BAB II KONDISI UMUM DAERAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KONDISI UMUM DAERAH"

Transkripsi

1 BAB II KONDISI UMUM DAERAH Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan provinsi termuda di Indonesia saat ini yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kaltara berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kaltara. Provinsi Kaltara terdiri atas lima wilayah administrasi dengan empat kabupaten, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Ibukota Provinsi Kaltara terletak di Kecamatan, yang saat ini berada di Kabupaten Bulungan yang juga merupakan ibukota Kabupaten Bulungan Luas dan Letak Wilayah Provinsi Kaltara yang memiliki luas ± ,70 km 2, terletak pada posisi antara Bujur Timur dan antara Lintang Utara. Selain itu, berdasarkan batas kewenangan provinsi, Provinsi Kaltara memiliki luas lautan seluas Km 2 (13% dari luas wilayah total). Secara administratif Provinsi Kaltara berbatasan dengan negara Malaysia tepatnya dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia. Batas daerah daratan terdapat sekitar km garis perbatasan antara Provinsi Kaltara dengan Negara Malaysia. Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Negara Sabah (Malaysia) : Laut Sulawesi : Provinsi Kalimantan Timur : Negara Sarawak (Malaysia) Posisi geografis Provinsi Kaltara yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat provinsi ini berada di lokasi strategis terutama dalam pertahanan dan keamanan negara, dan Kaltara juga berada di jalur pelayaran internasional (Alur Laut Kepulauan Indonesia/Archipelagic Sealand Passage) dan merupakan pintu keluar/outlet ke Asia Pasifik. Tabel 2.1 Wilayah Administrasi Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Ibukota Luas Daratan (Km 2 ) Jumlah Kecamatan Jumlah Desa Bulungan , Malinau Malinau , Nunukan Nunukan , Tana Tidung Tideng Pale 4.828, Tarakan Tarakan 250, Kalimantan Utara , Sumber: Kaltara Dalam Angka Tahun 2015 dan Kaltara.bps.go.id, diakses pada Maret LP2KD Prov. Kaltara, 5

2 Kabupaten Malinau merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Kalimantan Utara (56% dari total luasan), sedangkan daerah dengan luas wilayah terkecil adalah Kota Tarakan (1% dari total luasan Provinsi Kaltara). Kondisi geografis Provinsi Kaltara selain berupa pegunungan juga merupakan daerah kepulauan. Pulau-pulau kecil di Provinsi Kaltara terletak di Kabupaten Nunukan, Bulungan, Tana Tidung dan Kota Tarakan. Jumlah pulau-pulau kecil di Provinsi Kaltara adalah 161 pulau dengan luas total mencapai m 2. Pulau-pulau terbesar diantaranya yaitu Pulau Tarakan (249 m 2 ), Pulau Sebatik (245 m 2 ), Pulau Nunukan (233 m 2 ), Pulau Tanah Merah (352 m 2 ). Sementara, panjang garis pantai provinsi ini adalah Km, 908 Km (23%) merupakan garis pantai daratan, dan Km (77%) merupakan garis pantai kepulauan Kondisi Topografi Hampir setengah dari total luasan wilayah provinsi ini memiliki kelas ketinggian antara m di atas permukaan laut (38,77%), hanya sekitar 5,92% yang memiliki kelas ketinggian 0-7 m di atas permukaan laut. Perkembangan pembangunan diperkirakan akan mengelompok di wilayah yang memiliki ketinggian relatif lebih landai, sedangkan wilayah pegunungan di Provinsi Kaltara dapat dijadikan kawasan lindung dan recharge area (daerah resapan air). Tabel 2.2 Kelas Ketinggian dari Permukaan Laut di Provinsi Kaltara (Ha) No. Kabupaten Kelas Ketinggian 0-7 m 7-25 m m m m >1000m 1 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kaltara Sumber: Kalimantan Utara.bps.go.id, diakses pada Maret Sebagian besar wilayah Kabupaten Bulungan berada pada ketinggian m di atas permukaan laut (31,61%). Kabupaten Malinau dan Nunukan didominasi oleh wilayah yang berada di kelas ketinggian m di atas permukaan laut, yaitu masing-masing 58,46% dan 24,12%. Kabupaten Tana Tidung didominasi oleh wilayah dengan ketinggian 7-25 m di atas permukaan laut dan hanya sebagian kecil yang memiliki ketinggian m di atas permukaan laut (0,01%). Sedangkan Kota Tarakan didominasi oleh kelas ketinggian 7-25 m di atas permukaan laut (72,41%), sementara sisanya (27,59%) berada pada ketinggian 0-7 m di atas permukaan laut. LP2KD Prov. Kaltara, 6

3 No. Kabupaten Tabel 2.3 Kelas Kemiringan Lereng di Provinsi Kaltara (Ha) 0-2% (Datar) Kelas Lereng/Kemiringan 2-15% (Sangat Landai- Landai/Bergelombang) 15-40% (Agak Curam- Curam) >40% (Sangat Curam-Terjal) Jumlah (Ha) 1 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kaltara Persentase (%) 10,85 6,06 6,81 76, Sumber: Kalimantan Utara Dalam AngkaTahun 2014 Sebagian besar wilayah di Provinsi Kaltara didominasi oleh wilayah dengan kemiringan lereng >40%, dengan persentase mencapai 76,27% dari luas wilayah provinsi ini ( Ha). Kondisi topografi Kabupaten Malinau, Nunukan, dan Bulungan didominasi oleh kemiringan lereng di atas 40%, khususnya wilayah bagian tengah dan barat yang sebagian besar merupakan hulu sungai. Kabupaten Tana Tidung didominasi oleh kemiringan lereng 0-2% dan 2-15%. Sedangkan Kota Tarakan didominasi oleh wilayah yang landai (2-15%). Pegunungan atau perbukitan yang tersebar di Provinsi Kaltara, yaitu sebagai berikut: a. Kabupaten Bulungan, yaitu Gunung/Bukit Brun, Ubut Lebung, Sombang, Bekayan, Sondong, Gunung Putih, Mara, Sekatak, Kelu, Kundas, Setarat, Takin, Silid, Rian, Aung, Jatu; b. Kabupaten Malinau, yaitu gunung/bukit Laga Tumu, Murjake, Bukit Kalung, Bukit Rapat, Bulu, Kujan, Kelembit, Bukit Lalau, Bakayan, dan Klawit; dan c. Kabupaten Nunukan, yaitu Gunung/Bukit Krayan, Tidaliputu, Pawan, Bukit Titeh, Tudadaun, Depuan, Pangodam, Budukusia, Tungkam, Lelangit, Ruanting, Batu Maja, Pempuanang, Mansel, Ambalia, Muluk, Batu Bengalun, Klawit (Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2015). Sementara wilayah pantai, rawa pasang surut, daratan aluvial, jalur endapan, dan sungai berada di kawasan pesisir timur, sedangkan wilayah dataran dan lembah aluvial umumnya mengikuti arah aliran sungai. LP2KD Prov. Kaltara, 7

4 2.3. Kondisi Klimatologi Kondisi klimatologi Provinsi Kaltara hampir sama dengan wilayah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis, terlebih letak provinsi ini berada di utara lintang 0 0. Suhu udara maksimal terjadi pada bulan November dengan 34,40 o C dan minimal terjadi pada bulan Februari yaitu 23,40 0 C. Kondisi rata-rata kelembapan udara tahun 2014 di provinsi ini mencapai angka 84% serta memiliki tekanan udara rata-rata 1.009,7 Mbs. Untuk keadaan kecepatan angin terdapat dalam range yang tidak terlalu fluktuatif, yaitu 4-5 knot dari tahun Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 410 mm, sedangkan paling rendah terjadi pada bulan Agustus dengan 132 mm. Rata-rata penyinaran matahari di Provinsi Kaltara selama tahun diketahui cukup fluktuatif dengan rata-rata terjadi 51 penyinaran matahari pada tahun Tabel 2.4 Kondisi Klimatologi di Provinsi Kaltara Bulan Suhu Udara ( C) Tekanan Kecepatan Curah Penyinaran Kelembapan Rata- Udara Angin Hujan Matahari Min Max Udara (%) Rata (Mbs) (Knot) (mm) (%) Januari 23,50 31,60 27, , Februari 23,40 32,00 27, , Maret 24,00 32,50 28, , April 24,20 33,30 28, , Mei 24,40 33,40 28, , Juni 24,00 33,70 28, , Juli 23,60 33,60 28, , Agustus 24,00 33,20 28, , September 23,70 33,60 28, , Oktober 24,50 33,90 29, , November 24,20 34,40 29, , Desember 24,00 32,10 28, , ,96 33,11 28, , , ,10 27,40 32, , , ,80 27,30 32, , , * 25,73 31,60 28,40 85, ,05 4,00 298,64 41, * 23,40 32,70 27,70 85, ,48 4,15 255,20 45, * 22,85 33,40 28,14 83, ,28 4,00 248,28 42, * 23,27 32,20 27,73 84, ,23 5,33 274,83 52,00 Sumber: Kabupaten Dalam Angka Tahun dan 2015 Keterangan: * Rata-rata Kondisi Iklim per bulan Diambil dari data Stasiun Meteorologi (Badan Meteorologi dan Geofisika Bulungan) 2.4. Kondisi Geologi Kondisi geomorfologi atau fisiografi Provinsi Kaltara meliputi daratan dan lautan. Daratan berada di bagian barat, sedangkan lautan berada di bagian timur hingga kawasan perairan Ambalat. Bagian barat yang berupa daratan tercermin sebagai pegunungan hingga perbukitan yang merupakan unit geomorfologi (bentang alam) struktur baik berupa lipatan maupun patahan, sedangkan bagian timur sebagai dataran hingga pantai atau dikenal sebagai bentang alam aluvial, sedangkan bentang alam laut berada di bagian paling timur wilayah. LP2KD Prov. Kaltara, 8

