PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SnO2 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SnO2 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO"

Transkripsi

1 ISSN PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SnO2 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO Sayn, Suprapt, Sunardi Pusat Teknlgi Akseleratr dan Prses Bahan BATAN Jl. Babarsari Ktak Ps 611 Ykbb, Ygyakarta ABSTRAK PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SnO2 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO. Telah dilakukan pembuatan lapisan tipis SnO2 dengan metde sputtering DC untuk gas CO. Pembuatan lapisan tipis SnO2 dilakukan dengan parameter sputtering pada tegangan elektrda 2 kv, arus 1 ma, tekanan vakum trr, waktu depsisi 3 menit, 6 menit dan 12 menit pada suhu substrat 25 C, sedangkan gas sputtering adalah gas argn. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa lapisan tipis SnO2 yang didepsisi dengan parameter sputtering : tegangan 2 kv, arus 1 ma, tekanan Trr, waktu 12 menit dan suhu 25 C mempunyai sensitivitas ptimun 23 % untuk mendeteksi gas CO pada knsentrasi 16,25 ppm. Kemudian dari hasil analisis unsur lapisan SnO2 pada kndisi ptimum menggunakan SEM EDS diperleh Sn sebesar 31,73%, O sebesar 67,37 % atm. Kata Kunci : Sputtering, lapisan tipis SnO2, Sensitivitas dan sensr gas. ABSTRACT FABRICATION OF SnO2 THIN FILM FOR CO GAS SENSOR USING DC SPUTTERING METHOD. Fabricatin f SnO2 thin film fr CO gas sensr using DC sputtering has been carried ut. The fabricatin was dne with sputtering parameters at electrde vltage f 2 kv, current 1 ma,vacuum pressure trr, depsitin time 3 minutes, 6 minutes and 12 minutes at temperature 25 C while as gas sputtering was argn. The results shwed that SnO2 thin films with parameter prcess vltage 2 kv, current 1 ma, pressure Trr, time 12 minutes and temperature depsitin was 25 C have ptimum sensitivity t detect CO gas. It s measured at ppm. SEM-EDS analysis shwed that at this ptimun cnditin f SnO 2 thin film was cntent f xygen (O) and Sn were 67.37% and % atms respectively. Key wrd : Sputtering, SnO2 thin film, sentivities and gas sensr. PENDAHULUAN G as merupakan suatu zat yang paling fleksibel pergerakannya dan tidak tampak jika dilihat dengan mata telanjang. Gas ada yang bermanfaat dan ada yang berbahaya bila berada di sekitar kita, antara lain gas beracun yang sangat berbahaya bagi manusia adalah gas CO jika dalam knsentrasi yang besar. Gas CO bila terhirup dalam tubuh akan mengikat ksigen dalam darah dan pada resik yang paling tinggi dapat menimbulkan kematian. Aplikasi semiknduktr ksida lgam sebagai sensr gas dikembangkan dalam 2 tipe yaitu pertama untuk memnitr atmsfer dengan parameter utama adalah tekanan parsial ksigen. Dan kedua untuk memnitr unsurunsur atmsfer dalam knsentrasi relatif kecil dan kndisi udara nrmal[1]. Sensr gas adalah alat yang dipakai untuk mendeteksi perubahan kndisi lingkungan udara dan kemudian menghasilkan sinyal listrik yang besarnya sebanding dengan knsentrasi gas. Semiknduktr ksida mempunyai rancangan sederhana dan harga yang relatif murah, hal ini menyebabkan bahan tersebut mennjl sebagai bahan pilihan untuk digunakan dalam penyediaan perangkat multi-sensr[2]. Walaupun demikian penggunaan semiknduktr ksida sebagai sensr gas terus mengalami penyempurnaan khususnya sifat sensitivitas dan selektivitas yang merupakan dua isu penting dalam perangkat sensr gas. Lapisan tipis ksida lgam merupakan salah satu jenis dari sekian banyak bahan lapisan tipis yang telah dikembangkan menjadi sensr gas semiknduktr. Keadaan ini dimungkinkan karena struktur dan sifat elektrik lapisan tipis ksida dapat dikntrl dalam prses pembuatannya, sehingga dapat mengubah tingkat sensitivitasnya jika berada dalam lingkungan gas. Banyak teknik yang digunakan untuk membuat lapisan tipis (thin film), diantaranya adalah dengan metde sputtering. Metde sputtering mempunyai keunggulan diantaranya : dapat menyediakan bahan lapisan tipis yang Sayn, dkk. GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 21

2 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas seragam, padat (dense), memenuhi stikimetri dan apabila prses sputtering telah dimatikan, maka seluruh prses depsisi akan segera berhenti[3]. Para peneliti sekarang sedang mengembangkan penggunaan lapisan tipis ksida lgam seperti: TiO2, ZnO, CeO2, dan SnO2 untuk dapat mendeteksi keberadaan gas. Diantaranya lapisan tipis yang dikembangkan adalah lapisan tipis SnO2. Karena lapisan tipis ini mampu mendeteksi beberapa macam gas dengan baik diantaranya adalah gas CO. Pendeteksian gas didasarkan pada peristiwa ksidasi reduksi yang terjadi antara permukaan lapisan tipis dengan gas yang dideteksi[3]. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan lapisan tipis SnO2 dengan metde sputtering DC sebagai sensr gas CO untuk memperleh parameter prses yang tepat/kndisi ptimun sehingga diperleh lapisan tipis SnO2 yang dapat digunakan sebagai sensr gas CO dengan mempunyai sensitivitas tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperleh pengetahuan dan penguasaan teknlgi pembuatan lapisan tipis SnO2 sebagai bahan sensr gas CO dengan metde sputtering DC. Sedang manfaatnya adalah dapat diperleh suatu bahan baru yang dapat digunakan untuk pembuatan sensr gas yang mempunyai sensitivitas tinggi. Untuk mengetahui keberhasilan dari pembuatan lapisan tipis SnO2 dengan sputtering DC, maka dilakukan karakterisasi yang meliputi: pengukuran resistansi dan sensitivitas/kepekaan tanggap terhadap gas CO, analisis struktur mikr dan kmpsisi kimia digunakan SEM-EDS (scanning electrn micrscpy-energy dispersive X-Ray spectrscpy). DASAR TEORI Dalam pembuatan lapisan tipis untuk sensr gas dilakukan dengan teknik sputtering DC yaitu suatu prses jika suatu permukaan bahan padat (target) mengalami tembakan partikel-partikel atau in berenergi, maka bahan (dalam bentuk atm-atm) dari permukaan target tersebut akan terpercik keluar akibat prses transfer mmentum. Parameter-parameter sputtering akan sangat menentukan knduktivitas bahan adalah tegangan elektrda, arus, jarak antara elektrda, suhu substrat, tekanan gas dan waktu depsisi. Sputtering DC Sistem sputtering DC terdiri dari dua elektrda yaitu anda dan katda. Pada anda ditempatkan substrat (bahan yang akan dilapisi) yang dilengkapi dengan pemanas untuk membuka pri-pri substrat, sehingga bahan yang didepsisi di atas permukaan substrat dapat melekat lebih kuat dan tidak mudah mengelupas. Pada katda dipasang bahan target dan dilengkapi dengan pendingin (water cling system) yang berfungsi menghindarkan bahan target agar tidak meleleh akibat suhu yang terlalu tinggi. Untuk membersihkan mlekul-mlekul dalam tabung reaktr plasma sehingga diperleh tekanan yang -5 rendah, maka dilakukan penghampaan dengan pmpa rtari dan difusi hingga mencapai tekanan 1 Trr. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa teknik ini bisa kita gunakan untuk mengntrl kepresisian lapisan tipis semiknduktr yang kita buat yaitu dengan mengatur waktu depsisi, tegangan dan arus dari sumber daya DC yang digunakan. Dalam sistem sputtering DC, partikel-partikel tersputter bertumbukan dengan mlekul-mlekul gas dan berdifusi pada substrat, karena tekanan gas sangat tinggi dan jalan bebas rerata partikel terpercik kurang dari jarak antara elektrda. Jumlah material terpercik yang terdepsit suatu satuan luas substrat W diberikan leh persamaan (1)[4]. W k1 W / pd (1) dengan, W merupakan jumlah bahan yang tersputter yang menempel pada substrat, k1 adalah suatu knstanta (rc/ ra) dengan rc dan ra masing-masing adalah jari-jari katda dan anda (bernilai 1 untuk sistem planar), W adalah jumlah partikel yang tersputter dari satuan luas katda, p adalah tekanan gas lucutan, d adalah jarak antar elektrda dan laju depsisi Rd diberikan leh persamaan (2)[4]. Rd = W / t (2) Sedangkan jumlah atm tersputter dari satuan luas katda W diberikan persamaan GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 Sayn, dkk.

