Infeksi Cacing pada Ular Kobra (Naja sputatrix) di Bali
|
|
|
- Sudomo Setiabudi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Veteriner September 2014 Vol. 15 No. 3 : ISSN : Infeksi Cacing pada Ular Kobra (Naja sputatrix) di Bali (WORM INFECTION ON SPITTING COBRA SNAKE (Naja Sputatrix) IN BALI) Dyah Ayu Sismami 1, Ida Bagus Oka 2, Nyoman Sadra Dharmawan 3 Mahasiswa 1), Laboratorium Parasitologi Veteriner 2), Laboratorium Patologi Klinik Veteriner 3) Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali Telp. (0361) , [email protected] ABSTRAK Telah dilakukan survei untuk mengetahui infeksi cacing pada ular kobra (Naja sputatrix) di Bali. Sebanyak 15 sampel feses yang diperoleh dari ular kobra liar di Bali diperiksa dengan metode konsentrasi sedimentasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pada ke 15 sampel feses yang diperiksa ditemukan telur cacing. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa prevalensi infeksi cacing pada ular kobra di Bali 100%. Dari studi ini diketahui bahwa pada satu ular kobra dapat terinfeksi oleh lebih dari satu cacing (multiple infections). Prevalensi dan jenis cacing yang menginfeksi tersebut adalah: Rhabdias sp (60,03%), Strongyloides sp (60,03%), Oxyuris sp (53,3%), Kalicephalus spp (20,01%), dan Capilaria sp (6,67%). Untuk memperkaya informasi infeksi parasit lainnya pada ular kobra di Bali, penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan variabel dan jumlah sampel yang diperbanyak. Kata-kata kunci: infeksi cacing, ular kobra, Bali. ABSTRACT It has been done the survey for study about worm infection on spitting cobra snake (Naja sputatrix) in Bali. There were 15 fecal samples from wild spitting cobra snake in Bali. The examination was using concentration cediment method. The result of examination showed that from all 15 fecal samples contained the worm egg. From the result it could be conclude that the prevalent worm infection on spitting cobra snake in Bali is capability 100%. From this study it means that infectioned could be happen more than 1 (multiple infection) on 1 splitting cobra snake. The kind and prevalent of worm infected snake were Rhabdias sp (60,03%), Strongyloides sp (60,03%), Oxyuris sp (53,3%), Kalicephalus spp (20,01%), dan Capilaria sp (6,67%). For enrich the information of another kind of parasitic infection should be done the research with variable and more collected samples. Keywords: worm infection, spitting cobra snake, Bali. PENDAHULUAN Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia sebagai negara yang memiliki kekayaan jenis reptil. Jenis reptil yang dimiliki berasal dari ordo Testudinata, Squamata, dan Crocodylia. Saat ini diketahui ada sekitar jenis ular, tetapi hanya sekitar 300 yang mampu membunuh manusia. Ular dibedakan menjadi dua jenis, yaitu venomous/berbisa dan non venomous/tidak berbisa. Salah satu contoh ular berbisa adalah ular kobra. Menurut Wallach (2009) dari 28 spesies ular kobra yang ada di dunia, dua di antaranya ditemukan di Indonesia, yaitu Naja sputatrix (Southern Indonesian Spitting Cobra) dan Naja sumatrana (Equatorial Spitting Cobra). Ular N. sputatrix tersebar mulai dari Jawa (de Haas, 1941), Bali, Lombok, Alor (Wüster dan Thorpe, 1989), Sumbawa, Komodo, dan Flores (Auffenberg, 1980), sedangkan N. sumatrana tersebar mulai dari Brunei, Indonesia yaitu Sumatra (Lidth de Jeude, 1921), Belitung (Westermann, 1942), Riau (Erdelen, 1998) dan Kalimantan (Yuwono, 1998); Malaysia (Das dan Charles, 1993a; 1993b); Philippines (Leviton, 1963; Bruce, 1981; Wüster dan Thorpe, 1990); Singapore (Harman, 1961); dan Thailand 401
2 Dyah Ayu Sismami et al Jurnal Veteriner (Wüster dan Thorpe, 1989). Banyak peneliti melaporkan masalah kecacingan pada ular (Frye, 1991; Klingenberg, 2007; dan Navarre, 2008). Menurut Klingenberg (2007), ular terinfeksi oleh cacing nematode ascarid, Oxyuris sp, Physaloptera sp, Rhabdias sp, Strongyloides sp. Nematoda lain yaitu Kalicephalus sp juga pernah dilaporkan menginfeksi ular kobra (Purwaningsih, 2011). Ular kobra merupakan satwa endemik Indonesia yang harus dijaga kelestariannya. Salah satu usahan pelestariannya adalah dengan memperhatikan kesehatan ular tersebut. Masalah kecacingan pada ular sering terjadi dan menimbulkan kerugian berupa obstruksi organ, hilangnya nutrisi, penghancuran jaringan, dan memudahkan infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri. Survei berikut dikerjakan bertujuan untuk mengetahui jenis cacing yang menginfeksi ular kobra (N. sputatrix) di Bali. METODE PENELITIAN Survei ini menggunakan sampel feses dari 15 ekor ular N. sputatrix yang hidup di alam liar. Pengambilan sampel feses dilakukan di beberapa wilayah di Bali yaitu Denpasar, Tabanan, Badung, dan Gianyar. Alat yang digunakan menangkap ular adalah hook, grabber, kaca mata goggle dan sarung tangan. Ular kobra hasil tangkapan dari alam liar, dipelihara sampai diperoleh fesesnya. Feses diperiksa menggunakan metode konsentrasi