5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
|
|
|
- Ridwan Susanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 83 5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN Pada bab Pendahuluan telah dijelaskan bahwa peneleitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengambilan keputusan untuk bekerja pada penderita SLE lakilaki. Berdasarkan tujuan tersebut, maka dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan hasil penelitian, diskusi, dan saran untuk penelitian selanjutnya Kesimpulan Berdasarkan analisis hasil pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 1. Proses Pengambilan Keputusan Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Janis (dalam Janis dan Mann, 1977), terdapat lima tahap yang harus dilalui untuk mencapai suatu keputusan yang stabil. Pada ketiga partisipan, hanya satu partisipan yang melewati kelima tahapan ini, tetapi kedua partisipan lainnya hanya melewati tahap 1 sampai tahap 4. Tahap 1: Mengenali Tantangan Ketiga partisipan menyadari dampak penyakit lupus ini terhadap tubuh mereka yang juga berdampak pada pekerjaan yang mereka lakukan. Ketiga partisipan memiliki kendala yang sama yaitu menurunnya kondisi fisik yang menyebabkan mereka lekas lelah dalam melakukan pekerjaan. Walaupun begitu, ketiga partisipan tidak merasakan dampak penyakit ini terhadap kinerja mereka. Tahap 2: Mencari Alternatif Ketiga partisipan mencari informasi mengenai lupus dari berbagai sumber yaitu dokter, YLI, dan berbagai media, seperti televisi, majalah, koran dan internet. Satu dari tiga partisipan mendapatkan informasi dari adiknya yang juga menderita lupus. Dari informasi tersebut, ketiga partisipan dapat mengatasi kendala yang mereka hadapi dengan cara yang berbeda-beda yaitu makan makanan bergizi dan olahraga, mengatur waktu istirahat, mengatur jam kerja, minum obat secara teratur dan menjaga makanan. 83
2 84 Tahap 3: Mempertimbangkan Alternatif Berkaitan dengan kondisi tubuh akibat dari penyakit lupus ini, ketiga partisipan mencari alternatif pekerjaan lain yang sesuai dengan kondisi tubuh mereka. Terdapat kesamaan alternatif pada ketiga partisipan, yaitu membuka usaha sendiri. Dengan membuka usaha sendiri, mereka dapat bekerja lebih santai dan hal tersebut sesuai dengan kondisi mereka yang lekas lelah. Kedua partisipan mempertimbangkan kerugian yang sama yaitu tidak menentunya pendapatan yang mereka peroleh dengan membuka usaha sendiri. Namun, satu dari tiga partisipan lebih mempertimbangkan kejenuhan pekerjaan jika hanya membuka usaha. Selain membuka usaha sendiri terdapat beberapa alternatif lain yaitu pindah tempat kerja, berhenti bekerja, tidak bekerja dan menjadi pegawai negeri. Ketiga partisipan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari setiap alternatif sebelum menetapkan komitmen. Tahap 4: Mempertimbangkan Komitmen Ketiga partisipan menetapkan komitmen untuk tetap bekerja pada pekerjaan mereka semula. Satu dari tiga partisipan yang tidak memiliki pekerjaan ketika didiagnosis lupus, memilih alternatif menjadi pegawai negeri dan membuka usaha sendiri. Dua dari tiga partisipan memberitahu keputusan ini kepada istri dan orang tua, salah satu partisipan juga memberitahukan mertuanya. Satu partisipan lainnya hanya berdiskusi dengan istrinya dan tidak memberitahu orang lain. Tahap 5: Menjalani Keputusan Walaupun Ada Umpan Balik Negatif Satu dari tiga partisipan melewati tahap ini, sedangkan dua partisipan lainnya tidak mendapat umpan balik negatif dan semua orang mendukung keputusannya. Satu partisipan ini mendapat umpan balik negatif dari rekan-rekan kerjanya yang menyarankannya untuk berhenti kerja karena kondisi fisiknya yang sakit akibat lupus. Walaupun demikian, ia menanggapinya dengan terbuka dan tidak mempedulikannya, sehingga ia tetap menjalankan keputusannya untuk bekerja. 