3 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas W = J + St A ena (3) dalam hal ini J+ adalah rapat arus in pada katda, t adalah waktu sputter, e adalah muatan elektrn, S adalah hasil sputtering, A adalah berat atm. Dengan asumsi bahwa arus in mendekati sama dengan arus lucutan Is dan hasil sputtering (S) sebanding dengan tegangan lucutan Vd maka jumlah ttal partikel terpercik diberikan leh persamaan (4)[4]. W= Vd I d.t pd (4) sehingga depsit tersputter sebanding Vd, Id, dan t akibatnya makin besar waktu, makin banyak bahan terpercik. Pengaruh tekanan terhadap sputtering menunjukkan apabila terlalu kecil tekanan maka in-in penumbuk terlalu sedikit namun terlalu besar tekanan in-in penumbuk banyak tetapi tidak efisien. Hasil sputtering berubah dengan energi partikel atau in yang datang dan menumbuk target. Energi sputtering yang dipindahkan pada saat prses tumbukan dirumuskan leh persamaan (5)[4]. E1 = 4M 1 M 2 E2 (M 1 + M 2 ) (5) dengan E1 energi kinetik partikel penumbuk, M1 massa partikel penumbuk, M2 massa target, E2 energi yang ditransfer partikel bermassa M1 ke atm M2. Tenaga yang dipindahkan ini digunakan untuk melepaskan atm-atm bahan target serta sisanya merupakan energi kinetik atm terpental untuk menuju ke substrat, artinya berlangsung prses depsisi atm-atm target di atas substrat. Hasil Sputtering Hasil Sputtering S didefinisikan sebagai jumlah rata-rata atm-atm yang dipindahkan dari permukaan target per in penumbuk[4]. Hasil sputtering dirumuskan pada persamaan 6 : S= Atm-atm yang dipindahkan In in penumbuk (6) Hasil sputtering akan dipengaruhi leh faktr-faktr seperti energi partikel yang datang, material target, sudut datang partikel pada permukaan target, struktur kristal permukan target. Lapisan tipis SnO2 sebagai sensr gas SnO2 merupakan jenis semiknduktr ksida lgam celah pita lebar tipe-n yang banyak diaplikasikan 1 sebagai bahan dasar sensr gas[ ]. Sifat listrik SnO2 nankristal sepenuhnya bergantung pada ukuran kristal dan keadaan permukaan yang dihasilkan leh serapan gas yang menghasilkan penampakan ruang dan mdulasi 5 pita[ ]. SnO2 memiliki ikatan in dengan 4 elektrn. Sn menyumbangkan masing-masing 2 elektrn ke atm O. adanya ikatan inik ini menyebabkan bahan SnO2 lebih sensitif terhadap perubahan mlekul gas teradsrbsi 6 dibandingkan ikatan kvalen[ ], ikatan inik SnO2 dapat digambarkan melalui persamaan (7), (8) dan (9). Sn O + 2eSn + 2O Sn4+ + 4e- (7) O2x2 Sn4+ + 2O2- (8) (9) Adanya respn SnO2 pada jenis gas yang berbeda, kita bisa membaginya menjadi dua kelmpk besar: pada kelmpk pertama terdiri dari CO, H2, dan CH4 yang memberikan sifat mereduksi dan mudah menambah knduktivitas material. Pada kelmpk kedua ada macam-macam gas seperti NO2 dan CO2 yang memiliki sifat skidasi dan dapat mengksidasi material serta menurunkan nilai knduktivitas material. Skema dari material sensr SnO2 disajikan pada Gambar 1. Sayn, dkk. GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 23

4 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas Mlekul O2 yang ada di udara diadsrbsi secara kimia pada material dan CO mengadsrbsi atm O dari 7 permukaan menjadi CO2 [ ] Pada kndisi udara nrmal, permukaan bahan semiknduktr diselimuti leh lapisan ksigen teradsrbsi meliputi serapan fisika mlekul O2. knsentrasi atm-atm tersebut selanjutnya akan menangkap elektrn dari 1 daerah dekat (sekitar) permukaan semiknduktr.[ ] Gambar 1. Skema dari material sensr SnO2. Gambar 2(a). Prses adsrbsi ksigen leh gas CO menjadi CO2 [ 1] Gambar 2(b). Kembalinya elektrn yang diikat leh ksigen menjadi elektrn bebas dan memperkecil lebar 7 lapisan deplesi (L).[ ] Knsentrasi atm ksigen yang menyelimuti dan teradsrbsi pada permukaan akan menangkap elektrn bebas dari bahan semiknduktr ksida dan membentuk lapisan deplesi (depletin layer) pada daerah antara gas 7, 8 9. dan butir kristal [ ] dan ptensial penghalang (ptential barrier) di daerah batas butir.[ ] Terjadinya migrasi elektrn dari permukaan, pembentukan lapisan deplesi dan ptensial penghalang akan berpengaruh langsung terhadap knduktivitas semiknduktr tersebut secara keseluruhan. Kehadiran mlekul gas reduktr seperti gas CO akan mengikat sejumlah atm ksigen yang teradsrbsi leh permukaan butir kristal. Hal ini berakibat dilepaskannya kembali elektrn kepermukaan semiknduktr sehingga knsentrasi elektrn bebas beretambah serta panjang lapisan deplesi dan tinggi penghalang antar butir (ptential barrier) berkurang. Hal ini juga mengakibatkan kenaikan knduktivitas untuk bahan semiknduktr tipe-n. 24 GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 Sayn, dkk.

5 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas Gas reduktr akan mengikat elektrn dari lapisan permukaan, menambah tebal deplesi, memunculkan penghalang antar butir dan mengurangi knduktivitas untuk bahan semiknduktr tipe-n. TATA KERJA PENELITIAN Persiapan Substrat Substrat yang akan digunakan untuk pembuatan lapisan tipis SnO2 adalah kaca preparat yang diptng dengan ukuran 1 mm 2 mm. ukuran ini disesuiakan dengan hlder substart yang terdapat pada mesin sputtering DC. Setelah dibentuk, kaca preparat dicuci untuk menghilangkan ktran/lemak yang menempel pada permukaan substrat dengan campuran air bersih dan deterjen, selama direndam dengan deterjen digetarkan dengan ultrasnic cleaner selama 3 menit. Kemudian kaca preparat dibersihkan dengan alkhl 99% sambil digetarkan lagi dengan ultrasnic cleaner selama 3 menit. Agar terbebas dari zat-zat pengtr yang melekat, selanjutnya dikeringkan dengan pemanas (ven) dengan suhu 1 C selama 6 menit, dan setelah dingin dimasukkan dalam plastik klip. Prses penumbuhan lapisan tipis Peralatan sistem sputtering yang digunakan dalam pendepsisian lapisan tipis SnO2 dan kntak Ag adalah sistem sputtering DC, dalam sistem ini menggunakan catu daya tegangan tinggi DC. Pembuatan lapisan tipis terdiri atas dua tahap yaitu tahap prses pendepsisian lapisan tipis dan tahap pembuatan kntak perak untuk terminal pada kedua ujung lapisan tipis. Pada prses penumbuhan lapisan tipis terlebih dulu substrat kaca diletakkan pada anda dan target SnO2 pada katda, substrat dipanaskan pada suhu 25 C agar pri-pri permukaan substrat terbuka sehingga atm target mudah tertanam pada permukaan substart. Sementara target SnO2 didinginkan dengan sistem aliran air pendingin agar target tidak berubah bentuk -5 akibat panas yang terlalu tinggi. Kemudian tabung reaktr sputtering dihampakan hingga mencapai 1 trr selanjutnya gas argn dialirkan ke tabung sputtering DC hingga nilai kevakuman akan berkurang menjadi sekitar trr. Setelah kndisi tersebut tercapai maka sumber tegangan tinggi mesin sputtering dihidupkan dengan mengatur tegangan tinggi DC sebesar 2 kv dan arus 1 ma. Prses pendepsisian dilakukan dengan variasi waku : 3 menit, 6 menit dan 12 menit. Pembuatan kntak perak Prses pelapisan kntak perak bertujuan untuk membuat terminal pada kedua ujung sensr agar mempermudah dalam pengukuran/karakterisasinya, karena dengan diberi kntak perak maka pengukuran resistansi menjadi untuk setiap titik pengukuran menjadi sama dan nilai resistansinya lebih kecil karena tersambung paralel. Pembuatan lapisan kntak perak ini sama langkahnya sama dengan prses penumbuhan lapisan tipis SnO2 yaitu dengan menggunakan sistem sputtering DC. Perbedaannya adalah target yang digunakan perak (Ag) dan alumunium fil untuk melindungi daerah yang tidak ingin dilapisi kntak perak (daerah sensr) dan waktu depsisi pembuatan kntak perak adalah 15 menit. Pengujian sensr Untuk mengetahui keberhasilan pembuatan lapisan tipis SnO2 untuk sensr gas, maka dilakukan pengujian/ karakterisasi sensr SnO2 terhadap gas CO yang meliputi : pengukuran resistansi sensr, sensitivitas, selektivitas terhadap gas uji dan analisis unsur serta struktur mikr permukaan sensr menggunakan SEM-EDS. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui keberhasilan prses pembuatan lapisan tipis SnO2 dengan variasi waktu depsisi sputtering DC pada permukaan substrat kaca untuk bahan dasar sensr gas CO, maka dilakukan pengujian /karakterisasi yang meliputi: pengukuran resistansi, suhu sensr, sensitivitas, selektivitas terhadap gas uji dari sensr gas yang telah dibuat. Kemudian untuk mendukung dan melengkapi data penelitian dilakukan analisis struktur mikr, analisis unsur dan tebal lapisan tipis SnO2 yang terbentuk menggunakan SEM-EDS. Penentuan Suhu Operasi Sensr Penentuan suhu perasi sensr dilakukan dengan memberikan perubahan suhu secara bertahap dari 25 C 4 C dengan interval 25 C dan setiap kenaikan suhu 25 C dilakukan pengukuran resistansi yang hasilnya Sayn, dkk. GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 25

