Mentari Dwi Gayati, Untung Yuwono. Abstrak

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Mentari Dwi Gayati, Untung Yuwono. Abstrak"

Transkripsi

1 Strategi Kesantunan dan Tindak Mengancam Muka Peserta dan Moderator dalam Tayang Bincang Indonesia Lawyers Club Episode Denny: Advokat Koruptor=Koruptor Mentari Dwi Gayati, Untung Yuwono Program Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia Abstrak Skripsi ini menganalisis strategi kesantunan yang diterapkan Karni Ilyas dan peserta acara dalam tayang bincang Indonesia Lawyers Club Episode Denny: Advokat Koruptor=Koruptor. Tujuannya adalah mengetahui strategi kesantunan yang digunakan oleh Karni Ilyas sebagai moderator dan peserta ILC lainnya untuk menjaga dan melindungi muka dari tindak mengancam muka. Hasil penelitian ini adalah dalam penggunaan strategi kesantunan tersebut, dapat menimbulkan tindak mengancam muka yang lain kepada lawan bicara. Tindak mengancam muka tersebut dipengaruhi oleh perbedaan posisi dalam berargumentasi, yakni afirmatif, negatif, dan moderator. Kesimpulan yang didapat dari analisis tersebut adalah moderator menerapkan tindak mengancam muka dengan intensitas lebih tinggi daripada peserta acara yang lain. Hal tersebut disebabkan oleh faktor kuasa antara penutur dan lawan tutur. Dalam acara ini, moderator memiliki kuasa yang lebih tinggi dalam mengendalikan acara. Kata kunci: Strategi kesantunan; tindakan mengancam muka; posisi dalam berargumentasi; moderator; dan faktor kuasa Politeness Strategies and Face Threatening Acts of Participants and Moderator in Indonesia Lawyers Club Talkshow Episode Denny: Advokat Koruptor=Koruptor Abstract This thesis analyzes the politeness strategies that are applied by Karni Ilyas and participants in the talk show Indonesia Lawyers Club Episode "Denny: Advokat Koruptor= Koruptor". The goal is to determine the politeness strategies used by Karni Ilyas as ILC moderator and other participants to maintain and protect the 'face' from face threatening acts (FTA). The result of this study is that the use of the politeness strategies may impact another face threatening acts to the other person. The face threatening acts are influenced by differences in the position of arguing, such as affirmative, negative, and moderator. The conclusion of the analysis is that the moderator applies the face threatening acts with a higher intensity than the other participants. This is due to the factor of the power between the speakers and the opponents. In this talk show, the moderator has a higher power in control of events. Key words: Politeness strategies; face threatening act; the position of arguing; the moderator; and the power factor.

2 Pendahuluan Kesantunan berbahasa merupakan satu dari beberapa aspek yang harus dipatuhi dalam kegiatan berkomunikasi. Kesantunan mengacu pada unsur-unsur bahasa (kalimat, kata atau ungkapan) yang digunakan (Chaer, 2010: 1). Akan tetapi, berbahasa secara santun tampaknya sudah jarang dipedulikan dewasa ini, baik oleh para elite politik, tokoh masyarakat, maupun oleh insan pers. Hal ini menjadi masalah yang seharusnya disadari oleh kita sebagai pengguna bahasa. Salah satu ketidaksantunan dalam berbahasa ditemukan dalam tayang bincang Indonesia Lawyers Club (selanjutnya disebut ILC) yang ditayangkan oleh TvOne. Acara tayang bincang ILC merupakan sebuah acara yang berkonsep layaknya acara debat. Dalam acara ini, terjadi adu argumen antara pihak pro dan kontra terhadap masalah yang dibicarakan. Tiap-tiap pihak tentunya memiliki argumen yang dapat menjatuhkan pihak lawan. Tindak mengancam muka dapat dilakukan sebagai upaya mempertahankan argumen, mendukung atau menentang pihak lawan. Adapun tindak mengancam muka tersebut dipengaruhi oleh perbedaan posisi peserta dalam acara ini, yakni pihak afirmatif (pro), pihak negatif (kontra), dan moderator. Dalam penelitian ini, penulis memilih tayang bincang ILC sebagai data analisis karena ILC adalah program unggulan TvOne yang sukses menarik perhatian pemirsanya. Asumsi banyaknya tindak mengancam muka yang dilakukan oleh peserta ILC menjadi bahan pertimbangan dipilihnya acara ini sebagai data analisis. Dari 83 episode yang sudah dihasilkan ILC, episode bertajuk Denny: Advokat Koruptor = Koruptor dipilih menjadi bahan penelitian ini. Dalam episode tersebut, hadir advokat-advokat ternama, seperti Otto Hasibuan (Ketua Persatuan Advokat Indonesia), Hotman Paris, dan Ruhut Sitompul. Ada pula perwakilan dari Peneliti Indonesia Corruption Watch serta Taufik Bahaudin selaku Pengamat Perilaku, yang dihadirkan untuk turut berdiskusi dalam acara ini. Dalam diskusi tersebut, banyak advokat yang marah atas pernyataan Denny yang menilai advokat adalah seorang koruptor jika mereka membela kliennya yang juga terbukti melakukan tindakan korupsi. Atas penilaian yang tidak berdasar itu, advokat yang turut angkat bicara melampiaskan amarahnya dengan sindiran yang dilontarkan kepada Denny. Perdebatan antara advokat dan perwakilan LSM pun juga terjadi dalam acara ini. Emosi dan adanya pemertahanan argumen membuat peserta ILC melakukan tindak mengancam muka dan strategi kesantunan yang diterapkan untuk melindungi muka yang terancam. Fakta ILC sebagai program unggulan dalam kategori tayang bincang dan banyaknya tindak mengancam

3 muka yang dilakukan peserta membuat ILC menarik untuk dikaji sebagai data penelitian kebahasaan dalam ruang lingkup pragmatik. Perdebatan yang ditunjukkan dengan adu argumen di antara peserta dan moderator dapat mengakibatkan tindak mengancam muka. Strategi kesantunan diterapkan dalam tuturan untuk melindungi muka dari keterancaman. Perbedaan posisi antara peserta dan moderator tentunya memberikan pengaruh terhadap tindak mengancam muka yang ditimbulkan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut. 1. Strategi kesantunan apa saja yang diterapkan peserta dan moderator dalam tuturan yang diujarkan? 2. Tindak mengancam muka apa saja yang dilakukan peserta dan moderator dalam tuturan yang diujarkan? 3. Faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya tindak mengancam muka dalam pertuturan antarpeserta ILC dan moderator? Dalam penelitian ini, penulis hanya membatasi data penelitian menjadi dua segmen yang dianalisis, yakni Segmen Satu dengan peserta acara O.C. Kaligis (untuk selanjutnya ditulis OK) dan Oce Madril (untuk selanjutnya ditulis OM) serta Segmen Dua dengan peserta acara Denny Indrayana (untuk selanjutnya ditulis DI). Penulis memilih kedua segmen tersebut karena dalam Segmen Satu dirasa cukup mewakili data tuturan peserta yang pro dan kontra terhadap pernyataan DI. Pemertahanan argumen antara pihak pro dan kontra berpotensi menimbulkan ancaman terhadap muka yang berbeda-beda. Sementara itu, Segmen Dua dipilih karena dalam segmen tersebut terdapat tuturan antara DI dengan Karni Ilyas (untuk selanjutnya ditulis KI). KI tentunya banyak memberikan pertanyaan dan tanggapan kepada Denny Indrayana sebagai pihak yang membuat pernyataan advokat koruptor. Pertuturan dalam acara tayang bincang ILC dibahas dari segi pragmatik. Ruang lingkup kajian pragmatik cukup luas. Namun, pada penelitian ini, penulis berfokus pada kajian pragmatik yang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap sebuah pertuturan, yaitu tindak tutur, tindak mengancam muka, dan strategi kesantunan. Perbedaan posisi dalam acara, seperti pihak afirmatif, pihak negatif, dan moderator juga dikaitkan dalam analisis karena memengaruhi tindak mengancam muka yang terjadi dalam tuturan. Tinjauan Teoretis Kerangka teori yang dijadikan dasar dalam proses menganalisis data mencakup beberapa teori, antara lain teori tindak tutur dan teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) yang dibagi lagi menjadi tindak mengancam muka (FTA) dan strategi kesantunan. Teori-teori