2. Faktor-Faktor yang berperan dalam pengambilan keputusan untuk bekerja Dari ketiga faktor yang berperan dalam pengambilan keputusan untuk bekerja pada penderita SLE ini, faktor circumstances dan preference merupakan faktor yang
3 85 paling berpengaruh daripada dua faktor lainnya yaitu belief dan action. Pada faktor preference, ketiga partisipan memiliki tujuan yang sama yaitu menghidupi kehidupan keluarga mereka. Selain itu, untuk membiayai pendidikan anak, mendapatkan status dan tempat berprestasi. Pada faktor circumstances, dukungan dari orang-orang terdekat seperti orang tua, istri, anak, dan keluarga membuat ketiga partisipan semakin termotivasi dan semangat dalam melakukan pekerjaannya. Pada faktor belief, bekerja pada ketiga partisipan merupakan hal yang penting. Dengan bekerja, akan mendapatkan respek dari keluarga, mewujudkan cita-cita, mendapatkan satusatunya penghasilan, dan bekerja memiliki arti yang sama dengan hidupnya. Pada faktor action, ketiga partisipan berinteraksi aktif dengan lingkungan dalam pengambilan keputusan ini. Mereka mencari informasi dari berbagai sumber, mencari alternatif pekerjaan yang sesuai dengan kondisi mereka, berdiskusi dengan orangorang terdekat mengenai alternatif-alternatif yang ada dan mengambil keputusan untuk tetap bekerja Diskusi Berdasakan analisis pada bab sebelumnya, terdapat beberapa diskusi dalam penelitian ini. Pada hasil penelitian ini terlihat bahwa faktor circumstances yaitu orang-orang terdekat, merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya baik dalam menghadapi penyakit lupus maupun dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa dukungan sosial adalah faktor yang penting dalam mempertahankan kesehatan (Berkman & Syme, 1979; Wiley & Camacho, 1980 dalam Brannon & Feist, 1997), dan keluarga adalah sumber utama dari dukungan sosial untuk kebanyakan orang. Sejalan dengan itu, Orford (1992, dalam Taylor, 2006) berpendapat bahwa sumber dukungan yang terbesar datangnya dari orang yang berarti (significant others) dan memiliki kedekatan emosional misalnya pasangan jika sudah menikah, pacar atau sahabat maupun rekan kerja dan atasan. Pada ketiga partisipan penelitian ini dapat terlihat bahwa dukungan dari orang-orang terdekat, terutama keluarga yaitu istri, anak dan orang tua, merupakan sumber dukungan yang membuat partisipan semakin semangat dalam menjalankan
4 86 penyakit lupus yang mereka derita dan semakin termotivasi dalam melakukan pekerjaannya. Menurut Kasjmir (2006), keterbatasan fisik pada penderita SLE dapat menyebabkan berkurangnya aktivitas penderita dalam jangka waktu lama, kehilangan kemampuan dan kepercayaan diri karena mudah lelah, menurunnya konsentrasi, beban yang diakibatkan oleh penyakit (misalnya masalah keuangan) yang berlangsung terus menerus, kehilangan pekerjaan, ketergantungan tinggi (pada keluarga maupun pelayan kesehatan) dan lain-lain. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang ditemukan dalam penelitian ini. Ketiga partisipan penderita SLE memang mudah lelah. Pada partisipan pertama dan ketiga, mereka kurang percaya diri akibat perubahan penampilan fisik dan juga terkadang terjadi penurunan konsentrasi pada pekerjaan jika penyakit ini kambuh. Walaupun begitu, pada ketiga partisipan ini mereka dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan tidak kehilangan pekerjaan. Bahkan pada partisipan pertama, ia mendapatkan kenaikan jabatan yang lebih tinggi. Selain itu, mereka juga dapat hidup normal seperti orang lain pada umumnya. Pada tahap lima dalam proses pengambilan keputusan yaitu menjalani keputusan walaupun ada umpan balik negatif, hanya satu dari tiga partisipan yang melewati tahap ini. Hal ini dikarenakan kedua partisipan yang tidak mendapatkan umpan balik negatif, tidak memberitahu penyakit mereka kepada rekan-rekan kerjanya. Mereka takut akan dianggap cacat dan rekan kerja mereka akan memanfaatkan penyakitnya untuk menjatuhkan mereka. Hal ini sesuai dengan teori Taylor (2003) bahwa banyak penderita penyakit kronis menghadapi diskriminasi dalam lingkungan pekerjaan. Survey yang dilaporkan oleh majalah Time (dalam Taylor, 2003), mengindikasikan bahwa pekerja yang menderita kanker dipecat lima kali lebih sering dibandingkan pekerja lainnya. Ketakutan akan diskriminasi inilah yang menyebabkan kedua partisipan tidak mau memberitahukan rekan-rekan kerjanya akan penyakit lupus yang mereka derita. Pada tahap ketiga yaitu mempertimbangkan komitmen, dua dari tiga partisipan tidak memberitahukan keputusan yang mereka ambil kepada orang lain. Begitu pula pada partisipan pertama, ia tidak memberitahukan keputusan yang
5 87 diambilnya kepada saudara-saudaranya. Hal ini dikarenakan menurutnya hal tersebut bukanlah hal penting yang harus diberitahukan kepada orang lain. Bahkan, partisipan pertama takut jika terlihat sombong jika ia memberitahu keputusannya. Hal ini berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh Janis (dalam Janis & Mann, 1977) bahwa pengambil keputusan cenderung untuk memberitahukan keputusannya pada orang-orang yang dianggap akan menyetujui dan menyimpan informasi tersebut untuk sementara dari orang-orang yang kemungkinan besar akan menentang keputusannya. Dalam penelitian ini terlihat bahwa kedua partisipan yang tidak memberitahukan orang lain bukan dikarenakan mereka takut ditentang orang lain mengenai keputusan mereka, tetapi lebih karena hal ini bukanlah hal yang penting untuk diberitahukan ke orang lain dan juga tidak mau dianggap sombong. Dampak dari penyakit ini bukan saja berpengaruh terhadap pekerjaan, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan perkawinan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu dampak dari penyakit ini menurut Kasjmir (2006) adalah anggapan terhadap diri sendiri buruk akibat perubahan penampilan fisik yang tidak dikehendaki dan kesulitan dalam membina relasi dengan orang lain termasuk pasangan hidup. Pada partisipan kedua, kehidupan perkawinannya menjadi terganggu akibat dari penyakit ini. Ia menjadi kurang percaya diri karena penampilan fisiknya. Hal ini menjadikan ia kesulitan dalam membina relasi dengan orang lain termasuk pasangan hidupnya. Ia merasa tidak pantas menjadi seorang suami karena penyakit yang dideritanya. Selain itu, penyakit ini juga menyebabkan ia sulit mendapatkan keturunan. Dua partisipan dalam penelitian ini mengutamakan kesuksesan dalam bekerja yaitu mencapai jabatan tinggi dalam pekerjaan mereka. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Papalia et al. (2007), sebagai bagian dari sosialisasi yang mendukung peran jender, laki-laki secara umum diharapkan menjadi aktif, agresif, otonomi, dan berorientasi pada kesuksesan atau prestasi. Pada penelitian lain yang memiliki topik yang sama yaitu Gambaran Proses Pengambilan Keputusan untuk Bekerja di Bidang Pekerjaan Nontradisional sebagai Pengemudi Bus Transjakarta Pada Wanita Dewasa Muda oleh Risa, tahun 2006,
