BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI
|
|
|
- Doddy Widjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI 4.1 Keadaan Umum Wilayah Kelurahan Simpang Baru Kelurahan Simpang Baru termasuk dalam wilayah Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, Propinsi Riau. Wilayah Kelurahan Simpang Baru berbatasan dengan kelurahan-kelurahan lain yang ada disekitarnya, yaitu: Sebelah Utara : Kelurahan Simpang Tiga Sebelah Selatan : Kelurahan Tuah Karya Sebelah Barat : Kelurahan Sidomulyo Sebelah Timur : Kelurahan Delima Luas wilayah Kelurahan Simpang Baru secara keseluruhan adalah ha. Sebagian besar wilayah digunakan untuk pemukiman dan industri. Kondisi geografis Kelurahan Simpang Baru merupakan daerah dataran rendah dan keadaan suhu maksimum 32,6 sampai 36,5 derajat Celcius. 4.2 Karakteristik Penduduk Kelurahan Simpang Baru Berdasarkan data potensi Kelurahan Simpang Baru tahun 2009, jumlah penduduk seluruhnya adalah jiwa dengan kepala keluarga (KK). Berdasarkan pembagian jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki adalah sebesar jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebesar jiwa. Penduduk ini tersebar di 14 RW dan 59 RT. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk Kelurahan Simpang Baru beragam, penduduk yang belum sekolah sebanyak jiwa, tidak tamat SD 950 jiwa, tamat SD jiwa, tamat SLTP jiwa, tamat SLTA jiwa, tamat Diploma I dan II 985 jiwa, sarjana sebanyak 825 jiwa untuk S1, 330 jiwa untuk S2, dan 45 jiwa untuk S3. 25
2 4.3 Gambaran Umum RW 13 Kelurahan Simpang Baru RW 13 merupakan salah satu dari 14 RW yang terdapat di Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru. RW ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa wilayah ini strategis, terletak di sekitar jalan utama, dekat dengan sarana pembelanjaan, serta sarana sekolah, sehingga dinilai memiliki akses yang besar terhadap informasi dan media massa. Terdapat 179 kepala keluarga yang terdaftar sebagai penduduk di RW 13 ini. Penduduk mempunyai jenis pekerjaan yang beragam, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, pegawai swasta, pedagang, dan lainnya. Sebagian besar penduduk merupakan masyarakat asli (melayu), sisanya merupakan masyarakat pendatang seperti dari Jawa, Minang, dan Batak. Melalui full enumeration survey yang dilakukan pada awal penelitian, dari 179 kepala keluarga yang dijadikan populasi penelitian, terdapat 121 orang yang bersedia dijadikan responden dalam penelitian ini. Dari 121 orang diambil 40 responden yang diambil secara acak, rata-rata dari 40 orang responden memiliki televisi lebih dari satu buah dan seluruhnya dapat menangkap siaran Riau Televisi (RTV). Selain itu mereka pada umumnya mempunyai radio dan berlangganan majalah atau surat kabar. 26
3 4.4 Profil Responden Profil responden dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Jumlah Responden Menurut Faktor Intrinsik di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Berdasarkan Faktor Intrinsik Tahun 2009 Faktor Intrinsik Usia (a) Kurang dari 25 tahun (b) Antara 25 tahun sampai 45 tahun (c) 45 tahun keatas Jenis kelamin (a) Laki-laki (b) Perempuan Jenis pekerjaan (a) Bekerja (b) Ibu rumah tangga, pensiunan, belum dan tidak bekerja (c) Pelajar/mahasiswa Jumlah (n=40 dalam orang) Tingkat pendapatan (a) Kurang dari 1 juta (b) Antara 1 juta sampai 2,5 juta (c) Lebih dari 2,5 juta Tingkat pendidikan (a) Sekolah Dasar (SD) (b) SLTP dan SLTA (SL) (c) Perguruan Tinggi (PT) Asal etnis (a) Melayu (b) Minang (c) Jawa (d) Batak
4 4.5 Profil Riau Televisi Latar Belakang Lahirnya Riau Televisi Kota Pekanbaru sebagai ibukota Propinsi Riau, merupakan wilayah dengan posisi strategis, berada di kawasan Pulau Sumatera. Kota Pekanbaru merupakan wilayah terbuka lintas timur dan barat Sumatera. Tidak heran jika perkembangan kota ini dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Ini dapat dilihat dari angka perkembangan penduduk, sosial ekonomi, dan budaya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Riau tahun 2002, jumlah penduduk di Kota Pekanbaru mencapai jiwa. Namun demikian berdasarkan data BPS Riau yang diambil dari pendapatan penduduk Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden tahun 2004, jumlah penduduk mencapai angka jiwa. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi terjadi sangat pesat. Di Kota Pekanbaru tumbuh dan berkembang sejumlah perusahaan raksasa, misalnya perusahaan minyak bumi PT Caltex Pasific Indonesia (Pekanbaru, Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir), perusahaan pulp dan kertas, seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper (Perawang, Kabupaten siak) dan PT Riau Andalan Pulp & Paper (Kabupaten Pelalawan), perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara V (kantor pusat Pekanbaru, Perkebunan di Kabupaten Kampar, Kabupaten Rokanhulu), serta pabrik mie instan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Pekanbaru), dan lain-lain. Perkembangan pesat inilah yang menjadi dasar Pemerintah Kota Pekanbaru menetapkan Visi Kota Pekanbaru 2020: Pekanbaru sebagai pusat pemerintahan Propinsi Riau, Pekanbaru sebagai pusat perdagangan dan jasa, serta Pekanbaru menjadi pusat pengembangan budaya Melayu. Industri televisi diyakini sebagai media yang mampu menampilkan informasi, berita, dan hiburan serta audio visual, industri televisi juga menjadi agent of change yang berperan penting di era informatika serta globalisasi saat ini. Guna mendukung program Pemerintah Kota Pekanbaru dengan masyarakatnya yang sangat heterogen dengan tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 4,2 persen setahun (melebihi angka pertumbuhan ekonomi nasional), 28
5 dipandang perlu dan penting adanya keberadaan media massa khususnya televisi swasta yang berbasis stasiun televisi lokal. Selain itu, tanpa adanya stasiun televisi dengan basis stasiun lokal yang mengusung semangat melestarikan budaya Melayu di Pekanbaru, maka tidak dapat dihindari cepat atau lambat, sebuah kepastian bahwa masyarakat Pekanbaru akan semakin mengalami keterasingan terhadap budaya mereka sendiri. Kehadiran televisi lokal dengan muatan lokal, akan menguatkan ketahanan budaya melayu masyarakat. Oleh karena itu, PT Riau Media Televisi (RIAU TV) hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Pekanbaru dan sekitarnya untuk menampilkan program-program yang mempunyai khas Melayu sesuai dengan budaya masyarakat Pekanbaru, dimana masyarakat Pekanbaru dapat menonton dirinya sendiri. Jangkauan siaran RIAU TV tidak hanya Kota Pekanbaru, tetapi manjangkau beberapa kabupaten dan kota lain, seperti Kota Dumai yang bependuduk jiwa, Kabupaten Kampar yang berpenduduk jiwa, Kabupaten Siak yang berpenduduk jiwa, Kabupaten Rokanhulu yang berpenduduk jiwa, Kabupaten Kuantan Singingi yang berpenduduk jiwa, Kabupaten Pelalawan yang berpenduduk jiwa Visi dan Misi PT Riau Media Televisi hadir dengan Visi menjadikan Propinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan pengembangan kebudayaan Melayu dalam masyarakat yang agamis di Asia Tenggara Untuk mewujudkan visi tersebut, PT Riau Media Televisi menyiapkan langkah-langkah strategis berupa Misi yaitu: 1. Membuat dan menayangkan program-program siaran sebagai barometer tercepat dan terakurat melalui program-program berita yang ditayangkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. 2. Membuat dan menayangkan program-program siaran yang mampu meningkatkan ketahanan budaya melayu dalam menghadapi era globalisasi. 29
6 3. Membuat dan menayangkan program-program siaran pemersatu budayabudaya daerah di Riau dalam rangka memperkuat budaya nasional dalam NKRI. 4. Menjadi sarana untuk mendokumentasikan budaya-budaya Melayu yang sudah langka. 5. Membuat dan menayangkan program-program siaran yang mampu memperkuat pelaksanaan otonomi daerah dan masyarakat madani di Riau. 6. Mengembangkan dan menayangkan beragam program siaran sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, dan mempunyai kontrol sosial di masyarakat. Latar belakang PT Riau Media Televisi telah menggambarkan mengenai alasan didirikannya lembaga penyiaran berbasiskan stasiun lokal di Pekanbaru dihubungkan dengan kondisi dan segmentasi masyarakat setempat yang berbudaya Melayu. Maka jelas terlihat bahwa PT Riau Media Televisi (RIAU TV) memiliki ciri khas masyarakat Pekanbaru yang mempunyai budaya Melayu yang kuat. Berdasarkan uraian latar belakang, PT Riau Media Televisi juga mempunyai visi ke depan yaitu pada tahun 2020 menjadi pusat kebudayaan Melayu. Visi Riau TV dapat mewujudkan fungsi lembaga penyiaran sebagai media informasi, media pendidikan, media hiburan, dan perekat sosial yang dapat dilihat dari adanya keberagaman program siaran yang disesuaikan dengan segmentasi masyarakat di daerah Riau, khususnya Kota Pekanbaru. Misi PT Riau Media Televisi pun telah menjawab bagaimana mewujudkan visinya sebagai lembaga penyiaran swasta berbasiskan stasiun televisi lokal dengan adanya langkah-langkah strategis tersebut di atas. Sejak tanggal 20 Mei 2001, PT Riau Media Televisi (RIAU TV) sudah melayani masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya dengan program-program acaranya yang memang berpihak pada budaya dan kerifan lokal masyarakat Pekanbaru yaitu budaya Melayu. 30
7 4.5.3 Program Acara Riau Televisi RTV berdiri pada tanggal 20 Mei 2001 dan sekarang sudah masuk 8 tahun (sewindu) RTV berdiri. RTV merupakan anak perusahaan dari Riau Pos grup. Dalam perkembangannya, dapat dilihat bahwa RTV dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan memperoleh dukungan penuh dari pemerintah Provinsi maupun pemerintah kota Pekanbaru. Penyelenggaraan RTV masih dibantu oleh dana APBD Kota Pekanbaru, tetapi perolehan dana terbesar diperoleh dari iklan. Sudah banyak program yang ditayangkan oleh RTV selama berdiri. Program tersebut dominan program informasi. Detak Riau, Mozaik Musik, dan Bursa Nada dan Niaga merupakan program unggulan RTV. Detak Riau menjadi program informasi unggulan karena program ini berisikan berita-berita tentang daerah di Riau. Ada beberapa program yang disiarkan RTV yang mencirikan budaya melayu seperti Salam Dendang Melayu, dan Kampong Melayu. Dahulu RTV juga menyiarkan program acara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendatang, tetapi tidak bertahan beberapa lama karena mendapat protes dari pemerintah dan tokoh budaya. Selain memproduksi siaran sendiri, RTV juga bekerja sama dengan event organizer luar untuk menyediakan program acara. Selain acara on air, RTV juga meliput kegiatan off air. Proporsi siaran on air dan off air adalah sebanyak 60:40. Sedangkan komposisi acara adalah 70persen lokal dan 30persen umum. Jenis acara yang disiarkan berupa acara news (25 persen), religi (15 persen), talkshow (30 persen), sport (7 persen), hiburan (15 persen), dan anak (8 persen). Jangkauan siaran RTV sudah mencapai beberapa kabupaten/kota di Propinsi Riau yaitu Pekanbaru, Dumai, Pelalawan, Kuantan Singingi, Kampar, Siak, Rokan Hulu dan Rokan Hilir, meskipun kualitas siaran di daerah selain Pekanbaru masih terbatas. Menurut Manager program RTV program yang selama ini disiarkan melihat kebutuhan masyarakat, khususnya kebutuhan mengenai informasi daerah Riau. Selain itu, sebuah program ditayangkan juga dari permintaan sponsor ataupun kerjasama dengan pemerintah daerah. Kekuatan RTV saat ini adalah konten lokal yang masih terus terjaga, dan yang menjadi kelemahannya adalah minimnya sumberdaya manusia dan dana. 31
8 Berdasarkan jenis program, pilihan acara di RTV dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: No Jenis Program Nama Program 1 Pendidikan 1. Dialog Iqra Annisa 2. Mutiara Islam 3. Sanggar Kreasi TK Annamiroh 4. Dialog Islam Bersama IKADI 2 Informasi 1. Gerai 2. Venues 3. Rentak Kota 4. Buka Mata 5. Detak Riau 6. Berita Pilihan 7 7. Kampong Melayu 8. Jendela Metropolis 9. Profil Ustad Haryono 10. Dialog BKMT 11. Dokter Anda 12. Resep Dapur Kita 13. Berita Terkini 14. Berita MK (Relay JTV) 15. Dialog Alternatif ATFG Dialog Ali Sadikin 17. Dialog Asnawi M. Alam 18. IBM Service 19. Talkshow Obrolan Politik 20. Jurnal MK 21. Debat Menuju Gedung Rakyat 22. Dunia Kita 23. Info Malam 24. Dialog MK 25. Kriminal Sepekan 26. Kedai UMKM 27. Griya Kita 3 Hiburan 1. Senam 2. Kartun Islami DIVA 3. Jelajah Wisata 4. Selingan Musik 5. Senam Persada Primarada 6. Bursa Nada Dan Niaga 7. VH 1 Pop Indonesia 8. Mozaik Musik 9. Musik Islami 10. Musik Pop Indonesia+Chat RTV 11. Indo Top Salam Dendang Melayu 13. Karaoke Ocu 14. Dendang Oncu Kampar 15. Ladang Hati 16. NBA Games 17. NBA Hi Light 32