4 tersebut digunakan untuk menganalisis jenis tindak tutur dan strategi kesantunan yang dipilih oleh pelaku pertuturan, dalam hal ini peserta ILC. Teori debat untuk mengaitkan posisi dan peran peserta dalam acara ini juga digunakan sebagai acuan analisis tindak mengancam muka. Analisis Strategi Kesantunan dalam Pertuturan ILC Dalam analisis strategi kesantunan ini, data penelitian berupa transkrip interaksi antara pemandu acara, yaitu KI dengan beberapa peserta ILC dan antarpeserta yang hadir dalam acara tersebut. Data yang digunakan untuk analisis hanya dua segmen dari sembilan segmen, yaitu Segmen Satu dan Segmen Dua. Dalam Segmen Satu, terdapat pertuturan dari tiap-tiap peserta ILC yang berada di pihak kontra terhadap DI dan pro terhadap DI. Tuturan dalam Segmen Satu terdiri atas tuturan KI, OK, dan OM. Sementara itu, dalam Segmen Dua, hanya tuturan antara DI dan KI. Perbedaan peserta tutur dalam Segmen Satu dan Segmen Dua ini memperlihatkan pemilihan strategi kesantunan yang dipilih tiap-tiap peserta. Dari delapan tuturan KI, yakni tuturan 1, 7, 17, 31, 41, 51, 59, 61, tuturan 31 merupakan salah satu contoh yang mengandung strategi kesantunan. Tuturan 31 KI: Tapi apa menurut Anda tidak gegabah, mengatakan advokat koruptor, maksudnya kan jelas, advokat yang membela korupsi ya harus bukan koruptor, kalo koruptor udah inkrah, kalo dia baru disidang baru tersangka korupsi. Artinya, itu kan mengeneralisir. Tuturan 31 memiliki dua kalimat. Dilihat dari jenis tindak tuturnya, kalimat pertama yang berbentuk pertanyaan dapat digolongkan ke dalam jenis tindak tutur ilokusi direktif (meminta). KI meminta pendapat pada OM bahwa DI gegabah dalam mengatakan advokat koruptor sama dengan koruptor. Sementara itu, kalimat kedua digolongkan ke dalam jenis tindak tutur ilokusi asertif (menyatakan). KI menyatakan pada OM bahwa itu yang merujuk pada pernyataan DI yang mengatakan advokat koruptor menggeneralisasi seluruh advokat yang ada. Dalam tuturan 31, KI menanyakan pendapat OM mengenai tindakan DI yang dianggap gegabah. Dalam menanyakan pendapat tersebut, dapat dilihat bahwa KI berusaha mengajak OM dalam diskusi. Strategi yang dipakai KI dalam tuturan ini adalah strategi kesantunan positif dengan berusaha melibatkan lawan tutur. Upaya KI dalam melibatkan OM ditunjukkan dengan menggunakan kata menurut Anda. Strategi kesantunan positif yang lain

5 dalam tuturan 31 ada pada kalimat kedua. Dalam kalimat kedua, KI menggunakan interjeksi kan. Interjeksi kan menandakan bahwa KI mencari persetujuan pada OM bahwa pernyataan DI mengeneralisasi advokat. Strategi seperti ini digolongkan dalam strategi kesantunan positif dengan mencari dan mengusahakan persetujuan lawan tutur. Dua strategi kesantunan positif yang dilakukan KI bertujuan mengadakan kerjasama pada lawan tutur. Tuturan 31 tergolong dalam awal percakapan dan merupakan pertanyaan pertama yang diajukan dalam interaksi antara KI dan OM. Oleh karena itu, KI berusaha membuat suasana yang kondusif untuk berdiskusi dengan melibatkan lawan tutur dan mencari persetujuan lawan tutur. Tuturan OK dalam Segmen Satu, antara lain tuturan nomor 2, 4, 10, dan18. Salah satu tuturan yang dibahas berikut ini adalah tuturan 18. Tuturan 18: OK: Memangnya pengacara itu adalah polisi untuk yang menyelidiki uangnya darimana, Pak. Dilihat dari jenis tindak tuturnya, tuturan 18 yang berbentuk pernyataan itu dapat digolongkan ke dalam jenis tindak tutur ilokusi asertif (menyatategaskan). KI menyatategaskan pada OK bahwa pengacara tidak seharusnya menyelidiki uang kliennya sebagai pembayaran jasa pengacara. Wewenang itu milik polisi sehingga pengacara tidak dapat mengetahui uang kliennya berasal. Tuturan 18 merupakan jawaban dari pertanyaan KI dalam tuturan 17. KI meminta pendapat OK tentang seorang yang korupsi memiliki uang dari mana lagi untuk membayar pengacara selain uang hasil korupsi. OK pun menanggapinya dengan nada kesal seperti pada tuturan 18, namun tidak menanggapi argumen seperti yang diharapkan KI. OK justru bertanya kembali kepada KI dengan pertanyaan retorik. Tanggapan seperti ini mengindikasikan strategi kesantunan tidak langsung dengan menggunaan pertanyaan retorik. Pertanyaan retorik ini dituturkan agar KI mengartikan sendiri maksud OK, yakni pengacara tidak bisa menyelidiki uang jasanya untuk mengetahui uang tersebut hasil korupsi atau bukan. Pengacara hanya bertugas membela kliennya tanpa harus mempersoalkan uang jasanya berasal. Polisi lebih memiliki wewenang untuk menyelidikinya. Penggunaan strategi kesantunan dengan pertanyaan retorik dilakukan agar KI menafsirkan sendiri maksud OK tanpa ia harus menjelaskannya secara langsung.

6 Dalam tuturan yang dilakukan OM, ada tujuh tuturan yang mengandung strategi kesantunan, antara lain tuturan nomor 28, 34, 42, 58, 60, dan 62. Berikut ini adalah pembahasan salah satu tuturan, yakni tuturan 28. Tuturan 28: OM: Eh, saya kira begini apa namanya, ini kan memang e harus diingat apa yang disampaikan oleh e Denny ini kan wacana ya..bukan bukan tuduhan. Dilihat dari jenis tindak tuturnya, tuturan 28 yang berbentuk pernyataan dapat digolongkan ke dalam jenis tindak tutur ilokusi asertif (menyatategaskan). OM menyatategaskan pada KI bahwa kicauan yang ditulis DI hanya sebuah wacana, bukan tuduhan yang ditujukan secara personal. Tuturan 28 merupakan tanggapan dari OM terhadap OK yang melaporkan kasus tersebut ke polisi. Dalam memberikan tanggapannya, OM membantah bahwa kasus tersebut hanya wacana. Bantahan tersebut dapat dilihat pada interjeksi kan dan negasi bukan yang merujuk bahwa sebuah hal yang disampaikan berlainan dengan sebenarnya. Di awal kalimat, OM menggunakan verba pengarah saya kira sebelum menyatakan bahwa masalah ini hanya wacana. Penggunaan kata bercetak miring di atas memperlihatkan adanya kehati-hatian OM dalam memberikan pendapat. Kehati-hatian ini mengindikasikan adanya strategi kesantunan, yakni strategi kesantunan negatif dengan pemagar. Penggunaan pemagar di awal kalimat berfungsi agar pendapat tersebut tidak terlalu membuat atmosfer yang berbahaya atau dampak emosi kepada pada advokat yang hadir dalam acara tersebut. Jika pemagar tersebut dihilangkan, kalimat yang dituturkan OM akan terlihat menghakimi dan kesantunannya pun berkurang. DI dalam Segmen Dua memiliki sepuluh tuturan yang mengandung strategi kesantunan, antara lain tuturan nomor 6, 8, 12, 14, 20, 22, 30, 34. Berikut ini pembahasan salah satu tuturan yang diujarkan DI, yakni tuturan 8. Tuturan 8: DI: Saya tidak e ingin terjebak pada membicarakan orang per orang. Tentu ini adalah oknum, tentu ini bukan profesi advokat. Dalam twitter saya itu, advokat yang tidak benar itu adalah oknum yang dalam melakukan pembelaan, itu cenderung menghalalkan segala cara, membabi buta Dilihat dari jenis tindak tuturnya, tuturan 8 yang berbentuk pernyataan itu dapat digolongkan ke dalam jenis tindak tutur ilokusi asertif (menyatakan).

