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Loyalitas pelanggan merupakan bagian penting bagi suatu perusahaan karena memiliki peran untuk memberikan keuntungan finansial yang terusmenerus atau keuntungan jangka
ANALISIS FAKTOR HARGA, LOKASI, PELAYANAN, PROMOSI TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA SUPERMARKET LESTARI GEMOLONG SRAGEN 2008/2009 SKRIPSI
ANALISIS FAKTOR HARGA, LOKASI, PELAYANAN, PROMOSI TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA SUPERMARKET LESTARI GEMOLONG SRAGEN 2008/2009 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana
BAB I PENDAHULUAN. Di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan, membuat setiap masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan, membuat setiap masyarakat berlomba-lomba untuk mulai berusaha dan beraktivitas untuk mendapatkan penghasilan agar dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dunia bisnis sekarang ini, persaingan yang dihadapi perusahaan-perusahaan saat ini semakin ketat, dimana perusahaan dituntut untuk mengenal pasar dan konsumennya
BAB I PENDAHULUAN. minimarket Indomaret, Alfamart, dan toko-toko tidak berjejaring lainnya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan di Indonesia yang semakin berkembang dan pertumbuhan ekonomi serta industri telah banyak mengalami kemajuan yang sangat pesat. Seiring dengan perkembangan
JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 1 Maret 2014 ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU. Toti Indrawati dan Indri Yovita
ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU Toti Indrawati dan Indri Yovita Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km
BAB 1 PENDAHULUAN. Perdagangan eceran atau sekarang kerap disebut perdagangan ritel, bahkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan eceran atau sekarang kerap disebut perdagangan ritel, bahkan disingkat bisnis ritel adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa kepada perorangan untuk
BAB V PENUTUP. hubungan antara variable Lokasi Toko dan Keragaman Produk terhadap Keputusan. Pembelian Konsumen pada Minimarket Basko-T Bukittinggi.
BAB V PENUTUP Bab ini merupakan kesimpulan dari hasil yang telah disajikan pada bab sebelumnya. Bab ini juga berisikan keterbatasan penelitian dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN. yang lain (Kotler dan Amstrong, 2008:5). Dalam definisi manajerial, banyak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial di mana pribadi atau organisasi memperoleh apa yang dibutuhkan melalui penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain
I. PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan dunia bisnis semakin pesat, ditandai dengan makin
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan dunia bisnis semakin pesat, ditandai dengan makin besarnya antusiasme dan agresifitas para pelaku bisnis baik di sektor industri, jasa,