5 Litostratigrafi tersusun atas batuan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoium dan Kwarter. Batuan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoikum dan Kwarter banyak tersingkap di bagian barat Provinsi Kaltara (Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan). Batuan tersier yang belum banyak tersingkap terdapat di kawasan pantai dan di bawah laut (Selat Sulawesi). Batuan Paleozoikum dan Mesozoikum berupa batuan metamorfosa seperti sekis, pilit, marmer, gneiss, dan kwarsit, maupun batuan beku seperti granit/diorit, dan batuan sedimen seperti batu pasir, batu lanau, batu lempung, batu gamping yang umumnya telah mengalami diagenesis atau metamorfisme. Batuan Kenozoikum (Tersier) antara lain terdiri dari beberapa formasi yang berupa batuan sedimen seperti batu pasir, batu lanau, batu lempung, batubara dan batu gamping, serta batuan volkan atau batuan beku seperti granit, rhyolit, trachit, diorit dan andesit. Batuan sedimen Tersier tersebut terbentuk dalam suatu cekungan yang dikenal sebagai Cekungan Tarakan dan termasuk salah satu cekungan penghasil minyak dan gas di Kalimantan Utara. Struktur geologi berupa lipatan yang berarah barat daya-timur laut berupa antiklin dan sinklin serta struktur patahan geser dengan arah barat laut-tenggara hingga utaraselatan dan sesar naik berarah barat daya-timur laut. Struktur antiklin dan patahan seringkali berfungsi sebagai perangkap minyak dan gas. Perangkap minyak dan gas dapat pula berupa perangkap stratigrafi. Berdasarkan stratigrafi tersier di Cekungan Tarakan yang terdiri dari bermacam batuan sedimen yang dapat berfungsi sebagai batuan induk, batuan reservoir, dan batuan penutup, sedangkan kondisi gradient geothermis dan perangkap geologi minyak dan gas bumi baik struktur geologi dan stratigrafi, maupun terjadinya migrasi minyak dan gas bumi memenuhi syarat bagi sistem perminyakan yang ada di Cekungan Tarakan. Dengan demikian Cekungan Tarakan yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai potensi minyak dan gas bumi yang sebagian besar masih dalam taraf penyelidikan eksplorasi, dan sebagian kecil sudah berproduksi seperti di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan. Dari stratigrafinya, Cekungan Tarakan mempunyai potensi batubara yang melimpah pada formasi batuan sedimen yang berumur Tersier. Penambangan batubara sudah dilakukan di Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Bulungan. Selain itu terdapat batuan beku asam hingga batuan beku menengah seperti granit, rhyolit, trachyt, diorit, dan andesit yang mengindikasikan adanya kegiatan magmatik pada saat Miosen. Adanya kegiatan magmatik asam hingga menengah ini dapat menyebabkan terjadinya mineralisasi bijih dalam bentuk senyawa sulfida yang mengandung unsur emas, tembaga, perak, seng, dan timbal sebagai endapan epitermal maupun mesotermal. LP2KD Prov. Kaltara, 9

6 Dampak lain dari kegiatan magmatik ini adalah terjadinya alterasi hidrotermal terhadap batuan batuan yang lebih tua sehingga menghasilkan bahan galian seperti kaolin dan bentonit yang berpotensi sebagai bahan dasar untuk industri keramik. Kondisi stratigrafi juga memungkinkan terbentuknya batu gamping dari formasi yang berumur tersier dan tersingkap di permukaan seperti di Kabupaten Bulungan dalam jumlah yang cukup besar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku semen. Ditemukan juga pasir kwarsa yang merupakan hasil rombakan batuan tersier baik batuan beku, sedimen, maupun metamorf seperti yang terdapat di Kabupaten Nunukan. Pasir kwarsa ini berpotensi sebagai bahan dasar untuk industri kaca atau bahan bangunan yang lain. Potensi sumberdaya geologi yang berupa sumberdaya mineral khususnya emas secara informasi tidak resmi terdapat di Kabupaten Nunukan yang diperkirakan mempunyai cadangan cukup besar, namun belum dikelola dengan baik. Penambangan sumberdaya mineral khususnya emas harus memperhatikan masalah lingkungan yang terkait dengan pencemaran unsur unsur berbahaya seperti As dan Hg terhadap air tanah maupun air permukaan. Jika dilihat berdasarkan jenis tanah yang terbentuk dan tersedia di Provinsi Kalimantan Utara, antara lain yaitu: a. Organosol (Hiplohemist, Hiplofibrists), berupa tanah gambut pada bentuklahan dataran berawa permanen, dataran bergambut dan dataran aluvial berawa, yang terletak di muara Sekatak Kabuapaten Bulungan; b. Aluvial Hidromorf (Hidraquents, Sulfaquents, Endoaquepts) adalah tanah lapisan atas warna kelabu sangat gelap/ hitam oleh endapan bahan organik, tekstur lempung, struktur masif, konsistensi lekat liat, berupa gunungan endapan pasir pantai, dataran lumpur bawah bakau dan nipah, batuan pasir paduan muara sungai. Sebaran dataran pasang surut, delta, dataran estuarin yang terdapat di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan; c. Aluvial (Endoaquepts, Distrodepts), merupakan tanah dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang-tinggi. Sebaran tanah ini pada dataran aluvial sungai (tanggul alam dan dataran banjir), dataran aluvial depresi antar perbukitan sepanjang sungai-sungai terletak di Kabupaten Bulungan; d. Organosol, (alluvial gambut) hanya terdapat di Kecamatan Tarakan Barat Kota Tarakan; e. Rendsina (Hapludolls, Eutrodepts), tanah dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang, faktor pembatas topografi dan jeluk tanah (soil/ dangkal). Sebaran pada dataran berombak bergelombang, perbukitan terdapat di Kabupaten Bulungan; LP2KD Prov. Kaltara, 10

7 f. Podsolik Merah Kuning (Hapludults, Paeudults), tanah kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang. Sebaran di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan; g. Podsol (Haplorthods, Palehumulds), tanah mudah lapuk, sebaiknya dihutankan atau penggembalaan (pasture). Sebaran tanah di daerah datar berombak, di Kabupaten Bulungan; h. Latosol (Hapludults, Dystrondepts), tanah ini memiliki kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang-tinggi. Sebaran pada perbukitan dan pegunungan tektonik, pegunungan volkan yang melereng sedang di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan; i. Podsolik Coklat (Dystrondepts, Eutrodepts) tanah dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang. Jenis tanah dijumpai di Kabupaten Bulungan; j. Latosol/ Lateritik (Hapludoxs, Kandiudults, Palehumults), kesuburan dan potensi tanah untuk pertanian rendah. Sebaran tanah di dataran berombak-bergelombang di Kabupaten Bulungan; k. Andosol (Hipludands, Udivitrands), dan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang tinggi terutama untuk tanaman hortikultura. Sebaran terdapat di Kabupaten Bulungan; l. Podsolik Coklat Kelabu (Hapluhumults, Hapludox), kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang. Sebaran pada volkan yang terdenudasi terletak di Kabupaten Bulungan; dan m. Jenis tanah alluvial endapan/aliran sungai, tanah berlapis-lapis hasil proses pengendapan dengan kesuburan dan potensi untuk pertanian sedang-tinggi. Sebaran pada dataran aluvial sungai (meander sungai, dataran banjir, danau, lembah-lembah sempit) pada tepi sungai-sungai terutama Sungai Kayan, Sungai Sekatak, dan anak anak sungainya (Percepatan Penyusunan RTRW Provinsi Kalimantan Utara dan Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi dan Kabupaten Pemekaran) Kondisi Hidrologi Kondisi hidrologi wilayah Provinsi Kaltara dapat berupa air permukaan dan air bawah permukaan (air tanah). Air permukaan tercermin sebagai aliran sungai yang terbagi menjadi beberapa DAS (daerah aliran sungai), mata air, dan air tanah. Kawasan resapan air terletak di daerah pegunungan dan perbukitan yang terletak di bagian barat, diantaranya terdapat di Kabupaten Malinau, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kabupaten Nunukan, sedangkan kawasan tangkapan air terletak di bagian timur yang berupa dataran aluvial dan dataran fluvial. LP2KD Prov. Kaltara, 11

8 Provinsi Kaltara memiliki potensi Sumber Daya Air (SDA) yang sangat besar. SDA tersebut terdiri dari jumlah curah hujan di Kalimantan Utara yang cukup tinggi, sungaisungai besar, mata air yang banyak, dan rawa yang luas. Potensi yang besar tersebut banyak dimanfaatkan untuk menunjang kesejahteraan dan membantu kehidupan masyarakat Kaltara. Namun, karena peran SDA sangat besar tersebut juga membuat potensi daya rusak dan pencemaran sangat mungkin meningkat. Sungai merupakan bagian penting dari DAS, sangat berperan penting bagi kehidupan dan aktivitas masyarakat Provinsi Kaltara. Sungai-sungai yang ada di wilayah ini antara lain adalah Sungai Kayan, Sungai Sesayap, Sungai Pimping, Sungai Bandan, Sungai Sekatak, Sungai Jelarai, Sungai Linuang Kayan, Sungai Betayau, Sungai Sembakung, Sungai mandul, Sungai Semandak, Sungai Mintut, Sungai Manguli. Sungai tersebut merupakan media transportasi air bagi masyarakat. Selain itu, sungai tersebut juga sebagai sumber mata pencaharian nelayan tradisional di wilayah ini (Profil Daerah Provinsi Kaltara, 2014). Tabel 2.5 Nama dan Panjang Sungai Utama di Provinsi Kaltara (Km) No. Kabupaten/Kota Nama Sungai Panjang Sungai (Km) 1 Bulungan Sungai Kayan/Kahayan Malinau Sungai Sesayap Sungai Sembakung Nunukan Sungai Sembakung Sungai Sebuku Tana Tidung Sungai Sesayap Tarakan Sungai Binalatung Sungai Bengawan Sumber: Laporan Akhir Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air dan Sumber-Sumber Air Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015 Berdasarkan hasil inventarisasi jumlah sungai dalam dokumen SLHD tiap Kabupaten/Kota, Provinsi Kalimantan Utara memiliki 123 sungai dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Pamusian dengan panjang km, sungai terpendek yaitu Sungai Bebakin yang hanya memiliki panjang 1 Km. Untuk kategori sungai terlebar, Sungai Kayan menjadi yang utama dengan lebarnya yang mencapai 550 km. Sementara Sungai Bebakil menjadi sungai tersempit karena hanya memiliki lebar 2 km. Walaupun bukan sungai yang terpanjang ataupun terlebar di Kalimantan Utara, Sungai Naha Aya memiliki debit maksimum yaitu 1.992,52 m 3 /detik. Kaltara hanya memiliki 1 danau yaitu Danau Kelaputan Mangkupadi yang terletak di Kabupaten Bulungan seluas 6 ha. Sementara untuk waduk dan embung semakin bertambah. Pada 2014, Kaltara memiliki 24 buah waduk dan 10 embung, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya terdapat 9 buah waduk dan 11 embung. Sedangakan situ tidak terdapat di wilayah Provinsi Kaltara. Waduk yang terluas dan volume paling besar di Provinsi Kaltara yaitu Waduk Irigasi Binusan di Kabupaten Nunukan dengan luas 3,6 ha dan LP2KD Prov. Kaltara, 12

