BAB IV P E N G U J I A N
|
|
|
- Verawati Sumadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV P E N G U J I A N I. SISTEMATIKA PENELITIAN Sistematika penelitian dalam hal ini mengambil tiga acuan yang digunakan untuk meneliti sejauh mana penghantar kabel memberikan knstribusi dalam terjadinya suatu kebakaran. Ketiga acuan tersebut adalah : 1. Menguji kabel yang ada di pasaran yang mudah didapat dan banyak digunakan leh para instalatir dan masyarakat dalam melakukan pemasangan penghantar kabel, baik di perumahan maupun di gedung-gedung kmersial. Kabel yang akan diujikan disesuaikan dengan jenis kabel yang paling banyak digunakan dilapangan yaitu : - Kabel Jenis NYA Kabel jenis NYA adalah jenis kabel tunggal dan bernampang penghantar jenis pejal. Kabel ini banyak digunakan untuk menghemat biaya dan dalam pemasangannya dimasukkan kedalam pipa penyalur kabel (cnduit), baik pipa metal maupun pipa PVC. - Kabel Jenis NYAF Kabel jenis NYAF, adalah juga kabel berjenis tunggal namun berpenampang penghantar berupa kawat serabut. Kabel jenis ini dipasaran lebih mahal dari jenis NYA, leh karenya hanya banyak digunakan sebagai kabel cntrl pada panel-panel listrik karena sifatnya yang lentur, dan dalam pemasangannya juga menggunakan pipa penyalur atau cnduit. - Kabel Jenis NYM Kabel ini adalah kabel yang paling banyak digunakan didalam instalasi listrik baik diperumahan masyarakat maupun digedung kmersial, dalam pemasangannya ada yang menggunakan cnduit dan ada yang langsung memasang langsung tanpa cnduit. Dalam Pengujian untuk pengambilan data awal ini, kabel yang diuji hanya satu jenis saja yaitu jenis NYA dengan penampang penghantar 1,5 mm2, dimana sesuai dengan PUIL 2000 dimana dari table dapat dilihat bahwa arus nminal yang bisa alirkan leh kabel jenis ini adalah 24 Amper. Pengujian menggunakan kabel NYA ini saja karena kabel jenis NYA merupakan dasar dari jenis kabel lainnya. Penggunaan kabel NYM-pun pada dasrnya sama dengan kabel NYA namun ada tambahan lapisan islasi PVC namun pada sambungan kabel, tetap saja yang disambung adalah kabel jenis NYA. 77
2 2. Dalam penyambungan kabel, baik didalam maupun diluar ktak sambung, untuk ini akan diuji beberapa jenis sambungan yang sering digunakan di lapangan. Untuk itu akan dambil cnth dari beberapa jenis sambungan, dengan cara beberapa rang, baik dari kalangan tukang listrik, freman, supervisr dan engineer untuk memberikan cnth sambungan kabel yang dikerjakan sendiri, dari cara ini didapat empat jenis sambungan yang sama yang paling banyak digunakan akan diuji. II. TAHAP PELAKSANAAN PENGUJIAN Dengan menggunakan kabel penghantar dengan ukuran yang banyak digunakan dilapangan ukuran 1,5 mmsq, kabel dialiri arus sama dengan arus nminalnya ( Sesuai dengan BS 6004 Table 1 (c), BS 6231 and BS Kemudian masing masing kabel dibebani perlahan lahan mulai dua kali arus nminalnya sampai dengan dibatasi empat kali arus nminalnya saja, sampai dengan kabel mulai terbakar, dan waktu terbakarnya diukur dan dikumpulkan untuk dijadikan data pengujian. Pada saat mulai dibebani dengan menggunakan thermgraph akan di ikuti perkembangan tahapannya sehingga setiap langkah penelitian dapat diberikan gambaran yang lebih jelas. Sesuai dengan PUIL jika terjadi hubungan pendek dalam suatu instalasi maka arus yang timbul adalah : I k VE = I (4.1 ) V V E E1 Dimana : I k = Besarnya arus hubungan pendek dalam amper I = Besar arus yang diukur dalam amper pada saat bekerja nrmal V E = Tegangan pada saat kndisi nrmal V E1 = Tegangan pada saat terjadinya hubungan singkat Pada saat terjadinya hubungan arus singkat, maka arus yang timbul akan sangat besar bahkan cendrung tak terbatas, sesuai dengan persamaan pada PUIL disyaratkan dimana semua arus yang disebabkan leh hubungan pendek yang terjadi pada setiap rangkaian, harus diputus dalam waktu yang tidak melampaui batas waktu yang membuat penghantar mencapai suhu batas yang dapat diterima. 78
3 Pada PUIL disebutkan pada kabel berislasi PVC Resistansi Panas Jenisnya adalah 600 C cm/w, jika diberi tegangan pengenal 0,6 / 1kV sampai dengan 3,6 / 6 kv maka temperaturnya adalah 80 C. Maka jika untuk hubungan pendek yang berdurasi sampai dengan lima detik maka waktu t (waktu yang diperlukan untuk menaikkan temperatur penghantar yang diijinkan dalam kerja nrmal sampai dengan mencapai suhu batas), dapat dihitung dengan rumus pendekatan sebagai berikut : A t = k..(4.2) I Dimana : t = waktu dalam detik A = Luas penampang dalam mm2 I = Arus hubungan pendek dalam amper k = 115 untuk penghantar tembaga dengan islasi tembaga Kabel NYA tembaga dengan penampang 1,5 mm2 dengan durasi yang diiijinkan maksimum 5 detik untuk mencapai batas temperatur yang diijinkan, maka arus hubungan singkat yang terjadi adalah sebesar 77,35 amper, atau jika dibandingkan dengan PUIL 2000 Tabel 7.3-5a dimana disana dapat dilihat untuk kabel dengan ukuran tersebut hanya memmpunyai kemampuan hantar arus sebesar 24 amper ( kabel tembaga berinti tunggal, islasi PVC, ditempatkan diudara dengan suhu keliling 30 C dan dengan tegangan pengenal 0,6/1kV), dari sini dapat dilihat bahwa arus hubungan singkat yang terjadi hampir empat kali lebih besar dari kemampuan hantar arusnya. III. PROSEDUR PENGUJIAN Dengan menggunakan rangkaian listrik untuk pengujian seperti yang digambar 1.7 dan digambarkan lagi pada gambar dibawah ini : Gambar 4.1 : Rangkaian listrik pengujian kabel Maka langkah pengujian adalah sebagai berikut : 79
