BAB III TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN
|
|
|
- Harjanti Sanjaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN 3.1 KEPENDUDUKAN Perubahan penduduk baik dalam hal jumlah maupun komposisi dan penyebarannya akan mempunyai dampak yang sangat luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Fenomena kependudukan selalu menjadi permasalahan yang pelik di berbagai wilayah di Indonesia, seperti permasalahan ketidakseimbangan penyebaran penduduk. Pulau Jawa mempunyai kepadatan paling tinggi, sedangkan di pulau-pulau lain kepadatannya masih rendah. Permasalahan seperti ini kemudian menular di beberapa wilayah yang lebih mikro seperti di tingkat kabupaten. Khususnya di Pulau Jawa pun juga terjadi permasalahan pemerataan penduduk, misalnya tingkat kepadatan penduduk di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan yang ada di Pulau Jawa. Permasalahan penduduk akan terus-menerus seperti itu, sehingga diperlukan penanganan yang serius untuk mengatasinya, khususnya dalam hubungannya dengan dampak terhadap lingkungan. Penduduk dengan segala aktivitasnya merupakan salah satu komponen penting dalam permasalahan lingkungan karena diantara penyebab kerusakan maupun kelestariannya lingkungan bergantung pada kuantitas dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar tanpa kualitas yang baik cenderung menjadi beban bagi lingkungan dan pembangunan. Berdasarkan hasil registrasi penduduk akhir tahun 2011 jumlah penduduk Kabupaten Grobogan sebesar jiwa. Berdasarkan persebaran secara keruangan maka jumlah penduduk yang tersebar yaitu di Kecamatan Purwodadi luas daerah 77,65 km² dengan jumlah penduduk sebesar jiwa (8,98%) dengan kepadatan penduduk sebesar jiwa per km². jumlah penduduk terkecil berada di Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -1
2 Kecamatan Klambudenganjumlah penduduk jiwa (2,48%) luas daerah 46,56 km² dengan kepadatan penduduk sebesar 767 jiwa per km². Tekanan penduduk terhadap lingkungan hidup dicerminkan dari tingkat kepadatan kependudukannya. Semakin padat penduduknya maka tekanan terhadap lingkungan juga semakin besar. Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di kawasan perkotaan maka akan memberikan tekanan terhadap jumlah yang dihasilkan dalam setiap hari dan jumlah air bersih serta listrik yang dibutuhkan. Berdasarkan tingkat kepadatan penduduknya maka di Kabupaten Grobogan yang kepadatanya lebih dari jiwa/km², terdapat di Kecamatan Purwodadi dengan tingkat kepadatan penduduknya jiwa/km² Kemudian Kecamatan Gubug yang mempunyai tingkat kepadatan jiwa/km². sedangkan tingkat kepadatan penduduk terendah terdapat di Kecamatan Geyer yaitu sebesar 360 jiwa/km². pembagian lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -2
3 Tabel 3.1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Penduduk, dan kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan No. Kecamatan Luas (km 2 ) Jumlah Pertumbuhan Kepadatan Penduduk Penduduk Penduduk 1 KEDUNGJATI 130, , KARANGRAYUNG 140, , PENAWANGAN 74, , TOROH 119, , GEYER 196, , PULOKULON 133, , KRADENAN 107, , GABUS 165, , NGARINGAN 116, , WIROSARI , TAWANGHARJO 83, , GROBOGAN 104, , PURWODADI 77, , BRATI 54, , KLAMBU 46, , GODONG 86, , GUBUG 71, , TEGOWANU 51, , TANGGUNGHARJO 60, , TOTAL 1975, , Sumber Tabel DE-1 Buku Data SLHD 2012 Migrasi penduduk perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya dan biasanya perpindahan tersebut cenderung terjadi di daerah terpencil menuju ke kota besar. Kecenderungan seperti ini juga terlihat di Kabupaten Grobogan, karena secara administrasi Kabupaten Grobogan relative dekat dengan Kota Semarang dan Kota Surakarta. Faktor yang mempengaruhi terjadinya migrasi bervariasi,mulai dari faktor ekonomi sampai faktor pendidikan. Untuk faktor pendidikan yang lebih terlihat adalah pada tingkat perguruan tinggi, karena di Kabupaten Grobogan belum terdapat perguruan tinggi nasional, jadi penduduk yang baru lulus dari SMA lebih memilih keluar dari Kabupaten Grobogan menuju Kota Semarang ataupun Kota Surakarta. Migrasi penduduk di Kabupaten Grobogan terjadi di setiap kecamatan. Penduduk pendatang dan yang pindah ke luar daerah sangat beragam di setiap kecamatan. Berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2011, penduduk laki-laki lebih banyak yang pindah ke daerah lain dengan jumlah 7131 orang dibandingkan Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -3
4 dengan penduduk laki-laki yang datang ke Kabupaten Grobogan yaitu hanya sebesar 6675 orang. Demikian juga terjadi pada penduduk perempuan dimana penduduk lebih banyak yang pindah ke daerah lain yaitu 6257 orang daripada yang datang ke Kabupaten Grobogan yaitu sebesar 4996 orang. Laju surkulasi perpindahan baik laki-laki atau perempuan banyak terjadi di Kecamatan Purwodadi. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -4
5 Data tentang Sirkulasikulasi penduduk yang datang dan pindah dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut Tabel 3.2 Migrasi Selama Hidup Menurut Jenis Kelamin Kabupaten : Grobogan Tahun data : 2011 No Kecamatan Datang Laki - laki Perempuan Jumlah Laki-LaKi Perempuan Jumlah Kedungjati Karangrayung Penawangan Toroh Geyer Pulokulon Kradenan Gabus Ngaringan Wirosari Tawangharjo Grobogan Purwodadi Brati Klambu Godong Gubug Tegowanu Tanggunharjo Jumlah Sumber : Tabel DE-4 Buku Data SLHD 2012 Pindah : Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -5
6 Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Pada tahun 2011 jumlah warga kabupaten Grobogan yang melakukan migrasi, dapat dilihat dari gambar 3.1 Gambar 3.1 Diagram Migrasi Penduduk Kabupaten Grobogan tahun 2011 Data Migrasi Kependudukan Kab Grobogan tahun 2011 Jumlah (jiwa) Series1 Datang Kategori Pindah Kabupaten Grobogan mempunyai fasilitas sekolah diantaranya 852 Sekolah Dasar, 126 SLTP dan 67 SLTA. Kecamatan Purwodadi mempunyai fasilitas sekolah yang lebih banyak karena mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi pula yaitu sebesar 1702 jiwa/km². Kecamatan Kedungjati mempunyai kepadatan penduduk hanya sebesar 329,95 jiwa/km² dan mempunyai fasilitas sekolah lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan Brati yang mempunyai kepadatan penduduk sebesar 828,96 jiwa/km². Data lebih jelas tentang hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -6