9 BAB V MOTIVASI MENONTON TELEVISI LOKAL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 5.1 Motivasi Menonton Televisi Lokal dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya McQuail (1991) mengemukakan ada empat jenis motivasi dalam diri individu yaitu motivasi informasi, motivasi identitas pribadi, motivasi integrasi dan interaksi sosial, dan motivasi hiburan. Masing-masing motivasi dikembangkan ke dalam beberapa bagian, sehingga diperoleh 21 submotivasi. Setiap motivasi diukur dengan pernyataan-pernyataan responden tentang apa yang dicari atau diharapkan dari acara-acara televisi. Setiap pernyataan motivasi tersebut diukur melalui skala mulai dari sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), setuju (3), dan sangat setuju (4). Skor-skor tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan total skor untuk masing-masing motivasi. Kemudian dari hasil skor yang diperoleh, dikelompokkan menjadi motivasi rendah dan tinggi. Motivasi dengan skor tinggi menunjukkan bahwa motivasi tersebut lebih dominan dirasakan responden dalam menonton televisi lokal. Pada tabel berikut disajikan jumlah responden berdasarkan tinggi dan rendahnya motivasi responden. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki motivasi yang tinggi pada setiap motivasi. Dari keempat jenis motivasi tersebut, motivasi yang paling tinggi dirasakan responden adalah motivasi hiburan. Tabel 2. Jumlah Responden Menurut Jenis dan Kategori Motivasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Jenis Motivasi Kategori Motivasi Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) Motivasi Informasi Motivasi Identitas Pribadi Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Motivasi Hiburan
10 5.1.1 Pengaruh Faktor Intrinsik terhadap Motivasi Menonton Televisi Lokal Faktor intrinsik yang berhubungan dengan motivasi responden dalam menonton televisi lokal dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan asal etnis Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal 1. Pengaruh Faktor Usia terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor usia terhadap motivasi informasi responden dapat dilihat pada Tabel 3. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada kelompok usia 25 sampai 45 tahun memiliki motivasi informasi paling tinggi, yakni 17 responden. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara usia dengan motivasi informasi responden memiliki hubungan yang positif (nyata), semakin tinggi umur seseorang, maka semakin tinggi motivasi informasi yang dimilikinya. Tetapi hubungannya lemah atau rendah. Tabel 3. Jumlah Responden Menurut Usia dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Usia Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) <25 Tahun Tahun 3 17 >45 Tahun (dalam persen) 12 (30,00) 20 (50,00) 8 (20,00) 40 (100,00) 2. Pengaruh Faktor Jenis Kelamin Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis kelamin terhadap motivasi informasi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 4. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden perempuan lebih banyak menonton acara informasi dibandingkan dengan responden laki-laki. Berdasarkan Uji Chi Square, 34
11 didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (0,026 < 2,705) artinya ada hubungan antara jenis kelamin dengan motivasi informasi responden. Responden laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki motivasi informasi yang tinggi berupa mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang beraitan dengan lingkungan terdekat, mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penentuan pilihan, memuaskan rasa ingin tahu dan memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan. Tabel 4. Jumlah Responden Menurut Jenis Kelamin dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Tinggi Jenis Kelamin Rendah (skor 10- (skor 4-9) 16) Laki-laki 2 14 Perempuan (dalam persen) 16 (40,00) 24 (60,00) 40 (100,00) 3. Pengaruh Faktor Jenis Pekerjaan Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis pekerjaan terhadap motivasi informasi responden dapat dilihat pada Tabel 5. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang bekerja memiliki motivasi informasi yang lebih tinggi dibandingkan responden pada kedua golongan lainnya. Responden yang bekerja lebih banyak membutuhkan informasi yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Berbeda dengan responden yang masih menempuh pendidikan lebih banyak menonton acara hiburan. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (3,343 < 4,605) artinya ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan motivasi informasi responden. Setiap golongan pekerjaan mempunyai motivasi informasi yang tinggi, yang membedakannya adalah jumlah acara informasi yang ditonton. Responden 35
12 yang bekerja lebih banyak menonton acara informasi dibandingkan kedua golongan responden lainya. Tabel 5. Jumlah Responden Menurut Jenis Pekerjaan dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Jenis Pekerjaan Bekerja IRT,pensiunan,belum/ tidak bekerja Mahasiswa/pelajar Motivasi Informasi Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) (dalam persen) 16 (40,00) 12 (30,00) 12 (30,00) 40 (100,00) 4. Pengaruh Faktor Tingkat Pendapatan Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendapatan dengan motivasi informasi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 6. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada golongan ekonomi tinggi (lebih dari 2,5 juta) memiliki motivasi informasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden golongan ekonomi menengah dan golongan ekonomi bawah. Semua responden pada golongan ekonomi tersebut memiliki motivasi informasi yang tinggi. Berbeda dengan responden pada golongan ekonomi menengah dan golongan ekonomi bawah. Pada umumnya responden pada golongan ekonomi rendah masih banyak menonton acara hiburan dibandingkan acara informasi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai +0,355 artinya antara tingkat pendapatan dengan motivasi informasi responden hubungan yang positif (nyata), tetapi hubungannya lemah atau rendah, artinya semakin tinggi tingkat pendapatan semakin tinggi pula kebutuhan informasi. 36
13 Tabel 6. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendapatan dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Tinggi Tingkat Pendapatan Rendah (skor 10- (skor 4-9) 16) < 1 juta ,5 juta 1 12 > 2,5 juta (dalam persen) 14 (35,00) 13 (32,50) 13 (32,50) 40 (100,00) 5. Pengaruh Faktor Tingkat Pendidikan Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendidikan terhadap motivasi informasi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 7. Responden pada golongan tingkat pendidikan tinggi (perguruan tinggi) memiliki motivasi informasi yang lebih tinggi dibandingkan responden pada tingkat pendidikan sekolah lanjutan dan tingkat pendidikan sekolah dasar. Kebutuhan informasi yang dirasakan pada setiap tingkat pendidikan berbedabeda, responden dengan golongan tingkat pendidikan sekolah dasar lebih banyak menonton acara hiburan dibandingkan dengan responden pada tingkat pendidikan perguruan tinggi yang lebih banyak menonton acara informasi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai +0,055 artinya antara tingkat pendidikan dengan motivasi informasi responden memiliki hubungan yang positif (nyata) dan hubungannya kuat atau tinggi, artinya semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi motivasi informasi yang dirasakan. 37
14 Tabel 7. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendidikan dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Tinggi Tingkat Pendidikan Rendah (skor 10- (skor 4-9) 16) SD 2 6 SL 2 12 PT (dalam persen) 8 (20,00) 14 (35,00) 18 (45,00) 40 (100,00) 6. Pengaruh Faktor Asal Etnis Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor asal etnis terhadap motivasi informasi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 8. Pada tabel dapat dilihat responden yang berasal dari masyarakat asli (Melayu) memiliki motivasi informasi yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat pendatang (Jawa, Minang, dan Batak). Masyarakat asli lebih banyak membutuhkan informasi mengenai daerah sendiri (informasi lokal), sehingga masyarakat asli lebih banyak menonton acara-acara informasi yang berisi tentang informasi-informasi tentang daerahnya, baik itu berupa informasi ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Berdasarkan Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (1,982 < 6,521), artinya ada hubungan antara asal etnis dengan motivasi informasi responden. Setiap golongan etnis sama-sama memiliki motivasi informasi yang tinggi, tetapi dilihat dari banyaknya jumlah acara informasi yang ditonton, responden etnis asli (melayu) lebih banyak mononton acara informasi dibandingkan responden etnis pendatang (Jawa, Minang, dan Batak). Selain itu, hal ini berkaitan dengan isi program informasi yang ditayangkan oleh pihak Riau Televisi, sampai saat ini Riau Televisi hanya menayangkan informasi-informasi yang berkaitan dengan daerah Riau, belum ada acara informasi yang berkaitan 38
15 dengan informasi-informasi tentang daerah di sekitar Riau. Acara informasi tentang Riau yang paling banyak ditonton oleh responden etnis pendatang antara lain acara Detak Riau dan Kriminal Sepekan. Tabel 8. Jumlah Responden Menurut Asal Etnis dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Asal Etnis Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) Melayu 2 18 Minang 1 4 Jawa 2 7 Batak (dalam persen) 20 (50,00) 5 (12,50) 9 (22,50) 6 (15,00) 40 (100,00) Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal 1. Pengaruh Faktor Usia Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor usia terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 9. Pada tabel dapat dilihat responden pada kelompok usia 25 sampai 45 tahun memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi. Hal ini disebabkan karena kelompok usia tersebut sudah dapat menemukan penunjang nilai-nilai pribadi, mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai lain (dalam media), dan meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri dibandingkan dengan responden pada kelompok usia lainnya. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai -0,343 artinya antara usia dengan motivasi identitas pribadi responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata). Artinya, semakin tinggi usia maka semakin rendah motivasi identitas pribadi yang dimilikinya. Setiap golongan usia sama-sama memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi. Tetapi perbedaannya dapat dilihat dari jumlah acara identitas pribadi yang ditonton 39
16 oleh responden tersebut. Responden pada kelompok usia 25 sampai 45 tahun dan responden kelompok usia lebih dari 45 tahun rata-rata lebih banyak menonton acara yang dapat menambah motivasi identitas pribadi mereka dibandingkan dengan responden pada kelompok usia kurang dari 25 tahun. Tabel 9. Jumlah Responden Menurut Usia dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Identitas Pribadi Usia Rendah Tinggi (skor 5-12) (skor 13-20) <25 tahun tahun 5 15 >45 tahun (dalam persen) 5 (12,50) 20 (50,00) 15 (37,50) 40 (100,00) 2. Pengaruh Faktor Jenis Kelamin Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis kelamin terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 10. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden perempuan memiliki motivasi identitas pribadi lebih tinggi dibandingkan responden laki-laki. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih besar dari x 2 tabel (3,151 > 2,705), artinya tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan motivasi identitas pribadi responden. Responden laki-laki dan perempuan memiliki motivasi identitas pribadi tinggi yang hampir sama. Tidak terlihat perbedaan yang signifikan antara jumlah responden pada motivasi identitas pribadi yang tinggi. Tetapi responden perempuan pada umumnya lebih banyak memerlukan penunjang nilai-nilai pribadi, mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai lain (dalam media), dan meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri dibanding responden lakilaki. 40
17 Tabel 10. Jumlah Responden Menurut Jenis Kelamin dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Identitas Pribadi Jenis Kelamin Rendah Tinggi (skor 5-12) (skor 13-20) Laki-laki 1 15 Perempuan (dalam persen) 16 (40,00) 24 (60,00) 40 (100,00) 3. Pengaruh Faktor Jenis Pekerjaan Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis pekerjaan terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 11. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang bekerja memiliki motivasi identitas pribadi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden pada golongan jenis pekerjaan lainnya. Hal ini disebabkan karena responden yang bekerja dinilai lebih banyak memerlukan penunjang nilai-nilai pribadi, mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai lain (dalam media), dan meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri untuk keperluan sosialisasinya di lingkungan pekerjaan dibandingkan dengan responden pada golongan jenis pekerjaan lainnya. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih besar dari x 2 tabel (4,744 > 4,605), artinya tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan motivasi identitas pribadi responden. Pada tabel dapat dilihat perbedaan jumlah responden yang memiliki motivasi identitas pribadi pada setiap golongan tidak terlalu tinggi. Perbedaan yang signifikan terlihat pada responden yang masih menempuh pendidikan, semua responden memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi. Hal ini disebabkan antara lain karena responden pada golongan tersebut memiliki motivasi untuk membandingkan gaya hidup, perilaku yang ada di televisi sebagai panduan mereka dalam bersosialisasi di lingkungan. 41
