GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH"

Transkripsi

1 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda di Indonesia saat ini yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Provinsi Kalimantan Utara terdiri atas lima wilayah administrasi dengan empat kabupaten, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Ibukota Provinsi Kalimantan Utara terletak di Tanjung Selor, yang saat ini berada di Kabupaten Bulungan. Berikut ini merupakan gambaran umum dari aspek geografis dan demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, daya saing daerah, indeks pembangunan manusia, dan kawasan perbatasan ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI Aspek Geografi A. Luas dan Letak Wilayah Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki luas ± ,70 km 2, terletak pada posisi antara Bujur Timur dan antara Lintang Utara. Selain itu, berdasarkan batas kewenangan provinsi, Provinsi Kalimantan Utara diketahui memiliki luas lautan seluas Km 2 (13% dari luas wilayah total). Secara administratif Provinsi Kalimantan Utara berbatasan dengan negara Malaysia tepatnya dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia. Batas daerah daratan terdapat sekitar km garis perbatasan antara Provinsi Kalimantan Utara dengan Negara Malaysia. Sebelah Utara : Negara Sabah (Malaysia) Sebelah Timur : Laut Sulawesi Sebelah Selatan : Provinsi Kalimantan Timur Sebelah Barat : Negara Sarawak (Malaysia) Posisi geografis Provinsi Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat provinsi ini berada di lokasi strategis terutama dalam pertahanan dan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 1

2 keamanan negara. Selain itu, menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara, diketahui bahwa provinsi ini juga berada di jalur pelayaran internasional (Alur Laut Kepulauan Indonesia/Archipelagic Sealand Passage) dan merupakan pintu keluar/outlet ke Asia Pasifik. Tabel A.1 Wilayah Administrasi Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Ibukota Luas Daratan (Km 2 ) Jumlah Kecamatan Jumlah Desa Bulungan Tanjung Selor , Malinau Malinau , Nunukan Nunukan , Tana Tidung Tideng Pale 4.828, Tarakan Tarakan 250, Kalimantan Utara , Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2015 dan Kalimantan Utara.bps.go.id, diakses pada Maret 2016 Kabupaten Malinau merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Kalimantan Utara (56% dari total luasan), sedangkan daerah dengan luas wilayah terkecil adalah Kota Tarakan (1% dari total luasan Provinsi Kalimantan Utara). Kondisi geografis Provinsi Kalimantan Utara selain berupa pegunungan juga merupakan daerah kepulauan. Pulau-pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara terletak di Kabupaten Nunukan, Bulungan, Tana Tidung dan Kota Tarakan. Jumlah pulau-pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara adalah 161 pulau dengan luas total mencapai m 2. Pulau-pulau terbesar diantaranya yaitu Pulau Tarakan (249 m 2 ), Pulau Sebatik (245 m 2 ), Pulau Nunukan (233 m 2 ), Pulau Tanah Merah (352 m 2 ). Sementara, panjang garis pantai provinsi ini adalah Km, 908 Km (23%) merupakan garis pantai daratan, dan Km (77%) merupakan garis pantai kepulauan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 2

3 Gambar A.1 Peta Cakupan Wilayah Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Draft RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 3

4 B. Kondisi Topografi Kondisi topografi merupakan elemen dasar dari suatu wilayah untuk mengetahui karakteristik fisik suatu daerah. Karakteristik fisik akan mempengaruhi pola dan jenis pembangunan yang akan diterapkan di wilayah tersebut. Kemiringan lereng dan ketinggian dari permukaan air laut merupakan indikator untuk mengetahui kondisi topografi di suatu daerah. Berikut ini adalah kondisi luas wilayah menurut kelas ketinggian dari permukaan laut dan kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel B.1 Kelas Ketinggian dari Permukaan Laut di Provinsi Kalimantan Utara (Ha) No. Kabupaten Kelas Ketinggian 0-7 m 7-25 m m m m >1000m 1 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: Kalimantan Utara.bps.go.id, diakses pada Maret 2016 Hampir setengah dari total luasan wilayah provinsi ini memiliki kelas ketinggian antara m di atas permukaan laut (38,77%), hanya sekitar 5,92% yang memiliki kelas ketinggian 0-7 m di atas permukaan laut. Perkembangan pembangunan diperkirakan akan mengelompok di wilayah yang memiliki ketinggian relatif lebih landai, sedangkan wilayah pegunungan di Provinsi Kalimantan Utara dapat dijadikan kawasan lindung dan recharge area (daerah resapan air). Sebagian besar wilayah Kabupaten Bulungan berada pada ketinggian m di atas permukaan laut (31,61%). Kabupaten Malinau dan Nunukan didominasi oleh wilayah yang berada di kelas ketinggian m di atas permukaan laut, yaitu masing-masing 58,46% dan 24,12%. Kabupaten Tana Tidung didominasi oleh wilayah dengan ketinggian 7-25 m di atas permukaan laut dan hanya sebagian kecil yang memiliki ketinggian m di atas permukaan laut (0,01%). Sedangkan Kota Tarakan didominasi oleh kelas ketinggian 7-25 m di atas permukaan laut (72,41%), sementara sisanya (27,59%) berada pada ketinggian 0-7 m di atas permukaan laut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 4

5 No. Kabupaten Tabel B.2 Kelas Kemiringan Lereng di Provinsi Kalimantan Utara (Ha) 0-2% (Datar) Kelas Lereng/Kemiringan 2-15% (Sangat Landai- Landai/Bergelombang) 15-40% (Agak Curam- Curam) >40% (Sangat Curam-Terjal) Jumlah (Ha) 1 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Persentase (%) 10,85 6,06 6,81 76, Sumber: Kalimantan Utara Dalam AngkaTahun 2014 Sebagian besar wilayah di Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh wilayah dengan kemiringan lereng >40%, dengan persentase mencapai 76,27% dari luas wilayah provinsi ini ( Ha). Kondisi topografi Kabupaten Malinau, Nunukan, dan Bulungan didominasi oleh kemiringan lereng di atas 40%, khususnya wilayah bagian tengah dan barat yang sebagian besar merupakan hulu sungai. Kabupaten Tana Tidung didominasi oleh kemiringan lereng 0-2% dan 2-15%. Sedangkan Kota Tarakan didominasi oleh wilayah yang landai (2-15%). Pegunungan atau perbukitan yang tersebar di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu sebagai berikut: a. Kabupaten Bulungan, yaitu Gunung/Bukit Brun, Ubut Lebung, Sombang, Bekayan, Sondong, Gunung Putih, Mara, Sekatak, Kelu, Kundas, Setarat, Takin, Silid, Rian, Aung, Jatu; b. Kabupaten Malinau, yaitu gunung/bukit Laga Tumu, Murjake, Bukit Kalung, Bukit Rapat, Bulu, Kujan, Kelembit, Bukit Lalau, Bakayan, dan Klawit; dan c. Kabupaten Nunukan, yaitu Gunung/Bukit Krayan, Tidaliputu, Pawan, Bukit Titeh, Tudadaun, Depuan, Pangodam, Budukusia, Tungkam, Lelangit, Ruanting, Batu Maja, Pempuanang, Mansel, Ambalia, Muluk, Batu Bengalun, Klawit (Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2015). Sementara wilayah pantai, rawa pasang surut, daratan aluvial, jalur endapan, dan sungai berada di kawasan pesisir timur, sedangkan wilayah dataran dan lembah aluvial umumnya mengikuti arah aliran sungai. C. Kondisi Klimatologi Kondisi klimatologi Provinsi Kalimantan Utara hampir sama dengan wilayah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis, terlebih letak provinsi ini berada di utara lintang 0 0. Suhu udara maksimal terjadi pada bulan November dengan 34,40 o C dan minimal terjadi pada RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 5

6 bulan Februari yaitu 23,40 0 C. Kondisi rata-rata kelembapan udara tahun 2014 di provinsi ini mencapai angka 84% serta memiliki tekanan udara rata-rata 1.009,7 Mbs. Untuk keadaan kecepatan angin terdapat dalam range yang tidak terlalu fluktuatif, yaitu 4-5 knot dari tahun Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 410 mm, sedangkan paling rendah terjadi pada bulan Agustus dengan 132 mm. Rata-rata penyinaran matahari di Provinsi Kalimantan Utara selama tahun diketahui cukup fluktuatif dengan rata-rata terjadi 51 penyinaran matahari pada tahun Tabel C.1 Kondisi Klimatologi di Provinsi Kalimantan Utara Bulan Suhu Udara ( C) Tekanan Kecepatan Curah Penyinaran Kelembapan Rata- Udara Angin Hujan Matahari Min Max Udara (%) Rata (Mbs) (Knot) (mm) (%) Januari 23,50 31,60 27, , Februari 23,40 32,00 27, , Maret 24,00 32,50 28, , April 24,20 33,30 28, , Mei 24,40 33,40 28, , Juni 24,00 33,70 28, , Juli 23,60 33,60 28, , Agustus 24,00 33,20 28, , September 23,70 33,60 28, , Oktober 24,50 33,90 29, , November 24,20 34,40 29, , Desember 24,00 32,10 28, , ,96 33,11 28, , , ,10 27,40 32, , , ,80 27,30 32, , , * 25,73 31,60 28,40 85, ,05 4,00 298,64 41, * 23,40 32,70 27,70 85, ,48 4,15 255,20 45, * 22,85 33,40 28,14 83, ,28 4,00 248,28 42, * 23,27 32,20 27,73 84, ,23 5,33 274,83 52,00 Sumber: Kabupaten Dalam Angka Tahun dan 2015 Keterangan: * Rata-rata Kondisi Iklim per bulan Diambil dari data Stasiun Meteorologi Tanjung Selor (Badan Meteorologi dan Geofisika Bulungan) D. Kondisi Geologi Kondisi geomorfologi atau fisiografi Provinsi Kalimantan Utara meliputi daratan dan lautan. Daratan berada di bagian barat, sedangkan lautan berada di bagian timur hingga kawasan perairan Ambalat. Bagian barat yang berupa daratan tercermin sebagai pegunungan hingga perbukitan yang merupakan unit geomorfologi (bentang alam) struktur baik berupa lipatan maupun patahan, sedangkan bagian timur sebagai dataran hingga pantai atau dikenal sebagai bentang alam aluvial, sedangkan bentang alam laut berada di bagian paling timur wilayah. Litostratigrafi tersusun atas batuan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoium dan Kwarter. Batuan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoikum dan Kwarter banyak tersingkap di bagian barat Provinsi Kalimantan Utara (Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan). Batuan tersier yang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 6

7 belum banyak tersingkap terdapat di kawasan pantai dan di bawah laut (Selat Sulawesi). Batuan Paleozoikum dan Mesozoikum berupa batuan metamorfosa seperti sekis, pilit, marmer, gneiss, dan kwarsit, maupun batuan beku seperti granit/diorit, dan batuan sedimen seperti batu pasir, batu lanau, batu lempung, batu gamping yang umumnya telah mengalami diagenesis atau metamorfisme. Batuan Kenozoikum (Tersier) antara lain terdiri dari beberapa formasi yang berupa batuan sedimen seperti batu pasir, batu lanau, batu lempung, batubara dan batu gamping, serta batuan volkan atau batuan beku seperti granit, rhyolit, trachit, diorit dan andesit. Batuan sedimen Tersier tersebut terbentuk dalam suatu cekungan yang dikenal sebagai Cekungan Tarakan dan termasuk salah satu cekungan penghasil minyak dan gas di Kalimantan Utara. Struktur geologi berupa lipatan yang berarah barat daya-timur laut berupa antiklin dan sinklin serta struktur patahan geser dengan arah barat laut-tenggara hingga utaraselatan dan sesar naik berarah barat daya-timur laut. Struktur antiklin dan patahan seringkali berfungsi sebagai perangkap minyak dan gas. Perangkap minyak dan gas dapat pula berupa perangkap stratigrafi. Berdasarkan stratigrafi tersier di Cekungan Tarakan yang terdiri dari bermacam batuan sedimen yang dapat berfungsi sebagai batuan induk, batuan reservoir, dan batuan penutup, sedangkan kondisi gradient geothermis dan perangkap geologi minyak dan gas bumi baik struktur geologi dan stratigrafi, maupun terjadinya migrasi minyak dan gas bumi memenuhi syarat bagi sistem perminyakan yang ada di Cekungan Tarakan. Dengan demikian Cekungan Tarakan yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai potensi minyak dan gas bumi yang sebagian besar masih dalam taraf penyelidikan eksplorasi, dan sebagian kecil sudah berproduksi seperti di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan. Dari stratigrafinya, Cekungan Tarakan mempunyai potensi batubara yang melimpah pada formasi batuan sedimen yang berumur Tersier. Penambangan batubara sudah dilakukan di Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Bulungan. Selain itu terdapat batuan beku asam hingga batuan beku menengah seperti granit, rhyolit, trachyt, diorit, dan andesit yang mengindikasikan adanya kegiatan magmatik pada saat Miosen. Adanya kegiatan magmatik asam hingga menengah ini dapat menyebabkan terjadinya mineralisasi bijih dalam bentuk senyawa sulfida yang mengandung unsur emas, tembaga, perak, seng, dan timbal sebagai endapan epitermal maupun mesotermal. Dampak lain dari kegiatan magmatik ini adalah terjadinya alterasi hidrotermal terhadap batuan batuan yang lebih tua sehingga menghasilkan bahan galian seperti kaolin dan bentonit yang berpotensi sebagai bahan dasar untuk industri keramik. Kondisi stratigrafi juga memungkinkan terbentuknya batu gamping dari formasi yang berumur tersier dan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 7

8 tersingkap di permukaan seperti di Kabupaten Bulungan dalam jumlah yang cukup besar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku semen. Ditemukan juga pasir kwarsa yang merupakan hasil rombakan batuan tersier baik batuan beku, sedimen, maupun metamorf seperti yang terdapat di Kabupaten Nunukan. Pasir kwarsa ini berpotensi sebagai bahan dasar untuk industri kaca atau bahan bangunan yang lain. Potensi sumberdaya geologi yang berupa sumberdaya mineral khususnya emas secara informasi tidak resmi terdapat di Kabupaten Nunukan yang diperkirakan mempunyai cadangan cukup besar, namun belum dikelola dengan baik. Penambangan sumberdaya mineral khususnya emas harus memperhatikan masalah lingkungan yang terkait dengan pencemaran unsur unsur berbahaya seperti As dan Hg terhadap air tanah maupun air permukaan. Jika dilihat berdasarkan jenis tanah yang terbentuk dan tersedia di Provinsi Kalimantan Utara, antara lain yaitu: a. Organosol (Hiplohemist, Hiplofibrists), berupa tanah gambut pada bentuklahan dataran berawa permanen, dataran bergambut dan dataran aluvial berawa, yang terletak di muara Sekatak Kabuapaten Bulungan; b. Aluvial Hidromorf (Hidraquents, Sulfaquents, Endoaquepts) adalah tanah lapisan atas warna kelabu sangat gelap/ hitam oleh endapan bahan organik, tekstur lempung, struktur masif, konsistensi lekat liat, berupa gunungan endapan pasir pantai, dataran lumpur bawah bakau dan nipah, batuan pasir paduan muara sungai. Sebaran dataran pasang surut, delta, dataran estuarin yang terdapat di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan; c. Aluvial (Endoaquepts, Distrodepts), merupakan tanah dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang-tinggi. Sebaran tanah ini pada dataran aluvial sungai (tanggul alam dan dataran banjir), dataran aluvial depresi antar perbukitan sepanjang sungai-sungai terletak di Kabupaten Bulungan; d. Organosol, (alluvial gambut) hanya terdapat di Kecamatan Tarakan Barat Kota Tarakan; e. Rendsina (Hapludolls, Eutrodepts), tanah dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang, faktor pembatas topografi dan jeluk tanah (soil/ dangkal). Sebaran pada dataran berombak bergelombang, perbukitan terdapat di Kabupaten Bulungan; f. Podsolik Merah Kuning (Hapludults, Paeudults), tanah kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang. Sebaran di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan; RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 8

9 g. Podsol (Haplorthods, Palehumulds), tanah mudah lapuk, sebaiknya dihutankan atau penggembalaan (pasture). Sebaran tanah di daerah datar berombak, di Kabupaten Bulungan; h. Latosol (Hapludults, Dystrondepts), tanah ini memiliki kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang-tinggi. Sebaran pada perbukitan dan pegunungan tektonik, pegunungan volkan yang melereng sedang di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan; i. Podsolik Coklat (Dystrondepts, Eutrodepts) tanah dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang. Jenis tanah dijumpai di Kabupaten Bulungan; j. Latosol/ Lateritik (Hapludoxs, Kandiudults, Palehumults), kesuburan dan potensi tanah untuk pertanian rendah. Sebaran tanah di dataran berombak-bergelombang di Kabupaten Bulungan; k. Andosol (Hipludands, Udivitrands), dan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang tinggi terutama untuk tanaman hortikultura. Sebaran terdapat di Kabupaten Bulungan; l. Podsolik Coklat Kelabu (Hapluhumults, Hapludox), kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang. Sebaran pada volkan yang terdenudasi terletak di Kabupaten Bulungan; dan m. Jenis tanah alluvial endapan/aliran sungai, tanah berlapis-lapis hasil proses pengendapan dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang-tinggi. Sebaran pada dataran aluvial sungai (meander sungai, dataran banjir, danau, lembahlembah sempit) pada tepi sungai-sungai terutama Sungai Kayan, Sungai Sekatak, dan anak anak sungainya (Percepatan Penyusunan RTRW Provinsi Kalimantan Utara dan Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi dan Kabupaten Pemekaran)). E. Kondisi Hidrologi Kondisi hidrologi wilayah Provinsi Kalimantan Utara dapat berupa air permukaan dan air bawah permukaan (air tanah). Air permukaan tercermin sebagai aliran sungai yang terbagi menjadi beberapa DAS (daerah aliran sungai), mata air, dan air tanah. Kawasan resapan air terletak di daerah pegunungan dan perbukitan yang terletak di bagian barat, diantaranya terdapat di Kabupaten Malinau, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kabupaten Nunukan, sedangkan kawasan tangkapan air terletak di bagian timur yang berupa dataran aluvial dan dataran fluvial. Provinsi Kalimantan Utara memiliki potensi Sumber Daya Air (SDA) yang sangat besar. SDA tersebut terdiri dari jumlah curah hujan di Kalimantan Utara yang cukup tinggi, sungai-sungai besar, mata air yang banyak, dan rawa yang luas. Potensi yang besar tersebut banyak dimanfaatkan untuk menunjang kesejahteraan dan membantu kehidupan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 9

10 masyarakat Kalimantan Utara. Namun, karena peran SDA sangat besar tersebut juga membuat potensi daya rusak dan pencemaran sangat mungkin meningkat. Sungai merupakan bagian penting dari DAS, sangat berperan penting bagi kehidupan dan aktivitas masyarakat Provinsi Kalimantan Utara. Sungai-sungai yang ada di wilayah ini antara lain adalah Sungai Kayan, Sungai Sesayap, Sungai Pimping, Sungai Bandan, Sungai Sekatak, Sungai Jelarai, Sungai Linuang Kayan, Sungai Betayau, Sungai Sembakung, Sungai mandul, Sungai Semandak, Sungai Mintut, Sungai Manguli. Sungai tersebut merupakan media transportasi air bagi masyarakat. Selain itu, sungai tersebut juga sebagai sumber mata pencaharian nelayan tradisional di wilayah ini (Profil Daerah Provinsi Kalimantan Utara, 2014). Tabel E.1 Nama dan Panjang Sungai Utama di Provinsi Kalimantan Utara (Km) No. Kabupaten/Kota Nama Sungai Panjang Sungai (Km) 1 Bulungan Sungai Kayan/Kahayan Malinau Sungai Sesayap Sungai Sembakung Nunukan Sungai Sembakung Sungai Sebuku Tana Tidung Sungai Sesayap Tarakan Sungai Binalatung Sungai Bengawan Sumber: Laporan Akhir Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air dan Sumber-Sumber Air Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015 Berdasarkan hasil inventarisasi jumlah sungai dalam dokumen SLHD tiap Kabupaten/Kota, Provinsi Kalimantan Utara memiliki 123 sungai dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Pamusian dengan panjang km, sungai terpendek yaitu Sungai Bebakin yang hanya memiliki panjang 1 Km. Untuk kategori sungai terlebar, Sungai Kayan menjadi yang utama dengan lebarnya yang mencapai 550 km. Sementara Sungai Bebakil menjadi sungai tersempit karena hanya memiliki lebar 2 km. Walaupun bukan sungai yang terpanjang ataupun terlebar di Kalimantan Utara, Sungai Naha Aya memiliki debit maksimum yaitu 1.992,52 m 3 /detik. Kalimantan Utara hanya memiliki 1 danau yaitu Danau Kelaputan Mangkupadi yang terletak di Kabupaten Bulungan seluas 6 ha. Sementara untuk waduk dan embung semakin bertambah. Pada 2014, Kalimantan Utara memiliki 24 buah waduk dan 10 embung, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya terdapat 9 buah waduk dan 11 embung. Sedangakan situ tidak terdapat di wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Waduk yang terluas dan volume paling besar di Provinsi Kalimantan Kalimantan Utara yaitu Waduk Irigasi Binusan di Kabupaten Nunukan dengan luas 3,6 ha dan volume 3000 m 3. Sementara itu, Embung Air Baku Bolong di Kabupaten Nunukan menjadi embung terluas dan memiliki volume terbesar di provinsi ini. Luas embung tersebut yaitu 13,44 ha dengan volume m 3. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 10

11 Tabel E.2 Inventarisasi Danau/Waduk/Situ/Embung di Provinsi Kalimantan Utara No. Jenis Nama Luas (Ha) Volume (m 3 ) 1 Danau Kelaputan Mangkupadi 6-2 Waduk Waduk Irigasi Binusan, Nunukan 3, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator I, Binusan 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator II, Binusan 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator III, Binusan 0, Waduk Bendung Irigasi Binusan Kecil, Nunukan 0, Waduk Bendung Irigasi Sei Jepun, Nunukan Selatan 0, Waduk Bendung Irigasi Mansapa, Nunukan Selatan 2, Waduk Bendung Irigasi Mamolo, Tanjung Harapan 2, Waduk Bendung Irigasi Lancang I, Nunukan Selatan 0, Waduk Bendung Irigasi Lancang II, Nunukan Selatan 0, Waduk Bendung Irigasi Lancang III, Nunukan Selatan 1, Waduk Bendung Irigasi Kp. Solok, Simengkadu 0, Waduk Bendung Irigasi Liang Bunyu, Sebatik Barat Waduk Bendung Irigasi Kp. Enrekang 1, Sebatik 0, Waduk Bendung Irigasi Enrekang 2, Sebatik Barat 0,5 37,5 17 Waduk Bendung Irigasi Enrekang 3, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Sinjai, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 1, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 2, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 3, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Batu Satu 1, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Batu Satu 2, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Tembaring Atas, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Tembaring Bawah, Sebatik Barat 0, Embung Embung Air Baku Bilal, Nunukan 11, Embung Embung Air Baku Bolong, Nunukan 13, Embung Embung Sei Pancang Embung Embung Air Baku Tanjung Karang, Sebatik 0, Embung Embung Air Baku Lapio, Sebatik Barat 2 986,53 31 Embung Embung Air Baku Sianak, Sebatik Barat ,5 32 Embung Embung Irigasi Bebakil 1, Sebatik Barat 1 12,5 33 Embung Embung Irigasi Bebakil 2, Sebatik Barat 0, Embung Embung Persemaian, Tarakan 13, , Embung Embung Binalatung, Tarakan ±70 666,66 36 Embung Embung Bengawan, Tarakan 16, Sumber: Buku Dara Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015 Keterangan : ( - ) Tidak dilakukan pengukuran Kabupaten Malinau tidak terdapat danau/waduk/situ/embung Kabupaten Tana Tidung tidak terdapat danau/waduk/situ. Sementara Embung masih dalam tahap perencanaan F. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh hutan, dengan luasan mencapai Ha atau sekitar 90,06% dari luasan total wilayah. Luasan pertanian tersebar sekitar 1,55% atau Ha dari total luas wilayah. Penggunaan lahan hutan negara mendominasi di seluruh kabupaten, namun terbanyak terdapat di Kabupaten Malinau. Kondisi geografis provinsi ini yang didominasi oleh pegunungan dan perbukitan dengan kemiringan lereng yang curam, sebagian besar dimanfaatkan sebagai hutan lindung. Penggunaan lahan permukiman hanya Ha atau 0,27% dari total luasan wilayah provinsi ini, dengan sebaran lahan permukiman paling tinggi berada di Kabupaten Nunukan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 11

12 Tabel F.1 Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah di Provinsi Kalimantan Utara (Ha) No. Kabupaten Jenis Penggunaan Tanah Pemukiman Hutan Pertanian Pertambangan Lainnya 1 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Persentase (%) 0,27 90,06 1,55 0,12 8 Sumber: Kalimantan Utara Dalam AngkaTahun 2014 Sedangkan, jika dilihat dari SK Menteri Kehutanan No. 718 Tahun 2014, perbandingan luas areal penggunaan lahan dengan areal hutan dan tubuh air dapat dilihat pada tabel berikut ini. Kawasan Areal Penggunaan Lain Hutan Lindung Hutan Produksi Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi Hutan Produksi Terbatas Tabel F.2 Perbandingan Luas Areal Penggunaan Lahan, Areal Hutan, dan Tubuh Air di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Kabupaten Kabupaten Tana Provinsi Kota Tarakan Kabupaten Malinau Bulungan Nunukan Tidung Kalimantan Utara Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % ,27 29, ,74 72, ,60 8, ,18 32, ,51 46, ,30 19, ,60 15, ,33 27, ,51 17, ,95 11, ,39 14, ,53 18, ,98 9, ,53 19, ,97 43, ,01 14, ,50 0, ,89 0, ,67 2, ,06 0, ,51 35, ,71 39, ,83 13, ,26 2, ,31 31,9 Tubuh Air ,21 25, ,39 19, ,60 17,8 Sumber: SK Menhut No. 718/2014 dalam Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun Penggunaan lahan didominasi oleh hutan lebih dari 90% yang terdiri atas hutan primer dan hutan sekunder dengan luas hampir 6,5 juta hektar. Proporsi hutan terbesar, yaitu di Kabupaten Malinau seluas 3,9 juta hektar dan Kabupaten Bulungan serta Nunukan dengan luasan wilayah hutan yang mencapai 1 juta hektar. Proporsi kawasan budidaya hanya mencapai angka 5,97% dari seluruh total luasan tutupan lahan. Secara lebih jelas, luas tutupan lahan menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara adalah sebagai berikut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 12

13 Tabel F.3 Luas Tutupan Lahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara (Ha) Jenis Tutupan Luas (Ha) Lahan Kabupaten Bulungan Kota Tarakan Kabupaten Malinau Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung Jumlah Hutan Lahan ,86 20,77% 0,00% ,92 80,45% ,51 45,50% 0,00% ,29 58,22% Kering Primer Hutan Lahan ,65 52,83% 8.027,22 33,01% ,90 16,69% ,12 19,27% ,26 20,47% ,15 23,69% Kering Sekunder Hutan Rawa 0,00% 0,00% 0,00% 1.298,99 0,08% 0,00% 1.298,99 0,02% Primer Hutan Rawa 7298,44 0,61% 0,00% 962,14 0,03% ,18 13,73% ,65 12,05% ,41 3,78% Sekunder Hutan Tanaman 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 9.803,38 2,89% 9.803,38 0,14% Hutan Mangrove ,42 5,51% 289,32 1,19% 0,00% ,59 4,36% ,92 7,14% ,25 2,27% Sekunder Perkebunan 0,00% 0,00% 0,00% ,19 2,07% 0,00% ,19 0,46% Permukiman 1100,23 0,09% 1.236,22 5,08% 1.482,12 0,04% 700,41 0,05% 614,01 0,18% 5.132,99 0,07% Emplacement 0,00% 65,49 0,27% 0,00% 0,00% 0,00% 65,49 0,001% Pertanian Lahan 1627,46 0,14% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 1.627,46 0,02% Kering Pertanian Lahan ,04 8,17% ,93 41,93% ,48 1,76% ,57 0,85% ,89 11,19% ,91 3,25% Kering Bercampur Semak Rawa 2313,41 0,19% 74,45 0,31% 0,00% 3.163,20 0,20% 1.897,45 0,56% 7.448,51 0,11% Sawah 0,00% 0,00% 0,00% ,89 1,10% 0,00% ,89 0,25% Semak Belukar ,45 5,19% 2.834,62 11,66% ,95 0,74% ,68 5,67% 8.102,05 2,39% ,75 2,72% Semak/Belukar ,55 1,15% 48,88 0,20% ,98 0,29% ,83 6,10% ,54 26,23% ,78 3,00% Rawa Tambak ,01 5,25% 1.546,34 6,36% 0,00% ,58 0,80% ,81 16,82% ,74 1,92% Tanah Terbuka 1.049,74 0,09% 0,00% 161,57 0,00% 3.227,82 0,21% 243,23 0,07% 4.682,36 0,07% Total ,26 100, ,47 100, ,06 100, ,56 100, ,19 100, ,54 100,00 Sumber: Percepatan Penyusunan RTRW Provinsi Kalimantan Utara dan Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi dan Kabupaten Pemekaran) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 13

14 Gambar F.1 Peta Tutupan Lahan di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Draft RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 14

15 G. Potensi Pengembangan Wilayah Potensi Ekonomi Sektoral (Sumber Daya Alam) 1. Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan a. Fokus komoditas tanaman pangan Provinsi Kalimantan Utara adalah padi, jagung, dan ubi kayu. Kabupaten Malinau, Kabupaten Bulungan, dan Kabupaten Nunukan merupakan daerah potensial pengembangan ketiga komoditas tanaman pangan tersebut. b. Provinsi Kalimantan Utara memliki lahan pertanian yang potensial yaitu dengan luas sebesar ,57 Ha. Namun, hanya ,05 Ha yang termanfatkan menjadi lahan sawah. Artinya masih terdapat ,51 Ha lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. c. Luas panen di Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu mengalami peningkatan 30,45%, yaitu dari hektar menjadi hektar. Luas lahan panen terbesar yaitu di Kabupaten Bulungan, sebesar hektar atau 54% dari total luas panen provinsi. 2. Sub Sektor Holtikultura a. Jenis tanaman buah-buahan yang menjadi fokus utama pengembangan di Provinsi Kalimantan Utara adalah buah jeruk, durian/lai, dan pisang. Dari data produksi komoditas buah yang memiliki keunggulan kompetitif adalah buah pisang dengan produksi rata-rata pada tahun 2012 adalah per ton. b. Produksi buah pisang yang paling besar adalah terdapat di Kabupaten Nunukan dengan produksi sebesar 51,28% dari total produksi provinsi. c. Kabupaten penghasil buah durian paling banyak adalah di Kabupaten Bulungan dengan total produksi sebesar 55,35% dari total produksi provinsi. Diketahui bahwa produksi buah durian di Kabupaten Bulungan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. d. Kabupaten penghasil buah jeruk paling banyak pada kurun waktu adalah Kabupaten Bulungan dengan total produksi sebanyak 54,62% dari total produksi provinsi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 15

16 3. Sub Sektor Peternakan a. Komoditas utama sektor peternakan adalah sapi, kerbau, kambing, babi, ayam, dan itik. b. Ayam ras pedaging dan ayam kampung merupakan komoditas hewan ternak yang paling banyak populasinya. Populasi ayam ras pedaging sebanyak 76,86% dari total populasi hewan ternak provinsi. c. Produksi daging ayam ras pedaging pada periode waktu mencapai 56,59% dari total produksi daging hewan ternak, diikuti hasil produksi daging ayam kampung dengan 18,32% dan sapi yang berjumlah 15,78%. 4. Sub Sektor Perkebunan a. Terdapat beberapa jenis tanaman perkebunan yang dikembangkan antara lain Karet, kelapa, kopi, lada, aren, kakao, kelapa sawit, dan lain-lain. Namun yang menjadi komoditas unggulan hanya 4 jenis yaitu kakao dan kelapa (Prioritas I), serta kopi dan kelapa sawit (Prioritas II). b. Perkebunan kakao terdapat di semua kabupaten kecuali Kota Tarakan. Pada tahun 2012, luas perkebunan kakao seluas hektar, luas terbesar terdapat di Kabupaten Nunukan dengan luas ha. c. Luas serta jumlah produksi komoditas kelapa mengalami penurunan. Pada tahun 2012, luas perkebunan kelapa seluas hektar, sedangkan luas terbesar berada di Kabupayen Nunukan (1.085 hektar). Produksi panen kelapa terbesar yaitu di Kabupaten Bulungan. d. Luas dan produksi perkebunan kopi dalam kurun waktu mengalami penurunan. Luas panen mengalami penurunan, yaitu dari hektar menjadi hektar. Luas kebun kopi terbesar yaitu di Kabupaten Malinau seluas hektar. e. Luas dan hasil panen kelapa sawit dalam kurun waktu mengalami kenaikan. Luas perkebunan sawit meningkat dari hektar menjadi hektar. 5. Sub Sektor Kehutanan Dari enam klasifikasi hutan yang ada di Kalimantan, hanya empat jenis yang berada di Kalimantan Utara yaitu Hutan Lindung, Hutan Suaka Alam dan Wisata, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap. Luas total hutan di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2012 adalah Ha. Dari keempat jenis hutan yang ada di Kalimantan Utara, yang terluas adalah hutan produksi terbatas yaitu RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 16

17 seluas Ha dan yang terkecil adalah Hutan Lindung yaitu seluas Ha. Kabupaten Malinau merupakan wilayah yang memiliki total luas hutan terbesar dengan luas hutan Ha, sedangkan yang terkecil di Kota Tarakan dengan luas total hanya sebesar Ha. Hutan lindung, hutan suaka alam & wisata, dan hutan produksi terbatas merupakan yang paling luas berada di Kabupaten Malinau. Sementara hutan produksi tetap yang terluas berada di Kabupaten Bulungan. Tabel G.1 Luas Hutan (Ha) Menurut Tata Guna Hutan Kesepakatan dan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Hutan Lindung Hutan Suaka Alam & Wisata Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Tetap Jumlah Hutan Tetap Malinau Bulungan Nunukan Tana Tidung Tarakan Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun Sub Sektor Perikanan Sumber daya perikanan berasal perikanan laut dan perikanan darat. Jenis perikanan darat adalah perairan umum, tambak, kolam, keramba dan budidaya pantai/laut. Pada sektor perikanan, jenis perikanan darat masih menjadi yang utama yakni dari jenis budidaya pantai yang mengalami pertumbuhan jumlah produksi dari tahun ke tahun. Selain budidaya pantai, jenis perikanan darat yang mengalami pertumbuhan jumlah produksi adalah dari tambak dan kolam. Sementara produksi perikanan laut juga sempat mengalami pertumbuhan produksi dari tahun , namun mengalami penurunan di tahun Wilayah dengan perikanan laut yang dominan adalah Kota Tarakan. Sedangkan wilayah dengan produksi perikanan darat yang dominan adalah Kabupaten Nunukan, yakni dari sektor budidaya pantai. 7. Sektor Industri Pemerintah pusat telah menetapkan industri unggulan di Provinsi Kalimantan Utara adalah kakao. Jika dibandingkan dengan data perkebunan yang ada, komoditas kakao dan karet memang memiliki jumlah produksi yang tinggi. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah. berdasarkan data, industri di bidang agro dan hasil hutan masih lebih kecil RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 17

18 dibandingkan dengan industri logam, mesin, elektronika, dan aneka industri. Oleh karena itu, pengembangan industri agro perlu lebih dimaksimalkan. Produk unggulan UMKM di provinsi ini, antara lain meubel rotan, anyaman bambu, anyaman rotan, anyaman manik-manik, kue dan roti, bubuk kopi, pengolahan logam, pembuatan kapal, pengolahan rumput laut, minyak atsiri, beras Adan, ikan teri, udang kering, kerupuk durian, amplang, dan batik. 8. Sektor Pariwisata Pola pergerakan wisatawan yang menggunakan jalur udara, yaitu melalui: (a) Jakarta-Balikpapan-Tarakan; (b) Yogyakarta-Balikpapan-Tarakan; dan (c) Jakarta- Makassar-Balikpapan-Tarakan. Untuk jalur laut, telah dilengkapi dengan pelabuhan utama yaitu di Pelabuhan Tarakan (Kota Tarakan) dan Pelabuhan Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan). Daya tarik wisata di Provinsi Kalimantan Utara, antara lain: a. Daya tarik wisata Heart of Borneo (HoB). Heart of Borneo merupakan keunikan untuk menunjukkan keberadaan hutan primer terluas dan tertua di dunia, yaitu di jantung Kalimantan. b. Daya tarik wisata kawasan perkotaan Tarakan-Tanjung Selor. Tarakan dikenal dengan minyak dan sejarah pendudukan bangsa asing, Bulungan merupakan salah satu kerajaan di Kalimantan Utara. c. Daya tarik wisata kawasan pesisir kepulauan (Nunukan, Bulungan Kepulauan, dan Tana Tidung Kepulauan) Nunukan, Bulungan Kepulauan, dan Tana Tidung Kepulauan merupakan wilayah dengan potensi wisata yang beragam mulai dari pantai sampai dengan hutan hujan tropis. d. Daya tarik wisata kawasan pedalaman (pedalaman Bulungan dan Tana Tidung) Daya tarik pariwisata ini dikelmpokkan menjadi tiga bagian, yaitu daya tarik wisata berbasis alam, wisata berbasis sejarah dan budaya, serta wisata berbasis kehidupan masyarakat yang lebih dominan. e. Kawasan Perbatasan Negara Kawasan pengembangan pariwisata perbatasan negara yang ada di Kalimantan Utara, meliputi daerah perbatasan Malinau yang berbatasan langsung dengan Serawak (Malaysia Timur). Dalam pengembangan wisata di kawasan ini, didominasi variasi wisata kehidupan masyarakat dan wisata berbasis alam. Adapun destinasi pariwisata unggulan di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu Pantai Amal, Wana Wisata Persemaian, Hutan Mangrove Tarakan, Air Terjun Martin Billa, Sungai RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 18

19 Nyamuk, Long Bawan (Krayan), Gunung Rian, Batu Mapan, Hutan Lindung Sungai Sesayap, Pantai Kuning/Taman Laut Karang Tigau, Eks Kerajaan Bulungan. Potensi Pengembangan Kegiatan Ekonomi Berdasarkan dokumen Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun , potensi pengembangan kegiatan ekonomi di provinsi ini yaitu: 1. Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara hingga saat ini masih sangat tergantung pada sektor primer, yaitu sektor pertanian (termasuk sub sektor perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) dan sektor pertambangan dan penggalian, terutama sektor migas dan batubara. Di antara kedua sektor ini, sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang lebih dominan. Namun, kedua sektor ini belum ditunjang oleh sektor industri pengolahan. Ini ditunjukkan oleh kontribusi sektor industri pengolahan yang sangat kecil. Kegiatan sektor pertambangan hanya terbatas pada eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya forward linkage ke sektor industri. Sementara itu pengusahaan sektor pertanian dengan sub-sektornya (pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) dapat dikelompokkan ke dalam pengusahaan oleh rakyat dan pengusahaan oleh perusahaan. 2. Pengembangan perekonomian Provinsi Kalimantan Utara menghadapi kendala rentang hutan yang luas, sehingga pemukiman akan mengelompok pada daerah dataran datar yang berkarateristik perkotaan yang telah terjangkau oleh jalur transportasi darat dan kantung-kantung pemukiman perdesaan secara sporadis yang bersifat self-sufficient pada sempadan sungai yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi utama. Keterhubungan yang belum dapat dilakukan melalui jalan darat dan air dilakukan melalui udara dalam bentuk air strip. Dampaknya bagi perekonomian adalah harga produk olahan dan manufaktur akan cenderung mahal apabila didatangkan dari luar wilayah karena diseconomies of scale jalur transportasi dan pasokan energi. Kondisi demikian terjadi pada daerah perdesaan. Pada daerah perkotaan, peningkatan economies of scale jalur transportasi dan pasokan energi menyebabkan harga produk olahan dan manufaktur cenderung lebih murah. Khusus pada daerah perbatasan, harga produk olahan dan manufaktur yang mahal apabila didatangkan dari luar wilayah karena alasan diseconomies of scale jalur transportasi dan pasokan energi dihadapkan pada produk impor dari wilayah Malaysia yang lebih murah karena adanya tingkat economies of scale yang lebih baik pada kedua aspek tersebut. Oleh karena itu, penduduk daerah perbatasan akan lebih memilih untuk memperoleh produk-produk jadi dari Malaysia. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 19

20 3. Perekonomian provinsi ini juga dihadapkan pada kendala pasokan energi karena disparitas yang tinggi antara sisi permintaan dan penawaran energi. Pada pengusahaan pertambangan batu bara, daerah hanya memperoleh penerimaan pajak, karena pengolahan batu bara berada di luar wilayah provinsi in, daerah tidak memperoleh manfaat pada sisi pasokan energi yang bersumber pada batu bara. Hal yang sama terjadi pada pengusahaan migas. Kalaupun ada pengolahan di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, diseconomies of scale pada transportasi darat akibat belum terhubungnya jalur jalan darat di sebagian besar wilayah serta harga minyak dunia yang lebih tinggi di pasar dunia, mengakibatkan daerah harus mendatangkan pasokan BBM dari luar yang penyalurannya terkendala oleh diseconomies of scale pada transportasi darat. Karena terbatasnya pasokan, sementara permintaan masih lebih tinggi karena BBM juga dibutuhkan pada sisi produksi untuk menggerakkan generator serta pengangkutan hasil sektor pertanian, maka permintaan yang melebihi penawaran mengakibatkan harga BBM naik pada ke batas willingness to pay. 4. Kota Tarakan, yang sebelumnya merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bulungan, merupakan penghubung perdagangan dan industri di wilayah provinsi ini karena memiliki Bandara Juwata dan Pelabuhan Tarakan yang merupakan akses penting keterhubungan wilayah. Pada saat ini Kota Tarakan telah menyiapkan rencana pengembangan Bandara Juwata menjadi bandara internasional, sementara pengembangan Pelabuhan Tarakan sebagai pelabuhan peti kemas dan pelabuhan internasional juga terus dilakukan. Status Kota Tarakan sebagai PKN juga menjadikannya sebagai pusat perekonomian Provinsi Kalimantan Utara. Posisi Kota Tanjung Selor yang terletak di Kabupaten Bulungan juga memiliki bandara Tanjung Harapan untuk penerbangan antar wilayah dan Pelabuhan Tanjung Selor. Posisinya sebagai PKW otomatis tidak menjadikannya sebagai pusat perekonomian, namun lebih sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena itu, dalam jangka pendek Kota Tanjung Selor akan menjadi support city sebagai pusat pemerintahan, sementara pada jangka menengah dapat dikembangkan untuk menampung spillover kegiatan ekonomi di Kota Tarakan yang semakin congested, yaitu sebagai perluasan wilayah pemukiman dan relokasi serta perluasan wilayah industri. Dalam jangka panjang, Tanjung Selor akan menjadi Kota Tanjung Selor yang berdiri sendiri, seperti halnya Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Bontang di Provinsi Kalimantan Timur. 5. Provinsi Kalimantan Utara juga memiliki kawasan konservasi yang masuk dalam Heart of Borneo. Implikasinya bagi perekonomian daerah adalah karena merupakan kawasan konservasi, maka nilai ekonomis kawasan ini terletak pada RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 20

21 keanekaragaman hayati, yang terdiri dari flora dan fauna dan sekaligus pula berfungsi sebagai salah satu paru-paru dunia. Arah Pengembangan Perekonomian 1. Kota Tarakan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Aglomerasi perekonomian Provinsi Kalimantan Utara akan terpusat pada Kota Tarakan. Posisi Kota Tarakan akan makin kuat sebagai hub perdagangan Provinsi Kalimantan Utara. Posisinya yang serupa dengan Singapura, yaitu sebagai kota 1 pulau, menyebabkan Kota Tarakan memosisikan dirinya sebagai Little Singapore dan menjadi melting point bagi para pendatang, terutama yang berasal dari Sulawesi dan Jawa. Sebagai hub perdagangan, Kota Tarakan juga memiliki sub sektor perhotelan dan restoran yang kuat, sekaligus menjadi basis pemukiman. Adanya Pelabuhan Laut Tarakan yang merupakan pelabuhan peti kemas serta bandara Juwata yang akan diperluas menjadikan Kota Tarakan juga menjadi basis industri di Provinsi Kalimantan Utara. Kota Tarakan sendiri masih memiliki tambang minyak bumi yang masih beroperasi dengan baik. Pariwisata berbasis sejarah juga akan dikembangkan pada Kota Tarakan. 2. Kota Tanjung Selor sebagai pusat pemerintahan berstatus kota. Penunjukan Tanjung Selor sebagai lokasi pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara dan kedekatannya dengan Kota Tarakan apabila terhubung dengan Jembatan Bulan serta posisinya yang berbatasan dengan kabupaten lainnya akan menjadikan Tanjung Selor berfungsi pula sebagai service city bagi kabupaten di sekitarnya. Keterhubungan Tanjung Selor melalui Jembatan Bulan sangat penting karena pengangkutan barang dalam bentuk peti kemas akan lebih ekonomis apabila dilakukan melalui jalan darat. Pelabuhan utama peti kemas tetap berada di Kota Tarakan karena kapasitas maupun posisinya yang memungkinkan untuk langsung menuju ke jalur perdagangan internasional. 3. Daerah perbatasan kawasan pedalaman sebagai garis pertahanan yang memiliki ketahanan ekonomi yang cukup kuat. Posisi geografis Provinsi Kalimantan Utara yang berbatasan dengan wilayah Malaysia (Sabah), Filipina Selatan dan Brunei Darussalam menjadikan Provinsi Kalimantan Utara sebagai basis pengembangan pertahanan nasional untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang datang dari luar wilayah Indonesia. Untuk kawasan pedalaman, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau merupakan kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki kawasan pedalaman yang berbatasan dengan wilayah Malaysia. Pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten harus RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 21

22 mendorong pengembangan perekonomian di wilayah ini sekalipun dalam jangka pendek tidak memenuhi prinsip economies of scale. 4. Kawasan pedalaman sebagai basis produksi pertambangan, perkebunan dan kehutanan serta penguatan ketahanan pangan. Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan sebagian wilayah Kabupaten Bulungan merupakan kawasan pedalaman yang memiliki potensi pengembangan yang kuat pada sektor industri yang mengolah hasil pertambangan dan industri yang mengolah hasil pertanian dan perkebunan. Dari sisi aksesibilitas, kawasan ini merupakan kawasan yang paling sulit dijangkau karena umumnya masih berupa kawasan hutan dengan kantungkantung pemukiman yang berdiri sendiri dan berada di sempadan sungai. Sungai merupakan jalur transportasi utama. 5. Kawasan pesisir sebagai basis produksi pertambangan, pertanian, dan perikanan, serta perdagangan. Kawasan pesisir merupakan kawasan yang paling berpotensi untuk dikembangkan dengan cepat. Economies of scale akan tercipta lebih cepat dibandingkan kawasan pedalaman karena secara alamiah aglomerasi kegiatan perekonomian telah tercipta dan berjalan di kawasan ini. Topografi tanah yang cenderung datar memudahkan pembangunan jalur jalan darat. Posisi yang dekat dengan laut menyebabkan aksesibilitas wilayah dapat ditempuh pula melalui pelabuhan laut. Frekuensi pertemuan dengan pendatang menyebabkan secara sosiologi penduduk di kawasan pesisir lebih mudah dan terbuka dalam berinteraksi secara kultural dengan dunia luar. Kabupaten Tana Tidung, Kota Tarakan, dan sebagian wilayah Kabupaten Bulungan terletak pada kawasan pesisir. 6. Heart of Borneo sebagai kawasan konservasi. Penetapan sebagian kawasan hutan sebagai HoB memberikan implikasi pengendalian atau menjadikan kawasan di dalamnya sebagai kawasan konservasi yang harus dikendalikan pemanfaatannya. Dalam jangka panjang, HoB diharapkan menjadi bagian dari kalender internasional untuk penelitian keanekaragaman flora dan fauna, promosi konservasi hutan tropis, dan wisata hutan. Hal demikian terjadi di savana Afrika dan hutan hujan (rain forest) di Amerika Selatan. Konsepsi Pengembangan Wilayah Provinsi Kalimantan Utara Berdasarkan dokumen Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun , konsep pengembangan wilayah di provinsi ini diarahkan sebagai kawasan frontier sesuai karakter kawasan. Sebagian wilayah Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan merupakan kawasan Heart of Borneo yang berfungsi lindung, dengan jumlah penduduk yang sedikit yang menyebar. Sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Utara merupakan kawasan pesisir, dimana kawasan perkotaan sudah mengalami perkembangan dan menjadi RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 22

23 pintu penghubung bagi luar wilayah provinsi. Selain itu, Provinsi Kalimantan Utara juga berperan sebagai kawasan perbatasan Negara dengan Malaysia (Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Malinau) maupun kawasan perbatasan laut (Pulau Sebatik). Persoalan yang dihadapi oleh kawasan frontier, antara lain: a. Keterbatasan infrastruktur transportasi b. Biaya transportasi menjadi mahal, karena keterbatasan moda angkutan c. Waktu tempuh perjalanan cukup lama karena faktor jarak, hambatan fisikgeografis, dan kesulitan sarana prasarana d. Penduduk tersebar tidak merata dan berada pada kondisi geografis yang tidak mudah e. Sarana dan prasarana untuk efektivitas dan efisiensi pergerakan orang dan barang tetap dibutuhkan untuk supply logistik kawasan f. Kekurangan penduduk yang mampu untuk memanfaatkan potensi lokal Kawasan frontier memiliki beberapa potensi yang dapat dikembangkan, antara lain kaya dengan sumber daya alam, adanya kawasan lindung yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan karbon, dan pemanfaatan sistem DAS sebagai basis pengembangan wilayah. H. Wilayah Rawan Bencana Berdasarkan dokumen Percepatan Penyusunan RTRW Provinsi Kalimantan Utara dan Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi dan Kabupaten Pemekaran), dapat diidentifikasi bahwa potensi bencana yang terdapat di Provinsi Kalimantan Utara diantaranya: 1. Banjir Bencana banjir selama sepuluh tahun terakhir sering melanda seluruh wilayah kabupaten/kota di provinsi ini setiap tahunnya. Bencana ini bersifat temporer dan terjadi di setiap awal musim penghujan dan umumnya terjadi antara 2 hingga 6 hari. Daerah-daerah yang diidentifikasi sering mengalami banjir dan paling rawan banjir adalah kawasan perkotaan di sepanjang hilir sungai dan pesisir laut. 2. Tsunami Wilayah Kalimantan berdasarkan kondisi geologisnya merupakan kawasan yang relatif aman dari bencana gempa bumi, akan tetapi bencana gempa bumi yang berpotensi tsunami harus tetap diwaspadai terutama di kawasan pesisir laut sekitar Kota Tarakan. Hal ini karena pada kawasan tersebut diidentifikasi memiliki sesar aktif yang berpotensi gempa tektonik. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 23

24 3. Kebakaran Hutan dan Lahan Bencana kerusakan hutan di provinsi ini yang terjadi selain karena kegiatan illegal logging, adalah kebakaran hutan. Pada musim kemarau, suhu udara di beberapa wilayah di provinsi ini bahkan mencapai C hingga C. Berbagai kegiatan yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan adalah pembukaan lahan untuk perladangan dan perkebunan, baik perkebunan rakyat, maupun perkebunan besar. Pembakaran merupakan cara termudah untuk membersihkan lahan, apalagi pada musim kemarau, tetapi jika tidak terkendali maka akan mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan yang cukup luas. Berdasarkan dokumen Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun , kerawanan terhadap bencana di provinsi ini secara garis besar terbagi menjadi gerakan tanah dan gempa bumi. 1. Gerakan Tanah Gerakan tanah merupakan suatu peristiwa geologi berupa pergerakan massa tanah maupun massa batuan yang dalam keadaan tertentu bergerak ke bawah, baik melalui bidang geser maupun jatuh bebas. Gerakan tanah dapat terjadi karena gaya perlawanan tanah yang ada lebih kecil daripada gaya yang berusaha dan bekerja dari luar. Parameter yang digunakan untuk analisis gerakan tanah, antara lain sudut lereng, jenis tanah, tebal tanah, jenis batuan, beban atau tekanan, curah hujan, keberadaan sumber air, dan getaran. Berdasarkan parameter tersebut, sebagian besar Provinsi Kalimantan Utara memiliki kerentanan terhadap gerakan tanah labil, yaitu sekitar 65,74% dari total luas wilayah provinsi. a. Kerentanan tanah sangat stabil (11,72% dari total luas wilayah provinsi) terjadi terdapat di lembah sungai, yaitu di sebagian wilayah Kabupaten Bulungan, sebagian wilayah Kabupaten Malinau, sebagaian wilayah Kabupaten Nunukan, sebagian wilayah Kabupaten Tana Tidung, dan sebagian wilayah Kota Tarakan. Gerakan tanah di kawasan ini hampir tidak pernah terjadi. b. Kerentanan tanah stabil (0,79% dari total luas wilayah provinsi) terdapat di sebagian wilayah Kabupaten Nunukan, sebagaian wilayah Kabupaten Malinau, sebagian wilayah Kabupaten Nunukan, dan sebagian wilayah Kabupaten Tana Tidung. Pada kawasan ini gerakan tanah di kawasan ini sangat jarang terjadi, kecuali jika gangguan pada lereng. c. Kerentanan tanah menengah (12,70% dari total luas wilayah provinsi) terjadi pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan atau lereng jika lereng mengalami gangguan. Kawasan yang memiliki kerentanan tanah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 24

25 menengah yaitu di sebagian wilayah Kabupaten Nunukan, sebagaian wilayah Kabupaten Malinau, dan sebagian wilayah Kabupaten Tana Tidung. Jika sebelumnya terjadi gerakan tanah pada daerah ini, maka gerakan tanah tersebut akan kembali aktif akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat. d. Kerentanan tanah labil (65,74% dari total luas wilayah provinsi) dan sangat labil (9,05% dari total luas wilayah provinsi) terjadi pada kawasan yang sering mengalami gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat. Gerakan tanah ini terjadi pada tingkat kelerengan cukup terjal, baik terjadi secara alamiah maupun karena terpicu aktivitas manusia, seperti akibat galian untuk pengambilan mineral ataupun pengundulan lereng. 2. Gempa Bumi Berdasarkan dokumen materi teknis, hasil analisis menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai bahaya goncangan gempa bumi dengan percepatan <0,05g dan MMI gempa bumi <IV. Percepatan batuan dasar sebesar 0,05g, menunjukkan bahwa wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai potensi sangat rendah terhadap ancaman gempa bumi. Skala intensitas gempa bumi sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Utara, menunjukkan angka kurang dari IV MMI, yang berarti gerakan hanya dirasakan oleh beberapa orang, dan tingkat kerusakan tidak sampai mengakibatkan barang pecah belah ataupun bergoyangnya bangunan. Jika dilihat dari dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun , secara lebih detail dapat diidentifikasi bahwa potensi rawan bencana alam maupun bencana alam geologi yang ada meliputi: 1. Kawasan rawan bencana alam: a. Kawasan rawan tanah longsor, meliputi kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran. Kawasan rawan tanah longsor terdapat di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung. b. Kawasan rawan dampak kebakaran hutan, terdapat di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung. c. Kawasan rawan banjir, meliputi kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. Kawasan rawan banjir RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 25

26 terdapat di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung. 2. Kawasan rawan bencana alam geologi: a. Kawasan rawan gempa bumi, meliputi kawasan yang diidentifikasikan dapat terjadi mengalami goncangan gempabumi dengan skala lebih dari VI MMI. Kawasan gempa bumi terdapat di sepanjang pantai provinsi Kalimantan Utara. b. Kawasan liquifaksi, meliputi kawasan yang diidentifikasikan dapat terjadi liquifaksi, terutama yang mempunyai ketebalan litologi pasir hingga lanau lebih dari 10 meter, jenuh terhadap airtanah dengan muka airtanah kurang dari 1 meter dan gempa bumi lebih dari VI skala MMI. Kawasan liquifaksi terdapat di kecamatan yang berada di sepanjang pantai timur Provinsi Kalimantan Utara serta termasuk pulau-pulau yang berada di sekitar pantai. c. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif, terdapat di daerah daratan Provinsi Kalimantan Utara dengan indikasi Endapan Aluvial yang terpotong oleh patahannya. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif terdapat di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung. d. Kawasan rawan tsunami, meliputi kawasan yang diidentifikasikan kemungkinan dapat terjadi mengalami gelombang air laut pasang apabila gempa bumi mempunyai skala goncangan lebih dari VI skala MMI. Kawasan tsunami terdapat di sepanjang pantai timur Provinsi Kalimantan Utara termasuk pulau-pulau yang berada di sekitar pantai. e. Kawasan abrasi, ditetapkan dengan kriteria pantai yang berpotensi dan/atau pernah mengalami abrasi. Kawasan rawan abrasi terdapat di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan, dan Kabupaten Tana Tidung. Sementara itu, jika dilihat dari Peta Kawasan Rawan Bencana masing-masing kabupaten/kota yang bersumber dari Rencana Tata Ruang Wilayah, dapat diidentifikasi bahwa masing-masing kabupaten/kota memiliki potensi bencana yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografi dan topografi wilayahnya. Berikut ini potensi bencana masingmasing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu: 1. Kabupaten Nunukan Berdasarkan Peta Potensi Bencana, di Kabupaten Nunukan terdapat tiga jenis ancaman bencana yaitu banjir, tanah longsor, dan abrasi. a. Kawasan potensi tanah longsor kurang lebih seluas (dua puluh ribu tiga ratus sembilan puluh delapan) hektar meliputi Kecamatan Simenggaris, RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 26

27 Kecamatan Sebuku, Kecamatan Tulin Onsoi, Kecamatan Sembakung, dan Kecamatan Sembakung Atulai. b. Kawasan potensi abrasi kurang lebih seluas (seribu seratus enam puluh tiga ribu) hektar dan tersebar di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik. c. Kawasan potensi banjir kurang lebih seluas (dua puluh dua ribu empat ratus tujuh puluh satu) hektar yang meliputi Kecamatan Sebatik Utara, Kecamatan Sebatik Timur, Kecamatan Sebatik, dan Kecamatan Sebatik Tengah. 2. Kabupaten Bulungan Kawasan potensi bencana tanah longsor di Kabupaten Bulungan meliputi Kecamatan Tanjung Selor, Kecamatan Sekatak, Kecamatan Palas Timur. Kawasan potensi banjir meliputi Kecamatan Tanjung Selor, Kecamatan Sekatak, Kecamatan Palas Tengah, dan Kecamatan Peso. 3. Kabupaten Malinau Kawasan potensi bencana di Kabupaten Malinau berupa tanah longsor, banjir dan kebakaran hutan. a. Kawasan potensi bencana tanah longsor, meliputi: Kawasan yang terletak di sepanjang aliran sungai yang rawan terhadap longsornya tebing sungai, meliputi: Malinau Seberang, Respen Tubu, Malinau Hilir, Malinau Kota, Malinau Hulu, Kuala Lapang, Tanjung Lapang, Taras, Lidung Kemenci, Pulau Sapi, Long Pujungan, Long Nawan, Bakau Hulu, Pujungan. Kawasan di sekitar gunung atau perbukitan curam yang rawan terhadap terjadinya longsor, meliputi: Data Dian, Long Berang, Sempayang dan Long Loreh. b. Kawasan potensi bencana banjir Kawasan potensi bencana banjir, meliputi permukiman di sepanjang aliran Sungai Sesayap, Sungai Mentarang, Sungai Malinau, Sungai Kayan, Sungai Bahau dan Sungai Pujungan dan daerah sekitar aliran sungai lainnya di wilayah Kabupaten Malinau. c. Kawasan potensi bencana kebakaran hutan Kawasan potensi bencana kebakaran hutan, meliputi kawasan yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan karena kandungan batubara maupun aktivitas budidaya masyarakat dan atau penebangan hutan yang lokasinya menyebar secara acak berbentuk spot-spot pada kawasan hutan, yang terdapat di: RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 27

28 Kecamatan Malinau Kota, Kecamatan Malinau Barat, Kecamatan Malinau Utara, Kecamatan Malinau Selatan, Kecamatan Mentarang, Kecamatan Pujungan, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Selatan, dan Kecamatan Sungai Boh. 4. Kabupaten Tana Tidung Kawasan potensi bencana tanah longsor dan bencana banjir di Kabupaten Tana Tidung meliputi: a. Kawasan potensi bencana tanah longsor, meliputi kawasan yang berada di sekitar Kecamatan Sesayap dan Kawasan Gunung Rian, dan sekitarnya. b. Kawasan potensi bencana banjir, meliputi Desa Sengkong, Bandan Bikis, Bebatu, dan Menjelutung. 5. Kota Tarakan Kawasan potensi bencana di Kota Tarakan meliputi bencana tanah longsor dan banjir: a. Kawasan potensi bencana tanah longsor, meliputi Kelurahan Karanganyar, Sebengkok, Pamusian, Kampung Empat, Pantai Amal, Kampung Enam, dan Mamburungan. b. Kawasan potensi bencana banjir meliputi: Kecamatan Tarakan Timur yang meliputi Jalan Sungai Sesayap, Jalan Meranti, Jalan Akasia, Jalan Bengkirai, Jalan Tengkawang. Kecamatan Tarakan Tengah yang meliputi Jalan Sebengkok Tiram, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Sebengkok AL, Jalan Martadinata. Kecamatan Tarakan Barat yang meliputi Jalan Slamet Riadi, Jalan Kenanga, Jalan Seroja, Jalan Anggrek, Jalan Matahari, Jalan Mulawarman. Kecamatan Tarakan Utara yang meliputi Jalan P. Aji Iskandar. Secara lebih jelas, Peta Kawasan Rawan Bencana masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada gambar berikut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 28

29 Gambar H.1 Peta Rawan Bencana Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 29

30 Gambar H.2 Peta Rawan Bencana di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Draft RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 30

31 ASPEK DEMOGRAFI A. Struktur Penduduk 1. Jumlah Penduduk Penduduk dalam suatu wilayah merupakan potensi sumberdaya manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam proses pembangunan, disamping juga sebagai penerima manfaat pembangunan. Dalam konteks pengembangan wilayah, penduduk sebagai potensi sumberdaya manusia berperan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di wilayahnya secara bijaksana dan berkelanjutan. Penduduk berperan sebagai subyek dan obyek pembangunan. Selain itu, penduduk juga dapat menjadi potensi dan beban pembangunan. Jumlah penduduk akan menjadi potensi pembangunan apabila disertai dengan kualitas yang tinggi, sebaliknya apabila memiliki kualitas yang rendah maka penduduk menjadi beban pembangunan. Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk sehingga akan diketahui pula kebutuhan dasar penduduk seperti fasilitas pelayanan publik dan sebagainya. Jika dilihat secara umum, jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara dari tahun 2010 sampai 2015 selalu mengalami peningkatan. Jumlah penduduk terbanyak di Kota Tarakan ( jiwa tahun 2015), sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Tana Tidung ( jiwa tahun 2015). Tabel A.1 Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Pertumbuhan (%) Bulungan ,8 Malinau ,3 Nunukan ,5 Tana Tidung ,3 Tarakan ,8 Kalimantan Utara ,1 Sumber : 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara ) Hasil Analisis, 2016 Pertumbuhan penduduk Provinsi Kalimantan Utara selama tahun adalah sebesar 4,1% dengan pertumbuhan penduduk tertinggi adalah Kabupaten Tana Tidung yaitu sebesar 7,3%. Relatif tingginya rata-rata pertumbuhan penduduk di kabupaten ini jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya mungkin disebabkan karena kabupaten ini RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 31

32 merupakan daerah otonom baru, yang merupakan wilayah pemekaran dari 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten Bulungan, yaitu Kecamatan Sesayap, Sesayap Hilir, dan Tanah Lia sejak tahun 2012, sehingga menyebabkan meningkatnya migrasi penduduk ke wilayah ini. Sedangkan pertumbuhan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Bulungan yaitu sebesar 2,8% selama 5 (lima) tahun tersebut. 2. Kepadatan dan Distribusi Penduduk Kependudukan merupakan salah satu elemen dasar dalam suatu wilayah. Perkiraan mengenai kependudukan menurut berbagai karakteristik jumlah dan komposisi penduduk pada suatu wilayah merupakan input dari pembangunan yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan seperti permintaan akan barang atau jasa pelayanan serta kebutuhan akan lahan di masa yang akan datang. Penduduk akan banyak dijumpai pada daerah-daerah yang memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana sosial, transportasi yang memadai, serta kondisi sosial ekonomi yang lebih baik. Daerah yang memiliki kepadatan tinggi merupakan daerah yang memiliki perkembangan ekonomi yang tinggi dan sebaliknya. Tabel A.2 Kepadatan Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Wilayah (Km 2 ) Jumlah Penduduk Bulungan , Malinau , Nunukan , Tana Tidung 4.828, Tarakan 250, Kalimantan Utara , Sumber: 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2011, ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka , ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Terdapat kesenjangan persebaran penduduk, terutama antar kabupaten dengan kota. Kepadatan penduduk di Kota Tarakan mencapai 906 jiwa/km 2 (tahun 2014), akan tetapi berbeda dengan kabupaten/kota lainnya yang memiliki kepadatan hanya 1-12 jiwa/km 2. Sedangkan kabupaten yang memiliki kepadatan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Malinau, yakni 2 jiwa/km 2. Kota Tarakan merupakan salah satu pusat perkembangan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara, sarana prasarana perkotaan di daerah tersebut relatif lebih lengkap sehingga menjadi salah satu faktor penarik penduduk untuk lebih memilih tinggal di Kota Tarakan, sementara luas kota ini yang sangat sempit jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. Faktor lain yang mempengaruhi keadaan tersebut salah satunya RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 32

33 adalah kondisi geografis. Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan yang mempunyai kondisi topografi bergunung dengan kemiringan lereng sebagian besar di atas 40%, cukup sulit untuk pengembangan permukiman. Hal ini sangat berbeda dengan Kota Tarakan yang memiliki topografi yang landai sehingga lebih mudah untuk pengembangan permukiman. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara harus segera melakukan tindakan untuk meratakan persebaran penduduk di seluruh wilayah agar dapat mengurangi tekanan penduduk di satu daerah. 3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk menurut umur dapat menggambarkan distribusi penduduk sesuai kelompok umur. Penduduk dengan kelompok usia 5-9 dan mempunyai jumlah paling tinggi, yang dapat dilihat dari piramida penduduk yang mengembang di bagian bawah, artinya penduduk usia muda cukup dominan di provinsi ini. Komposisi penduduk menurut umur ini memperlihatkan bahwa warga usia produktif harus menanggung warga yang sudah tidak/belum produktif. Semakin besar proporsi penduduk usia tidak produktif, maka semakin besar beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Gambar A.1 Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2012 di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Olahan, Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Rasio jenis kelamin (sex ratio) merupakan rasio yang membandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan di suatu daerah. Rasio jenis kelamin Provinsi Kalimantan Utara selama tahun relatif tetap, karena selama enam tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 33

34 terakhir memiliki jumlah rasio yang sama, yakni 113 yang mengartikan bahwa terdapat 113 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Tabel A.3 Rasio Jenis Kelamin Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-laki Perempuan Rasio Jenis Kelamin Sumber: 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara ) Hasil Analisis, 2016 Rasio jenis kelamin paling tinggi terdapat di Kabupaten Tana Tidung, yaitu 124 artinya terdapat 124 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Sedangkan, Kota Tarakan memiliki rasio jenis kelamin terendah, yaitu 110 yang mengartikan bahwa terdapat 110 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Tabel A.4 Rasio Jenis Kelamin Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-laki Perempuan Rasio Jenis Kelamin Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : 1) Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara ) Hasil Analisis, 2016 B. Migrasi Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dalam waktu tertentu. Adanya migrasi ke suatu daerah salah satunya dapat disebabkan karena suatu daerah tersebut merupakan daerah baru di dalam era otonomi ini, sehingga mereka mengasumsikan jika daerah tersebut masih menjanjikan peluang kerja dan pendapatan yang lebih baik bagi mereka. Data migrasi dibutuhkan sebagai dasar perencanaan pembangunan wilayah asal dan wilayah migran. Selain itu dapat digunakan juga untuk membuat proyeksi penduduk berdasarkan asumsi perpindahan di masa mendatang. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 34

35 Tabel B.1 Persentase Penduduk Menurut Status Migrasi Tahun 2010 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Status Migrasi (%) Non Migran Kabupaten/Kota Migran Kabupaten/Kota Bulungan 59,14 40,86 Malinau 73,28 26,72 Nunukan 54,98 45,02 Tana Tidung 57,81 42,19 Kota Tarakan 48,36 51,64 *Kalimantan Timur 55,32 44,68 Sumber : Sensus Penduduk 2010 Keterangan: * Angka Persentase Penduduk Menurut Status Migrasi untuk Provinsi Kalimantan Utara Belum Tersedia Sebagian besar masyarakat di Provinsi Kalimantan Utara merupakan penduduk asli. Migran kabupaten/kota menunjukkan banyaknya migrasi penduduk dari wilayah sekitar yang masuk ke daerah tersebut. Angka migrasi paling tinggi di Kota Tarakan yaitu 51%, hal ini mengingat Kota Tarakan merupakan daerah paling berkembang di provinsi ini. Masyarakat yang bermigrasi dengan alasan ekonomi tentu akan mendatangi pusat kegiatan ekonomi yang berada di Kota Tarakan sehingga angka migrasi menuju Kota Tarakan relatif tinggi. Angka migrasi masuk ke kabupaten lainnya tidak terlalu tinggi karena potensi ekonomi belum setinggi Kota Tarakan. Kabupaten Malinau memiliki persentase migrasi masuk paling rendah yaitu 26%. Kabupaten Malinau dengan kondisi geografis wilayah bergunung dan didominasi hutan kurang memungkinkan memiliki daya tarik yang besar untuk migrasi, kecuali jika ada transmigran dengan penempatan di Kabupaten Malinau. C. Komposisi Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan Lapangan usaha adalah bidang kegiatan atau bidang usaha yang dilakukan perusahaan/usaha/lembga lembaga tempat seseorang bekerja. Seseorang yang mempunyai lebih dari satu pekerjaan selama seminggu yang lalu, maka lapangan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan yang memakai waktu terbanyak. Data lapangan usaha dapat dijadikan acuan pemerintah daerah untuk memprioritaskan sektor-sektor tertentu yang menjadi potensi dan mendominasi kegiatan ekonomi di suatu daerah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 35

36 Tabel C.1 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Sektor Bulan Februari-Agustus 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kelompok/Sektor Tahun 2015 Bulan Februari % Bulan Agustus % Primer , ,53 a. Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan , ,65 b. Pertambangan dan Penggalian , ,88 Sekunder , ,30 a. Industri , ,63 b. Listrik, Gas, dan Air Minum , ,66 c. Konstruksi , ,02 Tersier , ,17 a. Perdagangan, Rumah Makan, dan Jasa Akomodasi , ,85 b. Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi , ,90 c. Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa Perusahaan , ,81 d. Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan , ,61 Total Sumber : Publikasi Sosial Ekonomi dan Indikator Penting Kalimantan Utara 2015 Berdasarkan data penduduk yang bekerja menurut kelompok/sektor lapangan usaha pada keadaan Februari dan Agustus tahun 2015, persentase terbesar adalah sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan yaitu sebanyak penduduk (38,74%) dan penduduk (34,65%), dan terendah adalah sektor listrik, gas, dan air minum, yaitu penduduk (0,49%) dan sebanyak penduduk (0,66%). Sektor lain yang banyak menyerap tenaga kerja adalah jasa kemasyarakatan dan perdagangan. D. Komposisi Penduduk Menurut Persebaran Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tenaga honorer di kantor pemerintah kabupaten/kota se-kalimantan Utara berjumlah orang dengan jumlah terbanyak berada di Pemerintah Kabupaten Nunukan yaitu orang, sedangkan paling sedikit berada di Pemerintah Kabupaten Tana Tidung yaitu sebanyak orang. Tabel D.1 Banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Tenaga Honorer Daerah Tahun 2014 di Provinsi Kalimantan Utara Pemerintah Daerah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tenaga Honorer Jumlah Kabupaten Bulungan Kabupaten Malinau Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung Kota Tarakan Pemprov Kalimantan Utara Kalimantan Utara Kalimantan Utara Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2015 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 36

37 Tabel D.2 Banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara Berdasarkan Eselon dan Jenis Kelamin Tahun 2014 Eselon Jenis Kelamin Pegawai Negeri Sipil (PNS) Laki-laki Perempuan Jumlah I 1-1 II III IV Non Eselon Kalimantan Utara Kalimantan Utara Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi A. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. Pertumbuhan PDRB Perekonomian wilayah secara makro dapat dilihat melalui nilai produk domestik regional bruto (PDRB). Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator yang penting dalam analisis perkembangan wilayah. Nilai PDRB dapat menggambarkan sektor yang berkontribusi paling besar dalam pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara, sedangkan PDRB per kapita dapat digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan penduduk di suatu wilayah. Meski termasuk provinsi baru, perekonomian Provinsi Kalimantan Utara beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan, yang ditandai dengan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selama tahun Pada tahun 2010 PDRB atas harga konstan Provinsi Kalimantan Utara mencapai 34,9 triliun dan terus meningkat menjadi 40,7 triliun di tahun 2012 dan mencapai 49,2 triliun pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 37

38 Tabel A.1 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2010 di Provinsi Kalimantan Utara No Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1 Pertanian, Kehutanan, dan ,30 17, ,60 17, ,50 17, ,40 17, ,30 16, ,70 17,43 Perikanan 2 Pertambangan dan ,40 30, ,80 30, ,90 30, ,20 31, ,00 32, ,50 30,48 Penggalian 3 Industri Pengolahan ,30 10, ,20 9, ,30 9, ,90 9, ,30 9, ,40 9,55 4 Pengadaan Listrik dan Gas ,50 0, ,00 0, ,60 0, ,20 0, ,20 0, ,40 0,06 Pengadaan Air, Pengolahan ,10 0, ,70 0, ,40 0, ,20 0, ,30 0, ,70 0,07 5 Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6 Konstruksi ,20 11, ,90 11, ,30 11, ,50 11, ,90 11, ,60 11,37 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor ,30 10, ,90 10, ,70 10, ,60 10, ,20 10, ,90 9,92 8 Transportasi dan ,20 5, ,80 5, ,70 5, ,50 5, ,10 5, ,40 5,83 Pergudangan 9 Penyediaan Akomodasi dan ,10 1, ,80 1, ,70 1, ,40 1, ,20 1, ,30 1,22 Makan Minum 10 Informasi dan Komunikasi ,10 2, ,90 2, ,20 2, ,50 2, ,10 2, ,20 2,66 11 Jasa Keuangan dan Asuransi ,60 1, ,00 1, ,70 1, ,90 1, ,80 1, ,70 1,13 12 Real Estate ,90 0, ,80 0, ,10 0, ,90 0, ,30 0, ,20 0,99 13 Jasa Perusahaan ,70 0, ,10 0, ,00 0, ,00 0, ,60 0, ,00 0,29 Administrasi Pemerintahan, ,80 5, ,70 5, ,00 5, ,00 4, ,10 4, ,20 5,11 14 Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 15 Jasa Pendidikan ,60 1, ,30 1, ,40 2, ,40 2, ,40 2, ,80 2,36 16 Jasa Kesehatan dan ,30 0, ,20 0, ,00 0, ,40 0, ,80 0, ,80 1,01 Kegiatan Sosial 17 Jasa Lainnya ,70 0, ,10 0, ,90 0, ,30 0, ,10 0, ,00 0,53 PDRB , , , , , , Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 38

39 Tabel A.2 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku di Provinsi Kalimantan Utara No Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1 Pertanian, Kehutanan, dan ,3 17, ,5 16, ,8 16, ,9 16, ,5 17, ,9 17,61 Perikanan 2 Pertambangan dan ,4 30, ,4 33, ,4 33, ,4 33, ,2 32, ,5 28,05 Penggalian 3 Industri Pengolahan ,3 10, ,5 9, ,3 9, ,4 9, ,5 9, ,1 9,73 4 Pengadaan Listrik dan Gas ,5 0, ,9 0, ,9 0, ,1 0, ,1 0, ,8 0,04 Pengadaan Air, Pengolahan ,1 0, ,4 0, ,7 0, ,3 0, ,9 0, ,7 0,06 5 Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6 Konstruksi ,2 11, ,7 10, ,0 11, ,0 11, ,2 11, ,0 12,02 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor ,3 10, ,1 10, ,4 10, ,2 9, ,0 9, ,5 10,40 8 Transportasi dan ,2 5, ,6 5, ,2 5, ,7 5, ,5 5, ,4 6,29 Pergudangan 9 Penyediaan Akomodasi dan ,1 1, ,2 1, ,2 1, ,3 1, ,9 1, ,3 1,44 Makan Minum 10 Informasi dan Komunikasi ,1 2, ,2 1, ,1 1, ,9 2, ,7 2, ,7 2,19 11 Jasa Keuangan dan Asuransi ,5 1, ,4 1, ,2 1, ,9 1, ,6 1, ,4 1,19 12 Real Estate ,9 0, ,3 0, ,3 0, ,3 0, ,0 0, ,9 0,89 13 Jasa Perusahaan ,7 0, ,5 0, ,3 0, ,9 0, ,3 0, ,6 0,29 Administrasi Pemerintahan, ,8 5, ,2 4, ,0 5, ,2 5, ,0 5, ,7 5,81 14 Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 15 Jasa Pendidikan ,6 1, ,7 1, ,2 1, ,6 2, ,9 2, ,5 2,48 16 Jasa Kesehatan dan ,3 0, ,8 0, ,1 0, ,7 0, ,0 0, ,4 0,95 Kegiatan Sosial 17 Jasa Lainnya ,7 0, ,3 0, ,0 0, ,4 0, ,3 0, ,1 0,57 PDRB , , , , , ,5 100,00 Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 39

40 Sektor yang paling dominan dalam menunjang perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Utara adalah sektor primer yaitu sektor pertambangan dan penggalian dengn kontribusi sebesar 30,25% pada tahun Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB sangat fluktuatif. Angka ini cenderung menurun hingga mencapai 30,48% pada tahun Meski demikian sektor ini tetap menjadi sektor yang berkontribusi paling besar selama lima tahun berturut-turut. Sektor primer penyumbang terbesar kedua setelah sektor pertambangan dan penggalian adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 17,43% di tahun Penyumbang ketiga setelah sektor pertanian adalah sektor sekunder yakni konstruksi mencapai 11,37% pada tahun 2015, yang kemudian diikuti oleh perkembangan sektor perdagangan 9,92% di tahun 2015 dan industri pengolahan sebesar 9,55 % pada tahun yang sama. Tabel A.3 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) di Provinsi Kalimantan Utara No Sektor Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk % % % % % % % % % % 1 Pertanian, Kehutanan, 17,86 17,86 16,72 17,65 16,52 17,49 16,34 17,00 17,10 16,81 17,61 17,43 dan Perikanan 2 Pertambangan dan 30,33 30,33 33,92 30,25 33,25 30,50 33,84 31,76 32,14 32,29 28,05 30,48 Penggalian 3 Industri Pengolahan 10,23 10,23 9,8 9,95 9,42 9,73 9,28 9,58 9,41 9,32 9,73 9,55 4 Pengadaan Listrik dan 0,05 0,05 0,04 0,05 0,04 0,05 0,03 0,05 0,03 0,05 0,04 0,06 Gas 5 Pengadaan Air, 0,07 0,07 0,07 0,07 0,06 0,07 0,06 0,07 0,06 0,07 0,06 0,07 Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6 Konstruksi 11,68 11,68 10,77 11,45 11,66 11,43 11,44 11,25 11,62 11,40 12,02 11,37 7 Perdagangan Besar dan 10,7 10,70 10,37 10,81 10,11 10,70 9,73 10,42 9,86 10,07 10,40 9,92 Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8 Transportasi dan 5,43 5,43 5,1 5,62 5,23 5,69 5,39 5,56 5,67 5,60 6,29 5,83 Pergudangan 9 Penyediaan Akomodasi 1,27 1,27 1,23 1,26 1,28 1,26 1,30 1,22 1,33 1,19 1,44 1,22 dan Makan Minum 10 Informasi dan 2,11 2,11 1,97 2,19 1,99 2,27 2,01 2,33 2,02 2,41 2,19 2,66 Komunikasi 11 Jasa Keuangan dan 1,13 1,13 1,05 1,15 1,11 1,17 1,12 1,11 1,10 1,08 1,19 1,13 Asuransi 12 Real Estate 0,91 0,91 0,83 0,96 0,80 0,96 0,82 0,99 0,83 0,97 0,89 0,99 13 Jasa Perusahaan 0,29 0,29 0,29 0,31 0,29 0,31 0,28 0,30 0,29 0,30 0,29 0,29 14 Administrasi 5,01 5,01 4,86 5,13 5,11 5,01 5,08 4,89 5,16 4,90 5,81 5,11 Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 15 Jasa Pendidikan 1,61 1,61 1,76 1,81 1,94 2,02 2,09 2,15 2,15 2,19 2,48 2,36 16 Jasa Kesehatan dan 0,82 0,82 0,76 0,83 0,75 0,86 0,74 0,85 0,76 0,88 0,95 1,01 Kegiatan Sosial 17 Jasa Lainnya 0,52 0,52 0,47 0,51 0,46 0,50 0,45 0,47 0,46 0,47 0,57 0,53 PDRB , Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 40

41 Meski sektor yang tersebut di atas menduduki sektor penyumbang terbesar dalam PDRB Provinsi Kalimantan Utara, sektor yang kontribusinya terus menunjukkan pertumbuhan terbesar selama tahun 2010 hingga 2015 adalah sektor jasa pendidikan dengan laju pertumbuhan sektornya mencapai 22,82% terhadap PDRB. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pendidikan telah menjadi fokus kegiatan dan perhitungan kontribusinya terhadap perekonomian daerah Provinsi Kalimantan Utara. Angka ini kemudian disusul oleh sektor Jasa Kesehatan dan Administrasi Pemerintahan. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor yang berperan dalam pelayanan publik tumbuh pesat dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Tabel A.4 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Pertumbuhan No Sektor Hb Hk % % 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 12,20 6,45 2 Pertambangan dan Penggalian 11,59 7,15 3 Industri Pengolahan 11,40 5,68 4 Pengadaan Listrik dan Gas 8,61 9,93 5 Pengadaan Air, Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 9,64 4,37 6 Konstruksi 13,20 6,61 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 11,90 4,55 8 Transportasi dan Pergudangan 15,82 7,82 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 15,37 5,95 10 Informasi dan Komunikasi 13,40 12,15 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 13,69 6,38 12 Real Estate 11,84 7,56 13 Jasa Perusahaan 12,29 5,21 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 15,87 6,72 15 Jasa Pendidikan 22,80 14,17 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 16,12 12,08 17 Jasa Lainnya 14,85 7,92 PDRB 12,58 6,81 Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan 2. Laju Inflasi Laju inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus dan mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat. Laju inflasi menjadi salah satu aspek yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. Pada periode , laju inflasi Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan rata-rata 8,1%. Tabel A.5 Nilai Inflasi Rata-rata Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Inflasi Provinsi Kalimantan Utara 1 7,92 6,43 5,99 10,35 11,91 6,16 Inflasi Nasional 2 6,96 3,79 4,30 8,38 8,36 3,35 Sumber: 1) Kota Tarakan Dalam Angka ) BPS Nasional 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 41

42 Laju inflasi tiap tahun masih termasuk tinggi jika dibandingkan dengan laju inflasi nasional. Nilai inflasi rata-rata Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2015 menunjukkan besaran yang fluktuatif dengan kecenderungan menurun, yakni 7,92% di tahun 2010 turun menjadi 6,16% di tahun Hal ini menunjukkan bahwa meski harga barang dan jasa semakin tinggi, pengendalian peredaran uang di masyarakat telah berjalan lebih baik. 3. PDRB Per Kapita PDRB per kapita digunakan untuk menunjukkan nilai PDRB per penduduk. PDRB per kapita digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. PDRB ADHK per kapita Provinsi Kalimantan Utara selama tahun menunjukkan pertumbuhan ekonomi per kapita yang relatif positif, meski sedikit menurun di tahun Pertumbuhan rata-rata PDRB ADHK per kapita penduduk Provinsi Kalimantan Utara sebesar 2,85%. Tabel A.6 PDRB ADHK Per Kapita Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Nilai PDRB (Juta Rp) , , , , , ,80 Jumlah Penduduk (jiwa) PDRB perkapita (Rp/jiwa) Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan Nilai PDRB per satu penduduk dapat diketahui melalui PDRB ADHB per kapita. Pada tahun 2010 PDRB per kapita penduduk Provinsi Kalimantan Utara sebesar 66 juta. Angka ini terus meningkat hingga mencapai 95,5 juta pada tahun 2014 atau meningkat 9% dibanding tahun Angka ini terus naik hingga 97,8 juta di tahun Tabel A.7 PDRB ADHB Per Kapita Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Nilai PDRB (Juta Rp) Jumlah Penduduk (jiwa) PDRB perkapita (Rp/jiwa) Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan 4. Indeks Gini/Koefisien Gini Indeks gini/koefisien gini merupakan salah satu indikator tingkat pemerataan distribusi pendapatan atau dengan kata lain indikator pengukur ketimpangan pendapatan. Koefisien gini merupakan suatu ukuran kemerataan yang dihitung dengan membagi penduduk berdasarkan tingkat pendapatannya kemudian menetapkan proporsi pendapatan yang diterima masing-masing kelompok penduduk. Angka koefisien gini berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Angka koefisien gini yang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 42

43 semakin mendekati nol berarti dapat diartikan bahwa pemerataan semakin baik. Sebaliknya, apabila angka koefisien semakin mendekati 1, maka dapat diartikan bahwa ketimpangan pendapatan semakin besar. Tabel A.8 Koefisien Gini Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Bulungan 0,31 0,34 0,40 0,36 0,30 2 Malinau 0,23 0,33 0,35 0,33 Nunukan 0,27 0,34 0,35 0,25 Tana Tidung 0,26 0,31 0,30 0,24 0,27 3 Tarakan 0,19 0,27 0,31 0,33 Kalimantan Utara 4 0,33 0,36 0,33 0,33 Nasional 5 0,38 0,41 0,41 0,41 0,41 Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2014 dan ) BPS Nasional, 2016 Koefisien gini Provinsi Kalimantan Utara pada periode tahun relatif tetap. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pendapatan yang terjadi masih dalam kategori ketimpangan rendah, yaitu antara 0,33-0,36. Koefisien gini Provinsi Kalimantan Utara masih lebih kecil dibandingkan dengan koefisien gini tingkat nasional. Artinya, kondisi distribusi pendapatan penduduk di Provinsi Kalimantan Utara masih dapat dikatakan lebih baik dibanding rata-rata wilayah lain di Indonesia. 5. Pemerataan Pendapatan Versi Bank Dunia Ketimpangan pendapatan penduduk tidak hanya dapat dilihat dari angka koefisien gini, tetapi dapat diamati dengan pendekatan pemerataan pendapatan versi Bank Dunia. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia merupakan pemerataan pendapatan yang diperhitungkan berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh Bank Dunia. Pendekataan ini mengelompokkan penduduk ke dalam tiga kelompok berdasarkan besarnya pendapatan, yakni 40% penduduk berpendapatan rendah, 40% penduduk berpendapatan menengah, dan 20% penduduk berpendapatan tinggi. Ketimpangan pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan 40% terendah dibandingkan total pendapatan seluruh penduduk. Kategori ketimpangan ditentukan sebagai berikut: 1. Ketimpangan pendapatan tinggi Proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen. 2. Ketimpangan pendapatan sedang/menengah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 43