6 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas ditunjukkan pada Gambar 3. Pemilihan batas maksimal suhu 4 C dikarenakan SnO2 terglng semiknduktr ksida lgam yang memiliki gejala efek knduktansi permukaan (surface cnductance effect) sehingga memiliki unjuk kerja yang sangat baik sebagai sensr gas pada suhu antara (2 4) C (Cbs, 21). Pada Gambar 3 menunjukkan bahwa suhu perasi sensr yang semakin tinggi akan menghasilkan nilai resistansi semakin rendah. Hal ini terjadi karena waktu sputtering 12 menit menghasilkan jumlah atm-atm SnO2 yang tersepater menuju substrat akan bertambah semakin banyak. Akibatnya atm-atm SnO2 yang terkumpul di atas permukaan substrat semakin besar sehingga berpengaruh terhadap naiknya knduktivitas atau menurunnya resistansi bahan sensr. Penurunan resistansi bahan semiknduktr SnO2 juga dipengaruhi leh kenaikan suhu. Tetapi walaupun suhu terus dinaikkan penurunan nilai resistansi akan semakin kecil dan menuju kndisi yang stabil. Hal ini sebagai akibat adanya migrasi elektrn dari pita valensi menuju ke pita knduksi (menjadi elektrn bebas). Pada keadaan suhu C penurunan nilai resistansi telah menunjukkan kestabilan. Hal ini berarti bahwa nilai resistansi pada kndisi tertentu nilainya sudah tidak terpengaruh leh kenaikan suhu, pada kndisi rentang suhu tersebut bahan SnO2 dapat berfungsi sebagai sensr gas karena perubahan nilai resistansi tidak dipengaruhi leh panas tetapi disebabkan adanya prses serapan gas yang mengenai permukaan bahan sensr. Pada penelitian ini suhu perasi sensr ditetapkan 3 C sebagai suhu perasi untuk pengujian sensr selanjutnya.. Apabila suhu sensr terus dinaikkan, maka resistansi kembali menunjukkan gejala kenaikan hal ini sesuai pendapat Gaskv dan Rumyantseva (1999) yang mengatakan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena pada suhu di atas suhu perasi sensr, ksigen yang teradsrbsi akan menarik elektrn dari bagian dalam butir yang mengakibatkan pertambahan ketebalan lapisan deplesi yang terlalu besar sehingga seluruh butir akan berada pada daerah bebas/ksng elektrn yang menyebabkan peningkatan resistivitas. Resistansi (kohm)/sheet Suhu Operasi (C) Gambar 3. Perubahan suhu perasi terhadap nilai resistansi dari lapisan tipis SnO2 yang didepsisi selama 12 menit. Pengujian Sensitivitas Sensr Terhadap Gas CO Pengujian sensitivitas dilakukan cara variasi knsentrasi gas uji CO pada sampel yang didepsisi selama 3, 6 dan 12 menit, pemilihan gas CO berdasar pertimbangan bahwa gas CO merupakan gas plutan/pencemar sehingga diharapkan sensr gas yang dibuat nantinya dapat digunakan untuk mendeteksi gas tersebut dengan sensitivitas yang tinggi. Hasil pengujian sensitivitas sensr disajikan pada Gambar 4. Pada Gambar 4 terlihat bahwa semakin lama waktu sputtering, maka semakin tinggi nilai sensitivitas sensr. Dan nilai sensitivitas tertinggi dicapai leh perlakuan waktu sputtering 12 menit yakni sebesar 23 % lebih tinggi bila dibanding dengan sampel yang didepsisi dengan waktu 3 dan 6 menit yang menghasilkan sensitivitas masing-masing 5,4% dan 5,1%. Hal ini terjadi karena waktu depsisi selama 12 menit menghasilkan kerapatan atm-atm SnO2 yang tersputter pada permukaan substrat kaca lebih tinggi dan hmgen bila dibanding dengan perlakuan sampel yang didepsisi selama 3 dan 6 menit sehingga daya serap terhadap gas CO akan lebih banyak, hal ini akan meningkatkan jumlah elektrn pada permukaan sensr semakin banyak dengan demikian knduktivitas bahan sensr meningkat. 26 GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 Sayn, dkk.

7 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas Selektivitas Sensr Pada Gas CO Pada pengujian ini diambil sampel yang memiliki sensnitivitas dan linieritas terbaik pada gas CO yaitu sampel dengan waktu sputtering 2 jam dan waktu pendinginan 15 jam. Hasil pengukuran sensitivitas terhadap beberapa uji gas ditunjukkan pada Gambar 5. 25,5 jam 15 1 jam 1 2 jam Fraksi Resistansi (%) 2 Knsentrasi gas (ppm ) Gambar 4. Sensitivitas sensr tehadap gas CO pada sampel yang didepsisi selama 3 menit, 6 menit dan 12 menit. 6 5 Fraksi Resistansi (%) 4 CO 3 NH3 2 C2H5OH CH3COCH knsentrasi gas (ppm) Gambar 5. Selektivitas sensr terhadap beberapa gas uji. Pada Gambar 5 terlihat bahwa dengan parameter waktu sputtering 2 jam dan pendinginan 1 malam untuk gas HNO3 dan C2H5OH grafik cenderung knstan pada jumlah gas 4 ppm sampai dengan 1 ppm dan kurang sensitif (keduanya termasuk jenis gas yang sama dengan gas CO yaitu gas reduktr) sedangkan pada gas CH3COCH3 memiliki sensitivitas yang hampir sama dengan gas CO namun gas tersebut merupakan gas ksidatr yang reaksinya berkebalikan dengan gas CO yaitu semakin banyak knsentrasi gas knduktivitasnya semakin menurun, ini terjadi karena pada gas ksidatr elektrn yang berada pada permukaan sensr justru berpindah ke uap gas ksidatr sehingga permukaan sensr kekurangan elektrn yang berakibat turunnya knduktivitas bahan atau nilai resistansi semakin naik. Sayn, dkk. GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 27