9 volume 3000 m 3. Sementara itu, Embung Air Baku Bolong di Kabupaten Nunukan menjadi embung terluas dan memiliki volume terbesar di provinsi ini. Luas embung tersebut yaitu 13,44 ha dengan volume m 3. Tabel 2.6 Inventarisasi Danau/Waduk/Situ/Embung di Provinsi Kaltara No. Jenis Nama Luas (Ha) Volume (m 3 ) 1 Danau Kelaputan Mangkupadi 6-2 Waduk Waduk Irigasi Binusan, Nunukan 3, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator I, Binusan 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator II, Binusan 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator III, Binusan 0, Waduk Bendung Irigasi Binusan Kecil, Nunukan 0, Waduk Bendung Irigasi Sei Jepun, Nunukan Selatan 0, Waduk Bendung Irigasi Mansapa, Nunukan Selatan 2, Waduk Bendung Irigasi Mamolo, Harapan 2, Waduk Bendung Irigasi Lancang I, Nunukan Selatan 0, Waduk Bendung Irigasi Lancang II, Nunukan Selatan 0, Waduk Bendung Irigasi Lancang III, Nunukan Selatan 1, Waduk Bendung Irigasi Kp. Solok, Simengkadu 0, Waduk Bendung Irigasi Liang Bunyu, Sebatik Barat Waduk Bendung Irigasi Kp. Enrekang 1, Sebatik 0, Waduk Bendung Irigasi Enrekang 2, Sebatik Barat 0,5 37,5 17 Waduk Bendung Irigasi Enrekang 3, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Sinjai, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 1, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 2, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 3, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Batu Satu 1, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Batu Satu 2, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Tembaring Atas, Sebatik Barat 0, Waduk Bendung Irigasi Tembaring Bawah, Sebatik Barat 0, Embung Embung Air Baku Bilal, Nunukan 11, Embung Embung Air Baku Bolong, Nunukan 13, Embung Embung Sei Pancang Embung Embung Air Baku Karang, Sebatik 0, Embung Embung Air Baku Lapio, Sebatik Barat 2 986,53 31 Embung Embung Air Baku Sianak, Sebatik Barat ,5 32 Embung Embung Irigasi Bebakil 1, Sebatik Barat 1 12,5 33 Embung Embung Irigasi Bebakil 2, Sebatik Barat 0, Embung Embung Persemaian, Tarakan 13, , Embung Embung Binalatung, Tarakan ±70 666,66 36 Embung Embung Bengawan, Tarakan 16, Sumber: Buku Dara Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015 Keterangan : ( - ) Tidak dilakukan pengukuran Kabupaten Malinau tidak terdapat danau/waduk/situ/embung Kabupaten Tana Tidung tidak terdapat danau/waduk/situ. Sementara Embung masih dalam tahap perencanaan LP2KD Prov. Kaltara, 13

10 2.6. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Provinsi Kaltara didominasi oleh hutan, dengan luasan mencapai Ha atau sekitar 90,06% dari luasan total wilayah. Luasan pertanian tersebar sekitar 1,55% atau Ha dari total luas wilayah. Penggunaan lahan hutan negara mendominasi di seluruh kabupaten, namun terbanyak terdapat di Kabupaten Malinau. Kondisi geografis provinsi ini yang didominasi oleh pegunungan dan perbukitan dengan kemiringan lereng yang curam, sebagian besar dimanfaatkan sebagai hutan lindung. Penggunaan lahan permukiman hanya Ha atau 0,27% dari total luasan wilayah provinsi ini, dengan sebaran lahan permukiman paling tinggi berada di Kabupaten Nunukan. Tabel 2.7 Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah di Provinsi Kaltara (Ha) No. Kabupaten Jenis Penggunaan Tanah Pemukiman Hutan Pertanian Pertambangan Lainnya 1 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Persentase (%) 0,27 90,06 1,55 0,12 8 Sumber: Kalimantan Utara Dalam AngkaTahun 2014 Sedangkan, jika dilihat dari SK Menteri Kehutanan No. 718 Tahun 2014, perbandingan luas areal penggunaan lahan dengan areal hutan dan tubuh air dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.8 Perbandingan Luas Areal Penggunaan Lahan, Areal Hutan, dan Tubuh Air di Provinsi Kaltara Kawasan Areal Penggunaan Lain Hutan Lindung Hutan Produksi Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi Hutan Produksi Terbatas Kabupaten Kabupaten Kabupaten Tana Provinsi Kota Tarakan Kabupaten Malinau Bulungan Nunukan Tidung Kalimantan Utara Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % ,27 29, ,74 72, ,60 8, ,18 32, ,51 46, ,30 19, ,60 15, ,33 27, ,51 17, ,95 11, ,39 14, ,53 18, ,98 9, ,53 19, ,97 43, ,01 14, ,50 0, ,89 0, ,67 2, ,06 0, ,51 35, ,71 39, ,83 13, ,26 2, ,31 31,9 Tubuh Air ,21 25, ,39 19, ,60 17,8 Sumber: SK Menhut No. 718/2014 dalam Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun LP2KD Prov. Kaltara, 14

11 LP2KD Prov. Kaltara, 15

12 LP2KD Prov. Kaltara,

13 2.7. Kependudukan Jumlah penduduk Provinsi Kaltara dari tahun 2010 sampai 2015 selalu mengalami peningkatan. Jumlah penduduk terbanyak di Kota Tarakan ( jiwa tahun 2015), sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Tana Tidung ( jiwa tahun 2015). Tabel 2.10 Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Pertumbuhan (%) Bulungan ,8 Malinau ,3 Nunukan ,5 Tana Tidung ,3 Tarakan ,8 Kalimantan Utara ,1 Sumber : 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara ) Hasil Analisis, Pertumbuhan penduduk Provinsi Kaltara selama tahun adalah sebesar 4,1% dengan pertumbuhan penduduk tertinggi adalah Kabupaten Tana Tidung yaitu sebesar 7,3%. Relatif tingginya rata-rata pertumbuhan penduduk di kabupaten ini jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya mungkin disebabkan karena kabupaten ini merupakan daerah otonom baru, yang merupakan wilayah pemekaran dari 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten Bulungan, yaitu Kecamatan Sesayap, Sesayap Hilir, dan Tanah Lia sejak tahun 2012, sehingga menyebabkan meningkatnya migrasi penduduk ke wilayah ini. Sedangkan pertumbuhan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Bulungan yaitu sebesar 2,8% selama 5 (lima) tahun tersebut. Terdapat kesenjangan persebaran penduduk di Kaltara, terutama antar kabupaten dengan kota. Kepadatan penduduk di Kota Tarakan mencapai 906 jiwa/km 2 (tahun 2014), akan tetapi berbeda dengan kabupaten/kota lainnya yang memiliki kepadatan hanya 1-12 jiwa/km 2. Sedangkan kabupaten yang memiliki kepadatan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Malinau, yakni 2 jiwa/km 2. LP2KD Prov. Kaltara,

14 Tabel 2.11 Kepadatan Penduduk Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Luas Wilayah (Km 2 ) Jumlah Penduduk Bulungan , Malinau , Nunukan , Tana Tidung 4.828, Tarakan 250, Kalimantan Utara , Sumber: 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2011, ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka , ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Hasil Analisis, Komposisi penduduk menurut umur dapat menggambarkan distribusi penduduk sesuai kelompok umur. Penduduk dengan kelompok usia 5-9 dan mempunyai jumlah paling tinggi, yang dapat dilihat dari piramida penduduk yang mengembang di bagian bawah, artinya penduduk usia muda cukup dominan di provinsi ini. Komposisi penduduk menurut umur ini memperlihatkan bahwa warga usia produktif harus menanggung warga yang sudah tidak/belum produktif. Semakin besar proporsi penduduk usia tidak produktif, maka semakin besar beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Grafik 2.1 Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2012 di Provinsi Kaltara Sumber: Hasil Olahan, LP2KD Prov. Kaltara,

15 Rasio jenis kelamin Provinsi Kaltara selama tahun relatif tetap, karena selama enam tahun terakhir memiliki jumlah rasio yang sama, yakni 113 yang mengartikan bahwa terdapat 113 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Tabel 2.12 Rasio Jenis Kelamin Penduduk Tahun di Provinsi Kaltara Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-laki Perempuan Rasio Jenis Kelamin Sumber: 1) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka ) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara ) Hasil Analisis, Rasio jenis kelamin paling tinggi terdapat di Kabupaten Tana Tidung, yaitu 124 artinya terdapat 124 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Sedangkan, Kota Tarakan memiliki rasio jenis kelamin terendah, yaitu 110 yang mengartikan bahwa terdapat 110 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Tabel 2.13 Rasio Jenis Kelamin Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-laki Perempuan Rasio Jenis Kelamin Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : 1) Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara ) Hasil Analisis, 2.8. Komposisi Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tenaga honorer di kantor pemerintah kabupaten/kota se-kaltara berjumlah orang dengan jumlah terbanyak berada di Pemerintah Kabupaten Nunukan yaitu orang, sedangkan paling sedikit berada di Pemerintah Kabupaten Tana Tidung yaitu sebanyak orang. LP2KD Prov. Kaltara,

16 Tabel 2.14 Banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Tenaga Honorer Daerah Tahun 2014 di Provinsi Kaltara Pemerintah Daerah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tenaga Honorer Jumlah Kabupaten Bulungan Kabupaten Malinau Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung Kota Tarakan Pemprov Kalimantan Utara Kalimantan Utara Kalimantan Utara Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2015 Tabel 2.15 Banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kaltara Berdasarkan Eselon dan Jenis Kelamin Tahun 2014 Eselon Jenis Kelamin Pegawai Negeri Sipil (PNS) Laki-laki Perempuan Jumlah I 1-1 II III IV Non Eselon Kalimantan Utara Kalimantan Utara Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk Indikator tempat ibadah per satuan penduduk sebagaimana yang disebutkan dalam Lampiran 1 Permendagri 54/2010 didapatkan dari perbandingan jumlah tempat ibadah dengan jumlah penduduk per 1000 penduduk. Berkaitan dengan tempat ibadah, indikator rasio tempat ibadah per satuan penduduk ini akan lebih tepat apabila pembanding yang digunakan dalam penghitungan indikator tersebut menggunakan jumlah pemeluk agama. Dengan demikian, indikator ini berganti menjadi rasio tempat ibadah per satuan pemeluk agama. LP2KD Prov. Kaltara,

17 Tabel 2.16 Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/Kota Masjid/Musholla Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Gereja Katolik Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Gereja Protestan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Pura Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Vihara Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Jumlah tempat ibadah di Provinsi Kaltara secara umum memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun Jumlah masjid hingga tahun 2014 tercatat sebannyak 730 unit dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,98% per tahun. Jumlah gereja Katolik juga memiliki peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 14,30% per tahun, sedangkan untuk jumlah gereja Protestan mengalami penurunan sebesar 5,82% per tahun. Jumlah pura memiliki kecenderungan tetap dari tahun 2010 hingga tahun 2014, yakni sebanyak 2 unit, sedangkan jumlah vihara memiliki kecenderungan menurun dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun LP2KD Prov. Kaltara,

18 Tabel 2.17 Jumlah Pemeluk Agama Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/ Kota Islam Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Katolik Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Protestan Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Hindu Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Budha Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung *) Tarakan Kalimantan Utara Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Jumlah pemeluk agama didominasi oleh pemeluk agama Islam, yakni sebanyak jiwa, pemeluk agama Protestan sebanyak jiwa, dan pemeluk agama Katolik sebanyak jiwa. Secara umum, jumlah pemeluk agama pada masing-masing agama memiliki kecenderungan meningkat, kecuali pada pemeluk agama Protestan, Hindu, dan Budha yang memiliki kecenderungan menurun dalam kurung waktu tahun 2010 hingga tahun LP2KD Prov. Kaltara,