18 Tabel 11. Jumlah Responden Menurut Jenis Pekerjaan dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Jenis Pekerjaan Bekerja IRT, pensiunan,belum/ tidak bekerja Mahasiswa/pelajar Motivasi Identitas Pribadi Rendah Tinggi (skor 5-12) (skor 13-20) (dalam persen) 15 (37,50) 15 (37,50) 10 (25,00) 40 (100,00) 4. Pengaruh Faktor Tingkat Pendapatan Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendapatan terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 12. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada golongan ekonomi tinggi ( lebih dari 2,5 juta) memiliki motivasi identitas pribadi yang lebih tinggi dibandingkan responden pada golongan tingkat pendapatan lainnya. Responden golongan tingkat ekonomi tinggi tersebut banyak menggunakan televisi untuk menemukan penunjang nilai-nilai pribadi, mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai lain, dan meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri lebih banyak menggunakan media televisi dibandingkan responden pada golongan ekonomi lainnya. Responden pada golongan ekonomi bawah dan menengah lebih banyak mendapatkan motivasi identitas pribadi dari keluarga dan lingkungan sekitar dibandingkan melalui televisi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara tingkat pendapatan dengan motivasi identitas pribadi responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata), semakin tinggi pendapatan maka semakin rendah motivasi identitas pribadi yang dimilikinya. 42
19 Tabel 12. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendapatan dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Identitas Pribadi Tingkat Pendapatan Rendah Tinggi (skor 5-12) (skor 13-20) <1 juta ,5 juta 3 10 >2,5 juta (dalam persen) 9 (22,50) 13 (32,50) 18 (45,00) 40 (100,00) 5. Pengaruh Faktor Tingkat Pendidikan Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendidikan terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 13. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki motivasi identitas pribadi lebih tinggi dibandingkan responden dengan tingkat pendidikan sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Hal ini berhubungan dengan jenis acara yang ditonton oleh responden. Acara-acara yang dapat meningkatkan motivasi identitas pribadi banyak terdapat pada program acara pendidikan yang banyak diminati oleh responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara tingkat pendidikan dengan motivasi identitas pribadi responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata). Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi motivasi identitas pribadi yang dimilikinya. Setiap golongan tingkat pendidikan memiliki motivasi identitas pribadi yang sama-sama tinggi. Tidak terlihat perbedaan yang signifikan antara perbedaan jumlah responden yang memiliki motivasi identitas pribadi tinggi. 43
20 Tabel 13. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendidikan dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Identitas Pribadi Tingkat Pendidikan Rendah Tinggi (skor 5-12) (skor 13-20) SD 1 7 SL 4 10 PT (dalam persen) 8 (20,00) 14 (35,00) 18 (45,00) 40 (100,00) 6. Pengaruh Faktor Asal Etnis Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor asal etnis terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 14. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden etnis Melayu memiliki motivasi identitas pribadi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden etnis lainnya. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (1,736 < 6,251), artinya ada hubungan antara asal etnis dengan motivasi identitas pribadi responden. Meskipun responden setiap etnis memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi, tetapi motivasi identitas pribadi yang paling tinggi dan sangat signifikan yaitu pada golongan etnis Melayu. Hal ini disebabkan karena Riau Televisi lebih banyak menyiarkan acara yang memiliki nilai-nilai budaya lokal (Melayu) sehingga hal ini menarik minat masyarakat lokal (etnis Melayu) untuk mengembangkan nilai-nilai budaya Melayu yang ada. 44
21 Tabel 14. Jumlah Responden Menurut Asal Etnis dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Identitas Pribadi Asal Etnis Rendah Tinggi (skor 5-12) (skor 13-20) Melayu 4 16 Minang 2 3 Jawa 1 8 Batak (dalam persen) 20 (50,00) 5 (12,50) 9 (22,50) 6 (15,00) 40 (100,00) Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal 1. Pengaruh Faktor Usia Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor usia terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dapat dilihat pada Tabel 15. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada kelompok usia 25 sampai 45 tahun memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kedua kelompok usia lainnya. Tetapi perbedaan jumlah responden itu tidak terlalu signifikan antara responden pada kelompok usia kurang dari 25 tahun dengan responden pada kelompok usia 25 sampai 45 tahun. Hal ini disebabkan karena kedua kelompok usia tersebut dinilai memiliki motivasi yang tinggi untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain, empati sosial, menemukan bahan percakapan dalam kehidupan sehari-hari dan peran lainnya melalui televisi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara usia dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata), semakin tinggi usia responden maka semakin rendah motivasi integrasi dan interaksi sosial yang dimiliki. 45
22 Tabel 15. Jumlah Responden Menurut Usia dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Usia Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) < 25 tahun tahun 7 13 >45 tahun (dalam persen) 12 (30,00) 20 (50,00) 8 (20,00) 40 (100,00) 2. Pengaruh Faktor Jenis Kelamin Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis kelamin terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dalam menoton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 16. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden perempuan memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi dibandingkan responden laki-laki. Hal ini disebabkan karena responden perempuan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, empati sosial, dan peran lainnya dibandingkan dengan responden laki-laki. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (0,215 < 2,705), artinya ada hubungan antara jenis kelamin dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata). Responden laki-laki dan perempuan memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang sama-sama tinggi. 46
23 Tabel 16. Jumlah Responden Menurut Jenis Kelamin dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Jenis Kelamin Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) Laki-laki 3 13 Perempuan (dalam persen) 16 (40,00) 24 (60,00) 40 (100,00) 3. Pengaruh Faktor Jenis Pekerjaan Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis pekerjaan terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 17. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang masih menempuh pendidikan memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi daripada kedua golongan responden dengan jenis pekerjaan lainnya. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (2,393 < 4,605), artinya ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden. Setiap responden dari golongan jenis pekerjaan sama-sama memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah responden pada setiap jenis pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh jenis pekerjaan terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial tidak terlalu besar. Setiap responden pada jenis pekerjaan tertentu sama-sama membutuhkan interaksi dengan lingkungan sosial, membutuhkan empati sosial, membutuhkan bahan percakapan dengan orang lain, dan peran sosial lainnya. 47
24 Tabel 17. Jumlah Responden Menurut Jenis Pekerjaan dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Jenis Pekerjaan Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Rendah (skor 4-9) Tinggi (skor 10-16) (dalam persen) Bekerja (32,50) IRT,pensiunan,belum/ tidak bekerja (37,50) Pelajar/mahasiswa (30,00) (100,00) 4. Pengaruh Faktor Tingkat Pendapatan Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendapatan terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 18. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden golongan ekonomi menengah memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua responden pada kedua golongan ekonomi lainnya. Hal ini disebabkan karena golongan ekonomi menengah lebih banyak berinteraksi dan bersosialisasi membentuk peran sosial mereka dibandingkan dengan responden pda golongan ekonomi tinggi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara tingkat pendapatan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden hubungan yang negatif (tidak nyata), semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin rendah antara tingkat pendapatan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial yang dimiliki. Setiap golongan pendapatan sama-sama memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh tingkat pendapatan terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial tidak terlalu besar. Setiap responden 48
25 pada tingkat pendapatan tertentu sama-sama membutuhkan interaksi dengan lingkungan sosial, membutuhkan empati sosial, membutuhkan bahan percakapan dengan orang lain, dan peran sosial lainnya. Tabel 18. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendapatan dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Tingkat Pendapatan Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) < 1 juta ,5 juta 3 17 >2,5 juta (dalam persen) 12 (30,00) 20 (50,00) 8 (20,00) 40 (100,00) 5. Pengaruh Faktor Tingkat Pendidikan Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendidikan terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 19. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua responden pada golongan tingkat pendidikan lainnya. Hal ini disebabkan karena responden pada tingkat pendidikan perguruan tinggi lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan lebih banyak membutuhkan bahan percakapan dalam kehidupan sosial sehingga motivasi mereka untuk menonton program acara yang dapat menambah motivasi integrasi dan interaksi sosial seperti pada program informasi terlihat lebih tinggi. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara tingkat pendidikan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata), semakin tinggi 49
26 tingkat pendidikan maka semakin rendah motivasi integrasi dan interaksi sosial yang dimiliki. Setiap golongan responden sama-sama memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi. Tidak terlihat perbedaan yang signifikan pada jumlah responden yang memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi, hal ini hanya dapat dilihat dari jumlah acara yang berkaitan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial yang mereka tonton. Responden pada golongan tingkat pendidikan perguruan tinggi lebih banyak menonton acara yang berkaitan dengan pemenuhan motivasi integrasi dan interaksi sosial mereka dibandingkan dengan responden pada golongan tingkat pendidikan sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Tabel 19. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendidikan dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Integrasi Dan Interaksi Sosial Tingkat Pendidikan Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) SD 1 7 SL 4 10 PT (dalam persen) 8 (20,00) 14 (35,00) 18 (45,00) 40 (100,00) 6. Pengaruh Faktor Asal Etnis Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor asal etnis terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 20. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden golongan etnis Melayu memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden pada golongan etnis lainnya. Hal ini disebabkan karena program acara yang ditayangkan oleh Riau Televisi lebih banyak tentang 50