8 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas Struktur Mikr dan Analisis Unsur Dengan SEM-EDS Hasil ft struktur mikr permukaan pada lapisan tipis SnO2 hasil DC sputtering yang di-depsisi 3 menit dan 12 menit ditunjukkan leh Gambar 6a dan 6b. Dari Gambar 6a menunjukkan bahwa pada depsisi 3 menit, butir-butir SnO2 yang terdepsit terlihat lebih kecil dan rapat bila dibandingkan pada depsisi 12 menit yang ditunjukkan pada Gambar 6b. Hal ini terjadi karena waktu untuk depsisi masih terlalu rendah sehingga atm-atm yang terdepsit masih sedikit. Tetapi setelah waktu depsisi ditingkatkan menjadi 12 menit, maka selain akan meningkatkan jumlah atm SnO2 di atas permukaan juga dengan bertambahnya waktu depsisi akan menyebabkan terjadinya panas yang timbulkan leh prses depsisi tersebut. Dengan timbulnya panas akibat prses depsisi akan berpengaruh terhadap ukuran butir atm SnO2 yang semakin besar. Hasil analisis unsur lapisan tipis SnO2 dari hasil sputtering mengunakan EDS (electrn dispersive X-Ray spectrscpy) disajikan pada Gambar 7a dan 7b. Pada Gambar 7a menunjukkan perbandingan % atm untuk unsur Sn dan O pada lapisan tipis SnO2 hasil sputtering. Dari analisis unsur dengan EDS tersebut menunjukkan bahwa banyaknya atm O sebesar 67,37 %, atm Si,91 % dan atm Sn 31,73 % yang berarti setiap atm Sn mengikat 2 atm ksigen, kemudian munculnya atm Si menunjukkan terdeteksinya atm substrat sebagai bahan induk. Hal ini terjadi karena waktu depsisi yang relatif pendek (3) menit membuat atm-atm SnO2 yang terdepsisi belum mampu menutup seluruh permukaan substrat. Sedang pada Gambar 7b. menunjukkan bahwa banyaknya atm O sebesar 69,32 %, dan atm Sn 3,73. Setelah waktu depsisi dinaikkan dari 3 menit menjadi 12 menit, maka atm-atm SnO2 yang terdepsit di atas permukaan substrat semakin banyak hal ini akan berpengaruh pada naiknya prsentase unsur O dan penurunan unsur Sn. Dalam hal ini unsur Si sudah tidak terdeteksi lagi karena seluruh permukaan substrat telah dipenuhi leh atm SnO2 yang semakin rapat. a. Depsisi 3 menit b. Depsisi 12 menit Gambar 6. Struktur mikr permukaan lapisan tipis SnO2 hasil sputtering dengan waktu depsisi 3 menit dan waktu 12 menit dengan pembesaran 2. kali. 28 GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 Sayn, dkk.

9 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas Gambar 7a. Analisis unsur lapisan tipis SnO2 hasil DC sputtering dengan waktu depsisi 3 menit. Gambar 7b. Analisis unsur lapisan tipis SnO2 hasil DC sputtering dengan waktu depsisi 12 menit. KESIMPULAN Dari hasil penelitian pembuatan lapisan tipis SnO2 dengan metde sputtering DC sebagai bahan sensr gas CO dapat disimpulkan sebagai berikut : Telah berhasil dibuat lapisan tipis SnO2 hasil DC sputtering sebagai bahan dasar sensr gas CO dengan suhu perasi sensr gas SnO2 adalah 3 C. Sensr gas yang dibuat dengan waktu sputtering 12 menit mempunyai sensitivitas tertinggi terhadap gas CO sebesar 23% dan sensitivitas terendah sebesar 5,1% diperleh dengan waktu sputtering 6 menit. Pada analisis unsur menggunakan EDS dari sensr yang mempunyai sensitivitas terbaik yakni dengan waktu depsisi selama 12 menit, mempunyai kmpsisi unsur untuk atm O sebesar 69,32%, dan atm Sn 3,73%. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan telah selesainya penelitian ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak : J. Karmadi, Sumarm dan seluruh staf kelmpk Pengembangan Aplikasi Akseleratr atas segala bantuan yang telah diberikan. Sayn, dkk. GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 29

10 Pembuatan Lapisan Tipis SnO2 Dengan Metde Sputtering DC Untuk Sensr Gas DAFTAR PUSTAKA 1. MOSELEY, P.T., Materials Selectin fr Semi-cnductr Gas Sensrs, Sensr and Actuatrs B, 6, , MROWEC S., Defect And Difusin in Slid, Elsevier Scientific Publishing Cmpany, Plandia, MARDARE, D., RUSU, G.L., Structural and Electrical Prperties f TiO2 RF Sputerred Thin Films, Materials Science and Engineering, B75, 68-71, WASA, K., HAYAKAWA, S., Handbk f Sputter Depsitin Technlgy; Principles, Technlgy and Applicatin, Nyes Publicatin, New Jersy, SAFONOFA, O. V., DELABOUGLISE, G., CHEINEVER, B., GAKOV, A.M., LEBEAU, M., CO and NO 2 Gas Sensitivity f Nan-cristaline, Tin Dixide thin Films Dped with Pd, Ru, and Rh,, GASKOV, A.M., RUMYANTSEVA, M.N., Material fr Slid Gas Sensr. Inrganic Material, Vl,36, N , COBOS JA, Metal Additive Distributin in TiO2 and SnO2 Semicnductr gas sensr nanstructured, Barcelna FLOCKHARDT, B, D. SCOTT, JA., PINCH, R.C., TransFaraday Sc, 62, 3, XU, C., TAMAKI, J., MIURA, N., YAMAZOE, N., Grain Size Effect n Gas Sensitivity f Prus SnO2, Sensr and Actuatr B, , LAMAGNA A., DAN FISHER M., Micr-machined Gas Sensr and Integrated Optical Circuit, MEMS Divisin Physics Dept. CAC-CNEA. 3 GANENDRA, Vl. IX, N. 2, Juli 26 Sayn, dkk.

DEPOSISI LAPISAN TIPIS ZnO:Al PADA SUBSTRAT ALUMINA UNTUK BAHAN SENSOR GAS

DEPOSISI LAPISAN TIPIS ZnO:Al PADA SUBSTRAT ALUMINA UNTUK BAHAN SENSOR GAS ISSN 1410-6957 DEPOSISI LAPISAN TIPIS ZnO:Al PADA SUBSTRAT ALUMINA UNTUK BAHAN SENSOR GAS Sayono, Tjipto Sujitno Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN Toto Trikasjono Sekolah Tinggi Teknologi

Lebih terperinci

PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO 2

PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO 2 PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO 2 Sayono, Agus Santoso Puslitbang Teknologi Maju BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 1008, Yogyakarta 55010 ABSTRAK PENGARUH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dikawasan Asia

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dikawasan Asia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dikawasan Asia Tenggara. Sebagai negara berkembang, Indonesia melakukan swasembada diberbagai bidang, termasuk

Lebih terperinci

PENGARUH DOPING INDIUM TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS DARI LAPISAN TIPIS SnO 2

PENGARUH DOPING INDIUM TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS DARI LAPISAN TIPIS SnO 2 Suharni, dkk. ISSN 0216-3128 33 PENGARUH DOPING INDIUM TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS DARI LAPISAN TIPIS SnO 2 Suharni dan Sayono Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan-BATAN ABSTRAK PENGARUH DOPING

Lebih terperinci

PREPARASI LAPISAN TIPIS CuInS 2 PADA SUBSTRAT KACA DENGAN SPUTTERING DC UNTUK KOMPONEN SEL SURYA

PREPARASI LAPISAN TIPIS CuInS 2 PADA SUBSTRAT KACA DENGAN SPUTTERING DC UNTUK KOMPONEN SEL SURYA 376 ISSN 0216-3128 Bambang Siswant, dkk. PREPARASI LAPISAN TIPIS CuInS 2 PADA SUBSTRAT KACA DENGAN SPUTTERING DC UNTUK KOMPONEN SEL SURYA Bambang Siswant, Wirjadi, Darsn Pustek Akseleratr dan Prses Bahan

Lebih terperinci

PENGARUH DOPING EMAS DAN PERLAKUAN ANIL PADA SENSITIVITAS LAPISAN TIPIS SnO 2 UNTUK SENSOR GAS CO

PENGARUH DOPING EMAS DAN PERLAKUAN ANIL PADA SENSITIVITAS LAPISAN TIPIS SnO 2 UNTUK SENSOR GAS CO PENGARUH DOPING EMAS DAN PERLAKUAN ANIL PADA SENSITIVITAS LAPISAN TIPIS SnO 2 UNTUK SENSOR GAS CO Almunawar Khalil 1*, Sri Yani Purwaningsih 2, Darminto 3 Jurusan Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih terperinci

