BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Shinta Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan sejarah diketahui bahwa masyarakat Indonesia sudah menegenal ekonomi yang disebut pasar. Pasar merupakan kegiatan jual-beli itu, biasanya (1) berlokasi yang mudah didatangi dari berbagai arah, (2) berlangsung pada waktuwaktu tertentu, (3) mengutamakan benda keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga. Pada masa yang lebih kemudian, sejalan dengan bertambahnya tuntutan dan perkembangan masyarakat di beberapa tempat terntentu, biasanya di kota-kota besar mulai tumbuh pasar yang melakukan kegiatan di setiap saat. Jika pada masa awal terbentukknya lembaga pasar, kegiatan jual-beli, cenderung merupakan tukarmenukar, pada masa yang kemudian itu menjadi pertukaran antar barang dengan sejumlah uang tertentu, atau uang dengan jumlah barang tertentu. Dengan demikian jika pada masa awal yang terjadi adalah kegiatan antara sesama produsen, setelaah dikenal alat tukar berupa uang, terjadilah kegiatan antara produsen dengan konsumen (Hamilton, 1995). Pada dasarnya juga Pasar tradisional merupakan pasar lokal dari masyarakat yang bersangkutan. Sehingga pasar tradisional sebagai pasar lokal tetap terkait dengan pasar modern. adanya keterkaitan antara pasar lokal dengan pasar modern tidak terlepas dari kemajuan yang sangat pesat dibidang teknologi komunikasi gaya hidup tradisional menjadi gaya hidup nasional bahkan menjadi gaya hidup global. Pasar sebagai suatu pranata ekonomi dan sekaligus cara hidup, suatu gaya umum dari kegiatan ekonomi yang mencapai dari segala aspek. Apa yang
2 dikemukakan Geertz tersebut semakin memperkuat asumsi bahwa pasar bukan semata-mata berfungsi ekonomi, tetapi kegiatan pasar sebagai salah satu cara hidup dapat berfungsi menjadi salah satu simbol prestise bagi aktor pasar (pembeli). Orang yang berbelanja di pasar tradisional dianggap prestise lebih rendah dari orang yang berbelanja di pasar modern. Dengan kata lain ada anggapan bahwa orang yang berbelanja di pasar modern dikatakan lebih modern daripada orang yang berbelanja di pasar tradisional. Jadi pada awalnya pasar tidak terbentuk secara spontan, tetapi menjalani suatu proses yang dilatar-belakangi dengan adanya lembaga kepentingan yang berbeda dari saling membutuhkan baik antara orang perorang maupun antara kelompok orang. Dalam bentuk yang paling sederhana pasar berfungsi sebagai sarana tukar-menukar barang antar sesama pelaku pasar (barter) yang kemudian berkembang terus berkat adanya alat tukar berupa uang, maka terjadilah perkembangan dari tukar-menukar barang menjadi pembayaran dengan uang sebagai alat tukar, perkembangan ke arah terbentuknya pasar sangatlah dilatarbelakangi besar kecilnya kepentingan orangorang yang dalam kenyataannya saling membutuhkan sehingga pada suatu saat sadar atau tidak sadar mereka menunjuk pada suatu lokasi tertentu untuk melaksanakan transaksi jual-beli disinilah pada awalnya terbentuknya pasar. Kemudian pasar juga merupakan salah satu lembaga yang paling penting dalam institusi ekonomi. Pasar merupakan salah satu yang menggerakkan dinamika kehidupan ekonomi. Berfungsinya lembaga pasar sebagai institusi ekonomi yang menggerakkan kehidupan ekonomi tidak terlepas dari aktifitas yang dilakukan oleh pembeli dan pedagang (Damsar, 2002 : 110 ).
3 Dalam bentuk kedinamikaan terhadap kehidupan ekonomi pasar adanya berupa proses tawar-menawar dalam bentuk barang dan jasa yang dilakoni oleh aktoraktor pasar didalamnya. Dalam proses terjadinya pasar adanya tempat pertemuan individu yang meminta faktor maupun barang dan jasa serta individu yang menawarkan faktor maupun barang dan jasa. Disitu terjadi harga pasar dalam proses tawar menawar adanya permintaan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing pihak baik itu dalam bentuk konsumsi, produksi maupun hasil-hasil produk. Pentingnya pasar dapat kita rasakan sendiri seandainya di suatu tempat tidak dijumpai suatu pasar, akan repot misalnya bagi para produsen maka mereka harus mencari sendiri orang atau pihak yang membutuhkan hasil produksinya dari rumah ke rumah atau dari daerah ke daerah dengan demikian pasar memiliki peranan atau fungsi yang sangat penting dalam kegiatan ekonomi masyarakat antara lain. Dimana fungsi tersebut antara lain : 1. Fungsi distribusi dimana pasar sebagai alat distribusi berfungsi mendapatkan jarak antara produsen dan konsumen dalam melakukan transaksi. 2. Fungsi pembentukan harga adalah pasar terjadi tawar-menawar antar penjual dan pembeli sampai pada akhirnya terjadi kesepakatan atau harga pasar setelah mereka sepakat dalam bentuk transaksi jual beli. 3. Fungsi promosi agar produksi yang dihasilkan dapat laku di pasaran langkah yang harus dilakukan adalah dengan menggerakkannya secara luas kepada masyarakat (promosi) dalam pelaksanaannya promosi sangat tepat dilaksanakan di pasar karena setiap hari banyak dikunjungi konsumen.