27 pengetahuan dan keadaan lokal, sehingga lebih menarik minat responden pada golongan etnis Melayu dibandingkan golongan etnis lainnya. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (1,450 < 6,251), artinya ada hubungan antara asal etnis dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden. Setiap golongan etnis sama-sama memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi. Tetapi terlihat perbedaan yang signifikan antara jumlah responden yang memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial pada setiap golongan etnis. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya jumlah acara yang ditonton oleh responden yang berpengaruh terhadap pemenuhan motivasi integrasi dan interaksi sosial mereka. Tabel 20. Jumlah Responden Menurut Asal Etnis dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Asal Etnis Motivasi Integrasi Dan Interaksi Rendah (skor 4-9) Sosial Tinggi (skor 10-16) (dalam persen) Melayu (50,00) Minang (12,50) Jawa (22,50) Batak (15,00) (100,00) Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal 1. Pengaruh Faktor Usia Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor usia terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 21. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada kelompok umur kurang dari 25 tahun memiliki motivasi hiburan yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden pada kedua kelompok umur lainnya. Responden pada kelompok umur kurang dari 51
28 25 tahun tersebut menonton acara hiburan paling banyak dibandingan dengan yang lainnya. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara usia dengan motivasi hiburan responden hubungan yang negatif (tidak nyata). Artinya, semakin tinggi umur seseorang, semakin rendah motivasi hiburan yang dimilikinya dan semakin rendah umur seseorang semakin tinggi motivasi hiburan yang dimilikinya. Tabel 21. Jumlah Responden Menurut Usia dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Hiburan Tinggi Usia Rendah (skor 15- (skor 6-14) 24) < 25 tahun tahun 0 12 >45 tahun (dalam persen) 20 (50,00) 12 (30,00) 8 (20,00) 40 (100,00) 2. Pengaruh Faktor Jenis Kelamin Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis kelamin terhadap motivasi hiburan menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 22. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden perempuan memiliki motivasi hiburan lebih tinggi dibandingkan dengan responden laki-laki. Hal ini disebabkan karena perbedaan kebutuhan, responden perempuan menonton acara hiburan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (0,952 < 2,705), artinya antara ada hubungan jenis kelamin dengan motivasi hiburan responden. Hal ini disebabkan karena responden laki-laki dan perempuan memiliki motivasi hiburan yang sama- 52
29 sama tinggi, hanya lima responden yang memiliki motivasi hiburan yang rendah. Tabel 22. Jumlah Responden Menurut Jenis Kelamin dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Hiburan Jenis Kelamin Tinggi Rendah (skor 15- (skor 6-14) 24) Laki-laki 1 15 Perempuan (dalam persen) 16 (40,00) 24 (60,00) 40 (100,00) 3. Pengaruh Faktor Jenis Pekerjaan Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor jenis pekerjaan terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 23. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada golongan ibu rumah tangga, pensiunan, belum atau tidak bekerja, dan pelajar atau mahasiswa memiliki motivasi hiburan lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang bekerja. Hal ini disebabkan karena responden pada kedua golongan tersebut memiliki waktu luang yang lebih banyak dibandingkan responden yang bekerja dan pilihan acara yang mereka tonton kebanyakan adalah acara hiburan yang dapat mengisi waktu luang tersebut, seperti acara musik dan olahraga. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (3,053 < 4,605), artinya ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan motivasi hiburan responden. Setiap golongan memiliki motivasi informasi yang tinggi, tetapi terdapat perbedaan yang signifikan pada golongan pelajar atau mahasiswa, dibandingkan dengan kedua golongan lainnya, responden golongan ini semuanya memiliki motivasi hiburan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena mereka masih memerlukan 53
30 hiburan yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari dan pilihan media massa utama bagi mereka adalah televisi. Tabel 23. Jumlah Responden Menurut Jenis Pekerjaan dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Jenis Pekerjaan Bekerja IRT,pensiunan,belum/ tidak bekerja Pelajar/mahasiswa Motivasi Hiburan Tinggi Rendah (skor 15- (skor 6-14) 24) (dalam persen) 13 (32,50) 15 (37,50) 12 (30,00) 40 (100,00) 4. Pengaruh Faktor Tingkat Pendapatan Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendapatan terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 24. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada golongan ekonomi bawah (kurang dari 1 juta) memiliki motivasi hiburan lebih tinggi dibandingkan dengan responden pada kedua golongan ekonomi lainnya. Responden golongan ekonomi bawah menonton acara hiburan paling banyak dibandingkan kedua golongan responden lainnya. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara tingkat pendapatan dengan motivasi hiburan responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata). Artinya, semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin rendah motivasi hiburan yang dimiliki. Tetapi perbedaan yang signifikan dapat dilihat pada responden golongan ekonomi bawah (kurang dari 1 juta) yang semuanya memiliki motivasi hiburan yang lebih tinggi. 54
31 Tabel 24. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendapatan dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Hiburan Tinggi Tingkat Pendapatan Rendah (skor 15- (skor 6-14) 24) <1 juta ,5 juta 2 11 >2,5 juta (dalam persen) 19 (47,50) 13 (32,50) 8 (20,00) 40 (100,00) 5. Pengaruh Faktor Tingkat Pendidikan Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor tingkat pendidikan terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 25. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden dengan tingkat pendidikan sekolah dasar memiliki motivasi hiburan lebih tinggi dibandingkan dengan responden pada kedua golongan tingkat pendidikan lainnya. Perbedaan yang cukup signifikan dapat dilihat pada responden dengan tingkat pendidikan sekolah dasar, tidak satupun responden yang memiliki motivasi hiburan rendah. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara tingkat pendidikan dengan motivasi hiburan responden memiliki hubungan yang positif (nyata) dan hubungan tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti, artinya semakin rendah tingkat pendidikan responden maka semakin tinggi motivasi hiburan yang dimilikinya, dan semakin tinggi tingkat pendidikan responden maka semakin rendah motivasi hiburan yang dimilikinya. 55
32 Tabel 25. Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendidikan dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Hiburan Tinggi Tingkat Pendidikan Rendah (skor 15- (skor 6-14) 24) SD 0 17 SL 4 10 PT (dalam persen) 17 (42,50) 14 (35,00) 9 (22,50) 40 (100,00) 6. Pengaruh Faktor Asal Etnis Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor asal etnis terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 26. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden pada golongan etnis Melayu (asli) memiliki motivasi hiburan lebih tinggi dibandingkan dengan responden pada golongan etnis lainnya (Jawa, Minang, dan Batak). Hal ini beraitan erat dengan jenis program hiburan yang ditayangkan oleh Riau Televisi. Riau Televisi lebih banyak menayangkan program hiburan yang bersifat lokal (daerah Riau) yang lebih banyak diminati oleh responden golongan etnis melayu dibandingkan dengan golongan etnis lainnya. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (0,483 < 6,251), artinya ada hubungan antara asal etnis dengan motivasi hiburan responden memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata). Setiap golongan responden memiliki motivasi hiburan yang sama-sama tinggi. Perbedaannya dapat dilihat pada jumlah program hiburan yang ditonton oleh masing-masing etnis. 56
33 Tabel 26. Jumlah Responden Menurut Asal Etnis dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Hiburan Tinggi Asal Etnis Rendah (skor 15- (skor 6-14) 24) Melayu 2 18 Minang 1 4 Jawa 1 8 Batak (dalam persen) 20 (50,00) 5 (12,50) 9 (22,50) 6 (15,00) 40 (100,00) Pengaruh Faktor Ekstrinsik Terhadap Motivasi Menonton Televisi Lokal Faktor ekstrinsik yang berhubungan dengan motivasi responden dalam montonton televisi lokal dalam penelitian ini adalah informasi acara dan pola pengambilan keputusan Pengaruh Faktor Informasi Acara 1. Pengaruh Faktor Informasi Acara Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor informasi acara terhadap motivasi informasi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 27. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi informasi tinggi lebih banyak memperoleh informasi dari iklan televisi. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah media yang digunakan oleh Riau Televisi untuk memberitahukan informasi acara yang ditayangkan oleh pihak Riau Televisi. Riau Televisi hanya menggunakan satu media cetak yaitu surat kabar Riau Pos untuk memberitahukan jadwal informasi acara, sehingga jumlah responden yang mengetahui informasi acara dari surat kabar hanya terbatas pada responden yang membaca atau berlangganan surat kabar tersebut. Tetapi pada tabel dapat dilihat pengaruh informasi acara dari majalah/surat 57
34 kabar dan keluarga/teman sangat mempengaruhi responden untuk menonton acara informasi. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (0,726 < 4,605), artinya ada hubungan antara informasi acara dengan motivasi informasi responden dan hubungan tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti, artinya semakin banyak jumlah informasi acara yang diperoleh oleh responden, maka semakin tinggi pula motivasi informasi yang dimiliki responden untuk menonton acara tersebut. Tabel 27. Jumlah Responden Menurut Informasi Acara dan Kategori Motivasi Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Informasi Acara Tinggi Rendah (skor 10- (skor 4-9) 16) Iklan TV 5 18 Majalah/surat kabar 1 9 Keluarga/teman (dalam persen) 23 (57,50) 10 (25,00) 7 (17,50) 40 (100,00) 2. Pengaruh Faktor Informasi Acara Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor informasi acara terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 28. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi lebih banyak memperoleh informasi acara dari iklan televisi. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah media yang digunakan oleh Riau Televisi untuk memberitahukan informasi acara yang ditayangkan oleh pihak Riau Televisi. Riau Televisi hanya menggunakan satu media cetak yaitu surat kabar Riau Pos untuk memberitahukan jadwal informasi acara, sehingga jumlah responden yang mengetahui informasi acara dari surat 58
35 kabar hanya terbatas pada responden yang membaca atau berlangganan surat kabar tersebut. Tetapi pada tabel dapat dilihat bahwa informasi acara dari majalah/surat kabar dan keluarga/teman sangat mempengaruhi responden untuk menonton acara yang dapat menambah motivasi identitas pribadi responden. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (2,283 < 4,605), artinya ada hubungan antara informasi acara dengan motivasi identitas pribadi responden. Artinya, semakin banyak jumlah informasi acara yang diperoleh oleh responden, maka semakin tinggi pula motivasi identitas pribadi yang dimiliki responden untuk menonton acara tersebut. Tabel 28. Jumlah Responden Menurut Informasi Acara dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Informasi Acara Motivasi Identitas Pribadi Rendah (skor 5-12) Tinggi (skor 13-20) (dalam persen) Iklan TV (57,50) Majalah/surat kabar (25,00) Keluarga/teman (17,50) (100,00) 3. Pengaruh Faktor Informasi Acara Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor informasi acara terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 29. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi lebih banyak memperoleh informasi acara dari iklan televisi. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah media yang digunakan oleh Riau Televisi untuk memberitahukan informasi acara yang ditayangkan oleh pihak Riau Televisi. Riau Televisi hanya menggunakan satu media cetak 59
36 yaitu surat kabar Riau Pos untuk memberitahukan jadwal informasi acara, sehingga jumlah responden yang mengetahui informasi acara dari surat kabar hanya terbatas pada responden yang membaca atau berlangganan surat kabar tersebut. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (2,567 < 4,605), artinya ada hubungan antara informasi acara dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden. Hal ini disebabkan karena setiap golongan informasi acara, responden memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi. Tabel 29. Jumlah Responden Menurut Informasi Acara dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Informasi Acara Rendah Tinggi (skor 4-9) (skor 10-16) Iklan TV 5 18 Majalah/surat kabar 1 9 Keluarga/teman (dalam persen) 23 (57,50) 10 (25,00) 7 (17,50) 40 (100,00) 4. Pengaruh Faktor Informasi Acara Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor informasi acara terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 30. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi hiburan yang tinggi lebih banyak memperoleh informasi acara dari iklan televisi. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah media yang digunakan oleh Riau Televisi untuk memberitahukan informasi acara yang ditayangkan oleh pihak Riau Televisi. Riau Televisi hanya menggunakan satu media cetak yaitu surat kabar Riau Pos untuk memberitahukan jadwal informasi acara, sehingga jumlah responden yang mengetahui informasi acara dari surat kabar hanya terbatas 60
