KEMAMPUAN KERJA ILMIAH DALAM SAINS
|
|
|
- Yandi Sudjarwadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KEMAMPUAN KERJA ILMIAH DALAM SAINS (Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi) Oleh: NURYANI Y. RUSTAMAN & ANDRIAN RUSTAMAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA A. Pendahuluan Selama sejarah peradabannya manusia telah mengembangkan berbagai gagasan yang saling berhubungan dan telah divalidasi tentang dunia fisis, dunia biologis, dunia psikologi, dan dunia sosial. Semua gagasan tersebut memungkinkan dicapai peningkatan pemahaman yang komprehensif dan terpercaya tentang spesies manusia dan lingkungannya. Wahana yang digunakan manusia untuk mengembangkan gagasan tersebut adalah caracara khusus melakukan observasi, berpikir, bereksperimen, dan memvalidasi. Cara-cara ini menampilkan aspek mendasar tentang hakikat IPA dan mencerminkan bagaimana IPA berbeda dari sekedar pengetahuan. 1. Kurikulum Berbasis Kompetensi Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutahir dari luar negeri dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Perkembangan dan perubahan tersebut harus ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, antara lain: Peluncuran beberapa peraturan perundangan baru membawa implikasi pada paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah seperti pembaharuan pendidikan dan diversifikasi kurikulum serta pembagian kewenangan pengembangan kurikulum; N&A rustaman 1 3/31/2010
2 Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian yang serius; Dengan kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa depan perlu disiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi multidimensional; Pengembangan kurikulum masa sekarang harus dapat mengantisipasi persoalan-persoalan yang mempunyai kemungkinan besar sudah dan/ akan terjadi. Kurikulum yang dibutuhkan di masa yang akan datang adalah kurikulum yang berbasis kompetensi. Kompetensi dikembangkan untuk memberikan keterampilan hidup (life skills) dalam perubahan, pertentangan, ketidakpastian dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum berbasis komptetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya dengan memberikan dasardasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Kurikulum yang demikian memudahkan guru dalam menyajikan pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together). Mempersiapkan peserat didik yang memiliki berbagai kompetensi pada hakekatnya merupakan upaya untuk memyiapkan peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi, antara lain berupa keterampilan motorik/manual, kemampuan intelektual, sosial, dan emosional. Dengan memiliki kompetensi semacam itu, peserta didik diharapkan mampu untuk menghadapi dan mengatasi segala macam akibat dari adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan terdekat sampai yang terjauh (lokal, nasional, regional, dan internasional). N&A rustaman 2 3/31/2010
3 Pengembangan kurikulum merupakan proses yang dinamik dan mengacu pada beberapa prinsip, seperti keseimbangan etika, logika, estetika dan kinestika (i); kesamaan memperoleh kesempatan (ii); memperkuat identitas nasional (iii); menghadapi abad pengetahuan (iv); menyongsong tantangan teknologi informasi dan Komunikasi (v); mengembangkan keterampilan hidup (vi); mengintergrasikan unsur-unsur penting ke dalam kurikuler (vii); pendidikan alternatif (viii); berpusat pada anak sebagai pembangun pengetahuan (ix); pendidikan multikultur dan multibahasa (x); penilaian berkelanjutan dan komprehensif (xi); pendidikan sepanjang hayat (xii). Visi dan Misi Pendidikan Menengah Pendidikan menengah diselenggarakan dalam rangka menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan, dan keterampilan yang kuat untuk digunakan dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja dan pendidikan tinggi. Pendidikan menengah diselenggarakan dengan misi sebagai berikut: memberikan kemampuan minimal bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan dan hidup dalam masyarakat menyiapkan sebagian besar warganegara menuju masyarakat belajar pada masa yang akan datang menyiapkan lulusan menjadi anggota masyarakat yang memahami dan menginternalisasi perangkat gagasan dan nilai masyarakat beradab dan cerdas. Visi Pendidikan Sains Pendidikan sains mempunyai visi untuk mempersiapkan siswa yang melek sains dan teknologi, untuk memahami dirinya dan lingkungan sekitarnya, melalui pengembangan keterampilan proses, sikap ilmiah, keterampilan berpikir, penguasaan konsep sains yang esensial, dan kegiatan teknologi, dan upaya pengelolaan lingkungan secara bijaksana yang dapat menumbuhkan sikap pengagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. N&A rustaman 3 3/31/2010
4 Strategi pengembangan kurikulum sains/biologi ditekankan pada beberapa hal. Pertama, pendekatan berbasis kompetensi menjadi acuan. Kedua, kompetensi dasar ini merupakan kerangka kemampuan (keterampilan, sikap, wawasan, pemahaman, dan pengetahuan) yang dikembangkan dan diukur keberhasilannya melalui indikator pencapaian hasil belajar. Ketiga, keterampilan proses diangkat menjadi materi, selain sebagai pendekatan pembelajaran untuk memahami konsep. Keempat, keragaman geografis dan potensi keragaman hayatinya menjadi perhatian. 