4 Pada dasarnya juga pasar pada suatu masyarakat ditentukan oleh fungsinya. Adapun yang dimaksud pasar disini adalah; pranata yang mengatur komunikasi dan interaksi pertukaran benda dan jasa ekonomi dan uang; dan hasil transaksi dapat disampaikan pada waktu itu atau pada waktu yang akan datang berdasarkan harga yang ditetapkan. Atau secara singkat dapat disebutkan sebagai pranata dan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar yang berfungsi sebagai tempat pertemuan pembeli dan penjual, bukan hanya menyebabkan terjadi interaksi antar sesama individu, tetapi di lain pihak merupakan pola pertukaran budaya. Oleh karena itu pasar pada masyarakat akan berperan sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan. Sebagai pusat ekonomi pasar melancarkan kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomi. Sedangkan pusat kebudayaan, pasar akan menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya (Wahyono Tejo, 1986 : 1). Dengan demikian fungsi pasar juga sangat penting sebagai tempat saling berinteraksi antara masing-masing pelaku pasar dalam upaya memenuhi kebutuhannya, aktifitas pasar sekaligus akan menggerakkan dinamika kehidupan ekonomi dan melakukan harga pasar yang disepakati oleh masing-masing individu baik sebagai pelaku permintaan maupun sebagai pelaku penawaran. Yang menjadikan adanya pertumbuhan pasar dalam dinamika ekonomi. Disamping itu pasar juga akan melahirkan dinamika kebudayaan berkat pembauran orang-orang dari berbagai ragam budaya misalnya seperti yang terjadi suku Karo yang berhubungan langsung dengan para pedagang yang pada umumnya adalah bersuku batak yang pada akhirnya akan melahirkan pertukaran budaya misalnya pengetahuan budaya masing-masing.
5 Pertumbuhan pasar menekankan bahwa dinamisme ekonomi tergantung tidak hanya pada kehadiran formal modal dan pasar, tetapi juga pada organisasi dan nilai-nilai yang menyebar melalui masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Pasar bebas tidak bebas dalam pengertian bahwa semua hal itu dapat beroperasi tanpa suatu lingkungan sosial yang mendukung. Semuanya tergantung pada prasana hubunganhubungan sipil yang lebih luas yang melaluinya berbagai ketrampilan tersosialisasikan, modal terakumulasi, dan kepercayaan dipertahankan (Putnam dalam Hefner, 2000). Qianhong Fu membagi tiga tingkatan kepercayan (trust) yaitu pada tingkatan individual, hubungan sosial dan pada tingkatan fungsi sosial. Pada tingkatan individual, kepercayan merupakan kekayaan individu yang merupakan variabel personal dan sekaligus karakteristik individu. Pada tingkatan hubungan sosial kepercayan merupakan atribut kolektif untuk mencapai tujuan tujuan kelompok, sedangkan pada tingkatan sistim sosial, kepercayan merupakan nilai berkembang menurut sistem sosial yang ada. (Josua, 2006 : 12 ). Dengan demikian kepercayan atau rasa percaya (mempercayai) adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan saling mendukung, paling tidak dalam pandangan (Fukuyama, 2002). Dalam hal ini berbagai tindakan kolektif yamg didasari atas dasar saling mempercayai yang tinggi akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai ragam bentuk dan dimensi. Terutama dalam konteks membangun kemajuan bersama.
6 Kehancuran rasa saling percaya dalam masyarakat yang kurang memiliki perasaan saling mempercayai akan sulit menghindari dari berbagai situasi kerawanan sosial dan ekonomi uang mengancam. Jika rasa saling mempercayai telah luntur maka yang akan terjadi adalah sikap-sikap yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma yang berlaku. Dalam hubungan sosial yang mendukung terhadap suatu lingkungan kedinamikaan pasar maka akan menimbulkan norma-norma, kepercayaan dan jaringan-jaringan dalam kehidupan ekonomi yang menjadi keunikan pasar. Gambaran tentang organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma, dan jaringanjaringan dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan menyiapkan tindakan yang terkoordinasi; seluruh hal tersebut mewakili suatu modal masyarakat yang sama vitalnya bagi kehidupan ekonomi seperti modal fisik itu sendiri (Hefner, 2000 : 339). Dalam bentuk modal masyarakat bagi kehidupan ekonomi maka adanya bentuk suatu hubungan sosial yang dibarengi dalam proses-proses ekonomi terhadap aktifitas-aktifitas pasar yang dimana dalam kaitannya adanya mekanisme sosial dalam bentuk transaksi, proses tawar-menawar yang pada dasarnya adalah mekanisme ekonomi yang berkaitan pada aspek aspek sosial. Dinamika pasar melalui interaksi dan aktifitas yang dilakukan oleh aktor-aktor pasar baik di tempat pasar (marketplaces) maupun di luar tempat pasar. Menurut Jhonson tempat pasar merupakan suatu area sosial yang digunakan oleh individu-individu untuk mengadakan hubungan sosial. Dapat diartikan bahwa pasar adalah tempat dimana orang sibuk dalam hubungan ekonomi dalam suatu mekanisme sosial. (Badaruddin, 2001 : 41)
7 Harga meningkat karena transaksi di pasaran apabila transaksi selesai dilakukan, maka harga-harga yang ada itu mencerminkan cara maupun persyaratan yang diterima oleh kedua belah pihak. Transaksi-transaksi yang terjadi itu didapat berupa pertukaran beberapa komoditas, seperti bahan pangan atau sarana produksi, yaitu tenaga kerja, modal atau tanah. Harga merupakan bukti yang amat mudah untuk diamati, dan begitu tercatat akan memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan tentang keadaan dibidang ekonomi dan sosial. (Penny 1990 : 33 ) Hal ini dipercontohkan oleh Effendi dalam penelitiannya tentang pasar tradisional Minangkabau menyebutkan bahwa transaksi ekonomi di pasar Minangkabau mencerminkan bentuk-bentuk sosial yang umum dipakai komunitas (community). Ini menunjukkan bahwa aktifitas ekonomi tidak terlepas dari aktifitas sosial (khususnya pada pasar tradisional pedesaan) dalam konteks yang seperti itu meminjam konsep Polanyi telah terjadi keadaan dimana pasar melekat (embeddedness) pada masyarakat setempat. Dalam bentuk komunitas sosial adanya suatu dinamika yang berbentuk aktifitas ekonomi yang dibarengi dari kehidupan sosial yang dilakukan oleh aktor-aktor pasar yaitu distributor, pedagang, dan pengurus pasar. Sistem distribusi Sistem distribusi adalah proses penyebaran hasil produksi kepada konsumen. Hasil produksi dapat berbentuk barang atau benda, dan juga jasa. Sistem distribusi tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan aspek produksi dan aspek konsumsi.