6 88 terdapat persamaan hasil penelitian pada proses pengambilan keputusan. Tidak semua partisipan melewati kelima tahap proses pengambilan keputusan teori Janis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Janis & Mann (1977) yang menyatakan bahwa dalam proses pengambilan keputusan tidak selalu berjalan sesuai dengan urutan tahaptahapnya, melainkan dapat juga berupa proses yang non-linear. Kelemahan-kelemahan pada penelitian ini adalah analisis kasus terlalu sempit dan kurang mendalam, hanya difokuskan pada tahap-tahap proses pengambilan keputusan sehingga tidak dapat dilihat hal lainnya yang penting dari hasil penelitian ini. Selain itu, kurangnya teori-teori yang digunakan khususnya mengenai teori pengambilan keputusan. 5.3.Saran Saran metodologis penelitian selanjutnya mengenai pengambilan keputusan untuk bekerja pada penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) agar dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu pertama, mencari teori mengenai pengambilan keputusan selain teori Janis dan dikombinasikan sehingga analisis dapat menjadi lebih dalam dan tidak terlalu sempit. Kedua, peneliti menyarankan partisipan pada penelitian selanjutnya memiliki pekerjaan yang lebih beragam. Bukan hanya terbatas pada pekerjaan di dalam ruangan tetapi juga pada odapus yang bekerja di luar ruangan. Dengan demikian, dapat diketahui apakah ada perbedaan proses pengambilan keputusan untuk bekerja pada penderita SLE yang bekerja di dalam ruangan dengan penderita SLE yang bekerja di luar ruangan. Ketiga, variasi partisipan yang belum menikah. Hal ini untuk melihat apakah pernikahan berpengaruh pada proses pengambilan keputusan untuk bekerja pada penderita SLE. Keempat, sebaiknya dilakukan pengambilan data terhadap significant others dari masing-masing partisipan, seperti keluarga, anak dan teman-teman dekat. Hal tersebut adalah proses yang penting dalam penelitian karena dapat memperkaya data yang diperoleh serta melakukan pemeriksaan terhadap data yang didapat dari partisipan. Kelima, untuk penelitian berikutnya dapat menggali aspek lain dari penderita SLE seperti pengambilan keputusan untuk menikah,
7 89 kehidupan perkawinan pada penderita SLE atau ketakutan akan kematian pada penderita SLE. Sebagai saran praktis, hasil penelitian ini diharapkan bisa dimanfaatkan sebagai informasi mengenai gambaran pengambilan keputusan pada penderita SLE untuk bekerja sehingga dapat membantu penderita SLE terutama penderita SLE lakilaki yang mengalami konflik atau keterpurukan akibat dari penyakit lupus yang dideritanya dan dapat menjadi motivasi bagi penderita SLE bahwa mereka dapat bekerja dan hidup normal seperti orang-orang pada umumnya. Selain itu, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai SLE dan lebih memperhatikan adanya SLE karena persentase penderitanya semakin meningkat tiap tahunnya sehingga dukungan sosial dari orang-orang terdekat seperti pasangan, orang tua, keluarga, teman-teman, dan masyarakat diharapkan dapat diberikan lebih besar dan terus menerus agar dapat menjadi semangat bagi para penderita SLE untuk menghadapi penyakitnya.