sedimentasi. Preparat yang dibuat diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif Identifikasi telur cacing berdasarkan morfologi dan ukuran (Frye, 1991; Klingenberg; 2007; Rataj et al, 2011). Data yang diperoleh kemudian disajikan secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Selama survei telah diperiksa sampel feses 15 ular kobra. Ular kobra tersebut diperoleh dari penangkapan di berbagai tempat di Bali. Tujuh ular (46,67%) berasal dari Kota Denpasar; lima (33,33%) dari Kabupaten Badung; satu (6,67%) dari Kabupaten Tabanan; dan dua dari Kabupaten Gianyar (13,33%). Jenis kelamin ular kobra terdiri atas sembilan jantan dan enam betina, dengan rentang panjang cm. Dari hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap 15 sampel feses, ditemukan lima jenis telur cacing. Berdasarkan morfologi yang digambarkan oleh Frye (1991); Klingenberg (2007) dan Rataj et al., (2011), kelima jenis telur yang teridentifikasi diuraikan sebagai berikut: Gambar 1a. Telur cacing Rhabdias sp Telur berbentuk oval berdinding tipis dan telah berkembang (berisi blastomer atau stadium morulla) saat dikeluarkan. Telur berukuran panjang dengan rataan 85,5 µ dan lebar 42,9 µ (Frye, 1991; Klingenberg, 2007 dan Rataj et al., 2011). Gambar 1b. Telur cacing Capilaria sp Telurnya khas dengan dua kutub polar operculum seperti sumbat, umumnya tidak berembrio saat dikeluarkan (Frye, 1991; Klingenberg, 2007 dan Rataj et al., 2011). 402
3 Jurnal Veteriner September 2014 Vol. 15 No. 2 : Gambar 1c. Telur cacing Strongyloides sp Telur cacing ini mirip dengan telur Rhabdias sp, tetapi memiliki ukuran lebih kecil dan telah berembrio saat dikeluarkan. Pada survei ini telur jenis Strongyloides sp yang teramati berukuran panjang dengan rataan 50,05 µm dan lebar 28,6 µm (Rataj et al., 2011) Gambar 1d. Telur cacing Oxyuris sp Telur berukuran besar dan berdinding halus. Beberapa spesies cacing ini merupakan vivipar, tetapi mayoritas ovipar dan ovovivipar. Salah satu ciri telur Oxyuris sp adalah telurnya berdinding tebal asimetris dan salah satu ujungnya lebih tumpul. Telur cacing Oxyuris yang diamati pada penelitian ini memiliki ukuran panjang 200,2 µm dan lebar 42,9 µm (Klingenberg, 2007). Gambar 1e.Telur cacing Kalicephalus spp. Telurnya khas untuk tipe strongylus yaitu saat dikeluarkan sudah mengandung blastomer (Navarre, 2008), telur bisa keluar bersama tinja atau dapat keluar melalui rongga mulut jika infeksi terjadi di dalam saluran pencernaan bagian kranial (misalnya, esofagus) buaya (Frye, 1991, dan Klingenberg, 2007). Dari hasil pemeriksaan tersebut dapat dinyatakan bahwa jenis cacing yang menginfeksi ular kobra di Bali, antara lain genus: Rhabdias sp, Oxyuris sp, Strongyloides sp, Kalicephalus spp, dan Capilaria sp. Besar prevalensi dari masing-masing cacing yang ditemukan pada survei ini, disajikan pada Tabel 1. Ular kobra betina mempunyai ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan ular jantan (Boeadi et al., 1998). Ular kobra yang berhasil ditangkap pada survei ini memiliki ukuran panjang antara cm. Ular kobra di Bali mempunyai ukuran panjang sekitar 1 m, dengan ukuran terpanjang yang pernah ditemukan 1,4 m. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa ular kobra yang diamati pada survei ini belum mencapai ukuran maksimal, atau umur ular kobra tersebut belum dewasa. Jenis telur cacing yang ditemukan pada survei ini adalah dari genus: Rhabdias sp, Oxyuris sp, Strongyloides sp, Capilaria sp, dan Kalicephalus spp. Hasil penelitian yang sama 403
4 Dyah Ayu Sismami et al Jurnal Veteriner Tabel 1. Prevalensi infeksi cacing yang menginfeksi ular kobra di Bali Jenis Jumlah Ditemukan Tidak ditemukan Prevalensi Cacing sampel telur cacing (+) telur cacing (-) % Rhabdias sp ,03 Oxyuris sp ,36 Strongyloides sp ,03 Capilaria sp ,67 Kalicephalus sp ,01 Tabel 2. Infeksi campuran dari masing-masing ular kobra di Bali Ular Kobra No. Asal kobra/kab. Jenis Kelamin Infeksi campuran 1 Denpasar Betina Rhabdias sp, Stongyloides sp, kalicephalus spp 2 Denpasar Betina Rhabdias sp, Stongyloides sp 3 Tabanan Jantan Rhabdias sp, Oxyuris sp 4 Badung Betina Stongyloides sp 5 Denpasar Jantan Rhabdias sp, 6 Denpasar Jantan Oxyuris sp 7 Badung Jantan Stongyloides sp 8 Badung Betina Rhabdias sp, Oxyuris sp 9 Badung Jantan Stongyloides sp, Oxyuris sp 10 Badung Betina Rhabdias sp, 11 Denpasar Jantan Stongyloides sp, Oxyuris sp 12 Denpasar Jantan Oxyuris sp 13 Denpasar Jantan Rhabdias sp, Stongyloides sp, Kalicephalus spp, Capilaria, sp 14 Gianyar Betina Rhabdias sp, Stongyloides sp, Oxyuris sp, Kalicephalus spp 15 Gianyar Jantan Rhabdias sp, Stongyloides sp, Oxyuris sp juga dilaporkan oleh Frye (1991) dan Klingenberg (2007). Genus Oxyuris sp, umumnya menginfeksi kadal dan kura-kura, dan jarang menginfeksi ular. Dari hasil survey ini diketahui bahwa Oxyuris sp menginfeksi hampir semua ular kobra yang diamati. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ular memangsa rodensia atau kadal, yang umum terinfeksi Oxyuris sp, sehingga ular juga menjadi terinfeksi (Navarre, 2008; Rataj et al., 2011). Ular yang hidup liar, umumnya lebih jarang terinfeksi parasit khususnya cacing. Hal ini disebabkan karena pada habitat luas, kemungkinan ular kontak dengan tanah atau mangsa yang terkontaminasi lebih jarang. Berbeda dengan ular yang dipelihara pada kandang sempit dan tertutup sangat mudah untuk terinfeksi (Navarre, 2008). Dari hasil pengamatan yang dilakukan, prevalensi infeksi cacing pada ular kobra di Bali 100%. Hal ini mengindikasikan bahwa habitat ular di Bali sudah semakin sempit sehingga kemungkinan terinfeksi menjadi lebih tinggi. Pada survei ini tidak hanya ditemukan telur cacing, tetapi juga telur tungau dan kutu. Ditemukannya telur tungau dan kutu disebabkan karena ular memangsa terutama rodensia dan kadal yang umum terinfeksi tungau dan kutu (Navarre, 2008). Sebaliknya, dari hasil survei ini tidak ditemukan telur cacing Cestoda. Kondisi seperti ini menurut Frye (1991) dan Rataj et al., (2011) adalah wajar, karena ular hanya merupakan inang antara untuk Cestoda. Walaupun pernah dilaporkan ditemukan telur Himenolepis sp, tetapi ini merupakan parasit insidental (Rataj et al., 2011). Pada survei ini juga tidak diperoleh telur 404
5 Jurnal Veteriner September 2014 Vol. 15 No. 2 : kelas Trematoda. Ular tertular cacing trematoda jika memangsa berudu atau kodok yang terinfeksi metaserkaria (Klingenberg, 2007; Rataj et al., 2011). Karena ular yang diamati sebagian besar ditangkap di sekitar perumahan, memungkinkan ular tersebut lebih banyak memangsa rodensia dan kadal dibandingkan berudu dan kodok. Ini terbukti dengan ditemukannya cacing Oxyuris sp pada hampir semua ular yang diteliti (Navarre, 2008, dan Rataj et al., 2011). SIMPULAN Dari hasil survei yang telah dilakukan dapat disimpulkan yaitu jenis cacing yang menginfeksi ular kobra (N. sputatrix) di Bali adalah nematoda genus Rhabdias sp, Oxyuris sp, Strongyloides sp, Capilaria sp dan Kalicephalus spp. Pada satu ekor ular kobra di Bali, tidak hanya terinfeksi satu jenis cacing saja (tunggal), melainkan juga dapat terinfeksi oleh dua atau tiga jenis (campuran). SARAN Untuk penelitian yang menggunakan sampel ular, hendaknya dilakukan pemeriksaan feses untuk mengetahui status kesehatan ular. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memperbanyak data yang dibutuhkan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis ucapankan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini, dan kepada salah satu minpro satwa liar Rothschildi sebagai wadah pembelajaran di bidang satwa liar. DAFTAR PUSTAKA Auffenberg W The Herpetofauna Komodo, with notes on adjacent areas. Bulletin of the Florida State Museum, Biological Sciences 25(2) : Boeadi, Shine R, Sugardijto J, Amir M, Sinaga M H Biology of the Commercially- Harvested Rat Snake (Ptyas mucosus) and Cobra (Naja sputatrix) in Central Java. Mertensiella 9 : Das I, Charles J K. 1993a. Amphibians and reptiles recorded from the Lambir Hills National Park, Sarawak, East Malaysia. Hamadryad 18 : Das I, Charles J K. 1993b.A contribution to the herpetology of Bako National Park, Sarawak, East Malaysia. Hamadryad 18 : de Haas C P J Some notes on the biology of snakes and on their distribution in two districts of West Java. Treubia 18 (2) : Erdelen W Trade in lizards and snakes in Indonesia biogeography, ignorance and sustainability. In: Erdelen, W. (ed). Conservation, trade and sustainable use of lizards and snakes in Indonesia. Mertensiella 9: Frye F L Reptile Care an Atlas of Diseases and Treatments. Vol 1. Pp T.F.H. Publications, Inc. USA. Harman A J E A collection of snakes from Singapore. Malayan Nature Journal 15 : Klingenberg R J Understanding Reptile Parasites. 2 nd ed. Singapore. Advanced Vivarium System. Leviton A E Contributions to a review of Philippine Snakes, VII.The snakes of the genera Naja and Ophiophagus. Philippine Journal of Science 93 : Lidth de Jeude, T Snakes from Sumatra. Zoologische Mededeelingen 6 : Navarre, B.D.L Common Parasitic Diseases of Reptiles and Amphibians. CVC in San Diego Proceeding. Purwaningsih E New host and locality records of snake intestinal nematode Kalicephalus spp in Indonesia. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine Rataj A V, Knific R L, Vlahovic K, Mavri U, Dovc A Parasites in pet reptiles. Acta Veterinaria Scandinavica, 53:33. Wallach V, Wuster W, Broadley G D In praise of subgenera: taxonomic status of cobras of the genus Naja Laurenti (Serpentes: Elapidae). England Zootaxa 2236: Westermann J H Snakes from Bangka and Billiton. Treubia 18 (3) : Wüster W, Thorpe R S Population affinities of the Asiatic Cobra (Naja naja) species complex in South-east Asia: reliability and random resampling. Biol J Linn Soc 36 :
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang beriklim tropis terluas di dunia dan merupakan negara yang memiliki banyak keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna.