8 Distribusi langsung Bentuk distribusi langsung ini dapat terjadi pada penjualan hasil produksi. Melalui hasil produksi yang ditawarkan kepada konsumen, harga ditetapkan oleh perkembangan situasional. Jadi hasil produksi tidak bersifat mutlak tetapi ada proses tawar-menawar berdasarkan kesepakatan logis yang dapat diterima. Distribusi langsung biasanya terjadi pada satu lingkungan yang saling mengenal antara produsen dan konsumen. Distribusi tidak langsung Sistem distribusi tidak langsung berarti barang atau benda hasil produksi baru sampai ke tangan konsumen melalui perantara. Pendistribusian semacam ini paling banyak terdapat pada barang hasil produksi luar (Azidin, Yustan, 1990 : 84-88). Dalam hasil produksi adanya proses tawar-menawar sebagai bentuk aktifitas transaksi jual-beli yang dilakukan oleh aktor-aktor pasar yang menjadikan sebagai aktifitas kehidupan dinamika sosial dalam komunitas pasar tersebut. Pengertian pasar bukan sekedar menunjuk ke suatu areal fisik dimana terdapat sejumlah balai-balai dengan barang dagangan, atau hanya menunjuk ke suatu perilaku transaksi jual-beli antara pedagang dan pembeli belaka. Pasar menyangkut semua aktivitas ekonomi dan pasar juga menyangkut perbincangan mencapai pranatapranata sosial yang berlaku serta perilakunya terhadap perilaku orang-orang yang terlibat dalam dinamika pasar sehari-hari. Pasar adalah suatu pranata ekonomi dan sekaligus cara hidup, suatu gaya umum kegiatan ekonomi yang mencapai segala aspek kehidupan masyarakat dan suatu dunia sosial yang lengkap dalam dirinya.
9 Proses transaksi adalah aktifitas yang paling lazim dalam kehidupan dinamika pasar tradisional sebagai bentuk dari pranata ekonomi. Proses transaksi yang memiliki nilai hasil transaksi yang sangat kecil pada umumnya barang-barang yang diperjualkan adalah jenis bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga. Dalam pasar tradisional, ciri pertama yang mudah diamati adalah adanya bentuk transaksi antara orang-perorangan dengan volume jual yang sangat kecil, tetapi banyak terpecahpecah tanpa satu sama lain dikaitkan dalam satu manajemen atau organisasi bersama barang-barang yang diperjualbelikan dalam pasar tradisional. Umumnya terdiri dari jenis bahan pangan atau kebutuhan konsumsi rumah tangga sehari-hari seperti sayursayuran dan buah-buahan. Barang-barang itu umumnya mudah dibawa dan tidak berumur panjang baik dari segi ketahanan kualitasnya. Berbeda dengan bentuk perekonomian firma yang terorganisasi impersonal memiliki manajemen dan tujuan yang jelas serta target atau sasaran yang pasti. Di pasar tradisional biasanya para pedagang tidak mempunyai target dan tujuan yang jelas, akibat tingkat pendidikan yang relatif rendah bukan rahasia lagi jika hampir semua pedagang dalam kegiatan berjual-beli dalam pasar tradisional ini lebih banyak mengandalkan kekuatan ingatan daripada catatan-catatan pembukuan. Berbeda dengan sistem pengelolaan pasar atau sektor perekonomian formal yang terorganisasi rapi dengan sistem pembukuan yang rinci. Dalam proses aktifitas pasar tradisional yang dimana tidak adanya proses pembukuan yang tidak formal dan proses jual-beli hanya didasarkan pada proses bertemu antara penjual dan pembeli untuk melakukan proses jual-beli barang.