4 1. Dengan menggunakan kabel NYA diameter 1.5 dibuat sambungan Jinting 0.0, dengan meberikan arus sebesar 1 x Arus nminalnya (PUIL 2000 : 24 Amper) dan kemudian dicatat kenaikan temperturnya setiap 1 menit samapai dengan menit kesepuluh dan data dicatat pada Tabel Prsedur yang sama juga dilakukan pada sambunga kabel pada jenis Jinting 0.1 dan Jinting 0.2 dan hasil pengamatan juga dicatatkan pada Tabel Tahap berikutnya dengan menaikan arus nminalnya menjadi 2 x Arus nminal atau sama dengan 48 amper, maka Jinting 0.0, 0.1 dan Jinting 0.2 didata sama hanlnya dengan langkah pada butir 1 dan 2, hasil data pengamatan didata pada Tabel Data yang dicatatkan pada Tabel 5.1 dan Tabel 5.2 semua sambungan dengan kndisi belum diislasi. 5. Pada pendataan berikutnya dengan menggunakan Tabel 5.3, disini kabel NYA dengan diameter 1.5 mm diberikan arus dari 1 x arus nminalnya sampai dengan 4 kali arus nmilnyanya. Setiap 5 menit sekali didata berapa temperatur yang timbul pada sambungan kabel sampai dengan kabel mulai meleleh. Pada kabel NYA ini dengan diameter 1.5 mm ini dibuatkan empat jenis islasi yang sudah disambung dengan menggunakan penyambung dan islasi. Data hasil pengamatan ini dimasukkan dalam Tabel Untuk kabel dengan sambungan berlainan jenis yaitu kabel dengan diameter 1.5 mm namun dengan dua jenis kabel yang berbeda yaitu kabel jenis NYAF disambungkan dengan jenis NYA. Data dari pengamatan ini dimasukkan dalam Tabel Adapun jenis sambungan yang diuji dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 4.2 : Sambungan Kabel sejenis Jinting
5 Gambar 4.3 : Sambungan Kabel sejenis Jinting 0.1 Gambar 4.4 : Sambungan Kabel sejenis Jinting 0.2 Gambar 4.5 : Sambungan Kabel sejenis, Jinting 1 81
6 Gambar 4.6 : Sambungan Kabel sejenis, Jinting 2 - Jinting 3 adalah jinting 0.1 diislasi dengan PVC - Jinting 4 adalah jinting 0.2 diislasi dengan PVC Sedangkan untuk sambungan yang tidak sejenis maka : - Jinting 1 adalah jinting 0.0 diislasi lasdp atau sama denga Jinting 1 pada kabel sejenis. - Jinting 2 Jinting 0.0 diislasi atau sama dengan Jinting 2 pada jinting sejenis - Jinting 3 tidak ada atau sama dengan jinting 2 - Jinting 4 adalah jinting 0.2 dan diislasi. 82
7 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN DATA PENGUJIAN I. DATA DAN BAHASAN HASIL PENGUJIAN Dari data-data yang didapat dari hasil pengujian ini dapat dilihat pada Tabel 5.1. Pada Tabel ini sambungan kabel tanpa islasi diukur untuk dijadikan acuan pada kenaikan temperature sambungan. Sedangkan Kabel adalah temperature yang terjadi pada kabel pada saat pengujian berlangsung. Pada pengukuran temperaturpada kabel ini, pengambilan data hanya dilakukan pada menit ke 5 dan ke sepuluh, sedangkan temperature lainnya didapat dari pendekatan rata-rata kenaikan dan penurunan temperature. Tabel 5.1 : Tabel data pengujian sambungan dengan pembebanan 1 x In Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa : 1. Kndisi kabel utuh tanpa sambungan pada pembebanan 1 x In, mempunyai temperature lebih tinggi dibandingan temperature pada sambungan kabel tanpa islasi pada ketiga jenis sambungan. 2. Lebih rendahnya temperature pada sambungan kabel tanpa islasi ini dibandingkan dengan kabel tanpa sambungan ini dapat dijelaskan bahwa, pada sambungan kabel adanya dua permukaan yang disatukan sehingga memperluas penampang kabel. Dimana dengan menambah luas penampang kabel akan menurunkan nilai tahanan kabel, dimana dengan turunnya nilai tahanan kabel akan menurunkan temperature pada sambungan. Seperti dapat dilihat pada persamaan (3.8) dan persamaan (3.9) sehingga pelepasan panas pada sambungan bertambah. 83
8 3. Dari tiga jenis sambungan yang paling banyak digunakan sebagai aplikasi lapangan dapat dilihat bahwa sambungan yang terbaik adalah sambungan jenis Jinting 0.0 dan Jinting 0.1 yang kenaikan temperaturnya nyaris relative sama. Dimana dapat dilihat dengan penyambungan ini merupakan kmbinasi antara sambungan langsung permukaan dengan permukaan ditambah dengan lilitan sehingga menghilangkan efek Eddy Current. 4. Dari kurva dapat dilihat bahwa sambungan dengan jenis Jinting 0.2 tanpa islasi mempunyai tingkat kenaikan temperature yang relative tinggi dan hampir mendekati temperature kabelnya. Ini dapat dijelaskan karena pada sambungan ini mempunyai metal didalamnya dan ditambah dengan adanya baut metal yang menjepit yang bersentuhan langsung dengan kabel dan selngsng metal yang menyambung kabel, sehingga luasan perambatan panas lebih luas sehingga meningkatkan temperature pada sambungan selainnya banyaknya celah-celah ksng pada sambungan ini sehingga selain menambah tahanan pada kabel juga adanya efek kapasitansi yang meningkat heat lss. Secara kurva dapat dilihat sebagai berikut : Grafik 5.1 : Grafik temperature pada sambungan tanpa islasi Temperatur Sambungan Pada 1 x In Temperatur (C) Kabel Jinting 0.0 Jinting 0.1 Jinting Waktu (Menit) 5. Pada pembebanan arus 2 x In, dapat dilihat pada Tabel 5.2, terlihat bahwa pada kenaikan temperature yang naik yang menunjukkan kenaikan arus identik dengan kenaikan temperature dapat dilihat bahwa pada pembebanan arus ini dimana temperature mencapai 70P, semua jenis sambungan mulai berasap. Seperti dapat dilihat pada Tabel 5.2 berikut ini : 84
9 Tabel 5.2 : Tabel data pengujian sambungan dengan pembebanan 2 x In Melihat fenmena dimana pada saat dibebani arus 2 x In dan dengan temperature 70P kabel dan sambungan mulai berasap maka aturan yang dibuat leh PUIL 2000 seperti pada persamaan(4.2) maka hal ini tidak berlaku, dimana jika luas penampang adalah 1.5 mm harus mampu menahan paling tidak empat kali dari arus nminalnya dan adanya sambungan yang mempunyai luas penampang 2 x 1.5 mm seharusnya bisa menahan sampai delapan kali arus nminalnya disini tidak terbukti. Pada sambungan Jinting 0.0 dan Jinting 0.1 pada menit kesepuluh dapat dilihat perubahan warna karena kenaikan temperature yang awalnya berwarna tembaga, pada akhir menit kesepuluh sudah berubah menjadi berwarna perak. Sedangkan pada kabel Jenis 0.2 sambungan kabel sudah meleleh. Dengan fenmena yang sama, pada Jinting 0.2 dapat dilihat bahwa dengan kenaikan arus listrik pada sambungan dengan temperature pada akhir menit kesepuluh mencapai 176.5P sudah menyebabkan Jinting dengan menggunakan PVC sudah meleleh, karena melting temperature PVC hanya mempunyai temperature 80P. Pada Grafik 5.2 dapat dilihat kndisi kabel dan sambungan kabel pada saat pembebanan 2 x In. 85