2. Pentingnya bekerja ilmiah (Scientific inquiry) Para ilmuwan berbagi sikap dan keyakinan mendasar tentang apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka bekerja. Semua itu seyogianya berkenaan dengan hakikat alam dan apa yang dapat kita pelajari daripadanya. Sains menganggap bahwa kejadian-kejadian di jagat raya berlangsung secara teratur dalam pola-pola yang ajeg dan komprehensif melalui studi yang sistematis dan cermat. Para ilmuwan yakin bahwa melalui penggunaan intelek dan dengan bantuan alat-alat untuk memperluas penginderaannya, manusia akan menemukan pola-pola di alam. Sains merupakan suatu proses yang menghasilkan pengetahuan. Proses tersebut bergantung pada proses observasi yang cermat terhadap fenomena dan pada teori-teori temuan untuk memaknai hasil observasi tersebut. Perubahan pengetahuan terjadi karena hasil observasi yang baru yang mungkin menantang teori sebelumnya. Bagaimanapun baiknya sebuah teori menjelaskan suatu seri hasil observasi, mungkin ada teori lain yang lebih baik atau yang lebih luas jangkauannya. Demikianlah suatu teori menghasilkan teori lain berdasarkan hasil observasi tambahan. Walaupun ditolak oleh para ilmuwan, namun diakui ada keterbatasan ilmu, karena tidak ada kebenaran yang mutlak. Banyak hal-hal yang tidak dapat diuji kebenarannya karena tidak terjangkau oleh alat indera pada umumnya. Sains merupakan suatu kebutuhan yang dicari manusia karena memberikan suatu cara berpikir sebagai struktur pengetahuan yang utuh. Secara N&A rustaman 4 3/31/2010
5 khusus sains menggunakan suatu pendekatan empiris untuk mencari penjelasan alami tentang fenomena alam semesta yang diamati. Meskipun studi tentang sains dipecah menjadi beberapa disiplin, tetapi inti dari masing-masingnya terletak pada metode dan mempertanyakan hasilnya secara berkesinambungan. Mendidik melalui sains dan mendidik dalam sains merupakan suatu wahana dalam mepersiapkan anggota masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan dan menentukan arah penerapannya. Sebagai bagian dari pendidikan umum, peserta didik seyogianya berpartisipasi dan menilai sendiri pencapaian ilmiahnya, termasuk juga bertindak berdasarkan temuan mereka sendiri. Bekerja secara ilmiah tidak sekedar mengumpulkan fakta, mengumpulkan teori, atau proses mental dan keterampilan manipulatif. Namun sains merupakan cara-cara memahami gejala alam yang terus berkembang. Sains merupakan produk dari keinginan manusia untuk berimajinasi. Hal ini sangatlah menantang dan menarik, terutama bagi manusia Indonesia muda usia untuk ber-"ipa". Keberadaan manusia dan makhluk hidup lainnya di alam sangatlah bergantung pada perilaku manusia di alam, khususnya di bumi kita yang satu ini. Dengan demikian kurikulum sains biologi yang dikembangkan sudah sepantasnya mempertimbangkan hal-hal yang dikemukakan di atas. Sejalan dengan perkembangan IPTEKS yang pesat dan perubahan masyarakat yang dinamis, perlu disiapkan warganegara indonesia yang melek sains dan mampu bersaing bebas serta memiliki ketangguhan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak berdasarkan pemahaman tentang konsep-konsep sains/biologi serta penerapannya melalui kurikulum sains/biologi. Apalagi jika mengingat abad ke-21 sebagai abad biologi yang memberikan wawasan berpikir dan proses bersistem yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat (awam atau ilmiah). 3. Tujuan dan Manfaat Tulisan memperkenalkan, menelaaah, memahami, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi perkembangan era globalisasi dalam aspek yang multidimensional dalam bidang pendidikan biologi. N&A rustaman 5 3/31/2010
6 B. Bekerja Ilmiah Isi kurikulum sains disusun dan diorganisasikan ke dalam tujuh lingkup pembelajaran, yaitu bekerja ilmiah (a); makhluk hidup dan proses kehidupan (b); materi dan sifatnya (c); energi dan perubahannya (d); bumi dan alam semesta (e); sains dan teknologi (f); dan sains dalam perspektif individu dan masyarakat (g). Dari tujuh lingkup pembelajaran, lingkup pertama sebagai lingkup proses, lingkup kedua sampai dengan kelima sebagai lingkup konseptual yang merefleksikan pengorganisasian sains secara konvensional yang terbagi atas bahan kajian dari mata pelajaran Biologi, kimia, fisika, pengetahuan bumi dan alam semesta, sedangkan lingkup keenam dan ketujuh sebagai penerapan sains dalam kehidupan sehari-hari yang sudah tertuang dalam lingkup konseptual. "Bekerja ilmiah" sebagai lingkup proses bertautan erat dengan konsep. Dengan demikian bekerja ilmiah mengintergrasikan isi sains ke dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran yang membekali siswa pengalaman belajar secara langsung. Begitu juga pada perencanaan kurikulum, semua lingkup konsep harus terintegrasi dengan lingkup prosesnya. Materi pokok biologi meliputi (I) bekerja ilmiah, (ii) klasifikasi dan keanekaragaman hayati, (iii) makhluk hidup dan lingkungan, (iv) struktur dan fungsi, (v) pewarisan sifat, dan (vi) aplikasi biologi. 1. Pengertian Bekerja Ilmiah Bekerja ilmiah sesungguhnya adalah perluasan dari metode ilmiah. Bekerja ilmiah dapat diartikan sebagai scientific inquiry. Metode ilmiah sendiri sudah ditekankan dalam IPA sejak kurikulum Lingkup proses dalam kurikulum 1975 dirumuskan dalam tujuan kurikuler kedua yakni mampu menggunakan metode untuk konsep-konsep yang dipelajari. Dalam kurikulum 1984 lingkup proses ini dirumuskan dalam satu rumusan tujuan kurikuler dan metode ilmiah dijabarkan ke dalam jenis-jenis keterampilan proses sebagai keterampilan dasar yang harus dikembangkan atau dilatihkan sebelum seseorang mampu menggunakan metode ilmiah. Selanjutnya dalam kurikulum N&A rustaman 6 3/31/2010