7 DI menyatakan pada KI tentang ketidakinginannya untuk membicarakan oknum yang dimaksud sebagai pengacara koruptor. Tuturan 8 merupakan jawaban oleh DI dari tuturan sebelumnya, yaitu tuturan 7 yang menanyakan siapa yang dimaksud dengan kriteria pengacara koruptor adalah koruptor ( Siapa yang anda maksud dengan kriteria itu? ). Penolakan DI untuk menyebutkan kriteria seseorang yang dimaksudkan pengacara koruptor mengandung strategi kesantunan yang dipilihnya. Strategi kesantunan negatif dengan bersikap pesimis dan berhati-hati dipilih DI dalam tuturan 8. Sikap pesimis dan khati-hatian DI terlihat dalam kalimat Saya tidak e ingin terjebak pada membicarakan orang per orang. Kalimat bercetak miring tersebut menunjukkan bahwa DI menolak menjawab secara langsung permintaan KI untuk menyebutkan sesorang yang dimaksud. Hal itu dilakukan DI karena dirinya khawatir akan mencemarkan nama baik jika sesorang yang dia sebut pengacara koruptor ternyata tidak seperti yang dikatakannya. Kekhawatiran tersebut dapat terlihat dari pemilihan kata terjebak. Tuturan DI yang tidak langsung menjawab pertanyaan KI juga mengandung strategi kesantunan secara tidak langsung (off record strategy) dengan memberi petunjuk. Strategi tidak langsung dengan memberi petunjuk terlihat pada kalimat selanjutnya advokat yang tidak benar itu adalah oknum yang dalam melakukan pembelaan, itu cenderung menghalalkan segala cara, membabi buta. Tujuan DI lebih memilih memberi petunjuk daripada menyebutkan satu per satu oknum yang dianggap koruptor adalah DI ingin membiarkan KI memutuskan dan menafsirkan sendiri dari ciri-ciri pengacara koruptor yang ia berikan, yakni menghalalkan segala cara dan membabi buta dalam melakukan pembelaan. Dengan ini, KI dapat melihat sendiri seseorang yang dimaksud pengacara koruptor adalah yang memiliki ciri-ciri tersebut. Analisis Tindak Mengancam Muka Peserta dan Moderator dalam ILC Posisi peserta tutur dalam acara berpengaruh pada tindak mengancam muka yang ditimbulkan pada tuturan. Klasifikasi peserta tutur dalam ILC dilakukan dengan mengaplikasikan teori debat dalam analisis ini. Teori debat digunakan sebagai acuan karena acara ILC merupakan tayang bincang yang berkonsep layaknya acara debat. Debat menurut Hendrikus (1991: 120) adalah adu argumentasi antarpribadi atau antarkelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Dalam debat, setiap pribadi atau kelompok mencoba menjatuhkan lawannya agar pihaknya berada di posisi yang benar.

8 Unsur-unsur dalam debat terdiri dari topik debat (mosi), pembicara afirmatif (pro), pembicara negatif (kontra), dan moderator. Analisis tindak mengancam muka dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu pihak afirmatif, pihak negatif, dan moderator. Tiap bagian berisi analisis tuturan tindak mengancam muka yang dilakukan oleh peserta dalam kedudukannya di ILC. Perbedaan posisi dalam debat ini memperlihatkan perbedaan jenis dan frekuensi ancaman terhadap muka yang ditimbulkan oleh masing-masing peserta. Afirmatif merupakan pihak atau seseorang yang setuju terhadap mosi. Mosi dalam acara ini adalah penyataan DI yang mengatakan bahwa advokat koruptor sama dengan koruptor. Peserta yang setuju dengan mosi ini adalah DI dan OM. Salah satu tuturan DI yang mengandung tindak mengancam muka adalah tuturan 8 yang dapat dilihat di bawah ini. DI: Saya tidak e ingin terjebak pada membicarakan orang per orang. Tentu ini adalah oknum, tentu ini bukan profesi advokat. Dalam twitter saya itu, advokat yang tidak benar itu adalah oknum yang dalam melakukan pembelaan, itu cenderung menghalalkan segala cara, membabi buta Tuturan 8 di atas menunjukkan bahwa DI menggunakan kalimat yang defensif. Dalam tuturan ini, DI juga mengelak untuk membicarakan advokat yang termasuk dalam advokat koruptor. Pengelakan tersebut dapat dilihat dari kata tidak ingin. Penolakan DI untuk membicarakan advokat yang dimaksud menyebabkan ancaman terhadap muka positif kepada KI. KI sebagai moderator dalam acara ini tidak berhasil mendapatkan jawaban dari DI untuk menyebutkan siapa saja advokat yang masuk dalam kriteria advokat koruptor. Tindak mengancam muka positif juga terjadi terhadap advokat yang hadir dalam acara itu. Kata-kata yang diujarkan dalam tuturan, seperti menghalalkan segala cara, membabi buta merupakan dakwaan terhadap advokat yang tidak benar. Kata menghalalkan termasuk dalam kelas kata verba yang berarti menyatakan atau menganggap halal. Frase segala cara berkaitan dengan tuturan DI selanjutnya pada tuturan 10, yaitu menyuap aparat penegak hukum dan tidak memverifikasi terlebih dahulu mengenai uang pembayaran klien. Maksud dari frase menghalalkan segala cara yang dituturkan DI adalah menganggap segala cara yang dilakukan advokat dalam membela kliennya, baik cara yang salah maupun benar, sebagai suatu yang halal. Sementara itu, frase membabi buta termasuk dalam kiasan yang berarti melakukan sesuatu secara nekat, tidak peduli apa-apa lagi. Menurut DI, advokat cenderung membela kliennya secara nekat, yakni dengan menyuap aparat penegak hukum.

9 Dakwaan DI mengenai advokat yang tidak benar melalui ciri-ciri yang disampaikan membuat advokat yang mendengar pernyataan tersebut kehilangan muka positifnya. Citra diri advokat akibatnya terlanggar karena dakwaan DI meskipun pada kenyataannya mereka tidak melakukan pembelaan semacam itu. Tim afirmatif yang juga melakukan tindak mengancam muka dalam tuturannya adalah OM. Tuturan 28 berikut ini adalah salah satu contoh yang mengandung tindak mengancam muka oleh OM. Tuturan 28: OM: Eh, saya kira begini apa namanya, ini kan memang e harus diingat apa yang disampaikan oleh e Denny ini kan wacana ya..bukan bukan tuduhan. Tuturan OM di atas menunjukkan adanya tindak defensif dengan menyanggah bahwa pernyataan DI hanya sebuah wacana bukan tuduhan. Sanggahan yang dituturkan oleh OM dapat dilihat dari negasi bukan. Kata bukan termasuk dalam kelas kata adverbia yang digunakan untuk menyangkal bahwa sesuatu hal berlainan dengan keadaan sebenarnya. Kata bercetak miring tersebut dipakai untuk sebuah pertentangan. Pertentangan dalam tuturan ini terlihat dari kata wacana dan tuduhan. Kata wacana termasuk dalam kelas kata nomina yang berarti satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh. Dalam hal ini, wacana yang dimaksud adalah kultwit (kuliah twitter) yang dituliskan DI lewat akun pribadinya mengenai advokat koruptor. Sementara itu, tuduhan termasuk dalam kelas kata nomina yang berarti hasil menuduh atau dakwaan. Perbedaan mengenai wacana dan tuduhan seperti yang dituturkan OM menunjukkan adanya pertentangan sekaligus tindak OM yang afirmatif terhadap mosi. Pertentangan yang disampaikan OM menimbulkan ancaman muka terhadap OK. OK yang sebelumnya berpendapat bahwa kicauan DI merupakan sebuah tuduhan yang serius karena mengeneralisasi profesi advokat, disangkal oleh OM pada tuturan 28 ini. Akibatnya, muka positif OK dapat terancam karena keinginan pendapatnya untuk dihargai dilanggar oleh OM. Selain pihak afirmatif, dalam sebuah acara debat juga terdapat pihak negatif atau pihak kontra. Negatif merupakan tim atau seseorang yang beroposisi terhadap mosi. Peserta yang beroposisi terhadap mosi ialah OK. OK juga berperan sebagai pelapor kasus pelecehan profesi yang dilakukan DI. Argumentasi yang berlawanan dengan mosi debat mengindikasikan adanya tindak mengancam muka. Salah satu tuturan yang diujarkan OK yang mengandung tindak mengancam muka adalah tuturan 18 berikut ini.