Prevalensi Infeksi Cacing Nematoda pada Ular Python Reticulatus yang Dipelihara Pecinta Ular di Denpasar
Prevalensi Infeksi Cacing Nematoda pada Ular Python Reticulatus yang Dipelihara Pecinta Ular di Denpasar (PREVALENCE OF INFECTIONS IN WORMS NEMATODES SNAKE PYTHON RETICULATUS MAINTAINED THAT SNAKE LOVERS
PREVALENSI INFEKSI CACING NEMATODA PADA ULAR PYTHON RETICULATUS YANG DIPELIHARA PECINTA ULAR DI DENPASAR SKRIPSI
PREVALENSI INFEKSI CACING NEMATODA PADA ULAR PYTHON RETICULATUS YANG DIPELIHARA PECINTA ULAR DI DENPASAR SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan dalam rangka memperoleh gelar
Prevalensi Trematoda pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
Prevalensi Trematoda pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung THE PREVALENCE OF TREMATODES IN BALI CATTLE BREEDERS REARED IN THE SOBANGAN VILLAGE, MENGWI
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali di Sentra Pembibitan Desa Sobangan, Mengwi, Badung
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali di Sentra Pembibitan Desa Sobangan, Mengwi, Badung PREVALENSI NEMATODA GASTROINTESTINAL AT SAPI BALI IN SENTRA PEMBIBITAN DESA SOBANGAN, MENGWI, BADUNG
Identifikasi Ookista Isospora Spp. pada Feses Kucing di Denpasar
Identifikasi Ookista Isospora Spp. pada Feses Kucing di Denpasar IDENTIFY OOCYST OF ISOSPORA SPP. IN FAECAL CATS AT DENPASAR Maria Mentari Ginting 1, Ida Ayu Pasti Apsari 2, dan I Made Dwinata 2 1. Mahasiswa
an sistem pemel ubucapan TERIMA KASIH
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Denpasar pada tanggal 31 Mei 1993, merupakan putra pertama dari tiga bersaudara pasangan I Wayan Ariana dan Ni Kadek Sri Anggreni. Penulis menempuh pendidikan di TK
RINGKASAN. Kata kunci : Cacing nematoda, Kuda, Prevalensi, Kecamatan Moyo Hilir, Uji apung. SUMMARY
RINGKASAN Kuda di daerah Sumbawa memiliki peran penting baik dalam bidang budaya maupun bidang ekonomi. Kesehatan kuda sesuai perannya harus diperhatikan dengan baik. Kuda dapat terserang penyakit baik
HUBUNGAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI CACING TREMATODA PADA TERNAK SAPI DI PETANG KECAMATAN PETANG, BADUNG SKRIPSI.
HUBUNGAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI CACING TREMATODA PADA TERNAK SAPI DI PETANG KECAMATAN PETANG, BADUNG SKRIPSI Oleh: Ni Made Ayu Sukarmi Mega 0609005016 FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
Prevalensi Trematoda di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
Prevalensi Trematoda di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung THE PREVALENCE OF TREMATODES IN BALI CATTLE BREEDING CENTER SOBANGAN VILLAGE, DISTRICT MENGWI, BADUNG
ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN
ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2007-2011 Eggi Erlangga, 2013. Pembimbing I : July Ivone, dr., M.KK., MPd.Ked. Pembimbing
Kata kunci : Prevalensi, infeksi cacing Toxocara canis, Anjing Kintamani Bali.
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Denpasar pada tanggal 16 Desember 1993, merupakan putra Kedua dari dua bersaudara pasangan I Made Suwija dan Ni Nyoman Supariani. Penulis menempuh pendidikan di TK Putra
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ascaris lumbricoides Manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar nematoda ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat Indonesia (FKUI, 1998). Termasuk dalam
KEANEKARAGAMAN EKTOPARASIT PADA BIAWAK (Varanus salvator, Ziegleri 1999) DIKOTA PEKANBARU, RIAU. Elva Maharany¹, Radith Mahatma², Titrawani²
KEANEKARAGAMAN EKTOPARASIT PADA BIAWAK (Varanus salvator, Ziegleri 1999) DIKOTA PEKANBARU, RIAU Elva Maharany¹, Radith Mahatma², Titrawani² ¹Mahasiswa Program S1 Biologi ²Dosen Bidang Zoologi Jurusan Biologi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penduduk di dunia. Biasanya bersifat symtomatis. Prevalensi terbesar pada daerah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ascaris Lumbricoides Ascariasis merupakan infeksi cacing yang paling sering dijumpai. Diperkirakan prevalensi di dunia berjumlah sekitar 25 % atau 1,25 miliar penduduk di dunia.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Soil transmitted helminths adalah cacing perut yang siklus hidup dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Soil Transmitted Helminths 1. Pengertian Soil transmitted helminths adalah cacing perut yang siklus hidup dan penularannya melalui tanah. Di Indonesia terdapat lima species cacing
KECACINGAN TREMATODA Schistosoma spp. PADA BADAK SUMATERA (Dicerorhinus sumatrensis) DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS
KECACINGAN TREMATODA Schistosoma spp. PADA BADAK SUMATERA (Dicerorhinus sumatrensis) DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Sulinawati 1), Saputra, I G.N.A. W.A 2), Ediwan 3), Priono, T.H. 4), Slamet 5), Candra,
II. TINJAUAN PUSTAKA
3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Informasi Geografis 2.1.1. Pengertian dan Konsep Dasar Prahasta (2001) menyebutkan bahwa pengembangan sistem-sistem khusus yang dibuat untuk menangani masalah informasi
Gambar 12 Kondisi tinja unta punuk satu memperlihatkan bentuk dan dan tekstur yang normal atau tidak diare.
HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel tinja unta punuk satu yang didapatkan memiliki struktur seperti tinja hewan ruminansia pada umumnya. Tinja ini mempunyai tekstur yang kasar dan berwarna hijau kecoklatan. Pada
FREKUENSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI NO. 32 MUARA AIR HAJI KECAMATAN LINGGO SARI BAGANTI PESISIR SELATAN
FREKUENSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI NO. 32 MUARA AIR HAJI KECAMATAN LINGGO SARI BAGANTI PESISIR SELATAN Fitria Nelda Zulita, Gustina Indriati dan Armein Lusi Program Studi
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi Trichuris trichiura adalah salah satu penyakit cacingan yang banyak
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Trichuris trichiura Infeksi Trichuris trichiura adalah salah satu penyakit cacingan yang banyak terdapat pada manusia. Diperkirakan sekitar 900 juta orang pernah terinfeksi
PREVALENSI INFEKSI DAN IDENTIFIKASI CACING TREMATODA HATI PADA ITIK LOKAL (ANAS SP) YANG BERASAL DARI BEBERAPA KABUPATEN DI BALI SKRIPSI
PREVALENSI INFEKSI DAN IDENTIFIKASI CACING TREMATODA HATI PADA ITIK LOKAL (ANAS SP) YANG BERASAL DARI BEBERAPA KABUPATEN DI BALI SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan untuk
Prevalensi Infeksi Protozoa Saluran Pencernaan pada Anjing Kintamani Bali di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali
Prevalensi Infeksi Protozoa Saluran Pencernaan pada Anjing Kintamani Bali di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali (THE PREVALENCE OF PROTOZOA INTESTINAL INFECTION IN KINTAMANI DOG
HUBUNGAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI CACING NEMATODA PADA KELOMPOK TERNAK SAPI DI PETANG KECAMATAN PETANG, BADUNG SKRIPSI
HUBUNGAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI CACING NEMATODA PADA KELOMPOK TERNAK SAPI DI PETANG KECAMATAN PETANG, BADUNG SKRIPSI Oleh : GALIH INTAN HARTANTRI 0609005028 FAKULTAS KEDOKTERAN
PEMERIKSAAN NEMATODA USUS PADA FAECES ANAK TK (TAMAN KANAK- KANAK) DESA GEDONGAN KECAMATAN BAKI KABUPATEN SUKOHARJO
PEMERIKSAAN NEMATODA USUS PADA FAECES ANAK TK (TAMAN KANAK- KANAK) DESA GEDONGAN KECAMATAN BAKI KABUPATEN SUKOHARJO DETECTION OF INTESTINAL NEMATODE IN KINDERGARTEN STUDENTS FAECES AT GEDONGAN VILLAGE
Cacing Parasit Saluran Pencernaan Pada Hewan Primata di Taman Satwa Kandi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat
14 Cacing Parasit Saluran Pencernaan Pada Hewan Primata di Taman Satwa Kandi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat Gastrointestinal helminths of the primates in Taman Satwa Kandi Sawahlunto, West Sumatra
ABSTRAK. Kata kunci : Prevalensi, Intensitas, Leucocytozoon sp., Ayam buras, Bukit Jimbaran.
ABSTRAK Leucocytozoonosis merupakan salah satu penyakit yang sering menyebabkan kerugian berarti dalam industri peternakan. Kejadian penyakit Leucocytozoonosis dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu umur,
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Pemeriksaan cacing parasit
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Pemeriksaan cacing parasit dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Pemeriksaan kualitatif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Soil Transmitted Helminth Soil Transmitted Helminth adalah Nematoda Intestinal yang berhabitat di saluran pencernaan, dan siklus hidupnya untuk mencapai stadium infektif dan
TINJAUAN PUSTAKA Landak Jawa ( Hystrix javanica
14 TINJAUAN PUSTAKA Landak Jawa (Hystrix javanica) Klasifikasi Landak Jawa menurut Duff dan Lawson (2004) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia Famili
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi ular Python reticulatus Ular Python reticulatus merupakan jenis ular tidak berbisa / non venomous yang memiliki penyebaran cukup luas. Berikut merupakan taksonomi
Identifikasi dan Prevalensi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Anak Babi di Bali
Identifikasi dan Prevalensi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Anak Babi di Bali (IDETIFICATION AND PREVALENCE OF GASTROINTESTINAL NEMATHODES PIGLETS IN BALI) Ady Fendriyanto 1, I Made Dwinata 2,
BAB II TIJAUAN PUSTAKA. A. Infeksi cacing Enterobius vermicularis (Enterobiasis)
BAB II TIJAUAN PUSTAKA A. Infeksi cacing Enterobius vermicularis (Enterobiasis) Enterobiasis/penyakit cacing kremi adalah infeksi usus pada manusia yang disebabkan oleh cacing E. vermicularis. Enterobiasis
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tingkat konsumsi ayam dan telur penduduk Indonesia tinggi. Menurut Badan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ayam dan telur bukanlah jenis makanan yang asing bagi penduduk indonesia. Kedua jenis makanan tersebut sangat mudah dijumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahkan
PENUNTUN PRAKTIKUM MATA KULIAH PARASITOLOGI
2016 PENUNTUN PRAKTIKUM MATA KULIAH PARASITOLOGI LABORATORIUM JURUSAN ILMU PETERNAKAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI AS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR I. IDENTIFIKASI EKTOPARASIT A. Pengantar Keberhasilan
II. TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Biologi Ular Sendok
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Taksonomi dan Biologi Ular Sendok Menurut Hoser (2009) bahwa ular sendok (Naja sputatrix Boie 1827) secara taksonomi termasuk Kelas Reptilia, Ordo Squamata, Sub Ordo Serpentes,
Persentase positif
ISSN : 1411-8327 Kecacingan Trematoda pada Badak Jawa dan Banteng Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon PREVALENCE OF TREMATODES IN JAVAN RHINOCROS AND BANTENG AT UJUNG KULON NATIONAL PARK Risa Tiuria 1,
LABORATORIUM PARASITOLOGI DAN ENTOMOLOGI
LABORATORIUM PARASITOLOGI DAN ENTOMOLOGI Kegiatan Infeksi cercaria Schistosoma japonicum pada hewan coba (Tikus putih Mus musculus) 1. Latar belakang Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penyakit yang sering terjadi pada peternakan ayam petelur akibat sistem