37 pada responden yang membaca atau berlangganan surat kabar tersebut. Tetapi pada tabel dapat dilihat bahwa informasi acara dari majalah/surat kabar dan keluarga/teman sangat mempengaruhi responden untuk menonton acara yang dapat menambah motivasi hiburan responden. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (1,560 < 4,605), artinya ada hubungan antara informasi acara dengan motivasi hiburan responden. Artinya, semakin banyak jumlah informasi acara yang diperoleh oleh responden, maka semakin tinggi pula motivasi hiburan yang dimiliki responden untuk menonton acara tersebut. Tabel 30. Jumlah Responden Menurut Informasi Acara dan Kategori Motivasi Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Hiburan Informasi Acara Rendah Tinggi (skor 6-14) (skor 15-24) Iklan TV 4 19 Majalah/surat kabar 1 9 Keluarga/teman (dalam persen) 23 (57,50) 10 (25,00) 7 (17,50) 40 (100,00) Pengaruh Pola Pengambilan Keputusan 1. Pengaruh Pola Pengambilan Keputusan Terhadap Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor pola pengambilan keputusan terhadap motivasi informasi responden dapat dilihat pada Tabel 31. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi informasi tinggi dipengaruhi oleh pola pengambilan keputusan orang lain untuk menonton televisi lokal, keputusan orang lain ini antara lain keputusan orang tua. Tetapi responden yang menonton televisi lokal yang mengikuti pola menonton berdasarkan keputusan sendiri, bersama, atau orang yang sudah ada sebelumnya juga memiliki motivasi informasi yang tinggi. Rata-rata responden tidak merasa 61
38 terpaksa untuk mengikuti keputusan tersebut. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (0,739 < 4,605), artinya ada hubungan antara pola pengambilan keputusan dengan motivasi informasi responden. Tabel 31. Jumlah Responden Menurut Pola Pengambilan Keputusan dan Kategori Motivasi Informasi di RW13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Pola pengambilan keputusan Motivasi informasi Rendah (skor 4-9) Tinggi (skor 10-16) (dalam persen) Keputusan orang lain (45,00) Keputusan sendiri (25,00) Keputusan bersama (12,50) Keputusan sendiri atau orang yang sudah ada sebelumnya (17,50) (100,00) 2. Pengaruh Pola Pengambilan Keputusan Terhadap Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor pola pengambilan keputusan terhadap motivasi identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 32. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi identitas pribadi tinggi dipengaruhi oleh pola pengambilan keputusan orang lain untuk menonton televisi lokal, keputusan orang lain ini antara lain keputusan orang tua. Tetapi responden yang menonton televisi lokal yang mengikuti pola menonton berdasarkan keputusan sendiri, bersama, atau orang yang sudah ada sebelumnya juga memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (2,703 < 4,605), artinya ada hubungan antara pola pengambilan keputusan dengan motivasi identitas 62
39 pribadi responden. Responden pada setiap golongan pola pengambilan keputusan memiliki motivasi identitas pribadi yang tinggi. Tabel 32. Jumlah Responden Menurut Pola Pengambilan Keputusan dan Kategori Motivasi Identitas Pribadi di RW13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Pola Pengambilan Keputusan Motivasi Identitas Pribadi Rendah (skor 5-12) Tinggi (skor 13- (dalam persen) Keputusan orang lain (45,00) Keputusan sendiri (25,00) Keputusan bersama (12,50) Keputusan sendiri atau orang yang sudah ada sebelumnya 20) (17,50) (100,00) 3. Pengaruh Pola Pengambilan Keputusan Terhadap Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor pola pengambilan keputusan terhadap motivasi integrasi dan interaksi sosial responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 33. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial tinggi dipengaruhi oleh pola pengambilan keputusan orang lain untuk menonton televisi lokal, keputusan orang lain ini antara lain keputusan orang tua. Tetapi responden yang menonton televisi lokal yang mengikuti pola menonton berdasarkan keputusan sendiri, bersama, atau orang yang sudah ada sebelumnya juga memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang tinggi. Hal ini disebabkan karena rata-rata responden tidak merasa terpaksa untuk mengikuti keputusan tersebut. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (2,578 < 4,605), artinya 63
40 ada hubungan antara pola pengambilan keputusan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden. Tabel 33. Jumlah Responden Menurut Pola Pengambilan Keputusan dan Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial di RW13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Pola Pengambilan Keputusan Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Rendah (skor 4-9) Tinggi (skor 10-16) (dalam persen) Keputusan orang lain (45,00) Keputusan sendiri (25,00) Keputusan bersama (12,50) Keputusan sendiri atau orang yang sudah ada sebelumnya (17,50) (100,00) 4. Pengaruh Pola Pengambilan Keputusan Terhadap Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pengaruh faktor pola pengambilan keputusan terhadap motivasi hiburan responden dalam menonton televisi lokal dapat dilihat pada Tabel 34. Pada tabel tersebut dapat dilihat responden yang memiliki motivasi hiburan tinggi dipengaruhi oleh pola pengambilan keputusan orang lain untuk menonton televisi lokal, keputusan orang lain ini antara lain keputusan orang tua dan teman. Tetapi responden yang menonton televisi lokal yang mengikuti pola menonton berdasarkan keputusan sendiri, bersama, atau orang yang sudah ada sebelumnya juga memiliki motivasi hiburan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena rata-rata responden tidak merasa terpaksa untuk mengikuti keputusan tersebut. Berdasarkan Uji Chi Square, didapatkan bahwa x 2 hasil perhitungan lebih kecil dari x 2 tabel (3,327 < 4,605), artinya ada hubungan antara pola 64
41 pengambilan keputusan dengan motivasi hiburan responden. Setiap golongan pola pengambilan keputusan, responden memiliki motivasi informasi yang tinggi. Tetapi dapat dilihat pada tabel, semua responden yang mengikuti pola menonton televisi lokal berdasarkan keputusan bersama atau keputusan sendiri/orang yang sudah ada sebelumnya memiliki motivasi hiburan yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh program acara yang ditonton. Biasanya program acara hiburan yang menayangkan event tertentu sangat menarik minat responden untuk menonton acara tersebut. Tabel 34. Jumlah Responden Menurut Pola Pengambilan Keputusan dan Kategori Motivasi Hiburan di RW13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Pola Pengambilan Keputusan Motivasi Hiburan Rendah (skor 6-14) Tinggi (skor 15-24) (dalam persen) Keputusan orang lain (45,00) Keputusan sendiri (25,00) Keputusan bersama (12,50) Keputusan sendiri atau orang yang sudah ada sebelumnya (17,50) (100,00) 5.2 Resume Berdasarkan hasil pembahasan diatas diperoleh bahwa motivasi menonton televisi lokal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi-motivasi responden dalam menonton televisi lokal: 1. Motivasi informasi dipengaruhi oleh faktor intrinsik antara lain usia, tingkat pendapatan, dan tingkat pendidikan yang memiliki hubungan positif (nyata) terhadap motivasi informasi. Faktor jenis kelamin, jenis 65
42 pekerjaan, dan asal etnis memiliki memiliki hubungan dengan motivasi informasi responden. Sedangkan faktor ekstrinsik berupa informasi acara dan pola pengambilan keputusan memiliki hubungan dengan motivasi identitas pribadi responden. 2. Motivasi identitas pribadi dipengaruhi oleh faktor intrinsik antara lain asal etnis yang memiliki hubungan dengan motivasi identitas pribadi responden. Faktor jenis kelamin, jenis pekerjaan tidak memiliki hubungan dengan motivasi identitas pribadi responden. Faktor usia, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata) dengan motivasi identitas responden. Sedangkan faktor ekstrinsik berupa informasi acara dan pola pengambilan keputusan memiliki hubungan dengan motivasi identitas pribadi responden. 3. Motivasi integrasi dan interaksi sosial dipengaruhi oleh faktor intrinsik antara lain jenis kelamin, jenis pekerjaan dan asal etnis yang memiliki hubungan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial. Faktor usia, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata) dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden. Sedangkan faktor ekstrinsik berupa informasi acara dan pola pengambilan keputusan memiliki dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial responden. 4. Motivasi hiburan dipengaruhi oleh faktor intrinsik antara lain jenis pekerjaan, jenis kelamin, dan asal etnis memiliki hubungan dengan motivasi hiburan responden. Faktor tingkat pendidikan memiliki hubungan yang positif (nyata) dengan motivasi hiburan. Faktor usia, tingkat pendapatan, memiliki hubungan yang negatif (tidak nyata) dengan motivasi hiburan responden. Sedangkan faktor ekstrinsik berupa informasi acara dan pola pengambilan keputusan memiliki hubungan dengan motivasi hiburan responden. 66
43 BAB VI POLA MENONTON TELEVISI LOKAL Setiap individu memiliki perilaku tertentu dalam menggunakan media massa. Perilaku menonton televisi adalah suatu tindakan menonton televisi karena adanya dorongan pada seseorang untuk menonton televisi. Dorongan ini dapat dikatakan sebagai motivasi. Menurut De Fleur (1983), ada tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk melihat perilaku penggunaan televisi, yaitu: 1) total waktu rata-rata yang digunakan untuk menonton televisi dalam sehari (durasi menonton), 2) pilihan acara yang ditonton dalam sehari, dan 3) frekuensi menonton. Penelitian ini hanya menggunakan dua alat ukur saja yaitu pilihan acara dan durasi menonton. 6.1 Pengaruh Motivasi Menonton Televisi Lokal Terhadap Pilihan Acara Respoden Berikut ditampilkan tabel pengaruh motivasi menonton televisi lokal terhadap pilihan acara responden. Pada tabel dapat dilihat, responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap motivasi memilih acara yang sesuai dengan motivasi mereka. Sebanyak 23 responden dengan motivasi informasi tinggi memilih jenis pilihan acara informasi seperti program berita (Detak Riau), talkshow (Talkshow obrolan politik), dialog (Dokter Anda), dan informasi olahraga (Venues). Sebanyak 17 responden dengan motivasi identitas pribadi tinggi memilih jenis pilihan acara pendidikan karena melalui acara ini responden dapat memperoleh tambahan nilai-nilai tertentu di dalam kehidupan sehari-hari seperti acara talkshow agama (Dialog Iqra Annisa, Dialog Islam bersama IKADI) ), dan acara informasi lainnya. Sebanyak 22 responden dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial tinggi memilih jenis pilihan acara informasi karena melalui acara ini responden dapat memenuhi motivasi ingin berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti acara Berita Pilihan 7, Rentak Kota, Buka Mata, dan Kriminal Sepekan. Sebanyak 23 responden dengan motivasi hiburan tinggi memilih jenis acara hiburan seperti Bursa Nada dan Niaga, Mozaik Musik, Salam Dendang Melayu, dan wacara hiburan lainnya. Berdasarkan uji korelasi Spearman, diketahui bahwa ada hubungan yang positif (nyata) antara motivasi dan 67
44 pilihan acara. Semakin tinggi motivasi seseorang menonton televisi, maka semakin banyak pula jenis pilihan acara yang ditonton. Tabel 35. Jumlah Responden Menurut Kategori Motivasi dan Jenis Pilihan Acara di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Kategori Motivasi Jenis Pilihan Acara Pendidikan Informasi Hiburan Responden Motivasi Informasi Rendah Motivasi Informasi Tinggi Motivasi Identitas Pribadi Rendah Motivasi Identitas Pribadi Tinggi Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Rendah Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Tinggi Motivasi Hiburan Rendah Motivasi Hiburan Tinggi Pengaruh Motivasi Menonton Televisi Lokal Terhadap Durasi Menonton Responden Berikut ditampilkan tabel pengaruh motivasi menonton televisi lokal terhadap durasi menonton responden. Pada tabel dapat dilihat, responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap motivasi cenderung memiliki durasi menonton lebih lama. Rata-rata responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap motivasi menghabiskan waktu 3 sampai 5 jam perhari untuk menonton televisi lokal. Berdasarkan uji korelasi Spearman, diketahui bahwa ada hubungan yang positif (nyata) antara motivasi dan durasi menonton. Semakin tinggi motivasi seseorang menonton televisi, maka semakin lama waktu yang digunakan untuk menonton acara tersebut. 68