10 Tuturan 18: OK: Memangnya pengacara itu adalah polisi untuk yang menyelidiki uangnya darimana, Pak. Tuturan 18 yang diujarkan OK merupakan sebuah pertanyaan balik atas permintaan KI kepada OK tentang seorang yang melakukan korupsi dari mana lagi memiliki uang selain hasil korupsinya. Pertanyaan balik pada tuturan 18 digunakan sebagai taktik ofensif dengan pertanyaan retorik. Pertanyaan yang diajukan kembali oleh OK menimbulkan ancaman terhadap muka positif KI. Ancaman terhadap muka positif dapat dilihat dari OK yang bertanya kembali mengenai pekerjaan pengacara. Dalam tuturan di atas, OK menunjukkan ketidaksetujuannya untuk disamakan dengan polisi karena advokat dan polisi memiliki tugas yang berbeda. Pengacara atau advokat (nomina) adalah ahli hukum yang berwenang sebagai penasihat atau pembela perkara dalam pengadilan. Berbeda dengan pengacara, polisi (nomina) adalah badan pemerintah yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum. Pertanyaan OK yang membandingkan pengacara dan advokat ini membuat KI kehilangan muka positifnya sebagai moderator. Sebagai moderator, seharusnya ia mendapatkan jawaban dari peserta debat, namun ia justru mendapatkan pertanyaan balik dari OK. Keinginan KI untuk menampilkan citra dirinya tidak terpenuhi dalam tuturan ini. Tidak hanya pihak afirmatif dan negatif saja yang melakukan tindak mengancam muka, moderator pun tentunya tidak bisa menghindari terjadinya tindak mengancam muka. Sebagai moderator, kuasa KI dalam bertindak tutur lebih tinggi dari peserta lainnya karena ia yang bertugas mengendalikan jalannya pembicaraan. Oleh karena itu, peserta debat, baik pro, maupun kontra tentunya akan menjawab sesuai yang ditanyakan KI. Dalam bertanya, KI berhak mengeluarkan pertanyaan sekalipun pertanyaan tersebut mengandung tindak mengancam muka yang cukup besar. Salah satu tuturan KI yang mengandung tindak mengancam muka adalah tuturan 31 yang dapat dilihat di bawah ini. Tuturan 31: KI: Tapi apa menurut Anda tidak gegabah, mengatakan advokat koruptor, maksudnya kan jelas, advokat yang membela korupsi ya harus bukan koruptor, kalo koruptor udah inkrah, kalo dia baru disidang baru tersangka korupsi. Artinya, itu kan mengeneralisir.

11 Tuturan 31 merupakan pertanyaan yang ditujukan KI kepada OM. KI menggunakan pertanyaan untuk menjebak dalam tuturan ini. Fungsinya adalah memancing reaksi melalui sebuah pertanyaan yang sederhana. Melalui pertanyaan ini, KI berekspektasi bahwa OM menilai argumen DI yang mengatakan advokat koruptor sebagai suatu tindak yang gegabah atau tidak. Pertanyaan yang juga mengandung kritik dari KI terhadap DI menimbulkan ancaman terhadap muka positif OM, mengingat OM adalah pihak yang pro terhadap wacana DI. Kritik yang dapat dilihat dalam tuturan terdapat pada kalimat terakhir, yakni Artinya, itu kan mengeneralisir, khususnya pada kata mengeneralisir. Kata mengeneralisir (yang bentuk pembakuannya mengeneralisasi) yang terdiri dari kata men- dan generalisasi termasuk dalam kelas kata verba. Kata generalisasi itu sendiri berarti penyamarataan. Maksud dari kalimat terakhir pada tuturan ini adalah KI menganggap bahwa DI terlalu menyamaratakan seluruh advokat di Indonesia. Adanya kejadian advokat yang membela koruptor secara membabi buta belum tentu merujuk pada advokat pada umumnya. Ancaman terhadap muka tidak hanya ditandai dengan adanya kritik, tetapi juga penilaian KI terhadap tindak DI yang gegabah. Kata gegabah termasuk dalam kelas kata ajektiva yang berarti terlampau berani sehingga mengakibatkan kurang berhati-hati. Adanya penilaian negatif, kritik, dan pertentangan yang dilakukan KI dalam tuturan ini menimbulkan ancaman terhadap muka positif OM selaku pihak yang pro terhadap DI. Keinginan agar dukungan dan pendapatnya yang afirmatif terhadap DI dilanggar oleh KI dalam tuturan ini. Setiap peserta acara dalam kedua segmen ini memiliki tuturan yang mengandung tindak mengancam muka dengan frekuensi yang berbeda-beda. Hal tersebut berkenaan dengan faktor-faktor tindak mengancam muka yang dijelaskan oleh Brown dan Levinson. Kuasa antara penutur dan lawan tutur; jarak sosial antara penutur dan lawan tutur; serta tingkat pembebanan dalam situasi tindak tutur adalah ketiga faktor tindak mengancam muka. Perbedaan juga ditemukan pada jenis tindak mengancam muka yang ditimbulkan. Untuk lebih jelasnya, perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Peserta Tutur KI (Segmen Satu) Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Tindak Mengancam Muka dan Jenisnya. Tuturan Tindak Mengancam Muka Positif Negatif Jenis Tindak Tuturan 17 - Sindiran terhadap OK Tuturan 31 - Kritik; pertentangan Tuturan 41 - Ketidaksetujuan

12 OK OM KI (Segmen Dua) Tuturan 51 - Pertentangan Jumlah FTA yang dilakukan KI: 4 ancaman muka positif Tuturan 4 - Tindak merendahkan DI Tuturan 10 - Luapan kemarahan terhadap DI Tuturan 18 - Ketidaksetujuan Jumlah FTA yang dilakukan OK: 3 ancaman muka positif Tuturan 28 - Pertentangan Tuturan 34 - Ketidaksetujuan; pertentangan Tuturan 58 - Kritik; sindiran Tuturan 60 - Sindiran Jumlah FTA yang dilakukan OM: 4 ancaman muka positif Tuturan 3 - Permintaan Tuturan 7 - Pertentangan Tuturan 11 - Pertentangan Tuturan 13 - Ketidaksetujuan; pertentangan Tuturan 21 - Permintaan Tuturan 29 - Sindiran Tuturan 35 - Peringatan Jumlah FTA yang dilakukan KI: 4 ancaman muka positif dan 3 muka negatif Tuturan 8 - Penolakan; dakwaan DI Tuturan 12 - Saran Tuturan 14 - Kritik Tuturan 20 - Kritik Jumlah FTA yang dilakukan DI: 3 ancaman muka positif dan 1 muka negatif Tabel 4.1 menunjukkan adanya perbedaan tindak mengancam muka positif dan negatif yang dilakukan oleh tiap peserta dalam argumen yang diberikan. Jenis tindak mengancam muka yang ditemukan dalam tuturan tiap peserta, antara lain sindiran, kritik, pertentangan, ketidaksetujuan, peringatan, permintaan, penolakan, saran, dan tindak negatif lainnya pada lawan bicara (merendahkan, meluapkan amarah, dan dakwaan pada lawan bicara). Frekuensi pada jenis tindak mengancam muka yang telah disebutkan memperlihatkan adanya perbedaan karena hal tersebut bergantung pada tujuan peserta tutur menerapkan jenis tindak mengancam muka. Tabel berikut ini menampilkan perbedaan frekuensi pada jenis tindak mengancam muka yang ditimbulkan oleh tiap-tiap peserta. Tabel 4.2 Frekuensi Data Jenis Tindak Mengancam Muka Peserta Tutur. Data Tuturan Jenis FTA Frekuensi KI OK OM DI Sindiran 4 17, 29-58, 60 - Kritik , 20

13 Pertentangan 6 31, 51, 7, 11, Ketidaksetujuan 5 41, , 34 - Peringatan Permintaan 2 3, Penolakan Saran Tindakan negatif lainnya (merendahkan, marah, dakwaan) 3-4, 10-8 Tabel 1V.2 menunjukkan bahwa jenis tindak mengancam muka yang paling sering digunakan adalah pertentangan, ketidaksetujuan, kritik, dan sindiran. Keempat tindak ini digunakan oleh peserta dalam debat sebagai upaya untuk mematahkan pendapat lawan. Dari semua peserta tutur yang terlibat dalam Segmen Satu dan Segmen Dua ILC, KI memperoleh jumlah frekuensi tindak mengancam muka yang paling banyak daripada peserta yang lain. Banyaknya tindak mengancam muka yang digunakan oleh KI disebabkan oleh salah satu faktor yang dijelaskan oleh Brown dan Levinson, yakni kuasa antara penutur dan lawan tutur. Posisi KI sebagai moderator yang memiliki kuasa lebih tinggi daripada peserta yang lain membuat intensitas penggunaan tindak mengancam muka oleh KI lebih besar. Di antara peserta debat, tim afirmatif melakukan tindak mengancam muka lebih banyak daripada negatif. OM menerapkan sindiran, kritik, pertentangan, dan ketidaksetujuan, sedangkan DI lebih menerapkan kritik dan penolakan. Jenis tindak mengancam muka yang dilakukan OM digunakan untuk mempertahankan argumennya yang mendukung DI. Sindiran dan kritik banyak dilontarkan oleh OM kepada para advokat yang hadir dalam acara tersebut. Sama halnya dengan OM, DI banyak mengeluarkan kritik terhadap advokat mengenai model pembelaan yang banyak dilakukan kepada terpidana korupsi. Tindak mengancam muka dengan kritik yang dilakukan DI digunakan sebagai penguat argumen dalam melawan pihak advokat. Perbedaan posisi antara moderator, afirmatif, dan negatif dalam acara ini membuktikan bahwa posisi tersebut memengaruhi tindak mengancam muka yang ditimbulkan serta jenisnya. Banyaknya penggunaan tindak mengancam muka dengan pertentangan disebabkan oleh keinginan peserta atau moderator dalam menjatuhkan argumen lawan bicara. Jika moderator menggunakan pertentangan sebagai upaya untuk meluruskan kembali topik yang melenceng, berbeda keadaannya dengan OM sebagai pihak afirmatif dari DI. OM menggunakan pertentangan dan ketidaksetujuan sebagai pertahanan argumen untuk mendukung pernyataan DI.