19 Tabel 2.18 Rasio Tempat Ibadah per Satuan Pemeluk Agama Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/ Kota Islam Bulungan 1,48 2,19 2,21 2,13 2,14 Malinau 1,50 1,49 1,62 1,52 1,49 Nunukan 2,60 1,92 2,06 1,67 Tana Tidung Tarakan 1,33 1,31 1,20 1,00 1,13 Kalimantan Utara 1,68 1,19 1,77 1,70 1,66 Katolik Bulungan - 2,93 3,19 3,80 3,62 Malinau 5,47 4,73 5,12 4,99 5,58 Nunukan 2,85 2,77 2,83 3,27 Tana Tidung Tarakan 1,58 3,20 0,93 0,93 1,05 Kalimantan Utara 2,30 2,29 3,45 3,62 3,85 Protestan Bulungan - 2,87 2,62 3,56 3,44 Malinau 3,39 3,25 3,82 3,67 3,73 Nunukan 2,72 2,95 2,91 2,35 Tana Tidung Tarakan 2,05 4,11 2,51 2,26 1,79 Kalimantan Utara 2,23 2,19 3,16 3,27 3,00 Hindu Bulungan 10,53 9,80 11,36 10,42 10,42 Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan 2,79 11,11 0,91 0,91 9,71 Kalimantan Utara 3,65 7,49 1,19 1,18 5,60 Budha Bulungan - 1,36 1,35 1,32 1,30 Malinau 4,10 3,65 3,28 3,41 4,15 Nunukan - 1,46 1,46 Tana Tidung Tarakan 1,40 3,25 0,63 0,42 1,24 Kalimantan Utara 1,31 2,72 0,79 0,62 1,55 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Rasio tempat ibadah per satuan pemeluk agama memiliki kecenderungan meningkat dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014, kecuali pada rasio gereja Protestan per satuan pemeluk agama Protestan yang memiliki kecenderungan menurun. Pada tahun 2011, rasio tempat ibadah per satuan pemeluk Provinsi Kaltara tidak dapat digunakan untuk melihat gambaran kondisi rasionya, hal ini dikarenakan pada tahun berkenaan (tahun 2011) tidak dapat ditemukan data tempat ibadah di Kabupaten Nunukan, sehingga apabila tetap dilakukan perhitungan maka hasilnya akan bias. LP2KD Prov. Kaltara,

20 2.10. Pertumbuhan PDRB Meski termasuk provinsi baru, perekonomian Provinsi Kaltara beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan, yang ditandai dengan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selama tahun Pada tahun 2010 PDRB atas harga konstan Provinsi Kaltara mencapai 34,9 triliun dan terus meningkat menjadi 40,7 triliun di tahun 2012 dan mencapai 49,2 triliun pada tahun Sektor yang paling dominan dalam menunjang perekonomian daerah di Provinsi Kaltara adalah sektor primer yaitu sektor pertambangan dan penggalian dengn kontribusi sebesar 30,25% pada tahun Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB sangat fluktuatif. Angka ini cenderung menurun hingga mencapai 30,48% pada tahun Meski demikian sektor ini tetap menjadi sektor yang berkontribusi paling besar selama lima tahun berturut-turut. Sektor primer penyumbang terbesar kedua setelah sektor pertambangan dan penggalian adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 17,43% di tahun Penyumbang ketiga setelah sektor pertanian adalah sektor sekunder yakni konstruksi mencapai 11,37% pada tahun 2015, yang kemudian diikuti oleh perkembangan sektor perdagangan 9,92% di tahun 2015 dan industri pengolahan sebesar 9,55 % pada tahun yang sama. Meski sektor yang tersebut di atas menduduki sektor penyumbang terbesar dalam PDRB Provinsi Kaltara, sektor yang kontribusinya terus menunjukkan pertumbuhan terbesar selama tahun 2010 hingga 2015 adalah sektor jasa pendidikan dengan laju pertumbuhan sektornya mencapai 22,82% terhadap PDRB. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pendidikan telah menjadi fokus kegiatan dan perhitungan kontribusinya terhadap perekonomian daerah Provinsi Kaltara. Angka ini kemudian disusul oleh sektor Jasa Kesehatan dan Administrasi Pemerintahan. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor yang berperan dalam pelayanan publik tumbuh pesat dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. LP2KD Prov. Kaltara,

21 Tabel 2.19 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2015 di Provinsi Kaltara Pertumbuhan No Sektor Hb Hk % % 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 12,20 6,45 2 Pertambangan dan Penggalian 11,59 7,15 3 Industri Pengolahan 11,40 5,68 4 Pengadaan Listrik dan Gas 8,61 9,93 5 Pengadaan Air, Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 9,64 4,37 6 Konstruksi 13,20 6,61 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 11,90 4,55 8 Transportasi dan Pergudangan 15,82 7,82 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 15,37 5,95 10 Informasi dan Komunikasi 13,40 12,15 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 13,69 6,38 12 Real Estate 11,84 7,56 13 Jasa Perusahaan 12,29 5,21 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 15,87 6,72 15 Jasa Pendidikan 22,80 14,17 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 16,12 12,08 17 Jasa Lainnya 14,85 7,92 PDRB 12,58 6,81 Sumber: Disperindagkop Provinsi Kalimantan Utara dengan hasil olahan LP2KD Prov. Kaltara,

22 Tabel 2.20 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) di Provinsi Kaltara No Sektor Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk % % % % % % % % % % 1 Pertanian, 17,86 17,86 16,72 17,65 16,52 17,49 16,34 17,00 17,10 16,81 17,61 17,43 Kehutanan, dan Perikanan 2 Pertambangan 30,33 30,33 33,92 30,25 33,25 30,50 33,84 31,76 32,14 32,29 28,05 30,48 dan Penggalian 3 Industri 10,23 10,23 9,8 9,95 9,42 9,73 9,28 9,58 9,41 9,32 9,73 9,55 Pengolahan 4 Pengadaan 0,05 0,05 0,04 0,05 0,04 0,05 0,03 0,05 0,03 0,05 0,04 0,06 Listrik dan Gas 5 Pengadaan 0,07 0,07 0,07 0,07 0,06 0,07 0,06 0,07 0,06 0,07 0,06 0,07 Air, Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6 Konstruksi 11,68 11,68 10,77 11,45 11,66 11,43 11,44 11,25 11,62 11,40 12,02 11,37 7 Perdagangan 10,7 10,70 10,37 10,81 10,11 10,70 9,73 10,42 9,86 10,07 10,40 9,92 Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8 Transportasi 5,43 5,43 5,1 5,62 5,23 5,69 5,39 5,56 5,67 5,60 6,29 5,83 dan Pergudangan 9 Penyediaan 1,27 1,27 1,23 1,26 1,28 1,26 1,30 1,22 1,33 1,19 1,44 1,22 Akomodasi dan Makan Minum 10 Informasi dan 2,11 2,11 1,97 2,19 1,99 2,27 2,01 2,33 2,02 2,41 2,19 2,66 Komunikasi 11 Jasa Keuangan 1,13 1,13 1,05 1,15 1,11 1,17 1,12 1,11 1,10 1,08 1,19 1,13 dan Asuransi 12 Real Estate 0,91 0,91 0,83 0,96 0,80 0,96 0,82 0,99 0,83 0,97 0,89 0,99 13 Jasa 0,29 0,29 0,29 0,31 0,29 0,31 0,28 0,30 0,29 0,30 0,29 0,29 Perusahaan 14 Administrasi 5,01 5,01 4,86 5,13 5,11 5,01 5,08 4,89 5,16 4,90 5,81 5,11 Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 15 Jasa 1,61 1,61 1,76 1,81 1,94 2,02 2,09 2,15 2,15 2,19 2,48 2,36 Pendidikan 16 Jasa 0,82 0,82 0,76 0,83 0,75 0,86 0,74 0,85 0,76 0,88 0,95 1,01 Kesehatan dan Kegiatan Sosial 17 Jasa Lainnya 0,52 0,52 0,47 0,51 0,46 0,50 0,45 0,47 0,46 0,47 0,57 0,53 PDRB , Sumber: Publikasi PDRB Provinsi Kalimantan Utara dengan hasil ola LP2KD Prov. Kaltara,

23 2.11. Panjang Jalan Dilalui Roda 4 Indikator panjang jalan dilalui roda empat merupakan hasil perbandingan dari jumlah panjang jalan baik jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota, dan jalan desa (lokal) dengan jumlah penduduk. Indikator ini digunakan untuk menunjukkan rasio panjang jalan di suatu wilayah yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat untuk melayani per 1000 penduduk. Tabel 2.21 Panjang Jalan Dilalui Roda 4 Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Jumlah panjang jalan 2.913, , , , ,21 Jumlah penduduk Panjang jalan dilalui roda 4 0,0056 0,0057 0,0060 0,0065 0,0066 Indikator panjang jalan dilalui roda empat di Provinsi Kaltara dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014 memiliki kecenderungan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,23% per tahun, yakni 0,0056 pada tahun 2010 meningkat menjadi 0,0066 pada tahun Berdasarkan pedoman penentuan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang, perumahan dan permukiman dan pekerjaan umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), SPM panjang jalan dilalui roda 4 adalah 0,6 km per 1000 penduduk sehingga dengan melihat kondisi yang terjadi di Provinsi Kaltara masih perlu banyak pembangunan jalan khususnya yang dapat dilalui oleh kendaraan roda 4. Tabel 2.22 Panjang Jalan Dilalui Roda 4 Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/ Kota Jumlah panjang jalan (Km) Jumlah penduduk Panjang jalan dilalui Roda 4 Bulungan 840,52 857,21 932,80 960, ,68 Malinau 1.053, , , , ,49 Nunukan 694,97 777,24 828,73 856,94 934,92 Tana Tidung 103,70 246,94 354,47 354,47 248,09 Tarakan 220,06 220,06 225,00 227,10 228,03 Kalimantan Utara 2.913, , , , ,21 Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan Kalimantan Utara Bulungan 0,007 0,007 0,008 0,008 0,008 Malinau 0,018 0,016 0,017 0,021 0,022 Nunukan 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 Tana Tidung 0,007 0,015 0,021 0,019 0,012 Tarakan 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 Kalimantan Utara 0,0056 0,0057 0,0060 0,0065 0,0066 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan LP2KD Prov. Kaltara,