44 Proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk antara persen. 3. Ketimpangan pendapatan rendah Proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen. Tabel A.9 Pemerataan Penduduk Versi Bank Dunia Tahun Provinsi Kalimantan Utara Distribusi Pembagian Pendapatan % penduduk berpendapatan Bulungan 11,51 19,18 19,26 20,85 21,49 2 terendah Malinau 11,84 20,03 19,37 20,02 Nunukan 15,32 20,08 19,65 24,6 Tana Tidung 14,05 20,32 26,08 24,27 23,03 3 Tarakan 10,34 23,5 21,64 19,94 Kalimantan Utara 4 19,75 18,95 20,1 20,09 40% penduduk berpendapatan menengah 20% penduduk berpendapatan tertinggi Bulungan 27,71 52,12 37,78 39,14 38,26 2 Malinau 32,06 39,48 36,4 38,26 Nunukan 36,48 39,51 39,21 39,77 Tana Tidung 35,18 40,07 41,18 40,75 39,64 3 Tarakan 27,23 38,63 38,51 36,87 Kalimantan Utara 4 38,07 36,37 37,79 37,43 Bulungan 60,78 28,69 42,96 40,01 40,25 2 Malinau 56,11 39,99 44,94 41,71 Nunukan 48,2 39,31 39,34 35,63 Tana Tidung 50,77 38,25 32,73 34,99 37,33 3 Tarakan 62,32 40,99 40,25 43,19 Kalimantan Utara 4 42,19 44,68 42,11 42,48 Kriteria Ketimpangan Kalimantan Utara Rendah Rendah Rendah Rendah Sumber: 1) RPJP Provinsi Kalimantan Utara 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2014 dan 2015 Renda h Berdasarkan pendekatan ini, distribusi pendapatan penduduk Provinsi Kalimantan Utara masuk ke dalam kategori ketimpangan pendapatan rendah. Proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk kategori 40 persen terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12 persen dengan kecenderungan fluktuatif pada periode dan mencapai 20,09% pada tahun Indeks Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Indeks Williamson merupakan pendekatan kuantitatif yang digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan wilayah. Perhitungan Indeks Williamson didasarkan pada PDRB per kapita dan jumlah penduduk. Hasil pengukuran Indeks Williamson kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu: a. IW <0,4 artinya tingkat ketimpangan rendah. b. 0,4 < IW< 0,5 artinya tingkat ketimpangan moderat. c. IW > 0,5 artinya tingkat ketimpangan tinggi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 44

45 Jika Indeks Williamson semakin mendekati angka 0 maka semakin kecil ketimpangan pembangunan ekonomi. Sebaliknya apabila Indeks Williamson semakin mendekati angka 1 maka semakin besar ketimpangan pembangunan ekonomi. Tabel A.10 Indeks Williamson Tahun Provinsi Kalimantan Utara Indikator Kabupaten/Provinsi PDRB Bulungan Perkapita Malinau Nunukan Tana Tidung Jumlah Penduduk Tarakan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Indeks Williamson Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2011, 2012, 2013, 2014, ) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2013, 2014, ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2013, 2014, ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun 2012, 2013, ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Olahan 2016 Kalimantan Utara 6 0,35 0,3 0,26 0,24 0,23 Indeks Williamson Provinsi Kalimantan Utara termasuk rendah dan cenderung menurun, tercatat sebesar 0,35 pada tahun 2010 kemudian turun menjadi 0,23 tahun Rendahnya nilai Indeks Williamson menunjukkan bahwa telah terwujudnya pemerataan pendapatan penduduk atau rendahnya ketimpangan pendapatan penduduk di Provinsi Kalimantan Utara. 7. Persentase Penduduk di Atas Garis Kemiskinan (Jumlah Penduduk Miskin) Jumlah penduduk miskin menggambarkan penduduk yang telah berada di atas garis kemiskinan. Pada tahun 2010, persentase penduduk di atas garis kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara mencapai 87,53% dari total penduduk. Angka ini terus mengalami kenaikan hingga mencapai angka 92,3% di tahun 2013 dan kembali meningkat di tahun 2014 menjadi sebesar 93,8%. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 45

46 Tabel A.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, serta Persentase Penduduk di Atas Garis Kemiskinan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Jumlah Penduduk Miskin Persentase Penduduk Persentase Penduduk di Atas (000 jiwa) Miskin Garis Kemiskinan ,9 12,47 87, ,33 89, ,7 9,7 90, ,4 7,73 92, ,5 6,24 93,8 Sumber: 1) RPJP Provinsi Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka 2014, ) Hasil Olahan 2016 Jumlah penduduk di atas garis kemiskinan paling tinggi di Provinsi Kalimantan Utara terdapat di Kota Tarakan dengan kecenderungan pertumbuhan yang fluktuatif, sedangkan yang terendah di Kabupaten Bulungan. Dengan kata lain kesejahteraan penduduk Kota Tarakan saat ini masih dominan dibandingkan kabupaten yang lain. Tabel A.12 Persentase Penduduk Miskin Tahun Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Indikator Kabupaten/Provinsi Persentase Bulungan 14,58 12,14 11,76 12,04 12,03 penduduk miskin Malinau 15,31 12,67 11,68 10,48 10,26 Nunukan 12,45 10,38 9,62 9,51 8,69 Tana Tidung 13,89 11,41 9,81 10,21 9,48 Persentase penduduk di atas garis kemiskinan 8 Tarakan 10,23 8,41 7,95 7,9 7,79 Bulungan 85,42 87,86 88,24 87,96 87,97 Malinau 84,69 87,33 88,32 89,52 89,74 Nunukan 87,55 89,62 90,38 90,49 91,31 Tana Tidung 86,11 88,59 90,19 89,79 90,52 Tarakan 89,77 91,59 92,05 92,1 92,21 Sumber: 1) RPJP Provinsi Kalimantan Utara 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2015 Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Olahan Kemiskinan Kemiskinan masih menjadi persoalan prioritas untuk diselesaikan di beberapa wilayah di Indoensia. Kemiskinan erat hubungannya dengan kesejahteraan hidup. Pada tahun 2010, persentase penduduk miskin Kalimantan Utara mencapai 12,47% atau setara dengan 65,9 ribu jiwa dari total penduduk. Angka ini terus mengalami penurunan hingga mencapai angka 7,73% atau jiwa di tahun Angka kemiskinan kembali mengalami sedikit peningkatan di tahun 2014, yakni sebesar jiwa. Tabel sebelumnya telah menjelaskan bahwa tingkat kemiskinan tertinggi ada di Kabupaten Bulungan, sedangkan yang terendah adalah Kota Tarakan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 46

47 Tabel A.13 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Tahun Provinsi Kalimantan Utara Tahun Jumlah penduduk miskin (000 Persentase penduduk Tingkat Kemiskinan jiwa) miskin Nasional ,9 12,47 13, ,33 12, ,7 9,7 11, ,4 7,73 11, ,24 10,96 Sumber: 1) RPJP Provinsi Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka 2014, ) Hasil Olahan ) BPS Nasional ) EKPD Provinsi Kalimantan Utara 2015 Angka kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara masih tergolong lebih rendah apabila dibandingkan dengan angka kemiskinan nasional. Pada tahun 2014, angka kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara adalah 6,24%, ketika angka nasional telah mencapai 10,96%. Kondisi ini diharapkan tetap bertahan dan semakin baik, dalam arti semakin menurunnya angka kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara Fokus Kesejahteraan Masyarakat A. Pendidikan 1. Angka Melek Aksara Angka melek aksara menurut Badan Pusat Statistik Indonesia merupakan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Angka ini mencerminkan tingkat kemampuan membaca dan menulis, yang tentu saja berkorelasi dengan tingkat pendidikan masyarakat. Semakin tinggi angka melek aksara suatu kabupaten/kota maka semakin banyak pula masyarakat yang mampu membaca dan menulis dibandingkan dengan total keseluruhan penduduk di wilayah tersebut. Berikut adalah data angka melek aksara di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 47

48 Tabel A.1 Perkembangan Angka Melek aksara Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun Uraian Kabupaten/Kota Angka Bulungan melek Malinau aksara Nunukan na Tana Tidung na Tarakan Prov. Kalimantan Timur ,21 97, Prov. Kalimantan Utara na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tahun tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masing-masing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Data tahun 2010 hingga tahun 2014 menunjukan kabupaten dengan nilai angka melek aksara paling tinggi di Provinsi Kalimantan Utara adalah Kota Tarakan. Pada tahun 2010 Kota Tarakan memiliki nilai angka melek aksara sebesar 97,97% dan angka ini meningkat menjadi 99,5% pada akhir tahun Kabupaten Tana Tidung yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bulungan sejak tahun 2009 memiliki nilai angka melek aksara yang cenderung rendah di Kalimantan Utara jika dibandingkan dengan kabupaten disekitarnya pada tahun 2010 sampai dengan Berdasarkan data tabel di atas, angka melek aksara per kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara secara umum mengalami kenaikan. Angka melek aksara di Provinsi Kalimantan Utara mencapai 97,66% pada tahun Angka tahun 2014 ini dinilai sudah melebihi sasaran rata-rata angka melek aksara penduduk usia di atas 15 tahun nasional yang sebesar 96,1%. Provinsi Kalimantan Utara secara umum perlu mempertahankan dan tetap terus meningkatkan pencapaian ini. Hal ini dapat diusahakan dengan meningkatkan angka melek aksara di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Malinau yang dinilai masih perlu mengejar ketertinggalannya dibandingkan kabupaten lainnya, meskipun tidak terlalu signifikan (data tahun 2014). 2. Angka Harapan Lama Sekolah Angka Harapan Lama Sekolah merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. Angka Harapan Lama Sekolah didefinisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang, diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah 1 Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 48

49 per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas, angka tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. Tabel A.2 Perkembangan Angka Harapan Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan na na na na Malinau na na na na Nunukan na na na na Tana Tidung na na na na Tarakan na na na na Prov. Kalimantan Timur na na na Prov. Kalimantan Utara na na na Sumber: 1) Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Kalimantan Timur No. 49/06/64/Th.XIX, 15 Juni 2016 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun ) Indeks Pembangunan Manusia 2014 Metode Baru Catatan: Data Angka Harapan Lama Sekolah mulai dirilis secara resmi oleh BPS berdasarkan perhitungan IPM metode baru sejak tahun 2014 sehingga tidak terdapat rilis resmi data sejak tahun 2013 dan sebelumnya. Kota Tarakan merupakan wilayah yang memiliki angka harapan lama sekolah paling tinggi di provinsi ini pada tahun 2014 sebesar tahun. Hal ini berarti bahwa penduduk di Kota Tarakan diharapkan dapat menempuh pendidikan hingga bangku perguruan tinggi ataupun akademi (paska Sekolah Menengah Atas) sampai dengan sekitar tahun pertama (semester 2). Sementara kabupaten yang memiliki angka harapan lama sekolah paling rendah pada tahun 2014 adalah Kabupaten Tana Tidung sebesar tahun. Hal ini berarti bahwa penduduk di Kabupaten Tana Tidung diharapkan dapat menempuh pendidikan hingga kelas 12 pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Setelah tahun 2015, angka harapan lama sekolah di Kabupaten Tana Tidung mengalami peningkatan meskipun tidak terlalu signifikan menjadi sebesar 12,16 tahun. Kabupaten dan kota lain di Provinsi Kalimantan Utara mengalami peningkatan pula meskipun tidak terlalu signifikan. Angka Harapan Lama Sekolah di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2013 adalah sebesar tahun, angka tersebut berada di atas angka harapan lama sekolah nasional pada tahun tersebut 2, yaitu sebesar tahun. Angka Harapan Lama Sekolah tersebut kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2014 menjadi sebesar tahun. Angka tersebut tetap berada di atas angka harapan lama sekolah nasional pada tahun , yaitu sebesar tahun. Angka Harapan Lama Sekolah Provinsi Kalimantan Utara mengalami peningkatan lagi pada tahun 2015 menjadi sebesar tahun. 2 Indeks Pembangunan Manusia 2014 Metode Baru 3 Indeks Pembangunan Manusia 2014 Metode Baru RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 49

50 Hal ini menunjukan bahwa minat belajar masyarakat Provinsi Kalimantan Utara cukup tinggi hingga jenjang paska Sekolah Menengah Atas. Provinsi Kalimantan Utara perlu mengejar ketertinggalan untuk mencapai target harapan lama sekolah tersebut. Hal ini dapat diupayakan dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan secara merata di semua kabupaten dan kota. 3. Angka Rata-rata Lama Sekolah Angka rata-rata lama sekolah merupakan rata-rata jumlah tahun yang dibutuhkan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Angka rata-rata lama sekolah dihitung berdasarkan partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang diduduki dan pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk usia 15 tahun keatas. Semakin tinggi angka rata-rata lama sekolah maka semakin tinggi puka tingkat partisipasi sekolah masyarakat di wilayah tersebut. Tabel A.3 Perkembangan Angka Rata-rata Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d 2015 Uraian Kabupaten/Kota Angka Bulungan ,15 8, na rata-rata Malinau ,25 8, na lama Nunukan ,47 7, na sekolah Tana Tidung 7.1 7,24 7, na Tarakan ,43 9, Prov. Kalimantan Timur ,19 9, Prov. Kalimantan Utara na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tahun tidak dapat dihitung karena tidak tersedia data mentah untuk menghitung rata-rata lama sekolah berdasarkan rumus dari Permendagri No 54 Tahun Berdasarkan data dari tabel di atas, pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, kabupaten dengan angka rata-rata lama sekolah paling tinggi di Provinsi Kalimantan Utara adalah Kota Tarakan. Pada tahun 2010, angka rata-rata lama sekolah di Kota Tarakan selama 9,36 tahun dan terus mengalami peningkatan sehingga pada tahun 2014 naik menjadi 9,44 tahun. Hal ini berarti bahwa rata-rata penduduk di Kota Tarakan baru mampu menempuh pendidikan sampai dengan kelas 3 SMP dan masih banyak yang tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SMA atau putus sekolah pada jenjang SMA. Sementara kabupaten yang memiliki angka rata-rata lama sekolah rendah di Provinsi Kalimantan Utara adalah Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Nunukan. Selama tahun 2010 sampai dengan 2014, angka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Tana Tidung selama 5 tahun dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, sehingga pada tahun 2014 dapat mencapai RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 50

51 angka rata-rata lama sekolah selama 7,84 tahun. Hal ini menjelaskan bahwa rata-rata penduduk di Tana Tidung masih banyak yang tidak dapat menamatkan bangku SMP, dengan rata-rata lama sekolah hanya mencapai antara kelas 1 dan 2 SMP. Sedangkan untuk Kabupaten Nunukan angka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Nunukan selama 7 tahun cenderung fluktuatif, dengan peningkatan dari tahun 2010 sebesar 7,42 tahun hingga pada tahun 2012 sebesar 7,55 tahun, kemudian menurun pada tahun 2013 sebesar 7.07, dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2014 sebesar 7.21 tahun. Sama dengan Kabupaten Tana Tidung, hal ini menjelaskan bahwa rata-rata penduduk di Nunukan masih banyak yang tidak dapat menamatkan bangku SMP, dengan rata-rata lama sekolah hanya mencapai antara kelas 1 dan 2 SMP. Angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Kalimantan Utara yang hanya mencapai 8.35 pada tahun 2014 dinilai masih cukup jauh dari sasaran rata-rata lama sekolah penduduk usia di atas 15 tahun nasional yang sebesar 8,8 tahun. Provinsi Kalimantan Utara secara umum perlu mengejar ketertinggalan untuk mencapai target tersebut. Hal ini dapat diusahakan dengan meningkatkan angka rata-rata lama sekolah di 4 kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. 4. Angka Partisipasi Kasar SMA/MA/SMK Menurut Badan Pusat Statistik, angka partisipasi kasar (APK) menunjukkan perbandingan antara rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Kegunaan APK adalah menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Semakin tinggi angka partisipasi kasar pada jenjang pendidikan apapun menunjukkan semakin besar jumlah siswa yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan, dengan mengesampingkan aspek usia dari siswa yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan. Berikut ini merupakan tabel angka partisipasi kasar SMA/SMK/MA di Provinsi Kalimantan Utara. 4 Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 51

52 Tabel A.4 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten/Kota Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Prov. Kalimantan Timur Prov. Kalimantan Utara na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Aplikasi Analisis Situasi Kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena tidak tersedia data mentah untuk menghitung angka partisipasi kasar berdasarkan rumus dari Permendagri No 54 Tahun Pada tahun 2010 APK untuk jenjang SMA/MA/SMK menunjukkan bahwa Kota Tarakan memiliki nilai APK jenjang SMA/MA/SMK tertinggi sebesar 75,55%, sebaliknya kabupaten/kota dengan APK jenjang SMA/MA/SMK yang paling rendah adalah Kabupaten Tana Tidung sebesar 45,61%. Sementara tahun 2014, Kabupaten Nunukan memiliki nilai APK jenjang SMA/MA/SMK yang paling tinggi 93,36%, sedangkan Kota Tarakan justru mengalami penurunan menjadi 84,71% dan menjadi kabupaten/kota dengan angka partisipasi kasar SMA/MA/SMK terendah. Capaian APK SMA/MA/SMK Provinsi Kalimantan Utara mengalami peningkatan dari tahun 2013 ke tahun Kabupaten Bulungan, Malinau, dan Nunukan memiliki nilai APK SMA/MA/SMK yang lebih tinggi dari nilai APK provinsi pada tahun APK untuk jenjang SMA/MA/SMK Provinsi Kalimantan Utara yang mencapai 88,44% tahun 2014 masih cukup jauh dari sasaran APK SMA/MA/SMK/Paket C Nasional tahun 2019 yang sebesar 91,6%. Provinsi Kalimantan Utara perlu mengejar ketertinggalan untuk mencapai target tersebut. 5. Angka Pendidikan yang Ditamatkan Angka pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah indikator yang mengukur besaran dan persentase masyarakat pada tahun tertentu yang berada pada jenjang pendidikan tertentu. Angka pendidikan yang ditamatkan berbeda dengan angka rata-rata lama sekolah, jika angka rata-rata lama sekolah menunjukkan berapa lama waktu suatu masyarakat bersekolah pada suatu kabupaten/kota. Angka pendidikan tertinggi yang ditamatkan terbagi menjadi beberapa jenjang pendidikan. Dengan mengetahui angka ratarata pendidikan tertinggi yang ditamatkan, maka dapat diketahui tingkat partisipasi dan pendidikan masyarakat pada jenjang pendidikan tersebut, dengan demikian dapat dirumuskan rekomendasi dan masukan untuk meningkatkan angka ini, apabila kondisi yang terjadi sangat buruk. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 52

53 Tabel A.5 Perkembangan Angka Pendidikan yang Ditamatkan Menurut Kabupaten/Kota Tahun Provinsi Kalimantan Utara No Uraian Kabupaten/Kota Tidak/Belum Pernah Sekolah/Tidak/Belum Tamat SD Bulungan 26,75 25,75 25,21 na na na Malinau 21,16 31,64 28,82 na na na Nunukan 32,45 33,17 32,77 na na na Tana Tidung 32,66 34,23 26,82 na na na Tarakan 17,93 17,11 19,21 na na na Prov. Kalimantan Timur 19,83 18,76 17,98 na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na 2. SD/Sederajat Bulungan 27,99 28,54 28,47 na na na Malinau 26,7 21,33 26,02 na na na Nunukan 29,88 28,65 25,31 na na na Tana Tidung 27,96 29,76 29,2 na na na Tarakan 24,93 24,25 22,15 na na na Prov. Kalimantan Timur 26,58 25,73 24,06 na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na 3. SMP/Sederajat Bulungan 18,89 20,75 20,23 na na na Malinau 21,53 16,5 18,64 na na na Nunukan 16,93 17,65 19,26 na na na Tana Tidung 10,16 12,64 14,33 na na na Tarakan 21,24 20,86 18,33 na na na Prov. Kalimantan Timur 19,32 18,61 18,75 na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na 4. SMA/Sederajat Bulungan 20,02 18,4 19,20 na na na Malinau 22,36 21,17 19,21 na na na Nunukan 17,23 16,41 18,24 na na na Tana Tidung 19,82 15,74 17,51 na na na Tarakan 29,43 29,9 33,35 na na na Prov. Kalimantan Timur 26,95 28,86 31,16 na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na 5. Perguruan Tinggi Bulungan 6,34 6, na na na Malinau 8,26 9,35 7,31 na na na Nunukan 3,50 4,10 4,42 na na na Tana Tidung 9,40 7,63 12,13 na na na Tarakan 6,48 7,88 6,96 na na na Prov. Kalimantan Timur 7,33 8,05 8,22 na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber :Indikator Kesejahteraan Rakyat, Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masing-masing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Pada tahun 2010, Kabupaten Tana Tidung memiliki penduduk yang belum pernah sekolah atau belum tamat sekolah tertinggi yakni sebesar 32,66%. Angka mengisyaratkan bahwa 1/3 masyarakat dari semua golongan umur di Kabupaten Tana Tidung yang belum pernah atau tidak lulus sekolah dasar. Sedangkan pada tahun yang sama kabupaten/kota yang memiliki nilai persentase terendah adalah Kota Tarakan yakni 17,93%. Pada tahun 2012, Kabupaten Nunukan menunjukkan persentase tertinggi yakni 32,77%. Jika dibandingkan dengan capaian dari Provinsi Kalimantan Timur, tahun 2010 sebesar 19,83%, dan tahun 2012 sebesar 17,98%, menunjukkan bahwa di provinsi induk pun mengalami penurunan. Dengan kondisi demikian maka dibutuhkan usaha dan kerja keras dari semua stakeholder yang terkait untuk meningkatkan tingkat partisipasi dan kemauan masyarakat serta aspek daya layan fasilitas pendidikan untuk masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 53

54 Angka rata-rata pendidikan tertinggi untuk jenjang pendidikan lulusan SD sederajat yang tertinggi tahun 2010 terdapat di Kabupaten Nunukan yakni 29,88%. Jika ditambah dengan persentase penduduk yang tidak pernah atau tidak lulus SD pada tahun yang sama, maka lebih dari 50% penduduk di Kabupaten Nunukan hanya lulus SD, dengan rasio yang lebih besar tidak pernah atau tidak lulus SD. Sementara Kota Tarakan memiliki nilai paling kecil pada tahun 2010 (24,93%). Jika dibandingkan dengan capaian dari Provinsi Kalimantan Timur, tahun 2010 (26,58%), maka capaian kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara tidak terlalu jauh tingkat perbedaannya, bahkan capaian Kota Tarakan justru lebih rendah, yaitu 24,93%. Kecenderungan perkembangan dari tahun 2010 hingga 2012 di Provinsi Kalimantan Timur juga cenderung menurun, menurunnya persentase rata-rata pendidikan tertinggi yang ditamatkan jenjang SD ini dapat disebabkan karena meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. Apabila kemungkinan tersebut benar, maka kecenderungan yang menurun dapat terjadi karena meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. Angka rata-rata pendidikan tertinggi untuk jenjang SMP sederajat tahun 2010 dengan persentase terbesar adalah Kabupaten Malinau (21,53%). Sedangkan kabupaten/kota dengan persentase terkecil adalah Kabupaten Tana Tidung (10,16%). Nilai ini mencerminkan bahwa derajat pendidikan tahun 2010 di Provinsi Kalimantan Utara sudah sedikit membaik, indikasi membaik adalah apabila dibandingkan dengan rata-rata pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk jenjang SD sederajat tidak terlalu jauh, yang berarti partisipasi masyarakat untuk bersekolah sudah lebih baik. Kecenderungan perkembangan dari tahun menunjukkan peningkatan yakni di Kabupaten Bulungan, Nunukan dan Tana Tidung, dengan persentase peningkatan paling tinggi Kabupaten Tana Tidung, tahun 2010 sebesar 10,16%, meningkat menjadi 14,33% pada tahun Selain peningkatan, juga terjadi kecenderungan perkembangan yang menurun di Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan. Capaian angka rata-rata pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk jenjang SMP sederajat di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2010 sebesar 19,32. Apabila dibandingkan dengan capaian di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Utara, maka hanya Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan yang memiliki capaian lebih baik, selebihnya di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur, tahun 2012 capaian Provinsi Kalimantan Timur sebesar 18,75%. Jika dibandingkan dengan capaian kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Utara, maka hanya Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Nunukan yang sudah melampai capaian di Provinsi Kalimantan Timur, sedangkan Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan sedikit di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur. Kecenderungan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 54

55 perkembangan di Provinsi Kalimantan Timur juga sedikit mengalami penurunan jika dilihat dari tahun 2010 hingga tahun Kategori berikutnya adalah rata-rata pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk jenjang pendidikan SMA sederajat. Semakin besar angka persentase ini mencerminkan semakin besar pula masyarakat yang telah mengenyam pendidikan hingga SMA. Pada tahun 2010 persentase terbesar angka rata-rata pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk jenjang SMA sederajat adalah Kota Tarakan (29,43%), sedangkan terendah adalah Kabupaten Nunukan (17,23%). Jika dibandingkan dengan capaian pada jenjang pendidikan SMP pada tahun sebelumnya, maka hampir semua kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara memiliki persentase jenjang pendidikan tertinggi jenjang SMA lebih besar. Pada tahun 2012, Kota Tarakan menunjukkan capaian terbesar (33,35%), hal ini berarti ada peningkatan dalam 3 tahun terakhir di Kota Tarakan. Sementara kabupaten/kota dengan nilai persentase paling rendah adalah Kabupaten Tana Tidung (17,51%). Apabila dilihat kecenderungan perkembangan dalam 5 tahun terakhir, Kota Tarakan, dan Kabupaten Nunukan yang mengalami peningkatan, sedangkan tiga kabupaten lain justru mengalami penurunan. Persentase jenjang pendidikan SMA di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2010 sebesar 26,95%. Apabila dibandingkan dengan capaian di kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun yang sama maka hanya Kota Tarakan saja yang memiliki persentase capaian yang lebih tinggi, sedangkan kabupaten lain masih di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan tahun 2012, capaian persentase untuk jenjang pendidikan SMA di Provinsi Kalimantan Timur mengalami peningkatan menjadi 31,16%, pada saat yang sama hanya Kota Tarakan yang memiliki capaian kinerja yang lebih baik, sedangkan kabupaten lain masih di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur. Jika dibandingkan pada jenjang pendidikan tertinggi untuk jenjang SMP pada tahun yang sama, maka ada peningkatan pada jenjang SMA, hal ini berarti bahwa semakin banyak orang yang mengenyam pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Selain itu hal ini juga memiliki arti bahwa kesadaran masyarakat untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi semakin meningkat, hal ini dapat disebabkan karena faktor ekonomi masyarakat yang sudah semakin meningkat. Tahun 2010, Kabupaten Tana Tidung merupakan kabupaten/kota dengan persentase masyarakat yang tamat perguruan tinggi tertinggi (9,4%), sedangkan kabupaten/kota dengan capaian persentase terendah Kabupaten Nunukan (3,5%). Capaian persentase kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara tidak ada yang melebihi 10%, ini menunjukkan bahwa masyarakat masih cukup sulit untuk mendapatkan akses pendidikan tersebut karena berbagai keterbatasan, baik berupa ketersediaan sarana/prasarana RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 55

56 maupun keterbatasan ekonomi. Pada tahun 2012, Kabupaten Tana Tidung masih memiliki persentase lulusan perguruan tinggi yang paling banyak (12,13%), dan Kabupaten Nunukan masih dengan rasio lulusan paling sedikit (4,42%). Kecenderungan perkembangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang meningkat, namun dengan nilai peningkatan yang relatif kecil, kecuali Kabupaten Tana Tidung. Kabupaten Malinau tahun 2010 memiliki persentase sebesar 8,26% namun tahun 2010 justru mengalami penurunan menjadi 7,31%. Persentase masyarakat yang lulus perguruan tinggi di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2010 sebesar 7,33%. Jika dibandingkan dengan capaian kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, hanya Kabupaten Tana Tidung yang memiliki persentase capaian yang melebihi, sedangkan kabupaten/kota lain masih di bawah Provinsi Kalimantan Timur. Pada tahun 2012, persentase capaian lulusan perguruan tinggi di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 8,22%. Jika dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Utara, maka hanya Kabupaten Tana Tidung yang memiliki capaian lebih baik, sedangkan kabupaten/kota lain masih memiliki capaian di bawah Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa lulusan perguruan tinggi di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan masih kurang. Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara harus membuat perencanaan yang jelas dan terarah untuk meningkatkan jumlah lulusan di kabupaten/kota, pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi atau menyekolahkan siswa berprestasi ke universitas yang baik dapat menjadi salah satu cara yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah. 6. Angka Partisipasi Murni SMA/MA/SMK Angka Partisispasi Murni (APM) menurut Badan Pusat Statistik merupakan persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Angka partisipasi murni adalah salah satu tolak ukur yang dijadikan pegangan oleh pemerintah untuk menilai keberhasilan suatu wilayah dalam merangsang minat masyarakat untuk bersekolah. Semakin besar nilai APM suatu kabupaten/kota pada jenjang pendidikan tertentu dapat menjadi indikator keberhasilan program pendidikan suatu wilayah. APM untuk jenjang SMA/MA/SMK adalah perbandingan jumlah siswa yang berusia tahun yang bersekolah di jenjang SMA dengan jumlah seluruh penduduk yang berada pada jenjang umur tersebut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 56

57 Tabel A.6 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten/Kota Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Prov. Kalimantan Timur Prov. Kalimantan Utara na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Aplikasi Analisis Situasi Kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena tidak tersedia data mentah untuk menghitung angka partisipasi murni berdasarkan rumus dari Permendagri No 54 Tahun APM jenjang SMA yang paling tinggi di tahun 2010 adalah Kota Tarakan (63.72%), sedangkan kabupaten/kota dengan capaian APM jenjang SMA/MA/SMK terendah adalah Kabupaten R (45.14%). Perkembangan tahun 2014, kabupaten/kota dengan capaian APM jenjang SMA sederajat yang paling besar adalah Kota Tarakan (72,87%). Jika melihat kecenderungan perkembangan dari tahun , maka kabupaten/kota dengan kecenderungan perkembangan yang baik adalah Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung (kurang lebih 20% dan 30%). Seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara mengelami kecenderungan peningkatan APM untuk jenjang SMA/MA/SMK selama 5 tahun terakhir. Kecenderungan perkembangan yang semakin meningkat ini hendaknya tetap dijaga dan ditingkatkan oleh pemerintah kabupaten/kota. APM jenjang SMA/MA/SMK di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2010 adalah sebesar 53,66%. Jika dibandingkan dengan capaian kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, maka hanya Kota Tarakan dan Kabupaten Malinau yang melebihi capaian Provinsi Kalimantan Timur, sedangkan 3 kabupaten lain masih di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur. Tahun 2014, APM di Provinsi Kalimantan Utara adalah 69.64%, jika dibandingkan dengan capaian APM di kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2014, maka hanya Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan yang melebihi capaian Provinsi Kalimantan Utara. B. Kesehatan 1. Angka Kematian Bayi Kematian bayi adalah kematian yang terjadi pada saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 57

58 Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. Angka kematian bayi (AKB) menunjukkan banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun, per kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu. Kegunaan dari indikator ini adalah untuk menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat di mana angka kematian itu dihitung. Data AKB ini dapat digunakan untuk dasar merencanakan program-program pelayanan kesehatan ibu hamil dan bayi. Sedangkan angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) adalah probabilitas bayi hidup sampai dengan usia 1 tahun. Angka ini dihitung dari nilai 1 dikurangi dengan AKB, di mana angka 1 mewakili per kelahiran hidup. Tabel B.1 Angka Kematian Bayi Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah kematian bayi Jumlah bayi lahir hidup Angka Kematian Bayi per kelahiran hidup 12,8 12,3 16,8 19,2 13,00 Angka Kelangsungan Hidup Bayi 987,19 987,73 983,17 980,81 987,00 Sumber: 1) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Profil Kesehatan Kabupaten Bulungan , 3) Kabupaten Malinau dalam angka ; Profil Kesehatan Malinau ) Profil Kesehatan Tarakan ) IPM Kabupaten Tana Tidung 2010; Profil Kesehatan Tana Tidung ) Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Dari tahun 2010 ke tahun 2011, meskipun jumlah bayi meninggal bertambah banyak, AKB sempat mengalami penurunan sedikit menjadi 12,8 dan turun lagi menjadi 12,3 tahun 2011 karena peningkatan jumlah kelahiran hidup yang cukup tinggi. Kemudian AKB tahun 2012 naik cukup signifikan menjadi 16,8 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2014 AKB naik kembali hingga 19,2 per kelahiran hidup dan AKHB sebesar 981. Jumlah kematian tahun 2014 (236 kasus) adalah yang terbanyak sejak 7 tahun terakhir, AKB di tahun ini juga yang tertinggi dan AKHB terendah sejak RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 58

59 Tabel B.2 Angka Kelangsungan Hidup Bayi Menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Jumlah Bayi Angka Kematian Bayi per Kematian Bayi Lahir Hidup 1000 kelahiran hidup AKHB Kabupaten Bulungan ,4 982,6 Kabupaten Malinau ,7 990,3 Kabupaten Nunukan ,5 991,5 Kabupaten Tana Tidung ,5 997,5 Kota Tarakan ,5 983,5 Jumlah ,0 987,0 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Pada tahun 2015 kematian bayi mengalami perbaikan. Jumlah kematian bayi pada tahun ini mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu menjadi 154 kasus sehingga angka kematian bayi turun menjadi 13 per kelahiran hidup. Dari kelima kabupaten/kota, jumlah kematian dan kelahiran hidup terbanyak berada di Kota Tarakan, namun AKB tertinggi berada di Kabupaten Bulungan karena jumlah kematian tidak jauh beda dengan Kota Tarakan dengan jumlah kelahiran hidup jauh lebih rendah dari Tarakan sehingga angka kematian menjadi tinggi. Hal ini serupa dengan yang terjadi di Kabupaten Tana Tidung tahun Kematian di kabupaten ini tidaklah lebih dari 20 kasus namun karena jumlah kelahiran hidup sangat kecil menyebabkan AKB menjadi tinggi sekali hingga mencapai 45 di tahun Secara umum, angka kematian bayi dari tahun berada di bawah batas yang ditetapkan MDG s untuk tahun Semua kabupaten/kota pada tahun ini berada di bawah batas MDG s. Upaya-upaya untuk mempertahankan keadaan ini harus terus dilakukan dan dipantau. Program-program yang secara aktif harus digalakkan untuk menekan angka ini adalah program-program seperti imunisasi, pencegahan penyakit menular terutama pada bayi dan anak-anak, program promosi gizi dan pemberian makanan sehat untuk inu hamil dan anak, termasuk program 1000 hari pertama kelahiran yang menekankan perhatian pada bayi mulai dari kandungan hingga berusia 2 tahun. 2. Angka Kematian Balita Kematian balita adalah kematian yang terjadi pada anak sebelum mencapai usia lima tahun. Angka Kematian Balita menunjukkan banyaknya kasus kematian anak balita per kelahiran hidup di suatu wilayah tertentu pada kurun waktu tertentu. Kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak usia di bawah 5 tahun. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 59

60 Tabel B.3 Angka Kematian Balita Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Kematian Anak Balita Jumlah Bayi Lahir Hidup Angka Kematian Balita per ,82 6,18 1,63 2,53 kelahiran hidup Sumber: 1) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Profil Kesehatan kabupaten Bulungan 2010 dan ) Kabupaten Malinau dalam angka , Profil Kesehatan Malinau ) Dinkes Tarakan , Profil Kesehatan Tarakan ) IPM Kabupaten Tana Tidung ; Profil Kesehatan Tana Tidung ) Data tahun dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Angka kematian anak balita (AKABA) di Provinsi Kalimantan Utara dapat dihitung mulai tahun 2011 karena di tahun ada data kabupaten yang tidak lengkap sehingga AKABA Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung. Pada tahun 2011 dan 2012 angka kematian balita berada di posisi tertinggi berdasarkan data yang ada. Jumlah kasus kematian balita di tahun 2011 sebanyak 73 kasus merupakan jumlah kasus tertinggi namun angka kematian tertinggi terjadi di tahun 2012 dengan jumlah kasus kematian yang lebih sedikit. Hal ini terjadi karena jumlah bayi lahir hidup di tahun 2012 lebih sedikit daripada jumlah bayi lahir hidup di tahun Jumlah kasus kematian balita menurun sangat drastis di tahun 2013 yaitu menjadi 28 kasus kematian dan menurun cukup banyak lagi di tahun 2014 yaitu menjadi 28 kematian dengan AKABA sebesar 1,63. AKABA kembali naik di tahun 2015 meskipun tidak signifikan yaitu menjadi 2,53. Pada tahun 2015 AKABA adalah sebesar 2,5 per kelahiran hidup. Kondisi tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun Jumlah kematian balita terbayak berada di Kota Tarakan yaitu 8 kasus. Poisi kedua ditempati oleh Kabupaten Bulungan dengan jumlah kematian yang tidak jauh berbeda yaitu 7 kasus. Begitu pula di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan yang hanya selisih 1 kematian. Kasus kematian terendah berada di Kabupaten Tana Tidung yaitu hanya 3 kematian. Meskipun jumlah kematian di Kabupaten Tana Tidung yang paling kecil, justru angka kematian balita merupakan yang tertinggi yaitu 7,5 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini karena jumlah bayi lahir hidup di Kabupaten Tana Tidung jauh di bawah kabupaten lainnya yaitu hanya 400 sehingga ketika ada kasus kematian balita, AKABA akan sangat tinggi dibandingkan dengan Tarakan yang jumlah bayi lahir hidupnya hampir mencapai 10 kali lipat. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 60

61 Tabel B.4 Angka Kematian Balita menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Kematian Jumlah Bayi Lahir Angka Kematian Balita per 1000 Balita Hidup Kelahiran Hidup Kabupaten Bulungan ,7 Kabupaten Malinau ,9 Kabupaten Nunukan ,6 Kabupaten Tana Tidung ,5 Kota Tarakan ,1 Jumlah ,5 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Target MDG s untuk tahun 2015 adalah menurunkan AKABA hingga 32 per kelahiran hidup. Indonesia tahun 2012 berada pada angka 40 yang berarti masih di atas target MDG s. Di Provinsi Kalimantan Utara, AKABA seluruh kabupaten/kota dari tahun 2010 hingga 2015 berada jauh di bawah batas MDG s. 3. Angka Kematian Ibu Melahirkan Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Angka kematian ibu ini dihitung per kelahiran hidup. AKI menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan dan persalinan. Indikator ini dapat dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan, pelayanan selama antenatal (K4), dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Angka kematian Ibu dari tahun di Provinsi Kalimantan Utara mengalami kenaikan dan penurunan. Tahun 2011 AKI sebesar 119,6 per kelahiran hidup. Tahun selanjutnya AKI ini meningkat cukup besar menjadi 168 tahun 2011 dan 171 di tahun Namun di tahun 2015 angka ini turun cukup tajam menjadi 127 per kelahiran hidup. Tabel B.5 Angka Kematian Ibu Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Kematian Ibu Jumlah Bayi Lahir Hidup Angka Kematian Ibu Melahirkan per kelahiran hidup 119,6 167,7 170,8 126,6 Sumber: 1) Profil Kesehatan Kalimantan Timur , 2) Profi Kesehatan Kabupaten Bulungan ) Profil Kesehatan Kabupaten Nunukan ) Dinas Kesehatan Tarakan ) Tarakan dan Malinau Dalam Angka ) IPM KabupatenTana Tidung ) Dinas Provinsi Kalimantan Utara 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 61

62 Pada tahun 2015, jumlah kematian terbanyak di Kabupaten Nunukan, namun AKI tertinggi berada di Kabupaten Malinau yang mencapai 243 per kelahiran hidup. Pada tahun ini di Kabupaten Tana Tidung tidak terdapat kematian Ibu melahirkan. Tabel B.6 Angka Kematian Ibu menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Kematian Jumlah Bayi Angka Kematian Ibu per Ibu melahirkan Lahir Hidup kelahiran hidup Kabupaten Bulungan ,5 Kabupaten Malinau ,1 Kabupaten Nunukan ,1 Kabupaten Tana Tidung ,0 Kota Tarakan ,9 Jumlah ,6 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 MDG s Indonesia menargetkan AKI turun hinga angka 102 per kelahiran hidup di tahun Nilai AKI di Kalimantan Utara sejak tahun 2011 masih di atas garis batas MDG s. Terlihat juga sejak tahun AKI di Kabupaten Tana Tidung sangat melampaui batas MDG s karena jumlah penduduk yang kecil dan jumlah kelahiran hidup yang semakin kecil pula menyebabkan AKI menjadi sangat besar padahal kasus kematian di kabupaten tersebut hanya 3 orang. Penyebab dari kematian ibu melahirkan ini adalah multifaktorial, sehingga angka kematian ibu ini dapat dikaitkan dengan indikator lain yang berkaitan yaitu seperti cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, jumlah tenaga medis berkualitas, fasilitas di sarana kesehatan, pelayanan selama antenatal (K4), serta kemudahan akses terhadap sarana kesehatan. 4. Angka Usia Harapan Hidup Angka usia harapan hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 62

63 Tabel B.7 Angka Usia Harapan Hidup Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Angka Usia Harapan Hidup 71,4 71,6 71,8 71,8 Sumber: 1) Profil Kesehatan Kabupaten Nunukan ) Inkesra Kalimantan Timur 2010 dan ) RPJP Tarakan dan RPJMD Kota Tarakan ) IPM Kabupaten Malinau 2010, LPPD Kabupaten Malinau ) Renstra KTT ) Profil Kesehatan Indonesia 2012 Angka usia harapan hidup di Provinsi Kalimantan Utara dari mengalami kecenderungan meningkat dengan usia harapan hidup sebesar 71,4 tahun hingga menjadi 71,8 di tahun Angka usia harapan hidup di Provinsi Kalimantan Utara lebih tingi bila dibandingkan angka nasional. Target RPJMN tahun adalah meningkatkan usia harapan hidup hingga 72 tahun di tahun Angka usia harapan hidup dipengaruhi oleh banyak variabel yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan penduduk. Oleh karena itulah untuk meningkatkan angka usia harapan hidup perlu memperhatikan hal-hal seperti penanganan terhadap kehamilan yang beresiko, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, jumlah tenaga medis dan kesehatan yang lain, angka kesakitan, kondisi geografis tempat tinggal, penyediaan air bersih, akses terhadap sarana kesehatan, hingga latar balakang pendidikan masyarakat. 5. Persentase Balita Gizi Buruk Balita gizi buruk merupakan balita dengan status gizi menurut berat badan (BB) dan umur (U) dengan Z-score < -3 SD dan atau dengan tanda-tanda klinis (marasmus, kwasiorkor, dan marasmus-kwasiorkor). Presentase balita gizi buruk dihitung dari banyaknya balita yang berstatus gizi buruk di suatu wilayah tertentu selama satu tahun dibandingkan dengan jumlah balita di wilayah tersebut pada waktu yang sama. Berdasarkan WHO (1999), ada 4 kategori untuk suatu wilayah berdasarkan prevalensi gizi kurang yaitu rendah (<10%), sedang (10-19%), tinggi (20-29), dan sangat tinggi (30%). Di Provinsi Kalimantan Utara, persentase balita gizi buruk mengalami naik turun sejak 2011, namun persentase balita gizi buruk tersebut tidak pernah melebihi angka 1%. Persentase tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 0,80% yang berarti ada 493 balita gizi buruk dibandingkan dengan jumlah balita seluruhnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 63

64 Tabel B.9 Persentase Balita Gizi Buruk Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Balita Gizi Buruk Jumlah Balita Prsentase Balita Gizi Buruk (%) 0,25 0,80 0,21 Pada tahun 2015, jumlah balita gizi buruk meningkat tajam menjadi 249 balita. Kasus terbesar, lebih dari 50%, disumbang oleh Kabupaten Bulungan. Perbedaan jumlah ini cukup tajam jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di tahun tersebut yang hanya berjumlah puluhan balita saja. Jika dibandingkan dengan kriteria yang ditentukan oleh WHO (1999), persentase balita gizi buruk di Provinsi Kalimantan Utara tergolong rendah. Tabel B.10 Persentase Balita Gizi Buruk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Balita Gizi Buruk Jumlah Balita Persentase Balita Gizi Buruk (%) Kabupaten Bulungan 160 Kabupaten Malinau 10 Kabupaten Nunukan 27 Kabupaten Tana Tidung 16 Kota Tarakan ,2 Jumlah 249 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan individu tersebut. Status gizi seorang ibu hamil sangat mempengaruhi kondisi janin yang dikandungnya. Apabila janin yang dilahirkan bermasalah maka akan menimbulkan permasalahan kesehatan pada bayi tersebut di kemudian hari dan jika tidak ditangani akan berdampak pada pertumbuhan selanjutnya. Masalah ini hanya akan menjadi lingkaran setan jika tidak segera diputus rantainya. C. Ketenagakerjaan 1. Rasio Penduduk yang Bekerja Rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja pada kelompok umur produktif. Rasio penduduk yang bekerja akan menunjukkan ketersediaan lapangan kerja dan daya serapnya terhadap jumlah angkatan kerja yang tersedia. Semakin tinggi nilai rasio penduduk yang bekerja maka semakin besar daya serap tenaga kerja. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 64

65 Tabel D.1 Rasio Penduduk yang Bekerja Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Rasio Penduduk yang Bekerja 0,84 0,83 0,84 0,91 0,94 0,94 Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) Publikasi Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Kalimantan Utara 2015 Rasio penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Utara dari perode tahun 2010 hingga 2015 terus menunjukkan perubahan yang fluktuatif. Rasio penduduk yang bekerja semakin membaik, ditunjukkan dari meningkatnya angka ini tahun 2013 sebesar 0,91 menjadi 0,94 di tahun Angka ini tidak berubah secara signifikan pada tahun Besarnya rasio penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Utara hingga melebihi angka 0,5 menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok umur angkatan kerja telah bekerja dan terserap ke lapangan pekerjaan yang tersedia. Tabel D.2 Rasio Penduduk yang Bekerja Kabupaten/Kota Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Provinsi Penduduk yang Bekerja Bulungan Malinau Nunukan 3 Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Angkatan Kerja Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Rasio Penduduk yang Bekerja Bulungan 1 0,91 0,91 Malinau 2 0,91 0,96 Nunukan 3 Tana Tidung 4 1,01 Tarakan 5 0,93 0,93 Kalimantan Utara 6 0,91 0,94 0,94 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2014 dan ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) Publikasi Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Kalimantan Utara 2015 Jika dilihat dari distribusi terhadap daerah kabupaten/kota, daya serap tenaga kerja paling tinggi adalah Kabupaten Tana Tidung sebesar 1, yang artinya semua angkatan kerja telah terserap lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini tidak dapat terlepas dari pengaruh banyaknya jumlah investasi yang berkembang di Provinsi Kalimantan Utara baik dari perusahaan asing maupun dalam negeri. Hal ini juga merupakan efek lanjutan dari RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 65

66 pembangunan fisik dan perekonomian besar-besaran yang dilakukan sebagai salah satu provinsi baru. D. Indeks Pembangunan Manusia Ukuran pembangunan yang digunakan selama ini, yaitu, PDB (dalam konteks nasional) dan PDRB (dalam konteks regional), hanya mampu memotret pembangunan ekonomi saja. Untuk itu dibutuhkan suatu indikator yang lebih komprehensif, yang mampu menangkap tidak saja perkembangan ekonomi akan tetapi juga perkembangan aspek sosial dan kesejahteraan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting yang bisa digunakan sebagai dasar merencanakan kebijakan dan evaluasi pembangunan. Indikator ini penting karena melalui IPM dapat diketahui sejauh mana keberhasilan pembangunan manusia yang telah dilaksanakan. Dimulai pada tahun 2015, BPS melakukan beberapa penyesuaian pada penghitungan baru IPM atau dengan menggunakan metode baru, yaitu pada komponen pendidikan. Pada metode baru, komponen pendidikan meliputi Angka Harapan Lama Sekolah (Expected Years of Schooling/EYS) dan Angka Rata-Rata Lama Sekolah, sedangkan pada metode lama, komponen pendidikan meliputi Angka Melek aksara dan Rata-Rata Lama Sekolah. Pada komponen Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan dengan menggunakan Produk Nasional Bruto (PNB) sebagai pengganti Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara untuk komponen Angka Harapan Hidup masih sama dengan metode lama atau tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu data IPM Kalimantan Utara yang diterbitkan sebelum tahun 2015 akan berbeda dengan data IPM yang diterbitkan pada tahun Untuk melihat capaian IPM antar wilayah dapat dilihat melalui pengelompokan IPM ke dalam beberapa kategori, yaitu kategori sangat tinggi (IPM 80), kategori tinggi (70 IPM<80), kategori sedang (60 IPM<70), dan kategori rendah (IPM<60). Berikut ini adalah kondisi IPM di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan tahun Tabel E.1 Indeks Pembangunan Manusia Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan 66,79 67,63 68,16 68,66 69,25 69,37 Malinau 66,90 68,15 68,88 69,84 70,00 70,15 Nunukan 60,33 60,64 61,18 62,18 63,13 63,35 Tana Tidung 61,16 61,92 62,91 63,79 64,70 64,92 Tarakan 70,95 71,60 72,53 73,58 74,60 74,70 Kalimantan Utara ,99 68,64 68,76 Indonesia 66,53 67,09 67,70 68,31 68,90 69,55 Sumber : Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kalimantan Utara 2015 Berita Resmi Statistik BPS Kalimantan Timur No.49/06/64/Th.XIX, 15 Juni 2016 Berdasarkan tabel di atas, kota/kabupaten di Kalimantan Utara yang memiliki IPM tertinggi adalah Kota Tarakan. Pada tahun 2010, Kota Tarakan memiliki nilai IPM sebesar RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 66

67 70,95 dan terus meningkat setiap tahunnya, sehingga pada tahun 2015 bisa mencapai nilai 74,70. Yang berarti kualitas hidup manusia di Kota Tarakan terus membaik dari tahun ke tahun. Sedangkan nilai IPM terendah di Kalimantan Utara dimiliki oleh Kabupaten Nunukan, hal ini berbeda bila menggunakan IPM metode lama dimana kabupaten yang memiliki nilai IPM terendah adalah Kabupaten Tana Tidung. Pada tahun 2010, nilai IPM Kabupaten Nunukan mencapai 60,33 dan setiap tahunnya selalu meningkat sehingga pada tahun 2015 nilai IPM mencapai 63,35. Nilai IPM seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara selama tahun mengalami peningkatan yang berarti kualitas hidup manusia di Provinsi Kalimantan Utara terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bila dibandingkan dengan nilai IPM Kalimantan Utara tahun 2015, hanya Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung yang nilai IPMnya di bawah nilai IPM provinsi, sedangkan untuk Kabupaten Nunukan, Malinau dan Kota Tarakan semuanya berada di atas nilai IPM Kalimantan Utara. Bila dibandingkan dengan nilai IPM Indonesia, terdapat tiga kabupaten yang nilai IPM-nya berada dibawah nilai IPM nasional, yaitu Kabupaten Nunukan, Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan, sedangkan nilai IPM Kota Tarakan dan Kabupaten Malinau berada di atas nilai IPM nasional. Angka Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Kalimantan Utara, pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 di seluruh kabupaten/kota tidak ada yang berada di kategori rendah, semua kabupaten/kota berada di kategori sedang. Pada tahun 2015, selain Kota Tarakan (74,70) dan Kabupaten Malinau (70,15) yang berada di kategori tinggi, kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara (Kabupaten Bulungan 69,37; Kabupaten Nunukan 63,35; dan Kabupaten Tana Tidung 64,92) memiliki angka Indeks Pembangunan Manusia yang berada di kategori sedang. Meskipun tiga kabupaten yakni Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung memiliki nilai IPM yang berada di bawah nilai IPM Kalimantan Utara (68,76) dan Nasional (69,55) pada tahun Ini berarti kualitas hidup manusia penduduk di Provinsi Kalimantan Utara cukup baik namun harus terus ditingkatkan. Secara umum, nilai indeks pembangunan manusia di Kalimantan Utara selama mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 angka IPM sebesar 67,99 meningkat menjadi 68,76 (kategori sedang) pada tahun Sedangkan bila dilihat berdasarkan provinsi-provinsi yang berada di Pulau Kalimantan, nilai IPM Kalimantan Utara selama tahun , selalu berada di urutan kedua setelah Kalimantan Timur di atas nilai IPM Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 67

68 Tabel E.2 Indeks Pembangunan Manusia Tahun Menurut Provinsi di Pulau Kalimantan Provinsi Kalimantan Barat 61,97 62,35 63,41 64,30 64,89 65,59 Kalimantan Tengah 65,96 66,38 66,66 67,41 67,77 68,53 Kalimantan Selatan 65,20 65,89 66,68 67,17 67,63 68,38 Kalimantan Timur 71,31 72,02 72,62 73,21 73, Kalimantan Utara ,99 68,64 68,76 Indonesia 66,53 67,09 67,70 68,31 68,90 69,55 Sumber : Bila dilihat dari peringkat nasional, IPM Kalimantan Utara pada tahun 2015 berada di peringkat 17 dari 34 provinsi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin membaiknya kinerja perekonomian di Provinsi Kalimantan Utara, kualitas hidup dan pendidikan penduduk relatif cukup baik dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Hal ini didukung dengan kekayaan alam yang dianugerahkan pada Provinsi Kalimantan Utara yang dapat dipergunakan untuk membangun dan meningkatkan kualitas hidup manusia, khususnya sumber daya manusianya. Meski secara umum pembangunan manusia di Kalimantan Utara mengalami kemajuan setiap tahunnya, namun kesenjangan pembangunan manusia antar kabupaten/kota masih terjadi. Disparitas kesenjangan pembangunan manusia yang digambarkan dengan besaran nilai IPM pada tahun 2015 bervariasi antara 63,35-74,70 dengan IPM tertinggi di Kota Tarakan dan IPM terendah di Kabupaten Nunukan. IPM menyiratkan kondisi kualitas hidup manusia di suatu wilayah yang terdiri dari komponen Angka Harapan Hidup (Life Expectancy at Age), Angka Harapan Lama Sekolah (Expected Years of Schooling/EYS), Angka Rata-Rata Lama Sekolah (Mean Years of Schooling/MYS), dan Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan (Purchasing Power Parity/PPP). IPM sebagai indikator keberhasilan pembangunan manusia dapat menjadi isyarat seberapa besarnya pembangunan yang telah dijalankan mampu memberi peluang penduduk untuk hidup secara layak, melalui hidup sehat, dan panjang untuk memiliki pendidikan yang lebih tinggi, keterampilan yang lebih baik serta mempunyai pendapatan yang diperlukan untuk hidup layak. Tabel E.3 Pertumbuhan IPM Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rerata Pertumbuhan Bulungan 1,26 0,78 0,73 0,86 0,22 0,91 Malinau 1,87 1,07 1,39 0,23 0,17 1,14 Nunukan 0,51 0,89 1,63 1,53 0,35 1,14 Tana Tidung 1,24 1,60 1,40 1,43 0,35 1,42 Tarakan 0,92 1,30 1,45 1,39 0,14 1,26 Kalimantan Utara ,96 0,18 0,57 Indonesia 0,84 0,91 0,90 0,86 0,95 0,88 Sumber : Hasil Olahan Data Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kalimantan Utara 2015 Berita Resmi Statistik BPS Kalimantan Timur No.49/06/64/Th.XIX, 15 Juni 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 68

69 Fokus Seni Budaya dan Olahraga A. Kebudayaan 1. Jumlah Grup Kesenian Pembangunan bidang seni salah satunya ditunjukkan dengan pertumbuhan jumlah grup kesenian di suatu daerah. Jumlah grup kesenian menunjukkan jumlah grup kesenian dibandingka dengan penduduk. Berikut adalah data jumlah grup kesenian per penduduk di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Berikut ini merupakan tabel perkembangan jumlah grup kesenian di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel A.1 Perkembangan Jumlah Grup Kesenian Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d 2014 Provinsi Kalimantan Utara No Uraian Kabupaten/Kota Jumlah grup Bulungan 3 na na na 43 kesenian Malinau na na na na 83 Nunukan na na Tana Tidung na na na na na Tarakan na na na na 51 Prov. Kalimantan Utara 3 na Jumlah penduduk/ penduduk 3. Jumlah grup kesenian per penduduk Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Prov. Kalimantan Utara Bulungan na na na 3.41 Malinau na na na na Nunukan na na Tana Tidung na na na na na Tarakan na na na na 2.24 Prov. Kalimantan Utara na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Proses pendataan yang semakin membaik dari tahun ke tahun menyebabkan Provinsi Kalimantan Utara memiliki peningkatan jumlah grup kesenian yang terdaftar dari tahun 2010 sampai dengan tahun Dari yang semula terdaftar seluruhnya sebanyak 3 grup kesenian (0,0575 unit per penduduk) pada tahun 2010 menjadi 234 grup kesenian (3.785 unit per penduduk) pada tahun 2014 di Provinsi Kalimantan Utara. Berikut ini merupakan tabel perkembangan jumlah grup kesenian di Provinsi Kalimantan Utara. 2. Jumlah Gedung Kesenian Pembangunan bidang seni sangat erat kaitannya dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat di suatu daerah. Salah satunya ditunjukkan dengan adanya gedung kesenian dalam rangka mendukung berkembangnya kesenian suatu daerah.data jumlah gedung RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 69

70 kesenian di Provinsi Kalimantan Utara hanya terdapat untuk tahun 2014, yaitu dengan rasio gedung per penduduk. B. Pemuda dan Olahraga 1. Jumlah Klub Olahraga Jumlah klub olahraga merupakan indikator yang menjelaskan tolok ukur sejumlah kelompok kegiatan untuk mendukung aktivitas bidang olahraga. Indikator ini berguna untuk melihat perkembangan sumber daya manusia melalui kegiatan olahraga. Jumlah klub olahraga dihitung dalam satuan penduduk. Data jumlah klub olahraga yang tersedia hanya Kabupaten Nunukan untuk tahun 2013 sampai dengan 2015, dengan data tahun 2013 yaitu dengan rasio 3,479 klub per penduduk. 2. Jumlah Gedung Olahraga Gedung olahraga merupakan sarana pendukung kegiatan olahraga di suatu daerah. Indikator ini berguna untuk menjelaskan adanya potensi pendukung sarana dan prasarana pengembangan bidang olahraga. Jumlah gedung olahraga dihitung dalam satuan penduduk. Data jumlah gedung olahraga yang tersedia hanya Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Nunukan untuk tahun Berikut ini merupakan tabel perkembangan jumlah gedung olahraga di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel B.1 Perkembangan Jumlah Gedung Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d 2015 Provinsi Kalimantan Utara No Uraian Kabupaten/Kota Jumlah grup Bulungan na na na na na na kesenian Malinau na na na na na na Nunukan na na Tana Tidung na na na na na na Tarakan na na na Jumlah penduduk/ penduduk 3. Jumlah group kesenian per penduduk Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na Malinau na Nunukan na Tana Tidung na Tarakan Prov. Kalimantan Utara na Bulungan na na na na na na Malinau na na na na na na Nunukan na na na Tana Tidung na na na na na na Tarakan na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 70

71 2.3. ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Layanan Urusan Wajib Berkaitan Pelayanan Dasar A. Pendidikan 1. Pendidikan Menengah 1.1. Angka Partisipasi Sekolah SMA/SMK/MA Angka partisipasi sekolah (APS) SMA/SMK/MA merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS diketahui berdasarkan jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah yaitu tahun yang masih menempuh pendidikan menengah per jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Berikut adalah data angka parisipasi sekolah tingkat SMA/SMK/MA di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel A.1 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d 2014 Uraian Kabupaten/Kota Angka Bulungan Partisipasi Malinau Sekolah Nunukan SMA/SMK/MA Tana Tidung na Tarakan na na Prov. Kalimantan Timur na na Prov. Kalimantan Utara na na na SPM na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga 2016 Catatan: Data Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masingmasing kabupaten/kota sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Pada tahun 2014, nilai APS tertinggi berada di Kota Tarakan dengan nilai 74.7% dan nilai terendah ada di Kabupaten Tana Tidung dengan nilai 72.4%. Apabila dibandingkan dengan nilai standar pelayanan dari Kementrian Pendidikan Nasional, maka hampir semua kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara sudah melampaui SPM yaitu 60%. Jika dibandingkan dengan capaian APS Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2014 yaitu sebesar 73.4%, maka hanya 2 kabupaten yang sudah melampauinya, yaitu Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan. Apabila melihat kecenderungan perkembangan dalam 5 tahun terakhir dari tahun 2010 hingga tahun 2014, nilai APS cenderung semakin menurun di Kota Tarakan, sedangkan untuk 4 (empat) kabupaten lainnya, nilai APS cenderung fluktuatif Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah SMA/SMK/MA Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah, merupakan perbandingan antara jumlah sekolah dan penduduk dalam usia sekolah. Dengan demikian, RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 71

72 nilai ini juga mencerminkan jumlah sekolah yang ada setiap penduduk. Pada indikator ini jenjang pendidikan yang digunakan adalah jenjang SMA/SMK/MA dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tahun. Berikut adalah data rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah SMA/SMK/MA di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel A.2 Perkembangan Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d 2015 No Uraian Kabupaten/Kota Jumlah sekolah Bulungan na na na (SMA/MA/SMK) Malinau na na Nunukan Tana Tidung na na na Tarakan na na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na 2. Jumlah penduduk usia SMA/Sederajat (16 s.d.19) thn 3. Rasio ketersediaan sekolah per penduduk Prov. Kalimantan Utara na na na na Bulungan na na na na Malinau na na na na 6369 na Nunukan na Tana Tidung na na na na 1542 na Tarakan na na na na na na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na na Malinau na na na Nunukan na na na Tana Tidung na na na Tarakan na na na Prov. Kalimantan Timur na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masingmasing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan data di atas, pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2012, rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang SMA/SMK/MA di setiap kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara mengalami fluktuasi. Pada tahun 2012 rasio ketersediaan sekolah di Kabupaten Malinau mencapai 47,90 dan masih merupakan nilai rasio tertinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kalimantan Utara. Hal ini berarti jumlah sekolah di Kabupaten Malinau masih cukup banyak dapat menampung penduduk usia tahun, oleh karena penduduk kabupaten ini masih relatif sedikit. Ketersediaan data untuk jumlah penduduk usia SMA/Sederajat dan jumlah sekolah pada tahun 2013 dan 2014 dinilai minim, sehingga belum dapat dianalisis lebih lanjut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 72

73 1.3. Rasio Guru Terhadap Murid SMA/SMK/MA Rasio guru dan murid tingkat SMA adalah merupakan perbandingan jumlah guru dibanding jumlah murid untuk jenjang pendidikan SMA sederajat. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar (guru) dan digunakan untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajarannya. Berikut adalah data rasio guru/murid SMA/SMK/MA di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel A.3 Perkembangan Rasio Guru/Murid SMA/SMK/MA Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d 2014 No. Uraian Kabupaten/Kota Jumlah guru Bulungan na na na Guru Malinau na na SMA/SMK/MA Nunukan na Tana Tidung na na na Tarakan na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na 2. Jumlah Murid SMA/SMK/MA 3. Rasio Guru/Murid SMA/SMK/MA Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na na na Malinau na na na Nunukan na Tana Tidung na na na Tarakan na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan 7.55 na na Malinau na Nunukan na Tana Tidung na na Tarakan Prov. Kalimantan Timur na na na Prov. Kalimantan Utara na na na 10.4 na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Aplikasi Analisis Situasi Kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena tidak tersedia data mentah untuk menghitung Rasio Guru/Murid SMA/MA berdasarkan rumus dalam Permendagri No 54 Tahun 2010 Dalam Standar Pelayanan Minimal disebutkan bahwa rasio guru dan murid untuk jenjang SMA sederajat adalah sebesar 1:15, angka tersebut berarti satu guru mengajar 15 siswa SMA sederajat. Jika dibandingkan dengan standar SPM tersebut, nilai capaian rasio guru dan murid tingkat SMA tahun 2013 untuk Provinsi Kalimantan Utara adalah Nilai capaian tersebut dinilai masih di bawah standar SPM sebenarnya menjadi keuntungan yakni beban pekerjaan guru tidak terlalu berat, namun hal ini juga dapat menjadi sebuah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 73

74 tanda bahwa jumlah penduduk yang bersekolah hanya sedikit, sehingga hal ini apabila dibiarkan akan menjadi permasalahan di kemudian hari. Jika dikaji dari sudut padang berupa kondisi Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki banyak wilayah terpencil terutama di kawasan perbatasan, analisis rasio guru/murid ini juga perlu memperhatikan distribusi guru dan murid yang ada agar data yang ada tidak serta-merta digeneralisir begitu saja. 2. Fasilitas Pendidikan 2.1. Sekolah Pendidikan dalam Kondisi Bangunan Baik Sekolah pendidikan dalam kondisi bangunan baik dihitung berdasarkan persentase jumlah kelas kondisi baik dibandingkan dengan jumlah seluruh kelas yang ada. Kondisi ruang kelas yang baik pastinya akan mendukung dan menciptakan situasi belajar yang nyaman dan kondusif bagi masyarakat. Berikut adalah data persentase sekolah dengan kondisi bangunan yang baik di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel A.4 Perkembangan Sekolah dengan Kondisi Baik Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d 2015 No. Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Bulungan na na na na na na sekolah Malinau na na na na na na pendidikan Nunukan na SMA/SMK/MA Tana Tidung na na na na na 2 kondisi Tarakan na bangunan baik Prov. Kalimantan Timur na na na na na na 2. Jumlah seluruh sekolah SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik 3. Persentase sekolah pendidikan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na na na na na na Malinau na na na na na na Nunukan na Tana Tidung na na na na na 3 Tarakan na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na na na na na na Malinau na na na na na na Nunukan Tana Tidung na na na na na Tarakan Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga 2016 Catatan: Data Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masing-masing kabupaten/kota sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Persentase sekolah dengan bangunan baik secara umum belum terdata dengan baik. Gambaran umum kondisi sekolah di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat dari data Kabupaten Nunukan tahun 2012 yang hanya memiliki 78,64% sekolah yang kondisi bangunannya baik. Sedangkan pada tahun 2015 diketahui bahwa 100% sekolah di RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 74

75 Kabupaten Nunukan memiliki kondisi bangunan yang baik, dan hanya 66.67% sekolah di Kabupaten Tana Tidung dan 78,95% sekolah di Kabupaten Tarakan yang kondisi bangunannya baik. 3. Angka Putus Sekolah 3.1. Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Angka putus sekolah (APS) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid putus sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu dan dinyatakan dalam persentase. Hasil perhitungan APS ini digunakan untuk mengetahui banyaknya siswa putus sekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayahtertentu.semakin tinggi APS berarti semakin banyak siswa yang putus sekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah. Berikut ini merupakan data angka putus sekolah untuk jenjang SMA sederajat di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel A.5 Angka Putus Sekolah (APS) Jenjang SMA/MA/SMK Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Angka Putus Bulungan Sekolah (APS) Malinau Jenjang Nunukan SMA/MA/SMK Tana Tidung Tarakan Prov. Kalimantan Timur na na Prov. Kalimantan Utara na na na na SPM Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Aplikasi Analisis Situasi Kemiskinan Provinsi Kalimantan Utara, ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masing-masing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan tabel angka putus sekolah jenjang SMA sederajat, pada tahun 2010 kabupaten/kota dengan angka putus sekolah paling rendah adalah di Kota Tarakan dengan nilai capaian 22.12% dan angka putus sekolah yang paling tinggi adalah di Kabupaten Bulungan dengan nilai 38.10%. Pada tahun 2014, kabupaten/kota dengan nilai angka putus sekolah paling rendah adalah di Kabupaten Tana Tidung dengan nilai 11,23%, sedangkan kabupaten/kota dengan angka putus sekolah paling tinggi justru adalah di Kabupaten Bulungan dengan nilai 27,16%. Melihat kecenderungan perkembangan angka putus sekolah jenjang SMA/MA/SMK dari tahun 2010 hingga tahun 2015, Kabupaten Bulungan menunjukkan kecenderungan angka putus sekolah di jenjang SMA sederajat yang fluktuatif. Sedangkan 4 (empat) kabupaten/kota lainnya, yaitu Kabupaten Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan mengalami RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 75

76 kondisi yang baik berupa kecenderungan penurunan angka putus sekolah pada kurun waktu yang sama. Jika dibandingkan dengan capaian angka putus sekolah jenjang SMA/MA/SMK tahun 2014 di Provinsi Kalimantan Utara yang sebesar 27.59%, angka putus sekolah di kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara pada jenjang tersebut sebagian sudah melampaui rata-rata provinsi, yaitu untuk Kabupaten Nunukan (26.83%) dan Kota Tarakan (21.49%), sedangkan sisanya masih relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata provinsi. Kementerian Pendidikan Nasional memiliki standar untuk mengukur keberhasilan pendidikan di suatu wilayah dengan menggunakan SPM. SPM untuk angka putus sekolah jenjang SMA sederajat adalah kurang dari 1%. Melihat kondisi yang ada, kecenderungan capaian angka putus sekolah jenjang SMA sederajat yang masih berada jauh di atas SPM tersebut, maka hal ini menjadi persoalan yang perlu diperhatikan di Provinsi Kalimantan Utara. Angka putus sekolah jenjang SMA sederajat tahun 2014 ini juga dinilai masih sangat jauh rata-rata angka putus sekolah jenjang SMA sederajat nasional tahun yang sebesar 1,66%. Kondisi ini tentunya membutuhkan kerja keras lebih dari pemerintah, dinas pendidikan, serta masyarakat untuk mencapai target angka putus sekolah jenjang SMA sederajat nasional tahun yaitu 0.8%. Tingginya angka putus sekolah pada jenjang yang semakin tinggi khususnya SMA/MA/SMK antara lain dapat disebabkan oleh keterbatasan ekonomi maupun kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan menengah akhir. 4. Angka Kelulusan 4.1. Angka Kelulusan SMA/MA/SMK Angka kelulusan adalah perbandingan antara jumlah siswa yang lulus ujian akhir atau ujian nasional dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian nasional tersebut. Angka kelulusan yang tinggi menunjukkan prestasi dari sebuah institusi pendidikan. Berikut merupakan data angka kelulusan SMA/MA/SMK di Provinsi Kalimantan Utara. 5 Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 76

77 Tabel A.6 Angka Kelulusan SMA/MA/SMK Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun No. Uraian Kabupaten/Kota Jumlah lulusan Bulungan na na na pada jenjang Malinau na SMA/SMK/MA Nunukan na Tana Tidung na na na na na 197 Tarakan na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na 2. Jumlah siswa tingkat tertinggi pada jenjang SMA/SMK/MA 3. Angka Kelulusan SMA/MA/SMK Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na na na Malinau na Nunukan na Tana Tidung na na na na na 197 Tarakan na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Bulungan na na Malinau na Nunukan na Tana Tidung na na 100 Tarakan Prov. Kalimantan Timur na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Publikasi IPM Kaltara ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masingmasing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Pada tahun 2010 kabupaten dengan pencapaian angka kelulusan terbaik di Provinsi Kalimantan Utara adalah Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tana Tidung (100%), sedangkan kabupaten dengan pencapaian nilai terendah adalah Kabupaten Bulungan dengan nilai capaian sebesar 82,34%. Pada tahun 2014 kabupaten dengan pencapaian angka kelulusan tertinggi adalah di Kabupaten Malinau (99.52%), sedangkan kabupaten dengan nilai capaian terendah adalah Kabupaten Nunukan (99.33%). Jika dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Timur, pada tahun 2010 nilai capaian angka kelulusan jenjang SMA sederajat di Provinsi Kalimantan Timur adalah sebesar 99,89%, sementara pada tahun yang sama hanya Kabupaten Malinau (100%) dan Kabupaten Tana Tidung yang melebihi capaian Provinsi Kalimantan Timur sedangkan dua kabupaten dan satu kota masih berada di bawah capaian Provinsi Kalimantan Timur. Pada tahun 2012 capaian angka kelulusan di Provinsi Kalimantan Timur adalah sebesar 99,48%, sementara capaian angka kelulusan jenjang SMA sederajat kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara sebagian besar masih berada di bawah capaian tersebut. Hanya capaian angka kelulusan jenjang SMA sederajat RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 77

78 di Kabupaten Tana Tidung (100%) yang melebihi capaian di Provinsi Kalimantan Timur. Sementara itu Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan justru mengalami perkembangan yang cenderung menurun sejak tahun , meskipun pada tahun sempat mencapai angka kelulusan sebesar 100%. Kecenderungan perkembangan dari tahun 2010 hingga tahun 2014 di kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara secara umum cenderung fluktuatif, tetapi dapat digambarkan bahwa tiap kabupaten/kota memiliki kecenderungannya masingmasing. Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan menunjukkan kenaikan, sedangkan di Kabupaten Tana Tidung cenderung tetap stabil dengan mempertahankan prestasi kelulusan SMA 100% dalam kurun waktu 2010,2011,2012, dan Angka Melanjutkan (AM) SMP/MTs ke SMA/MA/SMK Angka melanjutkan (AM) sekolah adalah perbandingan antara jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan jumlah lulusan pada tahun sebelumya pada jenjang pendidikan sebelumnya. Angka melanjutkan merupakan cerminan keinginan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Berikut merupakan data angka melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/MA/SMK di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel A.7 Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/MA/SMK Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Angka Bulungan na na Melanjutkan Malinau na na na (AM) dari Nunukan na na SMP/MTs ke Tana Tidung na 100 na SMA/MA/SMKdi Tarakan Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na SPM Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masing-masing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan tabel angka melanjutkan untuk jenjang pendidikan SMA/MA/SMK di Provinsi Kalimantan Utara dari tahun 2010 hingga 2015, pada tahun 2010 kabupaten/kota dengan nilai capaian angka melanjutkan sekolah dari jenjang SMP/MTS ke SMA/MA/SMK adalah Kabupaten Bulungan dengan nilai persentase mencapai %, sedangkan kabupaten Malinau belum memiliki data Angka Melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/MA/SMK. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 78

79 Nilai yang melebihi 100% mungkin terjadi karena adanya murid yang masuk dari luar daerah. Sedangkan pada tahun 2013, kabupaten dengan nilai capaian paling baik adalah Kabupaten Tana Tidung dengan nilai 100%, dan kabupaten dengan capaian persentase paling rendah adalah di Kabupaten Malinau dengan nilai 93,8%. Jika dilihat dari kecenderungan perkembangan selama beberapa tahun terakhir, maka perkembangan angka melanjutkan dari jenjang SMP/MTs ke SMA/MA/SMK di kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara secara umum cenderung fluktuatif, tetapi dapat digambarkan bahwa tiap kabupaten/kota memiliki kecenderungannya masing-masing. Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tana Tidung menunjukkan kenaikan, sedangkan di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan cenderung penurunan angka melanjutkan dari jenjang SMP/MTs ke SMA/MA/SMK. Berdasarkan standar yang dikeluarkan pemerintah dalam SPM, angka minimal untuk angka melanjutkan sekolah dari SMP/MTs ke SMA/MA/SMK adalah sebesar 60%. Jika dibandingkan dengan target pemerintah dalam SPM tersebut, maka pada tahun 2013 target SPM tersebut sudah terlampaui oleh masing-masing kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Utara Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV merupakan perbandingan antara jumlah guru yang berijazah minimal S1/D-IV dengan total seluruh guru yang ada di kabupaten. Guru yang memenuhi kualifikasi pendidikan minimal S1/D-IV tentu akan memiliki kompetensi dan pemahaman tentang materi yang lebih baik. Berikut merupakan data guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel A.8 Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Persentase guru Bulungan na na na yang Memenuhi Malinau na na na Kualifikasi S1/D- Nunukan na na na IV Tana Tidung na na na Tarakan na na Prov. Kalimantan Timur na na na na na na Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Catatan: Data Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data yang tersedia berupa persentase masingmasing kabupaten/kota, sehingga tidak dapat dijumlahkan untuk total Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan tabel rasio guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV di Provinsi Kalimantan Utara dari tahun 2010 hingga 2015, pada tahun 2010 kabupaten dengan nilai RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 79

80 rasio paling tinggi terdapat di Kabupaten Nunukan dengan nilai 59,94%, sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Tana Tidung dengan nilai 40.91%, di sisi lain kabupaten Malinau belum memiliki data pada tahun tersebut. Pada tahun 2012 kabupaten dengan nilai rasio paling tinggi ada di Kota Tarakan dengan nilai 71,68%, dan kabupaten dengan nilai terendah ada di Kabupaten Bulungan dengan nilai 49,01%. Jika melihat dari kecenderungan perkembangan dari tahun 2010 hingga 2015 maka kabupaten/kota dengan kecenderungan perkembangan paling baik di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Utara adalah Kota Tarakan dari 55.81% pada tahun 2010 menjadi 87,85% pada tahun Perkembangan rasio guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV dalam beberapa tahun terakhir di kabupaten/kota yang terjadi di Provinsi Kalimantan Utara secara umum memiliki kecenderungan peningkatan. Meningkatnya kecenderungan jumlah guru yang memenuhi standar minimal S1/D-IV membuktikan komitmen pemerintah dan tentunya para guru untuk meningkatkan kompetensi dan juga keahlian dimana para siswa yang akan mendapat keuntungan dari meningkatnya kompetensi tersebut. Meskipun memiliki kecenderungan peningkatan angka rasio guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV, tetapi kondisi yang ada masih jauh dari rata-rata nasional tahun 2014 presentase pendidik dan tenaga pendidik tingkat pendidikan menengah yang memenuhi kualifikasi minimal S1/D-IV 7 yang mencapai 90% Berdasarkan sudut pandang nasional tersebut, kondisi ini tentunya membutuhkan kerja keras lebih dari pemerintah, dinas pendidikan, serta masyarakat untuk mencapai target presentase pendidik dan tenaga pendidik tingkat pendidikan menengah yang memenuhi kualifikasi minimal S1/D-IV tahun yaitu sebesar 99%. Berikut merupakan data guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV di Provinsi Kalimantan Utara. B. Kesehatan 1. Rasio Posyandu Per Satuan Balita Posyandu adalah suatu wadah komunikasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Rasio posyandu sejak tahun bersifat fluktuatif. Tahun 2011 rasio sebesar 0,86 dan meningkat cukup tinggi di tahun Pada tahun 2012 terjadi peningkatan jumlah posyandu yang sangat tajam dari 601 menjadi 673. Pada tahun 2014 rasio sedikit 7 Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 80

81 turun menjadi 0,99 per 100 balita, hal ini bukan karena penurunan jumlah posyandu melainkan peningkatan jumlah balita. Tahun 2015, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, jumlah posyandu di tercatat 696 buah. Tabel B.1 Rasio Posyandu per 100 Balita Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Posyandu Jumlah balita Rasio posyandu per 100 balita 0,86 1,09 0,99 Sumber: 1) LPPD kabupaten Bulungan tahun , Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) LPPD Kabupaten Nunukan tahun 2010, Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun ) Profil Kesehatan Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur Tahun ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimanatan Utara 2016 Tahun 2014 rasio posyandu tertinggi ada di Kabupaten Tana Tidung yaitu sebesar 1,47. Dibandingkan dengan kabupaten lain, rasio ini tidak berbeda signifikan yaitu masih di kisaran angka 1 per 100 balita, kecuali Kota Tarakan yang agak jauh dari angka 1. Pelayanan posyandu idealnya adalah 1 posyandu melayani 100 balita. Mengacu pada standar itu, tahun 2014 rasio posyandu di Provinsi Kalimantan utara sudah sesuai dengan standar, namun di Kota Tarakan masih belum terpenuhi. Rasio posyandu Kota Tarakan sejak 2011 masih berada di sekitar angka 0,86 per 100 balita, sedangkan kabupaten lainnya sudah melebihi standar sejak tahun Tabel B.2 Rasio Posyandu per 100 Balita menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Posyandu Jumlah Balita Rasio Posyandu per 100 Balita Kabupaten Bulungan ,22 Kabupaten Malinau ,13 Kabupaten Nunukan ,00 Kabupaten Tana Tidung ,47 Kota Tarakan ,71 Jumlah ,99 Sumber: (1) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016, (2) Dinas Kesehatan Kota Taraan 2016, (3) Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2015, 2. Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu per Satuan Penduduk Puskesmas sebagai unit pelayanan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. Puskesmas memiliki fungsi sebagai: 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan; 2) pusat pemberdayaan masyarakat; 3) pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer; dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan primer. Indikator rasio puskesmas per penduduk adalah salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 81

82 Tabel B.3 Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Puskesmas Pembantu per Penduduk Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Poliklinik 7 Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas 9,2 8,6 8,4 8,2 8,1 8,9 Rasio Poliklinik 1,1 Rasio Pustu 26,9 28,7 30,0 23,7 24,3 33,8 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka , 4) Kota Tarakan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Rasio puskesmas per penduduk di Provinsi Kalimantan Utara berada di kisaran angka 8-9. Itu artinya terdapat 8-9 puskesmas setiap penduduk atau 1 puskesmas melayani penduduk. Di Indonesia rasio puskesmas per penduduk pada tahun mengalami trend yang meningkat dari 3,5 3,8. Berdasarkan data tersebut, di Indonesia rata-rata 1 puskesmas dapat melayani penduduk (Riskesdas, 2013). Berdasarkan jumlah penduduk, rasio puskesmas di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2015 lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Jumlah puskesmas terbanyak berada di Kabupaten Malinau dan Nunukan, sedangkan yang paling sedikit adalah Kota Tarakan. Untuk Pustu, jumlah terbanyak berada di Kabupaten Malinau yaitu 94 unit sedangkan di Kota Tarakan hanya ada 2 unit. Pustu di Kabupaten Nunukan dan Malinau harus berjumlah banyak mengingat 2 kabupaten ini adalah kabupaten perbatasan dengan luas wilayah yang sangat besar dan akses yang masih buruk. Tabel B.4 Rasio Puskesmas, Poliklinik, dan Puskesmas Pembantu per Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/kota Jumlah Puskesmas Poliklinik Pustu Penduduk Jumlah Rasio Jumlah Rasio Jumlah Rasio Kabupaten Bulungan ,0 2 1, ,0 Kabupaten Malinau ,5 2 2, ,3 Kabupaten Nunukan ,4 0 0, ,3 Kabupaten Tana Tidung ,1 0 0, ,7 Kota Tarakan ,0 3 1,3 2 0,9 KALIMANTAN UTARA ,9 7 1, ,8 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Tingginya nilai rasio puskesmas per satuan penduduk disebabkan oleh jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Utara yang tidak terlalu banyak. Meskipun rasio puskesmas di provinsi ini dibandingkan Indonesia jauh lebih tinggi, perlu diperhatikan juga RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 82

83 luas wilayah provinsi ini dan akses ke puskesmas karena akses yang sulit ke sarana kesehatan akan membuat keberadaan sarana kesehatan tersebut kurang efektif. Begitu juga cakupan wilayah yang luas membuat masyarakat akan berpikir untuk mengakses layanan kesehatan di tempat tersebut. Penjelasan selanjutnya dibahas di indikator cakupan pustu. 3. Rasio Rumah Sakit per 1000 Penduduk Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang berfungsi menyelenggarakan pelayanan kesehatan rujukan, asuhan keperawatan secara berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Semakin banyak rumah sakit yang tersedia, akan semakin mudah bagi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Pada tahun 2010 hingga tahun 2011 terdapat lima unit RSUD, satu unit rumah sakit Angkatan Laut, dan satu unit rumah sakit swasta. Rumah sakit AL dan RS Swasta berada di Kota Tarakan. Pada tahun 2012 jumlah RSUD bertambah satu unit menjadi enam unit, sehingga jumlah keseluruhan RS di Provinsi Kalimantan Utara adalah delapan unit rumah sakit. Tabel B.5 Rasio Rumah Sakit per Penduduk Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Daerah Jumlah Rumah Sakit Swasta Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Berdasarkan data yang tercatat, tahun 2015 jumlah RSUD berjumlah enam unit dengan rincian: satu unit di Kabupaten Bulungan, Nunukan, Tana Tidung, dan Kota Tarakan, dan dua unit di Kabupaten Malinau. Pembangunan Rumah Sakit Pratama direncanakan akan selesai akhir tahun ini. Ada tiga Rumah Sakit Pratama yang dibangun di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau yang merupakan kabupaten perbatasan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 83

84 Tabel B.6 Rasio Rumah Sakit per Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/ Jumlah Rumah Sakit Rumah Sakit Rumah Sakit kota Penduduk AD/AU/ AL/POLRI Daerah Swasta Total Jumlah Rasio Jumlah Rasio Jumlah Rasio Jumlah Rasio Bulungan , ,008 Malinau , ,027 Nunukan , ,006 Tana Tidung , ,053 Tarakan , , , ,013 Kalimantan Utara , , , ,013 Sumber: Dinas Provinsi Kalimantan Utara Rasio Dokter per Satuan Penduduk Rasio dokter per satuan penduduk merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur cakupan pelayanan dokter di masyarakat. Berdasarkan jenis profesinya, dokter dikelompokkan menjadi tiga yaitu dokter umum, dokter gigi, dan dokter spesialis yang bisa disebut dengan tenaga medis. Dokter yang dimaksud adalah dokter yang memberikan pelayanan kesehatan di suatu wilayah, baik berstatus PNS maupun bukan PNS. Tabel B.7 Rasio Dokter per Penduduk Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Dokter Umum Jumlah Dokter Gigi Jumlah Dokter Spesialis Total Dokter Jumlah Penduduk Rasio Dokter per ,3 49,6 49,5 65,7 37,8 penduduk Sumber: (1) Kalimantan Timur Dalam Angka (2) Kabupaten Bulungan Dalam angka ; (3) Kabupaten Malinau Dalam Angka ; (4) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ; Profil Kesehatan Kabupaten Nunukan 2010 (5) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka (6) Kota Tarakan Dalam Angka (7) Kalimantan Utara Dalam Angka Rasio tenaga medis per jumlah penduduk mengalami kenaikan secara terus menerus hingga tahun Rasio dokter di tahun 2013 ini adalah yang tertinggi selama periode Jumlah keseluruhan dokter di tahun tersebut adalah 391 orang, dengan rincian 270 dokter umum, 48 dokter gigi dan 73 dokter spesialis. Namun, di tahun 2014 rasio dokter ini menurun cukup signifikan dari 65,7 menjadi 37,8. Pada tahun 2014 terdapat 157 dokter umum, dengan jumlah dokter terbanyak berada di Kota Tarakan dan terkecil di Kabupaten Tana Tidung. Jika dilihat per penduduk, maka Kabupaten Tana Tidung yang rasio dokter umumnya paling tinggi dibanding Kota Tarakan yang hanya 25,7. Berdasarkan standar Indonesia Sehat 2010, rasio dokter umum RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 84