14 Temuan yang dihasilkan dari perbedaan posisi tayang bincang ILC adalah moderator dalam acara ini. Dalam sebuah debat, Hendrikus (1991: 124) mengatakan bahwa moderator tidak perlu menjadi peserta debat. Tugas seorang moderator hanya mendorong dan memperlancar jalannya diskusi. Namun, berbeda dengan teori tersebut, KI justru ikut berkontribusi dalam perdebatan ini dengan memberikan komentar atau pertanyaan stimulus yang dapat mematahkan argumen lawan bicara. Simpulan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut. Pertama, strategi kesantunan yang diterapkan oleh peserta dan moderator ILC adalah strategi kesantunan positif, strategi kesantunan negatif, dan strategi tidak langsung. Strategi kesantunan positif yang diterapkan dalam pertuturan ILC adalah strategi kesantunan positif dengan meningkatkan ketertarikan pada lawan tutur, dengan optimisme, dengan memberi perhatian pada lawan tutur, dengan berusaha melibatkan lawan tutur, dengan mencari persetujuan, dengan menghindari ketidaksetujuan, dengan melebihkan simpati, dengan praanggapan, dengan penawaran, dan dengan memberikan alasan. Sementara itu, strategi kesantunan negatif yang diterapkan dalam pertuturan ILC adalah strategi kesantunan negatif dengan pemagar, dengan pertentangan, dengan bersikap pesimis, dengan pertanyaan partikel tertentu, dan dengan ungkapan tidak langsung. Strategi kesantunan terakhir yang diterapkan dalam pertuturan ILC adalah strategi tidak langsung. Strategi tidak langsung yang diterapkan adalah dengan menyindir, dengan pertanyaan retorik, dengan melebihkan hal sebenarnya, dengan pertentangan, dan dengan memberikan petunjuk. Kedua, jenis tindak mengancam muka yang ditimbulkan dari tuturan peserta dan moderator adalah sindiran, kritik, pertentangan, ketidaksetujuan, peringatan, permintaan, penolakan, saran, dan tindakan negatif lainnya, seperti merendahkan lawan bicara, luapan amarah, dan dakwaan. Jenis tindak mengancam muka yang dihasilkan dari tuturan peserta dan moderator paling banyak terjadi pada muka positif. Ketiga, faktor yang paling memengaruhi frekuensi tindak mengancam muka dalam pertuturan ILC ini adalah faktor kuasa antara penutur dan lawan tutur. KI sebagai moderator memiliki kuasa yang lebih tinggi karena ia yang bertugas mengendalikan jalannya debat. Hal ini terbukti dengan adanya jumlah tindak mengancam muka yang dilakukan KI lebih banyak dibandingkan peserta lain. Tindak mengancam muka yang dilakukan KI berasal dari pertanyaan yang diajukan dan tanggapan yang ia berikan terhadap lawan tutur. Jenis tindak

15 mengancam muka yang banyak dilakukan KI adalah pertentangan. Pertentangan dalam tanggapan dan pertanyaan yang diberikan digunakan untuk meluruskan kembali hal yang sedang dibicarakan ketika pertanyaan yang dijawab tidak sesuai dengan yang diharapkan KI. Keempat, peran moderator dalam ILC ini juga melebihi dari tugas moderator pada umumnya. Menurut Hendrikus (1991: 124), moderator dalam acara debat seharusnya tidak perlu menjadi peserta debat, yakni memberikan sanggahan dan komentar terhadap peserta debat. KI dalam ILC ini tidak jarang menentang pendapat DI dalam segmen dua. Kelima, tindak mengancam muka dalam sebuah tuturan dapat ditandai dengan adanya pemilihan kata (diksi), gaya bahasa (yang ditemukan dari analisis, antara lain ironi dan sarkasme), dan kata-kata yang berkonotasi negatif (peyorasi). Saran ILC sebagai tayang bincang yang disaksikan oleh masyarakat di seluruh Indonesia hendaknya dapat memberikan efek positif kepada pemirsanya dari segi kesantunan berbahasa. Baik moderator maupun peserta acara terkadang tidak menyadari bahwa ada saja hal yang dikatakan tidak pantas dan dapat menyinggung banyak pihak. Kesantunan berbahasa sudah banyak diteliti oleh peneliti terdahulu. Namun demikian, penelitian ini merupakan awal penelitian mengenai kesantunan berbahasa dalam tayang bincang yang dikaitkan dengan peserta dan moderator. Peneliti berharap agar penelitian ini dapat dikembangkan atau dilanjutkan, baik dari segi bahasa maupun di luar bahasa. Dalam penelitian ini, misalnya, belum diteliti prinsip kerjasama pertuturan ILC, skala kesantunan, presuposisi, implikatur, dan praanggapan. Dari luar bahasa, dapat diteliti keterkaitan antara kesuksesan acara ILC dan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat. Daftar Referensi Brown, P and Stephen Levinson Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Chaer, Abdul Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta. Hendrikus, P. Dori Wuwur Retorika: Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegoisasi. Yogyakarta: Kanisius. One, html diunduh pada Kamis, 10 Januari 2013, pkl19.23

16 Nadar, FX Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nasanius, Yassir PELBBA18: Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atma Jaya: kedelapan belas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Sugiyono Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta. Tarigan, Henry Guntur Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tim Penyusun Kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed.3). Jakarta: Balai Pustaka. Wijana, I Dewa Putu Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejatinya, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana berkomunikasi antarsesama. Akan tetapi, tidak jarang bahasa juga digunakan oleh manusia sebagai sarana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam berbahasa diperlukan kesantunan, karena tujuan berkomunkasi bukan hanya bertukar pesan melainkan menjalin hubungan sosial. Chaer (2010:15) mengatakan

Lebih terperinci

2015 REALISASI PRINSIP RELEVANSI PADA ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB DI TV ONE

2015 REALISASI PRINSIP RELEVANSI PADA ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB DI TV ONE 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa digunakan oleh manusia untuk menyampaikan ide, gagasan, maupun pengalaman kepada orang lain. Selain sebagai media komuninikasi, bahasa juga dipakai

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA TALK SHOW

KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA TALK SHOW KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA TALK SHOW Syamsul Arif Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan ABSTRAK Kesantunan berbahasa merupakan hal yang penting dalam kegiatan berkomunikasi.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Kelas Siswa Kelas XI SMA N 1 Sleman, implikasi penelitian ini bagi pembelajaran

BAB V PENUTUP. Kelas Siswa Kelas XI SMA N 1 Sleman, implikasi penelitian ini bagi pembelajaran BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan dibahas mengenai kesimpulan hasil penelitian Analisis Pemanfaatan Prinsip Kesantunan Berbahasa pada Kegiatan Diskusi Kelas Siswa Kelas XI SMA N 1 Sleman, implikasi penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dilakukan secara lisan maupun tertulis. Melalui bahasa, manusia berinteraksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dilakukan secara lisan maupun tertulis. Melalui bahasa, manusia berinteraksi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi manusia. Manusia menggunakan bahasa sebagai media untuk mengungkapkan pikirannya, baik yang dilakukan secara lisan

Lebih terperinci

Tabel 1 Tindak Tutur Mengkritik dalam Acara Sentilan Sentilun di Metro TV

Tabel 1 Tindak Tutur Mengkritik dalam Acara Sentilan Sentilun di Metro TV digilib.uns.ac.id Tabel 1 Tindak Tutur Mengkritik dalam Acara Sentilan Sentilun di Metro TV No. Jenis Tindak Tutur Nomor Data Jumlah data Mengkritik A. Mengkritik Langsung 1. Penilaian Negatif 01, 02,

Lebih terperinci

PRINSIP KESANTUNAN DALAM TUTURAN PENUTUR PADA ACARA TALKSHOW INDONESIA LAWYERS CLUB; SUATU TINJAUAN PRAGMATIK.