10 Grafik 5.2 : Grafik temperature pada sambungan dibebani 2 x In Temperatur Sambungan Pada 2 x In Temperatur (C) Waktu (Menit) Kabel Jinting 0.0 Jinting 0.1 Jinting 0.2 Pada kurva 5.2 ini dapat dilihat bahwa temperature sambungan Jinting 0.2 bahkan kenaikan temperatur pada pembebanan 2 x In jauh melebihi temperature kabelnya sendiri. 6. Jika dibandingkan dengan pengambilan pada saat semua sambungan telah diberikan islasi dan pembanan dengan arus listrik yang dinaikan perlahan sampai dengan 4 x In, maka data pengujian pada sambungan yang sejenis dapat dilihat hasil pengujian pada Tabel 5.3 berikut ini : Tabel 5.3 : Tabel data pengujian sambungan kabel sejenis 7. Pada Menit kelima dibandingkan atara sambungan pada Tabel 5.1 dan 5.3 dapat dilihat bahwa semua sambungan kabel yang telah di tambahkan 86
11 dengan islasi mengalami kenaikan temperature yang relative tinggi. Dimana setelah diabndingkan dengan sambungan tanpa islasi maka : - Jinting 1 menggunakan lasdp mempunyai ΔT : 18.84P - Jinting 2 menggunakan islasi PVC mempunyai ΔT : 13.40P - Jinting 3 menggunakan islasi PVC mempunyai ΔT : 21.40P - Jinting 4 menggunakan islasi PVC mempunyai ΔT : 4.00P Kurva dari Tabel 5.3 ini dapat dilihat sebagai berikut : Grafik 5.3 : Grafik temperature pada sambungan sejenis Temperatur Pada Sambungan Kabel Sejenis Temperatur Arus listrik (amper) Jinting - 1 Jinting - 2 Jinting - 3 Jinting - 4 Temperatur Nrmal Kabel Dari perbadingan tersebut diatas dapat dicermati sebagai berikut : - Penggunaan islasi sebagai pelindung dari bahaya sengatan arus listrik pada sisi yang lain meningkatkan heat lss pada sambungan kabel - Penggunaan lasdp pada sambungan lebih mudah dan cepat dalam pelaksanannya namun mempunyai ΔT yang relative tinggi - Penggunaan sambungan Jinting 0.1 sebelum diislasi mempunyai heat lss yang rendah namun pada saat islasi mepunyai ΔT yang juga relative tinggi. - Penggunaan Jinting 0.0 dengan islasi mempunyai heat lss yang rendah dibandingkan jenis jinting lain yang diislasi. - Sedangkan Jinting 4 mempunyai heat lss rendah setelah diislasi namun tidak disarankan untuk arus diatas 2 x In, sedangkan pemakaian arus inilah yang selama ini tidak bisa dikntrl. Dimana sebelum diislasipun heatlssnya sudah tinggi seperti pada Tabel 5.1. (pengambilan data pada Jinting 4 ini setelah islasi ini salah karena tidak pada spt yang sama, sehingga adanya perbedaan ΔT yang tajam) 87
12 8. Sedangkan pada sambungan pada sambungan dengan lain jenis, acuan sambungan tetap menggunakan Tabel 5.1 karena pada PUIL 2000 Kemampuan hantar arus untuk jenis kabel NYA dan NYAF sama untuk diameter yang sama. Pada Tabel 5.4 berikut dapat dilihat pengujian dengan menggunakan sambungan yang acuan Jintingnya sama seperti Tabel 5.3 namun pada Jinting 3 tidak diujikan karena pada pelaksanaan penyambungan dilapangan Jinting 3 tidak bisa pernah dilakukan. Hasil data dapat dilihat pada Tabel 5.4 dan grafik krelasinya dapat dilihat pada Kurva 5.4 berikut ini : Tabel 5.4 : Tabel data pengujian sambungan kabel tidak sejenis Grafik 5.4 : Grafik temperature pada sambungan dengan kabel berlain sejenis Temperatur Pada sambungan Berlainan Jenis Temperatur (celcius) Arus listrik (amper) Jinting - 1 Jinting - 2 Jinting - 4 Temperatur ideal kabel Dari Tabel 5.4 ini dapat dilihat : 88
13 - Jinting 1 menggunakan lasdp mempunyai ΔT : 14.20P - Jinting 2 menggunakan islasi PVC mempunyai ΔT : 18.80P - Jinting 4 menggunakan islasi PVC mempunyai ΔT : 23.80P Disini dapat dilihat untuk penyambungan kabel yang menggunakan Jinting 1 dengan lasdp mempunyai ΔT yang relative lebih rendah, hal ini karena kabel serabut mepunyai titik sentuh permukaan yang banyak, sehingga pada saat disambung dengan lasdp dimana serabut dipuntir dimana celah antar kabel akan saling mengisi dan titik sentuh akan lebih luas sehingga luasan penampang lebih luas dan bisa meredam efek kapasitif yang terjadi karena tidak rapatnya jarak antar serabut. Memang efek kapasitif ini pada kabel-kabel kecil ini dampaknya juga tidak tersa dan kelihatan dibandingkan dengan kabel besar, sehingga pada kabelkabel kecik efek ini sering diabaikan. Namun secara umum bahwa sambungan dengan jenis Jinting 0.1 paling baik karena mempunyai heatlss yang rendah, namun jenis, bahan dan cara pelaksanaan islasi sangat berpengaruh pada kaenaikan temperatur pada sambungan. Dimana pada sambungan sejenis yang mempunyai temperatur terendah pada sambungan yaitu sambungan pada mdel jinting 0.1, pada thermal imaging pada thermgraphnya dapat dilihat sebagai berikut : Celsius Thermteknix VisIR 12:53:35 PM 1/11/2008 e : 0.90 Bg : Gambar 5.1 : Thermal imaging pada thermgraph sambungan kabel jinting 0. 2 mempunyai temperature sambungan terendah untuk sambungan sejenis pada saat dibebani 1 x In pada menit ke