85 adalah 40 per peduduk, sehingga baru Kabupaten Tana Tidung yang sesuai standar. Rasio dokter spesialis di provinsi ini adalah 9,5 ini berarti telah sesuai standar. Namun jika dirinci, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung masih belum sesuai standar, bahkan di Kabupaten Tana Tidung hanya terdapat 1 dokter spesialis. Sedangkan rasio doktr gigi di provinsi ini sudah sesuai standar, namun Kota Tarakan belum memenuhi standar. Kabupaten Tabel B.8 Rasio Dokter per Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Jumlah Penduduk Jumlah Dokter Umum Rasio Jumlah Dokter Spesialis Rasio Jumlah Dokter Gigi Kabupaten Bulungan , , ,03 Kabupaten Malinau , , ,13 Kabupaten Nunukan , , ,29 Kabupaten Tana Tidung ,02 1 4, ,71 Kota Tarakan , , ,08 KALIMANTAN UTARA , , ,57 Standar Indonesia Sehat 2010 Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2015 Rasio Dilihat dari persebarannya, tenaga medis ini belum menyebar secara merata di seluruh wilayah, khususnya di daerah perbatasan. Meskipun secara rasio, rasio dokter di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan sudah memenuhi standar, wilayah Malinau dan Nunukan sangat luas dengan masyarakat yang menyebar. Total dokter yang berjumlah 57 di Kabupaten Malinau dan 62 di Kabupaten Nunukan menjadi kecil sekali jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah kabupaten tersebut. 5. Rasio Tenaga Kesehatan per Satuan Penduduk Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari: a. Tenaga medis (dokter dan dokter gigi), b. Tenaga keperawatan (perawat dan bidan), c. Tenaga kefarmasian (apoteker, analis farmasi, asisten apoteker), d. Tenaga kesehatan masyarakat (epidemiologi kesehatan, entomology kesehatan, mikrobiolog kesehatan, administrator kesehatan, dan sanitarian), e. Tenaga gizi (nutrisionis dan dietisien), f. Tenaga keterapian fisik (fisioterapi, okupasiterapis, terapis wicara), RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 85

86 g. Tenaga keteknisan medis (radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknisi transfusi dan perekam medis). Tabel B.9 Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Tahun Medis Praawat Bidan Farmasi Gizi Teknisi Medis Sanitasi Kesmas Fisioterapi Jumlah Bulungan Malinau * Nunukan Tana Tidung Tarakan Sumber: 1) Kalimantan Timur Dalam Angka ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Profik Kesehatan Kabupaten Bulungan ) Profil Kesehatan Kabupaten Nunukan ) Renstra Kabupaten Malinau periode ) Profil Kesehatan Kabupaten Tana Tidung 2012 Keterangan : *) Merupakan angka akumulasi dari tenaga kesehatan lainnya Pada tahun 2012 rasio tenaga bidan, gizi, sanitasi dan kesehatan masyarakat belum memenuhi target Indonesia Sehat Rasio tenaga farmasi tersebut tidak menggambarkan rasio apoteker yang sesungguhnya karena data tentang tenaga kefarmasian yang ada merupakan gabungan dari apoteker, analis farmasi, asisten apoteker, sehingga wajar jika rasionya jauh melebihi target yang diharapkan dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya. Jika dilihat tren dari 2011 ke 2012, rasio tenaga kesehatan tersebut mengalami kenaikan kecuali pada tenaga kesehatan masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 86

87 Gambar B.1 Peta Persebaran Tenaga Kesehatan Tahun 2012 di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Analisis 2014 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 87

88 Kondisi tenaga kesehatan di kawasan perbatasan masih memprihatinkan. Menurut buku Grand Design Perbatasan Kalimantan Utara 2016, sebanyak lebih dari 30 desa di Kabupaten Malinau belum memiliki tenaga dokter yang menetap, dan 12 desa yang sama sekali tidak memiliki tenaga bidan dan tenaga kesehatan lain yang menetap. Sedangkan di Kabupaten Nunukan tidak kalah buruknya. Tenaga dokter dan kesehatan lain hanya terkonsentrasi di satu kecamatan saja yaitu Kecamatan Nunukan. Kondisi memprihatinkan ada di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Lumbis Ogong, Sebatik Barat, dan Sebatik Utara yang tidak memiliki dokter di daerahnya. Untuk tenaga bidan di Kabupaten Nunukan, dari 182 desa, hanya 57 desa yang terdapat bidan desa, sedangkan 127 desa sisanya tidak ada bidan desa. Masih kurangnya jumlah beberapa tenaga kesehatan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan di daerah tersebut. Masih rendahnya rasio tenaga sanitasi di provinsi ini dapat berdampak pada kurangnya kepedulian tentang kesehatan lingkungan di masyarakat serta kurangnya perhatian terhadap kesehatan lingkungan. Selain itu, rasio tenaga kesehatan masyarakat juga masih belum sesuai target. Tenaga kesehatan masyarakat atau epidemiolog berkaitan dengan manajemen kesehatan masyarakat, bukan taraf individu, sehingga perencanaan, evaluasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan/kebijakan besar diperankan oleh tenaga kesehatan di bidang kesehatan masyarakat. 6. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas yang mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Komplikasi dalam kehamilan meliputi abortus, hyperemesis gravidarum, perdarahan per vaginam, hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia, eklamsia), kehamilan lewat waktu, ketuban pecah. Komplikasi dalam persalinan meliputi kelainan letak/presesntasi janin, partus macet/distosia, hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia, eklamsia), perdarahan pasca persalinan, infeksi berat/sepsis, kontraksi dini/persalinan premature, kehamilan ganda. Sedangkan komplikasi dalam nifas meliputi hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia, eklamsia), infeksi nifas, dan perdarahan nifas. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu dengan komplikasi kebidanan yang mendapat penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dibandingkan dengan jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 88

89 professional kepada ibu (hamil, bersalin, nifas) dengan komplikasi. Pemberian tindakan terakhir untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikasi kebidanan. Tabel B.10 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah komplikasi kebidanan yg mendapat penanganan difinitif Jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja Cakupan 54,2 65,8 60,0 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan ; 2) LPPD Kabupaten Malinau ; Profil Kesehatan Malinau ) LPPD KabupatenNunukan 2010 dan 2012; Profil Kesehatan Kabupaten Nunukan 2011, Lakip Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Utara 2014 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani sejak tahun mengalami fluktuatif. Tahun 2011 besar cakupan penanganan sebesar 54,2%. Terjadi kenaikan yang cukup pada tahun 2012 hingga mencapai 65,8%. Namun pada tahun 2012 terjadi penurunan sekitar 5,8% sehingga cakupan penanganan komplikasi kebidanan tahun 2014 sebesar 60%. Dalam Permenkes No. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan di kabupaten dan kota, Menteri Kesehatan RI menargetkan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah sebesar 80% pada tahun Kondisi di provinsi ini saat ini masih jauh dari target SPM Nasional. Pada tahun 2014, jika diperhatikan hingga tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Bulungan berada pada posisi teratas dengan capaian sebesar 76,3% dan di posisi terbawah adalah Kabupaten Tana Tidung sebesar 26,1%. Dibandingkan dengan target SPM Nasional, hanya Kabupaten Bulungan yang hampir mencapai target. Tabel B.11 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah komplikasi kebidanan yang mendapat penanganan difinitif Jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,3 Kabupaten Malinau ,9 Kabupaten Nunukan ,5 Kabupaten Tana Tidung ,1 Kota Tarakan ,2 Jumlah ,0 Sumber: Profil Kesehatan Kalimantan Utara 2014 Belum tercapainya indikator ini dapat menunjukkan masih banyaknya ibu dengan komplikasi kebidanan yang belum mendapatkan penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih. Banyaknya kasus komplikasi kebidanan berdampak pada kesehatan dan keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya. Hal ini dapat menjadi salah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 89

90 satu sebab angka kematian ibu yang masih tinggi di Provinsi Kalimantan Utara hingga tahun Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Pertolongan persalinan merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi besar terhadap angka kematian ibu di Indonesia. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan klinis kebidanan sesuai standard. Tenaga kesehatan yang dimaksud tersebut dapat seorang dokter spesialis kebidanan, dokter umum, dan bidan. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan persalinan yang profesional. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Kalimantan Utara sangat baik dari tahun Hal tersebut karena cakupan ini memiliki trend yang naik, sehingga pada tahun 2014 cakupan indikator ini berhasil mencapai 96,2% tepatnya. Capaian pada tahun 2014 adalah capaian tertinggi sejak tahun Mengacu pada SPM nasional, target untuk indikator ini adalah 90% di tahun Akan tetapi, pada tahun 2015 cakupan justru menurun cukup besar yaitu sekitar 10% sehingga cakupan di tahun 2015 ini hanya berada pada angka 85,9%. Di tahun ini, terjadi penurunan jumlah pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan peningkatan sasaran ibu bersalin, sehingga Provinsi Kalimantan Utara kembali tidak mencapai target SPM Nasional. Tabel B.12 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah ibu bersalin yg ditolong oleh tenaga kesehatan Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin Cakupan 86,0 89,7 84,9 96,2 85,9 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan 2010, 2012, 2013; 2) LPPD Kabupaten Malinau ; Profil Kesehatan Malinau ) LPPD KabupatenNunukan 2010 dan 2012; Lakip Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ; Web ( untuk data Tana Tidung ) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Kalimantan Timur Dalam Angka ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Pada tahun 2015, Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan berhasil memenuhi target SPM yaitu dengan cakupan sebesar 95,6% dan 93,8% secara berurutan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 90

91 Kabupaten Malinau memiliki cakupan yang paling rendah yaitu 70%. Hal tersebut menunjukkan bahwa di Kabupaten Malinau masih banyak sekali persalinan yang dilakukan tanpa bantuan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Tabel B.13 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah ibu bersalin yg ditolong oleh tenaga kesehatan Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,8 Kabupaten Malinau ,1 Kabupaten Nunukan ,1 Kabupaten Tana Tidung ,6 Kota Tarakan ,1 Jumlah ,9 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa indikator cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan memiliki kontribusi besar terhadap keselamatan ibu dan bayi. Menurunnya cakupan indikator ini meningkatkan resiko kematian ibu atau bayi. Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, menyatakan bahwa salah satu sebab utama kematian pada ibu melahirkan adalah perdarahan dan infeksi yang tidak tertolong karena banyak yang masih memilih untuk melahirkan di rumah, tidak di rumah sakit atau puskesmas ( 8. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Imunization (UCI) Cakupan desa/kelurahan UCI adalah desa/kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap (BCG 1 kali, DPT 3 kali, Hepatitis B 4 kali, polio 4 kali, dan campak 1 kali) dalam waktu satu tahun. SPM Nasional menetapkan target 100% desa/kelurahan UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten. Secara umum cakupan desa/kelurahan UCI di Provinsi Kalimantan Utara sejak tahun 2010 hingga 2014 masih jauh dari target SPM Nasional Cakupan desa/kelurahan UCI tertinggi dicapai pada tahun 2012 yaitu sebesar 68,3%. Data terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan cukup besar pada jumlah desa/keluarahn UCI di tahun 2014, sehingga cakupannya menurun hingga 58,7%. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 91

92 Tabel B.14 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Desa UCI jumlah seluruh desa Cakupan 50,2 53,7 68,3 58,7 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan 2010, 2013; 2) Renstra ( ); Profil Kesehatan Malinau ) LPPD KabupatenNunukan 2010 dan 2012; Profik Kesehatan Nunukan ; 4) Lakip Kabupaten Nunukan 2013; Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ; 6) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, dari 479 desa/kelurahan hanya setengahnya yaitu 281 desa/kelurahan yang berstatus UCI. Kabupaten Nunukan memiliki jumlah desa/kelurahan terbanyak dibandingkan kabupaten/kota lain yaitu 240 desa/kelurahan. Namun, hanya 86 desa yang berstatus UCI sehingga cakupannya sangat kecil yaitu 35,8%. Dibandingkan dengan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Bulungan hanya memiliki jumlah desa UCI sebanyak 75 desa/kelurahan. Karena jumlah desa/kelurahan di Bulungan tidak sebanyak di Nunukan, cakupan desa UCI di Bulungan bisa mencapai 92,6% dan merupakan cakupan tertinggi di antara kabupaten/kota lainnya. Tabel B.15 Cakupan Desa/Kelurahan UCI Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Desa UCI jumlah seluruh desa Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,6 Kabupaten Malinau ,0 Kabupaten Nunukan ,8 Kabupaten Tana Tidung ,5 Kota Tarakan ,0 Jumlah ,7 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Balita adalah anak usia di bawah lima tahun (usia 0 s/d 4 tahun 11 bulan) yang ada di Kabupaten/Kota. Balita gizi buruk merupakan balita dengan status gizi menurut berat badan (BB) dan umur (U) dengan Z-score < -3 SD dan atau dengan tanda-tanda klinis (marasmus, kwasiorkor, dan marasmus-kwasiorkor). Balita gizi buruk yang mendapat perawatan merupakan balita gizi buruk yang dirawat/ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 92

93 Tabel B.16 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah balita gizi buruk mendapat perawatan Jumlah balita gizi buruk yang ditemukan Cakupan (%) Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan ; 2) LPPD Kabupaten Malinau ; Renstra ( ); Profil Kesehatan Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan 2010 dan 2012; Lakip Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ; 5) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Sejak tahun 2010 hingga 2014 cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan telah mencapai 100%. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota, Kemenkes menargetkan SPM untuk cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan adalah sebesar 100% di tahun Tabel B.17 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah balita gizi buruk mendapat perawatan Kabupaten Bulungan 160 Kabupaten Malinau 10 Kabupaten Nunukan 27 Kabupaten Tana Tidung 16 Kota Tarakan 37 Jumlah 250 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Jumlah balita gizi buruk yang ditemukan Cakupan (%) Pada tahun 2015 tidak diperoleh data jumlah balita gizi buruk seluruhnya sehingga cakupan penanganan balita gizi buruk tidak dapat dihitung. Ada 250 kasus balita gizi buruk yang tertangani pada tahun Jika dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah di tahun ini meningkat sebanyak 60 balita. Ini menunjukkan ada peningkatan jumlah kasus gizi buruk di Provinsi Kalimantan Utara tahun Berdasarkan data per kabupaten/kota, Kabupaten Bulungan memiliki jumlah balita gizi buruk yang dirawat paling banyak yaitu 160 balita. Jumlah ini sangat jauh selisihnya dibandingkan kabupaten/kota lain yang tidak lebih dari 50 balita. 10. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita TBC BTA (+) merupakan jumlah penderita baru TBC BTA (+) yang ditemukan dan diobati di suatu wilayah kerja selama satu RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 93

94 tahun dibanding dengan jumlah perkiraan penderita baru TBC BTA (+) dalam kurun waktu yang sama. Penemuan TBC BTA (+) adalah penemuan pasien baru melalui pemeriksaan dahak sewaktu pagi dan sewaktu (SPS) dan diobati di unit pelayanan kesehatan dalam suatu wilayah kerja pada waktu tertentu. Pasien baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan obat OAT kurang dari satu bulan. Diobati adalah pemberian pengobatan pada pasien baru TB BTA (+) dengan OAT selama 6 bulan. Tabel B.18 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA (+) Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah penderita baru TBC BTA + yg ditemukan dan diobati Jumlah perkiraan penderita baru TBC BTA Cakupan 30,0 44,2 15,1 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan 2010, 2013; Profil Kesehatan Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Malinau ; Profil Kesehatan Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan 2010; Lakip Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Cakupan penemuan dan penanganan penderita TBC BTA (+) di Provinsi Kalimantan Utara memiliki trend yang fluktuatif. Tahun 2011 besar cakupan indikator ini adalah 30%. Di tahun setelahnya, terjadi kenaikan cakupan hingga 44,2%. Tahun 2013 tidak ada data di Kabupaten Nunukan sehingga tidak dapat dikalkulasi menjadi data provinsi. Tahun 2014, berdasarkan sumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, terjadi kenaikan yang tajam pada jumlah perkiraan penderita baru TBC BTA (+) di Kota Tarakan sehingga total di Provinsi Kalimantan Utara menjadi sangat tinggi. Dengan tingginya suspek TBC BTA(+) namun sedikitnya penemuan kasus menyebabkan terjadinya penurunan drastis cakupan penemuan dan penagnana penderita TBC BTA (+) di Provinsi Kalimantan Utara tahun Target SPM Nasional untuk indikator ini adalah 100% di tahun Hal ini menunjukkan sejak tahun 2011 Provinsi Kalimantan Utara belum bisa memenuhi target SPM Nasional. Tabel B.19 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA (+) Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah penderita baru TBC BTA Jumlah perkiraan penderita Cakupan (+) yg ditemukan dan diobati baru TBC BTA (+) (%) Kabupaten Bulungan ,7 Kabupaten Malinau 40 Kabupaten Nunukan 53 Kabupaten Tana Tidung ,3 Kota Tarakan ,8 Jumlah 462 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 94

95 Di tahun 2015, jumlah penemuan kasus TBC BTA (+) terbanyak berada di Kota Tarakan yaitu mencapai 206 kasus dengan cakupan sebesar 30,8%. Penemuan terbanyak kedua adalah di Kabupaten Bulungan dengan total kasus 159 dan cakupan penemuan serta penanganan sebesar 16,7%. Penemuan kasus TBC BTA (+) terendah berada di Kabupaten Tana Tidung yaitu hanya ada 4 penemuan kasus dengan capaian 9,3%. Cakupan indikator ini per kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara juga masih sangat jauh dari target SPM Nasional yang ditargetkan sebesar 100%. 11. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai dengan panas mendadak berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas, tanda-tanda perdarahan (sekurang-kurangnya uji Torniquet positif), disertai/tanpa pembesaran hati (hepatomegali), trombositopenia (trombosit /µl), peningkatan hematocrit 20%. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD adalah presentase penderita DBD yang ditangani sesuai standar di suatu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan jumlah penderita DBD yang ditemukan/dilaporkan dalam kurun waktu satu tahun yang sama. Penderita DBD yang ditangani sesuai standar SOP adalah penderita DBD yang didiagnosis dan diobati/dirawat sesuai standar, ditindaklanjuti dengan penanggulangan fokus (PF). Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD di Provinsi Kalimantan Utara sejak tahun 2010 adalah 100%. Angka ini mampu dipertahankan hingga tahun Target SPM Nasional untuk indikator ini adalah 100% di tahun Sehingga Provinsi Kalimantan Utara sudah mencapai target SPM Nasional sejak tahun 2009 hingga saat ini. Meskipun cakupan penemuan dan penangnan penyakit DBD ini sudah 100%, perlu diperhatikan insidensi penyakit ini dari tahun ke tahun. Jumlah kasus DBD di seluruh Provinsi Kalimantan Utara mengalami kenaikan sejak tahun 2009 hingga 2013 yang mencapai 803 kasus. Pada tahun 2014 jumlah kasus DBD menurun sedikit menjadi 786 kasus, dan di tahun berikutnya turun sedikit lagi menjadi 728 kasus. Data ini menunjukkan bahwa DBD masih banyak terjadi di Provinsi Kalimantan Utara. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 95

96 Tabel B.20 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah penderita DBD yang ditangani sesuai SOP di satu wilayah kerja selama 1 Jumlah penderita DBD yang ditemukan di satu wilayah Cakupan (%) Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan ; 2) LPPD Kabupaten Malinau ; Renstra ( ); Profil Kesehatan Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan 2010 dan 2012; Lakip Kabupaten Nunukan 2013; Profil Kesehatan 2008 dan ) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Di tahun 2014 semua kabupaten/kota memiliki cakupan indikator penemuan dan penanganan penderita DBD sebsar 100%. Jumlah penemuan kasus DBD terbayak ada di Kota Tarakan yaitu sebesar 433 kasus diikuti Kabupaten Bulungan dengan 168 kasus DBD. Kabupaten Tana Tidung merupakan kabupaten dengan jumlah kasus DBD paling sedikit yaitu hanya kasus. Tabel B.21 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah penderita DBD yang ditangani sesuai SOP di satu wilayah kerja selama 1 tahun Jumlah penderita DBD yang ditemukan di satu wilayah Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,0 Kabupaten Malinau ,0 Kabupaten Nunukan ,0 Kabupaten Tana Tidung ,0 Kota Tarakan ,0 Jumlah ,0 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Banyak faktor yang menyebabkan jumlah penemuan kasus DBD hanya sedikit sekali, kemungkinan jumlah kasus di kabupaten ini sedikit dan di Kota Tarakan sangat tinggi. Namun, hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor pencatatan di sarana pelayanan kesehatan. Kota Tarakan yang memiliki fasilitas kesehatan serta akses terbaik dibanding kabupaten lain sangat memunkinkan memiliki sitem administrasi yang paling baik di antara kabupaten lain sehingga memiliki dokumentasi yang baik. Kabupaten Tana Tidung yang merupakan kabupaten terbaru bisa jadi belum memiliki sitem pencatatan sebaik di kabupaten/kota lain sehingga kasus DBD yang erdokumentasi hanya sedikit sekali. 12. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin adalah jumlah kunjungan pasien masyarakat miskin di sarana kesehatan strata pertama di satu wilayah kerja tertentu pada kurun waktu tertentu. Sarana kesehatan strata pertama adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 96

97 tempat pelayanan kesehatan yang meliputi puskesmas, balai pengobatan pemerintah dan swasta, praktek bersama dan perorangan. Tabel B.22 Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian jumlah kunjungan pasien miskin di sarana kesehatan strata 1 jumlah seluruh masyarakat miskin Cakupan (%) 46,1 124,9 64,3 0,2 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Malinau ; Renstra ( ); Profil Kesehatan Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ; 5) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin dari tahun memiliki trend yang fluktuatif. Pada tahun 2010 cakupan indikator ini hanya 46,1% yang berarti jumlah kunjungan pasien masyarakat miskin di saranan kesehatan strata pertama tidak lebih dari setengah jumlah seluruh masyrakat miskin yang ada. Cakupan ini naik sangat drastis satu tahun setelahnya yaitu menjadi 124,9% yang berarti telah mencapai target SPM Nasional sebesar 100% di tahun Kabupaten/Kota Tabel B.23 Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara jumlah kunjungan pasien miskin di sarana kesehatan strata 1 jumlah seluruh masyarakat miskin Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,2 Kabupaten Malinau ,0 Kabupaten Nunukan ,3 Kabupaten Tana Tidung ,3 Kota Tarakan ,1 Jumlah ,2 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan kunjungan bayi merupakan cakupan kunjungan bayi umur 29 hari - 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, puskesmas, rumah bersalin, dan rumah sakit) maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas dibanding dengan jumlah kelahiran hidup. Salah satu program untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak adalah Program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Program kesehatan anak meliputi program pelayanan kesehatan bayi. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali pada umur 29 hari - 3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 97

98 kali pada umur 9-11 bulan. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio1-4, Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Penyuluhan perawatan kesehatan bayi meliputi konseling ASI Ekslusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan, perawatan dan tanda bahaya bayi sakit (sesuai MTBS), pemantauan pertumbuhan dan pemberian vitamin A kapsul biru pada usia 6-11 bulan. Sehingga penghitungan indikator ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan. Tabel B.24 Cakupan Kunjungan Bayi Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah kunjungan bayi memperoleh pelayanan sesuai standar Jumlah seluruh bayi lahir hidup Cakupan Kunjungan Bayi (%) 91,9 90,4 100,2 79,6 80,6 Sumber: 1) LPPD Kabupaten, Profil Kesehatan Kabupaten, Profil Kesehatan Kalimantan Timur 2) MDG s Malinau; Profil Kesehatan Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan 2010; Lakip Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung 2010 dan ) Dinas Kesehatan Kota Tarakan ) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara 2016 Cakupan kunjungan bayi pada tahun telah melebihi 90%, bahkan di tahun 2012 cakupannya telah 100% dengan jumlah kunjungan bayi sebanyak kunjungan. Di tahun berikutnya, cakupan kunjungan bayi menurun cukup signifikan menjadi 79,6% di tahun 2014 dan naik kembali namun tidak terlalu berarti di tahun 2015 yaitu menjadi 80,6%. Penurunan di dua tahun terakhir terjadi karena adanya penurunan kunjungan dari yang sebelumnya mencapai lebih dari menjadi turun di angka 9000, dan adanya peningkatan jumlah bayi lahir hidup di 2 tahun terakhir. Dari seluruh jumlah jumlah kunjungan bayi, Kota Tarakan memiliki jumlah kunjungan bayi terbesar dibandingkan Kabupaten lain. Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Nunukan jumlah kunjungan bayinya hampir sama yaitu Perbedaan pada jumlah seluruh bayi lahir hidup di antar kabupaten/kota cukup signifikan sehingga cakupannya pun berbeda-beda. Cakupan kunjungan bayi terbesar adalah di Kota Tarakan yaitu 98,4%, hampir mendekati 100%. Sedangkan cakupan tertinggi kedua adalah di Kabupaten Bulungan dengan cakupan 90,9%. Kabupaten lainnya cakupannya di bawah 80% dan terendah di Kabupaten Malinau. Berdasarkan target SPM, secara nasional cakupan kunjungan bayi harus mencapai 90% di tahun Di tahun 2015, secara total provinsi Kalimantan Utara belum memenuhi target SPM Nasional, namun Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan telah memenuhi target. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 98

99 Tabel B.25 Cakupan Kunjungan Bayi Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah kunjungan bayi memperoleh Jumlah seluruh bayi pelayanan sesuai standar lahir hidup Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,9 Kabupaten Malinau ,8 Kabupaten Nunukan ,3 Kabupaten Tana Tidung ,3 Kota Tarakan ,4 Jumlah ,6 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara Cakupan Puskesmas Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan, harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, tuntutan, kemampuan, inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat. Puskesmas mempunyai fungsi antara lain: a. Pusat pembangunan berwawasan kesehatan, b. Pusat pemberdayaan masyarakat, c. Pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, dan d. Pusat pelayanan kesehatan perorangan primer. Tabel B.26 Cakupan PuskesmasTahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Kecamatan Cakupan Puskesmas 126,3 126,3 126,3 128,9 108,0 110,0 Sumber: 1) Kabupaten Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Kalimantan Utara Dalam Angka Indikator cakupan puskesmas ini digunakan untuk melihat jumlah puskesmas dibandingkan dengan jumlah kecamatan yang ada di daerah tersebut. Jumlah puskesmas di Kalimantan Utara sejak tahun 2010 hingga tahun 2015 meningkat secara perlahan dari 48 unit menjadi 55 unit. Jumlah kecamatan di provinsi ini mengalami peningkatan secara bertahap hingga tahun 2013 yaitu dari 37 menjadi 38 kecamatan, sebelum kenaikan cukup drastis di tahun 2014 menjadi 50 kecamatan. Dari indikator ini diketahui bahwa setiap kabupaten/kota telah memiliki puskesmas sebanyak jumlah kecamatannya, bahkan secara jumlah, puskesmas melebihi jumlah kecamatan yang berarti ada beberapa kecamatan yang memiliki lebih dari 2 puskesmas. Kabupaten Nunukan dan Malinau memiliki jumlah puskesmas terbanyak yaitu 16 unit. Di Kota Tarakan jumlah puskesmas hampir 2 kali lipat dari jumlah kecamatan yang ada. Hal RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 99

100 ini disebabkan oleh jumlah penduduk di Kota Tarakan yang sangat besar sehingga butuh lebih banyak puskesmas di setiap kecamatannya. Tabel B.27 Cakupan Puskesmas Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Puskesmas Jumlah Seluruh Kecamatan Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,0 Kabupaten Malinau ,7 Kabupaten Nunukan ,0 Kabupaten Tana Tidung ,0 Kota Tarakan ,0 Jumlah ,0 Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Cakupan Puskesmas Pembantu Puskesmas pembantu (pustu) merupakan suatu sarana yang melaksanakan upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang mencakup bagian wilayah kerja puskesmas disesuaikan dengan keadaan setempat dan merupakan bagian integral dari puskesmas. Puskesmas pembantu berfungsi meluaskan jangkauan pelayanan puskesmas dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat karena pustu menjangkau wilayah yang lebih kecil. Sejak tahun 2010 hingga 2015, jumlah desa mengalami kenaikan dari segi jumlah, 460 desa menjadi 479 desa. Bertambahnya jumlah desa juga diiringi dengan bertambahnya jumlah puskesmas pembantu setiap tahunnya. Pertumbuhan pustu ini cukup tinggi dalam 9 tahun terakhir yaitu dari 120 pustu menjadi 208 unit saat ini. Cakupan pustu di provinsi ini adalah sebesar 43,4% yang berarti ada 43 pustu di setiap 100 desa. Tabel B.28 Cakupan Pembantu Puskesmas Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Puskesmas Pembantu Jumlah Desa Cakupan Puskesmas Pembantu 30,7 33,4 35,7 29,4 33,6 43,4 Sumber: 1) LPPD Bulungan 2010,2013; Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka , Rensrta Malinau ( ) 3) Kabupaten Nunukan Dalam Angka , 4) Kabupaten Tana Tidung Dalam angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Profil Kesehatan Kalimantan Timur ) Kalimantan utara Dalam Angka Ditelusuri ke bawah ke tingkat kabupaten, terlihat bahwa jumlah desa di Kabupaten Nunukan adalah yang terbanyak yaitu 240 desa, dua kali lebih daripada kabupaten Malinau yang terdiri dari 109 desa. Cakupan pustu di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan baru sebesar 56,9% dan 39,2%. Sedangkan di Kota Tarakan cakupan pustu hanya sebesar 10% karena hanya terdapat 2 unit di satu Kota. Jumlah ini wajar RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 100

101 karena Kota Tarakan adalah kota yang memiliki jumlah dan jenis fasilitas kesehatan yang beragam dan dapat diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat, sehingga keberadaan pustu di Kota Tarakan tidak terlalu dibutuhkan. Sedangkan di kabupaten terutama perbatasan, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau, yang memiliki luas wilayah sangat besar serta masyarakat yang tersebar hingga ke lokasi-lokasi terpencil, keberadaan pustu sangat diperlukan untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari fasilitas kesehatan dasar seperti puskesmas. Tabel B.29 Cakupan Pembantu Puskesmas Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Pustu Jumlah Seluruh Desa Cakupan (%) Kabupaten Bulungan ,4 Kabupaten Malinau ,9 Kabupaten Nunukan ,2 Kabupaten Tana Tidung ,3 Kota Tarakan ,0 Jumlah ,4 Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Di daerah perbatasan yaitu Kabupaten Malinau dan Nunukan, fasilitas kesehatan masih sangat minim, sehingga keberadaan puskesmas penbantu dan poskesdes sangat membantu cakupan pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Berdasarkan data dari Podes 2014 yang diambil dari Buku Grand Design Perbatasan Kalimantan Utara 2016, Di Kabupaten Malinau terlihat masih ada 15 desa yang sama sekali belum memiliki sarana kesehatan puskesmas pembantu. Indikator rasio puskesmas per satuan penduduk tidak cocok bila disesuaikan dengan kondisi di Provinsi Kalimantan Utara, sehingga cakupan puskesmas dan pustu lebih dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan. Akan tetapi, cakupan puskesmas dan pustu yang 100% pun belum tentu menunjukkan pemerataan sarana prasarana kesehatan di provinsi ini karena luas wilayah yang sangat luas dan penyebaran penduduk yang belum merata, sehingga pemetaan persebaran sarana prasarana kesehatan perlu dilakukan untuk mengkaji permasalahan yang ada. Gambar berikut menunjukkan peta persebaran tenaga kesehatan di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan peta, jelas terlihat persebaran rumah sakit sangat tidak merata. Letak rumah sakit hanya berada di bagian timur dan di sekitar jalan arteri atau kolektor saja, sisi barat masih sangat kurang. Hal tersebut terlihat jelas di Kabupaten Malinau, rumah sakit terletak di Kecamatan Malinau Utara sehingga seluruh kecamatan di belahan selatan tidak tersentuh pelayanan rumah sakit karena rumah sakit di Kabupaten Bulungan juga terletak di Tanjung Selor yang berada di bagian paling timur yang tidak berbatasan dengan Kabupaten Malinau. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 101

102 Kekurangan tersebut telah terbantu dengan adanya puskesmas dan pustu di setiap kecamatan dan desa. Memang rasio puskesmas per penduduk telah jauh di atas rasio Indonesia karena memang jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara yang tidak terlalu banyak, cakupan puskesmas pun telah melebihi 100% akan tetapi 1 puskesmas harus melayani 1 kecamatan dengan luas wilayah yang cukup besar juga tidak efektif. Sehingga selain mengoptimalkan fungsi puskesmas dan pustu serta puskesmas keliling, perlu pembangunan Rumah Sakit Pratama untuk menjangkau daerah bagian timur Provinsi Kalimantan Utara. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 102

103 Gambar B.2 Peta Persebaran Sarana Kesehatan Tahun 2012 di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Hasil Analisis 2014 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 103

104 C. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 1. Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi seperti yang tertuang dalam Lampiran 1 Permendagri 54/2010 terdiri atas terminologi baik, sedang, rusak dan rusak berat, dimana terminologi tersebut didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan jalan. Pada jalan kondisi baik (tingkat kerusakan 6%) merupakan kondisi jalan yang mendukung arus lalu lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan kecepatan desain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan, jalan kondisi sedang (tingkat kerusakan 6-10%) merupakan kondisi dimana belum (atau sedikit saja) menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu lintas. Selanjutnya, pada kondisi jalan rusak sudah sangat menghambat kelancaran pergerakan lalu lintas yang mengakibatkan kendaraan harus berjalan secara perlahan-lahan, mengurangi kecepatannya, dan kadangkala harus menghentikan kendaraannya akibat adanya kerusakan dan atau hambatan pada permukaan perkerasan. Pada jalan dengan kondisi rusak berat, kondisi kerusakan jalan yang ada sudah sangat parah dan nyaris tidak dapat lagi dilewati oleh kendaraan roda empat dan atau hanya dapat dilewati dengan kecepatan yang sangat rendah. Tabel C.1 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun Provinsi Kalimantan Utara No Kondisi Jalan Panjang Jalan (km) Kondisi Baik 1.282, , , , , Kondisi Sedang 1.019, , , , , Kondisi Rusak 407, , , , , Kondisi Rusak Berat 202, , ,247 63, , Jalan secara keseluruhan 2.912, , , , ,214 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun Hingga tahun 2014, jalan yang sudah terbangun di Provinsi Kalimantan Utara adalah sepanjang 4.055,214 km dengan panjang jalan kondisi baik mencapai 1.767,475 km atau sebesar 43,59%, panjang jalan kondisi sedang sepanjang 1.945,218 km atau sebesar 47,97%, panjang jalan kondisi rusak sepanjang 201,634 km atau sebesar 4,97%, panjang jalan kondisi rusak berat sepanjang 140,887 km atau sebesar 3,47%. Jaringan jalan dengan kondisi baik di Provinsi Kalimantan Utara memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,34% per tahun, hal tersebut juga terjadi pada jaringan jalan kondisi sedang dimana dalam kurun waktu yang sama (tahun ) memiliki kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 17,53% per tahun. Jaringan jalan dengan kondisi rusak dan rusak berat memiliki nilai dengan kecenderungan menurun dalam kurun waktu tahun dengan rata-rata pertumbuhan -16,14% per RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 104

105 tahun untuk jaringan jalan kondisi rusak dan -8,69% per tahun untuk jaringan jalan kondisi rusak berat. Melihat rata-rata pertumbuhan yang meningkat untuk jaringan jalan kondisi baik dan sedang, juga menurunnya nilai rata-rata pertumbuhan untuk jaringan jalan kondisi rusak dan rusak berat menunjukkan adanya upaya-upaya perbaikan dan pemeliharaan jalan yang dilakukan oleh pemerintah lingkup Provinsi Kalimantan Utara. Tabel C.2 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Panjang jalan kondisi baik 1.282, , , , ,475 (km) Panjang jalan seluruhnya 2.913, , , , ,214 (km) Proporsi panjang jaringan 0,440 0,471 0,416 0,402 0,436 jalan dalam kondisi baik Persentase panjang jaringan jalan dalam kondisi baik 44,04 47,06 41,56 40,23 43,59 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik merupakan hasil perbandingan antara panjang jalan kondisi baik dengan panjang jalan seluruhnya. Indikator proporsi jaringan jalan dalam kondisi baik ini mengindikasikan kualitas jalan dari keseluruhan panjang jalan, dimana jaringan jalan yang baik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat pada khususnya dan wilayah pada umumnya yang sangat krusial, dimana hal tersebut berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Infrastruktur jalan yang baik adalah modal sosial masyarakat dalam menjalani roda perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai tanpa ketersediaan infrastruktur jalan yang baik dan memadai. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik di Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun , yakni 0,440 pada tahun 2010 meningkat menjadi 0,436 pada tahun 2014, atau dengan rata-rata pertumbuhan sebesar -0,26% per tahun. Penurunan rata-rata pertumbuhan pada indikator proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik ini dipengaruhi dengan jumlah panjang jalan kondisi baik yang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 105

106 Tabel C.3 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara NO Kabupaten/kota Kondisi Jalan (km) Jalan secara Baik Sedang Rusak Rusak Berat keseluruhan 1 Bulungan 550, ,337 43,309 4, ,683 2 Malinau 245, ,96 89,35 75, ,490 3 Nunukan 570,40 266,12 37,73 60,67 934,920 4 Tana Tidung 214,09 10,05 23, ,090 5 Tarakan 186,985 33,751 7, ,031 Jumlah 1.767, , , , ,214 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Kondisi panjang jaringan jalan di kabupaten/kota lingkup Provinsi Kalimantan Utara umumnya didominasi oleh kondisi jalan baik, kecuali Kabupaten Malinau yang jaringan jalannya didominasi oleh kondisi jalan sedang (74,98%). Secara keseluruhan, jaringan jalan didominasi oleh kondisi jalan sedang (47,97%) dan kondisi jalan sedang (43,59%), sedangkan hanya sebagian kecil saja kondisi jalan yang rusak dan rusak berat, yakni 4,97% untuk kondisi jalan rusak dan 3,47% untuk kondisi jalan rusak. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2014 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang disebutkan bahwa penyediaan jalan untuk melayani kebutuhan masyarakat salah satunya diukur dengan indikator persentase tingkat kondisi jalan. Indikator persentase tingkat kondisi jalan sebagaimana yang disebutkan dalam peraturan tersebut adalah panjang jaringan panjang jalan kondisi baik dan sedang. Indikator tersebut dihasilkan dari perbandingan antara panjang jalan memenuhi kondisi jalan baik dan sedang dengan total keseluruhan panjang jalan. Tabel C.4 Persentase Tingkat Kondisi Jalan Baik dan Sedang Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Panjang jalan kondisi baik 2.302, , , , ,693 dan sedang Panjang jalan seluruhnya 2.913, , , , ,214 Persentase tingkat kondisi jalan baik dan sedang 79,04 80,05 87,03 90,39 91,55 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Persentase tingkat kondisi jalan baik dan sedang memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,74% per tahun. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah panjang jalan kondisi baik dan sedang yang juga mengalami peningkatan dalam kurun waktu yang sama yakni 2.302,57 km pada tahun 2010 meningkat menjadi 3.712,693 km pada tahun 2014 atau dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 12,69% per tahun. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 106

107 Dikutip dari peraturan yang sama (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2014), target capaian SPM penyediaan jalan untuk melayani kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas layanan jalan adalah tingkat kondisi jalan baik dan sedang sebesar 60% pada tahun Melihat capaian tingkat kondisi jalan baik dan sedang dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2014 sudah melampaui target yang ditetapkan bahkan pada tahun 2014 sudah mencapai 91,55%. 2. Rasio Jaringan Irigasi Jaringan irigasi sebagaimana yang dijelaskan dalam Lampiran 1 Permendagri 54/2010 merupakan saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang diperlukan untuk pengaturan air, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya. Jaringan irigasi merupakan salah satu infrastruktur yang diperlukan untuk peningkatan produksi pertanian. Secara operasional jaringan irigasi dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier. Indikator rasio jaringan irigasi merupakan hasil perbandingan antara panjang saluran irigasi dengan luas lahan budidaya pertanian. Data irigasi yang telah didapatkan adalah data panjang irigasi Kabupaten Tana Tidung tahun 2014, yakni sepanjang 710 meter. 3. Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk Indikator tempat ibadah per satuan penduduk sebagaimana yang disebutkan dalam Lampiran 1 Permendagri 54/2010 didapatkan dari perbandingan jumlah tempat ibadah dengan jumlah penduduk per 1000 penduduk. Berkaitan dengan tempat ibadah, indikator rasio tempat ibadah per satuan penduduk ini akan lebih tepat apabila pembanding yang digunakan dalam penghitungan indikator tersebut menggunakan jumlah pemeluk agama. Dengan demikian, indikator ini berganti menjadi rasio tempat ibadah per satuan pemeluk agama. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 107

108 Tabel C.5 Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Kota Masjid/Musholla Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Gereja Katolik Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Gereja Protestan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Pura Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Vihara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Jumlah tempat ibadah di Provinsi Kalimantan Utara secara umum memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun Jumlah masjid hingga tahun 2014 tercatat sebannyak 730 unit dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,98% per tahun. Jumlah gereja Katolik juga memiliki peningkatan dengan ratarata pertumbuhan sebesar 14,30% per tahun, sedangkan untuk jumlah gereja Protestan mengalami penurunan sebesar 5,82% per tahun. Jumlah pura memiliki kecenderungan tetap dari tahun 2010 hingga tahun 2014, yakni sebanyak 2 unit, sedangkan jumlah vihara memiliki kecenderungan menurun dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 108

109 Tabel C.6 Jumlah Pemeluk Agama Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Islam Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Katolik Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Protestan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Hindu Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Budha Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Jumlah pemeluk agama didominasi oleh pemeluk agama Islam, yakni sebanyak jiwa, pemeluk agama Protestan sebanyak jiwa, dan pemeluk agama Katolik sebanyak jiwa. Secara umum, jumlah pemeluk agama pada masing-masing agama memiliki kecenderungan meningkat, kecuali pada pemeluk agama Protestan, Hindu, dan Budha yang memiliki kecenderungan menurun dalam kurung waktu tahun 2010 hingga tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 109

110 Tabel C.7 Rasio Tempat Ibadah per Satuan Pemeluk Agama Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Islam Bulungan 1,48 2,19 2,21 2,13 2,14 Malinau 1,50 1,49 1,62 1,52 1,49 Nunukan 2,60 1,92 2,06 1,67 Tana Tidung Tarakan 1,33 1,31 1,20 1,00 1,13 Kalimantan Utara 1,68 1,19 1,77 1,70 1,66 Katolik Bulungan - 2,93 3,19 3,80 3,62 Malinau 5,47 4,73 5,12 4,99 5,58 Nunukan 2,85 2,77 2,83 3,27 Tana Tidung Tarakan 1,58 3,20 0,93 0,93 1,05 Kalimantan Utara 2,30 2,29 3,45 3,62 3,85 Protestan Bulungan - 2,87 2,62 3,56 3,44 Malinau 3,39 3,25 3,82 3,67 3,73 Nunukan 2,72 2,95 2,91 2,35 Tana Tidung Tarakan 2,05 4,11 2,51 2,26 1,79 Kalimantan Utara 2,23 2,19 3,16 3,27 3,00 Hindu Bulungan 10,53 9,80 11,36 10,42 10,42 Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan 2,79 11,11 0,91 0,91 9,71 Kalimantan Utara 3,65 7,49 1,19 1,18 5,60 Budha Bulungan - 1,36 1,35 1,32 1,30 Malinau 4,10 3,65 3,28 3,41 4,15 Nunukan - 1,46 1,46 Tana Tidung Tarakan 1,40 3,25 0,63 0,42 1,24 Kalimantan Utara 1,31 2,72 0,79 0,62 1,55 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Rasio tempat ibadah per satuan pemeluk agama memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014, kecuali pada rasio gereja Protestan per satuan pemeluk agama Protestan yang memiliki kecenderungan menurun. Pada tahun 2011, rasio tempat ibadah per satuan pemeluk Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat digunakan untuk melihat gambaran kondisi rasionya, hal ini dikarenakan pada tahun berkenaan (tahun 2011) tidak dapat ditemukan data tempat ibadah di Kabupaten Nunukan, sehingga apabila tetap dilakukan perhitungan maka hasilnya akan bias. 4. Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Rumah tinggal bersanitasi merupakan salah satu faktor yang menjadi sebuah indikator dalam penilaian kriteria rumah layak huni. Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi, diantaranya adalah fasilitas air bersih, pembuangan tinja, pembuangan air limbah (air bekas), dan pembuangan sampah. Indikator persentase rumah tinggal bersanitasi didapatkan dari perbandingan antara jumlah rumah tinggal berakses sanitasi dengan jumlah rumah tinggal RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 110

111 dikalikan dengan bilangan 100. Data yang tersedia tidak dapat menjelaskan mengenai kondisi rumah tinggal bersanitasi di Provinsi Kalimantan Utara, hal ini dikarenakan tidak setiap kabupaten/kota didapatkan datanya. Tabel C.8 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Jumlah Bulungan rumah Malinau tinggal berakses Nunukan Tana Tidung sanitasi Tarakan Kalimantan Utara Jumlah rumah tinggal Persentase rumah tinggal bersanitasi Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 74,999 74,063 Malinau 3,580 84,665 87,916 Nunukan Tana Tidung Tarakan 3,164 46,634 44,434 Kalimantan Utara 1,825 41,226 53,115 Sumber : Data RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun Rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per Satuan Penduduk Indikator rasio Tempat Pemakaman Umum (TPU) per satuan penduduk merupakan hasil perbandingan antara jumlah daya tampung TPU dengan jumlah penduduk per 1000 penduduk. Permendagri 54/2010 menjabarkan pemakaman menjadi tiga, yakni Tempat Pemakaman Umum (TPU), Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU), dan Tempat Pemakaman Khusus (TPK). Indikator rasio tempat pemakaman umum (TPU) per satuan penduduk di Kalimantan Utara tidak dapat dihitung, hal ini dikarenakan tidak ditemukannya data mengenai jumlah daya tampung tempat pemakaman itu sendiri. 6. Rasio Tempat Pembuangan Sampah per Satuan Pneduduk Indikator rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per satuan penduduk merupakan hasil perbandingan antara jumlah daya tampung TPS dengan jumlah penduduk per 1000 jumlah penduduk. Data yang tersedia lengkap untuk menghitung indikator rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk di Provinsi Kalimantan Utara adalah data untuk tahun 2011 dan Jumlah daya tampung TPS dalam kurun waktu tahun 2011 hingga tahun 2012 mengalami penurunan, hal tersebut berbanding lurus dengan rasio TPS per satuan penduduk yang juga mengalami penurunan, dari 6,619 m3/jiwa menurun menjadi 5,621 m3/jiwa, dengan penurunan sebesar 15,07%. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 111

112 Tabel C.9 Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Per Satuan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Bulungan - 660,00 150,00 Malinau Nunukan 223,00 223,00 319,20 Tana Tidung Tarakan 570,00 570,00 570,00 Kalimantan Utara 793, , ,20 Jumlah daya tampung TPS (m 3 ) Jumlah penduduk Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Bulungan 5,640 1,244 Malinau 30,185 29,920 Nunukan 1,571 1,498 2,050 Tana Tidung 10,394 9,954 Tarakan 2,926 2,813 2,705 Kalimantan Utara 1,513 6,619 5,621 Sumber : Data RPJPD Kalimantan Utara Tahun Rasio Rumah Layak Huni Indikator rasio rumah layak huni merupakan hasil perbandaingan antara jumlah rumah layak huni dengan jumlah penduduk. Data yang tersedia dalam tabel berikut tidak dapat menggambarkan kondisi rasio rumah layak huni di Provinsi Kalimantan Utara, hal tersebut dikarenakan tidak ditemukannya data kabupaten/kota dan data provinsi secara lengkap. Data terakhir yang didapatkan adalah jumlah rumah layak huni di Kabupaten Tana Tidung tahun 2012 hingga tahun Jumlah rumah layak huni Tabel C.10 Rasio Rumah Layak Huni Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Jumlah penduduk Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Rasio rumah layak huni Bulungan 5,640 1,244 Malinau 30,185 29,920 Nunukan 1,571 1,498 2,050 Tana Tidung 10,394 9,954 Tarakan 2,926 2,813 2,705 Kalimantan Utara 1,513 6,575 5,621 Sumber : Data RPJPD Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 112

113 8. Rasio Permukiman Layak Huni Pada Lampiran 1 Permendagri 54/2010 disebutkan bahwa permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup (di luar kawasan lindung) yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Indikator rasio permukiman layak huni merupakan hasil perbandingan antara luas permukiman layak huni dengan luas keseluruhan wilayah permukiman. Indikator ini digunakan untuk mengetahui proporsi luas permukiman layak huni terhadap keseluruhan luas permukiman. Data yang tersedia adalah data luas permukiman secara umum yakni seluas ,59 hektar yang terbagi atas permukiman perkotaan seluas ,81 hektar dan permukiman perdesaan seluas 7.911,78 hektar. 9. Panjang Jalan Dilalui Roda 4 Indikator panjang jalan dilalui roda empat merupakan hasil perbandingan dari jumlah panjang jalan baik jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota, dan jalan desa (lokal) dengan jumlah penduduk. Indikator ini digunakan untuk menunjukkan rasio panjang jalan di suatu wilayah yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat untuk melayani per 1000 penduduk. Tabel C.11 Panjang Jalan Dilalui Roda 4 Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah panjang jalan 2.913, , , , ,21 Jumlah penduduk Panjang jalan dilalui roda 4 0,0056 0,0057 0,0060 0,0065 0,0066 Indikator panjang jalan dilalui roda empat di Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014 memiliki kecenderungan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,23% per tahun, yakni 0,0056 pada tahun 2010 meningkat menjadi 0,0066 pada tahun Berdasarkan pedoman penentuan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang, perumahan dan permukiman dan pekerjaan umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), SPM panjang jalan dilalui roda 4 adalah 0,6 km per 1000 penduduk sehingga dengan melihat kondisi yang terjadi di Provinsi Kalimantan Utara masih perlu banyak pembangunan jalan khususnya yang dapat dilalui oleh kendaraan roda 4. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 113

114 Tabel C.12 Panjang Jalan Dilalui Roda 4 Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Jumlah Bulungan 840,52 857,21 932,80 960, ,68 panjang jalan Malinau 1.053, , , , ,49 (Km) Nunukan 694,97 777,24 828,73 856,94 934,92 Tana Tidung 103,70 246,94 354,47 354,47 248,09 Tarakan 220,06 220,06 225,00 227,10 228,03 Kalimantan Utara 2.913, , , , ,21 Jumlah penduduk Panjang jalan dilalui Roda 4 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 0,007 0,007 0,008 0,008 0,008 Malinau 0,018 0,016 0,017 0,021 0,022 Nunukan 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 Tana Tidung 0,007 0,015 0,021 0,019 0,012 Tarakan 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 Kalimantan Utara 0,0056 0,0057 0,0060 0,0065 0,0066 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan No 10. Panjang Jalan Kabupaten (Provinsi) Dalam Kondisi Baik (>40 Km/Jam) Berdasarkan Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan Gubernur Kalimantan Utara Nomor /K.128/2015 dan Nomor /K.129/2015, terdapat 60 ruas jalan yang telah ditetapkan sebagai jalan provinsi. Keputusan Gubernur Kalimantan Utara Nomor /K.128/2015 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Menurut Statusnya Sebagai Jalan Provinsi Kalimantan Utara menetapkan 28 ruas jalan sebagai jalan provinsi, dan menurut Keputusan Gubernur Kalimantan Utara Nomor /K.128/2015 tentang Penetapan Ruas Jalan Sebagai Jalan Strategis Provinsi Kalimantan Utara menetapkan 32 ruas jalan sebagai jalan strategis provinsi. Nama Ruas Jalan Tabel C.13 Kondisi Jalan per Ruas Jalan Menurut Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kecamatan yang dilalui 1 Sabanar Raya Tanjung Selor 2 Sabanar Lama Tanjung - Sabanar Selor Baru 3 Sabanar Baru Tanjung - Selimau I Selor 4 Selimau I - Tanjung Selimau III Selor 5 Manunggal Tanjung 6 Ulin Bandara Tanjung Harapan Selor Tanjung Selor Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Akses ke Sedang Rusak Rusak Jalan Keterangan Ringan Berat N/P/K 6,526 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,8 3,2 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 3,585 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 2,285 P Menunjang Daerah Potensial 2,72 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,18 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 114

115 No Nama Ruas Jalan Tanjung Selor 7 Jeruk Tanjung Selor 8 Durian Tanjung Selor 9 Semangka Tanjung Selor 10 Pahlawan Tanjung Selor 11 Cendana Tanjung Selor 12 Padaelo Tanjung Selor 13 Trans Kalimantan - Kasimuddin - Lebong 14 Budiman Arifin - Salimbatu 15 Salimbatu - Klubir (Sp III) 16 Trans Kalimantan - Klubir (Sp III) Kecamatan yang dilalui Tanjung Selor Tanjung Selor Tanjung Selor Tanjung Selor Tanjung Selor Tanjung Selor Tanjung Palas Tanjung Palas Tanjung Palas Tengah Tanjung Palas Utara Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Rusak Berat Akses ke Jalan N/P/K Keterangan 1,133 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 1,24 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 1,12 0,28 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,303 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,64 0,96 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,9 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 5,2 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 16,565 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 15,854 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 6,5 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 17 Selimau III - Pelabuhan Pesawan 18 Outer Ring Road Tanjung Selor 19 Trans Kalimantan (Sp. 3 Tanah Kuning) - Tanah Kuning 20 Tanah Kuning - Mangkupadi 21 Mangkupadi - Pindada 22 Pindada - Kampung Baru 23 Kampung Baru - Karang Tigau - Batas Bulungan Berau 24 Trans Kalimantan - Pelabuhan Ferry Ancam 25 Gunung Seriang - Long Beluah 26 Long Beluah - Long Peso 27 Koridor Bulungan - Tarakan Ruas Sekatak Buji - Tanjung Selor Tanjung Selor Tanjung Palas Timur Tanjung Palas Timur Tanjung Palas Timur Tanjung Palas Timur Tanjung Palas Timur Tanjung Palas Utara Tanjung Palas Barat 3,2 P Menunjang Daerah Potensial 75 N Proses perencanaan 43,482 28,988 P Menunjang Daerah Potensial 10,124 P Menunjang Daerah Potensial 5,554 P Menunjang Daerah Potensial 6,2 P Menunjang Daerah Potensial 24,9 P Menunjang Daerah Potensial 4,8 N Menunjang Daerah Potensial 49,55 P Menunjang Daerah Potensial Peso 90 P Menunjang Daerah Potensial Tanjung 30 N Proses perencanaan Palas Utara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 115

116 No Nama Ruas Jalan Liagu 28 Koridor Bulungan - Tarakan Ruas Ancam 29 Jenderal Sudirman Kecamatan yang dilalui Tanjung Palas Utara Tarakan Barat 30 Gajah Mada Tarakan Barat 31 Kusuma Tarakan Bangsa Barat 32 Sungai Tarakan Sesayap Timur 33 Sungai Kapuas Tarakan Timur 34 Sungai Tarakan Brantas Timur 35 Sungai Kayan Tarakan Timur 36 Amal Baru Tarakan Timur 37 Amal Lama Tarakan Timur 38 Gunung Tarakan Selatan Tengah 39 Aki Balak Tarakan Barat 40 Aji Iskandar Tarakan Barat 41 Bhayangkara Tarakan Barat 42 Ring Road Tarakan Kota Tarakan Utara (Juata Laut - Pantai Amal) 43 Aki Pingka - Suwaran - Koridor Bulungan - Tarakan Sisi Tarakan 44 Ahmad Yani KTT 45 Trans Kalimantan - Tideng Pale 46 Trans Kalimantan - Pelabuhan Sesayap KTT 47 Long Bawan - Long Midang - Batas Negara 48 Long Bawan - Lembudud - Ruan Bekang 49 Lembudud - Long Layu 50 Long Layu - Sumur Garam 51 Long Layu - Pa'upan Tarakan Barat Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Rusak Berat Akses ke Jalan N/P/K Keterangan 50 N Proses perencanaan 1,68 0,42 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,84 0,21 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 2,8 0,7 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 1,84 0,46 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 1,08 0,27 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 1,08 0,27 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 5 1,25 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 0,6 0,15 P Menunjang Daerah Potensial 2,16 0,54 P Menunjang Daerah Potensial 3,6 0,9 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 5 1,25 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 5,76 1,44 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 3,6 0,9 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi 28,6 P Menunjang Daerah Potensial 2,8 0,7 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi Sesayap 1,75 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi Sesayap 7,6 1,9 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi Sesayap 10,325 4,425 N Menunjang Daerah Potensial Krayan 11 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 24,7 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan Selatan Krayan Selatan Krayan Selatan 28,15 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 15,3 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 9,3 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 116

117 No Nama Ruas Jalan 52 Pa'upan - Long Rungan 53 Long Rungan - Long Padi 54 Long Padi - Binuang 55 Long Bawan - Kampung Baru - Pa'betung - Pa'pani 56 Kampung Baru - Long Umung - Pa'raye 57 Long Umung - Wa'yagung 58 Lingkar Pulau Nunukan 59 Coastal Road Nunukan 60 Ring Road Malinau Kecamatan yang dilalui Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Rusak Berat Akses ke Jalan N/P/K Keterangan 20,7 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 16 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 7,4 P Membuka Daerah Krayan Selatan Krayan Selatan Krayan Selatan Perbatasan dan Terisolir Krayan 37,5 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 16,5 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 14,25 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Nunukan 70 P Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi Nunukan 15 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi Malinau 20 N Mendukung Jalan Status Yang Lebih Tinggi TOTAL 45, , , ,854 Sumber : Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Kalimantan Utara dalam Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 Ke-60 ruas jalan provinsi yang telah ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Kalimantan Utara tersebut, 28 ruas jalan terdapat di Kabupaten Bulungan, 1 ruas jalan di Kabupaten Malinau, 13 ruas jalan di Kabupaten Nunukan, 3 ruas jalan di Kabupaten Tana Tidung, dan 15 ruas jalan di Kota Tarakan, dengan total panjang jalan provinsi sepanjang 899,489 km. Tabel C.14 Kondisi Jalan per Ruas Jalan Provinsi Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara NO Kabupaten/kota Kondisi Jalan (km) Jalan secara Rusak Baik Sedang Rusak Berat keseluruhan Ringan 1 Bulungan 7,336 74, , , ,789 2 Malinau Nunukan ,8 285,8 4 Tana Tidung 0 19,675 6, Tarakan 37,840 9, ,6 75,9 Kalimantan Utara 45, , , , ,489 Persentase 5,02 11,47 24,82 58,68 Sumber : Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Kalimantan Utara dalam Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 Indikator panjang jalan kabupaten (provinsi) dalam kondisi baik (>40 km/jam) merupakan hasil perbandingan antara panjang jalan kabupaten (provinsi) dalam kondisi baik dengan panjang seluruh jalan kabupaten (provinsi) di daerah tersebut dikalikan dengan bilangan 100. Berdasarkan tabel kondisi jalan per ruas jalan provinsi tersebut, RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 117

118 kondisi jalan provinsi di Provinsi Kalimantan Utara masih didominasi oleh kondisi jalan rusak, yakni sepanjang 527,854 km atau sebesar 58,68% dan kondisi jalan rusak sepanjang 223,262 km atau sebesar 24,82%. Selanjutnya 103,197 km atau 11,47% kondisi ruas jalan provinsi memiliki kondisi jalan sedang dan hanya 45,176 km atau sebesar 5,02% saja jalan provinsi yang memiliki kondisi baik. Hal tersebut membutuhkan perhatian besar dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara untuk terus berupaya memperbaiki kondisi jalan khususnya untuk ruas jalan provinsi guna menunjang berbagai kegiatan, khususnya untuk kegiatan perekonomian, juga untuk meningkatkan interkonektivitas antar wilayah. Tabel C.15 Persentase Panjang Jaringan Jalan Provinsi Kondisi Baik dan Sedang Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/kota Jalan Kondisi Baik Total Panjang Jaringan Persentase Panjang Jalan Provinsi dan Sedang (km) Jalan Provinsi (km) Kondisi Baik dan Sedang (%) Bulungan 81, ,789 9,05 Malinau 47,3 75,9 5,26 Nunukan 19, ,19 Tana Tidung 0 285,8 0,00 Tarakan ,00 Jumlah 148, ,489 16,50 Hingga tahun 2015, panjang jalan provinsi yang memiliki kondisi baik dan sedang di Provinsi Kalimantan Utara sepanjang 148,373 km atau sebesar 16,50%. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2014, tingkat kondisi jalan baik dan sedang di Provinsi Kalimantan Utara belum mencapai target yang ditetapkan (60%). 11. Sempadan Sungai yang Dipakai Bangunan Liar Indikator persentase sempadan sungai yang bangunan liar didapatkan dari perbandingan antara panjang sempadan sungai yang dipakai bangunan liar dengan panjang seluruh jalan sempadan sungai. Data yang didapatkan untuk indikator ini adalah data panjang sempadan sungai yang dipakai bangunan liar di Kabupaten Tana Tidung tahun 2015, yakni sepanjang 5 km. 12. Drainase Dalam Kondisi Baik/Pembuangan Air Tidak Tersumbat Indikator drainase dalam kondisi baik/pembuangan aliran air tidak tersumbat merupakan hasi dari perbandingan antara panjang drainase tidak tersumbat pembuangan aliran air dengan panjang seluruh drainase. Data panjang drainase yang tersedia hanya Kabupaten Tana Tidung, yakni sepanjang 5,315 km pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 118

119 13. Pembangunan Turap di Wilayah Jalan Penghubung dan Aliran Sungai Rawan Longsor Indikator persentase pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor didapatkan dari hasil perbandingan jumlah lokasi pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor dengan jumlah seluruh wilayah longsor. Jumlah lokasi pembangunan turap yang tersedia datanya hanya di Kabupaten Tana Tidung, yakni sebanyak tiga kecamatan. 14. Aksesibilitas Indikator aspek aksesbilitas merupakan indikator di luar Lampiran 1 Permendagri 54/2010. Indikator aksesibilitas didapatkan dari hasil perbandingan antara panjang jalan seluruhnya dengan luas wilayah. Dikutip dari Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang menargetkan untuk indikator aksesibilitas adalah sebesar 100% pada tahun Tabel C.16 Aksesibilitas Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah panjang jalan (km) 2.913, , , , ,21 Luas wilayah (km 2 ) , , , , ,21 Aksesibilitas 0,040 0,043 0,048 0,054 0,056 Persentase 4,03 4,33 4,77 5,35 5,59 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Persentase aksesibilitas di Provinsi Kalimantan Utara masih berada jauh di bawah target yang ditetapkan oleh SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Hingga taun 2014, persentase aksesibilitas masih sebesar 5,59%, meskipun demikian persentase tersebut selalu mengalami peningkatan dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,52% per tahun. Apabila dilihat dari aksesibilitas masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, persentase aksesbilitas yang sudah mencapai bahkan melampaui target SPM terdapat di Kota Tarakan yakni sebesar 90,92%, sedangkan empat kabupaten lainnya masih berada jauh dibawah target SPM. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 119

120 Tabel C.17 Aksesibilitas Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/ Kota Panjang jalan Bulungan 840,52 857,21 932,80 960, ,683 seluruhnya Malinau 1.053, , , , ,49 (km) Nunukan 694,97 777,24 828,73 856,94 934,92 Tana Tidung 103,70 246,94 354,47 354,47 248,09 Tarakan 220,06 220,06 225,00 227, ,031 Kalimantan Utara 2.913, , , , ,214 Luas wilayah Bulungan , , , , ,92 Malinau , , , , ,41 Nunukan , , , , ,50 Tana Tidung 4.828, , , , ,58 Tarakan 250,80 250,80 250,80 250,80 250,80 Kalimantan Utara , , , , ,21 Aksesibilitas Bulungan 0,064 0,065 0,071 0,073 0,076 Malinau 0,026 0,026 0,028 0,037 0,041 Nunukan 0,049 0,054 0,058 0,060 0,066 Tana Tidung 0,021 0,051 0,073 0,073 0,051 Tarakan 0,877 0,877 0,897 0,906 0,909 Kalimantan Utara 0,040 0,043 0,048 0,054 0,056 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Kabupaten Bulungan memiliki persentase aksesibilitas sebesar 7,61%, Kabupaten Malinau sebesar 4,09%, Kabupaten Nunukan sebesar 6,56%, dan Kabupaten Tana Tidung sebesar 5,14%. Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk dapat meningkatkan kondisi jalan di lingkup Provinsi Kalimantan Utara dalam kaitannya untuk meningkatkan aksesibilitas wilayah. 15. Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau kota merupakan kawasan perlindungan, yang ditetapkan dengan kriteria: a. Lahan dengan luas paling sedikit (dua ribu lima ratus) meter persegi, b. berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur, atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur, dan c. didominasi komunitas tumbuhan. Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan, pengembangan ruang terbuka hijau dari luas kawasan perkotaan paling sedikit 30%. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 120

121 Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb didapatkan dari perhitungan luas ruang terbuka hijau dibagi dengan luas wilayah ber-hpl/hgb. Data mengenai rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb ini bersumber dari Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah dari masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara. Keterbatasan data untuk semua kabupaten dan kota menyebabkan perubahan rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb selama tahun 2010 hingga tahun 2013 di provinsi ini tidak dapat diketahui. Tabel C.18 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Ber-HPL/HGB Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Ruang Terbuka Hijau Per Satuan Luas Wilayah Ber-HPL/HGB Bulungan 0,01 0,22 0,22 0,22 Malinau n/a 0,96 0,96 n/a Nunukan 0,00 n/a n/a n/a Tana Tidung n/a n/a 0,25 n/a Tarakan 0,27 0,00 0,00 0,07 Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2011, ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung Tahun ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013 Catatan : Data Provinsi Kallimantan Utara tidak dapat dijumlahkan, karena data tidak lengkap per kabupaten/kota Sebagai catatan, rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb yang tercantum dalam Lampiran 1 Permendagri No. 54 Tahun 2010 adalah ruang terbuka hijau untuk kawasan perkotaan. Sementara sebagian besar luas wilayah Provinsi Kalimantan Utara masih berupa kawasan perdesaan. 16. Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Izin mendirikan bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten/kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku. Formula yang digunakan untuk menghitung rasio bangunan ber-imb per satuan bangunan adalah dengan membagi jumlah bangunan ber-imb dengan jumlah seluruh bangunan yang ada. Berikut adalah data rasio bangunan ber-imb per satuan bangunan di Provinsi Kalimantan Utara tahun dirinci menurut kabupaten/kota. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 121

122 Tabel C.19 Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Bangunan Ber-IMB Per Satuan Bangunan Bulungan 0,01 0,01 0,01 0,01 Malinau n/a 0,09 0,13 0,18 0,10 0,11 Nunukan 0,05 n/a 0,03 n/a Tana Tidung n/a 0,00 0,00 n/a Tarakan 0,94 0,02 0,05 0,07-0,03 0,07 Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2011, ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung Tahun ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan ) Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu, 2016 Catatan : Data Provinsi Kallimantan Utara tidak dapat dijumlahkan, karena data tidak lengkap per kabupaten/kota D. Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Terdapat lima indikator yang dirinci dalam urusan perumahan, diantaranya adalah indikator rumah tangga pengguna air bersih, rumah tangga pengguna listrik, rumah tangga bersanitasi, lingkungan permukiman kumuh, serta indikator rumah layak huni. 1. Rumah Tangga Pengguna Air Bersih Rumah tangga pengguna air bersih menunjukkan indikator jumlah rumah tangga penguna air bersih di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah tangga pengguna air bersih dibandingkan dengan jumlah seluruh rumah tangga dan dikalikan 100%. Data jumlah rumah tangga pengguna air bersih dilihat dari data banyaknya pelanggan perusahaan air minum (PDAM) khusus tipe rumah tangga. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 122

123 Tabel D.1 Rumah Tangga Pengguna Air Bersih Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Indikator Jumlah rumah tangga pengguna air bersih Jumlah seluruh rumah tangga Rumah tangga pengguna air bersih (%) Kabupaten/Kota Rumah Tangga Pengguna Air Bersih (%) Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 20,17 20,72 20,32 15,43 15,02 Malinau 28,38 28,47 32,23 34,79 Nunukan 11,52 11,15 11,02 11,15 Tana Tidung 11,59 12,39 Tarakan 26,28 27,84 28,76 29,53 30,02 Kalimantan Utara 20,80 29,65 25,10 21,13 21,64 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2010, ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan menjadi kabupaten dengan jumlah rumah tangga pengguna air bersih tertinggi, yaitu sebesar 34,79% dan 30,02% pada tahun 2014 dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Secara garis besar, diketahui bahwa selama periode tahun , jumlah rumah tangga pengguna air bersih di Kabupaten Bulungan masih di bawah 21%, sedangkan Kabupaten Nunukan dan Tana Tidung masih di bawah 13%. Berdasarkan Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), Standar Pelayanan Minimal penduduk terlayani akses air bersih adalah 55-75%, namun dari data yang ada, diketahui bahwa ke-5 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara masih belum memenuhi standar sehingga perlu dilakukan peningkatan dan program perencanaan pengembangan lainnya. Jumlah rumah tangga pengguna air bersih dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, berbeda halnya dengan jumlah seluruh rumah tangga yang mengalami penurunan dari tahun 2010 ke Jika dilihat, persentase jumlah rumah tangga pengguna air bersih terbanyak terjadi pada tahun 2011 yang mencapai angka 29,65% dan terendah terjadi pada tahun Hal ini tentunya pun berkaitan dengan jumlah kebutuhan dan pengguna air bersih masyarakat yang berubah-ubah setiap tahunnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 123

124 2. Rumah Tangga Pengguna Listrik Rumah tangga pengguna listrik menunjukkan indikator jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah tangga pengguna listrik dibagi dengan jumlah seluruh rumah tangga dan dikalikan 100%. Data jumlah rumah tangga pengguna listrik dilihat dari data banyaknya pelanggan listrik khusus tipe rumah tangga. Tabel D.2 Rumah Tangga Pengguna Listrik Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Indikator Jumlah rumah tangga pengguna listrik Jumlah seluruh rumah tangga Rumah tangga pengguna listrik (%) Sumber : 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Kabupaten/Kota Rumah Tangga Pengguna Listrik (%) Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 17,64 50,74 56,43 47,58 51,47 Malinau 29,88 34,36 50,05 72,42 Nunukan 24,22 36,82 42,13 48,63 Tana Tidung 15,21 16,44 Tarakan 68,42 73,53 74,07 73,69 69,92 Kalimantan Utara 39,59 70,18 64,26 56,70 61,06 Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan menjadi kabupaten dengan jumlah rumah tangga pengguna listrik tertinggi, yaitu di atas 69% pada tahun 2014 dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Jika dilihat, Kabupaten Tana tidung menjadi daerah dengan jumlah rumah tangga pengguna listrik terendah karena masih di bawah 17% untuk tahun Berbeda dengan Kabupaten Bulungan dan Nunukan yang memiliki jumlah rumah tangga pengguna listrik di bawah Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan, namun persentasenya cukup banyak, yakni antara 18%-57%. Pada tahun 2011, persentase rumah tangga pengguna listrik dibandingkan dengan jumlah seluruh rumah tangga di Provinsi Kalimantan Utara dikalikan 100% berada pada angka 70,18% dan merupakan angka tertinggi selama 5 tahun ini. Dari angka tersebut, persentase terbesar adalah berada di Kota Tarakan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pada tahun 2011 ke 2012 dan 2012 ke 2013 sempat terjadi penurunan jumlah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 124

125 rumah tangga pengguna listrik, sampai pada akhirnya meningkat kembali pada tahun 2014 yaitu menjadi 61,06%. Jumlah rumah tangga pengguna listrik di Provinsi Kalimantan Utara dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, namun sangat berbeda halnya dengan jumlah seluruh rumah tangga yang mengalami penurunan yaitu pada tahun 2010 ke Peningkatan jumlah rumah tangga pengguna air bersih terbanyak terjadi pada tahun 2010 ke 2011, yakni dari rumah tangga dari tahun sebelumnya. Jika dilihat, persentase jumlah rumah tangga pengguna listrik terbanyak terjadi pada tahun 2011 yang mencapai angka 70% dan terendah terjadi pada tahun Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, rasio elektrifikasi di Indonesia saat ini mencapai 80,54% dan ditargetkan pemerintah akan mencapai 100% pada tahun Provinsi Kalimantan Utara yang pada tahun 2014 hanya mencapai angka 61% mengartikan bahwa masih perlu dilakukan peningkatan elektrifikasi atau perluasan jaringan listrik sehingga lebih dapat menjangkau ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak atau belum teraliri listrik, seperti di daerah pelosok. 3. Rumah Tangga ber-sanitasi Berdasarkan Permen PU Nomor 1/PRT/M/2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, dijelaskan bahwa sanitasi adalah upaya untuk menjamin dan meningkatkan penyehatan lingkungan dalam suatu kawasan permukiman, termasuk pengumpulan, pengolahan, dan pembuangan air limbah, air hujan atau drainase, dan sampah. Rumah tangga bersanitasi adalah indikator untuk mengukur jumlah rumah tangga bersanitasi di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah tangga bersanitasi dibagi dengan jumlah seluruh rumah tangga yang ada dan dikalikan 100%. Tabel D.3 Rumah Tangga ber-sanitasi Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rumah Tangga Pengguna air bersih (%) Bulungan 54,72 61,10 Malinau 33,03 20,86 Nunukan 28,50 33,18 35,37 63,82 Tana Tidung 68,55 76,39 Tarakan 65,31 64,59 62,72 69,44 66,82 Kalimantan Utara 50,02 51,22 Sumber: Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, 2016 Pada tahun 2011, persentase rumah tangga bersanitasi berada pada angka 50,02% dan naik menjadi 51,22% pada tahun Kabupaten dengan jumlah rumah tangga bersanitasi tertinggi adalah Kabupaten Tana Tidung, yakni mencapai 76,39%, kemudian disusul Kabupaten Tarakan dengan angka 64,59%. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 125

126 Berdasarkan Database Pembangunan Kalimantan Utara Tahun 2014, secara umum diketahui bahwa daerah perkotaan dan perdesaan di Provinsi Kalimantan Utara memiliki kondisi sanitasi yang berbeda. Secara garis besar, diketahui bahwa untuk daerah perkotaan, proporsi sanitasi layak lebih banyak jika dibandingkan dengan sanitasi tidak layak, yakni dengan perbandingan 70,65% berbanding 29,35%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah lebih peduli terhadap kebersihan pemukiman tempat tinggal mereka. Berbeda halnya dengan daerah perdesaan yang memiliki kondisi sebaliknya, diketahui bahwa proporsi rumah tangga dengan sanitasi selain layak (tidak layak) adalah lebih banyak dibandingkan yang bersanitasi layak, yaitu 70,32% berbanding 63,745%. Namun, secara keseluruhan, rumah tangga bersanitasi layak tahun 2013 berada pada angka 53,01% atau sekitar rumah tangga. Namun, walaupun sudah berada di atas 50%, kondisi ini pun tetap harus ditingkatkan mengingat kebersihan sangatlah penting untuk kesehatan. Berdasarkan Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman, dan Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), Standar Pelayanan Minimal tingkat penyediaan sarana sanitasi terhadap jumlah penduduk perkotaan adalah 80%, sehingga dari Database Pembangunan Kalimantan Utara Tahun 2014 tentang proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak tahun 2013 yang menyebutkan bahwa jumlah rumah tangga sanitasi layak di perkotaan adalah rumah tangga atau sekitar 70,65%, mengartikan bahwa pada tahun 2013, Provinsi Kalimantan Utara belum memenuhi persyaratan penyediaan sarana sanitasi yang sesuai dengan standar, sehingga masih perlu dilakukan peningkatan penyediaan sarana sanitasi yang lebih baik. 4. Lingkungan Pemukiman Kumuh Lingkungan pemukiman kumuh merupakan indikator yang menunjukkan persentase luas lingkungan pemukiman kumuh di Provinsi Kalimantan Utara yang dihitung dengan rumus luas lingkungan pemukiman kumuh dibagi dengan luas wilayah dan dikalikan 100%. Pada tahun 2011, lingkungan pemukiman kumuh berada pada angka 11,19% dari seluruh total wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Namun pada tahun 2012, lingkungan pemukiman kumuh di provinsi ini menunjukkan kecenderungan menurun, yakni menjadi 4,38%. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat sudah peduli terhadap kebersihan dan mulai menjaga lingkungan pemukiman mereka. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 126

127 Tabel D.4 Lingkungan Pemukiman Kumuh Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Lingkungan Pemukiman Kumuh (%) Bulungan 57,21 19,82 Malinau 0,75 0,75 Nunukan 0,10 1,05 1,05 Tana Tidung Tarakan 0,02 40,39 40,39 Kalimantan Utara 11,19 4,38 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan ) LPPDKabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan ) Hasil Analisis, 2016 Berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Standar Lingkungan Pemukiman Kumuh adalah 10% pada tahun 2019, sehingga perlu peningkatan penanganan pemukiman kumuh untuk Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan yang memiliki angka mencapai 19,82% dan 40,39%, sedangkan untuk dua kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Utara sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimum (angka masih dibawah 2%). 5. Rumah Layak Huni Rumah layak huni adalah indikator yang menunjukkan jumlah rumah layak huni yang ada di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah layak huni dibagi dengan jumlah seluruh rumah yang ada dan dikalikan 100%. Tabel D.5 Rumah Layak Huni Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rumah Layak Huni (%) Bulungan 80,00 80,00 Malinau 12,54 92,16 Nunukan 95,96 95,96 95,96 Tana Tidung 0,00 16,09 16,09 Tarakan 79,02 84,43 84,43 Kalimantan Utara 51,99 73,72 Sumber : 1) LPPD Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Malinau ) LPPD Kabupaten Nunukan ) LPPDKabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan Keterangan : merupakan angka perkiraan Pada tahun 2011, persentase rumah layak huni sebesar 51,99%, dengan persentase rumah layak huni tertinggi berada di Kabupaten Nunukan (95,96%) dan terjadi peningkatan persentase rumah layak huni pada tahun 2012 menjadi sekitar 73,72%. Kabupaten Tana RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 127

128 Tidung menjadi kabupaten dengan persentase rumah layak huni terendah yakni di bawah 17% pada tahun 2011 dan Berdasarkan dokumen Millenium Development Goals (MDG s) tahun 2015, target rumah sehat yang hendak dicapai dan telah ditentukan adalah sebesar 80% (Departemen Kesehatan RI, 2003). Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010, persentase rumah sehat secara nasional sekitar 24,9% atau sekitar 50 rumah/1000 penduduk, sehingga presentase rumah layak huni di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2012 adalah sebesar 73,72% dan masih lebih tinggi dibandingkan dengan persentase rumah layak huni di Indonesia dan hampir mencapai target MDG s (80%). Berdasarkan data jumlah rumah tidak layak huni dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (2016), diketahui bahwa jumlah rumah tidak layak huni terbanyak pada tahun 2014 dan 2015 berada di Kabupaten Bulungan dan terendah berada di Kabupaten Nunukan. Hal ini sesuai dengan data tabel sebelumnya yang menyebutkan bahwa, persentase rumah layak huni terbanyak berada di Kabupaten Nunukan. Dalam hal ini, tentunya sangat dibutuhkan penanganan dari pemerintah daerah untuk mengurangi atau bahkan mengatasi permasalahan ini. E. Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat 1. Angka Kriminalitas yang Tertangani Angka kriminalitas merupakan variabel yang penting untuk diperhatikan. Kriminalitas merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi terkait dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kriminalitas yang semakin tinggi menjadi indikator belum terciptanya kesejahteraan masyarakat. Angka kejahatan yang relatif tinggi dapat mengganggu terciptanya stabilitas keamanan di Provinsi Kalimantan Utara. Angka tersebut harus ditekan dengan upaya mengaktifkan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kelembagaan sosial di masyarakat. Terlebih provinsi ini memiliki kawasan perbatasan yang berpotensi memiliki kerentanan tinggi terhadap kejahatan lintas negara. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 128

129 Tabel E.1 Angka Kriminalitas yang Tertangani di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan n/a 9 8 Malinau n/a n/a Nunukan n/a Tana Tidung n/a n/a n/a Tarakan n/a 12 Kalimantan Utara Sumber : 1) Kabupaten Bulungan dalam Angka Tahun 2010,2011,2012,2013, ) Kabupaten Malinau dalam Angka Tahun 2010,2011,2012,2013,2014 3) Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2011, 2012,2013,2014,2015 4) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka Tahun 2011,2012,2013 5) Kota Tarakan dalam Angka Tahun,2011,2012,2013,2014,2015 6) Provinsi Kaimantan Timur dalam Angka Tahun ) Provinsi Kalimantan Utara dalam Angka Tahun 2015 Data di atas merupakan jumlah kriminalitas yang meliputi kejahatan konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan pelanggaran HAM, dan gangguan kamtibnas. Angka kriminalitas di provinsi ini cukup fluktuatif sejak tahun 2010 hingga 2015, pernah menurun drastis pada tahun 2010 namun meningkat tajam pada tahun Akan tetapi perbedaan angka kriminal yang cukup tajam juga dipengaruhi oleh perbedaan dari data yang diperoleh. Jika dilihat dari angka mutlak jumlah kriminalitas pada dua tahun terakhir, aspek penanganan mengalami penurunan, artinya perlu diwaspadai secara terus menerus. Angka kriminalitas yang tertangani sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor penting yaitu tidak kriminalitas yang terjadi itu sendiri, tindak penanganan kriminal yang terjadi, dan jumlah penduduk. Sebagai upaya tindaklanjut ke depan angka kriminalitas yang tertangani perlu ditingkatkan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat preventif atau pencegahan tindak kriminalitas. 2. Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per penduduk Rasio Pol PP dibandingkan dengan jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara perlu diketahui sehingga kapasitas pelayanan dapat dinilai. Rasio jumlah Pol PP per penduduk merupakan perhitungan dari perbandingan antara jumlah Pol PP dengan jumlah penduduk. Rasio jumlah Pol PP dihitung untuk mencari berapa jumlah petugas per penduduk, dengan demikian akan diketahui besarnya beban pekerjaan yang dilakukan oleh Satpol PP pada umumnya dan beban kerja per Pol PP pada khususnya. Dengan mengetahui jumlah beban kerja baik pada level individu Pol PP maupun level kelembagaan Satpol PP, maka dapat dilihat potensi SDM dibandingkan dengan kebutuhan pelayanan. Hakikat dari rasio Pol PP per penduduk selanjutnya akan memberikan kepastian tentang tingkat keterpenuhan SDM dalam pelayanan trantibum dan penegakan Perda, dengan melihat jumlah sumber daya manusia yang terbatas dan jumlah penduduk yang cukup besar. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 129

130 Angka Rasio Pol PP terlihat mengalami penurunan. Angka ini terjadi karena kecenderungan jumlah Pol PP yang cenderung sama disetiap tahunnya, hal ini berbeda dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Angka Rasio Pol PP tertinggi yaitu Kabupaten Tana Tidung mencapai 52 pada tahun 2012, sedangkan yang terendah yaitu Kota Tarakan mencapai angka 9 pada tahun Kabupaten Malinau mencapai angka 26 pada tahun Kondisi ini terjadi karena Tana Tidung memiliki jumlah penduduk yang relatif sedikit daripada Kota Tarakan. Padahal jika dilihat berdasarkan jumlah personil keduanya memiliki jumlah personil yang sama. 3. Jumlah Linmas per jumlah penduduk Rasio jumlah Linmas per penduduk merupakan perbandingan antara jumlah seluruh petugas Linmas dengan jumlah penduduk per Rasio jumlah Linmas per penduduk diharapkan dapat menggambarkan perbandingan jumlah Sumber Daya Aparatur Linmas dengan jumlah penduduk sebagai objek penerima layanan, sehingga dari rasio tersebut dapat diketahui beban kerja personil Linmas dalam menjalankan tugasnya. Provinsi Kalimantan Utara merupakan wilayah yang dihuni oleh masyarakat yang memiliki sifat heterogenitas. Banyaknya perbedaan etnis, budaya, bahasa dan kepentingan semakin memantik kemungkinan terjadinya friksi antara satu dengan lainnya. Dalam kondisi tertentu gesekan antar kelompok maupun komunitas dimungkinkan dapat terjadi. Untuk menjaga stabilitas keadaan maka diperlukan peran Linmas dalam perlindungan dan pengedalian masyarakat, dari kemungkinan terjadinya hal-hal yang merugikan, seperti kerusuhan, bentrok, maupun konflik lain. Satuan ini memiliki peran yang cukup krusial dalam menciptakan trantibmas secara luas. Berikut ini merupakan tabel informasi rasio jumlah Linmas per penduduk di Provinsi Kalimantan Utara dalam rentang tahun 2010 hingga Kabupaten Bulungan memiliki jumlah Linmas menurun terlihat dari 250 tahun 2010 kemudian turun menjadi meningkat 241 pada tahun Kabupaten Malinau mengalami kenaikan jumlah yaitu 44 tahun 2010 menjadi 63 tahun Sedangkan Kabupaten Nunukan merupakan kabupaten yang memiliki angka terendah data terakhir dapat terlihat pada tahun 2012 hanya memiliki 7 linmas per penduduk. Kabupaten Tana Tidung memiliki jumlah linmas yang fluktuatif namun jumlahnya cenderung selalu meningkat. Kota Tarakan tidak diketahui data yang paling baru dalam melihat kondisi linmas. Berdasarkan data yang ada linmas di Kota Tarakan sejumlah 87 per penduduk pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 130

131 4. Rasio Pos Siskamling per Jumlah Desa/Kelurahan Rasio pos siskamling digunakan untuk melihat perkembangan sejumlah pusat pengamanan sosial masyarakat. Pos Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan) merupakan tempat atau wadah masyarakat untuk melakukan aktivitas pengamanan lingkungan yang dikoordinasi secara mandiri. Siskamling adalah kelembagaan sosial terbawah yang lahir dari inisiatif masyarakat untuk menciptakan keamanan lingkungan secara bottom up. Rasio pos siskamling per jumlah kelurahan adalah perbandingan jumlah pos siskamling selama satu tahun dengan jumlah seluruh kelurahan di Provinsi Kalimantan Utara. Rasio ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan pos siskamling di setiap kelurahan di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator rasio pos siskamling baru tersedia data Kabupaten Malinau. Kabupaten Malinau memiliki kecenderungan kenaikan jumlah pos siskamling, yakni 325 unit pos siskamling pada tahun 2011 meningkat menjadi 425 unit pos siskamling pada tahun Informasi kabupaten/kota lainnya belum dapat digambarkan karena minimnya informasi yang tersedia. 5. Penegakan Peraturan Daerah Penegakan Peraturan Daerah (Perda) merupakan salah satu tugas yang melekat pada Satuan Polisi Pamong Praja. Penegakan Perda menjadi salah satu aktivitas yang sangat esensial karena penegakan Perda memiliki pengaruh besar terhadap terciptanya lingkungan yang nyaman, aman dan tertib. Setiap Perda perlu dikawal dengan baik dalam implementasinya, sehingga dapat mencapai sasaran yang tepat, dan optimal dalam mengatur suatu subyek seperti yang telah dijelaskan dalam setiap Perda. Oleh karena itu terhitung sejak waktu berlakunya, sebuah Perda perlu untuk selalu dimonitor. Berdasarkan indikator penegakan perda, data yang tersedia hanya di Kota Tarakan. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa di Kota Tarakan sudah ada upaya perhatian dalam penegakan perda. Berdasarkan kecenderungannya terlihat jumlah penegakan perda mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun pada kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2013, yakni 550 penegakan perda pada tahun 2008 menjadi 455 penegakan perda pada tahun Penegakan perda di Kota Tarakan pada tahun 2008 sampai 2014 secara berturut-turut telah mampu mencapai 100% hal ini menunjukkan bahwa Kota Tarakan merupakan daerah yang konsisten dalam upaya penegakan perda di wilayahnya. Informasi kabupaten yang lain belum mampu ditunjukkan karena keterbatasan data yang tersedia. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 131