7 Tabel 3.3. Jumlah Penduduk, Luas Daerah, dan jumlah Sekolah menurut Kabupaten/kota dan Tingkat pendidikan Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Kecamatan Jumlah penduduk Luas SD SLTP SLTA (km 2 ) (unit) (unit) (unit) 1 KEDUNGJATI , KARANGRAYUNG , PENAWANGAN , TOROH , GEYER , PULOKULON , KRADENAN , GABUS , NGARINGAN , WIROSARI TAWANGHARJO , GROBOGAN , PURWODADI , BRATI , KLAMBU , GODONG , GUBUG , TEGOWANU , TANGGUNGHARJO , Jumlah , Sumber : Tabel DS-5Buku Data SLHD 2012 Jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Grobogan dari jenjang SD sampai dengan SMP hampir merata, namun jika dilihat dari jumlah SMA pada tiap Kabupaten akan ditemui angka yang timpang. Bahkan di beberapa Kecamatan belum terdapat SMA separti di Kecamatan Ngaringan,Brati, dan Klambu. Jumlah SMA paling banyak terdapat di Kecamatan Purwodadi dengan jumlah SMA sebanyak 15 unit dan di Kecamatan Gubug dengan 10 unit. Jika diamati banyaknya jumlah unit SMA di Kecamatan Purwodadi dan Gubug juga berhubungan dengan kepadatan penduduk. Kepadatan pendudukan di dua kecamatan ini lebih dari 1000 jiwa/km². Angka kepadatan penduduk yang tinggi menandakan kecamatan tersebut mempunyai faktor penarik yang lebih tinggi dari wilayah kecamatan yang lain. Besarnya jumlah penduduk dan tingginya tingkat kepadatan membutuhkan tingkat pelayanan yang tinggi pula termasuk pelayanan dalam bidang pendidikan. Pemerataan tingkat pendidikan kiranya harus dilakukan khususnya pada jenjang SMA, karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan berpengaruh terhadap. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -7
8 pemahaman dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kesadaran tersebut memang tidak bisa serta merta langsung terbentuk begitu saja, namun diperlukan proses yang panjang dan konsisten. Oleh sebab itu diperlukan konsistensi dan dukungan dari berbagai stakeholder agar tercipta suatu pemerataan pendidikan yang secara langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kepedulian lingkungan. Melihat distribusi penduduk Kabupaten Grobogan yang tidak merata antara kawasan pedesaan akan mempunyai tekanan terhadap lingkungan hidup yang berbeda. Pada kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang lebih tinggi maka tekanan penduduk terhadap lingkungan mengarah kesanitasi yang buruk. Persoalan yang sering dijumpai adalah: pembuangan sampah sembarangan, pembuangan limbah rumah tangga langsung ke badan air atau tanah, terjadinya pemukiman kumuh dan terbatasnya lahan untuk melakukan penghijauan. Disamping itu pada kawasan perkotaan merupakan penyumbang banjir lokal yang terbesar karena tingkat infiltasi sangat rendah akibat banyaknya lahan terbangun. Dalam rangka peningkatan pengelolaan lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan lingkungan maka upaya yang perlu dilakukan adalah: a. Menciptakan lapangan kerja baru di kawasan pedesaan yang berbasis pada potensi unggulan wilayah yang berbasis kelingkungan. Misalnya industri kecil mlinjo, industri kecil kripik pisang dan industri kecil sirup mangga atau kripik mangga. b. Menigkatkan dan melakukan agribisnis pada lahan pertanian khususnya pada lahan pertanian irigasi. c. Meningkatkan kualitas dan pembuatan sekolah Kejuruan berbasis pada pertanian dan perkebunan. d. Melakukan pelatihan kepada masyarakat yang berkaitan dengan sistem pertanian terpadu. Misalnya padi-ternak, padi-ikan, dan kebun-lebah madu. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -8
9 3.2 PEMUKIMAN Pemukiman adalah suatu kawasan yang merupakan kota/desa atau bagian kota/desa yang mempunyai fungsi utama sebagai lingkungan tempat tinggal, tempat penduduk bermukim, berkiprah dalam kegiatan kerja dan usaha, berhubungan dengan sesama pemukim sebagai masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Keberadaan pemukiman erat kaitannya dengan permasalahan lingkungan. Pola hidup penghuni pemukiman secara langsung berpengaruh terhadap kondisi lingkungan. Contohnya adalah munculnya pemukiman-pemukiman dengan lingkungan kumuh yang disebabkan oleh banyak hal seperti kondisi ekonomi, kurangnya pengetahuan dan kesadaran tentang kebersihan lingkungan dan lainlain. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap lingkungan yang sangat besar sehingga mengakibatkan daya dukung lingkungan menjadi menurun. Perbandingan jumlah antara rumah tangga dengan rumah tangga miskin di wilayah Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada gambar 3.2 Gambar 3.2.Diagram Perbandingan Jumlah Rumah Tangga dengan Rumah Tangga Miskin Kabupaten Grobogan Tahun 2011 Mayoritas rumah tangga di Kabupaten Grobogan memanfaatkan sumber air minum yang berasal dari sumur. Sedangkan untuk fasilitas buang air besar untuk kehidupan sehari hari di Kabupaten Grobogan mayoritas sudah mempunyai Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -9
10 tempat sendiri. Hal ini dapat dilihat dari gambar 3.3. Untuk jumlah rumah tangga dan tempat pembuangan akhir tanpa tanki septik pada tahun 2011 mengalami penurunan bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3.4 Gambar 3.3.Diagram Jumlah Sarana Buang Air Besar Kabupaten Grobogan Tahun 2011 Gambar 3.4.Diagram Jumlah Rumah Tangga Tanpa Tangki Septik Kabupaten Grobogan Tahun Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -10