PRINSIP KESANTUNAN DALAM TUTURAN PENUTUR PADA ACARA TALKSHOW INDONESIA LAWYERS CLUB; SUATU TINJAUAN PRAGMATIK. PRINSIP KESANTUNAN DALAM TUTURAN PENUTUR PADA ACARA TALKSHOW INDONESIA LAWYERS CLUB; SUATU TINJAUAN PRAGMATIK Herdiana 1), Marsis 2), Syofiani 2) 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARA CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH JAWA BARAT TAHUN

STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARA CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH JAWA BARAT TAHUN 1 BAB I PENDAHULUAN Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji strategi komunikasi politik calon gubernur dan wakil gubernur Jabar periode 2013-2018 yang direalisasikan dengan tindak tutur dan kesantunannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Adi Dwi Prasetio, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Adi Dwi Prasetio, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini, termasuk kisruh di lingkungan pemerintahan tak lepas dari sorotan masyarakat. Hal itu ditandai oleh semakin

Lebih terperinci

KEKERASAN VERBAL DALAM TALK SHOW INDONESIA LAWYERS CLUB (ILC) DI TVONE

KEKERASAN VERBAL DALAM TALK SHOW INDONESIA LAWYERS CLUB (ILC) DI TVONE 1 KEKERASAN VERBAL DALAM TALK SHOW INDONESIA LAWYERS CLUB (ILC) DI TVONE Ida Ayu Putu Novinasari Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana Abstract Verbal violence can

Lebih terperinci

PRINSIP KERJA SAMA, IMPLIKATUR PERCAKAPAN, DAN KESANTUNAN ANTARA GURU DAN SISWA DALAM KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DI SEKOLAH MASTER ABSTRAK

PRINSIP KERJA SAMA, IMPLIKATUR PERCAKAPAN, DAN KESANTUNAN ANTARA GURU DAN SISWA DALAM KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DI SEKOLAH MASTER ABSTRAK PRINSIP KERJA SAMA, IMPLIKATUR PERCAKAPAN, DAN KESANTUNAN ANTARA GURU DAN SISWA DALAM KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DI SEKOLAH MASTER oleh Erha Aprili Ramadhoni, Totok Suhardiyanto Program Studi Indonesia,

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR DALAM BERCERITA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 CIAMIS

TINDAK TUTUR DALAM BERCERITA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 CIAMIS TINDAK TUTUR DALAM BERCERITA Oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ABSTRAK Berdasarkan observasi penulis saat melakukan kegiatan PPL. Anak terlihat cenderung pasif melakukan kegiatan

Lebih terperinci

Oleh: Budi Cahyono, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ABSTRAK

Oleh: Budi Cahyono, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia   ABSTRAK REALISASI PRINSIP KESOPANAN BERBAHASA INDONESIA DI LINGKUNGAN SMA MUHAMMADIYAH PURWOREJO TAHUN 2012 DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA DI SMA Oleh: Budi Cahyono, Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Penelitian ini mendeskripsikan keberadaan unsur-unsur penghinaan dan

BAB V PENUTUP. Penelitian ini mendeskripsikan keberadaan unsur-unsur penghinaan dan BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penelitian ini mendeskripsikan keberadaan unsur-unsur penghinaan dan pencemaran nama baik dalam tuturan di media sosial yang penuturnya dilaporkan dengan tuduhan melanggar

Lebih terperinci

STRATEGI KESANTUNAN PADA PESAN SINGKAT (SMS) MAHASISWA KE DOSEN

STRATEGI KESANTUNAN PADA PESAN SINGKAT (SMS) MAHASISWA KE DOSEN STRATEGI KESANTUNAN PADA PESAN SINGKAT (SMS) MAHASISWA KE DOSEN Sri Mulatsih Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro Semarang ABSTRACT Kesantunan berbahasa merujuk pada keaadaan yang menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi berfungsi sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain untuk mengetahui hal yang terjadi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi berfungsi sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain untuk mengetahui hal yang terjadi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi berfungsi sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain untuk mengetahui hal yang terjadi. Keingintahuan tersebut menyebabkan perlunya berkomunikasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38).

BAB 1 PENDAHULUAN. Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38). Komunikasi merupakan suatu hal penting dalam membangun relasi antarindividu. Dengan adanya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2008) dalam bukunya yang berjudul Metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2008) dalam bukunya yang berjudul Metode 23 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode dan Desain Penelitian Menurut Sugiyono (2008) dalam bukunya yang berjudul Metode penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R dan D terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Penggunaan bahasa

BAB I PENDAHULUAN. digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Penggunaan bahasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dalam hidupnya tidak terlepas dari interaksi yang menggunakan sebuah media berupa bahasa. Bahasa menjadi alat komunikasi yang digunakan pada setiap ranah profesi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia pertelevisian ditandai dengan banyaknya jenis acara yang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia pertelevisian ditandai dengan banyaknya jenis acara yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia pertelevisian merupakan dunia yang sangat cepat berkembang. Perkembangan dunia pertelevisian ditandai dengan banyaknya jenis acara yang ditayangkan selama dua

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa adalah sistem lambang atau simbol bunyi yang arbitrer berupa

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa adalah sistem lambang atau simbol bunyi yang arbitrer berupa 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah sistem lambang atau simbol bunyi yang arbitrer berupa percakapan (perkataan) yang digunakan untuk berkomunikasi, bekerja sama, mengidentifikasi

Lebih terperinci

BAB V PEMANFAATAN HASIL ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB SEBAGAI BAHAN AJAR

BAB V PEMANFAATAN HASIL ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB SEBAGAI BAHAN AJAR 175 BAB V PEMANFAATAN HASIL ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB SEBAGAI BAHAN AJAR A. Pengantar Pada sub bab ini peneliti memanfaatkan hasil analisis terhadap kesantunan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam bahasanya. Bahasa setiap daerah memiliki style atau gaya tersendiri dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam bahasanya. Bahasa setiap daerah memiliki style atau gaya tersendiri dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan alat penting dalam kehidupan individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bahasa dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan yang lain, juga untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pikiran kita. Dengan demikian bahasa yang kita sampaikan harus jelas dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pikiran kita. Dengan demikian bahasa yang kita sampaikan harus jelas dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbahasa adalah kebutuhan utama bagi setiap individu dalam kehidupan. Bahasa pada dasarnya dapat digunakan untuk menyampaikan maksud yang ada di dalam pikiran kita.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat untuk menunjang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat untuk menunjang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan masyarakat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat untuk menunjang kepentingannya dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi bisa terjadi apabila ada korelasi yang baik antara penutur dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi bisa terjadi apabila ada korelasi yang baik antara penutur dan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi bisa terjadi apabila ada korelasi yang baik antara penutur dan mitra tuturnya baik dari segi makna ataupun maksud tuturannya. Manusia berbicara dengan

Lebih terperinci

ILOKUSI DAN PERLOKUSI DALAM TAYANGAN INDONESIA LAWAK KLUB

ILOKUSI DAN PERLOKUSI DALAM TAYANGAN INDONESIA LAWAK KLUB ILOKUSI DAN PERLOKUSI DALAM TAYANGAN INDONESIA LAWAK KLUB Putri Suristyaning Pratiwi Fathiaty Murtadho Sam Mukhtar Chan 110 Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan perwujudan ilokusi dan

Lebih terperinci

ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB TV ONE

ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB TV ONE ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM ACARA INDONESIA LAWYERS CLUB TV ONE ARTIKEL E-JOURNAL Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan tindak pidana dalam kehidupan masyarakat di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan tindak pidana dalam kehidupan masyarakat di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan tindak pidana dalam kehidupan masyarakat di Indonesia saat ini semakin meningkat, melihat berbagai macam tindak pidana dengan modus tertentu dan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian... 31

DAFTAR ISI. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian... 31 DAFTAR ISI PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii KATA PENGANTAR... iv UCAPAN TERIMA KASIH... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Penelitian... 1 B. Identifikasi Masalah...