7 1994, lingkup proses dan konsep diintegrasikan dalam setiap rumusan tujuan pembelajaran (umum) yang harus diukur pencapaiannya. Jenis-jenis keterampilan proses yang dikembangkan sejak kurikulum 1984 meliputi keterampilan mengamati (observasi), berkomunikasi, menafsirkan (interpretasi), meramalkan (prediksi), menerapkan (aplikasi), merencanakan dan melaksanakan percobaan. Dalam kurikulum 1994 keterampilan menggolongkan dan mengajukan pertanyaan dicoba dimunculkan sebagai jenis keterampilan tersendiri. Sebelumnya menggolongkan (klasifikasi) dimasukkan ke dalam keterampilan mengamati (observasi). Menggolongkan ternyata merupakan keterampilan "beyond observation", karena kegiatan penggolongan justru dilakukan berdasarkan hasil pengamatan. Keterampilan mengajukan pertanyaan merupakan keterampilan yang penting untuk dikembangkan dalam belajar sains dan bekerja ilmiah, karena masalah dirumuskan berupa pertanyaan. Selain meramalkan (prediksi) terdapat jenis keterampilan proses lainnya yang penting dikembangkan untuk dapat bekerja ilmiah, yaitu berhipotesis. Keterampilan berhipotesis melibatkan dua atau lebih variabel yang menunjukkan hubungan dan cara melakukannya, tidak sekedar menjelaskan hal yang belum berlangsung (pada prediksi). Apabila metode ilmiah dapat dianalogikan dengan resep, maka keterampilan proses dapat dianalogikan dengan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan membuat masakan dengan resep tersebut. Dalam memasak diperlukan keterampilan memilih dan memotong daging untuk keperluan memasak masakan tertentu, juga diperlukan keterampilan memotong sayuran agar tidak berserat panjang. Dengan demikian keterampilan-keterampilan tersebut perlu dikembangkan terlebih dahulu sebelum seseorang dapat memasak dengan resep tertentu. 2. Bekerja Ilmiah dan Pendekatan Keterampilan Proses Hubungan metode ilmiah dengan keterampilan proses telah dibahas bagian sebelumnya. Begitu pula keterkaitan antara metode ilmiah dengan bekerja ilmiah. Bagaimanakah hubungan antara bekerja ilmiah dengan pendekatan keterampilan proses? N&A rustaman 7 3/31/2010
8 Dalam metode ilmiah dikenal adanya langkah-langkah tertentu secara berurutan yang harus dilakukan, mulai dari merumuskan masalah hingga menyimpulkan bahkan membuat generalisasi. Pendekatan semacam itu dalam pembelajaran sains dikenal sebagai pendekatan proses. Pendekatan proses tidak mementingkan konsep, yang dipentingkan hanyalah lingkup prosesnya. Berbeda dengan pendekatan proses, pendekatan keterampilan proses tetap menekankan pentingnya penguasaan konsep. Bahkan dalam pendekatan keterampilan proses, berbagai keterampilan proses dikem-bangkan dan digunakan untuk memahami atau menguasai konsepnya. Setelah dikembangkan dan digunakan keterampilan proses sains, keterampilan-keterampilan itu dapat digunakan untuk bekerja ilmiah, mengembangkan ilmu, mempertahankan hidup di masyarakat dan di alam. Dengan demikian jelaslah bahwa terdapat keterkaitan erat antara bekerja ilmiah dengan pendekatan keterampilan proses. 3. Bekerja Ilmiah dan Kegiatan Praktikum Dalam bekerja ilmiah seseorang perlu bersikap kritis, bernalar, dan bersikap ilmiah. Sebaliknya dengan melakukan kegiatan-kegiatan berdasarkan keterampilan proses sains seseorang akan menjadi kritis, kemampuan bernalarnya berkembang, juga sikap ilmiahnya. Melalui kegiatan praktikum hampir semua jenis keterampilan proses dikembangkan dan digunakan. Kegiatan praktikum menunjang penguasaan konsep atau materi pelajaran, secara verifikatif atau secara penemuan. Kegiatan praktikum yang dilakukan secara verifikatif dilaksanakan setelah teori dibahas. Jadi, kegiatan praktikum sekedar proses pembuktian. Dalam kegiatan praktikum semacam itu dikembangkan pengambilan kesimpulan atau penalaran deduktif. Apabila kegiatan praktikum dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran teori di kelas, sangat dimungkinkan untuk ditemukan hal-hal baru yang tidak ditemukan dalam teori. Dengan demikian dikembangkan cara menarik kesimpulan atau bernalar induktif. Cara yang kedua ini sangat sesuai dengan hakikat sains/biologi sebagai "experimental science". Selain untuk menunjang penguasaan konsep, kegiatan praktikum juga penting dilakukan karena alasan-alasan lainnya. Pertama, dengan melakukan N&A rustaman 8 3/31/2010
9 kegiatan praktikum siswa menjadi termotivasi belajar sains. Kedua, dalam kegiatan praktikum dikembangkan keterampilan-keterampilan dasar bereksperimen. Terakhir, kegiatan praktikum merupakan wahana pengembangan penyelidikan ilmiah. C. Kemampuan Dasar dan Indikator Bekerja Ilmiah Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa kurikulum disusun dengan mengacu pada kemampuan atau kompetensi. Kurikulum disusun untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara keseluruhan. Kompetensi ini terdiri dari kemampuan akademik, keterampilan hidup, pengembangan moral, pembentukan karakter yang kuat, kebiasaan hidup sehat, semangat bekerjasama, dan apresiasi estetika terhadap dunia sekitarnya. Dengan kata lain kurikulum mengembangkan keharmonisan pemilikan kemampuan logika, etika, estetika, dan kinestika. Pada hakikatnya kurikulum disusun untuk dapat menjadi input instrumental yang membantu peserta didik untuk berkembang sebagai individu sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta tumbuh menjadi warganegara yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. 1. Kemampuan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi Kompetensi dalam kurikulum merupakan format yang menetapkan apa yang harus dicapai siswa dalam setiap tingkatan. Setiap kompetensi menggambarkan langkah kemajuan siswa menuju kompetensi pada tingkat yang lebih tinggi dan bersifat terus menerus dan tetap dalam suatu kajian atau mata pelajaran pada tingkat tertentu. Kompoetensi merupakan kemampuan berpikir, belajar, dan melakukan (process oriented, learning how to learn, learning to do). Kompetensi Umum Kompetensi umum dimaksudkan sebagai kemampuan per rumpun mata pelajaran maupun kemampuan per mata pelajaran. Secara khusus kompetensi untuk rumpun sains adalah mampu bersikap ilmiah (a); mampu menerjemahkan perilaku alam (b); mampu memahami proses pembentukan N&A rustaman 9 3/31/2010