11 Tabel 3.4. Jumlah Keluarga Tanpa Tangki septik di Kab Grobogan Tahun 2011 Tahun Jumlah Keluarga Rataan ,75 Maksimum Minimum Sumber: BPS Kab Grobogan (2012) Tingginya rumah tangga miskin tersebut di atas akan memberikan dampak negatif terhadap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan bencana sosial yang berakibat ke bencana alam khususnya di wilayah perkotaan di Kabupaten Grobogan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah : a. Penertiban pemukiman yang tidak sesuai dengan RUTRK b. Melakukan kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam menyediakan rumah sehat dan murah di kawasan perkotaan (rusunawa) c. Pembuatan IPAL terpadu untuk limbah rumah tangga di perkotaan d. Pembuatan sumur resapan di kawasan perkotaan e. Sosialisasi terhadap warga yang berkaitan dengan hidup sederhana tanpa menimbulkan bencana. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -11
12 3.3 KESEHATAN Kesehatan merupakan faktor penunjang kehidupan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Apabila suatu lingkungan mempunyai kualitas yang baik maka kemungkinan besar tingkat kesehatan penduduknya juga akan semakin baik. Begitu pula sebaliknya, jika kondisi lingkungan kualitasnya buruk maka tingkat kesehatannya akan menjadi buruk. Terdapat 5 macam penyakit utama atau penyakit yang sering dijumpai di wilayah Kabupaten Grobogan, diantaranya dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini Tabel 3.5. Jenis Penyakit Utama yang Diderita Penduduk Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Jenis Penyakit Jumlah Penderita % terhadap Total 1 Diare ( Termasuk tersangka Kolera ) ,31 2 Disentri 955 1,24 3 Penyakit Infeksi Lain pada usus ,92 4 Penyakit Bakteri Lain ,85 5 TB Paru BTA (+) 271 5,35 6 TB Paru Klinis (Suspek) 393 0,51 7 Pneumonia 403 0,52 8 Peny. Lain pd Sal. Pernafasan Bag. Bawah ,98 9 Peny. Pd Saluran Pernafasan Bag. Atas ,63 10 DHF ( DBD ) 145 0,19 11 Penyakit Virus Lain ,11 12 Penyakit Cardiovasculer ,23 13 Diabetis melitus ,52 14 Penyakit Degeneratis Lain ,15 15 Anemia ,58 16 Penyakit Defisiansi Gizi Lain ,91 Jumlah ,00 Sumber : tabel DS-8 Buku Data SLHD 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -12
13 Gambar 3.5 Diagram Jumlah Jenis Penyakit Utama Yang Diderita Penduduk Kabupaten Grobogan Tahun 2011 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -13
14 Pada tahun 2011, jenis penyakit yang paling banyak dijumpai adalah penyakit infeksi saluran pernafasan. Hal ini sama dengan kasus yang terjadi pada tahun sebelumnya yang juga didominasi penyakit saluran pernafasan. Akan tetapi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi penurunan yang sangat tajam. Salah satu sumber dari penyakit yang muncul berasal dari limbah rumah sakit. Pada tahun 2011, rumah sakit penghasil limbah yang terbesar di Kabupaten Grobogan adalah Rumah Sakit Dr. R. Soedjati yang terdiri dari limbah padat sebesar 7,6 m 3 / hari dan 100 m 3 / hari limbah cair. Limbah Rumah sakit ini harus dikelola dengan cermat, karena dapat menjadi media penularan penyakit dan limbahnya berbahaya bagi lingkungan. Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas khususnya yang berkaitan dengan limbah yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan maka upaya yang dapat dilakukan pemerintah Kabupaten Grobogan adalah : a. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk berbudaya hidup sehat b. Peningkatan perlindungan dari pemerintah terhadap masyarakat yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan pengobatan penyakit c. Melakukan pendataan dan identifikasi dari kegiatan medis yang menimbulkan cemaran d. Melakukan sosialisasi pengolahan limbah cair dan padat pada kegiatan medis baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta e. Penetapan dan melakukan pengelolaan dan pemantauan limbah medis pada setiap kegiatan f. Menetapkan adanya persyaratan pengelolaan limbah bagi kegiatan yang baru Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -14
15 3.4 PERTANIAN Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam dan memelihara ternak merupakan kebudayaan manusia paling tua. Tetapi dibandingkan dengan sejarah keberadaan manusia, kegiatan bertani ini termasuk masih baru. Sebelumnya manusia hanya berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan untuk dikonsumsi. Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, pertanian pun berkembang menjadi berbagai sistem mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih dan padat modal. Berbagai teknologi pertanian dikembangkan guna mencapai produktivitas yang diinginkan. Tabel 3.6 Penggunaan Lahan di Kab Grobogan Tahun 2011 Penggunaan Luas (Ha) % 1. Tanah Sawah ,220 32, Irigasi Teknis ,290 9, Irigasi Setengah Teknis 1.487,000 0, Irigasi Sederhana ,770 5, Tadah Hujan ,160 17, Tanah Bukan Sawah ,200 67, Bangunan dan Halaman ,554 11, Tegalan/Kebun ,860 14, Padang gembala 0, Tambak/Kolam 24,000 0, Rawa 0, Hutan Negara ,320 34, Hutan Rakyat 4.399,000 2, Perkebunan Negara 0, Lainnya 7.390,446 3, Jumlah , Maksimum ,320 Minimum 0,000 Sumber: Tabel SD-1 dan SD-1A Buku Data SLHD 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -15
16 Dari data yang diperoleh dari Daerah Dalam Angka Kabupaten Grobogan tahun 2012 dapat diketahui fluktuasi jumlah luas lahan di wilayah Kabupaten Grobogan baik yang digunakan sebagai lahan persawahan maupun lahan non persawahan dari tahun 2006 sampai dengan Data tersebut dapat dilihat dari gambar 3.6 dan gambar 3.7 di bawah ini. Gambar 3.6. Diagram Jumlah Luas Lahan Persawahan Kabupaten Grobogan Tahun Gambar 3.7 Diagram Jumlah Lahan non-persawahan Kabupaten Grobogan Tahun Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -16
17 3.4.1 Padi Tanaman padi merupakan komoditas sektor pertanian terbesar yang dihasilkan kabupaten Grobogan. Untuk mengetahui jumlah hasil produksi panen padi Kabupaten Grobogan selama periode 2007 sampai dengan periode 2011 dapat dilihat pada gambar 3.8 dan 3.9 Tabel 3.7. Jumlah Produksi Padi Sawah di Kab Grobogan Tahun Tahun Produksi (ton) Rataan Maksimum Minimum Sumber: Buku Grobogan dalam Angka Kabupaten Grobogan 2012 Tabel 3.8. Jumlah Produksi Padi Gogo di Kab Grobogan Tahun Tahun Produksi (ton) Rataan 19155,6 Maksimum Minimum 8240 Sumber: Buku Grobogan dalam Angka Kabupaten Grobogan 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -17