24 No Panjang Jalan Kabupaten (Provinsi) Dalam Kondisi Baik (>40 Km/Jam) Berdasarkan Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan Gubernur Kaltara Nomor /K.128/2015 dan Nomor /K.129/2015, terdapat 60 ruas jalan yang telah ditetapkan sebagai jalan provinsi. Keputusan Gubernur Kaltara Nomor /K.128/2015 tentang Penetapan Ruas- Ruas Jalan Menurut Statusnya Sebagai Jalan Provinsi Kaltara menetapkan 28 ruas jalan sebagai jalan provinsi, dan menurut Keputusan Gubernur Kaltara Nomor /K.128/2015 tentang Penetapan Ruas Jalan Sebagai Jalan Strategis Provinsi Kaltara menetapkan 32 ruas jalan sebagai jalan strategis provinsi. Tabel 2.23 Kondisi Jalan per Ruas Jalan Menurut Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kaltara Nama Ruas Jalan 1 Sabanar Raya 2 Sabanar Lama - Sabanar Baru 3 Sabanar Baru - Selimau I 4 Selimau I - Kecamatan yang dilalui Selimau III 5 Manunggal 6 Ulin Bandara Harapan 7 Jeruk 8 Durian 9 Semangka 10 Pahlawan 11 Cendana 12 Padaelo Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Akses ke Jalan N/P/K Rusak Keterangan Berat 6,526 N Mendukung Jalan 0,8 3,2 P Mendukung Jalan 3,585 P Mendukung Jalan 2,285 P Menunjang Daerah Potensial 2,72 N Mendukung Jalan 0,18 N Mendukung Jalan 1,133 N Mendukung Jalan 1,24 N Mendukung Jalan 1,12 0,28 N Mendukung Jalan 0,303 N Mendukung Jalan 0,64 0,96 N Mendukung Jalan 0,9 N Mendukung Jalan LP2KD Prov. Kaltara,

25 No Nama Ruas Jalan 13 Trans Kalimantan - Kasimuddin - Lebong 14 Budiman Arifin - Salimbatu 15 Salimbatu - Klubir (Sp III) 16 Trans Kalimantan - Klubir (Sp III) Kecamatan yang dilalui Palas Palas Palas Tengah Palas Utara Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Akses ke Jalan N/P/K Rusak Keterangan Berat 5,2 N Mendukung Jalan 16,565 N Mendukung Jalan 15,854 P Mendukung Jalan 6,5 N Mendukung Jalan 17 Selimau III - Pelabuhan Pesawan 18 Outer Ring Road 19 Trans Kalimantan (Sp. 3 Tanah Kuning) - Tanah Kuning 20 Tanah Kuning - Mangkupadi 21 Mangkupadi - Pindada 22 Pindada - Kampung Baru 23 Kampung Baru - Karang Tigau - Batas Bulungan Berau 24 Trans Kalimantan - Pelabuhan Ferry Ancam 25 Gunung Seriang - Long Beluah 26 Long Beluah - Long Peso 27 Koridor Bulungan - Tarakan Ruas Sekatak Buji - Liagu Palas Timur Palas Timur Palas Timur Palas Timur Palas Timur Palas Utara Palas Barat 3,2 P Menunjang Daerah Potensial 75 N Proses perencanaan 43,482 28,988 P Menunjang Daerah Potensial 10,124 P Menunjang Daerah Potensial 5,554 P Menunjang Daerah Potensial 6,2 P Menunjang Daerah Potensial 24,9 P Menunjang Daerah Potensial 4,8 N Menunjang Daerah Potensial 49,55 P Menunjang Daerah Potensial Peso 90 P Menunjang Daerah Potensial 30 N Proses perencanaan Palas Utara 28 Koridor 50 N Proses perencanaan LP2KD Prov. Kaltara,

26 No Nama Ruas Jalan Bulungan - Tarakan Ruas Ancam 29 Jenderal Sudirman Kecamatan yang dilalui Palas Utara Tarakan Barat 30 Gajah Mada Tarakan Barat 31 Kusuma Bangsa 32 Sungai Sesayap 33 Sungai Kapuas 34 Sungai Brantas 35 Sungai Kayan Tarakan Barat Tarakan Timur Tarakan Timur Tarakan Timur Tarakan Timur 36 Amal Baru Tarakan Timur 37 Amal Lama Tarakan Timur 38 Gunung Tarakan Selatan Tengah 39 Aki Balak Tarakan Barat 40 Aji Iskandar Tarakan Barat 41 Bhayangkara Tarakan Barat 42 Ring Road Kota Tarakan (Juata Laut - Pantai Amal) 43 Aki Pingka - Suwaran - Koridor Bulungan - Tarakan Sisi Tarakan 44 Ahmad Yani KTT 45 Trans Kalimantan - Tideng Pale Tarakan Utara Tarakan Barat Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Rusak Berat Akses ke Jalan N/P/K Keterangan 1,68 0,42 N Mendukung Jalan 0,84 0,21 N Mendukung Jalan 2,8 0,7 N Mendukung Jalan 1,84 0,46 P Mendukung Jalan 1,08 0,27 P Mendukung Jalan 1,08 0,27 P Mendukung Jalan 5 1,25 P Mendukung Jalan 0,6 0,15 P Menunjang Daerah Potensial 2,16 0,54 P Menunjang Daerah Potensial 3,6 0,9 P Mendukung Jalan 5 1,25 N Mendukung Jalan 5,76 1,44 P Mendukung Jalan 3,6 0,9 N Mendukung Jalan 28,6 P Menunjang Daerah Potensial 2,8 0,7 P Mendukung Jalan Sesayap 1,75 P Mendukung Jalan Sesayap 7,6 1,9 N Mendukung Jalan 46 Trans Sesayap 10,325 4,425 N Menunjang Daerah LP2KD Prov. Kaltara,

27 No Nama Ruas Jalan Kalimantan - Pelabuhan Sesayap KTT 47 Long Bawan - Long Midang - Batas Negara 48 Long Bawan - Lembudud - Ruan Bekang 49 Lembudud - Long Layu 50 Long Layu - Sumur Garam 51 Long Layu - Pa'upan 52 Pa'upan - Long Rungan 53 Long Rungan - Long Padi 54 Long Padi - Binuang 55 Long Bawan - Kampung Baru - Pa'betung - Pa'pani 56 Kampung Baru - Long Umung - Pa'raye 57 Long Umung - Wa'yagung 58 Lingkar Pulau Nunukan 59 Coastal Road Nunukan 60 Ring Road Malinau Kecamatan yang dilalui Baik Panjang Tiap Kondisi (%) Rusak Sedang Ringan Rusak Berat Akses ke Jalan N/P/K Potensial Keterangan Krayan 11 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 24,7 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan Selatan Krayan Selatan Krayan Selatan Krayan Selatan Krayan Selatan Krayan Selatan 28,15 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 15,3 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 9,3 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 20,7 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 16 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir 7,4 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 37,5 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 16,5 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Krayan 14,25 P Membuka Daerah Perbatasan dan Terisolir Nunukan 70 P Mendukung Jalan Nunukan 15 N Mendukung Jalan Malinau 20 N Mendukung Jalan TOTAL 45, , , ,854 Sumber : Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Kalimantan Utara dalam Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 Ke-60 ruas jalan provinsi yang telah ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Kaltara tersebut, 28 ruas jalan terdapat di Kabupaten Bulungan, 1 ruas jalan di Kabupaten LP2KD Prov. Kaltara,

28 Malinau, 13 ruas jalan di Kabupaten Nunukan, 3 ruas jalan di Kabupaten Tana Tidung, dan 15 ruas jalan di Kota Tarakan, dengan total panjang jalan provinsi sepanjang 899,489 km. Tabel 2.24 Kondisi Jalan per Ruas Jalan Provinsi Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kaltara NO Kabupaten/kota Kondisi Jalan (km) Jalan secara Baik Sedang Rusak Ringan Rusak Berat keseluruhan 1 Bulungan 7,336 74, , , ,789 2 Malinau Nunukan ,8 285,8 4 Tana Tidung 0 19,675 6, Tarakan 37,840 9, ,6 75,9 Kalimantan Utara 45, , , , ,489 Persentase 5,02 11,47 24,82 58,68 Sumber : Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Kalimantan Utara dalam Data Dasar Prasarana Provinsi, Kabupaten/Kota Tahun 2015 Indikator panjang jalan kabupaten (provinsi) dalam kondisi baik (>40 km/jam) merupakan hasil perbandingan antara panjang jalan kabupaten (provinsi) dalam kondisi baik dengan panjang seluruh jalan kabupaten (provinsi) di daerah tersebut dikalikan dengan bilangan 100. Berdasarkan tabel kondisi jalan per ruas jalan provinsi tersebut, kondisi jalan provinsi di Provinsi Kalimantan Utara masih didominasi oleh kondisi jalan rusak, yakni sepanjang 527,854 km atau sebesar 58,68% dan kondisi jalan rusak sepanjang 223,262 km atau sebesar 24,82%. Selanjutnya 103,197 km atau 11,47% kondisi ruas jalan provinsi memiliki kondisi jalan sedang dan hanya 45,176 km atau sebesar 5,02% saja jalan provinsi yang memiliki kondisi baik. Hal tersebut membutuhkan perhatian besar dari Pemerintah Provinsi Kaltara untuk terus berupaya memperbaiki kondisi jalan khususnya untuk ruas jalan provinsi guna menunjang berbagai kegiatan, khususnya untuk kegiatan perekonomian, juga untuk meningkatkan interkonektivitas antar wilayah. Tabel 2.25 Persentase Panjang Jaringan Jalan Provinsi Kondisi Baik dan Sedang Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 di Provinsi Kaltara Kabupaten/kota Jalan Kondisi Baik Total Panjang Jaringan Persentase Panjang Jalan Provinsi dan Sedang (km) Jalan Provinsi (km) Kondisi Baik dan Sedang (%) Bulungan 81, ,789 9,05 Malinau 47,3 75,9 5,26 Nunukan 19, ,19 Tana Tidung 0 285,8 0,00 Tarakan ,00 Jumlah 148, ,489 16,50 Hingga tahun 2015, panjang jalan provinsi yang memiliki kondisi baik dan sedang di Provinsi Kaltara sepanjang 148,373 km atau sebesar 16,50%. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2014, tingkat kondisi jalan baik dan sedang di Provinsi Kaltara belum mencapai target yang ditetapkan (60%). LP2KD Prov. Kaltara,

29 2.13. Sempadan Sungai yang Dipakai Bangunan Liar Indikator persentase sempadan sungai yang bangunan liar didapatkan dari perbandingan antara panjang sempa dan sungai yang dipakai bangunan liar dengan panjang seluruh jalan sempadan sungai. Data yang didapatkan untuk indikator ini adalah data panjang sempadan sungai yang dipakai bangunan liar di Kabupaten Tana Tidung tahun 2015, yakni sepanjang 5 km Drainase Dalam Kondisi Baik/Pembuangan Air Tidak Tersumbat Indikator drainase dalam kondisi baik/pembuangan aliran air tidak tersumbat merupakan hasi dari perbandingan antara panjang drainase tidak tersumbat pembuangan aliran air dengan panjang seluruh drainase. Data panjang drainase yang tersedia hanya Kabupaten Tana Tidung, yakni sepanjang 5,315 km pada tahun Pembangunan Turap di Wilayah Jalan Penghubung dan Aliran Sungai Rawan Longsor Indikator persentase pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor didapatkan dari hasil perbandingan jumlah lokasi pembangunan turap di wilayah jalan penghubung dan aliran sungai rawan longsor dengan jumlah seluruh wilayah longsor. Jumlah lokasi pembangunan turap yang tersedia datanya hanya di Kabupaten Tana Tidung, yakni sebanyak tiga kecamatan Aksesibilitas Indikator aspek aksesbilitas merupakan indikator di luar Lampiran 1 Permendagri 54/2010. Indikator aksesibilitas didapatkan dari hasil perbandingan antara panjang jalan seluruhnya dengan luas wilayah. Dikutip dari Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang menargetkan untuk indikator aksesibilitas adalah sebesar 100% pada tahun Tabel 2.26 Aksesibilitas Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Jumlah panjang jalan (km) 2.913, , , , ,21 Luas wilayah (km 2 ) , , , , ,21 Aksesibilitas 0,040 0,043 0,048 0,054 0,056 Persentase 4,03 4,33 4,77 5,35 5,59 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan LP2KD Prov. Kaltara,