KARAKTERISASI TiO 2 (CuO) YANG DIBUAT DENGAN METODA KEADAAN PADAT (SOLID STATE REACTION) SEBAGAI SENSOR CO 2

KARAKTERISASI TiO 2 (CuO) YANG DIBUAT DENGAN METODA KEADAAN PADAT (SOLID STATE REACTION) SEBAGAI SENSOR CO 2 KARAKTERISASI TiO 2 (CuO) YANG DIBUAT DENGAN METODA KEADAAN PADAT (SOLID STATE REACTION) SEBAGAI SENSOR CO 2 Hendri, Elvaswer Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang,

Lebih terperinci

Penumbuhan dan Karakteristik (Bilalodin) PENUMBUHAN DAN KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS PbTiO 3 YANG DISIAPKAN DENGAN TEKNIK SPIN COATING

Penumbuhan dan Karakteristik (Bilalodin) PENUMBUHAN DAN KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS PbTiO 3 YANG DISIAPKAN DENGAN TEKNIK SPIN COATING Penumbuhan dan Karakteristik (Bilaldin) PENUMBUHAN DAN KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS PbTiO 3 YANG DISIAPKAN DENGAN TEKNIK SPIN COATING Bilaldin Prgram Studi Fisika, Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Efek Ftlistrik Pada tahun 1899 J.J Thmsn menemukan bahwa pada beberapa kndisi elektrn terpancar dari permukaan lgam ketika diberikan radiasi elektrmagnetik. Gejala ini

Lebih terperinci

PEMBUATAN LAPISAN TIPIS S002 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO

PEMBUATAN LAPISAN TIPIS S002 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO SalOI/O, tllik. ISSN tl216 - J 1211 327 PEMBUATAN LAPISAN TIPIS S002 DENGAN METODE SPUTTERING DC UNTUK SENSOR GAS CO Sayono, Suprapto, Sunardi Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Kajian Pustaka Marwoto.P., dkk (2007) melakukan penelitian proses penumbuhan film tipis Ga 2 O 3 :Mn dengan mengguakan DC magnetron sputtering dan dilakukan dengan

Lebih terperinci

PENUMBUHAN FILM TIPIS SEMIKONDUKTOR

PENUMBUHAN FILM TIPIS SEMIKONDUKTOR PENUMBUHAN FILM TIPIS SEMIKONDUKTOR Penumbuhan film tipis semikonduktor di atas substrat dapat dilakukan secara epitaksi. Dalam bahasa yunani epi berarti di atas dan taksial berarti menyusun dengan kata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan teknologi material semikonduktor keramik,

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan teknologi material semikonduktor keramik, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Pesatnya perkembangan teknologi material semikonduktor keramik, menghasilkan berbagai penemuan baru khususnya dalam bidang elektronika. Salah satu teknologi yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan penelitian ini maka dipilih

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan penelitian ini maka dipilih 20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan penelitian ini maka dipilih metode eksperimen. 3.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium

Lebih terperinci

KUIS I PROSES TRANSFER Hari, tanggal : Rabu, 3 November 2004 Waktu : 100 menit Sifat : Tabel Terbuka

KUIS I PROSES TRANSFER Hari, tanggal : Rabu, 3 November 2004 Waktu : 100 menit Sifat : Tabel Terbuka KUIS I Hari, tanggal : Rabu, 3 Nvember 2004 Waktu : 100 menit 1. Suatu sistem seperti ditunjukkan pada gambar di bawah. Batangan silinder yang kaksial dengan silendernya bergerak dengan kecepatan V. Tentukan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. a. Pompa Vakum Rotary (The Rotary Vacuum Pump) Gambar 1.10 Skema susunan pompa vakum rotary

PEMBAHASAN. a. Pompa Vakum Rotary (The Rotary Vacuum Pump) Gambar 1.10 Skema susunan pompa vakum rotary PENDAHULUAN Salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh lapisan tipis adalah Evaporasi. Proses penumbuhan lapisan pada metode ini dilakukan dalam ruang vakum. Lapisan tipis pada substrat diperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin maju dalam beberapa dekade ini

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin maju dalam beberapa dekade ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi yang semakin maju dalam beberapa dekade ini mengalami peralihan dari teknologi mikro (microtechnology) ke generasi yang lebih kecil yang dikenal

Lebih terperinci

Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.

Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor. 7 Gambar Sistem kalibrasi dengan satu sensor. Besarnya debit aliran diukur dengan menggunakan wadah ukur. Wadah ukur tersebut di tempatkan pada tempat keluarnya aliran yang kemudian diukur volumenya terhadap

Lebih terperinci

BAB 6. Neraca Energi dengan Efek Reaksi Kimia

BAB 6. Neraca Energi dengan Efek Reaksi Kimia BAB 6 Neraca Energi dengan Efek Reaksi Kimia 1.1 Analisis Derajat Kebebasan untuk Memasukkan Neraca Energi dengan Reaksi Neraca energi dalam penghitungan derajat kebebasan menyebabkan penambahan persamaan

Lebih terperinci

PEMBUATAN KONDUKTOR TRANSPARAN THIN FILM SnO2 DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SPRAY PYROLYSIS

PEMBUATAN KONDUKTOR TRANSPARAN THIN FILM SnO2 DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SPRAY PYROLYSIS PEMBUATAN KONDUKTOR TRANSPARAN THIN FILM SnO2 DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SPRAY PYROLYSIS Syuhada, Dwi Bayuwati, Sulaiman Pusat Penelitian Fisika-LIPI, Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang 15314 e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagaimana yang telah dipaparkan pada latar belakang, material nano seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting katalis yang berfungsi sebagai

Lebih terperinci

ANALISIS SIFAT FISIK LAPISAN TIPIS TITANIUM NITRIDA PADA BAJA AISI 410 YANG DILAPIS DENGAN METODE SPUTTERING

ANALISIS SIFAT FISIK LAPISAN TIPIS TITANIUM NITRIDA PADA BAJA AISI 410 YANG DILAPIS DENGAN METODE SPUTTERING Analisis Sifat Fisik Lapisan Tipis Titanium Nitrida ANALISIS SIFAT FISIK LAPISAN TIPIS TITANIUM NITRIDA PADA BAJA AISI 410 YANG DILAPIS DENGAN METODE SPUTTERING Xander Salahudin Program Studi Teknik Mesin,

Lebih terperinci

PENGERASAN PERMUKAAN BAJA ST 40 DENGAN METODE CARBURIZING PLASMA LUCUTAN PIJAR

PENGERASAN PERMUKAAN BAJA ST 40 DENGAN METODE CARBURIZING PLASMA LUCUTAN PIJAR PENGERASAN PERMUKAAN BAJA ST 40 DENGAN METODE CARBURIZING PLASMA LUCUTAN PIJAR BANGUN PRIBADI *, SUPRAPTO **, DWI PRIYANTORO* *Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 1008, DIY 55010

Lebih terperinci

BAB 6 LARUTAN ELEKTROLIT DAN KONSEP REDOKS

BAB 6 LARUTAN ELEKTROLIT DAN KONSEP REDOKS www.qmia.c.nr www.nuklir.c.nr BAB 6 LARUTAN ELEKTROLIT DAN KONSEP REDOKS 1) Larutan Elektrlit dan Nn Elektrlit Larutan elektrlit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Larutan elektrlit

Lebih terperinci

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Pengaruh Arus Listrik Terhadap Hasil Elektrolisis Elektrolisis merupakan reaksi yang tidak spontan. Untuk dapat berlangsungnya reaksi elektrolisis digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR-

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BATAN Bandung meliputi beberapa tahap yaitu tahap preparasi serbuk, tahap sintesis dan tahap analisis. Meakanisme

Lebih terperinci

SAMBUNGAN P-N. Diode Sambungan p-n 63

SAMBUNGAN P-N. Diode Sambungan p-n 63 7 DODE SAMBUNGAN P-N 7.1 Semiknduktr Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari karakteristik bahan semiknduktr beserta kemampuannya untuk menghantarkan listrik. Berdasarkan tingkat kemurnian atm penyusunnya,

Lebih terperinci

III. PROSEDUR PERCOBAAN. XRD dilakukan di Laboratorium Pusat Survey Geologi, Bandung dan

III. PROSEDUR PERCOBAAN. XRD dilakukan di Laboratorium Pusat Survey Geologi, Bandung dan 29 III. PROSEDUR PERCOBAAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2012 sampai dengan Desember 2012, di Laboratorium Fisika Material FMIPA Universitas Lampung. Karakterisasi