14 Pada sambungan sejenis setelah diislasi maka sambungan yang mempunyai heatlss terendah adalah dengan jenis Jinting 2 seperti gambar berikut ini : Gambar 5.2 : Thermal imaging pada thermgraph sambungan kabel jinting 2 mempunyai temperature sambungan terendah untuk sambungan sejenis pada arus 96 A Sedangkan untuk sambungan berlainan jenis maka temperature terendah adalah pada sambungan jenis jinting 2, seperti dapat dilihat pada thermal imaging pda gambar 5.3 berikut ini : Gambar 5.3 : Thermal imaging pada thermgraph sambungan kabel jinting 4 mempunyai temperature sambungan terendah untuk sambungan pada pembebanan arus 96 A berlainan jenis 90
15 Namun walaupun mempunyai temperature sambungan terendah pada saat pembebanan 96 amper namun sambungan ini tidak direkmendasikan karena jika dilihat hasil data pada table 5.4 dapat dilihat sambungan jenis 4 ini pada pembebanan arus 2 x In tanpa islasi menunjukkan kerusakan pada kabel dan temperature yang relative tinggi. II. PYROLISIS Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3.4 bahwa untuk temperature islasi PVC untuk hubungan singkat adalah 130P, dan sesuai Table 3.7 untuk temperatur leleh PVC adalah 182P 199P. Pada percbaan dapat dilihat bahwa pada saat kabel dibebani sampai dengan 43 amper atau pada saat temperature mencapai 73P -100P, sambungan kabel mulai mengeluarkan asap tipis, terjadinya pyrlisis pada saat temperature 112P - 145P dan mulai lumer pada saat temperature 254P - 361P. Pada saat terjadi hubungan singkat ataupun pada beban lebih, pada inti kabel (tembaga) terjadi panas yang mendekati titik lelehnya (melting pint) pada 1083P pada saat yang bersamaan islasi kabel yang terbuat dari PVC sudah melewati batas titik lelehnya 182P 199P, maka terjadi reaksi pyrlisis dimana PVC mulai melepas unsur-unsur yang membentuknya menjadi gas sehingga terjadi penggelembungan pada islasi kabel seperti yang dapat dilihat pada gambar 5.4 Gambar 5.4 : Prses terjadinya pyrlisis didalam kabel ditandai dengan penggelembungan pada islasi kabel Jika dicermati secara rata-rata temperature yang timbul pada sambungan kabel yang berlainan jenis, temperaturnya lebih tinggi dari dari yang sambungan sejenis. Hal ini dikarenakan pada kabel serabut disipasi panas yang timbul lebih tinggi dari kabel tunggal karena adanya celah udara antar rambut-rambut kabel yang banyak sehingga jarak antar kabel diisi leh udara dan yang menyebabkan timbulnya kapasitansi, yang menimbulkan tahanan tambahan pada kabel dan sehingga pada sambungan ini selain 91
16 adanya energi yang mengalir ditambah lagi dengan adanya kapasitansi pada sambungan dan kabelnya sendiri. Pada satu saat dimana tekanan gas yang terjadi akan menembus islasi PVC dan maka terjadilah semburan gas seperti yang dpat dilihat pada gambar 5.5 Gambar 5.5 : Terlepasnya gas hasil pyrlisis yang menyembur dari islasi kabel Semburan gas inilah yang jika terjadi di dekat dinding atau diatas plafn akan membentuk suatu pla (pattern) berbentuk V seperti yang dapat dilihat pada gambar 5.6 Maka dari tempat-tempat seperti inilah penyelidikan terjadinya kebakaran atau sumber api dimulai terutama yang diakibatkan leh listrik. Gambar 5.6 : V- Pattern akibat semburan gas hasil pyrlisis yang membentuk pla khas pada dinding Dari titik-titik pla semburan inilah titik awal para petugas frensik untuk melakukan penelitian dan penyelidikan penyebab kebakaran. 92
17 A P III. MENENTUKAN HAMBATAN KONTAK ISOLASI Jika temperature sambungan dalam kndisi belum diislasi katakanlah Jinting 0.1 sebagaimana terukur pada table 4.1 pada menit ke lima adalah P dan arus yang mengalir 24A dan hambatan listrik x 10P PΩ/m dan temperature berada dalam ruangan dengan temperature 30P Psetelah diislasi temperature terukur adalah 55.6P. Jika knduksi antara kabel dengan 2 lingkungan adalah 25 W/ mp P.K Maka : 2 2 q = P = IP P. R = (24)P P. (6 x 10P P) = 0.33 L watt q = hbtb (Tw T ) R tc = 2 ( T ) 25W / m K( ) A T1 q 2 = = = 2 R tc 12.7 W/ mp P.K 42 Jika islasi dengan ketebalan mm dililitkan sebanyak 15 lilitan maka 2 setiap lilitan mempunyai hambatan kntak sebesar W/ mp P.K. 93
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN I. KESIMPULAN Dari uraian, percobaan dan pengamatan dan memepelajari literature-literature baik yang berupa Text Book, journal internasional maupun korespondensi serta mengambil
Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.
7 Gambar Sistem kalibrasi dengan satu sensor. Besarnya debit aliran diukur dengan menggunakan wadah ukur. Wadah ukur tersebut di tempatkan pada tempat keluarnya aliran yang kemudian diukur volumenya terhadap
BAB 3 METODE PENGUJIAN
28 BAB 3 METODE PENGUJIAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai metode yang dilakukan dalam pengujian, peralatan dan rangkaian yang digunakan dalam pengujian, serta jalannya pengujian. 3.1 Peralatan dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Perancangan Dan Pembuatan Mesin preheat pengelasan gesek dua buah logam berbeda jenis yang telah selesai dibuat dan siap untuk dilakukan pengujian dengan beberapa
BAB II PENGUKURAN TEGANGAN PUNCAK DENGAN PERCIKAN SELA
BAB II PENGUKURAN TEGANGAN PUNCAK DENGAN PERCIKAN SELA II.1 Pendahuluan Percikan di sela elektrda bla-bla yang diislasi leh dielektrik udara dapat digunakan untuk mengukur amplitud (puncak) tegangan di
INJ 24 x 3 Three Core Heatshrinkable Cable Joint
FASTINDO Connecting Power Instruksi Pemasangan INJ 24 x Three Core Heatshrinkable Cable Joint Karakteristik dan Aplikasi Produk : TEGANGAN LISTRIK UKURAN KONDUKTOR ISOLASI KABEL JENIS KONDUKTOR JUMLAH
Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la
Pengelasan upset, hampir sama dengan pengelasan nyala, hanya saja permukaan kontak disatukan dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga diantara kedua permukaan kontak tersebut tidak terdapat celah. Dalam
INJ - 24 x 1 Single Core Heatshrinkable Cable Joint