18 Produksi (Ton) Produksi (Ton) Gambar 3.8 Diagram Produksi Padi Sawah Kabupaten Grobogan Tahun Produksi Padi sawah Kab Grobogan tahun Tahun Series1 Sumber: Buku Grobogan Dalam Angka 2012 Gambar 3.9 Produksi Padi Gogo Kabupaten Grobogan Tahun Produksi Padi Gogo kab grobogan tahun Series Tahun Sumber : Buku Grobogan Dalam Angka 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -18
19 Tabel 3.9 Jumlah Penggunaan Pupuk Rata Maksimum Minimum Urea SP , ZA ,5 5047,5 5368, Organik ,7 3558, ,7 0 NPK , Gambar 3.10 Diagram Jumlah Penggunaan Pupuk Untuk Tanaman Perkebunan (ton) Kabupaten GroboganTahun INDUSTRI Kegiatan industri merupakan salah satu penggerak roda ekonomi di dalam suatu daerah. Penduduk melakukan usaha di bidang ekonomi yang nantinya dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan melalui industri, baik skala kecil atau sedang yang dikelola di sekitar tempat tinggalnya. Kabupaten Grobogan memilki potensi Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -19
20 yang besar di sektor industri. Hal ini terbukti dengan banyaknya industri kecil yang tumbuh. Terdapat buah industri yang terbagi dalam 29 jenis industri yang masing-masing menghasilkan barang jadi maupun barang setengah jadi untuk pemenuhan kebutuhan. Industri tersebut di atas sebagian besar merupakan industri rumah tangga atau home industry, sehingga dapat diperkirakan belum menggunakan teknologi ramah lingkungan dan melakukan pengolahan limbah secara baik. Kenyataan ini akan mengakibatkan beban pencemaran terhadap lingkungan semakin besar. Upaya yang dapat dilakukan pemerintah Kabupaten Grobogan untuk mengurangi tekanan industri terhadap lingkungan hidup adalah : a. Melakukan identifikasi kesesuaian lokasi industri terhadap RUTRK b. Melakukan penetapan wajib AMDAL atau UKL/UPL bagi rencana kegiatan industri c. Melakukan pemantauan secara rutin terhadap pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh pihak pemrakarsa industri d. Pembimbingan teknis dan bantuan modal pembuatan IPAL terpadu bagi industri kecil e. Pembimbingan pemakaian bahan bakar yang berasal dari energi alternatif 3.6 PERTAMBANGAN Potensi pertambangan Kabupaten Grobogan mempunyai beraneka ragam jenis bahan galian mineral. Namun sebagian besar bahan tambang mineral tersebut masih belum dieksploitasi. Sebagai salah satu contoh sampai saat ini potensi phospat yang terdapat di Kecamatan Karangrayung belum ditambang, padahal potensi yang dimiliki sangat besar dan memiliki harga jual tinggi. Potensi pertambangan yang dimiliki Kabupaten Grobogan dan luas pertambangannya dapat dilihat pada tabel 3.10, tabel 3.11.dan tabel 3.12 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -20
21 Tabel Luas Areal dan Produksi Pertambangan Menurut Jenis Bahan Galian Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Nama Perusahaan Jenis Bahan Galian Luas Areal (Ha) Produksi (Ton/Tahun) 1. SUADI Tanah liat 0, ENY ENDARWATI Batugamping 0,9 628 Jumlah Sumber : Tabel SE 14 Buku Data SLHD Tabel Luas Areal dan Produksi Pertambangan menurut Jenis Bahan Galian Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2012 No. Nama Perusahaan Jenis Bahan Galian Luas Areal (Ha) Produksi (Ton/Tahun) 1 Fajar Debyantoro Batu gamping untuk urugan 3, H. Markani Batu gamping untuk urugan 0, Batu gamping untuk urugan 0, Kasroni Batu gamping untuk urugan 0, Umar Batu gamping untuk urugan 0, Supartono Batu gamping untuk urugan 0, Suadi Batu gamping untuk urugan 0, Imam Mukhayat Yusuf Batu gamping untuk urugan 0, Batu gamping untuk urugan 0, Partono Batu gamping untuk urugan 1, Batu gamping untuk urugan 0, Suprihono Batu gamping untuk urugan 0, Taufiq Romandhoni Batu gamping untuk urugan 0, Jumlah Sumber : Tabel SE 14.A.Buku Data SLHD Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -21
22 Tabel Luas Areal pertambangan Rakyat menurut Jenis Tambang Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Jenis Bahan Galian Luas Areal (Ha) Produksi (Ton/Tahun) I BATU GAMPING Tanggungharjo Wirosari Grobogan Brati Klambu II TANAH LIAT Nagaringan Wirosari Brati Toroh Sumber : Tabel SE -15 Buku Data 2012 Dari data yang terdapat pada tabel di atas dapat diketahui bahan tambang mineral yang tersebar di wilayah Kabupaten Grobogan antara lain adalah : a. Batu gamping. Batu gamping yang terdapat di wilayah Kabupaten Grobogan terdiri atas 4 jenis batu gamping yaitu : batu gamping klastik, batu gamping non klastik, batu gamping pasieran, dan batu lempung gampingan. b. Tanah liat c. Sebagian besar daerah potensi tanah liat ini adalah areal persawahan, tegalan dan pemukiman. Potensi bahan galian ini paling banyak ditemui di Kecamatan Wirosari. Bahan galian ini merupakan bahan baku utama pembuatan batu bata, genteng, dan keramik. Untuk potensi bahan galian sirtu berasal dari endapan sungai Tuntang dan Sungai Bancak di Kecamatan Kedungjati, Sungai Lusi, serta di perbatasan Kecamatan Wirosari, Kradenan dan Ngaringan Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -22