132 6. Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Satpol PP merupakan sebuah institusi yang berperan penting dalam penegakan Perda dan trantibum. Untuk memenuhi fungsi dan tugas pokok maka Pol PP perlu melakukan kegiatan patroli secara rutin. Pengamanan kondisi tempat-tempat umum dan memonitor pelaksanaan Perda dapat dilakukan secara intensif dengan melakukan jadwal patroli di lapangan. Indikator ini dihitung dari banyakmya kelompok patroli dikalikan tiga kali patroli dalam sehari. Indikator cakupan patroli Satpol PP dalam satuan tahun hanya tersedia informasi di Kota Tarakan. Pola yang dapat diamati yakni terlihat kecenderungan kenaikan aktivitas namun fluktuatif cakupan patroli petugas Satpol PP pada tahun 2010 sampai 2013, yakni patroli petugas Satpol PP pada tahun 2010 menurun dari menjadi pada tahun Kondisi ini kemudian meningkat hingga tahun 2013 menjadi Informasi keempat kabupaten lain belum dapat ditunjukkan karena tidak ada informasi yang tersedia. 7. Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman, Keindahan) di Kabupaten Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah pelanggaran K3 yang terjadi dengan jumlah penyelesaiannya. Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Peran serta masyarakat dalam melakukan upaya peningkatan penegakan K3 perlu digalang secara intensif. Agar dalam masyarakat tumbuh kesadaran untuk saling peduli dan saling menjaga merupakan langkah startegis untuk menciptakan trantibum dan trantibmas. Kelembagaan sosial di tingkat padukuhan dan kelurahan sebaiknya dioptimalkan peran sertanya dalam menjaga penegakan K3. Berdasarkan indikator ini hanya ada dua kabupaten/kota yang dapat memberikan gambaran penanganan tingkat penyelesaian pelanggaran K3 yakni Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan. Jumlah penyelesaian pelanggaran K3 di Kabupaten Nunukan cenderung tetap pada tahun 2012 dan 2013 yakni sebanyak 100, sedangkan Kota Tarakan memiliki jumlah yang fluktuasi dari tahun ke tahun dengan kecenderungan meningkat yakni 426 pada tahun 2010 meningkat menjadi 455 pada tahun Informasi ketiga kabupaten yang lain belum dapat didiskripsikan karena tidak ada informasi yang tersedia. Pengukuran terhadap ketertiban yang didasarkan pada penyelesaian K3 tentunya bukan merupakan indikator yang tuntas. Kinerja yang didasarkan pada output saja dapat mengantarkan pada bias pemaknaan. Jika pelanggaran K3 tidak terjadi tentunya tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, sehingga kinerja yang dicapai berdasarkan indikator ini buruk. Sementara itu jika tidak ada pelanggaran K3 secara riil justru merupakan sebuah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 132

133 prestasi dalam fasilitasi ketertiban dan keamanan. Untuk itu perlu diarahkan pada indikator outcome dengan menempatkan penilaian terhadap turunnya pelanggaran K3 sampai ke nilai nol adalah sebagai capaian kinerja tertinggi. 8. Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten Linmas merupakan petugas yang sangat dekat dengan masyarakat. Keberadaan Linmas hingga di instansi terbawah yaitu pedukuhan/kampung. Hal ini disebabkan Linmas memiliki tugas pokok dalam perlindungan masyarakat, sehingga perlu dilihat perbandingan rasional dalam pelayanan terhadap jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan membagi jumlah petugas Linmas dengan jumlah penduduk. Berdasarkan data yang tersedia, jumlah Linmas dari di Kabupaten Bulungan tahun 2010 hingga 2014 mengalami penurunan. Kabupaten Malinau mengalami kenaikan sedangkan Tana Tidung mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Penurunan jumlah personel ini terjadi karena sudah banyak petugas Linmas yang sudah tidak aktif lagi dan juga karena kenaikan jumlah linmas tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun. Kabupaten Bulungan memiliki jumlah linmas yang cenderung stabil dan naik. Kondisi ini terlihat dengan adanya kenaikan dari 93 tahun 2012 menjadi 97 tahun Hal ini sama dengan Kabupaten Tana Tidung naik dari 68 tahun 2012 menjadi 190 tahun Sedangkan kabupaten lainnya tidak ada informasi. 9. Angka Kriminalitas Masalah kriminalitas merupakan salah satu hambatan untuk peningkatan iklim investasi. Untuk itulah kondisi kota yang terkendali dari kekacauan kriminalitas akan dapat memberikan jaminan bagi keamanan investasi perlu ditumbuhkembangkan. Tabel E.2 Angka Kriminalitas Tahun Provinsi kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a n/a 243 Malinau n/a n/a n/a Nunukan Tana Tidung n/a n/a n/a Tarakan n/a n/a 432 Kalimantan Utara n/a n/a 213 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan dalam Angka Tahun 2010, 2011,2012 2) Kabupaten Malinau dalam Angka Tahun ) Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2012, ) Kalimantan Timur dalam Angka Tahun 2013 Indikator ini digunakan sebagai langkah untuk melihat perkembangan angka kriminalitas yang terjadi di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara. Indikator angka RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 133

134 kriminalitas yang terjadi di Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan perkembangan yang cukup bervariasi antar kabupaten/kota. Kota Tarakan menunjukkan perkembangan yang cenderung berfluktuasi cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya angka kriminalitas di Kota Tarakan paling tinggi. Hal ini dapat dipahami mengingat Kota Tarakan merupakan kawasan perkotaan dan sebagai pusat kegiatan ekonomi dengan fasilitas pelayanan publik yang cukup lengkap yang mengundang orang untuk melakukan migrasi masuk. Akan tetapi pada umumnya tidak semua tenaga kerja yang masuk dapat terserap selain karena lapangan kerja yang terbatas juga karena rendahnya ketrampilan sehingga tidak dapat bersaing di pasar kerja. Kondisi ini seringkali menjadi penyebab meningkatnya angka kriminalitas. Seperti halnya kawasan perkotaan lainnya, pada umumnya tingkat kriminalitas cenderung tinggi dibandingkan kawasan yang masih bersifat pedesaan. Angka kriminalitas Kabupaten Bulungan cenderung tinggi namun hanya bersifat sementara yang terlihat ada kecenderungan penurunan pada tahun 2010 sampai Kabupaten Nunukan memiliki kecenderungan kenaikan jumlah angka kriminalitas telihat pada tahun 2010 sampai Kabupaten Malinau jumlah angka kriminalitas cenderung fluktuatif namun lebih sedikit dibandingkan Kota Tarakan. Khusus untuk Kabupaten Tana Tidung memiliki jumlah paling rendah bahkan pada tahun 2011 dan 2012 tidak ada sama sekali angka kriminalitas yang terjadi. 10. Jumlah Demo Demonstrasi atau unjuk rasa adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang dihadapan umum. Di satu sisi unjuk rasa merupakan sebuah fenomena geliat dan dinamika kesadaran masyarakat untuk berpolitik, namun di sisi lain demonstrasi menjadi sebuah aktivitas yang menimbulkan gangguan baik kecil maupun besar terhadap rutinitas masyarakat yang berada di lingkungan tersebut. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politis oleh kepentingan kelompok. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 134

135 Tabel E.3 Jumlah Demo Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a n/a 7 n/a n/a 7 Malinau n/a 6 2 n/a n/a 4 Nunukan n/a n/a 12 Tana Tidung n/a n/a n/a n/a n/a 0 Tarakan n/a n/a 13 n/a n/a 13 Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a n/a 36 Sumber: 1) Kabupaten Malinau dalam Angka Tahun ) Kalimantan Timur dalam Angka Tahun ) Profil Kabupaten NunukanTahun 2013 Indikator ini digunakan sebagai langkah untuk melihat perkembangan jumlah demo dalam satu tahun yang terjadi di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara. Informasi yang menjelaskan jumlah demo hanya terlihat di empat kabupaten/kota. Jumlah demo di Kabupaten Nunukan cukup berfluktuasi, terlihat dari data tahun 2010, 2011, dan Kabupaten Malinau mengalami kencenderungan menurun terlihat pada tahun 2011 dan Sementara Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan tidak dapat diamati kecenderungan perkembangannya karena hanya tersedia data tahun Khusus Kabupaten Tana Tidung tidak dapat diamati perkembangannya karena tidak ada informasi yang tersedia. Berdasarkan informasi dari beberapa narasumber yang ada, demo yang terjadi selama ini disebabkan oleh isu masalah ekonomi. F. Sosial 1. Sarana Sosial (Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi) Indikator sarana sosial merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam mengindentifikasi adanya pusat perkembangan kegiatan sosial. Sarana sosial yang dimaksud adalah panti asuhan, panti jompo, panti rehabilitasi, rumah singgah. Penyediaan sarana sosial merupakan tanggung jawab pemerintah. Penyediaan fasilitas sosial ditujukan untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung. Fasilitas sosial yang diberikan oleh pemerintah merupakan wujud tanggung jawab pemerintah untuk memelihara masyarakat yang kurang beruntung. Berikut merupakan data sarana sosial yang tersedia di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel F.1 Jumlah Total Sarana Sosial Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Bulungan na 2 na na 7 9 total Malinau na sarana Nunukan na 4 8 sosial Tana Tidung Tarakan Prov. Kalimantan Utara Sumber: RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 135

136 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigras Provinsi Kalimantan Timur, 2016 Berdasarkan informasi yang tersedia terlihat jumlah sarana sosial antar kabupaten/kota bervariasi. Kabupaten Malinau pada tahun 2011 dan 2012 jumlah sarana sosial tertinggi yakni 17 sarana sosial. Data lain yang dapat terlihat yakni Kabupaten Tana Tidung tidak memiliki sama sekali sarana sosial pada tahun 2010 sampai Khusus untuk informasi Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan jumlah sarana sosial mengalami fluktuasi dibandingkan tahun sebelumnya. 2. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang Memperoleh Bantuan Sosial Indikator PMKS yang memperoleh bantuan sosial digunakan sebagai langkah dalam memetakan sejumlah masyarakat yang termasuk dalam PMKS. Berdasarkan data yang tersedia secara umum terlihat bahwa jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara mengalami kenaikan dari tahun ke tahunnya. Kabupaten Malinau merupakan salah satu kabupaten yang telah mampu memetakan jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial sampai 100% pada tahun 2011 dan Kota Tarakan telah melakukan pemetaan PMKS yang memperoleh bantuan secara baik, dengan pencapaian sebesar 96,1% PMKS yang memperoleh bantuan sosial dibandingkan dengan jumlah PMKS total. Berikut merupakan data jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial yang tersedia di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel F.2 Jumlah PMKS yang Memperoleh Bantuan Sosial Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Kota Jumlah PMKS Bulungan na 3 71 na na na yang Malinau na na na Memperoleh Nunukan 2 na na na na na Bantuan Sosial Tana Tidung na na na Tarakan 1,50 1,82 4,09 88, ,1 Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Perda RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigras Provinsi Kalimantan Timur, 2016 Keterangan: Jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk tingkat Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data tersedia berupa persentase. 3. Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Indikator ini digunakan dalam menunjukkan capaian penanganan PMKS. Pada indikator penanganan PMKS terdapat beberapa kecenderungan yang terjadi. Informasi yang tersedia terlihat bahwa penanganan PMKS pada Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung dan Kota Tarakan mengalami kenaikan. Di Kabupaten Nunukan penanganan PMKS RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 136

137 pada awalnya masih cukup rendah terlihat pada tahun 2010 hanya 0,02%, tetapi seiring berjalannya waktu, penanganan PMKS semakin mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik, terlihat dari persentase penanganan PMKS yang mencapai % di tahun Hal ini berarti penanganan PMKS yang dilakukan di tahun tersebut melampaui data jumlah PMKS yang ada. Kabupaten Bulungan memiliki kecenderungan penurunan penanganan PMKS terlihat pergerakan dari tahun 2010 sampai Berikut merupakan data penananan PMKS yang tersedia di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel F.3 Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Kota Persentase Bulungan 0,20 0,03 na na na na Penanganan Malinau 10,6 18,8 33,6 0,3 na na Penyandang Nunukan 0,02 na 83, Masalah Tana Tidung 0,31 0,55 0,55 na na na Kesejahteraan Tarakan 3,70 1,86 4,58 88,29 na na Sosial Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigras Provinsi Kalimantan Timur, 2016 Keterangan: Jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk tingkat Provinsi Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena data tersedia berupa persentase Fokus Layanan Urusan Wajib Tidak Berkaitan dengan Pelayanan Dasar A. Tenaga Kerja 1. Angka Partisipasi Angkatan Kerja Ketenagakerjaan adalah aspek lain yang tidak kalah pentingnya dalam pembangunan suatu wilayah. Produktivitas dan daya serap tenaga kerja menjadi tolok ukur perekonomian wilayah dan kesejahteraan penduduk. Angka partisipasi angkatan kerja merupakan proporsi penduduk umur 15 tahun ke atas yang masuk ke dalam golongan angkatan kerja. Angkatan kerja merupakan bagian penduduk yang sedang bekerja dan siap masuk pasar kerja, atau dapat dikatakan sebagai pekerja dan merupakan potensi penduduk yang akan masuk pasar kerja. Tabel A.1 Angka Partisipasi Angkatan Kerja Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Angka partisipasi angkatan kerja 71,69 74,21 68,93 66,70 66,38 Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2015 Angka partisipasi angkatan kerja Provinsi Kalimantan Utara tergolong relatif tinggi meski perkembangannya masih fluktuatif dan cenderung menurun dari tahun 2011 sebesar 74,21% menjadi 66,38% pada tahun Meski demikian, jumlah angkatan kerja yang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 137

138 bekerja meningkat dari 245ribu jiwa pada tahun 2013 menjadi 255ribu jiwa di tahun Penurunan angka partisipasi kerja lebih disebabkan oleh meningkatnya penduduk dalam kategori bukan angkatan kerja dan menurunnya jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas secara keseluruhan. Tabel A.2 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan dan Jenis Kelamin Tahun Provinsi Kalimantan Utara No Uraian * 1 ANGKATAN KERJA Bekerja Mencari pekerjaan BUKAN ANGKATAN KERJA Sekolah Mengurus RT Lainnya Total Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2015 LKPJ Provinsi Kalimantan Utara 2. Angka Sengketa Pengusaha-Pekerja per Tahun Sengketa antara pengusaha dan pekerja terjadi karena dipengaruhi berbagai macam faktor. Diantaranya adalah kesempatan kerja yang kurang memenuhi permintaan kerja, ketidaksesuaian kualitas pekerja, besar upah, maupun kualitas barang maupun jasa yang kurang memuaskan pemilik usaha. Oleh karena itu, angka sengketa pengusahapekerja menjadi salah satu indikator dalam menggambarkan kondisi ketenagakerjaan suatu wilayah. Indikator ini juga mempengaruhi iklim investasi yang ditawarkan dan tingkat produktivitas sektor ekonomi. Data tentang angka sengketa pengusaha-pekerja Provinsi Kalimantan Utara masih belum tersedia. 3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) TPAK merupakan cara lain dari penulisan angka perbandingan angkatan kerja dengan jumlah tenaga kerja. Perbedaan antara angka partisipasi angkatan kerja dengan tingkat partisipasi angkatan kerja adalah kategori kelompok umur. Dalam Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, usia penduduk yang masuk dalam perhitungan adalah usia penduduk produktif yakni tahun. Tabel A.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Tingkat partisipasi angkatan 67,35 71,59 67,41 65,3 67,8 63,45 kerja TPAK Nasional 3 67,72 68,34 67,76 66,77 66,6 65,76 Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) BPS Nasional ) LKPJ Provinsi Kalimantan Utara 2015 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 138

139 Perkembangan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Provinsi Kalimantan Utara cenderung fluktuatif. Namun, pada tahun 2014 TPAK Provinsi Kalimantan Utara berhasil mencapai 67,8% atau setara dengan kenaikan 3,82% dari tahun sebelumnya. Perbandingan TPAK Provinsi Kalimantan Utara dengan Nasional relatif sama, namun mencapai angka lebih tinggi di tahun 2014, yaitu 67,8% berbanding 66,6%. Semakin tinggi TPAK menunjukkan bahwa semakin tinggi ketersediaan tenaga kerja untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu sistem perekonomian Provinsi Kalimantan Utara. Namun yang terjadi di tahun 2015 adalah menurunnya angka TPAK menjadi 63,45%. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan ketersediaan tenaga kerja. 4. Pencari Kerja yang Ditempatkan Pencari kerja yang ditempatkan adalah perbandingan jumlah pencari kerja yang ditempatkan terhadap jumlah pencari kerja yang mendaftar. Menempatkan pencari kerja yang mendaftar merupakan salah satu program pemerintah daerah. Oleh karena itu, indikator ini dapat mencerminkan kemampuan pemerintah dalam menyediakan kesempatan lapangan pekerjaan guna mengurangi angka pengangguran. Tabel A.4 Persentase Pencari Kerja yang Ditempatkan Tahun Per Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Bulungan 54,77 60,73 30,77 39,13 42,36 Malinau 78,18 74,22 17,55 19,65 25,52 Nunukan 53,39 33,08 17,64 Tana Tidung 34,38 22,56 Tarakan 10,74 7,47 27,12 21,81 Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2014 dan 2015 Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2015 Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) LKPJ Provinsi Kalimantan Utara 2015 Setiap pemerintah kabupaten/kota telah melaksanakan program penempatan tenaga kerja yang mendaftar. Namun besar persentasenya berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kabupaen Bulungan menjadi kabupaten yang paling banyak menempatkan tenaga kerja yang mendaftar yaitu sebesar 39,13% pada tahun Angka ini kemudian disusul oleh Kota Tarakan sebesar 21,18% pada tahun Perbedaan persentase pekerja yang ditempatkan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perbedaan jumlah kesempatan kerja yang tersedia dan luas tidaknya hubungan antara pemerintah daerah dengan pihak swasta dalam menyediakan lapangan pekerjaan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 139

140 5. Tingkat Pengangguran Terbuka Pengangguran merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketenagakerjaan di suatu wilayah. Pengangguran menjadi penting karena seringkali menjadi isu pengembangan wilayah dan menghambat pertumbuhan perekonomian. Tingkat Pengangguran Terbuka merupakan salah satu perhitungan yang mewakili gambaran pengangguran di suatu daerah. Tingkat pengangguran terbuka adalah perbandingan jumlah angkatan kerja yang tidak bekerja dengan jumlah angkatan kerja secara keseluruhan. Tabel A.5 Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Provinsi Tingkat Bulungan 9,12 9,04 9,23 8,93 Pengangguran Malinau 3,8 10,18 8,9 9,24 3,58 Terbuka Nunukan 7,67 9,52 11,83 10,69 5,7 Tana Tidung 12,03 6,67 8,8 2,23 Tarakan 9,45 10,14 8,26 7,09 6,9 Kalimantan Utara 3 8,28 9,64 8,9 8,59 5,79 5,68 Nasional 4 7,14 6,56 6,13 6,17 5,94 6,18 Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2015 Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) BPS Nasional ) LKPJ Provinsi Kalimantan Utara 2015 Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan tren yang fluktuatif. Tingkat pengangguran terbuka tercatat 9,64% pada tahun 2011 dan menurun 10,9% pada tahun 2013 hingga mencapai angka 8,59%. Angka ini masih tergolong sangat besar dibanding dengan Tingkat Pengangguran Terbuka nasional. Tahun 2013 selisih antara angka provinsi dengan nasional mencapai 2,42%. Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan pertumbuhan positif, yakni menurun hingga 5,79% di tahun 2014 dan kembali menurun di tahun 2015 hingga mencapai angka 5,68%. Angka ini tidak jauh berbeda dengan angka nasional sebesar 6,18% pada tahun yang sama. Tabel di atas menunjukkan bahwa masalah pengangguran masih harus menjadi fokus perencanaan pembangunan. Besarnya tingkat pengangguran terbuka dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah jumlah lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja dan juga rendahnya daya saing tenaga kerja. Faktor ini kemudian dapat dijadikan solusi alternatif yang mendukung pencapaian target penurunan angka pengangguran. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 140

141 6. Keselamatan dan Perlindungan Aspek keselamatan dan perlindungan tenaga kerja merupakan hal yang penting karena menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja. Aspek ini juga merupakan jaminan untuk meningkatan produktivitas kerja. Maksud dari memberikan jaminan keselamatan dan perlindungan kepada tenaga kerja adalah tidak lain untuk memberikan kenyamanan dalam lingkungan kerja dan kewajiban peruasahaan untuk memenuhi hak-hak pekerjanya. Jaminan keselamatan dan perlindungan tertuang di dalam instrumen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Instrument ini melindungi pekerja, perusahaan, lingkungan, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakan kerja. Kabupaten/Provinsi Tabel A.6 Data Keselamatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Tahun 2015 Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Perusahaan pemilik K3 Jumlah Kecelakaan Kerja Jumlah tenaga kerja yang memiliki jamsostek JKK JKM JHT JPK Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: Dinsosnakertrans Provinsi Kalimantan Utara dan Hasil Olahan 2016 Keterangan: JKK = Jaminan Kecelakaan Kerja JKM = Jaminan Kematian JHT = Jaminan Hari Tua JPK = Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Hingga tahun 2015, hanya ada 3 perusahaan di Provinsi Kalimantan Utara yang telah memiliki penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dua perusahaan sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan di Kabupaten Nunukan dan tiga perusahaan sektor pertambangan dan penggalian yang juga berada di Kabupaten Nunukan. Kasus kecelakan kerja yang masih kerap terjadi di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2015, adalah 11 kasus keselamatan kerja di perusahaan sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan, 3 kasus di perusahaan pertambangan dan penggalian, dan jumlah kasus tertinggi adalah di perusahaan sektor Industri pengolahan, yaitu 37 kasus. 7. Perselisihan Buruh dan Pengusaha terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Masalah sengketa atau perselisihan dapat terjadi antara perusahaan/buruh dengan Pemerintah Daerah terutama dalam hal kebijakan. Hal ini dapat mempengaruhi kestabilan sosial dan politik serta perekonomian daerah. Jumlah kejadian perselisihan pengusaha/buruh dengan kebijakan pemerintah di Kabupaten Malinau terus meningkat selama periode tahun 2011 hingga Jumlah kejadian perselisihan di tahun 2011 tercatat hanya 5 kejadian, namun di tahun 2015, jumlah ini meningka pesat hingga RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 141

142 mencapai 44 kejadian. Untuk persentase penyelesaian perselisihan di Kabupaten Malinau sudah memenuhi 100%, yang artinya seluruh kejadian perselisihan dapat terselesaikan setiap tahunnya. Untuk kejadian di Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Kalimantan Utara belum tersedia data yang lengkap. Tabel A.7 Jumlah Kejadian Perselisihan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Provinsi Jumlah kejadian Bulungan perselisihan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Jumlah perselisihan yang terselesaikan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Sumber: Dinsosnakertrans Kabupaten Malinau, 2016 B. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 1. Indeks Pembangunan Gender (IPG) IPG merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia dengan memperhatikan ketimpangan gender. IPG digunakan untuk mengukur ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Membandingkan nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), merupakan salah satu cara untuk mengetahui apakah terjadi kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender terjadi apabila nilai IPM sama dengan IPG, di sisi lain ketimpangan gender terjadi bila nilai IPG lebih rendah dari IPM. Beberapa faktor yang menyebabkan fluktuasi nilai IPG ini antara lain karena pengaruh semua komponen IPG yakni angka harapan hidup, angka melek aksara, rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran per kapita disesuaikan. Tabel di bawah ini akan menunjukkan capaian IPG di Provinsi Kalimantan Utara yang dirinci berdasarkan kabupaten/kota tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 142

143 Tabel B.1 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Indeks Pembangunan Gender (IPG) Bulungan 60,80 61,28 61,84 78,71 85,18 Malinau 63,96 64,62 64,97 80,18 80,61 Nunukan 64,00 64,81 65,43 80,99 81,43 Tana Tidung 59,15 59,54 60,73 77,04 77,51 Tarakan 64,79 65,35 66,01 90,31 90,76 Kalimantan Utara n/a n/a 0,00 85,63 85,67 Nasional 67,20 67,80 68,52 90,19 90,34 Sumber: 1) Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara (Data ) 2) Analisis Profil Gender Provinsi Kalimantan Utara 2015 (Data Tahun 2013; 2014) 3) Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015 (Data Nasional 2013; 2014) Melihat tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai IPG di lima kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara meningkat setiap tahunnya. Terlihat juga IPG sebagai ukuran pencapaian pembangunan gender di provinsi selama dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang positif, dengan ditunjukkan makin meningkatnya besaran nilai IPG. Hal ini mengindikasikan bahwa komponen-komponen pembentuk nilai IPG juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 pencapaian IPG mencapai nilai 85,63 dan tahun 2014 meningkat menjadi 85,67 serta berada di posisi 29 dari 34 provinsi di Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh kecilnya sumbangan pendapatan perempuan dalam pembentukan IPG, yaitu hanya 30,55% (laki-laki 69,45%). Sementara tiga komponen lainnya seperti angka harapan hidup, angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah tidak terjadi perbedaan angka yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Dari tabel di atas juga terlihat, satu-satunya kabupaten/kota yang nilai IPG-nya di atas nilai IPG provinsi adalah Kota Tarakan sehingga diperlukan perhatian khusus untuk meningkatkan nilai IPG di Kabupaten Tana Tidung, Malinau, Nunukan, dan Bulungan, mengingat nilai IPG keempat kabupaten tersebut di bawah nilai IPG provinsi. 2. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) IDG merupakan indeks yang digunakan untuk mengkaji lebih jauh peranan perempuan dalam pengambilan keputusan, terutama peran aktifnya dalam kehidupan ekonomi dan politik serta kontribusinya dalan aspek ekonomi maupun sosial. IDG dibentuk berdasarkan tiga komponen, yaitu keterwakilan perempuan dalam parlemen; perempuan sebagai tenaga profesional, teknisi, kepemimpinan dan ketatalaksanaan; dan sumbangan pendapatan. Tabel berikut akan menyajikan capaian IDG di Provinsi Kalimantan Utara yang dirinci menurut kabupaten/kota tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 143

144 Tabel B.2 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Bulungan 57,35 58,49 57,36 57,36 45,91 Malinau 56,82 56,97 61,24 58,31 59,75 Nunukan 68,93 72,04 68, ,65 Tana Tidung 53,79 58,83 58,68 56,58 58,34 Tarakan 52,93 58,05 29, ,78 Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a 66,52 Nasional 68,15 69,14 70,07 70,46 70,68 Sumber: 1) Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara (Data ) 2) Analisis Profil Gender Provinsi Kalimantan Utara 2015 (Data Tahun 2013; 2014) 3) Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015 (Data Nasional 2013; 2014) Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa IDG menurut kabupaten/kota, IDG tertinggi pada tahun 2014 ditunjukkan oleh Kabupaten Nunukan dengan skor 68,65 dan terendah di Kabupaten Bulungan dengan skor 45,91. Capaian IDG yang masih rendah dipengaruhi peran serta perempuan di parlemen (DPRD) yang masih sangat rendah sehingga berdampak direndahnya skor IDG. Posisi IDG Kalimantan Utara tahun 2014 berada di peringkat 19 dari 34 provinsi dengan skor 66,52. Hal ini hendaknya mendapat perhatian dari pemerintah agar dapat meningkatkan pemberdayaan perempuan Kalimantan Utara di masa mendatang. 3. Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Partisipasi perempuan dalam lembaga pemerintah merupakan wujud keterlibatan perempuan dalam pembangunan dan pengambilan keputusan serta sebagai sarana untuk memperjuangkan hak perempuan. Keterwakilan perempuan dalam lembaga pemerintah dapat menjadi jalan bagi kaum perempuan untuk menyuarakan aspirasinya dalam kegiatan pemerintahan termasuk dalam perencanaan pembangunan dan pengambilan keputusan. Salah satu contohnya adalah keterwakilan perempuan dalam instansi-instansi pemerintah daerah. Untuk saat ini data mengenai partisipasi perempuan belum banyak tersedia khususnya di tahun 2014 dan Tabel B.3 Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah (%) Bulungan 13,69 11,00 11,00 14,21 n/a n/a Malinau n/a n/a 27,01 n/a 7,00 7,49 Nunukan 20,16 n/a 19,24 8,83 n/a n/a Tana Tidung 39,56 30,68 35,89 n/a n/a n/a Tarakan 9,50 99,90 95,14 41,20 37,44 37,99 Kalimantan Utara 36,35 37,71 38,49 n/a n/a n/a Sumber: 1) Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara ) Dinas BPMPPKBPD Kabupaten Malinau (Data Tahun 2014; 2015) 3) Dinas BPMPPKBPD Kota Tarakan (Data Tahun 2011; 2012; 2014; 2015) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 144

145 Tabel diatas menunjukkan partisipasi perempuan di lembaga pemerintah masih rendah di sebagian besar kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara, hanya di Kota Tarakan pada tahun lebih dari 90%. Hal tersebut dikarenakan hampir seluruh pekerja perempuan bekerja di lembaga pemerintah, kemudian di tahun berikutnya terjadi penurunan karena banyaknya kesempatan kerja di lembaga swasta. Di Kabupaten Bulungan memiliki partisipasi perempuan di lembaga pemerintah selama tahun relatif berada di kisaran angka 10-14%. Di Kabupaten Nunukan, partisipasi perempuan di lembaga pemerintah justru menurun, bahkan penurunan terjadi sangat drastis dari angka 19,24% di tahun 2012 menjadi 8,83% di tahun Untuk Kabupaten Tana Tidung, keterwakilan perempuan di lembaga pemerintah cukup tinggi walaupun mengalami penurunan, yakni masih berada di kisaran angka 35-39%. Angka partisipasi perempuan di lembaga pemerintah yang masih cukup rendah ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk memberikan peluang dan kesempatan yang semakin luas bagi perempuan agar dapat berpartisipasi layaknya laki-laki. 4. Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Partisipasi perempuan di lembaga swasta tidak banyak data yang didapatkan untuk saat ini, hanya yang berasal dari Dinas BPMPPKBPD Kota Tarakan yakni 62,56% di tahun 2014 dan 62,01% di tahun 2015 dan dari Kabupaten Malinau yaitu 1,44% tahun 2014 dan 1,66% tahun Penurunan yang terjadi di Kota Tarakan disebabkan karena terjadi penurunan jumlah tenaga kerja perempuan di lembaga swasta sedangkan jumlah tenaga kerja perempuan secara umum meningkat. Angka partisipasi perempuan di lembaga swasta yang masih cukup rendah ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk memberikan peluang dan kesempatan yang semakin luas bagi perempuan agar dapat berpartisipasi layaknya laki-laki. Tabel B.4 Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah (%) Bulungan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Malinau n/a n/a n/a n/a 1,44 1,66 Nunukan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Tana Tidung n/a n/a n/a n/a n/a n/a Tarakan n/a n/a n/a n/a 62,56 62,01 Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) Dinas BPMPPKBPD Kabupaten Malinau (Data Tahun 2014; 2015) 2) Dinas BPMPPKBPD Kota Tarakan (Data Tahun 2014; 2015) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 145

146 5. Rasio KDRT Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga seringkali diderita oleh pihak perempuan dan anak-anak. Berbagai macam latar belakang masalah yang dapat menyebabkan KDRT seperti kemiskinan, pihak ketiga, dan sebagainya. Data mengenai KDRT tidak banyak tersedia seperti di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Tana Tidung, data yang ada saat ini juga tidak sepenuhnya ada setiap tahunnya. Tabel B.5 Rasio KDRT Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota KDRT (%) Bulungan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Malinau n/a n/a 0,04 0,02 0,02 0,01 Nunukan 0,01 n/a 0,04 0,03 0,01 n/a Tana Tidung n/a n/a n/a n/a n/a n/a Tarakan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2011; ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun 2011; ) Dinas BPMPPKBPD Kabupaten Malinau (Data tahun ) 4) Dinas BPMPPKBPD Kota Tarakan (Data Tahun ) Angka rasio KDRT yang cukup tinggi di Provinsi Kalimantan Utara terdapat di Kota Tarakan. Di kota ini selama setahun bisa terjadi lebih dari 100 kasus KDRT. Selama kurun waktu tahun , angka KDRT tertinggi terjadi tahun 2012 yakni mencapai 172 kasus KDRT. Walaupun pada tahun 2013 menurun, namun pada 2 tahun berikutnya kembali meningkat. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Kaltara yang jumlah kasus KDRTnya tidak mencapai angka 20. Di Kabupaten Nunukan, kasus KDRT menurun dari tahun 2012 hingga tahun 2014 sedangkan di Kabupaten Malinau cenderung relatif stagnan meskipun ada kecenderungan menurun. Sudah selayaknya di era emansipasi wanita saat ini, wanita harus dihormati dan diberikan kesempatan yang sama seperti lakilaki. Namun melihat tingginya angka KDRT di Kota Tarakan, hal tersebut harus segera mendapat perhatian baik dari pemerintah kota maupun pemerintah provinsi. 6. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kesetaraan gender merupakam salah satu isu perempuan dalam era modern, perempuan diharapkan mempunyai kesempatan yang sama dalam berbagai akses seperti terhadap pendidikan, pekerjaan dan aktualisasi kegiatan sehari-hari yang setara dengan laki-laki. Kesetaraan eksternal dapat dicapai bila perempuan dan laki-laki memiliki status RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 146

147 yang sama dalam akses terhadap barang dan sumber daya, dalam berkontribusi, berpartisipasi, dan memanfaatkan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Sehingga perempuan harus diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki agar dapat mengembangkan kemampuannya. Tabel B.6 Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan (%) Bulungan 48,01 42,95 39,48 32,80 39,13 n/a Malinau 44,60 43,86 54,71 60,00 62,25 n/a Nunukan 27,90 12,38 10,12 n/a 56,59 n/a Tana Tidung 42,33 41,85 33,17 30,93 30,89 n/a Tarakan 14,59 11,18 11,18 n/a 46,69 39,05 Kalimantan Utara 34,51 28,19 28,19 n/a 45,83 n/a Sumber: 1) Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2013; ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Dinas BPMPPKBPD Kota Tarakan (data tahun 2015) 6) Analisis Profil Gender Provinsi Kalimantan Utara 2015 (data tahun 2014) Angka partisipasi angkatan kerja perempuan di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara sebagian besar terjadi penurunan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Tana Tidung selama kurun waktu tahun , pada tahun 2010 persentasenya mencapai 42,33% tetapi terus menurun hingga pada tahun 2014 hanya berada di angka 30,89%. Penurunan juga terjadi di Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan. Sementara angka partisipasi angkatan kerja perempuan di Kabupaten Malinau justru meningkat setiap tahunnya, walaupun sempat mengalami penurunan pada tahun 2011, tetapi pada tahuntahun berikutnya mengalami peningkatan hingga pada tahun 2014 mencapai angka 62,25%. Bila melihat angka partisipasi Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2014 (45,83%), sebagian besar kabupaten/kota melewati angka partisipasi propinsi yakni Kabupaten Malinau (62,25%), Kabupaten Nunukan (56,59%), dan Kota Tarakan (46,69%), sedangkan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Tana Tidung masih di bawah angka partisipasi angkatan kerja perempuan propinsi. Perempuan harus diberi peluang, kesempatan, dan akses yang semakin terbuka luas untuk berkompetisi di dalam dunia kerja agar mempunyai peluang yang sama dengan laki-laki. 7. Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan Banyaknya kasus kekerasan yang terjadi yang melibatkan perempuan dan anak selayaknya membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah. Berikut ini adalah tabel penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 147

148 dan anak dari tindak kekerasan yang terjadi di Propinsi Kalimantan Utara dalam periode tahun Tabel B.7 Persentase Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak (%) Bulungan 50,00 133,33 80, ,90 n/a Malinau n/a n/a 90,91 100,00 100,00 100,00 Nunukan 88,89 65,71 111,32 73,17 76,92 n/a Tana Tidung n/a n/a n/a n/a n/a n/a Tarakan 100,00 100,00 78,95 79,93 n/a n/a Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka 2011; 2013; ) Dinas BPMPPKBPD Kota Tarakan (data tahun 2011) 6) Dinas BPMPPKBPD Kabupaten Malinau (data tahun 2014; 2015) Tabel di atas menunjukkan tingginya penyelesaian pengaduan kasus perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan. Tingginya angka tersebut membuktikan bahwa adanya tindakan cepat dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan kasus-kasus kekerasan yang terjadi dan melibatkan perempuan dan anak. Meskipun pada tahun 2013 di Kabupaten Bulungan terjadi kasus kekerasan tetapi tidak ada penyelesaian selama setahun tersebut. Kabupaten yang menunjukkan persentase yang baik selama periode tahun dalam menyelesaikan kasus perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan adalah Kabupaten Malinau selama tahun berada di kisaran angka 90% bahkan tahun selalu 100%. Sementara di Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan menunjukkan kecenderungan penurunan. Di Kabupaten Nunukan mengalami tren fluktuatif selama kurun waktu periode tersebut. Dalam menyelesaikan kasus yang melibatkan perempuan dan anak khususnya perlindungan terhadap mereka dari tindak kekerasan yang biasanya terjadi di dalam keluarga diperlukan perhatian khusus dan tindakan yang cepat dari pemerintah dan pihakpihak terkait agar korban-korban dari tindak kekerasan ini khususnya perempuan dan anak-anak tidak mengalami trauma dan bisa melanjutkan kehidupan mereka seperti sebelumnya. 8. Persentase Jumlah Tenaga Kerja Di Bawah Umur Di Indonesia usia minimum seseorang dapat bekerja adalah 15 tahun. Anak-anak usia dibawah 15 tahun tidak diperbolehkan untuk bekerja sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Tetapi pekerja dibawah umur masih banyak terjadi di Indonesia karena faktor ekonomi, sosial dan lingkungan. Di Kalimantan Utara sendiri tidak luput dari adanya RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 148

149 anak-anak dibawah umur yang bekerja. Tetapi sejauh ini belum ada data yang mendukung persentase jumlah tenaga kerja di bawah umur seperti data jumlah pekerja usia 5-14 tahun dan data jumlah pekerja usia 5 tahun keatas baik yang berasal dari kabupaten/kota maupun yang berasal dari provinsi. C. Pangan Ketahanan pangan merupakan kondisi kecukupan, ketersediaan, keterjangkauan dan keberlanjutan terpenuhinya kebutuhan pangan baik secara kualitatif maupun kuantitatif bagi masyarakat untuk menuju masyarakat yang sehat sejahtera dan produktif. Definisi tentang ketahanan pangan dirujuk dari FAO (1996) yang diadopsi ke dalam UU RI No. 7 Tahun 1996, menyebutkan bahwa terdapat empat komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan yaitu, (LIPI, 2004): 1. Kecukupan ketersediaan pangan 2. Stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun 3. Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan, serta 4. Kualitas/keamanan pangan Adanya empat komponen tersebut, kemudian dapat diukur ketahanan pangan tingkat rumah tangga dengan menghitung indeks ketahanan pangan. Pengukuran ketahanan pangan tingkat rumah tangga dihitung bertahap dengan cara menggabungkan keempat komponen ketahanan tersebut, untuk mendapatkan indeks ketahanan pangan. Dalam mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan suatu wilayah, pemerintah baik kabupaten, provinsi bahkan sampai pada tingkat negara, seharusnya memiliki regulasi ketahanan pangan sebagai alat ukur indeks ketahanan pangan daerah tersebut. Sehingga regulasi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dasar kebijakan untuk membangun tingkat ketahanan pangan yang lebih baik melalui program pengembangan sumber daya pangan setempat khususnya untuk kebutuhan pangan utama, yang didukung sumber daya manusia yang profesional dan tersedianya sarana dan prasarana produksi pertanian dalam arti luas. Dalam rangka menuju kecukupan gizi (karbohidrat) maupun nutrisi lainnya, pengembangan tanaman pangan di luar padi sebagai pangan utama harus mendapat perhatian dalam pengembangan atau budidayanya sebagai sumber karbohidrat alternatif. Sehingga bila nantinya terjadi gangguan pada kecukupan ketersediaan beras, diharapkan tidak terjadi ketergantungan pada pihak luar untuk impor. Konsep seperti ini dikenal RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 149

150 sebagai diversifikasi sumber pangan yang dalam praktek produksinya biasa disebut diversifikasi pertanian. Untuk wilayah atau daerah yang masyarakatnya dengan pola konsumsi beras sebagai bahan pangan utama, maka indikator ketersediaan yang memenuhi kaidah ketahanan dan kedaulatan pangan dapat dari produksi padi sendiri dalam suatu kurun waktu misalnya tahunan dan harus dianalisis dengan cermat dalam hal produksi padi, tingkat rendemen menjadi beras dan tingkat kerusakannya untuk masing-masing wilayah/daerah, sedang bagi wilayah atau bagian wilayah yang bahan pangan utama penduduk bukan beras, maka perlu pendekatan analisis karbohidrat setara beras dari bahan pangan non beras tersebut sebagai pendukung dalam penyediaan pangan yang harus disesuaikan. Sektor pertanian tidak hanya mempunyai fungsi penyediaan dan pencukupan pangan, tetapi sektor pertanian pada umumnya juga memberikan konstribusi terhadap nilai PDRB. Sehingga sejauh mana konstribusi tersebut harus dianalisa dari tahun ke tahun, serta disusun suatu konsep pengembangaan ke depan sebagai bagian dari isu strategis. 1. Kecukupan Ketersediaan Pangan Ketersediaan pangan dalam rumah tangga mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga untuk kurun waktu (hari) tertentu. Kecukupan akan beras suatu daerah tergantung pada berapa kali daerah tersebut panen padi, yang sangat dipengaruhi oleh luas panen dan produktivitasnya. Untuk mengetahui daya dukung lahan pertanian di suatu daerah, terutama di daerah yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian, daya dukung dihitung dari produksi bahan makanan. Perhitungannya didasarkan pada Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) yang didasarkan atas kebutuhan kalori per orang per hari yaitu kalori per orang per hari atau setara 265 kg beras per orang per tahun. Nilai kebutuhan pokok minimum adalah nilai yang menunjukkan seseorang dapat hidup secara normal, sehingga dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Odumddk cit. Moniaga (2011) dikatakan bahwa daerah yang mampu swasembada pangan adalah daerah yang dapat memenuhi KFM penduduk kalori/hari yang setara dengan 265 kg beras/orang/tahun. Sedangkan untuk daerah yang dikatakan dapat memberikan kehidupan yang layak bagi penduduk yang bergantung pada tanaman pangan adalah daerah yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk dalam taraf yang layak yaitu setara dengan 650 kg beras/orang/tahun atau 2,446 x KFM. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 150

151 Untuk menganalisis tingkat daya dukung lahan pertanian digunakan rumus matematika dari konsep gabungan atas tori Odum, Christeiler, Ebenezer Howard dan issard dalam Soehardjo dan Tukiran, 1990 cit. Moniaga, 2011, sebagai berikut: σ = X/K, dimana σ = tingkat daya dukung lahan pertanian X = Luas panen tanaman pangan per kapita = Luas panen tanaman pangan di suatu daerah dibagi jumlah penduduk di daerah tersebut K = Luas lahan untuk swasembada pangan, dengan = Kebutuhan Fisik Minimum dibagi produksi tanaman pangan per ha per tahun. Nilai σ menunjukkan kelas tingkat kemampuan swasembada pangan, yang dikategorikan menjadi 3 kelas yaitu: 1. Kelas I : nilai σ > 2,47, artinya wilayah ini mampu swa sembada pangan dan mampu memberikan kehidupan yang layak bagi penduduknya. 2. Kelas II : 1 nilai σ 2,7, artinya wilayah ini mampu swa sembada pangan, tetapi belum mampu memberikan kehidupan layak bagi penduduknya. 3. Kelas III : nilai σ < 1, artinya wilayah ini belum mampu swa sembada pangan. Dengan pendekatan analisis tersebut, maka dapat dijelaskan sebagai berikut. Tabel C.1 Analisis Daya Dukung Lahan Mendukung Kemampuan Swasembada Pangan Tahun 2010 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Produksi penddk panen total Per ha KFM X K σ Bulungan , ,17 83,60 0, Malinau , ,17 102,32 0, Nunukan , ,07 64,32 0, Tana Tidung , ,05 71,43 0, Tarakan , ,00 74,02 0, Kalimantan Utara , ,08 81,54 0, Sumber: Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun Tabel C.2 Analisis Daya Dukung Lahan Mendukung Kemampuan Swasembada Pangan Tahun 2011 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Produksi penddk panen total Per ha KFM X K σ Bulungan , ,17 86,60 0, Malinau , ,13 103,11 0, Nunukan , ,06 63,55 0, Tana Tidung , ,04 73,41 0, Tarakan , ,00 66,92 0, Kalimantan Utara , ,07 75,93 0, Sumber: Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 151

152 Tabel C.3 Analisis Daya Dukung Lahan Mendukung Kemampuan Swasembada Pangan Tahun 2012 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota penddk Luas Produksi panen Total Per ha KFM X K σ Bulungan , ,18 75,93 0, Malinau , ,13 102,71 0, Nunukan , ,06 64,16 0, Tana Tidung , ,05 83,86 0, Tarakan , ,00 61,06 0, Kalimantan Utara , ,07 78,40 0, Sumber: Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun Tabel C.4 Analisis Daya Dukung Lahan Mendukung Kemampuan Swasembada Pangan Tahun 2013 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Produksi penddk Panen Total Per Ha KFM X K σ Bulungan , ,16 75,2796 0, Malinau , ,12 98,1082 0, Nunukan , ,04 61,5982 0,00067 Tana Tidung , ,04 76,2096 0, Tarakan , , ,1642 5,717E-06 Kalimantan Utara , ,06 76,3322 0, Sumber: Analisis Data Sekunder 2016 Tabel C.5 Analisis Daya Dukung Lahan Mendukung Kemampuan Swasembada Pangan Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota penddk Luas Produksi Panen Total Per ha KFM X K σ Bulungan , ,13 73,9793 0, Malinau , ,12 87,9895 0, Nunukan , ,04 58,805 0, Tana Tidung , ,04 74,392 0, Tarakan , ,00 50,646 6,17E-06 Kalimantan Utara , ,05 68,1436 0, Sumber: Analisis Data Sekunder 2016 Tabel C.6 Tingkat Kemampuan Swasembada Pangan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Tingkat Kemampuan Swasembada Pangan Bulungan 0, , , , , Malinau 0, , , , , Nunukan 0, , , , , Tana Tidung 0, , , , , Tarakan 0, , , , , Kalimantan Utara 0, , , , , Sumber: Analisis Data Sekunder 2016 Berdasarkan data analisis daya dukung tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai daya dukung lahan pertanian memiliki nilai σ < 1. Angka ini menunjukkan bahwa daerah tersebut belum mampu swasembada pangan. Belum ada kabupaten/kota yang swasembada RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 152

153 pangan, tetapi Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau memiliki tingkat ketahanan pangan yang cukup tinggi dibanding kabupaten/kota yang lain. 2. Stabilitas Ketersediaan Stabilitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga diukur berdasarkan kecukupan ketersediaan pangan dan frekuensi makan anggota keluarga dalam sehari. Satu rumah tangga dikatakan memiliki stabilitas ketersediaan pangan jika mempunyai persediaan pangan di atas cutting point yang ditetapkan di daerah tersebut. Cutting point adalah jumlah hari yang menunjukkan rumah tangga memiliki ketersediaan pangan yang cukup dengan asumsi tertentu, misalnya 240 hari untuk daerah yang dapat panen padi tiga kali per dua tahun, atau 360 hari untuk daerah yang hanya bisa panen padi sekali setahun. Tabel C.7 Tingkat Konsumsi dan Ketersediaan Pangan Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kelompok bahan pangan Tingkat Konsumsi Tingkat Ketersediaan gr/hari kg/tahun 000 Ton gr/hari kg/tahun 000 Ton Beras Umbi umbian Pangan hewani Minyak dan lemak 22 8, , , ,26 Buah/biji berminyak 41,93 15, ,52 46,12 16, ,97 Kacang kacangan 26 9, , , ,18 Gula 27 10, , , ,78 Sayuran dan Buah , , Lain lain Jumlah 1.729,93 632, , ,1 695, ,2 Sumber: Laporan Perencanaan Pangan berdasarkan AKG dan PPH Provinsi Kalimantan Utara, 2015 Indikator stabilitas dikelompokkan menjadi tiga yaitu stabil, kurang stabil dan tidak stabil. Daerah yang masih memiliki stabilitas ketersediaan pangan rendah, harus berupaya untuk meningkatkan produksi padi melalui berbagai program, namun harus mempertimbangkan kondisi agroklimat dan ketersediaan pelaku produksi atau petani profesional yang tersedia. Dari data yang ada menunjukkan bahwa Provinsi Kalimantan Utara mempunyai stabilitas ketersediaan pangan yang stabil. Tingkat stabilitas ini dapat ditingkatkan dan atau dipertahankan untuk masa mendatang melalui berbagai langkah untuk membangun pertanian di provinsi ini. Perlu dirancang program peningkatan produksi tanaman pangan baik melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan atau diversifikasi. Untuk mendukung program intensifikasi pemerintah daerah harus mempunyai program penyediaan saprotan, dibangunnya sarana irigasi dan atau drainase, pencetakan sawah baru, pembangunan jalan usaha tani, penyediaan alsintan yang sesuai, pembangunan lantai jemur dan gudang serta unit pengolahan hasil panenan. Pendekatan kepada pemberdayaan sumber daya manusia pelaku produksi khususnya kelompok tani dengan peningkatan jumlah dan kualitas tenaga RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 153

154 penyuluh dan pendamping lapangan bagi kelompok tani. Peningkatan kualitas tenaga penyuluh melalui upgrading, training dan program pendidikan/latihan lainnya. 3. Aksesibilitas/Keterjangkauan terhadap Pangan Indikator aksesibilitas/keterjangkauan dalam pengukuran ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dilihat dari kemudahan rumah tangga memperoleh bahan pangan, dari hasil panen sendiri atau dari diperoleh luar/membeli, yang diukur dengan luas pemilikan lahan pertanian, tingkat produktivitas dan kualitas, atau pendapatan keluarga serta cara rumah tangga untuk memperoleh pangan dengan cara membeli. Akses yang diukur berdasarkan pemilikan lahan/ladang dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu: 1. Akses langsung, jika rumah tangga memiliki lahan sawah/ladang 2. Akses tidak langsung, jika rumah tangga tidak memiliki lahan sawah/ladang Cara rumah tangga memperoleh pangan juga dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu: 1. Produksi sendiri, masyarakat memiliki lahan sawah sehingga cara memperoleh pangan dengan cara akses langsung, atau tidak langsung (sawah tidak untuk tanaman pangan) 2. Membeli, masyarakat tidak memiliki sawah, mengakses pangan secara tidak langsung Dari pengukuran indikator aksesibilitas ini kemudian dapat diukur indikator stabilitas ketersediaan pangan yang merupakan penggabungan dari stabilitas ketersediaan pangan dan aksesibilitas terhadap pangan. Indikator stabilitas ketersediaan pangan digunakan untuk menunjukkan status suatu rumah tangga mempunyai persediaan pangan cukup, konsumsi rumah tangga normal dan mempunyai akses langsung terhadap pangan. Apabila dipadukan antara stabilitas langsung dan kontinyuitas bagi masyarakat yang memiliki lahan sawah untuk pangan (padi), maka indikator yang ada adalah stabil kontinyu, kurang stabil dan kurang kontinyu, atau tidak stabil dan tidak kontinyu. Sedang untuk masyarakat yang tidak memiliki lahan sawah indikator yang mungkin ada adalah stabil kurang kontinyu, kurang stabil tidak kontinyu, dan tidak stabil tidak kontinyu, yang hal ini sangat ditentukan oleh pasokan bahan pangan dari luar atau produksi petani setempat. Dalam hal ini ketersediaan dan berfungsinya sarana dan prasarana penyimpanan serta transportasi menjadi sangat penting, juga program pengendalian harga. Integrasi antar sektor mulai menunjukkan peran dan fungsinya, artinya aksesibilitas pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pertanian. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 154

155 Provinsi Kalimantan Utara secara keseluruhan memiliki potensi pertanian yang sangat tinggi untuk mendukung pembangunan wilayah untuk jangka menengah maupun jangka panjang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa iklim, dan daya dukung lahan yang sangat baik untuk pertanaman tanaman pangan, sehingga perlu perencanaan pembangunan pertanian yang komprehensif, terarah dan berkelanjutan. Ketersediaan dan perlindungan terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) di Kalimantan harus menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan dalam perencanaan pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Utara. Bahkan dari data luas lahan non sawah yang memiliki potensi untuk digunakan untuk pengembangan pertanian dalam arti luas, yang mencakup tanaman non-padi dan peternakan sangat potensial. 4. Kualitas/Keamanan Pangan Kualitas/keamanan jenis pangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi, ada tiga kriteria yang lebih didasarkan pada kecukupan gizi masyarakat, sehingga dimasukkan unsur kebutuhan protein dan nutrisi lainnya, yaitu: 1. Rumah tangga dengan kualitas pangan baik adalah rumah tangga yang memiliki pengeluaran untuk lauk-pauk berupa protein hewani dan nabati atau protein hewani saja 2. Rumah tangga dengan kualitas pangan kurang baik adalah rumah tangga yang memiliki pengeluaran untuk lauk pauk berupa protein nabati saja 3. Rumah tangga dengan kualitas pangan tidak baik adalah rumah tangga yang tidak memiliki pengeluaran untuk lauk-pauk berupa protein baik hewani maupun nabati. Ditinjau dari tingkat kemampuan Provinsi Kalimantan dalam penyediaan dan pemenuhan kebutuhan beras bagi warganya cukup tinggi, hal ini akan memberikan kondisi bahwa keamanan kecukupan pangan di Provinsi Kalimantan Utara terjamin. Agar keamanan kecukupan pangan ini disertai keamanan kualitasnya, maka penanganan pergudangan dan distribusi merupakan hal yang tidak terpisahkan. Selain itu peningkatan kualitas pangan bagi masyarakatnya untuk mendukung pembangunan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian utama. Dari aspek kualitas pangan secara tidak langsung bahwa konsep penganekaragaman menjadi sangat penting. Artinya kebutuhan pangan bagi manusia tidak hanya terdiri dari karbohidrat, namun diperlukan bahan pangan lain sebagai sumber unsur pelengkap gizi. Bertitik tolak dari poin ini menggambarkan bahwa pembangunan pertanian tidak hanya terbatas pada produksi padi saja, tetapi termasuk jenis tanaman lainnya yang turut dibudidayakan, yang disebut dengan diversifikasi pertanian. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 155

156 5. Indeks Ketahanan Pangan Indeks ketahanan pangan dihitung dengan cara mengkombinasikan keempat indikator ketahanan pangan (ketersediaan, stabilitas ketersediaan, keberlanjutan dan kualitas/keamanan pangan). Kombinasi antara kecukupan ketersediaan pangan dan frekuensi makan memberikan indikator stabilitas ketersediaan pangan. Kombinasi antara stabilitas ketersediaan pangan dengan akses terhadap pangan memberikan indikator kontinyuitas ketersediaan pangan. Indeks ketahanan pangan diukur berdasarkan gabungan antara indikator kontinyuitas ketersediaan pangan dengan kualitas/keamanan pangan. Indeks ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dikategorikan seperti pada tabel berikut. Tabel C.8 Indeks Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Provinsi Kalimantan Utara Kualitas/Keamanan Pangan: Konsumsi Protein Hewani dan/atau Nabati Kontinyuitas Protein Hewani dan Tidak Ada Konsumsi Ketersediaan Pangan Protein Nabati Nabati/Protein Hewani Protein Hewani dan Nabati Kontinyu Tahan Kurang tahan Tidak tahan Kurang kontinyu Kurang tahan Tidak tahan Tidak tahan Tidak kontinyu Tidak tahan Tidak tahan Tidak tahan Sumber: Hasil Analisis 2016 Atas dasar matriks tersebut, maka rumah tangga dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu: 1. Rumah tangga tahan pangan, adalah rumah tangga yang memiliki persediaan pangan/makanan pokok secara kontinyu (diukur dari persediaan makan selama jangka masa satu panen dengan panen berikutnya dengan frekuensi makan tiga kali atau lebih per hari serta akses langsung) dan memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati atau protein hewani saja. 2. Rumah tangga kurang tahan pangan, adalah rumah tangga yang memiliki: a. Kontinyuitas pangan/makanan pokok kontinyu, tetapi hanya mempunyai pengeluaran untuk protein nabati saja b. Kontinyuitas ketersediaan pangan/makanan kurang kontinyu dan mempunyai pengeluaran untuk protein hewani dan nabati. 3. Rumah tangga tidak tahan pangan, adalah rumah tangga yang dicirikan oleh: a. Kontinyuitas ketersediaan pangan kontinyu, tetapi tidak memiliki pengeluaran untuk protein hewani maupun nabati b. Kontinyuitas ketersediaan pangan kurang kontinyu dan hanya memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati c. Kontinyuitas ketersediaan pangan tidak kontinyu walaupun memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 156

157 d. Kontinyuitas ketersediaan pangan tidak kontinyu dan hanya memiliki pengeluaran untuk protein nabati saja, atau tidak untuk keduanya. Berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Nasional tahun 2009 yang dikeluarkan Departemen Pertanian dan World Food Programme, menyebutkan bahwa Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan merupakan dua kabupaten yang termasuk dalam kategori prioritas kerawanan pangan berdasarkan indeks ketahanan pangan komposit. Indeks ketahanan pangan komposit terdiri dari ketersediaan pangan, akses pangan dan penghidupan serta pemanfaatan pangan dan gizi. Kabupaten Nunukan termasuk kategori kerawanan pangan prioritas 2 dengan peringkat 60 dari 346 kabupaten terdata, sedangkan Kabupaten Malinau termasuk kategori kerawanan pangan prioritas 3 dengan peringkat 84. Kategori kerawanan pangan prioritas 2 sangat ditentukan oleh: 1) underweight pada balita, 2) desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda 4, 3) tanpa akses terhadap air bersih, 4) kemiskinan, dan 5) tanpa akses terhadap listrik. Sedangkan kategori kerawanan pangan prioritas 3 ditentukan oleh: 1) underweight pada balita, 2) kemiskinan, 3) tanpa akses terhadap air bersih, 4) tidak memadainya produksi pangan pokok, dan 5) tanpa akses terhadap listrik. Dilihat dari indikator ketersediaan pangan dalam Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Nasional tersebut, peringkat Kabupaten Nunukan di urutan ke 142, Kabupaten Malinau peringkat ke 153 dan Kabupaten Bulungan peringkat ke 162. Jika dilihat dari indikator-indikator akses terhadap pangan yang terdiri dari penduduk di bawah garis kemiskinan, rumah tangga tanpa akses listrik, dan desa tanpa akses ke jalan, maka penduduk di bawah garis kemiskinan Kabupaten Nunukan berada di peringkat 180, Kabupaten Bulungan peringkat 209, Kabupaten Nunukan peringkat 224. Jika berdasarkan indikator rumah tangga tanpa listrik maka Kabupaten Nunukan di peringkat 289, Kabupaten Bulungan peringkat 177, Kabupaten Malinau peringkat 189. Sedangkan berdasarkan desa tanpa akses ke jalan Kabupaten Nunukan berada di peringkat 335, Kabupaten Bulungan peringkat 200, dan Kabupaten Malinau peringkat 310. Sektor pertanian berperanan penting sebagai landasan untuk pembangunan sumber daya manusia dengan meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam yang lestari dan berkelanjutan. Dengan peningkatan produksi pangan dan penganekaragaman produk bagi masyarakat, maka penatagunaan lahan di Provinsi Kalimantan Utara perlu pengkajian lebih lanjut dengan arah kebijakan untuk perluasan areal pertanian dalam arti luas. Tujuan strategis dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan indeks ketahanan pangan menuju kesejahteraan masyarakat berbasis sektor pertanian, dan meningkatkan peran sektor pertanian dalam PDRB daerah. Untuk perluasan areal pertanian perlu RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 157

158 dilakukan pencetakan sawah tersier dengan didukung sarana dan prasaran pengairan yang memadai untuk lahan pertanian basah. Sedang untuk pembanguan areal pertanian lahan kering yang harus diperhatikan adalan pelestarian sumber daya lahan dan sumber daya air yang ada. 6. Regulasi Ketahanan Pangan Dalam mewujudkan upaya Provinsi Kalimantan Utara sebagai daerah yang memiliki ketahanan pangan, diperlukan pembangunan yang berkelanjutan yang didukung dengan berbagai regulasi yang mengatur, mendukung serta mengendalikan pembangunan pertanian tersebut. Tabel C.9 Ketersediaan Regulasi Ketahanan Pangan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Ketersediaan Regulasi Ketahanan Pangan Bulungan Tidak ada ada ada Tidak Ada Tidak Ada Malinau ada ada ada Tidak Ada Tidak Ada Nunukan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Ada Tidak Ada Tana Tidung Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Ada Tidak Ada Tarakan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Ada Tidak Ada Kalimantan Utara Tidak Ada Tidak Ada Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Pada tahun belum terdapat regulasi yang mendukung ketahanan pangan baik itu di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Regulasi ini mencakup kebijakan tentang ketahanan pangan baik itu seperti peraturan daerah, peraturan kepala daerah maupun sejenisnya. 7. Ketersediaan Pangan Utama Ketersediaan pangan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah kemampuan daerah untuk memiliki dan menyediakan sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Di Provinsi Kalimantan Utara, pangan utama masyarakat adalah beras. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 158

159 Tabel C.10 Ketersediaan Pangan Utama Tahun (Kg/Kapita/Tahun) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 292,37 284,43 330,78 305,36 253,36 Malinau 243,91 195,08 184,81 175,27 187,01 Nunukan 146,21 144,35 128,96 95,70 85,44 Tana Tidung 96,72 87,69 91,24 73,15 84,14 Tarakan 0,31 0,52 0,56 0,82 0,88 Kalimantan Utara 133,07 124,33 129,62 112,99 100,81 Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Hasil Analisis 2016 Kecukupan pangan di Provinsi Kalimantan Utara sejak tahun 2010 hingga tahun 2014 cenderung mengalami penurunan, dari yang bernilai 133,07 kg/kapita/tahun menjadi 100,81 kg/kapita/tahun (kriteria kebutuhan pangan beras per kapita/tahun 120 kg). Perlu diperhatikan bahwa kondisi tersebut sebenarnya belum baik, karena kebutuhan manusia tidak hanya terpenuhi kebutuhan sumber beras saja tetapi secara keseluruhan dinilai dalam kecukupan kalori per kapita per tahun yang setara dengan 265 kg beras/kapita/tahun. Ketersediaan pangan merupakan salah satu sub-sistem utama dalam sistem ketahanan pangan, yang menjelaskan tentang jumlah bahan pangan yang tersedia di suatu wilayah. Ketersediaan pangan dapat diwujudkan melalui produksi pangan di suatu daerah, pemasukan dari luar daerah dan cadangan pangan yang dimiliki daerah yang bersangkutan. Produksi pangan di suatu wilayah tergantung pada berbagai faktor luar seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, ketersediaan sarana produksi yang tepat dan alat-alat pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan. Ketersediaan pangan dengan sumber bahan pangan dari luar, faktor yang mempengaruhi lebih komplek dan bersifat lintas sektoral. Provinsi Kalimantan Utara saat ini mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Pada tahun terjadi penurunan ketersediaan pangan utama walaupun tidak signifikan, meskipun pada tahun 2012 ketersediaan pangan utama di Provinsi Kalimantan Utara mengalami peningkatan. Kota Tarakan sepenuhnya belum dapat memenuhi kebutuhan pangan utama secara mandiri, hal ini disebabkan luas wilayah Kota Tarakan yang kecil dibandingkan dengan kabupaten lainnya sehingga luas lahan pertanian sangat sedikit sekali sehingga kecukupan pangan disuplai dari luar Kota Tarakan. Ketahanan pangan adalah sebuah kondisi yang terkait dengan ketersediaan bahan pangan secara berkelanjutan. Kekhawatiran terhadap ketahanan pangan akan selalu muncul, sehingga tantangan terhadap ketahanan pangan akan terus ada. Dalam rangka pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Utara guna menyokong RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 159

160 ketahanan pangan, faktor produksi berupa lahan pertanian yang sesuai merupakan sumber daya alam pokok dalam usaha pertanian. Lahan merupakan sumber daya alam yang bersifat langka karena jumlahnya tidak bertambah, bahkan secara fungsi dapat berkurang, sedangkan kebutuhan terhadap lahan selalu meningkat. Terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke arah pemanfaatan non-pertanian merupakan ancaman terhadap upaya pencapaian ketahanan pangan. Alih fungsi lahan mempunyai implikasi yang serius terhadap produksi pangan, lingkungan fisik, serta kesejahteraan masyarakat pertanian dan perdesaan yang kehidupannya bergantung pada lahannya. Alih fungsi lahan pertanian subur selama ini kurang diimbangi oleh upaya-upaya terpadu mengembangkan lahan pertanian melalui pencetakan lahan pertanian baru yang potensial, khususnya di luar Jawa, termasuk di Provinsi Kalimantan Utara yang ada kecenderungan peralihan dari padi untuk perkebunan kelapa sawit. Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian pangan menyebabkan makin sempitnya luas lahan yang diusahakan yang berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan petani. Oleh karena itu, pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan melalui perlindungan lahan pertanian pangan seperti yang diatur dalam UU RI No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan dan mempertahankan ketahanan pangan, dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya. D. Pertanahan Terdapat 3 (tiga) indikator yang termasuk dalam urusan pertanahan, yakni indikator persentase luas lahan bersertifikat terhadap luas wilayah, penyelesaian kasus tanah negara, serta indikator penyelesaian izin lokasi. Ketiga indikator tersebut dapat dilihat secara jelas di bawah ini. 1. Persentase Luas Lahan Bersertifikat Sertifikat tanah adalah surat bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan (Profil Pertanahan Provinsi Kalimantan Utara-Kalimantan Timur Tahun 2015). Lahan merupakan salah satu aset bagi setiap orang. Apalagi kondisi harga lahan saat ini yang terus merangkak naik menjadikannya komoditas yang berharga. Hal yang masih menjadi masalah dalam sektor pertanahan negara ini adalah administrasi pertanahan yang belum maksimal seperti salah satunya adalah sertifikat kepemilikan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 160

161 tanah. Akibatnya, kasus sengketa tanah banyak terjadi karena lemahnya data teknis dan sertifikat. Data persentase luas lahan bersertifikat didapatkan dari rumus formula jumlah luas lahan bersertifikat dibagi dengan jumlah penduduk dan dikalikan Indikator pertanahan ini bertujuan untuk mengetahui tertib administrasi sebagai kepastian dalam kepemilikan lahan. Tabel D.1 Persentase Luas Lahan Bersertifikat Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Lahan Bersertifikat (%) Bulungan 732,35 705,09 19,61 19,23 Malinau 1,14 Nunukan 0,07 Tana Tidung Tarakan 0,61 27,10 26,06 26,56 Kalimantan Utara 157,66 160,77 13,90 13,74 Sumber: 1) Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Hasil Analisis, 2016 Pada tahun 2015, cakupan luas wilayah bidang bersertifikat yang sudah terdigitasi secara keseluruhan di Provinsi Kalimantan Utara mencapai ,8 Ha atau atau sekitar ½ luas wilayah bidang bersertifikat terdigitasi di Provinsi Kalimantan Timur. Hampir semua kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara memiliki bidang tanah bersertifikat yang sudah terdigitasi tersebut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 161

162 Gambar D.1 Peta Cakupan Bidang Tanah Bersertifikat yang Telah Terdigitasi di Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Profil Pertanahan Provinsi Kalimantan Utara-Kalimantan Timur Tahun 2015 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 162

163 Jumlah bidang yang telah memiliki sertifikat Hak Milik Atas Tanah di Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu 10 tahun diperoleh secara swadaya, PRONA, dan program bagi petani, nelayan, MBR, UKM, dan transmigrasi. Sertifikat hak milik atas tanah yang diperoleh secara swadaya memiliki jumlah bidang terbanyak dibanding sertifikat hak milik atas tanah lainnya yakni sejumlah bidang hingga tahun Kemudian diikuti oleh jumlah sertifikat yang berasal dari PRONA (Proyek Operasi Nasional Agraria) sebanyak bidang tanah dalam kurun waktu 10 tahun. Adapun jumlah bidang terendah yang memiliki sertifikat hak milik atas tanah adalah milik nelayan dengan jumlah sebatas 262 bidang. Tabel D.2 Jumlah Bidang yang Telah Memiliki Sertifikat Hak Milik Atas Tanah di Provinsi Kalimantan Utara No. Tahun Swadaya PRONA Petani Nelayan MBR UKM Transmigrasi 1 s/d Total Sumber: Profil Pertanahan Provinsi Kalimantan Utara-Kalimantan Timur Tahun 2015 Keterangan: Data di atas masih gabungan dengan Provinsi Kalimantan Timur Data yang terhimpun hanya mencakup 6 Kantor Pertanahan di Provinsi Kalimantan Utara dan Timur Selain sertifikat Hak Milik Atas Tanah, Badan Pertanahan juga mengeluarkan sertifikat pertanahan dalam bentuk sertifikat Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai, Hak Tanggungan, Hak Wakaf, dan Hak Pengelolaan. Tabel D.3 Jumlah Bidang dan Luas Tanah yang Telah Memiliki Sertifikat Berdasarkan Jenis Hak yang Dikeluarkan di Provinsi Kalimantan Utara No. Sertifikat Hak Atas Tanah Jumlah (Bidang) Luas (Ha) 1 Hak Guna Usaha Hak Guna Bangunan Hak Pakai Hak Tanggungan Hak Wakaf Hak Pengelolaan Hak Pengelolaan 0 0 Sumber: Profil Pertanahan Provinsi Kalimantan Utara-Kalimantan Timur Tahun 2015 Keterangan: Data di atas masih gabungan dengan Provinsi Kalimantan Timur Selama tahun , Hak Tanggungan memiliki jumlah bidang paling banyak dibanding yang lainnya dengan jumlah sebanyak bidang dan luas total sebesar 1515 Ha. Secara keseluruhan, sertifikat kepemilikan tanah di Provinsi Kalimantan Utara (data masih tergabung dengan Kalimantan Timur) masih minim ketersediannya dibandingkan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 163

164 dengan luasan wilayah kedua provinsi tersebut. Hal ini dapat mengindikasikan kepastian hukum yang ada di wilayah provinsi ini masih sangat kurang, sehingga dapat memicu konflik pertanahan khususnya sengketa pertanahan. Selain itu, dari hal ini dapat diketahui pula bahwa tingkat ketertiban administrasi kepemilikan tanah di provinsi ini masih rendah dan perlu dilakukan penertiban. 2. Penyelesaian Kasus Tanah Negara Berdasarkan Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, yang dimaksud kasus pertanahan adalah sengketa, konflik atau perkara pertanahan yang disampaikan kepada BPN RI untuk mendapatkan penanganan penyelesaian sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau kebijakan pertanahan nasional. Secara garis besar, kasus pertanahan terbagi menjadi tiga, yaitu sengketa pertanahan, konflik pertanahan, dan perkara pertanahan. Sengketa pertanahan yang selanjutnya disingkat sengketa adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio-politis. Konflik pertanahan yang selanjutnya disingkat Konflik adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, kelompok, golongan, organisasi, badan hukum, atau lembaga yang mempunyai kecenderungan atau sudah berdampak luas secara sosio-politis. Sedangkan, perkara pertanahan adalah perselisihan pertanahan yang penyelesaiannya dilaksanakan oleh lembaga peradilan atau putusan lembaga peradilan yang masih dimintakan penanganan perselisihannya di BPN RI (Profil Pertanahan Provinsi Kalimantan Utara-Kalimantan Timur Tahun 2015). Lemahnya data administrasi dan sertifikasi tanah dapat mengakibatkan munculnya kasus sengketa tanah/lahan. Penyelesaian kasus sengketa sangat penting terutama apabila itu merupakan tanah negara. Persentase penyelesaian kasus tanah negara menunjukkan keseriusan stakeholder untuk mengamankan fungsi tanah negara. Semakin lama tanah negara terlibat dalam sengketa, maka fungsi tanah negara akan terganggu, apalagi jika akan dibangun fasilitas publik. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 164

165 Tabel D.4 Penyelesaian Kasus Tanah Negara Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Penyelesaian Kasus Tanah Negara (%) Bulungan 57,14 57,14 42,86 42,86 Malinau 0,00 Nunukan 100,00 12,50 11,11 Tana Tidung 0,00 Tarakan 100,00 41,51 41,51 100,00 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau ) LPPD Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan ) Laporan Akuntanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur 2012 Beberapa kabupaten diketahui telah menuntaskan kasus tanah negara tiap tahunnya seperti Kota Tarakan di tahun 2010 dan 2013, serta Kabupaten Nunukan di tahun Kabupaten Bulungan selama tahun terdapat penurunan persentase yaitu dari 57,14% di tahun 2010 dan 2011 kemudian turun menjadi 42,86% di tahun Penyelesaian kasus tanah negara memang tidak mudah apalagi melibatkan banyak pihak. Terdapat kasus tanah negara yang hanya hitungan bulan sudah selesai, akan tetapi kasus lain membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk selesai. Penyelesaian kasus tanah negara penting agar lahan tersebut dapat segera dimanfaatkan untuk kepentingan umum. 3. Penyelesaian Izin Lokasi Masalah yang dihadapi investor dalam mencari ijin lokasi adalah birokrasi. Birokrasi yang panjang dan adanya pungutan liar membuat penyelesaian ijin menjadi lama. Semakin lama ijin dikeluarkan, maka investor akan kehilangan waktu untuk memulai usahanya sehingga diharapkan ijin lokasi dapat diperoleh dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ketidakpastian dan lamanya waktu keluar izin dapat berakibat investor berpindah untuk menanamkan modalnya di daerah lain. Tabel D.5 Penyelesaian Ijin Lokasi Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Penyelesaian Ijin Lokasi (%) Bulungan Malinau 66,67 Nunukan 100,00 47,62 14,29 Tana Tidung 0,00 Tarakan ,67 Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau 2008,2009,2010,2011,2012,2013 2) LPPD Kabupaten Bulungan 2008,2009,2010,2011,2012,2013 3) LPPD Kabupaten Nunukan 2008,2009,2010,2011,2012,2013 4) LPPD Kabupaten Tana Tidung 2010,2011,2012 5) LPPD Kota Tarakan 2008,2009,2010,2011,2012,2013 6) Laporan Akuntanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur 2012 dan 2013 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 165

166 Beberapa kabupaten sudah menyelesaikan semua ijin lokasi setiap tahunnya seperti Kabupaten Bulungan, yang selama mencapai 100%. Beberapa kabupaten/kota belum menyelesaikan ijin lokasi, seperti Kabupaten Malinau, di tahun 2012 persentasenya mencapai 66,67%; Kabupaten Nunukan di tahun 2012 dan 2013 hanya menyelesaikan 47,62% dan 14,29%. Persentase penyelesaian ijin lokasi yang rendah merupakan indikasi rumitnya birokrasi, banyaknya perizinan yang harus dilewati dan lamanya waktu pembuatan surat izin merupakan masalah dalam perizinan investor. E. Lingkungan Hidup Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumberdaya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup. Tanpa disadari sepenuhnya, kegiatan pembangunan apalagi yang bersifat fisik dan berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam jelas mengandung resiko terjadinya perubahan ekosistem yang selanjutnya mengakibatkan dampak yang bersifat negatif maupun positif. Oleh karena itu, suatu kegiatan pembangunan yang dilaksanakan haruslah berwawasan lingkungan, selain berwawasan sosial dan ekonomi. Beberapa indikator ditemui tidak dapat diisikan karena belum tersedia/adanya pendataan. 1. Persentase Penanganan Sampah Persentase penanganan sampah merupakan indikator untuk mengukur rasio volume sampah yang ditangani di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan rumus volume sampah ditangani dibagi dengan volume produksi sampah dan dikalikan 100. Data volume sampah yang ditangani dilihat dari data volume sampah yang terangkut per harinya (m 3 ), sedangkan data volume produksi sampah dilihat dari data perkiraan produksi sampah per harinya (m 3 ). Tabel E.1 Persentase Penanganan Sampah Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Persentase Penanganan Sampah (%) Bulungan 100,00 Malinau 100,00 84,04 85,80 Nunukan 70,64 Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara 100,00 90,50 87,36 Sumber: 1) Kabupaten Malinau ) Kalimantan Utara Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 166

167 Diketahui bahwa telah terjadi penurunan volume sampah yang ditangani dari tahun Volume sampah yang ditangani pada tahun 2012 mencapai angka 100%, menurun pada tahun 2013 menjadi 90,5%, dan pada tahun 2014 menurun kembali menjadi 87,36%. Berdasarkan Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman, dan Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), Standar Pelayanan Minimal tingkat penanganan sampah adalah 80%. Secara umum, dari ketiga tahun tersebut, Provinsi Kalimantan Utara sudah memenuhi standar yang ada, namun dalam hal ini masih sangat dibutuhkan peningkatan penanganan sampah sehingga dapat memaksimalkan penanganan sampah dari yang sebelumnya. 2. Persentase Penduduk Berakses Air Minum Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. Persentase penduduk berakses air minum merupakan indikator untuk mengukur tingkat penduduk yang berakses air minum. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah penduduk berakses air minum yang dibagi dengan jumlah seluruh penduduk dan dikalikan 100. Data penduduk berakses air minum dilihat dari data banyaknya pelanggan perusahaan air minum (PDAM) untuk seluruh tipe pelanggan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 167

168 Tabel E.2 Persentase Penduduk Berakses Air Minum Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Indikator Jumlah penduduk berakses air minum Jumlah penduduk Persentase penduduk berakses air minum (%) Kabupaten/ Persentase Penduduk Berakses Air Minum (%) Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 5,54 5,56 5,71 5,81 5,93 Malinau 6,77 6,63 7,23 7,50 8,32 Nunukan 3,08 3,13 3,04 3,05 3,34 Tana Tidung 2,91 2,84 2,17 1,99 3,25 Tarakan 7,03 7,17 7,35 7,68 8,02 Kalimantan Utara 5,49 5,53 5,66 5,82 6,19 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka 2011, ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Persentase penduduk berakses air minum dari tahun diketahui mengalami peningkatan. Terdapat 2 (dua) kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki persentase penduduk berakses air minum di bawah angka persentase provinsi, yaitu Kabupaten Nunukan dan Tana Tidung. Kota Tarakan menjadi daerah dengan persentase penduduk berakses air minum tertinggi untuk tahun , kecuali tahun 2014 yang masih di bawah Kabupaten Malinau. Diketahui bahwa jumlah penduduk berakses air minum dari tahun semakin bertambah setiap tahunnya. Jumlah penduduk berakses air minum tertinggi berada pada tahun 2014 yaitu sebesar penduduk atau sekitar 6,19% dari total jumlah penduduk pada tahun tersebut. Berdasarkan Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), SPM penduduk terlayani akses air minum adalah 55-75%. Dari ke 5 (lima) kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, dapat dikatakan bahwa penduduk berakses air minum di provinsi ini masih minim dan belum memenuhi standar sehingga perlu ditingkatkan. 3. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per Satuan Penduduk Tempat pembuangan sampah per satuan penduduk merupakan indikator yang menunjukkan ketersediaan tempat pembuangan sampah per satuan penduduk. Indikator RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 168

169 ini dihitung dengan rumus jumlah daya tampung tempat pembuangan sampah dibagi dengan jumlah penduduk dan dikalikan 100%. Tabel E.3 Tempat Pembuangan Sampah per Satuan Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Tempat Pembuangan Sampah per Satuan Penduduk (m 3 /satuan penduduk) Bulungan 0, ,12438 Malinau 3, ,99200 Nunukan 0, , ,20504 Tana Tidung 1, ,99537 Tarakan 0, , , , ,21831 Kalimantan Utara 0, , ,56213 Sumber : 1) Badan Lingkungan Hidup, ) Hasil Analisis, 2016 Pada tahun 2012, tempat pembuangan sampah di Provinsi Kalimantan Utara menampung sejumlah 0,00562 m 3 sampah per satuan penduduk. Kabupaten dengan jumlah tempat pembuangan sampah yang paling memadai jika dibandingkan dengan empat kabupaten yang lainnya adalah Kabupaten Malinau, yang menyediakan 0,02992 m 3 tempat pembuangan sampah per satuan penduduk. Keberadaan tempat pembuangan sampah per satuan penduduk ini dapat diguanakn untuk melihat sejauh mana masyarakat yang sudah semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan tempat tinggal. Berdasarkan kajian keandalan pola penanggulangan sampah padat, studi kasus di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, rata-rata produksi sampah di kota kecil per orang per hari adalah 0,0025 m 3 /orang/hari atau sama dengan 2,5 m 3 /1000 orang/hari. Dari kajian tersebut, diketahui bahwa seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara masih belum memiliki tempat pembuangan sampah yang memadai, sehingga perlu dilakukan penanggulangan masalah tersebut. F. Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil 1. Rasio Penduduk ber-ktp per Satuan Penduduk Kartu Tanda Penduduk merupakan salah satu kartu identitas yang wajib dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI). KTP akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pendataan dan juga dapat digunakan sebagai syarat untuk membuat surat-surat tertentu seperti SKCK, akte, NPWP, SIM, dan sebagainya. KTP wajib dimiliki oleh warga negara Indonesia yang berusia >17 tahun. Rasio penduduk ber-ktp per satuan penduduk didapatkan dari rumus formula jumlah penduduk usia>17 tahun yang ber-ktp dibagi dengan jumlah penduduk usia >17 atau telah menikah. Data rasio penduduk ber-ktp per satuan penduduk di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 169

170 Tabel F.1 Rasio Penduduk Ber-KTP per Satuan Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Penduduk Ber-KTP Bulungan Malinau 0,69 0,68 0,66 0,68 0,87 0,96 Nunukan 0,58 0,60 0,60 Tana Tidung 0,29 0,30 Tarakan 1,11 1,16 1,20 1,21 Kalimantan Utara 0,51 0,59 0,58 0,55 0,60 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, 2016 Kota Tarakan memiliki rasio penduduk ber-ktp yang tinggi, bahkan rasionya di atas angka 1 selama tahun Rasio penduduk ber-ktp di kabupaten/kota lainnya, masih relatif rendah, seperti Kabupaten Malinau yang rasionya stagnan 0,66-0,96 selama Kabupaten Tana Tidung memiliki rasio penduduk ber-ktp hanya 0,3 di tahun Pemerintah daerah yang masih memiliki rasio penduduk ber-ktp rendah di daerahnya diharapkan dapat segera menyelesaikan masalah ini. Karena data penduduk yang tidak valid akan menyulitkan pemerintah dalam melakukan perencanaan pembangunan, selain itu pula akan menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi kondisi masyarakat. 2. Rasio Bayi Berakte Kelahiran Administrasi kependudukan sangat penting dimiliki agar setiap masyarakat mendapatkan haknya sebagai warga Negara. Begitupun dengan bayi yang baru lahir yang memiliki perlakukan yang sama. Kepemilikan akte lahir menunjukkan bahwa kelahirannya telah dicatat dalam data kependudukan. Kepemilikan akte kelahiran bagi bayi merupakan hal yang penting karena kelak akan berguna sampai masa depan. Akte kelahiran dijadikan salah satu syarat untuk masuk ke dalam dunia pendidikan atau pembuatan surat-surat penting lainnya, serta kemudahan dalam mengakses pelayanan publik yang bersifat formal. Akte kelahiran merupakan sumber data jumlah kelahiran di suatu daerah, dan data tersebut penting untuk proyeksi penduduk ke depan. Apabila rasio akte kelahiran bayi minim, maka akan menyulitkan pemerintah untuk memproyeksikan penduduk yang dapat berdampak pada tidak maksimalnya program pembangunan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 170

171 Tabel F.2 Rasio Bayi Berakte Kelahiran Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Bayi Berakte Kelahiran Bulungan Malinau 0,54 0,69 0,67 0,67 0,62 0,67 Nunukan 0,58 0,58 Tana Tidung 0,70 0,68 Tarakan 0,69 0,72 1,00 1,03 Kalimantan Utara 0,69 0,72 0,77 0,79 0,58 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, 2016 Belum semua bayi di kabupaten/kota memiliki akte kelahiran. Diketahui bahwa Kota Tarakan selama tahun mengalami peningkatan rasio bayi berakte, yaitu yang semula di tahun 2010 rasionya hanya 0,69, pada tahun 2013 mengalami kenaikan yang cukup signifikan menjadi 1,03. Belum semua bayi Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung memiliki akte kalahiran, sedangkan di Kabupaten Bulungan kondisinya adalah belum tersedia data bayi berakte kelahiran. Rasio bayi berakte kelahiran di Kabupaten Malinau meningkat dengan range 0,54-0,67 untuk tahun Berbeda dengan Kabupaten Nunukan di tahun yang memiliki angka stagnan. Berdasarkan SPM (Standar Pelayanan Minimal), diketahui bahwa standar untuk kepemilikan akte lahir adalah 100% atau memiliki rasio 1 (Permendagri No. 62 Tahun 2008), dan dalam hal ini dapat diidentifikasi bahwa hanya Kota Tarakan yang sudah memenuhi standar tersebut, dan untuk kabupaten/kota lainnya masih jauh di bawah standar, yaitu seperti Kabupaten Malinau yang rasionya hanya 0,67, Kabupaten Nunukan yang rasionya hanya 0,58, dan Kabupaten Tana Tidung yang rasionya hanya 0, Rasio Pasangan Berakte Nikah Akte nikah merupakan bukti pernikahan suami istri yang diakui sah oleh negara dan agama. Kepemilikan akte nikah juga dapat memudahkan dalam administrasi dan identifikasi kependudukan. Indikator ini dihitung denga rumus formula jumlah pasangan nikah berakte nikah dibagi dengan jumlah keseluruhan pasangan nikah. Data rasio pasangan berakte nikah di Provinsi Kalimantan Utara tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 171