LAMPIRAN. 1. Data Kontrol Nama : Usia : Status : Pekerjaan : Suku : Agama :
92 LAMPIRAN 1. Data Kontrol Nama : Usia : Status : Pekerjaan : Suku : Agama : 2. Pedoman Wawancara I. Pertanyaan Umum 1. Sejak kapan Anda terkena Lupus? 2. Ceritakan bagaimana pertama kali Anda terkena
3. METODE PENELITIAN
25 3. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengambilan keputusan untuk bekerja pada penderita SLE laki-laki. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penelitian ini termasuk
5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1. Kesimpulan Bab ini berusaha menjawab permasalahan penelitian yang telah disebutkan di bab pendahuluan yaitu melihat gambaran faktor-faktor yang mendukung pemulihan pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. penyakit Lupus. Penyakit ini dalam ilmu kedokteran seperti dijelaskan dalam Astuti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sekarang ini banyak dikenal berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit Lupus. Penyakit ini dalam ilmu kedokteran seperti dijelaskan dalam Astuti (2010) disebut
5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa keempat subyek memiliki karakteristik individu yang memiliki harapan tinggi. Namun, karakteristik yang muncul
Menurut Knox (1985) terdapat tiga faktor yang menentukan kesiapan menikah, yaitu usia menikah, pendidikan, dan rencana karir. Pada dasarnya usia
57 PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan menikah dan pelaksanaan tugas perkembangan keluarga dengan anak usia prasekolah. Penelitian ini dilakukan pada keluarga yang memiliki anak
LAMPIRAN Pedoman Wawancara
84 LAMPIRAN Pedoman Wawancara 1). Tahap 1 : Rapport (Pewawancara memulai dengan Rapport) Nama saya (nama pewawancara), mahasiswa Psikologi UI. Saya sedang melakukan penelitian untuk skripsi saya mengenai
BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari hubungannya dengan orang lain. Keberadaan orang lain dibutuhkan manusia untuk melakukan suatu
BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membangun sebuah hubungan senantiasa menjadi kebutuhan bagi individu untuk mencapai kebahagiaan. Meskipun terkadang hubungan menjadi semakin kompleks saat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit systemic lupus erythematosus (SLE) atau yang biasa dikenal dengan lupus merupakan penyakit kronis yang kurang populer di masyarakat Indonesia dibandingkan
BAB I PENDAHULUAN. Sekarang ini kita dihadapkan pada berbagai macam penyakit, salah satunya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekarang ini kita dihadapkan pada berbagai macam penyakit, salah satunya penyakit Lupus. Penyakit ini merupakan sebutan umum dari suatu kelainan yang disebut sebagai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan menjadi prioritas dalam hidup jika seseorang sudah berada di usia yang cukup matang dan mempunyai
LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA
LAMPIRAN 193 194 LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA 195 LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI d. Kesan umum, meliputi keadaan fisik dan penampilan subyek e. Keadaan emosi, meliputi ekspresi, bahasa tubuh,
BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang
HARGA DIRI PRIA YANG MENGALAMI PENSIUN DINI ABSTRAK
HARGA DIRI PRIA YANG MENGALAMI PENSIUN DINI ABSTRAK Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mencari jawab atas pertanyaan penelitian apa gambaran harga diri subjek yaitu pria yang mengalami pensiun dini,
BAB V. KESIMPULAN, DISKUSI, dan SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, dan SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai self esteem pada wanita yang menderita infertilitas, maka peneliti dapat menyimpulkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Yahidin, Syamsuriadi, dan Rini (2008) pengambilan keputusan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengambilan Keputusan 2.1.1 Definisi Menurut Yahidin, Syamsuriadi, dan Rini (2008) pengambilan keputusan adalah suatu proses untuk memilih suatu tindakan yang terbaik dari sejumlah
BAB I PENDAHULUAN. pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan merupakan ikatan yang terbentuk antara pria dan wanita yang di dalamnya terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih sayang, pemenuhan hasrat
5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
109 5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran harapan dan konsep Tuhan pada anak yang mengalami kanker, serta bagaimana mereka mengaplikasikan
LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah
LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah bagi diri anda sendiri? 2. Bagaimana anda menggambarkan