PENDAHULUAN Latar Belakang Penyakit yang sering terjadi pada peternakan ayam petelur akibat sistem pemeliharaan yang kurang baik salah satunya disebabkan oleh parasit (Murtidjo, 1992). Menurut Satrija
PERILAKU HARIAN ULAR KOBRA (Naja sputatrix BOIE) DALAM KANDANG PENANGKARAN
Jurnal Virgin, Jilid 1,No. 2, Juli 2015, Hal: 154-161 Issn: 2442-2509 PERILAKU HARIAN ULAR KOBRA (Naja sputatrix BOIE) DALAM KANDANG PENANGKARAN 1) I Gede Widhiantara*, 2) I Wayan Rosiana* 1,2 ) Program
Buletin Veteriner Udayana Vol.1 No.2. :41-46 ISSN : Agustus 2009 PREVALENSI INFEKSI CACING TRICHURIS SUIS PADA BABI MUDA DI KOTA DENPASAR
PREVALENSI INFEKSI CACING TRICHURIS SUIS PADA BABI MUDA DI KOTA DENPASAR (The Prevalence of Trichuris suis infections on Piglets in Denpasar) Nyoman Adi Suratma. Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran
IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI INFEKSI PROTOZOA SALURAN CERNA ANAK BABI YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL DI WILAYAH PROVINSI BALI SKRIPSI
IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI INFEKSI PROTOZOA SALURAN CERNA ANAK BABI YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL DI WILAYAH PROVINSI BALI SKRIPSI Oleh: Ni Made Ayudiningsih Astiti Sudewi NIM.1009005033 FAKULTAS KEDOKTERAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Babi merupakan salah satu hewan komersil yang dapat diternakkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dikalangan masyarakat. Babi dipelihara oleh masyarakat dengan
Isolasi dan Identifikasi Oosista Koksidia dari Tanah Di Sekitar Tempat Pembuangan Sampah Di Kota Denpasar
Isolasi dan Identifikasi Oosista Koksidia dari Tanah Di Sekitar Tempat Pembuangan Sampah Di Kota Denpasar ISOLATION AND IDENTIFICATION OF OOSISTA COCCIDIA OF THE LAND AROUND GARBAGE DISPOSAL IN DENPASAR
ABSTRAK. Kata Kunci: Prevalensi, Intensitas, Tetrameres spp., Ayam Buras, Bukit Jimbaran
ABSTRAK Cacing Tetrameres spp. merupakan salah satu parasit yang menyerang sistem pencernaan unggas dan berpredileksi di proventrikulus. Keberadaan cacing Tetrameres spp. dalam sistem pencernaan ayam buras
Table of Contents. Articles. Editors. 1. I G. Made Krisna Erawan, Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia
Editors 1. I G. Made Krisna Erawan, Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia 2. Mr. Administrator Jurnal, Indonesia 3. I Wayan Batan, Indonesia ISSN: 2301-7848
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Suzuki Metode Suzuki adalah suatu metode yang digunakan untuk pemeriksaan telur Soil Transmitted Helmints dalam tanah. Metode ini menggunakan Sulfas Magnesium yang didasarkan
I. PENDAHULUAN. Kejadian kecacingan STH di Indonesia masih relatif tinggi pada tahun 2006,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejadian kecacingan STH di Indonesia masih relatif tinggi pada tahun 2006, yaitu sebesar 32,6 %. Kejadian kecacingan STH yang tertinggi terlihat pada anak-anak, khususnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kucing merupakan salah satu hewan kesayangan yang banyak diminati untuk dipelihara oleh masyarakat. Masyarakat banyak memelihara kucing, tetapi banyak juga yang kurang
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati baik flora dan fauna yang sangat tinggi, salah satu diantaranya adalah kelompok primata. Dari sekitar
METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2014,
19 III. METODE KERJA A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2014, di areal pertambakan intensif PT. CPB Provinsi Lampung dan PT. WM Provinsi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERSETUJUAN... iii RIWAYAT HIDUP... iv ABSTRAK... v ABSTRACT... vi UCAPAN TERIMA KASIH... vii DAFTAR ISI... x DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR
PARASITOLOGI. OLEH: Dra. Nuzulia Irawati, MS
PARASITOLOGI OLEH: Dra. Nuzulia Irawati, MS DEFINISI PARASITOLOGI ialah ilmu yang mempelajari tentang jasad hidup untuk sementara atau menetap pada/ di dalam jasad hidup lain dengan maksud mengambil sebagian
PREVALENSI GANGGUAN KULIT PADA ANJING KINTAMANI BALI SKRIPSI. Diajukan oleh. Ni Putu Vidia Tiara Timur NIM
PREVALENSI GANGGUAN KULIT PADA ANJING KINTAMANI BALI SKRIPSI Diajukan oleh Ni Putu Vidia Tiara Timur NIM. 1009005016 FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2014 PREVALENSI GANGGUAN KULIT
Karakteristik Penangkapan Ular di Wilayah Sumatera Utara Characteristics of Snakes Harvesting in North Sumatra
Biota Vol. 16 (2): 206 213, Juni 2011 ISSN 0853-8670 Karakteristik Penangkapan Ular di Wilayah Sumatera Utara Characteristics of Snakes Harvesting in North Sumatra Gono Semiadi* dan Irvan Sidik Pusat Penelitian
SKRIPSI. PERILAKU HARIAN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi) PERIODE BREEDING PADA RELUNG YANG BERBEDA DI BALI BIRD PARK, GIANYAR, BALI
SKRIPSI PERILAKU HARIAN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi) PERIODE BREEDING PADA RELUNG YANG BERBEDA DI BALI BIRD PARK, GIANYAR, BALI Untuk Skripsi S-1 Oleh: I KOMANG ANDIKA PUTRA 0908305009 JURUSAN
JENIS-JENIS KADAL (LACERTILIA) DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS LIMAU MANIH PADANG SKRIPSI SARJANA BIOLOGI OLEH HERLINA B.P.
JENIS-JENIS KADAL (LACERTILIA) DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS LIMAU MANIH PADANG SKRIPSI SARJANA BIOLOGI OLEH HERLINA B.P.04 133 007 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SAPI BALI MELALUI PENGENDALIAN PENYAKIT PARASIT DI SEKITAR SENTRA PEMBIBITAN SAPI BALI DI DESA SOBANGAN ABSTRAK
JURNAL UDAYANA MENGABDI, VOLUME 15 NOMOR 1, JANUARI 2016 UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SAPI BALI MELALUI PENGENDALIAN PENYAKIT PARASIT DI SEKITAR SENTRA PEMBIBITAN SAPI BALI DI DESA SOBANGAN I.A.P.
IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA
IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA Editor: Nama : Istiqomah NIM : G1C015022 FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEPERAWATAN TAHUN AJARAN 2015 /2016 1 IDENTIFIKASI FILARIASIS
ABSTRAK. Antonius Wibowo, Pembimbing I : Meilinah Hidayat, dr., M.Kes Pembimbing II : Budi Widyarto Lana, dr
ABSTRAK HUBUNGAN PERILAKU SISWA KELAS III DAN IV DENGAN HASIL PEMERIKSAAN FESES DAN KEADAAN TANAH TERHADAP INFEKSI SOIL TRANSMITED HELMINTHS DI SDN BUDI MULYA 3 CIPAGERAN-CIMAHI Antonius Wibowo, 2007.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. STH adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis,
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Soil Trasmitted Helminth Soil Transmitted Helminth ( STH ) merupakan infeksi kecacingan yang disebabkan oleh cacing yang penyebarannya melalui tanah. Cacing yang termasuk STH
GAMBARAN KLINIS THELAZIASIS PADA SAPI BALI SKRIPSI
GAMBARAN KLINIS THELAZIASIS PADA SAPI BALI SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Hewan Oleh Mochamad Arafi NIM. 0909005066 FAKULTAS
UNIVERSITAS UDAYANA. GAMBARAN INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS (STHs) PADA PEKERJA INDUSTRI KERAJINAN GENTENG TRADISIONAL
UNIVERSITAS UDAYANA GAMBARAN INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS (STHs) PADA PEKERJA INDUSTRI KERAJINAN GENTENG TRADISIONAL DI DESA PEJATEN KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN TABANAN TAHUN 2015 INDAR RATU ARDILLAH
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sapi Bali Sapi bali adalah sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sapi Bali Sapi bali adalah sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) (Hardjosubroto, 1994). Menurut Williamson dan Payne (1993),
PREVALENSI DAN JENIS TELUR CACING GASTROINTESTINAL PADA RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI PENANGKARAN RUSA DESA API-API KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA
PREVALENSI DAN JENIS TELUR CACING GASTROINTESTINAL PADA RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI PENANGKARAN RUSA DESA API-API KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA Jusmaldi dan Arini Wijayanti Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka. Burung Jalak Bali
Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka Burung Jalak Bali Burung Jalak Bali Curik Bali atau yang lebih dikenal dengan nama Jalak Bali, merupakan salah satu spesies burung cantik endemis Indonesia. Burung
ABSTRAK GAMBARAN INFEKSI MALARIA DI PUSKESMAS SUNGAI AYAK III KALIMANTAN BARAT TAHUN 2010
ABSTRAK GAMBARAN INFEKSI MALARIA DI PUSKESMAS SUNGAI AYAK III KALIMANTAN BARAT TAHUN 2010 Cheria Serafina, 2012. Pembimbing I: July Ivone, dr., M.KK., MPd.Ked. Pembimbing II : Adrian Suhendra, dr., SpPK.,
I. PENDAHULUAN. paling tinggi di dunia. Menurut World Wildlife Fund (2007), keanekaragaman
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia. Menurut World Wildlife Fund (2007), keanekaragaman hayati yang terkandung
Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang (Epidemiology and Zoonosis Journal)
Penelitian Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang (Epidemiology and Zoonosis Journal) Vol. 4, No., Desember 01 Hal : 10-108 Penulis : 1. Budi Hairani. Annida Korespondensi: Balai Litbang PB
BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus)
BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus) 1. PENDAHULUAN Kata Belut merupakan kata yang sudah akrab bagi masyarakat. Jenis ikan ini dengan mudah dapat ditemukan dikawasan pesawahan. Ikan ini ada kesamaan dengan
Jenis-Jenis Cacing Parasit Saluran Pencernaan pada Hamster Syria Mesocricetus auratus (Waterhause, 1839) di Kota Padang
Jenis-Jenis Cacing Parasit Saluran Pencernaan pada Hamster Syria Mesocricetus auratus (Waterhause, 1839) di Kota Padang Gastrointestinal Helminths of The Syrian Hamster Mesocricetus auratus (Waterhause,
Prevalensi dan Intensitas Telur Cacing Parasit pada Feses Sapi (Bos Sp.) Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Pontianak Kalimantan Barat
Prevalensi dan Intensitas Telur Cacing Parasit pada Feses Sapi (Bos Sp.) Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Pontianak Kalimantan Barat Novese Tantri 1, Tri Rima Setyawati 1, Siti Khotimah 1 1 Program Studi
Epidemiologi Helminthiasis pada Ternak Sapi di Provinsi Bali (Epidemiology of Helminthiasis in Cattle in Bali Province )
Epidemiologi Helminthiasis pada Ternak Sapi di Provinsi Bali (Epidemiology of Helminthiasis in Cattle in Bali Province ) Ni Made Arsani, I Ketut Mastra, NKH Saraswati, Yunanto, IGM Sutawijaya Balai Besar
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Pemeriksaan cacing parasit
39 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Pemeriksaan cacing parasit dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Pemeriksaan kualitatif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nematoda adalah cacing yang berbentuk panjang, silindris (gilig) tidak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Soil Transmitted Helminhs Nematoda adalah cacing yang berbentuk panjang, silindris (gilig) tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik. Panjang cacing ini mulai
BAB I PENDAHULUAN. yang lalu. Salah satu bukti hubungan baik tersebut adalah adanya pemanfaatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anjing merupakan salah satu jenis hewan yang dikenal bisa berinteraksi dengan manusia. Interaksi demikian telah dilaporkan terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Salah
KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
KEGIATAN PENELITIAN Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma. Ada tiga spesies Schistosoma yang
KORELASI PANJANG EKOR DAN PANJANG TUBUH TERHADAP JENIS KELAMIN ULAR SANCA BATIK (Python reticulatus)
KORELASI PANJANG EKOR DAN PANJANG TUBUH TERHADAP JENIS KELAMIN ULAR SANCA BATIK (Python reticulatus) CORRELATION BETWEEN THE TAIL AND BODY LENGTH OF PYTHON RETICULATUS Slamet Raharjol, Dionisius MZ, Guntari