172 Tabel F.3 Rasio Pasangan Berakte Nikah Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Pasangan Berakte Nikah Bulungan 0,36 0,38 1,41 0,38 0,35 Malinau 0,97 1,00 1,00 1,00 0,22 Nunukan Tana Tidung 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Tarakan 0,13 23,28 20,50 24,22 0,13 Kalimantan Utara 0,48 14,02 13,15 15,11 0,28 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2010, 2011, ) Kabupaten Tana Tidung ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, 2016 Kepemilikan akte nikah yang dimiliki oleh pasangan suami istri masih sangat minim. Dari data yang ada diketahui bahwa hanya Kota Tarakan yang memiliki rasio kepemilikan akte nikah paling baik, yaitu pada tahun memiliki angka rasio antara 20,50-24,22. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat di Kota Tarakan banyak yang sudah memiliki akte nikah dan hal ini menunjukkan bahwa bukti pernikahan tersebut sangat penting untuk dimiliki karena berkaitan pula dengan legalitas pernikahan yang mereka lakukan, khususnya bagi seorang wanita/istri. Sama halnya dengan Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara sendiri memiliki rasio kepemilikan akte nikah paling baik hanya pada tahun yaitu mencapai angka rasio 13,15-15,11, dan kondisinya menurun pada tahun 2014 menjadi 0,28. Untuk Kabupaten Bulungan, rasio kepemilikan akte nikah paling baik berada pada tahun 2012 karena memiliki rasio >1, dan tahun lainnya masih di bawah 1. Kabupaten Malinau memiliki rasio kepemilikan akte nikah paling baik mulai tahun karena memiliki rasio 1, dan menurun menjadi 0,22 pada tahun 2014 dan meningkat kembali menjadi 0,73 pada tahun Rasio kepemilikan akte nikah di Kabupaten Nunukan paling minim, begitupun dengan Kabupaten Tana Tidung yang tidak tersedia datanya, dan hal ini menunjukkan bahwa kesadaran pasangan suami istri untuk mencatatkan pernikahannya secara resmi masih sangat kurang. 4. Kepemilikan KTP KTP merupakan identitas wajib Warga Negara Indonesia (WNI). Kepemilikan KTP juga dapat menunjukkan seseorang telah terdaftar dalam database kependudukan. KTP mempunyai beberapa manfaat seperti dapat mengakses program pemerintah, seperti Jamkesmas, BOS, ataupun bantuan lainnya. KTP juga merupakan syarat utama dalam beberapa pembuatan surat seperti SKCK, kartu kuning, dan lain-lain. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 172

173 Tabel F.4 Kepemilikan KTP Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Kepemilikan KTP Bulungan 56,18 72,18 79,06 63,91 Malinau 90,71 72,08 Nunukan 90,00 67,03 60,04 59,98 Tana Tidung 40,52 39,74 28,91 29,98 Tarakan 49,15 57,34 91,95 75,97 Kalimantan Utara 62,25 65,58 75,06 65,71 113,65 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka 2015 Masih ada penduduk masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara yang belum mempunyai KTP. Hal itu dapat dilihat secara umum dari tidak adanya angka kepemilikan KTP yang mencapai angka 1 atau 100%. Kabupaten dengan kepemilikan KTP terbanyak berada di Kota Tarakan yang mencapai angka 92% pada tahun Disusul dengan Kabupaten Malinau yang sempat mencapai angka 91% pada tahun 2011 dan kemudian menurun pada tahun Secara umum, dapat dikatakan bahwa kepemilikan KTP masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara sangat fluktuatif. Kabupaten dengan kepemilikan KTP terendah ditempati oleh Kabupaten Tana Tidung yang sampai tahun 2013 hanya mencapai angka 30%. Untuk Provinsi Kalimantan Utara sendiri, kepemilikan KTP terbanyak berada pada tahun 2014 yang mencapai angka 113,65 dan mengartikan bahwa kepemilikan KTP pada tahun ini sudah sangat banyak dan meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus segera menyelesaikan permasalahan ini agar masyarakat secara keseluruhan dapat terdaftar dalam database kependudukan dan dapat menikmati apa yang menjadi haknya sebagai warga negara, karena sangat banyak program yang dibuat dengan syarat salah satunya adalah dengan memiliki KTP ini. 5. Kepemilikan Akta Kelahiran per 1000 Penduduk Kepemilikan akte kelahiran tidak hanya penting bagi bayi yang baru lahir, akan tetapi juga bagi orang dewasa. Kepemilikan akte lahir menunjukkan bahwa kelahirannya telah dicatat dalam data kependudukan. Manfaat memiliki akte kelahiran diantaranya adalah kemudahan dalam mengakses pelayanan publik yang bersifat formal dan dapat juga menjadi syarat untuk pembuatan surat-surat penting lainnya. Indikator ini dihitung dengan menggunakan rumus formula jumlah penduduk yang memiliki akta kelahiran dibagi dengan jumlah penduduk dan dikalikan 100%. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 173

174 Tabel F.5 Kepemilikan Akta Kelahiran per 1000 Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Kepemilikan Akta Kelahiran per 1000 Penduduk Bulungan 98,69 67,58 54,97 58,16 Malinau 10,97 71,57 71,19 67,71 Nunukan 79,32 0,00 31,01 36,94 Tana Tidung 73,22 75,17 74,38 98,08 Tarakan 64,55 36,78 40,28 41,71 Kalimantan Utara 70,05 38,49 45,50 48,73 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Kabupeten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angla ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, ) Hasil Analisis, 2016 Penduduk masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara masih banyak yang belum mempunyai akte kelahiran karena kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk masih di bawah 100%. Dari tabel tersebut, diidentifikasi hanya Kabupaten Bulungan yang penduduknya sudah banyak yang memiliki akta kelahiran, yaitu tahun 2010 yang sudah mencapai angka 98,69%. Selain Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung menjadi kabupaten dengan kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk terbanyak pada tahun 2013, yakni mencapai angka 98,09% atau dikatakan hanya 2% penduduk yang belum memiliki akta kelahiran atau tidak mencatatkan kependudukannya. Sementara, kabupaten dengan kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk paling rendah adalah Kabupaten Nunukan karena sampai tahun 2015 hanya mencapai angka 365,34, walaupun sempat mencapai angka 79,32% pada tahun Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk di Provinsi Kalimantan Utara sangat fluktuatif dari tahun ini. Persentase kepemilikan akta kelahiran pada tahun 2010 dengan angka mencapai 70,05%. Penurunan persentase kepemilikan akta kelahiran untuk tahun selanjutnya dikatakan sangat kecil yakni tidak mencapai angka 50% sampai tahun Hal ini dikarenakan tidak meningkatnya data jumlah penduduk yang memiliki akta kelahiran sehingga berbanding terbalik dengan jumlah penduduk yang setiap tahunnya semakin meningkat. 6. Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi Database merupakan salah satu hal penting dalam suatu kegiatan pemerintahan. Ketersediaan database akan memudahkan stakeholder untuk mengambil, mencari atau menganalisis data kependudukan. Selama ini banyak pemerintah daerah belum mempunyai RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 174

175 database kependudukan yang baik sehingga mengalami kesulitan apabila ingin melakukan analisis. Tabel F.6 Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi Bulungan Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Malinau Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Nunukan Ada Ada Tana Tidung Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan Kabupaten Malinau dan Bulungan tidak/belum memiliki database kependudukan selama tahun , sementara Kota Tarakan sudah tersedia. Dalam hal ini, penyusunan database kependudukan ini harus segera dibuat atau dirancang karena sangat penting perannya dan data kependudukan merupakan data utama yang sering digunakan berkaitan dengan data-data lainnya. 7. Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Aturan pemerintah pusat mulai menyeragamkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) adalah mengacu pada penerapan KTP berbasis NIK sesuai dengan pasal 6 Perpres No. 26 Tahun Aturan ini pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan mengidentifikasi dan menghindari pemalsuan data maupun data ganda. Kartu Tanda Penduduk berbasis NIK adalah KTP yang memiliki spesifikasi dan format KTP Nasional dengan sistem pengamanan khusus yang berlaku sebagai identitas resmi yang diterbitkan oleh instansi pelaksana. Semua kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara diketahui telah menerapkan KTP Nasional berbasis NIK, sehingga hal ini diharapkan akan memudahkan dalam proses administrasi kependudukan secara nasional. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 175

176 Tabel F.7 Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi Bulungan Sudah Sudah Sudah Sudah Malinau Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Nunukan Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Tana Tidung Sudah Sudah Sudah Sudah Tarakan Sudah Sudah Sudah Sudah Kalimantan Utara Sudah Sudah Sudah Sudah Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau ) LPPD Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan G. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 1. Rata-rata Jumlah Kelompok Binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) adalah lembaga kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai wahana partisipasi dan aspirasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan masyarakat. Selain merupakan lembaga yang sifatnya dari, oleh dan untuk rakyat, LPM adalah mitra pemerintah dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan. Indikator jumlah kelompok binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ini seharusnya dapat menggambarkan jumlah kelompok binaan LPM, sehingga dapat diketahui berapa banyak kelompok binaan yang telah diberikan pemberdayaan dan penguatan kapasitas oleh LPM. Tetapi data yang diperoleh hanya menunjukkan jumlah LPM di Provinsi Kalimantan Utara. LPM pada umumnya memiliki fungsi koordinatif dengan Pemda dan tidak memiliki kelompok binaan. Tabel G.1. Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tahun Kabupaten/Kota Bulungan n/a Malinau Nunukan n/a Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara n/a Sumber: 1) Kabupaten Malinau dalam Angka Tahun 2010, 2013, 2014, ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka Tahun 2011, 2012, 2014, ) Provinsi Kalimantan Timur dalam Angka Tahun ) Database Pembangunan Kabupaten Malinau Tahun ) Provinsi Kalimantan Utara dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Tahun ) Kabupaten Nunukan Tahun ) Kota Tarakan Tahun 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 176

177 Seluruh desa/kelurahan di Provinsi Kalimantan Utara memiliki LPM. LPM hendaknya menjadi mitra yang efektif dalam pembangunan. Mulai dari perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi dapat menjadi kontributor yang efektif. Untuk itulah pemerintah yang mampu memfungsikan LPM ini akan mencapai tujuan pembangunan sampai ke tingkat masyarakat yang paling bawah. Koordinasi yang intensif perlu dilakukan di tingkat kelurahan, agar optimalisasi peran LPM menjadi lebih nyata kiprahnya dalam pembangunan. 2. Rata-rata Jumlah Kelompok Binaan PKK PKK atau yang biasa dikenal sebaga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga merupakan wadah kegiatan untuk kaum wanita dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas. Tujuan PKK adalah untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Keluarga sejahtera seperti tujuan awal pergerakan PKK adalah keluarga yang mampu menciptakan keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah serta mamu berperan dalam masyarakat berdasarkan pancasila dan UUD Dalam rangka mewujudkan kesejehtaraan keluarga, PKK memiliki 10 program pokok PKK. Dalam geraknya PKK berorientasi kepada 10 program pokok tersebut. Melalui 10 program pokok ini maka aktivitas dan kreativitas ibu-ibu dapat tersalurkan. Upaya menyumbangkan ide, karya dan pengabdian para wanita melalui PKK ini dapat lebih efektif. Pertemuan yang bersifat rutin bulanan dapat menjadi media kekompakan warga dalam saling menginformasikan pembangunan yang berjalan di tingkat kampung maupun kelurahan. Bahkan PKK juga merupakan wadah koordinasi strategis yang menyambungkan program-program Provinsi Kalimantan Utara hingga menyentuh ke masyarakat terbawah. Tabel G.2. Rata-rata Jumlah Kelompok Binaan PKK di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Malinau n/a n/a n/a n/a n/a n/a Nunukan n/a n/a 3,13 2,84 n/a n/a Tana Tidung n/a n/a n/a n/a n/a n/a Tarakan n/a 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2013, ) Kabupaten Tarakan dalam Angka Tahun 2011, 2012, 2014, 2015 Perkembangan jumlah kelompok binaan PKK pada setiap kabupaten/kota. Pada indikator ini hanya tersedia informasi Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan saja. Kabupaten Nunukan memiliki kecenderungan penurunan jumlah kelompok binaan PKK, yakni 3,13 pada tahun 2012 dan 2,84 pada tahun Sedangkan Kota Tarakan cenderung stabil jumlahnya yaitu 0,56 pada tahun 2011 sampai Ini artinya masih lemah jumlah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 177

178 kelompok pembinaan yang ditangani PKK dikalimantan Utara. Hal ini seharusnya dapat dioptimalkan mengingat PKK memiliki kaitan organisasi yang terstruktur sampai tingkat kepala keluarga. 3. Jumlah LSM Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh perorangan atau kelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum. Fungsi LSM melakukan fungsi pelayanan, fungsi kemanusiaan dan terkadang berperan sebagai jembatan penyalur aspirasi masyarakat. Dilihat dari bentuknya, lembaga ini merupakan inisatif dan bentukan dari masyarakat, maka bersifat mengikat secara sosial budaya di dalam lingkungan masyarakat. Kebutuhan terhadap lembaga ini didasarkan pada ikatan sosial budaya baik itu sifatnya kegotongroyongan. Untuk itulah maka lembaga ini memiliki tingkat kepedulian yang tinggi di dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat lokal. Setiap masyarakat yang memiliki LSM tentunya memiliki daya tanggap yang lebih baik dalam pembangunan segala bidang. Di bawah ini merupakan tabel informasi jumlah LSM di Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu 2010 hingga Tabel G.3. Jumlah LSM di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan Malinau 14 0 Nunukan Tana Tidung Tarakan 12 4 Kalimantan Utara Sumber: 1) Kabupaten Bulungan dalam Angka Tahun 2010, 2011, 2012, ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka Tahun 2011, ) Kalimantan Timur dalam Angka Tahun ) Data Pembangunan Kabupaten Malinau Tahun 2012 Perkembangan jumlah LSM pada setiap kabupaten/kota. Informasi yang tersedia menjelaskan bahwa ada penurunan jumlah LSM di kabupaten/kota. Kota Tarakan dan Kabupaten Malinau mendominasi jumlah LSM secara keseluruhan di Provinsi Kalimantan Utara. Di Kabupaten Malinau pada tahun terjadi penurunan terbesar jumlah LSM dari 14 menjadi tidak ada. Jumlah LSM di Kabupaten Bulungan pada tahun 2010 berjumlah 27 kemudian turun menjadi 2 pada tahun Jumlah LSM di Kabupaten Tana Tidung sangat sedikit dibandingkan kabupaten/kota lainnya, hal ini dapat dipahami mengingat kabupaten ini merupakan daerah otonom baru yang sedang mulai tumbuh dan bekembang. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 178

179 4. LPM Berprestasi Untuk menggapai hasil pembangunan yang optimal, maka peran serta kelembagaan sosial masyarakat perlu diberikan rangsangan untuk mencapai prestasi. Untuk itulah dilakukan seleksi terhadap LPM untuk mendapatkan LPM berprestasi merupakan kebijakan yang sangat startegis untuk meningktakan gerak keaktifan lemabaga-lembaga tersebut. LPM berprestasi merupakan salah satu bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara untuk LPM yang memiliki prestasi baik. Tabel G.4. Jumlah LPM Berprestasi Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: Publikasi kesra Kalimantan Utara Tahun 2015 Tabel di atas menunjukkan bahwa di tahun 2013 dam 2015 memiliki kecenderungan yang sama jumlah LPM berprestasi. Kabupaten Bulungan 29 LPM, Kabupaten Malinau 29 LPM, Kabupaten Nunukan 30 LPM, Kabupaten Tana Tidung 13 LPM, Kota Tarakan 20 LPM, dan Keseluruhan Provinsi Kalimantan Utara 136 LPM. 5. PKK Aktif Pembinan Kesejahteraan Kelurga (PKK) adalah kegiatan sekelompok kaum wanita yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan keluarga. Keaktifan PKK untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga merupakan sebuah kekuatan mendasar pada setiap keluarga. Pembangunan terkecil dilakukan oleh PKK di rumah tangga masing-masing. Untuk itu peran PKK menjadi sangat strategis untuk merealisasikan visi dan misi pemerintah pada skup yang paling kecil. Pemantauan kegiatan PKK menjadi sangat penting untuk mengetahui usaha-usaha aktif di tingkat akar rumput dalam merealisasikan program pembangunan. Monitoring terhadap kegiatan PKK dilakukan untuk melihat peran serta dalam mencapai tujuan pembangunan. Kegiatan PKK di Provinsi Kalimantan Utara muncul di tiaptiap jenjang administrasi, mulai dari RT/RW, kelurahan, kecamatan hingga kota. Keaktifan PKK sebenarnya dapat membantu ibu-ibu untuk meningkatkan kreativas di berbagai bidang, yang mungkin dapat dikembangkan untuk membantu ekonomi keluarga. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 179

180 Tabel G.5. Jumlah PKK Aktif Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan 10 Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: BPMPPKBPD Provinsi Kalimantan Utara 2016 Perkembangan jumlah PKK aktif pada setiap kabupaten/kota. Berdasarkan indikator jumlah PKK aktif terlihat bahwa Kabupaten Malinau memiliki kecenderungan stabil pada tahun 2011 sampai Kabupaten Nunukan memiliki kecenderungan peningkatan jumlah PKK aktif yang cukup tinggi pada tahun 2013 dibandingkan tahun Sedangkan untuk tiga kabupaten/kota lainnya yakni Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan memiliki kecenderungan jumlah PKK yang tetap. Pada organisasi PKK ini sesungguhnya terjadi integrasi antara pemerintah yang secara struktural menjadi pengatur dengan institusi terbawah sebagai pembentuk suatu pemerintahan, yaitu unsur keluarga. Sebenarnya jika mampu memaknai secara lebih hakiki kekuatan PKK ini maka suatu daerah akan berkembang. Namun sayangnya untuk mencapai pemaknaan hakiki tersebut masih butuh komitmen dari pemerintah dan para Pembina PKK untuk menggali hakikat organisasi ini. 6. Posyandu Aktif Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penyadaran akan kesehatan. Indikator posyandu aktif melihat jumlah posyandu yang aktif dibandingkan dengan total seluruh posyandu yang ada di wilayah tersebut. Tabel G.6. Posyandu Aktif Tahun (%) di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan , n/a Malinau n/a Nunukan 98,35 94,47 93,18 94,67 96,41 n/a Tana Tidung 76,67 82, n/a Tarakan n/a Kalimantan Utara 95,15 97,22 97,77 97,89 97,34 n/a Sumber: Kabupaten Dalam Angka, Profil Kesehatan Kabupaten Di Provinsi Kalimantan Utara, peesentase posyandu aktif dari tahun mengalami kenaikan dari 95% hingga 97%. Pada tahun 2012, presentase posyandu aktif di provinsi ini sebesar 97,7% hal ini menunjukkan dari 673 posyandu yang ada hanya 658 posyandu yang masih tetap menjalankan kegiatannya. Angka ini jauh lebih baik bila RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 180

181 dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2011 yang hanya mencapai 64.44% untuk indikator posyandu aktif. 7. Swadaya Masyarakat terhadap Program Pemberdayaan Masyarakat Swadaya masyarakat merupakan total bantuan uang yang berhasil dikumpulkan oleh masyarakat untuk membantu proses pembangunan di lingkungan masyarakat. Besaran swadaya masyarakat dapat menunjukkan tingkat kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam membangun kelurahannya. Semakin besar nilai swadaya masyarakat menunjukkan besarnya kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam pembangunan lingkungan sekitar. Begitu pula sebaliknya, bahwa kecilnya jumlah swadaya masyarakat dapat mengindikasikan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah. Data yang tersedia untuk menggambarkan kinerja indikator swadaya masyarakat terhadap program pemberdayaan masyarakat cukup terbatas, hanya Kabupaten Nunukan yang memiliki data tersebut, meskipun hanya tahun Kabupaten Nunukan mengalami kecenderungan kenaikan jumlah swadaya masyarakat dari jumlah 46 pada tahun 2012 menjadi 53 pada tahun Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat Berdasarkan informasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, tidak ada data tentang kegiatan pemeliharaan pasca program pemberdayaan masyarakat yang dapat dijadikan landasan yang kuat untuk melihat data antar waktu. Informasi pemeliharaan pasca program pemberdayaan masyarakat yang ada hanya tersedia terkait pemeliharaan pasca program pemberdayaan masyarakat hanya ada di Kabupaten Nunukan. Kabupaten Nunukan memiliki program pemberdayaan masyarakat yang cenderung mengalami penurunan cukup signifikan, yakni 176 program pemberdayaan masyarakat pada tahun 2012 turun menjadi 82 program. H. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 1. Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Indikator rata-rata anak per keluarga menggambarkan keberhasilan keluarga berencana. Perhitungan indikator ini adalah dengan cara membagi rasio anak seluruhnya dengan rasio keluarga. Rasio anak adalah rasio seluruh penduduk usia 0-18 tahun. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 181

182 Tabel H.1 Rata-rata Anak per Keluarga Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah anak Jumlah keluarga Rata-rata anak per keluarga Sumber: BPMPPKBPD 2016 Data pada tahun 2014 dan 2015 menunjukkan angka yang sangat berbeda drastis. Pada tahun 2014, jumlah anak di provinsi ini melebihi angka , sedangkan pada tahun berikutnya jumlah tersebut turun tajam hingga menjadi sepertiganya. Rata-rata jumlah anak per keluarga pada tahun 2014 adalah 4 dan turun menjadi 1 anak per keluarga pada tahun Tabel H.2 Rata-rata Anak per Keluarga Menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Anak Jumlah Keluarga Rata-rata anak per keluarga Kabupaten Bulungan ,8 Kabupaten Malinau ,5 Kabupaten Nunukan ,6 Kabupaten Tana Tidung ,2 Kota Tarakan ,5 Jumlah ,1 Sumber: BPMPPKBPD 2016 Pada tahun 2015, di Provinsi Kalimantan Utara rata-rata jumlah anak tertinggi berada di Kabupaten Nunukan yaitu 1,6 kemudian Kabupaten Malinau sedikit di bawahnya yaitu 1,5 anak per keluarga. Rata-rata terendah berada di Kabupaten Tana Tidung yang hanya 0,2. 2. Rasio Akseptor KB Akseptor KB adalah pasangan usia subur di mana salah seorang menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non program. Akseptor KB di Kalimantan Utara hanya bisa dilihat pada tahun 2014 karena keterbatasan data di setiap kabupaten. Pada tahun tersebut, rasio akseptor KB adalah sebesar 57,1%. Tabel H.3 Rasio Akseptor KB Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Akseptro KB Jumlah Pasangan usia subur Rasio akseptor KB 57,1 Sumber: Kabupaten Dalam angka, Profil Kesehatan Kabupaten, Profil Kesehatan Kalimantan Timur; BPMPPKBPD 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 182

183 Rasio akseptor KB terbesar pada tahun 2014 di setiap kabupaten/kota cukuo bervariasi. Rasio terbesar berada di Kota Tarakan yaitu sebesar 69% dengan total akseptor KB hampir pasangan dari total pasangan usia subur. Rasio di Kabupaten Nunukan hampir mendekati rasio di Tarakan yaitu sbesar 61%. Kabupaten Malinau merupakan Kabupaten dengan rasio terendah yaitu 22,86%. Tabel H.4 Rasio Akseptor KB Menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Akseptor KB Jumlah PUS Rasio Akseptor KB Kabupaten Bulungan ,88 Kabupaten Malinau ,86 Kabupaten Nunukan ,10 Kabupaten Tana Tidung ,76 Kota Tarakan ,04 Jumlah ,13 Sumber: BPMPPKBPD Cakupan Peserta KB Aktif Peserta KB aktif adalah pasangan usia subur yang salah satu pasangannya masih menggunakan alat kontrasepsi dan terlindungi oleh alat kontrasepsi tersebut. Pasangan usia subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang istrinya berusia tahun. Angka cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara para PUS. Tabel H.5 Cakupan Peserta KB Aktif Tahun Provinsi Kalimantan Utara No Uraian Jumlah peserta KB Aktif pasangan usia subur Cakupan peserta KB aktif 72,25 69,16 85,92 59,68 Sumber: Kabupaten Dalam angka, Profil Kesehatan Kabupaten, Profil Kesehatan Kalimantan Timur; BPMPPKBPD 2016 Sejak tahun cakupan peserta KB aktif di Provinsi Kalimantan Utara bersifat fluktuatif. Hal terseut terjadi karena jumlah peserta KB aktif mengalami naik turun yang cukup signifikan di setiap tahunnya sedangkan jumlah pasangan usia subur cenderung mengalami kenaikan yang stabil dari tahun ke tahun. Jumlah peserta KB aktif tertinggi adalah pada tahun 2012 hingga mencapai peserta dibandingkan dengan PUS yang ada sehingga capaian pada tahun tersebut mencapai lebih dari 80%. Cakupan terendah terjadi pada tahun 2015 yng hanya sebesar 59,7%. Berdasarkan Peraturan Kepala BKKBN No 55/HK-010/B5/2010 target SPM untuk indikator cakupan sasaran PUS menjadi peserta KB aktif adalah 65% pada tahun Mengacu pada standar SPM tersebut, Provinsi Kalimantan Utara mampu mencapai target hanya di tahun saja karena terjadi penurunan cakupan di tahun terakhir yang cukup signifikan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 183

184 Terdapat beberapa kabupaten/kota yang telah melampaui SPM Nasional. Pada kabupaten yang belum mencapai target SPM, cakupannya tidak terlalu jauh dengan target, sehingga bisa dikatakan secara umum Kalimantan Utara hampir memenuhi target indikator ini. Pada Tahun 2015 data di masing-masing kabupaten tidak dapat diperoleh secara lengkap, sehingga tidak dapat dilakukan analisis hingga tingkat kabupaten. Tabel H.6 Cakupan Peserta KB Aktif Menurut Kabupaten Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah Peserta KB Aktif Jumlah PUS Rasio Kabupaten Bulungan Kabupaten Malinau Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung Kota Tarakan ,91 Jumlah ,68 Sumber: 1) LPPD Provinsi Kalimantan Utara ) Badan Keluarga Berencana Kota Tarakan Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009). Tingkat kesejahteraan keluarga dikelompokkan menjadi 5 (lima) tahapan, yaitu: Keluarga Pra Sejahtera (KPS), Keluarga Sejahtera Tahap I (KSI), Keluarga Sejahtera II, Keluarga Sejahtera III, Keluarga Sejahtera III Plus. Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) sebagai keluarga sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan. Keluarga sejahtera tahap I adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal. Kebutuhan dasar menurut BKKBN yaitu: a. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali sehari atau lebih. b. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian. c. Rumah yang ditempati mempunyai atap, lantai, dan dinding yang baik. d. Bila anggota keluarga yang sakit di bawa ke sarana kesehatan e. Pasangan usia subur ingin ber-kb dibawa ke sarana pelayanan kotrasepsi. f. Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah. Indikator ini dapat memberikan gambaran perbandingan banyaknya keluarga pra sejahtera dan Keluarga sejahtera I dengan jumlah seluruh keluarga yang ada di wilayah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 184

185 tersebut. Semakin tinggi persentasenya maka tingkat kesejahteraan keluarga di wilayah tersebut semakin rendah. Dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2012, jumlah keluarga pra sejahtera dan sejahtera 1 di Provinsi Kalimantan Utara mengalami nilai yang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat, yakni sebanyak keluarga di tahun 2010 meningkat menjadi keluarga di tahun Tabel H.7 Keluarga Pra sejahtera dan Keluarga Sejahtera Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Jumlah Keluarga Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera 1 33,1 42,8 46,0 Sumber: Kabupaten Dalam Angka, Kalimantan Timur Dalam Angka Kabupaten dengan jumlah keluarga pra sejahtera dan sejahtera 1 yang paling banyak adalah Kota Tarakan dan yang memiliki jumlah terkecil adalah Kabupaten Malinau. Namun secara persentase, angka tertinggi justru Kabupaten Malinau yaitu sebesar 58,9% dan persentase terendah adalah Kabupaten Bulungan. Persentase keluarga pra sejahtera dan sejahtera 1 di tiap kabupaten/kota memiliki nilai yang fluktuatif setiap tahunnya. Pada periode 3 tahun terakhir, persentase di Kota Tarakan mengalami tren yang stabil di sekitar 20%. Tabel H.8 Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2012 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Keluarga Pra Jumlah Persentase Keluarga pra sejahtera sejahtera an Sejahtera I Keluarga dan sejahtera 1 (%) Bulungan ,63 Malinau ,88 Nunukan ,06 Tana Tidung ,62 Tarakan ,11 Jumlah ,03 Sumber: Kabupaten Dalam Angka, Kalimantan Timur Dalam Angka I. Perhubungan 1. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Indikator jumlah arus penumpang angkutan umum merupakan jumlah arus penumpang baik penumpang bis, kapal laut, maupun pesawat udara yang masuk dan keluar daerah selama satu tahun, dengan kata lain merupakan arus penumpang yang masuk dan atau yang keluar daerah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 185

186 Tabel I.1. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Tahun Provinsi Kalimantan Utara Indikator Jumlah Penumpang Bis Jumlah Penumpang Kapal Laut/Sungai Jumlah Penumpang Pesawat Udara Jumlah Penumpang Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Utara Tidak ditemukan data jumlah penumpang bis di Provinsi Kalimantan Utara, karena menurut pengamatan dan hasil wawancara dengan pihak terkait, bis bukan sebuah transportasi yang banyak digunakan oleh penduduk di Provinsi Kalimantan Utara, bahkan tidak ada pelayanan angkutan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) dan AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) di Provinsi Kalimantan Utara. Angkutan umum darat yang terdapat di Provinsi Kalimantan Utara terbatas angkutan kota yang melayani rute-rute pendek, dan angkutan pelat hitam yang disebut dengan travel yang melayani rute panjang, seperti Tanjung Selor Tideng Pale Malinau dengan menggunakan mobil penumpang seperti Inova, Avanza, Xenia, Luxio, dan sejenisnya. Angkutan sungai dengan menggunakan angkutan speed boat merupakan transportasi unggulan di wilayah Provinsi Kalimantan Utara yang menghubungkan Kota Tarakan sebagai Pusat Kegiatan Nasional ke kabupaten lainnya di lingkup wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Dalam kurun waktu tahun 2011 hingga tahun 2014, penumpang yang menggunakan jasa pelabuhan laut/sungai memiliki kecenderungan meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 2,30 persen per tahun. Peningkatan tersebut juga terjadi untuk penumpang pesawat udara yang dalam kurun waktu tahun 2011 hingga tahun 2015 memiliki rata-rata peningkatan sebesar 13,66 persen per tahun. Tabel I.2. Perkembangan Jumlah Lalu Lintas Penumpang Pesawat Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kab/Kota Uraian Tarakan Datang Pergi Transit TOTAL Bulungan Datang Pergi Transit TOTAL Malinau Datang Pergi Transit TOTAL Nunukan Datang Pergi Transit TOTAL Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 186

187 Jumlah lalu lintas penumpang pesawat udara memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun , dengan perkembangan jumlah lalu lintas penumpang pesawat terbesar di Kota Tarakan yang memang memiliki bandara internasional. Kenaikan jumlah penumpang di Bandara Juwata Tarakan dapat dikatakan cukup signifikan dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2015 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 53,48 persen per tahun. Tabel I.3 Perkembangan Jumlah Lalu Lintas Penumpang di Dermaga Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kab/Kota Uraian Bulungan Dermaga Naik Turun TOTAL Speed boat Malinau Pelabuhan Kelapis Naik Turun TOTAL Nunukan Agkt Laut (dlm) Naik Turun TOTAL Agkt Laut (luar) Naik Turun TOTAL KTT Dermaga Tideng Pale Naik Turun TOTAL ,0 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Perkembangan jumlah lalu lintas penumpang di dermaga dalam kurun waktu yang sama (tahun ) juga memiliki kecenderungan meningkat. Meskipun demikian, perkembangan yang disajikan dalam tabel diatas tidak dapat menggambarkan kondisi transportasi sungai di wilayah Provinsi Kalimantan Utara karena adanya keterbatasan data yang diperoleh. 2. Rasio Izin Trayek Indikator rasio ijin trayek merupakan hasil perbandingan antara jumlah ijin trayek yang dikeluarkan dengan jumlah penduduk. Izin trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bis dan atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek. Jaringan trayek terdiri atas jaringan trayek lintas batas negara, jaringan trayek antar kota antar provinsi, jaringan trayek antar kota dalam provinsi, jaringan trayek perkotaan, dan jaringan trayek perdesaan. Trayek diartikan sebagai lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan bis yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap, dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. Selanjutnya, jaringan trayek diartikan sebagai kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 187

188 Tabel I.4. Rasio Ijin Trayek Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015 Jumlah Izin Trayek Kabupaten/Kota Jumlah Antar Kota Total Izin Rasio Izin Penduduk Antar Perkotaan Perdesaan Trayek Trayek Provinsi Bulungan ,0024 Malinau ,0011 Nunukan ,0025 Tana Tidung Tarakan ,0011 Jumlah ,0014 Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Utara Di lingkup wilayah Provinsi Kalimantan Utara tidak terdapat izin trayek antar kota antar provinsi, izin trayek yang dimiliki hanyalah izin trayek perkotaan dan perdesaan, bahkan Kabupaten Tana Tidung tidak memiliki izin trayek sama sekali. Jumlah izin trayek terbanyak hingga tahun 2015 dimiliki oleh Kota Tarakan, yakni sebanyak 816 trayek, Kabupaten Nunukan sebanyak 355 trayek, Kabupaten Bulungan sebanyak 331 trayek, dan Kabupaten Malinau sebanyak 120 trayek. 3. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Menurut lampiran 1 Permendagri 54/2010 dijelaskan bahwa uji kir angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor, baik yang dibuat dan atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pengujian yang dimaksudkan dalam pernyataan tersebut meliputi : a. Uji tipe yaitu pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap dan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap rumah-rumah, bak muatan, kereta gandengan, kereta tempelan, dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi tipenya. b. Uji berkala yaitu diwajibkan untuk mobil penumpang umum, mobil bus, mobil barang, kereta gandengan, dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan, meliputi pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dan pengesahan hasil uji. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 188

189 Tabel I.5. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Selama Satu Tahun Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/ Kota Mobil Penumpang Umum Mobil Bus Mobil Barang Σ Angkutan Σ KIR % Σ Σ KIR % Σ Σ KIR % Σ Σ KIR % Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Utara Jumlah uji kir angkutan umum pada tahun 2015 sebanyak 83%. Apabila dilihat masing-masing kabupaten/kota, terdapat kabupaten yang memiliki persentasi uji kir sebesar 100%, yakni di Kabupaten Malinau dan persentase terendah terdapat di Kota Tarakan dengan persentase sebesar 74%. 4. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Menurut lampiran 1 Permendagri 54/2010, pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan Udara/bandara bisa diartikan sebagai sebuah fasilitas untuk menerima pesawat dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Indikator jumlah pelabuhan laut/sungai, bandar udara, dan terminal bis ditujukan untuk mengetahui sarana transportasi yang terdapat di wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Hingga tahun 2015, terdapat 124 pelabuhan laut/sungai yang tersebar di lima kabupaten/kota dan 28 pelabuhan udara. Tabel I.6. Jumlah Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara, dan Terminal Bis Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Pelabuhan Laut/sungai Pelabuhan Udara Terminal Bis Bulungan 55 4 Malinau Nunukan Tana Tidung 6 - Tarakan 18 1 Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Utara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 189

190 Dalam Tatanan Kepelabuhanan Nasional disebutkan bahwa terdapat beberapa pelabuhan di Provinsi Kalimantan Utara yang secara terinci telah ditetapkan hierarkinya sebagai pelabuhan pengumpul (hierarki paling besar) dan sebagai pelabuhan pengumpan lokal (hierarki paling rendah), seperti Pelabuhan Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan) yang memiliki fungsi sebagai pelabuhan pengumpan regional; Pelabuhan Nunukan, Pelabuhan Sungai Nyamuk (Kabupaten Nunukan), Pelabuhan Pulau Bunyu (Kabupaten Tana Tidung), dan Pelabuhan Tarakan (Kota Tarakan) yang memiliki fungsi pelbuhan pengumpul; serta Pelabuhan Sesayap (Kabupaten Tana Tidung) yang memiliki fungsi pelabuhan pengumpan lokal. Provinsi Kalimantan Utara memiliki tiga pelabuhan penyeberangan, yakni Pelabuhan Penyeberangan Juwata Laut (Kota Tarakan), Pelabuhan Laut Sungai Jepun (Kabupaten Nunukan), dan Pelabuhan Penyeberangan Ancam (Kabupaten Bulungan). Pelabuhan laut antar provinsi di wilayah Provinsi Kalimantan Utara dilayani oleh kapal PELNI yang bersandar di Pelabuhan Tarakan. Terdapat satu bandar udara internasional yang berlokasi di Kota Tarakan, yakni Bandara Juwata. Bandara ini melayani penerbangan hingga ke Tawau (Malaysia). Bandarabandara lainnya sebagian besar merupakan bandara perintis yang melayani masyarakat hingga ke perbatasan. Kabupaten Bulungan memiliki empat bandara, yakni Bandara Tanjung Harapan (Tanjung Selor) yang memiliki landasan sepanjang 1200 meter dan dapat didarati oleh pesawat model ATR 42, Bandara Kaburau (Tanjung Palas Barat) yang memiliki landasar sepanjang 1000 meter yang dapat didarati oleh pewasat model BN 2A, Bandara Long Bia (Peso) yang memiliki landasan sepanjang 400 meter yang dapat didarati oleh pesawat model C 185, dan Bandara Pulau Bunyu (Bunyu) yang memiliki landasan sepanjang 900 meter yang dapat didarati oleh pesawat model Dash 7. Bandar udara di Kabupaten Malinau berjumlah 12 bandara yang sebagian besar terdapat di kawasan perbatasan, diantaranya adalah Bandara Long Nawang (Kayan Hulu); Bandara Mahak Baru dan Bandara Long Lebusan (Sungai Boh); Bandara Data Dian, Bandara Long Sule, dan Bandara Long Metun (Kayan Hilir); Bandara Long Ampung dan Bandara Long Sungai Barang (Kayan Selatan); Bandara Long Pujungan (Pujungan), Bandara Long Alango (Bahau Hulu); Bandara Long Pala (Mentarang Hulu); dan Bandara RA Bessing (Malinau). Sama halnya dengan bandara di Kabupaten Malinau, bandara yang terdapat di Kabupaten Nunukan juga banyak terdapat di daerah perbatasan seperti Bandara Yuvai Semaring (Krayan), Bandara Ba Binuang dan Bandara Long Layu (Krayan Selatan), juga Bandara Nunukan (Nunukan). Bandara-bandara di perbatasan tersebut dilayani dengan Pesawat Susi Air dan MAV (pesawat non niaga), juga ada Airbond yang melayani bandara perbatasan di RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 190

191 Kabupaten Nunukan. Pemerintah juga memberikan subsidi biaya angkut untuk penumpang dan barang menuju ke perbatasan. Tanjung Selor sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Utara telah memiliki terminal angkutan tipe B, namun saat ini kondisi terminal tidak berfungsi sama sekali dan beberapa bangunan fasilitas penunjangnya dibiarkan rusak. Masing-masing kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kalimantan Utara memiliki terminal tipe C seperti Terminal Pasar Induk Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan), Terminal Malinau (Kabupaten Malinau), Terminal Nunukan (Kabupaten Nunukan), Terminal Tengkuyun dan Terminal Simpang 3 (Kota Tarakan). 5. Kepemilikan KIR Angkutan Umum Indikator kepemilikan kir angkutan umum didapatkan dari hasil perbandingan antara jumlah angkutan umum yang tidak memiliki kir pada tahun n dengan jumlah angkutan umum pada tahun n dikalikan dengan bilangan 100 (persentase). Data yang didapatkan untuk mengukur indikator ini hanya data Kota Tarakan tahun 2013 hingga tahun Dalam kurun waktu tahun 2013 hingga tahun 2015, kendaraan yang tidak memiliki kir semakin meningkat, sehingga nilai kepemilikan kir angkutan umum di Provinsi Kalimantan Utara mengalami penurunan, yakni sebanyak 342 unit turun menjadi 225 unit angkutan umum. 6. Lama Pengujian Kelayakan Angkutan Umum (KIR) Indikator pengujian kelayakan angkutan umum (kir) merupakan jangka waktu proses pengujian angkutan umum. Dikarenakan adanya keterbatasan data, hanya data Kota Tarakan yang didapatkan datanya. Jangka waktu proses pengujian angkutan umum di Kota Tarakan dalam kurun waktu tahun selama 25 menit. 7. Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum Indikator biaya pengujian kelayakan angkutan umum merupakan biaya yang ditetapkan oleh pemerintah untuk proses pengujian kelayakan angkutan umum. Data yang diperoleh untuk indikator ini adalah data dari Kota Tarakan, dimana pada tahun 2011 besarnya biaya pengujian kelayakan angkutan umum adalah sebesar Rp ,- dan meningkat pada tahun 2012 menjadi Rp ,- yang tetap masih berlaku hingga tahun 2015 ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 191

192 8. Pemasangan Rambu-Rambu Indikator pemasangan rambu-rambu didapatkan dari perbandingan antara jumlah pemasangan rambu-rambu pada tahun n dengan jumlah rambu-rambu yang seharusnya tersedia dikalikan dengan bilangan 100 (persentase). Data jumlah pemasangan ramburambu yang tersedia hanya di Kabupaten Tana Tidung tahun 2015, yakni sebanyak 224 unit. J. Komunikasi dan Informatika 1. Jumlah Jaringan Komunikasi Jumlah sarana komunikasi dan informatika adalah Indikator yang menunjukkan jumlah sarana komunikasi di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini menunjukkan jumlah total sarana komunikasi suara satuan langsung, komunikasi data, dan satuan sambungan. Tabel J.1. Jumlah Sarana Komunikasi di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : 1) Bulungan dalam angka tahun 2010,2011, 2012 dan ) Malinau dalam angka 2011, ) Nunukan dalam angka 2012, ) Tana Tidung dalam angka 2012 dan ) Tarakan dalam angka 2013, Pada tahun 2011 dan 2012 adalah dan cenderung mengalami kenaikan dalam kurun Kota Tarakan menjadi daerah dengan ketersediaan sarana komunikasi tertinggi dengan sarana komunikasi pada tahun Rasio Wartel/Warnet terhadap Penduduk Rasio wartel/warnet atau rasio ketersediaan wartel/warnet adalah jumlah wartel/warnet per penduduk. Wartel atau warung telekomunikasi adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan telekomunikasi kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan. Sedangkan warnet atau warung internet adalah tempat usaha komersial yang dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memberikan jasa sambungan internet kepada masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 192

193 Tabel J.2. Jumlah Wartel dan Warnet di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan 0,06 0,26 0,01 0,08 0,06 0,05 Malinau 0,19 0,28 0,16 0,20 0,2 0,20 Nunukan 0,09 0,19 0,11 0,16 0,18 Tana Tidung 20,65 20,65 Tarakan 0,21 0,55 0,4 0,37 0,33 Kalimantan Utara Sumber : 1) Bulungan dalam angka tahun 2010,2011, 2012,2014,2015 2) Malinau dalam angka 2011, 2013, 2014,2015 3) Nunukan dalam angka 2012, ,2015 4) Tana Tidung dalam angka 2012 dan 2013, 2014,2015 5) Tarakan dalam angka 2013, 2014,2015 Perkembangan jaman yang semakin canggih membuat masyarakat dapat semakin mudah untuk mengakses berbagai informasi dan berkomunikasi via internet. Apalagi predikat Provinsi Kalimantan Utara sebagai kota pelajar sangat mendukung pertumbuhan warnet-warnet tersebut. Biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan biaya mengakses internet di kota-kota besar lainnya. Namun, keberadaan warnet semakin terancam dengan adanya fasilitas hotspot di berbagai sudut Provinsi Kalimantan Utara yang menawarkan akses internet gratis. Perlu dilakukan pergeseran dalam memotret media komunikasi seiring dengan kemajuan jaman. Mungkin stasiun pemancar HP, jumlah kepemilikan HP, pelanggan hotspot yang berupa masyarakat umum dan kelompok, jejaring sosial akan lebih dapat mengekspresikan kondisi yang faktual tentang penggunaan media telekomunikasi secara efektif. Untuk sosialisasi baik terkait dengan nilai-nilai, program maupun kegiatan saat ini lebih efektif dengan media tersebut. Artinya selain media yang sudah ada, juga mengidentifikasi sarana komunikasi dan informasi lain sesuai dengan kemajuan jaman. 3. Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Indikator jumlah surat kabar nasional dan lokal seperti yang tertulis dalam Lampiran 1 Permendagri 54/2010 adalah jenis surat kabar nasional dan lokal yang masuk ke daerah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 193

194 Tabel J.3. Jumlah Surat Kabar yang Beredar di Provinsi Kalimantan Utara Provinsi Jumlah Surat Kabar yang Beredar Kalimantan Utara Pos Tribun Kalimantan Utara Kabar Kalimantan Utara Berita Kalimantan Utara Kalimantan Utara Koran Kaltim Radar Tarakan Swara Kaltim Kompas Tempo Sumber: Analisa survei Lapangan Kalimantan Utara 2016 Yang perlu dioptimalkan adalah pemanfaatan surat kabar lokal dan nasional untuk mendukung semua SKPD umumnya dan pelaksanaan tupoksi setiap pegawai/pejabat pada khususnya. Dalam upaya meningkatkan kepekaan terhadap perubahan sosial, politik, ekonomi, dll diperlukan surat kabar lokal dan nasional. Untuk sampai pada indikator outcome, maka perlu ditindaklanjuti dengan mengukur pemanfaatan berita terkait dengan tupoksi SKPD untuk kepentingan pengambilan keputusan, pengayaan data maupun pertimbangan dan solusi. 4. Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Indikator jumlah penyiaran radio dan televisi lokal adalah jumlah penyiaran radio dan televisi yang masuk ke daerah. Menurut informasi yang diperoleh dari Biro Umum dan Humas, Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Utara terdapat 10 Stasiun TV yang telah beroperasi di Kalimantan Utara, diantaranya adalah PT Global TV, PT Lativi Mediakarya Menado Samarinda, PT. RCTI 8, PT Trans Tujuh Pontianak, PT SCTV, PT Metro, PT SCTV, PT. Cakrawala Andalas TV (ANTV), PT Indosiar, PT. TPI Sembilan/MNC. Provinsi Kalimatan Utara juga memiliki penyiaran TV lokal di Kota Tarakan, yakni Tarakan TV. Tabel J.4. Penyiaran TV di Provinsi Kalimantan Utara Provinsi Stasiun Televisi 1.PT Global TV 2. PT Lativi Medikarya Menado Samarinda 3. PT RCTI 8 4. PT Trans Tujuh Pontianak 5. PT Trans Tujuh Mataram Samarinda Kalimantan Utara 6. PT SCTV 7. PT Metro 8. PT Cakrawala Andalas TV ANTV 9. PT Indosiar 10. PT TPI Sembilan / MNC Sumber : Analisa survei Lapangan Kalimantan Utara 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 194

195 5. Website Milik Pemerintah Daerah Berikut adalah data ketersediaan website milik pemerintah di kabupaten maupun Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun tahun Pada tahun 2012 Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Utara dan seluruh kabupaten telah memiliki website, sehingga memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi melalui media elektronik. Tabel J.5. Website Milik Pemerintah di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Malinau Ada Ada Ada Ada Ada Ada Nunukan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tana Tidung Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Ada Ada Ada Ada Sumber : 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2010, 2012, ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2010, 2012, ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun 2010, 2012, ) LPPD Kabupaten Tana TidungTahun 2010, 2012, ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2010, 2012, ) LPPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun Pameran/Expo Indikator pameran/expo sesuai dengan Lampiran 1 Permendagri 54/2010 merupakan jumlah yang menunjukkan banyaknya kegiatan pameran/expo yang dilaksanakan per tahun. Banyaknya pameran/expo yang dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Utara bersumber dari Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dimana pameran dan atau expo tersebut tidak menjelaskan secara terinci jenis pameran/expo yang dilaksanakan pada tahun terkait. Tabel J.6. Jumlah Pameran/Expo di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2010, 2012, ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2010, 2012, ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun 2010, 2012, ) LPPD Kabupaten Tana TidungTahun 2010, 2012, ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2010, 2012, ) LPPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015 Untuk pengukuran outcome maka pameran hendaknya tidak hanya menilai jumlah pameran yang dilakukan per tahun, namun sasaran yang dicapai oleh setiap pameran. Dengan demikian efektivitas kinerja dilihat dari aspek obyek yang disasar menjadi lebih konkrit. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 195

196 K. Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah 1. Persentase Koperasi Aktif Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, salah satunya azas kekeluargaan. Koperasi menjadi salah satu penggerak perekonomian terutama di tingkat masyarakat golongan menengah ke bawah. Semakin besar jumlah persentase koperasi yang aktif, maka semakin besar pelayanan penunjang yang dimiliki daerah dengan menggerakkan perekonomian melalui koperasi. Pengaruh koperasi terhadap perekonomian wilayah ditunjukkan dari perannya dalam membantu menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai lapangan pekerjaan informal alternatif ketika pekerjaan formal tidak lagi dapat memeuhi permintaan lapangan pekerjaan. Tabel K.1 Jumlah dan Persentase Koperasi Aktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 Provinsi kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Jumlah Koperasi Aktif Jumlah Koperasi Persentase Koperasi Aktif Bulungan ,1 Malinau ,6 Nunukan ,7 Tana Tidung ,6 Tarakan ,8 Kalimantan Utara ,1 Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara 2016 Tahun 2015, tercatat 466 koperasi aktif atau 61,1% dari jumlah keseluruhan koperasi di Provinsi Kalimantan Utara. Kabupaten Tana Tidung memiliki persentase koperasi aktif paling besar yaitu mencapai 84,6%. Tabel K.2 Jumlah dan Persentase Koperasi Aktif Tahun Provinsi kalimantan Utara Uraian Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif 57,96 61,30 61,15 Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara 2016 Persentase koperasi aktif Provinsi Kalimantan Utara terus meningkat positif. Peningkatan signifikan terjadi dari tahun 2013 menuju tahun 2014, yakni sebesar 57,96% atau dari 426 unit koperasi aktif di tahun 2013 menjadi 469 unit di tahun Perkembangan positif ini menunjukkan bahwa keberadaan koperasi menjadi salah satu media penggerak perekonomian skala kecil menengah. Jumlah koperasi sedikit mengalami penurunan di tahun 2015 yaitu menjadi 466 unit koperasi aktif. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 196

197 2. Jumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Usaha kecil maupun usaha menengah merupakan usaha mandiri yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang tidak ada hubungannya dengan usaha besar (bukan merupakan cabang). Jumlah UKM menjadi aspek yang diperhitungkan dalam menganalisis kondisi perekonomian wilayah karena perannya dalam perekonomian rakyat yang mandiri. Tabel K.3 Jumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Menurut Kabupaten/Kota Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara 2016 Kabupaten/kota yang menunjukkan peningkatan jumlah UKM adalah Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Peningkatan terbesar adalah jumlah UKM Kota Tarakan mencapai 170%, yakni dari 713 unit UKM menjadi unit pada tahun Di samping itu, Kabupaten Bulungan meningkat 43,5%, sedangkan Kabupaten Tana Tidung meningkat sebesar 9%. 3. Jumlah BPR/LKM BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. LKM atau Lembaga Keuangan Mikro adalah lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan (deposits), kredit (loans), pembayaran sebagai transaksi jasa (payment service) serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. LKM memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan berbagai jasa keuangan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. Jumlah BPR/LKM akan menunjukkan seberapa besar kapasitas pelayanan pendukung yang dimiliki daerah khususnya untuk masyarakat ekonomi rendah dan pengusaha kecil. Hingga saat ini data valid terkait jumlah BPR/LKM Provinsi Kalimantan Utara masih belum tersedia. 4. Usaha Mikro dan Kecil Usaha mikro dan kecil juga merupakan usaha mandiri yang kebanyakan dilakukan oleh perorangan atau rumah tangga. Perbedaan usaha mikro dengan usaha kecil dan menengah hanya terletak pada nilai aset dan omsetnya. Usaha mikro dan kecil juga merupakan salah satu sektor usaha dalam perekonomian mikro yang potensial untuk diperhatikan dan dikembangkan sebagai katalisator perekonomian daerah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 197

198 Tabel K.4 Persentase Usaha Mikro dan Kecil Tahun 2014 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Jumlah usaha Jumlah Usaha Kecil mikro dan kecil Menengah (UKM) Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Persentase usaha mikro kecil Provinsi Kalimantan Utara 97% Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara 2016 Tercatat 97% Usaha Kecil Menengah termasuk dalam kategori Usaha Mikro dan Kecil. Pencapaian ini menunjukkan sinyal positif bagi pertumbuhan perekonomian khususnya perekonomian skala menengah ke bawah. Perkembangan usaha mikro dan kecil juga menunjukkan tersedianya lingkungan positif yang mendukung perkembangan usaha perekonomian mandiri. Tabel K.5 Potensi Produk Unggulan Industri UMKM Tahun 2013 di Provinsi Kalimantan Utara No. Kabupaten/Kota Produk Unggulan Pemasaran 1 Kabupaten Malinau Meubel Rotan Anyaman Rotan Anyaman bambu, Anyaman pandan Kopi Bubuk Batik Malinau Kabupaten Malinau dan luar kabupaten 2 Kabupaten Bulungan Kue dan roti Mie kering dan mie basah Kopi bubuk Tahu dan Tempe Kerupuk dan Amplang Anyaman Manik dan Anyaman Serat Penyulingan Minyak Atsiri Pengolahan Logam Pembuatan Kapal Meubel Kayu Meubel Rotan 3 Kabupaten Nunukan Beras Adan Olahan Rumput Laut Kerupuk Durian Ikan Teri Udang Kering 4 Kabupaten Tana Tidung Abon Ikan Pari Anyaman Bambu dan Daun Pandan 5 Kota Tarakan Ikan Asin Tipis Amplang Batik Khas Tarakan Sumber: Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Berau (kalimantan Timur), Kota Jakarta, Kota Surabaya, Provinsi Bali Negara Perancis, China, Uni Emirat Arab Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan Malaysia Di dalam kabupaten Tana Tidung Di dalam dan luar Kota Tarakan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 198

199 L. Penanaman Modal 1. Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA) Jumlah investasi di suatu daerah seringkali menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan perekonomian secara makro. Terdapat dua jenis investasi menurut sumbernya, yaitu investasi dalam negeri dan investasi luar negeri/asing. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan bentuk investasi skala nasional yang menjadi penyumbang pendapatan daerah yang besar. Tabel L.1 Jumlah PMDN/PMA Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi PMDN PMA PMDN/ PMA Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Provinsi Kalimantan Utara 2016 Penanaman modal di Provinsi Kalimantan Utara masih didominasi oleh penanaman modal dalam negeri, yaitu sebesar 63% atau 176 PMDN dan sisanya adalah penanaman modal asing 104 PMA. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik investasi di provinsi ini untuk pihak asing masih kurang. Pemerintah Daerah masih memiliki pekerjaan rumah dan target baru untuk memanfaatkan potensi Provinsi Kalimantan Utara sebagai daya tarik investor asing. 2. Jumlah Nilai Investasi Berskala Nasional (PMDN/PMA) Besaran nilai investasi menggambarkan lebih nyata dan spesifik perkembangan investasi di suatu wilayah. Jumlah PMDN/PMA maupun proyek yang disetujui tidak dapat menjadi tolok ukur untuk menghitung kontribusi penanaman investasi terhadap perekonomian daerah. Jumlah dan nilai realisasi proyeklah yang menjadi ukuran fisik keberhasilan daerah dalam memfasilitasi PMDN/PMA dalam merealisasikan proyek. Semakin banyak realisasi proyek maka akan menggambarkan keberhasilan daerah dalam memberi fasilitas penunjang pada investor untuk merealisasikan investasi yang telah direncanakan. Selama lima tahun terakhir, dari 220 proyek yang telah disetujui, hanya 65 proyek yang terealisasi hingga tahun Nilai investasi yang sebelumnya disetujui sebelumnya sebesar 15,8 triliun hanya terealisasi sebesar 6,11 triliun. Dengan kata lain hanya 30% proyek yang terealisasi dari jumlah proyek yang disetujui dan 40% nilai poyek dari keseluruhan nilai invstasi yang disetujui sebelumnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 199

200 Tabel L.2 Realisasi Nilai Investasi PMDN/PMA Tahun Provinsi Kalimantan Utara Tahun Persetujuan Realisasi Jumlah Proyek Nilai Investasi (Rp) Jumlah Proyek Nilai Investasi (Rp) ,906,341,830, ,248,253,931, ,162,243,901, ,7 Milyar ,794,840,627, ,8 Triliun ,759,633,200, ,81 Triliun Total ,871,313,490, ,11 Triliun Sumber: LPPD Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Provinsi Kalimantan Utara Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Rasio daya serap tenaga kerja adalah perbandingan antara jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan PMDN/PMA dengan jumlah keseluruhan PMDN/PMA. Dengan melihat rasio daya serap tenaga kerja, dapat diketahui pengaruh adanya investasi dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Semakin besar rasio daya serap tenaga kerja pada PMA dan PMDN akan mencerminkan besarnya daya tampung di perusahaan PMA/PMDN untuk menyerap tenaga kerja di suatu daerah dan meningkatkan kesejahteraan penduduk. Tabel L.3 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja PMDN/PMA Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Jumlah Tenaga Kerja Kalmantan Utara PMDN PMA Rasio Daya Serap Tenaga Kerja 17,4 Sumber:LPPD Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Provinsi Kalimantan Utara 2016 Tahun 2015 sebanyak tenaga kerja termasuk tenaga kerja asing bekerja pada perusahaan PMDN dan tenaga kerja untuk perusahaan PMA. Rasio tenaga kerja terhadap jumlah perusahaan PMDN/PMA adalah sebesar 17,4. 4. Kenaikan/Penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Kenaikan/penurunan nilai realisasi PMDN/PMA akan menunjukkan besar pertumbuhan nilai realiasi proyek di suatu daerah. Angka pertumbuhan ini selanjutnya dapat menjadi salah satu aspek yang menunjukkan seberapa besar pemerintah daerah mampu mempertahankan tren investasi dan daya tarik/potensi daerahnya. Dari tabel di bawah, dapat disimpulkan bahwa pada periode , realisasi nilai investasi Provinsi Kalimantan Utara berkembang pesat. Pertumbuhan realisasi nilai proyek pada tahun 2014 bahkan mencapai 215% dan tetap bertahan 112% pada tahun Hal ini menunjukan bahwa meski persentase realisasi proyek masih tergolong kecil, namun pertumbuhan nilai investasi dari tahun ke tahun sudah cukup memuaskan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 200

201 Tabel L.4 Kenaikan/Penurunan Nilai Realisasi PMDN/PMA Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Nilai Realisasi PMDN/PMA (milyar rupiah) Realisasi PMDN/PMA (triliun rupiah) 0,57 1,8 3,81 Perubahan (triliun rupiah) - 1,23 2,01 Pertumbuhan (%) Sumber: LPPD Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Provinsi Kalimantan Utara 2016 M. Kepemudaan dan Olah Raga 1. Jumlah Organisasi Pemuda Organisasi pemuda merupakan wadah potensi dan peran aktif pemuda di tengah masyarakat. Keberadaan organisasi pemuda diharapkan dapat menjadi sarana positif pengembangan pola pikir pemuda agar terbiasa bekerja dalam suatu tim/kelompok, berjiwa kepemimpinan, terampil, dan peka terhadap permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya. Indikator jumlah organisasi pemuda digunakan untuk memetakan potensi perkembangan kepemudaan kedepan dan penentuan langkah pemberdayaan bidang kepemudaan. Berikut adalah data jumlah organisasi pemuda di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel M.1 Jumlah Organisasi Pemuda Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Kabupaten Bulungan na na 33 na na 30 Organisasi Kabupaten Malinau na na 12 na na 43 Pemuda Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung na na 13 Kota Tarakan Prov. Kalimantan Utara Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga, Provinsi Kalimantan Utara, Tahun 2016 Berdasarkan informasi yang tersedia di setiap kabupaten/kota sudah memiliki organisasi kepemudaan. Masa transisi pemekaran Provinsi Kalimantan Utara dari Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 2013 sampai dengan 2014, menyebabkan organisasi pemuda yang ada belum sepenuhnya jumlahnya terdata dengan baik. Data terbaru tahun 2015 menunjukan bahwa Kota Tarakan merupakan kabupaten/kota yang memiliki jumlah organisasi pemuda terbanyak, yaitu sebanyak 87 organisasi pemuda. Secara umum jumlah organisasi pemuda di Provinsi Kalimantan Utara mengalami kecenderungan peningkatan dari tahun 2010 sampai dengan 2015, dengan keseluruhan berjumlah 179 organisasi pemuda pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 201

202 2. Jumlah Organisasi Olahraga Jumlah organisasi olahraga digunakan sebagai indikator untuk melihat potensi perkembangan olahraga di masa depan dan sebagai dasar menentukan langkah pemberdayaan bidang olahraga. Berikut adalah data jumlah organisasi olahraga di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel M.2 Jumlah Organisasi Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Kabupaten Bulungan na na na na na 20 Organisasi Kabupaten Malinau na na na na na 9 Olahraga Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung na na na na na 3 Kota Tarakan Prov. Kalimantan Utara Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara, Tahun 2016 Berdasarkan informasi yang tersedia di setiap kabupaten/kota sudah memiliki organisasi olahraga. Masa transisi pemekaran Provinsi Kalimantan Utara dari Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 2013 sampai dengan 2014, menyebabkan organisasi olahraga yang ada belum sepenuhnya jumlahnya terdata dengan baik. Berdasarkan data yang tersedia, jumlah organisasi olahraga Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 sampai dengan 2014 hanya dimiliki oleh Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Kota Tarakan memiliki 43 organisasi olahraga di tahun Data terbaru tahun 2015 menunjukan bahwa Kota Tarakan merupakan kabupaten/kota dengan jumlah organisasi olahraga terbanyak, yaitu sejumlah 45 organisasi olahraga, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. 3. Jumlah Kegiatan Kepemudaan Peran aktif organisasi pemuda dapat diindikasikan melalui jumlah kegiatan kepemudaan. Berikut adalah data kegiatan kepemudaan di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 202

203 Tabel M.3 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Kabupaten Bulungan na na na na na 3 Kegiatan Kabupaten Malinau na na na na na 1 Kepemudaan Kabupaten Nunukan 1 na Kabupaten Tana Tidung na na na na na 2 Kota Tarakan 3 na na Prov. Kalimantan Utara 4 na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Data jumlah kegiatan kepemudaan di Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 sampai dengan 2014 hanya terdapat untuk Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Data terbaru tahun 2015 menunjukan bahwa Kabupaten Bulungan memiliki kegiatan kepemudaan terbanyak, yaitu sebanyak tiga kegiatan kepemudaan dalam tahun tersebut. 4. Jumlah Kegiatan Olahraga Indikator jumlah kegiatan olahraga merupakan tolok ukur untuk melihat aktifitas kegiatan yang dilakukan oleh klub atau organisasi olahraga dalam di kabupaten/kota. Berikut adalah data kegiatan olahraga di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel M.4 Jumlah Kegiatan Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Kabupaten Bulungan na na na na na na Kegiatan Kabupaten Malinau na na na na na na Olahraga Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung na na na na na 5 Kota Tarakan Prov. Kalimantan Utara Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Data jumlah kegiatan olahraga untuk tahun 2010 sampai dengan 2014 hanya terdapat untuk Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Berdasarkan data yang ada, jumlah kegiatan olahraga di Provinsi Kalimantan Utara secara umum mengalami peningkatan untuk tahun 2011 dan kemudian mengalami penurunan dari tahun 2011 sampai dengan 2014, dan akhirnya kembali meningkat di tahun Sedangkan untuk tahun 2015 hanya terdapat data untuk Kabupaten Nunukan sebanyak 32 kegiatan olahraga, Kabupaten Tana Tidung sebanyak 5 kegiatan olahraga dan Kota Tarakan sebanyak 4 kegiatan olahraga. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 203

204 5. Gelanggang/Balai Remaja (Selain Milik Swasta) Indikator ini digunakan untuk menjelaskan potensi sejumlah sarana penunjang pusat kegiatan kepemudaan dan olahraga. Berikut adalah data rasio jumlah gelanggang/bali remaja (selain milik swasta) per 1000 penduduk di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel M.5 Rasio Gelanggang / Balai Remaja (Selain Milik Swasta) per 1000 penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Rasio Kabupaten Bulungan na na na na Gelanggang / Kabupaten Malinau na na na Balai Remaja Kabupaten Nunukan (Selain Milik Kabupaten Tana Tidung na na na Swasta) Kota Tarakan Prov. Kalimantan Utara na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Data jumlah gelanggang/balai remaja di Provinsi Kalimantan Utara tidak tersedia secara lengkap, terutama setelah tahun Data yang lengkap hanya dimiliki oleh Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Kota Tarakan memiliki kecenderungan peningkatan jumlah gelanggang/balai remaja dari tahun 2010 sampai dengan 2013, dan penurunan dari tahun 2013 sampai dengan Lapangan Olahraga Indikator ini digunakan untuk melihat adanya sarana penunjang kegiatan olahraga yang berupa lapangan olahraga. Berikut adalah data rasio jumlah lapangan olahraga per 1000 penduduk di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel M.6 Rasio Lapangan Olahraga per 1000 Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2010 s.d Uraian Kabupaten/Kota Rasio Lapangan Kabupaten Bulungan 1.4 na na na na na Olahraga per Kabupaten Malinau na na na 1000 penduduk Kabupaten Nunukan na Kabupaten Tana Tidung na na na na Kota Tarakan na Prov. Kalimantan Utara 2.33 na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara, Tahun 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 204

205 Berdasarkan data yang tersedia terlihat bahwa rasio jumlah lapangan per 1000 penduduk mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Data jumlah lapangan olahraga di Provinsi Kalimantan Utara tidak tersedia secara lengkap, terutama setelah tahun N. Statistik Statistik merupakan basis dasar yang diperlukan untuk perencanaan daerah. Tentunya semua bentuk perencanaan akan bertolak dari kondisi statistik pembangunan yang disajikan ke dalam data yang terstruktur. Oleh karena itu semestinya buku statistik ini dapat terinformasikan secara progresif. Kendati buku statistik yang dibutuhkan belum lengkap, akan tetapi secara progresif data semestinya disajikan hingga satu bulan terakhir dalam setiap perjalanan tatakala waktu. Namun sebaliknya yang terjadi seringkali buku statistik terbit harus lengkap sehingga data yang dijadikan dasar perencanaan menjadi kurang up date. 1. Buku Kabupaten/Kota Dalam Angka Ketersediaan dokumen daerah dalam angka mengindikasikan bahwa pengelolaan database wilayah berjalan dengan baik. Database dokumen dalam angka masuk ke dalam indikator karena dokumen ini menyimpan banyak data penting yang diperlukan dalam proses pembuatan rencana pengembangan wilayah dari berbagai sektor seperti misalnya kependudukan, geografi dan lain sebagainya. Tabel N.1 Ketersediaan Dokumen Daerah dalam Angka Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Malinau Ada Ada Ada Ada Ada Ada Nunukan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tana Tidung Ada Ada Ada Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Ada Sumber: 1) Bulungan dalam Angka tahun 2010,2011, 2012, 2013, 2014, ) Malinau dalam Angka 2011, 2013, 2014, ) Nunukan dalam Angka 2012, 2013, 2014, ) Tana Tidung dalam Angka 2012 dan , ) Tarakan dalam Angka 2013, 2014, ) Kalimantan Utara dalam Angka 2015 Pada data tersebut hanya menginformasikan bahwa buku daerah dalam angka Provinsi Kalimantan Utara telah tersedia, namun belum menjawab kebutuhan pengukuran dari indikator jumlah eksemplar buku yang tersedia. Sementara itu tentunya penerbitan buku statistik ini merupakan pekerjaan yang melekat sebagai fungsi wajib yang harus dijalankan yang bersifat periodik, dengan batasan anggaran yang jelas. Semestinya RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 205

206 penyebutan jumlah eskemplar sudah harus dapat dipenuhi karena sebenarnya dalam perencanaan dan alokasi anggaran sudah harus jelas. 2. Buku PDRB Kabupaten/Kota Dokumen PDRB skala daerah, yaitu PDRB menurut lapangan usaha. Dokumen PDRB menurut lapangan usaha berisi data PDRB yang dihitung melalui pendekatan produksi (jumlah nilai tambah yang dihasilkan dari unit-unit produksi). Masing-masing BPS kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara mengeluarkan publikasi PDRB menurut lapangan usaha. Karena publikasi PDRB tidak hanya satu tahun data, maka penghitungan publikasi dalam laporan ini didasarkan pada ketersediaan data yang ada, bukan pada tahun publikasinya. Dokumen PDRB menurut lapangan usaha maupun PDRB menurut penggunaan untuk Provinsi Kalimantan Utara belum tersedia. Hal ini dikarenakan provinsi ini baru secara resmi terbentuk pada tahun 2013 sehingga rangkuman data kabupaten/kota masih terdapat dalam dokumen provinsi induk (Provinsi Kalimantan Timur). Tabel N.2 Ketersediaan PDRB Wilayah Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Malinau Ada Ada Ada Ada Ada Ada Nunukan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tana Tidung Ada Ada Ada Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Ada Sumber: 1) PDRB Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Bulungan Tahun 2010,2011, 2012, 2013, 2014, ) PDRB Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Malinau Tahun 2010,2011, 2012, 2013, 2014, ) PDRB Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Nunukan Tahun 2010,2011, 2012, 2013, 2014, ) PDRB Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Tana Tidung Tahun 2012, 2013, 2014, ) PDRB Menurut Lapangan Usaha Kota Tarakan Tahun 2010,2011, 2012, 2013, 2014, ) PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Kalimantan Utra Tahun 2015 O. Kebudayaan 1. Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya Indikator penyelenggaraan festival seni dan budaya digunakan untuk mengukur sejumlah aktifitas yang dapat dijadikan sebagai potensi daya tarik perkembangan seni dan budaya daerah. Indikator ini sangat penting terutama untuk menjelaskan adanya perhatian daerah dalam menunjang bidang ekonomi pariwisata berbasis seni dan budaya. Berikut adalah data penyelenggaraan festival seni dan budaya di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 206

207 Tabel O.1 Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun Uraian Kabupaten/Kota Rasio Kabupaten Bulungan na na Lapangan Kabupaten Malinau na na na Olahraga per Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung na na penduduk Kota Tarakan Prov. Kalimantan Utara Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara, tahun 2016 Berdasarkan informasi yang tersedia jumlah penyelenggaraan festival seni dan budaya di Kalimantan Utara bervariasi pada setiap tahunnya. Pendataan dari tahun 2010 sampai dengan 2013 dinilai cukup baik, dengan Kabupaten Malinau sebagai kabupaten/kota yang terbanyak menyelenggarakan festival seni dan budaya di tahun 2011, 2012, dan 2013; dan Kota Tarakan adalah kabupaten/kota yang terbanyak menyelenggarakan festival seni dan budaya di tahun Data penyelenggaraan festival seni dan budaya untuk tahun 2014 dan 2015 hanya terdapat untuk Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan. 2. Sarana Penyelenggaraan Seni dan Budaya Indikator sarana penyelenggaraan seni dan budaya merupakan sejumlah gambaran yang tersedia untuk melihat adanya penunjang aktifitas seni dan budaya. Berikut adalah data sarana penyelenggaraan festival seni dan budaya di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel O.2 Sarana Penyelenggaraan Seni dan Budaya Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun Uraian Kabupaten/Kota Jumlah Sarana Kabupaten Bulungan na 2 1 na na na Penyelenggaraan Kabupaten Malinau na na na Seni dan Budaya Kabupaten Nunukan na na 1 na na na Kabupaten Tana Tidung na na na Kota Tarakan Prov. Kalimantan Utara Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Pendataan dari tahun 2010 sampai dengan 2012 dinilai cukup baik, dengan Kabupaten Malinau sebagai kabupaten/kota yang terbanyak memiliki sarana penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya di tahun 2011 dan Data penyelenggaraan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 207

208 festival seni dan budaya untuk tahun 2013 sampai dengan 2015 hanya terdapat untuk Kota Tarakan dan Kabupaten Tana Tidung. 3. Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang Dilestarikan Indikator pelestarian benda, situs, dan kawasan cagar budaya merupakan tolok ukur dalam melihat adanya jaminan perhatian dalam usaha pelestarian benda peninggalan peradaban masa lalu. Berikut adalah data benda, situs, dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2010 sampai dengan Tabel O.3 Persentase Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang Dilestarikan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Tahun Uraian Kabupaten/Kota Persentase Benda, Kabupaten Bulungan na na na na Situs dan Kawasan Kabupaten Malinau na na na na Cagar Budaya yang Kabupaten Nunukan 0 na na na Dilestarikan Kabupaten Tana Tidung na na 40 na na na Kota Tarakan Prov.Kalimantan Utara na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara 2016 Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Utara yang belum lama dibentuk, masih belum memiliki tim ahli untuk melakukan penilaian benda, situs, dan kawasan Cagar Budaya. Hal ini menyebabkan data yang cukup lengkap hanya terdapat untuk tahun 2011 dan 2012 ketika proses pendataan masih dilakukan oleh Provinsi Kalimantan Timur, dengan kecenderungan peningkatan pelestarian benda, situs, dan kawasan cagar budaya dari tahun 2011 ke Sedangkan untuk tahun 2013 sampai dengan 2015 hanya terdapat data untuk Kota Tarakan dengan pelestarian yang menyeluruh (100%) untuk semua benda, situs dan kawasan cagar budaya yang terdapat di kota tersebut. P. Perpustakaan 1. Jumlah Perpustakaan Perpustakaan merupakan sumber ilmu dan sumber referensi dalam penyelenggaraan pendidikan baik formal maupun informal. Untuk itu eksistensi perpustakaan menjadi sangat penting di daerah. Jumlah perpustakaan yang berada di wilayah Provinsi Kalimantan Utara sejak tahun 2011 hingga tahun 2015 mengalami kenaikan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 208

209 Tabel P.1. Jumlah Perpustakaan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a Malinau n/a Nunukan n/a Tana Tidung n/a Tarakan Kalimantan Utara n/a Sumber : 1) Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Tarakan tahun ) Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Nunukan Tahun ) Database Pembangunan Kabupaten Malinau Tahun ) Biro Umum dan Humas, Setda Provinsi Kalimantan Utara 2016 Jumlah perpustakaan yang semakin meningkat memiliki dampak bahwa pelayanan pendidikan bidang perpustakaan semakin meningkat. Kondisi ini harus disadari betul sebagai upaya melihat perkemabngan sumber daya manusia karena jumlah perpustakaan tentu memiliki imbas terhadap peluang perkembangan garda depan dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jika keaktifan pelayanan perpustakaan ditingkatkan dengan alokasi buku-buku yang dibutuhkan masyarakat, maka ke depan akan semakin meningkat daya tarik perpustakaan di mata masyarakat. Kesanggupan manajemen perpustakaan yang efeisien dan efektif dengan menggunakan pelayanan on line dan SIM yang selalu ditingkatkan maka akan menambah gairah para pelajar dan masyarakat pada umumnya untuk mengakses pelayanan tersebut. 2. Rasio Jumlah Perpustakaan terhadap Jumlah Penduduk Penting untuk mengetahui sejauhmana kemampuan dan daya tampung layanan perpustakaan dengan melihat rasio perpustakaan dibandingkan dengan jumlah penduduk. Jumlah perpustakaan yang semakin meningkat memiliki dampak bahwa pelayanan pendidikan bidang perpustakaan semakin meningkat. Namun jika dilihat dari pertumbuhan penduduk kondisi perpustakaan selama tahun 2011 sampai 2015 cenderung tidak memiliki kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini juga terlihat angka rasio pemenuhan jumlah perpusatakaan masih cukup rendah jika dibandingkan dengan pelayanan jumlah penduduk. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 209

210 Tabel P.2. Rasio Jumlah Perpustakaan terhadap Jumlah Penduduk Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a 0,010 0,012 0,015 0,017 0,020 Malinau n/a 0,024 0,024 0,022 0,027 0,027 Nunukan n/a 0,017 0,017 0,018 0,017 0,017 Tana Tidung n/a 0,024 0,029 0,095 0,088 0,082 Tarakan 0,006 0,005 0,006 0,011 0,011 0,012 Kalimantan Utara n/a 0,012 0,013 0,018 0,018 0,020 Sumber : 1) Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Tarakan tahun ) Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Nunukan Tahun ) Database Pembangunan Kabupaten Malinau Tahun ) Biro Umum dan Humas, Setda Provinsi Kalimantan Utara Jumlah Pengunjung Perpustakaan per Tahun Keberadaan sebuah perpustakaan tidak terlepas dari pengunjungnya. Untuk itulah pengunjung perlu dimonitor sehingga dapat diketahui animo pengunjung dari waktu ke waktu. Indikator jumlah pengunjung perpustakaan per tahun menunjukkan pemakai perpustakaan yang berkunjung ke perpustakaan untuk mencari bahan pustaka dalam kurun waktu satu tahun. Jumlah pengunjung perpustakaan dihitung berdasarkan pengunjung yang mengisi daftar kehadiran atau berdasar data yang diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung. Berdasarkan informasi yang tersedia terlihat bahwa Kabupaten Bulungan memiliki kecenderungan kenaikan pada tahun 2011 sampai tahun Kota Tarakan memiliki kecenderungan kenaikan jumlah kunjungan pada tahun 2010 sampai Kabupaten Nunukan terjadi kecenderungan kenaikan, keadaan ini terlihat pada tahun 2011 sampai Kabupaten Malinau terdapat kecenderungan penurunan antara tahun 2010 dan 2011 kemudian mengalami peningkatan kunjungan pada 2012 dan Data Kabupaten Tana Tidung pengalami jumlah kenaikan kunjungan pada dua tahun terakhir. Tabel P.3. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a Malinau Nunukan Tana Tidung n/a Tarakan Kalimantan Utara n/a Sumber : 1) Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Tarakan tahun ) Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Nunukan Tahun ) Database Pembangunan Kabupaten Malinau Tahun ) Biro Umum dan Humas, Setda Provinsi Kalimantan Utara 2016 Data tersebut menunjukkan bahwa setiap tahunnya terjadi kenaikan jumlah pengunjung perpustakaan. Kenaikan jumlah pengunjung ini menunjukkan minat membaca RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 210

211 masyarakat yang semakin besar. Dengan demikian daya tarik perpustakaan dalam memberikan pelayanan juga meningkat. Namun kondisi ini perlu ditingkatkan dengan pelayanan yang lebih baik, dengan melengkapi informasi yang selalu up date dan fasilitas yang lebih baik. 4. Koleksi Buku yang tersedia di Perpustakaan Daerah Koleksi judul buku dan jumlah buku di perpustakaan memiliki pengaruh besar terhadap jumlah pengunjung perpustakaan. Banyaknya variasi judul buku dan jumlah buku yang dikoleksi perpustakaan akan menimbulkan ketertarikan bagi masyarakat Provinsi Kalimantan Utara untuk berkunjung mencari bahan pustaka. Di bawah ini merupakan tabel informasi terkait koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Provinsi Kalimantan Utara dari tahun 2010 hingga Berdasarkan data yang tersedia terlihat hanya empat kabupaten/kota yang dapat menjelaskan informasi perkembangan koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah. Kabupaten Malinau merupakan kabupaten yang memiliki perbandingan yang seimbang terlihat jumlah judul buku dan jumlah koleksi buku mencapai 1,13 pada tahun Sedangkan Kota Tarakan mencapai 0,03 pada tahun 2012, Kabupaten Bulungan mencapai 0,53 pada tahun 2012, Kabupaten Nunukan mencapai 0,60, dan Kabupaten Tanah Tidung tidak tersedia informasi yang dapat ditunjukkan. Terdapat tren yang baik dalam penyediaan jumlah koleksi judul buku dan jumlah buku di perpustakaan. Peningkatan jumlah koleksi judul yang berangsur meningkat dari waktu-ke waktu menandakan bahwa ada upaya untuk merespon perkembangan. Sedangkan penambahan koleksi buku yaitu menambah jumlah eksemplarnya merupakan pencerminan upaya untuk meningkatkan aksesibilitas. Q. Kearsipan 1. Pengelolaan Arsip secara Baku Arsip merupakan dokumen penting yang diperlukan sebagai sumber informasi hukum, historis, dan perkembangan kekinian. Untuk itu sistem informasi kearsipan mestinya tersedia agar dapat mendukung efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan kearsipan ini. Indikator ini digunakan untuk melihat sejumlah perkembangan aktivitas kegiatan pengelolaan arsip secara baku di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara. Pengelolaan arsip secara baku menjadi penting artinya mengingat pasal 3 UU No. 7 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan menyebutkan bahwa tujuan kearsipan adalah untuk menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 211

212 perencanaan, pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban tersebut bagi kegiatan pemerintah. Data yang tersedia menunjukkan bahwa di Kabupaten Bulungan tidak ada SKPD yang telah menerapkan pengelolaan arsip secara baik pada tahun Kabupaten Nunukan mengalami kenaikan jumlah pengelolaan arsip secara baku dari 6 SKPD sampai 8 SKPD (tahun 2012 ke 2013). Kabupaten Malinau memiliki jumlah tertinggi dalam penerapan arsip baku sejumlah 53 SKPD pada tahun 2011 dan Kota Tarakan memiliki kencenderungan pengelolaan kearsipan yang cenderung naik dari tahun ke tahunnya yaitu pada rentang 4 sampai 9 SKPD. Sementara di Kabupaten Tana Tidung tidak dapat diamati perkembangan jumlah SKPD yang telah menerapkan pengelolaan arsip secara baku, karena tidak ada data yang tersedia. 2. Peningkatan SDM Pengelola Kearsipan Indikator ini digunakan untuk melihat sejumlah perkembangan aktivitas peningkatan SDM pengelola kearsipan di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan indikator ini terlihat bahwa Kota Tarakan terdapat kegiatan peningkatan SDM pengelolaan kearsipan dengan perkembangan yang fluktuatif. Pada tahun 2009 dan 2013 terdapat dua kegiatan peningkatan SDM pengelola kearsipan, sedangkan tahun terdapat tiga kegiatan. Kabupaten Nunukan memiliki jumlah yang sama pada tahun 2010 sampai 2012 kemudian naik pada tahun Kabupaten Bulungan mengalami penurunan dari 1 kegiatan di tahun 2011 menjadi tidak ada kegiatan di tahun Kabupaten Malinau menunjukkan kenaikan jumlah kegiatan pada tahun 2011 ke 2012, namun pada tahun 2013 menurun hanya ada satu kegiatan saja. Sementara di Kabupaten Tana Tidung belum diperoleh data kegiatan peningkatan SDM pengelola kearsipan. Hal ini dapat dipahami mengingat kabupaten ini merupakan daerah otonom baru, hasil pemekaran dari Kabupaten Bulungan sehingga kegiatan peningkatan SDM mungkin belum dilaksanakan. Kendati telah terjadi kenaikan jumlah kegiatan peningkatan SDM untuk meningkatkan kualitas pengelolaan arsip di tingkat daerah, khususnya ke dalam SKPD, akan tetapi masih perlu dioptimalkan terus menerus, seiring dengan kebutuhan yang semakin meningkat Fokus Layanan Urusan Pilihan A. Kelautan dan Perikanan Sektor kelautan dan perikanan merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan secara optimal. Hasil laut terutama ikan merupakan sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis, hal tersebut dibuktikan dengan gencarnya pencurian ikan di RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 212

213 wilayah laut Indonesia. Ikan yang berada di wilayah Indonesia menjadi incaran negara tetangga, seperti Malaysia dan Filipina. Menteri Kelautan dan Perikanan saat ini tengah fokus memberantas pencurian ikan di wilayah laut Indonesia, karena dengan adanya pencurian ikan di wilayah NKRI negara sangat dirugikan. Beberapa waktu terakhir sering diberitakan bahwa kapal pencuri ikan dimusnahkan oleh pemerintah Indonesia, yaitu dari Angkatan Laut RI bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ikan selain bernilai ekonomis juga mengandung zat dan vitamin yang dibutuhkan bagi tubuh manusia, terutama bagi anak-anak yang dalam masa pertumbuhan. Ikan mengadung omega 3 yang berfungsi bagi perkembangan otak manusia, selain itu ikan kaya akan protein sehingga baik untuk mensuplai kebutuhan dan perkembangan organ tubuh manusia. Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi yang terletak berseberangan dengan negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunei Darusalam. Oleh karena letaknya yang berhadapan langsung dengan negara tetangga dan merupakan daerah perbatasan dengan negara lain, maka perlu perhatian khusus terutama pada sektor kelautan dan perikanan. 1. Produksi Perikanan Tangkap Provinsi Kalimantan Utara sebagai salah satu provinsi yang mempunyai wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan juga mempunyai DAS (daerah aliran sungai) serta perairan umum lainnya yang cukup luas. Panjang garis pantai yang ada di Provinsi Kalimantan Utara adalah 3995 km, hal tersebut menggambarkan bahwa Provinsi Kalimantan Utara memiliki wilayah pesisir yang panjang. Panjang garis pantai tersebut kurang lebih 0,5% dari panjang garis pantai Indonesia, yaitu sepanjang km. Selain memiliki pesisir yang cukup panjang, Provinsi Kalimantan Utara juga memiliki wilayah perairan laut yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang besar berdasarkan data WPP 716. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal apabila dapat dikelola secara optimal. Namun demikian, masalah utama yang menjadi hambatan peningkatan produksi perikanan laut di Provinsi Kalimantan Utara adalah armada perikanan tangkap masih sangat terbatas, yaitu mayoritas berukuran <10 GT. Armada yang berukuran <10 GT hanya mampu menjangkau perairan laut tidak lebih dari 4 mil laut, sehingga potensi perikanan laut belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Wilayah perairan laut Provinsi Kalimantan Utara berhadapan langsung dengan Selat Makassar yang tentu saja memiliki frekuensi lalu lintas relatif tinggi, karena Selat Makassar merupakan jalur penting dalam pelayaran domestik maupun internasional. Provinsi Kalimantan Utara terdiri dari empat kabupaten dan satu kota. Diantara lima wilayah adiministratif tersebut, ada tiga kabupaten dan satu kota yang berbatasan langsung dengan perairan laut, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 213

214 Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Selain berbatasan langsung dengan perairan laut, ketiga kabupaten tersebut juga memiliki pulau-pulau kecil yang masuk ke dalam wilayah administratifnya, namun demikian, Kota Tarakan merupakan pulau kecil yang juga memiliki satu pulau kecil, yaitu Pulau Sadau. Suatu derah apabila banyak memiliki pulau kecil, maka dapat dimanfaatkan sebagai karamba, karena diantara pulau-pulau kecil tersebut memiliki wilayah perairan yang relatif sempit, selain itu juga dimanfaatkan sebagai jalur transportasi antar pulau. Selain perikanan tangkap laut, di wilayah Kalimantan Utara juga memiliki perairan umum, yaitu sungai dan danau yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menangkap ikan. Namun demikian, hasil tangkapan dari perairan umum memang tidak sebesar hasil perikanan tangkap laut. Oleh karena itu, perairan umum sangat potensial untuk dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan jumlah produksi perikanan terutama perikanna tangkap. Data produksi perikanan tangkap disajikan pada tabel berikut. Tabel A.1 Produksi Perikanan (ton) Tangkap Laut di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 664, , , , ,00 2 Malinau 3 Nunukan 3937, , , , ,60 4 Tana Tidung 1303,68 773,80 894,50 899,90 899,90 5 Tarakan 4108, , , , ,50 Kalimantan Utara 10014, , , , ,00 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten yang memiliki jumlah produksi perikanan tangkap laut yang besar adalah Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Rata-rata produksi kedua kabupaten/kota tersebut per tahun antara hingga ton. Kemudian disusul oleh Kabupaten Bulungan yang memiliki jumlah produksi perikanan tangkap laut cukup besar meskipun jumlahnya fluktuatif. Namun demikian, pada tahun 2015 Kabupaten Bulungan memiliki jumlah produksi perikanan laut tertinggi diantara kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu mencapai 5013 ton. Kabupaten Tana Tidung memiliki jumlah produksi perikanan tangkap laut berkisar 890 ton sampai dengan ton. Sedangkan Kabupaten Malinau tidak memiliki produksi perikanan tangkap laut karena memang tidak memiliki wilayah laut. Sedangkan, produksi perikanan tangkap perairan umum disajikan pada tabel berikut. Tabel A.2 Produksi Perikanan (ton) Tangkap Perairan Umum di Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 147,00 617,40 617,40 269,40 352,00 2 Malinau 200,28 347,60 317,92 331,10 331,10 3 Nunukan 96,90 103,58 110,20 49,20 49,20 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 214