23 Eksploitasi lingkungan akan menyebabkan dampak terhadap kualitas lingkungan hidup yaitu menurunnya daya dukung lingkungan. Hal ini akan mengakibatkan 3 macam krisis yang sangat serius dan berdampak luas dan mendalam bagi kehidupan, yaitu krisis air, pangan dan energi. Oleh sebab itu apabila tidak ditangani secara bijaksana, situasi ini akan membawa konsekuensi pada perilaku eksploitasi atas SDA yang semakin tak terkendali. Upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Grobogan dalam upaya mengurangi tekanan kegiatan pertambangan terhadap kerusakan lingkungan adalah : a. Program Jangka pendek 1. Menentukan zonasi lahan yang boleh ditambang tanpa syarat, boleh ditimbang dengan syarat, ataupun tidak boleh ditambang 2. Melakukan sosilalisasi zonasi lahan penambangan kepada masyarakat sekitar lokasi penambangan 3. Mengidentifikasi penambangan berdasarkan zonasi tersebut b. Program Jangka Menengah 1. Mewajibkan penambangan yang berada pada zonasi tidak dilarang penambangan untuk mempunyai Surat Ijin Penambangan Daerah (SIPD) yang dilengkapi dengan keterangan biaya jaminan reklamasi, batas kedalaman penggalian, desain bentuk akhir lahan dan rencana reklamasi yang akan dilaksanakan 2. Dalam penerbitan SIPD oleh pejabat yang berwenang, penambang harus dapat menunjukkan dokumen UKL/UPL/Amdal yang ditandatangani oleh pengusaha atau pemrakarsa 3. Melakukan komitmen bersama tentang hak dan kewajiban untuk pengelolaan lahan galian golongan C dari pemrakarsa penambang masyarakat pemilik lahan, masyarakat di sekitar lokasi penambangan dan pemerintah dalam rangka untuk menghadapi konflik-konflik yang mungkin terjadi 4. Melaksanakan reklamasi lahan yang dilakukan oleh pengusaha penambangan. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -23
24 c. Program Jangka Panjang 1. Melakukan perubahan Perda DATI I Jawa Tengah no 6 tahun 1995 tentang usaha pertambangan bahan galian golongan C di Propinsi Jawa Tengah yang disesuaikan dengan pelaksanaan otonomi daerah. 2. Penyusunan Perda Kabupaten Grobogan tentang Pertambangan Bahan Galian Golongan C, yang disesuaikan dengan UU RI no 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 3.7 ENERGI Sebagian besar energi yang digunakan rakyat Indonesia pada saat ini adalah bahan bakar fosil. Selain dapat merusak lingkungan kerugian penggunaan bahan bakar fosil ini juga tidak dapat terbarukan dan juga tidak berkelanjutan keberadaannya. Pemakaian kendaraan bermotor yang menggunakan BBM yang berada di wilayah Kabupaten Grobogan dapat diketahui dari tabel 3.13 dan gambar 3.11 berikut ini : Tabel 3.13 Jumlah dan Jenis Kendaraan Bermotor Di Kabupaten Grobogan Tahun Jenis Kendaraan Rata Maksimum Minimum Bus , Truk Angkutan Barang , Kendaraan penumpang , Mobil Dinas , Mobil Pribadi , Sepeda Motor , Sumber: Buku Grobogan dalam Angka 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -24
25 Gambar 3.11 Diagram Jumlah Kendaraan Bermotor Kabupaten Grobogan Tahun Tabel 3.14 Jumlah Kendaraan Menurut Jenis BBM yang Digunakan Kabupaten Grobogan Tahun 2011 No Jenis Kendaraan Jumlah Kendaraan Premium Solar 1 Beban (Tronton/Trailer) Penumpang Pribadi - 5 Penumpang Pribadi yang diuji Penumpang Umum/Angkot Bus Besar Pribadi Bus Besar Umum Bus Kecil Pribadi (Sedang) Bus Kecil Umum Truk Besar Truk Kecil (Sedang/Pick Up) Roda Tiga Roda Dua Total Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -25
26 Gambar 3.12 Diagram Jumlah Konsumsi BBM Untuk Kendaraan Bermotor (Liter/tahun) Kabupaten GroboganTahun Bahan bakar yang dipakai dan jumlah kendaraan yang eksisting lebih besar jumlahnya. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Grobogan merupakan jalur antara Solo Kudus atau Solo Semarang dan Kabupaten Ngawi Semarang. Besarnya penggunaan bahan bakar fosil akan menambah beban tekanan terhadap lingkungan terutama untuk unsur Pb, CO, SO 2 dan NO 2. Upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Grobogan antara lain : 1. Melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kendaraan bermotor terutama yang berkaitan dengan gas buang. 2. Melaksanakan perbaikan jalan sehingga transportasi dapat lancar 3. Melakukan efisiensi penggunaan kendaraan pribadi 4. Melakukan pembuatan hutan kota yang berfungsi menangkap cemaran kendaraan bermotor 5. Pembuatan jalur alternatif luar kota, sehingga beban cemaran udara di kota dapat dikurangi Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -26
27 3.8 TRANSPORTASI Jalan merupakan sarana menunjang transportasi yang paling utama. Kabupaten Grobogan adalah kabupaten yang dilewati jalur menuju ke Kota Semarang. Untuk itu Kabupaten Grobogan memiliki jalan propinsi sepanjang 190,740 km, jalan kabupaten sepanjang 829,71 km. Dan Jaln kota 53,29 km. seperti yang tercantum dalam tabel 3.15 Tabel3.15. Panjang Jalan Menurut Kewenangan Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Jenis Kewenangan Panjang Jalan (Km) 1. Jalan Nasional Tidak ada 2. Jalan Provinsi Tidak Berwenang (190,740 ) 3. Jalan Kabupaten 829,71 4. Jalan Kota 53,39 Sumber : Tabel SE -20 Buku Data SLHD 2012 Dalam melengkapi sarana transportasi umum, di Kabupaten Grobogan terdapat 6 buah terminal dengan 5 terminal dengan kategori C dan 1 terminal dengan kategori B dengan terminal induk yaitu Terminal Purwodadi yang memiliki luas m 2. tercantum dalam tabel Kabupaten Grobogan tidak memiliki sarana pelabuhan dan sarana bandara Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -27
28 Tabel Sarana Terminal Kendaraan Penumpang Umum Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 N Tipe Luas Kawasan Nama Terminal Lokasi**) o. Terminal*) (Ha) 1 Terminal Induk Purwodadi B Jl. Gajah Mada - Purwodadi m² 2 Terminal Angkot C Jl. A. Yani - Purwodadi 450 m² 3 Terminal Wirosari C Jl. Purwodadi - Blora 600 m² 4 Terminal Godong C Jl. Purwodadi - Semarang m² 5 Terminal Gubug C Jl. Purwodadi - Semarang m² 6 Terminal Sulur C Sulursari 500 m² Total m² Sumber : Tabel SE 21 Buku DataSLHD PARIWISATA Pariwisata merupakan salah satu komoditi penyumbang devisa daerah yang menjanjikan. Kabupaten Grobogan memiliki beberapa objek wisata potensial yang mulai dikembangkan. Objek-objek wisata tersebut dapat dilihat pada tabel 3.17 Tabel Lokasi Obyek Wisata, Jumlah Pengunjung, dan Luas kawasan Kabupaten : grobogan Tahun Data : 2011 No. Nama Obyek Wisata Jenis Obyek Wisata Jumlah Pengunjung (orang per tahun) Luas Kawasan (Ha) 1. BLEDUK KUWU WISATA ALAM WADUK KEDUNG OMBO WISATA BUATAN GOA LAWA GOA MACAN WISATA ALAM ,5. Sumber : Tabel SE-24 Buku Data SLHD 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -28