45 Tabel 36. Jumlah Responden Menurut Kategori Motivasi dan Durasi Menonton di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Kategori Motivasi Motivasi Informasi Rendah Motivasi Informasi Tinggi Motivasi Identitas Pribadi Rendah Motivasi Identitas Pribadi Tinggi Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Rendah Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Tinggi Motivasi Hiburan Rendah Motivasi Hiburan Tinggi Durasi Menonton < 3 jam/ 3-5 jam/ >5jam/ Hari Hari Hari Responden Resume Pengaruh motivasi menonton terhadap pilihan acara, responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap motivasi memilih acara yang sesuai dengan motivasi mereka. Semakin tinggi motivasi seseorang menonton televisi, maka semakin banyak pula jenis pilihan acara yang ditonton. Responden dengan motivasi informasi tinggi memilih jenis pilihan acara informasi seperti program berita (Detak Riau), talkshow (Talkshow obrolan politik), dialog (Dokter Anda), dan informasi olahraga (Venues). Responden dengan motivasi identitas pribadi tinggi memilih jenis pilihan acara pendidikan karena melalui acara ini responden dapat memperoleh tambahan nilai-nilai tertentu di dalam kehidupan sehari-hari seperti acara talkshow agama (Dialog Iqra Annisa, Dialog Islam bersama IKADI), dan acara informasi lainnya. Responden dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial tinggi memilih jenis pilihan acara informasi karena melalui acara ini responden dapat memenuhi motivasi ingin berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti acara Berita Pilihan 7, Rentak Kota, Buka Mata, dan Kriminal Sepekan. Responden dengan motivasi hiburan tinggi memilih jenis acara hiburan seperti Bursa Nada dan Niaga, Mozaik Musik, Salam Dendang Melayu, dan acara hiburan lainnya. 69
46 Responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap motivasi cenderung memiliki durasi menonton lebih lama. Rata-rata responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap motivasi menghabiskan waktu tiga sampai lima jam perhari untuk menonton televisi lokal. Semakin tinggi motivasi seseorang menonton televisi, maka semakin lama waktu yang digunakan untuk menonton acara tersebut. 70
47 BAB VII KEPUASAN MENONTON TELEVISI LOKAL McQuail (1991) mengemukakan ada empat jenis motivasi dalam diri individu yaitu motivasi informasi, motivasi identitas pribadi, motivasi integrasi dan interaksi sosial, dan motivasi hiburan. Masing-masing motivasi dikembangkan ke dalam beberapa bagian, sehingga diperoleh 21 submotivasi. Setiap motivasi diukur dengan pernyataan-pernyataan responden tentang apa yang dicari atau diharapkan dari acara-acara televisi. Setiap pernyataan motivasi tersebut diukur melalui skala mulai dari sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), setuju (3), dan sangat setuju (4). Skor-skor tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan total skor untuk masing-masing motivasi, kemudian dikelompokkan menjadi motivasi rendah dan tinggi. Kepuasan diukur dengan pernyataan-pernyataan responden tentang apa yang benar-benar mereka peroleh dari acara-acara televisi tersebut. Setiap kepuasan tersebut diberi skala mulai dari sangat tidak puas (1), tidak puas (2), puas (3), dan sangat puas (4). Skor-skor tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan total skor untuk masing-masing kepuasan. Pengukuran kepuasan menonton dilakukan dengan membandingkan skor motivasi dengan skor kepuasan yang diperoleh responden pada setiap motivasi. Dari hasil skor yang didapat, dikelompokkan menjadi tidak terpuaskan (rendah) dan terpuaskan (tinggi). Kepuasan dengan skor tinggi menunjukkan bahwa kepuasan tersebut lebih dominan dirasakan responden dalam menonton televisi lokal. 7.1 Kepuasan Informasi Menonton Televisi Lokal Berdasarkan Motivasi Informasi Menonton Televisi Lokal Pada Tabel 37. disajikan tabel motivasi informasi menonton televisi dan kepuasan yang didapatkan. Dari hasil tersebut dapat dilihat, sebanyak 29 responden (72,5 persen) terpuaskan dengan acara informasi yang mereka tonton. Berdasarkan uji korelasi Spearman, diperoleh nilai artinya antara motivasi informasi dan kepuasan informasi memiliki hubungan yang positif (nyata), dan hubungan tersebut kuat atau tinggi. Semakin tinggi 71
48 motivasi informasi responden semakin terpuaskan kebutuhan informasi responden dalam menonton televisi lokal. Tabel 37. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kategori Motivasi Informasi dan Kategori Kepuasan Informasi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Informasi Rendah (Skor 4-9) Tinggi (Skor 10-16) Kepuasan Informasi (dalam persen) Tidak Terpuaskan Terpuaskan (Skor 4-9) (Skor 10-16) 1 (2,5) 6 (15) 4 (10) 29 (72,5) 7.2 Kepuasan Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Berdasarkan Motivasi Identitas Pribadi Menonton Televisi Lokal Pada Tabel 38. disajikan tabel motivasi identitas pribadi menonton televisi dan kepuasan yang didapatkan. Dari tabel tersebut dapat dilihat sebanyak 25 responden (62,5 persen) terpuaskan motivasi identitas pribadinya. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai +0,144 artinya antara motivasi identitas pribadi dan kepuasan identitas pribadi memiliki hubungan yang positif (nyata), dan hubungan tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti. Artinya, semakin tinggi motivasi identitas pribadi responden semakin terpuaskan kebutuhan identitas pribadi responden dalam menonton televisi lokal. 72
49 Tabel 38. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kategori Motivasi Identitas Pribadi dan Kategori Kepuasan Identitas Pribadi di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Identitas Pribadi Rendah (Skor 5-12) Tinggi (Skor 13-20) Kepuasan Identitas Pribadi (dalam persen) Tidak Terpuaskan Terpuaskan (Skor 5-12) (Skor 13-20) 3 (7,5) 5(12,5) 7 (17,5) 25 (62,5) 7.3 Kepuasan Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Berdasarkan Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Menonton Televisi Lokal Pada Tabel 39. Disajikan tabel motivasi integrasi dan interaksi sosial menonton televisi dan kepuasan yang didapatkan. Pada tabel dapat dilihat sebanyak 25 responden (62,5 persen) terpuaskan motivasi integrasi dan interaksi sosialnya. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai +0,140 artinya antara motivasi integrasi dan interaksi sosial dan kepuasan integrasi dan interaksi sosial memiliki hubungan yang positif (nyata), dan hubungan tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti. Artinya, semakin tinggi motivasi integrasi dan interaksi sosial responden maka semakin terpuaskan kebutuhan integrasi dan interaksi sosial responden dalam menonton televisi lokal. 73
50 Tabel 39. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kategori Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial dan Kategori Kepuasan Integrasi dan Interaksi Sosial di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial Rendah (Skor 4-9) Tinggi (Skor 10-16) Kepuasan Integrasi dan Interaksi Sosial (dalam persen) Tidak Terpuaskan Terpuaskan (Skor 4-9) (Skor 10-16) 3 (7,5) 6(15) 6 (15) 25 (62,5) 7.4 Kepuasan Hiburan Menonton Televisi Lokal Berdasarkan Motivasi Hiburan Menonton Televisi Lokal Pada Tabel 40. disajikan tabel motivasi hiburan menonton televisi dan kepuasan yang didapatkan. Pada tabel tersebut dapat dilihat sebanyak 28 responden (70 persen) yang memiliki motivasi hiburan tinggi terpuaskan dengan motivasi hiburannya. Berdasarkan Uji Korelasi Spearman, diperoleh nilai +0,158 artinya antara motivasi hiburan dan kepuasan hiburan memiliki hubungan yang positif (nyata), dan hubungan tersebut menunjukkan hubungan yang kuat atau tinggi. Artinya, semakin tinggi motivasi hiburan responden, semakin terpuaskan kebutuhan hiburan responden dalam menonton televisi lokal. 74
51 Tabel 40. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kategori Motivasi Hiburan dan Kategori Kepuasan Hiburan di RW 13 Kelurahan Simpang Baru Tahun 2009 Kepuasan Hiburan (dalam persen) Motivasi Hiburan Tidak Terpuaskan (Skor 6-14) Terpuaskan (Skor 15-24) Rendah (Skor 6-14) Tinggi (Skor 15-24) 2 (5) 7 (17,5) 3 (7,5) 28 (70) 7.5 Resume Responden yang memiliki motivasi tinggi disetiap jenis motivasi merasa terpuaskan dengan acara yang mereka tonton di televisi lokal. Artinya semakin tinggi motivasi, semakin tinggi pula kepuasan yang dirasakan oleh responden dalam menonton televisi lokal. Hal ini dipengaruhi dari program acara yang ditayangkan oleh pihak Riau Televisi. Program acara yang bertemakan budaya lokal, informasi daerah, nilai-nilai lokal banyak menarik minat responden untuk menonton televisi lokal ditengah beragamnya acara yang ditawarkan televisi nasional. Program acara yang bernuansa daerah menjadi daya tarik dan nilai tambah tersendiri bari responden. 75
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Hadirnya PT Riau Media Televisi. yang penulis lakukan diantaranya :
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Hadirnya PT Riau Media Televisi Dari data yang penulis dapatkan dari arsip dan dokumen Riau Televisi, penulis dapat menjelaskan gambaran umum lokasi penelitian
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. batas antara Kota Pekanbaru dengan Kabupaten Kampar pada tanggal 14 Mei
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Kecamatan Tampan Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru adalah merupakan salah satu Kecamatan yang berbentuk berdasarkan PP.No.19 Tahun 1987, tentang perubahan
BAB II GAMBARAN UMUM DESA SEI. INJAB KELURAHAN TERKUL. luas wilayah Hektar (Ha). Secara georafis, Kelurahan
BAB II GAMBARAN UMUM DESA SEI. INJAB KELURAHAN TERKUL A. Kondisi Geografis Dan Demografis 1. Kondisi Geografis Desa Sei. Injab adalah salah satu desa yang berada dikelurahan Terkul Kecamatan Rupat Kabupaten
BAB VII OPINI KHALAYAK LANGSUNG ACARA MUSIK DERINGS TRANS TV DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
BAB VII OPINI KHALAYAK LANGSUNG ACARA MUSIK DERINGS TRANS TV DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 7.1 Opini Khalayak Langsung Acara Musik Derings Opini responden sebagai khalayak langsung acara musik
BAB V PROFIL KHALAYAK LANGSUNG ACARA MUSIK DERINGS DI TRANS TV
BAB V PROFIL KHALAYAK LANGSUNG ACARA MUSIK DERINGS DI TRANS TV 5.1 Profil Khalayak Langsung Acara Musik Derings Khalayak langsung acara musik Derings adalah khalayak yang berada dilokasi penayangan acara
BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN TUAH KARYA KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU. yang ada di kota Pekanbaru, yang pada mulanya merupakan wilayah dari
15 BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN TUAH KARYA KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU A. Letak Geografis dan Demografis Kecamatan Tampan kota Pekanbaru adalah salah satu dari 12 kecamatan yang ada di kota Pekanbaru,
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. berjumlah 2.583, wanita berjumlah Untuk lebih jelasnya mengenai
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Demografis Berdasarkan sensus penduduk tahun 2014, bahwa seluruh penduduk yang tinggal di Desa Bangkinang Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar sebanyak 250 KK,
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. wilayah ± KM2. Terbentuknya Kecamatan Tampan ini terdiri dari beberapa
17 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 1. Kecamatan Tampan Pekanbaru A. Letak dan Geografis Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru merupakan salah satu Kecamatan yang terbentuk berdasarkan PP.No.19 Tahun 1987,
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Malaka terletak antara Lintang Selatan Lintang Utara atau antara 100
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Provinsi Riau terdiri dari daerah daratan dan perairan, dengan luas lebih kurang 8.915.016 Ha (89.150 Km2), Keberadaannya membentang dari lereng
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. secara geografis terletak antara 101º20 6 BT dan 1º55 49 LU-2º1 34 LU, dengan
18 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Letak dan Keadaan Geografis Kelurahan Lubuk Gaung adalah salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai Provinsi Riau. Kelurahan Lubuk
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG LOKASI PENELITIAN
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis 1. Luas dan batas wilayah administrasi Kecamatan Tampan merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kota Pekanbaru, terdiri atas 71 RW dan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. pemerintahan Kecamatan Kampar TimurKabupaten Kampar. Adapun jarak desa Pulau
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Kondisi Geografis dan Demografis Secara geografis desa Pulau Rambai merupakan desa yang termasuk ke dalam pemerintahan Kecamatan Kampar TimurKabupaten Kampar.