30 Persentase aksesibilitas di Provinsi Kaltara masih berada jauh di bawah target yang ditetapkan oleh SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Hingga taun 2014, persentase aksesibilitas masih sebesar 5,59%, meskipun demikian persentase tersebut selalu mengalami peningkatan dalam kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2014 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,52% per tahun. Apabila dilihat dari aksesibilitas masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kaltara, persentase aksesbilitas yang sudah mencapai bahkan melampaui target SPM terdapat di Kota Tarakan yakni sebesar 90,92%, sedangkan empat kabupaten lainnya masih berada jauh dibawah target SPM. Tabel 2.27 Aksesibilitas Menurut Kabupaten/Kota Tahun di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/ Kota Panjang jalan seluruhnya (km) Bulungan 840,52 857,21 932,80 960, ,683 Malinau 1.053, , , , ,49 Nunukan 694,97 777,24 828,73 856,94 934,92 Tana Tidung 103,70 246,94 354,47 354,47 248,09 Tarakan 220,06 220,06 225,00 227, ,031 Kalimantan Utara 2.913, , , , ,214 Luas wilayah Bulungan , , , , ,92 Malinau , , , , ,41 Nunukan , , , , ,50 Tana Tidung 4.828, , , , ,58 Tarakan 250,80 250,80 250,80 250,80 250,80 Kalimantan Utara , , , , ,21 Aksesibilitas Bulungan 0,064 0,065 0,071 0,073 0,076 Malinau 0,026 0,026 0,028 0,037 0,041 Nunukan 0,049 0,054 0,058 0,060 0,066 Tana Tidung 0,021 0,051 0,073 0,073 0,051 Tarakan 0,877 0,877 0,897 0,906 0,909 Kalimantan Utara 0,040 0,043 0,048 0,054 0,056 Sumber : Kabupaten/Kota Dalam Angka Tahun dengan Hasil Olahan Kabupaten Bulungan memiliki persentase aksesibilitas sebesar 7,61%, Kabupaten Malinau sebesar 4,09%, Kabupaten Nunukan sebesar 6,56%, dan Kabupaten Tana Tidung sebesar 5,14%. Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk dapat meningkatkan kondisi jalan di lingkup Provinsi Kaltara dalam kaitannya untuk meningkatkan aksesibilitas wilayah Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau kota merupakan kawasan perlindungan, yang ditetapkan dengan kriteria: a. Lahan dengan luas paling sedikit (dua ribu lima ratus) meter persegi, b. berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur, atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur, dan LP2KD Prov. Kaltara,

31 c. didominasi komunitas tumbuhan. Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan, pengembangan ruang terbuka hijau dari luas kawasan perkotaan paling sedikit 30%. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb didapatkan dari perhitungan luas ruang terbuka hijau dibagi dengan luas wilayah ber-hpl/hgb. Data mengenai rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb ini bersumber dari Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah dari masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kaltara. Keterbatasan data untuk semua kabupaten dan kota menyebabkan perubahan rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb selama tahun 2010 hingga tahun 2013 di provinsi ini tidak dapat diketahui. Tabel 2.28 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Ber-HPL/HGB Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Rasio Ruang Terbuka Hijau Per Satuan Luas Wilayah Ber-HPL/HGB Bulungan 0,01 0,22 0,22 0,22 Malinau n/a 0,96 0,96 n/a Nunukan 0,00 n/a n/a n/a Tana Tidung n/a n/a 0,25 n/a Tarakan 0,27 0,00 0,00 0,07 Kaltara n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2011, ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung Tahun ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013 Catatan : Data Provinsi Kaltara tidak dapat dijumlahkan, karena data tidak lengkap per kabupaten/kota Sebagai catatan, rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber-hpl/hgb yang tercantum dalam Lampiran 1 Permendagri No. 54 Tahun 2010 adalah ruang terbuka hijau untuk kawasan perkotaan. Sementara sebagian besar luas wilayah Provinsi Kaltara masih berupa kawasan perdesaan Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Izin mendirikan bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten/kota kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku. LP2KD Prov. Kaltara,

32 Formula yang digunakan untuk menghitung rasio bangunan ber-imb per satuan bangunan adalah dengan membagi jumlah bangunan ber-imb dengan jumlah seluruh bangunan yang ada. Berikut adalah data rasio bangunan ber-imb per satuan bangunan di Provinsi Kaltara tahun dirinci menurut kabupaten/kota. Tabel 2.29 Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Rasio Bangunan Ber-IMB Per Satuan Bangunan Bulungan 0,01 0,01 0,01 0,01 Malinau n/a 0,09 0,13 0,18 0,10 0,11 Nunukan 0,05 n/a 0,03 n/a Tana Tidung n/a 0,00 0,00 n/a Tarakan 0,94 0,02 0,05 0,07-0,03 0,07 Kaltara n/a n/a n/a n/a Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau Tahun 2011, ) LPPD Kabupaten Bulungan Tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan ) LPPD Kabupaten Nunukan Tahun ) LPPD Kabupaten Tana Tidung Tahun ) LPPD Kota Tarakan Tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan ) Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu, Catatan : Data Provinsi Kaltara tidak dapat dijumlahkan, karena data tidak lengkap per kabupaten/kota Sarana Sosial (Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi) Sarana sosial yang dimaksud adalah panti asuhan, panti jompo, panti rehabilitasi, rumah singgah. Penyediaan sarana sosial merupakan tanggung jawab pemerintah. Penyediaan fasilitas sosial ditujukan untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung. Fasilitas sosial yang diberikan oleh pemerintah merupakan wujud tanggung jawab pemerintah untuk memelihara masyarakat yang kurang beruntung. Berikut merupakan data sarana sosial yang tersedia di Provinsi Kaltara. Tabel 2.30 Jumlah Total Sarana Sosial Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/Kota Jumlah total sarana sosial Bulungan na 2 na na 7 9 Malinau na Nunukan na 4 8 Tana Tidung Tarakan Prov. Kaltara Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigras Provinsi Kalimantan Timur, Berdasarkan informasi yang tersedia terlihat jumlah sarana sosial antar kabupaten/kota bervariasi. Kabupaten Malinau pada tahun 2011 dan 2012 jumlah sarana sosial tertinggi yakni 17 sarana sosial. Data lain yang dapat terlihat yakni Kabupaten Tana Tidung tidak memiliki sama sekali sarana sosial pada tahun 2010 sampai Khusus untuk informasi Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan jumlah sarana sosial mengalami fluktuasi dibandingkan tahun sebelumnya. LP2KD Prov. Kaltara,

33 2.20. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang Memperoleh Bantuan Sosial Berdasarkan data yang tersedia secara umum terlihat bahwa jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial di kabupaten/kota Provinsi Kaltara mengalami kenaikan dari tahun ke tahunnya. Kabupaten Malinau merupakan salah satu kabupaten yang telah mampu memetakan jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial sampai 100% pada tahun 2011 dan Kota Tarakan telah melakukan pemetaan PMKS yang memperoleh bantuan secara baik, dengan pencapaian sebesar 96,1% PMKS yang memperoleh bantuan sosial dibandingkan dengan jumlah PMKS total. Berikut merupakan data jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial yang tersedia di Provinsi Kalimantan Utara. Tabel 2.31 Jumlah PMKS yang Memperoleh Bantuan Sosial Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/Kota Jumlah PMKS Bulungan na 3 71 na na na yang Malinau na na na Memperoleh Nunukan 2 na na na na na Bantuan Sosial Tana Tidung na na na Tarakan 1,50 1,82 4,09 88, ,1 Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Perda RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun ) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigras Provinsi Kalimantan Timur, Keterangan: Jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk tingkat Provinsi Kaltara tidak dapat dihitung karena data tersedia berupa persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Informasi yang tersedia terlihat bahwa penanganan PMKS pada Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung dan Kota Tarakan mengalami kenaikan. Di Kabupaten Nunukan penanganan PMKS pada awalnya masih cukup rendah terlihat pada tahun 2010 hanya 0,02%, tetapi seiring berjalannya waktu, penanganan PMKS semakin mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik, terlihat dari persentase penanganan PMKS yang mencapai % di tahun Hal ini berarti penanganan PMKS yang dilakukan di tahun tersebut melampaui data jumlah PMKS yang ada. Kabupaten Bulungan memiliki kecenderungan penurunan penanganan PMKS terlihat pergerakan dari tahun 2010 sampai Berikut merupakan data penananan PMKS yang tersedia di Provinsi Kaltara. LP2KD Prov. Kaltara,

34 Tabel 2.32 Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 s.d di Provinsi Kaltara Uraian Kabupaten/Kota Persentase Bulungan 0,20 0,03 na na na na Penanganan Malinau 10,6 18,8 33,6 0,3 na na Penyandang Nunukan 0,02 na 83, Masalah Tana Tidung 0,31 0,55 0,55 na na na Kesejahteraan Tarakan 3,70 1,86 4,58 88,29 na na Sosial Prov. Kalimantan Utara na na na na na na Sumber: 1) Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Rencana Jangka Panjang Pembangunan Daerah Provinsi Kaltara Tahun ) Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigras Provinsi Kalimantan Timur, Keterangan: Jumlah PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk tingkat Provinsi Kaltara tidak dapat dihitung karena data tersedia berupa persentase Kepemilikan KTP KTP merupakan identitas wajib Warga Negara Indonesia (WNI). Kepemilikan KTP juga dapat menunjukkan seseorang telah terdaftar dalam database kependudukan. KTP mempunyai beberapa manfaat seperti dapat mengakses program pemerintah, seperti Jamkesmas, BOS, ataupun bantuan lainnya. KTP juga merupakan syarat utama dalam beberapa pembuatan surat seperti SKCK, kartu kuning, dan lain-lain. Tabel 2.33 Kepemilikan KTP Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Kepemilikan KTP Bulungan 56,18 72,18 79,06 63,91 Malinau 90,71 72,08 Nunukan 90,00 67,03 60,04 59,98 Tana Tidung 40,52 39,74 28,91 29,98 Tarakan 49,15 57,34 91,95 75,97 Kaltara 62,25 65,58 75,06 65,71 113,65 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Kabupaten Bulungan Dalam Angka 2015 Kabupaten dengan kepemilikan KTP terbanyak berada di Kota Tarakan yang mencapai angka 92% pada tahun Disusul dengan Kabupaten Malinau yang sempat mencapai angka 91% pada tahun 2011 dan kemudian menurun pada tahun Secara umum, dapat dikatakan bahwa kepemilikan KTP masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara sangat fluktuatif. Kabupaten dengan kepemilikan KTP terendah ditempati oleh Kabupaten Tana Tidung yang sampai tahun 2013 hanya mencapai angka 30%. Untuk Provinsi Kaltara sendiri, kepemilikan KTP terbanyak berada pada tahun 2014 LP2KD Prov. Kaltara,