10 ilmu dan melakukan inkuiri ilmiah (c); mampu memanfaatkan sains dan mengelola lingkungan secara bijaksana serta memiliki saran atau usul untuk mengatasi dampak negatif teknologi (d). Kemampuan menerjemahkan perilaku alam diartikan sebagai kemampuan untuk mengetahui keteraturan, konsep, sebagai representasi realitas alam, hubungan antar konsep, kuantifikasi konsep, penggunaan konsep dan prinsip untuk menjelaskan fenomena alam, penggunaan matematika dalam sains. Kompetensi tamatan Sekolah Menengah Umum/Madrasah Aliyah Tamatan Sekolah Menengah Umum dan Madrasah Aliyah mempunyai kemampuan untuk: Memiliki keyakinan dan ketakwaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya; Memiliki nilai dasar humaniora untuk menerapkan kebersamaan dalam kehidupan; Menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik serta beretos belajar untuk melanjutkan pendidikan; Mengalihgunakan kemampuan akademik dan keterampilan hidup di masyarakat lokal dan global; Berpartisipasi aktif, demokratis, dan berwawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kompetensi Umum Sains untuk jenjang SMU Kemampuan umum sains untuk jenjang SMU adalah: Mampu bersikap ilmiah, dengan penekanan pada sikap ingin tahu, bekerja sama, jujur, terbuka, kritis, teliti, tekun, hemat energi, dan peduli lingkungan; Mampu menerjemahkan perilaku alam, yang mencakup pola keteraturan di alam, konsep sebagai representasi realitas alam, hubungan antar konsep dan kuantifikasinya, penerapan konsep dan prinsip untuk menjelaskan fenomena alam; N&A rustaman 10 3/31/2010
11 Mampu memahami proses penbentukan ilmu dan melakukan inkuiri ilmiah melalui pengujian dan penelitian ilmiah; Mampu memanfaatkan sains untuk menjelaskan prinsip sains pada produk teknologi, dan merancang/membuat produk teknologi sehari-hari dengan menerapkan prinsip sains; serta mampu mengelola lingkungan secara bijaksana. Kompetensi Umum Mata Pelajaran Biologi di SMU Kompetensi umum mata pelajaran biologi di SMU adalah: Melakukan kerja ilmiah untuk mendapatkan sikap dan nilai ilmiah; Mengaplikasikan konsep klasifikasi untuk mengklasifikasikan organisme, mendeskripsikan adanya keanekaragaman hayati untuk menghargai keteraturan pola dan keanekaragaman hayati Indonesia, dan mengaplikasikan konsep genetika dan evolusi untuk memahami keanekaragaman hayati dunia; Berdasarkan percobaan/kegiatan ilmiah memahami struktur seluler dan metabolisme sel serta mengaitkan struktur dan fungsi pada hewan dan tumbuhan; Dengan pemahaman mengenai ekologi, mempunyai sikap mencintai dan menjaga kelestarian lingkungan; Memahami aplikasi biologi dalam bidang bioteknologi modern. 2. Kemampuan Dasar dan Indikator Kemampuan atau kompetensi dasar dimaksudkan sebagai kemampuan mendasar atau minimal yang perlu dikuasai atau dimiliki siswa yang mempelajari lingkup materi tertentu dalam suatu mata pelajaran pada jenjang tertentu. Kemampuan dasar ini selanjutnya dijabarkan ke dalam indikatorindikator yang dapat digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar. Dengan demikian indikator ini semacam kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan belajar. Samakah dengan tujuan pembelajaran khusus? N&A rustaman 11 3/31/2010
12 3. Keterampilan Proses sebagai Lingkup Pembelajaran (Materi Pokok) Selama ini keterampilan proses sudah ditekankan dalam berbagai kurikulum sains/ipa, tetapi perolehannya tidak diukur atau kurang ditekankan dalam evaluasi di tingkat lokal maupun nasional. Padahal di tingkat regional dan internasional, keterampilan proses ini sangat dituntut untuk dikembangkan dan diukur. Umpamanya dalam Olimpiade Biologi, secara jelas-jelas dituntut peserta memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep (tujuh lingkup) tidak melebihi 25% dari keseluruhan aspek yang diujikan. Sisanya berkenaan dengan keterampilan proses sains, keterampilan dasar biologi, dan metode - metode biologi. Berdasarkan pengalaman selama ini dan mengingat materi pelajaran dalam kurikulum berbasis kompetensi tidak terjabar seperti dalam GBPP kurikulum-kurikulum sebelumnya, maka keterampilan proses sains dimunculkan sebagai materi yang harus diukur dan berada dalam lingkup pembelajaran "bekerja ilmiah", karena ada sebagian pengambil keputusan yang alergi dengan istilah atau label keterampilan proses. Diangkatnya keterampilan proses sains dalam bekerja ilmiah sebagai lingkup pembelajaran atau materi pokok jelaslah secara eksplisit keterampilan proses sains perlu dikembangkan dan diukur keberhasilannya. Pengukuran tersebut dapat dilakukan oleh guru di kelas (tertulis atau kinerja) ataupun pada tingkat kecamatan (tertulis) D. Asesmen untuk Bekerja Ilmiah Pencapaian hasil belajar biasanya dinilai dengan tes tertulis dan berkenaan hanya dengan pengetahuan atau konsepnya, walaupun sudah mempertimbangkan jenjang yang bertahap dalam ranah kognitif. Pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan kegiatan praktikum, termasuk jenis-jenis keterampilan proses tampaknya masih terabaikan, baik penilaian secara tes (tertulis) maupun bentuk nontes (kinerja). Bentuk penilaian kinerja dapat dilaksanakan setelah kegiatan berakhir berupa hasil kerja, dapat juga dilaksanakan pada saat kegiatan berlangsung. Penilaian cara demikian lebih dikenal sebagai asesmen. N&A rustaman 12 3/31/2010