FASTINDO Connecting Power Instruksi Pemasangan INJ - 24 x 1 Single Core Heatshrinkable Cable Joint Karakteristik dan Aplikasi Produk : INSTALASI ISOLASI KABEL TEGANGAN LISTRIK JUMLAH INTI UKURAN KONDUKTOR
Deskripsi KONEKTOR KABEL DISTRIBUSI
1 Deskripsi KONEKTOR KABEL DISTRIBUSI Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan suatu konektor kabel distribusi listrik tegangan rendah yang menghubungkan antara jaringan distribusi dengan pelanggan-pelanggan,
PRAKTIKUM INSTALASI PENERANGAN LISTRIK SATU FASA SATU GRUP
Posted on December 6, 2012 PRAKTIKUM INSTALASI PENERANGAN LISTRIK SATU FASA SATU GRUP I. TUJUAN 1. Mampu merancang instalasi penerangan satu fasa satu grup. 2. Mengetahui penerapan instalasi penerangan
Bahan Listrik. Bahan penghantar padat
Bahan Listrik Bahan penghantar padat Definisi Penghantar Penghantar ialah suatu benda yang berbentuk logam ataupun non logam yang dapat mengalirkan arus listrik dari satu titik ke titik lain. Penghantar
BAB I PENDAHULUAN. dalam pengelolaan listrik, salah satunya adalah isolasi. Isolasi adalah suatu alat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dalam kehidupannya sangat bergantung pada kebutuhan energi. Energi tersebut diperoleh dari berbagai sumber, kemudian didistribusikan dalam bentuk listrik. Listrik
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Bab ini akan menjelaskan mengenai perancangan serta realisasi alat pengisi baterai menggunakan modul termoelektrik generator. Perancangan secara keseluruhan terbagi menjadi perancangan
PEDOMAN PEMERIKSAAN (KOMISIONING) INSTALASI TENAGA LISTRIK
PEDOMAN PEMERIKSAAN (KOMISIONING) INSTALASI TENAGA LISTRIK Pedoman Umum 1. Yang dimaksud dengan instalasi tenaga listrik ialah : Instalasi dari pusat pembangkit sampai rumah-rumah konsumen. 2. Tujuan komisioning
DASAR INSTALASI LISTRIK. Hasbullah, MT Electrical Engineering Dept. FPTK UPI com Mobile :
DASAR INSTALASI LISTRIK Hasbullah, MT Electrical Engineering Dept. FPTK UPI email : hasbullahmsee@yahoo. com Mobile :+622291802190 Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Sistem penyaluran dan cara pemasangan
BAB II BUSUR API LISTRIK
BAB II BUSUR API LISTRIK II.1 Definisi Busur Api Listrik Bahan isolasi atau dielekrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang sangat kecil atau hampir tidak ada. Bila bahan isolasi tersebut
PEDOMAN PEMERIKSAAN (KOMISIONING) INSTALASI TENAGA LISTRIK
PEDOMAN PEMERIKSAAN (KOMISIONING) INSTALASI TENAGA LISTRIK 1. Yang dimaksud dengan instalasi tenaga listrik ialah : Instalasi dari pusat pembangkit sampai rumah-rumah konsumen. 2. Tujuan komisioning suatu
JOBSHEET PRAKTIKUM 6 WORKHSOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK
JOBSHEET PRAKTIKUM 6 WORKHSOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK I. Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui tentang pengertian dan fungsi dari elektrode bumi. 2. Mahasiswa mengetahui bagaimana cara dan aturan-aturan
KOMPONEN INSTALASI LISTRIK
KOMPONEN INSTALASI LISTRIK HASBULLAH, S.PD, MT TEKNIK ELEKTRO FPTK UPI 2009 KOMPONEN INSTALASI LISTRIK Komponen instalasi listrik merupakan perlengkapan yang paling pokok dalam suatu rangkaian instalasi
INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK SESUAI PUIL 2000
INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK SESUAI PUIL 2000 34 Instalasi pemanfaatan tenaga listrik adalah instalasi listrik milik pelanggan atau yang ada di sisi pelanggan. Definisi umum : 1. Yang dimaksud
BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN INSTALASI PENERANGAN
BAB II DASARDASAR PERENCANAAN INSTALASI PENERANGAN II.. Syaratsyarat Umum Dalam melakukan perencanaan suatu instalasi baik itu instalasi rumah tinggal, kantorkantor, pabrikpabrik ataupun alatalat transport,
MAKALAH PELATIHAN PROSES LAS BUSUR NYALA LISTRIK (SMAW)
MAKALAH PELATIHAN PROSES LAS BUSUR NYALA LISTRIK (SMAW) PROGRAM IbPE KELOMPOK USAHA KERAJINAN ENCENG GONDOK DI SENTOLO, KABUPATEN KULONPROGO Oleh : Aan Ardian [email protected] FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
Politeknik Negeri Sriwijaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga listrik diperlukan sebagai sumber energi untuk pengoperasian berbagai peralatan yang dibutuhkan di suatu gedung. Salah satu pemanfaatan sumber listrik pada gedung
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Teori Dasar MCB MCB (Miniature Circuit Breaker) atau pemutus tenaga berfungsi untuk memutuskan suatu rangkaian apabila ada arus yamg mengalir dalam rangkaian atau beban listrik
JOBSHEET PRAKTIKUM 4 WORKSHOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK
JOBSHEET PRAKTIKUM 4 WORKSHOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK I. Tujuan 1. Mahasiswa terampil membuat perencanaan instalasi penerangan rumah bertingkat. 2. Mahasiswa terampil melakukan pemasangan instalasi
BAB 2 DASAR TEORI. k = A T. = kecepatan aliran panas [W] A = luas daerah hantaran panas [m 2 ] ΔT/m = gradient temperatur disepanjang material
3 BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Dasar Dasar Mekanisme Perpindahan Energi Panas Pada dasarnya terdapat tiga macam proses perpindahan energi panas. Proses tersebut adalah perpindahan energi secara konduksi, konveksi,
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sistem distribusi tenaga listrik di gedung Fakultas Teknik UMY masuk pada sistem distribusi tegangan menengah, oleh karenanya sistim distribusinya menggunakan
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Isolator. Pada suatu sistem tenaga listrik terdapat berbagai bagian yang memiliki
BAB II DASAR TEORI 2.1 Isolator Pada suatu sistem tenaga listrik terdapat berbagai bagian yang memiliki tegangan dan juga tidak bertegangan. Sehingga bagian yang tidak bertegangan ini harus dipisahkan