Lebih terperinci

STUDI PENGARUH SUHU SUBSTRAT TERHADAP SIFAT LISTRIK DAN OPTIK BAHAN SEMIKONDUKTOR LAPISAN TIPIS SnSe HASIL PREPARASI TEKNIK VAKUM EVAPORASI

STUDI PENGARUH SUHU SUBSTRAT TERHADAP SIFAT LISTRIK DAN OPTIK BAHAN SEMIKONDUKTOR LAPISAN TIPIS SnSe HASIL PREPARASI TEKNIK VAKUM EVAPORASI Studi Pengaruh Suhu Substrat. (Rully Fakhry Muhammad) 303 STUDI PENGARUH SUHU SUBSTRAT TERHADAP SIFAT LISTRIK DAN OPTIK BAHAN SEMIKONDUKTOR LAPISAN TIPIS SnSe HASIL PREPARASI TEKNIK VAKUM EVAPORASI STUDY

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai 10 atom karbon yang diperoleh dari minyak bumi. Sebagian diperoleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai 10 atom karbon yang diperoleh dari minyak bumi. Sebagian diperoleh BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Premium Premium terutama terdiri atas senyawa-senyawa hidrokarbon dengan 5 sampai 10 atom karbon yang diperoleh dari minyak bumi. Sebagian diperoleh langsung dari hasil penyulingan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material BAB III METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancang bangun alat. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material Pusat Teknologi Nuklir Bahan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yang digambarkan dalam diagram alir

Lebih terperinci

Pengolahan Limbah Logam... (Kapti Riyani, dkk) PENGOLAHAN LIMBAH LOGAM BERAT INDUSTRI TEKSTIL MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO 2 /ARANG AKTIF

Pengolahan Limbah Logam... (Kapti Riyani, dkk) PENGOLAHAN LIMBAH LOGAM BERAT INDUSTRI TEKSTIL MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO 2 /ARANG AKTIF Penglahan Limbah Lgam... (Kapti Riyani, dkk) PENGOLAHAN LIMBAH LOGAM BERAT INDUSTRI TEKSTIL MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO 2 /ARANG AKTIF Kapti Riyani, Tien Setyaningtyas, Ry Andreas Prdi Kimia MIPA FakultasSains

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM

BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM Pada bab sebelumnya telah diperlihatkan hasil karakterisasi struktur kristal, morfologi permukaan, dan komposisi lapisan.

Lebih terperinci

Kata kunci : DLC, plasma carburizing, roller rantai.

Kata kunci : DLC, plasma carburizing, roller rantai. PENGERASAN PERMUKAAN ROLLER RANTAI DENGAN METODE PLASMA CARBURIZING DARI CAMPURAN GAS He DAN CH 4 PADA TEKANAN 1,6 mbar Dwi Priyantoro 1, Tjipto Sujitno 2, Bangun Pribadi 1, Zuhdi Arif Ainun Najib 1 1)

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA AQUEOUS AMMONIA PLANT (STUDI DESKRIPTIF DI PABRIK PUPUK)

EVALUASI KINERJA AQUEOUS AMMONIA PLANT (STUDI DESKRIPTIF DI PABRIK PUPUK) EVALUASI KINERJA AQUEOUS AMMONIA PLANT (STUDI DESKRIPTIF DI PABRIK PUPUK) Nur Aida Amalia, Nurul Syefira Fatayatunnajmah, Bintang Iwhan Mehady Jurusan Teknik Kimia, Pliteknik Negeri Bandung, Bandung 40012

Lebih terperinci

BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI

BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI Pada bab ini dibahas penumbuhan AlGaN tanpa doping menggunakan reaktor PA- MOCVD. Lapisan AlGaN ditumbuhkan dengan variasi laju alir gas reaktan, hasil penumbuhan dikarakterisasi

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK LAPISAN NiCr-Al YANG DIBENTUK DENGAN METODE SPUTTERING PADA BAJA ST 40

ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK LAPISAN NiCr-Al YANG DIBENTUK DENGAN METODE SPUTTERING PADA BAJA ST 40 ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK LAPISAN NiCr-Al YANG DIBENTUK DENGAN METODE SPUTTERING PADA BAJA ST 40 TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Teknik Mesin Sekolah Pascasarjana Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini dunia elektronika mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini dunia elektronika mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini dunia elektronika mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini terlihat dari banyaknya komponen semikonduktor yang digunakan disetiap kegiatan manusia.

Lebih terperinci

2014 PEMBUATAN BILAYER ANODE - ELEKTROLIT CSZ DENGAN METODE ELECTROPHORETIC DEPOSITION

2014 PEMBUATAN BILAYER ANODE - ELEKTROLIT CSZ DENGAN METODE ELECTROPHORETIC DEPOSITION BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan listrik dunia semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini tentu disebabkan pertumbuhan aktivitas manusia yang semakin padat dan kebutuhan

Lebih terperinci

LAPISAN TIPIS ZnO SUSUNAN LARIK SEBAGAI SENSOR GAS

LAPISAN TIPIS ZnO SUSUNAN LARIK SEBAGAI SENSOR GAS ISSN 1410-6957 LAPISAN TIPIS ZnO SUSUNAN LARIK SEBAGAI SENSOR GAS Tjipto Sujitno, Trimardji Atmono, Sayono, Lely Susita RM. Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 6101

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perlakuan panas atau annealing pada lapisan sehingga terbentuk butiran-butiran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perlakuan panas atau annealing pada lapisan sehingga terbentuk butiran-butiran BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode penelitian Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen dengan membuat lapisan tipis Au di atas substrat Si wafer, kemudian memberikan

Lebih terperinci

Sintesis Komposit TiO 2 /Karbon Aktif Berbasis Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dengan Menggunakan Metode Solid State Reaction

Sintesis Komposit TiO 2 /Karbon Aktif Berbasis Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dengan Menggunakan Metode Solid State Reaction Sintesis Komposit TiO 2 /Karbon Aktif Berbasis Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dengan Menggunakan Metode Solid State Reaction Yuliani Arsita *, Astuti Jurusan Fisika Universitas Andalas * [email protected]

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PERANCANGAN DAN PABRIKASI

BAB IV HASIL PERANCANGAN DAN PABRIKASI BAB IV HASIL PERANCANGAN DAN PABRIKASI 4.1. Hasil Pembuatan Mesin DC Magnetron Sputtering Mesin DC Magnetron Sputtering yang sudah selesai dibuat dan siap dilakukan pengujian untuk pelapisan pada bahan

Lebih terperinci

BAB II PENGUKURAN TEGANGAN PUNCAK DENGAN PERCIKAN SELA

BAB II PENGUKURAN TEGANGAN PUNCAK DENGAN PERCIKAN SELA BAB II PENGUKURAN TEGANGAN PUNCAK DENGAN PERCIKAN SELA II.1 Pendahuluan Percikan di sela elektrda bla-bla yang diislasi leh dielektrik udara dapat digunakan untuk mengukur amplitud (puncak) tegangan di

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU DEPOSISI LAPISAN TIPIS TiN TERHADAP SIFAT MEKANIK METAL HASIL PLASMA SPUTTERING

PENGARUH SUHU DEPOSISI LAPISAN TIPIS TiN TERHADAP SIFAT MEKANIK METAL HASIL PLASMA SPUTTERING 138 ISSN 0216-3128 Wirjoadi, dkk. PENGARUH SUHU DEPOSISI LAPISAN TIPIS TiN TERHADAP SIFAT MEKANIK METAL HASIL PLASMA SPUTTERING Wirjoadi, Bambang Siswanto, Sudjatmoko Pusat Teknologi Akselerator dan Proses

Lebih terperinci

Soal Suhu dan Kalor. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!