13 1. Indikator dan Tujuan Pembelajaran Selama ini para guru menyiapkan tujuan pembelajaran khusus sebagai acuan proses belajar mengajar. Tujuan pembelajaran itu dijabarkan dari tujuan pembelajaran (umum) yang terdapat di dalam GBPP bagian program pengajaran. Sementara itu para penyusun soal atau pokok uji di tingkat daerah maupun tingkat nasional mengacu pada indikator yang telah ditetapkan oleh penyusun kisi-kisi tes. Walaupun para penyusun soal juga guru-guru terpilih dari daerahnya, tetapi jelas pembuat soal mengacu kepada kriteria (indikator) yang berbeda dengan kriteria (TPK) yang diacu oleh guru pengajar mata pelajaran. Bagaimanakah pemecahannya? Ditentukannya indikator pencapaian hasil belajar sebagai penjabaran dari kompetensi dasar atau kemampuan minimum setiap topik atau lingkup pembelajaran merupakan salah satu keuntungan bagi siswa, guru, dan para pengambil keputusan di tingkat mikro dan meso. Guru yang melaksanakan PBM dan penyusun soal sama-sama mengacu pada kriteria yang sama, yakni indikator pencapaian hasil belajar. Mudah-mudahan dengan demikian tidak terjadi lagi kesenjangan di antara kedua pihak yang mestinya bersinergi dalam mengukur keberhasilan atau pencapaian belajar serta mengem-bangkan potensi siswa. 2. Prosedur/Teknik Asesmen Berdasarkan pengalaman dan hasil kajian mendalam tentang asesmen, sangatlah tepat untuk aspek-aspek keterampilan dalam bekerja ilmiah diujikan dengan prosedur atau teknik kinerja atau performance assessment. Selain teknik kinerja, lingkup pembelajaran bekerja ilmiah juga dapat diukur pencapaiannya dengan tes tertulis (objektif atau uraian), dan komunikasi personal (presentasi, diskusi, seminar). 3. Tes Tertulis Keterampilan Proses Dalam bentuk tes tertulis, butir soal keterampilan proses sains perlu dipersiapkan secara khusus karena sangat berbeda dengan butir soal penguasaan konsep. Dalam butir soal keterampilan proses siswa diminta untuk mengolah informasi yang ada dan ditampilkan (berupa informasi verbal N&A rustaman 13 3/31/2010
14 atau visual; data dalam tabel, diagram atau grafik) dalam stem butir soal. Selain itu pertanyaan produktif perlu digunakan dalam penyusunan butir soal keterampilan proses. Dalam proses belajar mengajar yang mengembangkan keterampilan proses sains sangatlah dianjurkan untuk menggunakan pertanyaan-pertanyaan produktif untuk merangsang siswa melakukan kegiatan produktif, termasuk melakukan keterampilan proses sains. DAFTAR PUSTAKA Allen, R.E. (ed.). (1986). The Pocket Dictionary of Current English. 7 th ed. Oxford: Clarendon Press. The National Academy of Science. (1996). National Science Education Standards. Washington, DC.: National Academy Press. Pengembang Kurikulum Biologi SLTP-SMU. (2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Pusat Kurikulum - Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. Pengembang Kurikulum Biologi SLTP-SMU. (2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Pusat Kurikulum - Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. Rustaman, N., & Rustaman, A. (1997). Pokok-pokok Pengajaran Biologi dan Kurikulum Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rustaman, N.Y. (2002). Keterampilan Bertanya dalam Pembelajaran IPA. Bahan Pelatihan Democratic Teaching bagi Guru IPA SLTP Se Kota Bandung di PPPG IPA. Rustaman, N.Y. (2001). Peranan Pertanyaan Produktif untuk Pengembangan Keterampilan Proses Sains dan Lembar Kerja Siswa. Makalah untuk dibahas dalam Seminar dan Lokakarya Guru-guru IPA di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI yang diselenggarakan oleh JICA IMSTEP. Rustaman, N. (1995). Pengembangan Butir Soal Keterampilan Proses. Makalah disusun untuk keperluan terbatas di lingkungan IKIP Bandung Rutherford, F.J. & Ahlgren, A. (1990). Science for all Americans: Scientific Literacy. New York: Oxford University Press. Tim Penyusun Kamus. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka N&A rustaman 14 3/31/2010
15 KEMAMPUAN DASAR BEKERJA ILMIAH DALAM SAINS (Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi) Makalah disusun untuk disajikan dalam Seminar Pendidikan Biologi yang diikuti oleh Guru-guru Biologi dan Mahasiswa Biologi FKIP Universitas Pasundan Tanggal 13 Maret 2003 Di Auditorium Universitas Pasundan, Bandung Tema Seminar KARAKTERISTIK KURIKULUM BIOLOGI BERBASIS KOMPETENSI: KONSEP DAN IMPLIKASINYA PROF. DR. Hj. NURYANI Y. RUSTAMAN FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2003 N&A rustaman 15 3/31/2010
16 Disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Pendidikan yang diikuti oleh Guru-guru Biologi dan Mahasiswa FKIP MIPA Universitas Pasundan (UNPAS) di Bandung, Tanggal 13 Maret 2003 Oleh: Prof. Dr. Hj. Nuryani Y. Rustaman * Drs. H. Andrian Rustaman, M.Ed.Sc ** * UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) ** PUSAT KURIKULUM BALIBANG DIKNAS Maret 2003 N&A rustaman 16 3/31/2010
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI JENJANG PENDIDIKAN DASAR MATA PELAJARAN SAINS. 4 Pilar Pendidikan UNESCO
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI JENJANG PENDIDIKAN DASAR MATA PELAJARAN SAINS Oleh : Drs.Saeful Karim,M.Si Disampaikan pada Acara Pengabdian Pada Masyarakat untuk Guru-Guru IPA SD Se-Kecamatan Lembang Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah Pendidikan nasional, sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai
I. PENDAHULUAN. yaitu: sikap, proses, produk, dan aplikasi. Keempat unsur utama tersebut
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (Sains) pada hakikatnya meliputi empat unsur utama yaitu: sikap, proses, produk, dan aplikasi. Keempat unsur utama tersebut saling berkaitan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang Sekolah Dasar
ANALISIS TUJUAN MATA PELAJARAN Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam. Ranah Kompetensi K A P
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam 1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Fisika merupakan salah satu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Fisika berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga fisika
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Bab 2 pasal 3 UU Sisdiknas berisi pernyataan sebagaimana tercantum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurikulum memiliki peranan penting dalam pendidikan. Istilah kurikulum menunjukkan beberapa dimensi pengertian, setiap dimensi tersebut memiliki keterkaitan satu dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. penerus yang akan melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan merupakan suatu wadah untuk membangun generasi penerus yang akan melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah membawa perubahan hampir di semua aspek kehidupan manusia, dimana berbagai permasalahan hanya dapat