Lebih terperinci

Jurnal Sasindo Unpam, Volume 3, Nomor 3, Desember 2015 PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN

Jurnal Sasindo Unpam, Volume 3, Nomor 3, Desember 2015 PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN Dhafid Wahyu Utomo 1 Bayu Permana Sukma 2 Abstrak Di ranah formal, seperti di perguruan tinggi, penggunaan

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR ILOKUSI TOKOH KAKEK DALAM FILM TANAH SURGA

TINDAK TUTUR ILOKUSI TOKOH KAKEK DALAM FILM TANAH SURGA TINDAK TUTUR ILOKUSI TOKOH KAKEK DALAM FILM TANAH SURGA SUTRADARA HERWIN NOVIANTO, RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN MENYIMAK, DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS X SMA Oleh: Sri Utami Fatimah Program

Lebih terperinci

STRATEGI KESANTUNAN TUTURAN GURU DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 4 KOTA MALANG : DENGAN SUDUT PANDANG TEORI KESANTUNAN BROWN DAN LEVINSON

STRATEGI KESANTUNAN TUTURAN GURU DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 4 KOTA MALANG : DENGAN SUDUT PANDANG TEORI KESANTUNAN BROWN DAN LEVINSON STRATEGI KESANTUNAN TUTURAN GURU DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 4 KOTA MALANG : DENGAN SUDUT PANDANG TEORI KESANTUNAN BROWN DAN LEVINSON SKRIPSI Oleh JANJI WIJANARKO NIM 09340080 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

Peningkatan Kemampuan Berbicara Mahasiswa Melalui Model Pembelajaran Debat

Peningkatan Kemampuan Berbicara Mahasiswa Melalui Model Pembelajaran Debat Jurnal Pesona, Volume 3 No. 2, (2017), 224-232 ISSN Cetak : 2356-2080 ISSN Online : 2356-2072 DOI: https://doi.org/ 10.26638/jp.450.2080 Peningkatan Kemampuan Berbicara Mahasiswa Melalui Model Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Tesis ini membahas tentang pelanggaran maksim-maksim prinsip

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Tesis ini membahas tentang pelanggaran maksim-maksim prinsip BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan Tesis ini membahas tentang pelanggaran maksim-maksim prinsip kerjasama dan prinsip kesopanan dalam drama seri House M.D. di mana tuturantuturan dokter Gregory House

Lebih terperinci

PENERAPAN PRINSIP KERJASAMA DALAM DIALOG ILC (INDONESIA LAWYERS CLUB), TINJAUAN PRAGMATIK

PENERAPAN PRINSIP KERJASAMA DALAM DIALOG ILC (INDONESIA LAWYERS CLUB), TINJAUAN PRAGMATIK PENERAPAN PRINSIP KERJASAMA DALAM DIALOG ILC (INDONESIA LAWYERS CLUB), TINJAUAN PRAGMATIK Agus Hermawan Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk proses pengumpulan dan penganalisisan data. Sudaryanto (1993: 62) menerangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. Menurut Kridalaksana

BAB I PENDAHULUAN. penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. Menurut Kridalaksana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Sebagai makhluk. konvensi (kesepakatan) dari masyarakat pemakai bahasa tersebut.

I. PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Sebagai makhluk. konvensi (kesepakatan) dari masyarakat pemakai bahasa tersebut. 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Sebagai makhluk sosial, dorongan untuk berkomunikasi muncul dari keinginan manusia untuk dapat berinteraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan lainnya. Manusia pasti menggunakan bahasa untuk

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan lainnya. Manusia pasti menggunakan bahasa untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah sebuah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. bab sebelumnya. Analisis jenis kalimat, bentuk penanda dan fungsi tindak tutur

BAB V PENUTUP. bab sebelumnya. Analisis jenis kalimat, bentuk penanda dan fungsi tindak tutur BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Analisis jenis kalimat, bentuk penanda dan fungsi tindak tutur komisif bahasa Jawa dalam

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR PERLOKUSI PADA PERCAKAPAN PARA TOKOH OPERA VAN JAVA DI TRANS7. Naskah Publikasi Ilmiah

TINDAK TUTUR PERLOKUSI PADA PERCAKAPAN PARA TOKOH OPERA VAN JAVA DI TRANS7. Naskah Publikasi Ilmiah 0 TINDAK TUTUR PERLOKUSI PADA PERCAKAPAN PARA TOKOH OPERA VAN JAVA DI TRANS7 Naskah Publikasi Ilmiah Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa manusia akan sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesamanya. Selain itu bahasa juga menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebebasan Pers. Seperti yang sering dikemukakan, bahwa kebebasan bukanlah semata-mata

BAB I PENDAHULUAN. Kebebasan Pers. Seperti yang sering dikemukakan, bahwa kebebasan bukanlah semata-mata BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyak orang terutama kaum awam (karena tidak tahu) bahwa pers memiliki sesuatu kekhususan dalam menjalankan Profesi nya yaitu memiliki suatu Kemerdekaan dan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN KERANGKA TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN KERANGKA TEORI BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN KERANGKA TEORI 2.1 Kajian Pustaka Sebelum melakukan penelitian, ada beberapa sumber kajian yang dijadikan acuan dari penelitian ini yaitu hasil penelitian sebelumnya.

Lebih terperinci

DIRECTIVE SPEECH ACT OF POLITENESS STRATEGY OF PARTICIPANS ON THE MEETHING OF BEM FKIP RIAU UNIVERSITY

DIRECTIVE SPEECH ACT OF POLITENESS STRATEGY OF PARTICIPANS ON THE MEETHING OF BEM FKIP RIAU UNIVERSITY 1 DIRECTIVE SPEECH ACT OF POLITENESS STRATEGY OF PARTICIPANS ON THE MEETHING OF BEM FKIP RIAU UNIVERSITY Eli Mandari 1, Charlina 2, M.Nur Mustafa 3 [email protected]. No. HP. 085263570873 [email protected]

Lebih terperinci

PANDUAN PENJURIAN DEBAT BAHASA INDONESIA. Disusun oleh: Rachmat Nurcahyo, M.A

PANDUAN PENJURIAN DEBAT BAHASA INDONESIA. Disusun oleh: Rachmat Nurcahyo, M.A PANDUAN PENJURIAN DEBAT BAHASA INDONESIA Disusun oleh: Rachmat Nurcahyo, M.A DAFTAR ISI Pengantar: Lomba Debat Nasional Indonesia 1. Lembar Penilaian hal.4 a. Isi hal. 4 b. Gaya hal.5 c. Strategi hal.5

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tujuan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam ranah

BAB 1 PENDAHULUAN. Tujuan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam ranah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Tujuan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam ranah pendidikan adalah meningkatkan empat aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, manusia akan melakukan sebuah komunikasi. Saat berkomunikasi

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, manusia akan melakukan sebuah komunikasi. Saat berkomunikasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kita semua menerima pendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat lepas dari hubungan satu sama lain. Ketika berinteraksi dengan orang lain, manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada tahap interogasi / penyidikan sering terjadi tindakan sewenang-wenang

BAB I PENDAHULUAN. pada tahap interogasi / penyidikan sering terjadi tindakan sewenang-wenang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan pilar utama dalam setiap negara hukum, jika dalam suatu negara hak manusia terabaikan atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa

I. PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa memungkinkan manusia saling berhubungan dan berkomunikasi. Seperti pendapat yang dikemukakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan suatu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan atau dihindari dari kehidupan manusia. Chaer (2010:11) menyatakan bahasa adalah sistem, artinya,

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KEGIATAN DISKUSI KELAS PADA SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA

PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KEGIATAN DISKUSI KELAS PADA SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KEGIATAN DISKUSI KELAS PADA SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada Jurusan

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SEPANJANG PANTAI PADANG DALAM HAL KESANTUNAN BERBAHASA UNTUK KEMAJUAN PARAWISATA

UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SEPANJANG PANTAI PADANG DALAM HAL KESANTUNAN BERBAHASA UNTUK KEMAJUAN PARAWISATA UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SEPANJANG PANTAI PADANG DALAM HAL KESANTUNAN BERBAHASA UNTUK KEMAJUAN PARAWISATA Gusdi Sastra dan Alex Dermawan Fak. Sastra Universitas Andalas Abstrak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung antar penutur dan mitratutur. Penutur dan mitra tutur berintraksi

BAB I PENDAHULUAN. langsung antar penutur dan mitratutur. Penutur dan mitra tutur berintraksi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia kreatif menciptakan media baru sebagai sarana untuk mempermudah proses berkomunikasi. Media yang tercipta misalnya bentuk media cetak dan elektronik. Dua media

Lebih terperinci

Bab II Pengembangan Area Emosional

Bab II Pengembangan Area Emosional Bab II Pengembangan Area Emosional Kompetensi Akhir 1. Mampu menentukan sikap dan gaya hidup serta merencanakan masa depan dan pekerjaannya. Kompetensi Dasar 1. Mampu berkomunikasi dengan orang tua dan

Lebih terperinci

JENIS TINDAK TUTUR GURU DAN RESPON SISWA DALAM KBM DI SMPN SURAKARTA. Woro Retnaningsih IAIN Surakarta

JENIS TINDAK TUTUR GURU DAN RESPON SISWA DALAM KBM DI SMPN SURAKARTA. Woro Retnaningsih IAIN Surakarta JENIS TINDAK TUTUR GURU DAN RESPON SISWA DALAM KBM DI SMPN SURAKARTA Woro Retnaningsih IAIN Surakarta [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindak tutur jenis apa saja yang

Lebih terperinci

ANALISIS TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM NOVEL HATI SINDEN

ANALISIS TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM NOVEL HATI SINDEN ANALISIS TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM NOVEL HATI SINDEN KARYA DWI RAHAYUNINGSIH KAJIAN PRAGMATIK DAN RELEVANSINYA TERHADAP BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA MATERI DRAMA DI SMA Yenita Niken Larasati Program

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa berperan penting bagi kehidupan manusia sebagai alat komunikasi, untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa berperan penting bagi kehidupan manusia sebagai alat komunikasi, untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa berperan penting bagi kehidupan manusia sebagai alat komunikasi, untuk menjalankan segala aktivitas. Bahasa juga sebagai salah satu aspek tindak tutur yang terkait

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Penelitian terhadap realisasi hedging tersangka tindak pidana korupsi dalam penyiaran berita di media online berdasarkan perspektif penggunaan bahasa merupakan penelitian kualitatif.