29 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa objek wisata dengan pengunjung terbanyak adalah Kedungombo dengan jumlah kunjungan orang pada tahun Kegiatan pariwisata di Kabupaten Grobogan masih didominasi oleh wisata alam. Hal ini berpengaruh terhadap tingkat tekanan terhadap lingkungan alam. Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap hunian kamar penginapan/ hotel. Upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Grobogan adalah : 1. Meningkatkan wisata berbasis alam,misalnya goa, hutan, dan air 2. Melakukan identifikasi lokasi hotel dan melakukan pengawasan pengelolaan limbahnya 3. Melakukan wajib Amdal atau UKL/ UPL bagi rencana pendirian hotel baru LIMBAH B3 Menurut PP RI No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) disebutkan pengaturan pengelolaan B3 bertujuan unuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Di Kabupaten Grobogan terdapat izin penimbunan sementara Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dilakukan oleh PT. Japfa. Oleh sebab itu agar tidak berpengaruh terhadap lingkungan hidup secara umum perlu memperhatikan lokasi dan penyimpanan B3. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -29
30 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -30
Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan
Daftar Tabel Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan halaman Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan... I - 1 Tabel SD-2. Luas Kawasan Hutan Menurut
BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA
DAFTAR TABEL Daftar Tabel... i BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan. l 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah
Daftar Tabel. Kualitas Air Rawa... I 28 Tabel SD-15. Kualitas Air Sumur... I 29
Daftar Tabel Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan... I - 1 Tabel SD-2. Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi
BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL
DAFTAR TABEL Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah Menurut Penggunaan lahan Utama Tahun 2009 2011... 2 Tabel SD-1B. Topografi Kota Surabaya...
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dinamika pembangunan yang berjalan pesat memberikan dampak tersendiri bagi kelestarian lingkungan hidup Indonesia, khususnya keanekaragaman hayati, luasan hutan dan
DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1
DAFTAR ISI A. SUMBER DAYA ALAM Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 Tabel SD-3 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan
BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
digilib.uns.ac.id 66 BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis Kabupaten Grobogan terletak pada posisi 68 ºLU dan & 7 ºLS dengan ketinggian rata-rata 41 meter dpl dan terletak antara
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Dilihat dari peta Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Grobogan terletak diantara dua pegunungan kendeng yang membujur dari arah ke timur dan berada
BAB II ARAH PENGEMBANGAN SANITASI
BAB II ARAH PENGEMBANGAN SANITASI 2.1 Visi Misi Sanitasi Visi dan Misi Kabupaten Grobogan sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2011 2016 sebagai berikut : V I S
KATA PENGANTAR. Bogor, 08 Desember 2015 Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto
WALIKOTA BOGOR KATA PENGANTAR Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan perlu didukung data dan informasi lingkungan hidup yang akurat, lengkap dan berkesinambungan. Informasi
Pengembangan Kawasan Industri Dalam Perspektif Rencana Tata Ruang Wilayah KABUPATEN GROBOGAN
Workshop Penyusunan Master Plan Pengembangan Kawasan Industri Pengembangan Kawasan Industri Dalam Perspektif Rencana Tata Ruang Wilayah KABUPATEN GROBOGAN Purwodadi, November 2014 PEMERINTAH KABUPATEN
BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA
DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... iii Daftar Tabel... vi Daftar Gambar... ix Daftar Grafik... xi BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN... Bab I 1 A.1. SUMBER
BAB IV HASIL PENELITIAN
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Letak Penelitian ini diakukan di Kabupaten Grobogan yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Dilihat dari Peta Provinsi Jawa Tengah,
PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN
PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2011-2031 I. UMUM 1. Faktor yang melatarbelakangi disusunnya Rencana Tata Ruang
BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten
DAFTAR ISI. Kata Pengantar. Daftar Isi. Daftar Tabel. Daftar Gambar
DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Daftar i ii iii vii Bab I Pendahuluan A. Kondisi Umum Daerah I- 1 B. Pemanfaatan Laporan Status LH Daerah I-10 C. Isu Prioritas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon
Mata Pencaharian Penduduk Indonesia
Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Pertanian Perikanan Kehutanan dan Pertambangan Perindustrian, Pariwisata dan Perindustrian Jasa Pertanian merupakan proses untuk menghasilkan bahan pangan, ternak serta
2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah
2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang
BAB II RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PLPBK
BAB II RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PLPBK 2.1 KONDISI AWAL KAWASAN PRIORITAS 2.1.1 Delineasi Kawasan Prioritas Berdasarkan 4 (empat) indikator yang telah ditetapkan selanjutnya dilakukan kembali rembug
BAB 3 TINJAUAN WILAYAH
BAB 3 TINJAUAN WILAYAH 3.1. TINJAUAN UMUM KABUPATEN GROBOGAN Tinjauan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai lokasi terbangun dan kawasan sekitar lokasi. TINJAUAN GEOGRAFI DAN ADMINISTRATIF KABUPATEN
TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM
BAB 6 TUJUAN DAN KEBIJAKAN No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM Mengembangkan moda angkutan Program Pengembangan Moda umum yang saling terintegrasi di Angkutan Umum Terintegrasi lingkungan kawasan permukiman Mengurangi
Kriteria angka kelahian adalah sebagai berikut.