PENILAIAN HASIL BELAJAR IPA
PENILAIAN HASIL BELAJAR IPA Makalah disusun untuk Lingkungan Terbatas FPMIPA & Program Pascasarjana Prof. Dr. Nuryani Y. Rustaman NIP 130780 132 UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2003 1 PENILAIAN HASIL
2014 PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KUIS TIM UNTUK ENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA SMP
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Manusia sebagai pemegang dan penggerak utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Melalui
II._TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses
6 II._TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses yang diaplikasikan pada proses pembelajaran. Pembentukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Denok Norhamidah, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisika merupakan salah satu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mempelajari gejala-gejala alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan berupa fakta, konsep,
KONSEP DASAR KURIKULUM 2004
1 KONSEP DASAR KURIKULUM 2004 Oleh: Bambang Subali UNY Makalah disampaikan pada Kegiatan Workshop Sosialisasi dan Implementasi Kurikulum 2004 di Madrasah Aliayah Bidang Ilmu Sosial dan Bahasa di PPPG Matematika
BAB I PENDAHULUAN. Pembaharuan di bidang pendidikan yang mengacu pada visi dan misi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembaharuan di bidang pendidikan yang mengacu pada visi dan misi pembangunan pendidikan nasional kini telah tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan sistem pendidikan nasional merupakan satu kesatuan utuh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan sistem pendidikan nasional merupakan satu kesatuan utuh seluruh komponen pendidikan yang saling terkait dan terpadu, serta bertujuan untuk mewujudkan masyarakat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Belajar Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa dampak secara global, seperti persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, salah satu diantaranya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewi Elyani Nurjannah, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang dekat sekali dengan kehidupan manusia. Saat kita mempelajari IPA, berarti mempelajari bagaimana alam semesta
BAB I PENDAHULUAN. Tahun 2003 Bab I Pasal I Ayat 1 menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam peningkatan sumber daya manusia dan salah satu kunci keberhasilan dalam pembangunan nasional di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN. mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah. Salah satu bidang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum Sekolah Dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (selanjutnya disebut IPA) diartikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (selanjutnya disebut IPA) diartikan oleh Conant (Pusat Kurikulum, 2007: 8) sebagai serangkaian konsep yang saling berkaitan
I. PENDAHULUAN. Keseluruhan dalam proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keseluruhan dalam proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang sistematis dan menyeluruh. Ilmu pengetahuan yang holistik, bukan merupakan ilmu yang parsial antara
I. PENDAHULUAN. Pendidikan berkualitas menjadi hal penting yang harus dimiliki oleh setiap bangsa.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan berkualitas menjadi hal penting yang harus dimiliki oleh setiap bangsa. Indonesia sebagai negara yang selalu berupaya memperbaiki kualitas pendidikan masyarakatnya,
BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap orang membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
KURIKULUM 2013 KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) / MADRASAH TSANAWIYAH (MTS) KELAS VII - IX MATA PELAJARAN : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) Nama Guru NIP/NIK Sekolah : : : 1
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mempelajari pengetahuan berdasarkan fakta, fenomena alam, hasil pemikiran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA (sains) yang mempelajari pengetahuan berdasarkan fakta, fenomena alam, hasil pemikiran (produk) para ahli dan
II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pendekatan Pembelajaran Multiple Representations. umum berdasarkan cakupan teoritik tertentu. Pendekatan pembelajaran
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Pendekatan Pembelajaran Multiple Representations Pendekatan pembelajaran menurut Sanjaya (2009: 127) adalah suatu titik tolak atau sudut pandang mengenai
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan besar yang dialami siswa dalam proses pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif dalam proses belajar
FISIKA SEKOLAH 1 FI SKS
FISIKA SEKOLAH 1 FI 132 2 SKS Latar Belakang Standar Isi UU RI No. 20/2003 tentang S P N PP RI No 19/2005 tentang S N P PERMENDIKNAS No.22/2006 tentang Standar ISI IPA berkaitan dengan cara mencari tahu
BAB I PENDAHULUAN. diterapkan adalah konstruktivisme. Menurut paham konstruktivisme,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hakikat pembelajaran yang sekarang ini diharapkan banyak diterapkan adalah konstruktivisme. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan dibangun oleh peserta didik
BAB I PENDAHULUAN. Upaya peningkatan mutu pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Upaya peningkatan mutu pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan IPA di sekolah dirumuskan dalam bentuk pengembangan individu-individu yang literate terhadap sains.