215 No Kabupaten/Kota Tahun Tana Tidung 558,72 99,40 354,40 236,60 236,60 5 Tarakan Kalimantan Utara 1002, ,98 988,00 886,30 968,90 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Produksi perikanan tangkap perairan umum didominasi oleh tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bulungan, Malinau, dan Nunukan. Diantara ketiga kabupaten tersebut yang memiliki jumlah produksi perikanan tangkap perairan umum adalah Kabupaten Bulungan yang rata-rata tangkapan per tahun berkisar 140 hingga 650 ton. Selanjutnya diikuti oleh Kabupaten Malinau yang rata-rata tangkapan per tahun berkisar 200 hingga 340 ton. Kemudian diikuti oleh Kabupaten Nunukan yang rata-rata tangkapan per tahun sejak tahun 2010 hingga 2014 berkisar 96 hingga 168 ton. Namun demikian, pada tahun 2009 mulai terbentuk kabupaten baru, yaitu Kabupaten Tana Tidung. Meskipun tergolong kabupaten baru diantara lima kabupaten/kota lainnya, Kabupaten Tana Tidung memiliki nilai produksi yang besar, pada tahun 2010 jumlah produksi perikanan tangkap parairan umum sebesar 558,72 ton. Namun pada tahun-tahun selenjutnya mengalami penurunan, bahkan pada tahun 2011 produksi perikanan tangkap perairan umum sebesar 99,4 ton, dan kembali naik pada tahun Namun demikian pada tahun 2013 mengalami penurunan, menjadi sebesar 236,6 ton. 2. Produksi Perikanan Budidaya Budidaya ikan di Provinsi Kalimantan Utara sudah berkembang sejak dekade yang lalu, meskipun tidak terjadi secara merata. Pengembangan budidaya ikan di Provinsi Kalimantan Utara meliputi budidaya di tambak (kolam air payau), kolam air tawar maupun kegiatan budidaya rumput laut. Perikanan budidaya tambak di Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh tiga kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Bulungan, Nunukan, dan Kota Tarakan. Produksi perikanan budidaya tambak di Kabupaten Bulungan selama kurun watu antara 2010 sampai dengan 2014 cukup fluktuatif. Seperti pada 2010 hingga tahun 2012 produksinya 816 ton. Akan tetapi, pada tahun 2013 dan 2014 produksi kembali naik menjadi 3735 ton, dan 3566,17 ton. Kemudian di Kabupaten Nunukan, produksi perikanan budidaya tambak juga mengalami fluktuasi, pada tahun 2010 sebesar 5684,15 ton. Namun demikian, pada tahun 2011 produksi perikanan budidaya mengalami penurunan menjadi 3741,46 ton, dan terus mengalami penurunan sampai dengan tahun 2014 yaitu sebesar 1369,60 ton. Perikanan budidaya di Kota Tarakan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik kabupaten dan provinsi di Kalimantan Utara, menunjukkan tren yang fluktuatif. Pada tahun 2010 hingga tahun 2012, produksi tambak di Tarakan berkisar antara 855,50 ton RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 215

216 hingga 726,10 ton. Namun pada tahun 2013 dan 2014 produksi tambak menjadi sebesar 3.913,70 ton. Selain di Kota Tarakan, Kabupaten Tana Tidung yang merupakan kabupaten baru memiliki jumlah produksi perikanan tambak cukup besar, pada tahun 2010 produksi tambak di Tana Tidung sebesar 5.517,65 ton. Akan tetapi pada tahun 2011 produksi tambak turun menjadi 6,70 ton, hal ini merupakan penurunan yang sangat signifikan. Namun demikian, pada tahun 2012 kembali naik dengan signifikan menjadi ,90 ton. Pada tahun 2013 dan 2014 kembali mengalami penurunan menjadi ton. Sedangkan untuk di Kabupaten Malinau tidak ada kegiatan budidaya tambak jika dilihat dari data Badan Pusat Statistik. Tabel A.3 Produksi Perikanan (ton) Budidaya Tambak di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 816,40 816,40 816, , ,17 2 Malinau 3 Nunukan 5684, , , , ,60 4 Tana Tidung 5517,65 6, , , ,00 5 Tarakan 855,50 668,50 726, , ,70 Kalimantan Utara 12873, , , , ,47 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Jumlah produksi perikanan budidaya tambak erat kaitannya dengan luas tambak yang ada di Provinsi Kalimantan Utara. Namun demikian, apakah luasan tambak yang berkurang justru menyebabkan jumlah produksi tambak meningkat. Tabel A.4 Luas Tambak (ha) di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 3276,80 349, , ,00 Malinau Nunukan 19025, , , , ,00 Tana Tidung 301,20 850, ,00 Tarakan 857,00 947,70 947,70 400,00 496,40 Kalimantan Utara 23158, , , , ,40 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Selain perikanan budidaya tambak, di Provinsi Kalimantan Utara juga terdapat perikanan budidaya kolam. Perikanan budidaya kolam didominasi oleh Kabupaten Malinau, Nunukan, dan Kota Tarakan. Diantara ketiga kabupaten/kota tersebut, Kabupaten Malinau merupakan penyumbang terbesar dalam angka produksi perikanan budidaya kolam. Pada tahun 2010 produksi perikanan budidaya kolam di Malinau sebesar 127,18 ton dan terus mengalami kenaikan sampai dengan tahun 2012 dengan produksi sebesar 439,69 ton. Namun demikian, pada tahun 2013 dan 2014 mengalami penurunan jumlah produksi yaitu sebesar 395,70 ton. Selanjutnya produksi perikanan di Provinsi Kalimantan Utara disumbang oleh Kabupaten Nunukan, apabila dilihat berdasarkan data dari Badan Pusat RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 216

217 Statistik, produksi perikanan budidaya di Kabupaten Nunukan berkisar antara 42 hingga 47 ton selama kurun waktu 2010 hingga Tabel A.5 Produksi Perikanan (ton) Budidaya Kolam di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 3,331 3,331 3,331 29,40 33,14 2 Malinau 127,18 222,97 439,69 395,70 395,70 3 Nunukan 42,52 51,16 48,00 48,70 48,70 4 Tana Tidung 1,21 5 Tarakan 25,30 21,30 23,80 18,60 18,60 Kalimantan Utara 198, , ,9 492,4 496,14 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Budidaya ikan air tawar sementara ini masih bersifat tradisional dan belum dikembangkan ke arah intensif. Permasalahan utama pengembangan perikanan air tawar masih tertumpu pada masalah tingginya harga pakan ikan,mengingat pabrik pakan ikan umumnya terdapat di pulau Jawa dan belum berkembangnya sarana pembenihan ikan yang dapat diakses pembudidaya secara mudah dan tepat waktu. Di Kabupaten Bulungan misalnya, meskipun sudah terdapat BBI (Balai Pembenihan Ikan) namun belum dapat mencukupi kebutuhan akan benih ikan di Provinsi Kalimantan Utara. Sehingga pengembangan BBI di beberpa kawasan budidaya ikan air tawar perlu dikembangkan. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan luasan kolam cukup fluktuatif, berdasarkan data tersebut Kabupaten Nunukan memiliki luasan kolam yang cukup luas diantara kabupaten/kota lainnya. Tabel A.6 Luas Kolam (ha) di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 12,10 15,40 44,20 2 Malinau 147,00 164,00 164,00 163,00 151,40 3 Nunukan 105,22 106,00 130,00 392,70 4 Tana Tidung 41,40 5 Tarakan 11,40 11,53 16,20 Kalimantan Utara 275,72 338,33 294,00 616,10 151,40 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Selain budidaya tambak dan kolam, juga terdapat budidaya rumput laut. Produksi rumput laut beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan produksi. Produksi rumput laut di Kalimantan Utara dihasilkan dari Kabupaten Nunukan. Pada tahun 2010 produksi rumput di Nunukan sebesar 56542,77 ton, namun pada tahun 2014 mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yaitu menjadi sebesar ,00 ton. Selain dari Kabupaten Nunukan, produksi rumput laut juga berasal dari Kota Tarakan, produksi rumput laut di Kota Tarakan pada tahun 2013 dan 2014 sebesar ,00 ton. Di Kabupaten Bulungan pada tahun 2013 juga RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 217

218 tercatat memiliki produksi sebesar 96 ton. Data produksi rumput laut di Kalimantan Utara disajikan pada tabel berikut. Tabel A.7 Produksi (ton) Rumput Laut di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/ Tahun Kota Bulungan 96,00 2 Malinau 3 Nunukan 56542, , , , ,00 4 Tana Tidung 5 Tarakan 1259, , , ,00 Kalimantan Utara 56542, , , , ,00 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara 3. Konsumsi Ikan per Kapita per Tahun Konsumsi ikan per kapita/tahun di Provinsi Kalimantan Utara secara umum terus naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 konsumsi ikan per kapita/tahun 34,18 kg/kapita/tahun dan menjadi 42,78 kg/kapita/tahun pada tahun Namun demikian, pada tahun 2010 sampai dengan 2013, Kabupaten Malinau memiliki konsumsi ikan yang cukup rendah jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa konsumsi ikan masyarakat di Provinsi Kalimantan Utara cukup merata kecuali di Kabupaten Malinau. Konsumsi ikan/kapita/tahun penduduk di Kabupaten Malinau masih rendah, yaitu berkisar 15 hingga 18 kg selama kurun waktu 2010 hingga Konsumsi ikan penduduk Provinsi Kalimantan Utara secara umum sudah melebihi konsumsi ikan secara nasional. Pada tahun 2012 misalnya, konsumsi ikan/kapita/tahun nasional hanya 33,86 kg/kapita/tahun dan 35 kg/kapita/tahun (tahun 2013) padahal di Provinsi Kalimantan Utara sudah mencapai 38,58 kg/kapita/tahun. Demikian juga jika dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Timur yang pada tahun 2012 hanya 36 kg/kapita/tahun. Tabel A.8 Konsumsi Ikan per Kapita per Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan 48,8 50,8 52,8 54,8 56,8 58,8 2 Malinau Nunukan 29,1 31,1 33,1 35,1 37,1 39,13 4 Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara 34,18 35,78 38,58 38,98 40,78 42,78 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Tingkat konsumsi ikan penduduk Provinsi Kalimantan Utara yang cukup tinggi dibanding tingkat konsumsi ikan secara nasional cukup menguntungkan bagi pengembangan perikanan, sebab konsumsi ikan yang tinggi akan menjadi peluang pasar ikan secara domestik. Meskipun ditinjau dari tingkat produksivitas perikanan Provinsi Kalimantan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 218

219 Utara, tampaknya konsumsi ikan di Provinsi Kalimantan Utara belum cukup untuk menyerap semua produksi ikan yang ada. Dengan demikian pemasaran ke luar daerah atau luar negeri masih diperlukan apalagi jika produksi ikan terus ditingkatkan. 4. Cakupan Bina Kelompok Nelayan Dalam sub-bab ini belum tersedia datanya. 5. Produksi Perikanan Kelompok Nelayan Dalam sub-bab ini belum tersedia datanya. 6. Jumlah Kapal Potensi sumberdaya ikan di WPP-716 adalah cukup besar yaitu sekitar 333,6 ribu ton/tahun. Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di WPP-716 adalah masih sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain. Berbagai jenis ikan yang potensial di WPP-716 sementara ini belum banyak dimanfaatkan, kecuali jenis ikan-ikan pelagis besar yang ditengari sudah mengalai over fishing. Sedang untuk jenis yang lain, tingkat pemanfaatan masih bersifat moderate artinya masih dapat ditingkatkan lagi pemanfaatannya/penangkapannya. Dalam rangka untuk memanfaatkan potensi perikanan yang melimpah di WPP-716 diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Sepanjang laut di WPP-716 ini, hanya terdapat satu pelabuhan perikanan yang besar yang dapat didarati oleh kapal dengan tonase > 100 GT yaitu pelabuhan Bitung yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara. Dengan demikan pemanfaatan sumberdaya ikan di WPP-716 kemungkinan besar banyak didaratkan dipelabuhan tersebut atau langsung keluar negeri. Hal ini tentu saja sangat merugikan bagi wilayah yang berhadapan langsung dengan laut di WPP-716 termasuk Provinsi Kalimantan Utara Provinsi Kalimantan Utara dalam bidang perikanan belum dapat memanfaatkan potensi yang ada di laut. Hal ini akibat masih terbatasnya sarana dan prasarana penangkapan ikan yang ada. Berdasarkan data yang ada, jumlah kapal yang ada di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2010 s/d 2014 adalah antara buah yang terdiri dari Kapal Motor (KM, ukuran kecil), kapal motor tempel (KMT) dan kapal tanpa motor (KTM). Pada tahun 2013 jumlah kapal di Kalimantan Utara sebanyak 8013, artinya terjadi penurunan pada tahun Perkembangan jumlah kapal di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel berikut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 219

220 Tabel A.9 Jumlah Kapal di Provinsi Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Tidak adanya armada penangkapan ikan yang memadai di Provinsi Kalimantan Utara dismaping tidak termanfaatkannya potensi sumberdaya ikan yang ada, juga menyebabkan terjadinya penangkapan ikan oleh nelayan dari wilayah lain di Indonesia dan juga adanya kemungkinan terjadi pencurian ikan oleh nelayan asing seperti nelayan dari Malaisya, Thailand, Filipina atau dari China. Rendahnya pemanfaatan sumberdaya ikan oleh nelayan yang ada di Provinsi Kalimantan Utara ini menyebabkan sub-sektor perikanan belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan terdapat PDRB di Provinsi Kalimantan Utara. Meskipun demikian, sub-sektor perikanan kontribusinya terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara sejak tahun 2008 cenderung mengalami kenaikan secara terus menerus. 7. Jumlah Rumah Tangga Perikanan Jumlah rumah tangga perikanan (RTP) berdasarkan data Badan Pusat Statistik mengalami trend kenaikan. Pada tahun 2010 jumlah RTP di Kalimantan Utara sebanyak dan pada tahun 2014 mengalami kenaikan menajadi Hal tersebut merupakan tren positif mengingat Kalimantan Utara merupakan daerah perbatasan yang rawan pencurian sumberdaya ikan oleh negara tetangga. Peningkatan jumlah RTP di Provinsi Kalimantan Utara cukup bagus, mengingat bahwa potensi perikanan di provinsi tersebut sementara ini belum termanfaatkan secara baik. Padahal kegiatan perikanan khususnya penangkapan adalah merupakan kegiatan yang bersifat cepat menghasilkan (quick yielding) sehingga dapat sub-sektor ini dapat dijadikan sebagai prime mover pengembangan suatu kawasan. Pengembangan penangkapan ikan bagi masyarakat nonmaritim sering mengamlami banyak hambatan dan membutuhkan banyak waktu. Oleh karena itu untuk percepatan pengembangan penangkapan ikan maupun budidaya ikan di Provinsi Kalimantan Utara dapat ditempuh dengan program transmigrasi sebagaimana yang telah dilakukan untuk sektor pertanian lainnya. Data jumlah RTP di Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel berikut. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 220

221 Tabel A.10 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Kalimantan Utara Tahun No Kabupaten/Kota Tahun Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara 8. Ekspor Produk Perikanan Komoditas perikanan di Provinsi Kalimantan Utara merupakan salah satu komoditas ekspor dan juga merupakan komoditas yang diperdagangkan antar provinsi di Indonesia. Ekspor komoditas perikanan pada tahun 2012 adalah merupakan bagian terbesar dari ekspor komoditas perikanan yang dilakukan Provinsi Kalimantan Timur secara keseluruhan. Ekspor komoditas perikanan pada tahun 2012 dari Provinsi Kalimantan Utara mencapai 9.665,08 ton dengan nilai US $ ,00. Sedangkan ekspor komoditas perikanan dari Provinsi Kalimantan Timur (termasuk Provinsi Kalimantan Utara) adalah hanya ,26 ton dengan nilai US $ ,00. Dengan demikian, ekspor komoditas perikanan dari Provinsi Kalimantan Utara adalah mencapai 75,99% dari total ekspor Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Dengan adanya pemekaran Provinsi Kalimantan Utara ini maka dapat dikatakan bahwa ekspor komoditas perikanan dari Provinsi Kalimantan Utara jauh lebih tinggi jumlah dan nilainya dibanding dengan ekspor yang dilakukan oleh Provinsi Kalimantan Timur. Komoditas perikanan yang menjadi andalan ekspor dari Provinsi Kalimantan Utara adalah jenis udang (beku dan segar) dan lobster yang besarnya mencapai 5.646,9 ton. Komoditas penting kedua yang diekspor adalah berbagai jenis ikan (ikan campuran) yang jumlahnya mencapai 4.670,74 ton dan yang selanjutnya adalah kepiting yang jumlahnya mencapai 1.192,68 ton. Disamping kedua komoditas utama tersebut, berbagai macam jenis komoditas lain juga diekspor seperti ikan cakalang/tuna, cumu, rumput laut, ikan hias dan sebagainya. Ekspor komoditas tersebut yang utama dilakukan melaui Kota Tarakan, disamping juga dilakukan melalui Nunukan, Tanjung Selor dan Bunyu. Tarakan menjadi tempat/lokasi ekspor utama bagi komoditas perikanan yang dihasilkan oleh Provinsi Kalimantan Utara. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 221

222 Tabel A.11 Ekspor Komoditas Perikanan (ton) Tahun 2012 dari Provinsi Kalimantan Utara Jenis Komoditas Total Ekspor Kalimantan Total Kaltim Termasuk % Ekspor dari Utara (ton) Kalimantan Utara (ton) Kalimantan Utara Udang Dan Lobster 5.646, ,54 99,30 Ikan Cakalang, Tuna 92,84 92,84 100,00 Rumput Laut Dan 18,69 18,69 100,00 Ganggang Lainnya Ikan Lainnya 4.670, ,56 92,48 Kepiting 1.192, ,86 68,83 Mutiara 0,00 0,00 0,00 Cumi-Cumi, Sotong, 7,00 7,00 100,00 Gurita Kekerangan, Invertebrata 25,92 26,06 99,44 Ikan Hias 1,00 1,39 72,10 Produk Ikan Lainnya 32,34 102,31 31,61 Jumlah 9.665, ,26 75,99 Sumber : 1) Kabupaten Bulungan dalam angka ) Kabupaten Malinau dalam angka ) Kabupaten Nunukan dalam angka ) Kabupaten Tana Tidung dalam angka ) Kota Tarakan dalam angka 2012 Tabel A.12 Nilai Ekspor Komoditas Perikanan (US $) Tahun 2012 dari Provinsi Kalimantan Utara Komoditas Kalimantan Utara ($) Kaltim ($) % Udang Dan Lobster , ,00 99,51 Ikan Cakalang, Tuna , ,00 100,00 Rumput Laut Dan Ganggang Lainnya , ,00 100,00 Ikan Lainnya , ,00 89,84 Kepiting , ,00 74,57 Mutiara 0,00 0,00 0,00 Cumi-Cumi, Sotong, Gurita , ,00 100,00 Kekerangan, Invertebrata , ,00 99,91 Ikan Hias 472, ,00 3,89 Produk Ikan Lainnya , ,00 18,20 Jumlah , ,00 72,74 Sumber : Statistik Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditi, Provinsi dan Pelabuhan Asal Ekspor, 2012 Tabel A.13 Ekspor Komoditas Perikanan (ton) Tahun 2012 di Provinsi Kalimantan Utara Komoditas Tarakan Tanjung Selor Nunukan Bunyu Total Udang Dan Lobster Ikan Cakalang, Tuna Rumput Laut Dan Ganggang Lainnya Ikan Lainnya Kepiting Mutiara Cumi-Cumi, Sotong, Gurita Kekerangan, Invertebrata Ikan Hias Produk Ikan Lainnya Jumlah Sumber : Statistik Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditi, Provinsi dan Pelabuhan Asal Ekspor, 2012 Berdasarkan data yang terdapat di karantina ikan di Kota Tarakan menunjukkan bahwa sebagian besar komoditas perikanan yang diekspor melalui kota Tarakan adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 222

223 berupa udang beku. Ekspor udang beku dari Kota Tarakan sejak tahun 2008 s/d 2012 cenderung mengalami penurunan volumenya. Pada tahun 2010 merupakan puncak ekspor komoditas udang beku dari Kota Tarakan yang jumlahnya mencapai ,88 ton dan terus menurun hingga tinggal 8.646,9 ton pada tahun Penurunan volume ekspor udang beku ini kemungkinan akibat adanya para pembudidaya udang yang menghentikan operasional tambaknya akibat adanya berbagai macam kendala teknis dan non teknis. Provinsi Kalimantan Utara disamping banyak melakukan ekspor komoditas perikanan termasuk rumput laut, ternyata juga masih melakukan impor khususnya yang berupa produk olahan rumput laut seperti agar-agar. Nilai impor produk olahan rumput laut tersebut pada tahun 2012 adalah mencapai ton dengan nilai hanya US $ Impor tersebut khususnya dilakukan dari Malaysia melalui Kabupaten Nunukan. Kegiatan ekspor di Kalimantan Utara terpusat di Kota Tarakan. Hal tersebut salah satu disebabkan oleh letak bandara yang ada di Kota Tarakan, sehingga lebih mudah dalam akses pengiriman barang keluar daerah. Selain adanya bandara di Kota Tarakan, disana juga terdapat pelabuhan yang mempunyai akses untuk ke beberapa pelabuhan besar, salah satunya ke Kalimantan Timur. Tabel A.14 Jumlah Ekspor (ton) di Kota Tarakan Jumlah Ekspor (ton) No Kota Tarakan Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa jumlah ekspor Provinsi Kalimantan Utara yang melalui Kota Tarakan jumlahnya bersifat fluktuatif. Pada tahun 2011 jumlah ekspor tercatat ton, namun pada tahun 2012 mengalami penurunan jumlah menjadi ton atau turun sekitar ton. Setelah terjadi penurunan pada tahun 2012, pada tahun 2013 jumlah ekspor mengalmi kenaikan yaitu menjadi ton. Namun demikian, pada tahun 2014 dan 2015 jumlah ekspor di Kota Tarakan kembali mengalami penurunan yaitu menjadi ton dan ton. B. Pariwisata 1. Kunjungan Wisata Pariwisata merupakan salah satu sektor penting yang mempengaruhi perekonomian wilayah. Eksistensinya mampu menjadi generator sektor lain seperti perdagangan, jasa, dan penyedia akomodasi. Indikator yang digunakan untuk menunjukkan bahwa sektor pariwisata turut berkontribusi terhadap perkembangan perekonomian wilayah adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 223

224 melalui besar jumlah kunjungan maupun jumlah wisatawan, serta kontribusinya terhadap PDRB. Sebagai provinsi baru, pariwisata bukan merupakan sektor ekonomi yang perlu dibangun dari awal. Masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara telah memiliki obyek wisata andalan dan yang potensial berkembang di masa depan. Tercatat pada tahun 2015, jumlah pengunjung wisata Provinsi Kalimantan Utara mencapai orang. Tabel B.1 Jumlah Kunjungan Wisata Tahun Di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kalimantan Utara Mancanegara Nusantara Sumber: EKPD Provinsi Kalimantan Utara Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB Kontribusi sektor pariwisata hingga saat ini belum secara tersurat masuk ke dalam salah satu kategori lapangan usaha PDRB. Oleh karena itu digunakan kategori lapangan usaha lain yang merepresentasikan kontribusi pariwisata, yaitu sektor Penyedia Akomodasi dan Makan Minum. Sektor ini kemudian dibagi menjadi dua subsektor, yaitu Penyedia Akomodasi dan Penyedia Makan dan Minum. Subsektor penyedia akomodasi mencakup kegiatan penyediaan akomodasi jangka pendek seperti hotel dan penginapan. Sedangkan subsektor penyedia makan minum meliputi pelayanan makan minum untuk dikonsumsi segera seperti restoran, baik restoran tradisional, self service, maupun take away. Tabel B.2 Kontribusi PDRB Kategori Penyedia Akomodasi dan Makan Minum Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian PDRB Kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (juta Rp) , , , , , ,30 Kontribusi terhadap PDRB 1,27 1,26 1,26 1,22 1,19 1,22 (%) Pertumbuhan (%) 7,8 8,2 4,2 5,8 5,6 Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan Besar PDRB sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan tren meningkat positif. Meski apabila dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB secara keseluruhan, sektor ini cenderung menurun. Tahun 2010 kontribusi sektor Penyedia Akomodasi dan Makan Minum mencapai 1,27% terhadap PDRB Provinsi. Kontribusi pariwisata tergolong stabil sejak tahun 2010 hingga RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 224

225 Sedangkan jumlah PDRB yang disumbangkan terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara tumbuh rata-rata sebesar 6,32% selama enam tahun terakhir. Meski menunjukkan tren yang cenderung menurun, sektor pariwisata tetap menjadi sektor yang diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor pariwisata secara langsung dan tidak langsung memberikan multiplier effect lewat sektor ekonomi lain mulai dari skala besar hingga mikro atau rumah tangga. Tabel B.3 Kontribusi PDRB Kategori Penyedia Akomodasi dan Makan Minum Tahun berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Bulungan 1 15,5 15,8 16,0 16,4 16,9 Malinau 2 16,7 15,8 14,9 15,2 15,5 Nunukan 3 21,3 21,3 20,5 20,5 21,2 Tana Tidung 4 1,2 1,1 1,0 1,0 1,1 Tarakan 5 45,3 45,5 46,5 48,4 48,8 Kalimantan Utara Sumber: 1) Publikasi PDRB Kabupaten Bulungan Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Malinau Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Nunukan Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Tana Tidung Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Tarakan Tahun ) Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara dan hasil olahan 2016 Banyak faktor yang mempengaruhi besar kontribusi pariwisata terhadap PDRB daerah. Kontribusi pariwisata terbesar terhadap PDRB Provinsi masih dipegang oleh Kota Tarakan. Kemampuan Kota Tarakan memberikan pelayanan dan menyediakan lingkungan investasi pariwisata yang baik menjadi kunci berkembangnya sektor ini. Selain itu, keberadaan Pelabuhan Tengkayu dan Bandara Juwata juga menjadi faktor paling mempengaruhi pesatnya pertumbuhan pariwisata di Kota Tarakan. C. Pertanian Salah satu sektor yang mempunyai peran vital dalam ekonomi wilayah Provinsi Kalimantan Utara adalah sektor pertanian dalam arti luas yang mencakup pertanian tanaman pangan, perkebunaan, peternakan, dan perikanan. Luas wilayah yang sampai saat ini digunakan untuk kegiatan pertanian dalam arti luas mencapai Hektar. Atas dasar itu maka kegiatan pertanian di Kalimantan Utara harus didorong untuk berkembang dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Provinsi Kalimantan Utara dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Konsep pengembangan dan pembangunan pertanian dengan memanfaatkan sumber daya alam daerah secara berkelanjutan, yaitu dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan dan sosial secara seimbang. Sebagai pilar ekonomi masyarakat, maka dalam pembangunan pertanian ini harus memperhatikan atau menetapkan komoditas unggulan yang ramah lingkungan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 225

226 Pertanian tanaman pangan di wilayah Provinsi Kalimantan Utara yang potensial untuk dikembangkan meliputi padi dan palawija (jagung, kacang-kacangan), ubi-ubian, hortikultura (sayuran dan buahan). Beras merupakan bahan makanan pokok masyarakat Kalimantan Utara, sehingga untuk dapat mencukupi kebutuhan beras secara aman, maka tanaman padi mendapat skala prioritas dan pengembangan serta peningkatan produksi untuk dapat mengimbangi pertambahan penduduk agar tidak terjadi bahaya kelaparan. Namun demikian sebagai DOB, Provinsi Kalimantan Utara sampai saat ini belum mampu berswasembada beras dan untuk mencukupi kebutuhan beras penduduk masih harus didatangkan beras dari luar Kalimantan Utara terutama dari Pulau Jawa. Upaya untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya padi telah ditempuh dengan berbagai program intensifikasi dan ekstensifikasi baik di lahan basah maupun di lahan kering atau lahan tadah hujan. Dengan demikian budidaya padi dilakukan dilahan sawah yang berpengairan baik, dan padi lahan kering atau padi ladang. Produksi padi pada tahun 2012 mencapai ton dari luas panen ha untuk padi sawah, sehingga produktivitas sebesar 43,57 kuintal per hektar, sedang untuk padi ladang produksi mencapai ton dengan luas panen ha,sehingga produktivitas padi ladang sebesar 23,79 kuintal per hektar. Suatu keadaan yang sangat bsesar peluangnya untuk ditingkatkan baik produktivitas maupun luas panen, sehingga memberikan total produksi yang tinggi. Tanaman palawija yang dibudidayakan masyarakat adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau. Luas panen dan produksi palawija masih relatif rendah bahkan pernah mengalami penurunan luas panen dan produksi dikarenakan berbagai faktor, namun sangat potensial ditingkatkan dalam kaitannya untuk pemanfaatan lahan, peningkatan kecukupan gizi masyarakat dan pendapatan petani. Berbagai kendala dalam upaya meningkatkan produksi pertanian antara lain belum terbangunnya sarana-prasarana irigasi yang memadai, khususnya untuk budidaya di lahan kering yang potensial. Kendala yang lain adalah tersedianya tenaga untuk pertanian yang profesional dikarenakan banyak anak-anak petani lebih tertarik bekerja diluar bidang pertanian yang sebenarnya. Komoditas perkebunan meliputi kelapa, kelapa sawit, karet, kakao, kopi yang belum diusahakan secara intensif, kecuali kelapa sawit, sehingga konstribusinya terhadap pendapatan masyarakat pekebun dan sumbangannya terhadap PDRB masih rendah. Komoditas perkebunan tersebut ada yang diusahakan dalam bentuk perkebunan swasta besar khususnya kelapa sawit dan lainnya sebagai kebun rakyat. Luas pengusahaan kebun di Kalimatan Utara secara keseluruhan meliputi ha dimana luas kebun kelapa sawit ha dan kakao menempati urutan kedua seluas ha. Luas perkebunan di RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 226

227 Provinsi Kalimantan Utara khusunya untuk selain karet dan kelapa sawit pada tahun mengalami penurunan. Pada saat ini kebun karet pada umumnya belum menghasilkan (TBM). Luas perkebunan terluas terdapat di Kabupaten Nunukan seluas ha dikuti di Kabupaten Bulungan seluas ha, dan terkecil di Kota Tarakan seluas 637 ha. Jenis ternak yang dibudidayakan di Provinsi Kalimantan Utara melipti ternak ruminansia dan unggas. Ruminansia yang dipelihara masyarakat adalah sapi dan kerbau, sedang unggas meliputi ayam kampung, ayam ras dan itik. Ayam asli Nunukan termasuk jenis ayam unggul yang mempunyai nilai jual yang cukup tinggi. Untuk memberikan peran pertanian dan perkebunan khususnya, maka diberikan gambaran sebagai berikut. 1. Produktivitas Padi atau Bahan Pangan Utama Lokal Lainnya per Hektar Meskipun sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Utara dalam mendukung potensi pendapatan daerah adalah sektor non pertanian, namun dalam rangka untuk dapat mencukupi kebutuhan pangan bagi penduduk setempat, maka sektor pertanian khususnya tanaman pangan perlu mendapat perhatian dalam pembangunannya yang dituangkan ke dalam RPJMD ini. Produktivitas tanaman merupakan pengukuran dari jumlah tanaman yang dipanen per satuan luas lahan. Produktivitas tanaman mampu menggambarkan kemampuan suatu daerah untuk menghasilkan suatu produk tanaman per satuan luas lahan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas tanaman diantaranya: (1) genetik tanaman, (2) lingkungan tumbuh, (3) manajemen budidaya tanaman. Tabel C.1 Produktivitas Padi (Kw/Ha) GKP Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Produktivitas (Kw/Ha) Bulungan 31,77 30,49 33,99 35,20 35,82 Malinau 25,91 25,74 25,83 27,01 30,12 Nunukan 41,23 41,73 41,37 43,02 45,06 Tana Tidung 37,17 36,16 31,64 34,77 35,62 Tarakan 35,81 39,61 43,38 48,04 52,32 Kalimantan Utara 32,56 32,27 33,80 34,72 36,05 Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Kabupaten Malinau memiliki produktivitas padi paling rendah (berkisar antara 25,91-30,12 Kw/ha) dibandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Utara. Produktivitas padi di Kabupaten Malinau masih jauh di bawah rata-rata produktivitas padi Provinsi Kalimantan Utara selama lima tahun terakhir yaitu sebesar 26,92 kw/ha. Kabupaten Bulungan mengalami kenaikan produktivitas padi yang signifikan pada tahun Kabupaten Tana Tidung Produktivitas padi sempat mengalami penurunan selama dua RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 227

228 tahun, yakni pada tahun lalu terus mengalami peningkatan pada tahun berikutnya. Adapun kota Tarakan memiliki tren produktivitas padi yang terus meningkat selama lima tahun terakhir. Sementara Kabupaten Nunukan terus mengalami fluktuasi produktivitas padi tapi masih dalam kisaran yang normal berada di atas 40 kw/ha. Selama produktivitas padi mengalami peningkatan, hingga mencapai rata-rata produktivitas padi sebesar 36,05 kw/ha pada tahun Produktivitas tersebut masih jauh di bawah produktivitas provinsi induk yaitu Provinsi Kalimantan Timur dengan rata-rata produktivitas sebesar 40,6 kw/ha dan masih jauh di bawah rata-rata produktivitas padi nasional sebesar 46 kw/ha. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses/upaya pemerintah daerah dengan melibatkan masyarakat untuk mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah di semua kabupaten/kota tidak terlepas dari sektor perekonomian yaitu salah satunya adalah sektor pertanian yang di dalamnya didetailkan pada subsektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa. 2. Luas Lahan Sawah Ketersediaan lahan sawah di Provinsi Kalimantan Utara mengalami perubahan yang fluktuatif dari tahun ke tahun. Salah satu penyebabnya yakni semakin berkembangnya lahan sawit, disamping meningkatnya jumlah penduduk yang membutuhkan lahan untuk mendukung aktivitasnya sehingga menjadikan kegiatan konversi lahan sebagai upaya mendesak guna memenuhi kegiatan tersebut. Tabel C.2 Luas Lahan Sawah Tahun (Ha) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Tahun Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Luas lahan sawah paling besar terdapat di Kabupaten Bulungan dengan total luasan diatas 200% dibanding kabupaten/kota lainnya, sehingga menjadikan Kabupaten Bulungan sebagai penyumbang lahan sawah terbesar di Provinsi Kalimantan Utara dengan nilai kontribusi di atas 50%. Namun jika dilihat dari tren luas lahan sawah di masing masing RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 228

229 Kabupaten Kota, secara keseluruhan cenderung fluktuatif. Akan tetapi kondisi tersebut tidak berlaku di Kota Tarakan, dimana peningkatan luas lahan sawah terjadi secara konsisten selama lima tahun terakhir, di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir. Sementara di Kabupaten Tana Tidung terus terjadi penurunan luas lahan sawah dari tahun meskipun sempat mengalami penaikan di tahun Hal ini perlu menjadi catatan yang penting, karena dapat mengganggu ketersediaan pangan di kabupaten tersebut, terlebih lagi jika pertambahan penduduk di wilayah tersebut tidak dapat dikendalikan. Meskipun demikian, di tahun 2012 Provinsi Kalimantan Utara mengalami kenaikan luas lahan sebesar 15,68% lalu mengalami penurunan sebagaimana dua tahun terakhir. Ketersediaaan lahan pertanian hanya akan memberikan fungsi produksi apabila didukung dengan ketersediaan air dan jaringannya sampai ke petak produksi, sehingga produksi padi berlangsung mantap. Dari data tersebut lahan sawah yang sudah mendapatkan jaringan irigasi baru sebagian kecil yaitu di Kecamatan Tanjung Selor dan Tanjung Palas di Kabupaten Bulungan. Untuk menyediakan benih padi sampai saat ini produksi benih masih terbatas di Kabupaten Nunukan dengan luas dan produksi benih yang masih perlu ditingkatkan. Lahan sawah di kabupaten lainnya dan yang belum didukung sarana irigasi, pada umumnya merupakan lahan sawah tadah hujan, dan sampai saat ini penanaman padi hanya satu kali dalam satu tahun. Kecukupan air untuk pertumbuhan tanaman padi berasal dari air hujan yang memang relatif merata sepanjang tahun. Peningkatan ketersediaan lahan petanian produktif baru melalui pencetakan sawah dan reklamasi lahan bekas tambah yang masih potensi serta pembanguan pertanian lahan kering di berbagai bagian wilayah Provinsi Kalimantan Utara harus menjadi pertimbangan utama. 3. Luas Lahan Palawija Pemanfaatan lahan guna pertanian dengan komoditas palawija di Provinsi Kalimantan Utara, meliputi jenis tanaman jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 229

230 Tabel C.3 Luas Lahan Palawija Tahun 2014 (Ha) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Lahan (Ha) Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi KALIMANTAN UTARA Tahun 2016 Jumlah komoditas palawija paling banyak ditanami jenis ubi kayu, lalu jagung, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan paling sedikit tanaman kedelai. Ditinjau dari kontribusi tiap daerahnya, Kabupaten Nunukan memberikan kontribusi luasan lahan palawija yang paling besar diikuti dengan Kabupaten Bulungan. Tingginya kontribusi areal penanaman palawija di Kabupaten Nunukan terbesar ditanami oleh komoditas ubi kayu, dengan luasan lahan mencapai Hektar di tahun Kabupaten Bulungan memiliki keunggulan luasan lahan penanaman pada semua komoditas unggulan, terkecuali ubi kayu yang terdapat di Nunukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bulungan memiliki kemampuan lahan yang potensial di tanami berbagai jenis palawija, jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Kota Tarakan atau Kabupaten Tana Tidung, mengingat dua kabupaten tersebut tidak semua tanaman palawija mampu tumbuh di tanah tersebut. Tabel C.4 Perkembangan Luas Lahan Palawija Tahun (Ha) Provinsi Kalimantan Utara Palawija Tahun Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Sumber: Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi KALIMANTAN UTARA Tahun 2016 Perkembangan luasan lahan palawija di Provinsi Kalimantan Utara di tiap jenis palawija secara umum menunjukkan penurunan jumlah luasan lahan dari tahun Palawija sebagai salah satu bentuk diversifikasi pangan selain beras, sangat penting keberadaannya. Dengan banyaknya jenis palawija yang tersedia di suatu daerah maka besar kemungkinan keberagaman jenis pola pangan utama masyarakat daerah tersebut, seperti penggantian beras dengan jagung ataupun ubi ubian sebagai sumber karbohidrat. Oleh sebab itu, penurunan luasan lahan palawija menjadi perhatian sendiri dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 230

231 mengembangkan pola diversifikasi pangan nantinya, sehingga peningkatan kecukupan gizi masyarakat tetap terjamin. 4. Luas Lahan Perkebunan Pertambahan luas tanam komoditas perkebunan akan memberikan pertambahan nilai bagi PDRB Provinsi Kalimantan Utara. Hal ini berkaitan dengan jumlah komoditas perkebunan yang diharapkan akan meningkat pula seiring dengan penambahan luas lahan tanaman, sehingga memberi dampak positif pada kontribusinya terhadap perkonomian, dalam hal ini kontribusi terhadap angka PDRB. Tabel C.5 Total Luas Tanam Tanaman Perkebunan per Kabupaten/Kota Tahun 2014 (Ha) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Karet Kelapa Kopi Lada Kakao Kelapa Sawit Bulungan 135,00 765,00 196,00 66,00 676, ,00 Malinau 1.626,00 0, ,00 3, , ,00 Nunukan 270,00 410,00 92,00 32, , ,00 Tana Tidung 60,00 35,00 113,00 18,50 5,00 111,00 Tarakan 0,00 643,00 2,00 3,00 0,00 0,00 Kalimantan Utara 2.091, , ,00 122, , ,00 Sumber: Kalimantan Utara dalam Angka 2015 Luas tanaman perkebunan di kabupaten/kota didominasi tanaman perkebunan yang berbeda beda di setiap wilayahnya. Sebagai contoh tanaman kelapa sawit sebagai lahan perkebunan paling luas di provinsi ternyata banyak terdapat di Kabupaten Nunukan dan Bulungan dengan masing masing luasan di tiap Kabupaten sebesar dan hektar. Berbeda dengan kelapa sawit, meskipun kakao bukan jenis tanaman terbesar yang ditanam, namun di Kabupaten Malinau tanaman jenis ini mendominasi penggunaan lahan perkebunan dengan angka mencapai hektar. Adapun jenis tanaman kopi banyak ditanam di Kabupaten Tana Tidung dan tanaman kelapa di Kota Tarakan. Tabel C.6 Perkembangan Luas Tanam Tanaman Perkebunan Tahun (Ha) Provinsi Kalimantan Utara Komoditas Karet 886,00 941, , , ,00 Kelapa 2.862, , , , ,00 Kopi 3.359, , , , ,00 Lada 186,00 178,00 151,00 144,00 122,50 Kakao , , , , ,00 Kelapa Sawit , , , , ,00 Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Kalimantan Utara dalam Angka 2015 Tren selama lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan luas tanam dua komoditas perkebunan yaitu kelapa sawit dan karet. Pada jenis tanaman karet terjadi peningkatan luas tanam hingga 1.360% dari luas awal di tahun 2010 yang hanya 886 hektar. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 231

232 Luas tanam kelapa sawit juga mengalami peningkatan hingga 70% di tahun 2013, namun pada tahun 2014 mengalami penurunan hingga menjadi hektar lahan saja. Tanaman kebun lainnya seperti kakao, kelapa, kopi dan lada terus mengalami penurunan luas tanam selama delapan tahun terakhir. Peningkatan luas tanam kelapa sawit dan karet akan memberikan kontribusi positif terhadap pertambahan nilai PDRB Provinsi Kalimantan Utara. 5. Total Produksi Padi Padi sebagai bahan pangan utama yang mentah sebelum menjadi beras, memiliki peran penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Tabel C.7 Total Produksi Padi Tahun dalam Ton (GKP) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Tahun Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Selama 5 tahun terakhir produksi padi gabah kering panen paling banyak terdapat di Kabupaten Bulungan. Hal ini sebanding dengan jumlah luas lahan sawah paling luas yang juga terdapat di Kabupaten Bulungan. Secara keseluruhan, jumlah produksi padi gabah kering panen mengalami peningkatan, meskipun pada dua tahun terakhir jumlahnya mengalami penurunan dibanding tahun tahun sebelumnya. Suatu hal yang mungkin sering terabaikan, yaitu produksi tanaman pangan yang disajikan adalah produksi padi/gabah kering, seharusnya dikonversi ke beras (bentuk yang diperdagangkan sebagai bahan pangan) dengan tingkat rendemen yang standar dari gabah kering panen (GKP) ke gabah kering giling (GKG) dan menjadi beras. Angka konversi GKP- GKG di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 85,91%, sedang angka konversi GKG-Beras sebesar 62,74%. 6. Total Produksi Beras Angka produksi beras diperoleh dengan cara mengkonversi angka produksi padi sesuai angka konversi yang telah disebutkan sebelumnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 232

233 Tabel C.8 Total Produksi Beras Tahun (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Tahun Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Hasil Analisis Total Produksi Komoditas Palawija Sebagai daerah yang memiliki lahan pertanian yang potensial, Provinsi Kalimantan Utara tidak hanya menghasilkan padi akan tetapi juga terdapat palawija, kacang kacangan dan ubi-ubian, yang langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan efisiensi lahan dan pendapatan petani, dan menunjang ketahanan pangan. Tabel C.9 Total Produksi Palawija per Kabupaten/Kota Tahun 2014 (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Total Produksi (Ton) Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Berdasarkan data produksi palawija, kabupaten yang memiliki total produksi paling besar terdapat di Kabupaten Nunukan dengan kontribusi produksi ubi kayu sebagai komoditi palawija yang utama. Kota Tarakan sebagai area perkotaan menyumbang produksi palawija yang paling minim dibanding dengan kabupaten lainnya di Kalimantan Utara. Dari ke enam jenis produk palawija, komoditas ubi kayu memiliki kecenderungan menjadi komoditas paling unggul yakni sebesar ton diikuti dengan ubi jalar, jagung, kacang tanah, kacang hijau dan terakhir kedelai. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 233

234 Tabel C.10 Perkembangan Produksi Palawija Tahun (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Palawija Tahun Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Sumber: 1) Dokumen RPJP Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Ubi kayu sebagai hasil produksi paling unggul di palawija mengalami perkembangan jumlah produksi yang naik turun di tiap tahunnya. Meskipun ubi kayu mengalami penurunan pada tahun , namun pada tahun berikutnya mengalami peningkatan jumlah produksi. Selain ubi kayu, tren naik turun juga dialami pada komoditas jagung dan kedelai. Kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar cenderung memiliki tren yang menurun. Upaya peningkatan produksi palawija ini perlu terus ditingkatkan guna menjamin kecukupan pangan dengan nilai mutu gizi yang tinggi. Komoditas palawija memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Berbagai jenis palawija potensial antara lain jagung, kedele, kacang tanah, dan ubi-ubian yang akan memberikan peran ganda yaitu untuk penganekaragaman sumber pangan yang mendukung ketahanan pangan, sumber pendapatan tambahan petani dan juga pendapatan daerah. Pengembangan palawija diprioritaskan pada wilayah tadah hujan dengan kecukupan air di musim kemarau dan dapat juga dikembangkan dalam pola pergiliran tanaman di lahan sawah beririgasi tetap. 8. Produksi Komoditas Hortikultura (Sayuran) Provinsi Kalimantan Utara mengusahakan komoditas sayuran yang terdiri dari banyak jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat sebagai kelengkapan dalam menu makan keluarga. Komoditas sayuran merupakan komoditas yang penting setelah komoditas tanaman pangan. Sayuran merupakan sumber protein nabati, vitamin, dan serat yang dibutuhkan oleh tubuh. Sayuran tidak dapat diabaikan dari kebutuhan hidup masyarakat di provinsi ini terutama sebagai sumber makanan pendamping. Selain itu, beberapa komoditas seperti cabe besar atau rawit memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi petani. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 234

235 Tabel C.11 Total Produksi Sayuran per Kabupaten/Kota Tahun 2014 (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Total Produksi (Ton) Kabupaten/Kota Bawang Merah Bawang Daun Kentang Kubis Kembang Kol Petsai/ Sawi (1) (2) (3) (4) (5) (6) Bulungan 0,00 110,00 0,00 5,00 0,00 508,00 Malinau 0,00 1,00 0,00 0,00 0,00 35,00 Nunukan 0,00 82,00 0,00 30,00 0,00 898,00 Tana Tidung 0,00 57,00 0,00 2,00 0,00 92,00 Tarakan 0,00 190,00 0,00 0,00 0, ,00 Kalimantan Utara 0,00 440,00 0,00 37,00 0, ,00 Lanjutan Total Produksi (Ton) Kabupaten/Kota Lobak Kacang Panjang Cabe Besar Cabe Rawit Jamur (Kg) Tomat (7) (8) (9) (10) (11) (12) Bulungan 0,00 770,00 266,00 532,00 0,00 259,00 Malinau 0,00 63,00 12,00 130,00 217,00 20,00 Nunukan 0,00 376,00 231,00 353,00 0,00 767,00 Tana Tidung 0,00 324,00 210,00 314,00 82,00 236,00 Tarakan 0, ,00 516,00 520,00 0, ,00 Kalimantan Utara 0, , , ,00 299, ,00 Lanjutan Total Produksi (Ton) Kabupaten/Kota Terong Buncis Ketimun Labu Siam Kangkung Bayam (13) (14) (15) (16) (17) (18) Bulungan 580,00 96,00 346,00 14,00 617,00 460,00 Malinau 87,00 11,00 85,00 0,00 60,00 30,00 Nunukan 900,00 486,00 885,00 107, ,00 257,00 Tana Tidung 239,00 44,00 123,00 0,00 142,00 135,00 Tarakan 1.351,00 886, ,00 0, ,00 869,00 Kalimantan Utara 3.157, , ,00 121, , ,00 Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Produksi semua komoditas sayuran rata-rata menunjukkan fluktuasi. Peningkatan dan penurunan produksi tersebut bergantung kepada kondisi lingkungan tempat tumbuh tanaman. Adanya curah hujan yang tinggi pada tahun-tahun tertentu menyebabkan kondisi yang optimum bagi tumbuhnya organisme pengganggu tanaman. Semua jenis sayuran dapat diproduksi dari dalam dengan hasil yang cukup stabil. Jenis sayuran bawang merah, kentang, kembang kol, lobak, labu siam dan jamur hanya dapat diproduksi pada beberapa kabupaten saja sebagaimana hal ini sangat bergantung pada kondisi lingkungan sayuran. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 235

236 Tabel C.12 Perkembangan Produksi Sayuran Tahun (Ton) Provinsi Kalimantan Utara No Sayuran Total Produksi (Ton) Bawang Merah 2,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2 Bawang Daun 799,30 923,70 795,80 567,10 440,00 3 Kentang 0,00 0,00 15,00 0,00 0,00 4 Kubis 738,00 541,10 564,10 237,90 37,00 5 Kembang Kol 0,00 0,00 0,00 12,50 0,00 6 Petsai/Sawi 6.796, , , , ,00 7 Lobak 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8 Kacang Panjang 6.635, , ,20 135, ,00 9 Cabe Besar 1.866, , , , ,00 10 Cabe Rawit 2.718, , , , ,00 11 Jamur (Kg) 0, , ,00 410,00 299,00 12 Tomat 4.504, , , , ,00 13 Terong 3.916, , , , ,00 14 Buncis 1.504, , , , ,00 15 Ketimun 6.010, , , , ,00 16 Labu Siam 918,10 423,10 0,20 2,70 121,00 17 Kangkung 6.577, , , , ,00 18 Bayam 4.053, , , , ,00 Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Produksi sayuran melimpah pada jenis komoditas sawi, kacang panjang, tomat, terong dan ketimun dengan total produksi pada masing masing komoditas mencapai Ton di tahun Secara umum, produksi sayuran mengalami penurunan dua kali lipat dari tahun awal Sebagai contoh ketimun yang awalnya mencapai Ton, enam tahun kemudian mengalami penurunan produksi hingga menjadi Ton. Bahkan komoditas bawang merah yang awalnya masih ditanam, namun di tahun 2011 tidak berproduksi lagi. Meskipun demikian, hal ini wajar mengingat wilayah provinsi ini merupakan hutan hujan tropis, dengan curah hujan tinggi sehingga kurang sesuai bagi tempat tumbuh bawang merah. Begitu pula dengan jenis sayuran kentang, kembang kol dan lobak yang terkadang memberi hasil terkadang tidak. Selain itu, rata-rata produksi cabe besar (1.769,6 ton), cabe rawit (2.729,3 ton), dan tomat (4.787,8 ton) selama lima tahun terakhir masih jauh di bawah rata-rata produksi Kalimantan Timur yaitu cabe besar (6.346,20 ton), cabe rawit (7.560,60 ton), dan tomat (10.752,80 ton). Kondisi yang sama juga berlaku bagi komoditas sayuran lainnya, rata-rata produksi semua komoditas sayuran di Provinsi Kalimantan Utara masih jauh di bawah rata-rata produksi Provinsi Kalimantan Timur. Walaupun dari segi produksi jauh di bawah Provinsi Kalimantan Timur, tetapi dari segi produktivitas Provinsi Kalimantan Utara jauh lebih unggul. Rata-rata produktivitas sayuran selama dua tahun terakhir jauh di atas rata-rata produktivitas Provinsi Kalimantan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 236

237 Timur. Rata-rata produktivitas buncis (7,41 ton/ha), cabe rawit (5,4, ton/ha), tomat (12,74 ton/ha), terong (9,24 ton/ha), mentimun (12,88 ton/ha), kangkung (7,57 ton/ha), dan bayam (4,42 ton/ha). Sementara rata-rata produktivitas Provinsi Kalimantan Timur, buncis (4,85 ton/ha), cabe rawit (4,02 ton/ha), tomat (6,75 ton/ha), terong (6,3 ton/ha), mentimun (7.75 ton/ha), kangkung (5,86 ton/ha, dan bayam (3.35 ton/ha). Komoditas hortikultura ini mempunyai kesempatan ditingkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan konsumsi keluarga. Pembangunan pertanian berbasis hortikultura I disinergikan dengan pembangunan pertanian lahan kering maupun lahan basah. Pada kawasan dengan kelerengan tertentu (< 30%) dapat dialokasikan sebagai wilayah pembangunan hortikultura, dengan mempertimbangkan konservasi lahan khususnya mencegah kelongsoran lahan. 9. Produksi Komoditas Hortikultura (Buah-Buahan) Komoditas buah-buahan merupakan sumber asupan vitamin bagi tubuh. Komoditas buah-buahan merupakan komoditas pertanian lainnya yang penting setelah tanaman pangan dan sayuran, yang mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat tani. Komoditas buah-buahan umumnya rata-rata berproduksi setahun sekali. Tabel C.13 Total Produksi Buah-Buahan per Kabupaten/Kota Tahun 2014 (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Total Produksi Tahun 2014 (Ton) Kabupaten/Kota Alpokat Belimbing Duku/ Jambu Jambu Jeruk Siam/ Jeruk Durian Langsat Biji Air Keprok Besar (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Bulungan 37,00 24, , ,00 133,00 139, ,00 32,00 Malinau 0,00 8,00 384,00 793,00 3,00 7,00 109,00 12,00 Nunukan 20,00 13,00 489, ,00 41,00 35, ,00 106,00 Tana Tidung 0,00 2,00 110,00 76,00 2,00 3,00 22,00 4,00 Tarakan 0,00 44,00 0,00 450,00 41,00 161, ,00 3,00 Kalimantan Utara 57,00 91, , ,00 220,00 345, ,00 157,00 Lanjutan Total Produksi Tahun 2014 (Ton) Kabupaten/Kota Mangga Manggis Nangka/ Cempedak Nanas Pepaya Pisang Rambutan Salak (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Bulungan 877,00 11, ,00 147,00 481, , ,00 49,00 Malinau 67,00 5,00 815,00 25,00 52,00 472,00 101,00 1,00 Nunukan 2.137,00 21,00 777,00 77,00 260, ,00 864,00 76,00 Tana Tidung 81,00 0,00 97,00 16,00 23,00 99,00 41,00 2,00 Tarakan 3.690,00 0,00 935,00 29, ,00 232, ,00 272,00 Kalimantan Utara 6.852,00 37, ,00 294, , , ,00 400,00 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 237

238 Lanjutan Total Produksi Tahun 2014 (Ton) Kabupaten/Kota Sawo Markisa/ Konyal Sirsak Melon Semangka Sukun Melinjo Petai Jengkol (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) Bulungan 34,00 0,00 54, ,16 15,00 80,00 10,00 Malinau 0,00 0,00 6, ,19 0,00 9,00 0,00 Nunukan 6,00 0,00 41, ,07 18,00 70,00 0,00 Tana Tidung 3,00 0,00 2, ,05 3,00 2,00 0,00 Tarakan 0,00 0,00 21, ,00 0,00 38,00 0,00 Kalimantan Utara 43,00 0,00 124, ,47 36,00 199,00 10,00 Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Komoditas buah buahan pada umumnya bisa diproduksi di semua kabupaten kota. Beberapa jenis buah menjadi komoditi unggulan di daerah tertentu, seperti duku, nangka, rambutan, Jambu biji, nanas dan sawo di Kabupaten Bulungan. Kabupaten Nunukan terdapat jeruk besar, manggis dan melon, serta Kota Tarakan dengan buah unggulan seperti jambu air, pepaya dan salak. Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Malinau belum memilki keunggulan komoditas buah buahan. Unggulnya buah buahan tersebut tidak lepas dari kondisi lingkungan yang subur untuk menanam buah jenis tertentu. Tabel C.14 Perkembangan Produksi Buah-Buahan Tahun (Ton) Provinsi Kalimantan Utara No Buah Buahan Total Produksi (Ton) Alpokat 8,70 37,20 30,90 40,70 57,00 2 Belimbing 107,80 122,30 71,40 80,30 91,00 3 Duku/Langsat 2.944,80 567, , , ,00 4 Durian 4.881, , , , ,00 5 Jambu Biji 142,60 214,50 169,70 185,50 220,00 6 Jambu Air 188,30 250,60 243,90 271,20 345,00 7 Jeruk Siam/Keprok 5.549, , , , ,00 8 Jeruk Besar 227,30 142,00 120,70 168,50 157,00 9 Mangga 5.988, , , , ,00 10 Manggis 11,90 10,50 28,40 16,90 37,00 11 Nangka/Cempedak 8.371, , , , ,00 12 Nanas 1.593,20 640,10 609,30 522,80 294,00 13 Pepaya 6.534, , , , ,00 14 Pisang , , , , ,00 15 Rambutan 4.738, , , , ,00 16 Salak 2.945, ,90 428,10 395,10 400,00 17 Sawo 95,40 83,70 79,60 84,20 43,00 18 Markisa/Konyal 0,40 0,00 0,00 0,00 0,00 19 Sirsak 166,80 245,90 198,80 157,40 124,00 20 Melon 407,3 89, , Semangka 899,7 710,7 515,1 412, Sukun 396,30 669,90 503,00 565,90 433,47 23 Melinjo 147,70 123,50 114,10 98,60 36,00 24 Petai 574,50 819,00 669,90 251,90 199,00 25 Jengkol 0,10 0,10 0,20 0,30 10,00 Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 238

239 Rata-rata produksi komoditas buah-buahan secara keseluruhan mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir. Pada komoditas buah pisang, mengalami penurunan produksi dari tahun setelah sebelumnya mengalami kenaikan jumlah produksi mencapai 19%. Produksi buah-buahan masih jauh di bawah produksi Provinsi Kalimantan Timur. Ratarata produksi durian provinsi ini ton jauh di bawah rata-rata produksi Provinsi Kalimantan Timur ,8 ton, rata-rata produksi nanas 3659,4 ton sementara rata-rata produksi Provinsi Kalimantan Timur ,4 ton, rata-rata produksi pisang ,2 ton, sementara rata-rata produksi Kalimantan Timur ,2 ton, rata-rata produksi pepaya 8.221,58 ton, sementara rata-rata produksi Provinsi Kalimantan Timur ,8 ton. Buah-buahan lokal yang popular seperti durian, cempedak, jeruk Kalimantan, dan buah-buahan eksotik tropis lainnya harus menjadi bagian dari pembangunan sektor pertanian dalam arti luas. Dalam pembangunan hortikultura berbasis tanaman buahbuahan disamping konsep peningkatan produksi, juga harus mempunyai fungsi konservasi atau pelestarian plasma nutfah buah-buahan tropis spesifik. Untuk konservasi ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kebun koleksi dan pengembangan buah-buahan. 10. Populasi Ternak Ternak (livestock) memiliki peranan penting dalam pertanian baik sebagai tenaga dalam pengolahan lahan, tabungan dan peningkatan status petani. Ternak selain berfungsi sebagai sumber protein hewani bagi kebutuhan manusia, ternak juga menghasilkan kotoran yang dapat digunakan sebagai sumber pupuk organik bagi tanaman setelah melalui teknologi fermentasi, juga bermanfaat sebagai alternatif sumber energi (biogas) bagi rumah tangga. Hal ini bermanfaat bagi keberlangsungan pertanian berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Utara. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 239

240 Jenis Ternak Tabel C.15 Total Populasi Ternak per Kabupaten/Kota Tahun (Ekor) Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Populasi Ternak (Ekor) Sapi Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Kerbau Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Kambing Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Babi Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Kabupaten Bulungan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Malinau dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Nunukan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka 2012, ) Kota Tarakan dalam Angka 2011, 2012, 2013 Berdasarkan data tentang populasi ternak tersebut dapat diketahui bahwa populasi babi mendominasi ternak diikuti oleh jenis ternak sapi, kambing dan terakhir kerbau. Sebagai jenis ternak yang mengalami populasi paling sedikit, laju pertumbuhan populasi ternak kerbau juga mengalami perlambatan yakni sebesar 44%, sapi sebesar 7,9% dan babi sebesar 10,9% dalam kurun enam tahun tersebut. Keadaan ini berbanding terbalik dengan populasi ternak kambing yang terus mengalami pertumbuhan sebesar 30,39%, dari tahun Meskipun sapi dan babi memiliki jumlah populasi yang cukup besar di banding ternak lain, namun dalam rentang 6 tahun tersebut populasi yang dimiliki cenderung naik turun. Berbeda dengan kambing yang memiliki laju pertumbuhan populasi yang paling besar ternyata memiliki tren pertumbuhan positif tiap tahunnya dengan adanya kenaikan jumlah populasi setiap tahunnya. Jumlah semua populasi ternak sapi, kambing, kerbau dan babi jika dibandingkan dengan di Provinsi Kalimantan Utara ternyata memiliki rata-rata jauh di bawah Provinsi Kalimantan Timur. Oleh karena itu perlu adanya upaya peningkatan populasi hewan baik itu melalui mendatangkan ternak dari luar Kalimantan Utara maupun melalui peningkatan inseminasi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 240

241 Pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan lestari, merupakan potensi untuk diikuti pembangunan sektor peternakan baik ruminasia maupun unggas. Pembanguan pertanian tanaman pangan secara tidak langsung dapat mendukung pembangunan sektor peternakan yang dikembangkan melalui intensifikasi dan divesifikasi ternak. Dengan pembanguan sektor peternakan juga akan memberikan feed-back pada pembangunan pertanian melalui pengelolaan limbah ternak sebagai pupuk organik untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah yang berfungsi untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Pembangunan sektor peternakan juga dimungkinkan dengan pengelolaan lingkungan marginal untuk pengembangan hijauan makanan ternak (HMT) atau sebagai padang penggembalaan ruminansia. 11. Produksi Daging Ternak Daging merupakan sumber protein yang tinggi bagi manusia. Pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM), merupakan salah satu tujuan pembangunan Provinsi Kalimantan Utara, hal ini erat kaitannya dengan perbaikan gizi masyarakat, kesehatan dan tingkat pendidikan. Salah satu sumber gizi adalah pangan asal hewan berupa protein yang berasal dari daging sapi, kerbau, kambing, dan protein. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 241

242 Tabel C.16 Total Produksi Daging Ternak per Kabupaten/Kota Tahun (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Jenis Ternak Kabupaten/Kota Produksi Daging (Ton) Sapi Bulungan na na na 152,11 142,00 149,00 Malinau 85,69 na 90,42 41,38 44,70 46,90 Nunukan na na na 100,14 131,70 138,30 Tana Tidung 11,06 11,92 15,40 21,17 24,00 25,20 Tarakan 196,70 240,72 191,15 325,38 332,10 348,70 Kalimantan Utara 293,45 252,64 296,97 640,18 674,50 708,10 Kerbau Bulungan na na na 0,00 0,00 0,00 Malinau na na na 12,37 1,20 1,30 Nunukan na na na 15,46 0,00 0,00 Tana Tidung 0,00 0,00 0,00 0,00 8,40 8,90 Tarakan na na na 3,67 2,20 2,30 Kalimantan Utara 0,00 0,00 0,00 31,50 11,80 12,50 Kambing Bulungan na na na 4,37 14,30 15,00 Malinau 1,61 na 1,75 3,24 1,40 1,50 Nunukan na na na 18,95 8,90 9,30 Tana Tidung 0,00 0,46 0,35 0,74 0,50 0,60 Tarakan 16,61 10,41 5,50 9,00 10,00 10,60 Kalimantan Utara 18,22 10,87 7,60 36,30 35,10 37,00 Babi Bulungan na na na 59,65 172,80 181,40 Malinau , , ,00 140,56 132,20 138,80 Nunukan na na na 47,39 41,20 43,30 Tana Tidung 0,00 9,61 8,97 8,35 17,70 18,60 Tarakan 78,49 85,56 106,55 145,11 124,10 130,30 Kalimantan Utara , , ,52 401,06 488,00 512,40 Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Kabupaten Bulungan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Malinau dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Nunukan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka 2012, ) Kota Tarakan dalam Angka 2011, 2012, 2013 Produksi daging sapi dan babi menunjukkan tren peningkatan. Sementara produksi daging kambing menunjukkan tren fluktuatif dalam sembilan tahun terakhir, sedangkan daging kerbau mengalami penurunan jumlah produksi daging dari tahun dan meningkat di tahun Secara keseluruhan produksi daging di Provinsi Kalimantan Utara masih rendah di bawah Provinsi Kalimantan Timur, sehingga produksi daging perlu ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan asupan protein bagi masyarakat Provinsi Kalimantan Utara dalam rangka mendukung ketahanan pangan. 12. Populasi Ternak Unggas Ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Perkembangan populasi ternak unggas dan hasil produksinya merupakan gambaran tingkat ketersediaan sumber bahan protein nasional. Tingkat konsumsi akan menentukan kualitas sumber daya manusia yang dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan daging dan produksi ternak lainnya dan tingkat pendapatan rumahtangga (purchasing power). Faktor tingkat pendapatan yang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 242

243 akan menentukan apakah rumahtangga/individu akan lebih banyak mengkonsumsi sumber karbohidrat atau protein, yang akan berpengaruh pada tingkat konsumsi berkualitas dan sesuai dengan persyaratan gizi. Tabel C.17 Total Populasi Ternak Unggas per Kabupaten/Kota Tahun (Ekor) Provinsi Kalimantan Utara Jenis Ternak Kabupaten/ Populasi Ternak Unggas (Ekor) Kota Ayam Kampung Bulungan na na na Malinau Nunukan Tana Tidung na Tarakan Kalimantan Utara Ayam Pedaging Bulungan na na na Malinau Nunukan Tana Tidung na Tarakan Kalimantan Utara Ayam Petelur Bulungan na na na Malinau Nunukan Tana Tidung na 0 na Tarakan Kalimantan Utara Itik Bulungan na na na Malinau Nunukan Tana Tidung na Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Kabupaten Bulungan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Malinau dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Nunukan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka 2012, ) Kota Tarakan dalam Angka 2011, 2012, 2013 Asupan protein hewani selain dipenuhi dari konsumsi daging sapi, kerbau, kambing dan babi juga dapat dipenuhi dari konsumsi daging unggas. Populasi ternak unggas menggambarkan ketersediaan daging yang akan menjadi sumber bagi kebutuhan protein masyarakat Provinsi Kalimantan Utara. Selain itu, kotoran ternak unggas dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang lebih baik dari pada ternak hewan mamalia karena mengandung unsur N yang lebih tinggi. Populasi ternak ayam kampung, ayam pedaging dan itik menunjukkan trend kenaikan. Sementara populasi ayam petelur menunjukkan penurunan selama lima tahun terakhir, hal ini bisa berdampak terhadap ketersediaan telur bagi kebutuhan asupan protein hewani selain daging yang lebih terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 243

244 13. Produksi Daging Ternak Unggas Produksi daging unggas menggambarkan ketersediaan asupan protein hewani yang tersedia di suatu wilayah. Asupan protein hewani selain dari daging sapi dan sejenisnya dapat dipenuhi dari daging unggas. Protein hewani mampu menyediakan kebutuhan asam amino esensial yang tidak dapat dipenuhi dari protein nabati. Selain itu, protein hewani juga merupakan sumber utama mineral Ca, P, Zinc, Fe serta vitamin B 2, B 6,dan B 12yang penting bagi tubuh manusia. Tabel C.18 Total Produksi Daging Ternak Unggas per Kabupaten/Kota Tahun (Ton) Provinsi Kalimantan Utara Jenis Ternak Kabupaten/ Produksi Daging Ternak Unggas (Ton) Kota Bulungan na na na 221,90 385,80 424,30 Malinau na na na 142,90 126,40 139,00 Ayam Kampung Nunukan na na na 81,00 67,30 74,00 Tana Tidung na 3,60 1,13 4,20 5,60 6,20 Tarakan 5,96 21,58 40,60 744,50 749,80 824,80 Kalimantan Utara 5,96 25,18 41, , , ,30 Bulungan na na na 585,00 588,70 618,10 Malinau na na na 26,00 93,20 97,90 Ayam Pedaging Nunukan na na na 337,60 72,70 76,30 Tana Tidung na 1,16 3,20 45,20 31,30 32,80 Tarakan 2.120, , , , , ,10 Kalimantan Utara 2.120, , , , , ,20 Bulungan na na na 0,00 0,00 0,00 Malinau na na na 0,00 0,00 0,00 Ayam Petelur Nunukan na na na 4,10 11,30 11,30 Tana Tidung na 0,00 na 0,00 0,00 0,00 Tarakan 13,06 2,24 1,95 10,10 9,00 9,00 Kalimantan Utara 13,06 2,24 1,95 14,20 20,30 20,30 Bulungan na na na 1,90 2,60 2,80 Malinau na na na 9,00 5,90 6,20 Itik Nunukan na na na 9,70 5,60 5,90 Tana Tidung na 0,57 1,14 0,80 0,90 0,90 Tarakan 4,92 1,88 7,94 7,30 0,00 0,00 Kalimantan Utara 4,92 2,45 9,08 28,70 15,00 15,80 Sumber: 1) Dinas Pertanian Kehutanan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Kabupaten Bulungan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Malinau dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Nunukan dalam Angka 2011, 2012, ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka 2012, ) Kota Tarakan dalam Angka 2011, 2012, 2013 Produksi daging ayam kampung dan ayam pedaging terus menunjukkan peningkatan produksi selama enam tahun terakhir. Sementara produksi daging ayam petelur cenderung mengalami naik turun selama enam tahun terakhir. Secara keseluruhan rata-rata produksi daging unggas di Provinsi Kalimantan Utara masih jauh di bawah rata-rata produksi Provinsi Kalimantan Timur, tren kenaikan produksi daging unggas perlu terus ditingkatkan guna memenuhi kecukupan protein hewani dalam rangka pemenuhan ketersediaan pangan untuk meningkatkan nilai gizi dari sumber bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 244

245 14. Tipe Iklim di Provinsi Kalimantan Utara Tipe iklim di Kalimantan Utara dapat diidentifikasi dengan menggunakan dua metode. Pertama yakni klasifikasi iklim menggunakan sistem Schmidt dan Fergusson. Sistem ini didasarkan atas nilai Q, yakni rerata jumlah bulan kering dibagi rerata jumlah bulan basah. Penggolongan bulan kering dan bulan basah ini mengikuti penggolongan Mohr, dimana: 1. Jika jumlah curah hujan dalam satu bulan lebih dari 100 mm maka digolongkan ke dalam bulan basah 2. Jika jumlah curah hujan dalam satu bulan antara mm maka digolongkan ke dalam bulan lembab 3. Jika jumlah curah hujan dalam satu bulan kurang dari 60 mm maka digolongkan ke dalam bulan kering Metode yang kedua yakni dengan sistem klasifikasi Oldeman, dimana metode ini lebih menekankan pada hubungan iklim dan tanaman yang didasarkan pada kebutuhan curah hujan untuk tanaman padi dan palawija. Oldeman menggolongkan zone iklim dengan bantuan segitiga agroklimat menurut jumlah bulan basah dan jumlah bulan kering yang berurutan. Melalui sistem ini, dapat ditentukan pola tanam yang cocok di Provinsi Kalimantan Utara. Adapun penggolongan bulan basah dan bulang kering menurut Oldeman sebagai berikut: 1. Jika rata-rata curah hujan dalam satu bulan > 200 mm maka termasuk ke dalam bulan basah 2. Jika rata-rata curah hujan dalam satu bulan antara mm maka termasuk ke dalam bulan lembab 3. Jika rata-rata curah hujan dalam satu bulan < 100 mm maka termasuk ke dalam bulan kering Tabel C.19 Kondisi Curah Hujan Tahun (mm) Provinsi Kalimantan Utara Tahun Bulan ke ,48 158,08 199,3 197,44 379,68 168,9 314,58 295,3 288,2 291,48 270,62 323, ,22 276,54 386,18 221,92 354,04 356,24 276,08 371,06 193,34 299,24 283,06 363, ,04 184,16 384,94 198,66 315,12 244,48 186,72 289,04 269,5 232,48 565,7 232, ,1 332, ,7 453,8 345,1 557,3 188,6 382,3 278,2 400,8 493, RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 245

246 Tabel C.20 Klasifikasi Iklim menurut Schmidt dan Fergusson Tahun Provinsi Kalimantan Utara Bulan ke- Jumlah Tahun Bulan Bulan Bulan Basah Lembab Kering Q (BB) (BL) (BK) 2010 BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB Sumber: Hasil Analisis, 2016 Tabel C.21 Klasifikasi Iklim menurut Oldeman Tahun Provinsi Kalimantan Utara Bulan ke- Jumlah Tahun Bulan Bulan Bulan Basah Lembab Kering (BB) (BL) (BK) 2010 BB BL BL BL BB BL BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BL BB BB BB BB BL BB BL BB BB BL BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BB BL BB BB BB BB BB BL BB BL BL BB BB BL BB BL BB BB Rata Rata Sumber: Hasil Analisis, 2016 Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson, Provinsi Kalimantan Utara memiliki nilai Q < 14,3% sehingga termasuk ke dalam Tipe Iklim A dengan kondisi wilayah sangat basah (Hutan Hujan Tropis). Adapun menurut klasifikasi Oldeman, hasil analisis menunjukkan Provinsi Kalimantan Utara memiliki jumlah bulan basah sembilan dengan jumlah bulan kering tiga. Maka berdasarkan klasifikasi system Oldeman, Provinsi Kalimantan Utara termasuk ke dalam tipe iklim B2. Sistem pertanian dengan daerah yang memiliki tipe iklim B2 cocok untuk ditanami padi sebanyak dua musim tanam dan pada musim kemarau ditanami palawija. Maka pola tanam yang cocok adalah padi-padipalawija. 15. Kontribusi Sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan terhadap PDRB PDRB merupakan jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan perekonomian di seluruh daerah dalam tahun tertentu. Kontribusi sektor pertanian di tiap tiap kabupaten/kota berada di kisaran angka belasan persen. Akan tetapi khusus di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung, memberi kontribusi sektor yang besar dengan angka sekitar persen. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 246

247 Tabel C.22 Kontribusi Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan terhadap PDRB (ADHK 2010) Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan 19,49 18,87 18,44 17,70 16,59 Malinau 19,19 16,95 15,87 12,98 11,39 Nunukan 19,51 19,74 20,13 20,89 21,54 Tana Tidung 28,55 32,32 31,53 31,37 33,37 Tarakan 12,28 13,15 12,76 12,59 12,93 Kalimantan Utara 17,86 17,94 17,53 17,07 17,01 Sumber: 1) DISPERINDAGKOP Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Nilai tambah yang dihasilkan dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan untuk Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan relatif stabil walaupun terjadi fluktuasi tetapi tidak terlalu signifikan. Hanya Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan yang menunjukkan penurunan selama lima tahun terakhir. Kondisi ini secara langsung berdampak pada nilai PDRB total dimana mengalami tren yang cenderung turun meskipun pada tahun 2011 sempat mengalami kenaikan sebesar 0.45 % menjadi 17,94 %. 16. Kontribusi Subsektor Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa terhadap PDRB Subsektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa merupakan subsektor yang memiliki peranan penting di masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel C.23 Kontribusi Subsektor Pertanian, Peternakan, Perburuan, dan Jasa terhadap PDRB (ADHK 2010) Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan 9,17 8,98 9,37 8,95 8,07 Malinau 4,91 5,00 4,82 3,98 3,43 Nunukan 8,19 8,19 8,15 8,17 8,08 Tana Tidung 1,28 1,41 1,45 1,48 1,47 Tarakan 4,67 4,68 4,50 4,34 4,10 Kalimantan Utara 6,26 6,26 6,27 6,00 9,89 Sumber: 1) DISPERINDAGKOP Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Kontribusi subsektor ini terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Utara dari tahun ternyata mengalami kenaikan. Pada tahun kenaikan yang dialami sangat sedikit, berbeda dengan pertambahan dari tahun yang meningkat hingga 3,89%. Meski demikian, kontribusi subsektor pertanian pernah mengalami penurunan di tahun 2013 yakni sebesar 0,27%. Kondisi yang cenderung naik ini perlu dijaga konsistensinya guna menjaga peranan penting subsektor pertanian dalam perekonomian daerah bagi masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 247

248 D. Kehutanan 1. Kondisi Umum Hutan di Kalimantan Utara Hutan mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu fungsi lindung, fungsi konservasi, dan fungsi produksi. Hutan negara ditetapkan pemerintah melalui UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan berdasarkan tiga fungsi pokok tersebut sebagai Hutan Lindung (HL), Hutan Konservasi (HK) yang terbagi atas Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA), dan Hutan Produksi yang terbagi atas Hutan Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan Hutan Produksi Konversi (HPK). Luas wilayah kawasan hutan Kalimantan Utara berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: SK.718/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Utara sekitar ha atau 74,59 % dari luas daratan Provinsi Kalimantan Utara ± ,70 km 2. Di antara kabupaten/kota yang ada di provinsi ini, Kabupaten Malinau merupakan kabupaten terluas baik ditinjau dari wilayah maupun kawasan hutannya (sekitar 48,38 %). Hutan Produksi Terbatas merupakan kawasan hutan yang paling luas diantara bentuk kawasan hutan lainnya yaitu sekitar ha (sekitar 39%). Tabel D.1 Luas dan Sebaran Kawasan Hutan di Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/ Luas No Kota/ Wilayah* KSA/KPA HL HPT HP HPK Luas Kawasan Hutan** Provinsi (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (%) 1 Bulungan ,86 2 Tarakan ,09 3 Nunukan ,96 4 Malinau ,38 5 Tana tidung ,29 Kalimantan Utara ,59 Sumber: * Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2012 (termasuk luas wilayah perairan) ** Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: SK.718/Menhut-II/2014 Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi Kalimantan Utara (RKTP) HL,HK, HP, dan HPT ditetapkan pemerintah sebagai hutan tetap yang hanya dapat dipergunakan untuk kegiatan kehutanan atau lewat Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH). HPK dan Area Penggunaan Lain (APL) dapat dicadangkan untuk kegiatan pemanfaatan lain, misalnya pertanian dan perkebunan yang kewenangan pelepasan kawasan ada di menteri untuk HPK dan bupati untuk APL. Hal tersebut terkait dengan rencana pengelolaan kawasan perbatasan, pengelolaan kawasan lindung, dan pengelolaan kawasan budidaya yang termasuk kedalam raung lingkup program-program kegiatan HOB atau Kawasan Jantung Borneo. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 248

249 Gambar D.1 Peta Kawasan Hutan Provinsi Kalimantan Utara Sumber : Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi (RKTP) Kalimantan Utara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 249

250 Jantung Kalimantan atau Borneo (Heart of Borneo/HoB) telah disepakati dan dideklarasikan oleh tiga negara tersebut sebagai kawasan penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pemerintah Indonesia telah menetapkan kawasan Jantung Kalimantan menjadi Kawasan Strategis Nasional (KSN) melalui UU No. 26 Thn tentang Penataan Ruang, PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional di bawah koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian. Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara sendiri telah menetapkan Kelompok Kerja (Pokja) HoB untuk berkoordinasi di tingkat provinsi melalui Peraturan Gubernur Wilayah HoB yang termasuk ke dalam wilayah Provinsi Kalimantan Utara meliputi sebagian wilayah di Kab. Malinau, Kab. Nunukan, dan Kab. Bulungan. Gambar D.2 Peta Wilayah Heart of Borneo Sumber: Kementian Agraria dan Tata Ruang/BPN Ada lima program utama yang telah dibahas oleh tiga negara dalam rangka pengelolaan kawasan HoB yaitu program kerjasama konservasi lintas batas negara. Program kedua difokuskan pada pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif. Dimana dalam program ini konektivitas kawasan konservasi dan pengelolaan kawasan tersebut dapat dilakukan secara efektif dan partisipatif bersama masyarakat setempat. Program ketiga lebih difokuskan kepada pengelolaan sumber daya alam secara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 250

251 berkelanjutan. Program keempat difokuskan untuk pengembangan ecotourism dimana kawasan HoB dapat mengembangkan infrastruktur yang mengarah kepada pengembangan ekowisata sebagai salah satu kegiatan ekonomi dari jasa lingkungan. Program kelima adalah pengembangan kapasitas staf dalam rangka mencapai perwujudkan programprogram yang telah ditetapkan. 2. Pemanfaatan Hasil Hutan Hasil hutan kayu dan non kayu dimanfaatkan secara optimal agar dapat memberikan kontribusi didalam pembangunan dan kesejateraan masyarakat. Hasil hutan kayu dalam skala besar dapat diusahakan lewat Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di hutan alam (IUPHHK-HA) maupun hutan tanaman (IUPHHK-HT) oleh perusahaan swasta dan negara. Namun, agar hasil hutan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang dalam aspek ekonomi maupun ekologi maka hutan harus dikelola dalam praktek pengelolaan secara lestari. Pemerintah mewajibkan (mandatory) pengelolaan hutan lestari lewat sertifikasi PHPL/SVLK (Pengelolaan Hutan Produksi Lestari-Sistem Verifikasi Legalitas Kayu). Total luas konsensi IUPHHK-HA pada tahun 2015 berdasarkan data Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara seluas ,71 Ha yang dikelola oleh 31 perusahaan dan tersebar di kawasan Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas, dan Hutan Lindung (Inhutani II Sub Sei Tubu). Luas konsensi IUPHHK-HA yang masih aktif sebesar ,71 Ha dari 24 perusahaan swasta dan negara. Dari jumlah tersebut baru empat belas perusahan yang diketahui telah bersertifikasi PHPL/SVLK. Tabel D.2 Jumlah IUPHHK Hutan Alam Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah IUPHHK-HA (Aktif) Luas (Ha) Bulungan Malinau ,71 Nunukan Tana Tidung 0 0 Tarakan 0 0 Lintas Wilayah Prov. Kalimantan Utara ,71 Sumber : Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara Berdasarkan data dari website sipuhh.dephut.net, produksi Kayu Bulat yang dihasilkan dari IUPHHK-HA di Provinsi Kalimantan Utara secara keseluruhan terjadi peningkatan sejak pemisahan dari Provinsi Kalimantan Timur. Namun, data yang tercakup di sistem informasi tersebut hanya perusahaan yang sudah mengikuti sistem online sehingga masih terdapat hasil produksi kayu beberapa perusahaan yang belum tercatat. Jumlah produksi kayu bulat dari tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 251

252 KABUPATEN/ KOTA Tabel D.3 Produksi Kayu Bulat Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Batang M3 Batang M3 Batang M3 Batang M3 Batang M3 Batang M3 Batang M3 Bulungan 12,150 65, , , ,098 99, , , , , , , , , Malinau 10,171 47, ,651 50, , , ,668 81, ,765 48, , , , , Nunukan 12,271 39, , , ,318 79, ,838 78, , , , , , , Tana Tidung , , , , , , Tarakan Jumlah 34, ,229 74, ,781 69, ,616 73, ,622 72, , , , , ,183 umber : S Pengusahaan hutan skala besar dilakukan juga Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kayu dalam bentuk hutan tanaman industri (IUPHHK-HTI). Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Ketahanan Pangan pada tahun 2015 terdapat empat perusahaan swasta yang bergerak di bidang HTI dengan total luas konsensi Ha. Dua perusahaan terdapat di Kabupaten Bulungan dengan luas konsensi Ha sedangkan dua lainnya merupakan perusahaan lintas wilayah dengan luas konsensi Ha. Potensi produksi kayu masih berpotensi ditingkatkan dengan pengelolaan hutan oleh KPHP (Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi) pada kawasan yang belum terbebani izin pemanfaatan pada seluruh kawasan hutan produksi (HP dan HPT). Pengusahaan hutan skala kecil dapat ditingkatkan pula untuk membuka peran serta dan akses masyarakat terhadap kawasan hutan dengan berbagai skema (HTR, HKM, HD). Selain itu, apabila potensi kebocoran hasil hutan seperti illegal logging ditekan seminimal mungkin maka potensi produksi ini dapat meningkat. 3. Pendapatan Negara Bukan Pajak Sektor Kehutanan Jenis Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor kehutanan berasal dari Sumber Daya Alam dan Non Sumber Daya Alam. Jenis PNBP dari Sumber Daya Alam non Migas menghasilkan PNBP seperti Dana Reboisasi (DR), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH), Penggunaan Kawasan Hutan (PKH), Pendapatan Kegiatan Perbenihan. Jenis PNBP non SDA menghasilkan PNBP seperti PNBP dari PHKA (wisata alam, perburuan, pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar, dll.) dan pendapatan lainnya. Satu lagi sumber PNBP kehutanan berasal dari Badan Layanan Umum (BLU). RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 252

253 KABUPATEN /KOTA Tabel D.4 PNBP yang bersumber dari PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan) Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Bulungan 3,726,728,233 13,716,529,150 6,001,072,062 6,192,417,658 11,555,205,875 10,103,494,479 18,727,058,730 Malinau 1,551,174,876 4,030,037,184 9,672,813,147 5,967,238,131 2,920,920,610 6,034,549,169 14,761,097,510 Nunukan 2,316,258,000 5,439,819,480 4,813,027,560 4,156,129,926 6,508,640,630 7,399,836,940 8,338,178,100 Tana Tidung ,706,184,542 2,259,404,412 7,001,135,392 9,705,999,450 Tarakan Kaltara 7,594,163,118 23,186,387,824 20,486,914,780 20,021,972,269 23,244,173,540 30,539,017,994 51,532,335,805 Sumber : Berdasarkan tabel di atas, PNBP dari PSDH dalam tren yang terus meningkat. Peningkatan tersebut sesuai dengan keadaan produksi kayu bulat dalam beberapa tahun setelah pemisahan dari provinsi induk. Begitupun PNBP yang berasal dari DR di Kalimantan Utara juga dalam kondisi yang sama dengan kondisi di atas. Tabel D.5 PNBP yang bersumber dari DR (Dana Reboisasi) Tahun di Provinsi Kalimantan Utara KABUPATEN /KOTA Bulungan 1,009, ,710, ,617, ,675, ,164, ,588, ,144, Malinau 416, ,087, ,616, ,454, , ,643, ,540, Nunukan 625, ,484, ,310, ,130, ,783, ,879, ,851, Tana Tidung ,004, , ,807, ,176, Tarakan Kaltara Sumber : Perimbangan PNBP SDA Kehutanan terbagi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Prosentase pembagian PNBP diatur berdasarkan UU No 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemda dan PP No 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Prosentase pembagian PNBP tersebut dapat diihat dari tabel berikut ini. Tabel D.6 Perimbangan Pembagian PNBP Kehutanan PNBP Pemerintah Pusat Pemerintah Provinsi Kabupaten Penghasil Kabupaten Lainnya DR 60 % - - PSDH 20 % 16 % 40 % 32 % IIUPH 20 % 16 % 32 % - PKH 100 % - 64 % - Sumber : 1. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2. PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 253