10 Secara umum kehadiran pasar lazim dibagi menjadi dua, yang pertama yaitu pasar niskala yakni pasar yang abstrak bilamana barang yang diperdagangkan tidak sampai ke pasar, dan proses jual-beli hanya didasarkan pada contoh barang saja. Kedua pasar nyata yakni proses jual-belinya terjadi secara langsung dimana penjual dan pembeli bertemu dalam suatu tempat untuk melakukan proses tukar-menukar atau berjual-beli barang dagangan (Tohir dalam Badaruddin : 1988). Dalam kegiatan proses perdagangan yang didalamnya adanya tawar-menawar baik langsung melalui pasar maupun tidak langsung ke pasar dan aktifitas yang dilakukan biasanya mencakup wilayah yang luas untuk menghubungkan kegiatan produksi barang untuk dikonsumsi oleh masyarakat seperti pendistribusian barang antara wilayah yang berbeda. Kegiatan perdagangan dalam kehidupan sehari-hari tidak saja berfungsi menghubungkan kegiatan produksi barang-barang dengan kegiatan konsumsi masyarakat/konsumen di sekitarnya. Lebih jauh kegiatan perdagangan juga berfungsi memindahkan barang dan jasa dari desa ke kota dan dari kota ke desa, atau antar wilayah desa/kota itu sendiri. Mata rantai seperti itu membutuhkan banyak tenaga kerja yang terserap di dalamnya semakin besar, dengan istilah pasar perekonomian atau bazaar. Begitu barang tersebut sudah sampai ke pasar, berlalu dari pedagang yang satu ke pedagang lain sampai benar-benar jatuh ke tangan masyarakat yang mengkonsumsinya. Jadi tidak mengherankan jika pasar memiliki daya yang involutif menyerap tenaga kerja. Dalam konteks pasar ekonomi menurut Swedberg satu pasar jaringan penting dari jaringan kerja ini tidak hanya menentukan bagi operasi pasar, tetapi juga untuk membentuk jalinan antar aktor pasar dengan komunitas lokal. Dimana beroperasinya
11 pasar tergantung pada jaringan kerja sosial yang ada, yang lebih luas dari pasar itu sendiri. Hal ini selain apa yang dikemukakan Polanyi dan Granovetter. Hubunganhubungan sosial antar pasar dan komunitas yang lebih luas terinfeksi dari keterlekatan sistem ekonomi dengan sistem sosial. Ini berarti bahwa pola-pola hubungan sosial antar aktor pasar itu selalu berhubungan dengan pola-pola kegiatan sosial dari komunitas secara umum. Pasar salah satu unsur ekonomi bahkan disebut sebagai jantungnya ekonomi Pada awalnya pasar hanya dipahami sebagai ruang (tempat) terjadinya transakasi ekonomi. Namun dalam perkembangannya pasar juga dipahami sebagai ruang sosial, ruang budaya dan ruang politik. Hal ini dilihat dari sejarah suatu masyarakat tanpa pasar hingga ke suatu masyarakat yang berorientasi pasar. (Badaruddin, 2001 : 35). Dalam bentuk pola hubungan sosial terhadap aktor-aktor pasar pada orientasi dibarengi terhadap kehidupan sistim ekonomi sehingga adanya keseimbangan dalam kedinamikaan kehidupan pasar yang dimana para aktor-aktor pasar saling berhubungan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pasar tersebut. Menurut Dewey mengemukakan pasar sebagai tempat pengumpul usaha tani dan sebagai tempat pembagian barang tempat konsumsi lokal. Sebagaimana telah disebutkan pada terdapat banyak aktor-aktor pasar yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu sama lain yang membuat pasar memiliki dinamikanya sendiri (Dewey dalam Badaruddin, 1998 : 306). Bagi masyarakat pedesaan pasar tradisional merupakan pusat penjualan bagi hasil pertanian dan menjadi pusat perbelanjaan bagi orang yang tinggal di sekitar pasar dan tempat-tempat lain, yang mungkin masih dapat terjangkau. Sangat
12 tergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana transportasi ke lokasi pasar tersedia. Dan jika sarana memadai maka orang yang bertempat tinggal jauh dari pasar masih dapat datang ke pasar. Hasil-hasil pertanian untuk kebutuhan sehari-hari merupakan komoditi yang paling banyak diperjualbelikan di pasar tradisional pedesaan walaupun tidak menutup kemungkinan ditemukannya jenis barang lainnya yang bersifat tahan lama seperti perabot rumah tangga dan bahan material untuk bangunan rumah, hal ini sangat tergantung pada besar kecilnya pasar tradisional pedesaan tersebut. Sebagai pusat arus dan jasa, pasar tradisional juga menjadi sentra pertumbuhan ekonomi pertanian setiap desa yang biasanya memiliki kekhasan produksi pertanian tertentu tetapi tidak memiliki komoditi lain yang mereka butuhkan yang tidak tersedia di desa. Biasanya pedagang mendatangkannya dari desa yang jauh sehingga kebutuhan akan komoditi tersebut terpenuhi. Sebagai rangkaian mekanisme ekonomi untuk memelihara dan mengatur arus barang dan jasa pasar tradisional pedesaan merupakan pencipta harga yang efektif karena disini akan terjadi proses tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Harga yang tercipta merupakan rujukan bagi para petani dalam menjual hasil pertanian mereka kepada para pedagang ataupun kepada pedagang perantara (tengkulak). Proses tawar-menawar tersebut, pedagang memiliki posisi tawar yang lebih kuat dari para pembeli (konsumen). Namun pasar dapat memberi informasi tentang harga yang lebih mendekati harga standar. Pedagang dalam suatu lokasi pasar adalah orang-orang yang menjual barangbarangnya secara langsung kepada para konsumen (pembeli), dan pedagang
13 walaupun terkadang pembeli langsung kepada petani untuk dijual kembali kepada para konsumen. Dalam suatu lokasi pasar terdapat berbagai pedagang (Majid dalam Badaruddin, 1988 : 318). Sesuai dengan komoditi apa yang dijualnya sehingga ada pedagang yang disebut sebagai pedagang kelontong, pedagang tembakau, pedagang pecah-belah, pedagang kain, pedagang makanan dan sebagainya. Pedagang memiliki peran sentral khususnya dalam penyediaan kebutuhan sehari-hari masyarakat pada pasar harian dan mingguan. Berhasil tidaknya pedagang pasar tradisional pedesaan juga sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya produksi pertanian setempat yang diikuti pula dengan harga yang baik. Produksi pertanian yang melimpah saja bukan jaminan bagi petani untuk pendapatan yang baik (meningkat), apabila tidak diikuti oleh harga jual yang baik. Bahkan sering terjadi dengan melimpah ruahnya hasil pertanian menyebabkan harga menjadi anjlok sehingga merugikan petani. Dalam keadaan hasil pertanian melimpah ruah pada tengkulak akan menekan harga serendah-rendahnya sehingga pendapatan petani semakin menurun. Dalam keadaan seperti itu, menurut Effendi daya beli konsumen (petani) terhadap barang-barang yang dijual para pedagang akan menurun. Dalam proses tawar-menawar pedagang yang memiliki hasil produksi pertanian yang didapat dari petani yang diperjual-belikan terhadap konsumen akan mencari keuntungan dari bentuk rasionalitas dari pengorbanan yang telah dia lakukan untuk mendapatkan hasil-hasil produksi dan konsumen akan menawar sesuai dengan proses pertimbangan yang diinginkan terhadap kualitas produk yang akan dibeli. Sehingga kehidupan proses tawar-menawar antar pedagang dan konsumen akan
14 melakukan tindakan-tindakan sosial seperti pilihan rasionalitas meliputi pilihan dan pertimbangan untuk melakukan kegiatan transaksi. Dalam hal ini Weber (1986 : 220) mengemukakan konsep rasionalitas yang merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengatasi tindakan-tindakan sosial (social action). Tingkat rasionalitas yang paling tinggi menurut Weber meliputi pertimbangan dan pilihan sadar berhubungan dengan tujuan tindakan itu yang digunakan untuk mencapainya. Individu dilihat sebagai sosok yang memiliki bermacam tujuan yang diinginkannya atas suatu kriteria tertentu. Menentukan suatu pilihan diantara tujuan-tujuan yang saling bersaingan itu individu lalu menilai alat yang mungkin dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dipilih tadi. Selanjutnya Weber menjelaskan tindakan diarahkan secara rasional ke suatu sistem dari tujuan-tujuan individu yang memiliki sifat-sifatnya sendiri apabila tujuan itu alat dari akibat-akibat sekundernya diperhitungkan dan dipertimbangkan semuanya secara rasional. Hal ini mencakup pertimbangan rasional atas alat alternative untuk mencapai tujuan itu. Pertimbangan mengenai hubungan-hubungan tujuan itu dengan hasil yang mungkin dari alat pengetahuan tertentu dan mungkin perbandingan tujuan yang mungkin relatif berbeda. Apabila yang digunakan Weber tersebut kita kaitkan dengan konteks pasar tradisional pedesaan maka tindakan ekonomi dalam sistem pasar yang bersifat impersonal merupakan bentuk dasar rasional instrumental. Rasionalitas instrumental yang menjadi landasan tindakan ekonomi merupakan bentuk yang dilembagakan. Menurut Grannovetter pergeseran tindakan ekonomi dan hasrat maksimalisasi bukan
15 bersifat individu tetapi dilembagakan secara rasional hal ini menunjukkan bahwa kepentingan individu merupakan kepentingan yang dikontsruksikan secara rasional. Dalam konteks seperti ini ekonomi tidak lagi dipandang sebagai anti formal, melainkan telah berubah menjadi arti substansif (Badaruddin, 2001 : 13).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan pertanian di Indonesia selama ini telah dititikberatkan pada peningkatan produksi pertanian. Namun dalam upaya peningkatan ini, terlihat tidak
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa dipisahkan dari komunitas lingkungan di sekitarnya. Manusia dikatakan makhluk sosial karena manusia hidup secara berkelompok
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. 1. Modal Sosial Konsep modal sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan. Dengan membagun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, setiap individu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. individual sendiri tetapi juga mencakup perilaku ekonomi yang lebih luas, seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keterlekatan Keterlekatan menurut Granovetter, merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk. mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Teori UKM Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah ilmiah, saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Jaringan Sosial Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubunganhubungan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. terdapat suatu aturan yang sudah disepakati dalam masyarakat tersebut. Salah satu
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Moral Ekonomi Pedagang Kehidupan masyarakat akan teratur, baik, dan tertata dengan benar bila terdapat suatu aturan yang sudah disepakati dalam masyarakat tersebut. Salah satu
PENERAPAN PENDEKATAN EKOLOGI TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN PASAR UJUNG BERUNG KOTA BANDUNG 1
PENERAPAN PENDEKATAN EKOLOGI TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN PASAR UJUNG BERUNG KOTA BANDUNG 1 Oleh Anwar Rinjani, Alpa Laeli, Lusy Beliana S, M. Denis Juliansyah, Ulpah Mardiani dan Wilda Yustiadini 2 ABSTRAK
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Proses alih fungsi lahan dapat dipandang sebagai suatu bentuk konsekuensi logis dari adanya pertumbuhan dan transformasi serta perubahan struktur sosial ekonomi
I. PENDAHULUAN. di Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat tani pekebun,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karet merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat tani pekebun, komoditas ini juga memberikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Modal sosial atau social capital merupakan satu terminologi baru yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Modal sosial Modal sosial atau social capital merupakan satu terminologi baru yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosial untuk memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat dan komunitas.
BAB I PENDAHULUAN. bentuk tempat dan cara pengelolaannya, dari yang bersifat tradisional menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Definisi pasar secara sederhana yaitu tempat bertemunya penjual dan pembeli secara langsung. Pasar bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman. Seiring dengan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini berpengaruh terhadap
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini berpengaruh terhadap perubahan pada dunia bisnis modern. Perubahan tersebut ditandai dengan berkembangnya pola pikir
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada hakekatnya tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan kesejahteraan antar kelompok masyarakat dan wilayah. Namun
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat Indonesia selain sebagai muara dari produk-produk rakyat, pasar juga berfungsi sebagai tempat
6 KESIMPULAN DAN SARAN
6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil studi yang dilakukan pada dua komunitas yaitu komunitas Suku Bajo Mola, dan Suku Bajo Mantigola, menunjukkan telah terjadi perubahan sosial, sebagai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Setiap usaha di sektor informal dituntut memiliki daya adaptasi yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap usaha di sektor informal dituntut memiliki daya adaptasi yang tinggi secara tepat dan usaha antisipasi perkembangan dalam lingkungan usaha agar sektor informal
BAB II TEORI TINDAKAN SOSIAL-MAX WEBER. Setiap manusia mempunyai naluri untuk berinteraksi dengan
BAB II TEORI TINDAKAN SOSIAL-MAX WEBER Manusia merupakan anggota masyarakat yang akan senantiasa berusaha agar selalu bisa bergaul dengan sesama. Sehingga setiap individu akan bertindak dan berusaha untuk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bisnis pasar modern sudah cukup lama memasuki industri retail Indonesia dan dengan cepat memperluas wilayahnya sampai ke pelosok daerah. Bagi sebagian konsumen pasar
BAB II LANDASAN TEORITIS. Pengertian pasar telah banyak didefinisikan oleh ahli-ahli ekonomi. Pasar
BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1 Teori Pemasaran Pengertian pasar telah banyak didefinisikan oleh ahli-ahli ekonomi. Pasar adalah himpunan semua pelanggan potensial yang sama-sama mempunyai kebutuhan atau
TINJAUAN PUSTAKA. mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya; Pasar Tradisional adalah
TINJAUAN PUSTAKA Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan
RESEARCH. Ricky Herdiyansyah SP, MSc. Ricky Sp., MSi/Pemasaran Agribisnis. rikky Herdiyansyah SP., MSi. Dasar-dasar Bisnis DIII
RESEARCH BY Ricky Herdiyansyah SP, MSc Ricky Herdiyansyah SP., MSc rikky Herdiyansyah SP., MSi. Dasar-dasar Bisnis DIII PEMASARAN : Aliran produk secara fisis dan ekonomik dari produsen melalui pedagang
BAB I PENDAHULUAN. (Tjokroaminoto dan Mustopadidjaya, 1986:1). Pembangunan ekonomi dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses perubahan sosial budaya. Pembangunan agar menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri (self sustaining process)
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Komoditi Kubis 2.2. Sistem Tataniaga dan Efisiensi Tataniaga
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Komoditi Kubis Kubis juga disebut kol dibeberapa daerah. Kubis merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan pada sektor agribisnis yang dapat memberikan sumbangan
PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN
1 PERILAKU EKONOMI Disampaikan dalam Siaran Langsung Interaktif TV Edukasi 27 JUNI 2010 oleh : Dr. Siti Nurjanah, SE, M.Si DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa negara Indonesia adalah negara agraris yang harus melibatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Tanaman kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang sangat cocok ditanam didaerah tropis
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. 1. Pasar dan Pemasaran Pasar secara sederhana dapat diartikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk bertukar barang-barang mereka. Pasar merupakan suatu yang sangat
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan bagian integral dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat
Keterlekatan (embeddesness)
Keterlekatan (embeddesness) Konsep Keterlekatan Konsep Keterlekatan Karl Polanyi Pasar dibatasi oleh aturan yang terhubung dengan moral masyarakat Mark Granoveter Ekonomi terhubung oleh aktor yang membentuk
Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN. dunia usaha ke persaingan yang sangat ketat untuk memperebutkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia usaha saat ini telah membawa para pelaku dunia usaha ke persaingan yang sangat ketat untuk memperebutkan konsumen. Berbagai pendekatan dilakukan
PENDAHULUAN. peranan penting dalam rangkaian pemasaran dan merupakan penghubung atau
PENDAHULUAN Latar Belakang Bisnis eceran merupakan bagian dari saluran distribusi yang memegang peranan penting dalam rangkaian pemasaran dan merupakan penghubung atau perantara antara konsumen dam produsen.
PRINSIP DASAR MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL DI MASYARAKAT
INTERAKSI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL PRINSIP DASAR MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL DI MASYARAKAT 1. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial 2. Manusia berada di dalam sistem
BAB I PENDAHULUAN. dorongan-dorongan alamiah yang dimiliki setiap manusia semenjak dilahirkan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan kebutuhan, baik kebutuhan material maupun spiritual. Kebutuhan itu bersumber dari dorongan-dorongan
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan berkelanjutan menjadi isu penting dalam menanggapi proses. yang strategis baik secara ekonomi maupun sosial politis.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya pengembangan usaha mikro sangat relevan dan sejalan dengan arus pemikiran global yang sedang berkembang saat ini. Pembangunan berkelanjutan dapat dilaksanakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alam Indonesia mempunyai kekayaan pertanian yang berlimpah, baik jenis maupun macamnya. Salah satu hasil pertaniannya adalah buah-buahan. Komoditi hortikultura khususnya
DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI UMKM DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2016
PROPOSAL PEMBANGUNAN PASAR RAKYAT AIR TIBA II DISTRIK KAIMANA KABUPATEN KAIMANA MELALUI DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) SUB BIDANG SARANA PERDAGANGAN TAHUN ANGGARAN 2017 DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pedesaan sebagai bagian dari pembangunan nasional memfokuskan diri pada masalah kemiskinan di pedesaan. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2006
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk memuaskan kebutuhan konsumen atau pelanggannya akan barang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern. Berbagai jenis pasar di Indonesia diantaranya pasar
BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan berbagai variasi barang dan jasa yang dapat dikonsumsi 1. Di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hukum perlindungan konsumen merupakan masalah yang menarik dan menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peraturan perundang-undangan yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA. modal yang dimiliki melalui kegiatan tertentu yang dipilih. Suharto (2009:29)
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Strategi Bertahan Strategi bertahan hidup menarik untuk diteliti sebagai suatu pemahaman bagaimana rumah tangga mengelola dan memanfaatkan aset sumber daya dan modal yang dimiliki
JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 1 Maret 2014 ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU. Toti Indrawati dan Indri Yovita
ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU Toti Indrawati dan Indri Yovita Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km
dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS. Usaha
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis 3.1.1 Manajemen Usaha Ternak Saragih (1998) menyatakan susu merupakan produk asal ternak yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan yang ada didalamnya
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Pasar dalam pengertian teori ekonomi adalah suatu situasi dimana pembeli (konsumen) dan penjual (produsen dan pedagang) melakukan
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian oleh masyarakat dan otoritas moneter. Maka dari itu apabila
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang merupakan bagian yang penting bagi kehidupan kita dalam kegiatan sehari hari. Bahkan ada yang berpendapat bahwa uang merupakan darah dalam sebuah perekonomian.
BAB II KAJIAN PUSTAKA. bentuk informal. Hubungan sosial adalah gambaran atau cerminan dari kerjasama
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Jaringan Sosial Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang terus berupaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang terus berupaya meningkatkan pembangunan ekonomi untuk mewujudkan masyarakat demokratis yang berkeadilan dan sejahtera.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Pola Distribusi Pemasaran Cabai Distribusi adalah penyampaian aliran barang dari produsen ke konsumen atau semua usaha yang mencakup kegiatan arus barang
BAB I PENDAHULUAN. Kota Medan adalah ibukota Provinsi Sumatera Utara sekaligus kota
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Medan adalah ibukota Provinsi Sumatera Utara sekaligus kota terbesar di Pulau Sumatera. Karena letak kota Medan yang strategis dilintasi oleh jalan raya
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN H. ISKANDAR ANDI NUHUNG Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian ABSTRAK Sesuai
BAB I PENDAHULUAN. informal ini menunjukan bukti adanya keterpisahan secara sistemis-empiris antara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Integritas Bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan era globalisasi. Berbagai macam budaya global yang masuk melalui beragam media komunikasi dan informasi. Dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akhir-akhir ini pembahasan tentang agribisnis (agribusiness) telah berkembang sedemikian rupa sehingga menarik perhatian banyak orang, baik dari kalangan yang biasa
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Hewan Desa Suka Kecamatan. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang bersifat
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Hewan Desa Suka Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 sampai April 2017.
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. ilmu tersendiri yang mempunyai manfaat yang besar dan berarti dalam proses
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Pembangunan Pertanian Dalam memacu pertumbuhan ekonomi sektor pertanian disebutkan sebagai prasyarat bagi pengembangan dan pertumbuhan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian diartikan sebagai rangkaian berbagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, memantapkan
Kebutuhan. Keinginan. Pasar. Hubungan. Permintaan. Transaksi. Produk. Nilai & Kepuasan. Pertukaran
Kebutuhan Pasar Keinginan Hubungan Permintaan Transaksi Produk Pertukaran Nilai & Kepuasan Memaksimumkan konsumsi Memaksimumkan utilitas (kepuasan) konsumsi Memaksimumkan pilihan Memaksimumkan mutu hidup
BAB II KERANGKA TEORI. tindakan pada kurun waktu tertentu, oleh suatu kelompok tertentu atau keseluruhan
BAB II KERANGKA TEORI 2.1. Strategi Adaptasi Smith 1986, mengemukakan konsep strategi adaptasi mengarah pada rencana tindakan pada kurun waktu tertentu, oleh suatu kelompok tertentu atau keseluruhan manusia
AUDIT ORGANISASI PEMASARAN
AUDIT ORGANISASI PEMASARAN Pemasaran pada dasarnya adalah keseluruhan dari perusahaan karena pemenuhan kepuasan pelanggan adalah tanggung jawab keseluruhan bagian atau fungsi yang terdapat di perusahaan.konsep
II. LANDASAN TEORI. pertukaran peroduksi yang bernilai satu sama lain. berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, baik manusia secara individual,
13 II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Kotler dan Amstrong (2008 : 7) Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Tataniaga Menurut Hanafiah dan Saefudin (2006), istilah tataniaga dan pemasaran merupakan terjemahan dari marketing, selanjutnya tataniaga
KETERKAITAN JENIS SUMBERDAYA LAHAN DENGAN BESAR DAN JENIS PENGELUARAN RUMAH TANGGA DI PEDESAAN LAMPUNG
KETERKAITAN JENIS SUMBERDAYA LAHAN DENGAN BESAR DAN JENIS PENGELUARAN RUMAH TANGGA DI PEDESAAN LAMPUNG Aladin Nasution*) Abstrak Secara umum tingkat pendapatan dapat mempengaruhi pola konsumsi suatu rumah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diversifikasi pekerjaan. Diversifikasi pekerjaan ini lebih diarahkan tidak untuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Mekanisme Survival Sekecil apapun perubahan kondisi ekonomi makro, baik disebabkan oleh kebijakan pemerintah maupun mekanisme pasar, sangat berpengaruh terhadap kelompok
perubahan pada pola konsumsi obat yang terbuat dari bahan alami, dalam merawat kesehatannya masyarakat dunia banyak yang memanfaatkan obat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kecenderungan masyarakat dunia untuk kembali ke alam membawa perubahan pada pola konsumsi obat yang terbuat dari bahan alami, dalam merawat kesehatannya masyarakat dunia
BAB II URAIAN TEORITIS. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dewi (2006) dengan judul
BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dewi (2006) dengan judul Pengaruh Saluran Distribusi Terhadap Peningkatan Volume Penjualan Produk Pocari Sweat pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Pemasaran 2.1.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran sering diartikan oleh banyak orang sebagai kegiatan atau aktivitas dalam menjual beli barang di pasaran. Sebenarnya
DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG
DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG Bangsa Indonesia yang merupakan negara kepulauan, memiliki beraneka ragam suku bangsa dan budaya. Masing-masing budaya memiliki adat-istiadat, kebiasaan, nilai-nilai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian. Teori-teori tersebut berkaitan dengan penjualan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab II menjelaskan teori-teori mengenai konsep penjualan sebagai landasan penelitian. Teori-teori tersebut berkaitan dengan penjualan. A. Pengertian Penjualan Definisi menjual menurut
BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat dipungkiri. Selama ini masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari saling ketergantungan antar makhluk hidup untuk selalu berkembang dan bertahan hidup.