BAB IV METODE PENGUJIAN CIGARETTE SMOKE FILTER
BAB IV METODE PENGUJIAN CIGARETTE SMOKE FILTER 4.1 TUJUAN PENGUJIAN Tujuan dari pengujian Cigarette Smoke Filter ialah untuk mengetahui seberapa besar kinerja penyaringan yang dihasilkan dengan membandingkan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kelistrikan
DTG1I1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kelistrikan By Dwi Andi Nurmantris Apakah anda pernah kesetrum? Bahaya Listrik q Bilamana anda bekerja dengan alat bertenaga listrik atau instalasinya terdapat
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material
BAB III METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancang bangun alat. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material Pusat Teknologi Nuklir Bahan
BAB II PENGELASAN SECARA UMUM. Ditinjau dari aspek metalurgi proses pengelasan dapat dikelompokkan
II - 1 BAB II PENGELASAN SECARA UMUM 2.1 Dasar Teori 2.1.1 Pengelasan Ditinjau dari aspek metalurgi proses pengelasan dapat dikelompokkan menjadi dua, pertama las cair (fussion welding) yaitu pengelasan
BAB V PEMBAHASAN Analisis Faktor. Faktor-faktor dominan adalah faktor-faktor yang diduga berpengaruh
BAB V PEMBAHASAN. 5.1. Analisis Faktor. Faktor-faktor dominan adalah faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap waktu pencapaian panas dan arus kompor induksi. Dari data waktu pencapaian panas dan
BAB III METODE & DATA PENELITIAN
BAB III METODE & DATA PENELITIAN 3.1 Distribusi Jaringan Tegangan Rendah Pada dasarnya memilih kontruksi jaringan diharapkan memiliki harga yang efisien dan handal. Distribusi jaringan tegangan rendah
BAB I PENDAHULUAN. lapisan masyarakat untuk mendukung kegiatannya sehari-hari. Di kota-kota besar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat sekarang ini, listrik sudah menjadi kebutuhan penting bagi setiap lapisan masyarakat untuk mendukung kegiatannya sehari-hari. Di kota-kota besar sudah jarang
Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian
DASAR TEORI. Kata kunci: Kabel Single core, Kabel Three core, Rugi Daya, Transmisi. I. PENDAHULUAN
ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA KABEL TANAH SINGLE CORE DENGAN KABEL LAUT THREE CORE 150 KV JAWA MADURA Nurlita Chandra Mukti 1, Mahfudz Shidiq, Ir., MT. 2, Soemarwanto, Ir., MT. 3 ¹Mahasiswa Teknik
TEORI LISTRIK TERAPAN
TEORI LISTRIK TERAPAN 1. RUGI TEGANGAN 1.1. PENDAHULUAN Kerugian tegangan atau susut tegangan dalam saluran tenaga listrik adalah berbanding lurus dengan panjang saluran dan beban, berbanding terbalik
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah dari penelitian, perumusan masalah, tujuan dan manfaat, batasan masalah, asumsi yang yang diangkat dalam penelitian serta sistematika
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Umum Sistem distribusi listrik merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi listrik bertujuan menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik atau pembangkit
ANALISIS UMUR LAMPU PIJAR TERHADAP PENGARUH POSISI PEMASANGAN
ANALISIS UMUR LAMPU PIJAR TERHADAP PENGARUH POSISI PEMASANGAN Ahmad Rizal Sultan 1) Abstrak : Secara umum, tiap jenis lampu listrik memiliki umur sendiri. Namun karena berbagai faktor umur rata-rata belum
BAB II PEMBUMIAN PERALATAN LISTRIK DENGAN ELEKTRODA BATANG. Tindakan-tindakan pengamanan perlu dilakukan pada instalasi rumah tangga
BAB II PEMBUMIAN PERALATAN LISTRIK DENGAN ELEKTRODA BATANG II.1. Umum (3) Tindakan-tindakan pengamanan perlu dilakukan pada instalasi rumah tangga untuk menjamin keamanan manusia yang menggunakan peralatan
Instalasi Listrik MODUL III. 3.1 Umum
MODUL III Instalasi Listrik 3.1 Umum Instalasi listrik system distribusi terdapat dimana mana, baik pada system pembangkitan maupun pada system penyaluran (transmisi/distribusi) dalam bentuk instalasi
Mengukur Kuat Arus dan Beda Potensial Listrik Konsep Arus Listrik dan Beda Potensial Listrik
LISTRIK DINAMIS Daftar isi Mengukur Kuat Arus dan Beda Potensial Listrik Hukum Ohm Hambatan kawat penghantar Penghantar listrik Hukum Kirchoff Rangkaian Seri Rangkaian Paralel Rangkain campuran Keluar
BAB I PENDAHULUAN. Beton merupakan salah satu material utama yang banyak digunakan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang [3] Beton merupakan salah satu material utama yang banyak digunakan untuk struktur bangunan. Banyaknya penggunaan beton di negara berkembang seperti Indonesia menjadikan
PROPOSAL INSTALASI PERUMAHAN. MERANCANG INSTALASI LISTRIK BANGUNAN SEDERHANA (Rumah Tinggal, Sekolah dan Rumah Ibadah)
1 PROPOSAL INSTALASI PERUMAHAN MERANCANG INSTALASI LISTRIK BANGUNAN SEDERHANA (Rumah Tinggal, Sekolah dan Rumah Ibadah) Disusun Oleh : EVARISTUS RATO NIM : 13.104.1011 Program Studi : Teknik Elektro Jurusan
PENGARUH JENIS SAMBUNGAN KABEL LISTRIK TERHADAP POTENSI BAHAYA KEBAKARAN
PENGARUH JENIS SAMBUNGAN KABEL LISTRIK TERHADAP POTENSI BAHAYA KEBAKARAN TESIS DISUSUN OLEH : A D R I A N U S NRM : 0606002824 TESIS INI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI SEBAGIAN PERSYARATAN MENJADI MAGISTER
BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG MASALAH Listrik selalu dijadikan dugaan awal jika terjadinya suatu kebakaran,walaupun tidak dapat dihindari memang kadang-kadang listrik memang menjadi biang keladi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Flowchart Pengambilan Data Winding Cu-Cu Winding Cu-Cu Bagian Elektrik Bagian Elektrik Kumparan Kumparan Inti Besi Inti Besi Bagian Mekanik Bagian Mekanik Selesai
PEMASANGAN. 1 Sambungan gas A B C. PERINGATAN! Silakan baca bab Keselamatan.