Lebih terperinci

PRAANGGAPAN DAN IMPLIKATUR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA UNTUK MEMBENTUK PEMIKIRAN KRITIS IDEOLOGIS PEMUDA INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN PRAGMATIK

PRAANGGAPAN DAN IMPLIKATUR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA UNTUK MEMBENTUK PEMIKIRAN KRITIS IDEOLOGIS PEMUDA INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN PRAGMATIK PRAANGGAPAN DAN IMPLIKATUR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA UNTUK MEMBENTUK PEMIKIRAN KRITIS IDEOLOGIS PEMUDA INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN PRAGMATIK Indah Riyanti Pascasarjana UNNES [email protected]

Lebih terperinci

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA KETENTUAN LOMBA DEBAT NASIONAL A. Tata Tertib : 1. Setiap Universitas hanya diperbolehkan mengirimkan maksimal 2 tim. 2. Satu tim terdiri dari 3 orang perwakilan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi dari masing-masing

Lebih terperinci

BAB IV. A. Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Penyalahgunaan Narkotika. Dalam Proses Penyidikan Dihubungkan Dengan Undang-Undang

BAB IV. A. Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Penyalahgunaan Narkotika. Dalam Proses Penyidikan Dihubungkan Dengan Undang-Undang BAB IV ANALISIS HUKUM TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM UNTUK TERSANGKA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DALAM PROSES PENYIDIKAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA JUNCTO UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

RETORIKA KH. ANWAR ZAID SAAT CERAMAH TENTANG KEAGAMAAN DI TUBAN ARTIKEL SKRIPSI

RETORIKA KH. ANWAR ZAID SAAT CERAMAH TENTANG KEAGAMAAN DI TUBAN ARTIKEL SKRIPSI RETORIKA KH. ANWAR ZAID SAAT CERAMAH TENTANG KEAGAMAAN DI TUBAN ARTIKEL SKRIPSI Diajukan untuk Penulisan Skripsi guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Prodi Pendidikan

Lebih terperinci

PERAN LEMBAGA PENEGAK HUKUM DALAM MENJAMIN KEADILAN DAN KEDAMAIAN

PERAN LEMBAGA PENEGAK HUKUM DALAM MENJAMIN KEADILAN DAN KEDAMAIAN PERAN LEMBAGA PENEGAK HUKUM DALAM MENJAMIN KEADILAN DAN KEDAMAIAN NAMA KELOMPOK : 1. I Gede Sudiarsa (26) 2. Putu Agus Adi Guna (16) 3. I Made Setiawan Jodi (27) 4. M Alfin Gustian morzan (09) 1 DAFTAR

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORI. ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi

BAB II KERANGKA TEORI. ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi BAB II KERANGKA TEORI Kerangka teori ini berisi tentang teori yang akan digunakan dalam penelitian ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi tindak tutur;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa lisan dan bahasa tulis salah satu

BAB I PENDAHULUAN. yaitu bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa lisan dan bahasa tulis salah satu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi dapat dilakukan oleh manusia melalui bahasa. Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dibedakan menjadi dua sarana, yaitu bahasa tulis dan bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, yang kemudian disebut dengan komunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi yang paling utama bagi manusia. Chaer (2010:11) menyatakan bahasa adalah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR DAN STRATEGI KESANTUNAN DALAM KOMENTAR D ACADEMY ASIA

TINDAK TUTUR DAN STRATEGI KESANTUNAN DALAM KOMENTAR D ACADEMY ASIA TINDAK TUTUR DAN STRATEGI KESANTUNAN DALAM KOMENTAR D ACADEMY ASIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Hal ini karena fungsi bahasa yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DISTRIBUSI II UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi vital yang dimiliki oleh manusia dan digunakan untuk berinteraksi antarsesamanya. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil,

BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kedudukannya sebagai instrumen hukum publik yang mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil, maka Undang-Undang Nomor 8 Tahun

Lebih terperinci

BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam 26 BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto, 2006: 160). Metode yang digunakan

Lebih terperinci

Pernyataan Pers MAHKAMAH AGUNG HARUS PERIKSA HAKIM CEPI

Pernyataan Pers MAHKAMAH AGUNG HARUS PERIKSA HAKIM CEPI Pernyataan Pers MAHKAMAH AGUNG HARUS PERIKSA HAKIM CEPI Hakim Cepi Iskandar, pada Jumat 29 Oktober 2017 lalu menjatuhkan putusan yang mengabulkan permohonan Praperadilan yang diajukan oleh Setya Novanto,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. universal. Anderson dalam Tarigan (1972:35) juga mengemukakan bahwa salah

I. PENDAHULUAN. universal. Anderson dalam Tarigan (1972:35) juga mengemukakan bahwa salah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan media yang utama dalam komunikasi manusia untuk menyampaikan informasi. Bahasa itu bersifat unik bagi manusia sekaligus bersifat universal. Anderson

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai seorang politisi yang menggunakan bahasa lisan dalam berkomunikasi

BAB I PENDAHULUAN. sebagai seorang politisi yang menggunakan bahasa lisan dalam berkomunikasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M., yang biasa disapa Ahok adalah seorang politisi yang memiliki fungsi dan kedudukan khusus di DKI Jakarta. Ahok dikenal sebagai seorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga merupakan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. serta berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, tuturan ekspresif dalam

BAB V PENUTUP. serta berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, tuturan ekspresif dalam BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dideskripsikan, serta berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, tuturan ekspresif dalam novel Dom Sumurup Ing

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa secara sederhana merupakan produk budaya yang dihasilkan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa secara sederhana merupakan produk budaya yang dihasilkan dan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa secara sederhana merupakan produk budaya yang dihasilkan dan digunakan manusia sebagai alat komunikasi. Secara hakiki, komunikasi berarti suatu proses yang

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF PADA TUTURAN KHOTBAH SALAT JUMAT DI LINGKUNGAN MASJID KOTA SUKOHARJO

TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF PADA TUTURAN KHOTBAH SALAT JUMAT DI LINGKUNGAN MASJID KOTA SUKOHARJO TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF PADA TUTURAN KHOTBAH SALAT JUMAT DI LINGKUNGAN MASJID KOTA SUKOHARJO Usulan Penelitian Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Progam Studi Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

GENDER AND POLITENESS: A COMPARISON BETWEEN HILLARY CLINTON S AND BARRACK OBAMA S SPEECHES IN UNITED STATES

GENDER AND POLITENESS: A COMPARISON BETWEEN HILLARY CLINTON S AND BARRACK OBAMA S SPEECHES IN UNITED STATES GENDER AND POLITENESS: A COMPARISON BETWEEN HILLARY CLINTON S AND BARRACK OBAMA S SPEECHES IN UNITED STATES OF AMERICA S 2008 ELECTION A THESIS BY SITTI FATIMAH REG. NO. 080705041 DEPARTMENT OF ENGLISH

Lebih terperinci

Maftuchah Dwi Agustina ABSTRACT

Maftuchah Dwi Agustina ABSTRACT ANALISIS KALIMAT YANG MEREPRESENTASIKAN TUTURAN MENGANCAM MUKA NEGATIF MITRA TUTUR PADA TERJEMAHAN KUMPULAN CERITA PENDEK THE ADVENTURES OF SHERLOCK HOLMES Maftuchah Dwi Agustina [email protected] ABSTRACT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada. suatu proses komunikasi dalam menyampaikan atau menyebutkan satu maksud

Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada. suatu proses komunikasi dalam menyampaikan atau menyebutkan satu maksud 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada suatu proses komunikasi dalam menyampaikan atau menyebutkan satu maksud oleh penutur.

Lebih terperinci

PRINSIP KESANTUNAN DAN KEBERHASILAN KETERAMPILAN BERBICARA

PRINSIP KESANTUNAN DAN KEBERHASILAN KETERAMPILAN BERBICARA PRINSIP KESANTUNAN DAN KEBERHASILAN KETERAMPILAN BERBICARA Diana Tustiantina 1) Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa [email protected]

Lebih terperinci