PERKEMBANGAN PENDUDUK DAN DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN A. PENYEBAB PERKEMBANGAN PENDUDUK Pernahkah kamu menghitung jumlah orang-orang yang ada di lingkunganmu? Populasi manusia yang menempati areal atau wilayah
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber matapencaharian dari mayoritas penduduknya, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan
IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN
43 IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografis 1. Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Kudus secara geografis terletak antara 110º 36 dan 110 o 50 BT serta 6 o 51 dan 7 o 16 LS. Kabupaten Kudus
Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015
PENENTUAN ZONASI PERIZINAN PERTAMBANGAN MINERAL NON LOGAM DAN BATUAN DI KABUPATEN BLORA BAGIAN SELATAN PROVINSI JAWA TENGAH Dody Bagus Widodo, Budiarto, Abdul Rauf Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi
V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini berbatasan dengan Desa Bantarjati
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 2.1.1. Kondisi Umum Daerah Kabupaten Grobogan secara geografis terletak di antara 110 15 BT - 111 25 BT dan di antara 7 LS - 7 30 LS.
KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso
KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa
IKHTISAR EKSEKUTIF. Tidak tercapainya beberapa sasaran tersebut diatas disebabkan karena beberapa hal, antara lain : PROSE NTASE
IKHTISAR EKSEKUTIF Laporan Akuntabilitas Kinerja disusun berdasarkan Rencana Strategis 2011 2016 dan Rencana Kerja Tahun 2014. Adapun Capaian Sasaran Dinas Bina Marga tahun 2014 tampak sebagai berikut
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117
Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON
Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON No. Potensi Data Tahun 2009 Data Tahun 2010*) 1. Luas lahan pertanian (Ha) 327 327
MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH MALUKU
MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH MALUKU PRIORITAS NASIONAL MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2012 WILAYAH MALUKU 1 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Peningkatan kapasitas pemerintah Meningkatkan kualitas
Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian
Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil
H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan kebijakan mengenai pengelolaan Limbah
1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat.
37 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang menjabarkan pembangunan sesuai dengan kondisi, potensi dan kemampuan suatu daerah tersebut.
- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan
PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS
PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS Kecamatan Tomoni memiliki luas wilayah 230,09 km2 atau sekitar 3,31 persen dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan yang terletak di sebelah
H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
- 216 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan kebijakan mengenai pengelolaan Limbah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota akan selalu berhubungan erat dengan perkembangan lahan baik dalam kota itu sendiri maupun pada daerah yang berbatasan atau daerah sekitarnya. Selain itu lahan
DESKRIPSI PROGRAM AIR LIMBAH
Lampiran V : Deskripsi Program / Kegiatan DESKRIPSI PROGRAM AIR LIMBAH No. Uraian Deskripsi 1. Program Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah 2. Judul Kegiatan Pembangunan sarana
BAB VI STRATEGI DAN KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN KEBIJAKAN Dalam rangka mewujudkan visi dan melaksanakan misi pembangunan daerah Kabupaten Ngawi 2010 2015, Pemerintah Kabupaten Ngawi menetapkan strategi yang merupakan upaya untuk
RPJMD Kab. Temanggung Tahun V 29
TARGET INDIKATOR Rasio Petugas Perlindungan Masyarakat (linmas) Rasio 1,64 1,59 1,59 1,60 1,60 1,62 1,62 1,62 TERWUJUDNYA TEMANGGUNG SEBAGAI DAERAH AGRARIS BERWAWASAN LINGKUNGAN, MEMILIKI MASYARAKAT AGAMIS,
BUPATI GROBOGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG
BUPATI GROBOGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2011-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Kabupaten Grobogan Tahun 2015 KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas bimbingan dan karunia-nya, kami dapat menyajikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Grobogan Tahun 2015,
1/10 LAYANAN PERIZINAN PAKET GROBOGAN INVESTASI (LARI PAGI) BERSAMADINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN GROBOGAN.
1/10 LAYANAN PERIZINAN PAKET GROBOGAN INVESTASI (LARI PAGI) BERSAMADINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN GROBOGAN. Nama Diklat : Diklatpim Tingkat III Angkatan XXXII Tahun :
RANCANGAN: PENDEKATAN SINERGI PERENCANAAN BERBASIS PRIORITAS PEMBANGUNAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017
RANCANGAN: PENDEKATAN SINERGI PERENCANAAN BERBASIS PRIORITAS PEMBANGUNAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 PRIORITAS PEMBANGUNAN 2017 Meningkatkan kualitas infrastruktur untuk mendukung pengembangan wilayah
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN BONE BOLANGO NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN BONE BOLANGO NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET 1. Optimalisasi peran dan fungsi Persentase produk hukum kelembagaan pemerintah daerah daerah ditindaklanjuti
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
96 IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Dalam bab ini, akan dipaparkan secara umum tentang 14 kabupaten dan kota yang menjadi wilayah penelitian ini. Kabupaten dan kota tersebut adalah
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan proses perubahan sistem yang direncanakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan proses perubahan sistem yang direncanakan kearah perbaikan yang orientasinya pada pembangunan bangsa dan sosial ekonomis. Untuk mewujudkan pembangunan
PENGANTAR. Latar Belakang. Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk
PENGANTAR Latar Belakang Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga yang berbasis pada keragaman bahan pangan asal ternak dan potensi sumber
BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sub sektor tanaman pangan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan pangan, pembangunan
ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi yang sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Di lihat dari sisi ekonomi, lahan merupakan input
PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV
xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013 Geografi K e l a s XI PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk besar dan laju pertumbuhan tinggi. Pada SENSUS Penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia adalah 237,6
IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN
92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi
MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA
MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA Provinsi Papua PRIORITAS NASIONAL MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2012 WILAYAH PAPUA 1 Pendidikan Peningkatan akses pendidikan dan keterampilan kerja serta pengembangan
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi didefinisikan sebagai suatu kondisi ideal masa depan yang ingin dicapai dalam suatu periode perencanaan berdasarkan pada situasi dan kondisi saat ini.