PEMSNGN Silakan baca bab Keselamatan. 1 Sambungan gas Sebelum menyambung gas, lepaskan steker utama dari soket utama atau matikan sekering dalam kotak sekering. Tutuplah katup utama dari suplai gas. Saluran
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK Oleh: FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI MALANG Oktober 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring jaman
I. PENDAHULUAN. Pekerjaan struktur seringkali ditekankan pada aspek estetika dan kenyamanan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pekerjaan struktur seringkali ditekankan pada aspek estetika dan kenyamanan selain dari pada aspek keamanan. Untuk mempertahankan aspek tersebut maka perlu adanya solusi
LISTRIK DINAMIS B A B B A B
Listrik Dinamis 161 B A B B A B 8 LISTRIK DINAMIS Sumber : penerbit cv adi perkasa Kalian tentu tidak asing dengan bab ini, yaitu tentang listrik. Listrik sudah menjadi sumber energi banyak bidang. Di
V. BAHAYA DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN DAN PELEDAKAN AKIBAT LISTRIK
V. BAHAYA DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN DAN PELEDAKAN AKIBAT LISTRIK Penyebab Kebakaran dan Pengamanan - Ukuran kabel yang tidak memadai. Salah satu faktor yang menentukan ukuran kabel atau penghantar adalah
BAB 6 SISTEM PENGAMAN RANGKAIAN KELISTRIKAN
BAB 6 SISTEM PENGAMAN RANGKAIAN KELISTRIKAN 6.1. Pendahuluan Listrik mengalir dalam suatu rangkaian dengan besar arus tertentu sesuai dengan besarnya tahanan pada rangkaian tersebut. Penghantar atau kabel
BAB IV OPTIMALISASI BEBAN PADA GARDU TRAFO DISTRIBUSI
BAB IV OPTIMALISASI BEBAN PADA GARDU TRAFO DISTRIBUSI 4.1 UMUM Proses distribusi adalah kegiatan penyaluran dan membagi energi listrik dari pembangkit ke tingkat konsumen. Jika proses distribusi buruk
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengendalian Proyek Suatu kegiatan pengawasan/monitoring suatu Proyek supaya proyek bisa berjalan dengan lancar dan mendapatkan mutu yang baik, penggunaan biaya dan
BAB IV MENGENAL FISIK LEMARI ES
BAB IV MENGENAL FISIK LEMARI ES Mengenal fisik lemari es sangat diperlukan baik oleh pemilik atau calon tukang servis. Pada saat melakukan pemeliharaan terkadang kita dituntut untuk bisa membuka bagian-bagian
MEMASANG INSTALASI PENERANGAN SATU PASA
KEGIATAN BELAJAR 1 MEMASANG INSTALASI PENERANGAN SATU PASA Lembar Informasi Menurut peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor 023/PRT/1978, pasal 1 butir 5 tentang instalasi listrik, menyatakan
Halaman Judul ANALISIS POTENSI KEBAKARAN TERHADAP PENYAMBUNGAN KABEL DALAM RUMAH TANGGA
Halaman Judul LAPORAN SKRIPSI ANALISIS POTENSI KEBAKARAN TERHADAP PENYAMBUNGAN KABEL DALAM RUMAH TANGGA Disusun Oleh: Nama : Fierida Harjanto NIM : 201052031 Program Studi : Teknik Elektro Fakultas : Teknik
Jenis-Jenis Elektroda Pentanahan. Oleh Maryono
Jenis-Jenis Elektroda Pentanahan Oleh Maryono Jenis-Jenis Elektroda Pentanahan Elektroda Batang (Rod) Elektroda Pita Elektroda Pelat Elektroda Batang (Rod) ialah elektroda dari pipa atau besi baja profil
BAB 3 METODOLOGI PENGUJIAN
BAB 3 METODOLOGI PENGUJIAN Setiap melakukan penelitian dan pengujian harus melalui beberapa tahapan-tahapan yang ditujukan agar hasil penelitian dan pengujian tersebut sesuai dengan standar yang ada. Caranya
1 BAB I PENDAHULUAN. Energi listrik merupakan kebutuhan utama dan komponen penting dalam
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi listrik merupakan kebutuhan utama dan komponen penting dalam kehidupan. Energi listrik dibangkitkan melalui pembangkit dan disalurkan ke konsumen-konsumen
MODUL 7 SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. (Listrik) TINGKAT : XI PROGRAM KEAHLI AN TEKNI K PEMANFAATAN TENAGA LI STRI K
MODUL 7 SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Listrik) TINGKAT : XI PROGRAM KEAHLI AN TEKNI K PEMANFAATAN TENAGA LI STRI K DISUSUN OLEH : Drs. SOEBANDONO 7. Listrik Energi listrik Energi listrik
BAB II TEORI DASAR. 2.1 Umum
BAB II TEORI DASAR 2.1 Umum Sistem distribusi listrik merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi listrik bertujuan menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik atau pembangkit
BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENGUJIAN
BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 RANCANGAN ALAT PENGUJIAN Pada penelitian ini alat uji yang akan dibuat terlebih dahulu di desain sesuai dengan dasar teori, pengalaman dosen pembimbing
BAB I LAS BUSUR LISTRIK
BAB I LAS BUSUR LISTRIK A. Prinsip Kerja Las Busur Listrik Mengelas secara umum adalah suatu cara menyambung logam dengan menggunakan panas, tenaga panas pada proses pengelasan diperlukan untuk memanaskan
BAB IV ANALISA RENCANA SISTEM DISTRIBUSI DAN SISTEM PEMBUMIAN
BAB IV ANALISA RENCANA SISTEM DISTRIBUSI DAN SISTEM PEMBUMIAN 4.1 ANALISA SISTEM DISTRIBUSI Dalam menghitung arus yang dibutuhkan untuk alat penghubung dan pembagi sumber utama dan sumber tambahan dalam
PENTANAHAN JARING TEGANGAN RENDAH PLN DAN PENTANAHAN INSTALASI 3 SPLN 12 : 1978
BIDANG DISTRIBUSI No. SPLN No. JUDUL 1 SPLN 1 : 1995 TEGANGAN-TEGANGAN STANDAR 2 SPLN 3 :1978 PENTANAHAN JARING TEGANGAN RENDAH PLN DAN PENTANAHAN INSTALASI 3 SPLN 12 : 1978 PEDOMAN PENERAPAN SISTEM DISTRIBUSI
BAB III METODE PROSES PEMBUATAN
BAB III METODE PROSES PEMBUATAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai tempat serta waktu dilakukannya proses pembuatan dapur busur listrik, alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan dapur busur
Bab 5 Pengujian dan Pengolahan Data
Bab 5 Pengujian dan Penglahan Data 5.1 Prsedur Pengujian Gasiikasi Sekam Padi Dalam melakukan pengujian gasiikasi sekam padi, terdapat prsedur yang harus diikuti. Prsedur ini dimaksudkan untuk menghindari
BAB I PENDAHULUAN. logam menjadi satu akibat adanya energi panas. Teknologi pengelasan. selain digunakan untuk memproduksi suatu alat, pengelasan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengelasan adalah suatu proses penggabungan logam dimana logam menjadi satu akibat adanya energi panas. Teknologi pengelasan selain digunakan untuk memproduksi suatu
Evaluasi Belajar Tahap Akhir F I S I K A Tahun 2005
Evaluasi Belajar Tahap Akhir F I S I K A Tahun 2005 EBTA-SMK-05-01 Bahan dimana satu arah berfungsi sebagai konduktor dan pada arah yang lain berfungsi sebagai isolator A. konduktor B. isolator C. semi
BAB III METODOLOGI DAN PENGUMPULAN DATA
BAB III METODOLOGI DAN PENGUMPULAN DATA 3.1 Bendungan Gambar 3.1 Ilustrasi PLTMH cinta mekar (sumber,ibeka, 2007) PLTMH Cinta Mekar memanfaatkan aliran air irigasi dari sungai Ciasem yang berhulu di Gunung
UNIT I INSTALASI PENERANGAN PERUMAHAN SATU FASE
UNIT I INSTALASI PENERANGAN PERUMAHAN SATU FASE I. TUJUAN 1. Praktikan dapat mengetahui jenis-jenis saklar, pemakaian saklar cara kerja saklar. 2. Praktikan dapat memahami ketentuanketentuan instalasi