I. PENDAHULUAN. Indonesia dan sebaliknya, Provinsi Riau akan menjadi daerah yang tertinggal
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Apabila dicermati kembali proses pemekaran Provinsi Riau menjadi Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau, ada dua perkiraan yang kontradiktif bahwa Provinsi Riau Kepulauan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIANN. 1. Kelurahan Simpang Baru. 2. Kelurahan Sidomulyo Barat : 13,69 km Kelurahan Tuah Karya : 12,09 km 2
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIANN A. Letak dan GeografisKecamatan Tampan Kecamatanan Tampan merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kota Pekanbaru, terdirii atas 71 RW dan 424 RT. Luas wilayah
BAB 3 OBJEK PENELITIAN. Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia semula didirikan
BAB 3 OBJEK PENELITIAN 3.1 Gambaran Umum TVRI 3.1.1 Sejarah Terbentuknya TVRI Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia semula didirikan dalam bentuk Yayasan berdasarkan Surat Keputusan Presiden
BAB III DATA RESPONDEN
BAB III DATA RESPONDEN A. JENIS KELAMIN RESPONDEN Penelitian ini sebagian besar mengambil kelompok laki-laki sebagai responden. Dari 8 responden yang diwawancarai dan yang ikut FGD, terdapat orang responden
BAB II TINJAUAN UMUM RW 01. Kelurahan Simpang Empat Kecamatan Pekanbaru Kota, Kota Pekanbaru. Luas wilayah
BAB II TINJAUAN UMUM RW 01 A. Letak Geografis dan Demografis 1. Geografis Daerah RW 01 merupakan salah satu RW dari lima RW yang berada dalam kawasan Kelurahan Simpang Empat Kecamatan Pekanbaru Kota, Kota
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Singkat Perkembangan Andalaz Televisi. bangsa pada umumnya. Kebutuhan akan informasi
26 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Singkat Perkembangan Andalaz Televisi Perkembangan teknologi dan multimedia dewasa ini khususnya di bidang pertelevisian di kota-kota di Indonesia sangat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perkembangan media massa di era globalisasi semakin pesat khususnya media elektronik televisi; hal ini dilihat dari munculnya berbagai macam stasiun televisi swasta
BAB V PROFIL KAWASAN PENELITIAN
BAB V PROFIL KAWASAN PENELITIAN 5.1. LATAR BELAKANG DESA KESUMA Kawasan penelitian yang ditetapkan ialah Desa Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Desa ini berada pada
BAB VI HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN TINGKAT KETERDEDAHAN
47 BAB VI HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN TINGKAT KETERDEDAHAN 6.1 Keterdedahan Rubin (2005) mengartikan terpaan media sebagai suatu aktivitas khalayak dalam memanfaatkan atau menggunakan
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS Kerangka Pemikiran Televisi merupakan satu media penyiaran suara dan gambar yang paling banyak digunakan di seluruh pelosok dunia. Priyowidodo (2008) menyebutkan bahwa
BAB II PENDEKATAN TEORITIS
3 BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Komunikasi Massa Menurut McQuail (1987) pengertian komunikasi massa terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal
BAB II GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Tabel I Luas wilayah menurut penggunaan
BAB II GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Letak dan Luas Wilayah Kelurahan Pagaruyung merupakan salah satu dari sekian banyak kelurahan yang ada dikecamatan Tapung yang terbentuk dari program Transmigrasi oleh
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan geografis dan demografis. Keadaan geografis Kelurahan Sidomulyo Barat adalah kelurahan yang terletak di kecamatan tampan kota madya pekanbaru. Kelurahan
IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU
IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara
BAB V ANALISIS HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN PERILAKU MENONTON. Kurt Lewin dalam Azwar (1998) merumuskan suatu model perilaku yang
BAB V ANALISIS HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN PERILAKU MENONTON Motivasi menonton menurut McQuail ada empat jenis, yaitu motivasi informasi, identitas pribadi, integrasi dan interaksi sosial, dan motivasi hiburan.
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Letak Geografis Desa Ranah Sungkai Kecamatan XIII Koto Kampar
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Ranah Sungkai Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar 1. Letak Geografis Desa Ranah Sungkai Kecamatan XIII Koto Kampar Desa Ranah Sungkai
BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN SIMPANG BARU KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU. Kecamatan Tampan kota Pekanbaru adalah salah satu dari 12 kecamatan
20 BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN SIMPANG BARU KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU A. Letak Geografis dan Demografis Kecamatan Tampan kota Pekanbaru adalah salah satu dari 12 kecamatan yang ada di kota Pekanbaru,
BAB I PENDAHULUAN. Tentu saja Indonesia harus memiliki elemen-elemen yang bangsa agar lebih
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penduduk yang besar. Keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya di dalamnya. Tentu saja Indonesia
BAB V TERPAAN TAYANGAN JIKA AKU MENJADI DAN FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
62 BAB V TERPAAN TAYANGAN JIKA AKU MENJADI DAN FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 5.1 Terpaan Tayangan Jika Aku Menjadi Berdasarkan hasil full enumeration survey, diketahui sebanyak 113 (49,6 persen)
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Singkat Berdirinya Kelurahan Sail Kelurahan adalah pembagian wilayah administratif di bawah kecamatan, dalam konteks merupakan wilayah kerja lurah sebagai
TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI PROVINSI RIAU PADA AGUSTUS 2012 SEBESAR 4,30 PERSEN
No 56/11/14/Tahun XIII, 5 November 2012 TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI PROVINSI RIAU PADA AGUSTUS 2012 SEBESAR 4,30 PERSEN Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Riau sebesar 4,30 persen, yang berarti
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG LOKASI PENELITIAN. Kelurahan Simpang Baru merupakan salah satu kelurahan yang terletak di
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis 1. Letak Kelurahan Simpang Baru Kelurahan Simpang Baru merupakan salah satu kelurahan yang terletak di kecamatan Tampan Panam Pekanbaru.
BAB III PENYAJIAN DATA. A. DESKRIPSI SUBJEK, OBJEK, DAN LOKASI PENELITIAN 1. Subjek Penelitian
BAB III PENYAJIAN DATA A. DESKRIPSI SUBJEK, OBJEK, DAN LOKASI PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subyek penelitian ini adalah responden yang memberikan jawaban melalui angket. Adapun yang menjadi responden
BAB III GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Geografis Kabupaten Indragiri Hulu. yang meliputi wilayah Rengat dan Tembilahan di sebelah Hilir.
37 BAB III GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografis Kabupaten Indragiri Hulu 1. Wilayah Pembentukan Kabupaten Indragiri Hulu pada awainya ditetapkan dengan UU No. 12 Tahun 1956 tentang pembentukan
BAB IV GAMBARAN UMUM. secara tetap dimulai tanggal 12 November 1962.
BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum TVRI 4.1.1 Sejarah TVRI TVRI resmi berdiri pada tanggal 24 Agustus 1962 dan beberapa kali mengalami perubahan status hukum institusinya sesuai dengan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. cara yang ditempuh untuk dapat berkomunikasi seperti melalui media massa,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi terjadi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Banyak cara yang ditempuh untuk dapat berkomunikasi seperti melalui media massa, telepon, surat dan
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Pekanbaru, terdiri atas 65 RW dan 318 RT. Luas wilayah Kecamatan Tampan
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis Wilayah Kecamatan Tampan merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kota Pekanbaru, terdiri atas 65 RW dan 318 RT. Luas wilayah Kecamatan Tampan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Geografis dan DemogrfisKecamatan Tampan. 1. Keadaan Geografis Kecamatan Tampan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Geografis dan DemogrfisKecamatan Tampan 1. Keadaan Geografis Kecamatan Tampan Kecamatan Tampan adalahsalah satu dari 12 Kecamatan yang ada di kota Pekanbaru,
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. luas wilayah 1060 Ha. Dahulu desa ini bernama desa Prambanan, dan kemudian
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Desa Bukit Intan Makmur Bukit intan makmur adalah salah satu Desa di Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu adalah Exs Trans Pir Sungai Intan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. SejarahSingkatKecamatanTampanPekanbaru
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. SejarahSingkatKecamatanTampanPekanbaru KecamatanTampan Kota Pekanbaru merupakan salah satu kecamatan yang terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.19
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Media massa merupakan alat yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan suatu informasi. Di era globalisasi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN ROKAN HILIR. Rokan Hilir adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN ROKAN HILIR 4.1. Sejarah Kabupaten Rokan Hilir Kabupaten Rokan Hilir adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau Indonesia. Ibukotanya terletak di Bagansiapiapi, kota terbesar,
BAB I PENDAHULUAN. Di zaman ini manusia sangat bergantung dengan media massa. Semua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di zaman ini manusia sangat bergantung dengan media massa. Semua kegiatan manusia pada umumnya berpengaruh kepada media massa. Dengan adanya media massa
pekanbarukota.bps.go.id
Katalog BPS : 1101002.1471.010 2014 Statistik Daerah Kecamatan Tampan Tahun 2014 i STATISTIK DAERAH KECAMATAN TAMPAN TAHUN 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN TAMPAN TAHUN 2014 Katalog BPS : 1101002.1471.1
BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Komunikasi tidak saja dilakukan antar personal, tetapi dapat pula
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan hal terpenting dalam menunjukkan keberadaan seseorang. Komunikasi tidak saja dilakukan antar personal, tetapi dapat pula melibatkan sekian banyak
BAB I PENDAHULUAN. dan berkembang seiring dengan besarnya manfaat komunikasi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Deddy Mulyana (2001), komunikasi adalah hal mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal tersebut muncul dan berkembang seiring dengan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. pengembangan karena terletak di Jalan Raya Lintas Sumatera dan terletak
13 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Geografis dan Demografis 1. Keadaan Geografis Pangkalan Kerinci adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan ibu kota KabupatenPelalawan, Riau. Kecamatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. secara purposive sampling. Dalam analisa data ini peneliti menggunakan label
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini peneliti akan menjabarkan hasil penelitian yang di peroleh dari lapangan dan juga melakukan pembahasan berdasarkan atas data yang di peroleh dari 97
BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Riau. Kecamatan ini meliputi beberapa Kelurahan atau Desa dengan luas wilayah
BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI PENELITIAN II. 1. Geografis Desa Khaiti Kecamatan Rambah Tengah Barat, Kabupaten Rokan Hulu merupakan salah satu Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu Propinsi Riau.