Arif Widiyatmoko Jurusan IPA Terpadu, FMIPA Universitas Negeri Semarang
IMPLEMENTASI MODUL PEMBELAJARAN IPA TEMA KONSERVASI UNTUK MENUMBUHKAN KARAKTER SISWA Arif Widiyatmoko Jurusan IPA Terpadu, FMIPA Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Abstrak Pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah menjadi landasan moral dan etik dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara historis telah menjadi landasan moral dan etik dalam proses pembentukan karakter bangsa, sehingga mampu menemukan jati dirinya sebagai ciri
BAB I PENDAHULUAN. Untuk mewujudkan upaya tersebut, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31. Ayat (3) mengamanatkan agar pemerintah mengusahakan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan Pemerintah Negara Indonesia salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan upaya tersebut, Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Suryosubroto, 2009:2).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu proses dengan cara-cara tertentu agar seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan tingkah laku yang sesuai. Sanjaya
PROPOSAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
PROPOSAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT WORKSHOP PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SAINS (FISIKA) SMP TOPIK MASSA JENIS BERBASIS KOMPETENSI UNTUK GURU-GURU SAINS SMP KOTA BANDUNG Oleh : Drs. Muslim,dkk. NIP.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat. Perkembangan ini tidak terlepas dari peranan dunia pendidikan, karena melalui
II. TINJAUAN PUSTAKA. yang bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk menguji dan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Praktikum Pratikum berasal dari kata praktik yang artinya pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori. Sedangkan pratikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Slavin (Nur, 2002) bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Konstruktivisme Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri.
KURIKULUM 2013 KOMPETENSI DASAR GEOGRAFI
KURIKULUM 2013 GEOGRAFI Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013 KI dan KD Geografi untuk Peminatan Ilmu-ilmu Sosial SMA/MA 1 A. Pengertian Geografi
Kurikulum Berbasis TIK
PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus, bahkan dewasa ini berlangsung dengan pesat. Perkembangan itu bukan hanya dalam hitungan tahun, bulan, atau hari, melainkan jam, bahkan menit
BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu bangsa. Pemerintah terus
Landasan Pengembangan Kurikulum. Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012
Landasan Pengembangan Kurikulum Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012 KURIKULUM: PENGERTIAN DASAR Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
I. PENDAHULUAN. interaksi antara guru dan siswa (Johnson dan Smith di dalam Lie, 2004: 5).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam dunia kehidupan manusia. Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam proses pendidikan di sekolah. Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat di era global
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat di era global sekarang ini menuntut individu untuk berkembang menjadi manusia berkualitas yang memiliki
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN INQUIRING MINDS WANT TO KNOW (IMWK)
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN INQUIRING MINDS WANT TO KNOW (IMWK) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SEMESTER GENAP SMA NEGERI 2 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012
ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI SAINS DAN SIKAP CALON GURU NON IPA TERHADAP LINGKUNGAN PADA KERANGKA SAINS SEBAGAI PENDIDIKAN UMUM
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persaingan hidup dalam era globalisasi telah memberi dampak yang luas terhadap tuntutan kompetensi bertahan hidup yang tinggi. Kemampuan meningkatkan pengetahuan dan
BAB I PENDAHULUAN. yang kondusif bagi lahirnya pribadi yang kompetitif. (Tilaar, 2004)
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pendidikan manusia yang berkualitas adalah manusia yang bisa bersaing di dalam arti yang baik. Di dalam persaingan diperlukan kualitas individu sehingga hasil karya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai bagian dari kurikulum di sekolah, memegang peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan yang mampu bertindak atas
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu langkah untuk merubah sikap, tingkah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu langkah untuk merubah sikap, tingkah laku bahkan pola pikir seseorang untuk lebih maju dari sebelum mendapatkan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Ayu Eka Putri, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan harus dapat mengarahkan peserta didik menjadi manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan manusia terdidik
TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA. menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA Model Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis
Mata Pelajaran IPA di SMALB bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
55. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunanetra (SMALB A) A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
47. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunanetra (SMPLB A)
47. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunanetra (SMPLB A) A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang dikenal dan diakui
BAB I PENDAHULUAN. pembenahan di segala bidang termasuk bidang pendidikan. Hal ini juga dilakukan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Majunya suatu negara sangat ditentukan oleh majunya pendidikan di negara tersebut. Pada era globalisasi saat ini, seluruh negara di dunia berusaha melakukan pembenahan
BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk karakter individu yang bertanggung jawab, demokratis, serta berakhlak mulia.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan proses memperoleh ilmu pengetahuan, baik diperoleh sendiri maupun dengan bantuan orang lain. Belajar dapat dilakukan berdasarkan