254 4. Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis Berdasarkan data dari BPDAS Mahakam Berau yang ditetapkan pada tahun 2015 luas lahan kritis pada tahun 2013 di wilayah kerjanya seluas Ha. Selama kurun waktu telah terjadi pertambahan luas lahan kritis sebesar ,9 Ha. Lahan kritis yang dimaksud adalah lahan yang termasuk kedalam kriteria agak kritis, kritis, dan sangat kritis dalam pengkelasan dari BPDAS sebagai instansi yang berwenang. Data luas lahan kritis dapat dilihat dari tabel dibawah ini. Tabel D.7 Luas Lahan Kritis Tahun 2009 dan 2013 di Provinsi Kalimantan Utara Kategori BP DAS Mahakam Berau 2013 Agak Kritis , Kritis ,66 245, Sangat Kritis 2.398, Total , Sumber: - Statistik BPDAS Mahakam Berau 2009 (Lahan Kritis 2009 ditetapkan 2010) - Direktorat PEPDAS, Ditjen BPDASPS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Lahan Kritis 2013 ditetapkan 2015) Upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis yang telah dilakukan tidak mempunyai ukuran yang jelas apabila dilihat dari persentase kegiatan rehabilitasi terhadap luas lahan kritis yang ada. Selama tahun kegiatan rehabilitasi tiap tahunnya tidak lebih dari satu persen dari luas lahan kritis. Akibatnya, tingkat keberhasilan upaya rehabilitasi tidak terlihat namun malah terjadi pertambahan luas lahan kritis di Provinsi Kalimantan Utara. Hal tersebut bisa terjadi akibat kegiatan logging dan tambang yang tidak mengindahkan pengelolaan hutan secara lestari, kebakaran hutan, ladang berpindah, dan kegiatan lainnya sehingga menyebabkan luas lahan kritis terus bertambah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 254

255 Gambar D.3 Peta Kekritisan Lahan di Provinsi Kalimantan Utara Sumber :Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, 2014 dalam RPJP Kalimantan Utara Berbeda dengan kondisi hutan dan lahan kritis yang terus meningkat, tingkat kerusakan hutan di Kalimantan Utara dalam tren menurun. Tingkat kerusakan hutan di Provinsi Kalimantan Utara berkisar antara 0,05-9,92 Ha dalam tren yang menurun secara keseluruhan namun apabila dilihat dari di tiap kabupaten terjadi peningkatan kerusakan pada kawasan hutan Tarakan. 5. Kesatuan Pengelolaan Hutan Pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) adalah wujud dari upaya pemisahan fungsi regulator (administrator) dan operator (pengelola di tingkat tapak) didalam pengelolaan hutan secara profesional. Terdapat tiga jenis KPH, KPH Produksi dan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 255

256 KPH Lindung yang dikelola oleh daerah sedangkan KPH Konservasi dikelola langsung oleh kementrian (balai TN dan KSDA). KPH Produksi diarahkan untuk melaksanakan program bina produksi dan usaha kehutanan. KPH Lindung termasuk didalamnya DAS mempunyai diarahkan untuk melaksanakan program bina pengelolaan DAS, Hutan Lindung, dan Perhutanan Sosial. KPH Konservasi diarahakan dalam melaksanakan program pengelolaan hutan konservasi dan biodiversity. Dalam pengelolaan oleh KPH akan dipetakan/diinventarisir dan dikembangkan keseluruhan potensi kayu, non kayu, biodiversity, dan jasa lingkungan yang ada di kawasan hutan. Tabel D.8 Rancang Bangun dan Perkembangan Wilayah KPH Produksi dan Lindung Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Jumlah KPHP/L /Kota (ha) Keterangan Bulungan 3 unit KPHP (luas total ha) KPHP Kayan merupakan KPHP-Model berdasarkan SK Menhut Nomor: 223/Menhut-II/2012 (luas ha) Malinau 5 unit KPHP (luas total ha) KPHP Malinau I merupakan KPHP-Model berdasarkan SK Menhut Nomor: 224/Menhut-II/2012 Nunukan 2 unit KPHP dan 1 unit KPHL Belum ada KPH Model (luas total ha) Tana Tidung 2 unit KPHP (luas total Belum ada KPH Model ha) Tarakan 1 unit KPHL (luas total ha) KPHL Tarakan merupakan KPHL-Model berdasarkan SK Menhut Nomor 783/Menhut-II/2009 (luas ha) Total 2 unit KPHL 12 unit KPHP Terdapat 3 unit KPH-Model dengan luas yang ditetapkan Kementerian Kehutanan tidak sama dengan yang diajukan Sumber : Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi Kalimantan Utara Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Dinas Kehutanan (atau instansi setara yang memiliki tupoksi di bidang kehutanan) di provinsi/kabupaten/kota memiliki peran pengurusan, sedangkan KPH melakukan pengelolaan hutan. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. P.61 tahun 2010, maka KPHP/L merupakan SKPD atau bukan UPTD dan bertanggung jawab langsung kepada kepala daerah (Gubernur/Bupati/Walikota). Konsep KPH sebagai BLUD atau SKPD perlu dimatangkan kembali namun yang lebih penting adalah segera dimulainya pengelolaan hutan berbasis KPH sehingga seluruh kawasan hutan dapat segera dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas. E. Energi dan Sumber Daya Mineral 1. Pertambangan Tanpa Ijin Indikator bidang energi dan sumberdaya mineral menurut Permendagri No. 54 tahun 2010 meliputi: 1) penambangan tanpa ijin dan 2) kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB. Indikator penambangan tanpa ijin yang tersedia adalah batubara, dimana data penambangan tanpa ijin diolah dari Kabupaten Bulungan, Malinau dan Kota Tarakan dari tahun 2008 hingga Indikator penambangan tanpa ijin merupakan perbandingan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 256

257 antara area penambangan tanpa ijin yang dapat ditertibkan dengan seluruh area penambangan tanpa ijin total dikalikan 100%. Data penambangan tanpa ijin masih menggunakan data yang ada untuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Kalimantan Utara tahun Dari gambar dibawah terlihat adanya peningkatan aktivitas penambangan tanpa ijin pada tahun 2009, 2011, dan 2013 yang terjadi di ketiga kabupaten tersebut, sedangkan tahun 2010 hingga tahun 2012 terjadi penurunan penambangan tanpa ijin. Akibat aktivitas pertambangan tanpa ijin ini akan meninggalkan permasalahan seperti: 1) kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan yang berdampak terhadap kehidupan flora dan fauna, karena penambangan tanpa ijin tidak mempunyai Ijin Usaha Pertambangan (IUP) dan mereka tidak bisa melakukan reklamasi area pertambangan; 2) meluasnya area penambangan tanpa ijin yang tidak bisa ditertibkan; 3) terbentuknya air asam akibat pembuangan limbah sedimen yang banyak mengandung sulfur/h2s yang akan berpengaruh terhadap air tanah dan air permukaan; 4) kerusakan infrastruktur jalan akibat pengangkutan batubara yang melebihi kapasitas muatan; 5) peningkatan penambangan tanpa ijin akibat permintaan batubara dunia untuk kepentingan industri meningkat, sehingga harus ada regulasi dalam lapangan kerja terkait dengan penambangan batubara tanpa ijin. Tabel E.1 Produksi Batubara Tahun Provinsi Kalimantan Utara (Ton) Kabupaten Bulungan , , , , ,00 Malinau , , , , ,84 Nunukan , , , , ,00 Tana Tidung , , , , ,31 Tarakan KALTARA BPS , , , , ,15 KALTARA ESDM , , , , ,00 Sumber : 1. Kabupaten Bulungan Dalam Angka Kabupaten Malinau Dalam Angka Kabupaten Nunukan Dalam Angka Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2012; 2013; Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Utara Produksi batu bara di Provinsi Kalimantan Utara diolah melalui data yang diperolah dari GPS meliputi Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka tahun Terdapat peningkatan produksi batubara di Kabupaten Bulungan tahun walaupun tidak signifikan diantara tahun dan tahun Tahun 2012 baru terlihat peningkatan yang signifikan. Di kabupaten Nunukan setiap tahun mengalami peningkatan jumlah produksi tetapi peningkatan yang sangat siginifikan terjadi tahun 2014 yang mencapai 10 juta metrik ton yang sebelumnya hanya mencapai 5 juta metrik ton. Penurunan jumlah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 257

258 produksi batubara selama kurun waktu tahun hanya terjadi di Kabupaten Tana Tidung yang terjadi tahun walaupun penurunan jumlahnya tidak banyak. Tetapi tahun berikutnya produksi batubara Tana Tidung kembali mengalami peningkatan. Secara umum dalam lingkup Provinsi Kalimantan Utara, produksi batubara terus mengalami peningkatan setiap tahunnya selama kurun waktu tahun Peningkatan produksi batubara di Kalimantan Utara ini selama kurun waktu tersebut memberikan pengaruh pada kontribusi sektor pertambangan dan penggalian di PDRB provinsi yang berkisar dari 30,33% - 31,99%. Permasalahan yang diperkirakan timbul kedepannya adalah akibat dari disahkannya Undang Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yakni pengawasan perizinan pertambangan yang dikelola oleh pemerintah provinsi. Sehingga pemerintah kabupaten/kota sudah tidak memiliki lagi hak untuk mengeluarkan izin dan mengawasi usaha pertambangan. Hal ini telah diantisipasi dengan keputusan Kementerian ESDM yang mengeluarkan surat kepada setiap Dinas ESDM Provinsi untuk mengirimkan personelnya untuk dijadikan inspektur pertambangan untuk dilatih dan akan ditugaskan di kabupaten/kota asal mereka untuk mengawasi ijin usaha pertambangan. Produksi minyak bumi di Provinsi Kalimantan Utara yang diolah dari data yakni Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan dari tahun 2008 hingga tahun Pada tabel dibawah dapat dilihat produksi minyak bumi di Provinsi Kalimantan Utara mengalami kecenderungan meningkat sampai dengan tahun 2012 kemudian menurun pada tahun berikutnya. Hal ini diperkirakan disebabkan karena 1) Harga minyak dunia yang sedang turun; 2) biaya eksploitasi atau eksplorasi yang mahal; 3) regulasi peraturan yang membahas penambahan sumur produksi yang kaitannya dengan perizinan perubahan fungsi lahan yang sangat lama. Kemudian setelah 2 tahun mengalami penurunan, pada tahun 2015 mengalami peningkatan jumlah produksi minyak bumi walaupun tidak terlalu signifikan. Sedangkan untuk produksi gas bumi yang diolah dari data BPS yakni Daerah Dalam Angka di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan dari tahun 2008 hingga tahun Sedangkan data tahun 2015 diperoleh dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. Produksi gas bumi di Kalimantan Utara dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2015 cenderung mengalami fluktuasi. Peningkatan jumlah produksi terjadi pada tahun 2009, 2012, dan Pada tahun 2010 ke 2011 terlihat mengalami penurunan walaupun setiap tahunnya tidak banyak. Pada tahun 2013 dan 2015 produksi gas bumi di Kalimantan Utara juga mengalami penurunan yang pada tahun sebelumnya mengalami peningkatan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 258

259 Tabel E.2 Produksi Minyak Bumi Provinsi Kalimantan Utara Tahun (Barrel) Kabupaten Bulungan , , , , , ,21 Malinau Nunukan , , , , , ,86 Tana Tidung ,45 Tarakan 982,00 962, , , ,89 KALTARA BPS , , , , ,00 KALTARA ESDM ,41 Sumber : 1. Kabupaten Bulungan Dalam Angka Kabupaten Nunukan Dalam Angka Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2012; 2013; Kota Tarakan Dalam Angka Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Utara (Data Tahun 2015) Tabel E.3 Produksi Gas Bumi Tahun Provinsi Kalimantan Utara (MMSCF) Kabupaten Bulungan , , , , ,95 Malinau Nunukan , , ,98 Tana Tidung Tarakan , , ,00 202, ,16 KALTARA BPS , , , , ,00 KALTARA ESDM ,09 Sumber : 1. Kabupaten Bulungan Dalam Angka Kabupaten Nunukan Dalam Angka Kota Tarakan Dalam Angka Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Utara (Data Tahun 2015) Terkait dengan permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan seperti air yang berada di bawah galian tambang akan menjadi asam, kemudian terjadinya erosi dan sedimentasi, banjir serta pencemaran lingkungan lainnya dapat diantasipasi dengan setiap perusahaan tambang memiliki rencana reklamasi. Dalam hal ini reklamasi berarti mengembalikan daerah galian menjadi seperti semula saat sebelum dilakukannya aktivitas penambangan. Jika sebelumnya hutan maka reklamasi dilakukan dengan upaya reboisasi, penanaman bibit pohon. Tetapi terkadang perusahaan penambangan tersebut terkesan lepas tangan setelah melakukan penanaman bibit tersebut dan tidak bertanggungjawab setelahnya. Maka diperlukan pengawasan yang berlanjut dari pemerintah agar area pertambangan bisa asri seperti sebelumnya saat belum dilakukan aktivitas penambangan. Berikut ini daftar perusahaan yang mempunyai maupun yang telah melakukan reklamasi daerah pertambangannya di Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 259

260 Tabel E.4 Perusahaan Tambang Yang Melakukan Reklamasi Selama Kurun Waktu Tahun Di Provinsi Kalimantan Utara No Kabupaten Nama Perusahaan Tambang Jenis Komoditi 1 Bulungan PT Pesona Khatulistiwa Nusantara Batubara PT Lamindo Inter Multikon Batubara PT Mitra Niaga Mulia Batubara PT Garda Tujuh Buana Batubara 2 Nunukan PT Mandiri Inti Perkasa Batubara PT Pipit Mutiara Jaya Sebakis Batubara PT Dewa Ruci Mandiri Batubara PT Sago Prima Pratama Emas 3 Malinau PT Kayan Putra Amal Utama Coal Batubara PT Mitrabara Adiperdana TBK Batubara PT Baradinamika Mudasukses Batubara 4 Tana Tidung PT Pipit Mutiara Jaya Bebatu Batubara 5 Tarakan PT Pipit Mutiara Jaya Site Seberuang Batuan Sumber : Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Utara Untuk memiliki rencana ataupun melakukan reklamasi, perusahaan tambang harus memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Jadi pertambangan-pertambangan tanpa ijin yang tidak memiliki IUP tidak bisa melakukan reklamasi sehingga pengaruh pertambangan terhadap kerusakan lingkungan, kemungkinan berasal dari pertambangan tanpa ijin ini. 2. Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara Sektor pertambangan merupakan salah satu dari tiga sektor dengan persetase kontribusi terbesar terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara dan merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara. Melihat kecenderungan selama periode tahun , sektor pertambangan dan penggalian menunjukkan peningkatan setiap tahunnya dalam kontribusinya terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara. Dan sub sektor penyumbang terbesar dari sektor pertambangan dan penggalian adalah pertambangan batubara (66,56% dari kontribusinya terhadap PDRB sektor pertambangan dan penggalian). Kontribusi PDRB terbesar sektor pertambangan dan penggalian disumbangkan dari sub sektor pertambangan batubara dan lignit yang setiap tahunnya mengalami peningkatan (66,56% tahun 2014). Produksi batubara yang terus meningkat dan didukung nilai penjualan batubara yang meningkat setiap tahunnya. Di posisi kedua ada sub sektor pertambangan dan penggalian lainnya dan yang terakhir pertambangan minyak bumi dan gas bumi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 260

261 Tabel E.5 Kontribusi Sub Sektor terhadap PDRB Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun Provinsi Kalimantan Utara No Lapangan Usaha Kontribusi Sub Sektor (%) Pertambangan dan Penggalian 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 1 Pertambangan Minyak dan Gas Bumi 19,63 19,90 19,64 16,91 15,72 2 Pertambangan Batubara dan Lignit 59,58 60,61 61,68 65,58 66,56 3 Pertambangan Bijih Logam dan Pertambangan dan penggalian lannya 20,79 19,49 18,69 17,52 17,72 Pertambangan dan Penggalian terhadap PDRB Provinsi 30,33 30,25 30,50 31,61 31,99 Sumber: Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara 2016 Kontribusi dari sub sektor minyak bumi dan gas bumi mengalami kenaikan pada tahun 2011 walaupun tidak cukup signifikan yang kemudian terus mengalami penurunan sampai dengan tahun 2014 sehingga nilai kontribusinya hanya tinggal 15,72% pada tahun Penurunan persentase kontribusi juga terjadi pada sub sektor pertambangan bijih logam dan pertambangan dan penggalian lainnya yang menurun 3,07% pada selama periode tahun Tabel E.6 Kontribusi Kabupaten/Kota terhadap Nilai PDRB Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kontribusi Kabupaten/Kota terhadap PDRB Sektor Pertambangan dan Kabupaten/Kota Penggalian (%) Bulungan 23,57 24,29 24,74 23,22 21,46 Malinau 19,30 19,56 18,66 22,17 24,07 Nunukan 37,69 38,90 40,12 39,10 39,32 Tana Tidung 11,32 9,37 8,50 7,94 7,68 Tarakan 8,12 7,88 7,98 7,57 7,47 Provinsi Kalimantan Utara 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara 2016 Dari tabel di atas, terlihat bahwa kabupaten/kota yang menunjukkan perkembangan positif adalah Kabupaten Malinau. Walaupun mengalami penurunan di tahun 2012 kemudian di tahun berikutnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dari tahun 2010 hingga tahun 2014, kontribusi Kabupaten Malinau terhadap sektor Pertambangan dan Penggalian Provinsi Kalimantan utara naik sebanyak 4,77%. Melihat kabupaten/kota lain mengalami penurunan atau bergerak statis setiap tahunnya seperti Kabupaten Tana Tidung yang hampir setiap tahunnya mengalami penurunan. Kontribusi kabupaten/kota terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Utara di sektor pertambangan dan penggalian terbesar disumbangkan dari Kabupaten Nunukan (39,32% tahun 2014) setiap tahunnya selama periode tahun melihat jumlah besar dalam produksi batubara dan migas yang dihasilkan walaupun setiap tahunnya mengalami fluktuasi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 261

262 F. Perdagangan 1. Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB Perubahan klasifikasi PDRB menurut lapangan usaha tahun dasar 2000 menjadi tahun dasar 2010 turut mengubah klasifikasi sub sektor perdagangan. Semula, sub sektor perdagangan termasuk di dalam kategori sektor perdagangan, hotel dan restoran. Namun kini berubah menjadi sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor. Sektor ini meliputi kegiatan ekonomi di bidang perdagangan skala besar maupun eceran atau perdagangan skala masyarakat umum untuk konsumsi perorangan dan rumah tangga. Jenis barang dan jasa yang termasuk dalam kategori ini antara lain semua yang berhubungan dengan mobil dan motor, termasuk lori dan truk, hingga suku cadang dan aksesoris mobil dan motor. Tabel F.1 Kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran, Reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian PDRB Sektor , , , , , ,90 Perdagangan (Juta Rp) Kontribusi (%) 10,70 10,81 10,70 10,42 10,08 9,92 Pertumbuhan PDRB sektor 8,6 6,66 5,35 4,60 1,57 Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan Sektor perdagangan dalam PDRB merupakan sektor sekunder kedua paling besar yang berkontribusi untuk PDRB Provinsi Kalimantan Utara setelah sektor konstruksi. Kontribusinya terhadap PDRB Provinsi relatif stagnan selama lima tahun terakhir. Kontribusi sektor perdagangan mulai menurun perlahan sejak tahun 2012 yaitu sebesar 10,7%. Angka ini menurun 1% dari tahun sebelumnya dan kembali menurun menjadi 10,42% di tahun 2013 dan kembali menurun hingga mencapai angka 9,92% pada tahun Sedangkan pada tingkat kabupaten/kota, Kota Tarakan berkontribusi paling banyak terhadap Provinsi Kalimantan Utara, yaitu sebesar 66,3% pada tahun Kabupaten Nunukan menyusul dengan 15% dan Kabupaten Bulungan 13,7% pada tahun yang sama. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 262

263 Tabel F.2 Kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran, Reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor Tahun berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Bulungan 1 13,5 14,1 14,0 13,8 13,7 Malinau 2 4,5 4,5 4,5 4,5 4,6 Nunukan 3 13,2 13,4 14,3 14,8 15,0 Tana Tidung 3 2,8 2,8 2,7 2,7 2,7 Tarakan 5 65,9 64,7 66,5 66,8 66,3 Kalimantan Utara Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2014 dan ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2014 dan ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2014 dan ) Publikasi PDRB Kabupaten Tana Tidung ) Publikasi PDRB Kota Tarakan ) Kalimantan Utara Dalam Angka 2015 dan Hasil olahan Ekspor Bersih Perdagangan Nilai ekspor bersih perdagangan adalah selisih dari nilai ekspor dan nilai impor. Dari tahun , nilai ekspor bersih perdagangan di Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan tren fluktuatif, meski kenaikan ataupun penurunannya tidak signifikan. Tabel di bawah menunjukkan bahwa hingga saat ini nilai ekspor masih lebih besar dibandingkan nilai impor. Nilai ekspor bersih meningkat pesat pada tahun 2014, yaitu mencapai US$1.057,8 juta atau hampir 100% dari tahun sebelumnya. Angka ini bertahan dan cenderung naik pada tahun 2015 sebesar US$1.068,3 juta. Tabel F.3 Nilai Ekspor Bersih Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Nilai Ekspor $774,006,000 $871,207,500 $691,551,000 $753,357,000 $1,103,510,046 $1,103,510,000 Nilai Impor $48,704,000 $71,139,000 $75,222,000 $103,299,000 $45,610,640 $35,150,000 Nilai ekspor bersih $725,302,000 $800,068,500 $616,329,000 $650,058,000 $1,057,899,406 $1,068,360,000 Sumber: Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara dan hasil olahan 2016 Apabila melihat ekspor bersih di tingkat Kabupaten/Kota, Kota Tarakan merupakan Kota dengan ekspor bersih paling tinggi. Hal ini disebabkan oleh lebh berkemangnya kegiatan perdagangan dan besarnya kemampuan daerah untuk memfasilitasi atau menyediakan pelayanan untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor. Antara lain dengan adanya Pelabuhan Tengkayu dan Bandara Juwata. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 263

264 Tabel F.4 Nilai Ekspor Bersih Tahun Berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Kabupaten/Kota Nilai Bulungan $43,956, $88,989, $126,376, $115,753, Ekspor Malinau Nunukan $68,192, $10,119, $110,918, $183,840, Tana Tidung Nilai Impor Tarakan $661,858, $772,099, $454,257, $453,764, Bulungan $867, $137, $956, $563, Malinau Nunukan $2,956, $2,621, $4,240, $8,995, Tana Tidung Tarakan $44,881, $68,381, $70,026, $93,741, Nilai Bulungan $43,089, $43,819, $43,000, $43,393, Ekspor Bersih Malinau Nunukan $65,236, $65,571, $63,952, $59,197, Tana Tidung Tarakan $408,883, $385,383, $383,738, $360,023, Sumber: Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara dan hasil olahan Cakupan Bina Kelompok Pedagang/Usaha Informal Dalam rangka meningkatkan produktivitas pengusaha kecil menengah, Pemerintah daerah sering kali menyelenggarakan program pembinaan dan pemberian bantuan modal usaha kepada pedagang/pelaku usaha informal. Program dan kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan dan bantuan modal usaha dimaksudkan untuk membantu keberlanjutan usahan ekonomi masyarakat serta ikut andil baik dalam meningkatkan mutu kualitas produk, kualitas pekerja, maupun diversitas barang yang diproduksi. Hingga saat ini data jumlah kelompok pedagang/usaha informal yang telah dibina oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara masih belum tersedia. G. Perindustrian 1. Kontribusi Sektor Industri terhadap PDRB Sektor industri pengolahan meliputi kegiatan ekonomi di bidang perubahan secara kimia atau fisik dari bahan, unsur atau komponen menjadi produk baru. Bahan baku industri pengolahan dapat berasal dari pertanian, kehutanana perikanan, pertambangan, dan penggalian. Kontribusi sektor industri pengolahan Provinsi Kalimantan Utara hanya meliputi industri pengolahan non migas. Meskipun Provinsi Kalimantan Utara merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki bonus sumberdaya alam termasuk minyak dan gas bumi, sampai saat ini belum berkembang industri pengolahan batubara maupun pengilangan migas. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 264

265 Tabel G.1 Kontribusi PDRB Kategori Industri Pengolahan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian PDRB Kategori Industri Pengolahan (juta Rp) , , , , , ,40 Kontribusi terhadap PDRB (%) 10,23 9,95 9,73 9,58 9,32 9,55 Pertumbuhan (%) 5,39 5,40 6,48 5,16 5,70 Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan Apabila dilihat dari segi perkembangan kontribusinya terhadap PDRB dari tahun ke tahun, persentase kontribusi sektor ini memiliki kecenderungan menurun. Pada tahun 2010, kontribusi sektor ini masih mendominasi hingga 10,23%. Namun pada tahun 2014 kontribusi sektor ini terhadap PDRB total hanya 9,32% atau menurun 3% dari tahun sebelumnya.kontribusi sektor industri kebali naik hingga 5,7% di tahun 2015, dengan pertumbuhan rata-rata sektor industri pengolahan sebesar 5,62% selama periode Tabel G.2 Kontribusi PDRB Kategori Industri Pengolahan Tahun berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi Bulungan 1 25,9 26,6 26,2 26,0 26,2 Malinau 2 4,8 4,4 4,1 3,7 3,6 Nunukan 3 24,6 24,3 24,7 24,1 24,0 Tana Tidung 4 1,7 1,7 1,6 1,6 1,6 Tarakan 5 42,8 44,1 46,5 47,7 48,3 Kalimantan Utara Sumber: 1) Publikasi PDRB Kabupaten Bulungan Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Malinau Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Nunukan Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Tana Tidung Tahun ) Publikasi PDRB Kabupaten Tarakan Tahun ) Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara dan hasil olahan 2016 Untuk peran tiap-tiap kabupaten/kota terhadap PDRB provinsi, sektor industri pengolahan yang memiliki pengaruh terbesar adalah Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan. Sedangkan besar kontribusi kabupaten/kota terhadap provinsi adalah dari Kota Tarakan. Kota Tarakan menyumbang 48,3% terhadap sektor industri pengolahan Provinsi Kalimantan Utara pada tahun Angka ini kemudian disusul oleh Kabupaten Nunukan sebesar 24% dan Kabupaten Bulungan 22,5%. Subsektor industri pengolahan yang berkembang masih di dalam kategori industri non migas dan didominasi oleh industri pengolahan makanan minuman terutama industri pengolahan kelapa sawit. 2. Jumlah Industri Kecil Menengah Sama halnya dengan pedagang kecil menengah, industri kecil menengah juga merupakan indikator yang dapat menggambarkan karakter perekonomian suatu wilayah. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 265

266 Jumlah industri kecil menengah dapat menjadi tolok ukur kekuatan ekonomi rakyat yang mandiri. Industri skala kecil menengah sangat berkembang di Kabupaten Bulungan. Pada tahun 2014 jumlah industri kecil menengah di Kabupaten ini mencapai 835 unit. Angka ini kemudian disusul oleh Kota Tarakan sebesar 533 unit. Perkembangan industri kecil menengah yang tengah berlangsung di Provinsi Kalimantan Utara menandakan sudah adanya usaha mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan. Tabel G.3 Jumlah Industri Kecil Menengah (IKM) Tahun 2014 Berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Provinsi 2014 Bulungan 835 Malinau 423 Nunukan 466 Tana Tidung 82 Tarakan 533 Kalimantan Utara Sumber: Disperindagkop dan UMKM Provinsi Kalimantan Utara dan hasil olahan Cakupan Bina Kelompok Pengrajin Tidak berbeda dengan bina kelompok pedagang, cakupan bina kelompok pengrajin juga merupakan bentuk program pemerintah daerah dalam mengembangkan kelomok industri pengrajin. Bentuk program dan pelatihan yang diberikanmeliputi bantuan modal, bantuan alat, dan pelatihan managemen pengembangan industri. Hingga saat ini jumlah kelompok pengrajin yang telah dibina oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara masih belum tersedia. H. Transmigrasi 1. Transmigrasi Umum Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari darah padat ke daerah yang kurang penduduk. Transmigrasi merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk memeratakan persebaran penduduk terutama di wilayah Indonesia yang luas. Pemerintah membekali terlebih dahulu para calon transmigran terkait cara mengelola lahan dan mengembangkan wilayah transmigrasi melalui pelatihan/kursus. Kegiatan yang memang ditujukan untuk program transmigrasi adalah kegiatan di sektor pertanian dan dengan sasaran pokok program yaitu pengembangan wilayah dan pembangunan permukiman. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 266

267 Tabel H.1 Penempatan Transmigrasi Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Daerah Asal Bulungan Nunukan KTT Malinau KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa Jumlah Banten DIY DKI Jabar Jateng Jatim Lampung NTB NTT Setempat Jumlah Sumber: Dinas Sosial, tenaga Kerja, dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Utara 2016 Hingga saat ini Provinsi Kalimantan Utara belum memiliki program transmigrasi swakarsa, atau transmigrasi atas kemauan sendiri. Program transmigrasi yang hingga saat ini berlangsung adalah transmigrasi umum. Transmigran mayoritas didatangkan dari daerah-daerah di Pulau Jawa, diantaranya Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian berasal dari Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan lokal/setempat. Tabel H.2 Rencana Penempatan Transmigrasi Tahun 2016 Provinsi Kalimantan Utara Kawasan Jumlah KK DI Yogyakarta Jawa Timur Jawa Tengah Jumlah Bulungan Tanjung Buka SP.6B Sepunggur Tanjung Buka SP Tana Tidung Sambungan 35 Kujau 65 Sumber: Dinas Sosial, tenaga Kerja, dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Utara 2016 Sedangkan untuk tahun 2016, program transmigrasi ke Kalimantan Utara akan berlokasi di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Bulungan dan kabupaten Tana Tidung. Daerah asal transmigran yang bekerjasama dengan pemerintah Provinsi adalah DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. 2. Kontribusi Transmigrasi terhadap PDRB Hingga saat ini kontribusi transmigrasi terhadap perekonomian daerah masih belum terspesifikasi menjadi salah satu kategori lapangan usaha di dalam PDRB. Nilai produksi dari kegiatan yang dilakukan oleh transmigran termasuk di dalam sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 267

268 Fokus Layanan Urusan Penunjang A. Perencanaan Pembangunan 1. Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan PERDA Rencana pembangunan merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembangunan secara periodik. Pembangunan jangka panjang merupakan acuan pelaksanaan pembangunan yang disusun dalam jangka waktu 20 tahun. Adanya dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) sangat penting, agar pembangunan dapat mencapai visi dan misi daerah secara tepat dan dapat tergambar dengan jelas. Tabel A.1. Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJPD yang Telah Ditetapkan dengan Perda Kabupaten/Kota Bulungan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Malinau Ada Ada Ada Ada Ada Ada Nunukan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tana Tidung Tidak Ada Ada Ada Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan Catatan: Provinsi Kalimantan Utara menjadi Daerah Otonom Baru disahkan pada Tahun 2012 Ketersediaan dokumen perencanaan RPJPD hendaknya tidak hanya dipahami secara administratif, sebagai sebuah kewajiban untuk memenuhi ketentuan normatif. Tersedianya dokumen perencanaan hendaknya dapat memenuhi fungsi substantifnya. Sebagai wujud untk memaknai fungsi tersebut maka perhatian terhadap visi dan misi yang tertuang dalam RPJPD menjadi sangat penting. 2. Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD yang telah ditetapkan dengan PERDA/PERKADA Dokumen perencanaan RPJMD merupakan dokumen turunan dari RPJPD yang lebih subtansial. Setiap RPJMD ditetapkan oleh Peraturan daerah/peraturan Kepala Daerah. Adanya dokumen ini menjelasakan bahwa terdapat dokumen perencanaan yang telah dilegalkan melalui Peraturan Daerah/Peraturan Kepala Daerah yang kemudian memiliki konsekuensi yang jelas dan terarah dalam menentukan rangkaian pembangunan pada lima tahun ke depan. RPJMD merupakan dokumen pembangunan yang menjabarkan programprogram selama 5 tahun dan berpedoman terhadap RPJPD. Ketersediaan RPJMD merupakan bentuk langkah-langkah pemerintah daerah di tiap 5 tahun untuk mencapai visi misi kepala daerah. Sebagai catatan, Provinsi Kalimantan Utara merupakan Daerah Otonomi Baru yang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 268

269 disyahkan Tahun 2012, hingga saat ini saat ini belum memiliki dokumen RPJMD. Semua kabupaten/kota sudah memiliki dokumen RPJMD. Kabupaten Tana Tidung baru memiliki RPJMD di tahun 2011 karena di tahun 2008 baru mengalami pemekaran dari Kabupaten Bulungan. Tabel A.2. Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD yang Telah Ditetapkan dengan Perda Kabupaten/Kota Bulungan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Malinau Ada Ada Ada Ada Ada Ada Nunukan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tana Tidung Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan ) LPPD Provinsi Kalimantan Utara 2015 Catatan: Provinsi Kalimantan Utara menjadi Daerah Otonom Baru disyahkan pada Tahun 2012 RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan daerah/peraturan Kepala Daerah selanjutnya digunakan sebagai acuan pembangunan dalam jangka menengah. Di dalam pelaksanaan pembangunan secara terus-menerus dan terarah ini maka dokumen yang menjadi dasar selanjutnya dalam penyusunan RKPD. Jaminan keberlanjutan program akan sangat terdukung oleh adanya dokumen RPJMD. Konsistensi arah pembangunan menjadi lebih terjaga secara berkelanjutan, sehingga pencapaian visi dan misi lebih optimal. 3. Tersedianya Dokumen Perencanaan RKPD yang telah ditetapkan dengan PERKADA Operasionalisasi rencana pembangunan menjadi sebuah kebutuuhan eksplisit. Dengan rencana yang lebih operasional maka menjadi mudah untuk direalisasikan. Pelaksanaan pembangunan selama jangka waktu tertentu perlu diturunkan ke dalam dokumen yang lebih teknis dan operasional. Dengan demikian pembangunan dapat berjalan secara eksplisit. RKPD disusun setiap tahun dengan menerjemahkan RPJMD yang telah ditetapkan oleh Perda. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 269

270 Tabel A.3 Tersedianya Dokumen Perencanaan RKPD yang Telah Ditetapkan dengan PERKADA Kabupaten/Kota Bulungan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Malinau Ada Ada Ada Ada Ada Ada Nunukan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tana Tidung Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tarakan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kalimantan Utara Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Ada Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan ) LPPD Provinsi Kalimantan Utara 2015 Catatan: Provinsi Kalimantan Utara menjadi Daerah Otonom Baru disyahkan pada Tahun 2012 Ketersediaan RKPD memberikan acuan dalam pelaksanaan pembangunan sehingga setiap SKPD dapat bergerak secara terpadu dan terarah menuju sasaran yang jelas dan memperjuangkan pencapaian visi misi dengan terkoordinasi satu sama lain. Dasar hukum berupa Perwal dalam penetapan RKPD memberikan kekuatan hukum. Dari data di atas pemenuhan dasar hukum berupa peraturan kepala daerah yang selalu mengiringi RKPD memberikan kepastian hukum dan keabsahan, sehingga menjadi dasar bertindak untuk merealisasikan program-program pembangunan mencapai target secara kuantitas dan kualitas, dan mengantarkan pencapaian outcome yang diharapkan. 4. Penjabaran Program RPJMD ke dalam RKPD Kesinambungan dokumen pembangunan mutlak diperlukan agar terdapat proses pencapaian visi suatu daerah apabila dokumen pembangunan tidak saling selaras maka pencapaian visi suatu daerah akan sulit tercapai. RKPD merupakan penjabaran detail (dalam bentuk program) visi dan misi yang akan dicapai oleh suatu daerah. Tabel di bawah ini menunjukkan persentase penjabaran program RPJMD ke dalam RKPD dirinci kabupaten/kota. RKPD merupakan sebuah perencanaan tahunan yang berinduk kepada RPJMD. Untuk itulah RKPD merupakan bentuk turunan yang menerjemahkan RPJMD. Di samping itu keberadaan RKPD adalah bentuk terbaru dari sebuah rencana untuk menampung perkembangan capaian setahun sebelumnya dan perkembangan tuntutan baru yang dihadapi pada tahun yang bersangkutan. Data terkait penjabaran program RPJMD ke dalam RKPD didapatkan dengan cara menghitung jumlah program RKPD tahun berkenaan dibagi dengan jumlah program RPJMD yang harus dilaksanakan pada tahun berkenaan dikalikan dengan bilangan 100. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 270

271 Tabel A.4. Penjabaran Program RPJMD ke dalam RKPD Kabupaten/Kota Bulungan 194,24 69,23 69,23 69,96 88,12 89,32 Malinau Nunukan 86 96,61 97,21 97,81 98,41 99,01 Tana Tidung 89,43 89,83 89,67 98,12 98,14 Tarakan ,82 92,56 98,32 99,32 99,33 Kalimantan Utara n/a n/a Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan ) LPPD Provinsi Kalimantan Utara 2015 Tabel di atas memperlihatkan bahwa Kabupaten Tana Tidung sebagai DOB menunjukkan persentase yang terus meningkat dari 89,43% tahun 2011 menjadi 98,14% tahun 2015, Kota Tarakan menunjukkan perkembangan kinerja penjabaran program yang relatif fluktuatif, di tahun 2010 persentasenya mencapai 100% dan menurun kembali di tahun 2011 dan Sementara penjabaran program di Kabupaten Malinau selama tahun 2011 dan 2012 mencapai 100%. Penurunan persentase dialami oleh Kabupaten Bulungan, di tahun 2010 mencapai di atas 100% akan tetapi selama tahun menurun di kisaran angka 69%. Hal ini harus menjadi perhatian agar RKPD dapat sejalan dengan tahapan RPJMD sehingga visi misi daerah dapat tercapai. Sedangkan untuk data Provinsi Kalimantan Utara belum dapat terlihat. Diperlukan kecermatan dalam menerjemahkan RPJMD ke dalam RKPD. Dengan memperhatikan RPJMD dengan program yang sifatnya lebih umum diturunkan kepada program-program yang lebih implementatif. Untuk itu semestinya jumlah maupun bentuk program di RKPD lebih bersifat detail, kecil satuannya, dan mencerminkan sequence antar RKPD. Oleh karena itu dengan hanya melihat jumlah program yang ada di dalam RKPD dibandingkan dengan jumlah program di RPJMD belum dapat secara substansial dapat dimaknai. Jika dilihat dari jumlah program, karena bentuk program di RKPD lebih operasional, maka tentunya jumlahnya bisa lebih banyak, mengingat program di RPJMD merupakan prediksi dalam jangka waktu yang lebih panjang, sedangkan merencanakan RKPD untuk tahun depan sudah lebih eksplisit dengan didukung oleh data yang nyata. Jumlah program yang tertuang dalam RKPD dengan RPJMD belum memiliki perbedaan yang signifikan. Jarak perbedaan jumlah program dalam RPJMD sangat dekat dengan jumlah program dalam RKPD. Melihat fakta dan data tersebut dapat disimpulkan beberapa asumsi yaitu; pertama kecakapan dalam mendetailkan program dari RPJMD ke dalam RKPD perlu ditingkatkkan; kedua kemungkinan rumusan program dalam RPJMD sudah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 271

272 sangat operasional sehingga tidak dapat diturunkan ke dalam nama program yang lebih spesifik, sehingga nama program di RPJMD sama dengan nama program di RKPD. 5. Sistem Informasi Pelayanan Perizinan dan Administrasi Pemerintah Sistem informasi pelayanan perizinan merupakan pelayanan strategis dalam mendukung tumbuh-kembang investasi daerah. Pertumbuhan perekonomian diharapkan dapat semakin dinamis dengan difasilitas sistem informasi pelayanan perizinan yang progresif. Pelayanan perizinan satu pintu menjadi pintu pembuka tumbuhnya investasi sehingga banyak tersedia kemudahan usaha dan sekaligus peluang kerja, meningkatnya income per kapita dan pendapatan asli daerah menjadikan sistem informasi pelayanan perizinan sangat penting. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan telah memiliki sistem informasi pelayanan perijinan dan administrasi pemerintah pada tahun 2012 dan Hal ini menandakan sudah adanya perhatian pemerintah pada dua kabupaten/kota tersebut dalam pengelolaan sistem informasi pelayanan perijinan dan administrasi pemerintah. Sedangkan untuk tiga kabupaten yang lain belum dapat digambarkan karena tidak adanya informasi yang tersedia. 6. Jumlah Perda yang mendukung Iklim Usaha Untuk menumbuhkan iklim investasi perlu goodwill dan political will pemerintah yang secara umum diwujudkan ke dalam perda. Dengan adanya perda yang mengatur tentang investasi, maka ada dasar hukum yang kuat untuk mendorong masyaraat melakukan investasi. Peraturan Daerah (Perda) merupakan sebuah instrumen kebijakan daerah yang sifatnya formal, melalui Perda inilah dapat diindikasikan ada atau tidaknya insentif maupun disinsentif sebuah kebijakan di daerah terhadap aktivitas perekonomian. Data ini belum tersedia sehingga tidak dapat disajikan. 7. Persentase Desa Berstatus Swasembada terhadap Total Desa Indikator persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa tidak dapat diamati karena hasil perhitungan dari data yang tersedia kurang relevan digunakan sebagai sumber informasi. Informasi yang digunakan yakni jumlah desa/kelurahan yang memiliki status berswasembada. Kabupaten Bulungan memiliki jumlah desa/kelurahan berswasembada yang cenderung stabil terlihat pada tahun 2010, 2011, dan Kabupaten Malinau memiliki jumlah desa berstatus swasembada paling banyak dan kecenderungannya berfluktuasi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 272

273 Kabupaten Nunukan memiliki jumlah desa berstatus swasembada dengan perkembangan yang cenderung stabil terlihat pada tahun 2011 dan Di Kabupaten Tana Tidung jumlah desa berswasembada paling sedikit dan dengan jumlah yang tetap yakni tiga pada tahun 2010 sampai Di Kota Tarakan angka yang terlihat menunjukkan perkembangan yang tetap pada tahun 2011 dan Dari keseluruhan Provinsi Kalimantan Utara terlihat rata-rata dari lima kabupaten/kota yang memiliki desa/kelurahan dengan status swasembada cenderung menurun terlihat pada tahun 2011 dibandingkan dengan Tabel A.5 Jumlah Desa/Kelurahan Berswasembada Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a n/a Malinau n/a 6 6 Nunukan n/a n/a Tana Tidung n/a 0 0 Tarakan n/a 20 n/a n/a Kalimantan Utara n/a 119 n/a n/a Sumber: 1) Kabupaten Bulungan dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau dalam Angka Tahun 2010, ) Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung dalam Angka Tahun 2011, ) Kalimantan Timur dalam Angka Tahun 2012, ) Database Pembangunan Kabupaten Malinau Tahun 2012 B. Ketenteraman, Ketertiban, dan Penanggulangan Bencana 1. Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran Kabupaten Kebakaran merupakan bencana yang sering melanda di berbagai wilayah. Bencana ini dapat kapan saja terjadi dan dimana saja. Provinsi Kalimantan Utara merupakan wilayah yang memiliki wilayah hutan yang luas dan banyak areal kering yang berpotensi muncul titik api. Selain itu juga terdapat berbagai titik area perkampungan berkelompok yang cukup padat, jarak antar bangunan yang sangat dekat yang terbuat dari kayu, serta kondisi instalasi listrik yang kurang terpelihara dan berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana kebakaran. Untuk itulah pelayanan bencana kebakaran di Provinsi Kalimantan Utara sangat diperlukan. Selain melalui usaha prefentif juga sebagai kemudahaan akses dalam melakukan pelayanan kebakaran. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 273

274 Tabel B.1. Jumlah Mobil Pemadam Kebakaran Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) BPBD Kabupaten Malinau Tahun ) BPBD Kota Tarakan Tahun ) BPBD Kabupaten Tana Tidung ) BPBD Provinsi Kalimantan Utara 2016 Indikator cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten belum mampu dapat diinformasikan namun melihat peluang dalam mendukung upaya pencegahan bahaya kebakaran dapat terlihat melalui jumlah armada pemadam kebakaran. Kemampuan pelayanan bencana kebakaran di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara yang dicerminkan dari jumlah mobil pemadam kebakaran pada lintas kabupaten/kota. Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan memiliki jumlah mobil pemadam kebakaran yang sama dari tahun ke tahun. Kota Tarakan memiliki jumlah terbanyak yakni enam dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun Kabupaten Malinau memiliki jumlah lima pada tahun 2010 dan 2011 namun menjadi berkurang pada tahun 2012 sampai 2015 berjumlah empat. Kabupaten Tana Tidung memiliki jumlah terendah yakni hanya ada satu pada tahun 2010 sampai Sedangkan informasi Kabupaten Nunukan dan Bulungan belum dapat ditunjukkan karena keterbatasan informasi yang tersedia. 2. Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) Daerah Layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Besarnya potensi bencana kebakaran di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Utara perlu diimbangi dengan daya tanggap pemerintah terhadap terjadinya bahaya kebakaran. Untuk melihat daya tanggap pemerintah ini maka perlu dihitung response time rate (RTR) dalam pelayanan manajemen kebakaran. Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa persentase waktu tanggap daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran mencapai 100 persen telah ada di Kabupaten Malinau sedangkan untuk Kabupaten yang lain belum tersedia informasi. Untu Kota Tarakan sendiri pada tahun 2013 terlihat masih kurang dari 50% ini artinya waktu tanggap masih lebih dari 30 menit. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh pemerintah terkait potensi kebakaran sangat besar namun belum didukung oleh tindakan preventif yang mendukung manajemen wilayah kebakaran. Data yang ada menjelaskan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 274

275 belum terpolakannya informasi secara jelas karena diindikasikan memang belum ada kegiatan khusus dalam rangka pendokumentasian informasi lingkup waktu tanggap. C. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri 1. Kegiatan Pembinaan terhadap LSM, Ormas, dan OKP Indikator ini menjelaskan adanya sejumlah aktifitas dalam usaha pembinaaan organisasi sosial masyarakat. Berdasarkan informasi yang tersedia Kabupaten Nunukan terdapat peningkatan aktifitas pembinaan di tahun 2013 yakni sejumlah 32. Angka ini merupakan jumlah tertinggi berdasarkan informasi jumlah kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas, dan OKP di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Utara. Secara umum pada setiap kabupaten/kota sudah ada kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas, dan OKP namun jumlahnya masih tergolong minim. Tabel C.1. Kegiatan Pembinaan Terhadap LSM, Ormas dan OKP Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan n/a Kalimantan Utara n/a n/a n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2011, ) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2011,2012 3) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun 2010,2012, ) LPPD Kabupaten Tana Tidung Tahun 2011, ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2010,2011, 2012, ) Kantor kesbangpol dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan Tahun 2014 Pembinaan sebaiknya mencakup substansi pengorganisasian, manajemen, perencanaan program dan model evaluasi. Pembinaan harus mampu menjawab kebutuhan pematangan organisasi dalam memfungsikan diri sebagai wahana kreatif bagi masyarakat. Bentuk forum komunikasi (Forkom) perlu ditambahkan agar antar organisasi yang tumbuh dalam masyarakat dapat terhubung satu dengan lainnya. Pemanfaatan organisasi yang kuat untuk memberikan saling asah, asih dan asuh kepada organisasi yang baru tumbuh akan sangat membantu pemerintah. Dengan memanfaatkan organisasi yang sudah berkembang untuk memberikan kontribusi kepada organisasi yang lebih lemah, akan menopang kekuatan pemerintah mengingat keterbatasan sumberdaya. Namun visi dan misi tetap tercapai dengan menyambungkan antar organisasi ini. 2. Kegiatan Pembinaan Politik Daerah Kegiatan pembinaan partai politik daerah ini merupakan kegiatan pembinaan politik yang dilakukan oleh Kantor Kesatuan Bangsa. Kegiatan pembinaan politik daerah digunakan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 275

276 sebagai indikator melihat sejumlah aktifitas dalam mengakomodasi perkembangan politik daerah. Informasi yang ada hanya ada di Kabupaten Nunukan, Malinau dan Kota Tarakan. Kabupaten Malinau memiliki jumlah kegiatan yang fluktuasi namun cenderung stabil dari tahun ke tahunnya. Kota Tarakan memiliki jumlah kegiatan yang cenderung lebih fluktuatif dari pada Kabupaten Malinau. Kabupaten Nunukan belum dapat terlihat karena hanya ada data tahun Informasi tiga kabupaten lainnya belum dapat digambarkan dengan karena minimnya informasi yang tersedia. Banyaknya pembinaan yang diselenggarakan ini berkaitan erat dengan jumlah parpol yang ada. Banyak atau sedikitnya parpol biasanya dipengaruhi oleh siklus pemilihan umum, jumlah parpol bisa bertambah maupun berkurang ketika akan mendekati pemilihan umum. Antara kegiatan kepartaian dengan kegiatan pemerintah seringkali tidak berjalan secara linear. Hal ini dapat diatasi dengan menserasikan gerak langkah antara eksekutif dengan legislatif. Partai politik merupakan home base setiap anggota DPRD. Komunikasi dengan partai politik tentunya akan dapat berjalan lancar jika komunikasi dengan DPRD berjalan lancar. Dengan demikian pembinaan partai politik bentuknya bukan sekedar memberikan dana bantuan, akan tetapi melakukan komunikasi yang intensif. Kesadaran partai politik hidup dalam wilayah Provinsi Kalimantan Utara yang harus ikut bertanggungjawab dalam menjaga ketertiban dan ketentraman warga dan sekitarnya perlu ditekankan. Kegiatan politik dan geliat demokrasi yang sering muncul tidak menyimpang dari tatakrama dan sopan santun sebagai penduduk Provinsi Kalimantan Utara. Pembinaan terhadap sikap santun berpolitik perlu dilakukan. Ke depan yang perlu diefektifkan dalam pembinaan parpol adalah upaya untuk menumbuhkan kesadaran berpolitik dan beraktivitas politik yang damai dan menjaga ketertiban lingkungan. D. Layanan Masyarakat 1. Cakupan Sarana Prasarana Perkantoran Pemerintahan Desa/Kelurahan yang Baik Indikator ini menggambarkan kualitas baik atau buruknya kantor kelurahan di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa hanya ada 68% kantor desa/kelurahan di Provinsi Kalimantan Utara. Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan memiliki kondisi sarana prasarana perkantoran kelurahan 100 untuk kategori baik dan berada di dalam wilayah desa. Kondisi ini berbeda jika di Kabupaten Nunukan terdapat 11 kantor pemerintahan desa berada di luar wilayah desa. Sedangkan Kabupaten Malinau ada 3 desa yang tidak memiliki kantor pemerintahan dan Kabupaten Tana Tidung 6 desa terlihat dari data potensi desa tahun 2014 dan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 276

277 Tabel D.1. Cakupan Sarana Prasarana Perkantoran Pemerintahan Kelurahan yang Baik Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan n/a Malinau Nunukan n/a n/a Tana Tidung n/a n/a Tarakan n/a Kalimantan Utara n/a n/a Sumber: 1) Data Statistik Potensi Desa Kalimantan Timur Tahun 2012, ) Data Statistik Potensi Desa Kalimantan Utara Tahun 2014, Sistem Informasi Manajemen Pemda Ketersediaan SIM Pemda sangat efektif dalam membantu dalam memudahkan sistem administrasi. Produktivitas kerja dan prestasi kerja setiap instansi yang telah memiliki SIM dapat meningkat seiring dengan kebutuhan aksesilibitas informasi yang semakin penting. Konsistensi dan semangat untuk selalu meningkatkan pelayanan secara on line juga merupakan langkah lanjut yang memerlukan dukungan kebijakan, etos kerja dan sumberdaya yang memadai. Sistem Teknologi Informasi diperlukan oleh semua SKPD sehingga membutuhkan dukungan kompetensi yang memadai untuk semua pegawai dan pejabat. Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya penguasaan teknologi informasi yang dimiliki oleh pejabat/pegawai. Jika setiap pejabat/pegawai memiliki komitmen untuk pengembangan skill dalam penggunaan TI sebagai pendukung kinerja, maka akan dapat lebih efektif. Sistem informasi tidak hanya dapat dibatasi dengan pemaknaan SIM. Namun sesungguhnya pada pemahaman yang lebih luas yaitu tentang sistem inovasi yang mencakup teknologi yang lebih luas seperti peran sistem informasi dalam mendukung kebijakan dan percepatan pembangunan dan pengkayaan informasi untuk kepentingan kemajuan pengelolaan pemerintahan. Perkembangan pengelolaan sistem informasi manajemen pemda. Data yang tersedia menunjukkan bahwa terdapat fluktuasi jumlah sistem informasi manajemen pemda pada setiap kabupaten/kota. Kabupaten Nunukan memiliki jumlah sistem informasi manajemen pemda paling banyak. Kota Tarakan memiliki jumlah masih relatif stabil namun menurun pada tahun 2011 ke Kabupaten Tana Tidung memiliki jumlah cenderung stabil. Secara umum Provinsi Kalimantan Utara memiliki kecenderungan naik terlihat pada tahun 2011 ke Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat Survei kepuasan masyarakat merupakan data autentik tentang respon masyarakat dan persepsi masyarakat terhadap setiap jenis pelayanan yang diselenggarakan oleh RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 277

278 pemerintah. Data primer dari survei IKM ini secara umum bersifat inspiratif dalam peningkatakn kualitas pelayanan. Pengolahan data hasil survei IKM perlu dilakukan secara lebih serius untuk mengkritisi kualitas pelayanan yang selama ini telah dilakukan. Identifikasi dapat dilakukan terhadap jenis survei IKM dalam bentuk layanan tertentu secara lengkap dapat direkap setiap tahun. Sisi peningkatan kualitas pelayanan perlu diprogramkan untuk setiap jenis pelayanan masyarakat yang dilakukan, sehingga ada peningkatan secara signifikan dari tahun ke tahun. Indeks Kepuasan Masyarakat tentunya mencakup semua jenis pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Pengukuran IKM dilakukan secara spesifik berdasarkan kekhusuan pelayanan yang diberikan, sasaran yang dilayani. Beberapa jenis pelayanan yang diberikan misalnya kesehatan, pendidikan, catatan sipil, perizinan dll. Untuk itu potret IKM hendaknya dapat mencakup seluruh jenis pelayanan tersebut, sehingga penilaian masyarakat terhadap pelayanan termonitor secara menyeluruh. Dewasa ini pengukuran kepuasan masyarakat yang secara rutin dilakukan hanya untuk jenis pelayanan perijinan, sedangkan jenis pelayanan laiinya belum cukup perhatian. Pada tahun 2012 terlihat bahwa telah ada survei IKLM khususnya di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan. Kota Tarakan sejak tahun 2010 tidak ada suevey IKLM namun pada tahun 2014 dan 2015 sudah ada. Kabupaten Tana Tidung pernah ada survei IKLM yakni pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2011, 2012, dan 2013 tidak dapat diketahui karena tidak ada informasi yang tersedia. 4. Lama Proses Perizinan Perizinan merupakan sebuah instrumen penting dalam menumbuhkembangkan iklim investasi yang kondusif. Secara umum, lama proses pelayanan perizinan merupakan salah satu hal yang dapat menghambat atau mendorong investasi. Lama proses perizinan merupakan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu perizinan (dalam hari). Jenis perizinan yang dianalisis dalam indikator ini diantaranya: 1. IMB : Izin Mendirikan Bangunan 2. SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan 3. TDP : Tanda Daftar Perusahaan 4. IUI : Izin Usaha Industri 5. TDI : Tanda Daftar Industri 6. HO : Izin Gangguan Indikator lama proses perizinan dilihat dari waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu perizinan dalam satuan hari. Karena Provinsi Kalimantan Utara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 278

279 merupakan provinsi yang baru saja dibentuk pada tahun 2013, maka belum ada standar pelayanan minimal dalam pelayanan perizinan skala provinsi. Oleh karena itu, kemudahan perizinan dilihat per kabupaten/kota yang ada di dalam provinsi tersebut. Pada tahun 2013, lama waktu proses pembuatan izin di Kota Tarakan rata-rata membutuhkan waktu 9 (sembilan) hari. Dari keseluruhan izin yang dikeluarkan, Izin Usaha Industri, Tanda Daftar Industri dan Izin Mendirikan Bangunan merupakan jenis perizinan yang membutuhkan waktu paling lama yaitu 12 (dua belas) hari kerja. Sedangkan untuk Kabupaten Bulungan, pada tahun 2012 rata-rata lama perizinan yang dikeluarkan adalah 4 (empat) hari dengan Izin Usaha yang membutuhkan waktu paling lama yaitu selama 9 (sembilan) hari. No Tabel D.2 Jenis-Jenis Perijinan dan Lama Proses Pembuatan Tahun 2013 di Kota Tarakan Uraian Lama Mengurus (Hari) Jumlah Persyaratan (dokumen) Biaya Resmi 1 Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) a. Izin usaha rekreasi dan hiburan umum 7 10 Gratis b. Izin rumah makan/restoran 5 7 Gratis c. Izin Usaha Hotel 7 8 Gratis 3 Izin Usaha Industri (IUI) Gratis 4 Tanda Daftar Industri (TDI) Gratis 5 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gratis 6 Izin Gangguan (HO) 10 8 Gratis 7 Pendaftaran PMDA 3 5 Gratis Sumber: 1) Standar Pelayanan Minimal, 2) Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kota Tarakan tahun 2014 Tabel D.3 Jenis-Jenis Perijinan dan Lama Proses Pembuatan Tahun 2012 Kabupaten Bulungan Jumlah Persyaratan No Uraian Lama Mengurus (Hari) Biaya Resmi (dokumen) 1 Izin Prinsip 3 3 Gratis 2 Izin Usaha 7 7 Gratis 3 Izin Prinsip Perluasan 3 9 Gratis 4 Izin Usaha Perluasan 3 5 Gratis Sumber: 1) Dokumen dan Peluang Investasi Kabupaten Bulungan, 2) Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Bulungan Tahun ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah A. Kemampuan Ekonomi Daerah 1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga per Kapita Indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita merupakan salah satu indikator yang digunakan sebagai tolok ukur kemampuan ekonomi suatu daerah yang terkait dengan daya saing. Pengeluaran konsumsi rumah tangga dapat digunakan untuk RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 279

280 mengetahui tingkat konsumsi atau daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan baik pangan maupun non pangan. Semakin besar rasio atau angka konsumsi rumah tangga, maka semakin atraktif kemampuan ekonomi daerah. Tabel A.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per kapita Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Total Pengeluaran RT (juta rupiah) Jumlah RT Rasio (1./2.) Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) Hasil olahan 2016 Tabel A.2 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per kapita Tahun 2014 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Total Pengeluaran RT Jumlah RT Rasio Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Sumber: Hasil olahan 2016 Dari tahun , diketahui bahwa pengeluaran per kapita di Provinsi Kalimantan Utara mengalami perkembangan positif. Dalam sebulan pada tahun 2013, pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita adalah sebesar 837 ribu rupiah. Angka ini meningkat menjadi 1 juta rupiah di tahun 2014 atau mengalami peningkatan 20% dari tahun sebelumnya. Di tingkat Kabupaten/Kota, pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Kabupaten Bulungan mencapai 600ribu rupiah per kapita per bulan. Sedangkan Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tana Tidung telah mencapai kurang lebih satu juta rupiah. Kenaikan angka pengeluaran rumah tangga per kapita dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kompleksitas kebutuhan dan inflasi. Jenis kebutuhan per kapita yang semakin kompleks dapat langsung mempengaruhi kenaikan pengeluaran. Di samping itu, inflasi tinggi yang merupakan dampak dari kenaikan harga barang-barang juga menjadi penyebab semakin tingginya angka pengeluaran rumah tangga per kapita. Untuk menjaga kesejahteraan masyarakat dan kestabilan ekonomi, laju inflase mestinya lebih rendah dibandingkan besar pengeluaran konsumsi. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 280

281 2. Produktivitas Total Daerah Produktivitas total daerah digunakan untuk melihat produktivitas tiap sektor dengan melihat produktivitas tenaga kerja di sektor tersebut. Besarnya produktivitas tiap sektor dapat menjadi salah satu indikator daya saing antar daerah. Produktivitas total daerah Provinsi Kalimantan Utara berkembang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat positif. Tabel A.3 Produktivitas Total Daerah Tahun Provinsi Kalimantan Utara Uraian Jumlah Tenaga Kerja PDRB (Juta Rp) , , , , ,70 Produktivitas total (Juta Rp) Sumber: 1) Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara 2016 dengan hasil olahan 2) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) Hasil olahan 2016 Sejak tahun 2010 hingga 2012, produktivitas total darah terus meningkat seiring dengan tumbuhnya jumlah tenaga kerja dan PDRB total daerah. Namun pada tahun 2013, produktivitas total daerah mengalami penurunan sebesar 12,3% akibat penurunan jumlah tenaga kerja. Namun angka ini kembali membaik di tahun 2014 dengan peningkatan sebesar 6,7% dari tahun sebelumnya. Sedangkan produktivitas total daerah tiap Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara paling besar adalah Kabupaten Bulungan yaitu 201 juta rupiah dan terendah Kota tarakan sebesar 178Juta rupiah. Hal ini disebabkan karena jumlah tenaga kerja di Kabupaten Bulungan tidak sama besar dengan Kota Tarakan, sehingga pembagian oleh PDRB total akan menghasilkan nilai yang lebih besar. Besarnya produktivitas total daerah akan menunjukkkan tingkat kesejahteraan tenaga kerja. Tabel A.4 Produktivitas Total Daerah Tahun Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2013, 2014, dan ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2013, 2014, dan ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) dengan hasil olahan Jenis dan Jumlah Bank dan Cabang Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk- RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 281

282 bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Terdapat empat jenis bank yang dimaksudkan dalam indikator ini, yaitu bank umum pemerintah, bank umum swasta, bank pembangunan, dan bank pengkreditan rakyat. Akan tetapi karena tidak semua Kabupaten/Kota memiliki basis data bank menurut jenisnya, maka data yang disajikan berikut ini adalah data akumulasi jumlah seluruh bank. Tabel A.5 Jumlah Bank Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun 2012, 2013, 2014, dan ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2012, 2013, 2014, dan ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2012, 2013, 2014, dan ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Hasil olahan 2016 Jumlah bank di Provinsi Kalimantan Utara terus bertambah selama periode Hal ini mengindikasikan adanya perkembangan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan jasa perbankan. Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan merupakan Kabupaten yang mengalami pertumbuhan bank paling pesat. Pada tahun 2014, jumlah bank di Kabupaten Malinau tumbuh hingga lima unit, dan Kabupaten Nunukan bertambah hingga sembilan unit. Di samping itu, Kabupaten Tana Tidung hingga saat ini hanya memiliki satu unit bank. Kota Tarakan masih menjadi pusat kawasan ekonomi paling berkembang di antara Kabupaten lainnya dengan jumlah total bank mencapai 29 unit di tahun Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabang Asuransi merupakan alat untuk menanggulangi risiko (nasabah) dengan cara menanggung bersama kerugian yang mungkin terjadi dengan pihak lain (perusahaan asuransi). Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi, meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa. Usaha suransi adalah usaha jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi guna memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti terhadap hidup atau meninggalnya seseorang. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 282

283 5. Jenis, Kelas, dan Jumlah Restoran Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukkan daya tarik investasi suatu daerah terutama di bidang kuliner. Restoran juga merupakan bentuk kegiatan ekonomi di bidang perdagangan yang juga dapat mendukung sektor pariwisata. Oleh karena itu, banyaknya restoran dan rumah makan dapat menjadi salah satu indikator perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya. Ada bermacam-macam jenis dan istilah restoran, antara lain restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. Sedangkan pengusahaan usaha restoran dan rumah makan adalah penyedia jasa pelayanan makanan dan minuman kepada tamu usaha pokok, seperti restoran di dalam hotel. Pada tahun 2015, jumlah restoran di Provinsi Kalimantan Utara yang telah mendapatkan izin usaha adalah sebesar 221. Distribusi restoran terbanyak ada di Kota Tarakan, yakni sebanyak 131. Tabel A.6 Jumlah Restoran/Rumah Makan Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Jumlah Restoran/RM yang memiliki izin Bulungan 13 Malinau 24 Nunukan 45 Tana Tidung 8 Tarakan 131 Kalimantan Utara 221 Sumber: Biro Perekonomian dan Pembangunan, Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan/Hotel Penginapan/hotel merupakan salah satu fasilitas penunjang pariwisata pada suatu wilayah. Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting dalam meningkatkan daya saing daerah, terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunungan dari luar daerah. Semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut dan kebutuhan akomodasi penginapan/hotel. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 283

284 Tabel A.7 Jumlah Hotel non bintang Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka Tahun ) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Kalimantan Utara Dalam Angka 2015 dan Hasil olahan 2016 Jumlah hotel di Provinsi Utara kini telah tersebar merata di seluruh Kabupaten/Kota. Meskipun demikian, jumlah hotel non bintang terbanyak masih berada di Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan. Hal ini disebabkan Kabupaten Bulungan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten dan Provinsi, sedangkan Kota Tarakan merupakan pusat ekonomi dan bisnis serta pintu gerbang bagi para pendatang luar negeri maupun domestik. Tabel A.8 Jumlah Hotel Bintang Tahun Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kota Tarakan Dalam Angka Tahun ) Kalimantan Utara Dalam Angka 2015 dan Hasil olahan 2016 Untuk jumlah hotel berbintang di Provinsi Kalimantan Utara, masih berpusat di Kota Tarakan. Perkembangannya selama periode tahun menunjukkan tren positif. Laju pertumbuhan jumlah hotel berbintang di Kota Tarakan mencapai lebih dari dua kali lipat tahun semula. Hal ini menunjukkan bahwa lebih kompleksnya permintaan fasilitas hotel di Kota Tarakan dibanding daerah lainnya. B. Pertanian Nilai Tukar Petani merupakan angka yang digunakan untuk mengukur daya tukar produk yang dijual petani dengan produk yang dibutuhkan petani dalam produksi dan konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Petani diperoleh dengan cara membandingkan antara indeks harga yang diterima petani (lt) dengan indeks harga yang dibayar petani (lb), RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 284

285 dimana lt menunjukkan fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani sedangkan lb menunjukkan harga barang yang dikonsumsi petani termasuk didalamnya barang yang dipergunakan untuk memproduksi hasil pertanian. Berikut disajikan data tentang Nilai Tukar Petani selama tahun 2014 hingga 2015 dirinci tiap bulan. Tabel B.1 Nilai Tukar Petani Tahun Provinsi Kalimantan Timur Bulan Indeks yang Diterima (lt) Indeks yang Dibayar (lb) Nilai Tukar Petani (NTP) Indeks yang Diterima (lt) Indeks yang Dibayar (lb) Nilai Tukar Petani (NTP) Januari 107,96 109,34 98,74 115,89 116,66 99,34 Februari 109,07 109,56 99,55 117,1 116,19 100,78 Maret 109,41 109,73 99,71 116,53 116,84 99,73 April 110,45 110,12 100,30 116,4 117,96 98,68 Mei 110,09 110,42 99,70 116,72 118,31 98,66 Juni 110,54 110,79 99,77 116,37 119,16 97,66 Juli 111,72 112,05 99,71 117,12 119,59 97,93 Agustus 112,3 112,17 100,12 117,89 119,68 98,50 September 113,46 112,2 101,12 117,71 119,46 98,54 Oktober 113,27 112,38 100,79 117,65 119,76 98,24 November 114,49 114,2 100,25 117,39 119,75 98,03 Desember 116,9 116,98 99, ,00 Sumber: Berita Resmi Statistik Provinsi Kalimantan Timur Tahun Selama periode secara umum mengalami penurunan dari tahun 2014 ke tahun Nilai tukar petani terendah terdapat di angka 97,66 yakni di bulan Juni tahun Adapun nilai tertinggi di angka 101,12 yang terdapat di bulan September tahun Peningkatan NTP dapat dilakukan dengan peningkatan indeks harga bayar petani denagn tidak terlalu progresif. NTP sebagai indikator kesejahteraan petani meskipun dinilai kurang relevan karena tidak mengakomodasi kemajuan produktivitas pertanian, teknologi dan pembangunan tapi cukup diposisikan sebagai ala ukur guna menghitung daya beli penerimaan petani terhadap pengeluaran petani. Sebagai provinsi pemekaran baru, nilai tukar petani yang terdapat di provisni Kalimanatan Utara masih tergabung dengan nilai tukar petani provinsi Kalimantan Timur. Oleh karena itu, perlu adanya upaya menganalisis secara mandiri guna mengetahui niali tukar petani khususnya di Provinsi Kalimantan Utara. C. Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Per Kapita Indikator pengeluaran konsumsi non pangan per kapita digunakan untuk mengetahui pola konsumsi rumah tangga di luar kebutuhan pangan. Melalui analisis pengeluaran konsumsi non pangan per kapita, dapat dilihat juga bagaimana perkembangan tingat RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 285

286 kesejahteraan penduduk, yaitu dari kemampuan membeli kebutuhan non pangan atau kebutuhan sekunder-tersier. Tabel C.1 Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga Per Kapita Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Uraian Total Pengeluaran non pangan per kapita Total Pengeluaran per kapita Rasio (%) Sumber: 1) RPJP Kalimantan Utara 2) Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun ) Hasil olahan 2016 Tabel di atas menunjukkan bahwa pola konsumsi rumah tangga per kapita untuk non pangan di Provinsi Kalimantan Utara relatif seimbang 50% : 50%. Tinggi rendahnya pengeluaran konsumsi non pangan dapat dipengaruhi oleh lokasi tempat tinggal dan tingkat kemajuan daerah. Masyarakat yang tinggal di pusat kota cenderung memiliki kebutuhan yang lebih kompleks daripada masyarakat pedesaan, termasuk kebutuhan non pangan. Tabel C.2 Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga Per Kapita menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Total Pengeluaran Non Total Pangan Pengeluaran Rasio Bulungan ,68 Malinau ,96 Nunukan Tana Tidung ,23 Tarakan Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2015 Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran konsumsi RT non pangan di Kabupaten Bulungan mencapai 45,68% di tahun Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Kabupaten Malinau, yakni sebesar 48,96%. Kabupaten Tana Tidung menunjukkan angka lebih dari 50% pengeluaran rumah tangga dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan non pangan, yakni sebesar 51,23% Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur A. Perhubungan 1. Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Indikator rasio panjang jalan per jumlah kendaraan merupakan salah satu indikator aksesibilitas daerah dalam fasilitas wilayah/infrastruktur. Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur bertujuan untuk menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 286

287 ketersediaan (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar wilayah. Indikator ini didapatkan dari perbandingan antara jumlah panjang jalan dengan jumlah kendaraan. Tabel A.1 Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Uraian Kabupaten/ Kota Panjang jalan Bulungan 840,52 857,21 932,80 960, ,68 seluruhnya (km) Malinau 1.053, , , , ,49 Nunukan 694,97 777,24 828,73 856,94 934,92 Tana Tidung 103,70 246,94 354,47 354,47 248,09 Tarakan 220,06 220,06 225,00 227,10 228,03 Kalimantan Utara 2.913, , , , ,21 Jumlah kendaraan (unit) Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 0,178 0,163 0,178 0,157 0,135 Malinau 0,133 0,079 0,072 0,082 0,082 Nunukan 0,028 0,026 0,024 0,023 0,021 Tana Tidung Tarakan 0,004 0,003 0,004 0,003 0,003 Kalimantan Utara 0,032 0,028 0,029 0,030 0,028 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Jumlah kendaraan yang dimaksudkan dalam tabel di atas adalah jumlah sepeda motor, bis, mobil barang, dan mobil penumpang. Data Kabupaten Tana Tidung tidak dapat ditemukan, sehingga akan bias bila dihitung jumlah per data provinsi. 2. Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Indikator orang/barang yang terangkut angkutan umum memiliki kesamaan indikator dengan jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun, sehingga kedua indikator ini akan digabungkan menjadi satu indikator. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 287

288 Tabel A.2 Perkembangan Jumlah Lalu Lintas Penumpang Pesawat Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kab/Kota Uraian Tarakan Datang Pergi Transit TOTAL Bulungan Datang Pergi Transit TOTAL Malinau Datang Pergi Transit TOTAL Nunukan Datang Pergi Transit TOTAL Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Secara umum, jumlah lalu lintas penumpang pesawat udara di Provinsi Kalimantan Utara memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014, dengan perkembangan jumlah lalu lintas penumpang pesawat terbesar di Provinsi Kalimantan Utara terdapat di Kota Tarakan yang memang memiliki bandara internasional. Kenaikan jumlah penumpang di Bandara Juwata Tarakan dapat dikatakan cukup signifikan dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2015 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 53,48 persen per tahun. Tabel A.3 Perkembangan Jumlah Arus Lalu Lintas Barang di Bandara Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kab/ Kota Uraian Tarakan Bongkar (kg) Muat (kg) TOTAL Bulungan Bongkar (kg) Muat (kg) TOTAL Malinau Bongkar (kg) Muat (kg) TOTAL Nunukan Bongkar (kg) Muat (kg) TOTAL Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Perkembangan jumlah arus lalu lintas barang di bandara baik di Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan memiliki kecenderungan meningkat. Bandara Juwata (Tarakan) memiliki rata-rata peningkatan jumlah arus lalu lintas barang sebesar 9,14 persen per tahun, sedangkan untuk di bandara Kabupaten RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 288

289 Bulungan memiliki peningkatan sebesar 48,22 persen per tahun, dan bandara di Kabupaten Nunukan memiliki peningkatan sebesar 10,37 persen per tahun. Tabel A.4 Perkembangan Jumlah Lalu Lintas Penumpang di Dermaga Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kab/Kota Uraian Bulungan Dermaga Naik Turun TOTAL Speed boat Malinau Pelabuhan Kelapis Naik Turun TOTAL Nunukan Agkt Laut (dlm) Naik Turun TOTAL Agkt Laut (luar) Naik Turun TOTAL KTT Dermaga Tideng Pale Naik Turun TOTAL ,0 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Perkembangan jumlah lalu lintas penumpang di dermaga dalam kurun waktu yang sama (tahun 2010 hingga tahun 2014) juga memiliki kecenderungan meningkat. Meskipun demikian, perkembangan yang disajikan dalam tabel diatas tidak dapat menggambarkan kondisi transportasi sungai di wilayah Provinsi Kalimantan Utara karena adanya keterbatasan data yang diperoleh. Tabel A.5 Perkembangan Jumlah Arus Lalu Lintas Barang di Dermaga/Pelabuhan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara Tahun Kab/ Kota Uraian Bulungan Bongkar (ton) , , ,985 - Muat (ton) 681, , TOTAL , , ,985 - Malinau Bongkar (ton) Muat (ton) TOTAL KTT Bongkar (ton) Muat (ton) TOTAL Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Data yang diperoleh untuk indikator jumlah arus lalu lintas barang di dermaga/pelabuhan di Provinsi Kalimantan Utara sangat terbatas, hal ini dapat dilihat dari data yang tertulis pada tabel di atas, hanya terdapat data di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung. Data yang tersedia tersebut juga tidak memiliki data tahun yang lengkap, sehingga tidak dapat dilakukan analisis lebih mendalam. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 289

290 B. Penataan Ruang Dalam urusan penataan ruang pada aspek daya saing daerah sesuai dengan Lampiran 1 Permendagri 54/2010 ini terdapat 7 (tujuh) indikator, yakni ketaatan terhadap RTRW, luas wilayah produktif, luas wilayah industri, luas wilayah kebanjiran, luas wilayah kekeringan, luas wilayah perkotaan, dan persentase guna lahan terhadap luas wilayah. Namun beberapa indikator tidak tersedia sehingga tidak ditampilkan. Indikator-indikator tersebut secara lebih jelas dapat dilihat pada deskripsi di bawah ini. 1. Luas Wilayah Produktif Analisis ini menggunakan data luasan lahan pertanian, perkebunan, dan hutan produksi untuk menghitung luas kawasan produktif. Secara agregat, kabupaten-kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara mengalami penurunan luasan kawasan produktif, terutama sangat signifikan pada tahun , akan tetapi meningkat sejak tahun Tabel B.1 Luas Kawasan Lindung dan Budidaya di Provinsi Kalimantan Utara (Ha) Kabupaten/Kota Luas (Ha) Wilayah Kawasan Lindung Kawasan Budidaya Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung , ,3 Tarakan , ,01 Kalimantan Utara , ,9 Sumber: 1) RTRW Kabupaten Malinau Perda No. 19 Tahun ) RTRW Kabupaten Nunukan Perda No. 11 Tahun ) RTRW Kota Tarakan Perda No. 4 Tahun ) RTRW Kabupaten Tana Tidung Perda No. 16 Tahun ) RTRW Kabupaten Bulungan Perda No. 4 Tahun 2013 Secara rinci, penurunan pada luasan kawasan produktif disebabkan oleh penurunan signifikan kawasan hutan produksi. Kawasan hutan produksi mengalami penurunan drastis pada tahun Berkebalikan dengan itu, luasan kawasan perkebunan justru meningkat selama Sementara itu, kawasan pertanian cukup stabil dan baru mengalami penurunan pada Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebagian hutan produksi yang terkonversi berubah menjadi perkebunan atau peruntukan lain yang tidak dijelaskan dalam analisis ini. Selain itu, dapat diindikasikan pula adanya peningkatan kegiatan pembukaan lahan untuk perkebunan hingga tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 290

291 Tabel B.2 Persentase Kawasan Produktif terhadap Kawasan Budidaya Kawasan Produktif terhadap Kabupaten/Kota Kawasan Budidaya Malinau Bulungan Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara % Kawasan Produktif 68,41% 68,57% 69,76% Sumber: Kalimantan Timur Dalam Angka Luas Wilayah Industri Persentase kawasan industri terhadap kawasan budidaya di Provinsi Kalimantan Utara diketahui sangat kecil, yakni 0,22%. Hanya Kota Tarakan yang memiliki persentase kawasan industri lebih dari 10%, sementara kabupaten lain tidak mencapai angka 1%. Hal ini dapat dipahami karena Kota Tarakan merupakan kota jasa dan perdagangan sehingga kegiatan industri lebih berkembang di kota ini dibandingkan dengan kabupaten lain yang masih bersifat kawasan pedesaan, dengan kegiatan ekonomi di sektor primer. Begitu juga pada Peta RTRW Provinsi Kalimantan Timur, tidak ditemukan delineasi kawasan industri pada kabupaten-kabupaten yang tergabung dalam Provinsi Kalimantan Utara. Hal tersebut mengindikasikan adanya gap signifikan antara kondisi sekarang dengan rencana untuk mengembangkan industri dalam mendukung Kawasan Andalan Tatapanbuma, termasuk di antaranya adalah industri pengolahan batu bara, kelapa sawit, dan karet serta mendukung Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) di Nunukan. Kawasan Andalan Tatapanbuma dicantumkan dalam RTRW Nasional dan RTR Pulau Kalimantan sebagai kawasan strategis untuk pengembangan sektor perkebunan, perikanan, pertambangan, pariwisata, industri pengolahan dan pertanian. Untuk mendukung kegiatan ekstraksi dan industri kawasan ini, tiga pelabuhan direncanakan sebagai hub pemasaran produk industri, yakni Nunukan, Tarakan, dan Tanjung Selor. Tabel B.3 Persentase Kawasan Industri terhadap Kawasan Budidaya Kabupaten/Kota Luas Kawasan Industri (Ha) Persentase Kawasan Industri (%) Bulungan ,54 Malinau ,05 Nunukan 520 0,05 Tana Tidung 206 0,05 Tarakan 1.693,09 12,69 Kalimantan Utara ,09 0,22 Sumber: Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun Luas Wilayah Kebanjiran Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa 2.34% wilayah Kabupaten Nunukan terdampak banjir pada tahun 2012, sementara hanya sedikit wilayah di Kabupaten Tana RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 291

292 Tidung yang terdampak banjir. Menurut peta indeks kerawanan banjir Provinsi Kalimantan Timur tahun 2010, Kabupaten Bulungan merupakan area yang memiliki indeks kerentanan paling tinggi. Titik-titik genangan di Kabupaten Bulungan tersebar di pantai timur. Persentase kawasan terdampak banjir Kalimantan Utara tidak dapat dihitung karena ketidaktersediaan data Tabel B.4 Persentase Kawasan Berdampak Banjir terhadap Kawasan Budidaya Kabupaten/Kota Luas Kawasan Terdampak Banjir (Ha) Kawasan Terdampak Banjir (%) Bulungan n/a n/a Malinau n/a n/a Nunukan ,34 Tana Tidung 291 0,06 Tarakan n/a n/a Kalimantan Utara n/a n/a Sumber: Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 292

293 Gambar B.1 Peta Indeks Kerentanan Banjir Kalimantan Timur Sumber: BNPB, 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 293

294 Gambar B.2 Peta Daerah Potensi Banjir Pulau Kalimantan Sumber: BNPB, 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 294

295 4. Luas Wilayah Perkotaan Kota Tarakan, yang juga merupakan pusat pertumbuhan dan pusat permukiman Provinsi Kalimantan Utara, memiliki persentase kawasan perkotaan lebih dari 70% kawasan budidayanya. Angka tersebut menunjukkan perbedaan yang tajam dengan kabupaten lain, seperti Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung yang penggunaan kawasan budidayanya didominasi oleh kawasan hutan non lindung. Menurut RTRW Provinsi Kalimantan Timur, secara spasial, aglomerasi permukiman perkotaan terkonsentrasi di Tanjung Selor dan Tanjung Palas (Kabupaten Bulungan), serta Tarakan. Selain itu terdapat upaya pengembangan Kota Terpadu Mandiri di Kabupaten Nunukan yang dikembangkan dari kawasan transmigrasi. Persentase kawasan perkotaan di Provinsi Tarakan tidak dapat dihitung karena tidak tersedianya data Kabupaten Nunukan. Tabel B.5 Persentase Kawasan Perkotaan terhadap Kawasan Budidaya Kabupaten/Kota Luas Kawasan Perkotaan (Ha) Kawasan Perkotaan (%) Bulungan ,62 Malinau ,13 Nunukan n/a n/a Tana Tidung ,77 Tarakan 9.839,00 73,77 Kalimantan Utara n/a n/a Sumber: Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun C. Lingkungan Hidup 1. Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Persentase rumah tangga pengguna air bersih menunjukkan indikator jumlah rumah tangga penguna air bersih di Provinsi Kalimantan Utara. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah tangga pengguna air bersih dibandingkan dengan jumlah seluruh rumah tangga dan dikalikan 100. Data jumlah rumah tangga pengguna air bersih dilihat dari data banyaknya pelanggan perusahaan air minum (PDAM) khusus tipe rumah tangga. Data rumah tangga pengguna air bersih menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 295

296 Tabel C.1 Persentase Rumah Tangga Pengguna Air Bersih Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Indikator Jumlah rumah tangga yang menggunakan air bersih Kabupaten/Kota Persentase Rumah Tangga Pengguna air bersih (%) Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Jumlah rumah tangga Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih (%) Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2010, ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Bulungan 20,17 20,72 20,32 15,43 15,02 Malinau 28,38 28,47 32,23 34,79 Nunukan 11,52 11,15 11,02 11,15 Tana Tidung 11,59 12,39 Tarakan 26,28 27,84 28,76 29,53 30,02 Kalimantan Utara 20,80 29,65 25,10 21,13 21,64 Diketahui bahwa Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan menjadi kabupaten dengan jumlah rumah tangga pengguna air bersih tertinggi, yaitu sebesar 35% dan 30% pada tahun 2014 dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Secara garis besar diketahui bahwa selama periode tahun , jumlah rumah tangga pengguna air bersih di Kabupaten Bulungan masih di bawah 21%, sedangkan Kabupaten Nunukan dan Tana Tidung masih di bawah 13%. Berdasarkan Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), Standar Pelayanan Minimal penduduk terlayani akses air bersih adalah 55-75%, namun dari data yang ada, diketahui bahwa ke-5 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara masih belum memenuhi standar sehingga perlu dilakukan peningkatan dan program perencanaan pengembangan lainnya. Jumlah rumah tangga pengguna air bersih di Provinsi Kalimantan Utara dari tahun ke tahun juga diketahui mengalami peningkatan. Jika dilihat, persentase jumlah rumah tangga pengguna air bersih terbanyak di Provinsi Kalimantan Utara terjadi pada tahun 2011 yang hampir mencapai angka 30% dan terendah terjadi pada tahun 2010 dengan angka 20,80%. Hal ini tentunya pun berkaitan dengan jumlah kebutuhan air bersih masyarakat yang berubah-ubah setiap tahunnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 296

297 D. Komunikasi dan Informatika Urusan terakhir pada fokus fasilitas wilayah/infrastruktur dalam aspek daya saing daerah ini memiliki tiga indikator, yakni rasio ketersediaan daya listrik, persentase rumah tangga yang menggunakan listrik, serta indikator persentase penduduk yang menggunakan handphone/telepon. Salah satu indikatornya, yaitu rumah tangga yang menggunakan listrik sudah dibahas dalam urusan perumahan pada fokus layanan urusan wajib. 1. Rasio Ketersediaan Daya Listrik Indikator rasio ketersediaan daya listrik merupakan hasil perbandingan antara jumlah daya listrik terpasang dengan jumlah kebutuhan listrik dan dikalikan 100. Jumlah kebutuhan dalam hal ini didapatkan dari data jumlah listrik terjual. Satuan daya listrik terpasang dan kebutuhan daya listrik disamakan kedalam MWH (Mega Watt Hour) untuk memudahkan pengolahan karena berbedanya satuan dari masing-masing kabupaten/kota. Data rasio ketersediaan daya listrik di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel D.1 Rasio Ketersediaan Daya Listrik Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Indikator Daya listrik terpasang (MWH) Jumlah kebutuhan (MWH) Rasio ketersediaan daya listrik Kabupaten/Kota Rasio Ketersediaan Daya Listrik Bulungan 14,74 18,58 17,58 22,44 21,54 Malinau ,86 - Nunukan 16,00 15,00 20,00 24,00 34,00 Tana Tidung 1,24 1,19 2,43 3,35 3,10 Tarakan , , , , ,95 Kalimantan Utara , , , , ,60 Bulungan 42313, , , , ,50 Malinau 21428, , , , ,00 Nunukan 41318, , , , ,00 Tana Tidung 1472, , , ,68 - Tarakan , , , , ,88 Kalimantan Utara , , , , ,50 Bulungan 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04 Malinau 0,05 Nunukan 0,04 0,04 0,04 0,05 0,06 Tana Tidung 0,08 0,07 0,11 0,07 Tarakan 106,96 107,55 107,89 107,53 108,66 Kalimantan Utara 177,66 195,27 147,18 156,03 133,44 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Daya listrik terpasang dan jumlah kebutuhan listrik diketahui terbanyak berada di Kota Tarakan. Kondisi kelistrikan di kota ini sehari-harinya memang lebih stabil yang diketahui dari minimnya frekuensi pemadaman listrik di daerah ini dibandingkan 4 (empat) kabupaten lainnya. Suplai listrik ke 4 (empat) kabupaten lainnya di provinsi ini memang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 297

298 lebih sedikit dan dapat dikatakan belum memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga kondisi pemadaman listrik pun sering terjadi. Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka Pemerintah Kota berkewajiban untuk mengaliri listrik hingga dapat diakses oleh masyarakat tidak mampu dan daerah terpencil. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik. 2. Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Bila kebutuhan tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah, maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka Pemerintah Daerah berkewajiban untuk menyediakan kebutuhan listrik masyarakat yang tidak mampu dan juga sampai ke daerah terpencil. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah salah satunya persentase rumah tangga yang menggunakan listrik. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik merupakan proporsi jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai daya penerangan terhadap jumlah rumah tangga dan dikalikan 100. Data jumlah rumah tangga pengguna listrik dilihat dari data banyaknya pelanggan listrik khusus tipe rumah tangga. Data persentase rumah tangga yang menggunakan listrik dapat dilihat pada tabel di bawah ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 298