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN MAGETAN. INDIKATOR KINERJA Meningkatkan kualitas rumah ibadah dan
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN MAGETAN No SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET 1 2 3 4 1 Meningkatkan kualitas rumah ibadah dan 1. Jumlah rumah ibadah yang difasilitasi 400 jumlah kegiatan
Pangkalanbalai, Oktober 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuasin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuasin Tahun 2012 2032merupakan suatu rencana yang disusun sebagai arahan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Banyuasin untuk periode jangka panjang 20
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau
PROFIL KABUPATEN / KOTA
PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA NANGGROE ACEH DARUSSALAM KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Lhokseumawe telah menjadi sebuah kota otonom, yang berarti Kota Lhokseumawe telah siap untuk berdiri sendiri
REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015
REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintah yang efektif, transparan, akuntabel dan berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan : Tgk.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Grobogan 1-1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup,
LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 8 TAHUN 2003 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2003
LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 8 TAHUN 2003 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2003 PERHITUNGAN SKOR PENETAPAN KRITERIA PENATAAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH Kriteria Organisasi Perangkat Daerah
IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang
IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang Hasil inventarisasi peraturan perundangan yang paling berkaitan dengan tata ruang ditemukan tiga undang-undang, lima peraturan pemerintah, dan empat keputusan
BAB III ANALISIS ISU STRATEGIS
BAB III ANALISIS ISU STRATEGIS 3.1 Identifikasi Faktor Lingkungan Berdasarkan Kondisi Saat Ini sebagaimana tercantum dalam BAB II maka dapat diidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI
BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI 2.1. GAMBARAN WILAYAH 2.1.1. Letak Geografis dan Administrasif Ruang lingkup wilayah dalam kegiatan ini adalah wilayah Kabupaten Grobogan secara keseluruhan yang terletak
SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN
SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN Nama SKPD : DINAS PUHUBKOMINFO Jenis Data :Pemerintahan Tahun : 2016 PEKERJAAN UMUM Nama Nilai Satuan Ketersediaan Sumber Data 1 2 3 4 5 A. Panjang
BAB V SUMBER DAYA ALAM
BAB V SUMBER DAYA ALAM A. Pertanian Kota Surakarta Sebagai salah satu kota besar di Jawa Tengah, mengalami pertumbuhan ekonomi dan penduduk karena migrasi yang cepat. Pertumbuhan ini mengakibatkan luas
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Bogor tercatat 11.850 Ha atau 0,27 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Secara administrasi, Kota Bogor terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS TAHUN 2015
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS TAHUN 2015 Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Pekalongan Tahun 2015 merupakan tahun keempat pelaksanaan RPJMD Kabupaten Pekalongan tahun 2011-2016.
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris memiliki hasil pertanian yang sangat berlimpah. Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki posisi penting di Indonesia. Data Product
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran merupakan dampak negatif dari kegiatan pembangunan yang dilakukan selama ini. Pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang
I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam yang beraneka ragam, yang membentang di sepanjang Teluk Lampung dengan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam kerangka pembangunan nasional, pembangunan daerah merupakan bagian yang terintegrasi. Pembangunan daerah sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional secara
Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi
3.1. Visi dan misi sanitasi Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi Dalam rangka merumuskan visi misi sanitasi Kabupaten Lampung Tengah perlu adanya gambaran Visi dan Misi Kabupaten Lampung Tengah sebagai
KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN
KATA PENGANTAR Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, mengamanatkan bahwa RTRW Kabupaten harus menyesuaikan dengan Undang-undang tersebut paling lambat 3 tahun setelah diberlakukan.
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Depok merupakan salah satu daerah penyangga DKI Jakarta dan menerima cukup banyak pengaruh dari aktivitas ibukota. Aktivitas pembangunan ibukota tidak lain memberikan
BAGIAN ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN SETDA KOTA LANGSA
BAGIAN ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN SETDA KOTA LANGSA PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintah yang efektif, transparan, akuntabel dan berorientasi pada hasil, yang bertanda
S A L I N A N LAMPIRAN I PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN UTARA NOMOR 21 TAHUN 2016
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN (TIPE A) LAMPIRAN I NOMOR 21 TAHUN 2016 LAMPIRAN I PERATURAN DAERAH TENTANG NOMOR : PERENCANAAN, DAN BMD PENYELENGGARAAN TUGAS PEMBANTUAN PEMBINAAN SMA PEMBINAAN SMK PEMBINAAN
BAB I PENGANTAR Latar Belakang. asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam
1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana
kuantitas sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan iklim komponen tersebut mengalami gangguan maka akan terjadi perubahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sungai merupakan sumber air yang sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia. Sungai juga menjadi jalan air alami untuk dapat mengalir dari mata air melewati
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
18 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Desa Gorowong Desa Gorowong merupakan salah satu desa yang termasuk dalam Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa
BAB I PENDAHULUAN. Manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling terkait antar satu dengan lainnya. Manusia membutuhkan kondisi lingkungan yang
LAMPIRAN II HASIL ANALISIS SWOT
LAMPIRAN II HASIL ANALISIS SWOT AIR LIMBAH Analisa SWOT sub sektor air limbah domestik Lingkungan Mendukung (+), O Internal Lemah (-) W Internal Kuat (+) S Diversifikasi Terpusat (+2, -5) Lingkungan tidak
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas penentu kelangsungan perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan ekonomi di Indonesia
PROFIL KABUPATEN / KOTA
PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA PINANG SUMATERA UTARA KOTA KOTA PINANG ADMINISTRASI Profil Kota Pinang merupakan ibukota kecamatan (IKK) dari Kecamatan Kota Pinang dan merupakan bagian dari kabupaten Labuhan
pemerintah KABUPATEN GROBOGAN
pemerintah KABUPATEN GROBOGAN LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2014 BAGIAN ORGANISASI DAN PENDAYAGUNAAN APARATUR SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN GROBOGAN PURWODADI 2015 KATA PENGANTAR
KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016
KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 LAMPIRAN PERJANJIAN KINERJA KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja
BAB 5 RTRW KABUPATEN
BAB 5 RTRW KABUPATEN Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten terdiri dari: 1. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang; 2. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung dan Budidaya; 3. Rencana Pengelolaan
I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian suatu daerah harus tercermin oleh kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak ketahanan pangan. Selain
Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU)
Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU) 1 Pendahuluan Sungai adalah salah satu sumber daya alam yang banyak dijumpai