Soal Suhu dan Kalor. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! Soal Suhu dan Kalor Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1.1 termometer air panas Sebuah gelas yang berisi air panas kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air dingin. Pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban manusia di abad ini. Sehingga diperlukan suatu kemampuan menguasai teknologi tinggi agar bisa

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode penelitian Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental dan pembuatan keramik film tebal CuFe 2 O 4 dilakukan dengan metode srcreen

Lebih terperinci

KARAKTERISASI MIKROSTRUKTUR FEROELEKTRIK MATERIAL SrTiO 3 DENGAN MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPY (SEM)

KARAKTERISASI MIKROSTRUKTUR FEROELEKTRIK MATERIAL SrTiO 3 DENGAN MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPY (SEM) KARAKTERISASI MIKROSTRUKTUR FEROELEKTRIK MATERIAL SrTiO 3 DENGAN MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPY (SEM) Kaspul Anuwar 1, Rahmi Dewi 2, Krisman 2 1 Mahasiswa Program S1 Fisika FMIPA-Universitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lapisan tipis merupakan suatu lapisan dari bahan organik, anorganik, metal,

I. PENDAHULUAN. Lapisan tipis merupakan suatu lapisan dari bahan organik, anorganik, metal, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lapisan tipis merupakan suatu lapisan dari bahan organik, anorganik, metal, maupun campuran metal-organik yang dapat memiliki sifat-sifat sebagai konduktor, semikonduktor,

Lebih terperinci

berbagai cara. Pencemaran udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industri,

berbagai cara. Pencemaran udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industri, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Udara adalah campuran gas yang merupakan lapisan tipis yang meliputi bumi dan merupakan gas yang tidak kelihatan, tidak berasa dan tidak berbau. Pencemaran udara datang

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian 28 Bab III Metodologi Penelitian III.1 Tahap Penelitian Penelitian ini terbagi dalam empat tahapan kerja, yaitu : Tahapan kerja pertama adalah persiapan bahan dasar pembuatan film tipis ZnO yang terdiri

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK LISTRIK KERAMIK FILM Fe 2 O 3 DENGAN VARIASI KETEBALAN YANG DIBUAT DARI MINERAL LOKAL DI ATMOSFIR UDARA DAN ATMOSFIR ALKOHOL

KARAKTERISTIK LISTRIK KERAMIK FILM Fe 2 O 3 DENGAN VARIASI KETEBALAN YANG DIBUAT DARI MINERAL LOKAL DI ATMOSFIR UDARA DAN ATMOSFIR ALKOHOL KARAKTERISTIK LISTRIK KERAMIK FILM Fe 2 O 3 DENGAN VARIASI KETEBALAN YANG DIBUAT DARI MINERAL LOKAL DI ATMOSFIR UDARA DAN ATMOSFIR ALKOHOL Endi Suhendi 1, Hera Novia 1, Dani Gustaman Syarif 2 1) Jurusan

Lebih terperinci

KARAKTERISASI SEMIKONDUKTOR TIO 2 (ZnO) SEBAGAI SENSOR LIQUEFIED PETROLEUM GAS (LPG)

KARAKTERISASI SEMIKONDUKTOR TIO 2 (ZnO) SEBAGAI SENSOR LIQUEFIED PETROLEUM GAS (LPG) KARAKTERISASI SEMIKONDUKTOR TIO 2 (ZnO) SEBAGAI SENSOR LIQUEFIED PETROLEUM GAS (LPG) Frastica Deswardani, Elvaswer Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, 25163 e-mail:

Lebih terperinci

PREPARASI MATERIAL TARGET CIS UNTUK PEMBUAT AN LAPISAN TIPIS CuInSe TYPE-P

PREPARASI MATERIAL TARGET CIS UNTUK PEMBUAT AN LAPISAN TIPIS CuInSe TYPE-P 74 ISSN 0216-3128 Tri Mardji Almn, dkk. PREPARASI MATERIAL TARGET CIS UNTUK PEMBUAT AN LAPISAN TIPIS CuInSe TYPE-P Tri Mardji Atmn, Yunant, Wiryadi, Bambang Siswant PTAPB - Badan Tenaga Nuklir Nasinal

Lebih terperinci

Pembuatan Sel Surya Film Tipis dengan DC Magnetron Sputtering

Pembuatan Sel Surya Film Tipis dengan DC Magnetron Sputtering Pembuatan Sel Surya Film Tipis dengan DC Magnetron Sputtering Desty Anggita Tunggadewi 1, Fitria Hidayanti 1 1 Program Studi Teknik Fisika, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Nasional [email protected],

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Peralatan Penelitian Bahan-bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini antara lain bubuk magnesium oksida dari Merck, bubuk hidromagnesit hasil sintesis penelitian

Lebih terperinci

Karakterisasi XRD. Pengukuran

Karakterisasi XRD. Pengukuran 11 Karakterisasi XRD Pengukuran XRD menggunakan alat XRD7000, kemudian dihubungkan dengan program dikomputer. Puncakpuncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi

Lebih terperinci

2. Variable penelitian adalah komposisi serbuk gergaji kayu sonokeling

2. Variable penelitian adalah komposisi serbuk gergaji kayu sonokeling BAB HI METODE PENELITIAN 3.1. Tempat Penelitian 1. Untuk pengujian nilai kalr dilakukan dilabratrium Energi Kayu, Jurusan Teknlgi Hasil Hutan Universitas Gajah Mada Jgjakarta. 2. Untuk pemeriksaan lama

Lebih terperinci

PENURUNAN KADAR ION LOGAM KROMIUM PADA LIMBAH INDUSTRI SARUNG SAMARINDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROKOAGULASI

PENURUNAN KADAR ION LOGAM KROMIUM PADA LIMBAH INDUSTRI SARUNG SAMARINDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROKOAGULASI Penurunan kadar in PEURUA KADAR IO LOGAM KROMIUM PADA LIMBAH IDUSTRI SARUG SAMARIDA DEGA MEGGUAKA METODE ELEKTROKOAGULASI Yulianti Kartika 1,*, Aman Sentsa Panggabean 2 dan Rahmat Gunawan 3 Jurusan Kimia

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini pada dasarnya meliputi tiga tahapan proses

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini pada dasarnya meliputi tiga tahapan proses BAB III METODE PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini pada dasarnya meliputi tiga tahapan proses diawali dengan tahap persiapan, tahap penumbuhan, dan tahap karakterisasi. Pada bab ini dibahas tentang metode

Lebih terperinci

PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SILIKON AMORF TERHIDROGENASI (a-si:h) UNTUK BAHAN SEL SURYA

PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SILIKON AMORF TERHIDROGENASI (a-si:h) UNTUK BAHAN SEL SURYA GANENDRA, Vol.VI, N0.1 ISSN 1410-6957 PEMBUATAN LAPISAN TIPIS SILIKON AMORF TERHIDROGENASI (a-si:h) UNTUK BAHAN SEL SURYA Wirjoadi, Sudjatmoko, Yunanto, Bambang Siswanto, Sri Sulamdari Puslibang Teknologi

Lebih terperinci

STRUKTUR DAN KOMPOSISI KIMIA LAPIS TIPIS BAHAN SEMIKONDUKTOR Sn(Se 0,2 S 0.8 ) HASIL PREPARASI TEKNIK VAKUM EVAPORASI UNTUK APLIKASI SEL SURYA

STRUKTUR DAN KOMPOSISI KIMIA LAPIS TIPIS BAHAN SEMIKONDUKTOR Sn(Se 0,2 S 0.8 ) HASIL PREPARASI TEKNIK VAKUM EVAPORASI UNTUK APLIKASI SEL SURYA J. Sains Dasar 2015 4 (2) 198-203 STRUKTUR DAN KOMPOSISI KIMIA LAPIS TIPIS BAHAN SEMIKONDUKTOR Sn(Se 0,2 S 0.8 ) HASIL PREPARASI TEKNIK VAKUM EVAPORASI UNTUK APLIKASI SEL SURYA THE STRUCTURE AND CHEMICAL

Lebih terperinci

KARAKTERISASI I-V SEMIKONDUKTOR HETEROKONTAK CuO/ ZnO(TiO 2 ) SEBAGAI SENSOR GAS HIDROGEN

KARAKTERISASI I-V SEMIKONDUKTOR HETEROKONTAK CuO/ ZnO(TiO 2 ) SEBAGAI SENSOR GAS HIDROGEN KARAKTERISASI I-V SEMIKONDUKTOR HETEROKONTAK CuO/ ZnO(TiO 2 ) SEBAGAI SENSOR GAS HIDROGEN Mardiah dan Elvaswer Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, 25163 e-mail:

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN 30 BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN 3.1 PENDAHULUAN Baterai seng udara merupakan salah satu bentuk sumber energi secara elektrokimia yang memiliki peluang sangat besar untuk aplikasi sumber energi masa depan.

Lebih terperinci

OAL TES SEMESTER I. I. Pilihlah huruf a, b, c, d, atau e pada jawaban yang tepat!