PERLENGKAPAN HUBUNG BAGI DAN KONTROL
PERLENGKAPAN HUBUNG BAGI DAN KONTROL Oleh Maryono SMK Negeri 3 Yogyakarta [email protected] http://maryonoam.wordpress.com Tujuan Kegiatan Pembelajaran : Siswa memahami macam-macam kriteria pemilihan
BAB III TEGANGAN GAGAL DAN PENGARUH KELEMBABAN UDARA
BAB III TEGANGAN GAGAL DAN PENGARUH KELEMBABAN UDARA 3.1. Pendahuluan Setiap bahan isolasi mempunyai kemampuan menahan tegangan yang terbatas. Keterbatasan kemampuan tegangan ini karena bahan isolasi bukanlah
PENGARUH JUMLAH SEL PADA HYDROGEN GENERATOR TERHADAP PENGHEMATAN BAHAN BAKAR
PENGARUH JUMLAH SEL PADA HYDROGEN GENERATOR TERHADAP PENGHEMATAN BAHAN BAKAR A. Yudi Eka Risano Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, UNILA Jl. Sumantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung, 35145 Telp. (0721)
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS Pada bab ini akan dibahas mengenai pengujian alat serta analisis dari hasil pengujian. Tujuan dilakukan pengujian adalah mengetahui sejauh mana kinerja dari hasil perancangan
Model : MFGA-24CR MFGA-48CR
Buku petunjuk pemasangan (manual) Penyejuk ruangan tipe lantai terpisah. Model : MFGA-24CR MFGA-48CR Bacalah buku ini seluruhnya sebelum memasang penyejuk ruangan ini. Bila terjadi kerusakan pada kabel
PROSEDUR PENGUJIAN TAHANAN ISOLASI TRAFO
PROSEDUR PENGUJIAN TAHANAN ISOLASI TRAFO 1. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui kondisi isolasi trafo 3 fasa Untuk mengetahui apakah ada bagian yang hubung singkat atau tidak 2. Alat dan Bahan : Trafo
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN KOMPONEN INSTALASI LISTRIK
KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI KEBUTUHAN KOMPONEN INSTALASI LISTRIK Lembar Informasi Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan komponen atau bahan instalasi listrik merupakan pekerjaan yang mengacu
Yasin Mohamad, ST., MT ABSTRAK
EVALUASI PEMASANGAN INSTALASI LISTRIK BERDASARKAN PUIL 2000 (STUDI KASUS PADA PEMUKIMAN PENDUDUK KOTA TENGAH KOTA GORONTALO) Yasin Mohamad, ST., MT ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melacak dan memperbaiki
BAB 3 METODE PENGUJIAN
15 BAB 3 METODE PENGUJIAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai metode yang dilakukan dalam pengujian resistansi konduktor pada kabel inti ganda NYM 2 x 1.5 mm 2, peralatan dan rangkaian yang digunakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Pentanahan Sistem pentanahan mulai dikenal pada tahun 1900. Sebelumnya sistemsistem tenaga listrik tidak diketanahkan karena ukurannya masih kecil dan tidak membahayakan.
YB Praharto 1, Hartono 2, Agung Toiwan 3 1,2,3. Abstrak. 1. Pendahuluan
Analisis Pengaruh Umur Instalasi Listrik Pada Pemakaian Energi Listrik Pascabayar Dan Prabayar 1. Pendahuluan YB Praharto 1, Hartono 2, Agung Toiwan 3 1,2,3 Program Studi Teknik Elektro Sekolah Tinggi
BAB II Dasar Teori BAB II DASAR TEORI
II DSR TEORI 2. Termoelektrik Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 82 oleh ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah rangkaian. Di antara kedua
JOBSHEET PRAKTIKUM 7 WORKSHOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK
JOBSHEET PRAKTIKUM 7 WORKSHOP INSTALASI PENERANGAN LISTRIK I. Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui tentang apa itu tahanan isolasi. 2. Mahasiswa mengetahui bagaimana cara dan aturan-aturan pemakaian alat ukur
BAB I LATAR BELAKANG. berlangsung secara aman dan efisien sepanjang waktu. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk menyalurkan listrik secara
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Pendahuluan Kebutuhan akan energi listrik yang handal dan kontinyu semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan beban. Penyaluran energi listrik diharapkan dapat berlangsung secara
Contoh soal dan pembahasan ulangan harian energi dan daya listrik, fisika SMA kelas X semester 2. Perhatikan dan pelajari contoh-contoh berikut!
Contoh soal dan pembahasan ulangan harian energi dan daya listrik, fisika SMA kelas X semester 2. Perhatikan dan pelajari contoh-contoh berikut! Soal No.1 Sebuah lampu memiliki spesifikasi 18 watt, 150
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN DINAMOMETER KECIL DENGAN MENGGUNAKAN REM ARUS EDDY
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN DINAMOMETER KECIL DENGAN MENGGUNAKAN REM ARUS EDDY Sangriyadi Setio 1 dan Antonius Irwan 2 Program Studi Teknik Mesin, FTMD, ITB Jalan Ganesha No. 10, Bandung 40132, Indonesia
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1. Umum Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi.
DTG1I1. Bengkel Instalasi Catu Daya dan Perangkat Pendukung KWH METER DAN ACPDB. By Dwi Andi Nurmantris
DTG1I1 Bengkel Instalasi Catu Daya dan Perangkat Pendukung KWH METER DAN ACPDB By Dwi Andi Nurmantris OUTLINE 1. KWH Meter 2. ACPDB TUGAS 1. Jelaskan tentang perangkat dan Instalasi Listrik di rumah-rumah!
BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA UPS
BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA UPS 4.1 Perancangan UPS 4.1.1 Menghitung Kapasitas UPS Uninterruptible Power Supply merupakan sumber energi cadangan yang sangat penting bagi perusahaan yang bergerak di
BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA. daya aktif (watt) dan daya nyata (VA) yang digunakan dalam sirkuit AC atau beda
25 BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA 3.1 Pengertian Faktor Daya Listrik Faktor daya (Cos φ) dapat didefinisikan sebagai rasio perbandingan antara daya aktif (watt) dan daya
JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
TUGAS AKHIR PENGUJIAN MODEL WATER HEATER FLOW BOILING DENGAN VARIASI GELEMBUNG UDARA Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Mesin Fakultas Teknik Univesitas
Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-). Sedangkan aliran listrik dalam kawat logam terdiri dari aliran elektron yang
Arus listrik Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-). Sedangkan aliran listrik dalam kawat logam terdiri dari aliran elektron yang bergerak dari terminal negatif (-) ke
ANALISIS PENGARUH FREKUENSI TERHADAP REDAMAN PADA KABEL KOAKSIAL
SINGUDA ENSIKOM ANALISIS PENGARUH FREKUENSI TERHADAP REDAMAN PADA KABEL KOAKSIAL Suryanto, Ali Hanafiah Rambe Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah dan Pengenalan Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh seorang ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah
Pengaruh Variasi Waktu dan Tebal Plat Pada Las Titik terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Sambungan Las Baja Karbon Rendah
TUGAS AKHIR Pengaruh Variasi Waktu dan Tebal Plat Pada Las Titik terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Sambungan Las Baja Karbon Rendah Disusun : MT ERRY DANIS NIM : D.200.01.0055 NIRM : 01.6.106.03030.50055