2015 ANALISIS NILAI-NILAI KARAKTER, KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA TOPIK KOLOID MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Berdasarkan Permendikbud No. 65 Tahun 2013 proses pembelajaran pada suatu pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di dunia secara. global dan kompetitif memerlukan generasi yang memiliki kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di dunia secara global dan kompetitif memerlukan generasi yang memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, memanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Maimunah, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa yang akan datang. IPA berkaitan dengan cara
Oleh: Drs.NANA DJUMHANA M.Pd PRODI PGSD FIP UPI
Oleh: Drs.NANA DJUMHANA M.Pd PRODI PGSD FIP UPI MENGAPA GURU PERLU MEMAHAMI METODOLOGI PEMBELAJARAN? S elain faktor penguasaan materi, salah satu faktor lain yang dapat mempengaruhi profesionalisme guru
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia dewasa ini telah mendapat perhatian yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia dewasa ini telah mendapat perhatian yang sangat besar, terutama pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Pendidikan ditujukan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Sains merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sains merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya produk saja, tetapi juga mencakup pengetahuan seperti keterampilan, keingintahuan, keteguhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, matematika diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. keterampilan-keterampilan tertentu yang disebut keterampilan proses. Keterampilan Proses menurut Rustaman dalam Nisa (2011: 13)
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis 1. Keterampilan Berkomunikasi Sains Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai proses dan sekaligus sebagai produk. Seseorang mampu mempelajari IPA jika
2015 PEMBELAJARAN BERBASIS PRAKTIKUM UNTUK MENINGKATKAN SIKAP ILMIAH DAN PENGUASAAN KONSEP SISTEM EKSKRESI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan khususnya sains (IPA) dan teknologi, di satu sisi memang memberikan banyak manfaat bagi penyediaan beragam kebutuhan manusia.
PROFIL KETERAMPILAN PROSES SAINS MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KERJA ILMIAH PADA MATAKULIAH MIKROBIOLOGI
PROFIL KETERAMPILAN PROSES SAINS MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KERJA ILMIAH PADA MATAKULIAH MIKROBIOLOGI Oleh: Yanti Hamdiyati dan Kusnadi Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kurikulum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan perubahan yang terjadi kian cepat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kurikulum pendidikan harus disusun dengan
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses pembelajaran merupakan salah satu tahap yang sangat menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan
LAPORAN PRAKTIKUM PENDIDIKAN IPA PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPA DI TINGKAT SMP. Disusun Oleh : Sani Wirayati Kelas A
LAPORAN PRAKTIKUM PENDIDIKAN IPA PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPA DI TINGKAT SMP Disusun Oleh : Sani Wirayati 07312241018 Kelas A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENDIDIKAN
Lerning to live together in peace and harmony C. Tinjauan Pustaka
A. Judul : PENYULUHAN PENGEMBANGAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN IPA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) YANG BERORIENTASI PADA BROAD BASED EDUCATION (BBE) UNTUK GURU-GURU SEKOLAH
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sains pada hakekatnya dapat dipandang sebagai produk dan sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sains pada hakekatnya dapat dipandang sebagai produk dan sebagai proses. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Carin dan Evans (Rustaman, 2003) bahwa sains
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cara mencari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pada dasarnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan masalah yang harus diselesaikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sangat membantu proses perkembangan di semua aspek kehidupan bangsa. Salah satunya adalah aspek
1 Muhibbin Syah., Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), hlm
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DITINJAU DARI ASPEK-ASPEK LITERASI SAINS
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DITINJAU DARI ASPEK-ASPEK LITERASI SAINS Suciati 1, Resty 2, Ita.W 3, Itang 4, Eskatur Nanang 5, Meikha 6, Prima 7, Reny 8 Program Studi Magister
53. Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang B. Tujuan
53. Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis,
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR S-1 UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO HAKIKAT IPA. By Nurratri Kurnia Sari, M. Pd
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR S-1 UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO HAKIKAT IPA By Nurratri Kurnia Sari, M. Pd HAKEKAT SAINS SCIENCE (SAINS) ILMU PENGETAHUAN ALAM ILMU ALAMIAH INTEGRASI
SANTI BBERLIANA SIMATUPANG,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupannya setiap individu wajib menempuh pendidikan di lembaga formal maupun lembaga non formal. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh pemerintah
pendidikan (sekolah, perguruan tinggi atau lembaga-lembaga lain) dengan sengaja mentransformasikan warisan budaya, yaitu pengetahuan, nilai-nilai dan
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pendidikan adalah proses dimana masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi atau lembaga-lembaga lain) dengan sengaja mentransformasikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika adalah ilmu pengetahuan yang paling mendasar karena berhubungan dengan perilaku dan struktur benda. Tujuan utama sains termasuk fisika umumnya dianggap
PENDAHULUAN. Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pendahuluan Pendalaman Materi Fisika SMP
PENDAHULUAN Dengan mengacu kepada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam standar nasional pendidikan, setiap satuan pendidikan (sekolah) diberi kebebasan (harus) mengembangkan Kurikulum
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menunjukkan bahwa ilmu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menunjukkan bahwa ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bukan hanya sebagai kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep