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tiga desa di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur yaitu Desa Ciherang, Cipendawa, dan Sukatani. Pemilihan lokasi dilakukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Transaksi perdagangan selalu melibatkan dua pihak yaitu pihak pembeli sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Potongan Penjualan a. Pengertian Potongan Penjualan Transaksi perdagangan selalu melibatkan dua pihak yaitu pihak pembeli sebagai pihak penerima barang dan
Pilihan Strategi dalam Mencapai Tujuan Berdagang
Bab Dua Kajian Pustaka Pengantar Pada bab ini akan dibicarakan beberapa konsep teoritis yang berhubungan dengan persoalan penelitian tentang fenomena kegiatan ekonomi pedagang mama-mama asli Papua pada
ANALISIS FENOMENA YANG TERJADI PADA KUALITAS PELAYANAN SWALAYAN (Studi Kasus Swalayan Di Lhokseumawe)
Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 7, No. 1 Januari 2005 ANALISIS FENOMENA YANG TERJADI PADA KUALITAS PELAYANAN SWALAYAN (Studi Kasus Swalayan Di Lhokseumawe) Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik
BAB I PENDAHULUAN. Semakin maju perkembangan teknologi, semakin marak pula
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Semakin maju perkembangan teknologi, semakin marak pula keanekaragaman produk yang dihasilkan. Produk dengan jenis, kemasan, manfaat, rasa, dan tampilan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Pada umumnya para remaja sekarang senang berbelanja tertutama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pada umumnya para remaja sekarang senang berbelanja tertutama pada mahasiswa, semakin berkembangnya social media maka banyak yang membuka usaha di social media contohnya
BAB I PENDAHULUAN. melatih personel-personel jasa yang terampil, berpengetahuan dan menarik. Namun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Secara umum, organisasi bisnis mempunyai perhatian besar pada kepuasan konsumen, banyak memfokuskan pada masalah bagaimana mempekerjakan dan melatih personel-personel
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Dengan demikian, sebagian besar
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pada mulanya belanja merupakan suatu konsep yang menunjukan sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan sehari-hari dengan cara menukarkan sejumlah uang untuk
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dengan melihat karakteristik Kabupaten Garut bagian selatan dapat dilihat bagaimana sifat ketertinggalan memang melekat pada wilayah ini. Wilayah Garut bagian selatan sesuai
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Definisi Pedagang Karakteristik pedagang adalah pola tingkah laku dari pedagang yang menyesuaikan dengan struktur pasar dimana pedagang
I. PENDAHULUAN. Persentase Produk Domestik Bruto Pertanian (%) * 2009** Lapangan Usaha
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat potensial dalam pembangunan sektor pertanian adalah hortikultura. Seperti yang tersaji pada Tabel 1, dimana hortikultura yang termasuk
WAWASAN BARTER DALAM PENDIDIKAN EKONOMI
WAWASAN BARTER DALAM PENDIDIKAN EKONOMI Vinsensius Nurak Program Studi Pendidikan Ekonomi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang [email protected] Abstrak Wawasan merupakan pengetahuan tentang
RINGKASAN DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN PASURUAN TAHUN
RINGKASAN DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2005-2025 VISI : Kabupaten Pasuruan yang Agamis, Berdaya Saing, Mandiri, dan Sejahtera MISI : 1. Penerapan nilai-nilai
PERUBAHAN DIGITAL dan LINGKUNGAN BISNIS. Pertemuan 2
PERUBAHAN DIGITAL dan LINGKUNGAN BISNIS Pertemuan 2 KONSEP DASAR BISNIS BISNIS Penyediaan barang dan jasa dengan tujuan perolehan laba. EVOLUSI KEGIATAN EKONOMI Pemenuhan Kebutuhan Sendiri Barter Menggunakan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi yang penting dalam mendongkrak pendapatan di sektor usaha atau pendapatan daerah. Dunia pariwisata saat ini sudah mengalami
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada zaman modern ini perkembangan industri musik sangat pesat, khususnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada zaman modern ini perkembangan industri musik sangat pesat, khususnya di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa industri musik dapat memberikan pengaruh
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi komoditas pangan yang dapat mempengaruhi kebijakan politik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beras merupakan makanan pokok di Indonesia. Beras bagi masyarakat Indonesia menjadi komoditas pangan yang dapat mempengaruhi kebijakan politik di negara ini. Gejolak
Jenis Sistem Ekonomi
Jenis Sistem Ekonomi 1. Sistem Ekonomi Pasar Perekonomian yang kegiatannya dikendalikan sepenuhnya oleh interaksi anatar pembeli dan penjual di pasar 2. Sistem Ekonomi Campuran Sistem Ekonomi pasar yang