35 yang mencapai angka 113,65 dan mengartikan bahwa kepemilikan KTP pada tahun ini sudah sangat banyak dan meningkat dari tahun-tahun sebelumnya Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Aturan pemerintah pusat mulai menyeragamkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) adalah mengacu pada penerapan KTP berbasis NIK sesuai dengan pasal 6 Perpres No. 26 Tahun Aturan ini pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan mengidentifikasi dan menghindari pemalsuan data maupun data ganda. Kartu Tanda Penduduk berbasis NIK adalah KTP yang memiliki spesifikasi dan format KTP Nasional dengan sistem pengamanan khusus yang berlaku sebagai identitas resmi yang diterbitkan oleh instansi pelaksana. Semua kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara diketahui telah menerapkan KTP Nasional berbasis NIK, sehingga hal ini diharapkan akan memudahkan dalam proses administrasi kependudukan secara nasional. Tabel 2.34 Penerapan KTP Nasional Berbasis NIK Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Ketersediaan Database Kependudukan Skala Provinsi Bulungan Sudah Sudah Sudah Sudah Malinau Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Nunukan Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Tana Tidung Sudah Sudah Sudah Sudah Tarakan Sudah Sudah Sudah Sudah Kaltara Sudah Sudah Sudah Sudah Sumber: 1) LPPD Kabupaten Malinau ) LPPD Kabupaten Bulungan ) LPPD Kabupaten Nunukan ) LPPD Kabupaten Tana Tidung ) LPPD Kota Tarakan Rasio Penduduk ber-ktp per Satuan Penduduk Kota Tarakan memiliki rasio penduduk ber-ktp yang tinggi, bahkan rasionya di atas angka 1 selama tahun Rasio penduduk ber-ktp di kabupaten/kota lainnya, masih relatif rendah, seperti Kabupaten Malinau yang rasionya stagnan 0,66-0,96 selama Kabupaten Tana Tidung memiliki rasio penduduk ber-ktp hanya 0,3 di tahun Pemerintah daerah yang masih memiliki rasio penduduk ber-ktp rendah di daerahnya diharapkan dapat segera menyelesaikan masalah ini. Karena data penduduk yang tidak valid akan menyulitkan pemerintah dalam melakukan perencanaan pembangunan, selain itu pula akan menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi kondisi masyarakat. LP2KD Prov. Kaltara,

36 Tabel 2.35 Rasio Penduduk Ber-KTP per Satuan Penduduk Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Rasio Penduduk Ber-KTP Bulungan Malinau 0,69 0,68 0,66 0,68 0,87 0,96 Nunukan 0,58 0,60 0,60 Tana Tidung 0,29 0,30 Tarakan 1,11 1,16 1,20 1,21 Kaltara 0,51 0,59 0,58 0,55 0,60 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Rasio Bayi Berakte Kelahiran Belum semua bayi di kabupaten/kota memiliki akte kelahiran. Diketahui bahwa Kota Tarakan selama tahun mengalami peningkatan rasio bayi berakte, yaitu yang semula di tahun 2010 rasionya hanya 0,69, pada tahun 2013 mengalami kenaikan yang cukup signifikan menjadi 1,03. Belum semua bayi Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung memiliki akte kalahiran, sedangkan di Kabupaten Bulungan kondisinya adalah belum tersedia data bayi berakte kelahiran. Rasio bayi berakte kelahiran di Kabupaten Malinau meningkat dengan range 0,54-0,67 untuk tahun Berbeda dengan Kabupaten Nunukan di tahun yang memiliki angka stagnan. Berdasarkan SPM (Standar Pelayanan Minimal), diketahui bahwa standar untuk kepemilikan akte lahir adalah 100% atau memiliki rasio 1 (Permendagri No. 62 Tahun 2008), dan dalam hal ini dapat diidentifikasi bahwa hanya Kota Tarakan yang sudah memenuhi standar tersebut, dan untuk kabupaten/kota lainnya masih jauh di bawah standar, yaitu seperti Kabupaten Malinau yang rasionya hanya 0,67, Kabupaten Nunukan yang rasionya hanya 0,58, dan Kabupaten Tana Tidung yang rasionya hanya 0,68. Tabel 2.36 Rasio Bayi Berakte Kelahiran Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Rasio Bayi Berakte Kelahiran Bulungan Malinau 0,54 0,69 0,67 0,67 0,62 0,67 Nunukan 0,58 0,58 Tana Tidung 0,70 0,68 Tarakan 0,69 0,72 1,00 1,03 Kaltara 0,69 0,72 0,77 0,79 0,58 Sumber: 1) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malinau ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulungan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nunukan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tana Tidung ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tarakan ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, LP2KD Prov. Kaltara,

37 2.26. Rasio Pasangan Berakte Nikah Kepemilikan akte nikah yang dimiliki oleh pasangan suami istri masih sangat minim. Dari data yang ada diketahui bahwa hanya Kota Tarakan yang memiliki rasio kepemilikan akte nikah paling baik, yaitu pada tahun memiliki angka rasio antara 20,50-24,22. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat di Kota Tarakan banyak yang sudah memiliki akte nikah dan hal ini menunjukkan bahwa bukti pernikahan tersebut sangat penting untuk dimiliki karena berkaitan pula dengan legalitas pernikahan yang mereka lakukan, khususnya bagi seorang wanita/istri. Sama halnya dengan Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara sendiri memiliki rasio kepemilikan akte nikah paling baik hanya pada tahun yaitu mencapai angka rasio 13,15-15,11, dan kondisinya menurun pada tahun 2014 menjadi 0,28. Untuk Kabupaten Bulungan, rasio kepemilikan akte nikah paling baik berada pada tahun 2012 karena memiliki rasio > 1, dan tahun lainnya masih di bawah 1. Kabupaten Malinau memiliki rasio kepemilikan akte nikah paling baik mulai tahun karena memiliki rasio 1, dan menurun menjadi 0,22 pada tahun 2014 dan meningkat kembali menjadi 0,73 pada tahun Rasio kepemilikan akte nikah di Kabupaten Nunukan paling minim, begitupun dengan Kabupaten Tana Tidung yang tidak tersedia datanya, dan hal ini menunjukkan bahwa kesadaran pasangan suami istri untuk mencatatkan pernikahannya secara resmi masih sangat kurang. Tabel 2.37 Rasio Pasangan Berakte Nikah Tahun di Provinsi Kaltara Kabupaten/Kota Rasio Pasangan Berakte Nikah Bulungan 0,36 0,38 1,41 0,38 0,35 Malinau 0,97 1,00 1,00 1,00 0,22 Nunukan Tana Tidung 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Tarakan 0,13 23,28 20,50 24,22 0,13 Kaltara 0,48 14,02 13,15 15,11 0,28 Sumber: 1) Kabupaten Bulungan Dalam Angka ) Kabupaten Malinau Dalam Angka ) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2010, 2011, ) Kabupaten Tana Tidung ) Kota Tarakan Dalam Angka ) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, LP2KD Prov. Kaltara,

BAB II PROFIL KEMISKINAN DAERAH

BAB II PROFIL KEMISKINAN DAERAH 2.1. Kondisi Umum Daerah BAB II PROFIL KEMISKINAN DAERAH 2.1.1. Sejarah Singkat Terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara Provinsi Kalimantan Utara di wacanakan sejak tahun 2000 oleh seluruh komponen masyarakat

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda di Indonesia saat ini yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1. Kondisi Umum Daerah 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah A. Luas dan batas wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Utara

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi baru yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan Undang-Undang No. 20

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km 2 atau hampir 7 % dari luas seluruh pulau Kalimantan. Wilayah

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Secara geografis Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1 0 4 0 Lintang Selatan dan 102 0-106 0 Bujur Timur dengan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI II-1 BAB II 2.1 Kondisi Alam 2.1.1 Topografi Morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali secara umum di bagian hulu adalah daerah pegunungan dengan topografi bergelombang dan membentuk cekungan dibeberapa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 39 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57-3º

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian Lokasi Studi

METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian Lokasi Studi III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Studi Daerah Irigasi Way Negara Ratu merupakan Daerah Irigasi kewenangan Provinsi Lampung yang dibangun pada tahun 1972 adapun

Lebih terperinci

KONDISI W I L A Y A H

KONDISI W I L A Y A H KONDISI W I L A Y A H A. Letak Geografis Barito Utara adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Kalimantan Tengah, berada di pedalaman Kalimantan dan terletak di daerah khatulistiwa yaitu pada posisi 4 o

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI BAB II 2.1. Tinjauan Umum Sungai Beringin merupakan salah satu sungai yang mengalir di wilayah Semarang Barat, mulai dari Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan dan bermuara di Kecamatan Tugu (mengalir

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Administrasi Kabupaten Bangka Tengah secara administratif terdiri atas Kecamatan Koba, Kecamatan Lubuk Besar, Kecamatan Namang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kecamatan

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Letak dan Luas IUPHHK-HA CV. Pangkar Begili 4.2 Tanah dan Geologi

BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Letak dan Luas IUPHHK-HA CV. Pangkar Begili 4.2 Tanah dan Geologi BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Letak dan IUPHHK-HA CV. Pangkar Begili Secara administratif pemerintah, areal kerja IUPHHK-HA CV. Pangkar Begili dibagi menjadi dua blok, yaitu di kelompok Hutan Sungai Serawai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 66 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Kondisi Geografis a. Kabupaten Brebes Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten terluas di Jawa Tengah yaitu pada posisi

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kondisi Fisik Daerah Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara 7.33-8.12 Lintang Selatan dan antara 110.00-110.50 Bujur

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG Geografis dan Administrasi Kabupaten Sintang mempunyai luas 21.635 Km 2 dan di bagi menjadi 14 kecamatan, cakupan wilayah administrasi Kabupaten Sintang disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Secara Geografis Kota Depok terletak di antara 06 0 19 06 0 28 Lintang Selatan dan 106 0 43 BT-106 0 55 Bujur Timur. Pemerintah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian 1. Batas admistrasi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian tengah, di bagian selatan dibatasi lautan Indonesia, sedangkan di bagian

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN. A. Kondisi Geografis dan Profil Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambar 4.1

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN. A. Kondisi Geografis dan Profil Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambar 4.1 58 BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. Kondisi Geografis dan Profil Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 4.1 Peta Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), D.I.