Nanda Agus Budiono/ Bonaventura Satya Bharata, SIP., M.Si
Faktor-faktor Pendorong Orang Menonton Program Berita Liputan 6 di SCTV (Studi Eksplanatif-Kuantitatif Faktor-Faktor Pendorong Masyarakat Kampung Sudagaran Kelurahan Tegalrejo Yogyakarta Menonton Program
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Informasi telah menjadi kebutuhan masyarakat di era modern. Informasi menambah pengetahuan masyarakat dan membantu mereka membuat keputusan dalam kehidupan
BAB II SOSIAL DEMOGRAFIS TINJAUAN LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Ukui yang ibukotanya pangkalan Kerinci
15 BAB II SOSIAL DEMOGRAFIS TINJAUAN LOKASI PENELITIAN A. Kecamatan Ukui 1. Geografis Kecamatan Ukui Kecamatan Ukui yang ibukotanya pangkalan Kerinci merupakan salah satu Kecamatan yang termasuk dalam
TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI PROVINSI RIAU PADA AGUSTUS 2014 SEBESAR 6,56 PERSEN
No. 59/11/14/Th. XV, 5 November 2014 TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI PROVINSI RIAU PADA AGUSTUS 2014 SEBESAR 6,56 PERSEN Jumlah angkatan kerja di Provinsi Riau pada Agustus 2014 mencapai 2.695.247 orang.
BAB I PENDAHULUAN. berkomunikasi antar umat manusia satu sama lain. Komunikasi begitu sangat penting
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejarah perkembangan kehidupan manusia di dunia tidak terlepas dari proses komunikasi, dimulai sejak perolehan bahasa dan tulisan yang digunakan sebagai alat
BAB II PENDEKATAN TEORITIS
BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Media Televisi Lokal dan Perkembangannya Perkembangan media massa khususnya televisi memiliki arti penting bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Letak Geografis dan Demografis Kelurahan Simpang Baru
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis dan Demografis Kelurahan Simpang Baru Kelurahan Simpang Baru adalah salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru Propinsi
BAB I PENDAHULUAN. dan terpercaya merupakan sesuatu yang sangat dubutuhkan oleh. masyarakat. Kebutuhannya itu dapat terpenuhi bila mengkonsumsi produk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi sekarang ini, arus informasi yang aktual, akurat dan terpercaya merupakan sesuatu yang sangat dubutuhkan oleh masyarakat. Kebutuhannya itu dapat
BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan banyaknya bermunculan berbagai media, baik itu media elektronik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Perkembangan media pada saat ini mengalami kemajuan yang pesat, hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan berbagai media, baik itu media elektronik maupun
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Kabupaten Kampar 4.1.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang Selatan, 100º 23' - 101º40' Bujur Timur.
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 53 TAHUN 1999 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PELALAWAN, KABUPATEN ROKAN HULU, KABUPATEN ROKAN HILIR, KABUPATEN
BAB I PENDAHULUAN. berbagai perubahan mendasar atas seluruh sistem sosial seperti politik, ekonomi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas seluruh sistem sosial seperti politik, ekonomi, infrastrukur dan
BAB II GAMBARAN UMUM DESA SIMPANG PELITA. A. Geografis dan demografis desa Simpang Pelita
BAB II GAMBARAN UMUM DESA SIMPANG PELITA A. Geografis dan demografis desa Simpang Pelita 1. Keadaan geografis Pasar Pelita merupakan salah satu pasar yang ada di kecamatan Kubu Babussalam tepatnya di desa
RESUME PRAKTEK PENELITIAN KOMUNIKASI HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON PROGRAM KUTHANE DEWE DENGAN TINGKAT PEMAHAMAN ISI BERITA YANG DIDAPAT
RICKY YUNIAR WILDAN D2C605137 RESUME PRAKTEK PENELITIAN KOMUNIKASI HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON PROGRAM KUTHANE DEWE DENGAN TINGKAT PEMAHAMAN ISI BERITA YANG DIDAPAT Di era informasi ini, kebutuhan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Di awal tahun 2000 pemerintah menerapkan otonomi daerah, langkah ini
1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Di awal tahun 2000 pemerintah menerapkan otonomi daerah, langkah ini disertai perubahan organisasi pemerintah di tingkat propinsi, kabupaten dan kota. Lembaga
ANGKET. A. Identitas Responden 1.Nama :... 2.Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan
76 ANGKET Petunjuk Pengisian: Jawablah pertanyaan yang diajukan dengan mengisi titik-titik atau dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang anda pilih. No Kuesioner:... enumerator)
BAB I PENDAHULUAN. suatu negara yang sudah menjadi agenda setiap tahunnya dan dilakukan oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi adalah masalah yang penting dalam perekonomian suatu negara yang sudah menjadi agenda setiap tahunnya dan dilakukan oleh suatu negara bertujuan untuk
BAB I. Pendahuluan. baik itu lingkungan rumah, sekolah, kampus maupun lingkungan kerja 1.
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi adalah hal mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Hal tersebut muncul dan berkembang dengan besarnya manfaat komunikasi yang didapatkan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Media massa pada era informasi ini seakan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Media massa memberikan arti yang sangat penting bagi masyarakat. Masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN. sangat dibutuhkan manusia, dan manusia tidak bisa hidup tanpa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa globalisasi sekarang ini kebutuhan akan informasi sangat dibutuhkan manusia, dan manusia tidak bisa hidup tanpa komunikasi. Karena komunikasi adalah usaha
BAB 1 PENDAHULUAN. Televisi dapat dikatakan telah mendominasi hampir semua waktu luang setiap
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Televisi dapat dikatakan telah mendominasi hampir semua waktu luang setiap orang. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan pada masyarakat Amerika, ditemukan bahwa
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Indonesia dengan sasaran pembukaan lapangan kerja.
11 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian tentang usaha pembelian buah kelapa sawit ini terletak di Desa Tapung Jaya Kecamatan Tandun Kabupaten Rokan Hulu. Desa Tapung Jaya
BAB II DESA BERINGIN JAYA. b. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Suka Damai. d. Sebelah timur berbatasan dengan /Kecamatan Sentajo Raya 1
BAB II DESA BERINGIN JAYA A. Geografis Desa Beringin Jaya secara geografis terletak di Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi, dengan luas daerah 35 km 2. Desa Beringin Jaya berbatasan langsung
BAB 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BENGKALIS DAN PERKEMBANGAN PERIKANANNYA
BAB 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BENGKALIS DAN PERKEMBANGAN PERIKANANNYA A. Sejarah Singkat Kabupaten Bengkalis Secara historis wilayah Kabupaten Bengkalis sebelum Indonesia merdeka, sebagian besar berada
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam era informasi sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era informasi sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan sumber informasi yang disajikan oleh media. Masyarakat menjadikan media sebagai subjek pembicaraan di
I. PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat sekarang ini. Hampir di setiap daerah di Indonesia televisi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Televisi merupakan media komunikasi massa yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang ini. Hampir di setiap daerah di Indonesia televisi menjadi primadona
ABSTRAKSI. : STUDI MENGENAI FAKTOR-FAKTOR PREFERENSI KONSUMSI TELEVISI LOKAL DI KOTA SEMARANG : Brian Stephanie : D2C005143
ABSTRAKSI Judul Tugas Akhir Nama NIM : STUDI MENGENAI FAKTOR-FAKTOR PREFERENSI KONSUMSI TELEVISI LOKAL DI KOTA SEMARANG : Brian Stephanie : D2C00543 Televisi lokal memiliki kekuatan pada kedekatannya dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Konsumen
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Konsumen Karakteristik konsumen RM Wong Solo yang diamati dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan penerimaan per bulan
BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi oleh
1 BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi oleh komunikator kepada komunikan, dengan perantara media sebagai alat yang menjembatani untuk sampainya
KLAS PUKUL DUR FREK/HARI MATERI SASARAN TUJUAN FORMAT SIFAT KRITERIA. -Pembacaan Ayat Suci Al-Qur an -Lagu-lagu Islami
NO KLAS PUKUL DUR FREK/HARI MATERI SASARAN TUJUAN FORMAT SIFAT KRITERIA 1 Tune Pengenal - 04.57 3 7x 2 Konten Islami Pend 05.00 30 7x 3 Kuliah Shubuh Pend 05.30 30 7x 4 Semangat Pagi Pro 4 Info 06.00 60
BAB I PENDAHULUAN. membuat setiap orang melakukan berbagai bentuk komunikasi, seperti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap individu berusaha untuk mengenal dan mencari jati dirinya, mengetahui tentang orang lain, dan mengenal dunia luar atau selalu mencari tahu mengenai
P R O F I L DESA DANUREJO
P R O F I L DESA DANUREJO PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG KECAMATAN MERTOYUDAN DESA DANUREJO ALAMAT :DANUREJO MERTOYUDAN MAGELANG TELP (0293) 325590 Website : danurejomty.wordpress.com Email : [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Pamor Indonesia sebagai salah satu destinasi berlibur favorit wisatawan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pamor Indonesia sebagai salah satu destinasi berlibur favorit wisatawan dalam dan luar negeri membuat nilai investasi di industri pariwisata terus tumbuh
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) semakin hari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) semakin hari semakin maju, hal ini dikarenakan mutu dari sumber daya manusia (SDM) itu sendiri memiliki tingkat
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2000 PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 53 T AHUN 1999 PEMBENTUKAN KABUPATEN PELALAWAN, KABUPATEN ROKAN HULU, KABUPATEN ROKAN HILIR, KABUPATEN SIAK, KABUPATEN
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Geografis, Demografis dan Visi Misi Kecamatan Mandau Kabupaten
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Geografis, Demografis dan Visi Misi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis 1. Letak Geografis Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Kecamatan mandau merupakan salah
BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI KELURAHAN SAIL KECAMATAN TENAYAN RAYA PEKANBARU sampai dengan berakhir periode masa jabatannya yaitu pada tanggal 02
19 BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI KELURAHAN SAIL KECAMATAN TENAYAN RAYA PEKANBARU A. Letak Geografis dan Demografis Sejarah Kelurahan Sail Kecamatan Tenayan Raya yaitu berdiri diawali dengan adanya kepala
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Lampung. Secara geografis Kota Bandar Lampung terletak pada sampai
31 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Kota Bandar Lampung Kota Bandar Lampung merupakan Ibu Kota Propinsi Lampung. Oleh karena itu, selain merupakan pusat kegiatan pemerintahan, sosial,
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Geografis Dan Demografis Kecamatan Tampan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Geografis Dan Demografis Kecamatan Tampan Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru merupakan salah satu Kecamatan yang terbentuk berdasarkan PP No. 19 Tahun 1987, tentang
BAB I PENDAHULUAN. untuk memperoleh informasi dan pengetahuan serta wadah untuk menyalurkan ide,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan komunikasi sebagai wadah untuk memperoleh informasi dan pengetahuan serta wadah untuk menyalurkan ide, emosi, keterampilan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dalam bidang teknologi dan informasi, hampir semua masyarakat baik yang berada di daerah pekotaan maupun yang