OAL TES SEMESTER I. I. Pilihlah huruf a, b, c, d, atau e pada jawaban yang tepat! KIMIA XII SMA 157 S AL TES SEMESTER I I. Pilihlah huruf a, b, c, d, atau e pada jawaban yang tepat! 1. Pada suhu 20 C tekanan uap air = 17,5 mmhg. Tekanan uap larutan 72 gram gluksa dalam 360 gram air

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen. Pembuatan serbuk CSZ menggunakan cara sol gel. Pembuatan pelet dilakukan dengan cara kompaksi dan penyinteran dari serbuk calcia-stabilized

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Uji standard yang kita kenal saat ini diadopsi dari: SNI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Uji standard yang kita kenal saat ini diadopsi dari: SNI BAB TINJAUAN PUSTAKA Uji standard yang kita kenal saat ini diadpsi dari: SNI 09-1811-1998 9 (Indnesia); JIS T 8131-1977 (Jepang); ANSI Z 89.1-1997 (USA), dimana menggunakan test rig jatuh bebas yang dalam

Lebih terperinci

Bab 5 Pengujian dan Pengolahan Data

Bab 5 Pengujian dan Pengolahan Data Bab 5 Pengujian dan Penglahan Data 5.1 Prsedur Pengujian Gasiikasi Sekam Padi Dalam melakukan pengujian gasiikasi sekam padi, terdapat prsedur yang harus diikuti. Prsedur ini dimaksudkan untuk menghindari

Lebih terperinci

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 2. Klasifikasi BendaLatihan Soal 2.1

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 2. Klasifikasi BendaLatihan Soal 2.1 1. Perhatikan pernyataan di bawah ini! 1) Jarak antar partikel sangat rapat 2) Tarik menarik antar molekul kuat 3) Susunan partikel kurang teratur 4) Jarak antar partikel kurang rapat 5) Jarak antar partikel

Lebih terperinci

RAY TRACER PENGUJIAN CAHAYA LED. B. M. Wibawa, I M. Joni, F. Faizal, V. Hutabalian, K. Heru dan C. Panatarani

RAY TRACER PENGUJIAN CAHAYA LED. B. M. Wibawa, I M. Joni, F. Faizal, V. Hutabalian, K. Heru dan C. Panatarani Prsiding Seminar Nasinal Sains dan Teknlgi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 Nvember 2008 RAY TRACER PENGUJIAN CAHAYA LED B. M. Wibawa, I M. Jni, F. Faizal, V. Hutabalian, K. Heru dan C. Panatarani Grup

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini menggunakan metode screen printing melalui proses :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini menggunakan metode screen printing melalui proses : BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini menggunakan metode screen printing melalui proses : preparasi bahan pasta, dalam preparasi bahan pasta meliputi preparasi bahan olah yang merupakan material

Lebih terperinci

BAB 2 Pengenalan Neraca Energi pada Proses Tanpa Reaksi

BAB 2 Pengenalan Neraca Energi pada Proses Tanpa Reaksi BAB Pengenalan Neraca Energi pada Prses Tanpa Reaksi Knsep Hukum Kekekalan Energi Ttal energi pada sistem dan lingkungan tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan..1 Neraca Energi untuk Sistem Tertutup

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di lab. Fisika Material, Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lebih terperinci

SIMULASI PROSES REFRIJERASI DENGAN KOMPRESI SATU TAHAP DAN LEBIH

SIMULASI PROSES REFRIJERASI DENGAN KOMPRESI SATU TAHAP DAN LEBIH PROSIDING SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2004 ISSN : 1411-4216 SIMULASI PROSES REFRIJERASI DENGAN KOMPRESI SATU TAHAP DAN LEBIH Jhan Utm Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknlgi Industri UNPAR

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian III. 1. Tahap Penelitian Penelitian ini terbagai dalam empat tahapan kerja, yaitu: a. Tahapan kerja pertama adalah persiapan bahan dasar pembuatan LSFO dan LSCFO yang terdiri

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Serbuk Awal Membran Keramik Material utama dalam penelitian ini adalah serbuk zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) yang sudah ditapis dengan ayakan 400 mesh sehingga diharapkan

Lebih terperinci

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Polimer. 2.2 Membran

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Polimer. 2.2 Membran 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Polimer Polimer (poly = banyak, meros = bagian) merupakan molekul besar yang terbentuk dari susunan unit ulang kimia yang terikat melalui ikatan kovalen. Unit ulang pada polimer,

Lebih terperinci

Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la

Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la Pengelasan upset, hampir sama dengan pengelasan nyala, hanya saja permukaan kontak disatukan dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga diantara kedua permukaan kontak tersebut tidak terdapat celah. Dalam

Lebih terperinci

MODEL SISTEM DAN ANALISA PENGERING PRODUK MAKANAN

MODEL SISTEM DAN ANALISA PENGERING PRODUK MAKANAN MODEL SISTEM DAN ANALISA PENGERING PRODUK MAKANAN Abstrak Pengeringan adalah sebuah prses dimana kelembaban dari sebuah prduk makanan dikurangi agar rasa, dan bentuk tetap terjaga dengan meningkatnya kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ragam, oleh sebab itu manusia dituntut untuk semakin kreatif dan produktif dalam

BAB I PENDAHULUAN. ragam, oleh sebab itu manusia dituntut untuk semakin kreatif dan produktif dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penerapan teknologi rekayasa material saat ini semakin bervariasi hal ini disebabkan oleh tuntutan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang beraneka ragam, oleh sebab

Lebih terperinci

Karakterisasi Sensor TiO 2 Didoping ZnO untuk Mendeteksi Gas Oksigen

Karakterisasi Sensor TiO 2 Didoping ZnO untuk Mendeteksi Gas Oksigen 122 Karakterisasi Sensor TiO 2 Didoping ZnO untuk Mendeteksi Gas Oksigen Wahyuni Putri*, Elvaswer Jurusan Fisika, Kampus Limau Manis, Universitas Andalas, Padang 25163 *[email protected] ABSTRAK

Lebih terperinci

SISTEM PEMANFAATAN ENERGI SURYA UNTUK PEMANAS AIR DENGAN MENGGUNAKAN KOLEKTOR PALUNGAN. Fatmawati, Maksi Ginting, Walfred Tambunan

SISTEM PEMANFAATAN ENERGI SURYA UNTUK PEMANAS AIR DENGAN MENGGUNAKAN KOLEKTOR PALUNGAN. Fatmawati, Maksi Ginting, Walfred Tambunan SISTEM PEMANFAATAN ENERGI SURYA UNTUK PEMANAS AIR DENGAN MENGGUNAKAN KOLEKTOR PALUNGAN Fatmawati, Maksi Ginting, Walfred Tambunan Mahasiswa Program S1 Fisika Bidang Fisika Energi Jurusan Fisika Fakultas

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN GELAS TRANSPARAN FTO SEBAGAI BAHAN BAKU SEL SURYA

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN GELAS TRANSPARAN FTO SEBAGAI BAHAN BAKU SEL SURYA LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN GELAS TRANSPARAN FTO SEBAGAI BAHAN BAKU SEL SURYA Disusun Oleh: EVALIKA ASTUTI FAUZIAH I 8310031 FITRI NUR PRATIWI I 8310033 PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Turbin gas merupakan suatu penggerak mula yang mengubah energi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Turbin gas merupakan suatu penggerak mula yang mengubah energi BAB II INJAUAN USAKA 2.1. Cara Kerja Instalasi urbin Gas urbin gas merupakan suatu penggerak mula yang mengubah energi ptensial gas menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam Bab IV ini akan dipaparkan hasil penelitian aplikasi multimode fiber

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam Bab IV ini akan dipaparkan hasil penelitian aplikasi multimode fiber BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam Bab IV ini akan dipaparkan hasil penelitian aplikasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu dengan menggunakan probe baja. Terdapat dua hasil penelitian, yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Aliran Udara Kipas terhadap Penyerapan Etilen dan Oksigen Pada ruang penyerapan digunakan kipas yang dihubungkan dengan rangkaian sederhana seperti pada gambar 7.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Skema pressurized water reactor (http://www.world-nuclear.org/, September 2015)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Skema pressurized water reactor (http://www.world-nuclear.org/, September 2015) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aliran multifase merupakan salah satu fenomena penting yang banyak ditemukan dalam kegiatan industri. Kita bisa menemukannya di dalam berbagai bidang industri seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Proses pembangunan disegala bidang selain membawa kemajuan terhadap kehidupan manusia, tetapi juga akan membawa dampak negative bagi lingkungan hidup. Industrialisasi

Lebih terperinci