Susunan Redaksi Indonesia Medicus Veterinus. Pimpinan: I Wayan Batan. Wakil Pimpinan: Muhsoni Fadli
Susunan Redaksi Indonesia Medicus Veterinus Pimpinan: I Wayan Batan Wakil Pimpinan: Muhsoni Fadli Penyunting Pelaksana : Muhammad Arafi Nur Faidah Hasnur Hanesty Jantiko Deny Rahmadani Affan Nur A Prista
(Diterima September 2015, Disetujui Desember 2015) ABSTRACT
BioCONCETTA VOL. 1 NO 2 ISSN: 2460-8556 Desember 2015 Versi Online http://ejournal.stkip-pgrisumbar.ac.id/index.php/bioconcetta KEBERADAAN ULA PUCUAK (Trimeresurus barati) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Bio Ekologi Herpetofauna 2.1. Taksonomi Taksonomi Reptil Taksonomi Amfibi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Bio Ekologi Herpetofauna 2.1. Taksonomi 2.1.1. Taksonomi Reptil Reptilia adalah salah satu hewan bertulang belakang. Dari ordo reptilia yang dulu jumlahnya begitu banyak, kini yang
Investigasi Keberadaan Cacing Paramphistomum sp. Pada lambung sapi yang berasal dari Tempat Pemotongan Hewan di Kota Gorontalo
Jurnal Peternakan Investigasi Keberadaan Cacing Paramphistomum sp. Pada lambung sapi yang berasal dari Tempat Pemotongan Hewan di Kota Gorontalo David Romario Nusa Siswatiana Rahim Taha Tri Ananda Erwin
II. TINJAUAN PUSTAKA. Spesies ini terdiri dari tanaman dan hewan yang dianggap menjadi salah satu agen
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Spesies Eksotik Spesies eksotik adalah suatu spesies yang sengaja atau tidak sengaja diangkut dan dilepaskan oleh manusia ke lingkungan luar dari daerah asalnya. Spesies ini terdiri
1. BAB I PENDAHULUAN
1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecacingan merupakan penyakit infeksi disebabkan oleh parasit cacing yang dapat membahayakan kesehatan. Penyakit kecacingan yang sering menginfeksi dan memiliki
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ternak Itik Itik ( Anas sp.) merupakan unggas air yang cukup dikenal masyarakat. Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara dan merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild
PEMERIKSAAN FESES PADA MANUSIA
PEMERIKSAAN FESES PADA MANUSIA Disusun Oleh: Mochamad Iqbal G1B011045 Kelompok : VII (Tujuh) LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. menelan stadium infektif yaitu daging yang mengandung larva sistiserkus.
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Taeniasis merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada manusia karena menelan stadium infektif yaitu daging yang mengandung larva sistiserkus. Penyebab taeniasis yaitu
Tabel 3 Tingkat prevalensi kecacingan pada ikan maskoki (Carassius auratus) di Bogor
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pemeliharaan Ikan Maskoki (Carassius auratus) Pengambilan sampel ikan maskoki dilakukan di tiga tempat berbeda di daerah bogor, yaitu Pasar Anyar Bogor Tengah, Batu Tulis Bogor
Implikasi Pengetahuan Ayat Tentang Pemotongan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Terhadap Sapi Bali
Implikasi Pengetahuan Ayat Tentang Pemotongan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Terhadap Sapi Bali Ahmat Fansidar, Mas Djoko Rudyanto, I Ketut Suada Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas
INFEKSI CACING SALURAN PENCERNAAN ULAR SANCA (Python reticulatus Schneider 1810) SEBAGAI EXOTIC PETS RAHMAYANI
INFEKSI CACING SALURAN PENCERNAAN ULAR SANCA (Python reticulatus Schneider 1810) SEBAGAI EXOTIC PETS RAHMAYANI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
VERMISIDAL DAN OVISIDAL GETAH BIDURI (Calotropis spp.) TERHADAP FASCIOLA GIGANTICA SECARA IN VITRO SKRIPSI
VERMISIDAL DAN OVISIDAL GETAH BIDURI (Calotropis spp.) TERHADAP FASCIOLA GIGANTICA SECARA IN VITRO SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran
Infeksi Larva Cacing Anisakis spp. pada Ikan Layur (Trichiurus lepturus)
Infeksi Larva Cacing Anisakis spp. pada Ikan Layur (Trichiurus lepturus) I WAYAN YUSTISIA SEMARARIANA, I NYOMAN ADI SURATMA, IDA BAGUS MADE OKA Lab Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena hanya. Kabupaten Blora sedangkan pemeriksaan laboratorium
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena hanya melakukan pemeriksaan parasit cacing pada ternak sapi dan melakukan observasi lingkungan kandang
Prevalensi Infeksi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Sapi Bali di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Denpasar
Prevalensi Infeksi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Sapi Bali di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Denpasar (THE PREVALENCE OF HELMINTH INFECTION IN CATTLE GASTROINTESTINAL NEMATODES BALI IN
PREVALENSI INFEKSI PROTOZOA USUS PADA PASIEN AIDS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN KARYA TULIS ILMIAH. Oleh: KHOR CHIANG WEI
PREVALENSI INFEKSI PROTOZOA USUS PADA PASIEN AIDS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN KARYA TULIS ILMIAH Oleh: KHOR CHIANG WEI 070100239 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kerja. Tenaga kerja yang terpapar dengan potensi bahaya lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di sebuah industri sangat penting untuk dilakukan tanpa memandang industri tersebut berskala besar ataupun kecil dan
GAMBARAN KLINIS SAPI BALI YANG TERINFEKSI. CACING Fasciola spp SKRIPSI
GAMBARAN KLINIS SAPI BALI YANG TERINFEKSI CACING Fasciola spp SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas Tugas dan Memenuhi Persyaratan untuk Mencapai GelarSarjanaKedokteranHewan Diajukan Oleh EkaWidyana
PENYAKIT VIRUS UNGGAS PENYAKIT VIRUS UNGGAS
PENYAKIT VIRUS UNGGAS PENYAKIT VIRUS UNGGAS i DR. DRH. GUSTI AYU YUNIATI KENCANA, MP Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2 1. Hak Cipta merupakan
Kata kunci: filariasis; IgG4, antifilaria; status kependudukan; status ekonomi; status pendidikan; pekerjaan
Perbandingan Prevalensi Filariasis berdasarkan Status IgG4 Antifilaria pada Penduduk Daerah Endemik Filariasis Kelurahan Jati Sampurna dan Jati Karya Kecamatan Pondokgede Kabupaten Bekasi Jawa Barat Gracia