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Identitas Subjek Penelitian Nama Subjek S (p) S.R E.N N S (l) J Usia 72 Tahun 76 Tahun 84 Tahun 63 Tahun 68 Tahun 60 Tahun Jenis Perempuan Perempuan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Setting Penelitian 4.1.1. Gambaran Umum Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga terletak di jalan Hasanuddin No. 806, Kelurahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rini Yuniati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Untuk membagi kedekatan emosional dan fisik serta berbagi bermacam tugas
BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan
13 BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang hampir tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Namun kalau ditanyakan
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dari ketiga subyek, mereka memiliki persamaan dan perbedaan dalam setiap aspek yang diteliti. Khususnya dalam penelitian mengenai
BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana
BAB 5 Simpulan, Diskusi, dan Saran
BAB 5 Simpulan, Diskusi, dan Saran Pada bab ini peneliti akan membahas mengenai simpulan yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran diri (body image) dan dukungan sosial pada tiga orang wanita yang mengalami penyakit kanker payudara yang telah
BAB V PENUTUP. menjadi tidak teratur atau terasa lebih menyakitkan. kebutuhan untuk menjadi orang tua dan menolak gaya hidup childfree dan juga
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya seluruh subjek mengalami stres. Reaksi stres yang muncul pada subjek penelitian antara lain berupa reaksi
A. LATAR BELAKANG Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah sesuatu yang sangat tabu dan menyakitkan sehingga wajib dihindari akan tetapi, anehnya hal
HARGA DIRI PADA WANITA DEWASA AWAL MENIKAH YANG BERSELINGKUH KARTIKA SARI Program Sarjana, Universitas Gunadarma Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran harga diri
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penyesuaian Perkawinan 1. Pengertian Penyesuaian Perkawinan Konsep penyesuaian perkawinan menuntut kesediaan dua individu untuk mengakomodasikan berbagai kebutuhan, keinginan,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Nikah, menikah, dan pernikahan, tiga kata ini akan selalu menjadi bahasan paling menarik sepanjang masa. Apalagi bagi mereka yang berstatus mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. matang dari segi fisik, kognitif, sosial, dan juga psikologis. Menurut Hurlock
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masa dewasa merupakan masa dimana setiap individu sudah mulai matang dari segi fisik, kognitif, sosial, dan juga psikologis. Menurut Hurlock (dalam Jahja, 2011), rentang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan isu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan isu utama bagi individu yang ada pada masa perkembangan dewasa awal. Menurut Erikson,
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
101 BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan intimacy melalui wawancara mendalam. Berdasarkan hasil analisis,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna dari makhluk hidup lainnya. Mereka memiliki akal budi untuk berpikir dengan baik dan memiliki kata hati.
HASIL. Tabel 20 Sebaran nilai minimum, maksimum, rata-rata dan standar deviasi karakteristik keluarga Rata-rata ± Standar Deviasi
43 HASIL Karakteristik Keluarga Tabel 20 menunjukkan data deskriptif karakteristik keluarga. Secara umum, usia suami dan usia istri saat ini berada pada kategori dewasa muda (usia diatas 25 tahun) dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-Undang No.1 Tahun
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
BAB VI DAMPAK DARI WORK FAMILY CONFLICT. bekerja. Dampak dari masalah work family conflict yang berasa dari faktor
BAB VI DAMPAK DARI WORK FAMILY CONFLICT 6.1 Pendahuluan Fenomena work-family conflict ini juga semakin menarik untuk diteliti mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, baik terhadap wanita dan
BAB I PENDAHULUAN. hidup yang dipilih manusia dengan tujuan agar dapat merasakan ketentraman dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah agama yang mensyari atkan pernikahan bagi umatnya. Menikah dalam Islam adalah salah satu sarana untuk menggapai separuh kesempurnaan dalam beragama.
BAB I PENDAHULUAN. melalui tahap intimacy vs isolation. Pada tahap ini, individu berusaha untuk
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat seseorang memasuki usia dewasa awal, ia mengalami perubahan dalam hidupnya. Pada usia ini merupakan transisi terpenting dalam hidup manusia, dimana remaja mulai
Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN
Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini, perkembangan teknologi semakin pesat. Berbagai penemuan dan teknologi baru telah banyak mengubah kehidupan manusia. Membuat manusia
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis wawancara, dapat disimpulkan : Ketiga subjek yang mengalami baby blues syndrome ini berasal dari latar belakang masalah yang berbeda.
BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).
1. PE DAHULUA. Universitas Indonesia. Perbedaan Fokus..., Marchantia Andranita, FPSIUI, 2008
1. PE DAHULUA I.1. Latar Belakang Masa dewasa muda adalah periode dimana terjadi penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan dan harapan-harapan sosial yang baru (Hurlock dalam Lemme, 1995). Pada tahapan
PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN
PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh
5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan penelitian yang telah disebutkan dalam bab pendahuluan, yaitu untuk melihat penghayatan masing-masing
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian Ketiga subjek merupakan pasangan yang menikah remaja. Subjek 1 menikah pada usia 19 tahun dan 18 tahun. Subjek 2 dan 3 menikah di usia 21 tahun dan
KEPUTUSAN HIDUP MELAJANG PADA KARYAWAN DITINJAU DARI KEPUASAN HIDUP DAN KOMPETENSI INTERPERSONAL
KEPUTUSAN HIDUP MELAJANG PADA KARYAWAN DITINJAU DARI KEPUASAN HIDUP DAN KOMPETENSI INTERPERSONAL SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. sebagian besar waktunya. Walaupun berbeda, pekerjaan dan keluarga
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Pekerjaan dan keluarga adalah dua area dimana manusia menghabiskan sebagian besar waktunya. Walaupun berbeda, pekerjaan dan keluarga interdependent satu sama lain
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Pada bab ini akan membahas mengenai kesimpulan, diskusi dan saran mengenai penelitian yang merupakan langkah terakhir dari suatu penyusunan dalam penelitian. 5.1 Kesimpulan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai Dinamika Personal Growth periode anak anak dewasa muda pada individu yang mengalami masa perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Pernikahan Usia Dini/ Usia Muda a. Pengertian Pernikahan usia muda adalah pernikahan yang dilakukan pada wanita dengan usia kurang dari 16 tahun dan pada
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN DAN PARTISIPAN. Kepada YTH: Bapak / Ibu Pasien Klinik Kitamura Pontianak Di Tempat
Lampiran PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN DAN PARTISIPAN Kepada YTH: Bapak / Ibu Pasien Klinik Kitamura Pontianak Di Tempat Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Gusti Jhoni Putra NIM : 20151050010
Disusun Oleh : EVA NADIA KUSUMA NINGRUM Telah disetujui unuk mengikuti Ujian Skripsi. Menyetujui, Pembimbing Utama
POLA KOMUNIKASI SUAMI ISTRI DALAM PENYELESAIAN KONFLIK DI USIA PERNIKAHAN DI BAWAH 5 TAHUN ( Studi Kualitatif Deskriptif Tentang Pola Komunikasi Suami Istri Dalam Penyelesaian Konflik Di Usia Pernikahan
BAB I PENDAHULUAN. pembagian tugas kerja di dalam rumah tangga. tua tunggal atau tinggal tanpa anak (Papalia, Olds, & Feldman, 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam siklus kehidupan manusia. Setiap orang berkeinginan untuk membangun sebuah rumah tangga yang bahagia bersama orang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keharmonisan serta menjadi dambaan bagi pasangan suami istri. Meskipun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepuasan pernikahan adalah salah satu indikator yang menentukan keharmonisan serta menjadi dambaan bagi pasangan suami istri. Meskipun demikian untuk mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN. dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan lingkungannya atau dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Individu adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan individu lain sepanjang kehidupannya. Individu tidak pernah dapat hidup
BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit Ridogalih berdiri pada tahun 1934 yang memulai pelayanan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rumah sakit Ridogalih berdiri pada tahun 1934 yang memulai pelayanan kesehatannya dengan membuka poliklinik. Pada tahun 1986 rumah sakit Ridogalih berkembang
BAB V PEMBAHASAN. a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
BAB V PEMBAHASAN A. Analisis Univariat 1. Karakteristik responden a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Responden dalam penelitian ini adalah pasien LBP yang sebagian besar berjenis kelamin
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian ini. Selanjutnya juga akan dipaparkan hasil diskusi dan saran. 5.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis
BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian utama masa dewasa awal berkaitan dengan pemenuhan. intimasi tampak dalam suatu komitmen terhadap hubungan yang mungkin
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Pencapaian utama masa dewasa awal berkaitan dengan pemenuhan intimasi tampak dalam suatu komitmen terhadap hubungan yang mungkin menuntut pengorbanan dan
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran identitas diri pada remaja yang menikah dini. Bab ini adalah penutup dari seluruh naskah penelitian,
BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan bagian dari keluarga, dimana sebagian besar kelahiran disambut bahagia oleh anggota keluarganya, setiap orang tua mengharapkan anak yang sehat,
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, dimana manusia hidup saling membutuhkan satu sama lain. Salah satunya adalah hubungan intim dengan lawan jenis atau melakukan
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan, diskusi dan saran. Kesimpulan dalam penelitian ini berisi gambaran sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keluarga merupakan sistem sosialisasi bagi anak, dimana anak mengalami pola disiplin dan tingkah laku afektif. Walaupun seorang anak telah mencapai masa remaja dimana
BAB I PENDAHULUAN. bagi mahasiswa-mahasiswi sangat beragam. Mereka dapat memilih jurusan sesuai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswi adalah sebutan bagi wanita yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi sebagai dasar pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat menopang kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki biaya menikah, baik mahar, nafkah maupun kesiapan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menikah adalah bagian dari ibadah, karena itu tidak ada sifat memperberat kepada orang yang akan melaksanakannya. Perkawinan atau pernikahan menurut Reiss (dalam
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap individu di dalam hidupnya selalu berusaha untuk mencari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap individu di dalam hidupnya selalu berusaha untuk mencari kesejahteraan. Mereka mencoba berbagai cara untuk mendapatkan kesejahteraan tersebut baik secara
2016 WORK FAMILY CONFLICT - KONFLIK PERAN GANDA PADA PRAMUDI BIS WANITA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bekerja bagi manusia sudah menjadi suatu kebutuhan, baik bagi pria maupun bagi wanita. Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan buah karya
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5. 1 Kesimpulan 5. 1. 1 Kesimpulan Utama Dari hasil pengolahan data utama dan analisisnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Tidak terdapat hubungan yang signifikan
BAB I PENDAHULUAN. abnormal yang melibatkan kerusakan pada sel-sel DNA (Deoxyribonucleic Acid).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker adalah penyakit dari sel-sel tubuh yang berkembang secara abnormal yang melibatkan kerusakan pada sel-sel DNA (Deoxyribonucleic Acid). Penyakit ini juga dinamakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. Itulah petikan pasal 28B ayat 1 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sebuah organisasi atau perusahaan yang maju tentunya tidak lain didukung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebuah organisasi atau perusahaan yang maju tentunya tidak lain didukung pula oleh sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari segi mental, spritual maupun
COPING REMAJA AKHIR TERHADAP PERILAKU SELINGKUH AYAH
COPING REMAJA AKHIR TERHADAP PERILAKU SELINGKUH AYAH SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S 1 Psikologi Diajukan oleh : Alfan Nahareko F 100 030 255 FAKULTAS PSIKOLOGI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran kepuasan pernikahan pada pasangan suami dan istri yang terlibat dalam dual career family berdasarkan aspek-aspek
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan individu dan sudah pasti tidak dapat dipisahkan. Secara umum, keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang
BAB I PENDAHULUAN. memerlukan interaksi tersebut dalam berbagai bentuk. Manusia. malam harinya. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan hubungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan hubungan interpersonal dan manusia memerlukan interaksi tersebut dalam berbagai bentuk. Manusia merupakan makhluk