Lebih terperinci

BAB 3 GEOLOGI SEMARANG

BAB 3 GEOLOGI SEMARANG BAB 3 GEOLOGI SEMARANG 3.1 Geomorfologi Daerah Semarang bagian utara, dekat pantai, didominasi oleh dataran aluvial pantai yang tersebar dengan arah barat timur dengan ketinggian antara 1 hingga 5 meter.

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN

PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN 7 Desember 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN EKONOMI TAHUN 2015 TUMBUH 4,06 PERSEN MELAMBAT SEJAK EMPAT TAHUN TERAKHIR Perekonomian Kabupaten Bangka Selatan tahun 2015 yang diukur

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KONDISI GEOGRAFIS Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak di jalur pelayaran dunia internasional. Kota Batam berdasarkan Perda Nomor

Lebih terperinci

BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR No. 01/10/3172/Th.VIII, 7 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TIMUR TAHUN 2015 EKONOMI JAKARTA TIMUR TAHUN 2015 TUMBUH 5,41 PERSEN Perekonomian Jakarta Timur tahun

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Administrasi Kabupaten Majalengka GAMBAR 4.1. Peta Kabupaten Majalengka Kota angin dikenal sebagai julukan dari Kabupaten Majalengka, secara geografis terletak

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH Bab ini akan memberikan gambaran wilayah studi yang diambil yaitu meliputi batas wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu, kondisi fisik DAS, keadaan sosial dan ekonomi penduduk, serta

Lebih terperinci

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI KALIMANTAN UTARA

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI KALIMANTAN UTARA DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI KALIMANTAN UTARA KONDISI DESEMBER 2015 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA, 2016 JUMLAH PUSKESMAS MENURUT KABUPATEN/KOTA KEADAAN 31 DESEMBER 2015 PROVINSI KALIMANTAN

Lebih terperinci

KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok

KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok IV. KONDISI UMUM 4.1 Lokasi Administratif Kecamatan Beji Secara geografis Kecamatan Beji terletak pada koordinat 6 21 13-6 24 00 Lintang Selatan dan 106 47 40-106 50 30 Bujur Timur. Kecamatan Beji memiliki

Lebih terperinci

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI KALIMANTAN UTARA

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI KALIMANTAN UTARA DATA DASAR PROVINSI KALIMANTAN UTARA KONDISI DESEMBER 2014 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA, 2015 JUMLAH MENURUT KABUPATEN/KOTA (KEADAAN 31 DESEMBER 2014) PROVINSI KALIMANTAN UTARA KAB/KOTA

Lebih terperinci

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan wilayah Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No 12 Tahun 1999 sebagai hasil pemekaran Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI 39 BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI 4.1 KARAKTERISTIK UMUM KABUPATEN SUBANG 4.1.1 Batas Administratif Kabupaten Subang Kabupaten Subang berada dalam wilayah administratif Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1. Sejarah Kabupaten Bekasi Kabupaten Bekasi dibentuk berdasarkan Undang-Undang No.14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Dasar-Dasar Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 21 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Umum Fisik Wilayah Geomorfologi Wilayah pesisir Kabupaten Karawang sebagian besar daratannya terdiri dari dataran aluvial yang terbentuk karena banyaknya sungai

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR No. 01/10/3172/Th.VII, 1 Oktober 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TIMUR TAHUN 2014 EKONOMI JAKARTA TIMUR TAHUN 2014 TUMBUH 5,98 PERSEN Release PDRB tahun 2014 dan selanjutnya

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang IV. GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR Propinsi Kalimantan Timur dengan luas wilayah daratan 198.441,17 km 2 dan luas pengelolaan laut 10.216,57 km 2 terletak antara 113º44 Bujur Timur dan 119º00

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Geografis Daerah Penelitian Wilayah konsesi tahap eksplorasi bahan galian batubara dengan Kode wilayah KW 64 PP 2007 yang akan ditingkatkan ke tahap ekploitasi secara administratif

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 15 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Sub DAS Model DAS Mikro (MDM) Barek Kisi berada di wilayah Kabupaten Blitar dan termasuk ke dalam Sub DAS Lahar. Lokasi ini terletak antara 7 59 46 LS

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

MANAJEMEN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI KABUPATEN BULUNGAN

MANAJEMEN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI KABUPATEN BULUNGAN MANAJEMEN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI KABUPATEN BULUNGAN Disusun oleh : Syam Hendarsyah, S.P. E-mail : [email protected] Hp : 081346412689 I. LATAR BELAKANG Allah S.W.T telah memberikan

Lebih terperinci

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta 3.1.1. Kondisi Geografis Mengacu kepada Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Akhir Masa Jabatan 2007 2012 PemProv DKI Jakarta. Provinsi DKI Jakarta

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM 6 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi Penelitian Secara administrasi, lokasi penelitian berada di Kecamata Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Sebelah utara Sebelah selatan Sebelah timur Sebelah

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak dan Luas DAS/ Sub DAS Stasiun Pengamatan Arus Sungai (SPAS) yang dijadikan objek penelitian adalah Stasiun Pengamatan Jedong yang terletak di titik 7 59

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH

KEADAAN UMUM WILAYAH 40 IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1 Biofisik Kawasan 4.1.1 Letak dan Luas Kabupaten Murung Raya memiliki luas 23.700 Km 2, secara geografis terletak di koordinat 113 o 20 115 o 55 BT dan antara 0 o 53 48 0

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Sejarah Kabupaten Lampung Selatan Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar pokok Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

Batuan beku Batuan sediment Batuan metamorf

Batuan beku Batuan sediment Batuan metamorf Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Profil Perusahaan PT. Cipta Kridatama didirikan 8 April 1997 sebagai pengembangan dari jasa penyewaan dan penggunaan alat berat PT. Trakindo Utama. Industri tambang Indonesia yang

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pembagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara administratif yaitu sebagai berikut. a. Kota Yogyakarta b. Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pada umumnya pembangunan ekonomi selalu diartikan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pada umumnya pembangunan ekonomi selalu diartikan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada umumnya pembangunan ekonomi selalu diartikan sebagai proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk dalam suatu daerah karena hal tersebut merupakan kejadian

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Administrasi Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur

Lebih terperinci

Gambar 2 Peta administrasi DAS Cisadane segmen hulu.

Gambar 2 Peta administrasi DAS Cisadane segmen hulu. 25 IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak dan luas DAS Cisadane segmen Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane secara keseluruhan terletak antara 106º17-107º BT dan 6º02-6º54 LS. DAS Cisadane segmen hulu berdasarkan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang 43 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Umum Kecamatan Sragi a. Letak Geografis Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada di

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Deskripsi Wilayah Kabupaten Malinau adalah sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Ibu Kota dari Kabupaten ini adalah Malinau Kota. Berikut

Lebih terperinci

IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 37 IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi Terusan Sialang Kawasan Hutan Produksi Terusan Sialang merupakan kawasan hutan produksi yang telah ditetapkan sejak tahun

Lebih terperinci

dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain yang berada di Provinsi

dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain yang berada di Provinsi 48 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kota Bandar Lampung 1. Keadaan Umum Bandar Lampung merupakan ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 41 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung 1. Keadaan Umum Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Republik Indonesia dengan areal daratan seluas 35.288 km2. Provinsi

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 23 IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Batas Wilayah Kabupaten Tabalong merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibukota Tanjung yang mempunyai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM 9 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Kegiatan penelitian dilakukan di salah satu tambang batubara Samarinda Kalimantan Timur, yang luas Izin Usaha Pertambangan (IUP) sebesar 24.224.776,7

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 38 IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Hutan Mangrove di Tanjung Bara termasuk dalam area kawasan konsesi perusahaan tambang batubara. Letaknya berada di bagian pesisir timur Kecamatan Sangatta

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Umum Daerah aliran sungai (DAS) Cilamaya secara geografis terletak pada 107 0 31 107 0 41 BT dan 06 0 12-06 0 44 LS. Sub DAS Cilamaya mempunyai luas sebesar ± 33591.29

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU 75 GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu propinsi yang masih memiliki tutupan hutan yang baik dan kaya akan sumberdaya air serta memiliki banyak sungai. Untuk kemudahan dalam

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kondisi Umum Provinsi Kalimantan Barat Setelah era reformasi yang menghasilkan adanya otonomi daerah, maka daerah administrasi di Provinsi Kalimantan Barat yang telah mengalami

Lebih terperinci

BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA

BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA Sejalan dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk kota Jakarta, hal ini berdampak langsung terhadap meningkatnya kebutuhan air bersih. Dengan meningkatnya permintaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010). BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Air merupakan salah satu komponen penting untuk kehidupan semua makhluk hidup di bumi. Air juga merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kebutuhan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi 4.1.1 Letak geografis Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari Kota Bandung dan 119 km

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI Kabupaten Kendal terletak pada 109 40' - 110 18' Bujur Timur dan 6 32' - 7 24' Lintang Selatan. Batas wilayah administrasi Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6 SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6 1. Komponen tanah yang baik yang dibutuhkan tanaman adalah.... bahan mineral, air, dan udara bahan mineral dan bahan organik

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Sejarah Kota Bekasi Berdasarkan Undang-Undang No 14 Tahun 1950, terbentuk Kabupaten Bekasi. Kabupaten bekasi mempunyai 4 kawedanan, 13 kecamatan, dan 95 desa.

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Geografi dan Topografi Kawasan Sendang Biru secara administratif merupakan sebuah pedukuhan yang menjadi bagian dari Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan,

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN LOKASI

BAB III TINJAUAN LOKASI BAB III TINJAUAN LOKASI 3.1 Gambaran Umum Kota Surakarta 3.1.1 Kondisi Geografis dan Administratif Wilayah Kota Surakarta secara geografis terletak antara 110 o 45 15 dan 110 o 45 35 Bujur Timur dan antara

Lebih terperinci

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala Geografi Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala TANAH Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan 24 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Desa Merak Belantung

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. 1. Letak Geografis Kota Depok Kota Depok secara geografis terletak diantara 106 0 43 00 BT - 106 0 55 30 BT dan 6 0 19 00-6 0 28 00. Kota Depok berbatasan langsung dengan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Kondisi Fisiografi 1. Letak Wilayah Secara Geografis Kabupaten Sleman terletak diantara 110 33 00 dan 110 13 00 Bujur Timur, 7 34 51 dan 7 47 30 Lintang Selatan. Wilayah

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI 4.1 Keadaan Umum Provinsi Jambi secara resmi dibentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang No. 61 tahun 1958. Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH

KARAKTERISTIK WILAYAH III. KARAKTERISTIK WILAYAH A. Karakteristik Wilayah Studi 1. Letak Geografis Kecamatan Playen terletak pada posisi astronomi antara 7 o.53.00-8 o.00.00 Lintang Selatan dan 110 o.26.30-110 o.35.30 Bujur

Lebih terperinci