299 Indikator Jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik Jumlah rumah tangga Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Tabel D.2 Persentase Rumah Tangga Pengguna yang Menggunakan Listrik Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik (%) Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 17,64 50,74 56,43 47,58 51,47 Malinau 29,88 34,36 50,05 72,42 Nunukan 24,22 36,82 42,13 48,63 Tana Tidung 15,21 16,44 Tarakan 68,42 73,53 74,07 73,69 69,92 Kalimantan Utara 39,59 70,18 64,26 56,70 61,06 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Secara garis besar, Kabupaten Malinau dan Kota Tarakan adalah daerah dengan persentase jumlah rumah tangga pengguna listrik terbanyak, yakni di atas 69% pada tahun Kabupaten Tana Tidung menjadi daerah dengan persentase rumah tangga pengguna listrik tersendah karena sampai tahun 2011 hanya mencapai 16,44%. Untuk Kabupaten Nunukan, persentase nya diketahui cukup fluktuatif karena mengalami penurunan dan peningkatan selama kurun waktu 7 tahun tersebut, yakni dengan range 20-49%. Kabupaten Malinau sendiri memiliki persentase di atas 47% mulai dari 2011, namun untuk tahun sebelumnya masih di bawah 20%. Jika dilihat dari jumlah rumah tangga pengguna listrik, dapat diketahui bahwa memang Kota Tarakan menjadi daerah dengan jumlah rumah tangga pengguna listrik terbanyak dari tahun , yaitu sebanyak rumah tangga pada tahun 2010 dan mencapai rumah tangga pada tahun Kota Tarakan selalu mengalami peningkatan jumlah rumah tangga pengguna listrik dan sangat berbeda dengan 4 kabupaten lainnya yang selalu mengalami naik-turun. Jumlah rumah tangga pengguna listiknya pun sampai pada tahun 2014 tidak mencapai rumah tangga. Hal ini dapat dikaitkan dengan basis daerah ini yang menadi pusat perekonomian daerah dan selain itu pula memang kepadatan penduduk yang sangat tinggi di kota ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 299

300 Secara umum, dapat dilihat tren penurunan persentase rumah tangga yang menggunakan listrik, yaitu pada tahun 2011 ke 2012, yakni dari 70,18% menjadi 64,26% dan turun kembali menjadi 56,70% pada tahun Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2010 ke 2011 yaitu dari angka 39,59% menjadi 70,18%. Kondisinya pada tahun 2014 ini, persentasenya adalah sebesar 61,06%. Sebenarnya, jika dilihat dari jumlah rumah tangga pengguna listriknya, dari tahun ke tahun selama 7 tahun ini selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, jumlahnya adalah sebesar rumah tangga sampai akhirnya pada tahun 2014 diketahui mengalami peningkatan sampai dua kali lipat sehingga mencapai rumah tangga. Namun hal ini tidak dibarengi dengan konstannya jumlah rumah tangga total. 3. Persentase Penduduk yang Menggunakan HP/Telepon Indikator persentase penduduk yang menggunakan hp/telepon merupakan hasil perbandingan jumlah penduduk yang menggunakan hp/telepon dengan jumlah penduduk total dan dikalikan 100. Jumlah penduduk yang menggunakan hp/telepon dalam hal ini dilihat dari banyaknya pelanggan telepon dan jumlah pengguna fasilitas telkom. Data persentase penduduk yang menggunakan hp/telepon di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Indikator Jumlah penduduk yang menggunakan hp/telepon Jumlah penduduk Persentase penduduk yang menggunakan hp/telepon (%) Tabel D.3 Persentase Penduduk yang Menggunakan HP/Telepon Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik (%) Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 2,43 2,57 2,84 2,90 3,34 Malinau 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Nunukan 2,63 2,69 3,99 3,15 Tana Tidung 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Tarakan 0,00 0,00 7,17 6,57 6,15 Kalimantan Utara 1,24 1,28 3,25 4,11 3,81 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2008, ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2012, 2013, ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 300

301 Berdasarkan tabel di atas, secara umum dapat disebutkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan hp/telepon di masing-masing kabupaten/kota maupun provinsi sangat rendah karena tidak mencapai angka 5% untuk provinsi dan 8% untuk kabupaten/kota. Hal ini sangat tidak masuk akal atau tidak logis jika dari seluruh jumlah penduduk, penggunaaan hp/telepon sangat minim, padahal saat ini hampir seluruh kebutuhan/keperluan setiap harinya pasti bersinggungan dengan penggunaan hp/telepon. Hal ini dapat disinyalir dapat terjadi salah satunya karena tidak adanya pendataan jumlah penggunaan hp/telepon oleh masing-masing penduduk sehingga tidak adanya database untuk indikator ini Fokus Iklim Berinvestasi A. Jumlah dan Macam Pajak dan Retribusi Daerah Pajak dan retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang nantinya akan digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Berdasarkan undang-undang No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah, ada lima sumber pendapatan pajak daerah yang dapat dipungut oleh daerah tingkat satu atau daerah provinsi, yaitu: 1) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) 2) Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) 3) Pajak Air Permukaan (AP) 4) Pajak Bahan-Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (BBBKB) 5) Pajak Rokok Dari kelima sumber pendapatan pajak daerah yang dilimpahkan berdasarkan Undang-Undang di atas, berikut target dan capaian pendapatan pajak daerah Kalimantan Utara tahun Tabel A.5 Jumlah dan Macam Pajak Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Utara No. Indikator Sasaran Target (Rp) Realisasi (Rp) Persentase (%) 1. Pajak Kendaran Bermotor (PKB) ,89 2. Bea Balik Nama Kendaraan ,99 Bermotor (BBNKB) 3. Pajak Air Permukaan (AP) ,77 4. Pajak Bahan Bakar Kendaraan ,79 Bermotor (BBKB) 5. Pajak Rokok ,33 6. Lain-lain Pendapatan asli daerah ,08 yang sah Jumlah ,990,414,05 106,09 Sumber: LAKIP Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Utara, 2016 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 301

302 Fokus Sumber Daya Manusia A. Ketenagakerjaan Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. Hal ini disebabkan karena manusia merupakan tokoh utama yang berperan sebagai obyek sekaligus subyek pembangunan. Oleh karena itu, maka pembangunan SDM diarahkan agar benar-benar mampu dan memiliki etos kerja yang produktif, terampil, kreatif, disiplin dan profesional. Disamping itu juga mampu memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai ilmu dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional. Kualitas sumber daya manusia juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan daya saing daerah dan perkembangan investasi di daerah. Indikator kualitas sumber daya manusia dalam rangka peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja dan tingkat ketergantungan penduduk untuk melihat sejauh mana beban ketergantungan penduduk. 1. Rasio Lulusan S1/S2/S3 Masyarakat merupakan obyek dan subyek pembangunan. Dalam pembahasan indikator rasio lulusan S1/S2/S3, masyarakat ditempatkan sebagai subyek pembangunan. Masyarakat sebagai subyek dapat menjadi beban ataupun potensi pembangunan tergantung kualitas SDM yang ada. Semakin tinggi rasio lulusan perguruan tinggi menunjukkan daerah tersebut mempunyai potensi sumber daya manusia yang berkualitas untuk menggerakkan roda pembangunan. Ketersediaan kualitas SDM yang tinggi membuat daerah mempunyai daya saing di sektor SDM. Era modern ini menuntut ketersediaan SDM yang tidak hanya memiliki kuantitas yang besar, namun juga dengan kualitasnya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan, yang artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik kualitas tenaga kerjanya. Kualitas tenaga kerja pada suatu daerah dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk yang telah menyelesaiakan S1, S2 dan S3. Rasio lulusan S1/S2/S3 ini dihitung dengan rumus formula jumlah lulusan S1/S2/S3 dibagi dengan jumlah penduduk dan dikalikan dengan Tabel di bawah ini menunjukkan rasio lulusan S1/S2/S3 menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 302

303 Tabel A.1 Rasio Lulusan S1/S2/S3 Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Lulusan S1/S2/S Bulungan 404,15 436,07 Malinau 453,87 521,89 543,50 549,36 Nunukan Tana Tidung 1068,94 Tarakan Kalimantan Utara 82,57 59,67 149,01 156,16 Sumber: 1) Dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Kabupeten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angla ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa rasio lulusan S1/S2/S3 masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara sangat fluktuatif. Dari tahun 2010, rasio lulusan S1/S2/S3 berada pada angka 82,57 sampai akhirnya menurun pada tahun 2011 menjadi 59,67 dan kemudian mengalami peningkatan hingga 149,01 pada tahun 2012 dan 156,16 pada tahun Untuk Kabupaten Bulungan dan Malinau, dari data yang tersedia diketahui bahwa rasionya selalu mengalami peningkatan, dan rasio terbesar berada di Kabupaten Tana Tidung yang mencapai angka 1068,94 pada tahun Jika dibandingkan antara persentase lulusan S1/S2/S3 kabupaten/kota dengan provinsi dari data yang tersedia, diketahui bahwa keseluruhan kabupaten/kota sudah berada di atas capaian Provinsi Kalimantan Utara. Ketersediaan SDM yang berkualitas mutlak diperlukan oleh Provinsi Kalimantan Utara untuk mengolah potensi sumber daya alam yang melimpah. Provinsi Kalimantan Utara yang terkenal dengan sawit, minyak bumi, dan gas sangat membutuhkan SDM berkualitas untuk mengolahnya. Apabila SDM di provinsi ini belum memiliki kualitas, maka akan kalah bersaing dengan daerah lain. Hal ini mengakibatkan sumber daya alam hanya akan dinikmati orang lain, sementara masyarakat hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Pemerintah daerah harus mempunyai program-program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM di provinsi ini, seperti salah satunya dengan memberikan beasiswa hingga perguruan tinggi ataupun bentuk subsidi lainnya sehingga memudahkan anak sekolah dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. 2. Rasio Ketergantungan Rasio ketergantungan digunakan untuk mengukur besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. Semakin tinggi rasio ketergantungan maka semakin tinggi pula beban yang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 303

304 ditanggung, begitu pula sebaliknya. Indikator ini dihitung dengan rumus formula jumlah penduduk usia tidak produktif (usia <15 tahun + usia >64 tahun) dibagi jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64) dan dikalikan 100. Tabel di bawah ini menunjukkan rasio ketergantungan menurut kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara tahun Tabel A.2 Rasio Ketergantungan Tahun di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Rasio Ketergantungan (%) Bulungan 56,00 56,32 44,60 Malinau 57,95 57,61 58,78 Nunukan 55,04 55,04 55,04 Tana Tidung 50,37 50,37 Tarakan 54,06 52,37 61,20 Kalimantan Utara 55,22 54,42 54,53 Sumber: 1) LPPD dan Kabupaten Malinau Dalam Angka ) LPPD dan Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) LPPD dan Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) LPPD dan Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) LPPD dan Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, 2016 Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebagian besar kabupaten/kota memiliki rasio ketergantungan dalam tingkat sedang dan tinggi. Hal ini dapat dikatakan karena secara umum dapat dilihat bahwa rasio ketergantungan masing-masing kabupaten/kota selama tahun ini rata-rata di atas 50%. Ini menandakan bahwa beban usia produktif masih cukup tinggi sehingga dimungkinkan akan mengganggu kinerja pembangunan daerah dan mengakibatkan tidak dapat berjalan dengan maksimal. Rasio ketergantungan Provinsi Kalimantan Utara secara umum dapat diketahui cukup besar dari tahun karena memiliki rasio di atas 50%. Dalam hal ini, pemerintah daerah diharapkan dapat mengendalikan angka ini karena rasio ketergantungan yang rendah dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi daerah/provinsi karena dapat mengurangi beban kerja usia produktif. Berdasarkan hasil analisis gambaran umum kondisi daerah terkait dengan capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan, berikut rangkuman analisis dalam bentuk tabel. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 304

305 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Tabel A.3 Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara Capaian Kerja KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1 Pertumbuhan PDRB ADHK , , , , , ,70 ADHB , , , , , ,5 2 Lajuinflasi(%) 7,92 6,43 5,99 10,35 11,91 6,16 3 PDRB per Kapita PDRB ADHK per Kapita (rupiah/jiwa) PDRB ADHB per Kapita (rupiah/jiwa) 4 Indeks Gini/Koefisien Gini n/a 0,33 0,36 0,33 0,33 n/a 5 Pemerataan Pendapatan versi Bank Dunia Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah n/a 6 Indeks Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) 0,35 0,3 0,26 0,24 0,23 n/a 7 Persentase Penduduk di Atas 87,53 89,67 90,3 92,3 93,8 n/a Garis Kemiskinan (%) 8 Kemiskinan (%) 12,47 10,33 9,7 7,73 6,24 n/a Kesejahteraan Masyarakat A Pendidikan 1 Angka Melek aksara n/a n/a n/a n/a 97, Angka Harapan Lama Sekolah n/a n/a n/a 12,30 12,52 12,54 3 Angka Rata-rata Lama Sekolah n/a n/a n/a 8,1 8,35 n/a 4 Angka Partisipasi Kasar (SMA/MA/SMK) n/a n/a n/a 85,37 88,44 n/a 5 Angka Partisipasi Murni SMA/MA/SMK n/a n/a n/a n/a 69,64 n/a B Kesehatan Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) Interpretasi belum dapat diketahui mengingat Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi baru RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 305

306 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Angka Kematian Bayi 12,8 12,3 16,8 n/a 19,2 13,00 2 Angka Kematian Balita n/a 5,82 6,18 n/a 1,63 2,53 3 Angka Kematian Ibu Melahirkan n/a 119,6 167,7 n/a 170,8 126,6 4 Angka Usia Harapan Hidup 71,4 71,6 71,8 71,8 n/a n/a 5 Persentase Balita Gizi Buruk n/a 0,25 0,80 n/a 0,21 n/a C Ketenagakerjaan 1 Rasio Penduduk yang Bekerja 0,84 0,83 0,84 0,91 0,94 0,94 D Indeks Pembangunan Manusia n/a n/a n/a 67,99 68,64 68, Seni Budaya dan Olahraga A Kebudayaan 1 Jumlah Grup Kesenian (per penduduk) na n/a 2 Jumlah Gedung Kesenian (per penduduk) n/a n/a n/a n/a 0,016 n/a B Pemuda dan Olahraga 2.3 Pelayanan Umum Layanan Urusan Wajib Berkaitan Pelayanan Dasar A Pendidikan 1 Pendidikan Menengah 1.1 Angka Partisipasi Sekolah SMA/SMK/MA n/a n/a n/a n/a 1.2 Rasio Guru Terhadap Murid SMA/SMK/MA n/a n/a n/a 10.4 n/a n/a 2 Fasilitas Pendidikan 3 Angka Putus Sekolah 3.1 Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK n/a n/a n/a n/a n/a 4 Angka Kelulusan 4.1 Angka Melanjutkan (AM) SMP/MTs ke SMA/MA/SMK n/a n/a n/a n/a n/a B Kesehatan 1 Rasio Posyandu Per Satuan n/a 0,86 1,09 n/a 0,99 n/a Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 306

307 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Balita 2 Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu per Satuan Penduduk Rasio Puskesmas (per penduduk) 9,2 8,6 8,4 8,2 8,1 8,9 Rasio Poliklinik (per penduduk) n/a n/a n/a n/a n/a 1,1 Rasio Pustu (per penduduk) 26,9 28,7 30,0 23,7 24,3 33,8 3 Rasio Rumah Sakit per 1000 Penduduk 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 4 Rasio Dokter per Satuan Penduduk 43,3 49,6 49,5 65,7 37,8 n/a 5 Cakupan Kompikasi Kebidanan yang Ditangani n/a 54,2 65,8 n/a 60,0 n/a 6 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan 86,0 89,7 84,9 n/a 96,2 85,9 7 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Imunization 50,2 53,7 68,3 n/a 58,7 n/a (UCI) 8 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan n/a 9 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA n/a 30,0 44,2 n/a 15,1 n/a 10 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD (%) Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien 46,1 124,9 64,3 n/a 0,2 n/a Masyarakat Miskin (%) 12 Cakupan Kunjungan Bayi (%) 91,9 90,4 100,2 n/a 79,6 80,6 13 Cakupan Puskesmas 126,3 126,3 126,3 128,9 108,0 110,0 14 Cakupan Puskesmas Pembantu 30,7 33,4 35,7 29,4 33,6 43,4 C Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 307

308 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik 0,440 0,471 0,416 0,402 0,436 2 Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk Islam 1,68 1,19 1,77 1,70 1,66 n/a Katolik 2,30 2,29 3,45 3,62 3,85 n/a Protestan 2,23 2,19 3,16 3,27 3,00 n/a Hindu 3,65 7,49 1,19 1,18 5,60 n/a Budha 1,31 2,72 0,79 0,62 1,55 n/a 3 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi 1,825 41,226 53,115 n/a n/a n/a 4 Rasio Tempat Pembuangan Sampah per Satuan 1,513 6,619 5,621 n/a n/a n/a Penduduk 5 Rasio Rumah Layak Huni 1,513 6,575 5,621 n/a n/a n/a 6 Panjang Jalan Dilalui Roda 4 0,0056 0,0057 0,0060 0,0065 0,0066 n/a 14 Aksesibilitas 0,040 0,043 0,048 0,054 0,056 n/a D Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman 1 Rumah Tangga Pengguna Air Bersih (%) 20,80 29,65 25,10 21,13 21,64 n/a 2 Rumah Tangga Pengguna Listrik (%) 39,59 70,18 64,26 56,70 61,06 n/a 3 Rumah Tangga Bersanitasi (%) n/a 50,02 51,22 n/a n/a n/a 4 Lingkungan Pemukiman Kumuh (%) n/a 11,19 4,38 n/a n/a n/a 5 Rumah Layak Huni (%) n/a 51,99 73,72 n/a n/a n/a E Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat 1 Angka Kriminalitas yang Tetangani n/a 2 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per Penduduk n/a n/a 8 Petugas Perlindungan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Masyarakat (Linmas) di Kabupaten 9 Angka Kriminalitas n/a n/a n/a Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 308

309 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Jumlah Demo n/a n/a n/a n/a n/a 36 F Sosial 1 Sarana Sosial (Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi) Layanan Urusan Wajib Tidak Berkaitan dengan Pelayanan Dasar A Tenaga Kerja 1 Angka Partisipasi Angkata Kerja 71,69 74,21 68,93 66,70 66,38 n/a 2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 67,35 71,59 67,41 65,3 67,8 63,45 3 Tingkat Pengangguran Terbuka 8,28 9,64 8,9 8,59 5,79 5,68 B Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 1 Indeks Pembangunan Gender (IGD) n/a n/a 0,00 85,63 85,67 n/a 2 Indeks Pemberdayaan Gender n/a n/a n/a n/a 66,52 n/a 3 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga 36,35 37,71 38,49 n/a n/a n/a Pemerintah 4 Partisipasi angkatan kerja perempuan 34,51 28,19 28,19 n/a 45,83 n/a C Pangan 1 Kecukupan ketersediaan Pangan 0, , , , , n/a 2 Regulasi ketahanan pangan n/a n/a n/a Tidak Ada Tidak Ada n/a 3 Ketersediaan pangan utama 133,07 124,33 129,62 112,99 100,81 n/a D Pertanahan 1 Persentase Luas Lahan n/a n/a 157,66 160,77 13,90 13,74 Bersetifikat 2 Penyelesaian Kasus Tanah n/a n/a Negara 100,00 41,51 41,51 100,00 3 Penyelesaian Izin Lokasi ,67 n/a n/a E Lingkungan Hidup Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 309

310 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Persentase Penanganan Sampah 100,00 90,50 87,36 n/a n/a n/a 2 Persentase Penduduk Berakses Air Minum 5,49 5,53 5,66 5,82 6,19 n/a 3 Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per satuan penduduk 0, , ,56213 n/a n/a n/a F Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil 1 Rasio Penduduk ber-ktp per Satuan Penduduk 0,51 0,59 0,58 0,55 0,60 n/a 2 Rasio Bayi Berakte Kelahiran 0,69 0,72 0,77 0,79 0,58 n/a 3 Rasio Pasangan Berakte Nikah 0,48 14,02 13,15 15,11 0,28 n/a 4 Kepemilikan KTP 62,25 65,58 75,06 65,71 113,65 n/a 5 Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Penduduk 70,05 38,49 45,50 48,73 n/a n/a 6 Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Sudah Sudah Sudah Sudah n/a n/a G Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 1 Rata-rata Jumlah Kelompok Binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat n/a (LPM) 2 Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK n/a n/a n/a n/a n/a n/a 3 LPM berprestasi n/a n/a n/a 136 n/a Posyandu Aktif 95,15 97,22 97,77 97,89 97,34 n/a H Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana 1 Rata-rata jumlah anak per keluarga n/a n/a n/a n/a Rasio akseptor KB n/a n/a n/a n/a 57,1 3 Cakupan peserta KB aktif 72,25 69,16 85,92 n/a n/a 59,68 4 Keluarga Pra Sejahtera dan 33,1 42,8 46,0 n/a n/a n/a Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 310

311 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Keluarga Sejahtera I Perhubungan 1 Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum n/a J Komunikasi dan Informatika 1 Jumlah jaringan komunikasi n/a n/a n/a n/a 2 Rasio wartel/warnet terhadap penduduk 0.73 n/a n/a n/a n/a Website milik pemerintah daerah n/a n/a Ada Ada Ada Ada 4 Pameran/expo n/a K Koperasi Usaha Kecil dan Menengah 1 Persentase koperasi aktif n/a n/a n/a 57,96 61,30 61,15 2 Jumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) n/a n/a n/a n/a n/a L Penanaman Modal 1 Rasio daya serap tenaga kerja n/a n/a n/a n/a n/a 17,4 2 Kenaikan/penurunan nilai realisasi PMDN (milyar rupiah) n/a n/a n/a 0,57 1,8 3,81 M Kepemudaan dan Olahraga 1 Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan 4 n/a Jumlah kegiatan olahraga Gelanggang/balai remaja (selain milik swasta) n/a n/a n/a 6 Lapangan olahraga 2.33 n/a n/a n/a n/a n/a N Statistik 1 Buku "Kota Dalam Angka" n/a n/a n/a n/a n/a Ada 2 Buku "PDRB n/a n/a n/a n/a n/a Ada Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 311

312 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Kabupaten/Kota" O Kebudayaan 1 Penyelenggaraan festival seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda, situs dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan n/a P Perpustakaan 1 Jumlah perpustakaan n/a Rasio jumlah perpustakaan per penduduk n/a 0,012 0,013 0,018 0,018 0,020 3 Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun n/a Q Kearsipan Fokus Layanan Urusan Pilihan A Kelautan dan Perikanan 1 Produksi perikanan tangkap Tangkap Laut 10014, , , , ,00 n/a Tangkap Perairan Umum 1002, ,98 988,00 886,30 968,90 n/a 2 Produksi Perikanan budidaya Budidaya Tambak 12873, , , , ,47 n/a Budidaya Kolam 198, , ,9 492,4 496,14 n/a Rumput Laut 56542, , , , ,00 n/a 3 Konsumsi ikan per kapita per tahun 34,18 35,78 38,58 38,98 40,78 42,78 4 Jumlah kapal n/a 5 Jumlah rumah tangga perikanan n/a 6 Ekspor Produk Perikanan n/a n/a n/a n/a n/a B Pariwisata Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 312

313 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Kunjungan wisata n/a 2 Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB 1,27 1,26 1,26 1,22 1,19 1,22 C Pertanian 1 Produktivitas Padi atau Bahan Pangan Utama Lokal 32,56 32,27 33,80 34,72 36,05 n/a Lainnya per Hektar 2 Luas lahan sawah n/a 3 Luas lahan palawija n/a 4 Luas lahan perkebunan ,5 n/a 5 Total Produksi padi n/a 6 Total Produksi beras n/a 7 Total Produksi Komoditas palawija n/a 8 Produksi Komoditas Hortikultura (Sayuran) 47038, , , , n/a 9 Produksi Komoditas Hortikultura (buah-buahan) 90774, , , , ,47 n/a 10 Populasi ternak Sapi Kerbau Kambing Babi Produksi daging ternak Sapi 293,45 252,64 296,97 640,18 674,50 708,10 Kerbau 0,00 0,00 0,00 31,50 11,80 12,50 Kambing 18,22 10,87 7,60 36,30 35,10 37,00 Babi , , ,52 401,06 488,00 512,40 12 Populasi Ternak Unggas Ayam Kampung Ayam Pedaging Ayam Petelur Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 313

314 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja Itik Produksi Daging Ternak Unggas Ayam Kampung 5,96 25,18 41, , , ,30 Ayam Pedaging 2.120, , , , , ,20 Ayam Petelur 13,06 2,24 1,95 14,20 20,30 20,30 Itik 4,92 2,45 9,08 28,70 15,00 15,80 15 Kontribusi Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tehadap PDRB 17,86 17,94 17,53 17,07 17,01 n/a 16 Kontribusi Subsektor Pertanian, Peternakan, Perburuan, dan Jasa terhadap PDRB 6,26 6,26 6,27 6,00 9,89 n/a D Kehutanan 1 Kondisi Umum Hutan Luas Kawasan Hutan (Ha) n/a n/a n/a n/a n/a 2 Pemanfaatan Hasil Hutan Produksi Kayu Bulat (Batang) Produksi Kayu Bulat (m3) Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sektor Kehutanan Bersumber dari Provisi Sumber Daya Hutan Bersumber dari Dana Reboisasi , , , , , ,9 4 Rehabilitasi hutan dan lahan kristis n/a n/a n/a n/a n/a E Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Pertambangan tanpa ijin Peningkatan jumlah produksi batubara , , , , ,15 n/a Peningkatan jumlah produksi minyak bumi , , , , ,00 n/a Peningkatan jumlah produksi , , , , ,00 n/a Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 314

315 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja gas bumi 2 Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap PDRB 30,33 30,25 30,50 31,61 31,99 n/a F Perdagangan 1 Kontriusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB 10,70 10,81 10,70 10,42 10,08 9,92 2 Ekspor bersih perdagangan $725,302,000 $800,068,500 $616,329,000 $650,058,000 $1,057,899,406 $1,068,360,000 G Perindustrian 1 Kontribusi sektor industri terhadap PDRB 10,23 9,95 9,73 9,58 9,32 9,55 2 Jumlah industri kecil menengah n/a n/a n/a n/a n/a H Transmigrasi Fokus Layanan urusan Penunjang A Perencanaan Pembangunan 1 Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan PERDA Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak 2 Tersedianya dokumen perencanaan: RPJMD yang telah ditetapkan dengan PERDA/PERKADA Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak 3 Tersedianya dokumen perencanaan: RKPD yang telah ditetapkan dengan Tidak Tidak Tidak Tidak Ada Ada PERKADA 4 Penjabaran program RPJMD ke dalam RKPD n/a n/a 5 Persentase desa berstatus swasembada terhadap total n/a n/a n/a n/a desa Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 315

316 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja B Ketentraman, Ketertiban, dan Penanggulangan Bencana C Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri D Layanan Masyarakat 1 Cakupan sarana prasarana perkantoran pemerintahan n/a n/a kelurahan yang baik 2 Sistim Informasi Manajemen Pemda n/a n/a n/a n/a 2.4 Daya Saing Daerah Kemampuan Ekonomi Daerah A Kemampuan Ekonomi Daerah 1 Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita n/a Pengeluaran konsumsi non pangan per kapita n/a n/a n/a n/a n/a n/a 2 Produktivitas total daerah n/a 3 Jenis dan jumlah bank dan cabang n/a 4 Jenis, kelas, dan jumlah restoran n/a n/a n/a n/a n/a Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/hotel Hotel Non Bintang n/a Hotel Bintang n/a B Pertanian Nilai Tukar Petani (NTP) n/a n/a n/a n/a 99,97 90,51 C Pengeluaran Konsumsi Non Pangan per Kapita n/a Fasilitas Wilayah/Infrastruktur A Perhubungan 1 Rasio panjang jalan per 0,032 0,028 0,029 0,030 0,028 n/a jumlah kendaraan B Penataan Ruang Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 316

317 No Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kerja C Lingkungan Hidup 1 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih 20,80 29,65 25,10 21,13 21,64 n/a D Komunikasi dan Informatika 1 Rasio Ketersediaan Daya Listrik 177,66 195,27 147,18 156,03 133,44 n/a 2 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik 39,59 70,18 64,26 56,70 61,06 n/a 3 Persentase Penduduk yang Menggunakan HP/Telepon 1,24 1,28 3,25 4,11 3,81 n/a Iklim Berinvestasi A Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Fokus Sumber Daya Manusia A Ketenagakerjaan 1 Rasio Lulusan S1/S2/S3 82,57 59,67 149,01 156,16 n/a n/a 2 Rasio Ketergantungan 55,22 54,42 54,53 n/a n/a n/a Standar Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>) RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 317

318 2.5. KAWASAN PERBATASAN Kawasan perbatasan suatu negara memiliki nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Hal ini terjadi karena wilayah perbatasan memiliki dampak penting bagi kedaulatan suatu negara, pertumbuhan ekonomi melalui pergerakan barang dan jasa, mempunyai pengaruh dengan kegiatan yang dilaksanakan di wilayah lainnya yang berbatasan baik antarwilayah maupun antarnegara, dan berdampak pada kondisi pertahanan dan keamanan baik dalam skala regional maupun nasional. Agenda ketiga Nawa Cita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran, dan amanat perundang-undangan memiliki keterkaitan erat dengan upaya percepatan pembangunan kawasan perbatasan. Adanya upaya ini mencerminkan telah terjadi pergeseran paradigma dan arah kebijakan pembangunan kawasan perbatasan, yang selama ini cenderung berorientasi inward looking, kini menjadi outward looking sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga sekaligus menjadi beranda depan NKRI. Provinsi Kalimantan Utara menjadi salah satu provinsi di Pulau Kalimantan yang wilayahnya berada di perbatasan negara. Ada dua kabupaten di Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Malaysia (Negara Bagian Sabah dan Serawak), yaitu Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan. Posisi strategis dan adanya akses formal perbatasan menyebabkan pergerakan manusia dan komoditas barang mengalami peningkatan, untuk itu prioritas percepatan pembangunan di kawasan perbatasan menjadi hal yang esensial. Pada subbab berikut akan menjelaskan gambaran umum dan kondisi kawasan perbatasan di Provinsi Kalimantan Utara Delineasi Kawasan Wilayah Kalimantan Utara yang terletak di kawasan perbatasan secara administratif meliputi 30 desa dari lima kecamatan di Kabupaten Malinau dan 182 desa dari 12 kecamatan di Kabupaten Nunukan. Luas wilayah kecamatan-kecamatan di perbatasan mencapai ,68 km 2. Kecamatan di perbatasan yang memiliki wilayah paling luas adalah Kecamatan Kayan Hilir dengan luasan ,19 km 2, sedangkan Kecamatan Sebatik Utara menjadi kecamatan dengan luas wilayah terkecil yaitu 15,39 km 2. Berikut ini adalah tabel luas wilayah kawasan perbatasan berdasarkan kecamatan. Tabel Luas Wilayah Kawasan Perbatasan berdasarkan Kecamatan di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Kecamatan Luas (km 2 ) Malinau Kayan Hulu 735,40 Kayan Selatan 3.138,59 Kayan Hilir ,19 Pujungan 6.539,39 Bahau Hulu 3.098,98 Nunukan Sebatik 51,07 Sebatik Barat 83,27 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 318

319 Kabupaten Kecamatan Luas (km 2 ) Sebatik Timur 39,17 Sebatik Utara 15,39 Sebatik Tengah 47,71 Nunukan 564,50 Nunukan Selatan 181,77 Lumbis Ogong 3.357,01 Krayan 1.834,74 Krayan Selatan 1.757,66 Tulin Onsoi 1.513,36 Sei Manggaris 850,48 Total Luas Wilayah ,68 Sumber: Kabupaten Malinau Dalam Angka, 2015; Kabupaten Nunukan Dalam Angka, 2015 RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 319

320 Gambar Peta Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara Sumber: Draf RTRW Provinsi Kalimantan Utara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 320

321 Kabupaten Malinau memiliki kecamatan yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia di negara bagian Serawak, sedangkan Kabupaten Nunukan terdapat enam kecamatan berbatasan darat, tiga kecamatan berbatasan laut, dan tiga kecamatan berbatasan darat dan laut dengan Malaysia di negara bagian Sabah. Berikut ini adalah desa dan kecamatan yang berbatasan dengan Malaysia. Tabel Desa dan Kecamatan di Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara No. Kabupaten Kecamatan Desa Letak Perbatasan 1. Malinau Kayan Hulu Long Temuyat Darat 2. Nawang Baru 3. Long Betaoh 4. Long Nawang 5. Long Payau 6. Kayan Hilir Long Metun Darat 7. Sungai Anai 8. Long Pipa 9. Long Sule 10. Data Dian 11. Pujungan Long Belaka Pitau Darat 12. Long Jelat 13. Long Pua 14. Long Ketaman 15. Long Aran 16. Long Lame 17. Long Pujungan 18. Long Paliran 19. Long Bena 20. Bahau Hulu Long Uli Darat 21. Long Tebulo 22. Long Alango 23. Long Kemuat 24. Long Berini 25. Apau Ping 26. Kayan Selatan Long Ampung Darat 27. Long Sei Barang 28. Lidung Payau 29. Long Uro 30. Metulang 31. Nunukan Krayan Lembudud Darat 32. Pa Kidang 33. Pa Pirit 34. Pa Terutun 35. Buduk Kubul 36. Liang Turan 37. Liang Alig 38. Pa Mering 39. Liang Bua 40. Wa Yagung 41. Sembudu 42. Pa Raye 43. Long Sepayang 44. Pa Inan 45. Pamulak 46. Long Mangan 47. Pa Urud 48. Pa Kemut 49. Cinglat 50. Long Tugul RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 321

322 No. Kabupaten Kecamatan Desa Letak Perbatasan 51. Long Puak 52. Pa Padi 53. Ma Libu 54. Pa Lutu 55. Bungayan 56. Pa Pani 57. Pa Betung 58. Kampung Baru 59. Pa Delung 60. Pa Nado 61. Lembada 62. Pa Payak 63. Pa Rupai 64. Long Kabid 65. Pa Butai 66. Liang Tuer 67. Buduk Kinangan 68. Wa Yanud 69. Pa Matung 70. Pa Putuk 71. Liang Biadung 72. Wa Laya 73. Long Matung 74. Pa Kebuan 75. Pa Umung 76. Pa Pawan 77. Long Nuat 78. Long Tenem 79. Pa Lidung 80. Pa Rangeb 81. Long Berayang 82. Pa Sire 83. Long Api 84. Long Katung 85. Long Rupan 86. Buduk Tumu 87. Long Umung 88. Pa Melade 89. Ba Sikor 90. Pa Pala 91. Sinar Baru 92. Long Bawan 93. Lepatar 94. Long Nawang 95. Liang Butan 96. Krayan Selatan Long Pasia Darat 97. Liang Lunuk 98. Pa Amai 99. Pa Kaber 100. Pa Tera 101. Long Budung 102. Pa Dalan 103. Pa Urang 104. Long Birar 105. Long Kelupan 106. Long Rungan 107. Pa Milau 108. Long Pupung 109. Pa Yalau 110. Long Mutan 111. Tang Badui 112. Long Padi RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 322

323 No. Kabupaten Kecamatan Desa Letak Perbatasan 113. Long Rian 114. Ba Liku 115. Binuang 116. Pa Ibang 117. Pa Sing 118. Pa Upan 119. Tang Paye 120. Lumbis Ogong Tantalujuk Darat 121. Panas 122. Kuyo 123. Nantukidan 124. Labang 125. Sumantipai 126. Bokok 127. Tambalang Hulu 128. Langgason 129. Mamasin 130. Duyan 131. Tau Lumbis 132. Tetagas 133. Bulu Laun Hulu 134. Tantu Libing 135. Payang 136. Suyadon 137. Tukulon 138. Batung 139. Ubel Sulok 140. Ubel Alung 141. Nan Sapan 142. Sedalit 143. Tambalang Hilir 144. Paluan 145. Jukup 146. Long Bulu 147. Kalam Buku 148. Tadungus 149. Linsayung 150. Salan 151. Sungoi 152. Samunti 153. Sinampala 154. Limpakon 155. Labuk 156. Sumentobol 157. Sanal 158. Tumatalas 159. Ngawol 160. Lagas 161. Kabungalor 162. Lepaga 163. Sinampala 164. Sibalu 165. Bulu Mengelom 166. Semata 167. Bulu Laun Hilir 168. Kalisun 169. Tulin Onsoi Belatikan Darat 170. Naputi 171. Tembalang 172. Sekikilan 173. Tau Baru 174. Tinampak I RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 323

324 No. Kabupaten Kecamatan Desa Letak Perbatasan 175. Tinampak II 176. Kalun Sayan 177. Semunad 178. Salang 179. Sanur 180. Makmur 181. Sei Menggaris Samaenre Semaja Darat dan Laut 182. Sri Nanti 183. Sekaduyan Taka 184. Tabur Lestari 185. Sebatik Barat Bambangan Darat 186. Binalawan 187. Liang Bunyu 188. Setabu 189. Sebatik Maspul Darat 190. Tengah Bukit Harapan 191. Sungai Limau 192. Aji Kuning 193. Sebatik Timur Tanjung Harapan Laut 194. Bukit Aru Indah 195. Tanjung Aru 196. Sungai Nyamuk 197. Sebatik Utara Lapri Darat dan Laut 198. Seberang 199. Pancang 200. Sebatik Padaidi Darat dan Laut 201. Balansiku 202. Sei Manurung 203. Tanjung Karang 204. Nunukan Nunukan Utara Laut 205. Nunukan Tengah 206. Binusan 207. Nunukan Barat 208. Nunukan Timur 209. Nunukan Mansapa Laut 210. Selatan Selisun 211. Nunukan Selatan 212. Tanjung Harapan Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Analisis, 2016 Berdasarkan data dari Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan, dari total 17 kecamatan yang terletak di kawasan perbatasan, terdapat 13 kecamatan yang menjadi lokasi prioritas (Lokpri), yaitu Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Pujungan, Bahau Hulu (Kabupaten Malinau), Krayan, Krayan Selatan, Lumbis Ogong, Tulin Onsoi, Sei Menggaris, Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Timur, dan Sebatik Utara (Kabupaten Nunukan). Disamping 13 kecamatan yang menjadi Lokpri, juga terdapat empat lokasi yang direncanakan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu Long Nawang, Long Midang, Sei Menggaris, dan Nunukan. Dua desa juga direncanakan sebagai PKSN promosi, yaitu Tau Lumbis di Kecamatan Lumbis Ogong, dan Sei Nyamuk di Kecamatan Sebatik Timur. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 324

325 Gambar Peta PKSN Kawasan Perbatasan berdasarkan Lokpri di Wilayah Pulau Kalimantan Sumber: Buku III RPJMN RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 325

326 berikut. Pusat pelayanan utama Adapun peran dan fungsi PKSN di Kalimantan Utara dapat dilihat pada tabel Tabel Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di Provinsi Kalimantan Utara PKSN Peran Kabupaten Lokasi Fungsi Pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan Pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara Pusat pelayanan pemerintahan Pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan Kabupaten Malinau Long Nawang Pusat perdagangan dan jasa Pusat pengembangan ekowisata Pusat pelayanan transportasi udara Pusat pengolahan hasil hutan, pertanian, perkebunan Pusat pelayanan sistem angkutan umum penumpang Pusat pelayanan, kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan Pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara Pusat pelayanan pemerintahan Pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan Long Midang Pusat perdagangan dan jasa Pusat industri pengolahan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet Pusat pengembangan ekowisata Pusat pelayanan transportasi udara Pusat pelayanan sistem angkutan umum penumpang Pusat kegiatan utama dalam peningkatan pelayanan pertahanan dan kemanan negara serta pendorong pengembangan kawasan perbatasan negara Kabupaten Nunukan Sei Menggaris Nunukan Pusat pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan keamanan Pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara Pusat pelayanan pemerintahan Pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan Pusat perdagangan dan jasa Pusat industri pengolahan hasil perkebunan kelapa sawit, karet, serta perikanan dan kelautan Pusat pelayanan transportasi udara Pusat pelayanan sistem angkutan umum penumpang Pusa pelayanan kepabeanan, imigrasi, karantina, dan kemanan Pusat kegiatan pertahanan dan keamanan negara Pusat pelayanan pemerintahan Pusat pelayanan pendidkan dan kesehatan Pusat perdagangan dan jasa Pusat industri pengolahan hasil pertambangan mineral dan batubara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 326

327 PKSN Peran Kabupaten Lokasi Fungsi Pusat industri pengolahan hasil hutan Pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan dan kelautan yang ramah lingkungan Pusat pengembangan wisata budaya Pusat pengembangan pertanian, perkebunan, serta perikanan, dan kelautan Pusat pelayanan sistem angkutan umum penumpang dan barang Pusat pelayanan transportasi laut Pusat pelayanan tranportasi udara Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Berdasarkan topografi, kawasan perbatasan Kalimantan Utara sebagian besar terdiri atas dataran tinggi dengan ketinggian m hingga m dari permukaan laut. Kecamatan Lumbis Ogong, Krayan, Krayan Selatan di Kabupaten Nunukan, Kecamatan Bahau Hulu dan Pujungan di Kabupaten Malinau merupakan kawasan dengan kontur dataran tinggi, sedangkan Kecamatan Sei Menggaris Nunukan, Nunukan Selatan, dan seluruh kecamatan di Pulau Sebatik berada di dataran rendah. Dominasi kontur kontur pegunungan, dataran yang berbukit-bukit menjadi salah satu kendala dalam melakukan pembangunan infrastruktur dasar yang masif seperti jalan dan penyediaan listrik Sosial Kependudukan A. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang yang berada di kawasan perbatasan Kalimantan Utara pada tahun 2014 tercatat mencapai jiwa. Kecamatan Nunukan menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu sejumlah jiwa, sedangkan Kecamatan Kayan Hilir memiliki jumlah penduduk paling sedikit, yaitu jiwa. Adapun kepadatan penduduk bruto paling tinggi berada di Kecamatan Sebatik Utara, dengan kepadatan penduduk mencapai 356 jiwa/km 2. Pertumbuhan jumlah penduduk di kecamatan perbatasan dalam kurun waktu lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 327

328 Tabel A.1. Pertumbuhan Jumlah Penduduk di Kecamatan Perbatasan Tahun Provinsi Kalimantan Utara Pertumbuhan Jumlah Penduduk (Jiwa) Kabupaten Kecamatan (%) Kayan Hulu ,54 Kayan Selatan ,06 Malinau Kayan Hilir ,54 Pujungan ,54 Bahau Hulu ,55 Sebatik ,39 Sebatik Barat ,18 Sebatik Timur n/a ,10 Sebatik Utara n/a ,10 Sebatik Tengah n/a ,10 Nunukan Nunukan ,85 Nunukan Selatan ,66 Lumbis Ogong n/a ,76 Krayan ,33 Krayan Selatan ,66 Tulin Onsoi n/a ,64 Sei Manggaris n/a ,58 Total Jumlah Penduduk ,68 Kawasan Perbatasan Sumber: 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015; 2) Kabupaten Nunukan Dalam Angka, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015; 3) Analisis, 2016 Tidak tersedianya data jumlah penduduk pada tahun 2010 di Kecamatan Sebatik Timur, Sebatik Utara, Sebatik Tengah, Lumbis Ogong, Tulin Onsoi, dan Sei Menggaris dikarenakan oleh kecamatan-kecamatan tersebut belum terbentuk dari hasil pemekaran kecamatan induknya, yaitu Kecamatan Sebatik, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Sebuku, dan Kecamatan Nunukan. B. Tingkat Pendidikan Belum ada data rinci terkait tingkat pendidikan penduduk di kawasan perbatasan, sehingga pendekatan yang dilakukan adalah melihat dari dokumen Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Provinsi Kalimantan Utara Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa jumlah penduduk Kalimantan Utara menurut pendidikan pada tahun 2015 didominasi oleh tingkat pendidikan SD ke bawah yang mencapai orang, disusul tingkat pendidikan SMU/SMK sebanyak orang, SMP sebanyak orang, dan Diploma ke atas sebanyak orang. C. Mata Pencaharian Data spesifik terkait mata pencaharian penduduk di kawasan perbatasan juga belum tersedia, sehingga kondisi mata pencaharian penduduk dilihat dari Buku Kondisi RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 328

329 Sosial Ekonomi dan Indikator Penting Kalimantan Utara tahun Dokumen publikasi tersebut menjelaskan bahwa 96% desa sumber penghasilan utamanya dari pertanian dan tercatat sekitar 1600an keluarga bekerja sebagai petani, dengan hasil pertanian berupa padi, tanaman holtikultura, dan palawija. Sektor perdagangan dan jasa juga menjadi tumpuan mata pencaharian penduduk setelah pertanian Sarana Pendidikan Di kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau, persebaran sarana pendidikan belum merata. Sebanyak 5 desa dari 30 desa masih belum memiliki sarana pendidikan sama sekali, dari jenjang SD hingga SMA/SMK baik yang berstatus negeri maupun swasta. Selanjutnya, 22 desa telah memiliki sarana pendidikan berjumlah 1 unit, dan 3 desa telah memiliki 2 hingga 3 sarana pendidikan formal, diantaranya adalah desa di Kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, dan Pujungan. Penyelenggaraan kegiatan pendidikan di kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau pada umumnya sangat mengandalkan kegiatan program penyetaraan pendidikan dalam bentuk paket A, paket B, dan paket C. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya sarana pendidikan formal yang berkualitas dan sulitnya mengakses sarana pendidikan karena letak geografis yang tidak memungkinkan. Disamping penyediaan kebutuhan sarana sekolah, pembangunan asrama sekolah untuk warga masyarakat yang mengenyam pendidikan khususnya SMP dan SMA/SMK juga menjadi hal penting karena letak sekolah dan tempat tinggal yang sangat jauh. Di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan, kondisi sarana pendidikan formal tingkat SD terdapat hampir di seluruh kecamatan dan desa. Namun untuk sarana pendidikan SMP tidak terdapat di seluruh desa dan kecamatan di kawasan perbatasan. Untuk SMA/SMK hanya ada di ibukota kecamatan. Siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah harus menumpang di rumah masyarakat yang berdekatan dengan sekolah atau kost atau di asrama, keberadaan asrama masih terbatas di Kecamatan Krayan Selatan saja. Kondisi sarana pendidikan masih banyak kekurangan terutama fasilitas fisik yang kurang layak, begitu juga dengan prasarana pendukung, seperti buku, yang masih kekurangan. Hal ini disebabkan oleh tidak dapat terdistribusikannya bantuan buku karena terkendala kondisi geografis wilayah. Adapun tenaga pengajar di seluruh sekolah masih sangat kurang, di Kecamatan Lumbis Ogong pengajar kurang aktif ke sekolah khususnya untuk SD dan SMP. Pengajar lebih memilih menunggu (stay) di ibukota kecamatan karena faktor geografis dan tidak memiliki tempat tinggal di lokasi tugas. Meskipun ada bantuan tenaga pengajar dari pemerintah pusat melalui program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) yang sudah berjalan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 329

330 selama 3 tahun di Kabupaten Nunukan dan tersebar di seluruh kecamatan perbatasan, namun tidak semua desa ada pengajar dari program tersebut. Adapun pelaksanaannya bersifat tidak bersifat tidak berkelanjutan, karena sifatnya hanya sebagai guru bantu selama satu tahun. Tabel Jumlah dan Sebaran Sarana Pendidikan di Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Kecamatan Jumlah Sarana Pendidikan (Unit) SD SMP SMA SMK Malinau Kayan Hulu Kayan Selatan Kayan Hilir Pujungan Bahau Hulu Nunukan Sebatik Sebatik Barat Sebatik Timur Sebatik Utara Sebatik Tengah Nunukan Nunukan Selatan Lumbis Ogong Krayan Krayan Selatan Tulin Onsoi Sei Manggaris Total Jumlah Sumber: Kabupaten Malinau Dalam Angka, 2015 dan Kabupaten Nunukan Dalam Angka, Sarana Kesehatan Sarana kesehatan di kecamatan perbatasan dapat dilihat dari keberadaan Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Pustu di kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau tersebar di 18 wilayah desa, sedangkan 12 desa sama sekali belum memiliki sarana kesehatan berupa Pustu. Adapun keberadaan tenaga kesehatan di kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau persebarannya tidak merata, baru 4 desa yang memiliki tenaga dokter menetap. Meskipun hampir semua desa memiliki bidan desa, namun ada kemungkinan tidak menetap, sehingga apabila ada kejadian yang bersifat darurat tidak dapat segera tertangani. Sedangkan untuk Kabupaten Nunukan, hingga tahun 2014 telah memiliki 1 rumah sakit. Namun demikian, keberadaan rumah sakit belum mampu memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat terutama masyarakat di desa-desa yang sulit untuk mengakses rumah sakit karena terkendala jarak dan kondisi geografis. Keberadaan puskesmas pembatu (Pustu) sangat membantu masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan. Jumlah Pustu di Kabupaten Nunukan mencapai 36 unit yang tersebar di berbagai kecamatan. Secara umum, kondisi bangunan Pustu di Kabupaten Nunukan berkonstruksi kayu, hanya sedikit yang berkonstruksi beton. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 330

331 Tenaga kesehatan yang tersedia pada umumnya adalah mantri, perawat, dan bidan yang menetap di desa, namun keberadaannya juga belum merata. Contoh kasus di Kecamatan Krayan, yang pasien harus menggunakan pesawat apabila membutuhkan penanganan kesehatan lanjutan di rumah sakit di Kabupaten Nunukan atau Kota Tarakan. Hal ini tentu saja membutuhkan biaya lebih, meskipun ada subsidi dan prioritas dari pemerintah bagi pasien. Tenaga dokter dan kesehatan masih terkonsentrasi di Kecamatan Nunukan, dengan jumlah tenaga kesehatan yang menetap di kecamatan tersebut adalah 51 dokter umum, 8 dokter gigi, 142 bidan, dan 196 tenaga kesehatan serta 144 dukun bayi/bersalin/paraji. Adapun kondisi memprihatinkan ada di tiga kecamatan, yaitu di Lumbis Ogong, Sebatik Barat, dan Sebatik Utara yang di desanya tidak memiliki dokter.untuk keberadaan bidan desa, hanya 57 desa dari 182 desa di perbatasan yang memiliki bidan desa, sisanya 125 desa tidak memiliki bidan desa. Tabel Jumlah dan Sebaran Sarana Kesehatan di Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Kecamatan Puskesmas Keliling Balai Rumah Puskesmas Pustu Roda Roda Perahu Posyandu Poskesdes Pengobatan Sakit 2 4 Motor / Klinik Malinau Kayan Hulu Kayan Selatan Kayan Hilir Pujungan Bahau Hulu Nunukan Sebatik * 14 n/a 1 Sebatik * 17 n/a 2 Barat Sebatik n/a 2 Timur Sebatik n/a 0 Utara Sebatik * 11 n/a 3 Tengah Nunukan * 34 n/a 30 Nunukan n/a 0 Selatan Lumbis n/a 0 Ogong Krayan n/a 1 Krayan n/a 1 Selatan Tulin Onsoi * 12 n/a 2 Sei Manggaris n/a 0 Total Jumlah Sumber: Kabupaten Malinau Dalam Angka, 2015 dan Kabupaten Nunukan Dalam Angka, 2015 Keterangan: *) Puskesmas keliling di Kabupaten Nunukan tidak dirinci jenis kendaraannya RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 331

332 Sarana Prasarana Perhubungan A. Infrastruktur Jalan Urgensi penyediaan infrastruktur jalan di kawasan perbatasan menjadi hal yang penting untuk membuka keterisolasian dan meningkatkan perekonomian wilayah. Di kawasan perbatasan Kabupaten Malinau, kebutuhan jalan strategis nasional sepanjang 860 km yang akan menghubungkan Kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, Kayan Hilir, dan Pujungan. Berdasarkan RTR Kawasan Perbatasan Negara di Kalimantan, khusus untuk Kabupaten Malinau akan dibangun jaringan jalan kolektor primer berupa jalan lintas menuju perbatasan melalui Long Nawang-Batas Negara di Kecamatan Kayan Hulu, Malinau- Long Bawan. Kemudian jaringan jalan sejajar perbatasan dibangun di Long Pahangai-Long Boh-Long Metulang-Long Nawang. Tabel A.1. Kondisi Infrastruktur Jalan di Kecamatan Perbatasan di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara No. Kabupaten Kecamatan Desa Jalan Dapat Dilalui Kendaraan Bermotor 1. Malinau Kayan Hulu Long Temuyat Sepanjang tahun 2. Nawang Baru Sepanjang tahun 3. Long Betaoh Sepanjang tahun 4. Long Nawang Sepanjang tahun 5. Long Payau Sepanjang tahun kecuali saat tertentu 6. Kayan Hilir Long Metun Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 7. Sungai Anai Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 8. Long Pipa Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 9. Long Sule Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 10. Data Dian Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 11. Pujungan Long Belaka Pitau Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 12. Long Jelat Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 13. Long Pua Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 14. Long Ketaman Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 15. Long Aran Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 16. Long Lame Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 17. Long Pujungan Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 18. Long Paliran Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 19. Long Bena Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 20. Bahau Hulu Long Uli Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 21. Long Tebulo Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 22. Long Alango Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 23. Long Kemuat Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 24. Long Berini Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 25. Apau Ping Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 26. Kayan Selatan Long Ampung Sepanjang tahun kecuali saat tertentu 27. Long Sei Barang Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 28. Lidung Payau Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 29. Long Uro Tidak dapat dilalui sepanjang tahun 30. Metulang Sepanjang tahun kecuali saat tertentu Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Sedangkan di kawasan perbatasan di Kabupaten Nunukan, rencana jalan strategis nasional sepanjang 316 km. serta jalan nasional yang melalui Kabupaten Nunukan sepanjang 610 km. jalan nasional menghubungkan wilayah-wilayah perbatasan di sebelah RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 332

333 Utara Kabupaten Nunukan hingga sebelah Selatan. Kecamatan Krayan juga masuk sebagai wilayah yang akan dilalui jalan strategis nasional. Kondisi eksisting infrastruktur jalan di Kabupaten Nunukan sebagian besar masih jenis permukaan berupa tanah, terutama di daerah yang menjadi Lokpri. B. Layanan Transportasi Transportasi dari dan/atau menuju kawasan perbatasan secara umum dilayani melalui jalur udara, laut, dan darat, oleh sebab itu keberadaan sarana dan prasarana transportasi menjadi hal yang penting. Adanya pembangunan dan peningkatan sarana prasarana transportasi diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan di kawasan perbatasan. Di kawasan perbatasan di Kabupaten Malinau, bandar udara atau lapangan terbang merupakan salah satu sarana transportasi udara yang menghubungkan antarwilayah, sehingga perlu ditingkatkan dan dibangun baru berupa bandar udara pengumpan dan bandar udara perintis di Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Selatan, Kayan Hilir, dan Pujungan. Sedangkan di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan, berdasarkan RTRW Kalimantan Utara dan RTR Kawasan Perbatasan Kalimantan, direncanakan pembangunan bandar udara perintis dan pengumpan di Kecamatan Lumbis, Lumbis Ogong, Krayan Selatan (Long Layu), Krayan (di Binuang), dan Sebatik Barat. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 333

334 Kabupaten Tabel B.1. Kondisi Lapangan Udara dan Rencana Pengembangannya di Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara Kecamatan Lapangan Terbang Panjang Landasan (m) Kondisi Landasan Jenis Pesawat Malinau Kayan Hulu Long Nawang 450 Tanah/rumput Cessna 206, Kodiak, Pilatus Kayan Selatan Long Ampung 1200 Aspal beton Cessna 206, Kodiak, Pilatus, Caravan, DHC-6 Long Sungai 360 Tanah/rumput Cessna 206, Barang Pilatus Kayan Hilir Data Dian 420 Tanah/rumput Cessna 206, Kodiak, Pilatus Lung Sule 430 Tanah/rumput Cessna 206, Kodiak, Pilatus Long Metun 360 Tanah/rumput Cessna 206, Kodiak, Pilatus Pujungan Long 350 Tanah/rumput Cessna 206, Pujungan Pilatus Bahau Hulu Long Alango 330 Tanah/rumput Cessna 206, Rencana Pengembangan Bandar udara pengumpan, bandar udara perintis Bandar udara perintis Bandar udara perintis Bandar udara perintis Bandar udara perintis Kodiak Nunukan Sebatik Barat Bandar udara pengumpan (skala pelayanan tersier) Nunukan Nunukan 1100 Hotmix ATR 42 Lumbis Ogong Krayan Krayan Selatan Yuvai Semaring Bandar udara perintis 1600 Aspal Cassa 212 Bandar udara pengumpan (tersier), bandar udara perintis Ba' Binuang 700 Tanah Pilatus PC-6 Bandar udara pengumpan (tersier), bandar udara perintis Long Layu 800 Tanah Pilatus PC-6 Sumber: Kabupaten Malinau Dalam Angka, 2015 Kabupaten Nunukan Dalam Angka, 2015 Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Maskapai penerbangan yang melayani rute dari/ke kawasan perbatsan antara lain: Susi Air, Kalstar Aviation, yang keduanya merupakan maskapai komersial, dan MAF yang merupakan maskapai non-komersial. Jenis pesawat yang dapat mendarat di sebagian besar bandara di kecamatan perbatasan yaitu Cassa 212, Cessna 206, Kodiak, Caravan, dan Pilatus PC-6, yang dapat mendarat di landasan tanah atau rumput, sedangkan jenis pesawat ATR 42 hanya dapat mendarat di landasan berkonstruksi aspal hotmix. Adapun untuk transportasi darat di kawasan perbatasan di Kabupaten Malinau, direncanakan akan dibangun Terminal Penumpang Tipe B di Kecamatan Kayan Hulu yang berfungsi melayani angkutan umum untuk angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP), angkutan kota, dan angkutan pedesaan. Prasarana transportasi darat di kecamatan RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 334

335 perbatasan di Kabupaten Nunukan direncanakan dibangun Terminal Penumpang Tipe A yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) dan/atau angkutan lintas batas negara. Sedangkan infrastruktur pelabuhan sebagai prasarana transportasi dan upaya mendukung pertahanan dan keamanan direncanakan dibangun di Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, Sei Taiwan di Pulau Sebatik. Disamping itu juga dibangun pelabuhan untuk kegiatan perikanan berupa Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Desa Sei Nyamuk, Kecamatan Sebatik. Infrastuktur pelabuhan tidak dikembangkan di Kabupaten Malinau karena tidak adanya perbatasan laut. Hal ini berbeda dengan Kabupaten Nunukan yang memiliki wilayah berupa pulau terluar yang menjadi perbatasan laut dengan negara tetangga Jaringan Prasarana A. Air Bersih dan Sanitasi Penyediaan infrastruktur air bersih dan sanitasi di kawasan perbatasan menjadi penting, disamping menjadi fasilitas kesehatan dasar juga hal ini terkait dengan program , yaitu 100% akses air minum layak, 0% pemukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi layak. Penyediaan air bersih di kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau berasal dari mata air yang berada di masing-masing desa di Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, dan Bahau Hulu. Namun di beberapa desa di Kecamatan Pujungan masih mengandalkan sungai, danau, dan kolam sebagai sumber air minum dan keperluan MCK. Sedangkan untuk penyediaan sanitasi, penggunaan jamban pribadi masih belum merata sebarannya di kecamatan perbatasan. Masih terdapat desa-desa yang menggunakan jamban umum dan bukan jamban sebagai tempat pembuangan kotoran manusia. Sedangkan di Kabupaten Nunukan, penyediaan air bersih dan layak digunakani untuk keperluan sehari-hari dilakukan oleh PDAM Kabupaten Nunukan yang berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik. Belum ada data rinci terkait penyediaan air bersih di luar PDAM yang digunakan o;eh kecamatan-kecamatan selain Nunukan dan Sebatik. Adapun sanitasi di Kabupaten Nunukan, lebih dari setengah keluarga di desa membuang kotoran manusia di jamban pribadi, 70,83% limbah cair dan air kotor dibuang ke lubang atau tanah terbuka. Untuk pembuangan sampah, 90% desa di Kabupaten Nunukan belum memiliki tempat penampungan sementara (TPS). Sebagian keluarga di desa membuang sampah di dalam lubang atau dibakar atau dibuang di sungai/saluran irigasi/danau. Kondisi ini menunjukkan belum idealnya penyediaan sarana sanitasi dan air bersih di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 335

336 Tabel A.1. Sumber Air Bersih di Kecamatan Perbatasan di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara No. Kabupaten Kecamatan Desa Sumber Air Bersih 1. Malinau Kayan Hulu Long Temuyat 2. Nawang Baru 3. Long Betaoh Mata Air 4. Long Nawang 5. Long Payau 6. Kayan Hilir Long Metun 7. Sungai Anai 8. Long Pipa Mata Air 9. Long Sule 10. Data Dian 11. Pujungan Long Belaka Pitau 12. Long Jelat 13. Long Pua 14. Long Ketaman 15. Long Aran Sungai/Danau/Kolam 16. Long Lame 17. Long Pujungan 18. Long Paliran 19. Long Bena 20. Bahau Hulu Long Uli Mata Air 21. Long Tebulo Mata Air, Sungai/Danau/Kolam 22. Long Alango 23. Long Kemuat 24. Long Berini Mata Air 25. Apau Ping 26. Kayan Selatan Long Ampung 27. Long Sei Barang 28. Lidung Payau Mata Air 29. Long Uro 30. Metulang Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara B. Energi Prasarana energi yang dimaksud di sini terkait dengan penyediaan ketenagalistrikan dan bahan bakar untuk mendukung aktivitas harian masyarakat. Pasokan energi listrik dari PLN yang kurang mencukupi telah menjadi kendala pembangunan di Kalimantan Utara, terlebih di kawasan perbatasan. Oleh karena itu, diperlukan upaya alternatif seperti menyediakan energi baru terbarukan (EBT) melalui pengembangan pembangkit listrik. Berdasarkan RTRW Kalimantan Utara, pembangkit listrik yang akan dikembangkan dan dibangun di Kabupaten Malinau khususnya di kawasan perbatasan adalah pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Belum semua keluarga mendapatkan layanan listrik baik dari PLN maupun non-pln. Pelayanan listrik non-pln telah menjadi ciri khas pemenuhan energi di kawasan perbatasan. Sedangkan kondisi di Kabupaten Nunukan, meskipun terjadi peningkatan produksi tenaga listrik namun tidak dirasakan oleh semua penduduk khususnya di kecamatan perbatasan yang menjadi lokasi prioritas (Lokpri). Sebagian besar pengguna listrik PLN justru berada di kecamatan perbatasan yang bukan menjadi Lokpri. Ada 65 desa di RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 336

337 Kecamatan Krayan yang belum teraliri listrik, begitu juga dengan masyarakat di Kecamatan Krayan Selatan, Tulin Onsoi, dan Sei Menggaris yang tidak ada keluarga menjadi pengguna listrik PLN. Jumlah keluarga di kawasan perbatasan yang dilayani listrik dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel B.1. Jumlah Keluarga yang Dilayani Listrik di Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten Kecamatan Keluarga Pengguna Listrik PLN Keluarga Pengguna Non-PLN Keluarga Tanpa Listrik Malinau Kayan Hulu Kayan Selatan Kayan Hilir Pujungan Bahau Hulu Nunukan Sebatik Sebatik Barat Sebatik Timur Sebatik Utara Sebatik Tengah Nunukan Nunukan Selatan Lumbis Ogong Krayan Krayan Selatan Tulin Onsoi Sei Manggaris Total Jumlah Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Berdasarkan RTRW Kalimantan Utara, pembangkit listrik yang akan dikembangkan dan dibangun di wilayah perbatasan di Kabupaten Nunukan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan tenaga diesel (PLTD), selain itu juga akan dibangun PLTA dengan total kapasitas MW di Long Sempanjang, Sebatik. Rencana pembangunan pembangkit listrik di kawasan perbatasan dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel B.2. Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik di Kawasan Perbatasan Provinsi Kaalimantan Utara Kabupaten Kecamatan Jenis Pembangkit Malinau Kayan Hulu PLTMH, PLTS Kayan Selatan PLTMH, PLTS Kayan Hilir PLTMH, PLTS Pujungan PLTMH, PLTS Bahau Hulu PLTMH, PLTS Nunukan Sebatik Barat PLTD Krayan PLTU Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 337

338 C. Telekomunikasi Prasarana telekomunikasi menjadi penting dalam upaya memajukan suatu kawasan, tak terkecuali kawasan perbatasan. Masyarakat di kawasan perbatasan harus memperoleh akses komunikasi dan informasi agar supaya mampu mengetahui situasi dan kondisi terkini sehingga tidak menjadi terbelakang. Di kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau, persebaran sinyal telekomunikasi melalui telepon seluler belum sepenuhnya merata, sebagian desa mendapatkan akses sinyal kuat, namun ada sebagian desa yang memiliki akses sinyal lemah seperti di Kecamatan Pujungan dan Kayan Selatan. Sedangkan di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan, hingga tahun 2014, baru 49 desa dari 182 desa di perbatasan yang memiliki menara Base Transceiver Station (BTS) untuk mendukung akses terhadap telekomunikasi. Penyediaan menara BTS dan jaringan sinyal untuk telekomunikasi masih sangat diperlukan di kawasan perbatasan ini. Disamping itu, keberadaan kanal penyiaran informasi seperti radio RRI dan saluran televisi TVRI juga menjadi penting sebagai upaya agar masyarakat dapat memperoleh informasi sekaligus memberi masukan terhadap pembangunan daerah dan menjadi wujud kehadiran negara, mengingat selama ini di kawasan perbatasan hanya bisa menangkap siaran TV Malaysia Sarana Ekonomi Sarana ekonomi di kawasan perbatasan, salah satunya dapat dilihat dari keberadaan pasar. Kondisi pasar di semua desa di seluruh kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau berupa bangunan berkontruksi tidak permanen (tidak memiliki atap, lantai, dan dinding). Pasar semi permanen berada di desa-desa di Kecamatan Kayan Selatan dan satu desa di Kecamatan Kayan Hilir.Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana ekonomi berupa pasar jumlahnya sangat kurang. Hal ini menjadi faktor penyebab kurangnya jumlah pasokan barang kebutuhan pokok sehingga sulit untuk didapatkan di kawasan perbatasan dan harga barang-barang pokok pun menjadi mahal. DI kecamatan perbatasan di Kabupaten Malinau terdapat kegiatan industri mikro dan kecil yang potensial berkembang, yakni industri yang terbuat dari anyaman rotan, bambu, dan pandan, yang diolah menjadi tikar, peralatan rumah tangga, dan lainnya. Kegiatan ekonomi ini teraglomerasi di desa-desa di Kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, dan Kayan Hilir. Hal yang sama juga ditemukan di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan, yang sebagian besar sarana pasar berkonstruksi semi permanen, adapun pasar dengan bangunan permanen hanya ada di desa Nunukan, sejumlah 4 pasar, yang berdekatan dengan pusat pemerintahan. Selain pasar, di Kabupaten Nunukan juga terdapat RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 338

339 minimarket yang sebagian besar sebarannya berada di Kecamatan Sebatik Timur, yaitu sebanyak 21 unit. Tabel berikut ini menunjukkan jumlah sarana ekonomi di kawasan perbatasan. Kabupaten Tabel Jumlah Sarana Ekonomi di Kecamatan Perbatasan Provinsi Kalimantan Utara Kecamatan Pasar dengan bangunan permanen Pasar semi permanen Pasar tanpa bangunan Minimarket Toko/ Warung Kelontong Warung/ Kedai Makanan Minuman Malinau Kayan Hulu Kayan Selatan n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a Kayan Hilir n/a n/a n/a n/a n/a n/a Pujungan n/a n/a n/a n/a n/a n/a Bahau Hulu n/a n/a n/a n/a n/a n/a Nunukan Sebatik Sebatik Barat Sebatik Timur Sebatik Utara Sebatik Tengah Nunukan Nunukan Selatan Lumbis Ogong Krayan Krayan Selatan Tulin Onsoi Sei Manggaris Total Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Penyediaan sarana ekonomi berupa pasar yang representatif untuk menyediakan layanan barang kebutuhan pokok dan mempermudah transaksi bagi masyarakat di perbatasan menjadi hal yang penting, sehingga masyarakat di perbatasan pun tidak membeli atau mendatangkan barang kebutuhan pokok dari negara tetangga Sarana Permukiman Kondisi perumahan di kawasan perbatasan Kabupaten Malinau secara umum belum memenuhi standar dan sebagian besar terbuat dari bahan kayu dengan sistem rumah panggung yang sederhana, masyarakat perbatasan membangun perumahan dengan sistem berkelompok dalam satu kawasan, namun penyebarannya tidak merata. Penataan lingkungan yang baik dan aktivitas masyarakat yang rendah menjadikan kawasan perumahan di perbatasan Kabupaten Malinau termasuk kawasan yang baik dan tidak kumuh. Adapun kondisi permukiman di kawasan perbatasan di Kabupaten Nunukan terlihat ada ketimpangan antarkecamatan dalam hal infrastruktur, tipe rumah, material rumah, dan fasilitas pendukung lainnya. Kecamatan Nunukan dan Nunukan Selatan menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dengan infrastruktur yang memadai, sedangkan di Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, Lumbis Ogong, dan Tulin Onsoi kondisi perumahannya kurang RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 339

340 memadai. Namun demikian, tingkat permukiman kumuh tertinggi justru ada di Kecamatan Nunukan, hal ini mengakibatkan penduduk yang berpenghasilan rendah akan menempati lingkungan permukiman yang sesuai dengan penghasilannya. Disamping hal tersebut, ketidakpastian tanah yang ditempati menjadi keraguan penduduk untuk memperbaiki rumah yang dihuni, yang kemudian menjadikan lingkungan kumuh semakin memburuk. Keberadaan permukiman kumuh memunculkan permasalahan sosial, seperti tindak kejahatan dan penyakit masyarakat lainnya. Menurut data dari Survei UPT Perbatasan UNMUL, PODES 2015, dan BPS 2015, pada tahun 2014 di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan terdapat 47 lokasi permukiman kumuh dengan bangunan yang dihuni oleh kepala keluarga. Sebaran permukiman kumuh di kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel Keberadaan Permukiman Kumuh di Kecamatan Perbatasan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara No. Kecamatan Desa Jumlah Jumlah Jumlah Lokasi Bangunan Keluarga 1. Krayan Selatan Pa Kaber Tulin Onsoi Tau Baru Tinampak I Tinampak II Salang Sebatik Barat Bambangan Binalawan Liang Bunyu Setabu Sebatik Padaidi Balansiku Tanjung Karang Nunukan Nunukan Utara Nunukan Barat Nunukan Timur Nunukan Selatan Nunukan Selatan Total Sumber: Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara Sarana Prasarana Pertahanan dan Keamanan Sarana pertahanan dan keamanan di kawasan perbatasan sejauh ini masih meliputi keberadaan Pos Pengamanan Perbatasan dan jalan patroli. Berdasarkan data dari Kodam VI/Mulawarman dalam Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Utara , di Kalimantan Utara terdapat 31 Pos Pengamanan Perbatasan (Pos Pamtas) yang dijaga oleh 1 Satgas Batalyon Infanteri (Yonif), dengan jarak antara satu pos dengan pos yang lain kurang lebih sepanjang 370 km. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 340

341 Tabel Jumlah dan Sebaran Pos Pengamanan Perbatasan di Provinsi Kalimantan Utara No Kabupaten Jumlah Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Lokasi Sebaran 1. Malinau 7 Desa Apauping, Long Pujungan, Long Jelat, Long Metun, Long Nawang, Long Betaoh, dan Long Ampung 2. Nunukan 22 Krayan, Long Bawan, long Midang, Simanggaris, Aji Kuning Sumber: Kodam VI/Mulawarman dalam Grand Design Perbatasan Kalimantan Utara Adapun kondisi Pos Pamtas secara umum kurang representatif dan sangat terbatas. Selain Pos Pamtas, juga terdapat jalan patroli sebagai prasarana pertahanan dan keamanan. Kondisi jalan patroli di kawasan perbatasan masih minim, untuk melakukan giat patroli masih menggunakan jalan setapak, sarana sungai, dan angkutan udara. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis kawasan perbatasan yang dikelilingi hutan, rawa, perbukitan, dan pegunungan sehingga sulit dijangkau. Keberadaan Pos Pamtas dan jalan patroli ini sangat penting untuk mengurangi intensitas pelanggaran batas/lintas wilayah (pemindahan patok tapal batas), pencurian sumber daya alam, kegiatan transaksi/perdagangan ilegal, dan bentuk pelanggaran lainnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Utara Tahun II - 341

BAB II PROFIL KEMISKINAN DAERAH

BAB II PROFIL KEMISKINAN DAERAH 2.1. Kondisi Umum Daerah BAB II PROFIL KEMISKINAN DAERAH 2.1.1. Sejarah Singkat Terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara Provinsi Kalimantan Utara di wacanakan sejak tahun 2000 oleh seluruh komponen masyarakat

Lebih terperinci

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1. Kondisi Umum Daerah 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah A. Luas dan batas wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Utara

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan provinsi termuda di Indonesia saat ini yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kaltara berdasarkan Undang-Undang

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi baru yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan Undang-Undang No. 20

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang IV. GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR Propinsi Kalimantan Timur dengan luas wilayah daratan 198.441,17 km 2 dan luas pengelolaan laut 10.216,57 km 2 terletak antara 113º44 Bujur Timur dan 119º00

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km 2 atau hampir 7 % dari luas seluruh pulau Kalimantan. Wilayah

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada koordinat antara sekitar 0 42'30" - 1 28'0" LU dan 102 12'0" - 103 10'0" BT, dan terletak

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KONDISI GEOGRAFIS Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak di jalur pelayaran dunia internasional. Kota Batam berdasarkan Perda Nomor

Lebih terperinci

Laporan Akhir Kajian Iventarisasi Potensi Sumber Daya Alam di Kabupaten Pelalawan Tahun KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL...

Laporan Akhir Kajian Iventarisasi Potensi Sumber Daya Alam di Kabupaten Pelalawan Tahun KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR ISI Isi Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... xiv I. PENDAHULUAN......1 1.1. Latar Belakang......1 1.2. Maksud dan Tujuan Studi......8 1.2.1. Maksud......8

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 38 IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Hutan Mangrove di Tanjung Bara termasuk dalam area kawasan konsesi perusahaan tambang batubara. Letaknya berada di bagian pesisir timur Kecamatan Sangatta

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH

KEADAAN UMUM WILAYAH 40 IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1 Biofisik Kawasan 4.1.1 Letak dan Luas Kabupaten Murung Raya memiliki luas 23.700 Km 2, secara geografis terletak di koordinat 113 o 20 115 o 55 BT dan antara 0 o 53 48 0

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

KONDISI W I L A Y A H

KONDISI W I L A Y A H KONDISI W I L A Y A H A. Letak Geografis Barito Utara adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Kalimantan Tengah, berada di pedalaman Kalimantan dan terletak di daerah khatulistiwa yaitu pada posisi 4 o

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 23 IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Batas Wilayah Kabupaten Tabalong merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibukota Tanjung yang mempunyai

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian Lokasi Studi

METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian Lokasi Studi III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Studi Daerah Irigasi Way Negara Ratu merupakan Daerah Irigasi kewenangan Provinsi Lampung yang dibangun pada tahun 1972 adapun

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Administrasi Kabupaten Bangka Tengah secara administratif terdiri atas Kecamatan Koba, Kecamatan Lubuk Besar, Kecamatan Namang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kecamatan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis 3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penelitian dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi. Fokus area penelitian adalah ekosistem transisi meliputi

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI 39 BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI 4.1 KARAKTERISTIK UMUM KABUPATEN SUBANG 4.1.1 Batas Administratif Kabupaten Subang Kabupaten Subang berada dalam wilayah administratif Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; Lampiran III : Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor : 21 Tahun 2012 Tanggal : 20 Desember 2012 Tentang : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2012 2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Administrasi Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur

Lebih terperinci

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Pertanian Perikanan Kehutanan dan Pertambangan Perindustrian, Pariwisata dan Perindustrian Jasa Pertanian merupakan proses untuk menghasilkan bahan pangan, ternak serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010). BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Air merupakan salah satu komponen penting untuk kehidupan semua makhluk hidup di bumi. Air juga merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kebutuhan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah provinsi di Indonesia, yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN 24 BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN 3.1. Gambaran Umum Kabupaten Serdang Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu Kabupaten yang berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis

Lebih terperinci

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI II-1 BAB II 2.1 Kondisi Alam 2.1.1 Topografi Morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali secara umum di bagian hulu adalah daerah pegunungan dengan topografi bergelombang dan membentuk cekungan dibeberapa

Lebih terperinci

Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan

Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan 3 Nilai Tanah : a. Ricardian Rent (mencakup sifat kualitas dr tanah) b. Locational Rent (mencakup lokasi relatif dr tanah) c. Environmental Rent (mencakup sifat

Lebih terperinci

Karakteristik Daerah Aliran Sungai Mamberamo Papua

Karakteristik Daerah Aliran Sungai Mamberamo Papua Karakteristik Daerah Aliran Sungai Mamberamo Papua Disusun Oleh : Ridha Chairunissa 0606071733 Departemen Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Daerah Aliran Sungai

Lebih terperinci

Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH. 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan

Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH. 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan Dalam memahami karakter sebuah wilayah, pemahaman akan potensi dan masalah yang ada merupakan hal yang

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pembagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara administratif yaitu sebagai berikut. a. Kota Yogyakarta b. Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

4.1. Letak dan Luas Wilayah

4.1. Letak dan Luas Wilayah 4.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Lamandau merupakan salah satu Kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Kotawaringin Barat. Secara geografis Kabupaten Lamandau terletak pada 1 9-3 36 Lintang Selatan dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala Geografi Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala TANAH Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Umum Daerah aliran sungai (DAS) Cilamaya secara geografis terletak pada 107 0 31 107 0 41 BT dan 06 0 12-06 0 44 LS. Sub DAS Cilamaya mempunyai luas sebesar ± 33591.29

Lebih terperinci

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA PERENCANAAN WILAYAH 1 TPL 314-3 SKS DR. Ir. Ken Martina Kasikoen, MT. Kuliah 10 BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA Dalam KEPPRES NO. 57 TAHUN 1989 dan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang PEDOMAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Hartini Susanti, 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Hartini Susanti, 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan mineral, seperti batubara, timah, minyak bumi, nikel, dan lainnya. Peraturan Presiden

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM LOKASI

BAB II KONDISI UMUM LOKASI 6 BAB II KONDISI UMUM LOKASI 2.1 GAMBARAN UMUM Lokasi wilayah studi terletak di wilayah Semarang Barat antara 06 57 18-07 00 54 Lintang Selatan dan 110 20 42-110 23 06 Bujur Timur. Wilayah kajian merupakan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM. Wilayah Sulawesi Tenggara

GAMBARAN UMUM. Wilayah Sulawesi Tenggara GAMBARAN UMUM Wilayah Sulawesi Tenggara Letak dan Administrasi Wilayah Sulawesi Tenggara terdiri atas Jazirah dan kepulauan terletak antara 3 o - 6 o Lintang selatan dan 12 45' bujur timur, dengan total

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON No. Potensi Data Tahun 2009 Data Tahun 2010*) 1. Luas lahan pertanian (Ha) 327 327

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian ini meliputi wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Secara Geografis Kota Depok terletak di antara 06 0 19 06 0 28 Lintang Selatan dan 106 0 43 BT-106 0 55 Bujur Timur. Pemerintah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi Kesampaian Daerah Daerah penelitian secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kampung Seibanbam II, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Propinsi Kalimantan Selatan.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Sejarah Kabupaten Lampung Selatan Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar pokok Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 21 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Umum Fisik Wilayah Geomorfologi Wilayah pesisir Kabupaten Karawang sebagian besar daratannya terdiri dari dataran aluvial yang terbentuk karena banyaknya sungai

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG Geografis dan Administrasi Kabupaten Sintang mempunyai luas 21.635 Km 2 dan di bagi menjadi 14 kecamatan, cakupan wilayah administrasi Kabupaten Sintang disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian. Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian. Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas wilayah Kabupaten Kuningan secara keseluruhan mencapai 1.195,71

Lebih terperinci

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI BAB I KONDISI FISIK A. GEOGRAFI Kabupaten Lombok Tengah dengan Kota Praya sebagai pusat pemerintahannya merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 39 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57-3º

Lebih terperinci

C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia

C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar. Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim dengan potensi kekayaan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Propinsi Sulawesi Tenggara

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Propinsi Sulawesi Tenggara IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Umum Propinsi Sulawesi Tenggara 4.1.1 Kondisi Geografis Propinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, terletak di bagian selatan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang 43 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Umum Kecamatan Sragi a. Letak Geografis Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada di

Lebih terperinci

DATA SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR SAMPAI DENGAN SEMESTER I TAHUN I. Luas Wilayah ** Km2 773, ,7864

DATA SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR SAMPAI DENGAN SEMESTER I TAHUN I. Luas Wilayah ** Km2 773, ,7864 DATA SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR SAMPAI DENGAN SEMESTER I TAHUN 2016 KELOMPOK DATA JENIS DATA : DATA UMUM : Geografi DATA SATUAN TAHUN 2015 SEMESTER I TAHUN 2016 I. Luas Wilayah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Geografis Daerah Penelitian Wilayah konsesi tahap eksplorasi bahan galian batubara dengan Kode wilayah KW 64 PP 2007 yang akan ditingkatkan ke tahap ekploitasi secara administratif

Lebih terperinci

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

Gambar 9. Peta Batas Administrasi IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Letak Geografis Wilayah Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6 56'49'' - 7 45'00'' Lintang Selatan dan 107 25'8'' - 108 7'30'' Bujur

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU 75 GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu propinsi yang masih memiliki tutupan hutan yang baik dan kaya akan sumberdaya air serta memiliki banyak sungai. Untuk kemudahan dalam

Lebih terperinci

Kegiatan Ekonomi. Berdasarkan Potensi Alam

Kegiatan Ekonomi. Berdasarkan Potensi Alam Bab 7 Kegiatan Ekonomi Berdasarkan Potensi Alam Bab ini akan membahas tentang kegiatan ekonomi yang didasarkan pada potensi alam. Pelajarilah dengan saksama agar kamu dapat mengenal aktivitas-aktivitas

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1. Sejarah Kabupaten Bekasi Kabupaten Bekasi dibentuk berdasarkan Undang-Undang No.14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Dasar-Dasar Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat

Lebih terperinci

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Pemanfaatan Hutan PT Mamberamo Alasmandiri merupakan perusahaan PMDN yang tergabung dalam KODECO GROUP. Didirikan pada tanggal 5 Desember 1991 dengan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat 51 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera dengan ibukota

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi 70 V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara, secara geografis terletak dibagian selatan garis katulistiwa

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH. Administrasi dan Teknis

KONDISI UMUM WILAYAH. Administrasi dan Teknis 22 KONDISI UMUM WILAYAH Administrasi dan Teknis Kanal Banjir Timur (KBT) memiliki panjang total ± 23,5 km dengan kedalaman di hulu 3 m dan di hilir 7 m. Kanal Banjir Timur melewati 11 kelurahan di Jakarta

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN TANAH DAN PERSEBARAN JENIS TANAH. A.Pembentukan Tanah

PEMBENTUKAN TANAH DAN PERSEBARAN JENIS TANAH. A.Pembentukan Tanah PEMBENTUKAN TANAH DAN PERSEBARAN JENIS TANAH A.Pembentukan Tanah Pada mulanya, permukaan bumi tidaklah berupa tanah seperti sekarang ini. Permukaan bumi di awal terbentuknya hanyalah berupa batuan-batuan

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI BAB II 2.1. Tinjauan Umum Sungai Beringin merupakan salah satu sungai yang mengalir di wilayah Semarang Barat, mulai dari Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan dan bermuara di Kecamatan Tugu (mengalir

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN A. Letak Geografis Kabupaten Sleman Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110⁰ 13' 00" sampai dengan 110⁰ 33' 00" Bujur Timur, dan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Profil Desa Desa Jambenenggang secara admistratif terletak di kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Wilayah Kabupaten Sukabumi yang terletak

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POTENSI GEOGRAFIS DESA

IDENTIFIKASI POTENSI GEOGRAFIS DESA 4 IDENTIFIKASI POTENSI GEOGRAFIS DESA Deskripsi Singkat Topik : Pokok Bahasan Waktu Tujuan : MENGENALI POTENSI GEOGRAFIS DESA : 1 (satu) kali tatap muka pelatihan selama 100 menit. : Membangun pemahaman

Lebih terperinci

Tema I Potensi dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju

Tema I Potensi dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju Tema I Potensi dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju Peta Konsep Potensi lokasi Potensi Sumber Daya Alam Potensi Sumber Daya Manusia Potensi Sumber Daya Manusia Upaya Pemanfaatan Potensi lokasi, Sumber

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 45 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Lokasi Administrasi Secara geografis, Kabupaten Garut meliputi luasan 306.519 ha yang terletak diantara 6 57 34-7 44 57 Lintang Selatan dan 107 24 3-108 24 34 Bujur Timur.

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

KONDISI FISIK BAB I 1.1. LUAS WILAYAH DAN BATAS WILAYAH

KONDISI FISIK BAB I 1.1. LUAS WILAYAH DAN BATAS WILAYAH BAB I KONDISI FISIK 1.1. LUAS WILAYAH DAN BATAS WILAYAH Sebelum dilakukan pemekaran wilayah, Kabupaten Kampar merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki wilayah terluas di Provinsi Riau dengan luas mencapai

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Kabupaten Magelang merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan beberapa kota dan kabupaten seperti Kabupaten

Lebih terperinci

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009 Contributor : Doni Prihatna Tanggal : April 2012 Posting : Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009 Pada 19 Januari 2012 lalu, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 19 3.1 Luas dan Lokasi BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai luas wilayah seluas 2.335,33 km 2 (atau 233.533 ha). Terletak pada 2 o l'-2 o 28' Lintang Utara dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 DAFTAR ISI A. SUMBER DAYA ALAM Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 Tabel SD-3 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 15 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Sub DAS Model DAS Mikro (MDM) Barek Kisi berada di wilayah Kabupaten Blitar dan termasuk ke dalam Sub DAS Lahar. Lokasi ini terletak antara 7 59 46 LS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM 9 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Kegiatan penelitian dilakukan di salah satu tambang batubara Samarinda Kalimantan Timur, yang luas Izin Usaha Pertambangan (IUP) sebesar 24.224.776,7

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA SISWA. No Jenis Tanah Jenis tanaman Pemanfaatannya

LEMBAR KERJA SISWA. No Jenis Tanah Jenis tanaman Pemanfaatannya LEMBAR KERJA SISWA KELOMPOK :. Nama Anggota / No. Abs 1. ALFINA ROSYIDA (01\8.6) 2.. 3. 4. 1. Diskusikan tabel berikut dengan anggota kelompok masing-masing! Petunjuk : a. Isilah kolom dibawah ini dengan

Lebih terperinci

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran K-13 Kelas X Geografi MITIGASI BENCANA ALAM II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami banjir. 2. Memahami gelombang pasang.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Geografi Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan terletak di ujung selatan Pulau Sumatera

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 15 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Lokasi Kabupaten Lebak secara geografis terletak antara 6º18'-7º00' Lintang Selatan dan 105º25'-106º30' Bujur Timur, dengan luas wilayah 304.472 Ha atau 3.044,72 km².

Lebih terperinci